P. 1
biologi_tanah

biologi_tanah

|Views: 101|Likes:
biologi
biologi

More info:

Published by: Yofika Chuby Ahmadina on May 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Pupuk Hayati
  • 1.2. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)
  • 1.3 Senyawa Fosfat Tanah
  • 1.4 Peranan Fosfat pada Tanaman
  • 2.1. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P
  • 2.2. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman
  • 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri
  • 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi
  • 3.3. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat
  • 4. Trichoderma
  • 5. Perbaikan Struktur Tanah
  • 6. Meningkatkan Serapan Hara P
  • 7.1. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang
  • 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi

PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

tembakau. padi gogo. karet. pembengkokan inti sel. apel dan anggur (Rahmawati. vesikel (vesicle) dan spora. kopi. singkong dan sorgum. bawang. akan tetapi belum berhasil. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. kakao. kapas. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Arbuskul berperan dua arah. selada. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. pembentukan organ baru.Leguminosa umumnya bermikoriza. jeruk. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. palem. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. 2003). Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. 2004). Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. 2004). tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 2004). Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. teh. . kacang tunggak. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. kebanyakan berbentuk bulat telur. 2004). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). 1. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. 2. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. pepaya. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. barley. nenas.

Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. . hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Mirip dengan cendawan patogen. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. yang memiliki perbedaan tegas. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Gigaspora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Dengan bertambahnya umur. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Diversisporaceae. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. dan Glomus sp. Walaupun demikian. Acaulospora. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 1981). 3. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Paraglomus. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Pacispora. Oleh karena itu. 2006). baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Gigaspora-ceae. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Entrophospora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Schubler et al. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. 1981). Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Intraspora. Geosiphon. Diversipora. Scutellospora. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Kuklospora. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul.

Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Program Pascasarjana.com. 2006). (Sagin Junior & Da Silva. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Propinsi Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Program Magister (S2). 2002). tanaman inang. kepadatan propagula. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm.. Ir. Indonesia. 2009. Palembang. Universitas Sriwijaya. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. A. Program Magister (S2). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang.blogspot. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. 1991). kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Program Pascasarjana. . Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Indonesia. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.

Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Indonesia. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. bahan organik tanah. Program Pasca Sarjana. pH. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. 1981). suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Palembang. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. intensitas cahaya dan ketersediaan hara.pada tengah hari. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan.** Program Studi Ilmu Tanaman. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah.. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . hal ini menguntungkan. 1981). Vesser et al. Program Magister (S2). tanah. kadar air tanah. Universitas Sriwijaya. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Untuk daerah tropika basah. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Palembang. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. logam berat dan fungisida. saat kelembapan air rendah. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA.

tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. air dan udara. 1997). Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. 1984). Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Serasah tersebut mengandung hifa. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. 1981). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA.

Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Benlate. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1997). 1984 dalam Anas. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. 1982 dalam Anas. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. 1997). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Al. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn).yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. alumunium dan mangan. dan Na yang tinggi (Mosse. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1981). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Plantavax. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Cendawan pada umumnya . 1984). Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. klor.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj.. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. fungisida Agrosan. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.

ameliorasi dengan bahan organik. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. 1 9% (Gededda et al. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. pembakaran. 2005). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 1996). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Pada tanaman pisang. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1995). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. cropping sistem. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. unsur hara dan struktur tanah. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1984).memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. karena perubahan spesies tanaman. . Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. P. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional.04 menjadi 0. 1998). 1995). K. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Dalam budidaya tradisional. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al.

** Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.7% dan 4. Universitas Sriwijaya. 2009. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Indonesia. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. jumlah daun pada umur 4. Indonesia. sedangkan inokulasi G. 2002). Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia.masing sebesar 5. Untuk tanaman manggis. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 1996). Palembang. Indonesia. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Program Pasca Sarjana. Palembang. Universitas Sriwijaya. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.5% dibandingkan dengan kontrol. 8 dan 28 MST. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). G. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Http://dasar2ilmutanah. A. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Sawahlunto Sijunjung.blogspot.2% dibandingkan dengan kontrol. Palembang. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. sedangkan inokulasi G. Program Pasca Sarjana. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Universitas Sriwijaya. Palembang. . Program Studi Ilmu Tanaman.7% dibandingkan dengan kontrol. bobot kering tajuk.com.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Bahan Ajar Online.

serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. salinitas. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Fe. pemadatan. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. serta patogen akar. Selain daripada membentuk hifa internal. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Cu. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Di dalam arbuskul. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. 1997). Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2006). keasaman. dan Zn).(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. 1997). Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. 3) melindungi dari herbisida. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Selain itu. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Zn. kekeringan. mikoriza juga membentuk hifa ekternal.

Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air.tanaman inang. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Zn dan Cu meningkat. Dengan adanya CMA. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Pada kedelei. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. K dan S. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. 2006). 1994). Setelah periode kekurangan air (water stress). atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. 1997). Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya.

Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. 1993). Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Infeksi patogen akar terhambat. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). tailing tambang batubara. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. 2. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. atau lahan terpolusi lainnya. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Interaksi .simpan air kecil. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Dilain pihak. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 4. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza.. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. 2. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. 1994). Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. 3. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan.1997). Jika terhadap jasad renik berguna. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan.

Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 1997). Pada tanaman tertentu. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. patogen akar. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. sitokinin dan giberalin. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan giberalin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 1981). dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Bila ini benar. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 4. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. citokinin.sebenarnya antara CMA. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 3. 1997). 2000). 5. Perbaikan Struktur Tanah. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. 1997). Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. 1981 dalam Husin dan Marlis. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. 40% kebutuhan nitrogen.

Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. tapi juga bagi tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal.agregat mikro. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. . namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro.. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Menurut Hakim. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. 2002). 2002). Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah.. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah.

yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi.4. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.5. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.33%. 1997). Seng (Zn++). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. dan protein. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.6. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.3. phosphor bebas dan mineral.50–90. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . Magnesium (Mg++). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen.. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. 2006). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. yaitu mencapai 70. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. B.2. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Besi (Fe++).6 hexakisphospat). 2002). Prihastuti et al. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. khususnya pada tanah yang miskin P. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. japonicum. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. 1987). 1999). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Phytat adalah senyawa phospat komplek.

Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Sulawesi dan pulau besar lainnya. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. baik secara langsung maupun tidak langsung. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. pH. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). perkebunan. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. 7. baik untuk tanaman pangan. .BK. 2004). Kalimantan. spesies cendawan. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Sedangkan secara langsung. Bagi tanaman inang. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. kadar air. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. miskin hara dan bahan organik. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. tipe perakaran tanaman inang. tanaman inang. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. 3. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 1995). Secara tidak langsung. 6. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. tanaman bermikoriza . Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. 1994). temperatur. adanya asosiasi ini. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. tanaman tanpa mikoriza) / BK.1. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman.

1997). penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol.13 g biji/tanaman. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. net fotosintesis. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.15 mg P/tanaman.1997). Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Disamping untuk tanaman pangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. infiltrasi air hujan rendah..02 g biji/tanaman menjadi 5. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.18 mg P/tanaman menjadi 2. serta serapan hara NPK.13 mg P/tanaman menjadi 2. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.98 g biji/tanaman. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. 1996) dan pepaya (Cruz et al.kejenuhan Al tinggi. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam .66 mg P/tanaman. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering.

dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. 7. Dalam kondisi salinitas tinggi. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Zn dan Cu (Al-Kariki. 1994 dan Tam. Peneliti lain.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 2000). 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. 1995 dalam Aggangan et al. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. 2001). meningkatnya tekanan osmotik. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Namun demikian. 2000). et al. 3. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. terhidar dari plasmolisis.

Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). 12 diantaranya bermikoriza.berbeda. Oliveira et al. Menurut Wachjar et al (2002). (2001) menunjukkan bahwa P. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. . 1993). meningkatkan N tanah setelah percobaan. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr.. efisiensi penyerapan P. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. zat yang melarutkan PAH. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass.. 2000). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi.

tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. produktivitas. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Dengan teknologi mikoriza. berharap jati muna yang telah . Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Selain itu. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. sulit dan cukup mahal transportasinya. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST.S. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar.

diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. spora dan akar terinfeksi. bedeng tersebut dapat digunakan. Peningkatan kadar P nira. 3. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.80 % . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. 69.15 %. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. 2. 2008).76 % -21.67.Lima hari kemudian. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.71. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. selain untuk meratakan hasil. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. sebesar 38. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Tujuannya. Inokulasi . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.72 ppm dan tanah Inceptisol. dengan kadar P tersedia "rendah" . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.40.84 % .65 %..90 %.66 % . Untuk mewujudkan harapannya. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.5 ppm. juga untuk menguapkan sisa fumigasi.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. diaduk merata. 8.

Dalam rangka pelaksanaan program ini. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Manfaat 1. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 3. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Tanaman inang dapat berupa jagung. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering.Pada tiap lubang yang dibuat. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 6. sorgum atau pueraria. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. . termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Dalam teknik pemberian mikoriza. 4. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. 2008). Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 5.

Dengan demikian. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. 1. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2.ah takaran 1. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Tablet ini dibuat dari cendawan. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari.00 gram. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Kalimantan.00. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Setelah teruji kemurniannya. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Aturan pakainya sederhana.00 gram. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.50 dan 2.7 sentimeter.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. 2008) . untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Untuk membuat tablet. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Sebagai pembanding. sampai 230%. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dan Nitrogen (N) 75%. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. satu tablet untuk satu bibit. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam.00 gram (Hardiatmi S. 1.M.50. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor.500 dan 2. Setelah diberikan pada bibit tanaman.J. Setelah itu pil dipecah-pecah. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kalium (K) bertambah 86%. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Di IPB. 1. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.00.

Abdul Madjid. A. ** Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Bahan Ajar Online. Palembang. Program Pascasarjana. Http://dasar2ilmutanah. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Program Pascasarjana. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2009. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Indonesia.com. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. . Palembang. Palembang. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Ir.blogspot. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Palembang. Indonesia.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut.

Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. OST dan Simbionriza. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Rhiphosant. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. virus. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. jamur yang bersifat patogen.4-13%). b. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. kehutanan. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. 4. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Kamizae. Tabel 1. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer.

14 Dengan Mikoriza 43. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman.64 35.12 Dengan Mikoriza 48.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . d.70 ------------------------------------------------------------------c.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.44 Dengan Mikoriza 28.28 34. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. 4.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.50 33. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Bali. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.Tanpa Mikoriza 28. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.

Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Kalium (K) bertambah 86%. dan Nitrogen (N) 75%. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Di IPB. Aturan pakainya sederhana. 4. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. satu tablet untuk satu bibit. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. 2008). javanica. Setelah teruji kemurniannya.7 sentimeter. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Untuk membuat tablet.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Dengan demikian. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. sampai 230%. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Selain P. Tablet ini dibuat dari cendawan. Setelah itu pil dipecah-pecah. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.S. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung.M. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Kalimantan. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. 4. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat.

(3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1.000 spora secara merata. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya.000 spora. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Setelah itu.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman.000 kapsul. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. 4. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Sebelum digunakan. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. setiap kapsul dibutuhkan 0. (3) Dapat di produksi secara khusus. (2) Mempermudah penanganannya. Pada praktek sebelumnya.5 g carrier. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. pH tanahnya sangat bervariasi. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus.

Nitrobacter. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Rhizobium.M. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Clostridium pasterianum. Aeromonas punctata. Bacillus.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Azospirillium. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Azotobacter. (Organic soil treatment) Agrobacterium.D. R. Anabaena azollae OST Azotobacter. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Beijerinckie. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Sinorhizobium. Nostoc muscorum. Azzospirillum lipoverum. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Mikrococcus. Ankia alni. Tabel 3. Lactobacillus spp. Nitrosomonas. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.

Ir. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. IPB. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. I. Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. 3.Bioteknologi Tanah. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. I. A. Program Magister (S2). 1989. Indonesia. IPB. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Program Pasca Sarjana. Jurusan Tanah. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi.com. 2009. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Bahan Ajar Online. 2. Fakultas Pertanian. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. KESIMPULAN 1. .Madjid. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Palembang. Abdul Madjid. Biologi Tanah dalam Praktek. Anas. Universitas Sriwijaya. DAFTAR PUSTAKA Anas. 1997. Laboratorium Biologi Tanah. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V.

Bailey. Vol 5. M.. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. . Mahfud. Reber.lunarpages.. 2004. 2007. Ba..H. terhubung berkala : www. H. Universitas Lampung. Growth response of Afselia africana Sm. Husnal. Fertil. A. Doponnois.com Fleibach. Go Ban Hong. Iskandar. Universitas Lampung. 2008. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. 12-15 Desmber 1995. Ali. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Faisal T. Lampung.G. 1997. 2000.F. M. K. 2002. ISSN 1411-0062. E.R. Azcon. Dexheimer. 2007. Biol. Biantoro M.com. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Mycorrhiza J. 1994. Ika RS dan Saubari MM. 9/2 : 91-95. El-Atrash. 1986. Lubis. Soils 24 : 81-86. Husin.1. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. Nurhajati. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Biol. A. Sanon .Adinurani P.com dalam http://support. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. M. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. and J. A. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.M. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. R. G. Rusdi Saul. Vol 5. 2008. and F. Lampung. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Sutopo Ghani Nugroho. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo.H.google. Dudi. No. Hasanudin. Amin Diha.B.google. 2007. M. p. Brundrett. Martens and H. 2000. R. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Hakim dan Kusli. Mulyati M dan Roy H.M. hal 83-89. Jakarta. N. INFOTENS. Yusuf Nyakpa. 1997. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. Rev.M. Biochem. Soil Biol. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. 79:473– 495. 26 (9) : 1201 1205. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Hakim.

K. Sekolah Pasca Sarjana. Mosse. 2001. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul.J. Jember.No56 : 131-137. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Kim.go. Oliveira. Biotrop Spec. from saline soils and Glomus deserticola under salinity.G.ae.id. 2000.S. 2004.Lovisolo and A. Terhubung berkala www. Lozano.Y. IPB. Notohadinagoro. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. Ress.com dalam http://hortikultura. Bull Manjunath.library.V. Plant and Soil 78: 147-150. Fertil. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Khan. J. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember.. JC. 1984. 2008. . Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Azcon. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. Castro. Mycorrhiza J. and McDonald. http ://www.. D. E. Mycorrhiza J. A. Morte. 1997. Effect of various soil environment stresses on the occurance. 10/3 : 115-119. Bogor. Khan.id. Dodd and PML. A.H..google. 10/5 : 241-247. 24 Januari 2006. 1993. Leyval. Rahmawaty. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. 2001. Publ. R. Killham. Tejoyuwono. Schubert.usu. Biol. S. Mycorrhiza J.Joner. K.. Jordan. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.download/tp/htm-rahmawaty s.. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. 10/4 : 155159. and R. Cambridge University Press.. D. M.. A. 1998. 2000. Bagrayad. JMR. 1981.litbang deptan. 1995. D. Soil ecology. 1994. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains.Tervesia claveryi. 2003. C. Soils 26 : 79-87. and C. Pattimahu. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.pdf. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Universitas Jember. Biotropia 8 : 39-44.

N. 1994. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** .Rotwell. Schwarzott. Diposkan oleh Dr. Dela Cruz. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. A.J. D. Mahadevan. F. S. Soil Sci. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). A new fungal phylum. J. J. and K. and G. Walker.R..S Subha. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Penerbit Universitas Indonesia. M. Soc. 57 : 77-81. Romeida. Simangunsong S. 2002. Mycol. hal 69-74. Zarate. Res.No56 : 131-137. R.K. IGM. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bengkulu. 1991.L. Biotrop Spec. Incidence of vesicular . Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. Abdul Madjid. Rao. Bethlenfalvay.. and C. Am. Edisi Kedua. 2002.E.S. 1995. Ninin Y. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Vol 3. D. Fertil. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Publ.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. 105(12):1413-1421. Wachjar A.. Yadi S. R. 1984.. Soils 28 : 139-144. Widodo. Buletin Agron. 2001. 2005. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. 1999. Subiksa.T. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland.B. Kapoor. Singh. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. dan Marlin. Thomas. S. Ir. Franson. A. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Ragupathy and A.A. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. and R. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Unsur hara tanaman. 2006. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Biol. Biotrop Special Publ. Bogor Schubler.

Palembang. Bukit Besar. termasuk biodiversitas. Program Magister (S2). seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Program Pasca Sarjana. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Indonesia. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. biologis dan cultural. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Sumatera Selatan. Upaya yang mulai . Sumatera Selatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Indonesia. Palembang. Program Magister (S2). pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan.1. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. PENDAHULUAN 1. Program Studi Ilmu Tanaman. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Palembang. Universitas Sriwijaya. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik .

harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. kimia maupun biologi. kemasan . karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. jamur. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji).2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Penyedia hara . 1996): 1. 2002). Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. baik kesuburan fisik. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman.

licheniformis. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. Peningkat ketersediaan hara 3.2. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. P.5. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . multivorans (Hasanudin. B. megatherium. B. 3. Pseudomonas terbagi atas grup. . B.0 μm. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof .Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Micrococus dan Mycobacterium. ukuran tiap sel bakteri 0. putida. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. Achromobacter. dan P. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. P.4. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. B. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. B. cereus. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Arthrobacter. Flavobacterium. jamur dan aktinomisetes. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. 2. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir.2. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa.2003). Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram.berbentuk batang lurus atau lengkung. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah.5-0. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Pemantap agregat tanah 6. fluorescent. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. polymixa.1 1μm x 1. subtilis. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Pseudomonas.

dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan.4. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. asam nukleat. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. kelembaban temperatur dan faktor lain. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. . 5. radiasi cahaya.2005). Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati.terutama yang bersifat heterotrof. 6. suhu tinggi dan zat kimia. 1.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. tetapi pada umumnya rendah . Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. fosfolipid. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman.tetapi juga dipengaruhi oleh pH .Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. hewan dan mikrobia. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. dan gula posfat. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . materi genetik. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. nukleotida. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik.

2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. Al-P. karbonat apatit. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. 1. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. pembentukan akar halus dan rambut akar. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. fosfor merupakan 11 unsur yang . reductant-P . Fe-P dan P tidak aktif. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.Mn2+ dan Ca2+. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. FePO42H2O Strengit. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. yang meliputi occhided-P . Jumlah P total dalam tanah cukup banyak.2007). Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. dan mineral P primer. AlPO42H2O Variscit. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. ATP. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Dalam bentuk anorganik. aluminium dan hidrat. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Secara geokimia. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya.2002).pembentukan bunga . Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen.01 – 0.Al3+. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. diantaranya dalam proses sintesis protein. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme.

Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Abdul Madjid. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. dan kekerasan 5. 2009. Indonesia.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Bahan Ajar Online.15 3. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. Program Pascasarjana. A. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Program S2. kilap kaca sampai lemak.3 x 1011 mol P th. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. sedimen.6 x 1011 mol P th . yaitu 7. 1992). seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. berat jenis 3. Di dunia.20. dan milisit {(Na.40% P2O5. Selain sebagai bahan pupuk. Ir.sangat melimpah di kerak bumi. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis.17 . Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Seperti halnya nitrogen.blogspot.5 juta ton endapan guano (0. guano.Cl. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Universitas Sriwijaya. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . Http://dasar2ilmutanah.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. dan metamorf. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. hijau. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Propinsi Sumatera Selatan.H2O). Diposkan oleh Dr. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk.15. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5).com.beku. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Sebagai contoh 15-30-15.4 .K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.

yaitu dalam bentuk Ca-P.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Indonesia. Bukit Besar. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Fe-P atau occluded-P. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Indonesia. Palembang. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2).BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. glioksalat. MgP. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Indonesia.1. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Universitas Sriwijaya. glutamat. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. oksalat. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. suksinat. fumarat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. laktat. malat. Palembang. Al-P. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. tartarat dan alfa ketobutirat. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat.

oksalat.laktat. oksalat. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. tartarat). Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. asetat dan ptalat). dan lemah (suksinat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). sedang (malat. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). asam amino dan asam fenolik.---> M OH + H2PO4H2PO4 .(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. salisilat). Terdapatnya asam-asam organik sitrat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. Hasil penelitian Pramono et al.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. tartarat dan malat berefektivitas sedang. sedangkan asam malonat. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . malonat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. .OH + R-COO. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). malat. Disamping meningkatkan P tersedia. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat.

glikolat.2 x 10^9 5. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. asetat. 1961. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.6 x 10^7 7.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. oksalat. alfa ketoglutarat.7 x 10^4 0.0 x 10^8 4. suksinat.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . 1971. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. malat. merupakan bentuk antara (transisi).0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.0 x 10^3 2.0 x 10^6 7 Fungi 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.0 x 10^5 12 Protozoa 2. Tabel 1. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. 2007).26 x 10^8 1. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.4 x 10^3 1. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.2 Ammonifiers 5. sitrat. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.0 x 10^3 2 Algae 5. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. glukonat.2 x 10^6 1.

6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.8 ppm.7 ppm menjadi 34. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral.6 ppm pada tanah steril. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. 0.3. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16.4 ppm menjadi 59. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.1 – 3. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. sedangkan pada tanah bereaksi basa P .9 dan 0. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. gliserofosfat. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Ca3(PO4)2.7 ppm pada tanah sterl dan 0. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . 8. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro.9 ppm. lesitin. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24.5 ppm menjadi 30. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. AlPO4.5 . yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 6. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah.8 – 3. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. .3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. 13 dan 14%. apatit. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Bacillus sp. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Bacillus substilis. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. FePO4. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.

Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Misalnya.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. 2. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. berat basah akar. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. berat kering trubus. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. Pada tanaman jagung. luas daun serta kadar P trubus. misalnya: fungi. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. bakteri. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp.2. dan Vlek (1996). Pada percobaan yang lain P. berat kering akar. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Moawad. AlPO4 tidak larut dalam air. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. dan aktinomicetes. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. minimal duplo. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. berat basah trubus.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

3.5 (5) KCl 0.6H2O 0. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Azotobacter sp.5 (6) (NH4)2SO4 0. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.3. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Tiens Golden Harvest . Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).Miza Pluss. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Teknologi penyubur tanah dan tanaman.5 .01 .1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .05 .7H2O 0.20 (3) MgCl2. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .0. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.01 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).2 (7) Bromophenol Blue 0. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.20 (4) MgSO4. Lactobacillus sp. . mikroba pelarut P.025 . Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.dikembangkan .

MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. bakteri pelarut fosfat. Indonesia. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Palembang. Masa simpan : 12 bulan. bakteri pelarut fosfat. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman.blogspot. Bahan Ajar Online. Sumatera Selatan. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. http://dasar2ilmutanah. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Indonesia. Indonesia. dan zat pengatur tumbuh tanaman. A. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. bakteri penambat N. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Bukit Besar. Propinsi Sumatera Selatan.com. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Program Pasca Sarjana. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Ir. Sumatera Selatan. Indonesia. Diposkan oleh Dr. 2009. Universitas Sriwijaya.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Palembang. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana.Kemasan : 5 dan 25 kg. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program S2. N. Sumatera Selatan.

tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. bit gula. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B.9 dan 0. gliserofosfat. 3-13. lesitin. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.7 ppm menjadi 34. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. barlei.IV. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.9 ppm.5 ppm menjadi 30. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. Bacillus subtilis . jagung. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. kedelai. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. kubis.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. tomat. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. kacang panjang dan tebu. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Bacterium mycoides dan B. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. 0. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7.4 ppm menjadi 59.3 . . padi. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Bacillus sp. 5-21 dan 14%. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Escherechia freundii dan E.8 ppm. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. Intermedia .3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. kentang. Ca3(PO4)2. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum.1-3.8-3.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Circulans pada tanaman kedelai. 3-9. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.6 ppm pada tanah steril.

Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. glioksilat. oksalat. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3).4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Mg2+.2007).Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. bayam dan kacang panjang). dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. laktat. Fe2+. suksinat. Premono dan Widyastuti. Puptida dan P. Pada percobaab lain (Buntan. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1994). diantaranya asam sitrat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Striata. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. 1991). Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. fumarat. P. 1992. Pada tanaman jagung. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. glutamat. 1992). malat.

Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.75%. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). 930. Klebsiella aerogenes.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.63%.5 cm. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. umur pembentukan polong. 575. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. jumlah bunga. 903. jumlah biji. dan 606. Chromobacterium lividum.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.81%. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.42 g atau ada kenaikan 877. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. Klebsiella aerogenes. Gunung Botol. pH tanah.22 g.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. 217. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Bacillus sp.15 g tanaman-1.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl.3881 ppm dan 280. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Chromobacterium lividum dan B. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. berat daun segar 4 tanaman per pot.67%. Daerah Cikaniki. umur panen. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. 354.) di Tanah Marginal.. Megaterium sebagai inokulan padat. Bacillus megaterium.. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. 203. jumlah polong. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. 208. dan Chromobacterium sp. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1.67%.30%.48 g. dan 61. 207. dan B. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai.5-2. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area.

Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Program Pascasarjana. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya.Mn. Propinsi Sumatera Selatan. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Palembang.kering tanaman kedelai. Program Magister (S2).com. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al.Ca dan proses pelapukan yang rendah . MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Palembang. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran. Indonesia. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya.Fe. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. Indonesia. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. Indonesia. Abdul Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Indonesia. A.blogspot. 2009.

Banik. B.2007.E dan Hairiyah. Edisi 3.Medan Gunalan. Noor A. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Indian Soc.S. Bacterium mesenterricus. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.Soil Sci. 1980. Escherechia freundii. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Kundu. Elfiati. 6(1) : 8-13. Universitas Bengkulu. 1997.J. Bacterium mycoides. Handayanto. S.32. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.D. 1982.No.S and A. 2004. 60:353-364.K. Fakultas Pertanian USU. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 1996. Bacillus megaterium. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Plant Soil 57 : 223-230. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. N and K. Gaur . Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few .ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.C.J. S. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. Dubey.2005. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Citrobacter intermedium .K Jha. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.2. 1982. Pal. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. 31 (3): 100-106. Majalah Sriwijaya Vol.Bacillus firmus. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia.Faperta Universitas Bengkulu. Plant Soil . 45: 506-509. Hasanudin.30:105-106.A. 2003.K. Pustaka Adipura.Universitas Sriwijaya. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. S.2003. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.1992. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. B. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Hasanudin dan Ganggo. Buntan. Buletin Agronomi. 1998.Indian Soc.Soil Sci.

Medellín vol. S. Gunung Botol.H. 1998.Widyastuti. Tesis. 1992. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. (Terjemahan Susilo. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Supadi. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. UGM.Yogyakarta. Patten. 1996. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.L and B.R. Microbiol 42: 207-220. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. 2001.Bogor. C. 2006. Ir. S dan Suliasih .Agr.NW.T.Disertasi. 198 : 169-177..Biodiversitas. dan Ciptarasa. Premono. Bandung. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.W. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. 2006. 2007.C. Edisi 2 . Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. 7(1):1014. 2005. Widawati. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki.R Glick. 1962. Jurnal Nature Indonesia. Sutanto. Edisi 3.acid tolerant crops. 1991. Plant Soil. N.H.1 Wulandari.N.Biodiversitas. Setiawati. Diposkan oleh Dr. Oxford and IBM Publishing Co. Vega.Kanisus Jakarta. Soil Microorganisms and Plant Growth. UI Press). Yuwono.Penerapan Pertanian Organik. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . S dan Suliasih .Bandung Rao.T. S. Abdul Madjid. and Sinha.R. 7(2):109-113. Can.J. 4(1) : 1-5.Pupuk Hayati .2002.60 no.Program Pascasarjana IPB. Universitas Pajajaran. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.) di Tanah Marginal. Widawati.

Program Pasca Sarjana. Dalam sejumlah kondisi. Program Studi Ilmu Tanaman. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Palembang. Program Magister (S2). (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Universitas Sriwijaya. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. aktinomicetes. Indonesia. fungi. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. seperti bakteri. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. bakteri dan fungi perombak bahan organik. dan virus sebagai agensia hayati. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Sumatera Selatan. bakteri. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Palembang. 1998). Program Magister (S2). serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Bukit Besar. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Sumatera Selatan. Bukit Besar. 1998). serta bakteri yang berperan sebagai . Palembang. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. kimia. protozoa. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Universitas Sriwijaya. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Indonesia. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Dibidang pertanian. cendawan. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Indonesia. alga dan virus. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui.

menghemat biaya pupuk. Bahan Ajar Online. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. 2009. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. B. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. kesuburan. Saraswati et al. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. A. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan meningkatkan pendapatan petani. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. 1978). dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Fakultas Pertanian Unsri & .

bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Bukit Besar. Sumatera Selatan. Palembang. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Program Magister (S2). (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai.atau CO32-.2 mg/kg tanah. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Program Pascasarjana. Abdul Madjid.01-0. Palembang. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. pemupukan dan mineralisasi P-organik. OH. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P).blogspot. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Program Pasca Sarjana. Cl-. Program Magister (S2). Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan.com. Indonesia.Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Ir. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. . Palembang. Sumatera Selatan. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Diposkan oleh Dr. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Indonesia. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Program Pasca Sarjana.

atau H2PO4-) diserap tanaman. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. hewan dan organisme tanah. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Oleh karena itu. (b) imobilisasi P-tersedia. Di alam. 1997). fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. 1989. Pada sistem pola tanam yang terbuka. hewan dan mikroba . Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Siklus ini berulang terus menerus.. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Sisa tanaman. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. 1977). Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. fosfolipida. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. asam nukleat.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Subba Rao. keseimbangan P dalam tanah terganggu. pemupukan. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Bila ion fosfat (HPO42. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. nukleotida dan gula-gula fosfat. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). 1989). memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. fosfor terdapat dalam dua bentuk.

atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. 1986). maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Umumnya. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. 1997). Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik.yang dikembalikan ke dalam tanah. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. aerasi. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. kelembaban. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. 1. Selain kandungan fosfat dalam residu. 2. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. seperti nukleotida atau fosfolipida. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. aerasi.. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. temperatur. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan.

Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. kalsium dan magnesium fosfat. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa.----> Al(OH)2 H2PO4. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. dengan melepaskan fosfat. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Fe. Pada kondisi tergenang. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Al3+ + H2PO4.+ 2H2O ----> AlPO4. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Nilai kritis C/P adalah 200.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Mn. besi. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat.lebih mendominasi. Mn. Ion Fe.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . 1986). dan Ca.lebih mendominasi. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-.+ 2H2O ----> FePO4. pH tanah. Phosphaticum. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. Hal yang sama. Al. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. dan PO43-. H2PO42-. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat.2) H2PO42. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. H2PO42. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Selain itu.

com. Fe. Ir. laktat. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. 2. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). 2007). 2009. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Mn. Sumatera . Bahan Ajar Online. 3. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Kandungan bahan organik tanah. Program Pasca Sarjana. A. suksinat yang dapat mengikat Al. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). asetat. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat.blogspot.Didaerah rhizosfer. Bukit Besar. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.

Palembang. Reproduksi secara seksual. 1970). membentuk spora dari fusi dua nukleus. Indonesia. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes.. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Sekitar 70. 1995). kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. 2007). Program Studi Ilmu Tanaman. 1991. Hawksworth et al. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Indonesia. . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. (1996) dikenal 5 kelas fungi.5 juta (Hawksworth. Bukit Besar. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran.Selatan. Program Pasca Sarjana. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. miselium menghasilkan spora. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Palembang. Sumatera Selatan.. Program Magister (S2).

bagian bawah. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. eksudat akar. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. baik berupa daun maupun kayu. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. organisme rhizosfer. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. beberapa diantaranya bersifat sparofit. tidak peka. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. 2007). karbon dioksida. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. bagian tengah. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. sebagai contoh . menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. CO2 terhambat. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. dan pengendalian penyakit. siklus hara. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. 1992). Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. 1993). Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. dan pengelolaan lahan. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Bersama-sama dengan bakteri. 1993). Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat.. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. dan essensial . Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung.

. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. 1995). Selain itu. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Sebagai contoh A.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. nitrogen.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Namun demikian. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. dan mungkin air) ke tanaman. tekstil. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. . untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. 2007). Phytium. (3) Patogen atau parasit.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. cat. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. dan Rhizoctonia. sayuran. 1995). contohnya A. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. hara mikro. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. tanaman pangan. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. dan kulit (Hawksworth et al. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. serta banyak dijumpai dalam tanah. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. dan semak. udara. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Seperti bakteri. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon.flavus dan A. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu.

3. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. 1968). jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. 1983). nitrogen. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. termasuk manusia.75-5x 2-6im. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras.koningii (merton dan Brotzman. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al.5-9. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga.5. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. jaringan hewan dan tanah. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman.2. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. 1979). gandum.harzianum dan T. . diantaranya T. Pada tanaman. 4. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson.. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. 1986). 1999). dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. 1987). Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. 1982). Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. 5.

com. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Palembang. Ir. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Palembang. Bukit Besar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Abdul Madjid. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Diposkan oleh Dr.blogspot. Program Magister (S2). dan mineral lainnya. Sumatera Selatan.vitamin. Bukit Besar. Program Magister (S2). MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Program Pasca Sarjana. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Bahan Ajar Online. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. 2009. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan. Http://dasar2ilmutanah. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. A. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Indonesia. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Program Pascasrjana. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman.

glikolat. dan Chaetomium sp. B. Fusarium.35%. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. jamur dan aktinomisetes.0-2.010. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. asetat.21% dan C/N ratio . Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Flavobacterium. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Penicillum. AlPO4. malat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral.. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Schlerotium & Phialotobus. FePO4. oksalat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). alfa ketoglutarat. subtilis. candidus. sitrat. B. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. suksinat. cereus. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. magnesium (Mg) sebesar 0.5%. A. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. merupakan bentuk antara (transisi).14%. megatherium. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Micrococus dan Mycobacterium. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). asam amino dan asam fenolik. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Arthrobacter. Achromobacter. apatit. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. B. nitrogen (N) sebesar 2. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. licheniformis. Pseudomonas. 2006). 2006). Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.rendah. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah.0%. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. yaitu: karbon (C) sebesar 19.. Penicillium sp. 1994). kalium (K) sebesar 0. Trichoderma viridae.0-40.04-0. fosfor (P) sebesar 0. B. polymixa. harus mengandung 8 macam nutrisi.039-1. B. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. glukonat.

japonicum. (4) inokulasi R. Subba Rao. dan FePO4. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). dan 10 kali. Kundu dan Gaur. aktivitas fiksasi N. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Aspergillus sp. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. 1977 . 1986). bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. (2001). Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. 1980 . (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. dan serapan N dan P berturut-turut 7. 1978).8 kali. Lestari (1994). menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. 1982). (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. AlPO4.. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. niger strain NHJ2 1 ml per biji. dan serapan N dan P. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.0-20% (Gaur. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. (3) inokulasi R. Hutami et al. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. yakni lebih dari 10 kali lipat. niger. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. dan G. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. A. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. 8 kali. margarita. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk.3 kali.4 % dibandingkan kontrol. aktivitas penambatan N. (2) inokulasi R. kanada. 1957 . 1967). merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. dan mesir. 1. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai.sebesar 9.

Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. kab. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). kandungan bahan organik rendah. Tanah ini terkenal sangat miskin. tanaman apapun yang . Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. aspergillus niger. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Selain daripada itu T. (2000). Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Pennicillium digitatum. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. 2004). harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3).. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). dan Chaetomium sp. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. 2000). Trichoderma viridae.media tumbuh GAGES dan GES. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap.. T. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). scwanniomycetes occidentalis. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. bahan organik.. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al.78 ppm (Baratha. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Aspergillus niger. Bogor. 42. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Penicillium sp. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia.

Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup.com. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Palembang. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. ** Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. A. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Program Magister (S2). Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Program Pasca Sarjana. . Namun demikian. Sumatera Selatan. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Program Pasca Sarjana.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Diposkan oleh Dr.blogspot. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Program Magister (S2). (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Indonesia. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Bukit Besar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Ir. Sumatera Selatan. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Program Pascasarjana. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Palembang. Bahan Ajar Online.

Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi.11. biakan kering beku. dan juga pada minuman. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. R. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. sekam. atau zeolit. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. artinya mikroorganisme yang . mempercepat proses pengomposan. pelarut. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat.130. atau ketempat pengomposan. 2008). biakan cair. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Indonesia. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. vermikulit. biakan kering. Namun. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Namun. memperbaiki struktur tanah. dan tepung. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah.Sumatera Selatan. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. tanah. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. dan kompos. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung.760. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Di Indonesia. menekan soil-borne disease. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. arang. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional.

maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. oksalat. tetapkan kelembapan bahan pembawa. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. cara penyimpanan. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. 2008). Mulai tahun 2004. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. jenis. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. seta jenis tanaman yang cocok. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. fumarat. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. 2008). sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. tanggal kadaluwarsa. laktat. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. Mn-. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. dan ketoglutarat. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. baik berupa bakteri maupun jamur. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Stase. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Propionat. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. 2008). sitrat. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya.Suatu teknologi . Dengan mempertahankan kelembaban. glikolat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Pada pengujian pupuk mikroba. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. dan Ca. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Di Indonesia. Fe-. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. suksinat. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Selain itu.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. lartrat.

Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.56 ug/m! (pH 6. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0.65) hingga 147.32% dan 16% pada padi. 50 kg/ha SP36. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. .5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. mikoriza. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K.59%). Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan.1)./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. yaitu mikroba pelarut fosfat. Aspergillus niger NHJ2. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. bobol kering tanaman. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.85ug/ml (pH 5.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). Grt 3.0./ha (23. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. 50 kg P.28 ugfrnl (pH 2. dan meningkatkan serapan P tanaman.60 ug/ml (pH 4.0.0.0. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. memobilisasi. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.47) hingga 394. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.

– 8. 3. antara lain: 1. 4. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. 8. AlPO4 tidak larut dalam air. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. bakteri. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. 5. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Moawad. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Buat medium agar Pikovskaya.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. minimal duplo.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. – 6 s/d 10 ext. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Ulangi langkah di atas secukupnya. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. dan Vlek (1996). Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Konsentrasi fosfat. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. 2. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . 7. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. 6. -4. dan actinomicetes. khususnya isolat fungi.

Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Goenadi et al. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. fosfatase. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. A. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. . (2000). AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas.. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. 2000). 1995).2. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. 3. Ketebalan agar.. sehingga dapat diserap tanaman. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. dan aktinomicetes. 4. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. (Goenadi. Misalnya. misalnya: fungi. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Melalui aplikasi pupuk hayati. bakteri. dkk. 1995). Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al.

(1997). dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . penambat nitrogen bebas. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dkk. bobot kering bibit. dan volume akar. B. kedelai. Hasil percobaana Goenadi. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. ketersediaan hara di dalam tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman.

(2) inokulasi R. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. 8 kali. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. pH 3. diameter batang. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa.209 me/100g). japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. japonicum. jumlah bintil akar. 50 kg KCl). A. jumlah polong isi. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Rhizobium 108-109. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108.8 kali. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). niger strain NHJ2 1 ml per biji. serapan N dan P tanaman. C. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. (4) inokulasi R. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. dan G. dan serapan N dan P berturut-turut 7. aktivitas fiksasi N. 1. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. 100 kg SP-36/ha. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. tinggi tanaman. aktivitas penambatan N.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. 2000). niger. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar.3 kali. MK 1999. bobot kering total. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam.5. . (3) inokulasi R. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. bobot kering akar. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Rata-rata bobot kering tanaman. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot).96. margarita. MK 1997. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). dan 10 kali. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dan serapan N dan P. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. Al-dd 1.

3 ppm . yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Pb. Cd dan Mikroba Patogen. mikroba pelarut P. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. dan mikroba pendegrasi selulosa. N = 0.92 % . Mikroba Pendegradasi Selulose5. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. C organik = 0. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Mikroba pelarut fosfat3. Zn = 3. Lactobacillus.04 % . Cu = 0. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). K = 1700 ppm . Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Azobacter sp2.D.70 ppm . Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien.23 ppm .Ir. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Mn = 0.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Hg. Pseudomonas spp = 34. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.85 ppm . Fe = 44. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan).Lukman Gunarto MSc. Azotobacter. Azospirilum sp4. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Lactobacillus sp6.

sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Azotobacter sp. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. pembentukan anakan dan primordial. apabila . hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. probiotik MiG ternak. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. sehingga keaslian produk MiG corp. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. penambat Nitrogen dari udara. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. Menurut penelitian Dr. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. Lactobacillus sp. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. populasi mikroba untuk menambatkan N. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. unsur N. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. Lukman Gunarto. Hasil dari pendegradasian tersebut. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. ada yang berfungsi sebagai penambat N. akan mendapatkan K dan unsur lain. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. mikroba pelarut P. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut.

Bahan Ajar Online. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Indonesia.com. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Palembang. Sumatera Selatan. Penicillum. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Ir. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia. candidus. 2009. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sedangkan dari golongan . A. A. Caranya sangat mudah. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.blogspot. Palembang. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Program Pasca Sarjana. Tidak masalah. Program Magister (S2). Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Bukit Besar. rusak atau mati. Abdul Madjid. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Universitas Sriwijaya. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Malahan tanaman menjadi semakin subur. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Schlerotium & Phialotobus. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. Fusarium. http://dasar2ilmutanah. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Program Pascasarjana. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Program Magister (S2).

Alexopoulos. (eds). 2004. and Wicklow. dan Chaetomium sp. scwanniomycetes occidentalis. R. New York. G.C. Carroll. 1999. Introductory Mycology (4th Ed). Smithson. R. and Hellums. Baniks. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Publ. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. WI.. M. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Chonkar and Subba rao. 2006. Communities of P-solubilizing bacteria. 1993. Inc.T.. R. Penicillium sp.C.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Buresh et al. Premono dan R. Eduardo F. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 1997. Dhandhun Baratha. Chapman & Hall. D. 1967.T. J.. C.. New York. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. Pennicillium digitatum. Bogor. Plant soil 60 : 353-364. SSSA. USA. J. S.J. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Campello. Orivaldo J. and Webster. Eliane M. J.. Widyastuti. Madison. Dix. Marcel Deker. Buresh. Blackwell. S. Souchie.. 111-149. Microbial. Trichoderma viridae. P. John Wiley and Sons.J. London. aspergillus niger. P.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. 1982. E. VII. DAFTAR PUSTAKA Anas. http://www. 1-44 pp. I. Building soil phospharus capital in Africa. Barea. 13 : 749-752. PA. Fungal Ecology.W. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pusat Antar Universitas IPB. J. 1996. 334-337. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. D. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec.scielo. Philadelphia. Saggin. N. L. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. J. Canadian.R. In. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. Dickinson. Mims. 51. Aspergillus niger.. Edson L.J..C. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. 1992. Rosario Azcón Jose M. 868p. and Schweizer. RJ – Brazil.. M.br/scielo. C. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara.W. and M. 1995.

P. Anas. Fakultas Pertanian.C. 14 : 31-36. Pennicilium and Acremonium. B..M. D. 2000. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey.H. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah.C. Hutami. Goenadi. Paul.. 23-30. Institut Pertanian Bogor. E.N.). Saraswati.html Joffe. Nelson. A.com/jayenterprises/fertilizers. New York. Lestari. D. 1996. 1991. E. P. 616p. Riyanti. J. G dan I.I. USA. Y. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. CAB International. University of Missouri Columbia Extension Division. 641-655.G. 1986. Mycology research 95. S.E. Giller and G. 1993. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. P. 204 pp. Cambridge University Press. The life of yeast. F. Hawksworth. Skripsi.J.M. 1989. Inc. D. Harvard university Press. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. Maningsih. Watling.L.. 1983. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung.J.W and Mrak. Puslittanak. S. Mass. K. R. Sutton.. Wallingford. Inc.. Sunarlim. and Pegler. D. H. Phaff. Bio .E. A. In. 2000. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Plenum Press. F and Brotzman.Gressel.. Missouri. 1994.A dan Clark. and Whalley. Badan Litbang pertanian. Driven by nature p. Cambridge. 588 pp. 1979. 1995. CAB International.F. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Perbedy.297-312. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Fusarium Species: Their biology and toxicology.. U. N.S.L. Bogor. Cambridge. E. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. significance and conservation. New York.. Soil Science Society of America Journal 64:927932. 83-123 pp. Jakarta (Indonesia).Fertilizer [Biosol-P] www.Z. Columbia. Kirk. The Pennsylvania state University Press. Bogor (Indonesia). University Park. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. 1997. 1968.E. . New York. Miller. 1987.K. Merton. J. Frankland. Jenis pupuk P. Cadisch (eds). John Willey & Sons.. Hawksworth.indiamart. N and J. M. Siswanto and Sugiarto. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. H. McColl. R. Isaac. 193 pp. United Kingdom. Aspects of tropical mycology.

New York. 1970. 380 p.staff.ac. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Indonesia. New Delhi. Introduction to fungi. J. 2008. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Fosfor (P). Palembang. Palembang.id/] Diposkan oleh Dr. Hara N tersedia melimpah di udara. Subba Rao. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Soil Microorganism and Plant Growth. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Pupuk Hayati. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.Premono. Cambridge university Press. M. Disertasi. E. sulphur. micronutrients. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. N. Program Studi Ilmu Tanaman. Cambridge. 1977. 1982. Sekilas Pupuk Hayati. C. F. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Elsevier biomedical press. nitrogen. manual and atlas of pennicillia. phosporus. 1986. Bogor. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose).ugm. Indonesia. I. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Program Pascasarjana.J. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. 2006. Abdul Madjid. Namun. Oxford and IBH Publishing Co. Ramirez. Tiga unsur hara penting tanaman. M. Universitas Sriwijaya. N. 202-204. Universitas Gadjah Mada. W. 1994. Yuwono. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. John Willey & Sons. Cycles of soil carbon.S. Ir. yaitu Nitrogen (N). ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. [http://nasih. New York. Stevenson. Tombe.

Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. antara lain: Aspergillus sp. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Sebaliknya. Penicillium sp. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. infeksi ini . Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. 2008).jenis tanaman. Namun. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. karena terikat pada mineral liat tanah. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Di sinilah peranan mikroba pelarut P.

lapisan hifa pada permukaan akar tipis. 2004). famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Ektendomikoriza 3. mulai dari paku-pakuan. Archaeospora. mempening (jenisjenis Fagaceae). kesehatan dan produktivitas tanaman. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . kelapa sawit. kruing. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. misalnya jenis-jenis meranti. rambutrambut akar tidak ada. padi. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Acaulospora. Hifa memasuki sel kortek akar. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Gigaspora dan Scutellospora. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Paraglomus. Dilain pihak. mangga. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. jenis rumput-rumputan. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Ektomikoriza 2. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. dll. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. hingga pohon rambutan. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. karet. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. 1997). Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. bercabang. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. pinus. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Entrophospora. pasang. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. 2003). cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. membentuk chlamydospores (Morton.

Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. teh. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. bawang. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. karet. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. kacang tunggak. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. 2003). Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. padi gogo. palem. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. 1. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. . jeruk. vesikel intraseluler. kopi. selada. 1998). Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. harus diamati dibawah mikroskop. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. singkong dan sorgum. kapas. apel dan anggur (Rahmawati. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. tembakau. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. 2004). karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. 2004). Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. kebanyakan berbentuk bulat telur. vesikel (vesicle) dan spora. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. barley. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. pepaya. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. nenas. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. akan tetapi belum berhasil. kakao. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang.

Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. pembengkokan inti sel. 1981). 2004). Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 3. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. pembentukan organ baru. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Dengan bertambahnya umur. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. 1981). 2) . Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Arbuskul berperan dua arah. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Mirip dengan cendawan patogen. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. 2.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Schubler et al. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 2004). yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. yang memiliki perbedaan tegas.

Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. 2006). Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Oleh karena itu. Pacispora. Geosiphon. 2006). Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Diversisporaceae. tanaman inang. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Walaupun demikian.. Scutellospora. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Kuklospora. Gigaspora. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Paraglomus. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Entrophospora. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. (Sagin Junior & Da Silva. 2002). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Gigaspora-ceae. . Diversipora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. dan Glomus sp. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace).Paraglomerales (famili Para-glomerace). 1991). CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. kepadatan propagula. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Acaulospora. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Intraspora.

Vesser et al. saat kelembapan air rendah. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Untuk daerah tropika basah. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. tanah. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air .pada tengah hari. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. 1981). Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. logam berat dan fungisida. bahan organik tanah. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. kadar air tanah. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1981). Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang.. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. hal ini menguntungkan.II. pH. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air.

1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. alumunium dan mangan. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA.. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. 1984).meningkat (Rotwell. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. 1981). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Serasah tersebut mengandung hifa. 1997).5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. klor. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . air dan udara. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah.

Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Plantavax. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1981). 1995). dan Na yang tinggi (Mosse. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Al. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar.. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). 1984). Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Benlate. 1984 dalam Anas.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. 1997). 1982 dalam Anas. dicirikan oleh keragaman . Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. fungisida Agrosan. 1997). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. 1998).

cropping sistem. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Untuk tanaman manggis. Sawahlunto Sijunjung. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. 1995).04 menjadi 0. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. P. ameliorasi dengan bahan organik. 1984). karena perubahan spesies tanaman. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 2002). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. . Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. 1996). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. 2005). Dalam budidaya tradisional. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 1996). Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1 9% (Gededda et al. pembakaran. unsur hara dan struktur tanah. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza.spesies yang sangat tinggi. Pada tanaman pisang. K. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang.

8 dan 28 MST. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. jumlah daun pada umur 4. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza.7% dan 4.2% dibandingkan dengan kontrol. 1997). Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. sedangkan inokulasi G. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Selain daripada membentuk hifa internal. 1997).masing sebesar 5.5% dibandingkan dengan kontrol. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. G. bobot kering tajuk. sedangkan inokulasi G. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. 2006). Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul. . mikoriza juga membentuk hifa ekternal.7% dibandingkan dengan kontrol. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. III. kekeringan. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. serta patogen akar.

Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. keasaman. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Selain itu. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. 2006). Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. pemadatan. 3) melindungi dari herbisida.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Zn. 1997). Pada kedelei. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Setelah periode kekurangan air (water stress). Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Dengan adanya CMA. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Cu. dan Zn). infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Zn dan Cu meningkat. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Fe. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. salinitas.

Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 2. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air.1997). Infeksi patogen akar terhambat. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. K dan S. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. 3. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. tailing tambang batubara. atau lahan terpolusi lainnya. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. 1994). tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. 2. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Dilain pihak. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. 1994). Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. 4.

4. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sitokinin dan giberalin. . 2000). 1993). 1981). dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Jika terhadap jasad renik berguna. Pada tanaman tertentu. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. citokinin. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. dan giberalin. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Interaksi sebenarnya antara CMA. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. 1997). Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen.. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 40% kebutuhan nitrogen. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. 1981 dalam Husin dan Marlis. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 3. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. patogen akar. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. 1997). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat.

Perbaikan Struktur Tanah.. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. 5. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik.. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Bila ini benar. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Menurut Hakim. 1997). 2002). et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. tapi juga bagi tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. 2002). asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu.

Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Besi (Fe++). disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. 6.3.2. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.6 hexakisphospat). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Phytat adalah senyawa phospat komplek. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Prihastuti et al.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Secara alami mikoriza terdapat secara luas.4. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Seng (Zn++).33%. khususnya pada tanah yang miskin P. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. japonicum. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air.. namun .tanah. dan protein. Magnesium (Mg++).50–90. yaitu mencapai 70. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. B.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. setelah didahului dengan proses infeksi akar. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. phosphor bebas dan mineral. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). 2002). Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman.5. 1999).

Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). temperatur. dan kompetisi antar cendawan mikoriza).BK. tanaman inang. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. tanaman bermikoriza . 1997). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. spesies cendawan. 2006). Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. tipe perakaran tanaman inang. perkebunan. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. 6. 1994). Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. adanya asosiasi ini. 2004). Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Secara tidak langsung. Bagi tanaman inang. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. 3. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. . Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. baik secara langsung maupun tidak langsung.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Sedangkan secara langsung. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. kadar air. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. pH. tanaman tanpa mikoriza) / BK. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 1995). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. baik untuk tanaman pangan. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. 1987).

Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.1. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.13 g biji/tanaman. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Kalimantan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0.15 mg P/tanaman.98 g biji/tanaman.13 mg P/tanaman menjadi 2. kejenuhan Al tinggi. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan..18 mg P/tanaman menjadi 2. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . . serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. miskin hara dan bahan organik. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.66 mg P/tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Disamping untuk tanaman pangan. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan.. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. infiltrasi air hujan rendah.02 g biji/tanaman menjadi 5. 1997).84 g biji/tanaman menjadi 5. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.1997). Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.7. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

66 % . Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.. Tujuannya." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.67. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Dengan teknologi mikoriza. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. sebesar 38.5 ppm. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. dengan kadar P tersedia "rendah" .80 % .misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara.90 %.65 %. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.71. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Selain itu.15 %. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.72 ppm dan tanah Inceptisol. 2008). 8.84 % . Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". 69. Untuk mewujudkan harapannya. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.40. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Peningkatan kadar P nira. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.76 % -21.

diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. selain untuk meratakan hasil. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. bedeng tersebut dapat digunakan. Manfaat 1. 2. 6. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 3. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. sorgum atau pueraria. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. 4. telah diberikan Asosiasi . 2008). Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Tanaman inang dapat berupa jagung. spora dan akar terinfeksi. 5. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan.Lima hari kemudian. diaduk merata. 3.campuran tanah.

Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Setelah teruji kemurniannya. (2)Saprophitik. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. yaitu: (1)Parasitik. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. (3) menggunakan miselia cendawan. Setelah itu pil dipecah-pecah. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Tablet ini dibuat dari cendawan. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Untuk membuat tablet. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Ir. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Aturan pakainya sederhana. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman.7 sentimeter. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Diposkan oleh Dr. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Kalimantan. Dalam teknik pemberian mikoriza. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. mampu menambah daya tahan akar tanaman. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Di IPB.Mycorrhizal Indonesia. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. seperti: penyakit bercak akar kapas. satu tablet untuk satu bibit. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Abdul Madjid. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Setelah diberikan pada bibit tanaman.

Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. jangkrik. yaitu: (1) Makro Fauna.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. semut. Abdul Madjid. (3)Simbiotik. dan (b)Nematoda.dekomposisi bahan organik tanah. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. dan rayap). (b) cacing tanah. (3)Acaulospora. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. (d)Moluska. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. Chilopoda (kelabang). Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. kutu. seperti: omnivorous dan Predaceus. Ir. Flora Tanah . dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. (c) Arthropoda. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (2)Ektomycorhiza. Arachnida (lebah. dan (3)Ektendomycorhiza. Diplopoda (kaki seribu). yaitu: (1)Endomycorhiza. (2)Glomus. dan ciliata. seperti: amoeba. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. flagelata. (4)dll Diposkan oleh Dr. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas.

yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Ir. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. bahwa berdasarkan ukuran. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). yaitu: (1) Makrobia. (c) actinomycetes. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. dan (3) Mikrobia. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. (2) Mesobia. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. yaitu: (1) Makro Flora. .2 mm s/d 10 mm. dll.2 mm. (b) fungi. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Diposkan oleh Dr. Selain itu. Aspergillus. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (d) algae. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. dll. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Abdul Madjid. Bacillus. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. (2) Mikro Flora. terdiri dari: (a) bakteri.000 bakteri per gram tanah. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman.

dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Ir. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. Abdul Madjid.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->