PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

the school needs an effective leadership as well. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation. teachers. School-Based Management. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System.doc 4 . school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters. With the use of MBS approach. Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. Keywords: Leadership. In order to conduct school effectively. school institution as an operational unit which manage everything directly. The whole components that are principals.

misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. Memahami tujuan pendidikan dengan baik. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. menggairahkan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. termasuk pendidikan. Dalam pelaksanaannya. memotivasi. sosial dan budaya. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. dan memiliki kepekaan sosial. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. bersemangat. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. politik. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial.doc 5 . Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu: (a) keterampilan teknis. memimpin rapat. ekonomi. Dalam Era Globalisasi ini. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. berani. Pengetahuan yang luas. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. LATAR BELAKANG MASALAH 1. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. dan produktif). telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). murah hati. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan.BAB I PENDAHULUAN A. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan.

pengetahuan (cognizance). tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. Permasalahan yang timbul terus menerus. Bennis and Nanus (1995). pemeliharaan personal. 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. “Some people have said that experience is the best teacher. dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. dan mengkoordinasi orang lain.doc 6 . kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan.” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Menurut penadapat (Cynthia D. yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). fungsional. McCauley. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Moxley. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. mengarahkan. Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi. dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. membangun. c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. oragnisasi dimana mereka bekerja. Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. Russ .2. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. Ellen Van Velsor.

“It is just that not every experience offers important leadership lessons”. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Walaupun demikian. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). dan dukungan. walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik.some experiences don’t teach”. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). “the experiences that stretch you. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Selama beberapa dekade. (4) Referent power. “So experience is not the best teacher?”. kepemimpinan tidak akan ada juga. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. (5) Expert power. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). apabila dikelola dengan manajemen yang baik. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). “Not exaltly that.doc 7 .” the sage responded. “. Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988). sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. Berdasar penelitian pemikiran tersebut. Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Sebuah organisasi akan efektif. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien. akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. (b). pengetahuan (cognizance). (2) Coercive power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Dengan menekankan pada aspek manajemen. banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968). Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". tantangan. Pendapat ini tidak salah seluruhnya. “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. reputasinya atau karismanya.

Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Idealnya. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. kedua konsep tersebut berbeda. Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. penorganisasian . menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. tetapi tidak sama dengan manajemen. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien.doc 8 . Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. pengawasan dan evaluasi. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota.5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan.

bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Oleh sebab itu. dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan.pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. yaitu . pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. keahlian. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Berdasarkan masalah di atas. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu kekuasaan paksaan.doc 9 . informasi. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. terutama di kota-kota. 2000: iii). Namun demikian. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS). dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. 2000). antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Sehingga diberlakukannya MBS. penghargaan. Sebagian sekolah. dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. pengadaan buku dan alat pelajaran. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. legitimasi. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. 3. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. referensi. Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti.

para guru. masalah-masalah dalam penerapannya. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3). Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Namun. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Komite Sekolah. (4. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan.) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. kurikulum. Kepala Sekolah. Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1).MBS.doc 10 . yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Menurut Miftah Thoha (1999). standar. memecahkan masalah-masalah umum. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. manfaat. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. (2. kebijakan. Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management).

20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. pebisnis. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. masyarakat. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. menghambat kreativitas. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. kelompok masyarakat. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. para legislator. pendidikan dasar. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. menghambat kreativitas. (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No.berkonotasi negatif. serta keluarga terhadap sekolah. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara.doc 11 . (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. (c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama.

dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan.doc 12 . Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal. pebisnis. yaitu: a. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. 2003). Manajemen berbasis lokal b. para legislator. Akibatnya. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Dengan demikian. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Melalui keterlibatan guru. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. kepegawaian. sekolah (Agus Dharma. (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. Inovasi kurikulum. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. kelompok masyarakat. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. Pendelegasian wewenang c. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. orang tua. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi.atau masyarakat. apalagi pusat. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid.

DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan. Menurut Miftah Thoha (1999). pengorganisasian. Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. manajer. para guru. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. supervisor. B. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. kewajiban sekolah. kebijakan.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting).doc 13 . namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. pengorganisasian. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. administratior. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator. standar. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?. sistematik. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. nyaman dan tertib. kurikulum. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel. saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. otonomi sekolah.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. dan berlanjut terjadi. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim).

Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. penyiapan alokasi sumber daya. penciptaan iklim organisasi yang kondusif. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. kelompok masyarakat. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. para legislator. perilaku kepemimpinan. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. pengambilan keputusan. pebisnis. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). pengorganisasian (organising). Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. (Nuril Huda. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. melakukan perencanaan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning).a. menghambat kreativitas. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.doc 14 . yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). b. d. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. stimulus dan koordinasi personil.

doc 15 . (2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. mandiri. kelompok masyarakat. Oleh karena itu. proses pembelajaran. Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. berakhlak mulia. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. pengajaran sumber belajar. profesionalisme tenaga kependidikan. Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. serta sistem administrasi secara keseluruhan. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. kreatif. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS). Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. kurikulum. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. fasilitas. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. pebisnis. khususnya pendidikan dasar dan menengah. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. tangguh. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan. para legislator. Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah. Dalam konteks ini. Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17. Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengorganisasian (organizing). (7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.16. kepala sekolah. bangsa dan Negara. Dalam UU No. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12. Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. 2002). namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah. orang tua. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. nilai kultural dan kemajemukan bangsa. tenaga kependikan. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou.Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. 2. Undang-Undang Republik Indonesia No.(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.doc 16 . Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. siswa.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.18. (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. A. nilai agama.13. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal.

kepribadian.Meningkatkan kecerdasan. regional. sikap. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. dan internasional. (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. adaptif dan aspiratif. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. demokratis. pengetahuan. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. tenaga kependikan. bangsa dan Negara. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. keterampilan. orang tua. 2002). Dalam konteks ini. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Dengan demikian. (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional. (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global. A. (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global.doc 17 . Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. akhlak mulia. siswa. kepala sekolah. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan.. pengalaman. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah .

jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. lingkungan dan sarana dan prasarana. laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus.4. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. siswa. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. standar proses. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit. standar kompetensi lulusan. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. dan standar penilaian pendidikan). Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. yaitu . standar sarana dan prasarana. menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. terkait dengan hal tersebut. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. standar pengelolaan. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus. standar pembiayaan. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8. Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. standar pendidik dan tenaga kependidikan. tenaga pendidik. Ruang belajar yang nyaman. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan.doc 18 .

Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. latar belakang. Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. minat. dan memiliki keunikan. perluasan pemeratan pelatihan Guru. 3. 1762). Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. Sebagai lembaga sosial. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. serta prilaku yang diterima masyarakat. mengganti simulasi yang berbahaya. pengalaman. kapasitas. Fink & Earl. Menurut Rousseau (Emile. untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. kualitas pendidikan bersifat dinamis. 2003). Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. dan sentosa. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. intelektual dan emosional. Manusia memiliki potensi. sedangkan sebagai lembaga ekonomi. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram. menurut Suderadjat ( 2005 ). Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. perspektif. bakat. aman. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat.doc 19 . dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya.saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. minat. Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. termasuk pendidik. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik. Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat. dan kemampuan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

2001). kreatif. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. berakhlak mulia. sehat. 2001). pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). c. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). iklim. untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No. akhlak mulia. dalam undang-undang yang sama. kreatif. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan. Dukungan masyarakat. dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. Dua dari keempat pilar di atas. Oleh karena itu. cakap. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. kepribadian.20/2003) Selanjutnya. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. yaitu: a. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. kecerdasan. dalam Subakir & Supari. Untuk dapat berkembang dengan optimal. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. masyarakat. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut.d. Transparansi manajemen. efektif. bangsa dan negara. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. kreatif. Pembelajaran aktif. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. serta memiliki sikap. Peningkatan kompetensi guru. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. mandiri. pengendalian diri. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 20 . serta keterampilan yang diperlukan dirinya. berilmu. b. dan. dan. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. butir kedua dan ketiga. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. dan menyenangkan (PAKEM). langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010.Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (Pasal 4). inovatif. terampil. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan.

Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. Misi. dan dinamis. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. kreatif. Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. partisipasi warga. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. UU No. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. UU No. disiplin. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . budaya progresif. Mewujudkan temwork yang kompak. inovatif. bertanggung jawab. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern.doc 21 .`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. aspiratif. aman dan tertib. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. demokratis. dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Melaksanakan keterbukaan manajemen. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Mengembangkan komunikasi yang baik. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah. Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. cerdas. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. seperti : budaya mutu.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. kejelasan visi dan misi. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional . Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. lingkungan belajar yang paling utama. UU No.

baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar. inovatif. Manajemen Tenaga Kependidikan. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia.doc 22 . dan. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. Sehubungan dengan hal itu. efektif. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. yang meliputi guru. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. kreatif. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. (e). dan menyenangkan (PAKEM). kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. masyarakat. ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). (c). Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. Untuk mewujudkan hal ini. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. terutama dengan pengajar atau guru. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. dan menyenangkan (PAIKEM). Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Berkaitan dengan ini. ia (hal. rapi. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. (g). 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. telah dapat diwujudkan. kreatif. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). 2001). Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. (d). efektif. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. (f). dan pemerintah. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. berkreasi. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. (b). bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai.” Dalam pelaksanaannya. Manajemen Kesiswaan. Manajemen Layanan Khusus. termasuk dalam bidang pendidikan. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka.memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. serta komite sekolah. Dalam manajemen sarana dan prasarana.

Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. dan kemandirian sesuai dengan bakat. penerapan PAIKEM sangat tepat. VTR). dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. laboratorium bahasa. DVD. kartun. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. b) Media Audial : radio. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Menurut Ramadhan (2008:5).” Dengan demikian. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. chart. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. gambar bergerak atau tidak. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Terdapat berbagai jenis media belajar. menantang. dan sejenisnya. komputer dan sejenisnya. kreativitas. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . dan bahan ajar. dan cocok bagi siswa. piringan audio. tape recorder. over head projektor (OHP). merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. untuk mengungkapkan gagasannya. Menurut Djamarah (2005:212). televisi. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. tulisan dan suara yang direkam. seperti radio. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. sehingga terjadi proses belajar. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. Mengajar. in focus dan sejenisnya. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. minat. termasuk cara belajar kelompok. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. c) Projected still media : slide. d) Projected motion media : film. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan.doc 23 . kreatif. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . menyenangkan. cassette recorder. a) Media Visual : grafik. pada intinya. video (VCD. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. diantaranya . menyenangkan. pengajar. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. poster. komik. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. diagram. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. realia. Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2011: 76). inovatif. inspiratif. efektif. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. bagan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.

“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. waktu dan tenaga penyiapan. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. kemampuan untuk dirubah. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. dan (b) audio visual gerak.doc 24 . Kreteria pertamanya adalah biaya. competency atau competence. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). silde (film bingkai) foto. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. kecocokan dengan ukuran kelas. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Media audio-visual. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. dan kedisiplinan. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. di sekolah maupun di luar sekolah. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. pengaruh yang ditimbulkan. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. motivasi. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. film rangkai suara. Sehubungan dengan hal itu. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. antara lain: kompetensi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. keringkasan. cetak suara. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. 1994:78-79). 327). gambar atau lukisan. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi.visual. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. si pembelajar atau belum. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. baik secara individual maupun klasikal. Untuk menarik minat pembelajar. estetika juga merupakan sebuah kriteria. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Menurut Djamarah (2005:32). program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. cetakan. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. 1993:10).

Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Mengenal siswa secara mendalam. (4). kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. sertifikat pendidik.Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. ketrampilan. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6).Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Kompetensi Sosial. dan seni melalui pendidikan. (5). dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.doc 25 . dan perilaku yang harus dimiliki. kompetensi social. pengembangan bahan ajar. Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. (9). Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. Kompetensi Kepribadian. kemahiran. Berkomunikasi secara efektif. (2).Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. sehat jasmani dan rohani. dan intelektual. empatik. spiritual. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. moral. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). (7).” Selanjutnya. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11). Menguasai strategi pengembangan kreativitas. serta perancangan strategi pembelajaran. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. dan Kompetensi Profesional . Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar. dan santun dengan peserta didik. teknologi. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1).Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. kompetensi. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. dihayati. sosial. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. kompetensi kepribadian. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (3). Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan.

Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. strategi. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sumber daya. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah.Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya.belajar. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 26 . serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. dan prosedur penilaian pembelajaran. efektif. sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Pertanggung-jawaban (accountability). Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. (2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. guru dan staf lainnya). dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. strategi. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. dan menyenangkan. Personil sekolah. Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat. strategi. Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip.Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. wakil kepala sekolah.Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Selain pembiayaan operasional/administrasi. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. Melihat progres pencapain kurikulum. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Mengelola proses pembelajaran. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. kreatif. dan prosedur penilaian yang benar. aktif.

F. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. C. penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini. E. fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. efektif. efisien. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders). yang penulis uraikan. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. penulis menggunakan metode kepustakaan. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar.doc 27 . RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui. atau muatan lokal. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Konsekwensi logis dari itu. TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas.

yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3. maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang. yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. transparan. Gaya Kepemimpinan 4. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. dan akuntabel. dasar dasar pemikiran.doc 28 .pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. 2) Peningkatan efisiensi. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. kosep dasar Kepemimpinan dan MBS. Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah. dibahas pula secara lebih spesifik . dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah. Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. terinci akan hal hal sebagai berikut : a. yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah.

rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah.6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. penyelenggara.doc 29 . ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. mendorong profesionalisme kepala sekolah. guru didorong untuk berinovasi. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar.

kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.doc 30 . (5) Expert power. komunikasi. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. tetangga dimana mereka bermasyarakat. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). McCauley. (4) Referent power. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. yaitu: perencanaan. Disamping itu juga. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. (2) Coercive power. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. kepemimpinan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Reward power. pelatihan. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. dan seterusnya.BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. Moxley. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1). kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. Russ . tumbuh dan berubah (Cynthia D. dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. pengorganisasian. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. pengetahuan (cognizance). keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Ellen Van Velsor. reputasinya atau karismanya. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. kedua konsep tersebut berbeda. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. oragnisasi dimana mereka bekerja. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. (3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya.

namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam.doc 31 . Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. pimpinan. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. tuntutan pekerjaan. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). para supervisor. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. dan selalu menjadi trouble maker. Tanpa kepemimpinan yang baik. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. dan pengawasan. Penampilan fisik. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). dan para pelaksana. inteligensia.namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Situasi di sini meliputi waktu. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. tidak disiplin. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. kemampuan bawahan. pengorganisasian. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. penggerakan. susah diatur. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. melainkan pada gaya kepemimpinan. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. (2) gaya demokratik (democratic style). Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik.

Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan. Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. serta kematangan bawahan.sekerja. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior).doc 32 . Berdasarkan pola hubungan tersebut.. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. dan bagaimana caranya. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri.

Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. (2) pada jam 12. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain. Hughes.00. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi. Dengan ketentuan seperti itu. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya.00 ketika para pegawai selesai beristirahat. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan. (3) pada jam 13. Ginnett. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada.doc 33 . Maka hal tersebut. dan Curphy. Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan.00. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya. yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. dan (4) jam 14. saat para pegawai akan beristirahat siang. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya. namun karena posisinya sebagai bawahan. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan. Ginnett.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan. Menurut Hughes. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan. Dari kasus tersebut di atas.

(c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). sengaja mengulur-ulur waktu kerja. dan sebagainya. Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi. Sebaliknya. Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. Apabila satu keinginan telah terpenuhi.seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace). Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas.” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal. akan timbul keinginan lain. organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. akan muncul keinginanlain lagi. berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya. dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara. (2) apa yang mengarahkan perilaku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. namun jarang mencapai kepuasannya. Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan). berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya. Pada gilirannya. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu. Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tingginya biaya pelatihan. Manusia. Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. dan menurunnya produktivitas. alasan keluarga. Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. kecuali untuk jangka waktu yang singkat.doc 34 . Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. dan rasa malas pergi bekerja.

Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas. Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan.Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya.. mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. perusahaan untung. dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan. antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda. Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven). Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). maka para pegawai akan berproduksi lebih besar. yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management). Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. karena banyak faktor yang mempengaruhinya. dan akan menang dalam bersaing. Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). (2) teori perilaku (behavior theory). Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories). Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. dan perusahaan memberikan uang tersebut. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. bonus. dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. atau berbagai macam imbalan lainnya. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda.santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut. Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. dan (e) teori ekuitas (equity theory). Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori. Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. Kedua gaya kepemimpinan tersebut.doc 35 . lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (d) teori harapan (expectancy theory). memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan.

Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh. karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. Sedangkan pada tahap ketiga. sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap. Kepemimpinan diatas. Least Preferred Co-worker).doc 36 . sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. Dan pada tahap empat (akhir). mengendalikan dan mempengaruhi situasi. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai.Pada tahap awal. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut. (b) tugas rendah dan hubungan rendah. (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah. karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. Pada tahap dua. sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab. berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan.

tugas dapat struktur. Dari keempat sistem diatas. dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive). dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). (4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. dan mendasarkan komunikasi. (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management. dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja.doc . (2) manajer menjual keputusan. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. menerima saran. (6) manajer menentukan batas-batas. Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan. dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum. (5) manajer menyajikan masalah. membuat keputusan. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil. 2) Sistem 2. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. karena mempunyai organisasi yang lebih produktif.dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem. maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. meminta kelompok untuk mengambil keputusan. 4) Sistem 4. 3) Sistem 3.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. percaya kepada bawahan. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. kekuatan yang ada pada bawahan. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). Pemimpin menentukan tujuan. dan kekuatan yang ada dalam situasi. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.

4. keterampilan hubungan insani (human relations skills). Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan. dinamik dan demokratis. (2) memberi dukungan. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. adanya kesamaan yang paling utama. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. 2. (3) memberi petunjuk.doc . 5. setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. keterampilan teknis (technical skills). Pertama. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. dan (4) kerjasama. mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (3) kekeluargaan. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. 3. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. (2) aktif. Keterampilan Dasar Kepemimpinan. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. tetapi oleh kesadaran bersama. Untuk pendidikan dasar dan menengah.kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. dan demokratis. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. (2) pelaksanaan tugas. Masih menurut Burns. Sementara menurut West dan Michael. Kedua. Ketiga.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. keterampilan manajemen waktu (time management skills). partisipatif. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. keterampilan konseptual (conceptual skills). keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka.

5. filsafat. Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan. membingungkan. dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. sains. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. Misalnya. Otonom. dan teater. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. musik. 2. tari. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup.(1). film. 8. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. 9. 7. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. mempunyai motivasi tinggi. dan matematika. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. dan mendua.doc 39 . ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya. 6. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. sastra. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. menulis. 4. Percaya Diri. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal. 3. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi.. orang tersebut cenderung risau. Toleran terhadap Ambiguitas.

7. tulis John Lancaster Spalding. Kita semua adalah individu. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. Oleh karena itu. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Individu sendiri harus termotivasi. 5. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Semakin penting sebuah tugas. MBS adalah upaya serius yang rumit. Oleh sebab itu. Ciptakan lingkungan yang memotivasi. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. keduanya saling membutuhkan. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Berikan pengakuan. 8. 2. Ingat. semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. 4. 3. B. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. Masyarakat adalah pemilik sekolah. Pilih orang yang bermotivasi tinggi. Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. Perlakukan setiap orang sebagai individu. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. kemajuan akan memotivasi. Seseorang tidak harus menjadi orang lain. Bagi orang berbakat. mungkin tidak memotivasi orang lain. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan. Karena sulit memotivasi orang lain. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. 6. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”.pemimpin yang tidak memotivasi . meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan.doc 40 . Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. Berikan hadiah yang adil. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. memecahkan masalah-masalah umum. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan.

yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. menurut . Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata.2005. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. masalah-masalah dalam penerapannya. Secara bahasa. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. standar. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik.. berkreasi. Akan tetapi. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Dengan demikian. dan berlanjut terjadi. Grasindo.doc 41 . seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. sistematik. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. lingkungan belajar yang paling utama. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan. Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. dan akuntabilitas. hal. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. kebijakan. manfaat. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah.yaitu manajemen. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). berbasis. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. kurikulum. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. cet ke 2. dan sekolah. Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Jakarta : PT.

dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu.kepala sekolah. Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Manajemen Kesiswaan. Dalam manajemen sarana dan prasarana. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. Melalui keterlibatan guru. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Komite Sekolah. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. orang tua. (f). (d). kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. murid. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. guru. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. termasuk dalam bidang pendidikan. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. telah dapat diwujudkan. Manajemen Layanan Khusus. Namun. Dengan demikian. Manajemen Tenaga Kependidikan. Kepala Sekolah. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. serta komite sekolah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. para guru.” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. dan pemerintah. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Berdasar teori di atas. dan. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. apalagi pusat. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. (b). (g). (e). Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Kemudian. (c). masyarakat. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. rapi. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia.doc 42 . melainkan faktor kepemimpinan (leadership). siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. ia (hal. kepegawaian. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). yang meliputi guru.

komite sekolah dan masyarakat yang peduli. g. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Akan tetapi pada prakteknya. f. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. c. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Secara akademik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. tantangan. e. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah.pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. b. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Ironisnya selama ini. kepegawaian. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. d. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan.Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. Oleh karenanya. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. khususnya orang tua siswa. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. para guru.Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. dan kurikulum.doc 43 . Juga secara proses. Pelaporan hasil. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah.

akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. misi. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). 15Dalam MBS. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. penilaian. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. dan dukungan. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. administrator. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). kepala sekolah. Pihak-pihak lain seperti. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. kabupaten/kota. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi.doc 44 . orangtua. orang tua. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. tantangan. Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. para guru. komite sekolah. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. provinsi. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. mulai dari tingkat pusat. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. dan murid (Nurkolis. anggota masyarakat.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Sebaliknya. 2003:42). Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. sampai dengan tingkat Sekolah. Pada prakteknya. Sebagaimana dimaklumi. Dengan demikian. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. khususnya Sekolah.

sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. dengan pengambilan keputusan partisipatif. kelemahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepala sekolah. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. 4. Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8.doc 45 . orangtua siswa. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Kedua. kelemahan. sehingga sekolah lebih mandiri. tentu saja. siswa. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Demikian juga. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. sekolah lebih mengetahuikebutuhannya. sekolah lebih mengetahui kekuatan. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. peluang. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat.program desentralisasi bidang pendidikan. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Ketiga. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah. dengan otonomi yang lebih besar. 3. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. peluang dan ancaman bagi dirinya. karyawan. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. dan peningkatan rasa tanggungjawab.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama. Kemandiriannya. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional. kelemahan. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. dan masyarakat 7. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. masyarakat.doc 46 . Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. 4. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 3. orang tua. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. 4.MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1). 2. serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. dan pemerintah 8. lebih demokratis dan terbuka. peluang dan ancaman bagi dirinya. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”.

Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. Jika tidak.(2). Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah. (5). peran dewan sekolah tidak banyak berubah. masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya. standar kepegawaian. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah.(3). standar fasilitas dan peralatan sekolah. Kedua. Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi. dan biaya programprogram sekolah.doc 47 . professional. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. pada tingkat nasional. politis. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun. akuntabilitas. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. finansial. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional. efisiensi administrasi. dinas pendidikan daerah. dan dewan sekolah di setiap sekolah. Namun. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah. MBS adalah ancaman besar. sekolah lebih mengetahi kekeuatan. menyeleksi pelamar pekerjaan. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi.(4). Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Pemerintah pusat. Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas). Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. dan sebagainya. kelemahan. dewan pendidikan pada tingkat daerah. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah.(6). standar kualifikasi guru.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. batasan pengeluaran. Di Amerika Serikat. dan dewan Manajemen sekolah. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. prestasi siswa. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. dan efektifitas sekolah. Ketiga. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Menurut bank dunia.

pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin.Association of Elementary School Principal. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. 5. Keenam. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil. Keempat. dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan.Kelima. dan dewan sekolah. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran.” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah. Jakarta: PT. Nurkolis. kualitas kurikulum. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. kepala sekolah. The National Widiasarana Indonesia. dan apa rencana selanjutnya. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Ketiga. 1.doc 48 . menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. kuantitas. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. Gramedia hal.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu. Bagi sumber daya manusia. MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. 21 dan Ibid. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. meningkatkan moral guru. 2003. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum.Kedua. 3. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. 2. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya). 4. hal. dinas pendidikan daerah. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. Dalam pengimplementasian MBS. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. meningkatkan kualitas.

maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional. siswa. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Ciri-ciri MBS. c. Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. Dr. dan politik) Di lain pihak. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. pendapatan daerah dan orang tua. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. W. b. c. Pengelolaan proses belajar mengajar. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. orangtua siswa. Pengelolaan keuangan g.doc 49 . Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Asal diterapkan secara ketat. Pengelolaan iklim Sekolah. Pengelolaan ketenagaan e. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Juran adalah ahli statistik terpandang. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial.b. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Edward Deming (Arcaro. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Dr. f.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. d. Seperti halnya Deming. Hubungan Sekolah-masyarakat i. partisipasi. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. ekonomi. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Joseph M . 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. Juran (Arcaro. Dr. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. karyawan. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Pelayanan siswa h. dimana warga Sekolah (guru. partisipasi masyarakat.

ada empat tahapan implementasi MBS. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. pelaksanaan. Seperti telah dinyatakan di atas. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. standar pelayanan minimum. Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. 2004. pengawas. c. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Ini bahkan menjadi lebih sulit. baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. b. Seperti halnya Deming. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan. yaitu sosialisasi. dan diseminasi. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. kepala Sekolah. baik cetak maupun elektronik. piloting. tokoh agama. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom).doc 50 . bukan program sekali jalan. Misalnya. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. yakni guru. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas. Banyak perubahan. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. d.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. standar penguasaan minimum. akuntabilitas. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat. Dengan perangkat yang tepat. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Pelatihan.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta. standar kompetensi siswa. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. reflikabilitas dan substainabilitas.Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. e. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. misal merupakan prasyarat mutu. pengusaha dan para akademisi. standar materi pelajaran pokok.dengan tepat.

dan Komite Sekolah. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah. potensi sumber daya manusia. b.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan.doc 51 . Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. pengawasan pendidikan di Sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. e.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. terutama yang berada di lingkungan Sekolah. kewajiban Sekolah. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. semangat belajar. otonomi Sekolah. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. pelaksanaan. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. pada tanggal 2 Mei 2002 c. baik secara konvensional maupun movatif.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. pengorganisasian. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Potensi Kepala Sekolah. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. organisasi formal dan internal. d. a. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Dewan Pendidikan.baik faktor internal maupun eksternal. serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan. Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri.

Program ini terdiri atas tiga komponen. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Forum Peduli Guru (FPG). Kelompok Kerja guru (KKG). serta tingkat penghayatan. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. h. program yang mendukung implementasi. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia.doc 52 . b. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. rencana yang rinci dan sistematis. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. 2002. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. c. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. d. KKM. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. Dukungan pemerintah. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. Dalam pada itu. Kreatif. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. i.f. Profesionalisme. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta.Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM).

Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik.” Dengan demikian. dalam Subakir & Supari. dan menyenangkan (PAKEM). butir kedua dan ketiga. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. d. c. dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. 2001). sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. Mengajar. Sulawesi Selatan. kreatif. dan. 2001). Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan menyenangkan (PAIKEM). efektif. kreatif. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. 2011: 76). Untuk mewujudkan hal ini. karena mereka senang belajar. terutama dengan pengajar atau guru. Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Pembelajaran aktif. Jawa Tengah. kreatif. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. dan menyenangkan (PAKEM). pada intinya. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. Dukungan masyarakat.” Dalam pelaksanaannya. efektif. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. efektif. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. Berkaitan dengan ini. mengacu kepada empat pilar (Kristanto.diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. Transparansi manajemen. efektif. b. Dua dari keempat pilar di atas. 2001). Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).doc 53 . Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. yaitu: a. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. kreatif. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. sehingga terjadi proses belajar. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Untuk dapat berkembang dengan optimal. inovatif. dan NTT. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari.

Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. menantang. menyenangkan. Menurut Ramadhan (2008:5). Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. diantaranya . dan. over head projektor (OHP). termasuk cara belajar kelompok. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Peningkatan kompetensi guru.menciptakan suasana. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. menyenangkan. VTR). Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . video (VCD. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. chart. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Pembelajaran yang aktif. pengajar. DVD. komik. komputer dan sejenisnya. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. dan bahan ajar. kartun. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. realia. b) Media Audial : radio. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. in focus dan sejenisnya. inspiratif. minat. poster. efektif. gambar bergerak atau tidak. inovatif. tulisan dan suara yang direkam. kreativitas. tape recorder. diagram. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. untuk mengungkapkan gagasannya. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. kreatif. televisi. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. bagan. a) Media Visual : grafik. laboratorium bahasa. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. penerapan PAIKEM sangat tepat.doc 54 . Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. dan sejenisnya. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Terdapat berbagai jenis media belajar. d) Projected motion media : film. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. c) Projected still media : slide. iklim. dan cocok bagi siswa. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.

pengaruh yang ditimbulkan. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. piringan audio. cassette recorder. (b) audio visual gerak. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. film rangkai suara. 1994:78-79). Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. keringkasan. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. silde (film bingkai) foto. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. si pembelajar atau belum. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. Media visual. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. 1993:10).doc 55 . yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media audio-visual. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. cetak suara. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir.Menurut Djamarah (2005:212). Sehubungan dengan hal itu. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. kecocokan dengan ukuran kelas. “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. waktu dan tenaga penyiapan. Kreteria pertamanya adalah biaya. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. kemampuan untuk dirubah. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Menurut Djamarah (2005:32). yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. seperti radio. gambar atau lukisan. cetakan. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Untuk menarik minat pembelajar. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati.

ketrampilan. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan kedisiplinan. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. serta perancangan strategi pembelajaran. empatik. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. 3. kompetensi kepribadian. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1. Berkomunikasi secara efektif. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. 4. kompetensi. teknologi. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. dihayati. sertifikat pendidik.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik.doc 56 . competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. dan Kompetensi Profesional . dan santun dengan peserta didik. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. sehat jasmani dan rohani. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. dan intelektual. 2. Mengenal siswa secara mendalam. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. moral. 5. di sekolah maupun di luar sekolah. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. motivasi. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. pengembangan bahan ajar. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). Kompetensi Kepribadian. antara lain: kompetensi. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. kemahiran. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. 327). Kompetensi Sosial.maupun klasikal. dan perilaku yang harus dimiliki. sosial. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik.” Selanjutnya.“ Karenanya. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. dan seni melalui pendidikan. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. competency atau competence. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. kompetensi social. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. spiritual.

dan menyenangkan. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Mengelola proses pembelajaran. 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Pengembangan kurikulum atau silabus. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. dan prosedur penilaian yang benar. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. 9. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. strategi. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. efektif. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. 2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. Pemahaman terhadap peserta didik. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa).doc 57 . Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. aktif. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. strategi. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. 8. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. kreatif. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. Pemanfaatan teknologi pembelajaran. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip. strategi.7. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. dan prosedur penilaian pembelajaran. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan. makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya. Dalam konteks penugasan audit.doc 61 . tetapi tidak sama dengan manajemen. penorganisasian . atau the qualities of leader Secara bahasa. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif. Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti .being a leader power of leading . Seperti halnya manajemen. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan.2 Peterson at. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan. mengontrol perilaku.BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. pengawasan dan evaluasi. membimbing. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi.Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi. Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert.

Menurut definisi tersebut. reputasinya atau karismanya. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Menurut French dan Raven (1968).Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit. Dilain pihak. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Coercive power. Walaupun demikian. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". yaitu para karyawan atau bawahan (followers). "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Berdasarkan definisi-definisi di atas. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. pengetahuan (cognizance). Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Sedangkan menurut Anderson (1988). sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Expert power. kedua konsep tersebut berbeda. Referent power. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. kepemimpinan tidak akan ada juga. Namun demikian. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Sarros dan Butchatsky (1996). Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power.doc 62 .

H. Menurut Robert Tanembaum. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. dan membimbing asuhannya. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri. kepercayaan. organisasi. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin."). Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari. baik di lingkungan keluarga. Malayu S. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan. Selanjutnya Lao Tzu. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. Maccoby. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. sikap. 1. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Prof. mengarahkan. beberapa diantaranya : · Menurut Drs.P. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius. Hasibuan. Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi. respek. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. kepemimpinan serta kekuasaan.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. confidence. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Dengan kata lain. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. respect. menuntun. Sedangakn menurut Pancasila. menyatakan. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab.doc 63 .

Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain.doc 64 . Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). yaitu para karyawan atau bawahan (followers). semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. tanpa adanya karyawan atau bawahan. kepemimpinan tidak akan ada juga. Coercive power. Namun demikian. reputasinya atau karismanya. Walaupun demikian. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). "). Menurut definisi tersebut. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan.Sarros dan Butchatsky (1996). Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Sedangkan menurut Anderson (1988). Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Referent power. (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Expert power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment).pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Menurut French dan Raven (1968). yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. pengetahuan (cognizance). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. kedua konsep tersebut berbeda. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.

organizing. yakni mengadakan planning. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. pengorganisasian. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan. dan pengawasan. dsb. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. pengorganisasian. selalu tepat waktu. pelatihan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Fungsi sebagai Top Mnajemen.organisasi yang bersangkutan. staffing. dan untuk stake holder. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. komunikasi. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. controling. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. mental. mengidentifikasi defiasi perencanaan. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. efektif dan efisien. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. directing. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. Dalam perkembanganya. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil. dan kepribadian. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. commanding. penggerakan. kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan. yaitu: perencanaan.doc 65 . Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. kepemimpinan. mengisi struktur tersebut dengan individu-individu.

tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. sering pada tingkat yang dramatis.doc 66 . dan para pelaksana. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Dalam pengorganisasian. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. dan para pelaksana. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. Tanpa kepemimpinan yang baik. diberikan peran/fungsi. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. para supervisor. Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. Dalam organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. masalahmasalah yang akan muncul. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan. para supervisor. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. birokrasi. Dengan rencana yang telah ditetapkan. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya.

prestasi. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. kejujuran. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. kematangan. partisipasi. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. yaitu kapasitas. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). status dan situasi. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. Stogdill 1974). kecakapan berbicara. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. Dan dalam perkembangannya. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. Analisis awal tentang kepemimpinan. tanggung jawab. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. staffing. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. penganggaran. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. kesupelan dalam bergaul. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. seperti misalnya: kecerdasan. 1996). 2.doc 67 .Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. Disamping itu. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Kotter. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. gaya dan kontingensi. dan pemecahan masalah. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. organizing. pengawasan. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. ketegasan. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. Hingga tahun 1950-an.

Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Hoy dan Miskel (1987). Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. walaupun positif.hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. seperti misalnya faktor situasi. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation).doc 68 . menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. misalnya. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif.

Secara ringkas. Halpin (1966). ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda.Model kontingensi yang lain. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. MenurutPath-Goal Theory. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. prosedur dan petunjuk yang ada). saling percaya. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Menurut Fiedler. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.relations). Path-Goal Theory. promosi dan penurunan pangkat (demotions). Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971).doc 69 . participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Menurut House. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi.

Sebaliknya. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Dengan demikian. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. menghormati dan sekaligus mempercayainya. Menurutnya. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's". Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. joining in a shared vision of the future. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Menurut Yammarino dan Bass (1990). keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Dengan demikian.doc 70 . menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Disamping itu. Dalam dimensi ini.

Dalam dimensi ini. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. produktifitas. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). memulai proses penciptaan inovasi. dan nous/noos yang berarti pikiran. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. gaya (style) dan kontingensi. proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru.doc 71 . Oleh karena itu. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan.intelektual). Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. meninjau kembali struktur. pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory).

yaitu . Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. dan hubungan. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya.3. yaitu kekuasaan paksaan.doc 72 . Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style). Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. keahlian.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented).Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Gaya kepemimpinan adalah sikap.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. penghargaan. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. legitimasi. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. informasi. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. referensi. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). efektif. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin.pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. tidak ada pilihan lain. (2) gaya demokratik (democratic style).11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. inteligensia. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Penampilan fisik. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan.doc 73 . selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. dan efisien. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi. apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. melainkan pada gaya kepemimpinan.Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi.

pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. komunikasi. Situasi di sini meliputi waktu.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. pelatihan. Berdasarkan pola hubungan tersebut. kepemimpinan. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. teman sekerja. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). tidak disiplin. dan bagaimana caranya. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan.untuk mematuhinya. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. pengorganisasian. 4. seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 74 . tuntutan pekerjaan. pimpinan. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. kemampuan bawahan. yaitu: perencanaan. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. dan selalu menjadi trouble maker. gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim. Sebagai contoh. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal. serta kematangan bawahan. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. susah diatur.

dan pengawasan. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Dalam pengorganisasian. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. penggerakan. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. dan para pelaksana. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. para supervisor. Tanpa kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengorganisasian. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. tim. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. Dan organisasi. bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah.dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). Dengan rencana yang telah ditetapkan. Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. atau kelompok pekerja. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer.doc 75 . dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. para supervisor. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. masalahmasalah yang akan muncul. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. dan para pelaksana. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi.manajemen. diberikan peran/fungsi. Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Domingo.

misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. staf dan para siswa. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 76 . berani. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. secara rinci dinyatakan : 1. pemimpin. bersemangat. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. bukan sebaliknya. memotivasi. dan administrator pendidikan. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. meminta dilayani oleh para bawahannya. c) Pengetahuan yang luas. Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. murah hati. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. memimpin rapat. supervisor. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. berpakaian. yaitu: (a) keterampilan teknis. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. dan memiliki kepekaan sosial. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. memberikan insentif. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya.

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

Secara mikro. Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah .masing. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. guru kelas. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan. khususnya peningkatan mutu pendidikan.doc 80 . c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. orangtua siswa. a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat. Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2. Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Namun mulai sejak tahun 2001.sekolah. d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing .

Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000). mengarahkan (directing). mengorganisaikan. yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. masyarakat. keluwesan. Berkaitan dengan itu. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal. termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. mengevaluasi (evaluation). Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. 4. mengawasi (controlling). secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM. peluang. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. sitemik. merencanakan (planning). Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. terdapat tiga pandangan berbeda. dan pemerintah. mengkoordinasikan (coordinating). yaitu: 1. melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen). Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. ketrampilan manusiawi. pertama. 5. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. serta ketrampilan teknik. dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). mengorganisasikan (organizing). Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan. Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. baik personal maupun material. kedua. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. 2. memonitor. 6. karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan.doc 81 . selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. kelemahan. dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut.f) Memotivasi timbulnya pemikiran . 3. Disamping itu. Dalam makalah ini. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya.

tujuan dan harapan. penilaian diri. ditandai dengan kematangan emosional. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. dan belajar pada diri sendiri. 6) Kardinata ( LM Tauhid. dan komputer. kepastian karir. komunikasi. (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. dan kesejahteraan lahir batin. profesionalisme. sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. pengembangan staf. 5). para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja . (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi. (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. intelektual. Untuk itu. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. staf. iklim sekolah. 7). Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. (3). kematangan moral dan tanggung jawab. kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. proses belajar mengajar. kematangan social. 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. wawasan masa depan. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. budaya.doc 82 . keimanan dan ketakwaan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. penguasaan iptek. kurikulum. kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. etos kerja dan disiplin. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. belajar dari siswa lain.

dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Melakukan Monitoring dan Evaluasi. Mengelola Tenaga Kependidikan. dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda .bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1). Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Mengelola Waktu. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Mengelola Sarana dan Prasarana. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas.Mengambil Keputusan secara Terampil.Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran. Mengelola Kesiswaan. Melakukan Koordinasi/Penyerasian. Mengembangkan Budaya Sekolah. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat. Memimpin Sekolah. kepegawaian. Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah. guru. Agus Dharma ( dalam artikel. Dengan demikian. Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3). 8). MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Mengelola Keuangan. Mengelola Kurikulum. 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Memahami Sekolah sebagai Sistem. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. (2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. Melalui keterlibatan guru. Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya.doc 83 . Manajerial dan Kepala Sekolah. Dengan demikian. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. Menyiapkan. orang tua. Mengelola Sistem Informasi Sekolah.Mengelola Kelembagaan. murid. adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. Mengembangkan Diri. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan. apalagi pusat.

otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. Kedua. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Ketiga.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. di antaranya adalah: Pertama.R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. Keempat. sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. proses belajar mengajar. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. A. Kelima. Pertama. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Kedua. 9).(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. dana. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. mulai dari provinsi. Ketiga. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM.doc 84 . Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. Menggunakan pendekatan partisifatif. organisasi. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM. arahan dan monitoring dari pusat. pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Pendidikan untuk keadilan. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga).

Beberapa perubahan tersebut antara lain: a. Di Indonesia.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif.doc 85 . Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. National Association of Elementary School Principals. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Pada 1988 American Association of School Administrators. Menurut Miftah Thoha (1999). gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Di mancanegara. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. d. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. b. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. and National Association of Secondary School Principals. Selama ini. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Akibatnya. a strategy for better learning. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. seperti Amerika Serikat. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. menerbitkan dokumen berjudul school based management.

20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan.kebutuhan masyarakat setempat (lokal). dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. atau orang tua yang petani. Berlandaskan ketentuan UU No. Dan sebelum desentralisasi. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. Akan tetapi pada prakteknya. orang tua.. kelompok masyarakat. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Semua stakeholder. para legislator. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. antara lain Kepala Sekolah. Di dalam MBS. menghambat kreativitas. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. para guru. pebisnis. guru baru..doc 86 . Dewan Pendidikan. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". melalui proses terbuka. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. para guru. 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Kemudian. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. (Nuril Huda. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Berdasar teori di atas. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Dewan Pendidikan. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. guru. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Dengan demikian.

memotivasi dan memimpin organisasi.artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. pada prakteknya. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. disseminator dan spoken person. (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. dan dukungan. membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM). metode . Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain . kepegawaian. liason dan leader. orangtua. strategi. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. teknik tertentu dalam organisasi. orang tua. para guru.paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. mengutip pendapat Goston (1976). Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan. Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). tantangan. tantangan. allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead. komite sekolah. disturbance handler. Pihak-pihak lain seperti. Selanjutnya . (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. penilaian. Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . (3).doc 87 . (2) Ketrampilan hubungan manusiawi . dan kurikulum. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal.

Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. menetapkan kebijakan. logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal. pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien. Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. tatakerja. Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan . Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya.Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi. dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang. menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat . ekonomi.doc 88 . Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia . perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik. b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga. menentukan tujuan (sasaran atau objective) . penanggungjawab. sosial dan layanan atau service. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif. c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya.

Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu.doc 89 . (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. Harper and Row. Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan. Drucker. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). etnik. halaman 157. situasi dan kondisi sosial. New York 1954. dan waktu yang makin ekonomis dan efisien. kooperatif. penelitian sumber daya manusia. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan .hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). agar semua tugas berlangsung dengan tepat . dana.158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut. sarana. tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. 157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . (2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi. alam.aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. (b) Adanya disiplin kerja. pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan. (e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat. pengontrolan tugas. disiplin diri. kerja sama. politik dan ekonomi (3). sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan. judul bukunya “ the practice of management. Semakin meningkatnya aktifitas.d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi .

doc 90 . Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. etos kerja. Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d). Komunikasi lisan maupun tulis. tanggung jawab. Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. (5). siswa. 2003. (9). Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru. mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Membuat perencanaan kerja (2). Mengembangkan kemampuan diri (10). bersih. (b).manusia yang memprihatinkan. 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. keperibadian tinggi. Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis. transparan. Memecahkan masalah (3). Melatih dan membimbing (6). Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. halaman 9 adalah sebagai berikut: (1). Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. Memotivasi (7). Mewakili lembaga (11). Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). mengatur. Mengendalikan pekerjaan (4). Mengatur waktu (8). Menciptakan kewibawaan. orang tua murid. Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya. Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5). diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). MA. menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi.

suka berfikir positif. Qodri A. penuh tanggung jawab. (j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya. komunikatif. siswa. menggairahkan. dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. aspiratif. masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b). cerdas. masalah kesejahteraan personalia sekolah (d).kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. pegawai tata usaha. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. idealis. Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha. dan produktif). Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. cekatan/lincah. kreatif. pemindahan. kepala sekolah dituntut: Jujur. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan. pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. pemberhentian pegawai guru honorer. kooperatif. (2). terbuka. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. penempatan .doc 91 . mengoreksi kelemahan. Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya . dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi. Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. Guna mendukung hal ini. pemberani. Keuangan dan pembukuannya (f). Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah.Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks.

Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. manajemen sekolah. . Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. berlakunya sistem insentif dan disinsentif. Peningkatan mutu. tingkat putus sekolah. dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan. hasil belajar.doc 92 . Pengawasan. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. tingkat pengulangan. petunjuk. Pelaksanaan. Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik. dan perubahan perencanaan ( Fattah. Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi. dan guru. antara lain. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat. Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . dengan tidak mereduksi peran pemerintah. dan iklim sekolah. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. 2000). mendorong profesionalisme kepala sekolah. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. memberdayakan guru. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. terutama dalam bidang pendanaan. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. orang tua. serta memperbaiki kesalahan. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3. moral guru. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah. merekam. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Pembinaan. rancangan ulang sekolah. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. dapat diperoleh. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. antara lain.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. pembinaan. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. memberi penjelasan.

tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. Menggunakan pendekatan partisipatif. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ). Kepuasan peserta didik.doc 93 . Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. hasil.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. 3. dan produktif. tradisi-tradisinya. jasa. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. kekuatan kecenderungan dan keinginan guru.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2. Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. bagaimana peserta didik. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. guru. perasaan senang guru. tujuan. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. 8. lancar. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut. maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. Motivasi. 5. 7. Semangat. Pendidikan untuk keadilan. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. 4. tujuan-tujuannya. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. 6. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Efisiensi. guru didorong untuk berinovasi. tingkat dan kualitas usaha. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. Produktivitas. peserta didik. maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepuasan kerja guru. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. Kualitas. Sesuai dengan amanat UU tersebut. 1. Pertumbuhan. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan.

hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. dan aktivitas kelompok secara mandiri.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. d) Guru sebagai pasilitator. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini. Menggunakan pendekatan partisifatif. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial. dialog. dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi.. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil. b) Pengalihan tanggungjawab. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri. Dan sebelum desentralisasi. Pendidikan untuk keadilan.doc 94 .. ekonomi. c) Pimpinan oleh para partisipan. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Berlandaskan ketentuan UU No. Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. proses belajar mengajar. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama.

Dewan Pendidikan. bertanggung jawab. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. antara lain Kepala Sekolah. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. dan dinamis. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. disiplin. kejelasan visi dan misi. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. komite sekolah. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. para guru. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. aman dan tertib. guru baru. inovatif. . melalui proses terbuka. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. cerdas. Dengan demikian. Mengembangkan komunikasi yang baik. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Akan tetapi pada prakteknya. tantangan. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. demokratis. guru. penilaian. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. budaya progresif. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. seperti : budaya mutu. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. Pihak-pihak lain seperti. orangtua. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dewan Pendidikan. orang tua. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di dalam MBS. aspiratif. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. partisipasi warga. kreatif.Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Namun pada prakteknya. dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. atau orang tua yang petani. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). dan kurikulum. para guru. tantangan. Berdasar teori di atas. Kemudian. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. para guru. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. Semua stakeholder. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan.doc 95 . Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. kepegawaian. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Mewujudkan temwork yang kompak. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Melaksanakan keterbukaan manajemen.

guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. mutu. efesiensi. Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. ketenagaan. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka.doc 96 . dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. guru. a. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti. perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. sarana-prasana. dan pemerataan pendidikan. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. kebijakan dan prioritas pemerintah. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif. komite. pembiayaan dan kebijakan pemerintah. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. c. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat. dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. d.

Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. guru. BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah. karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah. dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat.doc 97 . e. 2000: iii). karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring. menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan. menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS.

Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. Orang tua. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. dan seterusnya. dan kebijakan baru. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. mekanika kuantum. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. fungsi progresif pendidikan dan. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. melainkan sebagai intinya. prosedur. beradab. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. 3. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. McCauley. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Moxley. Russ . PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. 1998:4). Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. reproduksi. aturan. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. penyadaran dan mediasi secara simultan. guru.PEMBAHASAN A. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya.doc 98 . dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Selain itu. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. berupa penciptaan norma. 2007:1). atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. oragnisasi dimana mereka bekerja. yaitu: 1. Ellen Van Velsor. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar.

dan terpantau dengan baik.doc 99 . Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. dan struktur persekolahan. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. komite sekolah. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. dan dukungan. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. penilaian. program sekolah yang terencana. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. termasuk fenomena moralitas. dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang. Bersamaan dengan itu. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). proses. terlaksana. dinas pendidikan daerah. orangtua. tantangan. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. Ironisnya selama ini. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. Pihak-pihak lain seperti. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. dan dewan sekolah. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. kepala sekolah. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. para guru. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri. tantangan. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah.

oragnisasi dimana mereka bekerja. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. yaitu: 1. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. keahlian. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. penghargaan. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). dan apa rencana selanjutnya. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. informasi. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan.doc 100 . referensi. legitimasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. yaitu . Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. dan hubungan." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Analisis awal tentang kepemimpinan. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. dan seterusnya. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. yaitu kekuasaan paksaan. 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. 3. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya.standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan.

transparan. Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. staffing. dan akuntabel. Oleh karenanya. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. dan pemecahan masalah. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. organizing. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. kepala sekolah. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. 2003:42). Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. dan murid (Nurkolis. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. penganggaran. Secara sederhana dikatakan. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat.doc 101 . Dengan kata lain. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. administrator. pengawasan. IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. anggota masyarakat. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. orang tua. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Demikian De grouwe menegaskan. dan pengelolaan. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. B. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. termasuk masyarakat dan orangtua siswa.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. sistemik. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. leaflet. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan.

Kotter. dan saling percaya dalam bekerja. Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. Ciri-ciri MBS. lembaga terkait. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). kelemahan. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengelolaan SDM. masyarakat. sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. 1996).doc 102 . bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS.mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. peluang. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. percaya diri. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. Dengan demikian. mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. stakeholder (seperti untuk customer. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal.doc 103 . mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan. efektif dan efisien. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan . dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. 3. 2. da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar.membantu mengarahkan orang. Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. memonitor kegiatan birokrasi. Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. 4.

pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. Jadi. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah.doc 104 . murid. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian. Dengan taruhan seperti itu. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Dengan demikian. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri. guru. guru. pemerataan. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. mengangkat dan memberhentikan karyawan. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. lebih mengutamakan teamwork.. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. Dengan demikian. 2. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. Oleh sebab itu. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air. Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara.

Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Malaysia. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan. yaitu lokasi yang strategis. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya. Terlebih. Pertimbangan kedua adalah lahan. dan orangtua siswa. kreatif. Komite Sekolah. “Berdasarkan teori belajar. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Menurut Ramadhan (2008:1). efektif. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. bahkan RAPBS ini dipajangkan. penyelenggara. dan menyenangkan (PAIKEM).Jadi. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. dan. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan. termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang. atau Australia. limbah. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa.doc 105 . karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. aman. bebas banjir. Guru. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah.

doc 106 . Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. pelaksanaan. dan memunculkan iklim belajar yang baik. dan tujuan yang akan dicapai. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. Dalam praktiknya. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. Dalam meningkatkan manajemen sekolah. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. pengorganisasian. dan fleksibel. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). Oleh karena itu. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis. Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. buku dan sumber belajar lainnya. ketersediaan Dari pemaparan di atas. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. peralatan pendidikan. Disamping itu. Di samping itu. SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. demokratis. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1. misi. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. media pendidikan.

ruang kelas. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali.yang meliputi lahan. khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan. kegiatan upacara/apel pagi. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat. ruang perpustakaan. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. dan sedikit polusi suara. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. Nampaknya semakin bersih suatu tempat. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. e. Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil. dan cukup pepohonan. c. Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. ruang kantin. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A. tempat bermain. ruang unit produksi. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. instalasi daya dan jasa. tempat beribadah. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa.doc . dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. prasarana . tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang laboratorium. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih. tempat berolahraga. ruang pimpinan satuan pendidikan. Dengan sistem sanitasi yang bersih. terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik. maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. ruang tata usaha. Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. d. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa. Dalam masalah sampah di sekolah.b. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu. maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Bagi para siswa. bersih. udara yang bersih. ruang pendidik. ruang bengkel kerja.

misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. Tabel 1. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. f. Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. jumlah ruang belajar. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. Di SMA Negeri 2 Mataram. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah. yang meliputi gedung sekolah. Sebagai konsekuensinya. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya. Karenanya. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 108 . Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. maka sekolah diliburkan.sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. g. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat. jumlah ruang laboratorium. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek.

pemerintah daerah dan tentunya para guru. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. termasuk: Kepala Sekolah. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar). Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. pelaksanaan. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Dengan kondisi seperti di atas. Proses renovasi dimulai dari perencanaan. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah. Misi. Evaluasi menyangkut estimasi biaya. serta jumlah guru dan staf akademik. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. ruang perpustakaan. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah.doc 109 . Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. Misi. Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah.

Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram.2. kantin. antara lain : (1) Keterbatasan dana. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor. selama jam kerja. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet.1. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap.4. koperasi sekolah. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan.1. 2. Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. 2002). Tata Usaha. Akan tetapi. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah . 2. dan jaringan internet. Wakil Organisasi profesi. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa. dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah. 2. Namun dalam kenyataannya. sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2. yang sangat kompleks. Guru.doc 110 . tempat parkir. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. ruang UKS. terutama di SMAN 2 Mataram. Saat ini. 2. tahun 2003 : 29). Wakil Siswa (OSIS). Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah. kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru.1. Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor.Wakil Kepala Sekolah. serta (3) Tugas Kepala Sekolah.3. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal. baik di dalam maupun di luar ruangan. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas. LCD monitor. mushola. Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. 1 unit komputer bagi administrator jaringan.1.1. Wakil orang tua siswa.1. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung.

. untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting.2.Pd.Pd. kreatif. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. S. Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif. Queensland..1.. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas. baik di dalam maupun di luar sekolah.5. Sebagai kelanjutannya. efektif.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. Australia. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School. beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara. media komunikasi.2.1.2.Pd.2. di antaranya sebagai: media informasi. guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK.doc 111 .. S. dan menyenangkan. S. 3. kreatif.1. Dalam proyek ini. Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project. yaitu Hudri Ahmad. dan Sri Wahyuni. membuat modul bahan belajar berbasis IT. Inovatif. 2. kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. efektif. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah. SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. dan media pembelajaran (e-learning). Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet. 2. Di samping itu. 2. M. yaitu Hendri Agung Mahendra.3. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. membuat bank soal. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia.Kom. dan menyenangkan (PAIKEM). 3.1. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. 2.

dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. 3. sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. status dan situasi. Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. tanggung jawab. and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi. transparansi keuangan. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. kecakapan berbicara. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah.perbaikan. dan disiplin. Untuk meningkatkan kompetensi ini. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. partisipasi. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Disamping itu. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru.doc 112 . Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. Hingga tahun 1950an. kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. B. Stogdill 1974). lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. prestasi. Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. ketegasan.2. kesupelan dalam bergaul. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum. kejujuran. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia. walaupun positif. seperti misalnya: kecerdasan. Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru. Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. kematangan. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan. yaitu kapasitas. missal transparansi program.

(b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Secara ringkas. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Halpin (1966). Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu.one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. saling percaya. Hoy dan Miskel (1987). Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. misalnya. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. seperti misalnya faktor situasi.doc 113 . dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. MenurutPath-Goal Theory. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). prosedur dan petunjuk yang ada). Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Path-Goal Theory. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi.kepemimpinan yang berbeda. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Menurut House. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Disamping itu. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. promosi dan penurunan pangkat (demotions). Menurutnya. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Sebaliknya. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.doc 114 . Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Menurut Fiedler.Model kontingensi yang lain. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin.

Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual.mengakui kredibilitas pemimpinnya. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. Dengan demikian. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. standar kompetensi siswa. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. keahlian. standar materi pelajaran pokok. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. Misalnya. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management. standar pelayanan minimum. Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. joining in a shared vision of the future. Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.doc 115 . baik tenaga. dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama. Dengan demikian. Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Menurut Yammarino dan Bass (1990). dana. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan. sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. standar penguasaan minimum. maupun pemikiran. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu.

partisipatif. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. pendapatan daerah dan orang tua. dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. orangtua siswa. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. juga anggaran Sekolah . maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. dinamik dan demokratis. dimana warga Sekolah (guru. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi.Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Untuk pendidikan dasar dan menengah.doc 116 . Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. karyawan. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. Ciri-ciri MBS. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Selanjutnya dalam Undang-Undang No. UU Nomor 32 Tahun 2004. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. partisipasi masyarakat. Ketiga. dan politik) Di lain pihak. ekonomi. Kedua. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. siswa. Masih menurut Burns. Pertama. dan demokratis. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. partisipasi. tetapi oleh kesadaran bersama. adanya kesamaan yang paling utama.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial.

tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. Ketiga. dengan pengambilan keputusan partisipatif. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. khususnya Sekolah. Demikian juga.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. 15Dalam MBS. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Berpikir logis dalam melakukan perubahan. Sebaliknya.sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. kepala sekolah. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. Dengan demikian. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. sehingga sekolah lebih mandiri. Dari asal usul peristilahan. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. demokratis dan fleksibel. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku.doc 117 . dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. Kedua. karyawan. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. kelemahan. Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. misi. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. tentu saja. dan peningkatan rasa tanggungjawab. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat.Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. Dengan kemandiriannya. siswa. Dengan otonomi yang lebih besar. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah.orangtua siswa.

dan Managerial. dan evaluasi pendidikan. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. kreatif. Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. pelaksanaan. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus. administrator dan supervisor. Administrator. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. maka peran kepala sekolah sangat besar. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan. Adanya peningkatan prestasi siswa. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. leader. demokratis. dan menyenangkan. Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. Penerapan pembelajaran aktif. dan monitoring dan evaluasi pendidikan. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. D. Leadership. Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas.transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah.doc 118 . 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. pelaksanaan. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. dan organisator. administrator. inovator. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah. Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. Motivator. manajer. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. motivator. Inovator. dan fleksibel. Supervisor. efektif. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. supervisor. efektif dan menyenangkan (PAKEM). Adanya pembelajaran yang inovatif. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator. Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. kreatif. Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). monitoring. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. pemimpin/leader inovator.

ketenagaan. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan.doc 119 . kurikulum. sarana dan prasarana. serbaguna. mingguan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. gudang dan 7 K. Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. Kebersihan. laboratorium. Ketertiban. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). d) Menyelesaikan surat-surat. karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat. Dalam melaksanakan tugasnya. perpustakaan. siswa. pengarahan. 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. ketenagaan. ketaausahaan. kesiswaan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru. bimbingan konseling. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. dan tahunan. 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya. pengkoodinasian. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. bulanan. keuangan. e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. pengawasan. Keindahan dan Kekeluargaan). Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. pengorganisasian. kantor. ruang keterampilan/kesenian. media. semesteran.

h) Mengecek pengisian buku induk siswa. e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya. Hal yang dibahas meliputi target. alat kantor. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP. Kesiapan RP. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah.doc 120 . dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. Diagram daya serap murid/siswa.Buku catatan pelaksanaan harian. Kumpulan program satuan pelajaran. pengorganisasian kelas. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah. laporan bulanan. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. penyiapan alat peraga.2) Kegiatan Mingguan. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas. e) Evaluasi terhadap persediaan. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat. Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.dan alat praktek. penggunaan dan bahan praktek. d) Pertanggung jawaban keuangan. baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan. gaji pegawai. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah. saran. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. d) Memeriksa keuangan Sekolah. guru. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar. Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya.c) Penutupan buku. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya. penanggung jawab. waktu. 3) Kegiatan bulanan.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan.Diagram pencapaian kurikulum.

Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). mental model. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur. staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan. kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 121 . E. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. pengorganisasian (organizing). keamanan. Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. (2005: 67) bahwa. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. penguasaan personal. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan.meningkatkan kualitas sekolah. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. status dan kepuasan diri. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. sosial. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya. Sebagaimana dikemukakan Rahman H.

(7) pelaporan hasil. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah. F.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. dan murid (Nurkolis. kelenturan pengelolaan sekolah. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. 2003:42).doc 122 . Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial. Secara Umum 1. peningkatan profesionalisme guru. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. kepala sekolah. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. anggota masyarakat. Oleh karena itu. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. administrator. orang tua. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah.kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. 3. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. Oleh karenanya. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5.

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

dan perpustakaan. memotivasi. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. kantor. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. kepegawaian. berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan. pengorganisasian. kesiswaan. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keuangan. Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. pengkoordinasian. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. dengan cara meyakinkan dan membujuk. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. pengelolaan kepegawaian. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. yaitu: (a) keterampilan teknis. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS. lancar dan produktif. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. staf dan siswa. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. pengarahan. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. pengelolaan sarana dan prasarana. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. bekerja dengan tim manajemen. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. dan produktif).doc 126 . mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. pengelolaan kesiswaan. menggairahkan. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. staf dan para siswa. Guna mendukung hal ini. perlengkapan. memimpin rapat. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. mampu menyusun perencanaan.

Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. ERIC_Digests. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. Dalam rangka mewujudkan PAIKEM.mengajar yang dilakukan guru di kelas. MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. pengadaan peralatan TIK. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. yaitu: Pembelajaran aktif. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. Dengan taruhan seperti itu. dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak. dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. inovatif. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. kreatif. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. Oleh sebab itu. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. dan peningkatan kompetensi guru. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil. MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Dengan demikian. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. efektif. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar.doc 127 . percaya diri.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. 2. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

2. 7. akreditasi sekolah. Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. op. proses belajarmengajar. Ujian Akhir Nasional. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. rencana. hh.3. keterampilan. olah raga. proses pengelolaan kelembagaan. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. efektivitasnya. dan proses monitoring dan evaluasi.doc . Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik. produktivitasnya. harapan-harapan berupa visi. 5.mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. prinsip desentralisasi. kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan. kesopanan.cit. program dsb 3. efisiensinya. namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. karya ilmiah. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. Implementasi MBS. misi. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. seperti IMTAQ. proses pengelolaan program. prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. inovasinya. uang. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. 4. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. tenaga kependidikan dan lain sebagainya. dana pendidikan. sumber daya.deskripsi tugas. bahan dsb). merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. kesenian. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). tujuan.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. kejujuran. seperti nilai ulangan umum. 48-58). Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. perlengkapan. yaitu prinsip equifinalitas. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. 6. perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah. cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana. guru. peraturan perundang-undangan. Dalam pelaksanaan implementasi MBS. Input pendidikan terdiri dari: 1.

Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Depdiknas. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. strategi-strategi manajemen. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen. hh. peran warga sekolah. 9-10). tenaga administrasi. Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul. hubungan interperonal. e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative). MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas. orang tua. 8. mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. khususnya dari aspek manusia. Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka.doc 129 . Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. hakikat aktivitas-aktivitas. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa. 48-58). memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). guru. Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). penggunaan sumber-sumber daya. hh. 2001. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama. memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing.

Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. Isi. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. Misi sekolah. Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. Strategi-strategi manajemen. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab.doc 130 . aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. tumbuh dan menjalani perkembangan. 3. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama. konsep organisasi telah berubah. Konsep organisasi sekolah. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. organisasi. a. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. 2. personel. pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. b. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. Dalam organisasi modern. Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. misalnya produk yang berkualitas. diluar keuntungan ekonomi. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal. hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat. Selain itu fasilitas. metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Mereka mengejar interaksi. kebutuhan dan situasi sekolah. keyakinan dan nilai-nilai sekolah. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. afiliasi sosial.1. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. e. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan. referensi dan keahlian. (2). memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. Gaya pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan. mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. f. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru. (4). Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. Keterampilan-keterampilan manajemen. paksaan. simbolik dan budaya. c. pendidikan.doc 131 .Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. manusia. orang tua. legitimasi. Dengan demikian. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya. Partisipasi atau keterlibatan guru. 4. Diperlukan intelegensi. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. (3). dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. Partisipasi guru. d. Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah. MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. kompleks dan sulit. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan.ditinkatkan secara terus menerus. simbolik dan budaya. strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. Pengunaan kekuasaan. sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. Penggunaan sumber-sumber daya. keterampilan mengelola konflik.

e. Kanada. Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. Amerika Serikat dan Hong Kong. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa.doc 132 . Dalam MBS. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. misi sekolah. Peran Para Guru. Peran Departemen Pendidikan. bekerjasama. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. 5. c. hakikat aktivitas sekolah. Perbedaan-perbedaan peran. administrator. dan gaya penggunaan sumber daya. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. Peran Sekolah. orang tua dari yang semula pasif. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa. d. Peran Para Administrator. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. 6. mendidik siswa secara kooperatif. guru. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. Hubungan antar manusia. a. inisiatif. b. Peran Para Orang Tua. pengambil keputusan dan pengimplementasi. Australia. memecahkan masalah. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah. Dalam MBS.

11-20). j. kelompok. tujuan. Metematika.saling menguntungkan. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Kualitas para administrator. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. kerjasama yang baik. c. b. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. kedisiplinan. 2. a. kreatif. 3. Dalam MBS. 1. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. h. toleransi. kesenian dan kepramukaan.doc 133 . Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. d. individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input. 8. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah. rasional. cit. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. f. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi. Sekolah memiliki budaya mutu. Proses. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Fisika. k. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. Sumberdaya tersedia dan siap. prestasi olah raga. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. Input pendidikan yang meliputi: a. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. harga diri.m. cara berfikir kritis. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. dan sasaran mutu yang jelas. Indikator-indikator efektivitas. lomba karya ilmiah remaja.l. Memiliki kebijakan. deduktif dan ilmiah. untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya. n. hh. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. nalar. proses dan input (Depdiknas. kerajinan. loma Bahasa Inggris. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. Output yang diharapkan. Singkatnya. cerdas dan dinamis. induktif. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah. i. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. 7. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. Kepemimpinan sekolah yang kuat. e. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. Sekolah memiliki akuntabilitas. Komunikasi yang baik. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. b. solidaritas yang tinggi. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa. op. kejujuran. c. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. g. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah.

and Adair. _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. Flippo. 2. B. The Adaptive State: London: Demos. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. New York: Mc. Domingo. 1977. d. Edwin B. Effendy. SMPMTs dan. Russ S. Personnel Management.Hill Book Company. J. McCauley. 12 Konsep Kepemimpinan. e. Ellen Van Velsor. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. (2004). (2005). Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya.). S.. National Association of Elementary School Principals. K. (1998). London: Paul Chapman Publishing. Caldwell. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. L. sixth edition. J. SMA /M.tinggi. 2008 Anonim. M. Cocheu Ted. 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. 21-40 ). Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. Beyond Leadership. Moxley. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah. Arikunto. (2004). & Hayward.. B. Jakarta: Gunung Agung. Memiliki harapan prestasi yang tinggi. B. Pendidikan Network Jakarta Balitbank. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. T. Onong Uchjana..doc 134 . Depdiknas Jakarta . Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta:Depdiknas. Jakarta.Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Cynthia D. J. P. 1984. Fokus pada pelanggan. Beyond the Self-Managing School. Dasar-Dasar Supervisi. Rene T. In Bush. London: Falmer Press. Elex Media Komputindo. 2003. J.B. Vincent. T. B. & Wilsdon. Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. (2002). Graw. Kepemimpinan dan Komunikasi. Kepemimpinan yang Memotivasi.ed.2001. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. 2000. Caldwell. (Eds. San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono. San Francisco: Jossey-Bass Publishers. dan menyenangkan (PAIKEM). Jakarta Agus Dharma. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan. Singapore:Prentice Hall. John. J. DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware. 1993. Gramedia Pustaka Utama. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk . London: Falmer Press. Depdiknas Jakarta Bentley. Jakarta. & Spinks. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. (1998). hhtp://www.html American Association of School Administrators. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . efektif. Puspendik. Costa. 1998. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi. kreatif. S. D. 2004. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1. 1997. Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. f. inovatif. The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp. Input manajemen. Caldwell. Manajemen Berbasis Sekolah. The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka. & Bell.

. dan Kinerja (Kontemporer & Islam). Singapore: Irwin/McGraw-Hill. 017. (2010).. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis. 1999. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: PT. Nurkolis. Ronald. Virginia. & Kluwer Academic Publishers. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves.Malang: Taroda. The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. A. Leung. Alex. cet ke 2 Ouchi. dan Curphy Gordon J. Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. M. Handoko. 1999. Education Epidemic. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.. E. & Segal. Mariyana. New Jersey: Prentice Hall International Inc. (Ed. Lunenburg & Allan C. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Hani. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. London: Specialist Schools Trust. L.H. N. K. Hong Kong: Comparative Education Research Centre. G. R. Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries. Nuril Huda.http://www. 1999. Jakarta: PT. (2008). Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE).13. Grasindo. Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12.18. (2003). Y. (2003). Hadari Nawawi dan M. Leading Change. W.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Martini Hadari.edu/pubs /consumered/g1397. Manajemen Berbasis Sekolah. London: Demos Hughes Richard L. (2000). Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp.htm. Griffin W. 2003.. M. Organisasi dan Motivasi. 1999. & Watson. Business. dan Implementasi. (2009). D.ianr.16. School Effectiveness and School Improvement. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia. Desentralisasi Pendidikan.doc 135 . edisi-5. Barbuto dan Lance L. New York: Simon & Schuster. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003). Pengelolaan Lingkungan Belajar.2005. 21-38).Fred C. Ornstein. 453-474. Santiago: UNESCO. Yogyakarta: BPFE Hasibuan. John. Konflik. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 11(4). School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. Manajemen Berbasis Sekolah. Fullan. third edition. Boston. D.unl. Ginnett Robert C. 1982. Brown. The University of Hong Kong.H. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. Jakarta: Ghalia Indonesia. In Mok. Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟. 1995). Masalah. Motivating Your Employees.. Kusnadi. 2002. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. LLECE (2002). 017. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. 1996.). 1999. Y. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools.. Nugraha. G. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito. Manajemen edisi 2. Strategi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Kerjasama. Leadership. National Association of Secondary School Principals. Arlington. Kotter. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. London: PMDU. T. Massachusetts: Harvard Business School Press. 1988. Miftah Thoha. & Rachmawati. Inc). Ricky dan Ebert J. (2003). Jesson. John E. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth.

2010.(2205) Peraturan Pemerintah RI No. Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. Paris: International Institute for Educational Planning..wordpress.doc 136 . A. (2009). Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. S. (1998). Prof. Yamin. 2001. Yogyakarta: PPS. M.. Diambil dari: http://tarmizi. I. School-Based Management and Student Performance. Pembelajaran Aktif. Bandung: Remaja Rosdakarya . Tilaar. (1999). A.Ramadhan. 1971 Designing Training & Development System. (1999). Manajemen Berbasis Sekolah. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru. Arlington. G. UNESCO. Virginia: 1988.. Syah.. K.. & Friedman.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.. M. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung . dan Sapari. Ph. N. G... David Peterson.. Glasgow: HarperCollins Publishers. amirican Management Assosiation Inc.. Kreatif. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. (2005).American Association of School Administrators. Saydam. T. (2003). Jakarta: Djambatan Subakir. dan Menyenangkan. A. Israel: Ministry of Education. Efektif. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (2001). HAA. A.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011.). and National Association of Secondary School Principals. Surabaya: Penerbit SIC. A.UNY Terecy WR. Inovatif. Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. National Association of Elementary School Principals... UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.D. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro. 2008. Wilkes. School-based management: An International Perspective. Ross. Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. (Eds.. & Levacic. Jakarta Suyata. R..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful