P. 1
Askep Peritonitis

Askep Peritonitis

|Views: 266|Likes:
Published by Julie Hensley

More info:

Published by: Julie Hensley on May 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2015

pdf

text

original

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus.9) Memahami komplikasi pada peritonitis. dorsal dan ventral usus saling mendekat. . mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis. Pada permulaan. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Kedua rongga mesoderm. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3. kurvaturan minor. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum.

penyakit ringan dan terbatas. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. dan strangulasi kolon asendens. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). perforasi kolon akibat diverdikulitis. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. volvulus dan kanker.3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. defans muscular. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) . sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. dan tanda-tanda umum inflamasi. 2.2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala.

dan transfuse yang pasif. . Tukan disentri amuba/colitis 6. Terkontaminasi talcum venetum. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. 1. pancreas perforasi kolon. Tukak pada tumor 7. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. 2. stapilokokus aurens. 3. lycopodium. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. 1. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. kontaminasi peritoneal. streptokokus alpha dan beta hemolitik. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Salpingitis 8. Operasi yang tidak steril 2. Sesudah operasi. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Infeksi bakteri 1. syok perioperatif. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis.3 Etiologi 1. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. divetikulitis. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. ruptur hati 4. sulfonamida. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. Tukak thypoid 5. Secara langsung dari luar. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4.

Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. Klebsiella pneumoniae 7%. spesies Pseudomonas. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. glomerulonepritis. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). otitis media. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. bukan berasal dari kelainan organ.2. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. dan golongan Staphylococcus 3%. Semakin rendah kadar protein cairan asites. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. mastoiditis. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. barium. jenis Streptococcus lain 15%. misalnya cairan empedu. 2. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. Peritonitis bakterial primer . Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium.

Peritonitis tersier Peritonitis tersier. misalnya: . gagal ginjal kronik. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. 3. keganasan intraabdomen. Sreptococus atau Pneumococus. lupus eritematosus sistemik. Bakteri anaerob. 2. 1. dan sirosis hepatis dengan asites. 4. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. misalnya appendisitis. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Perforasi organ-organ dalam perut. Penyebabnya bersifat monomikrobial. khususnya spesies Bacteroides. perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. imunosupresi dan splenektomi. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. biasanya E. Kuman dapat berasal dari: 1. Luka/trauma penetrasi. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Coli. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

2. Tiduran terlentang (supine). sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. 2) Posisi LLD. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. posterior. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. 3. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. yaitu : 1. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. 2. 3. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. didapatkan: 1. dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. lateral). preperitonial fat. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD).Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. ada tidaknya penjalaran. . penebalan dinding usus. untuk melihat distribusi usus. Sebelum terjadi peritonitis. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Usus halus dan usus besar dilatasi. 3.Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior.

distensi usus. leukositosis). . 2.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya.l : 1. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. 2. Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a. anemia progresif). Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. dan tanda iskemia (intoksikasi. dan oklusi vena atau arteri mesenterika.l: 1. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas. tanda sepsis (panas tinggi. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). 4. 3. extravasasi bahan kontras. tanda perdarahan (syok. tumor.3) Posisi setengah duduk atau berdiri. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. memburuknya pasien saat ditangani). Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. Mengeliminasi sumber infeksi. 3. 2. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. Pemeriksaan laboratorium. nyeri tekan terutama jika meluas. 2. Pertimbangan dilakukan pembedahan a. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum. distensi perut. massa yang nyeri.

Oral-feeding. cairan elektrolit. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Keluaran urine tekanan vena sentral. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. 2. pembuangan fokus septik (apendiks. darah. Irigasi kontinyu pasca operasi. 3. dapat berupa air. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. dsb) atau penyebab radang lainnya. Pemberian cairan I. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. produk ngt minimal. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi.V. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. pus dan fibrin. lavase.V. dan tidak ada distensi abdomen. dan nutrisi. Pemberian terapi cairan melalui I. Pemberian antibiotic 3. diberikan bila sudah flatus. 5. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus. dan mekanisme pertahanan.l : 1. suctioning. 2. 4. Terapi bedah pada peritonitis a. nutrisi.4.kain kassa. dan jaringan yang nekrosis. Kontrol sumber infeksi. .l: 1. Pemberian antibiotic. irigasi intra operatif. peristaltic usus pulih. pemberian antibiotika yang sesuai. Terapi post operasi a.

Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). c. . Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan.a. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya. atau mereseksi viskus yang perforasi. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Bila peritonitisnya terlokalisasi. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. mengeksklusi. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Diberikan antibiotik yang tepat. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. b. Jika peritonitis terlokalisasi. d. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. terutama bila terdapat apendisitis.

. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Pada beberapa contoh. proses keperawatan pengkajian. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. diagnosa keperawatan. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. intervensi dan evaluasi diuraikan. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. memberikan medikasi intravena. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. 2. 3. Bagaimanapun. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Kapan berkaitan dan memungkinkan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Pada fase pascaoperatif langsung. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah.

Komplikasi dini. Portal Pyemia (misal abses hepar). Komplikasi lanjut. 4. Abses residual intraperitoneal. 3. Identitas 1. yaitu: 1. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. 1. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. 5. 2. Adhesi. Pendidikan 6. Umur 3.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Obstruksi intestinal rekuren. Nama pasien 2.2. Jenis kelamin 4.1 Pengkajian A. Pekerjaan . 2. 1. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. Suku /Bangsa 5. Septikemia dan syok septic. Syok hipovolemik. 2.

lupus eritematosus. 1. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan. basah. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. akral : dingin. hipovolemik atau septik). 1. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. 1. komplikasi post operasi. gagal ginjal kronik. sindrom nefrotik. dan pucat. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. peritoneal diawali terkontaminasi material. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. . Maka kemungkinan diturunkan ada. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. 1. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. Alamat 8. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. dispnea. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. 1.7. Pemeriksaan Fisik 1. dan sirosis hepatis dengan asites. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit). seperti: Tubercolosis.

kekuatan otot mengalami kelelahan. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Kemampuan pergerakan sendi terbatas. Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. G. Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. sulit berjalan. nyeri perut dengan aktivitas.1. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. 1. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). Pengkajian Spiritual 2. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. H. bising usus menurun. 1. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. 1. Selain itu terjadi distensi abdomen. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . 1.

1. CT Scan (eg. dengan sinar horizontal proyeksi AP. PTT dan INR 3. Test fungsi hati jika diindikasikan 4. Cairan peritoneal. Complete Blood Count (CBC). cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. . sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). Scintigraphy 5. Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. yaitu: 1. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan.000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. gallium Ga 67 scan. indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. renal stone disease) 6. Foto polos 2. proyeksi AP. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11. 4. 2. PT. technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). Tiduran telentang (supine). USG 3. dengan sinar horizontal. 3.

Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). air fluid level. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. 3. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. tanda utama radiologi adalah: . Posisi tidur. 2. ada tidaknya penjalaran. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Herring bone appearance. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. dan herring bone appearance. gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. 2. 3. Posisi LLD. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. Distensi usus general. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Pada kasus peritonitis karena perdarahan. preperitonial fat. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. Air fluid level. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Posisi setengah duduk atau berdiri. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. untuk melihat distribusi usus. Sebelum terjadi peritonitis. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. penebalan dnding usus. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi).

Posisi tiduran. 2. 2.2 Diagnosa 1. dan kekaburan pada cavum abdomen. Usus halus dan usus besar dilatasi. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. posterior. Ketidakefektifan pola nafas b. psoas line menghilang. 6. didapatkan preperitonial fat menghilang. didapatkan : 1. demam dan kerusakan jaringan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. lateral). 4. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 2. 3. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. Posisi duduk atau berdiri. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. Posisi LLD.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 3.3 Intervensi . didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. 3. preperitonial fat dan psoas line menghilang. 3. 5. 3. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. 3) X.1.

1. 2. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. Selidiki laporan nyeri. demam dan kerusakan jaringan. 1. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. Nyeri cenderung menjadi konstan. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. 3. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. Menurunkan mual/muntah Rasional . catat lokasi. lama. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1. tajam. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. Berikan tindakan 4. 3. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. lebih hebat. dan menyebar ke atas. konstan) 1. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi.

Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. Berikan perawatan mulut dengan sering. latihan relaksasi atau visualisasi. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. \is 1. yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil. Menurunkan mual/munta. napas dalam. Analgesik. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. Antiemetik. contoh pijatan punggung. Antipiretik. contoh hidroksin (Vistaril) 3. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan.kenyamanan. . contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. narkotik 2.

2. kehilangan cairan dari sirkulasi. Hipoksemia. 2. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi. pingsan). penurunan tekanan nadi. hipotensi. demam. 3. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. takikardia. takipnea. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. dan rendahnya status curah jantung. Tanda adanya syok septik. 1. tidak demam.1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. bebas drainase purulen atau eritema. dan asidosis dapat menyebabkan 1. 2. Catat perubahan status mental (contoh bingung. meningkatkan kenyamanan pasien. dialisa peritoneal. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . Kaji tanda vital dengan sering. Kriteria hasil: 1. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. apendisitis akut.

membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. kulit kering adalah tanda dini septikemia. 4. Menurunkan resiko terpajan . Awasi haluaran urine. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. penyimpangan status mental. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen.1. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. kemerahan. Mencegah penyebaran. 1. kelembaban. 1. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. luka insisi/terbuka. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. dan sisi invasif. suhu. Memberikan informasi tentang status infeksi. Observasi drainase pada luka. 2. 2. 1. 5. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Catat warna kulit. Hangat. 3. toksin 1. 1.

Berikan antibiotik. Klindamisin (Cleocin). contoh untuk drainase abses . Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. amikasin (amikin). Bantu dalam aspirasi peritoneal. bila diindikasikan. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif. 2.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. contoh gentacimin (Garamycyin). Kolaborasi: 1. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah. cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk. urine. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. 3. 1. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. 4.dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. 2. Dilakukan untuk membuang 1. kultur luka.

. membuang eksudat peritoneal. membuang rupturapendiks/kandung 1. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu. atau reseksi usus.lokal. mengatasi perforasi ulkus.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Nafsu makan klien timbul kembali 3. Berat badan normal . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Kriteria Hasil: 1.1. Status nutrisi terpenuhi 2.

dan catat adanya muntah atau diare. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. penurunan absorpsi air dan diare. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. 3. 1. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. Auskultasi bising usus. lanjut diduga ada defisit nutrisi. 4. Timbang berat badan tiap hari.4. memerlukan evaluasi lanjut. catat bunyi tak ada atau hiperaktif. Rasional . Awasi haluan selang NG. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. 6. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 1. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. 5. Meskipun bising usus sering tak ada. 2.

2. penampilan bising usus normal. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. 1. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. 1. dam kelancaran flatus. Kolaborasi: 1. 1. Monitor Hb dan albumin 1. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. Kriteria hasil: . 3.

takikardia. 1. Pantau tanda vital. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. demam. Berat badan dalam rentang normal. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. catat edema ginjal. Tanda vital stabil 3. turgor. 2. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Pengisian kapiler meningkat 6. Ukur CVP bila ada. takipnea. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Membran mukosa lembab 4. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. perpindahan cairan. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. Ukur berat jenis urine (homeostatis). 2. Hipovolemia. 2. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 3. Rasional .1. Turgor kulit baik 5. 2. 3.

1. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. 1. . BUN. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. 2. Koloid (plasma. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. menambah edema jarinagan.perifer/sacral. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare. 2. kreatinin. albumin. 2. Batasi pemasukan es batu. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Awasi pemerikasaan laboratorium. elektrolit. elektrolit. 3. contoh Hb/Ht. 4. Berikan plasma/darah. cairan. protein. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. 1.

dan sianosis. hiperventilasi. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. Kriteria Hasil: 1. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). Pertahankan pasien pada 2. depresi SSP. 3. gelisah. takikardi. depresi SSP. Indikator hipoksemia. Pernapasan tidak sulit 3. hiperventilasi. Ketidakefektifan pola nafas b. gelisah. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional . ditandai bunyi nafas normal. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. Tujuan: Pola nafas efektif. takikardi. hipotensi. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner.1.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 1. 2. tekanan O2 dan saturasi O2 normal. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 1.

ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. Berikan O2 sesuai program 1.posisi semifowler. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional . Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. Penampilan wajah tampak rileks 3. paru dan menurunkan upaya pernafasan. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1. 1. 4. 1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

kemajuan penyembuhan. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1. 2. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. diagnosa dan pengobatan 4. menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. 3. penyelesaiannya. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama. 2. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi . Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1.

DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS . Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan. 4. Berikan kenyamanan fisik klien 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. 3. 1.efektif menerima situasi 2.

ETIOLOGI .html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum.id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.http://nuzulul-fkp09.unair.ac. suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.web.

hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum.  Demam . stapilokokus aurens. streptokokus µ dan b hemolitik.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. mastoiditis. lycopodium. glomerulonepritis. 1. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. sulfonamida. Secara langsung dari luar.1. 1.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. otitis media.

Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. difus. sel-sel darah putih. peritoneal diawali terkontaminasi material. X. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia.    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. atrofi umum. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. TEST DIAGNOSTIK 1. sel-sel yang rusak dan darah. lateral). Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. didapatkan : . posterior. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. trauma atau perforasi tumor.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal.  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.

Transverse lower abdomen incision. Usus halus dan usus besar dilatasi. Masa pada abdomen . Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam. misalnya. PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %. Peritonitis 3.5 cm). yaitu . Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar. yaitu. Transverse upper abdomen incision. Paramedian. yaitu. Perdarahan saluran pencernaan. panjang (12. yaitu . insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka. insisi di bagian atas. 5. LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.5 cm). 3. pada operasi appendictomy. 1. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.(Internal Blooding) 4. 2. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 4. Indikasi 1.   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. Ada 4 cara. Midline incision 2.  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya.

Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. 5. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. latihan batuk. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. Komplikasi post laparatomi. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. 1. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. 2. 1. 4. Mempersiapkan pasien pulang.Komplikasi 1. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Tujuan perawatan post laparatomi. menggerakkan otot-otot bokong. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Mempertahankan konsep diri pasien. 4. 3. Mempercepat penyembuhan. aritmia jantung. . hati. dan otak. 3. menggerakan otot-otot kaki. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. Ventilasi paru tidak adekuat 2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi.

Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Pengisian oleh kolagen. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh.  Fase ketiga . Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. 1. ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. kesalahan menutup waktu pembedahan. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif. organisme. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. 1. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.

Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. 1. nadi. Sirkulasi  Tensi. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. dan suhu. . timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. 3. latihan mobilisasi dini. jenis pernapasan. dan refill kapiler. Pencegahan infeksi. adalah. warna kulit. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. respirasi.  Fase keempat Fase terakhir. bunyi pernapasan.Sekitar 2 sampai 10 minggu. Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan. 1. Mempertahankan konsep diri. Kolagen terus-menerus ditimbun. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Pengembalian Fungsi fisik. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. 2. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.

4.1. Psikologis : Kecemasan. posisi pasien. Peralatan   Monitor yang terpasang. 1. Gangguan rasa nyaman. Perawatan luka operasi secara steril. intake dan output 2. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. Balutan    Apakah ada tube. 3. Evaluasi . Diagnosa Keperawatan 1. 1. Rasa nyaman  Rasa sakit. CVP. mual. Persarafan : Tingkat kesadaran. 3. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. jumlah) drainage. Cairan infus atau transfusi. Tindakan keperawatan post operasi: 1. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. Monitor kesadaran. muntah. 2. tanda-tanda vital. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. suasana hati setelah operasi. dan fasilitas ventilasi. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. 2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. jangan sampai drain tercabut.

2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. http://aqibpoenya.com/askep-peritonitis/ . dkk.1. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. 4. Lippincott Company. Edisi II. Sutisna Himawan (editor). Philadelphia. Soeparman. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Kumpulan Kuliah Patologi. 1987. Luka operasi baik. FKUI Brunner / Sudart. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. 3. 1984.wordpress. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. Jakarta.

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

Selasa. 31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .

: 2010.Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A.0973 .

Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. (Tucker : 1998. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. pankreatitis. asam lambung. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . b. B. kaku.TINJAUAN TEORI A. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison.32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. a. 1. (Harison. 2000: 1613) C. TANDA DAN GEJALA Menurut Price. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang. PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. 1995: 402).

PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. Dengan perkembangan peritonitis umum. E. Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih.2. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. 2. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. 3. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. . Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. - Menurut C.

usus kemudian menjadi atoni dan meregang. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. muntah dan abdomen yang tegang. (Price. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. dehidrasi dan akhirnya syok. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan. c. (C. Ketika penyembuhan terjadi. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. ketidakseimbangan elektrolit. nyeri dan tanpa bunyi. mengakibatkan dehidrasi syok. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. 2. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. kaku. 1996 : 228) F. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . edema. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. Misalnya pemasangan kateter 1. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. b. membentuk suatu abses. gangguan sirkulasi dan oliguria. Long. a. demam dan leukositosis sering terjadi.

a. KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. b. 5. c. 3.3. 1993 : 175) G. 4. antibiotik dan vitamin . 2. 1. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik. Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. PENATALAKSANAAN 1. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. 6.

(Price. pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. - Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. 1995 : 402) .- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2. Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena.

6. 4. 1. FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 8. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . 7. 9. Pernafasan torakal Cepat dangkal 11. Emesis fekal J.I. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. 5. 3. 2.

Kaji status pernafasan. beritahu dokter ntervensi : - 2. DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang . ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit.Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3. pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 . antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam.- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam. observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit. HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : .Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam . gas darah.

DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan .Ukur lingkar abdomen. lokasi.Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : . sekap 4 jam .Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat . 4. 5.kaji tipe.Berikan hygiene oral dan nasol sering .Pantau selang nasogastrik .Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering . berat nyeri .Pantau terhadap keluarnya flatus . DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : .Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam .Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan.Berikan periode istirahat yang nyaman terencana .Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri.

Ilmu Penyakit Dalam (IPD). Standar Perawatan Pasien. Patofisiologi : Jakarta Soeparman.html . EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22. FKUI : Jakarta Tucker. 1993.Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan .Kaji ketrampilan koping .com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31. Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C.24 http://mediadani.Gelaskan semua tindakan dan prosedur . 1996.Kaji tingkat ansietas .blogspot. 1995. Long. 1998.KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : .

30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .Senin.

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

1999: 514) .(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. dkk. Asdie. 1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada. (Ahmad H. (Marilyinn Doengos.

berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik. dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. lebih baik prognosenya. larutan ringer. 1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis.7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan. perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi. (Soeparman S. lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . 1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. (Soeparman S.

pangkreatitis. bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis. takipnea : Membran mukosa kering. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. dan sebagainya. cegukan : Terdapat nyeri tekan. devertikulitis.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut. kejang. lidah bengkak. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas . (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen. bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin. lemas. salpingitis.

gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa.dkk.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah. imobilitas. 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi.umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat. kadang laebih dari 20. exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma. (Marilynnn Doengoes. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi .

Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : .Kaji tanda-tanda vital.Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri .Pantau lokasi.(1) Dx. I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : . karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi . Kep.Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx. hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan .Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi . II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : . Kep. perhatikan takikardi.

Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Mempertahankan berat badan yang normal . Kep. kaji warna.Observasi defekasi pertama pasca operasi. konsistensi..Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx.Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi .Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : .Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : . jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan .Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi . III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : .

sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari . IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : . gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx.. turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.Menunjukkan tanda vital stabil .Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .Masukan dan haluaran seimbang .Kolaborasi dengan dokter. membran mukosa.Monitor intake dan output.Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : . Kep.Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan .Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi .Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi . ahli.

perawatan luka.Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : . Kep. teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar .Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx.Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan.Demonstrasikan penggantian balutan. pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah .. V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : .Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman .Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet .Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat .

Rencana Asuhan Keperawatan. (1979). . (1993). Edisi 8 Vol 2. Edisi 4. Jakarta. EGC. Jakarta Dongoes Marilynn E. Soeparman. Jakarta. (2002)Keperawatan Medical Bedah. EGC.EGC.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Ilmu Penyakit Dalam.

2 Tinjauan Kasus pada Nn. pendidikan : SMU.1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09.2. alamat : Pasapen. umur : 40 tahun. alamat : Pasapen Suraabya. No. jenis kelamin : Perempuan. penghasilan : -.. klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny.M. pekerjaan : Ibu Rumah tangga.2. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. 7) Psiko Riwayat Psiko.3. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan. . CM : 10407631. N. hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh.3. agama : Islam. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. M dengan Peritonitis Generalisata 2. Suraabya. skala nyeri 3. agama : Islam. nyeri seperti tertusuk.09 2004.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn. Diagnosis masuk : peritonitis generalisata. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat. Soetomo Surabaya. umur : 18 tahun. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. MRS tanggal 29 . pekerjaan :. jenis kelamin : Perempuan. pendidikan : SMP (tamat).

: Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk.00 s/d 04. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. porsi 1 piring sedang. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah.23. 21. Klien tidur siang kadang-kadang.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya. klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. : Klien mengatakan makan 3x/hari. : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas.30 WIB. komposisi nasi+lauk+sayur. klien hanya berdo’aagar segera sembuh.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari. komposisi bubur kasar+lauk. 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari. klien koopeatif dengan petugas. warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. (3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit .

RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. tidak ada nyeri tekan. tidak ada sekret. S : 38oC. tidak ada polip. Hidung : Bersih. gigi tidak caries. sklera putih. 9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis. . N : 100x/mnt. suara jantung S1S2 lupdup.(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun.

akral hangat.500 / ul 31.Abdomen : Inspeksi : Perut distended.000 /ul 38 – 42 % 80 . akral hangat.99 27 .0 4. tangan kanan dapat bergerak bebas. hepar dan lien tidak teraba. keluar pus bercampur darah.300 – 11.4 – 15. : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari.5 25.5 L = 13. : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas. tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 .9 33.51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10. terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm.37 .2004) Hemoglobin 10.7 g/dl P = 11.31 33 . Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut.4 – 17.8 78.

000 /UL 4.05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya.Trobosit Eritrosit LED 380. Bambang Irianto.33 – 5.000 4.05 75 150.08 . April1 2005 Yang Mengkaji.000 – 250. 2001.S NIM.

M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas . RR : 20 x/mnt DS 2.3.2.TD : 120/80 mmHg. . N : 100 x/mnt. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg. S : 38oC. Reg. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1.2.

Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi . Teratasi 4 No.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn.2.TD : 120/80 mmHg.3. RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : . . N : 100 x/mnt. S : 38oC.Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. M : 18 tahun No.TD : 120/80 mmHg.Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl. Ditemukan 3 Tgl.Perut distended . Reg. N : 100 x/mnt 2 .2.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .

5 Berikan penjelasan pada 1. melakukan 4. 4.4 INTERVENSI Nama M Reg. dalam pemberian 6.2.2. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn. mmHg.3. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3. keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2. N : 80 . dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh . Tujuan Intervensi 4 1. No. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5.100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat.

support 4. klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya. observasi TTV tiap 4 jam.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . Setelah dilakukan askep selama 6. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1. 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1.Inj.3. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. Berikan penjelasan pada 2. 2. tentang proses 4. Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas .

3.Skala nyeri 3 . Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2. Mengkaji tingkat nyeri.35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk. 5 09. Reg. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09.2. .30 No.5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi.

t : 38 oC. 09. Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas . .40 .40 proses b/d 05-09-04 08.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.00 09. Observasi TTV .00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit.TD : 120/80 mmHg. N : 100 x/mnt . RR : 20 x/mnt 10.00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap.Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09.

50 . Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV. 09. RR : 20 x/mnt 10.TD : 120/80 mmHg.t : 38 oC.45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega.00 . . Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien. 09.jika ada apa-apa. N : 100 x/mnt.

M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No. Reg. Nyeri skala 3 . .2. .Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi.3.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12. Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : . .t : 38 oC.2.Berikan antibiotik.30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi.Luka keluar pus bercampur darah.TD : 120/80 mmHg. RR : 20 x/mnt . N : 100 x/mnt. O : .6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn.Observasi TTV .

O : . 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit.TD : 120/80 mmHg.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh. . R:- S : . 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit . RR : 20 x/mnt 12.30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka.Klien mengatakan sedikit lega. proses t : 38 oC.Observasi TTV klien mengungkapkan . Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien. . N : 100 x/mnt.

R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi. . RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12. .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian. . .t : 38 oC. keluar pus bercampur darah.Observasi TTV .TD : 120/80 mmHg. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang. O : .Berikan obat sesuai indikasi. Lakukan rawat luka.30 .Luka basah.Anjurkan melakukan relaksasi. N : 100 x/mnt.

RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : . : Rencana dihentikan.Observasi TTV . O : .Luka basah. .t : 38 oC. .Anjurkan melakukan relaksasi. 12.Klien kooperatif. .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat.30 O : . RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang.t : 38 oC. N : 100 x/mnt. .TD : 120/80 mmHg. . N : 100 x/mnt. keluar pus.TD : 120/80 mmHg.

57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com.Berikan injeksi sesuai indikasi.30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang.1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.com/2012/04/askep-peritonitis. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12. Diposkan oleh Udien Martapura di 05. atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis.blogspot.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. dan tanda-tanda umum inflamasi.html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1. . penyakit ringan dan terbatas. 5 .No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka. defans muscular.

dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. akan dibahas dalam bab selanjutnya. 2. Apakah pengertian peritonitis. dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis. 3. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. 4.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Untuk mengetahui lebih jelasnya. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). dan strangulasi kolon ascendens. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. . 1. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral).2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. perforasi kolon akibat diverdikulitis. volvulus dan kanker.

Bagi teman sejawat. Untuk mengetahui manifestasi klinik. dan komplikasi peritonitis. Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis. 3. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis.1. rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. BAB II PERITONITIS 2. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan). Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan. 4. Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. 4. 2.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1.2. dan pengkajian keperawatan peritonitis. 1.1 Konsep Medis 2.1 Defenisi . 5. 3. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. Bagi Kami.

dan strangulasi kolon ascendens. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). pankreatitis akut yang berat/ iskemia. Perubahan sirkulasi. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. defans muscular. perforasi kolon akibat diverdikulitis. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. seperti: perforasi apendisitis. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini.1. yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. volvulus dan kanker. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi .4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral).3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik.2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. dan tanda-tanda umum inflamasi. 2.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. Tanda-Tanda Peritonitis.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. misalnya : perforasi lambung. 2. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. duodenum. perpindahan cairan.1. ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. meningkatkan kebutuhan oksigen. 2.1.

5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka.Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. hilangnya bising usus. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. maka tindakan laparotomi diperlukan. terdapat darah dalam lambung. 2. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Prolaps visera. buli-buli dan rectum. Bila luka menembus peritoneum. Pembentukan abses. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. tanda-tanda peritonitis.1. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. koloid dan elektrolit adalah focus utama. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik. syok. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. .6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. Bila tidak ada.1. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat.

Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih.2 Konsep Keperawatan 2. Takipnea 2. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri.2.2. nyeri perut dengan penurunan aktivitas. mual/ muntah. kehilangan kekuatan. perubahan dalam fungsi mental.2. . Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet. kurang tidur.

Catat perubahan status mental (pusing. demam dan kerusakan jaringan. kulit pucat. kemerahan.2. . dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. Kriteria Hasil : ko. hipotensi. suhu. bingung). takikardia. dan rendahnya status curah jantung. Catat warna kulit. diindikasikan.Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. Rasional : Hipoksemia. Rasional : Tanda adanya syok septic. demam dan takipnea. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. 2. penurunan tekanan nadi. kehilangan cairan dan sirkulasi. lembab dan sianosis sebagai tanda syok. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. kulit kering adalah tanda dini septicemia. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering. kelembaban. Tujuan : Infeksi teratasi.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. Rasional : Hangat.

catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural). Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah. demam. Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. contoh: gentamicin (garamycin). takipnea. urine. kultur luka. Berikan antimikrobial.Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. klindamisin (cleocin).. takikardia. Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. lavase pretoneal/ IV. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital. amikasim (amikn). .

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

protein. contoh : cairan jernih sampai lembut.html . glukosa. Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi..36 http://ashar-ibenk.blogspot. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22. keseimbangan nitrogen sesuai indikasi.Awasi BUN.com/2012/01/ashar-askep. Tambahkan diet sesuai toleransi. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. albumin.

Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. kurvaturan minor. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2.B. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A.Jumat. Fungsi peritoneum :1. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. PENGERTIAN PERITONITIS . Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3.

Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. dan transfuse yang pasif. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering . perforasi kolon akibat diverdikulitis. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. pancreas perforasi kolon. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. defans muscular. C. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. divetikulitis. syok perioperatif. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). dan tanda-tanda umum inflamasi. penyakit ringan dan terbatas. Semakin rendah kadar protein cairan asites. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. dan strangulasi kolon asendens. kontaminasi peritoneal. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). volvulus dan kanker. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Sesudah operasi. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses.

Coli 40%. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. bukan berasal dari kelainan organ. spesies Pseudomonas.menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. syok sepsis. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). ensefalopati toksik. D. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. Terjadinya proliferasi . Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. pascatransplantasi. tatikardi. jenis Streptococcus lain 15%. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. misalnya cairan empedu. trauma atau perforasi tumor. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. atau HIV). dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. dan golongan Staphylococcus 3%. iskemia. barium. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. atau penggunaan analgesic). selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. infeksi. E. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. penggunaan steroid. Klebsiella pneumoniae 7%.

tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. koloid dan elektroli adalah focus utama. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. menjalani wawancaran . tanda-tanda peritonitis. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. debris seluler dan darah. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. sel darah putih. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. terdaat darah dalam lambung. PENATALAKSANAANPenggantian cairan. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam.bacterial. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. F. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. buli-buli dan rectum. Bila tidak ada. terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. Prolaps visera. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. syok. hilangnya bising usus. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah.

praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Pada fase pascaoperatif langsung. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. intervensi dan evaluasi diuraikan. proses keperawatan pengkajian. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada beberapa contoh. memberikan medikasi intravena. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan. diagnosa keperawatan. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8.2. Bagaimanapun. BAB II TINJAUAN KASUS . Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3.3. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Kapan berkaitan dan memungkinkan.5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. I. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini.

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

tergantung lama perawatan. JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8.Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. ECG. 2002.com/2009/01/askep-peritonitis. pedih dan sulit diobati. meningkatkan perasaan sehat. ECG .Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa.Mencegah kelemahan. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. dkk. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP.html .SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. 2000.Menurunkan resiko kontaminasi. www.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny.Keperawatan Medikal Bedah 5.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart. JakartaSilvia A. Majalah-farmacia.blogspot. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis. 2006. Price. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian.

maka akan timbul nyeri. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. jejenum.Askep Peritonitis Jumat. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. Terbagi menjadi bagian viseral. Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. . sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. 25 Maret 2011 A. duodenum. kolon ascenden & descenden. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. yang menutupi usus dan mesenterium. kolon sigmoid. sekum. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. vesica fellea. pankreas. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. lien. dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. atau proses radang. tekanan. ginjal dan ureter (retroperitoneum). dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. ileum. hepar. kolon transversum. dan appendix (intraperitoneum). atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis.

B. Kedua rongga mesoderm. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). transversum abdominis. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. Lembaran yang menutupi dinding usus. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. dan di bagian bawah pada tulang panggul. 2. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. ventriculus dan usus mengalami pemutaran. yaitu: 1. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. kemudian ketiga otot dinding perut m. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. lemak preperitonial dan peritonium. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. 3. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. dorsal dan ventral usus saling mendekat. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. obliquus abdominis eksterna. Pada permulaan. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. m. obliquus abdominis internus dan m. yaitu fascia transversalis. yaitu dari luar ke dalam. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. bersatu pada tepi kaudalnya.

ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi. disebut terletak intraperitoneal. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. terjadi perlekatan. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. tidak semua tempat terjadi perlekatan. Tetapi. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. Rongga tersebut disebut cavum peritonei. cecum terletak intraperitoneal. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . Akibat perlekatan ini. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. Di berbagai tempat. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale.. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale. Setelah ductus omphaloentericus menghilang.

PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Kadang-kadang . D. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. Keadaan demikian disebut situs inversus. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. 13 C. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. perforasi tifus abdominalis. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. maka dapat menimbulkan kematian . Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium. licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. perforasi tukak lambung. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae.

Penyebabnya bersifat monomikrobial. . produk buangan juga ikut menumpuk. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. masukan yang tidak ada. biasanya E. gangguan sirkulasi dan oliguria. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. mengakibatkan dehidrasi. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Coli. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. dapat timbul peritonitis umum. keganasan intraabdomen. Dengan perkembangan peritonitis umum. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. E. Pelepasan berbagai mediator. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. syok.sel. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Streptococus atau Pneumococus. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. seperti misalnya interleukin. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. dapat memulai respon hiperinflamatorius. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. imunosupresi dan splenektomi. Peritonitis bakterial primer. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.

Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. dan sering menimbulkan adhesi padat. sepertii misalnya empedu. akan mengurangi masalah ini. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. intestinal atau tractus urinarius. dan sirosis hepatis dengan asites. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. d. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. khususnya spesies Bacteroides. 2. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. . Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. 4. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. getah pankreas. Bakterii anaerob. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. lupus eritematosus sistemik. dan urine. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. getah lambung. gagal ginjal kronik. 3. Menyeka sarung tangan sebelum insisi. F. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik.

atau umum. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Pemeriksaan laboratorium . Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis. kelemahan. syok (hipovolemik. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. distensi abdominal. penurunan berat badan. tes psoas. demam. nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. dan distensi abdominal. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. atau tes lainnya. hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. G. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. Nyeri ini tiba-tiba. 5 2.Bila telah terjadi peritonitis bakterial. vomitus. septik. demam. Selain nyeri. bernafas. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. dan neurogenik). Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. menyebar. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. nyeri tekan lepas. nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. Pada keadaan lain (misal apendisitis). pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. batuk. atau mengejan. nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. 1. Peritonitis dapat lokal. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. difus atau umum. hebat.

H. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. preperitonial fat dan psoas line menghilang. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. 2. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. pemberian antibiotika yang sesuai. dsb) atau penyebab radang lainnya. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. nutrisi. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. dengan sinar horizontal proyeksi AP. . proyeksi AP. dan mekanisme pertahanan. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. usus halus dan usus besar berdilatasi. 3. Tiduran telentang ( supine ). TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. yaitu : (rasad) 1. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. 5 3. dengan sinar horizontal. pembuangan fokus septik (apendiks. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat.

Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Jika peritonitis terlokalisasi. atau mereseksi viskus yang perforasi. I. Komplikasi dini . Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. mengeksklusi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Pada umumnya. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. yaitu : (chushieri) 1.Keluaran urine tekanan vena sentral. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal.

C. p 302-321. alih bahasa dr. Bedah Digestif. Ekayuda I.B. 5.. Spencer. 6.o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. 2. L. Wahyu. 1995. EGC. alih bahasa dr. EGC.. Lester.7. 221239. 1997... 2000. Wim de jong. 3. Wieiek S. S. 2000. Peter Anugrah. Jakarta. Maruzen. Jakarta. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah. Gawat Abdomen. . Jakarta. 1998. Suprohaita. J. Wilson. jakarta. T.R. Kartoleksono S. alih bahasa dr.. Ed:3.4. M. Media Aesculapius FKUI. Way. L . Sjamsuhidayat.I. S. 1999. 7. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Schrock.. Ed. Shires. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. Laniyati. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. p 256-257.. Jakarta. Schwartz. T. L.. S. 2000. Gaya Baru. dalam Kapita Selekta Kedokteran. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment. Jilid: 2. EGC. W. R. 4. Petrus Lukmanto. dalam Radiologi Diagnostik. Ed. EGC. Jakarta.K. F. Rasad S. 7th Ed. USA. Abdomen Akut.6. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. Arief M. Ed.

1995. 2000. Mackersie. Anonim.8. 1997. Pabst. 11. Sjamsuhidajat.. Bristol. FKUI.R..html Senin. Edisi Revisi..35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang. Bagian Anatomi FK UGM. Yogyakarta 13.. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Sjamsuhidayat...com/2011/03/askep-peritonitis. M. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.NS di 10.. Jusi. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice.R. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. Putz. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum. 2002. Atlas Anatomi Manusia. 12. Sobotta.blogspot. R. R. D. Abdomen. 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A.R. 1997. D. B. Wim de jong. 1988. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep. Jakarta 9. Jakarta 10. Dahlan. C. 2nd Ed. EGC. John Wright. Darmawan. pada membrane serosa.. EGC. pada bagian rongga . 696. M. Dinding Perut. Jakarta. EGC. Hoyt.

Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. sepsis psedomonas. Sementara gram positif. perforasi kolon akibat devertikulisis. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. escheria choli (7%). proteus dan gram negatif lainnya (20%). kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. yakni streptococcus (3%). Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%).perut. mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. klebsiella pnemunae. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. B. volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. Secara umum. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). .

aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. Selain tiga bentuk diatas. dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia.3. 6. mengakibatkan dehidrasi. 4. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. syok. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. 5. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. dapat timbul peritonium umum. sering bukan berasal dari kelainan organ. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. misalnya cairan empedu. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Iritasi tanpa infeksi. gangguan sirkulasi dan oliguri.bahan kimia. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. Masuknya bakteri dalam . dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Kelainan hati atau gagal jantung. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. C.

adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. Coli). dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. Abses peritoneal 3. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. E. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. 2. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Komplikasi 1. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Sepsis F. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. D. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. syok dan gagal ginjal.jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. Pemeriksaan Penunjang 1. 4. . takikardi.

Memperbaiki fungsi organ 4. 2. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. d. X – ray a. b. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. pus / eksudat. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4. Mengontrol proses inflamasi . Kontrol infeksi yang terjadi 2. Amilase serum : biasanya meningkat 4. Pembersihan bakteri dan racun 3. posterior.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien.000 SDM mungkin meningkat. empedu dan kretinum. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. menunjukkan hemokonsentrasi. 6. pemberian antibiotik yang sesuai. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. antara lain : 1. emilase. Pembedahan G.

b.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. hipotermia. demam tinggi. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. takikardi. Pengkajian 1. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A. Riwayat kesehatan a. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2. . Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen.

mual / muntah. Sirkulasi Gejala : takikardi. lokal. berkeringat. f. . Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. bunyi keras hilang timbul. lidah bengkak. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. pucat. Pengkajian pola fungsional a. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. Tanda : cegukan. kekakuan abdomen. nyeri tekan.c. takipnea g. Penurunan haluaran urine. Riwayat kesehatan keluarga 3. bising usus kasar (obstruksi). Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal . Makanan Gejala . Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. ulkus peptikum dan duodenum d. infeksi pasca melahirkan. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). anoreksia. hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. menyebar ke bahu. e. terus – menerus oleh gerakan. umum. distensi. turgor kulit buruk. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). abdomen diam. d. diare (kadang – kadang).

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. Diagnosa keperawatan 1.h. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. 5. contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. mengurangi nyeri d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. perforasi kandung kemih / ruptur. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. penyakit saluran GI. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : . intraseluler ke area peritonium. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. b. diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam.

Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. Kolaborasi berikan pelunak feses. Pantau suhu lingkungan. diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen. Intervensi : . Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. c.90C menunjukkan penyakit infeksius akut. intraseluler ke area peritonium. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3.a. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. b. d. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. d. b. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. diharapkan volume cairan adekuat. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. 4.

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Intervensi : a. b. c. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. 5. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : . Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus. d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam . c. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b.diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder.a. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam.

Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b. penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen.html . kekakuan nyeri tekan.Story di 07. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@.blogspot. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d.21 http://fatmazdnrs.com/2010/08/askep-peritonitis.a.

Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. .

Peritonitis adalah peradangan peritoneum. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Etiologi 1. Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. A. selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Secara langsung dari luar. 2. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. lycopodium. sulfonamida. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini. Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. ruptur hati . Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa.

mastoiditis. glomerulonepritis. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. 4. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. 3. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. klebsiella pneumoniae 7%. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. spesies pseudomonas. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. 3. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. 5. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. 6. coli 40%. difus. B. 4. otitis media. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%. 7. 1. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . 2. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. atrofi umum. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. 8.

Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa.thorakalis VI – XII dan n. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. maka dapat menimbulkan kematian sel. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. lumbalis I. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Pelepasan berbagai mediator.C.obliquus abdominis eksterna. Dari kaudal terdapat a.pudenda eksterna dan a. yaitu dari luar ke dalam. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. seperti misalnya interleukin. dapat memulai respon . Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis.6 D. lemak preperitonial dan peritonium. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Intercostalis VI – XII dan a. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. dan di bagian bawah pada tulang panggul. m. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. yaitu fascia transversalis. kemudian ketiga otot dinding perut m. a. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. maupun iatrogenik.epigastrika superior. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium.obliquus abdominis internus dan m.iliaca.transversum abdominis. a.sircumfleksa superfisialis. Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa.epigastrika inferior. dapatan. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan.

mengakibatkan dehidrasi. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. pemberian antibiotika yang sesuai. Keluaran urine tekanan vena sentral. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. serta muntah. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Dengan perkembangan peritonitis umum. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. masukan yang tidak ada. produk buangan juga ikut menumpuk. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. gangguan sirkulasi dan oliguria. pembuangan fokus septik (apendiks. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. syok. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik.hiperinflamatorius. dapat timbul peritonitis umum. dan mekanisme pertahanan. . E. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. nutrisi. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. dsb) atau penyebab radang lainnya.

Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. atau mereseksi viskus yang perforasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. mengeksklusi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Jika peritonitis terlokalisasi. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Pada umumnya. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. 1. KONSEP KEPERAWATAN A. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline).

menyebar ke bahu. : Muntah proyektil. 5. kekakuan abdomen. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. lidah bengkak. terus- menerus oleh gerakan. Tanda : Cegukan. Edema jaringan. Penurunan haluaran urine. NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. berkeringat. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4. turgor kulit buruk. Tanda 6. PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. distensi abdomen. Diare (kadang-kadang). bunyi keras hilang timbul. nyeri tekan. haus. hipotensi (tanda syok). mual / muntah. KEAMANAN . takipnea. kaku. Membran mukosa kering. bising usus kasar (obstruksi). 3. Hiperresonan/timpani (ileus). SIRKULASI Tanda : Takikardia. pucat. 7.2. abdomen diam. nyeri tekan. : Distensi. umum atau lokal.

2. c. Intervensi : a. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. penurunan tekanan nadi. 3. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. b. demam. dan rendahnya status curah jantung. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. kehilangan cairan dari sirkulasi. 1. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. Catat perubahan status mental (contoh bingung. takikardia. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Rasional : tanda adanya syok septik. 5. dialisa peritoneal. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. B. takipnea. Kaji tanda vital dengan sering.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. 4. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. C. apendisitis akut. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. pusing) .Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis).

kelembaban. dan sisi invasif. g. kemerahan. luka insisi/terbuka. Observasi dreinase pada luka/drein. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. f. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. Rasional : Hangat. suhu. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. hipotensi. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. 2. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. d. Catat warna kulit. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. h. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. kulit kering adalah tanda dini septikemia.Rasional : Hipoksemia. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. e. i. Rasional : mencegah penyebaran. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok.

Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. takipnea. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). d. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. keringat. drein. lingkar abdomen. c. e. berikan perawatan kulit dengan sering. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. demam. Catat edema perifer/sakral. hemovac. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. menambah edema jaringan. 3. balutan. Pantau tanda vital. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. takikardia. turgor. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. b. Ukur CVP bila ada. Rasional : hipovolemia. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. perpindahan cairan. Ubah posisi dengan sering. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : .Intervensi : a.

Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. b. napas dalam. latihan relaksasi/visualisasi. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. catat lokasi. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. c. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. Selidiki laporan nyeri. d. catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada. contoh pijatan punggung. memerlukan evaluasi lanjut. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. penurunan absorpsi air dan diare . Berikan tindakan kenyamanan. tajam. 4. b. Berikan perawatan mulut dengan sering. lama. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus. Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. konstan). Awasi haluaran selang NG. Rasional : menurunkan mual/muntah. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a.a. Auskultasi bising usus.

5. penampilan bising usus normal. d.c. c. meningkatkan perasaan sakit. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites. dan dapat meningkatkan kemampuan koping. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. . catat respon verbal dan non-verbal pasien. e. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan. menghemat energi. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral. Dorong ekspressi bebas akan emosi. Evaluasi tingkat ansietas. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. b.

2.com/f/10758-peritonitis/ http://www. Smeltzer. 5. Marilynn E. 2001. 3. Suzanne C.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.com/2009/03/penanganan-peritonitis. Brenda G. dkk.detik.blogspot. http://health.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# .com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www. Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges.html http://medlinux. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.indonesiaindonesia. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan.scribd.html http://medicastore. 1.html http://health.com/2009/10/peritonitis. 2000.detik.D.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas. Jakarta : EGC. Bare. 4.blogspot.

22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.http://silahealt.blogspot.com/2012/05/askep-peritonitis. (04.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis .html Selasa.08.

usus. . jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. Cedera pada otot kandung empedu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. Pada wanita.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. Kelainan hati atau gagal jantung. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. kandung kemih. Infeksi dari rahim dan saluran telur. ureter. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman. kandung empedu atau usus buntu. tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati.

Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. mengeluarkan tinja yang kehitaman. rasa mengantuk dan bahkan syok. seperti kegagalan paruparu. tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. seperti mudah lelah. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. mengeluarkan darah dari rectum. disorientasi. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. komplikasi bisa berkembang cepat. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. Gejalanya bisa berupa. bisa menyebabkan bingung. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. misalnya lambung atau usus dua belas jari. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh.Iritasi tanpa infeksi. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. muntah darah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. Patofisiologi Peritonitis . nyeri dada dan pusing. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama. terlihat pucat. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah.

Obliquus abdominis internus. perforasi tifus abdominalis. Transversum abdominis. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. lemak dan sub kutan dan facies superficial. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya. .  mycobacterium tubercolusa. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. dan M. rbacter-Klebsiella. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. perforasi tukak lambung. Obliquus abdominis eksterna. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. perforasi appendicitis. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. M. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. kemudian ketiga otot dinding perut M. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis. yaitu dari luar ke dalam.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek.

pembuangan focus septic (apendiks. dsb) atau penyebab radang lainnya. dapat memulai respon hiperinflamatorius. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. yaitu fascia tranversalis. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. pemberian antibitika yang sesuai. dapatan. maka dapat menibulkan kematian sel. seperti misalnya interlukin. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. epigastrika inferior. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Dari kaudal terdapat a. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. a. Pelepasan berbagai mediator. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. iliaca. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. sirnucmfleksa superfisialis. pudenda eksterna dan a. maupun iatrogenic. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. Keluaran urine tekanan venasentral. Epigastrik superior. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik . antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. nutrisi dan mekanisme pertahanan.dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. pemberian antibiotika yang sesuai. Intercostalis VI-XII dan a. a. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen..

kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. gangguan sirkulasi dan oliguria. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. syok. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. produk buangan juga ikut menumpuk. kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi. usus kemudian menjadi atoni dan meragang. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang. serta muntah. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Dengan perkembangan peritonitis umum. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. dapat tibul peritonitis umum. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. .oleh ginjal.

maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37. Keadaan Umum Keadaan umum baik. Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul).5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. namun terkadang disertai dengan merintih. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. bicara jelas.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Bentuk badan sedang. Pemeriksaan Fisik a. Kesadaran komposmentis. ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1. kebocoran usus. Pasien berbaring . puntiran usus.

Suhu tubuh teraba hangat. sclera berwarna kemerahan. Rambut Warna kulit normal. Kuku. nyeri tekan. e. Warna kuku kemerahan. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. Terdapat plaque dan caries pada gigi. Mulut kotor dan berbau. g. Terdapat serumen pada liang telinga. konjungtiva berwarna merah muda. Kepala Muka simetris. perdarahan. telinga kotor. . Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. Jumlah rambut banyak dan merata. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor.rambut kuat. Hidung Hidung simetris. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. berwarna hitam. dan distribusinya merata. maupun sumbatan. maupun krepitasi. Pendengaran normal/tidak tuli. c. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. d. turgor kulit jelek. Kulit. Tidak terdapat lesi. h. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe.dan bergerak terbatas. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. Mata Reflek pupil (+). tidak terdapat secret. Mulut Bibir tidak sianosis. iris berwarna coklat. Pasien terlihat pucat dan berkeringat. f. Tidak terdapat massa. membrane mukosa kering.

dan sewarna dengan bagian tubuh lain. sewarna dengan bagian tubuh lainnya. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. b. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. Terjadi penurunan peristaltic usus. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. maupun hemoroid. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan. k. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. 2.i. . bentuk normal. j. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Pemeriksaan Penunjang a. c. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. Tidak ada pembengkakan. massa. dada sewarna dengan bagian tubuh lain. gerakan bebas. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan. l. Payudara simetris. Dada Terdapat peninggian diafragma.

Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . usus besar. Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. f. GDA Asidosis metabolic. Pasien mengalami gangguan pola tidur. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. Foto dada Peninggian diafragma. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah.d. g. dan cairan asites. e. NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. eksudat/secret. kemudian menyebar keseluruh perut.

puntiran usus. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen. gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. sklera berwarna kemerahan. mulut berbau dan muntah . memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau. Tidak mampu 3. maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan . tampak kumuh dan tidak bersih.terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. usus. membrane mukosa kering. kebocoran 5. penampilan 4. turgor kulit jelek.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Resiko infeksi DIAGNOSA 1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi . Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5.tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3.

Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi.. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1. frekuensi. durasi.x 24 jam. karakteristik. kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien .

akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. tidak dilakukan sama sekali 2. sering dilakukan 5.Analgesic Administration Keterangan : 1. kadang dilakukan 4. jarang dilakukan 3. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan. Diharapkan kebutuhan 2.

penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. sangat digunakan 2. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN. sedang 4. Keterangan : 1. digunakan 3.batas normal terjadinya gagal ginjal. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan . kurang 5.

kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien. digunakan 8. Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. nafsu makan. memberikan makanan yang disukai. sedang 9. Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. pada mulut. . kalori tinggi. tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi. menunjang aktivitas. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi. sangat digunakan 7. kurang 10. dan output.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. bergizi. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan.

Menciptakan kenyamanan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Anjurkan peningkatan lamanya tidur. Agar kebutuhan tidur terpenuhi. . Memudahkan pasien untuk tidur. Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. Memberikan kenyamanan. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur. Berikan perawatan mulut sebelum makan.dan minum. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien. Berikan pijatan nyaman.

030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur.Berikan obat tidur. pasien. teknik peningkatan tidur. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. . penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur.

cuci kulit dengan hati-hati. tumor. dan adanya fungsiolaisa. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. panas.Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. nyeri. gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. kelembaban tekstur. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit. turgor. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya .

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

Mansjoer. Prima Medika. 1999. 2000. St.DAFTAR PUSTAKA Johnson. Arif.medicastore. Bulechek.com Doenges. Marion et all. 2000. Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. Jakarta : Media Aesculapius. 1996. Kapita Selekta Kedokteran. Budi. McCloskey.Year Book Inc. Santosa. Buku Kedokteran ECG: Jakarta. Jakarta : EGC. St. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Joanne C. Marilynn E. 1999. www. dan Gloria M. et all. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). Louis : Mosby . Potter dan Perry. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. . Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). Louis : Mosby Inc.

com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.html ..Diposkan oleh mbah jito OK la.blogspot.yaw di 19.45 http://dkp2011.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->