diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron.9) Memahami komplikasi pada peritonitis. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. dorsal dan ventral usus saling mendekat. . sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Kedua rongga mesoderm. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. kurvaturan minor. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3. yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Pada permulaan.

atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). defans muscular. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. dan tanda-tanda umum inflamasi. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. volvulus dan kanker. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). penyakit ringan dan terbatas. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. 2. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) . atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. dan strangulasi kolon asendens. perforasi kolon akibat diverdikulitis.2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala.3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.

Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Infeksi bakteri 1. kontaminasi peritoneal.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. stapilokokus aurens. lycopodium. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4.3 Etiologi 1. 1. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Secara langsung dari luar. sulfonamida. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. . Terkontaminasi talcum venetum. Tukak pada tumor 7. Salpingitis 8. dan transfuse yang pasif. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. divetikulitis. syok perioperatif. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3. 3. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Sesudah operasi. Tukan disentri amuba/colitis 6. Operasi yang tidak steril 2. ruptur hati 4. pancreas perforasi kolon. streptokokus alpha dan beta hemolitik. 2. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Tukak thypoid 5. 1.

misalnya cairan empedu. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. 2. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. Semakin rendah kadar protein cairan asites. dan golongan Staphylococcus 3%. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). otitis media. bukan berasal dari kelainan organ. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. spesies Pseudomonas. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. Klebsiella pneumoniae 7%. glomerulonepritis.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. mastoiditis.2. Coli 40%. jenis Streptococcus lain 15%. barium. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Peritonitis bakterial primer .

Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. khususnya spesies Bacteroides. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. Coli. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. Sreptococus atau Pneumococus. perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. Penyebabnya bersifat monomikrobial. Perforasi organ-organ dalam perut. Luka/trauma penetrasi. gagal ginjal kronik. biasanya E. 1. misalnya: . dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. keganasan intraabdomen. 3. Kuman dapat berasal dari: 1. Peritonitis tersier Peritonitis tersier. dan sirosis hepatis dengan asites. lupus eritematosus sistemik. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. 4. misalnya appendisitis. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. Bakteri anaerob. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. 2.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. imunosupresi dan splenektomi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. 2) Posisi LLD. . posterior. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. Sebelum terjadi peritonitis. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi.Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. preperitonial fat. didapatkan: 1. 3. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Tiduran terlentang (supine). ada tidaknya penjalaran. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 2. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Usus halus dan usus besar dilatasi. lateral). untuk melihat distribusi usus. 3. 2.Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. penebalan dinding usus. yaitu : 1. 3.

Pertimbangan dilakukan pembedahan a. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum. 2. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). memburuknya pasien saat ditangani). 4. 3. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. distensi perut. tanda perdarahan (syok.l: 1. dan tanda iskemia (intoksikasi. dan oklusi vena atau arteri mesenterika. 2. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. tanda sepsis (panas tinggi. nyeri tekan terutama jika meluas. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance.l : 1. leukositosis). Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas. extravasasi bahan kontras. distensi usus. Pemeriksaan laboratorium. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. Mengeliminasi sumber infeksi. . Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a.3) Posisi setengah duduk atau berdiri. massa yang nyeri. 2.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. tumor. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. 3. 2. Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. anemia progresif). Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3.

5. irigasi intra operatif. lavase. . Terapi bedah pada peritonitis a. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus. Pemberian antibiotic. 2.V. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal.l: 1. Pemberian antibiotic 3. peristaltic usus pulih.l : 1. nutrisi.V. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. dan tidak ada distensi abdomen. dsb) atau penyebab radang lainnya. dan mekanisme pertahanan. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. 4. produk ngt minimal. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Irigasi kontinyu pasca operasi. 3. diberikan bila sudah flatus. dapat berupa air. 2. Pemberian terapi cairan melalui I. Pemberian cairan I.4. dan jaringan yang nekrosis. suctioning. Oral-feeding. pembuangan fokus septik (apendiks. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. dan nutrisi. pus dan fibrin. pemberian antibiotika yang sesuai.kain kassa. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement. Keluaran urine tekanan vena sentral. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. darah. cairan elektrolit. Kontrol sumber infeksi. Terapi post operasi a.

Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Pada umumnya. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. terutama bila terdapat apendisitis. c. d. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. b. mengeksklusi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. . Jika peritonitis terlokalisasi. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Bila peritonitisnya terlokalisasi. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). atau mereseksi viskus yang perforasi. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Diberikan antibiotik yang tepat.a. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan.

intervensi dan evaluasi diuraikan. Bagaimanapun. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. 3. Pada fase pascaoperatif langsung. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. diagnosa keperawatan. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. proses keperawatan pengkajian. memberikan medikasi intravena. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). . Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Kapan berkaitan dan memungkinkan. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Pada beberapa contoh. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. 2. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh.

Identitas 1. 2. Portal Pyemia (misal abses hepar). yaitu: 1. Pekerjaan . Syok hipovolemik. 5. Abses residual intraperitoneal. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Nama pasien 2.2.1 Pengkajian A. Komplikasi dini. Obstruksi intestinal rekuren. Septikemia dan syok septic. Suku /Bangsa 5. Jenis kelamin 4. 1. Umur 3. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. 3. 2. Adhesi. Komplikasi lanjut. 2. Pendidikan 6. 1. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. 4.

Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. 1. lupus eritematosus. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. akral : dingin. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. dispnea. komplikasi post operasi. . dan pucat. 1. 1. hipovolemik atau septik). Pemeriksaan Fisik 1. gagal ginjal kronik. Maka kemungkinan diturunkan ada. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan.7. seperti: Tubercolosis. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. dan sirosis hepatis dengan asites. basah. 1. 1. sindrom nefrotik. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan. trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. Alamat 8. peritoneal diawali terkontaminasi material. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit).

sulit berjalan. dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin.1. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. 1. 1. dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). Selain itu terjadi distensi abdomen. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. 1. bising usus menurun. kekuatan otot mengalami kelelahan. H. nyeri perut dengan aktivitas. G. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . 1. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. Kemampuan pergerakan sendi terbatas. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Pengkajian Spiritual 2.

dengan sinar horizontal. gallium Ga 67 scan.1. PTT dan INR 3. dengan sinar horizontal proyeksi AP. proyeksi AP. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi.000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. Tiduran telentang (supine). renal stone disease) 6. Complete Blood Count (CBC). . Cairan peritoneal. 4. PT. indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. Scintigraphy 5. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Foto polos 2. 2. technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). Test fungsi hati jika diindikasikan 4. 3. USG 3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. CT Scan (eg. yaitu: 1. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2.

untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. Posisi setengah duduk atau berdiri. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. 3. Air fluid level. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). penebalan dnding usus. 3. 2. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. air fluid level. Posisi tidur. Distensi usus general. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance.Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. Sebelum terjadi peritonitis. ada tidaknya penjalaran. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. tanda utama radiologi adalah: . jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. 2. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Herring bone appearance. gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. preperitonial fat. Pada kasus peritonitis karena perdarahan. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Posisi LLD. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. untuk melihat distribusi usus. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). dan herring bone appearance.

2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Posisi tiduran. didapatkan : 1. Usus halus dan usus besar dilatasi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 3. Posisi duduk atau berdiri. 6. didapatkan preperitonial fat menghilang. lateral). didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal.3 Intervensi . 3. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Posisi LLD. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. dan kekaburan pada cavum abdomen. 4. 5. 2.1. 3. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. posterior. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.2 Diagnosa 1. 3. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. 3. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. demam dan kerusakan jaringan. Ketidakefektifan pola nafas b. 3) X. preperitonial fat dan psoas line menghilang. psoas line menghilang.

dan menyebar ke atas. 2. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. demam dan kerusakan jaringan. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. Nyeri cenderung menjadi konstan. Selidiki laporan nyeri. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. 3. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. lama. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1.1. 1. Berikan tindakan 4. 3. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. tajam. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. lebih hebat. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. catat lokasi. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. konstan) 1. Menurunkan mual/muntah Rasional . Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1.

. yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil. contoh pijatan punggung. latihan relaksasi atau visualisasi. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. Analgesik. Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. Antiemetik. narkotik 2. Menurunkan mual/munta. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. contoh hidroksin (Vistaril) 3. Berikan perawatan mulut dengan sering. napas dalam. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. \is 1.kenyamanan. Antipiretik. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan.

Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. takipnea. dan rendahnya status curah jantung. demam. Kaji tanda vital dengan sering. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. hipotensi. Tanda adanya syok septik. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Catat perubahan status mental (contoh bingung. dan asidosis dapat menyebabkan 1. Kriteria hasil: 1. 2. takikardia. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Hipoksemia. 2. apendisitis akut. pingsan). Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. tidak demam. dialisa peritoneal. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi.1. 3. meningkatkan kenyamanan pasien. 1. kehilangan cairan dari sirkulasi. bebas drainase purulen atau eritema. penurunan tekanan nadi. 2.

Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Observasi drainase pada luka. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. 1. kemerahan. suhu. 1. 2.1. toksin 1. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Hangat. Menurunkan resiko terpajan . 1. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. Mencegah penyebaran. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter. luka insisi/terbuka. Memberikan informasi tentang status infeksi. 3. Catat warna kulit. 1. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. Awasi haluaran urine. penyimpangan status mental. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. 4. kelembaban. dan sisi invasif. 5. 2. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius.

Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. 2.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. bila diindikasikan. 4. contoh gentacimin (Garamycyin). Klindamisin (Cleocin). pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. 2. contoh untuk drainase abses . kultur luka.dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. Berikan antibiotik. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif. urine. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Bantu dalam aspirasi peritoneal. Kolaborasi: 1. Dilakukan untuk membuang 1. Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk. amikasin (amikin). 3. 1. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah.

atau reseksi usus. membuang rupturapendiks/kandung 1. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu.lokal. mengatasi perforasi ulkus. . membuang eksudat peritoneal.

Kriteria Hasil: 1. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Status nutrisi terpenuhi 2. Berat badan normal .1. Nafsu makan klien timbul kembali 3.

lanjut diduga ada defisit nutrisi. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. Auskultasi bising usus. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. 2.4. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 1. dan catat adanya muntah atau diare. 3. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. penurunan absorpsi air dan diare. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. Meskipun bising usus sering tak ada. memerlukan evaluasi lanjut. 6. Rasional . Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. 5. 1. catat bunyi tak ada atau hiperaktif. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. Awasi haluan selang NG. 4. Timbang berat badan tiap hari.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Kolaborasi: 1. 1. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). Monitor Hb dan albumin 1. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. dam kelancaran flatus.2. 1. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. penampilan bising usus normal. 3. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. 2. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. 1. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. Kriteria hasil: .

catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. Rasional . Hipovolemia. 2. 2. 3. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. perpindahan cairan. 2. Tanda vital stabil 3. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. takipnea. Pantau tanda vital. demam. Turgor kulit baik 5. catat edema ginjal. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. Membran mukosa lembab 4. takikardia. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. Berat badan dalam rentang normal. Ukur CVP bila ada. 1. Ukur berat jenis urine (homeostatis).1. dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. turgor. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. 2. 3. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Pengisian kapiler meningkat 6.

elektrolit. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. 4. Berikan plasma/darah. 3. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. 1. Batasi pemasukan es batu. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. cairan. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1. 1. elektrolit. kreatinin. 2. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. BUN. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare. . Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. Koloid (plasma.perifer/sacral. contoh Hb/Ht. menambah edema jarinagan. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. 2. protein. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. 2. albumin. 1. Awasi pemerikasaan laboratorium.

1. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. gelisah. hiperventilasi. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. depresi SSP. hiperventilasi. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional . Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. 2. 3. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. takikardi. 1. Pertahankan pasien pada 2. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. Indikator hipoksemia. Kriteria Hasil: 1. tekanan O2 dan saturasi O2 normal. hipotensi.1.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. dan sianosis. Tujuan: Pola nafas efektif. gelisah. Pernapasan tidak sulit 3. depresi SSP. ditandai bunyi nafas normal. takikardi. Ketidakefektifan pola nafas b. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan).

Berikan O2 sesuai program 1. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1. 1. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 4. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. paru dan menurunkan upaya pernafasan. Penampilan wajah tampak rileks 3. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. 1. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional .posisi semifowler. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal.

Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1.kemajuan penyembuhan. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. 2. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. 3. menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. penyelesaiannya. 2. diagnosa dan pengobatan 4. Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi .

Berikan kenyamanan fisik klien 2. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan.efektif menerima situasi 2. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan. 3. DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS . Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. 1. 4. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya.

suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.ac.unair.http://nuzulul-fkp09. ETIOLOGI .html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum.web.id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.

mastoiditis. glomerulonepritis. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. 1. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. stapilokokus aurens. sulfonamida. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. lycopodium. otitis media. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing.1.  Demam . Secara langsung dari luar. streptokokus µ dan b hemolitik. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. 1.

PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. peritoneal diawali terkontaminasi material. X.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. trauma atau perforasi tumor. difus. sel-sel yang rusak dan darah. didapatkan : .    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik. TEST DIAGNOSTIK 1. Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. lateral). tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. atrofi umum.  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia. Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. sel-sel darah putih. posterior.

PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %. yaitu . Transverse lower abdomen incision. panjang (12. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. pada operasi appendictomy. 5. yaitu. Transverse upper abdomen incision. 4. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.5 cm). yaitu. Indikasi 1.(Internal Blooding) 4. Usus halus dan usus besar dilatasi. insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. Peritonitis 3. Perdarahan saluran pencernaan. Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar. 3. 2. Paramedian. yaitu . 1. Masa pada abdomen . insisi di bagian atas. Midline incision 2. Ada 4 cara.   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya.5 cm). misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. misalnya. LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.

aritmia jantung. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. 2. 3. Ventilasi paru tidak adekuat 2. 4. 3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Mempercepat penyembuhan. Tujuan perawatan post laparatomi. menggerakan otot-otot kaki. Komplikasi post laparatomi. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. 1. menggerakkan otot-otot bokong. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. dan otak. hati. . POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. Mempersiapkan pasien pulang. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. latihan batuk. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi. 1. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. Mempertahankan konsep diri pasien.Komplikasi 1. 4. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. 5.

1. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. organisme. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Pengisian oleh kolagen. kesalahan menutup waktu pembedahan. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.  Fase ketiga . Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. 1. gram positif.

Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan. 1. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. 2.Sekitar 2 sampai 10 minggu.  Fase keempat Fase terakhir. Sirkulasi  Tensi. nadi. Pengembalian Fungsi fisik. 3. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. latihan mobilisasi dini. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. warna kulit. adalah. dan refill kapiler. Mempertahankan konsep diri. Pencegahan infeksi. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. dan suhu. 1. jenis pernapasan. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. bunyi pernapasan. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. . Kolagen terus-menerus ditimbun. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. respirasi.

3. Balutan    Apakah ada tube. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. mual. tanda-tanda vital. Gangguan rasa nyaman. Diagnosa Keperawatan 1. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. muntah. 3. dan fasilitas ventilasi. Evaluasi .1. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. 4. Cairan infus atau transfusi. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. suasana hati setelah operasi. posisi pasien. 1. jangan sampai drain tercabut. 2. Rasa nyaman  Rasa sakit. Perawatan luka operasi secara steril. Peralatan   Monitor yang terpasang. Tindakan keperawatan post operasi: 1. Persarafan : Tingkat kesadaran. Monitor kesadaran. jumlah) drainage. intake dan output 2. Psikologis : Kecemasan. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. 1. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. CVP. 2.

Sutisna Himawan (editor).wordpress. 4. Jakarta.1. Luka operasi baik. Soeparman. http://aqibpoenya. Edisi II. Lippincott Company. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Kumpulan Kuliah Patologi. Philadelphia. FKUI Brunner / Sudart. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. 1987. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. dkk. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. 1984. 2.com/askep-peritonitis/ . Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. 3.

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

Selasa. 31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .

: 2010.0973 .Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A.

ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang. PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. 2000: 1613) C. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. b. asam lambung. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. B.TINJAUAN TEORI A. atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu.32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. (Tucker : 1998. a. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison. pankreatitis. 1995: 402). (Harison. TANDA DAN GEJALA Menurut Price. dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . 1. kaku.

ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih. 2. . - Menurut C. Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Dengan perkembangan peritonitis umum. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum.2. E. 3.

b. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. Ketika penyembuhan terjadi. dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan.usus kemudian menjadi atoni dan meregang. dehidrasi dan akhirnya syok. (C. membentuk suatu abses. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. a. edema. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. (Price. nyeri dan tanpa bunyi. 2. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). 1996 : 228) F. muntah dan abdomen yang tegang. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. mengakibatkan dehidrasi syok. kaku. perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. gangguan sirkulasi dan oliguria. Misalnya pemasangan kateter 1. demam dan leukositosis sering terjadi. ketidakseimbangan elektrolit. c. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Long. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak.

3. a. c. 1993 : 175) G. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. 6. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik.3. PENATALAKSANAAN 1. 2. 1. antibiotik dan vitamin . b. 4. 5. KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H.

Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena. - Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. 1995 : 402) . (Price. pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2.

FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 9. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . Pernafasan torakal Cepat dangkal 11. 6. 1. 5. 7.I. 2. 8. Emesis fekal J. 3. 4.

DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang .- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam. beritahu dokter ntervensi : - 2. HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : . observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit. ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit.Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam . gas darah. pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 .Kaji status pernafasan. antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam.Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3.

kaji tipe.Pantau selang nasogastrik .Berikan hygiene oral dan nasol sering . DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : . 5. lokasi.Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam .Pantau terhadap keluarnya flatus .Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan.Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri.Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering . berat nyeri .Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat . 4.Ukur lingkar abdomen.Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : . sekap 4 jam .Berikan periode istirahat yang nyaman terencana . DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan .

Standar Perawatan Pasien. 1998.Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan .com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31. 1996. Ilmu Penyakit Dalam (IPD).html .Kaji ketrampilan koping . 1995. 1993.24 http://mediadani. Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price.Gelaskan semua tindakan dan prosedur .Kaji tingkat ansietas .KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : .blogspot. FKUI : Jakarta Tucker. Long. EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C. Patofisiologi : Jakarta Soeparman.

30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .Senin.

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada.(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. dkk. (Ahmad H. 1999: 514) . Asdie. (Marilyinn Doengos.

dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi.7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan. (Soeparman S. 1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis. larutan ringer. lebih baik prognosenya. 1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . (Soeparman S. berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik.

pangkreatitis. salpingitis. lidah bengkak. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas . cegukan : Terdapat nyeri tekan. lemas. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. takipnea : Membran mukosa kering. bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin. terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen. kejang.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut. bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis. devertikulitis. (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. dan sebagainya.

umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi . exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi.dkk.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah. kadang laebih dari 20. (Marilynnn Doengoes. imobilitas. gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma. 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi.

Pantau lokasi. II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : .Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri .Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx. Kep. karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi .(1) Dx. hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan . I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : .Kaji tanda-tanda vital.Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi . perhatikan takikardi.Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : . Kep.Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .

Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : . kaji warna.Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan . jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi .Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Observasi defekasi pertama pasca operasi. III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : .. Kep.Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi .Mempertahankan berat badan yang normal . konsistensi.Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : .Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx.

membran mukosa.Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : . ahli. IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : . sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari .Monitor intake dan output.Menunjukkan tanda vital stabil . gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx.Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi .Masukan dan haluaran seimbang . Kep.Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi ..Kolaborasi dengan dokter.Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan . turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.

Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman . V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : .Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : ..Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan. pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah . teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar . Kep. perawatan luka.Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx.Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat .Demonstrasikan penggantian balutan.Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet .

(2002)Keperawatan Medical Bedah.EGC. . Soeparman. Jakarta Dongoes Marilynn E. Ilmu Penyakit Dalam. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. (1979). (1993). Edisi 8 Vol 2. Jakarta. Edisi 4.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Jakarta. EGC.

2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. agama : Islam. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan. pendidikan : SMP (tamat). Suraabya. Diagnosis masuk : peritonitis generalisata. CM : 10407631. No. M dengan Peritonitis Generalisata 2. umur : 18 tahun..1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat. jenis kelamin : Perempuan. nyeri seperti tertusuk. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. jenis kelamin : Perempuan.2. hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh. alamat : Pasapen. penghasilan : -.3. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. suku/bangsa : Jawa/Indonesia.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn. pendidikan : SMU.2. umur : 40 tahun. pekerjaan :. alamat : Pasapen Suraabya.09 2004. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi. MRS tanggal 29 . 7) Psiko Riwayat Psiko. N.M. Soetomo Surabaya. klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. pekerjaan : Ibu Rumah tangga.2 Tinjauan Kasus pada Nn. skala nyeri 3. agama : Islam. .3.

warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. komposisi nasi+lauk+sayur. : Klien mengatakan makan 3x/hari.30 WIB. (3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. klien koopeatif dengan petugas. : Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk. komposisi bubur kasar+lauk. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. 21. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. Klien tidur siang kadang-kadang. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari. klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit . 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari. klien hanya berdo’aagar segera sembuh. : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas. porsi 1 piring sedang.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai.23.00 s/d 04. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah.

(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. tidak ada sekret. RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. tidak ada polip. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. suara jantung S1S2 lupdup. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm. sklera putih. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. . 9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. Hidung : Bersih. N : 100x/mnt. gigi tidak caries. tidak ada nyeri tekan. S : 38oC. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler.

37 . : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari. akral hangat.51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10.000 /ul 38 – 42 % 80 . : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas. tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 .0 4. tangan kanan dapat bergerak bebas. akral hangat. hepar dan lien tidak teraba.500 / ul 31. keluar pus bercampur darah.300 – 11.31 33 .2004) Hemoglobin 10. terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm.5 L = 13.7 g/dl P = 11.8 78.5 25.99 27 . Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut.4 – 15.Abdomen : Inspeksi : Perut distended.9 33.4 – 17.

33 – 5.000 /UL 4.000 – 250. 2001.05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya.05 75 150. April1 2005 Yang Mengkaji. Bambang Irianto.S NIM.Trobosit Eritrosit LED 380.000 4.08 .

3.2.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn. N : 100 x/mnt. RR : 20 x/mnt DS 2. N : 100 x/mnt. . : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . Reg.TD : 120/80 mmHg. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas . M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. S : 38oC.2.TD : 120/80 mmHg.

3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn. Ditemukan 3 Tgl.Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl.2.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . Teratasi 4 No. M : 18 tahun No. S : 38oC.TD : 120/80 mmHg.3. Reg. . RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : .Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg. Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi . N : 100 x/mnt 2 .Perut distended .2.

melakukan 4. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2. dalam pemberian 6. Tujuan Intervensi 4 1. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5. keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. No. dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh .3. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn. 4. mmHg.2.4 INTERVENSI Nama M Reg.2.100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat. tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5. 5 Berikan penjelasan pada 1. N : 80 .

Setelah dilakukan askep selama 6. 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . tentang proses 4. Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. observasi TTV tiap 4 jam. klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya.3. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. support 4.Inj. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas . Berikan penjelasan pada 2. 2. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1.

35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk.5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn.Skala nyeri 3 .No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09.2.30 No.3. Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi. . Mengkaji tingkat nyeri. 5 09. Reg.

00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit. RR : 20 x/mnt 10. 09.40 .40 proses b/d 05-09-04 08. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.t : 38 oC.TD : 120/80 mmHg.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. Observasi TTV .Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya. Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas . N : 100 x/mnt . .00 09.00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap.

09.t : 38 oC. 09. N : 100 x/mnt. .45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien. RR : 20 x/mnt 10. Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV.TD : 120/80 mmHg.50 .00 .jika ada apa-apa.

.2. Reg.Observasi TTV .Luka keluar pus bercampur darah. RR : 20 x/mnt .t : 38 oC.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12.6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No. Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : .Berikan antibiotik. .Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi.TD : 120/80 mmHg.3. N : 100 x/mnt. . Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. O : .30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi.2. Nyeri skala 3 .

. R:- S : . RR : 20 x/mnt 12. 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit .TD : 120/80 mmHg.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka. .Observasi TTV klien mengungkapkan . N : 100 x/mnt.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh. proses t : 38 oC. Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien. 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit.30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. O : .Klien mengatakan sedikit lega.

.TD : 120/80 mmHg.Berikan obat sesuai indikasi.30 . Lakukan rawat luka. R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi.t : 38 oC. keluar pus bercampur darah. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang. N : 100 x/mnt. RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian. . .Luka basah. .Observasi TTV .Anjurkan melakukan relaksasi. O : .

Luka basah. .Anjurkan melakukan relaksasi. N : 100 x/mnt. .t : 38 oC.TD : 120/80 mmHg. . .t : 38 oC.30 O : .Klien kooperatif. 12. RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang. . N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat.Observasi TTV . RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : . keluar pus. : Rencana dihentikan. O : .

30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang.blogspot. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12. dan tanda-tanda umum inflamasi.com/2012/04/askep-peritonitis.html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1. Diposkan oleh Udien Martapura di 05.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com.1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis. 5 .No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka.Berikan injeksi sesuai indikasi. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. defans muscular. .lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. penyakit ringan dan terbatas.

atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. 1. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis.Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). volvulus dan kanker. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui lebih jelasnya. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. 2. . Apakah pengertian peritonitis.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. 3. 4. perforasi kolon akibat diverdikulitis. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis. dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis. dan strangulasi kolon ascendens. akan dibahas dalam bab selanjutnya. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1.

1.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 4. 3. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis. BAB II PERITONITIS 2. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis. Untuk mengetahui manifestasi klinik. Bagi Kami. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan). rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan.2.1 Konsep Medis 2. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas. Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis. 2. 1. dan pengkajian keperawatan peritonitis. Bagi teman sejawat. 4. 5. dan komplikasi peritonitis. 3.1 Defenisi .

misalnya : perforasi lambung. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi . Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. Tanda-Tanda Peritonitis. perpindahan cairan. dan tanda-tanda umum inflamasi.1. 2. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral). pankreatitis akut yang berat/ iskemia. volvulus dan kanker.1. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. seperti: perforasi apendisitis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. 2. dan strangulasi kolon ascendens.1. perforasi kolon akibat diverdikulitis. yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder. Perubahan sirkulasi. meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. meningkatkan kebutuhan oksigen.2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini. masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). duodenum. 2. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. defans muscular.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala.

tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Prolaps visera.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. . tanda-tanda peritonitis. hilangnya bising usus. buli-buli dan rectum. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi.1. syok. koloid dan elektrolit adalah focus utama. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Bila tidak ada. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi.1. maka tindakan laparotomi diperlukan. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil. 2. terdapat darah dalam lambung. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Bila luka menembus peritoneum. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah.Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. Pembentukan abses. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka.

Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.2. . perubahan dalam fungsi mental. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal. Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. nyeri perut dengan penurunan aktivitas. Takipnea 2. mual/ muntah.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. kehilangan kekuatan.2.2.2 Konsep Keperawatan 2. kurang tidur. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan.

kemerahan. kulit pucat. penurunan tekanan nadi. demam dan kerusakan jaringan. Rasional : Hipoksemia. kulit kering adalah tanda dini septicemia. bingung).Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. Catat warna kulit. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. kelembaban. hipotensi. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering. . Rasional : Hangat. kehilangan cairan dan sirkulasi. suhu. Tujuan : Infeksi teratasi. diindikasikan. Kriteria Hasil : ko. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. demam dan takipnea. takikardia. lembab dan sianosis sebagai tanda syok.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan.2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Rasional : Tanda adanya syok septic. Catat perubahan status mental (pusing. dan rendahnya status curah jantung. 2.

kultur luka. demam. Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. Berikan antimikrobial. catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural). contoh: gentamicin (garamycin).. lavase pretoneal/ IV. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. amikasim (amikn).Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. takikardia. Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. . urine. Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. takipnea. klindamisin (cleocin). Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

blogspot.com/2012/01/ashar-askep.36 http://ashar-ibenk. protein.html . Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.Awasi BUN. keseimbangan nitrogen sesuai indikasi. glukosa. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22. Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi. contoh : cairan jernih sampai lembut.. Tambahkan diet sesuai toleransi. albumin.

Fungsi peritoneum :1. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. PENGERTIAN PERITONITIS . kurvaturan minor. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4.B. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus.Jumat. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum.

sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). pancreas perforasi kolon. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. dan tanda-tanda umum inflamasi. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. dan strangulasi kolon asendens. volvulus dan kanker.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. divetikulitis. penyakit ringan dan terbatas. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. perforasi kolon akibat diverdikulitis. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering . Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. C. kontaminasi peritoneal. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. dan transfuse yang pasif. syok perioperatif. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. Sesudah operasi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Semakin rendah kadar protein cairan asites. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. defans muscular.

pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. D. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. Klebsiella pneumoniae 7%. Coli 40%. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. E. dan golongan Staphylococcus 3%. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. atau penggunaan analgesic). tatikardi. atau HIV). penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. penggunaan steroid. barium. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. trauma atau perforasi tumor. jenis Streptococcus lain 15%. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. misalnya cairan empedu. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). infeksi. Terjadinya proliferasi . Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. bukan berasal dari kelainan organ. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. spesies Pseudomonas. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. syok sepsis. pascatransplantasi. ensefalopati toksik. iskemia. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat.menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal).

Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. debris seluler dan darah. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. hilangnya bising usus. tanda-tanda peritonitis. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H. syok. sel darah putih. terdaat darah dalam lambung. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan.bacterial. menjalani wawancaran . terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. koloid dan elektroli adalah focus utama. Prolaps visera. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. F. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. buli-buli dan rectum. Bila tidak ada. PENATALAKSANAANPenggantian cairan.

Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. memberikan medikasi intravena. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). proses keperawatan pengkajian. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. I. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8.praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan.5. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. BAB II TINJAUAN KASUS . Pada beberapa contoh. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan.3. Pada fase pascaoperatif langsung. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. intervensi dan evaluasi diuraikan. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. diagnosa keperawatan. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. Bagaimanapun.2. Kapan berkaitan dan memungkinkan.

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP.com/2009/01/askep-peritonitis. 2002.Keperawatan Medikal Bedah 5. ECG.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis. JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges.Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa. 2006.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis. pedih dan sulit diobati. tergantung lama perawatan.Menurunkan resiko kontaminasi.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. Price.blogspot. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.html . dkk. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Majalah-farmacia. ECG . www. JakartaSilvia A.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot. meningkatkan perasaan sehat. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21.Mencegah kelemahan. 2000.

yang menutupi usus dan mesenterium. sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. ginjal dan ureter (retroperitoneum).Askep Peritonitis Jumat. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. Terbagi menjadi bagian viseral. lien. kolon ascenden & descenden. 25 Maret 2011 A. . Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster. maka akan timbul nyeri. Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. kolon transversum. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. pankreas. sekum. kolon sigmoid. hepar. dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. atau proses radang. vesica fellea. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. ileum. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi. duodenum. tekanan. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis. jejenum. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. dan appendix (intraperitoneum).

Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Pada permulaan. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. obliquus abdominis eksterna. yaitu fascia transversalis. kemudian ketiga otot dinding perut m. Lembaran yang menutupi dinding usus. 2. m. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. dan di bagian bawah pada tulang panggul. ventriculus dan usus mengalami pemutaran.B. Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. yaitu: 1. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. 3. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. lemak preperitonial dan peritonium. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . obliquus abdominis internus dan m. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. yaitu dari luar ke dalam. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. dorsal dan ventral usus saling mendekat. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Kedua rongga mesoderm. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. transversum abdominis. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. bersatu pada tepi kaudalnya. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale.

. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. tidak semua tempat terjadi perlekatan. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. Tetapi. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat. cecum terletak intraperitoneal. Akibat perlekatan ini. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . Di berbagai tempat. Setelah ductus omphaloentericus menghilang. Rongga tersebut disebut cavum peritonei. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. disebut terletak intraperitoneal. o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. terjadi perlekatan. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum.

Kadang-kadang . Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. maka dapat menimbulkan kematian . 13 C. pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. D. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. perforasi tukak lambung. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. Keadaan demikian disebut situs inversus. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis.

Pelepasan berbagai mediator. E. Streptococus atau Pneumococus. keganasan intraabdomen. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. imunosupresi dan splenektomi. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. dapat memulai respon hiperinflamatorius. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Penyebabnya bersifat monomikrobial. produk buangan juga ikut menumpuk. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. syok. gangguan sirkulasi dan oliguria. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. dapat timbul peritonitis umum. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal.sel. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. Dengan perkembangan peritonitis umum. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. . Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Coli. Peritonitis bakterial primer. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. serta muntah. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. mengakibatkan dehidrasi. masukan yang tidak ada. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. biasanya E. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. seperti misalnya interleukin.

Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. khususnya spesies Bacteroides. intestinal atau tractus urinarius. 3. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. sepertii misalnya empedu. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. getah lambung. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. lupus eritematosus sistemik. 2. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. dan sirosis hepatis dengan asites. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. akan mengurangi masalah ini.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. dan urine. getah pankreas. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. gagal ginjal kronik. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. F. dan sering menimbulkan adhesi padat. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. 4. . d. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Bakterii anaerob. Menyeka sarung tangan sebelum insisi.

atau mengejan. tes psoas. Pemeriksaan laboratorium . nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. batuk. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. 5 2. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis. atau tes lainnya. atau umum. 1. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. Peritonitis dapat lokal. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. Selain nyeri. Pada keadaan lain (misal apendisitis).Bila telah terjadi peritonitis bakterial. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. nyeri tekan lepas. kelemahan. vomitus. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. hebat. nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya. menyebar. dan distensi abdominal. syok (hipovolemik. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). distensi abdominal. hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Nyeri ini tiba-tiba. septik. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. dan neurogenik). Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. bernafas. pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. G. demam. penurunan berat badan. demam. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. difus atau umum. sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah.

yaitu : (rasad) 1. dengan sinar horizontal. Tiduran telentang ( supine ). dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. pemberian antibiotika yang sesuai. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. preperitonial fat dan psoas line menghilang. dsb) atau penyebab radang lainnya. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. . sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. pembuangan fokus septik (apendiks. 2. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. dan mekanisme pertahanan. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. H. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. nutrisi. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. 5 3. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. 3. dengan sinar horizontal proyeksi AP. usus halus dan usus besar berdilatasi. proyeksi AP.

Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. I. Komplikasi dini . dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Pada umumnya. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain.Keluaran urine tekanan vena sentral. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. mengeksklusi. atau mereseksi viskus yang perforasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Jika peritonitis terlokalisasi. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. yaitu : (chushieri) 1. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi.

1995. alih bahasa dr. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah.. T.K.. 1998. L. dalam Radiologi Diagnostik. Jilid: 2.. Ed. Wilson.4. 2000.. S. S. Sjamsuhidayat. . 1999. 7. Shires. p 302-321. EGC. Wim de jong. p 256-257. Bedah Digestif. Ekayuda I. 7th Ed.. 2000. Rasad S. 2000. Way. Schwartz. alih bahasa dr.B. Jakarta. Abdomen Akut. EGC.. F. L . 5. 1997. alih bahasa dr. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. Peter Anugrah.. Maruzen. W. Media Aesculapius FKUI. EGC. L. Jakarta.7. Ed. J. EGC. Arief M. 2. Gaya Baru. Suprohaita. R. Jakarta. S. Petrus Lukmanto. Wieiek S.. T. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah.R. jakarta. Spencer. Ed. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. dalam Kapita Selekta Kedokteran. M.6. USA. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment. Kartoleksono S. Gawat Abdomen.C.I. Laniyati. 6. 221239. 4. Schrock. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Jakarta. Jakarta. 3. Ed:3. Lester.o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. Wahyu.

R. 1988. Putz. 1997.8. Mackersie.html Senin.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang. M.R. 2nd Ed. Sjamsuhidajat. R. FKUI. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum. Edisi Revisi.com/2011/03/askep-peritonitis. EGC.. 12. Atlas Anatomi Manusia. D. 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A. 2002. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep.. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.R. Bristol. Dinding Perut. B. EGC. Wim de jong. 696. Jakarta 9. Sobotta. EGC.... Jakarta 10. pada bagian rongga .. 11.. 1995. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice. Yogyakarta 13. Dahlan. C. Pabst. Anonim. pada membrane serosa. Sjamsuhidayat. Bagian Anatomi FK UGM. M. John Wright. 2000. Darmawan. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. D. Jakarta. Abdomen. Hoyt. Jusi. 1997.blogspot.. R. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah.NS di 10.

namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. sepsis psedomonas. yakni streptococcus (3%).perut. mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%). Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya. klebsiella pnemunae. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. proteus dan gram negatif lainnya (20%). sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. escheria choli (7%). SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. perforasi kolon akibat devertikulisis. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. . Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Sementara gram positif. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). Secara umum. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. B. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1.

mengakibatkan dehidrasi. dapat timbul peritonium umum.3. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. Iritasi tanpa infeksi. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. Selain tiga bentuk diatas. gangguan sirkulasi dan oliguri. 5. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. C. 6. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. sering bukan berasal dari kelainan organ. Kelainan hati atau gagal jantung. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen.bahan kimia. 4. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. dengan atau tanpa fistula. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. Masuknya bakteri dalam . Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. syok. misalnya cairan empedu.

Coli). takikardi.jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Komplikasi 1. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. E. 2. 4. D. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Pemeriksaan Penunjang 1. Sepsis F. syok dan gagal ginjal. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. . Abses peritoneal 3. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E.

posterior. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Pembersihan bakteri dan racun 3. pemberian antibiotik yang sesuai. X – ray a. antara lain : 1. menunjukkan hemokonsentrasi. 6. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri.000 SDM mungkin meningkat. Mengontrol proses inflamasi . 2. b. empedu dan kretinum. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4. Pembedahan G. emilase. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal. Memperbaiki fungsi organ 4. pus / eksudat. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya. Kontrol infeksi yang terjadi 2. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. Amilase serum : biasanya meningkat 4.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. d. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior.

takikardi. Pengkajian 1. hipotermia. demam tinggi. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. . Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. b. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A. Riwayat kesehatan a. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2.

Sirkulasi Gejala : takikardi. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. kekakuan abdomen. Pengkajian pola fungsional a. abdomen diam. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. distensi. Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. bunyi keras hilang timbul. pucat. . mual / muntah. Penurunan haluaran urine. umum. berkeringat. Riwayat kesehatan keluarga 3. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal . e. Makanan Gejala .c. infeksi pasca melahirkan. anoreksia. hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. lidah bengkak. diare (kadang – kadang). Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. f. bising usus kasar (obstruksi). nyeri tekan. takipnea g. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). ulkus peptikum dan duodenum d. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. lokal. Tanda : cegukan. menyebar ke bahu. d. turgor kulit buruk. terus – menerus oleh gerakan.

Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. perforasi kandung kemih / ruptur. contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. b. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1.h. mengurangi nyeri d. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Diagnosa keperawatan 1. penyakit saluran GI. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : . intraseluler ke area peritonium. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. 5.

Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3.a. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. b. diharapkan volume cairan adekuat.90C menunjukkan penyakit infeksius akut. d. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Pantau suhu lingkungan. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. 4. intraseluler ke area peritonium. b. c. Intervensi : . d. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. Kolaborasi berikan pelunak feses. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38.

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Intervensi : a. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus. b. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. c. 5. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. d. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d.a. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan.diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. c. diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam . Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : . Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam.

com/2010/08/askep-peritonitis.html . penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen. kekakuan nyeri tekan.a.21 http://fatmazdnrs. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@.blogspot. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d. Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b.Story di 07.

Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. . Peritonitis adalah inflamasi peritoneum.

Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. 2. sulfonamida. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. Secara langsung dari luar. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini. ruptur hati . • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Etiologi 1. lycopodium.Peritonitis adalah peradangan peritoneum. Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. A.

B. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. 8. 6. spesies pseudomonas. mastoiditis. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. klebsiella pneumoniae 7%. 3. 2. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. 4. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . 1. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. atrofi umum.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. difus. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. 7. 4. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. glomerulonepritis. otitis media. coli 40%. 3. 5.

dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan. Dari kaudal terdapat a. dapatan. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif.transversum abdominis. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal. seperti misalnya interleukin.epigastrika superior.C. Pelepasan berbagai mediator. kemudian ketiga otot dinding perut m. yaitu fascia transversalis. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga.epigastrika inferior. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. yaitu dari luar ke dalam. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Intercostalis VI – XII dan a.sircumfleksa superfisialis.obliquus abdominis eksterna. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis.pudenda eksterna dan a. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. lemak preperitonial dan peritonium. a. dan di bagian bawah pada tulang panggul.thorakalis VI – XII dan n.iliaca. dapat memulai respon . maka dapat menimbulkan kematian sel. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. m.6 D. maupun iatrogenik. lumbalis I. Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. a. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n.obliquus abdominis internus dan m. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut.

usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. E. nutrisi. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. mengakibatkan dehidrasi. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. . Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. dan mekanisme pertahanan. syok. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. pemberian antibiotika yang sesuai.hiperinflamatorius. gangguan sirkulasi dan oliguria. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Keluaran urine tekanan vena sentral. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Dengan perkembangan peritonitis umum. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. pembuangan fokus septik (apendiks. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. produk buangan juga ikut menumpuk. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. dapat timbul peritonitis umum. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. dsb) atau penyebab radang lainnya. serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. masukan yang tidak ada. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen.

sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. KONSEP KEPERAWATAN A. mengeksklusi. Jika peritonitis terlokalisasi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. atau mereseksi viskus yang perforasi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . 1. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Pada umumnya. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi.

ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus.2. Tanda 6. bising usus kasar (obstruksi). nyeri tekan. 7. terus- menerus oleh gerakan. turgor kulit buruk. kaku. nyeri tekan. PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. Penurunan haluaran urine. 3. lidah bengkak. haus. berkeringat. umum atau lokal. SIRKULASI Tanda : Takikardia. pucat. NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. Diare (kadang-kadang). 5. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4. : Muntah proyektil. KEAMANAN . Hiperresonan/timpani (ileus). Membran mukosa kering. abdomen diam. kekakuan abdomen. distensi abdomen. bunyi keras hilang timbul. mual / muntah. takipnea. Edema jaringan. Tanda : Cegukan. hipotensi (tanda syok). : Distensi. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). menyebar ke bahu.

takipnea. B. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. 5. b. 1. dan rendahnya status curah jantung. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. C. takikardia. Intervensi : a. penurunan tekanan nadi. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. demam.Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). 3. dialisa peritoneal. Catat perubahan status mental (contoh bingung. pusing) . Kaji tanda vital dengan sering. 4. Rasional : tanda adanya syok septik. apendisitis akut. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. kehilangan cairan dari sirkulasi. c. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. 2.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer.

f. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. kelembaban. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. hipotensi. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Catat warna kulit. Rasional : mencegah penyebaran. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. luka insisi/terbuka. e. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. i. 2. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. d. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . Rasional : Hangat. kemerahan. dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. suhu. g.Rasional : Hipoksemia. Observasi dreinase pada luka/drein. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. h. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. dan sisi invasif.

Intervensi : a. demam. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. 3. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. d. c. drein. lingkar abdomen. balutan. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Ubah posisi dengan sering. Rasional : hipovolemia. turgor. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. e. hemovac. b. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. takipnea. menambah edema jaringan. perpindahan cairan. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : . berikan perawatan kulit dengan sering. takikardia. Ukur CVP bila ada. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. Pantau tanda vital. keringat. Catat edema perifer/sakral.

Selidiki laporan nyeri. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. Awasi haluaran selang NG. d. latihan relaksasi/visualisasi. Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. c. Berikan tindakan kenyamanan. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. 4. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a. b. catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada.a. penurunan absorpsi air dan diare . tajam. konstan). b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. contoh pijatan punggung. napas dalam. Rasional : menurunkan mual/muntah. lama. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Auskultasi bising usus. Berikan perawatan mulut dengan sering. catat lokasi. memerlukan evaluasi lanjut.

meningkatkan perasaan sakit. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites. Evaluasi tingkat ansietas. penampilan bising usus normal. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. catat respon verbal dan non-verbal pasien. b. 5. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. . Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. dan dapat meningkatkan kemampuan koping. menghemat energi. dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral. e.c. c. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. d. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. Dorong ekspressi bebas akan emosi. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas.

html http://medicastore. 2001.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas. Bare. Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges. Jakarta : EGC.detik.com/2009/03/penanganan-peritonitis. Brenda G.scribd. 4. Smeltzer.blogspot. http://health.D. dkk. 2.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.html http://health. Rencana Asuhan Keperawatan.com/2009/10/peritonitis. 1.com/f/10758-peritonitis/ http://www. 2000. Jakarta : EGC.blogspot.indonesiaindonesia. Suzanne C.detik. 3. Marilynn E. 5.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# .html http://medlinux.

http://silahealt. 22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.blogspot.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis .html Selasa. (04.08.com/2012/05/askep-peritonitis.

Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus. Cedera pada otot kandung empedu. usus. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Kelainan hati atau gagal jantung. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. kandung kemih. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Pada wanita. . dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. kandung empedu atau usus buntu. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium. tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). ureter.

Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. seperti kegagalan paruparu. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. nyeri dada dan pusing. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. misalnya lambung atau usus dua belas jari. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. Gejalanya bisa berupa. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. bisa menyebabkan bingung. rasa mengantuk dan bahkan syok. mengeluarkan darah dari rectum. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar.Iritasi tanpa infeksi. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Patofisiologi Peritonitis . Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. terlihat pucat. komplikasi bisa berkembang cepat. seperti mudah lelah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. disorientasi. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. mengeluarkan tinja yang kehitaman. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. muntah darah. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama.

lemak dan sub kutan dan facies superficial. Obliquus abdominis eksterna. Transversum abdominis. Obliquus abdominis internus. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. perforasi tukak lambung. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. . Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya. dan M.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. M. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. rbacter-Klebsiella. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. kemudian ketiga otot dinding perut M. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. perforasi tifus abdominalis.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. yaitu dari luar ke dalam. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.  mycobacterium tubercolusa. perforasi appendicitis.

dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. pembuangan focus septic (apendiks. epigastrika inferior. nutrisi dan mekanisme pertahanan. maupun iatrogenic. Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. pudenda eksterna dan a. dapatan. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Keluaran urine tekanan venasentral. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. yaitu fascia tranversalis. a. a. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. dapat memulai respon hiperinflamatorius. iliaca. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. pemberian antibitika yang sesuai. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. Intercostalis VI-XII dan a. sirnucmfleksa superfisialis. Epigastrik superior. seperti misalnya interlukin. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. pemberian antibiotika yang sesuai. Dari kaudal terdapat a. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik . sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pelepasan berbagai mediator. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. maka dapat menibulkan kematian sel. dsb) atau penyebab radang lainnya.. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen.

gangguan sirkulasi dan oliguria. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. syok. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang.oleh ginjal. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. usus kemudian menjadi atoni dan meragang. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. serta muntah. Dengan perkembangan peritonitis umum. dapat tibul peritonitis umum. . Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. produk buangan juga ikut menumpuk. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem.

Pemeriksaan Fisik a. namun terkadang disertai dengan merintih. puntiran usus. Pasien berbaring . Bentuk badan sedang. Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. bicara jelas. kebocoran usus. Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul). Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Kesadaran komposmentis. Keadaan Umum Keadaan umum baik.5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1.

maupun sumbatan. . Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. Hidung Hidung simetris. Pasien terlihat pucat dan berkeringat. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. Rambut Warna kulit normal. Tidak terdapat massa. c. dan distribusinya merata. maupun krepitasi. Mulut kotor dan berbau. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. Kuku. Kepala Muka simetris. Terdapat serumen pada liang telinga. Mata Reflek pupil (+). membrane mukosa kering. Pendengaran normal/tidak tuli. Warna kuku kemerahan. perdarahan. e. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. Suhu tubuh teraba hangat. f. Terdapat plaque dan caries pada gigi. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. berwarna hitam.dan bergerak terbatas. Jumlah rambut banyak dan merata. nyeri tekan. h. g. Tidak terdapat lesi. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. d. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. sclera berwarna kemerahan. konjungtiva berwarna merah muda. tidak terdapat secret. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. Mulut Bibir tidak sianosis. iris berwarna coklat. turgor kulit jelek. Kulit. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak.rambut kuat. telinga kotor.

2. bentuk normal. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. sewarna dengan bagian tubuh lainnya. Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan.i. b. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. . dada sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. Tidak ada pembengkakan. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. l. j. Dada Terdapat peninggian diafragma. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Terjadi penurunan peristaltic usus. Payudara simetris. maupun hemoroid. c. massa. k. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris. gerakan bebas.

Pasien mengalami gangguan pola tidur. usus besar. dan cairan asites. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah.d. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. Foto dada Peninggian diafragma. e. GDA Asidosis metabolic. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. eksudat/secret. NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. kemudian menyebar keseluruh perut. f. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. g.

terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. kebocoran 5. puntiran usus. maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan . sklera berwarna kemerahan. tampak kumuh dan tidak bersih. usus. memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau. Tidak mampu 3. turgor kulit jelek. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen. gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. membrane mukosa kering. mulut berbau dan muntah . penampilan 4.

Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2.tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi . Resiko infeksi DIAGNOSA 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5.

PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien . Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi.. frekuensi. karakteristik. durasi.x 24 jam.

rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . jarang dilakukan 3. Diharapkan kebutuhan 2. akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. kadang dilakukan 4.Analgesic Administration Keterangan : 1. yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan. tidak dilakukan sama sekali 2. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. sering dilakukan 5.

tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN. kurang 5. Keterangan : 1. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan . penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. sedang 4. sangat digunakan 2. digunakan 3.batas normal terjadinya gagal ginjal.

. bergizi. menunjang aktivitas. Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. nafsu makan. sedang 9. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. dan output. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. kalori tinggi. digunakan 8. memberikan makanan yang disukai. Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. pada mulut. kurang 10. tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi. sangat digunakan 7. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi.

Agar kebutuhan tidur terpenuhi. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. Memudahkan pasien untuk tidur. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur. Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Memberikan kenyamanan. Berikan pijatan nyaman. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. Anjurkan peningkatan lamanya tidur. . pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Berikan perawatan mulut sebelum makan.dan minum. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien. Menciptakan kenyamanan.

Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan.Berikan obat tidur. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi. teknik peningkatan tidur. . pasien. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. Mempertahankan kebersihan diri pasien. penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5.

nyeri. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit. turgor. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. kelembaban tekstur. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya . cuci kulit dengan hati-hati. dan adanya fungsiolaisa. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko.Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. panas. tumor.

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

www. 1996. Kapita Selekta Kedokteran. Louis : Mosby Inc. 1999. Santosa. Potter dan Perry. Joanne C. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). 2005. 2000. Arif. Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. et all.com Doenges. Mansjoer. McCloskey.medicastore. .Year Book Inc. St. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). St. dan Gloria M. 1999. Marilynn E.DAFTAR PUSTAKA Johnson. Jakarta : EGC. Louis : Mosby . Jakarta : Media Aesculapius. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Marion et all. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Budi. 2000. Bulechek. Buku Kedokteran ECG: Jakarta. Prima Medika.

45 http://dkp2011.html ..yaw di 19.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.Diposkan oleh mbah jito OK la.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful