PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. Keywords: Leadership. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation.doc 4 . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. With the use of MBS approach. the school needs an effective leadership as well. The whole components that are principals. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System. school institution as an operational unit which manage everything directly. School-Based Management. In order to conduct school effectively. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU. school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities. teachers.

Dalam pelaksanaannya. Memahami tujuan pendidikan dengan baik. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. ekonomi. dan memiliki kepekaan sosial. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. sosial dan budaya. memotivasi. memimpin rapat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan.doc 5 . Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Pengetahuan yang luas. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam Era Globalisasi ini. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. yaitu: (a) keterampilan teknis. termasuk pendidikan. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. menggairahkan. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. bersemangat. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya.BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1. murah hati. berani. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. politik. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. dan produktif). Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri.

pemeliharaan personal. Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan. Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Permasalahan yang timbul terus menerus. dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. fungsional. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. pengetahuan (cognizance). oragnisasi dimana mereka bekerja. tetangga dimana mereka bermasyarakat. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. dan mengkoordinasi orang lain. c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. mengarahkan. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. Ellen Van Velsor.” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Russ . dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. membangun. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi. Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi.2. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. McCauley.doc 6 . Bennis and Nanus (1995). Menurut penadapat (Cynthia D. Moxley. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah. “Some people have said that experience is the best teacher.

“So experience is not the best teacher?”. walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik. reputasinya atau karismanya. “. dan dukungan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988).doc 7 . Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. (b). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. pengetahuan (cognizance). Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. Walaupun demikian. (5) Expert power. “It is just that not every experience offers important leadership lessons”. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. kepemimpinan tidak akan ada juga. Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. Sebuah organisasi akan efektif. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). “the experiences that stretch you. banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. Berdasar penelitian pemikiran tersebut. “Not exaltly that. tantangan. Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien.” the sage responded. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. apabila dikelola dengan manajemen yang baik.some experiences don’t teach”. Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. Dengan menekankan pada aspek manajemen. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. (2) Coercive power. Pendapat ini tidak salah seluruhnya. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development. (4) Referent power. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Selama beberapa dekade. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity).

tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. tetapi tidak sama dengan manajemen. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. penorganisasian . Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Idealnya. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi.5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya.doc 8 . Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. kedua konsep tersebut berbeda. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. pengawasan dan evaluasi.

Namun demikian. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2000: iii). memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. pengadaan buku dan alat pelajaran. informasi. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Berdasarkan masalah di atas. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. legitimasi. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. 2000). sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. yaitu kekuasaan paksaan. dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. yaitu . dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. Oleh sebab itu. penghargaan. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. 3. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. keahlian. antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. terutama di kota-kota. referensi. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS).pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Sebagian sekolah. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas.doc 9 . Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sehingga diberlakukannya MBS.

Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management). kebijakan. Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1). saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah. Namun. Komite Sekolah. (4. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah.) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. para guru. memecahkan masalah-masalah umum. manfaat. standar. masalah-masalah dalam penerapannya. dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Menurut Miftah Thoha (1999). Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan. di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. Kepala Sekolah.MBS. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid. kurikulum.doc 10 . di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. (2. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3).

doc 11 . serta keluarga terhadap sekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. 20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. kelompok masyarakat. (c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.berkonotasi negatif. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). menghambat kreativitas. pebisnis. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. pendidikan dasar. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. menghambat kreativitas. para legislator. masyarakat. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua.

pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. 2003). Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. Melalui keterlibatan guru. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah.doc 12 . Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. para legislator. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Dengan demikian. Manajemen berbasis lokal b. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. Akibatnya. sekolah (Agus Dharma. dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. apalagi pusat. pebisnis.atau masyarakat. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. yaitu: a. Inovasi kurikulum. Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. kepegawaian. (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). kelompok masyarakat. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi. Pendelegasian wewenang c. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua. orang tua. Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional.

pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. sistematik. otonomi sekolah. namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. dan berlanjut terjadi. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. supervisor. para guru. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim). Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif. B.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. manajer.doc 13 . DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. kewajiban sekolah. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. kurikulum. pengorganisasian. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. standar. Menurut Miftah Thoha (1999). pengorganisasian. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. administratior. Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). kebijakan. nyaman dan tertib. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel.

Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan.a.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. d. kelompok masyarakat. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. stimulus dan koordinasi personil. b. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. penciptaan iklim organisasi yang kondusif. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi. (Nuril Huda. perilaku kepemimpinan. pengorganisasian (organising). Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat.doc 14 . yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning). Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. para legislator. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. melakukan perencanaan. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. penyiapan alokasi sumber daya. pebisnis. menghambat kreativitas. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. pengambilan keputusan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat.

Oleh karena itu. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. para legislator. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan. profesionalisme tenaga kependidikan. kurikulum. tangguh. fasilitas.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. berakhlak mulia. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kelompok masyarakat. khususnya pendidikan dasar dan menengah. pengajaran sumber belajar.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam.doc 15 . manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. pebisnis. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia. Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya. Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis. (2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. serta sistem administrasi secara keseluruhan. mandiri. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. kreatif. Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. proses pembelajaran. Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS). terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.

Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi.(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . A.13.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 2002). nilai kultural dan kemajemukan bangsa. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. siswa. Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 2.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). Dalam konteks ini. pengorganisasian (organizing). pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. orang tua.(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12.18. 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah. namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah. Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. bangsa dan Negara. (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Undang-Undang Republik Indonesia No. Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam UU No. (7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. kepala sekolah.doc 16 . Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah.16. tenaga kependikan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. nilai agama. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17.Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009.

akhlak mulia. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan. pengetahuan. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global. kepribadian. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. siswa. Dalam konteks ini. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional. Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). sikap. Dengan demikian. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional.doc 17 . (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan.. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.Meningkatkan kecerdasan. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. A. orang tua. tenaga kependikan. (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global. kepala sekolah. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. bangsa dan Negara. adaptif dan aspiratif. regional. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. demokratis. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. keterampilan. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah . dan internasional. berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. pengalaman. 2002). MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional.

Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. yaitu . laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit.doc 18 . standar pendidik dan tenaga kependidikan. Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. siswa. jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. standar sarana dan prasarana. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. standar kompetensi lulusan. PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Ruang belajar yang nyaman. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. dan standar penilaian pendidikan). menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. standar pengelolaan. lingkungan dan sarana dan prasarana. standar proses. terkait dengan hal tersebut. siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. standar pembiayaan.4. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. tenaga pendidik.

aman. Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram. Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya. Fink & Earl. untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . Sebagai lembaga sosial. 2003).saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat. 1762). Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik. 3. Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. dan kemampuan. mengganti simulasi yang berbahaya. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Menurut Rousseau (Emile. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. bakat. Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). dan sentosa. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. dan memiliki keunikan. perluasan pemeratan pelatihan Guru. Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. menurut Suderadjat ( 2005 ). sedangkan sebagai lembaga ekonomi. pengalaman. Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. kualitas pendidikan bersifat dinamis. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. Manusia memiliki potensi. Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. perspektif. intelektual dan emosional. termasuk pendidik. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. serta prilaku yang diterima masyarakat. minat. dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. latar belakang. minat. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. kapasitas.doc 19 . Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. dan. (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.20/2003) Selanjutnya. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. sehat. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dukungan masyarakat. dan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. inovatif. Peningkatan kompetensi guru. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. butir kedua dan ketiga. langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. efektif. dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. akhlak mulia. Transparansi manajemen. cakap. dan menyenangkan (PAKEM).Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. pengendalian diri. dalam undang-undang yang sama. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. iklim. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. kreatif. b. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Untuk dapat berkembang dengan optimal. Dua dari keempat pilar di atas. berakhlak mulia. mandiri. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No. kecerdasan. 2001). kreatif. c. dalam Subakir & Supari. kreatif. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki. pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan.doc 20 . (Pasal 4). 2001). bangsa dan negara. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). yaitu: a. terampil. masyarakat. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. serta memiliki sikap.d. berilmu. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. kepribadian. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula. Pembelajaran aktif. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu.

Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi. partisipasi warga. bertanggung jawab. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. Mewujudkan temwork yang kompak. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan dinamis. Misi. kejelasan visi dan misi. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. UU No. disiplin. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah. kreatif. Mengembangkan komunikasi yang baik. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. cerdas. dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. lingkungan belajar yang paling utama. UU No. Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi. aman dan tertib.`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional . Melaksanakan keterbukaan manajemen. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis. mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. seperti : budaya mutu.doc 21 . sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. demokratis. aspiratif. budaya progresif. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. inovatif. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. kreatif. (g). guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah.doc 22 . Manajemen Layanan Khusus. kreatif. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). masyarakat. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). Untuk mewujudkan hal ini. ia (hal. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. dan menyenangkan (PAKEM). 2001).memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. (c). Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Dalam manajemen sarana dan prasarana. efektif. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. terutama dengan pengajar atau guru. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. rapi. inovatif. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. termasuk dalam bidang pendidikan. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Sehubungan dengan hal itu. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. Manajemen Tenaga Kependidikan. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar.” Dalam pelaksanaannya. (d). dan pemerintah. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. serta komite sekolah. (e). ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Manajemen Kesiswaan. yang meliputi guru. dan menyenangkan (PAIKEM). Berkaitan dengan ini. berkreasi. (b). (f). Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. efektif. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. dan. telah dapat diwujudkan.

poster. Menurut Ramadhan (2008:5). Mengajar. dan sejenisnya. c) Projected still media : slide. d) Projected motion media : film. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. video (VCD. chart. penerapan PAIKEM sangat tepat. Terdapat berbagai jenis media belajar. kreatif. termasuk cara belajar kelompok. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. cassette recorder.” Dengan demikian. sehingga terjadi proses belajar. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. 2011: 76). memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. inovatif. Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. komik. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. televisi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. pada intinya. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. tulisan dan suara yang direkam.doc 23 . laboratorium bahasa. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . kartun. komputer dan sejenisnya.pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. minat. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. efektif. VTR). tape recorder. dan kemandirian sesuai dengan bakat. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. kreativitas. bagan. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. realia. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. dan cocok bagi siswa. dan bahan ajar. a) Media Visual : grafik. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. piringan audio. menyenangkan. pengajar. in focus dan sejenisnya. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. gambar bergerak atau tidak. over head projektor (OHP). “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. b) Media Audial : radio. inspiratif. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. diagram. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. diantaranya . menyenangkan. untuk mengungkapkan gagasannya. Menurut Djamarah (2005:212). menantang. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. seperti radio. DVD.

Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. dan (b) audio visual gerak. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. Media audio-visual. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. pengaruh yang ditimbulkan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. 1994:78-79). Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. kecocokan dengan ukuran kelas. si pembelajar atau belum. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. Sehubungan dengan hal itu. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. keringkasan. baik secara individual maupun klasikal. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. dan kedisiplinan. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. silde (film bingkai) foto. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). 327). Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Kreteria pertamanya adalah biaya. competency atau competence. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. 1993:10). Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. gambar atau lukisan. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. motivasi. film rangkai suara. cetakan. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). lingkungan kerja fisik maupun non fisik. Menurut Djamarah (2005:32).doc 24 . cetak suara. di sekolah maupun di luar sekolah. estetika juga merupakan sebuah kriteria. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. waktu dan tenaga penyiapan.“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik.visual. kemampuan untuk dirubah. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Untuk menarik minat pembelajar. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. antara lain: kompetensi.

moral. (2). ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. ketrampilan. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. teknologi. Kompetensi Sosial.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). Berkomunikasi secara efektif. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. kompetensi kepribadian. sertifikat pendidik. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik.” Selanjutnya. empatik.Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. dan intelektual. pengembangan bahan ajar. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1). Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.doc 25 . Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. serta perancangan strategi pembelajaran. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa).Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. kompetensi.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. (7). dan perilaku yang harus dimiliki.Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. Kompetensi Kepribadian. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Mengenal siswa secara mendalam. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. (4). Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11).16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. (5). dan seni melalui pendidikan. dihayati. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. (3). Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. sosial. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. dan Kompetensi Profesional . dan santun dengan peserta didik. Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar. spiritual. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6). Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. (9).Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. kompetensi social. sehat jasmani dan rohani. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. kemahiran.

dan prosedur penilaian yang benar. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. guru dan staf lainnya). Selain pembiayaan operasional/administrasi. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Mengelola proses pembelajaran.belajar. wakil kepala sekolah. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. dan prosedur penilaian pembelajaran. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. efektif. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat. Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. strategi. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip. dan menyenangkan. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Pertanggung-jawaban (accountability). Melihat progres pencapain kurikulum. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. strategi.doc 26 . aktif. Sumber daya.Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. kreatif.Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa.Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. (2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. strategi. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah. Personil sekolah.

doc 27 . Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui. E. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. efisien. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. efektif. penulis menggunakan metode kepustakaan. TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Konsekwensi logis dari itu. F. yang penulis uraikan. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. C. KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat. penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders). Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. atau muatan lokal. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS. serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini.

Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS.doc 28 . Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. dibahas pula secara lebih spesifik . Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. kosep dasar Kepemimpinan dan MBS. sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Gaya Kepemimpinan 4. dasar dasar pemikiran. fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. terinci akan hal hal sebagai berikut : a. dan akuntabel. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. 2) Peningkatan efisiensi. yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah. 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3.pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah. transparan. dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang.

6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. guru didorong untuk berinovasi. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. 7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah.doc 29 . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya. penyelenggara. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. mendorong profesionalisme kepala sekolah.

doc 30 . Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tetangga dimana mereka bermasyarakat. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. komunikasi. Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. kedua konsep tersebut berbeda. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. Disamping itu juga. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). tumbuh dan berubah (Cynthia D. Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1). (5) Expert power. pengorganisasian. Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Moxley. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. pelatihan. Russ .BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. (2) Coercive power. reputasinya atau karismanya. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. McCauley. dan seterusnya. (3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. kepemimpinan. oragnisasi dimana mereka bekerja. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Ellen Van Velsor. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. yaitu: perencanaan. Reward power. (4) Referent power. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. pengetahuan (cognizance).

Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Penampilan fisik. dan pengawasan. Tanpa kepemimpinan yang baik. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing.doc 31 . susah diatur. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. inteligensia. dan selalu menjadi trouble maker. Situasi di sini meliputi waktu. para supervisor. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik.namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. pengorganisasian. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. melainkan pada gaya kepemimpinan. (2) gaya demokratik (democratic style). pimpinan. kemampuan bawahan. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. tidak disiplin. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tuntutan pekerjaan. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. penggerakan. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. dan para pelaksana. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam.

doc 32 . Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya. serta kematangan bawahan. dan bagaimana caranya. Berdasarkan pola hubungan tersebut. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan.. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku. Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). kapan keinginan itu harus dilaksanakan. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan. Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta.sekerja. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik. kemampuan dan harapan-harapan bawahan.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah.

(3) pada jam 13. Ginnett. namun karena posisinya sebagai bawahan. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak. Ginnett. dan (4) jam 14. Dengan ketentuan seperti itu. Maka hal tersebut. saat para pegawai akan beristirahat siang. Dari kasus tersebut di atas. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi.doc 33 . Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada.00.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas. Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan.00. dan Curphy. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan. Hughes. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan. yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. (2) pada jam 12. Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut.00 ketika para pegawai selesai beristirahat. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya. Menurut Hughes. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan.

dan rasa malas pergi bekerja. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. (c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya. Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. Manusia. Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. akan muncul keinginanlain lagi. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan). Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. Pada gilirannya.seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu. Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). kecuali untuk jangka waktu yang singkat. Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. sengaja mengulur-ulur waktu kerja. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace).” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara. Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Sebaliknya. tingginya biaya pelatihan. dan menurunnya produktivitas. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya. berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya.doc 34 . Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. Apabila satu keinginan telah terpenuhi. melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. alasan keluarga. Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. (2) apa yang mengarahkan perilaku. namun jarang mencapai kepuasannya. dan sebagainya. Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien. Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). akan timbul keinginan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas. Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi.

Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. bonus. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. perusahaan untung. Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas. Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda.Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya. Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori. Kedua gaya kepemimpinan tersebut. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). dan (e) teori ekuitas (equity theory). Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan.doc 35 . Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan. Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories). Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. (d) teori harapan (expectancy theory). atau berbagai macam imbalan lainnya. dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. dan akan menang dalam bersaing. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven).santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut. yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management). (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). (2) teori perilaku (behavior theory). Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. dan perusahaan memberikan uang tersebut. Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. maka para pegawai akan berproduksi lebih besar. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan.

sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah.doc 36 . karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. (b) tugas rendah dan hubungan rendah. dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian. Dan pada tahap empat (akhir). berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan. sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. Sedangkan pada tahap ketiga. Kepemimpinan diatas. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. Least Preferred Co-worker). Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Pada tahap awal. Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut. bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. mengendalikan dan mempengaruhi situasi. (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC. Pada tahap dua.

menerima saran. karena mempunyai organisasi yang lebih produktif. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. tugas dapat struktur. 4) Sistem 4. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil. kekuatan yang ada pada bawahan.doc . Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive). maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). (6) manajer menentukan batas-batas. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. (4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. (2) manajer menjual keputusan. dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum. meminta kelompok untuk mengambil keputusan. dan mendasarkan komunikasi. percaya kepada bawahan. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive).dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. Dari keempat sistem diatas. dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. dan kekuatan yang ada dalam situasi. 2) Sistem 2. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem. Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan. Pemimpin menentukan tujuan. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. (5) manajer menyajikan masalah. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 3) Sistem 3. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas. membuat keputusan. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya.

Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. tetapi oleh kesadaran bersama. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Sementara menurut West dan Michael. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. dan (4) kerjasama. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. 5. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. keterampilan konseptual (conceptual skills). dinamik dan demokratis. (3) kekeluargaan. setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. Ketiga.kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. 3. Kedua.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. keterampilan teknis (technical skills). (3) memberi petunjuk.doc . mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk pendidikan dasar dan menengah. (2) pelaksanaan tugas. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. 2. 4. adanya kesamaan yang paling utama. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. (2) aktif. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. dan demokratis. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). (2) memberi dukungan. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. Pertama. Keterampilan Dasar Kepemimpinan. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. Masih menurut Burns. keterampilan hubungan insani (human relations skills). partisipatif. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. keterampilan manajemen waktu (time management skills).

Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. menulis. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil.. dan teater.(1). 6. 3. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. Misalnya. orang tersebut cenderung risau. sains. 7. sastra. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. 9. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu. membingungkan.doc 39 . dan matematika. 2. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal. 4. film. ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. Otonom. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. Percaya Diri. dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. 5. 8. tari. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup. mempunyai motivasi tinggi. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan. filsafat. musik. Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. dan mendua. Toleran terhadap Ambiguitas. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya.

semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.pemimpin yang tidak memotivasi . Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. Oleh karena itu. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. Ingat. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. Ciptakan lingkungan yang memotivasi. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. 8. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. 3. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. MBS adalah upaya serius yang rumit. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. Berikan hadiah yang adil. 6. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. B. Karena sulit memotivasi orang lain. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. 5. Oleh sebab itu. Kita semua adalah individu. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan. 4. Seseorang tidak harus menjadi orang lain. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. kemajuan akan memotivasi. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. Semakin penting sebuah tugas. 2. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi. meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. keduanya saling membutuhkan. Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. mungkin tidak memotivasi orang lain. Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. Individu sendiri harus termotivasi. memecahkan masalah-masalah umum. Perlakukan setiap orang sebagai individu. Masyarakat adalah pemilik sekolah. Berikan pengakuan. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Bagi orang berbakat. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. tulis John Lancaster Spalding. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat.doc 40 . 7. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. Pilih orang yang bermotivasi tinggi.

Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. dan akuntabilitas. berbasis.yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. Grasindo. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda. standar. dan berlanjut terjadi.yaitu manajemen. masalah-masalah dalam penerapannya. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan.doc 41 . tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. kurikulum. cet ke 2. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. Jakarta : PT. manfaat. hal. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. sistematik. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. lingkungan belajar yang paling utama. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. Secara bahasa. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik. Dengan demikian. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. menurut . MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. Akan tetapi.. berkreasi. kebijakan. dan sekolah.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas.

para guru. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Manajemen Kesiswaan. (g). Dengan demikian. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. ia (hal. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. Kemudian. Berdasar teori di atas. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. serta komite sekolah. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Melalui keterlibatan guru.doc 42 . kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. yang meliputi guru. Namun. Dalam manajemen sarana dan prasarana. murid. apalagi pusat. Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. guru. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Kepala Sekolah. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. (e). Komite Sekolah. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. rapi. masyarakat. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. telah dapat diwujudkan. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. melainkan faktor kepemimpinan (leadership).” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). (c). Manajemen Layanan Khusus. termasuk dalam bidang pendidikan. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. dan. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. Manajemen Tenaga Kependidikan. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. orang tua. (d). dan pemerintah. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. (f). dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah.kepala sekolah. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. kepegawaian. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. (b).

kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. f.Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). c. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. e. Juga secara proses. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. b. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. Oleh karenanya. Ironisnya selama ini. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. dan kurikulum. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. d. Secara akademik. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Pelaporan hasil.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah.doc 43 .Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. kepegawaian. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Akan tetapi pada prakteknya. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang.pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. para guru. g. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. tantangan. khususnya orang tua siswa. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama.

akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. khususnya Sekolah. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. komite sekolah. misi. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. penilaian. mulai dari tingkat pusat. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. sampai dengan tingkat Sekolah. Sebagaimana dimaklumi. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. dan murid (Nurkolis. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. kepala sekolah. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. dan dukungan. 2003:42). para guru. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. administrator. kabupaten/kota. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dengan demikian. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. provinsi. orangtua. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah.doc 44 . Pihak-pihak lain seperti. tantangan. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. Sebaliknya. Pada prakteknya. orang tua. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. anggota masyarakat. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. 15Dalam MBS. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri.

Sekolah lebih mengetahui kekuatan. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. Kedua.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10. siswa. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. dengan otonomi yang lebih besar. Ketiga. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. 3. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional.doc 45 . orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9. 4. kelemahan. sekolah lebih mengetahuikebutuhannya. tentu saja. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Demikian juga. sehingga sekolah lebih mandiri. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama. dan peningkatan rasa tanggungjawab. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. karyawan. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. peluang. kelemahan. orangtua siswa. Kemandiriannya. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. sekolah lebih mengetahui kekuatan. kepala sekolah. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah.program desentralisasi bidang pendidikan. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. peluang dan ancaman bagi dirinya. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.

4. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. dan pemerintah 8. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. lebih demokratis dan terbuka. 4. masyarakat. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”. serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran.MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1). Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.doc 46 . orang tua. 2. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. peluang dan ancaman bagi dirinya. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional. kelemahan. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. 3. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. dan masyarakat 7. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah.

Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas). Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. Jika tidak. dinas pendidikan daerah. Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama. standar kepegawaian. dan biaya programprogram sekolah. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi. pada tingkat nasional. dan dewan Manajemen sekolah. politis. MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah.(4). dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. dan sebagainya. Menurut bank dunia. Namun. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Di Amerika Serikat. professional. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. efisiensi administrasi. masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(2). Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah. dan dewan sekolah di setiap sekolah. standar fasilitas dan peralatan sekolah. dan efektifitas sekolah. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah. kelemahan. Namun. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu. Kedua. sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. MBS adalah ancaman besar. batasan pengeluaran. Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. Ketiga. (5). Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. akuntabilitas. menyeleksi pelamar pekerjaan. standar kualifikasi guru.doc 47 . peran dewan sekolah tidak banyak berubah. finansial. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi.(3). Pemerintah pusat.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran.(6). Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. prestasi siswa. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. dewan pendidikan pada tingkat daerah.

Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya). 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin. 4. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. 21 dan Ibid. Keempat. Gramedia hal. dan dewan sekolah. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu. hal. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. Dalam pengimplementasian MBS. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. kuantitas. Nurkolis. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Ketiga.” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil.Association of Elementary School Principal. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. dan apa rencana selanjutnya. Keenam. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. 1. 3. meningkatkan kualitas. kepala sekolah. melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. kualitas kurikulum. menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. The National Widiasarana Indonesia. Jakarta: PT. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. meningkatkan moral guru. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. 5. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah.Kelima. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. 2003. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas.doc 48 . 2. MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya.Kedua. Bagi sumber daya manusia. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dinas pendidikan daerah.

orangtua siswa. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. ekonomi. Ciri-ciri MBS.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional. Pengelolaan ketenagaan e. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. partisipasi. c. Pelayanan siswa h.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Asal diterapkan secara ketat. f. pendapatan daerah dan orang tua. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Dr. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Juran adalah ahli statistik terpandang. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . siswa. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. b. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. Dr. c. dan politik) Di lain pihak. Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Pengelolaan proses belajar mengajar. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. dimana warga Sekolah (guru. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. W.b. Seperti halnya Deming. Pengelolaan iklim Sekolah. Joseph M . Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Dr. Juran (Arcaro.doc 49 . Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah. d. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. karyawan. Edward Deming (Arcaro. Pengelolaan keuangan g. Hubungan Sekolah-masyarakat i. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. partisipasi masyarakat.

Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. akuntabilitas. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. Ini bahkan menjadi lebih sulit. Dengan perangkat yang tepat. c. standar penguasaan minimum. baik cetak maupun elektronik. d. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. dan diseminasi. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba. pengusaha dan para akademisi.Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. reflikabilitas dan substainabilitas. pelaksanaan. ada empat tahapan implementasi MBS. Seperti telah dinyatakan di atas. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. 2004. Banyak perubahan. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan. Pelatihan. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management.doc 50 .dengan tepat. misal merupakan prasyarat mutu. yaitu sosialisasi. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. kepala Sekolah. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom). baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. e. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. tokoh agama. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain. diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat. Misalnya. piloting. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. b. standar kompetensi siswa. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. bukan program sekali jalan. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. yakni guru. Seperti halnya Deming. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. standar materi pelajaran pokok. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. standar pelayanan minimum. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. pengawas. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan.

otonomi Sekolah. pengorganisasian.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia.baik faktor internal maupun eksternal. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). pada tanggal 2 Mei 2002 c. kewajiban Sekolah. serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. organisasi formal dan internal. dan Komite Sekolah. Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. e. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. baik secara konvensional maupun movatif. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. d. Potensi Kepala Sekolah. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah. b. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . semangat belajar. pelaksanaan. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. potensi sumber daya manusia. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. pengawasan pendidikan di Sekolah. disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. a. Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. Dewan Pendidikan. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif.doc 51 . Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . terutama yang berada di lingkungan Sekolah. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional.

Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. 2002.doc 52 . yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM). Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. c. program yang mendukung implementasi. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. i. Forum Peduli Guru (FPG). Profesionalisme. KKM. rencana yang rinci dan sistematis. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Program ini terdiri atas tiga komponen. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Dalam pada itu. Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik.f. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). serta tingkat penghayatan. Kelompok Kerja guru (KKG). b. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). h. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. Kreatif. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. Dukungan pemerintah. d.

merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pembelajaran aktif. dan. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. dan menyenangkan (PAIKEM). Dua dari keempat pilar di atas. dan NTT. kreatif. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. kreatif. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. Sulawesi Selatan. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. efektif. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. 2001). butir kedua dan ketiga. Untuk dapat berkembang dengan optimal. Jawa Tengah. dalam Subakir & Supari. 2011: 76). Untuk mewujudkan hal ini. pada intinya. efektif. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur. efektif. mengacu kepada empat pilar (Kristanto.doc 53 . 2001). guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Berkaitan dengan ini. terutama dengan pengajar atau guru. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. d. yaitu: a. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. sehingga terjadi proses belajar. dan menyenangkan (PAKEM). Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. kreatif. 2001).diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. c.” Dengan demikian.” Dalam pelaksanaannya. Dukungan masyarakat. Transparansi manajemen. efektif. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. b. kreatif. inovatif. Mengajar. karena mereka senang belajar. Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. dan menyenangkan (PAKEM). mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi.

laboratorium bahasa. kreatif. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. diagram. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. c) Projected still media : slide. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. komik. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. menyenangkan. inspiratif. bagan. menyenangkan. termasuk cara belajar kelompok. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. dan.menciptakan suasana. poster. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. iklim. Peningkatan kompetensi guru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. tulisan dan suara yang direkam. televisi. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. dan cocok bagi siswa. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. d) Projected motion media : film. pengajar. inovatif. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. a) Media Visual : grafik. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. Menurut Ramadhan (2008:5). dan kemandirian sesuai dengan bakat. untuk mengungkapkan gagasannya. komputer dan sejenisnya. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. realia. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). VTR). Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. minat. kreativitas. b) Media Audial : radio. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif.doc 54 . tape recorder. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Pembelajaran yang aktif. DVD. in focus dan sejenisnya. gambar bergerak atau tidak. over head projektor (OHP). menantang. diantaranya . dan bahan ajar. penerapan PAIKEM sangat tepat. efektif. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. dan sejenisnya. chart. Terdapat berbagai jenis media belajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. video (VCD. kartun. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. (b) audio visual gerak. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. pengaruh yang ditimbulkan. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. 1994:78-79). Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. keringkasan. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. seperti radio. “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. cetak suara. cetakan. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). 1993:10). Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. estetika juga merupakan sebuah kriteria. kemampuan untuk dirubah. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. si pembelajar atau belum. gambar atau lukisan.Menurut Djamarah (2005:212). dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. kecocokan dengan ukuran kelas. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Media visual. cassette recorder. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Media audio-visual. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. film rangkai suara. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette.doc 55 . Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. Kreteria pertamanya adalah biaya. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sehubungan dengan hal itu. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Untuk menarik minat pembelajar. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. silde (film bingkai) foto. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. piringan audio. Menurut Djamarah (2005:32). waktu dan tenaga penyiapan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati.

dan seni melalui pendidikan. Kompetensi Kepribadian. dan kedisiplinan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sertifikat pendidik. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. sehat jasmani dan rohani. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. teknologi. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor.maupun klasikal. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. competency atau competence. sosial. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. di sekolah maupun di luar sekolah. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. dan intelektual. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Berkomunikasi secara efektif. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. kompetensi kepribadian. spiritual. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Mengenal siswa secara mendalam. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. 4. kemahiran. 2. Kompetensi Sosial. dan perilaku yang harus dimiliki. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. pengembangan bahan ajar.” Selanjutnya. dan Kompetensi Profesional . guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. 5. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. dan santun dengan peserta didik. moral. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.doc 56 . atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. antara lain: kompetensi. motivasi. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. empatik. serta perancangan strategi pembelajaran. 3. 327). Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran. kompetensi. dihayati. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). kompetensi social.“ Karenanya. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. ketrampilan. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian.

dan menyenangkan. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. dan prosedur penilaian pembelajaran. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran.doc 57 . 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. serta mengacu pada tujuan pembelajaran. dan prosedur penilaian yang benar. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. Perencanaan pembelajaran. 8. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar. strategi.7. Pemahaman terhadap peserta didik. Mengelola proses pembelajaran. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. kreatif. Pengembangan kurikulum atau silabus. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip. 9. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. Evaluasi hasil belajar. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. efektif. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. strategi. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. strategi. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. aktif. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. atau the qualities of leader Secara bahasa.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi. tetapi tidak sama dengan manajemen. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran.2 Peterson at. dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan. Seperti halnya manajemen. penorganisasian . makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi. Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal. membimbing.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi.being a leader power of leading . menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif.doc 61 . kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam konteks penugasan audit. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan. pengawasan dan evaluasi. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai. mengontrol perilaku. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti .Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen.BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya.

Menurut French dan Raven (1968). sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Berdasarkan definisi-definisi di atas. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. pengetahuan (cognizance). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut.Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. tanpa adanya karyawan atau bawahan. Expert power. Walaupun demikian. kepemimpinan tidak akan ada juga. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. Namun demikian. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. reputasinya atau karismanya.doc 62 . kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit. ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Sedangkan menurut Anderson (1988). Sarros dan Butchatsky (1996). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Coercive power. kedua konsep tersebut berbeda. Menurut definisi tersebut. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Referent power. Dilain pihak. Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity).

respek. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. kepercayaan. Maccoby. menuntun. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan. Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. respect. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. sikap. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari. baik di lingkungan keluarga. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. Menurut Robert Tanembaum. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. 1. mengarahkan. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.P. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. Malayu S. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi."). Dengan kata lain. confidence. Sedangakn menurut Pancasila. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. Prof. v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. menyatakan. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100. Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab. H. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri.doc 63 . kepemimpinan serta kekuasaan. organisasi. Selanjutnya Lao Tzu. v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. dan membimbing asuhannya. Hasibuan. beberapa diantaranya : · Menurut Drs.

pengetahuan (cognizance). Namun demikian. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. kepemimpinan tidak akan ada juga. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan.pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Expert power. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Menurut French dan Raven (1968). " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". tanpa adanya karyawan atau bawahan. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. "). (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya.Sarros dan Butchatsky (1996). Walaupun demikian.doc 64 . Berdasarkan definisi-definisi di atas. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. reputasinya atau karismanya. kedua konsep tersebut berbeda. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. Coercive power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Menurut definisi tersebut. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Sedangkan menurut Anderson (1988). kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Referent power. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin.

Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi.doc 65 . pengorganisasian. controling. dan pengawasan. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. efektif dan efisien. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. komunikasi. mental. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. mengidentifikasi defiasi perencanaan. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. directing. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. commanding. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. Fungsi sebagai Top Mnajemen. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. dan untuk stake holder. pengorganisasian. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. mengisi struktur tersebut dengan individu-individu. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil.organisasi yang bersangkutan. dan kepribadian. Dalam perkembanganya. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. staffing. Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. pelatihan. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. yakni mengadakan planning. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. penggerakan. kepemimpinan. organizing. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. selalu tepat waktu. kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan. yaitu: perencanaan. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. dsb.

tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. sering pada tingkat yang dramatis. birokrasi. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer.doc 66 . para supervisor. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. Tanpa kepemimpinan yang baik. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan. dan para pelaksana. diberikan peran/fungsi. Dalam organisasi. para supervisor. masalahmasalah yang akan muncul. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. Dengan rencana yang telah ditetapkan. Dalam pengorganisasian. dan para pelaksana. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna.

pengawasan. staffing. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. yaitu kapasitas. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. organizing. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. partisipasi. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P.Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. kecakapan berbicara. Hingga tahun 1950-an. Stogdill 1974). Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). membimbing orang sesuai dengan visi tersebut.doc 67 . penganggaran. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Analisis awal tentang kepemimpinan. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. seperti misalnya: kecerdasan. tanggung jawab. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. dan pemecahan masalah. 2. kesupelan dalam bergaul. kematangan. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. status dan situasi. prestasi. Kotter. gaya dan kontingensi. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Dan dalam perkembangannya. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. kejujuran. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. 1996). Disamping itu. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. ketegasan.

Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. seperti misalnya faktor situasi. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka.doc 68 . iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. walaupun positif. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Hoy dan Miskel (1987). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. misalnya. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan.hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970).

prosedur dan petunjuk yang ada). Path-Goal Theory. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Secara ringkas.Model kontingensi yang lain. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Menurut House. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. promosi dan penurunan pangkat (demotions). saling percaya. Halpin (1966). Menurut Fiedler. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).relations).doc 69 . participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). MenurutPath-Goal Theory. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya.

Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. menghormati dan sekaligus mempercayainya. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Menurut Yammarino dan Bass (1990). mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional.kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Dalam dimensi ini. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. joining in a shared vision of the future. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan.doc 70 . Dengan demikian. Menurutnya. Sebaliknya. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's".Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dengan demikian.

intelektual).doc 71 . Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. memulai proses penciptaan inovasi. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. gaya (style) dan kontingensi. namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). produktifitas. dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Dalam dimensi ini. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Oleh karena itu. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. dan nous/noos yang berarti pikiran. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. meninjau kembali struktur.

Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. penghargaan.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. keahlian.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented).doc 72 . Gaya kepemimpinan adalah sikap. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style). informasi. yaitu kekuasaan paksaan.Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya. dan hubungan. referensi. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. legitimasi. Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat.3. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. yaitu . Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya.

maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style).pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. efektif. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya. (2) gaya demokratik (democratic style). Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama. Penampilan fisik. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. tidak ada pilihan lain. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. inteligensia. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style).Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik.doc 73 . dan efisien.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. melainkan pada gaya kepemimpinan. melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi.11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul. selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya.

Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. tuntutan pekerjaan. Situasi di sini meliputi waktu. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. kepemimpinan. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. yaitu: perencanaan. pimpinan. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 4.untuk mematuhinya. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. susah diatur. tidak disiplin. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. kemampuan bawahan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). pengorganisasian. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. dan bagaimana caranya. maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. serta kematangan bawahan. teman sekerja. komunikasi. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Berdasarkan pola hubungan tersebut.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi.doc 74 . Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. dan selalu menjadi trouble maker. pelatihan. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal. Sebagai contoh. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim.

Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Domingo. Dalam pengorganisasian. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. dan para pelaksana. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. dan pengawasan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. atau kelompok pekerja. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. masalahmasalah yang akan muncul. dan para pelaksana. bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. diberikan peran/fungsi. penggerakan.doc 75 . pengorganisasian. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Dengan rencana yang telah ditetapkan. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. Dan organisasi. tim. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. Tanpa kepemimpinan yang baik. para supervisor. para supervisor. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas.manajemen.

Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter. staf dan para siswa. bukan sebaliknya. meminta dilayani oleh para bawahannya. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. berpakaian. berani. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. pemimpin. dan memiliki kepekaan sosial. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. memotivasi. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. dan administrator pendidikan. memimpin rapat. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan.doc 76 . supervisor. c) Pengetahuan yang luas. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. murah hati. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. memberikan insentif. yaitu: (a) keterampilan teknis. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. bersemangat. secara rinci dinyatakan : 1. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah.

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

doc 80 . d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing . c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun mulai sejak tahun 2001. adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural.masing. pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2. guru kelas. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. orangtua siswa. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan. khususnya peningkatan mutu pendidikan. Secara mikro. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.sekolah.

mengarahkan (directing). termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut. mengorganisasikan (organizing). memonitor. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000). Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. masyarakat.doc 81 . mengevaluasi (evaluation). peluang. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. pertama. selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. keluwesan. terdapat tiga pandangan berbeda. Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan. kedua. yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber. baik personal maupun material. dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen). 5. dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal.f) Memotivasi timbulnya pemikiran . dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Dalam makalah ini. Disamping itu. mengorganisaikan. 3. dan pemerintah. 6. 2. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). serta ketrampilan teknik. mengawasi (controlling). ketrampilan manusiawi. Berkaitan dengan itu. mengkoordinasikan (coordinating). karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. merencanakan (planning). sitemik. 4. yaitu: 1. Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. kelemahan. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM. dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah.

Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. kematangan moral dan tanggung jawab. 5). wawasan masa depan. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. tujuan dan harapan. ditandai dengan kematangan emosional. (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. dan kesejahteraan lahir batin.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. penilaian diri. Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi. Untuk itu. intelektual. dan belajar pada diri sendiri. Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. etos kerja dan disiplin. pengembangan staf. keimanan dan ketakwaan. kepastian karir. staf. lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. kurikulum. dan komputer.doc 82 . Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. komunikasi. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. (3). Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. 7). Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. 6) Kardinata ( LM Tauhid. sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. budaya. proses belajar mengajar. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. penguasaan iptek. profesionalisme. iklim sekolah. para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja . belajar dari siswa lain. kematangan social.

kepegawaian. Mengembangkan Budaya Sekolah. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Mengembangkan Diri. Melakukan Koordinasi/Penyerasian. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. Dengan demikian. Memahami Sekolah sebagai Sistem. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. guru. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1). pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. apalagi pusat. Mengelola Keuangan. Mengelola Kesiswaan. orang tua. 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Menyiapkan. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. Melalui keterlibatan guru. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan.bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya.doc 83 .Mengelola Kelembagaan. Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah.Mengambil Keputusan secara Terampil. (2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu.Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran. Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah. Mengelola Sarana dan Prasarana. Mengelola Sistem Informasi Sekolah. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. Manajerial dan Kepala Sekolah. Memimpin Sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. murid. Dengan demikian. dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda . Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3). Mengelola Waktu. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Mengelola Kurikulum. Mengelola Tenaga Kependidikan. Agus Dharma ( dalam artikel. 8). Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat. Melakukan Monitoring dan Evaluasi. Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah.

R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. Keempat. dana. sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. Ketiga. Kedua. Menggunakan pendekatan partisifatif.doc 84 . di antaranya adalah: Pertama. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. Ketiga. Kelima. 9). organisasi. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM. mulai dari provinsi. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. arahan dan monitoring dari pusat. Pendidikan untuk keadilan. Kedua. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi. A. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM. proses belajar mengajar. Pertama. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga). pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah.

Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. seperti Amerika Serikat. National Association of Elementary School Principals. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Pada 1988 American Association of School Administrators. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. d. Selama ini. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. and National Association of Secondary School Principals. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Di Indonesia.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. b. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. menerbitkan dokumen berjudul school based management. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Akibatnya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. a strategy for better learning. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Beberapa perubahan tersebut antara lain: a. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Di mancanegara. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya.doc 85 . saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Menurut Miftah Thoha (1999).

tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. guru baru. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal. guru. Di dalam MBS. orang tua. menghambat kreativitas. Dewan Pendidikan. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. Dan sebelum desentralisasi. antara lain Kepala Sekolah. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. melalui proses terbuka. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat.kebutuhan masyarakat setempat (lokal). pebisnis. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah.. para legislator. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. Semua stakeholder. Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Berlandaskan ketentuan UU No. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). kelompok masyarakat. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. (Nuril Huda.doc 86 . Berdasar teori di atas. 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. Akan tetapi pada prakteknya. para guru. atau orang tua yang petani. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. Dengan demikian. Dewan Pendidikan.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. para guru.. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Kemudian. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan.

disseminator dan spoken person. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). dan dukungan. (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan. (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM). dan kurikulum. pada prakteknya. orang tua. tantangan. penilaian. Selanjutnya . Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama. (2) Ketrampilan hubungan manusiawi . komite sekolah. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). memotivasi dan memimpin organisasi. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius.doc 87 . kepegawaian. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. strategi. orangtua. Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . tantangan. liason dan leader. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. (3). salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. mengutip pendapat Goston (1976). allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead. Pihak-pihak lain seperti. Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain .paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran.artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. para guru. metode . disturbance handler. pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. teknik tertentu dalam organisasi.

logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal. sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif. b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga. ekonomi.Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi.doc 88 . menetapkan kebijakan. dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. sosial dan layanan atau service. Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya. pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang. Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia . menentukan tujuan (sasaran atau objective) . menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat . dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya. bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan . c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan. perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik. Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. penanggungjawab. tatakerja.

(e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat.hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). Drucker.doc 89 . sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan. penelitian sumber daya manusia. kerja sama. dana. situasi dan kondisi sosial. judul bukunya “ the practice of management. (2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi. (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu. 157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. Harper and Row.aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. alam. Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. disiplin diri. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut. politik dan ekonomi (3). tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. New York 1954. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. pengontrolan tugas. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan . halaman 157. Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan. Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . (b) Adanya disiplin kerja. etnik. Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). Semakin meningkatnya aktifitas.d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi .158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983. agar semua tugas berlangsung dengan tepat . dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. sarana. dan waktu yang makin ekonomis dan efisien. kooperatif. pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan.

mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Komunikasi lisan maupun tulis. Mengendalikan pekerjaan (4). Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. halaman 9 adalah sebagai berikut: (1). menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi. transparan. Menciptakan kewibawaan. Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru. Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. Melatih dan membimbing (6). Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya. Memecahkan masalah (3). Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). Mewakili lembaga (11). Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d). diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5). bersih. (9). (b). dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis. Memotivasi (7). Mengembangkan kemampuan diri (10). dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. 2003. (5). keperibadian tinggi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. orang tua murid. Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. tanggung jawab. Mengatur waktu (8). 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). Membuat perencanaan kerja (2). MA. Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). siswa.doc 90 .manusia yang memprihatinkan. etos kerja. Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. mengatur.

Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan. Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b). kooperatif. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. dan produktif). Qodri A. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. siswa. idealis. penempatan . masalah kesejahteraan personalia sekolah (d). terbuka. mengoreksi kelemahan. dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. aspiratif. suka berfikir positif. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi. terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah. kreatif. pemberani. Guna mendukung hal ini. (2). pemberhentian pegawai guru honorer.kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. cerdas.doc 91 . (j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya.Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menggairahkan. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. penuh tanggung jawab. Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. cekatan/lincah. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. pegawai tata usaha. berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya . masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha. Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Keuangan dan pembukuannya (f). kepala sekolah dituntut: Jujur. komunikatif. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. pemindahan.

Peningkatan mutu. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. 2000). . maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. dan guru. moral guru. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. petunjuk. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. dapat diperoleh. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. dan perubahan perencanaan ( Fattah. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. orang tua. tingkat pengulangan. antara lain. terutama dalam bidang pendanaan. serta memperbaiki kesalahan. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. pembinaan. dan iklim sekolah. Pembinaan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan. mendorong profesionalisme kepala sekolah. istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi. manajemen sekolah. antara lain. rancangan ulang sekolah. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Pelaksanaan. memberdayakan guru. Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . merekam. berlakunya sistem insentif dan disinsentif. merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan.doc 92 . Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah. memberi penjelasan. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. tingkat putus sekolah. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. Pengawasan. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. hasil belajar. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3.

guru didorong untuk berinovasi. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. Pendidikan untuk keadilan. dan produktif. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. Kepuasan peserta didik. 5. Sesuai dengan amanat UU tersebut. 1. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. 2. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepuasan kerja guru. 4. Efisiensi.doc 93 . maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. 3. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. 8. jasa. tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. peserta didik. Kualitas. Motivasi. 6. tingkat dan kualitas usaha. bagaimana peserta didik. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. Pertumbuhan. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. Semangat. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ). bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. 7. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tradisi-tradisinya. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. tujuan-tujuannya. Produktivitas. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. kekuatan kecenderungan dan keinginan guru. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. perasaan senang guru. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. Menggunakan pendekatan partisipatif. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. tujuan. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. hasil. guru. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. lancar.

. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. c) Pimpinan oleh para partisipan. proses belajar mengajar. b) Pengalihan tanggungjawab. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. Menggunakan pendekatan partisifatif. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes.. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. ekonomi. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dan sebelum desentralisasi. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. dialog. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. Pendidikan untuk keadilan. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. dan aktivitas kelompok secara mandiri. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok. d) Guru sebagai pasilitator. Berlandaskan ketentuan UU No. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil.doc 94 . dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi. g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri. Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan.

Dewan Pendidikan. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. dan dinamis. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. para guru. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. antara lain Kepala Sekolah. Pihak-pihak lain seperti. cerdas. Melaksanakan keterbukaan manajemen. budaya progresif. demokratis. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. kreatif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dewan Pendidikan. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. para guru. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. dan kurikulum. penilaian. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. orang tua. Semua stakeholder.Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. . Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. guru baru. orangtua. partisipasi warga.doc 95 . tantangan. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. inovatif. Kemudian. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Dengan demikian. Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. disiplin. tantangan. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. aman dan tertib. para guru. melalui proses terbuka. Di dalam MBS. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. Namun pada prakteknya. bertanggung jawab. komite sekolah. Akan tetapi pada prakteknya. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. atau orang tua yang petani. Mewujudkan temwork yang kompak. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. aspiratif. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. kejelasan visi dan misi. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. seperti : budaya mutu. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Mengembangkan komunikasi yang baik. Berdasar teori di atas. guru. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. kepegawaian.

Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. komite. ketenagaan.doc 96 . diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka. mutu.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. a. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. sarana-prasana. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. dan pemerataan pendidikan. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. kebijakan dan prioritas pemerintah. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah. dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. d. dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. efesiensi. guru. pembiayaan dan kebijakan pemerintah. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif. c. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif.

karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial.doc 97 . dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. guru. menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan. Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah. e. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat. BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. 2000: iii). karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif.

dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. tetangga dimana mereka bermasyarakat. fungsi progresif pendidikan dan. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. aturan. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas.PEMBAHASAN A. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. Ellen Van Velsor. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. dan seterusnya. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. melainkan sebagai intinya. penyadaran dan mediasi secara simultan. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Orang tua. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. berupa penciptaan norma. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Selain itu. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. Moxley. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. 2007:1). Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. Russ . dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. oragnisasi dimana mereka bekerja. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. guru. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. 3. mekanika kuantum. prosedur. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. dan kebijakan baru. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. yaitu: 1. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 1998:4). beradab. McCauley.doc 98 . Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. reproduksi.

mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. para guru. proses. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. dan terpantau dengan baik. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. termasuk fenomena moralitas. Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah. penilaian. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. dan struktur persekolahan. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. terlaksana. program sekolah yang terencana. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. tantangan. tantangan. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. Bersamaan dengan itu. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. orangtua. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri. dan dukungan. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dinas pendidikan daerah. Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. Pihak-pihak lain seperti. dan dewan sekolah. kepala sekolah.doc 99 . Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. komite sekolah. Ironisnya selama ini.

keahlian. dan hubungan. legitimasi.standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. dan seterusnya. informasi. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. oragnisasi dimana mereka bekerja. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. yaitu: 1. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. yaitu . memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. 3. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. Analisis awal tentang kepemimpinan. Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. penghargaan. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. referensi. yaitu kekuasaan paksaan. dan apa rencana selanjutnya. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya.doc 100 . Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini.

termasuk masyarakat dan orangtua siswa. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. staffing. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. Dengan kata lain. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. anggota masyarakat. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan pemecahan masalah. pengawasan. Secara sederhana dikatakan. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. dan murid (Nurkolis. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. sistemik. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. 2003:42). IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. leaflet. kepala sekolah. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. penganggaran. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. transparan. B. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. organizing. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. orang tua. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. dan akuntabel. administrator. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Demikian De grouwe menegaskan. dan pengelolaan. Oleh karenanya.doc 101 .

doc 102 . yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Dengan demikian. peluang. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. pengelolaan SDM. masyarakat. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS. percaya diri. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. Ciri-ciri MBS. dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. lembaga terkait. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. kelemahan. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. dan saling percaya dalam bekerja. dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. 1996). sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. Kotter. Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P.

Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal. memonitor kegiatan birokrasi. kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar. Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. efektif dan efisien. Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian.membantu mengarahkan orang. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat. da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. stakeholder (seperti untuk customer. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil. 3. dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. 2. 4.doc 103 . mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan .

Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum.doc 104 . 2. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. Jadi. murid. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. guru. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri.. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air. lebih mengutamakan teamwork. Dengan demikian. dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan demikian. mengangkat dan memberhentikan karyawan. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. Oleh sebab itu. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. guru. Dengan taruhan seperti itu. pemerataan. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid.

Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau. Pertimbangan kedua adalah lahan. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. kreatif. bebas banjir. penyelenggara. efektif. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. Terlebih. Menurut Ramadhan (2008:1). dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. dan orangtua siswa. “Berdasarkan teori belajar. atau Australia. Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. Guru. Komite Sekolah.Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. aman. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya. Malaysia.doc 105 .Jadi. dan. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan. yaitu lokasi yang strategis. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat. dan menyenangkan (PAIKEM). Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa. bahkan RAPBS ini dipajangkan. limbah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. demokratis. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. Dalam praktiknya. Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. ketersediaan Dari pemaparan di atas. dan memunculkan iklim belajar yang baik. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam meningkatkan manajemen sekolah.doc 106 . Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. dan tujuan yang akan dicapai. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. pelaksanaan. peralatan pendidikan. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis. misi. Oleh karena itu. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Disamping itu. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). media pendidikan. buku dan sumber belajar lainnya. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi. Di samping itu. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1. pengorganisasian. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. dan fleksibel.

Dalam masalah sampah di sekolah. prasarana . dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. udara yang bersih. tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang bengkel kerja. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. ruang kelas. terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar.b. c. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. d. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani. ruang perpustakaan. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik.yang meliputi lahan. dan cukup pepohonan. tempat beribadah. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan.doc . bersih. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa. maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu. kegiatan upacara/apel pagi. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih. dan sedikit polusi suara. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah. ruang laboratorium. ruang unit produksi. tempat berolahraga. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. ruang tata usaha. Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali. ruang pimpinan satuan pendidikan. Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil. e. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Dengan sistem sanitasi yang bersih. ruang kantin. tempat bermain. ruang pendidik. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. Nampaknya semakin bersih suatu tempat. Bagi para siswa. maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat. instalasi daya dan jasa.

bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat.sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. jumlah ruang belajar. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sebagai konsekuensinya.doc 108 . Karenanya. Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. Di SMA Negeri 2 Mataram. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya. misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur. apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah. serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. g. Tabel 1. yang meliputi gedung sekolah. f. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran. maka sekolah diliburkan. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. jumlah ruang laboratorium.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah. Misi. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. ruang perpustakaan. Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. pemerintah daerah dan tentunya para guru. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah. serta jumlah guru dan staf akademik. pelaksanaan. dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan kondisi seperti di atas. Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah. Evaluasi menyangkut estimasi biaya. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. termasuk: Kepala Sekolah. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Proses renovasi dimulai dari perencanaan. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah. Misi. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar).doc 109 . Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah. Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia.

2002). 2. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal. baik di dalam maupun di luar ruangan.doc 110 . Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru. Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah . antara lain : (1) Keterbatasan dana.4.2. LCD monitor. serta (3) Tugas Kepala Sekolah.1. sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2. 2. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. selama jam kerja. Tata Usaha. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. Akan tetapi. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor. ruang UKS. kantin.1. Namun dalam kenyataannya.1. dan jaringan internet.1. Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor. koperasi sekolah. Saat ini. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yang sangat kompleks. terutama di SMAN 2 Mataram. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas.3. tahun 2003 : 29).1. 2. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung. kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. mushola. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap. Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer. Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. 2. Guru. Wakil orang tua siswa. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala. Wakil Organisasi profesi. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah. Wakil Siswa (OSIS). Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan. 1 unit komputer bagi administrator jaringan. Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet. dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram. tempat parkir.1.Wakil Kepala Sekolah.

.. membuat modul bahan belajar berbasis IT.doc 111 . Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK.2. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.2. Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2. Sebagai kelanjutannya. beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara. S. kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah. SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. Dalam proyek ini.Pd. untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011. efektif. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah. dan media pembelajaran (e-learning).Kom. Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas.1.5. 3. di antaranya sebagai: media informasi.. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project. S.. mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet. yaitu Hudri Ahmad.1. 3. Di samping itu.1. dan menyenangkan. Australia. efektif. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting. 2. baik di dalam maupun di luar sekolah. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. M. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia. 2. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. dan Sri Wahyuni. kreatif. membuat bank soal.Pd. 2. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah. 2.1.Pd. media komunikasi. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School.3. Queensland. dan menyenangkan (PAIKEM). Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. Inovatif.2.2. guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula. kreatif.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. yaitu Hendri Agung Mahendra. S.

Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. ketegasan. kesupelan dalam bergaul. sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. yaitu kapasitas. kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah. kejujuran. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. kecakapan berbicara. tanggung jawab. Stogdill 1974). status dan situasi. Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. prestasi. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi. 3. Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak. B. Untuk meningkatkan kompetensi ini. Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum.perbaikan. Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. Hingga tahun 1950an. partisipasi. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris. transparansi keuangan. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut.doc 112 . status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia. dan disiplin. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. kematangan. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. Disamping itu. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat. and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan. walaupun positif. missal transparansi program. seperti misalnya: kecerdasan. Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS.2. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru.

karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Secara ringkas. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin.one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. saling percaya. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. seperti misalnya faktor situasi. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Halpin (1966). yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation).doc 113 . model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. misalnya. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Hoy dan Miskel (1987). saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi.

Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971).kepemimpinan yang berbeda. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. prosedur dan petunjuk yang ada).doc 114 . struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). MenurutPath-Goal Theory. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Path-Goal Theory. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. Sebaliknya.Model kontingensi yang lain. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. promosi dan penurunan pangkat (demotions). dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Menurut Fiedler. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. Disamping itu. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Menurutnya. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Menurut House. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada.

sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. Menurut Yammarino dan Bass (1990). Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. Dengan demikian. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan. keahlian. standar kompetensi siswa. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. standar penguasaan minimum. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Misalnya. dana. maupun pemikiran. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. standar pelayanan minimum. Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas.mengakui kredibilitas pemimpinnya. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”. baik tenaga. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. standar materi pelajaran pokok. Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah. Dengan demikian. Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C.doc 115 . Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. joining in a shared vision of the future. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. dan politik) Di lain pihak. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ciri-ciri MBS. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. dimana warga Sekolah (guru. UU Nomor 32 Tahun 2004. adanya kesamaan yang paling utama. Masih menurut Burns.Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Selanjutnya dalam Undang-Undang No. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. partisipasi.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan.doc 116 . Ketiga. dan demokratis. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. siswa. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. Kedua. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. Untuk pendidikan dasar dan menengah. orangtua siswa. Pertama. tetapi oleh kesadaran bersama. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. juga anggaran Sekolah . partisipasi masyarakat. dinamik dan demokratis. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. ekonomi. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. partisipatif. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. pendapatan daerah dan orang tua. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. karyawan. dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi.

Dengan kemandiriannya. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif. Sebaliknya. Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. Demikian juga. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Kedua.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. 15Dalam MBS. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. misi.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. sehingga sekolah lebih mandiri. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. khususnya Sekolah. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab.sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Berpikir logis dalam melakukan perubahan. Dengan demikian. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. kelemahan. kepala sekolah.Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. siswa. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. dengan pengambilan keputusan partisipatif. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan.doc 117 . tentu saja.orangtua siswa. Dari asal usul peristilahan. karyawan. dan peningkatan rasa tanggungjawab. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah. Dengan otonomi yang lebih besar. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. Ketiga. demokratis dan fleksibel. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah.

Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator. kreatif. D. demokratis. efektif dan menyenangkan (PAKEM). 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah. dan monitoring dan evaluasi pendidikan. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Adanya peningkatan prestasi siswa.doc 118 . Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Penerapan pembelajaran aktif. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. pemimpin/leader inovator. dan menyenangkan. maka peran kepala sekolah sangat besar. inovator. efektif. pelaksanaan. monitoring. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. dan organisator. manajer. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. Leadership. Supervisor. administrator. Inovator. Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. supervisor. leader. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. Administrator. dan fleksibel. kreatif. Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. Adanya pembelajaran yang inovatif. administrator dan supervisor. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus.transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Motivator. dan evaluasi pendidikan. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. dan Managerial. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. motivator. pelaksanaan. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan.

ruang keterampilan/kesenian. pengarahan. gudang dan 7 K. Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. dan tahunan. keuangan. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. kesiswaan. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. d) Menyelesaikan surat-surat. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). pengawasan. Kebersihan. ketaausahaan. kurikulum. keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. Ketertiban. bimbingan konseling. pengkoodinasian.doc 119 . semesteran. ketenagaan. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. sarana dan prasarana. kantor. Dalam melaksanakan tugasnya. siswa. ketenagaan. bulanan.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan. karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat. Keindahan dan Kekeluargaan). pengorganisasian. e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. media. serbaguna. jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru. Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. laboratorium. mingguan. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. perpustakaan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya.

Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya.2) Kegiatan Mingguan. d) Pertanggung jawaban keuangan. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan. e) Evaluasi terhadap persediaan. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran. h) Mengecek pengisian buku induk siswa. 3) Kegiatan bulanan. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas. pengorganisasian kelas.Buku catatan pelaksanaan harian.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan. alat kantor. dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. Hal yang dibahas meliputi target. Kumpulan program satuan pelajaran. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. penggunaan dan bahan praktek. laporan bulanan.dan alat praktek. Diagram daya serap murid/siswa. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah.Diagram pencapaian kurikulum. e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya. gaji pegawai. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi. guru. baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih. saran. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya. Kesiapan RP. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya.doc 120 . Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. d) Memeriksa keuangan Sekolah. waktu. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. penyiapan alat peraga. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah. penanggung jawab. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah.c) Penutupan buku.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid.

Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. keamanan. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. Sebagaimana dikemukakan Rahman H.doc 121 . Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan. E. mental model. status dan kepuasan diri. Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur. pengorganisasian (organizing). menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. sosial. (2005: 67) bahwa. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan. penguasaan personal. Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir.meningkatkan kualitas sekolah. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya.

kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial. Secara Umum 1. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. orang tua. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. (7) pelaporan hasil. Oleh karenanya. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. 3. dan murid (Nurkolis. F. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. 2003:42). Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. kepala sekolah. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. anggota masyarakat. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. kelenturan pengelolaan sekolah. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. peningkatan profesionalisme guru.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. administrator. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah.doc 122 . (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Oleh karena itu. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya.

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

pengelolaan kepegawaian. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. bekerja dengan tim manajemen. pengarahan. mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS. kantor. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. memotivasi. keuangan. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. memimpin rapat. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. pengorganisasian. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat. lancar dan produktif. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. menggairahkan. Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. mampu menyusun perencanaan. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. pengelolaan sarana dan prasarana. kesiswaan. dan produktif). dengan cara meyakinkan dan membujuk.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. staf dan para siswa. pengelolaan kesiswaan. pengkoordinasian. kepegawaian. mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. yaitu: (a) keterampilan teknis. pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. Guna mendukung hal ini. dan perpustakaan.doc 126 . berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. staf dan siswa. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. perlengkapan.

MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. inovatif. Dengan demikian. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. efektif. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru.doc 127 . downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. yaitu: Pembelajaran aktif. Dengan taruhan seperti itu. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. 2. dan peningkatan kompetensi guru. kreatif. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Dalam rangka mewujudkan PAIKEM. Oleh sebab itu. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama. pengadaan peralatan TIK. percaya diri. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. ERIC_Digests. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.mengajar yang dilakukan guru di kelas. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak.

ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). Input pendidikan terdiri dari: 1. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. 4. cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. harapan-harapan berupa visi. proses belajarmengajar.cit. 6. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. hh. tujuan. kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan. efisiensinya. kesopanan. produktivitasnya. 48-58). yaitu prinsip equifinalitas. perlengkapan. perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah. Implementasi MBS. bahan dsb). dana pendidikan. guru. rencana. prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 5.mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. uang. sumber daya. inovasinya. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah. proses pengelolaan kelembagaan. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. seperti nilai ulangan umum. kesenian. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. seperti IMTAQ. olah raga. Ujian Akhir Nasional. akreditasi sekolah. karya ilmiah.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. kejujuran.3. dan proses monitoring dan evaluasi. proses pengelolaan program. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana. tenaga kependidikan dan lain sebagainya. efektivitasnya. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. misi. merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. Dalam pelaksanaan implementasi MBS. prinsip desentralisasi. program dsb 3. 7. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. keterampilan.doc . 2.deskripsi tugas. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik. op. peraturan perundang-undangan.

Depdiknas. mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. 48-58). Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. guru.doc 129 . d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa. e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative). Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas. memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. penggunaan sumber-sumber daya. Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. 9-10). tenaga administrasi. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka. 8. peran warga sekolah. hh. hakikat aktivitas-aktivitas. orang tua. memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. hubungan interperonal. strategi-strategi manajemen. berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. khususnya dari aspek manusia. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. hh. Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah. c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen. 2001. Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul.

3. afiliasi sosial. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab. aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang. konsep organisasi telah berubah. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. 2. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. keyakinan dan nilai-nilai sekolah. diluar keuntungan ekonomi. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang. Strategi-strategi manajemen. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. personel. MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. Konsep organisasi sekolah. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. a. pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah.doc 130 . metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam organisasi modern. hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat. Misi sekolah. Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal. tumbuh dan menjalani perkembangan. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.1. Selain itu fasilitas. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. misalnya produk yang berkualitas. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama. Isi. organisasi. b. Mereka mengejar interaksi. kebutuhan dan situasi sekolah.

e. mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. Diperlukan intelegensi. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. Gaya pengambilan keputusan. dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. c. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. orang tua. manusia. memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. legitimasi. (4). Dengan demikian. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah. pendidikan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). Keterampilan-keterampilan manajemen. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan.Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru. 4. Penggunaan sumber-sumber daya. Gaya kepemimpinan. d.ditinkatkan secara terus menerus. Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah.doc 131 . kompleks dan sulit. (2). keterampilan mengelola konflik. MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah. f. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. referensi dan keahlian. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. Pengunaan kekuasaan. French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. Partisipasi atau keterlibatan guru. simbolik dan budaya. imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya. Partisipasi guru. Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah. Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. simbolik dan budaya. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. paksaan. menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. (3).

a. Peran Para Administrator. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. misi sekolah. c. pengambil keputusan dan pengimplementasi. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. 6. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. Peran Sekolah. Perbedaan-perbedaan peran. guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. Dalam MBS. bekerjasama. inisiatif. 5. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme. hakikat aktivitas sekolah. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. memecahkan masalah. Dalam MBS.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. orang tua dari yang semula pasif. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah.doc 132 . Hubungan antar manusia. e. Peran Para Orang Tua. Amerika Serikat dan Hong Kong. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. mendidik siswa secara kooperatif. guru. Peran Para Guru. b. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. Peran Departemen Pendidikan. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. d. dan gaya penggunaan sumber daya. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan. administrator. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. Australia. Kanada. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah.

Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. loma Bahasa Inggris. Output yang diharapkan. cerdas dan dinamis. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Memiliki kebijakan. cara berfikir kritis. Kualitas para administrator. Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. 2. kreatif. Fisika. nalar. 8. toleransi. a. 7. Input pendidikan yang meliputi: a. d. Sekolah memiliki akuntabilitas. Dalam MBS. f. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah. rasional. untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya. Kepemimpinan sekolah yang kuat. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah.doc 133 . Sumberdaya tersedia dan siap. g. kejujuran. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi. kelompok. Indikator-indikator efektivitas. b. h. Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. dan sasaran mutu yang jelas. Singkatnya. tujuan. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. lomba karya ilmiah remaja. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. c. cit. 11-20). Proses. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah. kerjasama yang baik. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. j. Metematika. prestasi olah raga. individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. solidaritas yang tinggi. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. deduktif dan ilmiah. hh. kerajinan. i. op. k. b. induktif. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. n. e. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. harga diri. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa.saling menguntungkan.l. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. c. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. proses dan input (Depdiknas. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. 3. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kesenian dan kepramukaan.m. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar. kedisiplinan. 1. Sekolah memiliki budaya mutu. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. Komunikasi yang baik.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Costa. dan menyenangkan (PAIKEM). Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya.B. 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. 1997. Personnel Management. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah.Hill Book Company. Jakarta. (2002). T. Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. Jakarta: Gunung Agung. Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware. Cynthia D. Input manajemen. kreatif. Dasar-Dasar Supervisi.. Singapore:Prentice Hall. Caldwell. Manajemen Berbasis Sekolah.. Fokus pada pelanggan. Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. Manajemen Berbasis Sekolah. Graw. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. S. & Hayward. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1. 1977. 2000. John. Russ S. Beyond the Self-Managing School. J. J. Flippo. T. M. 2008 Anonim. Kepemimpinan dan Komunikasi. J. London: Paul Chapman Publishing. (1998).2001. & Wilsdon. DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . Pendidikan Network Jakarta Balitbank. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono. The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp. and Adair. _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. Domingo. Depdiknas Jakarta Bentley. efektif. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . d. San Francisco: Jossey-Bass Publishers. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi. (2005). e. Jakarta. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. SMA /M. J. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka. Depdiknas Jakarta .html American Association of School Administrators. San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas. P. (Eds. London: Falmer Press.doc 134 . K. The Adaptive State: London: Demos.ed. 1984. Cocheu Ted. National Association of Elementary School Principals. B. hhtp://www. Rene T. & Bell. London: Falmer Press. McCauley. Arikunto. D. (2004). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Jakarta Agus Dharma. L. Edwin B. sixth edition. Kepemimpinan yang Memotivasi. Caldwell. Memiliki harapan prestasi yang tinggi.). f. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. Puspendik. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. Jakarta:Depdiknas. 12 Konsep Kepemimpinan.. B. 2004. Beyond Leadership. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah. Effendy. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan. 2. B. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. New York: Mc. 21-40 ). & Spinks. inovatif. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk . J. Vincent. Ellen Van Velsor. (2004). Onong Uchjana. 2001. Gramedia Pustaka Utama. SMPMTs dan. 1993. (1998). Caldwell. B. Moxley. 1998. Elex Media Komputindo. S. In Bush. 2003.tinggi.

2003. third edition. Miftah Thoha. dan Curphy Gordon J. (2009). 017. Jakarta: Ghalia Indonesia. Brown.Malang: Taroda. & Segal. R. edisi-5. Boston. 11(4). Ricky dan Ebert J. John E. Ginnett Robert C. 1996.18. D. cet ke 2 Ouchi. N.doc 135 . Manajemen edisi 2. G.). In Mok. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves. 1999. Y. Fullan. Nuril Huda. (2003). 017. W. 21-38).. National Association of Secondary School Principals. Organisasi dan Motivasi.http://www. Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. Hong Kong: Comparative Education Research Centre. Konflik.ianr.H. Barbuto dan Lance L. D. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis. 1999. Handoko. Education Epidemic. New Jersey: Prentice Hall International Inc. The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. L. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE). 1995). 453-474. Strategi. London: Demos Hughes Richard L. Jakarta: PT. & Kluwer Academic Publishers.. Leadership... Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries. 1982.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. John. Hadari Nawawi dan M. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟. (2000). 1988. dan Implementasi. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.2005. The University of Hong Kong. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Business.unl. Massachusetts: Harvard Business School Press. (Ed. Jakarta: PT. Nurkolis. M. (2003).. Inc). Kerjasama. Lunenburg & Allan C. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools.16. New York: Simon & Schuster. Ornstein. K. dan Kinerja (Kontemporer & Islam). Jesson.13. Griffin W. Singapore: Irwin/McGraw-Hill. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito. 2002. Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya. (2010). Grasindo. M. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003). Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp. T.Fred C. Santiago: UNESCO. 1999. & Watson. Martini Hadari. Arlington. & Rachmawati. Yogyakarta: BPFE Hasibuan. Alex. (2008). (2003). School-Based Management: A Strategy for Better Learning. London: Specialist Schools Trust. School Effectiveness and School Improvement.edu/pubs /consumered/g1397. Mariyana. 1999. LLECE (2002). Masalah. G. Manajemen Berbasis Sekolah.htm. 1999. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Ronald. Virginia. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Desentralisasi Pendidikan. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia. Y. London: PMDU. Leading Change. Motivating Your Employees. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth.. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. Bandung: Remaja Rosdakarya. Kotter. Leung. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12. Kusnadi. Manajemen Berbasis Sekolah. Nugraha. A.H. Hani. E.

A. Yogyakarta: PPS... Ph. Ross. HAA. Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. & Friedman. Wilkes. (1999). Saydam. M. (2003). G. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. K. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung . Bandung: Remaja Rosdakarya . David Peterson.. 1971 Designing Training & Development System. A. National Association of Elementary School Principals.UNY Terecy WR.D. dan Menyenangkan.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011. Jakarta: Djambatan Subakir. 2001. UNESCO. Efektif..American Association of School Administrators. T.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. S. Surabaya: Penerbit SIC. PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Syah. A. N. School-Based Management and Student Performance. Yamin. Diambil dari: http://tarmizi. amirican Management Assosiation Inc. Tilaar....). Israel: Ministry of Education. Prof. & Levacic.(2205) Peraturan Pemerintah RI No.. and National Association of Secondary School Principals. A. R. (1999). I. Pembelajaran Aktif. Inovatif.. G.. (1998). Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru.... (2009). dan Sapari. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (Eds.Ramadhan.. Virginia: 1988. Paris: International Institute for Educational Planning. 2008. (2001). A.wordpress. Arlington. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro.doc 136 . Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. School-based management: An International Perspective. 2010. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Manajemen Berbasis Sekolah. (2005). M. Glasgow: HarperCollins Publishers. Kreatif. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools. Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. Jakarta Suyata.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful