diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3.9) Memahami komplikasi pada peritonitis. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis. kurvaturan minor. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. dorsal dan ventral usus saling mendekat. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Pada permulaan. disebut lamina visceralis (tunika serosa). di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. . yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. Kedua rongga mesoderm. dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus.

dan tanda-tanda umum inflamasi.2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. 2. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) . volvulus dan kanker. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. perforasi kolon akibat diverdikulitis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. penyakit ringan dan terbatas.3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). dan strangulasi kolon asendens. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. defans muscular. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan.

1. Sesudah operasi. 1. Tukak thypoid 5. ruptur hati 4. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4. stapilokokus aurens. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. lycopodium. 2. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. Operasi yang tidak steril 2. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Secara langsung dari luar. syok perioperatif. Tukak pada tumor 7. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. pancreas perforasi kolon. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. kontaminasi peritoneal. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. streptokokus alpha dan beta hemolitik. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. 3. . enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3. Salpingitis 8. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Terkontaminasi talcum venetum.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. dan transfuse yang pasif. divetikulitis.3 Etiologi 1. Infeksi bakteri 1. Tukan disentri amuba/colitis 6. sulfonamida.

dan golongan Staphylococcus 3%. otitis media. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. mastoiditis. jenis Streptococcus lain 15%. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Klebsiella pneumoniae 7%. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. barium. Semakin rendah kadar protein cairan asites. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. bukan berasal dari kelainan organ. Coli 40%. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Peritonitis bakterial primer . spesies Pseudomonas. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. glomerulonepritis.2. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. misalnya cairan empedu. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. 2.

Sreptococus atau Pneumococus. imunosupresi dan splenektomi. Kuman dapat berasal dari: 1. dan sirosis hepatis dengan asites. keganasan intraabdomen. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. 4. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. Perforasi organ-organ dalam perut. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. misalnya: . gagal ginjal kronik. Peritonitis tersier Peritonitis tersier. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. Luka/trauma penetrasi. lupus eritematosus sistemik. perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. 2. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. Penyebabnya bersifat monomikrobial. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. biasanya E. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. 3. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. 1. misalnya appendisitis. khususnya spesies Bacteroides.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Bakteri anaerob. Coli.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior.Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level.Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. 3. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. didapatkan: 1. 3. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. penebalan dinding usus. posterior. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Tiduran terlentang (supine). 2. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. yaitu : 1. preperitonial fat. 2. 3. Sebelum terjadi peritonitis. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. untuk melihat distribusi usus. ada tidaknya penjalaran. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). . Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Usus halus dan usus besar dilatasi. lateral). 2) Posisi LLD.

Mengeliminasi sumber infeksi. tanda perdarahan (syok. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. dan oklusi vena atau arteri mesenterika. 2. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a. tumor. extravasasi bahan kontras.l: 1. 2. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. .l : 1. Pertimbangan dilakukan pembedahan a. 3. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. memburuknya pasien saat ditangani). 2. tanda sepsis (panas tinggi.3) Posisi setengah duduk atau berdiri. nyeri tekan terutama jika meluas. Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. distensi usus. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). massa yang nyeri. leukositosis). Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. anemia progresif). distensi perut. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. dan tanda iskemia (intoksikasi. 2. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. 3. Pemeriksaan laboratorium. 4.

Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Pemberian terapi cairan melalui I. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. cairan elektrolit. dan mekanisme pertahanan. lavase. 5. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus. dan jaringan yang nekrosis. pembuangan fokus septik (apendiks. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. nutrisi. Terapi post operasi a. Pemberian antibiotic 3. 2.V. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Keluaran urine tekanan vena sentral. Irigasi kontinyu pasca operasi. irigasi intra operatif. Pemberian antibiotic. Kontrol sumber infeksi. pemberian antibiotika yang sesuai. dsb) atau penyebab radang lainnya. 2. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement. diberikan bila sudah flatus.kain kassa. suctioning. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. .l: 1. Pemberian cairan I. dan tidak ada distensi abdomen. produk ngt minimal. dan nutrisi. pus dan fibrin. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. peristaltic usus pulih. dapat berupa air. Oral-feeding.l : 1. 3. 4. darah.V.4. Terapi bedah pada peritonitis a.

. Diberikan antibiotik yang tepat. atau mereseksi viskus yang perforasi. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. terutama bila terdapat apendisitis. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. d. ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Pada umumnya.a. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Jika peritonitis terlokalisasi. b. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. mengeksklusi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. c. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Bila peritonitisnya terlokalisasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup.

atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada fase pascaoperatif langsung. Pada beberapa contoh. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. proses keperawatan pengkajian. Bagaimanapun. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. 2. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. diagnosa keperawatan. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. . Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). memberikan medikasi intravena. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Kapan berkaitan dan memungkinkan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. intervensi dan evaluasi diuraikan. 3. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi.

Komplikasi dini. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. 3. Umur 3. Pendidikan 6. Komplikasi lanjut.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. 4. Adhesi. 2. 1. Syok hipovolemik. Jenis kelamin 4. Nama pasien 2.1 Pengkajian A.2. 5. Obstruksi intestinal rekuren. Suku /Bangsa 5. Abses residual intraperitoneal. Identitas 1. Pekerjaan . 1. 2. Septikemia dan syok septic. 2. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. Portal Pyemia (misal abses hepar). Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. yaitu: 1.

1. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit). trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. sindrom nefrotik. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. dispnea. hipovolemik atau septik). 1.7. 1. lupus eritematosus. 1. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. 1. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. . peritoneal diawali terkontaminasi material. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. basah. komplikasi post operasi. gagal ginjal kronik. Pemeriksaan Fisik 1. Maka kemungkinan diturunkan ada. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. akral : dingin. Alamat 8. dan sirosis hepatis dengan asites. seperti: Tubercolosis. dan pucat.

Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. 1. dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. 1. 1. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. 1. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Selain itu terjadi distensi abdomen.1. Pengkajian Spiritual 2. G. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. kekuatan otot mengalami kelelahan. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . nyeri perut dengan aktivitas. H. sulit berjalan. Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. bising usus menurun. Kemampuan pergerakan sendi terbatas.

Test fungsi hati jika diindikasikan 4. PTT dan INR 3. gallium Ga 67 scan. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). proyeksi AP. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). . Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Tiduran telentang (supine). technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). 2. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. Foto polos 2. Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. PT. yaitu: 1. 3. indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. Cairan peritoneal.1. USG 3.000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. 4. dengan sinar horizontal. Scintigraphy 5. cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. renal stone disease) 6. dengan sinar horizontal proyeksi AP. CT Scan (eg. Complete Blood Count (CBC). Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11.

ada tidaknya penjalaran. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Pada kasus peritonitis karena perdarahan. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. Posisi tidur. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. air fluid level. Posisi LLD. Air fluid level. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. dan herring bone appearance. untuk melihat distribusi usus. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. 3. Herring bone appearance. 2. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Sebelum terjadi peritonitis. Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. Distensi usus general. penebalan dnding usus. tanda utama radiologi adalah: . gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). 2. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. 3. preperitonial fat. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain.Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus.

Usus halus dan usus besar dilatasi. demam dan kerusakan jaringan.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 5. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. 3) X. lateral). Ketidakefektifan pola nafas b. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 4. Posisi LLD. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. 3. didapatkan preperitonial fat menghilang. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Posisi duduk atau berdiri.1. 3. 2. 3. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. 2. 3. 6. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. psoas line menghilang. 2. Posisi tiduran. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. posterior. didapatkan : 1.3 Intervensi . preperitonial fat dan psoas line menghilang. 3.2 Diagnosa 1. dan kekaburan pada cavum abdomen.

Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. konstan) 1. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1. lama. 3. 2. 3. demam dan kerusakan jaringan. catat lokasi. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. Nyeri cenderung menjadi konstan. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. lebih hebat. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri. Menurunkan mual/muntah Rasional . 1. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. dan menyebar ke atas. Berikan tindakan 4.1. tajam. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.

narkotik 2. contoh hidroksin (Vistaril) 3. contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. latihan relaksasi atau visualisasi. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil.kenyamanan. contoh pijatan punggung. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Antiemetik. napas dalam. . Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. \is 1. Antipiretik. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. Menurunkan mual/munta. Berikan perawatan mulut dengan sering. Analgesik.

takipnea. tidak demam. kehilangan cairan dari sirkulasi. bebas drainase purulen atau eritema. takikardia. Tanda adanya syok septik. meningkatkan kenyamanan pasien. 3. 2. dan asidosis dapat menyebabkan 1. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. demam. Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. apendisitis akut. 2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 2. dialisa peritoneal. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. 1. Catat perubahan status mental (contoh bingung. dan rendahnya status curah jantung. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. penurunan tekanan nadi. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi. Hipoksemia. pingsan). Kaji tanda vital dengan sering. hipotensi.1. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Kriteria hasil: 1.

Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Memberikan informasi tentang status infeksi. 4. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. luka insisi/terbuka. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter. Catat warna kulit. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. Awasi haluaran urine. 1. Menurunkan resiko terpajan . dan sisi invasif. 5. Hangat. toksin 1. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. 2. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Observasi drainase pada luka. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. Mencegah penyebaran. 1.1. suhu. kelembaban. 3. kemerahan. 1. kulit kering adalah tanda dini septikemia. 1. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. 2. penyimpangan status mental.

2. pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Dilakukan untuk membuang 1. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Klindamisin (Cleocin). bila diindikasikan. cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. 3. contoh untuk drainase abses . Bantu dalam aspirasi peritoneal. 1. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. 2. 4. amikasin (amikin). Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. contoh gentacimin (Garamycyin). kultur luka. Berikan antibiotik. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. urine. Kolaborasi: 1.dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif.

mengatasi perforasi ulkus.lokal. . membuang eksudat peritoneal. membuang rupturapendiks/kandung 1. atau reseksi usus. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu.

1. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Kriteria Hasil: 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Status nutrisi terpenuhi 2. Berat badan normal . Nafsu makan klien timbul kembali 3.

Timbang berat badan tiap hari. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. Rasional . Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. catat bunyi tak ada atau hiperaktif. 1. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. 6. Meskipun bising usus sering tak ada.4. 1. dan catat adanya muntah atau diare. 4. penurunan absorpsi air dan diare. memerlukan evaluasi lanjut. lanjut diduga ada defisit nutrisi. 5. 3. Awasi haluan selang NG. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. 2. Auskultasi bising usus.

3. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. penampilan bising usus normal. Monitor Hb dan albumin 1. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. 1. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. dam kelancaran flatus. 2. 1. Kolaborasi: 1. 1. Kriteria hasil: . Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.2.

Membran mukosa lembab 4. Hipovolemia. demam. 1. takikardia. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. takipnea. Tanda vital stabil 3. 3. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Rasional . Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. 2. turgor. 2. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Pantau tanda vital. Berat badan dalam rentang normal. 2. Turgor kulit baik 5. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. Ukur CVP bila ada.1. catat edema ginjal. perpindahan cairan. Ukur berat jenis urine (homeostatis). Pengisian kapiler meningkat 6. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 2. 3.

perifer/sacral. 2. albumin. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. Berikan plasma/darah. protein. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. 2. elektrolit. Koloid (plasma. 4. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. kreatinin. Batasi pemasukan es batu. . elektrolit. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. 1. 3. 2. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. contoh Hb/Ht. 1. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. 1. menambah edema jarinagan. Awasi pemerikasaan laboratorium. cairan. BUN. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1.

ditandai bunyi nafas normal. hipotensi. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). tekanan O2 dan saturasi O2 normal. dan sianosis. depresi SSP. 3. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. Indikator hipoksemia. takikardi.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1.1. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional . 1. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. hiperventilasi. Kriteria Hasil: 1. takikardi. Pertahankan pasien pada 2. gelisah. gelisah. 1. Ketidakefektifan pola nafas b. hiperventilasi. Pernapasan tidak sulit 3. Tujuan: Pola nafas efektif. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. 2. depresi SSP.

Berikan O2 sesuai program 1. Penampilan wajah tampak rileks 3. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. paru dan menurunkan upaya pernafasan. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. 1. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 1.posisi semifowler. 4. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional . Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1.

Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. 2. Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1.kemajuan penyembuhan. menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi . 3. penyelesaiannya. diagnosa dan pengobatan 4. 2. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama.

3. DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS . 4. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. 1.efektif menerima situasi 2. Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. Berikan kenyamanan fisik klien 2. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya.

ac.web.unair. ETIOLOGI .html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum. suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.http://nuzulul-fkp09.id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.

lycopodium. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. mastoiditis. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing.1.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. streptokokus µ dan b hemolitik.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. otitis media.  Demam . 1. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. stapilokokus aurens. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. 1. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. glomerulonepritis. Secara langsung dari luar. sulfonamida. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli.

difus. Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. didapatkan : . Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1. sel-sel darah putih. atrofi umum.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal.    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik. lateral). peritoneal diawali terkontaminasi material. X. sel-sel yang rusak dan darah. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. posterior. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri.  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. TEST DIAGNOSTIK 1. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. trauma atau perforasi tumor. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen.

5. panjang (12. 3. Indikasi 1. Usus halus dan usus besar dilatasi. Peritonitis 3. Midline incision 2. Transverse lower abdomen incision. 4. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. insisi di bagian atas. yaitu.   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %. Masa pada abdomen .5 cm). Transverse upper abdomen incision. pada operasi appendictomy. insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka. Perdarahan saluran pencernaan. yaitu.  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya. yaitu . LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. 1. Ada 4 cara. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar.5 cm).(Internal Blooding) 4. yaitu . Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 2. Paramedian. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. misalnya.

Komplikasi post laparatomi. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. . 4. menggerakan otot-otot kaki. 1.Komplikasi 1. Tujuan perawatan post laparatomi. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. 4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. dan otak. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi. Mempercepat penyembuhan. 2. 3. 5. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Ventilasi paru tidak adekuat 2. 3. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. latihan batuk. hati. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. Mempersiapkan pasien pulang. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Mempertahankan konsep diri pasien. aritmia jantung. 1. menggerakkan otot-otot bokong. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi.

Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. kesalahan menutup waktu pembedahan. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. organisme.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi.  Fase ketiga . 1. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. gram positif. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. 1. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Pengisian oleh kolagen. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

dan suhu. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. adalah. bunyi pernapasan. dan refill kapiler. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. nadi. Pencegahan infeksi. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. Kolagen terus-menerus ditimbun. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. Mempertahankan konsep diri.  Fase keempat Fase terakhir. jenis pernapasan. 3. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. latihan mobilisasi dini. Pengembalian Fungsi fisik. 1. Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. respirasi.Sekitar 2 sampai 10 minggu. Sirkulasi  Tensi. 2. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. 1. . warna kulit.

muntah. suasana hati setelah operasi. 1.1. Gangguan rasa nyaman. 2. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. Perawatan luka operasi secara steril. intake dan output 2. Diagnosa Keperawatan 1. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. posisi pasien. Rasa nyaman  Rasa sakit. 3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. Evaluasi . Peralatan   Monitor yang terpasang. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. 4. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. Monitor kesadaran. Persarafan : Tingkat kesadaran. 1. jangan sampai drain tercabut. Tindakan keperawatan post operasi: 1. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. mual. Psikologis : Kecemasan. tanda-tanda vital. 3. 2. dan fasilitas ventilasi. jumlah) drainage. CVP. Balutan    Apakah ada tube. Cairan infus atau transfusi.

wordpress. 3. DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Soeparman. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. Philadelphia.1. Jakarta. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. dkk. Luka operasi baik. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. 2. 1984. http://aqibpoenya. Edisi II. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. FKUI Brunner / Sudart. 4. Sutisna Himawan (editor). Lippincott Company. Kumpulan Kuliah Patologi.com/askep-peritonitis/ . Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. 1987.

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .Selasa.

: 2010.0973 .Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A.

(Tucker : 1998. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis.32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. pankreatitis. B. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang. dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen.TINJAUAN TEORI A. 1. 1995: 402). (Harison. PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. kaku. 2000: 1613) C. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. asam lambung. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison. TANDA DAN GEJALA Menurut Price. b. a.

PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. E. 2. Dengan perkembangan peritonitis umum. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. . Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih. 3. - Menurut C.2. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik.

Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia.usus kemudian menjadi atoni dan meregang. (C. Misalnya pemasangan kateter 1. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. demam dan leukositosis sering terjadi. a. kaku. perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan. edema. Ketika penyembuhan terjadi. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. ketidakseimbangan elektrolit. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . c. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. nyeri dan tanpa bunyi. 1996 : 228) F. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. dehidrasi dan akhirnya syok. dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. 2. (Price. muntah dan abdomen yang tegang. Long. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. gangguan sirkulasi dan oliguria. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. membentuk suatu abses. b. mengakibatkan dehidrasi syok.

3. antibiotik dan vitamin . 4. PENATALAKSANAAN 1. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik. 1. 5. a. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. 2. Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. c. 3. 6. 1993 : 175) G. KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. b.

- Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. 1995 : 402) .- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2. (Price. Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena.

6. 3. Emesis fekal J. FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 2. 1. Pernafasan torakal Cepat dangkal 11. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. 5. 7. 8.I. 4. 9.

Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3. observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit.Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam . antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam. HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : . gas darah. beritahu dokter ntervensi : - 2. ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit. pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 .- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam. DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang .Kaji status pernafasan.

DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : .Berikan periode istirahat yang nyaman terencana .Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri.kaji tipe. berat nyeri . sekap 4 jam .Pantau selang nasogastrik .Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan.Ukur lingkar abdomen.Pantau terhadap keluarnya flatus .Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering .Berikan hygiene oral dan nasol sering . lokasi.Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam .Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat . 5.Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : . 4. DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan .

1998.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31. Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price. Patofisiologi : Jakarta Soeparman. 1995.24 http://mediadani.Gelaskan semua tindakan dan prosedur . Ilmu Penyakit Dalam (IPD). Standar Perawatan Pasien.blogspot. EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22. Long. 1993.Kaji tingkat ansietas .html .Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan .Kaji ketrampilan koping . FKUI : Jakarta Tucker. 1996.KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : .

Senin. 30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

(Ahmad H. dkk. (Marilyinn Doengos. 1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada.(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. 1999: 514) . Asdie.

lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . larutan ringer. (Soeparman S. lebih baik prognosenya. (Soeparman S. 1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi. 1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis. berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik.7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan.

pangkreatitis. kejang. dan sebagainya. cegukan : Terdapat nyeri tekan. salpingitis. devertikulitis. lemas. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas . bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut. bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin. lidah bengkak. (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. takipnea : Membran mukosa kering. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen.

(Marilynnn Doengoes. kadang laebih dari 20. exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi. 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma. imobilitas. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi .umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah.dkk. gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa.

hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan . perhatikan takikardi.Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : . II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : . I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : .Kaji tanda-tanda vital.Pantau lokasi. Kep.Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi . karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi .Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx.(1) Dx.Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri . Kep.

kaji warna. Kep.Mempertahankan berat badan yang normal . jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi .Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : ..Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan .Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : .Observasi defekasi pertama pasca operasi.Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi .Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx. konsistensi. III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : .

Monitor intake dan output.Kolaborasi dengan dokter.. gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx.Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi . membran mukosa.Menunjukkan tanda vital stabil .Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : . IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : . sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari . Kep.Masukan dan haluaran seimbang . ahli. turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan .Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi .

Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan.Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx.Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman .. perawatan luka.Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : . teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar .Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet . pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah . Kep.Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat .Demonstrasikan penggantian balutan. V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : .

Rencana Asuhan Keperawatan. (1979). Edisi 4. Edisi 8 Vol 2. Soeparman. Jakarta. (1993). (2002)Keperawatan Medical Bedah.EGC. Jakarta Dongoes Marilynn E. Ilmu Penyakit Dalam. EGC. .DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Jakarta. EGC.

M dengan Peritonitis Generalisata 2. alamat : Pasapen Suraabya. pekerjaan : Ibu Rumah tangga.09 2004. umur : 18 tahun. klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.2. MRS tanggal 29 . alamat : Pasapen. pekerjaan :. N. jenis kelamin : Perempuan. Diagnosis masuk : peritonitis generalisata. penghasilan : -. . suku/bangsa : Jawa/Indonesia. nyeri seperti tertusuk. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. skala nyeri 3. hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat.2 Tinjauan Kasus pada Nn.2. No.M. jenis kelamin : Perempuan..1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09. CM : 10407631. Soetomo Surabaya. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. 7) Psiko Riwayat Psiko. agama : Islam. agama : Islam. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. umur : 40 tahun. pendidikan : SMP (tamat).00) 1) Biodata Klien Nama : Nn.3. Suraabya. pendidikan : SMU. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi.3.

(2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari. Klien tidur siang kadang-kadang. komposisi nasi+lauk+sayur. : Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya. klien koopeatif dengan petugas. : Klien mengatakan makan 3x/hari. komposisi bubur kasar+lauk. 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari.30 WIB. (3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit .23. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah.00 s/d 04. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah. : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas. warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. klien hanya berdo’aagar segera sembuh. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. 21. porsi 1 piring sedang.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai.

gigi tidak caries. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. 9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. N : 100x/mnt. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab. suara jantung S1S2 lupdup. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler. Hidung : Bersih. Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. sklera putih. S : 38oC. RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. . tidak ada nyeri tekan. tidak ada polip.(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. tidak ada sekret.

7 g/dl P = 11.4 – 15.4 – 17. akral hangat.5 25. keluar pus bercampur darah.300 – 11.8 78. hepar dan lien tidak teraba.000 /ul 38 – 42 % 80 . tangan kanan dapat bergerak bebas. : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari.37 . Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut.31 33 . : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas. terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm.500 / ul 31. akral hangat.9 33.0 4.2004) Hemoglobin 10.Abdomen : Inspeksi : Perut distended.51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10.99 27 .5 L = 13. tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 .

Trobosit Eritrosit LED 380.000 – 250. Bambang Irianto.000 4. April1 2005 Yang Mengkaji.05 75 150.33 – 5.05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya. 2001.S NIM.08 .000 /UL 4.

: Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas . RR : 20 x/mnt DS 2. N : 100 x/mnt. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .2.TD : 120/80 mmHg. .2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn.3.TD : 120/80 mmHg. M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1. S : 38oC. Reg. N : 100 x/mnt.2.

Reg. Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl.TD : 120/80 mmHg.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .Perut distended . Teratasi 4 No. Ditemukan 3 Tgl. Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi .3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn.Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . N : 100 x/mnt 2 .TD : 120/80 mmHg. RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : .Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.2.2. . N : 100 x/mnt. M : 18 tahun No.3. S : 38oC.

Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn.3. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3.4 INTERVENSI Nama M Reg.2. 5 Berikan penjelasan pada 1. No. N : 80 . dalam pemberian 6. Tujuan Intervensi 4 1. mmHg. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5. tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5. 4.100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat. dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh . keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. melakukan 4.2.

anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. 2. Berikan penjelasan pada 2. support 4.3. 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1. system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. observasi TTV tiap 4 jam.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . Setelah dilakukan askep selama 6. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas . klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya. Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. tentang proses 4. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1.Inj.

3. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi. Mengkaji tingkat nyeri.5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn.2. Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi. 5 09.30 No.35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk. Reg.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2.Skala nyeri 3 . .

40 . Observasi TTV . . N : 100 x/mnt .t : 38 oC. Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas . 09.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. RR : 20 x/mnt 10. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09.00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit.40 proses b/d 05-09-04 08.00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap.00 09.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya.TD : 120/80 mmHg.

RR : 20 x/mnt 10.t : 38 oC. 09. 09.jika ada apa-apa. .00 .45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega. Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV.50 . N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien.

2. . O : .3.TD : 120/80 mmHg.t : 38 oC.Berikan antibiotik.Observasi TTV . M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No.Luka keluar pus bercampur darah. Nyeri skala 3 . RR : 20 x/mnt . Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : . Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi. .6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn. Reg. N : 100 x/mnt.2. .Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi.

30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. R:- S : . O : .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka. RR : 20 x/mnt 12. 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit .Klien mengatakan sedikit lega. 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit. Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien.Observasi TTV klien mengungkapkan . N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg. proses t : 38 oC. . .Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh.

t : 38 oC. . Lakukan rawat luka.Luka basah. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang. . RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12. O : .TD : 120/80 mmHg.Berikan obat sesuai indikasi. keluar pus bercampur darah. . R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi.30 .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian. .Observasi TTV .Anjurkan melakukan relaksasi. N : 100 x/mnt.

TD : 120/80 mmHg. N : 100 x/mnt.t : 38 oC. N : 100 x/mnt.Luka basah.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat. .30 O : . . .t : 38 oC. keluar pus. RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : . . 12. RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang.Anjurkan melakukan relaksasi.Observasi TTV . : Rencana dihentikan.TD : 120/80 mmHg. O : .Klien kooperatif. .

dan tanda-tanda umum inflamasi.1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12.com/2012/04/askep-peritonitis.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut.30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang.No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka.Berikan injeksi sesuai indikasi. 5 . atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. defans muscular. Diposkan oleh Udien Martapura di 05.blogspot.html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1. penyakit ringan dan terbatas. .

Apakah pengertian peritonitis. dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5. 2. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. 1. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. 4. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. volvulus dan kanker. akan dibahas dalam bab selanjutnya.Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). Untuk mengetahui lebih jelasnya. perforasi kolon akibat diverdikulitis.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. . dan strangulasi kolon ascendens. 3. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas.

BAB II PERITONITIS 2. dan pengkajian keperawatan peritonitis. 1. Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui manifestasi klinik.1 Defenisi . Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis. 4. rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis.2. 5.1 Konsep Medis 2. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis. 2. Bagi Kami. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan. 4. 3. dan komplikasi peritonitis. 3. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. Bagi teman sejawat. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas.1. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan).

Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. Tanda-Tanda Peritonitis. yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder. 2. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi . masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.1.2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. 2. meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus.1. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). dan strangulasi kolon ascendens. perforasi kolon akibat diverdikulitis. seperti: perforasi apendisitis.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. duodenum. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Perubahan sirkulasi. misalnya : perforasi lambung.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. defans muscular. dan tanda-tanda umum inflamasi.1.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral). perpindahan cairan. volvulus dan kanker. ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. 2. meningkatkan kebutuhan oksigen. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. pankreatitis akut yang berat/ iskemia.

. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. terdapat darah dalam lambung.1. buli-buli dan rectum.1. Prolaps visera. 2. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. koloid dan elektrolit adalah focus utama.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. syok. maka tindakan laparotomi diperlukan. Bila luka menembus peritoneum. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Pembentukan abses. Bila tidak ada. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. hilangnya bising usus.Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. tanda-tanda peritonitis. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil.

Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.2. kehilangan kekuatan.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih. Takipnea 2. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. perubahan dalam fungsi mental. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan.2. . Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri.2. nyeri perut dengan penurunan aktivitas. mual/ muntah.2 Konsep Keperawatan 2. kurang tidur.

Tujuan : Infeksi teratasi. Catat warna kulit. demam dan kerusakan jaringan. Kriteria Hasil : ko. suhu. . catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. takikardia.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. demam dan takipnea. kulit kering adalah tanda dini septicemia.Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Rasional : Hangat. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. kulit pucat. kemerahan. hipotensi. 2. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental.2. penurunan tekanan nadi. Rasional : Hipoksemia. diindikasikan. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. bingung). kehilangan cairan dan sirkulasi. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. Rasional : Tanda adanya syok septic. kelembaban. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering. dan rendahnya status curah jantung. Catat perubahan status mental (pusing.

. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital. amikasim (amikn). Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah. catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural). Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. Berikan antimikrobial. klindamisin (cleocin). kultur luka. urine. takikardia. contoh: gentamicin (garamycin).. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. takipnea. demam. lavase pretoneal/ IV.Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

protein. Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi. contoh : cairan jernih sampai lembut.blogspot. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. keseimbangan nitrogen sesuai indikasi. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22.36 http://ashar-ibenk. albumin. glukosa. Tambahkan diet sesuai toleransi.com/2012/01/ashar-askep.html ..Awasi BUN.

Jumat. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Fungsi peritoneum :1. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. kurvaturan minor. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4.B. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. PENGERTIAN PERITONITIS .

perforasi kolon akibat diverdikulitis. Semakin rendah kadar protein cairan asites. perforasi ulkus peptikum dan duodenum.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). volvulus dan kanker. C. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. kontaminasi peritoneal. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). defans muscular. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. penyakit ringan dan terbatas. dan tanda-tanda umum inflamasi. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. dan strangulasi kolon asendens. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. divetikulitis. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering . ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. pancreas perforasi kolon. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Sesudah operasi.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. dan transfuse yang pasif. syok perioperatif. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis.

Coli 40%. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. pascatransplantasi. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. infeksi.menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. ensefalopati toksik. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. jenis Streptococcus lain 15%. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. syok sepsis. iskemia. bukan berasal dari kelainan organ. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. penggunaan steroid. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). barium. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). trauma atau perforasi tumor. E. atau HIV). Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. misalnya cairan empedu. tatikardi. D. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Terjadinya proliferasi . atau penggunaan analgesic). Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. spesies Pseudomonas. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. dan golongan Staphylococcus 3%. Klebsiella pneumoniae 7%.

tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. sel darah putih. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. terdaat darah dalam lambung. Prolaps visera. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. debris seluler dan darah.bacterial. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Bila tidak ada. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. tanda-tanda peritonitis. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H. buli-buli dan rectum. hilangnya bising usus. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. syok. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. koloid dan elektroli adalah focus utama. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. menjalani wawancaran . PENATALAKSANAANPenggantian cairan. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. F. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu.

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan. proses keperawatan pengkajian. BAB II TINJAUAN KASUS .2. Kapan berkaitan dan memungkinkan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini.3. Pada fase pascaoperatif langsung. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi.praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. I. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan.5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. Bagaimanapun. memberikan medikasi intravena. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. diagnosa keperawatan. Pada beberapa contoh. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. intervensi dan evaluasi diuraikan. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2.

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8.Mencegah kelemahan. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian.blogspot.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi. ECG . ECG.Menurunkan resiko kontaminasi. JakartaSilvia A. penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis.Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa. 2002.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart. pedih dan sulit diobati.Keperawatan Medikal Bedah 5.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi.Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. 2006. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.html . tergantung lama perawatan.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. Price. www. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot. Majalah-farmacia. meningkatkan perasaan sehat. JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. 2000.com/2009/01/askep-peritonitis. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21. dkk.

atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis. sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. pankreas. duodenum. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. sekum.Askep Peritonitis Jumat. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. dan appendix (intraperitoneum). jejenum. ginjal dan ureter (retroperitoneum). tekanan. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. hepar. kolon ascenden & descenden. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster. . dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. vesica fellea. lien. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi. kolon sigmoid. yang menutupi usus dan mesenterium. dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. ileum. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. kolon transversum. atau proses radang. maka akan timbul nyeri. 25 Maret 2011 A. Terbagi menjadi bagian viseral.

Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. transversum abdominis. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. 3. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. ventriculus dan usus mengalami pemutaran. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). yaitu dari luar ke dalam. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. dan di bagian bawah pada tulang panggul. lemak preperitonial dan peritonium. kemudian ketiga otot dinding perut m. Pada permulaan. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium.B. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. 2. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. yaitu fascia transversalis. obliquus abdominis eksterna. Lembaran yang menutupi dinding usus. bersatu pada tepi kaudalnya. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . yaitu: 1. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. obliquus abdominis internus dan m. Kedua rongga mesoderm. m. dorsal dan ventral usus saling mendekat. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.

Di berbagai tempat. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. Akibat perlekatan ini.. Setelah ductus omphaloentericus menghilang. Tetapi. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. tidak semua tempat terjadi perlekatan. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. cecum terletak intraperitoneal. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. terjadi perlekatan. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. disebut terletak intraperitoneal. Rongga tersebut disebut cavum peritonei. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum.

Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. perforasi tifus abdominalis. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. perforasi tukak lambung. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. maka dapat menimbulkan kematian . Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. Keadaan demikian disebut situs inversus. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium. licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. D. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. 13 C. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. Kadang-kadang . ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa.

syok. Dengan perkembangan peritonitis umum. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. masukan yang tidak ada. produk buangan juga ikut menumpuk. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Pelepasan berbagai mediator. keganasan intraabdomen. E. dapat memulai respon hiperinflamatorius. dapat timbul peritonitis umum. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. . serta muntah. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Penyebabnya bersifat monomikrobial. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Peritonitis bakterial primer. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Streptococus atau Pneumococus.sel. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Coli. gangguan sirkulasi dan oliguria. seperti misalnya interleukin. imunosupresi dan splenektomi. biasanya E. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. mengakibatkan dehidrasi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi.

dan urine. Menyeka sarung tangan sebelum insisi. . Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. gagal ginjal kronik. dan sirosis hepatis dengan asites. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. sepertii misalnya empedu. 2. Bakterii anaerob. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. intestinal atau tractus urinarius. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. dan sering menimbulkan adhesi padat. d. getah lambung. F. khususnya spesies Bacteroides. getah pankreas. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. 4. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. lupus eritematosus sistemik. akan mengurangi masalah ini.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. 3.

1. demam. atau umum. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis. dan distensi abdominal. batuk. hebat. Pada keadaan lain (misal apendisitis). tes psoas. difus atau umum. Pemeriksaan laboratorium . sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. demam. G. atau tes lainnya. vomitus. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. Peritonitis dapat lokal. bernafas. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. menyebar. nyeri tekan lepas. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. syok (hipovolemik. distensi abdominal. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. kelemahan. Nyeri ini tiba-tiba. dan neurogenik). nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen.Bila telah terjadi peritonitis bakterial. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. 5 2. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. Selain nyeri. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. septik. pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. penurunan berat badan. atau mengejan.

pembuangan fokus septik (apendiks. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. preperitonial fat dan psoas line menghilang. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). pemberian antibiotika yang sesuai. dsb) atau penyebab radang lainnya. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. 2. nutrisi. 3. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. usus halus dan usus besar berdilatasi. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. dan mekanisme pertahanan. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. dengan sinar horizontal proyeksi AP. . proyeksi AP. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). yaitu : (rasad) 1. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Tiduran telentang ( supine ). Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. 5 3. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. dengan sinar horizontal. H.

Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. yaitu : (chushieri) 1. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. Komplikasi dini . KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. mengeksklusi. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat.Keluaran urine tekanan vena sentral. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. atau mereseksi viskus yang perforasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Bila peritonitisnya terlokalisasi. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. I. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Pada umumnya. Jika peritonitis terlokalisasi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup.

. Schwartz. T. EGC. 1995.. L. 5. alih bahasa dr. 7. p 256-257. Jilid: 2. Sjamsuhidayat. S. Jakarta.. Ekayuda I. Laniyati. 1999. Jakarta. Jakarta. Suprohaita. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. W.6. Jakarta. 6. Kartoleksono S. Wieiek S. 2000..C. Ed. M. dalam Radiologi Diagnostik. USA.. 1998. S. Ed.I. alih bahasa dr. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. Petrus Lukmanto. alih bahasa dr. S. 2000. EGC. Schrock.. Media Aesculapius FKUI. 2. Ed. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah. 221239. dalam Kapita Selekta Kedokteran. Spencer.B. 2000. 4. Abdomen Akut. Wim de jong. jakarta. Bedah Digestif.o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. Gaya Baru. 3. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. EGC. EGC. Rasad S. p 302-321. Arief M. Wilson. L.. Gawat Abdomen. Maruzen.. 7th Ed. Shires. Wahyu.K. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment. T. Lester.7. L .. F. Ed:3. J. R. Jakarta. 1997.4.R. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Way. Peter Anugrah.

Sobotta. Dinding Perut. 2nd Ed. 1988.NS di 10. 12. 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A. 1995. Yogyakarta 13. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum. Wim de jong. Hoyt. pada bagian rongga . Anonim.html Senin.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang. pada membrane serosa. Pabst. Jakarta 9. C.. EGC. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice. Dahlan. D. D. Jakarta 10.. 2000.R. EGC. 2002. M. Bagian Anatomi FK UGM. 1997.com/2011/03/askep-peritonitis. M. R. Mackersie. John Wright.8. R. 1997. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep. Darmawan... Putz.. Abdomen. EGC. Atlas Anatomi Manusia. FKUI.. B. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. 696.R. Sjamsuhidayat. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Jusi.blogspot.R.. Edisi Revisi. 11. Sjamsuhidajat.. Bristol. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. Jakarta.

perforasi kolon akibat devertikulisis. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. . escheria choli (7%). defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. B. mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). klebsiella pnemunae. sepsis psedomonas. Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya. proteus dan gram negatif lainnya (20%).perut. infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%). kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. yakni streptococcus (3%). volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. Sementara gram positif. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Secara umum. perforasi ulkus peptikum dan duodenum.

Masuknya bakteri dalam . Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. dengan atau tanpa fistula. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7.3. Kelainan hati atau gagal jantung. Infeksi dari rahim dan saluran telur. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. sering bukan berasal dari kelainan organ. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. mengakibatkan dehidrasi. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik. syok. dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin. dapat timbul peritonium umum. 4. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh.bahan kimia. gangguan sirkulasi dan oliguri. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. Selain tiga bentuk diatas. Iritasi tanpa infeksi. 5. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. 6. C. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan. misalnya cairan empedu. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat.

Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Pemeriksaan Penunjang 1. sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. Coli). yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. . Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil.jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. Abses peritoneal 3. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. 2. D. 4. takikardi. E. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). Sepsis F. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Komplikasi 1. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. syok dan gagal ginjal. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik.

pus / eksudat. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. antara lain : 1. 6. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Memperbaiki fungsi organ 4. Pembersihan bakteri dan racun 3. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4. pemberian antibiotik yang sesuai. 2. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya.000 SDM mungkin meningkat. Amilase serum : biasanya meningkat 4. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. Kontrol infeksi yang terjadi 2. Pembedahan G. d. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. X – ray a. empedu dan kretinum. Mengontrol proses inflamasi . Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. menunjukkan hemokonsentrasi. posterior. b. emilase.

. Pengkajian 1. b. dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2. Riwayat kesehatan a. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. demam tinggi. Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen. takikardi. hipotermia.

Penurunan haluaran urine. f. menyebar ke bahu. lidah bengkak. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. infeksi pasca melahirkan. diare (kadang – kadang). kekakuan abdomen. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). nyeri tekan. . Sirkulasi Gejala : takikardi. e. Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal . distensi. takipnea g. pucat. lokal. terus – menerus oleh gerakan. d. abdomen diam. bunyi keras hilang timbul. umum. berkeringat. Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. mual / muntah. anoreksia. turgor kulit buruk. Tanda : cegukan.c. Riwayat kesehatan keluarga 3. ulkus peptikum dan duodenum d. hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. Pengkajian pola fungsional a. Makanan Gejala . Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. bising usus kasar (obstruksi).

Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : . diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. b. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. intraseluler ke area peritonium. mengurangi nyeri d. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a.h. perforasi kandung kemih / ruptur. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. penyakit saluran GI. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. Diagnosa keperawatan 1. contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. 5.

Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. diharapkan volume cairan adekuat. d. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. 4.a. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. intraseluler ke area peritonium. b. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. b. Intervensi : . Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.90C menunjukkan penyakit infeksius akut. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. d. diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. c. Kolaborasi berikan pelunak feses. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. Pantau suhu lingkungan. Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3.

elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam . c. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. b. Intervensi : a.a. d. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d. c. 5.diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : .

penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c.html .com/2010/08/askep-peritonitis. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@. kekakuan nyeri tekan.21 http://fatmazdnrs. Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen.blogspot.Story di 07.a.

. lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.

sulfonamida. • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. lycopodium. • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. A. ruptur hati . 2. Etiologi 1.Peritonitis adalah peradangan peritoneum. Secara langsung dari luar. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).

2. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. spesies pseudomonas. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. 7. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. 3. mastoiditis. glomerulonepritis. 6. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. 3. 5. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. 4. 8. difus. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. otitis media. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%. B. 1. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. 4. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . coli 40%. klebsiella pneumoniae 7%. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. atrofi umum. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. m.6 D.iliaca. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Intercostalis VI – XII dan a. Pelepasan berbagai mediator. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. a. yaitu dari luar ke dalam.epigastrika superior. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa.transversum abdominis. dan di bagian bawah pada tulang panggul. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal.obliquus abdominis internus dan m. lumbalis I. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. dapat memulai respon . kemudian ketiga otot dinding perut m.pudenda eksterna dan a. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan.epigastrika inferior. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran.thorakalis VI – XII dan n. lemak preperitonial dan peritonium. dapatan. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. seperti misalnya interleukin. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. maka dapat menimbulkan kematian sel.sircumfleksa superfisialis. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. yaitu fascia transversalis. Dari kaudal terdapat a. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang.C.obliquus abdominis eksterna. maupun iatrogenik. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. a. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks.

mengakibatkan dehidrasi. gangguan sirkulasi dan oliguria. Keluaran urine tekanan vena sentral. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. syok. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. dapat timbul peritonitis umum.hiperinflamatorius. . serta muntah. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. dan mekanisme pertahanan. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. nutrisi. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. pemberian antibiotika yang sesuai. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. dsb) atau penyebab radang lainnya. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Dengan perkembangan peritonitis umum. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. pembuangan fokus septik (apendiks. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. produk buangan juga ikut menumpuk. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. E. masukan yang tidak ada.

mengeksklusi. 1. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. atau mereseksi viskus yang perforasi. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Bila peritonitisnya terlokalisasi. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Pada umumnya. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Jika peritonitis terlokalisasi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. KONSEP KEPERAWATAN A.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat.

hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4. bunyi keras hilang timbul. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). terus- menerus oleh gerakan. haus. Tanda 6. 3. NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. distensi abdomen. abdomen diam. takipnea. 5. menyebar ke bahu. SIRKULASI Tanda : Takikardia. : Muntah proyektil. berkeringat. Membran mukosa kering.2. : Distensi. kaku. PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. Hiperresonan/timpani (ileus). umum atau lokal. Tanda : Cegukan. hipotensi (tanda syok). Penurunan haluaran urine. Edema jaringan. 7. mual / muntah. bising usus kasar (obstruksi). Diare (kadang-kadang). ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. nyeri tekan. turgor kulit buruk. pucat. lidah bengkak. nyeri tekan. KEAMANAN . kekakuan abdomen.

2. b. 3. apendisitis akut. Kaji tanda vital dengan sering. takipnea. demam. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan.Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. 5. 1. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. Catat perubahan status mental (contoh bingung. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Intervensi : a. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. c. Rasional : tanda adanya syok septik. C. penurunan tekanan nadi.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. kehilangan cairan dari sirkulasi. pusing) . Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. 4. B. dialisa peritoneal. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. dan rendahnya status curah jantung. takikardia.

membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. i. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Observasi dreinase pada luka/drein. kemerahan. hipotensi. suhu. e. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. h. g. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. f. 2. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal.Rasional : Hipoksemia. luka insisi/terbuka. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. d. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Rasional : Hangat. Rasional : mencegah penyebaran. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. Catat warna kulit. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. kelembaban. dan sisi invasif. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang.

Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. lingkar abdomen. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). takikardia. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. berikan perawatan kulit dengan sering. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. Ubah posisi dengan sering. balutan. Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. Pantau tanda vital. drein. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : . perpindahan cairan. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. b. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Rasional : hipovolemia. 3. demam. keringat. c. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. turgor. e. hemovac. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. takipnea. Ukur CVP bila ada. Catat edema perifer/sakral. menambah edema jaringan. d. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan.Intervensi : a.

Berikan perawatan mulut dengan sering. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. Berikan tindakan kenyamanan. konstan). Rasional : menurunkan mual/muntah. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. Awasi haluaran selang NG. penurunan absorpsi air dan diare . catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada. napas dalam.a. c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. lama. Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. tajam. b. latihan relaksasi/visualisasi. Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. 4. contoh pijatan punggung. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a. catat lokasi. Selidiki laporan nyeri. Auskultasi bising usus. b. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus. d. memerlukan evaluasi lanjut.

5. . penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan. Evaluasi tingkat ansietas. meningkatkan perasaan sakit. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. e.c. menghemat energi. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites. d. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. b. penampilan bising usus normal. Dorong ekspressi bebas akan emosi. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. catat respon verbal dan non-verbal pasien. dan dapat meningkatkan kemampuan koping. c. dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral.

indonesiaindonesia. Bare.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# . Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges. 2001.com/2009/03/penanganan-peritonitis.scribd. Marilynn E.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas. Smeltzer.com/f/10758-peritonitis/ http://www.detik. 5. 1.blogspot. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut. Jakarta : EGC. Brenda G. dkk.D. http://health.html http://health. 3.com/2009/10/peritonitis. 2.html http://medlinux.html http://medicastore. Rencana Asuhan Keperawatan. 2000. 4.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www.blogspot. Suzanne C.detik. Jakarta : EGC.

08.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis . (04. 22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.com/2012/05/askep-peritonitis.blogspot.http://silahealt.html Selasa.

Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. kandung kemih. usus. . Cedera pada otot kandung empedu. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Pada wanita. ureter. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. Kelainan hati atau gagal jantung. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium. kandung empedu atau usus buntu.

tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. mengeluarkan tinja yang kehitaman. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya.Iritasi tanpa infeksi. Patofisiologi Peritonitis . rasa mengantuk dan bahkan syok. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. misalnya lambung atau usus dua belas jari. muntah darah. disorientasi. komplikasi bisa berkembang cepat. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. bisa menyebabkan bingung. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. mengeluarkan darah dari rectum. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. nyeri dada dan pusing. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. seperti kegagalan paruparu. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. Gejalanya bisa berupa. seperti mudah lelah. terlihat pucat.

. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. perforasi tifus abdominalis. kemudian ketiga otot dinding perut M.  mycobacterium tubercolusa. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya. M. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. Obliquus abdominis eksterna.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. rbacter-Klebsiella. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Transversum abdominis. lemak dan sub kutan dan facies superficial. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. dan M. perforasi tukak lambung. Obliquus abdominis internus. yaitu dari luar ke dalam. perforasi appendicitis.

pemberian antibitika yang sesuai. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. iliaca.. Epigastrik superior. nutrisi dan mekanisme pertahanan. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. maka dapat menibulkan kematian sel. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Keluaran urine tekanan venasentral. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. pemberian antibiotika yang sesuai. Pelepasan berbagai mediator. pembuangan focus septic (apendiks. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik . sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ.dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. seperti misalnya interlukin. dsb) atau penyebab radang lainnya. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. dapatan. Dari kaudal terdapat a. sirnucmfleksa superfisialis. a. yaitu fascia tranversalis. a. dapat memulai respon hiperinflamatorius. pudenda eksterna dan a. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Intercostalis VI-XII dan a. Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. epigastrika inferior. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. maupun iatrogenic. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah.

cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. produk buangan juga ikut menumpuk. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. gangguan sirkulasi dan oliguria. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Dengan perkembangan peritonitis umum. serta muntah. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. dapat tibul peritonitis umum. syok. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia.oleh ginjal. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. . usus kemudian menjadi atoni dan meragang. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem.

puntiran usus. ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Keadaan Umum Keadaan umum baik. maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. Pemeriksaan Fisik a. Pasien berbaring . Kesadaran komposmentis. Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul).5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Bentuk badan sedang. kebocoran usus. bicara jelas. Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37. namun terkadang disertai dengan merintih.

berwarna hitam. Mulut kotor dan berbau. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. Jumlah rambut banyak dan merata. Hidung Hidung simetris. maupun sumbatan. Rambut Warna kulit normal. Tidak terdapat massa. tidak terdapat secret. d. e. Pasien terlihat pucat dan berkeringat. Kepala Muka simetris. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. Tidak terdapat lesi. sclera berwarna kemerahan. Terdapat plaque dan caries pada gigi. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. Mulut Bibir tidak sianosis. iris berwarna coklat. telinga kotor. Warna kuku kemerahan. maupun krepitasi. . h. g. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. dan distribusinya merata.dan bergerak terbatas. Kulit. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. nyeri tekan. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. Terdapat serumen pada liang telinga. Kuku. Mata Reflek pupil (+). c. Pendengaran normal/tidak tuli. perdarahan. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. Suhu tubuh teraba hangat. membrane mukosa kering.rambut kuat. konjungtiva berwarna merah muda. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. f. turgor kulit jelek. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain.

. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. 2. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). sewarna dengan bagian tubuh lainnya. l. b. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris. Terjadi penurunan peristaltic usus. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. Dada Terdapat peninggian diafragma. gerakan bebas. maupun hemoroid. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. j. Tidak ada pembengkakan. massa. Payudara simetris. Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. k. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain.i. dada sewarna dengan bagian tubuh lain. bentuk normal. dan sewarna dengan bagian tubuh lain. c.

Pasien mengalami gangguan pola tidur. f. eksudat/secret. Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. e. kemudian menyebar keseluruh perut. dan cairan asites. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . Foto dada Peninggian diafragma.d. GDA Asidosis metabolic. NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. usus besar. g.

memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau. mulut berbau dan muntah .terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan . membrane mukosa kering. puntiran usus. Tidak mampu 3. gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. usus. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen. kebocoran 5. turgor kulit jelek. penampilan 4. sklera berwarna kemerahan. tampak kumuh dan tidak bersih.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3. Resiko infeksi DIAGNOSA 1.tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi .

PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1. karakteristik. frekuensi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien . durasi.x 24 jam.. Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi.

akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . kadang dilakukan 4. tidak dilakukan sama sekali 2. sering dilakukan 5. yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan. Diharapkan kebutuhan 2. jarang dilakukan 3.Analgesic Administration Keterangan : 1. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam.

batas normal terjadinya gagal ginjal. kurang 5. digunakan 3. penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. sangat digunakan 2. Keterangan : 1. sedang 4. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan .

Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. sedang 9. pada mulut. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. dan output. digunakan 8. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi. kalori tinggi. Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. menunjang aktivitas. bergizi.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. sangat digunakan 7. nafsu makan. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien. memberikan makanan yang disukai. kurang 10. . tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi.

Menciptakan kenyamanan. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. . Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien. Berikan pijatan nyaman. pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Anjurkan peningkatan lamanya tidur.dan minum. Memudahkan pasien untuk tidur. Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Memberikan kenyamanan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. Agar kebutuhan tidur terpenuhi. Berikan perawatan mulut sebelum makan. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur.

Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur. pasien. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam.Berikan obat tidur. penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. Mempertahankan kebersihan diri pasien. . teknik peningkatan tidur.

panas. dan adanya fungsiolaisa. gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan. turgor. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. cuci kulit dengan hati-hati. nyeri. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya . tumor. kelembaban tekstur. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit.Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri.

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

. Jakarta : Media Aesculapius. St. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. www. Louis : Mosby Inc. Santosa. Arif. dan Gloria M. Mansjoer. Marion et all. Budi. McCloskey. Kapita Selekta Kedokteran. Louis : Mosby . Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Jakarta : EGC. Marilynn E. 1999. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). 2000. Bulechek. et all. 1996. Buku Kedokteran ECG: Jakarta. St. Potter dan Perry.DAFTAR PUSTAKA Johnson.com Doenges.medicastore. 2005. 1999. Joanne C. 2000. Prima Medika.Year Book Inc.

.yaw di 19.Diposkan oleh mbah jito OK la.45 http://dkp2011.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.blogspot.html .