P. 1
Pembangunan Versus Pelestarian Suatumalang

Pembangunan Versus Pelestarian Suatumalang

|Views: 99|Likes:
Published by A-kwai Aji

More info:

Published by: A-kwai Aji on May 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Pendahuluan
  • B. Landasan Teori
  • E. Kesimpulan
  • F. Daftar Pustaka

Pembangunan versus Pelestarian suatu “Dilema” Pembangunan Kota Malang ?

Pengantar

Pembangunan sebagai suatu upaya untuk meciptakan/mengembangkan kota
menjadi lingkungan yang nyaman baik untuk kepentingan ekonomi, sosial-budaya
(tempat hidup komunitas kota). Kota yang selalu berkembang baik secara alamiah
maupun melalui proses perencanaan dan perancangan, dihadapkan pada permasalahan
tidak tercapainya kondisi "ideal” akan tuntuntan kebutuhan tujuan pembangunan tersebut.
Ada tiga orientasi pembangunan yang seharusnya diperhatikan dalam melakukan proses
pembangunan, yakni; orientasi pada pengembangan fisik (development orientation);
orientasi pada komunitas (community orientation) dan orientasi pada konservasi
(conservation orientation). Kepentingan pembangunan menjadi hal yang sangat
menentukan dalam keberhasilan/kegagalan "intervensi fisik” pembangunan kota.
Sebagai suatu proses, pembangunan kota (baik secara parsial; pembangunan satu
gedung maupun menyeluruh dalam bentuk perancangan kawasan dan/atau kota)
seharusnya disadari merupakan suatu tindakan menambah/ merubah dan/atau
menghilangkan yang lama untuk menghadirkan sesuatu yang "baru” untuk
"memperbaiki” kondisi sebelumnya. Apakah tujuan membangun dalam rangka
"memperbaiki” tersebut tersebut tercapai (dalam kerangka 3 orientasi tersebut) ? Ini
yang seharusnya menjadi perenungan kita bersama mulai pada saat penetapan rencana,
proses perancangan bahkan pada tahapan pelaksanaan dan operasional suatu proyek
pembangunan.

Orientasi pembangunan (baca: kepentingan) seperti ke-tiga orientasi disebutkan di
atas memiliki makna yang luas, dan sangat interpretatif. Artinya apa sebenarnya tujuan
(kepentingan) yang akan diprioritaskan dalam melakukan berbagai bentuk "intervensi
fisik” yang berbaju "pembangunan” tersebut ? Sehingga sering kita dihadapkan pada
suatu kenyataan bahwa intervensi (baca: pembangunan) merupakan pembangunan atau
perusakan (lingkungan); pembangunan atau penggusuran; bahkan sering dipertentangkan
antara pembangunan versus pelestarian. Kenyataan ini membawa kita pada posisi
"dilema” atau kalau boleh meminjam istilah panitia "berada di persimpangan jalan” atau
ada pada beberapa pilihan. Dalam hal ini apakah kita harus bimbang? Atau tetap kepada
keteguhan prinsip untuk tetap mempertahankan yang lama dengan upaya pelestarian
bahkan melakukan konservasi. Disini diperlukan suatu "kearifan” sikap dan "keaifan”
disain untuk bisa "memilah” dan "memilih” dengan tetap memperhatian tiga pilar
orientasi pembangunan seperti diuraikan di atas.
Pendakatan-pendekatan baru dalam pembangunan fisik telah banyak dilakukan
seperti sutainable development, pembangunan yang kontekstual, pembangunan yang
partisipatif dan lain-lain, tetapi yang diperlukan adalah suatu konsepsi konkrit yang lebih
operasional terhadap upaya-upaya pembangunan kota. Dalam proses perkembangannya
kota-kota kita di Indonesia mempunyai permasalahan yang sama, berkisar kepada
dominasi kepentingan pertumbuhan ekonomi sebagai mainset perkembangan fisik kota.
Hal ini yang perlu dicarikan suatu solusi atau treatment bagaimana kekuatan-kekuatan
perkembangan kota itu masih bisa di-drive untuk "mengendalikan” perkembangan fissik
kota yang relatif tidak terkendali/terarah proses perkembangannya. Jawaban singkat
adalah perlu "law inforcement” dan political will dari pengambil kebijakan

pengembangan kota (pemerintah kota), yang didasarkan atas kemampuan teknis aparat
dan perangkat yang mendukung.

Pembangunan Vs Pelestarian

Kota Malang kaya dengan potensi tinggalan arsitektur kolonialnya sebagai suatu
entitas kehidupan kota, dalam perkembangannya menghadapi permasalahan yang cukup
serius. Satu-persatu asset arsitektur hilang, bahkan ciri kawasan secara akumulatif terjadi
kecenderungan terjadinya penurunan kualitas visual. Upaya pelestarian bangunan
dan/atau kawasan kota rasanya masih terbatas pada wacana, kalaupun sudah ada
peraturan masih dirasa sangat parsial, dan belum menyentuh pada tataran operasional
bagaimana upaya pelestarian asset-asset itu harus dilakukan. Mengutip pada pernyataan
dalam sinopsis seminar ini bahwa "UU Cagar Budaya, 1992 ternyata belum dapat
menjamin berbagai upaya pelestarian bangunan-bangunan lama yang memiliki nilai
sejarah & arsitektur yang khas. Lemahnya law enforcement dari Pemerintah karena
semua strategi konservasi hanya diarahkan pada bangunan fisik semata sebagai bagian
dari nostalgia dan appresiasi pada suatu masa.” ada benarnya. Kondisi pada hampir di
semua kota-kota kita upaya pelestarian bangunan dan/atau kawasan masih terbentur
kepada "keterbatasan” akan pemahaman potensi-potensi bangunan dan/atau kawasan
sebagai fisikal arsitektur yang "steril” di lingkungannya. Sehingga upaya pelestarian
masih dituding hanya sekedar untuk kepentingan "nostalgia” kelompok tertentu.
Produk perangkat peraturan yang berkaitan dengan perkembangan kota rasanya baru
menyentuh pada pengatran yang bersifat spatial (2 dimensi), sementara bangunan
arsitektur dan lingkungan binaan lainnya merupakan produk yang 3 (tiga) dimensi (form
and space). Sehingga tuntutan terhadap perangkat pengendali perkembangan kota dalam
bentuk panduan rancang kota (Urban Design Guide Lines) sangat diperlukan. Produk
panduan rancang kota yang mendekati kebutuhan ini adalah RTBL (Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan). Produk-produk panduan rancang kota ini sebenarnya yang
bisa cukup operasional men-drive perkembangan fisik kota secara 3 dimensi.
Keterbatasan-keterbatasan produk panduan semacam inilah yang sering menyebabkan
terjadinya "dilema” dalam menentukan upaya konkrit, bahkan sering memunculkan
pertentangan pembangunan atau pelestarian. Karena sifatnya yang sangat lokal, RTBL
ataupun produk lain sebagai perangkat pengendali perkembangan kota (UDGL), maka
kajian-kajian spesifik kawasan sangat diperlukan. Potensi spesifik fisik kawasan tertentu
akan menentukan jenis perlakuan tertentu yang spesifik.
Malang sebagai Produk Rancang Kota

Kegiatan perencanaan dan perancangan kota secara formal pada masa kolonial
Belanda telah dimulai sejak awal abad ke 17. Pada tahun 1596 Belanda mulai datang
di Batavia dan menguasainya pada tahun 1619, yang kemudian membangun benteng
dan gudang, sebagai benteng pertahanan Belanda dengan nama Kastel Batavia. Jan
Pieter zoen Coen membangun Batavia dengan model kota Amsterdam, dengan menggali
kanal sebagai pengendali banjir, pertahanan serta untuk prasarana transportasi (lalu
lintas). Sebelum menguasai Batavia, Belanda telah mempersiapkan sistem pemerintahan
kota Batavia sebagai kota kabupaten (Regentschap Stad Batavia, 1602), sejak saat itu
pula telah dirintis ketentuan hukum yang mengatur tentang penataan kota.

Peraturan pertama yang mengatur tentang ketentuan hukum perkotaan adalah "De
statutten van 1642", merupakan peraturan produk V.O.C. yang isinya mengatur
pembangunan jalan, jembatan, bangunan serta menentukan wewenang dan tanggung
jawab dewan kota. Peratuan ini relatif lengkap karena telah mencakup tata ruang kota,
garis sempadan, pemeliharaan saluran air dan sebagainya. Dalam peraturan telah
digariskan pedoman utama dalam penataan kota, baik dari aspek keamanan, kesehatan
lingkungan, serta lalu lintas beserta pedoman bagi penguasa dalam melaksanakan
peraturan tersebut dalam praktek (Marbun,B.N., 1979).
Penyesuaian sistem pemerintahan Belanda yang dilakukan pada tahun 1903, dengan
diterbitkannya Decentralisatie Wet (Ind. Slbl. No. 329) pemerintah Belanda memberi
otonomi kepada daerah dengan hak-hak antara lain; menetapkan anggaran belanja
sendiri, dan menetapkan peraturan lokal dengan persetujuan Gubernur Jendral.
Undang-undang desentralisasi yang mendasari terbentuknya sistem pemerintahan
kotapraja (stads gemeente), "Decentralisatie Besluitt Indische Staatblad 1905/137,
semakin mendorong berlangsungnya otonomi pemerintah daerah atau pemerintahan
kotapraja.
Pada tahun yang sama (1905), pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan khusus
yang mengatur perkotaan yakni; Localen raden ordonantie, Staatsblaad 1905 No.181,
yang memberi wewenang kepada dewan rakyat daerah dan kota untuk menentapkan
ketentuan peraturan bangunan lokal. Tahun 1919 di Batavia ditetapkan Bataviasche
Bouwver-ordening yang direvisi pada tahun 1941. Untuk kota Bandung pada tahun
1929 diterbitkan Bouwverordening van Bandoeng, sedangkan untuk kota Palembang
mulai diatur penataan kotanya pada tahun 1943, dengan dikeluarkannya
Bouwverordening Stadsgemeente Palembang. Pedoman yang mengatur persyaratan kota
baik dari segi tempat tinggal, transportasi, lapangan kerja, maupun tempat rekreasi
telah diatur pada Stadsverordenings ordonantie Stadgemeenten Java 1938. Bahkan
pada tahun 1941 melalui Kringen en Typen Verordening, telah diatur tindak lanjut
pembangunan dalam areal kota yang telah ditentukan peruntukannya (Marbun, B.N,
1979).
Kota Malang sudah ada sejak tahun 1400-an tetapi baru berkembang dengan pesat
sebagai kota modern sesudah tahun 1914, yaitu sesudah kota Malang di tetapkan sebagai
kotapradja (Gemeente). Hal ini di sebabkan adanya investasi secara besar-besaran dalam
bidang infra struktur dan komunikasi di Hindia - Belanda yang dilakukan oleh
pemerintah Belanda dan pihak swasta setelah tahun 1870. Ada beberapa keputusan
politik yang berpengaruh terhadap perkembangan kota Malang. Yang pertama adalah
dengan di keluarkannya undang-undang gula (suikerwet) dan UU agraria
(agrarischewet) pada tahun 1870. yang kedua adalah akibat dikeluarkannya UU
desentralisasi pada tahun 1903, yang baru dilaksanakan pada tahun 1905. Kesuksesan
perkembangan kota Malang tak lepas dari kerja sama yang baik antara walikota pertama,
H.I. Bussemaker dan penggantinya Ir. EA. Voorneman, PU kotamadya serta Thomas
Karsten sebagai adviseur (penasehat). Pihak pemerintah kota mengontrol perkembangan
kota dengan mengatur perencanaan perluasan kota yang dibagi menjadi 8 bagian, yaitu
masing-masing disebut sebagai Bouwplan I s/d Bouwplan VIII.
Perkembangan kota Malang secara historis dapat dilihat dari perkembangan wilayah
terbangunnya. Pengembangan Malang sebagai entitas komunitas "moderen” dengan tetap
memperhatikan kondisi sosio-kultural lokalitas yang kental telah menghasilkan

"lingkungan” kota yang kontekstual. Salah satu "produk” arsitekturnya adalah indish
style yang mampu memberikan "warna” pada disan-disain kawasan kota-kota di
Indonesia termasuk Malang. Sebagai salah satu mata rantai sejarah fisik kota, adalah
tidak berlebihan kalau kita mau mempelajari serta "menyerap” konsepsi-konsepsi disain
kawasan, kota, dan/atau arsitekturnya. Idjen Boulevard merupakan salah satu hasil
rancangan kawasan kota yang sarat akan konsepsi ruang, bangunan, dan townscape.
Pemahaman konsep melalui ulasan disain akan semakin memperkaya wawasan,
"pengalaman visual” serta pemahaman akan potensi visual kawasan yang sangat
diperlukan oleh pelaku pembangunan (masyarakat kota, birokrat, dan pengembang).
Kawasan Idjen Boulevard didisain pada masa pemerintahan kolonial Belanda antara
tahun 1919-1929 pada masa HI Bussemaker sebagai walikota Malang. Kawasan ini sarat
akan konsepsi-konsepsi penataan ruang kawasan, yang apabila secara arif dapat dikaji
kita akan mendapatkan beberapa pelajaran berharga untuk referensi disain kawasan
sejenis di masa mendatang. Perjalanan sejarah dengan berbagai tekanan akan tuntutan
kebutuhan ruang kawasan, serta perubahan gaya hidup masyarakat yang mendiami
kawasan ini sedikit banyak telah memacu berlangsungnya perubahan-perubahan.
Perubahan-perubahan yang terjadi merupakan konsekwensi logis dari adanya
pertumbuhan dan perkembangan kehidupan masyarakatnya. Mempelajari bentuk
morfologi kawasan Idjen Boulevard menjadi sangat signifikan mengingat potensi-potensi
disain yang melekat dalam keseluruhan konteks kawasan. Beberapa aspek penting yang
perlu diperhatikan serta dipelajari dalam studi morfologi antara lain aspek historis
kawasan, aspek kecenderungan perkembangan, aspek disain (bangunan, tata lingkungan,
penataan jalur hijau, maupun townscape), serta aspek regulasi (usaha-usaha terhadap
upaya penataan dan atau pengaturan) dalam mengantisipasi tuntutan perkembangan kota.
Keempat aspek tersebut merupakan aspek utama yang harus diperhatikan dalam
penanganan perancangan kawasan dan/atau perancangan kota (Urban Design).

Ulasan Disain Kawasan Idjen Boulevard
Boulevard merupakan konsep disain yang paling populer dan banyak dipakai
sebagai akses jalan utama pada pengembangan kota taman (garden city). Akses jalan
dibuat dua lajur dengan tata taman yang relatif lebar pada median jalan. Karakteristik
jalan yang demikian secara visual memberikan kesan dominasi akses kawasan. Dalam
kasus idjen boulevard kesan visual ini masih di tunjang dengan adanya jalur pedestrian di
sisi kiri dan kanan jalan dengan tata tanam yang khas (mengunakan tanaman Palem
Raja). Kesan visual yang terbentuk menjadi demikian atraktif dengan pola tanam yang
memiliki ritme yang sama (jarak 8 meter) serta besar tanaman yang relaitif sama.
Karakter visual lingkungan idjen boulevard, didominasi tata hijau dibagi menjadi 2
bagian penggal yakni; antara jl. Kawi s/d tugu melati (perempatan jln semeru); dan
penggal tugu melati sampai dengan Gereja Santa Maria Bunda Karmel (Idjen). Kedua
penggal jalan tersebut di awali dan/atau diakhiri dengan persimpangan jalan, dengan
karakteristik disain tata lingkungan yang berbeda, seolah berusaha untuk menghindarkan
"keseragaman” vista lingkungan. Penyelesaian disain yang demikian bertujuan untuk
meberikan "pengkayaan” visual sepanjang jalur jalan boulevard. Penyelesaian tata
jaringan jalan yang demikian menyebabkan bervariasinya tipologi townscape serta
tipologi kapling di setiap sudut persimpngan jalan. Kondisi ini membawa implikasi pada
disain bangunan sudut menjadi lebih variatif dan spesifik di setiap penggal kawasan.

Pola grid sama sekali tidak ditemukan pada pengembangan kawasan idjen boulevard.
Tipical penggunaan pola grid pada kota-kota kolonial di Indonesia biasaya ditemukan
pada bagian selatan kota yang didominasi oleh komunitas pribumi. Demikian juga yang
terjadi di kota Malang, kawasan idjen boulevard yang terletak di bagian utara dan
didominasi serta diperuntukan bagi komunitas non-pribumi, dengan klas ekonomi
menengah ke-atas.
Konsepsi pengembangan kota Malang pada waktu itu yang dimotori oleh Karsten,
memang tidak didasarkan atas segregasi sosial (etnik tertentu), tetapi lebih kepada kelas
status sosial. Kawasan idjen boulevard perancangannya memang ditujukan untuk kelas
atas, sehinga tipologi rumah villa dengan halaman depan yang relatif luas merupakan inti
pola pemukiman di kawasan idjen. Trend tipologi lingkungan seperti kawasan idjen saat
ini mulai muncul kembali pada pemukiman-pemukiman baru yang memiliki segment
pasar menengah ke atas. Pengolahan lingkungan dengan tata taman dan lingkungan
(townscape) yang didominasi vegetasi, dan pengkayaan tipologi kapling hunian yang
bervariasi. Pemanfaatan potensi lingkungan alamiah sangat menonjol. Hal ini
ditunjukkan dengan "membuka” ruang yang cukup untuk menghadirkan vista "putri
tidur” dengan taman "indrokilonya” (sekarang telah berubah menjadi pemukiman elite).
Kondisi idjen boulevard saat ini pada beberapa bagian sudah mengalami perubahan.
Peremajaan tanaman palem raja, serta perubahan disain rumah di kawasan idjen
boulevard saat ini telah terjadi. Untuk menjaga kelestarian visual kawasan diperlukan
suatu pendekatan yang komprehensif agar kawasan ini dapat terjaga kelestariannya.
Peremajaan yang kurang memperhatikan konsep awalnya menimbulkan perubahan yang
kurang sesuai, hal ini dapat dilihat pada kondisi vegetasi di sisi jalan, pedestrian serta
tampilan bangunan.
Perubahan yang terjadi terlihat tidak terencana dengan baik hal ini karena tidak adanya
regulasi yang jelas dalam usaha pelestarian kawasan ini. Hal yang cukup
memprihatinkan, mengingat Idjen Boulevard merupakan salah satu contoh penataan
kawasan yang sangat memperhatikan potensi-potensi lingkungan sebagai unsur
disainnya. Idjen Boulevard juga merupakan sebuah referensi yang sangat relevan dalam
konteks penataan sebuah kawasan saat ini. Perubahan dapat dilihat dari kondisi palem
raja di sisi jalan. Palem raja sebagai salah satu unsur utama dari Idjen Boulevard
mengalami perubahan yang disebabkan karena adanya peremajaan yang dilakukan.
Peremajaan yang seharusnya dapat menyegarkan suasana Idjen dilakukan dengan tanpa
memperhatikan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Herman Thomas Karsten. Aturan
tersebut meliputi pada jenis palem, ukuran dan jarak tanam. Pohon-pohon palem ditanam
diantara pohon lama sehingga jarak tanam yang sebelumnya berjarak 8 m menjadi tidak
beraturan. Selain itu perbedaan ukuran antara palem lama dan baru sangat tampak.
Perbedaan ketinggian serta jarak tanam mengurangi kesan ruang dari Idjen Boulevard
sebagai foreground dari deretan pegunungan Kawi. Sebenarnya peremajaan vegetasi
sangat diperlukan karena dengan cara inilah Idjen Boulevard dapat dipertahankan, tetapi
peremajaan yang dilakukan harus tetap mengacu pada konsep awal rancangan kawasan
ini. Kondisi taman yang tidak sama terjadi karena tidak adanya aturan yang jelas tentang
jenis vegetasi yang boleh ditanam dan pihak yang mempunyai kewajiban memelihara.
Perawatan dan penataan taman saat ini hanya dilakukan pada taman di median jalan.
Sedangkan perawatan taman di sisi jalan diserahkan pada pemilik rumah, tetapi tidak
semua pemilik rumah menjaga kondisi taman dengan serius. Seharusnya vegetasi yang

diijinkan di luar pagar hanyalah rumput sebagai ground cover dan penyerap air hujan.
Tetapi pada beberapa bagian terdapat vegetasi-vegetasi, seperti palem merah dan jenis
perdu-perduan, yang ditanam di bagian luar pagar. Pada bagian lain, kondisi taman
tampak tidak terurus karena penghuni rumah yang seharusnya berkewajiban memelihara
tidak tinggal di situ lagi. Perbedaan perlakuan bagi taman di Idjen Boulevard disebabkan
tidak adanya pemahaman bahwa taman pada kawasan ini, baik di tengah maupun di sisi
jalan, merupakan satu kesatuan dari disain kawasan.

Jalur Pedestrian

Pengendalian terhadap kualitas disain kawasan termasuk kualitas disain Pedestrian sangat
diperlukan. Perlu disosialisasikan tentang kedudukan pedestrian beserta unsur
pembentukknya (grass cover) merupakan domain publik (public domain), sehingga
"batas” kepemilikan pribadi (batas kapling) tidak mempengaruhi bentuk disain maupun
kualitas dan kuantitas visual pedestrian. Panduan perancangan jalur pedestrian menjadi
sangat penting. Secara keseluruhan sebenarnya kawasan idjen boulevard memerlukan
pengaturan yang khusus dengan penetapan kawasan dengan perangkat "exclusionary
zonning” untuk menjamin Visual performance lingkungan tetap terjaga. Menurut Truman
Asa Hartshorn (1980:226), dalam Interpreting The City: An Urban Geography, yang
dikutip Wikantiyoso, R (2004), bahwa Exclusionary Zonning bisa diterapkan untuk
menentukan standart performance, dalam rangka untuk mempertahankan ekslusivitas
dan keseragaman suatu kawasan.
Tipologi hunian di sepanjang Idjen boulevard adalah tipologi rumah Villa dengan
halaman depan rumah yang relatif luas. Disain kapling relatif bervariasi sebagai
kosekwensi dari pengolahan tata taman yang mendominasi kawasan. Kondisi ini
menyebabkan disain bangunan menjadi relatif beragam, baik dari sisi besaran bangunan,
orienasi, maupun bentuknya.
Keadaan ini semakin memperjelas bahwa disain kawasan benar-benar telah diolah
sedemikian rupa sehingga "vista” (scane) pada setiap penggal kawasan memiliki
kekhasannya sendiri. Penyelesaian disain yang demikian sebenarnya merupakan suatu
"jawaban” atas pertanyaan bagaimana mendisain suatu kawasan/bagian kota supanya
memiliki "lokalitas” yang spesifik. Tampilan bangunan di sekitar Idjen Boulevard pada
awalnya didominasi oleh karya arsitektur bergaya kolonial dengan tipe rumah villa.
Bangunan rumah-rumah tinggal tersebut merupakan karya dari beberapa arsitek pada
jaman kolonial, diantaranya adalah Ir Herman Thomas Karsten dan Henri Estourgie.
Menurut Han Awal (2002), ekslusifitas kawasan idjen boulevard ini memang terlihat
sejak awal dengan hanya diperkenankannya 8 arsitek yang merancang bangunan di
kawasan ini. Seiring perkembangan kota Malang yang pesat, rumah-rumah tinggal
tersebut tidak sedikit yang telah mengalami perubahan. Fenomena perubahan yang terjadi
apabila tidak dilakukan pengendalian, maka bukan tidak mungkin karakter spesifk
kawasan idjen boulevard akan hilang. Diperlukan guideline yang mampu untuk menjaga
kualitas visual kawasan. Pemahaman kualitas visual menjadi sangat penting bukan hanya
sekedar pelestarian bentuk bangunan, tetapi pemahaman secara totalitas disain kawasan.
Seperti telah di illustrasikan bahwa pola jalan kawasan Idjen boulevard dengan
pola organik–non grid, dengan menghadirkan "taman” hampir pada setiap persimpangan
jalan. Pola sirkulasi di buat berjenjang, pola boulevard pada jalur utama dan jalan-jalan

lingkungan yang berada di "dalam” kawasan diperkuat kesan ruangnya dengan
menghadirkan beberapa taman seperti taman Slamet, taman buring, taman cerme dll.
Konsep peancangan sirkulasi seperti ini, mendudukkan ruang jalan hanya sebagai jalur
sirklasi saja tetapi juga ditujukan untuk menghadirkan "vista” lingkungan yang lebih
bervariasi. Hal ini bisa berhasil karena setiap disain "taman” memiliki karakteristik dan
tujuan yang berbeda. Selain berfungsi sebagai "pemecah” sirkulasi tetapi juga untuk
memperkuat kesan-kesan visual tertentu. Bisa kita rasakan penggunaan pola boulevard di
Jalan Raya Idjen berbeda dengan boulevard menuju SMA Dempo.
Eksklusifitas disain kawasan idjen boulevard terlihat juga dari disediakannya jalus
pedestrian pada dua sisi sepanjang jalur Idjen boulevard. Konsepsi tata ruang luar
dengan pendekatan yang komprehensif dari beberapa aspek; aspek sirkulasi, aspek
ekologis, estetika serta "penyatuan” panorama lingkungan dalam disain kawasan sangat
terasa. Salah satu contoh konsepsi yang patut untuk di pertahankan eksistensinya.
Diperlukan upaya-upaya kongkrit bukan hanya berupa perda yang mengatur secara
verbal, tetapi perangkan urban design guide line yang menyentuh aspek-aspek disain fisik
ruangnya.

Kawasan Idjen Boulevard dalam "tekanan” Perubahan

Rasanya konotasi sub judul di atas sangat berlebihan. Akan tetapi dalam konteks
perubahan hal ini perlu untuk menyikapi secara positif dan arif dalam rangka
mendapatkan solusi untuk "mempertahankan” image Idjen Boulevard sebagai salah satu
icon kota Malang. "Tekanan” perubahan idjen Boulevard bukan hanya datang dari
perubahan fisik sepanjang Idjen Boulevard saja, tetapi juga dari sekitar kawasan Idjen.
Seperti kita ketahui dalam waktu yang tidak terlalu lama akan muncul sebuah;
lingkungan baru, aktifitas baru, arsitektur baru dengan karakter baru, bahkan image baru
di dekat Idjen Boulevard, dengan hadirnya MOG (Malang Olimpic Garden). Arsitektur
baru dengan "skala” aktifitas yang cukup besar, sedikit banyak akan memberikan
"tekanan” perubahan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.
Kondisi kawasan Idjen Boulevard saat ini telah mengalami perubahan yang cukup
besar, hal ini bisa dilihat dari foto udara kawasan Idjen Boulevard antara tahun 1946-
2004 (lihat gambar 8). Alih fungsi beberapa bagian kawasan secara pelan dan pasti telah
dan akan terus terjadi. Hal ini harus disadari sebagai suatu proses perkembangan kota.
Sekali lagi apa yang harus dilakukan oleh pengelola kota, serta komunitas kotanya ?
Jawabnya adalah mempersiapkan perangkat yang mampu "mengendalikan”
perkembangan kawasan/kota sesuai dengan "prioritas” kepentingan (baca: orientasi
pengembangan); development orientation; conservation orientation dan/atau community
orientation seperti di uraikan di depan. Urban design guide line kawasan Idjen Boulevard
sudah menjadi kebutuhan untuk "menjaga” kelestarian, potensi spesifik kawasan sebagai
salah satu icon kota Malang.

Catatan Penutup

Malang dengan berbagai potensi bangunan dan/atau kawasannya memerlukan pedoman
standar pelestarian dan perlindungannya untuk setiap kawasan di Kota Malang, yang

menuntut perlakuan tidak sama. Karakteristik obyek yang berbeda diperlukan klasifikasi
bangunan kuno-bersejarah dan kriteria fisik-visualnya sangat tergantung pada nilai-nilai
yang dikandung (nilai historis, nilai keilmuan, nilai kultural dll). Kategori obyek sangat
menentukan langkah-langkah konkrit pada upaya menjaga kelestarian bangunan dan/atau
kawasan tersebut. Kajian terhadap bangunan dan/atau kawasan harus dilakukan secara
konprehensif untuk menetapkan kebijakan preservasi, konservasi, atau demolisi. Dalam
tahapan implementatif perlu law inforcement dengan kelengkapan UDGL (urban design
guide lines) yang mampu men-drive upaya kelestariannya didalam "tekanan” perubahan
yang sangat kuat.
Pembahasan tentang perancangan kawasan khusus seperti halnya kawasan idjen bouevard
ini tentunya bertujuan bukan hanya untuk mengagumi "keelokan” atau keindahan disain
kawasan, tetapi lebih kepada menggali konsepsi-konsepsi disain kawasan. Upaya
menjaga kelestarian kawasan idjen boulevard memang telah dilakukan, dengan upaya
regenerasi tanaman baru, tetapi tidak/kurang memperhatikan konsep penataan (jarak
tanam, besar tanaman) sehingga kualitas visual sangat memprihatinkan. Disini diperlukan
upaya-upaya kongkrit yang mengarah kepada penataan fisik dalam bentuk pemberlakuan
UDGL (urban design guide lines) atau panduan rancang kota yang mampu menjaga
kualitas visual kawasan secara menyeluruh meliputi tata taman, jalur pedestrian maupun
tata bangunan di kawasan idjen boulevard.
Upaya partisipatif dalam "pengelolaan” ruang terbuka pada zona publik memang
perlu untuk efisiensi anggaran pemerintah kota dalam pemeliharaan taman kota. Tetapi
hal ini harus di drive dengan perangkat pengaturan seperti UDGL yang mampu menjadi
panduan operasionalnya. Secara keseluruhan sebenarnya kawasan idjen boulevard
memerlukan pengaturan yang khusus dengan penetapan kawasan dengan perangkat
"exclusionary zonning” untuk menjamin Visual performance lingkungan tetap terjaga.
Exclusionary Zonning bisa diterapkan untuk menentukan standart performance, dalam
rangka mempertahankan ekslusivitas dan keseragaman suatu kawasan (Truman Asa
Hartshorn, 1980:226). Semoga catatan-catatan penutup ini dapat memberikan wawasan
baru dalam memahami disain kawasan serta menjadi acuan dalam upaya penataan
kawasan idjen boulevard khususnya.

[1] Makalah disampaikan pada Seminar Peletarian di Simpang Jalan, diselenggarakan
oleh IAI Nasional di Hotel Tugu Malang, 7 April 2006.
[2] Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Merdeka Malang

Malang Post- Sabtu, 18 Februari 2012 14:57
Pasar Tugu ke Rampal
MALANG – Pasar wisata belanja Tugu Kota Malang sudah menjadi salah satu tujuan pariwisata alternatif
wisatawan yang datang ke Kota Malang. Sebagai salah satu cirri khas Kota Malang, lokasi Pasar Tugu
harus berada di lokasi yang tepat. Sesuai dengan tata kota, keberadaanya tidak boleh mengganggu
aktivitas lainnya, harusnya dapat mengangkat vitalitas kawasan itu.
Menurut pakar tata kota dari Universitas Merdeka Malang, Prof. Ir. Respati Wikantiyoso, MSA, Ph.D.
keberadaan Pasar Tugu di Jalan Semeru saat ini perlu ditinjau kembali. Sejauh mana efektifitas dan
sejauh mana mengganggu aktivitas di sekitar kota. Mengingat di lokasi itu ada rumah warga, ada pula
tempat-tempat bisnis dan lainnya. Bagaimana pun dampak terhadap kemacetan lalu lintasnya.
‘’Dampak kemacetan sudah terlihat di sekitar lokasi itu karena fasilitas parkir yang tidak terlalui memadai.
Sering juga ada bus yang parkir di pinggir jalan di sekitar lokasi yang akan berwisata di Pasar Tugu. Di
kawasan itu pula ada rumah, tempat bisnis,’’ kata Respati kepada Malang Post, kemarin.
Aktivitas di Jalan Semeru dibutuhkan semua pihak. Para PKL butuh untuk menggelar barang dagangannya
di Pasar Tugu, warga juga membutuhkan untuk aktivitasnya, juga pelaku usaha yang ada di sekitarnya.
Semuanya saling membutuhkan kawasan itu.

Jika ada alternatif tempat yang tidak mengganggu aktivitas lainnya dan justru mengangkat aktivitas di
kawasan itu akan lebih baik. Hanya saja, perlu ada kelengkapan fasilitas yang disediakan untuk
memberikan kenyamanan bagi pedagang dan juga pengunjungnya. Seperti luasan tempat yang mampu
menampung semua pedagang, memiliki akses jalan yang memadai, fasilitas parkir yang luas agar tidak
menimbulkan kemacetan di jalan serta fasilitas lainnya. Yang terpenting jangan sampai jauh dari pusat
kota.
‘’Kalau di Jalan Semeru kawasannya terbatas. Kalau ada kawasan yang luas dapat terus dikembangkan
lebih baik lagi,’’ ungkapnya.
Jalan Bela Negara Rampal misalnya, kawasan itu setiap minggunya sudah ramai dan dapat menjadi
konsumen Pasar Tugu jika dipindahkan ke kawasan Rampal. Kawasan itu pun cukup luas dan memiliki
akses yang mudah untuk dijangkau, keberadaannya pun tidak jauh dari pusat kota. Lokasi parkir pun
masih memadai untuk ditempati sepeda motor dan mobil.
‘’Fasilitas parkir menjadi hal yang penting. Pasar Tugu sudah menjadi ciri karakter yang ada di Kota
Malang. Bukan hanya masyarakat Kota Malang saja yang berkunjung, tapi juga wisatawan dari luar kota.
Dimanapun Pasar Tugu ditempatkan akan dikunjungi masyarakat dan wisatawan asalkan tidak jauh dari
pusat kota,’’ terang pria yang menjadi Koordinator Tim Penyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJP) Kota Malang 2005-2025 itu.
Di Jalan Bela Negara Rampal, kata dia, juga dapat meminimalisir gangguan aktivitas lainnya. Justru
keberadaanya akan dapat meningkatkan kawasan itu. Jika ditempatkan di lokasi itu, masyarakat bisa
berwisata, olahraga dan mencari kuliner khas Kota Malang yang banyak dijajakan di Pasar Tugu.
‘’Perizinannya juga harus pasti. Karena dulu pernah di pindahkan ke dalam Rampal dan dikembalikan lagi
ke Jalan Semeru,’’ tambah Kepala Laboratorium Kota dan Permukiman Jurusan Teknik Arsitektur
Universtas Merdeka Malang itu.
Seperti diketahui, Pemkot Malang sudah mengajukan izin ke Pangdam V Brawijaya untuk Pasar Tugu di
Jalan Bela Negara Rampal.
Ditambahkannya, Pasar Tugu sudah menjadi ciri khas karakter kota yang ada di Kota Malang yang ada
setiap minggunya. Untuk siklus tahunan ada Malang Tempo Dulu (MTD). Untuk ciri fisik bangunan, Kota
Malang memiliki kawasan Jalan Ijen yang menjadi land mark. (aim/avi)
Kota Bogor Segera Bangun Boulevard - Malang Juga Mau Bikin Pedestarian
Malang Juga Mau Bikin Pedestarian

Jumat, 30 Juli 2010 02:24
BOGORKITA - Kota apel Malang, Jawa Timur juga berniat membuat pedestarian sebagaimana halnya Kota
Bogor Seperti apa konsep pedestarian Malang? Pakar Tata Kota Universitas Merdeka Malang meminta
Pemkot Malang untuk benar-benar menyeriusi gagasan brilian Wali Kota Malang, Peni Suparto soal
pedestrian zone di Jalan Pasar Besar. Bahkan ada masukan, konsep pedestrian yang nyaman itu bisa
dilihat dan dirasakan di Orchard Road Singapura.
Prof.Ir. Respati Wikantiyoso, MSA., Ph.d. guru besar arsitektur Universitas Merdeka Malang mengatakan,
untuk pedestrian zone, ada beberapa bangunan baru yang harus ada di sepanjang jalan. Seperti bangku
duduk untuk beristirahat, pemandangan yang mendukung, lintasan jalan yang baik, kanopi yang
menyejukkan serta magnet pemandangan lain yang menyebabkan pejalan kaki betah berjalan di kawasan
tersebut.

”Seperti di Orchard Road Singapura. Di sana walaupun rute berkilo meter, pejalan kaki tidak merasa lelah.
Karena mereka banyak dihibur dengan pemandangan yang asri dan nyaman di sepanjang jalan,” kata
Respati kepada Malang Post kemarin.

Di Indonesia, konsep pejalan kaki ada juga di Pangkal Pinang Provinsi Bangka Belitung. Dengan
menggunakan kanopi berbentuk dome yang menutup seluruh atap jalan. Namun Respati menganggap
konsep itu bukanlah satu referensi yang baik. Di kawasan Malioboro Jogjakarta, pernah juga dijadikan
sebagai zona pejalan kaki. Namun karena omzet pedagang yang ternyata menurun, konsep itu lantas di
hentikan.

”Intinya Pemkot harus memiliki konsep yang matang dan bisa bertahan lama. Harus ada magnet yang
lebih besar untuk menjadikan kawasan pedestrian, seperti di Singapura itu,” tandasnya.

Uji coba bisa jadi sebuah alternatif yang harus dilakukan oleh Pemkot untuk melihat kesiapan kawasan
Jalan Pasar Besar sebagai pedestrian zone. Dengan kajian lalu-lintas yang matang bisa jadi kemacetan
tidak akan terjadi.

Konsep zona pejalan kaki yang terpenting harus dibuat agar dapat berlangsung dalam jangka waktu yang
panjang. Sebab akan banyak biaya dan tenaga untuk mempersiapkan konsep itu. ”Jangan hanya
gebyarnya saja terus tiba-tiba hilang. Kan banyak kerugian dari segi biaya dan juga warga di sana,”
lanjutnya.

Respati tidak dapat menyebut berapa lama kajian dari konsep itu dapat dilaksananakan. Namun Respati
menyebutkan beberapa hal penting yang harus di siapkan, seperti guide line mengenai tata letak dan
denah yang berisi berbagai rancangan dan peta zona tersebut. Tentang tempat parkir, lintas jalan yang
akan dilalui, rancangan trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki, serta aturan mengenai kapan di
berlakukannya zone pejalan kaki.

”Karena di situ adalah zona perekonomian, saya kira lebih baik untuk menerapkan konzep ini dalam waktu
tertentu dimana kegiatan dan omzet pemasukan warga setempat mengalami penurunan. Seperti ketika
sore hari atau malam. Pada pagi hingga siang saya lihat di daerah itu padat sekali terjadi transaksi,”
ujarnya.(sumber: malangpost)

Berita selengkapnya di:

http://www.bogor-kita.com/pemerintahan/kotamdya-bogor/473-kota-bogor-segera-bangun-
boulevard.html?start=1

P2KPB, Solusi Atasi Ketimpangan Perdesaan-Perkotaan

Ketimpangan pembangunan antara perkotaan dan perdesaan, yang ditandai dengan terkonsentrasinya
berbagai program pembangunan di perkotaan, masih terus terjadi di Indonesia hingga saat ini. Program
Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan (P2KPB), diharapkan dapat menjadi solusi untuk
mengatasi permasalahan tersebut. Demikian disampaikan Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah
Wilayah I Lina Marlia dalam Lokakarya Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan di Jakarta
(12/4).

Lebih lanjut Lina menjelaskan, Konsep utama P2KPB adalah pengelolaan kekayaan desa sebagai common
property, serta penciptaan pengolahan kekayaan desa yang bernilai tambah dan mengembalikan nilai
tambah tersebut ke desa. Konsep ini diharapkan dapat mengatasi krisis yang terjadi di perdesaan, yang
ditandai dengan semakin berkurangnya lahan pertanian, meningkatnya kerusakan DAS, serta kerusakan
hutan (deforestasi).

Senada dengan Lina, Direktur Perkotaan dan Perdesaan Kedeputian Bidang Pengembangan Regional dan
Otonomi Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Hayu Parasati mengakui
pentingnya pengembangan perdesaan di Indonesia. Hayu juga mengungkapkan masih terjadinya
ketimpangan pembangunan perdesaan dan perkotaan ditandai antara lain dengan semakin besarnya
persentase desa swadaya di Indonesia, semakin bergesernya tenaga kerja di sektor pertanian ke sektor
industri serta urbanisasi penduduk yang terus meningkat.

Hayu memaparkan, pada saat ini arah kebijakan dan strategi pembangunan desa yang telah ditetapkan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) juga telah sejalan dengan P2KPB. "Prinsip pembangunan perdesaan dalam
RPJMN adalah pemberdayaan dan pengembangan kapasitas masyarakat, pembangunan yang partisipatif,
serta berkelanjutan”, imbuhnya.

Sementara Direktur Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan
Subandono Diposaptono pada kesempatan yang sama mengungkapkan, pengembangan kawasan
minapolitan merupakan salah satu konsep dalam penataan ruang desa pesisir berkelanjutan. Melalui
konsep ini, tutur Subandono, desa pesisir yang memiliki arti penting sebagai pondasi industrialisasi
kelautan dan perikanan mendapatkan dukungan fungsi kota-kota pesisir yang merupakan pusat
pemasaran produk.

"Dengan adanya konsep minapolitan sebagai satu kesatuan manajemen pengembangan wilayah yang
memadukan keterkaitan produksi-pemrosesan-pemasaran dan prasarana pendukungnya, maka
peningkatan nilai tambah ekonomi dari kegiatan perikanan dapat terwujud," ujar Subandono.

Harus Partisipatif dan Berwawasan Lingkungan

Akademisi dari Universitas Merdeka Malang Respati Wikantiyoso menambahkan, berbagai program dan
prioritas dalam pengembangan perdesaan yang akan dikembangkan di kawasan perdesaan harus
diterapkan dengan pendekatan partisipatif. Pengembangan perdesaan, menurut Respati harus partisipatif
agar sesuai dengan karakteristik masing-masing tipologi perdesaan, serta harus disesuaikan dengan
karakteristik masyarakat setempat. "Sebelum menetapkan prioritas dalam pengembangan perdesaan,
kenali dulu karakteristik desa, agar tidak bias dengan kepentingan pengembangan ekonomi," tegas
Respati.

Sementara Akademisi dari Institut Teknologi Bandung Acha Sugandhi menambahkan, P2KPB juga harus
menegaskan adanya prinsip pembangunan berwawasan lingkungan sehingga dapat mencegah terjadinya
kerusakan dan pencemaran lingkungan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim yang drastis. (sha)

Sumber : admintaru_130412
Berita aslinya silahkan klik disini atau kunjungi di http://www.penataanruang.net/detail_b.asp?
id=1921

Karena Iklan, Karakteristik Kota Hilang
MALANG– Maraknya papan reklame yang terpasang di Kota Malang memberikan sumbangsih negatif bagi
wajah kota. Potensi visual kota yang menjadi penanda di setiap kota menjadi tertutup dan hilang
karakteristiknya karena pemasangan reklame yang tidak tertata dengan baik. Menurut pakar tata kota
Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Prof Ir Respati Wikantiyoso MSA Phd, dalam perencanaan kota ada
penanda (signed) untuk membedakan dengan daerah lainnya.
Unsur penanda kota berupa elemen yang menonjol seperti bangunan, pemandangan atau tanaman. Unsur
penanda ini, menurutnya sangat penting. Di Kota Malang ada bangunan-bangunan bersejarah seperti
gereja di Kayutangan, gedung PLN dan lainnya. "Dengan banyaknya papan reklame yang terpasang
elemen penanda itu menjadi tertutup. Kalah besar dengan papan reklame yang semakin marak terpasang
di mana-mana,” kata Respati kemarin. Guru besar Unmer Malang itu mencontohkan kawasan
Kayutangan.
Saat berjalan menuju ke Alun-alun dari arah Jalan Basuki Rahmad gedung bangunan sebagai elemen
penanda kota, gereja Kayutangan sudah tidak terlihat lagi karena tertutup reklame besar. Sementara itu,
LSM Pusat Telaah Informasi Regional (Patiro) mendesak Rencana Tata Ruang dan Wilayah (Ranperda
RTRW) memuat tentang zonasi, ukuran dan faktor keamanan reklame. Menurut LSM ini, reklame yang
menjamur ini dipandang tidak memenuhi standar keamanan serta mengabaikan aturan zona larangan
reklame.
Ranperda RTRW yang kini sedang digodok dewan menurut Patiro belum memuat tentang tiga hal penting
tentang pengaturan reklame. Zona reklame menurut Muhammad Fahaza, Manajer Program Patiro belum
juga disinggung dalam Ranperda itu. Sedangkan peletakan papan reklame saat ini telah melanggar aturan
yang telah disebutkan dalam perwakot. ”Dalam perwakot ada aturan kalau Alun-Alun Kota Malang itu
adalah area publik dan bebas dari reklame. Tapi sekarang sering dipasang papan reklame ukuran besar.
Papan itu biasanya dipasang di atas pos polisi atau pos Satpol PP itu,” ujar Fahaza.
Selain itu, bando yang sering terpasang saat ini belum diketahui keamanan konstruksinya. Fahaza
mengaku publik belum mengerti tentang konstruksi hingga ukuran bando yang terpasang di atas suatu
konstruksi. ”Banyak bando tapi tidak ada ukuran jelas. Apakah papan bando itu, sama dengan papan
yang dipasang di jembatan penyeberangan?. Konstruksi itu berpengaruh pada terjaminnya keselamatan
warga di sekitarnya,” lanjutnya.
Sutiaji, Anggota Komisi C DPRD Kota Malang mengaku akan membicarakan tentang zonasi reklame.
Namun jika terbentur dengan waktu maka nantinya zonasi harus diatur dalam perwakot. ”Sesuai amanat
UU nomor 26 tahun 2007 setiap daerah kan diberi waktu 2 tahun untuk memiliki perda RTRW. Sampai
sekarang ini masih banyak daerah yang belum punya, termasuk Provinsi Jawa Timur juga belum punya,”
tegas dia. (aim/pit/mar)

Baca berita aslinya dengan klik link dibawah:

http://www.malang-post.com/index.php?
option=com_content&view=category&layout=blog&id=46&Itemid=71

Malang International Education Park
Wednesday, 31 March 2010 20:12
MALANG – Pembangunan di Kota Malang benar-benar terlihat pesat. Namun pembangunan masih terpusat
di beberapa wilayah tertentu saja. Dibutuhkan akses jalan yang layak untuk memecah pemusatan dan
memeratakan pembangunan dengan adanya sinergi antara Pemkot Malang, Kabupaten Malang dan Kota
Batu.
Jalur lingkar menjadi salah satu alternatif yang ditawarkan oleh pengamat dan juga akademisi di bidang
tata kota Respati Wikantiyoso. Kepala Laboratorium Kota dan Pemukiman Universitas Merdeka Malang ini
berpendapat, jalur lingkar sudah saatnya dimiliki Kota Malang untuk memeratakan pembangunan.
”Akses jalan yang layak harus disediakan untuk memecah jalur yang melalui pusat kota. Dengan
infrastruktur itu pembangunan akan berjalan seiring dengan pola jalan,” kata Respati kemarin.
Jalur Lingkar Barat (JLB) sebelumnya telah dibahas menjadi salah satu rencana jangka panjang yang
hingga kini belum juga disyahkan oleh legislatif dan eksekutif Kota Malang. Rencana yang digodok sejak
tahun 2005 lalu itu menyebutkan kebutuhan jalur lingkar untuk memberikan akses jalan luar kota dari
Kota Malang menuju Kota Batu. Pembangunannya tentu saja melibatkan tiga institusi kota dari Pemkot
Malang, Kabupaten dan juga Kota Batu karena lokasi lingkar barat akan memanjang dan melintas di tiga

wilayah itu. ”Misalnya dari arah Kebonagung Kabupaten melingkar ke arah Dieng di kota dan nyambung
ke daerah Batu. Jalur dalam kota seperti Dinoyo sudah sangat penuh dan akan buruk jika pembangunan
dipaksakan terpusat di beberapa wilayah itu saja,” imbuhnya.
Respati menilai usaha Pemkot untuk pemerataan pembangunan mulai terlihat dengan dibangunnya
sekolah bertaraf internasional di Kedungkandang. Wilayah di bagian Timur Kota Malang itu memiliki
potensi yang belum tergali dengan maksimal. Di wilayah itu juga Malang bisa memiliki jujugan tempat
wisata buatan terkait pendidikan.
”Rencananya daerah itu akan dibuat sesuai konsep yang bernama MIEP (Malang International Education
Park). Tempat wisata pendidikan nantinya akan ada di sana,” kata Respati yang mengaku ikut menggodok
MIEP dalam rencana pembangunan jangka panjang 2005-2025 yang sedang dalam proses itu.(pit/lim).

Berita asli di Malang post kliklink dibawah:
http://www.malang-post.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9438:malang-
international-education-park&catid=67:edupolitan&Itemid=98
Bangunan Mangkrak Tercecer Di Sudut Kota
MALANG POS,
Selasa, 12 Oktober 2010 17:37

MALANG - Sejumlah bangunan mangkrak di Kota Malang mengganggu keindahan kota. Apalagi bangunan
mangkrak yang tersebar di berbagai sudut kota pendidikan ini menonjol. Pemkot seharusnya tidak
sekadar memberi izin mendirikan bangunan (IMB) tapi juga melakukan pengawasan hingga bangunan
selesai.
Pakar Tata Kota, Prof Ir Respati Wikantiyoso MSA, PhD mengatakan, seharusnya tidak boleh ada
bangunan yang mangkrak. "Apalagi bangunan yang berskala besar,” katanya saat dihubungi Malang Post
kemarin.
Sejumlah bangunan berskala besar yang mangkrak di antaranya seperti bangunan hotel di kompleks
MOG, bangunan ruko sepanjang sekitar 1 Km di kawasan Sawojajar hingga di Jalan Brigjen Slamet Riyadi.
Persoalan ini kata Respati seharusnya tidak perlu terjadi jika tak sekadar menerbitkan IMB. "Harusnya
diikuti dengan pengawasan bangunan sampai bangunan selesai,” kata
Kepala Laboratorium Kota dan Pemukiman, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik (FT) Universitas Merdeka
Malang ini.
Tak hanya itu saja, menurut Respati, persoalan lain karena studi kelayakan hingga kajian ekonomi
sebelum membangun kurang maksimal. Seharusnya kata dia, untuk membangun harus diawali dengan
studi kelayakan dan kajian ekonomi yang lebih matang.
Dia memperkirakan, berhentinya pembangunan juga karena faktor finansial. "Aspek ekonomi juga sangat
berpengaruh,” ujarnya.
Persoalan lain yang harus diperhatikan serius yakni ketika akan melanjutkan pengerjaan bangunan yang
mangkrak, harus diikuti dengan kajian lagi. Tujuannya untuk memastikan kekuatan konstruksi.
"Hal ini penting karena selama pembangunan berhenti, konstruksi mengalami perubahan cuaca, hujan
dan panas. Selain itu ada juga bagian bangunan yang seharusnya dilindungi, tapi tidak dapat terlindungi
karena pembangunan tidak berlanjut. Karena itu harus dilakukan kajian sebelum melanjutkan
pembangunan,” paparnya.
Agar persoalan bangunan mangkrak tak terjadi lagi, Respati mengingatkan agar pemberian IMB harus
dibarengi dengan memastikan apalah bangunan akan terwujud dalam waktu tertentu atau tidak. "Karena
itu pelaksanaan pembangunan harus terkontrol, termasuk bangunan per orangan seperti rumah,” pungkas
Respati.

Untuk melihat berita selengkapnya silahkan klik dibawah ini:

http://www.malang-post.com/index.php?option=com_content&view=article&id=19425:bangunan-
mangkrak-tercecer-di-sudut-kota&catid=46:tribunngalam&Itemid=71

Lambannya Pembangunan Kota Malang
Untuk Kurangi Pengangguran

REP | 07 May 2012 | 09:19Dibaca: 202 Komentar: 0 Nihil

Salah satu bumi dan kekayaan alam yang terdapat di Kota Malang adalah Kota Malang
dikenal dengan sebutan TRIBINA CITA, sebagai Malang Kota Bunga, Malang sebagai
Kota Pendidikan, Malang sebagai Kota Pariwisata dan Malang sebagai Kota Industri.

Oleh : Satriya Nugraha, SP

Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI Dari

Provinsi Jawa Timur 2014-2019

Konsultan Ekowisata, Pemerhati Pembangunan Jawa Timur

Wirausaha Mesin Abon Ikan “BONIK”

satriya1998@gmail.com ; satriya1998@yahoo.com

Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Salah satu bumi dan kekayaan alam yang terdapat di Kota Malang adalah Kota Malang
dikenal dengan sebutan TRIBINA CITA, sebagai Malang Kota Bunga, Malang sebagai
Kota Pendidikan, Malang sebagai Kota Pariwisata dan Malang sebagai Kota Industri..
Mari kita lihat kilas balik sejarah Kota Malang di masa kepemimpinan dr. Tom Uripan,
SH.

Sejak tahun 1987, Walikota Malang, dr. Tom Uripan,SH sudah bekerjasama dengan
pemerintah Turki dalam hal pembangunan jalan tol di wilayah Karisidenan Malang
(sekarang disebut Bakorwil Malang). Latar belakang kerjasama pembangunan jalan tol
tersebut adalah banyaknya jamah haji dari Provinsi Jawa Timur dan Walikota Malang
ditunjuk sebagai Koordinator pembangunan jalang di sepanjang Karesidenan Malang,
mulai dari Malang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi.
Tidak hanya itu, pemerintah Turki juga membantu proposal pembangunan masjid dengan
arsitektur Turki, kalau kita melihat arsitektur masjid di Malang Raya yang mirip
arsitektur masjid Turki, artinya waktu proses pembangunan masjid tersebut, mereka
dibantu dana hibah dari pemerintah Turki bisa melalui perseorangan ataupun kelompok
takmir masjid.

Kemudian pemerintah Turki memberikan bantuan modal wirausaha baik perseorangan
maupun kelompok usaha di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu)
tanpa harus melalui Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hanya saja tidak banyak pengusaha
Malang yang sudah sukses yang mengaku telah dibantu bantuan modal hibah dari
pemerintah Turki. Hal ini berlangsung sejak tahun 1987. Namun setelah Walikota
Malang,, dr.Tom Uripan, SH diganti Walikota Malang, Soesamto, tidak ada
perkembangan pasti transparansi dana dan realisasi nyata pembangunan jalan tol dari
pemerintah Turki. Hal ini membuat berang dan marah Pemerintah Turki dan akhirnya
menghentikan segala bentuk bantuan dana hibah dari proposal yang diajukan masyarakat
Malang Raya.

Kondisi stagnasi pembangunan jalan tol yang didanai Pemerintah Turki berlanjut sampai
masa kepemimpinan Walikota Malang, H. Soeyitno, tidak ada perkembangan yang

berarti. Padahal kalau kita mengkaji, salah satu indikator percepatan pembangunan
khususnya pembangunan bidang industri, pariwisata dan pendidikan serta dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat bisa dilihat dari semakin lancar jalur
transportasi dan infrastruktur. Masa pemerintah Soeyitno, tidak bisa memberikan
kepercayaan pemerintah Turki, dan akhirnya merugikan masyarakat Malang Raya sendiri
yang terhambat mengajukan proposal bantuan dana hibah untuk mensejahterakan
masyarakat Malang Raya juga. Sejarah ini belum dimunculkan oleh para sejarahwan
Kota Malang di berbagai media massa.

Permasalahan pembangunan jalan tol atau fly over Kota Malang akhirnya berhasil
dibangun oleh Walikota Malang, Drs. Peni Suparto, MAP setelah mendapatkan desakan
dari Pemerintah Turki yang menuntut pertanggungjawaban pemerintah Kota Malang.
Pembangunan fly over di kelurahan Arjosari dan di Kelurahan Kotalama, ternyata berasal
dari sumber dana pemerintah Turki, bukan dari APBN pemerintah pusat. Hal ini sebagai
bentuk tanggung jawab terakhir dan untuk menutupi rasa malu Pemerintah Kota Malang
sejak tahun 1987, belum berhasil menjalankan amanah pembangunan jalan tol dari dana
Pemerintah Turki.

Selain itu, di masa kepemimpinan Walikota Malang sekarang ini, belum muncul dampak
pembangunan Kota Malang dari APBD Kota Malang, malah timbul distribusi perpecahan
sentra ekonomi dan hilangnya rasa persaudaraan masyarakat Kota Malang sendiri.
Sampai tahun 2012 ini, sudah banyak bermunculan rumah toko (ruko) di berbagai
kawasan Kota Malang, padahal sejak tahu 2002, sebaiknya pembangunan Ruko
dihentikan karena akan mengganggu dana perkreditan perbankan Kota Malang, kalau kita
cermati, sebagian pembangunan Ruko Kota Malang menggunakan kredit perbankan.
Apabila tidak banyak Ruko yang terjual maka dipastikan akan terjadi kredit macet dan
aliran kas perbankan di Kota Malang akan terganggu.

Harusnya Pemerintah Kota Malang memunculkan wirausaha-wirausaha baru seperti
wirausaha industri inovatif, wirausaha yang bergerak di sektor pariwisata dan ekonomi
kreatif, agar semakin bergairah perekonomian Kota Malang, semakin meningkatkan
lapangan pekerjaan dan masyarakat asli Kota Malang tidak melakukan urbanisasi
pekerjaan di luar Kota Malang. Semakin banyak tenaga terdidik khususnya sarjana muda
melakukan gerakan kewirausahaan maka akan meningkatkan Indeks Pembangunan
Manusia, meningkatkan kesejahteraan, Produk Domestik Bruto akan semakin meningkat
sehingga dapat menurunkan tingkat inflasi di Kota Malang.

Belum lagi banyak bermunculan mall di Kota Malang, yang kesemua pemilik tenant /
tenant di mall tersebut berasal dari luar Kota Malang, otomatis aliran dana masyarakat
Malang ke luar kota Malang. Masyarakat asli dan bermukim di Kota Malang hanya
menjadi pihak konsumtif yang berbelanja dan melakukan gaya hidup hedonisme, yang
dikhawatirkan akan memunculkan sikap pamer diri, individualisme dan sebagainya.
Generasi muda Kota Malang akan muncul kelompok-kelompok seperti geng motor
karena mereka terpengaruh gaya hidup modern yang malah semakin mengaburkan jati
diri dan identitas asli Arema Malang.

Dampak dari pembangunan mall-mall dan pembangunan pasar modern mengakibatkan
pasar tradisional menjadi tidak terawat, menjadi tidak nyaman dan kondisi jalan di sekitar
pasar tradisional tidak diperhatikan oleh pemerintah Kota Malang, terbukti dari rusaknya
pasar tradisional Kebalen, sepinya pembeli di pasar Bunulrejo, mangkraknya Terminal
Hamid Rusdi, kumuhnya pasar Gadang. Hal ini malah menjadi alasan Pemkot Malang
membongkar pasar tradisional menjadi bentuk pasar semi modern, dengan menggandeng
investor, untuk meraih keuntungan pribadi semata. Pasar Besar sebagai tempat berdialog,
pembeli dan penjual dan pasar tradisional lainnya semakin sepi pembeli dan menciptakan
stagnasi perputaran ekonomi di kalangan menengah ke bawah. Tidak ada keseimbangan
jumlah pasar modern dan pasar tradisional di Kota Malang.

UUD 1945 Pasal 32 mengamanatkan bahwa “negara memajukan kebudayaan nasional
Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam
memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Oleh karena itu, pemerintah,
pemerintah Provinsi dan Kabupaten / Kota perlu melestarikan budaya lokal dalam upaya
memajukan kebudayaan nasional. Salah satu contoh budaya lokal adalah pasar
tradisional. Perlu diketahui, pasar tradisional merupakan salah satu wujud budaya lokal
dan ekonomi rakyat yang dapat menjadi wahana efektif untuk melestarikan kebudayaan.
Selama ini, kondisi pasar tradisional hampir memprihatinkan, dianggap kumuh dan
kurang tertata dengan baik. Bahkan sebagian pemerintah daerah mengalihfungsikan pasar
tradisional menjadi pasar modern.

Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, Swasta, BUMN, BUMD termasuk kerjasama dengan Swasta dengan tempat
usaha berupa toko, kios, los, dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,
menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil, dan
dengan proses jual-beli barang dagangan melalui tawar-menawar. Untuk mengatasi
keruwetan dan kekumuhan pasar tradisional maka pasar tradisional perlu berubah fungsi
menjadi pasar pesona budaya. Hal ini dalam rangka meningkatkan dan memajukan pasar
tradisional yang berbasis budaya dan wisata.

Pasar Pesona Budaya adalah pasar tradisional yang mencerminkan aktualisasi nilai-nilai
budaya lokal, melestarikan produk lokal dimana suatu komoditas yang dihasilkan oleh
masyarakat setempat. Saat ini, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI masih
dalam proses pembahasan Rancangan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
RI tentang pasar pesona budaya. Keberadaan regulasi tersebut untuk memberikan
pedoman kepada Pemerintah Daerah dalam mengintegrasikan kebijakan dan program
pasar pesona budaya ke dalam perencanaan pembangunan daerah.

Perencanaan pembangunan daerah tersebut di atas bertujuan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kualitas pasar tradisional menjadi pasar pesona budaya. Kita berharap
tujuan pengaturan tentang pasar pesona budaya adalah sebagai pedoman untuk : (a)
melestarikan nilai dan perilaku budaya dalam pasar tradisional ; (b) membangun,
merenovasi, dan merevitalisasi arsitektur pasar tradisional sesuai kondisinya ; (c) menata
pasar tradisional dalam mengembangkan usaha bagi pedagang serta mewujudkan
kenyamanan bagi pembeli ; (d) mengembangkan pasar tradisional menjadi daya tarik

wisata guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Mengembangkan dan meningkatkan
kualitas pasar tradisional menjadi pasar pesona budaya, sebagaimana tersebut di atas
meliputi aspek : nilai budaya, perilaku budaya dan budaya fisik.

Dengan demikian, mari kita memilih pemimpin Malang di masa mendatang lebih jeli,
lebih cermat, tidak hanya karena mendapatkan uang puluh ribuan, menggadaikan nasib
pembangunan Kota Malang lima sampai sepuluh tahun ke depan. Jangan sampai
keberadaan pasar tradisional sebagai soko guru perekonomian masyarakat menengah ke
bawah semakin hilang dan pudar. Pilkada Kota Malang sebagai sarana untuk memilih
pemimpin yang mensejahterakan umat, pemimpin yang shiddiq, tabliq, fathonah dan
beramanah bagi masyarakat Kota Malang. Harus ada blue print visi pembangunan Kota
Malang secara bertahap sehingga tidak terkesan hanya menguntungkan oknum
pemimpin, oknum sebagian pemodal, pengusaha luar Kota Malang untuk
mengeksploitasi berlebihan sumberdaya dan mengaburkan identitas asli masyarakat Kota
Malang sesungguhnya. Amin.

MALANG___.. merupakan salah satu kota kolonial peninggalan Belanda yang direncanakan
oleh Thomas Karsten. Sebagai seorang arsitek dan ahli tata kota, maka tidak heran bila kota
yang pernah ditanganinya mempunyai keindahan tersendiri. Hal ini terwujud dalam Kota
Malang.Kota Malang telah terkenal sebagai kota peristirahatan yang sejuk terletak di daerah
dengan iklim yang dingin.. Namun pada perkembangannya yang tidak memperhatikan sejarah
kota, maka lambat laun sebutan sebagai kota indah dirasakan tidak sesuai lagi. Ada beberapa
daerah di Kota Malang tempo dahulu yang turut memberikan sumbangan bagi terwujudnya
sebuah kota yang ideal dengan berbagai pemandangan yang sedap dipandang mata, salah
satunya adalah adanya taman-taman di dalam kota.

Salah satu kawasan kota yang digunakan sebagai ruang terbuka publik yang sekarang tidak
lagi dijumpai adalah arena pacuan kuda. Arena ini terletak dibagian barat dari Kota Malang.
Dibatasi oleh perumahan untuk kalangan menengah ke atas dengan pemandangan bebas ke
arah gunung Kawi di belakangnya. Daerah ini mempunyai jalan utama yang terkenal
kemudian dengan Jalan Besar Ijen.Saat ini arena pacuan kuda ini tidak terlihat sama sekali
dan digantikan oleh perumahan dan sarana pendidikan. Arena ini sangat luas dan dibatasi oleh
tiga jalan utama yaitu Jalan Besar Ijen, Jalan Pahlawan Trip dan Jalan Jakarta. Selain kegiatan
berkuda arena ini juga pernah digunakan oleh para pandu (pramuka) untuk persiapan
mengikuti Jambore Dunia di tahun 30-an.Mengingat tempatnya yang berada di kawasan
perumahan elite tentu ini merupakan fasilitas yang disediakan hanya bagi orang-orang
Belanda yang berdiam di Kota Malang sebagai salah satu dari sekian banyak hiburan yang
dapat dinikmati. Sebagai sebuah kawasan yang baru direncanakan daerah kawasan ini
terkenal dengan sebutan derah gunung-gunung Bergenbuurt (Handinoto & Paulus 1996)
disesuaikan dengan rencana perkembangan kota dengan panduan poros Timur dan Barat.
Sebagai salah satu kawasan di bagian barat Kota Malang yang diperuntukkan bagi golongan
penduduk menengah keatas dilengkapi dengan taman-taman dan ruang terbuka lainnya
seperti taman olahraga yang terletak di Jalan Semeru.

Taman olahraga ini kemudian dikenal dengan Stadion Gajayana. Pada awalnya di tahun 20-
30-an dirancang dengan berbagai fasilitas antara lain sebuah stadion, lapangan hocky,
lapangan sepak bola dua buah, sembilan lapangan tenis, club house dan kolam renang.
Kompleks taman olahraga ini juga merupakan kelanjutan dari perkembangan Kota Malang ke
arah Timur dan Barat.

Pada bagian barat termasuk kompleks ini akan mempunyai pemandangan yang indah ke arah
pegunungan. Oleh karena itu konsepsi ini terlihat pula pada perencanaan daerah Kolam
Renang yang akan memperlihatkan keindahan panorama pegunungan tersebut.

Selain kawasan bagian barat Kota Malang, perencanaan taman sebagai sarana rekreasi dan
bersantai juga meliputi daerah aliran Sungai Brantas (DAS Brantas). Dalam sejarah tercatat
bahwa pada awalnya bentuk Kota Malang dibatasi oleh aliran Sungai Brantas. Jadi fungsi dari
sungai adalah sebagai batas suatu daerah. Pada perencanaan selanjutnya ditahun 30-an, oleh
Karsten sungai dimasukkan di dalam bagian perencanaan perkembangan kota. Inilah konsepsi
awal yang kelak akan berlanjut dengan penggunaan DAS Brantas sebagai taman kota yang
dapat dinikmati oleh segenap penduduk kota.

Dalam jangka panjang seluruh lembah Brantas yang belum dipakai akan dijadikan cadangan
taman dengan mempertahankan keindahan aslinya serta membuat jalan setapak (Paulus dan
Handinoto 1996). Perpaduan sungai dan taman yang melingkar di seluruh kota yang
memotong jalan-jalan besar di dalam kota akan memberikan keindahan tersendiri bagi kota.
Sungai akan diperlakukan sebagai lanskaping kota. Sungai yang tadinya berada di pinggir,
lambat laun seiring dengan perkembangan kota akan berada ditengah kota dan seolah-olah
membelah

kota

menjadi

dua

bagian.
Perencanaan perkembangan kota kearah barat dan timur yang telah dibahas ini dimaksudkan
untuk mengimbangi perkembangan yang ada cenderung berbentuk pita di sepanjang poros
utara-selatan. Perkembangan model pita ini dirasakan tidak kondusif untuk menciptakan kota
yang merata di segenap penjuru.

Menparekraf Dukung Pembangunan Malang Raya dan Kota Wisata Batu
2-Mei-2012 07:00
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, menyatakan dukungannya bagi
pembangunan Malang Raya dan Kota Wisata Batu sebagai salah satu destinasi unggulan di Jawa Timur.
Menparekraf mengaku kagum terhadap upaya pemerintah Kota Wisata Batu dan pemerintah Kabupaten
Malang dalam membangun dan mendirikan tempat tujuan wisata.

“Sebelum mengunjungi tempat ini, saya tidak pernah mengira bahwa kota Malang khususnya kota wisata
Batu sedemikian luar biasa serta memiliki tempat kunjungan wisata yang sudah layak disandingkan
dengan tempat wisata tingkat dunia sehingga menungkinkan terjadinya peningkatan jumlah pengunjung,”
kata Menparekraf pada acara Gala Dinner “Kota Batu Goes To Asean” di Kota Wisata Batu, 2 Mei 2012.

Sesuai namanya, kota wisata Batu memiliki banyak objek wisata menarik, salah satunya Jatim Park II
yang baru saja diresmikan. “Pengembangan Kota Wisata Batu berbasis kearifan lokal, yaitu pertanian
sudah pada arah yang tepat. Hal ini sesuai dengan visi Kemenparekraf dalam mengembangkan wisata dan
ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan bertanggungjawab,” kata Mari.

Ia menjelaskan, wisata berkelanjutan tidak berarti pengembangan wisata hanya sebatas memperhatikan
konteks pelestarian alam, tapi juga wisata yang melibatkan komunitas setempat sehingga aspek yang
ditimbulkan tidak hanya aspek sosial dan ekonomi, tapi juga aspek mempertahankan dan

mengembangkan budaya lokal. “Keterlibatan komunitas lokal dapat melindungi objek wisata dari
kerusakan,” ujar Mari.

Mengenai rencana pembangunan Asean Culture Park, Menparekraf menyatakan bahwa pihaknya siap
mendukung. “Setelah berdiskusi dengan pihak pemerintah daerah, kami mendapat gambaran bahwa
Asean Culture Park akan didesain seperti Asean Fair yang diadakan di Bali tahun lalu. Waktu itu, kami
membuat panggung permanen sebagai sarana bagi masing-masing negara Asean untuk menampilkan
kehidupan di negaranya, lengkap dengan ornamen-ornamennya. Selain itu, di tengah arena Asean Fair,
kami menyediakan satu panggung yang memuat sejarah berdirinya Asean serta hal-hal lain terkait
Asean,” paparnya kemudian. Dengan demikian, pengunjung dapat memiliki pemahaman mengenai Asean
secara keseluruhan.

Negara-negara yang tergabung dalam Asean banyak melakukan kerjasama bidang ekonomi, politik, dan
sosiokultural. Keberadaan Asean Culture Park diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pengunjung,
khususnya masyarakat Asean mengenai kehidupan negara anggota Asean. “Asean Culture Park nantinya
akan menjadi semacam one stop bagi masyarakat untuk memahami seluk beluk Asean. Selain itu,
keberadaan Asean Culture Park juga dapat memperkuat argumentasi diarahkannya Bandara Udara Abdul
Rahman Saleh di Malang menjadi international airport,” jelasnya lagi.

Nantinya, Asean Culture Park dapat menjadi wadah pertukaran budaya baik budaya tradisonal maupun
budaya kontemporer. “Saya usul agar di sana (Asean Culture Park) dibuat ruang pameran sehingga dapat
memerkan ragam buaya, pariwisata dan kesenian yang dimiliki masing-masing negara baik secara
bersamaan ataupun secara bergiliran,” lanjutnya.

Pembangunan kota Malang, khususnya kota wisata baru ini dilakukan untuk meningkatkan kunjungan
wisatawan khususnya wisatawan mancanegara. “Kami medukung dan siap membantu pembangunan Kota
Wisata Batu,” lanjutnya lagi.

Malam itu, Mari menceritakan sebuah kisah yang membanggakan. “Saat Asean Fair yang kami gelar di
Bali tahun lalu, sebuah band asal Myanmar mengaku tertarik dengan band Superman Is Dead asal
Indonesia. Mereka [band asal Myanmar] kemudian meminta untuk main band satu panggung dengan
Superman Is Dead. Ini merupakan hal yang membanggakan, band asal Indonesia disukai oleh band dari
negara lain,” ungkapnya bangga. (Puskompublik)

Arsitektur Menggugah Kota Malang

BY BUDIFATHONY ON MARCH 10, 2012

Budi Fathony, Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Email
budifathony21(at)yahoo.co.id
Perkembangan kota Malang khususnya telah berdiri sejak seratus tahun lalu lebih
merupakan suatu asset yang dimiliki kota. Dalam perjalanan telah mengalami
beberapa kali perubahan sebagai dampak dari kemajuan jaman menuntut
pemenuhan kebutuhan seperti lahan, fasilitas dan elemen pendukung lainnya.

Mengamati dan mempelajari perkembangan kota Malang begitu cepat karena
permasalahan tidak “sekedar” kebutuhan kota, tetapi banyak bangunan lama
dipugar total dan ruang terbuka hijau yang menjadi ciri khas kota telah terbangun.
Konon perlu dilestarikan ternyata tidak mampu dipertahankan. Hal ini selalu terjadi
dari tahun ke tahun, sudah bernasib malang kah kota Malang saat ini?

Pada awalnya kawasan stadion Gajayana kota Malang sebagai pusat oleh raga
pada hakekatnya merupakan ruang terbuka hijau, namun perubahan menjadi
peruntukan pusat perbelanjaan ternyata bertujuan upaya meningkatkan nilai
ekonomi semata tanpa berfikir jauh kedepan dampak lingkungan fisik, apalagi
dampak sosial budaya dan persaingan ekonomi makro semakin tidak terkendali.

Ide dasar pembangunan Malang Olimpyc Garden pada kawasan stadion Gajayana
sebagai keputusan tanpa dasar yang jelas, karena merubah tata ruang kota. Hal ini
akibat masyarakat menolak keingingan investor berlindung dibalik suara birokrat
membangun Alun-alun Junction (AAJ) memanfaatkan ruang terbuka hijau pusat kota
Malang.

Memang tujuan pembangunan tidak sekedar memanfaatkan lahan dianggap kosong
atau “belum sempat diolah dan dikelola”, adanya alun-alun pada setiap kota-kota di
Jawa tidak sekedar ruang terbuka hijau namun ada konsep dasar filosofis guna
manfaat tiga dimensi untuk Tuhan Yang Maha Esa, manusia dan lingkungan, sangat
disayangkan konsultan selalu tidak berfikir kelanjutan bagaimana dampak sebelum
dan sesudah pembangunan. Terbukti pemanfaatan ruang-ruang akibat disain tidak
terpadu, karena bukti teknis “belum pernah dan tidak pernah akan dipublikasikan”,
sehingga masyarakat akademis tidak mampu mempelajari informasi ilmu yang
diusulkan para penentu kota dan konsultan.

Peran teknis lapangan dituntut lebih teliti dalam melangkah untuk mewujudkan hasil
akhir disainnya walaupun didukung dana yang lebih. Arsitektur kota sendiri
menyangkut berbagai macam aspek kehidupan manusia, tetapi lebih marupakan
suatu proses untuk menghasilkan suatu ide-ide yang terbaik dan diterima
masyarakat sebagai penghuni kota.

Beberapa pengaruh yang mendasari proses tersebut diantaranya faktor sejarah
peruntukan, sosial dan budaya masyarakatnya.

Memang kita sulit untuk membedakan mana karya arsitektur yang baik dan cocok
pada suatu tempat apalagi harus dipaksakan oleh kepentingan dan kekuatan
tertentu “duit dan kekuasaan” memang duit itu tidak perlu tapi penting dan
“kekuasaan” selalu diciptakan seakan “kuat dan angkuh” .

Walaupun ada yang “menyuarakan” minimnya ruang terbuka hijau dan kota harus
disediakan regulasi yang ampuh, ternyata tidak cukup kokoh untuk dipertahankan
kalau para perencana berlindung di bawah payung investor, sedangkan konsultan
sekedar (kongkonan sultan”istilah jawa” diperintah sultan) .

Celaka-nya permasalahan semacam ini selalu terjadi di belahan bumi tercinta
Indonesia sehingga lebih cenderung gaya berdasarkan “pesanan campur paksaan”
tujuan dasar adalah tuntutan ekonomi apalagi tidak sesuai dengan lingkungan
geografisnya.

Perubahan kota selalu terjadi karena tuntutan “kebutuhan kota” dan kurangnya
fasilitas-fasilitas penunjang kota, yang tidak mungkin untuk dihalangi. Tetapi selama
penentuan fungsi lama masih sesuai dengan tata guna kawasan kota menurut
RTRW dan RDTRK yang konon telah di “sah”-kan tentunya masih bisa diterima,
tetapi faktanya “slogan” dan “jargon-jargon” untuk menyelamatkan asset negara
hanya muncul jika ada “maksud” bahwa wajib di pertahankan (itu dulu!, jaman
perjuangan) saat ini sudah jaman reformasi alias repot mencari nasi justru sengaja
me”legal”kan yang “liar” dan mem”formal” kan yang non formal, apalagi proses ijin
yang formalitas.

Ternyata dalam pembangunan Stadion Gajayana menjadi pusat bisnis makro adalah
menjadi beban lingkungan kota, penghuni kota Malang, sehingga baik dan tidak
manfaat nantinya tidak sekedar dinikmati oleh golongan tertentu tetapi masyarakat
tetap dan pendatang baik secara peorangan maupun bersama-sama, mengapa
demikian karena kota Malang sebagai bagian dari beberapa kota di Jawa Timur
menjadi primadona kunjungan setelah kota Surabaya.

Seharusnya “eksekutif dan legeslatif” kota Malang ikut mengatur, membina dan
membantu menciptakan iklim yang baik agar setiap proses usulan investor sesuai
dengan tata ruang kota yang telah melalui proses mahal. Para pakar dan tokoh
masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menentukan arah
pembangunan kota Malang. Namun apa yang terjadi suara akademis tidak di
dengarkan dengan baik dan sebagian tokoh masyarakat masuk dalam ranah
legeslatif yang suka me”legal”kan yang tidak terkonsep dengan baik.

Setiap peraturan daerah atau peraturan pemerintah yang berupa undang-undang-
pun tentunya dapat diterapkan agar tatanan sebuah kota menjadi terarah. Fakta
dilapangan jajaran Dinas terkait nampak tidak kompak dan setengah hati.
Sedangkan masyarakat bukan semata-mata sebagai “obyek” pembangunan, tetapi
merupakan “subyek” yang berperan aktif dalam setiap pembangunan.

Peran dunia usaha sebaiknya tidak sekedar “mampu” mempengaruhi penguasa kota
dengan imbalan yang menggiurkan dalam waktu cepat tapi menyesatkan, apalagi
memikirkan dalam jangka panjang.

Keterlibatan didalam pembangunan tentu dapat menahan emosinya agar tidak
selalu mampu merubah aturan-aturan main yang ditetapkan oleh pemerintah
setempat. Hasil proses yang dilakukan dapat menjadi contoh yang baik bagi siapa
saja, tanpa pandang yang kuat dan lemah.

Saat ini kota Malang kehilangan ciri kota dengan hadirnya Grand design, yang
banyak diciptakan oleh para arsitek profesional untuk memenuhi kepentingan-
kepentingan tertentu, sedangkan karya arsitek yang menganut aliran folk tradition,
justru untuk mempertahankan aspek-aspek tradisional yang menjadi ciri khas kota
dan lingkungan serta jatidiri masyarakatnya telah hilang.

Peran akademisi ternyata masih dipandang sebelah mata, dipromosikan jika ada
kepentingan sesaat agar nampak bahwa kota Malang sebagai kota Pendidikan
tetapi tidak berjalan dengan pola pembelajaran yang baik, suara rakyat terasa tidak
menguntungkan bagi masyarakat yang telah terlanjur memilih, LSM-pun ternyata
dianggap kelompok yang hanya mampu mengkritik dan penentang.

Kenyataan masyarakat dibuai mimpi pada produk apapun mulai dari kebutuhan
sandang, pangan dan papan yang dikemas mewah menjadi gaya hidup baru.
Sebagian besar masyarakat kita hanya mampu menjadi penonton walaupun setia
setiap saat.

Keterbukaan dalam proses yang mencoba mengakomodasi sebanyak mungkin
pandangan dan pendapat masyarakat banyak, masih jauh dari kenyataan selalu saja
ada masalah. Meskipun akan dapat memperlama proses dibanding sebelumnya,

akan tetapi mempunyai arti yang sangat penting untuk antisipasi masalah yang akan
timbul dikemudian hari.

Perkembangan arsitektur kota Malang saat ini berkembang maju tanpa arah,
identitas kota tinggal 20%, ruang terbuka hijau tinggal 2,8%, para konsultan
arsitektur dan kota keluar dari kode etik keilmuan karena kopi paste, apakah ini jadi
pembelajaran yang baik bagi para arsitek dan planolog muda? mereka yang lagi
mencari identitas, ataukah ini sebuah fenomena baru?, kota Malang tidak pernah
tidur selalu jadi perhatian para pialang duit dan dolar, masyarakat terbuai mimpi
indah,(bdf)

Pembangunan Perekonomian kota Malang

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->