PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

nenas. 1. kacang tunggak. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. teh. jeruk. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. padi gogo. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. palem. 2004). bawang. kebanyakan berbentuk bulat telur. kapas. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. barley. apel dan anggur (Rahmawati. pepaya. 2. tembakau. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. singkong dan sorgum. kakao. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang.Leguminosa umumnya bermikoriza. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. vesikel (vesicle) dan spora. kopi. . Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Arbuskul berperan dua arah. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. pembentukan organ baru. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. pembengkokan inti sel. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). karet. selada. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. 2003). akan tetapi belum berhasil. 2004). Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. 2004). Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. 2004). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman.

4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Diversipora. 1981). Pacispora. 3. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Intraspora. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Oleh karena itu. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Entrophospora. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Kuklospora. Gigaspora-ceae. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Acaulospora. Gigaspora. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Geosiphon. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Scutellospora. . dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). yang memiliki perbedaan tegas.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. 2006). Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. dan Glomus sp. Mirip dengan cendawan patogen. Walaupun demikian. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 1981). (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Paraglomus. Dengan bertambahnya umur. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Diversisporaceae. Schubler et al. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang.

kondisi tanah serta spesies CMA indigen. 2006). Bahan Ajar Online. . Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Palembang. A.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Diposkan oleh Dr. kepadatan propagula. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Program Magister (S2). Program Magister (S2). (Sagin Junior & Da Silva. Program Pascasarjana. Palembang. 2002). 2009.. Universitas Sriwijaya. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. tanaman inang. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah.com. Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. Ir. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Indonesia. 1991).blogspot. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda.

(1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. hal ini menguntungkan. pH. bahan organik tanah. Universitas Sriwijaya. Palembang. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Universitas Sriwijaya. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. 1981). Program Pasca Sarjana. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Vesser et al. saat kelembapan air rendah. logam berat dan fungisida. Untuk daerah tropika basah. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Palembang. kadar air tanah. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan.** Program Studi Ilmu Tanaman. 1981). adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Program Magister (S2). Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Program Magister (S2).pada tengah hari.

karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1984). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. 1981). (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. 1997). air dan udara. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Serasah tersebut mengandung hifa. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah.

Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. 1984 dalam Anas. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1997). Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Cendawan pada umumnya . Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. fungisida Agrosan. Pemakaian fungisida menjadi dilematis..yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1984).. Plantavax. 1982 dalam Anas. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. 1997). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. klor. Al. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1997). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Benlate. alumunium dan mangan. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. dan Na yang tinggi (Mosse. 1981). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx.

1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 2005). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). K. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. P. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 1984). ameliorasi dengan bahan organik. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. karena perubahan spesies tanaman. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. unsur hara dan struktur tanah. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. 1995). Dalam budidaya tradisional. jumlah bahan organik yang dihasilkan. . 1995). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. pembakaran. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis.04 menjadi 0. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. 1998). kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. cropping sistem. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. 1 9% (Gededda et al. Pada tanaman pisang.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1996). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza.

Palembang. A. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Universitas Sriwijaya. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Indonesia. Diposkan oleh Dr. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Palembang. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Http://dasar2ilmutanah.blogspot. Indonesia. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. G.com. sedangkan inokulasi G. jumlah daun pada umur 4. bobot kering tajuk. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Program Pasca Sarjana. Palembang. Sawahlunto Sijunjung. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.7% dan 4. Indonesia. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Untuk tanaman manggis.7% dibandingkan dengan kontrol. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Program Magister (S2). Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. 8 dan 28 MST. Program Pascasarjana.masing sebesar 5. Propinsi Sumatera Selatan.2% dibandingkan dengan kontrol. Program Magister (S2). sedangkan inokulasi G. Ir. . Universitas Sriwijaya. 1996). Program Studi Ilmu Tanaman. 2002). Program Pascasarjana. Abdul Madjid.5% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia.

(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Selain daripada membentuk hifa internal. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. 3) melindungi dari herbisida. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Selain itu. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Di dalam arbuskul. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. keasaman. serta patogen akar. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 2006). Cu. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Zn. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. salinitas. 1997). dan Zn). Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. pemadatan. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. 1997). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. kekeringan. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Fe. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen.

Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. 1997). Setelah periode kekurangan air (water stress). penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. 1994). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Zn dan Cu meningkat. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. 2006). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Pada kedelei. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat.tanaman inang. Dengan adanya CMA. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. K dan S. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor.

Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. 3. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 1994). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri.. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Jika terhadap jasad renik berguna. tailing tambang batubara. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah.simpan air kecil. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Infeksi patogen akar terhambat. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Dilain pihak. 2. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. 4. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 2. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. atau lahan terpolusi lainnya. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 1993).1997). Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Interaksi . sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang.

Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 40% kebutuhan nitrogen. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 3. 4. Pada tanaman tertentu. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. dan giberalin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya.sebenarnya antara CMA. 1997). Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Perbaikan Struktur Tanah. sitokinin dan giberalin. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 2000). 1997). dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 1981 dalam Husin dan Marlis. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. citokinin. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. patogen akar. 1981). Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 1997). Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Bila ini benar. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . 5.

2002).. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. . "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida.. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. 2002). Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Menurut Hakim. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. tapi juga bagi tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi.agregat mikro. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah.

namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Besi (Fe++). Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). 2006). Seng (Zn++). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. khususnya pada tanah yang miskin P. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Prihastuti et al. Magnesium (Mg++). mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Phytat adalah senyawa phospat komplek. japonicum. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang.3. 2002). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.50–90. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. 1997).33%. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. 1999). setelah didahului dengan proses infeksi akar.2.6. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa.5. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P.6 hexakisphospat). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. phosphor bebas dan mineral. yaitu mencapai 70. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dan protein. 1987).. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. B. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.4.

Sedangkan secara langsung. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. pH. 1994). Sulawesi dan pulau besar lainnya. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis.1. 3. perkebunan. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. tanaman tanpa mikoriza) / BK. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. 2004). 1995). Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis).BK. adanya asosiasi ini. 7. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. spesies cendawan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Bagi tanaman inang. miskin hara dan bahan organik. . tanaman inang. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). tanaman bermikoriza . hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Kalimantan. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. 6. Secara tidak langsung. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. kadar air. baik untuk tanaman pangan. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. temperatur. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. tipe perakaran tanaman inang. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher.

Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.02 g biji/tanaman menjadi 5.66 mg P/tanaman. Disamping untuk tanaman pangan. serta serapan hara NPK. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .98 g biji/tanaman.18 mg P/tanaman menjadi 2. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman.13 mg P/tanaman menjadi 2. net fotosintesis. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. 1996) dan pepaya (Cruz et al. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . infiltrasi air hujan rendah. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz.. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.13 g biji/tanaman.15 mg P/tanaman. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.1997). 1997).kejenuhan Al tinggi.

Namun demikian. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Dalam kondisi salinitas tinggi. 2001). Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. terhidar dari plasmolisis. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . 3. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. 1994 dan Tam. Zn dan Cu (Al-Kariki. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. 1994). Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. et al. 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. meningkatnya tekanan osmotik. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Peneliti lain. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. 1995 dalam Aggangan et al. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 2000). tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. 7.

Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. meningkatkan N tanah setelah percobaan.. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. maka laju penurunan hasil clover meningkat. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Oliveira et al. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. 2000). Menurut Wachjar et al (2002). Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. (2001) menunjukkan bahwa P. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l.berbeda.. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. 12 diantaranya bermikoriza. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. . Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. 1993). zat yang melarutkan PAH. efisiensi penyerapan P.

diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. berharap jati muna yang telah . sulit dan cukup mahal transportasinya. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. 2005).S. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Dengan teknologi mikoriza. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. produktivitas.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Selain itu. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.

5 ppm. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. 69. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.71. Peningkatan kadar P nira. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.84 % . dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4.40. spora dan akar terinfeksi. 8. 2008).80 % . Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.65 %.66 % . Tujuannya. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Untuk mewujudkan harapannya. dengan kadar P tersedia "rendah" . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. sebesar 38. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. bedeng tersebut dapat digunakan.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Inokulasi . Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. diaduk merata. 3.. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. selain untuk meratakan hasil.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". 2.15 %. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.72 ppm dan tanah Inceptisol. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak.76 % -21. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.Lima hari kemudian. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.90 %.67. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.

Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia.Pada tiap lubang yang dibuat. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Tanaman inang dapat berupa jagung. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Dalam teknik pemberian mikoriza. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. 3. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 5. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. sorgum atau pueraria. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 4. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 2008). 6. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Manfaat 1. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Dalam rangka pelaksanaan program ini. . Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan.

dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.00. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. 1. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Dengan demikian. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Untuk membuat tablet. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Aturan pakainya sederhana. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dan Nitrogen (N) 75%.J. Kalium (K) bertambah 86%.ah takaran 1. satu tablet untuk satu bibit. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Kalimantan. 2008) . Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Tablet ini dibuat dari cendawan.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Sebagai pembanding. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Setelah itu pil dipecah-pecah. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.7 sentimeter. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. 1. Setelah teruji kemurniannya. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Di IPB.500 dan 2. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari.00 gram.M. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. 1.00 gram (Hardiatmi S.50 dan 2.50. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.00. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam.00 gram. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. sampai 230%. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.

Palembang.com. Universitas Sriwijaya. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). 2009. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Ir. Universitas Sriwijaya. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Palembang. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Indonesia. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Indonesia. A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Indonesia. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. . Indonesia. Bahan Ajar Online. Program Pasca Sarjana. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Diposkan oleh Dr. Propinsi Sumatera Selatan.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Palembang. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Program Pascasarjana.

perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. b. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . virus.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Rhiphosant. kehutanan. 4. Kamizae. jamur yang bersifat patogen. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan.4-13%). Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. OST dan Simbionriza. Tabel 1. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara.

Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.64 35. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut.44 Dengan Mikoriza 28. d. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan .000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.Tanpa Mikoriza 28.28 34.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.50 33. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Bali.14 Dengan Mikoriza 43. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.12 Dengan Mikoriza 48.70 ------------------------------------------------------------------c. 4.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media.

4. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Selain P. javanica. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.M. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan Nitrogen (N) 75%. Kalimantan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. 4. satu tablet untuk satu bibit. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. Kalium (K) bertambah 86%. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Untuk membuat tablet. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Di IPB. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Tablet ini dibuat dari cendawan. Setelah teruji kemurniannya. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Setelah diberikan pada bibit tanaman.S.7 sentimeter. Setelah itu pil dipecah-pecah. sampai 230%. Aturan pakainya sederhana. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. 2008). dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Dengan demikian.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air.

Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza.000 spora. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus.000 spora secara merata. (2) Mempermudah penanganannya. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. Pada praktek sebelumnya. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Sebelum digunakan. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus.000 kapsul.5 g carrier.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. 4. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. Setelah itu. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. pH tanahnya sangat bervariasi. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. setiap kapsul dibutuhkan 0. (3) Dapat di produksi secara khusus. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . berarti dibutuhkan 500 g carrier.

Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Aeromonas punctata. R. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Azotobacter. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Clostridium pasterianum. Beijerinckie. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Anabaena azollae OST Azotobacter. Bacillus. Ankia alni. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Tabel 3.D. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Azospirillium. Azzospirillum lipoverum.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Lactobacillus spp. Mikrococcus. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Nitrobacter. Nostoc muscorum.M. Nitrosomonas. Sinorhizobium. Rhizobium.

2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Laboratorium Biologi Tanah.com.Madjid. Bahan Ajar Online. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). IPB. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Ir. Jurusan Tanah. Universitas Sriwijaya. 3. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. I. Propinsi Sumatera Selatan. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Indonesia. 2. Palembang. Indonesia. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. 1989. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 1997. Indonesia. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Universitas Sriwijaya. Biologi Tanah dalam Praktek.blogspot. IPB. A. Indonesia. I.Bioteknologi Tanah. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Anas. Program Pasca Sarjana. DAFTAR PUSTAKA Anas. Fakultas Pertanian. . Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Palembang. KESIMPULAN 1. 2009.

A. Rev. 2000. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. 2004. Sutopo Ghani Nugroho. Biochem. Ali. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Faisal T.M. 26 (9) : 1201 1205.. Dasar-dasar Ilmu Tanah. 1986. Husnal. Growth response of Afselia africana Sm. Vol 5. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge..B. 2000. Husin.M. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. K.G. Hakim dan Kusli. Mulyati M dan Roy H.H. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). Amin Diha. H. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. Universitas Lampung. . 2007. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Doponnois. No. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. 2007.lunarpages. 2008. El-Atrash.com dalam http://support. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth.F. Brundrett. Lampung. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds).Adinurani P. Vol 5. terhubung berkala : www. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. 2007. Hasanudin. Martens and H. M. 1997. Soil Biol.google. ISSN 1411-0062. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. 9/2 : 91-95. Hakim.com Fleibach. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. E. R.google. 12-15 Desmber 1995. INFOTENS.1. Sanon . Dexheimer. Go Ban Hong. G. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. 1994. Mycorrhiza J. Ba. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Yusuf Nyakpa. 2002. Lubis. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Biantoro M. Rusdi Saul. Azcon. Lampung. M..R.H. A. Reber. hal 83-89. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Jakarta. M. 79:473– 495. Dudi.com. Mahfud. Soils 24 : 81-86. A. Nurhajati. and J. Biol. Biol. p. Iskandar. Universitas Lampung. 1997. Fertil. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. M. Bailey. and F.M. 2008. Ika RS dan Saubari MM. N. R.

2003. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Schubert.Joner. Bogor. Sekolah Pasca Sarjana. Mycorrhiza J. Publ. JMR. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. C. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. 10/3 : 115-119. 2008. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. 10/5 : 241-247.H. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. 1998. Killham. from saline soils and Glomus deserticola under salinity.com dalam http://hortikultura. Mycorrhiza J.. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. Biotropia 8 : 39-44. 1997. Khan. Fertil.J.download/tp/htm-rahmawaty s. A.Lovisolo and A. IPB. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. 1984. Mosse. R. Cambridge University Press. Biotrop Spec.No56 : 131-137. 1995.litbang deptan. Soils 26 : 79-87.google. E. Notohadinagoro. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity.ae.. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains.library. Rahmawaty. 1994. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian.. .go. Plant and Soil 78: 147-150. Azcon. Jember. Soil ecology. D. Kim. 24 Januari 2006. Leyval. Bull Manjunath. Castro. Morte.pdf. D. Khan. D. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. 2000. 2000. Biol.G. S.S.usu. 1993. Pattimahu. 10/4 : 155159. J.id. Bagrayad. Ress. 2004. M.Tervesia claveryi. A. http ://www. Lozano. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Jordan. Oliveira. K. Mycorrhiza J. 1981. Tejoyuwono.Y. Dodd and PML. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. and McDonald. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion.id.. 2001. JC. A. and C.V. Universitas Jember. K. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense .. and R. 2001.. Terhubung berkala www.

Biol. and K. IGM. Dela Cruz. F. Res. Plant and Soil 80-99-104 Rani.No56 : 131-137. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.. D. R. Kapoor. Diposkan oleh Dr. Widodo. S. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . Soil Sci. Walker.K. Wachjar A. Unsur hara tanaman. A new fungal phylum. Schwarzott. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. 2002. 1991. Ragupathy and A. 105(12):1413-1421. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Romeida. Ninin Y. Rao. and G. Edisi Kedua. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Bogor Schubler. A. Mycol. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Thomas. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. dan Marlin. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Biotrop Spec. Bethlenfalvay. N. J.. Vol 3.L. 1984. Bengkulu. Franson. R.S. Subiksa. Yadi S. A. Penerbit Universitas Indonesia. Mahadevan. M. 2005. Publ. Ir. 57 : 77-81. Simangunsong S. 2001. Soc. S.S Subha. 1995. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. J. Biotrop Special Publ. Am.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. hal 69-74. 1999. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Incidence of vesicular . Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Buletin Agron...J.T. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland.R.Rotwell.B. Singh. 1994. 2002.E. and R. Fertil. D. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. and C. Soils 28 : 139-144. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. 2006.A. Abdul Madjid. Zarate.

Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Sumatera Selatan. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Indonesia. Program Magister (S2). PENDAHULUAN 1. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. termasuk biodiversitas.1. Sumatera Selatan. Indonesia. Universitas Sriwijaya.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Bukit Besar. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Upaya yang mulai . Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Indonesia. Palembang. Universitas Sriwijaya. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Palembang. Bukit Besar. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). biologis dan cultural. Universitas Sriwijaya. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang.

bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. kemasan . Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. 1996): 1. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. jamur.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. 2002). baik kesuburan fisik. Penyedia hara . Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. kimia maupun biologi. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil.

Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. Micrococus dan Mycobacterium. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. . Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. licheniformis. dan P.2.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel.5.0 μm. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa.2. Pseudomonas. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. 3. megatherium. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. B. ukuran tiap sel bakteri 0. P. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri.4. polymixa. fluorescent. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu.berbentuk batang lurus atau lengkung.5-0. subtilis. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. cereus. B. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Perombak persenyawaan agrokimia 1. multivorans (Hasanudin. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. B. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Achromobacter. Pseudomonas terbagi atas grup. B. jamur dan aktinomisetes. P. 2.2003). Pemantap agregat tanah 6. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. putida.1 1μm x 1. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. B. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Peningkat ketersediaan hara 3. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Flavobacterium. Arthrobacter. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof .

Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. 5. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. kelembaban temperatur dan faktor lain. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. tetapi pada umumnya rendah . Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. dan ribosom. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. asam nukleat. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. 6. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . fosfolipid.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. hewan dan mikrobia.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. 1. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut.4. suhu tinggi dan zat kimia. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah.2005). Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. materi genetik.terutama yang bersifat heterotrof. nukleotida. dan gula posfat. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. radiasi cahaya. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. .

3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. diantaranya dalam proses sintesis protein. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. 1. AlPO42H2O Variscit.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah.01 – 0. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual.2007). Fe-P dan P tidak aktif. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. reductant-P .Al3+. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit.2002). ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi.pembentukan bunga . Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Al-P. fosfor merupakan 11 unsur yang . Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Secara geokimia. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Dalam bentuk anorganik. FePO42H2O Strengit. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. yang meliputi occhided-P . Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. aluminium dan hidrat.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit.Mn2+ dan Ca2+. pembentukan akar halus dan rambut akar. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. ATP. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. dan mineral P primer. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. karbonat apatit. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0.

Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Sebagai contoh 15-30-15.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros).6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .sangat melimpah di kerak bumi. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Propinsi Sumatera Selatan. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. hijau.Cl. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. dan kekerasan 5. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. dan metamorf. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.15 3. Seperti halnya nitrogen. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Program S2. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Selain sebagai bahan pupuk. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Di dunia.blogspot.4 . sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Universitas Sriwijaya. dan milisit {(Na. Ir. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Program Pascasarjana.H2O).6 x 1011 mol P th . Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. kilap kaca sampai lemak. Bahan Ajar Online. Indonesia. guano. Jika aktivitas manusia (anthropogenic).15.3 x 1011 mol P th.40% P2O5. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Diposkan oleh Dr. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. yaitu 7. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K.17 . krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 .K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. sedimen. A. Http://dasar2ilmutanah. Abdul Madjid. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. berat jenis 3.5 juta ton endapan guano (0. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . 1992).com. 2009.20.beku. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air.

laktat. Sumatera Selatan. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. malat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Universitas Sriwijaya. glutamat. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Palembang.1. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Studi Ilmu Tanaman. fumarat. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Program Magister (S2). Al-P. Program Magister (S2). Bukit Besar. Palembang. Universitas Sriwijaya. yaitu dalam bentuk Ca-P. suksinat. glioksalat. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Indonesia. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Program Pasca Sarjana. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. oksalat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Sumatera Selatan. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Bukit Besar. Fospor relatif tidak mudah tercuci. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. MgP. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Bukit Besar. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Indonesia. tartarat dan alfa ketobutirat. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Fe-P atau occluded-P.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.

Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. salisilat). sedangkan asam malonat. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. malonat. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal.OH + R-COO. tartarat dan malat berefektivitas sedang.laktat. malat. . asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . asam amino dan asam fenolik. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). dan lemah (suksinat. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. oksalat. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd).---> M OH + H2PO4H2PO4 . demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. Hasil penelitian Pramono et al. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. sedang (malat. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik .OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. asetat dan ptalat). Disamping meningkatkan P tersedia. oksalat. tartarat). Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi.

7 x 10^4 0.2 x 10^9 5.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. oksalat. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. glikolat.0 x 10^3 2. 1961.0 x 10^8 4. malat.0 x 10^6 7 Fungi 1. Tabel 1. alfa ketoglutarat.2 Ammonifiers 5. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.0 x 10^3 2 Algae 5. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. glukonat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. 1971.6 x 10^7 7.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.4 x 10^3 1. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.26 x 10^8 1. sitrat. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. 2007). Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. asetat. suksinat.2 x 10^6 1. merupakan bentuk antara (transisi).0 x 10^5 12 Protozoa 2.

Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Bacillus substilis.3. 13 dan 14%. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.7 ppm pada tanah sterl dan 0. Bacillus sp.9 dan 0. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. 0.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4.8 – 3.5 . Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. FePO4.6 ppm pada tanah steril. 8. 6. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. AlPO4. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . gliserofosfat. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. lesitin. Ca3(PO4)2. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.7 ppm menjadi 34. apatit. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides.8 ppm. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.4 ppm menjadi 59.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16.9 ppm. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4.1 – 3. (3) tingkat dissosiasi asam organik.5 ppm menjadi 30. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . . Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.

misalnya: fungi. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Pada percobaan yang lain P. Misalnya. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. berat kering trubus. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. 2. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini.2. minimal duplo. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. dan Vlek (1996). tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. berat kering akar. berat basah akar. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. dan aktinomicetes. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. berat basah trubus. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . bakteri. luas daun serta kadar P trubus. AlPO4 tidak larut dalam air. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Moawad. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Pada tanaman jagung. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

5 (6) (NH4)2SO4 0. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. Lactobacillus sp. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. 3. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.7H2O 0. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. mikroba pelarut P.20 (4) MgSO4.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .3. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . Tiens Golden Harvest . Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.05 .01 . Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% .025 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan.20 (3) MgCl2.Miza Pluss. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Azotobacter sp.6H2O 0. . Teknologi penyubur tanah dan tanaman.5 .dikembangkan .0. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.01 .2 (7) Bromophenol Blue 0. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).5 (5) KCl 0.

Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Program Magister (S2). Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Indonesia. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. 2009. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. Ir. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. bakteri pelarut fosfat. Bukit Besar. bakteri pelarut fosfat. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Palembang. Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia. Indonesia. bakteri penambat N. Universitas Sriwijaya.com. Palembang. Program S2. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia.Kemasan : 5 dan 25 kg. Bahan Ajar Online. http://dasar2ilmutanah. Bukit Besar. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Universitas Sriwijaya. N.blogspot. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Masa simpan : 12 bulan. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. A. Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. 0.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. Ca3(PO4)2. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Bacterium mycoides dan B. tomat. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. bit gula. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B.3 . 5-21 dan 14%.6 ppm pada tanah steril. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. kubis. Bacillus sp. padi. jagung. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Intermedia .IV. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. 3-9. 3-13. barlei. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Escherechia freundii dan E.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. kedelai. kentang. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Bacillus subtilis . meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.7 ppm menjadi 34. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7.9 ppm. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P.5 ppm menjadi 30.1-3.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. gliserofosfat.4 ppm menjadi 59.9 dan 0.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.8 ppm. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. lesitin. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. Circulans pada tanaman kedelai.7 ppm pada tanah non steril dn 0.8-3. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. . kacang panjang dan tebu. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum.

glutamat. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Fe2+. bayam dan kacang panjang). Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1992). Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. glioksilat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Mg2+. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. P. laktat. oksalat. suksinat.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. fumarat. Pada tanaman jagung. 1994). diantaranya asam sitrat. Pada percobaab lain (Buntan. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Striata. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2.2007). malat. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Premono dan Widyastuti. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. 1991). Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . 1992. Puptida dan P. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+.

tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. dan Chromobacterium sp. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. dan B. Bacillus sp. Gunung Botol. Chromobacterium lividum dan B. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0.42 g atau ada kenaikan 877. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. 354.63%. Klebsiella aerogenes. dan 606.67%. jumlah polong. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1.67%. 207. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. 930. 203. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . berat daun segar 4 tanaman per pot. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. jumlah bunga. umur pembentukan polong.5 cm.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.48 g. 217.3881 ppm dan 280. umur panen. 575..30%. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Daerah Cikaniki.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. pH tanah. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF.81%. 208..22 g. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. dan 61. jumlah biji. Klebsiella aerogenes. Chromobacterium lividum. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.75%. 903. Bacillus megaterium.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.) di Tanah Marginal. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai.15 g tanaman-1. Megaterium sebagai inokulan padat. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.5-2.

Bahan Ajar Online. Palembang. 2009. Http://dasar2ilmutanah. Indonesia.com. Program Pasca Sarjana.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Indonesia.Mn. Palembang.blogspot. Bukit Besar. Sumatera Selatan.Fe. Ir. ** Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Pasca Sarjana. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al.kering tanaman kedelai. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. A. Bukit Besar. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Universitas Sriwijaya. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Indonesia. Sumatera Selatan.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Indonesia.

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 1997.Indian Soc. 1998. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. 1982.30:105-106. Kundu. B. Pal. 2003. Banik. Handayanto. Plant Soil 57 : 223-230. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.J.K Jha.J. Plant Soil . Fakultas Pertanian USU. B. 60:353-364. Dubey. 1980.32. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. S.Faperta Universitas Bengkulu. Citrobacter intermedium . Escherechia intermedia Pseudomonas putida.S. Indian Soc. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop.Universitas Sriwijaya.K. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few .Soil Sci.Medan Gunalan.Bacillus firmus.2003. Bacillus megaterium. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.C. Buletin Agronomi. Gaur .E dan Hairiyah. S.K.2005. 31 (3): 100-106.2. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. 1982. Hasanudin dan Ganggo.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad.D. 45: 506-509. Escherechia freundii. 6(1) : 8-13. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.S and A. Elfiati.2007. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Buntan. Noor A.Soil Sci. N and K. Universitas Bengkulu. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.No. 1996. Edisi 3. Hasanudin. 2004.1992. Majalah Sriwijaya Vol. S. Bacterium mycoides.A. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Bacterium mesenterricus.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. Pustaka Adipura. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens.

R.C.2002.N. 1992.Kanisus Jakarta.60 no.L and B. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. 2006. Sutanto. N. Microbiol 42: 207-220.H. S dan Suliasih . Tesis. 1991.Pupuk Hayati . Oxford and IBM Publishing Co. 7(2):109-113. Yuwono. Diposkan oleh Dr.Yogyakarta. Universitas Pajajaran. S. S dan Suliasih .Program Pascasarjana IPB.Bandung Rao. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. 1962. Jurnal Nature Indonesia. Can.R Glick. Abdul Madjid.Biodiversitas. Patten. Bandung. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. Widawati. 4(1) : 1-5.) di Tanah Marginal.Disertasi. 2006.Medellín vol. Ir. Vega. 2005. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.W.T. Setiawati. 198 : 169-177. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake.acid tolerant crops.Widyastuti. Gunung Botol. 1998. S. Supadi.Agr.NW.Bogor. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Soil Microorganisms and Plant Growth.Biodiversitas. 7(1):1014.H. UGM. Widawati. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. 2001. (Terjemahan Susilo. Premono.Penerapan Pertanian Organik. C.1 Wulandari. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic.J. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . Edisi 2 . Edisi 3. dan Ciptarasa. and Sinha. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.T..R. UI Press). 2007. Plant Soil. 1996.

kimia. alga dan virus. Palembang. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. dan virus sebagai agensia hayati. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. aktinomicetes. Indonesia. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Sumatera Selatan. 1998). bakteri dan fungi perombak bahan organik. Palembang. Program Magister (S2). fungi. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Program Pasca Sarjana. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Sumatera Selatan. Indonesia.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. Program Pasca Sarjana. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. serta bakteri yang berperan sebagai . Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Dibidang pertanian. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. PENDAHULUAN A. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Indonesia. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Program Pasca Sarjana. 1998). Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. cendawan. Bukit Besar. Bukit Besar. Dalam sejumlah kondisi. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. Sumatera Selatan. seperti bakteri. Universitas Sriwijaya. protozoa. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. bakteri. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik.

Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. 1978). (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. kesuburan. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. dan meningkatkan pendapatan petani. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Saraswati et al. B. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. A. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Fakultas Pertanian Unsri & . Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. 2009. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. menghemat biaya pupuk.

dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. ** Program Studi Ilmu Tanaman. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Program Magister (S2).com. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Program Magister (S2). namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Program Magister (S2). kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. OH. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Ir. Universitas Sriwijaya. Indonesia. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2.2 mg/kg tanah. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana.Program Studi Ilmu Tanaman. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Abdul Madjid. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Program Pasca Sarjana. Http://dasar2ilmutanah. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Universitas Sriwijaya. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Palembang. Indonesia. Cl-. Bukit Besar. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis.01-0. Bukit Besar. Sumatera Selatan. . Program Pasca Sarjana.atau CO32-. Program Studi Ilmu Tanaman. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Indonesia.blogspot. Palembang. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Program Pascasarjana. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Universitas Sriwijaya. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II.

Pada sistem pola tanam yang terbuka. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. 1977). Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. keseimbangan P dalam tanah terganggu.. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Oleh karena itu. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. fosfolipida. fosfor terdapat dalam dua bentuk. 1989). 1997). Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. 1989. Siklus ini berulang terus menerus. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. hewan dan organisme tanah. asam nukleat. Bila ion fosfat (HPO42. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat.atau H2PO4-) diserap tanaman. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Subba Rao. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Di alam. Sisa tanaman. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. hewan dan mikroba . (b) imobilisasi P-tersedia. pemupukan. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. nukleotida dan gula-gula fosfat.

Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Selain kandungan fosfat dalam residu. aerasi. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. aerasi. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. 1986). Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. seperti nukleotida atau fosfolipida. temperatur. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi.. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Umumnya. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. 1. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . 2. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah.yang dikembalikan ke dalam tanah. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. kelembaban. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. 1997). Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah.

Ion Fe. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Al3+ + H2PO4. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Pada kondisi tergenang.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . besi. pH tanah. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.lebih mendominasi. Hal yang sama. dengan melepaskan fosfat. Mn. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. dan Ca. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. H2PO42-. Mn. 1986). dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut.+ 2H2O ----> FePO4. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang.----> Al(OH)2 H2PO4.2) H2PO42. dan PO43-. Fe. Selain itu. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.lebih mendominasi. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Phosphaticum. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. H2PO42. kalsium dan magnesium fosfat. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Al.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1.+ 2H2O ----> AlPO4. Nilai kritis C/P adalah 200.

Mn. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sumatera . Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. 2009. Program Magister (S2). Fe. Universitas Sriwijaya. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. asetat. 2007). Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Program Pasca Sarjana. 3. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. suksinat yang dapat mengikat Al. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. 2. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. laktat.Didaerah rhizosfer.com. Universitas Sriwijaya. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bukit Besar. Kandungan bahan organik tanah. Diposkan oleh Dr. A. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Ir. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Bahan Ajar Online.blogspot. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah.

miselium menghasilkan spora.Selatan. Hawksworth et al. Indonesia. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. 1995). Universitas Sriwijaya. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. membentuk spora dari fusi dua nukleus.5 juta (Hawksworth. Palembang. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Bukit Besar. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Universitas Sriwijaya. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Sumatera Selatan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Sekitar 70. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman.. Reproduksi secara seksual. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Sumatera Selatan. Program Magister (S2).. ** Program Studi Ilmu Tanaman. 1970). Indonesia. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. 2007). Program Pasca Sarjana. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. 1991. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. . Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Indonesia. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Palembang. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III.

(1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. dan pengelolaan lahan. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. baik berupa daun maupun kayu. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. siklus hara. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Bersama-sama dengan bakteri. dan pengendalian penyakit. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. tidak peka. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. 2007). 1993). CO2 terhambat. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. 1993). fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. sebagai contoh . organisme rhizosfer. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. eksudat akar. beberapa diantaranya bersifat sparofit. 1992). fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. bagian bawah. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. karbon dioksida. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. bagian tengah.. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. dan essensial . dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik.

fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. Namun demikian.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. cat. contohnya A. tekstil. 2007). dan mungkin air) ke tanaman. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Phytium.flavus dan A. dan Rhizoctonia. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza.. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. . Seperti bakteri. (3) Patogen atau parasit. 1995). Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. hara mikro. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Sebagai contoh A. Selain itu. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. serta banyak dijumpai dalam tanah. tanaman pangan. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. dan kulit (Hawksworth et al. nitrogen. dan semak. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. sayuran. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. 1995). dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. udara. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman.

sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. diantaranya T. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. . Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung).5. 1979). 3. 4. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.harzianum dan T. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. nitrogen. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa.2. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. gandum. 1999). 1982). Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang.75-5x 2-6im. jaringan hewan dan tanah. 1986). 1968). 1987). termasuk manusia. 1983). 5. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol.5-9.koningii (merton dan Brotzman. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras.. Pada tanaman. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson.

Diposkan oleh Dr. Sumatera Selatan. Palembang.blogspot. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Program Pasca Sarjana. Palembang. Abdul Madjid. Sumatera Selatan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bukit Besar. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.com. Universitas Sriwijaya. 2009. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Pasca Sarjana. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Palembang. Sumatera Selatan. Program Magister (S2).vitamin. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasrjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. dan mineral lainnya. Indonesia. Indonesia. A. Program Magister (S2). Ir. Universitas Sriwijaya. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Bukit Besar. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan.

asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). suksinat. asetat.35%. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. AlPO4. B. megatherium. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. jamur dan aktinomisetes.0-2. candidus. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. A. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Schlerotium & Phialotobus. harus mengandung 8 macam nutrisi. Flavobacterium. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Micrococus dan Mycobacterium. alfa ketoglutarat. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. malat. kalium (K) sebesar 0. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. 2006). Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis.04-0. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. dan Chaetomium sp. 1994).21% dan C/N ratio . (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Penicillium sp.14%. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Penicillum. B. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik... khususnya fungi jenis Aspergillus niger. B. Achromobacter. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. apatit. subtilis. Arthrobacter. merupakan bentuk antara (transisi). sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. magnesium (Mg) sebesar 0. 2006). B. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.5%.010. glukonat. oksalat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. (3) tingkat dissosiasi asam organik. licheniformis. asam amino dan asam fenolik. polymixa.0-40. sitrat. B. glikolat.039-1. FePO4. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. cereus. fosfor (P) sebesar 0. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. Pseudomonas. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah.rendah. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Trichoderma viridae. yaitu: karbon (C) sebesar 19. nitrogen (N) sebesar 2. Fusarium. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.0%.

niger. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. A.3 kali. japonicum. 1977 . aktivitas fiksasi N. Subba Rao. aktivitas penambatan N. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. 8 kali. dan FePO4. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. (4) inokulasi R. 1986). dan serapan N dan P berturut-turut 7. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. niger strain NHJ2 1 ml per biji. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. dan serapan N dan P. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. 1980 . DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P.8 kali. (3) inokulasi R. 1957 . Aspergillus sp. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. (2001). Lestari (1994). Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. (2) inokulasi R. kanada. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). margarita.. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan.4 % dibandingkan kontrol. dan 10 kali. 1982). Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. Kundu dan Gaur.0-20% (Gaur. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. dan mesir. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995.sebesar 9. yakni lebih dari 10 kali lipat. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. 1978). 1. dan G. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. AlPO4. Hutami et al. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. 1967). (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut.

dan Chaetomium sp. tanaman apapun yang . Aspergillus niger. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. 42. T. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. aspergillus niger. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Selain daripada itu T. 2000). Pennicillium digitatum.78 ppm (Baratha. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). (2000). Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. dan kapasitas tukar kationnya rendah. bahan organik. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. kab. scwanniomycetes occidentalis.media tumbuh GAGES dan GES. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. kandungan bahan organik rendah. 2004). harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma.. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Trichoderma viridae. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia.. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Penicillium sp. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat.. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Tanah ini terkenal sangat miskin. Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38.

Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Program Pasca Sarjana. Palembang. Sumatera Selatan.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Http://dasar2ilmutanah. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Indonesia. A. Program Studi Ilmu Tanaman. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Namun demikian. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2).blogspot. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Universitas Sriwijaya. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Bukit Besar. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Bukit Besar.com. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Bahan Ajar Online. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Diposkan oleh Dr. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Indonesia. Program Magister (S2). Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Abdul Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. 2009.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. . Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Bukit Besar. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal.

Indonesia. artinya mikroorganisme yang . Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Namun. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. dan juga pada minuman.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. vermikulit. atau zeolit. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. biakan kering. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Namun. biakan kering beku. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. R. dan tepung. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Di Indonesia. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. memperbaiki struktur tanah. mempercepat proses pengomposan. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. menekan soil-borne disease.130. 2008). Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. arang. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya.Sumatera Selatan. tanah.11. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. sekam. atau ketempat pengomposan. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara.760. dan kompos. biakan cair. pelarut.

fumarat. baik berupa bakteri maupun jamur. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. 2008). laktat. Dengan mempertahankan kelembaban. dan ketoglutarat. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. glikolat. jenis. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. 2008). Selain itu. dan Ca. Di Indonesia. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan.Suatu teknologi . Mulai tahun 2004. Fe-. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. tanggal kadaluwarsa. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. seta jenis tanaman yang cocok. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. tetapkan kelembapan bahan pembawa. suksinat. Pada pengujian pupuk mikroba. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. oksalat. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Mn-. sitrat. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Propionat. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. Stase. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. cara penyimpanan. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. 2008). sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. lartrat. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe.

jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. mikoriza. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.65) hingga 147.1).0.60 ug/ml (pH 4. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale./ha (23. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.28 ugfrnl (pH 2. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. memobilisasi. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia.0.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).32% dan 16% pada padi. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. 50 kg/ha SP36.0. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. bobol kering tanaman.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. Grt 3.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P.47) hingga 394.85ug/ml (pH 5. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah.59%). Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. 50 kg P. dan meningkatkan serapan P tanaman.56 ug/m! (pH 6.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.0. . yaitu mikroba pelarut fosfat. Aspergillus niger NHJ2.

-4. dan Vlek (1996). Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Moawad. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Konsentrasi fosfat. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 3. – 8.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. AlPO4 tidak larut dalam air. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. bakteri. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. 5.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. – 6 s/d 10 ext. 2. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. 7. 6. Buat medium agar Pikovskaya. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. 4. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. minimal duplo. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Ulangi langkah di atas secukupnya. khususnya isolat fungi. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. 8. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. antara lain: 1. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. dan actinomicetes.

2000). PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis.. Ketebalan agar. 3. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. 4. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. bakteri. Goenadi et al. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. . Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. dan aktinomicetes. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. 1995). Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. (Goenadi. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. fosfatase. misalnya: fungi. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. dkk. (2000). sehingga dapat diserap tanaman. A. 1995).2.. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Melalui aplikasi pupuk hayati. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Misalnya. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang.

(1997). dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. ketersediaan hara di dalam tanah. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. B. dkk.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Hasil percobaana Goenadi. kedelai. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. bobot kering bibit. dan volume akar. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. penambat nitrogen bebas. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan.

Rata-rata bobot kering tanaman. aktivitas fiksasi N. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk.96. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. A. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. .8 kali. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. MK 1999. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. pH 3. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. japonicum. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. tinggi tanaman. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. MK 1997. (2) inokulasi R. dan serapan N dan P. Al-dd 1. 2000).Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. 8 kali. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. diameter batang. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995.3 kali. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. niger strain NHJ2 1 ml per biji. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. margarita. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai.209 me/100g). bobot kering total. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. dan 10 kali. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. 1. Rhizobium 108-109. jumlah polong isi. C. dan G. serapan N dan P tanaman. 100 kg SP-36/ha. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). (3) inokulasi R. 50 kg KCl). dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol.5. bobot kering akar. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. niger. aktivitas penambatan N. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. (4) inokulasi R. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dan serapan N dan P berturut-turut 7. jumlah bintil akar.

3 ppm . Fe = 44.D. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. C organik = 0. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Azotobacter. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. dan mikroba pendegrasi selulosa.70 ppm . Azobacter sp2.Ir. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Azospirilum sp4. Cd dan Mikroba Patogen. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr.04 % . Pseudomonas spp = 34.92 % . Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Lactobacillus sp6. mikroba pelarut P. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Cu = 0. Mn = 0. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Zn = 3. N = 0. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Pb.23 ppm .85 ppm . Hg. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Lactobacillus. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya.Lukman Gunarto MSc. K = 1700 ppm . Mikroba pelarut fosfat3.

Menurut penelitian Dr. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. akan mendapatkan K dan unsur lain. apabila . penambat Nitrogen dari udara. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. populasi mikroba untuk menambatkan N. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Hasil dari pendegradasian tersebut. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. sehingga keaslian produk MiG corp. ada yang berfungsi sebagai penambat N. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Lukman Gunarto. pembentukan anakan dan primordial. Lactobacillus sp. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. probiotik MiG ternak. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. mikroba pelarut P. unsur N. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Azotobacter sp. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah.

** Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Program Pascasarjana. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. candidus. Program Magister (S2). rusak atau mati. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Penicillum. Universitas Sriwijaya.com. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Program Pasca Sarjana. Palembang. Indonesia. Bukit Besar. http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. A. A. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Ir. Sumatera Selatan. Indonesia. Fusarium. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid.blogspot. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Program Pasca Sarjana. Schlerotium & Phialotobus. Bahan Ajar Online. Bukit Besar. Tidak masalah. Caranya sangat mudah. Palembang. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. 2009. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sedangkan dari golongan . Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Indonesia. Palembang. Sumatera Selatan. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian.

C. 51.. Widyastuti.scielo. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat.R. Blackwell. Canadian. Building soil phospharus capital in Africa.br/scielo.. J.. 1997. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P.C. 1993. Dhandhun Baratha.C. Carroll. 111-149. 868p.C. 2006. C. E. Eliane M. 2004. M. R. Microbial. Premono dan R.. PA. aspergillus niger. S. Pusat Antar Universitas IPB. J. Fungal Ecology. 1996. Pennicillium digitatum. Bogor.T. Trichoderma viridae. L.W. Dix. P.J. S. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. G. Orivaldo J. RJ – Brazil. Barea. I. and Wicklow. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. In. 1-44 pp. 1992. J. VII. DAFTAR PUSTAKA Anas.. M. Philadelphia. 1982.J. J. Saggin. Smithson. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. London. N. USA. D. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.. 334-337. Edson L. Introductory Mycology (4th Ed). dan Chaetomium sp. and M. Penicillium sp. Buresh. Eduardo F. Publ. New York.T. Inc. Rosario Azcón Jose M. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. 13 : 749-752. Dickinson. J. Mims. John Wiley and Sons.. New York. Chapman & Hall.W. D. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. (eds). Chonkar and Subba rao. P. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. Marcel Deker. scwanniomycetes occidentalis. Baniks. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. and Webster. http://www. Campello. Plant soil 60 : 353-364.J. SSSA. Communities of P-solubilizing bacteria. and Schweizer. Aspergillus niger. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.. and Hellums. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem.. Buresh et al. 1999.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Alexopoulos. 1967. 1995. R. Madison.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . R. WI. Souchie.

Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Soil Science Society of America Journal 64:927932. The Pennsylvania state University Press. 23-30. The life of yeast.J. CAB International.. Cadisch (eds).E. U.com/jayenterprises/fertilizers. Giller and G.W and Mrak.H. Skripsi. New York.K. A.).Z. F. E. Siswanto and Sugiarto. P. E. P. . 1994. Sutton. and Whalley. 1986.Fertilizer [Biosol-P] www. Bogor. 193 pp.C. Watling. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. Mass. 588 pp.J. J. Fakultas Pertanian. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia.html Joffe. D. Miller. significance and conservation. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. Lestari. Cambridge.. D.. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. D. New York..S. Aspects of tropical mycology.indiamart. Inc.M. B. Hutami. Anas. 1997. Maningsih.I. Isaac. Inc. R.. Wallingford. R. Fusarium Species: Their biology and toxicology. M. Jenis pupuk P..L. Riyanti. 1991. Bio . Plenum Press. Kirk. John Willey & Sons.297-312. 14 : 31-36. Paul. University Park.E. New York. Hawksworth. Saraswati. D. 2000. University of Missouri Columbia Extension Division. 1989. McColl. F and Brotzman. E. Merton. Harvard university Press. USA. 616p. Pennicilium and Acremonium. Perbedy. Mycology research 95.Gressel. Bogor (Indonesia). A. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 1995.M.E. 1983.. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. J. S. Missouri. G dan I. 2000. Y. Cambridge. H.. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Puslittanak. CAB International. N. In. United Kingdom.N. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. 641-655. H. 204 pp. 1993. Phaff. Badan Litbang pertanian. 83-123 pp. Frankland. Columbia. K.. 1968.F. Cambridge University Press. 1987. N and J. Nelson. Hawksworth.L. S. 1996. 1979.G. P. and Pegler. Goenadi. Jakarta (Indonesia). Sunarlim.A dan Clark. Driven by nature p.C. Institut Pertanian Bogor.

ugm. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Cambridge. Soil Microorganism and Plant Growth. Program Studi Ilmu Tanaman. New Delhi.staff. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. E. sulphur. M. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Ramirez. Oxford and IBH Publishing Co. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Palembang. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2.Premono. [http://nasih.S. Abdul Madjid. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Namun. Introduction to fungi. New York. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. I. 2008. Program Pascasarjana. Cambridge university Press. Stevenson. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Universitas Gadjah Mada. N. F. Fosfor (P). 1970. 202-204.ac. Disertasi. Indonesia. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. N.id/] Diposkan oleh Dr. 1986. John Willey & Sons. Hara N tersedia melimpah di udara. New York. nitrogen. Indonesia. micronutrients. Program Studi Ilmu Tanaman. Bogor. 1977. Cycles of soil carbon. Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. C. Subba Rao. 380 p. 1994. 2006. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Tiga unsur hara penting tanaman. Institut Pertanian Bogor. yaitu Nitrogen (N). W. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Tombe. J. M. Universitas Sriwijaya. Elsevier biomedical press. Program Pasca Sarjana. phosporus. 1982. Ir. manual and atlas of pennicillia.J. Universitas Sriwijaya. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Yuwono. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Sekilas Pupuk Hayati. Palembang.

karena terikat pada mineral liat tanah. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri.jenis tanaman. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. antara lain: Aspergillus sp. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). 2008). Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Namun. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. infeksi ini . Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Sebaliknya. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Penicillium sp.

misalnya jenis-jenis meranti. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Entrophospora. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. kesehatan dan produktivitas tanaman. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza).antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Hifa memasuki sel kortek akar. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. bercabang. 1997). kruing. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). membentuk chlamydospores (Morton. Dilain pihak. Acaulospora. mempening (jenisjenis Fagaceae). Archaeospora. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). dll. 2003). hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. 2006). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. Ektomikoriza 2. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. Paraglomus. karet. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. 2004). mangga. hingga pohon rambutan. kelapa sawit. Ektendomikoriza 3. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. mulai dari paku-pakuan. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. pinus. Gigaspora dan Scutellospora. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. padi. rambutrambut akar tidak ada. jenis rumput-rumputan. pasang.

palem. pepaya. jeruk. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. nenas. bawang. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. karet. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. 2004). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. 2003). kebanyakan berbentuk bulat telur. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule).khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. 2004). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. akan tetapi belum berhasil. padi gogo. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. kopi. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. 1. kakao. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. kapas. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. barley. 1998). teh. selada. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. apel dan anggur (Rahmawati. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. vesikel intraseluler. kacang tunggak. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. singkong dan sorgum. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. . vesikel (vesicle) dan spora. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. harus diamati dibawah mikroskop. tembakau. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan.

peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Dengan bertambahnya umur. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. pembengkokan inti sel. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. 2. 1981). yang memiliki perbedaan tegas. Arbuskul berperan dua arah. Mirip dengan cendawan patogen. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Schubler et al. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 1981). 2) . 2004).vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. 3. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2004). Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. pembentukan organ baru. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul.

Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. dan Glomus sp. . 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. kepadatan propagula. Acaulospora. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Diversipora. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. 1991). 2002). Scutellospora. Geosiphon. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. 2006). Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. tanaman inang. (Sagin Junior & Da Silva. Entrophospora. Gigaspora. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. 2006). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Walaupun demikian. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Oleh karena itu. Paraglomus. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm.. CMA tidak memiliki inang yang spesifik.Paraglomerales (famili Para-glomerace). Gigaspora-ceae. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Diversisporaceae. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Intraspora. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Kuklospora. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Pacispora.

pH. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. kadar air tanah.. logam berat dan fungisida. 1981). Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. hal ini menguntungkan. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse.II. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. bahan organik tanah. tanah. 1981). Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Vesser et al. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. intensitas cahaya dan ketersediaan hara.pada tengah hari. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Untuk daerah tropika basah. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. saat kelembapan air rendah.

5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. 1981). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. 1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. 1997).. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah.meningkat (Rotwell. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. alumunium dan mangan. klor. Serasah tersebut mengandung hifa. air dan udara. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1984). Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA.

Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1995). 1984 dalam Anas. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Al. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. dicirikan oleh keragaman . Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1981). tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. dan Na yang tinggi (Mosse.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Plantavax. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1984). Benlate. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan.. 1982 dalam Anas. 1998). fungisida Agrosan. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1997). 1997). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).

dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. . 2002). kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Sawahlunto Sijunjung. K. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. cropping sistem. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1996). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. 1 9% (Gededda et al. 2005). Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. P. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran.spesies yang sangat tinggi. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Dalam budidaya tradisional. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. ameliorasi dengan bahan organik. 1996). Untuk tanaman manggis. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1995). jumlah bahan organik yang dihasilkan. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). karena perubahan spesies tanaman. Pada tanaman pisang. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. 1984). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM.04 menjadi 0. pembakaran. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. unsur hara dan struktur tanah. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan.

Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. 1997).Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. G. kekeringan. jumlah daun pada umur 4.5% dibandingkan dengan kontrol.2% dibandingkan dengan kontrol. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 1997). dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Di dalam arbuskul. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal.7% dibandingkan dengan kontrol. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 8 dan 28 MST. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. . 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. serta patogen akar. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Selain daripada membentuk hifa internal. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 2006). manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. sedangkan inokulasi G. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit.masing sebesar 5. III. bobot kering tajuk. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas.7% dan 4. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. sedangkan inokulasi G. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora.

tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Cu. Pada kedelei. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Zn. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. pemadatan. salinitas. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. dan Zn). konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Selain itu.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Dengan adanya CMA. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Zn dan Cu meningkat. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Fe. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. 2006). sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. 3) melindungi dari herbisida. 1997). Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. keasaman. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Setelah periode kekurangan air (water stress).

Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. atau lahan terpolusi lainnya. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Infeksi patogen akar terhambat. 1994). tailing tambang batubara. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. K dan S. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. 1994). Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. 2.1997). Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 2. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Dilain pihak. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. 3. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. 4. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan.

2000). dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar.. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. . yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. 1997). Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. 1993). sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Interaksi sebenarnya antara CMA. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. dan giberalin. 3. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Pada tanaman tertentu. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. patogen akar. 1981 dalam Husin dan Marlis. 4. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. citokinin. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Jika terhadap jasad renik berguna. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). 1997). Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sitokinin dan giberalin.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. 40% kebutuhan nitrogen. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. 1981). dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang.

lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Perbaikan Struktur Tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal.. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 2002). Bila ini benar. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . tapi juga bagi tanah. 2002). 1997). sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. 5. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Menurut Hakim..

2. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.. 6. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa.5. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Seng (Zn++). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Besi (Fe++).50–90. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Magnesium (Mg++). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. phosphor bebas dan mineral.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). 2002). Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. yaitu mencapai 70. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. B.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. 1999). maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. khususnya pada tanah yang miskin P. dan protein. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman.tanah. Prihastuti et al.6 hexakisphospat). Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air.4.33%.3. japonicum. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. namun . disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.

1995). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Bagi tanaman inang. perkebunan. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Sedangkan secara langsung. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 1994). temperatur. adanya asosiasi ini. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. 2004). tanaman inang. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. tanaman bermikoriza . kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. 1997). dan kompetisi antar cendawan mikoriza). 6. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Secara tidak langsung. baik secara langsung maupun tidak langsung. baik untuk tanaman pangan.BK. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. pH. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. 3. 1987). Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. tipe perakaran tanaman inang. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. spesies cendawan. 2006). Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. . Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. kadar air.

Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. infiltrasi air hujan rendah. kejenuhan Al tinggi.18 mg P/tanaman menjadi 2. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol.1997). Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.98 g biji/tanaman. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering.1.13 mg P/tanaman menjadi 2. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.. Sulawesi dan pulau besar lainnya.13 g biji/tanaman. Kalimantan. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7..7. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. 1997). dan hasil kedelai meningkat dari 2. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.02 g biji/tanaman menjadi 5. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Disamping untuk tanaman pangan. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ).84 g biji/tanaman menjadi 5. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.15 mg P/tanaman. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. miskin hara dan bahan organik.66 mg P/tanaman. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. .

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Dengan teknologi mikoriza. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.5 ppm.84 % . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Untuk mewujudkan harapannya. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.15 %.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Selain itu. 2008). Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.66 % . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.90 %. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Peningkatan kadar P nira.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".40. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.72 ppm dan tanah Inceptisol. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. 69. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Tujuannya. dengan kadar P tersedia "rendah" . 8.80 % . dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . telah mencapai sekitar 10 sentimeter.76 % -21. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.67. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.71. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak.65 %. sebesar 38.

karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. 4. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Tanaman inang dapat berupa jagung. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. 5. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. sorgum atau pueraria. 3. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. 2. bedeng tersebut dapat digunakan. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 2008). spora dan akar terinfeksi. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. selain untuk meratakan hasil. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. 6.Lima hari kemudian. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman.campuran tanah. Manfaat 1. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. diaduk merata. 3. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. telah diberikan Asosiasi .

Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Dalam teknik pemberian mikoriza.7 sentimeter. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.Mycorrhizal Indonesia. Abdul Madjid. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. yaitu: (1)Parasitik. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Ir. Diposkan oleh Dr. seperti: penyakit bercak akar kapas. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. (3) menggunakan miselia cendawan. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Tablet ini dibuat dari cendawan. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Untuk membuat tablet. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. mampu menambah daya tahan akar tanaman. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. Di IPB. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. satu tablet untuk satu bibit. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. (2)Saprophitik. Setelah itu pil dipecah-pecah. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Setelah teruji kemurniannya. Kalimantan. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Setelah diberikan pada bibit tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Aturan pakainya sederhana. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.

(b) cacing tanah. dan (3)Ektendomycorhiza. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Flora Tanah . (3)Simbiotik. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). kutu. Diplopoda (kaki seribu). jangkrik. yaitu: (1)Endomycorhiza. Arachnida (lebah. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. flagelata. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Chilopoda (kelabang). dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. (c) Arthropoda. dan (b)Nematoda. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. semut. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. seperti: omnivorous dan Predaceus. (2)Glomus. (3)Acaulospora. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (4)dll Diposkan oleh Dr. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. dan rayap). Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. (2)Ektomycorhiza.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. yaitu: (1) Makro Fauna. Ir. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. (d)Moluska.dekomposisi bahan organik tanah. dan ciliata. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. seperti: amoeba. Abdul Madjid.

Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. dan (d) algae. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. yaitu: (1) Makro Flora. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman.2 mm s/d 10 mm. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Abdul Madjid. bahwa berdasarkan ukuran. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). (c) actinomycetes. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). dan (3) Mikrobia. dll. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Selain itu. (2) Mikro Flora. Ir. dll. terdiri dari: (a) bakteri.000 bakteri per gram tanah. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. (2) Mesobia. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Diposkan oleh Dr. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). . Aspergillus.2 mm. yaitu: (1) Makrobia. Bacillus. (b) fungi.

MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Ir. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful