PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. 2004). akan tetapi belum berhasil. 2004). Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. selada. teh. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. padi gogo. 2004). Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. bawang. Arbuskul berperan dua arah. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. karet. tembakau. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). kebanyakan berbentuk bulat telur. vesikel (vesicle) dan spora. 2004). dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. singkong dan sorgum. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. kakao. kacang tunggak. apel dan anggur (Rahmawati. 2003). Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. kopi. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. pembentukan organ baru. 2. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. nenas. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 1. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. barley. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim.Leguminosa umumnya bermikoriza. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. pepaya. jeruk. pembengkokan inti sel. . palem. kapas.

Gigaspora. dan Glomus sp. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Entrophospora. Intraspora.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Kuklospora. Acaulospora. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Scutellospora. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Diversipora. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. . (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Pacispora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Walaupun demikian. 3. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Oleh karena itu. 1981). yang memiliki perbedaan tegas. Dengan bertambahnya umur. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. 1981). berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Gigaspora-ceae. Mirip dengan cendawan patogen. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Geosiphon. Schubler et al. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Diversisporaceae. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). CMA sekarang menjadi filum tersendiri. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Paraglomus. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. 2006). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman.

blogspot. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. kepadatan propagula. 2002). Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Bahan Ajar Online. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Ir. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Palembang. Program Pascasarjana. Http://dasar2ilmutanah. Propinsi Sumatera Selatan. 1991). Indonesia. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Palembang. Diposkan oleh Dr.com. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. Universitas Sriwijaya. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Indonesia. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Abdul Madjid. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. 2006). . Universitas Sriwijaya. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Program Pascasarjana.. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. tanaman inang. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. (Sagin Junior & Da Silva. A.

suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C.pada tengah hari. 1981). kadar air tanah. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Program Magister (S2). Vesser et al. hal ini menguntungkan. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. logam berat dan fungisida. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Universitas Sriwijaya. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Program Pasca Sarjana. Indonesia. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. bahan organik tanah. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Program Pasca Sarjana. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. 1981). pH. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. saat kelembapan air rendah. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. tanah. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Program Studi Ilmu Tanaman.. Program Magister (S2). (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Palembang.** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Indonesia. Untuk daerah tropika basah.

1997). air dan udara. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Serasah tersebut mengandung hifa. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1981). Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1984).5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. 1997).

Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. klor. 1997). Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1997). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. 1981). Benlate. alumunium dan mangan. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. 1984). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel..5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1984 dalam Anas. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1982 dalam Anas. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Al. fungisida Agrosan. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx.. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Cendawan pada umumnya . Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Plantavax. 1997). dan Na yang tinggi (Mosse. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium.

cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. 1 9% (Gededda et al. 1996). Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. K. jumlah bahan organik yang dihasilkan. P. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. pembakaran. Pada tanaman pisang. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1984). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1995). karena perubahan spesies tanaman. unsur hara dan struktur tanah. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997).04 menjadi 0. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Dalam budidaya tradisional. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). cropping sistem. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. . 2005). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. 1998). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 1995). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza.

manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. jumlah daun pada umur 4. Program Pascasarjana. . Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Program Magister (S2). Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Universitas Sriwijaya.5% dibandingkan dengan kontrol. sedangkan inokulasi G. Sawahlunto Sijunjung. Universitas Sriwijaya. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.7% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. Program Magister (S2). Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing.2% dibandingkan dengan kontrol. Ir.blogspot.7% dan 4. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. bobot kering tajuk. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Palembang. Universitas Sriwijaya. 2009. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Program Studi Ilmu Tanaman. 8 dan 28 MST. 1996).Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. G.com. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pasca Sarjana. Bahan Ajar Online. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. 2002). Palembang. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). sedangkan inokulasi G. Abdul Madjid.masing sebesar 5. Untuk tanaman manggis. A. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia.

pemadatan. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Selain itu. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 1997). serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. 3) melindungi dari herbisida. Cu. kekeringan. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Zn. Di dalam arbuskul. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Fe. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. serta patogen akar. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Selain daripada membentuk hifa internal. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. keasaman.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. dan Zn). mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . salinitas. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 1997). 2006).

Zn dan Cu meningkat. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. 1994). Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Setelah periode kekurangan air (water stress). Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Pada kedelei. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. 1997). Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. K dan S. 2006). tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn.tanaman inang. Dengan adanya CMA. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal.

1997).simpan air kecil. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Infeksi patogen akar terhambat. 2. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Interaksi . Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. 1993). 4. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. tailing tambang batubara. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan.. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Jika terhadap jasad renik berguna. 3. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Dilain pihak. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. 1994). 2. atau lahan terpolusi lainnya. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni.

Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. patogen akar. 1981). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat.sebenarnya antara CMA. 1997). Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. 5. citokinin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 2000). Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. 3. 1997). Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. 1981 dalam Husin dan Marlis. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Perbaikan Struktur Tanah. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. 40% kebutuhan nitrogen. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan giberalin. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Bila ini benar. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 4. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 1997). maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Pada tanaman tertentu. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. sitokinin dan giberalin.

Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Menurut Hakim. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.agregat mikro. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. 2002). memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. . Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. tapi juga bagi tanah.. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah.. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. 2002). asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal.

dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas .3. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. setelah didahului dengan proses infeksi akar. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.50–90. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. 1997). khususnya pada tanah yang miskin P. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Magnesium (Mg++).6. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular.4. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital.6 hexakisphospat). Prihastuti et al. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. B. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. dan protein. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Besi (Fe++). Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi.5. 2006). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. yaitu mencapai 70.. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. japonicum. 2002). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.2. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. 1987). phosphor bebas dan mineral.33%. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. 1999). sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Seng (Zn++). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA).

Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. spesies cendawan. Sulawesi dan pulau besar lainnya. 3. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. perkebunan. pH. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. tanaman bermikoriza . 1994). Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. adanya asosiasi ini. Bagi tanaman inang. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham.1. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Sedangkan secara langsung. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. tanaman tanpa mikoriza) / BK. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". 7. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. baik secara langsung maupun tidak langsung. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. temperatur. . 2004). Secara tidak langsung. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. baik untuk tanaman pangan. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. 6. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.BK. miskin hara dan bahan organik.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. tanaman inang. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Kalimantan. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. 1995). tipe perakaran tanaman inang. kadar air.

02 g biji/tanaman menjadi 5.98 g biji/tanaman.kejenuhan Al tinggi.15 mg P/tanaman. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman.1997). infiltrasi air hujan rendah. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.84 g biji/tanaman menjadi 5. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.18 mg P/tanaman menjadi 2. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. 1997). 1996) dan pepaya (Cruz et al. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam .66 mg P/tanaman. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Disamping untuk tanaman pangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. net fotosintesis.13 g biji/tanaman. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.13 mg P/tanaman menjadi 2. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. serta serapan hara NPK. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.

tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. meningkatnya tekanan osmotik. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . 7. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. 1995 dalam Aggangan et al. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Peneliti lain. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Zn dan Cu (Al-Kariki. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Namun demikian. et al. 1994). Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. 2000). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Dalam kondisi salinitas tinggi. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. 3.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. terhidar dari plasmolisis. 2001). 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. 1994 dan Tam. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. 2000).

Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. 2000). dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. . meningkatkan N tanah setelah percobaan. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Menurut Wachjar et al (2002). Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. maka laju penurunan hasil clover meningkat.berbeda. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. efisiensi penyerapan P. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. mempercepat umur berbunga tanaman jagung.. zat yang melarutkan PAH. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik.. 1993). australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. (2001) menunjukkan bahwa P. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Oliveira et al. 12 diantaranya bermikoriza. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis.

dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Selain itu. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. sulit dan cukup mahal transportasinya. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol.S. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. Dengan teknologi mikoriza. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. 2005). Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. produktivitas. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. berharap jati muna yang telah . Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati.

65 %. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". 2. Inokulasi . Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. selain untuk meratakan hasil. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. dengan kadar P tersedia "rendah" .66 % . Untuk mewujudkan harapannya. 69.5 ppm. 8. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Peningkatan kadar P nira. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.84 % . Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.90 %.15 %.72 ppm dan tanah Inceptisol. sebesar 38. 2008).76 % -21.80 % . Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. diaduk merata. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. 3. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.67.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. bedeng tersebut dapat digunakan. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Tujuannya. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . juga untuk menguapkan sisa fumigasi. spora dan akar terinfeksi.71.Lima hari kemudian. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah.40. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.

5. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut.Pada tiap lubang yang dibuat. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Manfaat 1. 3. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. . 2008). 4. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. sorgum atau pueraria. Dalam teknik pemberian mikoriza. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Dalam rangka pelaksanaan program ini. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. 6. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Tanaman inang dapat berupa jagung. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Setelah teruji kemurniannya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2.50. 2008) . Sebagai pembanding. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. 1. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. sampai 230%.00 gram. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam.J.00 gram (Hardiatmi S. dan Nitrogen (N) 75%. Kalium (K) bertambah 86%. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Untuk membuat tablet. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Di IPB. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif.M. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.7 sentimeter. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.ah takaran 1. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . Kalimantan.00. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.00. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. satu tablet untuk satu bibit. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.00 gram. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. 1. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Setelah itu pil dipecah-pecah. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Setelah diberikan pada bibit tanaman. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.50 dan 2. Tablet ini dibuat dari cendawan. Dengan demikian. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. 1.500 dan 2. Aturan pakainya sederhana. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.

peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Program Magister (S2). . A. Http://dasar2ilmutanah. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pascasarjana. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Indonesia. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Indonesia.blogspot. Diposkan oleh Dr. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang.com. Ir. Program Magister (S2). pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Universitas Sriwijaya. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. 2009.

OST dan Simbionriza. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Rhiphosant. Kamizae.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Tabel 1. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. kehutanan.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. virus. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. 4. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. jamur yang bersifat patogen. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) .4-13%). Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. b.

Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.50 33. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.44 Dengan Mikoriza 28.12 Dengan Mikoriza 48.64 35. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan).50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. Bali. 4. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.28 34.Tanpa Mikoriza 28. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut.14 Dengan Mikoriza 43. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. d.70 ------------------------------------------------------------------c. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.

mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Setelah teruji kemurniannya. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.7 sentimeter. 4. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan Nitrogen (N) 75%. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. 4. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. Di IPB. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Dengan demikian. sampai 230%. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Selain P.M. Setelah itu pil dipecah-pecah. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Aturan pakainya sederhana. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Kalimantan. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Kalium (K) bertambah 86%. 2008). Setelah diberikan pada bibit tanaman. Untuk membuat tablet. satu tablet untuk satu bibit. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Tablet ini dibuat dari cendawan. javanica.S. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.

Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. Sebelum digunakan. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00.000 kapsul. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Setelah itu. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00.000 spora secara merata. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. setiap kapsul dibutuhkan 0. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. berarti dibutuhkan 500 g carrier. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. Pada praktek sebelumnya. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya.5 g carrier. pH tanahnya sangat bervariasi. (3) Dapat di produksi secara khusus. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan.000 spora. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. 4. (2) Mempermudah penanganannya.

R. Azzospirillum lipoverum. Ankia alni. Rhizobium. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Beijerinckie. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: .luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Mikrococcus. Aeromonas punctata. Lactobacillus spp. Nitrosomonas. Clostridium pasterianum.M. Nostoc muscorum. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Tabel 3. Azospirillium. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Sinorhizobium. Azotobacter. Anabaena azollae OST Azotobacter. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Bacillus. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.D. Nitrobacter.

Palembang. Universitas Sriwijaya. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. I. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 1997. I. Palembang. IPB. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. IPB. Indonesia. Palembang. A. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Anas.blogspot. Ir. Jurusan Tanah.Madjid. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. . DAFTAR PUSTAKA Anas.Bioteknologi Tanah. Biologi Tanah dalam Praktek. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). 2. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. KESIMPULAN 1. Program Pascasarjana. Laboratorium Biologi Tanah. 1989. Universitas Sriwijaya. Indonesia. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Http://dasar2ilmutanah. Bahan Ajar Online.com. 3. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. 2009.

1997. 2004. Biol. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Rev. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). 12-15 Desmber 1995.F. Dudi. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. 2007. Azcon. Ika RS dan Saubari MM. Lubis. ISSN 1411-0062. Husin..1. 9/2 : 91-95.M.google. H. Sutopo Ghani Nugroho.com. E. Amin Diha. INFOTENS. Universitas Lampung. 1997. M. K. Lampung. Jakarta. 79:473– 495. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. 26 (9) : 1201 1205. 2007. Growth response of Afselia africana Sm. Doponnois. Soils 24 : 81-86. terhubung berkala : www. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. 2007. Sanon . Yusuf Nyakpa. A. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. M. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Biochem. Husnal. Bailey. Reber. Vol 5. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Fertil.R. Hakim. Nurhajati. Mycorrhiza J.com dalam http://support. 1994.H.H.google.lunarpages. Mulyati M dan Roy H.G. 2008. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. Brundrett. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. 2000. No. Biantoro M. R. Dexheimer. Hakim dan Kusli.M. Faisal T.com Fleibach. and J. Go Ban Hong. Ali.M. 2000. N. Dasar-dasar Ilmu Tanah.. . 2002. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. 2008.. hal 83-89. El-Atrash. Ba. 1986. and F. Lampung. A. M. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Iskandar. G. R. Universitas Lampung. Hasanudin. Vol 5. Mahfud. Martens and H. p. M. Rusdi Saul. Soil Biol.Adinurani P.B. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Biol. A.

Biol. 2003. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Cambridge University Press. Mosse. Mycorrhiza J. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. 2001. D. R.Joner. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. K. 1997. Bagrayad. Lozano.H. Leyval. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. A.No56 : 131-137.google.id.Y. 1994.. Oliveira. and McDonald. Universitas Jember. M. 24 Januari 2006.. Fertil. 2000. Schubert. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.library.Lovisolo and A. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Ress. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. and C.J. 1981. Bogor. A.. . Dodd and PML. Mycorrhiza J. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. 10/3 : 115-119.litbang deptan. Kim. IPB. 1998. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. K. Khan. Biotrop Spec. Publ. JMR. Soils 26 : 79-87. http ://www. Jember. Rahmawaty. Castro. Biotropia 8 : 39-44. S. JC.usu.ae. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense .V. J. Killham.id. 10/4 : 155159.Tervesia claveryi. and R. Bull Manjunath. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. C. Pattimahu. 2004. Plant and Soil 78: 147-150. Tejoyuwono.pdf.go. 10/5 : 241-247.. Jordan. D. E. A.. 2001. 1995. 2008.download/tp/htm-rahmawaty s.G. Soil ecology. Azcon. 1993.com dalam http://hortikultura. Khan. 2000. Notohadinagoro. Morte. Mycorrhiza J. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. D. Terhubung berkala www.S. Effect of various soil environment stresses on the occurance.. Sekolah Pasca Sarjana.. 1984.

Diposkan oleh Dr. Rao. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Fertil. Plant and Soil 80-99-104 Rani. 2005. Romeida. and C. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Dela Cruz. Ninin Y. 57 : 77-81. F. and G. Simangunsong S. Biol. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. and R.S Subha. Schwarzott. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland..L. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. 2001. Subiksa. S. Biotrop Special Publ. Ir.. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Franson. Widodo. 2006. 1984. A. S. Incidence of vesicular . Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. IGM. Abdul Madjid.B.No56 : 131-137. 1991.S. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** .E. Publ. dan Marlin.T. Res. Mycol. 2002. 1994. J. Mahadevan. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Soc. Biotrop Spec. Ragupathy and A. Buletin Agron. Soil Sci.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste.. Vol 3. 1995. and K.K. R. Kapoor. 1999. 2002. J. A new fungal phylum. Soils 28 : 139-144.. Bethlenfalvay. Am. Walker. D. Yadi S. Bogor Schubler. N. Edisi Kedua. 105(12):1413-1421.A. Singh.Rotwell.J. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. M. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. R. Zarate.R. A. Bengkulu. Thomas. Wachjar A. Penerbit Universitas Indonesia. hal 69-74. D. Unsur hara tanaman.

Bukit Besar. termasuk biodiversitas.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. PENDAHULUAN 1. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Bukit Besar. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Palembang. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Upaya yang mulai . dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Indonesia. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Palembang. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik.1. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . biologis dan cultural. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.

Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. baik kesuburan fisik. kemasan . termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. jamur. 1996): 1. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. 2002). maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. kimia maupun biologi. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Penyedia hara . Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan.

2. B. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5.0 μm. Pseudomonas. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . . Arthrobacter. B. subtilis. Perombak persenyawaan agrokimia 1. B. cereus. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4.2. licheniformis. megatherium. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.5-0. P. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pseudomonas terbagi atas grup.1 1μm x 1. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.5. P. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. polymixa. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. 3. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. 2.4. Flavobacterium. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. putida. jamur dan aktinomisetes. dan P. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Micrococus dan Mycobacterium. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. ukuran tiap sel bakteri 0. fluorescent. B. B. multivorans (Hasanudin. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Achromobacter. Pemantap agregat tanah 6.berbentuk batang lurus atau lengkung.2003). seperti eksudat akar dan sisa tanaman. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Peningkat ketersediaan hara 3.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.

Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. dan gula posfat. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. dan ribosom. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. . 6. materi genetik. suhu tinggi dan zat kimia. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.terutama yang bersifat heterotrof. 1. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah.2005). kelembaban temperatur dan faktor lain. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. 5. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. fosfolipid. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. tetapi pada umumnya rendah . Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat.4. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. radiasi cahaya. asam nukleat. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. nukleotida. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. hewan dan mikrobia.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik.

Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. Secara geokimia. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. AlPO42H2O Variscit. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit.2007).Al3+. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. ATP. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. pembentukan akar halus dan rambut akar.01 – 0. aluminium dan hidrat. diantaranya dalam proses sintesis protein. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. FePO42H2O Strengit. Dalam bentuk anorganik. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. karbonat apatit. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Fe-P dan P tidak aktif. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. fosfor merupakan 11 unsur yang . namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. dan mineral P primer. reductant-P . Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. 1.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Al-P. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono.Mn2+ dan Ca2+.pembentukan bunga . Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. yang meliputi occhided-P . Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak.2002). yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit.

beku. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5).3 x 1011 mol P th.H2O). Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. 2009. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. kilap kaca sampai lemak. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. dan kekerasan 5. Http://dasar2ilmutanah.blogspot. Diposkan oleh Dr. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Di dunia. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan.17 . Sumber lainnya berasal dari jenis slag. yaitu 7. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. dan metamorf. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. A.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.6 x 1011 mol P th . sedimen.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .sangat melimpah di kerak bumi.5 juta ton endapan guano (0. Ir.40% P2O5.15 3. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.20. 1992). fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Seperti halnya nitrogen. Bahan Ajar Online.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). hijau. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Sebagai contoh 15-30-15.Cl.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air.com. berat jenis 3. guano. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . Propinsi Sumatera Selatan. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Program S2. dan milisit {(Na. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Selain sebagai bahan pupuk. Abdul Madjid. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Indonesia. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis.4 .15. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F.

Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Pasca Sarjana. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Indonesia. Bukit Besar. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. fumarat. Al-P.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. ** Program Studi Ilmu Tanaman. tartarat dan alfa ketobutirat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Bukit Besar.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. malat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . glioksalat. Palembang. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Indonesia. Palembang. glutamat. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. laktat. oksalat.1. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. suksinat. Universitas Sriwijaya. MgP. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Program Magister (S2). Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Sumatera Selatan. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Program Pasca Sarjana. yaitu dalam bentuk Ca-P. Palembang. Indonesia. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Fe-P atau occluded-P. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Bukit Besar. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Sumatera Selatan. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.

Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. malonat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. salisilat). tartarat). sedang (malat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif.OH + R-COO. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. Hasil penelitian Pramono et al. . Terdapatnya asam-asam organik sitrat.---> M OH + H2PO4H2PO4 . Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. dan lemah (suksinat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . malat. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum).2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. asam amino dan asam fenolik. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. tartarat dan malat berefektivitas sedang. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. asetat dan ptalat). beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. sedangkan asam malonat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. Disamping meningkatkan P tersedia.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme.laktat. oksalat. oksalat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P.

Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.2 Ammonifiers 5.0 x 10^3 2. 2007).Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. merupakan bentuk antara (transisi). glikolat. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.0 x 10^5 12 Protozoa 2.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. sitrat. suksinat.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. 1971.0 x 10^6 7 Fungi 1. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. alfa ketoglutarat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. oksalat.7 x 10^4 0. 1961. Tabel 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.4 x 10^3 1. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.2 x 10^9 5. glukonat.0 x 10^8 4.26 x 10^8 1. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. malat. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson.6 x 10^7 7. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.2 x 10^6 1. asetat.0 x 10^3 2 Algae 5.

Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. AlPO4. gliserofosfat.8 – 3. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah.5 ppm menjadi 30. Ca3(PO4)2. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16.3. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. apatit.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. 8. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.9 dan 0.7 ppm menjadi 34. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer.7 ppm pada tanah sterl dan 0. (3) tingkat dissosiasi asam organik. . Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. 6. lesitin. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.5 . Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. 0. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.4 ppm menjadi 59. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.8 ppm. Bacillus sp.1 – 3. 13 dan 14%. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Bacillus substilis.6 ppm pada tanah steril. FePO4.9 ppm. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.

Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Moawad. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . misalnya: fungi. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. berat basah trubus. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. AlPO4 tidak larut dalam air. berat basah akar. Pada percobaan yang lain P. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. berat kering akar. minimal duplo. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini.2. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. dan Vlek (1996). Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. bakteri. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Misalnya. 2. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. luas daun serta kadar P trubus. dan aktinomicetes. Pada tanaman jagung. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. berat kering trubus.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

01 . Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.20 (4) MgSO4.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% .5 . dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.5 (5) KCl 0. Azotobacter sp. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. Lactobacillus sp. Tiens Golden Harvest .05 . Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . 3.01 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.6H2O 0.5 (6) (NH4)2SO4 0.Miza Pluss. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost.3. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. mikroba pelarut P. .20 (3) MgCl2.7H2O 0. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .025 . suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).dikembangkan . tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).0.2 (7) Bromophenol Blue 0. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.

Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. bakteri penambat N. Bukit Besar. N. A. Program S2. Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah. Bukit Besar. Masa simpan : 12 bulan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Palembang. Diposkan oleh Dr. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Indonesia.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik.Kemasan : 5 dan 25 kg. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.com. 2009. Universitas Sriwijaya. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula.blogspot. bakteri pelarut fosfat. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Bukit Besar. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. bakteri pelarut fosfat. Sumatera Selatan. Indonesia. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Palembang. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Sumatera Selatan. Ir. Palembang. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Program Pascasarjana.

6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.IV. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum.5 ppm menjadi 30.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Bacillus subtilis . tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. kubis. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. . Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. 5-21 dan 14%. jagung. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum.6 ppm pada tanah steril. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Escherechia freundii dan E.4 ppm menjadi 59. 0.9 dan 0.1-3. gliserofosfat. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. 3-13. Ca3(PO4)2. Circulans pada tanaman kedelai. Bacillus sp. 3-9. bit gula. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.9 ppm. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16.8 ppm. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. barlei. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. kentang.3 .3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. Intermedia . Bacterium mycoides dan B. lesitin. kacang panjang dan tebu. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. kedelai. tomat.8-3.7 ppm menjadi 34.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. padi. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida.

1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Striata. oksalat. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. diantaranya asam sitrat. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. laktat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Premono dan Widyastuti. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Fe2+. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. malat. suksinat. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. bayam dan kacang panjang). 1994). Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. 1992.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. fumarat. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. 1992). dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . 1991).4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Mg2+. Puptida dan P. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau.2007). P. glioksilat. Pada tanaman jagung. glutamat. Pada percobaab lain (Buntan. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens.

Chromobacterium lividum dan B. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.3881 ppm dan 280. Bacillus megaterium.48 g. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.63%.30%. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. 207.15 g tanaman-1.. Chromobacterium lividum.5 cm. 354. 903.22 g.75%. dan 606. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Daerah Cikaniki.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. 575. jumlah bunga. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area.42 g atau ada kenaikan 877. Gunung Botol. Megaterium sebagai inokulan padat. umur pembentukan polong. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. Bacillus sp.. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g).) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. 217.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. umur panen. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. 930.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. jumlah polong. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.67%.5-2. dan 61. dan Chromobacterium sp. berat daun segar 4 tanaman per pot. pH tanah. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.81%. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Klebsiella aerogenes. 203. Klebsiella aerogenes. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . jumlah biji. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. 208.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.) di Tanah Marginal. dan B. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0.67%.

(2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.blogspot.kering tanaman kedelai. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Sumatera Selatan. Palembang.Fe. Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Ir. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2).com. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2009. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Indonesia. Abdul Madjid. Bukit Besar. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. Indonesia.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Pasca Sarjana. Http://dasar2ilmutanah. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. A. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Mn. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Indonesia.

Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Citrobacter intermedium . Universitas Bengkulu. Buntan.Bacillus firmus. Bacterium mycoides. N and K. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. Majalah Sriwijaya Vol. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Hasanudin dan Ganggo. 1982.S and A. 1982. B.C. 1998. 1997. 2003. 60:353-364. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop.Soil Sci.Universitas Sriwijaya.32. Bacillus megaterium. 45: 506-509. Handayanto. Dubey. 6(1) : 8-13.2005.K.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.S. B. Edisi 3.2.J. 31 (3): 100-106. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.30:105-106.J.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. S. Banik. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Kundu. Noor A.Soil Sci.1992.Faperta Universitas Bengkulu. Gaur .No. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.D. Escherechia freundii. Buletin Agronomi. Bacterium mesenterricus. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.Indian Soc. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Pal. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Plant Soil .K. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few .2007. 1996. 2004.A. Pustaka Adipura. Plant Soil 57 : 223-230. Hasanudin. S. 1980. S. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.Medan Gunalan.2003. Elfiati. Indian Soc. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Fakultas Pertanian USU.E dan Hairiyah.K Jha.

Penerapan Pertanian Organik.Biodiversitas.Bandung Rao. 2005. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki.Biodiversitas. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. Diposkan oleh Dr. S. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. 7(2):109-113. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. UGM.H. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. S dan Suliasih . MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. Can. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Microbiol 42: 207-220. 2006. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.Kanisus Jakarta.Agr. Widawati.60 no. Patten.1 Wulandari.Medellín vol. S.T.Program Pascasarjana IPB.T. N. Supadi. Universitas Pajajaran.C. 2001.2002.NW. Jurnal Nature Indonesia. Sutanto. 4(1) : 1-5. UI Press).Yogyakarta. Tesis. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.acid tolerant crops. S dan Suliasih . Ir. dan Ciptarasa. 1996.W. C. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: .. 7(1):1014.Bogor. 1998. Yuwono. 2006.R. Abdul Madjid. Gunung Botol. Plant Soil. Setiawati. Soil Microorganisms and Plant Growth.Disertasi.Widyastuti. Edisi 2 . Edisi 3. Bandung.L and B. (Terjemahan Susilo. 2007.J. Premono. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. 1991. and Sinha. 198 : 169-177.H.Pupuk Hayati . Widawati.) di Tanah Marginal.R.N. Oxford and IBM Publishing Co. 1962. Vega. 1992.R Glick. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.

Sumatera Selatan. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Program Pasca Sarjana. Palembang. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Program Studi Ilmu Tanaman. bakteri dan fungi perombak bahan organik. serta bakteri yang berperan sebagai . Palembang. Sumatera Selatan. dan virus sebagai agensia hayati. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Program Magister (S2). Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Dibidang pertanian. protozoa. 1998). Bukit Besar. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Palembang. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Bukit Besar. 1998). Indonesia. Dalam sejumlah kondisi. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. bakteri. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Sumatera Selatan. PENDAHULUAN A. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Program Pasca Sarjana. cendawan.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. seperti bakteri. Universitas Sriwijaya. fungi. alga dan virus. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Program Magister (S2). aktinomicetes. Bukit Besar. kimia. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman.

Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Fakultas Pertanian Unsri & . B. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. 2009. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Bahan Ajar Online. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. dan meningkatkan pendapatan petani. kesuburan. 1978). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. A. Saraswati et al. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. menghemat biaya pupuk.

Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P).atau CO32-. Http://dasar2ilmutanah. . pemupukan dan mineralisasi P-organik. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. ** Program Studi Ilmu Tanaman. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Program Magister (S2).Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.2 mg/kg tanah. OH. Bukit Besar. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Sumatera Selatan. Palembang. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Abdul Madjid. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Bukit Besar. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman.com. Palembang. Cl-. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Program Pascasarjana. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Ir. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Magister (S2). misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Sumatera Selatan.01-0.blogspot. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam.

hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah.atau H2PO4-) diserap tanaman. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Di alam. fosfor terdapat dalam dua bentuk. (b) imobilisasi P-tersedia. 1977). Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. asam nukleat. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. nukleotida dan gula-gula fosfat. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. hewan dan organisme tanah. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Sisa tanaman. Siklus ini berulang terus menerus. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. pemupukan. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Bila ion fosfat (HPO42. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik.. Pada sistem pola tanam yang terbuka. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Subba Rao. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. 1997). keseimbangan P dalam tanah terganggu. hewan dan mikroba . reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Oleh karena itu. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. 1989). Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. 1989. fosfolipida.

nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. 1986). Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. temperatur. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme.yang dikembalikan ke dalam tanah. 1997). Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. aerasi. 1. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat.. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. 2. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Umumnya. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Selain kandungan fosfat dalam residu. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. seperti nukleotida atau fosfolipida. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. kelembaban. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. aerasi. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas.

lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi.2) H2PO42. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi.lebih mendominasi. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Ion Fe. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. H2PO42. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. dan PO43-. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Phosphaticum. kalsium dan magnesium fosfat. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Fe. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Mn.----> Al(OH)2 H2PO4. Mn. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. pH tanah. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. dengan melepaskan fosfat. Hal yang sama. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Pada kondisi tergenang. dan Ca. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Al3+ + H2PO4. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Selain itu. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. besi. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. 1986). pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-.+ 2H2O ----> FePO4. Nilai kritis C/P adalah 200.lebih mendominasi. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Al.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. H2PO42-. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4.+ 2H2O ----> AlPO4.

2009. Fe. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah.com. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Palembang. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi.blogspot. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Mn. Universitas Sriwijaya. Kandungan bahan organik tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. laktat. Bahan Ajar Online. 2007). Universitas Sriwijaya. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Abdul Madjid. Program Magister (S2).Didaerah rhizosfer. suksinat yang dapat mengikat Al. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. A. Program Pasca Sarjana. Sumatera . Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. 2. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. asetat. Ir. 3. Http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr.

Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. 1995). yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Program Pasca Sarjana.. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. 2007). Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Program Pasca Sarjana. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. miselium menghasilkan spora. 1991. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Universitas Sriwijaya. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Program Magister (S2). Hawksworth et al.Selatan. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Palembang. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Indonesia. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Bukit Besar. Sekitar 70.5 juta (Hawksworth. (1996) dikenal 5 kelas fungi. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman.. Sumatera Selatan. Indonesia. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Reproduksi secara seksual. Palembang. Sumatera Selatan. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. 1970). . yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes.

1993). eksudat akar. sebagai contoh . 2007). dan pengendalian penyakit. siklus hara. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat.. 1993).Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. tidak peka. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. bagian tengah. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. CO2 terhambat. bagian bawah. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Bersama-sama dengan bakteri. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. baik berupa daun maupun kayu. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. karbon dioksida. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. organisme rhizosfer. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. dan pengelolaan lahan. dan essensial . Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. 1992). beberapa diantaranya bersifat sparofit. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan.

dan semak. dan mungkin air) ke tanaman. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. Namun demikian. Selain itu.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. 1995). menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Seperti bakteri.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng.. hara mikro. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. sayuran. (3) Patogen atau parasit. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. dan kulit (Hawksworth et al. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. . contohnya A. tekstil. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. 1995). tanaman pangan. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. Phytium. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik.flavus dan A. 2007). Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. udara. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. dan Rhizoctonia. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Sebagai contoh A. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. cat. serta banyak dijumpai dalam tanah. nitrogen. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial.

. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 1979). 1968). Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. 4. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.koningii (merton dan Brotzman. 1986). Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. 3. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. jaringan hewan dan tanah. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. 1982). 1983). Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. 5. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson.75-5x 2-6im. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. 1999). Pada tanaman.5. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. gandum. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. . Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al.harzianum dan T. diantaranya T.5-9. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. termasuk manusia. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). 1987). Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga.2. nitrogen.

Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. 2009. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik.com. Diposkan oleh Dr. Palembang. Bukit Besar. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.vitamin. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Indonesia. Indonesia. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Abdul Madjid. Program Pascasrjana. Indonesia. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Program Magister (S2). Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bahan Ajar Online. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Palembang. Program Pasca Sarjana. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Universitas Sriwijaya. A. Bukit Besar. dan mineral lainnya. Sumatera Selatan.blogspot. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Palembang. Program Magister (S2). Sumatera Selatan.

2006).0%. B. harus mengandung 8 macam nutrisi. oksalat. B. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.0-2. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. asam amino dan asam fenolik. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.039-1.14%. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Arthrobacter.0-40. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. AlPO4. Micrococus dan Mycobacterium. candidus.5%. Fusarium. glikolat. A. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. fosfor (P) sebesar 0. (3) tingkat dissosiasi asam organik. glukonat. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono.rendah. 1994). sitrat. asetat. suksinat. Pseudomonas.. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. kalium (K) sebesar 0. Trichoderma viridae. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). B. magnesium (Mg) sebesar 0. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.04-0. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.. nitrogen (N) sebesar 2. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. jamur dan aktinomisetes. FePO4. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. 2006). Penicillum. merupakan bentuk antara (transisi). licheniformis. subtilis. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. yaitu: karbon (C) sebesar 19. Achromobacter. alfa ketoglutarat. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. B. malat. apatit.010. cereus.21% dan C/N ratio .35%. Schlerotium & Phialotobus. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. polymixa. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Penicillium sp. Flavobacterium. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. B. megatherium. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. dan Chaetomium sp.

1986). margarita.sebesar 9. AlPO4. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . (4) inokulasi R. aktivitas fiksasi N. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. yakni lebih dari 10 kali lipat. 8 kali. dan mesir.4 % dibandingkan kontrol. aktivitas penambatan N.0-20% (Gaur. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. (2001). Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. 1978). Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. dan serapan N dan P berturut-turut 7. kanada. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Aspergillus sp. dan FePO4. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. dan 10 kali. 1967). Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. A. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Subba Rao. 1982). 1. Lestari (1994). 1977 . dan serapan N dan P. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Hutami et al. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. japonicum. (3) inokulasi R. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2.8 kali. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama.3 kali. 1957 . japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Kundu dan Gaur. niger. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger.. dan G. 1980 . (2) inokulasi R. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat.

kandungan bahan organik rendah. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Tanah ini terkenal sangat miskin. (2000).. Pennicillium digitatum.media tumbuh GAGES dan GES. scwanniomycetes occidentalis. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Trichoderma viridae. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Selain daripada itu T. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). kab. Bogor. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. aspergillus niger. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4).78 ppm (Baratha. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Penicillium sp. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. T. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa.. 42. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Aspergillus niger. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. bahan organik. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. 2000). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. 2004). Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). tanaman apapun yang . Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal.. dan Chaetomium sp. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung.

Program Studi Ilmu Tanaman. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Indonesia. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Namun demikian.blogspot. Bukit Besar. . Program Magister (S2). dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Program Magister (S2). Ir. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Program Pasca Sarjana. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Palembang. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang).Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Bukit Besar. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Indonesia. Program Magister (S2).com. Program Pasca Sarjana. Palembang. Abdul Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bahan Ajar Online. Palembang. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. A. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Program Pasca Sarjana. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Program Pascasarjana.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Http://dasar2ilmutanah. 2009. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar.

Sumatera Selatan. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. mempercepat proses pengomposan. biakan cair. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan.11. Indonesia. tanah. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). biakan kering.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. atau ketempat pengomposan. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi.760. memperbaiki struktur tanah. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. dan juga pada minuman. menekan soil-borne disease. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. sekam. Namun. vermikulit. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. 2008). R. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. arang. atau zeolit. pelarut. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. Di Indonesia. Namun. dan tepung. artinya mikroorganisme yang . pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. dan kompos. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. biakan kering beku. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung.130. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe.

maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. 2008). sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Dengan mempertahankan kelembaban. 2008). dan ketoglutarat. laktat. cara penyimpanan. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun.Suatu teknologi . Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Pada pengujian pupuk mikroba. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. seta jenis tanaman yang cocok. Mulai tahun 2004. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. oksalat. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. suksinat. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. dan Ca. fumarat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. 2008). Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. baik berupa bakteri maupun jamur. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Fe-. jenis. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Di Indonesia. tanggal kadaluwarsa. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Propionat. Mn-. sitrat.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. lartrat. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. glikolat. Selain itu. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Stase. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium.

serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. Grt 3. mikoriza. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. bobol kering tanaman.28 ugfrnl (pH 2.32% dan 16% pada padi. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). .59%). 50 kg/ha SP36.1). memobilisasi. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.0./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0.60 ug/ml (pH 4.85ug/ml (pH 5.0. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.0. yaitu mikroba pelarut fosfat. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.56 ug/m! (pH 6. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. dan meningkatkan serapan P tanaman. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Aspergillus niger NHJ2. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). 50 kg P.65) hingga 147.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.0.47) hingga 394.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi./ha (23.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.

Moawad. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. 4. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. 5. -4. dan actinomicetes. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Buat medium agar Pikovskaya. – 6 s/d 10 ext. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. 8. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. 7. 6. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. antara lain: 1. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. khususnya isolat fungi. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Konsentrasi fosfat. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. – 8. Ulangi langkah di atas secukupnya. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. 3. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. AlPO4 tidak larut dalam air. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. 2. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. dan Vlek (1996). Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. bakteri. minimal duplo.

mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp.. Ketebalan agar. 1995). bakteri. fosfatase.2. 2000). misalnya: fungi. sehingga dapat diserap tanaman. dan aktinomicetes. Melalui aplikasi pupuk hayati. Goenadi et al. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. 4. . Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE.. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Misalnya. A. (Goenadi. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. dkk. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . 1995). Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. 3. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. (2000).

penambat nitrogen bebas. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. dan volume akar. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dkk. ketersediaan hara di dalam tanah.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. bobot kering bibit. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. B. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. (1997). Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. kedelai. Hasil percobaana Goenadi.

aktivitas penambatan N. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. Al-dd 1. MK 1999. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. jumlah polong isi. bobot kering akar. dan serapan N dan P berturut-turut 7. 2000).209 me/100g). Rata-rata bobot kering tanaman.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha.3 kali. 8 kali. dan 10 kali. pH 3. niger strain NHJ2 1 ml per biji. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria).5. MK 1997. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha).8 kali. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. serapan N dan P tanaman. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. (4) inokulasi R. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. 1. jumlah bintil akar. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P.96. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. C. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). (2) inokulasi R. margarita. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan serapan N dan P. bobot kering total. diameter batang. (3) inokulasi R. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. tinggi tanaman. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. dan G. . simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. japonicum. aktivitas fiksasi N. A. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. 100 kg SP-36/ha. 50 kg KCl). pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. Rhizobium 108-109. niger. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar.

Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Pseudomonas spp = 34.D. dan mikroba pendegrasi selulosa. Pb. Lactobacillus sp6.70 ppm . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Mikroba pelarut fosfat3.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman.85 ppm . Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Cd dan Mikroba Patogen. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Mikroba Pendegradasi Selulose5. N = 0. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. mikroba pelarut P. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Azobacter sp2.Lukman Gunarto MSc. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E.3 ppm . Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). Fe = 44.23 ppm . Azospirilum sp4. Lactobacillus. C organik = 0.04 % . Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru.92 % . yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Hg. Cu = 0. Mn = 0. Zn = 3. K = 1700 ppm . Azotobacter.Ir.

bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. unsur N. Lukman Gunarto. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Menurut penelitian Dr. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. sehingga keaslian produk MiG corp. probiotik MiG ternak. apabila . dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. Hasil dari pendegradasian tersebut. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. ada yang berfungsi sebagai penambat N. penambat Nitrogen dari udara. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. Lactobacillus sp. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. akan mendapatkan K dan unsur lain. populasi mikroba untuk menambatkan N. mikroba pelarut P. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. pembentukan anakan dan primordial. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Azotobacter sp.

Tidak masalah. Sumatera Selatan. rusak atau mati. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. candidus. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Ir. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Fusarium. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Penicillum. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Schlerotium & Phialotobus. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Sedangkan dari golongan .com. 2009. Universitas Sriwijaya. Indonesia. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Palembang. Program Magister (S2). Malahan tanaman menjadi semakin subur. Indonesia. Sumatera Selatan. Bukit Besar. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. A. Caranya sangat mudah. Program Pasca Sarjana. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. http://dasar2ilmutanah. Palembang. Indonesia. Palembang. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online. Diposkan oleh Dr. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana.blogspot. A.

334-337. I. Bogor. aspergillus niger. Premono dan R. Baniks. Plant soil 60 : 353-364. Eliane M. Barea.. Dix. and Hellums. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. G. and Wicklow. 868p. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. S. J. J. Fungal Ecology. and Webster. http://www. Buresh. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. P. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Widyastuti. 1993. (eds). R. RJ – Brazil. Madison. J. 1996. New York. PA. Penicillium sp.C. R.br/scielo. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara.. Aspergillus niger. and M.W. J. London. VII. L. Rosario Azcón Jose M. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.J. Campello. C. Carroll..T. Eduardo F. DAFTAR PUSTAKA Anas. Alexopoulos. M. Pennicillium digitatum.C..scielo. In..T. Publ. 1982. N. Saggin. Edson L. Dhandhun Baratha. scwanniomycetes occidentalis. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. D. Chapman & Hall. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. Orivaldo J. USA. C. Blackwell. Pusat Antar Universitas IPB. D. J. 51.J. Inc. Chonkar and Subba rao. 1992.. Microbial. Introductory Mycology (4th Ed). 1997. Building soil phospharus capital in Africa. Buresh et al. 1967. Canadian. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat.W. S. SSSA.J. Souchie. 2006. 2004. 1995. Communities of P-solubilizing bacteria.. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman.R.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . R.. Mims. 13 : 749-752. John Wiley and Sons. 1-44 pp. Marcel Deker. 1999. Smithson. Trichoderma viridae. WI. New York. dan Chaetomium sp. E. P.C. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. 111-149. M. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam.. Philadelphia. Dickinson. and Schweizer.

D. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. M. Lestari. 1995. R. Inc. Plenum Press. E.indiamart. 1996. CAB International. Missouri. and Pegler. Cambridge University Press. New York. Siswanto and Sugiarto. Riyanti.S. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Anas.F.N. 14 : 31-36. 1994.). Goenadi. CAB International. Driven by nature p. Y. University of Missouri Columbia Extension Division.Z. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. University Park. Phaff. . Sutton. The Pennsylvania state University Press. United Kingdom.I. Cadisch (eds). J. Maningsih. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Bogor (Indonesia).K. Skripsi. Nelson. Hutami. Pennicilium and Acremonium. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. 1983. John Willey & Sons. 1979. B.L.M. H.G. Bio . USA. Cambridge..W and Mrak.J. The life of yeast. Cambridge. 616p. Aspects of tropical mycology. Paul. Institut Pertanian Bogor. Inc. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. Jenis pupuk P.297-312.html Joffe. Frankland. Mycology research 95. Columbia. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. 1986. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. In. Puslittanak. 2000. and Whalley.. Hawksworth. Sunarlim. Badan Litbang pertanian.... 23-30. U. S. N. 1987. J. Watling. D. Miller. Fusarium Species: Their biology and toxicology.E. 588 pp. 204 pp. Kirk. P. E. R. S.L..com/jayenterprises/fertilizers. A. N and J.C.J. Hawksworth. 2000.M. Jakarta (Indonesia).. H. A.A dan Clark. Wallingford. Perbedy. Saraswati. 1991. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey.E. K. Giller and G. E. 193 pp. 1968.. 83-123 pp. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press.Gressel. Merton. 1993. 1989. McColl.Fertilizer [Biosol-P] www. New York. significance and conservation. Bogor. 641-655. P. Soil Science Society of America Journal 64:927932.E. Isaac. G dan I.H.. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Harvard university Press. F. D.C. P. D. F and Brotzman. Mass. 1997. New York. Fakultas Pertanian.

Sekilas Pupuk Hayati.J. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Yuwono. nitrogen. Bogor. [http://nasih. Subba Rao. Elsevier biomedical press. Universitas Gadjah Mada.ugm. C. New Delhi. Universitas Sriwijaya.staff. 1970. N. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . 202-204. Stevenson. New York. Hara N tersedia melimpah di udara. M. Introduction to fungi. Program Studi Ilmu Tanaman. micronutrients. Institut Pertanian Bogor. W. Cycles of soil carbon. 1986. Palembang. John Willey & Sons. Fosfor (P). Jasad Renik Pelarut Fosfat. Palembang. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). E. Disertasi. Indonesia. N. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. 1982. Program Pascasarjana. Cambridge. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. 380 p. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. F. Oxford and IBH Publishing Co.ac. sulphur. 2008. Indonesia. manual and atlas of pennicillia. Namun. Cambridge university Press. 1994. yaitu Nitrogen (N). Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. J. M. phosporus.S. Universitas Sriwijaya. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Soil Microorganism and Plant Growth. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. 2006. New York. Tombe. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N.id/] Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana.Premono. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Pupuk Hayati. Tiga unsur hara penting tanaman. Ramirez. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. 1977. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. I.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Sebaliknya. antara lain: Aspergillus sp. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Namun. karena terikat pada mineral liat tanah. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. 2008). Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata.jenis tanaman. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. infeksi ini . meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Penicillium sp. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P.

cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. hingga pohon rambutan. Entrophospora. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . lapisan hifa pada permukaan akar tipis. dll. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. karet. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. 2003). sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. bercabang. kelapa sawit. Archaeospora. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. misalnya jenis-jenis meranti. Hifa memasuki sel kortek akar. mempening (jenisjenis Fagaceae). jenis rumput-rumputan. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Ektendomikoriza 3. 1997). Ektomikoriza 2. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). rambutrambut akar tidak ada. padi. pinus. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Dilain pihak. mangga. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. mulai dari paku-pakuan. Gigaspora dan Scutellospora. 2004). membentuk chlamydospores (Morton. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. 2006). pasang. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. kesehatan dan produktivitas tanaman. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Acaulospora. kruing. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Paraglomus.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan.

kebanyakan berbentuk bulat telur. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. palem. selada. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. teh. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. kacang tunggak. bawang.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. karet. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. 2004). barley. vesikel (vesicle) dan spora. tembakau. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. nenas. akan tetapi belum berhasil. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. kopi. singkong dan sorgum. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. padi gogo. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. kakao. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. pepaya. 2004). Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. apel dan anggur (Rahmawati. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. kapas. 1. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. vesikel intraseluler. . 1998). Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). jeruk. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. 2003). Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. harus diamati dibawah mikroskop.

Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. 2) . pembentukan organ baru. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 2004). Arbuskul berperan dua arah. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. 1981). Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. 1981). 2004). berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. yang memiliki perbedaan tegas. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. pembengkokan inti sel.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Schubler et al. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Mirip dengan cendawan patogen. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Dengan bertambahnya umur. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. 2. 3. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar.

Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Paraglomus. Geosiphon. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 2006). 2002). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Walaupun demikian. Kuklospora. (Sagin Junior & Da Silva. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. tanaman inang. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. kepadatan propagula. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.Paraglomerales (famili Para-glomerace). Intraspora. dan Glomus sp. Diversisporaceae. Gigaspora-ceae. Diversipora. Entrophospora. Pacispora. 1991). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace).. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Scutellospora. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Oleh karena itu. . 2006). Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Gigaspora. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Acaulospora. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang.

Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. hal ini menguntungkan. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. 1981). Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA.. saat kelembapan air rendah. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. 1981). intensitas cahaya dan ketersediaan hara. logam berat dan fungisida.II. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. kadar air tanah. Vesser et al. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. tanah. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Untuk daerah tropika basah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan.pada tengah hari. bahan organik tanah. pH. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering.

air dan udara.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. 1981). Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Serasah tersebut mengandung hifa. 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1997). Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . 1984). pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. alumunium dan mangan. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah.meningkat (Rotwell. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. klor. 1997). Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah.

Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1982 dalam Anas. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. 1984 dalam Anas. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. 1997). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. dan Na yang tinggi (Mosse. 1995). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Plantavax. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1997). 1984). 1981). Al. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Benlate. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. dicirikan oleh keragaman . Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1998). cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. fungisida Agrosan. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata..

Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1 9% (Gededda et al. P. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 2002). Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Sawahlunto Sijunjung. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. 1996). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. pembakaran. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N.04 menjadi 0. 2005). unsur hara dan struktur tanah. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Dalam budidaya tradisional. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 1984). cropping sistem. K.spesies yang sangat tinggi. Pada tanaman pisang. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1996). Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Untuk tanaman manggis. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). 1995). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. . Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. karena perubahan spesies tanaman. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik.

yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. G. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. sedangkan inokulasi G. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 1997). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. kekeringan. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 8 dan 28 MST. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 1997). akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 2006).masing sebesar 5.7% dan 4.5% dibandingkan dengan kontrol. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. . Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. jumlah daun pada umur 4. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. serta patogen akar. sedangkan inokulasi G. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.2% dibandingkan dengan kontrol. Di dalam arbuskul. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah.7% dibandingkan dengan kontrol. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. bobot kering tajuk. Selain daripada membentuk hifa internal. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. III.

Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Fe. Setelah periode kekurangan air (water stress). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. 2006). Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Dengan adanya CMA. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. 1997). Selain itu. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Zn dan Cu meningkat. salinitas. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. keasaman. pemadatan. Zn. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. dan Zn). Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Cu. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Pada kedelei. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. 3) melindungi dari herbisida.

menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. 3. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Dilain pihak. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. K dan S.1997). tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. 2. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. tailing tambang batubara. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Infeksi patogen akar terhambat. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . 2. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. 4. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. 1994). 1994). Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. atau lahan terpolusi lainnya.

Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan.. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Pada tanaman tertentu. 4. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 1981). 3. patogen akar. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 1981 dalam Husin dan Marlis. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. citokinin. 1997).usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). 1993). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. 1997). Jika terhadap jasad renik berguna. 40% kebutuhan nitrogen. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. . Interaksi sebenarnya antara CMA. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. dan giberalin. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. sitokinin dan giberalin. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. 2000).

Menurut Hakim. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. 2002). Bila ini benar. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. 1997). Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Perbaikan Struktur Tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. tapi juga bagi tanah.. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro.. 2002). "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. 5. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat.

Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P.6 hexakisphospat). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Besi (Fe++). maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. B. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. yaitu mencapai 70. namun . meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Phytat adalah senyawa phospat komplek. japonicum. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. phosphor bebas dan mineral. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Seng (Zn++). Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Prihastuti et al.3. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.4. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. dan protein. khususnya pada tanah yang miskin P. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. 6.tanah. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.33%. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. setelah didahului dengan proses infeksi akar. 1999).50–90. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.5. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.2.. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Magnesium (Mg++). (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. 2002). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA).

cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. temperatur. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. 2006). Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin.BK. 6. tanaman bermikoriza . perkebunan. adanya asosiasi ini. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. 1987). Sedangkan secara langsung. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. baik secara langsung maupun tidak langsung. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis).sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. tipe perakaran tanaman inang. Secara tidak langsung. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. pH. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. tanaman inang. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. 3. spesies cendawan. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. baik untuk tanaman pangan. kadar air. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. . memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". 1995). 2004). 1997). Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Bagi tanaman inang. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. 1994). hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham.

Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.13 mg P/tanaman menjadi 2. infiltrasi air hujan rendah.66 mg P/tanaman. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. kejenuhan Al tinggi. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.18 mg P/tanaman menjadi 2. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Kalimantan. Disamping untuk tanaman pangan. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. 1997). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.1997).98 g biji/tanaman. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.7.13 g biji/tanaman. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Sulawesi dan pulau besar lainnya. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7.84 g biji/tanaman menjadi 5. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. .1..02 g biji/tanaman menjadi 5. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.15 mg P/tanaman. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. miskin hara dan bahan organik. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. dengan kadar P tersedia "rendah" .67. Peningkatan kadar P nira. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. 2008). diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Dengan teknologi mikoriza. telah mencapai sekitar 10 sentimeter.65 %. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.84 % . Selain itu. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. 69.72 ppm dan tanah Inceptisol.80 % . Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. 8. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.90 %. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Tujuannya.71. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. sebesar 38. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak.. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna.66 % . Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.76 % -21.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.5 ppm.15 %. Untuk mewujudkan harapannya.40. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.

Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut.Lima hari kemudian. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Manfaat 1. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. 4. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. bedeng tersebut dapat digunakan. 5. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. spora dan akar terinfeksi. 2. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan.campuran tanah. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. sorgum atau pueraria. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. selain untuk meratakan hasil. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 2008). 3. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. 3. 6. telah diberikan Asosiasi . diaduk merata. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Tanaman inang dapat berupa jagung. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.

(3) menggunakan miselia cendawan. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. yaitu: (1)Parasitik. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Setelah itu pil dipecah-pecah. (2)Saprophitik. Aturan pakainya sederhana.Mycorrhizal Indonesia. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul.7 sentimeter. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Dalam teknik pemberian mikoriza. seperti: penyakit bercak akar kapas. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Kalimantan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Di IPB. Diposkan oleh Dr. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Ir. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Untuk membuat tablet. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Abdul Madjid. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. Setelah teruji kemurniannya. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Tablet ini dibuat dari cendawan. satu tablet untuk satu bibit. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya.

seperti: omnivorous dan Predaceus. Flora Tanah . (3)Acaulospora. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. dan (3)Ektendomycorhiza. Ir. kutu. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. semut. dan rayap). dan kalajengking)dan Insekta (belalang. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. (c) Arthropoda. dan ciliata. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. dan (b)Nematoda. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah).akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. (2)Glomus. jangkrik. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. yaitu: (1)Endomycorhiza. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. seperti: amoeba. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. (2)Ektomycorhiza. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (3)Simbiotik. Diplopoda (kaki seribu). (4)dll Diposkan oleh Dr. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. yaitu: (1) Makro Fauna. (b) cacing tanah. Chilopoda (kelabang). flagelata. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga.dekomposisi bahan organik tanah. Arachnida (lebah. (d)Moluska. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. Abdul Madjid.

dan (d) algae. terdiri dari: (a) bakteri. Diposkan oleh Dr.2 mm s/d 10 mm. Aspergillus. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Selain itu. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. bahwa berdasarkan ukuran. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme.000 bakteri per gram tanah. . Bacillus. Abdul Madjid. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. dll. dan (3) Mikrobia. (2) Mikro Flora.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. (b) fungi. dll. yaitu: (1) Makrobia. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas.2 mm. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). (c) actinomycetes. (2) Mesobia. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Ir. yaitu: (1) Makro Flora. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0.

Abdul Madjid. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat.