P. 1
Persaman differensial

Persaman differensial

|Views: 3|Likes:
Published by hsuhhj
hjj
hjj

More info:

Published by: hsuhhj on May 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

Mat-Kim/Peers.

Differensial/
3. PERSAMAAN DIFFERENSIAL
1. Pendahuluan
Sangat banyak problem terapan yang melibatkan turunan atau derivatif. Persamaan yang
mengadung derivatif disebut persamaan differensial. Jika persamaan itu mengandung derivetif parsial
maka ia disebut persamaan differensial parsial. Sedang yang tidak parsial tadi disebut persamaan
differesial ordiner. Pada bab ini kita akan membahas problem-problem persamaan differensial
ordiner ordiner yang sering digunakan dalam aplikasi problem fisik. Lihatlah beberapa contoh berikut:
Dalam kinetika kita tahu bahwa laju reaksi order satu adalah sebanding dengan konsentrasi
reaktan. Jadi misal untku reaksi order satu:
A → B
maka :
v = k . A (1-1)
dengan v adalah laju reaksi yang didefinisikan sebagai berkurangnya konsntrasi reaktan atau
bertambahnya konsentrasi produk persatuan waktu dan k adalah tetapan laju reaksi. Jadi:
v = −
dt
dA
(1-2)
atau
v =
dt
dB
(1-3)
Jika gunakan (1-2) dan disubstitusikan ke (1-1), maka:
A . k
dt
dA
· − (1-4)
persamaan (1-4) di atas adalah salah satu contoh persamaan differensial ordiner ordiner order satu.
Untuk menyelesaikannya caranya adalah sebagai berikut:
dt k
A
dA
− · (1-5)
Jika pada saat t = t konsentrasi yang tersisa adalah At sedang pada keadaa mula-mula, konsentrasinya
Ao, maka integrasi kedua ruas adalah:
∫ ∫
− ·
t
0
At
Ao
dt k dA
A
1
(1-6)
atau:
t
0
At
Ao
t k A ln
1
]
1

¸

− ·
1
]
1

¸

(1-7)
atau:
ln At – ln Ao = − kt (1-8)
atau:
Ao
At
ln = − kt (1-9)
atau:
Ao
At
=
kt
e

(1-10)
Biasanya dari (1-10) orang mencari persamaan untuk menentukan waktu paruh (half life). Caranya
adalah sebagai berikut:
Jika t = waktu paruh = T, maka At = ½ Ao, sehingga (1-10) menjadi:
½ =
kT
e

(1-11)
atau:
ln ½ = − kT
atau
56
Mat-Kim/Peers. Differensial/
T = −
k
1/2 ln
=
k
693 , 0
(1-12)
Itu tadi adalah salah satu contoh aplikasi persamaan differensial ordiner ordiner dalam kinetika.
Sekarang kita akan membahas jenis-jenis persamaan differensial ordiner ordiner. Untuk itu
perhatikan bentuk-bentuk berikut:
(1) y’ + xy
2
= 1
(2) xy’ + y = 1
(3) y” + y’ + kx = 0
Contoh (1) dan (2) merupakan contoh persamaan differensial ordiner ordiner order pertama karena
operator differensial yang ada hanya operator turunan pertama dan tidak ada operator turunan yang
lebih tinggi sedang contoh (3) merupakan contoh persamaan differensial ordiner order kedua karena
mengandung y”. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ada perbedaan mendasar antara pengertian
persamaan linear dengan persamaan order pertama. Order sebuah persamaan differensial ditentukan
oleh derajat differensial tertinggi yang dimiliki oleh persamaan differensial itu sedang linear atau
tidaknya sebuah persamaan ditentukan oleh pangkat variabelnya. Ditinjau dari pangkat variabelnya
Contoh (1) adalah persamaan kuadrat, tetapi ditinjau dari sisi persamaan differensial contoh (1)
adalah persamaan diferensial order pertama. Contoh (2) adalah persamaan linear jika ditinjau dari
pangkat variabelnya dan merupakan persamaan diferensial order pertama karena adanya y’ dan
operator differensial yang lebih tinggi derajatnya tidak ada. Contoh (3) merupakan persamaan linear
jika ditinjau dari pangkatnya variabel, tetapi persamaan tersebut merupakan persamaan differensial
ordiner order kedua.
2. Penyelesaian Persamaan Linear Orde ke satu dengan Metode Pemisahan Variabel.
Perhatikan bentuk persamaan diferensial berikut:
y’ = x
2
(2-1)
Bentuk di atas bukan merupakan bentuk terpisah karena bentuk di atas dapat ditulis:
dx
dy
= x
2
(2-2)
dan tampak bahwa di ruas kiri masih ada y dan x. Bentuk tersebut akan menjadi bentuk terpisah
jika dx dipindah ke ruas kanan sehingga bentuknya menjadi:
dy = x
2
dx (2-3)
Persamaan (2-3) disebut persamaan terpisah karena ruas kiri hanya mengandung variabel x sedang
ruas kanan hanya mengandung variabel y. Penyelesaian persamaan differensial dengan cara seperti
ini disebut teknik pemisahan variabel.
Jika sebuah persamaan differensial dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan terpisah, maka
penyelesaiannya dengan mudah dapat diperoleh, yaitu dengan jalan mengintegrasi kedua ruas. Jadi
penyelesaian untuk persamaan terpisah (2-3) di atas adalah:
y =

dx x
2
=
3
x
3
1
+ c (2-3)
Persamaan (2-3) di atas merupakan bentuk umum dari penyelesaian persamaan differensial (2-1).
Untuk memperoleh bentuk khusus harus dimasukkan harga y untuk x tertentu. Misal persamaan
(2-3) tersebut mempunyai harga y = 10 untuk x = 3, maka penyelesaiannya adalah:
10 =
3
3 .
3
1
+ c → c = 7
Sehingga persamaan (2-3) dapat ditulis:
y =
3
x
3
1
+ 4 (2-4)
Persamaan (2-4) di atas adalah salah satu bentuk khusus dari penyelesaian persamaan (2-1) untuk
(3,10).
Soal 2
Tentukan bentuk umum penyelesaiannya dulu, kemudian tentukan pula penyelesaian
khususnya untuk harga yang x dan y yang ditentukan.
1. x y’ = y y = 3 jika x = 2
2. x
2
y 1− dx + y
2
x 1−
dy =0 y = ½ jika x = ½
57
Mat-Kim/Peers. Differensial/
3. (1 + y
2
) dx + xy dy = 0 y = 0 jika x = 5
4. xy’ – xy = y y = 1 jika x = 1
5. y’ =
y y
2
x
x
2
xy 2

+
y =0 jika x = 2
6. ydy + (xy
2
– 8x) dx = 0 y = 3 jika x = 1
7. y’ + 2xy
2
= 0 y = 1 jika x = 2
8. (1 + y) y’ = y y = 1 jika x = 1
9. y’ – xy = x y = 1 jika x = 1
10. y’ + ky = 0 y = y
0
jika x = 0
3 Penyelesaian Persamaan Differensial Linear Order kesatu dengan Metode Standar
Persamaan differensial linear order kesatu mempunyai bentuk umum baku:
y’ + Py = Q (3-1)
P dan Q dapat merupakan bilangan konstan, tetapi juga dapat merupakan fungsi x. Jika P atau Q
tidak nol, maka penyelesaian dengan cara pemisahan variabel tidak dapat dilakukan. Untuk itu kita
gunakan rumus sebagai berikut:
Jika y’ + Py = Q maka:
y =
I
e

( ) c dx . e . Q
I
+

dengan I =

dx P
(3-2)
Persamaan (3-2) di atas diperoleh dari langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, kita ambil bentuk (3-1) yang paling lebih sederhana, yaitu untuk Q = 0, sehingga (3-
1) menjadi:
y’ + Py = 0 atau
dx
dy
= − Py (3-3)
yang dapat dipisahkan menjadi bentuk:
dy
y
1
= −P dx atau ln y = −

+c dx P
atau:
y = ∫
+ − c dx P
e
= A ∫
− dx P
e
(3-4)
dengan A =
c
e
. Agar tampak sederhana, marilah untuk selanjutnya kita nyatakan:
I =

dx P
(3-5)
sehingga:
dx
dI
= P (3-6)
dan persamaan (3-4) dapat ditulis y = A . e
− I
atau:
y . e
I
= A (3-7)
Sekarang kita dapat melihat, bagaimana menyelesaikan persamaan (3-1). Jika (3-7) diturunkan
terhadap x dan kita gunakan (3-6):
( )
I
e . y
dx
d
=
dx
dy
e
I
+ y
I
e
dx
d
=
I
e
y’ + y .
I
e
.
dx
dI
=
I
e
y’ + y .
I
e
. P
Jadi:
( )
I
e . y
dx
d
=
I
e
(y’ + Py) = Q .
I
e
atau:
d (y .
I
e
) = Q .
I
e
(3-8)
Jika persamaan (3-8) diintegralkan:
y
I
e
=

dx . e . Q
I
+ c atau y =
I
e

( ) c dx . e . Q
I
+

Contoh 1:
58
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Carilah bentuk umum persamaan differensial x
2
y’ + 2xy = 1/x.
Jawab:
x
2
y’ − 2xy = 1/x dibagi dengan x
2
agar menjadi bentuk baku persamaan differensial linear
order kesatu:
y’ −
x
2
y =
3
x
1
Jadi:
P =
x
2
− dan Q =
3
x
1
dengan demikian:
I =

− dx
x
2
= −2 ln x
Penyelesaiannya adalah:
y =

− −
+
I I I
c.e dx e . Q e
=

+
− ln x 2 ln x 2
3
x ln 2
e c. dx e
x
1
e
Harga e
2 ln x

= x
2
sedang e
− 2 ln x
= x
−2
, jadi:
y = x
2


+
− 2 2
3
x c. dx x
x
1
= x
2

+
− 2 5
x c. dx x
= x
2

2 4
x c. x
4
1
+
,
_

¸
¸


atau: y = −
2
2
x c
x 4
1
+

Soal 3
Carilah bentuk umum penyelesaian persamaan differensial berikut:
1) y’ + y = e
x
2) x
2
y’ + 3 x y = 1
3) dy + (2 xy - x
2
x
e

)dx = 0 4) 2x y’ + y = 2 x
5/3

5) y’
1 x
2
+
+ xy = x 6) (1 – x
2

) dy – (xy + 2x
2
x 1− ) dx = 0
4 Metode Lain Untuk Persamaan Order Kesatu
Metode pemisahan variabel dan metode persamaan linear yang sudah kita kenal
adalah dua tipe persamaan order pertama yang akan sering banyak anda pergunakan. Berikut
ini akan kita bicarakan metode lain untuk menyelesaikan persamaan order kesatu yang tidak
dapat diselesaikan dengan dua metode yang telah kita kenal itu.
Persamaan Bernoulli
Yang dimaksud dengan persamaan Bernoulli adalah persamaan differensial linear
order kesatu yang mempunyai bentuk :
y’ + P y = Q y
n
(4-1)
dengan P dan Q adalah fungsi x. Bentuk di atas bukan persamaan linear, tetapi melalui
perubahan variabel, persamaan tersebut dapat dengan mudah direduksi menjadi persamaan
linear. Kita buat perubahan variabel sebagai berikut:
z = y
1 n
(4-2)
sehingga:
59
Mat-Kim/Peers. Differensial/
z’ = (1-n) y
n
y’ (4-3)
selanjutnya kita kalikan (4-1) dengan (1-n) y
n
sehingga diperoleh:
(1-n) y
− n
y’ + (1-n) y
1− n
P = (1− n) Q (4-4)
Jika (4-2) dan (4-3) disubstitusikan ke dalam (4-4) maka diperoleh bentuk:
z’ + (1 – n) P z = (1 – n) Q (4-5)
Jika (1 – n) P diganti R dan (1 – n) Q diganti S maka (4-5) menjadi:
z’ + R z = S (4-6)
Persamaan (4-6) di atas sudah merupakan bentuk baku persamaan differensial linear order ke satu
dalam z, sehingga penyelesaiannya adalah :
z = e
−I

dx S e
I
+ c . e
−I
dengan I = ∫
dx R
atau:
y
1 − n
= e
−I

− dx Q n) (1 e
I
+ c . e
−I
dengan I =
( ) dx P n 1


(4-7)

Contoh:
Carilah bentuk umum penyelesaian dari persamaan x y’ + 2y + 3y
2
= 0.
Penyelesaian:
Kita jadi persamaan yang diketahui ke dalam bentuk Bernoulli, sehingga bentuknya menjadi:
y’ + (
2
/
x
) y = (
3
/
x
) y
2

dengan demikian maka P = (
2
/
x
) ; Q =  (
3
/
x
) dan n = 2, sehingga penyelesaiannya adalah:
y
1  n
= e
I


− dx Q n) (1 e
I
+ c . e
I
dengan I =
( ) dx P n 1


atau: y
1  2
= e
I



,
_

¸
¸
− − dx
x
3
) 2 (1 e
I
+ c . e
I
dengan I = ( ) dx
x
2
2 1

− =  2 ln x
atau: y
 1
= e
l n x



dx
x
3
e
ln x 2
+ c . e
2 l n x
atau: y
 1
= x
2


dx x 3
3
+ c . x
2

Jadi: y
 1
= 
2
3
+ c . x
2
Persamaan Differensial Eksak
Untuk memahami persamaan differensial eksak marilah kita ingat kembali mengenai
differensial total dari sebuah fungsi yang variabelnya lebih dari satu macam, misal diferensial
total dari F(x , y). Menurut yang telah kita pelajari pada bab 4,
d F(x , y) =
dx
x
F

,
_

¸
¸
δ
δ
+
dy
y
F

,
_

¸
¸
δ
δ
(4-8)
Jika

x
F

,
_

¸
¸
δ
δ
diganti P dan

y
F

,
_

¸
¸
δ
δ
diganti Q maka (4-8) dapat ditulis:
60
Mat-Kim/Peers. Differensial/
d F(x , y) = P dx + Q dy (4-9)
Selanjutnya jika
y
P
δ
δ
harganya sama dengan
x
Q
δ
δ
atau P dan Q diturunkan silang harganya
sama, maka bentuk: d F = P dx + Q dy = 0
disebut persamaan differensial eksak. F dapat diperoleh dengan cara mengintegralparsialkan
P terhadap x dan konstanta dari hasil integral itu yang mungkin masih mengandung y dan kita
sebut C(y) dapat dicari harga

y
F

,
_

¸
¸
δ
δ
. Anda juga dapat mencari F dengan cara sebaliknya,
yaitu mengintegralparsialkan Q terhadap y dan konstanta dari hasil integral itu yang mungkin
masih mengandung x dan kita sebut C(x) dapat dicari harga

x
F

,
_

¸
¸
δ
δ
.
Contoh 1:
Diketahui persamaan differensial: (x
2
y + 5) dx + Q dy = 0. Tentukan harga Q yang paling
sederhana agar menjadi eksak.
Jawab: Jika (x
2
y + 5) disebut P, maka dF = (x
2
y + 5) dx + Q dy = 0 adalah diff. eksak jika:
y
P
δ
δ
=
x
Q
δ
δ
atau x
2
=
x
Q
δ
δ
atau dQ = x
2
dx
jadi: Q =
3
1
x
3
+ C dan harga Q yang paling sederhana adalah
3
1
x
3
.
Contoh 2:
Diketahui persamaan differensial: (x
2
y + 5) dx + (
3
1
x
3
+ 5y) dy = 0. Tentukan apakah
persamaan tersebut differensial eksak, dan carilah bentuk umum penyelesaiannya.
Jawab:
(x
2
y + 5) dx + (
3
1
x
3
+ 5y) dy = 0 dapat dinyatakan dalam bentuk:
dF = P dx + Q dy = 0.
Kita hitung Harga :
y
P
δ
δ
= x
2
x
Q
δ
δ
= x
2
Jadi: dF = (x
2
y + 5) dx + (
3
1
x
3
+ 5y) dy = 0 adalah persamaan differensial eksak.
61
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Untuk menghitung F kita integral parsialkan P terhadap x, jadi:
F =

dx p
=
( )

+ dx 5 y x
2
=
3
1
x
3
y + 5 x + C (y)
Selanjutnya C(y) dihitung dari:

y
F

,
_

¸
¸
δ
δ
=
3
1
x
3
+

y
) y ( C

,
_

¸
¸
δ
δ
Padahal

y
F

,
_

¸
¸
δ
δ
= Q =
3
1
x
3
+ 5 y
Jadi:

y
) y ( C

,
_

¸
¸
δ
δ
= 5 y atau d C(y) = 5 y dy atau C (y) =
2
5
y
jadi : F =
3
1
x
3
y + 5 x +
2
5
y
Selanjutnya kita juga tahu bahwa dF = 0, jadi F = konstan. Dengan demikian maka
penyelesaian persamaan tersebut adalah:
3
1
x
3
y + 5 x +
2
5
y = konstan
Soal 4
Carilah bentuk umum penyelesaian persamaan berikut:
1. y’ + y = x y
2 / 3
2. y’ +
x
1
y = 2x
2 / 3
y
2 / 1
3. 3x y
2
y’ + 3y
3
= 1
4. (2x e
y 3
+ e
x
) dx + (3 x
2 y 3
e
- y
2
) dy = 0
5. (y + x + 1) dx + ( x – y) dy = 0
6. ( ) dy y e dx y e
2 x x
+ + = 0
5 Persamaan Differensial Linear Order Kedua
Yang akan kita bahas adalah persamaan yang bentuknya sebagai berikut:
a
2
y” + a
1
y’ + a
0
y = Q (5-1)
dengan a
2
; a
1
dan a
0
adalah bilangan konstan; y'' =
2
2
dx
y d
; y' =
dx
dy
dan Q dapat berupa
fungsi x (misal k x
n
, k e
m x
, k e
i m x
, k sin mx, k cos mx) bilangan konstan maupun nol,
sehingga persamaan (5-1) juga boleh ditulis:
a
0

2
2
dx
y d
+ a
1

dx
dy
+ a
2
y = Q (5-2)
Jika d/dx ditulis D, maka persamaan (5-2) boleh ditulis:
62
Mat-Kim/Peers. Differensial/
a
1
D
2
y + a
2
Dy + a
2
y = Q
atau: (a0 D
2
+ a1 D + a2) y = Q (5-3)
Fungsi (a
0
D
2
+ a
1
D + a
2
) disebut fungsi karakteristik, sedang persamaan:
a
0
D
2
+ a
1
D + a
2
= 0 (5-4)
biasa disebut persamaan karakteristik. Penyelesaian persamaan differensial (5-1) yang kita
bahas ini sangat ditentukan oleh akar-akar persamaan karakteristik tersebut.
Misal dua akar persamaan karakteristik itu adalah a dan b, maka persamaan (5-3)
dapat ditulis sebagai berikut:
(D – a) (D – b) y = Q (5-5)
Untuk menyelesaikannya, kita misalkan:
(D – b) y = u (5-6)
Jika u disubstitusikan pada (5-5) maka (5-5) akan menjadi:
(D – a) u = Q
yang juga boleh ditulis Du – a u = Q atau u a
dx
du
− = Q atau:
u’ – au = Q (5-7)
Persamaan (5-7) adalah sebuah persamaan differensial linear order ke satu dalam u yang
dengan mudah kita peroleh penyelesaiannya dengan metode Standar. Penyelesaiannya adalah:
u = e
I


dx e . Q
I
+ c
1.
e
I
(5-8)
Harga u yang diperoleh itu (agar tampak sederhana kita tulis saja R) disubstitusikan pada
persamaan (5-6) sehingga menjadi:
(D – b) y = R atau Dy – by = R atau:
y’ – by = R (5-9)
Persamaan (5-9) adalah persamaan differensial linear orde ke satu, sehingga penyelesaiannya
yaitu y dapat diperoleh dengan metode standar. Untuk jelasnya perhatikan contoh berikut:
Contoh 1:
Diketahui sebuah persamaan differensial linear orde kedua sebagai berikut: y” + 5y’ + 4y = 0.
Carilah bentuk umum penyelesaiannya.
Jawab:
Persamaan yang diketahui dapat ditulis:
D
2
y + 5D y + 4 y = 0 atau (D
2
+ 5D + 4) y = 0
Persamaan karateristiknya mempunyai akar – 4 dan –1 sehingga persamaan di atas dapat
ditulis: (D + 4) (D + 1) y = 0 (5-10)
63
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Misal: (D + 1) y = u (5-11)
Maka (5-10) menjadi: (D + 4) u = 0 atau: u’ + 4 u = 0 (5-12)
yang merupakan pers. linear order ke satu dengan P = +4 dan Q = 0, jadi:
I =

P
dx = 4x dan:
u e
4x
=

Q . e
4x
dx + c
Karena Q = 0 maka

Q . e
4x
dx = c sehingga: u e
4x
= c + c
Jumlah dua konstanta c + c kita sebut sebagai konstanta baru misal A, maka:
u e
4x
= A dan u = A. e
4x
(5-13)
Harga u yang diperoleh dimasukkan ke dalam (5-11), sehingga diperoleh:
(D + 1) y = A e
 4x
atau: y’ + 1 y = A e
4x
(5-14)
yang merupakan persamaan linear order ke satu dengan P = +1 dan Q = Ae
4x
jadi I = x dan
penyelesaiannya adalah: y . e
X
=

x
e . Q
dx + C
Tetapan yang muncul lagi kita tulis C, karena sebelumnya sudah ada C
1
. Selanjutnya:
y . e
X
=

A
e
 4x
. e
x
dx + C =
3
A

e
 3x
+ C
Jika tetapan baru
3
A

kita tulis B, maka: y . e
X
= B e
3x
+ C
Jadi: y = B e
4x
+ C. e
 x
Bagaimana Jika Akar Persamaan Karakteristiknya Sama ?
Contoh 2:
Tentukan penyelesaian persamaan differensial orde dua yang kedua akar persamaan
karakteristiknya sama dan ruas kanannya nol. Jawab:
Misal persamaan differential yang persamaan karakteristiknya mempunyai dua akar
yang sama yaitu a maka persamaan differential itu dapat ditulis:
(D – a) (D – a) y = 0 (5-15).
Jika (D – a) y dimisalkan = u jadi:
(D – a) y = u (5-16)
dan persamaan (5-15) menjadi:
(D – a) u = 0 atau :
u' – au = 0 dan ini adalah persamaan differensial orde satu bentuk standar dengan P =
a dan Q = 0, jadi: I = a x dan penyelesaiannya adalah:
u .
I
e =

dx e . Q
I
+ c
=

dx 0
+ c = c + c = A
u = A . e
I
= A . e
ax
(5-17)
64
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Jika (5-17) ini dimasukkan ke dalam (5-16) maka diperoleh:
(D – a) y = A . e
ax
y' – ay = A . e
ax
(5-18)
Persamaan (5-18) adalah persamaan orde 1 bentuk baku dengan P =  a dan Q = A . e
ax
jadi: I
=  ax
y. e
I
=

dx e . Q
I
+ c
=


dx e . e . A
ax ax
+ c = Ax + c
y = (Ax + c) e
-I
= (Ax + c ) e
ax
yang juga lazim ditulis:
y = (Ax + B) e
ax
(5-19)
Persamaan (5-19) adalah penyelesaian persamaan differensial orde dua akar-akar
karakteristiknya sama.
Kesimpulan:
Jika diketahui:
y'' + ay' + by = 0 ditulis (D
2
+ aD + b) y = 0 maka:
1. Jika akar-akar persamaan karateristiknya berbeda, misal m dan n, maka penyelesaian y'' +
ay' + by = 0 adalah : y = A. e
m x
+ B. e
n x
2. Jika akar-akar persamaan karakteristiknya sama, misal m , maka penyelesaian Y'' + aY' +
bY = 0 adalah : y = (Ax + B) e
m x
Bagaimana jika ruas kanan tidak nol Misal y'' + ay' + by = R dengan R boleh
bilangan konstan maupun fungsi x ?
Untuk ini penyelesaiannya dilakukan dengan cara yang sama, yaitu mencari dulu persamaan
karakteristik-nya, misal akar-akarnya adalah m dan n, maka persamaan differensialnya ditulis:
(D – m ) ( D – n ) y = R
Untuk penyelesaiannya dilakukan dengan cara yang sama, yaitu kita misalkan (D – n ) y = u
sehingga: (D – m ) u = R atau u' – m u = R
sehingga u diperoleh, selanjutnya kita selesaikan ( D – n )y = u atau y' – n y = u
sehingga y diperoleh.
Bagaimana Jika R bilangan konstan tidak nol:
Contoh 3:
Tentukan y jika y'' - 7 y' + 12 y = 5
Contoh 2 ini adalah contoh jika ruas kanan bilangan konstan yang bukan nol.
65
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Persamaan tersebut boleh ditulis D
2
y - 7 Dy + 12 y = 5 atau (D
2
- 7 D + 12) y = 8. Akar
persamaan karakteristiknya adalah 3 dan 4, sehingga persamaan differensialnya dapat ditulis:
( D – 3 ) ( D – 4 ) y = 5
misal = u
(D – 3 ) u = 5 atau u' – 3 u = 5 → P =  3 dan Q = 5 → I =

Pdx
= - 3 x
jadi: u . e
I
=

dx e . Q
I
+ c =

−3x
e . 5
dx + c = 
5
/
3
e
3x
+ c jadi:
u = 
5
/
3
+ c . e
3x
Selanjutnya:
( D – 4 ) y = u → y' – 4 y = u → P = 4 dan Q = 
5
/
3
+ c . e
3x
→ I =

Pdx
= -
4 x jadi:
y . e
I
=

dx e . Q
I
+ c =
{ }


+ −
x 4 3x
3
5
e ). e c. / (
dx + c =
∫ ∫
− −
+ − dx . e c. dx e /
x x 4
3
5
+ c
=
5
/
12
e
4x
 c
1
. e
 x
+ c
2
Jadi: y =
5
/
12
 c
1
. e
3x
+ c
2
. e
4x
Jika  c
1
diganti A dan c
2
diganti B, maka: penyelesaiannya menjadi:
y =
5
/
12
 A . e
3x
+ B. e
4x
(5-20)
Persamaan (5-20) adalah penyelesaian dari y'' + 7 y' + 12 y = 5
Marilah kita amati persamaan (5-20) lagi:
y =
5
/
12
 A . e
3x
+ B. e
4x
(5-20)
Disebut penyelesaian komplementer atau y
c
Disebut Penyelesaian Partikuler atau y
p
Penyelesaian komplementer adalah penyelesaian mana kala ruas kanan persamaan adalah nol
sedang penyelesaian partikular adalah penyelesaian utamanya. Beberapa hal penting yang
perlu diperhatikan adalah:
1. ternyata penyelesaiannya secara umum dapat ditulis:
y = y
p
+ y
c

2. Jika R pada y'' + p y' + q y = R adalah bilangan konstan, ternyata y
p
= R/q sedang:
y
c
= A. e
m x
+ B . e
n x
→ jika persamaan karakteristik mempunyai 2 akar berbeda
yaitu m dan n
atau: y = (Ax + B) e
m x
→ jika persamaan karakteristik mempunyai 2 akar yang sama
yaitu m.
Contoh Jika R adalah ax
b
66
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Contoh 4:
Selesaikan y'' + 2 y'  15 y = 2x
Akar – akar persamaan karakteristiknya adalah 5 dan 3 jadi:
( D – 3 ) ( D + 5 ) y = 2x
misal = u
(D – 3 ) u = 2x atau u' – 3 u = 2x → P =  3 dan Q = 2x → I =

Pdx
= -
3 x jadi: u . e
I
=

dx e . Q
I
+ c =

−3x
e . x 2
dx + c =



3x
de . x
3
2
+ c
= [ ] { }

− −
− − dx e e . x
3
2
x 3 3x
+ c =
[ ]
¹
)
¹
¹
'
¹
+ −
− − x 3 3x
e
3
1
e . x
3
2
+ c
=  [ ]
x 3
e . x
3
2


3x
e
9
2

+ c jadi:
u = 
3
2
x 
9
2
+ c . e
3 x
Selanjutnya:
( D – 5 ) y = u → y' – 5 y = u → P =  dan Q =  
3
2
x 
9
2
+ c . e
3 x
→ I =

Pdx
= -
5 x jadi: y . e
I
=

dx e . Q
I
+ c = . . . . . . .dst
Bagaimana jika R = k . e
m x

Untuk memperoleh harga k', masukkan saja yp , yp' dan yp'' ke dalam persamaan y'' + p y'
+ q = R.
Contoh 5: Selesaikan y'' + 2 y'  15 y = 3 . e
4 x

Akar – akar persamaan karakteristiknya adalah 5 dan 3 jadi:
( D – 3 ) ( D + 5 ) y = 3 . e
4 x
misal = u
(D – 3 ) u = 3 . e
4 x
atau u' – 3 u = 3 . e
4 x
→ P =  3 dan Q = 2x → I =

Pdx
=  3 x
jadi: u . e
I
=

dx e . Q
I
+ c =

−3x 4x
e . e 3
dx + c =

− dx e 3
x
+ c = 3 . e
x
+ c
u = 3 . e
4 x
+ c . e
3 x
Selanjutnya:
( D + 5) y = u → y' + 5y = 3 . e
4 x
+ c . e
3 x
; jadi P = 5 → I = 5x dan diperoleh:
y . e
I
=

dx e . Q
I
+ c =
( )

+ dx e . e . c e . 3
5x x 3 x 4
+ c =
∫ ∫
+ .dx e . c dx e . 3
x 8 x 9

+ c
67
Mat-Kim/Peers. Differensial/
=
1
/
3
e
9 x
+
c
/
8
e
8 x
+ c
y =
1
/
3
e
4 x
 A . e
3x
+ B. e
 x 
(5-21)
Disebut penyelesaian komplementer atau
y
c
Disebut Penyelesaian Partikuler atau y
p
Tampak bahwa jika ruas kanan PD II adalah fungsi eksponensial ternyata y
p
juga fungsi
eksponensial sejenis yang berbeda koefisiennnya.
Jadi jika ruas kanan PD II adalah = k e
m x
→ y
p
= = k' e
m x
Cara yang cepat untuk mencari y
p
adalah memasukkan k' e
m x
ke dalam PD II asalnya
sehingga k' diperoleh dan dengan sendirinya y
p
juga diperoleh.
Bagaimana Jika R = k . e
i m x
Penyelesaian dapat dilakukan secara kronologis seperti yang sudah kita lakukan di
atas, tetapi juga dapat kita selesaikan secara praktis dengan menggunakan sifat, bahwa
penyelesaian:
y = y
p
+ y
p
dengan y
p
= A . e
m x
+ B
NB x
→ jika persamaan karakteristik mempunyai 2 akar beda yaitu
m dan n
y = (ACC + B) e
m x
→ jika persamaan karakteristik mempunyai 2 akar yang
sama yaitu m.
sedang y
p
= k' E
.I. m x
Contoh 6: Selesaikan y'' + 2 y'  15 y = 3 . e
I 4 x

Akar – akar persamaan karakteristiknya adalah 5 dan 3 jadi:
y
p
= A . e
 5 x
+ B. e
3x
y
p
= k' e
I 4 x
untuk mencari k' , kita cari turunan pertama dan kedua dari yp kemudian dimasukkan ke
dalam persamaan asal.
y
p
' = 4 i k' e
i 4 x
dan y
p
'' = 16 i
2
k' e
i 4 x
=  16 k' e
i 4 x
Kita masukkan ke persamaan asal:
 16 k' e
i 4 x
+ 2 (4 i k' e
i 4 x
)  15 k' e
i 4 x
= 3 . e
i 4 x
16 k' + 8 i k'  15 k' = 3
(31 + 8 i ) k' = 3 → k' =
i 8 31
3
+ −
=
i 8 31
3
+ −
.
i 8 31
i 8 31
− −
− −
=
( )
1025
i 24 93 + −
68
Mat-Kim/Peers. Differensial/
Jadi y
p
=
( )
1025
i 24 93 + −
e
i 4 x
Penyelesaian persamaan tersebut adalah:
y = y
p
+ y
c
=
( )
1025
i 24 93 + −
e
i 4 x
+ A . e
5 x
+ B. e
3x

Bagaimana jika R fungsi sinus atau cosinus ?
Contoh 7 : Selesaikan y'' + 2 y'  15 y = 3 . sin 2x (5-22)
Jika ruas kanan fungsi sinus atau cosinus, maka ia tidak mungkin dapat diselesaikan secara
kronologis, karena kita tidak akan mungkin dapat mengevaluasi bentuk

dx . e . . Q
I

dengan Q sinus atau cosinus.
Untuk mengatasi itu kita selesaikan dulu bentuk:
Y'' + 2 Y'  15 Y = 3 . e
i 4 x
(5-23)
Kita tahu bahwa e
i 4 x
= cos 4x + i sin 4x , jadi Persamaan (5-22) adalah komponen imajiner
dari (5-23). Mengapa komponen imajiner ? Sebab ruas kanan (5-22) fungsi sinus. Jika ruas
kanan (5-22) adalah cosinus maka (5-22) merupakan komponen real dari (5-2).
Penyelesaian (5-23) dapat dilihat dari contoh 6 di atas, yaitu:
Y
c
= A . e
 5 x
+ B. e
3x

Y
p
=
( )
1025
i 24 93 + −
e
i 4 x

Harga y
c
langsung dapat dipakai karena harganya hanya ditentukan oleh akar-akar persamaan
karakteristik, jadi:
y
c
= Y
c
= A . e
5 x
+ B. e
3x

tetapi harga Y
p
harus hanya diambil komponen imajinernya saja untuk diadopsi menjadi y
p
.
Untuk itu ditempuh langkah sebagai berikut:
Y
p
=
( )
1025
i 24 93 + −
e
i 4 x
=
( )
1025
i 24 93 + −
( cos 4x + i sin 4x) =
,
_

¸
¸
− −
1025
24
i
1025
93
( cos 4x +
i sin 4x )
  
1025
93
− cos 4x
1025
93
i −  sin 4x
1025
24
i − cos 4x
1025
24
i
2
− sin 4x
  
1025
93
− cos 4x
1025
93
i −  sin 4x
1025
24
i − cos 4x
1025
24
+ sin 4x
  
1025
24
+ sin 4x 
1025
93
− cos 4x 
,
_

¸
¸
+ x 4 cos
1025
24
x 4 sin
1025
93
 i
y
p
komponen imajiner
69
Mat-Kim/Peers. Differensial/
y
p
komponen real
Yang digunakan adalah y
p
komponen imajiner jadi:
y
p
= 
,
_

¸
¸
+ x 4 cos
1025
24
x 4 sin
1025
93
→(Komponen imajiner tidak termasuk i nya)
Jadi penyelesaian (5-22) adalah: y = y
p
+ y
c
= 
,
_

¸
¸
+ x 4 cos
1025
24
x 4 sin
1025
93
 A . e
5 x
+ B. e
3x
Catatan:
Jika ruas kanan PD II adalah suatu fungsi (bukan bilangan konstan), maka fungsi itu
disebut fungsi gaya contohnya gaya emf (gaya motor listrik). Jika fungsi yang dimaksud
adalah fungsi sinus atau cosinus, maka fungsi gayanya merupakan fungsi gaya periodik
(alternating emf = gaya motor listrik bolak-balik).
Soal 8.5:
Carilah bentuk umum penyelesaian persamaan berikut:
1) y'' + y’ – 2y = 0 2) y''  4y’ + 4y = 0
3) y'' + 9y = 0 4) D(D + 5)y = 0
5) y'' – 4y = 10 6) y'' + y = 2 e
7) 5y'' + 6y’ + 2y = x
2
+ 6x 8) y'' + y = 2 x e
x
9) 5y'' + 12y' + 20 y = 120 sin 2x 10) 5y'' + 12y' + 20 y = 120 cos 2x
==000==
70

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->