LAPORAN KASUS DEMAM TIFOID

KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan hidayah-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul "DEMAM TIFOID" ini tepat pada waktunya. Adapun referat ini disusun untuk memenuhi tugas penunjang pada kepaniteraan klinik di SMF Ilmu Kesehatan Anak di RSU …………………… Pada kesempatan ini pula, penyusun menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada: ……………… Serta kepada pihak lainnya yang kami tidak dapat sebutkan namanya satu persatu. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penyusun untuk kesempurnaan makalah ini. . Penyusun

1. 2.

linfonodi dan pacth payer. berflagella.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB II DEMAM TIFOID II.5.4) Berdasarkan sensus World Health Organization (WHO) tahun 2004.4.1.(1) Salmonellae di kelompokan dalam antigen O somtik dan lebih lanjut dibagi menjadi serotipe-serotipe berdasarkan antigen flagellar H and surface virulence (Vi). Sejak jaman dahulu kala.(2. Penatalaksanaan II. S paratyphi C. kecuali S typhi yang memproduksi gas saat fermentasi gula. dan Salmonella Dublinare adalah satu-satunya serotipe Salmonella yang membawa antigen Vi. Demam tifoid adalah penyakit multisistemik berat yang karakteristiknya berupa demam yang berkepanjangan. Komplikasi DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Demam tifoid atau dikenal dengan demam enterik adalah infeksi sistemik oleh Salmonella typhi atau oleh bakteri yang lebih lemah. Patofisiologi II. IV. VI). sekitar 21. Batasan II. si pembawa mengeluarkau bakteri ini lewat urinnya.7. Diagnosa Banding II. Semuanya. gangguan pada saluran cerna.4)Insidens global sekitar 0. hanya S typhi dan S paratyphi yang patogen secara khusus pada manusia. Illb.000 kematian. . dengan 200. S typhi sedangkan S paratyphi adalah S enterica subspesies I.3. S bongori memiliki satu subspesies (V).(1) Dari semua serotipe Sallmonella. semua salmonellae kini digolongkan dalam salah satu dari dua kelompok spesies:Salmonella enlerica (yang sebelumnya disebut Salmonella choleraesuis) andSalmonella bongori. dan mensintesis flagella peritrichous saat motil.8. facultatif anaerobik basil yang memfermentasi glukosa. S lyphi penyebab demara tifoid.6 juta kasus setiap tahunnya di seluruh dunia. Manifestasi Klinik II. II. Ahli arkelogi telah menemukan S typhi di kuburan massal di Athena yang digunakan ada era perang Peloponnesia. Seseorang juga dapat terinfeksi dari minum air keran yang terkontaminasi atau dari makan makanan kaleng yang terkontaminasi.2. namun insidensnya sebesar 2% telah ditemukan di daerah "Hot Spot". lien. Etiologi II. (1. Jarang kali.(1) BAB II DEMAM TIFOID II. Berdasarkan studi DNA. antigen pembungkus (K). nonsporulating. Afrika. Demam tifoid dapat fatal bila tidak mendapatkan perawatan. bakterremia menetap tanpa keikutsertaan endotelial ataupun endokardial. dan menduga bahwa bakteri inilah yang menyebabkan wabah besar di Athena. Salmonella paratyphi. memiliki antigen O dan H. mengubah nitrat menjadi nitrit. 2. (1) Orang-orang biasanya terinfeksi S typhi and S paratyphi melalui makan dan minuman yang terkontaminasi kotoran dari pembawa kronis penyakit ini. S yyphi sering terdapat di negara dengan sanitasi lingkungan yang buruk. dan Amerika latin. dan gangguan kesadaran. Salmonellae adalah gram-negatif. bakteri ini telah menghantui pada masa perang dan saat penurunan sanitasi lingkungan.9. namun pasien tersebut kebanyakan baru tiba dari negara-negara endemik. dimana demam tifoid masuk 5 besar dalam penyebab kematian terbesar.3) Bagian/SMF Ilmu kesehatan Anak FK Unair(5) seperti halnya Curtis(4) dan Bursch mendeflnisikan demam tifoid secara lebih singkat lagi yaitu suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.(1) Salmonella adalah genus dari famili Enterobacteriaceae yang memiliki lebih dari 2300 serotipe. dan invasi serta perkembangbiakan bakterinya terjadi di sel fagosit mononuklear pada hati. serotipe typhi and paratyphi. S enlerica memiliki 6 subspesies (I. Batasan Demam Tifoid atau tifus abdominalis atau demam enterik atau enteric fever (1'2'3'4) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari. Epidemiologi II.(4)terutama di Asia.6. Epidemiologi Infeksi oleh S typhi and S paratyphi paling sering terjadi pada negara yang berkembang dimana sanitasi air dan sistem limbahnya terbatas. II. S typhi.5%. Walaupun wabah juga pernah terjadi di negara maju. dan suatu komplek makromolekular lipopolisakarida yang disebut endotoksin yang membentuk bagian luar dinding selnya. (1. Ilia. Diagnosa II. Khususnya. 1. seperti Indonesia dan Papua New Guinea.

Case fatality rates 10-50% telah dilaporkan dari daerah yang endemis itupun pada pengobatan yang terlambat. lesu. Rata-rata 245 kasus telah dilaporkan setiap tahunnya. Disamping gejala-gejala yang biasa ditemukan tersebut. (1. Peningakatan fasilitas sanitasi dan penggunaan antibiotik yang tepatlah yang menyebabkan penurunan ini. Selama minggu pertama. Penelitian prospektif telah menunjukan bahwa. sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. nyeri kepala. penderita terus berada dalam keadaan demam. kuman menembus mukosa usus dan masuk peredaran darah melalui aliran limfe. Bibir kering dan pecan-pecah (ragaden).3. Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. yaitu tidak pernah menjadi sakit walaupun mendapat infeksi yang cukup berat. walaupun insidens demam tifoid tertinggi adalah pada pasien remaja dan dewasa muda. Dalam minggu kedua. yaitu antigen O (somatik). Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur . dengan insidens 0. dan protein membran Hialin. Kuman salmonella typhi masuk tubuh melalui mulut bersama dengan makanan/minuman yang tercemar.oral" dan banyak terdapat di masyarakat dengan higiene dan sanitasi yang kurang baik.2. Biasanya ditemukan dalam minggu pertama demam. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus).  Gangguan pada saluram pencernaan Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Selanjutnya. koma atau gelisah. ujung dan tepinya kemerahan. Kuman dapat menetap/bersembunyi pada satu tempat dalam tubuh penderita. menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Payeri. Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan(2.5) Zat ini mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus dan menimbulkan gejala demam. Walaupun dapat difagositosis. (IKAU. Lidah ditutupi seiaput putih kotor (coated tongue). Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola. Patofisiologi Penularan penyakit Demam Tifoid adalah secara "faeco . H (flegela).6) Proses utama adalah di ileum terminalis.(1) Tetapi antibiotika dini telah mengubah penyakit yang sebelumnya mematikan dan berminggu minggu dengan angka kematian 20% ini menjadi penyakit demam jangka pendek dengan angka kematian rendah. dan 20.(2. dll).(5) II.3) II. angka kesakitan dan angka kematian.3. jarang disertai tremor. dan hal ini dapat mengakibatkan terjadinya relaps atau pengidap (carrier). secara keseluruhan insidens penyakit yang memerlukan konfirmasi kultur darah umumnya tertinggi pada anak usia 3-9 tahun dan menurun jelas pada akhir masa remaja. Jarang terjadi sopor.6) yaitu:  Demam Pada kasus-kasus yang khas.3). Kadang-kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis.994 kasusu yang dilaporkan pada tahun 1920.3. suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari. (5. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan.angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. kuman berkembang biak dan masuk ke peredaran darah kembali (bakteriemi kedua).5) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus. Manifestasi Klinis Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. tidak berpora.RSCM Jakarta berumur di atas 5 tahun.5. Vi. akan tetapi berlangsung lebih ringan dan lebih singkat.(4) Di Amerika dalam periode tahun 1900-1960.6) Kuman melepaskan endotoksin yang merangsang terbentuknya pirogen endogen. (2. Etiologi Demam tifoid disebabkan oleh Salamonella typhii. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal. seluruh ileum dapat terkena dan mungkin terjadi perferasi atau perdarahan. Mempunyai sekurangnya empat macam antigen.(2) II. pusing dan tidak bersemangat(2.000 kematian terjadi tiap tahunnya. bergerak dengan rambut getar. akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. Penderita anak yang ditemukan biasanya berumur di atas satu tahun.4. Masa tunas rata-rata 10-20 hari.000 populasi sejak 1985 dibandingkan dengan 35. yaitu apatis sampai somnolen. Terjadi dalam minggu kedua setelah suhu badan normal kembali.Pada negara-negara ini.5.  Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam.3.2 per 100. sebagian besar dari penderita (80%) yang dirawat di Bagian llmu Kesehatan Anak FKU1 . biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Terjadinya sukar diterangkan. yaitu perasaan tidak enak badan.4. limpa. Bila berat. kuman menyebar ke seluruh tubuh. Salah satu contohnya. yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Biasanya didapatkan konstipasi.(1) Indonesia merupakan daerah endemik demam tifoid. kususnya dari daerah subbenua India dan Amerika Latin. 91% of kasusu melibatkan anak-anak usia 3-19 years. seperti halnya keadaan kekebalan alam. (1) Di daerah endemis. demam berlangsung 3 minggu. Lebih dari 70% kasusu terjadi dalam 30 hari setelah bepergian dari luar negeri. basil Gram negatif. Relaps yaitu keadaan berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis. Dalam sistem retikuloendotelial (hati. insedens demam tifoid semakin terus menurun dan tetap rendah hingga sekarang.6) Sesudah melawati asam lambung.5. . Hati dan limpa membesar di sertai nyeri pada perabaan. mungkin pula ditemukan gejala lain. anak-anak berusia 1-5 years adalah resiko tertinggi dalam infeksi.(4. Wabah yang jarang yang transmisinya dalam wilayah Amerika Serikat umumnya disebabkan oleh makanan impor dan pengolah makanan yang bersal dari daerah endemis. kuman dapat berkembang biak di dalam makrofag karena adanya hambatan metabolisme oksidatif.

8. Tidak selalu pemeriksaan Widal positif walaupun penderita sungguh-sungguh menderita tifus abdominalis sebagai mana terbukti pada autopsi setelah penderita meninggal dunia. Pemeriksaan darah tepi Terdapat gambaran leukopenia. 4. ada tidaknya gejala gangguan sistem gastrointestinal. (2) Titer O dan H tinggi karena terdapatnya aglutinin normal. 3. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urin dan feses dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama. terjadi invasi basil bersama dengan pembentukan jaringan-jaringan fibroblas. 1. b. Pemeriksaan sumsum tulang Dapat digunakan untuk menyokong diagnosis.  1. Untuk membuat diagnosis yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen O. yaitu pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi. granulopoesis dan trombopoesis berkurang. Menurut teori. Pemeriksaan darah tepi ini sederhana. seperti (5) : Campak Demam Berdarah Dengue Meningitis Tuberkulose paru Malaria II. Titer yang bernilai 1/200 atau lebih dan tau mentunjukkan kenaikan yang progresif digunakan untuk membuat diagnosis. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. mudah dikerjakan di laboratorium yang sederhana akan tetapi berguna untuk membantu diagnosis yang cepat.(5) Dalam anamnesa perlu ditanyakan hal-hal yang berhubungan dengan gejala klinis yang terjadi seperti onset demam. relaps terjadi karena terdapatnya hasil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti. II.7. Oleh karena itu pemeriksaan yang positif dari contoh darah digunakan untuk menegakkan diagnosis. ginjal. Pemeriksaan penunjang Untuk memastikan diagnosis dikerjakan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut: Pemeriksaan yang bcrguna untuk menyokong diagnosis. tidak mengandung banyak serat dan bahan-bahan yang menimbulkan gas. Kedua pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya. Pada neonatus. Sedangkan sistem eritropoesis. zat anti tersebut diperoleh dari ibunya melalui tali pusat. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi. Pemeriksaan Widai Dasar pemeriksaan ialah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspensi antigen Salmonella typhosa. Dengan jalan mengencerkan serum. medikamentosa dan pencegahan yaitu seperti dibawah ini(5) : Perawatan dan Pengobatan Suportif Perawatan dengan isolasi Pemenuhan kebutuhan makanan dan cairan. karena dapat tetap tinggi setelah mendapat imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh. 2. Mungkin pula terjadi pada waktu penyembuhan tukak. Sebaliknya titer dapat positif karena keadaan sebagai berikut. Biakan empedu Basil Salmonella typhosa dapat ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit. Diagnosa Banding Demam tifoid harus dibedakan dengan semua penyakit yang disertai demam. b. Pemeriksaan laboratorium untuk membuat diagnosis Biakan empedu untuk menemukan Salmonella tyhosa dan pemeriksaan Widal ialah pemeriksaan yang dapat dipakai untuk membuat diagnosis tifus abdominalis yang pasti. Pemeriksaan ini tidak termasuk pemeriksaan rutin yang sederhana. Titer terhadap antigen H tidak diperlukan untuk diognosis. maka kadar zat anti dapat ditentukan. sumsum tulang.       1. 6. Makanan sebaiknya tidak merangsang. karena infeksi basil Coli patogen dalam usus. II. Titer tersebut mencapai puncaknya bersamaan dengan penyembuhan penderita. . atau air kemih. limfositosis relatif dan aneosinofilia pada permulaan sakit. Terdapat infeksi silang dengan Rickettsia (Weil Felix) Akibat imunisasi secara alamiah karena masukannya basil peroral atau pada keadaan infeksi subklinis. 2. sedangkan pemeriksaan negatif dari contoh urin dan feses 2 kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan tidak menjadi pembawa kuman. Penatalaksanaan Adapun penatalaksanaan demam tifoid dapat dibagi menjadi pengobatan suportif. a. Diagnosa Anamnesa dan pemeriksaan fisik Diagnosis pasti Demam tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan kuman dalam darah. a. 2. Terdapat gambaran sumsum tulang berupa hiperaktif RES dengan adanya sel makrofog.

dinding abdomen tegang (defense musculair) dan nyeri pada tekanan. Mengenai imunisasi. oral / IV. ensefelopati dan lain-lain. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat disertai ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum. Bila sedikit hanya ditemukan jika di lakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. selama 10-14 hari. Peritonitis. Perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat. yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara di antara hati dan diafragma pada foto Rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak. Kortikosteroid Hanya diberikan pada penderita dengan Ensefalopati dan atau Syok septik.  1. 3 kali sehari. Komplikasi Dapat terjadi pada(2. Terjadi karena infeksi sekunder. akan tetapi sering fatal.  Komplikasi di luar usus Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia) yaitu meningitis. Dehidrasi dan asidosis dapat timbul akibat masukan makanan yang kurang dan perpirasi akibat suhu tubuh yang tinggi. Pencegahan Pemecahan dapat dikerjakan dengan penyuluhan tentang kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan.100 mg / kg / hari. disarankan untuk menggunakan monovalen (dimatikan dengan aseton).6) : Usus halus Umumnya jarang terjadi.9. vaksin     II. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau selain itu dan terjadi pada bagian distal ileum. 2. 1. Bila tidak dapat diberi Kloramfenikol maka alternatif yang lain adalah : Amoksisilin 100 mg / kg / hari oral. yaitu bronkopneumora. . 2-3 kali sehari selama 10-14. kolesistitis. 2. Medikamentosa Antibiotika Kloramfenikol : 50 . Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. yaitu : Perdarahan usus.

Mansjoer A. 283-311 3. 1985. gangguan gastrointestinal dan gangguan ksadaran. basil Gram negatif. In: http://wwvv. yaitu antigen O (somatik). Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2. 2000. H (flegela).00 WIB 2. 7 Agustus 2008. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Volume II Edisi 15. Vi. 264-7 6.00 WIB 5. Surabaya:Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSUD Dr.Akses: Kamis. Hasan R. dan protein membran hialin. Saran Sosialisasi tentang demam tifoid terutama gejala khasnya. dan terapi pertamanya melalui pusat-pusat pelayanan kesehatan serta media massa perlu lebih digalakkan agar penatalaksanaan dapat dilakukan sedini mungkin sehingga komplikasi dapat ditekankan serendah mungkin. Kaspan MF. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. Penatalaksanaan dilakukan dengan perawatan/pengobatan suportif. Soegijanto S. jam 16. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. bagerak dengan rambut getar. Infeksi oleh S typhi and Sparatyphi paling sering terjadi pada negara yang berkembang dimana sanitasi air dan sistem limbahnya terbatas. Curtis T. Komplikasi yang muncul dapat terjadi didalam usus maupun d luar usus.I.emedicine.Akses: Kamis. medikamentosa dan pencegahan.Soetomo. Mempunyai sekurangnya empat macam antigen. jam 16. Jakarta:Media Aesculapius FK UI. Typhoid Fever. Wahab AS eds.com/JVlED/ pic2331. DAFTAR PUSTAKA 1. 2004.2. Demam Tifoid In:Pedoman Diagnosis Terapi.htm. Jakarta:Bagian Kesehatan Anak FK UI. Gejala klinis utama adalah demam. Demam tifoid disebabkan oleh Salamonella typhii. 977-980 Ilmu dan . eds. III. In: http://www. 432-3 4.emedicine. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. 1996.htm. gangguan pada saluran cerna.com/MED/ topic6S6. Brusch JL. Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa.BAB III PENUTUP III. 7 Agustus 2008. Typhoid Fever. Kesimpulan Demam Tifoid atau tifus abdominalis atau demam enterik atau enteric fever adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dcngan 3 demam lebih dari 7 hari. dan gangguan kesadaran. tidak berpora.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful