diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. disebut lamina visceralis (tunika serosa). sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron.9) Memahami komplikasi pada peritonitis. Pada permulaan. . di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. dorsal dan ventral usus saling mendekat. yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. kurvaturan minor. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Kedua rongga mesoderm.

perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) .2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala. 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. dan strangulasi kolon asendens. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. defans muscular. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. volvulus dan kanker. dan tanda-tanda umum inflamasi. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. perforasi kolon akibat diverdikulitis. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. 2. penyakit ringan dan terbatas. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).

Operasi yang tidak steril 2. kontaminasi peritoneal. Infeksi bakteri 1. syok perioperatif. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. streptokokus alpha dan beta hemolitik. . sulfonamida. 2. 1. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. lycopodium.3 Etiologi 1. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. divetikulitis. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Tukak thypoid 5. Secara langsung dari luar. ruptur hati 4. Sesudah operasi. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3. Tukan disentri amuba/colitis 6. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Salpingitis 8. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. stapilokokus aurens. Terkontaminasi talcum venetum. pancreas perforasi kolon. 1. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Tukak pada tumor 7. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4. dan transfuse yang pasif. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. 3. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis.

Selain itu juga terdapat peritonitis TB. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. bukan berasal dari kelainan organ. glomerulonepritis. barium. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. Coli 40%.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Semakin rendah kadar protein cairan asites. jenis Streptococcus lain 15%. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. dan golongan Staphylococcus 3%. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Klebsiella pneumoniae 7%.2. mastoiditis. misalnya cairan empedu. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. spesies Pseudomonas. Peritonitis bakterial primer . Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. otitis media. 2. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%.

3. Peritonitis tersier Peritonitis tersier. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. 4. Penyebabnya bersifat monomikrobial. 1. misalnya: . misalnya appendisitis. gagal ginjal kronik. keganasan intraabdomen. biasanya E. Bakteri anaerob. Luka/trauma penetrasi. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. imunosupresi dan splenektomi. perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. dan sirosis hepatis dengan asites. Perforasi organ-organ dalam perut. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Coli. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. 2. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. Sreptococus atau Pneumococus. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. lupus eritematosus sistemik. khususnya spesies Bacteroides. Kuman dapat berasal dari: 1. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

preperitonial fat. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. 2. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. untuk melihat distribusi usus.Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Usus halus dan usus besar dilatasi. lateral). 2) Posisi LLD. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Sebelum terjadi peritonitis. 2. yaitu : 1. Tiduran terlentang (supine). ada tidaknya penjalaran. 3. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan.Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. posterior. 3. dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. 3. dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. didapatkan: 1. penebalan dinding usus. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). .

. massa yang nyeri. distensi usus.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. leukositosis). dan oklusi vena atau arteri mesenterika. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas.3) Posisi setengah duduk atau berdiri. 2. Pertimbangan dilakukan pembedahan a. Mengeliminasi sumber infeksi. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance.l: 1. 4. anemia progresif). 2. dan tanda iskemia (intoksikasi. extravasasi bahan kontras.l : 1. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. tumor. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. Pemeriksaan laboratorium. 3. distensi perut. Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a. memburuknya pasien saat ditangani). 3. Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. tanda perdarahan (syok. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). 2. tanda sepsis (panas tinggi. 2. nyeri tekan terutama jika meluas. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum.

Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Pemberian antibiotic. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Pemberian cairan I. dan mekanisme pertahanan. Terapi post operasi a.kain kassa. Irigasi kontinyu pasca operasi. irigasi intra operatif. Pemberian antibiotic 3. produk ngt minimal. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. dan nutrisi.V.l: 1. diberikan bila sudah flatus. dan jaringan yang nekrosis. Pemberian terapi cairan melalui I. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. dan tidak ada distensi abdomen. 4. Terapi bedah pada peritonitis a. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Keluaran urine tekanan vena sentral. lavase. peristaltic usus pulih. dapat berupa air. . pemberian antibiotika yang sesuai. pembuangan fokus septik (apendiks. 2.V. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement.4. pus dan fibrin. darah. 2. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi. 5. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus. Oral-feeding.l : 1. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. suctioning. dsb) atau penyebab radang lainnya. nutrisi. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Kontrol sumber infeksi. cairan elektrolit. 3.

yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). terutama bila terdapat apendisitis. . Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi.a. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. b. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. Jika peritonitis terlokalisasi. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Pada umumnya. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. atau mereseksi viskus yang perforasi. mengeksklusi. c. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. d. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Diberikan antibiotik yang tepat. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen.

proses keperawatan pengkajian. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. memberikan medikasi intravena. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Pada beberapa contoh. Bagaimanapun. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Kapan berkaitan dan memungkinkan. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. intervensi dan evaluasi diuraikan. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. diagnosa keperawatan. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. 3. Pada fase pascaoperatif langsung. 2. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. .

Suku /Bangsa 5. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. 2. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian A. Pekerjaan . Umur 3. Identitas 1. 2. Jenis kelamin 4. 1. 4. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. Obstruksi intestinal rekuren. 5. 2. 1. Komplikasi dini. Nama pasien 2. Septikemia dan syok septic.2. Abses residual intraperitoneal. yaitu: 1. 3. Adhesi.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Syok hipovolemik. Pendidikan 6. Komplikasi lanjut. Portal Pyemia (misal abses hepar).

dan sirosis hepatis dengan asites. gagal ginjal kronik. 1. sindrom nefrotik. komplikasi post operasi. 1. basah. lupus eritematosus. Alamat 8. dispnea. peritoneal diawali terkontaminasi material. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. 1. 1. 1.7. seperti: Tubercolosis. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. akral : dingin. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. . hipovolemik atau septik). Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit). Maka kemungkinan diturunkan ada. dan pucat. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. Pemeriksaan Fisik 1. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan.

Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. nyeri perut dengan aktivitas. Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. 1. 1. kekuatan otot mengalami kelelahan. dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). Selain itu terjadi distensi abdomen. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. 1. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Pengkajian Spiritual 2. H. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. Kemampuan pergerakan sendi terbatas. sulit berjalan. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. G.1. bising usus menurun. 1.

3. renal stone disease) 6. PT. proyeksi AP. Test fungsi hati jika diindikasikan 4. technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). 2. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD).1. dengan sinar horizontal. indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. dengan sinar horizontal proyeksi AP. Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. Tiduran telentang (supine). sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). PTT dan INR 3. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. . yaitu: 1. gallium Ga 67 scan. 4. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. Complete Blood Count (CBC). CT Scan (eg. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. Foto polos 2.000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11. USG 3. Cairan peritoneal. Scintigraphy 5.

air fluid level. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. Air fluid level. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. preperitonial fat. penebalan dnding usus. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Sebelum terjadi peritonitis. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. Herring bone appearance. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. Posisi tidur. 3. Pada kasus peritonitis karena perdarahan. gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. 2. tanda utama radiologi adalah: .Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). Posisi setengah duduk atau berdiri. 2. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Posisi LLD. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. Distensi usus general. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. 3. dan herring bone appearance. ada tidaknya penjalaran. untuk melihat distribusi usus.

preperitonial fat dan psoas line menghilang. 3. 3. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 2. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. 2. psoas line menghilang.3 Intervensi . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. posterior.1. 3) X. Posisi LLD. 4. Ketidakefektifan pola nafas b. 2. demam dan kerusakan jaringan. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. 5. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Usus halus dan usus besar dilatasi. didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). 6.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. dan kekaburan pada cavum abdomen. 3. Posisi tiduran. didapatkan : 1. lateral). didapatkan preperitonial fat menghilang. 3. Posisi duduk atau berdiri. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior.2 Diagnosa 1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.

Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri. 2. 1. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. Menurunkan mual/muntah Rasional . tajam. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. lebih hebat. demam dan kerusakan jaringan. 3. Berikan tindakan 4. konstan) 1. Nyeri cenderung menjadi konstan. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan.1. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. 3. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. lama. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1. catat lokasi. dan menyebar ke atas.

contoh pijatan punggung. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. Menurunkan mual/munta. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. narkotik 2. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. napas dalam. Analgesik. yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil.kenyamanan. Antipiretik. contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. Antiemetik. Berikan perawatan mulut dengan sering. Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. \is 1. latihan relaksasi atau visualisasi. contoh hidroksin (Vistaril) 3. .

takikardia. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . 2. dan rendahnya status curah jantung. pingsan). Catat perubahan status mental (contoh bingung.1. dialisa peritoneal. 2. Kaji tanda vital dengan sering. penurunan tekanan nadi. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. tidak demam. Kriteria hasil: 1. apendisitis akut. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Hipoksemia. Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. demam. hipotensi. takipnea. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. bebas drainase purulen atau eritema. 3. meningkatkan kenyamanan pasien. 1. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi. 2. kehilangan cairan dari sirkulasi. dan asidosis dapat menyebabkan 1. Tanda adanya syok septik.

kulit kering adalah tanda dini septikemia. penyimpangan status mental. 2. 4. 1. suhu. kelembaban. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. toksin 1. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Mencegah penyebaran. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. 3. 2. Menurunkan resiko terpajan . Awasi haluaran urine. 1. 1. Catat warna kulit. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. 1. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter.1. 5. kemerahan. Hangat. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. dan sisi invasif. Observasi drainase pada luka. Memberikan informasi tentang status infeksi. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. luka insisi/terbuka.

contoh untuk drainase abses . Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. Berikan antibiotik. kultur luka. Klindamisin (Cleocin). 4. 2. contoh gentacimin (Garamycyin).Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah. cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Bantu dalam aspirasi peritoneal. bila diindikasikan. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. 3.dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. urine. Dilakukan untuk membuang 1. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. 1. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif. 2. amikasin (amikin). Kolaborasi: 1.

atau reseksi usus. membuang eksudat peritoneal. membuang rupturapendiks/kandung 1. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu. mengatasi perforasi ulkus.lokal. .

Status nutrisi terpenuhi 2. Berat badan normal .1. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Nafsu makan klien timbul kembali 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Kriteria Hasil: 1.

catat bunyi tak ada atau hiperaktif. Awasi haluan selang NG. lanjut diduga ada defisit nutrisi. Timbang berat badan tiap hari. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. 6. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. 4. 1. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. dan catat adanya muntah atau diare. 1. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. Meskipun bising usus sering tak ada. 5. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. 2. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Auskultasi bising usus. Rasional . penurunan absorpsi air dan diare. 3. memerlukan evaluasi lanjut.4. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. 3. penampilan bising usus normal. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. dam kelancaran flatus. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. Kolaborasi: 1. 1. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. Monitor Hb dan albumin 1. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. 1.2. 2. 1. Kriteria hasil: .

Pengisian kapiler meningkat 6. dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. 2. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. turgor. demam.1. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Rasional . catat edema ginjal. 3. Ukur berat jenis urine (homeostatis). Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Tanda vital stabil 3. Turgor kulit baik 5. 2. 2. takipnea. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. Ukur CVP bila ada. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. Membran mukosa lembab 4. Hipovolemia. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. takikardia. Pantau tanda vital. 3. 2. Berat badan dalam rentang normal. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 1. perpindahan cairan. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan.

Koloid (plasma. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. 3. BUN. Awasi pemerikasaan laboratorium. menambah edema jarinagan. 1. elektrolit. Berikan plasma/darah. 2. albumin. cairan. contoh Hb/Ht. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. 2. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. protein. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. 4. . 1. elektrolit. Batasi pemasukan es batu. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. 1.perifer/sacral. kreatinin. 2.

Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. depresi SSP. takikardi. ditandai bunyi nafas normal. 3. 1. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional . 1. hiperventilasi. Tujuan: Pola nafas efektif. gelisah.1. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. takikardi. depresi SSP. tekanan O2 dan saturasi O2 normal. Indikator hipoksemia. Kriteria Hasil: 1.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. Pernapasan tidak sulit 3. hipotensi. 2. Ketidakefektifan pola nafas b. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. hiperventilasi. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). gelisah. Pertahankan pasien pada 2. dan sianosis. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1.

ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. paru dan menurunkan upaya pernafasan. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2.posisi semifowler. 1. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. 4. Penampilan wajah tampak rileks 3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. Berikan O2 sesuai program 1. 1. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional .

penyelesaiannya.kemajuan penyembuhan. 3. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. 2. Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. 2. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi . Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. diagnosa dan pengobatan 4. Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama.

Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan. Berikan kenyamanan fisik klien 2. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. 4.efektif menerima situasi 2. 3. 1. DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS . Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan.

ac.web.http://nuzulul-fkp09.html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum. ETIOLOGI .id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.unair. suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.

mastoiditis.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. glomerulonepritis. 1. sulfonamida.1. stapilokokus aurens.  Demam . ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. streptokokus µ dan b hemolitik. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. 1. Secara langsung dari luar. lycopodium.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. otitis media. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

peritoneal diawali terkontaminasi material. lateral). PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. didapatkan : . Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. sel-sel darah putih. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. difus.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. sel-sel yang rusak dan darah. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia.    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik. TEST DIAGNOSTIK 1. trauma atau perforasi tumor. Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. atrofi umum. X. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. posterior. Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1.

Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Indikasi 1. 4. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. yaitu. 5. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar. Peritonitis 3. Masa pada abdomen . Midline incision 2. Ada 4 cara. Paramedian.  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya. yaitu .   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Transverse upper abdomen incision. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. 3. 2. yaitu . Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam. misalnya. insisi di bagian atas.5 cm). yaitu.(Internal Blooding) 4. 1. panjang (12. PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %. Transverse lower abdomen incision.5 cm). Perdarahan saluran pencernaan. Usus halus dan usus besar dilatasi. pada operasi appendictomy. insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka.

hati. 5. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. latihan batuk. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur.Komplikasi 1. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi. 4. 3. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. menggerakkan otot-otot bokong. aritmia jantung. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. Mempertahankan konsep diri pasien. 4. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. 1. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. Mempercepat penyembuhan. Mempersiapkan pasien pulang. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. menggerakan otot-otot kaki. dan otak. . 2. 1. Ventilasi paru tidak adekuat 2. Tujuan perawatan post laparatomi. Komplikasi post laparatomi. 3.

Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.  Fase ketiga . ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. kesalahan menutup waktu pembedahan. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. Pengisian oleh kolagen. gram positif.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. 1. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. 1. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. organisme. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. . Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. bunyi pernapasan. warna kulit. Mempertahankan konsep diri. respirasi. jenis pernapasan. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. Sirkulasi  Tensi. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. dan suhu. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. 2. Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan.Sekitar 2 sampai 10 minggu. Pengembalian Fungsi fisik. nadi. Pencegahan infeksi. dan refill kapiler. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. latihan mobilisasi dini. adalah. 1. 3.  Fase keempat Fase terakhir. 1. Kolagen terus-menerus ditimbun.

Peralatan   Monitor yang terpasang. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. Balutan    Apakah ada tube. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. CVP. tanda-tanda vital. 2. dan fasilitas ventilasi. Perawatan luka operasi secara steril. 3. 4. Monitor kesadaran. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. 3. Persarafan : Tingkat kesadaran. 1. mual. 2. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. Evaluasi . Tindakan keperawatan post operasi: 1. Gangguan rasa nyaman. Diagnosa Keperawatan 1. posisi pasien. Psikologis : Kecemasan. intake dan output 2. 1. muntah. jumlah) drainage. suasana hati setelah operasi. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. Rasa nyaman  Rasa sakit. jangan sampai drain tercabut. Cairan infus atau transfusi.1.

dkk.1. Edisi II. Lippincott Company.com/askep-peritonitis/ . Luka operasi baik. http://aqibpoenya. 1984. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. 1987.wordpress. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Philadelphia. Kumpulan Kuliah Patologi. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. 2. FKUI Brunner / Sudart. 4. Sutisna Himawan (editor). Soeparman. Jakarta. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. 3. DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr.

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .Selasa.

: 2010.0973 .Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A.

kaku. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. TANDA DAN GEJALA Menurut Price. a. B.TINJAUAN TEORI A. b. 1. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . (Tucker : 1998. 2000: 1613) C. dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison. (Harison. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. asam lambung. pankreatitis. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. 1995: 402).32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang.

Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. . 2.2. Dengan perkembangan peritonitis umum. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. 3. E. ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. - Menurut C. PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi.

KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. Ketika penyembuhan terjadi. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia. edema. membentuk suatu abses. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat.usus kemudian menjadi atoni dan meregang. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. gangguan sirkulasi dan oliguria. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. a. kaku. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan. dehidrasi dan akhirnya syok. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). 1996 : 228) F. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. nyeri dan tanpa bunyi. c. ketidakseimbangan elektrolit. Misalnya pemasangan kateter 1. muntah dan abdomen yang tegang. demam dan leukositosis sering terjadi. Long. b. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. mengakibatkan dehidrasi syok. (C. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. (Price. perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. 2.

Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. c. 1993 : 175) G. a. 3. antibiotik dan vitamin . 4. 2. 6.3. KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. 5. PENATALAKSANAAN 1. 1. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik. b.

- Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. (Price. pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2. Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena. 1995 : 402) .

8.I. 7. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 4. 5. 6. 1. Pernafasan torakal Cepat dangkal 11. Emesis fekal J. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. 9. 2. 3.

pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 . ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit.Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3. beritahu dokter ntervensi : - 2. observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit. HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : .Kaji status pernafasan. gas darah. DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang .Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam .- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam.

kaji tipe.Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : . sekap 4 jam .Berikan hygiene oral dan nasol sering . 5.Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat .Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan. DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : . 4.Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam . berat nyeri . lokasi.Ukur lingkar abdomen.Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering . DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan .Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri.Pantau selang nasogastrik .Berikan periode istirahat yang nyaman terencana .Pantau terhadap keluarnya flatus .

Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price.Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan .Kaji tingkat ansietas .KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : .24 http://mediadani. EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22.Kaji ketrampilan koping .html . 1993. Standar Perawatan Pasien. Patofisiologi : Jakarta Soeparman. FKUI : Jakarta Tucker. Ilmu Penyakit Dalam (IPD). 1996.Gelaskan semua tindakan dan prosedur . Long. 1995.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31.blogspot. 1998.

30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .Senin.

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

Asdie. dkk. 1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada. (Marilyinn Doengos.(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. 1999: 514) . (Ahmad H.

perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi.7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan. dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik. 1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. lebih baik prognosenya. lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . (Soeparman S. (Soeparman S. 1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis. larutan ringer.

cegukan : Terdapat nyeri tekan. bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis. bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin. lidah bengkak. takipnea : Membran mukosa kering. pangkreatitis. (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. kejang. lemas. dan sebagainya. salpingitis. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas . terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen. devertikulitis.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut.

exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi . 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi. (Marilynnn Doengoes.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah. kadang laebih dari 20.dkk. imobilitas. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma.umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat. gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa.

Pantau lokasi.Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri . II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : .Kaji tanda-tanda vital.Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi .Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : . Kep. hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan . karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi .Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx. perhatikan takikardi.(1) Dx. Kep. I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : .

. jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus . Kep. konsistensi.Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan .Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : .Mempertahankan berat badan yang normal .Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi . kaji warna.Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx.Observasi defekasi pertama pasca operasi.Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : . III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : .Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi .

Kolaborasi dengan dokter.Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .. sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari . ahli.Menunjukkan tanda vital stabil .Monitor intake dan output. membran mukosa.Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi . Kep. gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx. IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : .Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi .Masukan dan haluaran seimbang .Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan . turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : .

teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar .Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : .Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan.Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx. pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah ..Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet .Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat .Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman .Demonstrasikan penggantian balutan. V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : . Kep. perawatan luka.

EGC. Jakarta. (1993). Edisi 4. Jakarta. Edisi 8 Vol 2. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta Dongoes Marilynn E. Soeparman. EGC. (1979). .DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth.EGC. Ilmu Penyakit Dalam. (2002)Keperawatan Medical Bedah.

.. hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. jenis kelamin : Perempuan. Suraabya. klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. CM : 10407631. umur : 40 tahun. pekerjaan : Ibu Rumah tangga. agama : Islam. agama : Islam. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh. penghasilan : -. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. Soetomo Surabaya.3. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat. nyeri seperti tertusuk. M dengan Peritonitis Generalisata 2.2. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn. jenis kelamin : Perempuan.3. alamat : Pasapen Suraabya. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. umur : 18 tahun.09 2004. N.M. pekerjaan :. alamat : Pasapen.2. skala nyeri 3. No. pendidikan : SMP (tamat). 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. MRS tanggal 29 . 7) Psiko Riwayat Psiko. Diagnosis masuk : peritonitis generalisata. pendidikan : SMU.1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09. suku/bangsa : Jawa/Indonesia.2 Tinjauan Kasus pada Nn.

(3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. : Klien mengatakan makan 3x/hari.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya.30 WIB. klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. komposisi bubur kasar+lauk. warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. komposisi nasi+lauk+sayur. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah. 21. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit .00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai. klien koopeatif dengan petugas. Klien tidur siang kadang-kadang. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya.00 s/d 04. 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari. : Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari. : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. porsi 1 piring sedang. klien hanya berdo’aagar segera sembuh.23.

sklera putih. Hidung : Bersih. tidak ada polip. N : 100x/mnt. tidak ada sekret. suara jantung S1S2 lupdup. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm. S : 38oC. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab. gigi tidak caries.(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. . Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. tidak ada nyeri tekan. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. 9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis.

akral hangat.Abdomen : Inspeksi : Perut distended.500 / ul 31.5 L = 13.0 4. : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari.37 .9 33. hepar dan lien tidak teraba.8 78. Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut.99 27 . terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm.2004) Hemoglobin 10.4 – 17. akral hangat.5 25.4 – 15. keluar pus bercampur darah.51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10.000 /ul 38 – 42 % 80 . tangan kanan dapat bergerak bebas.300 – 11.31 33 .7 g/dl P = 11. : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas. tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 .

05 75 150.000 4. Bambang Irianto. April1 2005 Yang Mengkaji.000 /UL 4.05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya.08 .S NIM.000 – 250. 2001.Trobosit Eritrosit LED 380.33 – 5.

TD : 120/80 mmHg. Reg. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . RR : 20 x/mnt DS 2.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn.3.TD : 120/80 mmHg.2. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas . N : 100 x/mnt. . M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1. S : 38oC. N : 100 x/mnt.2.

Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.2. . Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl.3. S : 38oC.Perut distended .Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . M : 18 tahun No. Reg.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn. N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg. Ditemukan 3 Tgl.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .TD : 120/80 mmHg. RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : . N : 100 x/mnt 2 . Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi . Teratasi 4 No.2.

2. melakukan 4. dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh .2. 5 Berikan penjelasan pada 1. 4. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5. dalam pemberian 6. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3. keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2. No.3. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn.100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat. mmHg. Tujuan Intervensi 4 1.4 INTERVENSI Nama M Reg. N : 80 . tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5.

No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya. Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas . tentang proses 4. system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1. Setelah dilakukan askep selama 6. Berikan penjelasan pada 2.3. support 4.Inj. observasi TTV tiap 4 jam. 2. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien.

M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09. Reg. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi.35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2. Mengkaji tingkat nyeri.2.Skala nyeri 3 . 5 09.30 No. Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi.3. .5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn.

Observasi TTV . Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas . Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit. RR : 20 x/mnt 10.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya.40 .40 proses b/d 05-09-04 08. N : 100 x/mnt . .00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap.t : 38 oC.TD : 120/80 mmHg.Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09. 09.00 09.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.

. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien. N : 100 x/mnt.00 . 09.TD : 120/80 mmHg. 09.45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega. RR : 20 x/mnt 10. Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV.t : 38 oC.50 .jika ada apa-apa.

Nyeri skala 3 .Observasi TTV .3.Luka keluar pus bercampur darah. Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : .30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12.2.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi. . RR : 20 x/mnt .6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn.t : 38 oC. Reg. . .2. Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.Berikan antibiotik.TD : 120/80 mmHg. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No. N : 100 x/mnt. O : .

O : .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka. Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien.Klien mengatakan sedikit lega. 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit. RR : 20 x/mnt 12. . R:- S : . proses t : 38 oC.30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. .Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh.TD : 120/80 mmHg. 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit . N : 100 x/mnt.Observasi TTV klien mengungkapkan .

R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang.30 .Luka basah. keluar pus bercampur darah.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian. O : . .TD : 120/80 mmHg. .t : 38 oC. RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12. N : 100 x/mnt.Berikan obat sesuai indikasi.Observasi TTV .Anjurkan melakukan relaksasi. Lakukan rawat luka. . .

.t : 38 oC. .30 O : .TD : 120/80 mmHg.Klien kooperatif. N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg.t : 38 oC. RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : . O : .No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat. keluar pus.Observasi TTV . .Luka basah. : Rencana dihentikan. 12. RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang.Anjurkan melakukan relaksasi. . N : 100 x/mnt. .

html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1.30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang. defans muscular.blogspot. penyakit ringan dan terbatas. 5 .1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. . Diposkan oleh Udien Martapura di 05. dan tanda-tanda umum inflamasi. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut.No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala.com/2012/04/askep-peritonitis. atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis.Berikan injeksi sesuai indikasi. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi.

dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas.Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Untuk mengetahui lebih jelasnya. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. dan strangulasi kolon ascendens. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1. . Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Apakah pengertian peritonitis. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. 4. 2. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). perforasi kolon akibat diverdikulitis.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. volvulus dan kanker. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. 3. 1. akan dibahas dalam bab selanjutnya. perforasi ulkus peptikum dan duodenum.

1 Konsep Medis 2. rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. 2.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. BAB II PERITONITIS 2. 3. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis. 5. Bagi teman sejawat. Bagi Kami. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan). Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas. 4. 3.2. Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis. Untuk mengetahui manifestasi klinik. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. 4. dan komplikasi peritonitis. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis. 1. dan pengkajian keperawatan peritonitis.1.1 Defenisi .

Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. perforasi kolon akibat diverdikulitis. 2. 2.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu.1. Perubahan sirkulasi. misalnya : perforasi lambung. meningkatkan kebutuhan oksigen. meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). 2. seperti: perforasi apendisitis. dan strangulasi kolon ascendens. yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder. volvulus dan kanker. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi . ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. pankreatitis akut yang berat/ iskemia. perpindahan cairan. dan tanda-tanda umum inflamasi.1. perforasi ulkus peptikum dan duodenum.1.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral). Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik. Tanda-Tanda Peritonitis. Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. duodenum. defans muscular. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi.

Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. terdapat darah dalam lambung. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. koloid dan elektrolit adalah focus utama. maka tindakan laparotomi diperlukan.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Prolaps visera. Bila tidak ada. Bila luka menembus peritoneum. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah.1. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil.1. . Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. hilangnya bising usus. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka. syok. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. buli-buli dan rectum. Pembentukan abses. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik. tanda-tanda peritonitis. 2.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.2. Takipnea 2. nyeri perut dengan penurunan aktivitas. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet. perubahan dalam fungsi mental. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih. Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan.2. kehilangan kekuatan. mual/ muntah. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih. .2 Konsep Keperawatan 2. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan.2. kurang tidur.

dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. kulit pucat. Catat warna kulit. Rasional : Tanda adanya syok septic. bingung). Catat perubahan status mental (pusing. diindikasikan. Rasional : Hangat. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Rasional : Hipoksemia. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. demam dan takipnea. kulit kering adalah tanda dini septicemia. suhu. kehilangan cairan dan sirkulasi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. demam dan kerusakan jaringan. Kriteria Hasil : ko. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering.Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. takikardia. kemerahan. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. dan rendahnya status curah jantung. kelembaban. . Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. penurunan tekanan nadi. 2. hipotensi. lembab dan sianosis sebagai tanda syok.2. Tujuan : Infeksi teratasi.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan.

Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. klindamisin (cleocin). Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah. kultur luka. demam. Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. takikardia. Berikan antimikrobial. catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural). Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital. contoh: gentamicin (garamycin). Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative.Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. lavase pretoneal/ IV. . urine. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. amikasim (amikn).. takipnea.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

contoh : cairan jernih sampai lembut.html . Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi. protein. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22. albumin. keseimbangan nitrogen sesuai indikasi.Awasi BUN.36 http://ashar-ibenk. Tambahkan diet sesuai toleransi. glukosa.blogspot.com/2012/01/ashar-askep. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster..

Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Fungsi peritoneum :1. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati.B. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen.Jumat. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. PENGERTIAN PERITONITIS . dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. kurvaturan minor.

volvulus dan kanker. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. dan strangulasi kolon asendens. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Sesudah operasi. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. penyakit ringan dan terbatas. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. defans muscular. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. syok perioperatif. divetikulitis. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. pancreas perforasi kolon. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. kontaminasi peritoneal. Semakin rendah kadar protein cairan asites. dan tanda-tanda umum inflamasi. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering .lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. C. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). perforasi kolon akibat diverdikulitis. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. dan transfuse yang pasif.

misalnya cairan empedu. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. Terjadinya proliferasi . iskemia. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. pascatransplantasi. penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. Coli 40%. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. atau HIV). bukan berasal dari kelainan organ. dan golongan Staphylococcus 3%.menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). trauma atau perforasi tumor. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. barium. D. Klebsiella pneumoniae 7%. infeksi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. penggunaan steroid. tatikardi. E. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. jenis Streptococcus lain 15%. spesies Pseudomonas. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. syok sepsis. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). ensefalopati toksik. atau penggunaan analgesic).

diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. Bila tidak ada. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat.bacterial. tanda-tanda peritonitis. debris seluler dan darah. terdaat darah dalam lambung. koloid dan elektroli adalah focus utama. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. syok. menjalani wawancaran . Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. hilangnya bising usus. buli-buli dan rectum.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. F.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. sel darah putih. PENATALAKSANAANPenggantian cairan. terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Prolaps visera. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan.

memberikan medikasi intravena. Pada beberapa contoh. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. Kapan berkaitan dan memungkinkan. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan.5. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini.2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. I. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. intervensi dan evaluasi diuraikan. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). diagnosa keperawatan. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3.3. Bagaimanapun. proses keperawatan pengkajian. Pada fase pascaoperatif langsung. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi.praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. BAB II TINJAUAN KASUS .

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian. tergantung lama perawatan.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi. ECG.Mencegah kelemahan. JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges. pedih dan sulit diobati.html . ECG : JakartaFarmaca Peritonitis.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21. 2002.Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. dkk. 2000.Keperawatan Medikal Bedah 5. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Majalah-farmacia.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi.Menurunkan resiko kontaminasi. meningkatkan perasaan sehat.Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. 2006. ECG . penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis. JakartaSilvia A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP. www.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot.blogspot.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS.com/2009/01/askep-peritonitis. Price.

. yang menutupi usus dan mesenterium. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. vesica fellea. jejenum. ileum. lien. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. duodenum. dan appendix (intraperitoneum). dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. 25 Maret 2011 A. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. hepar.Askep Peritonitis Jumat. kolon ascenden & descenden. dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. kolon transversum. sekum. Terbagi menjadi bagian viseral. ginjal dan ureter (retroperitoneum). Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. maka akan timbul nyeri. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. atau proses radang. pankreas. kolon sigmoid. tekanan. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster.

sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. kemudian ketiga otot dinding perut m. dorsal dan ventral usus saling mendekat. yaitu dari luar ke dalam. Kedua rongga mesoderm. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. obliquus abdominis eksterna. Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. dan di bagian bawah pada tulang panggul. ventriculus dan usus mengalami pemutaran. obliquus abdominis internus dan m. yaitu fascia transversalis. lemak preperitonial dan peritonium. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Lembaran yang menutupi dinding usus. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. bersatu pada tepi kaudalnya. m. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . transversum abdominis. yaitu: 1. 3. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. 2.B. Pada permulaan. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.

Setelah ductus omphaloentericus menghilang. tidak semua tempat terjadi perlekatan. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi. terjadi perlekatan. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. cecum terletak intraperitoneal. Akibat perlekatan ini. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. Tetapi. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat.. Di berbagai tempat. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. Rongga tersebut disebut cavum peritonei. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. disebut terletak intraperitoneal.

PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Keadaan demikian disebut situs inversus. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. perforasi tifus abdominalis. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium. maka dapat menimbulkan kematian . Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. 13 C. Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. D. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. perforasi tukak lambung. ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. Kadang-kadang . licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran.

gangguan sirkulasi dan oliguria. Pelepasan berbagai mediator. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Peritonitis bakterial primer. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. . tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. dapat timbul peritonitis umum. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. mengakibatkan dehidrasi. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. E. Penyebabnya bersifat monomikrobial.sel. imunosupresi dan splenektomi. seperti misalnya interleukin. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. biasanya E. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Streptococus atau Pneumococus. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. dapat memulai respon hiperinflamatorius. syok. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. produk buangan juga ikut menumpuk. masukan yang tidak ada. Dengan perkembangan peritonitis umum. keganasan intraabdomen. Coli. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. serta muntah.

gagal ginjal kronik. akan mengurangi masalah ini. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Menyeka sarung tangan sebelum insisi. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. getah pankreas. 2. Bakterii anaerob. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. d.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. 4. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. 3. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. khususnya spesies Bacteroides. dan sirosis hepatis dengan asites. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. F. intestinal atau tractus urinarius. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. dan urine. dan sering menimbulkan adhesi padat. lupus eritematosus sistemik. getah lambung. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. sepertii misalnya empedu. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. .

distensi abdominal. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya.Bila telah terjadi peritonitis bakterial. dan distensi abdominal. demam. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. atau tes lainnya. hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Pada keadaan lain (misal apendisitis). Pemeriksaan laboratorium . pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. septik. G. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. batuk. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. kelemahan. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. bernafas. menyebar. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis. nyeri tekan lepas. sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. atau umum. penurunan berat badan. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. Nyeri ini tiba-tiba. 1. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. 5 2. hebat. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. Peritonitis dapat lokal. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. atau mengejan. syok (hipovolemik. demam. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. difus atau umum. tes psoas. dan neurogenik). Selain nyeri. vomitus.

dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. preperitonial fat dan psoas line menghilang. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). nutrisi. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. 2. 5 3. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. . Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). Tiduran telentang ( supine ). dengan sinar horizontal proyeksi AP. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. pemberian antibiotika yang sesuai. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. 3. dsb) atau penyebab radang lainnya. H. yaitu : (rasad) 1. pembuangan fokus septik (apendiks. dengan sinar horizontal. usus halus dan usus besar berdilatasi. proyeksi AP.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. dan mekanisme pertahanan. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen.

Pada umumnya. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. yaitu : (chushieri) 1. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Komplikasi dini . dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. mengeksklusi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Bila peritonitisnya terlokalisasi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Jika peritonitis terlokalisasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi.Keluaran urine tekanan vena sentral. I. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. atau mereseksi viskus yang perforasi. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum.

EGC. S. T. 221239. . alih bahasa dr. Schrock. Gawat Abdomen.4. alih bahasa dr. Ed. Wieiek S.. dalam Kapita Selekta Kedokteran. Peter Anugrah. Rasad S. 2000. Wahyu.. 1998.C. Shires. Jilid: 2. Ekayuda I. S.B. dalam Radiologi Diagnostik. Way. jakarta. Ed. p 302-321. Spencer. Media Aesculapius FKUI. Jakarta. Ed:3. 4. EGC. 3. Schwartz. 2000. Arief M. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Suprohaita.. alih bahasa dr. T. USA. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit.. Jakarta. Lester. 1995. Jakarta. M. Gaya Baru. L . EGC. 1997. Maruzen.. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. 7. Wilson. Petrus Lukmanto. Wim de jong.K.7.R.o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2.. 2. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah. W.6. J. 5.I. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. Laniyati. R. Sjamsuhidayat. Kartoleksono S. F. Jakarta. 6. EGC. p 256-257. Abdomen Akut. 1999. S. Jakarta. L. L. 2000. Ed.. Bedah Digestif. 7th Ed..

. 696. 11. Putz... 2002. 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A. D. Atlas Anatomi Manusia.. M. Sjamsuhidayat. R. Darmawan. C.. Jakarta 10. Hoyt. Jusi. 1997. Jakarta 9. Edisi Revisi... Dahlan. FKUI. Sobotta. Yogyakarta 13. 1997. Anonim. M. Jakarta. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum. Wim de jong. EGC. pada bagian rongga . 1988. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep. Bagian Anatomi FK UGM. John Wright.. Mackersie.NS di 10. D. 2000.R.html Senin. Sjamsuhidajat. Pabst. EGC. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. pada membrane serosa.R. Abdomen. 1995.com/2011/03/askep-peritonitis. R. B.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang.blogspot. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Bristol. 2nd Ed. EGC. Dinding Perut.R. 12. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice.8. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.

Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. proteus dan gram negatif lainnya (20%). Secara umum. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%). namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Sementara gram positif. sepsis psedomonas. defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. klebsiella pnemunae. volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. perforasi kolon akibat devertikulisis. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). B. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. .perut. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. yakni streptococcus (3%). diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. escheria choli (7%).

C. Selain tiga bentuk diatas. misalnya cairan empedu. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan. Masuknya bakteri dalam . Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. Kelainan hati atau gagal jantung. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. 5. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. gangguan sirkulasi dan oliguri. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat.3. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. mengakibatkan dehidrasi. dapat timbul peritonium umum. dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. syok. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. Iritasi tanpa infeksi. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. 6.bahan kimia. 4. sering bukan berasal dari kelainan organ. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin.

E. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. .jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik. sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. Abses peritoneal 3. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. Coli). adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. syok dan gagal ginjal. 4. 2. takikardi. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Pemeriksaan Penunjang 1. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Sepsis F. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Komplikasi 1. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. D.

2. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. X – ray a. 6. Memperbaiki fungsi organ 4. antara lain : 1. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. empedu dan kretinum. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya. b. Pembedahan G. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Mengontrol proses inflamasi . Amilase serum : biasanya meningkat 4.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. menunjukkan hemokonsentrasi. d. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. pemberian antibiotik yang sesuai. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. Pembersihan bakteri dan racun 3. posterior. pus / eksudat. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4.000 SDM mungkin meningkat. Kontrol infeksi yang terjadi 2. emilase.

Pengkajian 1.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A. . hipotermia. demam tinggi. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. takikardi. dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2. Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen. Riwayat kesehatan a. b.

distensi. hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. Pengkajian pola fungsional a. . e. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. Riwayat kesehatan keluarga 3. anoreksia. berkeringat. bunyi keras hilang timbul. terus – menerus oleh gerakan. kekakuan abdomen. lidah bengkak. pucat. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. infeksi pasca melahirkan. Sirkulasi Gejala : takikardi. Tanda : cegukan. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. mual / muntah.c. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. f. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). menyebar ke bahu. Makanan Gejala . abdomen diam. d. umum. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. lokal. ulkus peptikum dan duodenum d. turgor kulit buruk. diare (kadang – kadang). takipnea g. bising usus kasar (obstruksi). nyeri tekan. Penurunan haluaran urine. Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal .

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. 5. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. penyakit saluran GI. mengurangi nyeri d. intraseluler ke area peritonium. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam.h. contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. b. Diagnosa keperawatan 1. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. perforasi kandung kemih / ruptur. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : . diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi.

Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3. Intervensi : . Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. b. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam.a. Pantau suhu lingkungan. d. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. intraseluler ke area peritonium.90C menunjukkan penyakit infeksius akut. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. diharapkan volume cairan adekuat. c. 4. d. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38. Kolaborasi berikan pelunak feses. b. diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen.

diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam . Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. c. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan. Intervensi : a. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : .diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. 5. d. c. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d.a. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. b. elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus.

21 http://fatmazdnrs. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen. penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c.blogspot.com/2010/08/askep-peritonitis.Story di 07. kekakuan nyeri tekan.a. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d.html . Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b.

lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. .Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.

stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. sulfonamida. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. 2. Etiologi 1. A. ruptur hati . selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).Peritonitis adalah peradangan peritoneum. Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. lycopodium. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Secara langsung dari luar. • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini.

coli 40%. B. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . otitis media. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. glomerulonepritis. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. 7. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. 8. 3.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. 4. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. 4. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. atrofi umum. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. spesies pseudomonas. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. mastoiditis. 3. 1. 6. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. klebsiella pneumoniae 7%. 2. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. difus. 5. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%.

obliquus abdominis internus dan m. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Pelepasan berbagai mediator. Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. lumbalis I. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. dapatan. yaitu fascia transversalis. a.C.thorakalis VI – XII dan n.sircumfleksa superfisialis.6 D.iliaca. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan. dapat memulai respon . yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. lemak preperitonial dan peritonium. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. m.epigastrika inferior. kemudian ketiga otot dinding perut m.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. Dari kaudal terdapat a. maka dapat menimbulkan kematian sel. yaitu dari luar ke dalam. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. dan di bagian bawah pada tulang panggul.epigastrika superior. seperti misalnya interleukin. Intercostalis VI – XII dan a. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis.transversum abdominis. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. maupun iatrogenik.pudenda eksterna dan a.obliquus abdominis eksterna. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal. a. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga.

usus kemudian menjadi atoni dan meregang. produk buangan juga ikut menumpuk. dan mekanisme pertahanan. mengakibatkan dehidrasi. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Keluaran urine tekanan vena sentral. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. serta muntah. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi.hiperinflamatorius. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. nutrisi. pembuangan fokus septik (apendiks. masukan yang tidak ada. pemberian antibiotika yang sesuai. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. E. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. . dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. dsb) atau penyebab radang lainnya. gangguan sirkulasi dan oliguria. syok. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus.

karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . KONSEP KEPERAWATAN A. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. mengeksklusi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. atau mereseksi viskus yang perforasi. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. Jika peritonitis terlokalisasi. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. 1. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Pada umumnya. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal.

NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. nyeri tekan. hipotensi (tanda syok). Penurunan haluaran urine. berkeringat. terus- menerus oleh gerakan. KEAMANAN . pucat. 5. nyeri tekan. distensi abdomen. Diare (kadang-kadang). Edema jaringan. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). mual / muntah. : Muntah proyektil. MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. bising usus kasar (obstruksi). Tanda 6. abdomen diam. ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. menyebar ke bahu. umum atau lokal. bunyi keras hilang timbul. kaku. Tanda : Cegukan. SIRKULASI Tanda : Takikardia. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4. lidah bengkak. 7. haus. 3. PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. Membran mukosa kering. kekakuan abdomen. : Distensi.2. takipnea. Hiperresonan/timpani (ileus). turgor kulit buruk.

Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. kehilangan cairan dari sirkulasi. 4. Catat perubahan status mental (contoh bingung. 3. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. takipnea.Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). dialisa peritoneal. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. 2. takikardia. 5. dan rendahnya status curah jantung. 1. demam. penurunan tekanan nadi. apendisitis akut. Intervensi : a. c. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. Rasional : tanda adanya syok septik. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. pusing) . C. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. B. Kaji tanda vital dengan sering. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. b.

Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. 2. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . suhu. dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. h. hipotensi. i. Catat warna kulit. luka insisi/terbuka. g. Rasional : Hangat. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen.Rasional : Hipoksemia. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. d. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. kelembaban. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. Rasional : mencegah penyebaran. dan sisi invasif. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. e. kemerahan. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. f. Observasi dreinase pada luka/drein.

Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. e. lingkar abdomen. b. balutan. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. d. keringat. perpindahan cairan. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. menambah edema jaringan. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Ukur CVP bila ada. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : . Pantau tanda vital. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. 3. hemovac. Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. demam. turgor. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. Rasional : hipovolemia. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. drein. Ubah posisi dengan sering. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. berikan perawatan kulit dengan sering. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. takikardia. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. takipnea. c. Catat edema perifer/sakral.Intervensi : a.

Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Berikan tindakan kenyamanan. contoh pijatan punggung. Rasional : menurunkan mual/muntah. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. memerlukan evaluasi lanjut. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. latihan relaksasi/visualisasi. konstan). Awasi haluaran selang NG. penurunan absorpsi air dan diare . napas dalam. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus. catat lokasi. Berikan perawatan mulut dengan sering. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. 4. b. b. c. Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. Selidiki laporan nyeri. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal.a. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Auskultasi bising usus. tajam. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada. d. lama.

Evaluasi tingkat ansietas. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. b. 5. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. c. meningkatkan perasaan sakit. dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral. menghemat energi. d. e. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. penampilan bising usus normal. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. dan dapat meningkatkan kemampuan koping.c. . catat respon verbal dan non-verbal pasien. Dorong ekspressi bebas akan emosi.

4. Suzanne C. dkk. 2001. http://health.scribd. 3.D. 1.com/2009/03/penanganan-peritonitis.indonesiaindonesia.html http://medicastore. Marilynn E.blogspot.com/f/10758-peritonitis/ http://www. Smeltzer.blogspot. Jakarta : EGC. 5. 2. Rencana Asuhan Keperawatan.html http://health.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges. Brenda G.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas. 2000.detik.com/2009/10/peritonitis. Bare.detik.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www. Jakarta : EGC.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# .html http://medlinux.

08. 22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.blogspot.http://silahealt. (04.com/2012/05/askep-peritonitis.html Selasa.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis .

Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman. dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. kandung empedu atau usus buntu. . Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. ureter. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. Cedera pada otot kandung empedu. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. kandung kemih. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. usus. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). Pada wanita. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. Kelainan hati atau gagal jantung. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus.

Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. komplikasi bisa berkembang cepat. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Gejalanya bisa berupa. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. misalnya lambung atau usus dua belas jari. seperti kegagalan paruparu. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. seperti mudah lelah. Patofisiologi Peritonitis . Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. bisa menyebabkan bingung. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama.Iritasi tanpa infeksi. nyeri dada dan pusing. rasa mengantuk dan bahkan syok. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. terlihat pucat. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. disorientasi. tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. muntah darah. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. mengeluarkan tinja yang kehitaman. mengeluarkan darah dari rectum. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah.

perforasi tukak lambung. Transversum abdominis. perforasi tifus abdominalis. yaitu dari luar ke dalam. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya. rbacter-Klebsiella. lemak dan sub kutan dan facies superficial. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. kemudian ketiga otot dinding perut M. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis.  mycobacterium tubercolusa. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. M. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. Obliquus abdominis eksterna. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. perforasi appendicitis. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. dan M. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. Obliquus abdominis internus. . dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin.

Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. pemberian antibiotika yang sesuai. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. seperti misalnya interlukin. Keluaran urine tekanan venasentral. Intercostalis VI-XII dan a. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. maupun iatrogenic.. maka dapat menibulkan kematian sel. Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Epigastrik superior. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Pelepasan berbagai mediator. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. dsb) atau penyebab radang lainnya. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. epigastrika inferior. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. a. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik .dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. pemberian antibitika yang sesuai. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kaudal terdapat a. dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. dapatan. sirnucmfleksa superfisialis. pembuangan focus septic (apendiks. a. nutrisi dan mekanisme pertahanan. pudenda eksterna dan a. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. iliaca. dapat memulai respon hiperinflamatorius. yaitu fascia tranversalis.

Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. gangguan sirkulasi dan oliguria. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada.oleh ginjal. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. Dengan perkembangan peritonitis umum. serta muntah. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang. syok. kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. . produk buangan juga ikut menumpuk. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. dapat tibul peritonitis umum. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. usus kemudian menjadi atoni dan meragang. kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi.

Keadaan Umum Keadaan umum baik. maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Pasien berbaring . Pemeriksaan Fisik a.5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul). Kesadaran komposmentis. Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. bicara jelas. namun terkadang disertai dengan merintih. puntiran usus. kebocoran usus. Bentuk badan sedang. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1.

g. dan distribusinya merata. Tidak terdapat massa. Terdapat serumen pada liang telinga. membrane mukosa kering. Terdapat plaque dan caries pada gigi. h. Hidung Hidung simetris.dan bergerak terbatas. Mulut Bibir tidak sianosis. Suhu tubuh teraba hangat. telinga kotor. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. Jumlah rambut banyak dan merata. Kepala Muka simetris. iris berwarna coklat. Pasien terlihat pucat dan berkeringat.rambut kuat. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. Rambut Warna kulit normal. Warna kuku kemerahan. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. turgor kulit jelek. Mulut kotor dan berbau. perdarahan. sclera berwarna kemerahan. . Mata Reflek pupil (+). Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. konjungtiva berwarna merah muda. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. nyeri tekan. c. Kulit. f. Pendengaran normal/tidak tuli. Kuku. Tidak terdapat lesi. tidak terdapat secret. maupun sumbatan. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. d. maupun krepitasi. berwarna hitam. e.

bentuk normal. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. dada sewarna dengan bagian tubuh lain. gerakan bebas. massa. 2. l. Terjadi penurunan peristaltic usus. Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. c. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. . j. maupun hemoroid. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan.i. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. k. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan. dan sewarna dengan bagian tubuh lain. b. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). sewarna dengan bagian tubuh lainnya. Payudara simetris. Dada Terdapat peninggian diafragma. Tidak ada pembengkakan. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris.

d. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. dan cairan asites. NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. GDA Asidosis metabolic. Foto dada Peninggian diafragma. kemudian menyebar keseluruh perut. eksudat/secret. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. g. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . usus besar. e. Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah. f. Pasien mengalami gangguan pola tidur.

Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen. turgor kulit jelek. tampak kumuh dan tidak bersih. gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut.terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau. mulut berbau dan muntah . membrane mukosa kering. kebocoran 5. Tidak mampu 3. usus. puntiran usus. penampilan 4. sklera berwarna kemerahan. maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan .

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3.tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2. Resiko infeksi DIAGNOSA 1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi . Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5.

karakteristik.x 24 jam. frekuensi.. kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien . Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi. durasi.PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1.

rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan.Analgesic Administration Keterangan : 1. sering dilakukan 5. jarang dilakukan 3. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. tidak dilakukan sama sekali 2. Diharapkan kebutuhan 2. kadang dilakukan 4.

digunakan 3. Keterangan : 1. penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN.batas normal terjadinya gagal ginjal. kurang 5. sedang 4. sangat digunakan 2. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan .

Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi. menunjang aktivitas. Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. dan output. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien. sedang 9. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. pada mulut.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. sangat digunakan 7. digunakan 8. . tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi. Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. nafsu makan. kurang 10. kalori tinggi. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. memberikan makanan yang disukai. bergizi.

pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Memudahkan pasien untuk tidur. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur. Berikan pijatan nyaman. . Agar kebutuhan tidur terpenuhi. Memberikan kenyamanan. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Menciptakan kenyamanan.dan minum. Anjurkan peningkatan lamanya tidur. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien. Berikan perawatan mulut sebelum makan.

. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. pasien. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam. Mempertahankan kebersihan diri pasien. teknik peningkatan tidur. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi.Berikan obat tidur. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan.

turgor. panas. cuci kulit dengan hati-hati. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya . nyeri. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam.Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. tumor. gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. dan adanya fungsiolaisa. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit. kelembaban tekstur. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko.

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

1996. Marion et all. Bulechek. McCloskey.com Doenges. Louis : Mosby Inc.DAFTAR PUSTAKA Johnson. Budi. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. www. Arif. Mansjoer.Year Book Inc. Joanne C. Jakarta : EGC. Santosa. 1999. 2000.medicastore. St. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Louis : Mosby . . St. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). Prima Medika. Marilynn E. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Potter dan Perry. 2005. 2000. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). Buku Kedokteran ECG: Jakarta. Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. et all. dan Gloria M. Jakarta : Media Aesculapius.

45 http://dkp2011.yaw di 19.Diposkan oleh mbah jito OK la.html ..com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful