P. 1
Suku Samin

Suku Samin

|Views: 120|Likes:
Published by Reza Indra Satrio
JJJ
JJJ

More info:

Published by: Reza Indra Satrio on May 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2013

pdf

text

original

SUKU SAMIN

Samin Surosentiko dan Ajarannya Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826. Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial.Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914. Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan baberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa. Tahun 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati. Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan. Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi, demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun. Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak. Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh Dalam naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul Serat Punjer Kawitan, disebut-sebut juga kaitan Samin Surosentiko dengan Adipati Sumoroto Dari data yang ditemukan dalam Serat Punjer Kawitan dapat disimpulkan bahwa Samin Surosentiko yang waktu kecilnya bernama Raden Kohar , adalah seorang Pangeran atau

Bangsawan yang menyamar dikalangan rakyat pedesaan. Dalam buku Serat Uri-uri Pambudi diterangkan sebagai berikut : “Tempat keris yang meresap masuk dalam kerisnya mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Adapun jiwa (sukma) kita bertindak sebagai mandor. Tuhan). Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara lain. sedangkan kuli berfungsi sebagai pekerja. Hal ini menunjukkan pamor (pencampuran) antara mahkluk dan Khaliknya yang benar-benar sejati. Pekerja rodi terdiri dari mandor dan kuli. Bila mahkluk musnah. Seorag mandor harus mengawasi kuli-kulinya.” Di tempat lain Samin Surosentiko menjelaskan lagi sebagai berikut : “ Yang dinamakan sifat Wisesa (penguasa utama/luhur) yang bertindak sebagai wakil Allah. Ajaran kebatinan Samin surosentiko adalah perihal “ manunggaling kawulo Gusti atau sangkan paraning dumadi “. serat Jamuskalimosodo ini ada beberapa buku. empat dan lima pokoknya). Samin Surosentiko dapat menulis dan membaca aksara Jawa. Khusus di Desa Tapelan buku-bukun peninggalan Samin Surosentiko disebut SERAT JAMUSKALIMOSODO. saya). Pengandaian jiwa sebagai mandhor dan sedulur papat kalima pancer sebagai kuli-kuli tersebut diatas adalah sangat menarik.” Selanjutnya menurut Samin Surosentiko. yang ada hanyalah Tuhan (Khalik). agar semuanya selamat. yaitu ingsun (aku. hudip mandiri itu sebenarnya telah berkumpul menjadi satu antara mahkluk dan Khaliknya. yaitu buku tentang pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi. Hal ini sebenarnya hanya terdindingi oleh sifat. Yang bersujud adalah mahkluk. Adapun yang bekerja mencari sandang pangan setiap hari itu adalah saudara kita berlima itu. Jelasnya saudara yang berjumlah lima itu mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku peninggalan Samin Surosentiko yang diketemukan di Desa Tapelan dan beberapa desa samin lainnya. Maksudnya. Kata-kata ini erat hubungannya dengan kerja paksa/kerja rodi di hutan-hutan jati di daerah Blora dan sekitarnya. Di antaranya adalah buku Serat Uri-uri Pambudi. yang membikin rumah besar. Hidup kita ini. Pemakaian kata yang sederhana tersebut oleh Samin Surosentiko dikandung maksud agar ajarannya dapat dimengerti oleh murid-muridnya yang umumnya adalah orang desa . perihal manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai “ rangka umanjing curiga “( tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya ). sedang yang disujudi adalah Khalik. maka lama kelamaan mereka kian berbuat seenaknya. Atau lebih jelasnya dikatakan sebagai berikut: “ Gajah Seno saudara Wrekodara yang berwujud gajah. yang merupakan dinding (tirai) yaitu badan atau tubuh kita (yaitu yang merupakan realisasi kehadirannya ingsun). Sebenarnya yang dinamakan hidup hanyalah terhalang oleh adanya badan atau tubuh kita sendiri yang terdiri dari darah. yang menghidupinya adalah yang sama-sama menjadi pancer (pokok) kita. Hidup yang sejati itu adalah hidup yang menghidupi segala hal yang ada di semesta alam. Hal ini akan mengakibatkan penderitaan. Sebaliknya apabila anak buahnya tadi betindak salah dan tindakan tersebut dibiarkan saja. daging dan tulang. Mandhor berfungsi sebagai pengawas. yang bertindak mencari sandang pangan kita seharihari adalah “ Saderek gangsal kalima pancer” adapun jiwa kita diibaratkan oleh Samin sebagai mandor. (Allah. Hal ini perlu dicapai (yaitu tiga saudara. Samin Surosentiko dan Ajarannya Ajaran Kebatinan Menurut warga Samin di Desa Tapelan. Itulah sebabnya mandor harus berpegang teguh pada kekuasaan yang berada ditangannya untuk mengatur anak buahnya. Senjata tajam merupakan ibarat campuran yang menunjukkan bahwa seperti itulah yang disebut campuran mahkluk dan Khaliknya. Menurut Samin Surosentiko .

sedih dan gembira. Hukum ke dua berbunyi “ Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pengucap saka sanga budhelane ana pitu. melainkan orang harus selalu ingat pada Tuhan…. agar upaya kukuh. Adapun ajaran selengkapnya sebagai berikut: “ …Arah tujuannya agar dapat berbuat baik dengan niat yang sungguh-sungguh. dijelek-jelekkan orang. tidak disenangi orang. yaitu memahami pada asal-usulnya masing-masing….. sehat dan sakit. tujuh dan sembilan.yang terkena kerja paksa. Menurut Samin Surosentiko. dan terhindar dari bencana. baik sebagai binatang( bagi manusia yang banyak dosa) atau sebagai manusia (bagi manusia yang tidak banyak dosa).” Selanjutnya menurut Samin Surosentiko. Hukum yang pertama berbunyi “Aja dengki srei. tukar padu. Demikian kata Samin Surosentiko : “ …Teka-teki ini menunjukkan bahwa jarak dari betal makmur ke betal mukaram sejengkal. Oleh karena itu sedih dan gembira. “ angger-angger pengucap “ (hukum berbicara). walaupun terserang sakit. Adapun hukum yang ke tiga berbunyi “ Lakonana sabar trokal. setelah manusia meninggal diharapkan roh manusia yang meninggal tadi tidak menitis ke dunia. sehingga tidak ragu-ragu lagi. sebab manusia terikat dengan perjanjiannya. warga samin dilarang berhati jahat. dapat terwujud. aja kutil jumput.Menurut perjanjian. Dalam hubungan ini masyarakat harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah.” Ajaran di atas dalam tradisi lisan di desa Tapelan dikenal sebagai “ angger-angger pratikel” (hukum tindak tanduk). semuanya harus diterima tanpa keluhan.” Samin Surosentiko juga mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebajikan. dahpen kemeren. serta “ anggerangger lakonana” (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Tekad jangan sampai goyah oleh sembarang godaan.” Maksudnya. Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan. yaitu dengan cara samadi. Kata-kata yang tidak senonoh dan dapat menyakitkan orang lain dapat mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Jadi apa yang dialami oleh manusia di dunia adalah kehendak Tuhan. Hal ini diterangkan Samin Surosentiko dengan contoh-contoh yang sulit dimengerti orang apabila yang bersangkutan tak banyak membaca buku-buku kebatinan. berperang mulut. . orang berbicara harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima. harus diterima sebagai hal yang wajar. manusia adalah pesuruh Tuhan di dunia untuk menambah kendahan jagad raya. warga Samin senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat “ bagaikan orang mati dalam hidup “ Menurut Samin Surosentiko. hidupnya mengalami kesulitan. Ajaran ini tertuang dalam Serat Uri-uri Pambudi yang berbunyi sebagai berikut : “…Adapun batinnya agar dapat mengetahui benarbenar akan perihal peristiwa kematiannya. Sabare dieling-eling. iri hati pada orang lain. dan dilarang mengambil milik orang. bahagia dan sedih. apalagi sampai membalas berbuat jahat. semuanya harus diterima tanpa gerutuan. Jelasnya. Murid-muridnya dilarang mempunyai rasa dendam. mbedog colong.” Maksudnya. Hal tersebut bisa dilihat pada ajarannya yang berbunyi : “ . Segala tindaktanduk yang terlahir haruslah dapat menerima segala cobaan yang datang padanya. berlatih “mati” senyampang masih hidup (mencicipi mati) sehingga dapat menanggulangi segala godaan yang menghalang-halangi perjalanannya bersatu dengan Tuhan. Oleh karena itu apabila manusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan. kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain. semua ajaran diatas dapat berjalan dengan baik asalkan orang yang menerima mau melatih diri dalam hal samadi. sehat dan sakit. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. sehingga bagaikan mati dalam hidup. tapi bersatu kembali dengan Tuhannya.” Maksud hukum ini . tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan. kejujuran dan kesabaran. serta harus menjalankan kesabaran lahir dan batin. Trokale dilakoni.

Jadi triloka itu jaraknya berjumlah tiga jengkal. dan barat.” Dari keterangan diatas dapatlah diketahiu bahwa Samin Surosentiko tidak menganut faham ‘Penitisan’ tapi menganut faham ‘ manunggaling kawulo Gusti’ atau ‘sangkan paraning dumadi’. Keempatnya menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada (adanya semesta alam dan isinya itu juga merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada…. yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa. Hidup bersama telah kami jalani berdua. yang disebutnya dengan istilah-istilah Gusti.” Demikianlah cuplikan ajaran Samin Surosentiko yang berasal dari Serat Uri-uri Pambudi.” Menurut Samin. Buku ini maknanya pengukuhan kehidupan yang sejati. Tekad pendeta Jamadagni yang ingin meninggalkan dunia tanpa terikat oleh triloka itu diceritakan oleh Serat Rama. Oleh karena itulah pada waktu meninggal dunia dia berusaha tidak salah jalan. memangun traping widya. mugi-mugu dadi kanthi. Selanjutnya akan dijelaskan ajaran Samin Surosentiko yang terdapat dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten. Batas dunia disebelah utara. Adapun tembang Pangkur yang dimaksud seperti dibawah ini : “ Saha malih dadya garan. kasampar kasandhung dugi prayogantuk.Penolakan membayar pajak 2. Dalam ajaran Samin . Disini yang akan dikutip adalah sebuah tembang Pangkur yang mengandung ajaran perihal Perkawainan.dan dari betal mukaram ke betal mukadas juga sejengkal. palakrama nguwoh mangun. yaitu sebuah Negara akan terkenal dan disegani orang serta dapat digunakan sebagai tempat berlindung rakyatnya apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup dalam perdamaian. Hal ini seperti ajaran Pendeta Jamadagni. Keparcayaan pada Tuhan.penolakan kerja paksa/rodi Samin Surosentiko juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Serat Pikukuh Kasajaten. Kelak apabila manusia meninggal dunia supaya diusahakan tidak terkuasai oleh triloka. pada . Dari ajaran-ajaran tertulis di atas jelas kiranya bahwa Samin Surosentiko adalah seorang “theis”. (jangan sampai menitis kembali pada bayi.” Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga samin. dalam perkawinan seorang temanten laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat. jelasnya ada empat. timur. sangatlah kuat. Dalam salah satu ceramahnya yang dilakukan tanah lapang Desa Bapangan Blora. perkawinan itu sangat penting. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Gusti Allah. hal ini bisa dilihat pada ajarannya : “ Adapun Tuhan itu ada. Pangeran. anggegulang gelunganing pembudi. Pada awalnya ingin menitis pada bayi yang lahir (lahir kembali kedunia). lahir kembali ke dunia). yang berbunyi kurang lebih demikian : “ Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. ambudya atmaja tama.penolakan memperbaiki jalan 3. Ajaran Politik Dalam ajaran politiknya Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintahan Koloniak Belanda. Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten ditulis dalam bentuk puisi tembang. selatan. Allah. yaitu kembali ke rahim wanita lagi. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja Tama” (anak yang mulia).penolakan jaga malam (ronda) 4. Hal ini terwujud dalam sikap : 1.

Suku Samin Asal Mula Timbulnya Nama "Samin" Menurut sesepuh Samin. Kemudian disingkat menjadi Samin. 7 Pebruari 1889 yang menyatakan bahwa tanah Jawa adalah milik keturunan Pandawa. Munculnya nama Samin berasal dari gerakan Saminisme yang dipimpin oleh gerombolan rampok yang dipimpin oleh Surowidjojo atau Raden Suratmoko yang lahir tahun 1840. Pati. Blora yang bukan warga Samin mencemoohkannya. Oleh karena itulah maka tarikan pajak tidak dibayarkan. Kudus. Banyuwangi. Tanah Jawa adalah tanah milik “ wong Jawa “. Madiun. akantetapi juga disebabkan oleh faktorfaktor lain. makanan pokok. Purwodadi. Keturunan Pandawa adalah keluarga Majapahit. Ia merasa prihatin melihat bangsanya dipaksa membayar pajak dengan kekerasan oleh pemerintah kolonial. sehingga Pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpinpemimpin ajaran Samin. sebab pohon jati dianggap warisan dari leluhur Pandawa. seperti : Bojonegoro. dia telah mampu menghimpun kekuatan yang luar biasa besarnya. Yang jelas pemberontakan melawan Pemerintahan Kolonial Belanda didasarkan pada kebudayaan Jawa yang religius. DENGAN DEMIKIAN SAMIN SUROSENTIKO ADALAH PAHLAWAN LOKAL YANG PERLU DIPERHATIKAN JASA-JASANYA. maksudnya kelompok orang yang senasib dan sepenanggungan.. Harjo Kardi istilah Samin berarti " tiyang sami-sami amin". . jika ia tidak dapat membayar sebagai gantinya para petani itu harus menyerahkan harta bendanya berupa ternak. walaupun orang-orang di daerahnya. Tanah Jawa bukan milik Belanda. tapi sejarah telah mencatatnya. sedangkan penarik pajak tersebut tidak lain adalah kaum pribumi yang bekerja pada pemerintah kolonial. Rembang. Pohon-pohon jati di hutan ditebangi. Lamongan. maupun barang keperluan rumah tangga. Samin Surosentiko yang hidup dari tahun 1859 sampai tahun 1914 ternyata telah memberi warna sejarah perjuangan bangsa. Raden Surowidjojo ini anak seorang bupati Suromoto. Raden Surowidjojo pergi ke Kadipaten dan bergabung dengan gerombolan perampok. Gerombolan perampok itu bernama Tiyang sami-sami amin. dan lain-lain. Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintah Belanda. tetapi tersebar di beberapa daerah lainnya. Tuban. Melihat perilaku bangsa pribumi yang menjadi antek Belanda. Pajak yang harus dibayar pada para petani cukup tinggi. Ajaran-ajarannya tidak hanya tersebar didaerah Blora saja. Brebes.malam Kamis legi. Sejarah ini termuat dalam Serat Punjer Kawitan. Geger Samin atau Pergerakan Samin yang dipimpin oleh Samin Surosentiko sebenarnya bukan saja desebabkanoleh faktor ekonomis saja. melainkan ajaran yang penuh kreatifitas dan keberanian. Dengan demikian ajaran Samin surosentiko bukanlah ajaran yang pesimitis. Atas dasar Serat Punjer Kawitan itulah. Tentu saja ajaran itu menggegerkan Pemerintahan Belanda. Jember.

(Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…. Angger-angger lakonono (hukum perihal yang perlu dijalankan). Sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama. Konsep ajaran Samin Pengikut ajaran Samin mempunyai 6 ajaran yaitu : 1. sebab sebutan tersebut mengandung arti tidak terpuji yaitu dianggap sekelompok orang yang tidak mau membayar pajak. perkawinan itu sangat penting. Tidak memakai celana panjang. Hidup bersama telah kami jalani berdua". Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan Masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada umumnya. sering membantah dan menyangkal aturan yang telah ditetapkan sering keluar masuk penjara. Angger-angger pratikel (hukum tindak tanduk) 3. . Angger-angger pangucap (hukum bicara) 2.Orang-orang Samin sebenarnya kurang suka dengan sebutan "Wong Samin". 3. Hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih keatas setelah kakek atau nenek. yang berbunyi kurang lebih demikian : "sejak nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin masyarakat diluar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin memiliki tradisi untuk saling berkunjung terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh. tetapi memakai iket yaitu semacam kain yang diikatkan dikepala mirip orang Jawa zaman dahulu. kesederhanaan. Tidak berdagang 6. Menurut Samin. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan. Penolakan terhadap kapitalisme. Saya berjanji setia kepadanya. dan kerja keras. Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin. Dalam ajaran Samin. kebersamaan. keadilan. dan hanya pakai celana selutut 5. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan anak yang mulia (atmaja (u)Tama). sering mencuri kayu jati dan perkawinannya tidak dilaksanakan menurut hukum Islam. artinya orang yang bertanggung jawab. dalam perkawinan seorang pengantin laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat. Ajaran Saminisme yang terwariskan hingga kini sebenarnya mencuatkan nilai-nilai kebenaran. Ajaran Samin ada 3 yaitu: 1. Para pengikut Saminisme lebih suka disebut "Wong Sikep". Tidak bersekolah 2. Tidak memakai peci. Bahasa Inti dari gerakan Samin adalah melalui bahasa Jawa ngoko kasar dan sering disertai samepa (perumpamaan). Ajaran Samin Paham Saminisme dinamakan "Agama Nabi Adam". Tidak berpoligami 4. sebutan untuk orang yang berkonotasi baik dan jujur.

Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Hal ini sama sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana. Mata Pencaharian Mata Pencaharian Suku Samin Sebagian besar masyarakat Samin sekarang ini adalah petani. dan apa adanya. Teknologi Masyarakat Samin dikenal dengan keluguan. Pakaian orang Samin biasanya terdiri dari baju lengan panjang tidak memakai kerah.Kesenian Upacara tradisi yang ada pada masyarakat Samin antara lain. Tari tayup merupakan tari pergaulan yang populer bagi masyarakat Bojonegoro dan sekitar. tidak berbuat aneh-aneh dan selalu mentaati peraturan. Wayang tengul adalah kesenian wayang khas Bojonegoro dalam bentuk 3 dimensi dengan diiringi gamelan pelog atau slendro. artinya tanah memberi kehidupan bagi mereka. berwarna hitam. mereka memanfaatkan alam misalnya. Hal ini sama sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana. mengambil kayu secukupnya saja tidak pernah mengeploitasi. Mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana. khitan. Ilmu Pengetahuan Pandangan terhadap lingkungan sangat positif. artinya tanah memberi kehidupan bagi mereka. Tradisi slamatan yang berkaitan dengan daur hidup yaitu. Adapun kesenian mereka yaitu. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri. mereka memanfaatkan alam misalnya. Tarian ini biasanya dilakukan oleh pria dengan diiringi gamelan dan tembangtembang Jawa yang dilantunkan oleh Waranggono yang syairnya syarat dengan petuah dan ajaran. tari tayup. kehamilan. mengambil kayu secukupnya saja tidak pernah mengeploitasi. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri. nyadran (bersih desa) sekaligus menguras sumber iar pada sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat. kelahiran. Laki-laki . Pandangan terhadap lingkungan sangat positif. kejujuan dan apa adanya. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. perkawinan dan kematian. dan apa adanya. tidak berlebihan. dan wayang tengul. tidak berlebihan. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya.

misalnya kejujuran. aluminium. alat rumah tangga dari plastik. pemakaian traktor dan pupuk kimiawi dalam pertanian. dan lainnya. Misalnya. dan kearifan dalam memakai alam. berkain sebatas dibawah tempurung lutut atau diatas mata kaki.memakai ikat kepala. Rumah Adat Suku Samin Sekalipun masyarakat Samin berusaha mempertahankan tradisi namun tidak urung pengaruh kemajuan zaman juga mempengarui mereka. . semangat gotong-royong dan saling menolong yang masih tinggi. Untuk pakaian wanita bentuknya memakai lengan panjang. Yang diharapkan tidak hilang terpupus zaman adalah nilainilai positif atau kearifan lokal yang telah ada pada masyarakat Samin tersebut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->