pegadaian konvensional dan pegadaian syariah. Apa saja perbedaannya? Kita ikuti penjelasannya, berikut ini.

Pada episode sebelumnya kita telah membahas mengenai konsep pegadaian secara umum, termasuk untuk keperluan yang seperti apa, yang bisa dipenuhi dari pegadaian. Kini nara sumber kita Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Business Consulting , akan merincikan cara kerja pegadaian konvensional dan pegadaian syariah. Apa saja perbedaannya? Kita ikuti penjelasannya, berikut ini. “Dalam pegadaian, obyek yang digadaikan biasanya terdiri dari emas dan perhiasan lainnya. Meskipun perhiasan berlian kurang diminati oleh pegadaian, karena beberapa factor dalam prakteknya yaitu adanya penipuan. Jadi yang lebih diminati adalah emas, karena lebih mudah ditandai keasliannya. Selain perhiasan, diterima pula kendaraan seperti mobil, motor dll, meskipun tetap yang lebih disukai adalah emas. Cara kerja pegadaian yang konvensional ini adalah dengan cara: orang yang perlu uang datang ke tempat pegadaian, mereka akan menyerahkan barang yang akan digadaikan, barang yang akan digadaikan ini akan ditaksir oleh petugas, dan nilai taksirannya akan diberikan dalam bentuk uang. Sehingga orang yang memerlukan uang itu akan menerima sejumlah uang, sesuai nilai taksir barang yang digadaikannya. Mereka biasanya menggadaikan barangnya selama 4, 6 bulan, sesuai yang disepakati, tapi biasanya tidak lebih dari 1 tahun. Jadi biasanya kegunaannya ini agak berbeda dari bank yang bisa 2 atau 3 tahun, ini untuk kegunaan yang mendesak.” Layaknya pada lembaga keuangan lainnya, pegadaian pun mengenakan bunga untuk jasa yang dilakukannya. “Dari jumlah uang yang diberikan tersebut, maka pegadaian akan mengenakan jasa uang, atau yang di perbankan disebut bunga. Sehingga orang yang menggadaikan tadi akan membayarkan bunga, dan pada saat jatuh temponya mereka akan membayar kembali barang tersebut, sehingga mereka memperoleh kembali barangnya. Secara ringkas itu adalah cara kerja pegadaian yang konvensional.” Sedangkan pada pegadaian syariah, proses pinjam-meminjamnya masih sama dengan pegadaian konvensional. Secara umum tidak ada perbedaan dari sisi peminjam. Hanya saja, bunga yang dikenakan pada pegadaian konvensional, diganti dengan biaya penitipan pada pegadaian syariah. “Sedangkan pegadaian syariah mempunyai mekanisme yang sedikit berbeda. Yaitu yang pertama, apabila ada orang yang membutuhkan uang dan mereka datang ke pegadaian syariah, maka secara teknis akan dilakukan penaksiran terhadap barang yang akan digadaikan. Kemudian setelah dilakukan penaksiran terhadap barang yang digadaikan, orang tersebut akan mendapatkan sejumlah dana sesuai nilai taksiran tersbut. Sampai sini masih sama dengan pegadaian konvensional, di mana terjadi proses pinjam-meminjam uang. Bedanya di pegadaian konvensional dikenakan bunga, yang biasa disebut jasa uang, sedangkan di syariah mereka tidak bisa mengenakan bunga atau jasa uang. Lalu dari mana pegadaian syariah mendapatkan keuntungan jika mereka tidak bisa mengenakan bunga atau yang tadi kita sebut sebagai jasa uang? Barang yang digadaikan tersebut, harus dtitipkan. Tempat penitipan inilah yang

dibayar jasanya. Jadi ada jasa penitipan barang.. Jasa pentipan ini tidak serta merta dikalikan dari persentase tertentu, tapi dia dikaitkan dengan suatu rate tertentu. Misalnya kalau barangnya sekian gram sampai sekian gram, biaya penitipannya sekian. Sehinga yang terjadi di pegadaian syariah ini, nasabah dikenakan charge berupa biaya tempat pentipian. Jadi mereka membayar biaya sewa penitipan.” Selain dari biaya sewa penitipan yang menggantikan bunga, dalam pegadaian syariah peminjam cuma bisa menggadaikan barang dalam bentuk emas, dan belum bisa dalam bentuk barang yang lainnya seperti pada pegadaian konvensional. “Di dalam pegadaian syariah juga, perbedaan berikutnya, yang dilakukan sejauh ini hanya gadai emas saja. Sedangkan gadai perhiasan di luar emas, yang dinilai emasnya saja. Begitu juga gadai mobil, motor, belum dilakukan di pegadaian syariah. Sehingga dalam pegadaian syariah ini masih terbatas dalam emas saja dan dikenakan biaya penyewaan tempat penitipan. Sama dengan konvensional, di pegadaian syariah pun jangka waktunya tidak panjang. Hanya sekitar 4, 6, 8 atau 12 bulan saja. Tidak melebihi dari itu, karena pegadaian ini harus kita gunakan secara hati hati untuk keperluan yang betul-betul mendesak dan penting saja. Untuk kebutuhan lain, pegadaian bukanlah tempat yang cocok untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya lebih jangka panjang dan nilainya lebih besar.” Mengingat bunganya yang secara umum lebih besar daripada lembaga keuangan lainnya, maka Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Business Consulting, tidak merekomendasikan jasa pegadaian untuk pinjaman jangka panjang. Dirinya menyarankan untuk menggunakan jasa pegadaian, hanya jika memenuhi syarat mendesak dan penting, seperti yang telah diungkapkan dalam episode sebelumnya

Gadai merupakan suatu hak, yang diperoleh kreditur atas suatu barang bergerak yang dijadikan sebagai jaminan pelunasan atas hutang. Dan Pegadaian merupakan “trademark” dari lembaga Keuangan milik pemerintah yang menjalankan kegiatan usaha dengan prinsip gadai. Sesuai dengan PP103 tahun 2000 pasal 8, Perum Pegadaian melakukan kegiatan usaha utamanya dengan menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai serta menjalankan usaha lain seperti penyaluran uang pinjaman berdasarkan jaminan fidusia, layanan jasa titipan, sertifikasi logam mulia dan batu adi, toko emas, industri emas dan usaha lainnya. Sejalan dengan kegiatannya, Pegadaian mengemban misi untuk ; turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah menghindarkan masyarakat dari gadai gelap, praktik riba dan pinjaman tidak wajar lainnya. Pegadaian Konvensional Kegiatan menjaminkan barang-barang untuk memperoleh sejumlah uang dan dapat ditebus kembali setelah jangka waktu tertentu tersebut disebut dengan nama usaha gadai. Dengan usaha gadai masyarakat tidak perlu takut kehilangan barang-barang berharganya dan jumlah uang yang diinginkan dapat disesuaikan dengan harga

dan barang bergerak lainnya (sama dengan KCA). Pegadaian Syariah Terbitnya PP/10 tanggal 1 April 1990 dapat dikatakan menjadi tonggak awal kebangkitan Pegadaian. 3. akhirnya disusunlah suatu konsep pendirian unit Layanan Gadai Syariah sebagai langkah awal pembentukan divisi khusus yang menangani kegiatan usaha syariah. KREASI (Kredit Angsuran Sistem Fidusia) Pemberian kredit sistem fidusia bagi usaha mikro & kecil dengan sistem angsuran bung 1%/bulan. 5. dengan jaminan barang bergerak seperti perhiasan (emas dan berlian). guna memperoleh sejumlah uang dan barang yang dijaminkan akan ditebus kembali sesuai dengan perjanjian antara nasabah. PRODUK-PRODUK PEGADAIAN 1. Penaksir-penaksir kami akan menjelaskan kepada nasabah akan karatase dan keaslian perhiasan nasabah. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional. KCA (Kredit Cepat Aman) Pemberian kredit sistem gadai. jangka waktu maksimal 2 tahun. KRASIDA (Kreddit Angsuran Sistem Gadai) Pemberian kredit gadai bagi usaha mikro & kecil dengan sistem angsuran bunga 1% / bulan. JASA TAKSIRAN Layanan untuk memberikan penilaian berbagai jenis dan kualitas perhiasan emas dan berlian. Berkat Rahmat Alloh SWT dan setelah melalui kajian panjang. . Konsep operasi Pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern yaitu azas rasionalitas.barang yang dijaminkan. Banyak pihak berpendapat bahwa operasionalisasi Pegadaian pra Fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003 tentang Bunga Bank. Barang jaminan BPKB dan survey kelayakan usaha. biaya murah dan barang / dokumen nasabah akan aman. aman dan mudah prosedurnya. JASA TITIPAN Layanan penitipan/penyimpanan surat berharga / dokumen / sertifikat dan barang berharga lainnya. Fungsi operasi Pegadaian Syariah itu sendiri dijalankan oleh kantor-kantor Cabang Pegadaian Syariah/ Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) sebagai satu unit organisasi di bawah binaan Divisi Usaha Lain Perum Pegadaian. Prosedur mudah. kegiatan menjaminkan barang-barang berharga kepada pihak tertentu. telah sesuai dengan konsep syariah meskipun harus diakui belakangan bahwa terdapat beberapa aspek yang menepis anggapan itu. kendaraan bermotor dan barang bergerak lainnya. Secara umum pengertian usaha gadai adalah dengan lembaga gadai. Perusahaan yang menjalankan usaha gadai disebut perusahaan pegadaian dan secara resmi satu-satunya usaha gadai di Indonesia hanya dilakukan oleh Perusahaan Pegadaian. kendaraan bermotor (sepeda motor & mobil). satu hal yang perlu dicermati bahwa PP10 menegaskan misi yang harus diemban oleh Pegadaian untuk mencegah praktik riba. 2. 4. jangka waktu maksimal 3 tahun dengan jaminan barang bergerak seperti perhiasan (emas dan berlian). prosesnya cepat (hanya 15 menit). efisiensi dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai Islam. misi ini tidak berubah hingga terbitnya PP103/2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum Pegadaian sampai sekarang.

tidak boleh digadaikan. dikuasai oleh rahin g. Adanya utang/ hutang. Memberikan superior return bagi investor c. Adanya pemberi dan penerima gadai. investor. (Marhun) Barang yang digadaikan harus ada pada saat dilakukan perjanjian gadai dan barang itu adalah milik si pemberi gadai. Menurut ulama Hanafiyah dan Syafiiyah syarat utang yang dapat dijadikan alas gadai adalah: a. dapat diserah terimakan b. jelas e. Hutang yang terjadi haruslah bersifat tetap. namun untuk dijadikan barang gadai hal ini diperbolehkan. Harta yang tetap atau dapat dipindahkan. 2. b. . Karena penjualan tanaman dan buahbuahan dipohonnya yang belum masak tersebut haram. bermanfaat c. yang penting di dalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara para pihak. Adanya barang yang digadaikan. 2000: 532). Mengenai rukun dan sahya akad gadai dijelaskan oleh Pasaribu dan Lubis sebagai berikut : 1. Sedangkan misinya ada tiga: a. berupa utang yang tetap dapat dimanfaatkan. (Ijab Qabul / sighot) Lafaz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan. Memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin melakukan transaksi ang halal. tidak bersatu dengan harta lain f. barang gadaian itu kemudian berada dibawah pengasaan penerima gadai. 4. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk barang yang akan digadaikan oleh rahin (pemberi gadai) adalah: a. tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba. milik rabin (orang yang menggadaikan) d. (Aqid) Syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang bertransaksi gadai yaitu rahin (pemberi gadai) dan murthahin (penenima gadai) adalah Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum sesuai dengan ketentuan syari’at Islam.TUJUAN PENDIRIAN Pada saat pendirian syaraih oleh Bank Muamalat Indonesia dan Perum Pegadaian melalui program musyarakah ditetapka visi dan misi dari pegadaian syariah yang akan didirikan. yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai. Dinyatakan tidak mengandung unsur gharar karena piutang murthahin tetap ada kendati tanaman dan buah-buahan yang digadaikan kepadanya mengalami kerusakan (AlJazairi. dan karyawan. karena didalamnya tidak memuat unsur gharar bagi murthahin. Abu Bakr Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhajul Muslim” menyatakan bahwa barangbarang yang tidak boleh diperjualbelikan. yang keduanyA mensiratkan tujuan didirikannya pegadaian syariah. Memberikan ketenangan kerja bagi karyawan. 3. Visi pegadaian syariah adalah menjadi lembaga keuangan syariah terkemuka di Indonesia. Jadi tujuan pendirian pegadaian syariah meliputi seluruh stakeholder yang berkaitan dengan usaha layanan pegadaian yaitu masyarakat. Adanya lafaz. kecuali tanaman dan buah-buahan dipohonnya yang belum masak.

Prosedur untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana. Jika murthahin mengklaim telah mengembalikan rahn dan rahin tidak mengakuinya. Seperti halnya Pegadaian konvensional. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya. Adapun landasan yang dipakai adalah : Quran Surat Al Baqarah : 283 Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan Hadist Aisyah berkata bahwa Rasul bersabda : Rasulullah membeli makanan dari seorang yahudi dan meminjamkan kepadanya baju besi. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Lebih jauh tentang ketiga aspek tersebut. Begitupun untuk melunasi pinjaman. maka ucapan yang diterima adalah ucapan murthahin dengan disuruh bersumpah. dan pendanaan. setelah akad orang yang menggadaikan (rahin) dipaksakan untuk menyerahkan barang untuk dipegang oleh yang memegang gadaian (murtahin) (Sayyid Sabiq. dipaparkan dalam uraian berikut. uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama ( kurang lebih 15 menit saja ). 1987: 141). 2000: 533). maka landasan konsep pegadaian Syariah juga mengacu kepada syariah Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadist Nabi SAW. maka ucapan yang diterima adalah ucapan rahin dengan disuruh bersumpah. jika ditinjau dari aspek landasan konsep. kecuali jika murthahin bisa mendatangkan barang bukti. masyarakat hanya menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak sebagai jaminan. nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti rahn saja dengan waktu proses yang juga singkat. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. teknik transaksi. karena. OPERASIONALISASI PEGADAIAN SYARIAH Implementasi operasi Pegadaian Syariah hampir bermiripan dengan Pegadaian konvensional. Pegadaian Syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Pegadaian Syariah memilki ciri tersendiri yang implementasinya sangat berbeda dengan Pegadaian konvensional. HR Bukhari dan Muslim . 2000: 533). Di samping beberapa kemiripandari beberapa segi. kecuali jika murthahin bisa mendatangkan barang bukti yang menguatkan klaimnya (Al-Jazairi. Madzhab Maliki berpendapat bahwa gadai wajib dengan akad. 2000: 532). (Diriwayatkan Al-Baihaqi dengan sanad yang baik) (Al-Jazairi. kecuali jika rahin bisa mendatangkan barang bukti yang menguatkan dakwaannya. c. Tetapi jika yang diperselisihkan adalah mengenai marhun. utang harus lazim pada waktu akad. Sedangkan menurut Al-Jazairi marbun boleh dititipkan kepada orang yang bisa dipercaya selain murthahin sebab yang terpenting dan marhun tersebut dapat dijaga dan itu bisa dilakukan oleh orang yang bisa dipercaya (Al-Jazairi. Jika ada perselisihan mengenai besarnya hutang antara rahin dan murthahin. utang harus jelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin. Sebagaimana halnya instritusi yang berlabel syariah. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). maka ucapan yang diterima ialah ucapan rahin dengan disuruh bersumpah.b. Rasulullah SAW bersabda: “barang bukti dimintakan dari orang yang mengklaim dan sum pah dimintakan dan orang yang tidak mengaku”.

a. murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi utangnya. kecuali Muslim dan An Nasai. namun dapat dilakukan juga oleh murtahin. karena ia telah mengeluarkan biaya ( menjaga)nya. sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin. maka punggungnya boleh dinaiki (oleh yang menerima gadai). b. Penjualan marhun 1. para ulama sepakat membolehkan akad Rahn ( al-Zuhaili. biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan. maka air susunya yang deras boleh diminum (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya.a. 4.Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban rahin. e. Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak. HR Asy’Syafii. d. maka ia harus mengeluarkan biaya (perawatan)nya. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan. Ketentuan Umum : a. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbritase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.Dari Abu Hurairah r. Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Apabila ternak itu digadaikan. Murtahin (penerima barang) mempunya hak untuk menahan Marhun ( barang ) sampai semua utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.V:181) Landasan ini kemudian diperkuat dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional no 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut: A. jumhur ulama juga berpendapat boleh dan mereka tidak pernah berselisih pendapat mengenai ini.Hasil Penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang. Pada prinsipnya marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin. 3. . Ia memperoleh manfaat dan menanggung risikonya. Jumhur ulama berpendapat bahwa disyariatkan pada waktu tidak berpergian maupun pada waktu berpergian. HR Jamaah. Ketentuan Penutup 1. 1985. Nabi SAW bersabda : Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. 2. berargumentasi kepada perbuatan Rasulullah SAW terhadap riwayat hadis tentang orang Yahudi tersebut di Madinah Di samping itu. c. dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya. B.Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya. Rasulullah bersabda : Apabila ada ternak digadaikan. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin. al-Fiqh al-Islami wa Adilatuhu.Apabila jatuh tempo. al Daraquthni dan Ibnu Majah Nabi Bersabda : Tunggangan ( kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan bintanag ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Dari Abi Hurairah r. Kepada orang yang naik dan minum. HR Jemaah kecuali Muslim dan Nasai-Bukhari Ijtihad Berkaitan dengan pembolehan perjanjian gadai ini. maka marhun dijual paksa/dieksekusi.

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari terdapat kekeliruan akan diubah dan disempurnakan sebagai mana mestinya. pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai intrinsik dan harga pasar yang telah ditetapkan oleh Perum Pegadaian. Orang yang berakad : 1) Yang berhutang (rahin) dan 2) Yang berpiutang (murtahin). memiliki nilai. 4. Marhun (barang yang dirahnkan). Akad Ijaroh. Harta yang dirahnkan (marhun) d. Marhun bisa dijual dan nilainya seimbang dengan pinjaman. Akad tidak mengandung syarat fasik/bathil seperti murtahin mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas. Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur. biaya perawatan dan keseluruhan proses kegiatannya. Maksimum uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90% dari nilai taksiran barang. Akad Rahn. kendaraan. Pinjaman (marhun bih) Dari landasan Syariah tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian Syariah dapat digambarkan sebagai berikut : Melalui akad rahn. Pinjaman merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang dirahnkan tersebut. 2. Teknik Transaksi Sesuai dengan landasan konsep di atas. pinjaman itu jelas dan tertentu. 5. Dengan akad ini Pegadaian menahan barang bergerak sebagai jaminan atas utang nasabah. Melalui akad ini dimungkinkan bagi Pegadaian untuk menarik sewa atas penyimpanan barang bergerak milik nasabah yang telah melakukan akad rukun dari akad transaksi tersebut meliputi : a. 2. Serta. dan lain-lain) untuk dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal. b. Kemudian staf Penaksir akan menentukan nilai taksiran barang bergerak tersebut yang akan dijadikan sebagai patokan perhitungan pengenaan sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon uang pinjaman yang dapat diberikan. Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai investasi tempat penyimpanan. 1. jelas ukurannya. Untuk dapat memperoleh layanan dari Pegadaian Syariah. C. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. pada dasarnya Pegadaian Syariah berjalan di atas dua akad transaksi Syariah yaitu.milik sah penuh dari rahin. dan biaya pengelolaan serta administrasi. 3. Sighat ( ijab qabul) c.biaya keamanan.2. Setelah melalui tahapan ini. Akad. Rahin dibebani jasa manajemen atas barang berupa: biaya asuransi. Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad tersebut meliputi : 1. dan bisa diserahkan baik materi maupun manfaatnya. Marhun Bih ( Pinjaman). berlian. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.biaya penyimpanan. tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barangnya sendri. Pegadaian Syariah dan nasabah melakukan akad dengan kesepakatan : . nasabah menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau jasa melalui pembayaran upah sewa. tidak terkait dengan hak orang lain. masyarakat hanya cukup menyerahkan harta geraknya ( emas.

3. Berbeda dengan Pegadaian syariah yang mensyaratkan secara mutlak keberadaan barang jaminan untuk membenarkan penarikan bea jasa simpan. pembiayaan kegiatan dan pendanaan bagi nasabah. biaya yang harus dibayar sejumlah dari yang dipinjamkan. murni berasal dari modal sendiri ditambah dana pihak ketiga dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. PERBEDAAN PEGADAIAN KONVENSIONAL DAN PEGADAIAN SYARIAH Dari uraian diatas dapat dicermati perbedaan yang cukup mendasar dari teknik transaksi Pegadaian Syariah dibandingkan dengan Pegadaian konvensional. seluruh kegiatan Pegadaian syariah termasuk dana yang kemudian disalurkan kepada nasabah. Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama maksimum empat bulan . PENDANAAN Aspek syariah tidak hanya menyentuh bagian operasionalnya saja. pegadaian syariah tetap memperoleh keuntungan seperti yang sudah diatur oleh Dewan Syariah Nasional.. sehingga Pegadaian konvensional bisa tidak melakukan penahanan barang jaminan atau dengan kata lain melakukan praktik fidusia. Biaya itu dihitung dari nilai barang.000. ke depan Pegadaian juga akan melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan syariah lain untuk memback up modal kerja. keberadaan barang jaminan dalam gadai bersifat acessoir. selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman. . Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh Pegadaian pada saat pencairan uang pinjaman. Sedangkan pada pegadaian konvensional. maka Pegadaian Syariah melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara dijual. o atau hanya membayar jasa simpannya saja terlebih dahulu jika pada saat jatuh tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman uangnya. Pegadaian Syariah akan menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS.per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman.. yaitu 1. Pegadaian konvensional hanya melakukan satu akad perjanjian : hutang piutang dengan jaminan barang bergerak yang jika ditinjau dari aspek hukum konvensional. harus diperoleh dari sumber yang benarbenar terbebas dari unsur riba. dihitung dari nilai pinjaman. Di Pegadaian konvensional. yaitu memberlakukan biaya pemeliharaan dari barang yang digadaikan. Dengan ketentuan sebagai berikut: Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggaran untuk : o melakukan penebusan barang/pelunasan pinjaman kapan pun sebelum jangka waktu empat bulan. o mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dahulu jasa simpan yang sudah berjalan ditambah bea administrasi. Meski tanpa bunga. 2. Pegadaian syariah tidak menekankan pada pemberian bunga dari barang yang digadaikan.1. Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 80. dan jika dalam satu tahun ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut. jasa simpan dan pajak merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. tambahan yang harus dibayar oleh nasabah yang disebut sebagai sewa modal. 2. Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya membayar jasa simpan.(delapan puluh rupiah) dari kelipatan taksiran Rp 10. Pegadaian telah melakukan kerja sama dengan Bank Muamalat sebagai fundernya. bukan dari jumlah pinjaman. Nasabah diberi kesempatan selama satu tahun untuk mengambil Uang kelebihan. Dalam hal ini.

keberadaan barang jaminan dalam gadai bersifat acessoir. Karena ketidak sadaran akan besarnya kelemahan sistem bunga. murni berasal dari modal sendiri ditambah dana pihak ketiga dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. sehingga Pegadaian konvensional bisa tidak melakukan penahanan barang jaminan atau dengan kata lain melakukan praktik fidusia. Berbeda dengan Pegadaian syariah yang mensyaratkan secara mutlak keberadaan barang jaminan untuk membenarkan penarikan bea jasa simpan.Pemerintah di negara manapun dibikin repot dengan ulah sistem bunga yang build – in concept – nya memang bersifat kapitalistik dan diskriminalistik. Pegadaian konvensional hanya melakukan satu akad perjanjian : hutang piutang dengan jaminan barang bergerak yang jika ditinjau dari aspek hukum konvensional. Tetapi para pelaku ekonomi yang diuntungkan sistem bunga dan telah menjadi konglomerat itu kebanyakan lebih merasakannya sebagai paksaan daripada kewajiban. Pemerintah di negara – negara itu menjadi sibuk menambalnya dengan berbagai kebijaksanaan dan peraturan yang memaksa para pelaku ekonomi yang di untungkan sistem bunga agar menaruh peduli kepada pelaku ekonomi yang dirugikan sistem bunga itu. Dalam hal ini. ke depan Pegadaian juga akan melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan syariah lain untuk memback up modal kerja. Pegadaian telah melakukan kerja sama dengan Bank Muamalat sebagai fundernya. Pengalaman dibawah dominasi perekonomian dengan sistem bunga selama ratusan tahun membuktikan ketidak – mampuannya untuk menjembatani kesenjangan ini. harus diperoleh dari sumber yang benarbenar terbebas dari unsur riba. yaitu Di Pegadaian konvensional. dihitung dari nilai pinjaman. Didunia. Karena luput dari pengamatan.Perbandingan Perhitungan Gadai Syariah dengan Gadai Konvensional Aspek syariah tidak hanya menyentuh bagian operasionalnya saja. pembiayaan kegiatan dan pendanaan bagi nasabah. Dalam kaitan dengan kesenjangan ekonomi yang terjadi. sebaliknya para penyandang gelar ekonomi lemah (PEGEL) korban sistem bunga lebih merasakannya sebagai belas kasihan dari pada hak. tambahan yang harus dibayar oleh nasabah yang disebut sebagai sewa modal. Freetaskatcampuss Ratusan tahun sudah ekonomi dunia di dominasi oleh sistem bunga. para ahli ekonomi tidak melihat sistem bunga sebagai biang keladinya. diantara negara maju dan negara berkembang kesenjangan itu semakin lebar sedang didalam negara berkembang. Dari uraian ini dapat dicermati perbedaan yang cukup mendasar dari teknik transaksi Pegadaian Syariah dibandingkan dengan Pegadaian konvensional. Banyak negara yang telah dapat mencapai kemakmurannya dengan sistem bunga ini di atas kemiskinan negara lain sehingga terus – menerus terjadi kesenjangan. kesenjangan itupun semakin dalam. Dan pemasaran tapi sayangnya . seluruh kegiatan Pegadaian syariah termasuk dana yang kemudian disalurkan kepada nasabah. Hampir semua perjanjian dibidang ekonomi dikaitkan dengan bunga.

Pemerintah telah memberi peluang berdirinya lembaga – lembaga keuangan syariah berdasarkan sistem bagi hasil. supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengiangatkanya. … “ Dasar hukum lainnya adalah Sunnah Rasul.a. Dasar hukum berikutnya adalah Ijma’ ulama atas hukum mubah (boleh) perjanjian gadai. serta reksadana syariah. apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. 2. Medinah Munawwarah. khususnya yang meriwayatkan Nabi Muhammad s. Konsep lembaga gadai syariah. tanggal 25 Agustus 1997. … Dan persaksikanlah dengan dua orang sakasi orang – orang lelaki diantaramu. perjanjian gadai ada dan diajarkan dalam Islam. kita patut bersyukur bahwa sejak diundangkannya Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1992 dengan semua ketentuan pelaksanaannya baik berupa Peraturan Pemerintah. yaitu perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan hutang. Fikih Islam mengenal perjanjian gadai yang disebut “rahn”. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).sistem bunga yang berlaku secara otomatis menjaga jarak tetap diantara keduanya. serta ayat 283 yang membolehkan meminta jaminan barang atas hutang2 Al – Qur’an. Pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan harga yang diutang dengan jaminan berupa baju besinya. dan sebagainya. ayat 282 : “ Hai orang – orang yang beriman.w. halaman 70 –71. diperlukan pengkajian yang mendalam terlebih dahulu. berkata : “ Rasullulah SAW pernah membeli makanan dari orang Yahudi dan beliau maggadaikan kepadanya baju besi beliau “. dan reksadana syariah dalam bentuk menjadi pemegang saham. Jika tak ada dua orang lelaki. hendaklah kamu menuliskannya. menjadi investor.a. leasing. dan pegadaian. khususnya surat Al – Baqarah ayat 282 yang mengajarkan agar perjanjian hutang – piutang itu diperkuat dengan catatan dan saksi – saksi.3 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah r. Namun di Indonesia. menjadi penabung dan nasabah. Lebih dari itu banyak pula yang secara kreatif mengembangkan ide untuk berdirinya lembaga – lembaga keuangan syariah bukan bank lainnya seperti : modal ventura. Mujamma’ Khadim al Haramain asy Syarifain al Malik Fahd li thiba’at al Mush – haf – asy – Syarif. maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi – saksi yang kamu ridhai. dan Edaran Bank Indonesia. Keputusan Menteri Keuangan. Surat Al – Baqarah. asuransi syariah. Sebagian umat Islam di Indonesia yang mampu mensyukuri nikmat Allah itu mulai memanfaatkan peluang tersebut dengan mendukung berdirinya bank syariah. menjadi pemegang polis. Selanjutnya yang menyangkut segi – segi teknis. 1413 H. Dari pengalaman mendirikan bank syariah dan asuransi syariah.. Fikih Islam. . … “ Al – Qur’an. Surat Al – Baqarah. Walaupun cikal bakal lembaga gadai berasal dari Italia yang kemudian berkembang keseluruh dataran Eropa. seperti ketentuan 2 Al Qur’an dan Terjemahnya. ayat 283 : “ Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. 1 Disajikan dalam rangka Dialog Ekonomi Syari’ah yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Perbankan Syariah (PSPS) STIE “SBI” Yogyakarta. Dasar hukum rahn adalah Al Qur’an. sehingga dengan demikian untuk berdirinya pegadaian syariahpun diperlukan pengkajian terhadap berbagai aspeknya secara luas dan mendalam.

Kifayatul Akhyar. Terjemahan Ringkas FIQIH ISLAM LENGKAP. 1990. Mengenai rukun dan sahya akad gadai dijelaskan oleh Pasaribu dan Lubis4 sebagai berikut : 1. dan sebagainya. Hutang yang terjadi haruslah bersifat tetap. Bandung. adalah merupakan ijtihad yang dilakukan para fukaha. Unsur – unsur rahn adalah : orang yang menyerahkan barang gadai disebut “ rahin “.. Al – Ma’rif. 4. Setelah jatuh tempo. halaman 115-116.. Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. 2. Jakarta. Juga merupakan unsur rahn adalah sighat akad. Drs. bencana alam. Rineka Cipta. 5 H. halaman 143. boleh digadaikan sebagai tanggungan hutang. rahin berhak menerima barang yang menjadi tanggungan hutangnya dan berkewajiban membayar kembali hutangnya dengan sejumlah uang yang diterima pada awal perjanjian hutang. Drs. Sinar Grafika. 1988. Aspek lainnya yang perlu mendapat perhatian dalam kaitan dengan perjanjian gadai adalah yang menyangkut masalah hak dan kewajiban masing – masing pihak dalam situasi dan kondisi yang normal maupun yang tidak normal. 4 H. PT. Barang yang digadaikan harus ada pada saat dilakukan perjanjian gadai dan barang itu adalah milik si pemberi gadai. Adanya pemberi dan penerima gadai. dan H. Dalam keadaan normal hak dari rahin setelah melaksanakan kewajibannya adalah menerima uang pinjaman dalam jumlah yang sesuai dengan yang disepakati dalam batas nilai jaminannya. barang gadaian itu kemudian berada dibawah pengasaan penerima gadai. Jakarta. Sebaliknya hak dari murtahin adalah menerima barang jaminan dengan nilai yang aman untuk uang yang akan dipinjamkannya. tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba.3 Sayid Sabiq. sedang kewajiban rahin adalah menyerahkan barang jaminan yang nilainya cukup untuk jumlah hutang yang dikehendaki. Adanya lafaz.. Hukum Perjanjian dalam Islam. Chaeruddin Pasaribu. Mengenai barang (marhum) apa saja yang boleh digadaikan. Adanya barang yang digadaikan. Adanya utang/ hutang. yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai. . orang yang menerima barang gadai disebut “ murtahin “. dan Suhrawardi K. Drs. SH. Lafaz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan. sedang kewajibannya adalah menyerahkan uang pinjaman sesuai dengan yang disepakati bersama. 3. Fikih Sunnah.. tentang siapa yang harus menaggung biaya pemeliharaan selama marhun berada ditangan murtahin. Sebaliknya murtahin berhak menerima pembayaran hutang sejumlah uang yang diberikan pada awal perjanjian hutang. tatacara penentuan biayanya. Abu Ahmadi. Jilid 12. 1994... halaman 140. Lubis. Abdul Malik Idris. dsb. sedang kewajibannya adalah menyerahkan barang yang menjadi tanggungan hutang rahin secara utuh tanpa cacat. yang penting di dalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara para pihak. dan barang yang digadaikan disebut “ marhun “. dijelaskan dalam Kifayatul Akhyar5bahwa semua barang yang boleh dijual – belikan menurut syariah. Situasi dan Kondisi yang tidak normal bisa terjadi karena adanya peristiwa force mayor seperti perampokan.

. boleh juga diminum asal dibiayai. Dan susu yang deras apabila digadaikan. Dari ketentuan-ketentuan yang tersedia dapat disimpulkan bahwa barang gadai sesuai syariah adalah merupakan pelengkap belaka dari konsep hutang piutang antara . boleh dinaiki asal dibiayai. Dia tetap menjadi pemiliknya dan dia tetap berhutang “9. Kapita Selekta Hukum Islam. terjemahan Anshori Umar Sitanggal dari Haajul Musykilah Al-Iqtisshaadiyah fil-Islam. halaman 180.” (HR. Hasil penjualan apabila cukup dapat dipakai untuk menutup hutangnya. Namun dalam praktek pihak murtahim telah mengambil langkah – langkah pencegahan dengan menutup asuransi kerugian sehingga dapat dilakukan penyelesaian yang adil. Al – Ataram. Bandung. sabda Rasullulah SAW : “Punggung (binatang) apabila digadaikan. CV. halaman 156. Dan orang yang menaiki dan meminum itulah yang wajib membiayai. kewajiban murtahin adalah memelihara barang jaminan yang dipercayakan kepadanya sebagai barang amanah. rusak. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasullullah SAW : Dari Abu Hurairah . Al-Bukhari)7 Dalam keadaan tidak normal dimana barang yang dijadikan jaminan hilang. Drs.. Haji Masagung. 7 Thahir Abdul Muhsin Sulaiman. Hasil penjualan apabila cukup dapat dipakai untuk menutup hutangnya. sakit atau mati yang berada diluar kekuasaan murtahin tidak menghapuskan kewajiban rahin melunasi hutangnya8. sedang haknya adalah menerima barang yang menjadi tanggungan hutang dalam keadaan utuh.Diatas hak dan kewajiban tersebut diatas. halaman 143 Mengenai pemilikan barang gadaian. apabila lebih dikembalikan kepada ahli waris tetapi apabila kurang ahli waris tetap harus menutup kekurangannya atau barang gadai dikembalikan kepada ahli waris setelah melunasi hutang almarhum pemilik barang11. maka pihak yang memanfaatkan itu berkewajiban membiayainya. Menanggulangi Krisis Ekonomi Secara Islam. Sebaliknya rahin berkewajiban membayar biaya pemeliharaan yang dikeluarkan murtahin. apabila lebih dikembalikan kepada pemilik barang tetapi apabila kurang pemilik barang tetap harus menutup kekurangannya10. 1989. sabda Rasullulah SAW. 6 Masjfuk Zuhdi. maka penerima gadai boleh menjual barang gadai tersebut dengan harga umum. 1985. Pada waktu jatuh tempo apabila rahin tidak mampu membayar hutangnya dan tidak mengizinkan murtahin menjual barang gadaiannya. Al-Ma’arif. sedang haknya dalah menerima biaya pemeliharaan dari rahin. Dasar hukum siapa yang menanggung biaya pemeliharaan dapat dirujuk dari pendapat yang didasarkan kepada Hadist Nabi riwayat Al – Syafi’I. : “ Barang jaminan tidak bisa tertutup dari pemiliknya yang telah menggadaikannya. dan Al – Darulquthni dari Muswiyah bin Abdullah Bin Ja’far : “Ia (pemilik barang gadai) berhak menikmati hasilnya dan wajib memikul bebannya (beban pemeliharaannya)"6 Ditempat lain terdapat penjelasan bahwa apabila barang jaminan itu diizinkan untuk diambil manfaatnya selama digadaikan. barkata. Berita dari Abu Hurairah. berdasarkan berita dari Abu Hurairah perjanjian gadai tidak merubah pemilikan walaupun orang yang berhutang dan menyerahkan barang jaminan itu tidak mampu melunasi hutangnya. Jakarta. Dalam hal orang yang menggadaikan meninggal dan masih menanggung hutang. Kifayatul Akhyar. Masail Fiqhiyah. maka hakim/pengadilan dapat memaksa pemilik barang membayar hutang atau menjual barangnya. 8 Opcit.

Hal serupa juga terjadi pada lembaga hutang piutang syariah yang pada mulanya hanya menyangkut hubungan antar pribadi kemudian berkembang menjadi hubungan antara pribadi dengan bank. halaman 156.individu atau perorangan. Hutang piutang dalam bentuk alqardhul hassan dengan dukungan gadai (rahn). tidak tersurat sedikitpun uraian tentang lembaga gadai syariah sebagai perusahaan. 11 Opcit. Lembaga gadai syariah perusahaan bertindak sebagai penyandang dana atau rabb almal sedang nasabahnya bisa bertindak sebagai rahin atau bisa juga bertindak sebagai mudharib. Bagaimana konsepsi lembaga gadai syariah dalam suatu perusahaan tentunya tidak berbeda dengan lembaga gadai syariah dalam hubungan antar pribadi. Aspek-aspek penting yang perlu . 9 Opcit. Keadaan tidak normal ini bisa merubah status kepemilikan sehingga berkembang menjadi jual beli tunai (tijari). Dari uraian tersebut diatas. Hal ini juga mengandung arti bahwa hukum gadai dalam keadaan normal tidak merubah status kepemilikan. 10 Opcit. yaitu hubungan dalam rangka perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-qardhul hassan. jual beli tangguh bayar (murabaha). PT. Peminjam mempunyai dua pilihan. Menanggulangi Krisis Ekonomi secara Islam. tentunya peminjam bukanlah orang miskin karena dia mempunyai simpanan dalam bentuk harta tiak produktif (hoarding) yang dapat digadaikan. Kifayatul Akhyar. tergantung akternatif yang dipilih. Dalam kaitannya dengan keperluan komersial. Jakarta. dan hubungan dalam rangka perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk mudharabah. misalnya rahin pada saat jatuh tempo tidak mampu melunasi hutangnya maka bisa terjadi peristiwa penyitaan dan lelang oleh pejabat yang berwenang. Baru apabila terjadi keadaan yang tidak normal. yaitu : dapat memilih qardhul hassan atau menerima pemberi pinjaman atau penyandang dana (rabb al-mal) sebagai mitra usaha dalam perjanjian mudharabah12. Peminjam menanggung biaya yang secara nyata terjadi se[perti biata penyimpanan dll. Pengembangan hubungan antar pribadi menjadi hubungan antara pribadi dengan suatu bentuk perusahaan tentu membawa konsekuensi yang luas dan menyangkut berbagai aspek. rabb al-mal tentu saja akan mempertimbangkannya apabila peminjam adalah pengusaha pemula dan apabila peminjam memilih perjanjian mudharabah maka terlebih dahulu harus disepakati porsi bagihasil masing-masing pihak dimana posisi peminjam dana adalah sebagai mudharib. halaman 180.. Dengan demikian fungsi dari gadai disini adalah mencairkan atau memproduktifkan (dishoarding) harta yang beku. 1996.Masail Fiqhiyah. halaman 179-184. Bank Muamalat Indonesia. dan jual beli dengan pembayaran angsuran (baiu bithaman ajil). Konsep hutang piutang sesuai dengan syariat menurut Muhammad Akram Khan adalah merupakan salah satu konsep ekonomi Islam dimana bentuknya yang lebih tepat adalah al-qardhul hassan. Ajaran Nabi Muhammad SAW tentang Ekonomi (Kumpulan Hadits-hadits Pilihan tentang Ekonomi). dapat dipergunakan untuk keperluan sosial maupun komersial. Alternatif yang tersedia untuk lembaga gadai syariah juga ada dua. Peminjam pada waktu jatuh tempo tanpa ikatan syarat apapun boleh menambahkan secara sukarela pengembalian hutangnya. Namun hendaknya tetap dipahami bahwa lembaga gadai adalah pelengkap dari lembaga hutang piutang. 12 Muhammad Akram Kahan. Apabila peminjam memilih qardhul hassan. mungkin karena pada waktu peristiwa itu terjadi belum ada lembaga gadai sebagai suatu perusahaan. Didalam bentuk al-qardhul hassan ini hutang yang terjadi wajib dilunasi pada waktu jatuh tempo tanpa ada tambahan apapun yang disyaratkan (kembali pokok). dan dibayarkan dalam bentuk uang (bukan prosentase). halaman 144.

bahkan sampai kepada negara. maka biasanya peminjam adalah pengusaha pemula yang baru mencoba membuka usaha. Setiap orang bisa melakukan perjanjian hutang piutang dengan gadai secara syariah. Biaya bunga uang apapun namanya dilarang dikenakan14. b. maka p3erbedaan pendapat itu dapat diselesaikan melalui arbitrasi atau pengadilan. Infaq katanya diperlukan dalam kasus – kasus dimana pengembalian hutang tidak mungkin dilakukan. Bunga uang yang kita kenal walaupun dengan nama apapun tidak sesuai dengan prinsip syariah. aspek kelembagaan. Apabila pilihan seorang peminjam adalah pinjaman gadai dalam bentuk qardhul hassan. a. aspek sistem dan prosedur. Selain itu untuk keutuhan dan pengamanan barang gadai mungkin ada biaya pemeliharaan dan sewa tempat penyimpanan harta (save deposit box) di bank atau ditempat lainnya. Perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-qardhul hassan adalah perjanjian yang terhormat.diperhatikan pada lembaga gadai perusahaan adalah aspek legalitas. aspek sumber daya manusia. Ini membuktikan bahwa sebenarnya pihak peminjam bukanlah orang yang miskin tetapi orang yang mempunyai sejumlah harta yang dapat digadaikan. Hal ini menurut Khan karena infaq menimbulkan masalah kehormatan diri pada peminjam dan mengurangi dorongan dirinya untuk berjuang dan berusaha. aspek pengawasan. dimana pada bentuk ini tujuan utamanya adalah memenuhi kewajiban moral sebagai jaminan sosial. Tanggung jawab ini beralih kepada satuan keluarga. oleh karena itu tidak boleh dikenakan dalam perjanjian hutang piutang secara syariah. Apabila terjadi perbedan pendapat. Biaya yang harus ditanggung peminjam meliputi biaya – biaya yang nyata – nyata diperlukan untuk sahnya perjanjian hutang piutang. Pada dasarnya konsep hutang piutang secara syariah dilakukan dalam bentuk al-qardhul hassan. Perjanjian hutang piutang juga diperlukan bagi keperluan komersiil. Tidak ada tambahan biaya apapun diatas pokok pinjaman bagi si peminjam kecuali yang dipakainya sendiri untuk syahnya suatu perjanjian hutang. Dengan demikian al – Qardhul hassan adalah lembaga bersaudara dengan infaq13. Pilihan yang terbuka untuk kepentingan ini adalah melakukan perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-qardhul hassan atau melakukan perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk mudharabah. Perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-mudharabah. Kelurahan. Pada saat jatuh tempo semua hak dan kewajiban diselesaikan dan apabila terjadi peminjam tidak mampu melunasi hutangnya perjanjian yang lama dapat diperbaharui tanpa harus mengembalikan seluruh barang gadaiannya. seperti : bea materai. Dalam hal perjanjian hutang piutang ini untuk keperluan komersiil. Perjanjian hutang piutang dalam bentuk alqardhul hassan sangat dianjurkan dalam islam lebih utama daripada memberikan infaq. Operasionalisasi Lembaga Gadai Syariah. RT/RW. Dalam hal ini biaya – biaya seperti materai dan akte notaris menjadi beban peminjam. Dengan memahami konsep lembaga gadai syariah maka sebenarnya lembaga gadai syariah untuk hubungan antar pribadi sudah operasional. 3. aspek permodalan. dan biaya akte notaris. maka biasanya kelengkapan gadai yang cukup menjadi persyaratan yang tidak dapat ditinggalkan. oleh karena itu para pihak yang terlibat harus memperlakukan satu samalain secara terhormat pula. Gadai yang melengkapi perjanjian hutang piutang itu adalah sekedar memenuhi anjuran sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 283. Pengusaha lamapun bisa memilih pinjaman gadai dalam bentuk qardhul hassan apabila usahanya sedang lesu dan ingin dibangkitkan lagi. Perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-qardhul hassan. dan lain-lain. Seorang peminjam dan pemberi pinjaman dapat memilih pinjaman gadai dalam .

Modal jawatan untuk operasional dan pengembangan semula dipasok dari anggaran negara sehingga misi utamanya adalah 15 ibid sosial. apabila kedua belah pihak telah menghitung bahwa usaha yang akan 13 Ibid. Ajaran Nabi Muhammad saw tentang Ekonomi. Tujuan semula dari jawatan ini adalah semata – mata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan kredit kecil. Biaya bunga uang apapun namanya juga dilarang dikenakan15. dijalankan layak dan secara ekonomis akan menguntungkan. Perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk mudharabah adalah perjanjian yang mempertemukan antara pengusaha yang ahli dalam bidangnya tetapi hanya mempunyai harta tidak lancar dengan pihak lain yang mempunyai cukup dana tetapi tidak mempunyai bidang usaha. Dengan misi sosial yang sesuai dengan . Lembaga gadai syariah untuk hubungan antara pribadi dengan perusahaan (bank syariah) khususnya gadai fidusia sebenarnya juga sudah operasional. lebaga syariah untuk hubungan antara pribadi dengan bank syariah juga mempunyai dua bentuk. Dari uraian tersebut diatas dapat dipahami bahwa lembaga gadai syariah pada perbankan syariah adalah hal yang lazim ada. sertifikat saham.bentuk mudharabah. seperti : bea materai. Sebagaimana halnya dengan lembaga gadai syariah pada hubungan antar pribadi. Tujuan mencari untung tidak ditonjolkan dan jawatan dinilai cukup baik apabila hasil usahanya dapat menutup biaya (breakeven). Namun menurut berita dalam praktek banyak bank – bank terutama yang berkantor diwilayah kecamatan yang melakukan praktek menerima gadai barang bergerak terutama dalam bentuk perhiasan. dan biaya akte notaris. halaman 182-183 14 Mengambil keuntungan pada jual beli uang yang berlaku sebagai alat tukar yang sah atau mengenakan sewa atas modal uang yang berlaku sebagai alat tukar yang sah sering dipergunakan untuk menutupi kata bunga. maka perbedaan pendapat itu dapat diselesaikan melalui arbitrasi atau pengadilan. Pemisahan jenis barang gadai inilah yang menyebabkan adanya jawatan yang khusus didirikan untuk melayani kebutuhan masyarakat akan pinjaman gadai barang bergerak. Biaya yang harus ditanggung peminjam selain meliputi biaya – biaya yang nyata – nyata diperlukan untuk sahnya perjanjian hutang piutang. juga biaya – biaya usaha yang layak selain itu untuk keutuhan dan pengamanan barang gadai mungkin ada biaya pemeliharaan dan sewa tempat penyimpanan harta (save deposit box) dibank atau ditempat lainnya. atau Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Keduanya juga sepakat pada suatu porsi bagi hasil tertentu dari usaha yang dijalankan pada saat jatuh tempo semua hak dan kewajiban diselesaikan dan apabila terjadi peminjam tidak mampu melunasi hutangnya perjanjian yang lama dapat diperbaharui tanpa harus mengembalikan seluruh barang gadaiannya. Karena adanya hambatan hukum positif yang kita warisi dari pemerintahan kolonial. dll. Operasionalsasi kedua bentuk tersebut sama dengan operasionalisasi lembaga gadai syariah pada hubungan antar pribadi tersebut diatas. Kedua pihak kemudian sepakat untuk pihak peminjam menjalankan usaha sedang pihak pemberi pinjaman hanya memberikan dana yang diperlukan tanpa campur tangan dalam usaha itu dengan agunan barang gadai. sertifikat deposito. yaitu perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-mudharabah. Apabila terjadi perbedaan pendapat. Contoh yang dapat dikemukakan disini ialah bank syariah yang memberikan pinjaman dengan agunan sertifikat tanah. menyebabkan bank sekarang ini tidak diperkenankan menerima agunan dan menyimpan gadai barang bergerak.

misi al-qardhul hassan pada gadai syariah. halaman 96-97. Dari misi Perum Pegadaian tersebut. Namun sesuai dengan Peraturan pemerintah no. 10 tahun 1990 yaitu menghapus kata “riba” pada pasal 5 ayat (2)b. (2). Karena gadai dalam hukum islam adalah merupakan pelengkap dari hubungan hutang-piutang. aspek sumber daya manusia. Aspek Legalitas Mendirikan lembaga gadai syariah dalam bentuk perusahaan memerlukan izin Pemerintah. dan lain-lain. 10 tahun 1990 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Jawatan Pegadaian (PERJAN) menjadi Peusahaan Umum (PERUM) Pegadaian16. Jakarta. Kemudian misi dari Perum Pegadaian dapat diperiksa antara lain pada pasal 5 ayat (2)b. aspek permodalan. Pinjaman obligasi dari masyarakat mungkin juga bisa dibuatkan model yang . aspek sistem dan prosedur. yaitu : (1). maka operasionalisasi gadai syariah pada perusahaan bank syariah sudah berjalan walaupun perlu penyempurnaan. Adanya keinginan masyarakat untuk berdirinya lembaga gadai syariah dalam bentuk perusahaan mungkin karena umat Islam menghendaki adanya lembaga gadai perusahaan yang benar-benar menerapkan prinsip syariat Islam. Termasuk bunga bank dan bunga obligasi dalam pengertian ini adalah riba. yaitu pencegahan praktek ijon. dan pinjaman tidak wajar lainnya. Untuk mengakomodir keinginan ini perlu dikaji berbagai aspek penting. Sumber-sumber modal tentu tidak lagi dicari dari bank yang memungut bunga dan obligasi yang dijual kepada masyarakatpun tidak dengan sistem bunga tetapi dengan sistem bagihasil. maka perlu dicari dan dipertahankan bentuk badan usaha yang cocok. Sebenarnya akan lebih baik apabila Perum Pegadaian dapat menerima pilihan pertama. a. antara lain : aspek legalitas. Sesuai dengan panduan syariah perusahaan dapat saja mendapatkan keuntungan yang besar tetapi hanya mungkin apabila dana yang tersedia disalurkan dalam perjanjian hutang piutang dengan gadai dalam bentuk al-mudharabah. Penyesuaian untuk betul-betul menjadikan Perum Pegadaian perusahaan gadai yang sesuai dengan misinya sebenarnya tidak terlalu sulit. aspek pengawasan. 17 Pengertian riba pada makalah ini menganut pengertian yang sama dengan pengertian yang menjadi latar belakang berdirinya bank-bank Islam di seluruh dunia. umat Islam mempunyai pilihan kedua. Dengan usul yang kedua ini maka umat Islam mempunyai peluang untuk berdirinya suatu lembaga gadai dalam bentuk perusahaan yag dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Membantu Perum Pegadaian menerapkan konsep operasional lembaga gadai yang sesuai dengan prinsip syriat Islam yang tidak menerapkan sistem bunga atau yang serupa dengan itu baik dalam mencari modal maupun dalam menyalurkan pinjaman. Membantu Perum Pegadaian menghilangkan beban moral dengan mengusulkan perubahan PP no. 16 Juni 1993. aspek kelembagaan. riba17. Sedang pada perusahaan pegadaian yang sudah ada hanya dimungkinkan apabila ada pemahaman kemauan yang kuat dari pimpinan dan seluruh jajarannya untuk menerapkan perjanjian hutang piutang gadai dalam bentuk alqardhul hassan dan al-mudharabah. dan kata-kata “badan usaha tunggal” pada pasal 3 ayat (1)a. pasal 3 ayat (1)a menyebutkan bahwa Perum Pegadaian adalah badan usaha tunggal yang diberi wewenang unutk menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai. Apabila sumbangan pemikiran umat Islam ini sulit dilaksanakan. 16 Prospektus Perum Pegadaian. umat Islam mempunyai dua pilihan. karena akan lebih mudah bagi umat Islam untuk mewujudkan keinginannya. Kebutuhan tambahan modal untuk operasional barangkali bisa dipasok dari bank syariah yang sudah ada baik dalam dan luar negeri.

d. Karena dalam ketentuan syariah tidak dilarang mencari keuntungan melalui sistem bagihasil mudharabah. Namun andaikata Pemerintah dapat melepaskan status monopoli Perum Pegadaian karena telah berubah misinya. Proses operasional mulai dari mobilisasi dana untuk modal dasar sampai kepada penyalurannya kepada masyarakat tidak boleh mengandung unsur-unsur riba. Untuk menilai suatu barang gadaian apakah dapat menutup jumlah pinjaman tidaklah mudah. pengalaman. Masyarakat tentunya tidak menghendaki terlalu banyaknya perusahaan gadai kecil-kecil milik keluarga seperti buka warung. dan digembleng pengetahuan dan ketrampilannya. Kantor pusatnya hanya boleh didirikan di ibu kota Propinsi dan baru boleh membuka cabang apabila telah mendapat penilaian sehat dari instansi yang berwenang. oleh karena itu harus dapat diyakini bahwa seluruh proses operasional dilakukan tidak meyimpang dari prinsip syariat Islam. maka perlu diupayakan saham yang dijual kepada masyarakat dalam pecahan yang terjangkau lapisan masyarakat sehingga saham dapat dimiliki secara luas. Apalagi jenis barang yang mungkin dijadikan agunan gadai sangat beraneka ragam. bentuk yang paling cocok untuk suatu perusahaan gadai syariah adalah Perseroan Terbatas. Diperlukan waktu yang cukup untuk melatih mereka. oleh karena itu mereka perlu di didik. Ada kemungkinan pemegang saham perusahaan gadai syariah melebihi jumlah minimum sehingga perlu didaftarkan kepada BAPEPAM sebagai perusahaan publik. Kemudian unutk para analis kelayakan usaha diperlukan tenaga-tenaga sarjana yang berpengalamanminimal 2 taun. Untuk dapat sedikit meyakini nilai suatu barang gadaian diperlukan pengetahuan. Aspek Permodalan Apabila umat Islam memilih mendirikan suatu lembaga gadai dalam bentuk perusahaan yang dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. aspek penting lainnya yang perlu dipikirkan adalah permodalan. Aspek Sumber Daya Manusia Suatu perusahaan gadai hanya akan mampu bertahan dan berjalan dengan mantap apabila nilai barang yang dijadikan agunan cukup untuk menutup hutang yang diminta oleh pemilik barang. Calon-calon manajerpun perlu sipersiapkan untuk pimpinan pusat maupun cabang. Dengan kualitas sumber daya manusia yang menangani penaksiran barang gadaian sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan gadai. pada tahap awal barangkali perlu dipekerjakan kembali para pensiunan penaksir Perum Pegadaian. Penaksir gadaian adalah ujung tombak operasional perusahaan gadai. Usaha-usaha yang akan dibiayai dari pinjaman gadai syariah adalah usaha-usaha yang .sesuai dengan prinsip syariat Islam. Selain penaksir barang. pada perusahaan gadai syariah diperlukan juga analis kelayakan usaha yang andal untuk menilai usaha yang diajukan pada perjanjian hutang piutang gadai dalam bentuk mudharabah. dan naluri yang kuat. dilatih. Unutk juru taksir. Dengan asumsi bentuk perusahaan gadai syariah yang dikehendaki adalah perseroan terbatas. Analis kelayakan usaha yang andal adalah tumpuan harapan bagi perusahaan gadai syariah untuk memperoleh bagihasil yang memadai. maka perusahaan gadai syariah yang diharapkan dapat diberi izin berdiri tentunya adalah perusahaan yang persyaratan modalnya cukup besar. b. c. karena perusahaan gadai menyangkut kepentingan rakyat banyak yang perlu mendapat perlindungan dan pembinaan pemerintah. Aspek Kelembagaan Perusahaan gadai syariah membawa misi syiar Islam. Belum lagi dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat mejadikan suatu barang lebih cepat ketinggalan jaman. Modal untuk menjalankan perusahaan gadai cukup besar karena selain diperlukan dana untuk dipinjamkan kepada nasabah juga diperlukan investasi untuk tempat penyimpanan barang gadaian.

Oleh karena itu organisasi perusahaan gadai syariah sangat unik karena harus melibatkan unsur ulama yang cukup dikenal oleh masyarakat setempat. maka untuk mendirikan perusahaan seperti ini perlu pengkajian kelayakan usaha yang hati-hati dan aman. 4. Dukungan dari lembaga keuangan Islam di seluruh dunia. (2). Tanggung jawab organ pengawasan termasuk para pimpinan unit tidak hanya kepada Dewan Komisaris dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tetapi juga harus dapat mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah SWT dihari akhir kelak. (1). dan ancamannya (Threat) . Untuk meyakini tidak adanya penyimpangan terhadap ketentuan syariah diperlukan adana suatu dewan pengawas yang lazimnya disebut Dewan Pengawas Syariah yang selalu memonitor kegiatan perusahaan. Aspek Pengawasan Aspek pengawasan dari suatu perusahaan gadai syariah adalah sangat penting karena dalam pengertian pengawasan itu termasuk didalamnya pengawasan oleh Yang Maha Kuasa melalui malaikat-Nya. Termasuk dalam organ pengawasan adalah Dewan Pengawasan Syariah yang terdiri dari para ulama yang cukup dikenal masyarakat. bahkan sejak masa Kebangkitan Nasional yang pertama. Perusahaan gadai syariah telah lama menjadi dambaan umat Islam di Indonesia. e. Oleh karena itu pada konferensi ke 2 Menterimenteri Luar Negeri negara muslim di seluruh dunia bulan Desember 1970 di Karachi. kelemahannya (Weakness). Oleh karena itu sistem dan prosedur harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak meyulitkan calon nasabah yang akan meminjamkan uang baik dalam perjanjian hutang piutang gadai dalam bentuk al-qardhul hassan maupun hutang-piutang gadai dalam bentuk almudharabah. Pakistan telah sepakat untuk pada tahap pertama mendirikan Islamic Development Bank (IDB) yang dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip . Adanya pegadaian syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam adalah sangat penting untuk menghindarkan umat Islam dari kemungkinan terjerumus kepada yang haram. Kekuatan (Strength) dari sistem gadai syariah. Aspek Sistem dan Prosedur Menyandang nama syariah pada kegiatan hutang piutang gadai membawa konsekuensi haraus efektif dan efisiensinya kegiatan operasional perusahaan gadai syariah. Prospek Pegadaian Syariah Dengan asumsi bahwa pemerintah mengizinkan berdirinya perusahaan gadai syariah maka yang dikehendaki adalah perusahaan yang cukup besar yaitu yang mempunyai persyaratan dua kali modal disetor setara dengan perusahaan asuransi18 (minimum dua kali lima belas milyar rupiah atau sama dengan tiga puluh milyar rupiah). Biasanya mereka yang ingin memasuki perjanjian hutang piutang gadai dalam bentuk al-mudharabah adalah peminjam dalam jumlah besar. Oleh karena itu organ pengawasan internal perusahaan yang disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI) adalah merupakan pelaksanaan amanah. namun harus dibuat fleksibel sedemikian rupa sehingga terhindar adanya antrian panjang. f.tidak dilarang dalam agama Islam. Loket-loket dipisahkan antara yang ingin memasuki perjanjian hutang piutang gadai dalam bentuk al-qardhul hassan dan yang ingin memasuki perjanjian hutang piutang gadai dalam bentuk al-mudharabah. Dukungan umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk. sebagai berikut : a. Hal ini menunjukkan besarnya harapan dan dukungan umat Islam terhadap adanya pegadaian syariah. Prospek suatu perusahaan secara relatif dapat dilihat dari suatu analisa yang disebut SWOT atau dengan meneliti kekuatan (Strength). peluangnya (Oportunity).

syariah Islam. (1). Investasi yang dilakukan nasabah pinjaman mudharabah tidak tergantung kepada tinggi rendahnya tingkat bunga karena tidak ada biaya uang (biaya bunga pinjaman) yang harus diperhitungkan. Penyediaan pinjaman mudharabah mendorong terjalinnya kebersamaan antara pegadaian dan nasabahnya dalam menghadapi resiko usaha dan membagi keuntungan / kerugian secara adil. Nasabah hanya diwajibkan membagihasil usahanya sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan sebelumnya. Bagihasil kecil kalau keuntungan usahanya kecil dan bagihasil besar kalau hasil usahanya besar. Pada pinjaman mudharabah. pegadaian syariah dengan sendirinya tidak akan membebani nasabahnya dengan biaya-biaya tetap yang berada diluar jangkauannya. Selain daripada itu perusahaan asuransi juga mmeberikan pinjaman kepada pemegang polis dengan agunan polis. IDB pada Articles of Agreement-nya pasal 2 ayat XI akan membantu berdirinya bank dan lembaga keuangan yang akan beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam di negara-negara anggotanya19. IDB kemudian secara resmi didirikan pada bulan Agustus 1974 dimana Indonesia menjadi salah satu negara anggota pendiri. Kelemahan (weakness) dari sistem mudharabah. 12 Agustus 1994. (2). Jeddah. 19 Agreement Establishing the Islamic Development Bank. Hal ini menunjukkan besarnya harapan dan dukungan lembaga keuangan internasional terhadap adanya lembaga keuangan syariah di Indonesia. (e). deposito). (b). (c). Dar Alasfahani Printing Press. tabungan. maka kewajiban kita semua untuk terus mengembangkan kekuatan yang dimiliki perusahaan gadai dengan sistem ini. Contoh : Pinjaman mudharabah ang diberikan dengan sistem bagihasil akan sangat bergantung kepada kejujuran dan itikad baik nasabahnya. Misalnya suatu usaha yang untung dilaporkan rugi sehingga pegadaian tidak memperoleh bagian laba. Penyediaan pinjaman murah bebas bunga disebut al-qardhul hassan adalah jenis pinjaman lunak yang diperlukan masyarakat saat ini mengingat semakin tingginya tingkat bunga. (a). (d). b. Memerlukan perhitungan-perhitungan yang rumit terutama dalam menghitung . Pegadaian syariah bersifat mandiri dan tidak terpengaruh secara langsung oleh gejolak moneter baik dalam negeri maupun internasional karena kegiatan operasional bank ini tidak menggunakan perangkat bunga. Dengan mengenali kekuatan dari pegadaian syariah. Berprasangka baik kepada semua nasabahnya dan berasumsi bahwa semua orang yang terlibat dalam perjanjian bagihasil adalah jujur dapat menjadi bumerang karena pegadaian syariah akan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang beritikad tidak baik. hal. 18 Penyetaraannya dengan perusahaan asuransi karena pada usaha gadai tidak diperkenankan menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan (giro. Bisa saja terjadi nasabah melaporkan keadaan usaha yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. (3). Beberapa bank Islam yang berskala internasional telah datang ke Indonesia untuk menjajagi kemungkinan membuka lembaga keuangan syariah secara patungan. 6. Pemberian pinjaman lunak al-qardhul hassan dan pinjaman mudharabah dengan sistem bagihasil pada pegadaian syariah sangat sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

Kekeliruan dalam menilai kelayakan proyek yang akan dibiayai dengan sistem bagihasil mungkin akan membawa akibat yang lebih berat daripada yang dihadapi dengan cara konvensional yang hasl pendapatannya sudah tetap dari bunga. (4). harus ada dasar sukarela dan inisiatifnya harus datang dari yang punya hutang pada waktu jatuh tempo. baitul-mal. Karena pegadaian syariah belum dioperasikan di Indonesia. bukan karena ditetapkan dimuka dan dalam jumlah yang pasti (fixed) (periksa terjemah Hadis Shahih Muslim oleh Ma’mur Daud. maka pegadaian syariah lebi banyak memerlukan tenaga-tenaga profesional yang andal. Meningkatnya kesadaran beragama yang merupakan hasil pembagunan di sektor agama memperbanyak jumlah perorangan. dll) dengan memperoleh keuntungan/kelebihan kualitas dan kuantitas. Peluang (Opportunity) dari Pegadaian Syariah Bagaimana peluang dapat didirikannya pegadaian syariah dan kemungkinannya untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia dapat dilihat dari pelbagai pertimbangan yang membentuk peluang-peluang dibawah ini : (1). secara matematis dengan berjalannya waktu akan bisa menjadikan hutang berlipat ganda (periksa surat Al-Imron ayat 130). Peluang karena pertimbangan kepercayaan agama (a). maka kemungkinan disana-sini masih diperlukan perangkat peraturan pelaksanaan untuk pembinaan dan pengawasannya. c. (3). • Biaya ditetapkan dalam bentuk prosentase (%) sehingga apabila dipadukan dengan unsur ketidakpastian yang dihadapi manusia.biaya yang dibolehkan dan bagian laba nasabah yang kecil-kecil. yayasan-yayasan. masjid-masjid. . dan sebagainya yang belum memanfaatkan jasa pegadaian yang sudah ada. Dengan demikian kemungkinan salah hitung setiap saat bisa terjadi sehingga diperlukan kecermatan yang lebih besar. masih banyak yang menganggap bahwa menerima dan/atau membayar bunga adalah termasuk menghidup suburkan riba. bab Riba no. 1551 s/d 1567). sekolah-sekolah agama. (b). yaitu antara lain : • Biaya ditetapkan dimuka secara pasti (fixed). Masalah adaptasi sistem pembukuan dan akuntansi pegadaian syariah terhadap sistem pembukuan dan akuntansi yang telah baku. pondokpondok pesantren. bab Riba no. (c). • Memperdagangkan / menyewakan barang yang sama dan sejenis (misalnya rupiah dengan rupiah yang masih berlaku. • Membayar hutang dengan lebih baik (yaitu diberikan tambahan) seperti yang dicontohkan dalam Al-Hadits. Adalah merupakan hal yang nyata didalam masyarakat Indonesia khususnya yang beragama Islam. Dengan mengenali kelemahan-kelemahan ini maka adalah kewajiban kita semua untuk memikirkan bagaimana mengatasinya dan menemukan penangkalnya. Karena membawa misi bagihasil yang adil. tremasuk hal yang perlu dibahas dan diperoleh kesepakatan bersama. dianggap mendahului takdir karena seolah-olah peminjam uang dipastikan akan memperoleh keuntungan sehingga mampu membayar pokok pinjaman dan bunganya pada waktu yang telah ditetapkan (periksa surat Luqman ayat 34). Sistem pengenaan biaya uang / sewa modal dalam sistem pegadaian yang berlaku sekarang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur yang tidak sejalan dengan syariah Islam. Karena riba dalam agama Islam jelas-jelas dilarang maka masih banyak masyarakat Islam yang tidak mau memanfaatkan jasa pegadaian yang telah ada sekarang. hukumnya adalah riba (periksa terjemah Hadits Shahih Muslim oleh Ma’mur Daud.

Iklim baru ini akan menarik penanaman modal di sektor lembaga keuangan khususnya IDB dan pemodal dari negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah. (2). d. akan memberikan sumbangan yang besar kepada perekonomian Indonesia khususnya dalam menggiatkan investasi. Dengan sedikit modifikasi dan disesuaikan dengan ketentuan umum yang berlaku. Dengan mengenali ancaman-ancaman terhadap dikembangkannya pegadaian syariah . agama. dan adat istiadat. dan pemerataan pendapatan. Mengingat demikian besarnya peranan yang diharapkan dari tabungan masyarakat melalui sektor perbankan maka perlu dicarikan berbagai jalan dan peluang untuk mengerahkan dana dari masyarakat. Isu tentang ketidakcocokan dengan sistem internasional berlaku di seluruh dunia mungkin akan dilontarkan untuk mencegah berkembangnya di tengah-tengah mereka pegadaian syariah. maka perusahaan gadai dnegan sistem ini akan mempunyai segmentasi dan pangsa pasar yang baik sekali di Indonesia. Ancaman (threat) dari pegadaian syariah Ancaman yang paling berbahaya ialah apabila keinginan akan adanya pegadaian syariah itu dianggap berkaitan dengan fanatisme agama. (c). ras. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa mengingat pegadaian syariah adalah sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Adanya peluang ekonomi dabi berkembangnya pegadaian syariah (a). Konsep pegadaian syariah yang lebih mengutamakan kegiatan produksi dan perdagangan serta kebersamaan dalam hal investasi. penyediaan kesempatan kerja. peluang untuk dapat dikembangkannya pegadaian syariah cukup besar. eksklusivisme atau sara mungkin akan ilontarkan untuk mencegah berdirinya pegadaian syariah. Dari tabungan dalam negeri diharapkan dapat dibentuk melalui tabungan pemerintah yang kemampuannya semakin kecil dibandingkan melalui tabungan masyarakat yang melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Dari jumlah tersebut diharpkan sebagian besar dapat disediakan dari tabungan dalam negeri dan dari dana luar negeri sebagai pelengkap saja. Munculnya pegadaian syariah yang menuntut pemerataan pendapatan yang lebih adil akan dirasakan oleh mereka sebagai ancaman terhadap status quo yang telah dinikmatinya selama puluhan tahun. Isu primordial. (d).1569 s/d 1572) Unsur-unsur yang dikhawatirkan tidak sejalan dengan syariat Islam tersebut diataslah yng ingin dihindari dalam mengelola pegadaian syariah. menghadapi resiko usaha dan membagi hasil usaha. (b). Adanya pegadaian syariah yang telah disesuaikan agar tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku akan memperkaya khasanah lembaga keuangan di Indonesia. Akan ada pihak-pihak yang akan menghalangi berkembangnya pegadaian syariah ini semata-mata hanya karena tidak suka apabila umat Islam bangkit dari keterbelakangan ekonominya. Selama Repelita VI diperlukan pembiayaan pembangunan yang seluruhnya diperkirakan akan mencapai jumlah yang sangat besar. Ancaman berikutnya adalah dari mereka yang merasa terusik kenikmatannya mengeruk kekayaan rakyat Indonesia yang sebagian terbesar beragama Islam melalaui sistem bunga yang sudah ada. Mereka tidak mau tahu bahwa pegadaian syariah itu jelas-jelas bermanfaat untuk semua orang tanpa pandang suku. Pegadaian berfungsi mencairkan (dishoarding) simpanan-simpanan berupa perhiasan dan barang tidak produktif yang kemudian diinvestasikan melalui mekanisme pinjaman mudharabah.

b. Prospek ini akan lebih cerah lagi apabila kelemahan (weakness) sistem mudharabah dapat dikurangi dan ancaman (threat) dapat diatasi. dll. Aspek-aspek penting yag perlu diperhatikan untuk mendirikan lembaga gadai perusahaan adalah aspek legalitas. e. k. g. aspek permodalan. dapat dipergunakan unutk keperluan sosial maupun komersial.ini maka diharapkan para cendekiawan muslim dapat berjaga-jaga dan mengupayakan penangkalnya. Namun sesuai dengan PP no. Konsep hutang piutang sesuai dengan syariat adalah merupakan salah satu konsep ekonomi Islam dimana bentuknya yang lebih tepat adalah al-qardhul hassan. aspek sumber daya manusia. sertifikat deposito. Misi dari Perum Pegadaian dapat diperiksa antara lain pada pasal 5 ayat (2)b yaitu pencegahan ijon. d. Membantu Perum Pegadaian menerapkan konsep operasional lembaga gadai yang . dan pinjaman tidak wajar lainnya. f. 10 tahun 1990 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Jawatan Pegadaian (PERJAN) menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian. aspek kelembagaan. dan pemilikan barang gadai. Peminjam mempunyai dua pilihan. baik itu adalah Perum Pegadaian yang telah mengoperasikan sistem syariah maupun pegadaian syariah yang baru. 5. j. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah unsur-unsur gadai. Lembaga gadai syariah perusahaan bertindak sebagai penyandang dana atau rabb almal sedang nasabahnya bisa bertindak sebagai rahin atau bisa juga bertindak sebagai mudharib tergantung alternatif yang dipilih. yaitu : dapat memilih qardhul hassan atau menerima pemberi pinjaman atau penyandang dana (rabb al-mal) sebagai mitra usaha dalam perjanjian mudharabah. Barang gadaian syariah adalah merupakan pelengkap belaka dari konsep hutang piutang antara individu atau perorangan. sertifikat saham. h. aspek sistem dan prosedur. Dari analisa SWOT tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pegadaian syariah mempunyai prospek yang cukup cerah. Dari misi Perum Pegadaian tersebut maka umat Islam mempunyai dua pilihan yaitu : (3). dll. hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pegadaian syariah mempunyai landasan hukum syariat yang kuat dalam ajaran Islam. Kesimpulan a. barang yang boleh digadaikan. i. rukun dan sahnya akad. Lembaga gadai syariah untuk hubungan antara pribadi dengan perusahaan (bank syariah) khususnya gadai fidusia sebenarnya juga sudah operasional. Mendirikan lembaga gadai syariah dalam bentuk perusahaan memerlukan izin Pemerintah. aspek pengawasan. Pemikiran tentang berdirinya pegadaian syariah adalah merupakan tanda syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman Islam dan telah diijinkannya oleh Pemerintah berdirinya lembaga-lembaga keuangan yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariat Islam. pasal 3 ayat (1)a menyebutkan bahwa Perum Pegadaian adalah badan usaha tunggal yang diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai. atau Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Hutang piutang dalam bentuk al-qardhul hassan dengan dukungan gadai (rahn). Untuk nasabah yang memilih pinjaman gadai dalam bentuk mudharabah maka fungsi gadai disini adalah mencairkan atau memproduktifkan (dishoarding) harta beku (hoarding) yang tidak produktif. c. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah bank syariah yang memberikan pinjaman dengan agunan sertifikat tanah. riba. Lembaga gadai syariah untuk hubungan antar pribadi sebenarnya sudah operasional karena setiap orang bisa melakukan perjanjian hutang piutang dengan gadai syariah.

. Dengan analisa SWOT dapat disimpulkan bahwa prospek pegadaian syariah adalah sangat cerah. l. Prospek ini akan lebih cerah lagi apabila kelemahan (weakness) sistem mudharabah dapat dikurangi dan ancaman (threat) dapat diatasi. dan kata-kata “badan usaha tunggal” pada pasal 3 ayat (1)a. baik itu untuk Perum Pegadaian yang telah menerapkan sistem syariah maupun untuk pegadaian syariah yang baru. Membantu Perum Pegadaian menghilangkan beban moral dengan mengusulkan perubahan PP no. (4). 10 tahun 1990 yaitu menghapus kata “riba” pada pasal 5 ayat (2)b.sesuai dengan prinsip syriat Islam yang tidak menerapkan sistem bunga atau yang serupa dengan itu baik dalam mencari modal maupun dalam menyalurkan pinjaman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful