PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters.doc 4 . school institution as an operational unit which manage everything directly.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System. The whole components that are principals. teachers. school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities. the school needs an effective leadership as well. With the use of MBS approach. In order to conduct school effectively. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU. School-Based Management. Keywords: Leadership.

sosial dan budaya. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. ekonomi. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. LATAR BELAKANG MASALAH 1. menggairahkan. bersemangat. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. Memahami tujuan pendidikan dengan baik. Dalam Era Globalisasi ini. telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.BAB I PENDAHULUAN A. termasuk pendidikan. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. berani. murah hati. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. yaitu: (a) keterampilan teknis. Dalam pelaksanaannya. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Pengetahuan yang luas. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru.doc 5 . Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. dan memiliki kepekaan sosial. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial. politik. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan produktif). Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan. memimpin rapat. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. memotivasi.

Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi. Bennis and Nanus (1995). fungsional. Menurut penadapat (Cynthia D. adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. mengarahkan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Ellen Van Velsor. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat.doc 6 . membangun. 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. Russ . pengetahuan (cognizance). dan mengkoordinasi orang lain. pemeliharaan personal. c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. Permasalahan yang timbul terus menerus. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Moxley. “Some people have said that experience is the best teacher.” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. oragnisasi dimana mereka bekerja. Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment).2. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah. Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. McCauley.

sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. (b). Walaupun demikian. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien. akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. tantangan. “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development. pengetahuan (cognizance). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. apabila dikelola dengan manajemen yang baik. tanpa adanya karyawan atau bawahan.” the sage responded. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. reputasinya atau karismanya. kepemimpinan tidak akan ada juga. (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). dan dukungan. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Berdasar penelitian pemikiran tersebut. banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. Selama beberapa dekade. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. “It is just that not every experience offers important leadership lessons”. “. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968). walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Pendapat ini tidak salah seluruhnya. Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. (4) Referent power. “Not exaltly that. Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Dengan menekankan pada aspek manajemen.doc 7 . kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. (2) Coercive power.some experiences don’t teach”. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. “the experiences that stretch you. (5) Expert power. Sebuah organisasi akan efektif. that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. “So experience is not the best teacher?”. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin.

Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. pengawasan dan evaluasi. kedua konsep tersebut berbeda. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. penorganisasian . maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Idealnya. Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang.doc 8 .5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. tetapi tidak sama dengan manajemen. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya.

Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. terutama di kota-kota. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan. 2000: iii). Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sehingga diberlakukannya MBS. memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. keahlian. dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS). Oleh sebab itu. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. 3. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. informasi. referensi. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Sebagian sekolah. penghargaan. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Berdasarkan masalah di atas. sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan.doc 9 . dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. 2000). Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut.pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. legitimasi. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. yaitu kekuasaan paksaan. yaitu . pengadaan buku dan alat pelajaran. Namun demikian.

doc 10 . juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. manfaat. Kepala Sekolah. (4. Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. memecahkan masalah-masalah umum. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. para guru. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah. kebijakan. standar. Komite Sekolah. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3). Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. kurikulum. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible.MBS. Menurut Miftah Thoha (1999). Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat.) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1). Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Namun. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan. dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management). masalah-masalah dalam penerapannya. (2. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.

menghambat kreativitas. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. kelompok masyarakat. serta keluarga terhadap sekolah.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. (c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. pendidikan dasar. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini.doc 11 . masyarakat. Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. pebisnis. sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). para legislator. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas.berkonotasi negatif. menghambat kreativitas. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”.

para legislator. sekolah (Agus Dharma. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. yaitu: a. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya.doc 12 . 2003). (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat.atau masyarakat. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. Pendelegasian wewenang c. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal. (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. Melalui keterlibatan guru. Dengan demikian. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. kepegawaian. pebisnis. Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. apalagi pusat. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. orang tua. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. kelompok masyarakat. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. Inovasi kurikulum. Manajemen berbasis lokal b. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah. Akibatnya.

para guru. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan. otonomi sekolah. namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. pengorganisasian. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kebijakan. kurikulum. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. kewajiban sekolah. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel. manajer. dan berlanjut terjadi. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. sistematik. B. Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. Menurut Miftah Thoha (1999). pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. administratior.doc 13 . Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. nyaman dan tertib. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. supervisor. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. pengorganisasian.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. standar. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim).

Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning). Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan. stimulus dan koordinasi personil.a. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. d. melakukan perencanaan. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. penyiapan alokasi sumber daya.doc 14 . yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. perilaku kepemimpinan. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. para legislator. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). b. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. pengambilan keputusan. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. pebisnis. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. menghambat kreativitas.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. penciptaan iklim organisasi yang kondusif. kelompok masyarakat. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi. Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. (Nuril Huda. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. pengorganisasian (organising). Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.

(2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. berakhlak mulia. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. khususnya pendidikan dasar dan menengah. Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis.doc 15 . Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. pebisnis. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. tangguh. Oleh karena itu. harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. kurikulum. kreatif.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya. mandiri. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. pengajaran sumber belajar. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan. kelompok masyarakat. fasilitas. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. profesionalisme tenaga kependidikan. para legislator.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. serta sistem administrasi secara keseluruhan. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. proses pembelajaran. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia. terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS).

bangsa dan Negara. Dalam UU No. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. Dalam konteks ini.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . A. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah.18. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah.Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal. tenaga kependikan. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal.(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. orang tua. 2. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah.(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12. School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah. kepala sekolah. Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. pengorganisasian (organizing). MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17.13. Undang-Undang Republik Indonesia No.doc 16 . siswa.16. 2002). pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah. (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. nilai agama. Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. (7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

siswa. MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. kepala sekolah.doc 17 . keterampilan. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. akhlak mulia. regional. Dalam konteks ini. (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global. (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1. 2002). dan internasional. sikap. berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. kepribadian. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global. demokratis. Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). A. bangsa dan Negara.Meningkatkan kecerdasan. (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. tenaga kependikan. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global.. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. pengetahuan. orang tua. Dengan demikian. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah . MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. pengalaman. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan. (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. adaptif dan aspiratif. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.

terkait dengan hal tersebut. menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. standar pengelolaan. standar kompetensi lulusan. Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. standar pembiayaan. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. siswa. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. lingkungan dan sarana dan prasarana. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya.4. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. dan standar penilaian pendidikan). Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. standar pendidik dan tenaga kependidikan. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9. Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri.doc 18 . Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. standar sarana dan prasarana. tenaga pendidik. PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. standar proses. jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. yaitu . Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. Ruang belajar yang nyaman. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8.

Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. kualitas pendidikan bersifat dinamis. untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat. serta prilaku yang diterima masyarakat. Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. Manusia memiliki potensi. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. latar belakang. Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat. 1762). dan memiliki keunikan. mengganti simulasi yang berbahaya. dan sentosa. termasuk pendidik. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat. Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pengalaman. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. 2003). Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya. Menurut Rousseau (Emile. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). perspektif. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. minat.saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. Fink & Earl. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . bakat. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. 3. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik. kapasitas. perluasan pemeratan pelatihan Guru.doc 19 . Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. sedangkan sebagai lembaga ekonomi. Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. minat. intelektual dan emosional. dan kemampuan. Sebagai lembaga sosial. aman. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. menurut Suderadjat ( 2005 ).

terampil. 2001). dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. kepribadian. masyarakat. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. dan. b. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. kreatif. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kreatif. dalam undang-undang yang sama.doc 20 . bangsa dan negara. Oleh karena itu. 2001). Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. cakap. dalam Subakir & Supari. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. dan menyenangkan (PAKEM). untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No.20/2003) Selanjutnya. mandiri. kreatif. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk dapat berkembang dengan optimal. kecerdasan. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Dua dari keempat pilar di atas. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan. Pembelajaran aktif. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. Peningkatan kompetensi guru. c. sehat.d. dan.Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dukungan masyarakat. Transparansi manajemen. yaitu: a. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. (Pasal 4). berakhlak mulia. langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010. pengendalian diri. efektif. inovatif. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. iklim. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. akhlak mulia. serta memiliki sikap. berilmu. butir kedua dan ketiga. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. Mewujudkan temwork yang kompak. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis.`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. disiplin. kejelasan visi dan misi. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional . partisipasi warga. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. UU No. Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.doc 21 . yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . demokratis. mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. Mengembangkan komunikasi yang baik. seperti : budaya mutu. kreatif. Melaksanakan keterbukaan manajemen.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. bertanggung jawab. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. inovatif. Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi. dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. budaya progresif. dan dinamis. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. lingkungan belajar yang paling utama. aspiratif. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan. UU No. UU No. Misi. aman dan tertib. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. cerdas. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. serta komite sekolah. Manajemen Kesiswaan. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. inovatif. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. dan. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Manajemen Tenaga Kependidikan. Berkaitan dengan ini. Manajemen Layanan Khusus. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. masyarakat. ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. (e). yang meliputi guru.doc 22 . termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram.memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). berkreasi. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. 2001). Untuk mewujudkan hal ini. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). (g). telah dapat diwujudkan. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. Sehubungan dengan hal itu. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. efektif. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan menyenangkan (PAKEM). rapi. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. (b). dan menyenangkan (PAIKEM). bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. terutama dengan pengajar atau guru. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas.” Dalam pelaksanaannya. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar. (f). Dalam manajemen sarana dan prasarana. kreatif. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. dan pemerintah. efektif. ia (hal. (d). kreatif. (c).

b) Media Audial : radio. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. a) Media Visual : grafik. tape recorder. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. menantang. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. untuk mengungkapkan gagasannya. video (VCD. gambar bergerak atau tidak. over head projektor (OHP). inspiratif. cassette recorder. c) Projected still media : slide. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. in focus dan sejenisnya. menyenangkan. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. efektif. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. piringan audio. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . kreativitas. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. d) Projected motion media : film. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. sehingga terjadi proses belajar. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. televisi. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. tulisan dan suara yang direkam. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. termasuk cara belajar kelompok.” Dengan demikian.pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. kartun. diagram. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. dan cocok bagi siswa. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. Menurut Djamarah (2005:212). inovatif. Menurut Ramadhan (2008:5). pada intinya. seperti radio. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. VTR). termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. diantaranya . Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. pengajar. chart. Terdapat berbagai jenis media belajar. bagan. penerapan PAIKEM sangat tepat.doc 23 . sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. kreatif. komputer dan sejenisnya. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . 2011: 76). dan sejenisnya. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. dan bahan ajar. realia. dan kemandirian sesuai dengan bakat. minat. laboratorium bahasa. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. menyenangkan. komik. DVD. Mengajar. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. poster.

Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). keringkasan. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. 1993:10). Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. dan kedisiplinan. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Media audio-visual. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. motivasi. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. pengaruh yang ditimbulkan. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. kemampuan untuk dirubah. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. si pembelajar atau belum. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. di sekolah maupun di luar sekolah. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional.visual. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Untuk menarik minat pembelajar. waktu dan tenaga penyiapan. cetak suara. Menurut Djamarah (2005:32). baik secara individual maupun klasikal. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. kecocokan dengan ukuran kelas. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. gambar atau lukisan. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Sehubungan dengan hal itu. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. silde (film bingkai) foto. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Kreteria pertamanya adalah biaya. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum.doc 24 . antara lain: kompetensi. 327). film rangkai suara. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. competency atau competence. 1994:78-79). dan (b) audio visual gerak. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak.“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. cetakan. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris.

Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11).Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa.Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. Kompetensi Sosial. kompetensi social. dan perilaku yang harus dimiliki. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1). atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. spiritual.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). sertifikat pendidik. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. ketrampilan. (2). (3). Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. (4).Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. kompetensi. sehat jasmani dan rohani. pengembangan bahan ajar. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. teknologi. Mengenal siswa secara mendalam. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. dan intelektual.Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6). Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa).doc 25 . Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. Kompetensi Kepribadian. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. dihayati. moral. Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. dan Kompetensi Profesional . dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. kompetensi kepribadian. empatik. (5). Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. (7). serta perancangan strategi pembelajaran. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. sosial. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. dan santun dengan peserta didik. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. dan seni melalui pendidikan.” Selanjutnya. (9). kemahiran. Berkomunikasi secara efektif.

Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. aktif. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. wakil kepala sekolah.Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah.Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. dan prosedur penilaian pembelajaran. Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. strategi.doc 26 . Pertanggung-jawaban (accountability). (2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. efektif.Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa.belajar. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Sumber daya. Mengelola proses pembelajaran. kreatif. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. dan menyenangkan. guru dan staf lainnya).Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. strategi. Personil sekolah. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Melihat progres pencapain kurikulum. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. dan prosedur penilaian yang benar. Selain pembiayaan operasional/administrasi. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. strategi. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.

serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. C. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders). TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah.doc 27 . Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. efisien. penulis menggunakan metode kepustakaan. atau muatan lokal. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. efektif. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat. penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. E. yang penulis uraikan. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. F. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia. Konsekwensi logis dari itu. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS.

termasuk masyarakat dan orangtua siswa. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. terinci akan hal hal sebagai berikut : a. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah.doc 28 . dan akuntabel. Gaya Kepemimpinan 4. transparan. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah. 2) Peningkatan efisiensi. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. dasar dasar pemikiran. kosep dasar Kepemimpinan dan MBS. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. dibahas pula secara lebih spesifik . sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang.

7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. guru didorong untuk berinovasi. penyelenggara.6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar.doc 29 . mendorong profesionalisme kepala sekolah. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah.

yaitu: perencanaan. Reward power.BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. kepemimpinan. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Russ . oragnisasi dimana mereka bekerja. Ellen Van Velsor. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). (2) Coercive power. Disamping itu juga. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. kedua konsep tersebut berbeda. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. komunikasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. (3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. pengorganisasian. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. pengetahuan (cognizance). Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. McCauley. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. tumbuh dan berubah (Cynthia D. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1). Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. (5) Expert power. Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). dan seterusnya. Moxley. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. reputasinya atau karismanya. (4) Referent power. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). pelatihan. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. tetangga dimana mereka bermasyarakat.doc 30 . Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya.

Tanpa kepemimpinan yang baik. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. inteligensia. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. para supervisor. pengorganisasian. dan pengawasan. dan para pelaksana. kemampuan bawahan. susah diatur. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. dan selalu menjadi trouble maker. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. penggerakan. melainkan pada gaya kepemimpinan. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Situasi di sini meliputi waktu. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Penampilan fisik. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. tuntutan pekerjaan. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. tidak disiplin.doc 31 . (2) gaya demokratik (democratic style). Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik.namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. pimpinan. bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer.

Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. Berdasarkan pola hubungan tersebut. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik.sekerja. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin. Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior).dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah.doc 32 . Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. dan bagaimana caranya.. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. serta kematangan bawahan. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Dari kasus tersebut di atas. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu. saat para pegawai akan beristirahat siang.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08. Maka hal tersebut.00.00. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas.doc 33 . Ginnett. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut. Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan.00 ketika para pegawai selesai beristirahat.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang. Menurut Hughes. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini. Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. (2) pada jam 12. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan. dan (4) jam 14. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan. dan Curphy. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (3) pada jam 13. Hughes.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan. Dengan ketentuan seperti itu. yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. namun karena posisinya sebagai bawahan. Ginnett.

seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim. Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal. namun jarang mencapai kepuasannya. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace). tingginya biaya pelatihan. Sebaliknya. Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas. Apabila satu keinginan telah terpenuhi. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya. akan timbul keinginan lain.” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. Pada gilirannya. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. Manusia. alasan keluarga. (c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). (2) apa yang mengarahkan perilaku. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. kecuali untuk jangka waktu yang singkat. dan sebagainya. Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya. yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu. seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. akan muncul keinginanlain lagi. Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. sengaja mengulur-ulur waktu kerja. Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi.doc 34 . dan rasa malas pergi bekerja. dan menurunnya produktivitas. dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya. (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan). melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien.

lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. dan perusahaan memberikan uang tersebut. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). bonus. atau berbagai macam imbalan lainnya. dan (e) teori ekuitas (equity theory). (d) teori harapan (expectancy theory). Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda.doc 35 . dan akan menang dalam bersaing. perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan.Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). (2) teori perilaku (behavior theory).. Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas. Kedua gaya kepemimpinan tersebut. mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management). Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. perusahaan untung. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven). Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya. maka para pegawai akan berproduksi lebih besar. Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan. karena banyak faktor yang mempengaruhinya. dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories). Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut.

Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai.Pada tahap awal. Dan pada tahap empat (akhir). gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah. sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. Pada tahap dua. Least Preferred Co-worker). karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. Kepemimpinan diatas. Sedangkan pada tahap ketiga. karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat.doc 36 . bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter. sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. mengendalikan dan mempengaruhi situasi. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan. berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. (b) tugas rendah dan hubungan rendah. Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC.

dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive). 2) Sistem 2. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem. (6) manajer menentukan batas-batas. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management. karena mempunyai organisasi yang lebih produktif. 4) Sistem 4. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya. meminta kelompok untuk mengambil keputusan. tugas dapat struktur. 3) Sistem 3. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. (2) manajer menjual keputusan. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. Dari keempat sistem diatas. Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan. dan kekuatan yang ada dalam situasi. dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. kekuatan yang ada pada bawahan. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. dan mendasarkan komunikasi. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. percaya kepada bawahan.dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. Pemimpin menentukan tujuan. membuat keputusan. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). menerima saran.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. (5) manajer menyajikan masalah.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas. (4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah.doc . dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum.

proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. Untuk pendidikan dasar dan menengah. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sementara menurut West dan Michael. dinamik dan demokratis. (3) memberi petunjuk. partisipatif. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. keterampilan manajemen waktu (time management skills).doc . tetapi oleh kesadaran bersama. 4. (2) memberi dukungan. keterampilan hubungan insani (human relations skills). kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. adanya kesamaan yang paling utama. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. (3) kekeluargaan. keterampilan konseptual (conceptual skills). Kedua. setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. dan demokratis. keterampilan teknis (technical skills). 2. keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). 3. Keterampilan Dasar Kepemimpinan. Pertama. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. 5. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses. (2) pelaksanaan tugas. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. Ketiga. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. (2) aktif.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Masih menurut Burns. dan (4) kerjasama.

membingungkan. dan teater. 8. Otonom. 4. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. Percaya Diri. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. musik. sains.doc 39 . dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal. dan matematika. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. 6. 2. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. orang tersebut cenderung risau.(1). 7. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. filsafat. 3. 9. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. mempunyai motivasi tinggi. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu.. Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan. 5. dan mendua. menulis. film. tari. Toleran terhadap Ambiguitas. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. sastra. Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya. Misalnya.

doc 40 . Pilih orang yang bermotivasi tinggi. Semakin penting sebuah tugas. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. B. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. 8. Oleh karena itu. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. 7. Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. Berikan pengakuan. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”. Ingat. Seseorang tidak harus menjadi orang lain. Individu sendiri harus termotivasi. keduanya saling membutuhkan. Oleh sebab itu. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. 6. meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. kemajuan akan memotivasi. 5. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. Ciptakan lingkungan yang memotivasi. yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. MBS adalah upaya serius yang rumit. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. Berikan hadiah yang adil. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan. Masyarakat adalah pemilik sekolah. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. Perlakukan setiap orang sebagai individu. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. Kita semua adalah individu. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.pemimpin yang tidak memotivasi . sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. 2. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. 3. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. Karena sulit memotivasi orang lain. mungkin tidak memotivasi orang lain. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. tulis John Lancaster Spalding. Bagi orang berbakat. 4. memecahkan masalah-masalah umum.

Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. dan sekolah. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Akan tetapi. Grasindo. berkreasi. cet ke 2. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). menurut . Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah.2005. hal. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. sistematik. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas.yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. masalah-masalah dalam penerapannya. berbasis. kebijakan. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah.. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. Dengan demikian. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. Secara bahasa. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan. dan berlanjut terjadi. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. Jakarta : PT. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda.doc 41 . Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Manajemen Berbasis Sekolah. dan akuntabilitas. lingkungan belajar yang paling utama. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik. kurikulum. standar. Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern.yaitu manajemen. manfaat.

baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. apalagi pusat. termasuk dalam bidang pendidikan. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. guru. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. (g). Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. para guru. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.kepala sekolah. (b). pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. (f). dan. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Manajemen Tenaga Kependidikan. kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. Dengan demikian. Berdasar teori di atas. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. Kepala Sekolah. telah dapat diwujudkan. Manajemen Layanan Khusus. masyarakat. Kemudian. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. (e). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dan pemerintah. Dalam manajemen sarana dan prasarana. Komite Sekolah.” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. murid. Manajemen Kesiswaan. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. rapi. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. (c). orang tua. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Namun. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan.doc 42 . indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Melalui keterlibatan guru. Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. ia (hal. yang meliputi guru. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. serta komite sekolah. kepegawaian. Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. (d). dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah.

Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Pelaporan hasil.doc 43 . berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. b. Secara akademik.pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Oleh karenanya. d. e. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. kepegawaian. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. para guru. Juga secara proses. Ironisnya selama ini. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. dan kurikulum. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. c. f. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. tantangan. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. g. khususnya orang tua siswa.Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan.Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Akan tetapi pada prakteknya. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah.

tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Dengan demikian. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Pihak-pihak lain seperti. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). penilaian. administrator. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. mulai dari tingkat pusat. Sebaliknya. komite sekolah. dan murid (Nurkolis. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. kepala sekolah. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. anggota masyarakat. kabupaten/kota. 2003:42). dan dukungan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. tantangan. misi. orang tua. sampai dengan tingkat Sekolah. 15Dalam MBS. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. orangtua. para guru.doc 44 . Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Sebagaimana dimaklumi. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. Pada prakteknya. khususnya Sekolah. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. provinsi.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah.

peluang dan ancaman bagi dirinya. dan peningkatan rasa tanggungjawab. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat.doc 45 . sekolah lebih mengetahuikebutuhannya. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kedua. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. sekolah lebih mengetahui kekuatan. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. peluang. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Demikian juga. Ketiga. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. tentu saja. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9. karyawan. sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. dengan otonomi yang lebih besar.program desentralisasi bidang pendidikan. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8. Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. kepala sekolah. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. orangtua siswa. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Kemandiriannya. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat. 4. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. 3. siswa. kelemahan. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama. kelemahan.

Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. 4. masyarakat. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. dan pemerintah 8. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. kelemahan. Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. 4. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. 2. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1).MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. dan masyarakat 7. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”. peluang dan ancaman bagi dirinya. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional. lebih demokratis dan terbuka. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. orang tua. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. 3. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan.doc 46 .

sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. Pemerintah pusat. prestasi siswa. Namun. Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional. pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. batasan pengeluaran.(2). masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya. Di Amerika Serikat. sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. pada tingkat nasional. menyeleksi pelamar pekerjaan. akuntabilitas. Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas).(3). dan efektifitas sekolah. standar kualifikasi guru. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu. Menurut bank dunia. politis.doc 47 .(4). professional. Ketiga. peran dewan sekolah tidak banyak berubah. standar fasilitas dan peralatan sekolah. finansial. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah. Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. Jika tidak. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. standar kepegawaian. efisiensi administrasi. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. dan biaya programprogram sekolah. dan sebagainya. dinas pendidikan daerah. Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.(6). dewan pendidikan pada tingkat daerah. kelemahan. Kedua. Namun. dan dewan sekolah di setiap sekolah. MBS adalah ancaman besar. Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah. Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah. sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan dewan Manajemen sekolah. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah. (5).

Ketiga. 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya). MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Nurkolis. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Kelima. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. dan dewan sekolah. menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah.” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. 4. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. Dalam pengimplementasian MBS. 5. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. dan apa rencana selanjutnya. The National Widiasarana Indonesia. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah. meningkatkan moral guru. dinas pendidikan daerah. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan. dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. Gramedia hal. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Jakarta: PT.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual.doc 48 . kepala sekolah. 2003. 21 dan Ibid. 1. kualitas kurikulum. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. 2.Association of Elementary School Principal. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. Keempat. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. 3. meningkatkan kualitas. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. Keenam. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. kuantitas. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. hal.Kedua. Bagi sumber daya manusia. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah.

dan politik) Di lain pihak. Asal diterapkan secara ketat. Pengelolaan ketenagaan e. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. ekonomi. f. orangtua siswa. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi.b. Joseph M . Pelayanan siswa h. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. dimana warga Sekolah (guru. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Juran (Arcaro. karyawan. Pengelolaan proses belajar mengajar. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Seperti halnya Deming. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. partisipasi masyarakat. Pengelolaan iklim Sekolah. Hubungan Sekolah-masyarakat i. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. siswa. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. Dr. c. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional. pendapatan daerah dan orang tua. Dr. Juran adalah ahli statistik terpandang. W. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Ciri-ciri MBS. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. b. c.doc 49 . 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Pengelolaan keuangan g. Dr. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. partisipasi. Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. d. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Edward Deming (Arcaro. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru.

Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. standar pelayanan minimum. Pelatihan. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain. Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan.doc 50 . yaitu sosialisasi. c. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Misalnya. ada empat tahapan implementasi MBS. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. Seperti telah dinyatakan di atas. pengawas. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. kepala Sekolah. pengusaha dan para akademisi. baik cetak maupun elektronik. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. tokoh agama. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan. misal merupakan prasyarat mutu. akuntabilitas. e.dengan tepat. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. Dengan perangkat yang tepat. standar kompetensi siswa. Ini bahkan menjadi lebih sulit. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management. Banyak perubahan. Seperti halnya Deming. d.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta. standar penguasaan minimum. pelaksanaan. baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. bukan program sekali jalan. 2004. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom). dan diseminasi. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. piloting. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. reflikabilitas dan substainabilitas. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. yakni guru. diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat. b. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator.Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. standar materi pelajaran pokok. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba.

terutama yang berada di lingkungan Sekolah. serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. b. kewajiban Sekolah. d.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. e.baik faktor internal maupun eksternal. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. pada tanggal 2 Mei 2002 c. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. pelaksanaan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. pengawasan pendidikan di Sekolah.doc 51 . pengorganisasian. otonomi Sekolah. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. dan Komite Sekolah. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. potensi sumber daya manusia. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). baik secara konvensional maupun movatif. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif. a. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Dewan Pendidikan. semangat belajar. organisasi formal dan internal. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Potensi Kepala Sekolah. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . Musyawarah Kepala Sekolah (MKM).

Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kelompok Kerja guru (KKG). Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Dukungan pemerintah. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. Forum Peduli Guru (FPG). peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. b. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar.f. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. c. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. serta tingkat penghayatan. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. 2002. dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. rencana yang rinci dan sistematis. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. Dalam pada itu. h. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. Kreatif. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. program yang mendukung implementasi. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. Profesionalisme. i. Program ini terdiri atas tiga komponen. KKM. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM). Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah.doc 52 . Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. d. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah.

” Dengan demikian. kreatif. 2001). Mengajar. efektif. dan menyenangkan (PAKEM). Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Pembelajaran aktif. kreatif. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. sehingga terjadi proses belajar. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal.” Dalam pelaksanaannya. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. karena mereka senang belajar. terutama dengan pengajar atau guru. kreatif. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. Dukungan masyarakat. dan menyenangkan (PAIKEM). Untuk dapat berkembang dengan optimal.diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. butir kedua dan ketiga. d. efektif. efektif. Transparansi manajemen. dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. 2001). pada intinya. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. mengacu kepada empat pilar (Kristanto. efektif. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur. c. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik.doc 53 . kreatif. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. Berkaitan dengan ini. dan. dalam Subakir & Supari. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Jawa Tengah. 2001). guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Sulawesi Selatan. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. dan menyenangkan (PAKEM). yaitu: a. Dua dari keempat pilar di atas. 2011: 76). inovatif. Untuk mewujudkan hal ini. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. b. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. dan NTT. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah.

pengajar. iklim. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. video (VCD. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). laboratorium bahasa. gambar bergerak atau tidak. televisi. Menurut Ramadhan (2008:5). Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. menyenangkan. dan. kreativitas. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. dan bahan ajar. minat. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. kartun. Peningkatan kompetensi guru. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan.doc 54 . Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. komik. Terdapat berbagai jenis media belajar. tulisan dan suara yang direkam. diagram. untuk mengungkapkan gagasannya. in focus dan sejenisnya.menciptakan suasana. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. VTR). Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. over head projektor (OHP). dan sejenisnya. bagan. termasuk cara belajar kelompok. menantang. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. diantaranya . Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. chart. a) Media Visual : grafik. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. poster. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. menyenangkan. DVD. dan cocok bagi siswa. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. penerapan PAIKEM sangat tepat. b) Media Audial : radio. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Pembelajaran yang aktif. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. d) Projected motion media : film. efektif. realia. c) Projected still media : slide. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. tape recorder. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. inovatif. komputer dan sejenisnya. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . inspiratif. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. kreatif. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh.

Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. film rangkai suara. Media visual. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. (b) audio visual gerak. cassette recorder. si pembelajar atau belum. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan.Menurut Djamarah (2005:212). Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik.doc 55 . silde (film bingkai) foto. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Kreteria pertamanya adalah biaya. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. waktu dan tenaga penyiapan. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. piringan audio. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. pengaruh yang ditimbulkan. seperti radio. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. kecocokan dengan ukuran kelas. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. 1994:78-79). Menurut Djamarah (2005:32). Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. 1993:10). Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. cetak suara. kemampuan untuk dirubah. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Sehubungan dengan hal itu. cetakan. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Media audio-visual. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Untuk menarik minat pembelajar. keringkasan. gambar atau lukisan. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides).

Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. teknologi. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1. 327). sertifikat pendidik. 3. 5. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). dan intelektual. dan santun dengan peserta didik. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. di sekolah maupun di luar sekolah.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. Kompetensi Sosial. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. 2. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.doc 56 . dan seni melalui pendidikan. empatik. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. sosial.maupun klasikal. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. dihayati. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. pengembangan bahan ajar. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. kompetensi. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. antara lain: kompetensi. kompetensi social.” Selanjutnya. spiritual. moral. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. dan kedisiplinan. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 4. competency atau competence. dan Kompetensi Profesional . kompetensi kepribadian. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.“ Karenanya. Mengenal siswa secara mendalam. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. sehat jasmani dan rohani. motivasi. serta perancangan strategi pembelajaran. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. dan perilaku yang harus dimiliki. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. ketrampilan. Kompetensi Kepribadian. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. Berkomunikasi secara efektif. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. kemahiran. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan.

9. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. aktif. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Pemahaman terhadap peserta didik. Perencanaan pembelajaran. strategi. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Evaluasi hasil belajar. 2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. strategi. Pemanfaatan teknologi pembelajaran. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. Mengelola proses pembelajaran.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. dan menyenangkan. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. strategi. Pengembangan kurikulum atau silabus. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. dan prosedur penilaian yang benar. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. efektif.7. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip. kreatif. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar. dan prosedur penilaian pembelajaran.doc 57 . 8.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi. atau the qualities of leader Secara bahasa.being a leader power of leading . Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif. mengontrol perilaku.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi.2 Peterson at.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti . pengawasan dan evaluasi. Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi.Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal.BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A. Seperti halnya manajemen. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan. GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1. tetapi tidak sama dengan manajemen. penorganisasian . Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam konteks penugasan audit. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai.3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya. membimbing.doc 61 . Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan. makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan.

secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. pengetahuan (cognizance). Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Berdasarkan definisi-definisi di atas. kepemimpinan tidak akan ada juga. Sedangkan menurut Anderson (1988).doc 62 . Walaupun demikian. Menurut definisi tersebut. reputasinya atau karismanya. Referent power. Sarros dan Butchatsky (1996). Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. tanpa adanya karyawan atau bawahan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Coercive power. kedua konsep tersebut berbeda. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Expert power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian.Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Dilain pihak.sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. Menurut French dan Raven (1968).

mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab. confidence. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley. sikap. Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. mengarahkan. menyatakan. Malayu S. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. menuntun. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. organisasi. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.doc 63 . Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100. Dengan kata lain. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. baik di lingkungan keluarga. Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari. Prof. 1. Hasibuan. Sedangakn menurut Pancasila. respek. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin."). beberapa diantaranya : · Menurut Drs. Maccoby. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Menurut Robert Tanembaum. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. kepemimpinan serta kekuasaan.P. kepercayaan. respect. H. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. Selanjutnya Lao Tzu. dan membimbing asuhannya. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi.

kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. kedua konsep tersebut berbeda. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Menurut French dan Raven (1968).Sarros dan Butchatsky (1996). yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Coercive power. kepemimpinan tidak akan ada juga. "). sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Namun demikian. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Expert power. Menurut definisi tersebut.doc 64 . pengetahuan (cognizance). Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Referent power. tanpa adanya karyawan atau bawahan. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Berdasarkan definisi-definisi di atas. Sedangkan menurut Anderson (1988). (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Walaupun demikian. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. reputasinya atau karismanya. Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power.

mengisi struktur tersebut dengan individu-individu. mental. directing. komunikasi. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. controling. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. selalu tepat waktu. Dalam perkembanganya. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan. Fungsi sebagai Top Mnajemen. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. dan kepribadian. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi. Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. pelatihan. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. pengorganisasian. staffing. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. efektif dan efisien. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. yakni mengadakan planning. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. pengorganisasian. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. dan untuk stake holder. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. organizing. penggerakan. dan pengawasan. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. yaitu: perencanaan. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. mengidentifikasi defiasi perencanaan. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil.doc 65 . kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan.organisasi yang bersangkutan. commanding. dsb. kepemimpinan.

dan para pelaksana. Dalam pengorganisasian. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. para supervisor. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing.tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif.doc 66 . Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. masalahmasalah yang akan muncul. birokrasi. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. sering pada tingkat yang dramatis. Dengan rencana yang telah ditetapkan. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. dan para pelaksana. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Dalam organisasi. para supervisor. diberikan peran/fungsi. Tanpa kepemimpinan yang baik. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total.

variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. yaitu kapasitas. organizing. tanggung jawab. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Disamping itu. Dan dalam perkembangannya. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. Stogdill 1974). ketegasan. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. 1996). kejujuran. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. kematangan. kesupelan dalam bergaul. partisipasi. namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Kotter. 2. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. Hingga tahun 1950-an. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. penganggaran. seperti misalnya: kecerdasan. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. prestasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. status dan situasi. kecakapan berbicara. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). dan pemecahan masalah. Analisis awal tentang kepemimpinan. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. staffing. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik.doc 67 . Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. gaya dan kontingensi. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. pengawasan.

kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini.hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien.doc 68 . Hoy dan Miskel (1987). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. misalnya. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. walaupun positif. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. seperti misalnya faktor situasi. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970).

namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Model kontingensi yang lain. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada.doc 69 . Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut House. Halpin (1966). tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). prosedur dan petunjuk yang ada). Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. MenurutPath-Goal Theory. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Menurut Fiedler. promosi dan penurunan pangkat (demotions).relations). directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. saling percaya. Secara ringkas. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Path-Goal Theory. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971).

Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian. joining in a shared vision of the future. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990).Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Sebaliknya. dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya.doc 70 . pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Menurut Yammarino dan Bass (1990). Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Disamping itu. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional.kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Dengan demikian. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. menghormati dan sekaligus mempercayainya. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Menurutnya. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Dalam dimensi ini. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's".

memulai proses penciptaan inovasi. meninjau kembali struktur. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing.doc 71 . pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. Dalam dimensi ini. Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). produktifitas. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership).intelektual). Oleh karena itu. dan nous/noos yang berarti pikiran. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. gaya (style) dan kontingensi. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac.

keahlian. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style). Gaya kepemimpinan adalah sikap. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. yaitu kekuasaan paksaan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. informasi. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya.3. Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. legitimasi.Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. penghargaan. dan hubungan. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented). Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. yaitu . referensi.doc 72 . menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya.

Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi.doc 73 . Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya.pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. (2) gaya demokratik (democratic style). pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. efektif. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. melainkan pada gaya kepemimpinan. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. tidak ada pilihan lain. Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu.11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. inteligensia. Penampilan fisik. apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. dan efisien. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi.

gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim. pelatihan. 4. maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. serta kematangan bawahan. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). kepemimpinan. kemampuan bawahan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi.doc 74 . Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Situasi di sini meliputi waktu. teman sekerja. seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. pimpinan. susah diatur. Sebagai contoh. tuntutan pekerjaan.untuk mematuhinya. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. pengorganisasian. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. dan selalu menjadi trouble maker. Berdasarkan pola hubungan tersebut. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. tidak disiplin. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). komunikasi. yaitu: perencanaan. dan bagaimana caranya. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kapan keinginan itu harus dilaksanakan.

Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. penggerakan. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. para supervisor. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah. Dan organisasi. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. para supervisor. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. diberikan peran/fungsi. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Dalam pengorganisasian. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. dan pengawasan. atau kelompok pekerja. Tanpa kepemimpinan yang baik. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. dan para pelaksana. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang.manajemen. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Domingo.doc 75 .dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). masalahmasalah yang akan muncul. pengorganisasian. Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. tim. Dengan rencana yang telah ditetapkan. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. dan para pelaksana. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing.

Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. memotivasi. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. pemimpin. dan administrator pendidikan. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. c) Pengetahuan yang luas. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. supervisor. berpakaian. bukan sebaliknya. memimpin rapat. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. secara rinci dinyatakan : 1. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. berani.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. dan memiliki kepekaan sosial. Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. meminta dilayani oleh para bawahannya. staf dan para siswa. murah hati. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. yaitu: (a) keterampilan teknis. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. bersemangat. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. memberikan insentif.doc 76 .

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

khususnya peningkatan mutu pendidikan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah . komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat. b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.sekolah. Secara mikro.doc 80 . guru kelas. c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing . pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. Namun mulai sejak tahun 2001.masing. orangtua siswa. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2.

Berkaitan dengan itu. mengorganisasikan (organizing). melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen). MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. sitemik. 3. Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. ketrampilan manusiawi. Disamping itu. 4. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. 6. kedua. karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut. mengawasi (controlling). baik personal maupun material. dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal. mengorganisaikan. Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Dalam makalah ini. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. masyarakat. secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. pertama. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. peluang. dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah.doc 81 . mengevaluasi (evaluation). yaitu: 1. keluwesan. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM. termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. merencanakan (planning). memonitor. yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber.f) Memotivasi timbulnya pemikiran . dan pemerintah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan. serta ketrampilan teknik. g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. terdapat tiga pandangan berbeda. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000). dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. mengarahkan (directing). Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). mengkoordinasikan (coordinating). 5. kelemahan. Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan.

dan kesejahteraan lahir batin. (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. staf. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. 7). profesionalisme. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. proses belajar mengajar. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. intelektual. etos kerja dan disiplin. budaya. dan belajar pada diri sendiri. iklim sekolah. 6) Kardinata ( LM Tauhid.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . komunikasi. kepastian karir. (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. kematangan social. (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. kurikulum. kematangan moral dan tanggung jawab. Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. belajar dari siswa lain. dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. ditandai dengan kematangan emosional. para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja . 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. Untuk itu. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. 5). kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. pengembangan staf.doc 82 . penilaian diri. (3). Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. penguasaan iptek. keimanan dan ketakwaan. (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi. tujuan dan harapan. Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. wawasan masa depan. lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. dan komputer.

MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. (2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. Dengan demikian. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. guru. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Mengelola Keuangan. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Mengelola Kurikulum. Memimpin Sekolah. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).Mengelola Kelembagaan.Mengambil Keputusan secara Terampil. Dengan demikian. Mengelola Sarana dan Prasarana. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan. Agus Dharma ( dalam artikel. 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Mengelola Waktu. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. murid. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1).Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran.doc 83 . Memahami Sekolah sebagai Sistem. Mengelola Kesiswaan. Menyiapkan. apalagi pusat. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. Manajerial dan Kepala Sekolah. Melakukan Monitoring dan Evaluasi. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah.bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengelola Tenaga Kependidikan. Mengembangkan Budaya Sekolah. Mengembangkan Diri. 8). Melalui keterlibatan guru. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas. kepegawaian. Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah. Mengelola Sistem Informasi Sekolah. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat. Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. orang tua. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3). Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda . adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. Melakukan Koordinasi/Penyerasian.

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. Kelima. Ketiga. otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah. di antaranya adalah: Pertama. pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. proses belajar mengajar. penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. dana.R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Pertama. Ketiga. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM. Menggunakan pendekatan partisifatif.(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi. sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. Kedua. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. organisasi. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga). Kedua. Pendidikan untuk keadilan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 84 . A. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. Keempat. 9). Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. mulai dari provinsi. Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar. arahan dan monitoring dari pusat. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi.

seperti Amerika Serikat. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Selama ini.doc 85 . Pada 1988 American Association of School Administrators. a strategy for better learning. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. National Association of Elementary School Principals. d. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. and National Association of Secondary School Principals. Beberapa perubahan tersebut antara lain: a.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. menerbitkan dokumen berjudul school based management. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Di Indonesia. Menurut Miftah Thoha (1999). Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Di mancanegara. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya. b. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi.

Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. menghambat kreativitas. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia.doc 86 . (Nuril Huda. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. melalui proses terbuka. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. antara lain Kepala Sekolah. para guru. Dewan Pendidikan. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). orang tua. Di dalam MBS. guru baru. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). kelompok masyarakat. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. Berlandaskan ketentuan UU No.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Semua stakeholder. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. pebisnis. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. para guru. Akan tetapi pada prakteknya. Dan sebelum desentralisasi. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Kemudian.kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. atau orang tua yang petani. Dewan Pendidikan. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior.. para legislator. Dengan demikian. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. guru. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Berdasar teori di atas. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

orang tua. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut.doc 87 . dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. orangtua. Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. penilaian. (3). Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. disturbance handler. salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. metode . Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. memotivasi dan memimpin organisasi. pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead. dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. dan dukungan.paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. para guru. Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM).artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. liason dan leader. dan kurikulum. Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). tantangan. kepegawaian. mengutip pendapat Goston (1976). (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. strategi. Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain . membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . tantangan. (2) Ketrampilan hubungan manusiawi . disseminator dan spoken person. Pihak-pihak lain seperti. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. komite sekolah. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. pada prakteknya.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan. Selanjutnya . teknik tertentu dalam organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

ekonomi. bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan .Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi. dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat . menentukan tujuan (sasaran atau objective) . c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan. sosial dan layanan atau service. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya. Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. menetapkan kebijakan. Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya. penanggungjawab. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal.doc 88 . Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia . pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien. tatakerja. sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif. Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga. Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang.

(2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi.hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan. New York 1954.aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan . dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. sarana. halaman 157. Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983.doc 89 . Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut.d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi . politik dan ekonomi (3). Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). 157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. kooperatif. (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu. tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. Drucker. situasi dan kondisi sosial. pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan. dana. penelitian sumber daya manusia. disiplin diri. Semakin meningkatnya aktifitas. agar semua tugas berlangsung dengan tepat . Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . etnik. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. alam. (e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat. kerja sama. Harper and Row. pengontrolan tugas. (b) Adanya disiplin kerja. Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. dan waktu yang makin ekonomis dan efisien. judul bukunya “ the practice of management.

dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis. Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). Membuat perencanaan kerja (2). etos kerja. keperibadian tinggi. tanggung jawab. orang tua murid. Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. halaman 9 adalah sebagai berikut: (1). 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). Komunikasi lisan maupun tulis. Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. transparan. Mengembangkan kemampuan diri (10). Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya. Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d). Menciptakan kewibawaan. dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. (b). Memecahkan masalah (3).manusia yang memprihatinkan. diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5). Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). MA. bersih. Mewakili lembaga (11). (9). menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi. (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. mengatur. Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru. Memotivasi (7).doc 90 . Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). 2003. siswa. (5). Mengendalikan pekerjaan (4). Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. Mengatur waktu (8). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Melatih dan membimbing (6).

Qodri A. terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. kreatif. menggairahkan. Guna mendukung hal ini. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b).kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. kooperatif. Keuangan dan pembukuannya (f). Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan. dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. mengoreksi kelemahan. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. terbuka. masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. penuh tanggung jawab. Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). kepala sekolah dituntut: Jujur. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah.Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pemberani. Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. siswa. aspiratif. cekatan/lincah. cerdas. komunikatif. pemberhentian pegawai guru honorer. idealis. Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah. suka berfikir positif. Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. pemindahan. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah. dan produktif). berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya . Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. (j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya. Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha. pegawai tata usaha. masalah kesejahteraan personalia sekolah (d). (2). penempatan . dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi.doc 91 .

Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. dan guru. dan perubahan perencanaan ( Fattah. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. terutama dalam bidang pendanaan. manajemen sekolah. tingkat pengulangan. orang tua. memberdayakan guru. Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. . merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Pembinaan. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. Pelaksanaan. melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. 2000). antara lain. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. moral guru. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. petunjuk. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Peningkatan mutu. dapat diperoleh. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. serta memperbaiki kesalahan. hasil belajar. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik. memberi penjelasan. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. pembinaan. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. dan iklim sekolah. antara lain. dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. merekam. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3. Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. berlakunya sistem insentif dan disinsentif. rancangan ulang sekolah. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat.doc 92 . mendorong profesionalisme kepala sekolah. istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. tingkat putus sekolah. Pengawasan.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan.

Efisiensi. 1. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. Kepuasan kerja guru. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. perasaan senang guru. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut.doc 93 . bagaimana peserta didik. Semangat. Pertumbuhan. Kualitas. 7. 8.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. tujuan-tujuannya. Pendidikan untuk keadilan. guru didorong untuk berinovasi. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. 4. Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. lancar. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. dan produktif. 5. tujuan. 3. tingkat dan kualitas usaha. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. Motivasi. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ). peserta didik. jasa. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tradisi-tradisinya. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. kekuatan kecenderungan dan keinginan guru. 2. Sesuai dengan amanat UU tersebut. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. Menggunakan pendekatan partisipatif. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. hasil. Produktivitas. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. Kepuasan peserta didik. guru. 6. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya. maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia.

20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. ekonomi. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. c) Pimpinan oleh para partisipan. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu. dialog.. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil. proses belajar mengajar. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. dan aktivitas kelompok secara mandiri. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif.doc 94 . Berlandaskan ketentuan UU No. segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. d) Guru sebagai pasilitator. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini. Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri. Pendidikan untuk keadilan. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. b) Pengalihan tanggungjawab. Dan sebelum desentralisasi. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Menggunakan pendekatan partisifatif.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok.. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan.

inovatif. Mengembangkan komunikasi yang baik. kepegawaian. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. para guru. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. Di dalam MBS. Kemudian. kreatif. kejelasan visi dan misi. melalui proses terbuka. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. penilaian. dan kurikulum. partisipasi warga. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Akan tetapi pada prakteknya. guru. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal.doc 95 . Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. aspiratif. cerdas. Semua stakeholder. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. Namun pada prakteknya. para guru. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. tantangan. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. orang tua. aman dan tertib. atau orang tua yang petani. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". komite sekolah dan masyarakat yang peduli. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. . Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Dewan Pendidikan. komite sekolah. para guru. Dewan Pendidikan. antara lain Kepala Sekolah. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. seperti : budaya mutu. budaya progresif. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. Melaksanakan keterbukaan manajemen. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. tantangan. guru baru. Mewujudkan temwork yang kompak.Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. dan dinamis. demokratis. dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. Dengan demikian. orangtua. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. bertanggung jawab. Pihak-pihak lain seperti. disiplin. Berdasar teori di atas.

doc 96 . Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti. mutu. dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah. d. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. efesiensi. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. pembiayaan dan kebijakan pemerintah. kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. c. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif. Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. a. sarana-prasana. guru. untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kebijakan dan prioritas pemerintah. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. dan pemerataan pendidikan. dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. ketenagaan. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. komite.

karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial. Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat. Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. guru. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring.doc 97 . menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. 2000: iii). BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. e.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan.

oragnisasi dimana mereka bekerja. beradab. McCauley. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. 1998:4). Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. melainkan sebagai intinya. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. Moxley. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas. penyadaran dan mediasi secara simultan. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. berupa penciptaan norma. dan seterusnya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. prosedur. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. fungsi progresif pendidikan dan. Russ . Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Ellen Van Velsor. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. tetangga dimana mereka bermasyarakat. mekanika kuantum.PEMBAHASAN A. dan kebijakan baru. Selain itu. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Orang tua. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. 2007:1). Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. reproduksi. 3. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. guru. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan.doc 98 . atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. yaitu: 1. aturan. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya.

Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. termasuk fenomena moralitas. terlaksana. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah. Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. program sekolah yang terencana. Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. Ironisnya selama ini. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. orangtua. dan dewan sekolah. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang. Bersamaan dengan itu. Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. dan terpantau dengan baik. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. tantangan. dinas pendidikan daerah. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. dan dukungan. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. tantangan.doc 99 . Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. para guru. dan struktur persekolahan. dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. Pihak-pihak lain seperti.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. komite sekolah. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. penilaian. mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. kepala sekolah. proses.

Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. keahlian. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. dan apa rencana selanjutnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. 3. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS.standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah.doc 100 . yaitu: 1. dan hubungan. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). legitimasi. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. dan seterusnya. referensi. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Analisis awal tentang kepemimpinan. penghargaan. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. informasi. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. yaitu kekuasaan paksaan. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. yaitu . Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model)." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. oragnisasi dimana mereka bekerja.

Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. transparan. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. pengawasan. kepala sekolah. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. dan pengelolaan. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan.doc 101 . Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Dengan kata lain. anggota masyarakat. Demikian De grouwe menegaskan. sistemik. orang tua. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. dan murid (Nurkolis. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. leaflet. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. 2003:42). termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. staffing. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. B. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. penganggaran. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. dan pemecahan masalah. Secara sederhana dikatakan. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. dan akuntabel. organizing. Oleh karenanya. administrator.

kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS. 1996).doc 102 . Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. lembaga terkait. sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. Dengan demikian. kelemahan. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ciri-ciri MBS. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. percaya diri. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. masyarakat. Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. pengelolaan SDM. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. dan saling percaya dalam bekerja.mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. peluang. Kotter.

Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan.doc 103 . dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah.membantu mengarahkan orang. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan . Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. stakeholder (seperti untuk customer. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. 4. Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1. memonitor kegiatan birokrasi. 2. da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 3. dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. efektif dan efisien. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Dengan taruhan seperti itu.. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah. Dengan demikian. Oleh sebab itu. guru. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid.doc 104 . jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. mengangkat dan memberhentikan karyawan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. 2. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. Dengan demikian. lebih mengutamakan teamwork. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Jadi. Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. pemerataan. murid. guru.

Menurut Ramadhan (2008:1). Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. bahkan RAPBS ini dipajangkan. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan. karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. yaitu lokasi yang strategis. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bebas banjir. dan orangtua siswa. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. dan menyenangkan (PAIKEM). Komite Sekolah.Jadi. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. penyelenggara. Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa.Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan. “Berdasarkan teori belajar. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal. Guru. Terlebih. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. efektif. Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. Pertimbangan kedua adalah lahan. aman. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. Malaysia. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. limbah.doc 105 . kreatif. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. atau Australia. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat. dan. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang.

Dalam meningkatkan manajemen sekolah. misi. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karena itu. demokratis. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. dan memunculkan iklim belajar yang baik. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Dalam praktiknya. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. dan tujuan yang akan dicapai. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis. pengorganisasian. media pendidikan. ketersediaan Dari pemaparan di atas. dan fleksibel. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka. peralatan pendidikan. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. buku dan sumber belajar lainnya. a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. Di samping itu. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi. Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. Disamping itu. pelaksanaan.doc 106 .

maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu. tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih.yang meliputi lahan. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa. Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. Bagi para siswa. maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani. ruang kantin. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak. tempat berolahraga. ruang pendidik. ruang kelas. ruang tata usaha. kegiatan upacara/apel pagi. dan cukup pepohonan. ruang laboratorium. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan.b. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah. Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil. udara yang bersih. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. ruang bengkel kerja. d. ruang unit produksi. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. prasarana . terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. e. dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. ruang perpustakaan. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali. Dengan sistem sanitasi yang bersih. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita. ruang pimpinan satuan pendidikan. c. dan sedikit polusi suara. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Nampaknya semakin bersih suatu tempat. tempat beribadah. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A.doc . instalasi daya dan jasa. tempat bermain. Dalam masalah sampah di sekolah. bersih. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah.

Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Tabel 1. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. yang meliputi gedung sekolah. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.doc 108 . f. jumlah ruang belajar. Sebagai konsekuensinya. Di SMA Negeri 2 Mataram. bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat. seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi.sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran. g. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah. maka sekolah diliburkan. misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. jumlah ruang laboratorium. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. Karenanya. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur.

Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah. Misi. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. pemerintah daerah dan tentunya para guru. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah. Dengan kondisi seperti di atas. Misi. serta jumlah guru dan staf akademik. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Evaluasi menyangkut estimasi biaya. termasuk: Kepala Sekolah. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar). Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. pelaksanaan. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. Proses renovasi dimulai dari perencanaan.doc 109 . ruang perpustakaan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid. bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah. Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

1. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet. Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. tempat parkir. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet. Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. ruang UKS. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung. Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer.1. 2. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Saat ini. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal. dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa. Wakil orang tua siswa. 2. kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. mushola. Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah. terutama di SMAN 2 Mataram.doc 110 . Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. 1 unit komputer bagi administrator jaringan. antara lain : (1) Keterbatasan dana. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor.Wakil Kepala Sekolah. baik di dalam maupun di luar ruangan. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram. 2.2. koperasi sekolah. yang sangat kompleks.1. dan jaringan internet.4. Namun dalam kenyataannya. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah . sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2. Wakil Siswa (OSIS). 2002).1. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. Akan tetapi. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala.3. tahun 2003 : 29). Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru.1. selama jam kerja. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas.1. LCD monitor. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap. kantin. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah. Wakil Organisasi profesi. Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor. serta (3) Tugas Kepala Sekolah. Tata Usaha. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Guru. 2.

media komunikasi. M.. guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula. yaitu Hendri Agung Mahendra.Pd. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara.1.1. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram..2. dan menyenangkan (PAIKEM).. 2. 2. efektif.2. untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. 2. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas. dan media pembelajaran (e-learning). SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. Australia. baik di dalam maupun di luar sekolah. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif.doc 111 .2. Queensland. 3. Sebagai kelanjutannya. yaitu Hudri Ahmad. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas.Pd..3.1. S. Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting. di antaranya sebagai: media informasi. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK.1.5. Inovatif. kreatif. Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2. membuat modul bahan belajar berbasis IT. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School. S. dan menyenangkan. dan Sri Wahyuni. efektif. Dalam proyek ini. kreatif. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia. kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah. membuat bank soal. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya.Kom.Pd. 3. S. 2. mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. Di samping itu.2.

kejujuran. kecakapan berbicara. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. Hingga tahun 1950an.doc 112 . Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram. missal transparansi program. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan.2. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. yaitu kapasitas. prestasi. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. Disamping itu. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. seperti misalnya: kecerdasan. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi. walaupun positif. ketegasan. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. Untuk meningkatkan kompetensi ini.perbaikan. dan disiplin. Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum. and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. transparansi keuangan. Stogdill 1974). Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat. 3. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS. kesupelan dalam bergaul. partisipasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. B. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. kematangan. Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. tanggung jawab. status dan situasi. kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah. kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak.

menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Secara ringkas. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. Hoy dan Miskel (1987). saling percaya.one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas.doc 113 . seperti misalnya faktor situasi. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Halpin (1966). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. misalnya. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics).

Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). Path-Goal Theory. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Menurut Fiedler. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Disamping itu. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin.kepemimpinan yang berbeda. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Menurutnya. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Menurut House. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional.Model kontingensi yang lain. promosi dan penurunan pangkat (demotions). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka.doc 114 . Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. MenurutPath-Goal Theory. dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Sebaliknya. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). prosedur dan petunjuk yang ada). Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi.

doc 115 . sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas. joining in a shared vision of the future. standar penguasaan minimum. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. Dengan demikian. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya.mengakui kredibilitas pemimpinnya. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. Misalnya. baik tenaga. standar materi pelajaran pokok. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. standar pelayanan minimum. program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. maupun pemikiran. keahlian. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”. Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Menurut Yammarino dan Bass (1990). 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. standar kompetensi siswa. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Dengan demikian. dana. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance".

dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. UU Nomor 32 Tahun 2004. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. partisipasi masyarakat. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. ekonomi. Kedua. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Ciri-ciri MBS.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. dimana warga Sekolah (guru. Selanjutnya dalam Undang-Undang No. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan.Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. orangtua siswa. dinamik dan demokratis. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan.doc 116 . Untuk pendidikan dasar dan menengah. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. adanya kesamaan yang paling utama. siswa. Masih menurut Burns. pendapatan daerah dan orang tua. Pertama. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Ketiga. juga anggaran Sekolah . Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. partisipatif. karyawan. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. dan politik) Di lain pihak. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. dan demokratis. partisipasi. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. tetapi oleh kesadaran bersama. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi.

dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. 15Dalam MBS. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. kelemahan. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang.Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. khususnya Sekolah. siswa. Dengan kemandiriannya. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru.doc 117 . lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. kepala sekolah. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Demikian juga. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah. Kedua. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya.orangtua siswa. Dengan otonomi yang lebih besar. Ketiga. Sebaliknya.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. dan peningkatan rasa tanggungjawab. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. misi. demokratis dan fleksibel. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. tentu saja. Dengan demikian. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. sehingga sekolah lebih mandiri. Dari asal usul peristilahan. Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. karyawan.sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. Berpikir logis dalam melakukan perubahan.

Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. demokratis. Leadership. motivator. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. kreatif. dan evaluasi pendidikan. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. maka peran kepala sekolah sangat besar. supervisor. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). Penerapan pembelajaran aktif. 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. administrator. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. Adanya peningkatan prestasi siswa. leader. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. Supervisor. dan menyenangkan. Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator. monitoring. pemimpin/leader inovator. Administrator.doc 118 . administrator dan supervisor. Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan. Motivator. Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. efektif. manajer. pelaksanaan. efektif dan menyenangkan (PAKEM). Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. D. pelaksanaan. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. dan monitoring dan evaluasi pendidikan.transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. dan organisator. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. dan Managerial. dan fleksibel. Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. inovator. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. Adanya pembelajaran yang inovatif. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kreatif. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. Inovator.

perpustakaan. dan tahunan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sarana dan prasarana. 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya. mingguan. gudang dan 7 K. ruang keterampilan/kesenian. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). kantor. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. keuangan. ketaausahaan. pengorganisasian. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. serbaguna. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya. kurikulum. Ketertiban. media. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. ketenagaan. pengkoodinasian. bulanan. keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. laboratorium. jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru. Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. siswa. bimbingan konseling. e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. kesiswaan. semesteran.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan. d) Menyelesaikan surat-surat.doc 119 . karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat. Kebersihan. ketenagaan. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. pengawasan. pengarahan. Keindahan dan Kekeluargaan).

Kumpulan program satuan pelajaran. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas. guru. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat. d) Memeriksa keuangan Sekolah. saran. Hal yang dibahas meliputi target.doc 120 . Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Diagram pencapaian kurikulum.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid. waktu. laporan bulanan. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah. alat kantor. h) Mengecek pengisian buku induk siswa. 3) Kegiatan bulanan.Buku catatan pelaksanaan harian. Kesiapan RP. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya. Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya. penyiapan alat peraga. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. pengorganisasian kelas. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya.2) Kegiatan Mingguan.dan alat praktek. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi. baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar. gaji pegawai. e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran. penanggung jawab. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. e) Evaluasi terhadap persediaan. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. Diagram daya serap murid/siswa. penggunaan dan bahan praktek. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP.c) Penutupan buku. d) Pertanggung jawaban keuangan. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih.

(2005: 67) bahwa. staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan.meningkatkan kualitas sekolah. Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. penguasaan personal. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. sosial. keamanan.doc 121 . Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). Sebagaimana dikemukakan Rahman H. Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur. E. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. status dan kepuasan diri. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. mental model. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya. kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. pengorganisasian (organizing). Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis.

pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. 3. dan murid (Nurkolis. Oleh karenanya. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. kelenturan pengelolaan sekolah. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. 2003:42).doc 122 . Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. Oleh karena itu. administrator. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. F. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. orang tua. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. peningkatan profesionalisme guru. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5. anggota masyarakat. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. kepala sekolah. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. (7) pelaporan hasil. Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Secara Umum 1.

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. yaitu: (a) keterampilan teknis. kantor. kesiswaan. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. pengorganisasian. keuangan. bekerja dengan tim manajemen. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. staf dan para siswa. pengelolaan kepegawaian. menggairahkan. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. perlengkapan. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. staf dan siswa. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. mampu menyusun perencanaan. pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. memotivasi. memimpin rapat. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. pengelolaan kesiswaan. pengkoordinasian. kepegawaian. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS. lancar dan produktif. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. dan perpustakaan. Guna mendukung hal ini.doc 126 . Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. pengelolaan sarana dan prasarana. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah. dan produktif). dengan cara meyakinkan dan membujuk. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. pengarahan.

Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil. downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. inovatif. 2. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. kreatif. MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. pengadaan peralatan TIK. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. efektif. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Dengan demikian. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.doc 127 . yaitu: Pembelajaran aktif. percaya diri. dan peningkatan kompetensi guru. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen. Oleh sebab itu. tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak. Dalam rangka mewujudkan PAIKEM. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. ERIC_Digests. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif.mengajar yang dilakukan guru di kelas. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Dengan taruhan seperti itu. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah.

Dalam pelaksanaan implementasi MBS.3. program dsb 3. guru. keterampilan. op. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. kejujuran. Input pendidikan terdiri dari: 1. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. 6. rencana. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. sumber daya. efektivitasnya. 2. namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. seperti nilai ulangan umum. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. dana pendidikan. harapan-harapan berupa visi. yaitu prinsip equifinalitas. seperti IMTAQ. proses pengelolaan program. proses pengelolaan kelembagaan. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. hh. misi. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana. kesenian. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah.deskripsi tugas. inovasinya. Ujian Akhir Nasional. perlengkapan. uang. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). peraturan perundang-undangan. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. prinsip desentralisasi. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. akreditasi sekolah.cit. 5. Implementasi MBS. Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik. proses belajarmengajar. tujuan. dan proses monitoring dan evaluasi. merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. tenaga kependidikan dan lain sebagainya. karya ilmiah. efisiensinya.doc . prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bahan dsb). 48-58).mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. 7. kesopanan.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. produktivitasnya. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. 4. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. olah raga. kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan.

Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. orang tua. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. 48-58). Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. peran warga sekolah. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. hh. d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). strategi-strategi manajemen. hakikat aktivitas-aktivitas. penggunaan sumber-sumber daya. mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. guru. berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka. Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. khususnya dari aspek manusia. 8. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. 2001. memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. Depdiknas. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama. Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. hh. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen. 9-10).doc 129 . Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. hubungan interperonal. MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. tenaga administrasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah. e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative).

Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. Misi sekolah. Mereka mengejar interaksi. Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. diluar keuntungan ekonomi. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang. personel.doc 130 . b.1. Strategi-strategi manajemen. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang. kebutuhan dan situasi sekolah. Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. a. Dalam organisasi modern. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. 3. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Konsep organisasi sekolah. afiliasi sosial. tumbuh dan menjalani perkembangan. keyakinan dan nilai-nilai sekolah. 2. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal. organisasi. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. Selain itu fasilitas. aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab. konsep organisasi telah berubah. MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama. misalnya produk yang berkualitas. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Isi.

Penggunaan sumber-sumber daya. manusia. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. Keterampilan-keterampilan manajemen. imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru. (3). Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. legitimasi. Partisipasi guru.ditinkatkan secara terus menerus. French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. e. simbolik dan budaya. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan. mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. d. referensi dan keahlian. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah. kompleks dan sulit. Dengan demikian. strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. f. dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. Gaya kepemimpinan. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. (2). Diperlukan intelegensi. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah. menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan. paksaan. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. orang tua. sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. Pengunaan kekuasaan. (4). MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah. 4. pendidikan. keterampilan mengelola konflik. c. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan.Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. simbolik dan budaya. memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. Partisipasi atau keterlibatan guru. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 131 . Gaya pengambilan keputusan. Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah.

Hubungan antar manusia. Peran Para Orang Tua. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka. Peran Sekolah. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya. Perbedaan-perbedaan peran. Australia. Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. misi sekolah. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif. inisiatif. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan.doc 132 . guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah. e. 5. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa. Peran Para Administrator. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kanada. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. pengambil keputusan dan pengimplementasi. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. guru.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. Amerika Serikat dan Hong Kong. bekerjasama. a. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. Dalam MBS. hakikat aktivitas sekolah. c. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. b. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. Peran Departemen Pendidikan. administrator. mendidik siswa secara kooperatif. Peran Para Guru. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. d. memecahkan masalah. Dalam MBS. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. dan gaya penggunaan sumber daya. 6. orang tua dari yang semula pasif. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme.

Fisika. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. Sumberdaya tersedia dan siap. kreatif. rasional. c. Sekolah memiliki budaya mutu. Output yang diharapkan. Input pendidikan yang meliputi: a. i. Dalam MBS. d. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. deduktif dan ilmiah. Memiliki kebijakan. solidaritas yang tinggi. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. 7. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. hh. induktif. 1. cit. kejujuran. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. Komunikasi yang baik. loma Bahasa Inggris. cerdas dan dinamis. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). Kepemimpinan sekolah yang kuat. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. kerjasama yang baik. 8. nalar. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar. b. n. e. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. g. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa. k. Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. lomba karya ilmiah remaja. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. kesenian dan kepramukaan. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah. gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah. Proses. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi. Indikator-indikator efektivitas. cara berfikir kritis. Metematika. j. 11-20). Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah. kedisiplinan.doc 133 . Kualitas para administrator. a. prestasi olah raga. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. f. Sekolah memiliki akuntabilitas. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input.l. untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya.m. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.saling menguntungkan. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. c. 2. h. kerajinan. op. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. b. dan sasaran mutu yang jelas. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. kelompok. proses dan input (Depdiknas. harga diri. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. toleransi. Singkatnya. tujuan. 3.

Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. dan menyenangkan (PAIKEM). SMPMTs dan. sixth edition. Ellen Van Velsor.). J. B. Depdiknas Jakarta Bentley. Moxley. K.2001. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. Caldwell. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah. 1993. Costa. San Francisco: Jossey-Bass Publishers. & Spinks. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. (2002). The Adaptive State: London: Demos.. 2004. Arikunto. Manajemen Berbasis Sekolah. 2001.Hill Book Company. Kepemimpinan yang Memotivasi. (2004).Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Jakarta. Cocheu Ted. (1998).html American Association of School Administrators. Domingo. The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp. Caldwell. Russ S. 1997. Dasar-Dasar Supervisi. The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. Jakarta. Elex Media Komputindo. 1998. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. Onong Uchjana.doc 134 . Rene T. Jakarta Agus Dharma. (2005). Jakarta: Gunung Agung. Singapore:Prentice Hall. Caldwell. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. Pendidikan Network Jakarta Balitbank. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1. S. J. J. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi. Personnel Management. e. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk . 2008 Anonim. T. 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. 1984. Graw. Flippo. inovatif.tinggi. In Bush. London: Falmer Press. & Wilsdon. L. Gramedia Pustaka Utama. Cynthia D. efektif. J. London: Falmer Press. 2000. Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. Fokus pada pelanggan. P. S. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. J. B. 2003. B. Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya. Beyond Leadership. DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . M. (2004). f.B. Puspendik. 2. Depdiknas Jakarta . 21-40 ). McCauley. New York: Mc. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Input manajemen.. & Bell. D. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka. 12 Konsep Kepemimpinan. d. Effendy. T. Kepemimpinan dan Komunikasi. Beyond the Self-Managing School. (1998). (Eds. B. and Adair. 1977. kreatif. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan. Memiliki harapan prestasi yang tinggi.ed. & Hayward. San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas. Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware.. _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Vincent. Edwin B. Manajemen Berbasis Sekolah. hhtp://www. London: Paul Chapman Publishing. National Association of Elementary School Principals. John. Jakarta:Depdiknas. SMA /M.

Hong Kong: Comparative Education Research Centre. Singapore: Irwin/McGraw-Hill. Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries.18. Massachusetts: Harvard Business School Press. Nugraha. London: PMDU.. Barbuto dan Lance L.). Miftah Thoha. Grasindo. Ronald. G.edu/pubs /consumered/g1397. 1999. Strategi. M. 017. edisi-5.2005.htm. (2000)... Mariyana. 017. & Rachmawati. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pengelolaan Lingkungan Belajar.. Jakarta: PT. D. & Segal. dan Curphy Gordon J.http://www. Business. 1999. A. New Jersey: Prentice Hall International Inc. Martini Hadari. (2008). Virginia.Malang: Taroda. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis. Ornstein. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools. Leadership. Griffin W. Jakarta: Ghalia Indonesia. K. D. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. National Association of Secondary School Principals. M. The University of Hong Kong. third edition. 1999. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003). Yogyakarta: BPFE Hasibuan. Nurkolis. School Effectiveness and School Improvement. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito. LLECE (2002). School-Based Management: A Strategy for Better Learning. School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. Konflik. & Kluwer Academic Publishers. John. (2003). cet ke 2 Ouchi. 1982. Handoko. The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp. N. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Arlington. Kerjasama.16. Leading Change. W. (2003). 11(4). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 453-474.. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth. Bandung: Remaja Rosdakarya. Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE). John E.13. Manajemen Berbasis Sekolah. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. L. (Ed. E.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan .H. 21-38). G. 1999. Masalah. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟. (2010). Y. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Ricky dan Ebert J. London: Specialist Schools Trust. dan Kinerja (Kontemporer & Islam). T. Desentralisasi Pendidikan. (2003). Manajemen edisi 2.Fred C. New York: Simon & Schuster. Lunenburg & Allan C. 2003. Kotter. 2002.. R.unl. Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya. Fullan. Hadari Nawawi dan M.doc 135 . (2009). Inc). dan Implementasi. London: Demos Hughes Richard L. Motivating Your Employees. Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. Leung. Organisasi dan Motivasi. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. 1996. Y. Jakarta: PT. Santiago: UNESCO. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12. In Mok. 1995). Ginnett Robert C.H. Brown. Hani. & Watson. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 1999. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves. Kusnadi. Alex. Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. Boston. Education Epidemic. Manajemen Berbasis Sekolah. Nuril Huda.ianr. Jesson. 1988. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia.

2001. G. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. A. K. Wilkes. Glasgow: HarperCollins Publishers. S. A. UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. (1999). amirican Management Assosiation Inc.(2205) Peraturan Pemerintah RI No. A.UNY Terecy WR. UNESCO. (2005). A. David Peterson. Ross. 2010. 2008. (2001). and National Association of Secondary School Principals. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro.. I. dan Menyenangkan.. Paris: International Institute for Educational Planning. & Levacic... PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. School-based management: An International Perspective.wordpress. HAA. Syah. (Eds. (2009). & Friedman... Diambil dari: http://tarmizi.D.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. National Association of Elementary School Principals. Bandung: Remaja Rosdakarya . N. Kreatif. Tilaar. T. Inovatif. R. Saydam.doc 136 . Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1971 Designing Training & Development System.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011. (1999). Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. (2003).Ramadhan. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools.. dan Sapari. Arlington.. Prof. Manajemen Berbasis Sekolah.American Association of School Administrators.. Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. G. Israel: Ministry of Education. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. Efektif.. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru. Yogyakarta: PPS.. School-Based Management: A Strategy for Better Learning.. Jakarta Suyata.. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung . Pembelajaran Aktif. Virginia: 1988. M.. Surabaya: Penerbit SIC. (1998). A. Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. Jakarta: Djambatan Subakir. Yamin. M. Ph. School-Based Management and Student Performance.).