PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

kacang tunggak. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. kapas. 2003). walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. kopi. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. jeruk. selada. 2. pembengkokan inti sel. nenas. 2004). pepaya. 2004). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. bawang. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. apel dan anggur (Rahmawati. teh. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. akan tetapi belum berhasil. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. karet. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Arbuskul berperan dua arah. 2004). tembakau. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. 2004). singkong dan sorgum. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. pembentukan organ baru. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). . Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. vesikel (vesicle) dan spora. 1. barley. padi gogo. kebanyakan berbentuk bulat telur. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. kakao. palem. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan.Leguminosa umumnya bermikoriza.

Geosiphon. Entrophospora. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Diversisporaceae. Dengan bertambahnya umur. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Gigaspora-ceae.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Oleh karena itu. Mirip dengan cendawan patogen. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Schubler et al. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. CMA sekarang menjadi filum tersendiri.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Diversipora. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 3. yang memiliki perbedaan tegas. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Kuklospora. Walaupun demikian. Scutellospora. dan Glomus sp. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Intraspora. Pacispora. Acaulospora. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 1981). tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Gigaspora. . CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 2006). kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. 1981). Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Paraglomus. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi.

Diposkan oleh Dr. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. 2009. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Indonesia. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. (Sagin Junior & Da Silva. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bahan Ajar Online. 2006). 1991). A. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Palembang. Ir. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. kepadatan propagula. Palembang. tanaman inang. Program Pascasarjana.. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. . Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm.blogspot. 2002). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Program Pascasarjana.

Indonesia. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Untuk daerah tropika basah. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . 1981).pada tengah hari. saat kelembapan air rendah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. hal ini menguntungkan. Vesser et al. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Universitas Sriwijaya. 1981). Universitas Sriwijaya. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula.** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). kadar air tanah. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. logam berat dan fungisida. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Program Magister (S2). Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. pH. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Palembang. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Palembang. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. bahan organik tanah. tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang.. Program Pasca Sarjana. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar.

Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. air dan udara. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. 1997). pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. 1981). tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1997). Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Serasah tersebut mengandung hifa. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. 1984).

1984).5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1997). Cendawan pada umumnya . Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1997). Plantavax. 1984 dalam Anas. dan Na yang tinggi (Mosse. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1997). alumunium dan mangan. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. klor. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1982 dalam Anas.. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Al. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. fungisida Agrosan. 1981). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Benlate..

Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. K. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. 1996). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). 2005). . pembakaran. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). cropping sistem. karena perubahan spesies tanaman. Dalam budidaya tradisional. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al.04 menjadi 0. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1 9% (Gededda et al. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. 1984). unsur hara dan struktur tanah. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Pada tanaman pisang. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1995). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1998). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. jumlah bahan organik yang dihasilkan. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1995). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. P. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. ameliorasi dengan bahan organik.

CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Palembang. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Universitas Sriwijaya. 8 dan 28 MST. Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bahan Ajar Online. Program Pascasarjana. 2002). Palembang. Palembang. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. .7% dibandingkan dengan kontrol. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Program Magister (S2). Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Program Pascasarjana. jumlah daun pada umur 4.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Sawahlunto Sijunjung. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Program Studi Ilmu Tanaman.com. Program Pasca Sarjana. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.2% dibandingkan dengan kontrol. G. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Http://dasar2ilmutanah.5% dibandingkan dengan kontrol. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Universitas Sriwijaya. 2009. sedangkan inokulasi G.7% dan 4. Ir. Program Pasca Sarjana. Untuk tanaman manggis. Palembang. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Indonesia.masing sebesar 5. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Universitas Sriwijaya. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). sedangkan inokulasi G. 1996). Program Magister (S2). bobot kering tajuk.

2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. keasaman. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 1997). Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 3) melindungi dari herbisida. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. pemadatan. Selain itu. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. dan Zn). serta patogen akar. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. 1997). Di dalam arbuskul. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Zn. 2006). kekeringan. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. salinitas. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Cu. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Selain daripada membentuk hifa internal. Fe. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam.

K dan S. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. 1994). baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Setelah periode kekurangan air (water stress). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Dengan adanya CMA. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. 1997). Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. 2006). infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Pada kedelei. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Zn dan Cu meningkat. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat.tanaman inang. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air.

Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Jika terhadap jasad renik berguna. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). 1994). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Dilain pihak. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 3. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. tailing tambang batubara. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza.1997). atau lahan terpolusi lainnya. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al.simpan air kecil. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan.. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Interaksi . Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. 1993). 4. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. 2.

4. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . 1997). patogen akar. sitokinin dan giberalin. 1997). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 2000). Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Pada tanaman tertentu. Perbaikan Struktur Tanah. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. dan giberalin. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Bila ini benar. 1997). 5. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. citokinin. 40% kebutuhan nitrogen. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. 1981). dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur.sebenarnya antara CMA. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. 3. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 1981 dalam Husin dan Marlis. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah.

sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat.agregat mikro. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. 2002). et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Menurut Hakim.. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. 2002). . memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air.. tapi juga bagi tanah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.

meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).5. 1999). 1987). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . Magnesium (Mg++). memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley.6 hexakisphospat). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Seng (Zn++). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. dan protein. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA).6.3. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. setelah didahului dengan proses infeksi akar. 1997). hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. phosphor bebas dan mineral. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. khususnya pada tanah yang miskin P. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital.50–90. B. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Prihastuti et al.2. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. 2006). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Besi (Fe++). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. yaitu mencapai 70. japonicum. 2002).4. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.33%. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).

spesies cendawan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. 1994). dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. baik untuk tanaman pangan. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Sedangkan secara langsung. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. 1995). Secara tidak langsung.1. 6. pH. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Sulawesi dan pulau besar lainnya. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. adanya asosiasi ini. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 2004). tanaman bermikoriza . Bagi tanaman inang. 7. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. tanaman tanpa mikoriza) / BK. tipe perakaran tanaman inang. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. . Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. 3. tanaman inang. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. kadar air. Kalimantan. baik secara langsung maupun tidak langsung. temperatur. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. miskin hara dan bahan organik.BK. perkebunan. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization".

Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.15 mg P/tanaman. dan hasil kedelai meningkat dari 2. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . 1997). Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. 1996) dan pepaya (Cruz et al.13 mg P/tanaman menjadi 2.98 g biji/tanaman.84 g biji/tanaman menjadi 5. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.02 g biji/tanaman menjadi 5. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.18 mg P/tanaman menjadi 2. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.. infiltrasi air hujan rendah. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.66 mg P/tanaman. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. net fotosintesis.13 g biji/tanaman.. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.kejenuhan Al tinggi.1997). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Disamping untuk tanaman pangan. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. serta serapan hara NPK. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz.

Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Dalam kondisi salinitas tinggi. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. et al. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Peneliti lain. 2000). tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. meningkatnya tekanan osmotik. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. 1995 dalam Aggangan et al. 3. 7. Zn dan Cu (Al-Kariki. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. 2001). Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. 1994 dan Tam. terhidar dari plasmolisis. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. 1994). 2000). meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air.

tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). (2001) menunjukkan bahwa P. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Oliveira et al. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. . disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. efisiensi penyerapan P. maka laju penurunan hasil clover meningkat. zat yang melarutkan PAH. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Menurut Wachjar et al (2002). dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. 12 diantaranya bermikoriza. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. 2000). 1993). Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. meningkatkan N tanah setelah percobaan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan... australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti.berbeda.

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Dengan teknologi mikoriza. 2005). Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. sulit dan cukup mahal transportasinya. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar.S. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. produktivitas. Selain itu. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. berharap jati muna yang telah .

spora dan akar terinfeksi. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah.40.84 % .5 ppm.65 %. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. 2.. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Inokulasi .71. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.Lima hari kemudian. 2008). selain untuk meratakan hasil. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . sebesar 38.72 ppm dan tanah Inceptisol. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.80 % . Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Untuk mewujudkan harapannya. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.76 % -21. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. dengan kadar P tersedia "rendah" . Peningkatan kadar P nira. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. 3. diaduk merata. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.90 %. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.15 %. bedeng tersebut dapat digunakan. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. 8.67.66 % . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Tujuannya. 69.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.

Pada tiap lubang yang dibuat. Manfaat 1. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. . telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. 4. Dalam teknik pemberian mikoriza. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 5. sorgum atau pueraria. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. 6. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 2008). dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Tanaman inang dapat berupa jagung. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. 3. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman.

1.J. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dan Nitrogen (N) 75%.00 gram. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Di IPB. Dengan demikian. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P).00. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. 1. Setelah itu pil dipecah-pecah. sampai 230%.00 gram (Hardiatmi S.500 dan 2. 1. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.M.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Tablet ini dibuat dari cendawan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.00 gram. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Setelah teruji kemurniannya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Setelah diberikan pada bibit tanaman. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Aturan pakainya sederhana. 2008) . Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Untuk membuat tablet. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Kalium (K) bertambah 86%.50.ah takaran 1.00.50 dan 2. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. satu tablet untuk satu bibit. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Kalimantan. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Sebagai pembanding. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.7 sentimeter.

Ir. Palembang. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Indonesia. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. . Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Palembang. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Abdul Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. A. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Http://dasar2ilmutanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Program Pasca Sarjana. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Universitas Sriwijaya. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Palembang. Indonesia. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Program Pasca Sarjana. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. 2009. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Pascasarjana. Bahan Ajar Online. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2).

pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.4-13%). Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Kamizae. 4.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. virus. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . OST dan Simbionriza. b. jamur yang bersifat patogen. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Rhiphosant. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Tabel 1. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. kehutanan.

seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.12 Dengan Mikoriza 48. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan .14 Dengan Mikoriza 43. 4.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.70 ------------------------------------------------------------------c. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.44 Dengan Mikoriza 28. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. d. Bali.Tanpa Mikoriza 28. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman.64 35. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.50 33. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.28 34. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan).

Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Kalium (K) bertambah 86%. 2008). lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dan Nitrogen (N) 75%. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.7 sentimeter. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Selain P. Di IPB. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.S. Setelah itu pil dipecah-pecah. Aturan pakainya sederhana. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. 4. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Setelah diberikan pada bibit tanaman. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Setelah teruji kemurniannya. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. 4. javanica. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Kalimantan. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Dengan demikian. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam.M. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. satu tablet untuk satu bibit.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Tablet ini dibuat dari cendawan. Untuk membuat tablet. sampai 230%.

000 kapsul.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. pH tanahnya sangat bervariasi. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Setelah itu. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri.5 g carrier. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah.000 spora secara merata.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. (3) Dapat di produksi secara khusus. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Sebelum digunakan. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang.000 spora. 4. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. setiap kapsul dibutuhkan 0. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Pada praktek sebelumnya. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. (2) Mempermudah penanganannya. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target .

(pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Azotobacter. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Azospirillium. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Lactobacillus spp. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit.D. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Sinorhizobium. Clostridium pasterianum. Nitrobacter. Anabaena azollae OST Azotobacter. Azzospirillum lipoverum.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Beijerinckie. R. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Ankia alni. Nitrosomonas. Rhizobium. Bacillus. Mikrococcus. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Tabel 3. Aeromonas punctata. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Nostoc muscorum.M.

Indonesia. IPB. I. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Program Pascasarjana. I. Anas. Program Studi Ilmu Tanaman. 2009.Bioteknologi Tanah. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Indonesia. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. 1997. Universitas Sriwijaya. Laboratorium Biologi Tanah. 3.blogspot. DAFTAR PUSTAKA Anas. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Palembang. Palembang. KESIMPULAN 1. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Biologi Tanah dalam Praktek. A. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Ir. 2. IPB. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Palembang. 1989. Jurusan Tanah. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Http://dasar2ilmutanah. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Fakultas Pertanian.Madjid. .com. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman.

Hakim dan Kusli. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Amin Diha. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. No. M. Rev. Growth response of Afselia africana Sm. H. 1997.F. 2008. 2004. Rusdi Saul.R.1. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Lampung. N.lunarpages. Ika RS dan Saubari MM. Vol 5.. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. Go Ban Hong.M. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). . Ali. Husnal. Dudi. Martens and H. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. 2000. Biol. M. Sutopo Ghani Nugroho. 9/2 : 91-95. Nurhajati. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Lubis. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Hasanudin. Ba. 1994. A. 1986.. Fertil. Biol. Dexheimer. Universitas Lampung.Adinurani P. 79:473– 495. A.. 1997. Biantoro M. 2007. Mahfud. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. E. Soil Biol. 2007. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. ISSN 1411-0062. 2008. p. Mulyati M dan Roy H. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Doponnois. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Brundrett. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil.google. Iskandar. Reber. Lampung.com Fleibach. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Azcon. Universitas Lampung.M. El-Atrash. Jakarta. 2000. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. K. M. hal 83-89. Vol 5. Hakim. Bailey. terhubung berkala : www. R. Husin. INFOTENS. Mycorrhiza J. A. M.G. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Soils 24 : 81-86. Yusuf Nyakpa. and J.google.H. 2007. Faisal T. Biochem.H.com dalam http://support. Dasar-dasar Ilmu Tanah. R.com.M. Sanon . and F. 12-15 Desmber 1995. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. G. 26 (9) : 1201 1205. 2002.B.

Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. A.id. M. Biol. K. Plant and Soil 78: 147-150. D.V. http ://www. from saline soils and Glomus deserticola under salinity..usu. 2008. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. 1984. E. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal.G.com dalam http://hortikultura. K. Jember. Bull Manjunath. 1981. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. and C. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Notohadinagoro. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering..pdf.ae. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.Tervesia claveryi. Azcon. J. 2000. JMR. 1994. Soils 26 : 79-87. Terhubung berkala www.library. IPB.. Mycorrhiza J. 10/3 : 115-119. 1993.. Mosse. Oliveira. S. Universitas Jember.litbang deptan. 1998. Rahmawaty. Mycorrhiza J.Y. 2004. 2000. JC. Bogor. Dodd and PML.id. Lozano.Lovisolo and A. 2001. 2003.. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Castro. Leyval.. A. 10/5 : 241-247. 2001.. Jordan. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Soil ecology.H. Ress. 1997.J. Khan.download/tp/htm-rahmawaty s.Joner. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Tejoyuwono. Mycorrhiza J. Publ. 24 Januari 2006. Killham. 1995. R. and McDonald. 10/4 : 155159. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Schubert. Kim. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. Morte. A. Sekolah Pasca Sarjana. and R. Bagrayad. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. D. D. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Cambridge University Press. .google. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Biotropia 8 : 39-44.S. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. C. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.No56 : 131-137. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp.go. Biotrop Spec. Pattimahu. Khan. Fertil.

Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. IGM. and K.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste.. dan Marlin. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Romeida. Ir. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. and C. Thomas. Widodo. Ninin Y. N. 1991. Bogor Schubler. J. F. Walker. Simangunsong S. Singh. Buletin Agron. Biotrop Special Publ. and R. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Diposkan oleh Dr. 1995. 1984. 105(12):1413-1421.J. D. Wachjar A. Abdul Madjid. Franson. Mahadevan. Kapoor. Unsur hara tanaman.. A new fungal phylum. hal 69-74. Bengkulu. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Soil Sci. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil.S. S. Soc. Yadi S. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . A. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. 2006. Subiksa. R. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali.R. Zarate. 1999. 1994. D. Biotrop Spec. Fertil. 2005. Soils 28 : 139-144. Biol. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Penerbit Universitas Indonesia. Am. 57 : 77-81. Mycol. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza.A. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. 2002. J..B. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. A. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Rao.L.E.Rotwell. Dela Cruz.No56 : 131-137. Schwarzott. Ragupathy and A. Edisi Kedua. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. R.K. and G. M. Incidence of vesicular . S. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Vol 3. 2001. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution.T.. 2002.S Subha. Res. Bethlenfalvay. Publ.

pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Sumatera Selatan. Palembang. Universitas Sriwijaya. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Indonesia. Program Pasca Sarjana. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Bukit Besar. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Program Pasca Sarjana.1.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Palembang. biologis dan cultural. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Bukit Besar. Upaya yang mulai . Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . PENDAHULUAN 1. Indonesia. Bukit Besar. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. termasuk biodiversitas. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Program Magister (S2).

Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Penyedia hara . ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. 1996): 1. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. jamur. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. kemasan . Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. baik kesuburan fisik. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. kimia maupun biologi. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. 2002).

Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. B. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. B.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. 2.0 μm. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.5.5-0. B. cereus. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. P. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae.berbentuk batang lurus atau lengkung. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. subtilis. Perombak persenyawaan agrokimia 1. jamur dan aktinomisetes. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. P. Flavobacterium. 3.2003). Arthrobacter. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. fluorescent. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Peningkat ketersediaan hara 3. dan P. multivorans (Hasanudin. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans.2. licheniformis. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Achromobacter. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.1 1μm x 1. Pemantap agregat tanah 6. Pseudomonas. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. . ukuran tiap sel bakteri 0. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. B.2.4. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . putida. B. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. polymixa. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Pseudomonas terbagi atas grup. Micrococus dan Mycobacterium. megatherium. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.

tetapi pada umumnya rendah . dan ribosom. dan gula posfat.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. radiasi cahaya. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. suhu tinggi dan zat kimia. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. materi genetik. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. kelembaban temperatur dan faktor lain. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik.2005). fosfolipid. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . nukleotida. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. hewan dan mikrobia. 5. 1. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. asam nukleat.4. . Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis.terutama yang bersifat heterotrof. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. 6.

diantaranya dalam proses sintesis protein. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak.pembentukan bunga . karbonat apatit. Al-P.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. fosfor merupakan 11 unsur yang . buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. FePO42H2O Strengit. ATP. aluminium dan hidrat. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin.01 – 0. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. dan mineral P primer. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Dalam bentuk anorganik.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. pembentukan akar halus dan rambut akar. yang meliputi occhided-P . Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme.Al3+. reductant-P . AlPO42H2O Variscit. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel.2002).Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel.2007). Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. 1. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Secara geokimia.Mn2+ dan Ca2+. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Fe-P dan P tidak aktif. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit.

17 . Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk.5 juta ton endapan guano (0.6 x 1011 mol P th . Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). hijau. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F.4 . Indonesia.20. Program Pascasarjana. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.com. 2009. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2).beku. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Propinsi Sumatera Selatan. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Sebagai contoh 15-30-15.sangat melimpah di kerak bumi.Cl. Abdul Madjid. sedimen. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. 1992). Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.3 x 1011 mol P th. Ir. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Di dunia. yaitu 7. Jika aktivitas manusia (anthropogenic).OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). berat jenis 3. guano. kilap kaca sampai lemak.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Bahan Ajar Online. Selain sebagai bahan pupuk.15 3. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Http://dasar2ilmutanah.blogspot.15. Seperti halnya nitrogen. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat.H2O). Program S2.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. dan kekerasan 5. Diposkan oleh Dr. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . dan metamorf. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan.40% P2O5. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. dan milisit {(Na. Universitas Sriwijaya. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. A.

PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Al-P. laktat. Program Pasca Sarjana.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. glioksalat. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. glutamat. Indonesia. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Bukit Besar. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Palembang. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Universitas Sriwijaya. fumarat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Palembang. yaitu dalam bentuk Ca-P. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. suksinat. Indonesia. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. MgP.1. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Indonesia. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. oksalat. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Program Studi Ilmu Tanaman. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. malat. Sumatera Selatan. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Fe-P atau occluded-P. tartarat dan alfa ketobutirat. Program Pasca Sarjana. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Program Magister (S2). Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik.

Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. malat. sedangkan asam malonat. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Terdapatnya asam-asam organik sitrat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. oksalat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Hasil penelitian Pramono et al. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). dan lemah (suksinat. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti.laktat. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam.OH + R-COO. oksalat. malonat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . Disamping meningkatkan P tersedia. sedang (malat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. tartarat dan malat berefektivitas sedang. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. asetat dan ptalat).---> M OH + H2PO4H2PO4 .2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. . salisilat). Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. tartarat). asam amino dan asam fenolik.

1971. oksalat.0 x 10^6 7 Fungi 1. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. glukonat. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson.7 x 10^4 0.4 x 10^3 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. asetat. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1.2 Ammonifiers 5. 1961. sitrat. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. merupakan bentuk antara (transisi).0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. 2007). Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . Tabel 1.0 x 10^3 2 Algae 5.2 x 10^9 5. glikolat.0 x 10^5 12 Protozoa 2. malat. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. suksinat.0 x 10^3 2. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.6 x 10^7 7.26 x 10^8 1. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.2 x 10^6 1. alfa ketoglutarat.0 x 10^8 4. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.

0. 8.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. (3) tingkat dissosiasi asam organik. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik.8 ppm. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.6 ppm pada tanah steril. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. gliserofosfat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Bacillus sp. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.9 ppm. FePO4. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium.7 ppm menjadi 34. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . 13 dan 14%. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus.4 ppm menjadi 59. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. . Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.3. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. Ca3(PO4)2. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.1 – 3. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.9 dan 0. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. AlPO4. Bacillus substilis. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . apatit. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.5 .7 ppm pada tanah sterl dan 0. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.8 – 3.5 ppm menjadi 30. lesitin. 6.

Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Misalnya.2. dan aktinomicetes. minimal duplo.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. misalnya: fungi. Pada tanaman jagung. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. berat basah trubus. bakteri. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Moawad. berat kering akar. Pada percobaan yang lain P. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. 2. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. AlPO4 tidak larut dalam air. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. luas daun serta kadar P trubus. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. dan Vlek (1996). Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. berat kering trubus. berat basah akar. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

3.5 (6) (NH4)2SO4 0.Miza Pluss.20 (3) MgCl2. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . .01 .0. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.05 .30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.025 . 3. Azotobacter sp. Lactobacillus sp.dikembangkan . Tiens Golden Harvest .2 (7) Bromophenol Blue 0. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.20 (4) MgSO4.01 . Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .7H2O 0. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. mikroba pelarut P. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.6H2O 0.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .5 (5) KCl 0.5 .

Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Bukit Besar. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman.blogspot. http://dasar2ilmutanah. Program S2. Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Program Pasca Sarjana. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) .Kemasan : 5 dan 25 kg. Universitas Sriwijaya. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Bukit Besar. bakteri pelarut fosfat.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Program Pascasarjana. Masa simpan : 12 bulan. bakteri penambat N. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). Program Magister (S2). 2009. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Palembang. A. Indonesia. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Palembang. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. Palembang. Abdul Madjid. Ir. N.com. bakteri pelarut fosfat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan.

lesitin. kentang. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. tomat. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28.1-3.9 dan 0. 3-13.9 ppm. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. padi. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.8 ppm. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P.8-3. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.3 .puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. jagung. kacang panjang dan tebu.6 ppm pada tanah steril. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Bacillus sp. bit gula. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. Bacillus subtilis .3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. gliserofosfat. kedelai.IV. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Escherechia freundii dan E.7 ppm menjadi 34. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. . Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. 3-9. 5-21 dan 14%. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Intermedia . Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Ca3(PO4)2.4 ppm menjadi 59. 0. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Bacterium mycoides dan B. kubis. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Circulans pada tanaman kedelai.5 ppm menjadi 30. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. barlei. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0.

Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. 1994). 1992). Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Pada percobaab lain (Buntan. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Pada tanaman jagung. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Fe2+. 1992.2007). Mg2+. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. 1991). glutamat. P. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. fumarat. Puptida dan P. glioksilat. diantaranya asam sitrat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Premono dan Widyastuti. bayam dan kacang panjang). Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Striata. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. laktat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. malat. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. oksalat. suksinat. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh.

Klebsiella aerogenes. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. Chromobacterium lividum. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. Daerah Cikaniki. 575.5 cm. 217.) di Tanah Marginal.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.3881 ppm dan 280. umur panen.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. dan 606. Klebsiella aerogenes.75%..42 g atau ada kenaikan 877. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. berat daun segar 4 tanaman per pot. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). jumlah polong.22 g.67%. umur pembentukan polong. Megaterium sebagai inokulan padat. 208.63%. Bacillus sp. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. jumlah biji.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. 203. 354. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.30%. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. 903. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah .81%.15 g tanaman-1. dan 61. dan Chromobacterium sp. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. 207. jumlah bunga.5-2. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. Chromobacterium lividum dan B. dan B. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Bacillus megaterium. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Gunung Botol.48 g. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl.. 930.67%. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. pH tanah. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.

Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran. Bahan Ajar Online. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Indonesia. A. Ir. Sumatera Selatan. Bukit Besar.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Pasca Sarjana. Palembang.com.Fe. Palembang. Program Magister (S2).blogspot. Bukit Besar. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Indonesia. 2009. Palembang. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Universitas Sriwijaya. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan .kering tanaman kedelai. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Propinsi Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.Mn. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol.

D. 1997. Elfiati.1992. S. Plant Soil 57 : 223-230.J. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.Faperta Universitas Bengkulu. Escherechia freundii. 1982.Bacillus firmus. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. B. Bacterium mycoides. Buntan. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor.2003.Universitas Sriwijaya.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.C.K. 1980. 45: 506-509.No. Noor A. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. N and K. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.E dan Hairiyah. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop.32. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Plant Soil . Buletin Agronomi. 1982.K Jha. 1996. S. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.S and A. Dubey. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Handayanto. B. Hasanudin dan Ganggo.K. 60:353-364.2.J.Soil Sci.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.Soil Sci.2005. 6(1) : 8-13. S. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Bacillus megaterium. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Banik.Medan Gunalan. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. 2004. 1998. Bacterium mesenterricus.2007. 2003. 31 (3): 100-106.30:105-106. Gaur .Indian Soc. Universitas Bengkulu. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Kundu.S.A. Pustaka Adipura. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Citrobacter intermedium . Hasanudin. Fakultas Pertanian USU. Indian Soc. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Majalah Sriwijaya Vol. Edisi 3. Pal.

C. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.Penerapan Pertanian Organik.Biodiversitas.) di Tanah Marginal. 1991.Bogor.R.N. Edisi 2 . 2006.Bandung Rao.acid tolerant crops. Tesis. N. Can. S dan Suliasih . UGM. Diposkan oleh Dr.R Glick. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. 1992. Bandung. Yuwono. S dan Suliasih . 198 : 169-177.1 Wulandari. 1998. Widawati.Disertasi. Sutanto. 1996. Soil Microorganisms and Plant Growth. and Sinha. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . Gunung Botol..Pupuk Hayati . 2007. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Microbiol 42: 207-220.60 no. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.L and B.Kanisus Jakarta.Medellín vol.2002. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.Program Pascasarjana IPB. 4(1) : 1-5.R.W. C. Patten.NW. Universitas Pajajaran. Ir.Agr.H. 2005. 2001. 1962. Edisi 3. 2006.Biodiversitas. 7(1):1014. Widawati.Widyastuti. Premono.Yogyakarta. Vega. Abdul Madjid. Oxford and IBM Publishing Co.H. dan Ciptarasa. Jurnal Nature Indonesia.T. Setiawati. S. S. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. Supadi. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. 7(2):109-113.J. UI Press).T. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. (Terjemahan Susilo. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Plant Soil.

kimia. Indonesia. Palembang. Program Magister (S2). bakteri dan fungi perombak bahan organik. bakteri. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Palembang. fungi. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. serta bakteri yang berperan sebagai . bakteri dan fungi pelarut fosfat. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. dan virus sebagai agensia hayati. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Program Magister (S2). Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Universitas Sriwijaya. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Bukit Besar. alga dan virus. Indonesia. seperti bakteri. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Sumatera Selatan. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. 1998). Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. aktinomicetes. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. ** Program Studi Ilmu Tanaman. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Sumatera Selatan. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. cendawan. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. 1998). Universitas Sriwijaya. PENDAHULUAN A. Dalam sejumlah kondisi. Dibidang pertanian. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. protozoa. Palembang. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut.

1978). vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Bahan Ajar Online. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Fakultas Pertanian Unsri & . Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. B. A. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Saraswati et al. dan meningkatkan pendapatan petani. kesuburan. 2009. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. menghemat biaya pupuk. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P.

kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Http://dasar2ilmutanah. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Universitas Sriwijaya.com. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Palembang. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Sumatera Selatan. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Program Pasca Sarjana. . Palembang. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Indonesia. pemupukan dan mineralisasi P-organik.01-0. Diposkan oleh Dr.Program Studi Ilmu Tanaman. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Ir. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya.blogspot. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. OH. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Indonesia. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Cl-. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Palembang. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. ** Program Studi Ilmu Tanaman.2 mg/kg tanah. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana.atau CO32-. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana.

nukleotida dan gula-gula fosfat. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. hewan dan organisme tanah. asam nukleat. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik.atau H2PO4-) diserap tanaman. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. fosfolipida. Subba Rao. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. 1989. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. 1989). Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). pemupukan. Oleh karena itu. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. 1977). pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. 1997).. Bila ion fosfat (HPO42. Sisa tanaman. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. hewan dan mikroba . sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Siklus ini berulang terus menerus. (b) imobilisasi P-tersedia. Di alam. fosfor terdapat dalam dua bentuk. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat.

Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. aerasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. aerasi. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. 1. 1986). Selain kandungan fosfat dalam residu. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Umumnya. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan.. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . temperatur. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. 2. kelembaban. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. seperti nukleotida atau fosfolipida. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. 1997). Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah.yang dikembalikan ke dalam tanah.

keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya.lebih mendominasi. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. H2PO42-. Ion Fe.+ 2H2O ----> AlPO4. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P.2) H2PO42. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Fe. Hal yang sama. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . Mn. dengan melepaskan fosfat. besi. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Nilai kritis C/P adalah 200. Phosphaticum. 1986). Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. H2PO42.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. dan PO43-. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Pada kondisi tergenang. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Al3+ + H2PO4. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. dan Ca. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Pada pH tanah agak masam hingga netral.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Selain itu. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. kalsium dan magnesium fosfat. Al. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4.----> Al(OH)2 H2PO4.+ 2H2O ----> FePO4. pH tanah. Mn. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var.lebih mendominasi.

com. Bukit Besar. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Diposkan oleh Dr. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. asetat. Ir. suksinat yang dapat mengikat Al. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. 2007).Didaerah rhizosfer. 3. Mn. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Program Magister (S2). A. Http://dasar2ilmutanah. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera .blogspot. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pasca Sarjana. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Kandungan bahan organik tanah. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. 2. laktat. Bahan Ajar Online. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Abdul Madjid. 2009. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Palembang. Program Pascasarjana. Fe. Universitas Sriwijaya. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Universitas Sriwijaya. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun.

Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan.. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Indonesia. Program Pasca Sarjana.. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter.5 juta (Hawksworth. Program Studi Ilmu Tanaman. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. miselium menghasilkan spora. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Reproduksi secara seksual. Sumatera Selatan. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). 2007). Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Palembang. Indonesia. membentuk spora dari fusi dua nukleus. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Indonesia. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Hawksworth et al. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Program Pasca Sarjana. 1995). yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. 1991. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Sekitar 70. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Universitas Sriwijaya. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Bukit Besar.Selatan. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Bukit Besar. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Universitas Sriwijaya. 1970). kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. . Palembang. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III.

Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. 1993). Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. bagian tengah. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. beberapa diantaranya bersifat sparofit. tidak peka. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. bagian bawah. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. Bersama-sama dengan bakteri. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. dan essensial . dan pengendalian penyakit. karbon dioksida. organisme rhizosfer.. 1993). eksudat akar. siklus hara. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. sebagai contoh . 1992). baik berupa daun maupun kayu. CO2 terhambat. dan pengelolaan lahan. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. 2007). Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow.

nitrogen. tekstil. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. 2007). dan kulit (Hawksworth et al. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Fungi patogen akar seperti Verticillium. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. hara mikro. 1995). Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. sayuran. . (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Phytium. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. dan Rhizoctonia. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. serta banyak dijumpai dalam tanah. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Namun demikian. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. (3) Patogen atau parasit. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. cat. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza.flavus dan A. udara. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. dan semak. tanaman pangan. Sebagai contoh A.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. contohnya A. Selain itu. Seperti bakteri. dan mungkin air) ke tanaman. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah.. 1995).

termasuk manusia.5-9. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. . Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. jaringan hewan dan tanah. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer.5. 1987). Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im.. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida.75-5x 2-6im. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. 3. 1968). membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya.2. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. 1986). Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. 1999). hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. nitrogen. 5. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. 1979). diantaranya T. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. 4. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. 1982). Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0.koningii (merton dan Brotzman. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. 1983). Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. gandum.harzianum dan T. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Pada tanaman.

Sumatera Selatan. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. A. Program Magister (S2). Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Bukit Besar. Bukit Besar. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Palembang. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. 2009. Palembang. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Bahan Ajar Online.vitamin. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2).blogspot. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Program Pascasrjana. Http://dasar2ilmutanah. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana.com. Indonesia. Abdul Madjid. Palembang. dan mineral lainnya. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Indonesia. Ir. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Program Pasca Sarjana.

Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. B. Fusarium. harus mengandung 8 macam nutrisi.0-2. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana.14%. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri.. nitrogen (N) sebesar 2. megatherium. merupakan bentuk antara (transisi). FePO4. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. B. polymixa.039-1. kalium (K) sebesar 0. B. 2006). licheniformis. Arthrobacter. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. glikolat. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Micrococus dan Mycobacterium.5%. oksalat.35%. B. subtilis. asam amino dan asam fenolik. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. magnesium (Mg) sebesar 0. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. cereus. 2006). AlPO4. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. fosfor (P) sebesar 0. yaitu: karbon (C) sebesar 19. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. sitrat. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. alfa ketoglutarat. dan Chaetomium sp. candidus. Achromobacter.0%. asetat. malat. Flavobacterium. Schlerotium & Phialotobus. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. 1994). Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.rendah.21% dan C/N ratio .0-40. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. suksinat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). glukonat. jamur dan aktinomisetes. B. Penicillium sp. A. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. apatit. (3) tingkat dissosiasi asam organik. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.010. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. Pseudomonas. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Penicillum.. Trichoderma viridae.04-0.

aktivitas penambatan N. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Aspergillus sp. Lestari (1994). (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. dan serapan N dan P. aktivitas fiksasi N. A. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. niger strain NHJ2 1 ml per biji. (4) inokulasi R. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India.4 % dibandingkan kontrol. dan 10 kali. dan serapan N dan P berturut-turut 7. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996.0-20% (Gaur. 1982). Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. japonicum. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. kanada. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. 1980 . Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . 8 kali. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita.8 kali. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. 1957 . dan FePO4. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. margarita. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Subba Rao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Hutami et al. AlPO4. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. yakni lebih dari 10 kali lipat. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. dan G. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. 1986).3 kali. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. (2001). Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Kundu dan Gaur. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. niger. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. (2) inokulasi R. 1978). (3) inokulasi R. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. 1977 .. 1967). dan mesir. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. 1. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P.sebesar 9.

Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat.. 2000). Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Tanah ini terkenal sangat miskin. Bogor. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. (2000). Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.media tumbuh GAGES dan GES. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Penicillium sp. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Aspergillus niger. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. dan Chaetomium sp. Pennicillium digitatum. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. kab. Selain daripada itu T. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. aspergillus niger. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). bahan organik. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. dan kapasitas tukar kationnya rendah. 42. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. tanaman apapun yang . dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat.. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. kandungan bahan organik rendah. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Trichoderma viridae. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. 2004). Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. scwanniomycetes occidentalis.78 ppm (Baratha. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa.. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. T. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al.

Palembang. Program Magister (S2).ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Universitas Sriwijaya. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. . Palembang. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal.com.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Palembang. Universitas Sriwijaya.blogspot. Bukit Besar. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. 2009. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. A. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Indonesia. Indonesia. Bukit Besar. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Program Magister (S2). Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Ir. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Program Studi Ilmu Tanaman. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Abdul Madjid. Diposkan oleh Dr. Namun demikian. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bahan Ajar Online. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah.

1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis.11. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. biakan cair. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. artinya mikroorganisme yang . tanah. 2008). Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. biakan kering beku. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. arang. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. Namun. atau zeolit. Namun. R. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. dan tepung. pelarut. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Indonesia. menekan soil-borne disease. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. memperbaiki struktur tanah. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. atau ketempat pengomposan. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah.Sumatera Selatan. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. dan kompos. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. vermikulit. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. biakan kering. dan juga pada minuman.760. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. sekam. mempercepat proses pengomposan.130. Di Indonesia.

Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. seta jenis tanaman yang cocok. 2008). Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. lartrat. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Selain itu. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Propionat. Pada pengujian pupuk mikroba. tetapkan kelembapan bahan pembawa. sitrat. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. Stase. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. 2008). baik berupa bakteri maupun jamur. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. 2008). Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. laktat. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. jenis. Dengan mempertahankan kelembaban. Fe-. cara penyimpanan. Mn-. fumarat. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Mulai tahun 2004. dan Ca. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. glikolat. oksalat. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. tanggal kadaluwarsa. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. dan ketoglutarat. suksinat. Di Indonesia.Suatu teknologi . Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya.

Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%.32% dan 16% pada padi.1). Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. yaitu mikroba pelarut fosfat. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P.56 ug/m! (pH 6.47) hingga 394. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.0. 50 kg P. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.65) hingga 147. . Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. bobol kering tanaman. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.60 ug/ml (pH 4./ha (23.59%). 50 kg/ha SP36.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.0. mikoriza. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. Grt 3. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. memobilisasi.28 ugfrnl (pH 2. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.0. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.0. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.85ug/ml (pH 5.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). dan meningkatkan serapan P tanaman.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. Aspergillus niger NHJ2./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.

Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. 6. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . dan Vlek (1996). 2. dan actinomicetes. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. 8. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. -4. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. – 6 s/d 10 ext. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. minimal duplo. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. 3. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. AlPO4 tidak larut dalam air. Ulangi langkah di atas secukupnya. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. 5. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 7. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Buat medium agar Pikovskaya. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. bakteri. Moawad. – 8. antara lain: 1. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. khususnya isolat fungi. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Konsentrasi fosfat. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. 4.

Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. 1995). AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. fosfatase. 3. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. sehingga dapat diserap tanaman.. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. 1995). efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. (2000). 2000). Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. 4. Goenadi et al. (Goenadi. Ketebalan agar. Misalnya. . misalnya: fungi. A. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Kecepatan pertumbuhan mikroba. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. dan aktinomicetes. dkk. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba.. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas .2. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Melalui aplikasi pupuk hayati. bakteri. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal.

dan volume akar. (1997). kedelai. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . ketersediaan hara di dalam tanah. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. dkk. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. B. bobot kering bibit. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. penambat nitrogen bebas.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. Hasil percobaana Goenadi. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun.

Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. tinggi tanaman. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. niger strain NHJ2 1 ml per biji.96. dan 10 kali. 100 kg SP-36/ha. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. . 1. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan.5. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. 8 kali.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. bobot kering akar. niger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. 2000). Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. dan serapan N dan P. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. (3) inokulasi R. japonicum. MK 1997. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). MK 1999. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. (2) inokulasi R.3 kali. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108.8 kali. Rata-rata bobot kering tanaman. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. margarita. aktivitas fiksasi N. C. jumlah polong isi. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Rhizobium 108-109. A. diameter batang. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dan serapan N dan P berturut-turut 7. aktivitas penambatan N.209 me/100g). bobot kering total. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. dan G. jumlah bintil akar. pH 3. (4) inokulasi R. 50 kg KCl). dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. Al-dd 1. serapan N dan P tanaman. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar.

Lukman Gunarto MSc. Cd dan Mikroba Patogen. K = 1700 ppm .D. Hg. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Azobacter sp2. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.70 ppm . Pseudomonas spp = 34. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Azospirilum sp4.3 ppm .23 ppm . Lactobacillus. dan mikroba pendegrasi selulosa. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Cu = 0. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien.Ir. Zn = 3. Azotobacter.92 % . yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Pb. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini.04 % . Lactobacillus sp6. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan).85 ppm . Mikroba pelarut fosfat3. Fe = 44. C organik = 0. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. mikroba pelarut P. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Mn = 0. N = 0. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI).

menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Lactobacillus sp. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. penambat Nitrogen dari udara. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Azotobacter sp. pembentukan anakan dan primordial. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. akan mendapatkan K dan unsur lain. probiotik MiG ternak. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. Hasil dari pendegradasian tersebut. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Menurut penelitian Dr. unsur N. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. populasi mikroba untuk menambatkan N. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. sehingga keaslian produk MiG corp. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. Lukman Gunarto. mikroba pelarut P. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. apabila . Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. ada yang berfungsi sebagai penambat N. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru.

apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Program Studi Ilmu Tanaman. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Program Magister (S2). candidus. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Fusarium.blogspot. Sumatera Selatan. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Caranya sangat mudah. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. rusak atau mati. A. A.com. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Palembang. Abdul Madjid. Palembang. Indonesia. Sumatera Selatan. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. http://dasar2ilmutanah. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Tidak masalah. Schlerotium & Phialotobus. Sedangkan dari golongan . (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Penicillum. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Palembang. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Indonesia. Program Pasca Sarjana. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Bukit Besar. Ir. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Program Pasca Sarjana. Bahan Ajar Online. Indonesia. 2009. Program Pasca Sarjana.

E. RJ – Brazil. Introductory Mycology (4th Ed).php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Philadelphia.. Blackwell. Building soil phospharus capital in Africa. 1992. M. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. and Wicklow. and Webster.. Premono dan R.W. John Wiley and Sons. 334-337. (eds). New York. N. I.C. DAFTAR PUSTAKA Anas. G. S. Chapman & Hall. scwanniomycetes occidentalis. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Orivaldo J. M. Rosario Azcón Jose M. Baniks. 2006.scielo. aspergillus niger. Canadian. and Schweizer. Buresh et al. Smithson. WI..C. http://www. Marcel Deker. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P.. S. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. 1997.R. 1-44 pp. 51. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem.C. London. and M. Edson L.T.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Dix. Microbial. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. L. J. R. J. Inc. 2004. D. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. 1995. Madison. Souchie. 868p.W. Bogor. 111-149. P. Saggin. Plant soil 60 : 353-364. dan Chaetomium sp. Carroll. Campello. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. C. Eliane M. Barea. Fungal Ecology. Widyastuti. Alexopoulos. Eduardo F. D. Dhandhun Baratha. 1982. PA. C. R. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. and Hellums. USA. J. Trichoderma viridae. Publ.. 1999.T. VII.br/scielo. 1993. P.. In.. Chonkar and Subba rao. 13 : 749-752. New York. J.J.J.. Dickinson. Communities of P-solubilizing bacteria. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pennicillium digitatum.J. J. R. SSSA. Pusat Antar Universitas IPB.. 1967. Buresh. 1996. Mims. Penicillium sp. Aspergillus niger.

Columbia. Cambridge. CAB International. 1968. 1986. Aspects of tropical mycology. 204 pp. H. The Pennsylvania state University Press. P. CAB International.Z. Pennicilium and Acremonium. P. Missouri. Phaff.J. Maningsih.297-312.. New York. Anas. Bogor. M. Mycology research 95. Sunarlim. Driven by nature p. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. A. Y. D. Badan Litbang pertanian. 588 pp. N. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification.I. Inc. 1987. U. Inc. Riyanti.. Watling..L. S. 83-123 pp.M. Miller. Paul. E..H. F.E. McColl. and Pegler. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Institut Pertanian Bogor.K. J. John Willey & Sons.A dan Clark. 1994. 1996. and Whalley.Fertilizer [Biosol-P] www. D. Nelson. Puslittanak. 1993. Giller and G. D. Lestari. significance and conservation. Isaac. S. Harvard university Press. Frankland. 616p. R. . Bogor (Indonesia).). Jenis pupuk P..indiamart. Fakultas Pertanian.G. Plenum Press. Wallingford. In. 23-30. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Cambridge University Press.J. Hawksworth. Hutami. 1997.Gressel. United Kingdom.N. USA. Mass. 1989. Sutton. J. D. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. H.E. F and Brotzman. 14 : 31-36. Hawksworth. 1983.C. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. N and J.html Joffe. 2000. 641-655. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung.M. G dan I. Fusarium Species: Their biology and toxicology. Jakarta (Indonesia). 193 pp. Cadisch (eds). K. University Park. Skripsi. P. R. Bio . 1991. E. University of Missouri Columbia Extension Division.com/jayenterprises/fertilizers. E. Cambridge. Merton.C..W and Mrak. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. Saraswati. Perbedy. 2000.F. Soil Science Society of America Journal 64:927932. Siswanto and Sugiarto.. B.L. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus.. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. New York. New York. Goenadi. The life of yeast. Kirk. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. 1979. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia.E. A..S. 1995.

F. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Sekilas Pupuk Hayati. 380 p. Cambridge university Press. Institut Pertanian Bogor. Fosfor (P).id/] Diposkan oleh Dr. micronutrients.ugm.S. Universitas Sriwijaya. Introduction to fungi. Ir. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. I. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Hara N tersedia melimpah di udara. sulphur. Program Studi Ilmu Tanaman. 1970. Bogor. W. Cambridge. J. Oxford and IBH Publishing Co. 1982. New York. 1977. 2008. M.staff. Cycles of soil carbon. Ramirez. Tiga unsur hara penting tanaman.J. Indonesia. Subba Rao. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Program Pasca Sarjana. Jasad Renik Pelarut Fosfat. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Abdul Madjid. phosporus. 1986. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. New York.Premono. Universitas Gadjah Mada. [http://nasih. E. Yuwono. N. nitrogen. Elsevier biomedical press. Program Pasca Sarjana. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. manual and atlas of pennicillia. Disertasi. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Pupuk Hayati.ac. John Willey & Sons. Tombe. N. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. 2006. Namun. Soil Microorganism and Plant Growth. Universitas Sriwijaya. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). C. Program Pascasarjana. Indonesia. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . M. Palembang. 1994. New Delhi. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. yaitu Nitrogen (N). Stevenson. 202-204. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja.

Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. karena terikat pada mineral liat tanah. Sebaliknya. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman.jenis tanaman. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Namun. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. infeksi ini . Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Penicillium sp. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. antara lain: Aspergillus sp. 2008). Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li.

pasang. Hifa memasuki sel kortek akar. padi.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. 2006). Entrophospora. mempening (jenisjenis Fagaceae). membentuk chlamydospores (Morton. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). dll. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. Archaeospora. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. jenis rumput-rumputan. kesehatan dan produktivitas tanaman. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. misalnya jenis-jenis meranti. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Ektomikoriza 2. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. bercabang. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). kruing. kelapa sawit. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. rambutrambut akar tidak ada. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. Gigaspora dan Scutellospora. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. 1997). Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. 2004). 2003). Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Dilain pihak. Paraglomus. hingga pohon rambutan. karet. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. mangga. Ektendomikoriza 3. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . mulai dari paku-pakuan. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. Acaulospora. pinus.

tembakau. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. harus diamati dibawah mikroskop. padi gogo. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. 1998). Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. pepaya. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. kebanyakan berbentuk bulat telur.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. vesikel intraseluler. selada. karet. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. teh. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. kacang tunggak. 2004). singkong dan sorgum. barley. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. . Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. 2003). 1. palem. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. jeruk. akan tetapi belum berhasil. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. nenas. bawang. apel dan anggur (Rahmawati. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. kopi. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. kapas. kakao. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. 2004). vesikel (vesicle) dan spora.

Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. 2) . dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. 2. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Schubler et al.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. pembentukan organ baru. Mirip dengan cendawan patogen. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 3. pembengkokan inti sel. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Dengan bertambahnya umur. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. 2004). Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 1981). baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. 1981). yang memiliki perbedaan tegas. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Arbuskul berperan dua arah. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 2004). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse.

3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Entrophospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. 2002). Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. . tanaman inang. dan Glomus sp. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Oleh karena itu. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Intraspora. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. (Sagin Junior & Da Silva. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Acaulospora. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Scutellospora. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Kuklospora. 1991). CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. kepadatan propagula. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Gigaspora-ceae. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Pacispora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. 2006). Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Paraglomus. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Geosiphon. Diversisporaceae. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Diversipora.. Gigaspora. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman.Paraglomerales (famili Para-glomerace). Walaupun demikian. 2006).

Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA.pada tengah hari. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. saat kelembapan air rendah. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . kadar air tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. logam berat dan fungisida. Vesser et al.. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. tanah. hal ini menguntungkan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. 1981). penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Untuk daerah tropika basah. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. pH.II. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. 1981). Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. bahan organik tanah. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering.

alumunium dan mangan. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. air dan udara. 1997). pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. 1984). Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. 1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse.meningkat (Rotwell. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Serasah tersebut mengandung hifa. 1981). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. klor. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1997).5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas.

1995). 1998). Plantavax. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1984 dalam Anas. 1997). Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. 1984). tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Al. 1981). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Benlate. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. fungisida Agrosan. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. dicirikan oleh keragaman . meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. dan Na yang tinggi (Mosse.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar.. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1982 dalam Anas. 1997). Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Pemakaian fungisida menjadi dilematis.

Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. 1 9% (Gededda et al. unsur hara dan struktur tanah. 2005). K. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. 1996). 1996). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. pembakaran.04 menjadi 0. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. P. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. karena perubahan spesies tanaman. . dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). cropping sistem. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. ameliorasi dengan bahan organik. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. 2002). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1984). Dalam budidaya tradisional. Untuk tanaman manggis. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Sawahlunto Sijunjung. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida.spesies yang sangat tinggi. Pada tanaman pisang. 1995). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza.

Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. sedangkan inokulasi G. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. III. jumlah daun pada umur 4. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam.masing sebesar 5.2% dibandingkan dengan kontrol. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. 1997). Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37.7% dibandingkan dengan kontrol. G. 8 dan 28 MST. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. . Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. kekeringan. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. sedangkan inokulasi G. 1997).5% dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman.7% dan 4. 2006). serta patogen akar. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Selain daripada membentuk hifa internal. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. bobot kering tajuk. Di dalam arbuskul. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul.

tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. salinitas. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Selain itu. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Cu. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Pada kedelei. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Dengan adanya CMA. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. 2006). Setelah periode kekurangan air (water stress). Fe. dan Zn). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. 3) melindungi dari herbisida. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Zn. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. keasaman. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. 1997). (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Zn dan Cu meningkat. pemadatan. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal.

cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . 3. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. K dan S. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 2. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. 1994). 2. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Dilain pihak. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya.1997). sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Infeksi patogen akar terhambat. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. 4. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. tailing tambang batubara. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. atau lahan terpolusi lainnya. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. 1994). dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang.

tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya.. 2000). Jika terhadap jasad renik berguna. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. 3. 1993). Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. 40% kebutuhan nitrogen. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. citokinin. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. dan giberalin. 1981 dalam Husin dan Marlis. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. patogen akar. 1981). Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Interaksi sebenarnya antara CMA. Pada tanaman tertentu. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 1997). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. 1997). . sitokinin dan giberalin. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 4. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar.

Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Perbaikan Struktur Tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. 5. Menurut Hakim. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. 1997). 2002). seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. tapi juga bagi tanah.. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Bila ini benar. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain.. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. 2002). namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur.

yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.2. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dan protein. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. setelah didahului dengan proses infeksi akar. khususnya pada tanah yang miskin P. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.tanah. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Prihastuti et al. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. 1999). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. B.50–90. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. yaitu mencapai 70. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Magnesium (Mg++). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).33%. 2002).6 hexakisphospat). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Besi (Fe++).5. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. phosphor bebas dan mineral. Seng (Zn++). dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital.3. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.4. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. 6. japonicum. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. namun . phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik..

hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. temperatur. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. 2006). spesies cendawan. kadar air. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 3. Bagi tanaman inang. 1987). memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. tanaman tanpa mikoriza) / BK. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. 1997). baik untuk tanaman pangan. tanaman bermikoriza . Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Sedangkan secara langsung. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. pH. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. perkebunan. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. 6. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono.BK. tanaman inang. 2004). adanya asosiasi ini. 1995). dan kompetisi antar cendawan mikoriza). tipe perakaran tanaman inang. baik secara langsung maupun tidak langsung. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 1994). Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Secara tidak langsung. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. . meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk.

1997). Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering.13 g biji/tanaman. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera.1997). Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7.7. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.15 mg P/tanaman.13 mg P/tanaman menjadi 2. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. miskin hara dan bahan organik. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. kejenuhan Al tinggi. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.02 g biji/tanaman menjadi 5. .18 mg P/tanaman menjadi 2. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.66 mg P/tanaman.1. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Disamping untuk tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim..98 g biji/tanaman. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Kalimantan. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. infiltrasi air hujan rendah. Sulawesi dan pulau besar lainnya.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

65 %. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4.40.15 %.66 % . Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. sebesar 38. Untuk mewujudkan harapannya. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa .80 % . ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna.71. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. 69. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter.76 % -21. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.67. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.5 ppm. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Dengan teknologi mikoriza. 8. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.90 %. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. dengan kadar P tersedia "rendah" . Tujuannya.84 % .11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Peningkatan kadar P nira. Selain itu.72 ppm dan tanah Inceptisol. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. 2008). Hanya dalam usia kurang dari lima tahun..

Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. 3. telah diberikan Asosiasi . 2. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 4. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman.campuran tanah. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam.Lima hari kemudian. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. 6. selain untuk meratakan hasil. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Manfaat 1. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. bedeng tersebut dapat digunakan. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. spora dan akar terinfeksi. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 3. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. sorgum atau pueraria. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Tanaman inang dapat berupa jagung. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. 5. 2008). juga untuk menguapkan sisa fumigasi. diaduk merata. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum.

dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Kalimantan. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. (2)Saprophitik. Diposkan oleh Dr. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Tablet ini dibuat dari cendawan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Ir. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza.Mycorrhizal Indonesia. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Setelah teruji kemurniannya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Setelah itu pil dipecah-pecah. Abdul Madjid. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. satu tablet untuk satu bibit. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. yaitu: (1)Parasitik. Di IPB. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Aturan pakainya sederhana. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. seperti: penyakit bercak akar kapas. Dalam teknik pemberian mikoriza. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. (3) menggunakan miselia cendawan. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Untuk membuat tablet.7 sentimeter. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.

Ir. (4)dll Diposkan oleh Dr. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. jangkrik. Chilopoda (kelabang). flagelata. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. seperti: omnivorous dan Predaceus. kutu. (3)Simbiotik. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. dan rayap). semut. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. (2)Ektomycorhiza. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. Flora Tanah . (2)Glomus. yaitu: (1)Endomycorhiza. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). (3)Acaulospora. Arachnida (lebah. (c) Arthropoda. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. seperti: amoeba.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. dan (b)Nematoda. Abdul Madjid. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. yaitu: (1) Makro Fauna. (d)Moluska.dekomposisi bahan organik tanah. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (b) cacing tanah. Diplopoda (kaki seribu). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. dan (3)Ektendomycorhiza. dan ciliata. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. dan kalajengking)dan Insekta (belalang.

yaitu: (1) Makro Flora. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Aspergillus. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. terdiri dari: (a) bakteri. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. bahwa berdasarkan ukuran. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas.2 mm. (2) Mikro Flora. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Diposkan oleh Dr. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). dan (3) Mikrobia. Bacillus. dan (d) algae.2 mm s/d 10 mm. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. . (c) actinomycetes. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Ir.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Abdul Madjid. (b) fungi. dll. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. dll. (2) Mesobia. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil.000 bakteri per gram tanah. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Selain itu. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). yaitu: (1) Makrobia.

net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. Abdul Madjid. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful