diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. disebut lamina visceralis (tunika serosa). dorsal dan ventral usus saling mendekat. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Pada permulaan. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kedua rongga mesoderm. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. kurvaturan minor. .9) Memahami komplikasi pada peritonitis. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3. 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.

defans muscular.2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) . 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. perforasi kolon akibat diverdikulitis. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. dan tanda-tanda umum inflamasi. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. 2. penyakit ringan dan terbatas. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. volvulus dan kanker. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. dan strangulasi kolon asendens.3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis.

streptokokus alpha dan beta hemolitik. Sesudah operasi.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. pancreas perforasi kolon. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. 2. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. 1. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4. Tukan disentri amuba/colitis 6. Infeksi bakteri 1. Tukak thypoid 5. 3. ruptur hati 4. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. sulfonamida. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Tukak pada tumor 7. dan transfuse yang pasif. divetikulitis. lycopodium. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. . Appendisitis yang meradang dan perforasi 3.3 Etiologi 1. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. 1. syok perioperatif. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. kontaminasi peritoneal. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. stapilokokus aurens. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Terkontaminasi talcum venetum. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. Salpingitis 8. Operasi yang tidak steril 2. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Secara langsung dari luar.

semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. glomerulonepritis.2. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. Peritonitis bakterial primer . Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. bukan berasal dari kelainan organ. Klebsiella pneumoniae 7%. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). spesies Pseudomonas. barium. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. 2. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. Coli 40%. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. otitis media. misalnya cairan empedu. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. mastoiditis. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. jenis Streptococcus lain 15%. dan golongan Staphylococcus 3%. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Semakin rendah kadar protein cairan asites. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder.

lupus eritematosus sistemik. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. imunosupresi dan splenektomi. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Bakteri anaerob. biasanya E. khususnya spesies Bacteroides. 4. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Penyebabnya bersifat monomikrobial. Kuman dapat berasal dari: 1. Coli.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. 2. Peritonitis tersier Peritonitis tersier. 1. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. dan sirosis hepatis dengan asites. misalnya appendisitis. keganasan intraabdomen. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. Luka/trauma penetrasi. perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. gagal ginjal kronik. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. Sreptococus atau Pneumococus. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. Perforasi organ-organ dalam perut. misalnya: . Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. 3. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

Tiduran terlentang (supine). lateral). 3. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. . Usus halus dan usus besar dilatasi. Sebelum terjadi peritonitis. dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. 2.Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. preperitonial fat. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. 3. untuk melihat distribusi usus. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. penebalan dinding usus. 3. yaitu : 1. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. didapatkan: 1. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior.Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. ada tidaknya penjalaran. posterior. 2) Posisi LLD. 2.

extravasasi bahan kontras. 4. tumor. dan tanda iskemia (intoksikasi. Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. massa yang nyeri. Mengeliminasi sumber infeksi. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. 2. dan oklusi vena atau arteri mesenterika. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. distensi perut. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. tanda perdarahan (syok. Pertimbangan dilakukan pembedahan a. memburuknya pasien saat ditangani). distensi usus. Pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas. nyeri tekan terutama jika meluas. Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. 3. tanda sepsis (panas tinggi. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi).8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya.l : 1. . 2. Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum. 2.3) Posisi setengah duduk atau berdiri. 2. 3. leukositosis). anemia progresif).l: 1. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi.

pus dan fibrin. dan tidak ada distensi abdomen. Pemberian cairan I. produk ngt minimal. Pemberian terapi cairan melalui I.l : 1. darah. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. 3. lavase. peristaltic usus pulih. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi.V. 2. 5. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. . Terapi bedah pada peritonitis a.4. pemberian antibiotika yang sesuai. irigasi intra operatif. Terapi post operasi a. dan nutrisi. 2. Pemberian antibiotic. diberikan bila sudah flatus. dan jaringan yang nekrosis. pembuangan fokus septik (apendiks. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. nutrisi. dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. dsb) atau penyebab radang lainnya.V. Oral-feeding. 4. dapat berupa air. Irigasi kontinyu pasca operasi. Pemberian antibiotic 3. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. suctioning. cairan elektrolit. Kontrol sumber infeksi.kain kassa. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen.l: 1.

Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Jika peritonitis terlokalisasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. b.a. mengeksklusi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. d. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. c. atau mereseksi viskus yang perforasi. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Diberikan antibiotik yang tepat. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. terutama bila terdapat apendisitis. . Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi.

Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Pada beberapa contoh. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. 2. intervensi dan evaluasi diuraikan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. diagnosa keperawatan. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. 3. . Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Bagaimanapun. proses keperawatan pengkajian. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. memberikan medikasi intravena. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase pascaoperatif langsung. Kapan berkaitan dan memungkinkan.

Pendidikan 6.1 Pengkajian A. Identitas 1. 4. Septikemia dan syok septic. Komplikasi dini. Nama pasien 2.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Umur 3. yaitu: 1. Komplikasi lanjut. 2. Obstruksi intestinal rekuren. 2.2. 2. 1. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. Pekerjaan . Jenis kelamin 4. 5. Portal Pyemia (misal abses hepar). Syok hipovolemik. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. Suku /Bangsa 5. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. Abses residual intraperitoneal. 1. 3. Adhesi.

dan sirosis hepatis dengan asites. dispnea. dan pucat. Pemeriksaan Fisik 1. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. 1. sindrom nefrotik. Alamat 8. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. gagal ginjal kronik. hipovolemik atau septik). lupus eritematosus. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. seperti: Tubercolosis. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit). Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. komplikasi post operasi. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. Maka kemungkinan diturunkan ada.7. 1. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. basah. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. 1. akral : dingin. peritoneal diawali terkontaminasi material. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. . 1. 1.

Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. bising usus menurun. H. kekuatan otot mengalami kelelahan. 1. Selain itu terjadi distensi abdomen. nyeri perut dengan aktivitas. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . sulit berjalan. Kemampuan pergerakan sendi terbatas. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. 1. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. Pengkajian Spiritual 2. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea.1. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. G. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). 1. dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. 1.

000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. Foto polos 2. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP).1. cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. Tiduran telentang (supine). 3. Scintigraphy 5. Test fungsi hati jika diindikasikan 4. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. . Complete Blood Count (CBC). dengan sinar horizontal proyeksi AP. 4. USG 3. technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). 2. PTT dan INR 3. yaitu: 1. CT Scan (eg. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. gallium Ga 67 scan. dengan sinar horizontal. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11. PT. proyeksi AP. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Cairan peritoneal. renal stone disease) 6.

Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. tanda utama radiologi adalah: . Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. Pada kasus peritonitis karena perdarahan. gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Posisi setengah duduk atau berdiri. 2. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). penebalan dnding usus. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. untuk melihat distribusi usus. Posisi LLD. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. 3. Distensi usus general. Herring bone appearance. ada tidaknya penjalaran. dan herring bone appearance. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. 2. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). Posisi tidur.Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. preperitonial fat. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. 3. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. air fluid level. Air fluid level. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Sebelum terjadi peritonitis.

Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. preperitonial fat dan psoas line menghilang. didapatkan preperitonial fat menghilang.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. didapatkan : 1. dan kekaburan pada cavum abdomen. 2.3 Intervensi . 3. demam dan kerusakan jaringan. 3. Posisi tiduran. psoas line menghilang.1. 2. Posisi duduk atau berdiri. Ketidakefektifan pola nafas b. 3. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. 3. Usus halus dan usus besar dilatasi. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. 5.2 Diagnosa 1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. posterior. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). lateral). Posisi LLD. 4. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. 6. 3. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. 3) X. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.

Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. lebih hebat. catat lokasi. Berikan tindakan 4. 1. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. tajam. konstan) 1. 2. dan menyebar ke atas. lama. demam dan kerusakan jaringan.1. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. Menurunkan mual/muntah Rasional . Nyeri cenderung menjadi konstan. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. Selidiki laporan nyeri. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. 3. 3. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.

. Menurunkan mual/munta. yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil. contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. narkotik 2. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Antipiretik. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. latihan relaksasi atau visualisasi. Antiemetik. \is 1.kenyamanan. contoh hidroksin (Vistaril) 3. Analgesik. napas dalam. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. Berikan perawatan mulut dengan sering. contoh pijatan punggung.

apendisitis akut. Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. Tanda adanya syok septik. 2. 2. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. pingsan). takikardia. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . bebas drainase purulen atau eritema. Kaji tanda vital dengan sering. kehilangan cairan dari sirkulasi. hipotensi. Catat perubahan status mental (contoh bingung.1. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Hipoksemia. penurunan tekanan nadi. dan rendahnya status curah jantung. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. demam. meningkatkan kenyamanan pasien. dan asidosis dapat menyebabkan 1. 1. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. 2. tidak demam. dialisa peritoneal. 3. Kriteria hasil: 1. takipnea. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1.

Mencegah penyebaran. Hangat. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Observasi drainase pada luka. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. toksin 1. luka insisi/terbuka. Awasi haluaran urine. 1. 1.1. Memberikan informasi tentang status infeksi. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. 1. penyimpangan status mental. dan sisi invasif. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter. Menurunkan resiko terpajan . Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. 1. 5. 3. kemerahan. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. suhu. 2. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. 4. 2. kelembaban. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Catat warna kulit.

Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. Dilakukan untuk membuang 1. bila diindikasikan. 4. 1. contoh untuk drainase abses . Berikan antibiotik.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. amikasin (amikin). 2. cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. contoh gentacimin (Garamycyin). urine. kultur luka. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial.dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Bantu dalam aspirasi peritoneal. Kolaborasi: 1. 3. Klindamisin (Cleocin). Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk. 2.

. membuang eksudat peritoneal. membuang rupturapendiks/kandung 1. atau reseksi usus.lokal. mengatasi perforasi ulkus. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu.

Kriteria Hasil: 1. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Berat badan normal . Status nutrisi terpenuhi 2.1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Nafsu makan klien timbul kembali 3.

Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. penurunan absorpsi air dan diare. 4. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. catat bunyi tak ada atau hiperaktif. Auskultasi bising usus. 1. Awasi haluan selang NG. Rasional . 5. 1. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. memerlukan evaluasi lanjut. 2. dan catat adanya muntah atau diare. Meskipun bising usus sering tak ada. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. Timbang berat badan tiap hari.4. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. 6. 3. lanjut diduga ada defisit nutrisi.

Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet.2. Kolaborasi: 1. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). 1. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. 1. 3. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. penampilan bising usus normal. Kriteria hasil: . Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. Monitor Hb dan albumin 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. 2. dam kelancaran flatus. 1.

2. Membran mukosa lembab 4. takipnea. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. Hipovolemia. turgor.1. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. perpindahan cairan. Ukur CVP bila ada. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Tanda vital stabil 3. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Berat badan dalam rentang normal. 3. takikardia. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Pantau tanda vital. Ukur berat jenis urine (homeostatis). 2. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. 1. 2. Pengisian kapiler meningkat 6. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Turgor kulit baik 5. dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. catat edema ginjal. Rasional . 3. 2. demam.

protein. Koloid (plasma. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. elektrolit. kreatinin. 1. 4. 1. 3. cairan. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. Awasi pemerikasaan laboratorium. menambah edema jarinagan. . contoh Hb/Ht.perifer/sacral. Batasi pemasukan es batu. Berikan plasma/darah. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. elektrolit. 1. 2. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. 2. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare. 2. BUN. albumin. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1.

depresi SSP.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri.1. Pertahankan pasien pada 2. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. takikardi. depresi SSP. 1. hiperventilasi. dan sianosis. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. Pernapasan tidak sulit 3. tekanan O2 dan saturasi O2 normal. Tujuan: Pola nafas efektif. 2. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional . gelisah. hipotensi. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. gelisah. Kriteria Hasil: 1. takikardi. ditandai bunyi nafas normal. Indikator hipoksemia. Ketidakefektifan pola nafas b. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. 3. 1. hiperventilasi. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan).

Berikan O2 sesuai program 1.posisi semifowler. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. paru dan menurunkan upaya pernafasan. 4. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional . 1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal. Penampilan wajah tampak rileks 3. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. 1. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1.

menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. diagnosa dan pengobatan 4. Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama. penyelesaiannya. 3. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1. 2. 2. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi .kemajuan penyembuhan. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan.

Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. 4. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. 1. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan. DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS .efektif menerima situasi 2. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. 3. Berikan kenyamanan fisik klien 2.

http://nuzulul-fkp09.html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum.web. suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.ac.id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis. ETIOLOGI .unair.

Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas.  Demam . ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. 1. 1.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. streptokokus µ dan b hemolitik. glomerulonepritis. otitis media. lycopodium. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. mastoiditis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. sulfonamida.1. Secara langsung dari luar. stapilokokus aurens.

didapatkan : . lateral). tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. sel-sel darah putih. X. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. posterior. sel-sel yang rusak dan darah.    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik. peritoneal diawali terkontaminasi material. trauma atau perforasi tumor. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1. atrofi umum.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal.  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. difus. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. TEST DIAGNOSTIK 1. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia.

yaitu . 5. misalnya. yaitu. Midline incision 2.5 cm). Sumbatan pada usus halus dan usus besar. pada operasi appendictomy.   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Paramedian. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar.(Internal Blooding) 4. yaitu. PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %. Usus halus dan usus besar dilatasi. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. insisi di bagian atas.  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya.5 cm). Ada 4 cara. 2. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 1. LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Peritonitis 3. Indikasi 1. Transverse upper abdomen incision. Masa pada abdomen . panjang (12. Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam. insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. 4. yaitu . Transverse lower abdomen incision. 3. Perdarahan saluran pencernaan.

Komplikasi 1. 4. Komplikasi post laparatomi. Mempercepat penyembuhan. 4. 2. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. aritmia jantung. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. 1. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. 5. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Tujuan perawatan post laparatomi. menggerakan otot-otot kaki. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi. latihan batuk. hati. . 3. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. 1. Mempersiapkan pasien pulang. Ventilasi paru tidak adekuat 2. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. 3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Mempertahankan konsep diri pasien. menggerakkan otot-otot bokong. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. dan otak.

Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. kesalahan menutup waktu pembedahan. Pengisian oleh kolagen. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. 1. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka.  Fase ketiga . 1. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi. ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. gram positif. organisme. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.

Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. 2. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. 1. nadi. Kolagen terus-menerus ditimbun. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. Sirkulasi  Tensi. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. 3. adalah. warna kulit. Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. respirasi. Mempertahankan konsep diri. Pencegahan infeksi. bunyi pernapasan. latihan mobilisasi dini. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. Pengembalian Fungsi fisik.Sekitar 2 sampai 10 minggu. . Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.  Fase keempat Fase terakhir. 1. dan suhu. dan refill kapiler. jenis pernapasan. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf.

3. tanda-tanda vital. Tindakan keperawatan post operasi: 1. Perawatan luka operasi secara steril. 1. 4. mual.1. Rasa nyaman  Rasa sakit. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. suasana hati setelah operasi. Diagnosa Keperawatan 1. muntah. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. posisi pasien. Peralatan   Monitor yang terpasang. Psikologis : Kecemasan. Persarafan : Tingkat kesadaran. Evaluasi . dan fasilitas ventilasi. 2. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. 2. 1. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. Gangguan rasa nyaman. Balutan    Apakah ada tube. 3. intake dan output 2. Monitor kesadaran. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. CVP. jumlah) drainage. Cairan infus atau transfusi. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. jangan sampai drain tercabut.

wordpress. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. 2. Philadelphia. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. Luka operasi baik. 4. 3. dkk.com/askep-peritonitis/ . Sutisna Himawan (editor). DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Edisi II. Jakarta. 1984. Lippincott Company.1. http://aqibpoenya. 1987. Soeparman. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. FKUI Brunner / Sudart. Kumpulan Kuliah Patologi.

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .Selasa.

Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A. : 2010.0973 .

TINJAUAN TEORI A. (Tucker : 1998. pankreatitis. atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. (Harison. B. TANDA DAN GEJALA Menurut Price. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. kaku. b. 1995: 402). PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison. 1. 2000: 1613) C. asam lambung. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis.32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. a.

Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. 2. Dengan perkembangan peritonitis umum. . Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D. 3. ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. - Menurut C. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih. E. PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi.2. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus.

c. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. Ketika penyembuhan terjadi. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. (C. edema. kaku. a. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan.usus kemudian menjadi atoni dan meregang. 2. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. 1996 : 228) F. ketidakseimbangan elektrolit. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . muntah dan abdomen yang tegang. Misalnya pemasangan kateter 1. nyeri dan tanpa bunyi. b. dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. gangguan sirkulasi dan oliguria. (Price. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia. membentuk suatu abses. dehidrasi dan akhirnya syok. perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. Long. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. mengakibatkan dehidrasi syok. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. demam dan leukositosis sering terjadi.

3. b. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik. 1993 : 175) G. 4. antibiotik dan vitamin . KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. c. 1. 6.3. 5. 2. PENATALAKSANAAN 1. Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. a.

pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena. (Price.- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2. - Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. 1995 : 402) .

Emesis fekal J. 8. 6. 9. 7. 3. 1. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. Pernafasan torakal Cepat dangkal 11.I. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. 5. 4. 2.

observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit. antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam. gas darah. ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit. beritahu dokter ntervensi : - 2.Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3.- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam. pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 . DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang .Kaji status pernafasan. HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : .Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam .

Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan.Pantau terhadap keluarnya flatus . berat nyeri .Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : .Pantau selang nasogastrik .Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri.kaji tipe.Berikan hygiene oral dan nasol sering . DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : .Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam . 5.Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering .Berikan periode istirahat yang nyaman terencana . lokasi.Ukur lingkar abdomen.Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat . DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan . 4. sekap 4 jam .

EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22. Ilmu Penyakit Dalam (IPD).KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : .Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan . 1998.blogspot. Long.Gelaskan semua tindakan dan prosedur . Standar Perawatan Pasien.Kaji tingkat ansietas .Kaji ketrampilan koping . 1995. 1993. 1996.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C. FKUI : Jakarta Tucker.html .24 http://mediadani. Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price. Patofisiologi : Jakarta Soeparman.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31.

Senin. 30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

(Marilyinn Doengos. (Ahmad H. dkk. 1999: 514) .(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. Asdie. 1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada.

1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis.7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan. berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik. larutan ringer. (Soeparman S. 1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. lebih baik prognosenya. dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . (Soeparman S. perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi.

bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut. devertikulitis. lemas. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas . kejang. takipnea : Membran mukosa kering. lidah bengkak. terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen. cegukan : Terdapat nyeri tekan. bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis. pangkreatitis. (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. salpingitis. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. dan sebagainya.

gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. (Marilynnn Doengoes. 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah. kadang laebih dari 20.umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi . imobilitas.dkk. exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi.

Pantau lokasi.Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri .(1) Dx. II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : .Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx. karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi . I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : . Kep. perhatikan takikardi.Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi . hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan .Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : .Kaji tanda-tanda vital. Kep.

jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Mempertahankan berat badan yang normal .Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx. Kep. kaji warna.Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi ..Observasi defekasi pertama pasca operasi.Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : .Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan . III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : . konsistensi.Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : .Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi .

Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi .Menunjukkan tanda vital stabil . ahli. turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.Kolaborasi dengan dokter.Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .Monitor intake dan output.. membran mukosa.Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi .Masukan dan haluaran seimbang .Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan . IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : .Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : . gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx. Kep. sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari .

perawatan luka. Kep. V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : .Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx. teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar .Demonstrasikan penggantian balutan.Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan.Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman .. pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah .Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet .Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat .Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : .

Jakarta. (2002)Keperawatan Medical Bedah.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Ilmu Penyakit Dalam. EGC. Jakarta Dongoes Marilynn E. Edisi 8 Vol 2.EGC. EGC. Rencana Asuhan Keperawatan. . (1979). (1993). Soeparman. Edisi 4. Jakarta.

klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. agama : Islam. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan.09 2004.1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09. MRS tanggal 29 . Diagnosis masuk : peritonitis generalisata.. umur : 18 tahun. pekerjaan : Ibu Rumah tangga. . pekerjaan :. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi. Suraabya.2. CM : 10407631. N. No. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat. pendidikan : SMP (tamat). jenis kelamin : Perempuan. penghasilan : -.2. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. Soetomo Surabaya. pendidikan : SMU. 7) Psiko Riwayat Psiko. nyeri seperti tertusuk. skala nyeri 3. alamat : Pasapen Suraabya.3. alamat : Pasapen.M. jenis kelamin : Perempuan.2 Tinjauan Kasus pada Nn. agama : Islam. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. suku/bangsa : Jawa/Indonesia.3. hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn. umur : 40 tahun. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. M dengan Peritonitis Generalisata 2. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh.

(3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek. 21.23. porsi 1 piring sedang.30 WIB. klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya. 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. komposisi bubur kasar+lauk. Klien tidur siang kadang-kadang. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai. klien koopeatif dengan petugas. : Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah. warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya. komposisi nasi+lauk+sayur. klien hanya berdo’aagar segera sembuh. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit . : Klien mengatakan makan 3x/hari.00 s/d 04.

9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis. S : 38oC. RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. sklera putih. . tidak ada polip. suara jantung S1S2 lupdup. Hidung : Bersih. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler. tidak ada sekret. gigi tidak caries. N : 100x/mnt. tidak ada nyeri tekan. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab.(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm. Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar.

0 4.8 78. : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari.000 /ul 38 – 42 % 80 . akral hangat.31 33 .Abdomen : Inspeksi : Perut distended. tangan kanan dapat bergerak bebas. Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut.300 – 11.37 . : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas.51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10.99 27 . tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 .9 33. hepar dan lien tidak teraba.4 – 17. terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm. akral hangat.5 25.7 g/dl P = 11.5 L = 13.4 – 15.2004) Hemoglobin 10.500 / ul 31. keluar pus bercampur darah.

Bambang Irianto.33 – 5.000 – 250.Trobosit Eritrosit LED 380. April1 2005 Yang Mengkaji. 2001.000 /UL 4.08 .000 4.05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya.05 75 150.S NIM.

2. . RR : 20 x/mnt DS 2. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1. S : 38oC.TD : 120/80 mmHg. M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. N : 100 x/mnt. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . N : 100 x/mnt.3.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn. Reg. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas .TD : 120/80 mmHg.2.

2. Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl. M : 18 tahun No. N : 100 x/mnt. Reg. RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : .TD : 120/80 mmHg. S : 38oC.Perut distended .3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn. Ditemukan 3 Tgl. Teratasi 4 No.Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi . N : 100 x/mnt 2 . .TD : 120/80 mmHg.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .3.2.

dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh . 4. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. mmHg.3. Tujuan Intervensi 4 1. No.100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn.2. melakukan 4.4 INTERVENSI Nama M Reg. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3. 5 Berikan penjelasan pada 1. keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2.2. dalam pemberian 6. N : 80 . tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5.

tentang proses 4. 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1. system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas . Setelah dilakukan askep selama 6. 2. observasi TTV tiap 4 jam. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1. Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . support 4. Berikan penjelasan pada 2.3. klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya.Inj.

M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09.3.2. 5 09.35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk.Skala nyeri 3 .5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi. Reg. Mengkaji tingkat nyeri. Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi. .30 No.

Observasi TTV . .00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit. 09. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.00 09. Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas . RR : 20 x/mnt 10.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.40 proses b/d 05-09-04 08.40 .TD : 120/80 mmHg.Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09. N : 100 x/mnt .00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap.t : 38 oC.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya.

RR : 20 x/mnt 10. Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV. 09. 09.50 .45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega. N : 100 x/mnt.00 . .t : 38 oC.TD : 120/80 mmHg.jika ada apa-apa. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien.

.Observasi TTV .3.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi. Nyeri skala 3 .6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn. Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : .2.TD : 120/80 mmHg. RR : 20 x/mnt . Reg. N : 100 x/mnt. .Luka keluar pus bercampur darah.2. Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.t : 38 oC. . M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12. O : .Berikan antibiotik.30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi.

Klien mengatakan sedikit lega. RR : 20 x/mnt 12.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka. O : . Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien.30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. .Observasi TTV klien mengungkapkan . N : 100 x/mnt. R:- S : .TD : 120/80 mmHg. . 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit . proses t : 38 oC. 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh.

30 .Anjurkan melakukan relaksasi.Berikan obat sesuai indikasi. .Observasi TTV . N : 100 x/mnt.Luka basah. O : .TD : 120/80 mmHg. .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian.t : 38 oC. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang. R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi. . RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12. . keluar pus bercampur darah. Lakukan rawat luka.

RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : . .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat. N : 100 x/mnt. keluar pus.Luka basah. . . 12.TD : 120/80 mmHg. . RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang.Klien kooperatif.t : 38 oC.TD : 120/80 mmHg.Anjurkan melakukan relaksasi.30 O : . : Rencana dihentikan. N : 100 x/mnt.Observasi TTV .t : 38 oC. . O : .

defans muscular. .blogspot.Berikan injeksi sesuai indikasi.html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1. penyakit ringan dan terbatas.30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12.No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com. atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis.1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. 5 . diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Diposkan oleh Udien Martapura di 05.com/2012/04/askep-peritonitis.

1.Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). volvulus dan kanker. 2. Apakah pengertian peritonitis. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. . Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis. dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis. dan strangulasi kolon ascendens. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1. akan dibahas dalam bab selanjutnya. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 4. Untuk mengetahui lebih jelasnya. 3. perforasi kolon akibat diverdikulitis.

1 Defenisi . Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan.1 Konsep Medis 2. Bagi teman sejawat. 1. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 3. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas.1. Untuk mengetahui manifestasi klinik. Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. BAB II PERITONITIS 2. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. Bagi Kami. dan komplikasi peritonitis. 5. 2. 4. Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis. 4. dan pengkajian keperawatan peritonitis. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis.2. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan). rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. 3.

2. duodenum. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu.1. Perubahan sirkulasi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. perpindahan cairan. dan tanda-tanda umum inflamasi.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. defans muscular. seperti: perforasi apendisitis.1. perforasi kolon akibat diverdikulitis. 2. pankreatitis akut yang berat/ iskemia. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi.1.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. meningkatkan kebutuhan oksigen. dan strangulasi kolon ascendens. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi .2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. volvulus dan kanker.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral). meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. Tanda-Tanda Peritonitis. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder. 2. misalnya : perforasi lambung. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini. Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber.

terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. hilangnya bising usus. 2. koloid dan elektrolit adalah focus utama.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka. maka tindakan laparotomi diperlukan.1. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. . Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. terdapat darah dalam lambung. Prolaps visera. tanda-tanda peritonitis. buli-buli dan rectum.Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. syok.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. Bila luka menembus peritoneum. Bila tidak ada. Pembentukan abses. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil.1. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik.

Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet.2 Konsep Keperawatan 2.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Takipnea 2. perubahan dalam fungsi mental. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. kurang tidur. . mual/ muntah.2. Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan. nyeri perut dengan penurunan aktivitas.2. kehilangan kekuatan.2.

Tujuan : Infeksi teratasi. takikardia. kulit pucat. demam dan takipnea. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. hipotensi. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Rasional : Tanda adanya syok septic. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. suhu. demam dan kerusakan jaringan. kehilangan cairan dan sirkulasi. Rasional : Hangat. kulit kering adalah tanda dini septicemia. Catat warna kulit. Kriteria Hasil : ko. diindikasikan. Rasional : Hipoksemia. kelembaban. penurunan tekanan nadi. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. bingung). dan rendahnya status curah jantung. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi.2. kemerahan.Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. . 2. lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Catat perubahan status mental (pusing.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan.

takipnea. amikasim (amikn). Berikan antimikrobial. Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah.Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural).. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. contoh: gentamicin (garamycin). Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. . Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. takikardia. urine. lavase pretoneal/ IV. demam. klindamisin (cleocin). kultur luka.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

albumin.blogspot.Awasi BUN. contoh : cairan jernih sampai lembut.com/2012/01/ashar-askep. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22.. glukosa. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. keseimbangan nitrogen sesuai indikasi.36 http://ashar-ibenk. protein. Tambahkan diet sesuai toleransi.html . Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi.

Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Fungsi peritoneum :1. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. PENGERTIAN PERITONITIS . Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2.Jumat. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3.B. kurvaturan minor. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen.

dan tanda-tanda umum inflamasi. pancreas perforasi kolon. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering . divetikulitis. Semakin rendah kadar protein cairan asites. penyakit ringan dan terbatas. dan strangulasi kolon asendens. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. defans muscular. dan transfuse yang pasif.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. volvulus dan kanker. C. syok perioperatif. kontaminasi peritoneal. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Sesudah operasi. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. perforasi kolon akibat diverdikulitis.

pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. syok sepsis. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. ensefalopati toksik. tatikardi. penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. Coli 40%. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. atau penggunaan analgesic). Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). E. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. Terjadinya proliferasi . TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). misalnya cairan empedu. barium. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. iskemia. D. jenis Streptococcus lain 15%. penggunaan steroid. bukan berasal dari kelainan organ. infeksi. dan golongan Staphylococcus 3%. atau HIV). PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. Klebsiella pneumoniae 7%. trauma atau perforasi tumor.menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. pascatransplantasi. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. spesies Pseudomonas.

Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. Bila tidak ada. Prolaps visera. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. tanda-tanda peritonitis. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. koloid dan elektroli adalah focus utama. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. PENATALAKSANAANPenggantian cairan. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. buli-buli dan rectum. terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. syok.bacterial. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. sel darah putih. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. hilangnya bising usus. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas. debris seluler dan darah. F. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. menjalani wawancaran . terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. terdaat darah dalam lambung.

Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan.2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). Kapan berkaitan dan memungkinkan. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan. proses keperawatan pengkajian. memberikan medikasi intravena. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Pada beberapa contoh. BAB II TINJAUAN KASUS . Bagaimanapun. diagnosa keperawatan. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub.praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. I. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2.5. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. intervensi dan evaluasi diuraikan. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Pada fase pascaoperatif langsung.3.

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

ECG. ECG .Mencegah kelemahan.Menurunkan resiko kontaminasi. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart.Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. meningkatkan perasaan sehat. dkk. 2000. tergantung lama perawatan.html . semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges. JakartaSilvia A.Keperawatan Medikal Bedah 5.blogspot. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot. penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi. 2006. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian.com/2009/01/askep-peritonitis.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang. pedih dan sulit diobati. www. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi. Price. Majalah-farmacia. 2002.

dan appendix (intraperitoneum). Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. jejenum. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi. sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster. kolon transversum. vesica fellea. kolon sigmoid. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. hepar. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis. . duodenum. atau proses radang. ileum. 25 Maret 2011 A. maka akan timbul nyeri. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. Terbagi menjadi bagian viseral. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut.Askep Peritonitis Jumat. pankreas. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. tekanan. sekum. ginjal dan ureter (retroperitoneum). dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. yang menutupi usus dan mesenterium. lien. kolon ascenden & descenden.

B. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. yaitu: 1. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. yaitu fascia transversalis. Kedua rongga mesoderm. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. dan di bagian bawah pada tulang panggul. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. obliquus abdominis internus dan m. dorsal dan ventral usus saling mendekat. ventriculus dan usus mengalami pemutaran. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. lemak preperitonial dan peritonium. bersatu pada tepi kaudalnya. Lembaran yang menutupi dinding usus. transversum abdominis. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. yaitu dari luar ke dalam. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. 2. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. m. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Pada permulaan. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. kemudian ketiga otot dinding perut m. obliquus abdominis eksterna. 3.

Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat. Rongga tersebut disebut cavum peritonei. Tetapi.. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi. Akibat perlekatan ini. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. cecum terletak intraperitoneal. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. Di berbagai tempat. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. tidak semua tempat terjadi perlekatan. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. disebut terletak intraperitoneal. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. terjadi perlekatan. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale. Setelah ductus omphaloentericus menghilang. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium.

Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium. pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. Kadang-kadang . perforasi tukak lambung. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. maka dapat menimbulkan kematian . ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. perforasi tifus abdominalis. PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. D. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. Keadaan demikian disebut situs inversus. Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. 13 C. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan.

Dengan perkembangan peritonitis umum. Streptococus atau Pneumococus.sel. serta muntah. produk buangan juga ikut menumpuk. keganasan intraabdomen. Pelepasan berbagai mediator. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. mengakibatkan dehidrasi. seperti misalnya interleukin. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. biasanya E. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. . Coli. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. masukan yang tidak ada. imunosupresi dan splenektomi. dapat memulai respon hiperinflamatorius. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. gangguan sirkulasi dan oliguria. dapat timbul peritonitis umum. E. Penyebabnya bersifat monomikrobial. syok. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Peritonitis bakterial primer. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen.

3. akan mengurangi masalah ini. 4. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. Bakterii anaerob. d. dan sering menimbulkan adhesi padat. dan sirosis hepatis dengan asites. dan urine. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. Menyeka sarung tangan sebelum insisi. intestinal atau tractus urinarius. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. sepertii misalnya empedu. lupus eritematosus sistemik. khususnya spesies Bacteroides. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. 2. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. gagal ginjal kronik. getah pankreas. F. . getah lambung. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal.

hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. Selain nyeri. 5 2. G. bernafas. Pada keadaan lain (misal apendisitis). dan distensi abdominal. hebat. nyeri tekan lepas. kelemahan. berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. Nyeri ini tiba-tiba. menyebar. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis.Bila telah terjadi peritonitis bakterial. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. difus atau umum. penurunan berat badan. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. septik. batuk. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. syok (hipovolemik. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. atau umum. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. tes psoas. Peritonitis dapat lokal. demam. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya. atau tes lainnya. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. vomitus. dan neurogenik). Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. demam. 1. Pemeriksaan laboratorium . distensi abdominal. atau mengejan.

Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. nutrisi. H. dengan sinar horizontal proyeksi AP. dan mekanisme pertahanan. . Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. 2. pemberian antibiotika yang sesuai. dengan sinar horizontal. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. 3. 5 3. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. proyeksi AP. dsb) atau penyebab radang lainnya. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. yaitu : (rasad) 1. Tiduran telentang ( supine ). dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. usus halus dan usus besar berdilatasi. preperitonial fat dan psoas line menghilang. pembuangan fokus septik (apendiks. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD).

Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Komplikasi dini . dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. atau mereseksi viskus yang perforasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. mengeksklusi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Jika peritonitis terlokalisasi. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Pada umumnya. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. I. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. yaitu : (chushieri) 1.Keluaran urine tekanan vena sentral.

L. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah. Peter Anugrah. 2. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Gawat Abdomen. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. 2000.. jakarta. 7. Wim de jong. Suprohaita.6. Jakarta. Ed. Sjamsuhidayat. USA. T. Jakarta. dalam Kapita Selekta Kedokteran. 1997.7. 2000. alih bahasa dr.. alih bahasa dr. Petrus Lukmanto.. alih bahasa dr.R. Shires. W.4. 1998. S. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. S. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Media Aesculapius FKUI. Ed. Ed:3. Kartoleksono S. Arief M. R. 3.K. Spencer. L. EGC. Schwartz. Ed.. p 302-321. 2000. J. 1995.. Wahyu. EGC. Way. EGC. Maruzen. Abdomen Akut. 7th Ed. Laniyati. 221239.I. M. p 256-257. Schrock. Gaya Baru.o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. 4. Jakarta..C. L . . Wilson. Bedah Digestif.. Rasad S. Jakarta. F. Wieiek S. 6.B. Ekayuda I. Jakarta. 1999. EGC. Jilid: 2. dalam Radiologi Diagnostik. Lester. T. S.. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment. 5.

C.. EGC. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice.. 1997.. Dahlan. Jakarta 10. Jakarta. 2nd Ed. Sjamsuhidayat. 696. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. M.R. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Pabst. Bagian Anatomi FK UGM.8. EGC. Hoyt. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum.. Dinding Perut. Abdomen. 11. B. 2000. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Anonim. M.com/2011/03/askep-peritonitis. Mackersie.html Senin. 1995. FKUI.R.R. EGC. Sobotta. D. Sjamsuhidajat.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang. Yogyakarta 13. 2002. pada membrane serosa. pada bagian rongga . 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A. 1988. John Wright. Edisi Revisi. Atlas Anatomi Manusia. Jakarta 9. 1997. Bristol. Putz. Jusi..NS di 10. R..blogspot. R.. 12. Darmawan. D. Wim de jong.. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep.

perut. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. yakni streptococcus (3%). Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. klebsiella pnemunae. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. perforasi kolon akibat devertikulisis. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. proteus dan gram negatif lainnya (20%). B. mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya. Sementara gram positif. . Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. sepsis psedomonas. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%). Secara umum. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. escheria choli (7%). kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan).

Kelainan hati atau gagal jantung. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. Selain tiga bentuk diatas. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. mengakibatkan dehidrasi. C. dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. 6.3. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. 4. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik.bahan kimia. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. gangguan sirkulasi dan oliguri. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. 5. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Masuknya bakteri dalam . dapat timbul peritonium umum. sering bukan berasal dari kelainan organ. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan. Iritasi tanpa infeksi. syok. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. dengan atau tanpa fistula. misalnya cairan empedu.

E. 4. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. D. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. takikardi. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Coli). Abses peritoneal 3. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. Sepsis F. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. Komplikasi 1. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. syok dan gagal ginjal. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. 2. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik. . Pemeriksaan Penunjang 1.jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.

Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. Pembedahan G. empedu dan kretinum. Amilase serum : biasanya meningkat 4. antara lain : 1. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. emilase. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. pemberian antibiotik yang sesuai. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. pus / eksudat. Pembersihan bakteri dan racun 3. 6. 2. Kontrol infeksi yang terjadi 2. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4. X – ray a. menunjukkan hemokonsentrasi. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya. Mengontrol proses inflamasi .000 SDM mungkin meningkat.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. d. Memperbaiki fungsi organ 4. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. b. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. posterior.

b.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. . dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. hipotermia. demam tinggi. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A. Pengkajian 1. takikardi. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2. Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen. Riwayat kesehatan a.

bunyi keras hilang timbul. bising usus kasar (obstruksi). Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal . pucat. abdomen diam. d. Riwayat kesehatan keluarga 3. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. Tanda : cegukan. lidah bengkak. Penurunan haluaran urine. Makanan Gejala . Pengkajian pola fungsional a. infeksi pasca melahirkan. ulkus peptikum dan duodenum d. terus – menerus oleh gerakan. Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. . e. menyebar ke bahu. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. kekakuan abdomen. umum. lokal. turgor kulit buruk. Sirkulasi Gejala : takikardi. nyeri tekan. berkeringat. diare (kadang – kadang). hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. f. takipnea g. distensi.c. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). anoreksia. mual / muntah. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b.

b. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam.h. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. perforasi kandung kemih / ruptur. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. penyakit saluran GI. 5. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. mengurangi nyeri d. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. Diagnosa keperawatan 1. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : . intraseluler ke area peritonium.

diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. 4. diharapkan volume cairan adekuat. b. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a.90C menunjukkan penyakit infeksius akut.a. Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3. d. b. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. d. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. Kolaborasi berikan pelunak feses. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38. c. intraseluler ke area peritonium. Pantau suhu lingkungan. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen. Intervensi : .

diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : . Intervensi : a. b. diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam . Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b.a. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan. c. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus. c. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. 5.

Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@.blogspot.com/2010/08/askep-peritonitis.html .Story di 07. kekakuan nyeri tekan. Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b.a. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen. penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c.21 http://fatmazdnrs. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d.

Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. . lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.

Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. sulfonamida. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa.Peritonitis adalah peradangan peritoneum. Etiologi 1. • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. 2. selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini. lycopodium. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. ruptur hati . stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. A. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. Secara langsung dari luar.

Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. mastoiditis. 7. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. 4. otitis media. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. 5. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. glomerulonepritis. B. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . 2.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. 4. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. difus. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. spesies pseudomonas. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. klebsiella pneumoniae 7%. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. 3. 3. 6. 1. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%. atrofi umum. coli 40%. 8.

sircumfleksa superfisialis. dapat memulai respon . tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa.C. Intercostalis VI – XII dan a. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. yaitu dari luar ke dalam. a. lumbalis I.epigastrika superior. lemak preperitonial dan peritonium. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n. dapatan. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal. dan di bagian bawah pada tulang panggul. maka dapat menimbulkan kematian sel. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran.obliquus abdominis internus dan m. Pelepasan berbagai mediator. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. kemudian ketiga otot dinding perut m. m. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa.transversum abdominis. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang.thorakalis VI – XII dan n.epigastrika inferior. Dari kaudal terdapat a. seperti misalnya interleukin.iliaca. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. yaitu fascia transversalis. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis.obliquus abdominis eksterna. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ).6 D.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. maupun iatrogenik.pudenda eksterna dan a. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. a.

Keluaran urine tekanan vena sentral. Dengan perkembangan peritonitis umum. nutrisi. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. pembuangan fokus septik (apendiks. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi.hiperinflamatorius. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. dapat timbul peritonitis umum. dsb) atau penyebab radang lainnya. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. E. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. masukan yang tidak ada. pemberian antibiotika yang sesuai. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. gangguan sirkulasi dan oliguria. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. serta muntah. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. produk buangan juga ikut menumpuk. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. mengakibatkan dehidrasi. . dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. dan mekanisme pertahanan. syok. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.

Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. atau mereseksi viskus yang perforasi. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Pada umumnya. Bila peritonitisnya terlokalisasi. KONSEP KEPERAWATAN A. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. mengeksklusi. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Jika peritonitis terlokalisasi. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. 1. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup.

hipotensi (tanda syok). Membran mukosa kering. takipnea. ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. umum atau lokal. KEAMANAN . menyebar ke bahu. kekakuan abdomen. Tanda : Cegukan. : Distensi. NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. bising usus kasar (obstruksi). PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. SIRKULASI Tanda : Takikardia. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4. pucat. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). Hiperresonan/timpani (ileus). kaku. 5. Edema jaringan. terus- menerus oleh gerakan. nyeri tekan. turgor kulit buruk. nyeri tekan. berkeringat. Penurunan haluaran urine. lidah bengkak. haus.2. MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. mual / muntah. 7. : Muntah proyektil. distensi abdomen. abdomen diam. 3. bunyi keras hilang timbul. Tanda 6. Diare (kadang-kadang).

dialisa peritoneal. c. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. demam. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. b. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. takipnea. Catat perubahan status mental (contoh bingung. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. penurunan tekanan nadi. pusing) . Kaji tanda vital dengan sering. dan rendahnya status curah jantung. 4. Intervensi : a.Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). 1. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. 5. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Rasional : tanda adanya syok septik. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. C. apendisitis akut. 2. kehilangan cairan dari sirkulasi. B. 3. takikardia. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer.

2.Rasional : Hipoksemia. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. suhu. kemerahan. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. g. e. i. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . hipotensi. d. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. Rasional : mencegah penyebaran. h. luka insisi/terbuka. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Rasional : Hangat. dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. f. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. kelembaban. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Catat warna kulit. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Observasi dreinase pada luka/drein. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. dan sisi invasif. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun.

Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. lingkar abdomen. d. hemovac. takipnea. Ubah posisi dengan sering. Pantau tanda vital. e. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Ukur CVP bila ada. Rasional : hipovolemia. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. takikardia. berikan perawatan kulit dengan sering. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : . Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. perpindahan cairan. drein. 3. menambah edema jaringan. c. keringat. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. Catat edema perifer/sakral. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f.Intervensi : a. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. balutan. demam. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. b. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. turgor. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal.

penurunan absorpsi air dan diare . konstan). catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada. Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a. Selidiki laporan nyeri. 4. memerlukan evaluasi lanjut. contoh pijatan punggung. napas dalam. Berikan perawatan mulut dengan sering. b. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. lama. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus.a. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. catat lokasi. Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Berikan tindakan kenyamanan. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. tajam. Rasional : menurunkan mual/muntah. latihan relaksasi/visualisasi. b. Auskultasi bising usus. Awasi haluaran selang NG. d. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. c.

Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. meningkatkan perasaan sakit. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. Evaluasi tingkat ansietas. Dorong ekspressi bebas akan emosi. . 5. catat respon verbal dan non-verbal pasien. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan. b. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. c. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral. penampilan bising usus normal. menghemat energi. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites.c. dan dapat meningkatkan kemampuan koping. d. e.

detik.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www.html http://medicastore. 2001.html http://medlinux.D.indonesiaindonesia. dkk. Jakarta : EGC.com/2009/03/penanganan-peritonitis.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut. Rencana Asuhan Keperawatan. 5.com/f/10758-peritonitis/ http://www. 3. 2.com/2009/10/peritonitis. 4. 1. Bare.html http://health. http://health.blogspot.blogspot.scribd. Marilynn E.detik. 2000. Suzanne C.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas. Smeltzer. Jakarta : EGC.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# . Brenda G. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges.

http://silahealt.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis .com/2012/05/askep-peritonitis. (04.html Selasa.blogspot. 22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.08.

Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. usus. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. Pada wanita. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. Cedera pada otot kandung empedu. kandung kemih. Infeksi dari rahim dan saluran telur. . tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. ureter. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Kelainan hati atau gagal jantung. Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium.

Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. bisa menyebabkan bingung. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. seperti kegagalan paruparu. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. mengeluarkan tinja yang kehitaman. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. komplikasi bisa berkembang cepat. Gejalanya bisa berupa. mengeluarkan darah dari rectum. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. muntah darah. tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama.Iritasi tanpa infeksi. disorientasi. nyeri dada dan pusing. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. seperti mudah lelah. rasa mengantuk dan bahkan syok. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. misalnya lambung atau usus dua belas jari. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. Patofisiologi Peritonitis . terlihat pucat. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya.

lemak dan sub kutan dan facies superficial. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. rbacter-Klebsiella.  mycobacterium tubercolusa. perforasi tukak lambung. M. perforasi tifus abdominalis. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Transversum abdominis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. . dan M. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. kemudian ketiga otot dinding perut M. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. Obliquus abdominis eksterna. perforasi appendicitis. yaitu dari luar ke dalam. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. Obliquus abdominis internus.

Intercostalis VI-XII dan a. seperti misalnya interlukin. Dari kaudal terdapat a. nutrisi dan mekanisme pertahanan. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Keluaran urine tekanan venasentral. sirnucmfleksa superfisialis. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. pemberian antibiotika yang sesuai. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik . a. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. maupun iatrogenic. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. a. yaitu fascia tranversalis. epigastrika inferior. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. maka dapat menibulkan kematian sel. dapat memulai respon hiperinflamatorius. antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. dapatan. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. dsb) atau penyebab radang lainnya. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Pelepasan berbagai mediator. pembuangan focus septic (apendiks.dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. Epigastrik superior.. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. iliaca. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. pemberian antibitika yang sesuai. pudenda eksterna dan a.

Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. dapat tibul peritonitis umum. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Dengan perkembangan peritonitis umum. serta muntah. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. syok. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. produk buangan juga ikut menumpuk. kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada.oleh ginjal. . aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. usus kemudian menjadi atoni dan meragang. cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. gangguan sirkulasi dan oliguria.

Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. kebocoran usus. namun terkadang disertai dengan merintih. maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. puntiran usus. ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1. Pemeriksaan Fisik a. bicara jelas.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. Keadaan Umum Keadaan umum baik. Bentuk badan sedang. Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37. Pasien berbaring . Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul). Kesadaran komposmentis.5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut.

Kepala Muka simetris. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. e. Jumlah rambut banyak dan merata. Pasien terlihat pucat dan berkeringat.rambut kuat. berwarna hitam. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. Mulut Bibir tidak sianosis. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. sclera berwarna kemerahan. f. g. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat lesi. Warna kuku kemerahan. Pendengaran normal/tidak tuli. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. iris berwarna coklat. turgor kulit jelek. Rambut Warna kulit normal. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. tidak terdapat secret. perdarahan. nyeri tekan. maupun krepitasi. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat massa. h. Mata Reflek pupil (+). Terdapat serumen pada liang telinga. maupun sumbatan. konjungtiva berwarna merah muda. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. Kulit. c. dan distribusinya merata. Suhu tubuh teraba hangat. d. Kuku. . Terdapat plaque dan caries pada gigi. Mulut kotor dan berbau. membrane mukosa kering. telinga kotor.dan bergerak terbatas. Hidung Hidung simetris.

Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. Pemeriksaan Penunjang a. . massa. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan. k. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. b. Payudara simetris. sewarna dengan bagian tubuh lainnya. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Terjadi penurunan peristaltic usus. Terdapat luka bekas operasi laparatomi.i. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. c. dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Dada Terdapat peninggian diafragma. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan. bentuk normal. gerakan bebas. 2. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris. l. j. maupun hemoroid. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. dada sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak ada pembengkakan. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen).

kemudian menyebar keseluruh perut. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . Foto dada Peninggian diafragma. e. usus besar. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah. NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. eksudat/secret. g. GDA Asidosis metabolic. dan cairan asites. f.d. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. Pasien mengalami gangguan pola tidur.

puntiran usus. usus. gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. tampak kumuh dan tidak bersih. memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau. kebocoran 5. penampilan 4. mulut berbau dan muntah . Tidak mampu 3. maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan .terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. turgor kulit jelek. sklera berwarna kemerahan. membrane mukosa kering. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen.

tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Resiko infeksi DIAGNOSA 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi .

kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien . durasi.x 24 jam. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. frekuensi. karakteristik.PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1. Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi..

Analgesic Administration Keterangan : 1. tidak dilakukan sama sekali 2. rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . kadang dilakukan 4. akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan. jarang dilakukan 3. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. Diharapkan kebutuhan 2. sering dilakukan 5.

sedang 4. penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN. sangat digunakan 2. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan . digunakan 3. kurang 5. Keterangan : 1.batas normal terjadinya gagal ginjal.

digunakan 8. tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi. kalori tinggi. Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. menunjang aktivitas. bergizi. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien. dan output. sedang 9. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. nafsu makan. pada mulut. kurang 10. . Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. sangat digunakan 7. memberikan makanan yang disukai.

Agar kebutuhan tidur terpenuhi. Menciptakan kenyamanan. Memudahkan pasien untuk tidur. Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Berikan pijatan nyaman. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. . Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur. Berikan perawatan mulut sebelum makan. Anjurkan peningkatan lamanya tidur.dan minum. Memberikan kenyamanan. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien.

pasien. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur. . Mempertahankan kebersihan diri pasien. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam. teknik peningkatan tidur. Mempertahankan kebersihan diri pasien.Berikan obat tidur.

cuci kulit dengan hati-hati. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya . gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan.Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. nyeri. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. panas. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. dan adanya fungsiolaisa. tumor. kelembaban tekstur. turgor.

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

DAFTAR PUSTAKA Johnson. St. 2005. Marilynn E. www. Marion et all. dan Gloria M. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Arif. Kapita Selekta Kedokteran. St. Prima Medika. Santosa.com Doenges. 1996. 2000. et all. McCloskey. Buku Kedokteran ECG: Jakarta. Budi.Year Book Inc. Jakarta : Media Aesculapius. Bulechek. Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. . Potter dan Perry. 1999. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). Louis : Mosby . 2000. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). Joanne C. Mansjoer. Jakarta : EGC. Louis : Mosby Inc.medicastore. 1999.

blogspot.Diposkan oleh mbah jito OK la..html .com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.yaw di 19.45 http://dkp2011.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful