P. 1
MAKALAH JIWA

MAKALAH JIWA

|Views: 86|Likes:
Published by BaFer Mancunian
MAKALAH JIWA
MAKALAH JIWA

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: BaFer Mancunian on May 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2013

pdf

text

original

Jumat, 11 November 2011

asuhan keperawatan gangguan jiwa pada usia lanjut
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keperawatan geriatrik adalah cabang keperawatan yang memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan psikologis pada lanjut usia dan dengan meningkatkan umur panjang. Pelayanan/ asuhan keperawatan gangguan mental pada lanjut usia memerlukan pengetahuan khusus karena kemungkinan perbedaan dalam manifestasi klinis, patogenesis, dan patofisiologi gangguan mental antara dewasa muda dan lanjut usia. Faktor penyulit pada pasien lanjut usia juga perlu dipertimbangkan; faktor-faktor tersebut adalah sering adanya penyakit dan kecacatan medis penyerta, pemakaian banyak medikasi, dan peningkatan kerentanan terhadap gangguan kognitif. Program Epoidiomological Catchment Area (ECA) dari National Institute of Mental Health telah menemukan bahwa gangguan mkental yang paling sering pada lanjut usia adalah gangguan depresif, gangguan kognitif, fobia, dan gangguan pemakaian alkohol. Lanjut usia juga memiliki resiko tinggi untuk bunuh diri dan gejala psikiatrik akibat obat. Banyak gangguan mental pada lanjut usia dapat dicegah, dihilangkan, atau bahkan dipulihkan. Sejumlah faktor resiko psikososial juga mempredis[osisiskan lanjut usia kepada gangguan mental. Faktor resiko tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian teman, atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi, keterbatasan finansial, dan penurunan fungsi kognitif. Saat ini sudah dapat diperkirakan bahwa 4 juta lansia di Amerika mengalami gangguan kejiwaan seperti demensia, psikosis, Penggunaan alcohol kronik, atau kondisi lainnya. Hal ini menyebabkan perawat dan tenaga kesehatan professional yang lain memiliki tanggung jawab yang lebih untuk merawat lansia dengan masalah kesehatan jiwa dan emosi. Kesehatan mental pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti status fisiologi dan psikologi, kepribadian, sosial support, sosial ekonomi dan pola hidup. DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut : 1. kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54 th) sebagai masa VIRILITAS 2. kelompok usia lanjut (55 – 64 th) sebagai masa PRESENIUM 3. kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu : 1. Usia lanjut : 60 – 74 tahun 2. Usia Tua : 75 – 89 tahun 3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun 1.2. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan umum Untuk dapat memahami tentang Asuhan Keperawatan klien dengan kehilangan dan berduka disfungsional. 2. Tujuan khusus a. Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang Jenis – jenis kehilangan b. Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang konsep dan teori dari proses berduka c. Mahasiswa dapat menjelaskan faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan. 1.3. METODE PENULISAN

1.

Metode penulisan. Didalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakan metode deskripsi. 2. Tekhnik penulisan. a. Metode observasi Yaitu bentuknya langsung yang diajukan pada narasumber terhadap permasalahan yang akan di bahas b. Metode perpustakaan Yaitu diambil dari buku : Stuart & Sundeen. 1995. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Fifth Edition. United State of America : Mosby. Carpenito, L. “ Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis”, Edisi ke-6, EGC, Jakarta, 2000. Nugroho, Wahjudi. “Keperawatan Gerontik”, Edisi ke-2, EGC, Jakarta 2000. Leeckenotte, Annete Glesler. “Pengkajian Gerontologi”, Edisi ke-2, EGC, Jakarta, 1997. Watson, Roger. “Perawatan Lansia”, Edisi ke-3, EGC, Jakarta 2003. 1.4. SISTEMATIKA PENULISAN Adapun sistematika penulisan Makalah Asuhan Keperawatan ini terdiri dari 4 bab, yang mana dari perbab dan isi dalam bab tersebut diuraikan sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN Bab yang memberikan gambaran awal dari Makalah Asuhan Keperawatan yang berisikan: latar belakang, tujuan, metode penulisan, sistematika penulisan BAB II : TINJAUAN TEORITIS
Teori-teori tentang Kehilangan : definisi, tipe kehilangan, jenis – jenis kehilangan, rentan respon kehilangan. Berduka : definisi, Teori dan proses berduka, BAB III : ASKEP BERDUKA DISFUNGSIONAL Asuhan keperawatan berduka disfungsional terdiri dari : Pengkajian, Diagnosa keperawatan, batas karakteristik, sasaran, intervensi dengan rasional tertentu,serta hasil pasien yang diharapkan.

BAB IV

: PENUTUP Berisikan kesimpulan dan saran

BAB II KONSEP DASAR USIA LANJUT 2.1 Proses Penuaan Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Walaupun proses penuaan benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya proses ini menjadi beban bagi orang lain dibadingkan dengan proses lain yang terjadi. Perawat yang akan merawat lansia harus mengerti sesuatu tentang aspek penuaan yang normal dan tidak normal Penuaan Primer : Perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti DNA/RNA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA tidak lagi mampu mengambil oksigen, sehingga membran sel menjadi kisut dan akibat kurang mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan imunologi dan mudah terjadi infeksi. Penuaan Skunder : Proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis dan sosial . Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah: terjadi dalam sel seperti: Perubahan Mikro Berkurangnya cairan dalam sel Berkurangnya besarnya sel Bekurangnya jumlah sel Perubahan Makro adalah perubahan yang jelas terlihat seperti : Mengecilnya mandibula Menipisnya discus intervertebralis Erosi permukaan sendi-sendi Osteoporosis Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak tetapi kemampuannya menurun) Emphysema Pulmonum Presbyopi Arterosklerosis Manopause pada wanita Demintia senilis Kulit tidak elastic Rambut memutih Teori Penuaan Gerontologis tidak setuju tentang adaptasi penuaan. Tidak ada satu teoripun dapat memasukan semua variable yang menyebabkan penuaan dan respon individu terhadap hal itu. Secara garis besar teori penuaan dibagi menjadi teori biologis, teori psikologis, dan teori sosiokultural. Teori Biologis Biological Programming Theory Teori program biologis merupakan suatu proses sepanjang kehidupan sel yang terjadi sesuai dengan sel itu sendiri. Teori waktu kehiduan makhluk memperlihatkan adanya kemunduran biologis, kognitif, dan fungsi psikomotor yang tidak dapat dihindari dan diperbaiki, walaupun perubahan diet atau hipotermi dalam waktu yang lama dapat menunda proses tersebut.

2.1.1

2.1.2

2.1.2.1    2.1.2.2             2.2.

2.2.1 a.

The Family in Later Life Teori keluarga berfokus pada keluarga sebagai unti dasar perkembangan emosi seseorang. 2. Stres dapat mempengaruhi kemampuan penerimaan seseorang. b. infeksi. Erikson’s Stage of Ego Integrity Teori Erikson tentang perkembangan manusia mengidentifikasi tugas yang harus dicapai pada setiap tahap kehidupan. sosial dan ekonomi. Mayoritas lansia pada studi ini memperlihatkan adaptasi yang efektif terhadap kebutuhan ini. Jika ini tidak tercapai maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan.3.b. Masalah-masalah yang berkaitan dengan penuaan merupakan hasil dari akumulasi stres. melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan proses yang normal berkaitan dengan pendekatan terhadap kematian. Reintegrasi yang sukses dapat memberikan arti dalam kehidupan dan mempersiapkan seseorang untuk mati tanpa disertai dengan kecemasan dan rasa takut. Tugas terakhir. Stres sering di asumsikan dapat mempercepat proses penuaan. Life Review Theory Pada lansia. gangguan metabolik dan imunologi. ini diidentifikasi sebagai integritas ego. 2. c. stres menstimulasi seseorang untuk melakukan sesuatu yang baru. Terdapat stereotype yang kuat dari teori ini termasuk ide bahwa lansia merasa nyaman bila berhubungan dengan orang lain seusianya. perilaku dan situasi membutuhkan respon tingkah laku yang baru. Sebagai efek positif. Para peneliti menemukan bahwa periode krisis psikologis pada saat dewasa tidak akan terjadi pada interval regular.2. Teori Sosiokultural a. .2. berhubungan dengan refleksi tentang kehidupan seseorang dan pencapaiannya. a. luka. Teori ini memperlihatkan efek positif dari aktivitas terhadap kepribadian lansia. Efek negatif dari stres bisa menjadi ketidakmampuan fungsi karena perasaan yang terlalu berlebihan. Teori psikologis. Hasil diskusi terakhir tentang proses ini menemukan bahwa melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan salah satu strategi untuk merawat masalah kesehatan jiwa pada lansia. Hal ini dapat berakibat sakit atau injuri.2. Activity Theory Teori aktivitas berpendapat bahwa penuaan harus disertai dengan keaktifan beraktifitas sebisa mungkin. dan perlakuan kasar yang lama. Wear and Tear Theory Teori wear and tear ini menyatakan bahwa perubahan struktur dan fungsi dapat dipercepat oleh perlakuan kejam dan diprlambat oleh perawatan.Konsep penuaan ini memperlihatkan penerimaan terhadap mitos dan stereotif penuaan. Stress-Adaptasi Theory Teori adaptasi stres ini menegaskan efek positif dan negatif dari stres pada perkembangan biopsikososial. psikologis. kesehatan jiwa. c. baik secara fisiologi. Disengagement Theory Postulat pada teori ini menyatakan bahwa lansia dan penarikan diri dari lingkungan sosial merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. b. Stability of Personality Perubahan kepribadian secara radikal pada lansia dapat mengakibatkan penyakit otak. Perubahan peran. c. nutrisi yang tidak adekuat. dan kepuasan dalam hidup. Teori ini berpendapat bahwa pusat proses siklus kehidupan adalah perubahan sistem hubungan dengan orang lain untuk medukung fungsi masuk. trauma. jalan adaptasi yang lebih efektif. keluar dan perkembangan anggota keluarga.

BAB III JENIS-JENIS GANGGUAN JIWA PADA USIA LANJUT 3. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas. Gangguan skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran sehingga pasien memiliki pikiran yang kacau.1 Skizofrenia Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik. Parafrenia lambat (late paraphrenia) digunakan oleh para ahli di Eropa untuk pasien-pasien yang memiliki gejala paranoid tanpa gejala demensia atau delirium serta terdapat gejala waham dan halusinasi yang berbeda dari gangguan afektif. paranoid dan skizofrenia. yang disertai halusinasi.Kes. emosi. bingung. Ganguan skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras. Hal itu bersumber dari kenyataan yang terjadi pada lansia bahwa terdapat hubungan yang erat antara gangguan parafrenia. Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep. sehingga penderita menjadi tak tahu waktu.Gejala fisik. dan sosial dipercaya merupakan repleksi dari masalah negosiasi dan transisi pada siklus kehidupan keluarga. tempat maupun orang. Terjadi juga gangguan perilaku. psikologis dan sosialbudaya.1992) Banyak pembahasan yang telah dikeluarkan para ahli sehubungan dengan timbulnya skizofrenia pada lanjut usia (lansia). waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita. mudah marah. atau mendengar dua orang . mudah salah faham dan sebagainya.

dsb) 3) Skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil. Sulitnya dalam pelayanan keluarga. Faktor penyebabnya dapat disebabkan oleh kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau lama mengalami penderitaan. Lebih sering terjadi pada wanita dengan kepribadian pramorbidnya (keadaan sebelum sakit) dengan ciri-ciri paranoid (curiga. Gangguan afektif ini antara lain: 1) Gangguan Afektif tipe Depresif Gangguan ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas (reality . Gangguan ini paling banyak dijumpai pada usia pertengahan. gangguan skizofrenia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia paranoid. (misalnya pada waktu menopause pada wanita). jika punya sedikit itupun sulit mengasuhnya sehingga anaknyapun tak bahagia dan biasanya secara khronik terdapat gangguan pendengaran. namun memiliki dorongan yang kuat untuk sedih dan tersisih. bermusuhan) dan skizoid (aneh. merengek-rengek. Umumnya banyak terjadi pada wanita dari kelas sosial rendah atau lebih rendah. Gejala gangguan afektif tipe depresif adalah sedih. bermusuhan. bersikap bermusuhan. Parafrenia merupkan gangguan jiwa yang gawat yang pertama kali timbul pada lanjut usia (lansia). para lansia dengan gangguan kejiwaan tersebut menjadi kurang terurus karena perangainya dan tingkahlakunya yang tidak menyenangkan orang lain.2. akan tetapi diatas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang. Mereka biasanya tidak menikah atau hidup perkawinan dan sexual yang kurang bahagia. pada umur 40 . dsb) 4) Skizofrenia simplek (seperti gelandangan. Pada depresi psikotik. Gangguan ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia paranoid di satu pihak dan gangguan depresif di pihak lain. Beberapa pandangan menganggap bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe Neurotik dan Psikotik. simplek dan latent. tidak mau minum. seperti curiga berlebihan. galak. melalui pemeriksaan psikiatrik maupun pemeriksaan lain yang diperlukan. Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa menopause. 3. yang berarti fungsi seksual mengalami penurunan karena sudah tidak produktif lagi. Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe. walaupun sebenarnya tidak harus begitu. Pada tipe neurotik kesadaran pasien tetap baik. tidak mau makan. Karena banyaknya gangguan paranoid pada lanjut usia (lansia) maka banyak ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut termasuk dalam kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan menjadi senile psikosis. sukar tidur. karena kebutuhan biologis sebenarnya selama orang masih sehat dan masih memerlukan tidak ada salahnya bila dijalankan terus secara wajar dan teratur tanpa menggangu kesehatannya. sulit berkonsentrasi. Dalam kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan tinggkat kesadaran pasien (penderita). bosan hidup dan kadang-kadang ingin bunuh diri. yaitu : 1) Skizofrenia paranoid (curiga.atau lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga. dan kadangkadang baik pria maupun wanita perilaku seksualnya sangat menonjol walaupun dalam bentuk perkataan yang konotasinya jorok dan porno (walaupun tidak selalu). kluyuran) 5) Skizofrenia Latent (autustik. jalan terus. Gangguan Jiwa Afektif Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. Pada usia perttangahan tersebut prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki. bizar). garang dsb) 2) Skizofrenia katatonik (seperti patung. merasa dirinya tak berharga. minta-minta.50 tahun dan kondisinya makin buruk pada lanjut usia (lansia). seperti gembel) Pada umumya.

bila satu keluhannya diobati yang mungkin segera hilang. marah-marah. Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan. ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas untuk mandi. tempat. Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. Secara umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) Neurosis cemas dan panic 2) Neurosis obsesif kompulsif 3) Neurosis fobik 4) Neurosis histerik (konversi) 5) Gangguan somatoform 6) Hipokondriasis. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya. dsb. murung. Kondisi ini jika dituruti terus maka ia akan terus-menerus minta diperiksa dokter. aktif. Pada lansia yang menderita hipokondriasis penyakit yang menjadi keluhannya sering berganti-ganti. 1) Gangguan disosiatif 2) Gangguan depersonalisasi 3) Gangguan distimik 4) Gangguan stres pasca trauma. pasien menunjukkan keadaan gembira yang tinggi. tak ada rasa takut. namun tak lama kemudia menjadi sedih. 3. suatu ketika pasien menjadi eforia. pidato berapi-api. namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional. Pasien dengan keadaan ini sering mengeluh bahwa dirinya sakit. dan lainnya. Kondisi ini lebih jarang terjadi dari pada tipe depresi. alat kemih/kelamin. serta tidak dapat diobati. Keluhannya sering menyangkut alat tubuh seperti alat pencernaan. menangis tersedu-sedu yang sulit dimengerti. jantung dan pembuluh darah.testing ability) ikut terganggu dan berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat mengenali orang. Kondisi semacam ini kadang-kadang silih berganti. cenderung berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu yang melampaui batas kemampuannya. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali. pembicaraan menjadi tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak. ia mengeluh sakit yang lain. Kepribadiannya tetap utuh. Dalam keadaan Manik.3. Neurosis Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). . riang gembira. sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia). maupun waktu atau menjadi seseorang yang tak tahu malu. 2) Gangguan Afektif tipe Manik Gangguan ini sering timbul secara bergantian pada pasien yang mengalami gangguan afektif tipe depresi sehingga terjadi suatu siklus yang disebut gangguan afektif tipe Manik Depresif. Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lanjut usia (lansia). secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik. namun bagi orang neurosis obsesive untuk mandi. belum habis obat untuk penyakit yang satu sudah minta diperiksa dokter untuk penyakit yang lain.

Data yang dihasilkan dari wawancara pengkajian harus dievaluasi dengan cermat. Diagnosa keperawatan didasarkan pada hasil observasi pada perilaku pasien dan berhubungan dengan kebutuhan. duduk dan menyentuk pasien. berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal. nutrisi atau tingkat cemas. Kursi harus dibuat senyaman mungkin. c. merasa terancam dan bingung di tempat yang baru atau dengan tekanan. Pengkajian perawatan total dapat mengidentifikasi gangguan primer. Wawancara Hubungan yang penuh dengan dukungan dan rasa percaya sangat penting untuk wawancara yang positif kepada pasien lansia. Melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan sumber data yang baik untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan sumber dukungan. psikologis. Lansia mungkin merasa kesulitan. Pengkajian Pasien Lansia Pengkajian pasien lansia menyangkut beberapa aspek yaitu biologis. Lingkungan harus dibuat nyaman. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi. Lingkungan yang nyaman akan membantu pasien tenang dan focus terhadap pembicaraan. Lingkuangan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan. d. Perawat harus memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara dan faktor lain yang dapat mempengaruhi status. dan sosiokultural yang beruhubungan dengan proses penuaan yang terkadang membuat kesulitan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab.1. . Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan atau protocol wawancara pengkajian.BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA USIA LANJUT 4. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung. seperti pengobatan media. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya. Hal ini dapat meningkatkan kecemasan dan stres pasien karena kekurangan informasi. Setting wawancara Tempat yang baru dan asing akan membuat pasien merasa cemas dan takut. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir abstrak. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada. Fungsi Kognitif a. Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien. b.

perawat harus mengidentifikasi adanya kehilangan fungsi motorik. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan depresi diantaranya gangguan tiroid. partisipasi dalam aktifitas penting. kepala. pengkajian harus dilengkapi dengan kondisi lingkungan rumah. h. khususnya pada leher. Dibawah ini merupakan aspek-aspek dalam pengkajian fungsional yang memiliki dampak kuat pada status jiwa dan emosi. Hal ini menjadi modal pada faktor lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan pada lansia. Dalam mengkaji ambulasi . dan mamalihara hubungan dengan orang lain. Frekuensi adanya masalah kesehatan fisik dengan confusion. e. termasuk steroid. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi ADL setiap waktu. Ketika terjadi perubahan perilaku. Mobilisasi Pergerakan dan kebebasan sangat penting untuk persepsi kesehatan pribadi lansia. dan stroke. Perubahan perilaku merupakan gejala pertama dalam beberapa gangguan fisik dan mental. dan antihypertensive. pancreas. Kemampuan fungsi Activities of Daily Living Pengkajian kebutuhan perawatan diri sehari-hari (ADL) sangat penting dalam menentukan kemampuan pasien untuk bebas. ini sangat penting untuk dianalisis. kanker. Respon Perilaku Pengkajian perilaku merupakan dasar yang paling penting dalam perencanaan keperawatan pada lansia. Status mental menjadi bagian dari pengkajian kesehatan jiwa lansia karena beberapa hal termasuk : Peningkatan prevalensi demensia dengan usia. hubungan seksual. g. paranoia. Hal ini sangat penting dalam untuk membantu pasien untuk mandiri sebagaimana penampilan pasien dalam menjalankan ADL. Status Afektif Status afektif merupakan pengkajian geropsikiatrik yang penting. Beberapa pengobatan da[at meningkatkan angka kejadian depresi. i. benzodiazepines.1. toileting. The Katz Indeks Angka Katz indeks dependen dibandingkan dengan independen untuk setiap ADL seperti mandi. berpakaian. f. Pengkajian tingkah laku termasuk kedalam mendefinisikan tingkah laku. 2. Gejala lain pada lansia termasuk kehilangan berat badan. Phenothiazines. berpindah tempat . dan aktifitas toilet) merupakan tugas dasar. Hal yang harus dikaji adalah kemampuan lansia untuk berpindah di lingkungan. Kebutuhan termasuk skala depresi. Sakit fisik dapat menyebabkan depresi sekunder. . Adanya gejala klinik confusion dan depresi. Seseorang yang sedang sakit. khususnya kanker lambung. makan. dan makan. ADL ( mandi. Kebutuhan untuk mengidentifikasi area khusus kekuatan dan keterbatasan kognitif . frekuensinya. dan otak. j. 3. adaptasi yang dilakukan. yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi. serta jumlah dan tipe pertolongan yang dibutuhkan. durasi. Jika mungkin. punggung atau perut dengan sejarah penyebab fisik. penyakit Parkinson. berpakaian. distress gastrointestinal dan menolak untuk makan atau minum dengan konsekuensi perawatan selama kehidupan. dan faktor presipitasi atau triggers. kelelahan. Skala Depresi Lansia merupakan ukuran yang sangat reliable dan valid untuk mengukur depresi. Kemampuan fungsional Pengkajian fungsional pada pasien lansia bukan batasan indokator dalam kesehatan jiwa. 4.

funksi. Perencanaan dan intervensi Hasil yang diharapkan berhubungan dengan perawatan lansia harus relistik berdasarkan perubahan yang potensial. ukuran porsi. Keluarga dan teman dapat membantu dalam mengurangi shock dan stres di rumah sakit. Contohnya tujuan yang ingin dicapai pada pasien dengan depresi yang bermasalah dalam personal hygiene : Pasien dapat mandi. Kebanyakan lansia memiliki waktu yang terbatas untuk berhubungan dengn anaknya. adanya deficit sensori. Pengobatan Medis Empat faktor lansia yang beresiko untuk keracunan obat dan harus dikaji yaitu usia. Perawat harus secara rutin mengevaluasi kebutuhan diet pasien. 4. lumbal.1.3. penurunan angka kelahiran.Keluarga Peningkatan harapan hidup. Prosedur diagnostic yang dilakukan diantaranya EEG. Diskusi kelompok dapat membantu pasien fokus pada topik. khususnya untuk pasien lansia. nilai kimia darah. dan tingginya harapan hidup untuk semua wanita yang berakibat pada kemampuan keluarga untuk berpartisipasi dalam pemberian perawatan dan dukungan kepada lansia. p. n. Diagnosa Diagnosa yang di gunakan ialah diagnose tunggal. Dukungan Sosial Dukungan positif sangat penting untuk memelihara perasaan sejahtera sepanjang kehidupan. nutrisi dan pengobatan medis juga harus dikaji.2. Perawat harus mengkaji dukungan sosial pasien yang ada di lingkungan rumah. CT Scan dan MRI. l. dan menyikat gigi secara mandiri 4. komplikasi pengobatan. Nutrisi Beberapa pasien lansia membutuhkan bantuan untuk makan atau rencana nutrisi diet.k. komorbiditas. o. Penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya lainnya oleh seseorang akan menyebabkan jarak dari rasa sakit seperti kehilangan dan kesepian. atau di tempat pelayanan kesehatan lainnya. dan frekuensi tingkah laku dalam masalah kesehatan jiwa. waktu dalam sehari untuk makan. Pengkajian nutrisi harus dikaji lebih dalam secara perseorangan termasuk pola makan rutin. Selain itu. Penyalahgunaan Bahan-bahan Berbahaya Seorang lansia yang memiliki sejarah penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya beresiko mengalami peningkatan kecemasan dan gangguan kesehatan lainnya apabila mengalami kehilangan dan perubahan peran yang signifikan. Pasien lansia yang memiliki masalah psikososial memiliki kebutuhan pertolongan dalam makan dan monitor makan. Interaksi Pasien. Theurapheutic Milleu  Stimulasi kognitif Aktivitas yang dilakukan harus direncanakan untuk menjaga atau meningkatkan kemampuan kognitif pasien. m.3. berpakaian. rumah sakit. makanan kesukaan dan yang tidak disukai. Masalah perilaku pada lansia kemungkinan hasil dari ketiakmampuan keluarga untuk menerima kehilangan dan peningkatan kemandirian pada anggota keluarga yang sudah dewasa. 4. polifarmasi. Latar belakang budaya pasien merupakan faktor yang sangat penting dalam mengidentifikasi support system.  Meningkatkan rasa aman dan nyaman . Fungsi Fisiologis Pengkajian kesehatan fisik sangat penting pada pasien lansia karena interaksi dari beberapa kondisi kronis.

memodifikasi proses keperawatan sesuai yang dibutuhkan. Kemananan harus dipertimbangkan karena lansia sering terjatuh. Structured routine Jadwal sehari-hari harus direncanakan dengan pasti.4. atau benda-benda yang menenangkan. Membandingkan respon pasien dan hasil yang diharapkan. objek religius. peer review.  Pengobatan psikotropika Obat pada lansia harus hati-hati. karena obat dapat berpengaruh pada perilaku lansia dan system saraf pusat. afghan. Mereka tidak mengerti apa yang ditanyakan pada mereka atau mereka menjadi takut pada perubahan aktivitas yang tidak dapat diprediksi. mereview proses keperawatan. lantai tidak boleh licin dan tidak ada rintangan. Cahaya yang menyilaukan harus dihindari. anggota keluarga dapat memberikan informasi mengenai kehidupan mereka dan memberi kegiatan yang dsukai lansia. 4. aritmia. tidur siang dan waktu makan tidak boleh berubah-ubah.   Evaluasi Stuart dan Sundeen (1995) menyebutkan beberapa kondisi dan perilaku perawat yang diperlukan pada saat melakukan evaluasi dalam proses keperawatan.     Lansia sering melakukan yang terbaik pada situasi yang direncanakan untuk perawatan mereka. Minimal demand for compliant behavior Lansia yang mengalami kerusakan kognitif sering menentang permintaan dari orang lain. hal ini membantu lansia yang disorientasi dan menjaga keselamatan lansia. 4. Jika ada musik harus yang menenangkan dan disukai oleh lansia. Fokus pada kelebihan dan kemampuan Sebagain besar lansia memiliki prestasi pada masa lalunya. Jika lansia tidak mampu berkomunikasi.3. waktu bangun. . Bagi lansia yang tidak tinggal dirumah mereka barang-barang seperti foto-foto keluarga. dan infark miokard lebih dari 3 bulan.2. yaitu: Kondisi perawat : Supervisi. barang-barang yang ada harus tetap. berpartisipasi dalam peningkatan kualitas dari aktifitas yang dilakukan. partisipasi pasien dan keluarga Perilaku perawat . Waktu tidur. Kontraindikasi pada lansia yang memiliki lesi intracranial dengan peningkatan tekanan intracranial. Consisten physical layout Perubahan ruangan harus dihindari. analisis diri. Setting jiwa lansia harus dirancang dengan warna yang lembut. Minimize disruptive behavior Memahami perilaku pasien dapat mengurangi agitasi dan krisis perilaku. Terapi somatic  Terapi elektro konfulsif Terapi ini efektif untuk intevensi pada lansia yang mengalami depresi.

EGC. L. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Fifth Edition.1 Kesimpulan. Perencanaan dan intervensi keperawatan mungkin diberikan kepada pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan lain. Edisi ke-2. dan sosiokultural pada lansia dan keluarganya. “Perawatan Lansia”. proses penuaan yang normal. kehilangan dan kelompok sosialisasi dimana perawat dengan tingkat ahli dapat memberikan psikoterapi. Leeckenotte. perawat jiwa lansia harus pandai dalam mengkaji kognitif. 1997.BAB V PENUTUP 5. remotivasi. afektif. Perawat jiwa lansia harus memiliki pengetahuan tentang efek pengobatan psikiatrik pada lansia.2.2 Untuk institusi pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan dengan kehilangan DAFTAR PUSTAKA Stuart & Sundeen. Edisi ke-2. Watson. Wahjudi. dan status perilaku. Annete Glesler. Edisi ke -6. “Pengkajian Gerontologi”. Diposkan oleh satria dwi priangga di 05:57 MASALAH MENTAL DAN PSIKIATRI PADA LANSIA DISUSUN OLEH : . EGC. Sebagai pemberi pelayanan perawatan primer.2 Saran 5. Perawat jiwa lansia mengkaji penyediaan perawatan lain pada lansia untuk mengidentifikasi aspek tingkah laku dan kognitif pada perawatan pasien. Perawat yang bekerja dengan lansia yang memiliki gangguan kejiwaan harus menggabungkan keterampilan keperawatan jiwa dengan pengetahuan gangguan fisiologis. Mereka dapat memimpin macam-macam kelompok seperti orientasi. Nugroho. Jakarta 2003. Jakarta. 5. Roger. EGC. fisik. Jakarta.2. fungsional. “ Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis”. United State of America : Mosby. Jakarta 2000. 1995. 2000. “Keperawatan Gerontik”. Edisi ke-3. Carpenito. EGC.1 Diharapkan mahasiswa benar-benar mampu memahami tentang asuhan keperawatan kehilangan disfungsional 5.

Pemeriksaan Psikiatrik pada usia lanjut Penggalian riwayat psikiatrik dan pemeriksaan status mental pada penderita usi lanjut harus mengikuti format yang sama dengan yang berlaku pada dewasa muda .40.anamnesisi.Bangsal akut.merupakan tiga layanan yang mungkin harus sudah mulai difikirkan ( Brocklehurst.dokter/calon dokter harus menentukan apakah penderita mengerti sifat dan tujuan pemeriksaan .perlu mulai dipertimbangkan adanya pelayanan psikogeriatri di rumah sakit yang cukup besar .1995.keluhan utama.Riwayat psikiatrik lengkap termasuk identifikasi awal (nama.riwayat pra-morbid dan riwayat sakit harus didapatkan dari anggota keluarga atau mereka yang merawatnya.patogenesis dan patofisiologi gangguan mental antara patogenesis dewasa muda dan lanjut usia (Weinberg.Diagnosisi dan terapi gangguan mental pada lanjut usia memerlukan pengetahuan khusus.Faktor penyulit pada pasien lanjut usi juga perlu dipertimbangkan.status perkawinan).antara lain sering adanya penyakit dan kecacatan medis kronis penyerta.Hamilton.karena kemungkinan perbedaan dalam manifestasi klinis.penderita juga tetap harus diperiksa tersendiri(walaupun terlihat adanya gangguan yang jelas)untuk mempertahankan privasi hubungan dokter dan penderita dan untuk menggali adakah pikiran bunuh diri atau gagasan paranoid dari penderita yang mungkin tidak diungkapkan dengan kehadiran sanak saudara atau seorang perawat (Kaplan et al 1997.Karena tingginya prevalensi gangguan kognitif pada usi lanjut.dan terapi gangguan fisik dan psikologik atau psikiatrik pada lanjut usia .1987). Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut (lihat tulisan mengenai demografi di bagian lain buku ini).Allen.pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan peningkatan kerentanan terhadap gangguan kognitif ( Weinberg.Gunadi.diagnosisi.riwayat penyakit sekarang .1987).1985).Jika penderita mengalami gangguan kognitif.kronis dan day hospital.1984).Tentang bagaimana kerjasama antara bidang psikogeriatri dan geriatri dapat dilihat pada bab mengenai pelayanan kesehatan pada usia lanjut.merupakan tiga layanan yang mungkin harus sudah.jenis kelamin. Riwayat psikiatrik Bisa didapatkan dari alo.RENY MADURATRI NIM.riwayat penyakit dahulu (termasuk gangguan fisik yang pernah diderita ).Namun. 07.Allen.atau oto.1982).1995.riwayat pribadi dan riwayat keluarga.Saat ini disiplin ini sudah berkembang menjadi suatu cabang psikiatri.analog dengan psikiatri anak(Brocklehurst.085 PEMBIMBING : ERFANDY MASALAH MENTAL DAN PSIKIATRI PADA LANSIA Pendahuluan Psikogeriatri atau psikiatri geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang memperhatikan pencegahan. KolbBrodie.usia.Pemakainan .

1985). Pemeriksaan status mental Pemeriksaan status mental meliputi bagaimana penderita berfikir(proses pikir).merasakan dan bertingkah laku selama pemeriksaan.19917).antara lain gaya berjalan menyeret.Adanya alat bantu dengar atau indikasi lain bahwa penderita menderita gangguan pendengaran.mastrubasi.1995.harus digali bagaimana rasa duka citanya dulu saat ditinggal mati oleh pasanganya.Jika mungkin informasi tentang kematian orang tua.harus dicatat (Gunadi.posisi tubuh membungkuk.gerakan jari seperti memilin pil.!982). Riwayat keluarga harus termasuk penjelasan tentang sikap orang tua penderita dan adaptasi terhadap ketuaan mereka.Kaplan et al.misalnya selalu minta pertanyaan diulang.1982).Hamilton.Jika penderita adalah janda atau duda.termasuk penjelasan tentang pasangan hidup dan karakteristik hubungan.riwayat gangguan jiwa dalam keluarga.tremor dan asimetris tubuh perlu dicatat (Kaplan et al.1997.sikap terhadap pemeriksaan dan aktivitas bicara.penderita dalam keadaan resiko tinggi mengalami peristiwa fisik atau psikologik yang merugikan (Dir Kes Wa. Penderita yang berusia diatas 65 tahun (atau di atas 60 tahun di Asia) sering memiliki keluhan subyektif adanya gangguan daya ingat yang ringan.Jika kehilangan pasangan hidup terjadi dalam satu tahun terakhir. Riwayat seksual penderita termasuk aktivitas seksual.nyeri kepala .Wajah seperti topeng terdapat pada penderita penyakit parkison (Kaplan et al.1985).1982.Hamilton.1982).1984).bertahan dan tak berterima kasih dapat memberi petunjuk tentang kemungkinan adanya reaksi transferensi.Riwayat sosial ekonomi dipakai untuk menilai peran ekonomi dalam mengelola pemyakit penderita dalam membuat anjuran terapi yang realistik (Gunadi.Keadaan umum penderita adalah termasuk penampilan .masalah penglihatan dan kehilangan pendengaran. Gangguan motorik.Keluar air mata dan menangis ditemukan pada gangguan depresi dan gangguan kognitif.obat (termasuk obat yang dibeli bebas).terutama si penderita merasa frustasi karena tidak mampu menjawab pertanyaan pemeriksa (Weinberg.1997) Riwayat perkawinan.Dir Kes Wa. Situasi sosial penderita sekarang harus dinilai.kehilangan kesadaran .1995.seperti tidak dapat mengingat kembali nama orang atau keliru meletakkan benda-benda.apakah penderita mempunyai anak.curiga. Bicara penderita dalam keadaan teragitasi dan cemas mungkin tertekan.Riwayat penggunaan alkohol dan pemakaian zat yang lama perlu diketahui karena bisa menyebabkan kelainan saat ini (Kolb-Brodie.Hamilton. Sikap penderita pada pemeriksa untuk bekerjasama.terutama gangguan kejang.yang sedang atau pernah digunakan penderita juga penting untuk diketahui.Banyak penderita depresi mungkin lambat dalam bicara dan gerakannya.orientasi libido.Bagaimana karakteristik hubungan orangtua-anak.Penderita lanjut usia dapat bereaksi pada dokter .1997.Kaplan et al.1982.aktivitas psikomotorik.hubungan gelap diluar perkawinan dan gejala disfungsi seksual (Dir Kes Wa.Gangguan daya ingat yang berhubungan dengan usia tersebut perlu dibedakan dengan adanya kecemasan pada saat dilakukanpemeriksaan/wawancara (Weinberg.Kaplan et al.Siapa yang harus merawat penderita.Riwayat medis penderita harus meliputi semua penyakit berat .1985).1997.

1985).1995.Kolb-Brodie.Depresi merupakan resiko yang tinggi untuk bunuh diri (Weinberg.1990) Penilaian fungsi. Sensorium mempermasalhkan fungsi dari indra tertentu. Fungsi visuospasial.muda seolah-olah dokter adalah seorang tokoh yang lebih tua .!990). Penderita lanjut usia harus diperiksa tentang kemampuan mereka untuk mempertahankan kemandirian dan untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.Oleh karenanya pemeriksaan ide bunuh diri pada penderita lanjut usi sangat penting.1995.Hamilton.Perasaan kesepian .Waham mungkin merupakan alasan untuk dirawat.Pada keadaan yang berat penderita dalam keadaan somnolen atau stupor (Kaplan et al. Halusinasi dan ilusi pada lanjut usia merupakan fenomena yang disebabkan oleh penurunan ketajaman sensorik. Proses berpikir. Kesadaran..tidak peduli terhadap adanya perbedaan usia (Weinberg.Kaplan et al.Kesepian merupakan alasan yang paling sering dinyatakan oleh para lanjut usia yang ingin bunuh diri . Gangguan pada progresi pikiran adalah neologisme.Indikator yang peka terhadap disfungsi otak adalah adanya perubahan kesadaran .Gagasan tentang bunuh diri atau pembunuhan harus dicari .Hamilton.Suatu penurunan kapasitas visuospasial adalah normal dengan lanjutnya usia. Mood.Laitman.1982.tidak berguna.dan retardasi.gado-gado kata.1990).flight of ideas.Gunadi.Hamilton.Di negara lain.menyiapkan makanan.Laitman.asosiasi bunyi.Pemeriksaan neuropsikologis harus dilaksanakan jika fungsi visuospasial sangat terganggu (Kaplan et al.asosiasi longgar. Sensorium dan kognisi.berpakaian .Pemeriksa harus mencatat apakah penderita mengalami kebingungan terhadap waktu atau tempat selama episode halusinasi dapat disebabkan oleh tumor otak dan patologo fokal yang lain.1984.Pemeriksaan harus menentukan apakah terdapat waham dan bagaimana waham tersebut mempengaruhi kehidupan penderita.1995.1985).preokupasi somatik.Hilangnya kemampuan untuk dapat mengerti pikiran abstrak mungkin tanda awal dementia. putus asa dan tidak berdaya adalah gejala depresi.1985).1985.sirkumstansialitas.Pemeriksaan yang lebih lanjut diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti (Halmiton.1995.Meminta penderita untuk mencotoh gambar atau menggambar mungkin membantu dalam penilaian.1995.1997. Isi pikiran harus diperiksa adanya obsesi .Hamilton.Derajat kemampuan fungsional dari perilaku sehari-hari adalah suatu pertimbangan penting dalam menyusun rencana terapi selanjutnya (Weinberg. Gangguan persepsi .sedangkan kognisi mempermasalahkan inrformasi dan intelektual (Weinberg.berdandan dan makan.1995) .perasaan dan afek.adanya fluktuasi tingkat kesadaran atau tampak letargik.Aktvitas tersebut adalah termasuk ke toilet.kompulsi atau waham.Laitman. 1997.Pasien yang sulit mendengar mungkin secara keliru diklasifikasikan sebagai paranoid atau pencuriga(Weinberg.bunuh diri adalah salah satu penyebab utama kematian pada golongan usia lanjut.1997.

1985).Daya ingat jangka pendek dapat diperiksa dengan beberapa cara . Membaca dan menulis.terutama bila dirinya sendiri saat itu juga mengalami penurunan status kesehatan.tempat dan orang berhubungan dengan gangguan kognisi.informasi dan kecerdasan.Pemeriksa mencatat respons sebagai dasar untuk penguji selanjutnya.Banyak diantara lansia yang hidup sendiri tidak mengalami kesepian.misalnya dengan menyebut tiga benda pada awal wawancara dan meminta penderita mengingat kembali benda tersebut akhir wawancara.1997.karena aktivitas sosial yang masih tinggi.1997.1985).terutama gangguan pendengaran (Brocklehurst-Allen. Beberapa masalah di bidang psikogeriatris Kesepian Kesepian atau loneliness.misalnya menderita berbagai penyakit fisik berat.mengenali namnya sendiri.Pemeriksa harus menguji orientasi terhadap tempat dengan meminta penderita menggambar lokasi saat ini.1985).Tes yang diberikan pada penderita dengan memberikan angka enam digit dan penderita diminta untuk mengulangi maju mundur .1987) Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri.taetapi dilain pihak terhadap lansia yang walaupun hidup dilingkungan yang beranggotakan cukup banyak .terutama selam periode stres fisik atau lingkungan yang tidak mendukung (Kaplan et al.gangguan mobilitas atau gangguan sensorik.dan mencatat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pemeriksaan tersebut (Kaplan et al.nama dan hari ulang tahun anak-anak penderita.tahun.mengalami kesepian.Penting bagi klinisi untuk memeriksa kemampuan membaca menulis dan menetukan apakah penderita mempunyai defisit bicara khusus.pendek dan segera.gangguan kecemasan. Fungsi intelektual.Atau dengan memberikan cerita singkat pada penderita dan penderita diminta untuk mengulangi cerita tadi secara tepat/persisi (Hamilton.Daya ingat dinilai dalam hal daya ingat jangka panjang. Daya ingat.Pemeriksa juga dapat meminta penderita intuk menghitung mundur dari 20 ke 1.Gangguan orientasi terhadap waktu.gangguan konversi dan gangguan kepribadian.Menghitung dapat diujikan dengan meminta penderita untu mengurangi 7 dari angka 100 dan mengurangi 7 lagi dari hasil akhir dan seterusnya sampai tercapai angka 2.1985).Pemeriksaan dapat meminta penderita membaca kisah singkat dengan suara keras atau menulis kalimat sederhana untuk menguji gangguan membaca atau menulis pada penderita .Apakah menulis dengan tangan kiri atau kanan juga perlu dicatat(Hamilton.Orientasi waktu diuji dengan menanyakan tanggal..Gangguan orientasi sering ditemukan pada gangguan kognitif.Orientasi.Sejumlah fungsi intelektual mungkin diajukan untuk menilai pengetahuan umum dan fungsi intelektual.gangguan buatan.Orientasi terhadap orang mungkin dinilai dengan dua cara :apakah penderita.dan apakah juga mengenali perawat dan dokter.Hamilton.Daya ingat jangka panjang diuji dengan menanyakan tempat dan tanggal lahir.Penderita dengan daya ingat yang tak terganggu biasanya dapat mengingat enam angka maju dan lima angka mundur . .konsentrasi.bulan dan hari.biasanya dialami oleh seorang lanjut usia pada saat meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat .Hamilton.

gangguan delusional atau psikotik.gangguan skizofreniform. 3.diagnosis depresi harus memenuhi kriteria dibawah ini (Van der Cammen.atau turun atau naiknya selera makan secara nyata 4.memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan peran sosial penderita. Isomnia atau justru hipersomnia 5. Depresi Menurut kriteria baku yang dikeluarkan oleh DSM-III R Yang dikeluarkan oleh Asosiasi Psikiater Amerika.karena bisa bertindak menghibur.Gangguan tersebut bukan suatu reaksi normal atas kematian seseorang yang dicintainya (Komplikasi duka-cita) . Agitasi atau retardasi psikomotorik.pikiran berulang untuk lakukan bunuh diri tanpa rencana yang jelas.disamping memberikan bantuan pengerjaan pekerjaan dirumah bila bila memang terdapat disabilitas penderita dalam hal-hal tersebut.atau upaya bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri Ditambah lagi . 6.berkosentrasi atau membuat keputusan.1991) Tabel 1. 9. 7.Pada penedreita kesepian ini peran dari organisasi sosial sangat berarti.Kriteria DSM-III R*(!987) untuk diagnosis depresi 1.rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat (seiring bersifat delusi) 8.Prognosis depresi pada usi lanjut Prognosis baik Prognosis buruk Usia < 70 tahun Riwayat keluarga adanya penderita depresi atau manik Riwayat pernah depresi berat (sembuh sempurna) sebelum usia 5 tahun Kepribadian ekstrovert dan tempramen yang datar (Tak berubah-ubah) .Tidak merupakan superimposing pada suatu skizofrenia. Secara nyata berkurang perhatian atau keinginan untuk berbagi kesenangan. Perasaan tertekan hampir sepanjang hari 2. Hilangnya kemampuan untuk berpikir.Pada saat gangguan tersebut tidak pernah terjadi ilusi atau halusinasi selama berturut-turut 2 minggu tanpa adanya gejala perasaan hati yang nyata(misal sebelum gejala perasaan hati tersebut atau setelah perasaan hati menjadi lebih baik). Rasa capai/lemah atau hilangnya kekuatan.atau atas semua atau hampir semua aktivitas. Berat badan turun atau naik secara nyata. Tabel 2. Perasaan tidakn berharga.Takdapat duibuktikan bahwa perasaan/gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan organik . Pikiran berulang tentang kematian (bukan sekedar takut mati). .

penatalaksanaan dan pencegahan sosial dan penatalaksanaan farmakologik.antara lain mudah lelah dan penurunan berat badan.Aloanamnesis dengan keluarga atau informan lain bisa sangat membantu.Seringkali sukar untuk mengorek adanya penurunan perhatian dari hal-hal yang sebelumnya disukai.obsesionalitas.Rujukan ke psikiater dianjurkan apabila penderita menunjukan gejala (Van der Cammen. Mengingat hal-hal tersebut diatas.gangguan memori.misal gejala neurologik dadanya dementia Diagnosis Anamnesis merupakan hal yang sngat penting dalam diagnosis depresi dan harus diarahkan pada pencarian terjadinya berbagai perubahan dari fungsi terdahulu dan terdapatnya 5 atau lebih gejala depresi mayor seperti disebutkan pada defenisi depresi di atas. Kecemasan.penurunan nafsu makan. Depresi pada usia lanjut seringkali kurang atau tidak terdiagnosis karena hal-hal berikut : Penyakit fisik yang diderita seringkali mengacaukan gambaran depresi. .aktivitas atau sukar tidur.perhatian serta memburuknya kognitif secara nyata.delusi atau halusinasi berat tidak memberikan tanggapan atau tak patuh terhadap pengobatan yang diberikan Memerlukan tindakan/rawat inap di institusi atau pelayanan psikiatrik lain. Gejala depresi pada usi lanjut sering hanya berupa apatis dan penarikan diri dari aktifitas sosial.Usia>70 tahun dengan wajah tua Terdapat penyakit fisik serius + disabilitas Riwayat depresi terus menerus selama 2 tahun Terbukti adanya kerusakan otak.yang seringkali berupa skala depresi geriatrik (GDS) atau skala penilian (depresi)Hamilton (Hamilton Rating Scale=HRS). Masalah diagnostik yang serius Risiko bunuh diri tinggi Pengabaian diri (self neglect)yang serius agitasi.Penderita dengan hipokondria.1991). Penatalaksanaan Penatalaksanaan terdiri atas penatalaksanaan psikologik.misalnya justru sering dimasukkan ke bangsal Penyakit Dalam atau Bedah (misalnya karena diperlukan penelitian untuk konstipasi dan lain sebagainya) Masalah sosial yang juga di derita seringkali membuat gambaran depresi menjadi lebih rumit.maka dalam setiap asesmen geriatri seringkali disertakan form pemeriksaan untuk depresi.Tanda disfori atau sedih yang jelas seringkali tidak terdapat . Golongan lanjut usia sering kali menutupi rasa sedihnya dengan justru menunjukan bahwa dia lebih aktif.histeria dan hipokondria yang sering merupakan gejala depresi justru sering menutupi depresinya.

1996).gangguan cemas umum.sering penderita merasa tetangga mencuri barang- .Berbagai pilihan obat antidepresan Antidepresan trisiklik Yang bersifat sedatif : Amitriptilin Dotipin Sedikit bersifat sedatif : Imipramin Nortriptilin Protriptilin Antidepresan yang lebih baru Bersifat sedatif : Trasodon Mianserin Kurang sedatif : Maprotilin Lofepramin Flukfosamin Dari Van der Cammen.Untuk penderita yang secara fisik aktif.Obat juga harus diberikan dengan dosis awal rendah dan berhati-hati bila terdapat penurunan fungsi ginjal.terutama penderita dengan depresi manik.efek samping obat atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat (Reuben et al.sebaliknya penderita yang agiant golongan obat tersebut mungkin diperlukan Tabel 3.dan prevalensi pada lansia lebih kecil dibandingkan pada dewasa muda.Puncak Insidensi antara usi 20-40 tahun. Psikologis pada usia lanjut Berbagai bentuk psikosis bisa terdapat pada usia lanjut.oleh karenanya tidak akan disinggung lebih mendalam.Pada dasarnya jenis dan Penatalaksanaanya hampir tidak berbeda dengan yang terdapat pada populasi dewasa muda.yaitu fobia.Adalah suatu bentuk skizofrenia lanjut yang sering terdpat pada lanjut usia yang ditandai dengan waham (Biasanya waham curiga dan menuduh).sebaiknya tidak diberikan obat yang memberikan efek sedatif.Walaupun beberapa jenis khusus akan disinggung sedikit berikut ini. Parafrenia.gangguan panik.Awitan yang terjadi pada usia lanjut biasanya berhubungan/sekunder akibat depresi. Gangguan cemas Gangguan cemas dibagi dalam beberapa golongan .gangguan stres pasca trauma dan gangguan obsesif-kompulsif.Pada usia lanjut seringkali gangguan cemas ini merupakan kelanjutan dari dewasa muda. Gejala dan pengobatan pada usia lanjut hampir serupa dengan pada usia dewasa muda.penyakit medis.1991 Walaupun obat golongan litium mungkin bisa memberikan efek.Diantara obat-obat depresi harus dipilih dan disesuaikan dengan keadaan dan gejala yang diderita.obat ini sebaiknya hanya diberikan setelah berkonsultasi pada psikiater.baik sebagai kelanjutan keadaan pada dewasa muda atau yang timbul pada usia lanjut.

Bina Rupa Aksara.Churchill Livingstone.Socio cultural factors influencing the development of depression in elderly patients admited to the acute geriatric wards in Indonesia.Jakarta.Brocklehurs JC and Allen SC.Problematik usia lanjut ditinjau dari sudut kesehatan jiwa .Churchill Livingstone.Untuk itu pengetahuan mengenai geriatri harus sudah merupakan pengetahuan yang diajarkan pada semua tenaga kesehatan.1985 7.Geriatric Medicine for students.Adalah suatu keadaan dimana seorang lanjut usia menunjukkan penampakan perilaku yang sangat terganggu . Sindroma Diogenes.Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri oleh karena itu sering disertakan dalam pemeriksaan/asesmen geriatri.Care of the dying.Penderita menumpuk barang-barangnya dengan tidak teratur (“nyusuh”).Mereka biasanya menolak untuk dimasukkan di institusi.1997.Jiwa XVII (4): 89-97.Rumah atau kamar sangat kotor.Kaplan HI. 2.Biasanya terjadi pada individu yang terisolasi atau menarik diri pada kegiatan sosial.Kolb LC.Geriatri.Sadock BJ and Greb.revised.McGraw Hill .1997.Adelaide.WB Saunders Co.1982 5.Word Congress of Gerontology.Wright.Apabila waham tersebut menimbulkan keributan antar tetangga atau bahkan skandal.Philadelphia.Brocklehurs JC and Allen SC (1987).Modern clinical psychiatry.Brodie HK.3rd eds.Pedoman Pengelolaan Jiwa dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia.Direktorat Kesehatan Jiwa.Diagnostic and statistical manual of mental disorder.bristol.1987). 4. Daftar pustaka 1.Washington DC. Individu lanjut usi yang menderita keadaan ini biasanya mempunyai IQ yang tinggi.antara lain mengenai pemeriksaan gangguan mental.Hadi Martono.1987). 9.867-881.In Brocklehurs JC and Allen SC (eds).Sinpsi Psikiatri vol 1/7.Geriatric Medicine for students.3rd edits.Sociological and psychological gerontology.depresi dan beberapa pemeriksaan lain. 3.2nd eds.Upaya untuk mengadakan pengaturan/pembersihan rumah/kasar.Dep Kes RI.Kognitif.Fish’s clinical psychophysiology.Hamilton M.1984 6.1987. 8.pemberian terapi dengan derivat fenotiasin sering bisa menenangkan (Brocklehurst-Allen.50% kasus intelektualnya normal (Brocklehurs-Allen.Dalam hal ini pengetahuan mengenai psikogeriatri atau kesehatan jiwa pada usia lanjut merupakan salah satu diantara berbagai pengetahuan yang perlu diketahui .American psychiatric Association. Kesimpulan Bahwa pelayanan geriatri di Indonesia sudah saatnya diupayakan diseluruh jenjang pelayanan kesehatan di Indonesia.biasanya akan gagal.Tikus berkeliaran dan sebagainya .1987).In Brocklehurst JC anf Allen SC (eds).barangnya atau tetangga berniat membunuhnya (Brocklehurst-Allen.In Geriatric Medicine and Gerontology.bercak dan bau urin dan feses dimanamana(karena sering penderita terlihat bermain-main dengan feses/urin).karena setelah beberapa waktu hal tersebut akan terulang kembali.Alih bahasa :Wijaya Kusuma.Laitman LR Paraphrenias and other psychoses.Gunadi H.1982 10.

Mengurangi penderitaan pasien agar keluhanya mjd minimal 2. Hampir semua gangguan jiwa pd masa muda dpt btahan sampai atau timbul lg pd mada tua.1019-1024.Chuchill Livingstone. anoreksia.The William-Wilkins Co. Nerosa bs berupa nerosa cemas dan depresi.1990 11.Debuque. Mpbaiki prilakunya dan mengurangi pselisihan antar-manusia agar keluhan lingkungan mengenai perlakunya mjd minimal 3. ketergantungan obat.Van der Cammen TJM.Reuben DB. Mptinggi kmampuan mcr dan mptahank teman dr kedua sex dan mnunjukan perilaku sexual yg dpt dterima oleh masyarakat 4. Gangguan psikosomatik dpt jg blangsung sampai masa tua. sindroma otak organic. skizofrenia.Comprehensive Textbook of Psychiatry.Edinburgh. Pengobatan bagi usila dg gangguan jiwa mempunyai tujuan umum sbb . Insomnia. 1.In Freedman AN.Yoshikawa TT and Besdine RW.6th eds.1996 12.Manual of Geriatric Medicine. Mengembalikan klien ke suatu pekerjaan atau kesibukan dalm batas2 sumber dayanya dan ssi intelegensinya. dan konstipasi srg didapati dan tdk jarang gejala ini bd depresi. hipertensi dan glaucoma dpt diperhebat o/ depresi.Genatric psychiatry.. ketr dan peranan social yg biasa dlkk .Geriatric Review Syllabus. cemas kesepian dan mudah tersinggung. Penyakit fisik berupa DM.Yoshikawa TT and Besdine RW (eds) . ttp bbrp mjd lebih baik atau hilang sdr.doc 2011 | 0 komentar Proses menua yg dialami oleh lansia menyebabkan mrk m’alami berbagai mcm perasaan spt sedih. mkn btahan sejak masa muda.Kendall-Hunt Publishing Coy.2507-1527.1991 13.Rai TGS and Exton-Smith AN (eds). Kesehatan fisik yg mburuk Perpisahan dg pasangan Perumahan dan transportasi yg tdk memadai Sumber financial kurang Dukungan social kurang Gangguan psikiatri yg srg tjd pd lansia .Geriatric psychiatry.New York. Faktor2 resiko tsb adl .1995 MASALAH MENTAL DAN PSIKIATRI PADA LANSIA By.In Reuben DB. Perasaan tsb mrpk mslh kes jiwa yg tjd pd lansia Ada bbrp factor risiko yg mdukung tjdnya mslh kes jiwa pd lansia.Kaplan HI anf Sadock RJ (eds).RENY MADURATRI.Iowa.Weinberg J.

Intervensi Kecemasan a. serta mberi wkt pd klien untuk bkomunikasi. melengkapi data dasar untuk mbuat rencana keperawatan. Mbangkitk keinginan btindak atau berbuat sesuatu agar ia produktif dan kreatif scr optimal Proses keperawatan 1.5. hipertensi. kanker. untuk menentukan kemampuan klien dalam memlihara diri sdr. cemas. Diagnosa . Diagnosa kep Lansia biasanya cendrung mengalami ketidakseimbangan emosi seperti . social dan spiritual. depresi. Pengkajian Tujuan . Ø Perasaan khawatir / takut yg tdk rasional akan kejadian yg akan tjd Ø Sulit tidur sepanjang malam Ø Rasa tegang dan cepat marah Ø Sering mengeluh akan gejala yang ringan atau takut/khawatir thdp penyakit yg berat . kecewa. Pengkajian meliputi aspek fisik. 2. psikis. dll. · Gangguan penyesuaian · Ansietas · Hambatan komunikasi verbal · Konfusi akut · Ketidakefektifan koping · Ketakutan · Kerusakan memori · Ketidakberdayaan · Hambatan interaksi social · Gangguan konsep diri · Anger · Berduka · dll 3. kehilangan. yang sebenarnya tidak dialaminya Ø Sering mbayangk hal2 yg menakutkan Ø Rasa panic thdp masalah yg ringan Ø Bicara sembarangan Ø Menolak ikut serta dlm tind kep . sedih. Gejala cemas yg dialami o/ lansia . marah.

Intervensi Disesuaikan dg masalah kep yg timbul 4. Bisa beradaptasi dg masalah yg ada ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA A.putus asa dan bunuh diri.Faktor ketidaktahuan. v Sering mengalami ggn tidur v Sering kelelahan. Gejala 2 adalah . . dapat menyebabk demensi sering tidak terdeteksi dan lambat ditangani. baik dr pihak klg. maupun pihak tenaga kes mengenai tanda dan gejala demensia. masy. Mengkaji pasien lansia dengan demensia Demensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran. berikan alasan2 yg dpt dterima olehnya Ø Konsultasikan dg dokter bila penyebabnya tdk bs dit3k atau bila telah dcoba dg berbagai cara tetappi gejala menetap Depresi a. v Berkurang / hilangnya nafsu makan b. Ø Cobalah u mdapatk dukungan klg dg rasa kasih sayang Ø Bicaralah ttg rasa khawatir lansia dan cobalah untuk mcari penyebab yg mdasar (dg memandang lansia scr holistic) Ø Cobalah u mengalihk penyebab dan berikan rasa aman dg penuh empati Ø Bila penyebabnya tidak jelas dan mdasar. Evaluasi a. srg bganti topic yg mengarah ke pesimis. Klien dapat menyesuaikan diri dg keadaan skr ( proses menua) b. lemas dan kurang dapat menikmati kehidupan sehari2 v Kebersihan dan kerapian diabaikan v Mudah marah dan tersinggung v Daya konsentrasi berkurang v Pembicaraan .Ø Menolak makan minum Ø Mengacauj peralatan pengobatan b. Tidakan u mengatasi kecemasan pd lansia . Demensia aatu kepikunan seringkali dianggap wajar tjd pd lansia krn mrpk bagian dr proses penuaan yang normal.

ucapkan kata dan kalimat dg jelas dan jk mberik pertanyaan beri waktu kpd pasien u memikirkan jawabanya i. Selalu mengucapkan salam kpd pasien spt. Tanya 1 pertanyaan setiap kali bertanya dan ulang pertanyaan dg kata2 yang sama j. ruang nyaman. pertahank kontak mata. Sukar melaksanak tugas sehari2 Pelupa Sering mengulang kata2 Tidak mengenal waktu. relaks dan terbuka m. Sikap berkomunikasi harus berhadapan. Ciptakan lingkungan yg teraupetik pd saat berkomunikasi dg pasien . sedrhana dan mudah dimengerti ( hindari istilah yg tdk umum) h. tidak berisik / rebut.Seiring dg meningkatnya jumlah lansia di Indonesia. masalah ini semakin sering dijumpai. pertama2 saudara harus membina hubungan saling percaya dengan melakukan hal2 sbb brk . lupa minum obat Cepat marah dan sulit diatur Daya ingat hilang Sulit belajar dan mengingat informasi baru Kurang konsentrasi Kurang kebersihan diri 10. Volume suara ditingkatk dengan nada rendah jk ada ganggua pendengaran k. Membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia Untuk mlkk pengkajian pada lansia denga dimensia. Dimensia ditandai dengan . untuk meminimalkan gangguan . Assalammualikum b. Bicara lambt. a. Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktv yg akan dilakukan e. Pemahaman yg benar ttg penyakit ini ptg dimiliki agar penyakit demensia dpt dideteksi dan ditangani sedini mkn. cahaya dan ventilasi cukup. jelas. Bersikap empati g. jarak disesuaikan. ruang dan tempat . jatuh Tremor Kurang koordinasi gerak B. Komunikasi verbal disertai dg nonverbal yang baik l. Perkenalkan nama saudara dan nama panggilan termasu menyampaikan bahwa saudara adl perawat yang akan merawat pasien c. Resiko sidera . Tanyakan pula nama pasien dan panggilan kesukaanya d. Jelask pula kapan aktv akan dlaksanakan dan brp lama aktv tsb f. Gunakn kalimat yg singkat.

rentan tdpt kecelakaan dan kurang koordinasi gerak Berdaasarkan tanda dan gejala yg ditemukan pd saat pengkajian. Tindakan kep pasien lansia dimensia dg gangguan proses pikir. jatuh C. tdk dpt bhitung. Gangguan proses pikir . Obsv kemampuan pasien unk mlkk aktv sehari2 g. Berikan pujian jk pasien dpt mjawab dg benar f. kurang konsentrasi dlm pbicaraan. tampak bingung. pikun 2. Berik kesempatan bg px unk memilih aktv yg dpt dlkk h. Tanyak perasaa px jk mampu mlkk kgtnya k. orang dan tempat. Klg dpt mengorientasikan px wkt. menunjukan afek yg albil/datar/tdk ssi. Resiko cidera . apakah pasien mengalami kebingungan. tempat dan org c Psien dpt mlkk aktv sehari2 scr optimal Tindakan : a. maka ditetapkan diagnosa kep 1. Beri kesempatan bg px untk mengenal wkt dengan mgunakan jam besar. Bantu px u mlkk kgt yg dipilihnya i. Data : Pasien sering mengulang pbicaraan. kadang thenti sejenak. kalender yg mempunyai lembar perhari denga tulisan besar c. Aspek psikososial yg perl dikaji adl . Observasi dapat disesuiak dg tanda dan gejala yang sudah djelask sebelumnya. pakaian. dpt mgunakan tehnik mengobservasi perilaku pasien dan wawancara langsung dengan pasiendan keluarganya. tempat da org b. dll b. Bsama px mbuat jadwal kgt sehari2 b) Tindakan kep pd klg Tujuan . Tindakan keperawatan 1. tdk dpt mlkk aktv sehari2. Beri kesempatan pd pasien u msebutkan namanya dan anggota klg tdekat d. Beri kesempatan bg px untk mkenal dmana dia berada e. a. Contoh pendokumentasian hsil pengkajian . Tdk dpt mengingat kejadian masa lalu dan saat ini. Beri pujian jk px dpt mlkk kgt yg dipilihnya j. kacamata. Klg msedikan sarana yg dibutuhkan pasien unk mlkk orientasi realitas . pikun / pelupa a) Tindakan kep pd px Tujuan : b Pasien mengenal wkt.Untuk mengkaji pasie lansia. kecemsan. tdk mengenal wkt. Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya missal .

Mampu menyebutkan tempat dimana pasin berada saat ini 4. Diskusik dg klg kmampuan yg pernah dimilki pasien d. . Diskusikan dg klg cara2 m’orientasik wkt.1992) Banyak pembahasan yang telah dikeluarkan para ahli sehubungan dengan timbulnya skizofrenia pada lanjut usia (lansia). Anjrk klg u mberik pujian jk px mlkk kgt ssi dg jadwal kgt yg sdh dbuat h. 1) Prinsip lima benar minun obat 2) Pentingnya pgunaan obat pd lansia dg dimensia 3) Akbat bila obat tdk dgunak ssi program 4) Efek samping obat dan hal2 u mhindari efek samping obat 5) Cra mdapatk obat atau berobat D.Kes. Mampu menyebutkan nama org yg dikenal 3. Mampu mlkk kgt harian ssi jadwal 5. t4 dan org pd px b.Pada Wednesday. Anjurk klg u mbantu lansia mlkk kgt ssi kmampuan yg dimilikinya f. Mampu mengungkapkan perasaanya stelah mlkk kgt Berita: Mengenal gangguan jiwa pada lansia Dipublikasikan oleh awan . Hal itu bersumber dari kenyataan yang terjadi pada lansia bahwa terdapat hubungan yang erat antara gangguan parafrenia. 04 November 2009 Ditulis Oleh Mugiono Skizofrenia Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik. Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep. Anjurk klg u memantau kgt sehari2 px ssi dg jadwal yg tlah dibuat g. paranoid dan skizofrenia. Pasien mampu msebutkan hari. jelask pd klg ttg obat2 tsb mcakup .c. Evaluasi 1. Anjurk klg u msediak jam besar dan kalender dg tulisan besar c. Apabila px mdapat obat2an. dan tahun skr dg benar 2. Bantu klg memilih kmampuan yg bs dlkk px saat ini e. a. tgl. Klg mbantu px dlm mlkk aktv sehari2 Tindakan kep . psikologis dan sosial-budaya. Parafrenia lambat (late paraphrenia) digunakan oleh para ahli di Eropa untuk pasien-pasien yang memiliki gejala paranoid tanpa gejala demensia atau delirium serta terdapat gejala waham dan halusinasi yang berbeda dari gangguan afektif.

yang disertai halusinasi. seperti gembel) Pada umumya. garang dsb) 2). sehingga penderita menjadi tak tahu waktu.Skizofrenia paranoid (curiga.Gangguan skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran sehingga pasien memiliki pikiran yang kacau. Karena banyaknya gangguan paranoid pada lanjut usia (lansia) maka banyak ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut termasuk dalam kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan menjadi senile psikosis. Gangguan afektif ini antara lain: Gangguan Afektif tipe Depresif Gangguan ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. Terjadi juga gangguan perilaku. (misalnya pada waktu menopause pada wanita). jalan terus. dsb) 3). Gangguan ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia paranoid di satu pihak dan gangguan depresif di pihak lain. Faktor penyebabnya dapat disebabkan . bermusuhan. jika punya sedikit itupun sulit mengasuhnya sehingga anaknyapun tak bahagia dan biasanya secara khronik terdapat gangguan pendengaran. Gangguan Jiwa Afektif Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. tidak mau minum. bizar). Mereka biasanya tidak menikah atau hidup perkawinan dan sexual yang kurang bahagia. tempat maupun orang. Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe. seperti curiga berlebihan. dsb) 4). bermusuhan) dan skizoid (aneh. melalui pemeriksaan psikiatrik maupun pemeriksaan lain yang diperlukan. kluyuran) 5). yaitu : 1). para lansia dengan gangguan kejiwaan tersebut menjadi kurang terurus karena perangainya dan tingkahlakunya yang tidak menyenangkan orang lain. simplek dan latent. mudah salah faham dan sebagainya. mudah marah. Lebih sering terjadi pada wanita dengan kepribadian pramorbidnya (keadaan sebelum sakit) dengan ciri-ciri paranoid (curiga. tidak mau makan. atau mendengar dua orang atau lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga. waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita. dan kadangkadang baik pria maupun wanita perilaku seksualnya sangat menonjol walaupun dalam bentuk perkataan yang konotasinya jorok dan porno (walaupun tidak selalu). Dalam kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan tinggkat kesadaran pasien (penderita).Skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil. Ganguan skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras. Sulitnya dalam pelayanan keluarga. bingung. minta-minta. Umumnya banyak terjadi pada wanita dari kelas sosial rendah atau lebih rendah. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas.Skizofrenia Latent (autustik.Skizofrenia katatonik (seperti patung. bersikap bermusuhan. Parafrenia merupkan gangguan jiwa yang gawat yang pertama kali timbul pada lanjut usia (lansia). galak. gangguan skizof renia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia paranoid.Skizofrenia simplek (seperti gelandangan. merengek-rengek.

sulit berkonsentrasi.Neurosis cemas dan panik 2). ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas untuk mandi. bosan hidup dan kadang-kadang ingin bunuh diri.oleh kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau lama mengalami penderitaan. walaupun sebenarnya tidak harus begitu. tak ada rasa takut.Neurosis histerik (konversi) . Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya. namun memiliki dorongan yang kuat untuk sedih dan tersisih. Pada depresi psikotik. karena kebutuhan biologis sebenarnya selama orang masih sehat dan masih memerlukan tidak ada salahnya bila dijalankan terus secara wajar dan teratur tanpa menggangu kesehatannya. sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia). Gangguan ini paling banyak dijumpai pada usia pertengahan. pasien menunjukkan keadaan gembira yang tinggi. tempat. secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik. Gejala gangguan afektif tipe depresif adalah sedih. dsb. pada umur 40 . akan tetapi diatas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang. maupun waktu atau menjadi seseorang yang tak tahu malu. Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan. Pada tipe neurotik kesadaran pasien tetap baik. kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas (reality testing ability) ikut terganggu dan berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat mengenali orang.Neurosis obsesif kompulsif 3). namun bagi orang neurosis obsesive untuk mandi. suatu ketika pasien menjadi eforia. Secara umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai berikut: 1). Kepribadiannya tetap utuh. Kondisi semacam ini kadang-kadang silih berganti. Gangguan Afektif tipe Manik Gangguan ini sering timbul secara bergantian pada pasien yang mengalami gangguan afektif tipe depresi sehingga terjadi suatu siklus yang disebut gangguan afektif tipe Manik Depresif. Pada usia perttangahan tersebut prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki. Dalam keadaan Manik. Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. menangis tersedu-sedu yang sulit dimengerti. namun tak lama kemudia menjadi sedih. yang berarti fungsi seksual mengalami penurunan karena sudah tidak produktif lagi. Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lanjut usia (lansia). Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa menopause.50 tahun dan kondisinya makin buruk pada lanjut usia (lansia). riang gembira. Kondisi ini lebih jarang terjadi dari pada tipe depresi. marah-marah. murung. Beberapa pandangan menganggap bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe Neurotik dan Psikotik. Neurosis Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). merasa dirinya tak berharga. cenderung berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu yang melampaui batas kemampuannya. pembicaraan menjadi tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali. namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional. pidato berapi-api. aktif.Neurosis fobik 4). sukar tidur.

tempat maupun orang.Kes.Hipokondriasis. sehingga penderita menjadi tak tahu waktu. jantung dan pembuluh darah. Parafrenia lambat (late paraphrenia) digunakan oleh para ahli di Eropa untuk pasien-pasien yang memiliki gejala paranoid tanpa gejala demensia atau delirium serta terdapat gejala waham dan halusinasi yang berbeda dari gangguan afektif. belum habis obat untuk penyakit yang satu sudah minta diperiksa dokter untuk penyakit yang lain. 2012 Skizofrenia Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik. January 15. Mengenal Gangguan Jiwa Pada Lansia Sunday.Gangguan somatoform 6). paranoid dan skizofrenia. bingung. Hal itu bersumber dari kenyataan yang terjadi pada lansia bahwa terdapat hubungan yang erat antara gangguan parafrenia. mudah marah. yang disertai halusinasi. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas. dan lainnya. Pada lansia yang menderita hipokondriasis penyakit yang menjadi keluhannya sering berganti-ganti. psikologis dan sosial-budaya. alat kemih/kelamin. waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita. Keluhannya sering menyangkut alat tubuh seperti alat pencernaan. mudah salah faham dan sebagainya. Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep. Kondisi ini jika dituruti terus maka ia akan terus-menerus minta diperiksa dokter. Ganguan skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras. serta tidak dapat diobati. Karena banyaknya gangguan paranoid pada lanjut usia (lansia) maka banyak ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut termasuk dalam kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan menjadi senile psikosis . Terjadi juga gangguan perilaku. atau mendengar dua orang atau lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga.1992) Banyak pembahasan yang telah dikeluarkan para ahli sehubungan dengan timbulnya skizofrenia pada lanjut usia (lansia). Dalam kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan tinggkat kesadaran pasien (penderita). melalui pemeriksaan psikiatrik maupun pemeriksaan lain yang diperlukan. · Gangguan disosiatif · Gangguan depersonalisasi · Gangguan distimik · Gangguan stres pasca trauma. ia mengeluh sakit yang lain.5). bila satu keluhannya diobati yang mungkin segera hilang. . Gangguan skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran sehingga pasien memiliki pikiran yang kacau. Pasien dengan keadaan ini sering mengeluh bahwa dirinya sakit.

Umumnya banyak terjadi pada wanita dari kelas sosial rendah atau lebih rendah. maupun waktu atau menjadi seseorang yang tak tahu malu. dan kadangkadang baik pria maupun wanita perilaku seksualnya sangat menonjol walaupun dalam bentuk perkataan yang konotasinya jorok dan porno (walaupun tidak selalu). pada umur 40 . yang berarti fungsi seksual mengalami penurunan karena sudah tidak produktif lagi. Pada tipe neurotik kesadaran pasien tetap baik. sukar tidur. bosan hidup dan kadang-kadang ingin bunuh diri. minta-minta. sulit berkonsentrasi. tempat. Sulitnya dalam pelayanan keluarga. bersikap bermusuhan. seperti curiga berlebihan. merasa dirinya tak berharga. karena kebutuhan biologis sebenarnya selama orang masih sehat dan masih memerlukan tidak ada salahnya bila dijalankan terus secara wajar dan teratur tanpa menggangu kesehatannya. Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa menopause. dsb) Skizofrenia simplek (seperti gelandangan.50 tahun dan kondisinya makin buruk pada lanjut usia (lansia). . Mereka biasanya tidak menikah atau hidup perkawinan dan sexual yang kurang bahagia. gangguan skizof renia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia paranoid. Gejala gangguan afektif tipe depresif adalah sedih. Beberapa pandangan menganggap bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe Neurotik dan Psikotik. Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe. jalan terus. Lebih sering terjadi pada wanita dengan kepribadian pramorbidnya (keadaan sebelum sakit) dengan ciri-ciri paranoid (curiga. tak ada rasa takut. merengek-rengek. Pada usia perttangahan tersebut prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki. akan tetapi diatas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang. dsb. (misalnya pada waktu menopause pada wanita). galak. Gangguan afektif ini antara lain: Gangguan Afektif tipe Depresif Gangguan ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. jika punya sedikit itupun sulit mengasuhnya sehingga anaknyapun tak bahagia dan biasanya secara khronik terdapat gangguan pendengaran. kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas (reality testing ability) ikut terganggu dan berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat mengenali orang. Gangguan ini paling banyak dijumpai pada usia pertengahan. walaupun sebenarnya tidak harus begitu. Pada depresi psikotik. simplek dan latent. namun memiliki dorongan yang kuat untuk sedih dan tersisih. garang dsb) Skizofrenia katatonik (seperti patung. Gangguan ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia paranoid di satu pihak dan gangguan depresif di pihak lain. Gangguan Jiwa Afektif Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. bermusuhan. seperti gembel) Pada umumya. kluyuran) Skizofrenia Latent (autustik. bizar). Faktor penyebabnya dapat disebabkan oleh kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau lama mengalami penderitaan. yaitu :      Skizofrenia paranoid (curiga. dsb) Skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil. tidak mau makan. bermusuhan) dan skizoid (aneh.Parafrenia merupkan gangguan jiwa yang gawat yang pertama kali timbul pada lanjut usia (lansia). para lansia dengan gangguan kejiwaan tersebut menjadi kurang terurus karena perangainya dan tingkahlakunya yang tidak menyenangkan orang lain. tidak mau minum.

Secara umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai berikut:           Neurosis cemas dan panik Neurosis obsesif kompulsif Neurosis fobik Neurosis histerik (konversi) Gangguan somatoform Hipokondriasis. marah-marah. Kondisi semacam ini kadang-kadang silih berganti. Dalam keadaan Manik.Gangguan Afektif tipe Manik Gangguan ini sering timbul secara bergantian pada pasien yang mengalami gangguan afektif tipe depresi sehingga terjadi suatu siklus yang disebut gangguan afektif tipe Manik Depresif. pembicaraan menjadi tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak. menangis tersedu-sedu yang sulit dimengerti. namun tak lama kemudia menjadi sedih. bila satu keluhannya diobati yang mungkin segera hilang. pidato berapi-api. serta tidak dapat diobati. Pasien dengan keadaan ini sering mengeluh bahwa dirinya sakit. belum habis obat untuk penyakit yang satu sudah minta diperiksa dokter untuk penyakit yang lain. namun bagi orang neurosis obsesive untuk mandi. Gangguan disosiatif Gangguan depersonalisasi Gangguan distimik Gangguan stres pasca trauma. ia mengeluh sakit yang lain. suatu ketika pasien menjadi eforia. jantung dan pembuluh darah. aktif. cenderung berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu yang melampaui batas kemampuannya. Pada lansia yang menderita hipokondriasis penyakit yang menjadi keluhannya sering berganti-ganti. Neurosis Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik. namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional. Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan. alat kemih/kelamin. Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya. pasien menunjukkan keadaan gembira yang tinggi. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali. Keluhannya sering menyangkut alat tubuh seperti alat pencernaan. murung. . Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lanjut usia (lansia). Kondisi ini jika dituruti terus maka ia akan terus-menerus minta diperiksa dokter. riang gembira. ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas untuk mandi. sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia). Kondisi ini lebih jarang terjadi dari pada tipe depresi. Kepribadiannya tetap utuh. dan lainnya.

Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih. hampir setiap hari. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari 7. kehilangan pekerjaan. Penyebab suatu kondisi depresi meliputi:    Faktor organobiologis karena ketidakseimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin Faktor psikologis karena tekanan beban psikis.Berat Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain. bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat) 6. yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis). Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua. atau sulit membuat keputusan. hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) 3.Depresi Berat Gangguan Jiwa Ringan. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari 8. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan) 4. atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari. 1. sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu. malas beraktivitas. dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup. berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas. seseorang menderita gangguan depresi jika: A. hilang minat dan semangat. Lima (atau lebih) gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang. rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi. 2000). dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV – Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association. atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri . Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati). Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari. 2. dan gangguan pola tidur. paska bencana. hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) 9. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari 5.

depresi juga bisa menggiring seseorang melakukan bunuh diri. di lingkungan budaya tertentu. Semua itu tentu tidak benar. risiko bunuh diri. Depresi tidak mengenal batas usia. suku. energi Anda terkuras sehingga tubuh merasa letih dan lelah. kepribadian. Beberapa mitos menyebut: depresi dapat di atasi sendiri. mortalitas (kematian). Terapi Penderita depresi perlu melakukan terapi secara tepat. muncul sejumlah mitos dan konsepsi keliru mengenai depresi. Keadaan ini akan memperburuk prognosis. dikatakan. depresi dianggap lemah pikiran dan mental. maupun ras. kanker. serta berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien dan seluruh keluarga. Karena depresi pula. Keluhan fisik dan gangguan mental bisa datang pada saat bersamaan. Sayangnya. Karena ketidaktahuan masyarakat itulah. (neurotransmitter yang mengatur perasaan). Perasaan itu bisa sedemikian kuat sehingga kehidupan Anda sehari-hari terganggu. berbagai penelitian menunjukkan. namun biasanya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling.5 kali lebih besar daripada mereka yang sehat. jantung. Kuatnya pengaruh budaya dan kepercayaan mendorong masyarakat mencari pertolongan atas depresi yang diderita lewat paranormal atau pengobatan tradisional. cacat fisik. ””Mereka yang mengalami penyakit fisik berisiko mengalami gangguan mental 3. kondisi fisik. Dan yang paling parah. sebanyak 69 persen pasien dengan gangguan depresi mengemukakan keluhan fisik. Depresi dapat meningkatkan morbiditas (kesakitan). Mengutip hasil studi mengenai hubungan depresi dan gejala somatik yang dilakukan Simon GE pada 1999. Sebuah studi menunjukkan. atau pasien depresi dianggap melakukan suatu dosa.”” Makin berat penyakit fisik makin besar pula kemungkinan untuk mengalami gangguan mental. Bahkan. Depresi merupakan gangguan mental yang paling banyak menimbulkan beban distabilitas. apalagi gangguan jiwa. jenis kelamin. norepinefrin (neurotransmitter yang mengatur energi interest). Sementara faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab depresi adalah genetik (keturunan). tidak dianggap penyakit. Penyakit fisik yang paling sering menjadi pencetus gangguan mental adalah penyakit neurologik. Hal ini .Gejala-gejala tersebut juga harus menyebabkan gangguan jiwa yang cukup besar dan signifikan sehingga menyebabkan gangguan nyata dalam kehidupan sosial. biologis. dan pikiran Anda. kedudukan. Padahal. Semua gejala depresi itu muncul akibat ketidakseimbangan neurotransmitter (zat penghantar dalam sistem syaraf) seperti serotonin. Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien. paru-paru kronis. depresi siapapun penderitanya dapat mempengaruhi suasana hati. Sedangkan gangguan mental yang paling sering terjadi adalah kecemasan dan depresi. pekerjaan atau area penting dalam kehidupan seseorang. anak kandung dari orangtua yang menderita depresi berisiko lebih tinggi mengalami depresi walaupun diasuh oleh orangtua angkat yang tidak depresi. Anda pun mungkin tidak berminat terhadap hal-hal yang sebelumnya Anda sukai. Dukungan dari orangorang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan Menanggulangi Depresi Secara Tepat Depresi kerap disamakan dengan kesedihan yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Gara-gara depresi. depresi dianggap sebagai kelemahan kepribadian atau karakter. sampai saat ini depresi masih belum dapat dipahami secara baik oleh masyarakat. dan arthritis (radang sendi). Depresi juga bisa membuat Anda merasa bersalah dan merasa tidak berguna meski Anda telah melakukan apa saja yang menurut Anda terbaik. dan dopamine (neotransmitter yang mengatur minat) di berbagai bagian otak kita. Yang pasti. dan psikosial. pasien dengan gangguan depresi merasakan adanya keluhan fisik dan gangguan mental.

meningkatnya risiko bunuh diri dan penyalahgunaan zat. dan akhirnya jatuh ke jurang depresi. Penelitian oleh Wyeth Pharmaceutical menunjukkan. Khusus mengenai obat. golongan obat SNRI dapat mempertahankan keseimbangan sejumlah zat kimia dalam otak yakni serotonin dan norepinefrin. misalnya jika dokter kurang mengenali gejala depresi. Sedangkan pada obat. yakni pasien. serta meningkatnya risiko kekambuhan. jangan terlalu idealis. mengurangi risiko kekambuhan. ada faktor yang memengaruhi hasil terapi. biasanya menyangkut efektivitas. kemudahan. dan obat. Adapun tujuan terapi depresi adalah meningkatkan kualitas hidup. * Cobalah ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang bisa membuat hati Anda senang.untuk menghindari konsekuensi bila tidak mencapai kesembuhan. nonton film. atau ikut dalam aktivitas sosial. * Jika punya masalah. Segeralah bertindak untuk menolong diri Anda sendiri. dan harga. mengembalikan peran dan fungsi. dan stigma. menambah beban pelayanan medis. dokter. semisal berolahraga. * Kalau Anda punya tugas atau pekerjaan yang menggunung. masyarakat. Biasanya. Namun. efek samping. mengurangi atau menghilangkan gejala. Pada masyarakat atau lingkungan adalah karena mitos. penderita depresi sebaiknya menggunakan obat antidepresan serotonin nor epinefrin reuptake inhibitor (SNRI). * Bersikaplah realistis. Cobalah ”curhat” pada orang yang Anda percayai. obat ini mampu bekerja ganda yakni menghambat reuptake serotonin dan nor epinephrine. stres. Jika suatu kali Anda pun merasakan gejala-gejala depresi. Mengapa SNRI? Sebab. Dengan dosis sekali sehari. Bagaimana caranya? Langkah-langkah berikut mudah-mudahan bisa membantu Anda. efeknya telah dapat dirasakan oleh pasien setelah empat hari penggunaan. Dokter juga bisa memberi pengaruh yang tidak baik pada hasil terapi. . Lakukan tugas yang memang bisa Anda kerjakan. Pada pasien biasanya berupa ketidakpatuhan karena berbagai sebh satunya tidak peduli. sehingga mencegah kekambuhan dan dan berulangnya depresi. Obat ini juga bekerja dengan cepat. hal ini akan membuat perasaan lebih nyaman dan ringan. kepercayaan. serta mengurangi risiko kecacatan atau kematian. bur Jangan Berdiam Diri Banyak hal bisa membuat seseorang merasa cemas. bagilah tugas-tugas itu dan buat prioritas. jangan berdiam diri. memperburuk prognosis. Konsekuensi yang dimaksud yaitu: kendala psikososial berkepanjangan. jangan pendam sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->