Masalah dan Tahapan Program Pamsimas

Yudha Pracastino Heston1 Penyelenggaraan program Penyediaan Air minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat, atau yang dikenal sebagai Pamsimas, telah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Program yang dimulai tahun 2008, awalnya memiliki kendala berkaitan dengan koordinasi dan sinkronisasi program masing-masing instansi yang terlibat dalam program. Perubahan institusi pengendali/ executing agency dari Kementerian Kesehatan ke Kementerian Pekerjaan Umum, menimbulkan masalah pada awal pelaksanaan program. Pada awal pelaksanaan tahun 2008, menurut salah satu pejabat program Pamsimas, Pamsimas harus berjalan dengan keterbatasan perangkat yang ada2. Persoalan koordinasi antar sektor terlihat, pada saat program telah sampai pada tahapan pelaksanaan konstruksi, di beberapa tempat, air baku yang akan digunakan, hasil tesnya belum keluar. Padahal air Pamsimas wajib dites oleh Dinas Kesehatan, dan harus memiliki kualifikasi sebagai air bersih. Pelaksanaan Pamsimas tidak saja terkendala masalah koordinasi. Sebagai gambaran, dapat kita lihat di tiga lokasi pelaksanaan Pamsimas, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tasikmalaya. Di tiga tempat ini, terdapat beberapa masalah, yang perlu diperhatikan pemangku kepentingan Pamsimas. Kota Kupang Di Kota Kupang, permasalahan yang utama untuk program Pamsimas adalah mencari sumber air yang dapat dijadikan air baku Pamsimas. Selain itu ketersediaan mata air baku, juga sering menjadi kendala, hal ini disebabkan adanya penurunan debit akibat iklim pulau Timor. Sumber air yang tersedia di kota Kupang tidak merata. Karena sulitnya menemukan sumber air, pengelola perlu mendapatkan pemilik sumber air (sumur gali) yang berjiwa sosial,untuk menjadikan sumur pribadi sebagai sumber air baku. Struktur geologi tanah di Kota Kupang rawan terhadap pencemaran. Hal ini disebabkan karena tipe tanah Kota Kupang cepat menurunkan air limbah di permukaan, sehingga air yang ada di bawah tanah mudah tercemar. Solusinya adalah dengan melakukan terlebih dahulu pengolahan air limbah yang dibuang ke tanah. Bahan infrastruktur Pamsimas banyak yang didatangkan dari luar pulau, hal ini menyebabkan mahalnya prasarana terpasang. Masalah lain berkaitan dengan pengelolaan sanitasi yang masih buruk. Perubahan tata ruang yang kurang terkendali. Kinerja fasilitator, terutama berkaitan dengan masalah sering terlambatnya menerima gaji dan kesulitan mendapat fasilitator dengan kemampuan yang cukup untuk menangani pengelolaan Pamsimas. Masyarakat penerima manfaat di Kota Kupang, dari hasil penelitian juga masih merasa terbebani dan berat untuk dapat mengumpulkan uang swadaya. Terdapat juga perselisihan internal Lembaga Keswadayaan Masyarakat maupun dengan pihak luar. Masalah perilaku pelaksana, menunjukkan perlunya perhatian pada tahapan waktu program Pamsimas.
1

Calon Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Sosia l Ekonomi Bidang Permukiman, Balitbang PU Pernyataan ini dikatakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen dari Program Pamsimas Pusat pada acara seminar hasil Penelitian Sosial Ekonomi Pengelolaan Pamsimas di Jakarta, 26 Oktober 2010.
2

Program pemberdayaan masyarakat dalam program Pamsimas memerlukan perhatian dan waktu yang lebih dari panduan pelaksanaan. Dari dua tahun pelaksanaan Pamsimas di Kabupaten Banjar dapat diambil kesimpulan. berada pada tahap perencanaan. penetapan desa/ kelurahan lokasi Pamsimas. Penyusunan proaksi. pengetahuan dan pengalaman dari pengelola program. semua tahapan yang masuk kategori tidak efektif. . Hal ini menyebabkan penentuan desa sasaran. Tahapan tersebut berjumlah sembilan yaitu: Koordinasi sektoral kabupaten/ kota. Hal ini terjadi terutama di daerahdaerah pedesaan dan pinggiran kota. bahwa waktu untuk persiapan proses pemberdayaan dan perubahan perilaku. dan saluran limbah. Hasilnya adalah. Masyarakat juga merasa terbebani dengan adanya dana swadaya. Diperlukan kesatuan pemahaman antar dinas terkait dalam pengembangan program Pamsimas. Kondisi ini dapat disebabkan karena. Kabupaten Tasikmalaya Permasalahan program Pamsimas di Kabupaten Tasikmalaya berkaitan dengan pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana Pamsimas. Tahapan Program Di tiga Kota/Kabupaten lokasi penerapan program Pamsimas. Pemicuan dengan CLTS. Di Kabupaten Tasikmalaya ada kasus. Adanya keterbatasan anggaran pemerintah daerah. Sertifikasi Perubahan perilaku BAB. dilakukan penelitian terhadap persepsi. yang terdiri dari fasilitator. dan pengurus lembaga sektor air dan sanitasi di masyarakat. merupakan tantangan bagi program Pamsimas. tempat sampah. setelah terbangun. terlalu terbatas atau sempit. dan Penyusunan RKM. Ditemukan kesenjangan komunikasi antara konsultan dengan instansi pemerintah. menunjukkan terjadinya kesenjangan komunikasi dan koordinasi antar sektor. sarana Pamsimas dibangun terlebih dahulu. Untuk menggali tingkat efektifitas waktu. perangkat desa. pada tahun 2010 turun tidak tepat waktu sehingga pelaksanaan kegiatan tertunda. Aktifitas masyarakat berkaitan dengan budaya kolam dan sanitasi. Terdapat perilaku buang air besar di tepi sungai menggunakan toilet apung. Waktu tahapan pelaksanaan menurut panduan Pamsimas dibandingkan dengan waktu tahapan dari hasil penelitian dapat dilihat dalam tabel 1. Mobilisasi perubahan perilaku BAB. penyusunan longlist kabupaten/ kota. tidak mencukupi. belum sesuai dengan skala prioritas. baru diperiksa kualitas airnya. Termasuk dalam penyelenggaraan anggaran dinas dalam pengembangan Pamsimas. belum meratanya penyediaan sarana sanitasi baik di sekolah maupun lingkungan permukiman.Kabupaten Banjar Di Kabupaten Banjar ditemukan masalah berkaitan dengan kepedulian masyarakat mengenai pemanfaatan dan pemeliharaan air. Sebagian besar berupa kegiatan pemberdayaan. menyebabkan pembangunan sarana prasarana air bersih dan sanitasi belum merata di Kabupaten Banjar. metode MPA-PHST. Daftar Isian Penggunaan Anggaran untuk program Pamsimas di Kabupaten Banjar. terlihat pentingnya aspek pemberdayaan masyarakat dalam tahapan waktu pelaksanaan program Pamsimas.

Diperlukan kejelasan aspek atau materi dalam tahapan sosialisasi di masyarakat. karena dari hasil Focus Group Disscusion masih terdapat sektor yang belum terlibat. terutama pada tahap penetapan desa/kelurahan sampai sertifikasi perilaku BAB. Kapasitas masyarakat penerima program yang bervariasi. . karena masih ditemui ketidaksamaan pendefinisian program. untuk menangkap dan mengembangkan program Pamsimas. Peningkatan koordinasi lintas sektor perlu lebih intensif dilakukan. menjadi salah satu temuan penelitian. masih perlu dilakukan sosialisasi lanjtuan ke pelaksana program. Peningkatan kesiapan Lembaga Keswadayaan Masyarakat dalam hal kuantitas maupun kualitas. Kemampuan masyarakat dalam aspek sosial kelembagaan. terutama untuk kegiatan konstruksi. dapat segera diperbaiki. sehingga jika terjadi kekurang pahaman di masyarakat. Pengelola program Pamsimas perlu melakukan evaluasi setelah diadakan sosialisasi. bahkan kelompok kerja yang seharusnya ada di tingkat kabupaten/ kota belum terlihat eksistensinya. dapat disimpulkan bahwa secara umum. Hasil penelitian berupa penilaian efektifitas waktu per tahapan kegiatan dapat dilihat dalam tabel 2.Tabel 1. Dari hasil Focus Group Disscusion ditemukan. Tahapan Kegiatan PAMSIMAS Dari hasil penelitian. kemampuan ekonomi mereka untuk membayar iuran dan kelestarian lingkungan sekitar sumber air menjadi unsur penting keberlanjutan program. terutama mengenai urutan aspek yang disosialisasikan. penyediaan waktu untuk melaksanakan program Pamsimas sudah cukup. yang melibatkan peran masyarakat dan perubahan pola perilakunya. Masyarakat yang memiliki kapasitas tinggi (terutam dari latar belakang pendidikan dan kemampuan ekonomi) akan lebih mudah dalam mengembangankan program. Proses pemberdayaan dalam program Pamsimas. berpengaruh dalam efektifitas tahapan pelaksanaan program. perlu untuk diperhatikan dan diperbaiki.

9 77. Sosialisasi Ds/Kel 7. Sosialisasi Kab/Kota 6.9 88.7 35. Ds/Kel lks Pamsimas 36. GugustugasLKM (TKM) 18. Pemicuan dng CLTS 14.1 22. Pleno RKM 9.3 23. Srtf prb perilaku BAB 1.3 83. Koord sektoral 4.4 96 100 96.2 30.2 63.6 73.2 25 63.2 17. Mbl prb perilaku BAB 15.Verifikasi minat masy 9. Longlist Ds/Kel 16. Pendirian LKM 11.7 76.8 82.8 36.2 88. Konstruksi WSS 0 25. Minat masy (SPKMP) 8.6 78.2 98.8 13. Penyiapan Bdn Pengelola efektif tidak efektif 0% 20% 40% 60% 80% 100% .4 21.1 65.8 16.9 34. Penilaian Tahapan Kegiatan PAMSIMAS 57.1 27.7 42. Pemilihan Opsi RKM 20. Penyusunan RKM 0 22.7 27.2 69.1 11.9 3.3 17. Penyusunan ProAksi 26.3 72. Keg Kesehatan 3. Plth di masyarakat 24.6 4 23.7 100 90. Explorasi kontrbs masy 19.4 75 72.Tabel 2.8 5.8 10 MPA-PHAST 12. Pleno Opsi RKM 21.3 64.8 26.

dengan memberikan peringatan ulang berkala (reminding). Tidak hanya diserahkan ke pendamping masyarakat (pemberdayaan. Terutama karena nilai keuntungan yang besar. Pengelola Pamsimas perlu melakukan konsultasi dan koordinasi dengan PDAM terutama mengenai wilayah pelayanan. kimia. Pengelola perlu memperhatikan ketersediaan sumber air. Kebutuhan peningkatan kualitas dan kemampuan masyarakat penerima program dapat dijembatani dengan meningkatkan kualitas dan kemampuan pendamping masyarakat. perlu dirumuskan struktur koordinasi di Kabupaten/Kota (dalam hal jadwal. yang hasilnya disosialisasikan ke masyarakat penerima manfaat. teknik). anggaran dan hal yang terkait). sebagai unit usaha komunitas (membuat bussiness plan). biologi) dan kuantitas (liter/keluarga) yang disalurkan ke masyarakat penerima manfaat.Rekomendasi untuk pengelola program Sebagai langkah untuk mengefektifkan waktu. Daftar pustaka Laporan Akhir Penelitian Sosial Ekonomi Pengelolaan Pamsimas Tahun 2010 Balai Litbang Sosial Ekonomi Bidang Permukiman Yogyakarta . Untuk meningkatkan efektifitas waktu terkait dengan tahapan kegiatan Pamsimas. kesehatan. pemeliharaan prasarana. LKM dan BP SPAM perlu menambah jumlah keterlibatan perempuan dalam susunan keanggotaannya. melalui pemeliharaan saranaprasarana pengelolaan kelembagaan. ketertiban iuran. Dari hasil penelitian. Rekomendasi untuk masyarakat penerima manfaat Rincian kegiatan yang akan dilakukan disusun dalam RKM dengan melibatkan masyarakat. sehingga perlu disiapkan waktu pada tahun yang berbeda (prosesnya lebih dahulu dikerjakan. sehingga jika waktu pemberdayaan kurang. sumber air. bagi pihak yang berminat mengajukan desa ke dalam daftar. menyebabkan pay back periode dapat sangat cepat dicapai. Pada saat kegiatan sosialisasi di masyarakat. sehingga tercipta koordinasi antar program dan sektor. masih ada waktu di tahun pelaksanaan pembangunan fisik). kualitas layanan air dan penentuan iuran keluarga penerima manfaat. Pengelola perlu melakukan penghitungan nilai-manfaat. pembagian tugas dan wewenang. kegiatan pemberdayaan tidak dapat dilaksanakan bersamaan dengan proyek pembangunan fisik. Badan Pengelola SPAM perlu memikirkan pengembangan Pamsimas. untuk menopang operasional dan pengembangan lebih lanjut. Sehingga secara bersama mereka berusaha menjaga keberlanjutan penyediaan air minum mereka secara mandiri. dan peningkatan kapasitas dan kapabilitas dalam pengelolaan air minum. dapat dilakukan pengaturan waktu (time management/schedule). kualitas air (fisik. perlu adanya kejelasan dan ketegasan mengenai tahapan kegiatan Pamsimas. di setiap tahapan kegiatan melalui pertemuan berkala yang disepakati. setelah mereka mengimplementasikan program Pamsimas. mengingat kontribusi perempuan dalam penyediaan air rumah tangga. agenda. instansi yang terlibat.

Air bersih dari Pamsimas . Survey melalui focus group discussion ke pengelola 3. Survey melalui kuesioner ke pengelola dan masyarakat 2.Lampiran foto 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful