P. 1
Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan

Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan

|Views: 15|Likes:
Published by Oddy Perdana

More info:

Published by: Oddy Perdana on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/02/2014

pdf

text

original

PERAN MASYARAKAT DALAM PENGENDALIAN LINGKUNGAN

Oleh: Dra. Masayu S.Hanim, M.Si* Abstract Social participation on environmental management was determined by social relations system, government system, regulation system, and law enforcement system. The synergy of that four systems would be construct the relation system frame, between nature and human being. Actually, the frame constructed by good governance, social participation for the law and law enforcement bureaucracy. For all, The Government continues to consolidate its co-operation with the private sector and foster the establishment of venture capital funds for sustainable development. 1. Pendahuluan TAP MPR no. IX tahun 2001 telah menggariskan perlunya DPR dan Presiden untuk meninjau kembali semua undang-undang dan peraturan sektoral tentang pengelolaan sumberdaya alam dan pembaruan agraria untuk kemudian menggantikannya dengan peraturan baru yang lebih komprehensif dan ramah lingkungan, sampai kini tampaknya masih mengalami kesulitan untuk membawa kesuatu perubahan yang berarti. Menyadari betapa kompleks dan rumitnya upaya pengelolaan serta penegakan hukum lingkungan pada umumnya, dan khusus di wilayah DAS1 Terpadu, Citarum dan Kawasan Jabodetabekpunjur2 sudah banyak gagasan ataupun advokasi yang dilontarkan. Misalnya dalam era reformasi sekarang ini harus dimulai dari perbaikan sistem hukum. Perbaikan sistem hukum ini harus disertai dengan political will untuk membangun sistem politik yang kondusif agar berkembang sistem hukum yang adil dan merata dalam upaya penegakan hukum. Karena penegakan hukum merupakan prasyarat utama untuk keluar dari krisis multidimensional sekarang ini. Usul lain adalah reformasi birokrasi agar implementasi regulasi dapat mudah dipahami oleh semua pihak untuk menegakan hukum. Ketika penelitian dalam kemasan Program Kompetitif diluncurkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2003 yang lalu, turut mengambil bagian dalam program ini, tim yang melakukan kajian dengan pendekatan sosial kemasyarakatan di wilayah DAS Citarum, dan DAS Ciliwung dan Cisadane yang populer dengan sebutan kawasan Jakarta, Bogor, Puncak dan Cianjur (Jabopunjur), merupakan bagian dari penelitian terpadu dari berbagai disiplin ilmu. Fokus dari penelitian ini adalah pada dimensi hukum dan kebijakan, kelembagaan yang mengelola DAS, dan peran serta masyarakat. Pertanyaan utama yang diajukan adalah mengapa DAS di Jawa Barat menjadi dalam kondisi kritis, sehingga berakibat pada terjadinya bencana banjir dan longsor, kekeringan dan pencemaran di kawasan DAS dari tahun ke tahun ? 2. Kondisi Kerusakan DAS Citarum & Kawasan Jabodetabekpunjur Merupakan salah satu fakta yang menunjukkan terjadinya konflik dan ketidakserasian atau penyimpangan pemanfaatan ruang, khususnya antara pemanfaatan kawasan pemukiman, perkotaan,industri, pertanian dan kawasan lindung. Bentuk-bentuk penyimpangan itu di antaranya pemanfaatan ruang yang tidak sesuai untuk pemukiman. Bantaran sungai juga berubah fungsi. Demikian juga pemanfaatan ruang untuk pemukiman pada wilayah retensi air, seperti rawa-rawa dan lahan basah. Data lapangan menunjukkan, penggunaan lahan untuk permukiman di Jabodetabek sejak tahun 1992 hingga 2001 naik rata-rata 10 persen/tahun. Dalam kurun waktu yang sama, terjadi pula pengurangan luas kawasan lindung rata-rata 16 persen/tahun. Rencana Tata Ruang Kawasan

. Kabupaten Tangerang. Hal ini disebabkan pertumbuhan kawasan pemukiman/perkotaan yang cukup pesat dengan luas mencapai 35. Jakarta.6 persen dari total volume produksi sampah per hari yang bisa dikelola. di Jakarta terdapat 16 situ dengan luas semula 182. sisanya dibuang. Kota baru yang bertebaran di Kota/Kabupaten Bogor. terutama dalam kurun 10 tahun terakhir (1885-1999). Selain itu. Pemanfaatan lahan di kawasan Bogor. Sedangkan di luar Jakarta.47 km2.300 jiwa dengan luas 112. Belum optimalnya system pengelolaan sampah. Sedangkan perubahan lahan alami ke lahan terbangun menimbulkan bahaya erosi dan menurunkan infiltrasi air tanah.97 km2 dan kepadatan 2. Tingkat kepadatan penduduk tahun 1997 di Kabupaten Bogor tercatat 1. Masalah limbah juga harus mendapat perhatian. hanya 84. khususnya pembangunan yang terjadi di lintas wilayah yang memiliki keterkaitan dengan fungsi dan struktur alam. yang merupakan hulu (up-stream) kawasan Jabodetabek. Berdasarkan data kajian. Sekarang tidak jelas lagi keberadaannya. berdampak pada peningkatan aliran air permukaan (run-off). 37 situ dengan luas semula 1.800 jiwa dan luas 3.000 m3.4 ha telah menyusut sekarang menjadi 12. Sebagai contoh di Jakarta. terdapat enam situ yang semula luasnya 15.344. Penduduk Kota Bogor 655. Kota Depok terdapat 22 situ dengan luas semula 167. sekarang menjadi 10 ha. hingga tahun 2002. Permasalahan lainnya adalah perkembangan infrastruktur yang tak terkendali. serta adanya fenomena ketidakseimbangan antara pembangunan jalan dengan jumlah kepemilikan kendaraan.1 ha. Perkembangan pembangunan itu pun diiringi dengan peningkatan jumlah penduduk dari 16 juta jiwa (1990) menjadi 19 juta jiwa tahun 1996. Depok. Yang lebih memprihatinkan lagi. Tangerang. telah menyimpang 79.3 juta jiwa. baik lahan terbuka.068.4 ha. Di Kota Tangerang terdapat delapan situ. dan Cianjur (Bopunjur). telah terjadi perubahan besar-besaran penggunaan lahan.9 ha. peningkatan jumlah kendaraan yang semakin pesat.1 ha sekarang luasnya setelah menyusut 686. 94 situ dengan luas semula 502. situ-situ (kolam tangkapan air) mengalami penurunan yang cukup signifikan mencapai 65.750 m3 dan sekarang menjadi 2. tahun 2015 jumlah penduduk mencapai 27.034.74 km2 dan kepadatan 5. Di Kota Bogor. Di Kabupaten Bekasi dari 17 situ dengan luas semula 110. Perkembangan pembangunan di bagian hulu kawasan.003 jiwa/km2. yakni masalah urban sprawl . terutama pada wilayah DAS. dengan meningkatnya limbah industri dan rumah tangga di bagian hilir. meningkatnya kebutuhan perumahan dan fasilitas lainnya untuk memenuhi kebutuhan penduduk.5 ha.063.9 ha menyusut menjadi 151 ha. Perubahan rata-rata 20 persen/tahun.7 ha.100 jiwa dengan luas 6. Sedangkan total Botabekjumlah penduduk mencapai 12. Terjadinya penyempitan sungai akibat sedimentasi dari partikelpartikel yang terbawa.5 persen dari arahan yang ditetapkan dalam Keppres No 114/1999. menjadi salah satu biang keladi perubahan itu. baru mampu mengelola 20 hingga 30 persen dari total volume produksi sampah per harinya. Selain itu.905. telah mempersempit vegetasi yang menutup permukaan tanah.8 ha dan sekarang menjadi 136.9 ha. masih terdapat beberapa masalah yang terjadi di kawasan Jabodetabekpunjur. Diperkirakan.Jabodetabek berubah sekitar 20 persen. dan sebagainya. Hal itu sebagai akibat adanya perkembangan pembangunan dalam skala besar di kawasan Jabodetabek.025.432 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk 4. lahan pertanian dan sebagainya.1 ha. Terjadi penurunan luas yang signifikan menjadi 47. Puncak.812 jiwa/km2. Kapasitas semula 5. Di Kabupaten Bogor.000 hektare (ha) atau 29 persen dari total luas kawasan Bopunjur. semula luasnya 195.8 persen.298.

Hal ini mengakibatkan kerusakan lingkungan semakin parah. menimbulkan kebingungan masyarakat. Karena banyaknya jumlah regulasi5. regulasi) . Semua ini belum punya kejelasan sehingga menimbulkan keraguan. sehingga hilangnya kepercayaan dari masyarakat terhadap penguasa/pembuat kebijakan yang dianggap mementingkan tujuan penguasa dan pengusaha saja. Peraturan tersebut belum menjelaskan secara rinci sampai sejauhmana batasan kewenangan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten serta lokasi mana saja yang boleh dan tidak boleh dibangun. maka terungkap dimensi-dimensi penyebab utama yang memicu langsung maupun tidak langsung kondisi kerusakan DAS sekarang ini. di satu sisi aparat dituntut untuk melakukan penertiban dan merealisasikan penataan ruang.2. Penelitian 2003 . Peraturan yang dianggap tidak jelas tersebut adalah Keppres 114/1999 yang selama ini menjadi acuan. Lemahnya atau tidak ada koordinasi terpadu antar kelembagaan (arogansi sektoral). Dengan perkataan lain pola interaksi sosial menjadi tidak terarah kepada tujuan yang baik. bingung dan apatis.Sistem Perundang-undangan /Regulasi: Konflik kepentingan terlihat jelasn pada produk hukum lingkungan antara kepentingan birokrat dan konglomerat (sektoral).3. Banten dan DKI ini? Atau. pada akhirnya regulasi diabaikan dan mereka bertindak sendiri-sendiri (melanggar peraturan baik ditingkat pejabat maupun masyarakat awam). dimana sudah jelas ada yang dirugikan. sebagian besar masyarakat menjadi anomie. selain melihat dari segi sumber daya manusia aparat pelaksana dan masyarakat. Pada tingkat implementasi terjadinya kesemrawutan. barulah proses penertiban lebih punya kekuatan hukum. Sistem hubungan sosial masyarakat yang terpola dari interaksi social yang terbentuk selama ini adalah sistem yang mengacu pada hilangnya nilai-nilai yang baik seperti seharusnya patuh pada peraturan yang sudah dibuat menjadi tidak patuh/ melanggar.3. tanpa memikirkan kepentingan publik secara luas.2005 mencatat bahwa penyebab kesemuanya itu adalah belum terjadi sinergi antara 4 (empat) sub sistem untuk menuju pada sistem lingkungan kehidupan yang representatif yakni : 3. dan terjadi tunpang tindih/ disharmoni regulasi. dan kepentingan pelestarian lingkungan. pemegang kekuasaan seharusnya mengayomi/melindungi masyarakat tetapi berkembang sifat egoistis dari pemegang kekuasaan (ego-sektoral) yang lebih menonjol. apakah implementasi dari peraturan perundangundangan tersebut yang tidak tepat? Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentunya untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut. Melihat kondisi saat ini.1. 3. dana operasional penegakan hukum tidak ada/memadai dan sistem kebijakan yang sektoral tidak terpaduserasi sehingga masing-masing instansi yang berkepentingan membuat kebijakan. namun di sisi lain mereka tidak mempunyai kekuatan hukum untuk melakukannya. Sehingga terjadi dissinkronisasi dan dis-harmonisasi diantara regulasi lingkungan. juga penting untuk mengkaji regulasi.Sistem Pemerintahan: aparat pemerintah sebagian terlibat KKN (karena keserakahan pihak yang berkuasa/atasan atau gaji tak memadai bagi pihak bawahan yang harus melaksanakan tugas). pertanyaan apakah kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada tidak cukup efektif mengatur dan menangani wilayah DAS di Jawa Barat. Penyebab Krisis DAS Citarum dan Kawasan Jabodetabekpunjur Setelah dilakukan kajian melalui perspektif sosial yakni dalam hal kebijakan dan kelembagaan serta penegakan hukum dibarengi dengan peranan perilaku masyarakat. kebijakan dan peraturan perundang-undangan kawasan DAS ini. Adanya peraturan yang menggamangkan seperti ini membuat tindakan aparat lebih banyak menunggu adanya laporan dari masyarakat. 3.

sedangkan rumusan para ahli. sehingga menyebabkan kerusakan yang sedemikian parah. Tidak jarang terjadi misalnya kalau ada seorang pejabat memberikan izin terhadap kawasan lindung. melanggar peraturan perundang-undangan yang dia buat sendiri. Pendekatannya selalu sistemik. polisi. Rekomendasi Langkah-Langkah Menuju Pelestarian DAS Dalam konteks pendekatan antropo-ekosistemik bagi sub system pengelolaan lingkungan. Sebetulnya sebagai aparatur salah. maka hal itu bukan kesalahan prosedur. menegakkan hukum yang membatasi kegiatan-kegiatan lain dalam rangka pelestarian lingkungan. Sistem sosialisasi regulasi tidak berjalan sehingga masyarakat menjadi buta hukum. koordinasi kelembagaan serta implementasi regulasi belum bisa terlaksana dengan semestinya. tidak tahu/sadar bahwa ada peraturan yang mengatur. dan kerusakan lingkungan terjadi selama ini.3. sebagai dasar dari empat sub sistem lainnya maka diharapkan dapat membentuk suatu sistem kehidupan lingkungan yang representatif yang dapat mengakomodir berbagai kepentingan semua pihak. 4. Semua unsur tersebut memegang peranan penting. tidak pernah lingkungan berbicara tidak sistemik. Hukum lingkungan mengajarkan semua itu sebagai suatu kesatuan yang utuh dan merupakan suatu sistem. Lingkungan dianggap sangat mempunyai kepentingan. oleh karena itu tanggung jawab ada padanya. Oleh karena itu. interaksi dan sinergi ke empat unsur tersebut menduduki peranan utama. jaksa). Ada 5 (lima) isu mengenai perbaikan produk hukum/ regulasi yaitu : 4. semua unsur yang . Proses Pembuatan Produk Hukum Lingkungan dan Tata Ruang Proses pembuatan produk hukum lingkungan menjadi arahan awal dalam munculnya produk hukum yang mengatur wilayah DAS. Sebagaimana kita sadari sistem perundangan sekarang ini sulit berjalan/diimplementasikan sehingga penegakan hukumpun sulit dilakukan. dan ilmuwan dibidang tersebut justru disingkirkan15. seperti yang dinyatakan oleh Ir. dalam arti kata punya hak hidup dan hak untuk berkembang disamping harus mendukung kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Mereka saling berinteraksi membentuk sebuah mekanisme yang dalam hal ini menyebabkan terjadinya bias regulasi dalam sistem pembuatan kebijakan publik. Sesuai mekanisme pendekatan sistem. dianggap hanya kesalahan administratif saja. bahwa hingga kini kebijakan publik masih ditangan para birokrat. Penegak hukum itu tidak saja aparatur pemerintah yudikatif (hakim.Sarwono Kusumaatmaja mantan Menteri Lingkungan Hidup. lemahnya pengetahuan aparat penegak hukum (yudikatif) tentang hukum lingkungan serta mafia peradilan (suap untuk bebas dari tuntutan hukum).4. kadang mereka terjebak pada pelanggaran. Oleh karena itu dalam menuju suatu sistem hukum lingkungan yang representatif harus dimulai dengan memperbaiki regulasi atau produk hukum lingkungan dengan paradigm antropo-ekosistemik yang lebih mengutamakan harmonisasi hubungan manusia dengan alam. periset. penegak hukumnya adalah aparatur pemerintah. Namun keempat sistem tersebut tampaknya mempunyai masalah. Jika tidak. dan ini ternyata salah. yakni manusia dan alam. Dia adalah orang paling pertama dan utama dalam menegakan hukum. Sistem Penegakan Hukum: Pembiasan regulasi oleh aparat pemerintah (eksekutif dan legislatif). Pada waktu kita berbicara hukum lingkungan. pengacara. tetapi juga aparatur pemerintah legislatif dan eksekutif. Hal ini karena sistem pembuatan produk hukum lingkungan berasal dari birokrat. sehingga penegakan hukum khususnya hukum lingkungan. Ia harus menegakkan rencana tata ruang.1. Hal penting yang harus ada di sini adalah keterkaitan semua unsur yaitu para stakeholder dalam melakukan urun rembug kebijakan publik yang mengatur wilayah DAS. hal itu akan mendampak pada penemuan kesimpulan yang menyimpang/keliru.

Perdagangan. Beberapa keterangan didapat bahwa. Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral d. Perindustrian. teknik lingkungan. namun terkadang hanya menjadi pelengkap dan tidak diakomodasi secara baik. Model yang diterapkan selama ini. dan . selanjutnya disusun Rencana Tata Ruang (sebagai bagian dari Hukum Lingkungan) yang berorientasi pada perlindungan lingkungan. namun perlu keterlibatan unsur ahli lainnya. Pertahanan dan Keamanan g. Dep. artinya tidak hanya pada sisi tata ruang semata. BPPT. Dep. Dep. dan lain-lain Komponen yang dikemukakan di atas adalah sebuah sistem yang utuh dan menyeluruh. Kehutanan e. Berdasarkan hasil kajian interdisipliner dan multidisipliner serta lintas sektoral tersebut. ilmuan biologi. Dep. Dep. Dep. Peraturan Daerah (Perda) masing-masing. LIPI. Kabupaten/Kota dan III. Seluruh pembicaraan tersebut harus dikerangka dalam sebuah kacamata bersama yaitu Undang-Undang No. Perhubungan. Pertahanan dan Keamanan. BPN. tokoh adat dan agama) 4. kebijakan publik. Dep. sejak dari peraturan perundang-undangan dirancang dan kemudian ditetapkan. seperti. Kehutanan dan Perkebunan. Secara kelembagaan seharusnya pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan produk hukum di wilayah DAS adalah : 1. Ristek dst. Kondisi lingkungan juga harus dipertimbangkan. Kalangan pengusaha 7. pengelolaan lingkungan hidup dan tata ruang DAS yang ramah lingkungan. Dep. Aparat pemerintahan pusat yang berada dalam departemen masing-masing: a. Hukum dan HAM 3. Perindustrian dan Perdagangan f. beserta tingkat II. Akademisi dan kalangan ahli (expert). lebih banyak dalam bentuk usulan-usulan dari masing-masing instansi secara tertulis. Modelkomunikasinya berlangsung dalam sebuah mekanisme yang dialogis dan partisipatif diantara pemangku kepentingan (stake-holder). Dep. Turunannya akan muncul lagi dalam bentuk yang lebih konkret yaitu. antropologi. Pertanahan c.Untuk tahap awal dalam proses pembuatan kebijakan harus diawali dengan pembentukan Tim Pengkajian16. kehutanan.Banten Jawa Barat dan DKI Jakarta. misalnya : Perguruan Tinggi. seperti. baik terhadap kawasan lindung maupun kawasan budidaya. karena di sini ada hak hidup dan berkembang bagi seluruh ekosistem. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian antara kondisi lapangan dengan aturan di atas kertas. Energi dan Sumber Daya Mineral. Perkebunan dan Pertanian j. Keterlibatan kelembagaan serta kelompok-kelompok masyarakat tersebut. Pemukiman dan Prasarana Wilayah i. dan ekonomi. Camat) 2. Aparat pemerintahan daerah (Prop.merupakan sub sistem harus terlibat dari awal. Kalangan masyarakat (tokoh masyarakat. sosiologi. 6. perlu diakomodasi kepentingan dari masing-masing departemen. selama ini sangat minim. Dalam prosesnya. 5. walaupun mereka dilibatkan. harus ada sebuah mekanisme komunikasi yang rapat dan intensif yang mengarah pada sebuah misi bersama. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Perhubungan h. Sementara dari sisi aparatur pemerintahan. LSM dan Presure Group. Lingkungan Hidup b. Penanaman Modal Asing dan Daerah. pertambangan. Dep.

17 Solihin Abdul Wahab. 2001. dengan satu misi. Meningkatkan penghasilan/gaji bagi aparatur penegakan hukum secara adil dari tingkat atasan sampai pelaksana lapangan. realitasnya. tidak akan ada artinya sama sekali jika tidak bisa dilaksanakan. Bisa dikatakan kebijakan publik diwilayah DAS Citarum/Jabopunjur telah sangat lengkap. sehingga masyarakat bisa mengetahui secara langsung . Terutama Punishment dan Reward. Memastikan adanya koordinasi antar departemen dan instansi (kelembagaan) secara mandiri dan komprehensif. Kebijakan publik. tata ruang DAS Citarum/Jabopunjur misalnya. Meningkatkan pengetahuan aparatur dan masyarakat mengenai hukum lingkungan dan tata ruang. Jakarta. 3. terkait dengan ganjaran dan penghargaan bagi pelaksana di lapangan. Ini tidak menimbulkan efek jera dan dalam pelaksanaan hukum tata ruang. namun hanya mendapat sanksi administrasi. Setidaknya. aspek pelaksanaan peraturan hukum. Aspek utama dalam proses kebijakan publik adalah tahap pelaksanaan 17. persoalan tata ruang dan lingkungan diajukan ke pengadilan. 5. ini berdampak pada rendahnya partisipasi saat peraturan tersebut diimplementasikan. pelestarian lingkungan hidup di Wilayah DAS. telah banyak mengatur wilayah DAS Citarum/Jabopunjur. Sejak dari tahun 1960 hingga sekarang. Rineka Cipta. Memberikan kejelasan sanksi yang tegas dan imbalan yang jelas bagi pelanggar peraturan. oleh karena itu memerlukan perhatian khusus dan perbaikan terhadap berbagai kelemahan-kelemahan yang ada.Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 69 kemudian dirumuskan dalam sebuah bentuk jadi.2. Akan tetapi. Dari sisi materi sudah cukup mengakomodasi. Pada akhirnya. Analisis Kebijakan Publik. bisa digambarkan sebagai berikut : 1. 2. yakni bahwa sebuah kebijakan yang paling bagus sekalipun. terutama aparat pemerintahan daerah dan lembaga peradilan. ini terlihat dari Keppres No. 4. tetap semrawut dan kerusakan-kerusakan lingkungan terus terjadi. yang cenderung sulit diterapkan di lapangan. diperlukan ketegasan hukum. 4. Pelaksanaannya seringkali tidak secara konsisten dan mengacu penuh pada peraturan. Konsistensi ini terkait pula dengan sinergi antara semua instansi dan departemen terkait. Pelaksanaan Produk Hukum. dalam bentuk hukum lingkungan dan tata ruang. Tahap pelaksanaan adalah bagian paling rumit dalam sebuah kebijakan. khususnya wilayah Puncak. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 70 Secara sederhana. Seringkali terjadi. beragam peraturan telah dikeluarkan. 114/1999. Hal ini terkait sekali dengan faktor manusia yang mau dan mampu melaksanakannya. dari Formulasi ke Implementasi. Membiasakan adanya kontrol dan keterbukaan public/partisipasi masyarakat. namun ketika pelaksanaan tidak konsisten. kendatipun dari sisi materi masih menyisakan berbagai kelemahan dan kekurangan-kekurangan.

perusakan dan pengurasan lingkungan yang kemudian terjadi. dengan melibatkan unsur perguruan tinggi dan lembaga ilmiah lainnya. termasuk unsur masyarakat. Memperhatikan dan memasukkan secara jelas dan tegas keterlibatan unsur-unsur yang ada di wilayah Puncak.kesalahan dan kekurangan dalam pelaksanaan peraturan. pendidikan. Konsep satu sistem harus dikembangkan. yang tidak bersifat sektoral. tenaga kepolisian kurang.Bung Hatta dan Emil Salim berpendapat.3. Siklus Perundangan/Regulasi Sebagaimana diketahui. tetapi harganya ditentukan oleh negara (Pemerintah). sinergi yang ada mestinya diikat dengan sebuah peraturan khusus tentang wilayah DAS. hukum perdata. Sedangkan Jimly Assiddigi (Ketua Mahkamah Konstitusi) dan . Pada saatnya nanti dibentuk badan khusus wilayah DAS. perusakan (damage) dan pengurasan (exhaustion) dikenakan pajak lebih tinggi daripada yang dampaknya kecil. harus disimpan uang jaminan yang besarnya seimbang dengan resiko pencemaran. sehingga bisa mengakomodasi semua kepentingan dan adanya partisipasi semua pihak. perusakan dan pengurasan yang mungkin timbal. Ada perbedaan pendapat yang sangat tajam mengenai arti "bumi dan air dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar nya untuk kemakmuran rakyat" . hukum internasional (publik dan privat). Membuka wacana bagi pembentukan koordinasi terpadu (seperti Badan Otorita). tokoh agama. hubungan sulit. ratusan suku bangsa yang budaya. mestinya proyek yang kemungkinan memberi dampak besar terhadap lingkungan dalam pencemaran (pollution). hukum lingkungan merupakan hukum fungsional yang menempati beberapa bidang hukum klasik. Pelaksanaan penegakan hukum di wilayah DAS harus merupakan sinergi dari semua pihak. Hukum pajak atau fiskal pun mestinya diperhatikan dalam penataan lingkungan. kurang dipahaminya hukum oleh penegaknya scndiri. Uang jaminan itulah yang akan diambil untuk menanggulangi pencemaran. DI RRC pada setiap proyek penting yang diajukan. Oleh karena itu. seperti hukum adminsitratif. 6. ditambah dengan sarana dan prasaran yang kurang memadai. agama dan bahasa yang bcrbcda. namun integral dari bagian-bagian lain. yaitu luasnya wilayah. misalnya listrik boleh saja diusahakan oleh swasta. dengan kurangnya kesadaran hukum masyarakat. atau bentuk lainnya. dan juga pemerintah provinsi dan pusat. Kesulitan penegakan hukum lehih dipersulit lagi. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 71 4. hukum agraria termasuk hukum tataruang dan bahkan hukum pajak. 7. yang terintegrasi dari semua kalangan yang berkaitan dengan tetap mengacu pada indikatorindikator lingkungan hidup. terdiri dari ribuan pulau. hukum pidana. bahwa kata "dikuasai oleh negara" artinya "diatur oleh negara". Penegakan hukum di Indonesia pada umumnya menghadapi kendala yang alamiah. hukum tatanegara.

dimana bisa terjadi izin itu dipecah-pecah sesuai dengan luasnya lahan yang dibolehkan diberi izin. polluters pay principle (pencemar membayar) dan cooperation principle. barulah digusur yang dengan sendirinya membawa dampak timbulnya kerusuhan. Perlu pula menjadi perhatian bahwa Undang-udang Tata Ruang tidak terlihat adanya sanksi pidana dan perdata. antara Menteri KLH dan Menteri yang lain. Sesudah meluas meliputi ribuan orang. artinya hanya diterapkan jika instrumen administratif dan kemudian perdata tidak efektif. sekian meter persegi wewenang Gubernur. terjadi manipulasi. yaitu prevention principle (prinsip pencegahan). Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 72 Konsep penegakan hukum lingkungan. Jika mereka jalan sendiri-sendiri. diusahakan oleh BUMN. yaitu enforcement yang represif dan compliance yang mengajak orang untuk menataati hukum. baru satu dua orang sudah dibongkar. bahwa kata pebegakan hukum dalam bahasa Ingerís ada dua pengertian. tetapi sanksi administratif tidak terlihat secara tegas. Harus ada kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Jerman misalnya menganut tiga prinsip penanggulangan kemerosotan mutu lingkungan. Di sini ternyata juga bahwa kerjasama antara penegak hukum juga sangat kurang. perlu pula diperhatikan. Istilah penegakan hukum (Indonesia) membawa pikiran ke penegakan secara represif tidak mcliputi yang preventif. Prinsip kerjasama pun sangat kurang. Jika sumber air dimiliki oleh negara. antara Pemerintah Daerah satu sama lain antara Bupati dan Gubernur. Mestinya. "dikuasai oleh negara" artinya "dimiliki oleh negara". Ketiga prinsip ini diadopsi oleh banyak negara di dunia. Usaha pencegahan sangat kurang dilaksanakan di Indonesia. Walaupun hukum lingkungan menempati titik silang berbagai bidang hukum klasik. Dikenal di dunia. namun instrumen untuk menegakkannya hanya ada tiga yaitu administratif. dst. padahal usaha preventif lebih baik daripada yang represif. Dalam Undang-udang tentang sumber daya air. Misalnya. dan pelanggarnya adalah residivis. Ada pula petugas rendahan pemerintah daerah yang memungut "pajak liar" dari pedagang kaki lima sehingga sulit dicegah lebih awal. maka mestinya semua proyek air minum kemasan yang menyedot air dari humi. pedagang kaki lima termasuk sepanjang jalur Bogor-Puncak -Cianjur dibiarkan berkembang biak tanpa dicegah lebih awal.. Di dalam UULII 1997 dijelaskan bahwa Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 73 penegakan hukum pidana bersitat subsidiaritas.Harun Al Rasyid mengatakan. bahwa sanksi pidana akan diterapkan jika korban akibat pencemaran atau perusakan lingkungan sangat besar. antara Pemerintah Pusat dan Daerah. perdata dan pidana. Sedangkan sanksi adminsitratif hanya tersirat di dalam Pasal 26. Sanksi administratif itulah yang pertama harus dikenakan karena pihak . ada sanksi pidana yaitu yang tercantum di dalam Pasal 94 dan 95. misalnya antara penegak hukum administratif (pemerintah daerah/ Menteri KLH) dan penegak hukum pidana (polisi dan jaksa). misalnya dalam pemberian izin penggunaan lahan ditentukan sekian meter persegi wewenang Bupati/Walikota.

Belanda: wet en regel giving). 90. sehingga diketahui oleh masyarakat. (3) Kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sebaiknya tinggal secara tetap di dekat wilayah pengelolaan. partisipasi masyarakat memang tetap diperlukan. 3. namun tidak dalam bentuk keikut-sertaan 18 A. Prof. Belanda: vergunning verlening) Penerapan (Inggeris : implementation. Pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah itu secara konkret terwujud dalam kegiatan yang meliputi pembuatan peraturan. Dr. Sebagaimana diketahui di negara maju dikenal siklus perundangundangan (regulatory chain) yang dimulai dengan penciptaan/pembentukan undang-undang (Inggeris: lagislation.5. Oleh karena itu beberapa kunci keberhasilan dari ko-manajemen adalah: (1) Adanya batas-batas wilayah yang jelas yang akan dikelola bersama.administrasi itulah yang mengeluarkan izin. pelaksanaan serta pengawasannya. Belanda : Norm zetting). kegiatan langsung yang memfasilitasi pemanfaatan kawasan hutan oleh masyarakat. Selain itu terdapat beberapa prinsip penting yang harus dilakukan dalam ko-manajemen. Pengelolaan Wilayah DAS yang Berbasis Masyarakat. Dalam pengelolaan yang demikian. Pengaturan sanksi perdata termasuk gugatan masyarakat tercantum di dalam Pasal 88 . pemberian izin (Inggeris : Licensing. Melalui prinsip yang demikian maka urusan mengenai pengaturan . Belanda : uitvoering). Pakar Hukum Lingkungan di Jakarta Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 74 merumuskan sistem pengelolaan. 91 dan 92. (5) Penerapan pengelolaan harus sederhana dan terintegrasi. partisipasi itu lebih bersifat semu. penegakan hukum (Inggeris : Law Inforcement) Kemudian disusun usul untuk perubahan perundang-undangan (legislation) 18. sehingga hak dan kewajibannya dapat terlindungi (7) Adanya kelompok inti yang bersedia melakukan semaksimal mungkin untuk terlaksananya pengelolaan (8) Perlu ada pendegelasian proses administrasi dan tanggungjawab pengelolaan dari pemerintah kepada kelompok masyarakat yang terlibat (9) Perlu ada sebuah lembaga koordinasi yang berada di luar kelompok masyarakat yang terlibat dan beranggotakan wakil dari masyarakat lokal dan semua stakeholder untuk memonitor penyusunan pengelolaan lokal dan pemecahan konflik (10) Diperlukan upaya yang mampu memberikan peningkatan ketrampilan dan kepedulian masyarakat untuk ikut aktif dalam kegiatan pengelolaan. (4) Setiap orang yang terlibat dalam pengelolaan harus mempunyai harapan bahwa manfaat yang diperoleh dalam pengelolaan harus lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. melainkan dalam batas melaksanakan apa yang sudah diputuskan oleh pemerintah. Hamzah. (2) Setiap orang yang memanfaatkan sumberdaya di wilayah itu dan berpartisipasi dalam pengelolaan harus diketahui dengan jelas. penentuan standar (Inggeris : Standard setting. (6) Masyarakat lokal yang terlibat dalam pengelolaan membutuhkan pengakuan legal dari pemerintah Daerah. bila perundang-undangan itu tidak menghasilkan ketentraman dan kesejahteraan semua pihak. Dengan demikian dalam pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah. dan pengadaan unit usaha pemanfaatan kawasan hutan yang dilakukan oleh pemerintah. Pertama adalah adanya desentralisasi atau pendelegasian kekuasaan.

Adapun keuntungan keenam adalah dapat meningkatkan perkembangan ekonomi masyarakat dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat. setiap unsur yang terlibat dalam pengelolaan kawasan diaudit oleh masyarakat. Ketiga. penyelenggaraan dan pengawasannya. yaitu dapat meningkatkan pelestarian sumberdaya hutan dan meningkatkan jumlah sumberdaya yang ada. . Sebagai akibat dari yang pertama ini adalah keuntungan kedua. Sosialisasi Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Hukum Aparat Pemerintah dan Masyarakat McQuail (2000:503) merinci pelbagai definisi sosialisasi. Ketiga. Di samping itu. maka dapat dilakukan dengan cara yang dianggap paling demokratis. Adapun kedelapan. untuk menjamin kesetaraan alokasi kesempatan untuk memanfaatkan sumberdaya hutan. dalam ko-manajemen peranan masyarakat sekitar hutan lebih diutamakan. Ini disebabkan masyarakatlah yang akan menerima dampak langsung dari pengelolaan lingkungan yang dilakukan. sehingga akan dapat terhindar dari over eksploitasi. Pertama. mulai dari perencanaan kebijakan. Kelima. investasi yang berlebihan. dan sebagainya. 3. baik dari masyarakat maupun dari perusahaan pertambangan akan dapat dikurangi. Kedua. Keenam. Audit ini penting dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan di antara berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan bersama. pemanfaatan kawasan hutan dilakukan secara adil dan jujur antara berbagai pihak yang berkepentingan. Melalui sistem pengelolaan yang terpadu. sebagai keuntungan kelima. setiap keputusan yang diambil dalam pemanfaatan lingkungan didasarkan pada konsensus antara pihak-pihak yang terlibat. melainkan perlu didelegasikan kepada pemerintah daerah untuk menanganinya. melalui negosiasi dan kompromi. dengan memberikan keleluasaan kepada masyarakat di sekitar hutan untuk mengimplementasikannya. Apabila konsensus ternyata tidak dapat dilakukan. perijinan. Ketujuh. maka beberapa keuntungan akan dapat diperoleh sekaligus. maka keuntungan keempat adalah dapat mengurangi konflik antara berbagai pihak yang berkepentingan terhadap pemanfaatan kawasan hutan. setiap keputusan yang diambil memperhatikan dua unsur sekaligus. keterlibatan masyarakat merupakan hal yang penting dalam sistem komanajemen. Sebagai akibatnya. yaitu di samping memperhatikan kesejahteraan masyarakat juga memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Itu berarti bahwa masyarakat sekitar hutan dan Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 75 pihak-pihak lain yang kehidupannya sangat tergantung pada hasil hutan memiliki peranan utama dalam merumuskan kebijakan pengelolaan kawasan hutan. antara lain sebagai „pengajaran nilai-nilai dan norma-norma yang dibangun dengan cara memberikan ganjaran dan imbalan simbolik untuk pelbagai jenis perilaku.6. Untuk itu maka pemanfaatan sumberdaya hutan didasarkan pada pertimbangan akses terhadap alokasi sumberdaya. setiap unsur dalam pengelolaan bersama dapat digambarkan secara tepat pengaruhnya terhadap kegiatan yang dilakukan.pemanfaatan kawasan tidak lagi dilakukan oleh pemerintah Pusat. Keempat. juga dapat mengurangi konflik yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 76 yang memanfaatkan sumberdaya hutan.

Pemahaman masyarakat terhadap status kepemilikan lahannya. yang membuat kepemilikan tanah bisa berbedabeda.. Hal ini kerap terjadi terutama yang berkaitan dengan kepemilikan tanah. Dalam hal inilah perlu sebuah usaha sosialiasi ke masyarakat dan aparat pemerintahan daerah. sering menjadi masalah. Keduanya adalah sebuah rangkaian yang tidak dipisahkan. ditemukan kenyataan adanya kebingungan aparat Pemkab Cianjur maupun Bogor dalam melaksanakan aturan perundang-undangan. Perkembangan selanjutnya yang membuat terjadi tanah-tanah yang dihakmiliki. Pemahaman masyarakat. sebagaimana diungkapkan oleh Prof. terutama sosialisasi ke masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2003 dan 2004.. Pada awalnya tanah tidak dimiliki oleh masyarakat. Mereka bisa saja menjual kepada pihak lain dan menjadikannya usaha tersendiri.. a life-long process . jika tanah sudah menjadi hak milik mereka. Tidak jarang pemilik villa adalah para penegak hukum yang berdomisili di Jakarta. karena pemahaman yang jelas tentang aturan akan membawa pada pelaksanaan yang lebih efektif dan efisien. serta materi aturan yang umumnya memerlukan penafsiran lebih lanjut. Kusnaka Adimiharja19 adalah karena ketidakjelasan peralihan lahan dari pemerintahan penjajah Belanda kepada pemerintahan Indonesia. namun status tanahnya sudah berupa sertifikat hak milik. 114/1999 dengan realitas di lapangan. Pemkab Bogor dan Cianjur seringkali kesulitan untuk menertibkan bangunan yang berada di kawasan lindung. Mengenai pengetahuan aparat ini. Kesulitan lain yang ditemukan oleh aparat adalah kemampuan mereka dalam menegakkan peraturan ketika berhadapan dengan pihak-pihak pemilik Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 77 villa dan bangunan melanggar. dimana umumnya adalah orang-orang yang memiliki “kekuatan” dan kemampuan lebih. maka mereka bebas mau membangun apa saja.. Jadi sesungguhnya. mengenai peraturan-peraturan yang berlaku tentang pengelolaan tanah di wilayah Puncak. Ketentuan ini merupakan satu kesatuan dengan materi aturan itu sendiri. masih terlihat minim. Kebingungan tersebut disebabkan oleh ketidakjelasan petunjuk dalam Keppres No. sosialisasi adalah “. yang ditujukan pada keterlibatan aktif para stakeholder untuk . seperti diungkapkan Potter (2001:284). sehingga pengetahuan mereka tentang hukum tata ruang dan lingkungan lebih memadai. karena tingkat pengetahuan yang berbeda.Sosialisasi dimaksudkan pula sebagai proses pembelajaran di mana kita semua belajar bagaimana berperilaku dalam situasi-situasi tertentu dan mempelajari harapan-harapan yang seiring dengan suatu peran atau status tertentu dalam masyarakat.” Proses yang berlangsung seumur hidup Sosialisasi dalam hal ini adalah pemberian/peningkatan pengetahuan bagi aparat pemerintahan yang akan menjalankan aturan adalah hal yang mutlak. Sementara dari sisi sosialiasi peraturan perundang-undangan. namun dikuasai negara. Hal ini ditambah lagi oleh tidak adanya peraturan turunan yang bersifat lebih teknis. Hal ini dipersulit lagi oleh tidak jelasnya peraturan yang mengatur hak milik tanah. Sosialisasi ini dilakukan secara simultan dan komprehensif.

Melakukan pelatihan-pelatihan teknis sesuai bidang tugas secara komprehensif dan berkelanjutan.ikut mematuhi aturan tata ruang yang dibuat. sehingga muncul sikap tanggung jawab untuk melaksanakan peraturan. Melakukan sosialisasi berupa dialog dan pertemuan dengan warga masyarakat dan para stakeholder secara rutin dan komprehensif. dapat dilakukan melalui pelatihanpelatihan dan training-training secara terus menerus. 3. Metodenya harus dilakukan secara dialogis dan berkelanjutan. terutama yang berkaitan dengan DAS. jika mereka tidak terlibat akan ada sanksi yang tegas dan jelas. Aturan mengenai jangan hanya masuk dalam peraturan teknis. Sosialiasi tidak hanya sekedar memasang papan pengumuman. untuk menjaga terjadinya proses yang diharapkan. Secara tegas diatur pula. Perpindahan pejabat dari satu dinas ke dinas lainnya. dimana ketentuan-ketentuan tersebut dimasukkan sebagai bagian dari revisi peraturan perundang-undangan. karena aparat pemerintahan akan sering berpindah-pindah tugas dari satu instansi ke instansi lain. Pelatihan perlu dilakukan. Hal ini sejalan dengan dorongan-dorongan 19 Pakar Antropologi dan Budaya Sunda di Bandung Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 78 yang memberikan keuntungan kepada masyarakat yang pro-lingkungan hidup. namun mengajak masyarakat dan komponen lain untuk memahami esensi perundang-undangan. bukan pendidikan formal. Secara ringkas. Sementara pengetahuan bagi aparat. Melibatkan para tokoh masyarakat serta pengusaha dalam sosialisasi peraturan perundang-undangan. Pelatihan ini difokuskan pada pemahaman terhadap materi-materi perundang-undangan dan konsep sustainable development. harus diimbangi dengan pemberian pengetahuan yang tepat dan sesuai. 2. Mereka harus terus dibekali dengan materi-materi teknis pada bidangnya masing-masing. rekomendasi untuk sosialisasi dalam upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran aparat dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Terutama berkaitan dengan hukum lingkungan dan tata ruang. Aparat pemerintah adalah pejabat struktural yang memang harus banyak mendapatkan pelatihan. Pendekatannya adalah dialogis untuk menumbuhkan partisipasi semua kalangan. 4. Keterlibatan mereka berada di posisi kunci. Memasukkan klausul keharusan pemberian sosialisasi dan peningkatan pengetahuan aparat ke dalam materi perundangundangan. sebagaimana bobot yang tercantum dalam materi perundang-undangan. Pendekatannya tidak sektoral. Wilayah DAS akan . Melakukan sosialiasi secara lintas departemen dan instansi. sehingga akan muncul rasa tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat. Harus ditekankan ketentuan-ketentuan pengaturan diri sendiri yang menunjang kelestarian lingkungan. namun ditegaskan dalam peraturan utama. Rekomendasi di atas harus dilakukan sejalan dengan perbaikan pada materi perundang-undangan. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 79 5.

dengan dalih pembangunan. 2004. Penutup Harapan bahwa masyarakat dapat berperan dalam pengendalian lingkungan. Masyarakat mempunyai fungsi ganda. karena masyarakat yang menjadi pelaku utama dalam pengembangan dari pedesaan sampai dikota-kota. sehingga masyarakat desa kehilangan kemampuan dan keberanian untuk menciptakan aturan kebijakannya sendiri yang lain dari yang ditetapkan pemerintah pusat. keyakinan-keyakinan diri serta kemampuan evaluasi diri pun luntur bersamaan dengan hilangnya tingkat keswadayaan masyarakat. (2004) Kaji Ulang Peraturan Perundang-undangan: Implementasi TAP MPR No. Daftar Referensi Abdul Wahab. RACA Press. masyarakat mempunyai segudang pengalaman berdasarkan pada teknologi-teknologi dan kearifan tradisional mereka (indigenous knowledge and technology). Banyak produk kebijakan baik di tingkat lokal (daerah) maupun nasional yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat desa. Ageung. Sumberdaya masyarakat sebagai sumberdaya lokal tidak lagi kondusif bagi pembangunan desa atau wilayahnya. tatanan tradisional masyarakat desa di Indonesia tidak mendapatkan sentuhan pengembangan yang cocok 20. dia (masyarakat) hanya turut sebagai saksi mata bagi pengrusakan lingkungan oleh orang-orang yang punya kekuasaan dan uang. dan dapat pula sebagai obyek ekploitasi. Akibatnya. Jakarta. secara formal pendidikan di pedesaan rata-rata rendah dan jauh dari akses informasi dan komunikasi. Permasalahannya. dengan dimanfaatkan oleh pihak lain untuk suatu kepetingan. sementara kondisi 20 Haryo Habirono. Makalah Tinjauan Kritis Kebijakan Desa. IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agrarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Ketersediaan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi juga terbatas. Ivan Valentina. Disini diharapkan peran pemerintah dengan aparaturnya sekarang ini akan sangat menentukan untuk membangun seluruh lapisan masyarakat yang mengerti dan paham akan pelestarian lingkungan. Rineka Cipta. Analisis Kebijakan Publik. 2001. daya kreativitas masyarakat menurun tajam seiring dengan motivasi diri untuk berkembang. Secara substansial. Ini lah sebuah tantangan. Solihin. melestarikan dan seterusnya. dapat sebagai subjek dimana dia menentukan. kekayaan pengalaman masyarakat desa banyak ditinggalkan karena dianggap tidak selaras dengan kemajuan teknologi dan wacana abad modern. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 80 obyektif desa-desa sangat beragam. Pengalaman-pengalaman positif masyarakat desa hilang dan dilupakan orang seperti gotong royong dan seterusnya. Semangat intervensi dari pusat sangat kuat dirasakan dan sangat efektif. 5. Sumberdaya manusia/masyarakat di desa maupun di kota tidak berkembang. tetapi cenderung hancur. Pada masa Orde Baru. produk-produk kebijakan yang dihasilkan mengenai desa sangat kental dengan muatan dan nuansa penyeragaman.dianggap sebagai fokus kajian dengan melibatkan semua stakeholder dan para tokoh masyarakat. namun selama 1-3 dekade yang lalu. Ini menjadi penentu dalam keberhasilan program yang akan dilakukan. . mengendalikan.

(Hal 63. Jr. (1988). Sistem Jaringan Pembuatan Kebijakan Publik yang Berdampak Pada Penyalahgunaan Lahan di Kawasan Jakarta-BogorPuncak-Cianjur. Remaja Rosda Karya. (1991).A.Citra Aditya Bakti. Gajah Mada University Press. Masayu S. Arief Budiman. Saapta Artha Jaya.James A & Champion. Dunn. (1997). Kebijakan Lingkungan dan Sumber Daya bagi Ekonomi Dunia. (1968) General System Theory. Bandung Hamzah. Banathy. Jakarta Berger. Moh. West (1968) The System Aproach .Askin. Baharuddin Lopa. Harian. 2003. ISSS Integrated Systemic Inquiry Primer Project. George Braziller. Gramedia Pustaka Utama. Longman. Bandung French. L. Upaya Teknologi Dan Penegakan Hukum Menghadapi Pencemaran Lingkungan Akibat Industri. Jakarta.Ufford.Dean J: (1992) Metode Dan Masalah Penelitian Sosial. (1986). Richard N. __________. (1980). (Editor). (1996). JRP. Sandra. Carmel.. Cooper. Charles R & Chaffee. New York. Jakarta. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 81 Atmasasmita. Ann Arbor : Institute for Social Power. ____________. C. Aubrey. A Taste of Systemics. Jakarta. (1959) Studies in Social Power. Fisher. Lon. Gramedia. Dr. Kompas. Dirdjosisworo. (1982) Theories Of Mass Communication. Jakarta. Random House. 181. dan Fungsi. Angkasa. Jakarta Alatas. Penegakan Hukum Lingkungan.H. William. von Ludwig. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. (1956) A Formal Theory of Social Power. Tatang. Krisis Tersembunyi Dalam Pembangunan. Masalah Korupsi dan Pemecahannya. Times International. Sebab. PT Eresco. S. The Sociologi of Corruption. Penegakan Hukum Lingkungan dan Pembicaraan Di DPR-RI. USA. Terjemahan. Handbook Of Communication Science. (1999). Inc New York. Romli. Melvin & Ball Rokeach. “Wacana Pemberantasan Korupsi”. (1996). (1997). Amirin. Bandung. Bandung. Teori Negara.B. M (1992) Pokok Pokok Teori Sistem. SH. Jakarta. Sifat. PT. Churchman. (editor). Dell Publishing. Hukum dan Masyarakat. Jakarta. Yarsif Watampone. Korupsi . Bertalanffy. Psycholigical Reviem. Cartwright.. 16 Januari 2002. 194) Fuller. Kipas Putih Aksara. . Satjipto. Communication Theories. LIPI Proyek Pengembangan Riset Unggulan Terpadu.v Q. New York. Soedjono. Remaja Rosdakarya. De Fleur. D. Bela. Singapore. Jakarta. 2003. (2000). LP3ES. Prof. London.. 1980. Rajawali Press. Steven H... Black. Sage Publication. Hanim. N. CV. “The Morality of Law” dalam Rahardjo. London. 1987..

Media Literacy. Bandung. Pace. Yogyakarta. Alo. Citra Aditya Bakti. (1979) Perihal Kaedah Hukum.macalester. Sage. Jakarta Hardjasoemantri. (2004) Atur Diri Sendiri.(1987) Mass Communication Theory : An Introduction. Robert Klitgard. E. cet. Mc Quail. Jurnal ISKI. Hoogendijk. Otto Soemarwoto. Bandung. Keraf. Remaja Rosdakarya. Wayne & Faules. & Soekanto. Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Potter. ke 2. Jakarta. Menuju Paradigma Penelitian Komunikasi. Sonny. Remaja Rosdakarya. Koswara. Patton. Bandung Alumni. Soerjono. Alumni. IPSK LIPI. (2002) Etika Lingkungan. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 82 Harsono. Universitas Trisakti. BPHN. Gadjah Mada University Press. LP3ES. Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yayasan Obor Baru Indonesia.Himpunan Peraturan Pengelolaan Lingkungan Hidup 2002-2004. Penerbit Kompas.James W. (ed) dkk. (2002) Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Ikatan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. 1980. Stephen W. Purbacaraka.edu/~warren < 7/24/2005. London. Prof. Purnadi. LP3ES (1985). Bunga Rampai Korupsi. III/ April 1999. Bandung. Bandung. Sage Publication. A. Jakarta. Prof. 2004. (1998). Jakarta. (1987) How To Use Qualitative Methods In Evaluation. Dr. Denis. (1980) Aneka Cara Pembedaan Hukum.31 pm> Littlejohn. Bandung. dari http://www. (1996). Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah nasional dalam Hubungannya dengan Tap MPR RI IX/MPR/2001. Karen J. Willem. New York: Sage Publications Purbacaraka. 1. Bandung.. 2004. (2001). (1998) Dinamika Informasi Dalam Era Global. Jakarta Liliweri. (1989) Theories Of Human Communication. CA. California. pada Dialog Nasional Bidang Hukum dan Non Hukum. Boedi. Makalah yang disampaikan pada Lokakarya Nasional “Pengelolaan Kawasan JABOPUNJUR Untuk Pemberdayaan Sumber Daya Air”.Quinn. CV Eka Jaya. SH. Soerjono. Purnadi. Deddy. Jakarta. Michael. (1977). Angkasa. (1998) Membasmi Korupsi. Satjipto. Bandung. Jakarta 7-9 September 2004. . Koesnadi. Revolusi Ekonomi. 30-31 Maret 2004. Belmont. Penegakan Hukum dan Mensukseskan Pembangunan. R. Beverly Hills. Optimasi Kesadaran Hukum Masyarakat Dalam Pengelolaan Wilayah. Remaja Rosdakarya. Hukum dan Masyarakat. Alumni. & Soekanto. Vol. (1991). Purnadi. (1993) Komunikasi Organisasi. 2004. Warren. (2003). Don F. Purbacaraka.. Rahardjo. Yayasan Obor Baru. Mulyana. “Sinkronisasi Peraturan Perundang-undangan Di Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup”. The Philosophical Foundation of a New Land Ethic. Terjemahan Deddy Mulyana.

Pengaturan Hukum Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup Di Indonesia. Bina Cipta. ______________ . Yin. peny. Jakarta.. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 84 . Semarang. BPHN. Jakarta. 2003. Sinar Grafika. New York. Bhratara Karya Aksara. (1997) Studi Kasus. Pengantar Sosiologi Hukum. dari judul asli Indonesian Society in Transition. Prof.Fak. Jakarta Soekanto. penrj. Silalahi. makalah dalam lokakarya nasional Pengelolaan Kawasan Jabopunjur untuk Pemberdayaan Sumberdaya Air. Soewartojo. (1992) Psikologi Lingkungan. E. Bukit Tinggi 2004. Penegakan Hukum. W. Soerjono.(1999). (1983). Sumardjono. (1998). a Study of Social Change. 2005 (Tulisan Khusus) Haryo Habirono. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup & UNDP. PT. Bandung. 2001.. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. Roger. Peranan Pers Dalam Politik di Indonesia. Kompas. (1976). 2003. PT Alumni.. Suwardi. Prof. Soerjono. Penerbit Alumni. Cetakan Ke 2. Robert. Cetakan Ke 6. Maria S. (2000) Proyek Agenda 21 Sektoral. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. Penerbit Grasindo.R.. Lawrence. Perspektif Hukum Lingkungan Kasus Jabopunjur. LIPI. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan 83 Sarwono. Sosiologi Suatu Pengantar. Misbah Zulfa E.. Sarlito Wirawan. Soekanto. Daud. Korupsi Pola Kegiatan dan Penindakannya. Policy Paper Strategi Terintegrasi Penaatan & Penegakan Hukum Lingkungan. Agenda Permukiman Untuk Pengembangan Kualitas Hidup Secara Berkelanjutan. (1975). Hamzah Andi. (1978). Jakarta. Gatot P. (1993). Jakarta Soekanto. Soerjono.F. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya. 30-31 Maret 2005.. Harsono. Jakarta Soekanto. Wertheim. Jakarta. Raja Granfindo Persada.M. (1996) Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan di Indonesia.. 2001. D.Dr. Soemartono. Indonesian Center For Environmental Law (ICEL). Ringkasan Eksekutif Amdal Regional Reklamasi dan Revitalisasi Pantura Jakarta. Balai Pustaka Jakarta. Hukum UNDIP Soekanto. M. Soerjono. Soerjono. BP Pantura. Kebijakan Pertanahan antara Regulasi dan Implementasi. Juniadi. edisi revisi. Penegakan Hukum dalam Masa Transisi. Jakarta. Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial. (1977). Sosiologi Suatu Pengantar. Pustaka Sinar Harapan. Bandung. ______________ . Dr.W. Jakarta. (1991) Mengenal Hukum Lingkungan Indonesia. The Free Press. Makalah Tinjauan Kritis Kebijakan Desa. Cetakan ke 4.K.M & Kincid.Jakarta.SH. (1981) Communication Networks Toward a Paradigm for Research. Agus Fahri H. November.

Bapeda TK II Cianjur . Pakar Lingkungan Hidup. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU No. FH Unpad. wawancara tanggal 27 Juli 2005 Prof. Wawancara tanggal 25 Juli 2005 Budi Radjab.Eng.Hasil Wawancara : Otto Soemarwoto. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang .SE. Ir. Pakar Antropologi dan Budaya Sunda. Pemerhati Kebijakan Publik dan Tata Ruang Wawancara tanggal 27 Juli 2005 Amiruddin Dajaan Imami. DR. Setiawan. Dipl. wawancara tanggal 27 Juli 2005 Dodi Armando. Kusnaka Adimihardja. Wawancara tanggal 26 Juli 2005 Wangsaatmaja. M.Wawancara tanggal 27 Mei 2003 Undang-undang : UU No. BPLHD Jawa Barat. Kepala PS Hukum Lingkungan dan Penataan Ruang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->