P. 1
ISLAMISASI ILMU

ISLAMISASI ILMU

|Views: 21|Likes:

More info:

Published by: Zuhdi Siy Remajaa Terakhir on May 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2014

pdf

text

original

ISLAMISASI ILMU

Dalam Islam, Ilmu merupakan salah satu perantara untuk memperkuat keimanan. Iman hanya akan bertambah dan menguat, jika disertai ilmu pengetahuan. Seorang ilmuan besar, Albert Enstein mengatakan bahwa “Science without Religion is blind, and Religion without science is lame”, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikotomi antar ilmu satu dengan yang lain. Karena dalam pandangan islam, ilmu agama dan umum sama-sama berasal dari Allah. Islam juga menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk bersungguhsungguh dalam mempelajari setiap ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan Al-qur’an merupakan sumber dan rujukan utama ajaran-Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu agama. Memahami setiap misi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah memahami prinsip-prinsip Alquran. Kata “Islamisasi” dalam makalah ini dapat dipahami dengan beberapa catatan. Pertama, unsur Islam dalam islamisasi tidak mesti dipahami secara ketat sebagai ajaran yang harus ditemukan rujukannya secara harfiah dalam Al-qur’an dan hadits. Tetapi sebaiknya dilihat dari segi spiritnya yang tidak boleh bertentangan dengan ajaran-ajaran fundamental islam. Seperti kepercayaan kepada yang gaib, malaikat, Tuhan dan juga wahyu. Adapun rujukannya disamping Al-quran dan hadits bisa saja berasal dari sumber yang bermacam-macam, seperti Yunani, Persia, India, pada masa lalu bahkan Barat pada masa sekarang. Kedua, Islamisasi tidak semata-mata berupa pembelaan sains dengan ayat Al-quran atau hadits yang dipandang cocok dengan penemuan ilmiah, tetapi beroperasi pada level Epistemologi. Terakhir, Islamisasi didasarkan pada pada asumsi bahwa ilmu tidak pernah sama sekali terbebas dari nilai. Dalam menatap era globalisasi, ada beberapa model islamisasi pengetahuan yang bisa dikembangakan, diantaranya: model purifikasi, model modernisasi islam, dan model neo-modernisme. Purifikasi yaitu pembersihan atau pensucian. Dalam arti, Islamisasi pengetahun berusaha menyelenggarakan pengkudusan ilmu pengetahuan agar sesuai dengan nilai dan norma islam. Model ini berasumsi bahwa dapat dilihat dari dimensi normatif-teologis. Doktrin Islam pada dasarnya mengajarkan kepada umatnya untuk memasuki Islam secara khaffah sebagai lawan dari ber-Islam secara parsial. Dengan melihat berbagai pendekatan yang dipakai Al-faruqi dan Al-Attas dalam gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, seperti : 1) Penguasaan khazanah ilmu pengetahuan muslim

2) Penguasaan ilmu pengetahuan masa kini 3) Identifikasi kekurangan-kekurangan ilmu pengetahuan itu dalam hubungannya dengan ideal Islam. 4) Rekontruksi ilmu-ilmu itu sehingga menjadi paduan yang selaras dengan warisan dan idealitas Islam. Modernisasi berarti proses perubahan menurut fitrah atau sunatullah. Sunatullah mengejawantahkan dirinya dalam hukum alam. Sehingga untuk menjadi modern, umat Islam harus memahami lebih dahulu hukum yang berlaku dalam alam, yang pada gilirannya akan melahirkan ilmu pengetahuan. Karena itu, modern berarti ilmiah dan rasional. Untuk sampai pada pemahaman tersebut diperlukan proses secara bertahap. Jadi, menjadi modern berarti progresif dan dinamis. Dari sini, makna islamisasi ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh modernisasi Islam adalah membangun semangat umat Islam untuk selalu modern, maju, progresif, dan terus melakukan perbaikan bagi diri dan masyarakatnya agar terhindar dari keterbelakangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Model modernisasi Islam ini berangkat dari kepedulian terhadap keterbelakangan umat Islam dimasa kini, yang disebabkan oleh kepicikan berfikir, kebodohan, dan keterpurukan dalam memahami ajaran agamanya. Sehingga sistem pendidikan Islam dan ilmu pengatahuan agama islam tertinggal jauh dibelakang non-muslim. Karena itu, model modernisasi Islam ini cenderung mengembangkan pesan Islam dalam konteks perubahan sosial dan perkembangan iptek, serta melakukan liberalisasi penanganan yang adaptif terhadap kemajuan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dan proses modernisasi. Sedangkan model neo-modernisme berusaha memahami ajaran-ajaran dan nilainilai mendasar yang terkandung dalam Al-quran dan sunnah dengan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia iptek. Adapun jargon yang sering dikumandangkan adalah “memelihara kebaikan di masa lalu dan mengambil kebaikan yang baru”. Landasan metodologis Islamisasi pengetahuan model ini menurut Saeful Muzani adalah sebagai berikut : pertama, persoalan-persoalan kontemporer umat Islam harus dicari penjelasannya dari tradisi dan hasil ijtihad para ulama yang merupakan hasil interpretasi terhadap Al-quran. Kedua, bila dalam tradisi tidak ditemukan jawaban yang sesuai dengan kondisi kontemporer, maka harus menelaah konteks sosio-historis dari ayat-ayat Al-quran yang menjadi landasan ijtihad para ulama tersebut. Ketiga, melalui telaah

historis akan terungkap pesan moral Al-quran yang sebenarnya, yang merupakan etika sosial Al-quran. Keempat, setelah itu baru menelaahnya dalam konteks umat Islam. Dewasa ini dengan bantuan hasil-hasil studi yang cermat dari ilmu pengetahuan atas persoalan yang bersifat evaluatif dan legitimatif. Sehingga memberikan pendasaran dan arahan moral terhadap persoalan yang ditanggulangi. Dari pengertian dan model Islamisasi pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa Islamisasi dilakukan dalam upaya membangun kembali semangat umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kebebasan penalaran intelektual dan kajian-kajian rasional – empirik dan filosofis dengan tetap merujuk kepada kandungan Al-quran dan Sunnah Nabi. Sehingga umat Islam akan bangkit dan maju menyusul ketinggalan dari umat lain, khususnya Barat. Maraknya kajian dan integrasi keilmuan (islamisasi ilmu pengetahuan) dewasa ini dengan center didengungkan oleh kalangan intelektual muslim antara lain Naquib Al Attas dan Ismail Raji’ Al Faruqi, tidak lepas dari kesadaran berislam ditengah pergumulan dunia global yang sarat dengan kemajuan iptek. Ia misalnya berpendapat bahwa umat Islam akan maju dan dapat menyusul Barat manakala mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan dalam memahami wahyu, atau sebaliknya mampu memahami wahyu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Usaha menuju integrasi ilmu sebenarnya sudah dimulai sejak abad ke-9 meskipun mengalami pasang-surut. Pada awal abad ke-19, Ahmad Khan dan Muhammad Abduh (awal abad ke-20) di Mesir, meski sejak awal menyadari bahaya dan ancaman peradaban Barat, tetapi dalam usaha reformasi pendidikan dan pemikiran Islam berupaya memadukan sistem pendidikan Islam dan sistem pendidikan Barat dengan jalan mencangkokan kedua sistem yang mengandung landasan nilai berbeda, sehingga justru menciptakan dikotomi-dikotomi, baik dalam sistem pendidikan islam maupun pengetahuan. Dikotomi keilmuan merupakan salah satu penyebab dari kemunduran suatu bangsa, masa ini dikenal sebagai abad stagnasi pemikiran Islam. Kondisi ini juga merupakan imbas dari kelesuan bidang politik dan budaya. Umat Islam saat ini cenderung bernostalgia dengan masa kejayaannya di abad pertengahan, sehingga lupa dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Penyebab lain terjadinya dikotomi keilmuan dikarenakan adanya kolonialisme Barat atas dunia Islam. Negara-negara Islam tidak mampu menolak upaya-upaya yang dilakukan Barat, terutama injeksi budaya dan peradabannya. Karena itu, buadya barat mendominasi budaya setempat yang telah dibangun sejak lama. Bahkan bisa dikatakan ilmu-ilmu umum telah menggantikan ilmu-ilmu islam. Sejak abad ke-19 dunia Islam telah merasakan benturan dengan Barat.

Sebagaimana yang disinggung oleh Fazlur Rahman, bahwa hegemoni Barat dengan membawa nilai-nilai sekularnya menembus pada sendi-sendi, struktur-struktur ilmuilmu Islam, seperti ditingkat teoritis berupa gejala rasionalis buta yang tidak mengindahkan nuansa-nuansa religius, dan akhirnya merambah ketingkat praksisi berupa westernisasi. Oleh karena itu, format ideal struktur ilmu keislaman seharusnya disusun ulang secara komprehensif, dengan merumuskan adanya pengakuan secara sadar - atau menuju kepada kesadaran ilahiah terhadap sumber ilmu yang bersifat Esa. Yang diwahyukan dalam Al-quran dan Sunnah Nabi-Nya. Budaya Barat yang diterima secara total bersama dengan adopsi ilmu pengetahuan dan teknologinya sangat membahayakan. Sebab, mereka yang menganut pandangan tersebut berkeyakinan bahwa kemajuanlah yang penting, bukan agama. Oleh karena itu, kajian agama dibatasi bidangnya. Ilmu agama hanya membicarakan hubungan individu dengan Tuhan, yang merupakan urusan ilmu umum. Menurut Ikhrom, dikotomi ini pada kelanjutannya berdampak negatif terhadap kemajuan Islam. Paling tidak ada empat dampak negatif dari dikotomi ilmu umum dan agama. Pertama, munculnya ambivalensi dalam sistem pendidikan Islam. Lembaga semacam pesantren mencitrakan dirinya sebagai lembaga yang bercorak tafaqqahu fi al-din, yang menganggap persoalan muamalah bukan garapan mereka. Kedua, munculnya kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dengan ajaran Islam. Sistem pendidikan yang ambivalen mencerminkan pandangan dikotomis yang memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Pandangan ini jelas bertentangan dengan konsep ajaran Islam sendiri yang bersifat integral, dimana Islam mengajarkan keharusan adanya keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ketiga, terjadinya disintegrasi sistem pendidikan Islam, dimana sistem agama dam umum tetap bersikukuh mempertahankan kediriannya. Meski modernisasi telah diusahakn, tetapi karena adanya hegemoni sistem umum atas sistem agama, maka tetap memunculkan dikotomi sistem dan keilmuan. Keempat, munculnya inferioritas pengelola pendidikan Islam. Hal ini disebabkan karena sistem pendidikan Barat yang pada kenyataannya kurang menghargai nilai-nilai kultural dan moral telah dijadikan tolak ukur kemajuan dan keberhasilan sistem pendidikan bangsa kita. Kemajuan sains dan teknologi Barat telah berpengaruh pada Negara-negara Islam yang masih terbelakang di hampir semua aspek kehidupan. Menurut Zaenudin Sadar, ada tiga sikap ilmuan muslim dalam merespon sains dan teknologi Barat. Pertama, kelompok muslim apologetik, yaitu mereka yang menyatakan bahwa sains modern bersifat universal dan netral, lalu mereka mencari legitimasi dengan mencari ayat-ayat Al-quran yang sesuai dengan teori sains modern. Kedua, kelompok yang masih bekerja dengan sains modern, tetapi berusaha juga mempelajari filsafatnya agar dapat

menyaring elemen-elemen yang tidak Islami. Ketiga, kelompok yang percaya adanya sains Islam, dan berusaha membangunnya, sikap yang ketiga ini dapat dibenarkan secara historis pada masa kejayaan Islam. Dalam bukunya Islamization of knowledge, Ismail Al Faruqi mengatakan bahwa umat Islam sedang mengalami malaise total diberbagai bidang. Keadaan umat Islam dimana-dimana tampak berada dibawah bangsa lain. Untuk itu, demi terwujudnya proyek Islamisasi, Ismail Al Faruqi merancang rencana yang dibagi dalam beberapa langkah diantaranya : v Penguasaan disiplin ilmu modern v Penguasaan khazanah islam v Penentuan relevansi islam bagi masing-masing bidang ilmu modern v Pencarian sintesa kreatif antara khazanah islam dengan ilmu modern v Pemikiran islam mengarah kepada jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah Swt. DAFTAR PUSTAKA Kartanegara, Mulyadhi, 2003, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan Media Utama, Bandung. Bahtiar, Amsal, 2005, Filsafat Ilmu, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Nata, Abuddin, dkk, 2003, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, UIN Jakarta Press, Jakarta.

INTEGRASI_INTERKONEKSI

Tak terasa sudah 5 tahun konversi IAIN ke UIN berjalan tapi masih banyak saja pihak yang tidak puas dengan berjalannya konversi ini. Ada juga yang menganggap konversi ini tak lain hanya sebagai upaya untuk melegitimasi proses sekulerisasi di Indonesia. Kebijakan

ini (IAIN-UIN) setidaknya memperoleh landasan legitimasi dari paradigma integrasiinterkoneksi keilmuan yang saat ini telah menjadi prototipe ideal pengembangan keilmuan kampus. Paradigma integrasi – interkoneksi ini dapat melepaskan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang selama dianggap sebagai penghambat kemajuan peradaban Islam, tapi apakah paradigma integrasi-interkoneksi yang diterapkan di UIN Sunan Kalijaga bisa melepaskan diri dari proses islamisasi ilmu? Menurut Amin Abdullah: Paradigma ini mencakup tiga dimensi pengembangan keilmuan, yaitu hadrlah al-nas, hadrlah al-‘ilm, dan hadrlah al-falasafah. Tiga demensi pengembangan keilmuan ini bertujuan untuk mempertemukan kembali ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu keislmanan. Jika memang tujuan dari keluarnya kebijakan ini (integrasi-interkoneksi) sebagai modal nilai untuk mendukung penguatan pondasi dan basis epistemologi keilmuan islam kampus, sebelum kelak siap disandingkan dengan ilmu umum, seharusnya sudah dilakukan ketika kampus ini masih berstatus Institus Islam (IAIN). Mengapa harus menunggu konversi IAIN ke UIN? Kebijakan ini mengharuskan mahasiswa yang ingin lulus dalam tugas akhir (skripsi) menukil atau mengambil kosakata islam atau mengajukan proposal tokoh barat dalam metodologinya dan harus dilihat dari perspektif islam. Terlihat jelas bagaimana ngototnya pardigma ini diterapkan dan nampak didasari pertimbangan pragmatis semata. Mahasiswa dipaksa untuk mengislamkan diskursus keilmuan barat yang selama ini mereka pelajari. Konversi yang bertujuan untuk mengahapuskan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, malah terjebak dalam pandangan dikotomis dan reduksioner itu sendiri dan mengunggulkan keilmuan islam daripada keilmuan yang berasal dari tradisi barat. Nampak jelas di sini bahwa wacana paradigma integrasi-interkoneksi yang selama 5 tahun telah dipraktekan hanya berhenti pada tataran teoritis. Amin Abdullah menyatakan bahwa jaring laba-laba keilmuan yang dia cetuskan adalah sebagai ekplorasi lebih dalam, upaya untuk menjadikan Islam sebagai paradigma ilmu umum. Agama di sini sebagai kontrol terhadap perkembangan ilmu bukan sebagai penghambat ilmu. Agama tanpa ilmu hanya akan bermakna ranah ritual ibadah dan aqidah semata, sedangkan ilmu tanpa agam akan menjadikan seorang ilmuan hanya sebagai robot, asing terhadap nilai dan moralatis terhadap apa yang telah dia kerjakan dan dampaknya terhadap umat manusia. Dalam tataran prakteknya, kurikulum yang diberlakukan pada fakultas agama dikaitkan dengan metode keilmuan yang baru dengan pendekatan ilmu sosial humaniora dan ilmu umum lainnya. Sedangkan pada fakultas umum dibekali muatan spiritualitas dan dasar-dasar keagamaan yang lebih kritis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->