Tugas Dosen

: Filsafat IPA dan Bioetika : Prof. Dr. Ir. Yusminah Hala, M.S.

EUTHANASIA

Disusun oleh: Kelompok 8 Darma Simai Ivo Basri K. Ridhawati

Program Studi Pendidikan Biologi Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar 2011

tindakan ini dilakukan terhadap penderita penyakit yang tidak mempunyai harapan sembuh. Euthanasia Aktif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut.Ada beberapa contoh pada kasus ini seperti : penderita kanker yang sudah kritis. fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. orang sakit yang sudah dalam keadaan koma. Dalam hal ini dokter yakin bahwa pasien tersebut akan meninggal dunia. tidak mengurangi keadaan sakitnya yang memang sudah parah. Adapun alasan yang dikemukakan oleh dokter ialah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien. padahal biaya pengobatannya yang dibutuhkan sangat tinggi. Hal ini dilakukan pada saat keadaan penyakit pasiien sudah sangat parah yang menurut perkiraan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh. Maka dari pada itu euthanasia merupakan pembunuhan yang diminta atau mendapat persetujuan baik dari pihak pasien maupun pihak keluarganya. ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi. yang disebabkan benturan pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Menurut Ensiklopedi Indonesia. misalnya : seorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Istilah pertolongan medis adalah agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seorang yang akan meninggal di peperangan. Kemudian ada lagi yang digolongkan euthanasia pasif yaitu upaya dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin bisa sembuh. Euthanasia Pasif adalah tindakan dokter yang berupa penghentian pengobatan pasien yang menderita sakit keras. B. Pengertian Euthanasia Kata euthanasia berasal dari bahasa Yunani eu artinya “baik” dan thanatos artinya “kematian”. Adapun alasan yang lazim dikemukakan adalah sebagai berikut: a. bahwa Euthanasia (Yunani) berarti matinya gampang. b. 2. Macam-macam Euthanasia Ada dua macam euthanasia dalam praktek kedokteran yaitu : 1. Juga berarti mempercepat kematian seorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran . Jadi euthanasia adalah tindakan memudahkan kematian atau mengakhiri hidup seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit.A. dan lain-lain. yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan.

” Kemudian di dalam penjelasan pasal 10 itu dengan tegas disebutkan bahwa naluri yang kuat pada setiap makhluk yang bernyawa. apabila ia melakukan euthanasia. Di dalam Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Mentri Kesehatan Nomor: 434/Men. walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan. berarti bahwa baik menurut agama dan undang-undang Negara. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. tetapi menghentuikan pernafasan sekaligus. Usaha untuk itu merupakan tugas seorang dokter. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh dokter untuk tidak melakukan upaya aktif yaitu: 1) Adanya persoalan yang berkaitan dengan kode etik kedokteran. yang disebutkannya dengan nyata dan sunguh-sunguh. Sekiranya euthanasia dilakukan juga.” Berdasarkan pasal ini./SK/X/1983 disebutkan pada pasal 10: “Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani. karena makar mati. Dokter harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani. atau penderita yang sedang comma. Mereka itu tidaklah mungkin membuat pernyataan secara tertulis sebagai tanda bukti sungguh-sungguh. dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun. seorang dokter biasanya dituntut oleh penegak hukum. C. maupun menurut Etika Kedokteran. mungkin saja dokter atau keluarga terlepas dari tuntutan pasal 344 itu.Kes. tetapi ia tidak bias melepaskan diri dari tuntutan pasal 388 yang berbunyi: “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. Hanya saja isi pasal 344 KUHP itu masih mengandung masalah.” Dokter melakukan tindakan euthanasia (aktif khususnya). 2) Tindakan menghilangkan nyawa orang lain dalam perundang-undangan merupakan tindak pidana. termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya. karena melanggar etik kedokteran. Sebagai terlihat pada pasal itu. karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum.tinggi yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. Euthanasia menurut KUHP dan Kode Etik Kedokteran Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan: “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. anak-anak. Maka bagaimanakah pasien yang sakit jiwa. dihukum. tapi di pihak lain menghilangkan nyawa orang lain. bahwa permintaan menghilangkan nyawa itu harus disebut dengan nyata dan sungguh-sungguh. seorang dokter tidak dibolehkan: . bisa diberhantikan dari jabatannya. di satu pihak dituntut untuk meringankan penderitaan pasien.

Artinya mengambil organ tubuh orang dalam keadaan sekarat atau koma haram hukumnya karena dapat membuat madharat kepada donor tersebut yang berakibat mempercepat kematiannya. Padahal Allah SWT menyuruh manusia untuk selalu berikhtiar sampai akhir hayatnya. para dokter di Indinesia dilarang melakukan euthanasia. berarti ia telah melakukan pembunuhan yang haram hukumnya dan termasuk dosa besar meskipun yang mendorong itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. tetap ada obat penyembuhnya (HR. Hadits nabi mengatakan : “Tidak boleh membuat modhorot pada diri sendiri. Contoh lain seperti transplantasi organ tubuh donor dalam keadaan koma. Masalah ini terkait dengan hukum melakukan pengobatan yang diperselisihkan para para ulama’ fiqih. Para ulama beda pendapat mengenai mana yang lebih utama: bersabar atau berobat? diantara mereka ada yang . yang menentukan kematian adalah Allah SWT. apakah memudahkan proses kematian secara pasif dan aktif juga tolerir oleh Islam? Adapun Euthanasia secara aktif adalah tidak diperkenankan ol eh syari’at. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus). Hukum Euthanasia Menurut Pandangan Islam Kemudian muncul dalam persoalan fiqih. Jadi sangat tegas. b. Al-Qur'an surah Yunus ayat 49. dan tidak boleh pula membuat madharat pada orang lain”. Menurut jumhur ulama’ berobat dari penyakit hukumnya sunnah dan tidak wajib. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila datang ajal mereka. bahwa seorang dokter harus mengerahkan segala kepandaiannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan memelihara hidup manusia (pasien). Di dalam kode etika itu tersirat suatu pengertian. Meskipun segolongan kecil ulama’ ada yang mewajibkannya. melainkan apa yang dikehendaki Allah”. tetapi tidak untuk mengakhirinya. Ahmad dan Muslim). Mengakhiri hidup seseorang penderita. maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya.a. yang menurut ilmu dan pengalaman tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia). Dalam ajaran Islam. Dalam hadits nabi SAW: betapapun beratnya penyakit itu. Artinya : Katakanlah : “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemodhorotan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku. Karena tujuannya membunuh si pasien sakit yang akan mempercepat kematian. Demikian pula dengan euthanasia yang menandakan bahwa manusia terlalu cepat menyerah pada keadaan. D.

Dengan demikian. 2.  Euthanasia aktif tetap dilarang. yang menghukumkannya haram. E. . bahkan diantara mereka ada yang memilih sakit. Seperti dari kalangan sahabat dan tabi’in. Sedangkan yang berhak mengakhiri hidup seseorang hanya Allah SWT. si pasien tidak ada harapan sembuh. taisir al-maut semacam ini dalam kondisi sudah tidak ada harapan yang dalam hal ini tidak didapati tindakan aktif dari dokter dan orang lain. Jadi hukumnya berobat pada dasarnya wajib terutama jika sakitnya parah. apalagi menghendaki kematiannya. baik karena biaya yang amat terbatas maupun rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap terlalu jauh. artinya membawa pasien pulang kerumahnya dan membiarkan pasien dalam perawatan seadanya tanpa ada maksud melalaikannya. Saran: Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. lebih-lebih menurut Islam. Tindakan euthanasia pasif dari dokter dalam kondisi seperti ini adalah boleh dan dibenarkan oleh syari’ah apabila keluarga pasien mengizinkannya demi meringankan penderitaan dan beban pasien dan keluarganya. 3. namun tidak ada perubahan penyakitnya. seperti Ubay bin Ka’ab dan Abu Dzar AlGhifari. maka dapat dilakukan dua cara: menghentikan perawatan atau pengobatan. infuse dan sebagainya dalam waktu lama.  Euthanasia pasif diperbolehkan. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan 1.  Euthanasia merupakan istilah dalam ilmu kedokteran yang fungsinya untuk memudahkan kematian tanpa merasakan sakit.berpendapat bahwa bersabar itu lebih utama. yaitu sepanjang kondisi pasien berupa batang otaknya sudah mengalami kerusakan fatal. Jika secara medis yang dapat dipertanggung jawabkan. suntikan. baik dilihat dari kode etik kedokteran. atau kelangsungan hidup bergantung pada pemberian berbagai media pengobatan dengan cara meminum obat. maka pengobatannya tidak wajib dan tidak sunnah sebagaimana yang difatwakan oleh Syekh Yusuf Al-Qaradhafi dalam fatwa mu’ashirahnya. Oleh karena itu berobat hukumnya sunah ataupun wajib apabila penderita dapat diharapkan kesembuhannya. undang-undang hukum pidana.

dkk. M. Abuddin. Nata. Erwan. 1987. Ikhtiar Baru. Jakarta. Masail Fiqhiyah Al-Haditsah. Jakarta.blogspot. Tentang. Ali.com/2010/12/makalaheuthanasia. 2008. (http://ashimmurtadlo. UIN Jakarta. Jakarta. Jakarta. Press. Eksiklopedia Indonesia. Himpunan Undang-undang dan Peraturan-peraturan Hukum Pidana. Setiawan.blogspot.REFERENSI Budi.blogspot. Jakarta.html) diakses 12 Desember 2011. Yayasan penerbit Ikatan Dokter Indonesia. hal 978. Masail Al-Fiqhiyah. hal 137. belakunya kode etik kedokteran Indonesia bagi para dokter Indonesia.html) diakses 12 Desember 2011. Hasan. 2003. (http://ashimmurtadlo. Gema Insani Press. Rajawali Pers. Aksara Baru. (http://ashimmurtadlo.com/2010/12/makalah-euthanasia. 1979. Vol 2.com/2010/12/makalaheuthanasia. U. Keputusan Mentri Kesehatan RI nomor : 434/Men. 2003. . Topik Euthanasia.html) diakses 12 Desember 2011.Kes/SK/X/1983. Van Hoeve. Fiqih Aktual.