PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

doc 4 . school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities. In order to conduct school effectively. school institution as an operational unit which manage everything directly. Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU. the school needs an effective leadership as well. School-Based Management. Keywords: Leadership. The whole components that are principals. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters. With the use of MBS approach. teachers. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System.

yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. memimpin rapat. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Dalam pelaksanaannya.doc 5 . Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan. Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. termasuk pendidikan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sosial dan budaya. menggairahkan. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Dalam Era Globalisasi ini. dan produktif).BAB I PENDAHULUAN A. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. LATAR BELAKANG MASALAH 1. dan memiliki kepekaan sosial. politik. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. memotivasi. Memahami tujuan pendidikan dengan baik. bersemangat. Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial. berani. Pengetahuan yang luas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. yaitu: (a) keterampilan teknis. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. murah hati. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. ekonomi.

adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi. dan mengkoordinasi orang lain.doc 6 . pengetahuan (cognizance). berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). pemeliharaan personal. tetangga dimana mereka bermasyarakat. c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. mengarahkan. Russ . Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan.2. tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. Bennis and Nanus (1995). Ellen Van Velsor. Permasalahan yang timbul terus menerus. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Moxley. Menurut penadapat (Cynthia D. “Some people have said that experience is the best teacher. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. McCauley. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. fungsional. 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi.” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. membangun. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). oragnisasi dimana mereka bekerja. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah.

Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik. (5) Expert power. “the experiences that stretch you. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. reputasinya atau karismanya. sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tantangan.” the sage responded. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.doc 7 . that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Walaupun demikian. Sebuah organisasi akan efektif. apabila dikelola dengan manajemen yang baik. “. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. Dengan menekankan pada aspek manajemen. sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968). Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. Berdasar penelitian pemikiran tersebut. dan dukungan. Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. kepemimpinan tidak akan ada juga. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Selama beberapa dekade. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. pengetahuan (cognizance). Pendapat ini tidak salah seluruhnya. “So experience is not the best teacher?”. “It is just that not every experience offers important leadership lessons”. banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. (2) Coercive power.some experiences don’t teach”. “Not exaltly that. Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988). banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. (b). (4) Referent power.

Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. kedua konsep tersebut berbeda. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. pengawasan dan evaluasi. tetapi tidak sama dengan manajemen. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya.doc 8 . bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. Idealnya. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. penorganisasian . Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen.5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya.

yaitu . Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Namun demikian. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi.pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Oleh sebab itu. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. referensi. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. Sehingga diberlakukannya MBS. 2000: iii). yaitu kekuasaan paksaan. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Sebagian sekolah. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. pengadaan buku dan alat pelajaran. dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS). dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru.doc 9 . dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. 2000). informasi. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Berdasarkan masalah di atas. penghargaan. legitimasi. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. terutama di kota-kota. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. 3. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. keahlian. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut.

dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid. masalah-masalah dalam penerapannya. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. Kepala Sekolah. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat.) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3). Komite Sekolah. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management). dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Menurut Miftah Thoha (1999). (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.MBS. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. manfaat. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. (2. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. standar. Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. kurikulum. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. para guru. memecahkan masalah-masalah umum.doc 10 . kebijakan. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. (4. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1). yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Namun. di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible.

menghambat kreativitas.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. serta keluarga terhadap sekolah. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua.berkonotasi negatif. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. kelompok masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. masyarakat.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. pebisnis.doc 11 . sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. 20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. pendidikan dasar. para legislator. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. menghambat kreativitas. (c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No.

dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi. (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Pendelegasian wewenang c. orang tua. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Melalui keterlibatan guru. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal. pebisnis. Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Dengan demikian. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. yaitu: a. dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Inovasi kurikulum. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. kepegawaian. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. sekolah (Agus Dharma. 2003). Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua.doc 12 . kelompok masyarakat. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. para legislator. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. Akibatnya. (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. apalagi pusat. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah. Manajemen berbasis lokal b.atau masyarakat. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

pengorganisasian. kewajiban sekolah. namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. administratior. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). supervisor. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. para guru. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. dan berlanjut terjadi. pengorganisasian. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. B.doc 13 . Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. standar. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?. manajer.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. nyaman dan tertib. kebijakan. Menurut Miftah Thoha (1999). Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim). saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. otonomi sekolah. kurikulum. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. sistematik. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional.

d. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. pengorganisasian (organising). Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. penyiapan alokasi sumber daya. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. melakukan perencanaan. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. para legislator.doc 14 . Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. stimulus dan koordinasi personil. Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. menghambat kreativitas. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. penciptaan iklim organisasi yang kondusif. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning). Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. (Nuril Huda. perilaku kepemimpinan. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). pengambilan keputusan. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. kelompok masyarakat. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan.a. pebisnis. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi. b. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.

terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan. serta sistem administrasi secara keseluruhan. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. pengajaran sumber belajar. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. profesionalisme tenaga kependidikan. Oleh karena itu. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. proses pembelajaran.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. khususnya pendidikan dasar dan menengah. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. para legislator. Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. kelompok masyarakat. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. (2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.doc 15 . mandiri. Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. fasilitas. tangguh. kurikulum. Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. berakhlak mulia. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya. kreatif. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS). pebisnis. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.

13. 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . pengorganisasian (organizing). Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning).(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.18. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12.Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal. nilai agama. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. 2.16. Dalam UU No. School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah. A. Dalam konteks ini. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. tenaga kependikan.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. orang tua. 2002). kepala sekolah. Undang-Undang Republik Indonesia No. (7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17. bangsa dan Negara. nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.doc 16 . MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah. siswa. (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. Dengan demikian. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional.Meningkatkan kecerdasan. 2002). demokratis. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global. Dalam konteks ini. kepribadian. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. sikap. pengalaman. kepala sekolah. keterampilan. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global. bangsa dan Negara. akhlak mulia. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. pengetahuan. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. A. (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional.doc 17 . (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. orang tua. (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah . regional. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dan internasional. tenaga kependikan. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. siswa. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. adaptif dan aspiratif. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia..

Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7. standar pembiayaan. standar proses. menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan.4. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Ruang belajar yang nyaman. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. standar pendidik dan tenaga kependidikan.doc 18 . Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8. siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. standar sarana dan prasarana. siswa. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. standar kompetensi lulusan. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. tenaga pendidik. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. lingkungan dan sarana dan prasarana. Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. yaitu . Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. standar pengelolaan. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. terkait dengan hal tersebut. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. dan standar penilaian pendidikan). Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit.

Sebagai lembaga sosial. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. pengalaman. dan memiliki keunikan. dan kemampuan. dan sentosa. latar belakang. Fink & Earl. Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. intelektual dan emosional. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. 3. menurut Suderadjat ( 2005 ). Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. minat. aman. perluasan pemeratan pelatihan Guru. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. sedangkan sebagai lembaga ekonomi. Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya. Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menurut Rousseau (Emile. serta prilaku yang diterima masyarakat. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. kapasitas. Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik.saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. minat.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. mengganti simulasi yang berbahaya. sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat. Manusia memiliki potensi. kualitas pendidikan bersifat dinamis. perspektif. termasuk pendidik. bakat. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. 2003).doc 19 . 1762). Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram.

sehat. mandiri. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. kreatif. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. bangsa dan negara. c. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. cakap. dan.d. kepribadian. (Pasal 4). Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). b. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. kreatif. dalam undang-undang yang sama. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. 2001). dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki.Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. yaitu: a. untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No. dan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan. butir kedua dan ketiga. kecerdasan. pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. berakhlak mulia. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. efektif. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru.20/2003) Selanjutnya. berilmu. Oleh karena itu. serta memiliki sikap. dalam Subakir & Supari. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dua dari keempat pilar di atas. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. Untuk dapat berkembang dengan optimal. 2001). terampil. (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010. akhlak mulia. kreatif. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula. Dukungan masyarakat. inovatif. masyarakat. dan menyenangkan (PAKEM). Peningkatan kompetensi guru.doc 20 . pengendalian diri. Pembelajaran aktif. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Transparansi manajemen. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. iklim.

yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . budaya progresif. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. UU No. Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Mengembangkan komunikasi yang baik. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. kejelasan visi dan misi. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. dan dinamis.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis. bertanggung jawab. Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. lingkungan belajar yang paling utama. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. aspiratif. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional . Misi. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. demokratis. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. Mewujudkan temwork yang kompak. disiplin. partisipasi warga. UU No. Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. aman dan tertib. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. UU No.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. kreatif.`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. seperti : budaya mutu. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah. inovatif. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.doc 21 . cerdas. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . Melaksanakan keterbukaan manajemen. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi.

Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. Sehubungan dengan hal itu. kreatif. yang meliputi guru.doc 22 . (g). belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dalam manajemen sarana dan prasarana. serta komite sekolah. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. kreatif.memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. Manajemen Tenaga Kependidikan. Untuk mewujudkan hal ini.” Dalam pelaksanaannya. (d). efektif. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Manajemen Kesiswaan. dan pemerintah. (e). 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Manajemen Layanan Khusus. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar. dan menyenangkan (PAKEM). Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. (c). 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. efektif. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. inovatif. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. dan menyenangkan (PAIKEM). (b). berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. termasuk dalam bidang pendidikan. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. Berkaitan dengan ini. telah dapat diwujudkan. Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. terutama dengan pengajar atau guru. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. rapi. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. dan. 2001). masyarakat. berkreasi. (f). indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. ia (hal. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a).

komputer dan sejenisnya. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. b) Media Audial : radio. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. kreatif. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. dan bahan ajar. termasuk cara belajar kelompok. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. over head projektor (OHP). Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. menyenangkan. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. tape recorder. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. VTR). sehingga terjadi proses belajar. chart. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru.” Dengan demikian. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. a) Media Visual : grafik. pengajar. minat. Mengajar. untuk mengungkapkan gagasannya. Terdapat berbagai jenis media belajar. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. menyenangkan.doc 23 . in focus dan sejenisnya. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. diantaranya . Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. komik. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. menantang. seperti radio. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. tulisan dan suara yang direkam. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. efektif. 2011: 76). Menurut Ramadhan (2008:5). realia. c) Projected still media : slide. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. inovatif. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. gambar bergerak atau tidak. DVD. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. televisi. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. kartun. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. dan cocok bagi siswa. diagram. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. cassette recorder. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. dan sejenisnya. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. inspiratif. Menurut Djamarah (2005:212). penerapan PAIKEM sangat tepat. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . d) Projected motion media : film. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . bagan. laboratorium bahasa. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. piringan audio. video (VCD. poster. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. kreativitas. pada intinya.

Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. 1993:10). Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Sehubungan dengan hal itu. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. waktu dan tenaga penyiapan. baik secara individual maupun klasikal. cetakan. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. antara lain: kompetensi. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. motivasi. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. di sekolah maupun di luar sekolah. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. 1994:78-79). Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Media audio-visual. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. 327).doc 24 . Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. estetika juga merupakan sebuah kriteria.visual. dan kedisiplinan. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. cetak suara. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. pengaruh yang ditimbulkan. Menurut Djamarah (2005:32). Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. competency atau competence. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Kreteria pertamanya adalah biaya. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. film rangkai suara. kemampuan untuk dirubah. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. keringkasan. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). dan (b) audio visual gerak.“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. gambar atau lukisan. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. si pembelajar atau belum. kecocokan dengan ukuran kelas. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. silde (film bingkai) foto. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Untuk menarik minat pembelajar.

kompetensi. dan Kompetensi Profesional . spiritual.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. sosial. dan perilaku yang harus dimiliki. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. sertifikat pendidik. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format.doc 25 . (2). Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6). dan seni melalui pendidikan. kemahiran. empatik. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. sehat jasmani dan rohani. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. dan santun dengan peserta didik. dihayati.Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan.Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik.” Selanjutnya. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1). teknologi. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. serta perancangan strategi pembelajaran. (9). kompetensi kepribadian. (4). Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Menguasai strategi pengembangan kreativitas.Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11). moral. Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar. dan intelektual. ketrampilan. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (7). pengembangan bahan ajar. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. (3). kompetensi social. Kompetensi Sosial. (5). dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi Kepribadian. Mengenal siswa secara mendalam. Berkomunikasi secara efektif. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

(2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Mengelola proses pembelajaran. Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan.Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. dan prosedur penilaian yang benar. Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip. Pertanggung-jawaban (accountability). sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. strategi. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. strategi. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu.doc 26 . Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. guru dan staf lainnya). strategi. Melihat progres pencapain kurikulum. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Sumber daya.Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan.Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. Selain pembiayaan operasional/administrasi. Personil sekolah. wakil kepala sekolah. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. dan prosedur penilaian pembelajaran. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. aktif. Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. kreatif. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. efektif.belajar.Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat. dan menyenangkan. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. E. penulis menggunakan metode kepustakaan. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas. efektif. atau muatan lokal. serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini. Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS. F. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders). efisien. Konsekwensi logis dari itu. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. C. TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. yang penulis uraikan. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility).doc 27 . fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat.

yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. kosep dasar Kepemimpinan dan MBS.doc 28 . terinci akan hal hal sebagai berikut : a. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. 2) Peningkatan efisiensi. dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. dasar dasar pemikiran. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah. dibahas pula secara lebih spesifik . maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang. transparan. Gaya Kepemimpinan 4.pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. dan akuntabel. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah. Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3. yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. guru didorong untuk berinovasi. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. mendorong profesionalisme kepala sekolah. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah.6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. penyelenggara. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya.doc 29 . ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah.

yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. kepemimpinan. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. pengetahuan (cognizance). (3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. Disamping itu juga.BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. yaitu: perencanaan. Ellen Van Velsor. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. pelatihan. kedua konsep tersebut berbeda. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. tumbuh dan berubah (Cynthia D. Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. pengorganisasian. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). (5) Expert power. (2) Coercive power. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Russ . Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya.doc 30 . McCauley. reputasinya atau karismanya. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. oragnisasi dimana mereka bekerja. Moxley. Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. (4) Referent power. Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Reward power. dan seterusnya. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. komunikasi. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1).

Untuk menghadapi anggota tim yang malas. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Penampilan fisik. para supervisor. penggerakan. tidak disiplin. susah diatur. dan pengawasan. dan para pelaksana. Situasi di sini meliputi waktu. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. tuntutan pekerjaan. pimpinan. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. kemampuan bawahan. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). dan selalu menjadi trouble maker. inteligensia. pengorganisasian. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana.doc 31 . Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer.namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Tanpa kepemimpinan yang baik. (2) gaya demokratik (democratic style). Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. melainkan pada gaya kepemimpinan. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing.

bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin.sekerja. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. serta kematangan bawahan. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah. Berdasarkan pola hubungan tersebut. dan bagaimana caranya. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan.doc 32 . Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya.. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik. Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior).

Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain. dan (4) jam 14. dan Curphy. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir. saat para pegawai akan beristirahat siang.00 ketika para pegawai selesai beristirahat. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi. namun karena posisinya sebagai bawahan.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas. Hughes. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Maka hal tersebut. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin. Dari kasus tersebut di atas. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. (3) pada jam 13. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan. Menurut Hughes. Ginnett. Ginnett. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08.00. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan.doc 33 . Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan. (2) pada jam 12. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak.00. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari. Dengan ketentuan seperti itu. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan.

” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal. organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. dan menurunnya produktivitas. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace). Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi. mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. tingginya biaya pelatihan. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya. Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu. sengaja mengulur-ulur waktu kerja. kecuali untuk jangka waktu yang singkat.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. dan sebagainya. (2) apa yang mengarahkan perilaku. (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan).doc 34 . alasan keluarga. (c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas. seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. Manusia. berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya. Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Apabila satu keinginan telah terpenuhi. akan timbul keinginan lain. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. Pada gilirannya. dan rasa malas pergi bekerja. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya. Sebaliknya. namun jarang mencapai kepuasannya. Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara. akan muncul keinginanlain lagi.seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim.

yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management).santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut. dan akan menang dalam bersaing. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. (2) teori perilaku (behavior theory). Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven). dan perusahaan memberikan uang tersebut. memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori. Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. maka para pegawai akan berproduksi lebih besar. (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda.Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan. Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (d) teori harapan (expectancy theory). Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). Kedua gaya kepemimpinan tersebut. Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas. atau berbagai macam imbalan lainnya. Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya.. dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories).doc 35 . perusahaan untung. Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. dan (e) teori ekuitas (equity theory). bonus. dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya.

(b) tugas rendah dan hubungan rendah. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah. Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif. sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter. Sedangkan pada tahap ketiga. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat. bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian. Kepemimpinan diatas. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan.Pada tahap awal. karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. Pada tahap dua. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap. sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. Dan pada tahap empat (akhir). karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. mengendalikan dan mempengaruhi situasi.doc 36 . Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab. (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi. Least Preferred Co-worker). sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC.

Pemimpin menentukan tujuan. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. menerima saran. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan.doc . (6) manajer menentukan batas-batas.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. (4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management. dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum. dan kekuatan yang ada dalam situasi. kekuatan yang ada pada bawahan. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas. 2) Sistem 2.dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. percaya kepada bawahan. Dari keempat sistem diatas. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. tugas dapat struktur. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. 4) Sistem 4. membuat keputusan. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. meminta kelompok untuk mengambil keputusan. dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive). Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil. (5) manajer menyajikan masalah. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. (2) manajer menjual keputusan. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. dan mendasarkan komunikasi. 3) Sistem 3. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). karena mempunyai organisasi yang lebih produktif.

adanya kesamaan yang paling utama. Ketiga. keterampilan konseptual (conceptual skills). Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. dan demokratis. keterampilan teknis (technical skills). keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. 2. (2) aktif. Untuk pendidikan dasar dan menengah. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. (2) pelaksanaan tugas. (3) memberi petunjuk. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. 4. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. keterampilan hubungan insani (human relations skills). 3. Kedua. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi.doc . dan (4) kerjasama. Sementara menurut West dan Michael. mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keterampilan manajemen waktu (time management skills).kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. (2) memberi dukungan.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Keterampilan Dasar Kepemimpinan. tetapi oleh kesadaran bersama. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. partisipatif. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. dinamik dan demokratis. (3) kekeluargaan. Pertama. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses. 5. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. Masih menurut Burns.

ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya. 5. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif.doc 39 . mempunyai motivasi tinggi. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. 2. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. 6.. 4. Toleran terhadap Ambiguitas. 9. Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. 8. 7. 3. Percaya Diri. dan matematika. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil. filsafat. Misalnya. Otonom. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. film. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. musik. orang tersebut cenderung risau. sains. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. membingungkan. menulis.(1). dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. sastra. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan. dan teater. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. dan mendua. Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. tari. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas.

tulis John Lancaster Spalding. keduanya saling membutuhkan. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. 4. Oleh sebab itu. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. 8. Kita semua adalah individu. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Masyarakat adalah pemilik sekolah. yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. Perlakukan setiap orang sebagai individu. Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. Karena sulit memotivasi orang lain. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. Oleh karena itu. 2. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. kemajuan akan memotivasi. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. B. Berikan hadiah yang adil. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Individu sendiri harus termotivasi. meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. mungkin tidak memotivasi orang lain. Pilih orang yang bermotivasi tinggi. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. 6. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. Bagi orang berbakat. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. MBS adalah upaya serius yang rumit. 5.doc 40 . 3. 7. Semakin penting sebuah tugas. Ciptakan lingkungan yang memotivasi. Ingat. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Berikan pengakuan. memecahkan masalah-masalah umum. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. Seseorang tidak harus menjadi orang lain.pemimpin yang tidak memotivasi . Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan.

yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata. berkreasi. masalah-masalah dalam penerapannya. dan sekolah. standar. seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. Jakarta : PT. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan.2005. lingkungan belajar yang paling utama. Dengan demikian. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting).. hal. sistematik. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. menurut . Secara bahasa.doc 41 . Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. manfaat. Akan tetapi. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik. kurikulum. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. berbasis. Grasindo. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda.yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. dan akuntabilitas. kebijakan.yaitu manajemen. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. cet ke 2. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. dan berlanjut terjadi. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara.

Dalam manajemen sarana dan prasarana. Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. (e). Komite Sekolah.kepala sekolah. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. kepegawaian. para guru. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. guru. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. Berdasar teori di atas. Namun. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. dan pemerintah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Melalui keterlibatan guru. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala Sekolah. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. yang meliputi guru. Manajemen Layanan Khusus. (c). Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. Manajemen Kesiswaan. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. (f). dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. (g). apalagi pusat. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). (d). serta komite sekolah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. murid. masyarakat. Manajemen Tenaga Kependidikan. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. telah dapat diwujudkan. ia (hal. (b). Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. termasuk dalam bidang pendidikan.” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. orang tua. rapi. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. Dengan demikian.doc 42 . siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Kemudian. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. dan. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder.

Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. para guru. g. f. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. khususnya orang tua siswa. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Pelaporan hasil. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free).doc 43 . Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. b. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. c. Oleh karenanya. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. dan kurikulum. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Ironisnya selama ini. Juga secara proses.pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. e. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah.Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. d. kepegawaian. Secara akademik. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif.Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Akan tetapi pada prakteknya. tantangan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan.

kabupaten/kota. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Sebagaimana dimaklumi. orangtua. khususnya Sekolah. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. anggota masyarakat. Dengan demikian. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). 15Dalam MBS. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. dan murid (Nurkolis. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Sebaliknya. Pihak-pihak lain seperti. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. penilaian. para guru. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. orang tua. 2003:42). dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. mulai dari tingkat pusat. dan dukungan. Pada prakteknya. komite sekolah. misi. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. tantangan. sampai dengan tingkat Sekolah. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. kepala sekolah. administrator. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). provinsi.doc 44 .

Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. tentu saja. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. kelemahan. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Ketiga. sehingga sekolah lebih mandiri. 4. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. dengan otonomi yang lebih besar. Kedua. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. dengan pengambilan keputusan partisipatif. 3. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. siswa. orangtua siswa.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya.program desentralisasi bidang pendidikan. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. sekolah lebih mengetahui kekuatan. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah. sekolah lebih mengetahuikebutuhannya. kepala sekolah. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. dan peningkatan rasa tanggungjawab. Kemandiriannya.doc 45 . Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1. karyawan. peluang dan ancaman bagi dirinya. peluang. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. kelemahan. Demikian juga. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10.

serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. 4. masyarakat. Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. peluang dan ancaman bagi dirinya. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 46 . lebih demokratis dan terbuka. dan masyarakat 7. dan pemerintah 8. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1). Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah. 2. orang tua. kelemahan. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”. 3. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. 4. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan.MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya.

prestasi siswa. dan dewan Manajemen sekolah. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. menyeleksi pelamar pekerjaan. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi. Kedua. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah. batasan pengeluaran. dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu. dewan pendidikan pada tingkat daerah. akuntabilitas. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. politis. Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas). Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Pemerintah pusat. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah. standar fasilitas dan peralatan sekolah. pada tingkat nasional. dan biaya programprogram sekolah. peran dewan sekolah tidak banyak berubah. dinas pendidikan daerah. MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah. standar kualifikasi guru. dan efektifitas sekolah. Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama.(4). pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. Jika tidak. Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. dan dewan sekolah di setiap sekolah. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Namun. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. Namun. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi.(2). Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. sekolah lebih mengetahi kekeuatan.(6). (5). standar kepegawaian.doc 47 . sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. efisiensi administrasi. kelemahan. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. finansial. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. professional. Di Amerika Serikat. Menurut bank dunia. MBS adalah ancaman besar.(3). sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya. Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. Ketiga.

hal. dinas pendidikan daerah. kualitas kurikulum. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu. The National Widiasarana Indonesia. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Bagi sumber daya manusia. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah.doc 48 . dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Keempat. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. 5. meningkatkan moral guru. 3. 21 dan Ibid. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin. 1. kuantitas.Kelima.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual.Association of Elementary School Principal. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya. Ketiga. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Nurkolis.” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. 2. 4. Keenam. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Gramedia hal. Jakarta: PT. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas.Kedua. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas. Dalam pengimplementasian MBS. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil. dan dewan sekolah. 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya). 2003. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. kepala sekolah. dan apa rencana selanjutnya. meningkatkan kualitas. menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah.

Pelayanan siswa h. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Juran adalah ahli statistik terpandang.doc 49 . salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Pengelolaan ketenagaan e. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial.b. partisipasi. Seperti halnya Deming. Dr. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. Ciri-ciri MBS. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. Hubungan Sekolah-masyarakat i.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. Joseph M . Dr. pendapatan daerah dan orang tua. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. siswa. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Edward Deming (Arcaro. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah. dimana warga Sekolah (guru. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengelolaan iklim Sekolah. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. c. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. orangtua siswa. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. d. Pengelolaan proses belajar mengajar. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Dr. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. ekonomi. Pengelolaan keuangan g. b. c. f. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. partisipasi masyarakat. dan politik) Di lain pihak. Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. Asal diterapkan secara ketat. karyawan. Juran (Arcaro. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. W. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional.

diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat. yaitu sosialisasi.dengan tepat. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management. standar kompetensi siswa. Banyak perubahan. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Misalnya. baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Ini bahkan menjadi lebih sulit.doc 50 . penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan. kepala Sekolah. akuntabilitas. reflikabilitas dan substainabilitas. bukan program sekali jalan. Seperti telah dinyatakan di atas. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. standar penguasaan minimum. standar materi pelajaran pokok. 2004.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. standar pelayanan minimum. yakni guru. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. piloting. tokoh agama. pengawas. c. Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. e. d. Dengan perangkat yang tepat. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas.Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom). b. Pelatihan. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. ada empat tahapan implementasi MBS. pengusaha dan para akademisi. pelaksanaan. baik cetak maupun elektronik. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. Seperti halnya Deming. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. misal merupakan prasyarat mutu. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. dan diseminasi.

Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). pada tanggal 2 Mei 2002 c. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. e. b. Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. dan Komite Sekolah. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. d. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. otonomi Sekolah. organisasi formal dan internal.baik faktor internal maupun eksternal. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. pengorganisasian. baik secara konvensional maupun movatif. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. semangat belajar. potensi sumber daya manusia. Dewan Pendidikan. a. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Potensi Kepala Sekolah.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. pengawasan pendidikan di Sekolah. baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan. pelaksanaan. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah. terutama yang berada di lingkungan Sekolah.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. kewajiban Sekolah.doc 51 . Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan.

Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. Program ini terdiri atas tiga komponen. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. c. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Profesionalisme. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. KKM. dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. dan telah menyentuh berbagai kecamatan.doc 52 . harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. Kreatif. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Dalam pada itu. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM). h. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. serta tingkat penghayatan. Forum Peduli Guru (FPG). Kelompok Kerja guru (KKG). Dukungan pemerintah. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. rencana yang rinci dan sistematis.f. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas.Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. i. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). 2002. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. b. Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). d. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. program yang mendukung implementasi. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah.

dalam Subakir & Supari. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. 2001). efektif. kreatif. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Dukungan masyarakat.” Dengan demikian. efektif. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. pada intinya. 2001). Untuk dapat berkembang dengan optimal. Sulawesi Selatan. sehingga terjadi proses belajar. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur. 2001). karena mereka senang belajar. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. Transparansi manajemen. Jawa Tengah. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. Untuk mewujudkan hal ini. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. butir kedua dan ketiga. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Pembelajaran aktif. inovatif. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. dan NTT. c. dan. dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. Dua dari keempat pilar di atas. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. d. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. terutama dengan pengajar atau guru. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. dan menyenangkan (PAKEM). Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar.diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. 2011: 76). b. yaitu: a.” Dalam pelaksanaannya. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. Berkaitan dengan ini. dan menyenangkan (PAIKEM). guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. dan menyenangkan (PAKEM). mengacu kepada empat pilar (Kristanto. Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi.doc 53 . Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). efektif. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengajar. efektif. kreatif. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. kreatif. kreatif.

minat. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. kartun. dan kemandirian sesuai dengan bakat. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. pengajar. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. poster. in focus dan sejenisnya. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. efektif. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. Menurut Ramadhan (2008:5). televisi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. termasuk cara belajar kelompok. Pembelajaran yang aktif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. laboratorium bahasa. dan cocok bagi siswa. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. dan bahan ajar. tulisan dan suara yang direkam. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. dan sejenisnya. menyenangkan. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. komputer dan sejenisnya. inovatif. bagan. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. d) Projected motion media : film. chart.doc 54 . realia. tape recorder. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. diagram. iklim. VTR). komik. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. DVD. kreatif. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. a) Media Visual : grafik. video (VCD. kreativitas. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. diantaranya . Peningkatan kompetensi guru. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. b) Media Audial : radio. menantang. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. dan. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. penerapan PAIKEM sangat tepat. inspiratif. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. gambar bergerak atau tidak. c) Projected still media : slide. over head projektor (OHP). Terdapat berbagai jenis media belajar. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). untuk mengungkapkan gagasannya. menyenangkan.menciptakan suasana.

si pembelajar atau belum. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. silde (film bingkai) foto. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Menurut Djamarah (2005:32). yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. cetakan. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Media audio-visual. piringan audio. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. waktu dan tenaga penyiapan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 1993:10). Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar.doc 55 . 1994:78-79). Kreteria pertamanya adalah biaya. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. (b) audio visual gerak. Media visual. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. kemampuan untuk dirubah. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. gambar atau lukisan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami.Menurut Djamarah (2005:212). Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. Sehubungan dengan hal itu. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. seperti radio. keringkasan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Untuk menarik minat pembelajar. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). cetak suara. pengaruh yang ditimbulkan. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. kecocokan dengan ukuran kelas. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. cassette recorder. film rangkai suara. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari.

di sekolah maupun di luar sekolah. kompetensi social. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. sosial. 2. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Kompetensi Sosial. Mengenal siswa secara mendalam. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. empatik. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. 5.maupun klasikal. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. dan Kompetensi Profesional . dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. sehat jasmani dan rohani. dan kedisiplinan. teknologi. dihayati. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. 3. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. spiritual. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. sertifikat pendidik. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. kompetensi kepribadian. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. ketrampilan. Kompetensi Kepribadian. serta perancangan strategi pembelajaran. competency atau competence. moral. dan seni melalui pendidikan. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327).” Selanjutnya. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. antara lain: kompetensi. pengembangan bahan ajar. dan santun dengan peserta didik. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Berkomunikasi secara efektif. kemahiran. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.“ Karenanya. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 327).doc 56 . kompetensi. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1. dan intelektual. motivasi. 4.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. dan perilaku yang harus dimiliki. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran.

serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. Perencanaan pembelajaran. dan prosedur penilaian yang benar. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. efektif. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. dan menyenangkan. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.doc 57 . strategi. kreatif. Pengembangan kurikulum atau silabus. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. aktif. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. strategi. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. Pemahaman terhadap peserta didik. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. strategi. 9. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik.7. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Evaluasi hasil belajar. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. 2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. 8. Pemanfaatan teknologi pembelajaran. dan prosedur penilaian pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). Mengelola proses pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

pengawasan dan evaluasi. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. penorganisasian .doc 61 . mengontrol perilaku. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert. Dalam konteks penugasan audit. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.being a leader power of leading .BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A. Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti . GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1. Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya.3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya. kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. atau the qualities of leader Secara bahasa.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi.2 Peterson at.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan.Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. tetapi tidak sama dengan manajemen.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi. Seperti halnya manajemen. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal. dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai. membimbing. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan.

Sarros dan Butchatsky (1996).doc 62 . Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. kedua konsep tersebut berbeda. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. Namun demikian. pengetahuan (cognizance). Expert power. ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan.Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Coercive power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Referent power. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Walaupun demikian. Menurut French dan Raven (1968).sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. reputasinya atau karismanya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Berdasarkan definisi-definisi di atas. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Menurut definisi tersebut. Dilain pihak. Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. Sedangkan menurut Anderson (1988). kepemimpinan tidak akan ada juga.

1. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. H. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. Malayu S. Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya. Maccoby. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. baik di lingkungan keluarga. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. Menurut Robert Tanembaum. Hasibuan. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya. Dengan kata lain. mengarahkan. Sedangakn menurut Pancasila. confidence. menyatakan. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin. Selanjutnya Lao Tzu. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. dan membimbing asuhannya. menuntun. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. kepemimpinan serta kekuasaan. mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab. beberapa diantaranya : · Menurut Drs. organisasi. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi. kepercayaan. respek. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.P. v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100."). Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri. Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. sikap.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. respect. Prof. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan.doc 63 .

doc 64 . Namun demikian. tanpa adanya karyawan atau bawahan. reputasinya atau karismanya. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Menurut French dan Raven (1968). Coercive power. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat.pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. kedua konsep tersebut berbeda. Walaupun demikian. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Expert power. Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Sedangkan menurut Anderson (1988). kepemimpinan tidak akan ada juga. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). yaitu para karyawan atau bawahan (followers). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Berdasarkan definisi-definisi di atas. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. pengetahuan (cognizance).Sarros dan Butchatsky (1996). semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Referent power. "). Menurut definisi tersebut. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.

efektif dan efisien. pengorganisasian. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil. staffing. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. selalu tepat waktu. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. pengorganisasian. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi. dan pengawasan. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. directing. commanding. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. Dalam perkembanganya.doc 65 . dan untuk stake holder. dan kepribadian. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. yaitu: perencanaan. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. kepemimpinan.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. organizing. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan. mengidentifikasi defiasi perencanaan. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. penggerakan. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. controling. pelatihan. mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. komunikasi. mental. yakni mengadakan planning. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi. mengisi struktur tersebut dengan individu-individu. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen.organisasi yang bersangkutan. Fungsi sebagai Top Mnajemen. dsb. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan.

Dalam organisasi. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. Tanpa kepemimpinan yang baik. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. para supervisor. pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. birokrasi. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan.doc 66 . Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. masalahmasalah yang akan muncul. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. dan para pelaksana. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. dan para pelaksana. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan. diberikan peran/fungsi. Dalam pengorganisasian. para supervisor. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. Dengan rencana yang telah ditetapkan. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. sering pada tingkat yang dramatis. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif.

sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. penganggaran. Analisis awal tentang kepemimpinan. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. prestasi. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. kematangan. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. Disamping itu. Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. 1996). Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. yaitu kapasitas. tanggung jawab. Stogdill 1974). ketegasan. kecakapan berbicara. staffing. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. pengawasan. namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. organizing. Kotter. Dan dalam perkembangannya. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. seperti misalnya: kecerdasan. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). status dan situasi. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. kejujuran. Hingga tahun 1950-an. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. 2. gaya dan kontingensi. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif.doc 67 . dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. partisipasi. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. dan pemecahan masalah.Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. kesupelan dalam bergaul.

hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics).doc 68 . iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Hoy dan Miskel (1987). Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. misalnya. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. walaupun positif. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. seperti misalnya faktor situasi. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya.

Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Menurut House. Path-Goal Theory. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. prosedur dan petunjuk yang ada).Model kontingensi yang lain. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). saling percaya. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). promosi dan penurunan pangkat (demotions).relations). Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Secara ringkas. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. MenurutPath-Goal Theory. Halpin (1966). Menurut Fiedler. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations).doc 69 . Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin.

Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan demikian. pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Disamping itu. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's". menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Menurut Yammarino dan Bass (1990). menghormati dan sekaligus mempercayainya.doc 70 . pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal).kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). joining in a shared vision of the future. Sebaliknya. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". Dalam dimensi ini. Dengan demikian. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Menurutnya. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader.

dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership).intelektual). dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik.doc 71 . dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). Oleh karena itu. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Dalam dimensi ini. pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. produktifitas. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. meninjau kembali struktur. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. dan nous/noos yang berarti pikiran. perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. gaya (style) dan kontingensi. memulai proses penciptaan inovasi. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi.

dan hubungan.Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. legitimasi. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented). Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. penghargaan. Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. yaitu kekuasaan paksaan. keahlian. yaitu . sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. informasi. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin.doc 72 . Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan adalah sikap. Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya. menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya.3. referensi. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style).

mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi.11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. dan efisien. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal.pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. (2) gaya demokratik (democratic style). Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. inteligensia. tidak ada pilihan lain. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. efektif.doc 73 . karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. melainkan pada gaya kepemimpinan. selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Penampilan fisik. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien.Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif.

kemampuan bawahan. susah diatur. gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. tuntutan pekerjaan. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. pelatihan. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. pimpinan. dan selalu menjadi trouble maker. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. teman sekerja. pengorganisasian. Sebagai contoh. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). 4.doc 74 . maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal. dan bagaimana caranya. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.untuk mematuhinya. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Situasi di sini meliputi waktu. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. yaitu: perencanaan. kepemimpinan. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Berdasarkan pola hubungan tersebut. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. tidak disiplin. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. komunikasi. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. serta kematangan bawahan.

Tanpa kepemimpinan yang baik. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. para supervisor. Dalam pengorganisasian. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. tim. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. dan para pelaksana.dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Dengan rencana yang telah ditetapkan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. atau kelompok pekerja. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. masalahmasalah yang akan muncul. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah. dan para pelaksana. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan.manajemen. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Domingo. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan.doc 75 . Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. para supervisor. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. pengorganisasian. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. Dan organisasi. diberikan peran/fungsi. penggerakan. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. dan pengawasan. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna.

memberikan insentif. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2. bersemangat. secara rinci dinyatakan : 1. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. c) Pengetahuan yang luas. pemimpin. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. memimpin rapat.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. berpakaian. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. staf dan para siswa. Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. bukan sebaliknya. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. memotivasi. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. dan memiliki kepekaan sosial. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan.doc 76 . yaitu: (a) keterampilan teknis. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah. berani. murah hati. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. meminta dilayani oleh para bawahannya. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. dan administrator pendidikan. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. supervisor.

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural. d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing . a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. khususnya peningkatan mutu pendidikan. Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2. c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. guru kelas. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Secara mikro. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya.sekolah. orangtua siswa. adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan.masing. Namun mulai sejak tahun 2001.doc 80 . Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah .

mengkoordinasikan (coordinating). 5. dan pemerintah. serta ketrampilan teknik. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. yaitu: 1. mengarahkan (directing). kelemahan. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan.f) Memotivasi timbulnya pemikiran . dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal. dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. merencanakan (planning).doc 81 . melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen). dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut. sitemik. mengevaluasi (evaluation). Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000). 2. masyarakat. mengorganisasikan (organizing). Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). Dalam makalah ini. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM. mengorganisaikan. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan. Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. Disamping itu. memonitor. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. mengawasi (controlling). 6. pertama. dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. terdapat tiga pandangan berbeda. secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. 4. kedua. keluwesan. Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. 3. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. peluang. ketrampilan manusiawi. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber. Berkaitan dengan itu. baik personal maupun material.

dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai.doc 82 . penguasaan iptek. 6) Kardinata ( LM Tauhid. Untuk itu. Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. kepastian karir. Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. penilaian diri. Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. dan belajar pada diri sendiri. iklim sekolah. tujuan dan harapan. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. kurikulum. 5). (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. kematangan social. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. profesionalisme. kematangan moral dan tanggung jawab.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . dan komputer. pengembangan staf. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. (3). ditandai dengan kematangan emosional. sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. intelektual. praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. dan kesejahteraan lahir batin. keimanan dan ketakwaan. wawasan masa depan. budaya. para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja . komunikasi. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. etos kerja dan disiplin. (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi. belajar dari siswa lain. proses belajar mengajar. (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. 7). Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. staf.

(2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. guru.Mengelola Kelembagaan. Memimpin Sekolah. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 83 . Mengelola Kurikulum. Mengelola Sistem Informasi Sekolah. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Dengan demikian. Agus Dharma ( dalam artikel. 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Dengan demikian. dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda . Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. murid. Mengelola Waktu. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Melakukan Koordinasi/Penyerasian. Melakukan Monitoring dan Evaluasi. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Mengembangkan Diri. kepegawaian. Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3). Mengelola Kesiswaan. Mengembangkan Budaya Sekolah. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Mengelola Sarana dan Prasarana. Mengelola Tenaga Kependidikan. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. orang tua. Menyiapkan. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1). 8).bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya. Melalui keterlibatan guru. Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan. apalagi pusat. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan.Mengambil Keputusan secara Terampil. adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran.Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah. Manajerial dan Kepala Sekolah. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat. Mengelola Keuangan. Memahami Sekolah sebagai Sistem.

Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. Kedua.(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM. Ketiga. arahan dan monitoring dari pusat. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. Pendidikan untuk keadilan. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. organisasi. Kelima. dana. proses belajar mengajar. otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Keempat.doc 84 . di antaranya adalah: Pertama. Menggunakan pendekatan partisifatif. A. sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. Kedua. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. 9). antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. Ketiga. Pertama. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga). Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar. mulai dari provinsi. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya.

Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. Beberapa perubahan tersebut antara lain: a. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. b.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. Pada 1988 American Association of School Administrators. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan.doc 85 . Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. d. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. menerbitkan dokumen berjudul school based management.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Di mancanegara. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. and National Association of Secondary School Principals. Selama ini. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. National Association of Elementary School Principals. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. seperti Amerika Serikat. Di Indonesia. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Akibatnya. a strategy for better learning. Menurut Miftah Thoha (1999). Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi.

Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua.doc 86 . para guru. Dengan demikian.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. kelompok masyarakat. Di dalam MBS. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". pebisnis. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. guru baru.. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. melainkan faktor kepemimpinan (leadership).kebutuhan masyarakat setempat (lokal). guru.. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. melalui proses terbuka. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. menghambat kreativitas. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Dewan Pendidikan. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. Akan tetapi pada prakteknya. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. para legislator. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. Kemudian. Berdasar teori di atas. Berlandaskan ketentuan UU No. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dan sebelum desentralisasi. para guru. atau orang tua yang petani. Dewan Pendidikan. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Semua stakeholder. antara lain Kepala Sekolah. (Nuril Huda. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. orang tua. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara.

dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang.doc 87 . Selanjutnya . Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. orangtua. komite sekolah. para guru. (3). Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead. tantangan. (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM). memotivasi dan memimpin organisasi. tantangan. Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). orang tua. membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . strategi. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. dan kurikulum. kepegawaian. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. penilaian. liason dan leader. Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain .artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti. mengutip pendapat Goston (1976). metode .paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. (2) Ketrampilan hubungan manusiawi . dan dukungan. teknik tertentu dalam organisasi. disturbance handler. salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. pada prakteknya. dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama. (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . disseminator dan spoken person.

Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. tatakerja. ekonomi. perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik. bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan . menentukan tujuan (sasaran atau objective) . sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif.doc 88 . b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga. dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. sosial dan layanan atau service. dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal. pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien. menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat . Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang. penanggungjawab. Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia .Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya. menetapkan kebijakan. c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan.

aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. sarana. (b) Adanya disiplin kerja. Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu. Drucker.doc 89 . politik dan ekonomi (3).d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi . Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan . halaman 157. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. disiplin diri. situasi dan kondisi sosial. Harper and Row. dana. dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . etnik. alam. pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan.hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). dan waktu yang makin ekonomis dan efisien. Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan. New York 1954. dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan. kerja sama. penelitian sumber daya manusia. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). agar semua tugas berlangsung dengan tepat . 157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. pengontrolan tugas.158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983. judul bukunya “ the practice of management. kooperatif. tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. (2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi. Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. (e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat. Semakin meningkatnya aktifitas. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut.

diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). Mengembangkan kemampuan diri (10). Memotivasi (7). Menciptakan kewibawaan. Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). (5). menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi. Membuat perencanaan kerja (2). Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. keperibadian tinggi. (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya. etos kerja. mengatur. Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. orang tua murid. tanggung jawab. bersih. Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). MA. halaman 9 adalah sebagai berikut: (1). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5). dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis.manusia yang memprihatinkan. Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d). mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Mengendalikan pekerjaan (4). Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. Mengatur waktu (8). Melatih dan membimbing (6). Memecahkan masalah (3). Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. Mewakili lembaga (11).doc 90 . Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. (b). Komunikasi lisan maupun tulis. transparan. 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). siswa. 2003. dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. (9). Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru.

dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. idealis. kepala sekolah dituntut: Jujur. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. Guna mendukung hal ini. dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi. (j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah.kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. pegawai tata usaha. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. komunikatif. pemindahan. suka berfikir positif. Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). mengoreksi kelemahan. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. aspiratif.doc 91 . berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya . kreatif. cekatan/lincah. Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah. terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. masalah kesejahteraan personalia sekolah (d). siswa. Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b). pemberani. pemberhentian pegawai guru honorer. Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. cerdas. Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha.Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Keuangan dan pembukuannya (f). Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan produktif). Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). terbuka. menggairahkan. (2). penempatan . pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. penuh tanggung jawab. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. kooperatif. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. Qodri A.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Peningkatan mutu. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat. rancangan ulang sekolah. Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. tingkat pengulangan. Pelaksanaan. . maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. Pembinaan. merekam. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.doc 92 . Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. pembinaan. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. dan perubahan perencanaan ( Fattah. melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. moral guru. berlakunya sistem insentif dan disinsentif. Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. antara lain. memberdayakan guru. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. mendorong profesionalisme kepala sekolah. serta memperbaiki kesalahan. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. manajemen sekolah. Pengawasan. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. dapat diperoleh. Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . MBS merupakan paradigma baru pendidikan. hasil belajar. petunjuk. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. dan iklim sekolah. dan guru. 2000). istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan. orang tua. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. antara lain. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. memberi penjelasan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. tingkat putus sekolah. terutama dalam bidang pendanaan. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik.

2. 3. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 7. tujuan-tujuannya. Motivasi. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. Kepuasan peserta didik. jasa. bagaimana peserta didik. 6. Produktivitas. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kualitas. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. tingkat dan kualitas usaha. maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. Sesuai dengan amanat UU tersebut. Pertumbuhan. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut. guru. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. lancar. Menggunakan pendekatan partisipatif. teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. 8. Pendidikan untuk keadilan. Efisiensi. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. 1. peserta didik. tujuan. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. hasil. perasaan senang guru. tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. 5. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ). kekuatan kecenderungan dan keinginan guru. Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. tradisi-tradisinya. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. guru didorong untuk berinovasi. dan produktif.doc 93 . Kepuasan kerja guru. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya. Semangat. 4.

g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Dan sebelum desentralisasi. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. b) Pengalihan tanggungjawab. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. proses belajar mengajar. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. d) Guru sebagai pasilitator. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. c) Pimpinan oleh para partisipan. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. dan aktivitas kelompok secara mandiri. Menggunakan pendekatan partisifatif. dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi. Pendidikan untuk keadilan. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. dialog. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya.doc 94 . yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah.. ekonomi. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil.. Berlandaskan ketentuan UU No. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif. segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini.

para guru. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Semua stakeholder. antara lain Kepala Sekolah. orang tua. kreatif. Melaksanakan keterbukaan manajemen. . komite sekolah. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. aspiratif. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. demokratis. Dengan demikian. melalui proses terbuka. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Akan tetapi pada prakteknya. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. Mengembangkan komunikasi yang baik. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. Pihak-pihak lain seperti. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. tantangan. dan dinamis. partisipasi warga. Dewan Pendidikan. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Namun pada prakteknya. cerdas. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. bertanggung jawab. Mewujudkan temwork yang kompak. dan kurikulum. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. disiplin. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. Dewan Pendidikan. aman dan tertib. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. para guru. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. inovatif. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Di dalam MBS. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah.doc 95 . Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". Berdasar teori di atas. guru. orangtua. seperti : budaya mutu. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. kejelasan visi dan misi. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Kemudian. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. kepegawaian. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. atau orang tua yang petani. guru baru. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib.Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. penilaian. budaya progresif. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. tantangan. para guru. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah.

kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. ketenagaan. Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. kebijakan dan prioritas pemerintah. untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah.doc 96 . mutu. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. a. guru. diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. dan pemerataan pendidikan. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. pembiayaan dan kebijakan pemerintah.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. sarana-prasana. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka. d. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. komite. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. efesiensi. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. c. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif.

Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah.doc 97 . menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan. menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat. karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial. 2000: iii). dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. guru. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. e. karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring. Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah.

PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. 2007:1). Orang tua. dan seterusnya. Ellen Van Velsor. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. beradab. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. oragnisasi dimana mereka bekerja. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan.PEMBAHASAN A. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. berupa penciptaan norma. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. dan kebijakan baru. 1998:4). Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Russ . fungsi mediasi pendidikan ( Danim. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. Selain itu. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. penyadaran dan mediasi secara simultan. yaitu: 1. 3. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. aturan. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. reproduksi. McCauley. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. guru. fungsi progresif pendidikan dan. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya.doc 98 . melainkan sebagai intinya. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. mekanika kuantum. prosedur. Moxley.

Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. dinas pendidikan daerah. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. kepala sekolah. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. dan dukungan. tantangan. dan dewan sekolah. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan. Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. Pihak-pihak lain seperti. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Ironisnya selama ini. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. orangtua. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS.doc 99 . Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. terlaksana. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang. Bersamaan dengan itu. program sekolah yang terencana. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. dan terpantau dengan baik. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. penilaian. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. termasuk fenomena moralitas. tantangan. dan struktur persekolahan. para guru. proses. Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). komite sekolah. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah.

Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. Analisis awal tentang kepemimpinan. keahlian. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. dan seterusnya. 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. 3. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. legitimasi. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. dan apa rencana selanjutnya. informasi. yaitu kekuasaan paksaan." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. referensi. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. yaitu . Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. yaitu: 1. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. dan hubungan. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya.doc 100 . 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. oragnisasi dimana mereka bekerja. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. penghargaan. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin.standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah.

Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. dan pemecahan masalah. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. pengawasan. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. dan pengelolaan. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Demikian De grouwe menegaskan. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. penganggaran. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. staffing. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. transparan. dan akuntabel. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. organizing.doc 101 . leaflet. dan murid (Nurkolis. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Oleh karenanya. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. kepala sekolah. anggota masyarakat. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. administrator. 2003:42). Secara sederhana dikatakan. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. sistemik. Dengan kata lain. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. orang tua. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. B.

KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. Kotter. lembaga terkait.mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. Ciri-ciri MBS. dan saling percaya dalam bekerja. peluang. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility).doc 102 . bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. pengelolaan SDM. Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. kelemahan. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. 1996). partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS. mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. masyarakat. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. percaya diri. Dengan demikian.

Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal.doc 103 . stakeholder (seperti untuk customer. efektif dan efisien. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian.membantu mengarahkan orang. mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan. memonitor kegiatan birokrasi. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1. dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. 4. Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat. 2. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal. Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. 3. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan . dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Dengan demikian. Jadi. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. guru. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. Oleh sebab itu. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. lebih mengutamakan teamwork. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah.doc 104 . guru. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah. pemerataan. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. 2. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. murid. Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. Dengan taruhan seperti itu. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air. mengangkat dan memberhentikan karyawan. dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri..

Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan.doc 105 . Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. Malaysia. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya. aman. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. dan menyenangkan (PAIKEM). Pertimbangan kedua adalah lahan. limbah. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. Terlebih. yaitu lokasi yang strategis. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru.Jadi. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa. Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. efektif. penyelenggara. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. Menurut Ramadhan (2008:1). “Berdasarkan teori belajar. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. bahkan RAPBS ini dipajangkan. atau Australia. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. dan. Guru. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan. dan orangtua siswa. termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang. bebas banjir. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. kreatif. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat. Komite Sekolah. Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau.

pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. Oleh karena itu. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. dan tujuan yang akan dicapai. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. ketersediaan Dari pemaparan di atas.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). peralatan pendidikan. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. pelaksanaan. Disamping itu. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi. Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. demokratis. Dalam praktiknya. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. media pendidikan.doc 106 . SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. pengorganisasian. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. Di samping itu. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. misi. dan memunculkan iklim belajar yang baik. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. dan fleksibel. buku dan sumber belajar lainnya. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Dalam meningkatkan manajemen sekolah. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1.

ruang pimpinan satuan pendidikan. Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali. ruang tata usaha. khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani. Dalam masalah sampah di sekolah. tempat bermain. bersih. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat. udara yang bersih. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik. instalasi daya dan jasa. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bagi para siswa. prasarana . Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. ruang laboratorium. ruang pendidik. tempat beribadah. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. ruang kantin. ruang unit produksi. tempat berolahraga. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah.b. Dengan sistem sanitasi yang bersih. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak. ruang kelas. Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa.yang meliputi lahan. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. ruang perpustakaan. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. kegiatan upacara/apel pagi. maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. dan cukup pepohonan. d. ruang bengkel kerja. tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. c. Nampaknya semakin bersih suatu tempat. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A.doc . maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa. e. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. dan sedikit polusi suara. maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu.

maka sekolah diliburkan. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. g. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sebagai konsekuensinya. jumlah ruang laboratorium. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. Di SMA Negeri 2 Mataram. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek.sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. jumlah ruang belajar.doc 108 . Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. f. yang meliputi gedung sekolah. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. Tabel 1. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran. bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat. serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran. misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur. Karenanya.

serta jumlah guru dan staf akademik. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. termasuk: Kepala Sekolah. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah. Misi. Dengan kondisi seperti di atas. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Misi. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar). Evaluasi menyangkut estimasi biaya. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah. pemerintah daerah dan tentunya para guru. Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 109 . Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. pelaksanaan.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Proses renovasi dimulai dari perencanaan. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. ruang perpustakaan. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah.

antara lain : (1) Keterbatasan dana. serta (3) Tugas Kepala Sekolah.2. koperasi sekolah. kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala.1. Wakil Siswa (OSIS).1. Guru. Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer.4. dan jaringan internet. 2. 2. baik di dalam maupun di luar ruangan. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah. 2. kantin. tahun 2003 : 29). Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor. selama jam kerja. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah. Wakil Organisasi profesi.Wakil Kepala Sekolah. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet. Wakil orang tua siswa. Saat ini. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah . LCD monitor. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa. Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. ruang UKS. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga.doc 110 .1. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung.1.3.1. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor. 2. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal. Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan. 1 unit komputer bagi administrator jaringan. terutama di SMAN 2 Mataram. mushola. dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia. Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru. Akan tetapi. Tata Usaha. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran.1. Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap. 2002). sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2. tempat parkir. Namun dalam kenyataannya. yang sangat kompleks.

mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet. membuat modul bahan belajar berbasis IT. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. Sebagai kelanjutannya. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. dan media pembelajaran (e-learning). kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK. kreatif. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting.1. membuat bank soal. Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. kreatif.doc 111 .5. S. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas. di antaranya sebagai: media informasi. Di samping itu. M.2. yaitu Hendri Agung Mahendra. efektif.2. S..3.. dan menyenangkan. 2. Inovatif. baik di dalam maupun di luar sekolah. guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 3. 2.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011. Queensland. media komunikasi..Kom. efektif.1. 3. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah.1. yaitu Hudri Ahmad. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif.Pd. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas.Pd.Pd. Dalam proyek ini. 2. Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya. S.2. Australia.2. SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. 2. dan menyenangkan (PAIKEM). beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara.1.. dan Sri Wahyuni. Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School.

and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat. kesupelan dalam bergaul. yaitu kapasitas. Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram. Stogdill 1974). kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. kecakapan berbicara. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. dan disiplin. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS.doc 112 . Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak. kejujuran. status dan situasi. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut.perbaikan. ketegasan. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum. Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. Hingga tahun 1950an. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna. Untuk meningkatkan kompetensi ini. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan. Disamping itu. seperti misalnya: kecerdasan.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. prestasi. sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. 3. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris. Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. B. partisipasi. tanggung jawab. missal transparansi program.2. kematangan. kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah. walaupun positif. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. transparansi keuangan. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin.

model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Halpin (1966). saling percaya. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Secara ringkas. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. misalnya. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi.doc 113 . Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Hoy dan Miskel (1987). karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics).one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). seperti misalnya faktor situasi.

para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional.Model kontingensi yang lain. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. Menurut House. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Disamping itu. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi.kepemimpinan yang berbeda. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. prosedur dan petunjuk yang ada). Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Menurutnya. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. MenurutPath-Goal Theory. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. Path-Goal Theory. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. promosi dan penurunan pangkat (demotions). Menurut Fiedler. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Sebaliknya. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan.doc 114 . model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.

keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C. program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. maupun pemikiran. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management. standar kompetensi siswa. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). Menurut Yammarino dan Bass (1990). Misalnya. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. standar penguasaan minimum. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan.mengakui kredibilitas pemimpinnya. Dengan demikian. dana. dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah. Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas. baik tenaga. keahlian. standar pelayanan minimum. Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 115 . pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. joining in a shared vision of the future. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. standar materi pelajaran pokok. Dengan demikian. sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan.

Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. juga anggaran Sekolah . Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial.Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Selanjutnya dalam Undang-Undang No. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. adanya kesamaan yang paling utama. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. karyawan. ekonomi. partisipasi masyarakat. Masih menurut Burns. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Ketiga.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Kedua. siswa. pendapatan daerah dan orang tua. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. Untuk pendidikan dasar dan menengah. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Pertama. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. UU Nomor 32 Tahun 2004. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. dan demokratis. dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. tetapi oleh kesadaran bersama. Ciri-ciri MBS. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. partisipasi. partisipatif. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. dinamik dan demokratis. dimana warga Sekolah (guru. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. orangtua siswa. dan politik) Di lain pihak.doc 116 . Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan.

lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Demikian juga. tentu saja. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. dengan pengambilan keputusan partisipatif.Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. siswa. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif. khususnya Sekolah. Dari asal usul peristilahan. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. demokratis dan fleksibel. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah.sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Ketiga. kepala sekolah. Dengan kemandiriannya. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. misi. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.doc 117 . Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 15Dalam MBS. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. dan peningkatan rasa tanggungjawab.orangtua siswa. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Dengan demikian. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. sehingga sekolah lebih mandiri.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Kedua. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah. Dengan otonomi yang lebih besar. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. kelemahan. Berpikir logis dalam melakukan perubahan. karyawan. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Sebaliknya. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah.

monitoring. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. administrator. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. Inovator. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. maka peran kepala sekolah sangat besar.doc 118 . dan menyenangkan. Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. Motivator. dan evaluasi pendidikan. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. dan monitoring dan evaluasi pendidikan. efektif. Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. Adanya peningkatan prestasi siswa. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah. Supervisor. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. manajer. Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. efektif dan menyenangkan (PAKEM). Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. leader. dan Managerial. inovator. pemimpin/leader inovator. demokratis. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. kreatif. Adanya pembelajaran yang inovatif. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. dan organisator.transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. kreatif. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. D. Administrator. pelaksanaan. Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. supervisor. Penerapan pembelajaran aktif. administrator dan supervisor. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. pelaksanaan. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus. Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. dan fleksibel. motivator. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. Leadership.

pengorganisasian. siswa. jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru. bulanan. d) Menyelesaikan surat-surat.doc 119 . 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya. laboratorium. semesteran. Kebersihan. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. Keindahan dan Kekeluargaan). Dalam melaksanakan tugasnya. pengkoodinasian. ketenagaan. perpustakaan. kantor. kesiswaan. ketaausahaan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). pengawasan. dan tahunan. bimbingan konseling. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). sarana dan prasarana. Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. ruang keterampilan/kesenian. Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya. keuangan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengarahan. keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. kurikulum. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. Ketertiban. e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. serbaguna. mingguan. media. ketenagaan. gudang dan 7 K. 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman.

laporan bulanan. alat kantor. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat.dan alat praktek.Diagram pencapaian kurikulum. waktu. Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya. Kesiapan RP. penanggung jawab. e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya. Kumpulan program satuan pelajaran. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. Hal yang dibahas meliputi target.Buku catatan pelaksanaan harian. d) Pertanggung jawaban keuangan. h) Mengecek pengisian buku induk siswa. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. penggunaan dan bahan praktek. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar. pengorganisasian kelas. baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah. gaji pegawai. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. penyiapan alat peraga. guru. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi. e) Evaluasi terhadap persediaan. saran. d) Memeriksa keuangan Sekolah. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya. 3) Kegiatan bulanan. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan.doc 120 . Diagram daya serap murid/siswa.2) Kegiatan Mingguan.c) Penutupan buku. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan. Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Sebagaimana dikemukakan Rahman H. kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir. Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. pengorganisasian (organizing).doc 121 . Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). E. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan.meningkatkan kualitas sekolah. keamanan. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (2005: 67) bahwa. status dan kepuasan diri. penguasaan personal. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya. Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur. Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. mental model. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. sosial. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan. staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan.

Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karenanya. Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial. 3. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. dan murid (Nurkolis.kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Secara Umum 1. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. anggota masyarakat. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. F. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. (7) pelaporan hasil.doc 122 . Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5. kepala sekolah. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. Oleh karena itu. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. kelenturan pengelolaan sekolah. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. orang tua. 2003:42). agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. peningkatan profesionalisme guru. administrator.

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. kantor. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengorganisasian. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. staf dan para siswa. berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. dengan cara meyakinkan dan membujuk. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. memotivasi. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS. bekerja dengan tim manajemen. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. pengelolaan kepegawaian. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan.doc 126 . menggairahkan. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. staf dan siswa. kesiswaan. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. pengkoordinasian. pengelolaan sarana dan prasarana. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. pengarahan. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. perlengkapan. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. yaitu: (a) keterampilan teknis. mampu menyusun perencanaan. lancar dan produktif. mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. pengelolaan kesiswaan. dan produktif). Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. keuangan. memimpin rapat. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah. kepegawaian. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. Guna mendukung hal ini. pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. dan perpustakaan. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama. dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. ERIC_Digests. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Dalam rangka mewujudkan PAIKEM. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. dan peningkatan kompetensi guru. pengadaan peralatan TIK. Oleh sebab itu. efektif. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak. yaitu: Pembelajaran aktif. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. percaya diri. kreatif. Dengan demikian.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Dengan taruhan seperti itu.doc 127 . inovatif. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen.mengajar yang dilakukan guru di kelas. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. 2. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru.

perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah.cit. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. 48-58). kesenian. kejujuran. hh. inovasinya. perlengkapan. proses belajarmengajar. 2. namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. olah raga. proses pengelolaan program. op. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. bahan dsb). Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik. produktivitasnya. kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan. yaitu prinsip equifinalitas. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. sumber daya. karya ilmiah. program dsb 3. efektivitasnya. 6. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. guru. misi.mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. efisiensinya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. proses pengelolaan kelembagaan. seperti nilai ulangan umum. 4. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. 5. 7. akreditasi sekolah. peraturan perundang-undangan. prinsip desentralisasi.3. seperti IMTAQ. Input pendidikan terdiri dari: 1. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. dana pendidikan. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah. Implementasi MBS.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. Dalam pelaksanaan implementasi MBS. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. harapan-harapan berupa visi. tujuan. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. tenaga kependidikan dan lain sebagainya.deskripsi tugas. kesopanan. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. uang. keterampilan. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya.doc . sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. Ujian Akhir Nasional. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. dan proses monitoring dan evaluasi. rencana.

Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka. MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. 2001. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. hubungan interperonal. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen. e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative). Depdiknas. hakikat aktivitas-aktivitas. maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. peran warga sekolah. khususnya dari aspek manusia. Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. 8. masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. strategi-strategi manajemen. Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. hh.doc 129 . Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. hh. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. guru. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. tenaga administrasi. 48-58). d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). 9-10). orang tua. Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah. penggunaan sumber-sumber daya. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama.

pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. tumbuh dan menjalani perkembangan. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. personel. Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. a.doc 130 . Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. Dalam organisasi modern. b. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. organisasi. MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. Strategi-strategi manajemen. Konsep organisasi sekolah. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang. Misi sekolah. hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat.1. aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. Selain itu fasilitas. diluar keuntungan ekonomi. Isi. 3. kebutuhan dan situasi sekolah. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. keyakinan dan nilai-nilai sekolah. misalnya produk yang berkualitas. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. afiliasi sosial. 2. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. Mereka mengejar interaksi. konsep organisasi telah berubah.

Gaya kepemimpinan. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan. pendidikan. Gaya pengambilan keputusan. kompleks dan sulit. MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. 4. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. f. Dengan demikian. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. legitimasi. orang tua. Partisipasi guru. sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. simbolik dan budaya. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. (4). menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. manusia. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan. d. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah.ditinkatkan secara terus menerus. Diperlukan intelegensi. memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah. simbolik dan budaya. Partisipasi atau keterlibatan guru. dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. Penggunaan sumber-sumber daya. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru. (2). Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. Pengunaan kekuasaan. strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. e. mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah. Keterampilan-keterampilan manajemen. (3). keterampilan mengelola konflik. paksaan. Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. referensi dan keahlian. MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah.doc 131 .Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. c.

6. Hubungan antar manusia. Peran Para Administrator. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa. a. Peran Para Orang Tua. Perbedaan-perbedaan peran. Peran Sekolah.doc 132 . inisiatif. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. Peran Para Guru. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. misi sekolah. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah. memecahkan masalah. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. 5. bekerjasama. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. Amerika Serikat dan Hong Kong. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan gaya penggunaan sumber daya. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif. mendidik siswa secara kooperatif. guru. orang tua dari yang semula pasif. d. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah. administrator. b. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa. Kanada. Dalam MBS. Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. pengambil keputusan dan pengimplementasi. Dalam MBS. e. Australia. c. hakikat aktivitas sekolah. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. Peran Departemen Pendidikan.

rasional. Proses. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. 3. i. h. n. Dalam MBS. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. tujuan. Kepemimpinan sekolah yang kuat. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. hh. dan sasaran mutu yang jelas. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). b. harga diri. gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah. kelompok. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. Sumberdaya tersedia dan siap. cit. 2. kreatif.doc 133 . 11-20). op. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah. Metematika. Input pendidikan yang meliputi: a. individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input. cerdas dan dinamis. Komunikasi yang baik. kedisiplinan. Sekolah memiliki akuntabilitas. induktif. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah. kesenian dan kepramukaan. proses dan input (Depdiknas. untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya. lomba karya ilmiah remaja. Memiliki kebijakan. 7. kerajinan. kerjasama yang baik. cara berfikir kritis. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. loma Bahasa Inggris. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi. g. Indikator-indikator efektivitas.l. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. Fisika. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. Singkatnya. Output yang diharapkan. d. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. e. 8. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. c. Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar.m. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. a. deduktif dan ilmiah. f. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. c.saling menguntungkan. Sekolah memiliki budaya mutu. prestasi olah raga. toleransi. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. k. kejujuran. b. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. solidaritas yang tinggi. 1. Kualitas para administrator. j. nalar.

Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah. Caldwell. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. McCauley. (1998). 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. Cynthia D. Vincent. Memiliki harapan prestasi yang tinggi. 1997. (Eds.B. London: Falmer Press.doc 134 . kreatif. Kepemimpinan yang Memotivasi. dan menyenangkan (PAIKEM). Personnel Management. New York: Mc. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1. 1984. Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya. Jakarta:Depdiknas.. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kepemimpinan dan Komunikasi. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp. 2001. J. J. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk . Flippo. SMA /M. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah. Depdiknas Jakarta . & Hayward. Manajemen Berbasis Sekolah. J. & Bell. 1993. Arikunto. J. Jakarta: Gunung Agung. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. Beyond the Self-Managing School. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. 2004.tinggi. J. 2003. Moxley. Depdiknas Jakarta Bentley. 1998. (2004). (2005). K. 1977. Fokus pada pelanggan. (1998). San Francisco: Jossey-Bass Publishers. Domingo. 2000. Caldwell. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Input manajemen. Edwin B. Ellen Van Velsor. Singapore:Prentice Hall. 2. (2004). Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. London: Paul Chapman Publishing. B. 21-40 ).2001.Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas. and Adair. B. John. e. & Spinks. efektif. M.Hill Book Company. Graw. hhtp://www. f. inovatif.). National Association of Elementary School Principals. Pendidikan Network Jakarta Balitbank. Dasar-Dasar Supervisi. Caldwell.. Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware. Jakarta Agus Dharma. sixth edition. S. _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. T. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.. Rene T. Costa. Puspendik. London: Falmer Press. Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. T. & Wilsdon.ed. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. Gramedia Pustaka Utama. The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. 2008 Anonim. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. Manajemen Berbasis Sekolah. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi. B. DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . P. Russ S. 12 Konsep Kepemimpinan. Jakarta. Onong Uchjana. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan. B. Cocheu Ted. (2002). Elex Media Komputindo. In Bush. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono. San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas. The Adaptive State: London: Demos. d. L. SMPMTs dan. S.html American Association of School Administrators. D. Effendy. Beyond Leadership. Jakarta. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka.

National Association of Secondary School Principals. 21-38). 1988. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools. School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. Masalah. 1999. School Effectiveness and School Improvement. Griffin W. Lunenburg & Allan C. (2003). The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. 1995). Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. R.. Virginia. 1999. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves.H. New York: Simon & Schuster. M. Leadership. dan Implementasi. 2002. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jesson. Pengelolaan Lingkungan Belajar.htm. In Mok. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. (2009).. Brown. Jakarta: PT. John. Motivating Your Employees. Yogyakarta: BPFE Hasibuan. Miftah Thoha. D. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis.. edisi-5. dan Curphy Gordon J. Manajemen Berbasis Sekolah. 017. Strategi. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Nuril Huda. Manajemen Berbasis Sekolah.edu/pubs /consumered/g1397.2005. 017. Inc). Leung.13. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. 1999. New Jersey: Prentice Hall International Inc. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito. N. Nugraha. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Santiago: UNESCO. Arlington. Konflik. Kotter. & Rachmawati. & Segal. W. London: Demos Hughes Richard L. Hani. Barbuto dan Lance L.. Ricky dan Ebert J.http://www. John E.). Handoko. London: Specialist Schools Trust. 1982. & Kluwer Academic Publishers.unl. Mariyana.16.. T. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. LLECE (2002). cet ke 2 Ouchi. Grasindo. Business. G. Massachusetts: Harvard Business School Press. third edition. dan Kinerja (Kontemporer & Islam). Kerjasama. Jakarta: Ghalia Indonesia. Fullan. 453-474. A.18. Boston. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth. Nurkolis. (2008). Education Epidemic. London: PMDU. (2010). Hong Kong: Comparative Education Research Centre. Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya.doc 135 . Y. (2000). Kusnadi. Desentralisasi Pendidikan. Ronald. Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. (2003). Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp. Alex. (Ed..tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . E. 1999. M. The University of Hong Kong. Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. Organisasi dan Motivasi. 11(4). Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. L.H. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟.ianr. Ornstein. 2003. Hadari Nawawi dan M.Malang: Taroda. Manajemen edisi 2. Ginnett Robert C. Martini Hadari. 1996. K. Leading Change.Fred C. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. Y. Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE). D. 1999. Jakarta: PT. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003). Singapore: Irwin/McGraw-Hill. G. & Watson. Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries.

amirican Management Assosiation Inc..com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011. A.D. Virginia: 1988. Pembelajaran Aktif. (2003). Glasgow: HarperCollins Publishers.. Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. (2005). dan Menyenangkan.. Tilaar. G. Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. Israel: Ministry of Education. 1971 Designing Training & Development System. R. PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. A. School-Based Management: A Strategy for Better Learning.. T. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru. I.doc 136 . National Association of Elementary School Principals. Jakarta Suyata.. Surabaya: Penerbit SIC. (1998). Ross. Prof.Ramadhan. and National Association of Secondary School Principals. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro... A. 2008. & Levacic. UNESCO. School-Based Management and Student Performance. (2001).. M. N. Paris: International Institute for Educational Planning. dan Sapari. Yamin. Diambil dari: http://tarmizi.(2205) Peraturan Pemerintah RI No.UNY Terecy WR. Efektif. Saydam. A.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.wordpress.). 2010. HAA.American Association of School Administrators. Jakarta: Djambatan Subakir. A.. Kreatif. & Friedman. UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. Manajemen Berbasis Sekolah. David Peterson. (Eds. Wilkes.. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools.. Yogyakarta: PPS. Syah. K. (2009).. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung . Arlington.. Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. Ph. Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. M. Bandung: Remaja Rosdakarya . School-based management: An International Perspective. G. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.. S. Inovatif. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. (1999). 2001. (1999).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful