PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

singkong dan sorgum. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. apel dan anggur (Rahmawati. teh. kopi. 2. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. palem. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. 2003). pembengkokan inti sel. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. kakao. . karet. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. kebanyakan berbentuk bulat telur. 2004). Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Arbuskul berperan dua arah. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. bawang. 2004). barley. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. padi gogo. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. nenas. kapas. 2004). kacang tunggak. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. tembakau. pembentukan organ baru. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. akan tetapi belum berhasil. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. 2004). Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. jeruk. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. 1. pepaya. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. selada.Leguminosa umumnya bermikoriza. vesikel (vesicle) dan spora.

tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Diversisporaceae. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Acaulospora. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Mirip dengan cendawan patogen. Intraspora. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Walaupun demikian. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 1981). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Gigaspora-ceae. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Entrophospora. Kuklospora. Dengan bertambahnya umur. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. dan Glomus sp. Schubler et al. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. . Pacispora. 3. Geosiphon. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Diversipora. yang memiliki perbedaan tegas. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Oleh karena itu. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 1981). (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Scutellospora. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 2006).vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Paraglomus. Gigaspora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies.

Http://dasar2ilmutanah. 2009. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Indonesia. . Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Program Magister (S2). Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Ir. Program Pascasarjana. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. tanaman inang. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan.com. Indonesia. Palembang. kepadatan propagula. Palembang. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. 2002). Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya.. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Bahan Ajar Online. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. 1991).blogspot.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. (Sagin Junior & Da Silva. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. A. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. 2006). Abdul Madjid. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Diposkan oleh Dr.

1981). Universitas Sriwijaya. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. saat kelembapan air rendah. Program Magister (S2). (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. bahan organik tanah. 1981). Program Magister (S2). kadar air tanah.pada tengah hari. Program Studi Ilmu Tanaman. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Indonesia. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Palembang. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. logam berat dan fungisida. hal ini menguntungkan. Palembang. Vesser et al. Universitas Sriwijaya. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah.. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Untuk daerah tropika basah. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. pH. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. tanah. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan.** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia.

vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. 1997). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1984). tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. 1997). Serasah tersebut mengandung hifa. air dan udara. 1981). Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah.

alumunium dan mangan. Plantavax.. fungisida Agrosan. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. 1981). 1984 dalam Anas. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1997). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Al.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Cendawan pada umumnya . dan Na yang tinggi (Mosse. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1984).. Benlate.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. klor. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. 1982 dalam Anas. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. 1997). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1997).

Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. cropping sistem. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. . 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 2005). 1998). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. unsur hara dan struktur tanah. 1996). jumlah bahan organik yang dihasilkan. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). karena perubahan spesies tanaman. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. 1995). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Pada tanaman pisang. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. K.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1984). 1995). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. pembakaran. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. 1 9% (Gededda et al.04 menjadi 0. P. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Dalam budidaya tradisional. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi.

7% dibandingkan dengan kontrol. Propinsi Sumatera Selatan. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Palembang.5% dibandingkan dengan kontrol. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. sedangkan inokulasi G. 8 dan 28 MST. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Ir. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Http://dasar2ilmutanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Universitas Sriwijaya. 2002). aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 1996). Untuk tanaman manggis. Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. jumlah daun pada umur 4.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Palembang.com. Program Pascasarjana. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.blogspot. Palembang. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Palembang. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. A. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Program Pascasarjana. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. . Indonesia. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang.2% dibandingkan dengan kontrol.7% dan 4. 2009. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Indonesia. sedangkan inokulasi G.masing sebesar 5. Program Pasca Sarjana. G. Sawahlunto Sijunjung. bobot kering tajuk. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2).

Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. pemadatan. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 2006). Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. 1997). sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Selain itu. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. kekeringan. Cu. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Di dalam arbuskul. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Fe. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. salinitas. serta patogen akar. 3) melindungi dari herbisida. Zn.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 1997). akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. keasaman. Selain daripada membentuk hifa internal. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. dan Zn). Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul.

Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. 2006). sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. 1997). Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Setelah periode kekurangan air (water stress). Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Pada kedelei. Zn dan Cu meningkat. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air.tanaman inang. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. K dan S. 1994). Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Dengan adanya CMA. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air.

Dilain pihak. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. atau lahan terpolusi lainnya. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. tailing tambang batubara. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. 2. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya.simpan air kecil. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Jika terhadap jasad renik berguna. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 1994). Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. 4. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 3. 1993). sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah.1997). Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham.. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Interaksi . Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen.

1981). Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 1981 dalam Husin dan Marlis. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. sitokinin dan giberalin. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . 1997). 5. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Perbaikan Struktur Tanah. citokinin. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. 40% kebutuhan nitrogen. Pada tanaman tertentu. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. patogen akar. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 3. 4. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. dan giberalin. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Bila ini benar. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. 1997). Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. 2000). 1997). yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman.sebenarnya antara CMA. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik.

et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah.agregat mikro. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. 2002). . Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. tapi juga bagi tanah. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. 2002). akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Menurut Hakim.. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir.

Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. 2002).4.50–90.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Prihastuti et al. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.3. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. 1997). Phytat adalah senyawa phospat komplek. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. 1987). phosphor bebas dan mineral. Seng (Zn++). 2006). (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.2. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. japonicum. B.33%.. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. khususnya pada tanah yang miskin P. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).6 hexakisphospat). setelah didahului dengan proses infeksi akar. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yaitu mencapai 70. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi.6. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. 1999).5. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Besi (Fe++). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Magnesium (Mg++). dan protein. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.

Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK.1. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. 2004). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. tanaman bermikoriza . 1994). Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. 7. spesies cendawan. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. baik secara langsung maupun tidak langsung. tipe perakaran tanaman inang. Secara tidak langsung. Kalimantan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. pH. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. perkebunan. baik untuk tanaman pangan. . Sedangkan secara langsung. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. 6. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Bagi tanaman inang. tanaman inang. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. kadar air. adanya asosiasi ini. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 3. 1995). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Sulawesi dan pulau besar lainnya. miskin hara dan bahan organik.BK. temperatur. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.

Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz.02 g biji/tanaman menjadi 5. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Disamping untuk tanaman pangan.15 mg P/tanaman. infiltrasi air hujan rendah. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.66 mg P/tanaman.18 mg P/tanaman menjadi 2. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.1997). 1996) dan pepaya (Cruz et al. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. serta serapan hara NPK. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . dan hasil kedelai meningkat dari 2.13 g biji/tanaman.84 g biji/tanaman menjadi 5. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. net fotosintesis. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol.kejenuhan Al tinggi. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. 1997).98 g biji/tanaman.13 mg P/tanaman menjadi 2.. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .

Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Zn dan Cu (Al-Kariki. 3. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. 2000). Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. et al. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. 2000).jaringan dan transpirasi yang lebih besar. 1994 dan Tam. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 2001). 1995 dalam Aggangan et al. 7. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. terhidar dari plasmolisis. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. meningkatnya tekanan osmotik. Dalam kondisi salinitas tinggi. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Peneliti lain. Namun demikian. 1994). Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri.

Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. (2001) menunjukkan bahwa P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. zat yang melarutkan PAH. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa.berbeda. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. efisiensi penyerapan P. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. 12 diantaranya bermikoriza. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. . tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Oliveira et al. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Menurut Wachjar et al (2002). meningkatkan N tanah setelah percobaan.. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. 2000).. 1993). maka laju penurunan hasil clover meningkat.

selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. 2005). mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Dengan teknologi mikoriza. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. berharap jati muna yang telah . Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. sulit dan cukup mahal transportasinya. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Selain itu. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. produktivitas. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto.S. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.

Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.15 %. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Inokulasi .dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. spora dan akar terinfeksi. 69. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.40. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. selain untuk meratakan hasil..84 % . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.5 ppm. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.90 %. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". bedeng tersebut dapat digunakan. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. dengan kadar P tersedia "rendah" . Tujuannya.66 % . 8.71. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . diaduk merata.67.76 % -21. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.72 ppm dan tanah Inceptisol. 2008). 3. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Peningkatan kadar P nira. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna.65 %. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. sebesar 38.Lima hari kemudian.80 % . 2. Untuk mewujudkan harapannya. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.

Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. 2008). Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. 4. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 5. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 6. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Manfaat 1. sorgum atau pueraria. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Dalam teknik pemberian mikoriza. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. . Dalam rangka pelaksanaan program ini. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. 3. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular.Pada tiap lubang yang dibuat. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Tanaman inang dapat berupa jagung. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman.

kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya.500 dan 2.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. Kalimantan. Di IPB.00 gram.50. Tablet ini dibuat dari cendawan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya.J.00. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. 1. Setelah teruji kemurniannya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.7 sentimeter. satu tablet untuk satu bibit. 2008) .00 gram. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.00. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Setelah itu pil dipecah-pecah. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.00 gram (Hardiatmi S. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. dan Nitrogen (N) 75%. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. sampai 230%. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. 1. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. 1. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Dengan demikian. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Untuk membuat tablet. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Aturan pakainya sederhana. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Sebagai pembanding. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Kalium (K) bertambah 86%. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza .50 dan 2. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.M.ah takaran 1. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat.

Indonesia. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. Palembang. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Palembang. Palembang. Bahan Ajar Online. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.blogspot. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Program Magister (S2). Http://dasar2ilmutanah. . Indonesia. Ir. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Pascasarjana. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. A. Program Pascasarjana.com. Palembang. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Magister (S2). Indonesia. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. 2009. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer).

4. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. b. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. jamur yang bersifat patogen. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Kamizae. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. virus. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal.4-13%). Rhiphosant. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Tabel 1. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). kehutanan. OST dan Simbionriza. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat.

Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. d. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.64 35.28 34. 4. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.14 Dengan Mikoriza 43. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.70 ------------------------------------------------------------------c.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.Tanpa Mikoriza 28. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.50 33.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Bali.12 Dengan Mikoriza 48. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan).44 Dengan Mikoriza 28. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.

karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. sampai 230%. javanica.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Di IPB. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Aturan pakainya sederhana.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. satu tablet untuk satu bibit. 4.7 sentimeter. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Setelah teruji kemurniannya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Dengan demikian. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya.S. 4. Selain P. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Tablet ini dibuat dari cendawan. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.M. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. 2008). Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kalium (K) bertambah 86%.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Setelah diberikan pada bibit tanaman. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Untuk membuat tablet. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Setelah itu pil dipecah-pecah. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Kalimantan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dan Nitrogen (N) 75%.

Pada praktek sebelumnya.000 kapsul. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna.000 spora. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Setelah itu.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. 4. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. setiap kapsul dibutuhkan 0. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. (3) Dapat di produksi secara khusus. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. Sebelum digunakan. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak.000 spora secara merata. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman.5 g carrier. (2) Mempermudah penanganannya. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . pH tanahnya sangat bervariasi.

Rhizobium. Clostridium pasterianum.D. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Azotobacter. Nitrosomonas. Tabel 3. R. Azospirillium.M. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Lactobacillus spp. Anabaena azollae OST Azotobacter. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Sinorhizobium. Ankia alni. Nitrobacter. Bacillus. Nostoc muscorum. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Beijerinckie. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Aeromonas punctata. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Azzospirillum lipoverum. Mikrococcus.

I. Universitas Sriwijaya.blogspot. Program Magister (S2). (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Biologi Tanah dalam Praktek. Indonesia. Program Pascasarjana. 2. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pascasarjana. A. Diposkan oleh Dr. Laboratorium Biologi Tanah. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). . 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Jurusan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Indonesia.com. Fakultas Pertanian. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.Madjid. Program Pasca Sarjana. Anas. Abdul Madjid. DAFTAR PUSTAKA Anas. Ir. 1989. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Indonesia. Palembang. KESIMPULAN 1. I.Bioteknologi Tanah. IPB. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia. IPB. Http://dasar2ilmutanah. 3. 1997. Palembang. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Palembang. Bahan Ajar Online.

2007. 12-15 Desmber 1995. Fertil. 2000. Vol 5. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Mulyati M dan Roy H. 1997. Bailey. 2007.F.G. Husnal. 2008. Biol. M. 2008. R.H. Dasar-dasar Ilmu Tanah.H. Biochem. Sutopo Ghani Nugroho. Soils 24 : 81-86. terhubung berkala : www. 1986. Ba. M. 26 (9) : 1201 1205. Hasanudin. ISSN 1411-0062. R. 9/2 : 91-95. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Lubis. N. Reber. E. and F. Universitas Lampung. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Hakim. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. Mycorrhiza J. 2000. A. Iskandar. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Brundrett. 2002. Dudi. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Yusuf Nyakpa.1. Mahfud. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. No. Jakarta. El-Atrash.M. Lampung. G. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). p. A. Rusdi Saul. 1997.M.com Fleibach. Nurhajati.lunarpages. Ika RS dan Saubari MM. INFOTENS. Sanon . Azcon.com dalam http://support. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Amin Diha.. 2007. 1994. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. hal 83-89.. M.R. M. A. Go Ban Hong. Biantoro M. 79:473– 495. Universitas Lampung. and J. Faisal T. Rev. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. K. Dexheimer. H. Husin. Ali. Lampung. Doponnois.Adinurani P.M. .B. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. Growth response of Afselia africana Sm.google.. Soil Biol. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level.com.google. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Vol 5. Martens and H. Hakim dan Kusli. Biol. 2004.

D. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul.J. 2003. A. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Azcon. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Morte. Castro. Mycorrhiza J. K. 1994. 10/5 : 241-247. Terhubung berkala www. Biotropia 8 : 39-44. Mycorrhiza J. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. R. Universitas Jember.. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity.Y. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. 2000. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. 10/4 : 155159. Dodd and PML. Killham. Lozano. Oliveira. Leyval. Bull Manjunath.. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae.library. and C. Biotrop Spec.. Cambridge University Press. Khan. 2008. C. and R. 1998. Jordan.pdf. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Pattimahu.id.id.ae. IPB. 2000. Soil ecology.. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . JC. Kim. Notohadinagoro. J.Tervesia claveryi. D. E. Bagrayad.Lovisolo and A. 2004. Tejoyuwono.. Publ. .usu.Joner. http ://www.V. Plant and Soil 78: 147-150. 1995. Khan. Ress. Mosse. Mycorrhiza J. 1981.G. Biol. A. Schubert. Rahmawaty.S. Jember.com dalam http://hortikultura. 10/3 : 115-119. 2001. D. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Fertil. 2001. S. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal.google. 1984. Sekolah Pasca Sarjana.download/tp/htm-rahmawaty s.litbang deptan.. 24 Januari 2006. Bogor. K. M. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Effect of various soil environment stresses on the occurance..H.go.No56 : 131-137. 1997. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. and McDonald. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. Soils 26 : 79-87. JMR. A. 1993. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp.

Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. D. Diposkan oleh Dr. and R. Yadi S. Edisi Kedua. Singh. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. and K.R.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Plant and Soil 80-99-104 Rani. 2006. Kapoor. S. Thomas. Simangunsong S. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. 1994. 1999. A new fungal phylum. Walker. 105(12):1413-1421. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Rao. Bengkulu.. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.A. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). J.K.. IGM. M. 2005.S. Biol. Res. Romeida. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza.L. 1995. Publ. hal 69-74. Mahadevan. 2002. S. A.B. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Penerbit Universitas Indonesia. Bethlenfalvay. Abdul Madjid. J. Incidence of vesicular . and G. Franson. 2001. Soil Sci. and C. Widodo. R. 1984. Schwarzott. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . Dela Cruz. Am. A. Vol 3. Biotrop Special Publ. F.No56 : 131-137.Rotwell. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Ir. Ragupathy and A. Zarate.S Subha. Biotrop Spec. 57 : 77-81. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Soils 28 : 139-144. N. dan Marlin.. Buletin Agron. 2002. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Wachjar A.. Bogor Schubler. Fertil. Ninin Y.J. R. Subiksa. Unsur hara tanaman. Mycol. 1991. Soc. D. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation.E.T.

Bukit Besar. biologis dan cultural. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Upaya yang mulai . Program Pasca Sarjana. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Universitas Sriwijaya. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Sumatera Selatan.1.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. PENDAHULUAN 1. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Palembang. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Palembang. Bukit Besar. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Indonesia. Sumatera Selatan. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. termasuk biodiversitas. Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.

Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. 1996): 1. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. jamur. kemasan . penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. baik kesuburan fisik. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Penyedia hara .2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. 2002). Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. kimia maupun biologi. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting.

tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Perombak persenyawaan agrokimia 1. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. 2. . B. dan P. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. putida. licheniformis.2. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. B. P. polymixa. B. Flavobacterium. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Peningkat ketersediaan hara 3.2003). Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. megatherium.4. multivorans (Hasanudin.1 1μm x 1. dapat menahan unsur hara di dalam selnya.5-0. Micrococus dan Mycobacterium. B.0 μm.2. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. jamur dan aktinomisetes. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Pemantap agregat tanah 6. B. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. P. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. 3. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. subtilis. ukuran tiap sel bakteri 0. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Achromobacter. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof .5. fluorescent. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Arthrobacter. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.berbentuk batang lurus atau lengkung. Pseudomonas. Pseudomonas terbagi atas grup. cereus.

dan gula posfat. hewan dan mikrobia. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . suhu tinggi dan zat kimia.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. tetapi pada umumnya rendah . sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. materi genetik. 6. 5. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.tetapi juga dipengaruhi oleh pH .4. 1. kelembaban temperatur dan faktor lain. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. nukleotida. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. dan ribosom. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah.2005).3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah.terutama yang bersifat heterotrof. fosfolipid. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. . radiasi cahaya. asam nukleat.

Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel.2002).01 – 0. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. Dalam bentuk anorganik. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. 1. AlPO42H2O Variscit. FePO42H2O Strengit. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. diantaranya dalam proses sintesis protein. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme.Mn2+ dan Ca2+.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. Al-P. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.pembentukan bunga .4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Fe-P dan P tidak aktif. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. ATP.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Secara geokimia. fosfor merupakan 11 unsur yang . P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen.Al3+. dan mineral P primer. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. aluminium dan hidrat. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. karbonat apatit.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. reductant-P . namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel.2007). Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. yang meliputi occhided-P . pembentukan akar halus dan rambut akar.

Sebagai contoh 15-30-15.3 x 1011 mol P th. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. hijau.com. sedimen. Di dunia. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata.Cl. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat.20.sangat melimpah di kerak bumi. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. berat jenis 3. Bahan Ajar Online. dan metamorf. Universitas Sriwijaya. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros).17 . guano. kilap kaca sampai lemak. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Seperti halnya nitrogen.H2O). yaitu 7. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. 1992).4 . Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. dan kekerasan 5. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Diposkan oleh Dr. A. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.5 juta ton endapan guano (0. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal.blogspot. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Jika aktivitas manusia (anthropogenic).6 x 1011 mol P th . Abdul Madjid. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.beku.40% P2O5.15. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Ir.15 3. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 .K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Propinsi Sumatera Selatan. 2009. Selain sebagai bahan pupuk. Program S2. dan milisit {(Na. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.

sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Palembang. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. glioksalat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg.1. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. MgP.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Sumatera Selatan. Indonesia. oksalat. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Universitas Sriwijaya. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. glutamat. suksinat. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Fe-P atau occluded-P. Universitas Sriwijaya. Palembang. yaitu dalam bentuk Ca-P. malat. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Magister (S2). Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Indonesia. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Palembang. laktat.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Fospor relatif tidak mudah tercuci. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Bukit Besar. Al-P. Indonesia. tartarat dan alfa ketobutirat. Bukit Besar. Sumatera Selatan. fumarat.

malat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. . malonat. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). asam amino dan asam fenolik.---> M OH + H2PO4H2PO4 .(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. tartarat dan malat berefektivitas sedang. salisilat). diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif .laktat.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. asetat dan ptalat). Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.OH + R-COO. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). oksalat. Disamping meningkatkan P tersedia. sedang (malat. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. Hasil penelitian Pramono et al. tartarat).2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. oksalat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. sedangkan asam malonat. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). dan lemah (suksinat.

0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.0 x 10^6 7 Fungi 1.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. 2007).2 x 10^6 1. sitrat. malat.7 x 10^4 0. 1961. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.0 x 10^3 2 Algae 5.0 x 10^8 4.2 x 10^9 5.6 x 10^7 7. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.26 x 10^8 1. Tabel 1. merupakan bentuk antara (transisi). glukonat.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. alfa ketoglutarat. asetat.0 x 10^3 2. oksalat. 1971. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.2 Ammonifiers 5. glikolat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.0 x 10^5 12 Protozoa 2. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.4 x 10^3 1. suksinat. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.

8 ppm. . 6. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. Bacillus sp. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat.9 dan 0. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. 13 dan 14%. 8. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. gliserofosfat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. (3) tingkat dissosiasi asam organik.7 ppm menjadi 34. apatit. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.9 ppm.8 – 3. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides.7 ppm pada tanah sterl dan 0.5 .5 ppm menjadi 30. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer.1 – 3.6 ppm pada tanah steril. FePO4. Bacillus substilis. Ca3(PO4)2. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral.3. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. AlPO4. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. lesitin. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.4 ppm menjadi 59. 0. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.

berat kering akar. dan Vlek (1996). tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba.2. Misalnya. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. bakteri. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. luas daun serta kadar P trubus. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. 2. berat basah akar. AlPO4 tidak larut dalam air. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. minimal duplo. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Pada percobaan yang lain P. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Moawad. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Pada tanaman jagung. berat basah trubus. dan aktinomicetes. berat kering trubus. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. misalnya: fungi. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Isolat diinkubasi selama beberapa hari.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

01 .30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .05 . mikroba pelarut P.7H2O 0. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.2 (7) Bromophenol Blue 0.3. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.025 .20 (3) MgCl2. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . Azotobacter sp.Miza Pluss. .5 (5) KCl 0. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.0. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.5 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.5 (6) (NH4)2SO4 0. 3.20 (4) MgSO4. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. Lactobacillus sp. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost.01 .dikembangkan .6H2O 0. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Tiens Golden Harvest .

Program Magister (S2).blogspot. Sumatera Selatan. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Palembang. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. N. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Sumatera Selatan. Palembang. bakteri pelarut fosfat. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Abdul Madjid. bakteri pelarut fosfat. Indonesia. Bahan Ajar Online. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Indonesia. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.com. 2009. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Program S2. ** Program Studi Ilmu Tanaman. A. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Ir. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. Palembang. dan zat pengatur tumbuh tanaman. bakteri penambat N. Masa simpan : 12 bulan. Bukit Besar. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik.Kemasan : 5 dan 25 kg.

.7 ppm menjadi 34. kedelai. 3-13. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum.7 ppm pada tanah non steril dn 0. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. Circulans pada tanaman kedelai. padi. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. kentang. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Ca3(PO4)2. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.4 ppm menjadi 59.9 dan 0. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. 0. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. jagung. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. bit gula. 3-9. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.IV.1-3. 5-21 dan 14%. kacang panjang dan tebu. Bacterium mycoides dan B. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. lesitin. Bacillus subtilis .9 ppm. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P.8 ppm. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.8-3. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Intermedia .3 . gliserofosfat. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. kubis.5 ppm menjadi 30. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. Escherechia freundii dan E. Bacillus sp.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. barlei. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16.6 ppm pada tanah steril. tomat.

Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Striata. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. fumarat. bayam dan kacang panjang). 1994).4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. diantaranya asam sitrat. Fe2+. suksinat. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. P. Puptida dan P. laktat. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . Pada tanaman jagung. Premono dan Widyastuti. glutamat. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. oksalat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. 1992). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Pada percobaab lain (Buntan. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. glioksilat. 1992. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens.2007). Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. malat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Mg2+. 1991).

Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. dan B. jumlah biji. Megaterium sebagai inokulan padat. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.30%.63%. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.67%.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. umur panen.) di Tanah Marginal. Daerah Cikaniki. umur pembentukan polong.22 g. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.5 cm.42 g atau ada kenaikan 877. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. pH tanah.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Chromobacterium lividum. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. berat daun segar 4 tanaman per pot. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0.15 g tanaman-1. 575. 354. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Gunung Botol. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Klebsiella aerogenes. 903..3881 ppm dan 280. jumlah polong. dan 61. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Chromobacterium lividum dan B..tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai.67%. Klebsiella aerogenes.81%.75%. jumlah bunga. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). 217. dan Chromobacterium sp. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. 208. dan 606. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. 930. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. 203. Bacillus sp.5-2. Bacillus megaterium.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.48 g. 207.

blogspot. Diposkan oleh Dr. Indonesia. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bahan Ajar Online. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.Mn. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. 2009. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Palembang.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Magister (S2).Fe. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Indonesia. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Abdul Madjid. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Propinsi Sumatera Selatan.kering tanaman kedelai. Program Pascasarjana. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Palembang. Sumatera Selatan. Http://dasar2ilmutanah. Program Pasca Sarjana. Palembang. Universitas Sriwijaya. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Sumatera Selatan. Ir. Universitas Sriwijaya.com. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Bukit Besar.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia.

No. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. 60:353-364. Pal. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Indian Soc. Kundu. 1982. Hasanudin dan Ganggo.E dan Hairiyah. Banik. Bacillus megaterium. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . B. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.1992.K. Edisi 3.J.Universitas Sriwijaya. 31 (3): 100-106. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Pustaka Adipura.2005. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Bacterium mesenterricus.30:105-106. S. S. 2004. Buntan.K Jha. Majalah Sriwijaya Vol. Handayanto. Fakultas Pertanian USU. 1982.D. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.2. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. 1980. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis.S and A.Faperta Universitas Bengkulu. 1996. Universitas Bengkulu. S.C.J. B. Escherechia freundii. Dubey.S. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.32. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.Indian Soc. 2003. Gaur . Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Buletin Agronomi. Hasanudin. Citrobacter intermedium . Elfiati.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.Bacillus firmus.2003.Soil Sci. 1998. Noor A. N and K.Soil Sci.K.A.2007. Plant Soil . Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. 6(1) : 8-13.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. 1997. Plant Soil 57 : 223-230.Medan Gunalan. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Bacterium mycoides. 45: 506-509. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad.

Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. 1996.Program Pascasarjana IPB.acid tolerant crops. Bandung.Disertasi. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.H.R.1 Wulandari.) di Tanah Marginal. 2005. UI Press). Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.60 no.Biodiversitas. Jurnal Nature Indonesia. Sutanto.R Glick. 1992.Kanisus Jakarta. 7(2):109-113.Widyastuti. Edisi 2 . serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.C. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Ir. Abdul Madjid.H.T. Yuwono. Widawati. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. Setiawati. Soil Microorganisms and Plant Growth.Penerapan Pertanian Organik. S. 2007. Plant Soil.Biodiversitas.Bogor. S dan Suliasih . 4(1) : 1-5. Tesis. Oxford and IBM Publishing Co. UGM. 1998. 2006. Edisi 3.Pupuk Hayati .Bandung Rao. 2001.T. Supadi. Microbiol 42: 207-220.Medellín vol. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: ..L and B.J. 198 : 169-177. and Sinha. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.N. Vega. 7(1):1014.Yogyakarta.R. Diposkan oleh Dr. (Terjemahan Susilo. 2006. dan Ciptarasa. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Can. N. Premono. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. 1991. Widawati. Patten.Agr. C. 1962.W. S dan Suliasih . Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. S.NW. Universitas Pajajaran.2002. Gunung Botol.

Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Dibidang pertanian. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Sumatera Selatan. aktinomicetes. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. kimia. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Sumatera Selatan.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Palembang. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Indonesia. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Palembang. Universitas Sriwijaya. Palembang. Bukit Besar. Indonesia. alga dan virus. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. fungi. Program Pasca Sarjana. seperti bakteri. 1998). protozoa. Bukit Besar. Sumatera Selatan. bakteri dan fungi perombak bahan organik. Program Pasca Sarjana. bakteri. cendawan. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. PENDAHULUAN A. 1998). dan virus sebagai agensia hayati. Dalam sejumlah kondisi. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Indonesia. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. serta bakteri yang berperan sebagai . ** Program Studi Ilmu Tanaman.

Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Saraswati et al. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. kesuburan. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. A. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. 2009. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Fakultas Pertanian Unsri & . (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. B. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. menghemat biaya pupuk. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Bahan Ajar Online. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. 1978). Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. dan meningkatkan pendapatan petani.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P.

namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Indonesia. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. OH.01-0. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2).2 mg/kg tanah. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr. . (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Program Magister (S2).Program Studi Ilmu Tanaman. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Sumatera Selatan. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Universitas Sriwijaya. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Program Pascasarjana. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Bukit Besar. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Indonesia. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman.atau CO32-. Universitas Sriwijaya. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Palembang. Sumatera Selatan. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Ir. Palembang. Universitas Sriwijaya. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Program Pasca Sarjana. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Palembang.com. Cl-. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut.

Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. nukleotida dan gula-gula fosfat. asam nukleat. Di alam. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. (b) imobilisasi P-tersedia. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Pada sistem pola tanam yang terbuka. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark.. hewan dan mikroba . keseimbangan P dalam tanah terganggu. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Subba Rao. Oleh karena itu. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Sisa tanaman. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. fosfor terdapat dalam dua bentuk. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. hewan dan organisme tanah. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. 1977).atau H2PO4-) diserap tanaman. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. fosfolipida. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. 1997). Bila ion fosfat (HPO42. Siklus ini berulang terus menerus. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. 1989). pemupukan. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. 1989. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut.

2. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi.yang dikembalikan ke dalam tanah. 1. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. kelembaban. seperti nukleotida atau fosfolipida. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. aerasi. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon.. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. aerasi. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. temperatur. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Selain kandungan fosfat dalam residu. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. 1986). variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. 1997). yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Umumnya. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur.

sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1.----> Al(OH)2 H2PO4.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Selain itu. dan PO43-. Pada kondisi tergenang. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Ion Fe. dan Ca. Al. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. Phosphaticum. besi. dengan melepaskan fosfat. 1986). Nilai kritis C/P adalah 200. Mn.lebih mendominasi. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Hal yang sama. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7.+ 2H2O ----> AlPO4. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium.lebih mendominasi. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Al3+ + H2PO4. H2PO42. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. pH tanah. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Mn. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Fe.+ 2H2O ----> FePO4.2) H2PO42. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. H2PO42-. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. kalsium dan magnesium fosfat. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah.

Bukit Besar. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Mn. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah.com. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Universitas Sriwijaya. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Bahan Ajar Online. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. suksinat yang dapat mengikat Al. Sumatera . yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital).Didaerah rhizosfer. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Fe. Kandungan bahan organik tanah. A. Program Pasca Sarjana. Ir. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). 3. 2009. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. asetat. 2007). MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. 2. laktat. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman.

dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Indonesia.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Hawksworth et al. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Program Magister (S2). (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Selatan. . berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. 1991. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. membentuk spora dari fusi dua nukleus. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter.. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. 2007). Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. 1995). Indonesia. Sumatera Selatan. 1970). Universitas Sriwijaya. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman.5 juta (Hawksworth. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. miselium menghasilkan spora. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Reproduksi secara seksual. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Palembang. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. Program Pasca Sarjana.. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Palembang. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Sekitar 70.

Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. organisme rhizosfer. sebagai contoh . tidak peka. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. eksudat akar. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. dan pengendalian penyakit. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. karbon dioksida. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Bersama-sama dengan bakteri. beberapa diantaranya bersifat sparofit. dan essensial . bagian bawah. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. 2007). Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. 1993). fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. dan pengelolaan lahan. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. CO2 terhambat. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air.. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. 1993). dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. baik berupa daun maupun kayu. siklus hara. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. 1992). bagian tengah.

cat. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. contohnya A. Fungi patogen akar seperti Verticillium. tanaman pangan.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Namun demikian. 2007). fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. sayuran.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. Sebagai contoh A. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. . Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian.. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. hara mikro. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. dan semak. Seperti bakteri. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri.flavus dan A. 1995). dan Rhizoctonia. (3) Patogen atau parasit. Selain itu. udara. dan kulit (Hawksworth et al. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. dan mungkin air) ke tanaman. nitrogen. 1995). tekstil. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. serta banyak dijumpai dalam tanah. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Phytium. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim.

selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. 1979). Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. 1982). Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. 1983). 1968). tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. jaringan hewan dan tanah.5-9. termasuk manusia. 1987). Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. 4. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Pada tanaman. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. 1986). Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin.75-5x 2-6im. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni.2. diantaranya T. 3. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. . jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa.harzianum dan T. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman.. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 5. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung).5. 1999). nitrogen. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk.koningii (merton dan Brotzman. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. gandum. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2.

yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Palembang. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Sumatera Selatan. Program Magister (S2).blogspot. Bukit Besar. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Bukit Besar. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. 2009. Indonesia. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Bukit Besar. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik.com. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Pascasrjana. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2).vitamin. Abdul Madjid. Indonesia. Palembang. Program Pasca Sarjana. Ir. A. Indonesia. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. dan mineral lainnya. Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Sumatera Selatan.

asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). jamur dan aktinomisetes. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. 1994). Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. malat. cereus. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. subtilis. magnesium (Mg) sebesar 0. Achromobacter. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. merupakan bentuk antara (transisi). licheniformis. candidus. Pseudomonas.21% dan C/N ratio . Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Penicillium sp. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Arthrobacter. Trichoderma viridae. alfa ketoglutarat. 2006).0%. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. yaitu: karbon (C) sebesar 19. B. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4.04-0. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). dan Chaetomium sp. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.010. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.. A. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P.5%.039-1. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. megatherium. glikolat. AlPO4. asetat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. B. polymixa. B. kalium (K) sebesar 0. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.rendah. FePO4. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger.35%. Flavobacterium. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. B. glukonat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. sitrat. Fusarium. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. fosfor (P) sebesar 0. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Schlerotium & Phialotobus. apatit. 2006). harus mengandung 8 macam nutrisi. oksalat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. asam amino dan asam fenolik. nitrogen (N) sebesar 2.14%. Micrococus dan Mycobacterium. suksinat. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah.0-40. Penicillum. B.0-2.

jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. 1957 . niger. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. margarita. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Kundu dan Gaur. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. (2) inokulasi R. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. aktivitas penambatan N. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Aspergillus sp. 1.3 kali. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. Lestari (1994). 1978).8 kali. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. yakni lebih dari 10 kali lipat. aktivitas fiksasi N. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. dan G. dan serapan N dan P. A. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. kanada. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. 1977 . dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. (4) inokulasi R.0-20% (Gaur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. 1980 . japonicum. Subba Rao. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. dan mesir. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. 1986). (2001).4 % dibandingkan kontrol. dan serapan N dan P berturut-turut 7. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Hutami et al. 8 kali. AlPO4. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. dan FePO4. dan 10 kali. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. 1967). (3) inokulasi R. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat.sebesar 9. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006).. 1982).

kandungan bahan organik rendah. dan kapasitas tukar kationnya rendah.. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. aspergillus niger. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. kab. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. T. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Tanah ini terkenal sangat miskin. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). dan Chaetomium sp. Tiap kombinasi diulang tiga kali. 42. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. 2004). Selain daripada itu T. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1).. Bogor. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Penicillium sp. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak.. scwanniomycetes occidentalis. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Pennicillium digitatum. bahan organik. (2000). Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38.78 ppm (Baratha. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal.media tumbuh GAGES dan GES. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. 2000). tanaman apapun yang . Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Trichoderma viridae. Aspergillus niger.

Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp).ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Indonesia. Sumatera Selatan. A. Program Magister (S2). Program Pascasarjana.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. . ** Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar.blogspot. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Universitas Sriwijaya. Palembang. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Namun demikian. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Abdul Madjid. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Bukit Besar. Palembang. Indonesia. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana.com. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Bahan Ajar Online. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Universitas Sriwijaya. Ir. 2009. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana.

130. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. biakan kering beku. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. sekam. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional.760. mempercepat proses pengomposan. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). menekan soil-borne disease.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. biakan cair. dan juga pada minuman. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. Namun. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. pelarut. atau ketempat pengomposan. dan kompos. Namun. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. dan tepung. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Indonesia. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. Di Indonesia. vermikulit. tanah. atau zeolit. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. artinya mikroorganisme yang . R. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. 2008). menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. arang. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji.Sumatera Selatan.11. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. memperbaiki struktur tanah. biakan kering.

fumarat. Di Indonesia. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Stase. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. glikolat. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. 2008). suksinat. Mulai tahun 2004. seta jenis tanaman yang cocok. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. jenis. sitrat. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. baik berupa bakteri maupun jamur. laktat. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Fe-. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. lartrat. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. tanggal kadaluwarsa. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. 2008).Suatu teknologi . Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Selain itu. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Dengan mempertahankan kelembaban. Mn-. dan ketoglutarat. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Propionat. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. cara penyimpanan. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. 2008). Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. oksalat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. dan Ca. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Pada pengujian pupuk mikroba.

50 kg/ha SP36.60 ug/ml (pH 4.65) hingga 147.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.28 ugfrnl (pH 2. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. memobilisasi. yaitu mikroba pelarut fosfat./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. bobol kering tanaman. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. dan meningkatkan serapan P tanaman. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.0.0. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).0. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan.47) hingga 394.56 ug/m! (pH 6. Aspergillus niger NHJ2. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. mikoriza. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K./ha (23. Grt 3. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. 50 kg P.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.1). dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp.85ug/ml (pH 5. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.0. .59%). serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi.32% dan 16% pada padi. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0.

sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. dan actinomicetes. 8. 7. AlPO4 tidak larut dalam air. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. minimal duplo. Buat medium agar Pikovskaya. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. 3. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. 6.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. – 6 s/d 10 ext. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Moawad. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Ulangi langkah di atas secukupnya. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. 2. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. bakteri. 4. – 8. -4. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Konsentrasi fosfat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. antara lain: 1. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. dan Vlek (1996). Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. khususnya isolat fungi. 5.

. 1995). Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. dkk. sehingga dapat diserap tanaman. Misalnya. 2000). bakteri. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik.. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. 3. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis.2. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Ketebalan agar. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. A. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Goenadi et al. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. 1995). Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Melalui aplikasi pupuk hayati. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. (2000). Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. 4. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. dan aktinomicetes. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. (Goenadi. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah.. fosfatase. misalnya: fungi.

Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. B. Hasil percobaana Goenadi. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. kedelai. penambat nitrogen bebas. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. (1997). bobot kering bibit. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dkk. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dan volume akar. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . ketersediaan hara di dalam tanah. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk.

Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. dan G. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. C. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. (2) inokulasi R. jumlah bintil akar. bobot kering akar. niger. 50 kg KCl). Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). MK 1997. 100 kg SP-36/ha.3 kali. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. tinggi tanaman. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). pH 3. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. dan serapan N dan P berturut-turut 7. jumlah polong isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. . bobot kering total. Rhizobium 108-109. diameter batang.8 kali. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. 2000). Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. (4) inokulasi R. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. A. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. 1. serapan N dan P tanaman. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia.96. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. MK 1999.209 me/100g).5. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. dan 10 kali. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. margarita. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. aktivitas fiksasi N. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. (3) inokulasi R. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Al-dd 1. 8 kali. dan serapan N dan P. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. Rata-rata bobot kering tanaman. aktivitas penambatan N. japonicum.

Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal.3 ppm . Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Lactobacillus.Lukman Gunarto MSc. Hg. Pb. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. Mikroba pelarut fosfat3. N = 0.04 % .85 ppm . Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Azobacter sp2. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Pseudomonas spp = 34. Fe = 44. K = 1700 ppm . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Mikroba Pendegradasi Selulose5.D. mikroba pelarut P. Lactobacillus sp6. Cd dan Mikroba Patogen. Zn = 3. Cu = 0. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Mn = 0.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman.92 % . Azotobacter. Azospirilum sp4.Ir. C organik = 0.70 ppm . dan mikroba pendegrasi selulosa. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan).23 ppm .

dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. sehingga keaslian produk MiG corp. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Hasil dari pendegradasian tersebut. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. unsur N. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). populasi mikroba untuk menambatkan N. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). penambat Nitrogen dari udara. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Lactobacillus sp. Menurut penelitian Dr. Azotobacter sp. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. Lukman Gunarto. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. ada yang berfungsi sebagai penambat N. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. akan mendapatkan K dan unsur lain. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. apabila . dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. mikroba pelarut P. probiotik MiG ternak. pembentukan anakan dan primordial. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL.

*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Tidak masalah. http://dasar2ilmutanah. Palembang. Schlerotium & Phialotobus. Sumatera Selatan. Ir. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Abdul Madjid.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. A. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Sedangkan dari golongan . apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Bukit Besar. 2009. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Palembang. candidus. Bukit Besar. Malahan tanaman menjadi semakin subur.com. Palembang. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Diposkan oleh Dr. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fusarium. Penicillum. Sumatera Selatan. Caranya sangat mudah. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Indonesia.blogspot. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. A. rusak atau mati. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana.

scwanniomycetes occidentalis.W. 1967. 111-149. E. J. Philadelphia.C. Rosario Azcón Jose M. and M. Dickinson. WI. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. SSSA. Alexopoulos.R. Fungal Ecology. Penicillium sp. dan Chaetomium sp.W. Mims. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. (eds). Dhandhun Baratha. and Schweizer.. In.. Eduardo F. 13 : 749-752. 1982. Souchie. DAFTAR PUSTAKA Anas. Pusat Antar Universitas IPB. Eliane M.. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. S. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Trichoderma viridae.br/scielo. Premono dan R. Inc. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. PA. Blackwell. John Wiley and Sons. Dix. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. 51. S.T. Barea. J. 1992. P. Saggin. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. Introductory Mycology (4th Ed). G. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. New York. 2006. D. 1993. M. D. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. C.J. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules.C. C. R. Orivaldo J. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam.. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Buresh et al. 1997. New York. N. Building soil phospharus capital in Africa. L. and Hellums.scielo. R. Marcel Deker. Plant soil 60 : 353-364. Chapman & Hall. Canadian.. 1996. Chonkar and Subba rao. Carroll. Aspergillus niger. Publ. J.J. Bogor.. Smithson. J.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. USA. 1999. J.T. Pennicillium digitatum.C. Madison. http://www.J. 334-337. aspergillus niger. P. I. and Webster. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.. 1995. 1-44 pp. M. and Wicklow. R.. Microbial.. Widyastuti. 868p. 2004. Campello. Edson L. Communities of P-solubilizing bacteria. Baniks. VII.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Buresh. RJ – Brazil. London.

M. Bogor (Indonesia).J.. 588 pp. Missouri.. Mycology research 95. J. N. 204 pp..Gressel. J. A.H.C. Hutami. 1983.indiamart. Goenadi. E. 1995.. Siswanto and Sugiarto.L. Y.E. Hawksworth. 193 pp. Maningsih. D. Jakarta (Indonesia).L. R. Lestari. S. University of Missouri Columbia Extension Division. New York. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. D.E. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. Bogor. Fusarium Species: Their biology and toxicology. Bio .. 1979. The life of yeast. 616p. New York. Aspects of tropical mycology. 1997. Perbedy..Z. S. Inc.F.M. Kirk. 23-30.A dan Clark. 1989. Isaac.J. Cadisch (eds). Fakultas Pertanian. CAB International. A. G dan I. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. CAB International. Saraswati. Soil Science Society of America Journal 64:927932. University Park..html Joffe. Plenum Press. U. Sutton. Cambridge University Press. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Jenis pupuk P. P.Fertilizer [Biosol-P] www. 2000.S. Watling. Skripsi. 83-123 pp. Nelson. Sunarlim. 1986. United Kingdom. 1996. B. Harvard university Press. Anas.. Institut Pertanian Bogor. Wallingford. D. H. Driven by nature p. Frankland. In. . M. and Pegler. Riyanti.com/jayenterprises/fertilizers. Cambridge. E. Pennicilium and Acremonium. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. K.N. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Giller and G. Cambridge. The Pennsylvania state University Press. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah.W and Mrak. P. Badan Litbang pertanian. P. 1987.G. 641-655. Mass. John Willey & Sons.. 1991. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. D. USA. R.E. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Miller. McColl. N and J. Merton. E.K. 14 : 31-36. Phaff. significance and conservation. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Paul.C. Columbia. 1968. Puslittanak. F. New York. and Whalley. Inc. Hawksworth. F and Brotzman. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. 1993.I.297-312. 1994. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. H. 2000.).

ugm.staff. New York. Cambridge university Press. I. 380 p. sulphur. Fosfor (P). Palembang. Subba Rao. Namun. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. 1970. Indonesia. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . micronutrients. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Palembang. yaitu Nitrogen (N). Cambridge. M. nitrogen. manual and atlas of pennicillia. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). 2008. Program Studi Ilmu Tanaman. Hara N tersedia melimpah di udara. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. F. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. J. M. John Willey & Sons. Indonesia. 1982. 1994. W. [http://nasih. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. New York. C.id/] Diposkan oleh Dr. Bogor. Elsevier biomedical press. Soil Microorganism and Plant Growth.S. Jasad Renik Pelarut Fosfat.J. Cycles of soil carbon. Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Tiga unsur hara penting tanaman. Ramirez. 2006. Sekilas Pupuk Hayati. Oxford and IBH Publishing Co. 202-204. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. E. Universitas Sriwijaya. 1977. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Yuwono. Disertasi. N. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Stevenson. 1986. Ir.Premono.ac. Introduction to fungi. N. phosporus. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Tombe. New Delhi. Universitas Gadjah Mada.

Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. antara lain: Aspergillus sp. Penicillium sp. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Sebaliknya. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman.jenis tanaman. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Namun. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. infeksi ini . Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. karena terikat pada mineral liat tanah. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. 2008). Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.

Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. Entrophospora. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. mangga. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. bercabang. 2004). Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . kelapa sawit. 2003). adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. Paraglomus.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Archaeospora. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. kruing. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. padi. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. rambutrambut akar tidak ada. jenis rumput-rumputan. mempening (jenisjenis Fagaceae). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Gigaspora dan Scutellospora. 2006). Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Dilain pihak. pinus. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. misalnya jenis-jenis meranti. mulai dari paku-pakuan. dll. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. kesehatan dan produktivitas tanaman. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Hifa memasuki sel kortek akar. membentuk chlamydospores (Morton. pasang. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. 1997). hingga pohon rambutan. Ektendomikoriza 3. karet. Acaulospora. Ektomikoriza 2. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks.

1998). 2004). dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. 2004). karet.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. kebanyakan berbentuk bulat telur. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. selada. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. kopi. vesikel intraseluler. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. harus diamati dibawah mikroskop. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. jeruk. pepaya. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. 1. kacang tunggak. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. tembakau. barley. 2003). Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. padi gogo. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. bawang. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. kakao. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. nenas. apel dan anggur (Rahmawati. vesikel (vesicle) dan spora. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. kapas. singkong dan sorgum. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. palem. akan tetapi belum berhasil. . hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. teh. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar.

Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 2. yang memiliki perbedaan tegas. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. pembentukan organ baru. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. 2) . yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Schubler et al. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. 3. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Dengan bertambahnya umur. 2004). (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. 1981). Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Arbuskul berperan dua arah. Mirip dengan cendawan patogen. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 2004). Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. 1981). pembengkokan inti sel. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya.

tanaman inang. Diversisporaceae. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. kepadatan propagula. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Intraspora. Geosiphon. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Pacispora. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Paraglomus. Walaupun demikian. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 1991). dan Glomus sp. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm.Paraglomerales (famili Para-glomerace). Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. 2006). jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Gigaspora. Acaulospora. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Diversipora. Kuklospora. 2006). tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. (Sagin Junior & Da Silva. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. . Oleh karena itu. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 2002). Entrophospora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman.. Gigaspora-ceae. Scutellospora. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda.

Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. tanah. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup.II. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. kadar air tanah. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. hal ini menguntungkan. logam berat dan fungisida. pH. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. bahan organik tanah. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse.. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Untuk daerah tropika basah. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . 1981). Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. saat kelembapan air rendah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air.pada tengah hari. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Vesser et al. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. 1981).

Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. air dan udara. Serasah tersebut mengandung hifa. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. alumunium dan mangan. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA..5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat.meningkat (Rotwell. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1997). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. 1997). klor. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1984). vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. 1981). 1997). Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap .

5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. 1982 dalam Anas. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1998). Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Benlate. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. fungisida Agrosan. 1995). Plantavax.. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. 1997). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). dicirikan oleh keragaman . 1984). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1981). Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn).terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1984 dalam Anas. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. dan Na yang tinggi (Mosse. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1997). Al. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel.

Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Dalam budidaya tradisional. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 1984). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. unsur hara dan struktur tanah. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. K. 1 9% (Gededda et al. Pada tanaman pisang. karena perubahan spesies tanaman. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet.spesies yang sangat tinggi. 1995). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 1996). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. P. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. 1996). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. . 2002). Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Untuk tanaman manggis. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Sawahlunto Sijunjung. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. jumlah bahan organik yang dihasilkan.04 menjadi 0. pembakaran. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 2005). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. cropping sistem. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al.

Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST.masing sebesar 5. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. 8 dan 28 MST.7% dan 4. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. serta patogen akar. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Di dalam arbuskul. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas.7% dibandingkan dengan kontrol. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. 1997). Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST.2% dibandingkan dengan kontrol. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. 2006). Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. sedangkan inokulasi G. 1997). bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. . bobot kering tajuk. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. kekeringan. sedangkan inokulasi G. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Selain daripada membentuk hifa internal. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. jumlah daun pada umur 4. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. G. III.5% dibandingkan dengan kontrol. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza.

2006). Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. salinitas. pemadatan. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Zn. Selain itu. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Dengan adanya CMA. Cu. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. 3) melindungi dari herbisida. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Setelah periode kekurangan air (water stress). Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. keasaman. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. 1997). dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. dan Zn). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Fe. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Zn dan Cu meningkat. Pada kedelei. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi.

K dan S.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . 1994). Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Dilain pihak. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. atau lahan terpolusi lainnya. 2. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 2.1997). Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Infeksi patogen akar terhambat. 3. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. 4. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. tailing tambang batubara. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. 1994).

atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. 1981). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. 1997). Interaksi sebenarnya antara CMA.. 4. sitokinin dan giberalin. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Jika terhadap jasad renik berguna. 3. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 1997). patogen akar. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 40% kebutuhan nitrogen. 1993). sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. citokinin. 1981 dalam Husin dan Marlis. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. . 2000). Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Pada tanaman tertentu. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. dan giberalin. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai.

Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Menurut Hakim. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. 5. 1997). 2002). Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah.. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. 2002). yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Bila ini benar. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Perbaikan Struktur Tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. tapi juga bagi tanah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro..

Prihastuti et al. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. yaitu mencapai 70. 6. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Phytat adalah senyawa phospat komplek. dan protein.2.50–90. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. B.4. 1999). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Magnesium (Mg++). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. namun . lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air.tanah. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Seng (Zn++).. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Besi (Fe++). 2002). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. japonicum. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.6 hexakisphospat). phosphor bebas dan mineral. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.33%. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi.3.5. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. khususnya pada tanah yang miskin P.

Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. 1995). hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. 2004). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. adanya asosiasi ini. Bagi tanaman inang. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). . dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Secara tidak langsung. kadar air. 1987). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Sedangkan secara langsung. tanaman tanpa mikoriza) / BK. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 6. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. baik untuk tanaman pangan. spesies cendawan. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. perkebunan. tipe perakaran tanaman inang. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. 1994).sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). 2006). tanaman bermikoriza . temperatur. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 3. baik secara langsung maupun tidak langsung. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. tanaman inang. 1997). Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1.BK. pH. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization".

Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. infiltrasi air hujan rendah.. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.84 g biji/tanaman menjadi 5. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. 1997). Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Kalimantan. . tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.1997).02 g biji/tanaman menjadi 5. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Sulawesi dan pulau besar lainnya.7.1. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.18 mg P/tanaman menjadi 2. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. miskin hara dan bahan organik. kejenuhan Al tinggi.66 mg P/tanaman. Disamping untuk tanaman pangan.13 g biji/tanaman. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.15 mg P/tanaman. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.13 mg P/tanaman menjadi 2. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.98 g biji/tanaman. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

40. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.72 ppm dan tanah Inceptisol. 8. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa .5 ppm. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Tujuannya. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.84 % . Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.66 % . mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. 69. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. 2008). ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.80 % . Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.65 %. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.76 % -21. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Untuk mewujudkan harapannya. sebesar 38. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. dengan kadar P tersedia "rendah" . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Dengan teknologi mikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .90 %.15 %.67. Peningkatan kadar P nira. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.71. Selain itu.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza.

Manfaat 1.Lima hari kemudian. spora dan akar terinfeksi. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. 4. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. telah diberikan Asosiasi . Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. 5. sorgum atau pueraria. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. diaduk merata. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. 6. Tanaman inang dapat berupa jagung. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. 2008). Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. selain untuk meratakan hasil. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2.campuran tanah. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. 3. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 2. bedeng tersebut dapat digunakan. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 3.

dan di kebun percobaan kampus Dermaga. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. satu tablet untuk satu bibit. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.7 sentimeter. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. (3) menggunakan miselia cendawan. Setelah teruji kemurniannya. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Setelah diberikan pada bibit tanaman. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Untuk membuat tablet. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Abdul Madjid. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. Ir. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. yaitu: (1)Parasitik. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Kalimantan. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. Dalam teknik pemberian mikoriza. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Diposkan oleh Dr. Aturan pakainya sederhana. (2)Saprophitik. Tablet ini dibuat dari cendawan. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. seperti: penyakit bercak akar kapas. Setelah itu pil dipecah-pecah. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB.Mycorrhizal Indonesia. Di IPB. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.

dan ciliata. (2)Glomus. seperti: amoeba. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. (3)Simbiotik. jangkrik. (d)Moluska. Ir. semut. flagelata. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. yaitu: (1)Endomycorhiza. Arachnida (lebah. (b) cacing tanah. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Chilopoda (kelabang). Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. dan rayap). dan (3)Ektendomycorhiza. (4)dll Diposkan oleh Dr. (2)Ektomycorhiza. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. Flora Tanah . Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. dan (b)Nematoda. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (3)Acaulospora.dekomposisi bahan organik tanah. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. yaitu: (1) Makro Fauna. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. seperti: omnivorous dan Predaceus. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). Diplopoda (kaki seribu). (c) Arthropoda. Abdul Madjid. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. kutu.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. dan kalajengking)dan Insekta (belalang.

terdiri dari: (a) bakteri. (b) fungi. Ir. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah.2 mm.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. dll. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. dan (d) algae. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). dll. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makro Flora. . 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Diposkan oleh Dr. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makrobia. dan (3) Mikrobia. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Bacillus.2 mm s/d 10 mm. bahwa berdasarkan ukuran.000 bakteri per gram tanah. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). (2) Mesobia. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. (2) Mikro Flora. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Aspergillus. (c) actinomycetes. Abdul Madjid. Selain itu.

Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful