P. 1
Analisa Kualitatif Dan Kuantitatif Karbohidrat Fix

Analisa Kualitatif Dan Kuantitatif Karbohidrat Fix

|Views: 143|Likes:
Published by gedewidya9622
j
j

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: gedewidya9622 on May 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2015

pdf

text

original

PAPER ANALISA MAKANAN DAN MINUMAN

UJI KARBOHIDRAT SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF

Oleh:

I Nyoman Yoga Arimbawa (P07134011038)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN DIII ANALIS KESEHATAN 2013

ANALISA KUALITATIF DAN KUANTITATIF KARBOHIDRAT

Analisis Kualitatif
Karbohidrat dengan zat tertentu akan menghasilkan warna tertentu yg dapat dgunakan untuk analisis kualitatif. Beberapa reaksi yg lebih spesifik dpt membedakan golongan karbohidrat. Banyak cara untuk mengetahui atau mengidentifikasi karbohidrat dalam suatu bahan alam, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Uji Molisch Prinsip Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentose menghasilkan senyawa fulfural. Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan a-naftol dalam pereaksi molish. Karbohidrat yang dianalisis Uji molisch adalah uji kimia kualitatif untuk mengetahui adanya karbohidrat. Uji ini untuk semua jenis karbohidrat. Mono-, di-, dan polisakarida akan memberikan hasil positif. Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu -naphthol yang terlarut

dalam etanol 95%. Setelah pencampuran atau homogenisasi, H2SO4 pekat perlahan-lahan dituangkan melalui dinding tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan atau hanya membentuk lapisan. H2SO4 pekat (dapat digantikan asam kuat lainnya) berfungsi untuk menghidrolisis ikatan pada sakarida untuk menghasilkan furfural. Furfural ini kemudian bereaksi dengan reagent Molisch, Reaksi : -naphthol membentuk cincin yang berwarna ungu.

glukosa dan maltosa. biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3. laktosa. Tambahkan 3 tetes pereaksi Molisch. Prinsip Gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan mereduksi ion Cu dalam suasana alkalis menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata. Prosedur kerja : 1. arabinosa. lalu alirkan dengan hati-hati 1 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung supaya tidak bercampur. Uji Benedict Uji Benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas) . Lakukan tes terhadap larutan glukosa. Campurkan dengan baik. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya. Perhatikan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan yangmenandakan reaksi positif karbohidrat. Miringkan tabung rekasi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa. maltosa. 2. 5. 6. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis. 4.. Masukkan 15 tetes larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi yang masih kering danbersih 2.larutan 1% amilum dan selulosa (kapas) yang disuspensikan dalam air. 3. galaktosa. 2+ . sukrosa.

4. kuning. Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict. Pada uji Benedict. Karbohidrat yang dianalisis Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan.fruktosa. Oleh karena itu. 6. Prosedur kerja : 1. Tambahkan 2 mL pereaksi Benedict. sukrosa dan larutan amilum. Amati perubahan warna endapannya. dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. dan alpha hidroksi keton. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya. Sukrosa mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidik sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Dipanaskan dalam waterbath selama 4 . hijau. sample makanan dilarutkan dalam air. Masukkan 3 tetes larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi yang masih kering dan bersih 2. Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa). Pembentukan warna endapan hijau. galaktosa. . atau orange. merah. maltosa. pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid. kecuali aldehid dalam gugus aromatik.Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata. kuning. Lakukan percobaan ini dengan menggunakan larutan glukosa. 5.10 menit. Masukan kedalam penangas air selama 5 menit. atau merah menunjukan reaksi positif karbohidrat. 3. namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton. orange. Sukrosa juga tidak bersifat pereduksi. kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau. meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi. kemudian dikocok. merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi). laktosa.

seperti pH dan waktu pemanasan. Uji Barfoed menggunakan reagen Barfoed yang terdiri dari tembaga asetat dan asam asetat glacial sebagai pereaksi. lakukan pemanasan selama 15 menit sampai terlihat adanya reduksi. sedangkan monosakarida merupakan agen pereduksi yang kuat dan mampu membentuk ion kupri dalam reagen Barfoed dalam keadaan asam karena itu uji Barfoed ini digunakan untuk membedakan disakarida pereduksi dengan monosakarida pereduksi dalam suatu sampel. Pada analisa ini. Reaksi : O ║ Cu2+ asetat O ║ R—C—H + ─────→ R—C—OH + Cu2O+ CH3COOH n-glukosa monosakarida E. Masukan kedalam penangas air selama 3 menit. Uji Barfoed Prinsip Ion Cu2+ (dari pereaksi Barfoed) dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan endapan Cu2O berwarna merah bata. kemudian dikocok. Karbohidrat yang dianalisis Uji ini untuk membedakan monosakarida dan disakarida dengan jalan mengontrol kondisi-kondisi percobaan. Diketahui bahwa disakarida merupakan agen pereduksi yang lemah. Tambahkan 1 mL pereaksi Barfoed. Bila tidak terjadi reduksi selama 5 menit. 3. Kemudian didinginkan dalam air mengalir. karbohidrat direduksi pada suasana asam. Disakarida juga akan memberikan hasil positif bila didihkan cukup lama hingga terjadi hidrolisis. 5.merah bata Prosedur kerja : 1. mereka tidak membentuk ion kupri pada reagen Barfoed yang ada dalam keadaan asam. 4. . Masukkan 1 mL larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi yang masih kering dan bersih. 2.3.

galaktosa. Lakukan percobaan ini dengan larutan glukosa. Pada pereaksi seliwanoff. dan kemudian member warna.6. terjadi perubahan oleh HCl panas menjadi asam levulinat dan 4-hidroksilmetilfurfural. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya 7. Keberadaan HCl dalam reagen pada saat fruktosa yang berada dalam golongan ketosa bereaksi dengannya akan menghasilkan warna merah cherry dengan struktur kimia yang kompleks. Disakarida sukrosa yang mudah dihidrolisa menjadi glukosa dan fruktosa memberi reaksi positif dengan uji Seliwanoff. dengan kata lain aldosa tidak bereaksi dalam uji Seliwanoff ini. pemanasan akan membantu proses hidrolisis disakarida yang akan menghasilkan monosakarida ketosa. Glukosa dan karbohidrat lain dalam jumlah banyak dapat juga memberi warna yang sama. laktosa. Uji Seliwanoff Prinsip Dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hodroksimetilfurfural dan dengan penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah oranye. sukrosa dan maltosa. Sebaliknya golongan disakarida seperti maltosa dan laktosa tidak bereaksi (negatif) pada saat mereka dihidrolisis menjadi monosakarida aldosa. 4. Reaksi : Prosedur kerja : . Jika dipanaskan karbohidrat yang mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya. Pada pengujian dilakukan pemanasan pada larutan. Uji Seliwanoff bertujuan untuk mengeahui adanya ketosa (karbohidrat yang mengandung gugus keton).

maka ditambahkan beberapa tetes larutan amonia. Ion ini dibuat dari larutan perak (I) nitrat. bila endapan dilarutkan dalam alcohol terjadi larutan berwarna merah. Masukkan beberapa tetes larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi yang telah diisi 2 mL pereaksi Seliwanoff. glukosa. Pereaksi Tollens mengandung ion diammin perak(I). Uji positf ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi. Reaksi : 6. Pereaksi tollens. Masukan kedalam penangas air selama 1 menit. dan sukrosa. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak. 2. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya 4. Uji Tollens Prinsip Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat. pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini. ion Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag. 3. Uji Fehling Prinsip reaksi ini yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa Cu2SO4 menjadi Cu2O (enpadan berwarna merah bata) setelah dipanaskan pada suasana basa (Benedict dan Fehling) atau asam (Barfoed) dengan ditambahkan agen pengikat (chelating agent) seperti Na-sitrat dan K-Na-tatrat. Uji ini untuk positif terhadap karbohidrat pentosa yang membedakannya dengan heksosa. Terjadinya perubahan warna merah dan endapan menunjukan reaksi positif untuk ketosa. Caranya dengan memasukkan setetes larutan natrium hidroksida ke dalam larutan perak (I) nitrat yang menghasilkan sebuah endapan . 5. Larutannya jernih dan tidak berwarna. Perhatikan perubahan warna yangterjadi. 5. [Ag(NH3)2]+. adalah larutan basa dari perak nitrat. Untuk mencegah pengendapan ion perak sebagai oksida pada suhu tinggi. Aldehidadapat mereduksi pereaksi Tollens sehingga membebaskan unsur perak (Ag). Lakukan percobaan ini dengan larutan fruktosa.1.

Pada uji Osazon.perak (I) oksida. Endapan perak pada uji ini akan menempel pada tabung reaksi yang akn menjadi cermin perak. Osazon yang terbentuk mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik. Prosedur kerja : 1. bentuk kristal dari fruktosa adalah pentagonal sedangkan pada galaktosa segi empat runcing. 2. sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih. Pereaksi Tollens sering disebut sebagai perak amoniakal. 7. namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas. Osazon yang terbentuk mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik. Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan. Oleh karena itu Pereaksi Tollens sering juga disebut pereaksi cermin perak. Setelah diamati di bawah mikroskop. yang mendasarinya adalah pemanasan karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atau keton bersama fenilhidrazin berlebihan akan membentuk hidrazon atau osazon. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya. . Masukkan beberapa tetes larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi yang telah diisi2 mL pereaksi Tollens. Masukkan 5 mL larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi. sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih. Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan. Beberapa larutan uji menunjukkan reaksi positif dengan membentuk kristal berwarna kuning yang disebut dengan osazon yaitu larutan fruktosa dan galaktosa dan larutan lainnya tidak membentuk kristal osazon. Prosedur kerja : 1. Uji Osazon Prinsip Pada uji Osazon. Perhatikan perubahan warna yangterjadi. Masukan kedalam penangas air selama 1 menit. yang mendasarinya adalah pemanasan karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atao keton bersama fenilhidrazin berlebihan akan membentuk hidrazon atau osazon. dan selanjutnya tambahkan larutan amonia encer secukupnya untuk melarutkan ulang endapan tersebut. namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas. 3.

glukosa. Karbohidrat dengan golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodium dan memberikan warna yang spesifik bergantung pada jenis karbohidratnya. Hasil pemanasan akan menghasilkan warna biru hijau yang menunjukkan adanya gula pentosa. kemudian diperiksa endapan yang terbentuk di bawah mikroskop. begitu juga dengan dekstrin. Prinsip . Uji Iodium Prinsip Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik. 2 ml larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau porselin tetes. sedangkan glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengan iodium membentuk warna cokelat. Kemudian ditambahkan dua tetes larutan iodium. Prosedur kerja : 1. Hasil positif ditandai dengan amilum dengan iodium berwarna biru. 5. dan dekstrin dengan iodium berwarna merah anggur. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya. Kocok dan panaskan dalam penangas air selama 30 menit. 2. 3. 9. Kemudian warna spesifik yang tebentuk diamati. glikogen dengan iodin akan berwarna merah cokelat. Dinginkan. amilopektin dengan iodin akan berwarna merah violet.2. Pemanasan pentose dengan HCl pekat akan menghasilkan furfural yang berkondensasi dengan orcinol dan ion feri. sukrosa. Amilum atau pati dengan iodium menghasilkan warna biru . Analisa dengan iodin akn berwarna biru. 4. 6. Uji Iodium Dilakukan untuk menentukan polisakarida. 3. maltosa. Larutan uji dicampurkan dengan larutan iodium. Lakukan percobaan ini dengan larutan arabinosa. dekstrin menghasilkan warna merah anggur. fruktosa. Uji Bial Uji bial untuk menguji adanya gula pentose. Masukkan campuran fenil hidrazon Na-asetat kering.dan galaktosa 8.

Selanjutnya dipanaskan dalam penangas air mendidih sampai volumenya kira-kira tinggal 2-3 tetes. Larutan uji dicampurkan dengan HNO3 pekat kemudian dipanaskan. 10 tetes larutan uji dan 2 tetes HNO3 pekat dimasukkan di dalam tabung reaksi. Selanjutnya diamati di bawah mikroskop. 4. Prosedur Kerja : 1. Uji Asam Musat Prinsip Dilakukan untuk membedakan antara glukosa dan galaktosa. Diamati perubahan warna yang terjadi 10. Ditambahkan 10 tetes pereaksi bial dan 2 tetes HCl pekat 3. 11.5-dihidroksi toluena) akan berkondesasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru. Namun. 3. . Dengan asam kuat encer sukrosa dapat dihidrolisa menjadi unit-unit monosakaridanya.Pada uji bial. 2. larutan yang telah dihidrolisis itu dites dengan test benedict untuk membuktikan glukosa dan test seliwanoff untuk membuktikan ada fruktosa. Lalu didinginkan perlahan-lahan. 5 tetes sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2. Prosedur Kerja : 1. dan perhatikan terbentuknya kristal-kristal keras seperti pasir. dasar dari percobaannya adalah dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dengan penambahan orsinol (3. Dihomogenkan dan dipanaskan hingga mendidih 4. Karbohidrat dengan asam nitrat pekat akan menghasilkan asam yang dapat larut. yaitu glukosa dan fruktosa. Hidrolisa Sukrosa Sukrosa adalah karbohidrat golongan disakarida yang terdiri dari dua unit monosakarida. laktosa dan galaktosa menghasilkan asam musat yang dapat larut. Hidrolisis sukrosa ini untuk membuktikan apakah hasil hidrolisis dari sukrosa adalah glukosa dan fruktosa yaitu dengan cara setelah sukrosa dihidrolisis.

larutan HCl 2 N. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. larutan iodium. Pati dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjadi senyawa-senyawa yang lebih sedrhana. 6. larutan HCl pekat. pereaksi Barfoed. 4. dan Barfoed. Prinsip Untuk mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum digunakan larutan amilum 1%. kemudian netralkan. 5. Pada percobaan ini akan terlihat bahwa pada hidrolisis pati ini glukosa akan terbentuk sebagai zat akhir. pereaksi Benedict. terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (± 80%) dengan struktur bercabang. Isi tabung reaksi dengan 5 mL larutan uji sukrosa. Seliwanoff. 3. Larutan NaOH 2%. pereaksi Seliwanoff. Penambahan HCl pekat lalu pemanasan dimaksudkan agar hidrolisis terjadi karena hidrolisis pati hanya terjadi dalam pemanasan dengan asam. Seliwanoff dan Barfoed. 2.Hal ini menyebabkan uji Benedict dan uji Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan hasil negatif menjadi positif. Hasil hidrolisis dapat dengan iodium dan menghaislkan warna biru sampai tidak berwarna. Prinsip Untuk mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa digunakan larutan sukrosa 1%. Tambahkan 1 mL HCl 10%. Setelah didinginkan dinetralkan dengan NaOH 2%. larutan NaOH 2% sebagai bahannya. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa menghasilakn monosakarida. Masukan kedalam penangas air selama 15 menit. Lalu diuji dengan pereaksi Benedict. Dinginkan perlahan-lahan. Prosedur Kerja 1. Amilum ditambahkan dengan . Hidrolisa Pati Pati (starch) atau amilum merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman. larutan sukrosa ditambahkan dengan HCl pekat lalu dipanaskan selama 45 menit. pereaksi Benedict. Tes hidrolisa dengan pereaksi Benedict. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya 12. Amilosa (± 20%) memilki strusktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut dalam air.

Dilakukan uji iodium setiap 3 menit hingga warnanya berubah jadi kuning pucat. Panaskan. Pada waktu yang sama diambil lagi 3 tetes larutan dan ditambahkan pereaksi Benedict kemudian dipanaskan dalam penangas air. 3. kemudian dinginkan kembali. . Akan tetapi struktur atau ikatan antara iodium dengan pati belum diketahui dengan pasti. Kedalam 1 mL larutan pati 1% ditambahkan 2 tetes larutan iodium. Setiap 3 menit ambil satu tetes larutan dan tes dengan iodium. amati derajat reduksi yang terjadi dan bandingkan dengan tes iodium. Prosedur Kerja 1. 2. Kemudian larutan dihidrolisis lagi selama 5 menit lalu didinginkan dan dinetralkan dengan NaOH 2%. dan panaskan dalam penangas air. Dextrin dengan iodium akan menghasilkan warna merah anggur. 4.. Tambahkan 10 tetes HCl pekat. Kemudian tambahkan tetes demi tetes larutan thiosulfat sampai warna hilang. 4. 13. Perhatikan baik-baik perubahan warna yang terjadi. Lalu diuji dengan pereaksi Benedict. Reaksi Pati dengan Iodium Prinsip Pati dengan iodium membentuk kompleks yang berwarna biru.HCl lalu dipanaskan. 2. 3. Masukkan 25 mL larutan pati 1% ke dalam sebuah gelas kimia. Prosedur Kerja 1.

diantaranya cara kimiawi. Penentuan karbohidrat yang termasuk polisakarida maupun oligosakarida memerlukan pendahuluan yaitu hidrolisis lebih dahulu sehingga diperoleh monosakarida. Hal ini diketahui dari penelitian A. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih.II.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda. cara enzimatik atau biokimia dan cara kromatografi. Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. sehingga dilepaskan I2. Setelah diketahui selisih banyaknya titrasi blanko dan titrasi sampel kemudian dikonsultasikan dengan tabel yang telah tersedia yang menggambarkan hubungan antara banyaknya Na2S2O3 dengan banyaknya gula pereduksi. 2. 3. Penentuan kadar karbohidrat pada percobaan dengan metode Luff Schoorl dibagi atas tiga tahapan. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu 1. maka bahan dihidrolisa dengan asam atau enzim pada suatu keadaan tertentu. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Luff Schoorl. Tahap sebelum inversi Tahap setelah inversi lemah Tahap setelah inversi kuat Pada penentuan karbohidrat dengan metode Luff Schoorl. Penentuan Cu tereduksi dengan I2 Menggunakan prosedur Lae-Eynon : Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. cara fisik. Untuk keperluan ini. Analisis Kuantitatif Kadar karbohidrat dalam berbagai bahan makanan dapat ditentukan dengan berbagai cara. yaitu: 1. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Penentuannya dengan menggunakan titrasi volumetri. yang ditentukan bukan Cu2O yang mengendap tapi dengan menggunakan CuO dalam larutan yang belum direaksikan dengan gula reduksi (titrasi blanko) dan sesudah direaksikan dengan gula reduksi (titrasi sampel). 2. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan .

Penetapan inversi lemah dilakukan untuk mengetahui jumlah disakarida yang tidak bersifat reduksi seperti sukrosa. Persamaan reaksinya: R-COH + 2 CuO → Cu2O (s) + R-COOH (aq) H2SO4 (aq) + CuO → CuSO4 (aq) + H2O (l) CuSO4 (aq) + 2 KI (aq) → CuI2 (aq) + K2SO4 (aq) 2 CuI2 ↔ Cu2I2 + I2 I2 + Na2S2O3 → Na2S4O6 + NaI I2 + amilum → Biru Penetapan sebelum inversi dilakukan untuk mengetahui jumlah gula pereduksi yang terdapat dalam sampel.1% dalam asam sulfat pekat. maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang.10-dihidro-9-oksoantrasena) 0.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Intensitas absorbansnya diukur pada λ=630nm. Oleh karena itu. Pereaksi Anthrone bereaksii dengan karbohidrat dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna biru kehijauan.membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. Prinsip : . Contoh Uji Kuantitatif Karbohidrat 1. I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Penetapan sesudah inversi kuat biasanya dilakukan untuk menentukan kadar karbohidrat pada poliskarida. Analisis total gula (Metode Anthrone) Gula dapat bereaksi dengan sejumlah pereaksi menghasilkan warna spesifik. Dalam penelitian M. Intensitas warna dipengaruhi oleh konsentrasi gula. Pereaksi Anthrone (9. Intensitas warna yang terbentuk diukur dengan spektofotometer. Metode ini digunakan untuk analisis total gula bahan padat atau cair. jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum.

0. lalu encerkan sehingga total volume masing-masing tabung 1.2. 2. Panaskan tabung reaksi di atas penangas air 100oC selama 12 menit. Prosedur kerja Pembuatan kurva standar : 1. 3. Analisis contoh : 1. 3. Pindahkan larutan ke dalam kuvet dan baca absorbans dengan UV-Vis spektrofotometer pada 630 nm. Total gula (%) = ((GxFP)/W)x100 Dimana: G FP W = konsentrasi gula dari kurva standar (gram) = faktor pengenceran = berat contoh (gram) .4.6.Prinsip dasar dari metode anthrone adalah senyawa anthrone akan bereaksi secara spesifik dengan karbohidrat dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna biru kehijauan yang khas.0. pipet larutan glukosa standar sebanyak 0. 2.10-dihydro-9. Voertex dan kocok hingga merata. dan 1. 6. Buat larutan blanko dengan cara memipet 1 ml air destilata ke dalam tabung reaksi lain.oxanthracene) merupakan hasil reduksi anthraquinone. 4. Dinginkan 5. Tambahkan pereaksi 5 ml Anthrone dengan cepat ke dalam larutan glukosa standard an blanko kemudian tutup. Lakukan pengenceran contoh Masukkan sebanyak 1ml contoh kedalam tabung reaksi tertutup Lakukan tahap seperti pada pembuatan kurva standar Perhitungan metode ini adalah dengan menentukan konsentrasi gula dalam contoh mengguanakan kurva standar (hubungan antara konsentrasi gula standar dengan absorbans) dan memperhitunkan pengenceran yang dilakukan.0 ml.0.0 ml (glukosa standar 0. Buat plot kurva yaitu konsentrasi (g) glukosa standar pada sumbu x dan nilai absorbans pada sumbu y. Senyawa anthrone (9. Rumusnya dapat ditulis sebagai berikut. Kedalam tabung reaksi bertutup.8.2 mg/ml).

Ambil sebanyak 2ml larutan pada beberapa konsentrasi 2. Sebelumnya contoh harus disiapkan seperti pada persiapan contoh untuk analisis gula. Perhitungan menggunakan metode fenol adalah konsentrasi gula dalam contoh ditentukan dengan menggunakan kurva standar (hubungan antara konsentrasi gula standar dengan absorbans) dan memperhitungkan pengenceran yang dilakukan. Analisis total gula (Metode Fenol) Metode ini digunakan untuk menetapkan total gula semua bahan pangan. vorteks. Prinsip : Gula sederhana. Rumus perhitungannya dapat ditulis sebagai berikut. Diamkan selama 10 menit. 5. lakukan vortex 3. Total gula (%) = ((GxFP)/W)x100 Dimana: . Masukkan 2ml contoh ke dalam tabung reaksi dan lakukan tahap seperti pada pembuatan kurva standar. Buat plot kurva standar. oligosakarida. Prosedur: Pembuatan kurva standar : 1. Analisis contoh 1. Tambahakan 5 ml larutan asam sulfat pekat dengan cepat secara tegak lurus kepermukaan cairan 4. polisakarida. Tambahkan 1ml larutan fenol (5%). dan tempatkan dalam penangas air selama 15 menitUkur absorbansnya pada 490nm untuk hekstosa sedangkan untuk pentosa dan asam uronat 480 nm. dan turunannya dapat bereaksi dengan fenol dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna oranye kekuningan yang stabil. Lalu tentukan persamaan regresi linier.2. Lakukan pengenceran contoh 2.

G FP W = konsentrasi gula dari kurva standar (gram) = faktor pengenceran = berat contoh (gram) 3. Prosedur : Standarisasi larutan fehling : 1. Analisis gula reduksi (Metode Lane-Eynon) Gula pereduksi dalam bahan pangan dapat ditentukan konsentrasinya berdasarkan pada kemampuannya untuk mereduksi pereaksi lain.4H2O) dan NaOH. Analisis contoh : 1. maltosa. Metode ini digunakan untuk penentuan gula pereduksi dalam bahan padat atau cair seperti laktosa. Udara yang mempengaruhi reaksi dikeluarkan dari campuran reaktan dengan cara mendidihkan laruta selama titrasi. Campurkan larutan fehling A dan B dengan volume yang sama 2.5H2O dan H2SO4 serta Fehling B berisi garam Rochelle atau potasium sodium tartat teirahidrat (KnaC4H6O6. glukosa. Pipet 10 ml larutan dari hasil persiapan contoh kedalam erlemeyer . fruktosa. Masukkan 10 ml laruta campuran Fehling A dan B kedalam erlenmeyer dan tambah 2-4 tetes metilen blue 0. Penetapan gula pereduksi dengan melakukan pengukuran volume larutan gula pereduksi standar yang dibuthkan untuk mereduksi pereaksi tembaga (II) basa menjadi tembaga (II) oksida (Cu2O). Pereaksi yang digunakan adalah Fehling A berisi tembaga (II) yaitu CuSO4. Analisis gula pereduksi dengan metode LaneEynon dilakukan secara volumetri dengan titrasi/titrimetri. Prinsip : Metode Lane-Eynon didasarkan pada reaksi reduksi pereaksi Fehling oleh gula-gula pereduksi. Kemudian lakukan tahapan seperti pada analisis contoh.2%. 2. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan metilen blue yang warnanya akan hilang karena kelebihan gula pereduksi di atas jumlah yang dibutuhkan untuk mereduksi semua tembaga.

Cu2O ini bersama dengan arsenomolibdat membentuk senyawa komplek . Prinsip : Metode Nelson-Somogyi didasarkan pada reaksi reduksi pereaksi tembaga sulfat oleh gula-gula pereduksi.dan pereaksi arsenomolibdat yang mengandung amonium molibdat. Setelah mendidih. NaOH. Panaskan campura larutan di atas hot plate magnetic stirrer 5. Perhitungan dalam metode ini adalah sebagai berikut.2 %. Na2H2SO4. Gula pereduksi mereduksi pereaksi tembaga (II) basa menjadi tembaga (I) oksida (Cu2O). maka perlu ditambahkan larutan glukosa standar dengan volume tertentu. Titrasi dilakukan dengan cepat. sodium potasium tartrat. Analisis Gula Reduksi (Nelson-Somogyi) Dalam menentukan gula pereduksi dalam bahan padat atau cair perlu persiapan contoh gula terlebih dahulu.7H2O. Dalam metode ini digunakan pereaksi tembaga sulfat yanng mengandung Na2HPO4. Na2SO4. H2SO4. Tambahkan kedalam erlenmeyer 10 ml larutan campuran fehling A dan B serta 2-4 tetes metilen blu 0. CuSO4. Gula pereduksi (%) = [(V0-Vs)xGxTsxFx100]/(TxW) Dimana: Vo Vs G Ts T W F = volume larutan glukosa standar untuk titrasi larutan Fehling (ml) = volume larutan glukosa standar untuk titrasi contoh (ml) = konsentrasi larutan glukosa standar (g/ml) = volume contoh total dari persiapan contoh (ml) = volume contoh yang diperlukan untuk titrasi (ml) = berat contoh (g) = faktor pengenceran 4. 4. lakukan titrasi sengan larutan gula standart sampai warna biru hilang 6.3.

0. maka kandungan gula non-pereduksi dapat ditentukan sebagai selisih antara kadar total gula dengan kadar gula pereduksi.6. 2. 2. Tera absorbansinya pada λ 540 nm dengan spektrofotometer 8. Tentukan kadar gula reduksi sampel dengan menggunakan persamaan kurva standar. Buat kurva standar hubungan antara absorbansi dan konsentrasi 9.berwarna.4. 0. 0. Tambahkan aquadest dalam tiap tiap tabung tersebut sehingga volume untuk tiap-tiap tabung mencapai 1 ml 3. Apabila kandungan gula pereduksi diketahui. Siapkan 6 tabung reaksi masing masing diisi dengan 0.kocok homogen 7. 3 – 7. Total gula = gula pereduksi + gula non-reduksi . Tambahkan 1 ml reagensia Nelson pada tiap-tiap tabung dan panaskan dalam air mendidih selama 20 menit 4. Ambil 1 ml larutan sampel jernih. Tambahkan 7 ml aquadest. lakukan prosedur yang sama dengan pembuatan kurva standar mulai dari no. Prosedur Kerja Pembuatan kurva standar 1. Tentukan persamaan kurva standarnya Penentuan kadar gula reduksi sampel: 1. Tambahkan 1 ml reagen Arsenomolibdat pada tiap-tiap tabung. 0. Perhitungan dalam metode ini adalah kandungan gula pereduksi dalam contoh ditentukan dengan menggunakan kurva standar (hubungan antara konsentrasi gula standar dengan absorbans) dan memperhitungkan pengenceran yang dilakukan. Dinginkan semua tabung dengan cara direndam dalam air dingin hingga suhu mencapai 250C 5.8 dan 1 ml larutan glukosa standar. Intensitas warna menunjukkan banyaknya gula pereduksi dengan pengujian menggunakan λ=520 nm. kocok homogen sampai semua endapan kuprooksida larut semua. 6.2.

Hidrolisis pati menjadi gula dapat terjadi saat ada perlakuan asam yaitu memecah ikatan glikosidik yang menghubungkan antar glukosa. metode Lane-Eynon. Untuk menghilangakn lemak. Tutup suspensi residu di dalam gelas piala dengan pendinginan balik (kondensor). 10. 9. Saring kembali larutan dengan menggunakan kertas saring. cuci pati yang terdapat sebagai residu dengan 10 ml eter (sebanyak 5 kali). Dapat ditentukan untuk analisis kadar pati pada contoh padat atau cair. Tambahkan 20 ml HCl 25%. metode fenol. Prosedur Kerja Analisis Total Pati Persiapan Contoh : 1. Penentuan total pati adalah dengan cara menghidrolisis pati secara sempurna menjadi glukosa. 6.9). . 7. netralkan larutan yang terbentuk dengan larutan NaOH 45% dan masukkan ke dalam labu takar 500 ml secara kuantitatif. Tepatkan larutan sampai tanda tera dengan menggunakan air destilat. Aduk selama 1 jam Saring suspensi yang terbentuk dengan kertas saring dan cuci dengan air sampai volume filtrat 250 ml (filtrat ini mengandung karbohidrat yang larut dan dibuang) 4. Sehingga kandungan pati adalah kandungan glukosa x 0. metode Nelson-Somogyi. 3. 8.5. Pindahkan residu secara kuantitatif dari kertas saring ke dalam gelas piala dengan cara pencucian dengan 200 ml air. Setelah didinginkan. Cuci lagi residu dengan 150 ml alkohol 10% untuk membebaskan lebih lanjut karbohidrat yang terlarut. Amilopektin Kandungan pati dalam bahan pangan dapat ditentukan secara volumetrik/titrimetri atau kolorimetri. Analisis Total Pati. Tambahkan ke dalam gelas piala sebanyak 50 ml alkohol 80%. Dapat juga terjadi secara enzimatis (enzim α-amilase dan glukoamilase) yang memecah molekul-molekul amilosa dan amilopektinn menjadi gula sederhana. Biarkan menguap eter yang tersisa dalam residu.9. Kandungan pati ditentukan menggunakan fakor pengali (0. 5. Kandungan glukosa dapat ditentukan menggunakan metode penetapan gula seperti metode Anthrone. Masukkan sebanyak 2 – 5 g contoh padat atau cair ke dalam gelas (untuk contoh padat perlu dihaluskan dahulu) 2. Amilosa. Saring setiap pencucian dengan kertas saring.

9 adalah factor konversi untuk pembentukan glukosa dari hidrolisis pati. 2. Gunakan contoh tepung yang mengandung pati (apabila contoh mengandung komponen lain maka pati perlu diekstrak dahulu) 2. kemudian tambahkan masing – masing 2 ml larutan iod. Buat kurva standar sebagai hubungan antara kadar amilosa (sumbu x) dengan absorbans (sumbu y) Analisis contoh : 1. 3. 9. Setelah didinginkan. ukur absorbans dari intensitas warna biru dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm. Tambahkan ke dalam tabung reaksi 1 ml etanol 95% dan 9 ml NaOH 1N. Pipet gel amilosa (beberapa seri konsentrasi) ke dalam labu takar 100ml Tambahkan ke dalam masing – masing labu takar asam asetat 1N. . Tepatkan larutan iod dengan air hingga tanda tera. Timbang sebanyak 100mg contoh dan masukkan ke dalam tabung reaksi Tambahkan ke dalam tabung reaksi 1ml etanol 95% dan 9ml NaOH 1 N. Angka 0. Setelah didiamkan selama 20 menit.Somogyi). Timbang sebanyak 40 mg amilosa murni dan masukkan ke dalam tabung reaksi. 3. pindahkan campuran secara kuantitatif ke dalam labu takar 100ml dan tepatkan dengan air sampai tanda tera 5. 7. 4. 8. Perhitungan Berat pati dalam contoh diperoleh dengan mengalikan berat glukosa dengan 0. Prosedur Kerja Analisis Amilosa Pembuatan kurva standar 1.9. 6.Analisis contoh : Filtrate diperoleh dari persiapan contoh dianalisis kadar glukosa dengan menggunakan analisis gula pereduksi (metode Lane – Eynon atau Nelson . Panaskan tabung reaksi di dalam air mendidih sekitar 10 menit sampai semua amilosa membentuk gel.

Kandungan amilosa ditentukan berdasarkan kemampuan amilosa untuk bereaksi dengan senyawa iod yang menghasilkan kompleks berwarna biru. lalu ditambahkan asam asetat 1N. Angka 0.9. Setelah didiamkan selama 20 menit. Perhitungan kadar amilosa ditentukan dengan menggunakan kurva standar.4.Serat kasar ditentukan dari residu setelah contoh diperlakukan dengan asam dan basa kuat. Pipet larutan pati tersebut dan dimasukkan ke dalam labu takar 100ml. Serat makanan ditentukan berdasarkan kadar acid detergent fiber (ADF) dan neutral detergen fiber (NDF). Intensitas warna biru tergantung pada kadar amilosa dan dapat ditentukan secara spektofotometri. dan air hingga tanda tera 7. Kandungan amilopektin ditentukan sebagai selisih antara kandungan pati dengan amilosa.9 adalah faktor konversi untuk pembentukan glukosa dari hidrolisa pati. . Analisis Karbohidrat Yang Tidak Dapat Dicerna Analisis Karbohidrat Yang Tidak Dapat Dicerna yaitu meliputi Analisis serat kasar (crude fiber) dan analisis serat makanan (dietary fiber). Panaskan tabung reaksi selama 10 menit untuk menggelatinisasi pati Setelah didinginkan. Pati = amilosa + amilopektin Perhitungan dalam menentukan berat pati dalam contoh diperoleh dengan mengalikan berat glukosa dengan 0. C= konsentrasi amilosa contoh dari kurva standar (mg/ml) V FP W = volume akhir contog (ml) = faktor pengenceran = berat contoh (mg) Kadar amilopektin (%) = Kadar pati (%) – Kadar amilosa (%) 6. NDF terdiri dari selulosa. dengan menggunakan rumus: Kadar amilosa (%) = (CxVxFPx100)/W Dimana. 5. ukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada 625 nm. ADF itu sendiri terdiri dari sebagian besar selulosa dan lignin. masukkan pasta pati ke dalam labu takar 100ml dan tepatkan hingga tanda tera dengan menggunakan air 6. dan sebagian kecil hemiselulosa dan substansi pektat sehingga umumnya dianggap sebagai selulosa dan lignin. 2 ml larutan iod.

Pindahkan residu secara kuantitatif dari kertas saring ke dalam erlenmeyer kembali. 4. Terdiri dari selulosa. Tambahkan ke dalam erlenmeyer sebanyak 200 mL larutan H2SO4mendidih. Cuci kembali sisa residu di kertas saring dengan 200 mL larutan NaOH mendidih sampai semua residu masuk ke dalam erlenmeyer.5 g asbes yang telah dipijarkan dan 2 tetes zat anti buih. Pencucian dilakukan hingga air cucian tidak bersifat asam lagi (diuji dengan kertas lakmus). Didihkan contoh di dalam erlenmeyer selama 30 menit dengan sesekali digoyanggoyangkan. maka digiling hingga homogen. 13. Saring kembali contoh melalui kertas saring yang diketahui beratnya sambil dicuci dengan K2SO4 10%. 11. 8. Giling contoh sampai halus sehingga dapat melewati saringan berdiameter 1 mm. Total serat makanan dihitung dengan menjumlahkan kadar NDF dengan kadar substansi pektat. Keringkan kertas saring dalam oven 1100C sampai 1-2 jam. Timbang sebanyak 2 gram contoh dan ekstrak lemaknya dengan menggunakan soxhlet dengan pelarut petrolium eter. Letakkan erlenmeyer di dalam pendingin balik. sedikit lignin dan pentosa. Pindahkan contoh yang sudah bebas lemak secara kuantitatif ke dalam erlenmeyer. Cuci residu di kertas saring dengan air mendidih kemudian dengan alkohol 95%. Serat kasar yaitu residu dari bahan makanan yang telah diperlakukan dengan asam dan alkali mendidih. 15. Penetapan lignin yaitu dengan metode klason. 5. 10. 12. dan lignin. 7. 14. Bila contoh tidak dapat dihaluskan. Setelah selese saring suspensi dengan kertas saring. Tambahkan 0. Cuci residu yang tertinggal dengan air mendidih. Kadar selulosa diperoleh dengan menghitung selisih kadar ADF dan kadar Lignin. Sedangkan penetapan substansi pekat dengan metode spektrifotometer. Setelah didinginkan dalam desikator. 6. Kadar hemiselulosa diperoleh dengan menghitung selisih kadar NDF dengan kadar ADF. 2. Didihkan kembali contoh selama 30 menit dengan pendingin balik sambil sesekali digoyanggoyangkan. 3. Prosedur Kerja 1. 9.hemiselulosa. timbang conto .

Komponen yang tidak larut disaring. Na2HPO. dikeringkan. Sampel yang mengandung pati maka pati akan dihidrolisis dahulu dengan enzim -amilase (karena pati menyulitkan pada proses penyaringan). Perhitungan Kadar serat kasar (g/100 g contoh) = [(W2-W1)/W]/x100 Dimana: W2= berat residu kertas saring yang telah dikeringkan (g) W1 W = berat kertas aring = berat contoh yang dianalisis. ditimbang. Kadar NDF dinyatakan sebagai selisih antara berat reidu kering setelah perlakuan dengan larutan NDF dengan berat abu dibagi dengan berat awal contoh (dinyatakan dalam persen). Analisis Serat Makanan (Dietary Fiber) Analisis Lignin Dengan mengekstrak contoh dengan larutan ADF sehingga seluruh komponen selain selulosa dan lignin larut. Hitung berat residu serat kasar dengan menghitung selisih antara berat contoh dan kertas saring dengan berat kertas saring. dan dikoreksi dengan kandungan mineral yang ada dalam komponen (dengan cara menyabunkannya sehingga yang tinggal hanya mineralnya).16. Selulosa yang ada dalam residu kemudian dihidrolisis dengan . laurit sulfat. Kadar ADF dinyatakan sebagai selisih antara berat residu kering setelah perlakuan dengan larutan ADF dengan berat abu dibagi dengan berat awal contoh (dinyatakan dengan persen). Na2B2O710H2O. dan 2-etoksi-etanol) sehingga seluruh komponen selain komponen NDF larut. dan dikoreksi dengan kandungan mineral yang ada dalam komponen. ditimbang. Analisis ADF (Acid Detergent Fiber) Dengan mengekstrak contoh dengan lrutan ADF (setiltrimetil amonium bromida dalam H2SO4 1 N) sehingga seluruh komponen selain komponen ADF larut. Analisis NDF (Neutral Detergent Fiber) Dengan mengekstrak contoh dengan larutan NDF (terdiri dari campuran EDTA. Komponen yang tidak larut disaring. dikeringkan.

Penuntun Praktikum BIOKIMIA untuk Mahasiswa Analis.. Endapan kalsium pektat dicuci sampai bebas klorida. Sudarmaji.G. Septorini. 2010. Estien dan Lisda. dikeringkan. . Agustini Rudiana. F. Residu disaring. Kumpulan Makalah. ditimbang. Yuanita. Andi Offset : Yogyakarta. Liberty : Yogyakarta Winarno. diakses tanggal 23 Oktober 2011. kemudian dikeringkan dan ditimbang beratnya. Surabaya : UNESA University Press. mht. Surodjo Suzana. Asam Sulfat. Struktur Bentuk dan Fungsi Karbohidrat. Semarang: Universitas Muhammadiyah. Protein.. Metode gravimetri yaitu dengan pektin yang telah diekstrak dari contoh disoponifikasi dengan alkali dan diendapkan sebagai kalsium pektat dengan menambahkan kalsium klorida dalam suasana asam. REFRENSI : Yazid. 1986. Kadar lignin dinyatakan sebagai elisih antara berat residu kering yang mengandung lignin dengan berat abu dibagi dengan berat awal contoh (dinyatakan dalam persen). Substansi pektat dihidrolisis dengan enzim pektinase sehingga asam galakturonat. 2011. Kimia Pangan dan Gizi. 1982. B. Lipida (Buku I).menggunakan H2SO4 72% sehingga yang tertinggal dalam residu hanya Lignin. dkk. dan dikoreksi dengan kandungan mineral yang ada dalam komponen. 2006. 2008. Perbedaan Kadar Glukosa pada Onggok yang Dihidrolisis dengan Asam Klorida. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Nursanti.Leny. Perangkat Pembelajaran Biokimia Petunjuk Praktikum Karbohidrat. Ragil. dan Asam Oksalat. Analisis Substansi PEKTAT Metode spektrofotometri didasarkan atas reaksi antara O-hidroksidifenil dengan anhidrogalakturonat menghasilkan warna yang dapat diukur pada panjang gelombang 520 nm. Karya Tulis Ilmiah. http: localhost/D:/download/uji % 20 kuantitatif % 20 karbohidrat. Gramedia : Jakarta Anonim.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->