Sejarah Desa Karangkancana

A. Asal mula sebutan Gunungjawa Pada zaman dulu di Gunung Sukmana konon ada seorang Pendita yang bernama Anjar Padang. Ia memiliki putri cantik yang bernama Nyi Endang Geulis, karena kecantikannya, membuat seorang raja Mataram merasa penasaran akan kabar kecantikan sang putri, lalu ia pun mengutus patih yang bernama Niti Baga untuk menjemput sang putri untuk dijadikan permaesuri. Maka Patih pun pergi ke Gunung Sukmana untuk menjalankan titah sang raja. Setibanya di tempat yang dituju, patih Niti Baga menyampaikan maksud dan tujuannya kepada Pendita Anjar Padang, tanpa kesulitan patih berhasil mendapatkan ijin dari sang Pendita, dan dapat memboyong putri ke Mataram. Kepergian sang putri ternyata tidak dilepas begitu saja oleh sang Pendita, ia pun ikut menggendongnya dengan sebuah kain (gembolan) sampai kesuatu tempat yang cukup jauh dari tempat tinggal Pendita. Tiba ditempat tersebut, Pendita menurunkan putrinya dan membuka kain (gembolan) pelindungnya. Tempat membuka kain (gembolan) kini dikenal dengan sebutan Jatigembol tepatnya di wilayah Kecamatan Cibingbin. Dari tempat itulah sang Pendita melepas kepergian putrinya. Dalam perjalanan menuju Mataram rombongan sang putri istirahat sebentar, tempat tersebut kini dikenal dengan sebutan Sindangjawa (Tempat mampirnya orang Jawa), saat istirahat Nyi Endang Geulis menyempatkan diri untuk mandi di sana. Pada saat mandi secara tidak sengaja melihat sang putri yang sedang mandi, karena tertarik dengan kecantikannya, patihpun akhirnya berniat ingin mempersunting Nyi Endang Geulis. Tempat dimana hati patih jatuh hati kepada putri sekarang dikenal dengan nama Cijangkelok (yang artinya Sungai tempat jatuhnya hati). Untuk memenuhi keinginannya, patih tidak melanjutkan perjalanan ke Mataram tapi mengalihkan perjalanan menuju ke Banyumas bersama rombongan, tanpa perasaan takut. Kepergian Patih Niti Baga dari Mataram sudah terbilang lama hingga beberapa bulan, belum juga kembali, hal ini membuat raja merasa gelisah, dalam hatinya penuh dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan ia bermaksud akan mengutus pasukan untuk menyusul Patih ke gunung Sukmana. Tapi belum juga pasukan yang ditugaskan berangkat, Pendita Anjar Padang datang berkunjung ke istana untuk bertemu dengan putrinya. Kejadian ini membuat raja murka terhadap Patih, maka pasukan yang sudah disiapkan untuk menyusul Patih, kini benar-benar diperintahkan untuk mencari dan membawa patih Niti Baga beserta Nyi Endang Geulis dan menerima hukuman mati dari

suatu garis yang jelas mempunyai kekuatan dahsyat sengaja digoreskan oleh seorang yang sakti.kerajaan. pasukan Mataram yang ditugaskan untuk menyusul mereka tiba di sana. Mendengar ancaman yang tidak main-main itu pasukan Pangeran Dipati Pasir berhenti dan melanjutkan langkahnya menuju ke tampat lain. bahwa jika tidak berhasil membawa putri Nyi Endang Geulis beserta Patih Niti Baga maka pasukannya akan mendapatkan hukuman pancung dari kerajaan. Mendengar pembicaraan raja. Pendita langsung pergi mencari putrinya. Pendita pun akhirnya membawa mereka dan beberapa pasukannya menuju Gunung Sukmana. agar tidak melewati garis yang dibuatnya. akibat memaksakan diri melewati goresan tersebut. karena takut akan ancaman raja. begitupun untuk melanjutkan perjalanan tidak mungkin. Pendita itu lebih dulu menemukan Patih Niti Baga beserta putrinya Nyi Endang Geulis. Setibanya di kaki Gunung Sukmana. dengan tujuan: siapa saja yang berani melewati tanda garis yang digoreskan dengan pedang saktinya dan berniat mencelakakan keluarga Pendita beserta pengikutnya. Bahkan.Karena kesaktiannya. tetapi sebelum mereka sampai ke tempat goresan keris sakti. Belum juga satu bulan Pendita beserta pengikutnya berada di Gunung Sukmana. Pangeran Dipati Pasir memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. terbukti pasukan berkuda pun tak mampu melewatinya. seluruh pasukan binasa. Pendita Anjar Padang membuat goresan diatas tanah. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. pasukan Pangeran Dipati Pasir dan putranya tiba di kaki Gunung Sukmana. maka raja Mataram merasa kesal dan marah. lalu ia memberi perhatian kepada pasukan Pangeran Dipati Pasir. akhirnya raja mengutus seorang pangeran sakti yang bernama Dipati Pasir beserta putranya untuk menyusul pasukan pertama. Namun perjalanan mereka terhenti di kaki gunung ketika melihat goresan aneh dihadapannya. . akhirnya pasukan Mataram berhenti beberapa jam disana. demi keselamatan. setelah beristirahat akhirnya mereka memutuskan akan memaksakan pasukan kudanya melewati garis. karena ancaman mati dari Pendita. pasukan mereka seperti yang bingung dan kuda-kuda mereka ketakutan. ternyata Pendita sudah berada di sana. karena khawatir akan ancaman raja. tepatnya di Cijurang (kini tempat tersebut dikenal dengan sebutan Lebak Cijurang ). karena pasukan pertamapun dulu binasa. Empat bulan lebih pasukan Mataram yang ditugaskan mencari Patih Niti Baga tak kunjung kembali. Setelah Pendita pergi. maka akan binasa sebelum melewati garis tersebut. ketika mereka melewati garis itu. termasuk kuda yang ditungganginya.

Secara diam-diam Pangeran Dipati Pasir menjemput istri dan anak-anaknya dari Mataram serta beberapa pengikut setianya untuk berkumpul di Ciporang. Kampung Gunungjawa Keturunan Mataram yang membelot dari rajanya. sebutan Pasir Indang berarti: pasarean Endang Geulis. dan dikebumikan di bukit sebelah barat kampung tepatnya di makam Gunung Purwa (Astana Gunung). tapi karena tidak mengganggu dan mereka memang membelot dari rajanya. Mengetahui keadaan seperti itu. yang dipimpin oleh Pangeran Dipati Pasir. Sedangkan Nyi Endang Geulis konon dimakamkan di pasir Indang. maka Pendita tidak merasa keberatan mereka membuka perkampungan di sana. . walaupun mereka bertahun-tahun hidup di kampung tersebut. Bahkan Nyi Endang Geulis sering berkunjung ke Ciporang beserta Patih Niti Baga. Keadaan sungai yang kecil tapi airnya mengalir deras dan jernih. Pendita Anjar Padang yang berada di Gunung Sukmana sebenarnya mengetahui keberadaan mereka. sehingga air tidak mudah keruh. berjalan melingkar ke sebelah barat Di tempat yang datar. Lalu mereka menamakan perkampungan tersebut dengan nama Kampung Ciporang (artinya Kampung Sungai Tanah Porang). makam tersebut kini dikenal dengan sebutan makam Eyang Kapidin (Patih Niti Baga). Menurut salah seorang Tokoh Masyarakat Bapak Suhandi. tepatnya sebelah timur kampung Ciporang. tapi ada pula yang mengatakan ia hijrah ke wilayah Cirebon. bahkan sesekali putrinya (Nyi Endang Geulis) berkunjung ke kampung meraka. Pendita Anjar Padang tidak pernah mengusik kehidupan mereka. dengan dasar tanah porang dan tidak berpasir.maka akhirnya mereka Gunung Sukmana. B. kini sudah membentuk sebuah perkampungan yang sangat subur dengan masyarakatnya yang damai dan sejahtera. tempat mandi tersebut kini dikenal dengan nama Cigunung Geulis (Air Gunung tempat mandinya Endang Geulis). tepatnya sebelah barat Gunung Sukmana. mereka membuat perkampungan kecil dengan membangun beberapa gubug sederhana sebagai tempat tinggal. Bahkan konon kini masih terdapat peninggalan Pendita Anjar Padang beserta putrinya Nyi Endang Geulis berupa makam dengan ciri terdapat dua buah batu. yang artinya “orang-orang jawa membuka tempat tinggal di kaki gunung”. Mereka memilih tempat itu karena selain nyaman juga dekat dengan sebuah sungai. Kebiasaan Nyi Endang Geulis sepulangnya dari Ciporang atau dari tempat lainnya tidak melewatkan diri untuk mandi di kali yang airnya sejuk dan menyegarkan. bahwa Patih Niti Baga meninggal di kampung Ciporang. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Gunungjawa.

dan sejak itulah Ciporang mulai dikenal dengan sebutan Dukuh Gunungjawa yang berarti Orangorang Jawa berkumpul di Kaki Gunung. Kecemasan dan rasa takutpun sedikit demi sedikit berkurang. ia sangat bijaksana. Setelah Anjar Padang. perairan sangatcukup mendukung. makmur dengan pencaharian pokok bertani dan bercocok tanam. tapi setelah keturunan Dalem Kertapala tidak ada yang dapat meneruskan tampuk kepemimpinan leluhurnya. C. Kehidupan masyarakat Gunungjawa yang sudah terbiasa hidup damai dan memiliki sifat saling menghormati. cerdas dan sangat pandai. Beliau masih menetap di Kampung Ciporang sampai pada akhirnya ia pun meninggal dunia. maka muncullah dua orang tokoh yang bernama Den Ayu Kaca dan Buyut Ketan. maka pimpinan kampung di pimpin oleh Demang yang bernama Demang Adiwiguna. dan pada mulanya dipimpin oleh seseorang yang bernama Dalem Kertapala. Nyi Endang Geulis dan Pangeran Dipati Pasir meninggal. Siklus perekonomian pun berjalan dengan mulus tanpa adanya gangguan. Kehidupan terus berjalan mengiringi roda jaman. maka siapapun pimpinannya tidak membuat mereka berpecah-belah. karena mereka masih takut akan ancaman Pendita. Patih Niti Baga (Eyang Kapidin). Disana mereka hidup rukun dan damai. Perkampungan tersebut semakin ramai oleh penduduk.Pangeran Dipati Pasir adalah seorang pemimpin yang sangat disegani oleh semua orang. Saat itulah pertama kali pemimpin dapat dipilih secara demokrasi oleh masyarakat. dari hari ke hari. tapi walaupun demikian satu orangpun belum ada yang berani melewati garis yang digoreskan oleh Pendita (Lebak Cijurang). disamping itu setiap orang atau rombongan yang akan datang ke wilayah itu dengan mudah terlihat dari perkampungan mereka. bahkan akhirnya kehidupan mereka semakin merasa nyaman Pendita Anjar Padang beserta putri dan rombongannya tidak ada lagi. sehingga setiap gerak-gerik yang kelihatan dan mencurigakan dengan mudah dapat diketahui. dan akhirnya perkampungan itu telah menjadi sebuah perkampungan yang ramai dengan segala aktivitas penduduknya. karena memang tempat mereka sangat strategis. dan dimakamkan di lokasi pemakaman kampung (Pemakaman Dipati Pasir) wilayah pemakaman umum sebelah barat Pesantren Bani Sanjur Gunungjawa sekarang. suasana sejuk dan nyaman serta pemandangan yang indah. Beberapa pimpinan kampung telah terjadi pergantian secara adat dan turun temurun. tetapi justru saling menghormati antara satu dengan yang lainnya. karena lokasinya yang tinggi. tahun ke tahun. Masa Awal Kampung Gunungjawa . bulan ke bulan. Mereka adalah generasi penerus pemegang tampuk pimpinan dan juga tokoh leluhur Ciporang (Gunungjawa).

masyarakat yang ramah dan saling menghormati. Setelah berdirinya sebuah Pesantren. Kegiatan pengajian di Gunungjawa semakin maju dan banyak dikunjungi para santri dari berbagai daerah. Kehidupan islami tampak dari perilaku sehari-hari. maka beliau memerintahkan muridnya yaitu Ajengan Hulaemi untuk melanjutkan misinya menyampaikan risalah dan ajaran Islam di Gunungjawa. Menurut keterangan beberapa tokoh Gunungjawa. Walaupun mata pencaharian mereka mayoritas bercocok tanam. Ia seorang yang bijaksana. Sekitar tahun 1918 pada saat kyai Madrawi berusia lanjut. keberadaan Pesantren akhirnya tersebar ke seluruh daerah. bahwa pada sekitar tahun 1910-an sebagai awal dari pembangunan dibidang Pendidikan. telah di mulai kegiatan pengajaran membaca Al-Qur`an dan kitab-kitab pelajaran tentang syariat Islam secara teratur dan terarah oleh seorang ulama yang bernama Kyai Madrawi. khususnya pendidikan Agama. maka Gunungjawa semakin luas dikenal masyarakat. tapi waktu sholat dzuhur mereka pasti pulang untuk melaksanakan sholat berjamaah. yaitu penjajah dari luar negeri (Belanda) yang .Seiring berjalannya waktu Gunungjawa telah berubah wajah menjadi sebuah desa yang dipimpin oleh seorang Kuwu pertamanya H. khususnya daerah Kuningan. maka pada bulan April 1920 Beliau mendirikan Pesantren Gunungjawa. misalnya saja setiap waktu sholat Masjid yang sangat sederhana selalu dipenuhi oleh warga masyarakat yang melaksanakan sholat berjamaah. damai dan sejahtera itu. Banyak diantara santri yang telah menimba ilmu dari Kyai Madrawi melanjutkan menuntut ilmu ke daerah lain. Masa Proklamasi Rangkaian kepemimpinan H. D. Gontang. Pada awalanya para pelajar (santri) hanya putra-putri Gunungjawa. pimpinan Kyai Abdul Halim. Hasil didikan dan binaan Kyai Madrawi sangat menggembirkan. rupanya harus terhenti oleh gejolak politik internasional. Cidahu. Gontang hingga kepemimpinan Argasuwita di Desa Gunungjawa yang nyaman. Berhubung banyaknya santri yang berkunjung keGunungjawa mendorong Ajengan Hulaemi mendirikan Pesantren. Cirebon dan Brebes Jawa Tengah. disegani oleh masyarakatnya. hampir tidak pernah terdengar adanya kesenjangan di antara mereka. misalnya saja seorang putra Gunungjawa yang bernama Hulaemi berhasil menuntut ilmu di Pesantren Jagasara. kehidupan beragama di Gunungjawa bagitu nampak. tolong-menolong diantara mereka. setelah melaksanakan sholat diantara mereka ada yang kembali melanjutkan aktivitasnya. dan iapun sangat menyayangi warganya.

oleh seluruh pemuda. hari Jum`at Legi. santri dan warga masyarakat Gunungjawa. mendengar berita tersebut maka seluruh pemuda. Sebagian pemuda ada yang menjadi mata-mata dan pengintai aktivitas tentara Belanda. dan Kyai Moch. mereka itu antara lain adalah Kyai Zahid (ayah kyai Izzuddin) pimpinan Pondok Pesantren Buntet Kabupaten Cirebon. mereka selalu berusaha menghalanghalangi setiap gerak-gerik tentara Belanda. Pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda pergi tapi datang penjajah baru yang sama menjajah negeri ini. Disusul datangnya penjajah Jepang yang memiliki tujuan sama yaitu ingin menduduki dan merebut negara Indonesia. Baru pada tanggal 18 Agustus 1945 kabar tentang kemerdekaan Republik Indonesia ramai di dengar masyarakat Gunungjawa. Pada masa itu. pukul 10. santri dan masyarakat Gunungjawa bertekad mempertahankan Kemerdekaan hingga tetes darah penghabisan. tapi pada akhirnya justru melakukan penindasan hal ini jelas berimbas ke pelosok pedesaan. Hal itu dibuktikan oleh para pemuda. siap mempertahankan tanah Gunungjawa bersama-sama dengan TNI. Setiap jalan yang akan dilalui tentara Belanda dipasang jebakan dan ranjau maupun perangkap lainnya yang dapat menghambat aktivitas tentara Belanda. Upaya menghambat jaringan informasi tentara Belanda dengan cara menggunting dan memutuskan kabel telepon. cara-cara yang digunakan oleh para pemuda dan masyarakat Gunungjawa untuk melawan tentara Belanda adalah: 1. Ciledug Kabupaten Cirebon. 3. karena larangan penguasa Jepang.tujuan awalnya adalah mencari rempah-rempah ke wilayah Negara Republik Indonesia. santri dan warga masyarakat. Belanda kembali lagi ke Tanah Air. Bung Karno dan Bung Hatta. Pesantren Gunungjawa menjadi tempat persembunyian sekaligus tempat berkumpulnya para tokoh pejuang golongan Islam. Kabar tersebut memang terlambat diterima oleh masyarakat pedesaan. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. pasalnya terdengar kabar bahwa setelah Jepang pergi. . bulan puasa. untuk menyiarkan peristiwa penting tersebut. disambut dengan suka cita. Jakarta. Kyai Abdul Halim pimpinan Pondok Pesantren Jagasara Cidahu. yang ada di jalur Luragung – Ciwaru. Suntana seorang pimpinan Lasykar Hizbullah Kabupaten Cirebon dan sekaligus beliau adalah Kepala Desa Leuweunggajah Kec. Berbagai taktik dan siasat diupayakan untuk menghambat aktivitas tentara Belanda. atas nama rakyat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56. dalam menyusun strategi dalam menumpas penjajah Belanda.00. 2. namun perasaan suka cita itupun tidak bertahan lama.

kecuali salah seorang dari mereka tidak kembali ke tempat asalnya Desa Leuweunggajah. Gontang hingga kepada kuwu sesudahnya. Argasuwita : 1898 .1967 E. dan berdekatan dengan kota Luragung dan Cibingbin. . walaupun rintangan terus menghadang. Tercatat beberapa nama Kepala Desa yang pernah memimpin Desa Gunungjawa dari masa penjajahan Belanda sampai masa Bedol Desa. Luragung. tidak terkecuali di Gunungjawa yang notabene termasuk wilayah Ciwaru. Dahlan : 1946 (6 bulan) 6.Setelah penjajah Belanda terusir dari Tanah Air. beliau adalah Kyai Moch. antara lain penduduk Ibu Kota Kuningan. Padahal di Desa Gunungjawa puluhan bahkan ratusan rangka pejuang tak dikenal. dengan tetumbuhan lebat disekitarnya. Hal ini dibuktikan oleh warga masyarakat Gunungjawa yang terus menerus membangun desanya secara periodik dipimpin beberapa kuwu. sejak Kuwu H. H. Setelah menikah dengan Siti Khodijah beliau menjadi pengajar pendidikan Agama Islam di Pesantren bersama-sama dengan Ajengan Hulaemi. H. Gunungjawa digempur Belanda dan Gerombolan DI/TII Sebuah desa yang jauh dari kebisingan kota. Belanda melancarkan Agresi I. Gontang : Tahun 1865 2. yaitu: 1. Beliau menetap di Gunungjawa dan mempersunting putri Gunungjawa Siti Khodijah. tentunya harus diimbangi oleh semangat perjuangan membela tanah air dan adat keturunannya. Banyak korban berjatuhan dalam serangan itu. baik dari pihak rakyat maupun tentara. karena memang beliau adalah jebolan Pesantren Jombang. Pada tahun 1947 yang silam. Raksasuwita : 1920 . mereka (Kyai Zahid. putri pasangan suami-istri Mbah Jangkung Kertawijaya dan Hj. Siti Suryami. Suntana. tapi seluruh masyarakat Gunungjawa selalu sigap dan bersatu menghalau segala rintangan. dan Kyai Abdul Halim) kembali ke tempatnya masingmasing. Mereka gugur karena mempertahankan kemerdekaan. pasti lepas dari perhatian kalangan masyarakat khususnya pemuda. terletak di kaki Gunung Sukmana. Ciwaru dan Cibingbin. Baskat : 1947 (3 bulan) 7. Desa Gunungjawa dalam perjalanan menuju puncak kejayaan.1898 3.1946 5.1920 4. Jawa Timur. Serangan mendadak itu mengagetkan penduduk setempat. Wirya Atmaja : 1947 . Dikemudian hari beliau lebih dikenal dengan nama Kyai Badrun. ketika itu Belanda dengan persenjataan lengkap membombardir Kota Cirebon dan sekitarnya. Cakradinata : 1866 .

Yuwono Soedarsono). Tidak lama kemudian menderu-deru tiga buah kapal Bomber. Keputusan itu berdasarkan kesepakatan Dewan Pertahanan Keresidenan Cirebon dan Brigade V. yang tersisa hanya Markas Perwakilan Belanda yang berkedudukan di Desa Segong. Masyarakat Gunungjawa sangat gigih dalam mempertahankan kemerdekaan. Selain dari PI pasukan kelaskaran lainnya berdatangan seperti dari Divisi Bambu Runcing (BR) dari Yogyakarta dibawah pimpinan Kolonel Sutan Akbar. Pasukan yang pertama datang ke Ciwaru dan sekitarnya pada awal Agustus 1947 adalah pasukan kelaskaran yang dikenal dengan nama Pasukan Istimewa (PI) berkekuatan satu bataliyon dipimpin oleh Kapten Safei dan Letnan Said. juga rumah penduduk Gunungjawa dan sekitarnya yang disinyalir ditempati pasukan Hizbullah pimpinan Une dibombardir disertai peluru mitraliur. Justru sebaliknya perlawanan rakyat dan geriliyawan Hisbullah kian merajalela. Cileuya. karena memang daerah-daerah tersebut dinilai sebagai basis pejuang-pejuang Jawa Barat. Gubug-gubug persembunyian geriliyawan di hutan-hutan dan perbukitan. Mereka bertindak! Pada suatu hari melayang-layang sebuah kapal terbang tipe capung yang bertugas sebagai pengintai di atas hutan dan perbukitan sekitar wilayah desa Gunungjawa. Menyusul Pasukan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) dan kehadiran Bataliyon 400 tentara Pelajar Republik Indonesia (TRIP) pimpinan Salamun AT dan AF Wirasutisna ke wilayah Ciwaru dan sekitarnya serta mendapat sambutan masyarakat Gunungjawa. Kepolisian Karesidenan Cirebon. Selanjutnya ratusan pengungsi secara bergelombang berdatangan ke Ciwaru dan Gunungjawa.Serangan Belanda tersebut bukan tidak beralasan. Tapi tindakan kejam itu tidak mematahkan semangat perlawanan warga masyarakat. Selain Bandung apalagi Cirebon pertama kalinya diumumkan Kemerdekaan Indonesia oleh saudara Soedarsono (Ayah Prof. pada tanggal 16 Agustus di Desa waled-Cirebon. pasukan BR ini kebanyakan bermukim di Gunungjawa. Pabuaran dan Gunungjawa. yang sebelumnya merencanakan pengungsian itu ke daerah Bobos Mandirancan. Setelah mendapat serangan gencar terjadi pengungsian besarbesaran dari Cirebon ke Ciwaru dan Gunungjawa. Pada bulan Februari 1949 tentara Belanda ditarik dari wilayah Ciwaru. Pabuaran dan Ciwaru. Banyak pejuang dan rakyat menjadi korban tindakan diluar perikemanusiaan Militer Belanda. Gunungjawa saat itu banjir darah dan jerit tangis penduduk yang kehilangan sanak saudara dan tempat tinggal mereka luluh hancur dilumat bom dan peluru ganas. yang mendapat surat tugas resmi dari Jenderal Sudirman. dan tidak sedikit rakyat biasa turut mengungsi ke wilayah Ciwaru dan Gunungjawa. Belanda jengkel. tokoh masyarakat. baik Pegawai pemerintah. TNI . jiwa juang dan kepatuhan terhadap Pemerintah Republik Indonesia tak pernah tergoyahkan.

30 WIB (setelah sahalat Isya). dilakukan sekitar pukul 19. perkampungan Gunungjawa dan sekitarnya termasuk Ciwaru sebagai basis persembunyian para geriliyawan dihujani peluru Kanon yang ditembakan dari Luragung tidak kurang dari 150 butir. tanggal 22 November 1947. Berikut ini adalah nama-nama korban luka berat dan ringan pada waktu terjadinya penembakan Belanda disiang hari. maka jalur yang lewati melalui Desa Kaduagung . Jalur yang ditempuh TNI melalui jalur Cimara melalui perkampungan Indrakila (sekarang Indrahayu) dan Gunungjawa sebagian dari mereka ada yang melanjutkan perjalanan menuju Sumberjaya. tetapi justru diserang pula oleh gerombolan DI/TII. yang memiliki nilai histories tersendiri pada masa penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan. salah seorang warga yang menjadi saksi hidup saat itu terkena tembakan keganasan peluru Belanda yaitu Bapak Sarju (bapak Sahri). Gedung SR (Sekolah Rakyat) hancur lebur jadi sasaran.00 WIB Belanda kembali menghujani dengan tembakan kanon dari Cileuya. Akhirnya wilayah Gunungjawa. terutama desa Gunungjawa yang dianggap basis Hisbullah pimpinan Une. Tidak sedikit rakyat dan pejuang luka-luka berat maupun luka ringan. Diawali dengan melayanglayangnya sebuah kapal terbang tipe capung. kini giliran Desa Gunungjawa yang jadi sasaran. Gerombolan DI/TII sering menteror penduduk. bahkan tidak segan-segan mereka membunuh penduduk yang tidak mengikuti keinginannya. karena di Desa Segong masih ada Markas Belanda. Pada suatu siang hari pesawat terbang tipe capung kembali menghujani peluru dari atas Desa Gunungjawa. Sebenarnya mereka akan melanjutkan perjalanan ke daerah Cijambu Subang.lalu tembus ke Sumberjaya. rumah penduduk banyak yang hancur.Margacina . Pabuaran Getasan dan Ciwaru diduduki TNI Kompi Kusuma Negara pimpinan Kapten Mustofa Sudirja. tembakan kanon menghujani kampung Margacina. Sementara itu Belanda secara rutin mengadakan patroli ke desa-desa dan mengadakan penyergapan secara mendadak ke kampung-kampung yang dicurigai sebagai tempat persembunyian geriliyawan. Hal ini tercium oleh pihak Belanda. tidak puas dengan penyergapan Belanda beralih menghujani wilayah Gunungjawa dari arah Cileuya dengan tembakan kanon yang menghancurkan perkampungan penduduk. tak pelak lagi rumah Kuwu Baskat (Kepala Desa) pun jadi amukan gerombolan DI/TII yang ujung-ujungnya rumah tersebut dibakar . dan Bapak Waspi. Pukul 22. penduduk Gunungjawa tidak hanya menghadapi gempuran serdadu Belanda.secara bergelombang terus berdatangan dari Yogya. yaitu: Bapak Sajud. Gunungjawa salah satu desa dari 369 desa di Kabupaten Kuningan bagian Timur. penyergapan dilakukan dikala fajar menyingsing. tepatnya hari selasa. Ibu Suryi Istri Kuwu Dahlan.

. Perjuangan yang tidak pernah berhenti. terjadi konflik tiga dimensi antara tentara Hisbullah pimpinan Une. dilanjutkan dengan penjajah Jepang. sejak pergolakan penjajah Belanda. termasuk kegiatan pendidikan menjadi terlantar. bukan saja dari pihak-pihak konflik. harta benda. Jepang pergi muncul kembali Belanda untuk yang kedua kalinya. Suasana desa kian porak-poranda setelah gerombolan DI/TII membabi buta menteror perkampungan Gunungjawa. sejak Belanda pertama datang ke tanah air. kejadian tersebut berakibat terjadinya korban. dua rumah penduduk habis dibakar dan banyak penduduk yang tidak berdosa menjadi korban keganasan gerombolan. itulah Gunungjawa.habis dan ia meninggal pada tahun 1947. desa kecil ini terus mengalami tekanan dan gempuran hebat. walaupun tidak begitu lama tapi pergolakan Jepang tetap saja menelan korban. Itulah rumah kedua di Gunungjawa yang dibakar setelah rumah Bapak Eman. tetapi berimbas kepada penduduk. Akibatnya banyak menelan korban jiwa. TNI dengan gerombolan DI/TII Pimpinan Karto Soewiryo.

tak terkecuali keberadaan pesantrenpun otomatis bubar. Banyak diantara mereka yang harus relakehilangan tempat tinggal. dan Sastradinata. Getasan. Abah Jusa. Cileuya. Suntana (Kyai Bandrun). akhirnya pada tanggal 3 Agustus 1951 masyarakat Gunungjawa mulai berkumpul ditempat yang baru. untuk kemudian melaksanakan rapat lanjutan sebagai tindaklanjut Musyawarah Getasan yang bertempat di Balai Desa sekitar pukul 10. di tanah bengkok perangkat desa dengan status tanah hak pakai. ada yang mengungsi ke Kaduagung. perkampungan yang sudah tidak lagi aman. Nata Sukatma. sanak saudara dan meninggalkan desa tercinta. sulit mencari pencaharian.GUNUNGJAWA CIKAL-BAKAL DESA KARANGKANCANA A. Disebarkanlah pengumuman keseluruh masyarakat Gunungjawa yang saat itu menyebar diluar desa untuk kembali ke Gunungjawa. ada pula diantara mereka yang mengungsi ke kota Kuningan. sungguh sebuah desa yang mencekam dan menakutkan. Pengorbanan yang patut diteladani Untuk meresmikan perpindahan warga tersebut. inilah akhir kehidupan Pesantren Gunungjawa (tanggal 4 Oktober 1949) Atas dasar perikemanusiaan dan rasa tanggungjawab yang tinggi. karena tidak ada lagi yang menetap disana. maka pada tanggal 30 Juni 1952 para tokoh masyarakat Desa Gunungjawa diantaranya: Wirya Atmaja. penduduk dihantui rasa takut jika menjelang petang. Tak elak lagi keberadaan Gunungjawa menjadi sebuah desa yang sepi dan mati. B. setelah instruksi dikeluarkan banyak diantara mereka yang mengungsi. Moh. kehidupan masyarakat yang semakin terancam. harta benda. Ciwaru. bahkan tidak sedikit diantara warga masyarakat Desa Gunungjawa mengungsi ke daerah Luragung dan sekitarnya khususnya di Kampung Situ Luragung. Pabuaran. pendidikan anak-anak terlantar. Kondisi seperti itu rupanya membuat seorang tokoh merasa terpanggil untuk mencari solusi dan segera keluar dari kemelut yang terus menjerat penduduknya Maka pada tanggal 14 September 1949 Kepala Desa Gunungjawa (Wirya Atmaja) membuat kebijakan cermat dan tepat ia memberikan ultimatum menginstruksikan kepada seluruh penduduk Desa Gunungjawa untukmelakukan evakuasi ke daerah yang dianggap aman.00 untuk . dan Yusuf mengadakan kumpulan (musyawarah) di Kampung Getasan. maka Kepala Desa Gunungjawa Wirya Atmaja menghimpun kembali masyarakatnya. Perpindahan Karangkancana dan Pergantian Nama Desa Gunungjawa ke Keadaan desa yang porak-poranda. tidak tampak lagi penduduk yang berada di sana.

5. 4. Banjaran dan Jabranti/Situ wetan) ke tempat lain yang lebih aman. Mengganti nama desa Gunungjawa dengan nama desa yang baru.79/GDB/UD/54. Secara resmi SK Gubernur Jawa Barat terbit tanggal 28 Juli 1954 dengan SK Nomor: 1217/17-K/Reg. Pemindahan dimaksud dilakukan dengan alasan di Desa Gunungjawa seringkali didatangi gerombolan DI/TII pengacau keamanan yang selalu mengadakan berbagai tekanan kepada warga masyarakat. selain itu sering pula terjadi pertempuran-pertempuran yang dahsyat antara TNI dengan gerombolan DI/TII. perangkat desa rela melepas bengkoknya demi kepentingan yang lebih besar dan mulia. Dengan terbitnya SK Gubernur tersebut maka Gunungjawa telah berubah menjadi wajah baru dan nama yang baru pula. menyatakan kehendak warga. sehingga warga masyarakat merasa tidak aman dan banyak yang mengungsi ke tampat lain. Pada tanggal 30 Juli 1952 Kepala Desa Wirya Atmaja mengajukan surat permohonan kepada Gubernur Jawa Barat melalui Bupati Daerah Kuningan dengan melampirkan hasil pernyataan kehendak warga tersebut diatas. (Sumber: Catatan Harian Bpk. Mengajukan perubahan status tanah bengkok dari tanah hak pakai menjadi tanah hak milik warga masyarakat. . karena hanya itulah jalan yang terbaik bagi warganya. Sebuah pengorbanan yang patut diteladani. dengan isi pernyataan sebagai berikut: Memindahkan kedudukan ibukota desa Gunungjawa beserta 3 buah kampung lainnya (Margacina. dan permohonan Pergantian nama desa menjadi sebutan baru:KARANGKANCANA”. 2. yaitu Desa Karangkancana yang berada tepat sebelah barat dari tempat desa yang lama. yaitu “Karangkancana”. 3. Pemindahan tempat kedudukan desa Gunungjawa ke tempat baru tersebut dalam kenyataannya telah dilakukan sejak tanggal 3 Agustus 1951. Tempat baru yang dimaksud pada poin satu yaitu sebidang tanah bengkok yang berlokasi berada di sebelah Barat Desa Gunungjawa. dan hanya disanalah tempat yang dipandang aman untuk sebuah pemukiman penduduk. yaitu tempat tinggal penduduk. Wirya Atmaja) Pernyataan tersebut sebagai dasar untuk mengajukan permohonan kepada Gubernur Jawa Barat melalui Bupati Daerah Kuningan tentang “Pemindahan tempat kedudukan Desa Gunungjawa Kecamatan Ciwaru. 6.1.

Desa Karangkancana masa sekarang (Capture Google Earth) Tempat baru bekas sawah bengkok perangkat desa tersebut menjadi sebuah pemukiman baru dengan nama desa “KARANGKANCANA”. mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban Dunia yang berdasarkan Kemerdekaan.com/2011/10/sejarah-berdirinya-desakarangkancana.html Motto Juang : "Karangkancana Nanjeur Geusan Kertaraharja" Sekilas Pandang Kecamatan Karangkancana I. Untuk terwujudnya harapam itu tentunya kita selaku perangkat daerah yang berada dilini terdepan perlu memprogramkan seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan dalam bentuk memfasilitasi seluruh kegiatan terutama yang akan dilaksanakan diseluruh wilayah kecamatan Karangkancana sehingga harapan masyarakat . Perdamaian Abadi. oleh karena itu diperlukan penanganan permasalahan yang lebih serius dan akurat serta dilakukan dengan sistematika yang tepat.blogspot. dan Keadilan Sosial” maka Kecamatan Karangkancana dalam era otonomi daerah ini dihadapkan kepada berbagai masalah yang komplek terutama masalah pembangunan. http://mimuhammadiyahsegong. LATAR BELAKANG Dalam rangka melaksanakan amat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 alinea ke empat yang berbunyi : “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. (Kampung Halaman yang Bertaburkan Emas)”.

Perekonomian. Sebagai gambaran dalam melaksanakan program dapat dijabarkan bahwa Jarak Kecamatan Karangkancana ± 35 Km dari Ibu Kota Kabupaten dengan Luas Wilayah ± 5. Desa Tanjungkerta 7. Desa Jabranti 6. Tentang Kewenangan Camat dalam Kabupaten Kuningan. dan Kesejahteraan Rakyat mengacu pada penerapan Otonomi Daerah dengan Keputusan Bupati Kuningan Nomor : 131/Kep.439. 32. Adapun batas-batas Kecamatan Karangkancana adalah sebagai berikut : • • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Cimahi Kabupaten Kuningan Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cibingbin dan Kab. Brebes Jawa Tengah. Desa Karangkancana 2. Pembangunan. Ketentraman dan Ketertiban. Tahun 2004.15/2002 Tanggal 05 Mei 2002. yang terdiri dari : 1. 08.696 Ha. Desa Simpayjaya Sesuai pelaksanaan PP No. Desa Segong 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ciamis Jawa Barat dan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah Sebelah Barat Berbatasan dengan Kecamatan Ciwaru dan Luragung • • Dalam wilayah Kecamatan Karangkancana terdiri dari 9 (Sembilan)Desa. Desa Margacina 5. Sebagaimana kita maklumi bahwa Undang-undang No. Tentang Pemerintah Daerah bahwa Kecamatan merupakan Perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh seorang Kepala Kecamatan yaitu Camat. Desa Cihanjaro 9. Desa Kaduagung 3. Dengan Implementasi Undang-undang tersebut pelaksanaan tugas-tugas bidang Pemerintahan. Desa Sukasari 8. Tahun 2003. dalam Peraturan Bupati Kuningan Nomor : 4 Tahun 2005 yang meliputi 45 Kewenangan Camat. Dijelaskan pula bahwa Camat sebagai Unsur Pelaksana Wilayah Pemerintah Daerah.secara bertahap akan terwujud. di Kecamatan Karangkancana hanya ada Tujuh UPTD/Dinas/ Instansi yaitu : .

4. mencerdaskan . Tahun 2004. Sekretariat Korpri Kecamatan 7.1. Kantor Urusan Agama (KUA) II. 32. Keputusan menteri dalam Negeri nomor 48 tahun 2000 tentang Pedoman Tata Naskah Dinasdilingkungan Pemerintah kabupaten Kota. Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 41 tahun 2002 tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak Tulis. III. Tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat. 7. UPTD Pendidikan SD 2. 8. 2. 3. 9. 6.Peraturan Bupati Kuningan Nomor 4 tahun 2005 tentang Kewenangan Camat dalam Kabupaten Kuningan. KEBIJAKAN UMUM Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan Pembangunan Nasional adalah sebagiman tercantum dalam alinei ke 4 UUD’45 yaitu : “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia dan Untuk memajukan Kesejahteraan Umum. Undang-undang Nomor : 14 Tahun 1950. UPTD SMP 4. Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor : 01. Kependudukan. Undang-undang No 18 tahun 1997 tentang pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dan Keluarga Berencana 6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 158. Tahun 2002. Tahun 2004. UPTD Puskesmas 3. Tahun 2005. UPTD Pertanian 5. Tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor : 01. Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2001 tentang Retribusi daerah (Lembaran Negara republic Indonesia tahun 2001 nomor 119) 5. 10. UPTD Catatan Sipil. Tentang Kewenangan Daerah. Undang-undang No. Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan. Tentang Pedoman Organisasi Kecamatan. DASAR HUKUM 1.

kesehatan dan daya beli.kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban Dunia yang berdasarkan Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial”. ARAH KEBIJAKAN Dalam pelaksanaan tugas-tugasnya Camat Karangkancana tidak terlepas dari arah kebijakan yang telah ditetapkan yaitu mengacu pada Tugas Pokok dan Fungsi. Sedangkan misi Kabupaten Kuningan adalan sebagai berikut : • • Meningkatkan kwalitas Sumber daya Manusia melalui peningkatan derajat pendidikan. Meningkatkan kehidupan masyarakat yang tertib dan agamis. tidak stabilnya kondisi perekonomian. Kewenangan yang dilimpahkan oleh Bupati Dan Rencana Strategis (RENSTRA) SKPD Kecamatan Karangkancana. Kebijakan secara teknis operasional Kecamatan karangkancana lebih menitik beratkan pada Pencapaian Visi dan Misi Kabupaten Kuningan yaitu : “TERWUJUDNYA MASYARAKAT YANG SEJAHTERA BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL DALAM LINGKUNGAN YANG LESTARI DAN AGAMIS TAHUN 2013”. • • IV. Mengembangkan potensi pertanian dan pariwisata lokal dalam pemberdayaan perekonomian masyarakat. Meningkatkan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam menunjang Kabupaten konservasi. Dalam pencapaian tujuan pembangunan Nasional yang dilaksanakan dalam semua Bidang pada kenyataannya dihadapkan pada berbagai masalah yang komplek dan mengangkat berbagai aspek vital yang mengakibatkan terhambatnya jalannya pembangunan seperti menurunnya Stabilitas Nasional. Bila dilihat dari Visi dan Misi Kecamatan Karangkancana telah sangat jelas dan gamblang bahwa peningkatan tarap perekonomian Masyarakat menjadi faktor utama untuk ditingkatkan . Dalam Pelaksanaan Program Kerja Kecamatan Karangkancana dilandaskan pada Kebijaksanaan Umum Anggaran (KUA) sebagaiman dituangkan dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK). menurunnya daya Beli serta krisis Kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemerintahan yang merupakan pelayan masyarakat.

439. Kode Pos 45584 .blogspot. Sehingga pelaku usaha terutama petani diharapkan dapat memberdayakan hasil usahanya melalui Proses Tanam.html Merupakan sebuah Kecamatan yang berada disebelah Timur Kabupaten Kuningan dengan Jarak ± 35 Km dari Ibu Kota Kabupaten. 2. http://karangkancana. 3. 4. Meningkatkan kehidupan masyarakat yang tertib dan agamis. dengan Luas Wilayah ± 5.melaui pengembangan Usaha Kecil (MIKRO) dengan memanfaatkan Sumber Daya Lokal. Meningkatkan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam menunjang Kabupaten konservasi. kesehatan dan daya beli. Olah. Berdasarkan Renstra yang telah di buat untuk kurun waktu selam lima tahun (tahun 2009 s/d 2013) telah dirumuskan arah kebijaksanaan SKPD Kecamatan Karangkancana sebagai berikut : 1.696 Ha http://www. Karangkancana : Alamat : Jalan Raya Sebelas April Nomor : 79 Karangkancana. jual (TPOJ). Petik.com/profile/06888515673255223174 Sekretariat Kantor Kec. Mengembangkan potensi pertanian dan pariwisata local dalam pemberdayaan perekonomian masyarakat. Meningkatkan kwalitas Sumber daya Manusia melalui peningkatan derajat pendidikan.com/2010/06/sekilas-pandang-kecamatankarangkancana.blogger.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful