PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. bawang. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. selada. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. tembakau. teh. pembengkokan inti sel. pembentukan organ baru. kakao. palem. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. kopi. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. karet. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. 2003). 2004). Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. pepaya. 2004). Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. apel dan anggur (Rahmawati. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. .Leguminosa umumnya bermikoriza. singkong dan sorgum. 1. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. kacang tunggak. 2004). barley. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. kapas. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. kebanyakan berbentuk bulat telur. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. akan tetapi belum berhasil. vesikel (vesicle) dan spora. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. 2004). Arbuskul berperan dua arah. padi gogo. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. 2. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. jeruk. nenas.

seperti agregasi dan stabilisasi tanah. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Gigaspora-ceae. Gigaspora. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Geosiphon. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Scutellospora. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. 1981). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Kuklospora. Intraspora. Dengan bertambahnya umur. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. yang memiliki perbedaan tegas. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Diversisporaceae. Oleh karena itu. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Acaulospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Pacispora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. 3. 1981). Diversipora. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 2006). Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Entrophospora. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Paraglomus.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Mirip dengan cendawan patogen. Schubler et al. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). . dan Glomus sp. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). dengan Ascomycota dan Basidiomycota. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Walaupun demikian. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda.

Program Studi Ilmu Tanaman. 2006). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Abdul Madjid. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Ir. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. (Sagin Junior & Da Silva. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya.blogspot. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. 2009. Diposkan oleh Dr. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. 1991). . Palembang. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. tanaman inang. Bahan Ajar Online.com. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. A. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Indonesia. Palembang. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. 2002). Program Pascasarjana. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. kepadatan propagula.

adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Indonesia. 1981).. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Universitas Sriwijaya. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Palembang. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula.** Program Studi Ilmu Tanaman. kadar air tanah. Program Magister (S2). Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Vesser et al. bahan organik tanah. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. pH. Indonesia. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Program Pasca Sarjana. Untuk daerah tropika basah. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Program Studi Ilmu Tanaman. saat kelembapan air rendah. hal ini menguntungkan. Palembang. Program Pasca Sarjana.pada tengah hari. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. logam berat dan fungisida. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. 1981). (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. tanah.

air dan udara.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1981). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. 1997).ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1997). 1984). Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Serasah tersebut mengandung hifa. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun.

dan Na yang tinggi (Mosse. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. 1984 dalam Anas. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. klor. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Benlate. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. 1984). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1982 dalam Anas. 1981). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1997). Pemakaian fungisida menjadi dilematis. alumunium dan mangan. Al. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1997). Cendawan pada umumnya . fungisida Agrosan. Plantavax... Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1997).

Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. P. cropping sistem. 1995). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. karena perubahan spesies tanaman. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. K. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). . Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Dalam budidaya tradisional. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al.04 menjadi 0. ameliorasi dengan bahan organik. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1 9% (Gededda et al. Pada tanaman pisang. 1995). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1984). cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. 1996). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). unsur hara dan struktur tanah. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1998). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. 2005). pembakaran.

Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. ** Program Studi Ilmu Tanaman. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Sawahlunto Sijunjung. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. sedangkan inokulasi G. G.2% dibandingkan dengan kontrol. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. 2009. Program Magister (S2). aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 8 dan 28 MST. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Indonesia. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. bobot kering tajuk. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Program Pascasarjana. Indonesia. Universitas Sriwijaya. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.5% dibandingkan dengan kontrol.7% dan 4. Palembang. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Palembang. Palembang. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Untuk tanaman manggis. Http://dasar2ilmutanah. 2002). .7% dibandingkan dengan kontrol. Program Pasca Sarjana.com. Program Pascasarjana.masing sebesar 5. A. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 1996). Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). jumlah daun pada umur 4. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman.blogspot. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Indonesia. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Palembang. sedangkan inokulasi G.

dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. 3) melindungi dari herbisida. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 2006). Fe. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 1997). Di dalam arbuskul. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Selain daripada membentuk hifa internal. 1997). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. serta patogen akar. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Cu.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. pemadatan. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. keasaman. kekeringan. Selain itu. dan Zn). Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Zn. salinitas. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan.

Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al.tanaman inang. 2006). Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. 1997). Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Setelah periode kekurangan air (water stress). Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Pada kedelei. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. K dan S. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Dengan adanya CMA. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Zn dan Cu meningkat. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. 1994). Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza.

sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen).. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. atau lahan terpolusi lainnya. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Infeksi patogen akar terhambat. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman.1997). Jika terhadap jasad renik berguna. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. tailing tambang batubara. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 1993). kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. 1994). Dilain pihak. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. 2. 2. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Interaksi .simpan air kecil. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 3. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. 4. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit.

dan giberalin. 1997). 1997). Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. 1981). Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 2000). Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. patogen akar. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. citokinin. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. sitokinin dan giberalin. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Pada tanaman tertentu. Perbaikan Struktur Tanah. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. 5. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 4. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Bila ini benar. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . 3. 40% kebutuhan nitrogen. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. 1997). Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti.sebenarnya antara CMA. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 1981 dalam Husin dan Marlis. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen.

Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi.. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. 2002). namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. tapi juga bagi tanah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. 2002). Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Menurut Hakim. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain.agregat mikro. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. .. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.

1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. 2002). 1987).5. Seng (Zn++).50–90. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.6. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. setelah didahului dengan proses infeksi akar. 1999). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).2. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 1997). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. khususnya pada tanah yang miskin P. Besi (Fe++). merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). yaitu mencapai 70.33%.3. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. 2006). dan protein. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Prihastuti et al. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting.6 hexakisphospat).4. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. B.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. phosphor bebas dan mineral. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Magnesium (Mg++). japonicum. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Phytat adalah senyawa phospat komplek.

1994). Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 6. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. perkebunan. 7. Secara tidak langsung. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. temperatur. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. 3.1. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". baik untuk tanaman pangan. adanya asosiasi ini. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Kalimantan. tipe perakaran tanaman inang. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. . Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. tanaman tanpa mikoriza) / BK. kadar air. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4.BK. Bagi tanaman inang. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). baik secara langsung maupun tidak langsung. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 1995). Sulawesi dan pulau besar lainnya. spesies cendawan. tanaman inang. 2004). pH. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. tanaman bermikoriza . Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sedangkan secara langsung. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. miskin hara dan bahan organik. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian.

1996) dan pepaya (Cruz et al. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.13 g biji/tanaman. serta serapan hara NPK. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.1997). Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.kejenuhan Al tinggi. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.15 mg P/tanaman.84 g biji/tanaman menjadi 5. Disamping untuk tanaman pangan. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. infiltrasi air hujan rendah. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . 1997).13 mg P/tanaman menjadi 2. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol..98 g biji/tanaman. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.02 g biji/tanaman menjadi 5. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ).66 mg P/tanaman. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. net fotosintesis.18 mg P/tanaman menjadi 2. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman.

jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. 1994). 2000). Dalam kondisi salinitas tinggi. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Peneliti lain. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 7. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. meningkatnya tekanan osmotik. 2000). Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. 1995 dalam Aggangan et al. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Zn dan Cu (Al-Kariki. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. 3. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. terhidar dari plasmolisis. Namun demikian. 1994 dan Tam.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. et al. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. 2001).

Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. (2001) menunjukkan bahwa P. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Menurut Wachjar et al (2002). tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. 1993). . Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti.. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. meningkatkan N tanah setelah percobaan. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan.berbeda. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. 2000). zat yang melarutkan PAH. 12 diantaranya bermikoriza. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. maka laju penurunan hasil clover meningkat. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. efisiensi penyerapan P. Oliveira et al.. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik.

Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter.S. 2005)." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Dengan teknologi mikoriza. Selain itu. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. sulit dan cukup mahal transportasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. berharap jati muna yang telah . produktivitas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA.

15 %. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. 69. Tujuannya. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.76 % -21.71. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .. 8. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Untuk mewujudkan harapannya. diaduk merata. sebesar 38. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.72 ppm dan tanah Inceptisol.80 % . ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.66 % . Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. 2008).5 ppm. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. 2. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Peningkatan kadar P nira. selain untuk meratakan hasil.Lima hari kemudian. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. 3. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. bedeng tersebut dapat digunakan. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.67. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan.40. juga untuk menguapkan sisa fumigasi.65 %. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. spora dan akar terinfeksi. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Inokulasi . Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.90 %.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. dengan kadar P tersedia "rendah" .11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.84 % .

5. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan.Pada tiap lubang yang dibuat. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Dalam rangka pelaksanaan program ini. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). . 4. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. 2008). dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Dalam teknik pemberian mikoriza. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. 3. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Tanaman inang dapat berupa jagung. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Manfaat 1. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. sorgum atau pueraria. 6.

Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dan Nitrogen (N) 75%. 1. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Setelah itu pil dipecah-pecah. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.J. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.00 gram (Hardiatmi S. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.7 sentimeter. Tablet ini dibuat dari cendawan. sampai 230%.ah takaran 1. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. 1.50. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Kalimantan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.00. Setelah teruji kemurniannya. Sebagai pembanding. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. satu tablet untuk satu bibit. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. Aturan pakainya sederhana.00.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Untuk membuat tablet. Di IPB. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.M. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat.00 gram.00 gram.500 dan 2. 2008) . 1. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Kalium (K) bertambah 86%. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor.50 dan 2. Setelah diberikan pada bibit tanaman. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Dengan demikian.

Indonesia. Diposkan oleh Dr. Ir. Universitas Sriwijaya. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Magister (S2). pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Indonesia. Indonesia. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Universitas Sriwijaya. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. A. Program Pasca Sarjana. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Magister (S2). Palembang.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Indonesia.blogspot. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com. 2009. Propinsi Sumatera Selatan. Http://dasar2ilmutanah. . Palembang. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. ** Program Studi Ilmu Tanaman. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Palembang. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya.

1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Tabel 1. Kamizae. 4. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) .Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. OST dan Simbionriza. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Rhiphosant. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.4-13%). kehutanan. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. virus. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. b. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. jamur yang bersifat patogen. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Kawasan PUSPIPTEK Serpong.

44 Dengan Mikoriza 28.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.70 ------------------------------------------------------------------c. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.28 34. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.50 33. 4. d. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.14 Dengan Mikoriza 43. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.12 Dengan Mikoriza 48. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media.Tanpa Mikoriza 28. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. Bali. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.64 35. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan).70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.

Di IPB. Untuk membuat tablet. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Selain P. 4. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. dan Nitrogen (N) 75%. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P).S. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. satu tablet untuk satu bibit. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kalium (K) bertambah 86%. javanica. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang.7 sentimeter.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Tablet ini dibuat dari cendawan. sampai 230%. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. 2008). ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Kalimantan. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air.M. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. 4. Setelah itu pil dipecah-pecah. Dengan demikian. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Setelah teruji kemurniannya. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Aturan pakainya sederhana. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.

misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah.000 spora secara merata. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai.000 spora. (2) Mempermudah penanganannya. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. (3) Dapat di produksi secara khusus. Sebelum digunakan. 4. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman.000 kapsul. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. berarti dibutuhkan 500 g carrier. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya.5 g carrier. Pada praktek sebelumnya. pH tanahnya sangat bervariasi. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. setiap kapsul dibutuhkan 0.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Setelah itu. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna.

Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium.M. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Bacillus. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Ankia alni. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Azospirillium. Azzospirillum lipoverum. Beijerinckie. Tabel 3.D. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Nitrosomonas. Mikrococcus. Lactobacillus spp. Azotobacter. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. R. Sinorhizobium. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Rhizobium. Anabaena azollae OST Azotobacter. Nitrobacter. Nostoc muscorum. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Clostridium pasterianum. Aeromonas punctata.

Indonesia. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.com. Indonesia.Madjid. I. 2. DAFTAR PUSTAKA Anas. Propinsi Sumatera Selatan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Jurusan Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Program Pascasarjana. . Http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian.Bioteknologi Tanah. Biologi Tanah dalam Praktek. 1997. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. 2009. Universitas Sriwijaya. Indonesia. 3. Universitas Sriwijaya. 1989. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana.blogspot. Palembang. IPB. Palembang. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Program Pasca Sarjana. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Universitas Sriwijaya. IPB. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. I. KESIMPULAN 1. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Anas. A. Laboratorium Biologi Tanah. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Ir. Diposkan oleh Dr. Palembang.

and F. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge.google. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds).G. Dasar-dasar Ilmu Tanah.B.M. R. Biantoro M. Husin. 2000. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Universitas Lampung. G. Brundrett... Soil Biol. Go Ban Hong. ISSN 1411-0062. . 12-15 Desmber 1995. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. H. Biol. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Vol 5. Growth response of Afselia africana Sm. A. 2007. Jakarta. 9/2 : 91-95. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. 1997. 1986. 1994. Mycorrhiza J. terhubung berkala : www. 79:473– 495. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. Faisal T. Sanon . and J. Soils 24 : 81-86.H.com Fleibach.Adinurani P. Vol 5. R. Ika RS dan Saubari MM. M. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www.lunarpages. Lampung. Iskandar. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). Amin Diha. Dudi. INFOTENS. 2007. M. Ba. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. 2007. 2002.M. 26 (9) : 1201 1205. Mulyati M dan Roy H. Husnal. Hakim dan Kusli. Biochem. A. Lubis. 2008. Rusdi Saul. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Universitas Lampung.M.1. Yusuf Nyakpa. Azcon. Hakim. Reber. E. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Dexheimer. p. Biol.com. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. 2000. 2004. Nurhajati. 1997. 2008. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. M. Bailey.. Ali. A. Lampung. Sutopo Ghani Nugroho.F. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.R. Fertil.H. Mahfud. Martens and H.google. N. Hasanudin. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Doponnois. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. M. K. El-Atrash. No. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia.com dalam http://support. hal 83-89. Rev.

1981.S. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Sekolah Pasca Sarjana. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons.. A.V. Ress. Soils 26 : 79-87. Cambridge University Press. 2008.ae.pdf.usu. 2000. 1993. Azcon. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Castro.. JC.J.com dalam http://hortikultura.download/tp/htm-rahmawaty s. Jordan. Bogor. Mycorrhiza J. 10/3 : 115-119.. Soil ecology. Biol. C.library. Plant and Soil 78: 147-150. 2004. Dodd and PML. A. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. Oliveira.go. Effect of various soil environment stresses on the occurance. 1997. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.Joner. 1984. 24 Januari 2006. Rahmawaty. M. D. Kim. Biotrop Spec. S. Schubert. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. 1998. 1994. Fertil. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. 2001.Tervesia claveryi. Bull Manjunath. 2003. 2001. R. Mycorrhiza 10/3 : 137-143.Y.litbang deptan. Tejoyuwono. 10/4 : 155159. 2000. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. .id. D. A. 10/5 : 241-247.id. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. JMR. Terhubung berkala www. Publ. E.google. Universitas Jember. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Khan. Lozano. Mosse. and R. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Jember. Khan.. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . http ://www. J. K.Lovisolo and A. and C.. Bagrayad. Biotropia 8 : 39-44. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. K. Pattimahu. Killham.G. and McDonald.. Notohadinagoro. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Morte. IPB.No56 : 131-137.. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Mycorrhiza J. Leyval. 1995.H. D. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Mycorrhiza J.

IGM.E. 1999. S. N. Kapoor. Plant and Soil 80-99-104 Rani.K. Wachjar A. 105(12):1413-1421. J. and K. Widodo. Rao. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. hal 69-74. A. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. 57 : 77-81. Unsur hara tanaman.. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . and R. Bengkulu. S. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Franson. Biotrop Special Publ.A.No56 : 131-137.Rotwell. Ragupathy and A. 1995. 1991. Bethlenfalvay. R. Biol.. A new fungal phylum. Subiksa. Dela Cruz. Edisi Kedua. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. D. Mahadevan. Ir. Walker.J. Biotrop Spec. Thomas. Bogor Schubler. D. and G. and C.T. dan Marlin. Fertil. 2005. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Simangunsong S. M. Res. Ninin Y. 1984. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. 2002. Mycol. Incidence of vesicular .S. Soil Sci. 2001.R. Abdul Madjid. Buletin Agron. Zarate.. 1994. Schwarzott.L. 2006. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Soils 28 : 139-144. J. Am. Singh.. F. R. 2002. Penerbit Universitas Indonesia. Yadi S. Vol 3.B. Romeida. Publ. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. A. Soc.S Subha. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Diposkan oleh Dr.

Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Bukit Besar.1. Program Studi Ilmu Tanaman. termasuk biodiversitas. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Palembang. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Bukit Besar. PENDAHULUAN 1. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Program Pasca Sarjana. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Upaya yang mulai . Universitas Sriwijaya. Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Palembang. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . biologis dan cultural. Indonesia. Program Magister (S2). seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Program Pasca Sarjana. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya.

Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. kimia maupun biologi. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. kemasan . baik kesuburan fisik. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. jamur. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. 1996): 1. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Penyedia hara . Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. 2002). maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki.

Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. Pseudomonas terbagi atas grup. ukuran tiap sel bakteri 0. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof .4. 2. B. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah.berbentuk batang lurus atau lengkung. jamur dan aktinomisetes. B. B. B. cereus. Peningkat ketersediaan hara 3. P. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek.5-0. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. P. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Flavobacterium. Pemantap agregat tanah 6.5.2.0 μm. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. Micrococus dan Mycobacterium. multivorans (Hasanudin. fluorescent. licheniformis. subtilis.1 1μm x 1. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Achromobacter. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. megatherium. 3. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . putida. polymixa. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae.2003). Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. dapat menahan unsur hara di dalam selnya.2. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Arthrobacter. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. . Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. B. dan P. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Pseudomonas.

tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. asam nukleat. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. radiasi cahaya. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman.2005). Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. suhu tinggi dan zat kimia. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. nukleotida. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. 1. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. 6.terutama yang bersifat heterotrof. hewan dan mikrobia.4. kelembaban temperatur dan faktor lain. dan gula posfat. tetapi pada umumnya rendah . Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. materi genetik. .3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. fosfolipid. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. 5.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P.

Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. Fe-P dan P tidak aktif. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. 1. karbonat apatit. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi.pembentukan bunga . Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Secara geokimia. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. pembentukan akar halus dan rambut akar. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit.Al3+.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. aluminium dan hidrat. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. reductant-P . ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. Dalam bentuk anorganik. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. dan mineral P primer. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. ATP. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. fosfor merupakan 11 unsur yang .01 – 0. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Al-P. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. FePO42H2O Strengit. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. diantaranya dalam proses sintesis protein.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. AlPO42H2O Variscit. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman.Mn2+ dan Ca2+. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas.2002). Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.2007). Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. yang meliputi occhided-P . Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein.

4 . Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Propinsi Sumatera Selatan.15 3.3 x 1011 mol P th. yaitu 7.sangat melimpah di kerak bumi.beku.com.15. sedimen. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Diposkan oleh Dr.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). 1992).6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Di dunia. berat jenis 3. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Sebagai contoh 15-30-15.blogspot. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F.H2O). 2009. Http://dasar2ilmutanah. guano.20. hijau. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan metamorf. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Universitas Sriwijaya. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis.17 . sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.6 x 1011 mol P th . Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Ir. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Program Pascasarjana. Indonesia. Program S2. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. A. dan milisit {(Na. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 .40% P2O5. Seperti halnya nitrogen. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Abdul Madjid.5 juta ton endapan guano (0. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. dan kekerasan 5.Cl. Selain sebagai bahan pupuk. kilap kaca sampai lemak. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.

glutamat. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. malat. Palembang. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Palembang.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Indonesia. Sumatera Selatan. fumarat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Fe-P atau occluded-P. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. yaitu dalam bentuk Ca-P. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Program Pasca Sarjana. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. laktat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Program Magister (S2). suksinat. Indonesia. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. MgP. Indonesia. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. glioksalat. oksalat.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Palembang. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Universitas Sriwijaya. Al-P.1. tartarat dan alfa ketobutirat. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat.

Terdapatnya asam-asam organik sitrat. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. salisilat). asam amino dan asam fenolik. sedangkan asam malonat. Disamping meningkatkan P tersedia. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. dan lemah (suksinat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M.OH + R-COO. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat.laktat. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. malonat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. tartarat). malat.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. tartarat dan malat berefektivitas sedang. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . sedang (malat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . Hasil penelitian Pramono et al. asetat dan ptalat). demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. .---> M OH + H2PO4H2PO4 . Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. oksalat. oksalat.

0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.4 x 10^3 1. oksalat.2 x 10^6 1. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.0 x 10^3 2 Algae 5. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. 2007). glukonat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.2 Ammonifiers 5. merupakan bentuk antara (transisi). namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.0 x 10^8 4.0 x 10^5 12 Protozoa 2.2 x 10^9 5.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.0 x 10^6 7 Fungi 1. malat. sitrat.26 x 10^8 1. Tabel 1. suksinat. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. 1961.6 x 10^7 7.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. alfa ketoglutarat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.0 x 10^3 2. glikolat. 1971.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. asetat.7 x 10^4 0.

(2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Bacillus substilis.8 – 3. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. . 0.9 dan 0. gliserofosfat. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. 6. Ca3(PO4)2. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Bacillus sp. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.8 ppm. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. 8. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat.3. AlPO4. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. apatit. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus.6 ppm pada tanah steril. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24.1 – 3. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.7 ppm menjadi 34.5 .9 ppm. 13 dan 14%. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. FePO4. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . lesitin. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.7 ppm pada tanah sterl dan 0. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.5 ppm menjadi 30. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium.4 ppm menjadi 59. (3) tingkat dissosiasi asam organik. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.

AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Moawad. AlPO4 tidak larut dalam air. berat kering trubus. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. misalnya: fungi. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. minimal duplo. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. 2. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. berat basah akar. dan aktinomicetes. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. bakteri. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Misalnya. berat kering akar. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. dan Vlek (1996). Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. berat basah trubus. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%.2. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. luas daun serta kadar P trubus. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Pada tanaman jagung. Pada percobaan yang lain P. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.01 . Azotobacter sp. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.7H2O 0. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan.20 (3) MgCl2. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.6H2O 0. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.3. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . Tiens Golden Harvest . Lactobacillus sp. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.05 .2 (7) Bromophenol Blue 0.0. . Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.01 .5 (5) KCl 0. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.5 (6) (NH4)2SO4 0.025 .20 (4) MgSO4.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .dikembangkan . 3. mikroba pelarut P. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.5 .Miza Pluss.

Ir.com. Indonesia. Sumatera Selatan. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Bahan Ajar Online. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Bukit Besar. Indonesia. Program Pasca Sarjana. A. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. bakteri pelarut fosfat.blogspot.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Indonesia. 2009. Diposkan oleh Dr. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Palembang. Program Pasca Sarjana. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Masa simpan : 12 bulan. Universitas Sriwijaya.Kemasan : 5 dan 25 kg. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. N. Sumatera Selatan. Program S2. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. bakteri penambat N. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. bakteri pelarut fosfat. Program Pasca Sarjana. Palembang. http://dasar2ilmutanah.

9 ppm. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. gliserofosfat. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.8-3. Ca3(PO4)2. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. kubis. bit gula. tomat. Bacillus subtilis . Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.9 dan 0.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Bacterium mycoides dan B. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Circulans pada tanaman kedelai. barlei.7 ppm menjadi 34.5 ppm menjadi 30.7 ppm pada tanah non steril dn 0. kedelai. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B.4 ppm menjadi 59. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.3 . Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.IV. kacang panjang dan tebu.1-3. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Escherechia freundii dan E. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum.6 ppm pada tanah steril. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. . Bacillus sp. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. 3-9. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. 0. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. lesitin. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. Intermedia . 5-21 dan 14%. 3-13. kentang. padi. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus.8 ppm.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. jagung.

2007). Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. glioksilat. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. malat. Mg2+. Puptida dan P.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . 1992. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. P. oksalat. Pada percobaab lain (Buntan. Premono dan Widyastuti. bayam dan kacang panjang). Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. glutamat. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). laktat. 1992). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. fumarat. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Fe2+. diantaranya asam sitrat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Striata. Pada tanaman jagung. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. suksinat. 1991).4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. 1994). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik.

ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 207. Bacillus megaterium. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. 903. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.22 g..3881 ppm dan 280.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. 208. dan 61.) di Tanah Marginal. Klebsiella aerogenes. Gunung Botol. dan Chromobacterium sp. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. 930. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.67%. jumlah biji. 575. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Klebsiella aerogenes. umur pembentukan polong.63%.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl.30%. dan 606. Chromobacterium lividum. Chromobacterium lividum dan B.42 g atau ada kenaikan 877. 203. 217. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Daerah Cikaniki. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat.67%. pH tanah. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.48 g.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. jumlah polong. Bacillus sp. Megaterium sebagai inokulan padat. dan B.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. berat daun segar 4 tanaman per pot.75%. 354.15 g tanaman-1. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.5-2. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.81%. jumlah bunga. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. umur panen. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1.5 cm.

Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V.Fe. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Program Pascasarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran. Palembang. Palembang.kering tanaman kedelai. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot. Http://dasar2ilmutanah. Bahan Ajar Online.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Indonesia. A. Indonesia.Ca dan proses pelapukan yang rendah . MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Magister (S2). Bukit Besar. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Universitas Sriwijaya. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Propinsi Sumatera Selatan. Ir.com. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Palembang. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana.Mn. 2009.

A. 6(1) : 8-13. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.J. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Buntan. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. 45: 506-509. B. 1982.No.1992.32. Citrobacter intermedium . Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.Soil Sci. Fakultas Pertanian USU. Handayanto. Gaur . Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. 1982. Hasanudin. S.E dan Hairiyah. Dubey. S.S. Buletin Agronomi. Pal.Bacillus firmus. Plant Soil . Kundu. Bacterium mesenterricus. Indian Soc.2.Indian Soc.Soil Sci.2003. Bacillus megaterium. Banik. Plant Soil 57 : 223-230. Elfiati.Medan Gunalan. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Noor A. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad.J.K. Bacterium mycoides. Edisi 3. Pustaka Adipura.30:105-106.K.K Jha.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. N and K. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. 1998. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. 60:353-364.D. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Hasanudin dan Ganggo.Faperta Universitas Bengkulu. 1996. 2003.C. Universitas Bengkulu. 1997.2005. Escherechia freundii. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Majalah Sriwijaya Vol. S.2007. 1980. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.Universitas Sriwijaya. B.S and A. 2004. 31 (3): 100-106. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens.

Widawati.Medellín vol. 2007. and Sinha. Bandung.60 no. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. 2001.W. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Soil Microorganisms and Plant Growth.H. Jurnal Nature Indonesia.Bogor.Bandung Rao.1 Wulandari.H.L and B.Kanisus Jakarta. 7(2):109-113. UGM. Microbiol 42: 207-220.) di Tanah Marginal. C. Diposkan oleh Dr. Supadi. Edisi 3.C. S. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.acid tolerant crops.Disertasi.. S dan Suliasih .R. N.R.2002. S.Biodiversitas.Biodiversitas.T. 1996. 1992. UI Press).Penerapan Pertanian Organik.Yogyakarta. Ir. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.T. 2006. Sutanto. Gunung Botol. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Plant Soil. Yuwono. Premono. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Vega. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. 2006. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . 7(1):1014. Abdul Madjid. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. Oxford and IBM Publishing Co.Widyastuti. Patten.Program Pascasarjana IPB. dan Ciptarasa. Setiawati. 1962.N. Tesis.NW. 198 : 169-177. 2005. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Edisi 2 .Agr. 1998.R Glick. Widawati. Can. 1991.Pupuk Hayati . Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. S dan Suliasih . 4(1) : 1-5. (Terjemahan Susilo.J. Universitas Pajajaran.

Universitas Sriwijaya. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Indonesia. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. bakteri dan fungi perombak bahan organik. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. fungi. alga dan virus. Dalam sejumlah kondisi. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. seperti bakteri. 1998). Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Dibidang pertanian. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. Bukit Besar. serta bakteri yang berperan sebagai . Sumatera Selatan. dan virus sebagai agensia hayati. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Bukit Besar. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Program Pasca Sarjana. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Palembang. 1998). Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. bakteri. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. cendawan. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. PENDAHULUAN A. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. aktinomicetes. protozoa. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. kimia. Program Pasca Sarjana. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Program Pasca Sarjana.

menghemat biaya pupuk. kesuburan. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). B.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Fakultas Pertanian Unsri & . A. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. dan meningkatkan pendapatan petani. 1978). (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. 2009. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Saraswati et al. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Bahan Ajar Online. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat.

Program Magister (S2). Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Diposkan oleh Dr.01-0. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Palembang. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Indonesia. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya.atau CO32-. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak.Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Palembang. . namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Universitas Sriwijaya. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.2 mg/kg tanah. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Http://dasar2ilmutanah. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Cl-. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Program Pasca Sarjana. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P).com.blogspot. OH. Program Pasca Sarjana. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Ir. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Palembang. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Program Magister (S2). Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Sumatera Selatan. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Universitas Sriwijaya. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Sumatera Selatan. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Indonesia.

fosfolipida. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik.atau H2PO4-) diserap tanaman. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. 1989. 1997). pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Pada sistem pola tanam yang terbuka. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Oleh karena itu. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Di alam. Sisa tanaman. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. (b) imobilisasi P-tersedia. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Siklus ini berulang terus menerus. asam nukleat. pemupukan. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik.. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. hewan dan mikroba . 1977). Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. fosfor terdapat dalam dua bentuk. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Subba Rao. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. hewan dan organisme tanah. nukleotida dan gula-gula fosfat. Bila ion fosfat (HPO42. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. 1989).

aerasi. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. 1986). nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. 1. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat.yang dikembalikan ke dalam tanah. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. kelembaban. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. 2. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. temperatur. seperti nukleotida atau fosfolipida. Umumnya. aerasi. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. 1997). Selain kandungan fosfat dalam residu. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis.. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al.

1986). keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Mn. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Pada kondisi tergenang. dan Ca. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Al.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . Al3+ + H2PO4. Fe.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Pada pH tanah agak masam hingga netral. besi.lebih mendominasi.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-.+ 2H2O ----> AlPO4. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Mn. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. pH tanah.----> Al(OH)2 H2PO4. H2PO42-. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. H2PO42. Phosphaticum. Ion Fe.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var.+ 2H2O ----> FePO4. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat.2) H2PO42. Nilai kritis C/P adalah 200. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. kalsium dan magnesium fosfat. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. dan PO43-. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. dengan melepaskan fosfat. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.lebih mendominasi. Selain itu. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Hal yang sama.

Abdul Madjid. laktat.Didaerah rhizosfer. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. A. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Universitas Sriwijaya. Mn. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. Ir. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). 2. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Sumatera . Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. asetat. Program Magister (S2). 2007). selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Program Pascasarjana. Fe. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P.com. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Bukit Besar. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Program Magister (S2). 3. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Http://dasar2ilmutanah. Bahan Ajar Online. Diposkan oleh Dr.blogspot. suksinat yang dapat mengikat Al. Kandungan bahan organik tanah. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. 2009. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Palembang. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

Reproduksi secara seksual. Indonesia.. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im.5 juta (Hawksworth. 1995). 2007). Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. 1991. Hawksworth et al.. Sekitar 70. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai.Selatan. Program Magister (S2). miselium menghasilkan spora. 1970). Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Program Pasca Sarjana. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Bukit Besar. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Bukit Besar. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Sumatera Selatan. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Palembang. Program Pasca Sarjana. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. membentuk spora dari fusi dua nukleus. . Universitas Sriwijaya.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Palembang. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Indonesia. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Sumatera Selatan. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5).

fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. dan pengendalian penyakit. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. CO2 terhambat. 1993). bagian tengah. karbon dioksida. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Bersama-sama dengan bakteri. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. tidak peka. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. 1993). fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. eksudat akar. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. 2007). bagian bawah. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung.. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). siklus hara. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. dan essensial . Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. 1992). fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. sebagai contoh . dan pengelolaan lahan. baik berupa daun maupun kayu. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. beberapa diantaranya bersifat sparofit. organisme rhizosfer.

1995). tanaman pangan. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. cat. Selain itu. udara. sayuran. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. contohnya A. Namun demikian. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. Seperti bakteri. 1995).parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. (3) Patogen atau parasit. Fungi patogen akar seperti Verticillium. serta banyak dijumpai dalam tanah. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. . 2007). atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. tekstil. Sebagai contoh A. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. dan Rhizoctonia. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik.flavus dan A. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. dan mungkin air) ke tanaman. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. dan kulit (Hawksworth et al. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. Phytium.. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. nitrogen.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. dan semak. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. hara mikro. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian.

tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. 3. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol.2. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa.5. 1968). nitrogen. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang.. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. gandum. 1986). jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe.75-5x 2-6im. Pada tanaman. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. jaringan hewan dan tanah. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. 1982). Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. diantaranya T. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. . Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. 1999).harzianum dan T. termasuk manusia. 4. 1983).5-9. 5. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. 1979). Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. 1987).koningii (merton dan Brotzman. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam.

Sumatera Selatan. A. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Palembang. Bahan Ajar Online. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Indonesia.vitamin. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. 2009. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Pasca Sarjana. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat.com. Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Bukit Besar. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. dan mineral lainnya. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Program Pasca Sarjana. Ir. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Sumatera Selatan. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Indonesia. Program Magister (S2). Palembang. Program Pascasrjana. Bukit Besar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya.blogspot.

Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.0-40. B. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.039-1. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. Micrococus dan Mycobacterium. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.04-0.5%. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.0%. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. nitrogen (N) sebesar 2. magnesium (Mg) sebesar 0. Penicillum.010. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. B. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. megatherium. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). subtilis. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. B. FePO4. 2006). B. yaitu: karbon (C) sebesar 19. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 1994). Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. sitrat. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. apatit. dan Chaetomium sp. Schlerotium & Phialotobus. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. merupakan bentuk antara (transisi). candidus. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.35%. 2006). (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. licheniformis. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.21% dan C/N ratio . polymixa. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. oksalat. AlPO4. (3) tingkat dissosiasi asam organik.rendah.. B. asetat. asam amino dan asam fenolik. Arthrobacter. Trichoderma viridae. Penicillium sp. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. fosfor (P) sebesar 0. glukonat. kalium (K) sebesar 0.0-2. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. suksinat. malat. Flavobacterium. Achromobacter. harus mengandung 8 macam nutrisi. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.14%. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Pseudomonas. jamur dan aktinomisetes. A. glikolat. cereus. Fusarium. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. alfa ketoglutarat. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah.

Aspergillus sp. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. dan mesir. dan serapan N dan P berturut-turut 7. dan G. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Subba Rao. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. 1982). Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. niger.sebesar 9. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. margarita. 8 kali. (2) inokulasi R. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. dan serapan N dan P. dan FePO4.0-20% (Gaur. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. (4) inokulasi R. 1977 . 1980 . Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Kundu dan Gaur. japonicum. 1. 1986). Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. AlPO4. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995.4 % dibandingkan kontrol. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. 1978). niger strain NHJ2 1 ml per biji. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot).. (2001). kanada. Hutami et al. aktivitas fiksasi N. 1967). (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama.3 kali. (3) inokulasi R.8 kali. dan 10 kali. yakni lebih dari 10 kali lipat. aktivitas penambatan N. Lestari (1994). A. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. 1957 . Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat.

T. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia.. scwanniomycetes occidentalis. Pennicillium digitatum. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Bogor. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Trichoderma viridae. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. tanaman apapun yang .78 ppm (Baratha. dan Chaetomium sp. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Selain daripada itu T. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Tanah ini terkenal sangat miskin. kab. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. bahan organik. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. 2004).. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). 2000). dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3).media tumbuh GAGES dan GES. dan kapasitas tukar kationnya rendah.. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. kandungan bahan organik rendah. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. 42. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). (2000). Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. aspergillus niger. Penicillium sp. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Aspergillus niger. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa.

*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. Namun demikian. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Program Pasca Sarjana. Palembang. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Universitas Sriwijaya. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. 2009. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Program Pascasarjana. Program Magister (S2).com. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Program Magister (S2). Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Program Pasca Sarjana. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain.blogspot. Abdul Madjid. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Bukit Besar.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Program Magister (S2). (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. . Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Indonesia. Indonesia. Bukit Besar. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. A. Diposkan oleh Dr. Sumatera Selatan.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. dan kompos. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. menekan soil-borne disease. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara.130. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. biakan kering. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. atau ketempat pengomposan. biakan cair. dan juga pada minuman. Namun.760. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. biakan kering beku. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. dan tepung. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. Namun. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. R. memperbaiki struktur tanah. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. tanah. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah.11. arang. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Di Indonesia. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. atau zeolit. vermikulit. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. mempercepat proses pengomposan. Indonesia. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen.Sumatera Selatan. sekam. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. 2008). selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. pelarut. artinya mikroorganisme yang . Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No.

kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Propionat. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. jenis. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. dan ketoglutarat. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada pengujian pupuk mikroba.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Selain itu. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. 2008). perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. laktat. Fe-. 2008). Di Indonesia. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. baik berupa bakteri maupun jamur. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. seta jenis tanaman yang cocok. Mn-. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Dengan mempertahankan kelembaban. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. lartrat. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Stase. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. tanggal kadaluwarsa. cara penyimpanan. sitrat. Mulai tahun 2004. oksalat. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. 2008). Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. glikolat. fumarat. suksinat. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-.Suatu teknologi . sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. dan Ca. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung.

78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. bobol kering tanaman.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. . dan meningkatkan serapan P tanaman. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.59%). mikoriza./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.0. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P.28 ugfrnl (pH 2. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya./ha (23. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.47) hingga 394.0. 50 kg P. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.32% dan 16% pada padi.85ug/ml (pH 5. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.1). Aspergillus niger NHJ2. memobilisasi. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.0. 50 kg/ha SP36. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. Grt 3. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I).60 ug/ml (pH 4. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.0. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. yaitu mikroba pelarut fosfat. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.56 ug/m! (pH 6.65) hingga 147. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.

Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Konsentrasi fosfat. Moawad. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. 8. antara lain: 1. dan actinomicetes. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. minimal duplo. dan Vlek (1996). Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. – 8.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. 5. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. 7. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. 3. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. 4. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. bakteri. -4. khususnya isolat fungi. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. AlPO4 tidak larut dalam air. Buat medium agar Pikovskaya. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Ulangi langkah di atas secukupnya. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . 6. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. 2. – 6 s/d 10 ext.

Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. 1995). dan aktinomicetes.. fosfatase. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Goenadi et al. (2000). Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. (Goenadi.. A. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. 2000). Ketebalan agar. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. .2. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Melalui aplikasi pupuk hayati. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Misalnya. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. 3. Kecepatan pertumbuhan mikroba. 4. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. bakteri. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. misalnya: fungi. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. sehingga dapat diserap tanaman. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. dkk. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. 1995).

dkk. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. ketersediaan hara di dalam tanah. dan volume akar. kedelai. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. bobot kering bibit.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. (1997). dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. Hasil percobaana Goenadi. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. penambat nitrogen bebas. B.

(3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). margarita. dan serapan N dan P. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. niger. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. (3) inokulasi R. aktivitas penambatan N.8 kali. dan serapan N dan P berturut-turut 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. C. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. 50 kg KCl). jumlah bintil akar. (4) inokulasi R. Rhizobium 108-109. Al-dd 1. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). tinggi tanaman. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. 100 kg SP-36/ha.3 kali.5. jumlah polong isi. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. 1. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. pH 3. bobot kering akar. MK 1997. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. dan G. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). japonicum. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. Rata-rata bobot kering tanaman. 8 kali. 2000). bobot kering total. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. dan 10 kali. (2) inokulasi R. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. MK 1999. .209 me/100g). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. serapan N dan P tanaman. diameter batang. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A.96. aktivitas fiksasi N. A.

yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Pseudomonas spp = 34. Lactobacillus. Fe = 44.23 ppm .3 ppm . serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Hg. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. N = 0. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien.Ir.85 ppm .70 ppm . K = 1700 ppm .92 % . Cu = 0. Azotobacter. Mikroba pelarut fosfat3. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru.04 % . dan mikroba pendegrasi selulosa.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Lactobacillus sp6. Zn = 3. Azospirilum sp4. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Mn = 0.D. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Cd dan Mikroba Patogen. Mikroba Pendegradasi Selulose5. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Pb. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. C organik = 0.Lukman Gunarto MSc. mikroba pelarut P. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Azobacter sp2.

Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. penambat Nitrogen dari udara. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). populasi mikroba untuk menambatkan N. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). daun-daun atau bahan-bahan organik lain. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. probiotik MiG ternak. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. Azotobacter sp. sehingga keaslian produk MiG corp. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. apabila . Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. akan mendapatkan K dan unsur lain. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. mikroba pelarut P. unsur N. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Lukman Gunarto. Menurut penelitian Dr. pembentukan anakan dan primordial. Hasil dari pendegradasian tersebut. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. ada yang berfungsi sebagai penambat N. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. Lactobacillus sp. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul).

Sumatera Selatan. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Program Pasca Sarjana.com. 2009.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Penicillum. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. A. Indonesia. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Sumatera Selatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Abdul Madjid. Indonesia. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Program Magister (S2). Bukit Besar. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Program Magister (S2). MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Fusarium. Bahan Ajar Online. Bukit Besar. Bukit Besar. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. rusak atau mati. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Program Pasca Sarjana. Ir. Caranya sangat mudah. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Tidak masalah. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. A.blogspot. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sedangkan dari golongan . Program Pasca Sarjana. Schlerotium & Phialotobus. candidus. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI.

M. Buresh. Smithson. Widyastuti.W. 1997. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism.. E. M. I. G. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. Barea. Fungal Ecology.J. and M. Eduardo F. 1996. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. (eds). Dix. C. and Hellums.J. London. Baniks. D. Microbial...php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Marcel Deker. Building soil phospharus capital in Africa. Alexopoulos.J. Pennicillium digitatum. R. Philadelphia. Mims.W. S. PA. and Schweizer. dan Chaetomium sp.T. 2004. and Webster. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. J. USA.C.C.br/scielo. Campello.R. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Communities of P-solubilizing bacteria.. Orivaldo J. 1-44 pp. Introductory Mycology (4th Ed). New York. John Wiley and Sons. R. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. D. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Aspergillus niger. 51. Dhandhun Baratha. Saggin. 2006. Pusat Antar Universitas IPB. Carroll. Eliane M. 334-337. N. Publ. Buresh et al. Canadian. P. Penicillium sp. http://www.. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. and Wicklow. Rosario Azcón Jose M. Blackwell. Madison. 1982.. R.scielo. S. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman.C. J.. SSSA. J. 13 : 749-752. P. C. scwanniomycetes occidentalis. Chapman & Hall. 1993. Bogor. 1967. 868p. Plant soil 60 : 353-364. aspergillus niger. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. Chonkar and Subba rao. RJ – Brazil.. New York. J. Edson L. DAFTAR PUSTAKA Anas. J. 1995. VII. WI. Souchie. Premono dan R. 1999. Trichoderma viridae.T. 111-149. In. Inc.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. 1992. L.. Dickinson.

Badan Litbang pertanian. D. A. N. Mycology research 95. U. and Pegler. Nelson. 1995. Miller. Jakarta (Indonesia).L. F.F. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. 14 : 31-36. the fungal dimension of biodiversity: magnitude.. 23-30. 1991. P.J. significance and conservation.I.H. Anas.M. 1993..S. R. Perbedy. S. Riyanti. New York.. Cambridge. Aspects of tropical mycology.indiamart.A dan Clark. Kirk. Frankland. 616p. Fakultas Pertanian. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. Paul. P. Cambridge. Plenum Press. Phaff.297-312.L. Pennicilium and Acremonium. Isaac. Fusarium Species: Their biology and toxicology. Columbia. University Park.C. Sutton.K. 1989. Maningsih. University of Missouri Columbia Extension Division. Hawksworth.M.E. Siswanto and Sugiarto.. 1968. Puslittanak.. United Kingdom. Bio . D. USA. B. 2000. The Pennsylvania state University Press. J. Y. 1983.W and Mrak. Sunarlim. 1986. McColl. Goenadi.E. G dan I. Missouri. 193 pp. Cambridge University Press.J. The life of yeast. New York. Wallingford.Fertilizer [Biosol-P] www. E. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia.E. Hawksworth. Watling. Driven by nature p. 1997. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Giller and G.Z. K. 83-123 pp. 2000. Saraswati. Cadisch (eds).html Joffe.). 204 pp. Institut Pertanian Bogor.. H. S. 1994. 1996. 588 pp.N.G. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan.C.. Jenis pupuk P. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus.. A. Lestari. In. J. Bogor. CAB International.com/jayenterprises/fertilizers. N and J. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. D. E. John Willey & Sons. Hutami. Harvard university Press. and Whalley. Inc. E. F and Brotzman. Inc. . New York. P. Soil Science Society of America Journal 64:927932. 641-655. Bogor (Indonesia). 1979. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. M. Mass. CAB International.. D. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Merton.Gressel. Skripsi. H. R. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. 1987.

Oxford and IBH Publishing Co. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. John Willey & Sons. M. 2006. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. 1986. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Elsevier biomedical press. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. sulphur. Universitas Sriwijaya. Subba Rao. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Program Studi Ilmu Tanaman. Stevenson. Program Pasca Sarjana. yaitu Nitrogen (N). F. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Cambridge. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Palembang. Namun. Universitas Sriwijaya. Palembang. Institut Pertanian Bogor.J. Yuwono. Pupuk Hayati. Universitas Gadjah Mada. Introduction to fungi.ac. Fosfor (P). Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman. Cycles of soil carbon. [http://nasih. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Indonesia. Program Pascasarjana.staff. manual and atlas of pennicillia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. N. 2008. N. 1970. Cambridge university Press. C. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose).Premono. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. W. 1994. I.ugm. E. Sekilas Pupuk Hayati. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. 1982. J. Ramirez. Soil Microorganism and Plant Growth. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. New York. Tombe. New York. Abdul Madjid. 1977. 380 p. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Disertasi. nitrogen.id/] Diposkan oleh Dr. phosporus. Bogor.S. M. 202-204. Hara N tersedia melimpah di udara. micronutrients. New Delhi.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. infeksi ini . 2008). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. antara lain: Aspergillus sp. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Sebaliknya. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. karena terikat pada mineral liat tanah. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Penicillium sp. Namun. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh).jenis tanaman. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K).

Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. jenis rumput-rumputan. pinus. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Dilain pihak. karet. Ektomikoriza 2. bercabang. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Acaulospora. 2006). pasang. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. dll. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. Ektendomikoriza 3. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . Hifa memasuki sel kortek akar. Gigaspora dan Scutellospora. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. misalnya jenis-jenis meranti. Archaeospora. mangga. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. mulai dari paku-pakuan. mempening (jenisjenis Fagaceae). Entrophospora. kelapa sawit. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. kesehatan dan produktivitas tanaman. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. 2004). Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. 1997). Paraglomus. rambutrambut akar tidak ada.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. padi. membentuk chlamydospores (Morton. 2003). hingga pohon rambutan. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. kruing. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer.

singkong dan sorgum. padi gogo. harus diamati dibawah mikroskop. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. vesikel intraseluler. nenas. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. kapas. 2004). Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. 1998). 2004). bawang. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. karet. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. 1. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. kebanyakan berbentuk bulat telur. akan tetapi belum berhasil. barley. kakao. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. vesikel (vesicle) dan spora. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). . Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. tembakau. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. 2003). Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. teh. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. pepaya. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. palem.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. jeruk. kacang tunggak. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. apel dan anggur (Rahmawati. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. kopi. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. selada.

2. 1981). yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. yang memiliki perbedaan tegas. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. 3. 2004). pembengkokan inti sel. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Mirip dengan cendawan patogen. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. dengan Ascomycota dan Basidiomycota.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. 2004). berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). pembentukan organ baru. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Arbuskul berperan dua arah. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Schubler et al. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. 2) . Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Dengan bertambahnya umur.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 1981).

Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. 1991). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. dan Glomus sp. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Paraglomus.Paraglomerales (famili Para-glomerace). Gigaspora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. kepadatan propagula. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. 2002). Diversipora. Pacispora. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Kuklospora. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. 2006). dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). 2006). Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. (Sagin Junior & Da Silva. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Diversisporaceae. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Walaupun demikian. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Acaulospora. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Oleh karena itu.. . Intraspora. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Scutellospora. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Gigaspora-ceae. Geosiphon. tanaman inang. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Entrophospora.

. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan.II.pada tengah hari. 1981). tanah. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. saat kelembapan air rendah. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. bahan organik tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. logam berat dan fungisida. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . pH. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Vesser et al. kadar air tanah. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. 1981). adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. hal ini menguntungkan. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Untuk daerah tropika basah.

meningkat (Rotwell. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. klor. 1981). Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Serasah tersebut mengandung hifa. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1984). Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. alumunium dan mangan. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1997).. 1997). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. 1997). Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. air dan udara.

Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1995). Benlate. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Plantavax. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar.. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. 1984). fungisida Agrosan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. 1984 dalam Anas. 1997). 1997). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. dicirikan oleh keragaman . dan Na yang tinggi (Mosse. 1982 dalam Anas.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1998). Al. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1981). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.

pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. cropping sistem. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. . Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. 1 9% (Gededda et al. P. 2002). 2005). Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Pada tanaman pisang. pembakaran. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Untuk tanaman manggis.spesies yang sangat tinggi. K. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. 1984). Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. unsur hara dan struktur tanah. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. karena perubahan spesies tanaman. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. 1996). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994).04 menjadi 0. 1995). Sawahlunto Sijunjung. 1996). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Dalam budidaya tradisional. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran.

1997). 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. 1997).7% dan 4. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. kekeringan. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. . bobot kering tajuk. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. III.masing sebesar 5. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. 2006). sedangkan inokulasi G. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Di dalam arbuskul. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. 8 dan 28 MST. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. G. serta patogen akar. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Selain daripada membentuk hifa internal.5% dibandingkan dengan kontrol. sedangkan inokulasi G. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. jumlah daun pada umur 4. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan.2% dibandingkan dengan kontrol.7% dibandingkan dengan kontrol. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul.

sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Fe. keasaman. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Zn dan Cu meningkat. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. 1997). salinitas. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Zn. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Dengan adanya CMA. Selain itu. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. 3) melindungi dari herbisida. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. 2006). Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Cu. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pada kedelei. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. dan Zn). Setelah periode kekurangan air (water stress). Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. pemadatan. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan.

dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. atau lahan terpolusi lainnya.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. 3. 1994). Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. 2. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 2. K dan S. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen.1997). Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 1994). Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. 4. tailing tambang batubara. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Dilain pihak. Infeksi patogen akar terhambat.

dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 40% kebutuhan nitrogen. 1993). 1981 dalam Husin dan Marlis. 1997). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. . Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. 3. Pada tanaman tertentu. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. 1981). dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 2000). sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. dan giberalin. sitokinin dan giberalin. Interaksi sebenarnya antara CMA. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Jika terhadap jasad renik berguna. citokinin. patogen akar. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 1997).. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. 4. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang.

"Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Bila ini benar. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah.. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Perbaikan Struktur Tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. 1997). Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Menurut Hakim.. 2002). Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. tapi juga bagi tanah. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. 2002). memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. 5. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu.

Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. setelah didahului dengan proses infeksi akar. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Magnesium (Mg++).50–90. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.4. dan protein. yaitu mencapai 70. khususnya pada tanah yang miskin P. Seng (Zn++). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).33%.5. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. 2002).tanah. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.6 hexakisphospat). lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.2. Prihastuti et al. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Besi (Fe++). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. phosphor bebas dan mineral. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.3.. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). B. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. namun .cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. 6. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). 1999). Phytat adalah senyawa phospat komplek. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. japonicum. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.

temperatur. pH. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Bagi tanaman inang.BK. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. 1995). . tanaman bermikoriza .sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. tipe perakaran tanaman inang. 3. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sedangkan secara langsung. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. tanaman inang. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. 1997). adanya asosiasi ini. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). 1994). perkebunan. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. kadar air. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". dan kompetisi antar cendawan mikoriza). 1987). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Secara tidak langsung. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. 2004). 2006). baik secara langsung maupun tidak langsung. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. tanaman tanpa mikoriza) / BK. 6. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. baik untuk tanaman pangan. spesies cendawan. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan.

infiltrasi air hujan rendah. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Sulawesi dan pulau besar lainnya.1. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.13 mg P/tanaman menjadi 2. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.7. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.98 g biji/tanaman. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera.13 g biji/tanaman. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. kejenuhan Al tinggi. . persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.84 g biji/tanaman menjadi 5. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.15 mg P/tanaman.02 g biji/tanaman menjadi 5. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Kalimantan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.18 mg P/tanaman menjadi 2. miskin hara dan bahan organik. 1997). Disamping untuk tanaman pangan. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.1997). Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0..66 mg P/tanaman.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. sebesar 38.71. dengan kadar P tersedia "rendah" . berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.5 ppm.65 %.84 % . mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Selain itu. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. telah mencapai sekitar 10 sentimeter.72 ppm dan tanah Inceptisol. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.90 %. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa .66 % . selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.76 % -21. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Untuk mewujudkan harapannya. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . 8. Dengan teknologi mikoriza.. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. 2008). jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Tujuannya. 69. Peningkatan kadar P nira. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.15 %.67.80 % . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.40. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.

diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. 2008). Tanaman inang dapat berupa jagung. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 6. 4. spora dan akar terinfeksi. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. selain untuk meratakan hasil. 2. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman.campuran tanah. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Manfaat 1. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia.Lima hari kemudian. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 3. telah diberikan Asosiasi . Dalam rangka pelaksanaan program ini. 3. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. 5. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. sorgum atau pueraria. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. bedeng tersebut dapat digunakan. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. diaduk merata. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman.

Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Setelah itu pil dipecah-pecah.Mycorrhizal Indonesia. Untuk membuat tablet. Setelah teruji kemurniannya. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Aturan pakainya sederhana. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Ir. Di IPB. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Kalimantan. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Dalam teknik pemberian mikoriza. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. satu tablet untuk satu bibit. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Tablet ini dibuat dari cendawan. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. seperti: penyakit bercak akar kapas.7 sentimeter. (2)Saprophitik. (3) menggunakan miselia cendawan. yaitu: (1)Parasitik. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Abdul Madjid. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. mampu menambah daya tahan akar tanaman. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Diposkan oleh Dr. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Setelah diberikan pada bibit tanaman. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan.

akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. seperti: amoeba. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. (b) cacing tanah. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. dan rayap). (2)Ektomycorhiza. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (2)Glomus. Flora Tanah . Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. dan ciliata. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. yaitu: (1)Endomycorhiza. Chilopoda (kelabang). dan (3)Ektendomycorhiza. dan (b)Nematoda. (3)Simbiotik.dekomposisi bahan organik tanah. yaitu: (1) Makro Fauna. (3)Acaulospora. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. Abdul Madjid. Diplopoda (kaki seribu). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. (4)dll Diposkan oleh Dr. (d)Moluska. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. seperti: omnivorous dan Predaceus. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. jangkrik. flagelata. semut. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. kutu. (c) Arthropoda. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Arachnida (lebah. Ir. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci.

000 bakteri per gram tanah. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. (2) Mikro Flora. Aspergillus. yaitu: (1) Makro Flora. Selain itu. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. . Bacillus. yaitu: (1) Makrobia. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. dan (3) Mikrobia. bahwa berdasarkan ukuran. Ir. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dll. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. (2) Mesobia. terdiri dari: (a) bakteri. Abdul Madjid. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100.2 mm. dll. dan (d) algae. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). (b) fungi.2 mm s/d 10 mm. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. (c) actinomycetes. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Diposkan oleh Dr. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF).

net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Abdul Madjid. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Ir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful