P. 1
Pengembangan Kepemimpinan Dalam Implementasi Mbs

Pengembangan Kepemimpinan Dalam Implementasi Mbs

|Views: 174|Likes:
Published by dar81b

More info:

Published by: dar81b on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2013

pdf

text

original

PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS (MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

)

KARYA ILMIAH
Hasil Kajian Teori Karya Pengembanagan Profesi untuk Pemenuhan Persyaratan Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru

DISUSUN OLEH H. SARTONO Pembina Tingkat I IV/b NIP. 19601231 1986011055

SMA NEGERI 2 MATARAM

2011

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

1

KATA PENGANTAR... Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, Karya Tulis Ilmiyah yang merupakan Kajian Teori Hasil Karya Pengembangan Profesi ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan untuk pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru dan dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani, memiliki kecakapan hidup yang handal serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, sehingga secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu dan tidak semua guru dapat berbuat sesuai dengan keadaan ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. Harapan agar kiranya Karya Tulis Ilmiyah ini dapat diterima pemenuhan persyaratan penetapan Angka Kredit Jabatan Guru juga juga sebagai usaha untuk pengembangan

pendididkan pada umumnya melalui upaya yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

2

Ketua

Mataram, 17 September 2011. Sekertaris

Drs. HAIRUDDIN AHMAD Pembina IV/a NIP 19590107 198103 1 012

H SARTONO, S.Pd Pembina Tingkat I IV/b NIP. 196012311986011055

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

3

doc 4 . Keywords: Leadership. The whole components that are principals. School-Based Management. The idea to implement the MBS approach emerged along with the application of local authonomy and educational decentralisation as a new paradigm in school operation. teachers.Abstrak The implementation of UU Number 14 Year 2005 related to Teachers and Lecturers and UU Number 20 Year 2003 about National Educational System. school committees and society should prepare themselves and actively involved in improving educational qualities. The fact nowadays shows that schools are only a tool for center government’s bureaucracy to conduct educational politics matters. Principals are actors who playing the most significant roles as a leader in MBS to manifest vision to be a feasible mission for improving services and schools’ qualities. With the use of MBS approach. brought the implication that all institution related to those UU automathically should implement it according to the rules within the UU. school institution as an operational unit which manage everything directly. In order to conduct school effectively. the school needs an effective leadership as well. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. Pengetahuan yang luas. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan persoalan dimaksud yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi. termasuk pendidikan. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial. Dalam Era Globalisasi ini. yaitu: (a) keterampilan teknis. murah hati. Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. Masalah Era Globalisasi Bangsa Indonesia harus menghadapi Globalisasi dari terjadinya revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan. sosial dan budaya. disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: Kepribadian yang kuat. Keadaan ini membawa akibat tataaturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. memimpin rapat. berani. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. telah dimunculkan juga Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment). Memahami tujuan pendidikan dengan baik. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. menggairahkan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. memotivasi. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. dan memiliki kepekaan sosial. ekonomi. dan produktif).doc 5 . pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut.BAB I PENDAHULUAN A. bersemangat. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. politik. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam pelaksanaannya. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. LATAR BELAKANG MASALAH 1. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

” “But Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan menggunakan kapasitas huhungan untuk memengaruhi perubahan satuan pendidikan. yaitu: a) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Hal ini terlihat dalam penerapan gaya kepemimpinannya dan dalam beberapa hal pengembangan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi segala permasalahan secara sistematis. Tanpa itu semua satuan pendidikan seolah berjalan tanpa arah.2. Lebih jauh dinyatakan bahwa ada tiga permasalahan penting yang menjadi latar belakang pengembangan kepemimpinan ini. Russ . c) Individu yang belum dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Bennis and Nanus (1995). Menurut penadapat (Cynthia D.doc 6 . Di beberapa satuan pendidikan bisa jadi pengembangan kepemimpinan direfleksikan oleh para pemimpin dalam mengelola akan persepsi tentang beragam isu. Moxley. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. fungsional. pengetahuan (cognizance). 1998:4) bahwa perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. dan mengkoordinasi orang lain. dituntut memiliki program pengembangan kepemimpinan yang unggul yang mampu menggalang jejaring hubungan. Masalah Pengembangan Kepemimpinan Kecenderungan pengembangan kepemimpinan di suatu satuan organisasi termasuk satuan pendidikan ditujukan untuk mempercepat para bawahannya masuk ke dalam suatu lingkungan baru dimana mereka dapat mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya. tetangga dimana mereka bermasyarakat. Pertanyaannya adalah apakah satuan pendidikan khususnya SMA sudah melakukan seperti itu? Tidak jarang ditemukan bahwa program pengembangan kepemimpinan telah gagal untuk memasukkan unsur kemampuan dalam membangun suatu nilai hubungan bisnis yang strategik. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu b) Individu yang belum nanpu secara efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. oragnisasi dimana mereka bekerja. Karena setiap individu dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. membangun. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Dan semua dikaitkan dengan strategi satuan pendidikan. berikut: “Is experience the best teacher?” “Can I develop as a leader from experience?”. dan manajemen hubungan untuk memengaruhi orang lain kurang diprogramkan. McCauley. adalah pengembangan langkah langkah strategis dari Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Dimana Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. pemeliharaan personal. “Some people have said that experience is the best teacher. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. tumbuh dan berubah Banyak kalangan para pemimpin belum mampu melaksanakan pengembangan langkah langkah strategis dalam Pengembangan kepemimpinan oleh karena itu mencermati dialog antara the manager and the sage dalam buku “Handbook of Leadership Development”. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Ellen Van Velsor. mengarahkan. Ketika persaingan global cenderung semakin tinggi. Dengan kata lain bagaimana setiap orang terutama yang potensial diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan hubungan dalam memengaruhi. Permasalahan yang timbul terus menerus.

banyak orang yang menekankan manajemen karena lebih mudah diajarkan dibanding dengan kepemimpinan. Selama beberapa dekade. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.” the sage responded. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. apabila dikelola dengan manajemen yang baik. kepemimpinan tidak akan ada juga. (4) Referent power. (b). Walaupun demikian. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. “So experience is not the best teacher?”. Dengan menekankan pada aspek manajemen. Pendapat ini tidak salah seluruhnya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. (2) Coercive power. Dari pokok pokok Permasalahan yang timbul tersebut secara langsung maupun tidak langsung bahwa pengembangan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. (5) Expert power. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1) Reward power. dan dukungan. “the experiences that stretch you. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan faktor yang penting dalam pengembangan kepemimpinan. Sebagaimana didinyatakan oleh Anderson (1988). Sebuah organisasi akan efektif. akan tetapi sebenarnya faktor kepemimpinan-lah yang mampu menggerakkan organisasi menjadi efektif. Faktor keturunan ternyata hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi kepemimpinan seseorang. tanpa adanya karyawan atau bawahan. “. that force you to develop new abilities if you are going to survive and succeed” (1998:1). “It is just that not every experience offers important leadership lessons”. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. (c) Implikasi ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity).some experiences don’t teach”. kunci utama pengembangan kepemimpinan adalah penilaian. tantangan.doc 7 . sebagian besar karena faktor pengalaman sesudah dewasa. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". yaitu para karyawan atau bawahan (followers). banyak persoalan yang tidak terlacak dan akan menimbulkan arogansi. Dan lebih rinci dinyatakan menurut French dan Raven (1968). “So where do I learn ? What experiences will be help to me ?” “It is the experiences that challenge you that are development. “Not exaltly that. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Berdasar penelitian pemikiran tersebut. walaupun tidak semua pengalaman dapat menjadi guru yang baik. reputasinya atau karismanya. pengetahuan (cognizance). sementara para manajemen akan menjalankan tugasnya agar lebih efisien. Hal tersebut menyebabkan transformasi organisasi menjadi semakin sulit. Implikasi Kedua dimana seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Antara lain dimaksudkan adalah : (a) Implikasi pertama: melibatkan orang atau pihak lain. Yang berarti bahwa pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya.

Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Dengan kekuasaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masing anggota.5 Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. tetapi tidak sama dengan manajemen.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan. Selanjutnya hampir disetiap organisasi termasuk didalamnya organisasi Kependidikan timbul persoalan bahwa kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa seorang pemimpin harapkan. kedua konsep tersebut berbeda. menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. Selanjutnya Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan serta lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. Idealnya. penorganisasian . pengawasan dan evaluasi. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen. karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Dan ada juga pola kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien. selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. mempengaruhi bawahan guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan.kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif. menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Perasalahan lainnya adalah hal yang menyangkut dan melekat pada pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan.doc 8 .

3. 2000). Oleh sebab itu.doc 9 . dimana Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya serius yang rumit. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. pengadaan buku dan alat pelajaran. penghargaan. legitimasi. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. referensi. Sebagian sekolah. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan. Namun demikian.pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. keahlian. terutama di kota-kota. dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Sehingga diberlakukannya MBS. Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS). Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. sebagamana menurut pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah. informasi. Masalah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu permasalahan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah permasalahan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. dan hubungan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. yaitu . Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. yaitu kekuasaan paksaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. 2000: iii). tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Berdasarkan masalah di atas. maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Kemudian munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti.

(4. kebijakan. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersamasama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah.doc 10 . Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. kurikulum. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Tentu saja dalam mencermati dengan seksama bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Komite Sekolah. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi kedaerahan. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. di lain sisi pemerintah daerah maupun sekolah masih tertanam mind set sentralistik seperti yang selama ini berlangsung menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. memecahkan masalah-masalah umum. Menurut Miftah Thoha (1999). Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. manfaat. Kendati Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna pemberlakuan desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan.) Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. para guru. (b) Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia ini. di satu sisi memberikan keleluasaan pada daerah tingkat II maupun sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. masalah-masalah dalam penerapannya. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid. (2.MBS. Manajemen Berbasis Sekolah ( School Based Management). Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. dan akuntabilitas namun timbullah persoalan yang paling mendasar yaitu : (a) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis (3). Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Beberapa perubahan tersebut antara lain: (1). standar. Namun. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Kepala Sekolah.) Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global.

Namun untuk mewujudkan harapan terhadap sekolah dan persekolahan tersebut. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Kemudian diharapkan mampu menjawab tantangan jaman dan ekpektasi negara. pendidikan dasar. Desentralisasi dan otonomi merupakan suatu given pada saat ini. 20//2003 Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. Termasuk didalamnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan konsep pengelolaan sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan. (e) Desentralisasi pendidikan Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah.doc 11 . yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan.berkonotasi negatif. Namun belum sepenuhnya menjadi faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan karena adanya : Tuntutan orangtua. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal). dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Kendati muncul anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. menghambat kreativitas. dan perhimpunan guru terus menerus turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. maka masih dibutuhkan beberapa faktor pendukung lainnya. masyarakat. 20//2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. antara lain adalah faktor pemimpin atau kepemimpinan yang mampu mengarahkan sebuah visi menjadi misi bersama. para legislator. serta keluarga terhadap sekolah. (c) Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat dalam sistem kependidikan Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. menghambat kreativitas. Selanjutnya masalah yang krusial dalam implementasi MBS adalah pengaruh dari Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. pebisnis. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hanyalah semboyan belaka bahwa desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. (d) Diberlakukannya Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. sementara sebagian besar mind set para pemimpin di daerah maupun instansi daerah kadang masih bersifat sentralistik. kelompok masyarakat.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal).

Akibatnya. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. 2003). dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. maka Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. apalagi pusat. Pendelegasian wewenang c.atau masyarakat. Pada kenyataannya selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Idealnya adalah faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan adalah Tuntutan orangtua. Melalui keterlibatan guru. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan yang tadinya di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal akan tetapi berpindah tempat di tingkat pemerintah daerah atau sebagian di instansi pemerintahan daerah dan sekolah hanya menerima apa adanya. kelompok masyarakat. sekolah (Agus Dharma. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). (f) Otoritas Birokrasi Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. karena sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan Negara. yaitu: a. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. Akan tetapi seringkali munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. pebisnis. orang tua. Manajemen berbasis lokal b. (h) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Pendekatan MBS ini. para legislator. Lebih mendalam lagi bahwa pada era desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. Dengan demikian. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat didelegasikan ke daerah dan kepala sekolah serta guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing di birokrasi pemerintahan daerah menginginkan bagian. Jelaslah bahwa dengan pendekatan MBS tersebut. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. (g) Keterbatasan Pengelolaan Sekolah Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Inovasi kurikulum. dipandang bahwa para kepala sekolah merasa terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Sehingga Desentralisasi pendidikan tidak dapat tiga pilar utamanya yang mencakup tiga hal. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. ini yang merupakan upaya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan pemerintahan daerah terselubung dalam kancah penguasa daerah yang dengan rutinitas urusan birokrasi menumpulkan kreativitas berinovasi. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan dan tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam.doc 12 . kepegawaian.

supervisor. kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. inovator dan motivator pendidikan (Emaslim). DASAR PEMIKIRAN Sebagai pokok pokok pemikiran dan acuan serta rujukan pendahuluan penting dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berlandaskan : 1. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri dan terlibat aktif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Permasalahan yang muncul kemudian adalah siapakah yang harus berperan memimpin dan bagaimanakah mengembangkan kepemimpinan untuk mewujudkan konsep ideal kebijakan MBS tersebut ?. pengorganisasian. para guru. Pimpinan sekolah disi lain harus benar benar memperhatikan iklim sekolah yang kondusif. kewajiban sekolah. saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. nyaman dan tertib. dan berlanjut terjadi. serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan. Kendati kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel. menciptakan kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. Rasionalisasi Pengembanghan Kepemimpinan dalam kaitaitannya dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. Beberapa perubahan tersebut antara lain: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.institusi sekolah sebagai unit operasional secara langsung menangani segala hal yang berkaitan mempunyai peran yang sangat besar. Dan tidak akan dapat diimplementasikan apabila tidak didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih. Kemudian partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. standar. namun hanya implementasi isapan jempol saja dimana Seluruh komponen persekolahan yakni kepala sekolah. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah. pengorganisasian. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). kurikulum. kebijakan. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna apabila desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan terkait tujuan. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator. dan akuntabilitas Selanjutnya Transformasi sekolah diperoleh ketika perubahan yang signifikan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan.Namun kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah. Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan pengelolaan Manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah.doc 13 . Menurut Miftah Thoha (1999). otonomi sekolah. sistematik. Sehingga proses pembelajaran tidak akan dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. B. manajer. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional dalam Pelaksanaan implementasi MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. administratior.

para legislator. b. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. pengorganisasian (organising). kelompok masyarakat. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. pengambilan keputusan. menghambat kreativitas. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. stimulus dan koordinasi personil.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal).doc 14 . Lebih jauh lagi bahwa Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. perilaku kepemimpinan. Program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. (Nuril Huda. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. serta penentuan pengembangan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat.a. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Selanjutnya dinyatakan para peneliti bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. penyiapan alokasi sumber daya. 1999) Pada era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan muncul kebijakan program dari Departemen Pendidikan Nasional. penciptaan iklim organisasi yang kondusif. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. melakukan perencanaan. Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning). pebisnis. d. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi. Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

harapan ini akan bias dicapai dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan di tanah air secara nasional di antaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah dan bantuan dana operasional sekolah di semua tingkat dan satuan pendidikan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. proses pembelajaran. terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. fasilitas. manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. Yang implikasinya diasumsikan bahwa Mutu pendidikan Indonesia dalam berbagai pandangan lapisan masyarakat hingga sekarang ini disimpulkan dalam kategori rendah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Oleh karena itu. para legislator. Dan Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan. * anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. pengajaran sumber belajar. Timbulnya pandangan seperti ini dipengaruhi oleh faktor kondisi realita yang dialami masing-masing kelompok masyarakat melalui jumlah lulusan yang belum banyak diserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia.fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan. mandiri. serta sistem administrasi secara keseluruhan. dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS). Kondisi seperti ini sudah barang tentu mempunyai konsekuensi terhadap paradigma pendidikan Indonesia untuk dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menyikapi tuntutan global dimasa mendatang seperti yang dikemukakan Syarifuddin (2002: 8) bahwa setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetensi global. demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing. Usaha lain yang tergolong universal seperti yang dikemukakan Rahman H. pebisnis. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah merekamereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. Namun penomena telah terjadi akibat adanya tuntutan orangtua. berakhlak mulia. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. tangguh. kurikulum. khususnya pendidikan dasar dan menengah.Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. (2005: 2) sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan disentralisasi. amanat dalam Undang-undang tersebut harus menjadi dasar dan arah dalam pengembangan sekolah masa depan. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia. profesionalisme tenaga kependidikan. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. Masyarakat pada dasarnya telah menyadari pada kondisi era globalisasi sekarang ini bahwa mutu pendidikan sudah menjadi bahagian yang prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. kreatif. Kehidupan masyarakat di semua benua hingga pada abad dua puluh satu ini telah mengalami perubahan dramatis dengan berlombalomba memasuki era informasi teknologi. Disatu sisi upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan. ini berarti bahwa sekolah harus dapat mengoptimalkan kinerjanya. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif.doc 15 . kelompok masyarakat.

doc 16 . kepala sekolah.(2) UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.(3) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (4) UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (5) PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah (6) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Landasan hukum ini sangatlah tepat bahwa MBS diimplementasikan dan diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. 2. tenaga kependikan. (12) Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan (13) Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana (17) Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (18) Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (19) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (20) 17. Demikian juga seperti tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permen Diknas No 23 Tahun 2006 yaitu : Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. nilai agama.16. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Selanjutnya PP 19/2005 BAB III pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal. namun fenomena yang berkembang di masyarakat pada saat ini bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis sekolah dapat secara optimal dilakukan oleh kepala sekolah. (8) Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (7) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. Hal ini disebabkan Gaya kepemimpinan dari kepala sekolah itu sendiri dikembangkan dalm beberapa gaya kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan di tingkat sekolah. 20/2003 BAB XIV pasal 50 ayat (5) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB III pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal. pengorganisasian (organizing). A.Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). Landasan Yuridis/ Hukum Landasan Hukum dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah : (1) UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam UU No.Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. siswa. bangsa dan Negara. nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Undang-Undang Republik Indonesia No.18. serta pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. orang tua. 2002).(9) Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 (10 ) Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 (11) Permendiknas nomor 12. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. Dalam konteks ini. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar.13.

demokratis. sikap. (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global.Meningkatkan kecerdasan.. siswa. Dalam konteks ini. (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis. A. pengalaman. Sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu tentang School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dengan demikian. bangsa dan Negara. pemerintah dan pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis sekolah . Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Malik dalam Ibtisam Abu-Duhou. MBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik. Akan tetapi tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan. regional. keterampilan. sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. orang tua. (2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global. Sedangkan misinya adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. Satuan pendidikan yang menyadari bahwa tantangan Nyata maka dalam menjalankan fungsinya berdasarkan landasan hukum tersebut adalah : 1. kepala sekolah. Isi pokok pokok pikiran didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas. pengetahuan. memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran 3. MBS diterapkan bertujuan untuk membangun sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi. adaptif dan aspiratif. dan internasional. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. tenaga kependikan. akhlak mulia. 2002). berdasarkan pemikiran dan perundang-undangan tersebut di atas maka di SMA perlu dikembangkan Pendidikan Berbasis Sekolah. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan 2. (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional. (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengambilan keputusan harus memperhatikan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan lokal. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah (Fadjar. dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global.doc 17 . (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. kepribadian. Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Selanjutnya PP 19 Tahun 2005 pada penjelasan pasal 91 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri 7. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. dan standar penilaian pendidikan). Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. terkait dengan hal tersebut. standar kompetensi lulusan. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas 8. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru 5. PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan. siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. standar sarana dan prasarana. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. standar pembiayaan. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi.4.doc 18 . Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi. maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. standar proses. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. lingkungan dan sarana dan prasarana. laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. standar pendidik dan tenaga kependidikan. yaitu . Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus. jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit. Ruang belajar yang nyaman. standar pengelolaan. dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas. tenaga pendidik. siswa. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik 6. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes 9.

intelektual dan emosional.saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram. Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang. Kemampuan ini berupa pengetahuan dan/atau keterampilan. termasuk pendidik. Semua sekolah senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. Pendidikan di sekolah harus mampu memanfaatkan potensi siswa. Manusia memiliki potensi. menurut Suderadjat ( 2005 ). Kualitas pembelajaran dilihat pada interaksi peserta didik dengan sumber belajar. Sebagaimana Menurut Quisumbing (2003). Pendidikan merupakan pemberdayaan siswa ( student empowerment) sehingga mereka memiliki fisik manual. Dan dengan Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. mengganti simulasi yang berbahaya.maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif . untuk memberi ketenteraman kepada masyarakat. minat. sedangkan sebagai lembaga ekonomi. 3. dan kemampuan. sedangkan menantang berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat. aman. Dan tidak kalah pentingnya adalah Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya.doc 19 . 1762). kapasitas. serta prilaku yang diterima masyarakat. Landasan Pedagogis Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan potensi dan minat peserta didik. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan. minat. kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott. dan memiliki keunikan. perluasan pemeratan pelatihan Guru. Fink & Earl. dan melalui pendidikan potensi tersebut dapat diaktualisasikan menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat. dan sentosa. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan. bakat. Sebagai lembaga sosial. kualitas pendidikan bersifat dinamis. perspektif. Menurut Rousseau (Emile. SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu unit lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. Selanjutnya faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat. Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. pengalaman. Jadi pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 2003). latar belakang. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan. sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat. sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media. Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang.

masyarakat. 2001). kreatif. (Pasal 4). menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. Transparansi manajemen. dan perilaku yang positif” Bagi Bangsa Indonesia. efektif. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. c. sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki. dan menyenangkan (PAKEM).d. mandiri. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah menciptakan suasana. bangsa dan negara. fungsi dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. iklim. cakap. Sekolah dalam hal ini adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Peningkatan kompetensi guru. Pembelajaran aktif. Dua dari keempat pilar di atas.Pendidikan yang maju merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. kreatif. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. menurut Yamin (2009:66) “Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan memiliki peranan strategis. (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan. terampil. Rintisan penerapan MBS mengacu kepada empat pilar (Kristanto. kecerdasan. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. Oleh karena itu. Untuk dapat berkembang dengan optimal. yaitu: a. akhlak mulia. kepribadian. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. butir kedua dan ketiga. pendidikan dipandang sebagai: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. kreatif. b.20/2003) Selanjutnya. berakhlak mulia. Pendidikan berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dengan indikator kualifikasi akli. sehat. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. inovatif. Dukungan masyarakat. dalam Subakir & Supari. Pendidikan yang maju menjamin terwujudnya generasi pembangun bangsa yang maju pula. pendidikan merupakan upaya mewujudkan salah satu tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. berilmu. dan. dalam undang-undang yang sama. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. langkah-langkah tersebut telah mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu dari 132 sekolah model di seluruh Indonesia yang ditetapkan pemerintah melalui SK Direktur Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010.doc 20 . Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. 2001). pengendalian diri. serta memiliki sikap. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut UU No. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan.

Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menyejukkan bagi semua SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi. maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis 4. Secara umum bertujuan Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram. mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah : UU No. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. aman dan tertib. Mewujudkan temwork yang kompak. lingkungan belajar yang paling utama. dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah :dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah.`Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. seperti : budaya mutu. UU No. Dalam hal ini sekolah sebagai penyelenggara pendidikan nasional berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut. Landasan Operasional Landasan operasional dari Karya Tulis Ilmiah ini sebagamana implementasi dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah . 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . inovatif. Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis. bertanggung jawab. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan. Landasan Operasional dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. disiplin. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. UU No. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan dinamis. Misi. kejelasan visi dan misi. UU No. dengan memperhatikan halhal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional . Mengembangkan komunikasi yang baik. Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan/iklim sekolah. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. cerdas. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja.Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib.doc 21 . partisipasi warga. kreatif. aspiratif. melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. budaya progresif.sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar. demokratis. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Dan desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan orgnisasi. Melaksanakan keterbukaan manajemen.

guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran. guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia.memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah.” Kemudian Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). dan pemerintah. Manajemen Kesiswaan. Lebih luas lagi landasan operasional pembelajaran bahwa Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Karenanya sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya it u“ (Mariyana. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. Manajemen Tenaga Kependidikan. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. inovatif. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. kreatif. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Selanjutnya Pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. ia (hal. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan in dividu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. (c). terutama dengan pengajar atau guru.” Dalam pelaksanaannya. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. telah dapat diwujudkan. efektif.doc 22 . 2001). rapi. Berkaitan dengan ini. (b). yang meliputi guru. termasuk dalam bidang pendidikan. (f). Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. kreatif. berkreasi. masyarakat. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. efektif. Sehubungan dengan hal itu. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UndangUndang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. dan menyenangkan (PAKEM). Untuk mewujudkan hal ini. (e). dan. dan menyenangkan (PAIKEM). Manajemen Layanan Khusus. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. (d). Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. (g). serta komite sekolah. Dalam manajemen sarana dan prasarana.

Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran.pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. tape recorder. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. cassette recorder. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. b) Media Audial : radio. menantang. diagram. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Penyediaan Media Pembelajaran digunakan sebagai alat Pembelajaran yang aktif. dan bahan ajar. dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. sehingga terjadi proses belajar. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa . piringan audio. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . PAIKEM dalam Proses Pembelajaran secara operasional bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. kreatif. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. in focus dan sejenisnya. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. over head projektor (OHP). diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. chart. a) Media Visual : grafik. kreativitas. kartun. inovatif. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. DVD. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. Menurut Ramadhan (2008:5). diantaranya . Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. efektif. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. dan kemandirian sesuai dengan bakat. bagan.doc 23 .” Dengan demikian. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. laboratorium bahasa. penerapan PAIKEM sangat tepat. Media Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. c) Projected still media : slide. menyenangkan. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Menurut Djamarah (2005:212). 2011: 76). dan sejenisnya. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. seperti radio. komik. pengajar. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. VTR). tulisan dan suara yang direkam. realia. Mengajar. komputer dan sejenisnya. gambar bergerak atau tidak. d) Projected motion media : film. menyenangkan. inspiratif. untuk mengungkapkan gagasannya. Terdapat berbagai jenis media belajar. video (VCD. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. poster. televisi. minat. termasuk cara belajar kelompok. dan cocok bagi siswa. pada intinya. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta.

Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Menurut Djamarah (2005:32). si pembelajar atau belum. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). cetak suara. competency atau competence. Untuk menarik minat pembelajar. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. estetika juga merupakan sebuah kriteria. “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. dan (b) audio visual gerak. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa (Darhim. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. 1993:10). Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Media audio-visual. cetakan. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain.visual. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar.doc 24 . Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. di sekolah maupun di luar sekolah. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. pengaruh yang ditimbulkan. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Kreteria pertamanya adalah biaya. motivasi. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). keringkasan. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. kemampuan untuk dirubah. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. 327). Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. antara lain: kompetensi. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. film rangkai suara. waktu dan tenaga penyiapan. lingkungan kerja fisik maupun non fisik.“ Kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. dan kedisiplinan. Sehubungan dengan hal itu. silde (film bingkai) foto. kecocokan dengan ukuran kelas. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. gambar atau lukisan. Secara operasional bahwa Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. 1994:78-79). Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. baik secara individual maupun klasikal. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari.

Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. (7). Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. kompetensi social.” Selanjutnya. Mengenal siswa secara mendalam. (2). Kompetensi Sosial. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. ketrampilan. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Dan Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran adalah Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). moral. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. (8) Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran (11). (9). dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Berkomunikasi secara efektif. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran.Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. kompetensi. (4). Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum.doc 25 . dan perilaku yang harus dimiliki.Memanfaatkan berbagai media dan sumber Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : (1). dan intelektual. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. kompetensi kepribadian. dihayati. teknologi. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. dan seni melalui pendidikan.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. (5). sertifikat pendidik. empatik. spiritual.Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. dan santun dengan peserta didik. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. sosial.Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. pengembangan bahan ajar. serta perancangan strategi pembelajaran. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. (3). Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa (6). Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. sehat jasmani dan rohani. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran (10). Adapun sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai keterampilan dasar mengajar. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Kompetensi Kepribadian. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. kemahiran. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. dan Kompetensi Profesional .

doc 26 . sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. efektif. dan prosedur penilaian pembelajaran. (3) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan. Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. wakil kepala sekolah.Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. serta mengacu pada tujuan pembelajaran.Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif.belajar. kreatif. affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Mengelola proses pembelajaran. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Pertanggung-jawaban (accountability). Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain pembiayaan operasional/administrasi. aktif. sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. strategi. Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. guru dan staf lainnya). Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Personil sekolah. strategi.Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (1) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu. siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif. Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. strategi. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. dan menyenangkan. (2) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya. Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip. Sub kompetensinya terdiri dari:Menguasai prinsip. Melihat progres pencapain kurikulum. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. Sumber daya. Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. dan prosedur penilaian yang benar. sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah.

KRANGKA PEMECAHAN MASALAH KAJIAN Dari latar belakang masalah. penulis dapatkan beberapa krangka pemecahan masalah antara lain : v Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya ? v Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS ? v Apa & bagaimana cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS ? v Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? v Bagaimana hubungan kepemimpinan dengan MBS? D. E. efisien.kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. dasar pemikiran dan landasan tersbut diatas. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas. RUANG LINGKUP KAJIAN Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai Pengembangan kepempinan dalam Implementasi MBS MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. METODE PENULISAN KAJIAN Dari banyak metode yang penulis ketahui.doc 27 . Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia. sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders). C. Konsekwensi logis dari itu. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. efektif. atau muatan lokal. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis. fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat. TUJUAN PENULISAN KAJIAN Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah salah satu upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas Inovasi diri dalam Pengembangan kepemimpinan yang diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. penulis menggunakan metode kepustakaan. yang penulis uraikan. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu agar Pemimpin/ Kepala Sekolah lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan dalam mengimplementasikan MBS. F. serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini.

yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah.pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). 5) Mengembangkan kepemimpinan dalam model program pemberdayaan sekolah. Konsep Dasar Kepemimpinan (Kepala Sekolah) yang menyangkut tentang : 1. dibahas pula secara lebih spesifik . termasuk masyarakat dan orangtua siswa. yang diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. dalam pelaksanaan pemberlakuan otonomi daerah yang telah beralngsung hingga kini tahun 2011. ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah pada Januari 2001. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sampai dengan sekarang bukanlah waktu yang panjang bagi upaya pelaksanaan yang sempurna bagi pelaksanaan sebuah sistem yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan. dasar dasar pemikiran. Adapun tujuan dari kajian teoritis dalam Penulisan Karya Ilmiah ini adalah membahas secara teoritis tentang “Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”.doc 28 . Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. Gaya Kepemimpinan 4. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah b. fleksibilitas pengelolaan sekolah 3) Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS 4) Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. yang menjadi peranan yang sangat fundamental dalam pengelolaan penyelenggaraan kependidikan di sekolah Hal itu dimaksudkan bahwa kiat melaksanakan pengembangan kepemimpinan dalam manajerial sebagai salah satu upaya pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah pada umumnya dan di sekolah pada khususnya. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Bukan hanya sekedar melakukan implementasi pelatihan MBS. yakni: 1) Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan Implentasi MBS adalah peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. dan akuntabel. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS sebagai upaya mempertegas pelaksanaan Otonomi Daerah. 2) Peningkatan efisiensi. kosep dasar Kepemimpinan dan MBS. Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah. transparan. terinci akan hal hal sebagai berikut : a. maka penulis mencoba mengungkap dan melakukan kajian kajian secara teoritis berdasarkan latarbelakang. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) 2. Model-Model Kepemimpinan antaralain Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) 3. Mengingat begitu pentingnya adanya Pengembangan Kepemimpinan Didalam implementasi MBS oleh penyelenggara pendidikan disekolah.

keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. 8) Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 9) Berkonsentrasi pada tugasnya. guru didorong untuk berinovasi.doc 29 .6) Pengembangan implementasi Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. 7) manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. penyelenggara. mendorong profesionalisme kepala sekolah.

(3) Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. (5) Expert power. yaitu: perencanaan. komunikasi. yaitu: (1) Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu (2) Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya (3) Legitimate power. oragnisasi dimana mereka bekerja. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Moxley. Namun pengembangan kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Dimana fungsi penggerak mencakup kegiatan memotivasi. 1998:4) Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu mengembangkan kepemimpinannya dengan menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. dan seterusnya. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini. pengetahuan (cognizance). kepemimpinan. Ellen Van Velsor. Pengembangan kepemimpinan (leadership development) Pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. pengorganisasian. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Russ .doc 30 . Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. (2) Coercive power. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: (1). dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. (4) Referent power. Selanjutnya Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. tetangga dimana mereka bermasyarakat. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Reward power. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. reputasinya atau karismanya. kedua konsep tersebut berbeda. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Disamping itu juga. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). McCauley. tumbuh dan berubah (Cynthia D. Keberhasilan Pengembangan Kepemimpinan menurut French dan Raven (1968). pelatihan. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). Yang lebih penting lagi bahwa Para pemimpin berhasil mengembangkan kepemimpinannya apabila dapat menggunakan bentukbentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.BAB II DEFINISI KONSEP OPERASIONAL A. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. dan actuating sangat erat kaitannya dengan fungsi fungsi manajemen lainnya. yang dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi.

dan pengawasan. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. Akan tetapi Pengembangan Kepemimpinan tidak terlepas dari kemampuanya karena manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang Kepala Sekolah dalam mengembangkan kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapinya. (2) gaya demokratik (democratic style). Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. kemampuan bawahan. pengorganisasian.doc 31 . cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. dan para pelaksana. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. Pada saat pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. gaya kepemimpinan otokratik Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Pengembangan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena diyakini bahwa manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. susah diatur. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan Pemimpin dengan gaya demokratik cenderung melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. inteligensia. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). pimpinan. dan selalu menjadi trouble maker. Situasi di sini meliputi waktu. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. tuntutan pekerjaan. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. tidak disiplin. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Penampilan fisik. melainkan pada gaya kepemimpinan. teman Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style).namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. para supervisor. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Adapun hal yang menyangkut gaya kepemimpinan Menurut Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. penggerakan. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Tanpa kepemimpinan yang baik. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya.

Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta. Selanjutnya Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Hbungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bekerja di bawah standar yang telah ditentukan. b) Selling (Coaching) Leadership Kecendrungan dari Seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu keputusan. merasa tidak yakin dan kurang percaya diri. serta kematangan bawahan. Berdasarkan pola hubungan tersebut. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur ketergantungan kepada pemimpin. belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang berlaku. Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili sekelompok pekerjaan daripada pribadi.doc 32 . Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas kepemimpinannya yang diterapkan disekolah pada khususnya. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. dan sebaliknya persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa yang seharusnya dikerjakan. mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin. tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas pengembangan kepemimpinannya adalah : a) Telling (Directing/Structuring) Leadership Kecendrungan dari seorang pemimpin/ Kepala Sekolah yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya. dan bagaimana caranya. bahkan dari seseorang yang berada sampai di tingkat paling bawah.sekerja. mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar dapat bekerja dengan lebih baik. maka notasi gaya kepemimpinan Definisi operasional dari pengembangan kepemimpinan (leadership) merupakan manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Pimpinan puncak dalam hal ini Kepala Sekolah harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. c) Participating (Developing/Encouraging) Leadership Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan..dalam situasi dan kondisi bawahannya yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin. Pimpinan puncak adalah Kepala Sekolahn harus mendorong seluruh Guru dan pegawai dan harus menjadi teladan.

00. dan (4) jam 14. Ginnett. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas yang diberikan.00 ketika para pegawai selesai beristirahat. dan Curphy. diberlakukan ketentuan bahwa setiap Guru harus mengisi daftar hadir dengan mengisi materi pembelajaran yang telah tersedian di kelas sesuai menurut jadwal pembelajaran yang di embannya sementara Pegawai Tata Usaha harus mengisi daftar hadir Ketentuan absensi tersebut diatur sebagai berikut: (1) pada pagi hari. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak. tim (group) adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling melakukan interaksi sedemikian rupa sehingga seorang anggota dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh anggota tim yang lain.doc 33 . (2) pada jam 12. Dari kasus tersebut di atas. dan Curphy menambahkan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang banyak untuk berdiskusi dengan bawahan.dalam situasi dan kondisi bawahannya yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja. Menurut Hughes. banyak pegawai yang merasa tidak nyaman namun pada umumnya mematuhi ketentuan yang ada.Dari pengertian tersebut diketahui ada dua aspek yang sangat erat kaitannya dengan studi tentang kepemimpinan. Maka hal tersebut.mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugastugas yang sudah jelas dan rutin dilakukan. pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan. dan (2) para anggota tim saling melakukan interaksi dan saling mempengaruhi. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan pemimpin. situasi dan kondisi bawahannya yang mempunyai motivasi. yaitu: (1) terdapat konsep hubungan timbal balik antar anggotanya. Dengan ketentuan seperti itu.yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang akan diberikan. saat para pegawai akan beristirahat siang. peserta secara berkelompok diminta untuk mendiskusikannya dengan mengacu pada gaya-gaya kepemimpinan tersebut serta mengevaluasi efektivitas dari ketentuan tersebut. mereka tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan.00. Dari pembicaraan para pegawai di selasela kesibukannya. Pemimpin selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang. baik dalam menyampaikan masalah maupun halhal lain yang tidak dapat mereka putuskan. yang dengan demikian arah komunikasi bercorak multidimensional. (3) pada jam 13. daftar hadir ditarik oleh bagian kepegawaian pada jam 08. rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya. Hughes. Ginnett. d) Delegating Leadership Dalam gaya ini. batas waktu paling siang yang masih dapat ditolerir.00 saat berakhirnya jam kerja pada hari itu. Dalam hubungannya dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Seorang kepala di suatu Sekolah Negeri seringkali merasa jengkel karena para Guru ataupun Pegawai Tata Usaha yang sering tidak berada di tempat kerjanya ketika diperlukan. namun karena posisinya sebagai bawahan. Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan. para pegawai sebenarnya merasa keberatan dengan ketentuan tersebut.pemimpin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang.berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas. Kelompok juga diminta memberikan saran-sarannya agar tujuan dapat dicapai dan para pegawai merasa nyaman dalam melaksanakan tugas-tugasnya. mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya masih harus ditingkatkan.

seseorang tidak hanya terbatas ikut serta dalam satu tim. Rendahnya tingkat moralitas (kecintaan pada organisasi) akan berdampak pada tingginya turnover. Manusia. kecuali untuk jangka waktu yang singkat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pegawai yang merasa puas dalam berkerja tidak hanya akan selalu hadir di tempat kerjanya. yaitu melalui: (a) proses intrinsik (orang termotivasi dengan kesenangan). Sebaliknya manajemen akan menanggung biaya yang tinggi jika para pegawainya tidak merasa puas dalam bekerja yang ditandai dengan tingginya tingkat absensi dengan berbagai alasan seperti sakit. sengaja mengulur-ulur waktu kerja. mereka tidak akan banyak mengeluh dan tidak berperilaku negatif seperti banyak menuntut hak. Perilaku orang seperti ini adalah memandang pekerjaannya secara Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.” Barbuto dan Brown mengatakan bahwa dari penelitiannya terhadap pekerja di bidang pertanian menemukan bahwa orang dapat dimotivasi dengan berbagai cara. yaitu : (1) apa yang memperkuat perilaku seseorang. Ebert mengemukakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh dua hal. organisasi tempat mereka bekerja akan mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. namun jarang mencapai kepuasannya. Sebaliknya. (c) konsep-diri eksternal (orang termotivasi oleh nama baik). Adanya kemauan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ini menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. berarti orang itu merasa tidak puas dalam pekerjaannya. berarti orang itu merasa puas dalam pekerjaannya. (2) apa yang mengarahkan perilaku. seseorang yang puas dalam pekerjaannya dapat dipastikan mempunyai moralitas yang tinggi yang ditandai dengan mengarahkan seluruh sikap dan kecintaannya pada pekerjaan/tempatnya bekerja. Sehubungan dengan hal ini maka manajemen (termasuk ketua tim) yang mampu meningkatkan kepuasan kerja dan moralitas para pegawainya dapat dipastikan akan dapat bekerja secara lebih efisien. Pada gilirannya. dan (e) tujuan yang terinternalisasi (orang termotivasi oleh penyebabnya). Apabila satu keinginan telah terpenuhi. Hubungan kemanusiaan ditentukan oleh unsur-unsur kepuasan kerja dan moralitas para anggotanya. akan timbul keinginan lain. dan (3) bagaimana perilaku tersebut dipelihara. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sifat tidak pernah merasa puas. (d) konsep-diri internal (orang termotivasi karena tantangan). tingginya biaya pelatihan.15 Soekamto dan Winataputra mengangkat definisi Morgan bahwa “motivasi” sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. (b) proses buatan (orang termotivasi karena penghargaan-penghargaan). dan apabila keinginan baru tersebut dapat dipenuhi. bersedia bekerja keras dan banyak memberikan sumbangan berharga bagi organisasi. dan rasa malas pergi bekerja. melainkan dapat mengikuti beberapa tim dalam waktu yang bersamaan. yaitu hubungan kemanusiaan (human relations in workplace) dan motivasi para pelaksananya (motivation in the workplace). Tingginya turnover merugikan perusahaan karena terganggunya jadwal/proses produksi. Orang yang termotivasi dengan kesenangan ditandai dengan rasa senang dalam mengerjakan tugas dan bangga dengan pekerjaannya. Pegawai yang puas memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. melainkan akan terus tetap setia ikut serta berpartisipasi di tempat kerjanya.doc 34 . alasan keluarga. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan adanya pegawai yang puas dengan pekerjaannya dan mempunyai moralitas yang tinggi. Demikian pula sebaliknya jika seseorang merasa tidak nyaman dalam bekerja. Kepuasan kerja adalah tingkat kenyamanan seseorang sebagai akibat dari keberhasilan pelaksaanaan tugas-tugas (job satisfaction is the degree of enjoyment people derive from performing their jobs). dan menurunnya produktivitas. dan sebagainya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa jika seseorang merasa nyaman dalam bekerja. Steers dan Porter mengemukakan bahwa pengertian motivasi meliputi tiga hal. sepanjang hidupnya selalu mempunyai keinginan atas sesuatu. akan muncul keinginanlain lagi.

atau berbagai macam imbalan lainnya. karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Teori Klasik dan Saintifik Manajemen adalah Teori klasik tentang motivasi mengatakan bahwa para pegawai akan dengan sendirinya termotivasi dengan uang. mengikuti apa yang dinilainya baik/benar (selfdriven). dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. Teori Motivasi Kontemporer merupakan Teori ini merupakan kelanjutan dari kajian Hawthorne di mana para manajer dan para peneliti memfokuskan perhatiannya pada pentingnya hubungan kemanusiaan dalam memotivasi para karyawannya. Griffin dan Ebert mengatakan bahwa ada atau tidaknya motivasi para pelaksana dapat ditinjau dari tiga sudut teori. Teori ini dikemukakan oleh Frederick Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific Management (1911)18 yang mengusulkan agar perusahaan dan para pegawainya mengambil manfaat dari teori tersebut yang telah diterima secara luas. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Orang seperti ini sangat tertarik atas pujian yang diberikan oleh teman-teman dan atasannya. dan akan menang dalam bersaing. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Teori ini menekankan pada faktor-faktor yang dapat memotivasi para karyawan. Orang yang termotivasi oleh tujuan yang terinternalisasi ditandai oleh kepercayaannya pada penyebab timbulnya pekerjaan itu sendiri (to believe in the cause at work). Pendekatan Taylor tersebut dikenal sebagai saintifik manajemen yang ditindaklanjuti oleh banyak manajer pada awal abad ke-20 dengan mendatangkan banyak pabrik dan menyewa para ahli ke Amerika. (c) teori dua-faktor (twofactor theory). perusahaan akan menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah. (b) model hierarki kebutuhan (the hierarchy of needs model). Orang yang termotivasi dengan penghargaan-penghargaan ditandai dengan ketertarikannya dengan imbalan nyata seperti upah. bonus. Orang seperti ini tidak mau peduli dengan pujian dari pihak luar. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. namun cenderung mengikuti kemauan sendiri. Dengan demikian para pegawai akan memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan. Orang yang termotivasi oleh konsep-diri internal ditandai oleh kebanggaannya atas standar pribadinya dalam menyelesaikan pekerjaan. (2) teori perilaku (behavior theory).santai sekalipun orang lain tidak menyenangi pekerjaan tersebut. yaitu: (1) teori klasik dan saintifik manajemen (classical theory and scientific management). perusahaan untung.Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. Alasan yang dikemukakan Taylor adalah bahwa jika para pegawai termotivasi dengan uang. Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas. antara lain meliputi: (a) model sumberdaya manusia (human resources model). Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan. dan (e) teori ekuitas (equity theory). memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. Orang yang termotivasi oleh konsepdiri eksternal ditandai oleh rasa senang jika dipuji orang lain. karena banyak faktor yang mempengaruhinya.. Kedua gaya kepemimpinan tersebut. Orang seperti ini sangat menghargai nilai-nilai sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan dengan tujuan agar apa yang dikerjakannya sesuai dengan tuntutan dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda.doc 35 . dan bahkan dalam beberapa hal bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan. dan (3) teori motivasi kontemporer (contemporary motivational theories). Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan. mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan. dan perusahaan memberikan uang tersebut. lebih Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. (d) teori harapan (expectancy theory). maka para pegawai akan berproduksi lebih besar.

sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas. kemampuan dan motivasi prestasi bawahan meningkat. Kematangan atau kedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagai keinginan untuk menerima tanggungjawab. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan perkembangan setiap tahap.menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif. karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama dengan orang tadi. Hubungan antara pimpinan dan bawahan bergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah. 2) Kepemimpinan menurut Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampu menerima tanggungjawab yang penuh. Pada tahap dua. Namun kepercayaan dan dukungan pimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untuk berupaya lebih lanjut.doc 36 . dan pada gambar di atas terdapat empat tahap. karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. gaya kepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. Dan pada tahap empat (akhir). (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin dari tiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Least Preferred Co-worker). seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan. (b) tugas rendah dan hubungan rendah. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai. mengendalikan dan mempengaruhi situasi. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian. dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas. ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi. sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. dan (d) tugas tinggi dan hubungan rendah. Sedangkan pada tahap ketiga. berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan. Pengembangan kepemimpinan sebagaimana Beck dan Neil Yeager kemukakan diatas maka di simpulkan sebagai berikut : 1) Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) Secara teori dari Kepemimpinan Situasional adalah dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC. Kepemimpinan diatas.Pada tahap awal. dan bawahan secara aktif mencari tanggungjawab lebih besar. sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter.

(5) manajer menyajikan masalah. gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. (2) manajer menjual keputusan. membuat keputusan. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubungan pemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan dan mengumumkannya. sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuk sukses sebagai pemimpin. dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. percaya kepada bawahan. yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan.doc . Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung. (6) manajer menentukan batas-batas. mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management. dan mendasarkan komunikasi. sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitiveauthoritive). tugas dapat struktur. 3) Kepemimpinan Kontinum (Continum Leadership ) Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa. kekuatan yang ada pada bawahan. (7) manajer membolehkan bawahan dalam batas yang ditetapkan atasan. Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah. dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. 3) Sistem 3. (4) manajer menawarkan keputusan sementara yang masih diubah. Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert. dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. Pemimpin dengan LPC rendah yang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem.dapat menunjukan hubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk. dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum. Dari keempat sistem diatas. Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). meminta kelompok untuk mengambil keputusan. pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat kecil.Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. menerima saran.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1. seorang manajer perlu mempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gaya kepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri. karena mempunyai organisasi yang lebih produktif. dan kekuatan yang ada dalam situasi. Gaya 37 4) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2) Sistem 2. 4) Sistem 4. dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). (3) manajer menyajikan gagasan dan mengundang pertanyaan. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya. maka yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaian karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalam mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup ke dalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas. Pemimpin menentukan tujuan.

Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. 4.doc . keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills). (2) aktif. Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki keterampilan dasar kepemimpinan.kepemimpinan pada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat. (2) pelaksanaan tugas. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. dinamik dan demokratis. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. dan (4) kerjasama. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. Pertama. keterampilan teknis (technical skills). dan demokratis. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. tetapi oleh kesadaran bersama. 2. Masih menurut Burns. (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. keterampilan hubungan insani (human relations skills). Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. 3. Untuk pendidikan dasar dan menengah. mengulas perspektif lainnya tentang ciri-ciri pemimpin yang kreatif antara lain sebagai berikut: 38 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja. (3) memberi petunjuk. keterampilan manajemen waktu (time management skills). setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut: 1. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. Kedua. (3) kekeluargaan. Sementara menurut West dan Michael. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. Keterampilan Dasar Kepemimpinan. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. dan (4) mengutamakan hasil daripada proses. 5. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. partisipatif. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. adanya kesamaan yang paling utama. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. (3) pengalaman 5) Kepemimpinan Transformasional dalam MBS Dalam Undang-Undang No. keterampilan konseptual (conceptual skills). (2) memberi dukungan. Ketiga.

dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung menikmati dan menuntut kebebasan di tempat kerjanya karena kurang senang tergantung kepada orang lain. Tekun dalam hal ini pemimpin cenderung mempunyai tekad keras untuk mencapai tujuan.. Siap Mengambil Risiko dimana para pemimpin lebih siap untuk mengambil risiko dengan ide-ide barunya dan senang mencoba caracara baru dalam mengerjakan berbagai hal.(1). dan teater. mempunyai motivasi tinggi. film. Mereka juga sering memiliki nilai-nilai artistik yang dikembangkan dengan baik termasuk apresiasi seni. Kepemimpinan dan motivasi ibarat saudara kandung laki-laki dan perempuan. 3. sains. pemimpin pada umumnya akan merasa tidak enak dalam situasi yang tidak menentu. Tertarik pada Kompleksitas adalah Mereka cenderung tertarik pada usaha menjelajahi masalah yang sulit dan rumit untuk memahami masalah yang ada dan mendapatkan solusisolusinya. 7. para pemimpin kreatif cenderung percaya diri dan selalu memelihara citra dirinya yang kreatif. Mempunyai Nilai-Nilai Intelektual dan Artistik dinyatakan bahwa Mereka dalam pekerjaan cenderung tertarik pada kegiatan-kegiatan intelektual seperti membaca buku bermutu. tari. 5. Namun orang-orang kreatif umumnya selalu dapat merespon situasi seperti itu secara positif sambil menikmati prosesnya. Peduli pada Pekerjaan dan Pencapaian dalam hal ini para pemimpin kreatif cenderung mempunyai disiplin tinggi dalam pekerjaannya. sekalipun bagi orang lain pada umumnya telah dirasakan cukup. dan mendua. Otonom. Mereka percaya dan yakin pada kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. sekalipun banyak di antara kita cenderung menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan kelompok mayoritas dan cenderung menyetujui pendapat pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. Berikut ini adalah delapan cara memotivasi: manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah 1. Toleran terhadap Ambiguitas. 9. filsafat. Mereka siap melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. Berpikir Mandiri dimana para pemimpin kreatif dan inovatif lebih menunjukkan sifat kemadiriannya dalam membuat kesimpulan dan tetap konsisten dengan opini dan sikapnya. Percaya Diri. Misalnya. sastra. membingungkan. Sulit membayangkan seorang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menulis. dan peduli pada upaya mencapai keunggulan. selalu berusaha mengidentifikasikan masalah yang dihadapinya dan selalu berusaha memecahkan masalah tersebut. dan matematika. 2. 8. musik. orang tersebut cenderung risau. sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya. Mereka cenderung tidak mempunyai rasa puas atas hasil yang diperolehnya. 4. Mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa apa yang dilakukannya akan berhasil.doc 39 . 6. ketika seseorang berada di suatu kelompok orang yang masih asing baginya yang belum diketahui aturan-aturannya serta norma-norma perilakunya.

Oleh sebab itu. Bagi orang berbakat. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan. masuk akal bila kita memilih orang yang sudah termotivasi. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. Ingat. Orang mampu melampaui diri sendiri dalam upaya mendapatkan keinginan yang lebih tinggi. kemajuan akan memotivasi. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat memotivasi orang lain. 5. meski hanya atas upaya yang orang lain tunjukkan. Berikan pengakuan. semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya dengan memuaskan. mungkin tidak memotivasi orang lain. Raih setiap kesempatan untuk memberi pengakuan. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. 3. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. Lihatlah nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. 7.doc 40 . Masyarakat adalah pemilik sekolah. Semakin penting sebuah tugas. Berikan hadiah yang adil. memecahkan masalah-masalah umum. semua pihak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. Tujuan utama implementasi MBS dimaksud adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah. yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota tim. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. 4. Oleh karena itu. MBS adalah upaya serius yang rumit. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. Perlakukan setiap orang sebagai individu. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang. B. keduanya saling membutuhkan. 8.pemimpin yang tidak memotivasi . kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah network. Ciptakan lingkungan yang memotivasi. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain kecuali dia sendiri terilhami. Keadilan di sini berarti apa yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan. Pilih orang yang bermotivasi tinggi. Individu sendiri harus termotivasi. 2. maka Direktorat Pembinaan SMA menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Karena sulit memotivasi orang lain. Bila kita tidak menanyakan motivasi seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Seseorang tidak harus menjadi orang lain. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. tulis John Lancaster Spalding. Kita semua adalah individu. ”Tidak ada inspirasi dalam keinginan yang terlalu banyak dan kestabilan”. 6. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat.

Sekolah sebagai lingkungan belajar diartikan sebagai “sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas. Jakarta : PT. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan. masalah-masalah dalam penerapannya. berbasis.yaitu manajemen. Sekolah memang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat berkembang maksimal sesuai dengan tugas perkembangannya untuk menjadi pelaku-pelaku kehidupan yang berkualitas selama dan setelah mereka menyelesaikan pelajarannya di sekolah. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang paling nyata.2005.. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.172 bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata. dan berlanjut terjadi. manfaat. standar. sistematik. dan sekolah. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah. dan akuntabilitas. seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upayaupaya pembuat kebijakan dan praktisi. kebijakan. Akan tetapi. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber Nurkolis daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). Grasindo. cet ke 2. sarana yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta didik. yang sengaja diadakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat menjalani proses pembelajaran dengan lebih baik daripada di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Secara bahasa.doc 41 . MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. lingkungan belajar yang paling utama. berkreasi. kurikulum. menurut . dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. Nugraha & Rachmawati: 2010: 17). Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara.yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. Manajemen Berbasis Sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu“ (Mariyana. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah Implementasi MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Dengan demikian. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. hal.

(d). pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. dan. (g). murid. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya adalah sebuah pengakuan bahwa yang paling layak mengurusi rumah tangga sekolah adalah para pelaku di sekolah. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Dan tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. termasuk dalam bidang pendidikan. Pada intinya pengelolaan sekolah sebagai lingkungan belajar seyogyanya ditangani dan diatur oleh para pelaku proses pendidikan di sekolah. (c). kebijakan ini menuntut kepemimpinan yang mampu mengarahkan serta mewujudkan visi menjadi misi bersama yang feasible. telah dapat diwujudkan. Kepala Sekolah diharapkan mampu berperan sebagai aktor yang memimpin demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Mulyasa (2009: 11) menjelaskan bahwa MBS merupakan “Suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. Dengan demikian. rapi. orang tua. apalagi pusat. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. (b). Melalui keterlibatan guru. ia (hal. dan pemerintah. semua Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam manajemen sarana dan prasarana. (f). Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran.doc 42 . Komite Sekolah. Kebijakan ini diambil sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang tentang otonomi daerah. Kepala Sekolah. Salah satu perubahan yang signifikan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah adalah diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Namun. yakni pemerintah daerah tingkat II melalui Dinas Pendidikan. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan. (e). dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Berdasar teori di atas. efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah.” Mulyasa lebih jauh membagi komponen-komponen dalam MBS yang meliputi: (a). berbagai perubahan yang menyangkut kewenangan. yang meliputi guru. kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran. serta komite sekolah.kepala sekolah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alatalat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif. baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar Implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) itu juga merupakan kebijakan bidang persekolahan di Indonesia. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyaraka. guru. Manajemen Kesiswaan. keberhasilan dari Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah ini dapat tercapai dengan baik apabila didukung partisipasi stake holder. Manajemen Layanan Khusus. dan masyarakat yang terpanggil untuk bersama-sama meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang diharapkan dalam peimplementasiannya tercermin efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. masyarakat. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. 50) mengemukakan: Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Manajemen Tenaga Kependidikan. kepegawaian. para guru. Kemudian. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 199 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Sejalan dengan itu terjadi perubahan di bidang pendidikan dari sentralisasi menuju ke desentralisasi pendidikan.

masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan.Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Pelaporan hasil. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius.Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air.doc 43 . demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. g. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Juga secara proses. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. Secara akademik. f. kepegawaian. d. khususnya orang tua siswa. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan.Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. Ironisnya selama ini. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Akan tetapi pada prakteknya. tantangan. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. c. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. dan kurikulum. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. para guru. e. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. b. Oleh karenanya.Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat.pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan.

orangtua. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. komite sekolah. khususnya Sekolah. kabupaten/kota. Pada prakteknya. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pihak-pihak lain seperti.Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Dengan demikian. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. tantangan. 2003:42). kepala sekolah. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. dan murid (Nurkolis. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. orang tua. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). mulai dari tingkat pusat. sampai dengan tingkat Sekolah. Sebagaimana dimaklumi. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Dapat difahami bahwa dari asal usul peristilahan. Untuk itu sebelum mengimplementasikan gagasan MBS dimaksud maka perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebaliknya. Apabila dikaji secara lebih mendalam secara teoritis dari gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti disyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. para guru. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan dalam hal ini MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. penilaian. misi. Karena dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat.doc 44 . berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. anggota masyarakat. administrator. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. 15Dalam MBS. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaan pendidikan. dan dukungan. provinsi.

Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan 8. sehingga sekolah lebih mandiri. kepala sekolah. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah.antara lain: dari Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut: 1.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. peluang. tentu saja. sekolah lebih mengetahui kekuatan. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. sekolah lebih mengetahuikebutuhannya. kelemahan. dengan otonomi yang lebih besar. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Ketiga. Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah 6. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. peluang dan ancaman bagi dirinya. dan peningkatan rasa tanggungjawab. 3. Kedua. orangtua siswa. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. dengan pengambilan keputusan partisipatif. sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya 9. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah 2. Sedangkan Nukolis (2006: 21) memberikan alasan MBS sebagai berikut: Pertama.program desentralisasi bidang pendidikan. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif 10. karyawan. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif 7. Demikian juga. Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. Sebagaimana dinyatakan bahwa alasan dan Tujuan dalam implementasi MBS adalah : Manajemen Berbasis Sekolah mempunyai alasanalasan yang menerapkan MBS di sekolah-sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. 4. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan 5. Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Kemandiriannya. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.doc 45 . siswa. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. kelemahan.

Semangat untuk bersaing tinggi dengan sekolah lain dari daerah sendiri sampai nasional. dan pemerintah 8. dan masyarakat 7. serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Adanya keterbukaan sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas karena masyarakat ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan 3. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua. Berdasarkan alasan yang dijabarkan di atas dapat diambil alasan MBS menurut penulis antara lain: 1. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Aspirasi masyarakat cepat tersampaikan. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya.doc 46 . 3. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila masyarakat setempat juga ikut mengontrol 5. 4. Data lain didapat dari internet yang menjabarkan alasan penerapan MBS di sekolah antara lain: 1. Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru. peluang dan ancaman bagi dirinya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya. lebih demokratis dan terbuka. Sehingga stakeholders dapat menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan 2. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sanga t mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. masyarakat. Ada juga beberapa alasan bahwa para pendukung MBS berpendapat “prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah”.MenurutMulyasa (2009) alasan MBS adalah : Pemerintah mempunyai konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan Kegagalan program-program peningkatan kualitas pendidikan sebelumnya (JPS/Aku Anak Sekolah) karena manajemen yang terlalu kaku dan sentralistik Muncul pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. 4. kelemahan. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi. Dinyatakan pula bahwa Implementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut : (1). Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Lingkungan yang paling dekat dengan siswa adalah lingkungan sekolah. menciptakan transparansi dan demokrasi yang kuat Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-masing kepada pemerintah. 2. orang tua.

standar kualifikasi guru. Dalam hal ini warga sekolah belum memiliki pengalaman dengan dewan sekolah. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. Kantor dinas pendidikan juga sedikit banyaknya masih menetapkan tujuan dan sasaran kurikulum serta hasil yang diharapkan berdasarkan standar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat.doc 47 . Bagi para pejabat yang haus kekuasaan seperti itu. pada tingkat nasional. akuntabilitas. (5). peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. dan dewan sekolah masih memiliki kewenangan dengan berbagi kewenangan itu. Pemerintah daerah juga masih bertanggung jawab untuk menilai sekolah berdasarkan standar yang telah ditetapkan. peran dewan sekolah tidak banyak berubah. MBS di Amerika Serikat tidak mengubah pengaturan sistem sekolah.(3). professional. dan biaya programprogram sekolah. Jika tidak. terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis. Namun. dan efektifitas sekolah. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan jika sekolah tertentu mengalami kesulitan menerjemahkan visi pendidikan yang ditetapkan daerah menjadi program-program pendidikan yang berkualitas tinggi. dan memelihara informasi tentang pelamar yang cakap bagi keperluan pengadaan pegawai di sekolah. dewan sekolah (di tingkat distrik) berfungsi untuk menyusun visi yang jelas dan menetapkan kebijakan umum pendidikan bagi distrik yang bersangkutan dan semua sekolah di dalamnya. dalam rangka pemeliharaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. prestasi siswa.(2). sedangkan sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. finansial. sekolah lebih mengetahi kekeuatan. politis. sekolah akan tetap tidak berdaya dan guru akan terpasung kreativitasnya untuk berinovasi. Menurut bank dunia. Kedua. Alasan selanjutnya bahwa pengaruh penerapan impementasi MBS terhadap kewenangan pemerintah pusat (Depdiknas). pemerintah pusat dan daerah harus lebih rela untuk memberi kesempatan bagi setiap sekolah yang telah siap untuk menerapkannya secara kreatif dan inovatif. Dalam rangka penerapan MBS di Indonesia. dan sebagainya. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah. dinas pendidikan daerah. Pemerintah pusat. masih cenderung terpusat tentulah akan banyak pengaruhnya.mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. tentu saja masih menjalankan politik pendidikan secara nasional. dan dewan Manajemen sekolah. standar fasilitas dan peralatan sekolah. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional pendidikan yang antara lain mencakup standar kompetensi. kantor dinas pendidikan kemungkinan besar akan terus berwenang merekrut pegawai potensial. Standar ini kemudian dioperasionalkan oleh pemerintah daerah (dinas pendidikan) dengan melibatkan sekolahsekolah di daerahnya. menyeleksi pelamar pekerjaan. Penerapan standar disesuaikan dengan keadaan daerah. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. efisiensi administrasi.(6). dewan pendidikan pada tingkat daerah.(4). Sehubungan dengan hal tersebut bahwa implementasi MBS menyebabkan pejabat pusat dan kepala dinas serta seluruh jajarannya lebih banyak berperan sebagai fasilitator pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level. Perlu diingatkan bahwa penerapan MBS akan sangat sulit jika para pejabat pusat dan daerah masih bertahan untuk menggenggam sendiri kewenangan yang seharusnya didelegasikan ke sekolah. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. MBS adalah ancaman besar. Yang seharusnya MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama. Ketiga. Namun. batasan pengeluaran. Di Amerika Serikat. dan dewan sekolah di setiap sekolah. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. kelemahan. standar kepegawaian.

dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid Tujuan utama operasional dari Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah. sementara sebagian yang lain mungkin akan masih menetapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai dan yang akan digunakan seragam di semua sekolah. Sebagai bentuk Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. kuantitas. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. 21 dan Ibid.menentukan sendiri cara mencapai tujuan itu. 24 mengungkapkan bahwa Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Keempat. 5. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. Keenam. meningkatkan kualitas. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. dan apa rencana selanjutnya. Pemerintah (Pusat dan Daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. The National Widiasarana Indonesia. MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin. Bagi sumber daya manusia. 4. kualitas kurikulum. 2003. kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya. peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya. Jakarta: PT. pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. 3. Gramedia hal. The National of Secondary School Principal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama. Nurkolis. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. dinas pendidikan daerah. meningkatkan moral guru. dan dewan sekolah. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. menyesuaikan sumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah. Sebagian daerah boleh jadi akan memberi kewenangan bagi sekolah untuk memilih sendiri bahan pelajaran (buku misalnya). Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. kepala sekolah. melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. hal.Kelima.Kedua.doc 48 .” Alasan selanjutnya bahwa implementasi penerapan MBS mensyaratkan yang berikut. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andil yang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan.Association of Elementary School Principal. 1. Ketiga. Dalam pengimplementasian MBS. dan fleksibilitas komunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil. keputusan yang diambil sekolah mengalami akuntabilitas. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. 2.

Dr. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah. Hubungan Sekolah-masyarakat i. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. partisipasi. dimana warga Sekolah (guru. b. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu‟‟. Edward Deming (Arcaro. Dr. ekonomi.juga anggaran Sekolah Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS) menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional. karyawan. Pelayanan siswa h. Pengelolaan proses belajar mengajar.doc 49 . Juran adalah ahli statistik terpandang. Juran (Arcaro. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.b. f. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah. Seperti halnya Deming. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif. Joseph M . Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Dr. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. orangtua siswa. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Pengelolaan iklim Sekolah. Pengelolaan keuangan g.alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi: a. dan politik) Di lain pihak. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Pengelolaan ketenagaan e. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. partisipasi masyarakat. Ciri-ciri MBS. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa „‟tepat untuk dipakai‟‟ lebih tepat ditentukan o leh pemakai bukan oleh pemberi. Asal diterapkan secara ketat. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Juran menyebut mutu sebagai „‟tepat untuk pakai‟‟ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah „‟mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. c. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. siswa. c. W. pendapatan daerah dan orang tua. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. d.

para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom). yaitu sosialisasi. baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. Dengan perangkat yang tepat. yakni guru. reflikabilitas dan substainabilitas. d. dan diseminasi. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. pengusaha dan para akademisi. bukan program sekali jalan. standar penguasaan minimum. karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudah menerima perubahan.doc 50 . kepala Sekolah.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah dilakukan ujicoba. Misalnya. ada empat tahapan implementasi MBS. Reflikabilitas artinya model MBS yang diujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain.Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkan lembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri serta bertanggungjawab Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen Kelembagaan Agama Islam. pelaksanaan. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. baik secara konsep opersional maupun pendanaannya. Seperti telah dinyatakan di atas. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. misal merupakan prasyarat mutu. khususnya guru dan kepala Sekolah sebagai pelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. pengawas. Banyak perubahan. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolah baik negeri maupun swasta. piloting. Pelatihan. diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat. tokoh agama. standar materi pelajaran pokok. akuntabilitas. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan. Tahap sosialisasi merupakan tahap penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi. baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lainlain (lihat UU No. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. standar pelayanan minimum. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Ini bahkan menjadi lebih sulit. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan. e. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masingmasing. b.Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusi curah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS dengan berbagai unsure terkait. standar kompetensi siswa. Seperti halnya Deming. Dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. baik cetak maupun elektronik. 2004. c.dengan tepat. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a.

baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. Potensi Kepala Sekolah. kewajiban Sekolah. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. e. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. pengawasan pendidikan di Sekolah. pengorganisasian. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. terutama yang berada di lingkungan Sekolah. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. d. dan Komite Sekolah.baik faktor internal maupun eksternal. organisasi formal dan internal. potensi sumber daya manusia. Kelompok Kerja Sekolah (KKM).Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Adapun Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS sebagaimana termuat dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah.terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasis Sekolah. semangat belajar. disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal.kepemimpinan kepala Sekolah yang demokratis dan professional. serta partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik dalam perencanaan. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Wibawa Kepala Sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. dengan memperhatikan iklim lembaga yang kondusif. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. b. pada tanggal 2 Mei 2002 c. Dewan Pendidikan. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . a.doc 51 . pelaksanaan. otonomi Sekolah. perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. baik secara konvensional maupun movatif. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan.

yaitu: (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (2) Peran Serta Masyarakat (PSM). dan (3) Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif. Program ini terdiri atas tiga komponen. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. d. Forum Peduli Guru (FPG). 2002. h. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif.doc 52 . Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. KKM. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Ketersediaan alat-alat dan fasilitas belajar yang memadai Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. i. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Profesionalisme. rencana yang rinci dan sistematis. serta tingkat penghayatan. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. Kreatif.f. Dukungan pemerintah. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik.Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. Komponen Manajemen Berbasis Sekolah Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. program yang mendukung implementasi. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Kelompok Kerja guru (KKG). faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. Dalam pada itu. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). c. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. b.

2001). sekolah seyogyanya diberikan hak otonomi yang lebih besar dalam mengelola urusan (manajemen) rumah tangganya sendiri. karena mereka senang belajar. Rintisan penerapan MBS di empat propinsi: Jawa Timur.doc 53 . butir kedua dan ketiga. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ayat 9 butir a yang menyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini tidak akan dapat tercapai dengan mudah apabila guru tidak memiliki keterampilan mengelola pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan mengajar. dalam Subakir & Supari. “ atau juga “upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. 2001). Jawa Tengah. merupakan suatu “aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik -baiknya dan menghubungkan dengan anak. Sistem manajemen ini dikenal dengan nama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna bagi peserta didik. kreatif. mengacu kepada empat pilar (Kristanto. Transparansi manajemen. belajar memang tidak bisa lepas dari interaksi. Sekolah merupakan ujung tombak dan garis terdepan dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. dan menyenangkan (PAKEM). guru diharapkan dapat memanfaatkan semua potensi dari alat-alat dan fasilitas belajar yang tersedia. d. mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah. 2011: 76). yaitu: a. guru diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar (Subakir & Sapari. menurut Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. inovatif. menjadi titik tolak untuk menjadikan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. dan.” Dengan demikian. Sulawesi Selatan. efektif. b. kami menambahkan satu fitur lagi bagi PAKEM yaitu inovatif sehingga menjadi pembelajaran aktif. dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS. Dua dari keempat pilar di atas. c. efektif. kreatif. Belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. dan NTT. terutama dengan pengajar atau guru. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif. pada intinya.” Dalam pelaksanaannya. efektif. Pembelajaran yang menyenangkan semua fihak terkait. dan menyenangkan (PAIKEM). Untuk dapat berkembang dengan optimal. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah (Subakir & Supari. 2010 : 60) memberikan pengertian belajar sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif. efektif. sehingga terjadi proses belajar. Dukungan masyarakat. Apabila kondisi seperti ini sudah tercipta. dan menyenangkan (PAKEM). Dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 2 Mataram. Mengajar. Berkaitan dengan ini. Untuk mewujudkan hal ini. bahkan dalam kondisi di mana alat dan fasilitas belajar tidak memadai. sedangkan yang aktif berproses adalah peserta didik. Pembelajaran aktif. Slameto (Abdul Hadis & Nurhayati. kreatif. 2001). kreatif. Slameto (idem : 17) mempersyaratkan hubungan yang timbal balik dan edukatif antara peserta didik dengan guru dan antara peserta didik dengan peserta didik yang lain agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dan optimal. mengajar adalah kegiatan memfasilitasi.

dan menyenangkan membutuhkan media yang tepat. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. kreativitas. a) Media Visual : grafik. diantaranya . dan kemandirian sesuai dengan bakat. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. menyenangkan. video (VCD. suasana di dalam kelas diusahakan menyenangkan dan menarik.doc 54 . efektif. 19 ayat 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakasn secara interaktif. laboratorium bahasa. Menurut Ramadhan (2008:5). gambar bergerak atau tidak. d) Projected motion media : film. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Untuk mewujudkan hal tersebut beberapa langkah telah ditempuh. Guru menerapkan cara mengajar yang leboh kooperatif dan interaktif. Pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. “Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut : Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. yang meliputi: Penataan Lingkungan Belajar Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Peningkatan kompetensi guru. diagram. inovatif. komik. untuk mengungkapkan gagasannya. DVD. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” Untuk mengimplentasikan Peraturan Pemerintah tersebut. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat . pengajar. Terdapat berbagai jenis media belajar. dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan”. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampain pesan atau media. inspiratif. tulisan dan suara yang direkam. iklim. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. minat. b) Media Audial : radio. dan bahan ajar. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. dan.menciptakan suasana. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. poster. tape recorder. penerapan PAIKEM sangat tepat. bagan. kartun. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. c) Projected still media : slide. dan sejenisnya. VTR). dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. over head projektor (OHP). menyenangkan. in focus dan sejenisnya. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. termasuk cara belajar kelompok. chart. televisi. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. kreatif. komputer dan sejenisnya. dan cocok bagi siswa. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. menantang. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. realia. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pembelajaran yang aktif.

cassette recorder. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. 1994:78-79). Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. pengaruh yang ditimbulkan. Dan ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. cetak suara. waktu dan tenaga penyiapan.Menurut Djamarah (2005:212). Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. baik secara individual Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. keringkasan. si pembelajar atau belum. silde (film bingkai) foto. piringan audio. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. seperti radio. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim. guru merupakan kunci utama terlaksananya proses pembelajaran. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai). Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan bahasa Jerman antara lain. kecocokan dengan ukuran kelas.doc 55 . Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. program harus mempunyai tampilan yang artistik dan. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. “guru adalah semua orang yang berwe nang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik. (b) audio visual gerak. Media visual. yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides). Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. c) untuk membuat konsep bahasa Jerman yang abstrak. Sehubungan dengan hal itu. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. cetakan. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. gambar atau lukisan. kemampuan untuk dirubah. film rangkai suara. yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Untuk menarik minat pembelajar. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. Kreteria pertamanya adalah biaya. dilihat dari jenisnya media dibagi ke dalam : Media auditif. b) untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. 1993:10). Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Menurut Djamarah (2005:32). yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media audio-visual. Jadi salah satu fungsi media pembelajaran bahasa Jerman adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Media ini dibagi lagi kedalam (a) audio visual diam.

3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. dalam pasal 10 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi pedagogik. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. pengembangan bahan ajar. dan kedisiplinan. Apabila faktor-faktor penentu tersebut senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan. guru dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan ilmu pengetahuan. dan santun dengan peserta didik. Berkomunikasi secara efektif. serta perancangan strategi pembelajaran. 327). 4. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. competency adalah bentuk kata competence yang kurang umum. Menguasai strategi pengembangan kreativitas. kualitas suatu proses dan hasil pendidikan sangat bergantung kepada kualitas tenaga pendidik. dan Kompetensi Profesional . teknologi. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. kemahiran. Menguasai beragam pedekatan belajar sesuai dengan karakteristik siswa 6. Kompetensi Pedagogik terdiri dari : Kemampuan merancang pembelajaran Kemampuan tentang proses pengembangan mata pelajaran dalam kurikulum. 2. spiritual. atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. maka kualitas guru sebagai tenaga pendidik juga akan meningkat. di sekolah maupun di luar sekolah.16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa: “Guru wajib memiliki kualifikasi akdemik. Sementara itu profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 56 . sosial. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. sertifikat pendidik. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. kompetensi. Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan. sehat jasmani dan rohani. kompetensi social. Kompetensi Kepribadian. Kompetensi Sosial. Mengusai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.maupun klasikal. kompetensi kepribadian. ketrampilan. Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran.“ Karenanya. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. dan seni melalui pendidikan. Salah satu makna competence menurut kamus ini adalah “the state of being legally competent or qualified (keadaan menjadi cakap atau layak secara hukum)” (hal. empatik. Kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh beberapa faktor. Adapun sub kompetensinya terdiri dari : 1.” Selanjutnya. 5. motivasi. moral. dan dikuasai dan diwujudkn oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. competency atau competence. Kompetensi tersebut meliputi Kompetensi Pedagogik. Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris. kompetensi inti guru meliputi : Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik. Guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi. lingkungan kerja fisik maupun non fisik. dan intelektual. dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi tenaga pendidik khususnya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan. Mengenal siswa secara mendalam. Menurut Collins English Dictionary (1998: 327). antara lain: kompetensi. dan perilaku yang harus dimiliki. dihayati. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.Menguasai prinsip prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.

Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran berbasis ICT Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Kemampuan mengenal siswa (Karakteristik awal dan latar belakang siswa). strategi. aktif. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 dinyatakan bahwa : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial Peraturan Pemerintah RI yang sama dalam Pasal 3 Ayat 4 menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. Merancang strategi pembelajaran mata pelajaran 11. (b) Memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. Pemahaman terhadap peserta didik. Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya didasarkan pada prinsip.Merancang strategi pemanfaatan beragam bahan ajar dalam pembelajaran 10. Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang siswa. 6) Menganalisis hasil penilaian hasil pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran. ragam teknik dan metode pembelajaran serta pengelolaan proses pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Perencanaan pembelajaran. 4) Melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi pembelajaran. Mengembangkan mata pelajaran dalam kurikulum. 8. dan menyenangkan. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: 1) Menguasai standar dan indikator hasil pembelajaran mata pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran Menguasai prinsip. Kemampuan melaksanakan hasil penelitian tindakan sekolah dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. strategi. dan prosedur penilaian yang benar. Melakukan interaksi yang bermakna dengan siswa. Sub kompetensinya terdiri dari: a) Menguasai prinsip.Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. 9. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 2) Mengembangkan beragam instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.7. Mengelola proses pembelajaran. Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran. (d) Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan siswa. serta mengacu pada tujuan pembelajaran.doc 57 . efektif. Pengembangan peserta didik Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. strategi. c) Menganalisis hasil penelitian pembelajaran. Evaluasi hasil belajar. kreatif. Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format. 7) Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. b) Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik. 5) Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. (c) Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif. Pengembangan kurikulum atau silabus. dan prosedur penilaian pembelajaran. dan prosedur penelitian pembelajaran dalam berbagai aspek pembelajaran. 3) Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan. Adapun sub kompetensinya terdiri dari: (a) Menguasai keterampilan dasar mengajar.

untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.“ Selanjutnya kompetensi pedagogik dibagi menjadi 4 bagian yaitu: a) Kemampuan merancang pembelajaran Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan proses pengembangnan mata pelajaran dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar serta perancangan strategi pembelajaran. b) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran Yaitu kemampuan mengenal siswa (karakteristik awal dan latar belakang siswa), ragam teknik dan metode pembelajaran, ragam media dan sumber pembelajaran, serta pengelolaan proses pembelajaran c) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran d) Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang sahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi dan prosedur penilaian yang benar serta mengacu pada tujuan pembelajaran. e) Kemampuan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian lainnya, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu. f) Kemampuan guru sangat besar peranannya dalam menetukan mutu pendidikan yang baik. Untuk itu pelayanan pendidkan yang bermutu merupakan sarana paling ampuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tentunya harus diimbangi oleh peningkatan kinerja (performance) para guru. Kompetensi juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Menurut Saydam (2005:287), “… Karyawan yang kompeten dan tertib, mentaati semua norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.” Produktivitas adalah ukuran utama dari prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga kerjanya. Menghasilkan prestasi yang optimal seyogyanya dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh setiap karyawan, karena manusia butuh berprestasi agar ia dihargai. Hal tersebut sesuai dengan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Mc. Clelland (Hasibuan, 2008) yang membagi kebutuhan yang dapat memotivasi gairah bekerja menjadi tiga, yaitu: (1). Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievemnt); (2). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation); (3). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power). Kalau prestasi sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh seseorang, maka ia akan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang diharapkannya. Ini merupakan motivasi pendorong untuk selalu menghasilkan produktivitas yang optimal sebagaimana yang dinyatakan Hasibuan (2008:92), “Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.“ Kompetensi merupakan faktor penentu pertama dari guru yang berkualitas. Syah (1999:229) menegaskan bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang berkompetensi, yaitu yang berkemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 58

Mengupayakan peningkatan kompetensi, menjaga semangat dan motivasi yang tinggi, meningkatkan kedisiplinan, dan menciptakan budaya organisasi yang sehat merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pembina, pengarah, dan pengawas di lingkungan sekolah. Dalam kaitan dengan itu semua, maka kegiatan supervisi menjadi sesuatu yang sangat penting. Arikunto (2004:5) mengartikan supervisi sebagai kegiatan “mengamati, mengidentifikasi hal-hal mana yang tidak benar, belum benar, dan sudah benar, untuk selanjutnya diperbaiki, dibenahi, dan ditingkatkan lewat upaya pembinaan sehingga semua menjadi tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna.”inaan S MA Departemen Pendidikan Nasional No 191/C/2010 Peranan MBS adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Namun beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut 1) Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 2). Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu. 3). Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. 4) Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya. 5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 59

kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. 6). Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. 7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berhubungan Prestasi Belajar Murid MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan demikian, ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik. Di Amerika Serikat (David Peterson, ERIC_Digests, 2002) upaya mengaitkan MBS dengan prestasi belajar murid masih problematis. penerapan MBS berkaitan dengan prestasi murid. Boleh jadi masih banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi prestasi itu setelah diterapkannya MBS. Masalah penelitian ini makin diperparah dengan tiadanya definisi standar mengenai MBS.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

60

doc 61 . Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkan suatu proses kegiatan dalam hal memimpin. Lingkup kepemimpinan tidak hanya terbatas pada permasalahan internal organisasi. Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti . mengontrol perilaku. kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salain berhubungan dengan tugasnya. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran Menurut Griffin dan Ebert. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan.2 Peterson at. kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya. Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. tetapi tidak sama dengan manajemen. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan. Seperti halnya manajemen.Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen.BAB III KAJIAN TEORITIK KEPUSTAKAAN A.being a leader power of leading . Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan individu para pelaksana dengan tujuanperusahaan. penorganisasian . pengawasan dan evaluasi. GAMBARAN UMUM KEPEMIMPINAN 1.1 Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi” mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan organisasi. secara internal seorang ketua tim harus dapat menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan. atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. Dalam konteks penugasan audit. makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. atau the qualities of leader Secara bahasa. kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.3 Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau melaksanakannya.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakansuatu kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan eksternal organisasi. perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawah pengawasannya Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku bawahan. membimbing. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi. melainkan juga mencakup permasalahan eksternal.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan eksternal tersebut. Menurut French dan Raven (1968). kedua konsep tersebut berbeda. Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Referent power. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. kepemimpinan tidak akan ada juga. "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi auditee dengan baik Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan.Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Dilain pihak. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. Expert power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. Sarros dan Butchatsky (1996). yaitu para karyawan atau bawahan (followers). reputasinya atau karismanya.doc 62 . Selanjutnya para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Namun demikian. Sedangkan menurut Anderson (1988). tanpa adanya karyawan atau bawahan. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. Walaupun demikian. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama.sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Coercive power. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. pengetahuan (cognizance). kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Menurut definisi tersebut. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi auditee agar mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim dalam rangka mencapai tujuan audit. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment).

v Ing Madyo Mangun Karso : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya. Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin. kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. mengemukakan bahwa Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya.doc 63 .P. dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. confidence. beberapa diantaranya : · Menurut Drs. kepercayaan. sikap. Hasibuan. dan membimbing asuhannya. Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan. 1. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri. mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab. menyatakan. H. supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. organisasi. Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat. Sedangakn menurut Pancasila. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong. menuntun. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Maccoby. respek. Hakekat Kepemimpinan Dalam kehidupan sehari – hari.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience. v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. Dengan kata lain. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya. memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan. Menurut Robert Tanembaum. beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah : v Ing Ngarsa Sung Tulodho : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya. baik di lingkungan keluarga. perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin. mengarahkan. mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Malayu S. Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. Selanjutnya Lao Tzu. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius."). respect. dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100. sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi. Prof. Dasar pemikiran lainnya sesuai menurut Davis and Filley.

yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. (3) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). Walaupun demikian. " leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. (2) Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan.pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. "). keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.Sarros dan Butchatsky (1996). pengetahuan (cognizance). kedua konsep tersebut berbeda. Referent power. sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.doc 64 . yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya Legitimate power. Namun demikian. tanpa adanya karyawan atau bawahan. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Sementara Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: Reward power. Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing. Expert power. Menurut definisi tersebut. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). kepemimpinan tidak akan ada juga. "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Sedangkan menurut Anderson (1988). Menurut French dan Raven (1968). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. Berdasarkan definisi-definisi di atas. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). reputasinya atau karismanya. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Antara lain: (1) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Coercive power.

kepemimpinan. commanding. (4) Sikap Hubungan Kemanusiaan. controling. Dalam perkembanganya. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi manajemen. yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. pelatihan. antara lain : (1) Kecerdasan dimaksudkan bahwa. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya. bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. (2) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial. merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. dan kepribadian. komunikasi. Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : Fungsi administrasi. Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. directing. selalu tepat waktu.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan. (3) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya. pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. efektif dan efisien. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil. dalam hal ini adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya Kepemimpinan dengan program kegiatannya adalah Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan. seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. mengisi struktur tersebut dengan individu-individu.doc 65 . yakni mengadakan planning. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer. umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal. penggerakan. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal. Fungsi sebagai Top Mnajemen. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. dsb. mengidentifikasi defiasi perencanaan. mental. dan pengawasan. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut. pengorganisasian. staffing. yaitu: perencanaan. dan untuk stake holder.organisasi yang bersangkutan. sesuai dengan anggaran Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen. pengorganisasian. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. organizing.

Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. birokrasi. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. diberikan peran/fungsi.tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. dan para pelaksana. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. masalahmasalah yang akan muncul. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Tanpa kepemimpinan yang baik. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Dengan rencana yang telah ditetapkan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Dalam organisasi. para supervisor. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Hirarki dari Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan.doc 66 . Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. sering pada tingkat yang dramatis. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. dan para pelaksana. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. para supervisor. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS dengan cara membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. Dalam pengorganisasian. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi Menghasilkan perubahan.

watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. dan pemecahan masalah. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. gaya dan kontingensi. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. Manajemen itu sendiri adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. tanggung jawab. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. kesupelan dalam bergaul. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Analisis awal tentang kepemimpinan. yaitu kapasitas. kematangan. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. 1996). Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. Dan dalam perkembangannya. Stogdill 1974). pengawasan. prestasi. 2. Hasilhasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). kejujuran. organizing. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. Kotter. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Selanjutnya perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. Hingga tahun 1950-an.Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. penganggaran. partisipasi. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). status dan situasi. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. staffing. Disamping itu. ketegasan.doc 67 . lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. seperti misalnya: kecerdasan. kecakapan berbicara. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi.hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. partisipasi dan hubungan manusiawi (human Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. walaupun positif. seperti misalnya faktor situasi. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya.doc 68 . seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. misalnya. Hoy dan Miskel (1987). karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin.

promosi dan penurunan pangkat (demotions). Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. saling percaya. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Menurut House. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Path-Goal Theory. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. MenurutPath-Goal Theory. berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Halpin (1966). Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Secara ringkas. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas.doc 69 . Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). prosedur dan petunjuk yang ada). directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan. Menurut Fiedler.relations).Model kontingensi yang lain.

serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's". Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Menurutnya. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Dengan demikian. joining in a shared vision of the future. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya.doc 70 . seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Sebaliknya. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dalam dimensi ini. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Disamping itu. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Yammarino dan Bass (1990). or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Dengan demikian. dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan.

Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru.intelektual). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda.doc 71 . memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. gaya (style) dan kontingensi. Dalam dimensi ini. produktifitas. proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. dan nous/noos yang berarti pikiran. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. Oleh karena itu. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. memulai proses penciptaan inovasi. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). meninjau kembali struktur.

Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpin mengembangkan program organisasinya. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. legitimasi. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Gaya kepemimpinan adalah sikap. akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan. gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan. sebab gaya kepemimpinan bagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian pada proses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individu untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. yaitu kekuasaan paksaan. memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskan lagi pada gaya kepemimpinan (leadership style). menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat. dan hubungan. penghargaan. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. karena Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut.3. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. Gaya yang dipakai oleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dan kondisi kepemimpinannya.8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya.Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (Employee Oriented). Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatankegiatan orang lain. referensi.doc 72 . Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. keahlian. 1) banyak orang memerlukan figure pemimpin. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan dari pendekatan perilaku pemimpin. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. yaitu . informasi.

karena yang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. Gaya yang akan digunakan mendapat sambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalan baik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif.11 Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintahperintah dan meminta bawahan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahan guna pencapaian tujuan organisasi. semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. selain mengganti pelaksananya tanpa menghiraukan siapa orangnya. Pada waktu itu banyak diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. yaitu: (1) gaya otokratik (autocratic style). dan efisien. Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. dan (3) gaya bebas terkendali (free-rein style). menuntut penyelesaian tugas yang dibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaan kerjasama. Pemimpin beranggapan bahwa bila setiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien.pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. dan kemampuan berbicara di kalangan publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi. menaruh perhatian yang besar dan keinginan yang kuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. Hal tersebut memberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalam memutuskan suatu keputusan. Griffin dan Ebert mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan. pasti akan dicapai hasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masingmasing anggota. melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalam kepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan. pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif. inteligensia. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. Pemimpin menuntut agar setiap anggota seperti dirinya. Pemimpin yang efektif dalam organisasi menggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi para pemimpin hebat. tidak ada pilihan lain.doc 73 . melainkan pada gaya kepemimpinan. (2) gaya demokratik (democratic style).Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas dan fungsi. efektif. jika dalam organisasi tidak ada yang mampu. cara pandang tidak lagi pada penampilan fisik. Bawahan umumnya lebih senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senang akan tugas timbul. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan pelaksanaan tugas oleh para bawahannya. Pelaksanakan dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin. Namun jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan. mencari pengganti dari luar meskipun harus menyewa serta membayar tinggi. Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentingan pemimpin yaitu tujuan organisasi. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggi dengan pemahaman yang konseptual. Penampilan fisik.

kepemimpinan. tidak disiplin. seorang manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan dan atau masukan sebelum mengambil keputusan.4 Fungsi tersebut juga dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Beck dan Neil Yeager mengemukakan empat gaya kepemimpinan yangn lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership) berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support) Secara universal. Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. maka notasi gaya kepemimpinan adalah seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Untuk menghadapi anggota tim yang malas. Winardi juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Sebagai contoh.doc 74 . Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai dengan situasi yang dihadapinya. dan selalu menjadi trouble maker. pimpinan. pelatihan. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan. dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. 4. pengorganisasian. dan bagaimana caranya. kapan keinginan itu harus dilaksanakan. yaitu: perencanaan. tuntutan pekerjaan. Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Berdasarkan pola hubungan tersebut. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya dengan fungsifungsi manajemen lainnya. kemampuan bawahan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya. Semua persoalan akan bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi padanya. namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam manajemen.untuk mematuhinya. teman sekerja. Kekuatan dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan. telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management). komunikasi. kemampuan dan harapan-harapan bawahan. susah diatur. serta kematangan bawahan. gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim. Situasi di sini meliputi waktu. pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambil keputusan. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi. dan pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah. dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi menjadi suatu sistem. dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana. yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Domingo. Tanpa kepemimpinan yang baik. Pimpinan puncak harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Dalam pengorganisasian. pengorganisasian.dan mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). namun ada kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. diberikan peran/fungsi. hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Segala pikiran dan perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. masalahmasalah yang akan muncul.doc 75 . Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi. para supervisor.manajemen. dan hubungan kausalitas antar pihak terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. Kegiatan atau proyek suatu organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang disampaikan oleh para pelaksana. atau kelompok pekerja. Juga mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing. tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada. bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer. Mengingat bahwa di masa mendatang terdapat penuh ketidakpastian. dan para pelaksana. para supervisor. Dan organisasi. tim. Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa pun. dan pengawasan. mereka yang terlibat akan merealisasikannya. Selanjutnya pihak-pihak tersebut bekerja Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsure manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. sebagai berikut: Apakah seluruh kekuatan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dengan rencana yang telah ditetapkan. yaitu selalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan berikut dalam setiap tindakannya. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Rencana-rencana yang ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas. dan para pelaksana. manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih berdaya guna. maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal tersebut berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadian-kejadian. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi. Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General Douglas McArthur. namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi: perencanaan. Seperti dikemukakan di atas bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari para manajer. penggerakan.

misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat b) melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah c) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut d) menyusun perencanaan. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. yaitu: (a) keterampilan teknis. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional e) menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan f) melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya 2.yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Kepala Sekolah Sebagai Manager : a) Mengadakan prediksi masa depan sekolah. memotivasi. Seluruh kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. murah hati. Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seseorang pemimpin memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer. Seorang pemimpin juga rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya. kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. bersemangat. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Dalam pelaksanaannya. sopan-santun? Jadi dapat diketahui bahwa seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. dan administrator pendidikan. staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. yang sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya. supervisor. Dengan demikian pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya. staf dan para siswa. dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan? Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya? Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. meminta dilayani oleh para bawahannya. pemimpin.doc 76 . guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. memimpin rapat. secara rinci dinyatakan : 1. memberikan insentif. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik. e) menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. berpakaian. c) Pengetahuan yang luas. dan memiliki kepekaan sosial. pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru. kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. berani. bukan sebaliknya.

dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Dari tiga hal yang dikemukakan tersebut dapat diketahui bahwa mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, bekerja dengan tim manajemen, berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan pengorganisasian pengarahan pengkoordinasian pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran pengelolaan kepegawaian pengelolaan kesiswaan pengelolaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. 4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas. Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

B. GAMBARAN UMUM MBS 1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta (objective) atau tujuan-tujuan tertentu Atmosudirdjo (1986:158). Sedangkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 77

menurut Siagian (1989:5) manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Menurut Terry dalam Manullang (2005:1) manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jadi dapat disimpulkan manajemen adalah suatu pengendalian dan pengawasan kegiatan / aktivitas orang atau kelompok orang dalam mencapai suatu tujuan tertentu David (dalam Depdiknas 2002) mendefinisikan manajemen berbasis sekolah sebagai otonomi sekolah yang dibarengi dengan pembuatan keputusan secara partisipatori. Demikian pula Caldwell (dalam Depdiknas, 2002) mendefinisikan MPMBS sebagai kewenangan pengalokasian sumber daya yang didesentralisasikan. Dalam upaya menggalakkan manajemen berbasis sekolah harus dipahami dalam dua konteks. (a) Bahwa, dengan diterapkannya MBS di sekolah-sekolah, pada dasarnya kedepan akan terjadi peralihan dari pendekatan yang sentralistik menuju desentralistik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena sebagai pemberian otonomi, maka banyak sekali pakar manajemen pendidikan dari berbagai negara yang menyebut MPMBS atau MBS sebagai otonomi sekolah atau kewenangan yang didesentralisasikan tidak saja ke tingkat kabupaten dan kota melainkan juga sampai ke sekolah. (b) manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah di Indonesia sekitar tahun 1997-1998, namun sebenarnya sekolah-sekolah swasta telah lama menerapkannya. Dalam dunia pendidikan di Indonesia manajemen berbasis sekolah merupakan satu strategi manajemen pendidikan baru, yaitu manajemen berbasis sekolah ( school-based manajement). Di beberapa negara terdapat berbabagai istilah lain untuk manajemen berbasis sekolah, namun secara keseluruhan mengarahkan kepada konsep desentralisasi pengelolaan pendidikan sampai pada level sekolah atau pengelola secara mandiri oleh sekolah, sebagaimana selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah swasta dan lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Secara Teori manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Sesuai dengan konsep tersebut, manajemen berbasis sekolah itu pada hakekatnya merupakan pemberian otonomi kepada sekolah untuk secara aktif serta mandiri mengembangkan dan melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah sendiri. Sekolah swasta selama ini telah berusaha mengelola manajemen secara mandiri dan dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan eksistensinya sekolah swasta berusaha meningkatkan kinerjanya secara mandiri, mencari cara-cara baru sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing, dan berusaha melibatkan masyarakat layanannya. Levasic (dalam Depdiknas 2002) mengedepankan 3 karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah sebagai berikut. Pertama kekuasaan dan tanggung jawab dalam penganmbilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasaikan kepada para stakeholder sekolah. Kedua domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, mencakup keuangan, kepegawaian, sarana dan prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum. Ketiga walaupun keseluruhan domain manajmen peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah-sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab sekolah.

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

78

Sementara menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000), MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan Pada masa yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customer first), (Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, 2006). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya (the customers). Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidiakan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan. Pola pengambilan keputusannya pun sudah harus berubah dari pola top down menjadi bottom up karena pola top down mengakibatkan terjadinya sentralistik di bidang pendidikan, khususnya sistem pendidikan. Oleh karena itu sistem pendidikan dimasa depan tidak lagi berorientasi pada sentralistik kekuasaan, tetapi berbasis pada masyarakat. Masyarakat harus diperlakukan sebagai subjek, bukan objek dalam bidang kependidikan. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mulai mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan, baik secara makro maupun mikro. Dalam sekala makro, pemerintah telah mencoba menerapkan pendekatan desentralistik manajemen pendidikan. Diasumsikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di sekolah, hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola atau melalui manajemen yang tepat. Selama ini, peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Betapa banyak dropping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Begitu banyak program peningkatan mutu penidikan ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan sementara ini kurang memperhatikan kondisi atau tidak berbasis sekolah. Sebagai akibat dari peningkatan mutu pendidiaan tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, kareaa selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah, juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolahsekolah akan terjadi hanya bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

79

khususnya peningkatan mutu pendidikan. Namun mulai sejak tahun 2001.sekolah. d) Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing .doc 80 . orangtua siswa. e) Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.masing. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. c) Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Paradigma baru manajemen makro di bidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang Nomor 1999 tentang Pemerintah Daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. b) Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural. Secara mikro. a) Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat. pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan. Konsep Dasar MBS Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah” dengan tujuan adalah . adalah dengan dicobanya sebuah model manajemen pendidikan dari sekolah oleh sekolah dan untuk sekolah. yaitu disebut dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut: Pergeseran pola manajemen 2. guru kelas.

serta ketrampilan teknik. 5.f) Memotivasi timbulnya pemikiran . kedua. dan mengevaluasi serta memberikan penilaiansemua aspek kegiatan sekolahsecara internal maupun eksternal. mengkoordinasikan (coordinating). mengawasi (controlling).doc 81 . dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. peluang. Dengan kemandiriannya maka diharapkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mengetahui kekuatan. dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. Konsep dasar dari istilah Manajemen Berbasis Sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. mengarahkan (directing). dan ancaman bagi dirinya dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Sekolah dapat mengembangkan sendiri program-program sesuai kebutuhannya. Dan berdasarkan fungsi pokoknya. selain dari tuntutan tersebut kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan ketrampilan konsep. merencanakan (planning). yaitu: 1. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2000). memonitor. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumbersumber. karena dewasa ini menghadapi begitu kompleksnya terutama sumberdaya kependidikan. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. 6. 4. mengorganisaikan. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. Disamping itu. pertama. 3. Dalam makalah ini. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. mengorganisasikan (organizing). ketrampilan manusiawi. dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu sekolah. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. keluwesan. sitemik. dan pemerintah. diakibatkan oleh hamper semua tugas manajerial dilaksanakan dilaksanakan olehnya di sekolah dalam memberdayakan SDM.pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut. Selanjutnya menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. 2. masyarakat. secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. Berkaitan dengan itu. Individu kepala sekolah dituntut agar memiliki kemampuan merencanakan. mengevaluasi (evaluation). baik personal maupun material. Lebih jauh lagi menurut Abdul Aziz ( juli 2003 ) mengungkapkan bahwa : (1) Manajemen Pendidikana di lingkungan sekolah yang pertama kali dibebankan kepada Kepala Sekolah dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Kependidikan (SDK) di sekolah (2) tidak jarang Kepala Sekolah mengalami kesulitan sebagai manajer di sekolah. terdapat tiga pandangan berbeda. termasuk kemampuan mengatur iklim organisasi. kelemahan. melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen). g) Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada orangtua. kemampuan manejerial kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh kinerja guru guru sebagai pelaksana utama pembinaan peserta didik yang merupakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.

tujuan dan harapan. kepastian karir. intelektual. 1987 : 7 ) memaparkan bhwa Manajemen peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya dimaksudkan upaya pengembangan kemampuan pengembangan kemampuan kognitif atau kecerdasan. 6) Kardinata ( LM Tauhid.doc 82 . kematangan social. kemampuan psikomotorik atau ketrampilan afektifdilandasi budi pekerti yang tinggi. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. 7). Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru. pengembangan staf. wawasan masa depan. profesionalisme.kader kader generasi bangsa dan berhasil tidaknya pendidikan . penguasaan iptek. (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik. kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin. 5). praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. dan keterlibatan orang tua/masyarakat. (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan. (3). 4) Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 manejemen pendidikan sudah mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat. komunikasi. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. Manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. kematangan moral dan tanggung jawab. Manajemen pendidikan akan berhasil apabila apabila tercapainya kinerja professional guru dan keberhasilan belajar siswa. keimanan dan ketakwaan. sebagaimana Kost dan Rosener Weight (1981) menjelaskan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan komputer. kurikulum. etos kerja dan disiplin. iklim sekolah. Namun demikian sangat bergantung pada individu masing masing . (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. para guru yang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki berpengaruh pula oleh keadaan iklim dan suasana dimana mereka bekerja . Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. dan kesejahteraan lahir batin. belajar dari siswa lain. dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam mncapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal. Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. Guru merupakan salah satu factor penentu manajemen peningkatan mutu pendidikan. penilaian diri. lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. proses belajar mengajar. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang. (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. ditandai dengan kematangan emosional. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan. dan belajar pada diri sendiri. (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja. budaya. Untuk itu. staf. (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi.

Tidak memiliki keampuan merencanakan program pengajaran.Mengambil Keputusan secara Terampil. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Tingkat kinerjanya berada dalam suatu komitmen yang terentang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Mengelola Kurikulum. Agus Dharma ( dalam artikel. Memimpin Sekolah. guru. Mengelola Sistem Informasi Sekolah. pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. (2) Merencanakan Pengembangan Sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. kepegawaian. Memberdayakan Sumberdaya Sekolah. Para guru yang tingkat kinerja rendah ditunjukkan oleh : (1).bahwa setiap guru berada pada tingkat yang berbeda kinerjanya. Melakukan Monitoring dan Evaluasi. apalagi pusat. Mengelola Keuangan. Mengelola Sarana dan Prasarana. Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Melalui keterlibatan guru. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat. Selanjutnya Agus Dharma ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Berbicara masalah kemampuan manajerial kepala sekolah tentunya harus mempedomani persyaratan kompetensi dari individu kepala sekolah itu sendiri sebagaimana telah dipersyaratkan kompetensinya adalah “Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru” dimana persyaratan dimaksud adalah : (1) Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan.Mengelola Kelembagaan. Melakukan Koordinasi/Penyerasian. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dalam pendekatan ini. Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu. Mengelola Waktu. Manajerial dan Kepala Sekolah. tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. (3) Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan). Mengembangkan Budaya Sekolah. murid. 2003 ) menyatakan bahwa MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. 8). MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Dengan demikian. Mengelola Tenaga Kependidikan. Sedangkan guru yang tingkat kinerjanya tinggi ditunjukkan oleh : (1) adanya kemampuan merencanakan program pengajaran (2) adanya kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan program yang telah disusunnya (3).doc 83 . Namun kiranya dipandang perulu juga beberapa pengertian dan definisi dari istilah “ Kemampuan. Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah. adanya kemampuan melaksanakan program hasil evaluasi belajar siswa. (2) tidak memiliki kemampuan tugas mengajarsesuai dengan program yang telah disusunnya (3) tidak memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi (4) Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. orang tua. Menyiapkan. Mengembangkan Diri. Mengelola Kesiswaan. dimana para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda . dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah. MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Memahami Sekolah sebagai Sistem. Dengan demikian.

R Tilaar (1999) dikutip oleh Agus Dharma. otonomi bagi sekolah untuk mengatur diri sendiri dan peran masyarakat untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan yang diwadahi dalam bentuk Dewan Sekolah. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. penghapusan peraturan perundang-undangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen menuju sistem pendidikan yang berdaya saing di masa depan. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. program pendidikan nasional hendaknya dibatasi hanya pada upaya pelestarian integritas bangsa. mempersiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah yang meliputi SDM. mulai dari provinsi. debirokratisasi (demokratisasi) penyelenggaraan pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien dan secara bersangsur-angsur memberikan otonomi dalam penyelenggaran pendidikan pada tingkat sekolah (otonomi lembaga). Fungsi pengawasan yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta adanya otonomi guru untuk menentukan metode dan sistem evaluasi belajar.doc 84 . Kedua. Kedua. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Pertama. Ketiga. pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pemberdayaan lembaga pendidikan melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan bertahap. fasilitas dan program kerja sama antarlembaga di daerah. sarana dan prasarana yang memadai pada daerah disertai dengan adanya panduan. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa untuk terlaksananya paradigma di atas diperlukan program-program yang mendukung. proses belajar mengajar. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. Pendidikan untuk keadilan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah.Ada yang memiliki pandangan bahwa kemampuan dapat di definisikan dalam artian yang sama dengan kualitas. arahan dan monitoring dari pusat. 9). pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman budaya dan masyarakat dalam implementasinya. kabupaten/kota dengan penyediaan SDM. dana. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi. Keempat. A. di antaranya adalah: Pertama. Kelima. Menggunakan pendekatan partisifatif. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja.(dalam artikel 2003) mengungkapkan tentang paradigma baru sistem pendidikan nasional tersebut di antaranya meliputi. Ketiga. organisasi.

Beberapa perubahan tersebut antara lain: a. Menurut Miftah Thoha (1999). peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja dan kurang menguntungkan dalam percaturan global Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. menerbitkan dokumen berjudul school based management.Manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. a strategy for better learning. yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. National Association of Elementary School Principals. d. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Dari sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan.Di samping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya akibat pengaruh dari tata-aturan global. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah.doc 85 . Dari orientasi manajemen yang diatur oleh negara ke orientasi pasar. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. Di Indonesia. Pada 1988 American Association of School Administrators. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Di mancanegara. seperti Amerika Serikat. Kemudian apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. b. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. Selama ini. and National Association of Secondary School Principals. Akibatnya. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis c. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. saat ini telah sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan.

beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. para legislator.. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolahsekolah di Indonesia. guru baru. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. guru. Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. Di dalam MBS. kelompok masyarakat. Selanjutnya dinyatakan bahwa desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. para guru.doc 86 . para guru. Dewan Pendidikan. Berlandaskan ketentuan UU No. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Akan tetapi pada prakteknya. Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. atau orang tua yang petani.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". 1999) lebih jauh dinyatakan bahwa Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. Berdasar teori di atas. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dan sebelum desentralisasi. Kemudian. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah.. Dengan demikian. pebisnis. antara lain Kepala Sekolah. menghambat kreativitas. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. Dewan Pendidikan. dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. (Nuril Huda. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal. Semua stakeholder. Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: Tuntutan orangtua. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). orang tua. melalui proses terbuka. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. komite sekolah dan masyarakat yang peduli.kebutuhan masyarakat setempat (lokal). Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah.

(2) Ketrampilan hubungan manusiawi . para guru. Manajemen tingkat menengah ( Middle Management) (3). orang tua.Ketrampilan teknik artinya ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan. (2) decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur. pada prakteknya.artinya kemampuan/ketrampilan yang diperlukan seorang pemimpuin untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. komite sekolah. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. disturbance handler. pemerintah dan masyarakat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. teknik tertentu dalam organisasi. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. orangtua. metode . (5) Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis masyarakat Community – based Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi antar sekolah. Selanjutnya . tantangan. memotivasi dan memimpin organisasi. tantangan. Mintzberg mengemukan peran manajerial pemimpin memiliki peranan peranan yang sangat strategis yang meliputi : (1) informational roles menempatkan manager sebagai monitor. dan dukungan. mengutip pendapat Goston (1976). Sedangkan Blanchard yang dikutip oleh Agus Dharma (1992) menyatakan bahwa manajerial adalah suatu prses kerja sama melalui orang orang dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi Kats & Dill ( 1984 ). dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang. penilaian. (4) Pemanfaatan teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management (SBM). dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. allocator dan negotiator (3) interpersomal roles melibatkan manager sebagai figurhead. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. liason dan leader. Pihak-pihak lain seperti. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. Kats (dalam Stoner 1992 ) mengungkapkan bahwa manajemen pada umumnya ada tiga tingkatan antara lain : (1) manajemen tingkat atas (top management) (2). Siagian (1989 ) mendefinisikan tentang Manajerial adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memproleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain . membagi kemampuan manajerial dalam tiga jenis ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh pemimpin pendidikan khususnya Kepala Sekolah yang terdiri dari : (1) Ketrampilan konseptual . strategi. dapat diartikan sebagai ketrampilan untuk bekerja sama.doc 87 . disseminator dan spoken person. dan kurikulum. Manajemen tingkat bawah ( Lower Management ) . Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah.paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi pendidikan. kepegawaian. (3).

menentukan tujuan (sasaran atau objective) . Semakin tinggi tingkatan seorang pimpinan makin banyak memerlukan ketrampilan konseptualnya. dan perkiraan perkiraan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dengan jalan memperhitungkan semua sumber yang tersedia. Terry GR dalam bukunya “ The principle of Management” mengutip definisi management dari orang lain sebagai berikut : a) Management is the force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure ( manajemen adalah kekuasaan yang mengatur suatu usaha dan tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dari padanya ) b) Management is the performance of conceiving and achieving of utilizing human talents and resources ( manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan bakat bakat dan sumber sumber manusia ) c) Management is the simply getting things done through people ( manajemen secara sederhana adalah melaksanakan perbuatan perbuatan tertentu dengan tenaga orang lain Dan selanjutnya ia menyatakan tentang fungsi fungsi manajemen yang meliputi empat peristiwa antara lain : a) Perencanaan (Planning ) : Merupakan kegiatan yang ditentukan sebelumnya akan sasaran yang ingin dicapai dan memikirkan sarana sarana pencapaiannya. ekonomi.Selanjutnya Indriyo Gito Sudarmo (1988) bahwa manajemen tingkat bawah dituntut adanya penguasaan ketrampilan yang lebih banyak pada tingkatan yang lebih tinggi. perencanaan dimaksud meliputi segi segi teknik. dan antar relasi dari fungsi fungsi ) pada bagian lainnya.doc 88 . b) Pengorganisasian ( Organizing ) Pengorganisasian adalah pengurusan semua sumber dan tenaga yang ada dengan landasan konsepsi perencanaan yang tepat dan penentuan masing masing fungsi yang menyangkut ( persyaratan tuga. sasaran yang ingin dicapai sebagai parameter (ukuran perbandingan) bagi setiap pemimpin untuk menentukan sederetan aktivitas yang harus dilakukan agar setiap pengikut dan atau bawahan dapat memberikan kontribusi maksimal serta positif. Ia lebih jauh menyatakan bahwa Perencanaan meliputi : perkiraan masa mendatang. Usaha manajerial dengan menggunakan ketrampilan ini dapat disebut sebagai ketrampilan manusiawi untuk itu semakin rendah tingkatannya dituntut ketrampilan tekniknya. logis dansestimatis untuk pendayagunaan semua energi serta kegiatan secara maksimal. c) Aktualisasi/pengarahan ( Actuating ) Aktualisasi/pengarahan merupakan kegiatan penggerakan. menetapkan kebijakan. Perencanaan adalah kegiatan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan. Jadi perencanaan mengandung pengertian : rencana dalam menjembatani status sekarang dengan sasaran yang ingin dicapai pada masa mendatang. sosial dan layanan atau service. penanggungjawab. Pengorganisasian dapat diartikan : (a) membagi tugas kerja (b) menentukan kelompok kelompok unit kerja (c) menentukan tingkatan otoritas yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. tatakerja. pengendalian semua sumber dalam usaha pencapaian sasaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan lancer dan lebih efisien. Seorang pemimpin harus memiliki ketrampilan dalam hubungannya dengan manusia . bagaimana cara melakukannya dan siapa yang harus melaksanakan semua kegiatan . Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menetapkan prosedur dan metode metode yang tepat .

(b) Adanya disiplin kerja. kerja sama.aktifitas manusiawi atau aspek sosial yang sifatnya lebih manusiawi dimaksudkan adalah: (a) Iklim psikis yang mantap sehinga orang merasa aman dan senang bekerja. tanggung jawab dan moral yang tinggi dalam organisasi (c) Terdapat suasana saling mempercayai. (c) Struktur organisasi sesuai denga kebutuhan organisasi dan integrasi dari semua bagian (d) target dan sasaran yang ingin dicapai selalu terpenuhi sesuai dengan penentuan jadwal waktu. Apabila control evaluasi lemah biasanya mengakibatkan gagalnya menemukan kesalahan. sarana.hasil produksi dan layanana yang dicapai organisasi dalam bentuk aspek ekonomis dan teknis (2). pelimpahan suatu usaha wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas tugas kepemimpinan. (2) proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumberdaya dalam kegitan pencapaian tujuan organisasi. Harper and Row. Setiap prestasi kerja dinilai dan diukur . Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghimpun penyimpangan penyimpangan . sesuai dengan norma norma dan standar yangsudah digariskan dalam perencanaan. Pengawasan juga termasuk penilaian atau evaluasi mengandung arti bahwa peninjauan kembali. kooperatif. Kartini Kartono ( 1983 : 114 – 115 ) selanjutnya lebih jauh mengungkapkan bahwa manajemen dapat disebut pula sebagai suatu pengendalian usaha yang merupakan : (1) proses pendelegasian. New York 1954. agar semua tugas berlangsung dengan tepat .d) Pengawasan/supervise (supervision) Pengawasan/supervise merupakan pengontrolan dengan melaksanakan supervisi agar para pengikut dapat bekerja samadengan baik kearah pencapaian sasaran sasaran dan tujuan umum organisasi . judul bukunya “ the practice of management. Drucker. bila perlu segera melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut. alam.doc 89 . dipertimbangkan standar standar untuk mengetahui kekurangan dan penyimpangan untuk segera dilakukan koreksi revisi . (b) The right in the right place dengan deliegation of authority/ pendelegasian wewenang yang luas. dan etos kerja yang tinggi (d) Komunikasi formal dan informal yang lancar serta akrab (e) Adanya kegairahan kerja dan loyalitas tinggi terhadap organisasi (f) Tidak banyak terdapat penyelewengan dalam organisasi (g) adanya jaminan jaminan sosial tertentu. Semakin rapinya system administrasi dan semakin efektifnya manajerial. pengontrolan tugas. situasi dan kondisi sosial. dan waktu yang makin ekonomis dan efisien. (e) organisasi dengan cepat dan tepat dapat menyesuaikan diri pada tuntutan tuntutan perkembangan dan perubahan dari luar organisasi masyarakat. Manajerial yang efektif dimaksud adalah: (a). 157-158) memaparkan tentang kriteria keberhasilan kemampuan manajeial antara lain: (1) Meningkatkan hasil. halaman 157. disiplin diri.158 yang dikutip oleh kartini Kartono (1983. penelitian sumber daya manusia. Persaingan dunia dalam segala hal yang begitu kompleks dengan kondisi sumber daya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Semakin meningkatnya aktifitas. politik dan ekonomi (3). menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan mempertinggi hasil guna Peter F. dana. etnik.

Hasan dan Muhammad Idrus (dalm Pedoman Pengawasan untuk madarasah dan sekolah umum. dewan sekolah dan masyarakat lingkungan sekitarnya) sebagaimana dinyatakan oleh Qodri Azizy. Menciptakan kewibawaan. Memecahkan masalah (3). halaman 9 adalah sebagai berikut: (1).manusia yang memprihatinkan. (9). orang tua murid. bersih. Membuat perencanaan kerja (2). (2003) menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang policy dalam menentukan kebijakan di lingkungan sekolah. Craig (1987) menguraikan tentang kemampuan kepala sekolah dapat berhasil melaksanakan tugasnya sebagaimana tugas seorang pengawas dan berfungsi sebagai seorang supervisor yang dikutif oleh Yusuf A. Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pendidikan yang selanjutnya menjadi bahan laporan kepada instaansi atasan. 2003 ( dalam kendali mutu pendidikan ). Menciptakan kerjasama yang baik antara sekolahnya dan sekolah lainnya serta instansi terkait lainnya (6). Menciptakan kerja sama dalam suasana kondusif dengan semua komponenkomponen warga sekolah (guru. transparan. Keprihatinan kondisi ini memicu terciptanya suasana etos keja organsasi apapun menjadi menurun terutama bagi pelaksana organissi itu sendiri yang tidak memiliki kesiapan sama sekali dan atau tidak memilki pengembangan keterampilan untuk melaksanakan pekerjaannya. 2003. Mengumpulkan dan memanfaatkan masukan umpan balik ( performance feedback) (5). keperibadian tinggi. Jadi dapat diperoleh suatu pengertian bahwa Kepala sekolah dengan kemampuan manapjerialnya menyusun perencanaan yang matang sebagaimana dimaksudkan dalam pemaparan sebelumnya memilki hal-hal pokok sebagai berikut: (1) Jalannya pendidikan dan pengajaran (2). diharapkan mampu mendorong kegiatan layanan kependidikan antara lain (a). Mengatur waktu (8). tanggung jawab. Komunikasi lisan maupun tulis. Mengembangkan kemampuan diri (10). Melatih dan membimbing (6). menghawatirkan kita akan pergolakanpergolakan kondisi yang terjadi. (b). dan akuntabilitas terhadap keleluasaan yang dimilkinya serta bersikap demokratis. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Menjadi pioneer menegakkan prilaku dan sikap yang dilandasi oleh nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. Penyusunan dan implementasi program pendidikan dan pengajaran di sekolah (3) persiapan dan penerpan administrasi sekolah yang rapi teratur dan berkesinambungan (4). (5). Memotivasi (7). MA. etos kerja. Melakukan monitoring baik langsung atau tidak langsung terhadap berbagai bentuk kegiatan pendidikan di sekolah (d). Menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan (c). Atembun (1975) memaparkan tentang fungsi kepala sekolah sebagai supervisor bertanggung jawab melaksanakana pembinaan kearaha perbaikan situasi pendidikan dan peningklatan mutu belajar mengajar. Menghadiri dan menyelenggarakan rapat-rapat Abdul Aziz Drs. mengatur. Mengendalikan pekerjaan (4).doc 90 . siswa. Mewakili lembaga (11). mengorganisasikan suatu kebijaksanaan sekolah yang menyangkut kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler (7). Kepal sekolah harus menyadari betul bahwa pengembangan dan pembinaan pendidikan yang merupakabn bidang operasional dalam melaksanakan supervise untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah menjadi tanggung jawab kewenangannya.

(j) Pengisian buku pokok klapper dan raport serta lainnya. Ini dimaksudkan bahwa seorang seorang top menajer adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atu usaha. juga tak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengawas sekolah. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. berdasarkan Kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya . Otorisasi dan anggaran belanja sekolah (APBS) (c). cekatan/lincah. Keuangan dan pembukuannya (f). terbuka. Ruang lingkup administrasi guru dan pegawai sekolah Fungsi Kepala sekolah sebagai pemimpin memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tenggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. (2). Seorang manajer yang sukses artinya memilki kemampuan dan mampu mengelola organisasinya. pemindahan. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. pegawai tata usaha. cerdas. suka berfikir positif. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. kepala sekolah dituntut: Jujur.kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. mampu mengantisipasi perubahan tiba-tiba. pemberani. Qodri A. kreatif. siswa. Kepala Sekolah sekolah disamping berfungsi sebagai top manager sekolah.doc 91 . pengontrol tertinggi yang melakukan supervise manajerial dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru. Hal ini menentukan suatu prosesyang berlangsung secara benar. penuh tanggung jawab. menggairahkan. penempatan . Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengenmdalalikan jalnnya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiriberfungsi pada hakekatnyasebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Korespondensi surat menyurat dan kearsipan (g) Masalah kepegawaian (h) Laporan (i) Pengangkatan.Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor terbatas dilingkungan sekolah dengan tugas dan tanggung jawabnya serta ruang lingkup garapannya yang sangat luas dan kompleks. Azizy (2003): 17-19 mengungkapkan tentang ruang lingkup tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor antara lain : (1) Ruang lingkup administrasi tata laksana sekolah seperti (a) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha (b). mengoreksi kelemahan. terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. komunikatif. dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajaar agar (siswa) dapat mencapai prestasi n hasil belajar yang lebih meningkat. Guna mendukung hal ini. dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. idealis. Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. masalah kesejahteraan personalia sekolah (d). aspiratif. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama. Kepala Sekolah sebagai supervisor disekolah. dan produktif). masalah perlengkapan dan perbekalan sekolah (e). dan mitra kerja “komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki. kooperatif. pemberhentian pegawai guru honorer. dan merupakan kunci pembuka suksesnya organisasi.

dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan.doc 92 . mendorong profesionalisme kepala sekolah. 2000). Tujuan MBS adalah Peningkatan efisiensi. merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsure organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. dan iklim sekolah. dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. Peningkatan mutu. dan guru. antara lain. . berlakunya sistem insentif dan disinsentif. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan intidari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik akan disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat sipergunakan sebagai pedoman kerja. fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas. istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Pembinaan. Pelaksanaan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. tingkat pengulangan. merekam. manajemen sekolah. Pengawasan. memberdayakan guru. dan perubahan perencanaan ( Fattah. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. Manfaat MBS yaitu memberikan beberapa manfaat diantaranya dengan kondisi setempat . antara lain. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. memberi penjelasan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar dari MBS adalah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. Hakekat Manajemen Berbasis Sekolah Pada Hakekatnya. Fungsi-fungsi pokok manajemen Perencanaan. pembinaan. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. tingkat putus sekolah. merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. orang tua. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. moral guru. hasil belajar. melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal 3. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektik dan efisien. rancangan ulang sekolah. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah. terutama dalam bidang pendanaan. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. dapat diperoleh. petunjuk. serta memperbaiki kesalahan.

maka seluruh institusi yang berkaitan dengan UU tersebut otomatis harus melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalamnya. Kepuasan peserta didik. 7. dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah.doc 93 . 8. tingkat dan kualitas usaha. perasaan senang guru. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. kekuatan kecenderungan dan keinginan guru. peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya. Semangat. 1. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. guru. perbandungan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut. bagaimana peserta didik. bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 5. Pertumbuhan. bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya. yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut. Sesuai dengan amanat UU tersebut. teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai suatu proses pemberdayaan terhadap beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Produktivitas. 6. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan. dan produktif. maka paradigma pendidikan berubah dari yang bersifat sentralistik menuju ke arah desentralistik. seperti berikut: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control ( atas diri dan lingkungannya ). Adanya kerjasama dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. tujuan-tujuannya. jasa.Seluruh institusi pendidikan siap atau tidak Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi. Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. 4. tujuan. 2. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. Motivasi. Menggunakan pendekatan partisipatif. Kepuasan kerja guru. guru didorong untuk berinovasi. hasil. sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah. Perubahan paradigma ini mempunyai dampak yang luas di bidang pendidikan dan persekolahan di Indonesia. lancar. dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah. Bekerja dengan manajemen Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. tradisi-tradisinya.dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. 3. rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. peserta didik. Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya. Kualitas. Pendidikan untuk keadilan. kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efisiensi.

Dan sebelum desentralisasi. Pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya. metoda yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan aktif. Salah satu alasan mengapa MBS diperlukan adalah karena MBS merupakan proses pemberdayaan. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja. ekonomi. b) Pengalihan tanggungjawab. dialog. Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat populer dalam era reformasi.. di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. dengan melatih kontrol atau pengambilan keputusan maka diharapkan mendorong semua aspek organisasi. proses belajar mengajar. Kelompok ini diharapkan tumbuh secara alamiah dan pada gilirannya perlu dibentuk koalisi di antara para anggota kelompok. Pendidikan untuk keadilan.doc 94 . Kepemimpinan dan pemimpin diharapkan lahir secara alamiah dalam proses ini. guru diharapkan sebagai pembimbing proses dan nara sumber. e) Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes. segala sesuatu yang dalam MBS dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan dengan musyawarah. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Sekarang ini beberapa propinsi di Indonesia mulai mencoba menerapkan MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. beberapa sekolah di Indonesia sudah ada yang melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. dan aktivitas kelompok secara mandiri. Menggunakan pendekatan partisifatif. g) Metoda yang mendorong kepercayaan diri. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumber dana dan administrasi. antara lain: Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. dalam MBS terjadi pengalihan dari pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberdayakan diri dan lingkungannya. Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah adalah sebagai berikut: a) Penyusunan kelompok kecil. 20 Tahun 2003 diluncurkan kebijakan tentang persekolahan.harus mulai merubah dan berubah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Berlandaskan ketentuan UU No. dan politik sebagai proses pemberdayaan kedudukan partisipan dalam masyarakat meningkat dalam hal-hal khusus tertentu. pemberdayaan difokuskan pada kelompok kecil yang mandiri. Komitmen guru sangat diharapkan dalam hal ini. Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. hak-haknya yang memiliki posisi yang seimbang dengan yang lain yang telah lebih dulu mapan kehidupannya. pengalaman dari masing-masing partisipan akan menghasilkan fokus yang melibatkan setiap orang yang terlibat melalui aksi dan reaksi yang sama dan menimbulkan keinginan untuk menghadapi resiko bersama. Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. c) Pimpinan oleh para partisipan. f) Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi. d) Guru sebagai pasilitator. h) Meningkatkan derajat kemandirian sosial..

Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. orangtua. antara lain Kepala Sekolah. guru baru. Di dalam MBS. Namun selanjutnya bagaimana efektivitas institusi sekolah dalam menerapkan kebijakan MBS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. siapakah yang paling berkepentingan dan siapakah yang harus menjadi pemimpin (leader) agar kebijakan MBS mencapai tujuannya? Secara teoritis. Sesuai dengan etos MBS peran setiap pihak sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah. Mewujudkan temwork yang kompak. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. cerdas. terlibat dan berperan dalam rangka meningkatkan kualitas mutu sekolah. dan dukungan Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah. orang tua. masing-masing membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik bagi keperluan mereka sendiri. dapat dikatakan bahwa kebijakan MBS adalah kebijakan yang mendorong kemandirian dan memberdayakan potensi sekolah-sekolah di Indonesia. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. penilaian. Keterlibatan maksimal dari berbagai pihak. inovatif. melalui proses terbuka. Melaksanakan keterbukaan manajemen. partisipasi warga. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Akan tetapi pada prakteknya. melainkan faktor kepemimpinan (leadership). Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. tantangan. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. aman dan tertib. aspiratif. Namun pada prakteknya. Terjadi transformasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sekolah Seluruh komponen warga sekolah yakni kepala sekolah. maka pengembangan kepemimpinan dari Kepala Sekolah dan Pemilihan Ketua Komite Sekolah perlu mendapat perhatian yang serius. . Dewan Pendidikan. kepemimpinan Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah paling menentukan kebijakan sekolah seperti tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran. dan kurikulum.doc 95 . kreatif. dikatakan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya tergantung dari kemampuan manajerial. para guru. tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior. atau orang tua yang petani. peran Kepala Sekolah dan Komite Sekolah sangat menentukan. seperti : budaya mutu. guru. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Mengembangkan komunikasi yang baik. disiplin. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. Pihak-pihak lain seperti. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. bertanggung jawab. para guru.Pelaksanaan MBS sekarang terbukti dapat mengubah kebudayaan dan sistem. Berdasar teori di atas. dan Dinas Pendidikan di daerah benar-benar diharapkan bagi suksesnya MBS dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan melihat tanggung jawab besar tersebut. komite sekolah dan masyarakat yang peduli. tantangan. diskusi dan saling tukar pikiran dalam rangka mendukung guru di lapangan dan proses belajarmengajar secara maksimal. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. kejelasan visi dan misi. komite sekolah. Dengan demikian. semua pihak memang harus terlibat aktif yakni kepala sekolah. Semua stakeholder. sehingga sekolah berkembang efektif dan "sustainable". Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. dan dinamis. kepegawaian. b) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. demokratis. Kemudian. para guru. Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. budaya progresif. komite sekolah dan masyarakat harus berbenah diri. Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah perlu diperhadapkan pada serangkaian pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kepemimpinan. Dewan Pendidikan. dukungan merupakan pengalaman yang akan mengembangkan kepemimpinan seseorang.

dan pemerataan pendidikan. ketenagaan. mutu. Kemudian duduk bersama antara kepala sekolah. dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan. untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah. Program biasanya disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang tetap mengacu pada visi dan misi sekolah. Agar prioritas tersebut dilaksanakan oleh sekolah maka pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan dengan efektif. Oleh karenanya maka pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi. Selain dari tantangan yang digambarkan di atas. Manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan kewajiban sekolah. sarana-prasana.doc 96 . dan siapa yang terlibat didalam penyusunan tersebut. perlu diketahui bahwa sekolah yang tidak efektif dalam meraih mutu ada kalanya dipengaruhi oleh kompleksitas dalam manajemen sekolah seperti kondisi siswa. a. serta mengefesienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. Pedoman tersebut terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan terevaluasi dengan baik dalam arti.Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja. Peranan Orangtua dan Masyarakat Dengan MBS diharapkan dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat. kebijakan dan prioritas pemerintah. dan tetap berpijak pada kondisi yang sesungguhnya. Setiap pengambil kebijakan pada setiap tingkat pemerintahan di Indonesia ini harus lebih memahami tentang aturan yang dipedomani dalam menghasilkan sosok kepala sekolah yang berkualitas. pembiayaan dan kebijakan pemerintah. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana merencanakan program-program sekolah. peranan orangtua dan masyarakat serta peranan profesionalisme dan manajerial dan pengembangan profesi. Kewajiban Sekolah MBS menawarkan keleluasaan pengelolan sekolah. Hal ini dapat dilakukan mulai dari proses rekutmen. dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan menghitung biayanya (kepedulian masyarakat terhadap pendidikan mulai tumbuh) Mengajak anggota stakeholder sekolah lainnya untuk dapat berpartisipasi menyumbangkan pikiran dalam merencanakan pengembangan sekolah Mengajak anggota stakeholder sekolah untuk saling memantau program sekolah b. efesiensi. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk-muluk. Perkembangan sekolah agar menjadi lebih baik tergantung dari beberapa hal. diharapkan rekutmen dan pengembangan kepala sekolah dapat menghasilkan pembentukan kepemimpinan kepala sekolah yang terampil mengelola kebutuhan pelanggannya. guru. sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujuai pemerintah. komite. Kebijakan dan Prioritas Pemerintah Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit meraih kualitas pendidikan yang efektif. diklat dan pengembangan profesi kepala sekolah yang lebih strategis. c. guru dan pengelolaan sistem pendidikan profesional. d. Peranan Profesionalisme dan Manajerial Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan erat dengan program melek huruf dan angka.

Merubah paradigma bahwa sekolah hanya boleh “dikelola” oleh Kepala Sekolah. guru. menghasilkan target yang melebihi perkiraaan semula Dengan keterbukaan dari pihak sekolah. e. mengurangi kecurigaan pihak masyarakat. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. karena pelaksanaan MBS dimungkinkan beroperasi meningkatkan peranan yang bersifat profesional dan manajerial. BAB IV Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2000: iii). dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah. menjadi “mengajak” komite dan wakil orangtua untuk dapat memikirkan rencana dan kemajuan sekolah secara bersama-sama Pola penyampaian rencana penyusunan program dan kebutuhan sekolah secara kekeluargaan. dan malah menghasilkan peningkatan rasa memiliki dari stakeholder sekolah semakin tinggi. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. karena mereka dilibatkan mulai tahap perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan dan monitoring. Pengembangan Profesi Didalam MBS pemerintah harus dapat menjamin bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. Secara esensial konsep filosofis dalam MBS adalah Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia.doc 97 .

fungsi mediasi pendidikan ( Danim. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. McCauley. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. melainkan sebagai intinya. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. PENGEMABAN KEPEMIMPINAN DALAM IMPLEMENTASI MBS Mengacu pada definisi pengembangan kepemimpinan (leadership development) sebagaimana telah dijabarkan secara rinci dalam bab terdahulu adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Selain itu. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. Moxley. mekanika kuantum. dan seterusnya. aturan. bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. berupa penciptaan norma. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Sekolah sebagai salah satu Lembaga satuan pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. Orang tua. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. tumbuh dan berubah Munculnya teori relativitas. oragnisasi dimana mereka bekerja. Hah tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. beradab. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. dan kebijakan baru. penyadaran dan mediasi secara simultan. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. terdapat pula satuan Pendidikn informal dan pendidikan kemasyarakatan yang kesemuanya merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. prosedur. 1998:4). Russ .PEMBAHASAN A. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan.doc 98 . Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan menurut (Cynthia D. tetangga dimana mereka bermasyarakat. yaitu: 1. Ellen Van Velsor. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. guru. reproduksi. fungsi progresif pendidikan dan. satuan pendidikan dalam hal ini sekolah juga berperan sebagai wahana pengembangan. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. 3. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. Dengan adanya sekolah sebagai satuan Pendidikn formal. 2007:1). Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat.

doc 99 . Dalam buku “Handbook Leadership Development” (1998) diungkapkan bahwa hanya elemen pengalaman yang mengandung penilaian. dan dukungan. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. Kondisi tersebut akan membawa kebersamaan dalam membangun iklim kondusif di sekolah. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Ironisnya selama ini. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. dan dewan sekolah. dan struktur persekolahan. sebagai manajer Kepala Sekolah berfungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan.dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. dan terpantau dengan baik. ada kesamaan pola pikir dan pola tindak antara pemimpin dengan warga sekolah dan masyarakat. yang memiliki fungsi sebagai pemimpin dan juga sebagai manajer. proses. dinas pendidikan daerah. Kepemimpinan di sekolah merupakan faktor penting dalam melaksanakan program sekolah dan memobilisasi seluruh sumberdaya sekolah. program sekolah yang terencana. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. Oleh karena itu Pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. orangtua. Pengembangan Kepemimpinan pada prakteknya. demikian juga kepemimpinan di sekolah yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis.Dalam praktiknya kepala sekolah dapat menjadi contoh dan panutan. kepala sekolah. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. termasuk fenomena moralitas. tantangan. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Kepala Sekolah merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam implementasi MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Bersamaan dengan itu. terlaksana. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Pemimpin di sekolah adalah kepala sekolah. komite sekolah. tantangan. dukungan merupakan pengalaman yang dapat mengembangkan kepemimpinan seseorang. tranparansi dan akuntabilitas kinerja sekolah. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. mengoptimalkan peran serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). penilaian. Keberhasilan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat ditentukan political will kepemimpinan di sekolah itu sendiri. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Sebagai pemimpin Kepala sekolah berfungsi memobilisasi dan memberdayakan sumber daya yang ada. Berikut adalah salah satu contoh kreativitas kepala sekolah yang mengelola sekolah dengan mengorganisasi seluruh sumber daya. para guru. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). dapat mendistribusikan tugas di sekolah sesuai dengan kapasitas. Pihak-pihak lain seperti. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management.

1) banyak orang memerlukan figur pemimpin. referensi. Untuk memahami faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. Dalam Manajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya. yaitu kekuasaan paksaan. tetangga dimana mereka bermasyarakat. penghargaan." Menjawab Krangka pemecahan masalah tentang Hakikat menjadi seorang pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinannya pada intinya tentu berfokus ke dalam Keonsep Pengembangan Kepemimpinan sebagaimana telah dikemukan dalam banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan. Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. dan seterusnya. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBS. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknya tujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yang dipimpinnya. Karena sekolah memiliki kewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. dan apa rencana selanjutnya. Analisis awal tentang kepemimpinan. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup "seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan konsep kekuasaan. Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar. dari tahun 1900an hingga tahun 1950-an. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. oragnisasi dimana mereka bekerja. dan hubungan. maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya. dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan merupakan bagian dari kepemimpinan. keahlian. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu. legitimasi. Ada tiga hal penting dalam pengembangan kepemimpinan ini. para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). informasi. yaitu . 3.doc 100 . atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Strategi apa yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tumbuh dan berubah Langkah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implentasi MBS sebagaimana telah dilaksanakan pengkajian tentang Konsep dasar MBS yang merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Dengan kekuasaan pemimpin memperoleh alat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelomponya. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers).standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. yaitu: 1.

termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan MBS Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah.diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. sistemik. B. kepala sekolah. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan MBS. Namun realitasnya terjadi berbagai fenomena yang tampak dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Gaffar dalam Mulyasa (2002) menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat tingkat sekolah. Secara sederhana dikatakan. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. 2003:42). organizing. IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH Manajemen dapat diartikan sebagai administrasi. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. dan pengelolaan. pengawasan. orang tua. dan pemecahan masalah. leaflet. staffing. terdiri dari orang dan teknologi dan berjalan secara perlahan. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Dengan kata lain. dan akuntabel. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. administrator. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. Aspek-aspek terpenting dalam manajemen meliputi perencanaan. Manajemen adalah seperangkat proses yang dapat menjaga sistem yang kompleks. dan murid (Nurkolis. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah.doc 101 . penganggaran. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Oleh karenanya. dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. anggota masyarakat. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang menciptakan organisasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Demikian De grouwe menegaskan. transparan. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah.

Ini mengandung makna bahwa implementasi MBS tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan dalam hal sebagai berikut : Manajemen Kepemimpinan • Merencanakan dan menganggarkan: • Membuat pedoman: mengembangkan visi membuat tahapan-tahapan yang detail dan masa depan – visi jangka panjang – dan schedule untuk pencapaian hasil yang strategi-strategi untuk menghasilkan diinginkan. Ciri-ciri MBS. bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). 1996). pengelolaan SDM. kemudian mengalokasikan perubahan yang diperlukan untuk sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut pencapaiannya • Mengarahkan orang: mengkomunikasikan • Mengorganisasi dan staffing: membuat gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku beberapa struktur untuk pelaksanaan kepada semua orang dengan mana unsure-unsur perencanaan. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability dengan menerapkan manajemen pola MBS. dan memberi inspirasi kepada mereka untuk membuat hal itu terjadi meskipun banyak hambatan (John P. Dengan demikian. percaya diri. MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. membimbing orang sesuai dengan visi tersebut. memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya. lembaga terkait. maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. mengisi kerjasama mungkin diperlukan seperti struktur tersebut dengan individu-individu. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah.doc 102 .mampu mengadaptasi pada lingkungan yang berubah secara signifikan. kelemahan. dan saling percaya dalam bekerja. masyarakat. Kotter. strategi dan yang menerima validasinya merumuskan policy dan prosedur untuk • Memotivasi dan memberikan in spirasi: Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. peluang. untuk mempengaruhi kreasi team dan mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kerjasama yang memahami visi dan untuk melaksanakan rencana tersebut. Kepemimpinan mendefinisikan seperti apakah masa depan itu. proses belajar-mengajar dan sumber daya Melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya. sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal yaitu : menyadari kekuatan. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. yaitu: memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. dan ancaman bagi sekolah tersebut mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua. Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

kemudian merencanakan kebutuhan manusia yang sering belum dan mengorganisir untuk memecahkan terpenuhi persoalan-persoalan tersebut • Menghasilkan perubahan. Pelaksanaan Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. dan menyemangati orang un tuk memecahkan membuat metode atau system untuk hambatan-ham batan politis mendasar. efektif dan efisien. mengidentifikasi defiasi dengan kepuasan dasar yang merupakan perencanaan. Didalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. 4.doc 103 . memonitor kegiatan birokrasi. Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. maka tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur segala hal yang berguna dalam pembelajaran dan sesuai dengan tujuan sekolah maupun tujuan pendidikan . da membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Mulyasa (2002) memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. Dengan gagasan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal. sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat.membantu mengarahkan orang. dan memiliki potensi dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang untuk secara konsisten memperoleh hasilsungguh-sungguh bermanfaat (seperti hasil jangka pendek yang diinginkan oleh produk baru yang diinginkan customer. sering pada • Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan tingkat yang dramatis. Tilaar (1991: 22) dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. selalu pendekatan-pendekatan baru guna tepat waktu. Perencanaan Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. 2. stakeholder (seperti untuk customer. Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain: 1. Pembiayaan Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya. Mulyasa (2002) mengemukakan desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. dan keterbatasan-keterbatasan • Mengawasi dan memecahkan masalah: sumber daya untuk berubah se suai memonitor hasil. Pengawasan Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. 3.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional..doc 104 . MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah. dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. Berdasar kajian pengalaman MBS yang dipraktekan di beberapa negara. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya.Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Dengan demikian. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar terjadi pemerataan standar pendidikan di seluruh tanah air. guru. lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar. lebih mengutamakan teamwork. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipasif danpartisipasi masyarakat semakin besar. kesempatan yang lebih besar kepada kepala sekolah. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran murid. guru. 2. Keterlibatan itu tidak berarti banyak jika keputusan yang diambil tidak membuahkan hasil lebih baik MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Dengan taruhan seperti itu. perubahan didorong dari motivasi diri sekolah. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. harus ada keyakinan bahwa MBS memang benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. pemerataan. bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya. mengangkat dan memberhentikan karyawan. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi pengelolaan sekolah lebih desentralistik. murid. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007) Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan yaitu sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Penerapan MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. MBS dan Konsep Desentralisasi MBS merupakan salah satu gagasan yang diterapkan untuk meningkatkan pendidikan umum. dan masyarakat dalam pengelolaan secara mandiri. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. Jadi. didapat ciri desentralisasi yang diberikan oleh penguasa pusat kepada tingkat sekolah dalam bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualita dan keadilan. Dengan demikian. MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Oleh sebab itu. Kewenangan tersebut untuk hal hal tertentu seperti menentukan anggaran sekolah. MBS akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampumelibatkan stakeholders terutama peningkatan peranserta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian. ia bukan sekadar cara demokratis melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan.

penyelenggara. “Berdasarkan teori belajar. efektif. Pertimbangan kedua adalah lahan. dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. aman.Jadi. karena pengelolaan lingkungan sekolah perlu mempertimbangkan akuntansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata dalam pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. ternyata kita sudah ketinggalan jauh dengan fasilitas dan lingkungan sekolah mereka yang nyaman. dan orangtua siswa. Selanjutnya Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) juga disusun bersama antara Kepala Sekolah. atau Australia. Mungkin itu pula sebabnya siswa-siswi di negara-negara tetangga kita lebih berkualitas secara rata-rata daripada di Indonesia. bebas banjir. Efisiensi pemanfaatan lahan sekolah pada pemakaian jangka panjang akan menguntungkan warga sekolah dan menghemat sumber daya karena sekolah yang dilengkapi dengan tempat pengelolaan air bersih. konsep pengembangan manajemen masa depan menginginkan perubahan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif guna perbaikan manajemen sebelumnya yang dirasa belum membuahkan hasil yang memuaskan. misalnya dengan datang di sekolah lebih awal.Melirik sekolah-sekolah di negara tetangga seperti di Singapura. limbah. dan memiliki aksesibilitas yang tinggi. Lahan sekolah pada umumnya digunakan dengan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau. Perubahan manajemen sekolah seperti ini berdampak pada tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. dan menyenangkan (PAIKEM). yaitu lokasi yang strategis. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan air terserap kembali ke dalam tanah juga dapat berfungsi sebagai suplai air bersih dimusim kemarau. Dalam bagian ini satu persatu langkah tersebut akan dibahas lebih rinci. kreatif. Guru. dan. Jadi prinsip perubahan manajemen sekolah adalah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. Pengembangan mutu pengelolaan sekolah menuntut peran kepala sekolah yang efektif dan efisien. sampah dan efisiensi pengelolaan lahan akan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Pertimbangan pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat.doc 105 . termasuk meredam pencemaran udara dengan adanya ruang terbuka hijau yang tertutup oleh pohon yang rindang. bahkan RAPBS ini dipajangkan. Malaysia. Terlebih. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. Salah satu upayanya adalah pembentukan MBS yang memberikan keleluasaan dari masing masing sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru. Kepala sekolah mampu memberikan tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sesuai dengan kapasitas dan perannya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pembangunan dan pengembangannya tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan. Lokasi yang baik juga didukung oleh infrastruktur jalan yang memudahkan sekolah untuk dijangkau oleh sarana transportasi umum. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya”. Pelaksanaan program dan evaluasi keberhasilannya juga dilakukan secara bersamasama dengan komite dan orang tua siswa. siswa di sana juga mendapatkan kewajiban yang mengikat untuk bersama-sama merawat lingkungan di sekitar sekolah. melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. dilengkapi dengan drainase serta sarana dan prasarana terpadu yang berkualitas. Perencanaan program sekolah dilakukan bersama-sama dengan komite dan orang tua siswa. Menurut Ramadhan (2008:1). Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. Komite Sekolah. utamanya pola kepemimpinan dan kerjasama yang solid Perbaikan kinerja kepala sekolah dasar dan madrasah mula-mula adalah kepala sekolah sebagai tenaga potensial dalam pengelolaan sekolah mampu memberikan teladan terutama dalam kedisiplinan.

pengorganisasian. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. Dalam praktiknya. baik potensi warga sekolah dan potensi warga masyarakat yang dapat dijangkau untuk dijalin kerjasama yang sinergis. Dalam meningkatkan manajemen sekolah. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi sekolah. pelaksanaan. yang kegiatan pengembangan mengimplementasikan MBS melalui kegiatan yang meliputi: 1. Disamping itu. Pola sinergi berbagai potensi dalam pengelolaan pendidikan akan berdampak pada hal berikut: munculnya kepemimpinan yang partisipatis. ketersediaan Dari pemaparan di atas. pola kepemimpinan yang efektif dan partisipatif sangat diperlukan. dan memunculkan iklim belajar yang baik. Kepala Sekolah idealnya melakukan terobosan sebagai berikut: 1) Berusaha agar setiap hari datang di sekolah berlomba dengan siswa agar tidak kedahuluan mereka. dan fleksibel. SMA Negeri 2 Mataram telah memiliki kreativitas menempuh beberapa langkah untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Sekolah Model. karena alat pelajaran yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. setiap satuan pendidikan wajib memiliki Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 2) Menyusun program sekolah yang jelas berdasarkan visi.mampu mengorganisasi sumber daya serta dilandasi perubahan alur berpikir terutama pada pemberian tanggung jawab kepada guru dan stakeholder sebagai mitra dalam pengembangan sekolah kemudian dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah membutuhkan peran kepemimpinan kepala sekolah dan kerjasama yang baik antar warga sekolah dan warga masyarakat yang terkait (stakeholder). Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa. peralatan pendidikan. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya. maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju. 3) Menginventarisasi kebutuhan pembelajaran dan kebutuhan sekolah lewat pertemuan dengan guru dan pihak terkait untuk bisa menyusun RIPS dan program kerja jangka pendek serta RAPBS. misi. Di samping itu. Renovasi fisik dan penataan lingkungan sekolah. Untuk mencapai kemajuan yang diinginkan beberapa sekolah memiliki kreativitas yang bervariasi. bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. buku dan sumber belajar lainnya. dan tujuan yang akan dicapai. 4) Membentuk beberapa wakasek dengan tugas dan peran yang berbeda tetapi saling mendukung ketercapaian program sekolah. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. pengelolaan sekolah harus mempertimbangkan berbagai potensi.doc 106 . Oleh karena itu. a) Pengembangan/ Pengadaan Fasilitas sekolah b) Pengembangan penyediaan Lapangan bermain c) Penataan Pepohonan rindang d) Penataan Tempat pembuangan sampah e) Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung a. tergambar bahwa lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. adanya tranparansi dan akuntabilitas berbagai hal di lingkungan sekolah itu sendiri. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam bagian Pendahuluan. media pendidikan. adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah. pengontrolan kinerja sekolah di berbagai sisi. demokratis.

d. perlu ditumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga sekolah untuk turut menjaga lingkungan. Penataan Tempat pembuangan sampah Sampah adalah salah satu musuh utama yang mempengaruhi kemajuan suatu peradaban. bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa. tempat berekreasi dan ruang tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Dalam masalah sampah di sekolah. ruang bengkel kerja. maka semakin beradab pula orang-orang di tempat itu. ruang pimpinan satuan pendidikan. Jika kita mencari korelasi antara lingkungan sekolah yang nyaman dengan prestasi siswa di sekolah. c. Karena itulah dibutuhkan banyaknya pohon rindang di lingkungan pekarangan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. Di antara fasilitasfasilitas yang penting untuk diperhatikan antara lain: Pengembangan penyediaan Lapangan bermain Fasilitas lapangan bermain adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. prasarana .yang meliputi lahan. ruang unit produksi. dan kegiatan perayaan/pentas seni yang memerlukan tempat yang luas. instalasi daya dan jasa. tempat bermain. e. Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dan rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Nampaknya semakin bersih suatu tempat. Kadar oksigen yang sedikit pada manusia akan menyebabkan suplai darah ke otak menjadi lambat. Caranya adalah dengan menyediakan tempat pembuangan 107 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Inilah yang menjadikan jumlah oksigen berkurang. Penataan Sistem sanitasi dan sumur resapan air Sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting sebuah lingkungan layak untuk ditinggali. ruang tata usaha. Belajar memerlukan kondisi psikologi yang mendukung. padahal nutrisi yang kita makan sehari-hari disampaikan oleh darah ke seluruh tubuh kita. Oksigen adalah salah satu pendukung kecerdasan anak.doc . khususnya yang berhubungan dengan ketangkasan dan pendidikan jasmani. Hal ini terbukti dari kesadaran penduduk-penduduk di negara maju yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. kegiatan upacara/apel pagi. bersih. Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A. ruang perpustakaan. tentunya kegiatan belajar mengajar memerlukan lingkungan pekarangan sekolah yang nyaman. tempat berolahraga. Dengan sistem sanitasi yang bersih. dan cukup pepohonan. Bagi para siswa. Jika para siswa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan kelas yang bersih. ruang kelas. dan sedikit polusi suara. terlebih jika harga tanah ikut melonjak naik. ruang kantin.b. ruang pendidik. tempat beribadah. maka seluruh warga sekolah akan dapat lebih tenang dalam mengadakan proses belajar mengajar. ruang laboratorium. Pada daerah rawan gempa dan yang tanahnya labil. maka didapatlah fakta bahwa proses belajar mengajar itu memerlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk dapat membantu siswa dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Selain itu lapangan bermain juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain siswa. diharapkan siswa akan lebih mudah mencapai tingkat prestasi yang lebih baik. Penataan Pepohonan rindang Semakin pesatnya pertumbuhan sebuah daerah menyebabkan pepohonan rindang habis ditebangi untuk dijadikan bangunan. Selain itu diperlukan juga sistem sumur resapan air untuk mengaliri air hujan agar tidak menjadi genangan air yang dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi kotor bahkan membahayakan apabila didiami oleh jentik-jentik nyamuk. udara yang bersih.

sampah berupa tong-tong sampah dan tempat pengumpulan sampah akhir di sekolah. dan memberikan contoh kepada siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. yang meliputi gedung sekolah. maka sekolah diliburkan. misalnya karena banyak materi yang terlambat atau tidak sempat disampaikan karena sering libur. Data Penerimaan siswa SMA Negeri 2 Mataram Tahun jumlah siswa Jlh siswa jumlah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini tentu saja terasa sangat mengganggu suasana belajar dan berpotensi menurunkan mutu pembelajaran karena banyak materi pembelajaran yang tertunda dan bahkan tidak tersampaikan karena keterbatasan waktu. Di SMA Negeri 2 Mataram. Kondisi yang ada di SMA Negeri 2 Mataram menunjukkan bahwa sarana fisik yang serba kurang. anak-anak menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih. Terlepas dari permasalahan sarana dan prasarana fisik. minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMA Negeri 2 Mataram selalu meningkat dari tahun ke tahun. apalagi jika ruangannya sudah sangat tua tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. jika terjadi musim hujan maka sering terjadi banjir karena pondasi sekolah yang rendah sehingga air menggenangi ruangan belajar. Lingkungan sekitar sekolah yang seperti itu akan dapat menyebabkan siswa cenderung tidak nyaman belajar. tapi juga kondisi lingkungan sekolahnya yang mendukung. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang segera. atau bahkan lingkungan sekolah yang letaknya berdekatan dengan tempat pembuangan sampah atau sungai yang tercemar sampah dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau-bau tak sedap. g. Tabel 1. Penataan Lingkungan sekitar sekolah yang mendukung Lingkungan sekolah yang dekat dengan pabrik yang bising dan berpolusi udara. atau lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan raya yang selalu padat. atau bahkan menurunkan kualitas kecerdasan akibat polusi tersebut. jumlah ruang belajar. bangunan sekolah sudah semestinya dibangun dengan kokoh dan memiliki syarat-syarat bangunan yang sehat. Sebagai konsekuensinya. f. Bangunan sekolah yang kokoh dan sehat Bangunan sekolah yang kuat dan kokoh akan menimbulkan rasa aman belajar di dalamnya. jumlah ruang laboratorium. Karenanya. misalnya dengan seringnya siswa diliburkan karena kondisi sekolah atau ruang belajar yang terendam air apabila hujan atau musim hujan tiba. Hal ini terlihat di dalam tabel berikut. Keenam poin di atas cukup mewakili kondisi sekolah ideal yang ingin dituju oleh SMA Negeri 2 Mataram dengan program renovasinya untuk menjadikan siswa siswi di sekolah menjadi siswa-siswi yang berprestasi. Prestasi belajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana anak-anak giat belajar dan dapat memahami pelajaran di sekolah. Sarana fisik yang tidak memadai seperti ruangan dengan kapasitas daya tampung yang kecil tentu akan memberikan suasana belajar yang sumpek. Begitu pula kondisi halaman akan mempengaruhi suasana pembelajaran.doc 108 . serta ruang administrasi dapat melemahkan budaya organisasi yang akan menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran yang pada gilirannya juga akan menurunkan prestasi sekolah. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. sehingga dapat menjadi anak-anak yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. seperti ventilasi yang cukup dan luas masing-masing ruang kelas yang ideal. Kasus-kasus tersebut adalah kasus yang perlu penanganan langsung dan serius dari pemerintah. Hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran dan bisa berdampak pada tidak tercapainya target pembelajaran.

termasuk: Kepala Sekolah. dalam rangka mempertahankan mutu sekolah. Misi. Renovasi Fisik Sekolah (RPS) sangat perlu dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya organisasi sekolah dalam rangka mewujudkan suasana pembelajaran yang sehat dan menunjang para pelaku pendidikan di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang bermutu sesuai dengan visi misi sekolah. Renovasi sarana fisik sekolah merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mewujudkan Visi.laki-laki perempuan 2008 310 312 622 2009 320 332 652 2010 472 605 1077 Sumber : SMA Negeri 2 Mataram Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun yang menunjukkan minat masyarakat yang ingin melanjutkan sekolah putra putrinya di SMA Negeri 2 Mataram sangat tinggi. Evaluasi menyangkut estimasi biaya. bukan untuk hal-hal lainnya seperti untuk bermegah megah. pengawasan dan evaluasi hasil renovasi fisik serta peningkatan mutu pembelajaran. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Hal ini sesuai dengan ketentuan Manajemen Berbasis Sekolah yang menyatakan bahwa salah satu tugas dan fungsi Kepala Sekolah adalah menjalankan Rencana dan Program Pengembangan Sekolah termasuk renovasi sarana fisik sekolah dengan melibatkan semua unsur. Tujuan dan Sasaran sekolah karena sekolah dituntut memiliki infrastuktur atau sarana fisik yang memadai guna menunjang proses pembelajaran yang kondusif untuk meningkatkan mutu sekolah. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah termasuk perbaikan sarana fisik sekolah melalui renovasi fisik. Tugas dan fungsi Kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah masing-masing. salah satu tugas Kepala Sekolah adalah menyusun rencana dan melaksanakan renovasi sarana fisik sekolah. Tujuan dan Sasaran Sekolah melalui program-program yang dilakukan secara berencana dan bertahap. Minat masyaratakat ini tentunya harus diakomodir oleh pihak sekolah dengan memberikan pelayanan yang baik dalam bentuk peningkatan sarana pendukung lainnya seperti: jumlah gedung (ruang belajar). Proses renovasi dimulai dari perencanaan. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan Visi. Misi. pelaksanaan. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS. pemerintah daerah dan tentunya para guru. serta jumlah guru dan staf akademik. kiranya dapat difahami bahwa renovasi sarana fisik sekolah adalah sesuatu yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah bersama dengan komite sekolah dengan mengkoordinasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. maka perlu peran semua pihak seperti komite sekolah. Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat dominan dalam mengkoordinasikan pemanfaatan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. dampak terhadap mutu pembelajaran dan rasio jumlah ruangan kelas terhadap jumlah murid.doc 109 . Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif / prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kondisi seperti di atas. Pembangunan gedung sekolah ini tentunya dengan melihat aspek kebutuhan. Beranjak dari kondisi di atas maka kiranya bukanlah hal yang berlebihan apabila kami pihak sekolah (Kepala Sekolah) terus memperjuangkan pembangunan sarana fisik gedung sekolah berupa penambahan ruang belajar. jumlah sarana penunjang lainnya seperti ruang laboratorium. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Bagian A ayat 1 butir a dinyatakan bahwa “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan visi dan mengembangkannya” serta ayat 2 butir a “Sekolah/Madrasah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya”. ruang perpustakaan. Akan tetapi kemampuan sekolah untuk mengakomodir keinginan masyarakat ini sangat terbatas.

2. mushola.1. Wakil orang tua siswa. dan jaringan internet. ruang UKS. 2. 2. serta (3) Tugas Kepala Sekolah. selama jam kerja. LCD monitor. Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran. guru dapat membawa siswa kepada suasana dan lingkungan pembelajaran yang sangat bervariasi dengan menayangkan materi yang diambil dari berbagai sumber dengan mudah pada saat pembelajaran berlangsung. 2002). Melengkapi laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia dengan komputer. Namun dalam kenyataannya. masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan disebabkan oleh beberapa hal. Guru dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Yang berkaitan dengan pengadaan fasilitas: 2. Wakil Siswa (OSIS). dan 3 unit komputer tambahan di ruang pengelola/penjaga laboratorium Multimedia. Pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru-guru Bangunan sekolah yang bagus dan kokoh dengan lingkungan sekolah yang memenuhi persyaratan kelayakan tidak akan dapat menjadikan sebuah sekolah maju tanpa dibarengi dengan terwujudnya fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai yang didukung kemampuan segenap pelaksananya untuk menjalankan segala fasilitas dengan baik dan benar. ruang guru telah dilengkapi dengan 2 unit komputer yang tersambung dengan jaringan internet. Menyediakan fasilitas internet dan wireless hotspot yang dapat diakses di seluruh kawasan sekolah setiap hari kerja selama jam kerja kantor. disebutkan bahwa salah satu upaya meningkatkan Manajemen Berbasis Sekolah yang diminta Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram adalah Sekolah mampu Melaksanakan Renovasi Sarana Fisik Sekolah dengan asas transparansi. Melengkapi ruangan belajar dengan fasilitas LCD monitor secara bertahap. pada akhirnya SMA Negeri 2 Mataram telah berhasil sedikit demi sedikit merealisasikan program renovasi sekolah yang telah direncanakan. 2. antara lain : (1) Keterbatasan dana. (2) Keterbatasan tim perencana sekolah . 2. Wakil Organisasi profesi. Dengan adanya jaringan internet dan LCD monitor.Wakil Kepala Sekolah.doc 110 . Dalam buku panduan pelaksanaan Workshop Pendayagunaan MBS Kecamatan / Kota dalam rangka renovasi sarana fisik sekolah. Sejalan dengan upaya renovasi fisik sekolah. tahun 2003 : 29).1. terutama di SMAN 2 Mataram.3. 1 unit komputer bagi administrator jaringan. Fasilitas hotspot sebagai pelengkap jaringan internet sangat diperlukan untuk memudahkan pengguna jaringan mengakses internet di mana saja di seluruh kawasan lingkungan sekolah. Saat ini.1.1. Guru. kamar mandi/WC dan fasilitas lainnya juga diperlukan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat siswa. akuntabilitas dan bekerja berdasarkan rencana dapat tercapai (Depdikbud Kota Mataram. masing-masing ruang laboratorium TIK dan laboratorium Multimedia telah dilengkapi dengan 40 unit komputer bagi siswa. baik di dalam maupun di luar ruangan.1. sekolah juga telah mengambil langkah-langkah strategis dalam hal pengadaan fasilitas dan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: 2. Bagi guru yang tidak memiliki komputer pribadi tetapi memerlukan komputer di sekolah. Semua komputer yang ada di kedua laboratorium tersebut tersambung dengan jaringan internet. Menyediakan beberapa unit komputer di ruang guru.1. Wakil Pemerintah dan Tokoh masyarakat (Depdiknas. fasilitas-fasilitas lain seperti sarana dan fasilitas olahraga. kantin. tempat parkir. yang sangat kompleks. Akan tetapi. koperasi sekolah.4. dengan berbagai keterbatasan yang menjadi kendala. Tata Usaha.

dan menyenangkan (PAIKEM). kreatif. untuk mengikuti Pelatihan Pembuatan Website Sekolah Dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan APEC Learning Community Builders (ALCoB) di Hotel Jayakarta dari tanggal 30 Mei – 3 Juni 2011.. Mengikut sertakan dua orang guru dalam BRIDGE Project.Pd. membuat bank soal. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan pertemuan dengan para guru Bahasa Jerman untuk membahas hasil observasi Kepala Sekolah dan apa-apa yang perlu ditingkatkan dari pelaksanaan pengajaran di kelas. Dalam proyek ini. Queensland. kreatif. salah satu upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengadakan pelatihan penggunaan TIK bagi guru bahasa Jerman. guru dapat menyajikan materi pembelajaran secara online dan siswa dapat mengaksesnya secara online pula. S. beberapa orang guru dan siswa SMA Negeri 2 Mataram telah terlibat dalam komunikasi aktif lewat ”Membership 26” dengan guru dan siswa di Harristown State High School untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang budaya kedua negara. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran aktif. 2. Yang berkaitan dengan penjaminan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidik untuk memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dan pengajaran: 2.1.1. 3. efektif. efektif. membuat modul bahan belajar berbasis IT. dan menyenangkan. dan media pembelajaran (e-learning). Inovatif. S. Sebagai kelanjutannya.5. 2. 3. Pelatihan Penggunaan Peralatan TIK Bagi Guru Bahasa Jerman Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Bahasa Jerman yang aktif.. di antaranya sebagai: media informasi. media komunikasi.2. Kegiatan berikutnya adalah kegiatan observasi kedua untuk melihat peningkatan pelaksanaan pembelajaran setelah mendapatkan masukan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah dan menyimpan data-data yang diperlukannya bagi kemudahan pengajaran di kelas. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam dua tahapan. SMA Negeri 2 Mataram telah mengikutsertakan 2 orang guru. Di samping itu. baik di dalam maupun di luar sekolah. Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk membuat blog. S. Keberadaan website sekolah memiliki beberapa nilai penting. Membuat website sekolah sebagai sarana pusat sumber belajar di dunia maya.Pd.. 2. yaitu Hendri Agung Mahendra.Kom. BRIDGE ( Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing) Project adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dan Australia yang dimotori oleh Asia Education Foundation (AEF) yang melibatkan 90 pendidik dari Indonesia dan 90 pendidik dari Australia dan 40 sekolah di Indonesia dan 40 sekolah di Australia.1. yaitu Hudri Ahmad.doc 111 .Pd. untuk mengunjungi sekaligus mengikuti pelatihan lanjutan tentang BRIDGE Project di Harristown State High School. dan memanfaatkan e-mail dan facebook untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran. guru dapat dengan mudah mengkomunikasikan rencana pengajaran dan materi pembelajaran kepada siswa serta orang tua dan masyarakat dapat memanfaatkan website sekolah sebagai sarana untuk memantau perkembangan pembelajaran para siswa dalam bentuk informasi kehadiran dan pembayaran dana komite sekolah.1. 2. Tahapan pertama adalah pengenalan dan pelatihan menggunakan program Power Point untuk pengajaran yang diikuti dengan observasi oleh Kepala Sekolah terhadap pelaksanaannya di kelas. mengadakan ulangan dan penilaian lewat internet. alat hubung antara sekolah dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat di luar sekolah.. kepala sekolah juga dapat menjalankan fungsi manajemen dengan afaktif dan efisien lewat website sekolah.2.2. dan Sri Wahyuni. M. Australia.2. Mengadakan pelatihan perancangan web dinamis sekolah bagi administrator website sekolah dengan mengirim salah seorang guru TIK.3.

B. Kedua macam kegiatan ini telah dapat meningkatkan kompetensi guru-guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada bidang-bidang yang dilatihkan. (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. Untuk meningkatkan kompetensi ini. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. kejujuran. kepala sekolah perlu mengawasi dan membantu mereka dalam bentuk supervisi klinis. Berbagai tanggung jawab pada semua warga sekolah sesuai dengan kemampuan masingmasing bidang berjalan dengan baik. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. kerja sama adalah kata kunci menuju ke keberhasilan pengelolaan sekolah. kesupelan dalam bergaul. Hasil yang dicapai oleh tindakan ini amatlah banyak. status dan situasi. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation. khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan. dan disiplin. prestasi. Program sekolah jangka panjang dituangkan dalam bentuk RIPS. Stogdill 1974). Hingga tahun 1950an. Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah diharapkan dapat menutup bahkan mengatasi permaslahan kompetensi pedagogik yang rendah di kalangan guru.doc 112 . dan keberhasilannya dievaluasi secara bersama-sama. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Disamping itu. yaitu kapasitas.perbaikan. Guru-guru yang kompetensi pedagogiknya sudah baik akan meningkatkan kualitas pengajaran yang berimplikasi pada peningkatan prestasi. Gambaran Teoritik untuk menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan MBS Kehadiran program MBS telah membangkitkan semangat baru dan pola pikir yang kreatifinovatif. and that persons who are leaders in Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. partisipasi. Dari sisi kepemimpinan sekolah muncul kesadaran bahwa kinerja Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah terpantau melalui indikator kinerja yang telah tercantum. missal transparansi program.2. walaupun positif. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) mendorong arah dan tujuan sekolah menjadi jelas dan bermakna.Program sekolah dilaksanakan sesuai RIPS dan RAPBS. kecakapan berbicara. Suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi siswa. sebagaimana kompetensi guru-guru yang lain perlu terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tupoksi kepala sekolah adalah penting dan strategis. 3. ketegasan. Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi pedagogik guru-guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Mataram. RIPS dan RAPBS disusun secara partisipatif dan berjenjang. seperti misalnya: kecerdasan. lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. kematangan. Kegiatan peningkatan kompetensi guru telah dilakukan dalam bentuk supervisi klinis yang diikuti dengan pertemuan bersama para guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru Bahasa Indonesia. transparansi keuangan. dan kegiatan pelatihan pembuatan soal standar bagi guru Bahasa Inggris. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. tanggung jawab. Sebagamana telah di kaji dalam bab terdahulu dan telah dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. Kegiatan pelatihan seperti ini telah membuat pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. Pembagian kerja secara merata dan proporsional akan memunculkan sinergi berbagai potensi sekolah dan potensi masyarakat.

seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. Secara ringkas. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Halpin (1966). model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin.one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Hoy dan Miskel (1987). Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. saling percaya. karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya.doc 113 . seperti misalnya faktor situasi. misalnya. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien.

Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Menurut House. participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). dan bawahan harus menerima dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. Menurut Fiedler. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. prosedur dan petunjuk yang ada). berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Disamping itu. promosi dan penurunan pangkat (demotions). untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Menurutnya. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations). Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi.doc 114 . Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka.kepemimpinan yang berbeda. namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. MenurutPath-Goal Theory. Sebaliknya. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Path-Goal Theory. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan.Model kontingensi yang lain.

Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik.doc 115 . penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. standar penguasaan minimum. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Dengan demikian. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. standar pelayanan minimum. Masyarakat menjadi paham dan ada kemungkinan pelibatan potensinya. maupun pemikiran. joining in a shared vision of the future. dana. baik tenaga. Hal tersebut juga memberikan wawasan baru bagi warga sekolah dan warga masyarakat. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. Dengan demikian. yang merujuk pada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempat dalam mengelola Sekolah. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Keterlibatan semua komponen juga memberikan harapan bahwa apa yang telah dilakukan akan terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah.mengakui kredibilitas pemimpinnya. Pengelolaan sekolah akan lebih bermakna apabila kepala sekolah mampu memberi contoh dan mampu bermitra kerja dengan warga sekolah dan warga masyarakat. Kepala sekolah mengupayakan suasana agar semua warga merasa “Sekolahku adalah Istanaku” yaitu dengan cara: Transparan dalam hal keuangan. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan proses pendidikan. Misalnya. standar materi pelajaran pokok. dan oleh karenanya sering pula disebut sebagai SiteBased Management. konsep Manajemen Berbasis Sekolah dalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25 tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang Tentunya para ahli telah memahami bahwa teori MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Kepala Sekolah “mengajak dan memberi contoh” tidak “memerintah”. program-program dikembangkan secara musyawarah dan dipertanggungjawabkan bersama. Dan yang prasyarat utama pemimpin yang baik adalah Kepemimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah yang merupakan bagian penting dan mendasar dalam manajemen dan sekaligus sebagai motor penggerak (mobilisator) dalam pelaksanaan program dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah C. Menjadi pemimpin yang baik dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah bilamana Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis serta kerjasama yang solid antar warga sekolah dan warga masyarakat dapat dikembangkan secara terus menerus. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS sama sekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau daerah otonomi. keahlian.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Cara pengembangan kepemimpinan dalam implentasi MBS yang tepat adalah sebagaimana telah dinyatakan di atas. dan menaruh parhatian pada perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. standar kompetensi siswa. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengelolaan sekolah dengan memberdayakan potensi warga sekolah dan warga masyarakat (stakeholder) memberikan sebuah refleksi bahwa komitmen bersama dalam melakukan perubahan adalah hal utama dalam pengelolaan sekolah. sehingga tumbuh rasa “ikut memiliki”. Penyadaran masyarakat atas pentingnya peran masyarakat ini adalah hal terpenting. Menurut Yammarino dan Bass (1990).

Keputusan partisipatif yang dimaksud adalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Ciri-ciri MBS. Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara : (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan.25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Selanjutnya dalam Undang-Undang No. Kedua. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atau untuk mencapai sasaran mutu Sekolah.Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi. pendapatan daerah dan orang tua. para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. partisipasi. dan demokratis. (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri. kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. siswa. partisipatif. Untuk pendidikan dasar dan menengah. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin. Ketiga. dinamik dan demokratis.doc 116 . dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluang yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. partisipasi masyarakat. karyawan. terutama dalam pemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala Sekolah dan Guru. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. dimana warga Sekolah (guru. dan politik) Di lain pihak. yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi. dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Pertama. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran. orangtua siswa. UU Nomor 32 Tahun 2004. Masih menurut Burns. adanya kesamaan yang paling utama. ekonomi. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka. Karena siswa biasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah. Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns. juga anggaran Sekolah . kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demi kepentingan diri sendiri. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat.keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan. tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan Sekolah. tetapi oleh kesadaran bersama.

tentu saja. Sebaliknya. Demikian juga. dan peningkatan rasa tanggungjawab. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhii tuntutan perubahan lingkungan sekolah. karena implementasi MBS tidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dan tatanan pengelolaan Sekolah. kelemahan.sekolah lebih mengetahi kekeuatan. Dengan kemandiriannya. Melaksanakan pola kemitraan dalam melakukan perubahan. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. akan terjadi perubahan paradigma manajemen sekolah. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS. lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. demokratis dan fleksibel.Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. siswa. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.doc 117 . Kedua. khususnya Sekolah. misi. Ketiga. Memberikan kebebasan berinovasi kepada warga sekolah.(stakeholder) dalam penyelenggaraan pendidikan. dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. Dari asal usul peristilahan. 15Dalam MBS. Pengambilan kebijakan dengan pola partisipatif. maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang bersangkutan. Baik peningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatif tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional yang berlaku. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang. sehingga sekolah lebih mandiri.orangtua siswa. Dengan demikian. maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya.dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. dengan pengambilan keputusan partisipatif. Adanya Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. akan tetapi membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan Sekolah. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab. kepala sekolah. MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Berpikir logis dalam melakukan perubahan. yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri. maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu sendiri. Sekolah merupakan institusi yang memiliki full authority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolah sesuai dengan visi. Dalam rangka mewujudkan MBS kepala sekolah memiliki beberapa kiat sukses yaitu: Keberanian kepala sekolah melakukan perubahan yaitu memunculkan kepemimpinan yang partisipatif. Dengan otonomi yang lebih besar. peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. karyawan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan.

administrator dan supervisor. kreatif. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. inovator. Adanya pembelajaran yang inovatif. dan fleksibel. Kepala sekolah telah berfungsi sebagai Educator. Sebagai sebuah lembaga pendidikan sekolah tidak seharusnya menutup diri terhadap perkembangan–perkembangan yang menyangkut kemajuan pembelajaran. Supervisor. sehingga apa yang menjadi program pendidikan di sekolah. dan evaluasi pendidikan. leader. demokratis. Warga sekolah dapat mengembangkan potensinya. pelaksanaan. dalam upaya pengembangan mutu pendidikan. sehingga terbentuk iklim kolektivitas yang dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah. 2) Kepala sekolah Selaku Manajer. administrator. rincian tugasnya sebagai berikut : 1) Kepala sekolah Sebagai Edukator Kepala sekolah selaku edukator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan effisien (lihat tugas guru). Penerapan pembelajaran aktif. dan menyenangkan. Adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Kepala sekolah perlu mengupayakan kerja sama tim yang kompak/kohesif dan cerdas. dan Managerial. Adanya keterbukaan oleh warga sekolah Budaya kepemimpinan yang partisipatif dan kerjasama yang solid dapat dikembangkan secara terus menerus. Adanya bantuan dari paguyuban memberikan les (pelajaran tambahan) pada siswa. Munculnya kepemimpinan yang partisipatif. efektif. Oleh sebab itu pengelolaan guru harus menciptakan suasana kesejawatan serta tetap memiliki target-target yang jelas dan terukur Karakteristik menjadi pimpinan / Kepala sekolah sejati tehah melaksanakan fungsinya mengembangkan kepemimpinannya dalam implementasi MBS sebagamana Tugas pokok dan fungsinya adalah : mempunyai tugas memimpin dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pembelajaran di Sekolah.doc 118 . Adanya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Inovator. Adanya peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. stakeholders mempunyai rasa memiliki program dan bertanggung jawab atas program yang direncanakan. pemimpin/leader inovator. Mampu menjalin kerjasama dengan warga sekolah/stakeholder. membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya serta menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi. mempunyai tugas : a) Menyusun perencanaan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. maka peran kepala sekolah sangat besar. efektif dan menyenangkan (PAKEM).transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Fungsi-fungsi ini sangat signifikan pengaruhnya pada peningkatan kinerja guru. utamanya pola kepemimpinan dan menjalin kerjasama yang solid dengan warga sekolah/stakeholders. antara lain: Warga sekolah mampu mengembangkan inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. Sehingga hasil yang dicapai oleh sekolahsekolah yang telah menjalankan MBS mengalami kemajuan dalam hal pengelolaan maupun proses dan hasil belajar. dan monitoring dan evaluasi pendidikan. motivator. Leadership. Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator. Agar tercipta iklim yang kondusif untuk pembelajaran kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga berfungsi sebagai edukator. manajer. supervisor. monitoring. Adanya peningkatan prestasi siswa. D. pelaksanaan. Administrator. Keterbukaan menerima informasi dari berbagai pihak dapat meningkatkan wawasan dan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. dan organisator. Motivator. kreatif. Karakteritik menjadi pemimpin sejati Peningkatan kinerja sekolah terutama kinerja guru menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar.

ketaausahaan. perpustakaan. serbaguna. pengorganisasian. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). media. kantor. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. laboratorium. jujur dan bertanggungjawab b) Memahami kondisi kondisi guru. Keindahan dan Kekeluargaan). d) Menyelesaikan surat-surat. c) Memeriksa program satuan pelajaran guru dan persiapan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. pengawasan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). keuangan. Kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah. mingguan. ruang keterampilan/kesenian. karyawan dan siswa c) Memiliki visi dan memahami misi sekolah d) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah e) Membuat. pengarahan. 7) Kepala sekolah Sebagai Motivator : a) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja b) Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM/BK c) Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum d) Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar e) Mengatur halaman/lingkungan Sekolah yang sejuk dan teratur f) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan g) Menciptakan hubungan kerja yang harmmonis antar Sekolah dan lingkungan h) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. bulanan. kurikulum. 4) Kepala sekolah Selaku Supervisor Bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses Belajar Mengajar b) Kegiatan bimbingan dan konseling c) Kegiatan ekstra kurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait f) Sarana dan prasarana g) Kegiatan OSIS h) Kegiatan 7 K 5) Kepala sekolah Selaku Pimpinan/Leader : a) Dapat dipercaya. 1) Kegiatan Harian a) Memeriksa daftar hadir guru. semesteran. tenaga teknis pendidikan dan tenaga tata usaha. b) Mengatur dan memeriksa kegiatan 5K di Sekolah (Keamanan. dan tahunan. kesiswaan. mencari dan memilih gagasan baru 6) Kepala sekolah Sebagai Inovator Melakukan pembaharuan dibidang: a) KBM b) BK c) Ekstrakurikuler d) Pengadaan e) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan f) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. Kebersihan. ketenagaan. sarana dan prasarana. f) Mengatsi kasus yang terjadi pada hari itu. Untuk mencapai tujuan secara optimal diperlukan adanya jadwal kerja kepala sekolah yang meliputi kegiatan rutin harian. ketenagaan. pengkoodinasian.doc 119 . bimbingan konseling. e) Mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam proses belajar mengajar. Dalam melaksanakan tugasnya.b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijaksanaan h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan j) Mengatur proses belajar mengajar k) Mengatur administrasi ketatausahaan. keuangan/RAPBS l) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS) m) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait 3) Kepala sekolah Selaku Administrator Bertugas menyelenggarakan administrasi perencanaan. siswa. gudang dan 7 K. Ketertiban. menerima tamu dan menyelenggarakan pekerjaan Kantor lainnya.

gaji pegawai. f) Kegiatan caturwulan: g) Menyelenggarakan perbaikan alat Sekolah. dan pelaksana Kepala Sekolah memonitor guru mengajar di kelas. baik dari sisi kehadirannya maupun pembuatan persiapan guru dalam mengajar. c) Mengadakan briefing dengan guru-guru pada hari Senin setelah upacara bendera. Kesiapan RP. d) Pertanggung jawaban keuangan. waktu. Kumpulan bahan evaluasi berikut bahan analisisnya. dan masukan guna perbaikan selanjutnya Sekolah mengambil kebijakan untuk memanfaatkan jumlah guru yang lebih. Hal yang dibahas meliputi target. Kumpulan program satuan pelajaran. saran. penyiapan alat peraga. laporan bulanan. Peningkatan kinerja guru secara langsung dapat Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. h) Mengecek pengisian buku induk siswa. rencana keperluan perlengkapan Kantor /sekolah dan rencana belanja bulanan.dan alat praktek. termasuk guru sukwan dengan menggunakan metode pembelajaran. Daftar hadir guru dan pegawai tata usaha. Diagram daya serap murid/siswa. Keterlibatan komite ini sangat meringankan beban sekolah dan meningkatnya rasa memiliki komite pada sekolah. penanggung jawab. a) Mengecek penyelesaian kegiatan setoran SPP. hasil karya siswa yang diharapkan pertemuan semua guru dan kepala sekolah untuk membahas permasalahan yang ditemui di dalam kelas dalam pembelajaran. b) Melaksanakan pemeriksaan umum antara lain: Agenda kelas.Diagram pencapaian kurikulum.Memberikan petunjuk catatan kepada guru-guru tentang siswa yang perlu diperhatikan.Buku catatan pelaksanaan harian. 3) Kegiatan bulanan. Pertemuan ini dilaksanakan rata – rata 2 kali dalam satu bulan Kepala Sekolah mengkomunikasikan kebijakan yang telah diambil sekolah kepada komite dan melibatkan secara aktif komite sekolah untuk bersama sama membahas program sekolah.c) Penutupan buku. Dukungan sekolah kepada guru menyebabkan guru merasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. e) Evaluasi terhadap persediaan. d) Memeriksa keuangan Sekolah. Tetapi forum ini juga tidak menutup kemungkinan membicarakan masalah di luar pembelajaran sangat tergantung pada persoalan sekolah. Pelaksanaan Inovasi adalah suatu kegiatan diawali dengan pelaksanaan pelatihan yang diikuti oleh semua unsur sekolah khususnya guru terkait dengan pengembangan kapasitas guru dalam pembelajaran Sekolah mengadakan rapat bersama yang diikuti semua staf sekolah dan dipimpin oleh Kapala Sekolah untuk membahas RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang telah dan disepakati dalam pelatihan. pengorganisasian kelas. Meningkatnya kinerja guru dapat dilakukan dengan memberi motivasi dan memberikan kesempatan untuk berinovasi.2) Kegiatan Mingguan. a) Upacara bendera pada hari Senin dan hari istimewa lainnya. Hal ini sangat efektif karena akan mempengaruhi motivasi guru mengajar. Peningkatan kapasitas dan kinerja guru dipandang cara yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. penggunaan dan bahan praktek. disepakati alternatif solusi kemudian dievaluasi pada pertemuan berikutnya.doc 120 . e) Mengatur menyediakan perlengkapan lainnya. b) Memeriksa agenda dan menyelesaikan surat-surat. Sebagai konsekuensi dari program yang bersifat uang dan material orang tua siswa akan dengan senang hati memberikan kontribusi.Sekolah melaporkan hasil belajar dan prestasi siswa kepada orang tua/wali murid. alat kantor. kasus yang perlu diketahui dalam rangka kegiatan pembinaan siswa. Hal ini dilakukan pada akhir semester setahun sekali dengan tujuan untuk mendapatkan kritik. guru.

jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Pengambilan keputusan tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. staf administrasi dalam melakukan aktifitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan satuan pendidikan. hal ini senada dengan pendapat Crawfond M (2005: 18) mengemukakan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang organisasinya telah berhasil dalam mencapai tujuan. Komunikasi atau dialogis yang baik dari kepala sekolah dapat dideskripsikan dalam berbagai bidang kegiatan operasional sekolah antara lain: 1) Komunikasi dengan siswa dalam upaya pembinaan siswa 2) Komunikasi dengan orang tua siswa tentang prestasi murid-murid 3) Komunikasi dengan guru dalam waktu tertentu dalam membahas kebijakan baru yang akan diterapkan 4) Komunikasi umum terhadap komite sekolah tentang informasi program perbaikan sekolah 5) Komunikasi dengan mass media dalam mengakses keberhasilan dan hambatan yang dialami sekolah. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi MBS diperlukan perspektif keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat sekolah. mental model. dengan subdimensi mengembangkan profesional kebijaksanaan sekolah. E. Keberhasilan atau kesuksesan pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan perencanaan (planning). kerja sama dan tumbuhnya ilmu pengetahuan berpikir. pengorganisasian (organizing). pengarahan (actuating) dan pengawasan (controling) terhadap semua operasional tingkat satuan pendidikan. keamanan.doc 121 . Kepala sekolah dalam membuat kebijakan pengelolaan sekolah diharapkan mampu saling berkonsultasi dengan unsur ketenagaan sekolah secara pedagogis yang dapat mengembangkan potensi guru. Hubungan kepemimpinan dengan MBS Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. dan mendistribusikan kewenangan kepada bawahannya sesuai dengan job description Mekanisme Pembuatan Keputusan Pengambilan keputusan merupakan salah satu hal terpenting dalam manajemen. sosial. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. status dan kepuasan diri.meningkatkan kualitas sekolah. (2005: 67) bahwa. Keberhasilan sekolah dalam meraih mutu pendidikan yang baik banyak ditentukan melalui peran kepemimpinan kepala sekolah. Secara bertahap kegiatan peningkatan kinerja guru dapat dimasukkan sebagai program utama di sekolah dan termuat dalam RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) sehingga kemajuannya dapat diukur. berbagai visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang dialogis. Sebagaimana dikemukakan Rahman H. Peran kepala sekolah sangat kuat mempengaruhi prilaku sumber daya ketenagaan dalam hal ini guru dan sumber-sumber daya pendukung lainnya. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah. penguasaan personal. kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi lancar dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik di mana di dalamnya mempunyai ciri dialogis. komunikatif akan dapat mendukung perubahan prilaku guru dalam perbaikan-perbaikan mutu pendidikan. Usaha peningkatan kinerja guru berdasarkan pengalaman dari sekolah-sekolah yang dituliskan di atas dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Pelimpahan dan Distribusi kewenangan Salah satu kompetensi profesional Kepala sekolah adalah menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan.

Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. 2003:42). 3. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. F. kepala sekolah. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. orang tua. agar sekolah dapat mengambil manfaat yang ditawarkan MBS perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Secara Umum 1. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah. partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilainilai yang ada di masyarakat. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini 1. Oleh karena itu. Oleh karenanya. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. anggota masyarakat. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan.kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. administrator. sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggungjawab pemerintah. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Tantangan yang dihadapi Sekolah : Tantangan yang dihadapi sekolah dalam implementasi MBS adalah tantangan Peningkatan efesiensi diperoleh malalui keleluasaan pengelolaan sumber daya yang ada. kelenturan pengelolaan sekolah. (7) pelaporan hasil. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan 4. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua siswa. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan 2. peningkatan profesionalisme guru.dan dapat menjamin semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. dan murid (Nurkolis. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan 5. Hubungan Kepemimpinan didalam MBS adalah dimungkinkan beroperasi meningkatkan implementasi yang bersifat profesional dan manajerial.doc 122 .

6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai. 7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan, 8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah., 9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah, 10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang. 11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) . 12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya 2. Secara Khusus a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5 c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain. e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

123

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan pengembangan kepemimpinan (leadership development) adalah perluasan kapasitas sesorang untuk menjadi efektif dalam peran dan proses kepemimpinan. Peran dan proses kepemimpinan merupakan peran dan proses yang memungkinkan kelompok orang dapat bekerja bersama dengan cara yang produktif dan bermanfaat. Ada tiga hal penting dalam definisi pengembangan kepemimpinan ini, yaitu: 1. Pengembangan kepemimpinan diarahkan pada pengembangan kapasitas inividu, atau tujuan utamanya adalah kapasitas individu 2. Apa yang membuat seseorang efektif dalam peran dan proses kepimimpinan. Setiap orang dalam kehidupaannya harus mengambil peran dan berpartisipasi dalam proses kepemimpinan agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam masyarakat sekitarnya, oragnisasi dimana mereka bekerja, kelompok professional dimana mereka diakui keberadaannya, tetangga dimana mereka bermasyarakat, dan seterusnya. 3. Individu dapat memperluas kapasitas kepemimpinannya. Kuncinya adalah bahwa setiap orang bisa belajar, tumbuh dan berubah 4. Membuat pedoman: mengembangkan visi masa depan – visi jangka panjang – dan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk pencapaian visi tersebut 5. Mengarahkan orang: mengkomunikasikan gagasan dengan kata-kata dan tingkahlaku kepada semua orang dengan mana kerjasama mungkin diperlukan seperti untuk mempengaruhi kreasi team dan kerjasama yang memahami visi dan strategi dan yang menerima validasinya 6. Memotivasi dan memberikan in spirasi: menyemangati orang un tuk memecahkan hambatan-ham batan politis mendasar, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan sumber daya untuk berubah se suai dengan kepuasan dasar yang merupakan kebutuhan manusia yang sering belum terpenuhi 7. Menghasilkan perubahan, sering pada tingkat yang dramatis, dan memiliki potensi untuk menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh bermanfaat (seperti produk baru yang diinginkan customer, pendekatan-pendekatan baru guna membangun kerjasama yang membantu menjadikan perusahaan lebih kompetitif Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah : 1. Merencanakan dan menganggarkan: membuat tahapan-tahapan yang detail dan schedule untuk pencapaian hasil yang diinginkan, kemudian mengalokasikan sumber-sumber yang diperlukan untuk pencapaiannya 2. Mengorganisasi dan staffing: membuat beberapa struktur untuk pelaksanaan unsure-unsur perencanaan, mengisi struktur tersebut dengan individu-individu, mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana tersebut, merumuskan policy dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang, dan membuat metode atau system untuk memonitor kegiatan 3. Mengawasi dan memecahkan masalah: memonitor hasil, mengidentifikasi defiasi perencanaan, kemudian merencanakan dan mengorganisir untuk memecahkan persoalanpersoalan tersebut

Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc

124

4. Menghasilkan sesuatu yang terprediksikan dan menyusun serta memiliki kemampuan untuk secara konsisten memperoleh hasil-hasil jangka pendek yang diinginkan oleh stakeholder (seperti untuk customer, selalu tepat waktu; dan untuk stake holder, sesuai dengan anggaran Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi pendidikan terinci sbb: • Tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. • Anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. • Ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. • Penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. • Tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan . Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan Pengembangan sekolah dalam mengelola institusinya. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. Desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu: Manajemen berbasis lokasi Pendelegasian wewenang Inovasi kurikulum Peran Pemimpin / Kepala Sekolah sebenarnya merupakan aktor yang paling diharapkan berperan sebagai pemimpin dalam MBS untuk mewujudkan visi menjadi misi yang feasible bagi peningkatan pelayanan dan kualitas sekolah. Pihak-pihak lain seperti, komite sekolah, para guru, orangtua, dewan pendidikan dan dinas pendidikan diharapkan menyumbang pada pengembangan kepemimpinan Kepala Sekolah dalam hal, penilaian, tantangan, dan dukungan. Pengembangan Kepemimpinan dalam implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah menjadi kebijakan yang mengiringi implementasi MBS dalam rangka membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel dan sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya., sekolah lebih mengetahuikebutuhannya dan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan pengembangan kepemimpinan dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah, dimana kepala sekolah sangat dipengaruhi halhal sebagai berikut: a) Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. b) Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya. c) Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.doc 125

kepegawaian. Kepala sekolah yang: mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah. dan produktif). menggairahkan. Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang: mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. perlengkapan. misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran. dan perpustakaan. pengelolaan kesiswaan. Wahjosumidjo berpendapat pula bahwa kepala sekolah harus: menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru. lancar dan produktif. Kepala Sekolah Sebagai Administrator dan sebagai administrator kepala sekolah bertugas: melakukan perencanaan. pengelolaan sarana dan prasarana. memotivasi. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar. dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. kesiswaan. keuangan. berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. guru dan staf (c) Keterampilan konseptual. Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai: pengelolaan pengajaran. pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. pengkoordinasian. bekerja dengan tim manajemen. yaitu: (a) keterampilan teknis. mampu menyusun perencanaan. menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan mampu melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya Selanjutnya Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya. memimpin rapat. staf dan para siswa. baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional. Selanjutnya Kepala Sekolah Sebagai Supervisor dimana Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. dengan cara meyakinkan dan membujuk. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru. kepala sekolah dituntut: jujur idealis cerdas pemberani terbuka aspiratif komunikatif kooperatif kreatif cekatan/lincah suka berfikir positif penuh tanggung jawab dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani) Kemudian dari pada itu untuk pengembangan kepemimpinan dalam MBS.doc 126 . (b) keterampilan hubungan kemanusiaan. misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat. kantor. sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guruguru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram.d) Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah. mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. Guna mendukung hal ini. staf dan siswa. pengorganisasian. pengelolaan kepegawaian. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru. pengarahan. harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru. misalnya : bekerjasama dengan orang lain. misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah. mampu melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah. pengelolaan keuangan dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut. berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah.

inovatif. oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah. yaitu: Pembelajaran aktif. pengadaan peralatan TIK.mengajar yang dilakukan guru di kelas. Memiliki makna bahwa suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. downloaded April 2002) : Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran. batasan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi murid. MBS harus benar-benar akan berkontribusi bagi peningkatan prestasi murid. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimiliki antara lain : a) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman. yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMA Negeri 2 Mataram mengacu kepada 4 pilar rintisan MBS di Jawa Timur dengan dua pilar utama. Dengan taruhan seperti itu. tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai. dan peningkatan kompetensi guru. ERIC_Digests. Dengan demikian. MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan. Impementasi MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari pengimplementasian MBS sebagai berikut(Kathleen. efektif. dan saling percaya dalam bekerja b) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya c) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. Langkah-langkah yang telah Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. jadi bukan hanya pada dimensi prestasi akademik. Ukuran prestasi harus ditetapkan multidimensional. dan menyenangkan (PAIKEM) dan pembelajaran yang menyenangkan bagi banyak fihak. daerah-daerah yang hanya menerapkan MBS sebagai mode akan memiliki peluang yang kecil untuk berhasil.doc 127 . Dalam rangka mewujudkan PAIKEM. partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. SMA Negeri 2 Mataram mengambil langkah-langkah strategis penataan kondisi lingkungan sekolah. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. percaya diri. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru. kreatif. pelatihan penggunaan peralatan TIK bagi guru. Oleh sebab itu. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility). 2. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah.

namun pelaksanaanya terikat dengan ketentuan yang diatur dalam pasal pasal lain dalam undang-undang tersebut karena pelaksanaan Sisdiknas sebagai sitem tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong. olah raga. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian. 7. prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatif manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut 128 Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 6. tujuan. harapan-harapan berupa visi. penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis. efektivitasnya. kejujuran. 48-58). ditempuh telah dapat mengantarkan SMA Negeri 2 Mataram menjadi salah satu sekolah yang paling diminati masyarakat dan menjadi salah satu dari 132 SMA Model di seluruh Indonesia. kesenian. kesopanan. prinsip desentralisasi. proses pengelolaan kelembagaan. 5. Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah adalah Mutu dalam pendidikan yang dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat. Implementasi MBS. yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah. peraturan perundang-undangan.deskripsi tugas. Dan sebagai indikator-indikator output sekolah yang berkualitas adalah a) Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik. Dalam pelaksanaan implementasi MBS. uang. kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. Kemudian Input pendidikan mengandung merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. seperti IMTAQ. perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah. efisiensinya. merupakan tanggung jawab sekolah semakin besar. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya. program dsb 3. hh. Meskipun rumusan MBS dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tampak sederhana. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah harus menggunakan empat prinsip MBS sbagamana dinyatakan (Cheng. proses belajarmengajar. bahan dsb). seperti nilai ulangan umum. perlengkapan. dana pendidikan. kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya Pengembangan Kepemimpinan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam tingkat sekolah dimaksud adalah pengembangan pengembangan proses pengambilan keputusan. 2. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. sumber daya.3. 4. dan proses monitoring dan evaluasi. op.doc . inovasinya.cit. karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian. Input pendidikan terdiri dari: 1. tenaga kependidikan dan lain sebagainya. proses pengelolaan program. lomba akademik dan lain-lain b) Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik. guru. karya ilmiah.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. produktivitasnya. yaitu prinsip equifinalitas. akreditasi sekolah. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. keterampilan. rencana. cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup.mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. misi. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah. Ujian Akhir Nasional.

Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efisien dan bukan menghindari masalah. Sesuai dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern. khususnya dari aspek manusia. memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa. Oleh karena itu sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif sesegera mungkin ketika permasalahan muncul.doc 129 . Konsisten dengan prinsip equifinalitas maka desentraslisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. orang tua. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal. hh. b) Prinsip Equifinalitas (Equifinality) yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. hubungan interperonal. memecahkannya tepat waktu dan memberi kontribusi terhadap efektivitas aktivitas belajar mengajar. e) Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative). Maka MBS harus mampu menemukan permasalahan. strategi-strategi manajemen. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas (Ibid. mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain. maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Oleh karena itu amat penting dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki sistem pengelolaan mandiri (self-managing system) di bawah kendali kebijakan dan struktur utama. penggunaan sumber-sumber daya. tetapi menurut MBS terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. 8. Maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk berpartisipasi secara luas dan mengembangkan potensi mereka. hakikat aktivitas-aktivitas. Manajemen sekolah menekankan fleksibilitas dan sekolah harus dikelola oleh sekolah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. 2001. MBS tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. hh. Pengembangan Kepemimpinan dalam MBS memiliki delapan karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eeksternal (MKE) yaitu dalam hal misi sekolah. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. guru. memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masingmasing. d) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Self-Managing System). masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (Anonim. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. 9-10). tenaga administrasi. Depdiknas. 48-58). c) Prinsip Desentralisasi (Decentralization). Karena sekolah menerapkan sistem pengelolaan mandiri maka sekolah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri. Prinsip equifinalitas ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan mempersilahkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup. berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola sekolahnya secara efekif.a) Prinsip MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. peran warga sekolah.

MBS dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan guru dan siswa dan memberi peran terhadap talenta-talenta mereka. Misi sekolah. 3. diluar keuntungan ekonomi. Dalam rangka memuaskan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi mereka bersedia menerima tantangan dan bekerja lebih keras. 2. Mereka mengejar interaksi. Budaya sekolah yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi sekolah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerjasama secara terus menerus untuk menjalankan misi. Strategi-strategi manajemen. tumbuh dan menjalani perkembangan. Ini adalah budaya organisasi yang besar pengaruhnya terhadap fungsi dan efektivitas sekolah. membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan arahan kerja. Dalam organisasi modern. Ketika sebuah sekolah dikontrol secara eksternal. Hakikat aktivitas-aktivitas sekolah berarti sekolah menjalankan aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik. keyakinan dan nilai-nilai sekolah. b. metode dan evaluasi pengajaran cenderung mengikuti standar yang sama. Sekolah dengan MBS memiliki cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama. Berlandaskan pada teori McGregor (1960) MBS menggunakan teori manajemen Y yang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. tetapi juga tempat untuk siswa-siswa atau guru dan admnistrator untuk hidup. Sekolah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak dimasa mendatang. misalnya produk yang berkualitas. Organisasi bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang statis. bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita-cita bersama. Kini orang percaya bahwa sebuah organisasi adalah tempat untuk hidup dan berkembang. Konsep organisasi sekolah. personel. Selain itu berlandaskan teori Maslow (1943) dan Alderfer (1972) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. a. konsep organisasi telah berubah.doc 130 . hanya mengimplementasikan tugas-tugas berdasarkan kebijakan dari otoritas pusat. afiliasi sosial. Hakikat aktivitas berbasis sekolah adalah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan.1. organisasi. aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. pengajaran dan pengelolaan sekolah semuanya dikontrol secara hatihati oleh otoritas pusat ekstenal dan oleh karena itu aktivitas-aktivitas sekolah tidak berbasis sekolah. Perubahan arah dari MKE ke MBS dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini. Selain itu fasilitas. Hal ini secara tak langsung mempromosikan perubahan manajemen sekolah dari model manajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. Bila kita ingin sekolah kita mengambil inisiatif untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermacam-macam dan kompleks maka budaya organisasi yang kuat harus dikembangkan oleh warga sekolah untuk sekolahnya sendiri. Konsep atau asumsi tentang hakikat manusia. Tanpa perkembangan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator maka sekolah tak dapat dikembangkan dan Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. perkembangan profesional dan kemajuan kehidupan kerja adalah penting untuk memotivasi guru-guru dan para siswa. kebutuhan dan situasi sekolah. Isi. Budaya organisasi sekolah yang kuat harus dikembangkan diantara warga sekolah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab. Teori Y menyarankan bahwa partisipasi demokratik. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab.

manusia. 4. Maka administrator disarankan menggunakan kekuasaan terutama keahlian dan referensi. MBS dalam model school-based budgeting program memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya. d. Diperlukan intelegensi. berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan. strategi efektif untuk perubahan dan perkembangan organisasi. Partisipasi atau keterlibatan guru. simbolik dan budaya. Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru. Partisipasi guru. menyatukan berbagai perbedaan diantara berbagai warga. orang tua dan siswa dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sumbangan yang penting bagi siswa. Partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan kesempatan kepada warga dan bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dan juga mengerti dalam mengelola sekolah. legitimasi. Pengunaan kekuasaan. simbolik dan budaya. pendidikan. maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus dirubah. sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat perkembangan guru dan administrator. Misalnya metodemetode ilmiah untuk analisis keputusan. Keterampilan-keterampilan manajemen. memberi perhatian terhadap pertumbuhan profesional guru. keterampilan mengelola konflik. Dengan demikian.Bila kita yakin bahwa pekerjaan sekolah menjadi kian tak menentu. imajinasi dan usaha dari banyak orang untuk mencapainya. Dalam MBS maka gaya pengambilan keputusan pada tingkat sekolah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut: (1). French dan Reven (1968) mengklasifikasikan kekuasaan menjadi lima kategori yaitu penghargaan. MBS simaksudkan untuk mengembangkan SDM dan mendorong komitten dan inisiatif warga sekolah. dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya.ditinkatkan secara terus menerus. dan memotivasi setiap orang untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. Dalam merespon perubahan ke MBS maka gaya kepemimpinan kepala sekolah berubah dari tingkat rendah ke pememimpinan multi tingkat. e. paksaan.doc 131 . Gaya kepemimpinan. (4). Oleh karena itu dalam sebuah manajemen berbasis sekolah. c. dan latar belakang pemikiran dan talenta warga sekolah lebih bermacam-macam dari sebelumnya maka aspek simbolik dan budaya kepemimpinan kepala sekolah harus ditetakankan. kompleks dan sulit. (3). f. orang tua. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. menjadi pemimpin yang profesional terhadap guru-guru dan memberi inspirasi pada guru-guru dan siswa untuk bekerja secara antusias dengan kepribadian mulia mereka. mengklarifikasi ketidakpastian dan ambiguitas. referensi dan keahlian. siswa dan alumni dapat membantu untuk mengembangkan tujuan yang dapat lebih merefleksikan situasi saat ini dan kebutuhan masa depan. Ketika mengadopsi MBS maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat oleh karena itu diperlukan konsep-konsep baru dalam keterampilan manajemen baru. Menurut Sergiovanni (1984) terdapat lima tingkat kepemimpinan Kepala Sekolah dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis. Penggunaan sumber-sumber daya. Tujuan sekolah itu beragam dan misi sekolah itu kompleks. (2). Tujuan sekolah sering tidak jelas dan berubah-ubah. Kepala sekolah harus mmberi contoh yang baik untuk membantu warga sekolah memahami dan menghargai makna yang melandasi aktivitasaktivitas sekolah. mengembangkan keunikan budaya dan misi sekolah. Gaya pengambilan keputusan. orang tua dan siswa untuk terlibat di sekolah.

Sehingga pemerintah memerlukan SDM yang banyak dan sumber daya yang besar untuk mengawasi penggunaan sumber daya di sekolah. orang tua dari yang semula pasif. Selain itu juga memimpin warga sekolah untuk mencapai tujuan dan berkolaborasi dan terlibat penuh dalam fungsi sekolah. Perbedaan-perbedaan peran. c. Peran Para Administrator. Peran warga sekolah secara langsung atau tidak langsung ditentukan oleh kebijakan manajemen pemerintah. 5. Peran orang tua adalah sebagai partner dan suporter. pengambil keputusan dan pengimplementasi. guru. cita-cita sekolah dan strategi-strategi pengelolaan mendorong partisipasi dan perkembangan dan peran guru adalah sebagai rekan kerja. e. dan gaya penggunaan sumber daya. bekerjasama. Mereka mengembangkan tujuan-tujuan baru untuk sekolah menurut situasi dan kebutuhannya. Dalam terminologi MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka. guru dan sekolah menurut karkteristik sekolah itu sendiri. mendidik siswa secara kooperatif. berusaha membantu perkembangan yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi. Mereka juga memperlebar sumber-sumber daya untuk mempromosikan perkembangan sekolah. MBS bertujuan untuk mengembangkan siswa. Dalam MBS. Amerika Serikat dan Hong Kong. semangat tim dan komitmen yang Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. strategi-strategi pengelolaan internal sekolah. Pemerintah perlu mengawasi secara dekat bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. Australia. hakikat aktivitas sekolah. d. Peran Para Orang Tua. Kanada. inisiatif. misi sekolah. Dalam MBS.doc 132 . Mereka dapat berpartisipasi dalam proses sekolah. Peran Sekolah. Sekolah tidak mudah untuk mengadakan sumber daya di bawah pertentanganpertentangan dengan otoritas pusat. a. mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis. Oleh karena itu peran sekolah adalah gaya pengembangan. memecahkan masalah. administrator. Setiap aspek pembiayaan sekolah harus berkonsultasi dan minta persetujuan dari pusat. Namun pada MKE sebagian besar sumber daya dan pengeluaran sekolah-sekolah negeri datang langung dari pemerintah. para orang tua menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. Oleh karena itu sekolah tidak dapat menggunakan sumber daya secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen dan aktivitas pengajaran. Peran Departemen Pendidikan. Peran Para Guru. Dalam MBS aktor kunci adalah sekolah dan peran otoritas pusat (Departemen Pendidikan) hanya sebagai suporter/pendukung atau advisor/penasehat yang membantu sekolah untuk mengembangkan sumber dayanya dan secara khusus untuk menjalankan aktivitas pengajaran efektif.self-budgeting menyediakan suatu kondisi yang penting pada sekolah untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya secara efektif berdasarkan karakteristik dan kebutuhan mereka guna memecahkan masalah yang timbul saat itu dan mengejar tujuan mereka sendiri sepeti yang berlaku di Inggris. Hubungan antar manusia. Perubahan ke model MBS menuntut peran aktif sekolah. b. dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa. 6. Peran administrator dalam MBS adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan. Mereka bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan sekolah mereka dengan antusiasme.

lomba karya ilmiah remaja. hh. kesenian dan kepramukaan. rasional. g. proses dan input (Depdiknas. Iklim organisasi seperti gaya tanpa pimpinan (headless style). Komunikasi yang baik.l. Oleh karena itu penilaian efektivitas sekolah harus memperhatikan multi-tingkat yaitu pada tingkat sekolah. Sementara itu berdasarkan konsep MPMBS karakteristiknya terdiri dari: output yang diharapkan. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. toleransi. Metematika. Fisika. Sumberdaya tersedia dan siap. deduktif dan ilmiah. nalar. Partisipasi dan perkembangan dipandang sebagai suatu yang penting dalam menghadapi tugas pendidikan yang kompleks dan dalam mengejar efektivitas pendidikan. cerdas dan dinamis. individual dan indikator multi-segi yaitu mencakup input. 7. kejujuran. Dalam kasus ini persyaratan administrator yang berkualitas adalah sangat tinggi/penting. 11-20). untuk menjadi akrab dengan persyaratan sekolah semacam ini mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya untuk belajar sehingga mereka dapat mempromosikan demi perkembangan jangka panjang sekolahnya. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. d. Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu kemajuan sekolah. Maka iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitment. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian. maka perkembangan misi dan tujuan sekolah tidaklah penting. kerjasama yang baik.m. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. cara berfikir kritis. 2. kreatif. dan sasaran mutu yang jelas. k. a. h. i. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Dalam model MBS sekolah memiliki otonomi tertentu. Sekolah memiliki budaya mutu. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. c. 3. Kualitas para administrator. tujuan. Sekolah memiliki akuntabilitas. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut. gaya tanpa sepemahaman (disengagement style) dan gaya kontrol (conrol style) dapat merusak pengajaran dan manajemen sekolah serta mempengaruhi efektivitas sekolah.doc 133 . kelompok. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya dan manusia. c. op. Juga prestasi non akademik misalnya keingintahuan yang tinggi. kedisiplinan. b. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah. j. induktif. 1. Singkatnya. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. proses dan output sekolah disamping perkembangan akademik siswa. Input pendidikan yang meliputi: a. Indikator-indikator efektivitas.saling menguntungkan. Staf yang kompeten dan berdedikasi Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Dalam MBS. Proses. tetapi juga perlu untuk belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan sekolah. cit. Indikator utama efektivitas sekolah adalah prestasi akademik pada pada akhir suatu tingkat sekolah. dan mengabaikan proses pendidikan dan pencapaian penting lainnya. harga diri. solidaritas yang tinggi. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen. n. Output bisa berupa prestasi akademik seperti NEM. efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multi-tingkat dan multi-segi. Output yang diharapkan. e. Kepemimpinan sekolah yang kuat. b. 8. Pada sekolah-sekolah yang dikontrol dari luar. prestasi olah raga. kerajinan. Memiliki kebijakan. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat. loma Bahasa Inggris. f.

2001.tinggi. 2003. S. London: Paul Chapman Publishing. Caldwell. Manajemen Berbasis Sekolah. SMA /M. J. kreatif. hhtp://www. Edwin B. 2001. Cynthia D. Pendidikan Network Jakarta Balitbank.B. San Francisco: Jossey-Bass Publisher Depdiknas. 2000. T. 12 Konsep Kepemimpinan. K. Depdiknas Jakarta Bentley. Jakarta: Rineka Cipta Djokosantoso Moeljono. f. The Adaptive State: London: Demos. B. DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA Agus Dharma (30 April 2003) Staf Administrasi di Pusdiklat Depdiknas dalam Artikel: Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) . Making Quality Happen: How Trainig Can Turn Strategy into Real Improvement. Manajemen Berbasis Sekolah. Caldwell. Ellen Van Velsor. perlu diadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan kelas yang bernuansa PAIKEM dan penghargaan bagi mereka yang dapat menciptakan nuansa PAIKEM dalam kegiatan mengajar mereka.Jakarta: Direktorat SLP Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Cocheu Ted. Depdiknas Jakarta _________________2002 MBS . The Future of Schools: Lessons from the Reform of Public Education. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. 2008 Anonim. Memiliki harapan prestasi yang tinggi. D. Quality means Survival: Caveat Vendidor Let The Seller Beware. 21-40 ). (2005). M. & Wilsdon. Kepemimpinan dan Komunikasi. Autonomy and self-management: Concepts and evidence. B. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. San Francisco: Jossey-Bass Publishers. T. Rekomendasi Operasional Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik serta kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram pada masa-masa selanjutnya. 1984. Mengadakan kotak saran yang dikelola kepala sekolah dan tim pengembangan mutu sekolah untuk menampung saran dari siswa tentang proses pembelajaran yang mereka harapkan. Graw. SMPMTs dan. In Bush. Input manajemen. Puspendik. Domingo. Jakarta: Rineka Cipta Azis Wahab. Moxley. Onong Uchjana. J. e. 2004. Jakarta. John. d. Untuk membangkitkan semangat guru dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif. Pusdiklat Pegawai Depdiknas Pendidikan Netwoirk . Elex Media Komputindo. Personnel Management. Costa. L. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Gunung Agung.). Fokus pada pelanggan. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah: Buku I Konsep Pelaksanaan. efektif. B. 1977.doc 134 . J. Depdiknas Jakarta _________________1999 MPMBS. P. Rene T. Panduan Pelatihan untuk Pengembangan Sekolah. & Hayward. (1998). Singapore:Prentice Hall. disarankan untuk melakukan beberapa hal: 1.. Beyond the Self-Managing School. B. sixth edition. & Spinks. (Eds. 1998. National Association of Elementary School Principals. (2004). Caldwell. Beyond Leadership. J. Kepemimpinan yang Memotivasi. 1993.Hill Book Company. New York: Mc. 2002 Ketentuan Umum Pendidikan Jasmani SDMi.. 1997. McCauley. dan menyenangkan (PAIKEM). & Bell. Arikunto. Gramedia Pustaka Utama. Dasar-Dasar Supervisi. Vincent. 2. (1998). _________________ 2003 final KBK Pendidikan jasmani. The Centre For Creative Leadership: Handbook of Leadership Development. S. The Principles and Practice of Educational Management‟ (pp.. London: Falmer Press. J. Effendy. Russ S. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Djamarah.ed. and Adair. Jakarta:Depdiknas. (2002). Depdiknas Jakarta . Jakarta. 2003 ( Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam artikel :” MEMBANGUN KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. Jakarta Agus Dharma. London: Falmer Press. (2004). inovatif. Flippo.html American Association of School Administrators.

Massachusetts: Harvard Business School Press. (2010). Nugraha. PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Nuril Huda. D. Tahun Ke-5 Juni 1999 Nitisemito.doc 135 . Jakarta: PT. (2008). Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Prime Minister‟s Delivery Unit (2003).13. Alex. Handoko. (2009). (2003). Miftah Thoha.. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006 Permendiknas Nomor 6 thn 2007 tentang perubahan permen nomor 24 tahun 2006 Permendiknas nomor 12. Yogyakarta: BPFE Hasibuan. Inc). T. Jakarta: Ghalia Indonesia. Manajemen Berbasis Sekolah. Making Schools Work: A Revolutionary Plan To Get Your Children The Education They Need. 1999. Y. & Watson. Jakarta: Bumi Aksara Hargreaves. Singapore: Irwin/McGraw-Hill. & Rachmawati. The University of Hong Kong. The politics of decentralization: A case study of school management reform in Hong Kong. & Segal. School Effectiveness and School Improvement. 21-38). John E. Manajemen Berbasis Sekolah. Education Administration: Concepts and Practices (California: Wadsworth. Jesson. 1982. dan Kinerja (Kontemporer & Islam). Ginnett Robert C. 1995). Jakarta: PT.18. Fullan. New Jersey: Prentice Hall International Inc. Centralization and Decentralization: Educational Reforms and Changing Governance in Chinese Societies (pp. (2004)Educational OutcomesandValueAdded by Specialist Schools. 1988. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. G. Motivating Your Employees. Tahun Ke-5 Juni 1999 Mulyasa. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Kerjasama.edu/pubs /consumered/g1397. „Key Stage 4 Priority Review: Final Report‟. cet ke 2 Ouchi. (2003). E. W. Kusnadi. R. (2003). In Mok. Griffin W. Boston.ianr.. 11(4).unl. London: PMDU. L. M. Hani. London: Demos Hughes Richard L. Ronald.H. Bandung: Remaja Rosdakarya. G. LLECE (2002). N. Leading Change. dan Implementasi. Ricky dan Ebert J. Desentralisasi Pendidikan. Jurnal Pendidikan dan kebudayaan No. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen edisi 2. 017. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Leadership. Hong Kong: Comparative Education Research Centre. (Ed. Santiago: UNESCO. Masalah. Education Epidemic.. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Barbuto dan Lance L. Kotter.http://www. Ornstein. Gramedia Widiasarana Indonesia Nurkolis.16. third edition. 017. Konflik. Lunenburg & Allan C. Brown. Leung. D. K.).Malang: Taroda. Mariyana. 1999. Arlington. Martini Hadari.. Report of the Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE). 1999. dan Curphy Gordon J. 2003.Fred C.. Hadari Nawawi dan M.. 453-474. Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Grasindo. National Association of Secondary School Principals. London: Specialist Schools Trust. edisi-5. Nurkolis. & Kluwer Academic Publishers.2005. Qualitative Study of Schools with Outstanding Results in Seven Latin American Countries. 2002. 1996. 1999. Kepemimpinan yang Efektif (Yogjakarta: Gajah Mada University Press. Business. A.htm. (2000). New York: Simon & Schuster.tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan . 1999. John. Strategi.H. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. Y. M. School-based management: Reconceptualizing to improve learning outcomes. Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. Virginia. Organisasi dan Motivasi.

Pembelajaran Aktif.. A... School-based management: An International Perspective. Diambil dari: http://tarmizi.UNY Terecy WR. PT Renaji Kosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Glasgow: HarperCollins Publishers.Ramadhan. Israel: Ministry of Education. amirican Management Assosiation Inc. Paris: International Institute for Educational Planning. I. Efektif. N. HAA. G. Surabaya: Penerbit SIC. UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah Volansky. and National Association of Secondary School Principals. 2008. School-Based Management and Student Performance. Jogjakarta: DIVA Press Pengembangan Leadership dalam MBS SMA2 Mataram. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru. Syah. A. K. 2001. S. National Association of Elementary School Principals. & Friedman. Ph. David Peterson. G. A.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-danmenyenangkan/ tanggal 27 September 2011.. Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung .. dan Sapari.). dan Menyenangkan.wordpress... (2009). Yogyakarta: PPS.. UNESCO. Tilaar. (1998). Bandung: Remaja Rosdakarya . Saydam.(2205) Peraturan Pemerintah RI No. Collins English Dictionary Fourth Australian Edition. M.. M. A. Jakarta: Djambatan Subakir. Jakarta Suyata. T. (1999).. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Mikro. Yamin.. Manajemen Berbasis Sekolah. & Levacic. (2005).D. Arlington. (2003).American Association of School Administrators. Bandung: Fermana UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Pusat dan Daerah UU RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah pusat dan daerah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1971 Designing Training & Development System. Needs-Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.. School-Based Management: A Strategy for Better Learning. (2001).. Teori Persekolahan: Catatan Kuliah. Inovatif. 2010. Prof. (1999). Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan.. (Eds.doc 136 . Renstra Depdiknas tahun 2005 – 2009. Virginia: 1988. A. Kreatif. Ross. Wilkes. R.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->