P. 1
Teori Belajar Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran

Teori Belajar Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran

|Views: 195|Likes:
Published by Boobbllee Ciubk
Sudah lengkap
Sudah lengkap

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Boobbllee Ciubk on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2015

pdf

text

original

TEORI – TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

MULYADIN 102104014 S1

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah teori-teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran. Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran . Kami telah berusaha untuk membuat makalah ini sebaik mungkin namun tentu masih terdapat kekurangan. Untuk itu penulis sangat memerlukan kritik dan saran yang konstrukstif dalam rangka penyempurnaan penulisan berikutnya. Penulis juga ingin berterimakasih kepada orangtua dan semuanya yang telah mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga bantuan yang diberikan oleh semua pihak mendapat pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT dan semoga makalah ini memberikan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal „alamin.

Makassar ,

Desember 2012

Penulis

................................... 2 2..................................................... i DAFTAR ISI .........................2 Tujuan dan Manfaat ......................................................................... PENDAHULUAN 1......... 1 1...........2 Implikasi teori-teori Belajar dalam Pembelajaran .1 Latar Belakang ........................ 19 ......................... ISI 2............................. 1 II ...................................... 18 IV......................................................1 Teori-teori Belajar ............... ii I .............................................................................................................................2 Saran ........................ PENUTUP 3........................... DAFTAR PUSTAKA..........1 Kesimpulan ....... ................................................................................................... 17 3.......................... 9 III .DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......................................................................................................

1 Latar Belakang Masalah Fenomena pembelajaran dapat dijelaskan dan dimaknai oleh teori-teori belajar. yang materinya mencakup teori belajar (1) behaviourisme. (5) teori belajar bermakna dan disajikan pula beberapa implikasi teori tersebut dalam suatu pembelajaran 1. Makalah ini menyuguhkan beberapa implikasi teoritis yang disertai contoh-contoh sehingga anda dapat mempelajarinya secara mandiri.2 Manfaat dan Tujuan Melalui makalah ini anda diharapkan mampu menerapkan teori-teori belajar tersebut dalam suatu pembelajaran yang anda lakukan. Pembahasan teoritis dan contoh-contohnya disajikan pada Bab II. . Suatu teori bukan hanya dapat membantu dalam memahami fenomena pembelajaran. oleh karena anda merupakan personel yang akan terlibat di dalam pembelajaran maka pada bagian ini anda diajak berdiskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teori-teori belajar dan implikasinya dalam suatu pembelajaran. pisau pemilah dalam pemecahan masalah. Makalah ini dirancang dengan mengetengahkan lima teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran. (3) kognitif. (2) humanisme. tetapi juga dapat menjelaskan dan memaknai setiap fenomena pembelajaran.BAB I PENDAHULUAN 1. dan makalah ini dirancang agar anda lebih mudah memahami teori-teori tersebut sehingga betulbetul dapat dimanfaatkan dalam situasi nyata. dan bahkan sebagai bagian hidup yang integratif. Teori yang anda kuasai akan menjadi kerangka pikir dalam mengambil putusan pendidikan atau pembelajaran. (4) konsep.

Skinner. Thorndike. e. teori belajar bermakna. c.B. Ditengah keresahan masyarakat akibat teori Watson munculah pendapat Thorndike (1874-1974) yang mengemukakan bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap ketimbang karena hadirnya pemahaman.1 Teori – Teori Belajar Berbagai teori belajar yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar akan kita bahas bersama. dan teori belajar konsep. menurut teori Thorndike disini belajar melalui langkah-langkah kecil yang sistematis dan bertahap daripada sebuah lompatan yang besar. Artinya.BAB II ISI 2. f. g. J. Watson.F. h. 2. b. a. Adapun paparan dalam proses pembelajaran berkaitan dengan teori belajar behavioristik. humanistik. Hukum belajar yang diralatnya yakni hukum latihan dan hukum akibat. dan sebagainya.B Watson (1878-1958) mengemukakan bahwa perilaku manusia disebabkan oleh pembentukan faktor lingkungan.1. pemabuk. teori kognitif.1 Teori Behavioristik Tokoh pelopor teori behavioristik antara lain J. d. Bahkan ia mengemukakan pendapat untuk bayi Albert yang dinilai negatif oleh masyarakat Amerika waktu itu “ Beri aku bayi. dan Pergeseran asosiatif Setelah tahun 1930-an Thorndike meralat teorinya tersebut. Bagi Watson Lingkungan adalah faktor dominan dan yang paling penting bagi tumbuh berkembang anak. Thorndike pada tahun 1930-an terkenal akan hukum-hukum belajarnya yaitu. dan B. Menurutnya. hukum keterpakaian sebagai bagian dari hukum latihan yang menyatakana bahwa . Hukum kesiapan Hukum latihan Hukum akibat Hukum berganda Sikap Elemen-elemen berpotensi Respons dengan analogi. selanjutnya terserah dapat dibentuk mau jadi apa saja” Begitulah pendapat Watson yang akhirnya membuat para orang tua takut menyekolahkan anaknya karena khawatir anak mereka dijadikan orang gila.

Sebaliknya peserta didik yang betul mengerjakan tugas diberi reinforcement berupa pujian sehingga ia semakin sungguh-sungguh dalam belajarnya. Belajar dimodifikasi oleh lingkungan. Dalam prosesnya mengandung tiga pokok yakni stimulus. Suatu pemahaman yang tepat memberikan kepuasan pada diri individu tetapi mereka cenderung menghindari sesuatu yang tidak memberikan kepuasan. Menurut Maslow. seorang ibu meminta anaknya untuk menyapu rumah dengan iming-iming akan diberikan uang dengan tujuan anaknya mempunyai kebiasaan menyapu lantai hingga bersih. 2.6). Reinforcement (penguatan) menjadi prinsip utama dalam memperkuat lekatnya hasil belajar pada individu (Agus Taufik. Stimulus datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan tanggapan individu.5). sosialis. Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengamati perkembangan peserta didik. murid yang diberi hukuman karena salah mengerjakan tugas belum tentu membuatnya mengulangi tugas pelajaran tersebut. ingin maju dan realistis sehingga manusia memiliki potensi untuk tumbuh . respon. tidak sesuai dengan tujuan utamanya. dan akibat. 2007: 6. rasa puas hanya terjadi sesaat saja sehingga manusia mencari peluang lain untuk menutupi kebutuhannya. apa kita yakin bahwa anak itu menyapu kembali rumah di lain waktu dengan kesadaran dirinya sendiri? Mari kita teruskan ke teori selanjutnya. yakni proses penguatan yang keliru. Misalnya. Respon menimbulkan perilaku dari stimulus yang diberikan sedangkan akibat terjadi setelah individu memberi repson postif ataupun negatif. 2007:6.1.2 Teori Humanisme Tokoh pelopor teori belajar Humanisme antara lain Abraham Maslow dan Carl Rogers. Dalam mencapai sesuatu manusia tidak akan pernah puas. Maslow meyakini bahwa belajar merupakan kebutuhan akan perkembangan motivasi.pengulangan suatu perilaku pada praktiknya terkadang tidak akurat. Thorndike mengemukakan bahwa reinforcement akan menguatkan suatu hubungan sedangkan hukuman tidak berpengaruh pada kekuatan hubungan. Perilaku terbentuk dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respon. Dalam revisi hukum akibat. puncak kebutuhan yang sekaligus sebagai ukuran keberhasilan individu ialah berhasil dalam mengaktualisasikan diri dalam dunianya (Agus Taufik. Masalahnya. Pemberian penguatan juga harus mewaspadai tricky matter. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang menghindari hal-hal yang menyakitkan dan berprilaku sesuai dengan pola stimulus respon yang terjadi. Sementara Carl Rogers seorang ahli bimbingan konseling dengan teori client centered-nya berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang rasional. Sebagai contoh.

Bagi Rogers.dengan aktual serta memiliki martabat yang tinggi. dorongan ingin tahu. lebih spontan. berfikir serta merasakan kehendak sendiri dan melibatkan seluruh pribadi peserta didik sehingga hasil belajar dapat dirasakan diri individu. 2007: 6. kreativitas. Manusia mempunyai dorongan alamiah untuk belajar. Belajar harus diperkuat dengan jelas mengurangi ancaman eksternal. Teori ini berpendapat bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam diri individu. Belajar atas inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi. seperti hukuman. dan courage to be. a. 2007: 6. baik faktor internal maupun personal. dan lebih meyakini dirinya sendiri. Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengembangkan aktualisasi diri untuk mencapai puncak perkembangan individu. Prinsip learning to be free adalah ide Rogers untuk mengkonsepsikan pembelajaran berbasis becoming a person. dalam membimbing perlu diberinya kebebasan. Carl Rogers mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut ini. penilaian. mencemoohkan dan sebagainya. bermakna dan berfungsi (fully functioning person) maka orang itu bukan hanya akan berguna bagi dirinya sendiri tapi juga berguna bagi lingkungan sekitarnya. b. freedom to be. Proses belajar harus melibatkan pengalaman langsung. Menurutnya. guru merupakan fasilitator yang memungkinkan peserta didik paham akan sesuatu hal.6). Sikap mandiri. c. e.7). dan percaya diri diperkuat dengan penilaian atas diri sendiri. Rogers menempatkan manusia secara manusiawi dalam martabat kemanusiannya. Senada dengan pengalaman Rogers ini. melakukan eksplorasi dan mengasimilasikan pengalaman baru. . pembelajaran berbasis learning to be free mampu membuat peserta didik bersikap lebih otonom. Belajar akan bermakna apabila materi yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak. Apabila seseorang mampu mengembangkan potensinya serta merasa dirinya utuh. intelektual dan emosional sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam proses pembelajaran. Belajar yang bermakna tidak lain hanyalah belajar yang dapat memenuhi kebutuhan nyata individu (Agus Taufik. sikap merendahkan murid. Djawad Dahlan (1985:41) sampai kepada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa learning to be free merupakan perkembangan yang berarti untuk menjadi manusia yang “menjadi” becoming human (Agus Taufik. d. Selain itu.

Keaslian (genuineness) merujuk kepada penampilan apa adanya dan tidak dibuat-buat. 2007: 6. Teori ini menekankan bahwa keseluruhan lebih berarti daripada bagian-bagian. Kurt Lewin. Wolfgang Kohler. motivasi belajarnya cenderung lebih kuat dibandingkan peserta yang jauh motivasinya dari medan belajar.8). Kekonkretan (concreteness) merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu. siap diberi masukan. dan per huruf. Wolfgang Kohler (1887-1967).Menurut teori ini salah satu karakteristik yang harus ada pada diri pendidik adalah memiliki kemampuan memotivasi belajar peserta didiknya. kekonkretan (concreteness). keaslian (genuineness).3 Teori Belajar Kognitif Tokoh pelopor teori belajar kognitif yang terkenal antara lain Max Wertheimer. permulaan membaca untuk anak SD yang baik adalah mengajarinya keseluruhan baru dianalisis/dipisahkan per kata. Selain itu guru harus memiliki sikap empati (emphatic).7). dan diberi pujian. memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. 2.8). baru menganalisa bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Kurt Koffka.1. Keterbukaan (open mindedness) merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri. siap dikritik. Max Wertheimer (1880-1943). terbuka (open mindedness). 2007: 6. dan kehangatan (warmth) (Agus Taufik. dan Jean Piaget. Medan yang dimaksud ialah medan psikologis sebagai arena belajar peserta didik (Agus Taufik. Misalnya. Sikap empati (emphatic) merujuk kepada sikap guru yang mau memposisikan dirinya pada kerangka berfikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa yang peserta didik rasakan dan alami. Artinya proses belajar dalam teori ini harus dimulai dari keseluruhan dahulu. Teori ini mengemukakan bahwa semakin dekat peserta didik dengan medan belajarnya. siap dinilai. 2007: 6.8). Ini – ibu – Budi I – ini i – bu Bu – di I–n–i i–b–u B–u–d–i Kurt Lewin (1890-1947) merupakan pengembang teori motivasi di sekitar teori medan (Agus Taufik. Kurt Koffka (18861941) merupakan pionir teori gestalt (Agus Taufik. 2007: 6. Contoh. Kehangatan (warmth) merujuk pada jalinan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan (Agus Taufik. Sementara Jean Piaget yang seorang ahli teori tahap mengemukakan bahwa perkembangan tahap kognitif individu dimulai dari periode sensori . per suku kata. 2007: 6.7).

Oleh karena itu. dan periode operasional formal. Orang dewasa menggunakan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dalam belajar dibandingkan dengan anak. seperti searah (selancar). dan pengenalan hubungan sebab akibat. antara lain : menyadari dirinya berbeda dari benda-benda lain di sekitarnya. a. faktor tahap perkembangan individu menjadi pertimbangan utama dalam berlangsungnya proses belajar. antara lain: 1) self-centered dalam memandang dunianya. Periode konseptual ditandai dengan cara berpikir yang transuktif (menarik kesimpulan) tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal khusus (contoh. mendefinisikan objek/benda dengan memanipulasinya. 1) 2) 3) 4) 5) . b. sapi disebut juga kerbau). mungkin pula memiliki perbedaan dalam hal yang lainnya. Teori ini berpendapat bahwa cara belajar anak berbeda dengan cara belajar orang dewasa. hubungan tentang objek. Jean Piaget seorang ilmuan Prancis yang merupakan salah satu tokoh aliran kognitivisme melakukan penelitian tentang perkembangan kognitif individu sejak tahun 1920 sampai 1964. Piglet akhirnya berkesimpulan bahwa perkembangan kognitif seseorang melalui empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan kualikatif yang berbeda. 2) dapat mengklafikasikan objek-objek atas dasar satu ciri yang sama. Tahapan kognitf Piaglet adalah sebagai berikut. Prestasi yang dicapai dalam periode ini ialah perkembangan bahasa.0-4. Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan proses pengenalan yang bersifat kognitif.0) dan intuitif (4:0-7. Perilaku kognitif yang tampak. periode operasional konkret. Perilaku kognitif yang tampak. 0) Periode ini terbagi dua tahapan. Periode intuitif ditandai oleh dominasi pengamatan yang bersifat egosentris ( belum memahami cara orang lain memandang objek sama). sensitif terhadap rangsangan suara dan cahaya.0) Periode ini ditandai oleh penggunaan sensori motorik (dalam pengamatan dan pengindraan) yang intensif terhadap dunia di sekitarnya. periode praoperasional. mencoba bertahan pada pengalaman-pengalaman yang menarik.motorik.0). kontrol skema. mulai memahami ketepatan makna suatu objek meskipun lokasi dan posisinya berubah. pembentukan pengertian. yaitu prakonseptual (2. kerangka berpikir. 0-2. Periode sensori motor (0. 0-7. Periode praoperasional (2.

0 atau 12.1. 4) dapat menyusun benda-benda. Belajar Konsep Konsep itu apa sih? Seseorang akan sulit mengetahui apa itu konsep kalau dia tidak mengetahui konsep akan lingkungannya.0) Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkret. 0-11 atau 12. Perilaku kognitif yang tampak. Periode operasional formal (1. 2) kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan. 4) kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai kategori objek yang beragam. Dalam periode ini anak mulai pula mengkonservasi pengetahuan tertentu. dan hal-hal lain yang terkait dengan individu tersebut. d. ayah. mandi. dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori (Agus Taufik. Misalnya. Menurut Dahlar (1996:76) konsep-konsep itu menyediakan skema-skema terorganisasi untuk mengasimilasikan stimulus-stimulus baru. antara lain. 2007: 6. tetapi belum dapat menarik inferensi dari dua benda yang tidak bersentuhan meskipun terdapat dalam susunan yang sama. Perilaku kognitif yang tampak pada periode ini ialah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkret. Konsep sangat erat kaitannya dengan reaksi dari stimulus-stimulus yang ada di lingkungan kita. c.3) dapat melakukan koleksi benda-benda berdasarkan suatu ciri atau kriteria tertentu. Periode operasional konkret (7.0) Tiga kemampuan dan kecakapan baru yang menandai periode ini adalah mengklasifikasikan angka-angka atau bilangan. .11). 1) kemampuan berpikir hipotetik-deduktif. konsep tentang ibu.4 Teori Belajar Konsep A. 0-14 atau 15. piring. 2. 3) kemampuan mengembangkan suatu proporsi atas dasar proporsiproporsi yang diketahui.

Tingkat-tingkat Pencapai Konsep Klausmeier mengemukakan 4 tingkatan pencapaian konsep sebagai berikut. memiliki orientasi ruang yang berbeda terhadap objek itu atau apabila objek tersebut ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda. misalnya atribut dari gajah ialah hewan dan belalai sehingga anak akan memahami kalau hewan yang berbelalai adalah gajah. Apa itu konsep? Tampaknya. b. Tingkat formal . bisa dikatakan formasi konsep didapatkan sebelum individu itu memasuki bangku sekolah. Tingkat konkret Pencapaian konsep tingkat konkret ditandai oleh adanya pengenalan anak terhadap suatu benda yang pernah ia kenal. yaitu melalui formasi konsep dan asimilasi konsep (Agus Taufik. C. Tingkat classificatory Tingkatan ini anak bisa dikatakan sudah mampu mengenal persamaan dari suatu contoh yang berbeda dari kelas yang sama. Hal-hal yang banyak dikemukakan orang. Hal itulah yang dijadikan dasar untuk memecahkan masalah secara relevan dan sesuai aturan. Misalnya buah jeruk yang masak dan jeruk yang mentah. a. Misalnya anak sudah mengetahui apa yang namanya tali. Anak biasanya diberi atribut sehingga mereka belajar konseptual. sulit sekali mendapatkan definisi konsep yang dipandang akurat. Sementara asimilasi konsep terjadi setelah anak mulai sekolah dan berlangsung secara deduktif. 2007: 6. Hasil belajar itu akan membangun fondasi berpikir individu.12).Konsep-konsep yang dimiliki individu merupakan hasil dari proses belajar yang ia peroleh berdasarkan pengalaman kognitifnya.11) B. d. Pada tingkat ini anak bisa membedakan stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya dan anak sudah mampu menyimpan gambaran mental dalam sturuktur kognitifnya. berkenaan dengan definisi konsep adalah sesuatu yang diterima dalam pikiran atau ide yang umum dan abstrak (Agus Taufik. Tingkat identias Seseorang telah mencapai tingkat konsep identitas apabila ia sudah mengenal suatu objek setelah selang waktu tertentu. 2007: 6. c. Bagaimana individu memperoleh konsep-konsep Kalau melihat teori Ausubel (1968) individu memperoleh konsep-konsep melalui dua cara.Misalnya anak tidak hanya bisa melihat tali tetapi juga bisa memainkannya. Konsep-konsep yang diperoleh semenjak kecil dari lingkungan individu melahirkan formasi konsep.

Belajar Hafalan Belajar hafalan dapat terjadi jika dalam struktur kognitif peserta didik belum ada konsep-konsep (subsumer) yang relevan dengan informasi atau materi pembelajaran baru. menentukan ciri-ciri. 2. Sedangkan teori kedua lebih kepada cara berfikir anak. Sebaliknya. tidak terjadi proses asimilasi informasi atau materi pembelajaran baru. 2. teori yang dikenalnya itu cenderung meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga pada suatu saat ia akan kaya dengan khazanah teori belajar dan pembelajaran. Sedikitnya ada 2 yang mungkin terjadi jika pada diri seorang guru mampu menerapkan teori belajar yang diyakininya dalam kognisi nyata. Apabila ia hanya mencoba-coba menghafalkan informasi atau materi pelajaran baru tanpa menghubungkannya dengan konsep-konsep yang lain di dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar hafalan.5 Belajar Bermakna: David Ausubel Dalam teorinya Ausubel membagi klasifikasi belajar menjadi 2 bagian yakni dimensi pertama yang menyangkut cara materi atau informasi diterima peserta didik dan dimensi kedua yang menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran dengan struktur kognitif yang telah ada.1. Teori dimensi pertama lebih menitik beratkan pada penerimaan dan penemuan peserta didik. membedakannya. Pertama.Pada tingkat ini anak sudah mampu membatasi konsep dengan konsep lain. Belajar Bermakna Inti dari teori ini adalah proses belajar yang mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. pembelajaran akan optimal baik dilihat dari sudut . memberikan nama atribut yang membatasinya bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara verbal 2.2 Implikasi Teori-Teori Belajar dalam Pembelajaran Penting bagi seorang pendidik untuk menerapkan teori belajar yang telah ia kuasai. Dengan belajar hafalan. Kedua. 1. jika peserta didik menghubungkan informasi atau materi pelajaran baru dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang telah ada dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar bermakna.

2. Hindari hukuman (punishments) yang bersifat fisik. Menurut Rogers seorang pendidik harus berperan aktif dalam hal-hal berikut ini. 2007: 6.21). Menurut William C.pandang pengembangan peserta didik maupun aktualisasi kemampuan guru itu sendiri. bukannya berpusat pada proses pembelajaran. akan tetapi justru guru/pendidik harus berperan aktif dalam suatu proses pembelajaran (Agus Taufik.2. Hasil belajar akan lebih bermakna jika prosesnya menyenangkan peserta didik dan terjadi penguatan (reinforcement). Kurikulum harus dikristalisasikan dalam satuan acara pembelajaran (SAP) yang dirancang sedemikian rupa sebelum proses pembelajaran dimulai. 2007: 6. artinya guru yang mengendalikan proses pembelajaran tanpa campur tangan peseta didik. . Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kesadaran dirinya untuk perkembangan aspek kognitif. Guru/pendidik berperan sebagai fasilitator.20). dan pendidik harus memberikan penguatan terutama yang bersifat psikologis dan menghindari penguatan yang lebih bersifat kebendaan. Tujuan pendidikan bersifat eksternal.2 Implikasi Teori Humanisme dalam Pendidikan Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan (Agus Taufik. bukan berarti ia harus pasif. pengajar harus bisa memfasilitasi tumbuhnya motivasi belajar dalam diri peserta didik. Crain (1980:9) guru. afektif maupun psikomotorik agar peserta didik bisa lebih menguasai informasi atau pengetahuan. peserta didik menjawab benar maka diberi penguatan oleh guru/pendidik dengan mengucapkan “Jawabanmu bagus” atau “tepat” dan sebagainya. Sedangkan penghargaan (rewards) seharusnya diberikan hanya kepada perilaku yang masuk akal (reasonable) dan tidak bersifat memanjakan.21). Teori ini meyakini bahwa guru adalah fasilitator bukan sebagai pengajar belaka.1 Implikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran Proses pembelajaran berpegang teguh pada prinsip dan pemahaman aliran behaviorisme menekankan pada pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademik maupun perilaku sosial sebagai hasil belajar (Agus Taufik. Pendekatan akademik yang lebih menekankan pada penguasaan secara tuntas terhadap apa saja yang dipelajari menjadi langkah penting dalam pencapaian teori behaviorisme ini. Artinya. 2007: 6. Kurikulum yang berorientasi pada aliran behaviorisme harus sudah menggambarkan perincian tentang apa-apa yang hendak disajikan kepada peserta didik. 2. 2. Misalnya. orang tua.

tekankan pentingnya penilaian diri sendiri dan biarkan peserta didik mengambil tanggung jawab untuk memenuhi tujuan belajarnya. 2. Selain itu kurikulum juga tidak bersifat kaku. tidak harus berpusat pada guru. Belajar bermakna terjadi jika kebutuhan peserta didik disertai motivasi instrinsik dapat terpenuhi. Diusahakan agar materi yang diajarkan harus dapat menarik minat anak dan menantang sehingga mereka merasa senang dan akhirnya terlibat dalam proses pembelajaran. Piaget mengemukakan bahwa kemampuan berfikir anak dengan orang dewasa itu berbeda. Rogers menyarankan agar terciptanya iklim kelas yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna perlu dilakukan hal-hal berikut: 1. 2. 3. terimalah peserta didik apa adanya. kenali dan bina minat peserta didik melalui penemuannya terhadap diri sendiri.22). 5. 2007: 6. Dalam teori Piaget peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Dalam teorinya. gunakan pendekatan inquiry-discovery. teori Piaget tampak lebih banyak digunakan dalam praktik pendidikan atau proses pembelajar meskipun teori ini bukanlah teori mengajar (Agus Taufik. terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret. Contohnya. Menyediakan sumber-sumber belajar. Artinya urutan bahan pembelajaran harus menjadi perhatian utama. 4.2. Guru harus arif dan paham betul atas keunikan peserta didik. 3.3 Implikasi Teori Kognitif dalam Pendidikan Dari aliran psikologi kognitif. usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh peserta didik untuk dapat memilih dan menggunakannya. untuk menjelaskan operasi penjumlahan 4+2 lebih baik guru memperagakannya . Membantu peserta didik mengembangkan dorongan dengan tujuannya sebagai kekuatan pembelajaran. 4.1. Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap pembelajaran. Anak akan sulit memahami bahan pelajaran jika urutan bahan pelajaran itu loncat-loncat. Bagi anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda nyata. Membantu peserta didik mengklasifikasikan tujuan belajar dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik secara bebas menyatakan apa yang ingin mereka pelajari. 2.

memecahkan masalah sendiri. Tahap kemampuan berpikir operasional konkret ditandai oleh kemampuan anak untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat oleh objek-objek yang bersifat konkret. dan pengenalan hubungan sebab akibat. Tahap kemampuan berpikir pra-operasional ditandai dengan berpikir anak yang bersifat egosentrik-simbolik. buktinya anak senang bermain dan ia akrab dengan bermain. Implikasi dalam proses belajarnya ialah belajar harus berpusat pada anak karena anak melihat sesuatu berdasarkan dirinya sendiri.dengan memperlihatkan 4 benda dan 2 benda. Tahap kemapuan berpikir formal mengimplikasikan bahwa anak melalui proses belajar mengajar harus mampu menemukan sendiri. Akan tetapi. Ini berarti bahwa orang tua atau lingkungan harus dapat memberikan rangsangan yang banyak terhadap bayi. Rangsangan tersebut dapat dilakukan dengan cara selalu mengajak bicara pada bayi. memberi keleluasaan gerak. bahkan berpikir menurut konsep sendiri. pembentukan pengertian. Kemampuan mengoperasikan kaidah penjumlahan. membawa jalan-jalan kepada bayi untuk mengenalkan objek yang ada disekelilingnya. Jadi. pada kelas-kelas awal (1 dan 2) masih terbatas pada operasi penjumlahan dan pengurangan sederhana. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat egosentrisnya tidak terbunuh. kontrol skema. mencari dan menemukan (inquiry- . Anak dikondisikan untuk belajar mengeksplorasi. Ini berarti proses belajar di SD kelas-kelas bawah harus disertai dengan benda-benda konkret. perkalian dan pembagian mulai tampak. Tahap ini umumnya dialami anak SD. kerangka berpikir. Begitu pun penggunaan benda-benda konkret sebagai simbol harus digunakan dalam merangsang pemikiran anak ketika proses belajar berlangsung. Oleh karena itu. dan memangku bayi dengan posisi kepala selalu menghadap depan. hubungan tentang objek. Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir logis dan abstrak mengenai situasi-situasi aktual maupun hipotetik. Ini berarti bahwa guru harus menciptakan suatu situasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan yang lainnya dan juga guru. Materi harus sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif dan harus merangsang kemampuan berpikir mereka. Metode ini selain tidak mengubur sifat egosentris anak juga merupakan dunia anak. Tahap kemampuan berpikir sensori motorik mengimplikasikan bahwa bagi proses belajar harus mencapai kerangka dasar kemampuan berbahasa. metode pembelajaran yang paling tepat ialah metode bermain. Tahapan perkembangan berpikir praoperasional ini terutama terjadi pada anak usia TK. berapa jumlahnya anak-anak?” Dalam proses pembelajaran guru/pendidik harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. pengurangan. caranya: “Empat buah jeruk ini ditambah dengan dua buah jeruk yang itu.

Artinya. Analisi konsep . dan (2) perencanaan pelajaran yang mencakup (1) penentuan tingkat pencapaian konsep. 2. Perencanaan Pembelajaran Konsep Jika anda sudah memilih konsep-konsep yang akan diajarkan maka selanjutnya anda perlu menentukan strategi-strategi pembelajaran. a. dan tingkat kepentingan konsep. tingkat pencapaian konsep yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dirumuskan.4 Implikasi Teori Belajar Konsep dalam Pembelajaran Ada 2 langkah dalam pembelajaran yang berbasis teori belajar konsep. 2. Metode inquiry-discovery dengan logika yang tinggi sudah bisa digunakan dalam proses belajar mengajar. Namun demikian. Pertama. Apakah konsep yang diharapkan dicapai pada tingkat konkret. guru harus tetap memperlihatkan dimensi perkembangan kognitif dan tujuan pencapaian konsep-konsep yang akan diajarkan. Penentuan Konsep-konsep yang akan diajarkan Ada dua hal yang harus kita pertimbangkan ketika akan memberikan pembelajaran konsep. yaitu (1) penemuan konsep-konsep yang akan diajarkan. perkembangan kognitif atau usia peserta didik yang kerap kali membuat biasnya pembelajaran konsep. b. konsep-konsep yang diajarkan harus sesuai dengan perkembangan kognitif atau usia peserta didik atau tergantung pada pencapaian konsep mana yang akan diajarkan kepada peserta didik. Tetapi kebanyakan guru lebih menenkankan pada konsepkonsep yang bersifat emergency bagi peserta didiknya. perkembangan peserta didik. Kedua. yaitu berikut ini. Tentu saja seorang guru harus tetap berpedoman kepada kurikulum yang berlaku sehingga lebih menambah kejelasan orientasi tujuan pendidikan kita.discovery). Ada 2 langkah yang perlu dilaksanakan dalam rencana pembelajaran konsep. dan (2) analisis konsep 1. Penentuan tingkat pencapaian konsep Penentuan tingkat pencapaian konsep perlu didasarkan kepada tuntutan kurikulum.2. tingkat klasifikasi atau tingkat formal? Hal ini harus betulbetul dipertimbangkan sebab akan terkait dengan sampai sejauh mana penganalisisannya.

Sebab bunga tersebut kan tumbuh dari kecil.” Peserta didik 2 : “Karena suka makan ikan. Peserta didik 1 : “Karena kucing itu dapat berjalan. Anak-anak apakah kucing termasuk makhluk hidup?” Peserta didiknya menjawab serempak: “Ya.. dan hubungan konsep dengan konsepkonsep lain. mungkin kita akan tertarik dengan teorinya dan cara Ausubel berteori. Dimana letak kesesuaian dengan teori belajar dari Ausubel? Kalau kita kaji lebih cermat maka akan terlihat bahwa Bu Pulan sedang berupaya mengaitkan . Mengapa Bu Pulan mempertanyakan dahulu hal tersebut kepada peserta didiknya.” Bu Pulan : “Bagus jawabannya. contoh-contoh dan noncontoh. atribut-atribut kriteria dan variabel. Kata Bu Pulan.. “Mengapa disebut makhluk hidup?”. Sebelum sampai kepada pokok bahasan tersebut.2. Bagaimana Ausubel menerapkan teori belajarnya dalam proses pembelajaran? Untuk memberikan jawaban sementara atas pertanyaan tersebut marilah kita coba kaji kasus berikut ini.5 Implikasi Teori Belajar Bermakna Ausubel dalam Pembelajaran Jika kita bandingkan antara Ausubel dengan teoriwan lainnya. Bu Pulan mengulas dahulu konsep makhluk hidup yang telah dikenal peserta didiknya. Bu. Bu. hari ini kita akan mendiskusikan tentang ciri-ciri makhluk hidup.. definisi.Analisis konsep mencakup nama. Pada suatu hari Bu Pulan mengajarkan materi pembelajaran tentang ciriciri makhluk hidup.!”. yaitu kemampuannya mengoperasionalkan teori tersebut dalam bentuk nyata dalam suatu proses pembelajaran. “Anak-anak yang ibu cintai.. Inilah sisi yang menarik dari Ausubel sehingga banyak kalangan yang peduli terhadap teori belajarnya. 2. kalau bunga yang tumbuh di halaman itu juga makhluk hidup? Bunga kan tidak dapat berjalan? Peserta didik : “Bunga itu pun termasuk makhluk hidup. Ini dapat terjadi pada diri kita karena ada satu hal yang menonjol dari Ausubel dalam menyusun teorinya. dan sekarang sudah berbunga.

dan penyesuaian intergratif. 1999). Oleh karena itu. selanjutnya diberikan konsep-konsep yang lebih mendetail dan khusus sampai kepada contoh-contoh. Kalau begitu maka penting juga dipahami apa yang disebut belajar superordinat. Novak (1985) mengajukan penerapan peta konsep dalam suatu proses pembelajaran dengan tujuan agar lebih bermakna. dalam konsep belajar bermakna menurut Ausubel dipandang perlu terjadinya pengembangan dan elaborasi konsep-konsep yang tersubsumsi. yaitu advance organizer. Dalam penerapan teorinya pada proses pembelajaran. Dalam implikasi teori Ausubel yang diperagakan Bu Pulan merupakan salah satu contoh penerapan konsep Advance Organizer dalam proses pembelajaran versi Ausubel. konsep-konsep tersebut dikembangkan dari umum ke khusus. Penyusunan konsep seperti ini. Caranya dengan mengembangkan konsep-konsep yang lebih umum terlebih dahulu. tetapi ada kalanya penyajian seperti itu mengalami masalah. Belajar Superordinat Tampaknya belajar superordinat jarang terjadi di sekolah. Advance Organizer Sejak tahun 60-an. diferensiasi progresif. Pada tahun 1963. advance organizer tersebut suka dianggap semacam pertolongan mental. Advence organizer diartikan sebagai pengatur awal (Dahlar. Intinya merupakan proses penggalian pengalaman masa lalu yang sudah ada dalam struktur kognitf peserta didik yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Dalam mendukung pendapat Ausubel tersebut. Ausubel telah memperkenalkan istilah Advance Organizer. Ausubel mengajukan beberapa implikasi. suatu konsep yang diajarkan perlu disusun secara hierarkis. mari kita pelajari bagian-bagian pemaparan berikut ini. Diferensi Progresif Kalau kita cermati secara jeli. 2. 1996) dan mempersiapkan pengetahuan siap (Abin Syamsiddin. 3. Untuk mendalami beberapa implikasi teori belajar Ausubel tersebut. Dengan demikian.materi ciri-ciri makhluk hidup dengan konsep makhluk hidup. disebut dengan istilah diferensiasi progresif. sebab kebanyakan guru dan buku sekarang menyajikan konsep-konsep yang lebih inklusif. Oleh sebab itu. . yang disampaikan sebelum materi pokok pembelajaran dibahas. 1. belajar superordinat. konsep advance organizer menjadi bagian penting dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Meaningful Verbal Learning.

lebih inklusif (Dahar. seperti kata “ibu”. ia juga belajar dari unsur keberbuluan maka muncullah kelompok binatang menyusui atau mamalia maka kucing. Di situ tampaklah bahwa mamalia sebagai superordinat dan kucing. anjing juga sapi sebagai subordinat. sapi. 4. Penggunaan kata maknanya sudah meluas. Bu Pulan berkata “Coba bukunya berikan ke Ibu!” Menurut Ausubel untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif seperti itulah pentingnya penggunaan prinsip-prinsip penyesuaian intergratif yang sering disebut dengan istilah rekonsiliasi integratif. Lalu. Penyesuaian Integratif Terkadang anak dihadapkan kepada permasalahan dwifungsi suatu konsep dan dengan kenyataan ini mereka mengalami semacam pertentangan kognitif. Misalnya. Ausubel berpendapat bahwa suatu pembelajaran yang bermakna tidak harus selalu terjadi secara diferensiasi progresif. Tetapi setelah belajar lebih jauh maka ia mulai membedakannya dengan kucing betina. yang berarti orang yang melahirkan atau yang dituankan pun dapat menimbulkan pertentangan kognitif bagi anak. anjing termasuk kelompok binatang mamalia. Misalnya. . penggunaan kata bisa yang berarti dapat/mampu dan arti lainnya. ketika anak kecil belajar mengenal kucing. awalnya semua kucing sama. tetapi harus terjadi upaya penggerakan kerangka hierarkis konseptual ke atas dan ke bawah. 1996). Misalnya. jantan dan sebagainya. Artinya perlu diperlihatkan keterkaitan antara konsep-konsep umum dengan konsep-konsep khusus. yaitu racun. Selain itu perlu jelas pula konteks dan rentetan penggunaan kata yang telah melebar maknanya atau kasus makna dwifungsi dan sebagainya.Belajar suborinat jarang terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. umumnya membuat anak bertanya kapan saya harus mengatakan “bisa” yang berarti dapat dan kapan saya harus mengatakan “bisa” yang berarti racun. Pertentangan seperti itu.

Sedangkan akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat positif ataupun yang negatif. Respons menimbulkan perilaku jawaban atas stimulus. dan akibat. Ketiga.BAB III PENUTUP A. superordinat yang merupakan pengenalan terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Menurut pandangan ini guru/tenaga kependidikan berperan sebagai fasilitator daripada sebagai pengajar belaka. Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek. Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan. respons. . kejadian-kejadian. Kesimpulan Proses belajar terjadi dengan adanya tiga komponen pokok yaitu stimulus. Kedua diferensiasi progesif yang menentukan proses pembelajaran yang berlangsung dari umum ke khusus. Stimulus adalah sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu. Teori belajar Humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. penyesuaian interaktif yang merupakan upaya untuk mengatasi dan mengurangi terjadinya pertentangan kognitif dalam proses pembelajaran. Keempat. advance organizer dan entry behavior pengetahuan siap. Sedikitnya ada empat aplikasi teori belajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. kegiatan-kegiatan atau hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Pertama.

bertanggung jawab. Kebutuhan peserta didik harus menjadi bahan pertimbangan yang akan disampaikan. Saran Guru/tenaga kependidikan sebaiknya bukan lagi sebagai pusat proses pembelajaran. seorang guru/pendidik harus memiliki sikap empati.B. tetapi yang terpenting adalah memfasilitasi tumbuhnya motivasi belajar secara intrinsik pada diri peserta didik. . jelas dalam menyatakan sesuatu. terbuka. berpenampilan apa adanya. dan tulus dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didiknya. Selain dapat memotivasi peserta didiknya.

DAFTAR PUSTAKA Mikarsa. Agus Taufik dan Puji Lestari Prianto. 2007. Hera Lestari. Jakarta: Universitas Terbuka . Pendidikan Anak di SD.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->