P. 1
Prinsip Enam Benar Dalam Pemberian Obat

Prinsip Enam Benar Dalam Pemberian Obat

|Views: 3|Likes:
Published by Alpajri

More info:

Published by: Alpajri on May 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2013

pdf

text

original

Dorisnita

baik oleh perawat maupun apoteker. . Obat harus dipesan dengan menulis resep. Dokter bertanggung jawab terhadap diagnosis dan terapi. Bila ragu tentang isi resep atau tidak terbaca. penulis resep itu harus dihubungi untuk penjelasan.

. selain itu apoteker bertanggung jawab atas pembuatan sejumlah besar produk farmasi seperti larutan antiseptik. Peran penting lainnya adalah sebagai narasumber informasi obat. Apoteker bekerja sebagai konsultan spesialis untuk profesi kedokteran.  Apoteker secara resmi bertanggung jawab atas pasokan dan distribusi obat. dan lainlain. dan dapat memberi nasehat kepada staf keperawatan dan profesi kesehatan lain mengenai semua aspek penggunaan obat. dan memberi konsultasi kepada pasien tentang obatnya bila diminta.

   Karena obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien. pasien yang sukar menelan. pendengaran. . Perawat yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon pasien terhadap pengobatan. hal itu harus menjadi bagian integral dari rencana keperawatan. maka pemberian obat menjadi salah satu tugas perawat yang paling penting. pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat. Perawat adalah mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Rencana perawatan harus mencankup rencana pemberian obat. lama kerja. Misalnya. Faktor gangguan visual. muntah atau tidak dapat minum obat tertentu (dalam bentuk kapsul). Bila ada obat yang diberikan kepada pasien. harus dipertimbangkan. intelektual atau motorik. efek samping. yang mungkin menyebabkan pasien sukar makan obat. Perawat yang bertanggung jawab bahwa obat itu diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum. dan program dokter. bergantung pada hasil pengkajian.

identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur. harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. respon non verbal dapat dipakai. . Sebelum obat diberikan. misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran. gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.

label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta. Sebelum memberi obat kepada pasien. perawat harus memeriksanya lagi. Jika pasien meragukan obatnya. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya. Jika labelnya tidak terbaca. bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat.  Obat memiliki nama dagang dan nama generik. . isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi. ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat.

Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya. jadi Anda harus tetap hati-hati dan teliti ! . dosisnya berapa ? Ini penting !! karena 1 amp ondansentron dosisnya ada 4 mg. Misalnya ondansentron 1 amp. perawat harus memeriksa dosisnya. ada juga 8 mg. Sebelum memberi obat. perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika ragu. ada juga 1 vial 500 mg. ada antibiotik 1 vial dosisnya 1 gr.

parenteral. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien. topikal. serta tempat kerja yang diinginkan. sifat kimiawi dan fisik obat. sublingual. kecepatan respon yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral. inhalasi. Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. rektal. .

adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai. enteron berarti usus. atau tidak melalui saluran cerna. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN. spray. .   Oral. yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. kata ini berasal dari bahasa Yunani. yaitu melalui vena (perset / perinfus). krim. karena ekonomis. para berarti disamping. losion. tetes mata. Misalnya salep. Parenteral. Topikal. jadi parenteral berarti diluar usus. paling nyaman dan aman.

misalnya salbotamol (ventolin). atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen. dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya. obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Saluran nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas. pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid supp). . berotek untuk asma.  Rektal. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti konstipasi (dulkolax supp). namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria. hemoroid (anusol). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral. Inhalasi. yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. combivent.

untuk memperoleh kadar yang diperlukan. Ini sangat penting. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum sebelum makan. . Ada obat yang harus diminum setelah makan. harus diberi satu jam sebelum makan. untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.

harus didokumentasikan. rute. . Bila pasien menolak meminum obatnya. atau obat itu tidak dapat diminum. waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Setelah obat itu diberikan. dosis. harus dicatat alasannya dan dilaporkan.

vaksin tifoid antara 2 .  Posisi. karena pada umumnya obat itu bersifat termolabil (rusak atau berubah karena panas).  Kedaluwarsa.10°C. Misalnya insulin. yaitu :  Suhu. adalah faktor terpenting. pada tempat yang terang. dapat dihindari dengan cara rotasi stok. bukan tempat umum dan terkunci.Dalam menyimpan obat harus diperhatikan tiga faktor utama. Perhatikan perubahan warna (dari bening menjadi keruh) pada tablet menjadi basah / bentuknya rusak. yang lama diambil duluan. . dimana obat baru diletakkan dibelakang. supositoria disimpan di tempat sejuk < 15°C (tapi tidak boleh beku). letak setinggi mata. vaksin cacar air harus < 5°C. untuk itu perhatikan cara penyimpanan masing-masing obat yang berbeda-beda.

memberi obat yang benar pada waktu yang salah. . atau memberi obat yang benar pada rute yang salah. selain memberi obat yang salah. perawat yang bersangkutan harus segera menghubungi dokternya atau kepala perawat atau perawat yang senior segera setelah kesalahan itu diketahuinya. misalnya lupa memberi obat. memberi obat dua sekaligus sebagai kompensasi. Jika terjadi kesalahan pemberian obat. mencakup faktor lain yang mengubah terapi obat yang direncanakan.  Kesalahan pemberian obat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->