P. 1
Aceh HDR - Bahasa Indonesia

Aceh HDR - Bahasa Indonesia

|Views: 28|Likes:
Published by dimansc

More info:

Published by: dimansc on May 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2013

pdf

text

original

LAPORAN PEMBANGUNAN MANUSIA ACEH 2010

Pembangunan Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat

LAPORANPEMBANGUNANMANUSIAACEH2010

Indonesia

United Nations Development Programme Menara Thamrin Building, Lantai 8 Kav. 3, Jl. M.H. Thamrin P.O. Box 2338, Jakarta 10250 www.undp.or.id
BADAN PUSAT STATISTIK

Pemerintah Aceh

Indonesia

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010
Pembangunan Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat

BADAN PUSAT STATISTIK

Pemerintah Aceh

Indonesia

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

i

ISBN: 978-602-96539-3-9 Naskah: Badan Pusat Statistik, Pemerintah Aceh, UNDP Indonesia Penulis: Hugh Evans Desain tata letak/cover: CV. Aksara Buana Foto: Fakhrurruazi Diterbitkan oleh: United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia

Analisa dan rekomendasi kebijakan dalam laporan ini, tidak dengan sendirinya merefleksikan pandangan Pemerintah Aceh, BPS atau UNDP. Laporan ini, adalah publikasi independen yang diminta oleh Pemerintah Aceh, BPS dan UNDP - PRU (Unit Penanggulangan Kemiskinan). Mitra utama dan lembaga pelaksana dari proyek ini, sebagai bagian dari Pemerintah Aceh, adalah BAPPEDA. Dalam penulisan laporan ini, UNDP-PRU, bekerjasama dengan sebuah tim konsultan dan penasehat terkemuka. Sementara, data-data statistik, disiapkan oleh BPS. Laporan yang ada di tangan Anda ini, adalah hasil dari sejumlah pertemuan konsultasi terbuka yang dilaksanakan di Aceh, dengan melibatkan pemerintah, aktivis masyarakat sipil seperti dari media massa, akademisi dan lembaga donor.

ii

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Kata Pengantar dari Kepala Perwakilan UNDP

L

aporan ini dibuat atas permintaan Pemerintah Aceh dan ini adalah yang pertama untuk tingkat Provinsi di Indonesia, meskipun Pemerintah Provinsi lainnya merencanakan untuk mengikuti.

Tujuan penulisan laporan pembangunan manusia adalah untuk menempatkan pembangunan manusia sebagai titik pusat agenda pembangunan, baik di tingkat nasional maupun lokal. Laporan-laporan tersebut, menyediakan perangkat untuk mengukur dan mengkaji kemajuan, membandingkan indikator kesejahteraan dari berbagai komunitas dan kelompok sosial yang berbeda, serta mengidentifikasi ketidakadilan dan kelompok-kelompok yang tersisih dari proses pembangunan. Yang tak kalah penting, laporan pembangunan manusia juga memacu perdebatan terkait prioritas pembangunan, penyediaan informasi yang mendorong perubahan, meningkatkan perumusan kebijakan dan mempromosikan pemanfaatan dari sumberdaya publik yang lebih baik. Pencapaian di Aceh yang tercatat dalam laporan ini sangat mengesankan, jauh diatas perkiraan orang pada lima atau enam tahun yang lalu setelah terjadi konflik dan bencana alam. Meskipun ada kecemasan akan kegagalan namun Kesepakatan Damai 2005 di Aceh sebagian besar bisa dipertahankan, sambil menyelesaikan berbagai persoalan tersisa. Dukungan yang sangat besar dari komunitas global, telah memungkinkan terjadinya perbaikan hampir seluruh kerusakan dan kehancuran infrastruktur fisik akibat terjangan tsunami pada bulan Desember 2004. Namun, penyembuhan trauma akibat kehilangan kerabat dan penderitaan selama berlangsungnya konflik, masih memerlukan bantuan lebih lanjut. Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kebutuhan untuk membangkitkan perekonomian demi terciptanya lapangan pekerjaan yang produktif bagi semua serta memperbaiki administrasi dan menejemen pelayanan publik untuk memastikan kualitas dan peningkatan akses bagi orang miskin dan mereka yang kurang beruntung. Pesan utama dari laporan ini adalah bahwa cara yang efektif untuk melakukan berbagai hal tersebut dengan memberdayakan masyarakat dan komunitas lokal dalam menentukan sendiri pemanfaatan sumber daya bagi pembangunan daerah. Beberapa contoh telah ada di Aceh dan banyak kesempatan terbuka untuk memperluas pemanfaatannya di berbagai bidang dan pelayanan. Laporan ini, memberikan contoh bagaimana hal tersebut bisa dilakukan. Sementara sebagian besar komentar dan masukan yang diperoleh selama penulisan laporan bernada positif, tak diragukan bahwa sebagian juga bersikap skeptis terhadap rekomendasi yang ada dalam laporan ini. Debat dan diskusi diterima dengan tangan terbuka. Satu dari sekian tujuan Laporan Pembangunan Manusia adalah mengembangkan berbagai pemikiran dan mereformasi praktek yang ada selama ini. Kami berharap bahwa laporan ini dapat memenuhi tujuan tersebut serta membantu pemerintah dan masyarakat Aceh untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi semua warga.

El-Mostafa Benlamlih Kepala Perwakilan UNDP Indonesia
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

iii

Kata Pengantar dari Gubernur Aceh

Assalamu „alaikum Wr. Wb.

H

asil pembangunan yang cukup positif beberapa tahun terakhir, telah mendorong perbaikan kualitas manusia di Provinsi Aceh. Dengan otonomi daerah, pendekatan pembangunan yang sentralistik telah disempurnakan menjadi pendekatan desentralistik yang menempatkan manusia dan keluarga sebagai titik sentral pembangunan. Pendekatan terbaru ini sekaligus dapat diikuti dengan memperhatikan secara cermat kaidah-kaidah tatanan pembangunan manusia dan dukungan yang kuat terhadap pelaksanaan hak-hak (ekonomi, sosial, budaya dan politik) manusia. Pembangunan manusia dan pemberdayaan masyarakat adalah sebuah proses perbaikan kemampuan manusia untuk mengembangkan pilihan dan kesempatan. Pemberdayaan masyarakat mengantar setiap individu berpengetahuan dan berketrampilan agar bisa hidup lebih sejahtera dan lebih terhormat. Dalam era otonomi daerah dewasa ini, dimana kepemimpinan serta pengelolaan pembangunan menjadi sangat dekat dengan sasarannya, terbuka kesempatan mengembangkan pembangunan yang tepat sasaran dan berpihak kepada mereka yang selama ini termarjinalisasi. Proses pembangunan seperti itu, akan mempercepat proses pemerataan peningkatan mutu manusia di Provinsi Aceh. Penempatan manusia sebagai titik sentral pembangunan sekaligus memungkinkan transformasi manusia dari obyek menjadi subyek pembangunan. Laporan Pembangunan Manusia 2010 Provinsi Aceh, diharapkan bisa menjadi acuan untuk mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang bermutu, mandiri dan berbudaya sehingga mampu menghadapi tantangan dalam memajukan provinsi serta berkontribusi dalam memajukan manusia Indonesia dan umat manusia secara keseluruhan. Semoga visi yang termuat dalam laporan ini bisa menjadi dasar pijakan dalam pengambilan kebijakan, pelaksanaan perencanaan dan implementasinya. Wassalamu „alaikum Wr. Wb

Irwandi Yusuf Gubernur Aceh

iv

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Ucapan Terima Kasih

Penghargaan Laporan ini adalah hasil dari kerjasama dan konsultasi ekstensif dengan para pakar dan praktisi dari lembaga serta departemen pemerintahan penting, serta aktivis LSM nasional maupun daerah.
Sejak awal, dua lembaga utama pemerintah, yaitu Pemerintah Aceh dan Badan Pusat Statistik (BPS), terlibat aktif dalam proses penulisan. BPS dan kantor cabangnya di provinsi Aceh, menyumbangkan waktu dan sumberdaya dalam pengumpulan dan memproses data yang sangat kaya untuk laporan ini.

BAPPEDA
Tim BAPPEDA yang dikomandani oleh Ir. Iskandar (dan sebelumnya, oleh Prof. Munirwansyah) dan didukung oleh staf inti seperti Marthunis Muhammad, Warqah Helmi, Syafrigani, Aulia Sofyan, Ir Hamdani, Hasrati dan Lestari Suci, yang selalu memberikan arahan kepada tim penulis laporan ini serta mengorganisir berbagai pertemuan dengan para pakar dan praktisi, baik di BAPPEDA maupun di Satuan Kerja Pemerintah Daerah terkait.

Pemerintah Aceh
Para penulis laporan ini, dengan tulus mengucapkan terima kasih dan penghargaan setingginya kepada Irwandi Yusuf, selaku Gubernur Aceh, juga kepada Husni Bahri Tob, T. Said Mustafa dan Tabrani Usman.

Sekretariat Otonomi Khusus Minyak dan Gas
Tim penulis juga berterima kasih atas dukungan dan masukan yang diberikan oleh Dr. Islahuddin T. Harmawan dan Taufik C. Dawood.

BPS
Tim BPS, yang dipimpin oleh Wynandin Imawan, telah dengan cermat memeriksa akurasi dan konsitensi seluruh data. Tim BPS juga memberikan analisa yang sangat berharga terkait apa yang diungkapkan dalam indeks pembangunan manusia, begitu pula informasi tentang definisi statistik serta mengusulkan metodologi yang pas dalam mempersiapkan laporan ini. Kami sangat berterima kasih kepada BPS dan tim, terutama kepada Nurma Midayanti dan Tiodora H. S., serta staf BPS di Aceh, termasuk La Ode Marwan Hakim dan Yudi Yos Elvin.

Para Kontributor
Studi latar belakang terkait berbagai isu tematik telah dilakukan oleh Satish Mishra, Derry Habir, Alakh Sharma, Katrina Lee-Koo Prabowo. Kami ingin mengucapkan terima kasih atas penelitian dan wawasan mereka. Patrick Barron, sebagai „reader‟ (pakar pembaca) laporan ini, telah memberikan masukan sangat baik (excellent) untuk draft

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

v

akhir Laporan Pembangunan Manusia Aceh. Penghargaan khusus patut diberikan kepada Gull Gulluova yang telah membantu dalam setiap tahapan laporan serta mengkonsolidasi semua data dan statistik.

Kelompok Penasehat
Laporan ini memperoleh manfaat besar berupa nasehat dan arahan intelektual yang diberikan oleh para pakar anggota panel. Panel penasehat ini terdiri dari Dr. Islahuddin, Harry Masyrafah, Dr. Saiful Mahdi, Prof. Yusny Saby, Dr. Ahmad Humam Hamid, Ita Fatia Nadia, Arijanto Komari, Said Ikram, Ingrid-Kolb Hindarmanto, Jean-Piere Paratore, Prof. Abdul Rahman Lubis, Amrina Habibi, Jeff Herbert dan Safriza Sofyan. Partisipan lainnya, termasuk Arman Fauzi, Martin Vane, Rebecca B Domondon, Nur Aisyah Usman, Dr. Nazamuddin, Saifuddin Bantasyam, Dr. Eka Sri Mulyani, Paul Greening, Vivi Sylvia, Dahlan, Hamdani, Hanif Asmara, Elvida, Saiful Mahdi dan Harry M.

dan visi mereka. Perlu juga disampaikan penghargaan atas kontribusi Abdurrahman Syebubakar dari Unit Penanggulangan Kemiskinan - UNDP dan Felicity Pascoe, Genta Konci, yang telah memberikan pengawasan teknis dan administrasi. Terima kasih khusus juga disampaikan untuk UNDP Aceh, terutama kepada Simon Field, Fakri Karim dan Ramon Hagad, serta juga kepada Zulkarnain Lubis dan Teuku Zulfikar yang telah mendukung proses penulisan laporan dengan sangat profesional dan berdedikasi tinggi. Laporan, dengan sangat hati-hati telah di edit oleh Danielle Ide-Tobin. Berbagai foto indah, merupakan kontribusi Fakhrurrazi. Pendanaan laporan ini, berasal dari UNDP, sebagai bagian dari proyek Bantuan Teknis untuk BRR dan Transisi Pemerintahan Aceh. Laporan ini tidak bisa tuntas tanpa dukungan tulus dari banyak orang. Tanpa minatnya yang mendalam terhadap kegiatan ini, kami tak mungkin menyelesaikan Laporan Pembangunan Manusia 2010 dengan kualitas seperti ini.

UNDP
Para penulis juga memberikan apresiasi setinggitingginya kepada Beate Trankmann, Direktur UNDPIndonesia,danStephenRodriques,Wakil Direktur UNDP Indonesia, atas kepemimpinan

vi

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Ringkasan Eksekutif

Saat ini, Aceh menghadapi lima tantangan utama, terkait peningkatan keamanan, upaya mengatasi bencana alam di masa mendatang, pengurangan kemiskinan, kecenderungan menurunnya kesejahteraan perempuan, dan penanganan ketidaksetaraan di daerah-daerah yang kurang berkembang.

Latar belakang Berbagai peristiwa yang terjadi di Aceh belakangan ini, merupakan babak terakhir dalam sejarah panjang dan bergolak sejak Aceh menjadi bangsa pedagang yang kaya dan menguasai Selat Malaka. Namun, tahun-tahun panjang perjuangan militer dan politik, disertai dengan perubahan kondisi ekonomi dan bencana alam yang terus-menerus telah mengakibatkan Aceh menjadi salah satu provinsi termiskin di Indonesia saat ini. Akan tetapi, sejak tsunami Desember 2004, disertai dengan Kesepakatan Damai pada bulan Agustus 2005, masyarakat Aceh dengan dukungan dari masyarakat lainnya, telah mencapai perkembangan luar biasa dalam mengkonsolidasikan perdamaian, menyembuhkan luka-luka konflik dan bencana serta membangun kembali masyarakatnya. Laporan ini, adalah respon terhadap permintaan Gubernur Aceh dan merupakan yang pertama dari sejumlah Laporan Pembangunan Manusia yang direncanakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) untuk beberapa provinsi terpiih di Indonesia. Pemberdayaan Masyarakat Kondisi Sosial

Tema utama Laporan Pembangunan Manusia Berakhirnya konflik dan Kesepakatan Damai Aceh ini, adalah pemberdayaan masyarakat. telah memulihkan situasi menjadi lebih normal di Pemberdayaan masyarakat, dimaksudkan bukan Aceh sehingga memungkinkan perkembangan sekedar berupa partisipasi masyarakat dalam yang lebih baik dalam pembangunan manusia. perencanaan, tetapi juga keterlibatan dalam Program pemulihan secara besar-besaran setelah pengambilan keputusan bersama pemerintah tsunami telah memperbaiki banyak kerusakan atau pendelegasian pengambilan keputusan dan kehancuran yang diakibatkan oleh tsunami ke forum-forum yang mewakili pemerintah, dan konflik. Sebagian besar pengungsi yang konsumen, masyarakat penerima manfaat dan menjadi korban peristiwa-peristiwa tersebut, telah dapat kembali ke rumah atau menetap para pemangku kepentingan (stakeholder). di lokasi-lokasi baru. Banyak perkembangan Cara seperti ini, diyakini paling efektif untuk menjaga perdamaian, meningkatkan pelayanan telah dicapai dalam melakukan reintegrasi para publik dan mempromosikan kesejahteraan mantan pejuang GAM ke dalam masyarakat masyarakat Aceh. Cara ini juga merupakan sipil, meski belum mencakup semuanya. Kondisi sosial yang positif di Aceh saat ini, cara yang lebih tepat untuk memastikan bahwa kebutuhan kelompok yang kurang beruntung memberikan dasar yang memungkinkan bagi dan terpinggirkan, akan tertangani dengan pembangunan manusia secara partisipatif, meskipun penyelesaian pengungsi dan mantan baik.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

vii

pejuang telah menyebabkan gesekan di beberapa kelompok masyarakat. Penyiksaan dan kekerasan dalam rumah tangga, juga masih menjadi persoalan.

Indikator Pembangunan
Berbagai indikator pembangunan Aceh menunjukkan gambaran yang beragam, meski perbandingan dengan provinsi lain tidak dimungkinkan karena metode penghitungan yang berbeda. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh, melangkah maju berbarengan dengan angka nasional hingga tahun 2007, untuk kemudian menurun secara tajam pada tahun 2008, sebagai tahun terakhir ketersediaan data. Hal ini terutama karena penurunan belanja pribadi, yang menggambarkan penurunan berbagai program pemulihan besarbesaran yang pada waktu itu, untuk sementara, menciptakan lapangan pekerjaan yang besar usai tsunami. Dibandingkan dengan daerahdaerah lain di Indonesia, IPM Aceh mengalami peningkatan lebih lambat dalam beberapa tahun terakhir, dengan menduduki peringkat ke-29 dari 33 provinsi pada 2008. Dua indikator lainnya yang terkait dengan pembangunan gender di Aceh menunjukkan tren penurunan selama periode 1996 sampai 2008. Indeks Pembangunan Gender (IPG) tahun 2008, telah menunjukkan sedikit perkembangan, dengan angka sekitar 60, beberapa poin lebih rendah dibandingkan 12 tahun sebelumnya. Sementara itu, Ukuran Pemberdayaan Gender telah bergerak naik-turun selama bertahun-tahun, mulai dari angka tertinggi 57,3 pada tahun 1996 dan berakhir dengan 7 poin lebih rendah pada tahun 2008 pada angka 50,2. Penurunan yang tajam ini, bertentangan dengan apa yang diharapkan, karena angka-angka paling akhir setelah Kesepakatan Damai berada di bawah angka-angka yang dicapai selama periode konflik. Tingkat kemiskinan turun menjadi 22% dibandingkan dengan rata-rata Indonesia sebesar 14 persen. Meskipun demikian, peringkat Aceh terkait Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) meningkat dari peringkat ke-20 dari 26 provinsi pada tahun 1996 menjadi peringkat ke-17 dari 33 provinsi pada tahun 2008. Sementara itu, angka pertumbuhan penduduk di Aceh telah menurun secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir, sebagai akibat dari konflik berkepanjangan, migrasi keluar daerah dan ekonomi yang memburuk.
viii

Di Provinsi Aceh, indikator-indikator tersebut menunjukkan Aceh Bagian Barat dan Selatan secara signifikan kurang berkembang dibandingkan dengan Aceh Bagian Utara dan Timur atau Aceh Bagian Tengah. Kabupatenkabupaten pemekaran, juga terbukti kurang berkembang dibandingkan dengan kabupatenkabupaten sebelumnya, sedangkan kota-kota seperti diperkirakan berkembang lebih maju. Setiap tahun, jumlah kabupaten dan kota yang berada di bawah rata-rata IPM nasional telah meningkat, dari hanya 1 dari 10 kabupaten pada tahun 1993, menjadi semua kecuali satu dari 23 yurisdiksi pada tahun 2008. Hal ini sebagian dijelaskan akibat pemekaran kabupatenkabupaten baru dari kabupaten-kabupaten yang sudah ada. Saat ini, Aceh menghadapi lima tantangan utama, terkait peningkatan keamanan, pengembangan upaya mengatasi bencana alam di masa mendatang, pengurangan kemiskinan, pembalikan kecenderungan menurunnya kesejahteraan perempuan, dan penanganan ketidaksetaraan di daerah-daerah yang kurang berkembang.

Akses ke Layanan Publik
Infrastruktur Dasar: Pada tahun 2005, sekitar satu dari empat rumah tangga masih tinggal di rumah berkualitas buruk dengan pelayanan dasar yang buruk, terutama di Aceh Bagian Barat dan Selatan. Di tingkat kabupaten secara keseluruhan, ada hubungan yang lemah antara kualitas perumahan dan penyebaran penyakit, sebuah hubungan yang biasanya lebih kuat di tingkat rumah tangga. Kualitas perumahan, sebagian besar tergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar, yang pada umumnya menjadi tanggung jawab lembaga pemerintah. Ini menjadi contoh, bagaimana pemberdayaan masyarakat bisa memberikan hasil yang berbeda. Masyarakat lokal penerima dana hibah dari pemerintah, tidak perlu menunggu pemerintah daerah atau pusat untuk memberikan pelayanan ini kepada masyarakat yang kurang memperoleh pelayanan tersebut. Sebaliknya, mereka dapat menentukan penggunaan dana yang dialokasikan, untuk tujuan tersebut atau untuk melakukan perbaikan jika diperlukan. Pendidikan: Aceh menunjukkan kinerja paling baik di antara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia terkait angka partisipasi sekolah,
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

di mana perbedaan meningkat pada setiap tingkat pendidikan. Akan tetapi, hal ini tidak harus diterjemahkan sebagai pendidikan anak-anak yang lebih baik karena kualitas fasilitas pengajaran dan sekolah yang tidak merata. Di tingkat sekolah dan universitas, ada kecenderungan nyata bagi anak-anak di daerahdaerah terpencil untuk pindah ke kota-kota dan kabupaten lain dengan fasilitas yang lebih baik. Seperti di bagian lain di dunia, banyak orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi tetap miskin, karena kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Sektor Pendidikan di Aceh merupakan satu sektor dimana pemberdayaan masyarakat relatif cukup maju. Sejalan dengan petunjuk nasional, komite sekolah yang terdiri dari perwakilan guru, pengurus, orang tua dan siswa (jika perlu) memiliki kewenangan untuk menyiapkan dan menyetujui rencana dan anggaran tahunan. Di tingkat provinsi, forum yang terdiri dari para pemangku kepentingan (stakeholder) dari pemerintah, universitas, masyarakat sipil, LSM, lembaga donor dan lembaga keagamaan Islam mempunyai wewenang untuk menyiapkan dan melaksanakan rencana bagi sektor tersebut. Kesehatan: Meskipun perkembangan besar telah dicapai selama 40 tahun terakhir, tetapi indikator kesehatan menunjukkan bahwa Aceh masih menduduki peringkat pertiga atau perempat terbawah dari semua provinsi. Harapan hidup lebih rendah, anak-anak bergizi buruk dan angka kematian ibu dan bayi yang lebih tinggi. Berbagai masalah tersebut, terutama sangat berat terjadi di Aceh Bagian Barat dan Selatan, dimana satu dari enam orang tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan dalam jarak yang wajar. Hal yang hampir sama berlaku pula di Aceh Bagian Tengah. Ada beberapa bukti bahwa, fasilitas yang lebih baik di kabupaten menyebabkan kesehatan yang lebih baik. Meski kondisi tersebut, masih jarang ada. Sebuah program yang diperkenalkan pemerintah provinsi pada tahun 2009 yang memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada semua warga masyarakat telah meningkatkan permintaan pelayanan. Meskipun program ini bertujuan baik, namun ini belum mewakili penggunaan terbaik dari sumberdaya atau pantas memperoleh dukungan dalam jangka panjang. Ada beberapa peluang untuk menerapkan konsep pemberdayaan masyarakat di sektor kesehatan. Peluang-peluang ini meliputi pembentukan sebuah forum publik-swasta di tingkat provinsi, yang serupa dengan forum
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

pendidikan dan penyelenggaraan forum sejenis di tingkat puskesmas kecamatan. Keahlian para bidan di daerah perdesaan dapat digunakan secara lebih efektif dengan membentuk dan memberikan pelatihan kepada kelompok swadaya masyarakat guna membantu perempuan hamil dan mereka yang memiliki bayi. Kelompok serupa juga dapat ditetapkan dan diberikan pelatihan dengan bantuan tenaga medis untuk tujuan-tujuan lain, seperti melawan kekerasan dalam rumah tangga, memperbaiki kesehatan dan gizi keluarga, serta mengobati kecanduan narkoba dan alkohol. Keadilan: Tidak seperti provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, tiga sistem hukum telah diterapkan secara paralel di Aceh sejak tahun 2001: hukum tata negara Indonesia, sistem adat tradisional, dan hukum syariah. Hal ini sering menimbulkan kekacauan, karena lingkup yurisdiksi yang dicakup oleh setiap sistem mengalami tumpang tindih dan kadangkadang menimbulkan interpretasi yang berbeda. Beberapa hambatan mengakibatkan masyarakat, pertama, tidak dapat mengajukan tuntutan serta, selanjutnya, tidak memperoleh keadilan. Banyak orang tidak mengetahui opsiopsi hukum, mereka tunduk pada tekanan sosial yang ada sehingga mereka terpaksa mengandalkan sepenuhnya pada adat untuk menyelesaikan sengketa, dan mereka yang berada di daerah perdesaan seringkali jauh dari pengadilan. Karena persepsi yang luas tentang penyuapan dan korupsi dalam sistem hukum formal, masyarakat memiliki keyakinan yang lebih besar pada pengadilan syariah. Pengadian syariah ini telah menjadi semakin aktif untuk sejumlah isu-isu hak perempuan, termasuk pemberian perwalian anak kepada perempuan setelah perceraian, pemberian bagian yang sama atas harta gono-gini pada saat perceraian, dan perlindungan hak waris perempuan. Langkah-langkah untuk memberdayakan organisasi berbasis masyarakat dapat membantu meningkatkan akses keadilan melalui kampanye untuk meningkatkan kesadaran hak-hak hukum masyarakat, pemantauan keputusan pengadilan syariah dan peraturan adat, serta pemantauan kinerja polisi agama (wiliyatul hisbah).

Akses ke Kesempatan Ekonomi
Meskipun ukuran PDRB per kapita menyatakan bahwa Aceh merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia, tetapi pengeluaran per
ix

kapita menunjukkan bahwa masyarakat Aceh berada di antara yang termiskin. Berlawanan dengan persepsi umum, rata-rata pengeluaran per kapita tak seimbang di luar kota-kota pada tahun 2008 tidak berbeda jauh di antara semua daerah. Pengeluaran rumah tangga terendah, terdapat di Aceh Bagian Tengah, dan tertinggi – meski hanya sebesar 8 persen - berada di Aceh Bagian Barat dan Selatan. Selama bertahun-tahun, kontribusi terbesar PDRB provinsi berasal dari industri minyak dan gas, meski mengalami penyusutan secara cepat akibat kehabisan cadangan. Penerimaan bantuan terbesar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi setelah tsunami memberikan dorongan sementara bagi perekonomian, tetapi sebagian besar program tersebut, kini telah berakhir. Investasi di daerah tersebut telah diabaikan selama bertahun-tahun, akibat konflik, persepsi yang tetap hidup tentang ketidakamanan, pemerasan, dan isu-isu peraturan yang tidak terselesaikan tentang kegiatan bisnis. Produktivitas kerja di sektor pertanian telah meningkat secara bertahap selama beberapa tahun, tetapi dibandingkan dengan provinsi lain, pertumbuhan PDRB di Aceh memberikan dampak yang lebih rendah pada penciptaan pekerjaan. Angka partisipasi tenaga kerja di Aceh jauh di bawah rata-rata nasional, dan cenderung lebih rendah di kota-kota dan lebih tinggi di daerah perdesaan. Terlepas dari beberapa tahun yang tidak normal sebelum dan sesudah tsunami, jumlah perempuan dalam angkatan kerja masih dalam angka tetap yaitu sekitar 650.000, sedikit lebih rendah dalam dua tahun terakhir dimana tersedia data. Penurunan baru-baru ini mungkin sebagian berkaitan dengan kembalinya para mantan pejuang GAM ke dalam keluarga, sehingga meringankan beban perempuan sebagai pencari nafkah utama. Ratarata upah non-pertanian bagi perempuan di Aceh kurang dari upah untuk laki-laki, kecuali di empat kabupaten. Enam dari sepuluh pekerja di Aceh bekerja di sektor informal, tetapi proporsi ini meningkat menjadi empat dari lima pekerja di Aceh Bagian Tengah, terutama karena kesempatan yang baik untuk produksi kopi arabika. Meskipun sektor informal yang besar biasanya tidak dianggap sebagai tanda kemajuan pembangunan, sektor ini memainkan peran penting di Aceh (dan daerah-daerah lain di Indonesia) dalam memberikan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran terbuka. Salah satu faktor penghambat pertumbuhan lapangan kerja sektor
x

formal di Aceh adalah upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah provinsi, yang merupakan upah minimum tertinggi di Indonesia, yang sebagian mencerminkan laju inflasi di tahun-tahun pasca tsunami. Kendala lain yang dihadapi baik oleh usaha kecil maupun usaha besar, terutama di sektor pertanian, adalah kesulitan memperoleh kredit. Proporsi rumah tangga yang menerima kredit di Aceh lebih rendah dari rata-rata nasional dan lebih mengutamakan kredit konsumsi bagi penduduk perkotaan. Berbagai upaya terbaru yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga donor untuk menciptakan lapangan kerja dan memperluas mata pencaharian di Aceh terutama mengandalkan pada dana hibah dan pinjaman. Meskipun kajian evaluasi biasanya melaporkan hasil yang baik, tetapi berbagai kajian lebih rinci mencakup kelompok pengontrol non-penerima menunjukkan risiko tinggi tanpa keuntungan, khususnya pada usaha-usaha kecil yang secara khusus melayani permintaan rumah tangga dan pasar lokal. Jika Aceh ingin mencapai sukses dalam menciptakan kesempatan yang lebih luas dan produktif bagi masyarakat untuk mencari nafkah, diperlukan upaya-upaya dalam dua bidang luas berikut ini. Di tingkat makro, kelemahan struktural dalam perekonomian perlu ditangani, sedangkan di tingkat mikro programprogram untuk mendukung usaha rumah tangga dan mata pencaharian pribadi harus dihubungkan dengan perubahan struktural yang sedang berlangsung dalam perekonomian makro yang lebih luas. Mesin utama pertumbuhan ekonomi di masa mendatang sebagian akan berasal dari peningkatan belanja pemerintah yang timbul dari Kesepakatan Damai, dan yang lebih penting dari ekspor komoditas pertanian yang ditentukan secara luas mencakup perkebunan, kehutanan dan perikanan. Berbagai upaya diusulkan untuk memberdayakan masyarakat bisnis, yang ditetapkan secara luas, untuk berkerja sama secara lebih efektif dengan pemerintah dalam membentuk kebijakan dan prioritas bagi pembangunan ekonomi. Beberapa hal dapat dijadikan contoh. Dengan pendanaan dari IFC (Intenational Financial Cooporation), sebuah Forum Bisnis Aceh ditetapkan pada tahun 2008 sebagai platform untuk meningkatkan dialog antara pemerintah dan sektor swasta mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dan kegiatan usaha di Aceh. Model kedua dapat diperoleh pada proyek APED (Kerjasama
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

untuk Pembangunan Ekonomi Aceh) yang diimplementasikan oleh UNDP melalui kerjasama dengan BAPPEDA provinsi sejak pertengahan 2006. Pendekatan ini berdasarkan pada pemberdayaan forum publik-swasta untuk industri-industri terpilih dengan yang mempunyai potensi kuat untuk ekspor.

Partisipasi dan Pemberdayaan
Survei terbaru menyimpulkan bahwa kondisi sosial yang positif di Aceh memberikan dasar yang memungkinkan bagi pengambilan keputusan partisipatif. Akan tetapi, bias gender dan pembagian sosial akibat konflik perlu ditangani sebelum partisipasi penuh masyarakat dapat diwujudkan. Secara keseluruhan, telah terjadi perubahan nyata pada dekade terakhir di Indonesia terkait partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Strategi awal untuk mempromosikan perencanaan dari bawah ke atas (bottom up) melalui Musrenbang telah terbukti sangat tidak efektif dalam menghasilkan manfaat bagi masyarakat setempat. Strategi yang lebih baru seperti yang diadopsi dalam program PPK/PNPM-Mandiri secara nasional dan program BKPG di Aceh, mengalokasikan dana hibah (block grant) langsung ke kecamatan dan perdesaan, dan memberdayakan para pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan sendiri tentang penggunaan dana tersebut. Ini merupakan langkah penting ke depan dalam mempromosikan pembangunan manusia sesuai dengan prioritas lokal. Selama satu dekade terakhir, Indonesia juga telah melakukan langkah besar dalam memajukan demokrasi melalui pemilihan langsung anggota majelis dan dewan perwakilan rakyat di semua tingkat pemerintahan dari desa hingga pusat, serta kepala pemerintahan dari kepala desa hingga Presiden. Hal ini menggambarkan prestasi yang luar biasa dalam jangka waktu yang relatif singkat dan merupakan kemajuan penting dalam pembangunan manusia. Pada tahun 2009, sekitar 75 persen dari pemilih terdaftar di Aceh ikut serta dalam pemilihan dewan tingkat nasional, provinsi dan kabupaten. Pada tahun 2008, jumlah dan proporsi perempuan dalam majelis daerah (DPRA dan DPRKs) mengalami peningkatan secara substansial, sebagian karena perkembangan yurisdiksi baru. Angka-angka ini dilaporkan telah
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

menurun setelah pemilu 2009, tetapi data resmi belum dipublikasikan. Data menunjukkan bahwa perempuan telah menduduki 40 hingga 50 persen dari semua posisi untuk staf profesional dan teknis di Aceh setidaknya sejak satu dekade terakhir, meskipun sebagian besar posisi yang diemban tidak memiliki pengaruh yang besar. Sementara itu, proporsi perempuan dalam kepemimpinan jauh lebih rendah, berjumlah di atas 40 persen di beberapa kabupaten, hingga tidak ada sama sekali di kabupaten lainnya.

Alokasi Sumberdaya bagi Pembangunan Manusia
Sejak tahun 2000, pendapatan fiskal yang dikelola oleh pemerintah provinsi dan daerah di Aceh telah meningkat secara dramatis. Dua sumber utama pendapatan ini adalah transfer dari pemerintah pusat, yaitu Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Otonomi Khusus (DAK) untuk Aceh sebagai bagian dalam Kesepakatan Damai dan selanjutnya diundangkan dalam Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) 2006. Dengan pendapatan pemerintah di Aceh yang tumbuh jauh lebih cepat daripada perekonomian lokal, porsi anggaran pemerintah dalam total PDRB meningkat dari hanya 7 persen pada tahun 1999 menjadi sekitar 29 persen pada tahun 2008, yang menekankan potensi peran pembelanjaan pemerintah sebagai mesin bagi pembangunan ekonomi. Meskipun tidak didesain secara khusus untuk melakukan hal seperti itu, formula alokasi DAU telah menghasilkan pendapatan fiskal per kapita yang jauh lebih tinggi bagi banyak kabupaten yang kurang berkembang, khususnya di Aceh Bagian Barat dan Selatan serta Aceh Bagian Tengah. Karena formula DAU lebih tepat untuk yurisdiksi yang lebih kecil maka formula tersebut juga secara tidak sengaja dapat memainkan peran dalam mendorong pemekaran kabupaten-kabupaten baru. Peningkatan pendapatan fiskal di Aceh telah disertai dengan peningkatan serupa dalam pengeluaran publik. Porsi terbesar adalah administrasi pemerintahan, yang meningkat pada angka tahunan sebesar 8 persen antara 2001 dan 2007, sebagian besar karena pemekaran kabupaten-kabupaten baru. Kedua terbesar adalah pendidikan, meskipun sebagai secara keseluruhan, pendidikan telah menurun,
xi

sementara terjadi peningkatan pada porsi infrastruktur, bantuan sosial dan sedikit lebih rendah terkait sektor kesehatan. Pendapatan per kapita yang lebih tinggi antara kabupaten dan kota juga telah diterjemahkan ke dalam pembelanjaan publik per kapita yang jauh lebih tinggi di Aceh Bagian Barat dan Selatan serta Aceh Bagian Tengah. Meskipun pemerintah provinsi dapat menggunakan alokasi sumberdaya fiskal antara pemerintah kabupaten dan kota sebagai instrumen untuk mengimplementasikan kebijakan publik, tetapi kontrol atas penggunaan dana SAF, yang diberikan sejak tahun 2008, bisa menjadi alat yang jauh lebih efektif. Akan tetapi, hal ini mengasumsikan departemen-departemen pemerintah provinsi memiliki kapasitas yang diperlukan untuk mengkaji ulang proposal secara tepat waktu, untuk memberikan dukungan teknis kepada kabupaten dan kota, dan memantau implementasinya.

bih rendah dibandingkan dengan para lelaki di sebagian besar kabupaten Aceh. Partisipasi mereka dalam dewan lokal meningkat, sebelum kembali menukik turun setelah 2008. Yang lebih serius adalah bahwa perempuan menempati posisi senior dengan proporsi yang kecil, dan sebagian besar masih kurang terwakili dalam pengambilan keputusan di tingkat masyarakat. Kekerasan dalam rumah tangga, dengan pelaku laki-laki terhadap perempuan, juga masih menjadi perhatian utama keluarga di Aceh.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan analisa informasi yang ada, laporan ini mendukung enam tujuan utama guna memajukan pembangunan manusia di provinsi Aceh. Memberdayakan Masyarakat untuk Pembangunan: Mungkin satu-satunya instrumen yang paling efektif untuk meningkatkan pembangunan manusia adalah memberdayakan Gender masyarakat untuk mengambil keputusan bersama secara mandiri tentang apa yang perlu diPosisi perempuan dalam masyarakat Aceh telah lakukan. Pemberdayaan ini tidak hanya berarti mengalami kemajuan dalam beberapa hal, te- mempromosikan partisipasi dalam rapat umum tapi beberapa indikator menunjukkan kemun- untuk mendiskusikan berbagai prioritas dan duran di berbagai bidang lain. Masuknya lem- rencana, tetapi juga mengalihkan sumberdaya baga-lembaga internasional setelah tsunami fiskal bagi kelompok-kelompok yang diakui dan membantu mengembangkan kapasitas orga- mendelegasikan wewenang untuk menentukan nisasi masyarakat sipil tentang keadilan gender, cara bagaimana menggunakan sumberdaya terdan telah ada interaksi dan kerja sama yang sebut. lebih besar antara lembaga-lembaga tersebut Memastikan Manfaat bagi setiap Orang: dan pemerintah terkait isu ini. Pengadilan Meskipun beberapa indikator menunjukkan keSyariah telah membantu untuk memajukan majuan dalam pembangunan manusia di Aceh, hak-hak perempuan tentang warisan dan tanah, tetapi penting untuk memastikan bahwa semua tetapi beberapa orang menyatakan bahwa inorang memperoleh manfaat dari kemajuan terpretasi hukum Syariah Aceh dianggap sempit yang dicapai. Semua program pemerintah hadan konservatif. BRR (Badan Rekonstruksi dan rus memberikan perhatian khusus terhadap peRehabilitasi) dan BPN (Badan Pertanahan Nananganan kebutuhan kelompok-kelompok sosional) menetapkan kebijakan untuk Pendafsial tertentu yang mungkin telah diabaikan taran Bersama Harta Gono Gini, tetapi kebi- atau yang tidak mampu untuk mendapatkan jakan tersebut mengalami sukses yang berbedabantuan yang mereka perlukan karena satu dan beda. Di sisi lain, IPG (Indeks Pembangunan lain alasan. Gender) dan UPG (Ukuran Pemberdayaan Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik: Gender) menyatakan tren yang mengecewakan Pelayanan sosial dasar sekarang dapat diakses selama bertahun-tahun. Meskipun partisipasi secara fisik oleh sebagian besar masyarakat di perempuan dalam angkatan kerja terus meningseluruh provinsi. Tantangan utama di masa kat sampai yang tertinggi sebesar 40 persen mendatang adalah peningkatan kualitas pelapada tahun 2002, tetapi sejak itu turun sedikit, yanan ini, terutama di bidang kesehatan dan sebagian karena kembalinya para mantan pependidikan. juang GAM ke keluarga masing-masing. KonMeningkatkan Kesempatan bagi Pekertribusi perempuan terhadap pendapatan kelujaan Produktif: Tujuan utama lainnya di Aceh arga menurun dan tingkat upah rata-ratanya leadalah untuk mengurangi angka pengangguran
xii
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

yang tinggi dan kekurangan lapangan pekerjaan sebagai sarana untuk menurunkan kemiskinan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga. Hal ini penting bukan hanya karena alasan ekonomi tetapi juga sebagai sarana untuk menggunakan investasi secara lebih baik dalam pendidikan dan sumberdaya manusia, dan untuk meningkatkan martabat pribadi dan harga diri. Strategi yang efektif untuk mencapai tujuantujuan ini memerlukan langkah-langkah saling melengkapi baik pada tingkat makro maupun mikro. Aksi-aksi untuk memperkuat ekonomi di tingkat daerah akan membantu menciptakan pekerjaan baru dan memperluas kesempatan bagi mata pencaharian produktif di seluruh Aceh. Menggabungkan Mitigasi Bencana dengan Program Lingkungan: Meskipun tsunami merupakan peristiwa langka, tetapi jenis bencana alam lainnya sering terjadi di Aceh dan secara kumulatif menyebabkan kerugian dan kesulitan besar. Karena strategi dan agenda seringkali saling melengkapi maka upaya-upaya mitigasi bencana harus digabungkan dengan lembaga lain yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Langkah-langkah pengarusutamaan berbagai tindakan untuk mengurangi bencana alam sebaiknya diperkuat dalam program pemerintah dan lembaga donor, khususnya di sektor kehutanan, pertanian dan perikanan. Menggunakan Sumberdaya Publik secara lebih baik: Peningkatan yang sangat besar da-

lam sumberdaya fiskal yang mengalir ke Aceh sebagai hasil dari Kesepakatan Damai dan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) menekankan keharusan untuk meminimalkan penyalahgunaan dan memastikan sumberdaya yang disalurkan untuk berbagai program dan pelayanan yang lebih efektif dalam memajukan pembangunan manusia. Untuk tujuan ini, departemen-departemen pemerintah didorong untuk mengadopsi prinsip-prinsip umum kinerja perencanaan dan penganggaran. Karena pendekatan ini belum dipahami dengan baik di Aceh maka pemerintah provinsi sebaiknya mencari bantuan lembaga donor untuk melaksanakan program pengembangan kapasitas yang luas sehingga staf terkait dapat mengadopsi konsep tersebut. Rekomendasi lainnya: Selain itu, laporan ini memberikan sejumlah rekomendasi untuk sektor-sektor khusus. Rekomendasi-rekomendasi ini meliputi: · Keamanan · Kemiskinan · Perempuan · Infrastruktur Dasar · Pendidikan · Perawatan Kesehatan · Keadilan · Pembagunan Ekonomi, dan · Alokasi Sumberdaya Fiskal.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

xiii

xiv

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Daftar Isi

Nomer ISBN Pengantar Ucapan Terima Kasih Ringkasan Eksekutif Latar Belakang Pemberdayaan Masyarakat Kondisi Sosial Indikator Pembangunan Akses ke Pelayanan Publik Akses ke Kesempatan Ekonomi Partisipasi dan Pemberdayaan Alokasi Sumberdaya dan Pembangunan Manusia Gender Kesimpulan dan Rekomendasi Acronim BAB 1. Pendahuluan 1.1 Pembangunan Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat 1.2 Ukuran Pembangunan Manusia 1.3 Susunan Laporan BAB 2. Kondisi Pembangunan Manusia di Aceh 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.2 2.2.1 2.2.2 2.3 2.4 2.4.1 2.4.2 Peristiwa-peristiwa di Aceh beberapa waktu terakhir Konflik Bencana Alam Pengungsi Kesepakatan Damai Pemulihan dan Rekonstruksi Indikator Pembangunan Manusia di Aceh Aceh dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia Perbedaan-perbedaan di Aceh Sisa Dampak Kesimpulan Tantangan Respon

ii iii v vii vii vii vii viii viii ix xi xi xii xii xx 1 3 5 6 9 11 11 13 13 14 15 15 16 20 25 29 30 30

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

xv

BAB 3. Akses ke Layanan Publik 3.1 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.2.5 3.2.6 3.3 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.3.4 3.3.5 3.3.6 3.3.7 3.3.8 3.3.9 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.4.5 BAB 4. 4.1 4.1.1 4.1.2 4.1.3 4.2 4.3 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4 4.5 4.6 Akses ke Infrastruktur Dasar Perlindungan Perumahan dan Kesakitan Infrastruktur Ekonomi Kesimpulan Akses ke Pendidikan Angka Melek Huruf Dewasa Lama Pendidikan Partisipasi Sekolah Perbedaan Gender Pendidikan dan Kemiskinan Kesimpulan Akses ke Pelayanan Kesehatan Perbandingan dengan Provinsi-Provinsi lain Harapan Hidup Kematian Bayi Layanan Anak Kesehatan Masyarakat Indikator Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan Pelayanan Kesehatan Akes pada Orang-Orang Miskin Kesimpulan Akses ke Keadilan Sistem Hukum yang Paralel Keluhan-keluhan Umum Hambatan Keadilan Pertimbangan Gender Kesimpulan Akses ke kesempatan ekonomi Perekonomian Aceh Ukuran Pendapatan per Kapita di Aceh Pertumbuhan Ekonomi dan Penanggulangan Kemiskinan Investasi Perbandingan Kabupaten Pekerjaan Produktivitas Tenaga Kerja Ciri-ciri Pekerjaan Pekerjaan Perempuan dan Mantan Pejuang GAM Akses ke Sumberdaya Finansial Pendekatan pada Pembangunan Ekonomi di Aceh Kesimpulan

33 35 35 36 36 37 37 38 39 40 42 42 43 45 45 46 47 47 49 50 51 52 52 54 54 55 56 56 59 61 63 63 65 66 67 69 69 71 73 75 77 78 83 85 85 85 86 86 88 88
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB 5. Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat 5.1 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 5.3
xvi

Partisipasi Politik Pemilu Demokratis Aksi Politik Pascakonflik Pemilu 2009 Peran Perempuan dalam Posisi Kepemimpinan Kohesi Sosial Pemberdayaan dan Pengambilan Keputusan

5.3.1 5.3.2 5.3.3 5.3.4 5.3.5 5.3.6 5.3.7 5.4

Musrenbang Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Kerangka Kerja Pemulihan Aceh BKPG Organisasi Masyarakat Bias Gender Pelajaran berharga Kesimpulan

89 89 90 90 90 91 91 93 95 97 97 98 100 101 101 103 106 106 107 108 111 113 115 115 116 116 117 118 118 119 122 123 125 143 157 159 161

BAB 6. Perencanaan dan penganggaran bagi pembangunan manusia 6.1 6.1.1 6.1.2 6.1.3 6.2 6.2.1 6.2.2 6.3 6.3.1 6.3.2 6.4 Pendapatan Sumber Pendapatan Alokasi Sumberdaya Dana Otonomi Khusus Pengeluaran Agregasi Pngeluaran Publik menurut Sektor Pengeluaran per Kapita Sektor Pengeluaran menurut Kabupaten Pengeluaran untuk Pendidikan Pengeluaran untuk Kesehatan Kesimpulan

BAB 7. Kesimpulan dan Rekomendasi 7.1 7.2 7.2.1 7.2.2 7.2.3 7.2.4 7.2.5 7.2.6 7.3 7.4 Kesimpulan Rekomendasi Memberdayakan Masyarakat bagi Pembangunan Memastikan Manfaat bagi setiap Orang Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik Meningkatkan Kesempatan bagi Pekerjaan Produktif Menggabungkan Mitigasi Bencana dengan Program Lingkungan Meningkatkan Penggunaan Sumberdaya Fiskal Rekomendasi bagi Sektor-Sektor Khusus Pemikiran Akhir

Lampiran Statistik Lampiran A: Tabel dan Gambar tambahan Lampiran B: Tabulasi Khusus BPS Referensi Catatan Teknis Metodologi TABEL 2.2 2.3 2.4 2.5 3.1 3.2 3.3 Total Kerugian Tsunami menurut Sektor (Milyar Rp) Pencapaian Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Ringkasan Indikator Aceh 1996 – 2008 Keseluruhan peringkat kabupaten di Aceh menurut Indikator Pembangunan Peringkat Indikator Kesehatan untuk beberapa Provinsi, 2008 Anak-anak Gizi Kurang di Aceh (% usia Balita) Pertolongan Persalinan di Indonesia dan Aceh (%)

13 14 19 24 45 49 49
xvii

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

3.4 Tabel ringkasan Indikator Kesehatan dan Pelayanan menurut Kabupaten di Aceh 51 3.5 Distribusi Tanah menurut Jenis Kelamin di Aceh, 200811 59 4.1 PDRB per Kapita untuk beberapa Provinsi di Indonesia 1978-2007 (Rp sekarang 000) 63 4.2 Pertumbuhan Pendapatan per Kapita di Indonesia dan Aceh, 2005 - 2007 64 4.3 Penyesuaian Pengeluaran per Kapita di Indonesia dan Aceh, 2002, 2008 65 4.4 Investasi menurut beberapa Provinsi di Indonesia 2006 – 2009 66 4.5 Tabel Ringkasan Tingkat Pendapatan per Kapita menurut Kabupaten di Aceh 69 4.6 Prosentase Pekerjaan dan PDRB menurut Sektor di Aceh, 2003 - 2008 69 4.7 Tingkat relatif PDRB per Pekerja menurut Sektor di Aceh 2003 - 2008 70 6.1 Alokasi Pengeluaran Publik per Sektor di Aceh 2001 – 2007 (Provinsi, kabupaten dan kota gabungan) (%) 102 6.2 Pengeluaran per Kapita menurut Sektor bagi Kabupaten dan Kota di Aceh 2001 - 2007 (Rp tetap 2006) 104 GAMBAR 2.1 Kecamatan-Kecamatan dengan Intensitas Konflik Tinggi, Sedang dan Rendah di Aceh 12 2.2 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi di Indonesia, 1996-2008 16 2.3 Perkembangan Pembangunan Terkait Gender di Aceh 1996 – 2008 17 2.4 Angka kemiskinan menurut Provinsi di Indonesia: 1999-2009 18 2.5 Laju Pertumbuhan Penduduk di Indonesia 19 2.6 Perbedaan IPM untuk Seluruh Daerah di Aceh 20 2.7 Tingkat IPM untuk seluruh Kabupaten dan Kota di Aceh, 1993-2008 21 2.8 Skor IPM untuk Kabupaten dan Kota dibandingkan dengan Rata-rata Nasional, 1993-2008 21 2.9 Indeks Kemiskinan Manusia menurut Kabupaten di Aceh 2007 23 2.10 Kekerasan di Aceh: Januari 2005 – Desember 2008 26 2.11 Bantuan dan Konflik menurut Kabupaten di Aceh (Jumlah Konflik, 2008) 28 3.1 Indikator Perumahan dan Kesakitan menurut Kabupaten di Aceh 2008 36 3.2 Indikator Pendidikan di Aceh, 1990-2007 38 3.3 Angka Melek Huruf Dewasa untuk Seluruh Daerah di Aceh 39 3.4 Angka Melek Huruf Dewasa menurut Jenis Kelamin di Aceh, 1996 – 2008 39 3.5 Rata-rata Lama Pendidikan untuk Seluruh Daerah di Aceh 40 3.6 Angka Partisipasi Sekolah di Aceh menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2007 42 3.7 Penduduk Miskin yang lulus Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi 43 3.8 Harapan Hidup untuk Seluruh Daerah di Aceh 46 3.9 Angka Kematian Bayi dan Rasio Harapan Hidup di Aceh, 1971-2007 46 3.10 Angka Kematian Bayi menurut Kabupaten di Aceh 2008 (Per 1000) 48 3.11 Imunisasi Anak Balita menurut Jenis di Indonesia dan Aceh, 2003-2006 50 4.1 Saham Minyak dan Gas dalam Perekonomian Aceh (%), 1983 – 2006. 64 4.2 Dampak Pertumbuhan Ekonomi pada Penanggulangan Kemiskinan di Aceh dan daerah lain 65 4.3 Pengeluaran per Kapita menurut Kabupaten di Aceh (Rp sekarang 2008) 67 4.4 Peranan Pekerjaan dan PDRB dalam Bidang Pertanian di Aceh, 1980 – 2007 71 4.5 Pengangguran dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut Kabupaten Aceh, 2008 72 4.6 Pekerjaan Sektor Informal dan Pengangguran menurut Kabupaten di Aceh, 2008 73 4.7 Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin di Aceh, 1998 - 2008 74 4.8 Rasio Rata-rata Upah Non-pertanian Laki-laki-Perempuan menurut kabupaten di Aceh, 2008 75 4.9 Kesenjangan Kota-Desa dalam Akses ke kredit di Indonesia dan Aceh 2006 dan 2007 76
xviii
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

4.10 Agregasi Jumlah Kredit 5.1 Partisipasi Pemilih di Aceh dalam Pemilu 2009 6.1 Pendapatan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota di Aceh (Rp milyar, harga tetap 2006), 1999 – 2008 6.2 IPM dan Pendapatan Fiskal per Kapita menurut Kabupaten di Aceh, 2007 6.3 Pengeluaran untuk Kesehatan, Pendidikan Administrasi Umum sebagai bagian dari Total Pengeluaran Umum menurut Pemerintah Provinsi di Aceh, 2001 - 2007 6.4 Pengeluaran untuk Kesehatan, Pendidikan dan Administrasi Umum sebagai bagian dari Total Pengeluaran Umum menurut Kabupaten di Aceh, 2001 - 2007 6.5 Rata-rata Pengeluaran Publik per Kapita menurut Kabupaten di Aceh 2006-2007 (Rp 000s) 6.6 Pengeluaran Pendidikan Per Kapita menurut kabupaten di Aceh, 2006 & 2007 6.7 Pengeluaran per Kapita dan Akses ke Fasilitas Kesehatan menurut Kabupaten di Aceh, 2007 KOTAK 1 2 3 4 5 6 7 Proyek Peradilan Aceh Kisah Witni Posko Pendaftaran Tanah Forum Kopi APED Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Forum Pemulihan Kabupaten/Kota Pemberdayaan rakyat bagi pemberian layanan

77 86 90 91 102 103 105 107 108

55 58 58 80 89 91 93

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

xix

Akronim

ACMU AFR AH AHDR AH APED ARI Bappenas BCG BCPR BKPG BKPM BKRA BLT BLU BOK BOS BPD BPN BPP&PA BPS BRA BRR Bukesra Bulog CBO CSO CSRC DAK DAU DPD DPR
xx

: Pembaharuan Monitorisasi Konflik Aceh : Kerangka Kerja Pemulihan Aceh : Aceh Bagian Tengah : Laporan Pembangunan Manusia, Aceh : Aceh Hinterland : Kerjasama untuk Pembangunan Ekonomi Aceh : Institut Penelitian Asia : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : Bacillus Calmette-Guérin : Biro untuk Pencegahan dan Pemulihan Krisis : Bantuan Keuangan Peumakmu Gampong : Badan Koordinasi Penanaman Modal : Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh : Bantuan Langsung Tunai : Badan Layanan Umum : Bantuan Operasional Kesehatan : Bantuan Operasional Sekolah : Bank Pembangunan Daerah : Badan Pertanahan Nasional : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak : Badan Pusat Statistik : Badan Reintegrasi-Damai Aceh : Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi : Badan Usaha Kesejahteraan Penyandang Cacat : Badan Urusan Logisitik : Organisasi Berbasis Komunitas : Organisasi Masyarakat Sipil : Pusat Sumber Daya Masyarakat Sipil : Dana Alokasi Khusus : Dana Alokasi Umum : Dewan Perwakilan Daerah : Dewan Perwakilan Rakyat

DPRA DPT DRR-A

: Dewan Perwakilan Rakyat Aceh : Diphtheria, Pertussis and Tetanus : Pengurangan Resiko BencanaAceh (PRB-A) EDFF : Fasilitas Finansial Pembangunan Ekonomi ERTR : Tanggap Darurat dan Pemulihan Transisional GAM : Gerakan Aceh Merdeka GDI : Indek Pembangunan Gender (IPG) GEM : Ukuran Pemberdayaan Gender GNP : Produk Nasional Bruto (PNB) GoI : Pemerintah Indonesia GRDP : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) HDI : Indeks Pembangunan Manusia (IPM) HDR : Laporan Pembangunan Manusia HKI : Hak Kekayaan Intelektual HPI : Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) IASC : Komite antar Agensi IDP : Pengungsi IFC : Koperasi Keuangan Internasional ISE : Pekerjaan Sektor Informal JKA : Jaminan Kesehatan Aceh JLT : Posko Pendaftaran Tanah KDP : Program Pengembangan Kecamatan Komnas : Komite Nasional KPA : Komite Peralihan Aceh KPN : Kredit Pemakmu Nanggroe KPU : Komisi Pemilihan Umum KRF : Forum Pemulihan Kecamatan/Kota KUBE : Kelompok Usaha Bersama LKM : Lembaga Keuangan Mikro LoGA : Undang-Undang Pemerintahan Aceh MA : Madrasah Aliyah MDF : Multi Donor Fund MDG : Tujuan Pembangunan Millenium Menko Kesra : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat MI : Madrasah Ibtidaiyah MoU : Nota Kesepahaman
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

MT : Madrasah Tarbiyah Musrenbang : Musyawarah Rencana Pembangunan NAD : Nanggroe Aceh Darussalam NEA : Aceh Bagian Utara dan Timur NGO : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) NTB : Nusa Tenggara Barat NTT : Nusa Tenggara Timur NZAID : Badan Pembangunan Internasional New Zealand Otsus : Migas Otonomi Khusus – Minyak dan Gas PA : Partai Aceh PAAS : Partai Aceh Aman dan Sejahtera PBA : Partai Bersatu Aceh PDA : Partai Daulat Aceh PDP : Proyek Pusat Pembangunan Manusia PER : Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perda : Peraturan Daerah PLN : Perusahaan Listrik Negara PNPM : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNS : Pegawai Negeri Sipil PRA : Partai Rakyat Aceh PSIRA : Partai Suara Independen Rakyat Aceh Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RALAS : Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan Aceh

RBA RPJP RSD SAF SD SLB SMA SME SMK SMP SSPDA Susenas TKSK TNA TNI UN UNFPA UNICEF UNORC Unsyiah UU WH WSA YBKM

: Pendekatan Berdasarkan Hak : Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Rumah Sejahtera Darussa’adah : Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus) : Sekolah Dasar : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Menengah Atas : Usaha Kecil dan Menengah (UKM) : Sekolah Menengah Kejuruan : Sekolah Menengah Pertama : Dukungan untuk Keberlangsungan Keamanan Aceh : Survey Sosial Ekonomi Nasional : Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan : Tentara Nasional Aceh : Tentara Nasional Indonesia : Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) : Badan PBB di Bidang Kependudukan : Badan PBB di Bidang Anak : Badan PBB untuk Koordinasi Pemulihan Aceh dan Nias : Universitas Syiah Kuala : Undang-Undang : Wilayatul Hisbah : Aceh Bagian Barat dan Selatan : Yayasan Bina Kitorang Mandiri

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

xxi

xxii

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

1

Pendahuluan

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

1

2

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB

1
Pemberdayaan masyarakat untuk mengambil keputusan mereka sendiri tentang prioritas-prioritas pembangunan dan penggunaan sumber daya merupakan cara yang paling efektif untuk memelihara perdamaian, meningkatkan pemberian layanan publik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh.

Pendahuluan

Daerah yang dikenal sebagai Aceh ini, memiliki sejarah panjang dan bergejolak. Terletak di ujung barat laut pulau Sumatera, rakyat Aceh berkembang menjadi sebuah bangsa kaya dan kuat yang menguasai jalur perdagangan strategis melalui Selat Malaka. Untuk memperluas dan melindungi kepentingan dagang mereka pada abad-abad yang lalu, Kesultanan seringkali terlibat dalam perjuangan melawan negara-negara pesaing di kawasan tersebut. Laporan para pelancong pada abad ke-16 memuji kekayaan istana Sultan dan perlunya memberi penghormatan untuk menjamin keamanan perjalanan. Sebagai salah satu negara pertama yang mengadopsi Islam di Asia Tenggara, rakyat Aceh telah mengembangkan dan mempertahankan identitas budaya yang kuat. Kemudian, mereka melawan upaya Belanda untuk menggabungkan negara tersebut ke dalam Hindia Belanda, dan dibagi sebagai kesepakatan untuk menjadi bagian dari Indonesia setelah kemerdekaan. Kebencian terhadap dominasi orang Jawa dalam administrasi pemerintah daerah merupakan salah satu faktor yang akhirnya mengarah pada konflik berkepanjangan, yang baru berakhir dengan ditandatanganinya Kesepakatan Damai pada tahun 2005.
Seperti daerah lainnya di Indonesia, Aceh didiskusikan untuk Papua dan Nusa Tenggara juga merupakan daerah yang sangat rawan terTimur (NTT). Laporan-laporan tersebut menghadap bencana alam. Meskipun tsunami yang ikuti tradisi laporan global tahunan dan laporan terjadi pada bulan Desember 2004 telah menarik berkala UNDP bagi banyak negara di seluruh perhatian dunia dan dana besar-besaran untuk dunia. Laporan Nasional untuk Indonesia direkonstruksi, tetapi daerah tersebut telah lama terbitkan pada tahun 1996, 2001 dan 2004, dan menderita, dan terus menderita, akibat banyak laporan lainnya dijadwalkan selesai akhir tahun bencana dengan skala yang lebih kecil, terutama ini (2010). gempa bumi, tanah longsor dan banjir. Namun demikian, sejak tsunami, rakyat Aceh dengan dukungan dari pihak-pihak lain, telah 1.1. Pembangunan Manusia mencapai perkembangan luar biasa dalam meng- dan Pemberdayaan Masyarakat konsolidasikanperdamaian,menyembuhanlukaluka dari konflik dan bencana dan membangun Laporan Pembangunan Manusia yang pertama kembali masyarakat mereka. diterbitkan pada tahun 1990 dengan satu tujuLaporan tentang Aceh ini merupakan respon an untuk mengembalikan manusia sebagai titik terhadap permintaan Gubernur dan merupakan pusat pembangunan, dan sebagai sarana untuk yang pertama dari sejumlah Laporan Pembamemperluas diskusi tentang berbagai kecendengunan Manusia yang direncanakan oleh United rungan (trend) dalam pembangunan nasional di Nations Development Programme (UNDP) luar fokus terbatas pada faktor-faktor ekonomi. untuk beberapa provinsi di Indonesia. Laporan- Tujuannya adalah untuk memberikan penilaian laporan untuk provinsi-provinsi lainnya sedang yang luas tentang perkembangan dalam mening3

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

katkan kualitas hidup bagi semua orang, khususnya perempuan, orang-orang miskin dan kurang beruntung. Tujuannya adalah untuk mengkaji faktor-faktor yang membentuk dan bertanggung jawab terhadap kualitas hidup, menekankan keadaan sulit kelompok-kelompok yang kurang beruntung dan terkucilkan, dan membuka jalan ke depan menuju kebijakan yang lebih inklusif bagi pembangunan yang memberikan manfaat kepada masyarakat dari segala lapisan. Baik Laporan Pembangunan Manusia global yang diterbitkan setiap tahun oleh UNDP maupun laporan berkala tentang setiap negara biasanya memasukkan tema utama yang disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa terakhir dan keadaan tertentu. Misalnya, laporan global untuk tahun 2009 memasukkan mobilitas dan migrasi manusia. Laporan Pembangunan Manusia 2007 untuk Bosnia Herzegovina menekankan dimasukkannya kelompok etnis dan agama yang sebelumnya terpinggirkan dalam programprogram pembangunan. Laporan Pembangunan Manusia untuk Indonesia yang segera diluncurkan mengadopsi tema partisipasi dalam pemerintahan daerah. Partisipasi aktif merupakan salah satu langkah menuju pemberdayaan rakyat, yang merupakan tema Laporan Pembangunan Manusia untuk Aceh ini. Melalui pemberdayaan ini dimaksudkan bukan hanya partisipasi dalam perencanaan, tetapi juga berbagi dalam pengambilan keputusan dengan pemerintah atau pendelegasian pengambilan keputusan ke forum-forum yang mewakili pemerintah, konsumen, penerima manfaat dan para pemangku kepentingan (stakeholder). Pemberdayaan masyarakat untuk mengambil keputusan mereka sendiri tentang prioritasprioritas pembangunan dan penggunaan sumber daya merupakan cara yang paling efektif untuk memelihara perdamaian, meningkatkan pemberian layanan publik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh. Cara ini juga merupakan cara yang lebih tepat untuk memastikan bahwa kebutuhan kelompok yang kurang beruntung dan terpinggirkan ditangani dengan baik. Perbedaan antara partisipasi dan pemberdayaan masyarakat perlu ditekankan. Arnstein (1969)2 membuat titik perbedaan yang jelas tetapi sering diabaikan bahwa ada gradasi luas dalam sebuah tangga partisipasi, mulai dari nonpartisipasi (manipulasi) pada anak tangga paling bawah, sampai tokenisme (informasi, konsultasi) pada tingkat menengah, sampai kekuasaan masyarakat (kemitraan, delegasi kekuasaan, dan
4

kontrol masyarakat) menuju puncak tangga. Tipologi ini perlu diingat ketika mengkaji ulang proses-proses partisipatif yang dibahas pada bagian lain dalam laporan ini. Tipologi tersebut juga berguna dalam menekankan bahwa pemberdayaan rakyat pada dasarnya melibatkan redistribusi otoritas dan tanggung jawab. Ruang lingkup pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan manusia bersifat luas, khususnya dalam perencanaan dan implementasi infrastruktur dan pelayanan publik di tingkat masyarakat. Ruang lingkup ini dapat dilihat dari kajian ulang secara singkat terhadap tahap-tahap terkait. · Identifikasi Masalah dan Peluang. Pengetahuan dan pengalaman bersama penduduk setempat mungkin akan menjadi sumber informasi terbaik tentang individu dan kelompok mana saja yang terkucilkan dari program-program pemerintah atau tidak mampu mengakses layanan, dan tentang ide-ide untuk meningkatkan akses. · Prioritas. Demikian juga, penduduk setempat diberi posisi terbaik untuk mengekspresikan tingkat permintaan yang relatif atas proposal-proposal yang berbeda untuk meningkatkan layanan dan mengkaji prioritas dalam mengalokasikan sumberdaya di antara kebutuhan-kebutuhan yang berbeda. Di Kamboja, misalnya, para peserta pertemuan publik mampu mengubah keputusan pemerintah tentang desa-desa mana saja yang paling membutuhkan langkah-langkah pengendalian banjir. · Desain Proyek. Para calon pengguna infrastruktur dan fasilitas layanan yang diusulkan juga dapat memberikan ide-ide penting bagi pembuatan rute jalan, lokasi dan desain fasilitas. Di Palestina, misalnya, warga masyarakat mempercepat penyelesaian isu penting tentang penentuan penyesuaian jalan antardesa yang menimpa sejumlah pertanian, dan membuat rencana yang jauh lebih baik dari rencana yang diusulkan oleh kepala desa untuk jaringan jalan akses pertanian. · Pendanaan. Dana yang tersedia dari sumbersumber pemerintah mungkin tidak memadai untuk membiayai proposal yang diutamakan, tetapi aksi bersama yang dilakukan oleh masyarakat dapat menghasilkan sumberdaya tambahan dalam bentuk uang atau barang sehingga memungkinkan untuk mengimplementasikan proyek. Misalnya, keluarga-keluarga di Kenya terkenal karena melakukan penggalangan dana tambahan
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

bagi sekolah dan layanan pendidikan. Di Laporan ini Malawi, para penduduk desa membuat batu disusun bata untuk pembangunan ruang kelas sesecara khusus kolah, sebuah tugas berat, yang jika tidak diuntuk memlakukan akan memerlukan biaya yang mahal. bantu peme- · PengadaandanPelaksanaan. Banyak lembaga pemerintah dan donor hati-hati dalam rintah dan mendelegasikan wewenang kepada masyamasyarakat rakat setempat untuk pengadaan jasa kontraktor bangunan, LSM atau penyedia seksipil dalam tor swasta lainnya. Akan tetapi di Vietnam, memikirkan misalnya, unit pendukung pemerintah daerah kembali membantu desa-desa untuk mencapai tujuberbagai an ini, yang mengikuti prosedur penawaran transparan yang disaksikan oleh para stakekebijakan dan holder setempat. program · Pembayaran Dana. Demikian juga, banyak pembangunan lembaga pemerintah dan donor lebih memidan penanggulih untuk menangani sendiri pembayaran dana kepada kontraktor. Tetapi di Nepal, milangan salnya, setelah uji coba awal berjalan dengan kemiskinan, baik, UNDP sepakat untuk mendelegasikan dan strategipembayaran dana kepada staff desa dengan tanda tangan bersama dari unit manajemen strategi proyek yang terdiri dari wakil-wakil masyauntuk meningrakat. katkan partisi- · Pengawasan dan Pemantauan. Meskipun pasi aktif staf profesional dipersyaratkan untuk memeriksa spesifikasi teknis pekerjaan yang telah kelompokdiselesaikan oleh kontraktor bangunan, tekelompok tapi unit pelaksanaan proyek di tingkat materpinggirkan syarakat dapat melakukan pengawasan secara dalam pengkeseluruhan. Di Palestina, misalnya, masyarakat di satu desa aktif memantau pembaambilan ngunan perluasan ruang kelas, dengan memekeputusan. riksa tagihan kontraktor terhadap pasokan material, mengawasi pekerjaan yang salah, dan bahkan meminta kontraktor untuk meratakan halaman sekolah dengan kelebihan bahan secara gratis. · Operasi dan Pemeliharaan. Meskipun lembaga pemerintah berupaya keras untuk membangun fasilitas-fasilitas baru, tetapi pemberian dana untuk pemeliharaan biasanya sangat tidak memadai atau tidak ada, sehingga mengakibatkan akumulasi perbaikan yang perlu dilakukan dan kerusakan bangunan dan peralatan secara tetap. Berbagai laporan menyebutkan adanya penundaan yang lama dalam menunggu pemerintah untuk melakukan perbaikan sederhana yang murah, misalnya untuk pompa air di Timor Barat. Tetapi di Nepal, petani telah lama diorganisir untuk mengoperasikan dan memelihara
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

sistem irigasi lokal. Contoh-contoh ini hanya mengacu pada perencanaan dan pelaksanaan infrastruktur dan pelayanan publik. Tetapi ada banyak kesempatan lain untuk memberdayakan rakyat guna memainkan peran penting dalam aspekaspek pembangunan manusia yang lebih luas, yang dijelaskan di bagian lain dalam laporan ini.

1.2. Ukuran Pembangunan Manusia
Selama lima puluh tahun atau lebih, sejak pemerintah pertama kali mulai mengumpulkan data tentang ukuran pembangunan manusia, standard indikator pembangunan nasional adalah produk nasional bruto (PNB) per kapita. Tetapi seperti yang ditunjukkan selanjutnya dalam laporan ini, data tersebut mungkin memberikan gambaran yang keliru tentang kualitas hidup penduduk suatu negara atau daerah. Pada tahun 1990, UNDP memperkenalkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai sebuah cara alternatif untuk mengukur kesejahteraan rakyat. Seperti angka PNB, indeks ini dirancang untuk menghasilkan satu angka yang dapat digunakan dengan mudah untuk membandingkan kondisi di antara negara dan daerah yang berbeda. Akan tetapi, tidak seperti PNB, IPM memasukkan empat dimensi untuk memberikan indikasi kondisi kehidupan yang lebih luas, yaitu harapan hidup, tingkat melek huruf dewasa, rata-rata lama pendidikan dan pengeluaran per kapita yang diukur secara nyata untuk memungkinkan perbandingan dari waktu ke waktu. Sejak itu, UNDP dan organisasi-organisasi pembangunan internasional lainnya telah menciptakan sejumlah indikator lain untuk mengukur aspek-aspek pembangunan yang berbeda. Tiga dari aspek-aspek tersebut dijelaskan dalam laporan ini: Indeks Pembangunan Gender (IPG), Ukuran Pemberdayaan Gender (UPM) dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Meskipun indeks-indeks ini dapat dijadikan sebagai standar untuk memungkinkan perbandingan antardaerah, tetapi rumusan-rumusan yang diadopsi oleh Badan Pusat Statistik di Indonesia telah berubah-ubah selama tahun-tahun tersebut, sebagian tergantung pada ketersediaan dan keandalan data. IPG didasarkan pada empat komponen yang membandingkan data untuk laki-laki dan
5

perempuan dalam hal harapan hidup, melek huruf dewasa, lama pendidikan dan kontribusi terhadap pendapatan keluarga. IPG untuk provinsi meliputi proporsi perempuan dalam DPRD, dalam posisi-posisi pejabat senior, staf manajerial dan teknis, dan dalam angkatan kerja lokal. IPG untuk kabupaten-kabupaten di Aceh menambahkan indikator lain, yaitu ratarata upah non-pertanian. IKM untuk provinsi didasarkan pada proporsi jumlah penduduk yang belum mencapai usia 40 tahun, tanpa akses ke air bersih, tanpa akses ke fasilitas kesehatan, dan proporsi anak balita gizi buruk. IKM untuk kabupaten-kabupaten menambahkan tingkat melek huruf dewasa. Indikator-indikator ini hampir semuanya didasarkan pada data dari lembaga-lembaga pemerintah pusat3, yang pada gilirannya tergantung pada dinas-dinas daerah, kadangkadang sampai ke tingkat desa. Proses pengumpulan, penyusunan dan pengolahan data ini tentang berbagai topik merupakan tantangan besar, terutama bagi negara sebesar Indonesia. Kesenjangan pasti terjadi dalam pengumpulan informasi dan kesalahan-kesalahan dapat timbul dalam pengolahan data, walaupun metode statistik dapat mengurangi kesalahan-kesalahan ini. Seperti yang terlihat selama penyajian draft temuan-temuan laporan ini, beberapa pembaca mungkin mempertanyakan ketepatan angkaangka yang disajikan di sini. Meskipun angkaangka khusus terbuka untuk pertanyaan, tetapi kecenderungan-kecenderungan lebih besar yang dinyatakan oleh data tersebut lebih kuat dan akhirnya apa yang lebih penting.

silkan dari Kesepakatan Damai tahun 2005. Hal ini berhubungan dengan peningkatan bagian pendapatan yang berasal dari minyak dan gas di wilayah tersebut dan dana otonomi khusus bagi Aceh, yang keduanya diundangkan di bawah Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) tahun 2006. Laporan ini dimulai dengan Bab Satu yang mengkaji ulang beberapa konsep dan pendekatan pembangunan manusia dan khususnya gagasan tentang pemberdayaan masyarakat untuk berbagi dalam pengambilan keputusan mengenai berbagai kebijakan dan program pembangunan. Ini adalah konsep terakhir yang disusun untuk memfokuskan pada kelompok kurang beruntung yang seringkali diabaikan dalam penilaian pembangunan manusia. Bab Dua menjelaskan gambaran umum tentang peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di Aceh dan dampaknya pada kondisi pembangunan manusia di provinsi tersebut. Hal ini diukur berdasarkan beberapa indikator gabungan standar, yang dapat digunakan untuk melakukan perbandingan antara Aceh dan provinsiprovinsi lainnya di Indonesia dan di antara kabupaten-kabupaten di Aceh. Bab Tiga dan Empat mengkaji akses ke layanan publik dan kesempatan-kesempatan ekonomi, sebuah faktor kunci dalam menanggulangi kemiskinan dan mengurangi pengucilan sosial. Diskusi tersebut diselenggarakan menurut sektor dan program yang biasanya diadopsi dalam dokumen perencanaan pemerintah. Format ini dimaksudkan untuk mempermudah staff pemerintah guna menggambarkan berbagai temuan dan rekomendasi dari laporan ini dalam rencana dan anggaran 1.3. Susunan Laporan yang mereka buat bagi setiap departemen atau lembaga. Bab Tiga mengkaji akses yang Karena laporan ini merupakan permintaan Pe- berkaitan dengan infrastruktur fisik dasar, merintah Aceh maka laporan tersebut disusun kesehatan dan pendidikan, serta keadilan. secara khusus untuk membantu pemerintah dan Bab Empat meringkas kecenderungan terbaru masyarakat sipil dalam memikirkan kembali dalam perekonomian setempat dan mengkaji berbagai kebijakan dan program pembangunan akses ke kesempatan-kesempatan untuk medan penanggulangan kemiskinan, dan strategi- ningkatkan pendapatan bagi keluarga berkaitan strategi untuk meningkatkan partisipasi aktif dengan pekerjaan, mata pencaharian dan kelompok-kelompok terpinggirkan dalam peng- kredit. Salah satu pertimbangan penting di ambilan keputusan. Dengan mengingat tuju- sini adalah juga akses ke pasar bagi produsen an ini, laporan tersebut disusun di seputar skala kecil. Hal ini penting untuk menghindari tema-tema dan topik-topik yang menyangkut permainan menang kalah (zero sum gain) bagi mereka yang bertanggung jawab terhadap pe- program-program mata pencaharian dan untuk nyusunan rencana pembangunan jangka me- memastikan pertumbuhan jangka panjang dan nengah dan panjang (RPJM dan RPJP) dan kesinambungan pekerjaan dan usaha setempat. penentuan penggunaan yang tepat atas tamBab Lima mengkaji ulang dua faktor lainbahan pendapatan publik yang besar yang dihanya yang sangat penting untuk meningkatkan
6
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

pembangunan manusia dan mempromosikan pelibatan kelompok-kelompok yang kurang beruntung, yaitu partisipasi dan pemberdayaan. Isu-isu ini dibahas berkaitan dengan partisipasi politik dalam pemilu dan pemerintahan, dan dan partisipasi masyarakat dan pemberdayaan dalam pengambilan keputusan lokal, khususnya dalam desain dan alokasi sumberdaya keuangan bagi program-program pengembangan masyarakat. Meskipun pemerintah-pemerintah daerah di Aceh telah mengetahui banyak persoalan yang dibahas dalam laporan ini, tetapi analisa pengeluaran publik menyatakan adanya kesenjangan antara tujuan dan praktek. Bab Enam mengkaji kecenderungan-kecenderungan terbaru dalam pengeluaran publik dan proses perencanaan dan penganggaran. Bab ini mengidentifikasi beberapa alasan ketidaksesuaian antara tujuan dan alokasi sumber daya fiskal, dan mengusulkan cara-cara untuk

mengatasi kesenjangan tersebut. Laporan ini diakhiri dengan ringkasan beberapa temuan penting dan kesimpulan yang muncul dari analisa pembangunan manusia di Aceh, dan memberikan sejumlah usulan dan rekomendasi. Usulan dan rekomendasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh dan untuk mempromosikan pelibatan semua kelompok sosial secara lebih luas terutama mereka yang saat ini kurang beruntung. Dalam penyusunan laporan ini, UNDP menyiapkan sejumlah dokumen dasar yang selesai pada tahun lalu. Dokumen-dokumen ini mencakup beberapa topik, antara lain pelibatan sosial, ketidaksetaraan, gender, keadilan, mata pencaharian, pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran publik. Laporan ini diambil dari dokumen-dokumen dasar ini, dan laporanlaporan lainnya, yang penulisnya disebutkan dalam daftar referensi, halaman 115.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

7

8

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

2

Kondisi Pembangunan Manusia di Aceh

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

9

10

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB

2
Dampak buruk konflik pada struktur sosial di Aceh, selain memperburuk ketidaksetaraan horizontal dan vertikal penduduk, merupakan tantangan berat bagi upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi hidup mereka.

Kondisi Pembangunan Manusia di Aceh

Bab ini memberikan gambaran luas tentang keadaan pembangunan di Aceh saat ini. Bagian 2.1 mengkaji ulang peristiwa-peristiwa besar yang terjadi beberapa dekade terakhir yang menimbulkan dampak negatif dan positif terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Bagian 2.2 menganalisa beberapa ukuran pembangunan yang membandingkan perkembangan di Aceh dengan provinsi lain di Indonesia dan antara kabupaten dan kota di Aceh. Bagian 2.3 menyajikan sejumlah aspek lain dari kesejahteraan sosial yang tidak dijelaskan oleh indikator-indikator kuantitatif. 2.1. Peristiwa-Peristiwa di Aceh beberapa Waktu Terakhir
Indonesia), yang berlangsung lebih dari 30 tahun, menyebabkan kematian 15.000 orang dan menelantarkan lebih dari 30.000 keluarga Beberapa peristiwa yang menimbulkan dampak (PPK-Bank Dunia, 2007). Konflik ini juga besar dan luas terhadap pembangunan manusia menimbulkan kehancuran infrastruktur fisik di Aceh. Konflik politik, bencana alam dan secara luas dan menghambat pemberian dan upaya pembangunan kembali secara besarpemeliharaan layanan publik pemerintah. besaran sejak tahun 2005, telah menimbulkan Dampak buruk pada struktur sosial di Aceh, dampak yang sangat berbeda pada masyarakat selain memperburuk ketidaksetaraan horizontal dan daerah di Aceh. dan vertikal penduduk, merupakan tantangan berat bagi upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi hidup mereka. Dalam tiga dekade 2.1.1 Konflik setelah pernyataan kemerdekaan GAM, perkembangan Aceh menuju pembangunan maAceh memiliki sejarah panjang dan membang- nusia mengalami penurunan dibandingkan gakan sebagai sebuah negara merdeka sebelum dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia Belanda menggabungkan provinsi tersebut dan kemiskinan mengalami peningkatan. Peneke dalam Hindia Belanda pada abad ke-19. tapan pengawasan militer yang sebernarnya Katalisator yang lebih baru bagi gerakan sepa- atas wilayah tersebut oleh angkatan bersenjata ratis dihubungkan dengan ketegangan etnis Indonesia dan masuknya para migran Jawa ke antara rakyat Aceh dan imigran dari Jawa, yang daerah-daerah boom minyak, disertai dengan dianggap akan menduduki posisi-posisi senior dominasi mereka atas pekerjaan sipil dengan di pemerintahan dan diperlakukan secara isti- posisi yang tinggi, semakin memperburuk mewa melalui proyek-proyek transmigrasi yang ketidaksetaraan dan perbedaan di Aceh (Brown memberikan kepemilikan lahan yang relatif 2005). luas (Brown 2005). Sumber lain ketidakpuasan Intensitas konflik yang bersifat relatif di adalah perbedaan antara generasi yang kaya antara kabupaten-kabupaten di Aceh dipetakan pada Gambar 2.1. Pertentangan terjadi paling karena ledakan (boom) minyak di satu sisi, dan mayoritas penduduk setempat yang terus hebat antara kabupaten-kabupaten pesisir di mengalami kemiskinan di sisi lain. timur laut, daerah bagian tengah di utara, dan Konflik bersenjata antara Gerakan Aceh juga tersebar di daerah pantai barat laut dan Merdeka (GAM) dan TNI (Tentara Nasional barat daya jauh. Kota Banda Aceh dan daerah11

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 2.1

Kecamatan-Kecamatan dengan Intensitas Konflik Tinggi, Sedang dan Rendah di Aceh

N W S E

KOTA SABANG BANDA ACEH ACEH BESAR LHOKSUMAWE
PIDIE

BIREUEN

ACEH UTARA

ACEH JAYA BENER MERIAH ACEH TIMUR ACEH BARAT ACEH TENGAH KOTA LANGSA ACEH TAMIANG NAGAN RAYA ACEH BARAT DAYA

GAYO LUES

ACEH TENGGARA ACEH SELATAN

SIMEULUE

ACEH SINGKIL INTENSITAS KONFLIK TINGGI SEDANG RENDAH Tidak ada data
Sumber: BPS

Dibandingkan dengan konflik, tsunami memiliki dampak yang jauh lebih buruk terhadap kehidupan manusia. Jumlah korban tewas akibat tsunami sebanyak 130.000 orang hampir sepuluh kali lipat jumlah yang meninggal akibat konflik, bahkan mungkin lebih dari 37.000 orang hilang, masih belum ditemukan pada tahun 2008.

daerah bagian tengahnya kurang terkena dampak karena adanya pasukan yang kuat dari pemerintah pusat di daerah-daerah tersebut. Dampak konflik tersebut pada infrastruktur ekonomi dan fasilitas sosial cukup parah. (Lihat Lampiran A: Gambar 2.2 dan 2.3.) Separuh atau lebih dari dermaga, kolam ikan dan tambak udang, pasar dan penggilingan padi mengalami kerusakan, dan sampai tingkat yang lebih ren12

dah, juga terjadi pada tanah pertanian, sawah, pabrik, toko dan ternak. Konflik ini menghancurkan mata pencaharian sejumlah besar keluarga di Aceh, termasuk sebagian besar keluarga miskin yang merasa paling sulit untuk pulih dari kerugian mereka. Kerusakan fasilitas sosial bahkan lebih besar dalam hal bangunan dan aset fisik. Konflik tersebut merusak lebih dari separuh fasilitas pada delapan kelompok,
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tabel 2.2

Total Kerugian Tsunami menurut Sektor (Milyar Rp)
Kerusakan Kerugian 0.658 2.408 8.302 3.944 15.312 BiayaTsunami 17.407 8.768 11.821 6.52 44.516

Sektor Sosial Infrastruktur Sektor Produksi Lintas Sektor Total Dampak

16.749 6.36 3.519 2.576 29.204

Sumber: Indonesia: Pengkajian Awal Kerusakan dan Kerugian. Bappenas dan Masyarakat Donor International. 2005

termasuk sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas, dan sebanyak tiga perempat dari pra-sekolah dan klinik kesehatan desa. Akan tetapi, angka-angka ini tidak menggambarkan kerusakan pada struktur sosial. Tidak hanya mata pencaharian yang hancur oleh konflik, tetapi juga modal sosial dan kesejahteraan keluarga juga mengalami kerusakan parah.

2.1.2 Bencana Alam
Gempa bumi besar dan tsunami yang terjadi pada bulan Desember 2004 menyebabkan lebih banyak kerusakan, kehancuran dan korban jiwa, sehingga membuat situasi menjadi buruk bahkan sangat buruk. Bank Dunia (2008) meringkas pengaruh besar tsunami pada Aceh sebagai berikut: “Tsunami 2004 menyebabkan kerusakan fisik yang sangat parah di sepanjang pantai Aceh dengan 130.000 orang meninggal dan 37.000 masih hilang. Selain itu, 500.000 orang menjadi pengungsi karena bencana tersebut. Kerusakan dan kerugian diperkirakan mencapai US$ 4,8 miliar dan sektor produktif saja mengalami kerusakan yang diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar, dengan lebih dari 100.000 usaha kecil hancur dan lebih dari 60.000 petani setidaknya menjadi pengungsi sementara.”

dan pekerjaan perlindungan laut. Dibandingkan dengan konflik, tsunami memiliki dampak yang jauh lebih buruk terhadap kehidupan manusia. Jumlah korban tewas akibat tsunami sebanyak 130.000 orang hampir sepuluh kali lipat jumlah yang meninggal akibat konflik, bahkan mungkin lebih mengingat 37.000 orang hilang, masih belum ditemukan pada tahun 2008. Angka kematian perempuan tidak seimbang dibandingkan dengan laki-laki yang meninggal dalam tsunami. Pada tahun 2005, Oxfam melaporkan bahwa di empat desa yang disurvei di Kabupaten Aceh Besar, jumlah korban selamat laki-laki melebihi jumlah korban selamat perempuan dengan rasio hampir 3 : 1. Beberapa penjelasan telah diberikan untuk menunjukkan ketidakseimbangan ini. Perempuan lebih rentan karena mereka tidak bisa berenang. Mereka berusaha untuk menyelamatkan anak-anak dan orang tua. Pakaian tradisional mereka membatasi kemampuan mereka untuk bergerak lebih cepat. Begitu pula, mereka lebih mungkin berada di rumah pada hari Minggu pagi, dan mereka umumnya tidak memiliki kekuatan fisik untuk berjuang melawan air atau untuk melarikan diri.

2.1.3 Pengungsi

Konflik dan tsunami secara bersama, mengakibatkan pengungsian secara besar-besaran Perkiraan total kerugian tsunami mencapai di seluruh wilayah Aceh. Sebuah studi yang Rp 44 triliun. (Lihat tabel 2.2.) Kira-kira dua dilakukan pada tahun 2005 memperkirakan total jumlah pengungsi hampir mencapai pertiga dari kerugian ini disebabkan oleh kerusakan, sedangkan kerugian menggambarkan 350.000 orang. Kabupaten-kabupaten di kehancuran aset-aset fisik, bukan dampak sepanjang pantai memiliki jumlah pengungsi finansial akibat kehilangan kegiatan. Kerugian yang jauh lebih besar daripada daerah bagian tengah (Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh terbesar akibat tsunami adalah untuk perumahan (Rp 14 triliun) dan sektor-sektor produktif Tenggara), yang menunjukkan bahwa tsunami (Rp 12 triliun) yang masing-masing terdiri merupakan penyebab utama pengungsian. dari sekitar sepertiga total biaya. Kerugian be- (Lihat Lampiran A: Tabel 2.1) Gabungan sar lainnya terjadi pada sektor infrastruktur, ter- pengungsi adalah yang terbesar di kabupaten utama untuk jalan, pengendalian banjir, irigasi Pidie di pantai utara dengan jumlah 65.000
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

13

orang, Aceh Barat (53.000), dan Aceh Besar (40.000), keduanya di pesisir barat laut. Di antara para pengungsi, laki-laki (52%) menunjukkan persentase sedikit lebih besar daripada perempuan (48%). Proporsi pengungsi lakilaki di lokasi tertentu mencapai 56% di kota Banda Aceh dan 55% di Aceh Besar, sedangkan perempuan menunjukkan persentase lebih besar di Langsa (53%) dan di Aceh Tengah (54%), yang berada di daerah bagian tengah dan karena itu dipastikan hampir semata-mata akibat konflik. Terkait catatan yang lebih positif, relokasi pengungsi terjadi dengan sangat cepat. Pada tahun 2009, UNORC melaporkan bahwa kurang dari 0,1% penduduk atau 2.600 orang, masih dianggap sebagai pengungsi. Konflik dan bencana alam juga mengubah struktur banyak keluarga di Aceh. Jumlah perempuan pengungsi mencapai 167.000, 14.319 di antaranya adalah janda dan 20.751 sebagai kepala keluarga. Secara lebih luas, menurut data terbaru terdapat kira-kira 148.000 janda di Aceh pada tahun 2007.4 Proporsi kepala keluarga janda di provinsi tersebut lebih tinggi daripada angka nasional. Ini merupakan akibat lain dari konflik, di mana kemungkinan lakilaki terbunuh lebih besar. (Lihat Tabel 2.3.) Demikian pula, persentase kepala Keluarga yang juga janda secara signifikan lebih tinggi di Aceh dibandingkan rata-rata nasional.

Setelah penandatangan Nota Kesepahaman, GAM melakukan perlucutan senjata sayap militernya, Tentara Nasional Aceh (TNA) dan pada bulan-bulan terakhir tahun 2005, menciptakan dua lembaga baru, Majelis Nasional, yang dipimpin oleh Malik Mahmud, ketua juru runding Aceh di Helsinki, dan Komite Peralihan Aceh (KPA), sebuah badan yang ditetapkan untuk mengawasi demobilisasi para mantan pejuang TNA. Setahun kemudian, pada bulan Agustus 2006, DPR RI mengesahkan Undang-Undang No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang berisi langkah-langkah otonomi khusus berdasarkan ketentuan-ketentuan Nota Kesepahaman tersebut. Pemilihan langsung pertama untuk gubernur, wakil gubernur dan pejabat kabupaten diselenggarakan pada bulan Desember 2006, dengan jabatan gubernur dan
Tabel 2.3 Pencapaian Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Kebutuhan dan Kerusakan 139,195 unit 73,869 ha 2,618 km 22 8 1,927 meninggal 3,415 unit 517 unit 1,089 unit 13,828 unit 669 unit 119 unit 104,500 Perkembangan sampai Agustus 2008 140.304 units 69,979 ha 3,696 km 23 13 39,663 terlatih 1,759 units 1,115 units 3,781 units 7,109 unit 996 unit 363 unit 195,726 penerima bantuan 155,182 terlat

Rumah yang dibangun Tanah pertanian Jalan Pelabuhan Bandara/landasan terb ang Guru Sekolah Fasilitas kesehatan Fasilitas ibadah Perahu Bangunan pemerintah Jembatan Usaha kecil dan menen gah Tenaga kerja
Jakarta 22 September 2008

2.1.4 Kesepakatan Damai
Kejutan tsunami pada bulan Desember 2004 diyakini banyak orang sebagai katalisator Kesepakatan Damai yang dilakukan pada bulan Agustus 2005. Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan GAM yang ditandatangani di Helsinki meliputi beberapa ketentuan penting. Para pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata dalam konflik tersebut; perlucutan senjata dan demobilisasi pasukan bersenjata GAM, penarikan pasukan darurat pemerintah pusat dan polisi di Aceh, amnesti bagi semua orang yang berpartisipasi dalam kegiatan GAM, dan penyelenggaraan Pemilu. GAM juga menghentikan tuntutannya untuk kemerdekaan, sementara pemerintah pusat sepakat untuk memberikan tingkat otonomi daerah kepada Aceh yang lebih luas daripada yang diperoleh oleh setiap provinsi lainnya di Indonesia, disertai dengan tambahan dana publik yang besar dan hak untuk membentuk partai-partai politik lokal.
14

Sumber: Status Program Rekonstruksi dan Kesiapan Menuju Transisi. Pertemuan Panitia Pengarah MDF Ke-17,

wakil gubernur dimenangkan oleh para mantan anggota GAM. Akan tetapi, dalam melakukan persiapan pemilu, keretakan terjadi dalam tubuh GAM antara pengawal lama yang masih berada di Swedia dan generasi muda di Aceh. Terpilihnya Irwandi Yusuf sebagai Gubernur dan Muhammad Nazar sebagai Wakil Gubernur menandakan kemenangan bagi kelompok kedua. Pemilu 2006 diikuti dengan pemilu anggota DPRD di tingkat provinsi, kabupaten dan kota pada tahun 2009. Peristiwa-peristiwa ini disambut dengan gembira oleh sebagian besar rakyat Aceh, yang merasa lelah oleh tahun-tahun pertempuran, kematian dan kehancuran. Dengan beberapa
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

pengecualian yang relatif kecil, perdamaian telah tercipta dan stabilitas sosial telah pulih, sehingga menjadi dasar bagi pemulihan ekonomi dan memperlancar jalan bagi program rekonstruksi dan rehabilitasi secara besarbesaran, yang dimulai tepat setelah tsunami pada bulan Desember 2004.

2.1.5 Pemulihan dan Rekonstruksi
Seperti telah banyak dilaporkan di tempat lain, tsunami mendorong masyarakat internasional untuk memberikan bantuan sumberdaya dan teknis kepada semua daerah yang terkena dampak. Aceh menerima bagian yang lebih besar, sebanyak $9,0 miliar, melebihi beberapa perkiraan, atau setara dengan $2.000 per orang. Kesepakatan Damai pada gilirannya menghasilkan tambahan pendanaan donor untuk mengkonsolidasikan kesepakatan-kesepakatan, meskipun jauh lebih kecil dibandingkan bantuan untuk tsunami. Upaya penyelamatan dan pemulihan dimulai hampir segera setelah tsunami. Beberapa lembaga donor internasional sepakat untuk membentuk Multi Donor Fund bagi Aceh dan Nias, sebuah pulau di Provinsi Sumatera Utara yang juga terkena dampak parah, yang memperoleh lebih dari $ 600 juta. Sementara itu, pada bulan April 2005, pemerintah pusat menetapkan sebuah badan khusus untuk menangani pemulihan, yaitu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR), dengan tugas selama empat tahun yang berakhir pada bulan Maret 2009. Ketentuan-ketentuan khusus dalam undangundang yang menetapkan BRR memungkinkannya untuk melewati berbagai peraturan pemerintah yang rumit sebagai sarana untuk mempercepat dukungan dan implementasi program. Untuk memastikan bahwa jumlah sangat besar yang disumbangkan bagi upaya bantuan digunakan dengan benar dan efisien, langkah-langkah khusus dilakukan untuk mempekerjakan staf berkualifikasi tinggi pada tingkat gaji yang tinggi, untuk menetapkan prosedur yang ketat bagi manajemen dan monitorisasi keuangan, dan untuk menggunakan konsultan dan kontraktor sektor swasta secara luas. Pada akhir tugas empat tahunnya, BRR telah mencapai track record (rekam jejak) yang mengesankan dan menetapkan dirinya sebagai

sebuah model untuk diikuti oleh pihak-pihak lain dalam situasi pasca-bencana. BRR memberikan kontribusi besar bagi pemulihan daerah tersebut dari bencana alam. (Lihat Tabel 2.4). Misalnya, pembangunan 120.000 rumah merupakan faktor penting untuk secara cepat mengurangi jumlah pengungsi yang disebutkan sebelumnya. Proyek pelabuhan dan jalan membantu mempercepat pengiriman pasokan dan memperbaiki jaringan transportasi. Perbaikan dan pembangunan sekolah dan fasilitas kesehatan di beberapa daerah lebih dari menutup kerugian akibat konflik dan tsunami. Sebagai bagian dari upaya pembangunan perdamaian, pemerintah pusat juga mendirikan Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA). Meskipun BRA telah berhasil menetapkan langkahlangkah penting, tetapi perselisihan internal telah menghambat pencapaian keberhasilan yang lebih luas dan sebagai akibatnya masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan berkaitan dengan reintegrasi para mantan pejuang ke dalam masyarakat sipil.

2.2. Indikator pembangunan manusia di Aceh
Bagian ini menganalisa empat indikator yang dijelaskan pada Bab Satu, yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Kemiskinan Manusia (IKM), Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Ukuran Pemberdayaan Gender (UPG). Bagian 2.2.1 membandingkan indikator-indiktor untuk Aceh dengan provinsiprovinsi lainnya di Indonesia, sedangkan Bagian 2.2.2 menggunakan indikator-indikator ini untuk menyatakan perbedaan-perbedaan di antara kabupaten dan kota di Aceh. Pembaca pada umumnya mengharapkan agar berbagai indikator ini dapat menjelaskan dampak yang menghancurkan dari masa konflik dan kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami. Akan tetapi, seperti dinyatakan pada halaman-halaman berikutnya, hal ini tidak selalu terjadi. Akan tetapi, indikator-indikator tersebut menunjukkan gambaran campuran tentang perkembangan di beberapa daerah dan kemunduruan di daerah lainnya, yang menyajikan sebuah tantangan tentang bagaimana menginterpretasikan informasi tersebut dengan cara paling tepat.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

15

Gambar 2.2 80.00 75.00 70.00 65.00 60.00 55.00

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi di Indonesia, 1996-2008

1999

2002

2004

2005

2006 Sumatera Utara Papua

2007

2008

Nanggroe Aceh Darussalam DKI Jakarta Nasional
Sumber: BPS

Aceh, mencatat kecenderungan mengecewakan selama kurun waktu 1996 hingga 2008, tahun 2.2.1 Aceh dibandingkan dengan Provinsi terakhir ketersediaan data. (Lihat Gambar 2.3.) lainnya di Indonesia Indeks Pembangunan Gender (IPG) telah meIndeks Pembangunan Manusia: IPM untuk nunjukkan sedikit perkembangan, yang berada Aceh merupakan persoalan yang sedang di- di sekitar angka 60 pada tahun 2008, beberapa poin lebih rendah dibandingkan 12 tahun sebicarakan. Terlepas dari semua pergolakan di provinsi tersebut, IPM secara mengejutkan belumnya. Sementara itu Ukuran Pemberdayaterus berkembang hampir selangkah dengan an Gender (UPG) telah bergerak naik dan tuangka nasional hingga tahun 2007. Terjadi ke- run selama bertahun-tahun, mulai dari yang tertinggi sebesar 57,3 pada tahun 1996 dan, naikan dari 65,3 pada tahun 1999, mencapai angka tertinggi sebesar 70,4 pada tahun 2007, menjadi 50,2 atau sekitar 7 poin lebih rendah pada tahun 2008 . tidak jauh di bawah provinsi tetangga Sumatera Hal ini sangat bertentangan dengan apa Utara. (Lihat Gambar 2.2). Ini menjadi kineryang diharapkan, karena angka-angka paling ja yang patut dibanggakan, meskipun dibandingkan dengan provinsi lainnya, Aceh turun akhir setelah Kesepakatan Damai berada di bawah angka-angka yang dicapai selama tahundari urutan ke-9 dalam peringkat nasional pada tahun 1996 menjadi urutan ke-15 pada tahun tahun konflik. Penurunan minimal pada IPG selama bertahun-tahun, tampaknya sebagian 2002. Terakhir, dengan angka 67,15 mengalamai penurunan tajam dengan menempati urutan disebabkan oleh kesenjangan yang lebih besar ke-29 pada tahun 2008. Periode ini, mencatat pada tingkat melek huruf (literacy) antara laki-laki dan perempuan dan sebagian karena dampak negatif dari tahun-tahun terakhir konflik dan tsunami pada akhir tahun 2004, serta penurunan yang lebih nyata pada kontribusi perempuan terhadap pendapatan keluarga. Yang sebaliknya, dampak positif dari empat tahun program pemulihan. Kenaikan sebelumnya pa- terakhir mungkin menggambarkan berakhirnya pertempuran dan kembalinya laki-laki ke dalam da IPM ditambah dengan penurunan peringkat menunjukkan bahwa provinsi-provinsi lain keluarga yang mampu melakukan kegiatantelah mengalami perkembangan yang lebih kegiatan untuk memperoleh pendapatan. Ukuran Pemberdayaan Gender (UPG) sapesat. ngat rentan terhadap kenaikan dan penurunPembangunan Gender. Dua indikator lain an karena masuknya komponen yang menceryang terkait dengan pembangunan gender di
16
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

minkan proporsi perempuan di DPRD, yang sangat berbeda-beda dari satu pemilu ke pemilu yang lain. Akan tetapi, UPG merupakan komponen penting, karena perempuan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, termasuk undang-undang dan peraturan tentang isuisu yang berhubungan dengan kesejahteraan perempuan. Faktor lain yang berkontribusi terhadap penurunan UPG adalah turunnya proporsi perempuan dalam angkatan kerja, sekali lagi mungkin akibat dari berakhirnya pertempuran, yang mungkin telah mengurangi beban perempuan sebagai pencari nafkah utama. Beberapa orang mungkin menginterpretasikan kecenderungan dalam berbagai indikator terkait kemajuan peran perempuan sebagai bias gender yang telah mengakar dalam masyarakat Aceh, terutama keanggotaan mereka di DPRD dan partisipasi mereka dalam angkatan kerja. Tetapi faktor-faktor lain tidak mendukung pernyataan tersebut. Ukuran yang lebih tinggi pada beberapa tahun sebelumnya lebih mungkin mencerminkan peran penting perempuan dalam masa-masa konflik. Kenaikan atau penurunan proporsi perempuan dalam posisi senior dan teknis dalam beberapa tahun diimbangi dengan penurunan dan peningkatan partisipasi mereka yang berbeda dalam angkatan kerja. Penurunan akhir-akhir ini terhadap proporsi perempuan dalam angkatan kerja kemungkinan sebagian

merupakan refleksi dari berakhirnya konflik dan reintegrasi para mantan pejuang, menjadi pekerja. Meskipun rasio pekerja perempuan terhadap laki-laki sangat rendah di Aceh dibandingkan dengan rata-rata nasional, tetapi hal ini tidak menyatakan bias gender secara a priori. Industri-industri yang telah menciptakan sejumlah besar kesempatan baru bagi tenaga kerja perempuan sejak akhir tahun 1970-an, seperti tekstil, alas kaki dan jasa-jasa bernilai rendah, terletak di kota-kota besar utama, tetapi tidak di Aceh. Peran dominan pertanian, kehutanan dan perikanan dalam perekonomian setempat, disertai dengan tenaga kerja khusus pada industriindustri minyak dan gas di provinsi tersebut, menunjukkan bahwa faktor-faktor lain di samping bias gender menjelaskan partisipasi perempuan yang relatif rendah dalam angkatan kerja. Perlu diperhatikan pula bahwa perempuan seringkali dipekerjakan dalam bidang pekerjaan berupah rendah, yang tercermin pada kontribusi mereka terhadap pendapatan keluarga, sebuah faktor yang dimasukkan dalam IPG. Kemiskinan. Dua ukuran standar kemiskinan adalah angka kemiskinan, yaitu proporsi penduduk dengan pendapatan (baca pengeluaran) di bawah ambang batas yang cukup untuk menutup biaya-biaya hidup dasar, dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM), yang

Gambar 2.3 70.0 60.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0

Perkembangan Pembangunan Terkait Gender di Aceh 1996 – 2008

1996 1999 2002 2008

IPJ
Sumber: BPS

IDJ

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

17

Gambar 2.4 60.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0

Angka kemiskinan menurut Provinsi di Indonesia: 1999-2009

1999 Aceh
Sumber: BPS

2002

2005 Sumatera Utara

2006

2007 DKI Jakarta

2008 Papua

2009 Nasional

dibahas di bawah ini pada Bagian 2.2.2. Analisa angka kemiskinan juga menunjukkan bahwa Aceh memiliki kinerja yang buruk dibandingkan sebagian besar provinsi lainnya. (Lihat Gambar 2.4.) Dampak menurunnya pertumbuhan PDB dan meningkatnya ketimpangan pendapatan selama kurun waktu sejak pertengahan tahun 1990-an menunjukkan hasil nyata, yang menyebabkan meningkat tajamnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan. Pada tahun 1996 angka kemiskinan di Aceh mencapai 12,7 persen hampir sama dengan rata-rata nasional. Krisis keuangan tahun 1998 meningkatkan angka kemiskinan di seluruh Indonesia, meskipun lebih lambat di Aceh. Sebagian besar tempat-tempat lain mengalami penurunan setelah tahun 1999, tetapi sebagian karena meningkatnya konflik horisontal yang disertai respon militer yang keras. Angka kemiskinan di Aceh terus meningkat, yang mencapai angka tertinggi sebesar 30 persen pada tahun 2002, dengan peringkat di atas empat provinsi terbawah6. Sejak itu, sejalan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, angka kemiskinan Aceh terus menurun, meski masih jauh di atas sebagian besar provinsi lainnya. Pada tahun 2009, tingkat kemiskinan di Aceh turun menjadi 22 persen dibandingkan dengan 14 persen untuk Indonesia secara keseluruhan. Menurut sensus 2010, angka-angka ini telah
18

turun masing-masing sebesar 1 persen, dengan Aceh yang saat ini menduduki peringkat ke-7 dari bawah di antara semua provinsi . Perbandingan empat indikator Aceh dengan provinsi lain, dari waktu ke waktu, menyebabkan terjadinya penurunan besar atas peringkat Aceh. (Lihat Tabel 2.5.). Terlepas dari tingginya angka kemiskinan di Aceh, menurut IKM peringkatnya meningkat dari urutan ke-20 dari 26 provinsi pada tahun 1996 menjadi urutan ke-17 dari 33 provinsi pada tahun 2008. Peringkat Aceh baik untuk IPG maupun UPG juga turun masing-masing dari urutan ke-20 dan ke-19 pada tahun 1996 menjadi urutan ke-27 dan ke-29 pada tahun 2008. Akan tetapi, untuk sementara, Aceh menduduki peringkat jauh lebih tinggi pada perhitungan tahun 1999 dan 2002, meskipun skornya lebih rendah dibandingkana tahun 1996. Sepertinya ada sesuatu yang salah di sini. Sebagian penjelasan, terkait pemekaran tujuh provinsi baru antara 1999 dan 2008, yang cenderung menurunkan peringkat untuk semua provinsi, khususnya pada tahun 2008 dan bagi provinsi-provinsi yang lebih dekat dengan bagian paling bawah tabel. Kemungkinan penjelasan lain muncul dari lingkup tersebut untuk berbagai kesalahan baik dalam pengumpulan data maupun penghitungan, dan berbagai interpretasi metode penghitungan oleh tim yang
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tabel 2.4

Ringkasan Indikator Aceh 1996 – 2008 IPM IPG 63.6 59.0 62.1 na 61.4 20 8 5 27 UPG 57.3 52.4 55.5 na 50.2 19 6 5 29 IKM 28.9 31.4 28.4 na 16.5 20 23 23 17 26 26 30 33 Provinsi

1996 1999 2002 2005 2008 Rank 1996 Rank 1999 Rank 2002 Rank 2008

69.4 65.3 66.0 69.0 67.1 9 12 15 29

Catatan: Data untuk IPG, UPG dan IKM untuk Aceh 2005 tidak tersedia. Sumber: BPS

berbeda di setiap provinsi. Singkatnya, meskipun peringkat dapat meramaikan diskusi, tetapi kecenderungan indikator, memiliki arti lebih. Pertumbuhan Penduduk. Meskipun laju pertumbuhan penduduk itu sendiri bukan merupakan indikator pembangunan, tetapi laju pertumbuhan penduduk mencerminkan dampak kekuatan-kekuatan yang lebih besar di tempat kerja dalam perekonomian lokal dan masyarakat pada umumnya. Di Aceh, laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. (Lihat Gambar 2.5.) Meskipun laju pertumbuhan penduduk turun di seluruh Indonesia, tetapi pertumbuhan penduduk di Aceh menurun jauh lebih cepat, dari sekitar 3 persen per tahun selama kurun waktu

1971 – 1980 menjadi hanya 0,5 persen per tahun selama kurun waktu 2000 – 2005. Penurunan ini hanya disebabkan oleh tiga faktor, yaitu kematian yang lebih tinggi, penurunan angka kelahiran dan migrasi keluar Aceh. Tidak diragukan lagi, angka kelahiran menurun sebagian diakibatkan oleh terganggunya kehidupan keluarga yang disebabkan oleh konflik, yang juga meningkatkan kematian tidak hanya di antara para pejuang tetapi juga para simpatisan yang dicurigai. Sementara itu, migrasi keluar Aceh dipercepat, akibat konflik maupun melemahnya perekonomian, karena lakilaki muda berusaha untuk menghindari keterlibatan dalam pertempuran dan banyak lakilaki lainnya mencari pekerjaan di tempat lain. Proyeksi Bappenas dan lembaga lainnya, laju

Gambar 2.5 3.50 3.00 2.50 2.00 % 1.50 1.00 0.50 0.00

Laju Pertumbuhan Penduduk di Indonesia

1971-1980

1980-1990 1990-2000

2000-2005

2005-2010

2010-2015 2015-2020 Papua

Indonesia

Nanggroe Aceh Darussalam

Sumber: Sensus penduduk (1971, 1980, 1990, 2000) dan Supas 2005; Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025 (Bappenas, BPS, UNFPA-2005)

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

19

pertumbuhan akan terus menurun setelah tahun 2005. Tetapi antisipasi ini didasarkan pada kecenderungan masa lalu dan, boleh jadi, tidak tepat. Hal ini terjadi di Aceh mengingat berakhirnya konflik dan dorongan sementara terhadap pekerjaan dari program-program pemulihan secara besar-besaran setelah tahun 2004. Hasil sensus penduduk 2010 akan menunjukkan apakah proyeksi tersebut benar adanya.

Aceh. (Lihat Gambar 2.6.) Kenaikan awal antara tahun 2002 dan 2005 cukup penting, khususnya di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan, sebelum terjadi penurunan yang lebih kecil di seluruh daerah pada tahun 2008. Skor IPM di setiap kabupaten dan kota sangat bervariasi pada setiap tahun pengukuran, sebagaimana ditunjukkan oleh neraca vertikal pada Gambar 2.7. Pada tahun 1993, misalnya, skor tersebut berkisar dari yang terendah sebesar 62 di Aceh Tenggara sampai yang tertinggi 2.2.2 Perbedaan-Perbedaan di Aceh (75) di Banda Aceh, selisihnya 13 angka. Sejak itu, kisaran skor tersebut telah mengecil selama Bagian ini mengkaji indikator-indikator pembertahun-tahun dengan rata-rata sedikit lebih bangunan kabupaten dan kota di Aceh. Untuk besar dari 9 angka sejak tahun 2006, dan tujuan analisa, kabupaten dikelompokkan mendengan skor terendah pada tahun 2008 sebesar jadi tiga daerah: Aceh Bagian Utara dan Timur, 63 di Gayo Lues dan tertinggi sebesar 72 di Aceh Bagian Barat dan Selatan, dan Aceh Ba- Banda Aceh. gian Tengah. Kota dikelompokkan secara terKetika membandingkan IPM untuk kabupisah. Setelah undang-undang tentang otonomi paten dan kota7 di Aceh dengan rata-rata nasional, terjadi kejutan lain. Terlepas dari dua tapemerintah daerah dimulai tahun 1999, jumlah hun dimana IPM mengalami penurunan secara kabupaten di Aceh telah meningkat dari 13 tajam pada tahun 1999 dan 2008, agregasi IPM menjadi 23. Peningkatan ini menyulitkan untuk melakukan perbandingan kinerja secara untuk provinsi meningkat secara tetap. Namun tepat dari waktu ke waktu. Untuk membantu di setiap tahun, jumlah kabupaten dan kota pembaca lebih memahami apa yang sedang yang berada di bawah rata-rata IPM nasional terjadi, tabel-tabel yang menyebutkan kabupa- telah meningkat. Pada tahun 1993, hanya 1 dari ten-kabupaten diatur sedemikian rupa sehingga 10 kabupaten di Aceh berada sedikit di bawah kabupaten-kabupaten baru yang dibentuk dari tingkat nasional. (Lihat Gambar 2.8) Pada saat kabupaten-kabupaten yang sudah ada disebut- terjadi Tsunami, n Desember 2004, 12 dari 21 kabupaten berada pada atau di bawah angka kan secara langsung di bawah kabupaten lama. nasional. Pada tahun 2008, proporsinya meAntara Indeks Pembangunan Manusia. tahun 2002 dan 2008, IPM mengalami ke- ningkat secara dramatis dengan semua kecuali Banda Aceh berada di bawah rata-rata nasional. naikan kemudian menurun di semua daerah di
Gambar 2.6 Perbedaan IPM untuk Seluruh Daerah di Aceh

72.0 70.0 68.0 66.0 64.0 62.0 60.0 58.0 Aceh Bagian Utara dan Timur
Catatan: IPM tertimbang untuk setiap daerah Sumber: BPS

Aceh dan Bagian Selatan Barat

Dataran Tinggi Aceh 2002 2005

2008

20

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 2.7 80.0 78.0 76.0 74.0 72.0 IPM 70.0 68.0 66.0 64.0 62.0 60.0
Sumber: BPS

Tingkat IPM untuk seluruh Kabupaten dan Kota di Aceh, 1993-2008

Aceh

1993

1996

1999

2002

2004

2005

2006

2007

2008

Kecenderungan ini dapat diamati tidak hanya di Aceh tetapi juga di banyak provinsi di seluruh Indonesia. Setidaknya di Aceh, dan mungkin di tempat lain di Indonesia, kecenderungan tersebut sebagian disebabkan oleh pemekaran kabupaten baru yang dibentuk dari kabupaten yang sudah ada. Dalam beberapa hal, dilakukan restrukturisasi pusat kota utama sebagai kabupaten baru, misalnya Kota Lhokseumawe dari Aceh Bagian Utara dan Kota Langsa dari Aceh Timur. Namun, dalam beberapa kasus lainnya, kabupaten-kabupaten baru tersebut terdiri dari daerah bagian tengah perdesaan dari pusat kota utama, yang tetap berada di kabupaten lama. Karena fasilitas umum biasanya lebih baik di daerah perkotaan, dan inovasi dan perbaikan biasanya terjadi pertama di daeah tersebut, maka
Gambar 2.8

daerah perdesaan kurang terlayani dengan baik sehingga tidak mengherankan bahwa skor lebih rendah pada sebagian besar ukuran pembangunan. Faktor lain yang membantu menjelaskan hasil adalah kepentingan diri kabupaten lama. Tentu saja kabupaten lama ingin mempertahankan aset penting dan fasilitas umum, seperti SMA dan fasilitas kesehatan di tingkat yang lebih tinggi, dan khususnya layanan yang menghasilkan pendapatan seperti air dan pengumpulan sampah. (Untuk lebih lanjut tentang persoalan ini, lihat Bab 6 tentang Perencanaan dan Penganggaran). Analisa skor IPM untuk setiap kabupaten dan kota mencerminkan agregat gambaran yang ditunjukkan pada Gambar 2.7 dan 2.8. (Lihat Lampiran A: Tabel 2.2) Tanpa terkecuali

Skor IPM untuk Kabupaten dan Kota dibandingkan dengan Rata-rata Nasional, 1993-2008

9 1

7 3

9 5 5 4

9

9

9

10

1 12 12

14

13 22

1993

1996

1999

2002

2004

2005

2006

2007

2008

Di atas IPM nasional

Di bawah IPM nasional

Catatan: IPM untuk tahun 2004, 2006 dan 2007 kurang meyakinkan karena survei sosial ekonomi hanya mencakup sejumlah kecil keluarga. Sumber: BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

21

semua kabupaten secara konsisten menunjukkan peningkatan tetap pada skor IPM antara tahun 2002 dan 2006, dan semua kecuali dua kabupaten menunjukkan penurunan IPM selama dua tahun berikutnya hingga tahun 2008. Dua pengecualian tersebut adalah Aceh Timur dan Aceh Barat, dimana keduanya hanya menunjukkan kenaikan kecil. Revisi ke bawah yang besar terhadap estimasi BPS untuk IPM pada tahun 2008 menyatakan bahwa 13 dari 23 kabupaten lebih miskin dibandingkan kabupaten lainnya pada tahun 2004, yang sebagian besar disebabkan oleh pengeluaran per kapita yang lebih rendah. Hal ini mungkin menggambarkan penurunan program-program pemulihan secara besar-besaran yang menciptakan sejumlah besar pekerjaan sementara setelah tsunami. Akan tetapi, kecenderungan-kecenderungan umum lainnya tetap tidak berubah selama beberapa tahun sejak 2002. Daerah Aceh Bagian Utara dan Timur secara konsisten menunjukkan skor HDI yang lebih tinggi dibanding dengan daerah-daerah lain, diikuti Aceh Bagian Tengah dan selanjutnya Aceh Bagian Barat dan Selatan. Kesenjangan antara Aceh Bagian Utara dan Timur dan Aceh Bagian Barat dan Selatan menurun dari 4,3 poin pada tahun 2002 menjadi 2,7 poin pada tahun 2006, tetapi meningkat lagi pada tahun 2008. Kesenjangan pada tahun 2008 sangat jelas: ketika 11 kabupaten di Aceh Bagian Utara dan Timur semuanya menunjukkan skor di atas rata-rata provinsi, 6 dari 8 kabupaten di Aceh Bagian Barat dan Selatan menunjukkan skor di bawah rata-rata. Meskipun ali tidak berarti seluruhnya, peta tersebut membantu menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kabupaten dan kota di Aceh Bagian Utara dan Timur semuanya terletak di sepanjang jalan raya yang relatif baik, yang menghubungkan dua kota terbesar di daerah itu, yakni Banda Aceh dan Medan di Sumatera Utara, dan dua pertiga jumlah penduduk terdapat di Aceh. Kabupaten dan kota di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan terletak di sepanjang jalan miskin yang tidak menghubungkan ke tempat lain. Jalan tersebut digunakan oleh sejumlah kecil penduduk yang tersebar di daerah itu. Keuntungan lokasi atas akses yang lebih baik ke pasar utama dan fasilitas umum menyebabkan biaya transportasi yang rendah, kesempatan ekonomi yang lebih besar dan layanan umum yang sangat baik. Kecenderungan di antara kota dan kabupaten juga tetap konstan selama beberapa tahun. Kota secara konsisten menunjukkan skor IPM
22

yang lebih tinggi, seperti yang diharapkan mengingat layanan sosial yang pada umumnya lebih baik dan pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi akan ditemukan di kota. Antara kabupaten, skor IPM kabupaten yang baru dibentuk, ketinggalan di belakang kabupaten induk, mungkin karena alasan yang sama, dalam hal ini pelayanan yang lebih buruk dan pekerjaan dengan upah yang lebih rendah akan ditemukan sebagian besar di daerah-daerah perdesaan. Indeks Pembangunan Gender. Analisa skor IPG untuk setiap kabupaten di Aceh menunjukkan beberapa perubahan mengejutkan. (Lihat Lampiran A Tabel 2.3.) Seperti halnya IPM, skor IPG mengalami kenaikan di semua tempat antara tahun1999 dan 2002, hanya dengan satu pengecualian, Aceh Bagian Utara yang mengalami penurunan sebesar 5 poin. Akan tetapi, antara tahun 2002 dan 2008, skor mengalami penurunan di 8 dari 13 kabupaten dimana data tersedia. Peningkatan paling penting adalah Aceh Bagian Utara, yang mengimbangi penurunan nyata pada masa sebelumnya, yang menunjukkan kesalahan dalam penghitungan skor untuk tahun 2002. Penurunan Besar pada IPG terjadi di Aceh Singkil, yang mengalami penurunan sebesar 6,5 poin, diikuti dengan Simeulue (turun 5,5 poin) dan kota Banda Aceh (turun 4 poin). Empat komponen, yaitu IPG, harapan hidup, melek huruf dan lama pendidikan tidak mungkin berubah secara signifikan selama masa-masa yang singkat. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari perubahan tersebut mungkin disebabkan oleh menurunnya kontribusi perempuan terhadap pendapatan keluarga, yang diakibatkan oleh meningkatnya kontribusi laki-laki yang kembali dari konflik. Berdasarkan daerah, Aceh Bagian Tengah menunjukkan skor sedikit lebih tinggi daripada Aceh Bagian Utara dan Timur, tetapi daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan sekali lagi mengalami ketinggalan. Sementara hanya satu dari empat kabupaten di Aceh Bagian Tengah, yaitu Gayo Lues, menunjukkan skor di bawah rata-rata IPG provinsi, tujuh dari delapan kabupaten di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan mengalami penurunan. Di Aceh Bagian Tengah, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh Tenggara menunjukkan skor di atas rata-rata pada semua komponen IPG. Tetapi dua yang pertama dan bahkan Gayo Lues sangat baik dalam hal kontribusi perempuan terhadap pendapatan keluarga, yakni lebih dari 50 persen pada tahun 2002 dan tetap lebih besar dari kabupaten-kabupaten lain pada tahun 2008.
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 2.9

Indeks Kemiskinan Manusia menurut Kabupaten di Aceh 2007

N W S E

SABANG BANDA ACEH ACEH BESAR PIDIE ACEH JAYA LHOKSUMAWE ACEH UTARA BENER MERIAH ACEH TIMUR KOTA LANGSA ACEH TAMIANG GAYO LUES ACEH BARAT DAYA

BIREUEN

ACEH BARAT

ACEH TENGAH NAGAN RAYA

ACEH TENGGARA ACEH SELATAN

SIMEULUE ACEH SINGKIL ACEH SINGKIL

LEGENDA 6.3 - 9.3 9.3 - 12.1 12.1 - 18.3 18.3 - 21.4 21.4 - 28.3
Sumber: BPS

Ketiga kabupaten ini merupakan satu-satunya produsen utama kopi arabika yang berharga tinggi di Aceh dan banyak perempuan ikut serta dalam produksi dan pemasaran kopi tersebut. Di daerah lain, empat kabupaten dengan skor IPG terendah pada tahun 2008 adalah Aceh Singkil, Simeulue, Subulussalam dan secara mengejutkan Kota Lhokseumawe. Aceh Singkil menunjukkan skor buruk pada empat
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

dari lima komponen dan Subulussulam pada tiga dari lima komponen terutama rata-rata waktu pendidikan dimana Subulussulam menduduki peringkat terendah (hanya 5,4 tahun). Perempuan di Simeulue mengalami harapan hidup terpendek (65,3 tahun) dan kontribusi terendah ketiga untuk pendapatan keluarga (24,3 persen). Perempuan di Kota Lhokseumawe menempati peringkat yang baik di atas
23

Tabel 2.5

Keseluruhan peringkat kabupaten di Aceh menurut Indikator Pembangunan Peringkat IPM Peringkat IPG Peringkat IKM 2008 2008 2008 10.3 6 9 3 13 15 4 5 10 14 1 2 16.7 11 12 18 19 16 20 21 22 13.8 7 17 8 23 6.4 11.5 16.7 9.9 6 5 10 19 12 21 2 7 18 3 8 16.9 16 15 11 23 14 17 22 20 6.8 1 4 9 13 12.4 10.6 13.9 10.1 5 15 4 11 19 3 8 6 7 1 2 15.6 20 12 18 23 9 13 14 22 16.0 10 16 17 21 6.4 13.3 14.0 Rata-rata Peringkat 10.1 5.7 9.7 5.7 14.3 15.3 9.3 5.0 7.7 13.0 1.7 4.0 16.4 15.7 13.0 15.7 21.7 13.0 16.7 19.0 21.3 12.2 6.0 12.3 11.3 19.0 8.4 11.8 14.9 Keseluruha n Peringkat 9.4 4 9 4 15 16 8 3 7 12 1 2 17.1 17 12 17 23 12 19 20 22 11.8 6 11 10 20 7.4 11.5 15.1

Daerah / Kabupaten Aceh Bagian Utara dan Timur (rata-rata tidak meliputi kotakota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selata n (rata-rata) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata ) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru

Catatan: * Merupakan kabupaten baru yang dibentuk setelah tahun 1999 Sumber: BPS

rata-rata pada sebagian besar komponen, tetapi memberikan kontribusi paling kecil terhadap pendapatan keluarga (hanya 22,2 persen) Di antara kabupaten-kota, berbeda dengan apa yang diharapkan, IPG tidak secara konsisten merupakan yang tertinggi di kota-kota. Pada tahun 1999 dan 2008, IPG dinyatakan lebih tinggi di kabupaten-kabupaten lama. Indeks Kemiskinan Manusia. Kembali ke indikator-indikator kemiskinan, data menyatakan sebuah gambaran yang berbeda lagi, meskipun satu kecenderungan berikut nampak nyata. Selama kurun waktu 1999 hingga 2008, kemiskinan sebagaimana diukur dengan IKM
24

menurun secara tetap baik di tingkat provinsi maupun di semua kabupaten. (Lihat Lampiran Tabel 2.4 dan Gambar 2.9.) Penurunan paling nyata terjadi sejak tahun 2002. Di tingkat provinsi, IPM mengalami penurunan sebesar 3 poin selama tiga tahun antara 1999 dan 2002, tetapi kemudian turun 12 poin selama lima tahun berikutnya menjadi 16,5 pada tahun 2008. Berdasarkan rata-rata tak tertimbang, daerah Aceh Bagian Utara dan Timur secara konsisten muncul dengan kemiskinan lebih kecil daripada daerah-daerah lainnya, sehingga menurunkan IKM hampir sebesar 16 poin antara tahun 1999 dan 2008. Akan tetapi, penurunan IKM paling
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Pada tahun 2005, UNFPA melaporkan bahwa masalah paling umum yang dihadapi perempuan adalah tidak adanya sensitivitas gender dalam perencanaan pertolongan dan bantuan darurat.

dramatis selama masa yang sama terjadi di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan, yang turun hampir 20 poin ke angka 20,4 pada tahun 2008. Sementara itu, IKM turun hanya 9 poin di Aceh Bagian Tengah. Kabupaten-kabupaten dengan IKM tertinggi pada tahun 2008 adalah Simelue (28), Subulussalam (26) dan Aceh Barat (21) di Aceh Bagian Barat dan Selatan, Gayo Lues (25) di Aceh Bagian Tengah dan Aceh Bagian Utara (21) di Aceh Bagian Utara dan Timur. Pengamatan secara lebih mendalam terhadap komponen-komponen IKM menunjukkan perbedaan-perbedaan nyata di antara kabupaten-kabupaten. Persentase penduduk tanpa akses ke air bersih adalah tinggi di Aceh sebesar 26 persen pada tahun 2008. Pada tahun yang sama, persentase tersebut mencapai 72 persen di Simeulue, tetapi hanya 1,1 persen di Banda Aceh. Pada tahun 2008, 13 persen penduduk Aceh tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan, tetapi proporsi ini meningkat menjadi 24 persen di Gayo Lues, 25 persen di Aceh Jaya dan 31 persen di Subulussalam. Pada perbedaan lain, persentase tersebut turun menjadi 1,4 persen di Simeulue dan 0 persen di Banda Aceh. Perbedaan-perbedaan besar juga terjadi untuk proporsi anak-anak gizi kurang. Sementara angka untuk provinsi adalah 31 persen, persentase tersebut berkisar dari 49 persen untuk Aceh Tenggara sampai yang rendah hanya sebesar 22 persen di Aceh Timur dan 21 persen untuk Banda Aceh. Peringkat Gabungan. Dengan menggabungkan peringkat-peringkat untuk tiga indikator IPM, IPG dan IKM, kita dapat melihat bagaimana kabupaten dan kota dibandingkan satu sama lain. (Lihat Tabel 2.6). Di tingkat wilayah, Aceh Bagian Barat dan Selatan muncul sebagai wilayah yang kurang berkembang dibandingkan Aceh Bagian Utara dan Timur dan Aceh Bagian Tengah. Peringkat-peringkatnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan daerahdaerah lainnya baik untuk IPM maupun IPG, dan hanya sedikit lebih tinggi dari Aceh Bagian Tengah untuk IKM. Delapan (8) kabupaten di wilayah Aceh Bagian Barat dan Selatan semuanya berada pada paruh paling bawah tabel. Di Aceh Bagian Tengah, Gayo Lues muncul sebagai yang paling kurang berkembang, sedangkan tiga kabupaten lainnya berada pada paruh teratas tabel. Mengingat kesempatan ekonomi dan kualitas pelayanan yang pada umumnya lebih baik di kota-kota, tidak mengherankan jika sebagian besar kesempatan ekonomi dan

kualitas layanan tersebut terdapat pada bagian atas daftar, dengan Banda Aceh dan Sabang berada di tempat paling atas, diikuti tidak jauh di belakangnya oleh Langsa di peringkat ke-4 dan Lhokseumawe di tempat ke-8. Lhokseumawe jauh lebih tinggi kecuali untuk skor rendah IPG yang hampir seluruhnya disebabkan oleh kontribusi kecil perempuan terhadap pendapatan keluarga. Pengecualiannya adalah kota Subulussalam, yang baru saja ditetapkan sebagai kabupaten baru, yang menempati peringkat ke-22, kedua dari yang terakhir. Yang juga terlihat jelas adalah tingkat pembangunan manusia yang relatif rendah di semua kabupaten yang baru dibentuk. Sebagai sebuah kelompok, mereka menempati rata-rata peringkat 15, lebih rendah dari kabupatenkabupaten lama dengan rata-rata peringkat di bawah 12. Di antara kabupaten-kabupaten baru, Bener Meriah menempati posisi yang baik, dengan peringkat ke-11, diikuti Pidie Jaya dan Aceh Jaya, yang keduanya menempati peringkat ke-12. Posisi Bener Meriah berasal dari skor tinggi IPG, yang sekali lagi disebabkan hampir sepenuhnya oleh kontribusi besar perempuan terhadap pendapatan keluarga. Karena kisaran nilai dalam komponen IPG jauh lebih besar daripada yang lain, hal ini memberikan pengaruh besar pada hasil skor IPG dan keseluruhan peringkat yang ditunjukkan di sini.

2.3. Sisa Dampak
Meskipun perang terbuka telah berakhir dan banyak kerusakan akibat bencana alam telah diperbaiki, tetapi peristiwa-peristiwa ini telah meninggalkan banyak bekas luka yang akan dialami oleh orang-orang yang selamat untuk waktu yang lama. Sarana fisik mungkin dapat dipulihkan secara relatif cepat misalnya dengan perbaikan dan pembangunan kembali sekolah, klinik, pusat pasar dan fasilitas produksi. Tetapi pemulihan psikis, memerlukan waktu bertahun-tahun bagi orang-orang untuk mengatasi kehilangan orang yang dicintai dan trauma psikologis, bagi keluarga untuk memperbaiki mata pencaharian, dan bagi masyarakat untuk menyelesaikan perpecahan sosial yang diakibatkan oleh ketidakamanan fisik dan pengungsian yang berkepanjangan. Beberapa komentator bahkan pesimis tentang masa depan. Misalnya, Sidney Jones dari International Crisis Group menulis: “Selama pengangguran para mantan pe25

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

normal, dampak konflik bisa bersifat jauh lebih luas dan jangka panjang dibandingkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam. Dimensidimensi konflik ini diringkas dengan baik oleh Bank Dunia (2009): “Konflik kekerasan mengubah berbagai keReintegrasi: Reintegrasi para mantan peterampilan yang berharga dalam suatu perjuang GAM tentu saja merupakan tugas yang ekonomian. Selama konflik keterampilanmasih harus diselesaikan. Multi Stakeholder keterampilan ini berkaitan dengan pertemReview (MSR) memperkirakan bahwa ada puran, tetapi keterampilan tersebut menjadi 14.300 mantan pejuang GAM di Aceh. Lebih tidak relevan dalam perekonomian pascadari separuh dari mereka terdapat di empat konflik. Sebaliknya, dalam lingkungan pasca kabupaten yang terkena dampak konflik paling konflik, keterampilan yang sangat diperlukan hebat: Aceh Bagian Utara, Bireuen, Aceh Timur hanya ada sedikit, karena seringkali orangdan Pidie.9 Nota Kesepahaman (MoU) tahun orang yang paling berpendidikan dan terkaya 2005 antara Pemerintah Indonesia dan GAM merupakan orang-orang yang pertama kali berisi beberapa klausul tentang reintegrasi beremigrasi dan melarikan diri dari konflik” 10 sosial. Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA), yang ditetapkan pada tahun 2006, bertujuan Banyak mantan pejuang GAM masih menguntuk membantu mendapatkan pekerjaan, anggur. Upaya-upaya untuk mendorong mereka menyediakan tanah pertanian yang layak, dan guna memulai usaha perkebunan dan pertanian memastikan akses demi perbaikan sosial bagi coklat, misalnya, belum dapat memenuhi tiga kelompok: mantan pejuang dan pendukung kepentingan. Beberapa dari mereka tidak GAM,tahananpolitikyangmemperolehamnesti, memiliki akses ke lahan. Sementara mereka dan masyarakat sipil yang terkena dampak yang memiliki akses tidak mampu menanam konflik. Meskipun beberapa keberhasilan telah pohon dan sementara mereka harus menunggu tercapai, tetapi banyak mantan pejuang GAM tiga atau empat tahun untuk memberikan hasil. merasa kesulitan untuk kembali ke dalam Mantan pejuang GAM lainnya tidak memiliki kehidupan masyarakat sipil dan mendapatkan keterampilan atau merasa bahwa prospek tenaga pekerjaan yang wajar. kerja manual kasar yang diperlukan untuk Dari perspektif rekonstruksi pascakonflik perkebunan tidak menarik. dan kembali ke situasi sosial dan politik yang Keamanan dan Investasi: Terlepas dari juang GAM tetap tinggi, program reintegrasi tidak akan berjalan, dan kebencian tumbuh terhadap jurang pemisah yang nyata antara kaya dan si miskin, potensi masalah keamanan tetap tinggi.” 8

Gambar 2.10 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

Kekerasan di Aceh: Januari 2005 – Desember 2008

Mengingat jumlah bantuan yang besar, pihak-pihak berwenang menyadari adanya potensi ketidakadilan yang akan diakibatkan oleh interpretasi sempit tentang persyaratanpersyaratan yang diberikan oleh para donor, dan berhasil meyakinkan beberapa donor untuk memperluas interpretasi guna memberikan manfaat kepada orang-orang dan masyarakat yang lebih luas.

J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O ND J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D 05 06 07 08 Insiden Kekerasan (tdk termasuk GAM vs RI) Insiden Kekerasan GAM vs RI

Sumber: Pembaharuan Monitorisasi Konflik Aceh, Bank Dunia

26

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Namun demikian, masih banyak sekali yang harus dicapai. Banyak lakilaki, perempuan dan anak-anak yang hidupnya telah terluka baik secara fisik maupun mental oleh peristiwaperistiwa masa lalu, yang masih memerlukan bantuan dalam menghadapi penderitaan dan trauma.

berakhirnya konflik bersenjata antara GAM dan TNI, peristiwa-peristiwa kekerasan masih merupakan ancaman terhadap stabilitas dan hambatan investasi. Jaringan yang ditetapkan oleh para pejuang GAM selama bertahun-tahun, masih terus hidup. Dengan tidak adanya pilihanpilihan yang tepat, banyak mantan pejuang GAM hanya mengandalkan pada jaringan lama mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan pendapatan, yang kadang-kadang melakukan kegiatan-kegiatan ilegal termasuk pemalakan dan pemerasan. Pemerasan luas oleh kelompokkelompok preman (rougue) mantan pejuang GAM dan persepsi yang masih mengakar tentang ketidakamanan pada komunitas bisnis telah terbukti sebagai sebuah hambatan investasi dan perkembangan usaha. Tidak adanya pekerjaan tetap di antara para mantan pejuang GAM juga disebabkan oleh meningkatnya kekerasan dan kejahatan di Aceh. (Lihat Gambar 2.10). Meskipun bentrokanbentrokan antara GAM dan Pemerintah Indonesia dalam waktu singkat meningkat setelah tsunami pada awal tahun 2005, tetapi bentrokan-bentrokan tersebut akhirnya berakhir setelah penandatanganan Kesepakatan Damai. Namun, peristiwa-peristiwa kekerasan lainnya terus meningkat yang mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 2008, untuk kemudian sedikit melemah. Menurut data Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Aceh, terdapat 218 kasus perampokan bersenjata dan kejahatan jalanan lainnya antara Agustus 2005 dan Februari 2008. Meskipun kurang dari separuh kasus-kasus ini telah diselidiki pada saat penyusunan laporan tersebut, namun lebih dari 90 persen terdakwa yang memberikan kesaksian mengaku bahwa mereka adalah mantan pejuang GAM.11 Dampak pada Perempuan: Akibat konflik dan tsunami juga telah menimbulkan dampak berkepanjangan pada perempuan. Pada masa segera setelah tsunami, perempuan sangat rentan. Pada tahun 2005, UNFPA melaporkan bahwa masalah paling umum yang dihadapi perempuan adalah tidak adanya sensitivitas gender dalam perencanaan pertolongan dan bantuan darurat. Perempuan mengalami kekurangan produk-produk kebersihan wanita, keterbatasan akses ke layanan kesehatan ibu dan reproduksi, kekurangan fasilitas BAB dan mandi yang layak, kekurangan air bersih di kamp-kamp, dan keterbatasan akses ke bantuan kemanusiaan. Ketika situasi darurat membaik, perempuan menjadi pengasuh utama anak-anak, orangorang tua dan korban terluka dalam keluarga

besar. Perempuan juga melakukan tanggung jawab yang lebih besar terhadap pekerjaan rumah tangga, yang kemudian dilakukan dalam kondisi ruang sempit dan berjejal seperti di kampkamp pengungsi, dan seringkali tanpa akses ke air dan fasilitas rumah tangga. Hal ini secara dramatis meningkatkan beban kerja perempuan. Akibatnya, mereka memiliki sedikit waktu untuk terlibat dalam program-program umum seperti penerimaan bantuan, atau partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang distribusi bantuan. Jika perempuan tidak secara langsung menjadi target bantuan, akses mereka akan terbatas dan tergantung pada distribusi ulang oleh para lelaki anggota keluarga. Kegagalan umum (walaupun tidak universal) untuk mendesain dan mengimplementasikan program bantuan spesifik-gender pada masa awal pascadarurat menciptakan sumber pengucilan sosial di antara perempuan-perempuan Aceh. Akan tetapi, pengakuan atas keadaan ini kemudian menghasilkan sebuah pendekatan yang lebih inklusif, konsultatif dan berbasis konsensus pada program-program bantuan dan pembangunan oleh sejumlah organisasi yang beroperasi di Aceh. Kekerasan dalam Rumah Tangga: Selama masa darurat, perempuan seringkali tidak mendapatkan perlindungan dan menjadi lebih rentan terhadap kekerasan, termasuk perdagangan perempuan, kekerasan dan pelecehan sek-sual.12 Sebuah studi komprehensif tahun 2005 tentang kekerasan berbasis gender di Aceh yang dilakukan oleh UNFPA mengkaji tingkat kekerasan berbasis gender di provinsi tersebut, yang memburuk pada masa-masa konflik dan dari dampak Tsunami 2004. Studi tersebut juga membahas faktor-faktor sosial dan budaya khusus yang berkontribusi terhadap kekerasan berbasis gender di Aceh, seperti Syariah (hukum Islam) yang memberikan pembatasan-pembatasan pada pakaian dan perilaku perempuan. Bahasan juga terkait kekerasan dalam rumah tangga oleh lelaki terhadap perempuan, masih menjadi perhatian utama dalam keluarga dan juga di lingkungan publik Aceh. Ulama-ulama Islam radikal bahkan telah menganggap perilaku „tak beriman‟ perempuan Aceh (seperti kegagalan untuk memakai penutup kepala) sebagai penyebab tsunami. Kelompok-kelompok perempuan menyatakan bahwa kekerasan bias gender telah menjadi hal yang „biasa‟ di Aceh. Keadaan ini terutama terjadi di kampkamp pengungsi setelah tsunami, dan di antara kelompok-kelompok sosial-ekonomi yang lebih
27

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

rendah. Kekurangan pelaporan tentang kekerasan dalam rumah tangga memberikan impunitas kepada para pelaku dan oleh karena itu tingkat kekerasan dalam rumah tangga tetap tinggi. Selain kekerasan fisik dan seksual, kekerasan dalam rumah tangga juga menghancurkan keamanan dalam rumah tangga dan harga diri perempuan, yang melemahkan motivasi dan dorongan mereka untuk mengupayakan pemberdayaan. Hal ini merupakan penghambat utama pembangunan manusia. Meskipun demikian, dalam melaporkan hasil gender di Aceh, Pennels menyimpulkan bahwa terlepas dari prevalensi tingkat kekerasan berbasis gender yang tinggi, telah terjadi perkembangan signifikan dalam kesetaraan gender dibandingkan dengan masa-masa pra-tsunami (Pennels 2008). Perkembangan ini meliputi perwakilan gender yang lebih formal dalam pemerintah provinsi dan kabupaten.Juga terjadi lebih banyak interaksi dan kerja sama antarsektor pemerintahan dan organisasi masyarakat sipil terkait isu kesetaraan gender. Pengadilan Syariah juga memajukan hak perempuan atas warisan dan tanah. Di bidang sosial, terjadi peningkatan pendidikan, akses ke layanan kesehatan dan ibu di desa, dan pembangunan berbagai jejaring perlindungan anak. Bantuan Pasca-Tsunami: Tsunami juga menimbulkan dampak jangka panjangnya sendiri. Meskipun tsunami menyebabkan besarnya aliran bantuan yang belum pernah

terjadi sebelumnya, tetapi sebagaimana yang dimaksudkan, bagian utama dari bantuan ini ditargetkan pada daerah-daerah yang terkena dampak tsunami. Aspek yang luas dari bantuan tersebut memungkinkan programprogram pemulihan tidak hanya digunakan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan fisik, tetapi seperti seringkali dinyatakan oleh BRR untuk “membangun kembali secara lebih baik”. Sesuai dengan tujuan ini, tsunami menimbulkan akibat yang tidak diinginkan karena perbedaan-perbedaan pendapat tentang alokasi dana, proyek dan sumberdaya lainnya, yang kadang-kadang menyebabkan terjadinya kekerasan. Jumlah sengketa yang muncul di setiap kabupaten pada tahun 2008 dan jenis bantuan yang menjadi sengketa ditunjukkan pada Gambar 2.11. Sengketa-sengketa tersebut kebanyakan terjadi di Banda Aceh, diikuti oleh Aceh Barat, Aceh Bagian Utara dan Aceh Timur. Sengketa-sengketa seringkali berkaitan dengan identifikasi orang-orang dan masyarakat yang layak menerima bantuan, terutama di antara para mantan pejuang GAM dan masyarakat yang terkena dampak tsunami. Mengingat jumlah bantuan yang besar, pihakpihak berwenang menyadari adanya potensi ketidakadilan yang akan diakibatkan oleh interpretasi sempit tentang persyaratanpersyaratan yang diberikan oleh para donor, dan berhasil membujuk beberapa donor untuk memperluas interpretasi guna memberikan

Gambar 2.11 160 140 120 100 80 60 40 20 0
Ace da

Bantuan dan Konflik menurut Kabupaten di Aceh (Jumlah Konflik, 2008)

Setelah Tsunami

Setelah Konflik

Subsidi Bahan Bakar

Program-program Pemerintah Lainnya

awe en tara ya ian Ray eria hU hT um hB rM Bar kse Ace Ace hT Ace Ace ie Na Ace m Lho atD Ace Br Pdi Be

Sab

gki ala Sub m

Lan oL Pid hT Gay Ace ieJ ga aa na h us e e uul eg Sm s y
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Sumber: 2009 hACMU, aa sebagaimana dikutip dari Laporan MSR, ea

28

Bn Ae a ch t r

g a a aa hegaa ag n hJa ng Sni uss Tm gn haleAe a a S Ae ee Bn sr Ae y ch tn ch ch r

r

manfaat kepada orang-orang dan masyarakat yang lebih luas. Terlepas dari masalah ini, kesalahan persepsi sulit dihapus dan banyak masyarakat tidak diragukan lagi memiliki alasan sah untuk menyampaikan pengaduan.

reintegrasi ke dalam masyarakat sipil dan mendapatkan pekerjaan. Namun demikian, masih banyak sekali yang harus dicapai. Banyak laki-laki, perempuan dan anak-anak yang hidupnya telah terluka baik secara fisik maupun mental oleh peristiwaperistiwa masa lalu, yang masih memerlukan 2.4. Kesimpulan bantuan dalam menghadapi penderitaan dan trauma. Seperti di banyak daerah pasca-konflik Dibandingkan dengan situasi awal setelah di seluruh dunia, mantan pejuang yang belum tsunami pada bulan Desember 2004, rakyat bisa mendapatkan pekerjaan, atau yang belum Aceh, dan pihak-pihak yang telah membantu memperoleh manfaat dari perdamaian akan mereka, telah mencapai pemulihan luar biasa tetap melakukan kekerasan dan pemerasan. Salah yang mungkin tidak dibayangkan atau diharapsatu unsur penting dari Kesepakatan Damai yang kan pada saat itu. Pemulihan ini tidak hanya selama ini belum diimplementasikan adalah berlaku untuk pembangunan kembali struktur pembentukan komisi kebenaran dan rekonsiliasi. fisik, tetapi juga untuk pembaharuan struktur Banyak orang menyatakan bahwa pembentukan sosial yang mengalami kerusakan sangat pa- komisi ini merupakan langkah penting yang rah karena masa-masa konflik. diperlukan untuk mendukung reintegrasi, Pembangunan kembali struktur fisik mengatasi perpecahan dalam masyarakat, dan merupakan tugas yang lebih mudah, mengingat menyelesaikan keluhan-keluhan yang ada. besarnya jumlah bantuan keuangan yang Sedikit dari kemajuan luar biasa atau tersedia untuk tujuan tersebut. Seperti yang kemunduran-kemunduran ini dicerminkan ditunjukkan oleh data BRR, banyak kerusakan dalam indikator-indikator pembangunan yang dan kehancuran telah diperbaiki dan sejumlah dibahas di atas, karena indikator-indikator besar rumah dan fasilitas baru telah dibangun. tersebut didesain untuk mencerminkan aspekJalan-jalan di Banda Aceh dan banyak kota-kota aspek lain dari kesejahteraan. Meskipun IPM pesisir lainnya adalah bukti pembangunan ini, dan IPG menunjukkan kemajuan sampai tahun walaupun masih ada tugas untuk memperbaiki 2006, tetapi IPM dan IPG tersebut menujukkan dan membangun kembali banyak rumah dan penurunan tajam dalam data untuk tahun 2008. fasilitas di daerah bagian tengah yang hancur Terlepas dari peningkatan dalam beberapa selama konflik, tetapi tidak memenuhi syarat tahun, keseluruhan kecenderungan untuk UPG untuk memperoleh pendanaan dari sumberdaya sejak tahun 1996 menunjukkan kemunduran yang dialokasikan untuk pemulihan tsunami. nyata antara tahun 1996 dan 2008. Bahkan Tugas lebih berat adalah memperbaiki struk- IKM, yang menunjukkan kecenderungan untuk tur sosial dan menangani trauma yang dialami meningkat secara tetap selama bertahun-tahun, oleh mereka yang menderita akibat bencana mengalami penurunan tajam pada tahun 2008, tsunami serta konflik. Perkembangan besar dan angka kemiskinan di Aceh tetap lebih tinggi telah tercapai dalam beberapa bidang, berdadaripada sebagian besar provinsi lainnya. Banyak sarkan pada prinsip-prinsip Kesepakatan Damai dari penurunan dalam indikator-indikator ini tahun 2005 dan Undang-Undang Pemerintahan tampaknya terkait terutama dengan komponenAceh (UUPA) yang diundangkan pada tahun komponen yang mencerminkan kecenderungan 2006. Sebagaimana didokumentasikan kemu- menurun dalam kegiatan ekonomi. dian dalam laporan ini, provinsi tersebut kini Perbandingan yang didasarkan pada indimendapatkan dukungan dari besarnya transfer kator-indikator ini antara Aceh dan provinsifiskal tambahan dari pemerintah pusat. Partai provinsi lainnya di Indonesia menunjukkan politik lokal telah dibentuk dan pemilihan ketidaksesuaian nyata antara kecenderungan umum lokal telah diselenggarakan, yang melokal dan peringkat nasional. Hal ini mungkin mungkinkan banyak anggota GAM untuk karena perbedaan dalam metode penghitungan menempati posisi dalam legislatif pusat dan indeks-indeks di antara provinsi atau kesalahdaerah. Sebagian besar pengungsi sudah dapat an-kesalahan sederhana. Cara apapun yang dikembali ke masyarakat mereka atau berpindah gunakan, hasil tersebut menimbulkan keraguan ke masyarakat lain. Banyak meskipun tidak tentang validitas perbandingan. semua mantan pejuang GAM telah melakukan Di antara daerah-daerah di Aceh, indikatorLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

29

indikator tersebut secara umum menunjukkan luaran per kapita mengalami penurunan bahwa kabupaten-kabupaten di Aceh Bagian pada tahun 2008, yang mungkin mencerUtara dan Timur lebih berkembang, sedangkan minkan menurunnya program-program pekabupaten-kabupaten di Aceh Bagian Barat mulihan dan hilangnya pekerjaan, yang medan Selatan mengalami ketinggalan, meskipun nunjuk pada kebutuhan mendesak untuk kesenjangan tersebut telah mengecil dari waktu menciptakan kesempatan kerja yang lebih ke waktu. Secara umum, indikator-indikator banyak dan lebih baik. tersebut menyatakan bahwa kota-kota di · Perempuan. Ukuran kesejahteraan perempuan menunjukkan kecenderungan yang Aceh lebih berkembang daripada kabupatenmengecewakan selama bertahun tahun, kabupaten, dan kabupaten baru yang dibentuk sejak tahun 1999 cenderung ketinggalan dari yang sebagian berhubungan dengan tingkabupaten-kabupaten lama dari mana kabukat partisipasi angkatan kerja yang lebih rendah dan penurunan pendapatan. Meskipaten-kabupaten tersebut dibentuk. pun kecenderungan ini dapat dijelaskan sebagian karena kembalinya para mantan pe2.4.1 Tantangan juang GAM laki-laki ke dalam keluarga dan angkatan kerja, tetapi terdapat faktor-faktor Tidak dipungkiri bahwa Aceh menghadapi berlain yang juga terkait dan perlu ditangani. bagai tantangan besar. Tantangan ini dijelas· Pembangunan yang adil. Data menunjukkan kan pada bab-bab selanjutnya, namun lima bahwa pembangunan di Aceh telah memtantangan berikut melingkupi (overarching) berikan manfaat kepada beberapa daerah lebih nyata apa yang didiskusikan sebelumnya. dan kabupaten lebih besar dibanding · Keamanan. Terlepas dari keberhasilan Kesedengan daerah dan kabupaten lainnya. pakatan Damai dalam mengakhiri konflik, Beberapa indikator yang disebutkan di keamanan tetap menjadi sebuah persoalan atas dan di bagian lain dalam laporan ini penting. Peristiwa-peristiwa kekerasan terus menunjukkan bahwa Aceh Bagian Barat berlangsung, yang disebabkan oleh sengdan Selatan mengalami ketertinggalan, seketa atas manfaat program, gesekan dalam perti juga kabupaten-kabupaten terpencil masyarakat, ketegangan dalam rumah tangga di daerah-daerah lain. dan khususnya pemerasan dan kegiatan ilegal oleh para mantan pejuang GAM. · Bencana. Meskipun perkembangan besar 2.4.2 Respon telah tercapai dalam memperbaiki kerugian dan kehancuran akibat tsunami, tetapi ber- Meskipun tantangan-tantangan ini diakui oleh bagai bencana alam dengan skala yang lebih pemerintah dan para mitra pembangunan, tekecil terus menimbulkan korban jiwa manutapi kebijakan dan program yang ada saat ini sia, kerusakan infrastruktur fisik dan gang- tidak terfokus dan perlu dikoordinasikan deguan ekonomi. Analisa resiko menunjukkan ngan lebih baik. bahwa 35 persen dari wilayah daratan proKeamanan: Masalah keamanan yang mengvinsi Aceh rentan terhadap tsunami, dan ganggu kebanyakan orang, khususnya masya75 persen rawan terhadap satu jenis benca- rakat bisnis, adalah praktek pemerasan oleh na atau yang lainnya, termasuk peristiwakelompok preman mantan pejuang GAM. Hal peristiwa yang kurang dipublikasikan te- ini memerlukan „strategi wortel dan tongkat‟ tapi lebih umum. Peristiwa-peristiwa ini (carrot and stick) bagi mereka yang tetap memeliputi gempa bumi, tanah longsor, banjir lakukan pemerasan dan kegiatan-kegiatan ilegal dan serangan hama tanaman pertanian. lainnya. Meskipun setiap peristiwa dapat menyebabRekomendasi: Upaya-upaya sebaiknya terus kan kerugian kecil dan kesulitan bagi mereka dilakukan untuk menempatkan para mantan yang terkena dampak, tetapi dampak kumupejuang GAM dalam pekerjaan alternatif yang latif dari peristiwa-peristiwa ini yang terus menarik, untuk memberikan pelatihan keberulang menggambarkan besarnya beban terampilan bagi tujuan ini dan dukungan ekonomi dan emosional pada masyarakat. keuangan untuk mengikuti pelatihan atau · Kemiskinan. Sebagaimana diindikasikan untuk menjalankan bisnis mereka sendiri. di atas, kemiskinan masih jauh di atas rata- Pada saat yang sama, militer, polisi, pejabat rata nasional dan harus dikurangi. Pengepengadilan dan lembaga lainnya harus bekerja
30
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

sama secara lebih erat untuk menghentikan kegiatan-kegiatan ilegal dan menghukum para pelaku. Hal ini mendorong terbentuknya sebuah satuan tugas untuk tujuan tersebut dan juga lembaga independen untuk menerima pengaduan, meminta tindakan korektif, dan memantau respon. Bencana. Sebuah awal yang baik untuk mengurangi bencana alam telah dilakukan melalui peluncuran program Pengurangan Resiko Bencana - Aceh (PRB-A) pada tahun 2008 oleh pemerintah provinsi melalui kerja sama dengan UNDP. Hal ini memberikan pendekatan konseptual yang kuat untuk menangani isu tersebut dan meliputi unsur-unsur bagi penetapan kerangka hukum dan kelembagaan yang mendukung, penguatan lembaga teknis di Unsyiah, implementasi proyek percontohan dalam beberapa masyarakat dan penyelenggaraan kampanye kesadaran publik. Rekomendasi: Inisiatif-inisiatif yang saling melengkapi diperlukan untuk mengkonsolidasikan dan memperluas cakupan ke daerahdaerah di seluruh provinsi. Berdasarkan pelajaran yang dipetik dari penerapan percobaan, model tersebut harus dilakukan replikasi, khususnya bagi masyarakat yang lebih rentan. Kerusakan lingkungan, penyakit tanaman dan infeksi hama juga menyebabkan kerusakan dan kerugian besar. Rekomendasi: Programprogram di masa mendatang sebaiknya juga melibatkan departemen-departemen pemerintah lainnya, seperti pertanian, kehutanan, perkebunan dan sejenisnya. Kemiskinan. Untuk menanggulangi kemiskinan, diperlukan dua strategi utama. Rekomendasi: Meningkatkan akses ke infrastruktur publik dan layanan sosial. Me-

ningkatkan peluang bagi pekerjaan produktif dan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Kegiatan-kegiatan ini dibahas pada Bab 3 dan 4. Perempuan. Pengarusutamaan gender dalam kegiatan-kegiatan pembangunan telah lama dipromosikan. Akan tetapi di Aceh, pengarusutamaan gender sejauh ini belum mendapat perhatian yang layak. Rekomendasi: Pemerintah provinsi sebaiknya melakukan sesuatu dengan tepat untuk mempertimbangkan pemberian profil yang jauh lebih tinggi bagi pengarusutamaan gender, misalnya melalui pembentukan sebuah departemen untuk perempuan dan anak. Departemen tersebut akan menangani hak-hak hukum, keadilan, akses ke layanan sosial, dan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. Yang sangat mendesak adalah kebutuhan perawatan kesehatan yang efektif bagi ibu dan anak-anak muda, yang dibahas lebih lanjut pada Bab 3. Pembangunan yang adil. Perbedaan ekonomi di antara daerah-daerah di suatu negara atau provinsi merupakan fenomena umum pada tahap-tahap awal pembangunan. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh kecenderungan industri dan jasa yang menawarkan pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi untuk mengkonsentrasikan di pusat-pusat kota pada tahap awal. Kualitas infrastruktur dan layanan publik juga cenderung lebih baik di kota-kota. Rekomendasi: Untuk memastikan akses yang lebih adil ke berbagai pelayanan ini di daerahdaerah perdesaan, lembaga-lembaga publik harus memiliki target investasi sesuai dengan indikator-indikator khusus pemberian layanan, sebuah isu yang dibahas lebih lanjut pada Bab 6.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

31

32

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

3

Akses ke Layanan Publik

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

33

34

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

CHAPTER

3

Akses ke Layanan Publik

Dalam Bab ini dan berikutnya, kami mengkaji akses ke pelayanan publik dan kesempatan ekonomi, yang merupakan faktor-faktor penting dalam menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan kelompok terpinggirkan. Pembahasan ini dibagi menurut sektor dan program umum yang biasanya diadopsi dalam dokumen perencanaan pemerintah. Bab ini mengamati akses yang berkaitan dengan infrastruktur fisik dasar, kesehatan, pendidikan dan keadilan. 3.1. Akses ke Infrastruktur Dasar
Ketersediaan infrastruktur dasar memiliki dampak penting, baik pada kualitas perumahan maupun produktivitas kegiatan ekonomi. ada listrik. Dilihat dari rata-rata kekurangan dari empat indikator, kualitas perumahan umumnya lebih baik di Aceh Bagian Utara dan Timur (dengan rata-rata sebesar 22 persen) dan kurang lebih sama di Aceh Bagian Barat dan Selatan dan Aceh Bagian Tengah (keduanya sekitar 27 persen). Di Aceh Bagian Utara dan Timur, proporsi rumah yang tidak memiliki akses ke air bersih, sanitasi dan listrik adalah lebih kecil. Di Aceh Bagian Barat dan Selatan, proporsi penduduk tanpa sanitasi (46 persen) dan listrik (16 persen) adalah lebih tinggi daripada di tempat lain. Di Aceh Bagian Tengah, ketiadaan akses ke air bersih (39 persen) lebih luas dibandingkan dengan daerahdaerah lain. Menurut indikator-indikator ini, kabupaten dengan kualitas perumahan termiskin adalah Aceh Barat Daya dan Pidie Jaya (keduanya dengan rata-rata kekurangan sebesar 30 persen), dan khususnya Gayo Lues (35 persen) dan Simeulue (37 persen). Lebih dari setengah penduduk tidak memiliki akses ke air bersih di Gayo Lues (52 persen), Subulussalam (56 persen) dan hampir tiga dari empat orang di Simeulue (74 persen). Kekurangan sanitasi yang paling banyak terdapat di Pidie Jaya dan Aceh Barat Daya (keduanya sebesar 66 persen), Pidie (71 persen) dan Gayo Lues (74 persen). Lebih dari seperempat penduduk di Simeulue dan Aceh Jaya tinggal di rumah tanpa listrik. Seperti yang diharapkan, perumahan di kota-kota pada umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik, dan sedikit lebih baik di kabupaten-kabupaten lama daripada kabupaten35

3.1.1 Perlindungan
Kualitas lingkungan fisik di mana orang tinggal mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan. Akses ke infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi membantu mengurangi rasa sakit dan penyakit, seperti halnya kualitas konstruksi rumah. Listrik membantu mengurangi polusi udara di dalam rumah, menyederhanakan tugas rumah tangga, dan menjadikan rumah sebagai tempat yang lebih menarik bagi kegiatan keluarga. Data untuk empat unsur kualitas perumahan pada tahun 2008, yang menunjukkan prosentase penduduk yang tinggal di rumah yang serba kekurangan, disajikan pada Lampiran A: Tabel 3.1. Unsur-unsur ini meliputi akses ke air bersih dan sanitasi, lantai tanah sebagai indikator kualitas pembangunan rumah, dan sambungan listrik. Seperti sebelumnya, kabupaten dikelompokkan menurut wilayah, dan angka-angka yang dihitung untuk kota, kabupaten lama yang ada pada tahun 1999 dan kabupaten yang dibentuk setelah itu. Di tingkat provinsi, kekurangan utama adalah sanitasi (36 persen) dan air bersih (27 persen), dengan hanya kira-kira 10 persen yang tinggal di rumah dengan lantai tanah dan tidak
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 3.1 35.0 30.0 25.0 20.0 Angkakesakita n 15.0 10.0 5.0 0.0

Indikator Perumahan dan Kesakitan menurut Kabupaten di Aceh 2008

0.0
Sumber: Tabel 3.1

5.0

10.0

15.0

20.0

25.0

30.0

35.0

40.0

Rata-rata dari 4 indikator

Bagi banyak petani, komponen paling mahal dari biaya transportasi adalah waktu dan tenaga untuk membawa hasil dari tempat pertanian ke jalan utama terdekat pada beberapa kilometer pertama.

kabupaten baru. Hal ini menegaskan komentar disampaikan pada Bab Dua tentang kabupatenkabupaten baru yang pada umumnya memiliki infrastruktur dan layanan lebih buruk.

Aceh Jaya (semuanya 27 persen), dan semua kecuali Bireuen memiliki perumahan dengan kualitas yang relatif buruk.

3.1.2 Perumahan dan Kesakitan
Riset yang didasarkan pada survei rumah tangga menunjukkan hubungan yang jelas antara lingkungan fisik rumah dan kejadian penyakit. Meskipun lemah, hubungan ini bahkan nyata di tingkat agregat dari tiap-tiap kabupaten. (Lihat Gambar 3.1.) Antara kelompok lima kota, dimana kualitas perumahan terlihat lebih baik, kesakitan lebih rendah sebesar 16 persen, dibandingkan dengan 22 persen untuk kabupaten-kabupaten lama dan 24 persen untuk kabupaten-kabupaten baru. Selain itu, di antara 12 kabupaten dengan perumahan yang berkualitas lebih baik, 7 kabupaten memiliki tingkat kesakitan rendah. Jelas bahwa faktorfaktor lain merupakan penentu penting, yang paling nyata adalah gizi, tingkat pendapatan dan sampai tingkat yang lebih rendah akses ke fasilitas kesehatan. Untuk tiap-tiap kabupaten, tingkat kesakitan yang tertinggi terdapat di Bener Meriah (29 persen), Bireuen (28 persen), Aceh Tengah, Aceh Timur dan
36

3.1.3 Infrastruktur Ekonomi
Infrastruktur dasar dalam mendukung kegiatankegiatan ekonomi juga merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan memperluas lingkup kesempatan usaha pertanian dan non-pertanian untuk menghasilkan pendapatan, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah perdesaan. Bagi banyak petani, komponen paling mahal dari biaya transportasi adalah waktu dan tenaga untuk membawa hasil dari tempat pertanian ke jalan utama terdekat pada beberapa kilometer pertama. Pertanian ke jalan-jalan pasar, dan jalur-jalur yang datar bagi gerobak dan sepeda motor dapat mengurangi berbagai biaya ini dan memungkinkan untuk mengakses pasar lokal dan bersaing secara lebih efektif di tempat-tempat yang jauh. Kondisi jalan juga akan mempengaruhi biaya transportasi, dan karena kurangnya dana untuk pemeliharaan maka banyak jalan dalam kondisi rusak. Data terakhir menunjukkan bahwa 20 persen jalan nasional di provinsi tersebut rusak, sebuah angka yang meningkat
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

hingga 30 persen untuk jalan-jalan kabupaten dan 37 persen untuk jalan-jalan provinsi.13 Meskipun jaringan irigasi meliputi area tanah pertanian yang luas di Aceh, tetapi perluasan jaringan ini melalui irigasi mini diperlukan untuk mencapai sejumlah besar produsen pertanian lainnya. Kekurangan listrik dan pasokan yang tidak dapat diandalkan merupakan sumber keluhan umum dalam komunitas bisnis. Tetapi listrik juga penting untuk menyiapkan usahausaha baru berskala kecil, terutama di daerah perdesaan, dan bagi penyandang cacat serta perempuan yang terikat dengan pekerjaan rumah dan tidak dapat mencari pekerjaan di luar.

diperlukan. Selain itu, masyarakat dapat memilih untuk mengatur kelompok penggunanya sendiri guna berbagi biaya pekerjaan konstruksi skala kecil atau secara lebih umum bagi pemeliharaan fasilitas. Salah satu contoh berasal dari sebuah desa di NTT, dimana para penduduk mengeluh karena harus menunggu lembaga setempat selama beberapa bulan untuk melakukan perbaikan kecil pompa air yang hanya memerlukan biaya beberapa dolar. Akan jauh lebih baik jika mereka mengatur kelompok pengguna mereka sendiri untuk melakukan perbaikan tersebut.

Rekomendasi: · Melanjutkan dan mengembangkan program-program yang ada yang memberikan 3.1.4 Kesimpulan dana hibah kepada masyarakat setempat Penyediaan, kualitas dan pemeliharaan infrayang dapat digunakan untuk mengembangstruktur dasar sebagian besar merupakan tangkan dan meningkatkan infrastruktur dasar. gung jawab lembaga publik. Mengingat keterba- · Mempertimbangkan berbagai kesempatan tasan dana bagi infrastruktur, dapat dipahami bagi pemberdayaan kelompok pengguna jika dinas pekerjaan umum memberikan priountuk membangun, mengoperasikan, meritas pada investasi yang menghasilkan keunmelihara dan memobilisasi sumberdaya bagi tungan lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahinfrastruktur dasar skala kecil seperti perwa infrastruktur memberikan layanan kepada sediaan air bersih, jejaring irigasi kecil dan banyak orang, terutama jalan, pelabuhan, jabahkan pembangkit listrik di daerah-daerah ringan irigasi utama, sampai tingkat yang lebih terpencil. rendah berupa sarana air dan sanitasi di daerah· Mengalokasikan proporsi dana publik yang lebih tinggi bagi pemeliharaan infrastruktur daerah dengan kepadatan penduduk yang tingdasar yang menjadi tanggung jawab pemegi. Jauh lebih rendah di bagian bawah pada daftar tersebut adalah infrastruktur dasar untuk rintah. pemukiman perdesaan dengan penduduk yang tersebar, dimana biaya-biaya unit sangat tinggi. Meskipun pemilik rumah dan warga mem- 3.2. Akses ke Pendidikan punyai pengaruh dalam menekan pemerintah daerah untuk menyediakan dan memelihara Selama dua puluh tahun terakhir, Aceh telah infrastruktur dasar, tetapi tidak ada jaminan mengalami perkembangan besar dalam sektor bahwa permintaan mereka akan ditangani dan pendidikan, meskipun seperti halnya di bagimereka mempunyai pengaruh yang jauh lebih an-bagian lain di dunia, perkembangan-perkecil dalam pengambilan keputusan tentang kembangan selanjutnya ternyata semakin sulit penyedia layanan nasional, misalnya PLN untuk dicapai. Angka melek huruf dewasa di Aceh meninglistrik. kat dari 87 persen pada tahun 1990 menjadi Pemberdayaan Masyarakat. Ini merupakan salah satu contoh dimana pemberdayaan masya- 96 persen pada tahun 2007, sedangkan ratarakat dapat menciptakan perbedaan. Masyara- rata lama pendidikan meningkat dari di bawah 6 tahun pada tahun 1990 menjadi di atas 8 kat setempat sebagai penerima dana hibah dari pemerintah, tidak perlu menunggu lembaga tahun pada akhir dekade. (Lihat Gambar 3.2). daerah atau nasional untuk memberikan pela- Kedua indikator mencapai kemajuan nyata yanan kepada lingkungan yang kekurangan. Se- pada pertengahan dekade terakhir. Pengaruh kemajuan ini terlihat jelas sebelumnya dalam baliknya, masyarakat dapat memutuskan untuk menggunakan dana yang dialokasikan untuk indikator-indikator IPM di negara-negara memberikan pelayanan tersebut atau tidak ka- yang lebih maju setelah negara-negara tersebut mencapai angka melek huruf dewasa yang lah pentingnya untuk melakukan perbaikan jika
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

37

Gambar 3.2

Indikator Pendidikan di Aceh, 1990-2007

10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 1990 1993 1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 Rata-rata jumlah tahun bersekolah Tingkat melek huruf orang dewasa (axis kanan)

100.0 96.0 92.0 88.0 84.0 80.0

Persentase

Tahun

Sumber: Berbagai Terbitan BPS Indonesia.

hampir lengkap. Akibatnya, rata-rata lama pendidikan ditambahkan sebagai indikator IPM bagi pencapaian pendidikan untuk menciptakan perbedaan yang lebih besar dalam perbandingan internasional.

3.2.1 Angka Melek Huruf Dewasa
Pada tahun 2008, Aceh mencapai angka melek huruf dewasa sebesar 95,9 persen dibandingkan dengan 92,1 persen untuk Indonesia secara keseluruhan, dan menduduki peringkat ke-10 di antara semua provinsi di Indonesia. Perbandingan angka melek huruf dewasa untuk tiga daerah di Aceh selama kurun waktu 2002 sampai 2007 menunjukkan bahwa Aceh Bagian Utara dan Timur berada di tempat pertama, Aceh Bagian Tengah di tempat kedua dan selanjutnya diikuti Aceh Bagian Barat dan Selatan. (Lihat Gambar 3.3.) Tiga daerah tersebut, semuanya menunjukkan penurunan pada tahun 2005, meskipun penurunan ini merupakan sebuah penyimpangan, karena data lain pada Tabel 3.2 di bawah ini untuk tahun-tahun 1993, 2004 dan 2007 menunjukkan peningkatan tetap selama kurun waktu itu. Karena penurunan ini kurang nyata di Aceh Bagian Tengah, barangkali hal ini terkait dengan survei yang dilakukan selama kekacauan pada tahun 2005 yang disebabkan oleh tsunami. Namun demikian, meskipun dua dari tiga daerah menyamai atau melampaui tingkat yang dicapai pada ta38

hun 2002, tetapi Aceh Bagian Tengah masih berjuang untuk mengejar ketinggalan pada tahun 2007. Angka-angka juga menunjukkan kesenjangan tingkat melek huruf secara tetap antara lakilaki dan perempuan. (Lihat Gambar 3.4). Sampai tahun 2006, kesenjangan ini berakhir secara signifikan, menurun dari 8,0 poin pada tahun 1996 sampai 6,1 poin pada tahun 1999 dan 3,4 poin pada tahun 2006. Akan tetapi sejak saat itu, kesenjangan tersebut dalam keadaan tetap. Tidak diragukan lagi bahwa kesenjangan tingkat melek huruf dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan sisa pengaruh kesenjangan pendidikan yang sama atau lebih besar di antara generasi laki-laki dan perempuan yang lebih tua. Sebagaimana diperkirakan, angka melek huruf sangat berbeda-beda antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. (Lihat Lampiran A: Tabel 3.2). Angka melek huruf lebih tinggi di kota daripada di kabupaten, dengan 8 poin penuh pada tahun 1993, tetapi kesenjangan tersebut kemudian berakhir. Angka tersebut juga lebih tinggi di kabupaten-kabupaten lama daripada kabupaten-kabupaten baru kirakira dengan 3 poin. Sedangkan rata-rata angka melek huruf untuk seluruh Aceh pada tahun 2008 adalah 95,9 persen. Angka tersebut rendah khusunya di Gayo Lues di Aceh Bagian Tengah (84 persen), Nagan Raya (88 persen%), Aceh Singkil (90 persen) dan Subulussalam (91 persen), ketiganya di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan. Tidak menjadi persoalan tahunLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 3.3 98.0 97.0 96.0 95.0 94.0 93.0 92.0 91.0

Angka Melek Huruf Dewasa untuk Seluruh Daerah di Aceh

Aceh Bagian Utara dan Timur

Aceh Bagian Barat dan Selatan

Dataran Tinggi Aceh 2002 2005 2007

Catatan: Angka Melek Huruf Dewasa tertimbang untuk setiap daerah Sumber: BPS

Gambar 3.4 100.0 Persenmelekhuruforangde wasa

Angka Melek Huruf Dewasa menurut Jenis Kelamin di Aceh, 1996 – 2008

98.0 96.2 94.2 90.1 86.2 94.7

96.6 93.2

97.6 94.2

95.0

90.0

85.0

80.0 1996 1999 2003 2006 Laki-laki
Sumber: Indeks Pembangunan Manusia (BPS), berbagai tahun.

2008 Perempuan

tahun mana yang dipilih untuk perbandingan, data menunjukkan penurunan angka melek huruf yang sama setelah tahun 2004, dengan sedikit penurunan dalam beberapa tahun yang kemudian diikuti dengan sedikit peningkatan.

3.2.2 Lama Pendidikan
Pada tahun 2008, rata-rata lama pendidikan penduduk di Aceh adalah 8,6 tahun dibandingkan dengan 7,6 tahun untuk Indonesia secara
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

keseluruhan. Ini artinya Aceh menempati peringkat ke-9 di antara semua provinsi di Indonesia pada tahun itu. (Lihat Lampiran A: Tabel 3.2) Indikator ini menunjukkan bahwa hampir tidak ada perbedaan antara Aceh Bagian Utara dan Timur dan Aceh Bagian Tengah, meskipun daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan mengalami ketinggalan lagi. (Lihat Gambar 3.5). Tidak seperti kisah tentang melek huruf, setiap daerah masih menunjukkan peningkatan secara bertahap dalam rata-rata jumlah tahun kehadiran di sekolah, yang mencerminkan dam39

Gambar 3.5 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0

Rata-rata Lama Pendidikan untuk Seluruh Daerah di Aceh

Aceh Bagian Utara dan Timur
Catatan: Angka rata-rata Lama Pendidikan tertimbang untuk setiap daerah Sumber: BPS

Aceh dan Bagian Selatan Barat

Dataran Tinggi Aceh 2002 2005 2007

pak kumulatif partisipasi sekolah yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, yang didokumentasikan pada bagian berikutnya. Di tingkat kabupaten, gambaran tentang lama pendidikan, sama dengan gambaran tentang melek huruf (Lihat Lampiran A: Tabel 3.2.). Lama pendidikan untuk kota secara tetap lebih tinggi dibandingkan dengan lama pendidikan untuk kabupaten, yang naik dari 9,1 tahun pada 1993 menjadi 10,1 tahun pada tahun 2008. Tetapi kesenjangan tersebut berakhir, dari 2,8 tahun pada tahun 1993 menjadi 2 tahun atau kurang pada tahun 2008. Di antara kabupaten, rata-rata lama pendidikan di kabupaten-kabupaten lama lebih tinggi daripada kabupaten-kabupaten baru dengan margin sebesar 0,7 tahun pada 2004 dan 2008. Rata-rata lama pendidikan tertinggi pada tahun 2008 tercatat di kota-kota yang berkisar dari 12 tahun di Banda Aceh sampai 10 tahun atau lebih di Langsa, Lhokseumawe dan Sabang, tetapi hanya 7,6 tahun di Subulussalam. Selama tahap-tahap awal dan pertengahan pembangunan, pola ini dianggap biasa. Kota adalah tempat dimana pekerjaan dengan keterampilan maju akan lebih mungkin didapatkan, yang memerlukan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, rata-rata lama pendidikan terendah terdapat di sebagian besar kabupaten perdesaan, karena pekerjaan yang memerlukan keterampilan maju lebih langka. Kebanyakan ratarata lama pendidikan terendah tersebut ditemukan di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan, seperti Nagan Raya (7,4 tahun), Aceh Barat
40

Daya (7,5 tahun), dan baru saja disebutkan Subulussalam (7,6 tahun), ditambah Pidie Jaya di daerah Aceh Bagian Utara dan Timur (7,6 tahun). Perbedaan skor lama pendidikan di antara kabupaten dan kota sebaiknya tidak sematamata diinterpretasikan sebagai refleksi sistem pendidikan di setiap lokasi. Lama pendidikan ini juga merupakan sebuah fungsi dari tingkat keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan, yang cenderung lebih tinggi dimana akan didapatkan posisi teknis dan manajemen yang lebih senior, khususnya di kota-kota dan kabupatenkabupaten yang lebih kota. Jika pekerjaanpekerjan ini tidak banyak ditemukan di daerahdaerah perdesaan maka skor lama pendidikan secara nyata akan lebih rendah.

3.2.3 Partisipasi Sekolah
Catatan yang mengesankan di Aceh tentang angka partisipasi di semua jenjang pendidikan diakui dengan baik. Laporan Pengkajian Kemiskinan 2008 meringkas situasi di Aceh sebagai berikut : “Aceh memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi daripada Indonesia atau Sumatera Utara. Hal ini berlaku di seluruh tingkat penghasilan dan semua jenis pendidikan. Di Aceh, semua kelompok penghasilan mempunyai tingkat partisipasi yang lebih tinggi daripada kelompok-kelompok sebaya mereka di Indonesia dan Sumatera Utara, dan perbeda-

Perbedaan skor lama pendidikan di antara kabupaten dan kota sebaiknya tidak sematamata diinterpretasikan sebagai refleksi sistem pendidikan di setiap lokasi. Lama pendidikan ini juga merupakan sebuah fungsi dari tingkat keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan, yang cenderung lebih tinggi dimana akan didapatkan posisi teknis dan manajemen yang lebih senior, khususnya di kota-kota dan kabupatenkabupaten yang lebih kota.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

an ini lebih jelas pada bagian penduduk yang lebih miskin. Tingkat partisipasi yang lebih tinggi di Aceh bukanlah hal yang baru. Ada bukti bahwa orang-orang Aceh secara konsisten memiliki angka partisipasi yang lebih tinggi daripada rata-rata keluarga Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, dengan kemungkinan yang lebih tinggi lulus SD, SMP atau SMA.” 14 Pada tahun 2008, Aceh menempati peringkat pertama atau kedua di antara seluruh provinsi di Indonesia untuk angka partisipasi sekolah pada semua kelompok umur termasuk kelompok umur tertua.15 (Lihat Lampiran A: Tabel 3.3). Perbedaan antara Aceh dan rata-rata nasional meningkat pada setiap tingkat, dari 1,2 persen di antara kelompok usia termuda sampai 9,7 persen% untuk kelompok usia 13 sampai 15 tahun dan 17,7 persen untuk kelomok usia 16 sampai 17 tahun. Kinerja Aceh di tingkat yang lebih tinggi sangat luar biasa. Pada kelompok umur 16 - 17 tahun, Aceh (72,4 persen) adalah yang tertinggi dalam hal pusatpusat pendidikan maju seperti Jakarta (49,4 persen) dan Yogyakarta (57,4 persen), dan provinsi-provinsi yang kaya sumberdaya seperti Riau (47,3 persen) dan Kalimantan Timur (51,4 persen ). Bahkan di antara kelompok umur 18 sampai 23 tahun, angka partisipasi di Aceh (22,4 persen) lebih tinggi daripada Jakarta (15,5 persen) dan hanya di bawah Yogyakarta (35,0 persen), dua pusat nasional utama untuk pendidikan universitas. Selain itu, angka putus sekolah di Aceh lebih rendah dibanding dengan sebagian besar provinsi lainnya, termasuk provinsi tetangga Sumatera Utara dan Riau. Di Aceh, perbedaan-perbedaan angka partisipasi sekolah di antara kabupaten menggambarkan sebuah kisah yang lebih beragam dan terkadang mengejutkan. (Lihat juga Lampiran A: Tabel 3.3). Kota menunjukkan angka partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan kabupaten pada kedua kelompok umur yang lebih tua. Hal ini diperkirakan karena sekolah menengah atas dan fasilitas pendidikan tinggi cenderung lebih terkonsentrasi. Angka-angka untuk kota bahkan lebih tinggi pada tingkat ini, kecuali Sabang dengan angka-angka rendah. Hal ini mungkin karena para siswa di sana lebih memilih untuk pindah ke dekat Banda Aceh untuk tingkat pendidikan tinggi. Di tingkat sekolah dasar, angka partisipasi untuk semua kabupaten mendekati rata-rata 99
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

persen untuk Aceh, hanya Aceh Jaya dan Gayo Lues turun di bawah 98 persen. Di tingkat sekolah menengah pertama, dimana rata-rata angka partisipasi untuk provinsi sebesar 94,1 persen, hanya Aceh Timur dan Gayo Lues turun di bawah 90 persen. Di tingkat sekolah menengah atas, dimana rata-rata provinsi mencapai 72,4 persen, angka-angka tersebut berbeda-beda secara lebih luas. Di bagian paling atas, empat kabupaten mempunyai skor hampir 80 persen atau lebih tinggi. Dua dari kabupaten-kabupaten ini adalah kota-kota Banda Aceh (86,8 persen) dan Lhokseumawe (79,6 persen), dan dua di antaranya adalah daerah-daerah perdesaan ter-pencil, Nagan Raya (70,5 persen) dan pulau Simeulue (83,3 persen). Pada bagian paling bawah skala tersebut adalah Aceh Timur (58,9 persen), Gayo Lues (61,4 persen), Aceh Jaya (62,1 persen) dan Aceh Tamiang (64,7 persen), semuanya merupakan kabupaten baru kecuali Aceh Timur. Angka partisipasi mengalami penurunan karena anak-anak tumbuh menjadi dewasa yang disebabkan oleh berbagai alasan. Tidak saja anak tertarik atau ingin mendapatkan pekerjaan dan memperoleh penghasilan, tetapi juga karena penyesuaian yang kadang-kadang mengalami kesulitan untuk berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Perbedaan angka partisipasi dalam kabupaten tertentu antara tingkat SMP dan SMU sangat nyata. (Lihat kolom 7 Tabel 3.3). Meskipun beberapa kabupaten menunjukkan penurunan dramatis, seperti Aceh Tamiang (turun 28,9 persen), Pidie Jaya (-29,4 persen), Aceh Timur (-30 persen) dan Aceh Jaya (-32 persen), tetapi penurunan untuk semua kabupaten di Aceh kecuali dua terakhir yang disebutkan lebih kecil dari ratarata nasional sebesar -29,7 persen. Kabupatenkabupaten yang hanya menunjukkan kerugian kecil adalah sama dengan kabupaten-kabupaten yang disebutkan sebelumnya yang memiliki angka partisipasi tinggi di tingkat SLTA. Fluktuasi yang luas ini sebagian disebabkan oleh anak-anak yang putus sekolah pada tahap itu, tetapi sebagian besar mungkin juga disebabkan oleh migrasi, karena anak-anak pergi dari rumah untuk melanjutkan pendidikan mereka di sekolah menengah atas di tempat lain. Misalnya, anak-anak di Aceh Jaya mungkin berpindah ke sekolah-sekolah di Banda Aceh, mereka yang ada di Aceh Timur dan Aceh Tamiang berpindah ke Langsa. Kecenderungan yang sama bahkan lebih nyata di tingkat pendidikan tinggi.
41

Untuk menentukan kabupaten mana saja yang mencapai angka partisipasi tertinggi untuk ketiga tingkat sampai usia 17 tahun, kabupatenkabupaten tersebut diperingkat untuk setiap tingkat dan rata-rata dihitung dari peringkat mereka. (Kolom 6 pada Lampiran A: Tabel 3.3). Kabupaten dengan peringkat tertinggi meliputi dua kota, Lhokseumawe dan Banda Aceh, dan tiga daerah perdesaan yang cukup terpencil, Bener Meriah dan Aceh Tengah di Aceh Bagian Tengah dan Aceh Selatan di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan. Hal ini menggambarkan dengan baik tiga daerah yang disebutkan terakhir untuk mengupayakan agar anak-anak tetap di sekolah dan untuk mendidik mereka di tempat itu, tanpa harus pindah ke tempat lain. Kabupaten dengan peringkat terendah meliputi Gayo Lues, Aceh Timur, Aceh Jaya dan Subulussalam, semuanya merupakan kabupaten baru kecuali Aceh Timur. Riset lebih lanjut diperlukan untuk menentukan secara lebih tepat sebab-sebab rendahnya peringkat ini dan apa yang diperlukan untuk meningkatkan angka partisipasi di daerah tersebut. Di antara penyebab yang mungkin adalah fasilitas yang rusak, kelas yang terlalu penuh, jalan dan layanan transportasi yang buruk, kualitas guru yang rendah, manajemen sekolah yang buruk atau sekedar pilihan sekolah yang lebih baik di tempat lain. Di kabupaten-kabupaten dimana kepadatan penduduk rendah, daerahdaerah tangkapan (catchment) yang cukup untuk mendukung sebuah sekolah menengah atas adalah luas, artinya banyak anak tinggal di luar jarak pulang-pergi yang wajar, khususnya di mana jalan dan transportasi umum buruk. Untuk bersekolah di sekolah menengah atas, anak-anak di daerah-daerah terpencil harus meninggalkan rumah dan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan sekolah. Anak-anak enggan untuk meninggalkan rumah, dan orang tua tidak memiliki dana untuk membayar biaya tambahan. Jika mereka memutuskan untuk pindah, mereka mungkin lebih memilih bersekolah di sekolah yang lebih baik di tempat yang lebih jauh, mungkin di salah satu kota besar. Faktor lain yang mempengaruhi angka partisipasi sekolah di setiap kabupaten adalah estimasi anak-anak usia sekolah di setiap jenjang. Estimasi untuk tahun-tahun sejak sensus sebelumnya pada tahun 2005 tidak secara penuh mencerminkan migrasi ke dalam atau keluar

yang terjadi sejak saat itu. Migrasi ini cukup signifikan di beberapa kabupaten, mengingat banyaknya pekerjaan sementara yang dihasilkan sebagai akibat dari program-program pemulihan secara besar-besaran setelah tsunami pada bulan Desember 2004. Hal ini sebagian dapat menjelaskan mengapa angka partisipasi di beberapa daerah perdesaan yang mengalami migrasi keluar relatif rendah dan mengapa kabupaten lainnya yang mengalami migrasi ke dalam relatif tinggi. Akan tetapi, persoalan ini baruakanjelassetelahhasilsensus2010diketahui.

3.2.4 Perbedaan Gender
Persoalan tetap yang ada di berbagai belahan dunia adalah kesenjangan angka partisipasi sekolah antara anak laki-laki dan perempuan, dimana anak-anak perempuan seringkali tertinggal jauh di belakang karena tradisi sosial, budaya atau agama. Akan tetapi, hal ini tidak terjadi di Aceh. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.6, angka partisipasi tersebut hampir sama untuk anak laki-laki dan perempuan di seluruh sekolah menengah pertama, dimana jumlah anak perempuan melebihi anak lakilaki di tingkat pendidikan tinggi. Hal ini karena
Gambar 3.6 100 80 60 40 20 0 Angka di AcehPartisipasi menurut Sekolah Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2007

7-12

13-15

16-18

19-24 Laki-laki

Perempuan
Sumber: Data Susenas (BPS)

laki-laki muda berada di bawah tekanan yang besar untuk mencari pekerjaan dan memberikan kontribusi bagi pendapatan keluarga. Selain itu, mereka kehilangan semangat untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi karena tidak adanya kesempatan kerja dan harapan setelah lulus.

42

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 3.7

Penduduk Miskin yang lulus Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi Banda Aceh

Sabang Langsa Lhokseumawe Aceh Besar Aceh Tenggara Bener Meriah Aceh Tengah Bireuen Aceh Aceh Tamian Aceh Timur Nagan Raya Gayo Lues Aceh Utara Pidie Aceh Bara Daya Aceh Barat Pidie Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Jaya Simeulue Subulussalam 0 5 10 15 20 25 30 35 40

Catatan: Prosentase Jumlah Penduduk Miskin, 2007 Sumber: Dihitung dari BPS.

3.2.5 Pendidikan dan Kemiskinan

tidak sesuai dengan kualifikasi mereka, karena ini nantinya akan mengurangi harapan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Terlepas dari tingginya angka partisipasi sekolah di masa depan. Mereka lebih suka menunggu di Aceh, kecenderungan yang mengkhawatirkan terjadi di antara mereka yang telah lulus seko- dengan waktu yang tidak terbatas agar dapat lah menengah atas atau lembaga-lembaga pen- memperoleh pekerjaan yang sesuai, dan mereka cenderung untuk berkumpul di tempat-tempat didikan tinggi yang tetap menempati peringkat orang-orang miskin. Di tingkat provinsi di dimana prospek pekerjaan tersebut lebih baik, yaitu dekat dengan universitas dimana Aceh, para lulusan ini mewakili kira-kira 10 mereka belajar, kota-kota besar dan pusat kota persen orang miskin (Lihat Gambar 3.7), mulai dari yang terendah yaitu kurang dari 5 persen lainnya. Dalam perekonomian dengan tingkat perkembangan yang relatif rendah, besarnya di Aceh Singkil sampai 22 persen di Sabang dan yang tertinggi sebesar 37 persen di Banda proporsi orang-orang berpendidikan yang Aceh. Kondisi seperti ini bukan hal yang unik akhirnyamenjadiorang-orangmiskinmerupakan sebuah fenomena yang sangat mengkhawatirkan. bagi Aceh, tetapi merupakan sebuah fenomena yang juga terjadi di tempat lain di Indonesia dan negara-negara lain pada tahap-tahap pertengahan pembangunan. Situasi ini muncul 3.2.6 Kesimpulan dari ketidaksesuaian antara jumlah lulusan terampil dan sedikitnya permintaan untuk Aceh dibandingankan dengan Provinsi-Proorang-orang yang memiliki keterampilan seperti vinsi lain. Dalam beberapa hal, Aceh cukup itu. Mereka dengan keterampilan yang lebih seimbang dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia berkaitan dengan kinerjanya di sektor baik enggan untuk menerima pekerjaan yang
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

43

pendidikan. Pada tahun 2008, Aceh menempati peringkat tertinggi ketiga untuk melek huruf dewasa dan rata-rata lama pendidikan dan peringkat pertama atau kedua menurut data untuk angka partisipasi sekolah di semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tidak diragukan lagi, tingginya skor melek huruf dan lama pendidikan sebagian mencerminkan tradisi panjang di Aceh untuk mendorong anak-anak untuk bersekolah dan melanjutkan pendidikan mereka. Tantangan yang dihadapi oleh Sektor Pendidikan. Walaupun indikator-indikator ini memberikan kesan yang baik tentang prestasi Aceh di bidang pendidikan, tetapi indikatorindikator ini tidak banyak menjelaskan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan. Tantangan-tantangan tersebut diringkas sebagai berikut : · Meskipun angka partisipasi sekolah tinggi, tetapi beberapa anak masih tertinggal dan banyak anak putus sekolah, terutama setelah sekolah menengah pertama. · Anak-anak di daerah-daerah yang lebih terpencil memiliki akses terbatas ke sekolah menengah atas, artinya mereka juga harus berpindah ke tempat yang lebih dekat dengan sekolah, dimana keluarga miskin tidak mampu, atau mereka putus sekolah begitu saja. · Mutu pendidikan sangat berbeda-beda, dan seringkali kurang baik di banyak kabupaten, khususnya kabupaten-kabupaten di daerah perdesaan dan lebih terpencil. · Meskipun hasil ujian bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan, tetapi hasil ujian tersebut menunjukkan bahwa siswasiswa dari Aceh memiliki kinerja yang relatif buruk dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya, sekali lagi sebagian merupakan refleksi dari mutu pengajaran yang buruk. · Kurikulum yang digunakan di banyak sekolah tidak tepat untuk mempersiapkan para lulusan guna mendapatkan pekerjaan, khususnya di beberapa lembaga pelatihan kejuruan. · Banyak sekolah yang rusak atau hancur selama konflik belum diperbaiki atau dibangun kembali, terutama di kabupatenkabupaten bagian tengah yang jauh dari pantai yang tidak memperoleh dukungan dari program-program pemulihan tsunami. · Kapasitas staf manajemen dan administrasi di banyak sekolah masih lemah.
44

Respon. Hal yang menguntungkan bahwa dinas pendidikan provinsi Aceh telah menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dalam merespon tantangan-tantangan ini. Pada tahun 2007, dinas pendidikan tersebut mengeluarkan rencana strategis (renstra) untuk sektor pendidikan, yang merupakan model yang harus diikuti oleh departemen lain. Rencana strategis ini menjelaskan lima tujuan dan indikator kinerja terkait yang digunakan dalam penyusunan rencana dan anggaran tahunan, barangkali departemen pertama pemerintah provinsi yang akan mempraktekkan prinsip-prinsip penganggaran kinerja berbasis hasil. Strategi-strategi yang sedang diupayakan adalah untuk: · Merasionalisasikan alokasi staf pengajar untuk menangani kelebihan di beberapa daerah dan kekurangan di daerah-daerah lain. · Meningkatkan akses bagi semua orang dengan menargetkan subsidi untuk jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Belakangan ini, Aceh memperkenalkan pendidikan gratis untuk semua sampai ke sekolah menengah pertama dan merencanakan untuk memperluas pendidikan gratis ini ke sekolah menengah atas. · Memperkuat mutu staf pengajar melalui program-program peningkatan dan akreditasi staf kunci. · Memperkuat tata kelola dan efisiensi melalui perencanaan dan pengembangan partisipatif. · Menggunakan sumberdaya provinsi untuk mengatasi ketidakseimbangan dalam pengeluaran pemerintah daerah untuk pendidikan. Inovasi penting lainnya oleh Dinas Pendidikan adalah adopsi konsep manajemen dan penganggaran berbasis kinerja bagi penyusunan rencana dan anggaran tahunan. Target inovasi ini adalah sumberdaya untuk mencapai tujuan dan sasaran khusus, dan bertujuan untuk menggunakan dana secara lebih efektif dan memperbaiki manajemen layanan-layanan pendidikan. Pemberdayaan Masyarakat. Yang sangat penting adalah ukuran-ukuran yang digunakan oleh departemen pendidikan untuk mempromosikan pemberdayaan masyarakat dalam sektor ini. Di tingkat provinsi, departemen pendidikan telah menetapkan sebuah forum yang terdiri dari para pemangku kepentingan (stakeholder) dari pemerintah, universitas, masyaraLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tabel 3.1 Provinsi

Peringkat Indikator Kesehatan untuk beberapa Provinsi, 2008 Harapan Angka Angka hidup Kematian Ba kesakitan ( (tahun) yi %) (per 1,000) 1 1 2 2 5 19 29 26 30 73.1 68.5 61.5 2 4 19 29 26 30 63.5 34.1 18.2 1 4 23 30 25 31 31.0 21.5 14.1 Penduduk yan Penduduk tanp Keseluruha g a mengobati akses ke fasilit n sendiri peringkat 4 (%) as 1 1 (%) 5 2 2 8 19 26 29 33 81.6 67.1 50.9 6 16 18 28 31 50.1 12.9 0.0 3 18 31 32 33

D. I. Yogyakarta DKI Jakarta Jawa Tengah Aceh Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Maximum Aceh Minimum
Sumber: BPS

kat sipil, LSM, lembaga donor dan badan-badan Islam, dengan kewenangan untuk menyuun dan mengimplementasikan rencana bagi sektor tersebut. Berbagai pertemuan telah diselenggarakan dengan kabupaten dan kota untuk mempromosikan agenda rencana strategis. Di tingkat sekolah masing-masing, dengan mengikuti petunjuk nasional, komite sekolah telah dibentuk yang terdiri dari wakil-wakil guru, pengurus, orang tua dan siswa (jika perlu), dengan kewenangan untuk menyusun dan menyetujui rencana dan anggaran tahunan. Ini merupakan sesuatu yang baik (preseden) yang dapat diadopsi di sektor-sektor lainnya. Kesempatan-kesempatan lain bagi pemberdayaan masyarakat dapat ditemukan dalam penyelenggaraan program-program pra-sekolah, yang sangat penting dalam mempersiapkan anak-anak usia muda untuk pendidikan formal di kemudian hari. Saat ini, program pra-sekolah hanya melayani sebagian kecil anak di bawah usia 7 tahun, dan sektor swasta jauh melampaui pemerintah dalam memberikan programprogram seperti itu. Rekomendasi: Sementara pemerintah merencanakan untuk memperluas pemberian program-program, pilihan lain bagi mereka adalah untuk lebih mendorong sektor swasta dan kelompok masyarakat guna melakukan programprogram ini, karena orang tua memiliki kepentingan terkuat dalam melakukan programprogram tersebut. Dukungan Pemerintah sebaiknya berupa hibah disertai dengan kumpulan standar kinerja untuk memenuhi syarat dukungan.

Bidang lain yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius adalah pelatihan kejuruan untuk memastikan bahwa para pencari kerja memiliki keahlian yang tepat sesuai dengan prioritas ekonomi dan kondisi pasar yang berubah. Sama pentingnya adalah perlunya memperluas kesempatan bagi orang-orang yang ingin mengubah pekerjaan atau karier, terutama dari pekerjaan manual di bidang pertanian dan dalam kegiatan-kegiatan kerja kasar harian ke pekerjaan atau karir dalam industri teknis atau layanan, sebuah kebutuhan yang seringkali dinyatakan oleh para mantan pejuang GAM. Rekomendasi: · Untuk tujuan pelatihan kejuruan, wakilwakil masyarakat bisnis sebaiknya dilibatkan dalam perencanaan dan desain kursus dan kurikulum. · Mempertimbangkan penyumberan luar (outsourcing) untuk manajemen dan petunjuk lembaga pelatihan kejuruan kepada sektor swasta. Kursus dapat diselenggarakan berdasarkan pada biaya jasa, yang danai oleh kontribusi dari bisnis yang memerlukan tenaga terampil, seperti hotel, jasa perbaikan kendaraan dan industri konstruksi.16

3.3. Akses ke Pelayanan Kesehatan
3.3.1 Perbandingan dengan ProvinsiProvinsi lainnya
Tidak seperti keadaan yang memberikan harapan dalam sektor pendidikan di Aceh, situasi

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

45

Gambar 3.8 71.0 70.0 69.0 68.0 67.0 66.0 65.0 64.0 63.0 62.0 61.0

Harapan Hidup untuk Seluruh Daerah di Aceh

Aceh Bagian Utara dan Timur

Aceh dan Bagian Selatan Barat

Dataran Tinggi Aceh 2002 2005

2008

Catatan: Angka Harapan Hidup tertimbang untuk setiap daerah Sumber: BPS

di sektor kesehatan kurang memuaskan. Untuk memberikan penilaian secara keseluruhan tentang dimana posisi Aceh sehubungan dengan provinsi-provinsi lainnya, peringkat dihitung untuk lima indikator dan dibuat rata-rata. Berdasarkan metode ini, Aceh menempati peringkat ke-18 dari 33 provinsi pada tahun 2008. (Lihat Tabel 3.1). Harapan hidup berbedabeda dari 73 tahun di Yogyakarta sampai 69 tahun di Aceh dan hanya 61 tahun di NTB. Kematian bayi (kematian per 1.000 kelahiran hidup sebelum usia 5 tahun) berkisar dari yang rendah sebesar 18 di Yogyakarta sampai 34 di Aceh dan yang tinggi sebesar 63 di NTB lagi. Untuk kesakitan, yang terendah adalah Jakarta
Figure 3.9 160

(14 persen), tertinggi adalah di NTT (31 persen) dan di atas rata-rata nasional adalah Aceh (22 persen). Proporsi penduduk yang melakukan pengobatan sendiri berkisar dari 82 persen di Maluku Utara, 67 persen di Aceh dan yang rendah sebesar 51 persen secara mengejutkan di Papua, mungkin karena orang-orang Papua lebih mengandalkan dukun. Dari lima indikator, Aceh lebih baik dalam hal akses ke fasilitas kesehatan, dimana hanya 13 persen penduduk tidak memiliki akses, dibandingkan dengan yang tinggi sebesar 50 persen di Papua, yang mungkin diperkirakan karena medan yang sulit di Papua, dan yang rendah sebesar 0 persen di Jakarta dan Yogyakarta.

Angka Kematian Bayi dan Rasio Harapan Hidup di Aceh, 1971-2007 80

120 per1000kelahir an

70

80

60 Age

40

50

0 1971 1980 1990 1993 1995 1997 1999 2000 2002 2005 2007

40

Rata-rata kematian bayi
Sumber: BPS berbagai terbitan dan publikasi

Rasio harapan hidup

46

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

3.3.2 Harapan Hidup

per 1.000 pada tahun 2007, tetapi angka yang dikutip dalam Lampiran A: Tabel 3.5 adalah Harapan hidup berbeda secara nyata di antara sebesar 34 per 1.000 setahun kemudian pada tahun 2008. Ini tidak harus berarti penurundaerah-daerah di Aceh. Antara tahun 2002 dan an selanjutnya secara tiba-tiba, tetapi ketidak2007, harapan hidup tertinggi terdapat di Aceh sesuaian sumber-sumber data yang berbeda dan Bagian Utara dan Timur dan terendah di Aceh mungkin metode perhitungan yang tidak sama. Bagian Barat dan Selatan, meskipun perbedaan Angka kematian bayi tahun 2008 di Aceh adalah tersebut telah menurun dari sekitar 4 tahun pasebesar 34,1 sebanding dengan rata-rata nasional da tahun 2002 menjadi kira-kira 2,5 tahun pada sebesar 26,9. Di antara daerah-daerah di Aceh, tahun 2007. (Lihat Gambar 3.8). Di antara kabupaten-kabupaten, harapan rata-rata angka kematian bayi terendah terdapat di kabupaten-kabupaten di Aceh Bahidup pada tahun 2008 adalah lebih dari 70 gian Utara dan Timur (30), dan tertinggi di tahun yang hanya terdapat di lima tempat, tiga di antaranya kota Sabang, Banda Aceh dan Aceh Bagian Barat dan Selatan (41). Di anLangsa, dan dua kabupaten, Aceh Besar dan tara kabupaten-kabupaten, angka tersebut berBireuen, yang menunjukkan rata-rata tertinggi kisar dari yang terendah sebesar 27 atau 28 sebesar 72,2 tahun. (Lihat Lampiran A: Tabel per 1.000 kelahiran hidup di empat dari lima 3.4). Harapan hidup terendah terdapat di tiga kota sampai yang tertinggi sebesar 46 di kota kelima, Subulussalam, 51 di Aceh Singkil, kabupaten, Simeulue (62,8 tahun), Aceh Singkil dan 58 yang mengkhawatirkan di Simeulue. (64,5) dan Subul ussalam (65,5), ketiganya ada(Lihat juga Gambar 3.10.) Rata-rata, angka lah daerah-daerah perdesaan di Aceh Bagian tersebut adalah yang tertinggi di antara Barat dan Selatan. Seperti yang diperkirakan, gambaran ini menunjukkan bahwa akses ke kelompok kabupaten-kabupaten baru, yang mencerminkan cakupan layanan pascakelahiran air bersih, sanitasi dan fasilitas medis di daerahyang buruk di daerah-daerah perdesaan. daerah perkotaan merupakan faktor penyumIndikator lain untuk kesehatan anak juga bang dalam memperpanjang harapan hidup. Dengan satu pengecualian, harapan hidup me- menunjukkan bahwa Aceh ketinggalan jauh dari rata-rata nasional, dengan kesenjangan ningkat di semua kabupaten selama kurun waktu 2002 sampai 2008, khususnya di Aceh Te- yang bahkan meluas pada beberapa tahun ngah sebesar 2,3 tahun dan Aceh Selatan se- terakhir. Data tahun 1999 menunjukkan bahwa besar 2,0 tahun. Pengecualian tersebut adalah 36 persen anak balita di Aceh mengalami gizi kurang, dibandingkan dengan 30 persen Bireuen, dimana turun 0,4 tahun, yang barangkali mencerminkan angka-angka inflasi selama secara nasional, kesenjangan sebesar 5,6 persen. (Lihat Tabel 3.2). Pada tahun 2002, terlepas tahun-tahun sebelumnya. dari penurunan proporsi, kesenjangan tersebut meningkat menjadi 9,4 persen. Berdasarkan perhitungan terakhir pada tahun 2008, 3.3.3 Kematian Bayi kesenjangan turun sedikit menjadi 8,0 persen, Faktor penting lainnya dalam menentukan ha- tetapi hampir sepertiga anak-anak muda masih tetap mengalami gizi kurang. rapan hidup adalah angka kematian bayi. Kembali ke tahun 1971, ketika kematian bayi di Aceh masih tinggi, sekitar 150 per 1.000 kelahiran hidup, harapan hidup hanya 36 tahun. 3.3.4 Layanan Anak (Lihat Gambar 3.9). Dengan bergantinya abad, kematian bayi telah mengalami penurunan Mengingat pentingnya penurunan kematian bayi, adalah penting untuk memperhatikan dua hampir seperempat dari angka pada tahun 1971 (sekitar 40 per 1.000 kelahiran hidup) dan indikator layanan kesehatan anak: pertolongan persalinan dan imunisasi. Data untuk indikator harapan hidup dua kali lipat menjadi hampir 70 tahun. Ini merupakan perkembangan pertama selama tahun 2005 dan 2008 menunyang luar biasa, meskipun seperti indikator- jukkan bahwa tenaga medis profesional memindikator lainnya, peningkatan selanjutnya berikan pertolongan persalinan di Aceh dengan proporsi yang lebih tinggi daripada rata-rata nasetelah tahun 2000 terbukti sulit tercapai.17 sional. (Lihat Tabel 3.3). Bidan memberikan Meskipun angka kematian bayi untuk Aceh yang ditunjukkan pada Gambar 3.9 sebesar 48 pertolongan persalinan jauh lebih sering dariLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

47

Gambar 3.10

Angka Kematian Bayi menurut Kabupaten di Aceh 2008 (Per 1000)

N W S E

SABANG

BANDA ACEH ACEH BESAR PIDIE ACEH JAYA LHOKSUMAWE ACEH UTARA BENER MERIAH ACEH TIMUR KOTA LANGSA ACEH TAMIANG GAYO LUES ACEH BARAT DAYA

BIREUEN

ACEH BARAT

ACEH TENGAH NAGAN RAYA

ACEH TENGGARA ACEH SELATAN

SIMEULUE ACEH SINGKIL ACEH SINGKIL

LEGENDA 20.9 20.9 - 29.3 29.3 - 35.2 35.2 - 42.2 42.2 - 57.6
Sumber: BPS

pada dokter atau paramedis baik di Aceh maupun secara nasional, karena frekuensi kehadiran dokter di Aceh lebih kecil dibanding rata-rata nasional. Sebaliknya, kemungkinan kehadiran dukun bayi di Aceh lebih kecil daripada di tempat lain. Selama kurun waktu tiga tahun, Aceh mengalami perkembangan lebih besar daripada secara nasional dalam memperluas penyediaan tenaga medis profesional pada persalinan, naik 6,5 persen dibandingkan dengan 4,5 persen.
48

Di sisi lain, data untuk indikator kedua menunjukkan Aceh tetap ketinggalan dari rata-rata nasional untuk sebagian besar jenis imunisasi anak usia dini. Hanya untuk polio Aceh berhasil mendekati tingkat nasional yang mencapai 91 persen anak-anak balita pada tahun 2006. (Lihat Gambar 3.9). Untuk imunisasi DPT dan BCG, kinerja Aceh meningkat kira-kira 75 persen anak balita dan untuk campak 71 persen. Karena beberapa alasan, ketiga kampanye ini,
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tabel 3.2

Anak-anak Gizi Kurang di Aceh (% usia Balita) 1999 2002 35.2 25.8 9.4 2008 31.5 23.5 8.0

Aceh Indonesia Selisih
Sumber: BPS

35.6 30.0 5.6

Tabel 3.3

Pertolongan Persalinan di Indonesia dan Aceh (%) 2005 Aceh Indonesia 58.2 11.0 1.2 70.4 26.4 2.8 0.4 29.6 100.0 Aceh 73.1 9.8 0.6 83.5 16.0 0.7 0.2 16.9 100.0 67.4 8.7 0.9 77.0 20.1 2.1 0.8 23.0 100.0 2008 Indonesia 59.5 14.7 0.7 74.9 23.1 1.8 0.3 25.1 100.0 Perubahan 2005-2008 Aceh 5.7 1.1 -0.3 6.5 -4.5 -1.4 -0.6 -6.5 Indonesia 1.3 3.7 -0.5 4.5 -3.3 -1.0 -0.1 -4.5

Tenaga Bidan Dokter Paramedik Subtotal Dukun bayi Keluarga Lain-lain Subtotal Total
Sumber: Data Susenas (BPS), 2005 dan 2008.

tetapi bukan kampanye untuk polio, menurun secara tajam pada tahun 2004 sebelum tsunami, tetapi pada umumnya meningkat pada tahun berikutnya.

dan 8 kabupaten baru (17,3). Perbedaan antara kedua kelompok kabupaten tersebut dalam hal ini cukup nyata, sekali lagi menekankan tingkat pembangunan yang lebih rendah di antara kabupaten-kabupaten baru. Di tingkat daerah, rakyat Aceh Bagian Utara dan Timur, tidak 3.3.5 Kesehatan Masyarakat termasuk mereka yang tinggal di kota-kota, memiliki kesehatan yang lebih baik (rata-rata Kualitas kesehatan rakyat tergantung pada bebe- peringkat 11,4) dibandingkan dengan mereka rapa faktor termasuk pola makan, olah raga, yang tinggal di Aceh Bagian Barat dan Selatan gaya hidup dan kualitas layanan kesehatan, yang dan Aceh Bagian Tengah (keduanya sekitar 15,5). sangat berbeda-beda di daerah-daerah kurang Untuk tiap-tiap kabupaten, orang-orang berkembang. Sebuah perbandingan data di an- dengan kesehatan terburuk adalah mereka yang tara kabupaten-kabupaten berguna dalam me- tinggal di Pidie Jaya di timur laut, Bener Meriah nentukan sejauh mana layanan-layanan kese- di bagian tengah, Aceh Barat Daya dan Aceh hatan membantu meningkatkan kesehatan di Selatan, keduanya di barat daya. Kematian bayi, Aceh. yang rata-rata 32 per 1.000 untuk provinsi Untuk mengkaji kualitas kesehatan, data ten- tersebut secara keseluruhan, secara nyata merutang lima indikator pada tahun 2008 dikumpakan yang tertinggi di Aceh Bagian Barat dan pulkan untuk setiap kabupaten, yang selanjut- Selatan dengan 5 dari 8 kabupaten di daerah nya dibuat peringkat pada setiap indikator dan itu yang memiliki angka di atas 40 per seribu. peringkat gabungan kemudian dihitung dari Lima kabupaten ini adalah Aceh Selatan, Aceh rata-rata lima peringkat masing-masing. (Lihat Barat Daya, Subulussalam, Aceh Singkil dan Lampiran A: Tabel 3.8). Sebagai sebuah keSimeulue, dua terakhir memiliki angka di atas lompok, orang-orang di empat kota tersebut 50 per seribu. Di antara kabupaten-kabupaten secara konsisten menonjol karena memiliki lainnya, hanya Gayo Lues di Aceh Bagian kesehatan terbaik (rata-rata peringkat 4,0) Tengah memiliki angka di atas 40 per seribu. dibandingkan dengan 11 kabupaten lama (11,8)
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

49

Gambar 3.11

Imunisasi Anak Balita menurut Jenis di Indonesia dan Aceh, 2003-2006

100 88.1 80 77.2 74.0 60 56.6 40 2003 2004 2005 2006 Measles Indonesia
Sumber: Susenas (BPS),2003 & 2006

89.2

92.2 92.2 86.5 84.6 87.1 87.1

88.4

87.3

89.3

89.3

78.2 72.5

78.2

83.0

86.7 91.1 91.1 75.0 63.7 73.4 73.4 74.8 65.7 74.5 74.45

70.9 70.9

2003 2004 2005 2006 Polio

2003 2004 2005 2006 DPT

2003 2004 2005 2006 BCG

Nanggroe Aceh Darussalam

Masalah lainnya adalah biaya untuk mengakses layanan medis, bukan hanya untuk konsultasi, pengobatan dan perawatan, tetapi juga untuk transportasi ke fasilitas dari daerahdaerah terpencil.

Meskipun rata-rata provinsi untuk anakanak gizi kurang sebesar 27 persen, tetapi empat kabupaten memiliki angka di atas 40%, tiga dari kabupaten tersebut berada di Aceh Bagian Barat dan Selatan - Simeulue, Nagan Raya dan Aceh Barat Daya - dan satu di Aceh Bagian Tengah, Aceh Tenggara, dimana angka tersebut adalah yang terburuk dari semua sebesar 49 persen atau hampir setengah dari semua anak. Masalah-masalah kesehatan yang berkaitan dengan anak-anak dengan jelas banyak sekali ditemukan di kabupaten-kabupaten ini, terutama di Aceh Bagian Barat dan Selatan. Daerah ini memiliki kejadian masalah-masalah kesehatan yang lebih rendah pada penduduk secara keseluruhan, hanya 33 persen dibandingkan dengan 37 persen di Aceh Bagian Tengah dan 40 persen di Aceh Bagian Utara dan Timur. Mengingat prevalensi kesehatan yang buruk pada anak-anak di Aceh Bagian Barat dan Selatan, orang-orang dewasa di daerah tersebut menganggap penyakit mereka sendiri kurang penting dan tidak layak dilaporkan.

dihitung dari rata-rata kelima peringkat masing-masing. (Lihat Lampiran A: Tabel 3.5) Dalam hal kelompok-kelompok, seperti yang diperkirakan, kota-kota yang membanggakan menempati peringkat terbaik untuk layanan kesehatan dengan rata-rata 6,8, jauh di depan kabupaten-kabupaten, dimana sekali lagi kabupaten-kabupaten lama (rata-rata 11,6) terlayani dengan lebih baik daripada kabupatenkabupaten baru (15,6). Kota-kota mempunyai skor terburuk hanya pada satu indikator. Jumlah orang untuk setiap fasilitas kesehatan (ratarata 21.800). Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai kekurangan, tetapi mengingat kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi di daerah tersebut, hanya sebagian kecil penduduk tidak memiliki akses ke layanan ini, seperti yang ditunjukkan oleh rata-rata sebesar kurang dari 5 persen, dibandingkan dengan 13 persen di kabupaten-kabupaten lama dan 16 persen di kabupaten-kabupaten baru. Sebaliknya, penduduk kota memperoleh dukungan dari dokter dan tempat tidur rumah sakit yang relatif lebih banyak dan proporsi yang lebih tinggi untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga 3.3.6 Indikator Pelayanan medis. Di antara daerah-daerah, Aceh Bagian Utara dan Timur muncul karena memiliki Untuk mengkaji kualitas layanan kesehatan, layanan yang lebih baik, sedangkan Aceh Bagian proses yang sama diadopsi berdasarkan lima Barat dan Selatan dan Aceh Bagian Tengah indikator yang mencerminkan standar pemberisedikit berbeda seperti halnya kesehatan rakyat. an layanan. Seperti sebelumnya, peringkat unUntuk tiap-tiap kabupaten, layanan kesetuk kabupaten-kabupaten dibuat pada setiap hatan menempati peringkat terendah di Aceh indikator dan peringkat gabungan kemudian Timur di Aceh Bagian Utara dan Timur, Bener
50
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Meriah di Aceh Bagian Tengah, dan Aceh Jaya serta Subulussalam di Aceh Bagian Barat dan Selatan. Peringkat untuk yang terakhir dan juga Pidie Jaya didasarkan hanya pada dua indikator, dan oleh karena itu merupakan penilaian yang kurang akurat. Di luar kota-kota tersebut, akses ke dokter umumnya buruk, dengan sepertiga kabupaten yang memiliki kurang dari 1,0 dokter per 10.000 penduduk. Hal ini mencerminkan sulitnya membujuk mereka untuk bekerja di daerah-daerah perdesaan dimana fasilitas biasanya belum memadai. Dari 18 kabupaten, 5 memiliki kurang dari 2 tempat tidur per 10.000 penduduk, dan dua di antaranya, Bener Meriah dan Aceh Jaya tidak memiliki tempat tidur. Di tingkat provinsi, tenaga medis menolong lebih dari 80 persen persalinan pada tahun 2008, tetapi angka tersebut untuk Aceh Barat, Simeulue dan Gayo Lues kurang dari 60 persen. Proporsi penduduk tanpa akses ke fasilitas kesehatan di tingkat provinsi adalah sebesar
Tabel 3.4

13 persen, tetapi naik menjadi lebih dari 20 persen di Aceh Timur di Aceh Bagian Utara dan Timur, Bener Meriah dan Gayo Lues di Aceh Bagian Tengah, dan Aceh Barat, Aceh Jaya dan Subulussalam di Aceh Bagian Barat dan Selatan, dalam hal yang terakhir di atas 30 persen.

3.3.7 Kesehatan Masyarakat dan Pelayanan Kesehatan
Apakah layanan kesehatan yang lebih baik memberikan kontribusi terhadap kesehatan yang lebih baik? Hasil sebelumnya diringkas pada Tabel 3.4, dimana kabupaten-kabupaten ditempatkan pada salah satu dari empat kategori sesuai dengan peringkat kabupaten-kabupaten tersebut untuk kesehatan masyarakat dan layanan kesehatan. Jika jawaban atas pertanyaan ini “Ya”, kita akan mendapatkan sebagian besar kabupaten pada kuadran kiri paling atas atau kuadran kanan bawah. Di Aceh, seperti yang

Tabel ringkasan Indikator Kesehatan dan Pelayanan menurut Kabupaten di Aceh Pelayanan yang lebih baik Pelayanan yang lebih buruk

Kesehatan yang lebih baik Aceh Bagian Utara dan Timur Kota Lhokseumawe* Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa* Aceh Besar Aceh Bagian Barat dan Selatan Simeulue Aceh Singkil Aceh Bagian Tengah Kesehatan yang lebih buruk Aceh Bagian Utara dan Timur Pidie Pidie Jaya* Aceh Bagian Barat dan Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Utara Bireuen Nagan Raya* Aceh Barat Aceh Jaya* Aceh Selatan Aceh Bagian Tengah Kesehatan yang lebih baik total Kesehatan yang lebih buruk total Pelayanan
Catatan: *Merupakan kabupaten baru

Aceh Timur

Aceh Tamiang*

Subulussalam*

Aceh Tengah

Aceh Tenggara

Bener Meriah* Gayo Lues*

11 12

8 4 Lebih baik total 12

3 8 Lebih buruk total 11

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

51

Lebih dari sembilan puluh persen anggota DPRA tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang proses penyusunan peraturan hukum (legal drafting), sebuah masalah yang dipersulit 3.3.9 Kesimpulan dengan Tantangan-tantangan yang dihadapi sektor pengenalan kesehatan. Sebagaimana dinyatakan oleh data ―ketentuandi atas, Aceh menghadapi banyak tantangan ketentuan dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan kesehatan rakyat. Di antara tantangan- agama yang tantangan tersebut yang utama adalah: tidak praktis‖ · Kurangnya pemberian layanan perawatan ke dalam pra dan pasca-persalinan. Angka kematian bayi di Aceh berada di atas sebagian besar undangundang yang dibuat provinsi lainnya, seperti halnya angka ke3.3.8 Akses untuk Orang-Orang Miskin matian ibu, yang dilaporkan sangat tinggi di oleh para ahli beberapa daerah terpencil di Aceh. hukum Sebuah survei nasional oleh Program Pemba- · Terbatasnya akses ke bidan. Sebagian besar syariah dan ngunan Kecamatan (PPK) menyatakan bahwa bidan tinggal di pusat-pusat kota, dengan beban kesehatan yang buruk paling banyak mehanya 30 persen yang tinggal di daerah- ulama-ulama nimpa orang-orang miskin, terutama di Aceh. daerah perdesaan, dimana mayoritas pen- Aceh.
terlihat melalui jumlah dalam baris pada bagian bawah tabel, ada beberapa bukti bahwa hubungan tersebut adalah benar meskipun tidak kuat. Informasi pada tabel ini juga berguna dalam mengusulkan strategi-strategi yang tepat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Untuk tiap-tiap kabupaten, tujuh kabupaten di kuadran kanan bawah dengan kesehatan dan layanan yang lebih buruk secara jelas memerlukan perhatian prioritas, khususnya Nagan Raya dan Aceh Jaya di Aceh Bagian Barat dan Selatan dan Bener Meriah dan Gayo Lues di Aceh Bagian Tengah, yang semuanya mempunyai skor peringkat sangat rendah. Kabupaten-kabupaten pada kuadran kanan atas memiliki kesehatan yang lebih baik tetapi layanan yang ada relatif lemah dan perlu ditingkatkan. Kabupatenkabupaten pada kuadran kiri bawah memperoleh manfaat dari layanan yang lebih baik tetapi kabupaten-kabupaten tersebut masih mengalami kesehatan lebih buruk, yang menyatakan bahwa persoalan tersebut lebih banyak berkaitan dengan akses fisik di daerah-daerah terpencil atau tingginya biaya yang menghalangi masyarakat miskin untuk memperoleh layanan kesehatan. Orang-orang di empat kota dan kabupaten pada kuadran kiri atas semuanya memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik, dan mereka relatif beruntung, tetapi hal ini bukan berarti tidak ada lagi yang perlu ditingkatkan. daerah terpencil. Hal ini menghalangi banyak orang untuk menggunakan layanan-layanan ini, khususnya mereka yang ada di daerah-daerah perdesaan dan orang-orang miskin. Survei PPK lainnya melaporkan bahwa 34 persen dari keluarga miskin tidak mampu menggunakan metode-metode medis perawatan kesehatan modern karena halangan biaya. Indikasi lebih lanjut tentang bagaimana orang enggan untuk mendapatkan saran medis adalah tingginya proporsi penduduk yang melakukan dan menerapkan pengobatan sendiri. Secara nasional, proporsi ini mencapai 67 persen. Di Aceh, proporsi tersebut sedikit lebih tinggi, yaitu sebesar 71 persen, tetapi meningkat menjadi hampir 80 persen atau lebih di Subulussalam, Aceh Jaya dan Bener Meriah, dan bahkan 91 persen di Nagan Raya, semuanya kabupaten-kabupaten perdesaan yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa, tidak seperti baduduk tinggal. Kemampuan bidan untuk nyak bagian lainnya di Indonesia dimana kelumenjangkau daerah-daerah perdesaan secara arga kaya melaporkan insiden penyakit yang tepat waktu terhambat oleh buruknya lalebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yanan-layanan transportasi dan keterbatasan miskin. Situasinya berbeda di Aceh. Survei dana untuk perjalanan. Kemiskinan PPK menunjukkan bahwa 29 · Perawatan trauma. Kebutuhan untuk merawat mereka yang menderita trauma masih persen keluarga miskin melaporkan penyakit pada bulan terakhir dibandingkan 19 persen belum diakui dengan baik. Sejumlah besar orang perlu membantu mengatasi luka fisik pada keluarga kaya. Hal ini juga menunjukkan dan trauma akibat konflik dan bencana bahwa kurangnya program-program imunisasi cenderung sangat membebani keluarga-keluarga alam. yang lebih miskin, khususnya di daerah-daerah · Obat-obat kesehatan tradisional. Sebagian besar penduduk masih mengandalkan pada perdesaan. Masalah lainnya adalah biaya untuk pengobatan sendiri dan anjuran dukun, khumengakses layanan medis, bukan hanya untuk konsultasi, pengobatan dan perawatan, tetapi susnya orang-orang miskin dan mereka yang juga untuk transportasi ke fasilitas dari daerahberpendidikan rendah.
52

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

· Rendahnya kepadatan penduduk. Sebagian besar penduduk tersebar di kurang lebih 6.000 desa kecil, sehingga pemberian layanan kesehatan kepada mereka menjadi sulit dan mahal. Sedangkan 85 persen penduduk dilaporkan hidup dalam jarak 5 km dari pusat-pusat kesehatan. Banyak dari pusat kesehatan ini merupakan fasilitas tingkat rendah dengan staf dan peralatan yang terbatas. · Kurangnya pelatihan. Meskipun jaringan pos-pos kesehatan sangat luas dan dapat menjangkau sebagian besar wilayah provinsi tersebut, tetapi banyak staf medis hanya menerima pelatihan dasar dan pengetahuan dan keahlian mereka terbatas. · Lemahnya kapasitas manajemen. Kapasitas administrasi dan manajemen staf yang memberikan layanan kesehatan dinyatakan lemah di banyak bidang sehingga mempengaruhi kualitas operasi. · Terbatasnya dana. Yang mendasari timbulnya beberapa masalah ini adalah investasi publik yang tidak memadai di sektor kesehatan. Sekitar 70 persen dari total diperlukan untuk gaji saja, yang hanya menyisakan 30 persen bagi pemberian layanan dan peningkatan fasilitas. · Proyek donor. Meskipun proyek-proyek yang didanai lembaga donor di sektor kesehatan bermanfaat, tetapi beberapa proyek cenderung lebih digerakkan oleh agenda donor daripada kebutuhan lokal. Salah satu contoh adalah proyek-proyek yang berkaitan dengan HIV/AIDS, yang kurang umum daripada penyakit-penyakit lainnya, seperti malaria, demam berdarah, tipus, hepatitis dan gangguan usus, belum lagi stroke dan gangguan jantung vaskuler. Respon. Tantangan-tantangan yang disebutkan di atas bukan merupakan tantangantantangan baru. Pemerintah dan pihak-pihak lainnya sedang melakukan langkah-langkah untuk merespon tantangan-tantangan tersebut. · Perawatan kesehatan gratis. Langkah penting telah diperkenalkan pada tahun 2009 oleh pemerintah provinsi tentang sebuah program untuk memberikan perawatan kesehatan gratis kepada semua warga Aceh. Meskipun program ini mempunyai tujuan yang baik, tetapi program tersebut tidak memanfaatkan sumber daya secara maksimal atau mendapatkan dukungan dalam jangka panjang. Sementara itu, penyelengLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

·

·

·

·

gara kesehatan di rumah sakit yang lebih besar melaporkan adanya peningkatan permintaan layanan yang besar, tetapi tidak ada peningkatan pendanaan untuk memberikan layanan tersebut. Sepertinya legislatif belum menyetujui jumlah tambahan yang diperlukan. Rekomendasi: Mengkaji kembali biaya-biaya kesempatan perawatan kesehatan gratis dan memastikan bahwa sumberdaya pertama digunakan untuk memberikan layanan efektif kepada mereka yang tidak mampu dan bagi kebutuhankebutuhan prioritas lainnya seperti perawatan pra-dan pasca-persalinan. Keluarga kaya tidak perlu mendapatkan subsidi, karena mereka mampu membayar asuransi kesehatan pribadi atau dapat membayar biaya-biaya yang timbul. Pendanaan untuk sektor kesehatan. Mengingat kurangnya sumberdaya, langkah-langkah sedang dilakukan untuk meningkatkan dana bagi sektor kesehatan. Undang-Undang No. 34 / 2009 menetapkan bahwa minimal 10 persen pengeluaran publik harus dialokasikan untuk sektor kesehatan. Demikian juga, program PNPM juga menetapkan bahwa proporsi dana yang sama harus dialokasikan untuk proyek-proyek kesehatan yang diajukan oleh masyarakat. Badan Layanan Umum. Pemerintah pusat sedang mempromosikan konsep Badan Layanan Umum (BLU) bagi rumah sakit-rumah sakit yang lebih besar. BLU diberi berwenang untuk menyimpan pendapatan untuk jasa yang diberikan daripada menyerahkannya ke kantor kas provinsi. Hal ini akan mengurangi ketidakpastian atas alokasi anggaran dan pengaturan waktu pembayaran, dan memungkinkan badan tersebut untuk melakukan pengawasan yang lebih besar terhadap perencanaan, penganggaran dan koordinasi dengan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya. Fokus pada fasilitas kecamatan. Sebuah laporan yang sedang dipersiapkan oleh UNICEF atas nama Tim Otsus Migas mengusulkan langkah-langkah untuk memperkuat kapasitas Puskesmas, fasilitas kesehatan di tingkat kecamatan, khususnya untuk manajemen operasi dan administrasi keuangan. Tahun ini, pemerintah pusat telah memperkenalkan sebuah program dengan judul Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), yang memberikan dukungan keuangan langsung
53

kepada Puskesmas bagi biaya operasional, dan dimaksudkan untuk membantu Puskesmas tersebut meningkatkan pemberian layanan kesehatan. · Dinas kesehatan pemerintah daerah akan berupaya untuk melakukan hal sama dengan dinas pendidikan dalam mengadopsi penganggaran berbasis kinerja untuk menggunakan sumberdaya secara lebih optimal dalam menargetkan tujuan dan sasaran khusus, seperti penurunan kematian bayi dan ibu. Pemberdayaan Masyarakat. Seperti di sektor pendidikan, ada beberapa kesempatan untuk menerapkan konsep pemberdayaan rakyat dalam sektor kesehatan. Beberapa pilihan meliputi: Rekomendasi: · Menetapkan forum publik-swasta di tingkat provinsi, yang serupa dengan forum untuk pendidikan, yang fungsinya adalah untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah dalam merumuskan kebijakan, strategi dan program bagi sektor tersebut. · Mengadakan forum-forum serupa di tingkat puskesmas kecamatan, yang bertanggung jawab terhadap penyusunan rencana dan anggaran bagi layanan kesehatan di kabupaten dimana forum-forum tersebut ditetapkan. · Mengingat cakupan bidan yang tidak tetap di daerah-daerah perdesaan, maka keahlian mereka dapat digunakan secara lebih efektif dengan membentuk dan melatih kelompokkelompok swadaya berbasis masyarakat untuk mendukung perempuan hamil dan mereka yang memiliki anak-anak baru lahir. Ada beberapa contoh untuk kelompok-kelompok tersebut, yang dapat memainkan peran penting karena perawatan yang tepat selama beberapa tahun pertama kehidupan anak adalah sangat kritis dalam menentukan kesejahteraan fisik dan mental yang sehat bagi masa depannya. · Kelompok-kelompok serupa juga dapat dibentuk dan diberi pelatihan dengan bantuan dari tenaga medis untuk tujuan-tujuan lain, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kesehatan keluarga dan gizi, kecanduan narkoba dan alkohol. Investasi sederhana dalam dukungan teknis dan pendanaan bagi bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat ini dapat bertahan lama untuk

meningkatkan kesehatan dan mencegah sakit dan penyakit.

3.4. Akses ke Keadilan18
Akses ke keadilan semakin diakui sebagai syarat yang diperlukan bagi perdamaian dan pembangunan, khususnya dalam lingkungan miskin dan pascakonflik. Akses ke keadilan mengkonsolidasikan perdamaian melalui penciptaan kondisi yang memungkinkan orang-orang untuk menyelesaikan keluhan-keluhan sah, yang jika tidak dilakukan, dapat menimbulkan konflik sosial. Akses ke keadilan juga berkontribusi terhadap kesinambungan pembangunan manusia dengan menetapkan lingkup minimal pengaduan-pengaduan sah berdasarkan hak asasi manusia, sementara berusaha untuk meningkatkan kemampuan para pemangku hak (claimholder) untuk memperoleh kembali hak-hak ini dan menganggap para pengemban tugas (dutybearer) bertanggung jawab dalam melindungi hak-hak ini.

Hanya 7 persen responden menganggap syariah sebagai isu penting, sementara hanya 23 persen yang senang dengan implementasi syariah, namun 87 persen merasa bahwa syariah dapat menyelesaikan masalah rakyat.

3.4.1 Sistem Hukum yang Paralel
Di Aceh, tidak seperti provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, tiga sistem hukum diberlakukan secara bersamaan (paralel). Hal ini seringkali menimbulkan kebingungan, karena lingkup yurisdiksi yang dicakup oleh setiap sistem hukum tumpang tindih dan kadang-kadang menimbulkan interpretasi yang berbeda. Sistem peradilan umum di Aceh diinformasikan melalui hukum positif nasional Indonesia. Dalam hal ini, semua hukum yang berlaku di daerahdaerah lain Indonesia juga berlaku di Aceh. Seperti di provinsi-provinsi lainnya, banyak masyarakat mengandalkan pada sistem adat yang digunakan di tingkat desa berdasarkan norma-norma dan praktek-praktek tradisional. Akan tetapi di Aceh, sejak tahun 2001, dengan UU No. 18 / 2001 yang memberikan otonomi khusus Aceh, hukum syariah juga telah berlaku secara resmi. Terlepas dari beberapa upaya untuk menjelaskan situasi tersebut, masih tetap muncul kebingungan. Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) menetapkan hak-hak dan tanggung jawab tertentu yang hanya berlaku di Aceh. Ketentuan-ketentuan UUPA yang paling mempengaruhi akses masyarakat ke keadilan meli-

54

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

puti ketentuan-ketentuan tentang: Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), pembentukan Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, pendirian partai-partai politik lokal, lembaga adat dan pasal singkat 231 yang melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak. Seperti provinsi-provinsi lainnya, tanggung jawab terhadap penyusunan peraturan daerah yang baru dan direvisi, yang di Aceh dikenal sebagai qanun, terletak pada dewan perwakilan rakyat daerah, di Aceh disebut DPRA. Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, sebagian besar anggota DPRA tidak memiliki pendidikan dan pengalaman yang memadai di pemerintahan. Mereka memiliki pengetahuan yang terbatas tentang hukum nasional dan konstitusi, dan berubah setelah setiap pemilu. Di Aceh, para komentator melakukan pengkajian bahwa lebih dari sembilan puluh persen anggota DPRA tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang proses penyusunan peraturan hukum (legal drafting), sebuah masalah yang dipersulit dengan pengenalan “ketentuan-ketentuan agama yang tidak praktis” ke dalam undangundang yang dibuat oleh para ahli hukum syariah dan ulama-ulama Aceh. Sistem peradilan syariah di Aceh dikembangkan sejak abad keenam belas, meskipun Pengadilan Syariah hanya diakui di Provinsi tersebut oleh Pemerintah Nasional pasca-penjajahan pada tahun 1957 melalui UU No. 29 /1957. Sementara undang-undang nasional dengan jelas menyatakan bahwa hukum syariah di Aceh hanya berlaku bagi umat Islam, qanun provinsi yang diudangkan kemudian tidak menegaskan kembali persoalan ini, dan UUPA memasukkan sebuah artikel membingungkan yang menyatakan bahwa non-Muslim akan tunduk pada hukum syariah jika melakukan pelanggaran-pelanggaran tertentu. Non-Muslim, termasuk Cina, India dan, baru-baru ini, masyarakat (kemanusiaan) internasional di Aceh telah menentang ketentuan ini. Di Indonesia, istilah adat secara budaya dan etnis mengacu pada bentuk-bentuk khusus hukum (hukum adat) atau kebiasaan. Hukum ini merupakan kumpulan aturan-aturan yang tidak dibukukan tentang perilaku atau sistem “kepemimpinan dan tata kelola masyarakat”, yang diberlakukan dengan sanksi sosial, digunakan antara lain untuk menyelesaikan sengketa. Adat terdiri dari norma-norma kehidupan, yang dihormati dan diakui oleh masyarakat, dan berfungsi sebagai kode etik masyarakat. Di Aceh saat ini, hukum adat juga merupakan simLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

bol otonomi daerah, meskipun praktek dan ritual adat berbeda-beda, khususnya di seluruh kelompok etnis. Perda No. 7 / 2000 mengakui lembaga-lembaga adat yang berbeda, hukum dan adat di tingkat desa, selama hukum dan adat tersebut tidak bertentangan dengan hukum syariah. Selain itu, perundang-undangan nasional harus lebih diutamakan daripada hukum adat jika terjadi pertentangan.
Kotak 1 Proyek Peradilan Aceh

Proyek Peradilan Aceh (AJP) UNDP berkontribusi terhadap perbaikan sistem peradilan (adat) informal melalui sebuah karya inovatif dengan Majelis Adat Aceh tentang pedoman peradilan adat dan pelatihan tokoh adat. Proyek Peradilan Aceh merupakan sumber wacana penting tentang isu-isu hukum dan kebijakan publik di Aceh. Proyek ini memberikan sebuah forum netral bagi dialog di Aceh tentang isu-isu kebijakan publik yang penting dan kontribusi berharga bagi pembentukan kebijakan publik di Aceh. Kegiatan-kegiatan untuk mendukung konsultasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) tentang mekanisme keadilan transisional telah menunjukkan relevansi kebijakan dan memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, serta antara pemerintah dan masyarakat sipil.19

3.4.2 Keluhan-Keluhan Umum
Selain keluhan-keluhan yang biasanya timbul dalam masyarakat sipil, konflik dan bencana alam mengakibatkan ketidakadilan hebat yang perlu ditangani dan peningkatan jumlah sengketa. Karena banyak dari keluhan-keluhan ini melibatkan perempuan, orang-orang miskin dan orang-orang yang kurang beruntung lainnya, adalah penting agar akses warga ke keadilan ditingkatkan. Saluran yang mereka pilih untuk menangani keluhan-keluhan mereka harus dapat menyelesaikan keluhan-keluhan tersebut secara adil dan efektif. Dengan cara ini, rakyat Aceh dapat merasakan bahwa mereka benarbenar mendapatkan manfaat dari hasil perdamaian dan pembangunan. Berbagai keluhan keadilan umum yang diidentifikasi di daerah-daerah yang terkena dampak konflik meliputi: pelanggaran HAM, pencurian dan perusakan harta benda, kehancuran mata pencaharian, pengungsian, kekerasan terhadap perempuan dan sengketa tanah (khususnya bagi orang-orang yang kembali). Keluhankeluhan umum yang diidentifikasi di daerahdaerah yang terkena dampak tsunami meliputi kurangnya perumahan, klaim tanah dan
55

sengketa perbatasan karena kehilangan dokumen, sengketa warisan, kurangnya bantuan bagi anak-anak yatim piatu, kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan ketimpangan distribusi bantuan (karena diskriminasi, distribusi yang tidak adil dan korupsi).

pertimbangan politik, khususnya pada masamasa awal konflik, atau oleh kepentingan warga setempat yang memiliki kekuasaan. Dalam sistem formal, orang sangat menyadari bahwa suap seringkali memenangkan alasan-alasan hukum yang terbaik. Dalam hal ini, orang lebih percaya pada pengadilan syariah, khususnya dalam menilai hak-hak perceraian dan warisan 3.4.3 Hambatan Keadilan yang adil, meskipun sekali lagi keputusankeputusan yang menyangkut beberapa aspek Meskipun terdapat sistem hukum untuk mehukum dapat dibatalkan oleh pengadilan yang nyelesaikan sengketa, tetapi pada dasarnya ba- lebih tinggi. nyak hambatan mencegah orang untuk mengUpaya-upaya untuk mengatasi kurangnya ajukan klaim dan mendapatkan hasil yang adil. kesadaran warga masyarakat tentang syariah Salah satu masalah umum adalah kurangnya dan sistem pengadilan formal terhambat oleh kesadaran terhadap opsi dan prosedur hukum. kurangnya sumberdaya, yang dilaporkan baik Berbagai studi menyatakan bahwa sebagian oleh lembaga negara maupun LSM, yang juga besar orang-orang Indonesia, khususnya mere- tidak mempunyai kapasitas. ka dengan sedikit atau tanpa pendidikan formal, tidak mengetahui hukum-hukum yang relevan bagi mereka. Selain itu mereka juga 3.4.4 Pertimbangan Gender tidak mengetahui hak-hak hukum mereka, Tiga isu yang sangat penting bagi perempuan layanan yang tersedia bagi mereka dan prosedur untuk mengakses layanan ini. Kurangnya adalah implikasi-implikasi gender hukum syakesadaran hukum juga ditemukan di antara riah, hak-hak warisan karena berhubungan para responden desa di Aceh. Kelompok dengan tanah, dan pendaftaran tanah. rentan memiliki kesadaran hukum yang lebih Hukum Syariah: Proses pengenalan hukum rendah karena mereka seringkali buta huruf syariah tidak melibatkan wakil-wakil peremdan memiliki akses yang lebih kecil ke sumber puan dan implementasinya memiliki banyak informasi. Keadaan ini selanjutnya tidak konsekuensi terhadap perempuan. Di beberamenguntungkan mereka. pa daerah, hukum syariah tersebut telah meKendala kedua adalah bahwa tekanan soningkatkan akses perempuan ke hak asasi manusial yang luas memaksa orang untuk mengan- sia dan keamanan, sedangkan di daerah-daerah lain hukum syariah tersebut secara aktif memdalkan sebagian besar pada adat untuk menyepromosikan ketidakadilan gender. Banyak pelesaikan sengketa, tetapi keputusan dapat dikesampingkan oleh pengadilan yang lebih tinggi, rempuan Aceh sudah lama tertekan sehingga khususnya jika menyangkut prosedur hukum mereka menentang konsep syariah. Akan tetapi, formal seperti kompensasi, warisan dan penmereka peduli dengan cara interpretasi dan daftaran tanah. Akan tetapi, pertimbangan- implementasinya di Aceh. pertimbangan lain membuat lebih sulit atau Pengadilan Syariah semakin aktif menahampir tidak mungkin bagi banyak orang un- ngani sejumlah isu tentang hak-hak perempuan. tuk mengakses sistem peradilan formal. Hal Isu-isu ini meliputi pemberian perwalian anak ini dianggap terlalu birokratis, rumit, meng- kepada perempuan selama perceraian (dimana habiskan waktu dan mengintimidasi. Karena sebelumnya hak asuh anak diberikan kepada pengadilan terletak jauh dari tempat tinggal laki-laki), yang memberikan pembagian harta sebagian besar orang, mereka tidak mampu perkawinan yang sama pada saat perceraian, membayar waktu untuk hadir atau uang untuk dan memastikan bahwa hak waris perempuan menutup biaya perjalanan, apalagi biaya dilindungi. Pengadilan Syariah juga telah mepenasehat hukum dan prosedur pengadilan. meriksa sejumlah kasus yang berhubungan deMasalah lainnya adalah bahwa orang-orang ngan perceraian. Karena pengajuam permotidak dapat mengandalkan pada adat atau honan sebagian besar atas dasar kekerasan dasistem formal untuk mencapai keputusan- lam rumah tangga atau perilaku poligami, maka keputusan saja. Pada tingkat adat, keputusan jumlah perempuan adalah lebih dari 75 persen kadang-kadang tidak sesuai dari satu kasus ke dari mereka yang mengajukan permohonan kasus yang lain, dan mungkin dipengaruhi oleh kepada pengadilan untuk perceraian. Pengadil56
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

an Syariah juga telah menunjukkan dukungan bagi peningkatan perwakilan politik perempuan dalam Qanun No. 3 / 2008, yang menegaskan bahwa “daftar calon ... harus meliputi sekurangkurangnya 30 persen perempuan.” Hal ini didukung oleh banyak contoh ulama „progresif „ yang aktif melakukan advokasi atas nama perempuan dalam kekerasan rumah tangga dan isuisu terkait gender lainnya. Akan tetapi, di daerah-daerah lain, para komentator menyatakan bahwa interpretasi Syariah Aceh telah menyempit dan konservatif.20 Hal ini memberikan pengaruh buruk terhadap hak-hak perempuan, terutama kontroversi pembatasan tentang pakaian perempuan dan perilaku umum. Qanun No. 11/2002 mengharuskan semua umat Islam untuk memakai pakaian Islam. Bagi perempuan, pakaian ini adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali tangan, kaki dan wajah. Simbol yang paling ikonik adalah jilbab atau kerudung. Qanun No. 12, 13, 14/2003 mengkriminalkan perjudian, penjualan dan konsumsi minuman keras, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang dianggap „haram‟. Ini termasuk khalwat, yang melarang kedekatan antara perempuan yang belum menikah dan seorang laki-laki yang bukan walinya. Persoalan hak asasi manusia timbul dari implementasi hukum-hukum ini dan sifat hukuman, yang meliputi hukuman cambuk di depan umum. Komnas Perempuan (Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan) menyatakan bahwa bentuk hukuman ini, selain kejam, mengakibatkan stigmatisasi perempuan, yang sekaligus diberi label „tidak bermoral‟ oleh masyarakat dan keluarga mereka. Menjadikan perempuan sebagai target merupakan persoalan khusus karena penerapan hukum syariah yang dianggap tidak sesuai, dan kadang-kadang terlalu bersemangat, oleh Wilayatul Hisbah (WH atau polisi agama), yang diberi tugas untuk memantau pemenuhan hukum Islam. WH dituduh melakukan korupsi dan kebrutalan, dan pentargetan perempuan dan orang-orang miskin secara tidak proporsional,21 sebuah kegiatan yang telah menimbulkan kemarahan besar dalam masyarakat Aceh. International Crisis Group telah menggambarkan WH sebagai sebuah pasukan yang “direkrut sembarangan, kurang disiplin, dan kurang diawasi yang membedakan dirinya lebih menurut semangat moral daripada kompetensi hukum.”22 Meskipun kekuatan mereka telah dibatasi sampai tingkat tertentu, tetapi perLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

soalan tetap ada mengenai peran mereka dalam masyarakat Aceh. Sebuah jajak pendapat di Aceh pada tahun 2007 menyatakan bahwa hanya 7 persen responden menganggap syariah sebagai isu penting, sementara hanya 23 persen yang senang dengan implementasi syariah, namun 87 persen merasa bahwa syariah dapat menyelesaikan masalah rakyat. Meskipun syariah ini nampak bertentangan, Wilmot menyimpulkan bahwa orang-orang Aceh memahami potensi dan relevansi syariah dalam masyarakat mereka.23 Mereka mengakui bahwa syariah dapat memberikan konteks bagi keadilan sosial dan ekonomi, bukan digunakan sebagi alat sempit untuk melakukan tindakan-tindakan menghukum. Lebih penting lagi, syariah tetap melanjutkan dan meningkatkan komitmennya untuk mempromosikan keadilan gender. Pemantauan secara terus-menerus dan kemitraan dengan masyarakat sipil akan menjadi sesuatu yang penting dalam hal ini. Warisan tanah: Hak warisan juga merupakan isu penting bagi perempuan di Aceh pascatsunami. Kekacauan atas hukum warisan dan ketidaksesuaian penerapan hukum-hukum tersebut telah menyebabkan pencabutan hak perempuan atas tanah. Sebuah upaya untuk memperbaiki keadaan ini dilakukan pada bulan September 2006 melalui penetapan kebijakan tentang Pendaftaran Bersama Harta Perkawinan. Pendaftaran ini dikembangkan oleh BRR dan BPN dan diatur melalui Sistem Rekonstruksi Administrasi Pertanahan Aceh (RALAS). Meskipun program ini merupakan langkah penting ke depan bagi perempuan, tetapi program tersebut telah mencapai sukses ganda. Perempuan, terutama para janda, merasa bahwa mereka kehilangan hak mereka atas tanah karena hak mereka diserahkan kepada keluarga-keluarga suami mereka yang meninggal atau hilang. Selanjutnya, kebingungan atau kurangnya pemahaman tentang hukum warisan dan hak-hak perempuan juga digunakan untuk mencabut hak perempuan atas tanah. Akibatnya, bagi perempuan Aceh ada dua persoalan tentang tanah. Yang pertama adalah warisan dan yang kedua adalah kejelasan hak atas kepemilikan tanah. Hukum warisan berada di bawah yurisdiksi pengadilan syariah di bawah Qanun 10/2002, tetapi hukum tersebut tidak memiliki yurisdiksi terhadap hak atas tanah (UU No. 3 / 2006). Akan tetapi, ketika tanah merupakan komponen dari warisan, pengadilan syariah dapat membuat keputusan tentang
57

kepemilikan tanah, meskipun dalam praktek seringkali diberlakukan hukum adat. Hal ini diputuskan di tingkat desa oleh kepala desa (keucik). Kepala desa dibantu oleh imam, dan para tetua desa (tuha peut). Kasus-kasus juga dapat diselesaikan secara damai di antara orangorang yang selamat tanpa masukan dari keucik tersebut.24 Namun, dalam kasus-kasus yang tidak dapat diselesaikan di tingkat keluarga atau desa, kasus-kasus tersebut dialihkan ke pengadilan syariah. Dilakukan antisipasi bahwa jumlah kasus yang disampaikan ke pengadilan syariah akan meningkat. BPN awalnya bertujuan untuk mendaftar 300.000 bidang tanah di daerah-daerah yang terkena dampak tsunami, dan 300.000 lagi di daerah-daerah yang tidak terkena dampak pada tahun 2006. Akan tetapi, pada tahun 2008 pendaftaran tersebut baru mencapai 33% dari target tersebut.25 Meskipun tidak diketahui berapa banyak hak atas tanah adat yang ada, tetapi masih ada sejumlah besar hal yang belum terselesaikan. Pendaftaran tanah: Isu penting ketiga bagi perempuan adalah proses pendaftaran hak atas tanah, terutama sejak diperkenalkannya undang-undang pada tahun 2006 tentang Pendaftaran Tanah Bersama ( JLT) tentang Harta Perkawinan. Meskipun kepemilikan tanah perempuan tidak diingkari secara formal, tetapi kepemilikan tanah secara tradisional telah didaftar atas nama kepala keluarga laki-laki. Pendaftaran Bersama merupakan intervensi spesifik-gender yang didesain untuk memastikan bahwa perempuan yang telah menikah memiliki akses yang sama ke kepemilikan tanah. Kutipan

Kotak 3

Posko Pendaftaran Tanah

Pendaftaran Bersama: ―Pada bulan September 2006, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR) dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) menetapkan kebijakan tentang pendaftaran tanah bersama (JLT) untuk lokasi-lokasi yang dibebaskan oleh pemerintah untuk permukiman kembali korban tsunami. JLT merupakan sebuah program yang diberlakukan untuk keluarga (suami dan istri atau saudara kandung) dan kesetaraan jaminan kepemilikan tanah antara laki-laki dan perempuan. Dengan JLT , suami dan istri yang menikah sah menurut hukum Indonesia, atau saudara-saudara kandung yang kehilangan orang tua mereka, akan diberikan sertifikat tanah dengan nama baik suami maupun istri atau saudara laki-laki dan perempuan sebagai pemilik dimana mereka telah ditempatkan di tanah yang dibebaskan oleh BRR atau pemerintah daerah. Bagian kepemilikan harus sama.‖

Kotak 2

Kisah Witni

Kisah Witni: ―Witni bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan di Indonesia yang mendistribusikan ponsel. Sebelum tsunami, kondisi suami Witni tidak sehat untuk jangka waktu yang lama dan upah Witni merupakan satu-satunya pendapatan keluarga. Witni kini menjadi janda. Ia selamat dari tsunami, tetapi suami dan anak-anaknya tidak. Witni mengalami trauma berat karena bencana dan ia masih dalam kondisi yang lebih buruk. Warisannya dirampas oleh empat saudara kandung suaminya yang selamat dari tsunami. Terlepas dari hak hukum Witni, saudara-saudara suaminya telah menuntut seratus persen tanah suaminya. Witni ditinggalkan dengan tanpa mendapatkan apa-apa dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk memprotes saudara tertua suaminya tentang warisan tersebut karena ia terkenal dengan perilaku kekerasannya. Witni merasa sendirian dan tanpa dukungan.‖26

pada kotak di bawah ini menjelaskan visi BRR dan BPN untuk program Pendaftaran Tanah Bersama. Program ini merupakan langkah penting ke depan karena mengesahkan kepemilikan perempuan. Dalam hal perceraian, warisan, pemerolehan uang yang dilakukan dari tanah tersebut, dan dalam hal jaminan kredit, program tersebut melakukan pemberdayaan ekonomi bagi perempuan. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pedoman RALAS menyatakan bahwa tanah yang dimiliki oleh suami dan istri dapat didaftarkan bersama atas nama suami istri, dan bukan hanya suami.” Hal ini tidak mengharuskan bahwa nama istri ada pada setiap harta yang dimiliki bersama, tetapi lebih memberikan kewajiban moral yang semestinya. Pada tahun 2008, data RALAS menunjukkan bahwa 6 persen bidang tanah telah didaftar dengan namanama suami dan istri secara bersama. Hal ini menunjukkan bahwa masih terjadi banyak sekali praktek pendaftaran tanah hanya atas nama kepala keluarga laki-laki. (Lihat tabel 3.5). Hal ini mencerminkan kecenderungan nasional. Beberapa bidang tanah di Indonesia terdaftar dengan nama suami dan istri secara bersama. Statistik nasional tentang pendaftaran bersama menurut jenis kelamin sangat terbatas. Akan tetapi, untuk daerah-daerah dimana pendaftaran sistematis telah dilaksanakan, data menunjukkan bahwa keluarga-keluarga yang relatif sedikit di seluruh Indonesia memilih pendaftaran tanah bersama. Data tahun 1998 menunjukkan bahwa hanya 30 persen pendaftaran nasional dikeluarkan atas nama perempuan, 54 persen atas nama laki-laki, dan 5 persen dengan banyak nama.27 Jelas bahwa upaya
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

58

yang lebih terkonsentrasi perlu dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah dan kelompokkelompok advokasi untuk memastikan bahwa hak perempuan atas tanah terealisasikan.

Anggota-anggota Wiliyatul Hisbah (WH) harus mendapatkan pelatihan yang serupa dengan standar-standar kepolisian. Akan tetapi, ada langkah-langkah positif terhadap pengembangan kapasitas peradilan, yang Tabel 3.5 Distribusi Tanah menurut Jenis dilakukan bersama-sama oleh Pemerintah 29 Kelamin di Aceh, 20081 Aceh dan badan-badan internasional yang Perempua Laki-lak Bersam Total beroperasi di Aceh. i a Kepemilikan n · Mendukung Sektor Peradilan Formal: 43, 195 71, 279 6, 961 121, 435 tanah Konflik telah menghancurkan kepercayaan (Hektar) publik terhadap lembaga-lembaga hukum, Prosentase 36 59 6 101 sehingga mengurangi kapasitas lembaga-lembaga tersebut untuk merespon ber3.4.5 Kesimpulan bagai persoalan hukum dan mendukung pemerintahan yang bertanggung jawab. TsuSebagai respon terhadap hambatan-hambatan nami juga menimbulkan kerugian dan kekeadilan dan isu-isu lain yang disebutkan di atas, rusakan parah terhadap pengadilan, jaksa Laporan “Akses ke Keadilan di Aceh” memdan polisi, sehingga memperlemah sumberikan beberapa rekomendasi, yang diringkas berdaya manusia, infrastruktur dan manadi bawah ini. jemen informasi. Konsultasi dengan lembaga-lembaga peradilan formal maupun · Meningkatkan Kesadaran Masyarakat tenpihak-pihak yang kepentingan yang diberi tang Hak-Hak Hukum: Tanpa memahami amanat dan mampu merespon kebutuhan hak-hak mereka dan bagaimana melaksatersebut harus terus dilakukan dalam rangnakan hak-hak tersebut, orang-orang tidak dapat menyelesaikan berbagai persoalan ka mencari masukan tentang kebutuhanhukum yang mereka hadapi. Programkebutuhan lain dan strategi tentang bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dapat program peningkatan kesadaran hukum haditangani secara tepat. rus difokuskan tidak hanya seperti yang mereka lakukan sekarang pada kewajiban, te- · Menyelesaikan Tumpang Tindih Yuristapi juga pada hak. diksi: Ketidakpastian yurisdiksi antara Pengadilan Umum dan Syariah dan lembaga · Meningkatkan Layanan Penasehat dan Adadat perlu diperjelas. Secara khusus, yurisvokasiHukumbagiMasyarakat:Kelompokdiksi lembaga-lembaga adat memerlukan kelompok kurang beruntung yang menghaperaturan, dan peraturan-peraturan yang dapi kesulitan ekonomi atau sosial seringkali diadopsi di Aceh harus sesuai dengan Konmemerlukan dukungan untuk mengakses stitusi Indonesia dan prinsip-prinsip hak hak-hak hukum mereka atau mempertaasasi manusia. Praktek UNDP untuk menhankan kepentingan hukum mereka. Mekadukung kejelasan yurisdiksi dengan pedonisme-mekanisme yang memungkinkan man dan pelatihan yang memperjelas tugas LSM untuk menetapkan dan memelihara dan tanggung jawab dalam sistem yurisdiksi layanan penasehat dan bantuan hukum di telah mendorong perubahan-perubahan kota-kota dan daerah-daerah yang lebih teryang menggembirakan. pencil adalah penting untuk memastikan bahwa bagian-bagian masyarakat yang lebih · Meningkatkan Pemantauan dan Pengrentan memiliki akses penuh ke keadilan. awasan: Komisi nasional yang ditugasi untuk mengawasi peradilan, jaksa dan polisi, · MemperkuatKapasitasLembaga-Lembaga serta lembaga-lembaga pemerintah lainnya Peradilan Setempat: Sebagian besar keluhyang bertanggung jawab terhadap pemberian ditangani oleh para tokoh di tingkat loan layanan publik, sebaiknya menetapkan kal, termasuk lembaga adat, kepala desa dan kantor-kantor provinsi di Aceh. Mekanisme tokoh agama. Mekanisme-mekanisme ini pengawasan dan pertanggungjawaban juga memerlukan pengembangan kapasitas yang harus ditetapkan bagi lembaga-lembaga meliputi keterampilan mediasi, pengetahuan adat untuk memastikan kesesuaian dengan hukum dasar dan prosesnya, dan kesadaran Konstitusi Indonesia dan prinsip-prinsip gender untuk memberikan solusi-solusi yang hak asasi manusia. berkesinambungan dan adil untuk sengketa.
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

59

60

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

4

Akses ke Kesempatan Ekonomi

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

61

62

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB

4
Pertumbuhan ekonomi merupakan pendorong penting pendapatan per kapita, tetapi sektor minyak dan gas di Aceh merupakan contoh klasik kantong ekonomi yang menghasilkan beberapa manfaat bagi penduduk setempat.

Akses ke Kesempatan Ekonomi

Sementara akses ke layanan publik membantu untuk mempromosikan pembangunan manusia dan mengurangi kemiskinan, faktor penting lainnya adalah akses ke kesempatan untuk mendapatkan nafkah. Kesempatan ini adalah sebagai karyawan yang bekerja untuk orang lain atau sebagai pemilik atau anggota perusahaan keluarga. Dalam perekonomian yang berkembang sangat pesat, kesempatan-kesempatan tersebut sangat banyak, tetapi tidak ada jaminan bahwa beberapa orang tidak akan mengalami ketertinggalan. Dalam perekonomian yang lemah, seperti yang terjadi di Aceh sekarang, tantangan untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang adil adalah lebih besar. Hal ini secara khusus terjadi di daerah-daerah kurang berkembang yang mengalami hambatan dalam berkompetisi di pasar yang lebih jauh dan dalam menarik industri dan jasa yang baru dan berkembang. Sifat persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat Aceh dijelaskan pada bagian berikut. 4.1. Perekonomian Aceh
secara umum, produk domestik regional bruto(PDRB) per kapita, Aceh menduduki peringkat tetap di antara provinsi-provinsi terkaya 4.1.1 Ukuran Pendapatan per Kapita di Aceh di Indonesia, meskipun Aceh turun dari 5 diantara 28 provinsi pada tahun 1999 menjadi Dalam istilah ekonomi, Aceh menampilkan 7 di antara 32 provinsi pada tahun 2007. (Lidua wajah yang sangat berbeda. Menurut salah hat tabel 4.1). Ukuran PDRB ini meliputi satu indikator pembangunan yang digunakan pendapatan dari minyak dan gas, yang sejak
Tabel 4.1 PDRB per Kapita untuk beberapa Provinsi di Indonesia 1978-2007 (Rp sekarang 000) 1978 PDRB Peringka per cap t Nasional 188 6 167 994 331 95 1,246 73 363 227 153 9 2 4 23 1 26 3 2008 PDRB Peringka per cap t Nasional 1,910 4 808 3,067 2,150 591 4,672 299 856 1,053 816 9 2 3 17 1 25 6 1999 PDRB Peringka per cap t 6,864 Nasional 5 5,476 10,640 19,767 3,317 23,640 1,456 8,913 5,455 5,040 6 3 2 19 1 27 4 2007 PDRB Peringka per cap t Nasional 17,329 7 14,167 41,413 62,490 9,469 70,120 4,302 27,468 17,581 11 3 2 21 1 32 5

Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau DKI Jakarta Jawa Tengah Kalimantan Timur Nusa Tenggara Ti mur Papua Sumatera Indonesia

Catatan: (a) PDRB menurut harga pasar sekarang. (b) Setelah 2002, Riau dimekarkan menjadi 2 provinsi: Kepulauan Riau dan Riau; sedangkan setelah 2003,
Papua dimekarkan menjadi Papua Barat dan Papua. Sumber: (a) Data untuk tahun1978 dan 1988 dari Bappenas (2001) ―Pembangunan Daerah dalam Angka‖; (b) data 1999 dari BPS (2002) ―Buku Tahunan Statistik Indonesia; (c) data 2005 dari BPS (2009) ―Beberapa Indikator Sosio-ekonomik: Indonesia‖.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

63

Gambar 4.1

Saham Minyak dan Gas dalam Perekonomian Aceh (%), 1983 – 2006.

80.00 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 1.0 2.6 2006

Catatan: Saham dihitung dengan menggunaan harga tetap berdasarkan tahun 2000. Sumber: http://.dtwh.esdm.go.id/index.

pertengahan tahun 1970-an telah menjadi sumber pendapatan utama bagi Aceh. Meskipun ekonomi telah berkembang, tetapi perkembangan ini belum secepat perkembangan yang dinyatakan oleh angka-angka dalam tabel. Angka-angka ini didasarkan pada harga sekarang dan mencerminkan inflasi besar selama beberapa tahun, terutama setelah krisis fiskal tahun 1998. Untuk sebagian besar kasus, pertumbuhan ekonomi merupakan pendorong penting pendapatan per kapita, tetapi sektor minyak dan gas di Aceh merupakan contoh klasik ekonomi kantong yang menghasilkan beberapa manfaat bagi penduduk setempat. Sebagian besar input yang diperlukan diperoleh dari luar, seperti halnya proporsi tenaga kerja terampil yang tinggi, yang tidak tersedia di tempat. Selanjutnya, terlepas dari beberapa operasi pengolahan, sektor tersebut telah menghasilkan beberapa industri barang (spin-off) di daerah tersebut, sebagian karena ketidakamanan politik dan fisik dan lokasi yang lebih baik di tempat lain. KonTabel 4.2

tribusi terbesar bagi Aceh dari industri tersebut adalah dalam bentuk bagian (share) pendapatan yang diperoleh pemerintah pusat, yang meningkat secara substansial sebagai akibat dari Kesepakatan Damai tahun 2005. Akan tetapi, sumberdaya minyak dan gas menurun cepat, diikuti dengan bagian dari PDB provinsi sektor, kemudian penurunan peringkat yang ditunjukkan pada Tabel 4.1. Puncaknya terjadi pada tahun 1984. Minyak dan gas merupakan 75 persen dari total, tetapi mengalami penurunan tetap sejak saat itu sampai sedikit di atas 30 persen pada tahun 2006, dan lebih kecil sejak saat itu. (Lihat Gambar 4.1). Ini berarti bahwa pendapatan minyak untuk pemerintah juga menurun, seperti halnya efek pengganda (multiplier) sederhana bagi perekonomian lokal. Hal ini merupakan tantangan lain yang mengancam upaya-upaya untuk mempromosikan pemulihan ekonomi di Aceh dan kesempatan kerja. Jika minyak dan gas tidak dimasukkan dalam perhitungan PDRB per kapita, peringkat

Pertumbuhan Pendapatan per Kapita di Indonesia dan Aceh, 2005 - 2007 Pertumbuhan PDRB per kapita riil 2005-2006 Pertumbuhan PDRB per kapita riil 2006-2 (%) Total Tanpa minyak & gas 007 Total Tanpa minyak & ga s 0.5 6.6 -5.7 3.6 5.6 -5.0 6.2 0.4 0.5 -6.2

Aceh Indonesia Aceh dikurangi Indonesia

Sumber: Berdasarkan data BPS.

64

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Pertumbuhan ekonomi seharusnya membantu menciptakan kesempatankesempatan untuk memperoleh nafkah dan mengurangi kemiskinan, tetapi dampaknya di Aceh ternyata lemah.

Tabel 4.3

Penyesuaian Pengeluaran per Kapita di Indonesia dan Aceh, 2002, 2008 Penyesuaian pengeluaran per kapita bulanan (Rp tetap 000s) 2002 2008 559 634 88% 30 33 2002 30 Peringkat 2008 32

Aceh Indonesia Aceh sebagai % Indonesia Jumlah provinsi
Sumber: Berasal dari data BPS.

558 591 94%

Aceh di antara provinsi-provinsi menempati provinsi terkaya di Indonesia, Aceh juga sebagai posisi ke-17 atau ke-18 antara tahun 2005 dan salah satu provinsi termiskin, yang menempati 2007. Peringkat ini sedikit di bawah rata-rata peringkat terakhir pada tahun 2002, dan ternasional, tetapi masih menunjukkan bahwa akhir di tahun 2008, naik satu tepat di atas Aceh berada di antara kelompok provinsi-proPapua. Hal ini terlepas dari program-program vinsi yang berpendapatan menengah. Selain itu, pemulihan secara besar-besaran setelah tsunami, meskipun sektor minyak telah menunjukkan yang menciptakan banyak pekerjaan dan mepertumbuhan negatif dalam beberapa tahun ningkatkan upah, tetapi menurun pada tahun terakhir, tetapi pendapatan per kapita yang di2008. (Lihat Tabel 4.3). dasarkan pada PDRB non-minyak telah meningkat, sebesar 6,6 persen pada tahun 2006 dan 3,6 persen pada tahun 2007, yang berada 4.1.2 Pertumbuhan Ekonomi dan di atas rata-rata nasional pada kedua tahun terPenanggulangan Kemiskinan sebut. (Lihat Tabel 4.2). Hal ini sebagian besar karena program-program pemulihan secara be- Pertumbuhan ekonomi seharusnya membantu sar-besaran bagi rekonstruksi dan rehabilitasi di menciptakan kesempatan-kesempatan untuk Aceh, yang saat ini kebayakan sudah berjalan. memperoleh nafkah dan mengurangi kemisEstimasi terakhir menunjukkan angka pertum- kinan, tetapi dampaknya di Aceh ternyata buhan yang lebih rendah sejak saat itu. lemah. Studi Pengkajian Kebutuhan KemisGambaran ini tampak membingungkan, tekinan Aceh untuk tahun 2008 menyimpulkan bahwa selama tahun-tahun tersebut pertumtapi tidak terlalu mengkhawatirkan. Akan tetapi, pengamatan terhadap penyesuaian penge- buhan telah menimbulkan dampak yang jauh luaran per kapita28 sebagai gambaran untuk pen- lebih lemah daripada daerah-daerah lainnya dapatan per kapita menyatakan situasi yang jauh di Indonesia. Estimasi BPS dan Bank Dunia lebih buruk. Selain muncul sebagai salah satu menyatakan bahwa meskipun peningkatan
Gambar 4.2 0 %ElastisitasPertumbuhanKemiskin 1984-1999 an, -0.5 -1 -1.5 -2 -2.5 -3 -3.5 Aceh Papua Riau East Kalimantan Rest of Indonesia Dampak Pertumbuhan Ekonomi pada Penanggulangan Kemiskinan di Aceh dan daerah lain

Source: BPS and World Bank staff calculations.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

65

sebesar 1 persen pada pertumbuhan ekonomi di tempat lain di Indonesia mengurangi kemiskinam sebesar 3 persen, tetapi peningkatan tersebut mencapai kurang dari setengah di Aceh (Lihat Gambar 4.2). Peningkatan ini secara jelas menggambarkan sifat kantung industri minyak dan gas dan kontribusi terbatasnya terhadap peningkatan pendapatan di provinsi tersebut.

4.1.3 Investasi
Hambatan utama lainnya terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi yang kuat di Aceh adalah tidak adanya investasi baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini telah lama menjadi kelemahan dalam perekonomian lokal, yang sebagian karena konflik dan sejak itu karena persepsi yang masih berkembang tentang ketidakamanan dan pemerasan, yang didokumentasikan dalam studi Bank Dunia baru-baru ini berdasarkan survei bisnis terbatas.29 Meskipun konflik telah berakhir, tetapi situasi belum membaik. Faktor penyebabnya pada beberapa tahun terakhir adalah tidak adanya kejelasan tentang lembaga-lembaga mana saja yang memiliki kewenangan untuk memberikan lisensi dan perizinan lainnya yang diperlukan untuk menjalankan bisnis di provinsi tersebut. Meskipun UUPA tahun 2006 memberikan
Tabel 4.4

kewenangan kepada Aceh untuk melakukan banyak tugas, tetapi perundang-undangan pendukung untuk mengimplementasikan alih wewenang dari pemerintah pusat terhenti dalam negosiasi yang berkepanjangan antara lembaga pusat dan provinsi. Informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia menyatakan bahwa hampir tidak ada investasi di Aceh selama empat tahun terakhir. Hanya 5 lisensi telah dikeluarkan untuk investasi yang hanya menunjukkan di atas 0 persen dari total nasional. (Lihat Tabel 4.4). Investasi yang besar, sekitar 70 persen atau lebih, mengalir ke Jakarta dan provinsi-provinsi yang berdekatan, Riau dan Kalimantan, meskipun baru-baru ini provinsi-provinsi lain telah mendapatkan bagian (share) yang lebih besar. Sementara itu, Aceh bersama dengan Bengkulu dan beberapa provinsi lainnya terutama di kawasan timur Indonesia tidak atau hanya mendapatkan sedikit bagian. Aceh adalah salah satu dari 5 provinsi yang gagal untuk menarik investasi apapun, baik pada tahun 2006 maupun 2008. Tidak adanya investasi juga mempengaruhi kualitas infrastruktur fisik. Tahun-tahun konflik yang panjang melemahkan upaya-upaya yang dilakukan oleh sektor publik untuk mempertahankan dan meningkatkan infrastruktur, terutama jalan-jalan dan listrik. Meskipun penda-

Investasi menurut beberapa Provinsi di Indonesia 2006 – 2009 2006 Lisensi Investasi (Rp trilyun) 0 0.0% 5,002 4,560 6,937 4,323 3,071 23,893 90% 2,748 2,748 10% 26,641 5 Lisensi 2 0.2% 11 399 279 100 38 827 72% 312 314 28% 1141 6 2007 2008 2009

Aceh Aceh sebagai %total Riau Jakarta Jawa Barat Banten Kalimantan (4 provinsi) Subtotal Total persen Provinsi lain Subtotal Total persen Indonesia Provinsi tanpa investasi

0 0.0% 18 359 329 103 32 841 82% 190 190 18% 1031

Investasi Lisensi Investasi Lisensi Investasi (Rp trilyun) (Rp trilyun (Rp trilyun) ) 17 0 0 3 80 0.0% 6,190 8,889 12,675 1,778 1,859 31,391 69% 13,812 13,829 31% 45,220 0.0% 16 468 357 130 31 1002 73% 375 375 27% 1377 5 0.0% 3,934 11,765 6,842 2,467 1,936 26,944 76% 8,290 8,290 24% 35,234 0.2% 10 494 351 115 53 1023 70% 443 446 30% 1469 3 0.2% 2,061 15,205 6,659 5,794 3,223 32,942 68% 15,593 15,673 32% 48,615

Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

66

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 4.3

Pengeluaran per Kapita menurut Kabupaten di Aceh (Rp sekarang 2008)

N W S E

SABANG

BANDA ACEH ACEH BESAR PIDIE ACEH JAYA LHOKSUMAWE ACEH UTARA BENER MERIAH ACEH TIMUR KOTA LANGSA ACEH TAMIANG GAYO LUES ACEH BARAT DAYA

BIREUEN

ACEH BARAT

ACEH TENGAH NAGAN RAYA

ACEH TENGGARA ACEH SELATAN

SIMEULUE ACEH SINGKIL ACEH SINGKIL

LEGENDA 323 - 370 370 - 420 420 - 514 514 - 652 652 - 889
Sumber: BPS

naan untuk program-program pemulihan bencana telah membantu untuk meningkatkan beberapa pelabuhan dan jalan di seluruh provinsi pada beberapa tahun terakhir, tetapi tidak adanya pembangkit listrik tetap menjadi kendala utama terhadap pertumbuhan kegiatan usaha dan memberikan beban lain pada perusahaan swasta untuk melakukan investasi dalam peralatan cadangan (standby) mereka sendiri untuk pembangkit listrik. Sebagian dari
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

persoalan tersebut muncul karena persaingan tuntutan nasional terhadap dana yang ada bagi PLN.

4.2. Perbandingan Kabupaten
Sebagaimana dijelaskan pada Bagian 4.1.1, ukuran-ukuran pendapatan per kapita yang didasarkan pada PDRB dan penyesuaian penge67

luaran per kapita memberikan hasil yang sangat berbeda, sehingga meningkatkan kebingungan dan kesalahpahaman tentang daerah-daerah mana saja yang lebih miskin atau lebih kaya.30 Estimasi dua ukuran ini ditunjukkan untuk dua kabupaten di Aceh dalam Lampiran A: Tabel 4.1. Angka-angka PDRB adalah menurut harga-harga sekarang untuk tahun 2007, sedangkan angka-angka pengeluaran adalah menurut harga-harga sekarang untuk tahun 2008 dan berasal dari survei rumah tangga Susenas untuk tahun itu.31 Meskipun tidak dapat dibandingkan secara tepat, angka-angka tersebut memberikan sebuah gagasan tentang perbedaan antara kedua ukuran tersebut dan peringkat di antara kabupaten-kabupaten untuk setiap ukuran. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah perbedaan peringkat-peringkat kabupaten berdasarkan dua ukuran ini. (Kolom 6 pada Lampiran A: Tabel 4.1.) Untuk 8 dari 23 kabupaten, perbedaan tersebut kurang dari 3 tempat, artinya angka-angka PDRB tidak sangat menyesatkan sebagai indikator tingkat pendapatan relatif. Untuk 8 kasus lainnya, angka PDRB terlalu menekankan pada tingkat pendapatan, terutama di Aceh Barat Daya, Aceh Tamiang dan Lhokseumawe, meskipun pendapatan dari minyak dan gas telah dikurangi dari angka untuk dua terakhir yang disebutkan. Sebaliknya, di 7 kabupaten lainnya angka-angka PDRB kurang menekankan pada tingkat pendapatan, terutama di Sabang dan Pidie di daerah Aceh Bagian Utara dan Timur, dan Aceh Jaya dan Simeulue di daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa PDRB bukan merupakan gambaran yang tepat untuk pengeluaran per kapita, karena PDRB didasarkan pada faktor-faktor tambahan.32 Angka-angka manapun yang digunakan, kota-kota muncul lebih kaya daripada kabupaten-kabupaten, yang menduduki peringkat rata-rata 4 tempat lebih tinggi. Angka-angka PDRB menunjukkan kabupaten-kabupaten lama lebih baik dibanding kabupaten-kabupaten baru, tetapi angka-angka pengeluaran per kapita menunjukkan lebih kurang sama. Estimasi pengeluaran per kapita sebaiknya merupakan gambaran yang lebih tepat untuk pendapatan pribadi, dan selanjutnya lebih berguna untuk mengidentifikasi masyarakat yang lebih miskin. Estimasi ini menghasilkan beberapa kejutan. Meskipun daerah di Aceh Bagian Barat dan Selatan secara tetap menem68

pati peringkat lebih rendah daripada daerahdaerah lainnya untuk banyak indikator, tetapi daerah ini muncul di depan dua daerah lainnya, yang menduduki tiga atau empat tempat lebih tinggi. Pada tahun 2008 paling tidak, tiga kabupaten di daerah tersebut, Aceh Barat dan dua kabupaten hasil pengembangannya, Aceh Jaya dan Nagan Raya, menempati peringkat di antara 7 tertinggi dari semua kabupaten untuk pengeluaran per kapita. Dua kabupaten di daerah Aceh Bagian Tengah, Aceh Tengah dan Bener Meriah, berada tepat di belakangnya, yang menduduki tempat ke-8 dan ke-9. Sebagaimana disebutkan dalam diskusi IPG, tiga dari kabupaten ini merupakan penghasil utama kopi arabika yang harganya tinggi. Harga-harga komoditas pertanian secara nyata merupakan faktor utama yang mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran keluarga di daerah-daerah perdesaaan, sehingga akan berbeda-beda dari tahun ke tahun. Pengeluaran per kapita yang terendah terdapat di Aceh Tenggara, Subulussalam, Gayo Lues dan Aceh Bagian Utara, semuanya daerah-daerah perdesaan. Hasil analisa ini diringkas pada Tabel 4.5 yang memisahkan kabupaten-kabupaten ke dalam empat kelompok. Pada umumnya, kabupaten-kabupaten yang memiliki pendapatan PDRB per kapita non-minyak yang tinggi adalah penerima rata-rata pengeluaran per kapita dan investasi pemerintah di atas. Contohcontoh meliputi Banda Aceh, Lhokseumawe dan Langsa, yang semuanya adalah kota. Kabupaten-kabupaten yang memiliki pengeluaran (pendapatan) per kapita lebih rendah adalah daerah-daerah perdesaan dengan kombinasi pekerjaan berupah lebih rendah, petani penghasil komoditas harga lebih rendah, dan yang paling penting akses yang buruk ke pasar luar, seperti Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Subulussalam. Proporsi pengeluaran untuk pangan merupakan indikator lain tingkat pendapatan relatif, karena proporsi ini menunjukkan apa yang tersisa untuk tujuan-tujuan lainnya. (Lihat Lampiran Tabel 4.1) Di antara daerah-daerah, meskipun angka-angka tersebut sama, tetapi angka-angka ini menyembunyikan perbedaanperbedaan yang luas di antara kabupaten. Perbedaan-perbedaan ini berkisar dari yang rendah di kota-kota seperti Lhokseumawe (57 persen) dan Banda Aceh (41 persen) sampai yang tinggi di Aceh Tenggara (69 persen), Gayo Lues (70 persen) dan Pidie (72 persen).
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tabel 4.5

Tabel Ringkasan Tingkat Pendapatan per Kapita menurut Kabupaten di Aceh Tingkat PDRB Non-minyak

Tingkat pengeluaran Aceh Besar Langsa Tinggi Total 12

Tinggi Pidie Sabang Aceh Jaya Simeulue

Rendah

Lhokseumawe Banda Aceh Aceh Barat Nagan Raya Aceh Tengah Bener Meriah Aceh Tamiang Bireuen

Aceh Timur Aceh Utara Pidie Jaya Aceh Singkil Subulussalam Aceh Tenggara Gayo Lues

Rendah Total 11

Aceh Barat Daya Aceh Selatan

Total
Sumber: Berasal dari Tabel 4.5.

12

11

4.3. Pekerjaan
4.3.1 Produktivitas Tenaga Kerja
Rata-rata pendapatan per kapita dalam masyarakat tertentu secara langsung berkaitan dengan proporsi pekerja yang bekerja pada kegiatankegiatan yang berbeda, seberapa banyak mereka

mendapatkan bayaran, dan secara tidak langsung terhadap produktivitas relatif pekerja dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Untuk lebih memahami mengapa tingkat pendapatan lebih rendah di beberapa tempat daripada yang lainnya, adalah penting untuk memperhatikan komposisi pekerjaan dan PDRB pada setiap sektor (Tabel 4.6), dari mana tingkat relatif produktivitas tenaga kerja berasal (Tabel 4.7).

Tabel 4.6 Sektor Pertanian* Pertambangan Manufaktur Listrik, Gas & Air Konstruksi Jasa# Total

Prosentase Pekerjaan dan PDRB menurut Sektor di Aceh, 2003 - 2008 2003 2005 2008

Pekerjaan PDRB menuru Pekerjaan PDRB menuru Pekerjaan PDRB menuru menurut sekt t menurut sekto t menurut sekt t or r or sektor sektor sektor 62.1 21.0 59.8 26.7 48.5 26.2

0.5 4.8 0.1 2.9 29.7 100.0

30.0 19.9 0.2 3.8 25.0 100.0

0.3 3.6 0.3 3.8 32.3 100.0

23.1 18.0 0.2 3.2 28.8 100.0

0.5 5.3 0.2 6.4 39.1 100.0

18.9 11.1 0.3 8.5 35.0 100.0

Catatan: (*) Pertanian meliputi perkebunan, ternak, kehutanan dan perikanan Sumber: Buku Tahunan Statistik BPS.
(#) Jasa meliputi transportasi dan perhubungan; perdagangan, hotel dan restauran; keuangan; dan jasa-jasa lain.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

69

Tabel 4.7

Tingkat relatif PDRB per Pekerja menurut Sektor di Aceh 2003 - 2008 PDRB/pekerja 2003 PDRB/pekerja 2005 0.4 79.7 5.0 0.8 0.9 0.9 1.0 PDRB/pekerja 2008 0.5 37.8 2.1 1.3 1.3 0.9 1.0

Pertanian* Pertambangan Manufaktur Listrik, Gas & Air Konstruksi Jasa* Total
Catatan: Sektor seperti didefinisikan pada Tabel 4.7 Sumber: Berasal dari Tabel 4.7

0.3 66.5 4.1 2.6 1.3 0.8 1.0

Karena keterbatasan data, analisa ini didasarkan pada informasi untuk provinsi secara keseluruhan, meskipun proporsi-proporsi akan berbeda secara nyata di setiap kabupaten. Sebagaimana dapat dilihat, berakhirnya konflik dan khususnya tsunami membawa perubahan besar pada pekerjaan, terutama dari pertanian ke industri konstruksi dan sektor jasa khususnya transportasi. Meskipun pertanian masih merupakan sebagian besar pekerjaan di Aceh, tetapi pertanian mengalami penurunan tajam dari 60 persen dari total pada tahun 2005 menjadi 49 persen pada tahun 2008. Penurunan ini disebabkan banyaknya pekerja desa yang bekerja pada program-program pemulihan. Sementara itu, pekerjaan dalam industri konstruksi berkembang pesat dari 3 persen% pada tahun 2003 menjadi lebih dari 6 persen pada tahun 2008, meskipun pekerjaan ini lebih tinggi selama program-program rekonstruksi mencapai puncaknya. Pekerjaan di sektor jasa juga telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, dari 30 persen dari total pada tahun 2003 menjadi 39 persen pada tahun 2008, sebagian sebagai respon terhadap berbagai kesempatan dalam program-program pemulihan dan besarnya gelombang pekerja bantuan. Selain itu juga karena permintaan terpendam yang terakumulasi selama konflik. Perubahan besar juga terlihat jelas dalam hal kontribusi sektor terhadap PDRB. Seperti dinyatakan sebelumnya, sektor pertambangan, yang hampir seluruhnya terdiri dari minyak dan gas, telah mengalami penurunan tetap, dari 30 persen pada tahun 2003 menjadi 19 persen% pada tahun 2008. Karena banyak manufaktur yang berhubungan dengan minyak, maka proporsinya juga turun dari 20 persen% menjadi 11 persen dalam kurun waktu yang sama. Sementara itu, sektor-sektor lainnya telah berkembang, sebagian didorong oleh program-program rekonstruksi. Akan tetapi, perkembangan ini ti70

dak cukup untuk mengimbangi penurunan dalam pertambangan. Terlepas dari penurunan ini, proporsi PDRB dari konstruksi naik 4,7 persen antara tahun 2003 dan 2008, dari jasa 10 persen dan lebih penting dari pertanian, juga naik di atas 5 persen. Sehubungan dengan produktivitas tenaga kerja, karena sifat kegiatan tersebut yang sangat intensif-modal, sektor pertambangan (baca minyak dan gas bumi) jauh melebihi semua sektor lainnya di Aceh, yang mencapai kira-kira 60 sampai 80 kali rata-rata untuk provinsi, tetapi menurun secara nyata pada tahun 2008 dan terus menurun sejak saat itu. Demikian pula, karena manufaktur yang terkait dengan minyak menurun, maka produktivitas di sektor tersebut juga menurun. Angkaangka untuk sektor utiliti menurun karena kerugian akibat tsunami dan pada tahun 2008 belum kembali ke tingkat sebelumnya. Angka-angka produktivitas yang lebih rendah untuk sektor konstruksi pada tahun 2005 kemungkinan karena sifat pekerjaan tersebut yang berubah-ubah. Hal ini melibatkan kampanye pembersihan besar-besaran pada tahun setelah tsunami 2005 dan rehabilitasi tambak ikan dan lahan pertanian selama beberapa tahun lagi, yang merupakan kegiatan-kegiatan dimana ukuran-ukuran produktivitas relatif rendah. Tren paling menggembirakan yang ditunjukkan pada Tabel 4.7 adalah meningkatnya produktivitas tenaga kerja secara relatif di bidang pertanian, yang meningkat dari 0,3 pada tahun 2003 menjadi 0,5 pada tahun 2008. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.4, peningkatan ini bukan sebuah kebetulan yang terjadi dalam waktu singkat, tetapi secara signifikan telah meningkat selama bertahun-tahun, tentu saja sejak tahun 1980, yang menunjukkan sejumlah kecil petani menghasilkan proporsi PDRB yang lebih besar. Hal ini menjadi tanda
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 4.4

Peranan Pekerjaan dan PDRB dalam Bidang Pertanian di Aceh, 1980 – 2007 Sektor Pertanian

80 70 60 50 40 30 20 10 0 1980 1985 1990 1995 2003 2005 2007 Pembagian Tenaga Kerja
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Pembagian PDRK

Kesenjangan antara Tenaga Kerja dan PDRK

yang baik bagi keluarga yang terlibat dalam bidang pertanian, kehutanan dan perikanan dan kabupaten-kabupaten perdesaan dimana kegiatan-kegiatan ini dianggap penting.

Bagian Barat dan Selatan memiliki tingkat partisipasi angkatan kerja yang sebanding, sedikit lebih rendah di Aceh Bagian Barat dan Selatan, dimana tingkat partisipasi di sebagian besar kabupaten mencapai 60 persen atau lebih kecil, kecuali untuk Nagan Raya yang menempati 4.3.2 Ciri-ciri Pekerjaan peringkat ketiga secara keseluruhan. Kabupatenkabupaten dengan peringkat terendah Meskipun analisa kinerja ekonomi setempat meliputi Simeulue dan Aceh Utara (keduanya membantu untuk memahami perubahan-per- 55 persen), Aceh Tenggara (54 persen) dan ubahan struktural yang terjadi di daerah terse- agak mengejutkan kota Lhokseumawe (52 but, tetapi dua pertanyaan perlu mendapatkan persen). Di antara kabupaten-kabupaten, tingperhatian yang lebih besar dalam memikirkan kat partisipasi angkatan kerja tertinggi terdapat pembangunan manusia. Bagaimana orang- di antara kabupaten-kabupaten baru (64 perorang dilibatkan saat ini, dan bagaimana kesem- sen) dan yang terendah di antara kota-kota patan-kesempatan untuk mencari nafkah dapat (59 persen). Sulit untuk mendeteksi pola keditingkatkan? Untuk menjawab pertanyaan perseluruhan di sini, kecuali bahwa tingkat partama, kita mengkaji ciri-ciri utama pekerjaan tisipasi angkatan kerja tampaknya lebih tingdi setiap kabupaten. Ciri-ciri tersebut meliputi gi di daerah-daerah perdesaan terpencil, mungtingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), pekin karena sebagian besar bekerja di usaha kekerjaan sektor informal dan pengangguran ter- luarga, terutama peternakan. buka. (Lihat Lampiran A: Tabel 4.2). PertanyaPengangguran terbuka cenderung lebih an kedua dibahas pada bagian akhir ini Bab ini. tinggi di kota-kota, lebih rendah di kabupatenDibandingkan dengan rata-rata nasional, kabupaten lama dan terendah di kabupatentingkat partisipasi angkatan kerja33 di Aceh lebih kabupaten baru. Rata-rata peringkat pengangrendah (60 persen vs 67 persen) dan pengang- guran di antara daerah-daerah sangat berbeda. guran terbuka34 sedikit lebih tinggi (9,6 persen Aceh Bagian Tengah menunjukkan skor tervs 8,4 persen). Di antara daerah-daerah di Aceh, tinggi, artinya bahwa pengangguran umumtingkat partisipasi angkatan kerja jelas lebih nya lebih rendah, diikuti oleh daerah di Aceh tinggi di Aceh Bagian Tengah, yang meliputi Bagian Barat dan Selatan, kemudian Aceh Batiga kabupaten dengan peringkat empat ter- gian Utara dan Timur pada posisi terakhir detinggi, yang merupakan kabupaten-kabupaten ngan tingkat pengangguran yang lebih tinggi. yang hanya memproduksi kopi arabika. DaerahUntuk tiap-tiap kabupaten, pengangguran daerah Aceh Bagian Utara dan Timur dan Aceh terendah terdapat di Bener Meriah (3,4 persen),
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

71

Gayo Lues (4,3 persen), Aceh Tengah (4,9 persen) dan Nagan Raya (5 persen). Pengangguran tertinggi terdapat di Lhokseumawe (14,4 persen), Aceh Utara (14,0 persen) dan Aceh Barat (12,1 persen), semua di daerah Aceh Bagian Utara dan Timur, dan Subulussalam (12,2 persen) di Aceh Bagian Barat dan Selatan. Proporsi pekerja yang bekerja pada sektor informal35 di Aceh mendekati rata-rata nasional sebesar 62 persen, yang mengindikasikan ekonomi yang masih sangat tergantung pada sektor tersebut untuk memberikan cara guna mendapatkan nafkah kepada sebagian besar penduduk. Ini merupakan situasi khusus di negaranegara yang berada pada pertengahan tahaptahap pembangunan. Angka di atas jauh lebih tinggi di Aceh Bagian Tengah dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, semua empat kabupaten di daerah tersebut menunjukkan tingkat yang mendekati 80 persen atau lebih tinggi, jauh di atas kabupaten berikutnya, Pidie Jaya sebesar 69 persen. Angka ini yang terendah terdapat di Kabupaten Aceh Barat (49 persen) dan tiga kota, Langsa (54 persen), Sabang (49 persen), dan terutama Banda Aceh hanya sebesar 24 persen. Seperti yang dinyatakan oleh angka-angka yang lebih rendah untuk kota-kota, pekerjaan di sektor informal pada umumnya menurun ketika ekonomi mengalami perkembangan, perusahaan-perusahaan bisnis tumbuh lebih besar dan memasuki sektor formal. Sebaliknya, daerah-daerah perdesaan yang masih sangat tergantung pada pertanian kecil dan perusahaan
Gambar 4.5 80 Rata-ratapartisipasitenagakerj a(%) 75 70 65 60 55 50 45 40 0 2 4 6

keluarga diharapkan untuk menunjukkan tingkat pekerjaan sektor informal yang lebih tinggi. Di Aceh, pekerjaan sektor informal yang tertinggi terdapat di kabupaten-kabupaten baru, lebih rendah di kabupaten-kabupaten lama dan terendah di kota-kota, yang sebagian mencerminkan ukuran relatif dan konsentrasi kantorkantor pemerintah. Berdasarkan gambaran yang lebih luas, data dari Aceh mengisyaratkan dua kecenderungan besar, yang juga ditemukan dalam beberapa kajian daerah-daerah lainnya. Di daerah-daerah dimana pekerjaan sulit didapatkan dan dimana pengangguran tinggi, orang akan kehilangan semangat untuk mencari pekerjaan. Kondisi ini akan tercermin pada tingkat partisipasi angkatan kerja yang lebih rendah. Hal ini tampaknya terjadi di Aceh seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5. Misalnya, Lhokseumawe tidak hanya memiliki tingkat pengangguran tertinggi (14 persen), tetapi juga tingkat partisipasi angkatan kerja terendah (52 persen). Sebaliknya, Bener Meriah dengan tingkat pengangguran terendah(3,4persen)memilikitingkatpartisipasi angkatan kerja tertinggi kedua (72,2 persen). Kecenderungan kedua yang dikaji di Aceh adalah peran sektor informal dalam menyerap orang-orang yang tidak bekerja dan mengurangi pengangguran. (Lihat Gambar 4.6). Tiga kabupaten dengan proporsi pekerja tertinggi yang bekerja di sektor informal, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, semuanya mencapai 80 persen atau lebih tinggi, juga memiliki tingkat pengangguran terendah

Meskipun kesenjangan telah menyempit selama bertahun-tahun, tetapi tingkat partisipasi laki-laki masih jauh lebih tinggi daripada tingkat partisipasi perempuan.

Pengangguran dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut Kabupaten Aceh, 2008

8

10

12

14

16

Persen pengangguran terbuka
Sumber: BPS, Indonesia, 2008.

72

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 4.6 16.0 14.0 Penganggurantebuka 12.0 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 45.0

Pekerjaan Sektor Informal dan Pengangguran menurut Kabupaten di Aceh, 2008

50.0

55.0

60.0

65.0

70.0

75.0

80.0

85.0

Pekerja sektor informal
Sumber: BPS, Indonesia, 2008.

(masing-masing 4,9, 3,4 dan 4,3 persen). Sebaliknya, kabupaten-kabupaten dengan proporsi pekerja yang rendah di sektor informal - Banda Aceh, Sabang dan Aceh Besar - juga memiliki tingkat pengangguran di atas 11 persen. Kemampuan sektor informal ini untuk menyerap mereka yang tidak bekerja juga dikaji di Indonesia setelah krisis ekonomi Asia tahun 1997 -98, ketika banyak pekerja kota yang menganggur kembali ke tempat tinggal mereka dan usaha-usaha keluarga, khususnya peternakan. Pengkajian ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah pernyataan bahwa upaya-upaya untuk mengurangi pengangguran sebaiknya difokuskan pada dukungan bagi sektor informal. Mungkin, akan ada resiko. Meskipun upaya ini dapat mengurangi pengangguran terbuka, tetapi mungkin hanya mengubah pekerja menjadi pekerja setengah pengangguran. Pekerjaan di sektor informal biasanya tidak memiliki perlindungan sosial dan hak-hak pekerja, dan perempuan secara khusus rentan terhadap eksploitasi. Setelah tahun 1998, banyak perusahaan juga terpaksa menawarkan pekerjaan informal untuk menghemat uang dan menghindari pembayaran iuran dan pajak serta lembur dan cuti yang dibayar. Tujuan jangka panjang adalah untuk membantu usaha-usaha informal agar menjadi lebih produktif, memberikan kondisi-kondisi yang lebih baik kepada para karyawan, dan akhirnya beralih ke sektor formal.

4.3.3 Pekerjaan Perempuan dan Mantan Pejuang GAM
Antara tahun1998 dan 2008, angkatan kerja di Aceh tumbuh tidak merata dari tahun ke tahun, dan tidak seperti yang diharapkan. (Lihat Lampiran Tabel 4.3.) Selama beberapa tahun pertama, angkatan kerja tersebut umumnya tumbuh lebih cepat daripada penduduk, yang mencerminkan peningkatan jumlah orang-orang muda yang memasuki angkatan kerja yang melebihi jumlah mereka yang pensiun. Pada tahun 2003, data menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja meningkat dengan angka di atas 20 persen oleh faktor yang sama tahun berikutnya pada tahun 2004. Jika perhitungan jumlah tenaga kerja dilakukan tepat pada akhir tahun, perhitungan ini sebagian akan mencerminkan korban jiwa yang besar akibat tsunami. Akan tetapi, mengingat adanya kenaikan besar tahun sebelumnya, tampaknya lebih mungkin bahwa angka untuk tahun 2003 merupakan suatu kesalahan atau estimasi yang berlebihan. Jika hal ini terjadi, maka pertumbuhan sedang sebesar 0,7 persen pada tahun 2005 mencerminkan baik kehilangan jiwa akibat tsunami yang diimbangi dengan gelombang besar pekerja bantuan ketika upaya pemulihan sedang berlangsung. Percepatan pertumbuhan pada tahun 2007 menjadi 4,1 persen ketika program-program rekonstruksi berkembang,

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

73

tetapi mengalami sedikit penurunan sebesar 0,4 persen pada tahun 2007, yang mengejutkan karena rekonstruksi masih dalam kekuatan penuh. Pada tahun 2008, pertumbuhan kembali dengan kecepatan yang lebih normal sebesar 2,9 persen, lebih mendekati rata-rata pada tahuntahun sebelumnya. Pekerjaan Perempuan: Selama bertahuntahun, jumlah perempuan dalam angkatan kerja terus meningkat sampai yang tertinggi kira-kira 850.000 pada tahun 2003, meskipun angka ini dapat meningkat. (Lihat Gambar 4.7.) Dari tahun 2005 dan seterusnya, jumlah tersebut berkisar kira-kira 650.000, lebih rendah pada dua tahun terakhir dimana selama masa tersebut data tersedia. Sebagai persentase dari seluruh angkatan kerja, partisipasi mereka terus meningkat dari 29 persen pada tahun 1980 sampai yang tertinggi sebesar hampir 40% pada tahun 2002, yang menandakan kenaikan sebesar 11 persen selama kurun waktu 22 tahun. Sejak itu, jumlah tersebut mengalami penurunan kecil menjadi sekitar 36 persen, yang mencerminkan komentar yang dinyatakan sebelumnya bahwa setelah kembalinya para mantan pejuang GAM ke dalam keluarga, beban perempuan sebagai pencari nafkah menjadi berkurang. Meskipun kesenjangan telah menyempit selama bertahuntahun, tetapi tingkat partisipasi laki-laki masih jauh lebih tinggi daripada tingkat partisipasi perempuan.

Bidang perhatian lainnya adalah diskriminasi gender dalam tingkat upah. Rasio upah laki-laki terhadap perempuan di sektor nonpertanian pada tahun 2008 ditunjukkan pada Gambar 4.8. Ada dua hal penting. Pertama, rata-rata upah perempuan di Aceh lebih kecil dari upah laki-laki di semua daerah kecuali empat kabupaten - Subulussalam, Aceh Tenggara, Aceh Timur dan Bener Meriah. Kedua, rasio upah untuk empat kabupaten di Aceh Bagian Tengah adalah di atas rata-rata untuk provinsi tersebut. Sebaliknya, empat kabupaten dengan rasio terendah - Aceh Tamiang, Pidie, Lhokseumawe dan Pidie Jaya - semuanya terdapat di daerah Aceh Bagian Utara dan Timur. Selain itu, rasio-rasio ini tidak menunjukkan adanya konsistensi pola distribusi daerah atau desa-kota. PekerjaanMantanPejuangGAM: Menurut MSR36, juga terjadi kenaikan tingkat pekerjaan secara signifikan di antara para mantan pejuang GAM, dimana sebagian besar dari mereka sekarang sudah bekerja. Dilaporkan bahwa para mantan pejuang kini lebih mungkin untuk mendapatkan pekerjaan daripada penduduk yang bukan pejuang. Sebagian besar mantan pejuang dan tahanan politik telah kembali ke pekerjaan yang mereka lakukan sebelum bergabung dengan pemberontakan - khususnya pekerja upah di bidang peternakan dan pertanian, dengan banyak lagi yang menjadi pekerja

Faktor utama yang menjadi kendala pertumbuhan dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat untuk membangun usaha-usaha keluarga adalah sulitnya mendapatkan akses ke kredit.

Gambar 4.7 2500 2000 Tenagakerja(ribuan ) 1500 1000 500 0

Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin di Aceh, 1998 - 2008

1998 Perempuan Laki-laki 612 1020

1999 635 1045

2000 660 1071

2001 693 1125

2002 727 1101

2003 867 1335

2004 545 1074

2005 681 1082

2006 688 1126

2007 621 1121

2008 640 1154 Perempuan

Laki-laki
Sumber: BPS Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2009

74

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 4.8

Rasio Rata-rata Upah Non-pertanian Laki-laki-Perempuan menurut kabupaten di Aceh, 2008

Subulussalam* Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah* Aceh Besar Gayo Lues* Aceh Utara Sabang Banda Aceh Aceh Tengah ACEH Nagan Raya* Aceh Jaya* Simeulue Bireuen Langsa* Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Barat Aceh Singkil Aceh Tamiang* Pidie Lhokseumawe* Pidie Jaya* 0.40
Sumber: BPS

0.60

0.80

1.00

1.20

upah harian di bidang non-pertanian. Meskipun tingkat lapangan kerja tinggi, tetapi para mantan pejuang, rata-rata kurang kaya dan berpenghasilan lebih rendah daripada penduduk sipil pada umumnya, meskipun ada perbedaan besar dalam populasi mantan kombatan. Sejak konflik berakhir, kelompok-kelompok tertentu, khususnya mantan perwira TNA, mengumpulkan kekayaan lebih cepat dibandingkan kelompok-kelompok lainnya MSR juga menunjukkan bahwa bantuan reintegrasi telah menimbulkan dampak kecil terukur terhadap status ekonomi keluarga penerima. Hal ini sebagian karena banyak program pemerintah menyerahkan bantuan tunai tanpa bimbingan, atau pendampingan lebih lanjut untuk memastikan bahwa bantuan tersebut digunakan secara efektif. Terdapat beberapa layanan atau program untuk memberikan pelatihan keterampilan atau dukungan pengembangan usaha bagi para mantan pejuang, tahanan politik atau korban konflik. Hanya sejumlah kecil mantan pejuang atau tahanan politik yang diberi pengampunan (amnesty) telah kembali ke sekolah sejak konflik berakhir. Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, strategi-strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang luas mungkin lebih efektif dalam menangani kebutuhan maLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

syarakat yang paling terkena dampak konflik daripada program-program bantuan yang memiliki sasaran tepat. Akan tetapi, kelompok penduduk tertentu yang rentan – khususnya para pengungsi / orang-orang yang kembali saat ini, janda korban konflik dan keluarga dengan kepala keluarga perempuan – akan terus memerlukan bantuan dengan sasaran yang tepat. Pemilihan kelompok-kelompok tersebut sebaiknya didasarkan pada indikator-indikator kerentanan bukan identitas mereka selama konflik, dan dalam kebanyakan kasus, masyarakat adalah tempat yang paling tepat untuk memutuskan siapa yang sebaiknya memperoleh manfaat.

4.4. Akses ke Sumberdaya Finansial
Faktor utama yang menjadi kendala pertumbuhan dan kesempatan ekonomi bagi orangorang untuk membangun usaha-usaha keluarga adalah sulitnya mendapatkan akses ke kredit. Kesulitan ini terjadi baik pada usaha kecil maupun usaha yang lebih besar, khususnya usahausaha yang terlibat dalam sektor pertanian (dalam pengertian luas). Di Aceh, proporsi keluarga yang menerima kredit dari lembaga keuangan dan program pemerintah pada umumnya di bawah rata-rata nasional, seperti yang digambar75

Pemberian layanan penyuluhan, Akses Mendapatkan Kredit 8 perbaikan 7 sistem 6 irigasi, dan 5 peningkatan 4 akses ke pasar 3 akan 2 memberikan 1 manfaat 0 kepada seluruh 2006 2007 2006 2007 2006 2007 masyarakat Perkotaan Perdesaan Total pertanian dan Indonesia Aceh karena itu Sumber: Survei Sosial dand Ekonomi Nasional (Susenas) kurang selektif atau kan untuk tahun 2006 dan 2007. (Lihat Gampir sama dengan hambatan-hambatan yang te- diskriminatif.
Gambar 4.9 Kesenjangan Kota-Desa dalam Akses ke kredit di Indonesia dan Aceh 2006 dan 2007

bar 4.9). Proporsi keluarga perkotaan yang lebih tinggi di Aceh pada tahun 2007 merupakan pengecualian, karena peluncuran sebuah program kredit oleh pemerintah provinsi, yang diuraikan di bawah ini. Di tingkat nasional, tidak ada perbedaan nyata antara pinjaman di daerah perkotaan dan perdesaan, tetapi di Aceh keluarga perkotaan cenderung memiliki akses yang lebih baik daripada keluarga di daerah perdesaan, dengan faktor lebih dari 2:1 pada tahun-tahun yang ditunjukkan. Bank memiliki preferensi untuk memberikan pinjaman kepada pelanggan, dengan permintaan yang lebih besar di daerah perkotaan (untuk sepeda motor, peralatan elektronik dan sejenisnya). Hal ini juga lebih hemat biaya bagi bank untuk memantau peminjam yang terpusat di kota-kota daripada peminjam yang tersebar di seluruh daerah perdesaan dengan jalan-jalan buruk. Kebanyakan lembaga keuangan swasta di Aceh juga enggan untuk memberikan pinjaman bagi kegiatan-kegiatan ekonomi, khususnya di bidang pertanian, yang mereka anggap jauh lebih beresiko, mengingat cuaca yang tidak menentu, penyakit dan harga komoditas. Selain preferensi selektif bank untuk memberikan pinjaman, para calon peminjam menghadapi hambatan-hambatan lain untuk mengakses kredit di Aceh. Hambatan-hambatan ini diakui secara luas dalam perekonomian yang kurang berkembang di seluruh dunia, dan ham76

Rumahtanggadenganaksesmendapatkankr edit(%)

lah disebutkan dalam mengakses keadilan. Beberapa lembaga keuangan membuka cabangcabang di daerah perdesaan, sehingga memerlukan waktu dan biaya mahal untuk memulai pinjaman dan melakukan pembayaran berkala. Banyak orang merasakan bahwa prosedur administratif sulit dipahami, khususnya mereka yang buta huruf atau yang berpendidikan rendah. Persyaratan jaminan sulit dipenuhi, khususnya mereka yang tidak memiliki hak atas tanah, sebuah hambatan serius bagi orangorang miskin dan juga perempuan seperti yang disebutkan sebelumnya. Hal ini memaksa sebagian besar orang, khususnya di daerah pedesaan, tergantung pada pemberi pinjaman uang, yang biasanya memberlakukan suku bunga tinggi atau terlalu tinggi, yang seringkali melebihi 100 persen per tahun. Dalam upaya untuk meningkatkan akses ke kredit, sebagai bagian dari sebuah strategi untuk menanggulangi kemiskinan dan mempromosikan usaha kecil dan menengah (UKM), pemerintah Aceh meluncurkan program di bulan Mei 2007, yang disebut Kredit untuk Kesejahteraan Nanggroe (Kredit Peumakmu Nanggroe atau KPN). Program ini mengikuti program-program serupa yang diluncurkan lebih awal oleh tiga gubernur sebelumnya, yang disebut Gema Assalam dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (PER). Program-program ini sebagian besar didanai oleh dividen yang diterima pemerintah Aceh dari sahamnya di
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Orang-orang yang paling memahami berbagai kendala dan kesempatan yang dihadapi dalam pertumbuhan ekonomi, dan memiliki posisi terbaik untuk mempromosikan pertumbuhan tersebut, adalah mereka yang mencari nafkah dari kegiatankegiatan ekonomi, yaitu pengusaha besar dan kecil.

Bank Pembangunan Daerah (BPD). Program KPN memberikan kredit mikro sampai dengan maksimal sebesar Rp 15 juta untuk proposal dari individu, yang diproses oleh BPD. Meskipun sejumlah besar proposal diterima setelah peluncuran KPN, tetapi program tersebut menimbulkan dampak kecil dan dianggap gagal. Hal ini diperkirakan karena buruknya desain program, yang penuh dengan kekurangan. Program tersebut tidak memiliki target yang terencana, tidak ada strategi yang jelas dan tidak ada prosedur evaluasi yang jelas. Pinjaman secara nominal diperuntukan bagi orang-orang miskin, tetapi sedikit pemikiran diberikan pada bagaimana menjangkau mereka atau melayani kebutuhan khusus mereka. Seperti yang seringkali terjadi pada program kredit pemerintah dengan sifat ini, suku bunga yang ditetapkan sebesar 5 persen per tahun, jauh di bawah suku bunga pasar, yang biasanya menimbulkan korupsi dalam pemberian kredit kepada klien-klien yang disukai. Beberapa orang menolak bunga atas dasar agama. Meskipun dimaksudkan untuk kesinambungan, program tersebut gagal dengan cepat karena banyak peminjam lalai atas pinjaman mereka, yang memperhitungkan apakah mereka akan mendapatkan sedikit denda atau tidak. Ini merupakan persoalan umum lainnya dengan program-program kredit yang didanai oleh pemeintah, khususnya dimana pemerintah memutuskan alokasi kredit dan bank hanya bertindak sebagai perantara dan lembaga pelaksana. Sebuah strategi yang lebih tepat diimplementasikan oleh BRR selama empat tahun beroperasi, dimana dana tersebut dialihkan ke LSM yang memenuhi syarat dengan pengalaman relevan, yang bertanggung jawab terhadap pengalokasian dan pengelolaan pinjaman. Banyak program kredit serupa lainnya dimulai oleh para donor sebagai bagian dari upaya-upaya pemulihan mereka, sehingga menciptakan berbagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM) karena lembaga-lembaga tersebut dikenal secara lokal. Bersama-sama, lembagalembaga ini telah mengeluarkan sejumlah besar pinjaman, yang berjumlah sekitar 140.000 pada akhir tahun 2008. (Lihat Gambar 4.10). Banyak dari LKM ini telah ditutup, ketika programprogram, donor berakhir, walaupun lembagalembaga lainnya berjalan dengan upaya mereka sendiri. Sejak BRR selesai beroperasi pada bulan Maret 2009, beberapa program, kredit yang mereka mulai, bersama dengan pihak-pihak lain, telah diserahkan kepada pemerintah provinsi.

Gambar 4.10 160.000 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0

Agregasi Jumlah Kredit

2007 (Mei)

2008 (Des) BRR LSM

4.5. Pendekatan pada Pembangunan Ekonomi di Aceh
Pemikiran pemerintah tentang promosi pemulihan dan pembangunan ekonomi tercermin dalam sejumlah dokumen-dokumen terakhir, bersama dengan sektor-sektor lain yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Dokumen-dokumen ini meliputi rencana pembangunan jangka panjang dan jangka menengah (RPJP dan RPJM) dan anggaran tahunan, yang disusun oleh semua pemerintah daerah, serta berbagai laporan yang dihasilkan oleh departemen dan lembaga terkait, khususnya Kantor Gubernur dan Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA). Yang terakhir diberi tugas untuk mengkoordinasikan kelanjutan kegiatan-kegiatan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, serta kesejahteraan sosial dan kapasitas kelembagaan. Pada tahun 2008, Kantor Gubernur menerbitkan sebuah dokumen konsep yang berjudul Green Economic Development and Investment Strategy for Aceh (Strategi Investasi dan Pembangunan Ekonomi Hijau bagi Aceh), yang dikenal sebagai Green Aceh (Aceh Hijau). Judul ini agak membingungkan karena merujuk terutama pada konservasi kawasan hutan lindung dan penggunaan sumberdaya alam yang sesuai secara lingkungan. Di antara ide-ide lainnya, dokumen tersebut meliputi usulanusulan untuk memanfaatkan kawasan hutan Aceh yang sangat luas melalui partisipasi dalam
77

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

pasar karbon global. Meskipun dokumen ini tidak secara langsung menangani isu-isu pemulihan dan pembangunan ekonomi yang lebih besar, tetapi dokumen tersebut berguna dalam menarik perhatian terhadap perlunya mempertimbangkan implikasi-implikasi lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai strategi pembangunan ekonomi. Dokumen-dokumen ini dan dokumen-dokumen lainnya semuanya menegaskan kembali dalam satu bentuk prioritas nyata atau lainnya bagi pembangunan ekonomi, seperti penanggulangan kemiskinan, penciptaan perkerjaan dan dukungan bagi usaha-usaha kecil. Tetapi dokumen-dokumen tersebut semuanya tidak memiliki kerangka konseptual menyeluruh yang akan memberikan dasar pemikiran bagi strategistrategi yang tepat, hasil dan kriteria untuk memprioritaskan penggunaan sumberdaya. Akibatnya, jumlah rencana sedikit lebih banyak dari daftar panjang program-program yang diusulkan oleh departemen masing-masing, bukan sebuah pilihan logis yang didesain untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Dua laporan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan pembangunan ekonomi di Aceh telah disusun oleh Bank Dunia. Pengkajian Kemiskinan Aceh,37 yang diterbitkan pada tahun 2008, merekomendasikan agar prioritas sebaiknya diberikan kepada daerah-daerah termiskin di Aceh seperti daerah-daerah bagian tengah perdesaan dan daerah-daerah yang lebih terpencil. Laporan ini menyatakan: “Sumberdaya yang saat ini terpusat di daerah-daerah yang terkena dampak tsunami, terutama Banda Aceh dan daerah-daerah dekat dengan ibukota, sebaiknya diperluas untuk mencakup daerah-daerah lain yang terkena dampak konflik. ... ... ... Strategi pengentasan kemiskinan apapun sebaiknya difokuskan pada peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan. Strategi ini sebaiknya dikaitkan dengan strategi untuk meningkatkan kemampuan orang-orang miskin (pengembangan keterampilan, rehabilitasi aset fisik) dan menghubungkan mereka dengan kutub-kutub pertumbuhan di daerahdaerah perkotaan (infrastruktur perdesaan dan akses yang lebih baik ke pasar).”

meliputi kekurangan pasokan listrik, ketidakteraturan pasokan, ketidakamanan fisik, pemerasan kriminal, dan peran investasi publik dalam meningkatkan penyediaan barang dan jasa publik. Sejumlah rekomendasi berhubungan dengan perbaikan iklim investasi bagi para investor swasta, dan pemajuan pembangunan yang adil sebagai sarana untuk mencegah konflik di masa depan. Seperti laporan-laporan lainnya, studi ini juga menekankan peran penting yang dimainkan oleh sektor pertanian, tidak hanya dalam ekonomi secara keseluruhan, tetapi juga dalam kinerja sektor industri nonminyak. Sebuah rekomendasi penting dari studi tersebut dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian adalah melakukan reorientasi pengeluaran publik diluar subsidi pemakaianpemakaian khusus, seperti benih dan pupuk, terhadap peningkatan pemberian layanan publik. Pemberian layanan penyuluhan, perbaikan sistem irigasi, dan peningkatan akses ke pasar akan memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat pertanian dan karena itu kurang selektif atau diskriminatif.

4.6. Kesimpulan

Implikasi terhadap Pembangunan Ekonomi. Implikasi strategis dari analisa sebelumnya dapat dipahami. Jika Aceh ingin mencapai keberhasilan dalam menciptakan kesempatan yang lebih luas dan produktif bagi orang-orang untuk mencari nafkah, upaya-upaya diperlukan pada dua bidang yang luas. Di tingkat makro, kelemahan struktural dalam ekonomi perlu ditangani, sementara di tingkat mikro programprogram untuk mendukung perusahaan keluarga dan mata pencaharian pribadi perlu dihubungkan dengan perubahan-perubahan struktural yang terjadi pada ekonomi yang lebih besar. Apa artinya ini dalam praktek? Rekomendasi: · Karena industri minyak dan gas menurun secara tajam, dan sektor manufaktur nonmigas hanya merupakan sebagian kecil dari PDRB dan pekerjaan, maka pemulihan dan pertumbuhan ekonomi hanya dapat dicapai Laporan kedua Bank Dunia, yang berjudul dengan mengembangkan pertanian yang akan meliputi perkebunan, perikanan dan Aceh Growth Diagnostic (Diagnostik Pertum38 kehutanan. buhan Aceh), memfokuskan pada pengidentifikasian dan penghapusan berbagai kendala · Karena prospek untuk investasi dari luar di pertumbuhan. Kendala-kendala ini antara lain daerah tersebut dalam kondisi yang buruk,
78
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

·

·

·

·

·

dan permintaan lokal sangat dibatasi oleh pengeluaran per kapita yang rendah, maka upaya-upaya untuk mengembangkan sektor pertanian harus memfokuskan pada ekspor ke pasar-pasar non-lokal baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini menunjukkan perubahan nyata dalam pendekatan pemerintah saat ini pada pemberian dukungan bagi pertanian, yang sangat berorientasi pada sisi persediaan (supply). Selain itu, berbagai kebijakan dan program harus ditentukan oleh permintaan eksternal dan bertujuan untuk memungkinkan para produsen lokal untuk bersaing dengan baik di pasar-pasar tersebut. Peningkatan produksi saja tidaklah cukup. Perhatian juga harus diberikan terhadap peningkatan kualitas produksi dan pemenuhan kebutuhan khusus para pembeli. Tanpa pemahaman yang jelas tentang berbagai implikasi perubahan struktural yang terjadi dalam perekonomian Aceh, upayaupaya untuk menciptakan lapangan kerja dan usaha-usaha kecil akan sangat tidak efektif. Sebagian besar program yang mendukung mata pencaharian di Aceh, khususnya program-program yang diluncurkan selama upaya pemulihan besar-besaran, difokuskan terutama pada pemberian kredit, kadangkadang hibah, dan pendampingan teknis terutama bagi manajemen bisnis. Evaluasi program-program ini hampir selalu menyatakan keberhasilan, sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan usaha yang dicapai oleh para penerima. Akan tetapi, beberapa evaluasi membandingkan penerima dengan kelompok kontrol non-penerima. Studi yang telah memasukkan kelompok kontrol menyatakan bahwa banyak orang melaporkan kehilangan usaha, dan memperingatkan bahwa ada resiko dari program-program tersebut yang bersifat menang kalah (zero sum), artinya keuntungan yang diperoleh oleh beberapa orang akan disertai dengan kerugian yang dialami oleh beberapa orang lainnya. Resiko ini lebih kecil dari sebuah resiko dalam keadaan luar biasa, misalnya sebagai akibat langsung dari bencana-bencana besar seperti tsunami, dimana permintaan sementara melebihi penawaran. Tetapi resiko tersebut meningkat lagi ketika produksi berangsur-angsur pulih ke tingkat sebelum bencana.

· Mengapa harus begitu? Sangat sederhana, karena sebagian besar usaha kecil keluarga bersaing di pasar lokal yang terbatas. Hal ini secara khusus terjadi di sektor jasa, misalnya pada kafe, restoran, toko kelontong, toko reparasi dan panti kecantikan, tetapi juga berlaku untuk beberapa petani dan produsen produk-produk makanan, dengan kata lain mereka yang melayani konsumen di lingkungan setempat atau daerah pasar. · Sebagaimana ditekankan di tingkat makro, pelajaran di sini adalah bahwa programprogram yang mendukung petani, nelayan, usaha kecil dan bentuk-bentuk mata pencaharian lainnya, harus mempertimbangkan batas-batas permintaan lokal dan mencari kesempatan-kesempatan yang mungkin di pasar-pasar lebih jauh. Di tingkat provinsi, ini berarti di luar Aceh, khususnya bagi penanam dan pengolah komoditas pertanian. · Sebagaimana ditunjukkan oleh proyek APED (lihat di bawah), strategi yang tepat untuk melakukan ini adalah dengan memperkuat rantai pasokan yang menghubungkan produsen lokal dengan pasar non-lokal melalui kemitraan usaha yang melibatkan produsen, pengolah, eksportir dan importer. Implikasi terhadap Pemberdayaan Masyarakat. Di masa lalu, banyak pemerintah daerah di Indonesia telah berusaha untuk melakukan inisiatif pengembangan ekonomi sendiri, tetapi dengan keberhasilan yang berbeda-beda. Investasi pemerintah dalam program-program ekonomi seringkali terbukti sangat tidak efektif, seperti program kredit mikro, subsidi untuk pemakaian produksi dan khususnya tempattempat industri yang kosong selama bertahuntahun. Meskipun pemerintah dapat dan sebaiknya memainkan peran penting sebagai fasilitator dan koordinator, tetapi mereka tidak menciptakan pengusaha-pengusaha yang baik. Orang-orang yang paling memahami berbagai kendala dan kesempatan yang dihadapi dalam pertumbuhan ekonomi, dan memiliki posisi terbaik untuk mempromosikan pertumbuhan tersebut, adalah mereka yang mencari nafkah dari kegiatan-kegiatan ekonomi, yaitu pengusaha besar dan kecil. Rekomendasi: Hal ini menyerukan aksiaksi untuk memberdayakan komunitas bisnis guna melakukan kerja sama secara lebih efektif dengan pemerintah dalam menentukan kebijakan dan prioritas bagi pengembangan ekonomi.
79

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Dua inisiatif telah diluncurkan di Aceh dan memberikan contoh-contoh tentang bagaimana pengembangan ini dapat dicapai. Dengan pendanaan dari IFC, Forum Bisnis Aceh yang ditetapkan pada tahun 2008 sebagai platform untuk meningkatkan dialog antara pemerintah dan sektor swasta mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi dan kegiatan usaha di Aceh. Kelompok-kelompok yang beranggotakan para wakil dari pemerintah dan komunitas bisnis bertemu secara terpisah pertama kali, dan kemudian berkumpul bersama-sama secara berkala untuk berbagi berbagai gagasan dan proposal. Konsep ini dikemKotak 4 Forum Kopi APED42

bangkan berdasarkan pengalaman IFC di negara-negara lain, yang telah diperluas untuk memasukkan sub-kelompok yang mewakili sektor masing-masing seperti perdagangan, pertanian infrastruktur, dan pariwisata. Model kedua dapat ditemukan dalam proyek APED (Kerjasama untuk Pembangunan Ekonomi Aceh) yang telah didukung oleh UNDP sejak pertengahan tahun 2006 dengan dana dari Fasilitas Dukungan Desentralisasi dan kemudian Kantor Penanggulangan dan Pemulihan Krisis di Jenewa. Pendekatan APED didasarkan pada pemilihan komoditaskomoditas lokal dengan potensi yang kuat un-

Forum Kopi pada awalnya diluncurkan oleh UNDP dan pihak-pihak lain pada bulan September 2005 sebagai bagian dari program Tanggap Darurat dan Pemulihan Transisional (ERTR), dan telah didukung oleh APED sejak pertengahan tahun 2006. Selama ini, Forum tersebut hanya memfokuskan pada kopi arabika yang ditanam terutama di tiga kabupaten di Aceh Bagian Tengah - Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Jika dana tersedia, proyek ini dapat dikembangkan untuk mencakup kabupaten-kabupaten yang menanam kopi robusta. Forum bertemu kira-kira dua kali setahun dan meliputi wakil-wakil dari kelompok tani, koperasi kopi, pengolah, eksportir, departemen pemerintah, lembaga riset, lembaga keuangan, LSM, donor dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Setiap dua tahun, peserta forum memilih anggota dan ketua Komite Eksekutif, yang saat ini berjumlah dua belas orang. Forum ini bertemu secara formal sekitar sekali sebulan dan secara informal jika diperlukan. Pada tahun 2008, Forum tersebut menetapkan diri secara resmi sebagai badan hukum dengan aturannya sendiri dan memperoleh dukungan teknis dari tim proyek APED yang ada di Bappeda Provinsi di Banda Aceh. Sejak pembentukannya, Forum Kopi telah melakukan sejumlah inisiatif yang meliputi: · Persiapan dan distribusi 1000 salinan petunjuk pembuatan, pengolahan, dan pemasaran kopi arabika Aceh, dimana IFC (International Financial Corporation/Korporasi Keuangan Internasional) merencanakan untuk merevisi penggunaan petani kopi secara nasional. · Riset yang mengarah pada identifikasi varietas kopi yang paling disukai oleh para pembeli internasional, yang telah menarik dana pemerintah untuk mendapatkan sertifikasi formal dari Kementerian Pertanian. · Pengenalan sistem untuk memberikan informasi tentang harga-harga pasar lokal kepada para petani kopi dengan menggunakan pesan-pesan teks yang disampaikan melalui ponsel. · Kerja sama dengan proyek SSPDA UNDP untuk distribusi 37.600 peralatan dan perlengkapan pertanian kepada koperasi kopi dan 11.846 petani, yang sebagian besar dari mereka adalah korban konflik dan pengungsi yang telah kembali ke desa-desa mereka. · Pembentukan Komite untuk Melindungi Kopi Gayo, yang telah menyiapkan dokumen-dokumen untuk melindungi nama ―Gayo‖ sebagai Indikasi Geografi untuk kopi yang ditanam di daerah pegunungan Gayo Aceh. Indikasi geografi ini sedang diupayakan di forum internasional oleh Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Jakarta. · Sebuah program untuk memberikan hibah sebesar US $ 100.000 kepada kelompok-kelompok usaha yang terdiri dari petani, koperasi, pengolah, eksportir dan LSM untuk tujuan memperkuat rantai pasokan pasar untuk kopi, yang telah menghasilkan peningkatan kualitas produksi dan peningkatan penjualan dan pendapatan yang besar bagi para petani lokal. · Peningkatan partisipasi perempuan dalam berbagai kegiatan proyek termasuk kursus pelatihan lapangan bagi para petani dan pemilihan mereka untuk Komite Eksekutif Forum. · Sukses awal dalam mengatasi perlawanan lembaga-lembaga keuangan lokal untuk memberikan pinjaman kepada koperasi petani dan usaha swasta bagi produksi pertanian dan perdagangan. · Mobilisasi dukungan dari para donor , sektor swasta dan khususnya pemerintah daerah untuk berbagai kegiatan Forum. Seperti dapat dilihat, Forum Kopi memberikan contoh yang sangat baik tentang apa yang dapat dicapai melalui pemberdayaan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam memajukan pembangunan ekonomi. Forum ini telah menarik perhatian luas dari pemerintah dan komunitas bisnis di seluruh provinsi, dan banyak kabupaten lainnya telah menyatakan keinginan mereka untuk membentuk forum yang serupa bagi sektor-sektor lainnya.39

80

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

tuk ekspor ke pasar-pasar non-lokal dan pembentukan forum-forum industri untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mempromosikan pengembangan komoditas-komoditas ini. Agar forum-forum tersebut dapat berfungsi secara efektif, sebuah unit pendukung proyek memberikan pendampingan teknis dan administratif secara intensif, terutama dalam menyusun proposal-proposal yang lengkap dan mengimplementasikan berbagai inisiatif. Proyek APED telah diimplementasikan di Aceh

oleh UNDP melalui kerja sama dengan Bappeda dan telah meluncurkan forum-forum untuk kopi, coklat dan yang paling akhir untuk karet, yang kesemuanya meliputi sepuluh kabupaten. Sejak proyek APED dimulai, proyek ini telah mendorong dukungan keuangan yang besar dari pemerintah dan pendekatan tersebut telah menarik perhatian beberapa kabupaten lain, yang tertarik untuk melakukan replikasi pendekatan itu di sektor-sektor lain. (Lihat kotak 4)

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

81

82

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

5

Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

83

84

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB

5
Di Aceh, hampir semua organisasi lokal berbasis masyarakat merupakan organisasi nirlaba, yang dijalankan oleh para relawan dan tergantung pada kontribusi dari masyarakat itu sendiri atau di tempat lain. Sebagian besar struktur organisasi tersebut disusun secara informal, meskipun beberapa mungkin terdaftar secara resmi.

Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Sebagaimana dikatakan oleh Amartya Sen dalam bukunya Development and Freedom (Pembangunan dan Kebebasan), barangkali tujuan yang paling penting bagi pembangunan manusia adalah untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang untuk membuat berbagai pilihan, yang dapat dipertimbangkan pada tiga tingkat. Secara pribadi, orang-orang harus bebas untuk membuat pilihan-pilihan sosial, budaya dan agama tentang cara hidup mereka tanpa dipaksa harus disesuaikan dengan tradisi dan harapan kelompok-kelompok dominan. Di tingkat lokal, orang-orang harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang masyarakat tersebut dimana mereka tinggal. Jika kesempatan ini tidak bisa dilaksanakan, orang-orang harus memiliki hak untuk memilih orangorang untuk mewakili mereka dalam forum-forum pengambilan keputusan yang lebih besar di tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
Bab ini mengkaji partisipasi yang berkaitan blik. Dewasa ini, orang-orang Indonesia mepertama dengan bidang politik yang lebih besar, miliki hak untuk memilih para wakil rakyat di dan selanjutnya dengan pemberdayaan masyasemua tingkat pemerintahan dari desa sampai rakat dan pengambilan keputusan di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), serta para masyarakat. pemimpin pemerintahan dari kepala desa, bupati di tingkat kabupaten, sampai Gubernur di tingkat provinsi dan yang paling akhir presiden 5.1. Partisipasi Politik di tingkat nasional. Ini adalah prestasi yang luar biasa dalam kurun waktu yang singkat tersebut dan merupakan kemajuan penting dalam pem5.1.1 Pemilu Demokratis bangunan manusia. Salah satu aspek kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan berhubungan dengan hak orang- 5.1.2 Aksi Politik Setelah Konflik orang untuk memilih mereka yang akan mewakili dalam forum-forum pengambilan keputusan Selain hak-hak yang dimiliki oleh seluruh rakyat yang lebih besar. Hal ini mengacu terutama Indonesia, rakyat Aceh juga memiliki hak-hak pada pemilihan para wakil untuk majelis kabuistimewa lainnya. Sebagai salah satu indikasi paten, provinsi dan nasional. Dalam hal ini, dari status khususnya saat ini, Aceh adalah satuIndonesia telah mencapai perkembangan besar satunya provinsi di Indonesia dimana orangorang diperbolehkan untuk mendirikan partai dalam dekade reformasi, sejak jatuhnya rezim lokal. Enam partai telah diakui secara resmi: Soeharto pada tahun 1998. Memang, Indonesia kini diakui sebagai negara dimana prinsip-prinPartai Aceh (PA, Partai Aceh yang mewakili sip demokrasi politik lebih banyak dilaksanakan GAM); Partai Suara Independen Rakyat Aceh dibandingkan dengan negara-negara lainnya di (PSIRA); Partai Rakyat Aceh (PRA); Partai Asia. Di bawah Soeharto, sedikit warga negara Daulat Aceh (PDA); Partai Bersatu Aceh yang memiliki hak untuk memilih pejabat pu- (PBA), dan Partai Aceh Aman dan Sejahtera
85

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

(PAAS). Pada bulan Desember 2006, untuk pertama kalinya pemilu diadakan di Aceh untuk memilih gubernur, bupati dan walikota. Sebelum Pemilu legislatif 2009, terjadi kekerasan-kekerasan kecil yang disebabkan oleh persaingan politik lokal. Kekerasan ini dan faktor-faktor lainnya dianggap oleh beberapa orang sebagai tanda menurunnya komitmen politik terhadap proses perdamaian. Dampak tsunami tahun 2004, yang merupakan faktor besar yang mendorong proses perdamaian ke depan, mulai surut seiring dengan berjalannya waktu. Penggunaan kata “Merdeka” secara terus-menerus oleh GAM dianggap oleh militer Indonesia sebagai indikasi bahwa keinginan untuk kemerdekaan masih menjadi agenda GAM. Selain itu, kekerasan politik sebelum pemilu dipandang oleh kedua belah pihak sebagai kemunduran keamanan dan cara yang mungkin bagi pembaruan konflik. ( Jones 2009). Akan tetapi, karena kekerasan tidak terjadi secara luas, dan pemilu diadakan dengan baik, maka pandangan buruk tentang masa depan bagi pemeliharaan perdamaian di Aceh tampaknya tidak beralasan.

Kabupaten (DPRK). Berdasarkan keterbatasan informasi yang ada, rakyat Aceh menggunakan hak pilih mereka dengan baik. Kira-kira 75% dari pemilih terdaftar berpartisipasi dalam pemilu-pemilu ini, jauh di atas rata-rata nasional untuk provinsi-provinsi lainnya40. Berdasarkan pemantau pemilu independen, pemilihan Aceh pada umumnya dianggap bebas dan adil dengan tingkat kekerasan yang relatif kecil. Persoalan-persoalan yang terkait dengan politik uang dan intimidasi dalam pemilu dapat menimbulkan dampak jangka panjang dalam potensinya untuk meruntuhkan pemerintahan demokratis di Aceh jika persoalan-persoalan tersebut terus merupakan masalah. Meskipun demikian, keberhasilan pemilu tersebut menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih ditangguhkan, meskipun ada kekhawatiran terhadap penyimpangannya.

Banyak pemilih di Aceh masih memandang laki-laki lebih tepat untuk peran kepemimpinan.

5.1.4 Peran Perempuan dalam Posisi Kepemimpinan

Data partisipasi perempuan dalam majelis lokal pada tahun 2008 menunjukkan kecenderungankecenderungan yang berbeda di tingkat pro5.1.3 Pemilu 2009 vinsi dan kabupaten. Meskipun prosentase perPada bulan April 2009, pemilu diadakan bebeempuan yang menjadi anggota DPRA provinsi rapa kali untuk anggota majelis nasional dan mencapai 8 persen dan 9 persen pada tahun lokal. Rakyat memilih empat wakil, masing- 1999 dan 2002, tetapi angka ini turun hingga masing untuk DPR pusat, DPD (Dewan kurang dari 6 persen% pada tahun 2008. Di Perwakilan Daerah), Dewan Perwakilan Rakyat sisi lain, di antara majelis kabupaten, proporsi Aceh (DPRA), dan Dewan Perwakilan Rakyat wakil-wakil perempuan masih rendah dalam

Gambar 5.1

Partisipasi Pemilih di Aceh dalam Pemilu 2009

25%

19%

75%
Proporsi orang yang memilih Proporsi orang yang tidak memilih
Sumber: Komisi Pemilihan Umum (KPU)

81%
Proporsi suara yang sah Proporsi suara yang tidak sah

86

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tugas-tugas penting yang masih harus dilakukan adalah mengkonsolidasikan kohesi sosial, selanjutnya meningkatkan reintegrasi sosial mantan pejuang GAM, menangani sejumlah isu yang terkait dengan gender, dan mempromosikan inklusi orang-orang miskin dan kurang beruntung secara lebih luas.

dua tahun pertama, tetapi meningkat secara dramatis pada tahun 2008. Mereka terpilih hanya di 5 dari sepuluh majelis kabupaten pada tahun 1999 dan 4 dari 13 majelis pada tahun 2002, tetapi pada tahun 2008 mereka telah berhasil terpilih di seluruh 23 kabupaten. Selain itu, dengan pengecualian Sabang, proporsi perempuan pada tahun 2008 meningkat di semua majelis kabupaten yang ada pada tahun 2002. Pada tahun 2008, prosentase wakil-wakil mereka adalah sebesar 1 persen di 6 kabupaten, sampai dengan 10 persen di 9 kabupaten dan lebih dari 10 persen di 8 kabupaten lainnya. Di antara daerah-daerah, partisipasi perempuan kira-kira sama di Aceh Bagian Utara dan Timur (7,7 persen) dan Aceh Bagian Barat dan Selatan (7,5%), tetapi jauh lebih tinggi di Aceh Bagian Tengah (13,0 persen), terutama disebabkan Bener Meriah, dimana perempuan mencapai 38 persen dari anggota majelis, jauh lebih tinggi daripada di tempat lain. Meskipun kotakota memiliki rata-rata proporsi wakil-wakil perempuan yang lebih tinggi pada tahun 1999 dan 2002, tetapi kabupaten-kabupaten baru (termasuk Bener Meriah) telah menyusul kotakota tersebut pada tahun 2008. Peningkatan partisipasi perempuan secara dramatis pada tahun 2008 mungkin sebagian disebabkan oleh peraturan nasional yang mengharuskan partai-partai untuk mencalonkan perempuan minimal 30 persen dari calon-calon mereka. Tetapi perlu juga diperhatikan bahwa sumber data untuk tahun 2008 berbeda dengan tahun 1999 dan 2002, sehingga metode perhitungan mungkin berbeda. Meskipun data pembanding belum tersedia dari pemilu April 2009 untuk majelis lokal, DPRA dan DPRK, tetapi calon-calon perempuan tampaknya bernasib kurang baik. Sementara banyak perempuan direkrut untuk memenuhi kuota yang ditetapkan sebesar 30 persen untuk setiap partai, sebagian besar calon-calon ini tidak memperoleh cukup suara individual untuk dipilih. Komentator menyatakan bahwa beberapa calon merupakan politisi yang tidak berpengalaman yang direkrut hanya untuk memenuhi kuota, dan tidak melakukan kampanye secara aktif. Selain itu, banyak pemilih di Aceh masih memandang laki-laki lebih tepat untuk peran kepemimpinan, sebuah pandangan yang dinyatakan secara tajam oleh seorang pejabat laki-laki dari partai nasional (non-Islam): “Dunia diciptakan untuk laki-laki, perempuan tidak bisa menjadi pemimpin ... perempuan

tidak bisa berpikir rasional selama satu minggu per bulan, lalu bagaimana mereka bisa mengambil keputusan?” (Palmer 2009). Akan tetapi, faktor-faktor ini bukan hal baru dan tidak menjelaskan mengapa partisipasi perempuan jauh lebih tinggi pada tahun 2008 dan nampaknya jauh lebih rendah setelah pemilu-pemilu 2009. Meskipun tidak secara langsung terkait dengan bidang politik, salah satu indikator yang digunakan dalam Ukuran Pemberdayaan Gender (UPG) untuk provinsi-provinsi di Indonesia dan kabupaten-kabupaten di Aceh adalah prosentase perempuan dalam posisi-posisi pejabat senior, staff manajerial dan teknis. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2008, perempuan menduduki sekitar 50 persen dari posisi ini, naik sejak tahun 2002 tetapi tidak setinggi tahun 1999. (Lihat tiga kolom sebelah kanan pada Lampiran A: Tabel 5.1). Seperti halnya dengan indikator-indikator pembangunan lainnya yang disajikan dalam laporan ini, kota-kota menunjukkan perempuan memiliki rata-rata proporsi tertinggi untuk posisiposisi ini, sementara kabupaten baru memiliki proporsi terendah. Untuk tiap-tiap kabupaten pada tahun 2008, proporsi tertinggi terdapat di Nagan Raya (65 persen), Bireuen (60%) dan Aceh Tengah (59 persen), dan terendah di Lhokseumawe (29 persen), Aceh Barat (33 persen) dan Aceh Tenggara (41 persen). Meskipun indikator ini merupakan gambaran yang tepat bagi para profesional perempuan, tetapi indikator tersebut bukan merupakan indikator yang tepat untuk perempuan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan. Banyak dari personil yang dimasukkan dalam data menduduki posisi yang relatif yunior di kantor-kantor pemerintah dengan wewenang terbatas untuk mengambil keputusan. Indikator tersebut didasarkan pada rata-rata tertimbang tiga sub-kategori untuk para pejabat senior dan manajer, tenaga profesional, dan teknisi dan asisten profesional. Data tentang kategori pertama sangat berbeda-beda di antara kabupaten-kabupaten di Aceh. Di Simeulue, Aceh imur, Bireuen, Nagan Raya dan Aceh Tenggara, perempuan menempati antara 40 persen dan 45 persen posisi senior, tetapi di Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Pidie, Pidie Jaya dan Subulussalam, tidak ada perempuan yang menduduki posisiposisi ini. Sebuah perhitungan langsung sederhana di sebagian besar kantor pemerintah menunjukkan bahwa jumlah laki-laki tetap lebih banyak daripada jumlah perempuan yang men87

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa “strategi yang komprehensif dan inklusif untuk mengkonsolidasikan perdamaian masih kurang memadai seperti halnya struktur kelembagaan yang efektif untuk mengawasi implementasinya”.43 Meskipun demikian, laporan itu juga 5.2. Kohesi Sosial menyimpulkan bahwa masyarakat perdesaan di Kesempatan yang paling menjanjikan untuk Aceh memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi meningkatkan partisipasi aktif dan pember- terhadap pemerintah desa dan lembaga-lembaga dayaan rakyat dapat ditemukan di tingkat ma- tradisional, meskipun kepercayaan terhadap syarakat lokal, dan sampai tingkat yang lebih tingkat-tingkat pemerintah lainnya dianggap rendah kabupaten dan provinsi. Akan tetapi, rendah. Temuan-temuannya tentang kohesi agar partisipasi dan pemberdayaan ini terjadi, sosial yang secara umum mendukung temuanmasyarakat sipil harus terlebih dahulu mencapai temuan positif dari survei desa PPK 2006 tingkat stabilitas politik yang memuaskan, ko- dimana kondisi sosial yang relatif positif dapat hesi sosial dan rasa saling percaya, kondisi yang memberikan dasar untuk mengatasi tantanganmudah hancur selama konflik bersenjata yang tantangan lebih lanjut dalam rekonstruksi dan hebat dan kesulitan untuk membangun kembali pembangunan kembali Aceh melalui pemsetelah itu. berdayaan warga melalui pendekatan pengemTerlepas dari gejolak luas yang disebabkan bangan masyarakat. oleh konflik dan bencana alam di Aceh, studiTugas-tugas penting yang masih harus distudi terbaru menyatakan bahwa kondisi-kon- lakukan adalah memperbaiki kerusakan dalam disi ini sedikit banyak telah diperbaiki, meski- beberapa masyarakat, selanjutnya meningkatkan pun tugas-tugas penting masih perlu dilakukan. reintegrasi sosial mantan pejuang GAM, mePada tahun 2006, Program Pembangunan Ke- nangani sejumlah isu yang terkait dengan gencamatan (PPK) melakukan survei komprehensif der, dan mempromosikan inklusi orang-orang tentang infrastruktur dan kondisi sosial di desamiskin dan kurang beruntung secara lebih luas. desa di Aceh di seluruh provinsi.41 PertanyaanMisalnya, MSR tersebut melaporkan bahwa pertanyaan survei berkaitan dengan mekanisme hubungan antardesa dan antaretnis merupakan pengambilan keputusan, kepercayaan dan soli- sumber ketegangan di beberapa daerah pegudaritas masyarakat, kohesi sosial dan inklusi. nungan (highland), seperti halnya hubungan Kesimpulan umum yang bisa ditarik dari survei antara para pengungsi yang kembali dan penini adalah bahwa kondisi sosial yang positif di duduk desa di seluruh provinsi. Reintegrasi Aceh memberikan dasar yang mungkin bagi yang lebih mendalam para mantan pejuang pengambilan keputusan partisipatif. Akan teGAM belum dapat dicapai, seperti tercermin tapi, bias gender dan pembagian sosial yang dioleh keterbatasan persahabatan yang erat akibatkan oleh konflik perlu ditangani sebelum dengan penduduk sipil. partisipasi masyarakat dapat diwujudkan secara penuh. Informasi lebih akhir dimasukkan dalam 5.3. Pemberdayaan dan draft Multi Stakeholder Review (MSR)42 2009, Pengambilan Keputusan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan lebih memahami faktor-faktor yang mendu- Bagi banyak orang, keputusan-keputusan terkung atau menghambat pemulihan dan pempenting di bidang publik adalah keputusanbangunan kembali dalam masyarakat di Aceh keputusan yang mempengaruhi masyarakat segera setelah konflik dan bencana alam. Hal ini dimana mereka tinggal. Aksi-aksi untuk medidasarkan pada data yang dikumpulkan selama ningkatkan akses ke layanan publik dan kutahun 2008 - 2009 dari tiga survei yang men- alitas layanan tersebut biasanya mendapatcakup mantan anggota TNA (tentara GAM), kan perhatian yang lebih besar dan lebih laki-laki dan perempuan perorangan, dan kepala memberikan manfaat langsung daripada madesa. Penyusunan MSR melibatkan pemerintah salah-masalah kebijakan di tingkat pemeAceh dan Indonesia, Badan Reintegrasi Damai rintahan yang lebih tinggi. Karena alasan Aceh (BRA), dan BAPPENAS yang didukung ini, langkah-langkah untuk meningkatkan oleh beberapa lembaga donor. kesempatan bagi orang-orang untuk berduduki posisi-posisi senior, sebuah situasi yang mungkin serupa di antara kebanyakan bisnis sektor swasta.
88

Langkahlangkah untuk meningkatkan kesempatan bagi orangorang untuk berduduki partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan tentang masyarakat mereka merupakan unsur penting pembangunan manusia.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan tentang masyarakat mereka merupakan unsur penting pembangunan manusia. Sejak berakhirnya rejim Suharto pada tahun 1998, berbagai inisiatif telah diperkenalkan untuk memungkinkan keputusan-keputusan diambil oleh pemerintah daerah, dewan perwakilan rakyat terpilih dan forum-forum publik lainnya yang lebih dekat dengan orang-orang dan masyarakat yang terkena dampak mereka. Perundang-undangan awal pada tahun 1999, yang mendesentralisasikan kekuasaan dan sumberdaya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, telah mendorong berbagai kebijakan dan program lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah di tingkat nasional dan daerah. Sejumlah contoh yang diterapkan di Aceh saat ini dikaji ulang di bawah ini.

5.3.2 Program Pengembangan Kecamatan (PPK)
Pada awalnya PPK diluncurkan dan didanai oleh Bank Dunia satu dekade yang lalu dan sejak saat itu pengarusutamaan PPK telah dilakukan dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM - Mandiri) secara nasional, sehingga menjadi salah satu program pembangunan partisipatif terbesar di dunia. PPK bertujuan untuk menyampaikan sumberdaya pembangunan kepada masyarakat perdesaan melalui “mekanisme pengambilan keputusan yang inklusif, transparan dan bertanggung jawab, didesain berdasarkan riset sosial sebelumnya yang luas di Indonesia”. Program tersebut kini dilaksanakan di 40 persen kecamatan di seluruh Indonesia. Petunjuk tentang prosedur pengambilan keputusan, yang bertujuan untuk memberdayakan kelompok-kelompok terpinggirkan, dapat menimbulkan dampak pada struktur kekuasaan lokal. Dapat diperkirakan bahwa perlawanan terhadap perubahan-perubahan tersebut dari mereka yang secara tradisional telah memegang kekuasaan dapat menjadi penyebab perselisihan di daerah-daerah PPK. Pada waktu yang sama, proses yang lebih transparan yang diciptakan oleh PPK juga dapat menimbulkan perselisihan karena penduduk desa mengetahui campur tangan para elit desa dalam proses pengambilan keputusan. Namun demikian, meskipun PPK berpotensi untuk memicu perselisihan, tetapi bukti menunjukkan bahwa kemungkinan meningkatnya perselisihan yang disebabkan oleh PPK dianggap lebih kecil daripada program-program lainnya karena mekanisme penyelesaian konflik dan pelibatan berbagai pihak dalam proses perencanaan PPK.
Kotak 5 Program Pengembangan Kecamatan

5.3.1 Musrenbang
Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) ditetapkan menurut UU No. 25 / 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional sebagai bagian dari kerangka kerja yang disusun oleh pemerintah pusat untuk menyelaraskan proses perencanaan dan penganggaran dari bawah ke atas (bottom-up) dan dari atas ke bawah (top-down) sebagai cara untuk menyatukan perbedaan kebutuhan dan kepentingan stakeholder pemerintah dan non-pemerintah. Proses tersebut dimulai di tingkat desa, dimana masyarakat menyusun rencana pembangunan jangka menengah dan anggaran tahunan. Rencana dan anggaran ini selanjutnya disampaikan ke kantor kecamatan, yang mengkoordinasikan proposal dan membuat rencana dan anggaran gabungan. Rencana dan anggaran tersebut pada gilirannya disampaikan ke Bappeda, yang mengulangi proses tersebut, dengan menggabungkan proposal-proposal lainnya dari departemen pemerintah. Rencana dan anggaran kabupaten yang dihasilkan selanjutnya diserahkan ke DPRD untuk pengkajian ulang (review), negosiasi dan persetujuan akhir. Beberapa komponen mungkin juga perlu didiskusikan dan dinegosiasikan dengan pemerintah provinsi dan DPRD. Karena banyaknya langkah yang harus ditempuh, proses Musrenbang telah banyak mendapat kritikan, khususnya dari desa-desa, karena dianggap tidak praktis, berkepanjangan dan tidak efektif dalam merespon prioritas masyarakat.
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Program Pengembangan Kecamatan (PPK) bertujuan untuk memperkenalkan perencanaan pembangunan yang transparan, bertanggung jawab dan partisipatif di tingkat desa dan kecamatan di seluruh Indonesia. Unsur penting program tersebut melibatkan pemberian dana hibah kepada komite di tingkat kecamatan, yang sebagian besar terdiri dari wakil-wakil nonpemerintah yang dipilih dari dan oleh desa-desa utama. Kelompok desa-desa melakukan curah pendapat (brainstorming) dan selanjutnya memprioritaskan ide-ide tentang proyek-proyek kecil yang mereka inginkan untuk didanai di desa mereka – misalnya pembukaan jalan, pembangunan jembatan sungai, pusat masyarakat, atau dana simpan pinjam. Didukung

89

oleh masukan dari para ahli teknis, seperti insinyur, desa-desa selanjutnya menyerahkan proposal kepada komite kecamatan untuk mendapatkan pendanaan. Komite mengevaluasi proposal untuk kelayakan teknis dan financial, sasaran kemiskinan, kemungkinan dampak dan kesinambungan. Paling sedikit satu proposal dari setiap desa harus berasal dari kelompok perempuan. Semua proses dilakukan di depan umum dan semua hasil dipasang di papan buletin desa, dimana jurnalis dan LSM dianjurkan untuk melaporkan setiap penyimpangan yang ada. Selanjutnya, PPK memperkenalkan, atau mencoba untuk memperkenalkan, kompetisi berbasis peraturan, transparan dan bertanggung jawab ke dalam kehidupan masyarakat. Dalam proses tersebut, PPK menyetujui dan menolak proposal – beberapa proposal didanai dan beberapa tidak – dan dengan demikian menungkinkan terjadinya perselisihan. Akan tetapi, PPK menciptakan ruang baru bagi pemikiran masyarakat, cara baru bagi partisipasi kelompok yang terpinggirkan dan kesempatan baru bagi pengembangan keterampilan warga masyarakat: partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pembahasan perbedaan, manajemen pertemuan, tata kearsipan, dll.

dipilih dengan berbagai peserta dari masyarakat sipil, tokoh budaya, persatuan mantan pejuang GAM dan sektor swasta. Akan tetapi, meskipun ARF melakukan upaya-upaya keras untuk berdialog dengan masyarakat, tetapi ARF tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbagi dalam proses pengambilan keputusan akhir.

5.3.4 BKPG
Pada tahun 2009, pemerintah provinsi Aceh membuat sebuah program baru yang disebut Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong (BKPG). Program ini didesain untuk menjadi alat utama pemerintah dalam mewujudkan visinya tentang pembangunan seluruh provinsi. Program tersebut bertujuan untuk mempercepat pembangunan perdesaan, menanggulangi kemiskinan, memberdayakan masyarakat dan memperkuat kapasitas pemerintah gampong. Berdasarkan Qanun No. 1 / 2009, pemerintah telah menetapkan Alokasi Dana Gampong untuk memberikan Rp 100 juta per tahun kepada setiap gampong, yang akan ditambah dengan Rp 50 juta per tahun dari anggaran kabupaten. Selain itu, gamponggampong di Aceh juga dapat menerima dana dari pemerintah pusat melalui program PNPM. Petunjuk teknis (juknis) untuk program BKPG terdapat dalam Peraturan Gubernur No. 25 / 2009, yang merupakan upaya nyata untuk memberdayakan masyarakat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Di sektorsektor khusus, seperti pertanian, perikanan dan irigasi, dimana perempuan di Aceh sangat terlibat, mereka jarang ikut serta dalam proses perumusan kebijakan di sektorsektor ini.

Patrick Barron, Rachael Diprose, Michael Woolcock, ―Local Conflict and Development Projects in Indonesia: Part of the Problem or Part of a Solution?‖ World Bank Policy Research Working Paper 4212, April 2007, p 8.

5.3.3 Kerangka Kerja Pemulihan Aceh (ARF)
Kerangka Kerja Pemulihan Aceh (ARF) dimaksudkan untuk membentuk dasar bagi peta perjalanan (road map) transisi Gubernur selama empat tahun bagi pencapaian perdamaian dan pembangunan yang berkesinambungan di Aceh, meskipun kerangka kerja tersebut tidak pernah diadopsi secara resmi. Proses konsultatif digunakan untuk merumuskan kerangka kerja tersebut. Enam komite gugus yang dipimpin oleh Provinsi bekerja selama delapan bulan untuk mengidentifikasi tantangan-tantangan besar terhadap transisi Aceh dan menetapkan prioritas dan hasil. Komite Gugus diketuai oleh PBB, Bank Dunia, donor dan BRR bersama dengan keanggotaan berbagai organisasi lokal dan internasional dan stakeholder. Sepuluh konsultasi stakeholder ARF berlangsung di kabupaten dan kota di seluruh provinsi pada tahun 2008 untuk mencerminkan realitas, keprihatinan dan kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat, dengan menggunakan Forum-forum Pemulihan Kabupaten/Kota yang ada. Forum-forum ini diketuai oleh pejabat pemerintah provinsi yang
90

5.3.5 Organisasi Masyarakat
Selain program-program pemerintah yang baru disebutkan, sejumlah besar organisasi lain di luar pemerintah aktif dalam mendukung inisiatif-inisiatif yang dipimpin oleh masyarakat di Aceh. Organisasi-organisasi ini secara berbeda disebut sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), yang biasanya terdiri dari warga dari daerah setempat, Organisasi Berbasis Komunitas, dengan sifat-sifat yang sama, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang berbeda-beda ukurannya dari lokal sampai internasional. Di Aceh, hampir semua organisasi lokal berbasis masyarakat merupakan organisasi nirlaba, yang dijalankan oleh para relawan dan tergantung pada kontribusi dari masyarakat itu sendiri atau di tempat lain.
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Prinsip-prinsip partisipasi dan pemberdayaan rakyat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan sekarang juga dikenal dan dipraktekkan jauh lebih luas dari sebelumnya. Terlepas dari keterbatasannya, pengenalan proses Musrenbang merupakan upaya serius untuk memperhatikan suara masyarakat di seluruh Indonesia dan untuk meningkatkan respon pemerintah terhadap kebutuhan dan prioritas mereka.

Sebagian besar organisasi tersebut disusun secara informal, meskipun beberapa mungkin terdaftar secara resmi. Banyak organisasi telah dibentuk melalui pemerintah atau lebih sering melalui program-program donor untuk tujuan tertentu, khususnya selama masa setelah tsunami, sementara yang lain-lainnya mungkin dimulai sebagai hasil dari inisiatif lokal. Organisasiorganisasi tersebut mungkin dibentuk untuk berbagai tujuan, tetapi biasanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan kadang-kadang pembangunan ekonomi. Sebagai respon terhadap situasi pada bulan November 2006, sebuah studi UNDP44 melaporkan bahwa: “OMS yang telah didirikan setelah tsunami dan gempa bumi memiliki kelemahan dalam kapasitas organisasi dan teknis. LSM yang cukup mapan dan telah aktif dalam advokasi dan pemberdayaan rakyat memiliki tingkat kapasitas yang lebih tinggi, tetapi memerlukan pengembangan kapasitas di banyak bidang lainnya. Untuk memperkuat kapasitas organisasi-organisasi ini dan untuk memfasilitasi partisipasi mereka yang berarti dalam proses pemulihan pascabencana, UNDP mengimplementasikan proyek Organisasi Layanan Masyarakat yang berjalan selama empat tahun dan berakhir pada awal tahun ini (2010). Selain itu, proyek tersebut menetapkan Pusat Sumberdaya Masyarakat Sipil (CSRC) yang berfungsi sebagai pusat-pusat pembelajaran bagi OMS dan memberikan hibah kecil untuk kegiatan-kegiatan peningkatan pendapatan, layanan sosial dasar dan program-program pemberdayaan perempuan. Meskipun proyek ini didesain secara khusus agar OMS dapat berpartisipasi dalam kegiatankegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi, tetapi proyek tersebut dengan jelas menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui pemberdayaan rakyat. Proyek ini juga berfungsi sebagai contoh tentang kemungkinan peran yang dapat dimainkan oleh organisasi-organisasi ini dalam mendukung berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

di tingkat masyarakat. Di sektor-sektor khusus, seperti pertanian, perikanan dan irigasi, dimana perempuan di Aceh sangat terlibat, mereka jarang ikut serta dalam proses perumusan kebijakan di sektor-sektor ini. Di tingkat desa, karena keterlibatan perempuan dalam lembagalembaga desa formal masih terbatas maka pengambilan keputusan jarang melibatkan perempuan.
Kotak 6 Kotak 6 Forum Pemulihan Kabupaten/Kota (KRF)

Kotak 6 Forum Pemulihan Kabupaten/Kota (KRF) Salah satu proses partisipasi skala besar paling relevan yang dilakukan baru-baru ini adalah Froum Pemulihan kabuaten/Kota (KRF), yang mendukung kabupaten-kabupaten di Aceh dalam menyusun rencana-rencana strategis sesuai dengan prioritas lokal. Diskusi lapangan dengan tiga tim KRF menyatakan bahwa partisipasi perempuan tidak selalu optimal. Diperlukan pelatihan gender dan keterampilan tentang bagaimana mengatasi hambatan terhadap partisipasi perempuan. Kunjungan lapangan menunjukkan bahwa informasi yang lebih kaya dan dukungan (buy-in) yang lebih besar akan dihasilkan jika sesi-sesi terpisah diadakan terlebih dulu bagi laki-laki dan perempuan, yang diikuti dengan sesi pleno untuk membangun kesamaan. Ide-ide yang hanya berasal dari perempuan atau laki-laki kemudian akan dikaji secara bersama-sama. Kesempatan untuk sukses akan meningkatk melalui sesi-sesi tentang sensitisasi gender dan partisipasi semua aktor yang terlibat dalam perencanaan pemulihan.

Mission Report Gender Outcomes & Reflections – Aceh. (hal. 12).
Komentar dari Linda Pennells, IASC Gender Advisor, Office of the Resident Coordinator, OCHA – Indonesia Mission, 14 Agustus – 3 September 2008.

5.3.7 Pelajaran Berharga
Gagasan tentang partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan bagi pembangunan masyarakat telah ada selama kira-kira 40 tahun atau lebih, tetapi baru dalam dekade terakhir upayaupaya dilakukan untuk mempraktekkan gagasan tersebut di Indonesia. Pelajaran yang dipetik dari pengalaman di Aceh, Indonesia dan tempat-tempat lainnya menunjuk pada beberapa kesimpulan yang diterima secara luas. · Dengar pendapat dan bentuk-bentuk partisipasi lainnya yang lemah seperti Musrenbang dapat menghasilkan informasi berguna bagi para perencana tetapi memberikan sedikit jaminan bahwa preferensi atau prioritas stakeholder akan diadopsi atau tercermin dalam anggaran.
91

5.3.6 Bias Gender
Terlepas dari temuan-temuan tentang tingkat modal sosial dan kohesi yang relatif tinggi di Aceh, survei desa PPK tahun 2006 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan masih kurang terwakili dalam pengambilan keputusan
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

· Pemberdayaan masyarakat memerlukan bentuk-bentuk partisipasi yang kuat sehingga memungkinkan para stakeholder berbagi tanggung jawab atas keputusan-keputusan dengan pejabat pemerintah atau yang mendelegasikan tanggung jawab kepada pihakpihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan sendiri. · Pemberdayaan juga memerlukan alokasi sumberdaya keuangan dan lainnya bagi forum atau kelompok stakeholder untuk melaksanakan keputusan. · Pemberdayaan masyarakat dapat diterapkan tidak hanya di tingkat masyarakat, tetapi juga di sektor-sektor lain, seperti kesehatan, pendidikan dan kegiatan ekonomi. · Pemberdayaan dengan cara ini merupakan instrumen yang sangat kuat untuk meningkatkan pemberian layanan publik, menggunakan sumberdaya yang tersedia secara lebih baik dan akhirnya merupakan cara yang lebih efektif untuk mempromosikan pembangunan manusia. Meskipun kesimpulan-kesimpulan ini dianggap tepat, tetapi prinsip pemberdayaan pemangku kepentingan (stakeholder) tidak boleh dipandang sebagai obat mujarab bagi keberhasilan. Para skeptis menyatakan bahwa pemberdayaan menimbulkan potensi resiko untuk kolusi dan korupsi. Para elit lokal dapat memperoleh manfaat, atau menekan para peserta untuk mendukung agenda mereka sendiri. Para peserta mungkin tidak memiliki keterampilan teknis dan administratif untuk mengambil keputusan yang tepat dan mengelola dana dengan baik. Meskipun semua ini merupakan resiko, tetapi mereka hanya menekankan perlunya lembaga pemerintah, donor dan pihak-pihak lainnya untuk membuat komitmen yang kuat guna mendukung forum-forum stakeholder. Rekomendasi: Untuk memastikan bahwa forum-forum ini mampu memenuhi potensi mereka dan berfungsi secara efektif, lembagalembaga pemerintah dan lainnya yang terlibat dalam penetapan forum-forum tersebut sebaiknya: · Menentukan secara tepat kekuasaan dan tanggung jawab yang akan didelegasikan, sehingga para peserta dapat memahami batas-batas kewenangan mereka dengan jelas. · Menentukan prosedur-prosedur operasional yang jelas untuk memastikan bahwa forum-

forum stakeholder mematuhi prinsip-prinsip tata kelola yang baik, transparansi dan akuntabilitas. · Memberikan saran dan membantu forumforum dalam mengadopsi metode-metode untuk memastikan partisipasi perempuan dan kelompok terpinggirkan yang selama ini belum diikutsertakan dan untuk memperkuat suara mereka dalam pengambilan keputusan. · Memberikan dukungan teknis secara intensif untuk membantu stakeholder merumuskan proposal-proposal yang layak untuk dilaksanakan. · Mengalokasikan dana untuk menutup tidak hanya aksi-aksi yang diusulkan oleh forum tersebut tetapi juga, jika perlu, biaya operasional sehingga para anggota dapat mengadakan dan menghadiri pertemuan tetap. Hal ini sangat penting bagi forum-forum yang mewakili para stakeholder yang tersebar di seluruh provinsi, seperti kelompokkelompok industri. · Merumuskan prosedur pencairan dana, pengadaan dan pelaporan keuangan. · Memantau cara kerja dan kegiatan forumforum tersebut untuk mengurangi penyalahgunaan kekuasaan mereka dan mencegah penyalahgunaan dana. Ada beberapa contoh yang baik tentang pemberdayaan stakeholder di Aceh sekarang ini, yang memberikan model untuk diterapkan di bidang-bidang lainnya. Forum-forum yang ditetapkan di bawah program PNPM-Mandiri sudah cukup mapan dan telah dievaluasi. Forum-forum BPKG juga beroperasi di tingkat masyarakat tetapi merupakan hal yang lebih baru dan belum dikaji. Di sektor ekonomi, contoh-contoh dapat ditemukan dalam proyek Dialog Publik Swasta yang didanai oleh IFC (Koperasi Keuangan Internasional), dan proyek APED (Kerjasama untuk Pembangunan Ekonomi Aceh) UNDP untuk kopi, coklat dan karet. Di sektor pendidikan, petunjuk pemerintah pusat mengharuskan dewan sekolah yang terdiri dari guru, penyelenggara dan orang tua untuk bekerja sama dalam penyusunan rencana dan anggaran. Usulan rencana dan anggaran harus ditandatangani secara bersama-sama oleh penyelenggara sekolah dan wakil orang tua. Ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan administrasi dan manajemen sesuai dengan indikator-indikator kinerja.

92

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

5.4. Kesimpulan

perhatikan suara masyarakat di seluruh Indonesia dan untuk meningkatkan respon pemerintah terhadap kebutuhan dan prioritas mereka. Selama dekade terakhir, Indonesia telah mengBarangkali inovasi yang paling mendasar dan alami perkembangan besar dalam memberdaluas pada dekade terakhir adalah peluncuran yakan masyarakat untuk membuat berbagai dan pengembangan bertahap Program pilihan dan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di bidang publik. Prinsip- Pengembangan Kecamatan (PPK) oleh Bank prinsip demokrasi telah meningkat dengan Dunia melalui kerja sama dengan pemerintah baik melalui perluasan pemilu secara bertahap pusat. PPK sekarang mencakup seluruh bagi para pejabat publik di semua tingkat pe- Indonesia dengan nama barunya, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM merintahan. Selain itu, pejabat publik sekarang jauh lebih bertanggung jawab kepada rakyat - Mandiri). Alokasi dana hibah untuk komite daripada sebelumnya. Sementara pe-nyuapan yang mewakili masyarakat setempat dengan dan pemerasan masih endemik di seluruh da- wewenang untuk menentukan penggunaan erah tersebut, dan merupakan persoalan serius dana tersebut, merupakan penerapan yang kuat bagi rakyat Aceh, masalah tersebut tidak lagi atas konsep pemberdayaan rakyat. Pengadopsian konsep tersebut oleh pemerintah pusat, dan ditoleransi atau diabaikan tetapi dituntut seperluasan program di seluruh Indonesia, cara luas dan dihukum, seperti terbukti dari memberikan preseden yang kuat dan contoh seringnya laporan di media publik. Prinsip-prinsip partisipasi dan pemberdaya- yang harus diikuti oleh pemerintah-pemerintah daerah dalam program-program mereka sendiri. an rakyat dalam perencanaan dan pengambilan Adalah hal yang membanggakan untuk melihat keputusan sekarang juga dikenal dan dipraktekpemerintah provinsi dan kabupaten di Aceh kan jauh lebih luas dari sebelumnya. Terlepas dari keterbatasannya, pengenalan proses Mus- mengadopsi model tersebut melalui program renbang merupakan upaya serius untuk mem- BPKG yang memberikan dana hibah kepada
Kotak 7 Pemberdayaan Masyarakat terkait Pemberian Layanan

Yapen, 6 September 2010 – Hampir semua desa di daerah-daerah terpencil di Provinsi Papua kekurangan listrik. Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum mampu menjangkau desa-desa ini karena lokasi yang sulit dan hambatan geofisika. Sebagai respon terhadap persoalan ini, Yayasan Bina Kitorang Mandiri (YBKM), mitra OMS Proyek Pusat Pembangunan Manusia (PDP) UNDP, bersama dengan masyarakat desa Worioi, melakukan sebuah studi yang menunjukkan bahwa secara teknis layak untuk membangun pembangkit listrik tenaga air mikro di daerah itu yang akan menghasilkan 5000 watt daya listrik. Mengingat tingginya estimasi biaya proyek, tantangannya adalah untuk memobilisasi dana yang memadai guna membangun pembangkit tersebut dan infrastruktur terkait. YBKM berhasil mendapatkan dana hibah kira-kira sebesar US$ 70.000 dari proyek PDP, tetapi dana ini tidak cukup. Untuk mengurangi biaya, masyarakat sepakat untuk menyumbangkan tenaga, material dan uang. Pembangunan ini meliputi bendungan dan waduk, tangki air, instalasi pipa air, pembangunan gardu listrik, instalasi listrik ke setiap rumah, pembangunan jalan akses, pengangkutan material dan perlengkapan turbin secara manual, penyediaan material lokal seperti kayu, pasir dan batu, pemasangan tiang listrik dan pipa air ke turbin. Sebagai hasilnya atas upaya mereka, pembangkit listrik sekarang menghasilkan listrik dua belas jam sehari yang melayani 50 keluarga. Untuk pertama kalinya, masyarakat kini dapat menonton televisi, anak-anak dapat belajar di malam hari, dan pekerjaan rumah tangga perempuan menjadi lebih mudah melalui penggunaan alat-alat listrik. Dalam waktu empat bulan setelah dimulainya operasi turbin, keluarga-keluarga telah membeli 15 televisi dan 10 antena parabola. Untuk memastikan kesinambungan, masyarakat menetapkan pengurus untuk mengoperasikan dan memelihara fasilitas tersebut, dan untuk mengumpulkan biaya pengguna. Biaya ini besarnya Rp 10.000 per bulan (sekitar satu dolar), yang digunakan untuk menutup biaya pemeliharaan. Proyek ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Belanda, NZAID, UNDP dan Pemerintah Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Hilda Eveline at hilda.eveline@undp.org Sumber: Diambil dari sebuah laporan di: http://www.undp.or .id/press/view.asp?FileID=20100906-2&lang=en

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

93

seluruh desa di provinsi tersebut. Ada banyak · Di bidang ekonomi, terdapat cukup ruang untuk menerapkan konsep tersebut melakesempatan lainnya untuk menerapkan konsep pemberdayaan rakyat dalam bidang-bidang usalui forum-forum bisnis publik-swasta guna ha manusia. mempromosikan pertanian dan industri setempat. Rekomendasi: · Konsep pemberdayaan masyarakat juga · Pemerintah-pemerintah daerah di Aceh sebaiknya mengkaji kesempatan-kesempatan harus diterapkan pada layanan-layanan lain bagi pemberdayaan rakyat sebagai publik lainnya, seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan pekerjaan infrasarana untuk meningkatkan penyampaian struktur skala kecil, seperti sistem irigasi, layanan, meningkatkan mata pencaharian dan kegiatan usaha, dan memajukan tujuanpersediaan air, pemeliharaan jalan dan bahtujuan pembangunan manusia yang lebih kan pembangkit listrik lokal di daerahdaerah terpencil seperti di Papua (lihat besar. kotak 7).

94

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

6

Perencanaan dan Penganggaran Bagi Pembangunan Manusia

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

95

96

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB

6

Perencanaan dan Penganggaran Bagi Pembangunan Manusia

Seperti yang ditunjukkan oleh Aaron Wildavsky beberapa tahun yang lalu, bahwa tujuan, program dan rencana terbaik tidak akan berarti kecuali atau sebelum tujuan, program dan rencana tersebut diwujudkan dalam anggaran yang disetujui45. Bahkan selanjutnya, banyak tujuan, program dan rencana berjalan tidak tepat sebelum atau selama pelaksanaan. Sebagaimana dijelaskan pada Bab 4, pemerintah Aceh telah berulang kali menyatakan tujuannya untuk memajukan pembangunan manusia dalam rencana dan dokumen resmi. Pertanyaan yang dapat dikembangkan pada Bab ini adalah: Sejauh mana tujuan ini tercermin dalam anggaran terakhir pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Aceh?
Ada tiga bagian untuk pertanyaan ini: prosedur-prosedur apa saja yang digunakan untuk menentukan alokasi sumberdaya di antara kabupaten dan kota; bagaimana rencana pemerintah untuk menggunakan sumberdaya tersebut sebagaimana tercermin dalam anggaran tahunan, dan terakhir, bagaimana pengeluaran aktual sesuai dengan rencana pengeluaran. Pertanyaan terakhir adalah apa yang sebenarnya menjadi persoalan, karena banyak faktor dapat menghalangi penggunaan sumberdaya sesuai dengan yang direncanakan. Majelis lokal mungkin memerlukan waktu beberapa bulan untuk menyetujui usulan anggaran, atau mungkin memerlukan perubahan penting, juga cara yang menyebabkan keterlambatan dalam pelaksanaan. Kadang-kadang keterlambatan ini diartikan apakah terlambat untuk mengimplementasikan program-program tertentu, terutama yang terkait dengan siklus panen, atau waktu yang tersisa pada tahun fiskal terlalu pendek. Persoalan-persoalan lain dapat timbul karena kesulitan dalam pengadaan barang dan jasa yang diperlukan dari pemasok yang memenuhi syarat, tidak adanya kesepakatan di antara para penerima manfaat, atau hanya karena lemahnya keterampilan dalam manajemen proyek. Analisa tentang jenis-jenis masalah ini akan membantu dalam mengusulkan cara-cara untuk meningkatkan pemberian layanan publik dan meningkatkan kinerja. Akan tetapi, karena inLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

formasi tentang pengeluaran aktual tidak tersedia secara luas, maka isu-isu ini lebih dikembangkan dalam riset yang lebih mendalam. Selain itu, Bab ini akan memfokuskan pada dua pertanyaan pertama yang berkaitan dengan alokasi sumberdaya dan rencana pengeluaran seperti yang ditunjukkan dalam usulan anggaran.

6.1. Pendapatan
6.1.1 Sumber Pendapatan
Sejak tahun 2000, pendapatan fiskal Aceh yang dikelola oleh pemerintah provinsi dan kabupaten telah meningkat secara dramatis. Provinsi tersebut merupakan salah satu penerima manfaat utama desentralisasi fiskal setelah diberlakukannya undang-undang pada tahun 1999 tentang otonomi daerah, yang memberikan bagian (share) pendapatan minyak dan gas, dan bagian tambahan kepada banyak pemerintah daerah di Aceh karena status otonomi khususnya. Pada tahun 2006, peningkatan ini diikuti dengan peningkatan besar dalam sumberdaya nasional untuk Dana Alokasi Umum (DAU). Awal tahun 2008, peningkatan pendapatan Aceh selanjutnya berasal dari DAU tambahan, yang disebut sebagai “Dana Otonomi Khusus” di bawah Undang-Undang tahun 2006 tentang
97

Gambar 6.1 16.000 14.000 12.000 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 0

Pendapatan Pemerintah Provinsi Kabupaten/kota di Aceh (Rp milyar, harga tetap 2006), 1999 –dan 2008

1999

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007 Kabupaten

2008 Provinsi

Sumber: Estimasi dari data yang dilaporkan dalam Bank Dunia (2008).

Pemerintahan Aceh. Ini akan berlanjut selama 20 tahun sampai 2028, dan terdiri dari 2 persen dari total DAU nasional selama 15 tahun, dan 1 persen untuk 5 tahun berikutnya. Dana Otonomi Khusus lebih dari sebagai kompensasi penurunan pendapatan minyak dan gas karena kehabisan cadangan, dan diharapkan untuk memastikan aliran pendapatan yang besar selama dua dekade berikutnya. Pendapatan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Aceh meningkat hampir empat kali lipat secara nyata antara tahun 1999 dan2002, dan hampir enam kali lipat antara tahun 1999 dan 200846. (Lihat Gambar 6.1). Akibatnya, Aceh kini merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia yang diukur dengan pendapatan fiskal per kapita. Di bagian paling atas dari peningkatan pendapatan fiskal tetap tersebut, provinsi Aceh memperoleh manfaat dari pemasukan sumberdaya yang sangat besar bagi pendanaan pemulihan dan rekonstruksi selama tahun 2005 - 2009 pasca tsunami. Sumberdaya ini merupakan tambahan yang besar pada pengeluaran publik selain pengeluaran tetap pemerintah. Sementara itu, pemerintah pusat masih terus mengeluarkan sumberdaya yang besar di daerah tersebut untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang dikelompokkan sebagai prioritas nasional, seperti bandara yang baru selesai untuk BAA, dan pelabuhan internasional yang diusulkan di Sabang. Dengan pendapatan pemerintah yang meningkat jauh lebih cepat dari ekonomi lokal, bagian (share)
98

anggaran pemerintah dalam total PDRB meningkat dari hanya 7 persen pada tahun 1999 menjadi sekitar 29 persen pada tahun 2008.

6.1.2 Alokasi Sumberdaya
Pengkajian lebih mendalam terhadap sumberdaya fiskal yang diterima oleh kabupaten dan kota di Aceh selama dekade terakhir menunjukkan bahwa provinsi tersebut memiliki sedikit kapasitas untuk mempengaruhi alokasi sumberdaya fiskal sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan bagi pembangunan manusia, pengentasan kemiskinan atau prioritas-prioritas kebijakan lainnya. Hal ini karena sampai diperkenalkannya SAF tahun 2008, provinsi tersebut hanya menguasai alokasi sebagian kecil sumberdaya fiskal yang mengalir ke kabupaten dan kota. Sumber-sumber pendapatan. Pendapatan kabupaten dan kota berasal dari lima sumber utama. Secara singkat, sumber-sumber ini meliputi: (a) pendapatan lokal dari biaya dan pajak, sebesar rata-rata sekitar 5 persen dari total, (b) pendapatan dari pajak-pajak tertentu yang dihasilkan di kabupaten mereka sendiri, tetapi dikumpulkan oleh pemerintah pusat, sebesar rata-rata antara 4 persen sampai 11 persen dari total; (c) pendapatan non-pajak, terutama dari minyak dan gas, sebesar 20 persen dari total awal dekade ini, tetapi sejak itu terus menurun menjadi sekitar 7 persen pada tahun
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

2008 (d) Dana Alokasi Khusus (DAK), yang merupakan transfer bersyarat dari pemerintah pusat untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan pemerintah pusat, dan (e) Dana Alokasi Umum (DAU). Berbeda dengan proporsi tetap yang ditentukan untuk bagi hasil, pemerintah pusat menggunakan formula untuk alokasi dana DAU, yang secara eksplisit mempertimbangkan kebutuhan lokal, meskipun unsur-unsur formula tersebut telah dimodifikasi beberapa kali.47 Spesifikasi formula tersebut merupakan sumber penjelasan tetap, karena alokasi DAU sejauh ini merupakan komponen terbesar dari pendapatan kabupaten dan kota, di Aceh mendekati 60 persen rata-rata pada tahun-tahun terakhir sejak 2000. Formula DAU mengalokasikan 10 persen dari total yang tersedia sebagai jumlah dasar standar dibagi sama di antara semua kabupaten dan kota, dan 50 persen didesain sebagai faktor penyeimbang untuk pembayaran gaji pegawai pemerintah. Formula ini sebelumnya digunakan untuk menutup sekitar 70 persen dari total biaya pegawai pemerintah kabupaten dan kota tetapi sekarang mencakup hampir 100 persen. Formula ini secara efektif menghapus setiap penghambat (disincentive) pada pembentukan kabupaten-kabupaten baru dan mungkin sebenarnya mendorong kecenderungan tersebut. Sisa 40 persen DAU dialokasikan untuk menutup apa yang disebut sebagai kesenjangan fiskal, yang diartikan sebagai perbedaan antara kebutuhan pengeluaran dan kapasitas fiskal, atau pendapatan yang diterima dari sumbersumber selain DAU. Estimasi kebutuhan pengeluaran mempertimbangkan empat faktor: jumlah penduduk, wilayah geografis, biaya relatif dan tingkat kemiskinan di setiap kabupaten. Setiap faktor diberi bobot yang berbeda dan bobot-bobot dapat berubah, tetapi setidaknya pada tahun-tahun awal, penekanannya adalah pada jumlah penduduk dan biaya relatif (masing-masing 40 persen), dengan hanya 10 persen yang ditempatkan pada kemiskinan dan wilayah geografis. Beberapa orang mempertanyakan mengapa kemiskinan pun dimasukkan dalam alokasi DAU bagi pemerintah daerah, karena isu tersebut lebih tepat ditangani di tingkat nasional. Sampai tahun 2008, beberapa sumberdaya fiskal yang dikontrol oleh pemerintah provinsi untuk didistribusikan ke kabupaten dan kota di Aceh adalah sumberdaya-sumberdaya yang berkaitan dengan bagi hasil tambahan dari minyak dan gas yang disepakati sebagai
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

bagian dari Kesepakatan Damai tahun 2005. Penggunaan sumberdaya-sumberdaya ini ditentukan oleh pemerintah provinsi itu sendiri, dengan pembagian sebesar 30 persen untuk pendidikan dan 70 persen untuk alokasi di antara pemerintah-pemerintah daerah. Dari yang terakhir, 40 persen mengalir ke provinsi, 25 persen mengalir ke pemerintah kabupaten dan kota yang menghasilkan pendapatan dan 35 persen sisanya ke pemerintah daerah lainnya. Setengah dari prosentase ini kemudian dibagi sama di antara semua penerima dan 50 persen menurut formula yang hanya didasarkan pada jumlah penduduk dan wilayah geografis, dengan mengabaikan faktorfaktor lain yang mencerminkan kemiskinan atau tujuan-tujuan lain dari pembangunan manusia. Alokasi Sumberdaya dan Pembangunan. Secara singkat, alokasi sumberdaya di antara kabupaten dan kota di Aceh selama dekade terakhir sedikit banyak telah mengabaikan faktorfaktor yang mencerminkan tingkat-tingkat pembangunan yang bersifat relatif, dengan pengecualian faktor kemiskinan yang dimasukkan dalam formula DAU. Selanjutnya, meskipun DAU merupakan komponen terbesar dari pendapatan fiskal untuk sebagian besar kabupaten dan kota, tetapi kriteria kemiskinan secara keseluruhan memberikan pengaruh kecil dalam penghitungan jumlah untuk setiap kabupaten. Menurut keadaan sekarang, kita menemukan sedikit atau tidak ada hubungan antara pendapatan fiskal per kapita dan tingkat pembangunan di antara kabupaten dan kota di Aceh. Secara mengejutkan, hal ini tidak terjadi. Sebaliknya, jika kita menghapus dua kabupaten yang tidak memiliki data lengkap, Pidie Jaya dan Subulussalam, dan Sabang sebagai kabupaten yang berada di luar (outlier), hubungan yang agak jelas muncul ketika IPM digunakan sebagai indikator tingkat pembangunan. (Lihat Gambar 6.2 dan Lampiran A: Tabel 6.1). Berkaitan dengan daerah-daerah, pendapatan per kapita tertinggi terdapat di Aceh Bagian Barat dan Selatan (Rp 3,0 juta), diikuti oleh Aceh Bagian Tengah (Rp 2,9 juta), tetapi secara signifikan lebih rendah di Aceh Bagian Utara dan Timur (Rp 1,6 juta). Baik IPM maupun beberapa indikator lainnya yang dibahas sebelumnya dalam laporan ini menunjukkan Aceh Bagian Utara dan Timur sebagai daerah yang lebih berkembang dan Aceh Bagian Barat dan Selatan sebagai paling kurang berkembang. Selanjutnya, dari sebelas kabupaten dengan peringkat yang lebih tinggi untuk pendapatan fiskal per kapita, tujuh kabupaten menempati
99

Gambar 6.2 6000 5000 Pendapatanfiskalperkapita (Rp.) 4000 3000 2000 1000 0

IPM dan Pendapatan Fiskal per Kapita menurut Kabupaten di Aceh, 2007

66

68

70 IPM

72

74

76

78

Sumber: Tingkat IPM didasarkan pada data dari BPS; tingkat pendapatan per kapita didasarkan pada data dari Bank Dunia (2008) ―Analisa Pengeluaran Publik Aceh‖.

peringkat lebih rendah pada IPM. Kabupatenkabupaten ini adalah Aceh Barat, Simeulue, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Bener Meriah dan Gayo Lues, lima terakhir semua merupakan kabupaten baru. Selain itu, enam dari sepuluh kabupaten dengan peringkat yang lebih rendah untuk pendapatan per kapita juga menduduki peringkat yang lebih tinggi pada IPM. Kabupatenkabupaten ini adalah Aceh Besar, Langsa, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen dan Pidie. Tiga faktor dapat menjelaskan hasil-hasil ini. Standar bagian (share) yang sama untuk semua kabupaten yang dimasukkan dalam formula DAU, dan sampai tingkat lebih rendah untuk bagi hasil tambahan dari minyak dan gas yang telah disepakati dalam Kesepakatan Damai, yang memberikan manfaat kepada kabupatenkabupaten dengan jumlah penduduk yang kecil. Enam dari tujuh kabupaten dengan IPM lebih rendah dan pendapatan fiskal per kapita lebih tinggi semuanya memiliki jumlah penduduk yang kecil, sebesar 3 persen atau kurang dari jumlah keseluruhan penduduk Aceh. Faktor lainnya adalah alokasi sebesar 50 persen dari dana DAU sebagai faktor penyeimbang bagi pembayaran gaji pegawai pemerintah, sekarang dilaporkan mencakup hampir 100 persen dari biaya tersebut. Karena alokasi ini merupakan proporsi yang cukup besar dari total pengeluaran pemerintah daerah, maka alokasi tersebut juga akan memberikan manfaat kepada kabupaten dan kota yang lebih kecil. Namun, alokasi ini tidak akan memberikan kontribusi pada peningkatan infrastruktur dan layanan publik di daerah-daerah yang
100

kurang berkembang. Faktor ketiga adalah pemasukan indeks biaya untuk mengimbangi perbedaan-perbedaan biaya konstruksi dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena banyak daerah yang kurang berkembang adalah lebih terpencil dengan jalan-jalan akses yang buruk, maka biaya-biaya di daerah-daerah tersebut cenderung lebih tinggi daripada biaya-biaya di daerah-daerah yang lebih kota yang berada pada jalan-jalan raya utama.

6.1.3 Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus)48
Pengenalan SAF pada tahun 2008 berpotensi menciptakan peluang-peluang penting bagi pemerintah provinsi untuk mengalokasikan sumberdaya sesuai dengan prioritas-prioritas kebijakan, meskipun bagaimana pengenalan ini akan dicapai masih sedang dibahas. SAF diharapkan mampu menghasilkan kira-kira US$ 400 juta per tahun pada awalnya, dan menyumbangkan 54 persen dari pendapatan provinsi pada tahun pertama dan lebih dari 20 persen dari total pendapatan pemerintah daerah di Aceh. Menurut kesepakatan awal yang tercantum dalam Qanun No 2 / 200849 , 60% Dana Otsus akan digunakan untuk membiayai programprogram pembangunan kabupaten dan kota yang dilaksanakan bersama-sama dengan provinsi, dan 40 persen sisanya akan digunakan untuk membiayai program-program provinsi, yang dapat juga diimplementasikan melalui kerja sama dengan tiap-tiap kabupaten dan kota.
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Masih banyak uji coba diperlukan untuk menentukan kombinasi (variabel dan) bobot mana yang memberikan solusi optimal dan alokasi (sumber daya) yang paling diterima.

Pengaturan ini diusulkan untuk memberikan wewenang kepada provinsi guna melakukan pengawasan ketat atas alokasi sumberdaya, tetapi juga mengharuskan provinsi untuk mempertanggungjawabkan penggunaan semua dana Otsus. Setelah ada pemikiran lebih lanjut, provinsi tersebut menyadari bahwa pengaturan ini tidak layak maupun bukan demi kepentingan kabupaten dan kota. Sekarang diusulkan bahwa 60 persen Dana Otonomi Khusus sebaiknya ditransfer langsung dari pemerintah pusat ke kabupaten dan kota, tetapi penggunaan dana tersebut harus mendapat persetujuan oleh provinsi sesuai dengan prioritas-prioritas kebijakan yang telah disepakati dengan penekanan pada pendidikan, kesehatan, infrastruktur fisik dan ekonomi pembangunan. Alokasi dana Otsus pada kabupaten dan kota di Aceh saat ini meliputi alokasi dasar (30 persen dari total) dan alokasi formula (70 persen dari total). Alokasi dasar hanya merupakan bagian (share) yang sama untuk semua kabupaten, sedangkan komponen formula ini didesain untuk mencerminkan kebutuhan fiskal. Menurut Qanun No. 4 / 200750, formula tersebut mempertimbangkan jumlah penduduk, wilayah geografis dan IPM, semua dengan bobot 30 persen, dan indeks biaya dengan bobot 10 persen. Alokasi dasar yang memberikan bagian yang sama untuk seluruh kabupaten dan kota sekali lagi akan cenderung memberikan manfaat kepada pemerintah daerah dengan jumlah penduduk yang lebih kecil. Banyak dari kabupaten dan kota tersebut adalah kurang berkembang sesuai dengan IPM dan indikator-indikator lainnya. Sebelum menyimpulkan diskusi tentang alokasi sumberdaya ini, dua hal perlu diingat dalam merumuskan model untuk alokasi dana Otsus oleh pemerintah provinsi. Tujuan utama dalam mengadopsi sebuah formula adalah untuk memastikan transparansi proses yang dapat dipahami dan diterima oleh semua pihak sebagai pembagian sumberdaya yang adil. Hal ini menjelaskan mengapa pilihan faktorfaktor yang akan dimasukkan dalam formula cenderung terbatas pada beberapa variabel nyata dimana tersedia data akurat yang dapat dijelaskan secara obyektif. Dimasukkannya indeks-indeks seperti IPM atau IKM membuka pintu bagi perbedaan pendapat tentang indikator-indikator mana saja yang akan dimasukkan dan apakah indikator-indikator tersebut mencerminkan realitas di lapangan.

Terlepas dari formula mana yang diadopsi, beberapa penerima akan selalu mengeluh bahwa mereka tidak mendapatkan perlakuan yang adil. Hal ini tak bisa dihindari, tetapi lebih baik dari alternatif setiap kabupaten yang melakukan negosiasi bagiannya sendiri. Hal kedua adalah bahwa pilihan indikatorindikator dan bobot indikator-indikator tersebut menawarkan sejumlah kemungkinan kombinasi dan dapat memberikan berbagai hasil yang membingungkan. Beberapa hasil tersebut bersifat kontra-intuitif. Meskipun dianggap layak untuk memberikan bobot yang relatif lebih besar pada sebuah indikator untuk kemiskinan atau tingkat pembangunan, tetapi distribusi sumberdaya yang dihasilkan dapat bertentangan dengan apa yang diharapkan. Variabel-variabel lainnya, seperti jarak dari pusat kota utama, dapat memberikan hasil yang lebih baik. Sebagaimana kesimpulan studi yang dilakukan baru-baru ini oleh UNDP untuk Pemerintah Maladewa: “Tidak ada solusi tunggal yang tepat untuk sebuah formula bagi dana hibah. Tujuantujuan kebijakan jarang bertepatan. Sebuah formula yang mencapai satu tujuan tidak dapat memberikan hasil yang baik untuk tujuan-tujuan lainnya. Tetapi satu kesimpulan dianggap jelas. Variabel-variabel khusus yang dipilih untuk menggambarkan tujuan-tujuan kebijakan mempengaruhi hasil yang lebih kecil daripada bobot untuk hasil tersebut. Banyak pengujian diperlukan untuk menentukan kombinasi (variabel dan) bobot mana yang memberikan solusi optimal dan alokasi (sumber daya) yang paling diterima.” 51

6.2. Pengeluaran
6.2.1 Agregasi Belanja Publik menurut Sektor
Pertanyaan kedua yang akan dikembangkan pada Bab ini adalah bagaimana rencana pemerintah untuk menggunakan sumberdaya seperti tercermin dalam anggaran tahunan mereka. Sejalan dengan peningkatan pendapatan fiskal secara besar-besaran bagi pemerintah-pemerintah daerah di Aceh selama beberapa tahun terakhir, pengeluaran juga telah meningkat secara proporsional, dari Rp 6,0 triliun pada tahun 2001 sampai hampir dua kali lipat pada
101

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Tabel 6.1

Alokasi Pengeluaran Publikdan per Sektor di Aceh 2001 –(%) 2007 (Provinsi, kabupaten kota gabungan) 2001 2002 31 12 5 30 10 5 4 3 49 20 100 6,309 2003 29 11 7 35 5 5 1 7 54 17 100 7,975 2004 35 9 6 31 5 5 1 8 51 15 100 8,356 2005 36 13 6 27 4 5 1 8 45 19 100 6,449 2006 35 13 8 25 3 5 1 7 44 20 100 8,943 2007 31 17 9 22 4 6 1 10 44 25 100 11,980 39 14 6 18 9 7 4 3 35 25 100 6,038

A. Administrasi Pemerintah B. Pekerjaan Umum dan Transportasi C. Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat D. Pendidikan dan Kebudayaan E. Perumahan, Tenaga Kerja dan Sosial F. Pertanian, Kehutanan, dll G. Industri, Perdagangan, dll H. Bantuan Sosial, Hibah, dll Subtotal setor sosial (C,D,E,H) Subtotal sektor ekonomi (B,F ,G) Total Rp bn (2006 tetap)

Sumber: Berasal dari Bank Dunia, Aceh public expenditure analysis update 2008, Jakarta, Bank Dunia, 2008; tabel C.6 dan C.7.

tahun 2007. Bagian-bagian pengeluaran agregat sektor oleh semua pemerintah daerah di Aceh selama kurun waktu 2001 sampai 2007 ditunjukkan pada Tabel 6.1.52 Secara umum, data selama kurun waktu 2001 sampai 2007 menunjukkan bahwa pemerintah-pemerintah daerah telah memberikan prioritas pertama pada pengeluaran untuk program-program sosial, meskipun administrasi pemerintah juga memperoleh bagian yang besar dari total tersebut, sedangkan pengeluaran untuk program-program ekonomi jelas telah mendapatkan prioritas yang lebih rendah. Jika digabungkan bersama-sama, keempat sektor yang sebagian besar adalah program sosial (kesehatan, pendidikan, perumahan dan bantuan sosial)

merupakan bagian terbesar dari pengeluaran publik dalam semua tahun antara 2001 dan 2007, kecuali untuk tahun pertama. Pengeluaran ini meningkat tajam dari 35 persen pada tahun 2001 menjadi lebih dari 50 persen pada tahun 2004, tetapi sejak saat itu pengeluaran tersebut dalam keadaan tetap sebesar kira-kira 44 persen%. Dari total ini, pendidikan secara konsisten telah diprioritaskan pada program sosial lainnya, sebagian besar karena tingginya biaya sejumlah staff pengajar. Masalah perumahan, tenaga kerja dan sosial merupakan kira-kira 10 persen dari total pengeluaran pada tahun-tahun awal, tetapi sejak saat itu menurun sampai sekitar 4 persen. Sementara itu, pengeluaran untuk sektor kesehatan masih cukup stabil kira-kira

Gambar 6.3 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

Pengeluaran untuk Kesehatan, Pendidikan Administrasi Umum sebagai bagian dari Total Pengeluaran Umum menurut Pemerintah Provinsi di Aceh, 2001 - 2007

2001

2002 Administrasi Umum

2003

2004

2005 Kesehatan

2006

2007

Pendidikan

Sumber: Berdasarkan data yang dilaporkan dalam Bank Dunia (2008).

102

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 6.4 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

Pengeluaran untuk Kesehatan, Pendidikan dan Administrasi Umum sebagai bagian dari Total Pengeluaran Umum menurut Kabupaten di Aceh, 2001 - 2007

2001

2002

2003

2004

2005 Kesehatan

2006 Pendidikan

2007

Administrasi Umum
Sumber: Berdasarkan data yang dilaporkan dalam Bank Dunia (2008).

6 persen% dari total sampai tahun 2005, tetapi kemudian meningkat tajam menjadi 9 persen pada 2007. Sektor kesehatan dan programprogram bantuan sosial merupakan penerima manfaat utama dari peningkatan pengeluaran, yang terakhir meningkat dari 3 persen pada tahun 2001 menjadi 10 persen pada tahun 2007. Berkaitan dengan tiap-tiap sektor, bagian terbesar dari pengeluaran agregat adalah untuk administrasi pemerintah, biasanya sekitar 35 - 40 persen dari total tetapi turun pada tahun 2007 menjadi 31 persen ketika pendapatan dan pengeluaran meningkat. Sementara itu, bagian pengeluaran untuk tiga sektor yang merupakan dukungan bagi pembangunan ekonomi (pekerjaan umum, pertanian dan industri) terus menurun dari 25 persen pada tahun 2001 menjadi 15 persen pada tahun 2004, tetapi kemudian pada tahun 2007 kembali ke titik dimana bagian pengeluaran tersebut dimulai enam tahun sebelumnya. Sementara Tabel 6.1 menunjukkan bagian pengeluaran agregat pemerintah daerah, tren bagian pengeluaran provinsi dan kabupaten dan kota ditunjukkan secara terpisah pada Gambar 6.3 dan 6.4 untuk administrasi umum, kesehatan dan pendidikan. Bagian pengeluaran untuk administrasi umum telah mengalami peningkatan dan penurunan, barangkali yang menunjukkan sifat pola-pola pengeluaran yang tak terselesaikan pada masa transisi fiskal. Pengeluaran provinsi untuk administrasi dua kali lipat dari seperempat dari total pada
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

tahun 2001 menjadi hampir setengah pada tahun 2006, sebelum turun kembali menjadi kurang dari 30 persen pada tahun berikutnya, sedangkan belanja kabupaten dan kota dimulai sebesar 42 persen pada tahun 2001, turun tajam sampai kurang dari 30 persen pada dua tahun berikutnya, baru meningkat lagi hampir 35 persen setelah itu. Bagian pengeluaran untuk pendidikan mengikuti pola yang sama baik untuk provinsi maupun kabupaten dan kota, yang naik dari di bawah 20 persen sampai dengan yang tertinggi sebesar 30 persen dan 35 persen pada tahun 2003, baru turun kembali pada tahun-tahun berikutnya menjadi 25 persen di kabupaten dan kota, tetapi jauh lebih tajam menjadi 10 persen untuk provinsi tersebut. Sementara itu, bagian pengeluaran untuk sektor kesehatan juga mengikuti pola-pola yang sama untuk kedua kasus, yang bergerak naik turun sekitar 5 persen pada permulaan dan meningkat secara perlahan sampai 9 atau 10 persen pada tahun 2007.

6.2.2 Pengeluaran Sektor Per Kapita
Sementara analisa sebelumnya mengkaji perubahan-perubahan pada bagian pengeluaran total sektor, konsekuensi terhadap orang-orang lebih tepat digambarkan dengan analisa perubahan berkaitan dengan pengeluaran per kapita kabupaten dan kota selama kurun waktu 2001 sampai 2007. Untuk menyamakan perubahan-perubahan besar dari satu tahun ke
103

Tabel 6.2

Pengeluaran per Kapita menurut Sektor bagi Kabupaten dan Kota di Aceh 2001 - 2007 (Rp tetap 2006) 2001-02 (Rp bn) Per kapita (Rp 000s) 1,417 500 192 71 359 130 69 50 46 606 311 2006-07 (Rp bn) 4,130,960 8,439 2,753 1,349 708 2,150 209 461 108 701 3,768 1,918 2,043 666 326 171 521 51 112 26 170 912 464 Per kapita (Rp 000s) Persen perubahan per kapita 4% 44% 33% 70% 141% 45% -61% 62% -48% 268% 51% 49%

Estimasi jumlah penduduk Total pengeluaran Pengeluaran menurut sektor A. Administrasi Pemerintah B. Pekerjaan Umum dan Transportasi C. Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat D. Pendidikan dan Kebudayaan E. Perumahan, Tenaga Kerja dan Sosial F . Pertanian, Kehutanan, dll G. Industri, Perdagangan, dll H. Bantuan Sosial, Hibah, dll Subtotal sektor sosial (C,D,E,H) Subtotal sektor ekonomi (B,F,G)

3,974,968 5,633 1,988 763 283 1,426 517 275 198 183 2,409 1,236

Sumber: Berasal dari Bank Dunia, Aceh public expenditure analysis update 2008, Jakarta, Bank Dunia, 2008; tabel C.6 dan C.7.

tahun berikutnya, rata-rata pengeluaran dalam dua tahun pertama dibandingkan dengan ratarata pengeluaran dalam dua tahun terakhir. Estimasi jumlah penduduk pada setiap tahun didasarkan pada rata-rata pertumbuhan tahunan yang tercatat antara dua sensus penduduk pada tahun 2000 dan 2005, sebesar 0,85 persen. Sebagaimana didiskusikan sebelumnya, rendahnya angka pertumbuhan penduduk di Aceh dalam beberapa tahun terakhir ini mungkin sebagian besar disebabkan oleh migrasi keluar, yang telah memperlambat atau mungkin sebaliknya sejak Kesepakatan Damai tahun 2005. Bahkan jika ini yang menjadi masalah, rendahnya angka tersebut secara signifikan tidak akan mempengaruhi gambaran keseluruhan. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah besarnya peningkatan keseluruhan pengeluaran per kapita sebagai akibat dari besarnya peningkatan sumberdaya fiskal yang ada untuk kabupaten dan kota. Peningkatan ini naik sebesar 44 persen dari Rp 1,4 juta pada awal periode menjadi lebih dari Rp 2,0 juta pada akhir periode. (Lihat Tabel 6.2). Pengeluaran per kapita untuk administrasi pemerintahan naik sebesar sepertiga (33 persen), sebagian karena penambahan 10 kabupaten baru selain 13 yang sudah ada pada tahun 2001. Sementara perubahan-perubahan besar terjadi pada tiap-tiap sektor, pengeluaran agregat untuk program-program sosial dan programprogram ekonomi keduanya meningkat dengan jumlah yang hampir sama, kira-kira 50 persen.
104

Di sektor sosial, kenaikan terbesar dalam pengeluaran per kapita terjadi pada kategori H (Bantuan Sosial, dll), naik lebih dari tiga kali lipat dari Rp 46.000 pada tahun 2001 / 02 sampai Rp 170.000 pada tahun 2006 / 07. Kenaikan ini meliputi baik program-program bantuan sosial nasional maupun provinsi, yang berkembang pesat selama tahun-tahun ini. Keuntungan besar juga ditunjukkan untuk sektor kesehatan, naik 141 persen, yang sebelumnya telah menerima dana cukup. Sebagai perbandingan, pengeluaran per kapita untuk pendidikan naik relatif cukup sebesar 45 persen, meskipun peningkatan pengeluaran aktual jauh lebih besar, Rp 734.000 dibanding Rp 425.000 untuk kesehatan, karena ini dimulai dari dasar yang jauh lebih tinggi. Di sisi lain, pengeluaran per kapita untuk kategori E (perumahan, tenaga kerja dan sosial) turun secara dramatis, kira-kira 61 persen atau Rp 308.000, yang mungkin disebabkan oleh investasi besar oleh BRR dan donor lainnya dalam membangun kembali rumahrumah yang hancur atau rusak oleh tsunami. Dalam sektor ekonomi, kenaikan pengeluaran per kapita terbesar terjadi pada kategori B (infrastruktur dan transportasi), kira-kira 70 persen atau Rp 586.000. Kenaikan ini penting untuk meningkatkan akses fisik dan mengurangi biaya bagi orang-orang di daerah-daerah lebih terpencil, meskipun apakah dana yang digunakan untuk tujuan ini memerlukan analisa lebih lanjut. Pengeluaran per kapita pada kategori F (sektor pertanian dalam pengertian
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Gambar 6.5

Rata-rata Pengeluaran Publik per Kapita menurut Kabupaten di Aceh 2006-2007 (Rp 000s)

N

SABANG

W

E

S

BANDA ACEH ACEH BESAR LHOKSUMAWE ACEH UTARA BENER MERIAH

PIDIE ACEH JAYA

BIREUEN

ACEH TIMUR KOTA LANGSA ACEH TAMIANG GAYO LUES

ACEH BARAT

ACEH TENGAH

NAGAN RAYA

ACEH BARAT DAYA

ACEH TENGGARA

ACEH SELATAN

SIMEULUE ACEH SINGKIL

ACEH SINGKIL LEGENDA Sektor (Kesehatan dan Pendidikan) 1277 - 1519 1519 - 1967 1967 - 2479 2479 - 3617 3617 - 8983
Sumber: BPS

luas) juga meningkat selama tahun-tahun yang dilaporkan, kira-kira 62 persen tetapi hanya sebesar Rp 186.000, yang tidak akan menimbulkan dampak besar terhadap pemulihan ekonomi di sektor ini. Sebaliknya, pengeluaran untuk kategori G (industri dan perdagangan) turun hampir setengah, kira-kira 48 persen atau Rp 90.000 per kapita. Penurunan ini sebagian karena kecilnya jumlah orangLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

orang yang bekerja di sektor tersebut dan karena penurunan di sektor minyak dan gas. Selain itu, penurunan tersebut juga mencerminkan adanya kesulitan dalam menarik investasi swasta. Ini merupakan contoh nyata tentang pengeluaran yang tidak sesuai dengan retorika pengembangan industri berbasis agro dan penciptaan kesempatan kerja di sektor tersebut yang harus dibicarakan agar investasi dapat berjalan.
105

6.3. Pengeluaran menurut Kabupaten

pengeluaran per kapita di kabupaten-kabupaten baru sekitar 50 persen lebih dari kelompokkelompok lainnya (Rp 1,6 juta dibandingkan Sementara pengeluaran publik agregat menurut sektor memberikan gambaran umum yang dengan plus atau minus Rp 1,0 juta dalam dua kelompok lainnya). Rata-rata pengeluaran per tepat, analisa yang lebih rinci tentang pengeluaran oleh pemerintah kabupaten dan kota kapita tertinggi adalah untuk pendidikan (22% menunjukkan prioritas relatif yang mereka be- dari total), diikuti dengan infrastruktur (17%) rikan pada tiap-tiap sektor. Sekali lagi, bahkan dan kesehatan (hanya 8%). untuk tahun-tahun yang berbeda, pengeluaran dianggap sedang selama dua tahun terakhir yang datanya tersedia, 2006 dan 2007. Dua 6.3.1 Pengeluaran untuk Pendidikan kabupaten yang baru terbentuk, Pidie Jaya dan Preferensi budaya rakyat Aceh untuk pendiSubulussalam, diabaikan karena tidak ada data. Rata-rata tingkat pengeluaran per kapita dikan di semua jenjang didukung oleh tingkat untuk semua kabupaten yang dimasukkan da- pengeluaran publik yang relatif tinggi untuk pendidikan. Bahkan sebelum UUPA, yang lam analisa ini adalah sebesar Rp 2,2 juta untuk mengharuskan agar 30 persen pendapatan semua sektor gabungan. (Lihat Lampiran A: Tabel 6.2). Tingkat pengeluaran ini berkisar dari tambahan dialokasikan untuk pendidikan, yang tinggi di Sabang sebesar lebih dari empat pemerintah-pemerintah daerah di Aceh sudah kali rata-rata, sampai yang rendah di Pidie ku- menunjukkan prioritas pengeluaran publik rang dari 60 persen dari rata-rata. Kabupaten- untuk sektor tersebut. Dengan demikian pada kabupaten di bawah rata-rata diarsir dengan tahun 2004 sebelum tsunami, Kesepakatan warna merah. Sabang melebihi semua kabupa- Damai atau UUPA, Aceh mengeluarkan sebesar 31,4 persen dari anggaran untuk pendidikan ten lainnya di Aceh, hampir untuk semua indidibandingkan dengan 28,8 persen di Indonesia. kator pengeluaran karena pendapatan per kapitanya yang tinggi, seperti yang ditunjukkan pada Estimasi Bank Dunia menunjukkan bahwa perGambar 6.5. Pengeluaran tertinggi terdapat bedaan dalam pembangunan jika dibandingkan di kota-kota, terutama Sabang, sekitar Rp 4,0 dengan pengeluaran rutin untuk pendidikan adalah jauh lebih besar: 32,9 persen untuk Aceh juta per kapita, diikuti oleh kelompok kabupaten-kabupaten baru sebesar Rp 3,2 juta, dibandingkan dengan 16,6 persen di Indonesia. Seperti indikator-indikator lainnya, ratadengan kabupaten-kabupaten lama yang rata pengeluaran per kapita untuk pendidikan berada di belakangnya di bawah Rp 2,0 juta. Berkaitan dengan daerah-daerah, pengeluaran di Aceh menunjukkan beberapa perbedaan di antara kabupaten-kabupaten. (Lihat Gambar per kapita tertinggi terdapat di Aceh Bagian Barat dan Selatan Aceh (Rp 2,8 juta), diikuti 6.6.) Akan tetapi, tidak seperti indikator-indiAceh Bagian Tengah (Rp 2,6 juta) dan Aceh kator lainnya, rata-rata pengeluaran ini relatif sama kecuali pada dua perbedaan yang besar. Bagian Utara dan Timur (Rp 1,8 juta). Kondisi ini mencerminkan data tentang pendapatan Untuk sebagian besar tempat yang berada di bagian tengah, pengeluaran sebesar kira-kira per kapita yang disajikan pada Lampiran A: Tabel 6.1 dan menunjukkan dengan jelas Rp 500.000 per kapita, sedikit lebih tinggi bahwa pengeluaran berbanding terbalik pada tahun 2007. Pengeluaran tertinggi terjadi dengan beberapa indikator pembangunan di Sabang, diikuti Aceh Jaya, Banda Aceh dan yang dibahas pada Bab 3, yang merupakan Nagan Raya, dan terendah di Aceh Singkil, akibat langsung dari hasil pengalokasian Aceh Timur dan Simeulue. Perhatian utama dalam meningkatkan lasumberdaya fiskal yang dijelaskan di atas. yanan pendidikan di Aceh tidak meningkatkan Rata-rata tingkat pengeluaran gabungan angka melek huruf secara keseluruhan atau bahuntuk tiga sektor utama - kesehatan, pendidikan kan angka partisipasi, tetapi memastikan bahwa dan infrastruktur – berjumlah hanya di atas anak-anak di setiap tempat memiliki akses ke Rp 2,0 juta per kapita atau hampir setengah pendidikan dengan mutu yang baik. Pendidikan dari total pengeluaran. Rasio ini sedikit berbeda antara kota dan kabupaten, meskipun rata- seperti ini meliputi fasilitas fisik yang dipelihara dengan baik, guru yang memenuhi syarat, ukurrata pengeluaran nyata lebih tinggi di kota-kota, terutama Sabang, dan lebih rendah di kabupa- an kelas yang layak dan staff pengelola yang ten-kabupaten lama. Jika Sabang dihapus, kompeten. Pemerintah sedang dalam proses
106
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Peningkatan akses merupakan salah satu unsur dalam peningkatkan kualitas layanan kesehatan. Terkait masalah besar lainnya adalah membujuk para dokter dan staff profesional lain untuk bekerja di daerah-daerah yang kurang berkembang, disertai dengan penyediaan pasokan dan peralatan yang layak.

Gambar 6.6

Pengeluaran Pendidikan Per Kapita menurut kabupaten di Aceh, 2006 & 2007 2007 2006

Kota Sabang Aceh Jaya* Kota Banda Aceh Nagam Raya* Aceh Barat Daya* Aceh Barat Kota Lhokseumawe* Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tamiang* Aceh Besar Kota Langsa* Gayo Lues* Aceh Selatan Bireuen Pidie Aceh Utara Aceh Tenggara Aceh Singkil Aceh Timur Simeulue 0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 Rupiah at 2006 prices
Sumber: Kalkulasi staff Bank Dunia berdasarkan data Depkeu (harga 2006 tetap)

pengenalan kumpulan standar-standar kinerja tetapi, sebagai bagian dari total pengeluaran yang lebih baik dan sistem penganggaran dan kabupaten dan kota saja, pengeluaran tersebut manajemen yang berorientasi pada pencapaian juga telah meningkat dalam beberapa tahun dan peningkatan standar-standar tersebut. terakhir, naik dari 6,3 persen (atau Rp 105.000 Pengadopsian penganggaran berbasis kinerja per kapita berdasarkan harga-harga tahun oleh Dinas Pendidikan Provinsi merupakan 2006) pada tahun 2004 menjadi 8,1 persen inovasi penting dan menjadi sesuatu yang (atau Rp 253.000 per kapita) pada tahun dapat ditiru dan contoh yang harus diikuti oleh 2007, tetapi pengeluaran ini masih lebih rendepartemen-departemen lain di tingkat provinsi dah dibandingkan dengan 17 persen di bidang dan kabupaten. Akan tetapi, untuk mencapai infrastruktur dan 22 persen di bidang pentujuan-tujuan yang diharapkan, alokasi dari dana didikan. (Lihat Tabel 6.4). Otsus diperlukan untuk memastikan bahwa Pertanyaan yang muncul di sini adalah semua kabupaten memiliki sumberdaya yang apakah kabupaten dan kota menggunakan dana diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. yang tersedia untuk mengatasi kekurangan layanan kesehatan. Jika prosentase jumlah penduduk yang tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan digunakan sebagai ukuran, 6.3.2 Pengeluaran untuk Kesehatan jawabannya adalah ya dalam keadaan tertentu Seperti ditunjukkan pada Tabel 6.2, pengeluardan tidak dalam keadaan lainnya. Kabupatenan agregat untuk sektor kesehatan oleh semua kabupaten dengan akses buruk ke fasilitas pemerintah daerah di Aceh gabungan telah kesehatan tetapi dengan pengeluaran per kapita meningkat secara cukup signifikan, naik dari tinggi, (yang terkumpul pada kuadran bagian Rp 283.000 per kapita pada tahun 2001-02 kanan atas Gambar 6.7), meliputi Aceh Jaya, menjadi Rp 708.000 pada tahun 2006-07. Aceh Barat, Bener Meriah, Aceh Tamiang Sebagian besar pengeluaran dan sebagian dan Nagan Raya. Kecuali untuk Aceh Barat, besar peningkatan berasal dari pemerintah yang lain-lainnya semuanya adalah kabupatenprovinsi. Rata-rata pengeluaran kabupaten kabupaten baru. Kabupaten-kabupaten dengan dan kota pada tahun 2006-07 hanya sebesar akses buruk ke fasilitas kesehatan tetapi pengeRp 253.000, hampir sepertiga dari total. Akan luaran per kapita rendah, (yang terkumpul pa107

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

da kuadran kiri atas Gambar 6.6), meliputi Gayo Lues, Aceh Timur dan Aceh Utara. Tidak diragukan lagi, Gambar tersebut tampak berbeda jika ukuran-ukuran lain digunakan, tetapi dapat dipastikan bahwa akses merupakan aspek penting dalam mengurangi kemiskinan dan memastikan bahwa mereka yang tinggal di daerah-daerah yang lebih terpencil dan berpenduduk jarang mendapatkan perhatian medis jika mereka membutuhkannya. Peningkatan akses tentu saja hanya merupakan salah satu unsur dalam peningkatkan kualitas layanan kesehatan. Mengenai pendidikan, masalah besar adalah membujuk para dokter dan staff profesional lain untuk bekerja di daerah-daerah yang kurang berkembang, disertai dengan penyediaan pasokan dan peralatan yang layak. Fasilitas fisik nampaknya tidak terlalu menjadi persoalan karena adanya dukungan baru-baru ini yang diberikan oleh para donor dalam merehabilitasi dan membangun kembali fasilitas kesehatan yang rusak atau hancur selama konflik dan tsunami. Salah satu gagasan yang perlu dipertimbangkan, seperti yang diusulkan pada Bab 5, adalah untuk membentuk forum-forum stakeholder bagi fasilitas kesehatan, mengalokasikan dana untuk setiap forum, dan memungkinkan forum-forum tersebut untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dengan cara yang paling tepat. Forum-forum seperti ini perlu melibatkan wakil-wakil dari staff medis,

pengguna dan dinas kesehatan pemerintah daerah.

6.4. Kesimpulan
Bab ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tujuan pemerintah tercermin dalam alokasi sumberdaya dan pengeluaran publik. Riset lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji berbagai tujuan dan prioritas kebijakan khusus secara lebih mendalam, seperti tujuan dan prioritas yang disebutkan dalam Kerangka Kerja Pemulihan Aceh terkait dengan proses perdamaian, hak asasi manusia, reintegrasi mantan pejuang GAM, pemberian layanan publik dan pembangunan ekonomi. Namun demikian, beberapa hal berikut perlu diperhatikan. · Berkaitan dengan alokasi sumberdaya, prosedur-prosedur yang diadopsi saat ini oleh pemerintah pusat pada dasarnya bertujuan untuk memastikan distribusi sumberdaya yang adil di antara pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Beberapa orang berpendapat untuk memasukkan faktor-faktor yang mencerminkan tujuan-tujuan bagi pembangunan manusia, pengentasan kemiskinan, atau prioritas-prioritas kebijakan lainnya. Akan tetapi, ada kesepakatan kecil tentang indikator-indikator mana saja yang layak, atau apakah indikator-indikator

Gambar 6.7 30 PopulasiTanpaAkseskeFasilitasKes ehatan 25 20 15 10 5 0 50

Pengeluaran per Kapita dan Akses ke Fasilitas Kesehatan menurut Kabupaten di Aceh, 2007

100

150

200

250

300

350

Pengeluaran perkapita dan akses ke fasilitas kesehatan (Rp 000s)
Sumber: Berasal dari Bank Dunia, Aceh public expenditure analysis update 2008, Jakarta, Bank Dunia, 2008; tabel C.8
dan Dinas Kesehatan, Aceh sebagaimana dikutip oleh database AcehInfo.

108

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

tersebut secara akurat mencerminkan kondisi di lapangan, dan dalam praktek indikator-indikator ini mungkin tidak memberikan hasil yang diharapkan. Terlepas dari semua ini, seperti yang terlihat di atas, formula alokasi saat ini sungguh-sungguh memberikan hasil yang setidaknya di Aceh pada umumnya mendukung kabupaten-kabupaten yang kurang berkembang, meskipun tidak semuanya. · Hal ini tercermin dari hasil yang ditunjukkan pada Tabel 6.1, dan 6.4 yang mengindikasikan bahwa baik rata-rata pendapatan maupun pengeluaran per kapita untuk kabupaten-kabupaten baru dalam beberapa tahun terakhir adalah kira-kira 50 persen lebih besar daripada kabupaten-kabupaten lama dimana kabupaten-kabupaten baru tersebut terbentuk. Terlepas dari pandangan yang dipertahankan secara luas bahwa tujuan utama pembentukan kabupaten-kabupaten baru adalah untuk meningkatkan kekuasaan elit setempat, bukti secara jelas mendukung pendapat bahwa pemekaran kabupaten-kabupaten yang luas menjadi kabupaten-kabupaten yang lebih kecil menghasilkan sumberdaya fiskal yang lebih besar dan kesempatan-kesempatan yang berpotensi lebih besar untuk meningkatkan layanan setempat. · Perkembangan kabupaten-kabupaten baru di Aceh merupakan faktor utama terhadap peningkatan pengeluaran yang besar untuk administrasi pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, tetapi peningkatan ini pada umumnya dikaburkan oleh kenaikan pendapatan fiskal yang lebih besar. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.2, pengeluaran untuk administrasi pemerintah merupakan proporsi yang lebih kecil dari total pengeluaran gabungan pada tahun 2007 dibandingkan dengan pengeluaran pada sebagian besar tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, secara nyata pengeluaran tersebut meningkat kira-kira 8,0 persen per tahun antara tahun 2001 dan 2007, dan dalam per kapita sebesar lebih dari sepertiga. (Lihat Tabel 6.3). · Meskipun pemerintah pusat telah menyatakan keprihatinannya tentang perkembangan besar kabupaten-kabupaten baru di seluruh Indonesia sejak diberlakukannya undang-undang tentang otonomi daerah pada tahun 1999, penyebab utama adalah insentif-insentif yang kurang hati-hati tetapi besar yang dimasukkan dalam formula bagi
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

·

·

·

·

·

pengalokasian dana dari DAU. Diskusi terbaru tentang pokok persoalan tersebut dapat menimbulkan pemikiran kembali tentang formula untuk mengurangi insentifinsentif ini, yang menyatakan bahwa bagian dari biaya-biaya yang lebih besar harus ditanggung oleh pemerintah daerah sendiri di masa depan. Hingga diperkenalkannya dana Otsus pada tahun 2008, pemerintah provinsi tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap alokasi sumberdaya di antara kabupaten dan kota di Aceh, hanya karena sebagian besar sumberdaya berasal dari pemerintah pusat. Kondisi ini sekarang berubah bahwa dana Otsus merupakan kira-kira 20 persen atau lebih dari total pendapatan fiskal di Aceh. Rekomendasi: Pemerintah provinsi sebaiknya melakukan riset yang lebih mendalam untuk menentukan formula yang tepat bagi pengalokasian dana Otsus yang mencapai tujuan-tujuan kebijakan bagi distribusi yang adil. Dimasukkannya faktor-faktor seperti IPM atau sesuatu yang serupa dalam formula alokasi secara material tidak akan mempengaruhi distribusi sumberdaya di antara kabupaten dan kota, karena alokasi dasar dan faktorfaktor yang berkaitan dengan jumlah penduduk dan daerah geografis mempengaruhi hasil yang jauh lebih besar. Sebaliknya, pemerintah provinsi sebaiknya memberikan fokus yang lebih besar pada penerapan prioritas-prioritas kebijakan melalui instrumen-instrumen lainnya yang berkaitan dengan pengeluaran. Instrumen-instrumen ini meliputi petunjuk tentang preferensi penggunaan sumberdaya dana Otsus, indikator kinerja, dan sebagian besar secara langsung melalui proses persetujuan proposal dari kabupaten dan kota untuk penggunaan pendapatan dana Otsus. Pemerintah provinsi dan kabupaten sebaiknya menggunakan ukuran-ukuran yang dimasukkan dalam IPM, IPG, UPG dan IKM untuk menentukan indikator-indikator kinerja yang tepat bagi pengeluaran bukan dalam pengalokasian sumberdaya. Proses persetujuan proposal mengasumsikan bahwa pemerintah provinsi memiliki kapasitas yang diperlukan untuk mengkaji ulang proposal secara tepat waktu, memberikan dukungan teknis kepada kabupaten dan kota, dan memantau implementasiny. Awalnya, departemen-departemen provinsi me109

merlukan dukungan teknis dari luar untuk prioritas kebijakan, penetapan target-target tujuan ini, yang serupa dengan Konsultan kinerja yang akan dicapai dalam kerangka Manajemen Proyek yang terkait dengan waktu tertentu, biasanya tahun anggaran; Fasilitas Finansial Pengembangan Ekonomi penggabungan indikator-indikator ini da(EDFF). lam anggaran dan penghitungan sumber· Pemerintah provinsi sebaiknya memperkuat daya yang diperlukan untuk mencapai kapasitas departemen-departemen utama target-target tersebut; pengawasan ketat untuk melakukan pengkajian ulang secara atas pencairan dana sesuai dengan targetefektif terhadap proposal-proposal kabutarget yang disepakati, dan terakhir pemanpaten bagi penggunaan dana Otsus dan tauan yang efektif untuk menentukan sejauh untuk memantau implementasinya. Tanpa mana hasil atau dampak yang ditargetkan langkah-langkah ini, akan muncul resiko telah tercapai. bahwa kabupaten dan kota hanya akan · Sejak beberapa donor telah menunjukkan perhatian yang besar terhadap isu tersebut, menggunakan dana Otsus untuk tujuan mereka sendiri dengan mengorbankan priopemerintah provinsi sebaiknya memperritas-prioritas kebijakan yang lebih besar. timbangkan penggunaan sebagian dana · Provinsi dan kabupaten sebaiknya mengOtsus untuk mendapatkan dukungan tekadopsi prinsip-prinsip penganggaran berbanis guna memperkenalkan dan mengimplesis kinerja untuk memastikan bahwa pengementasikan konsep penganggaran berbasis luaran tersebut benar-benar diarahkan pada kinerja pada bidang yang jauh lebih luas, di pencapaian tujuan-tujuan yang lebih besar antara departemen-departemen kunci baik bagi pembangunan manusia. pemerintah provinsi maupun kabupaten · Penganggaran ini berbeda sekali dengan dan kota. Upaya-upaya untuk memperpraktek saat ini dalam penyusunan angkenalkan konsep tersebut di departemengaran, yang biasanya ditandai dengan penyedepartemen pemerintah daerah di Aceh suaian “tambahan” terhadap pola-pola pesejauh ini telah memberikan hasil yang ngeluaran yang ditetapkan sebelumnya. biasa. Sebagian besar pejabat pemerintah tiPenganggaran berbasis kinerja memerlukan dak mengetahui ide tersebut dan tidak beberapa langkah, yang meliputi: pertama mempunyai keahlian dalam menerapkan penentuan indikator-indikator yang akan konsep tersebut. digunakan untuk mencerminkan prioritas-

110

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

7

Kesimpulan dan Rekomendasi

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

111

112

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

BAB

7
Rakyat Aceh dan pihak-pihak yang telah membantu mereka, telah mencapai pemulihan luar biasa yang mungkin tidak dibayangkan atau diharapkan pada saat itu.

Kesimpulan dan Rekomendasi

7.1. Kesimpulan Dalam dekade terakhir telah terjadi baik kemajuan maupun kemunduran dalam mempromosikan pembangunan manusia dan keadilan sosial di Aceh. Dibandingkan dengan situasi segera setelah tsunami pada bulan Desember 2004, rakyat Aceh, dan pihak-pihak yang telah membantu mereka, telah mencapai pemulihan luar biasa yang mungkin tidak dibayangkan atau diharapkan pada saat itu. Pemulihan ini tidak hanya berlaku untuk pembangunan kembali struktur fisik, tetapi juga untuk pembaruan struktur sosial yang mengalami kerusakan sangat parah karena masa-masa konflik. Terlepas dari adanya kekhawatiran, Kesepakatan Damai tersebut telah dipegang secara kuat dan sebagian besar ketentuan telah dihormati.
Reintegrasi para mantan pejuang GAM pada umumnya dianggap berhasil, meskipun masih tetap ada berbagai persoalan. Para mantan pejuang telah disambut kembali dengan baik di dalam masyarakat, tetapi reintegrasi yang lebih mendalam belum tercapai di beberapa tempat. Sebagian besar dari mereka sekarang mempunyai pekerjaan yang menguntungkan. Mereka telah kembali pada pekerjaan-pekerjaan yang mereka lakukan sebelum terlibat dalam konflik, khususnya di perkebunan dan sebagai pekerja upah harian. Dalam pemilu belakangan ini, para mantan pejuang GAM berpartisipasi secara luas, dan memenangkan banyak posisi sebagai wakil-wakil majelis dan pemimpin pemerintahan, yang menjadi tanda baik bagi penghapusan ketegangan dan pemeliharaan perdamaian di masa mendatang. Akan tetapi perampasan dan kekerasan tetap menjadi persoalan. Dengan bantuan yang sangat besar dari masyarakat internasional, kehancuran dan kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam sebagian besar telah diperbaiki, meskipun banyak rumah, pertanian dan fasilitas di daerah-daerah yang terkena dampak konflik masih harus direhabilitasi. Sebagian besar orang yang mengungsi akibat konflik dan bencana telah diberikan tempat tinggal yang baru, meskipun masih banyak yang memerlukan bantuan dalam menghadapi trauma yang mereka alami. Akan tetapi, hasil-hasil ini tidak tercermin dalam tiga dari empat indikator pembangunan yang diuraikan dalam laporan ini. IPM, IPG dan UPG semuanya menunjukkan kemunduran dari tingkat-tingkat yang telah dicapai sebelumnya, khususnya yang berkaitan dengan gender, sebagian besar karena pendapatan pribadi yang lebih rendah sebagaimana diukur dengan pengeluaran. Hanya IKM menunjukkan peningkatan dalam mengurangi kemiskinan, seperti halnya angka kemiskinan, yang mencerminkan proporsi penduduk dengan pendapatan (baca pengeluaran) di bawah ambang batas yang cukup untuk menutup biaya-biaya hidup dasar. Langkah penanggulangan kemiskinan lebih lambat dibandingkan di tempat lain, dengan hasil bahwa Aceh saat ini menempati peringkat di antara provinsi-provinsi termiskin di Indonesia. Pengentasan kemiskinan di Aceh masih menjadi masalah utama, khususnya di Aceh Bagian Barat dan Selatan. Dari 8 kabupaten di Aceh Bagian Barat dan Selatan, 7 menunjukkan angka kemiskinan di atas rata-rata untuk provinsi. Meskipun program-program jaring pengaman sosial memberikan manfaat bagi
113

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

masyarakat miskin, tetapi banyak orang masih belum dapat memperoleh program tersebut, seringkali karena alasan-alasan administrasi. Posisi perempuan dalam masyarakat Aceh telah mengalami kemajuan dalam beberapa hal, tetapi beberapa indikator menunjukkan kemunduran di daerah-daerah lain. Masuknya lembaga-lembaga internasional setelah tsunami membantu mengembangkan kapasitas organisasi masyarakat sipil tentang keadilan gender, dan ada interaksi dan kerja sama yang lebih besar antara lembaga-lembaga tersebut dan pemerintah untuk isu-isu ini. Pengadilan Syariah telah membantu untuk memajukan hak-hak perempuan tentang warisan dan tanah, tetapi beberapa orang menyatakan bahwa interpretasi hukum Syariah Aceh dianggap sempit dan konservatif. BRR dan BPN menetapkan kebijakan untuk Pendaftaran Bersama Harta Perkawinan, tetapi kebijakan tersebut mengalami sukses yang berbeda. Di sisi lain, IPG dan UPG menyatakan tren yang mengecewakan selama bertahun-tahun. Meskipun partisipasi mereka dalam angkatan kerja terus meningkat sampai yang tertinggi sebesar 40 persen pada tahun 2002, tetapi sejak saat itu turun kembali sedikit, sebagian karena kembalinya para mantan pejuang GAM ke dalam keluarga. Kontribusi mereka terhadap pendapatan keluarga menurun dan rata-rata tingkat upah lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki di sebagian besar kabupaten di Aceh. Partisipasi mereka dalam majelis lokal meningkat sampai 2008, tetapi sejak saat itu turun lagi. Yang lebih serius adalah bahwa perempuan menempati posisi senior dengan proporsi yang kecil, dan sebagian besar masih kurang terwakili dalam pengambilan keputusan di tingkat masyarakat. Laki-laki dalam kekerasan rumah tangga perempuan juga masih menjadi perhatian utama dalam keluargakeluarga di Aceh. Berakhirnya konflik sekali lagi telah memungkinkan untuk meningkatkan pemberian layanan publik. Akan tetapi, kepadatan penduduk yang rendah di banyak daerah membuat sulit dan mahal untuk memperluas jangkauan layanan ini ke orang-orang yang tersebar di antara kira-kira 6.000 desa kecil. Data tentang sektor pendidikan menunjukkan bahwa Aceh memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia menurut beberapa ukuran, meskipun manfaat-manfaat selanjutnya semakin sulit tercapai. Mutu pendidikan masih menyisakan banyak hal yang akan diperlukan, khusus114

nya dalam pelatihan kejuruan untuk membekali para lulusan sekolah guna mencari pekerjaan. Akses ke pendidikan, khususnya bagi masyarakat miskin, telah dipermudah dengan pengenalan uang sekolah gratis untuk semua siswa yang bersekolah di SD dan SMP, dan rencanarencana juga sedang dibahas untuk mengembangkan sekolah menengah atas. Di sektor kesehatan, harapan hidup meningkat dan kematian bayi menurun, tetapi masih tinggi di beberapa daerah, terutama daerah Aceh Bagian Barat dan Selatan. Gizi kurang (malnutrisi) mengalami penurunan kecil tetapi tidak secepat provinsi-provinsi lainnya, dan imunisasi tetap di bawah rata-rata nasional. Sekarang ini pemberian layanan mencakup sebagian besar provinsi, meskipun kualitas layanan tidak merata sebagian karena pengelolaan yang buruk. Pengenalan perawatan kesehatan gratis pada tahun 2009 meningkatkan aksesibilitas, khususnya bagi masyarakat miskin, tetapi sejauh ini alokasi anggaran belum meingkat untuk mengatasi meningkatnya permintaan. Akses ke keadilan mengalami peningkatan, meskipun berbagai hambatan masih tetap ada karena kurangnya informasi tentang opsi-opsi hukum dan ketidakpastian dan ketidaksesuaian putusan-putusan pengadilan, khususnya dalam sistem formal karena suap dan korupsi. Pengadilan Syariah telah mendukung hak-hak perempuan yang berkaitan dengan perceraian dan tanah. Meskipun ada dorongan sementara dari program-program rekonstruksi, tetapi ekonomi lokal dianggap lemah. Penurunan industri minyak dan gas tidak diimbangi dengan keuntungan-keuntungan pada komponen-komponen ekonomi lainnya, walaupun produktivitas di sektor pertanian menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tingkat partisipasi angkatan kerja rendah dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya, yang menekankan perlunya untuk menciptakan kesempatan kerja produktif. Investasi diabaikan karena kurangnya keamanan, pemerasan dan kekacauan atas kewenangan pemerintah untuk mengeluarkan izin dan lisensi bagi kegiatan usaha. Aceh, bersama dengan daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia, telah menunjukkan hasil yang mengesankan dalam partisipasi di bidang politik dan dalam pembangunan masyarakat. Yang sangat penting adalah pengenalan program-program yang memberdayakan masyarakat dengan memberikan dana hibah kepa-

Yang sangat penting adalah pengenalan programprogram yang memberdayakan masyarakat dengan memberikan dana hibah kepada forumforum lokal, dan memungkinkan mereka untuk memutuskan bagaimana menggunakan dana tersebut.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

da forum-forum lokal, dan memungkinkan mereka untuk memutuskan bagaimana menggunakan dana tersebut. Manfaat besar dari Kesepakatan Damai adalah peningkatan sumberdaya fiskal secara besarbesaran untuk Aceh yang sebagian besar berasal dari pengenalan Dana Otonomi Khusus pada tahun 2008. Hal ini menyebabkan besarnya kenaikan pengeluaran publik untuk semua sektor, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Peningkatan pendanaan lebih dari mengimbangi biaya-biaya administrasi tambahan yang muncul karena perkembangan kabupatenkabupaten baru sejak tahun 1999, dan menciptakan kesempatan untuk mengatasi kekurangan dalam pemberian layanan publik. Akan tetapi, peningkatan proses perencanaan dan penganggaran diperlukan untuk memastikan bahwa sumberdaya ditargetkan secara efektif terhadap prioritas-prioritas pembangunan.

konflik dan tsunami. Tujuan-tujuan ini adalah untuk: · Memberdayakan Masyarakat bagi Pembangunan · Memastikan Manfaat bagi semua Orang · Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik · Meningkatkan Lapangan KerjaProduktif · Menggabungkan Mitigasi Bencana dengan Program-program Lingkungan. · Menggunakan Sumberdaya Publik secara lebih tepat Bagian selanjutnya menjelaskan unsur-unsur strategi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

7.2.1 Memberdayakan Masyarakat untuk Pembangunan

Barangkali, salah satu instrumen yang paling efektif untuk meningkatkan pembangunan manusia adalah pemberdayaan masyarakat untuk mengambil keputusan bersama mereka 7.2. Rekomendasi sendiri tentang apa yang harus dilakukan. Pemberdayaan ini tidak hanya berarti memDi dalam rencana, laporan dan dokumen- promosikan partisipasi dalam pertemuandokumen lainnya, pemerintah dan pihak-pihak pertemuan publik untuk mendiskusikan beryang lain telah menyatakan berbagai prioritas bagai prioritas dan rencana, tetapi juga menpembangunan bagi Aceh, termasuk misalnya: transfer sumberdaya fiskal kepada kelompok· Menanggulangi Kemiskinan kelompok yang diakui dan mendelegasikan · Menciptakan Kesempatan Kerja Produktif wewenang untuk menentukan bagaimana · Memulihkan Mata Pencaharian menggunakan sumberdaya tersebut. Beberapa · Melakukan Konsolidasi Perdamaian hal yang dapat dijadikan contoh bagi pember· Mendorong pembangunan yang adil, dayaan rakyat sudah ada di Aceh, seperti promelalui penurunan kesenjangan antara gram PNPM dan BKPG, tetapi ada banyak daerah-daerah lebih dan kurang berkembang kesempatan untuk mengembangkan konsep di provinsi tersebut tersebut di bidang-bidang lainnya, seperti · Mempromosikan konservasi dan peng- manajemen sekolah, fasilitas kesehatan dan gunaan sumber daya lingkungan secara program-program irigasi skala kecil, perbaikan dan pemeliharaan jalan-jalan perdesaan, tepat (Green Aceh). Meskipun terjadi perbedaan-perbedaan dan forum-forum bisnis publik-swasta bagi pendapat yang kuat untuk tiap-tiap prioritas pembangunan ekonomi. Langkah-langkah dan banyak lagi lainnya, tetapi beberapa untuk mengimplementasikan strategi untuk rencana menunjukkan prioritas-prioritas mencapai tujuan ini meliputi: apa saja yang diperlukan untuk kebijakan, · Mengidentifikasi berbagai kesempatan untuk memberdayakan para pengguna, konstrategi dan program atau penjelasan yang tepat tentang bagaimana proyek-proyek yang sumen dan kelompok-kelompok lain yang relevan di tiap-tiap sektor untuk bekerja diusulkan diharapkan dapat mencapai hasil yang sama dengan pejabat pemerintah, manadiinginkan. jer fasilitas, dan staff profesional dalam meBerdasarkan analisa informasi yang ada, laporan ini mendukung enam tujuan utama netapkan prioritas, rencana dan anggaran. untuk lebih meningkatkan pembangunan ma- · Melakukan konsultasi dengan calon-calon stakeholder untuk menentukan tujuan yang nusia di provinsi tersebut sebagai bagian dari tepat dan lingkup tanggung jawab bagi strategi jangka panjang bagi pemulihan dari

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

115

forum-forum partisipatif, dan menyiapkan aturan-aturan perilaku yang memasukkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. · Membuat draft dan mengundangkan peraturan-peraturan yang diperlukan (qanun) untuk memungkinkan alokasi sumberdaya fiskal bagi forum-forum tersebut dan mendelegasikan wewenang kepada mereka untuk menentukan penggunaan sumberdaya ini. · Menetapkan dan memperkuat kapasitas forum-forum ini untuk melakukan fungsifungsi yang ditugaskan kepada mereka dengan cara yang mencerminkan kepentingan kolektif semua pihak terkait termasuk kelompok-kelompok terpinggirkan yang seringkali diabaikan dalam proses tersebut. · Memobilisasi sumberdaya dari departemen pemerintah, donor dan LSM untuk memberikan pendampingan teknis secara terusmenerus bagi pencapaian tujuan ini dan untuk memantau dan mengevaluasi kinerja mereka.

·

·

7.2.2 Memastikan Manfaat bagi Setiap Orang
· Sementara beberapa indikator menunjukkan perkembangan tetap dalam pembangunan manusia di Aceh, adalah penting untuk memastikan bahwa semua orang memperoleh manfaat dari perkembangan yang telah dicapai. Semua program pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap penanganan kebutuhan kelompok-kelompok sosial tertentu yang mungkin telah diabaikan atau yang tidak mampu mendapatkan bantuan yang mereka perlukan karena satu atau beberapa alasan. Di antara aksi-aksi yang diperlukan adalah untuk: · Memperkuat kampanye peningkatan kesadaran untuk menginformasikan kepada semua masyarakat tentang bagaimana memperoleh layanan yang menjadi hak mereka atau yang tersedia bagi mereka, khususnya program-program pangan, tambahan pendapatan, asuransi kesehatan, hibah pendidikan dan layanan hukum. · Mengevaluasi prosedur-prosedur administrasi untuk mengakses layanan-layanan ini, mengidentifikasi berbagai hambatan yang menyulitkan masyarakat miskin, orangorang buta huruf dan kelompok-kelompok

·

kurang beruntung lainnya untuk mendapatkan bantuan yang mereka perlukan, dan memodifikasi prosedur-prosedur untuk menghapus berbagai kendala yang ada. Mengidentifikasi kesenjangan-kesenjangan dalam pemberian layanan yang diperlukan oleh kelompok-kelompok khusus dan menyesuaikan program-program untuk mengatasi kesenjangan-kesenjangan tersebut, khususnya anak-anak cacat fisik, anak-anak yatim piatu, anak-anak mantan pejuang GAM, para mantan pejuang GAM itu sendiri dan keluarga-keluarga pengungsi yang menetap di komunitas-komunitas baru, dan orang-orang miskin yang tidak mempunyai dana untuk membayar prosedur administrasi sederhana seperti akte kelahiran. Menggabungkan aksi-aksi untuk mengidentifikasi, mengurangi dan menghapus diskriminasi atas dasar jenis kelamin, ras, agama, usia, keterbatasan fisik atau ciri-ciri sosial lainnya dalam segala aspek kehidupan, misalnya dalam sengketa mengenai warisan keluarga, hak atas tanah, dan aplikasi untuk pendidikan lebih lanjut, pekerjaan dan kredit. Mengevaluasi dan meningkatkan programprogram jaring pengaman sosial untuk meningkatkan target dukungan bagi penerima manfaat yang diharapkan dan menghapus penyalahgunaan dan korupsi oleh para penyelenggara program dan mereka yang memperoleh manfaat yang bukan menjadi hak mereka. Memperkenalkan langkah-langkah untuk memperkuat suara perempuan, orangorang miskin dan kelompok-kelompok kurang beruntung lainnya dalam pertemuanpertemuan masyarakat dan forum-forum stakeholder untuk memastikan bahwa kebutuhan khusus mereka dipertimbangkan, jika perlu melalui pertemuan terpisah sebelum diskusi pleno.

7.2.3 Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik
Informan terdidik melaporkan bahwa layanan sosial dasar saat ini secara fisik dapat diakses hampir oleh semua masyarakat di seluruh provinsi. Tantangan utama di masa depan

116

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

adalah untuk meningkatkan kualitas layanan ini, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Tugas ini memerlukan aksi-aksi untuk: · Mengkonsolidasikan perkembangan dalam memperbaiki, meningkatkan atau membangun fasilitas-fasilitas fisik yang baru, khususnya sekolah-sekolah dan pusat-pusat kesehatan yang berada dalam kondisi buruk atau yang mengalami kerusakan atau kehancuran selama konflik. · Meningkatkan insentif bagi para profesional yang memenuhi syarat untuk bekerja di daerah-daerah terpencil melalui tambahan gaji, tunjangan biaya, tunjangan perumahan dan sejenisnya. · Memperluas program-program bagi pengembangan sumberdaya manusia untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan para guru lokal, alat bantu perawatan kesehatan dan staff junior lainnya. · Memperkuat kapasitas staff administrasi bagi perencanaan, penganggaran, administrasi keuangan, pengadaan dan manajemen fasilitas. · Di sektor kesehatan, memperluas dan meningkatkan program-program bagi kelompok-kelompok khusus, terutama bagi perempuan hamil untuk mengurangi kematian ibu dan bayi, ibu-ibu muda dan anak-anak untuk mengurangi kekerdilan (stunting) dan memastikan makanan yang tepat, dan mereka yang menderita trauma karena pelecehan pribadi atau kerugian akibat konflik, bencana alam dan kekerasan dalam rumah tangga. · Di sektor pendidikan, memobilisasi sumberdaya masyarakat untuk memperluas program-program perawatan anak dan prasekolah untuk lebih menyiapkan anak-anak untuk bersekolah dan untuk memberikan kesempatan yang lebih besar kepada perempuan untuk mendapatkan pekerjaan. · Untuk sektor peradilan, lihat rekomendasi pada bagian 3.5.5. · Mempertimbangkan berbagai kesempatan untuk memperkenalkan dan mengembangkan layanan keliling, terutama di sektor kesehatan untuk memperluas jangkauan tenaga medis yang berkualitas seperti bidanbidan di daerah-daerah perdesaan. · Mempertimbangkan berbagai kesempatan untuk melakukan penyumberan luar (outsourcing) bagi pengelolaan atau pemberian layanan tertentu kepada sektor swasta sebaLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

gai sarana untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan jangkauan.

7.2.4 Meningkatkan Kesempatan untuk Pekerjaan Produktif
Tujuan utama lainnya di Aceh adalah untuk mengurangi tingginya angka pengangguran dan kurangnya pekerjaan sebagai sarana untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan keluarga. Hal ini penting tidak hanya karena alasan ekonomi tetapi juga sebagai sarana untuk menggunakan investasi dalam sumberdaya pendidikan dan manusia secara lebih baik, dan untuk meningkatkan martabat dan harga diri pribadi. Strategi-strategi yang efektif untuk mencapai tujuan ini memerlukan langkah-langkah yang saling melengkapi baik di tingkat makro maupun mikro. Berbagai aksi untuk memperkuat ekonomi di tingkat daerah akan membantu menciptakan pekerjaan baru dan memperluas kesempatan bagi mata pencaharian produktif di seluruh Aceh. Di tingkat makro, diperlukan langkah-langkah untuk: · Mengidentifikasi berbagai produk dan jasa dari Aceh yang sangat laku di pasar-pasar non-lokal di tempat lain di Indonesia dan luar negeri, terutama komoditas pertanian seperti kopi, coklat, kelapa sawit, karet, ikan dan sejenisnya. · Mengundang komunitas bisnis, produsen skala kecil, departemen pemerintah daerah dan stakeholder lainnya di kabupatenkabupaten di seluruh Aceh untuk membangun jaringan forum berbasis komoditas guna meningkatkan daya saing lokal di sektor-sektor ini. · Mengalokasikan dana publik bagi forumforum ini untuk menutup biaya operasional dan membiayai inisiatif-inisiatif untuk mengembangkan setiap industri, khususnya melalui penguatan rantai pasokan yang se cara langsung menghubungkan produsen skala kecil dengan eksportir, importir dan pembeli lain di pasar-pasar non-lokal. · Sebagai respon terhadap proposal-proposal dari forum-forum ini, meningkatkan infrastruktur fisik untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi, terutama listrik, air (irigasi), komunikasi, teknologi informasi dan jalan desa untuk meningkatkan akses ke pasar.

117

Di tingkat mikro: · Memperluas akses bagi produsen skala kecil dan usaha-usaha keluarga bagi faktor-faktor produksi, terutama tanah (termasuk hak atas tanah), air dan modal. · Mendelegasikan manajemen dan tanggung jawab fiskal terhadap program-program pinjaman pemerintah bagi produsen dan usahausaha skala kecil melalui lembaga keuangan yang memenuhi syarat dan LSM dengan keahlian yang telah terbukti dalam penyaluran kredit mikro. · Menetapkan dan memperkuat kapasitas pusat-pusat layanan bisnis yang dijalankan oleh masyaraakat untuk mengidentifikasi peluang-peluang pasar bagi usaha-usaha setempat dan untuk mempromosikan barang dan jasa mereka di pasar-pasar non-lokal. · Mengembangkan program-program melalui LSM yang memenuhi syarat untuk memperkuat kapasitas UKM lokal bagi manajemen bisnis, keterampilan teknis dan khususnya pemasaran. · Mengembangkan dan memfokuskan program-program pelatihan kejuruan sebagai respon terhadap permintaan dari pengusaha untuk memastikan bahwa para pencari kerja memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan sebagai staff hotel, pekerja logam, mekanik motor, pekerja bangunan, staff administrasi, pekerja rumah tangga asing dan sejenisnya.

·

·

·

·

·

hadap lingkungan, karena strategi dan agenda seringkali saling melengkapi. Melakukan replikasi model untuk kesiapsiagaan masyarakat di daerah-daerah rawan lainnya di provinsi tersebut, berdasarkan pelajaran yang diperoleh dari penerapan percobaan (pilot). Memperluas cakupan untuk meliputi bencana alam yang terkait dengan kegagalan panen akibat wabah hama dan penyakit karena mempengaruhi sejumlah besar petani skala kecil. Memperkuat langkah-langkah untuk melakukan pengarusutamaan tindakan-tindakan untuk mitigasi bencana alam dalam berbagai program pemerintah dan donor, khususnya di sektor kehutanan, pertanian dan perikanan. Menyebarluaskan pedoman untuk tujuan ini ke dinas-dinas provinsi dan kabupaten yang relevan dan memberikan lokakarya pelatihan terkait untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan. Memanfaatkan potensi sumberdaya Organisasi-organisasi masyarakat sipil (OMS) untuk memberdayakan organsasi-organisasi tersebut guna merencanakan dan mengimplementasikan inisiatif-inisiatif mereka sendiri untuk mengurangi resiko dan potensi dampak bencana.

7.2.5 Menggabungkan Mitigasi Bencana dengan Program Lingkungan

7.2.6 Meningkatkan Penggunaan Sumberdaya Fiskal

Peningkatan sumber daya fiskal yang besar, yang mengalir ke Aceh sebagai hasil dari KeseMeskipun tsunami merupakan peristiwa langka, pakatan Damai dan UUPA menekankan dan semoga merupakan peritiswa yang tidak keharusan untuk mengurangi penyalahgunaan akan terjadi lagi sepanjang hidup mereka yang dan memastikan sumberdaya disalurkan untuk hidup hari ini, tetapi tsunami sungguh-sungguh berbagai program dan layanan yang efektif damenarik perhatian terhadap perlunya untuk lam memajukan pembangunan manusia. Untuk melakukan persiapan untuk jenis-jenis bencana mencapai tujuan ini, departemen pemerintah alam lainnya yang sering terjadi di Aceh. Secara didorong untuk mengadopsi prinsip-prinsip kumulatif, bencana-bencana ini menimbulkan umum perencanaan dan penganggaran berbasis kerugian dan kesulitan besar bagi mereka kinerja. Karena pendekatan ini belum dipahami yang terkena dampak, dan banyak bencana dengan baik di Aceh, maka pemerintah provinyang disebabkan oleh intervensi manusia dan si sebaiknya mencari bantuan donor untuk mepenyalahgunaan sumberdaya lingkungan. laksanakan program pengembangan kapasitas Berdasarkan proyek-DRR-A, aksi-aksi lebih yang luas sehingga staff yang relevan dapat lanjut diperlukan untuk: mengadopsi konsep tersebut. Secara singkat, · Menggabungkan upaya-upaya mitigasi ben- penganggaran berbasis kinerja melibatkan cana dengan departemen pemerintah dan langkah-langkah berikut: organisasi lain yang bertanggung jawab ter118
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

· Dalam rencana jangka menengah dan panjang (RPJM dan RPJP), menjelaskan tujuantujuan yang lebih besar untuk setiap sektor, menentukan hasil-hasil yang akan dicapai di bawah tujuan masing-masing, dan menjelaskan strategi yang luas untuk mencapai hasilhasil ini. · Dalam rencana dan anggaran tahunan, menetapkan hasil yang akan dihasilkan di bawah setiap strategi dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil tersebut. · Menentukan indikator-indikator khusus dan target-target bagi setiap hasil untuk mengukur perkembangan dan kinerja, dan memperkirakan masukan yang diperlukan dan biaya-biaya yang akan dicakup dalam anggaran. Selain itu, untuk mendukung pengadopsian perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja, aksi-aksi yang saling melengkapi akan diperlukan untuk: · Menetapkan satuan tugas provinsi untuk bekerja dengan para kontraktor yang memenuhi syarat guna memperkuat kapasitas komite anggaran dan wakil-wakil majelis untuk membantu mereka lebih memahami dan mendukung dasar pemikiran yang mendasari rencana dan anggaran yang diusulkan. · Memperkuat kapasitas staff pemerintah untuk memantau dan mengevaluasi implementasi rencana dan anggaran sesuai dengan target yang ditetapkan dalam indikator kinerja. · Memperkenalkan sistem insentif untuk memberikan penghargaan kepada departemen-departemen yang berhasil dalam mencapai perkembangan signifikan dalam mencapai target-target yang telah direncanakan. Seperti disebutkan sebelumnya, pengenalan Dana Otonomi Khusus pada tahun 2008 berpotensi menciptakan berbagai kesempatan bagi pemerintah provinsi untuk mengalokasikan sumberdaya sesuai dengan prioritas-prioritas kebijakan bagi pembangunan manusia. Untuk memastikan bahwa dana ini digunakan sesuai dengan cara yang diharapkan, diperlukan aksi-aksi untuk: · Membentuk satuan tugas antardepartemen yang terkait dengan forum-forum stakeholder untuk meningkatkan kerja sama antardepartemen dalam mengejar prioritasprioritas kebijakan.
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

· Memberikan petunjuk tentang penggunaan sumberdaya fiskal yang direkomendasikan bagi kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan pembangunan ekonomi. · Menetapkan indikator-indikator kinerja untuk setiap sektor dan target-target luas yang layak dicapai sesuai interval dalam kerangka waktu yang direncanakan. · Merekrut staff dukungan teknis yang memenuhi syarat untuk membantu staff pemerintah provinsi dalam mengkaji ulang proposal-proposal yang disampaikan oleh kabupaten dan kota untuk penggunaan dana Otsus. · Menugaskan staff di departemen-departemen pemerintah provinsi untuk membantu kabupaten dan kota di merevisi proposal jika diperlukan.

7.3. Rekomendasi untuk Sektor-Sektor Khusus
Selain enam tujuan utama yang diuraikan di atas, laporan ini juga merekomendasikan aksiaksi yang disebutkan di bawah ini untuk sektorsektor khusus. Keamanan · Lembaga-lembaga pemerintah sebaiknya terus menempatkan para mantan pejuang GAM dalam pekerjaan alternatif yang menarik dan memberikan pelatihan keterampilan untuk tujuan ini. Selain itu, mantan pejuang GAM sebaiknya diberikan dukungan finansial untuk menjalani pelatihan dan / atau untuk memulai bisnis mereka sendiri. · Sebuah satuan tugas sebaiknya dibentuk untuk mengurangi praktek pemerasan, yang terdiri dari wakil-wakil dari militer, polisi, pejabat peradilan dan institusiinstitusi terkait lainnya. · Sebuah lembaga independen sebaiknya ditetapkan untuk menerima pengaduan tentang pemerasan dan kekerasan, dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan, dan memantau respon. Kemiskinan Untuk mengurangi kemiskinan, pemerintah harus melakukan dua strategi utama: · Meningkatkan akses ke infrastruktur publik dan pelayanan sosial.

119

· Meningkatkan kesempatan untuk pekerjaan produktif dan kegiatan-kegiatan untuk menambah pendapatan. Aksi-aksi khusus untuk mengimplementasikan strategi-strategi mencakup berbagai sektor dan disebutkan di bagian lain dalam Bab ini. Perempuan Untuk lebih meningkatkan peran perempuan di Aceh, pemerintah sebaiknya memberikan perhatian khusus untuk: · Memberitahukan kepada perempuan tentang hak-hak dan opsi-opsi hukum mereka untuk mencari keadilan melalui sistem adat, pengadilan syariah dan sistem peradilan nasional. · Mengurangi diskriminasi dalam keputusankeputusan pengadilan, mencari pekerjaan, rekrutmen staff dan kemajuan karir. · Memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang sama ke layanan publik, terutama pinjaman dan kredit. · Meningkatkan layanan perawatan kesehatan yang menangani kebutuhan-kebutuhan khusus perempuan dan anak-anak, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah perdesaan. · Mengurangi kekerasan dalam rumah tangga melalui kampanye peningkatan kesadaran dan program konseling keluarga. Infrastruktur dasar Untuk meningkatkan pemberian dan pemeliharaan infrastruktur dasar, khususnya di daerahdaerah perdesaan, pemerintah sebaiknya: · Melanjutkan dan mengembangkan program-program yang ada yang memberikan dana hibah kepada masyarakat setempat yang dapat digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan infrastruktur dasar. · Memberdayakan kelompok-kelompok pengguna untuk membangun, mengoperasikan, memelihara dan memobilisasi sumberdaya bagi infrastruktur dasar skala kecil seperti pasokan air bersih, jaringan irigasi mini dan bahkan pembangkit listrik di daerah-daerah terpencil. · Mengalokasikan proporsi dana publik yang lebih tinggi bagi pemeliharaan infrastruktur dasar yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

Pendidikan Di sektor pendidikan, pemerintah sebaiknya, antara lain: · Terus mendorong sektor swasta dan kelompok-kelompok masyarakat untuk memberikan program-program pra-sekolah dan pusat-pusat penitipan anak, karena orang tua memiliki kepentingan yang sangat kuat dalam menitipkan anak-anak mereka. · Memberikan dana hibah untuk tujuan ini, digabungkan dengan sekumpulan standar kinerja untuk memenuhi syarat dukungan. · Melibatkan wakil-wakil masyarakat bisnis dalam perencanaan dan desain penawaran kursus dan kurikulum untuk programprogram pelatihan kejuruan. · Mempertimbangkan penyumberan luar (outsourcing) untuk manajemen dan bimbingan lembaga pelatihan kejuruan kepada sektor swasta, untuk memasukkan kursus berdasarkan biaya jasa, yang sebagian didanai oleh kontribusi dari bisnis yang membutuhkan tenaga terampil. Perawatan kesehatan Di sektor perawatan kesehatan, pemerintah sebaiknya, antara lain: · Mengkaji ulang biaya-biaya kesempatan perawatan kesehatan gratis dan memastikan bahwa sumberdaya pertama kali digunakan untuk memberikan layanan yang efektif bagi mereka yang tidak mampu dan bagi kebutuhan-kebutuhan prioritas lainnya seperti perawatan pra-dan pasca-kelahiran. · Membentuk forum publik-swasta di tingkat provinsi, yang serupa dengan forum untuk pendidikan, yang fungsinya akan bekerja sama dengan pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan, strategi dan program untuk sektor tersebut. · Mengadakan forum-forum serupa di tingkat puskesmas kecamatan, yang akan bertanggung jawab terhadap penyusunan rencana dan anggaran untuk layanan-layanan kesehatan di kabupaten dimana forum-forum tersebut berada. · Memperkuat kapasitas puskesmas, terutama untuk manajemen operasi dan administrasi keuangan. · Bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk membentuk dan melatih kelompok swadaya

120

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

masyarakat untuk mendukung perempuan hamil dan mereka yang memiliki anak-anak baru lahir. · Bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk membentuk dan melatih kelompok-kelompok serupa untuk tujuan-tujuan lain, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kesehatan keluarga dan gizi, kecanduan narkoba dan alkohol. Pengembangan Ekonomi Untuk mempromosikan pemulihan dan pengembangan ekonomi, pemerintah sebaiknya melakukan strategi yang: · Menekankan pengembangan sektor pertanian yang secara luas mencakup perkebunan, perikanan dan kehutanan, dan industri pengolahan terkait. · Dibentuk oleh permintaan eksternal dan bertujuan untuk memungkinkan para produsen lokal untuk bersaing dengan sukses di pasar-pasar tersebut. · Memfokuskan pada ekspor komoditas pertanian ke pasar-pasar non-lokal apakah di Indonesia atau di luar negeri. · Memperkuat rantai pasokan yang menghubungkan para produsen lokal dengan pasar-pasar non-lokal melalui kemitraan usaha yang melibatkan produsen, pengolah, eksportir dan importir. · Mempromosikan usaha-usaha kecil dan bentuk-bentuk mata pencaharian lainnya melalui pendampingan teknis, infrastruktur yang tepat, dan terutama dukungan bagi pemasaran produk dan layanan kepada konsumen dan pembeli di luar masyarakat setempat. · Memberdayakan komunitas bisnis untuk bekerja sama secara efektif dengan pemerintah dalam menentukan kebijakan dan prioritas untuk pengembangan ekonomi.

·

·

·

· ·

sip tata kelola yang baik, transparansi dan akuntabilitas. Memberi tahu dan membantu forum-forum dalam mengadopsi metode-metode untuk memastikan partisipasi perempuan dan kelompok-kelompok terpinggirkan yang selama ini belum diikutsertakan dan untuk memperkuat suara mereka dalam pengambilan keputusan. Memberikan dukungan teknis secara intensif untuk membantu para stakeholder merumuskan proposal-proposal yang layak untuk dilaksanakan. Mengalokasikan dana untuk menutup tidak hanya aksi-aksi yang diusulkan oleh forum tersebut tetapi juga, jika perlu, biaya-biaya operasi sehingga para anggota dapat mengadakan dan menghadiri pertemuan-pertemuan tetap. Hal ini sangat penting bagi forum-forum yang mewakili stakeholder yang tersebar di seluruh provinsi, seperti gugus-gugus industri. Merumuskan prosedur-prosedur pencairan dana, pengadaan dan pelaporan keuangan. Memantau cara kerja dan kegiatan forumforum tersebut untuk mengurangi penyalahgunaan kekuasaan mereka dan mencegah penyalahgunaan dana.

Alokasi Sumberdaya Dalam mengalokasikan sumberdaya fiskal dan menyusun rencana dan anggaran, departemen pemerintah sebaiknya: · Melakukan riset yang lebih mendalam untuk menentukan formula yang tepat bagi pengalokasian dana Otsus yang mencapai tujuan-tujuan kebijakan bagi distribusi yang adil. · Menggunakan ukuran-ukuran yang dimasukkan dalam IPM, IPG dan UPG untuk menentukan indikator-indikator kinerja yang tepat bagi pengeluaran daripada dalam Pemberdayaan Masyarakat pengalokasian sumberdaya. Untuk memastikan bahwa forum-forum stakeholder publik-swasta bisa memanfaatkan potensi · Lebih memfokuskan pada pencapaian priomereka dan beroperasi secara efektif, lembagaritas-prioritas kebijakan melalui instrumenlembaga pemerintah dan pihak-pihak lainnya instrumen lain yang terkait dengan pengeyang terlibat dalam menetapkan forum-forum luaran, termasuk petunjuk tentang prefetersebut sebaiknya: rensi penggunaan sumberdaya dan Otsus, · Menentukan secara tepat kekuasaan dan indikator kinerja, dan sebagian besar secara tanggung jawab yang akan didelegasikan, selangsung melalui proses persetujuan prohingga para peserta memahami secara jelas posal dari kabupaten dan kota untuk pengbatas-batas kewenangan mereka. gunaan pendapatan dana Otsus. · Menentukan prosedur-prosedur operasional · Menentukan target investasi sesuai dengan indikator-indikator khusus pemberina layang jelas untuk memastikan bahwa forumforum stakeholder mematuhi prinsip-prinyanan untuk memastikan akses yang lebih
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

121

adil ke layanan-layanan ini di daerah-daerah perdesaan. · Memperkuat kapasitas departemen-departemen utama untuk melakukan pengkajian ulang secara efektif terhadap proposal-proposal kabupaten bagi penggunaan dana Otsus dan untuk memantau implementasinya. · Mengadopsi prinsip-prinsip penganggaran berbasis kinerja untuk memastikan bahwa pengeluaran tersebut sungguh-sungguh ditujukan pada pencapaian tujuan-tujuan yang lebih besar bagi pembangunan manusia. · Merekrut dukungan teknis untuk memperkenalkan dan mengimplementasikan konsep penganggaran berbasis kinerja pada bidang yang jauh lebih luas, di antara departemendepartemen kunci baik dari pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota.

untuk mendorong pembangunan manusia di Aceh. Jelas bahwa ada banyak persoalan lainnya yang belum tercakup di sini yang perlu ditangani, seperti pelestarian lingkungan hidup dan kesinambungan sumberdaya alam. Pembaca pasti akan bertanya tentang gagasan-gagasan yang disajikan dan mungkin memiliki pandangan-pandangan yang sangat berbeda tentang apa yang perlu dilakukan. Hal tersebut mempunyai maksud yang baik dan dihargai. Namun demikian, tujuan utama pembuatan rekomendasi ini adalah untuk membantu mendorong perdebatan yang dinamis dan untuk memajukan pemikiran konstruktif tentang perjalanan pembangunan Aceh di masa depan. Akhirnya, perdebatan tersebut sebaiknya tercermin dalam rencana dan program masa depan dan menciptakan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kesejahteraan umum bagi semua rakyat Aceh.

7.4. Pemikiran Akhir
Usulan dan rekomendasi yang diuraikan pada Bab ini merupakan sebuah agenda besar

122

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

LAMPIRAN STATISTIK
Lampiran A: Tabel dan Gambar Tambahan
Bab Dua Lampiran A: Gambar 2.1 Tingkat Kerusakan Sektor Produktif ..................................................................125 Lampiran A: Gambar 2.2 Tingkat Kerusakan Sektor Sosial ........................................................................125 Lampiran A: Tabel 2.1 Jumlah dan Perrosentase Pengungsi Laki-Laki dan Perempuan menurut Kabupaten, 2005 ........................................................................................................126 Lampiran A: Tabel 2.2 Indeks Pembangunan Manusia menurut Kabupaten di Aceh, 2002 - 2008 ...127 Lampiran A: Tabel 2.3 Prosentase Kepala Keluarga Perempuan di Aceh dan Indonesia, 2003-06 ........................................................................................................................................128 Lampiran A: Tabel 2.4 Indeks Pembangunan Gender menurut Kkabupaten di Aceh, 1999 – 2008 ...129 Lampiran A: Tabel 2.5 IKM menurut Kabupaten di Aceh 1999 - 2008 ....................................................130 Bab Tiga Lampiran A: Tabel 3.1 Indikator-indikator Kkesehatan dan yang terkait dengan Perumahan menurut Kabupaten di Aceh, 2008 .........................................................................................131 Lampiran A: Tabel 3.2 Indikator Pendidikan menurut Kabupaten di Aceh 1993, 2004 dan 2008 .......132 Lampiran A: Tabel 3.3 Angka Partisipasi Sekolah menurut Kabupaten di Aceh, 2008 (Prosentase) .. 133 Lampiran A: Tabel 3.4 Harapan Hidup di Aceh 2002, 2005 dan 2008 (tahun) ........................................134 Lampiran A: Tabel 3.5 Indikator Kesehatan Rakyat menurut Kabupaten di Aceh, 2008 .......................135 Lampiran A: Tabel 3.6 Indikator Ppelayanan Kesehatan menurut Kabupaten di Aceh, 2008 ..............136 Bab Empat Lampiran A: Tabel 4.1 Tabel 4.1 PDRB dan Pengeluaran per Kapita per bulan menurut Kabupaten di Aceh (Rp 000s) .......................................................................................................................137 Lampiran A: Tabel 4.2 Indikator Pekerjaan menurut Kabupaten di Aceh, 2008 ....................................138 Lampiran A: Tabel 4.3 Partisipasi Aangkatan Kerja menurut Gender di Aceh 1998-2008 ....................139 Bab Lima Lampiran A: Tabel 5.1 Partisipasi perempuan di DPR dan Posisi Kepemimpinan menurut kabupaten di Aceh, 1999 - 2008 (%) .......................................................................................140 Bab Enam Lampiran A: Tabel 6.1 IPM dan Pendapatan Fiskal per Kapita menurut Kabupaten di Aceh, 2007 ....141 Lampiran A: Tabel 6.2 Rata-rata Pengeluaran per Kapita menurut Kabupaten di Aceh 2006-07 (Rp 000s tetap 2006) ..................................................................................................................142

Lampiran B: Tabulasi Khusus BPS
Lampiran B: Tabel 1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Provinsi, 2008 .............................143 Lampiran B: Tabel 2. Indeks Pembangunan Jender (IPJ) Menurut Provinsi, 2008 ................................144 Lampiran B: Tabel 3. Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ) Menurut Provinsi, 2005 dan 2008 ..............145 Lampiran B: Tabel 4. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Menurut Provinsi, 2008 ..................................146 Lampiran B: Tabel 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ..............147 Lampiran B: Tabel 6. Indeks Pembangunan Jender (IPJ) Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ....................148 Lampiran B: Tabel 7. Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ) Menurut Kabupaten/Kota, 2008................149 Lampiran B: Tabel 8. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ...................150 Lampiran B: Tabel 9. Kondisi Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ...............................................151 Lampiran B: Tabel 10. Partisipasi Sekolah Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ............................................152 Lampiran B: Tabel 11. Kondisi perumahan Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ...........................................153 Lampiran B: Tabel 12A. Kinerja Perekonomian Menurut Kabupaten/Kota, 2005-2007 ..........................154 Lampiran B: Tabel 12B. Kinerja Perekonomian Menurut Kabupaten/Kota, 2005-2007........................155 Lampiran B: Tabel 13. Kondisi Tenaga Kerja dan Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota, 2008 ............156
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

123

124

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Gambar 2.1 Tingkat Kerusakan Sektor Produktif

Bab Dua

Kerusakan Dermaga (unit) Ikan atau Tambak Udang (Ha) Pasar Lelang Ikan (unit) Pasar Desa (unit) Rice miller (unit) Umum (Ha) Pabrik Lainnya (unit) Perbaikan Toko (unit) Toko/Kios (unit) Sawah(Ha) Livestock (head) 45,438 127 1,409 803 278,914 680 565 6,142 96,391 200,553 0%
Sumber: Biaya Konflik di Aceh, Laporan MSR, 2009

Tidak rusak 39 25,009 27 959 794 293,778 897 812 10,984 214,212 906,394

191

25%

50%

75%

100%

Lampiran A: Gambar 2.2 Tingkat Kerusakan Sektor Sosial

Kerusakan Pra Sekolah (unit) Clinik Kesehatan Desa (unit) Pusat Persalinan Desa (unit) Tempat Sembahyang (unit) Sekolah Dasar (unit) Sekolah Menengah Atas (unit) Puskesmas (unit) Sekolah Menengah Pertama (unit) 0%
Sumber: Biaya Konflik di Aceh, Laporan MSR, 2009

Tidak Rusak 794 386 197 1,115 985 143 289 278 50% 75% 100%

2,601 1,134 402 1,940 1,325 165 330 288 25%

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

125

Lampiran A: Tabel 2.1 Jumlah dan Prosentase Pengungsi Laki-Laki dan Perempuan menurut Kabupaten, 2005

Bab Dua

Kabupaten

Perempuan

% Total

Laki-laki

% Total

Total

Pidie Aceh Barat Aceh Besar Banda Aceh Bireuen Simeulue Aceh Utara Aceh Singkil Aceh Timur Aceh Selatan Aceh Jaya Nagan Raya Lhokseumawe Aceh Barat Daya Aceh Tengah Aceh Tamiang Sabang Langsa Aceh Tenggara Bener Meriah Total

32.075 24.945 18.041 12.866 14.123 11.449 11.786 9.916 8.123 5.592 5.337 5.306 2.675 1.517 861 780 657 494 180 48 166.771

49 46.9 45 44.1 50.9 48.3 50.1 49.8 49.6 47.1 47.5 47.3 50.5 49.2 53.7 49.5 48 53.1 49.2 49 47.9

33.399 28.257 22.055 16.285 13.598 12.246 11.741 9.995 8.270 6.278 5.898 5.921 2.619 1.568 742 797 712 436 186 50 181.053

51 53.1 55 55.9 49.1 51.7 49.9 50.2 50.4 52.9 52.5 52.7 49.5 50.8 46.3 50.5 52 46.9 50.8 51 52.1

65.474 53.202 40.096 29.151 27.721 23.695 23.527 19.911 16.393 11.870 11.235 11.227 5.294 3.085 1.603 1.577 1.369 930 366 98 347.824

Catatan: Tabel ini diambil dari Daniel Fitzpatrick, Women’s Rights to Land and Housing in Tsunami-Affected Aceh, Indonesia, ARI Aceh Working Paper No. 3, 2008, 11.

126

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 2.2 Indeks Pembangunan Manusia menurut Kabupaten di Aceh, 2002 - 2008

Bab Dua

Daerah/Kabupaten

2002

2004

2006

2008

Perubahan

Tingkat

2004-08 Aceh Bagian Utara dan Timur (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh (rata-rata) Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 67.6 67.2 66.7 69.1 70.6 67.7 69.5 67.3 68.6 72.8 71.3 68.8 74.0 72.5 70.2 71.9 68.8 71.5 68.7 70.4 73.8 72.2 70.0 69.4 75.4 73.7 68.8 70.5 69.2 71.3 67.5 67.4 71.2 71.1 68.5 67.4 72.4 71.4 -0.3 -0.1 1.5 1.8 0.2 -1.2 -1.6 -0.3 -0.3 -2.0 -1.6 -1.1

2008 10.3 6 9 3 13 15 4 5 10 14 1 2

65.9 70.6 67.8 71.8 69.4

63.4 65.6

65.9 66.7 66.2 65.5 64.5 66.9 65.9 65.8

67.5 68.1 67.8 66.9 66.4 68.4 67.5 67.2 67.8 69.1 71.2 68.1 70.6 66.6 69.4 72.4 69.6 67.9

65.8 68.2 67.6 65.7 65.2 67.0 65.1 64.5 63.3 67.3 70.1 66.7 69.2 63.2 67.1 69.9 68.2 65.8

-0.3 1.5 1.4 0.2 0.7 0.1 -0.8 -1.3 -4.5 -0.3 0.1 0.4 -0.2 -1.7 -1.6 -2.3 0.0 -0.2

17.4 11 12 18 19 16 20 21 22 13.8 7 17 8 23

61.8 63.8 62.2

66.7 66.7 66.8

67.6 69.9 66.3 69.4 64.8 68.7 72.2 68.2 66.0

66.0 70.6 65.9 na

6.4 11.5 17.4

Catatan: * Merupakan kabupaten baru Sumber: BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

127

Lampiran A: Tabel 2.3: Prosentase Kepala Keluarga Perempuan di Aceh dan Indonesia, 2003-06

Bab Dua

Tahun

Aceh

Indonesia

2003 2004 2005 2006
Sumber: Sejahtera dan Suleeman, Inong Aceh Di Bentala Nusantara, 18.

17 18 18 19

13 13 13 13

128

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 2.4 Indeks Pembangunan Gender menurut Kabupaten di Aceh, 1999 – 2008

Bab Dua

Daerah/Kabupaten

1999

2002

2008

Perubahan

Tingkat

2002-08 Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh (rata-rata) Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 58.0 63.0 64.6 65.4 56.2 60.2 62.6 56.7 65.0 62.5 62.5 64.6 64.9 62.1 57.8 61.3 57.2 67.3 64.0 57.9 65.7 63.1 -0.4 2.4

2008 9.9 6 5 10 19 12 21 2 7 18 3 8

58.8 na 57.2 57.5 56.0

53.8 68.3 66.3 69.7 60.5

7.5 -1.0 -2.3 -4.0 2.6

58.2 58.3 58.8 61.7 54.6 60.7 58.3 55.3 57.6 64.3 67.5 65.6 63.0 60.9 61.4 61.2 62.0 60.1 2.9 -2.4 -1.9

16.9 16 15 11 23 14 17 22 20 6.8 1 4 9 13

na 51.7 na

60.1 60.3 61.8

-5.5 0.4 -6.5

59.0 56.8 58.0

62.1 65.1 62.6

12.4 10.6 13.9

Catatan: * Merupakan kabupaten baru Sumber: Laporan Kesenjangan Kesejahteraan Masyarakat Antar Daerah, BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

129

Lampiran A: Tabel 2.5 IKM menurut Kabupaten di Aceh 1999 - 2008

Chapter Two

Daerah/Kabupaten

1999

2002

2008

Tingkat

2008 Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 31.5 30.7 29.3 27.5 27.6 27.0 15.9 11.2 19.9 9.3 17.8 21.0 8.7 15.3 12.1 14.0 6.3 7.8 10.1 5 15 4 11 19 3 8 6 7 1 2

32.6

25.6 31.0 26.3 12.0 19.7

33.3 12.5 20.6

42.3 42.8

40.0 41.0

20.4 21.4 18.3 20.7 28.3 16.1 18.3 19.6 26.4 20.7 17.2 20.0 20.1 25.4 16.5 11.7 18.4 19.2

15.6 20 12 18 23 9 13 14 22 16.0 10 16 17 21

41.7

37.3 40.2 41.3

30.3 26.5 34.0

26.4 24.9 27.8

31.4 16.6 33.9

28.4 15.9 31.8

6.4 13.3 14.0

Catatan: Karena kehilangan data, gambar-gambar untuk tahun 2007 diambil dari sumber yang berbeda. * Merupakan Kabupaten Baru Sumber: BPS dan Riset Kesehatan Dasar 2007 – Depkes.

130

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 3.1 Indikator-indikator Kesehatan dan yang terkait dengan Perumahan menurut Kabupaten di Aceh, 2008
Prosentase penduduk yang tinggal di rumah Daerah/Kabupaten Rata-rata untuk 4 indikator

Bab Tiga

Tanpa akses ke air bersih

Tanpa ke sanitasi akes

Lantai tanah

Tanpa listrik

Angka kesakitan #

Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru Median

26.5 16.6 41.9 6.1 30.2 33.7 2.8 16.8 18.8 23.9 1.1 3.0

37.5 24.4 30.4 8.9 9.0 42.1 18.7 22.4 70.7 65.6 1.5 22.5

13.0 3.7 21.1 3.9 12.4 20.2 6.7 9.2 7.7 13.4 1.5 3.9

9.7 5.0 9.9 0.7 3.5 15.9 1.8 5.9 10.7 15.3 0.4 0.5

21.7 12.4 25.8 4.9 13.8 28.0 7.5 13.6 27.0 29.6 1.1 7.5

22.3 13.8 26.8 16.4 19.6 21.3 21.8 28.4 21.0 26.2 13.9 8.6

34.4 37.8 17.9 32.8 74.0 20.4 31.4 44.0 55.7 38.8 41.5 39.6 29.7 52.1 26.6 8.5 29.6 31.8

46.4 51.6 35.4 47.9 43.1 48.9 66.2 18.3 18.2 45.0 33.2 27.0 56.6 73.8 36.3 10.4 40.7 41.0

8.0 8.5 8.9 14.6 4.4 5.5 6.6 8.4 10.9 12.7 13.4 21.4 9.0 6.7 10.6 4.5 11.6 12.4

16.3 18.9 28.1 18.8 24.6 6.8 14.1 6.3 15.1 11.8 14.1 14.2 9.7 7.5 10.2 0.8 10.7 13.8

26.3 29.2 22.6 28.5 36.6 20.4 29.6 19.2 25.0 27.1 25.6 25.6 26.3 35.0 20.9 6.1 23.2 24.7 25.6

23.9 22.1 26.6 21.9 15.9 25.6 24.9 16.7 19.3 23.2 27.3 29.4 17.7 16.8 21.5 11.1 19.8 24.7 21.3

Catatan. Rata-rata tertimbang menurut jumlah penduduk. * Merupakan kabupaten baru # Kesakitan adalah % penduduk yang menderita penyakit selama tahun 2005. Sumber: BPS, berdasarkan estimasi penduduk pada tahun 2008.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

131

Lampiran A: Tabel 3.2 Indikator Pendidikan menurut Kabupaten di Aceh 1993, 2004 dan 2008

Bab Tiga
Angka melek huruf dewasa (%)

Rata-rata lama pendidikan Daerah/Kabupaten 1993 Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru Indonesia# Peringkat Aceh 2004 2008 1993

2004

2008

6.5 7 6.4

8.7 9.4 8.1 9.2 8.1 8.9 9.6 9.1 8.3 11.2 9.4

8.7 9.9 8.4 10.0 8.4 9.1 10.0 9.2 8.6 7.6 12.0 10.5

88.4 87.4 94.1

96.5 96.1 98.8 97.9 94.4 98.1 93.9 97 97.9

96.2 96.2 97.1 98.6 97.7 95.1 98.8 98.1 95.4 93.5 99.0 98.1

6.6

89.6

6.1 10.3 7.8

82.3 96.3 95.1

5.3 5.1

7.4 8.1 8.6 6.3 6.1 8.1 7.2 7.7

8.2 8.3 8.8 7.4 8.5 8.3 7.5 8.3 7.6 8.9 9.2 8.1 9.4 8.7 8.6 10.1 8.8 8.1 7.6 9

83.6 81.1

94.3 89.1 96.1 89.3 98.7 95.7 95 96.2

93.1 92.8 93.1 88.4 98.0 93.4 95.7 90.4 90.7 93.8 97.7 97.0 97.1 83.5 95.9 97.0 95.6 92.7 92.1 10

5.5

86.1

6.8 7.3 6.2

8.6 9 7.8 9.3 8.3 8.4 9.9 8.4 7.7 7.1

89.7 93.2 86.2

92.9 97.1 96 85.5 95.7 97.5 95.8 92.8 89.5

6.5 9.1 6.3

88.5 95.7 87.5

Catatan: Rata-rata daerah tidak tertimbang menurut penduduk usia sekolah. Rata-rata tertimbang akan mengalami sedikit kenaikan atau penurunan. * Merupakan kabupaten baru # Data untuk Indonesia adalah untuk tahun 2002 dan 2008 Sumber: Bappeda dan Dinas Pendidikan NAD.

132

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 3.3 Angka Partisipasi Sekolah menurut Kabupaten di Aceh, 2008 (Prosentase)

Bab Tiga
Kelompok Usia (dalam tahun)

Daerah / Kabupaten 7-12 Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru Indonesia Peringkat Aceh * Merupakan Kabupaten Baru Sumber: BPS 2010 99.1 99.1 98.9 99.0 99.2 99.5 99.4 99.3 98.8 98.9 98.7 98.9

Rata-rata tingkat

Selisih antara SMA dan SMP

13-15 93.6 94.4 89.3 94.3 93.6 90.4 95.2 92.5 97.1 98.2 97.7 94.6

16-17 69.5 76.8 58.9 76.2 64.7 70.5 79.6 74.6 72.0 68.9 86.8 70.4

18-23 20.4 30.5 14.6 27.4 13.9 13.7 31.8 33.8 22.0 14.2 42.0 9.3

7-17 13.0 9.0 20.3 10.0 14.3 12.3 5.0 11.3 12.0 11.3 7.3 13.7 -24.2 -17.6 -30.4 -18.1 -28.9 -19.9 -15.6 -17.9 -25.1 -29.4 -10.9 -24.2

98.7 98.5 97.3 99.0 98.7 99.4 98.9 98.9 97.6 98.9 99.2 99.4 99.4 97.5 99.0 98.7 99.1 98.6 97.8 2

94.5 95.2 93.8 92.9 93.9 97.4 95.2 93.0 91.6 95.3 98.5 97.3 96.6 88.8 94.1 94.7 94.4 94.3 84.4 1

74.2 78.2 62.1 79.5 83.3 74.4 72.7 69.0 73.3 69.5 71.5 75.7 69.6 61.4 72.4 77.3 72.6 69.3 54.7 1

15.1 15.8 8.3 17.5 12.6 17.1 20.8 13.6 15.9 15.8 14.0 18.9 16.1 14.1 22.4 25.3 18.5 15.4 12.4 2

12.5 11.7 19.7 11.0 11.7 6.3 10.7 16.7 17.3 11.1 7.7 5.0 9.3 22.3

-20.3 -17.0 -31.8 -13.4 -10.6 -23.0 -22.5 -24.0 -18.3 -25.8 -27.0 -21.6 -27.0 -27.4 -21.7

10.7 11.7 13.5

-17.4 -21.8 -25.0 -29.7

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

133

Lampiran A: Tabel 3.4 Harapan Hidup di Aceh 2002, 2005 dan 2008 (tahun)

Bab Tiga

Daerah / Kabupaten

2002

2005

2008

Perubahan 2002-2008

Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru

69.3 69.5 67.9

69.4 70.0 69.1 68.9 67.8 69.1 68.4 72.2 68.4 68.7 69.6

69.7 70.5 69.5 70.1 68.2 69.5 70.0 72.3 69.1 69.0 70.2 70.4

0.9 1.0 1.6

68.9 72.7 67.7 68.5 68.8

0.6 -0.4 1.4 1.7 1.6

64.5 68.4

66.0 68.9 67.0 69.1 62.5 65.7 65.4 63.2

66.8 69.8 67.9 69.4 62.8 66.7 66.5 64.5 65.5 68.2 69.4 67.4 69.2 66.8 68.5 69.3 68.5 67.9

1.4 1.4

62.2 64.7 62.7

0.6 2.0 1.8

67.7 67.1 68.3

67.7 69.1 66.4 68.9 66.2 68.0 68.9 67.9 67.0

1.6 2.3 0.9

67.7 68.7 67.3

0.8 0.6 1.2

Catatan: * Merupakan daerah baru Sumber: BPS

134

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 3.5 Indikator Kesehatan Rakyat menurut Kabupaten di Aceh, 2008

Bab Tiga

Daerah / Kabupaten

Angka kematian bayi (per 1000)

Penduduk dengan masalah kesehatan %

Angka kesakitan %

Rata-rata lama penyakit %

Anak gizi buruk <balita %

Tingkat gabungan %

NAceh Bagian Utara dan Timur (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru * Merupakan Kabupaten Baru Sumber: BPS

29.6 26.6 30.3 28.0 35.2 30.3 28.5 20.9 31.8 32.1 27.7 27.2

% 38.2 36.6 31.2 34.5 40.8 41.8 43.2 43.2 42.3 24.6 20.9

% 13.8 26.8 16.4 19.6 21.3 21.8 28.4 21.0 26.2 13.9 8.6

(hari) 6.5 3.9 5.7 5.1 4.9 3.3 4.5 5.9 5.5 6.3 6.7

% 24.1 21.8 31.9 26.5 38.8 28.8 38.7 30.1 30.1 21.0 22.8 4 5 3 7 12 6 15 17 20 1 1

41.1 29.3 36.2 30.7 57.6 41.3 42.2 50.7 46.2 35.3 30.7 38.3 31.6 40.7 34.1 31.5 34.6 36.5

32.9 32.6 41.0 31.8 24.7 37.5 31.6 31.3 33.5 36.5 37.6 44.7 25.7 38.1 36.7 30.4 35.6 37.7

22.0 22.1 26.6 21.9 15.9 25.6 24.9 16.7 19.3 22.8 27.3 29.4 17.7 16.8 21.5 16.0 21.5 23.6

6.1 6.2 4.3 6.2 5.1 7.7 7.0 5.9 4.7 6.0 5.2 5.8 6.2 6.9 5.4 5.3 5.6 5.8

37.1 34.2 35.2 40.4 47.0 33.8 43.2 25.7 25.7 30.8 19.8 24.5 48.7 30.3 31.5 26.0 33.0 32.9

15.6 12 18 15 11 23 22 8 9 15.5 9 21 14 18

4.0 11.8 17.3

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

135

Lampiran A: Tabel 3.6 Indikator Pelayanan Kesehatan menurut Kabupaten di Aceh, 2008
Tempat tidur rumah sakit per 10.000 penduduk 2008 2.6 1.6 1.2 30.2 4.2 2.6 11.4 2.8 4.5 43.0 10.3 % Pertolongan persalinan oleh Tenaga Kesehatan 2008 87.6 91.4 82.7 96.4 87.9 79.1 96.3 83.0 92.8 87.3 100.0 94.6 % Penduduk tanpa Akses ke Fasilitas Kesehatan 2008 12.8 7.1 21.9 0.0 18.8 18.3 4.4 11.0 2.6 5.4 0.0 5.6

Bab Tiga
Dokter per 10.000 penduduk 2008 1.1 0.8 0.7 4.1 0.9 1.6 1.6 1.3 1.4 9.9 4.4

Daerah / Kabupaten

Penduduk per puskemas

2008 Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 17.731 12.404 15.853 35.067 23.990 23.534 31.752 21.033 11.527 21.792 4.870

TingkatGabung

an

11.9 11 22 3 17 16 5 14 4 6 2 1

10.465 12.783 9.450 12.434 10.224 11.673 12.310 5.898

1.2 1.6 1.1 0.6 0.9 1.2 1.0 1.9

3.8 6.5 0.0 3.2 9.2 3.9 2.2 1.0

68.7 59.9 72.8 81.6 56.4 68.0 72.6 69.5 65.2 76.9 87.6 90.9 74.5 54.8 83.1 96.9 76.8 76.6

13.4 22.8 25.1 15.2 1.4 12.5 2.3 12.8 31.1 14.7 13.3 22.4 7.0 24.3 12.9 4.7 12.5 15.5

13.3 15 20 17 7 13 11 10 23 13.5 7 21 9 17

11.362 14.041 12.505 12.536 6.233 10.347 21.847 14.012 14.935

1.3 1.5 0.4 1.5 1.5 2.1 5.7 1.3 0.7

3.4 4.7 0.0 4.3 2.9 7.5 28.8 3.3 2.1

6.8 11.6 15.6

Catatan: Perhitungan dokter dan tempat tidur rumah sakit hanya meliputi fasilitas yang terbuka bagi masyarakat umum dan tidak termasuk dokter dan tempat tidur bagi TNI, polisi dan pegawai negeri. * Merupakan Kabupaten Bbaru Sumber: BPS, Aceh Dalam Angka 2009

136

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 4.1 PDRB dan Pengeluaran per Kapita per bulan menurut Kabupaten di Aceh (Rp 000s)

Bab Empat
Pengeluaran per kapita

PDRB per kapita non-minyak Daerah / Kabupaten (Rp sekarang 000s 2007) Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 703 811 607 715 792 629 1,487 732 442 512 1,028 693 Tingkat 11.9 6 17 12 7 15 1 11 20 18 4 14

Selisih tingkat

Pangan (%total)

(Rp sekarang 000s 2008) 401 514 403 471 370 338 419 380 420 412 889 652

Tingkat 13.9 4 15 5 18 21 12 17 11 13 1 2 2.0 -2 -2 -7 11 6 11 6 -9 -5 -3 -12 63.9 58.0 62.5 59.2 62.9 66.8 57.3 64.0 71.5 68.0 41.1 60.1

815 1,205 628 1,255 339 738 733 435 480 658 703 811 607 715 703 880.6 651.7 770.1

12.0 3 16 2 23 9 10 21 19 12.0 5 8 22 13 5 10.0 13.8 10.6

441 573 470 466 439 381 363 407 331 399 401 514 403 471 401 552.3 422.4 411.0

10.7 3 6 7 10 16 19 14 22 15.0 8 9 23 20 8 8.4 12.9 13.1

-1.3 0 -10 5 -13 7 9 -7 3 3.0 3 1 1 7 3 -1.6 -0.9 2.6

63.5 55.7 66.5 64.0 66.5 63.3 66.1 62.4 67.5 65.5 58.0 64.8 69.4 69.6 58.0 57.0 63.4 66.0

Notes: * Denotes new jurisdiction. # Denotes non-oil GRDP . Source: GDRP data is derived from BPS. Expenditure data is from Susenas survey.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

137

Lampiran A: Tabel 4.2 Indikator Pekerjaan menurut Kabupaten di Aceh, 2008

Bab Empat

Daerah / Kabupaten

Angka Partisipasi Angkatan Kerja %

Pekerjaan Sektor Informal %

Pengangguran Terbuka %

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

Tingkat Pekerjaan Sektor Informal

Tingkat Pengangguran Terbuka

Keseluruhan tingkat

Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Indonesia Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru

60.0 55.9 61.4 57.0 62.2 55.0 52.3 61.1 62.5 61.8 63.0 61.8

62.2 49.1 61.3 53.6 60.0 62.3 54.3 65.6 67.5 69.3 24.4 48.8

10.4 12.1 11.7 11.3 11.2 14.0 14.4 7.5 7.9 8.5 11.4 11.4

11.6 19 10 17 7 20 23 11 6 8 5 9

12.4 3 11 4 9 13 5 15 17 19 1 2

14.3 20 19 16 15 22 23 7 8 9 18 17

13.9 18 17 15 8 23 20 10 8 13 1 6

59.4 56.4 59.4 65.6 54.9 60.9 60.2 58.7 58.7 66.8 77.6 72.2 54.3 63.2 60.3 67.2 58.6 59.9 63.5

60.1 62.4 55.9 68.6 61.8 60.2 55.9 55.8 65.6 80.7 80.0 84.7 77.7 80.5 61.8 61.3 49.3 64.0 67.8

8.0 7.2 10.4 5.0 8.6 8.8 5.5 10.2 12.2 5.6 4.9 3.4 9.6 4.3 9.6 8.4 12.1 9.3 6.9

13.9 18 14 3 21 12 13 16 15 7.3 1 2 22 4

10.7 14 8 18 12 10 7 6 16 21.5 21 23 20 22

9.0 6 14 4 10 11 5 13 21 4.5 3 1 12 2

10.6 16 13 2 19 10 2 12 21 8.8 2 5 22 6

13.8 14.2 7.3

5.6 12.9 15.1

19.0 11.9 7.1

12.6 14.3 7.0

Catatan: * Merupakan kabupaten baru. Sumber: BPS, Indonesia, 2008.

138

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 4.3 Partisipasi Angkatan Kerja menurut Gender di Aceh 1998-2008

Bab Empat

Tahun

Laki-laki

Perempuan

Total

% Laki-laki

% Perempuan

% total pertumbuhan

1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

1020 1045 1071 1125 1101 1335 1074 1082 1126 1121 1154

612 635 660 693 727 867 545 681 688 621 640

1631 1680 1731 1818 1828 2202 1619 1762 1814 1742 1793

62.5 62.2 61.9 61.9 60.2 60.6 66.3 61.4 62.1 64.3 64.3

37.5 37.8 38.1 38.1 39.8 39.4 33.7 38.6 37.9 35.7 35.7

2.5% 2.5% 5.0% -2.1% 21.3% -19.5% 0.7% 4.1% -0.4% 2.9%

Sumber: BPS Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2009

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

139

Lampiran A: Tabel 5.1 Partisipasi perempuan di DPR dan Posisi Kepemimpinan menurut kabupaten di Aceh, 1999 - 2008 (%)

Bab Lima
Perempuan dalam Posisi Pejabat Senior, Manajerial dan Staff Teknis (%) Tingkat 2008 12.1 19 13 2 15 5 23 12 10 11 4 22 59.3 57.9 60 36.8 53.3 55.2 44.3 53.1 42.0 29.1 60.3 55.2 54.5 49.6 51.5

Daerah / Kabupaten 1999 Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Pidie Jaya* Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Subulussalam* Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Aceh Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 0 3.3 2.6 0 2.2

Partipasi perempuan di DPR (%) 2002 2008 7.7 0 0 1.0 6.7 16.7 6.7 12.5 1.0 8.6 9.1 9.1 13.3 1.0

1999

2002

2008

Tingkat 2008 7.3 7 4 17 8 19 23 2 5 6 14 10

8.9

4.4 0 5.0 0 5.0

62.6

44.4 56 56.5 55.4 35.9

0 0 5.0

47.5 53.3 58.5

7.5 2.5 6.7 15.0 4.0 10.0 4.0 1.0 12.0 12.0 13.0 0 0 1.0 38.1 12.0 1.0 5.8 8.8 7.6 10.7

12.1 14 3 17 9 16 20 6 8 11.8 18 1 7 21 54.5 41.8 50 30.4 59.3 52.4 40.8 42.0 49.6 44.8 48.7 52.7 37.3 39.3 32.7 50.6 65.3 45.0 50.8 51.0 41.1 49.6

13.6 22 13 1 16 12 11 20 15 12.8 3 9 21 18

0

0 0 0

47.8

19 62.5 26.9

8.3 2.5 2.1

9.1 2.5 1.1

54.5 11.8 11.7 12.6 55.9 51.1

45.3 45.7 43.8

15.8 11.9 9.4

Catatan: * Merupakan kabupaten baru. Sumber: Laporan Kesenjangan Kesejahterraan Masyarakat Antar Daerah untuk tahun 1999, 2002. BPS untuk 2008.

140

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran A: Tabel 6.1 IPM dan Pendapatan Fiskal per Kapita menurut Kabupaten di Aceh, 2007

Bab Enam

IPM 2007 Daerah / Kabupaten Indeks Aceh Bagian Utara dan Timur (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata tidak meliputi kota-kota) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Median Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 71.3 72.7 69.4 72.2 69.2 71.4 74.7 72.5 70.8 76.3 74.5 4 12 6 14 8 2 5 10 1 3 Tingkat Rp 1,611 1,574 1,608 2,201 1,624 1,462 2,211 1,493 1,308 2,641 9,233

Pendapatan fiskal per kapita 2007

Tingkat

18 17 13 16 20 12 19 21 9 1

68.3 69.3 68.2 67.6 68.0 68.9 68.4 68.0 69.8 72.1 68.9 71.0 67.1 69.4 71.8 70.2 70.1 8.0 12.4 12.4 7 15 9 23 13 19 22 20 15 17 20

3,010 2,646 5,016 3,008 3,391 2,050 2,821 2,138 2,870 2,439 2,774 2,260 4,006 2,260 2,351 2,034 3,208 15.3 10.9 11.8 10 7 11 3 8 2 5 4 15 6 14

Sumber: Tingkat IPM didasarkan pada data dari BPS; Tingkat pendapatan per kapita didasarkan pada data dari Bank Dunia (2008) ―Analisa Pengeluaran Publik Aceh‖. * Merupakan kabupaten baru.

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

141

Lampiran A: Tabel 6.2 Rata-rata Pengeluaran per Kapita menurut Kabupaten di Aceh 2006-07 (Rp 000s tetap 2006)

Bab Enam

Daerah / Kabupaten

Kesehatan

Pendidikan

Infrastrukturstruktur

total Sub-

dari Persen total

Total semua sektor

Aceh Bagian Utara dan Barat (ratarata tidak meliputi kota-kota) Aceh Besar Aceh Timur Kota Langsa* Aceh Tamiang* Aceh Utara Kota Lhokseumawe* Bireuen Pidie Kota Banda Aceh Kota Sabang Aceh Bagian Barat dan Selatan (rata-rata) Aceh Barat Aceh Jaya* Nagan Raya* Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya* Aceh Singkil Aceh Bagian Tengah (rata-rata) Aceh Tengah Bener Meriah* Aceh Tenggara Gayo Lues* Median untuk Aceh Rata-rata sebagai %total Rata-rata kota Rata-rata kabupaten lama Rata-rata kabupaten baru 195 176 128 147 176 8% 418 151 205 580 561 443 589 549 22% 898 468 645 318 383 243 504 306 17% 469 299 732 1.093 1.120 814 1.241 1.069 47% 1.786 918 1.582 48% 48% 50% 47% 46% 41% 34% 237 289 203 177 136 235 183 639 870 656 289 480 649 421 601 1.918 606 294 147 507 211 1.478 3.077 1.464 760 763 1.392 815 53% 54% 55% 29% 45% 53% 38% 139 104 238 181 134 124 135 96 138 1.171 545 346 553 545 453 601 498 452 802 1.637 156 206 230 472 732 319 264 116 268 1.061 840 656 1.021 1.198 1.319 1.045 898 664 1.208 3.870 55% 46% 48% 57% 60% 48% 63% 52% 49% 43%

1.825 1.519 1.434 2.134 2.086 2.198 2.180 1.429 1.277 2.479 8.983

2.804 2.804 5.739 2.670 2.653 1.704 2.645 2.151 2.580 2.314 2.423 1.967 3.617 2.189 100% 3.944 1.950 3.196

Catatan: Berasal dari Bank Dunia, Aceh public expenditure analysis update 2008, Jakarta, Bank Dunia, 2008; tabel C.8. * Merupakan Kabupaten Baru.

142

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Provinsi, 2008
Pengeluaran Riil Per Kapita Yang Disesuaikan (Ribu Rupiah) 2008 559.1 615.8 620.0 618.9 623.4 619.0 621.1 623.6 628.3 625.0 625.8 625.9 627.6 630.3 626.3 628.7 627.9 623.0 586.7 615.2 619.8 625.5 620.5 620.0 615.7 621.3 610.1 614.1 614.7 609.8 592.5 595.7 503.2 634.4

Provinsi

Harapan Hidup (Tahun) 2008

Angka Melek Huruf (%) 2008 95.9 97.0 96.6 97.8 95.3 97.0 94.5 93.5 95.3 94.8 98.7 95.5 89.1 89.5 87.5 95.2 87.1 79.4 87.3 88.3 97.2 95.0 96.2 99.1 95.3 86.0 90.9 95.2 87.0 97.3 95.5 90.8 73.0 92.1

Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) 2008 8.6 8.6 8.3 8.6 7.7 7.7 8.1 7.3 7.5 8.2 10.7 7.5 7.0 8.9 7.1 8.2 7.9 6.8 6.6 6.8 8.0 7.5 8.9 9.0 8.0 7.2 7.9 7.1 7.1 8.6 8.6 7.9 6.4 7.6

IPM

Peringkat IPM

2008 67.1 72.0 71.9 73.4 71.3 71.6 71.5 70.7 71.3 72.1 76.7 70.8 71.0 73.8 69.5 69.7 71.0 63.0 64.9 67.1 72.9 68.0 73.2 74.6 69.4 69.1 68.6 68.6 67.5 70.4 67.7 67.8 55.8 71.5

2008 29 8 9 4 13 10 11 17 12 7 1 16 15 3 20 19 14 32 31 30 6 25 5 2 21 22 23 24 28 18 27 26 33

11. Nangroe Aceh D 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Bangka Belitung 21. Kepulauan Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. D. I. Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 1) 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 2) 94. Papua Indonesia

68.5 69.2 69.0 71.1 68.8 69.2 69.4 69.0 68.6 69.7 72.9 67.8 71.1 73.1 69.1 64.6 70.6 61.5 67.0 66.3 71.0 63.1 70.8 72.0 66.1 69.6 67.4 66.2 67.4 67.0 65.4 67.9 68.1 69.0

Keterangan: 1 Hasil pemekaran Provisi Sulawesi Selatan Tahun 2004 2 Hasil pemekaran Provinsi Papua Tahun 2001 - Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

143

Lampiran B: Tabel 2. Indeks Pembangunan Jender (IPJ) Menurut Provinsi, 2008
Angka Melek Huruf Usia Dewasa (%) P 94.2 95.4 95.4 96.5 92.7 95.7 92.1 90.3 93.1 93.2 97.9 93.4 84.8 84.7 83.0 92.8 81.4 73.0 85.3 83.3 96.0 92.6 94.6 98.9 93.5 83.5 87.6 94.9 84.1 96.3 93.4 88.3 67.1 89.1 L 97.6 98.6 98.0 99.0 97.9 98.3 96.9 96.5 97.3 96.4 99.5 97.7 93.7 94.5 92.5 97.6 92.8 87.0 89.4 93.2 98.2 97.4 97.7 99.4 97.0 88.7 94.5 95.4 90.0 98.3 97.6 93.0 78.4 95.3 Kontribusi dalam Pendapatan (%) P 32.2 35.8 37.8 21.4 30.0 32.3 36.4 31.3 23.7 31.9 33.0 29.0 34.2 40.4 35.0 32.6 37.7 35.2 42.7 36.0 32.4 33.1 21.2 31.9 35.9 33.6 37.1 31.9 34.6 34.3 32.5 28.4 36.2 33.0 L 67.8 64.2 62.2 78.6 70.0 68 63.6 68.7 76.3 68.1 67.0 71.0 65.8 59.6 65.0 67.4 62.3 64.8 57.3 64.0 67.6 66.9 78.8 68.1 64.1 66.4 62.9 68.1 65.4 65.7 67.5 71.6 63.8 67.0 61.4 68.1 68.7 60.1 64.3 66.0 68.4 64.7 60.1 65.2 70.7 62.7 65.9 72.0 65.0 64.2 68.2 57.5 63.9 63.5 68.3 62.7 59.3 69.0 66.1 63.1 65.2 62.9 63.4 66.2 62.6 60.9 53.4 65.9 27 8 4 30 17 11 5 16 29 14 2 24 12 1 15 18 7 32 19 20 6 25 31 3 10 22 13 23 21 9 26 28 33

Provinsi

Proporsi Penduduk (% dari Total) P L 49.7 49.8 49.3 52.7 51.0 50.5 50.9 51.0 52.8 48.8 49.1 50.4 49.6 50.2 49.6 50.5 50.4 47.8 49.8 50.5 52.2 50.1 52.3 50.9 50.9 48.2 49.3 50.6 50.6 50.7 50.6 52.5 51.9 50.1

Angka Harapan Hidup (Tahun) P 70.5 71.2 71.0 73.1 70.8 71.2 71.4 71.0 70.6 71.7 74.9 69.8 73.1 75.1 71.1 66.6 72.6 63.4 69.0 68.3 73.0 65.0 72.8 74.0 68.1 71.6 69.4 68.2 69.4 69.0 67.4 69.9 70.1 71.0 L 66.6 67.3 67.1 69.2 66.9 67.3 67.5 67.1 66.7 67.8 71.1 65.9 69.2 71.3 67.2 62.7 68.7 59.7 65.1 64.4 69.1 61.3 68.9 70.1 64.2 67.7 65.5 64.3 65.5 65.1 63.5 66.0 66.2 67.1

Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) P 8.2 8.2 8.2 8.3 7.2 7.4 7.7 7.0 7.1 8.2 10.3 7.1 6.5 8.3 6.5 7.7 7.2 6.2 6.4 6.4 7.7 7.1 8.4 9.0 7.7 7.0 7.4 7.3 6.7 8.4 8.3 7.4 5.5 7.2 L 9.0 9.0 8.4 8.9 8.2 8.1 8.4 7.6 7.8 8.2 11.1 8.0 7.5 9.5 7.7 8.7 8.7 7.5 6.9 7.2 8.3 8.0 9.3 8.9 8.2 7.5 8.4 6.8 7.4 8.9 8.9 8.4 7.2 8.1

IPJ

PeringkatIPJ

11. Nangroe Aceh D 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Bangka Belitung 21. Kepulauan Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. D. I. Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 1) 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 2) 94. Papua Indonesia

50.3 50.2 50.7 47.3 49.0 49.5 49.1 49.0 47.2 51.2 50.9 49.6 50.4 49.8 50.4 49.5 49.6 52.2 50.2 49.5 47.8 49.9 47.7 49.1 49.1 51.8 50.7 49.4 49.4 49.3 49.4 47.5 48.1 49.9

Keterangan: 1 Hasil pemekaran Provisi Sulawesi Selatan Tahun 2004 2 Hasil pemekaran Provinsi Papua Tahun 2001 - Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

144

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 3. Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ) Menurut Provinsi, 2005 dan 2008
Wanita di parlemen (% dari anggota parlemen) 2008 11. Nangroe Aceh D 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Bangka Belitung 21. Kepulauan Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. D. I. Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 1) 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 2) 94. Papua Indonesia 5.8 7.1 9.1 7.3 13.3 18.5 20.5 20.0 2.9 6.7 14.7 10.0 15.0 12.7 14.9 6.7 7.3 9.1 10.9 5.5 20.0 10.9 22.2 12.8 13.3 8.0 8.9 11.4 11.4 4.4 1.0 11.8 14.3 11.3 Wanita pekerja profesional, teknisi, kepemimpinan & ketatalaksanaan (% dari total) 2008 49.6 43.0 49.7 42.5 42.5 49.5 45.2 35.5 40.4 30.2 35.4 32.7 44.6 40.8 42.9 36.6 34.7 38.6 40.0 41.2 41.6 41.1 33.4 46.0 45.0 44.1 38.4 48.8 48.5 36.7 36.0 32.5 39.8 39.8 Wanita dalam angkatan kerja (% dari total) 2008 35.7 40.8 39.8 28.4 35.2 38.5 39.0 35.8 29.9 37.1 40.2 33.5 41.1 43.8 40.0 35.4 44.8 44.0 42.8 41.0 35.3 40.0 30.7 31.1 36.8 37.7 41.6 32.7 37.4 36.4 38.0 34.8 41.0 38.2

Provinsi

Rata-rata Upah di Sektor Non Pertanian (Rupiah) P 1 221 603 931 833 1 121 399 1 075 122 933 816 960 468 1 153 219 757 904 866 195 1 478 773 1 320 438 929 919 650 466 912 222 771 776 1 107 859 972 173 678 251 1 185 166 1 034 076 1 110 168 893 163 1 181 421 1 238 793 1 081 556 1 038 635 987 719 866 772 1 085 119 1 211 524 1 065 906 1 327 453 1 822 289 934 773 L 1 427 396 1 154 245 1 220 368 1 566 738 1 182 983 1 262 305 1 288 118 927 724 1 192 230 1 864 917 1 796 428 1 147 989 875 415 1 049 631 953 242 1 254 907 1 305 557 981 039 1 189 415 1 278 576 1 267 031 1 203 722 1 943 835 1 193 590 1 124 339 1 241 938 1 192 334 898 006 1 223 787 1 325 010 1 354 556 1 790 456 2 233 949 1 174 597

IDJ 2008 50.2 56.9 60.9 48.6 61.4 67.7 71.8 66.3 45.6 49.3 61.0 53.6 65.2 65.9 65.2 54.4 57.0 56.6 61.1 55.3 69.7 60.1 59.6 62.4 64.9 56.1 57.8 60.5 62.2 51.7 44.7 55.2 55.8 60.5

Peringkat IDJ 2008 29 20 14 31 11 3 1 4 32 30 13 27 6 5 7 26 19 21 12 24 2 16 17 9 8 22 18 15 10 28 33 25 23

Keterangan: 1 Hasil pemekaran Provisi Sulawesi Selatan Tahun 2004 2 Hasil pemekaran Provinsi Papua Tahun 2001 - Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

145

Lampiran B: Tabel 4. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Menurut Provinsi, 2008
Penduduk Angka Penduduk yang diper- buta huruf Tanpa Akses penduduk Pada Air Bersih kirakan tidak mencapai usia dewasa (%) 40 tahun (%) (%) 2008 11. Nangroe Aceh D 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Bangka Belitung 21. Kepulauan Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. D. I. Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 1) 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 2) 94. Papua Indonesia 8.8 8.1 8.3 6.3 8.5 8.1 7.9 8.3 8.7 7.6 4.7 9.5 6.3 4.6 8.2 13.3 6.7 17.1 10.5 11.3 6.4 15.1 6.6 5.5 11.5 7.7 10.0 11.4 10.0 10.5 12.3 9.4 9.2 8.3 2008 4.1 3.0 3.4 2.2 4.7 3.0 5.5 6.5 4.7 5.2 1.3 4.5 10.9 10.5 12.5 4.8 12.9 20.6 12.7 11.7 2.8 5.0 3.8 0.9 4.7 14.0 9.1 4.8 13.0 2.7 4.5 9.2 27.0 7.8 2008 25.7 23.7 26.1 39.6 40.7 34.4 52.0 32.3 20.4 22.3 0.9 14.1 12.1 13.3 8.2 12.9 10.8 15.0 33.7 75.5 51.1 36.3 27.1 13.9 21.0 22.4 21.6 16.3 31.1 20.4 31.6 55.5 59.3 19.4 Penduduk Balita tanpa akses kurang pada fasilitas (*Riskesdasgizi NHCS, sarana kesehatan ** WHO Standards) (%) (%) 2008 12.9 20.1 4.9 15.3 9.3 24.7 10.4 13.0 15.7 7.4 0.0 6.1 5.4 0.0 6.0 11.5 1.1 3.2 20.7 29.2 23.8 13.9 18.7 14.0 13.5 9.7 18.5 6.2 11.6 24.4 34.1 37.8 50.1 14.7 2008* 31.5 28.4 25.6 25.8 24.1 21.6 20.7 22.5 24.8 16.4 17.0 20.6 20.7 14.9 21.9 22.3 15.4 31.6 39.6 28.0 28.2 33.0 23.9 21.2 32.4 23.4 28.8 32.5 31.1 31.9 27.7 28.1 26.2 23.5 2008** 26.5 22.7 20.2 21.4 18.9 18.2 16.7 17.5 18.3 12.4 12.9 15.0 16.0 10.9 17.4 16.6 11.4 24.8 33.6 22.5 24.2 26.6 19.3 15.8 27.6 17.6 22.7 25.4 25.4 27.8 22.8 23.2 21.2 18.4 IKM (*Riskesdas NHCS, ** WHO Standards) 2008* 16.5 16.9 13.5 18.7 17.4 18.8 19.4 16.0 14.5 11.2 4.7 10.5 10.6 9.1 11.3 12.8 11.3 16.9 22.5 31.0 23.9 20.3 16.3 11.5 16.2 14.8 16.7 13.7 18.2 18.1 22.0 28.3 33.0 14.0 2008** 15.4 15.6 12.3 17.7 16.2 18.0 18.5 15.0 13.1 10.4 4.1 9.5 9.9 8.4 10.7 11.9 9.9 17.7 21.2 29.8 23.0 18.9 15.2 10.3 15.2 13.7 15.4 12.4 17.1 17.2 20.9 27.2 32.5 12.9 Peringkat IKM (*Riskesdas NHCS, ** WHO Standards) 2008* 17 20 10 24 21 25 26 14 12 5 1 3 4 2 7 9 6 19 29 32 30 27 16 8 15 13 18 11 23 22 28 31 33 2008** 15 17 7 22 18 24 26 13 11 6 1 3 4 2 5 8 10 21 28 32 29 20 19 9 14 16 23 12 25 27 30 31 33

Provinsi

Keterangan: 1 Hasil pemekaran Provisi Sulawesi Selatan Tahun 2004 2 Hasil pemekaran Provinsi Papua Tahun 2001 - Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

146

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kabupaten/Kota, 2008

Provinsi Kabupaten/Kota

Harapan Hidup (Tahun)

Angka Melek Huruf (%) 2008 95.9 98.0 90.4 93.4 97.1 97.1 97.7 92.8 96.2 95.4 98.1 95.1 95.7 83.5 97.7 88.4 93.1 97.0 93.5 99.0 98.1 98.6 98.8 90.7 92.1

Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) 2008 8.6 8.5 8.3 8.3 9.4 8.4 9.2 8.3 9.9 8.6 9.2 9.1 7.5 8.7 8.4 7.4 8.8 8.1 7.6 12.0 10.5 10.0 10.0 7.6 7.6

Pengeluaran Riil per Kapita yang Disesuaikan (Ribu Rupiah) 2008 559.1 568.3 572.5 579.3 569.5 576.4 578.6 574.9 573.9 572.5 570.0 552.0 557.9 553.5 562.1 566.2 574.8 562.2 574.3 573.0 574.9 578.6 578.5 554.4 634.4

IPM

Peringkat IPM

2008 11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia 68.5 62.8 64.5 66.7 69.2 69.5 69.4 69.8 70.5 69.1 72.3 69.5 66.5 66.8 68.2 69.4 67.9 67.4 69.0 70.2 70.4 70.1 70.0 65.5 69.0

2008 67.1 65.2 64.5 67.0 69.2 69.2 70.1 68.2 70.5 68.5 71.1 67.4 65.1 63.2 67.5 65.7 67.6 66.7 67.4 72.4 71.4 71.3 71.2 63.3 71.5

2008 29 401 415 361 264 265 214 313 193 300 163 345 402 424 341 391 335 368 344 99 142 148 150 420

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

147

Lampiran B: Tabel 6. Indeks Pembangunan Jender (IPJ) Menurut Kabupaten/Kota, 2008
Angka Melek Huruf Usia Dewasa (%) P 94.2 97.1 85.6 91.2 95.0 96.0 97.0 89.9 95.5 92.9 97.4 93.7 93.4 76.1 96.8 84.4 89.8 95.3 91.0 98.6 97.3 97.8 98.6 84.4 89.1 L 97.6 99.0 95.1 95.9 99.4 98.3 98.4 95.9 96.9 98.1 98.9 96.6 98.1 90.9 98.6 92.6 96.5 98.8 96.6 99.3 98.9 99.3 99.0 97.2 95.3 Kontribusi dalam Pendapatan (%) P 32.2 24.3 24.6 32.3 34.4 34.1 40.7 25.0 32.7 34.6 35.0 33.3 30.8 38.8 26.6 35.9 25.6 42.5 28.8 29.7 29.3 24.8 22.2 32.1 33.0 L 67.8 75.7 75.4 67.7 65.6 65.9 59.3 75.0 67.3 65.4 65.0 66.7 69.2 61.2 73.4 64.1 74.4 57.5 71.2 70.3 70.7 75.2 77.8 67.9 67.0 61.4 54.6 55.3 60.7 63.0 64.9 67.5 58.3 64.6 64.0 67.3 61.3 58.3 60.9 57.8 61.7 58.8 65.6 57.9 65.7 63.1 62.1 57.2 57.6 64.8 27 419 413 338 264 191 106 384 214 235 116 318 386 331 392 307 375 163 391 157 261 294 400 395 65.9

Provinsi Kabupaten/Kota

Proporsi Penduduk (% dari Total) P L 49.7 52.1 50.2 49.8 49.8 50.0 48.8 52.1 49.2 47.6 49.8 48.8 49.0 50.5 50.4 50.2 52.7 50.9 49.1 51.1 49.2 50.5 50.0 50.6 50.1

Angka Harapan Hidup (Tahun) P 70.5 64.8 66.4 68.7 71.2 71.6 71.5 71.8 72.6 71.1 74.3 71.6 68.5 68.9 70.2 71.5 70.0 69.4 71.1 72.3 72.4 72.2 72.0 67.5 71.0 L 66.6 61.0 62.6 64.8 67.2 67.6 67.5 67.9 68.6 67.2 70.4 67.6 64.6 64.9 66.3 67.5 66.0 65.5 67.1 68.3 68.4 68.2 68.1 63.7 67.1

Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) P 8.2 8.0 7.6 7.9 8.8 8.3 9.1 7.8 9.6 8.2 9.2 9.1 7.2 8.3 8.1 6.8 8.8 7.8 7.2 11.7 10.4 9.8 9.7 7.0 7.2 L 9.0 9.1 9.0 8.7 10.0 8.5 9.3 8.8 10.1 9.1 9.3 9.1 7.8 9.1 8.7 8.0 8.8 8.4 8.1 12.3 10.7 10.3 10.3 8.3 8.1

IPJ

PeringkatIPJ

11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia

50.3 47.9 49.8 50.2 50.2 50.0 51.2 47.9 50.8 52.4 50.2 51.2 51.0 49.5 49.6 49.8 47.3 49.1 50.9 48.9 50.8 49.5 50.0 49.4 49.9

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

148

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 7. Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ) Menurut Kabupaten/Kota, 2008

Provinsi Kabupaten/Kota

Wanita di parlemen (% dari anggota parlemen)

Wanita pekerja profesional, teknisi, kepemimpinan & ketatalaksanaan (% dari total) 49.6 45.0 41.1 50.8 40.8 55.2 59.3 32.7 53.3 55.2 60.3 42.0 51.0 42.0 53.1 65.3 50.6 52.4 54.5 49.6 51.5 44.3 29.1 49.6 39.8

Wanita dalam angkatan kerja (% dari total) 35.7 27.9 29.7 37.0 33.8 33.7 43.4 30.0 33.0 42.1 39.6 33.9 35.8 39.3 33.0 39.8 29.2 42.4 43.1 32.1 30.7 28.8 28.8 31.2 38.2

Penduduk Wanita (% dari Total)

Penduduk Wanita (% dari Total)

IDJ

Peringkat IDJ

P 50.3 47.9 49.8 50.2 50.2 50.0 51.2 47.9 50.8 52.4 50.2 51.2 51.0 49.5 49.6 49.8 47.3 49.1 50.9 48.9 50.8 49.5 50.0 49.4 49.9 1.221.603 967.979 1.095.169 1.013.935 1.555.393 1.105.230 1.110.296 1.234.798 1.499.221 1.092.974 926.756 1.111.725 931.736 1.468.570 917.593 1.482.778 1.248.056 1.396.903 750.086 1.843.931 1.453.601 815.799 1.242.094 1.016.237 934.773

L 1.427.396 1.164.714 1.413.832 1.247.553 1.514.889 1.084.673 1.244.278 1.582.444 1.515.506 1.500.082 1.125.980 1.141.370 1.168.513 1.497.807 1.244.815 1.752.452 1.490.324 1.390.212 1.406.204 2.061.905 1.554.407 1.001.424 1.758.778 971.742 1.174.597 50.2 51.0 53.6 49.0 56.1 53.6 47.9 45.0 45.1 55.6 54.7 55.4 43.0 46.7 47.4 47.2 58.6 79.3 50.9 58.7 42.9 59.2 31.6 56.9 60.5 29 318 260 353 197 259 371 403 401 211 231 217 418 390 381 384 142 1 320 141 419 131 446 178

11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia

5.8 10.0 12.0 4.0 12.0 6.7 1.0 6.7 1.0 9.1 8.6 12.5 1.0 1.0 6.7 4.0 15.0 38.1 9.1 13.3 1.0 16.7 1.0 12.0 11.3

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

149

Lampiran B: Tabel 8. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Menurut Kabupaten/Kota, 2008
Penduduk Angka Penduduk yang diper- buta huruf Tanpa Akses kirakan tidak penduduk Pada Air mencapai usia dewasa Bersih 40 tahun (%) (%) (%) 2008 11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia 8.8 15.4 13.5 10.8 8.2 7.8 7.9 7.5 6.8 8.2 5.3 7.8 11.1 10.7 9.1 7.9 9.4 10.0 8.3 7.1 7.0 7.2 7.3 12.2 8.3 2008 4.1 2.0 9.6 6.6 2.9 2.9 2.3 7.2 3.8 4.6 1.9 4.9 4.3 16.5 2.3 11.6 6.9 3.0 6.5 1.0 1.9 1.4 1.2 9.3 7.8 2008 25.7 71.7 41.6 20.3 30.5 42.0 40.6 34.6 16.0 17.2 16.3 33.3 31.6 50.6 30.3 31.4 17.0 38.3 23.1 1.1 2.6 5.9 1.9 55.5 19.4 Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana kesehatan (%) 2008 12.9 1.4 12.8 12.5 7.0 21.9 13.3 22.8 7.1 2.6 11.0 18.3 2.3 24.3 18.8 15.2 25.1 22.4 5.4 0.0 5.6 0.0 4.4 31.1 14.7 Balita kurang gizi (*Riskesdas NHCS, ** WHO Standards) (%) 2007* 31.5 47.0 25.7 33.8 48.7 21.8 19.8 34.2 24.1 30.1 38.7 38.8 43.2 30.3 26.5 40.4 35.2 24.5 30.1 21.0 22.8 31.9 28.8 25.7 23.5 2008* 26.5 39.7 21.0 24.9 48.7 21.7 15.1 29.9 20.0 23.6 32.8 35.5 39.1 19.5 21.4 36.1 29.0 13.7 15.5 14.6 27.1 24.0

Provinsi Kabupaten/Kota

IKM (*Riskesdas NHCS, ** WHO Standards) 2008* 16.5 28.3 19.6 16.1 20.1 19.9 17.2 21.4 11.2 12.1 15.3 21.0 18.3 25.4 17.8 20.7 18.3 20.0 14.0 6.3 7.8 9.3 8.7 26.4 14.0 2008** 15.4 26.7 18.6 14.2 20.1 19.9 16.2 20.4 10.4 10.7 14.0 20.3 17.4 23.1 16.6 19.7 16.9 17.6 10.8 5.6 6.4 8.3 7.8 30.3 12.9

Peringkat IKM (*Riskesdas NHCS, ** WHO Standards) 2008* 17 410 304 236 321 318 260 342 131 145 217 335 289 387 272 332 287 320 182 32 60 89 75 398 2008** 15 388 300 182 276 335 253 281 124 71 162 355 196 358 301 258 246 265 100 36 31 55 78 379

18.4

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

150

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 9. Kondisi Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota, 2008

Provinsi Kabupaten/Kota

Angka Kematian Bayi (per 1.000)

Penduduk dengan Keluhan Kesehatan (%)

Angka Morbiditas (%)

Rata-rata Lama Sakit (Hari)

Penduduk yang Melakukan Pengobatan Sendiri (%) 67.1 89.2 72.1 77.5 77.8 69.3 75.4 71.1 44.3 63.6 72.3 59.6 73.2 76.9 66.4 79.3 66.5 80.3 51.4 56.1 65.8 77.5 71.3 79.1 65.5

Kelahiran Ditolong oleh Tenaga Medis (%)

11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia

34.1 57.6 50.7 41.3 31.6 30.3 30.7 29.3 26.6 31.8 20.9 30.3 42.2 40.7 35.2 30.7 36.2 38.3 32.1 27.7 27.2 28.0 28.5 46.2 32.2

36.6 24.7 31.3 37.5 25.7 36.6 37.6 32.6 38.2 43.2 43.2 40.8 31.6 38.1 34.5 31.8 41.0 44.7 42.3 24.6 20.9 31.2 41.8 33.5 33.3

21.5 15.9 16.7 25.6 17.7 26.8 27.3 22.1 13.8 21.0 28.4 21.3 24.9 16.8 19.6 21.9 26.6 29.4 26.2 13.9 8.6 16.4 21.8 19.3 17.2

5.4 5.1 5.9 7.7 6.2 3.9 5.2 6.2 6.5 5.9 4.5 4.9 7.0 6.9 5.1 6.2 4.3 5.8 5.5 6.3 6.7 5.7 3.3 4.7 6.1

83.1 56.4 69.5 68.0 74.5 82.7 87.6 59.9 91.4 92.8 83.0 79.1 72.6 54.8 87.9 81.6 72.8 90.9 87.3 100.0 94.6 96.4 96.3 65.2 75.2

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

151

Lampiran B: Tabel 10. Partisipasi Sekolah Menurut Kabupaten/Kota, 2008

Provinsi Kabupaten/Kota Usia 7-12 11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia 99.0 98.7 98.9 99.4 99.4 98.9 99.2 98.5 99.1 98.8 99.3 99.5 98.9 97.5 99.2 99.0 97.3 99.4 98.9 98.7 98.9 99.0 99.4 97.6 97.8

Angka Partisipasi Sekolah

Angka Putus Sekolah

Usia 13-15 94.1 93.9 93.0 97.4 96.6 89.3 98.5 95.2 94.4 97.1 92.5 90.4 95.2 88.8 93.6 92.9 93.8 97.3 98.2 97.7 94.6 94.3 95.2 91.6 84.4

Usia 16-18 72.4 83.3 69.0 74.4 69.6 58.9 71.5 78.2 76.8 72.0 74.6 70.5 72.7 61.4 64.7 79.5 62.1 75.7 68.9 86.8 70.4 76.2 79.6 73.3 54.7

Usia 19-24 22.4 12.6 13.6 17.1 16.1 14.6 14.0 15.8 30.5 22.0 33.8 13.7 20.8 14.1 13.9 17.5 8.3 18.9 14.2 42.0 9.3 27.4 31.8 15.9 12.4

Usia 7-15 1.0 0.9 1.0 0.4 1.0 0.9 0.0 1.9 1.2 0.8 1.5 1.2 1.2 2.9 0.7 1.4 1.3 0.2 0.7 0.8 1.6 1.0 1.1 2.1 2.3

Usia 16-18 6.1 3.4 9.4 5.1 10.4 8.5 4.6 3.8 2.9 4.7 4.8 6.7 2.9 15.0 9.5 2.2 9.3 3.5 11.6 0.0 4.5 5.1 5.6 19.0 11.0

Usia 19-24 13.6 20.5 16.8 8.8 9.0 11.8 20.1 21.9 8.8 7.2 7.0 20.5 21.4 23.4 10.4 12.4 9.9 8.6 11.7 19.0 15.0 12.7 5.1 38.3 14.1

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

152

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 11. Kondisi perumahan Menurut Kabupaten/Kota, 2008
Rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air bersih (%) 2008*) 11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Aceh Besar 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Kota Banda Aceh 72. Kota Sabang 73. Kota Langsa 74. Kota Lhokseumawe 75. Sabulussalam Indonesia 41.2 11.9 42.3 27.7 24.9 30.4 40.7 29.3 53.3 28.3 37.1 29.3 31.0 35.8 51.7 23.5 42.8 39.5 38.8 94.3 89.9 65.7 78.5 24.3 54.1 2008**) 73.4 26.0 56.0 79.6 70.3 58.1 58.5 62.2 83.4 81.2 83.2 66.3 68.6 47.9 69.8 67.2 82.1 60.4 76.1 98.9 97.0 93.9 97.2 44.3 79.8 Rumah tangga yang tinggal di rumah berlantai tanah (%) 2008 10.6 4.4 8.4 5.5 9.0 21.1 13.4 8.5 3.7 7.7 9.2 20.2 6.6 6.7 12.4 14.6 8.9 21.4 13.4 1.5 3.9 3.9 6.7 10.9 13.0

Provinsi Kabupaten/Kota

Rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi (%) 2008 36.3 43.1 18.3 48.9 56.6 30.4 33.2 51.6 24.4 70.7 22.4 42.1 66.2 73.8 9.0 47.9 35.4 27.0 65.6 1.5 22.5 8.9 18.7 18.2 26.1

Keterangan: *) Akses terhadap air bersih dengan kontrol jarak ke tempat penampungan kotoran/tinja terdekat **) Akses terhadap air bersih tanpa kontrol jarak ke tempat penampungan kotoran/tinja terdekat - Jumlah provinsi dan kabupaten sebelum memiliki kode area resmi Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

153

Lampiran B: Tabel 12A. Kinerja Perekonomian Menurut Kabupaten/Kota, 2005-2007

Kabupaten/Kota

PDRB per kapita tahun 2005 (Ribu Rupiah) Dengan Minyak dan Gas

PDRB per (Ribu kapita Rupiah) tahun 2006*

(Ribu Rupiah) PDRB per kapita tahun 2007**

Tanpa dan Minyak Gas 8.792.89 3.410.98 4.779.32 7.786.01 3.841.49 6.205.80 8.108.53 8.755.52 8.834.45 4.822.50 7.352.31 6.218.07 6.866.28 6.063.33 5.792.87 10.168.57 5.914.32 7.990.87 10.757.24 6.948.82 7.279.37 15.207.41 2.458.234.30

Dengan dan Gas Minyak 17.380.60 3.671.36 4.848.83 8.436.24 4.367.06 25.782.92 9.086.87 10.962.98 9.340.38 5.083.89 7.903.44 29.237.52 7.479.79 6.842.32 11.539.90 12.410.95 6.999.34 8.633.77 5.751.71 12.918.11 7.523.36 7.931.94 16.037.35 5.392.29 3.339.479.60

Tanpa dan Minyak Gas 11.024.31 3.671.36 4.848.83 8.436.24 4.367.06 6.726.57 9.086.87 10.962.98 9.340.38 5.083.89 7.903.44 6.881.28 7.479.79 6.842.32 7.643.99 12.410.95 6.999.34 8.633.77 5.751.71 12.918.11 7.523.36 7.931.94 16.037.35 5.392.29 2.967.303.10

Dengan dan Gas Minyak 17.329.35 4.063.97 5.217.00 8.857.37 4.664.72 29.706.48 10.099.57 14.458.63 9.733.60 5.299.03 8.786.41 23.786.78 8.794.81 8.352.79 10.714.36 15.064.47 7.538.90 9.294.69 6.139.76 12.340.85 8.310.19 8.582.30 17.839.30 5.761.80 3.957.403.90

Tanpa danMinyak Gas 12.268.73 4.063.97 5.217.00 8.857.37 4.664.72 7.285.43 10.099.57 14.458.63 9.733.60 5.299.03 8.786.41 7.552.44 8.794.81 8.352.79 9.505.65 15.064.47 7.538.90 9.294.69 6.139.76 12.340.85 8.310.19 8.582.30 17.839.30 5.761.80 3.540.950.10

11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia

14.126.34 3.410.98 4.779.32 7.786.01 3.841.49 18.461.01 8.108.53 8.755.52 8.834.45 4.822.50 7.352.31 21.955.79 6.866.28 6.063.33 11.366.47 10.168.57 5.914.32 7.990.87 10.757.24 6.948.82 7.279.37 15.207.41 2.774.281.10

Keterangan: * Angka sementara ** Angka sangat sementara - Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

154

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Lampiran B: Tabel 12B. Kinerja Perekonomian Menurut Kabupaten/Kota, 2005-2007
Annual Growth in Real Per Capita GRDP Kabupaten/Kota Dengan Minyak dan Gas 11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia - Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS 23.04 7.63 1.45 8.35 13.68 39.66 12.07 25.21 5.73 5.42 7.50 33.17 8.94 12.85 1.53 22.05 18.35 8.05 20.09 8.27 8.96 5.46 20.37 2005-2006 Tanpa dan Minyak Gas 25.38 7.63 1.45 8.35 13.68 8.39 12.07 25.21 5.73 5.42 7.50 10.67 8.94 12.85 31.96 22.05 18.35 8.05 20.09 8.27 8.96 5.46 20.71 2006-2007 Dengan dan Gas Minyak -0.29 10.69 7.59 4.99 6.82 15.22 11.14 31.89 4.21 4.23 11.17 -18.64 17.58 22.08 -7.15 21.38 7.71 7.66 6.75 -4.47 10.46 8.20 11.24 6.85 18.50 Tanpa danMinyak Gas 11.29 10.69 7.59 4.99 6.82 8.31 11.14 31.89 4.21 4.23 11.17 9.75 17.58 22.08 24.35 21.38 7.71 7.66 6.75 -4.47 10.46 8.20 11.24 6.85 19.33

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

155

Lampiran B: Tabel 13. Kondisi Tenaga Kerja dan Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota, 2008
Pekerja yang Bekerja Selama Angka PengPartisipasi < 35 angguran < 14 Tenaga Jam Jam terbuka Kerja PerPer(%) (%) minggu minggu (%) (%) 60.3 54.9 58.7 60.9 54.3 61.4 77.6 56.4 55.9 62.5 61.1 55.0 60.2 63.2 62.2 65.6 59.4 72.2 61.8 63.0 61.8 57.0 52.3 58.7 67.2 9.6 8.6 10.2 8.8 9.6 11.7 4.9 7.2 12.1 7.9 7.5 14.0 5.5 4.3 11.2 5.0 10.4 3.4 8.5 11.4 11.4 11.3 14.4 12.2 8.4 3.5 3.0 2.6 6.2 3.4 1.4 4.2 4.8 6.0 2.5 4.7 3.0 2.4 0.9 4.4 5.8 3.2 1.7 6.7 1.7 1.6 2.2 1.4 3.6 4.2 35.7 35.7 33.7 37.4 43.3 32.1 44.6 36.6 36.5 33.9 36.5 36.4 29.8 44.5 44.1 39.0 23.1 42.4 44.6 14.8 24.7 32.7 28.6 46.6 30.3 Pengeluaran Per Kapita Total Makan(Ribu an Rupiah/ (% dari Bulan) Total) 444.1 439.5 407.2 380.8 323.5 403.4 466.1 572.9 514.2 420.5 380.2 338.1 363.0 351.0 370.1 466.3 470.3 444.2 412.0 888.8 652.1 471.1 418.7 330.6 436.6 60.6 66.5 62.4 63.3 69.4 62.5 58.0 55.7 58.0 71.5 64.0 66.8 66.1 69.6 62.9 64.0 66.5 64.8 68.0 41.1 60.1 59.2 57.3 67.5 52.5 Kemiskinan Jumlah Angka Penduduk KemiskiMiskin nan (%) (000) 962.34 20.57 22.24 38.82 30.89 76.22 40.64 43.69 63.46 101.77 79.09 135.70 27.43 18.89 50.82 33.21 17.24 31.28 37.70 19.91 7.14 23.96 23.94 17.73 34.543.00 23.6 26.5 23.3 19.4 18.5 24.1 23.4 30.0 21.5 28.1 23.3 27.6 23.4 26.6 22.3 28.1 23.9 29.2 30.3 9.6 25.7 18.0 15.9 29.0 15.2

Provinsi Kabupaten/Kota

Pekerja di Sektor Informal (%)

Garis Kemiskinan (Rupiah/ Kapita/ Bulan) 248.627 253.123 213.997 203.761 165.925 256.739 283.307 335.955 285.876 277.688 214.801 218.970 231.460 231.260 240.753 288.593 215.382 272.217 274.078 362.992 310.697 199.628 194.884 168.953 195.678

11. Nangroe Aceh D 01. Simeulue 02. Aceh Singkil 03. Aceh Selatan 04. Aceh Tenggara 05. Aceh Timur 06. Aceh Tengah 07. Aceh Barat 08. Aceh Besar 09. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat Daya 13. Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 71. Banda Aceh 72. Sabang 73. Langsa 74. Lhokseumawe 75. Subulussalam Indonesia

61.8 61.8 55.8 60.2 77.7 61.3 80.0 62.4 49.1 67.5 65.6 62.3 55.9 80.5 60.0 68.6 55.9 84.7 69.3 24.4 48.8 53.6 54.3 65.6 61.3

- Angka di depan nama provinsi adalah kode daerah Sumber: Tabulasi khusus oleh BPS

156

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Referensi

1 Diambil dari Sejahtera dan Suleeman, Inong Aceh Di Bentala Nusantara, 94. xviii 2 Arnstein, Sherry R., 1969. A Ladder of Citizen Participation. 4 3 Untuk laporan ini, empat indikator yang baru saja disebutkan ditambahkan oleh Badan Pusat Statistik, berdasarkan data yang dikumpulkan dari beberapa sumber. 6 4 Aris Ananta, Lee Poh Onn, Aceh: A New Dawn (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2007), 55. 14 5 IPM untuk Aceh sekarang ini direvisi oleh BPS setelah menghitung komponen-komponen indeks, terutama penyesuaian pengeluaran per kapita riil. Lihat Bab 1 untuk penjelasan tentang factor-faktor yang dimasukkan dalam berbagai indeks. 16 6 Lihat Koran Serambi tanggal 26 Agustus 2010: ―Aceh Peringkat Tujuh Termiskin‖. 18 7 Kota-kota di Aceh meliputi: Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Sabang dan Subulussalam. 20 8 Sidney Jones, ―Keeping the Peace: Security in Aceh‖, Accord, 20, 2008, 75. 26 9 ―The Multi stakeholder Review‖, Draft Desember 2009, p xv. 26 10 World Bank (2009), ―Aceh Growth Diagnostic‖, p18. 26 11 Jakarta Post, 18 Agustus 2008: ―Reintegration after three years of Helsinki accord‖. 27 12 UNFPA, Gender-Based Violence in Aceh, Indonesia: A Case Study, Oktober 2005. 27 13 Data dari Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Aceh, 2010. 37 14 Poverty Assessment Report (2008), hal. 45. 41 15 Data tentang angka partisipasi sekolah didasarkan pada proporsi anak dari kelompok usia berbeda yang bersekolah. Aceh, seperti daerah lainnya di Indonesia, memiliki tiga tingkat sekolah yang dikenal sebagai sekolah dasar (SD/MI) untuk usia 7-12 tahun, sekolah menengah pertama (SMP/MT) untuk usia 13-15 tahun dan sekolah menengah atas (SMA MA/SMK) biasanya untuk usia 16-17 tahun. Dalam prakteknya, siswa dari usia tertentu mungkin bersekolah untuk kelompok umur yang lebih rendah atau lebih tinggi. 41

16 Contoh yang sangat tepat tentang pengaturan tersebut dapat ditemukan di kota Santa Cruz di Bolivia, dimana kamar dagang setempat mengambil alih fasilitas pelatihan pemerintah yang ditinggalkan. 45 17 Hubungan terbalik yang jelas antara variabel-variabel ini merupakan salah satu alasan tentang penggunaan harapan hidup pada saat kelahiran sebagai indikator kunci dalam menghitung IPM. 47 18 Bagian ini didasarkan pada tarik dari laporan UNDP barubaru ini ―Access to Justice in Aceh: Making the Transition to Sustainable Peace and Development‖, yang diterbitkan oleh UNDP pada bulan Oktober 2006. 54 19 Sumber: Laporan Perkembangan Akhir Program AJP 2010. 55 20 Fadlullah Wilmot, ―Shari’a in Aceh: panacea or blight?‖, Accord, 20, 2008, 77. 50 21 International Crisis Group, ―Islamic Law and Criminal Justice in Aceh‖, 31 July 2006, 9. 57 22 Ibid. 57 23 Wilmot, ―Shari’a in Aceh: panacea or blight?‖, 79. 57 24 Fitzpatrick, Women’s Rights to Land and Housing in Tsunami-Affected Aceh, Indonesia, 2008, 23. 58 25 UNORC, Tsunami Recovery Indicators Package (TRIP): The Third Report For Aceh and Nias, 36. 58 26 Ibid. 58 27 Data ini diambil dari Bank Pembangunan Asia, Indonesia: Country Gender Assessment, Juli, 2006, 17. 59 28 Istilah ―penyesuaian‖ artinya data mentah yang disesuaikan untuk memperhitungkan inflasi untuk sampai pada harga-harga konstan yang memungkinkan perbandingan yang lebih akurat di sepanjang waktu dan daerah. Inflasi berbeda-beda dari satu provinsi ke provinsi lainnya dan jauh lebih tinggi di Aceh selama tahun-tahun setelah tsunami. 65 29 ―Aceh’s Growth Diagnostic‖, World Bank, 2009. 66 30 Perbedaan disebabkan oleh banyak faktor. PDRB dihitung dengan beberapa cara, salah satunya adalah konsumsi keluarga, tetapi juga investasi dan pengeluaran publik. Pengeluaran digunakan sebagai pengganti (proxy) untuk pendapatan, karena informasi dari responden mengenai pengeluaran telah terbukti lebih handal dari pendapatan. 68

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

157

31 Angka-angka Susunas Susenas yang ditujukkan pada Tabel 4.5 berbeda dengan penyesuaian angka-angka pengeluaran per kapita yang disebutkan di bagian lain dalam laporan ini karena angka-angka tersebut dihitung dengan cara yang berbeda. 68 32 Estimasi-estimasi PDRB untuk daerah-daerah yang lebih kecil harus diperlakukan secara hati-hati, karena estimasiestimasi tersebut sangat sulit dihitung karena data tidak lengkap. Oleh karena itu, perlu untuk mengadopsi asumsi-asumsi yang mungkin tidak valid atau yang menyebabkan bias atau kesalahan. 68 33 Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah prosentase penduduk usia kerja yang sudah bekerja atau aktif mencari pekerjaan. Di Indonesia, penduduk usia kerja terdiri dari laki-laki dan perempuan berusia antara 15 dan 60 tahun. 71 34 Pengangguran terbuka adalah prosentase orang-orang yang bekerja dan mencari pekerjaan yang menyatakan tidak memiliki pekerjaan, dengan kata lain masih mencari pekerjaan. 71 35 Definisi pekerjaan sektor informal adalah kurang tepat, yang didasarkan terutama pada daftar negatif, yang umumnya diambil untuk mengartikan orang-orang yang tidak bekerja di pemerintah, lembaga publik atau perusahaan swasta berlisensi dan organisasi-organisasi terdaftar lainnya. Pekerjaan ini sebagian besar mencakup usaha keluarga seperti peternakan, perikanan dan usaha toko. 72 36 The Multi-Stakeholder Review of Post-Conflict Programming‖ (MSR), draft, Desember 2009. 74 37 World Bank, 2008. The Impact of the Conflict, the Tsunami and Reconstruction on Poverty in Aceh: Aceh Poverty Assessment 2008. Jakarta: The World Bank Office Jakarta. 78 38 World Bank, 2009. Aceh Growth Diagnostic: Identifying the Binding Constraints to Growth in a Post-Conflict and Post-Disaster Environment. Jakarta: World Bank Office. 78 39 Laporan lengkap tentang Coffee Forum dan proyek APED dapat diperoleh di UNDP, Aceh Partnerships for Economic Development (APED): Annual Progress Report 2009. Disusun bagi Biro untuk Pencegahan dan Pemulihan Krisis (BCPR). Februari 2010. 80 40 Lihat website untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU): http:// mediacenter.kpu.go.id/hasil-pemilu-2009.html. 86 41 Survei meliputi 5.698 desa, 221 kecamatan dan 18 kabupaten (17 kabupaten dan 1 kota). 88 42 ―The Multi-Stakeholder Review of Post-Conflict Programming‖ (MSR), draft, Desember 2009. 88 43 MSR 2009, p xvii. 88 44 Julie van Dassen (July 2010) Support to Strengthen the Capacity and Role of Civil Society Organizations (CSOs) in the Recovery of Communities in Aceh and Nias: Lessons Learned Report. Disusun untuk Unit Penanggulangan dan Pemulihan Krisis UNDP Indonesia. 91 45 Aaron Wildavsky with Naomi Caiden, 2001. Planning and Budgeting in Poor Countries. Wiley. 97

46 Data yang digunakan dalam Bab ini berasal dari Bank Dunia, Aceh public expenditure analysis update 2008, Jakarta, Bank Dunia, 2008. 98 47 Blane Lewis (2002). ―Indonesia‖, Ch5 in Intergovernmental Fiscal Transfers in Asia: Current Practice and Challenges for the Future. Diedit oleh: Paul Smoke and Yun-Hwan Kim. Manila: Asian Development Bank, Desember 2002. 99 48 Sumber Qanun No. 11/2006 tentang Otonomi Khusus Aceh yang memberikan Aceh dana otonomi khusus yang baru — transfer tambahan dari pemerintah pusat ke provinsi sebesar 2 %persen dari DAU nasional untuk 15 tahun dan 1% persen untuk sisa lima tahun — yang dimulai pada tahun 2008. Ini merupakan tambahan sebesar 70% persen dari bagi hasil minyak dan gas yang telah diterima Aceh sejak tahun 2002. UU No. 11/2006 telah mengubah ketentuan Dana Otonomi Khusus. Dana Otsus kini hanya untuk dana yang diterima dari 2 persen% alokasi dana DAU nasional. Nama untuk ―dana otonomi khusus‖ telah berubah menjadi ―dana tambahan bagi hasil minyak dan gas‖. 100 49 Sumber Qanun No. 2/2008 tentang prosedur alokasi dana tambahan bagi hasil minyak dan gas dan menggunakan otonomi khusus. Menurut UU tersebut, 60% persen dana Otsus akan dialokasikan untuk mendanai program-program pembangunan pemerintah kabupaten/kota (misalnya, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur) melalui program bersama antara provinsi dan kabupaten/kota, dan sisanya 40 % persen akan digunakan untuk membiayai program-program provinsi (juga melalui program bersama), yang juga dapat diimplementasikan di kabupaten/kota juga. 100 50 Sumber Qanun No. 2/2008 Struktur Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Pemerintah dan Sekretariat DPRA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 101 51 Hugh Emrys Evans (2007). Functions and fiscal resources for local councils in the Maldives. Government of the Maldives, Ministry of Atolls Development, Department of Planning and Coordination. 101 52 Seperti dijelaskan dalam laporan Bank Dunia yang disebutkan pada Bab ini, karena kendala data, analisa tentang pengeluaran menggunakan gabungan rencana dan realisasi APBD untuk tahun 2006 dan rencana APBD untuk tahun 2007. 102

Bibliography
Brown, Graham (2005). Horizontal Inequalities, Ethnic Separatism, and Violent Conflict: The Case of Aceh, Indonesia, Human Development Report Office, Occasional Paper , UNDP, New York. Sidney Jones, ―Keeping the Peace: Security in Aceh‖, Accord, 20, 2008, 75. Palmer , Robin, 2007. Donor and NGO Involvement in Land Issues – Some Further Reflections. Faculty of Law, University of Leiden. Pennells, Linda, Mission Report: Gender Outcomes and Reflections – Aceh, OCHA – Indonesia, August-September 2008.

158

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Catatan Teknis
Penghitungan indeks-indeks pembangunan manusia Diagram di bawah ini menyajikan gambaran bagaimana indeks-indeks yang disajikan pada Laporan Pembangunan Manusia ini dihitung, dan memperlihatkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara masing-masing indeks.

IPM

DIMENSI INDIKATOR

Umur panjang dan sehat
Angka harapan hidup pada saat lahir

Pengetahuan
Angka melek huruf (Lit) Index Lit Rata-rata lama sekolah (MYS) Index MYS Indeks pendidikan

Kehidupan yang layak
Pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan (PPP rupiah)

INDEKS DIMENSI

Indeks harapan hidup

Indeks pendapatan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IKM

DIMENSI INDIKATOR

Umur panjang dan sehat
Kemungkinan tidak bertahan hidup sampai umur 40 tahun

Pengetahuan
Angka buta huruf (dewasa) Persentase penduduk tanpa akses terhadap air bersih

Kehidupan yang layak
Persentase penduduk tanpa akses terhadap sarana kesehatan Persentase balita berstatus kurang gizi

Kekuranglayakan tingkat kehidupan

Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) untuk negara berkembang

IPJ

DIMENSI INDIKATOR

Umur panjang dan sehat
Angka harapan hidup perempuan Angka harapan hidup laki- laki Angka melek huruf perempuan

Pengetahuan
MYS perempuan Angka melek huruf laki-laki(Lit) MYS Laki-laki

Kehidupan yang layak
Perkiraan pendapatan perempuan Perkiraan pendapatan laki-laki

INDEKS DIMENSI

Indeks harapan hidup perempuan

Indeks harapan hidup laki-laki

Indeks pendidikan perempuan

Indeks pendidikan laki-laki

Indeks pendapatan perempuan

Indeks pendapatan laki-laki

INDEKS SEBARAN MERATA

Indeks harapan hidup dengan sebaran merata

Indeks pendidikan dengan sebaran merata

Indeks pendapatan dengan sebaran merata

Indeks Pembangunan (Terkait) Jender (IPJ)

IDJ

DIMENSI INDIKATOR

Partisipasi Politik
Proporsi perempuan dan laki-laki di parlemen

Partisipasi ekonomi dan pengambilan keputusan
Proporsi perempuan dan laki-laki yang berkerja sebagai profesional, teknis, pimpinan dan tenaga ketatalaksanaan

Penguasaan sumber daya ekonomi
Perkiraan penghasilan perempuan dan laik-laki

PERSENTASE EKUIVALEN DENGAN SEBARAN MERATA (EDEP)

EDEP untuk keterwakilan di parlemen

EDEP untuk partisipasi dalam pengambilan keputusan

EDEP untuk penghasilan

Indeks Pemberdayaan Gender (IPG)

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

159

160

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Metodologi

Penghitungan Indeks
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
IPM didasarkan pada tiga komponen: panjang usia, yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir, pencapaian pendidikan, yang diukur dengan gabungan tingkat kemampuan baca tulis dewasa (bobot dua pertiga) dan rata-rata lama pendidikan (bobot sepertiga); dan standar hidup, yang diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan (PPP Rupiah). Indeks tersebut didefinisikan secara sederhana sebagai rata-rata dari berbagai indeks tiga komponen di atas:
IPM = 1/3 (Indeks X1 + Indeks X2 + Indeks X3)

ini, estimasi AKB di tingkat provinsi dihitung berdasarkanpadaseridatadarisensus1971,sensus 1980, sensus 1990, dan kumpulan data survei tahun 1995 antarsensus (SUPAS) dan survei sosial-ekonomi (SUSENAS) 1996. Angkaangka hasil sensus tahun 2000 juga digunakan untuk menghitung e0 dan AKB tahun 2002. Metode penghitungan menggunakan teknik tidak langsung berdasarkan dua data dasar - yaitu rata-rata jumlah kelahiran hidup dan rata-rata jumlah anak masih hidup yang dilaporkan dari setiap kelompok lima-tahun dari ibu-ibu usia antara 15 – 49 tahun. Dengan penggunaan teknik ini, akan ada tujuh angka estimasi untuk setiap referensi waktu dari setiap sumber data. Sebagai akibatnya, terdapat 28 estimasi AKB untuk semua referensi waktu dari mana estimasi AKB dihitung. Hal ini dilakukan setelah penghilangan
Tabel 1 Komponen IPM Harapan hidup Tingkat kemampuan baca tulis Rata-rata lama pendidikan Nilai Maksimum dan Minimun untuk Setiap Indikator IPM Nilai Maksimu m 85 100 Nilai Minimum 25 0 Catatan Standar UNDP Standar UNDP UNDP menggunakan gabungan rasio partisipasi kasar UNDP menggunakan PDB rill per kapita yang disesuaikan

di mana X1, X2 dan X3 masing-masing adalah panjang usia, pencapaian pendidikan dan standar hidup. Untuk komponen IPM manapun, tiap-tiap indeks dapat dihitung sesuai dengan rumus umum:
Indeks X(i,j) = (X(i,j) - X(i-min)) / (X(i-maks) - X(i-min))

15

0

di mana :

X(i,j) X(i-min) X(i-maks)

: Indikator i untuk daerah j : Nilai minimum Xi : Nilai maksimum Xi

Daya beli

737,720

a)

300,000 (1996) 360,000 (1999) b)

Panjang Usia
Panjang Usia diukur dengan menggunakan indikator harapan hidup pada saat lahir (e0). e0 yang disajikan dalam laporan ini didasarkan pada penghitungan angka e0 berdasarkan pada situasi akhir 1996 dan akhir 1999 sebagai korespondensi angka kematian bayi (AKB) untuk periode yang sama. Untuk publikasi
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010
Catatan:

a) Proyeksi daya beli tertinggi untuk Jakarta pada tahun 2018 (akhir periode pembangunan jangka panjang kedua) setelah disesuaikan dengan formula Atkinson. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan 6,5 persen dalam daya beli selama kurun waktu 1993-2018. b) Sama dengan dua kali garis kemiskinan provinsi dengan konsumsi per kapita terendah pada tahun 1990 (daerah pedesaan Sulawesi Selatan). Untuk tahun 1999, nilai minimum disesuaikan menjadi Rp 360.000. Penyesuaian ini diperlukan, karena krisis ekonomi secara drastis telah menurunkan daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari kenaikan tingkat kemiskinan dan penurunan upah riil. Tambahan Rp 60.000 didasarkan pada perbedaan antara ―garis kemiskinan lama‖ dan ―garis kemiskinan baru‖ yang berjumlah sekitar Rp 5.000 per bulan (= Rp 60.000 per tahun.).

161

angka-angka tidak sahih (valid) yang dilaporTabel 2 Tahun untuk tingkat pendidikankonversi tertinggi yang diselesaikan kan menurut kelompok ibu tertua dan termuda. Tingkat pendidikan Estimasi AKB di tingkat kabupaten/kota Faktor konversi yang diselesaikan didasarkan pada kumpulan data dari SUPAS 0 1995 dan SUSENAS 1996. Kumpulan data 1. Tidak pernah bersekolah tersebut dianggap sebagai sumber data sahih 2. Sekolah Dasar 6 yang berlaku karena mencakup sekitar 416.000 3. Sekolah Menengah Pertam 9 rumah tangga. Akan tetapi, teknik tidak a 12 langsung yang digunakan dalam estimasi ini 4. Sekolah Menengah Atas 5. Diploma I 13 menghasilkan estimasi empat tahun sebelum waktu survei. Untuk menghitung angka-angka 6. Diploma II 14 estimasi tersebut untuk tahun 1999, angka 7. Akademi/Diploma III 15 estimasi yang didasarkan pada kumpulan 8. Diploma IV/Sarjana 16 data SUPAS 1995 dan SUSENAS 1996 diproyeksikan setelah memperhitungkan tren 9. Master (S2) 18 provinsi dari daerah masing-masing dan variasi 10. PhD (S3) 21 antarkabupaten/kota dalam setiap provinsi masing-masing. Sementara itu, untuk tahun Standar Hidup 2002, hasil sensus tahun 2000 digunakan di tingkat daerah/kota. Laporan ini menggunakan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan sebagai pengganti untuk standar hidup. Untuk memastikan perbanPencapaian Pendidikan dingan seri waktu dan antardaerah, digunakan prosedur sebagai berikut: Komponen pencapaian pendidikan dalam publikasi ini diukur dengan menggunakan dua 1. Menghitung pengeluaran per kapita tahunan dari data modul SUSENAS [= Y]; indikator – tingkat kemampuan baca tulis 2. Menaikkan Y dengan faktor sebesar 20% (literacy) dan rata-rata lama pendidikan. Ting[=Y1], sebagaimana yang dinyatakan berkat kemampuan baca tulis didefinisikan sebagai bagai studi bahwa angka SUSENAS menilai proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang terlalu rendah sebesar kira-kira 20%; mampu membaca dan menulis dalam tulisan 3. Menghitung Y1 riil dengan mengurangi Y1 Latin atau tulisan lainnya sebagai prosentase dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari kelompok usia ini. Indikator tersebut di[=Y2]; beri bobot dua pertiga. Sepertiga bobot lainnya diberikan pada indikator rata-rata lama 4. Menghitung Paritas Daya Beli (PPP) untuk setiap daerah sebagai harga relatif sejumlah pendidikan yang didefinisikan sebagai ratakomoditas tertentu, dengan harga di Jakarta rata lama pendidikan formal yang diikuti oleh Selatan sebagai standar; penduduk usia 15 tahun ke atas. Indikator ini 5. Membagi Y2 dengan PPP untuk memperdihitung berdasarkan variabel kelas (grade) oleh nilai Rupiah standar [=Y3]; saat ini atau yang telah dicapai dan pencapaian tingkat pendidikan dalam kuesioner inti 6. Mengurangi Y3 dengan menggunakan rumus Atkinson untuk mendapatkan estimasi SUSENAS. Tabel 2 menyajikan faktor konversi daya beli [=Y4]. Langkah ini digunakan unlama pendidikan untuk setiap tingkat pendituk mengakomodasi aturan penurunan utidikan yang telah diselesaikan. Bagi seseorang litas pendapatan marjinal, karena pencapaiyang belum menyelesaikan tingkat pendidikan an tingkat pembangunan manusia yang baik tertentu atau putus sekolah, lama pendidikan tidak… ?? (LP) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
LP = Tahun Konversi + kelas saat ini/yang dicapai-1

Indek Harga Konsumen (IHK)
Di Indonesia, angka IHK hanya tersedia untuk 54 kota. Penghitungan daya beli di tingkat kabupaten/kota dihitung dengan menggunakan IHK kabupaten/kota masing-masing jika angLaporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Misalnya, seseorang yang putus sekolah dari Kelas 2 SMA:
LP = 9 + 2 - 1 = 10 (tahun)

162

ka tersedia. Untuk kota-kota selain 54 kota tersebut, jika data IHK tersedia, IHK provinsi yaitu rata-rata angka IHK yang tersedia di setiap provinsi – akan digunakan.

Komoditas 5. Ikan Teri 6. Daging Sapi 7. Daging Ayam 8. Telur 9. Susu Manis 10. Bayam 11. Kacang Panjang 12. Kacang Tanah 13. Tempe 14. Jeruk 15. Pepaya 16. Kelapa 17. Gula 18. Kopi 19. Garam 20. Merica 21. Mi Instan 22. Kretek 23. Listrik 24. Air Minum

Unit Ons Kg Kg Butir 397 grams Kg Kg Kg Kg Kg Kg Butir Ons Ons Ons Ons 80 grams 10 batang KWh M Liter Liter Unit
3

Proporsi total konsumsi (%) 0.32 0.78 0.65 1.48 0.48 0.30 0.32 0.22 0.79 0.39 0.18 0.56 1.61 0.60 0.15 0.13 0.79 2.86 2.06 0.46 1.02 1.74 11.56 37.52

Paritas Daya Beli (PPP)
Penghitungan PPP pada dasarnya menggunakan metode yang sama dengan metode yang digunakan oleh International Comparison Project dalam standarisasi PDB untuk perbandingan internasional. Penghitungan tersebut didasarkan pada harga dan jumlah berbagai item komoditas terpilih (27 item) yang terdapat dalam modul konsumsi SUSENAS. Hargaharga di Jakarta Selatan digunakan sebagai harga dasar. Rumus penghitungan PPP adalah:

Dimana: E(i,j) : pengeluaran untuk komoditas j di provinsi i P(9,j) : harga komoditas j di Jakarta Selatan volume komoditas j (unit) yang Q(i,j) : dikonsumsi di provinsi i Unit perumahan dihitung berdasarkan indeks kualitas perumahan yang terdiri dari tujuh komponen kualitas perumahan dalam modul SUSENAS. Nilai untuk setiap komponen adalah: 1) Lantai: keramik, marmer, atau granite =1, lainnya= 0 2) Luas lantai per kapita > 10 m2 = 1, lainnya= 0 3) Dinding: semen=1, lainnya = 0 4) Atap: kayu/single, semen=1, lainnya= 0 5) Fasilitas penerangan: listrik=1, lainnya= 0 6) Fasilitas air minum: ledeng=1, lainnya= 0 7) Sanitasi: milik pribadi =1, lainnya= 0 8) Nilai awal untuk setiap rumah =1
Tabel 3 Daftar berbagai komoditas yang IHK digunakan untuk menghitung Unit Kg Kg Kg Kg Proporsi total konsumsi (%) 7.25 0.10 0.22 0.50

25. Bensin 26. Bensin 27. Sewa Rumah Total

Indeks kualitas perumahan adalah jumlah semua nilai dengan kisaran 1 sampai 8. Kualitas rumah yang dipakai oleh rumah tangga adalah sama dengan indeks kualitas perumahan dibagi dengan 8. Misalnya, jika rumah memiliki indeks kualitas perumahan 6, maka kualitas rumah yang dipakai oleh rumah tangga adalah 6/8 atau 0,75 unit.

Rumus Atkinson
Rumus Atkinson yang digunakan untuk mengurangi Y3 dapat didefinisikan sebagai berikut:
C(I)*= C(i) if C(i) < Z if 2Z< C(i) <3Z if 3Z < C(i) < 4Z

= Z + 2(C(i) - Z)(1/2) if Z < C(i) < 2Z = Z +2(Z)(1/2) + 3(C(i) - 2Z)(1/3) = Z + 2(Z)(1/2) + 3(Z)(1/3) + 4(C(i) - 3Z)(1/4)

Komiditas 1. Beras Lokal 2. Terigu 3. Singkong/Ubi 4. Tuna/Cakalang
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

dimana: : PPP pengeluaran riil perkapita C(i) yang disesuaikan : tingkat ambang pengeluaran Z yang secara bebas ditentukan sebesar Rp 549.500 per kapita
163

atau Rp 1.500 per kapita per hari
Penghitungan IPM
Ilustrasi penghitungan IPM ini menggunakan data untuk Sumatera Utara pada tahun 2008. Harapan hidup Tingkat kemampuan baca tulis dewasa (%) 97.0 Rata-rata lama pendidikan Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan (Ribuan Rupiah) Indeks harapan hidup (71.7 – 25) / (85 - 25) = 0.78 = 78% Indeks kemampuan baca tulis dewasa (97.0 - 0) / (100 - 0) = 0.97 = 97% Rata-rata lama pendidikan (8.5 - 0) / (15 - 0) = 0.56 = 56% Indeks pencapaian pendidikan (2/3 x 97) + (1/3 x 56) = 0.83 = 83% Indeks Pendapatan (615.8 - 360) / (732.72 - 300) = 0.59 = 59% Indeks Pembangunan Manusia IPM = (78+83+59) / 3 = 73.3 8.5 615.8 71.7

Tingkat penurunan kekurangan juga dapat diukur untuk setiap komponen IPM.

Indeks Pembangunan Gender (IPG)
Pada dasarnya, IPG menggunakan variabelvariabel yang sama dengan IPM. Perbedaannya adalah bahwa IPG menyesuaikan rata-rata pencapaian setiap daerah dalam harapan hidup, pencapaian pendidikan dan pendapatan sesuai dengan perbedaan pencapaian antara perempuan dan laki-laki. Parameter dimasukkan ke dalam persamaan tersebut untuk mempertimbangkan aversi (aversion) kesenjangan yang mencerminkan elastisitas marjinal penilaian sosial terhadap pencapaian tertentu di seluruh gender. Untuk menyatakan aversi moderat terhadap kesenjangan, parameter ditetapkan sama dengan 2. Untuk menghitung IPG, pertama kita harus menghitung pencapaian setara [Xede] yang didistribusikan secara merata dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

ε

ε

Xede = (Pf Xf(1-ε) + Pm Xm(1-ε)) 1/(1-ε)

Tingkat Penurunan Kekurangan
Perbedaan tingkat perubahan setiap skor IPM selama periode tertentu dapat diukur dengan tingkat penurunan kekurangan tahunan. Nilai kekurangan ini mengukur rasio pencapaian dalam hal kesenjangan antara jarak yang „dicapai‟ dan „yang akan dicapai‟ terhadap kondisi optimal. Kondisi ideal yang akan dicapai didefinisikan sebagai IPM yang besarnya sama dengan 100. Semakin tinggi tingkat penurunan kekurangan, semakin cepat peningkatan IPM. Langkah ini didasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan IPM tidak bersifat linier. Diasumsikan akan berkurang ketika tingkat IPM mendekati titik ideal. Penghitungan tingkat penurunan kekurangan adalah sebagai berikut:

dimana: Xf : pencapaian perempuan Xm : pencapaian laki-laki Pf : proporsi penduduk perempuan Pm : proporsi penduduk laki-laki : parameter aversi kesenjangan (=2)

ε

Penghitungan komponen distribusi pendapatan cukup rumit. Berdasarkan data upah yang dikumpulkan dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2008, penghitungan tersebut mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menghitung rasio upah non-pertanian perempuan terhadap laki-laki [Wf]; 2) Menghitung upah rata-rata (W) dengan menggunakan rumus sebagai berikut: W = (Aecf x Wf) + (Aecm x 1) dimana: Aecf : proporsi perempuan dalam angkatan kerja (yang aktif secara ekonomi) Aecm : proporsi laki-laki dalam angkatan kerja (yang aktif secara ekonomi)
Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

dimana: HDI(t) : adalah IPM untuk tahun ke-t HDI(ideal) : adalah 100 : tahun n
164

Wf

: rasio upah perempuan pada sektor non-pertanian

Tabel 4

Ambang batas maksimum dan minimum dari komponen IPG Maksimum Minimum

3) Menghitung rasio antara setiap kelompok gender dari rata-rata upah di atas [=R];

Laki- Perempua Laki- Perempua laki laki Harapan hidup 82.5 n 87.5 22.5 n 27.5 0.0 0.0 0.0 0.0

Untuk Perempuan: Untuk Laki-Laki: 4) Menghitung pendapatan yang dikontribusikan oleh kelompok gender [=IncC], di mana: Untuk Perempuan : IncCf = Aecf x Rf Untuk Laki-Laki : IncCm = Aecm x Rm 5) Menghitung proporsi pendapatan yang dikontribusikan oleh setiap kelompok gender [% IncC] dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Untuk Perempuan : %IncCf = IncCf / Pf Untuk Laki-Laki : %IncCm = IncCm / Pm 6) Kalkulasi:

Angka elek akasara Lama pendidikan sekolah Konsumsi per kapita

100.0 15.0

100.0 15.0

732.720

300.000

Sebagian besar data untuk menghitung IPG berasal dari sumber yang sama dengan data untuk menghitung IPM. Hanya data upah untuk menghitung IPG dan Ukuran Pemberdayaan Gender (UPG) berasal dari SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2008.

Ukuran Pemberdayaan Gender (UPG)
UPG terdiri dari tiga komponen: yaitu perwakilan di DPR, pengambilan keputusan dan distribusi pendapatan. Dalam menghitung UPG, pertama kita harus menghitung EDEP (indeks setiap komponen berdasarkan „Equally Distributed Equivalent Percentage‟). Penghitungan pembagian pendapatan untuk UPG adalah sama dengan penghitungan pembagian pendapatan untuk perhitungan GDI yang dijelaskan di atas. Selanjutnya, indeks setiap komponen adalah EDEP dari setiap komponen dibagi dengan 50. 50 persen dianggap sebagai bagian yang ideal dari setiap kelompok gender untuk semua komponen UPG dalam sebuah masyarakat ideal dengan pemberdayaan yang sama untuk jenis kelamin tersebut. Komponen pengambilan keputusan terdiri dari dua indikator: pekerjaan manajerial dan administrasi, dan stafprofesional dan teknis. Untuk angka nasional, Indeks pengambilan keputusan adalah rata-rata semua indeks dua indikator ini. Gabungan ini diperlukan untuk menghindari kesalahan persepsi responden dalam memilih antara dua kategori pekerjaan ini. Data untuk komponen pengambilan keputusan berasal dari SUSENAS 2008. Data untuk perwakilan di DPR berasal dari “Lembaga Pemilihan Umum” (LPU) dan DPR di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
165

7) Mengitung Indeks distribusi pendapatan
[= IInc-dis]
IInc-dis = [(Xede(Inc) x PPP) – PPPmin] / [PPPmax – PPPmin]

Penghitungan IPG mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) Setiap Indeks IPG dihitung dengan menggunakan rumus yang dijelaskan di atas dengan ambang maksimum dan minimum sebagaimana dinyatakan pada Tabel 4; 2) Menghitung Xede dari setiap indeks; 3) Menghitung IPG dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
GDI = 1/3 [(Xede(1) + Xede(2) + I Inc-dis)]

dimana: : Xede untuk harapan hidup Xede(1) : Xede untuk pendidikan Xede(2) : Indeks distribusi pendidikan IInc-dis

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

UPG dihitung sebagai berikut:
Rasio terhadap rata-rata upah:
UPG = 1/3 [Ipar + IDM + IInc-dis] · Perempuan: 0.735/0.893 = 0.823 · Laki-laki: 1.000/0.893 = 1.119

dimana: : Indeks perwakilan di DPR Ipar : Indeks pengambilan keputusan IDM : Indeks distribusi pendapatan IInc-dis
Penghitungan IPG
Sebagai contoh, penghitungan IPG untuk Provinsi DKI Jakarta 2008 adalah sebagai berikut: Komponen Proporsi penduduk Harapan hidup (%) Tingkat kemampuan baca tulis (%) Rata-rata lama pendidikan (RLP) Prosentase penduduk aktif secara ekonomi (Proporsi Angkatan Kerja) Perempua Laki-laki n 0.509 74.9 97.9 10.3 40.2 0.491 71.1 99.5 11.1 59.8

Pembagian perolehan pendapatan:
· Perempuan: (0.823)(0.402) = 0.331 · Laki-laki: (1.119)(0.598) = 0.669

Pembagian pendapatan proporsional:
· Perempuan: 0.331/0.509 = 0.650 · Laki-laki: 0.669/0.491 = 1.363 Jika  = 2 maka: Xede (Inc) =[(0.509)(0.650)-1 + (0.491)(1.363)-1]-1 = 0.874 Indeks distribusi pendapatan (IInc-dis) adalah IInc-dis = [(0.874)(625.8) – 360]/[732.72 – 300] = 0.433 Indeks Pembangunan Gender GDI = (0.77 + 0.90 + 0.433)/3 = 0.70 = 70%

Penghitungan UPG
Dengan menggunakan kasus Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008, penghitungan UPG adalah sebagai berikut: Komponen Proporsi penduduk Perwakilan DPR (%) Proporsi manajer , Staf administrasi, staff professional dan teknis (%) Prosentase penduduk aktif secara ekonomi (Proporsi Angkatan Kerja) Upah Non-pertanian PPP (Rp 000) Perempua Laki-laki n 0.496 10.0 32.7 0.504 90.0 67.3

Upah Non-pertanian (Rp 1.320.438 1.796.428 ) PPP (Rp 000) 625.8

Pengitungan indeks harapan hidup dan pencapaian pendidikan

Indeks harapan hidup:
· Perempuan: (74.9 - 27.5)/(87.5 - 27.5) = 0.79 · Laki-laki: (71.1 - 22.5)/(87.5 - 22.5) = 0.73 Jika  = 2 maka: Xede (1) = [(0.509)(0.79)-1 + (0.491)(0.73)-1]-1 = 0.77

33.5

66.5

Indeks tingkat kemampuan baca tulis:
· Perempuan: (97.9 – 0)/(100 – 0) = 0.979 · Laki-laki: (99.5 – 0)/(100 – 0) = 0.995

929.919 1.147.989 625.9

Indeks rata-rata lama pendidikan:
· Perempuan: (10.3 – 0)/(15 – 0) = 0.687 · Laki-laki: (11.1 – 0)/(15 – 0) = 0.740 Penghitungan Indeks perwakilan di DPR dan Indeks pengambilan keputusan dengan  = 2. Indeks Perwakilan DPR (Ipar) EDEP (par) = [(0.496)(10.0)-1 + (0.504)(90.0)-1]-1 = 18.12 Ipar = 18.12/50 = 0.362 Indeks pengambilan keputusan (IDM) EDEP (DM) = [(0.496)(32.7)-1 + (0.504)(67.3)-1]-1 = 44.14 IDM = 44.14/50 = 0.883 Penghitungan indeks distribusi pendapatan mengikuti penghitungan indeks distribusi pendapatan untuk IPG di atas, Iinc-dis = 0363 Ukuran pemberdayaan gender: UPG = 1/3 (Ipar + IDM + Iinc-dis) = (0.362 + 0.883 + 0.363)/3 = 0.536 = 53.6%

Indeks pencapaian pendidikan:
· Perempuan: 2/3(0.979) + 1/3(0.687) = 0.882 · Laki-laki: 2/3(0.995) + 1/3(0.740) = 0.910 Jika  = 2 maka: Xede (2) = [(0.509)(0.882)-1 + (0.491)(0.910)-1]-1 = 0.90

Penghitungan Rasio indeks distribusi pendapatan terhadap upah laki-laki non-pertanian:
· Perempuan: 1.320.438/1.796.428 = 0.735 · Laki-laki: 1

Rata-rata upah:
(0.402)(0.735) + (0.598)(1.000) = 0.893

166

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

Indeks Kemiskinan Manusia (IKM)
Komposit deprivasi ariabel:

IKM menggabungkan beberapa dimensi kemiskinan manusia yang dianggap sebagai indikator kemiskinan manusia yang paling dasar. IKM terdiri dari tiga indikator: penduduk yang tidak memiliki harapan hidup lama, rendahnya tingkat pencapaian pendidikan dan keterbatasan akses ke layanan dasar. Indikator pertama diukur dengan probabilitas penduduk yang tidak memiliki harapan hidup sampai dengan usia 40 (P1). Penghitungan indikator ini mengikuti metode penghitungan harapan hidup untuk pengukuran IPM. Indikator kedua diukur dengan tingkat kemampuan baca tulis orang dewasa (P2). Indikator ini dihitung berdasarkan data SUSENAS 2008 dan meliputi penduduk usia 15 tahun ke atas. Sedangkan keterbatasan akses ke layanan dasar (P3) terdiri dari beberapa variabel sebagai berikut: · Prosentase penduduk tanpa akses ke air bersih (=P31). P31 didefinisikan sebagai prosentase rumah tangga yang menggunakan sumber air selain air ledeng, pompa air dan kincir air yang terletak 10 meter atau lebih dari pembuangan limbah. Data ini dikumpulkan dari SUSENAS 2008. · Prosentase penduduk tanpa akses ke layanan kesehatan (=P32). P32 didefinisikan sebagai prosentase penduduk yang tinggal di lokasi dengan jarak 5 km atau lebih dari fasilitas kesehatan. Data ini dikumpulkan dari SUSENAS 2008. · Prosentase anak balita dengan status gizi rendah (=P33). P33 didefinisikan sebagai prosentase anak-anak balita yang masuk dalam kelompok status gizi rendah dan menengah.

P3=1/3 (48.6 + 6.1 + 15.0) = 23.2 Indeks Kemiskinan Manusia IKM= [1/3 (9.53 + 4.53 + 23.23)]1/3 = 16.5

Untuk publikasi ini, penghitungan IKM mengikuti LPM 1997 yang diterbitkan oleh UNDP:
IKM = [1/3 (P13 + P23 + P33)]1/3

dimana
P3 = 1/3 (P31 + P32 + P33)

Prosedur perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target tertentu
Waktu yang diperlukan untuk mencapai target tertentu dalam beberapa indikator pembangunan manusia, sebagaimana disajikan dalam laporan ini, diperkirakan dengan asumsi bahwa kecepatan terakhir peningkatan indikatorindikator tersebut adalah tetap di masa mendatang. Kecepatan peningkatan di sini menunjukkan perubahan mutlak, sebagaimana disebut rata-rata sederhana kenaikan tahunan (atau penurunan), yang dinyatakan dalam tahun. Dengan membandingkan data tahun 1999 (I99), 2002 (I02) dan 2005 (I05), 2008 (I08), maka kecepatan peningkatan tahunan (s) ditentukan sebagai:
s = [(I02 – I99)/3 + (I05 – I02)/3 + (I08 – I05)/3]/3

Penghitungan IKM
Sebagai ilustrasi, persamaan berikut ini memperlihatkan penghitungan IKM Provinsi Aceh pada tahun 1999: Kemungkinan mereka yang tidak Akan mencapai usia 40 – P1 (%) Tingkat melek huruf dewasa - P2 (%) Penduduk yang tidak memiliki akses air yang aman – P31 (%) Penduduk yang tidak memiliki akses ke Layanan kesehatan – P32 (%) Balita kekurangan gizi – P33 (%) 9.5 4.5 48.6 6.1 15.0

Selanjutnya, perkiraan waktu (T) untuk mencapai target atau tujuan tertentu dalam indikator pembangunan manusia (G) dapat dihitung dengan mudah sebagai berikut:
T = (G – I08)/s

Laporan Pembangunan Manusia Aceh 2010

167

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->