diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL

ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. . Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Kedua rongga mesoderm. dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3. 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. kurvaturan minor. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. dorsal dan ventral usus saling mendekat. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Pada permulaan.9) Memahami komplikasi pada peritonitis. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. 10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala. 2. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. volvulus dan kanker. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. penyakit ringan dan terbatas. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) . 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. dan tanda-tanda umum inflamasi. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral).3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. defans muscular. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. dan strangulasi kolon asendens. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. perforasi kolon akibat diverdikulitis. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).

Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. Secara langsung dari luar. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. pancreas perforasi kolon. streptokokus alpha dan beta hemolitik. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Operasi yang tidak steril 2. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Salpingitis 8. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3. Tukak thypoid 5. 1. lycopodium. ruptur hati 4. stapilokokus aurens. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. divetikulitis. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. 1.3 Etiologi 1. Terkontaminasi talcum venetum. Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. sulfonamida. 3. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. Tukak pada tumor 7. Tukan disentri amuba/colitis 6. kontaminasi peritoneal. Sesudah operasi. . 2. syok perioperatif. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4.merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Infeksi bakteri 1. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. dan transfuse yang pasif.

Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. spesies Pseudomonas.2. jenis Streptococcus lain 15%. dan golongan Staphylococcus 3%. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. misalnya cairan empedu. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. mastoiditis. Semakin rendah kadar protein cairan asites. barium. bukan berasal dari kelainan organ. Coli 40%. Klebsiella pneumoniae 7%. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. glomerulonepritis. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. 2. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Peritonitis bakterial primer . dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. otitis media. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses.

perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. Peritonitis tersier Peritonitis tersier. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia. gagal ginjal kronik. Penyebabnya bersifat monomikrobial. lupus eritematosus sistemik. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. dan sirosis hepatis dengan asites. Perforasi organ-organ dalam perut. Sreptococus atau Pneumococus. 1. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Coli. misalnya appendisitis. 4. keganasan intraabdomen. misalnya: . Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. khususnya spesies Bacteroides. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. biasanya E. Luka/trauma penetrasi. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Kuman dapat berasal dari: 1. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua.Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Bakteri anaerob. yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. 2. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. 3. imunosupresi dan splenektomi.

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. yaitu : 1. 3. Tiduran terlentang (supine). penebalan dinding usus. lateral). untuk melihat distribusi usus. 3. posterior. ada tidaknya penjalaran. Sebelum terjadi peritonitis. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur. 3. Usus halus dan usus besar dilatasi. 2. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. didapatkan: 1. dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. 2. . preperitonial fat. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance).Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. 2) Posisi LLD. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus.Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya.

Pemeriksaan laboratorium. tanda perdarahan (syok. leukositosis). 2. 4. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. 2. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas.l : 1. dan oklusi vena atau arteri mesenterika.l: 1. nyeri tekan terutama jika meluas. 2. tumor. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin. Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. tanda sepsis (panas tinggi. Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. Pertimbangan dilakukan pembedahan a. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. anemia progresif). massa yang nyeri. extravasasi bahan kontras. 3. Mengeliminasi sumber infeksi.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. dan tanda iskemia (intoksikasi. 2.3) Posisi setengah duduk atau berdiri. 3. distensi usus. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. . memburuknya pasien saat ditangani). distensi perut. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi.

4. Pemberian cairan I.kain kassa. Pemberian antibiotic 3. 2. . Keluaran urine tekanan vena sentral. 4. irigasi intra operatif. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement. Pemberian antibiotic. 5. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis. Pemberian terapi cairan melalui I. dsb) atau penyebab radang lainnya. pembuangan fokus septik (apendiks. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.l: 1. 1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena.V. lavase. suctioning. diberikan bila sudah flatus.V. Oral-feeding. peristaltic usus pulih. dan jaringan yang nekrosis. darah. Terapi bedah pada peritonitis a. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. produk ngt minimal. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus. dan nutrisi. dan mekanisme pertahanan. pemberian antibiotika yang sesuai. Kontrol sumber infeksi. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. pus dan fibrin. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. nutrisi. dilakukan sesuai dengan sumber infeksi. cairan elektrolit.l : 1. dan tidak ada distensi abdomen. 2. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. 3. Terapi post operasi a. Irigasi kontinyu pasca operasi. dapat berupa air. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting.

Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. mengeksklusi. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. atau mereseksi viskus yang perforasi. . Diberikan antibiotik yang tepat. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Pada umumnya. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. b. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup.a. Jika peritonitis terlokalisasi. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. c. terutama bila terdapat apendisitis. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. d.

atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. intervensi dan evaluasi diuraikan. Pada beberapa contoh. 3. memberikan medikasi intravena. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Pada fase pascaoperatif langsung. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. diagnosa keperawatan. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Kapan berkaitan dan memungkinkan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). proses keperawatan pengkajian. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. 2. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Bagaimanapun. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. . bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah.

Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. Adhesi.2. Septikemia dan syok septic. 1. Abses residual intraperitoneal. yaitu: 1. Jenis kelamin 4. Portal Pyemia (misal abses hepar). 5. Pekerjaan . Obstruksi intestinal rekuren. 2. Syok hipovolemik. 1. Pendidikan 6. Umur 3. Suku /Bangsa 5. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. 2.1 Pengkajian A. 4. 3. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. 2. Nama pasien 2. Komplikasi dini. Komplikasi lanjut. Identitas 1.

Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia. seperti: Tubercolosis. Maka kemungkinan diturunkan ada. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan. 1. 1. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit). operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. sindrom nefrotik. dan sirosis hepatis dengan asites. Alamat 8. retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. akral : dingin. 1. lupus eritematosus. gagal ginjal kronik. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna. Pemeriksaan Fisik 1. dispnea. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. 1. hipovolemik atau septik). peritoneal diawali terkontaminasi material.7. dan pucat. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik. basah. komplikasi post operasi. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer. 1. .

Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. Selain itu terjadi distensi abdomen. Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. kekuatan otot mengalami kelelahan. dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). nyeri perut dengan aktivitas. 1. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. 1. H. 1. Kemampuan pergerakan sendi terbatas. Pengkajian Spiritual 2. 1. G. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium . Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. bising usus menurun. dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. sulit berjalan.1.

yaitu: 1. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. gallium Ga 67 scan. PT. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11. technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). dengan sinar horizontal proyeksi AP. indium In 111–labeled autologous leucocyte scan. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Tiduran telentang (supine). 4.000 sel/ µL) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. Foto polos 2. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis. Complete Blood Count (CBC). . CT Scan (eg. Cairan peritoneal. Scintigraphy 5. Test fungsi hati jika diindikasikan 4. Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. renal stone disease) 6. 2.1. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. dengan sinar horizontal. USG 3. 3. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). proyeksi AP. PTT dan INR 3.

Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. 2. Posisi setengah duduk atau berdiri. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. Posisi LLD. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. Posisi tidur. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. 3. 2. 3. Herring bone appearance. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Air fluid level. penebalan dnding usus. Pada kasus peritonitis karena perdarahan. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. ada tidaknya penjalaran. dan herring bone appearance. gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. preperitonial fat. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. air fluid level. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus.Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. tanda utama radiologi adalah: . Sebelum terjadi peritonitis. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. untuk melihat distribusi usus. gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Distensi usus general.

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. preperitonial fat dan psoas line menghilang. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. didapatkan preperitonial fat menghilang. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah.1. 2. 2. Ketidakefektifan pola nafas b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. didapatkan : 1. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. lateral).2 Diagnosa 1. 2. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Posisi LLD. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. demam dan kerusakan jaringan. Posisi duduk atau berdiri. 3. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. 4. 3. 3. 6. 3) X. Posisi tiduran.3 Intervensi . dan kekaburan pada cavum abdomen.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 3. posterior. didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. 5. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. psoas line menghilang. Usus halus dan usus besar dilatasi.

Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Berikan tindakan 4. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. 2. 3. lama. catat lokasi. tajam. nyeri dapat lokal bila terjadi abses. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. demam dan kerusakan jaringan. dan menyebar ke atas. lebih hebat. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. Menurunkan mual/muntah Rasional .1. Nyeri cenderung menjadi konstan. 1. konstan) 1. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. 3. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1.

\is 1. yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil.kenyamanan. napas dalam. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. . Menurunkan mual/munta. Berikan perawatan mulut dengan sering. contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. contoh hidroksin (Vistaril) 3. latihan relaksasi atau visualisasi. contoh pijatan punggung. Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. narkotik 2. Antiemetik. Analgesik. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. Antipiretik.

Meningkatnya penyembuhan pada waktunya. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. tidak demam. Kriteria hasil: 1.1. 3. Tanda adanya syok septik. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 2. bebas drainase purulen atau eritema. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. dialisa peritoneal. dan rendahnya status curah jantung. 2. demam. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional . pingsan). meningkatkan kenyamanan pasien. penurunan tekanan nadi. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi. 2. Kaji tanda vital dengan sering. takikardia. Catat perubahan status mental (contoh bingung. Hipoksemia. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. apendisitis akut. hipotensi. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen. kehilangan cairan dari sirkulasi. takipnea. 1. dan asidosis dapat menyebabkan 1. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi.

Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal. Observasi drainase pada luka. 1. kelembaban. Catat warna kulit. 1. Menurunkan resiko terpajan . luka insisi/terbuka. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. 4. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter. 5. 1. kemerahan. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik.1. suhu. Hangat. dan sisi invasif. Awasi haluaran urine. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. 2. Mencegah penyebaran. kulit kering adalah tanda dini septikemia. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. penyimpangan status mental. 3. 1. toksin 1. 2. Memberikan informasi tentang status infeksi.

2. pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. urine. 2. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal. 3. 1. contoh gentacimin (Garamycyin). cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Bantu dalam aspirasi peritoneal. bila diindikasikan.dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. Berikan antibiotik.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang 1. Kolaborasi: 1. kultur luka. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif. Klindamisin (Cleocin). Lavase pritoneal/IV terlokalisasi/menyebar dengan buruk. Dilakukan untuk membuang 1. contoh untuk drainase abses . amikasin (amikin). 4. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan.

.lokal. mengatasi perforasi ulkus. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu. membuang rupturapendiks/kandung 1. membuang eksudat peritoneal. atau reseksi usus.

Nafsu makan klien timbul kembali 3. Status nutrisi terpenuhi 2.1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Berat badan normal . Kriteria Hasil: 1.

catat bunyi tak ada atau hiperaktif. 3. 2. penurunan absorpsi air dan diare. dan catat adanya muntah atau diare. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus. Rasional . Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. lanjut diduga ada defisit nutrisi. Meskipun bising usus sering tak ada. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. Awasi haluan selang NG. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1.4. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. Timbang berat badan tiap hari. memerlukan evaluasi lanjut. 6. 4. 1. 5. 1. Auskultasi bising usus.

Monitor Hb dan albumin 1. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut. Kriteria hasil: . dam kelancaran flatus. 1. 1. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. penampilan bising usus normal. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2.2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. 3. 1. 2. Kolaborasi: 1. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan.

3. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). Membran mukosa lembab 4. Pantau tanda vital. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit. 2. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. takikardia. Ukur CVP bila ada. 2. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Turgor kulit baik 5. Berat badan dalam rentang normal. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan. Tanda vital stabil 3. Rasional . takipnea. turgor. perpindahan cairan. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. Ukur berat jenis urine (homeostatis). 1. demam. catat edema ginjal.1. Hipovolemia. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. 3. 2. 2. Pengisian kapiler meningkat 6.

Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. 2. protein. 1. Berikan plasma/darah. 3. 4. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah.perifer/sacral. 2. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit Kolaborasi: 1. contoh Hb/Ht. Awasi pemerikasaan laboratorium. albumin. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering. elektrolit. Koloid (plasma. 2. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. elektrolit. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. 1. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. kreatinin. 1. cairan. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. menambah edema jarinagan. Batasi pemasukan es batu. . BUN. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare.

gelisah. dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). Ketidakefektifan pola nafas b. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. Pernapasan tidak sulit 3. hiperventilasi. hiperventilasi. depresi SSP.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 1. dan sianosis. 2. Indikator hipoksemia. takikardi. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. gelisah. tekanan O2 dan saturasi O2 normal. 1. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Kriteria Hasil: 1. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. takikardi. ditandai bunyi nafas normal. Pertahankan pasien pada 2. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional .1. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi. 3. Tujuan: Pola nafas efektif. depresi SSP. hipotensi.

paru dan menurunkan upaya pernafasan. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional . Berikan O2 sesuai program 1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. 4. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. 1. Penampilan wajah tampak rileks 3. 1. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal.posisi semifowler.

Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk ‘hidup lagi’. Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi . 3. diagnosa dan pengobatan 4. menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1.kemajuan penyembuhan. penyelesaiannya. 2. Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. 2. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman 1.

Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan kenyamanan fisik klien 2. Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS . Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. 4. 1. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup.efektif menerima situasi 2. 3.

ac.web.unair.html Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum. suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.http://nuzulul-fkp09. ETIOLOGI .id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.

 Demam . Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Secara langsung dari luar. stapilokokus aurens.   Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum. otitis media. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.1. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.   Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. mastoiditis. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. sulfonamida. 1. GEJALA DAN TANDA  Syok (neurogenik. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. glomerulonepritis. lycopodium. 1. streptokokus µ dan b hemolitik. ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Infeksi bakteri         Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

trauma atau perforasi tumor. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Test laboratorium    Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 1. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. lateral). difus. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. sel-sel yang rusak dan darah. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri.    Nausea Vomiting Penurunan peristaltik. atrofi umum. TEST DIAGNOSTIK 1. X. peritoneal diawali terkontaminasi material. posterior.  Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. didapatkan : . Ray  Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. sel-sel darah putih.  Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia.

yaitu . insisi di bagian atas. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka. 3. 4. LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Usus halus dan usus besar dilatasi. 5. yaitu .  Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya. Transverse upper abdomen incision. Masa pada abdomen . 2. Ada 4 cara. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. misalnya.   Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Transverse lower abdomen incision. Indikasi 1. 1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar. Peritonitis 3. Midline incision 2. pada operasi appendictomy. yaitu. panjang (12. Paramedian. yaitu. Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam.5 cm). PROGNOSIS   Mortalitas tetap tinggi antara 10 % – 40 %.5 cm).(Internal Blooding) 4. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. Perdarahan saluran pencernaan.

Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. . Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi. 1. Mempertahankan konsep diri pasien. menggerakan otot-otot kaki. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. dan otak. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. 4. Mempersiapkan pasien pulang. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. 2. Komplikasi post laparatomi. hati. Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. 3.Komplikasi 1. aritmia jantung. Tujuan perawatan post laparatomi. 3. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. Ventilasi paru tidak adekuat 2. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam. latihan batuk. 1. 5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Mempercepat penyembuhan. 4. menggerakkan otot-otot bokong.

Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. kesalahan menutup waktu pembedahan. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. organisme. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.  Fase ketiga . 1. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Proses penyembuhan luka  Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif. gram positif. 1. Pengisian oleh kolagen.

Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. warna kulit. adalah. nadi.  Fase keempat Fase terakhir. Mempertahankan konsep diri. dan suhu. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. 3. Sirkulasi  Tensi. Respiratory  Bagaimana saluran pernapasan. latihan mobilisasi dini. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy. Pengembalian Fungsi fisik. . 1. Pencegahan infeksi.Sekitar 2 sampai 10 minggu. dan refill kapiler. jenis pernapasan. respirasi. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. bunyi pernapasan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. Kolagen terus-menerus ditimbun. ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. 2. 1. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

mual. intake dan output 2. jangan sampai drain tercabut. suasana hati setelah operasi. drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 1. 1. tanda-tanda vital. Perawatan luka operasi secara steril. Rasa nyaman  Rasa sakit. 4. 3. Cairan infus atau transfusi. muntah. Evaluasi . CVP. dan fasilitas ventilasi. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. Psikologis : Kecemasan. pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. Persarafan : Tingkat kesadaran. jumlah) drainage. 2. 2. Gangguan rasa nyaman. Tindakan keperawatan post operasi: 1. Peralatan   Monitor yang terpasang. abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. Monitor kesadaran. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam. 3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. Balutan    Apakah ada tube. 1.1. Diagnosa Keperawatan 1. posisi pasien.

DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Edisi II. Jakarta. Luka operasi baik. FKUI Brunner / Sudart. 1984.wordpress. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. 3.com/askep-peritonitis/ . Lippincott Company. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. http://aqibpoenya. Philadelphia. Soeparman. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. 4.1. 1987. 2. Kumpulan Kuliah Patologi. dkk. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :       Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. Sutisna Himawan (editor).

dani thanks yang udah berunjung diblog saya .

31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS .Selasa.

Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A. : 2010.0973 .

dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. b. PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks. kaku. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison. nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi . a. 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang.32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis. 1. atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. 2000: 1613) C.TINJAUAN TEORI A. B. (Tucker : 1998. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas. 1995: 402). TANDA DAN GEJALA Menurut Price. (Harison. pankreatitis. asam lambung.

- Menurut C. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Dengan perkembangan peritonitis umum. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. ANATOMI Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih. PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. . E. 3.2. 2. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D.

perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. Misalnya pemasangan kateter 1. 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi. secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. a. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus). kaku. 2. 1996 : 228) F. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. Long.usus kemudian menjadi atoni dan meregang. dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. c. ketidakseimbangan elektrolit. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. membentuk suatu abses. mengakibatkan dehidrasi syok. dehidrasi dan akhirnya syok. Kateter Ventrikula – peritoneal Kateter Peritonea – Juguler . demam dan leukositosis sering terjadi. Ketika penyembuhan terjadi. edema. b. gangguan sirkulasi dan oliguria. perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. (C. nyeri dan tanpa bunyi. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan. muntah dan abdomen yang tegang. (Price. beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab.

a. 2. 4. kateter Diet Cair → nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit. KOMPLIKASI Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. 1993 : 175) G. - Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik. 5. 3. 1. Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman. 6. c.3. b. PENATALAKSANAAN 1. antibiotik dan vitamin .

- Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. 1995 : 402) . Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena. pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.- Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien 2. (Price.

Pernafasan torakal Cepat dangkal 11.I. 1. 9. 2. DX Tujuan KH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI : Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan : Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab . 3. 7. 8. FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 5. 4. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi 10. 6. Emesis fekal J.

pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 . DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang . HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan Intervensi : .Kaji status pernafasan. antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam.- Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam. ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam. gas darah.Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3. observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit.Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam . beritahu dokter ntervensi : - 2. DX Tujuan KH : - Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit.

Pantau selang nasogastrik . DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan .Ukur lingkar abdomen. berat nyeri .Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering .Berikan hygiene oral dan nasol sering .Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam . lokasi.Tujuan KH : - : Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat Intervensi : .Pantau terhadap keluarnya flatus .Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat .Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri. 5. 4. sekap 4 jam .Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan.Berikan periode istirahat yang nyaman terencana . DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan Intervensi : .kaji tipe.

html .Gelaskan semua tindakan dan prosedur . FKUI : Jakarta Tucker.Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan . 1996. Standar Perawatan Pasien.Kaji ketrampilan koping . Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price. 1995. Patofisiologi : Jakarta Soeparman.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31. EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22.Kaji tingkat ansietas .KH : - Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman Intervensi : . Ilmu Penyakit Dalam (IPD).24 http://mediadani. 1993. 1998.Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA C. Long.blogspot.

30 April 2012 Askep Peritonitis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS Disusun Oleh : HINLUB .Senin.

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006 .

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo – peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal – jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus  Invasi oleh bakteri 

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa  Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium  Peritonitis umum  Aktivitas peristaltik berkurang  Ilius paralitik  Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi  Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang  Gangguan pergerakan usus  Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

1995: 1612) 6) Pemeriksaan Diagnosis (1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada. (Marilyinn Doengos. (Ahmad H. dkk. Asdie.(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis (9) Terdapat dehidrasi. 1999: 514) .

7) Prognosis (1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan. dextrosa 5% Nacl fisiologis (2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia. perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi. larutan ringer. (Soeparman S. lebih baik prognosenya. berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik. lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut . (Soeparman S. 1990: 175) 8) (1) Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin. 1990: 175) 9) Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis.

dan sebagainya. takipnea : Membran mukosa kering. lemas. terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen. salpingitis. bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin. kejang. devertikulitis. diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal. bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis. lidah bengkak. (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus.(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut. pangkreatitis. cegukan : Terdapat nyeri tekan. turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang an umum h g men mitas .

kadang laebih dari 20. 1999: 514) 10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi. exudat darah otein rum n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi. penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut 11) Intervensi .000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah.umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat. udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma.dkk. gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. (Marilynnn Doengoes. imobilitas.

I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : .Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : . perhatikan takikardi. Kep. II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil : . karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi .Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi . hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan .Pantau lokasi. Kep.Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman .(1) Dx.Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri .Kaji tanda-tanda vital.Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit (2) Dx.

Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi .Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi .Observasi defekasi pertama pasca operasi.Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi : .Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus .Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar (3) Dx. III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : ..Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan .Mempertahankan berat badan yang normal . jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus . kaji warna. konsistensi.Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : . Kep.

gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien (4) Dx. turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan.Monitor intake dan output.Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi .Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi . sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari .Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi . membran mukosa. IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : .. Kep. ahli.Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : .Masukan dan haluaran seimbang .Menunjukkan tanda vital stabil .Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan .Kolaborasi dengan dokter.

Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet . pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah .Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan. teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar .. perawatan luka.Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan (5) Dx.Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : .Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat . V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : . Kep.Demonstrasikan penggantian balutan.Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman .

(1993). Edisi 8 Vol 2. Rencana Asuhan Keperawatan. Soeparman. (1979).DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. EGC. Jakarta. Edisi 4. EGC.EGC. . Jakarta. Jakarta Dongoes Marilynn E. (2002)Keperawatan Medical Bedah. Ilmu Penyakit Dalam.

M dengan Peritonitis Generalisata 2.M.1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09. umur : 18 tahun. MRS tanggal 29 . hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi. skala nyeri 3. CM : 10407631.2.2.3. pendidikan : SMU. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. suku/bangsa : Jawa/Indonesia. agama : Islam. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan. nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat. 7) Psiko Riwayat Psiko. agama : Islam. alamat : Pasapen. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr.09 2004. alamat : Pasapen Suraabya. . nyeri seperti tertusuk. pekerjaan : Ibu Rumah tangga. No. Soetomo Surabaya. N. pekerjaan :.2 Tinjauan Kasus pada Nn.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn. umur : 40 tahun. penghasilan : -. jenis kelamin : Perempuan. Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh.3. jenis kelamin : Perempuan.. Diagnosis masuk : peritonitis generalisata. Suraabya. klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. pendidikan : SMP (tamat).

klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. : Klien mengatakan BAB  3x/hari konsisitensi cair dan BAK  3x/hari warna kuning jernih dan bau khas.00 s/d 04. 8) ADL (Activity Daily Live) (1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari. Klien tidur siang kadang-kadang. um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit um sakit a sakit . komposisi bubur kasar+lauk.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai. Klien minum air putih  6-7 gelas/hari. : Klien mengatakan makan 3x/hari. klien koopeatif dengan petugas.30 WIB. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya. porsi 1 piring sedang. komposisi nasi+lauk+sayur. warna kuning tengguli dan BAK 3 – 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. : Klien mengatakan dapat tidur malam  mulai pk. Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah. klien habis  ½ porsi tiap kali makan. klien hanya berdo’aagar segera sembuh. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk.Sosial : Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya.23. 21. (3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek.

sklera putih. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri  1 cm.(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi. kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis Auskultasi : Suara nafas vesikuler. pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab. RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda. keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. suara jantung S1S2 lupdup. gigi tidak caries. tidak ada nyeri tekan. tidak ada sekret. N : 100x/mnt. Hidung : Bersih. 9) Pemeriksaan um sakit a sakit (1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis. . Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. S : 38oC. GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg. tidak ada polip. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid.

51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10. akral hangat. akral hangat.2004) Hemoglobin 10.5 25.Abdomen : Inspeksi : Perut distended.4 – 15. hepar dan lien tidak teraba. tangan kanan dapat bergerak bebas.9 33. : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas.500 / ul 31. tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 – 09 .7 g/dl P = 11.37 .0 4.300 – 11. : Tympani Auskultasi : BU 8 x/mnt Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari.99 27 . Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut.31 33 .4 – 17. terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm. keluar pus bercampur darah.000 /ul 38 – 42 % 80 .5 L = 13.8 78.

Bambang Irianto.05 75 150.000 4.33 – 5.000 /UL 4.000 – 250.08 .05 juta/UL 20 mm/jam 10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp Surabaya.Trobosit Eritrosit LED 380. 2001.S NIM. April1 2005 Yang Mengkaji.

3. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah . Reg.2. S : 38oC. RR : 20 x/mnt DS 2. N : 100 x/mnt.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn. .2. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5 DS 1.TD : 120/80 mmHg. M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. N : 100 x/mnt.TD : 120/80 mmHg. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya Kurang pengetahuan tentang proses penyakit Cemas pada petugas .

Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh . . N : 100 x/mnt 2 . Ditemukan 3 Tgl.3. S : 38oC.Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah  10 cm keluar pus bercampur darah .2. RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : . Reg. Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl. N : 100 x/mnt.Perut distended .2.TD : 120/80 mmHg. Diagnosa Keperawatan Ttd 1 1 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi . M : 18 tahun No.Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.TD : 120/80 mmHg. Teratasi 4 No.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn.

5 Berikan penjelasan pada 1. N : 80 . tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5. dalam pemberian 6. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn. dengan cara Peningka adanya resp Cefotax proses inf bisa berkur - Me penyembuh . 4.2. Tujuan Intervensi 4 1.2. kooperatif t Mengetah terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3. Relaksasi penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 – 130/90 5. klien dan Peningka Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2.4 INTERVENSI Nama M Reg. No. melakukan 4.100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat.3. mmHg. keluarganya dan kel tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3.

3.Inj. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. support 4. klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien perasaannya menunjang pada orang yang dipercaya.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Japan : Tujuan Intervensi 4 5 . system dukung Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. Berikan penjelasan pada 2. 3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik Peningkat dan keluarg meningkatk Japen : 1. Setelah dilakukan askep selama 6. Pengung Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1. observasi TTV tiap 4 jam. 2. kecemas dimanifesta peningkatan - Klien mengatakan cemas berkurang - TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas . tentang proses 4.

5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn.No Tanggal / Jam 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 teratasi Tujuan Intervensi 4 5 2.3. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09. Ruang : 10407631 : Bedah G Implementasi TTD 4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi.30 No. . 5 09.2. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi.35 - Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk. Mengkaji tingkat nyeri. Reg.Skala nyeri 3 .

00 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap. RR : 20 x/mnt 10. 09.40 .00 Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit.40 proses b/d 05-09-04 08.Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan perasaannya pada orang yang dipercaya. Observasi TTV . Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas . .t : 38 oC.Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap.00 09.TD : 120/80 mmHg.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. N : 100 x/mnt .

t : 38 oC. 09. Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV.TD : 120/80 mmHg. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien.jika ada apa-apa.50 . RR : 20 x/mnt 10.45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega. . 09.00 . N : 100 x/mnt.

Observasi TTV . .30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi.TD : 120/80 mmHg.t : 38 oC. RR : 20 x/mnt . Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No. O : .Berikan antibiotik.3. .2. Reg.Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi.2. . Ruang : 10407631 : Bedah G No Catatan Perkembangan TTD 1 1 4 5 Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : .Luka keluar pus bercampur darah. Nyeri skala 3 .6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn. N : 100 x/mnt.

RR : 20 x/mnt 12.TD : 120/80 mmHg.30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit . 5 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang sedikit.Klien mengatakan sedikit lega.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan perawatan luka. N : 100 x/mnt. O : .Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh. Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien. . proses t : 38 oC.Observasi TTV klien mengungkapkan . . R:- S : .

N : 100 x/mnt.30 .Luka basah. .Observasi TTV . R:- S : Klien mengatakan nyeri berkurang setelah dirawat luka dan diinjeksi.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 I Catatan Perkembangan TTD 1 4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi 5 E : Masalah teratasi sebagian. . I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang. keluar pus bercampur darah. . O : . .TD : 120/80 mmHg.Berikan obat sesuai indikasi. RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12. Lakukan rawat luka.t : 38 oC.Anjurkan melakukan relaksasi.

Luka basah. keluar pus.t : 38 oC.30 O : . . N : 100 x/mnt.t : 38 oC.Klien kooperatif. O : . : Rencana dihentikan.TD : 120/80 mmHg. . . 12. RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang. N : 100 x/mnt.Observasi TTV . RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : .Anjurkan melakukan relaksasi.TD : 120/80 mmHg.No Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 R:- Catatan Perkembangan TTD 1 4 5 S : Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat. . .

blogspot.Berikan injeksi sesuai indikasi. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12. atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis. penyakit ringan dan terbatas.No Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Tanggal / jam 3 - Catatan Perkembangan TTD 1 4 Lakukan rawat luka.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://ngecrot-com. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut.com/2012/04/askep-peritonitis. defans muscular. 5 .html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN 1.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. dan tanda-tanda umum inflamasi. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Diposkan oleh Udien Martapura di 05.30 intervensi 5 E : Nyeri berkurang.1 Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. .

saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. . volvulus dan kanker. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis. Untuk mengetahui lebih jelasnya. dan strangulasi kolon ascendens. perforasi kolon akibat diverdikulitis. 4. 2. 3. akan dibahas dalam bab selanjutnya. dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral). 1.3 Tujuan Makalah Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis. Apakah pengertian peritonitis. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya.

2. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan). 5. Bagi Kami. Untuk mengetahui manifestasi klinik. rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. dan pengkajian keperawatan peritonitis. Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis.1. 2. BAB II PERITONITIS 2. 1.1 Defenisi .1 Konsep Medis 2. Bagi teman sejawat. Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. dan komplikasi peritonitis. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 3. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas. 3. Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis. 4. 4.

Perubahan sirkulasi. pankreatitis akut yang berat/ iskemia.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral). Tanda-Tanda Peritonitis. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini.1.1. defans muscular. 2.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala. dan strangulasi kolon ascendens. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang. duodenum. Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis. meningkatkan kebutuhan oksigen. dan tanda-tanda umum inflamasi. ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. perforasi kolon akibat diverdikulitis. seperti: perforasi apendisitis. yaitu sebagai berikut : peritonitis sekunder.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik.1. misalnya : perforasi lambung. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. 2. Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal).Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. volvulus dan kanker. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. 2. yaitu sebagai berikut : Demam tinggi . Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. perpindahan cairan. perforasi ulkus peptikum dan duodenum.

1. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. hilangnya bising usus. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. tanda-tanda peritonitis. Bila tidak ada. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. 2.1. Prolaps visera. Pembentukan abses. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik. koloid dan elektrolit adalah focus utama. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. syok. terdapat darah dalam lambung.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka. buli-buli dan rectum. maka tindakan laparotomi diperlukan.Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. . Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Bila luka menembus peritoneum.

2 Konsep Keperawatan 2. . mual/ muntah. nyeri perut dengan penurunan aktivitas. perubahan dalam fungsi mental. Takipnea 2. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan.2.2 Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet.2. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri.2. kehilangan kekuatan. kurang tidur.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.

Kriteria Hasil : ko. diindikasikan. kelembaban. penurunan tekanan nadi. Catat perubahan status mental (pusing. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi. Rasional : Hangat. . Rasional : Hipoksemia. kulit pucat. demam dan takipnea. kemerahan. bingung). Catat warna kulit. demam dan kerusakan jaringan.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal. takikardia. hipotensi. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. 2. suhu. kehilangan cairan dan sirkulasi. Tujuan : Infeksi teratasi.2. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin. Rasional : Tanda adanya syok septic. lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. kulit kering adalah tanda dini septicemia.Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi. dan rendahnya status curah jantung.

catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural). lavase pretoneal/ IV. contoh: gentamicin (garamycin). klindamisin (cleocin). Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. Berikan antimikrobial. demam. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. amikasim (amikn). Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah.. kultur luka. Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. takikardia. Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. . urine. takipnea.Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Kriteria Hasil : berat jenis normal kat Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

keseimbangan nitrogen sesuai indikasi. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi. glukosa. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22. Tambahkan diet sesuai toleransi.Awasi BUN. contoh : cairan jernih sampai lembut.html .36 http://ashar-ibenk..com/2012/01/ashar-askep.blogspot. protein. albumin.

Jumat. dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2. PENGERTIAN PERITONITIS .B. kurvaturan minor. di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. Fungsi peritoneum :1. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung.

ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. syok perioperatif. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis. atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. C. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering . kontaminasi peritoneal.lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala. dan tanda-tanda umum inflamasi. perforasi kolon akibat diverdikulitis. pancreas perforasi kolon. defans muscular. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum. dan transfuse yang pasif. Semakin rendah kadar protein cairan asites. volvulus dan kanker.Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). dan strangulasi kolon asendens. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi. penyakit ringan dan terbatas. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan). Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas. abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Sesudah operasi. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. divetikulitis. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral).

tatikardi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. trauma atau perforasi tumor. Klebsiella pneumoniae 7%. misalnya cairan empedu. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. dan golongan Staphylococcus 3%. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. bukan berasal dari kelainan organ. D. iskemia. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. penggunaan steroid. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. ensefalopati toksik. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. barium. atau HIV).menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. infeksi. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. atau penggunaan analgesic). peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. spesies Pseudomonas. jenis Streptococcus lain 15%. E. pascatransplantasi. syok sepsis. Coli 40%. Terjadinya proliferasi .

Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. menjalani wawancaran . terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. Bila tidak ada. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USGü Pembedahan G. koloid dan elektroli adalah focus utama. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. terdaat darah dalam lambung. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. tanda-tanda peritonitis. hilangnya bising usus. KOMPLIKASI® Eviserasi Luka® Pembentukan abses H.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. buli-buli dan rectum. F. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. PENATALAKSANAANPenggantian cairan. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. debris seluler dan darah. sel darah putih. Prolaps visera. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. syok.bacterial. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7.praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. diagnosa keperawatan. BAB II TINJAUAN KASUS . intervensi dan evaluasi diuraikan.2. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. proses keperawatan pengkajian. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase pascaoperatif langsung. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. I. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1.5. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. Bagaimanapun. memberikan medikasi intravena.3. Kapan berkaitan dan memungkinkan.

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam…. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama…..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny.Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang. ECG . penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis.blogspot.html . JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. pedih dan sulit diobati. 2002. tergantung lama perawatan.Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot.Keperawatan Medikal Bedah 5.Menurunkan resiko kontaminasi.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21. 2006. dkk. JakartaSilvia A. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. ECG.com/2009/01/askep-peritonitis. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis. meningkatkan perasaan sehat. www.pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian.Mencegah kelemahan. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya.12 Label: Sistem Gastrointestinal http://lensaprofesi. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Price.Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa. 2000. Majalah-farmacia.

kolon transversum.Askep Peritonitis Jumat. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster. lien. . dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. kolon sigmoid. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis. jejenum. pankreas. ileum. duodenum. ginjal dan ureter (retroperitoneum). 25 Maret 2011 A. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. maka akan timbul nyeri. yang menutupi usus dan mesenterium. atau proses radang. sekum. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. kolon ascenden & descenden. dan appendix (intraperitoneum). Terbagi menjadi bagian viseral. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter. sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat. dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. vesica fellea. hepar. tekanan. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi.

Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. obliquus abdominis eksterna. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3. yaitu dari luar ke dalam. transversum abdominis. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. Kedua rongga mesoderm. dan di bagian bawah pada tulang panggul. bersatu pada tepi kaudalnya. lemak preperitonial dan peritonium. yaitu: 1. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Lembaran yang menutupi dinding usus.B. disebut lamina visceralis (tunika serosa). Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. 2. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. kemudian ketiga otot dinding perut m. Pada permulaan. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan . m. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan. 3. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. obliquus abdominis internus dan m. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. yaitu fascia transversalis. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. ventriculus dan usus mengalami pemutaran. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. dorsal dan ventral usus saling mendekat.

Rongga tersebut disebut cavum peritonei. Setelah ductus omphaloentericus menghilang. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 ° dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale. tidak semua tempat terjadi perlekatan. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. Akibat perlekatan ini. jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale. Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat.dengan umbilicus dan saccus vitellinus. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. Di berbagai tempat. o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum . Tetapi. o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. terjadi perlekatan. perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna.. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal. o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum. cecum terletak intraperitoneal. o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. disebut terletak intraperitoneal.

ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. maka dapat menimbulkan kematian . pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. perforasi tukak lambung. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. Keadaan demikian disebut situs inversus.parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. Kadang-kadang . Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. D. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. perforasi tifus abdominalis. 13 C.

biasanya E. dapat memulai respon hiperinflamatorius. . imunosupresi dan splenektomi. Pelepasan berbagai mediator. syok. masukan yang tidak ada. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. keganasan intraabdomen. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi.sel. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. mengakibatkan dehidrasi. Streptococus atau Pneumococus. seperti misalnya interleukin. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. E. dapat timbul peritonitis umum. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. produk buangan juga ikut menumpuk. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Dengan perkembangan peritonitis umum. gangguan sirkulasi dan oliguria. Penyebabnya bersifat monomikrobial. Peritonitis bakterial primer. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Coli. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. serta muntah. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus.

lupus eritematosus sistemik. dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. F. sepertii misalnya empedu. akan mengurangi masalah ini. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. 2. dan sering menimbulkan adhesi padat. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma.Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. 3. Bakterii anaerob. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. intestinal atau tractus urinarius. getah lambung. Menyeka sarung tangan sebelum insisi. dan sirosis hepatis dengan asites. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. dan urine. . Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. d. gagal ginjal kronik. getah pankreas. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular. khususnya spesies Bacteroides. 4.

Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis. pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. demam. dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. septik. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen. syok (hipovolemik. Peritonitis dapat lokal. G. demam. dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. batuk. nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. atau mengejan. dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus). nyeri tekan lepas. nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. kelemahan. menyebar. vomitus. hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. atau tes lainnya. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. Pemeriksaan laboratorium . berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea. Pada keadaan lain (misal apendisitis). hebat. 1. dan distensi abdominal. Nyeri ini tiba-tiba. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi. dan neurogenik). penurunan berat badan. 5 2. atau umum. Selain nyeri. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis. demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial.Bila telah terjadi peritonitis bakterial. difus atau umum. sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat. nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya. bernafas. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam. tes psoas. distensi abdominal.

preperitonial fat dan psoas line menghilang. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). proyeksi AP. nutrisi. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. dengan sinar horizontal. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Tiduran telentang ( supine ). dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. . H. 5 3. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. dan mekanisme pertahanan. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut.Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. dsb) atau penyebab radang lainnya. dengan sinar horizontal proyeksi AP. pemberian antibiotika yang sesuai. 3. usus halus dan usus besar berdilatasi. pembuangan fokus septik (apendiks. 2. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. yaitu : (rasad) 1.

Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Jika peritonitis terlokalisasi. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. I. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. mengeksklusi. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Pada umumnya.Keluaran urine tekanan vena sentral. yaitu : (chushieri) 1. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Komplikasi dini . Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Bila peritonitisnya terlokalisasi. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. atau mereseksi viskus yang perforasi. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder.

I. 2000. Abdomen Akut. Way...C.R. Bedah Digestif. L. T. Gawat Abdomen. . EGC. 1999.7. L. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah. 2. jakarta. alih bahasa dr. alih bahasa dr..6. Kartoleksono S. USA. F. Wim de jong. Wieiek S. Ed. Ed:3. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment. Sjamsuhidayat. 4. Lester. Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Spencer. 1997. Jakarta.B. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. dalam Radiologi Diagnostik. 7. EGC. Jakarta. 7th Ed. Rasad S. Media Aesculapius FKUI. alih bahasa dr. Jilid: 2. 1995. Jakarta. Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. S.. EGC. W. Jakarta. S. EGC. Ed. dalam Kapita Selekta Kedokteran.4. 1998. Laniyati. Ed.. Suprohaita. Peter Anugrah. S. L .o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. Schrock. Arief M. p 302-321. Wahyu. 2000. R.K. dalam Buku ajar Ilmu Bedah. T. Petrus Lukmanto. M. Gaya Baru.. 3. J. Ekayuda I. Schwartz.. p 256-257. Wilson. Jakarta. Maruzen. 6. 5. Shires.. 2000. 221239.

Sjamsuhidajat. Anonim. 2000. 1997.com/2011/03/askep-peritonitis. Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice. Yogyakarta 13. EGC...blogspot. Darmawan. Sjamsuhidayat. Dahlan. Putz. 696. 1995. M. Jakarta. pada bagian rongga .8.. Edisi Revisi. Atlas Anatomi Manusia.html Senin. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Sobotta. C. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum. Mackersie. 1988.. R. Bristol. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. John Wright. 12. M.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) http://wongjingkang. 1997. Jusi. pada membrane serosa.. FKUI. Hoyt. R. 11. dalam Buku ajar Ilmu Bedah.. Wim de jong.R.NS di 10. 2nd Ed. Bagian Anatomi FK UGM. EGC. B.. Jakarta 9. EGC. Pabst. Jakarta 10. 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI A. Dinding Perut. D.R..R. Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep. 2002. D. Abdomen.

Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan). kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. . escheria choli (7%). Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis. perforasi ulkus peptikum dan duodenum. perforasi kolon akibat devertikulisis. klebsiella pnemunae. proteus dan gram negatif lainnya (20%). SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen. B. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Sementara gram positif. sepsis psedomonas. volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Secara umum. defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi. Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%). sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).perut. yakni streptococcus (3%). Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi.

Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. kemudian usus menjadi atoni dan meregang. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen. dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin.3. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. C. terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik. misalnya cairan empedu. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. Infeksi dari rahim dan saluran telur. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar. 4. gangguan sirkulasi dan oliguri.bahan kimia. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. dapat timbul peritonium umum. Selain tiga bentuk diatas. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. 5. 6. syok. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. Kelainan hati atau gagal jantung. Masuknya bakteri dalam . dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. mengakibatkan dehidrasi. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. sering bukan berasal dari kelainan organ. Iritasi tanpa infeksi. dengan atau tanpa fistula. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan.

Komplikasi 1. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. takikardi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. Abses peritoneal 3. Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi. peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). 2. Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut. Sepsis F. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Coli). Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada. E. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen. dehidrasi hingga menjadi hipotensi.jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber. . syok dan gagal ginjal. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik. Pemeriksaan Penunjang 1. 4. D.

2. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. Amilase serum : biasanya meningkat 4. X – ray a. pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien. emilase.SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20. 6. posterior. menunjukkan hemokonsentrasi. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. pus / eksudat. empedu dan kretinum. pemberian antibiotik yang sesuai. Pembedahan G. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. d. Kontrol infeksi yang terjadi 2.000 SDM mungkin meningkat. Mengontrol proses inflamasi . Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. b. Pembersihan bakteri dan racun 3. lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. antara lain : 1. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. Memperbaiki fungsi organ 4.

takikardi. Riwayat kesehatan a. hipotermia. . Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2. Pengkajian 1.Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis. dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. PATHWAY BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS A. demam tinggi. Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen. b.

turgor kulit buruk. . infeksi pasca melahirkan. mual / muntah. takipnea g. lidah bengkak. pucat. menyebar ke bahu. Pengkajian pola fungsional a. kekakuan abdomen. umum. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis). nyeri tekan. Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal . diare (kadang – kadang). ulkus peptikum dan duodenum d. lokal. Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus. hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis. abdomen diam. Penurunan haluaran urine. distensi. bising usus kasar (obstruksi). Makanan Gejala . Sirkulasi Gejala : takikardi. Riwayat kesehatan keluarga 3. warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus). terus – menerus oleh gerakan. Tanda : cegukan. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. berkeringat. e. d. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba – tiba berat. f.c. bunyi keras hilang timbul. anoreksia.

intraseluler ke area peritonium. penyakit saluran GI. Diagnosa keperawatan 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. b. mengurangi nyeri d. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen. perforasi kandung kemih / ruptur. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. 5. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi : .h. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6.

Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3. intraseluler ke area peritonium. c.90C menunjukkan penyakit infeksius akut. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. d. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. b. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. 4. Pantau suhu lingkungan. diharapkan volume cairan adekuat. diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien.a. Intervensi : . Kolaborasi berikan pelunak feses. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 – 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. d. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen.

c. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam . Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b. d. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. 5. c. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus.a. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi : . Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium. elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. b. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan.diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Intervensi : a.

21 http://fatmazdnrs. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen. penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c.blogspot.html . Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d.com/2010/08/askep-peritonitis. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@.a. kekakuan nyeri tekan. Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b.Story di 07.

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.Askep Peritonitis Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. .

A. lycopodium. • Operasi yang tidak steril • Terkontaminasi talcum venetum. sulfonamida. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini. terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa. Infeksi bakteri • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal • Appendisitis yang meradang dan perforasi • Tukak peptik (lambung / dudenum) • Tukak thypoid • Tukan disentri amuba / colitis • Tukak pada tumor • Salpingitis • Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. Etiologi 1. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic. Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. Secara langsung dari luar. 2. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi. ruptur hati .Peritonitis adalah peradangan peritoneum.

8. ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. glomerulonepritis. proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%. tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. 4. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. klebsiella pneumoniae 7%. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. 2.• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. otitis media. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. 1. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. B. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. Nausea Vomiting Penurunan peristaltik . Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. 7. coli 40%. 3. kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. spesies pseudomonas. 5. atrofi umum. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. Manifestasi Klinik Syok (neurogenik. 3. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal. difus. 6. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. 4. mastoiditis.

kemudian ketiga otot dinding perut m.pudenda eksterna dan a. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. yaitu fascia transversalis.thorakalis VI – XII dan n. a. a. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan. yaitu dari luar ke dalam. lumbalis I. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. m. maupun iatrogenik. lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ). Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba.obliquus abdominis internus dan m. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n. dapat memulai respon . dan di bagian bawah pada tulang panggul. Pelepasan berbagai mediator.iliaca. lemak preperitonial dan peritonium. yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis.sircumfleksa superfisialis. Intercostalis VI – XII dan a. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa.obliquus abdominis eksterna. maka dapat menimbulkan kematian sel. dapatan.transversum abdominis. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan.epigastrika inferior.epigastrika superior. seperti misalnya interleukin. Dari kaudal terdapat a.C. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal.6 D.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium. Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi.

dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. nutrisi. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen. pembuangan fokus septik (apendiks. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. . Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. dan mekanisme pertahanan.hiperinflamatorius. E. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. masukan yang tidak ada. serta muntah. dapat timbul peritonitis umum. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Keluaran urine tekanan vena sentral. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Dengan perkembangan peritonitis umum. produk buangan juga ikut menumpuk. mengakibatkan dehidrasi. gangguan sirkulasi dan oliguria. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. syok. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. dsb) atau penyebab radang lainnya. Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus. pemberian antibiotika yang sesuai.

atau mereseksi viskus yang perforasi. Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi . insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus. karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik. Bila peritonitisnya terlokalisasi. dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya. sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum. karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. 1. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. mengeksklusi.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Jika peritonitis terlokalisasi. KONSEP KEPERAWATAN A. karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum. dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen.

: Distensi. mual / muntah. 3.2. Tanda : Cegukan. lidah bengkak. KEAMANAN . MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia. : Muntah proyektil. bunyi keras hilang timbul. umum atau lokal. terus- menerus oleh gerakan. haus. PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal. distensi abdomen. abdomen diam. kaku. Penurunan haluaran urine. bising usus kasar (obstruksi). SIRKULASI Tanda : Takikardia. takipnea. berkeringat. turgor kulit buruk. 5. NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. 7. Diare (kadang-kadang). hipotensi (tanda syok). Membran mukosa kering. nyeri tekan. kekakuan abdomen. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen) 4. nyeri tekan. warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus). Tanda 6. Edema jaringan. ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. pucat. menyebar ke bahu. Hiperresonan/timpani (ileus).

B. 1. endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. 2.maka diagnosa yang diambil adalah : 1. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. dan rendahnya status curah jantung. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. kehilangan cairan dari sirkulasi. apendisitis akut. Rasional : tanda adanya syok septik. b. catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi.Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). pusing) . 4. demam. c. Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. takipnea. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. Kaji tanda vital dengan sering. penurunan tekanan nadi. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. takikardia. Catat perubahan status mental (contoh bingung. 3. Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Diagnose Keperawatan Berdasarkan pengkajian diatas. dialisa peritoneal. C. 5. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. Intervensi : a.

Rasional : mencegah penyebaran. toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. kulit kering adalah tanda dini septikemia. hipotensi. 2. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. h. kemerahan. Catat warna kulit. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. Rasional : Hangat. dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental.Rasional : Hipoksemia. g. dan sisi invasif. Observasi dreinase pada luka/drein. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin. kelembaban. kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter. d. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan . suhu. luka insisi/terbuka. e. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. i. f. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal.

Pantau tanda vital. hemovac. lingkar abdomen. takipnea. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Ubah posisi dengan sering. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian.Intervensi : a. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. turgor. keringat. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. balutan. 3. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. berikan perawatan kulit dengan sering. takikardia. Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster. menambah edema jaringan. Catat edema perifer/sakral. Ukur CVP bila ada. dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. perpindahan cairan. drein. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi : . demam. b. d. catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural). e. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Rasional : hipovolemia. c. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan.

Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. lama. Berikan perawatan mulut dengan sering. Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. d. yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik.a. Berikan tindakan kenyamanan. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. memerlukan evaluasi lanjut. latihan relaksasi/visualisasi. intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal. b. napas dalam. penurunan absorpsi air dan diare . Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus. Selidiki laporan nyeri. inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus. c. konstan). catat lokasi. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. 4. contoh pijatan punggung. tajam. b. catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada. Awasi haluaran selang NG. Auskultasi bising usus. Rasional : menurunkan mual/muntah. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi : a.

dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral. Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas. 5. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan.c. Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan. . b. meningkatkan perasaan sakit. c. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi : a. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. catat respon verbal dan non-verbal pasien. Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites. Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Dorong ekspressi bebas akan emosi. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. menghemat energi. d. dan dapat meningkatkan kemampuan koping. e. penampilan bising usus normal. Evaluasi tingkat ansietas.

com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www. dkk.D. Suzanne C.detik.html http://medlinux. 5. 2. http://health. Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan.scribd. 2001. Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang DAFTAR PUSTAKA Doenges. 2000. 1.detik. 3. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.com/f/10758-peritonitis/ http://www. Jakarta : EGC.indonesiaindonesia. Jakarta : EGC. 4. Brenda G.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas.blogspot.html http://health. Bare.blogspot.com/2009/10/peritonitis.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis# . Smeltzer.com/2009/03/penanganan-peritonitis.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.html http://medicastore.

html Selasa.08.blogspot. (04.http://silahealt. 22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S.2035) PERITONITIS Definisi Peritonitis .com/2012/05/askep-peritonitis.

Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut. Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. . jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus. Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada otot kandung empedu. tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. Pada wanita. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. kandung empedu atau usus buntu. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung. Kelainan hati atau gagal jantung. atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium. ureter.Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman. misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. usus. misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. kandung kemih. Infeksi dari rahim dan saluran telur.

Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah. ginjal dan bekuan darah yang menyebar. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. terlihat pucat. tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. misalnya lambung atau usus dua belas jari. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. Gejalanya bisa berupa. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. disorientasi. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.Iritasi tanpa infeksi. Penderita dengan perdarahan jangka panjang. adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. mengeluarkan tinja yang kehitaman. mengeluarkan darah dari rectum. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama. Patofisiologi Peritonitis . bisa menyebabkan bingung. seperti kegagalan paruparu. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. seperti mudah lelah. komplikasi bisa berkembang cepat. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat. bisa menunjukkan gejala-gejala anemia. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. nyeri dada dan pusing. misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan. rasa mengantuk dan bahkan syok. muntah darah.

yaitu dari luar ke dalam. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. dan M. Transversum abdominis. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. perforasi appendicitis.  Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya. . kemudian ketiga otot dinding perut M. yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Obliquus abdominis internus. Obliquus abdominis eksterna.  mycobacterium tubercolusa. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. perforasi tukak lambung. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis.Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis. M. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. rbacter-Klebsiella. lemak dan sub kutan dan facies superficial. perforasi tifus abdominalis.

Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. a. pudenda eksterna dan a. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal.dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik . sirnucmfleksa superfisialis. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. dsb) atau penyebab radang lainnya. a. dapat memulai respon hiperinflamatorius. dapatan. Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. maupun iatrogenic. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen. Dari kaudal terdapat a. yaitu fascia tranversalis. iliaca. epigastrika inferior. dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. pemberian antibitika yang sesuai. seperti misalnya interlukin. pembuangan focus septic (apendiks. dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pelepasan berbagai mediator.. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric. maka dapat menibulkan kematian sel. bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. Intercostalis VI-XII dan a. Keluaran urine tekanan venasentral. nutrisi dan mekanisme pertahanan. Epigastrik superior. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. pemberian antibiotika yang sesuai.

Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia. syok. dapat tibul peritonitis umum. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung. Dengan perkembangan peritonitis umum. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. . Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang. ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. serta muntah. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut.oleh ginjal. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas. gangguan sirkulasi dan oliguria. produk buangan juga ikut menumpuk. usus kemudian menjadi atoni dan meragang. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada. kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi.

ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS 1.5 ºC) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit) b. bicara jelas. puntiran usus. kebocoran usus. Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul). Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. Pemeriksaan Fisik a. namun terkadang disertai dengan merintih. Bentuk badan sedang. Keadaan Umum Keadaan umum baik. maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut. Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Pasien berbaring . Kesadaran komposmentis.Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut).

membrane mukosa kering. iris berwarna coklat. Kuku. Terdapat plaque dan caries pada gigi. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. d. Catilago pada daun telinga bersifat elastis. e.dan bergerak terbatas. Terdapat serumen pada liang telinga. dan distribusinya merata. Mulut kotor dan berbau. Tidak terdapat lesi. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. tidak terdapat secret. . Warna kuku kemerahan. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. Mata Reflek pupil (+). turgor kulit jelek. Suhu tubuh teraba hangat. Jumlah rambut banyak dan merata. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. Kepala Muka simetris. Pendengaran normal/tidak tuli. h. maupun krepitasi.rambut kuat. Rambut Warna kulit normal. maupun sumbatan. f. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. Tidak terdapat massa. berwarna hitam. Hidung Hidung simetris. Pasien terlihat pucat dan berkeringat. Kulit. konjungtiva berwarna merah muda. perdarahan. Mulut Bibir tidak sianosis. tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. sclera berwarna kemerahan. g. tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak. nyeri tekan. telinga kotor. c.

dada sewarna dengan bagian tubuh lain. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris. Tidak ada pembengkakan. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. . gerakan bebas. c. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia. k. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. maupun hemoroid. Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. 2. l. Payudara simetris. Terjadi penurunan peristaltic usus. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan. Dada Terdapat peninggian diafragma. dan sewarna dengan bagian tubuh lain. b.i. sewarna dengan bagian tubuh lainnya. massa. bentuk normal. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). Pemeriksaan Penunjang a. j.

g.d. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan . f. Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium. GDA Asidosis metabolic. kemudian menyebar keseluruh perut. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. Pasien mengalami gangguan pola tidur. dan cairan asites. e. distensi abdomen Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas) Nyeri akut Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. eksudat/secret. NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM 1. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah. Foto dada Peninggian diafragma. usus besar.

maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan . gigi tampak kotor Gangguan pola tidur Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut. mulut berbau dan muntah . sklera berwarna kemerahan. kebocoran 5. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen. puntiran usus. penampilan 4. membrane mukosa kering. turgor kulit jelek. usus. Tidak mampu 3. tampak kumuh dan tidak bersih.terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit Pasien mengalami penurunan nafsu makan. memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau.

Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi . Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3. Resiko infeksi DIAGNOSA 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2.tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5.

karakteristik.x 24 jam. Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi. kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien . Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. durasi. frekuensi..PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI 1.

Diharapkan kebutuhan 2. jarang dilakukan 3. sering dilakukan 5. tidak dilakukan sama sekali 2.Analgesic Administration Keterangan : 1. akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan . kadang dilakukan 4. yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam.

penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam.batas normal terjadinya gagal ginjal. digunakan 3. kurang 5. sedang 4. sangat digunakan 2. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN. diharapkan kebutuhan Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan . Keterangan : 1.

Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. nafsu makan. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien. Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. menunjang aktivitas. sedang 9. bergizi. Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. dan output. memberikan makanan yang disukai. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. digunakan 8. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi.nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. pada mulut. kurang 10. tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi. . kalori tinggi. sangat digunakan 7.

Berikan pijatan nyaman. Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Agar kebutuhan tidur terpenuhi. . Menciptakan kenyamanan.dan minum. Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur. Berikan perawatan mulut sebelum makan. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien. Memberikan kenyamanan. Anjurkan peningkatan lamanya tidur. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien. Memudahkan pasien untuk tidur.

Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. pasien. dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur.Berikan obat tidur. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi. teknik peningkatan tidur. . Mempertahankan kebersihan diri pasien. Mempertahankan kebersihan diri pasien. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5.

Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. kelembaban tekstur. cuci kulit dengan hati-hati. diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. tumor. turgor. dan adanya fungsiolaisa. nyeri. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya . (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko. panas. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah. membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit. gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan.

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan utuh mengetahui factor penyebab infeksi Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi .

2005. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Budi. Mansjoer. Marilynn E. St. Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2.com Doenges. 1996. Potter dan Perry. Santosa. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). Joanne C. Jakarta : EGC. Louis : Mosby . Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. 1999. 1999. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). 2000. dan Gloria M. 2000. Prima Medika. Louis : Mosby Inc. Jakarta : Media Aesculapius.DAFTAR PUSTAKA Johnson. Buku Kedokteran ECG: Jakarta.medicastore. Arif. Bulechek. Kapita Selekta Kedokteran. . St. et all. Marion et all. www. McCloskey.Year Book Inc.

.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.yaw di 19.html .blogspot.Diposkan oleh mbah jito OK la.45 http://dkp2011.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful