PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation. Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. The whole components that are principals.doc 4 . the school needs an effective leadership as well.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System. Keywords: Leadership. In order to conduct school effectively. School-Based Management. school institution as an operational unit which manage everything directly. With the use of MBS approach. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. teachers.

sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. berani. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial. Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. ekonomi. telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. dan produktif). misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah.BAB I PENDAHULUAN A. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. sosial dan budaya. menggairahkan. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. dan memiliki kepekaan sosial. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. yaitu: (a) keterampilan teknis. murah hati. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. Dalam pelaksanaannya. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. memimpin rapat. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Dalam Era Globalisasi ini. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. LATAR BELAKANG MASALAH 1. memotivasi. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. politik. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Memahami tujuan pendidikan dengan baik. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Pengetahuan yang luas. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. termasuk pendidikan. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut.doc 5 . pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bersemangat. Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah.

Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. pemeliharaan personal. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. Moxley. Bennis and Nanus (1995). Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. Ellen Van Velsor. dan mengkoordinasi orang lain.” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Russ . Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. pengetahuan (cognizance). 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. mengarahkan. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan. tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi. tetangga dimana mereka bermasyarakat.2. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. McCauley.doc 6 . Permasalahan yang timbul terus menerus. “Some people have said that experience is the best teacher. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Menurut penadapat (Cynthia D. c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. fungsional. yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). membangun. oragnisasi dimana mereka bekerja. adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat.

“the experiences that stretch you. tantangan. walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik. “. sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien. pengetahuan (cognizance). (2) Coercive power.doc 7 . keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Sebuah organisasi akan efektif. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. (5) Expert power. apabila dikelola dengan manajemen yang baik. Pendapat ini tidak salah seluruhnya. reputasinya atau karismanya.” the sage responded. Walaupun demikian. “So experience is not the best teacher?”. that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". kepemimpinan tidak akan ada juga. Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. Berdasar penelitian pemikiran tersebut. akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. dan dukungan. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968).some experiences don’t teach”. “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development. (4) Referent power. (b). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. “Not exaltly that. banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Dengan menekankan pada aspek manajemen. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. “It is just that not every experience offers important leadership lessons”. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. tanpa adanya karyawan atau bawahan. (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988). Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. Selama beberapa dekade.

maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari.doc 8 . Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Idealnya. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. tetapi tidak sama dengan manajemen. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi.5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. penorganisasian . Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. pengawasan dan evaluasi. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. kedua konsep tersebut berbeda. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan.

antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru. Namun demikian. 2000). guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. Sebagian sekolah. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. 3. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh sebab itu. memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. terutama di kota-kota. pengadaan buku dan alat pelajaran. yaitu . yaitu kekuasaan paksaan. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS). informasi. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. 2000: iii). Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan. sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. keahlian. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas.pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya.doc 9 . referensi. dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. legitimasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sehingga diberlakukannya MBS. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Berdasarkan masalah di atas. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. penghargaan. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.

Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3). (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. masalah-masalah dalam penerapannya. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. kebijakan. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1). saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan.MBS. (4. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah.) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. para guru. memecahkan masalah-masalah umum. kurikulum. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Komite Sekolah. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan. Namun. Menurut Miftah Thoha (1999). dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Kepala Sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management). Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. standar. (2.doc 10 . manfaat. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.

(c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. 20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. pebisnis. masyarakat. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini. kelompok masyarakat. menghambat kreativitas. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. menghambat kreativitas. (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. serta keluarga terhadap sekolah. para legislator. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik. pendidikan dasar.berkonotasi negatif. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global.doc 11 . Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat.

Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Akibatnya. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. Inovasi kurikulum. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. 2003). Manajemen berbasis lokal b. para legislator. kelompok masyarakat. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi. sekolah (Agus Dharma. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. apalagi pusat. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. pebisnis. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. yaitu: a. Dengan demikian. Melalui keterlibatan guru. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah.doc 12 . dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Pendelegasian wewenang c. Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal. (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. orang tua. Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. kepegawaian. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya.atau masyarakat. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.

manajer. para guru. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. otonomi sekolah. kurikulum. standar. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. supervisor. kewajiban sekolah. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator.doc 13 . DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. pengorganisasian. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. nyaman dan tertib. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel. dan berlanjut terjadi. Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. sistematik. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. pengorganisasian. pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. B. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim). kebijakan. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. administratior. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?. Menurut Miftah Thoha (1999). Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan.

Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. pengambilan keputusan.a. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. kelompok masyarakat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. pengorganisasian (organising). melakukan perencanaan. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. menghambat kreativitas. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. para legislator. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. d. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. penyiapan alokasi sumber daya. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. penciptaan iklim organisasi yang kondusif.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal).doc 14 . Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. b. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning). yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. stimulus dan koordinasi personil. (Nuril Huda. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. perilaku kepemimpinan. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pebisnis. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.

Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. (2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. para legislator. pengajaran sumber belajar. serta sistem administrasi secara keseluruhan. kelompok masyarakat. mandiri. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. proses pembelajaran. fasilitas. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. pebisnis. Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. profesionalisme tenaga kependidikan. kurikulum. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. berakhlak mulia. Oleh karena itu. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS). Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. tangguh. terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan. khususnya pendidikan dasar dan menengah. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. kreatif.doc 15 . demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan.

Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. siswa. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. nilai agama. A.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning).18. namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah. Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah. (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17. Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar.(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kepala sekolah. 2. tenaga kependikan. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. (7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal.doc 16 . bangsa dan Negara.13.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. orang tua. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal. 2002). School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah. pengorganisasian (organizing).16. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. Dalam konteks ini. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah. Dalam UU No.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia No.

(2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional. (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah . dan internasional. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. sikap. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. adaptif dan aspiratif. Dalam konteks ini. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. kepribadian. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. siswa. (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. kepala sekolah. MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. akhlak mulia. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1. Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. tenaga kependikan. regional. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai.Meningkatkan kecerdasan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. 2002). serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional.doc 17 . (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global. bangsa dan Negara. (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. demokratis. A. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. keterampilan. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan. pengetahuan. pengalaman. (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global.. Dengan demikian. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. orang tua.

4. standar sarana dan prasarana. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus. Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. terkait dengan hal tersebut. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit. laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. standar kompetensi lulusan. siswa. Ruang belajar yang nyaman. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar.doc 18 . siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. yaitu . Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. dan standar penilaian pendidikan). Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. lingkungan dan sarana dan prasarana. standar pengelolaan. standar pembiayaan. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. tenaga pendidik. PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. standar pendidik dan tenaga kependidikan. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. standar proses.

Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. perluasan pemeratan pelatihan Guru. serta prilaku yang diterima masyarakat. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. 3. Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. sedangkan sebagai lembaga ekonomi. sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat. latar belakang. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Fink & Earl. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. pengalaman. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. menurut Suderadjat ( 2005 ). untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. aman. Manusia memiliki potensi. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. termasuk pendidik. kualitas pendidikan bersifat dinamis. Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). 2003). Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram. Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. perspektif. Menurut Rousseau (Emile.saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. dan memiliki keunikan. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. intelektual dan emosional. dan sentosa. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. kapasitas. Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya. 1762). Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. mengganti simulasi yang berbahaya. dan kemampuan. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat. bakat. minat. Sebagai lembaga sosial. minat.doc 19 .

sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. sehat. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk dapat berkembang dengan optimal. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). cakap. pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan.doc 20 . Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan.d. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. kreatif. yaitu: a. efektif. Dua dari keempat pilar di atas. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. iklim. masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. kecerdasan. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. kreatif. mandiri. 2001). (Pasal 4). Transparansi manajemen. akhlak mulia. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. dan menyenangkan (PAKEM). dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. inovatif. dan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. terampil. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Oleh karena itu. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. berakhlak mulia. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). dan. bangsa dan negara. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. serta memiliki sikap.Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pengendalian diri. 2001). Peningkatan kompetensi guru. Dukungan masyarakat. dalam undang-undang yang sama. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula. berilmu. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. kepribadian. c. butir kedua dan ketiga. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. dalam Subakir & Supari. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki. b. Pembelajaran aktif. kreatif.20/2003) Selanjutnya. untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No.

Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. UU No. Misi. seperti : budaya mutu.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Melaksanakan keterbukaan manajemen. inovatif. disiplin.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. dan dinamis. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. aspiratif. budaya progresif. bertanggung jawab. lingkungan belajar yang paling utama. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi. UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional .doc 21 . Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. kejelasan visi dan misi. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan. Mengembangkan komunikasi yang baik. demokratis. UU No. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. kreatif. mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah .`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. aman dan tertib. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Mewujudkan temwork yang kompak. partisipasi warga. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. cerdas.

terutama dengan pengajar atau guru. dan. Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. efektif. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Berkaitan dengan ini. kreatif. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 2001). Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dan menyenangkan (PAIKEM). dan pemerintah.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). berkreasi. Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. telah dapat diwujudkan. (e). (f). bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. masyarakat. dan menyenangkan (PAKEM). Sehubungan dengan hal itu. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif.doc 22 .” Dalam pelaksanaannya. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Manajemen Kesiswaan. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Dalam manajemen sarana dan prasarana. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. ia (hal. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. inovatif. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. rapi. efektif. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. (c). Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. serta komite sekolah.memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. (d). (g). kreatif. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. termasuk dalam bidang pendidikan. Manajemen Tenaga Kependidikan. Manajemen Layanan Khusus. Untuk mewujudkan hal ini. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. yang meliputi guru. (b).

Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. untuk mengungkapkan gagasannya. tulisan dan suara yang direkam. tape recorder. komputer dan sejenisnya. d) Projected motion media : film. inspiratif. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . realia. cassette recorder. gambar bergerak atau tidak. dan bahan ajar. kreatif. televisi. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. penerapan PAIKEM sangat tepat. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. video (VCD. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. diantaranya . seperti radio. a) Media Visual : grafik. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. bagan. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. kartun. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. b) Media Audial : radio.doc 23 . komik. Menurut Ramadhan (2008:5). piringan audio. Mengajar. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. dan sejenisnya. sehingga terjadi proses belajar. diagram. Terdapat berbagai jenis media belajar. efektif. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. inovatif. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. 2011: 76). in focus dan sejenisnya. DVD. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. menantang. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. menyenangkan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. pengajar. minat. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. VTR). termasuk cara belajar kelompok. Menurut Djamarah (2005:212). Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. c) Projected still media : slide. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . dan cocok bagi siswa.” Dengan demikian. menyenangkan. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. poster. pada intinya. laboratorium bahasa. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. kreativitas. chart.pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. over head projektor (OHP).

dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. competency atau competence. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. gambar atau lukisan. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. di sekolah maupun di luar sekolah. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. Sehubungan dengan hal itu. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. dan (b) audio visual gerak. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. silde (film bingkai) foto. Untuk menarik minat pembelajar. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. antara lain: kompetensi. cetakan.visual. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. 327). kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Menurut Djamarah (2005:32). Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. kecocokan dengan ukuran kelas. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik.doc 24 . baik secara individual maupun klasikal. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. Media audio-visual. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. kemampuan untuk dirubah. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. 1994:78-79).“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. waktu dan tenaga penyiapan. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. cetak suara. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. keringkasan. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. 1993:10). Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. motivasi. estetika juga merupakan sebuah kriteria. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. dan kedisiplinan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Kreteria pertamanya adalah biaya. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. pengaruh yang ditimbulkan. si pembelajar atau belum. film rangkai suara. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin.

pengembangan bahan ajar. kemahiran. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. moral. Berkomunikasi secara efektif. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. (4).Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. teknologi. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. Kompetensi Kepribadian. kompetensi social. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. kompetensi.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11). Kompetensi Sosial. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. dan santun dengan peserta didik. Mengenal siswa secara mendalam. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan.” Selanjutnya. Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar.Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). (9). empatik. spiritual. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. dihayati. dan perilaku yang harus dimiliki. sosial. (3). dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. sehat jasmani dan rohani. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. (7). dan Kompetensi Profesional . Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. (2). dan seni melalui pendidikan. sertifikat pendidik. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. dan intelektual.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik.doc 25 . Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6). ketrampilan. serta perancangan strategi pembelajaran. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1). Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. (5). Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. kompetensi kepribadian. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran.

Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. dan menyenangkan. dan prosedur penilaian yang benar.doc 26 . Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Personil sekolah. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. aktif.Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. Melihat progres pencapain kurikulum.Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. strategi. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Mengelola proses pembelajaran. kreatif. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat. strategi. guru dan staf lainnya). strategi. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Pertanggung-jawaban (accountability). Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip. efektif.belajar. (2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. wakil kepala sekolah. Sumber daya. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Selain pembiayaan operasional/administrasi. dan prosedur penilaian pembelajaran. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya.

Konsekwensi logis dari itu. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas. F. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat. serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS. C. KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. penulis menggunakan metode kepustakaan. RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. efektif. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. yang penulis uraikan. fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. atau muatan lokal. Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. efisien. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders).doc 27 . E.

2) Peningkatan efisiensi. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. dasar dasar pemikiran. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. dibahas pula secara lebih spesifik . yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah.pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. kosep dasar Kepemimpinan dan MBS. dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah.doc 28 . Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. terinci akan hal hal sebagai berikut : a. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. Gaya Kepemimpinan 4. transparan. Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah. dan akuntabel. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya.doc 29 . penyelenggara. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. guru didorong untuk berinovasi. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. 7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi.6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. mendorong profesionalisme kepala sekolah.

komunikasi. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. (4) Referent power. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1). Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. (3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. kedua konsep tersebut berbeda. pelatihan. yaitu: perencanaan. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan.doc 30 . sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). kepemimpinan. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. tetangga dimana mereka bermasyarakat. pengetahuan (cognizance). McCauley. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. oragnisasi dimana mereka bekerja. tumbuh dan berubah (Cynthia D. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen.BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. dan seterusnya. (2) Coercive power. reputasinya atau karismanya. Reward power. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Russ . Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Ellen Van Velsor. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. (5) Expert power. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Moxley. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. pengorganisasian. Disamping itu juga.

Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. tidak disiplin. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. kemampuan bawahan. para supervisor. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. pimpinan. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Situasi di sini meliputi waktu. gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Tanpa kepemimpinan yang baik. Penampilan fisik. penggerakan. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. inteligensia. Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. pengorganisasian.doc 31 . Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. susah diatur. dan pengawasan. (2) gaya demokratik (democratic style). Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. dan selalu menjadi trouble maker. bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. melainkan pada gaya kepemimpinan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. tuntutan pekerjaan. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan.namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. dan para pelaksana. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing.

doc 32 . kemampuan dan harapan-harapan bawahan. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. dan bagaimana caranya. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri.sekerja. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan.. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. serta kematangan bawahan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku. Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan pola hubungan tersebut.

Maka hal tersebut. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan. dan Curphy.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan.00. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan.00. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08.doc 33 .00 ketika para pegawai selesai beristirahat. Dengan ketentuan seperti itu.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. (3) pada jam 13. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan. saat para pegawai akan beristirahat siang. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan. Ginnett. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan. Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak. Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang. namun karena posisinya sebagai bawahan. Hughes. Menurut Hughes. Dari kasus tersebut di atas. dan (4) jam 14. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada. Ginnett. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut. yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. (2) pada jam 12.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja.

dan rasa malas pergi bekerja. berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya. Manusia. Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. akan muncul keinginanlain lagi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). namun jarang mencapai kepuasannya. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara. berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan). Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. (2) apa yang mengarahkan perilaku. Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal. kecuali untuk jangka waktu yang singkat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. dan sebagainya. Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya. dan menurunnya produktivitas. akan timbul keinginan lain. Apabila satu keinginan telah terpenuhi. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas. melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi. Pada gilirannya. sengaja mengulur-ulur waktu kerja.doc 34 . Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. (c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace). Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. Sebaliknya.seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim.” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien. alasan keluarga. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). tingginya biaya pelatihan.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu.

Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori. Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda. Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. Kedua gaya kepemimpinan tersebut.santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut. Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. (d) teori harapan (expectancy theory). Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. perusahaan untung. mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven). (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories). mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. atau berbagai macam imbalan lainnya. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas..Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. maka para pegawai akan berproduksi lebih besar. dan perusahaan memberikan uang tersebut. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. bonus. yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management). (2) teori perilaku (behavior theory). Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan.doc 35 . antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. dan akan menang dalam bersaing. dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan. Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya. dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. dan (e) teori ekuitas (equity theory). Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai. Least Preferred Co-worker). Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC. Kepemimpinan diatas. (b) tugas rendah dan hubungan rendah. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian.doc 36 . bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. Dan pada tahap empat (akhir). seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah. Sedangkan pada tahap ketiga. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter. karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat. Pada tahap dua. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. mengendalikan dan mempengaruhi situasi.Pada tahap awal. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut. karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan.

(5) manajer menyajikan masalah.dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem. tugas dapat struktur. (2) manajer menjual keputusan. maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. menerima saran. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). percaya kepada bawahan. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. membuat keputusan. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. 4) Sistem 4. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.doc . 2) Sistem 2.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. meminta kelompok untuk mengambil keputusan. (4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah. dan kekuatan yang ada dalam situasi. karena mempunyai organisasi yang lebih produktif. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). Pemimpin menentukan tujuan. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. dan mendasarkan komunikasi. dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum. yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan. (6) manajer menentukan batas-batas. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. 3) Sistem 3. kekuatan yang ada pada bawahan. Dari keempat sistem diatas. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive).

dinamik dan demokratis.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. keterampilan konseptual (conceptual skills). para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). Ketiga. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. Masih menurut Burns. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. 5. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. (3) kekeluargaan. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. (2) memberi dukungan. Sementara menurut West dan Michael. Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan.kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. 4. (3) memberi petunjuk. keterampilan teknis (technical skills). Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS.doc . kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. Untuk pendidikan dasar dan menengah. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. keterampilan manajemen waktu (time management skills). (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. (2) aktif. partisipatif. adanya kesamaan yang paling utama. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. (2) pelaksanaan tugas. dan (4) kerjasama. Keterampilan Dasar Kepemimpinan. keterampilan hubungan insani (human relations skills). Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. 2. Pertama. Kedua. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. 3. setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. dan demokratis. tetapi oleh kesadaran bersama. mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses.

Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya. filsafat. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. film. Percaya Diri. dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. 9. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal.doc 39 .(1). dan teater. 7. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan. sastra. musik. menulis. 4. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2. orang tersebut cenderung risau. mempunyai motivasi tinggi.. 8. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup. membingungkan. Misalnya. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. Toleran terhadap Ambiguitas. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. 5. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. 3. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. Otonom. dan mendua. 6. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. sains. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu. dan matematika. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. tari.

Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Masyarakat adalah pemilik sekolah. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Oleh sebab itu. memecahkan masalah-masalah umum. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. 7. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. Perlakukan setiap orang sebagai individu. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”. MBS adalah upaya serius yang rumit. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. Berikan hadiah yang adil. 3. Berikan pengakuan. Kita semua adalah individu. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. Ciptakan lingkungan yang memotivasi. 2. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. Individu sendiri harus termotivasi. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. B. kemajuan akan memotivasi. semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Semakin penting sebuah tugas. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan. 6. Pilih orang yang bermotivasi tinggi. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. 8. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. keduanya saling membutuhkan.doc 40 . sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. Seseorang tidak harus menjadi orang lain. 4. mungkin tidak memotivasi orang lain. Ingat. Karena sulit memotivasi orang lain.pemimpin yang tidak memotivasi . Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. tulis John Lancaster Spalding. Oleh karena itu. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Bagi orang berbakat. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. 5.

sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. dan sekolah. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata.2005. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda.doc 41 . Dengan demikian. hal.. sistematik. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda. Secara bahasa.yaitu manajemen. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. dan berlanjut terjadi. dan akuntabilitas. menurut . Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik. Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Manajemen Berbasis Sekolah. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Akan tetapi. masalah-masalah dalam penerapannya. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. cet ke 2. lingkungan belajar yang paling utama. Jakarta : PT. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. kebijakan. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan. standar. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). berbasis. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting).yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. kurikulum.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata. manfaat. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. Grasindo. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. berkreasi.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. Manajemen Kesiswaan. telah dapat diwujudkan. Melalui keterlibatan guru. Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. dan pemerintah. Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. Namun. para guru. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah.doc 42 . dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. termasuk dalam bidang pendidikan. kepegawaian. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. (g). yang meliputi guru.kepala sekolah. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. (c). Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Kemudian. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. ia (hal. orang tua. (b). Berdasar teori di atas. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Manajemen Tenaga Kependidikan. masyarakat. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. Komite Sekolah. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Kepala Sekolah. rapi. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. (d). Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. (e). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. dan. murid. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. guru. serta komite sekolah. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya.” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. Dalam manajemen sarana dan prasarana. apalagi pusat. Dengan demikian. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. (f). 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Manajemen Layanan Khusus. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. d.Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. kepegawaian. tantangan. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. c. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. Juga secara proses. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. khususnya orang tua siswa. f. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. dan kurikulum. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama.pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. b. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu.Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. Oleh karenanya. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Ironisnya selama ini.doc 43 . komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Akan tetapi pada prakteknya. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Secara akademik. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. g. para guru. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Pelaporan hasil. e. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air.

Pihak-pihak lain seperti. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. 2003:42). Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagaimana dimaklumi. Pada prakteknya. 15Dalam MBS. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mulai dari tingkat pusat. kabupaten/kota. komite sekolah. dan dukungan. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. orang tua. khususnya Sekolah. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. sampai dengan tingkat Sekolah. misi. penilaian. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. anggota masyarakat. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sebaliknya. para guru.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. dan murid (Nurkolis. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Dengan demikian. provinsi. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. administrator. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM).doc 44 . orangtua. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. tantangan. kepala sekolah.

khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. 4. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Kemandiriannya. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. tentu saja. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. kepala sekolah. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1. karyawan. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. sekolah lebih mengetahuikebutuhannya. dengan otonomi yang lebih besar.program desentralisasi bidang pendidikan. sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. peluang. kelemahan. orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. dan peningkatan rasa tanggungjawab. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. sekolah lebih mengetahui kekuatan. Ketiga. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8. siswa. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Kedua. Demikian juga. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. kelemahan.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat. 3. orangtua siswa. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya.doc 45 . yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama. sehingga sekolah lebih mandiri. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. peluang dan ancaman bagi dirinya.

Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional.MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas.doc 46 . masyarakat. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1). dan pemerintah 8. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. kelemahan. 3. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. orang tua. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. 4. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. lebih demokratis dan terbuka. 2. peluang dan ancaman bagi dirinya. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. 4. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. dan masyarakat 7. Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”.

efisiensi administrasi. Di Amerika Serikat. Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. dan biaya programprogram sekolah. masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya. dinas pendidikan daerah. sekolah lebih mengetahi kekeuatan. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu. Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi. Namun. standar kepegawaian. MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah. MBS adalah ancaman besar. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. akuntabilitas.doc 47 . Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama. Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. standar fasilitas dan peralatan sekolah. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. dan dewan Manajemen sekolah.(3). pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. pada tingkat nasional. dan dewan sekolah di setiap sekolah. Ketiga. dan efektifitas sekolah.(6). Menurut bank dunia. prestasi siswa. professional. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah. sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional. Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(2). (5). kelemahan. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. standar kualifikasi guru. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. Jika tidak. dewan pendidikan pada tingkat daerah. menyeleksi pelamar pekerjaan. batasan pengeluaran. Pemerintah pusat. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi. Kedua. politis. dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. dan sebagainya. Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas).(4). finansial. peran dewan sekolah tidak banyak berubah. Namun.

melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil. pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. dan apa rencana selanjutnya. meningkatkan kualitas. kualitas kurikulum. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya).” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. 21 dan Ibid. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. hal. 2003. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. dinas pendidikan daerah. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. Keenam. Nurkolis. Bagi sumber daya manusia. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Dalam pengimplementasian MBS. 3. 2. dan dewan sekolah. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya. Ketiga. 5. menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Jakarta: PT. Gramedia hal. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu.Kelima. Keempat. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah. kuantitas. meningkatkan moral guru. The National Widiasarana Indonesia.Kedua. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. 1. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. 4.doc 48 . dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah.Association of Elementary School Principal. kepala sekolah. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas.

Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. karyawan. f. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah. W. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Hubungan Sekolah-masyarakat i. pendapatan daerah dan orang tua. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Ciri-ciri MBS. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. partisipasi masyarakat. d.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Juran (Arcaro. Asal diterapkan secara ketat. b. Pengelolaan iklim Sekolah. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Edward Deming (Arcaro. c. Pengelolaan proses belajar mengajar.b. Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Pengelolaan keuangan g. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. siswa. c. Juran adalah ahli statistik terpandang. orangtua siswa. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. Pelayanan siswa h. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Dr. Joseph M . Dr.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Seperti halnya Deming.doc 49 . dan politik) Di lain pihak. ekonomi. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. Pengelolaan ketenagaan e. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. dimana warga Sekolah (guru. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. Dr. partisipasi. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a.

Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom). piloting. akuntabilitas. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. c. tokoh agama. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. b. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain. Dengan perangkat yang tepat. bukan program sekali jalan. standar penguasaan minimum. yakni guru. kepala Sekolah. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. Banyak perubahan. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. baik cetak maupun elektronik. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pelatihan. Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. e. ada empat tahapan implementasi MBS. 2004. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer.Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. pelaksanaan. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. pengusaha dan para akademisi. Misalnya. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. Ini bahkan menjadi lebih sulit. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan.doc 50 . yaitu sosialisasi. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan. standar pelayanan minimum. Seperti halnya Deming. misal merupakan prasyarat mutu. Seperti telah dinyatakan di atas.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba. reflikabilitas dan substainabilitas. pengawas. d. standar kompetensi siswa. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. dan diseminasi. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan.dengan tepat. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. standar materi pelajaran pokok.

dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). kewajiban Sekolah. organisasi formal dan internal.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . pengorganisasian. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. potensi sumber daya manusia. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan Komite Sekolah. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. baik secara konvensional maupun movatif.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan. semangat belajar. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. Dewan Pendidikan.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. otonomi Sekolah. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif.baik faktor internal maupun eksternal. e. Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. terutama yang berada di lingkungan Sekolah. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. a. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. Potensi Kepala Sekolah.doc 51 . pengawasan pendidikan di Sekolah. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . d. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. pada tanggal 2 Mei 2002 c. b. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. pelaksanaan. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan.

dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. Dukungan pemerintah. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar.doc 52 . Program ini terdiri atas tiga komponen. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Forum Peduli Guru (FPG). rencana yang rinci dan sistematis. Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik.f. d. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). 2002. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM). Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Dalam pada itu. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). h. Kreatif. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. c. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. i. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. program yang mendukung implementasi. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan.Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. b. serta tingkat penghayatan. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. Profesionalisme. Kelompok Kerja guru (KKG). KKM.

2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. 2001). Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. dan menyenangkan (PAKEM). Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. inovatif. kreatif. kreatif. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. pada intinya. Dua dari keempat pilar di atas.diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Sulawesi Selatan. kreatif. 2001). Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. sehingga terjadi proses belajar. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur. Untuk dapat berkembang dengan optimal.” Dengan demikian.” Dalam pelaksanaannya. terutama dengan pengajar atau guru. kreatif. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. Untuk mewujudkan hal ini. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. Mengajar. dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. efektif. Jawa Tengah. karena mereka senang belajar. Transparansi manajemen. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. dan. mengacu kepada empat pilar (Kristanto. dan menyenangkan (PAIKEM). Berkaitan dengan ini. Dukungan masyarakat. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dalam Subakir & Supari. yaitu: a. b. 2011: 76). butir kedua dan ketiga. dan menyenangkan (PAKEM). Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. efektif. dan NTT. d. c. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. efektif. 2001). Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif.doc 53 . guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Pembelajaran aktif. efektif.

b) Media Audial : radio.doc 54 . over head projektor (OHP). menantang. dan cocok bagi siswa. video (VCD. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. inspiratif. komik.menciptakan suasana. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. termasuk cara belajar kelompok. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. bagan. dan. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. dan sejenisnya. menyenangkan. DVD. untuk mengungkapkan gagasannya. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. gambar bergerak atau tidak. diagram. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. tulisan dan suara yang direkam. in focus dan sejenisnya. penerapan PAIKEM sangat tepat. poster. menyenangkan. kartun. pengajar. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . diantaranya . Terdapat berbagai jenis media belajar. Pembelajaran yang aktif. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. VTR). Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. c) Projected still media : slide. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. a) Media Visual : grafik. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. efektif. laboratorium bahasa. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). kreativitas. minat. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. televisi. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Peningkatan kompetensi guru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. komputer dan sejenisnya. tape recorder. kreatif. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. dan bahan ajar. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. chart. iklim. inovatif. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Menurut Ramadhan (2008:5). d) Projected motion media : film. realia.

Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak.Menurut Djamarah (2005:212). Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. pengaruh yang ditimbulkan. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. silde (film bingkai) foto. kecocokan dengan ukuran kelas. kemampuan untuk dirubah. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. cassette recorder. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. 1993:10). film rangkai suara. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. cetak suara. piringan audio. “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. si pembelajar atau belum. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Media audio-visual. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Menurut Djamarah (2005:32). Media visual. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. estetika juga merupakan sebuah kriteria.doc 55 . yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). cetakan. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. 1994:78-79). Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. Untuk menarik minat pembelajar. gambar atau lukisan. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Kreteria pertamanya adalah biaya. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (b) audio visual gerak. keringkasan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. waktu dan tenaga penyiapan. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. seperti radio. Sehubungan dengan hal itu.

dan kedisiplinan. 3. sehat jasmani dan rohani. 327). lingkungan kerja fisik maupun non fisik. 2. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. sosial. sertifikat pendidik. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. dan seni melalui pendidikan. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. kompetensi social. motivasi. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. empatik. Kompetensi Sosial. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327).16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. dihayati. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.“ Karenanya. ketrampilan. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. spiritual. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. 4. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. dan Kompetensi Profesional . Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. kompetensi. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. 5. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik.doc 56 . Berkomunikasi secara efektif. dan perilaku yang harus dimiliki.” Selanjutnya. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum.maupun klasikal. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. moral. pengembangan bahan ajar. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. dan santun dengan peserta didik. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. serta perancangan strategi pembelajaran. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. dan intelektual. teknologi. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. antara lain: kompetensi. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. competency atau competence. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. di sekolah maupun di luar sekolah. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. Kompetensi Kepribadian. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. kemahiran.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. kompetensi kepribadian. Mengenal siswa secara mendalam.

2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. dan prosedur penilaian yang benar. 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. strategi. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar. strategi. Pengembangan kurikulum atau silabus. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. kreatif. Evaluasi hasil belajar. strategi. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 8. dan menyenangkan. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). aktif.doc 57 . Mengelola proses pembelajaran.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. Pemahaman terhadap peserta didik. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. dan prosedur penilaian pembelajaran.7. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi pembelajaran. Perencanaan pembelajaran. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. efektif. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. 9.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya. atau the qualities of leader Secara bahasa.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi. mengontrol perilaku. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert. pengawasan dan evaluasi. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan.Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan.BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seperti halnya manajemen. dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan.doc 61 . Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan. Dalam konteks penugasan audit.3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.2 Peterson at. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti . Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. penorganisasian . Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya. tetapi tidak sama dengan manajemen. membimbing.being a leader power of leading . GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan.

semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Dilain pihak. Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. pengetahuan (cognizance). secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Walaupun demikian. kepemimpinan tidak akan ada juga. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. reputasinya atau karismanya. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Menurut French dan Raven (1968). yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Referent power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Menurut definisi tersebut. Sedangkan menurut Anderson (1988). kedua konsep tersebut berbeda. Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Expert power. ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Sarros dan Butchatsky (1996). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun demikian. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya.doc 62 . kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. Coercive power. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain.

v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100. H. Prof. Hasibuan. menuntun. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya. Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Selanjutnya Lao Tzu. Maccoby.doc 63 . Malayu S. Dengan kata lain. 1. baik di lingkungan keluarga. confidence. beberapa diantaranya : · Menurut Drs. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. dan membimbing asuhannya. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. kepercayaan. Sedangakn menurut Pancasila. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. respek. organisasi. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan."). Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.P. sikap. kepemimpinan serta kekuasaan. respect. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. mengarahkan. Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari. menyatakan. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. Menurut Robert Tanembaum. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri.

pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Coercive power. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Menurut French dan Raven (1968). Walaupun demikian. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Menurut definisi tersebut. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management).Sarros dan Butchatsky (1996). Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. kepemimpinan tidak akan ada juga.doc 64 . Sedangkan menurut Anderson (1988). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. kedua konsep tersebut berbeda. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). tanpa adanya karyawan atau bawahan. pengetahuan (cognizance). kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. Namun demikian. Expert power. Berdasarkan definisi-definisi di atas. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Referent power. reputasinya atau karismanya. " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". "). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.

mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. organizing. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. dsb. mental. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. mengisi struktur tersebut dengan individu-individu. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi. kepemimpinan. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. staffing. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mengidentifikasi defiasi perencanaan. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. dan untuk stake holder. komunikasi. pengorganisasian. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. commanding. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. dan kepribadian. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. selalu tepat waktu. Fungsi sebagai Top Mnajemen. yakni mengadakan planning. penggerakan. efektif dan efisien.doc 65 . yaitu: perencanaan. Dalam perkembanganya. directing. pengorganisasian. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan. pelatihan. controling. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. dan pengawasan. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan.organisasi yang bersangkutan. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen.

pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Dalam organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. masalahmasalah yang akan muncul. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. birokrasi. Tanpa kepemimpinan yang baik. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. Dalam pengorganisasian. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. para supervisor. Dengan rencana yang telah ditetapkan. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan. para supervisor. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem.doc 66 . Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. diberikan peran/fungsi.tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. dan para pelaksana. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. sering pada tingkat yang dramatis. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. dan para pelaksana. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total.

memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). organizing. Stogdill 1974). membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. kesupelan dalam bergaul. Disamping itu. Analisis awal tentang kepemimpinan. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Dan dalam perkembangannya. ketegasan. seperti misalnya: kecerdasan. 2. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. tanggung jawab. 1996). Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. yaitu kapasitas. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. gaya dan kontingensi. prestasi. Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin.Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Kotter. kecakapan berbicara. status dan situasi. kematangan. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. staffing. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin.doc 67 . Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. penganggaran. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. kejujuran. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. pengawasan. dan pemecahan masalah. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. Hingga tahun 1950-an. partisipasi. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi.doc 68 . (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Hoy dan Miskel (1987). bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. seperti misalnya faktor situasi.hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. walaupun positif. misalnya. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation.

ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. MenurutPath-Goal Theory. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. saling percaya.doc 69 . Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas.Model kontingensi yang lain. Halpin (1966). model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. promosi dan penurunan pangkat (demotions).relations). Path-Goal Theory. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Secara ringkas. Menurut House. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). prosedur dan petunjuk yang ada). namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Menurut Fiedler. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat).

dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Disamping itu. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Dengan demikian. Menurut Yammarino dan Bass (1990).doc 70 . (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. joining in a shared vision of the future. Menurutnya.kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. menghormati dan sekaligus mempercayainya. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Dalam dimensi ini. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's".Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Dengan demikian. Sebaliknya. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka.

Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). memulai proses penciptaan inovasi. dan nous/noos yang berarti pikiran. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karena itu. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru.doc 71 . dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. Dalam dimensi ini. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). produktifitas. meninjau kembali struktur. proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996).intelektual). inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. gaya (style) dan kontingensi. sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership).

menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented). Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. dan hubungan. sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. informasi. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. penghargaan. keahlian. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan.3. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. yaitu kekuasaan paksaan. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Gaya kepemimpinan adalah sikap. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. referensi. legitimasi. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan.doc 72 . Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style). memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin.Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu . Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan.

Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. Penampilan fisik. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi. inteligensia. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. tidak ada pilihan lain. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek.11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif.pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. efektif. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya.Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan.doc 73 . dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. dan efisien. melainkan pada gaya kepemimpinan. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu. melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. (2) gaya demokratik (democratic style). Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin.

tidak disiplin. yaitu: perencanaan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. dan selalu menjadi trouble maker. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. pelatihan.doc 74 . maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. komunikasi. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang.untuk mematuhinya. tuntutan pekerjaan. kepemimpinan. serta kematangan bawahan. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Berdasarkan pola hubungan tersebut. susah diatur. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. pengorganisasian. teman sekerja. Situasi di sini meliputi waktu. kemampuan bawahan. 4. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh. seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. dan bagaimana caranya. gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim. pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. pimpinan.

Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Domingo. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. para supervisor. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. penggerakan. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. tim. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. pengorganisasian. para supervisor. bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. dan pengawasan. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer.doc 75 . Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. atau kelompok pekerja. diberikan peran/fungsi. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tanpa kepemimpinan yang baik. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. masalahmasalah yang akan muncul. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. Dengan rencana yang telah ditetapkan. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. Dalam pengorganisasian. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi.dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. dan para pelaksana. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. dan para pelaksana. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem.manajemen. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Dan organisasi.

Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. secara rinci dinyatakan : 1.doc 76 . baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. berpakaian. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. memotivasi. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. memberikan insentif. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. pemimpin. Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. murah hati. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. bukan sebaliknya. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. memimpin rapat. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. dan memiliki kepekaan sosial. c) Pengetahuan yang luas. berani. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. meminta dilayani oleh para bawahannya. staf dan para siswa. supervisor. bersemangat. yaitu: (a) keterampilan teknis. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. dan administrator pendidikan. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru.

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

doc 80 . pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Namun mulai sejak tahun 2001.sekolah. Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2. Secara mikro. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.masing. d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing . Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah . orangtua siswa. guru kelas. b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural. adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. khususnya peningkatan mutu pendidikan. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan. a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.

dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. 6. g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. masyarakat. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. mengorganisasikan (organizing). terdapat tiga pandangan berbeda. yaitu: 1. 4. sitemik. mengawasi (controlling). Berkaitan dengan itu. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan. dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal. 3. keluwesan. mengarahkan (directing). dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM. 2. Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Dalam makalah ini. pertama.doc 81 . dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut. baik personal maupun material. Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan. kelemahan. mengkoordinasikan (coordinating). Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. 5. karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan. peluang. termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. dan pemerintah. yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. serta ketrampilan teknik. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. mengevaluasi (evaluation). secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. Disamping itu. kedua. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. ketrampilan manusiawi. mengorganisaikan. merencanakan (planning). melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen). memonitor.f) Memotivasi timbulnya pemikiran . istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000).

proses belajar mengajar.doc 82 . profesionalisme. keimanan dan ketakwaan. Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. iklim sekolah. budaya. 7). Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. kematangan moral dan tanggung jawab. (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. ditandai dengan kematangan emosional. dan belajar pada diri sendiri. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. 5). kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. kematangan social. kepastian karir. dan kesejahteraan lahir batin. dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. komunikasi. wawasan masa depan. penguasaan iptek.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. 6) Kardinata ( LM Tauhid. kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. belajar dari siswa lain. penilaian diri. tujuan dan harapan. (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. etos kerja dan disiplin. staf. dan komputer. 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. kurikulum. intelektual. Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. Untuk itu. pengembangan staf. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (3). (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja .

Memahami Sekolah sebagai Sistem.Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran. Mengelola Kurikulum.Mengelola Kelembagaan. dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda . Melakukan Monitoring dan Evaluasi. Mengelola Keuangan. Manajerial dan Kepala Sekolah. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). orang tua. guru. Mengembangkan Diri. Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan.Mengambil Keputusan secara Terampil. Agus Dharma ( dalam artikel. apalagi pusat. adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Mengelola Sarana dan Prasarana. Melalui keterlibatan guru. Melakukan Koordinasi/Penyerasian. Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1). Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3). Mengelola Sistem Informasi Sekolah. Menyiapkan. Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah. 8). 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. (2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Memimpin Sekolah.doc 83 . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengelola Kesiswaan. Mengelola Waktu. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Mengelola Tenaga Kependidikan. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Mengembangkan Budaya Sekolah. kepegawaian. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. murid. Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan. Dengan demikian. Dengan demikian.bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah.

Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Pendidikan untuk keadilan.doc 84 . penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah. mulai dari provinsi. Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. Keempat. Kedua. di antaranya adalah: Pertama. Menggunakan pendekatan partisifatif. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. proses belajar mengajar. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM. Ketiga. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. 9). Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. A. otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga). sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan.R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. Kedua. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. arahan dan monitoring dari pusat. Kelima. dana. Ketiga. Pertama. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. organisasi.(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi.

Di Indonesia. gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. and National Association of Secondary School Principals. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. d. Di mancanegara. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Menurut Miftah Thoha (1999). National Association of Elementary School Principals. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Pada 1988 American Association of School Administrators. Akibatnya. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Beberapa perubahan tersebut antara lain: a. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. seperti Amerika Serikat.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. menerbitkan dokumen berjudul school based management. b. a strategy for better learning. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Selama ini. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan.doc 85 . Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat.

orang tua. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Dengan demikian. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Di dalam MBS. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Dewan Pendidikan. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. pebisnis. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Berdasar teori di atas.kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Kemudian. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. guru baru. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Semua stakeholder. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal. Akan tetapi pada prakteknya. Berlandaskan ketentuan UU No. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. (Nuril Huda. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. para guru. menghambat kreativitas. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. guru. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang.. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal.. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia. 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. atau orang tua yang petani. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat.doc 86 . Dewan Pendidikan. Dan sebelum desentralisasi. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. kelompok masyarakat. melalui proses terbuka. para guru. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". antara lain Kepala Sekolah. para legislator.

Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead. (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. orang tua. komite sekolah. Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama. memotivasi dan memimpin organisasi. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. disseminator dan spoken person.doc 87 .paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. orangtua.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan.artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. liason dan leader. kepegawaian. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. strategi. metode . para guru. (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM). Pihak-pihak lain seperti. membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). mengutip pendapat Goston (1976). pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. penilaian. Selanjutnya . maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. dan kurikulum. (3). tantangan. teknik tertentu dalam organisasi. (2) Ketrampilan hubungan manusiawi . Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. disturbance handler. (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain . Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. tantangan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pada prakteknya. dan dukungan.

doc 88 . dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal. menentukan tujuan (sasaran atau objective) . Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik. dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya. b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga. sosial dan layanan atau service. bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan . penanggungjawab. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang. Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia . menetapkan kebijakan. tatakerja. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. ekonomi. Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat . sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif. c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya.Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi. pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien.

agar semua tugas berlangsung dengan tepat . Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan.d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi . 157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. politik dan ekonomi (3). sarana. (b) Adanya disiplin kerja. alam. tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. dan waktu yang makin ekonomis dan efisien.hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). judul bukunya “ the practice of management. (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. pengontrolan tugas. sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan. dana. Semakin meningkatnya aktifitas.doc 89 . etnik. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan . (2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi. kerja sama. halaman 157. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut. Harper and Row. (e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . kooperatif. (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu. pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan. dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. penelitian sumber daya manusia.aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). New York 1954. disiplin diri. situasi dan kondisi sosial.158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. Drucker.

bersih. siswa. Memecahkan masalah (3). etos kerja. Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. Melatih dan membimbing (6). menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi. 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). 2003. Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya. Mengendalikan pekerjaan (4). mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Mewakili lembaga (11). (9). Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5). (b). mengatur. dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. Memotivasi (7). Komunikasi lisan maupun tulis. orang tua murid. transparan. Membuat perencanaan kerja (2). Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). tanggung jawab. halaman 9 adalah sebagai berikut: (1).doc 90 . MA. Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). keperibadian tinggi. Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. (5). dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis. Mengatur waktu (8). Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru. Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). Mengembangkan kemampuan diri (10). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.manusia yang memprihatinkan. Menciptakan kewibawaan. Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d).

kepala sekolah dituntut: Jujur. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. cekatan/lincah. kooperatif. (j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya. kreatif. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah. pemberani. mengoreksi kelemahan. Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah. Guna mendukung hal ini. pegawai tata usaha. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. suka berfikir positif. Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya .kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. cerdas. menggairahkan. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b). Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. masalah kesejahteraan personalia sekolah (d). Keuangan dan pembukuannya (f). Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan.Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi. dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. pemindahan. penuh tanggung jawab. pemberhentian pegawai guru honorer. Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). komunikatif. Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. Qodri A. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. terbuka. masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). penempatan . (2). dan produktif).doc 91 . aspiratif. idealis. siswa.

maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. moral guru.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. . melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. manajemen sekolah. Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . mendorong profesionalisme kepala sekolah. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. Pelaksanaan. 2000). Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3. terutama dalam bidang pendanaan. dapat diperoleh. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. hasil belajar. orang tua. istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. merekam. merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. dan iklim sekolah. Pengawasan. Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. serta memperbaiki kesalahan.doc 92 . rancangan ulang sekolah. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik. tingkat pengulangan. dan perubahan perencanaan ( Fattah. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. antara lain. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat. Pembinaan. memberdayakan guru. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Peningkatan mutu. tingkat putus sekolah. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan. dan guru. memberi penjelasan. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. petunjuk. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. pembinaan. berlakunya sistem insentif dan disinsentif. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. antara lain.

Kepuasan peserta didik. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. Sesuai dengan amanat UU tersebut. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya. maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut. teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. peserta didik. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. dan produktif. 2. Efisiensi. hasil. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.doc 93 . Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. 7. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. bagaimana peserta didik. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Semangat. tujuan. perasaan senang guru. jasa. guru. Kualitas. Motivasi. Kepuasan kerja guru. tradisi-tradisinya. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. 5. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. lancar. Produktivitas. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. Menggunakan pendekatan partisipatif. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. 6. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. 1. maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. tujuan-tujuannya. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. guru didorong untuk berinovasi. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. tingkat dan kualitas usaha.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 8. kekuatan kecenderungan dan keinginan guru. 3. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Pendidikan untuk keadilan. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ). 4. Pertumbuhan. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

proses belajar mengajar. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok. c) Pimpinan oleh para partisipan. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). d) Guru sebagai pasilitator. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu.. Dan sebelum desentralisasi.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes. dialog. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Berlandaskan ketentuan UU No. Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini. dan aktivitas kelompok secara mandiri. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi.. Pendidikan untuk keadilan. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. ekonomi. g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi.doc 94 . Menggunakan pendekatan partisifatif. b) Pengalihan tanggungjawab. dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah.

dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. Di dalam MBS. guru baru. tantangan. melalui proses terbuka. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. Dewan Pendidikan. Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. penilaian. kejelasan visi dan misi. Pihak-pihak lain seperti. Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. bertanggung jawab. komite sekolah. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. orangtua. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. budaya progresif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. Melaksanakan keterbukaan manajemen. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. kreatif. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut.Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Berdasar teori di atas. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). partisipasi warga. cerdas. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. inovatif. para guru. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. aman dan tertib. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". . atau orang tua yang petani. dan kurikulum. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Namun pada prakteknya. Dengan demikian. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. aspiratif. orang tua. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Kemudian. para guru.doc 95 . Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. dan dinamis. antara lain Kepala Sekolah. guru. para guru. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dewan Pendidikan. seperti : budaya mutu. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. kepegawaian. disiplin. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. Semua stakeholder. Akan tetapi pada prakteknya. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. demokratis. Mengembangkan komunikasi yang baik. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. tantangan. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. Mewujudkan temwork yang kompak.

Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. efesiensi. kebijakan dan prioritas pemerintah. c. guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. guru. ketenagaan. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat.doc 96 . perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. mutu. untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah. Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. a. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. komite. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. d. pembiayaan dan kebijakan pemerintah. kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif. sarana-prasana. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya. dan pemerataan pendidikan. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. e. guru. dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat. karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial. Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif.doc 97 . menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah. karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring. Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. 2000: iii). BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah.

berupa penciptaan norma. McCauley. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas. Moxley.doc 98 . 2007:1). dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. beradab. dan kebijakan baru. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. fungsi progresif pendidikan dan. Orang tua. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Selain itu. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. oragnisasi dimana mereka bekerja. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. prosedur. Ellen Van Velsor. 1998:4). penyadaran dan mediasi secara simultan. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. mekanika kuantum. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Russ . dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. dan seterusnya. guru.PEMBAHASAN A. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. melainkan sebagai intinya. aturan. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. 3. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. reproduksi. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. yaitu: 1. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati.

diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. proses.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada. terlaksana. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Bersamaan dengan itu. penilaian. dinas pendidikan daerah. dan terpantau dengan baik. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan. tantangan. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. kepala sekolah. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. Pihak-pihak lain seperti. dan dewan sekolah. komite sekolah. dan dukungan. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri. orangtua. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Ironisnya selama ini. program sekolah yang terencana. tantangan. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. dan struktur persekolahan.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. para guru. Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. termasuk fenomena moralitas. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau.doc 99 . dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah.

keahlian." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. legitimasi. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. Analisis awal tentang kepemimpinan. dan apa rencana selanjutnya. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. dan seterusnya. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. oragnisasi dimana mereka bekerja. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin.standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. 3. dan hubungan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. referensi. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. yaitu: 1.doc 100 . kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. penghargaan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. yaitu . bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. yaitu kekuasaan paksaan. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. informasi. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini.

Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. pengawasan. staffing. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. sistemik. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah.doc 101 . termasuk masyarakat dan orangtua siswa. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. organizing. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Dengan kata lain. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. administrator. orang tua. anggota masyarakat. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. leaflet. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. dan murid (Nurkolis. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. penganggaran. Oleh karenanya. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. dan pemecahan masalah. B. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. dan akuntabel. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. kepala sekolah. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. 2003:42). transparan. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. dan pengelolaan. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Demikian De grouwe menegaskan. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Secara sederhana dikatakan.

yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. lembaga terkait. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. peluang. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. Dengan demikian. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. pengelolaan SDM. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS. 1996). memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. dan saling percaya dalam bekerja. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. Kotter. sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. kelemahan. bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. percaya diri. Ciri-ciri MBS. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar.doc 102 .mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan.

Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. 2. stakeholder (seperti untuk customer. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah.membantu mengarahkan orang. Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. 4. kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan . efektif dan efisien. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat. Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1.doc 103 . dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. memonitor kegiatan birokrasi. 3. da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan.

Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah. Jadi. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. mengangkat dan memberhentikan karyawan. lebih mengutamakan teamwork. pemerataan. Dengan demikian. 2. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. guru. guru. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Dengan demikian. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri.doc 104 . MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian.. murid. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. Dengan taruhan seperti itu. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah.

Menurut Ramadhan (2008:1). Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. bebas banjir. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. aman. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Terlebih. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. Komite Sekolah. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah.doc 105 . dan menyenangkan (PAIKEM). Malaysia. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Pertimbangan kedua adalah lahan. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. dan. Guru. yaitu lokasi yang strategis. Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan.Jadi. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat. “Berdasarkan teori belajar. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. limbah. penyelenggara. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. dan orangtua siswa.Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. kreatif. bahkan RAPBS ini dipajangkan. efektif. karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang. atau Australia.

Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). Dalam praktiknya. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. ketersediaan Dari pemaparan di atas. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. dan fleksibel. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis.doc 106 . peralatan pendidikan. media pendidikan. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka. demokratis. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan tujuan yang akan dicapai. Dalam meningkatkan manajemen sekolah. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. Di samping itu. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. dan memunculkan iklim belajar yang baik. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi. pelaksanaan. pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. misi. Oleh karena itu. Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. Disamping itu. pengorganisasian. buku dan sumber belajar lainnya.

Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. ruang tata usaha. e. dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. ruang pimpinan satuan pendidikan. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih. maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. dan sedikit polusi suara. Dengan sistem sanitasi yang bersih. ruang unit produksi. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. tempat beribadah. maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu. Bagi para siswa. Dalam masalah sampah di sekolah. udara yang bersih. kegiatan upacara/apel pagi. d. tempat bermain. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa. terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan. tempat berolahraga. tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang bengkel kerja. Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali. c. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa. Nampaknya semakin bersih suatu tempat. dan cukup pepohonan. khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani. prasarana . Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil.b. instalasi daya dan jasa. Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. ruang pendidik. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. ruang kelas. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita.doc . Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. ruang perpustakaan. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat.yang meliputi lahan. ruang laboratorium. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. ruang kantin. bersih. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar.

seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya.sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. f. jumlah ruang laboratorium. Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. Karenanya. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. g. yang meliputi gedung sekolah. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. Sebagai konsekuensinya. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur. bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat. jumlah ruang belajar. serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah. Di SMA Negeri 2 Mataram. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung.doc 108 . apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. maka sekolah diliburkan. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. Tabel 1. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran.

bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah. Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas. pelaksanaan. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah.doc 109 . Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. ruang perpustakaan. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. pemerintah daerah dan tentunya para guru. serta jumlah guru dan staf akademik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. termasuk: Kepala Sekolah. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. Misi. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar). Misi. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid. Proses renovasi dimulai dari perencanaan. Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kondisi seperti di atas. Evaluasi menyangkut estimasi biaya. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah. Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.

2002). kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. dan jaringan internet. terutama di SMAN 2 Mataram. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah.1. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas. Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru. Namun dalam kenyataannya. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor.4. Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer.doc 110 . Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor. 2. selama jam kerja. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala.1. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.1. Wakil Siswa (OSIS). tahun 2003 : 29). Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga. baik di dalam maupun di luar ruangan. sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2. 2. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet.Wakil Kepala Sekolah. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. mushola. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram. 2. LCD monitor. Akan tetapi. serta (3) Tugas Kepala Sekolah. Guru. Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah. Saat ini. antara lain : (1) Keterbatasan dana. Wakil orang tua siswa. 2. Tata Usaha. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah .2. koperasi sekolah. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. 1 unit komputer bagi administrator jaringan.3.1. yang sangat kompleks. dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia.1.1. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan. tempat parkir. ruang UKS. kantin. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal. Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung. Wakil Organisasi profesi.

.Pd. SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. 2. dan media pembelajaran (e-learning). Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2. 3.1. Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. 2. Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif. dan menyenangkan (PAIKEM). kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah.doc 111 .2. Queensland. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project. yaitu Hudri Ahmad.2.3.2. membuat bank soal.2. M. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah. beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara. kreatif. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. S. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas. untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya.Kom. Australia. 3. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah. dan menyenangkan.Pd. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. S. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas. S. membuat modul bahan belajar berbasis IT.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. baik di dalam maupun di luar sekolah. Di samping itu. guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula.1. Sebagai kelanjutannya. mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. 2.5.. efektif.1.. di antaranya sebagai: media informasi. Inovatif. kreatif. yaitu Hendri Agung Mahendra.1. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK. Dalam proyek ini.Pd. 2. efektif. media komunikasi. dan Sri Wahyuni. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia.. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting.

3. kejujuran. tanggung jawab. kematangan. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris.2. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. Hingga tahun 1950an. Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram.perbaikan. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. Untuk meningkatkan kompetensi ini.doc 112 . walaupun positif. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna. Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. missal transparansi program. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. seperti misalnya: kecerdasan. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia. Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah. partisipasi. transparansi keuangan. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS. kesupelan dalam bergaul. kecakapan berbicara. prestasi. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. status dan situasi. dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. B. Stogdill 1974). sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disamping itu. yaitu kapasitas. ketegasan. dan disiplin. Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur.

Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Hoy dan Miskel (1987). yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. saling percaya. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien.one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Halpin (1966). Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya.doc 113 . karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Secara ringkas. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. misalnya. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. seperti misalnya faktor situasi. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin.

dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Menurutnya. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Sebaliknya. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Disamping itu. dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). MenurutPath-Goal Theory. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). prosedur dan petunjuk yang ada). dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. promosi dan penurunan pangkat (demotions). ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.doc 114 . Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. Menurut Fiedler. Path-Goal Theory.Model kontingensi yang lain. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Menurut House.kepemimpinan yang berbeda. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan.

pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan. Menurut Yammarino dan Bass (1990). Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. standar materi pelajaran pokok. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”. sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah. Dengan demikian. baik tenaga. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. maupun pemikiran. standar penguasaan minimum. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader.mengakui kredibilitas pemimpinnya. Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas. joining in a shared vision of the future. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. standar kompetensi siswa. keahlian. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. Misalnya. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management.doc 115 . Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan. dana. standar pelayanan minimum.

Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. tetapi oleh kesadaran bersama. adanya kesamaan yang paling utama. partisipasi. partisipasi masyarakat. Untuk pendidikan dasar dan menengah. Ciri-ciri MBS. pendapatan daerah dan orang tua.Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. dan politik) Di lain pihak. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. siswa. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. orangtua siswa. dinamik dan demokratis. juga anggaran Sekolah . Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. Pertama. Kedua. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Ketiga. Masih menurut Burns. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. karyawan. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. UU Nomor 32 Tahun 2004. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. dan demokratis. partisipatif. dimana warga Sekolah (guru. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Selanjutnya dalam Undang-Undang No.doc 116 . maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. ekonomi. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah.

Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. misi. Demikian juga. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. demokratis dan fleksibel. Ketiga. Kedua.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. siswa. Berpikir logis dalam melakukan perubahan. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. 15Dalam MBS. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. Sebaliknya. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. kelemahan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. Dari asal usul peristilahan. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif.sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. karyawan. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Dengan demikian. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. khususnya Sekolah. Dengan otonomi yang lebih besar. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. dan peningkatan rasa tanggungjawab. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah. tentu saja. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat.orangtua siswa.doc 117 . kepala sekolah. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan.

Adanya peningkatan prestasi siswa. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah. monitoring. pemimpin/leader inovator. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. kreatif. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. efektif dan menyenangkan (PAKEM). Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan.doc 118 . Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. demokratis. Leadership. supervisor. administrator. Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Motivator. dan evaluasi pendidikan. Administrator. Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. dan organisator. Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas. D. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. kreatif. Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. dan Managerial. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). Inovator. pelaksanaan. manajer. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. inovator. Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator. dan fleksibel. motivator. Penerapan pembelajaran aktif. maka peran kepala sekolah sangat besar. pelaksanaan. administrator dan supervisor.transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. dan monitoring dan evaluasi pendidikan. efektif. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. Supervisor. Adanya pembelajaran yang inovatif. dan menyenangkan. leader. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran.

keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. pengarahan. Keindahan dan Kekeluargaan). perpustakaan. dan tahunan. Dalam melaksanakan tugasnya.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan. semesteran. kantor. ketenagaan. Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. pengawasan. keuangan. Ketertiban. pengkoodinasian. ketaausahaan. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya. media. siswa. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. ruang keterampilan/kesenian. Kebersihan. pengorganisasian. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. kesiswaan. mingguan. bulanan. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru.doc 119 . e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. bimbingan konseling. 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya. serbaguna. karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kurikulum. gudang dan 7 K. sarana dan prasarana. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. ketenagaan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. laboratorium. d) Menyelesaikan surat-surat.

Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran.doc 120 . penggunaan dan bahan praktek. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. saran.Buku catatan pelaksanaan harian.c) Penutupan buku. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah. alat kantor. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi. Kumpulan program satuan pelajaran. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya. Kesiapan RP. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih. d) Memeriksa keuangan Sekolah. penanggung jawab. h) Mengecek pengisian buku induk siswa.2) Kegiatan Mingguan. penyiapan alat peraga. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar.dan alat praktek. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi. e) Evaluasi terhadap persediaan. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. gaji pegawai. pengorganisasian kelas. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan.Diagram pencapaian kurikulum. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya. Diagram daya serap murid/siswa. 3) Kegiatan bulanan. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah. laporan bulanan. e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan. baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. waktu. Hal yang dibahas meliputi target. d) Pertanggung jawaban keuangan. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas. dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. guru.

Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan. Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur. (2005: 67) bahwa. Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. Sebagaimana dikemukakan Rahman H. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. mental model. keamanan.meningkatkan kualitas sekolah. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan. kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. E. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan. status dan kepuasan diri.doc 121 . Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. sosial. pengorganisasian (organizing). dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. penguasaan personal. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah.

Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. dan murid (Nurkolis. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. 3.doc 122 . Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Secara Umum 1. (7) pelaporan hasil. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. F. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. Oleh karena itu. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah. administrator. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepala sekolah. peningkatan profesionalisme guru. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan.kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. orang tua. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. 2003:42). Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. anggota masyarakat. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. Oleh karenanya. Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial. kelenturan pengelolaan sekolah.

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. perlengkapan. kepegawaian. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. mampu menyusun perencanaan. pengelolaan kesiswaan. menggairahkan. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. kantor. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. staf dan siswa.doc 126 . (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. bekerja dengan tim manajemen. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. pengkoordinasian. dan perpustakaan. dengan cara meyakinkan dan membujuk. Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. staf dan para siswa. lancar dan produktif. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. pengelolaan kepegawaian. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Guna mendukung hal ini. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan produktif). keuangan. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. pengelolaan sarana dan prasarana.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. memimpin rapat. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. pengorganisasian. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. yaitu: (a) keterampilan teknis. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. kesiswaan. memotivasi. pengarahan. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat.

Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. dan peningkatan kompetensi guru. MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. 2. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. ERIC_Digests. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. kreatif. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Dalam rangka mewujudkan PAIKEM. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Dengan taruhan seperti itu. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama. Oleh sebab itu. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen. pengadaan peralatan TIK. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. percaya diri. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.mengajar yang dilakukan guru di kelas. Dengan demikian. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. efektif. MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif.doc 127 . Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. yaitu: Pembelajaran aktif. inovatif. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman.

hh. ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. kesopanan. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. produktivitasnya. kesenian. Dalam pelaksanaan implementasi MBS.deskripsi tugas. inovasinya. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. peraturan perundang-undangan. 5.3. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. seperti nilai ulangan umum. Implementasi MBS. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. guru. proses belajarmengajar. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. keterampilan. perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik. harapan-harapan berupa visi. proses pengelolaan program. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. akreditasi sekolah. sumber daya. kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan. perlengkapan. uang.mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. olah raga. karya ilmiah. 4. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. kejujuran.doc . 6. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. 7. dana pendidikan. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. tenaga kependidikan dan lain sebagainya. Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. bahan dsb). 48-58). cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. Ujian Akhir Nasional. op. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. efisiensinya.cit. prinsip desentralisasi. program dsb 3. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. seperti IMTAQ. Input pendidikan terdiri dari: 1. 2. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tujuan. dan proses monitoring dan evaluasi. proses pengelolaan kelembagaan. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah. rencana. misi. efektivitasnya. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. yaitu prinsip equifinalitas. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana.

e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative). berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif. Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. hubungan interperonal. hh. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. peran warga sekolah. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. penggunaan sumber-sumber daya. maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. 48-58). Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa. tenaga administrasi. khususnya dari aspek manusia. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen.doc 129 . hakikat aktivitas-aktivitas. 2001. c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas. orang tua. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. strategi-strategi manajemen. 8. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. guru. 9-10). Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. hh. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Depdiknas. Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern.

kebutuhan dan situasi sekolah. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. misalnya produk yang berkualitas. organisasi. Dalam organisasi modern. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. Strategi-strategi manajemen. konsep organisasi telah berubah. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. Isi. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. b. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. diluar keuntungan ekonomi. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang.1. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. tumbuh dan menjalani perkembangan. Konsep organisasi sekolah. Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. personel. Selain itu fasilitas. hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. afiliasi sosial. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang. keyakinan dan nilai-nilai sekolah. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal.doc 130 . Misi sekolah. Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. 3. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah. Mereka mengejar interaksi. 2. a.

sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. Keterampilan-keterampilan manajemen. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya. (4). e. (2).Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru.doc 131 . (3). menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. referensi dan keahlian. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. Pengunaan kekuasaan. MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. 4. paksaan. French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah. Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. Partisipasi atau keterlibatan guru. f. orang tua. Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah. Dengan demikian. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan.ditinkatkan secara terus menerus. Diperlukan intelegensi. d. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. c. dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. pendidikan. Penggunaan sumber-sumber daya. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah. manusia. strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. Gaya kepemimpinan. Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah. simbolik dan budaya. keterampilan mengelola konflik. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Partisipasi guru. simbolik dan budaya. mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. kompleks dan sulit. Gaya pengambilan keputusan. legitimasi.

Dalam MBS. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif.doc 132 . mendidik siswa secara kooperatif. administrator. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. orang tua dari yang semula pasif. Dalam MBS. Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. c. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. e. guru. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah. Kanada. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. 6. 5. hakikat aktivitas sekolah. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. memecahkan masalah. inisiatif. Peran Departemen Pendidikan. b. Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan. Hubungan antar manusia. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. Peran Para Administrator. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. Perbedaan-perbedaan peran. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. Australia. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. Amerika Serikat dan Hong Kong. Peran Para Orang Tua. misi sekolah. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah. bekerjasama. d. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa. dan gaya penggunaan sumber daya. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. pengambil keputusan dan pengimplementasi. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka. a. Peran Para Guru. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. Peran Sekolah. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya.

doc 133 .m. nalar. h. induktif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. lomba karya ilmiah remaja. Sumberdaya tersedia dan siap. dan sasaran mutu yang jelas.saling menguntungkan. 8. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. cit. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. b. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. Input pendidikan yang meliputi: a. Kualitas para administrator. d. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. Kepemimpinan sekolah yang kuat. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. Proses. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. kesenian dan kepramukaan. rasional. a. 1. kerjasama yang baik. Fisika. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. kedisiplinan. 11-20). Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. g. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah. kerajinan. toleransi. individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input. 2. deduktif dan ilmiah. e. kejujuran. Sekolah memiliki budaya mutu. Metematika. Indikator-indikator efektivitas. f. kreatif. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. harga diri. Singkatnya. Dalam MBS. Output yang diharapkan. Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Sekolah memiliki akuntabilitas. j. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. c. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. 7. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar. k. 3. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya. op. prestasi olah raga. Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. hh. Memiliki kebijakan.l. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. proses dan input (Depdiknas. i. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. Komunikasi yang baik. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). loma Bahasa Inggris. cerdas dan dinamis. c. n. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. tujuan. cara berfikir kritis. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi. gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah. kelompok. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa. solidaritas yang tinggi. b.

London: Falmer Press. 1993.ed. K. Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware. M. 1997. Dasar-Dasar Supervisi. Onong Uchjana. 2001. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. D. 1977. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono. Cynthia D. _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. sixth edition. Manajemen Berbasis Sekolah. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan.). B. Kepemimpinan yang Memotivasi. B. Elex Media Komputindo. L. John.B. The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp. (2004). Singapore:Prentice Hall.. Edwin B. Manajemen Berbasis Sekolah. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . Beyond Leadership. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah. Fokus pada pelanggan. New York: Mc. Vincent. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah. Input manajemen. (1998). Personnel Management. 12 Konsep Kepemimpinan. Kepemimpinan dan Komunikasi.doc 134 . Jakarta. 2004. Beyond the Self-Managing School. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . S. J. The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk . f. Domingo. 2000. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. & Spinks. Pendidikan Network Jakarta Balitbank. Depdiknas Jakarta . In Bush. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka. J. 2008 Anonim.Hill Book Company. Jakarta: Gunung Agung. e. 21-40 ). Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya. J. Caldwell. & Wilsdon. hhtp://www. S. (2002). 1984. 2. National Association of Elementary School Principals. Depdiknas Jakarta Bentley. London: Paul Chapman Publishing.html American Association of School Administrators. B. Jakarta:Depdiknas. T. d. Caldwell. SMPMTs dan. SMA /M. 1998. Jakarta Agus Dharma. Costa. J. Flippo. P. London: Falmer Press. Jakarta. T. Russ S. Caldwell. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi. B. & Hayward. Moxley.. inovatif. (2005). 2003. McCauley. Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. Gramedia Pustaka Utama. Memiliki harapan prestasi yang tinggi. dan menyenangkan (PAIKEM). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. The Adaptive State: London: Demos. kreatif. Graw. Puspendik. Effendy. (Eds. J. Arikunto. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ellen Van Velsor. 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. & Bell. Rene T. Cocheu Ted. and Adair. San Francisco: Jossey-Bass Publishers. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1. (2004).tinggi. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.. (1998). San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas.Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas.2001. efektif.

T. Leadership. & Watson. Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. Miftah Thoha. & Kluwer Academic Publishers.. Pengelolaan Lingkungan Belajar. dan Kinerja (Kontemporer & Islam).http://www. D. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.H. London: Specialist Schools Trust. A. W. Strategi. Jakarta: Ghalia Indonesia. 017. Jesson. Konflik. Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp. John E. 017. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. M. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. 453-474. 1999. 2002. Business. (Ed. 1999. Jakarta: PT. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito. D. Organisasi dan Motivasi.edu/pubs /consumered/g1397. Manajemen Berbasis Sekolah. Martini Hadari. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. N.H. Massachusetts: Harvard Business School Press.. School Effectiveness and School Improvement. Ginnett Robert C. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟. Ornstein. School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. 21-38). (2000). dan Implementasi. Inc).htm. Bandung: Remaja Rosdakarya. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia. 1999. 1988. Y. New Jersey: Prentice Hall International Inc. K.16. 2003. The University of Hong Kong. third edition. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth. Kusnadi. Desentralisasi Pendidikan. Education Epidemic. Griffin W. 1996. edisi-5. Nuril Huda. Barbuto dan Lance L. Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries. London: PMDU. London: Demos Hughes Richard L. cet ke 2 Ouchi. 1999.18. National Association of Secondary School Principals.2005. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis. The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. Yogyakarta: BPFE Hasibuan. Grasindo. Y. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep.. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves. Masalah. (2009). 11(4). G. Singapore: Irwin/McGraw-Hill. Manajemen edisi 2. 1999. New York: Simon & Schuster. Ronald. Nugraha. (2003). Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya. M. Kotter.). Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12. Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE). G. Nurkolis. Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. Ricky dan Ebert J. Mariyana. (2003).unl. In Mok. Handoko. Alex..ianr. 1995). L. Arlington. Leung. (2010). Fullan. & Segal.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan .. LLECE (2002). Lunenburg & Allan C. Brown. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools. Hani. Santiago: UNESCO. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Boston. R. Kerjasama. Virginia. E. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Leading Change.Fred C. & Rachmawati.doc 135 . Motivating Your Employees. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.13.. 1982. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003). John. Hong Kong: Comparative Education Research Centre. Hadari Nawawi dan M.Malang: Taroda. dan Curphy Gordon J. (2008). Jakarta: PT.

Arlington. (1999). G. School-Based Management and Student Performance. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools. Syah... Paris: International Institute for Educational Planning. (1999). National Association of Elementary School Principals.. Israel: Ministry of Education. amirican Management Assosiation Inc. and National Association of Secondary School Principals. (2005). 2010. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru. (2003). M. & Levacic. Kreatif. Efektif. Inovatif.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung . A.).. UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. M. Bandung: Remaja Rosdakarya .(2205) Peraturan Pemerintah RI No.. School-based management: An International Perspective. (2009). HAA. Tilaar. Glasgow: HarperCollins Publishers. Saydam.. & Friedman.. Yogyakarta: PPS. K. T.. Surabaya: Penerbit SIC..wordpress. Ross.. 2008. A.UNY Terecy WR. Prof.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ph. Jakarta Suyata. (2001). Wilkes. PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.doc 136 . dan Menyenangkan.Ramadhan. A.American Association of School Administrators. David Peterson. 1971 Designing Training & Development System. (1998). Virginia: 1988.D.. I. N. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro. A. UNESCO. Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. Jakarta: Djambatan Subakir. R. Manajemen Berbasis Sekolah. G. dan Sapari. 2001. Yamin. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. Diambil dari: http://tarmizi. (Eds.. A... Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. Pembelajaran Aktif. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful