diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

dorsal dan ventral usus saling mendekat. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. disebut lamina visceralis (tunika serosa). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3.9) Memahami komplikasi pada peritonitis. Kedua rongga mesoderm. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. . Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. kurvaturan minor. yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus. Pada permulaan. 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. dan strangulasi kolon asendens. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) . Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. perforasi kolon akibat diverdikulitis. 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. 2. defans muscular. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. penyakit ringan dan terbatas.3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. volvulus dan kanker. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). dan tanda-tanda umum inflamasi. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. perforasi ulkus peptikum dan duodenum.

Sesudah operasi. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Secara langsung dari luar. dan transfuse yang pasif. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Infeksi bakteri 1. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. pancreas perforasi kolon. 1. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Tukak pada tumor 7. lycopodium. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. sulfonamida. syok perioperatif. Tukan disentri amuba/colitis 6. Terkontaminasi talcum venetum. 1. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Salpingitis 8. 3. Operasi yang tidak steril 2. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. kontaminasi peritoneal. 2. stapilokokus aurens. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. ruptur hati 4. Tukak thypoid 5. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli.3 Etiologi 1. streptokokus alpha dan beta hemolitik. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. . divetikulitis. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4.

2. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. otitis media. spesies Pseudomonas. Peritonitis bakterial primer . Coli 40%. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. Klebsiella pneumoniae 7%. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. dan golongan Staphylococcus 3%.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. barium. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. glomerulonepritis. jenis Streptococcus lain 15%. mastoiditis. bukan berasal dari kelainan organ. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Semakin rendah kadar protein cairan asites. misalnya cairan empedu. 2.

dan sirosis hepatis dengan asites. 1. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. gagal ginjal kronik. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. Sreptococus atau Pneumococus. Luka/trauma penetrasi. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. khususnya spesies Bacteroides. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. 2. imunosupresi dan splenektomi. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. biasanya E. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. keganasan intraabdomen. Bakteri anaerob. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. 4. misalnya: . 3. Coli. misalnya appendisitis. Penyebabnya bersifat monomikrobial.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Peritonitis tersier Peritonitis tersier. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. Perforasi organ-organ dalam perut. lupus eritematosus sistemik. Kuman dapat berasal dari: 1.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. preperitonial fat. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm.Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. Sebelum terjadi peritonitis. dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. yaitu : 1. 3. lateral). Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. 3. ada tidaknya penjalaran. Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. 2. posterior. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 2. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. 3. didapatkan: 1. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. 2) Posisi LLD. untuk melihat distribusi usus. Tiduran terlentang (supine). Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. . penebalan dinding usus. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. Usus halus dan usus besar dilatasi.

l: 1. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum. dan oklusi vena atau arteri mesenterika. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. 3. Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a. tumor. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. tanda perdarahan (syok. 2.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. 2. Pertimbangan dilakukan pembedahan a. nyeri tekan terutama jika meluas. massa yang nyeri. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). memburuknya pasien saat ditangani). 2.l : 1. 4. distensi perut. extravasasi bahan kontras. 2. Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. leukositosis). Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. anemia progresif).3) Posisi setengah duduk atau berdiri. distensi usus. tanda sepsis (panas tinggi. Pemeriksaan laboratorium. 3. . Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. dan tanda iskemia (intoksikasi. Mengeliminasi sumber infeksi.

bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. pemberian antibiotika yang sesuai.l: 1. . Pemberian cairan I. Keluaran urine tekanan vena sentral. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal.l : 1. 5. peristaltic usus pulih. Terapi post operasi a. Kontrol sumber infeksi. dsb) atau penyebab radang lainnya. 2. Pemberian terapi cairan melalui I. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. dapat berupa air. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi. dan jaringan yang nekrosis. suctioning. 4. dan tidak ada distensi abdomen. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. 2. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. pus dan fibrin. dan mekanisme pertahanan. nutrisi. Oral-feeding. lavase.kain kassa. cairan elektrolit. Terapi bedah pada peritonitis a. 3. diberikan bila sudah flatus. dan nutrisi. pembuangan fokus septik (apendiks.4. produk ngt minimal. Pemberian antibiotic 3. darah. Irigasi kontinyu pasca operasi. Pemberian antibiotic.V. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus.V. irigasi intra operatif.

atau mereseksi viskus yang perforasi. . ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Bila peritonitisnya terlokalisasi. d. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Jika peritonitis terlokalisasi. Pada umumnya. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. mengeksklusi. Diberikan antibiotik yang tepat. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. b.a. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). c. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. terutama bila terdapat apendisitis. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar.

Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Bagaimanapun. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. intervensi dan evaluasi diuraikan. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. diagnosa keperawatan. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. 2. Kapan berkaitan dan memungkinkan. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Pada beberapa contoh. . perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Pada fase pascaoperatif langsung. proses keperawatan pengkajian. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. 3. memberikan medikasi intravena.

2. Jenis kelamin 4. Pendidikan 6. 2. Identitas 1. Adhesi.2. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. 5. Nama pasien 2. 3. 1. Obstruksi intestinal rekuren. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. Portal Pyemia (misal abses hepar). Abses residual intraperitoneal. Septikemia dan syok septic. Umur 3. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. Komplikasi lanjut. 4. 2.1 Pengkajian A. yaitu: 1. Pekerjaan . Suku /Bangsa 5.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Komplikasi dini. 1. Syok hipovolemik.

Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. seperti: Tubercolosis. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. akral : dingin. dispnea. komplikasi post operasi. 1. lupus eritematosus. trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. 1. . Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. basah. 1. peritoneal diawali terkontaminasi material. dan sirosis hepatis dengan asites. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit). dan pucat. sindrom nefrotik. Maka kemungkinan diturunkan ada. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. 1. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. Pemeriksaan Fisik 1. Alamat 8. 1. gagal ginjal kronik. hipovolemik atau septik).7.

Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. nyeri perut dengan aktivitas. 1. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. 1. dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. 1. G. 1. kekuatan otot mengalami kelelahan. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. Kemampuan pergerakan sendi terbatas. Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Pengkajian Spiritual 2. Selain itu terjadi distensi abdomen. H. sulit berjalan. bising usus menurun.1. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit).

indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. Tiduran telentang (supine). Foto polos 2. USG 3. CT Scan (eg. Test fungsi hati jika diindikasikan 4. Cairan peritoneal. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. dengan sinar horizontal.000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Scintigraphy 5. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. Complete Blood Count (CBC). sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). PT. gallium Ga 67 scan. 3.1. proyeksi AP. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. yaitu: 1. PTT dan INR 3. 4. 2. renal stone disease) 6. Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. . dengan sinar horizontal proyeksi AP. technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan).

2. Distensi usus general. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). Pada kasus peritonitis karena perdarahan. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). penebalan dnding usus. Posisi LLD. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Herring bone appearance. dan herring bone appearance. preperitonial fat. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Posisi tidur. tanda utama radiologi adalah: . gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Sebelum terjadi peritonitis. 2.Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. untuk melihat distribusi usus. 3. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. Air fluid level. air fluid level. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Posisi setengah duduk atau berdiri. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. ada tidaknya penjalaran. 3.

d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. Usus halus dan usus besar dilatasi. didapatkan : 1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Ketidakefektifan pola nafas b. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 3. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 3. 3) X. Posisi duduk atau berdiri. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. 6. 2. didapatkan preperitonial fat menghilang. lateral). demam dan kerusakan jaringan.2 Diagnosa 1. didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). 3. 2. 3. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen.3 Intervensi . psoas line menghilang. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. posterior. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. dan kekaburan pada cavum abdomen. 4. 5. Posisi tiduran.1. 3. preperitonial fat dan psoas line menghilang. Posisi LLD. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.

Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. demam dan kerusakan jaringan. 3. dan menyebar ke atas. Selidiki laporan nyeri. 2. Berikan tindakan 4. catat lokasi. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2.1. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. Nyeri cenderung menjadi konstan. lama. konstan) 1. lebih hebat. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. Menurunkan mual/muntah Rasional . 1. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. tajam. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. 3. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi.

yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil. Antipiretik. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. contoh hidroksin (Vistaril) 3. contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala.kenyamanan. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. \is 1. Berikan perawatan mulut dengan sering. contoh pijatan punggung. Menurunkan mual/munta. latihan relaksasi atau visualisasi. Analgesik. . Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. Antiemetik. narkotik 2. napas dalam.

Kaji tanda vital dengan sering. pingsan). 2. Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. bebas drainase purulen atau eritema. takipnea. Tanda adanya syok septik.1. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. demam. takikardia. dialisa peritoneal. tidak demam. Catat perubahan status mental (contoh bingung. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. apendisitis akut. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. kehilangan cairan dari sirkulasi. 3. penurunan tekanan nadi. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . 2. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi. hipotensi. Kriteria hasil: 1. 1. 2. meningkatkan kenyamanan pasien. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Hipoksemia. dan asidosis dapat menyebabkan 1. dan rendahnya status curah jantung. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko.

4. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. 5. 1. 2. Hangat. Mencegah penyebaran. luka insisi/terbuka. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. dan sisi invasif. kelembaban. toksin 1. 3. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Awasi haluaran urine. 2. Memberikan informasi tentang status infeksi. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Observasi drainase pada luka. suhu. 1. Catat warna kulit. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. kemerahan. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Menurunkan resiko terpajan .1. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. 1. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. 1. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter. penyimpangan status mental.

bila diindikasikan.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. Berikan antibiotik. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. Kolaborasi: 1. contoh untuk drainase abses . Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. 2. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah. pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk. 2. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif. Dilakukan untuk membuang 1. contoh gentacimin (Garamycyin).dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. 3. Klindamisin (Cleocin). 1. urine. kultur luka. Bantu dalam aspirasi peritoneal. amikasin (amikin). 4.

membuang eksudat peritoneal. mengatasi perforasi ulkus. atau reseksi usus. membuang rupturapendiks/kandung 1. .lokal. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu.

Berat badan normal . Nafsu makan klien timbul kembali 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Status nutrisi terpenuhi 2. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi.1. Kriteria Hasil: 1.

3. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. Meskipun bising usus sering tak ada. 1. penurunan absorpsi air dan diare. dan catat adanya muntah atau diare. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. 4. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. Timbang berat badan tiap hari. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. 5. 2. Awasi haluan selang NG. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. lanjut diduga ada defisit nutrisi. memerlukan evaluasi lanjut. Rasional . catat bunyi tak ada atau hiperaktif.4. 1. Auskultasi bising usus. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. 6.

Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. 2. 1. penampilan bising usus normal. Kriteria hasil: . dam kelancaran flatus. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan.2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. 1. 1. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. 3. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. Monitor Hb dan albumin 1. Kolaborasi: 1.

Pantau tanda vital. Rasional . 1. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. 2. Tanda vital stabil 3.1. takipnea. 2. dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. takikardia. Membran mukosa lembab 4. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). turgor. Turgor kulit baik 5. catat edema ginjal. Pengisian kapiler meningkat 6. Berat badan dalam rentang normal. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. 2. 2. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. Ukur berat jenis urine (homeostatis). Hipovolemia. Ukur CVP bila ada. 3. 3. demam. perpindahan cairan. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian.

Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. 1. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare. elektrolit. Koloid (plasma. 2. 1. cairan. Awasi pemerikasaan laboratorium. menambah edema jarinagan. protein. BUN. elektrolit. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. 4. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. Berikan plasma/darah. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. contoh Hb/Ht. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. kreatinin. 3. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. 2. 1. 2. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1. Batasi pemasukan es batu.perifer/sacral. . Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. albumin.

hiperventilasi. hipotensi. Ketidakefektifan pola nafas b. tekanan O2 dan saturasi O2 normal. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. ditandai bunyi nafas normal. 1. 2. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional . Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. Tujuan: Pola nafas efektif. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. 1. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. Kriteria Hasil: 1. Indikator hipoksemia. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). depresi SSP. takikardi. depresi SSP. Pernapasan tidak sulit 3. takikardi. gelisah.1. gelisah. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. dan sianosis. Pertahankan pasien pada 2. 3.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. hiperventilasi.

Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal. Berikan O2 sesuai program 1. 1.posisi semifowler. 4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 1. paru dan menurunkan upaya pernafasan. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional . Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. Penampilan wajah tampak rileks 3. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan.

penyelesaiannya. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama. Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur.kemajuan penyembuhan. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. 3. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. diagnosa dan pengobatan 4. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi . Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1. menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. 2. 2.

3. Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup.efektif menerima situasi 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan kenyamanan fisik klien 2. 1. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS . 4. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan.

suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum.ac.web.unair.http://nuzulul-fkp09. ETIOLOGI .

Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. otitis media. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. mastoiditis. ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. 1. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Secara langsung dari luar. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. glomerulonepritis. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. sulfonamida.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. streptokokus µ dan b hemolitik.  Demam .1.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. 1. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. stapilokokus aurens. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. lycopodium.

sel-sel darah putih. Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior.    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. peritoneal diawali terkontaminasi material. sel-sel yang rusak dan darah. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. TEST DIAGNOSTIK 1. Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1. didapatkan : . PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. difus. posterior. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia. lateral).  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. X. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. trauma atau perforasi tumor. atrofi umum. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat.

Paramedian. panjang (12. yaitu . Peritonitis 3. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.(Internal Blooding) 4. 5. yaitu . Sumbatan pada usus halus dan usus besar. yaitu. Masa pada abdomen . insisi di bagian atas. Ada 4 cara. misalnya. pada operasi appendictomy. Perdarahan saluran pencernaan.  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya. Usus halus dan usus besar dilatasi. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. Transverse upper abdomen incision. yaitu. LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam.   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %. Transverse lower abdomen incision.5 cm). Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Midline incision 2. 2. 4. insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka.5 cm). 3. 1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar. Indikasi 1.

Mempersiapkan pasien pulang. 3. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. menggerakkan otot-otot bokong. hati. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. 1. 4. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi. 1. Tujuan perawatan post laparatomi. 2. Mempercepat penyembuhan. 3. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. latihan batuk. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Mempertahankan konsep diri pasien. Ventilasi paru tidak adekuat 2. aritmia jantung. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. . 4.Komplikasi 1. dan otak. 5. Komplikasi post laparatomi. menggerakan otot-otot kaki.

 Fase ketiga . Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. kesalahan menutup waktu pembedahan. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. gram positif.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi. Pengisian oleh kolagen. 1. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif. 1. ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. organisme. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh.

1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. . Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. Pencegahan infeksi.Sekitar 2 sampai 10 minggu.  Fase keempat Fase terakhir. 3. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. 1. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. latihan mobilisasi dini. adalah. dan suhu. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. jenis pernapasan. bunyi pernapasan. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. Sirkulasi  Tensi. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. warna kulit. Mempertahankan konsep diri. Kolagen terus-menerus ditimbun. dan refill kapiler. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. nadi. respirasi. Pengembalian Fungsi fisik. 2. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan.

dan fasilitas ventilasi. Persarafan : Tingkat kesadaran. 4. Cairan infus atau transfusi. 1. Tindakan keperawatan post operasi: 1. 2. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. muntah. Balutan    Apakah ada tube. Perawatan luka operasi secara steril. jangan sampai drain tercabut. Diagnosa Keperawatan 1. 1.1. mual. jumlah) drainage. intake dan output 2. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. CVP. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. Peralatan   Monitor yang terpasang. Psikologis : Kecemasan. Rasa nyaman  Rasa sakit. 3. Gangguan rasa nyaman. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. 2. suasana hati setelah operasi. tanda-tanda vital. posisi pasien. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. 3. Evaluasi . Monitor kesadaran.

Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. Soeparman. 4. 1987. Philadelphia.wordpress. dkk. 2. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Luka operasi baik. 1984.com/askep-peritonitis/ .1. 3. Sutisna Himawan (editor). Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. Lippincott Company. Kumpulan Kuliah Patologi. Edisi II. FKUI Brunner / Sudart. http://aqibpoenya. DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Jakarta. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

Selasa. 31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .

0973 . : 2010.Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A.

TINJAUAN TEORI A. a. (Tucker : 1998.32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. 1. TANDA DAN GEJALA Menurut Price. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison. 1995: 402). PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang. 2000: 1613) C. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . kaku. b. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. B. asam lambung. pankreatitis. (Harison.

ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. - Menurut C. E. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. 2. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi.2. Dengan perkembangan peritonitis umum. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. . Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih. 3. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D.

Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. nyeri dan tanpa bunyi. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. edema. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . (Price. muntah dan abdomen yang tegang. b. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia. 1996 : 228) F. Long. membentuk suatu abses. dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Ketika penyembuhan terjadi. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). 2. c. demam dan leukositosis sering terjadi. ketidakseimbangan elektrolit.usus kemudian menjadi atoni dan meregang. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. Misalnya pemasangan kateter 1. (C. mengakibatkan dehidrasi syok. dehidrasi dan akhirnya syok. kaku. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. a. perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. gangguan sirkulasi dan oliguria. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum.

1993 : 175) G. 1.3. PENATALAKSANAAN 1. a. Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. c. KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. 2. 3. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik. 5. 4. 6. b. antibiotik dan vitamin .

(Price. - Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. 1995 : 402) . Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena. pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2.

Pernafasan torakal Cepat dangkal 11. 6. 1. 8. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . 4. 9. 2.I. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. 7. 5. FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 3. Emesis fekal J.

HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : .Kaji status pernafasan. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit.Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam .Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3.- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam. antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam. ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. beritahu dokter ntervensi : - 2. observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit. pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 . DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang . gas darah.

Pantau selang nasogastrik .Ukur lingkar abdomen. DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : .Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering . lokasi.Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : .Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri.Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam .kaji tipe.Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan.Pantau terhadap keluarnya flatus .Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat . berat nyeri . 5.Berikan periode istirahat yang nyaman terencana .Berikan hygiene oral dan nasol sering . DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan . 4. sekap 4 jam .

Ilmu Penyakit Dalam (IPD).html .KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : .com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31.Gelaskan semua tindakan dan prosedur . Standar Perawatan Pasien.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C. Long.24 http://mediadani. Patofisiologi : Jakarta Soeparman.Kaji ketrampilan koping . FKUI : Jakarta Tucker. 1996.blogspot.Kaji tingkat ansietas . 1998. EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22. Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price.Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan . 1993. 1995.

Senin. 30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

1999: 514) . (Ahmad H. Asdie. (Marilyinn Doengos. dkk.(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. 1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada.

1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. (Soeparman S. 1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis. (Soeparman S. berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik. lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi. lebih baik prognosenya. dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. larutan ringer.7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan.

(5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen. lidah bengkak. lemas. dan sebagainya. kejang. bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut. pangkreatitis. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas . cegukan : Terdapat nyeri tekan. salpingitis. devertikulitis. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. takipnea : Membran mukosa kering. bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin.

umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi . imobilitas.dkk. 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi. exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi. gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma. kadang laebih dari 20.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah. (Marilynnn Doengoes.

II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : .Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx. karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi .(1) Dx.Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi . hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan . I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : .Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri . Kep. perhatikan takikardi. Kep.Kaji tanda-tanda vital.Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : .Pantau lokasi.Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .

Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : . konsistensi.Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi .Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : .Observasi defekasi pertama pasca operasi. Kep.Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan . jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx.. kaji warna.Mempertahankan berat badan yang normal .Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi . III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : .

Monitor intake dan output. Kep. membran mukosa.Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi . IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : . sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari .Menunjukkan tanda vital stabil .Kolaborasi dengan dokter.. ahli.Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : . turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan .Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi . gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx.Masukan dan haluaran seimbang .

pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah .Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx.Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman .. Kep. V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : .Demonstrasikan penggantian balutan.Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet .Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan. perawatan luka.Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : . teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar .Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat .

EGC.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Jakarta Dongoes Marilynn E. . Jakarta. (2002)Keperawatan Medical Bedah. Soeparman. (1979). Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 8 Vol 2.EGC. Ilmu Penyakit Dalam. EGC. (1993). Edisi 4.

3. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan.2.3. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi. M dengan Peritonitis Generalisata 2. No.M.. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. pekerjaan :. nyeri seperti tertusuk. klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.09 2004. 7) Psiko Riwayat Psiko. umur : 18 tahun. suku/bangsa : Jawa/Indonesia.2 Tinjauan Kasus pada Nn. Diagnosis masuk : peritonitis generalisata.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh.1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09. agama : Islam. alamat : Pasapen Suraabya. N. umur : 40 tahun. MRS tanggal 29 . Suraabya. skala nyeri 3. Soetomo Surabaya. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat. hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. penghasilan : -. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. pekerjaan : Ibu Rumah tangga. jenis kelamin : Perempuan. agama : Islam. pendidikan : SMU. jenis kelamin : Perempuan. pendidikan : SMP (tamat). alamat : Pasapen.2. . CM : 10407631.

porsi 1 piring sedang.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. (3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek. komposisi bubur kasar+lauk.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya.00 s/d 04. klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. : Klien mengatakan makan 3x/hari. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari.30 WIB. 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. Klien tidur siang kadang-kadang. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah. komposisi nasi+lauk+sayur. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit . : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas. warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. 21. klien koopeatif dengan petugas. klien hanya berdo’aagar segera sembuh. : Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya.23.

S : 38oC. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm. tidak ada nyeri tekan. sklera putih.(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab. suara jantung S1S2 lupdup. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. N : 100x/mnt. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. 9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis. . tidak ada polip. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. Hidung : Bersih. gigi tidak caries. tidak ada sekret. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler.

37 .Abdomen : Inspeksi : Perut distended.000 /ul 38 – 42 % 80 .51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10. : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari. tangan kanan dapat bergerak bebas.2004) Hemoglobin 10. keluar pus bercampur darah.7 g/dl P = 11. akral hangat. terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm. hepar dan lien tidak teraba.31 33 .5 L = 13.8 78. akral hangat. tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 . Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut. : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas.4 – 17.99 27 .9 33.5 25.4 – 15.300 – 11.500 / ul 31.0 4.

000 /UL 4. Bambang Irianto.08 . 2001.S NIM.000 4.05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya.05 75 150.000 – 250.33 – 5. April1 2005 Yang Mengkaji.Trobosit Eritrosit LED 380.

N : 100 x/mnt.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. RR : 20 x/mnt DS 2.3.2.TD : 120/80 mmHg.TD : 120/80 mmHg. . S : 38oC.2. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas . Reg. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1. N : 100 x/mnt.

Perut distended . S : 38oC.Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl. N : 100 x/mnt. M : 18 tahun No.2.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . Teratasi 4 No.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn.TD : 120/80 mmHg.3. . Ditemukan 3 Tgl. Reg.2. Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi . RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : .TD : 120/80 mmHg. N : 100 x/mnt 2 .

2.3. 5 Berikan penjelasan pada 1.4 INTERVENSI Nama M Reg. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2. No. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3. dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh .100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat. melakukan 4. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn. Tujuan Intervensi 4 1. 4. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5. N : 80 .2. dalam pemberian 6. keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5. mmHg.

Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. observasi TTV tiap 4 jam. support 4. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas .No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1. tentang proses 4. system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. Setelah dilakukan askep selama 6. klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya. 2.3.Inj. Berikan penjelasan pada 2.

3. Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi.30 No.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2. Mengkaji tingkat nyeri. .Skala nyeri 3 .35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09. Reg.2.5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi. 5 09.

RR : 20 x/mnt 10.TD : 120/80 mmHg. . Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09.t : 38 oC. N : 100 x/mnt .00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya.00 09.40 proses b/d 05-09-04 08. Observasi TTV . 09.40 .Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas .00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit.

TD : 120/80 mmHg. RR : 20 x/mnt 10. .50 . Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV. 09. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien. N : 100 x/mnt.45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega.jika ada apa-apa.00 . 09.t : 38 oC.

Berikan antibiotik. .6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn.2. O : . .30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi.t : 38 oC.2. Nyeri skala 3 .Luka keluar pus bercampur darah. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No.3.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi.TD : 120/80 mmHg. Reg.Observasi TTV . Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : .Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12. RR : 20 x/mnt . Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. . N : 100 x/mnt.

TD : 120/80 mmHg.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka. 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit.Observasi TTV klien mengungkapkan . 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit . proses t : 38 oC. O : . . R:- S : .30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. . Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien.Klien mengatakan sedikit lega. RR : 20 x/mnt 12.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh. N : 100 x/mnt.

RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12. N : 100 x/mnt.Observasi TTV .30 . Lakukan rawat luka. .TD : 120/80 mmHg. R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang. .Berikan obat sesuai indikasi. keluar pus bercampur darah.Luka basah. O : .t : 38 oC.Anjurkan melakukan relaksasi. .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian. .

TD : 120/80 mmHg.t : 38 oC.Observasi TTV . N : 100 x/mnt.Luka basah.Klien kooperatif. RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang. : Rencana dihentikan.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat.t : 38 oC.30 O : . keluar pus. RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : . . . O : . . N : 100 x/mnt. .TD : 120/80 mmHg. .Anjurkan melakukan relaksasi. 12.

30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang.Berikan injeksi sesuai indikasi. Diposkan oleh Udien Martapura di 05.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala.com/2012/04/askep-peritonitis. . diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi.html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1. atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis.1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. dan tanda-tanda umum inflamasi. penyakit ringan dan terbatas.blogspot. 5 .57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com. defans muscular. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12.No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka.

2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. volvulus dan kanker. . 2. 1. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. dan strangulasi kolon ascendens. 3. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5.Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). perforasi kolon akibat diverdikulitis.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis. 4. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. akan dibahas dalam bab selanjutnya. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Apakah pengertian peritonitis. Untuk mengetahui lebih jelasnya. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis.

Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. dan pengkajian keperawatan peritonitis. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. 4. 3. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan). dan komplikasi peritonitis. Untuk mengetahui manifestasi klinik.2. Bagi teman sejawat. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis. 3. 4. 1. 5.1 Konsep Medis 2.1 Defenisi . Bagi Kami. 2. BAB II PERITONITIS 2.1. Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis.

Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik. seperti: perforasi apendisitis. dan strangulasi kolon ascendens.1.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. pankreatitis akut yang berat/ iskemia. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. volvulus dan kanker. meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. perforasi kolon akibat diverdikulitis. misalnya : perforasi lambung. defans muscular. meningkatkan kebutuhan oksigen.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral).2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. 2. Tanda-Tanda Peritonitis. 2.1. dan tanda-tanda umum inflamasi. perpindahan cairan. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi . yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder.1. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. duodenum. 2. Perubahan sirkulasi.

Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. 2. tanda-tanda peritonitis. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam.1. maka tindakan laparotomi diperlukan.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. koloid dan elektrolit adalah focus utama.Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. syok.1. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka. Bila luka menembus peritoneum. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Bila tidak ada. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. . Prolaps visera. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. buli-buli dan rectum. terdapat darah dalam lambung. hilangnya bising usus. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. Pembentukan abses.

Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih.2. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. . nyeri perut dengan penurunan aktivitas. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal. Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. kehilangan kekuatan. Takipnea 2. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. perubahan dalam fungsi mental. kurang tidur.2 Konsep Keperawatan 2.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan.2.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih.2. mual/ muntah.

kehilangan cairan dan sirkulasi. 2. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. suhu. lembab dan sianosis sebagai tanda syok. . penurunan tekanan nadi. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering. takikardia. Rasional : Hangat. Tujuan : Infeksi teratasi. Rasional : Hipoksemia. diindikasikan. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. demam dan takipnea. kemerahan. bingung).3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus.Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. kulit pucat. dan rendahnya status curah jantung. Kriteria Hasil : ko. kelembaban. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Rasional : Tanda adanya syok septic. kulit kering adalah tanda dini septicemia. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. Catat warna kulit. Catat perubahan status mental (pusing. hipotensi. demam dan kerusakan jaringan.2.

takikardia. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. takipnea. klindamisin (cleocin). . kultur luka.. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Berikan antimikrobial. demam. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital. lavase pretoneal/ IV. urine. amikasim (amikn). Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural). Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. contoh: gentamicin (garamycin).Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

html . Tambahkan diet sesuai toleransi.Awasi BUN.com/2012/01/ashar-askep. Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi.blogspot. protein. glukosa.36 http://ashar-ibenk. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22.. keseimbangan nitrogen sesuai indikasi. albumin. contoh : cairan jernih sampai lembut.

Jumat. PENGERTIAN PERITONITIS . dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. kurvaturan minor.B. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. Fungsi peritoneum :1. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2.

kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. syok perioperatif. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. dan tanda-tanda umum inflamasi. Sesudah operasi. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. penyakit ringan dan terbatas. volvulus dan kanker. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. Semakin rendah kadar protein cairan asites. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. dan strangulasi kolon asendens. kontaminasi peritoneal. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. divetikulitis. perforasi kolon akibat diverdikulitis. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. dan transfuse yang pasif. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). C. pancreas perforasi kolon. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). defans muscular. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering . Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis.

pascatransplantasi. infeksi. atau HIV). pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. jenis Streptococcus lain 15%. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. D.menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. tatikardi. Coli 40%. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. misalnya cairan empedu. spesies Pseudomonas. syok sepsis. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. ensefalopati toksik. bukan berasal dari kelainan organ. Klebsiella pneumoniae 7%. barium. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. Terjadinya proliferasi . Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. atau penggunaan analgesic). trauma atau perforasi tumor. iskemia. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. dan golongan Staphylococcus 3%. E. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. penggunaan steroid. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease.

pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. terdaat darah dalam lambung. syok. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. debris seluler dan darah. koloid dan elektroli adalah focus utama. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. buli-buli dan rectum. PENATALAKSANAANPenggantian cairan. hilangnya bising usus. F. menjalani wawancaran . tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Prolaps visera. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. tanda-tanda peritonitis. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. sel darah putih. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Bila tidak ada.bacterial. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah.

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6.praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV).5. Kapan berkaitan dan memungkinkan. Bagaimanapun. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Pada fase pascaoperatif langsung. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. diagnosa keperawatan. Pada beberapa contoh. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi.3. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. proses keperawatan pengkajian. BAB II TINJAUAN KASUS .2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. memberikan medikasi intravena. I. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. intervensi dan evaluasi diuraikan.

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

2002. ECG.Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang. JakartaSilvia A. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi.Mencegah kelemahan.html .SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.blogspot.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. Price. tergantung lama perawatan.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot. penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis.Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa.Menurunkan resiko kontaminasi.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21. pedih dan sulit diobati. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. www.Keperawatan Medikal Bedah 5. JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.com/2009/01/askep-peritonitis.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis. meningkatkan perasaan sehat. ECG . dkk. Majalah-farmacia. 2000.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart.

Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. tekanan. dan appendix (intraperitoneum). dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. pankreas. kolon ascenden & descenden. jejenum. atau proses radang. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. yang menutupi usus dan mesenterium. ginjal dan ureter (retroperitoneum). Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster. vesica fellea. kolon sigmoid. maka akan timbul nyeri. kolon transversum. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. ileum. lien. . duodenum. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. 25 Maret 2011 A. hepar. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. Terbagi menjadi bagian viseral. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi.Askep Peritonitis Jumat. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. sekum.

Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. 3. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. yaitu: 1. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang.B. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). yaitu dari luar ke dalam. lemak preperitonial dan peritonium. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. Lembaran yang menutupi dinding usus. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. kemudian ketiga otot dinding perut m. bersatu pada tepi kaudalnya. ventriculus dan usus mengalami pemutaran. m. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. dan di bagian bawah pada tulang panggul. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. 2. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. disebut lamina visceralis (tunika serosa). obliquus abdominis internus dan m. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. dorsal dan ventral usus saling mendekat. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. obliquus abdominis eksterna. yaitu fascia transversalis. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Kedua rongga mesoderm. Pada permulaan. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . transversum abdominis. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.

Setelah ductus omphaloentericus menghilang. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. terjadi perlekatan. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. tidak semua tempat terjadi perlekatan. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. Rongga tersebut disebut cavum peritonei. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. Di berbagai tempat. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi. cecum terletak intraperitoneal. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. disebut terletak intraperitoneal. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale. Tetapi. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum. Akibat perlekatan ini. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna..

Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. 13 C. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. perforasi tukak lambung. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. maka dapat menimbulkan kematian . Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Keadaan demikian disebut situs inversus. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. D. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. perforasi tifus abdominalis. Kadang-kadang . Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen.

E. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Coli. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Penyebabnya bersifat monomikrobial. dapat timbul peritonitis umum. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia.sel. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. biasanya E. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. dapat memulai respon hiperinflamatorius. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. Pelepasan berbagai mediator. gangguan sirkulasi dan oliguria. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. syok. Dengan perkembangan peritonitis umum. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Streptococus atau Pneumococus. produk buangan juga ikut menumpuk. masukan yang tidak ada. . seperti misalnya interleukin. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. imunosupresi dan splenektomi. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Peritonitis bakterial primer. mengakibatkan dehidrasi. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. serta muntah. keganasan intraabdomen. usus kemudian menjadi atoni dan meregang.

sepertii misalnya empedu. d. F. getah pankreas. Menyeka sarung tangan sebelum insisi. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. 3. dan sering menimbulkan adhesi padat. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. gagal ginjal kronik. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. getah lambung. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Bakterii anaerob. khususnya spesies Bacteroides. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. 2. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. 4. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. akan mengurangi masalah ini. . dan urine. lupus eritematosus sistemik.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. dan sirosis hepatis dengan asites. intestinal atau tractus urinarius.

Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. demam. distensi abdominal. dan neurogenik). dan distensi abdominal. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. nyeri tekan lepas. G. batuk. pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. kelemahan. nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya. syok (hipovolemik. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. difus atau umum. Pada keadaan lain (misal apendisitis). Nyeri ini tiba-tiba. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. Pemeriksaan laboratorium . vomitus. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. atau umum. atau tes lainnya. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. Peritonitis dapat lokal. Selain nyeri. hebat. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. atau mengejan. bernafas. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. 1. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. demam. septik. menyebar. penurunan berat badan.Bila telah terjadi peritonitis bakterial. tes psoas. berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. 5 2. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang.

H. preperitonial fat dan psoas line menghilang. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. usus halus dan usus besar berdilatasi. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. . 3. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. pembuangan fokus septik (apendiks. proyeksi AP. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). 5 3. yaitu : (rasad) 1. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. dengan sinar horizontal proyeksi AP. dan mekanisme pertahanan. 2. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. dsb) atau penyebab radang lainnya. Tiduran telentang ( supine ). pemberian antibiotika yang sesuai. nutrisi. dengan sinar horizontal.

Pada umumnya.Keluaran urine tekanan vena sentral. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Komplikasi dini . KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Jika peritonitis terlokalisasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. I. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. mengeksklusi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. yaitu : (chushieri) 1. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. atau mereseksi viskus yang perforasi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi.

7. Wilson. alih bahasa dr. S. 3. 1995.. Schrock. EGC. 7th Ed. S.. L. Jakarta. 1999. 4. Schwartz. 1997. alih bahasa dr.. 221239.6. Ed:3.B. 2000. Gawat Abdomen. Shires. Petrus Lukmanto. . Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment.4. USA. dalam Buku ajar Ilmu Bedah.. Sjamsuhidayat. 1998.I. Ed. Gaya Baru... dalam Radiologi Diagnostik. W.o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. M. Spencer.R. 2000. Jilid: 2. Maruzen. Jakarta. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. L . Ed. 6. S. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Bedah Digestif. Suprohaita.C. EGC. EGC. Way. dalam Kapita Selekta Kedokteran.. Ekayuda I. Laniyati. Rasad S. Jakarta. Media Aesculapius FKUI. Peter Anugrah. 7. p 256-257. 2. EGC. Arief M. F. T. Wim de jong. Lester. L. p 302-321. Jakarta.. 2000. R. 5. T. jakarta. Kartoleksono S. Jakarta. Wieiek S. alih bahasa dr. J. Ed. Abdomen Akut. Wahyu.K. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah.

Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Anonim.html Senin. Sobotta. Dahlan. Dinding Perut. Putz.R.R. R. pada membrane serosa. Abdomen. 2002. 2nd Ed. D.. 12. Hoyt... M. EGC. Jakarta. John Wright. Mackersie. C. 1997.. 1995. Wim de jong.. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice. EGC. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum.NS di 10.R. Jakarta 9. Jusi.blogspot. Jakarta 10. Pabst. Sjamsuhidajat. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. pada bagian rongga . 2000. B.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep.. Yogyakarta 13.com/2011/03/askep-peritonitis. FKUI. Bristol. 1997. Darmawan. Bagian Anatomi FK UGM. EGC. Sjamsuhidayat. Edisi Revisi.. M. 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A. 1988. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. 11. R. Atlas Anatomi Manusia.8.. 696. D.

Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. proteus dan gram negatif lainnya (20%). Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. klebsiella pnemunae. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%). Sementara gram positif. escheria choli (7%). mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). . sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. yakni streptococcus (3%). Secara umum. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. sepsis psedomonas. kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden.perut. perforasi kolon akibat devertikulisis. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. B. Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya.

yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. C. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin. dengan atau tanpa fistula. 4. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia.3. gangguan sirkulasi dan oliguri. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. 5. Selain tiga bentuk diatas. misalnya cairan empedu. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. Iritasi tanpa infeksi. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. Kelainan hati atau gagal jantung. mengakibatkan dehidrasi. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik. dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. syok. sering bukan berasal dari kelainan organ.bahan kimia. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan. Masuknya bakteri dalam . Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. 6. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. dapat timbul peritonium umum. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis.

Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. syok dan gagal ginjal. D. Coli). 2.jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. E. Abses peritoneal 3. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Pemeriksaan Penunjang 1. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Komplikasi 1. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. . misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. 4. takikardi. Sepsis F. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.

b. Mengontrol proses inflamasi . bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. posterior. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. menunjukkan hemokonsentrasi. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya. Pembersihan bakteri dan racun 3. emilase. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. antara lain : 1. d. empedu dan kretinum.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. Memperbaiki fungsi organ 4. X – ray a. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Pembedahan G. Amilase serum : biasanya meningkat 4. 2. pemberian antibiotik yang sesuai. 6. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. Kontrol infeksi yang terjadi 2.000 SDM mungkin meningkat. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. pus / eksudat. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal.

Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen. . Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. Riwayat kesehatan a. demam tinggi. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A. b. takikardi. Pengkajian 1. hipotermia.

Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal . Makanan Gejala . Pengkajian pola fungsional a. menyebar ke bahu. lidah bengkak. Sirkulasi Gejala : takikardi. anoreksia. ulkus peptikum dan duodenum d. umum. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. turgor kulit buruk. kekakuan abdomen. d. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. bunyi keras hilang timbul. nyeri tekan. Penurunan haluaran urine. Riwayat kesehatan keluarga 3. terus – menerus oleh gerakan. lokal. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. bising usus kasar (obstruksi). infeksi pasca melahirkan. diare (kadang – kadang). mual / muntah. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. pucat. f. Tanda : cegukan. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). abdomen diam. distensi. . berkeringat. e.c. takipnea g.

contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. mengurangi nyeri d. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. b. diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Diagnosa keperawatan 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. intraseluler ke area peritonium. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : . Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. 5. penyakit saluran GI.h. perforasi kandung kemih / ruptur. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam.

d. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen. diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Pantau suhu lingkungan. Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. 4. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus.a. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. diharapkan volume cairan adekuat. Intervensi : . c. b. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. intraseluler ke area peritonium. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38. d. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. Kolaborasi berikan pelunak feses.90C menunjukkan penyakit infeksius akut. b. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam.

c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam .diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : . c. elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. d. Intervensi : a. 5. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d. b. diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan.a. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b.

Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@.a.21 http://fatmazdnrs. penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c.Story di 07. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen.html . kekakuan nyeri tekan.blogspot. Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b.com/2010/08/askep-peritonitis. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d.

. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera.

Secara langsung dari luar. lycopodium. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.Peritonitis adalah peradangan peritoneum. ruptur hati . • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. sulfonamida. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Etiologi 1. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. A. 2. selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini.

Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. coli 40%. 5. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. 3. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. 4. 8. B. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. otitis media. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. 4. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. klebsiella pneumoniae 7%. 1. glomerulonepritis. 2. 6. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. mastoiditis. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. 3. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. 7. difus. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. atrofi umum. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. spesies pseudomonas.

Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. seperti misalnya interleukin.thorakalis VI – XII dan n. Pelepasan berbagai mediator. yaitu dari luar ke dalam. dapat memulai respon . yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. maka dapat menimbulkan kematian sel. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga.sircumfleksa superfisialis. lemak preperitonial dan peritonium. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa.obliquus abdominis eksterna. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. maupun iatrogenik. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan. lumbalis I.6 D. yaitu fascia transversalis. a. Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. kemudian ketiga otot dinding perut m. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. dan di bagian bawah pada tulang panggul.C.transversum abdominis. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran.pudenda eksterna dan a.iliaca. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. Dari kaudal terdapat a. m. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal. a. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. dapatan.epigastrika inferior.epigastrika superior. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut.obliquus abdominis internus dan m. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. Intercostalis VI – XII dan a. Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa.

Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. pembuangan fokus septik (apendiks. mengakibatkan dehidrasi. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.hiperinflamatorius. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Keluaran urine tekanan vena sentral. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. . aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. E. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. pemberian antibiotika yang sesuai. nutrisi. dan mekanisme pertahanan. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. serta muntah. dapat timbul peritonitis umum. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. masukan yang tidak ada. gangguan sirkulasi dan oliguria. produk buangan juga ikut menumpuk. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. syok. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. Dengan perkembangan peritonitis umum. dsb) atau penyebab radang lainnya. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi.

kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. atau mereseksi viskus yang perforasi. KONSEP KEPERAWATAN A. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. mengeksklusi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. 1. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . Pada umumnya. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Bila peritonitisnya terlokalisasi.

3. pucat. Penurunan haluaran urine. hipotensi (tanda syok). terus- menerus oleh gerakan. ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. turgor kulit buruk. umum atau lokal. Diare (kadang-kadang). : Distensi. Tanda : Cegukan. nyeri tekan. haus. Hiperresonan/timpani (ileus). kaku. bising usus kasar (obstruksi). mual / muntah. 5. abdomen diam. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. takipnea. menyebar ke bahu. PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. bunyi keras hilang timbul. kekakuan abdomen. SIRKULASI Tanda : Takikardia. MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. Tanda 6. KEAMANAN . Membran mukosa kering. berkeringat. lidah bengkak. distensi abdomen. nyeri tekan. 7. : Muntah proyektil. Edema jaringan.2. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4.

pusing) . penurunan tekanan nadi. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. Catat perubahan status mental (contoh bingung. apendisitis akut. 4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik.Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). Intervensi : a. C. c.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. kehilangan cairan dari sirkulasi. B. dan rendahnya status curah jantung. Kaji tanda vital dengan sering. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. b. takipnea. takikardia. 3. Rasional : tanda adanya syok septik. 5. 1. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. dialisa peritoneal. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. demam. 2. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer.

e. Observasi dreinase pada luka/drein.Rasional : Hipoksemia. g. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. 2. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. f. hipotensi. luka insisi/terbuka. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. kelembaban. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. d. h. Rasional : mencegah penyebaran. Rasional : Hangat. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. kemerahan. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. Catat warna kulit. suhu. dan sisi invasif. kulit kering adalah tanda dini septikemia. i. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi.

Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. hemovac. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. takipnea. Pantau tanda vital. berikan perawatan kulit dengan sering. Catat edema perifer/sakral. takikardia. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. c. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : . Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. keringat.Intervensi : a. Ukur CVP bila ada. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. perpindahan cairan. d. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. demam. Ubah posisi dengan sering. e. drein. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : hipovolemia. turgor. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. b. 3. lingkar abdomen. balutan. menambah edema jaringan.

Awasi haluaran selang NG. Berikan perawatan mulut dengan sering. Rasional : menurunkan mual/muntah. d. Berikan tindakan kenyamanan. catat lokasi. konstan). latihan relaksasi/visualisasi. napas dalam. catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. 4. b. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. c. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. Auskultasi bising usus. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. penurunan absorpsi air dan diare . contoh pijatan punggung. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a.a. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus. Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. memerlukan evaluasi lanjut. b. Selidiki laporan nyeri. tajam. lama.

catat respon verbal dan non-verbal pasien. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. e. dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites. dan dapat meningkatkan kemampuan koping.c. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. penampilan bising usus normal. menghemat energi. . Dorong ekspressi bebas akan emosi. 5. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. c. d. Evaluasi tingkat ansietas. meningkatkan perasaan sakit. b.

2001. 1.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut. 2000.com/2009/10/peritonitis. Bare. Brenda G.blogspot. http://health. 2. Smeltzer.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# .html http://health. Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges. 4.html http://medicastore.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www.com/2009/03/penanganan-peritonitis.indonesiaindonesia.detik.scribd. Jakarta : EGC. Marilynn E.blogspot. Suzanne C. Rencana Asuhan Keperawatan. 3. Jakarta : EGC.html http://medlinux. 5.com/f/10758-peritonitis/ http://www. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.D.detik. dkk.

22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.blogspot. (04.http://silahealt.08.com/2012/05/askep-peritonitis.html Selasa.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis .

Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. Kelainan hati atau gagal jantung. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. usus. kandung empedu atau usus buntu. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. kandung kemih. Pada wanita.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). Infeksi dari rahim dan saluran telur. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman. jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus. ureter. dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. . Cedera pada otot kandung empedu. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium.

Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. Gejalanya bisa berupa. misalnya lambung atau usus dua belas jari. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. seperti mudah lelah. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. muntah darah. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. mengeluarkan darah dari rectum. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. seperti kegagalan paruparu. komplikasi bisa berkembang cepat.Iritasi tanpa infeksi. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. mengeluarkan tinja yang kehitaman. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Patofisiologi Peritonitis . disorientasi. nyeri dada dan pusing. terlihat pucat. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. rasa mengantuk dan bahkan syok. bisa menyebabkan bingung. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama.

Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. Obliquus abdominis eksterna. . perforasi tifus abdominalis. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. M. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis. rbacter-Klebsiella. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. yaitu dari luar ke dalam.  mycobacterium tubercolusa. Transversum abdominis. kemudian ketiga otot dinding perut M. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. dan M. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. perforasi tukak lambung. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. Obliquus abdominis internus. lemak dan sub kutan dan facies superficial. perforasi appendicitis.

dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. pemberian antibiotika yang sesuai. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. Intercostalis VI-XII dan a. pemberian antibitika yang sesuai. a. maupun iatrogenic. dsb) atau penyebab radang lainnya. Dari kaudal terdapat a. nutrisi dan mekanisme pertahanan. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Keluaran urine tekanan venasentral. Epigastrik superior. seperti misalnya interlukin. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. epigastrika inferior. yaitu fascia tranversalis. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ.. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. dapat memulai respon hiperinflamatorius. pudenda eksterna dan a. Pelepasan berbagai mediator. maka dapat menibulkan kematian sel. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. pembuangan focus septic (apendiks. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. sirnucmfleksa superfisialis. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. a. iliaca. dapatan. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik .dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena.

kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi. cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut.oleh ginjal. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. syok. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. serta muntah. kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. gangguan sirkulasi dan oliguria. produk buangan juga ikut menumpuk. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. usus kemudian menjadi atoni dan meragang. dapat tibul peritonitis umum. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Dengan perkembangan peritonitis umum. . Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata.

5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. puntiran usus. Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37. Pasien berbaring . bicara jelas. namun terkadang disertai dengan merintih. Keadaan Umum Keadaan umum baik. Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul). Kesadaran komposmentis. Bentuk badan sedang. ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Pemeriksaan Fisik a. kebocoran usus. maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut.

telinga kotor. sclera berwarna kemerahan. Kulit. Pasien terlihat pucat dan berkeringat. f. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. Suhu tubuh teraba hangat. Mulut kotor dan berbau. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. Jumlah rambut banyak dan merata. maupun sumbatan. berwarna hitam. Terdapat plaque dan caries pada gigi. konjungtiva berwarna merah muda. tidak terdapat secret. nyeri tekan. Kuku. e. perdarahan. Rambut Warna kulit normal. Pendengaran normal/tidak tuli. Mata Reflek pupil (+). Tidak terdapat massa. d. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. maupun krepitasi. dan distribusinya merata. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. membrane mukosa kering. Kepala Muka simetris. Hidung Hidung simetris. g. h. Mulut Bibir tidak sianosis. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. Terdapat serumen pada liang telinga.dan bergerak terbatas. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. iris berwarna coklat.rambut kuat. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. turgor kulit jelek. Warna kuku kemerahan. c. Tidak terdapat lesi. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. .

Tidak ada pembengkakan. gerakan bebas. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). massa. bentuk normal. Payudara simetris. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. l. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris. Terjadi penurunan peristaltic usus. Pemeriksaan Penunjang a. dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. b. Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan.i. dada sewarna dengan bagian tubuh lain. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. sewarna dengan bagian tubuh lainnya. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. 2. Dada Terdapat peninggian diafragma. maupun hemoroid. k. c. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. j. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. .

f. e. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah. dan cairan asites. Pasien mengalami gangguan pola tidur. Foto dada Peninggian diafragma. g.d. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. GDA Asidosis metabolic. usus besar. kemudian menyebar keseluruh perut. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. eksudat/secret.

sklera berwarna kemerahan. tampak kumuh dan tidak bersih. turgor kulit jelek. maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan . puntiran usus. kebocoran 5. memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau. usus. gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut.terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen. mulut berbau dan muntah . membrane mukosa kering. penampilan 4. Tidak mampu 3.

Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Resiko infeksi DIAGNOSA 1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi .tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. durasi. Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi.PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1. karakteristik. frekuensi. kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien .x 24 jam..

jarang dilakukan 3. akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. sering dilakukan 5. tidak dilakukan sama sekali 2. Diharapkan kebutuhan 2. kadang dilakukan 4. yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan. rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam.Analgesic Administration Keterangan : 1.

kurang 5. penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN. digunakan 3. sedang 4. sangat digunakan 2. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan . Keterangan : 1.batas normal terjadinya gagal ginjal.

Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. kalori tinggi. . menunjang aktivitas. tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi. dan output. kurang 10. digunakan 8. sangat digunakan 7. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. pada mulut. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien. bergizi. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. sedang 9. nafsu makan. memberikan makanan yang disukai.

Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Menciptakan kenyamanan. Berikan perawatan mulut sebelum makan. Memberikan kenyamanan. . Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4.dan minum. Memudahkan pasien untuk tidur. Agar kebutuhan tidur terpenuhi. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur. Anjurkan peningkatan lamanya tidur. Berikan pijatan nyaman.

. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5. pasien. teknik peningkatan tidur. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi.Berikan obat tidur. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Mempertahankan kebersihan diri pasien.

Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko. panas. kelembaban tekstur. tumor. dan adanya fungsiolaisa. gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan.Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. cuci kulit dengan hati-hati. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya . (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. nyeri. turgor.

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

DAFTAR PUSTAKA Johnson. 1999. Potter dan Perry. St. Marion et all.com Doenges. Bulechek.Year Book Inc. Kapita Selekta Kedokteran. Budi. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). Santosa.medicastore. Jakarta : EGC. 2000. Buku Kedokteran ECG: Jakarta. . Mansjoer. Jakarta : Media Aesculapius. www. McCloskey. St. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). Joanne C. et all. 2000. Prima Medika. 1996. Arif. 2005. Louis : Mosby Inc. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 1999. Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. dan Gloria M. Marilynn E. Louis : Mosby .

com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.blogspot.45 http://dkp2011.html .Diposkan oleh mbah jito OK la..yaw di 19.