PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

School-Based Management.doc 4 . Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters. Keywords: Leadership. The whole components that are principals. With the use of MBS approach. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation. teachers. school institution as an operational unit which manage everything directly. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System. In order to conduct school effectively. the school needs an effective leadership as well. school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities.

Dalam Era Globalisasi ini. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. Dalam pelaksanaannya. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. memotivasi. yaitu: (a) keterampilan teknis.doc 5 . memimpin rapat. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial. dan produktif). telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. termasuk pendidikan. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. politik. menggairahkan. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. dan memiliki kepekaan sosial. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. LATAR BELAKANG MASALAH 1. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. berani. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. Memahami tujuan pendidikan dengan baik. bersemangat. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. sosial dan budaya. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. murah hati. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. ekonomi. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. Pengetahuan yang luas. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.BAB I PENDAHULUAN A. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.

atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. mengarahkan. Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). “Some people have said that experience is the best teacher. Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menurut penadapat (Cynthia D. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya.doc 6 .2. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. membangun. berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. McCauley. dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). pemeliharaan personal. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. Moxley. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Russ . fungsional. Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Ellen Van Velsor. dan mengkoordinasi orang lain. Bennis and Nanus (1995). Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan. pengetahuan (cognizance). Permasalahan yang timbul terus menerus. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. oragnisasi dimana mereka bekerja. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion).

reputasinya atau karismanya. dan dukungan. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968). Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. Pendapat ini tidak salah seluruhnya. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. “So experience is not the best teacher?”. Walaupun demikian. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien.” the sage responded. (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik. tanpa adanya karyawan atau bawahan. “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development.doc 7 . Selama beberapa dekade. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). (4) Referent power. sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. Sebuah organisasi akan efektif. “the experiences that stretch you. kepemimpinan tidak akan ada juga. Berdasar penelitian pemikiran tersebut. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. apabila dikelola dengan manajemen yang baik. (b). Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. “. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Dengan menekankan pada aspek manajemen. Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. “Not exaltly that. (5) Expert power. (2) Coercive power. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). pengetahuan (cognizance). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988). “It is just that not every experience offers important leadership lessons”.some experiences don’t teach”.

penorganisasian . Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi.5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. tetapi tidak sama dengan manajemen. Idealnya. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. pengawasan dan evaluasi. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. kedua konsep tersebut berbeda. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan.doc 8 . menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi.doc 9 . 2000). Sehingga diberlakukannya MBS. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. referensi. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Namun demikian. 3. yaitu . tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. penghargaan. Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. terutama di kota-kota. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. 2000: iii). dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. pengadaan buku dan alat pelajaran. legitimasi. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut.pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS). Berdasarkan masalah di atas. dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Oleh sebab itu. Sebagian sekolah. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. informasi. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. keahlian. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. yaitu kekuasaan paksaan.

Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. (4. di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. Kepala Sekolah. kebijakan. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. kurikulum. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. standar. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Menurut Miftah Thoha (1999). masalah-masalah dalam penerapannya. dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. memecahkan masalah-masalah umum. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3). di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. Namun. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management).) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid. Komite Sekolah. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.MBS. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan.doc 10 . Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. para guru. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. manfaat. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1). (2. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah.

doc 11 . (c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua.berkonotasi negatif. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. para legislator. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. menghambat kreativitas. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama. Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. pendidikan dasar. menghambat kreativitas. 20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. serta keluarga terhadap sekolah. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. pebisnis. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. kelompok masyarakat. masyarakat.

kelompok masyarakat. Manajemen berbasis lokal b. (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. Inovasi kurikulum. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal.doc 12 . (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. yaitu: a. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. pebisnis. Pendelegasian wewenang c. (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Dengan demikian. Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. para legislator. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). apalagi pusat.atau masyarakat. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepegawaian. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. orang tua. 2003). Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. Melalui keterlibatan guru. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. sekolah (Agus Dharma. Akibatnya. Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi.

kebijakan. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. administratior. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator. namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel. Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif.doc 13 . saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. otonomi sekolah. pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. standar.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. pengorganisasian. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. sistematik. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. Menurut Miftah Thoha (1999). Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). manajer. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?. pengorganisasian. DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. supervisor. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. B. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. nyaman dan tertib. kewajiban sekolah. para guru. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. kurikulum. Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim). dan berlanjut terjadi.

kelompok masyarakat. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). stimulus dan koordinasi personil. penyiapan alokasi sumber daya. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. d. perilaku kepemimpinan. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan. b. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. (Nuril Huda. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat.doc 14 . Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. menghambat kreativitas. para legislator. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. pebisnis.a. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. pengambilan keputusan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning). melakukan perencanaan. penciptaan iklim organisasi yang kondusif. Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. pengorganisasian (organising).

Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya. pebisnis. khususnya pendidikan dasar dan menengah. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia. fasilitas. proses pembelajaran. profesionalisme tenaga kependidikan. manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan.doc 15 . terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. kurikulum. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS). Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. tangguh. Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan. Oleh karena itu. serta sistem administrasi secara keseluruhan. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. berakhlak mulia. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. kelompok masyarakat. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. pengajaran sumber belajar. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. (2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. kreatif. para legislator. Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan.

(7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17. nilai kultural dan kemajemukan bangsa. School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). tenaga kependikan. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. Dalam konteks ini. 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah. Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bangsa dan Negara. A. pengorganisasian (organizing). siswa. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. nilai agama.16.(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2002). 2. orang tua. namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah. (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.doc 16 . pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal.18.Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Undang-Undang Republik Indonesia No.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning).(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12. Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah. Dalam UU No.13. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. kepala sekolah.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi.

2002). (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global. (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. pengalaman. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. keterampilan. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. dan internasional. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal.doc 17 . pengetahuan. MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1.. orang tua. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam konteks ini. tenaga kependikan. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. adaptif dan aspiratif. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. regional. sikap. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah .Meningkatkan kecerdasan. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global. kepribadian. bangsa dan Negara. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. kepala sekolah. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. akhlak mulia. (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. A. Dengan demikian. berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global. (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. demokratis. (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional. siswa.

Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. lingkungan dan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. tenaga pendidik. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8. dan standar penilaian pendidikan). Ruang belajar yang nyaman. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7.doc 18 . PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. standar pembiayaan. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. yaitu . Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. standar kompetensi lulusan. siswa. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. standar pengelolaan. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit. standar pendidik dan tenaga kependidikan. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan.4. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. terkait dengan hal tersebut. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. standar sarana dan prasarana. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. standar proses. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus.

Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. dan sentosa. 2003). Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. kapasitas. Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. bakat. Manusia memiliki potensi. pengalaman. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. minat. Sebagai lembaga sosial. minat. Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. sedangkan sebagai lembaga ekonomi. Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . latar belakang. Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). dan memiliki keunikan. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. perspektif. Menurut Rousseau (Emile.saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat. untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat. Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. Fink & Earl. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. intelektual dan emosional. dan kemampuan. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. perluasan pemeratan pelatihan Guru. mengganti simulasi yang berbahaya. Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. kualitas pendidikan bersifat dinamis. 3. termasuk pendidik. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram. 1762). serta prilaku yang diterima masyarakat. Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. menurut Suderadjat ( 2005 ). aman. Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya.doc 19 . sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat.

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula.d. serta memiliki sikap. berilmu. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. dalam undang-undang yang sama. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. efektif. untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. inovatif. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. kreatif. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).doc 20 . dan. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. kecerdasan. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). kreatif. dan menyenangkan (PAKEM). kepribadian. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 2001). pengendalian diri. Untuk dapat berkembang dengan optimal. Peningkatan kompetensi guru. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. dalam Subakir & Supari. sehat. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. bangsa dan negara. Dukungan masyarakat. Transparansi manajemen. berakhlak mulia. masyarakat.Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kreatif. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki. (Pasal 4). pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. iklim. c.20/2003) Selanjutnya. Dua dari keempat pilar di atas. yaitu: a. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. dan. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. cakap. Pembelajaran aktif. 2001). butir kedua dan ketiga. akhlak mulia. mandiri. Oleh karena itu. terampil. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. b.

Melaksanakan keterbukaan manajemen. Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengembangkan komunikasi yang baik. dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan.`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. seperti : budaya mutu. kreatif. lingkungan belajar yang paling utama. aspiratif. UU No. Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. kejelasan visi dan misi. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. bertanggung jawab. inovatif. disiplin. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional . cerdas. budaya progresif. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. Misi. UU No. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi.doc 21 . demokratis. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah. mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. partisipasi warga. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Mewujudkan temwork yang kompak. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. UU No.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. dan dinamis. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . aman dan tertib.

inovatif. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka.doc 22 . masyarakat. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. termasuk dalam bidang pendidikan. dan. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. dan menyenangkan (PAIKEM). baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Manajemen Tenaga Kependidikan. 2001). ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. ia (hal. dan pemerintah. (f). Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Manajemen Layanan Khusus. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif.” Dalam pelaksanaannya.memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. (b). Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. kreatif. dan menyenangkan (PAKEM). Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. efektif. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. (c). yang meliputi guru. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. terutama dengan pengajar atau guru.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. serta komite sekolah. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. rapi. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. kreatif. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. Untuk mewujudkan hal ini. (e). berkreasi. Sehubungan dengan hal itu. Dalam manajemen sarana dan prasarana. telah dapat diwujudkan. efektif. Berkaitan dengan ini. Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. (g). efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. (d). Manajemen Kesiswaan.

pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. minat. seperti radio. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. laboratorium bahasa. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. efektif. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. poster. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. kreativitas. komik. Mengajar. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Terdapat berbagai jenis media belajar. dan bahan ajar. VTR). yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. b) Media Audial : radio. inspiratif. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. tulisan dan suara yang direkam. untuk mengungkapkan gagasannya. chart. bagan. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. kreatif. sehingga terjadi proses belajar. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. komputer dan sejenisnya. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 23 . Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. penerapan PAIKEM sangat tepat. termasuk cara belajar kelompok. tape recorder. menyenangkan. menyenangkan. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. over head projektor (OHP). Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. diagram. pengajar. cassette recorder. video (VCD. 2011: 76). televisi. inovatif. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru.” Dengan demikian. in focus dan sejenisnya. kartun. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. diantaranya . Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. a) Media Visual : grafik. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. realia. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Menurut Djamarah (2005:212). Menurut Ramadhan (2008:5). menantang. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. piringan audio. pada intinya. DVD. gambar bergerak atau tidak. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. c) Projected still media : slide. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. dan sejenisnya. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. d) Projected motion media : film. dan cocok bagi siswa. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar.

c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kreteria pertamanya adalah biaya. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. cetakan. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. gambar atau lukisan. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. Media audio-visual. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). motivasi. baik secara individual maupun klasikal. cetak suara. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. estetika juga merupakan sebuah kriteria. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). dan kedisiplinan. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Untuk menarik minat pembelajar. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. dan (b) audio visual gerak. 1994:78-79). Menurut Djamarah (2005:32). 1993:10).doc 24 . Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. kemampuan untuk dirubah. waktu dan tenaga penyiapan. 327). Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor.“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. antara lain: kompetensi. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Sehubungan dengan hal itu. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. silde (film bingkai) foto. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. si pembelajar atau belum. film rangkai suara. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. competency atau competence. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. pengaruh yang ditimbulkan. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris.visual. keringkasan. di sekolah maupun di luar sekolah. kecocokan dengan ukuran kelas. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu.

Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. dihayati.Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. empatik. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. kompetensi kepribadian. (7). dan seni melalui pendidikan.Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 25 .Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. sertifikat pendidik. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. (9). sosial. (2). dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. dan perilaku yang harus dimiliki. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. ketrampilan. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. dan santun dengan peserta didik. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. spiritual. dan intelektual. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1). dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. teknologi. serta perancangan strategi pembelajaran. moral. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Menguasai strategi pengembangan kreativitas.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik.Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. Mengenal siswa secara mendalam. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11). dan Kompetensi Profesional . ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. sehat jasmani dan rohani. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar. (5). (4). Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. pengembangan bahan ajar.” Selanjutnya. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. Berkomunikasi secara efektif. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. kompetensi social. kompetensi.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6). kemahiran. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. Kompetensi Kepribadian. Kompetensi Sosial. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. (3).

serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Sumber daya. Melihat progres pencapain kurikulum. Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. Pertanggung-jawaban (accountability).Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. dan menyenangkan. aktif. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. strategi. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip. guru dan staf lainnya). sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran.Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Personil sekolah.Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. dan prosedur penilaian pembelajaran. dan prosedur penilaian yang benar. Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. kreatif.doc 26 .belajar. Selain pembiayaan operasional/administrasi. Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. strategi. wakil kepala sekolah. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. strategi. (2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. efektif. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Mengelola proses pembelajaran.

serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. Konsekwensi logis dari itu. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia. fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. penulis menggunakan metode kepustakaan. C. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). efektif. yang penulis uraikan. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas. TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. F. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah.doc 27 . Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). E. RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. efisien. atau muatan lokal. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders).

yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah. dasar dasar pemikiran. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. 2) Peningkatan efisiensi. yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. terinci akan hal hal sebagai berikut : a. dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). kosep dasar Kepemimpinan dan MBS. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. transparan. Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang. 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah. dibahas pula secara lebih spesifik . Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS.doc 28 . Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. dan akuntabel. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Gaya Kepemimpinan 4.

mendorong profesionalisme kepala sekolah.6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah.doc 29 . penyelenggara. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. guru didorong untuk berinovasi. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. 7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah.

Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). Russ . keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). (3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1). (2) Coercive power. Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. pelatihan. pengorganisasian. Reward power. Moxley. komunikasi. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. pengetahuan (cognizance). dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). dan seterusnya. (5) Expert power. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ellen Van Velsor. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). tetangga dimana mereka bermasyarakat. oragnisasi dimana mereka bekerja. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. (4) Referent power.BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya.doc 30 . kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. McCauley. Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. kepemimpinan. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Disamping itu juga. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. yaitu: perencanaan. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). kedua konsep tersebut berbeda. tumbuh dan berubah (Cynthia D. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. reputasinya atau karismanya.

Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing.namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. penggerakan. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. melainkan pada gaya kepemimpinan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Situasi di sini meliputi waktu. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. para supervisor. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Penampilan fisik. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. kemampuan bawahan. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. tidak disiplin. dan selalu menjadi trouble maker. inteligensia. Tanpa kepemimpinan yang baik. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing.doc 31 . gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. pimpinan. (2) gaya demokratik (democratic style). susah diatur. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. tuntutan pekerjaan. dan para pelaksana. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. dan pengawasan. pengorganisasian.

bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya.. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan.sekerja. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan. Berdasarkan pola hubungan tersebut. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku.doc 32 . Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. serta kematangan bawahan. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik. Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan. dan bagaimana caranya.

00 ketika para pegawai selesai beristirahat. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut. Dengan ketentuan seperti itu. saat para pegawai akan beristirahat siang. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan.00. (2) pada jam 12. Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi. Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja.00.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang. Ginnett. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya. namun karena posisinya sebagai bawahan. dan Curphy. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan. Dari kasus tersebut di atas. Ginnett. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain.doc 33 . yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. (3) pada jam 13. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan. Hughes. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08. Menurut Hughes. Maka hal tersebut. dan (4) jam 14.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut.

kecuali untuk jangka waktu yang singkat.seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim. Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien. sengaja mengulur-ulur waktu kerja. namun jarang mencapai kepuasannya. (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan). akan timbul keinginan lain. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. Apabila satu keinginan telah terpenuhi. berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. alasan keluarga. (2) apa yang mengarahkan perilaku. Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal. tingginya biaya pelatihan. berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu. Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. Sebaliknya. Pada gilirannya. Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara.doc 34 . Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. dan rasa malas pergi bekerja. dan sebagainya. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. (c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). akan muncul keinginanlain lagi.” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. dan menurunnya produktivitas. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi. dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace). dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas.

mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven). (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. bonus. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. karena banyak faktor yang mempengaruhinya. dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan.Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat.santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. (d) teori harapan (expectancy theory). Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas. maka para pegawai akan berproduksi lebih besar. Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). Kedua gaya kepemimpinan tersebut. memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. dan akan menang dalam bersaing. atau berbagai macam imbalan lainnya. Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. dan perusahaan memberikan uang tersebut. Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. dan (e) teori ekuitas (equity theory). mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya. Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan.doc 35 . perusahaan untung. dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories). yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management). Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. (2) teori perilaku (behavior theory). Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori.. Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh. mengendalikan dan mempengaruhi situasi. (b) tugas rendah dan hubungan rendah. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap. karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat. Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut. karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi.Pada tahap awal. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif. dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan. Pada tahap dua. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. Sedangkan pada tahap ketiga. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab.doc 36 . sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter. sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai. Kepemimpinan diatas. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian. Dan pada tahap empat (akhir). Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. Least Preferred Co-worker).

(4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah. karena mempunyai organisasi yang lebih produktif. dan kekuatan yang ada dalam situasi. (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. menerima saran. (2) manajer menjual keputusan. dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. dan mendasarkan komunikasi. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. 3) Sistem 3. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. (6) manajer menentukan batas-batas. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan.dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive).doc . Pemimpin menentukan tujuan. 4) Sistem 4. tugas dapat struktur. dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. Dari keempat sistem diatas. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. percaya kepada bawahan. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. kekuatan yang ada pada bawahan. (5) manajer menyajikan masalah. meminta kelompok untuk mengambil keputusan. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. 2) Sistem 2. membuat keputusan.

Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. Masih menurut Burns. dan demokratis. (2) aktif. keterampilan konseptual (conceptual skills). Keterampilan Dasar Kepemimpinan. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. adanya kesamaan yang paling utama. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Pertama. Ketiga. (3) kekeluargaan. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. Kedua. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. 2. keterampilan hubungan insani (human relations skills). keterampilan teknis (technical skills). (3) memberi petunjuk. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri.kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. 4. dan (4) kerjasama. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Untuk pendidikan dasar dan menengah. keterampilan manajemen waktu (time management skills). Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. dinamik dan demokratis. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. 5. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). tetapi oleh kesadaran bersama. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi.doc . 3. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. Sementara menurut West dan Michael. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. (2) pelaksanaan tugas. (2) memberi dukungan. partisipatif.

dan mendua. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. mempunyai motivasi tinggi. sastra. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. 3. 5. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. Otonom. 8. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif. dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. 9. ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya. orang tersebut cenderung risau. 6. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. Percaya Diri. sains. 7.(1). Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil.. 2. dan teater. musik. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. Toleran terhadap Ambiguitas. membingungkan. menulis. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan.doc 39 . 4. filsafat. Misalnya. tari. film. dan matematika.

Berikan hadiah yang adil. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Semakin penting sebuah tugas. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. mungkin tidak memotivasi orang lain. Individu sendiri harus termotivasi. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. tulis John Lancaster Spalding. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat.doc 40 . Bagi orang berbakat. Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. Masyarakat adalah pemilik sekolah. Kita semua adalah individu. 5. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. keduanya saling membutuhkan. yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Oleh karena itu. kemajuan akan memotivasi. 6. 3. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi.pemimpin yang tidak memotivasi . Ciptakan lingkungan yang memotivasi. Seseorang tidak harus menjadi orang lain. 4. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. MBS adalah upaya serius yang rumit. 7. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. Pilih orang yang bermotivasi tinggi. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. Oleh sebab itu. B. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. memecahkan masalah-masalah umum. semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Karena sulit memotivasi orang lain. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. Perlakukan setiap orang sebagai individu. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. 8. Ingat. Berikan pengakuan. 2. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah.

sistematik. Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah.doc 41 . Dengan demikian. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. dan sekolah. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan. cet ke 2. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.. manfaat. Jakarta : PT. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. menurut . masalah-masalah dalam penerapannya.yaitu manajemen.yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. dan berlanjut terjadi. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. standar. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Secara bahasa. kebijakan. dan akuntabilitas. Grasindo. Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. berkreasi.2005. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). hal. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. lingkungan belajar yang paling utama. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Akan tetapi. kurikulum. berbasis.

baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Dalam manajemen sarana dan prasarana. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Dengan demikian. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. serta komite sekolah. (g). Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. rapi.kepala sekolah. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. (d). dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. para guru. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Berdasar teori di atas. yang meliputi guru.doc 42 . keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. (b). apalagi pusat. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. ia (hal. (e). efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. orang tua. telah dapat diwujudkan. Manajemen Tenaga Kependidikan. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. dan pemerintah. (c). Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. Manajemen Layanan Khusus. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Komite Sekolah. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan.” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). kepegawaian. masyarakat. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Kemudian. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. termasuk dalam bidang pendidikan. guru. murid. Namun. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Manajemen Kesiswaan. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. dan. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. (f). Melalui keterlibatan guru. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Kepala Sekolah.

Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. Pelaporan hasil. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. dan kurikulum. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. Oleh karenanya. c. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. b. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. d. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. e. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Akan tetapi pada prakteknya. khususnya orang tua siswa. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan.doc 43 .pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. kepegawaian. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. g. tantangan. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. f. Juga secara proses. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management.Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Secara akademik. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free).Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. Ironisnya selama ini. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. para guru.

15Dalam MBS. para guru. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. komite sekolah. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. anggota masyarakat. 2003:42). Sebaliknya. khususnya Sekolah. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. misi. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Dengan demikian. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. penilaian. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. dan murid (Nurkolis. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. orang tua. administrator. gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. sampai dengan tingkat Sekolah. Sebagaimana dimaklumi. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. provinsi. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. Pada prakteknya. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). kabupaten/kota.doc 44 . yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. Pihak-pihak lain seperti. orangtua. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. tantangan. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan dukungan. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. mulai dari tingkat pusat. kepala sekolah.

kelemahan. dan peningkatan rasa tanggungjawab. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. Kemandiriannya. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. dengan otonomi yang lebih besar. Demikian juga. Ketiga. tentu saja. 4. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. Kedua. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10. sekolah lebih mengetahuikebutuhannya.doc 45 . kelemahan. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. orangtua siswa. sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. peluang dan ancaman bagi dirinya. siswa. sekolah lebih mengetahui kekuatan. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. karyawan. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. sehingga sekolah lebih mandiri. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. dengan pengambilan keputusan partisipatif. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.program desentralisasi bidang pendidikan. 3. kepala sekolah. peluang. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional.

Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. 4. lebih demokratis dan terbuka. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1). orang tua. masyarakat. 4. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. peluang dan ancaman bagi dirinya. Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid.doc 46 . serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. 2. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah.MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. dan pemerintah 8. dan masyarakat 7. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. 3. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. kelemahan. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”.

sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi. sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun. menyeleksi pelamar pekerjaan. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. standar kualifikasi guru. dan dewan Manajemen sekolah. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah. kelemahan. Jika tidak. Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. dinas pendidikan daerah. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. efisiensi administrasi. Di Amerika Serikat. Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah.(6). dan efektifitas sekolah. standar kepegawaian. professional.doc 47 . peran dewan sekolah tidak banyak berubah. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. Namun. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. standar fasilitas dan peralatan sekolah. (5). Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. pada tingkat nasional. Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas). MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah. Kedua. batasan pengeluaran.(3).(2). Pemerintah pusat. dan sebagainya. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional.(4). Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. politis. dan dewan sekolah di setiap sekolah. dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi. pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Menurut bank dunia. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. finansial. prestasi siswa. dan biaya programprogram sekolah. MBS adalah ancaman besar. Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. dewan pendidikan pada tingkat daerah. akuntabilitas. masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya. Ketiga.

MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. 5. Jakarta: PT. dan apa rencana selanjutnya. dinas pendidikan daerah. 4. Keenam. 2003.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu. Keempat. hal. Nurkolis. 21 dan Ibid. 3. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin. melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. kepala sekolah.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. kualitas kurikulum. dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan.Kelima.Kedua. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. dan dewan sekolah.Association of Elementary School Principal. Gramedia hal. meningkatkan kualitas. 1. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. kuantitas. Bagi sumber daya manusia. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya). pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. Dalam pengimplementasian MBS. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan.” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas. meningkatkan moral guru. 2. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. Ketiga. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil. 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. The National Widiasarana Indonesia.doc 48 .

W. Juran (Arcaro. dimana warga Sekolah (guru. orangtua siswa. partisipasi masyarakat. dan politik) Di lain pihak.b. c.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. d. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah. ekonomi. Seperti halnya Deming. partisipasi. Dr. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Dr. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. f. Pengelolaan keuangan g. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Joseph M . Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. Pengelolaan proses belajar mengajar. pendapatan daerah dan orang tua. Hubungan Sekolah-masyarakat i. Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Juran adalah ahli statistik terpandang. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. Ciri-ciri MBS. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Pengelolaan ketenagaan e. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Pelayanan siswa h. Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. Dr. Asal diterapkan secara ketat. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. Pengelolaan iklim Sekolah.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional. c.doc 49 . Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. karyawan. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. b. Edward Deming (Arcaro. siswa. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah.

Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. Dengan perangkat yang tepat. kepala Sekolah. standar penguasaan minimum. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom). dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. standar kompetensi siswa. Ini bahkan menjadi lebih sulit.dengan tepat. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. b.doc 50 . pengusaha dan para akademisi. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. reflikabilitas dan substainabilitas. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan. Banyak perubahan. tokoh agama. Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. piloting. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. akuntabilitas. pengawas. Misalnya. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas. e. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba. dan diseminasi. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. standar materi pelajaran pokok. bukan program sekali jalan. diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat. yakni guru. ada empat tahapan implementasi MBS. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. c. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. baik cetak maupun elektronik. standar pelayanan minimum. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. misal merupakan prasyarat mutu. pelaksanaan. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. d. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. Pelatihan. Seperti telah dinyatakan di atas. yaitu sosialisasi. Seperti halnya Deming. 2004.

Potensi Kepala Sekolah. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. semangat belajar. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pada tanggal 2 Mei 2002 c. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. pelaksanaan. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. a. dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif. b. kewajiban Sekolah. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. terutama yang berada di lingkungan Sekolah. organisasi formal dan internal. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. dan Komite Sekolah. Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. otonomi Sekolah.doc 51 . Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. pengawasan pendidikan di Sekolah.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan.baik faktor internal maupun eksternal. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. pengorganisasian. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. Dewan Pendidikan. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. baik secara konvensional maupun movatif. serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. d. e. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. potensi sumber daya manusia. disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah.

yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM). Kreatif. Forum Peduli Guru (FPG). Program ini terdiri atas tiga komponen. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. KKM. h. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan.Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. Dalam pada itu. d. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. program yang mendukung implementasi. serta tingkat penghayatan. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Profesionalisme. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. b. rencana yang rinci dan sistematis. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. i. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). 2002. Dukungan pemerintah. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat.doc 52 . c. Kelompok Kerja guru (KKG).f. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan.

dan menyenangkan (PAIKEM). inovatif. Transparansi manajemen. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. 2001). Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai.” Dalam pelaksanaannya.” Dengan demikian. efektif. c. kreatif. kreatif. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. Jawa Tengah. butir kedua dan ketiga. 2001). menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. 2011: 76). sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. kreatif. Dua dari keempat pilar di atas. Sulawesi Selatan. Untuk mewujudkan hal ini. Pembelajaran aktif. kreatif. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. b. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. efektif. Berkaitan dengan ini. 2001). d. mengacu kepada empat pilar (Kristanto. terutama dengan pengajar atau guru.diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. karena mereka senang belajar. Untuk dapat berkembang dengan optimal. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur. dalam Subakir & Supari. dan menyenangkan (PAKEM). Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sehingga terjadi proses belajar. Mengajar.doc 53 . Dukungan masyarakat. pada intinya. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. efektif. dan. dan NTT. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. efektif. dan menyenangkan (PAKEM). Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). yaitu: a.

kreatif. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. diantaranya . Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. laboratorium bahasa. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. a) Media Visual : grafik. penerapan PAIKEM sangat tepat. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. Terdapat berbagai jenis media belajar. kreativitas. dan bahan ajar. termasuk cara belajar kelompok. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. Menurut Ramadhan (2008:5). Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Peningkatan kompetensi guru. c) Projected still media : slide. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. minat. video (VCD. b) Media Audial : radio. DVD. iklim.menciptakan suasana. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. chart. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. poster. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. menantang. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. menyenangkan. komik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. inspiratif. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. over head projektor (OHP). kartun. dan cocok bagi siswa. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. televisi. diagram. realia. Pembelajaran yang aktif. pengajar. tulisan dan suara yang direkam. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. gambar bergerak atau tidak. d) Projected motion media : film. dan. in focus dan sejenisnya. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. menyenangkan. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. VTR). Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru.doc 54 . tape recorder. komputer dan sejenisnya. dan sejenisnya. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. untuk mengungkapkan gagasannya. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. efektif. inovatif. bagan.

Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. kemampuan untuk dirubah. Media audio-visual.doc 55 . dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. pengaruh yang ditimbulkan. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. 1993:10).Menurut Djamarah (2005:212). “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. gambar atau lukisan. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. piringan audio. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. (b) audio visual gerak. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. kecocokan dengan ukuran kelas. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Kreteria pertamanya adalah biaya. seperti radio. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Untuk menarik minat pembelajar. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). cassette recorder. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. si pembelajar atau belum. Sehubungan dengan hal itu. Menurut Djamarah (2005:32). a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. waktu dan tenaga penyiapan. cetak suara. keringkasan. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Media visual. silde (film bingkai) foto. film rangkai suara. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. 1994:78-79). Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. cetakan.

empatik. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik.doc 56 . kompetensi. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. dihayati. 3. dan Kompetensi Profesional . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 5. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. serta perancangan strategi pembelajaran. teknologi. Berkomunikasi secara efektif. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. dan santun dengan peserta didik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1. competency atau competence. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. sertifikat pendidik. dan intelektual. pengembangan bahan ajar. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. dan seni melalui pendidikan. dan kedisiplinan. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. ketrampilan. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. spiritual. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. dan perilaku yang harus dimiliki. Kompetensi Kepribadian. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. kompetensi social. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. kompetensi kepribadian. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Mengenal siswa secara mendalam. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. kemahiran. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. 2. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Kompetensi Sosial. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. di sekolah maupun di luar sekolah. motivasi.” Selanjutnya. 327). moral. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. 4. sosial.“ Karenanya. antara lain: kompetensi. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. sehat jasmani dan rohani. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan.maupun klasikal. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

efektif. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. Pengembangan kurikulum atau silabus. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar. 2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. strategi. strategi. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. 8. aktif. strategi. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. kreatif. dan prosedur penilaian yang benar. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa).Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Evaluasi hasil belajar. 9. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. dan menyenangkan. Pemanfaatan teknologi pembelajaran. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. Mengelola proses pembelajaran. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip.doc 57 . 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip.7. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. Pemahaman terhadap peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. dan prosedur penilaian pembelajaran. Perencanaan pembelajaran. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A. Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin. mengontrol perilaku. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti . makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. penorganisasian .2 Peterson at. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan. pengawasan dan evaluasi. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan. tetapi tidak sama dengan manajemen.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi.doc 61 . atau the qualities of leader Secara bahasa. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam konteks penugasan audit. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi.being a leader power of leading . Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi. Seperti halnya manajemen. dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan. GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1. kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai. membimbing. Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya.3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi.Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal.

sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. reputasinya atau karismanya. kedua konsep tersebut berbeda. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. tanpa adanya karyawan atau bawahan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian. Expert power.doc 62 . Walaupun demikian. Sarros dan Butchatsky (1996). Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Menurut French dan Raven (1968). Coercive power. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. pengetahuan (cognizance). Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. kepemimpinan tidak akan ada juga.Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Dilain pihak. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Sedangkan menurut Anderson (1988). keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Referent power. Menurut definisi tersebut. secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit.

menyatakan. Maccoby. Prof. menuntun. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan.P. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. Selanjutnya Lao Tzu. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. organisasi. beberapa diantaranya : · Menurut Drs. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. dan membimbing asuhannya. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100. respect. kepercayaan. Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari. Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin. confidence. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. Hasibuan. 1. Sedangakn menurut Pancasila. baik di lingkungan keluarga. H. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepemimpinan serta kekuasaan.doc 63 . Malayu S. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley. Dengan kata lain. sikap."). mengarahkan. respek. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius. Menurut Robert Tanembaum.

Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. kedua konsep tersebut berbeda. Menurut French dan Raven (1968). Referent power. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Coercive power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Berdasarkan definisi-definisi di atas. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin.Sarros dan Butchatsky (1996). yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Expert power. reputasinya atau karismanya.pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menurut definisi tersebut. Sedangkan menurut Anderson (1988). Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). "). Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Walaupun demikian. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". tanpa adanya karyawan atau bawahan. Namun demikian. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. pengetahuan (cognizance). Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). kepemimpinan tidak akan ada juga. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.doc 64 . keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.

dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. dan kepribadian. pelatihan.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. yakni mengadakan planning. penggerakan. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan.doc 65 . Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. organizing. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan.organisasi yang bersangkutan. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. controling. kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan. mengisi struktur tersebut dengan individu-individu. yaitu: perencanaan. pengorganisasian. Fungsi sebagai Top Mnajemen. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. mengidentifikasi defiasi perencanaan. staffing. efektif dan efisien. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. dan untuk stake holder. selalu tepat waktu. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. commanding. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. directing. pengorganisasian. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. kepemimpinan. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. mental. Dalam perkembanganya. dan pengawasan. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. komunikasi. mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. dsb.

birokrasi. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. masalahmasalah yang akan muncul. Tanpa kepemimpinan yang baik. dan para pelaksana. para supervisor. Dengan rencana yang telah ditetapkan. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. diberikan peran/fungsi. Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. Dalam pengorganisasian. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. dan para pelaksana. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.doc 66 . dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan. Dalam organisasi. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam.tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. para supervisor. sering pada tingkat yang dramatis. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian.

para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). penganggaran. 1996). lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. tanggung jawab. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. kecakapan berbicara. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. 2. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. Stogdill 1974). Analisis awal tentang kepemimpinan. staffing. Dan dalam perkembangannya. kejujuran. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. status dan situasi. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. ketegasan. gaya dan kontingensi. prestasi. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Hingga tahun 1950-an. Disamping itu. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. seperti misalnya: kecerdasan. partisipasi. yaitu kapasitas. kesupelan dalam bergaul. dan pemecahan masalah. Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial).Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu.doc 67 . Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. pengawasan. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. kematangan. organizing. Kotter.

Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Hoy dan Miskel (1987). Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan.hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. walaupun positif. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. misalnya. seperti misalnya faktor situasi. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate).doc 68 . yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien.

Halpin (1966). ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya.Model kontingensi yang lain. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). prosedur dan petunjuk yang ada). Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Path-Goal Theory. Menurut Fiedler. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan).relations). saling percaya. MenurutPath-Goal Theory. Menurut House. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi.doc 69 . yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). promosi dan penurunan pangkat (demotions). Secara ringkas. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).

seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990).kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). menghormati dan sekaligus mempercayainya. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Dengan demikian.doc 70 . mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". Dengan demikian. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. Menurutnya. Sebaliknya. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Dalam dimensi ini. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menurut Yammarino dan Bass (1990). Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Disamping itu. pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's". dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. joining in a shared vision of the future. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi.

Dalam dimensi ini. produktifitas. Oleh karena itu. meninjau kembali struktur. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). dan nous/noos yang berarti pikiran. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing.doc 71 . dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya.intelektual). dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. gaya (style) dan kontingensi. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. memulai proses penciptaan inovasi.

Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style). Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented). menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya.Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. penghargaan. Gaya kepemimpinan adalah sikap.3. informasi. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. yaitu . keahlian.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. legitimasi. yaitu kekuasaan paksaan. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya.doc 72 . 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. referensi. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. dan hubungan.

Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. tidak ada pilihan lain. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. melainkan pada gaya kepemimpinan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul.doc 73 . Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan.pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin. Penampilan fisik. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. efektif. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi.11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. inteligensia. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. dan efisien. mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi.Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. (2) gaya demokratik (democratic style). melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama.

kapan keinginan itu harus dilaksanakan. pengorganisasian. Sebagai contoh.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. tidak disiplin. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Situasi di sini meliputi waktu. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. pimpinan. kemampuan bawahan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. yaitu: perencanaan. susah diatur. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing.doc 74 . Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. pelatihan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Berdasarkan pola hubungan tersebut. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. dan selalu menjadi trouble maker. pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. kepemimpinan. teman sekerja. gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim. serta kematangan bawahan. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. komunikasi. dan bagaimana caranya. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. tuntutan pekerjaan. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal.untuk mematuhinya. 4. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi.

Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. tim. atau kelompok pekerja. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Dengan rencana yang telah ditetapkan.dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. pengorganisasian. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. Dan organisasi. penggerakan. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Dalam pengorganisasian. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. dan para pelaksana.doc 75 . maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. diberikan peran/fungsi. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. para supervisor. bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer.manajemen. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. dan pengawasan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. masalahmasalah yang akan muncul. para supervisor. Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. Tanpa kepemimpinan yang baik. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. dan para pelaksana. Domingo. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas.

pemimpin. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. c) Pengetahuan yang luas. meminta dilayani oleh para bawahannya. Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru.doc 76 . Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. memotivasi. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. staf dan para siswa. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. memberikan insentif. Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. berpakaian. dan administrator pendidikan. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. memimpin rapat. berani. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu: (a) keterampilan teknis. murah hati. dan memiliki kepekaan sosial. bersemangat.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter. secara rinci dinyatakan : 1. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. supervisor. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. bukan sebaliknya.

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

sekolah. a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat. Namun mulai sejak tahun 2001. Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah . Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.doc 80 . orangtua siswa. b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural. adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). khususnya peningkatan mutu pendidikan. Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2.masing. pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. guru kelas. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Secara mikro. d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Dalam makalah ini. yaitu: 1. dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000). termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. memonitor. dan pemerintah. dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. kelemahan. 6. mengkoordinasikan (coordinating). keluwesan. karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. mengorganisaikan. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). baik personal maupun material. masyarakat. kedua. merencanakan (planning). Berkaitan dengan itu. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM. Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan. pertama. selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. mengevaluasi (evaluation). Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan. 4.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut. peluang. 5. mengarahkan (directing). Disamping itu. 2. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. mengawasi (controlling). Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen).f) Memotivasi timbulnya pemikiran . yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber. dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal. Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. 3. ketrampilan manusiawi. mengorganisasikan (organizing). serta ketrampilan teknik.doc 81 . terdapat tiga pandangan berbeda. Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. sitemik.

sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan belajar pada diri sendiri. para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja . pengembangan staf. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. staf. kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. 6) Kardinata ( LM Tauhid. penguasaan iptek. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. wawasan masa depan. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. etos kerja dan disiplin. (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. 5).doc 82 . (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi. kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. kurikulum. 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. tujuan dan harapan. lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. kepastian karir. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. iklim sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. dan komputer. budaya. intelektual. belajar dari siswa lain. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. kematangan social. profesionalisme. komunikasi. proses belajar mengajar. (3). penilaian diri. Untuk itu. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. ditandai dengan kematangan emosional.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . keimanan dan ketakwaan. kematangan moral dan tanggung jawab. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. dan kesejahteraan lahir batin. (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. 7).

Mengelola Kelembagaan. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda . Melalui keterlibatan guru. kepegawaian. Mengembangkan Budaya Sekolah. Manajerial dan Kepala Sekolah. apalagi pusat. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). Memimpin Sekolah. Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3). MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengembangkan Diri. Mengelola Sistem Informasi Sekolah. Melakukan Koordinasi/Penyerasian. Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah. Mengelola Waktu. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1). orang tua. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Menyiapkan. murid. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Memahami Sekolah sebagai Sistem. Mengelola Kurikulum.bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya. Mengelola Kesiswaan. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Mengelola Keuangan. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. (2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).Mengambil Keputusan secara Terampil. 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan. adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. Agus Dharma ( dalam artikel. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas. 8). Dengan demikian.doc 83 .Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran. Dengan demikian. Mengelola Sarana dan Prasarana. guru. Mengelola Tenaga Kependidikan. Melakukan Monitoring dan Evaluasi. Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat.

A. otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Kedua. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. 9). Pendidikan untuk keadilan.doc 84 . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja.R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. Ketiga. organisasi.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. Keempat. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah.(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. Kedua. Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar. Ketiga. Kelima. penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. Menggunakan pendekatan partisifatif. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. Pertama. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. mulai dari provinsi. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. arahan dan monitoring dari pusat. dana. di antaranya adalah: Pertama. proses belajar mengajar. sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga).

gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Di Indonesia. Akibatnya. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. b. National Association of Elementary School Principals. a strategy for better learning. seperti Amerika Serikat. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Di mancanegara. d. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. menerbitkan dokumen berjudul school based management. Beberapa perubahan tersebut antara lain: a. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri.doc 85 . Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Selama ini.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. and National Association of Secondary School Principals. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Pada 1988 American Association of School Administrators. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Menurut Miftah Thoha (1999).

para guru. Berdasar teori di atas. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Berlandaskan ketentuan UU No.kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Dan sebelum desentralisasi. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. Dewan Pendidikan. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. pebisnis. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. para legislator. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. melalui proses terbuka. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Semua stakeholder. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. (Nuril Huda. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. menghambat kreativitas. 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. atau orang tua yang petani. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. guru baru.doc 86 .. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia. para guru. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. Dewan Pendidikan. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). antara lain Kepala Sekolah. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Dengan demikian. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal.. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. kelompok masyarakat. Kemudian. Akan tetapi pada prakteknya. guru.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Di dalam MBS. orang tua.

Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. tantangan. orangtua. (3). salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. teknik tertentu dalam organisasi. (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. kepegawaian. Pihak-pihak lain seperti. tantangan. pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. orang tua. Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. pada prakteknya. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). liason dan leader. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius.doc 87 . dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama. Selanjutnya .paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. strategi. metode . penilaian. para guru. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. mengutip pendapat Goston (1976). komite sekolah. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. (2) Ketrampilan hubungan manusiawi . membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . dan kurikulum. disseminator dan spoken person. allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain . Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. disturbance handler. (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM). memotivasi dan memimpin organisasi.artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. dan dukungan.

perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik.Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi. menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat . dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya. pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien. b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga.doc 88 . menetapkan kebijakan. sosial dan layanan atau service. menentukan tujuan (sasaran atau objective) . Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal. ekonomi. Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. tatakerja. sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif. dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia . Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan . c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya. penanggungjawab.

157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan.hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). (b) Adanya disiplin kerja. halaman 157. Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . (e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat. dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan. situasi dan kondisi sosial. Drucker. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan . kerja sama. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut.aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. dana. Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. alam.d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi . etnik. New York 1954. dan waktu yang makin ekonomis dan efisien. agar semua tugas berlangsung dengan tepat . (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu. pengontrolan tugas. pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan. menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. politik dan ekonomi (3).158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983. sarana. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. Semakin meningkatnya aktifitas. (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. Harper and Row.doc 89 . penelitian sumber daya manusia. disiplin diri. (2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). kooperatif. judul bukunya “ the practice of management. Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

(b). etos kerja. (5). (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. Membuat perencanaan kerja (2). 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5).manusia yang memprihatinkan. dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. halaman 9 adalah sebagai berikut: (1). tanggung jawab. MA. Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d). mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). 2003. Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). bersih. Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru. transparan. orang tua murid. diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). Menciptakan kewibawaan. Mewakili lembaga (11). Mengendalikan pekerjaan (4). siswa. Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya.doc 90 . Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis. (9). mengatur. Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. Memecahkan masalah (3). menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi. Mengatur waktu (8). Mengembangkan kemampuan diri (10). keperibadian tinggi. Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. Komunikasi lisan maupun tulis. Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). Melatih dan membimbing (6). Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. Memotivasi (7).

mengoreksi kelemahan.doc 91 . terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. kepala sekolah dituntut: Jujur. terbuka. aspiratif. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. pemberani. suka berfikir positif. siswa. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. komunikatif. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. (2). dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. penempatan . kreatif. berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya . Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. Guna mendukung hal ini. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. cekatan/lincah. Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b). penuh tanggung jawab. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah.kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya. masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). Keuangan dan pembukuannya (f).Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks. pemindahan. pegawai tata usaha. Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha. dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi. Qodri A. Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). cerdas. Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan. kooperatif. pemberhentian pegawai guru honorer. menggairahkan. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. idealis. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah. dan produktif). masalah kesejahteraan personalia sekolah (d).

Pembinaan. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3. Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. petunjuk. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. serta memperbaiki kesalahan. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. dan perubahan perencanaan ( Fattah. moral guru. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. terutama dalam bidang pendanaan. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. 2000). Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. orang tua. Peningkatan mutu. memberdayakan guru. Pelaksanaan. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. pembinaan.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. dan guru. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. berlakunya sistem insentif dan disinsentif. Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . rancangan ulang sekolah. antara lain. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. antara lain. .doc 92 . Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik. tingkat putus sekolah. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. dan iklim sekolah. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. memberi penjelasan. mendorong profesionalisme kepala sekolah. manajemen sekolah. dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan. melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. merekam. istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. tingkat pengulangan. dapat diperoleh. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. Pengawasan. merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. hasil belajar. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi.

Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. hasil. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. jasa. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. 6. Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Semangat. Kualitas. tradisi-tradisinya. maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. Sesuai dengan amanat UU tersebut. kekuatan kecenderungan dan keinginan guru. tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. tujuan. bagaimana peserta didik. Kepuasan peserta didik. Pertumbuhan. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. Motivasi. peserta didik. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ).Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. 1. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. tingkat dan kualitas usaha. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. Efisiensi. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. 7. 3. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya.doc 93 . teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. Produktivitas. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. 8. guru. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 4. Kepuasan kerja guru. 2. Pendidikan untuk keadilan. lancar. dan produktif. Menggunakan pendekatan partisipatif. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. guru didorong untuk berinovasi. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tujuan-tujuannya. perasaan senang guru. 5.

Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja.. Menggunakan pendekatan partisifatif. c) Pimpinan oleh para partisipan. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. Dan sebelum desentralisasi. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial. Pendidikan untuk keadilan. dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif. Berlandaskan ketentuan UU No. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini. dan aktivitas kelompok secara mandiri. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. proses belajar mengajar. d) Guru sebagai pasilitator.. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini.doc 94 . Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. b) Pengalihan tanggungjawab. dialog. ekonomi. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini. segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal.

kreatif. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. Akan tetapi pada prakteknya. atau orang tua yang petani. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Dewan Pendidikan. Di dalam MBS.doc 95 . Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan demikian. bertanggung jawab. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Dewan Pendidikan. melalui proses terbuka. seperti : budaya mutu. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. cerdas. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. budaya progresif. tantangan. dan kurikulum. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. para guru. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. inovatif. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. para guru. Semua stakeholder. dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. komite sekolah. aman dan tertib. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. tantangan. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. antara lain Kepala Sekolah. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. . siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. partisipasi warga. Berdasar teori di atas. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. guru baru. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Mewujudkan temwork yang kompak. kejelasan visi dan misi. kepegawaian. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. orang tua. Pihak-pihak lain seperti. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. orangtua. para guru. demokratis. Namun pada prakteknya. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. dan dinamis. Kemudian. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). penilaian. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable".Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. aspiratif. Melaksanakan keterbukaan manajemen. disiplin. guru. Mengembangkan komunikasi yang baik.

untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif. pembiayaan dan kebijakan pemerintah. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat.doc 96 . diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. kebijakan dan prioritas pemerintah. Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. a. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. d. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti. dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. efesiensi. mutu. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. komite. c. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. ketenagaan. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. guru. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. sarana-prasana. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. dan pemerataan pendidikan.

Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia.doc 97 . menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan. Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat. 2000: iii). e. BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. guru. dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial. Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah. karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring.

Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. 1998:4). 3. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. yaitu: 1. Orang tua. beradab. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan.doc 98 . prosedur. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. penyadaran dan mediasi secara simultan. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. Moxley. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. dan kebijakan baru. 2007:1). Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. melainkan sebagai intinya. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. dan seterusnya. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. aturan. fungsi progresif pendidikan dan. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Russ . McCauley. PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju.PEMBAHASAN A. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Ellen Van Velsor. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Selain itu. guru. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. berupa penciptaan norma. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. oragnisasi dimana mereka bekerja. reproduksi. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. mekanika kuantum.

Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan terpantau dengan baik. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. dan struktur persekolahan. Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. para guru. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. dinas pendidikan daerah. program sekolah yang terencana. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. terlaksana. orangtua. Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi.doc 99 . termasuk fenomena moralitas. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri. penilaian. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. tantangan. Bersamaan dengan itu. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. Ironisnya selama ini. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. proses. Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan. dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. dan dewan sekolah. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. kepala sekolah. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada. komite sekolah. dan dukungan. tantangan. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. Pihak-pihak lain seperti.

Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. oragnisasi dimana mereka bekerja. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. yaitu: 1. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. tetangga dimana mereka bermasyarakat.doc 100 . 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. 3. informasi. Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. legitimasi. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. keahlian. referensi. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan hubungan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. yaitu . kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. penghargaan. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). dan apa rencana selanjutnya. dan seterusnya." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers).standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. yaitu kekuasaan paksaan. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. Analisis awal tentang kepemimpinan. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya.

organizing. anggota masyarakat. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. administrator. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. 2003:42). pengawasan. sistemik. Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. dan pengelolaan. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Secara sederhana dikatakan. penganggaran. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. staffing. dan murid (Nurkolis. Oleh karenanya.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. dan akuntabel. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. leaflet. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Dengan kata lain. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. B. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. dan pemecahan masalah. IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif.doc 101 . Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. orang tua. transparan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. Demikian De grouwe menegaskan. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. kepala sekolah.

mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. kelemahan. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. peluang. memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. pengelolaan SDM. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. 1996). KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. percaya diri. sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. Dengan demikian. Kotter. untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. masyarakat. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan.doc 102 .mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. Ciri-ciri MBS. lembaga terkait. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. dan saling percaya dalam bekerja.

Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. stakeholder (seperti untuk customer. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan . Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal.doc 103 . 4. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan. Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi.membantu mengarahkan orang. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal. dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. 3. kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. 2. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar. efektif dan efisien. memonitor kegiatan birokrasi. dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil.

dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri. Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. lebih mengutamakan teamwork. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. Oleh sebab itu. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. pemerataan. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah. guru. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. Dengan taruhan seperti itu. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 104 . 2. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. Dengan demikian. Dengan demikian. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. mengangkat dan memberhentikan karyawan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. guru. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Jadi. murid. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian.

dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. bahkan RAPBS ini dipajangkan. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. kreatif. Pertimbangan kedua adalah lahan. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. dan orangtua siswa. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa.doc 105 . karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah.Jadi. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. atau Australia. dan. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. Terlebih. bebas banjir. dan menyenangkan (PAIKEM). Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan. Malaysia. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Komite Sekolah. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. efektif. Guru. Menurut Ramadhan (2008:1). Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau.Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. yaitu lokasi yang strategis. “Berdasarkan teori belajar. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. aman. limbah. termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan. penyelenggara. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya.

Dalam praktiknya. dan fleksibel. pengorganisasian. pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Di samping itu. demokratis. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi. dan memunculkan iklim belajar yang baik. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. peralatan pendidikan. media pendidikan. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka.doc 106 . Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. ketersediaan Dari pemaparan di atas. Disamping itu. a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. Oleh karena itu. Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. buku dan sumber belajar lainnya. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. pelaksanaan. dan tujuan yang akan dicapai. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. misi. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. Dalam meningkatkan manajemen sekolah.

terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. ruang laboratorium. Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. ruang kelas. dan cukup pepohonan. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. Bagi para siswa. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik. d. instalasi daya dan jasa. ruang pimpinan satuan pendidikan. khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani.yang meliputi lahan. kegiatan upacara/apel pagi. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. tempat bermain. c. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. ruang kantin. dan sedikit polusi suara. Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan. maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Dengan sistem sanitasi yang bersih. tempat beribadah. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa. prasarana . maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat. udara yang bersih. Dalam masalah sampah di sekolah. e. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita. ruang unit produksi. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah. Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil. ruang perpustakaan. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.b. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A. ruang bengkel kerja. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak. tempat berolahraga. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. ruang tata usaha. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. bersih. Nampaknya semakin bersih suatu tempat.doc . Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. ruang pendidik.

misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. g. jumlah ruang laboratorium. maka sekolah diliburkan. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. Karenanya. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah.doc 108 . bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. Sebagai konsekuensinya. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. f. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. Tabel 1. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung. seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. yang meliputi gedung sekolah. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. Di SMA Negeri 2 Mataram. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. jumlah ruang belajar.

Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia.doc 109 . Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah. Evaluasi menyangkut estimasi biaya. Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Dengan kondisi seperti di atas. Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar). dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid. bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah. Proses renovasi dimulai dari perencanaan. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. pemerintah daerah dan tentunya para guru. Misi. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. serta jumlah guru dan staf akademik. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah. ruang perpustakaan. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. termasuk: Kepala Sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. Misi. pelaksanaan.

Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer.2.1. Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor. Guru. Wakil orang tua siswa.1. Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah. 2. 2. tahun 2003 : 29). 1 unit komputer bagi administrator jaringan. kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. terutama di SMAN 2 Mataram. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga. serta (3) Tugas Kepala Sekolah. ruang UKS. Wakil Siswa (OSIS). Tata Usaha. Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. selama jam kerja. Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. 2.4. 2002). baik di dalam maupun di luar ruangan. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet.1.3. sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2.doc 110 . Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung. Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah.Wakil Kepala Sekolah. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa.1. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas. Saat ini. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala. LCD monitor. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap. tempat parkir. Namun dalam kenyataannya. dan jaringan internet. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram. yang sangat kompleks. Akan tetapi.1. 2. dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia. kantin. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah . koperasi sekolah. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal.1. mushola. Wakil Organisasi profesi. antara lain : (1) Keterbatasan dana.

Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK. 2. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. 2. efektif.. yaitu Hendri Agung Mahendra. kreatif.5.doc 111 . Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. S.2.. 2. Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif. yaitu Hudri Ahmad. SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. membuat bank soal. baik di dalam maupun di luar sekolah. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas. 2. media komunikasi. 3.Pd.1. kreatif. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah.2. dan Sri Wahyuni. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting. Di samping itu. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet.1. kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah. dan menyenangkan. S.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School. Australia. membuat modul bahan belajar berbasis IT. dan media pembelajaran (e-learning). guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula.1.3. S..1.2. 3. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya.2. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia. Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2.Kom. dan menyenangkan (PAIKEM). untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. Sebagai kelanjutannya. efektif. Queensland.Pd. di antaranya sebagai: media informasi. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project. Inovatif. Dalam proyek ini.Pd.. M.

dan disiplin. 3. prestasi. dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. kecakapan berbicara. walaupun positif. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna. kematangan. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum.perbaikan. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. transparansi keuangan.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. B. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. status dan situasi. Hingga tahun 1950an. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. kejujuran.2. Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat. kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. partisipasi. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain.doc 112 . kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah. Disamping itu. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan. missal transparansi program. Stogdill 1974). Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. tanggung jawab. yaitu kapasitas. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. Untuk meningkatkan kompetensi ini. kesupelan dalam bergaul. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak. seperti misalnya: kecerdasan. Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. ketegasan. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia.

yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. seperti misalnya faktor situasi. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin.one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). saling percaya. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. Secara ringkas. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Hoy dan Miskel (1987). Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. misalnya. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Halpin (1966). Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya.doc 113 . Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini.

promosi dan penurunan pangkat (demotions). Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Disamping itu. Menurut Fiedler. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat).Model kontingensi yang lain. dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Path-Goal Theory. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. prosedur dan petunjuk yang ada). MenurutPath-Goal Theory. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Menurutnya. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Menurut House. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan.kepemimpinan yang berbeda. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi.doc 114 . untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Sebaliknya. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.

standar kompetensi siswa. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. joining in a shared vision of the future. dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. keahlian. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Menurut Yammarino dan Bass (1990). serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. maupun pemikiran. standar materi pelajaran pokok. Dengan demikian. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan. Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Dengan demikian. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. dana.mengakui kredibilitas pemimpinnya. sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. Misalnya. standar penguasaan minimum. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. standar pelayanan minimum. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas. program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. baik tenaga. Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah.doc 115 .

Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. Ciri-ciri MBS. karyawan. dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. partisipasi masyarakat. tetapi oleh kesadaran bersama. pendapatan daerah dan orang tua. UU Nomor 32 Tahun 2004. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. juga anggaran Sekolah . tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Kedua. dinamik dan demokratis. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. orangtua siswa. Untuk pendidikan dasar dan menengah. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Selanjutnya dalam Undang-Undang No. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. Masih menurut Burns.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Pertama. partisipasi. dan politik) Di lain pihak. dan demokratis. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. siswa. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. adanya kesamaan yang paling utama. partisipatif. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. dimana warga Sekolah (guru. ekonomi.doc 116 . Ketiga. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS.

karyawan. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. sehingga sekolah lebih mandiri. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif.Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. khususnya Sekolah. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. Dengan demikian. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. dan peningkatan rasa tanggungjawab. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Demikian juga. Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kelemahan. demokratis dan fleksibel. Sebaliknya. 15Dalam MBS.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM).sekolah lebih mengetahi kekeuatan. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. siswa. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah. Berpikir logis dalam melakukan perubahan. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Ketiga. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. kepala sekolah. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Dari asal usul peristilahan.doc 117 . dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. misi. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. tentu saja. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Dengan kemandiriannya. Kedua. Dengan otonomi yang lebih besar.orangtua siswa. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif.

Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator.transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus. Inovator. motivator. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. supervisor. kreatif. dan fleksibel. Administrator. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. Supervisor. efektif. pemimpin/leader inovator. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. demokratis. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. manajer. D. dan monitoring dan evaluasi pendidikan. Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan. pelaksanaan.doc 118 . Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas. dan organisator. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). kreatif. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. administrator. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. maka peran kepala sekolah sangat besar. Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. efektif dan menyenangkan (PAKEM). 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. Adanya peningkatan prestasi siswa. Leadership. administrator dan supervisor. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. Motivator. dan Managerial. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. Penerapan pembelajaran aktif. Adanya pembelajaran yang inovatif. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. monitoring. dan evaluasi pendidikan. dan menyenangkan. leader. Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. pelaksanaan. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. inovator.

Keindahan dan Kekeluargaan). perpustakaan. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. semesteran. ketenagaan. ruang keterampilan/kesenian. bulanan. kantor. kurikulum. gudang dan 7 K. bimbingan konseling. jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru.doc 119 . ketenagaan. Kebersihan. Ketertiban. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. keuangan. Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. pengawasan. 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. serbaguna. keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. dan tahunan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan. pengarahan. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). mingguan. sarana dan prasarana. pengorganisasian. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. media. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya. d) Menyelesaikan surat-surat. Dalam melaksanakan tugasnya. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya. pengkoodinasian. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. siswa. laboratorium. kesiswaan. ketaausahaan.

Kumpulan program satuan pelajaran. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. 3) Kegiatan bulanan. Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.dan alat praktek. dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan. alat kantor. Kesiapan RP. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah. guru.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. penanggung jawab. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah.2) Kegiatan Mingguan. Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah. e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya.doc 120 . baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. penyiapan alat peraga. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi. saran.Diagram pencapaian kurikulum. d) Memeriksa keuangan Sekolah. penggunaan dan bahan praktek. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih. pengorganisasian kelas.Buku catatan pelaksanaan harian. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya. laporan bulanan. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi.c) Penutupan buku. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar. Hal yang dibahas meliputi target. d) Pertanggung jawaban keuangan. e) Evaluasi terhadap persediaan. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. gaji pegawai. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP. Diagram daya serap murid/siswa. waktu. h) Mengecek pengisian buku induk siswa.

Sebagaimana dikemukakan Rahman H. keamanan.doc 121 . (2005: 67) bahwa. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. status dan kepuasan diri. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. E. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. penguasaan personal. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. pengorganisasian (organizing). staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan. mental model. Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. sosial. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur.meningkatkan kualitas sekolah. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan.

kepala sekolah. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. peningkatan profesionalisme guru. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. Secara Umum 1. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. anggota masyarakat. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. kelenturan pengelolaan sekolah. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. 3.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. orang tua. Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. dan murid (Nurkolis. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Oleh karena itu. administrator. (7) pelaporan hasil. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. F. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah.doc 122 . Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial. 2003:42). Oleh karenanya.kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah.

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

kesiswaan. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. pengorganisasian. Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. pengelolaan kepegawaian. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. keuangan. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. dengan cara meyakinkan dan membujuk. perlengkapan. lancar dan produktif. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. dan perpustakaan. dan produktif). Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat. staf dan siswa. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. kepegawaian. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. staf dan para siswa.doc 126 . mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. mampu menyusun perencanaan. bekerja dengan tim manajemen. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. yaitu: (a) keterampilan teknis. pengkoordinasian. pengelolaan kesiswaan. menggairahkan. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. memimpin rapat. pengelolaan sarana dan prasarana. memotivasi. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. Guna mendukung hal ini. kantor. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. pengarahan. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.

dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak. 2. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional.doc 127 . yaitu: Pembelajaran aktif. Oleh sebab itu. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. percaya diri. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). inovatif. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. pengadaan peralatan TIK. Dengan demikian. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama. dan peningkatan kompetensi guru. Dengan taruhan seperti itu. ERIC_Digests. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil.mengajar yang dilakukan guru di kelas. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. Dalam rangka mewujudkan PAIKEM. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. efektif. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. kreatif. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.

sumber daya. program dsb 3. efektivitasnya. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya.doc . kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan.cit. produktivitasnya. seperti nilai ulangan umum. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). op. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. 5. namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. harapan-harapan berupa visi. seperti IMTAQ.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. proses pengelolaan kelembagaan. olah raga. cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. prinsip desentralisasi. peraturan perundang-undangan. misi. inovasinya. dana pendidikan. 48-58). hh. karya ilmiah. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. efisiensinya. ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. kesopanan. 6. Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik.mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. rencana. tujuan. tenaga kependidikan dan lain sebagainya. perlengkapan. prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. proses belajarmengajar. keterampilan.3. kejujuran. 4. 2. akreditasi sekolah. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. Dalam pelaksanaan implementasi MBS. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah. perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. Ujian Akhir Nasional. Implementasi MBS. merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. proses pengelolaan program. kesenian. guru.deskripsi tugas. bahan dsb). Input pendidikan terdiri dari: 1. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. 7. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. dan proses monitoring dan evaluasi. yaitu prinsip equifinalitas. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. uang.

Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. hh.doc 129 . khususnya dari aspek manusia.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa. hakikat aktivitas-aktivitas. Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah. guru. penggunaan sumber-sumber daya. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. hubungan interperonal. Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. 9-10). 48-58). hh. Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif. 2001. 8. maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. Depdiknas. orang tua. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama. c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). strategi-strategi manajemen. tenaga administrasi. Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen. Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative). memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. peran warga sekolah. MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas.

Selain itu fasilitas. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Dalam organisasi modern. aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah. afiliasi sosial. kebutuhan dan situasi sekolah. a. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. diluar keuntungan ekonomi. Mereka mengejar interaksi. b. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. keyakinan dan nilai-nilai sekolah.doc 130 . Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang.1. Strategi-strategi manajemen. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. personel. organisasi. hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat. Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. 2. tumbuh dan menjalani perkembangan. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. Isi. Misi sekolah. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Konsep organisasi sekolah. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. 3. Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. misalnya produk yang berkualitas. konsep organisasi telah berubah. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama.

e. menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. orang tua. Dengan demikian. sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. Partisipasi atau keterlibatan guru.doc 131 . d. referensi dan keahlian. MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah. manusia. Diperlukan intelegensi. imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya.ditinkatkan secara terus menerus. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. Gaya kepemimpinan. pendidikan. simbolik dan budaya. paksaan. Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. 4. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan. Penggunaan sumber-sumber daya. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. (4). Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. (2). MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru. Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. Partisipasi guru. French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan. Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. keterampilan mengelola konflik. legitimasi. simbolik dan budaya. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. (3). strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. Gaya pengambilan keputusan. kompleks dan sulit. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. c. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah. Keterampilan-keterampilan manajemen. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. f. dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik.Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. Pengunaan kekuasaan.

mendidik siswa secara kooperatif. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. Hubungan antar manusia. dan gaya penggunaan sumber daya. Peran Para Guru. misi sekolah. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. Amerika Serikat dan Hong Kong. administrator. hakikat aktivitas sekolah. Australia. d. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. Peran Sekolah. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif. Peran Para Administrator. b. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. pengambil keputusan dan pengimplementasi. 5. Peran Departemen Pendidikan. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah.doc 132 . Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter. e. Peran Para Orang Tua. Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. bekerjasama. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan. inisiatif. 6. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya. guru. Dalam MBS. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. memecahkan masalah. a. orang tua dari yang semula pasif.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa. Kanada. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. c. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. Dalam MBS. Perbedaan-perbedaan peran. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa.

individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input. rasional. 3. toleransi. 8. 11-20). Kepemimpinan sekolah yang kuat. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. kejujuran.l. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah. Kualitas para administrator. deduktif dan ilmiah. cit. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. e. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. lomba karya ilmiah remaja. d. c. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah. loma Bahasa Inggris. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). op. a. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. n. Komunikasi yang baik. Memiliki kebijakan. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Input pendidikan yang meliputi: a. solidaritas yang tinggi. induktif. Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi.doc 133 .saling menguntungkan. Sekolah memiliki akuntabilitas. Proses. Output yang diharapkan. b. g. Sumberdaya tersedia dan siap. nalar. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. kesenian dan kepramukaan. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar. Metematika. cerdas dan dinamis. proses dan input (Depdiknas. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. hh. Singkatnya. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. kerjasama yang baik. cara berfikir kritis.m. kedisiplinan. k. harga diri. c. h. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. kerajinan. 2. b. 1. Indikator-indikator efektivitas. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. 7. i. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa. kreatif. tujuan. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. Fisika. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. kelompok. f. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. Sekolah memiliki budaya mutu. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. dan sasaran mutu yang jelas. prestasi olah raga. untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya. Dalam MBS. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. j.

SMA /M. Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya. 2001. Kepemimpinan yang Memotivasi. Russ S. Costa. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi. (2002). J. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . Caldwell. Rene T. 2. London: Paul Chapman Publishing. dan menyenangkan (PAIKEM).html American Association of School Administrators. kreatif.B. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. New York: Mc. Dasar-Dasar Supervisi. & Bell. B. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. John. (2005). Jakarta. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. 2004.. S. Singapore:Prentice Hall. efektif. Edwin B. J. 12 Konsep Kepemimpinan. Flippo. Domingo. Jakarta:Depdiknas. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. T. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. In Bush. d. Depdiknas Jakarta Bentley. 1984. and Adair. Beyond the Self-Managing School.tinggi. McCauley. Manajemen Berbasis Sekolah. Personnel Management. 21-40 ). San Francisco: Jossey-Bass Publishers. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan. & Wilsdon. 2008 Anonim. Jakarta. e. Kepemimpinan dan Komunikasi. 1998. 1997. Cocheu Ted. L. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono.). DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. sixth edition. Effendy. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. J. Caldwell. T.doc 134 . Gramedia Pustaka Utama. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk .. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1. Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. hhtp://www. (1998). Jakarta: Gunung Agung.2001. Jakarta Agus Dharma. Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware. B. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah. Cynthia D. The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp. (1998). The Adaptive State: London: Demos. J. Arikunto. Vincent. Fokus pada pelanggan. London: Falmer Press. Moxley.Hill Book Company. Beyond Leadership. San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas. _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. J. Onong Uchjana. (2004).ed. Graw. London: Falmer Press. Puspendik. B. National Association of Elementary School Principals. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. Caldwell. P.. S. 1977. (Eds. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. 2000. f. 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. Memiliki harapan prestasi yang tinggi. inovatif. Depdiknas Jakarta . (2004). Ellen Van Velsor. SMPMTs dan. & Hayward. K.Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Pendidikan Network Jakarta Balitbank. D. Elex Media Komputindo. 1993. M. Input manajemen. B. & Spinks.

G. 453-474. John.13. Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. In Mok. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (2003). Masalah. 017. Grasindo. Ronald. 017. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Ornstein. Griffin W.H.doc 135 . National Association of Secondary School Principals. New York: Simon & Schuster. 2003. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Malang: Taroda. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito.H. Fullan. Education Epidemic. Mariyana. Jakarta: PT. Organisasi dan Motivasi. 1999. Alex. School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. third edition..tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan .. Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp. Manajemen Berbasis Sekolah. Kerjasama.unl. Manajemen edisi 2. 1999. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No.16. Brown. 21-38). M. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟. Y. Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE). Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia. 1988. Handoko. (2008). Motivating Your Employees. E. (2000). dan Curphy Gordon J. Desentralisasi Pendidikan. edisi-5. Miftah Thoha. Business. & Kluwer Academic Publishers. Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya.ianr. Jakarta: PT. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. N. Martini Hadari. (2010). Leung. Leading Change. Kotter. New Jersey: Prentice Hall International Inc. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Kusnadi.Fred C. & Segal. & Rachmawati.2005. Nurkolis. 1995). Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12. Lunenburg & Allan C. School Effectiveness and School Improvement. Ginnett Robert C. dan Implementasi. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves. (2009). Konflik. L. Virginia. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools. Barbuto dan Lance L. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. Singapore: Irwin/McGraw-Hill. G. Nuril Huda. 1999. (2003).. Bandung: Remaja Rosdakarya. Leadership. A. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth. London: Demos Hughes Richard L. London: PMDU. W.http://www. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Massachusetts: Harvard Business School Press.edu/pubs /consumered/g1397. Santiago: UNESCO. Yogyakarta: BPFE Hasibuan. LLECE (2002). Hong Kong: Comparative Education Research Centre. dan Kinerja (Kontemporer & Islam). R. M.). 1982. 1999. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis. T.. Strategi. Jesson. cet ke 2 Ouchi. Ricky dan Ebert J. & Watson.htm.. John E. 2002. 1999. Hadari Nawawi dan M. (Ed.. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hani.18. Boston. The University of Hong Kong. (2003). Nugraha. Inc). Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries. 11(4). Arlington. D. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003). Y. 1996. K. London: Specialist Schools Trust. D. Manajemen Berbasis Sekolah.

Tilaar. Virginia: 1988. & Levacic. Prof.wordpress. A.). UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. (1999).com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011. Wilkes. I. Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. M.American Association of School Administrators.. amirican Management Assosiation Inc. School-based management: An International Perspective. Jakarta: Djambatan Subakir. Bandung: Remaja Rosdakarya . A.. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru... K. dan Menyenangkan.D. Paris: International Institute for Educational Planning. G. Manajemen Berbasis Sekolah. Inovatif... Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. A. Glasgow: HarperCollins Publishers. Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. Jakarta Suyata. 2008. Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan.. HAA.. T. G. (2009). (1998).. David Peterson. Efektif. (2005).19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan... A. (2001). Syah. UNESCO. Diambil dari: http://tarmizi. PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Kreatif.UNY Terecy WR. Yamin.. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Arlington. School-Based Management and Student Performance.Ramadhan. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools. Surabaya: Penerbit SIC. Ph. dan Sapari. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro.. and National Association of Secondary School Principals. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung . (Eds. M. Yogyakarta: PPS. & Friedman. Ross..(2205) Peraturan Pemerintah RI No. National Association of Elementary School Principals. 2001. Israel: Ministry of Education. 2010. Pembelajaran Aktif. R. Saydam. A. N. (2003).doc 136 . S. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 1971 Designing Training & Development System. (1999).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful