1.

(Binasalah) atau merugilah (kedua tangan Abu Lahab) maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (dan sesungguhnya dia binasa) artinya dia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini adalah kalimat berita; perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya: "Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa." Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, "Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anakanakku." Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu: (Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan) maksudnya apa yang telah diusahakannya itu, yakni anakanaknya. Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya. (Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak) yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api. (Dan begitu pula istrinya) lafal ini di'athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf'ul dan sifatnya; yang dimaksud adalah Umu Jamil (pembawa) dapat dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan (kayu bakar) yaitu duri dan kayu Sa'dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan tempat Nabi saw. lewat. (Yang di lehernya) atau pada lehernya (ada tali dari sabut) yakni pintalan dari sabut; Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal Hathab yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini dapat dianggap sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan.

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin Bismillahirrahmaanirrahiim Allah berfirman. Artinya : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” [Al Lahab : 1] “Tidaklah berpelajaran kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” [Al lahab : 2] “Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” [Al-Lahab : 3] “Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar” [Al-Lahab : 4] “Yang di lehernya ada tali dari sabut” [Al-Lahab : 5] Dalam surat ini terdapat bukti-bukti yang sangat banyak dan jelas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kebenaran. Beliau tidak mengajak demi mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan jabatan di kalangan kaummnya. Dalam mensikapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para paman beliau terbagi menjadi tiga kelompok. [a]. Kelompok yang beriman, berjihad bersama beliau dan tunduk kepada Allah Rabb sekalian alam. [b]. Kelompok yang mendukung dan menolong beliau, namun tetap kafir. [c]. Kelompok yang ingkar dan berpaling. Mereka ini kafir terhadap agama beliau. Adapun kelompok pertama, seperti Al-Abbas bin Abdul Muthalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah lebih afdhal dari pada Abbas, karena beliau dijuluki sebagai syuhada yang terbaik disisi Allah Azza wa Jalla, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya gelar asadullah dan asudarasuluhu Page 1 of 4

2.

3.

4.

5.

TAFSIR SURAT AL-LAHAB

ini adalah perkara sepele. Abu Lahab berkata : “Celakalah engkau. Yang demikian ini sama seperti firman Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya. Al-Tabaab artinya Al-Khasaar yaitu kerugian. karena kedua tanganlah yang sering bekerja dan bergerak. tidak memeluk agama Islam sampai akhir hayatnya. hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami?” Maka Allah Ta’ala membantah dengan menurunkan surat ini “Tabbat yadaa abii lahabiw watabb”. tersebut sesuai dengan Page 2 of 4 . Ketiga yaitu yang ingkar dan berpaling. Adapun yang mendukung serta menolong tetapi masih tetap dalam kekafiran. seperti Abu Thalib.(singa Allah dan rasulNya). “Artinya : Apakah ini orang yang mencela ilahilah kalian?” [Al-Anbiyaa: 36] Yaitu meremehkannya. mengambil dan memberi dan lain-lain. Beliau terbunuh pada perang Uhud di tahun kedua hijrah. Tidak acuh dan tidak peduli. Katakan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. setiap huruf sepuluh kebaikan. sehingga tidak perlu mengumpulkan para pemimpin Quraisy. namun –wal ‘iyaadzu billahAllah telah menentukan adzab untuknya. seperti Abu Lahab. Sebagaimana firman Allah Ta’ala. tidaklah matamu melihat seorang yang punya gelar. mengingatkan dan memberi mereka kabar gembira. Allah menurunkan satu surat penuh. Dia telah bersikap baik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta membela dan mendukung beliau. Dan gelar Abu Lahab adalah gelar yang pantas dan sesuai dengan kondisi dan tempat kembalinya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya syafaat untuknya (untuk meringankan adzab) hingga diadzab di naar dengan cara dipakaikan sandal lalu menggelegak isi otaknya. Kecuali kamu akan berfikir makna dari gelarnya Ketika Suhail bin Amr datang pada perang Hudaibiyah. Dan Allah memulai dengan menyebutkan tangan sebelum yang lainnya. Gelar ini pantas untuknya karena ia akan dimasukkan ke dalam naar yang menyalanyala yang mengeluarkan lidah api yang dahsyat. Berkata Abu Lahab : “Celakalah engkau! Hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami? Perkataan “hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami” adalah untuk meremehkan. ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka ke jalan Allah. aku tidak melihat kecuali ia telah mudahkan urusan kalian” Karena nama perbuatannya. shalt sir (yang bacaannya pelan) dan jahar (yang bacaannya terang) diberi pahala orang yang membacanya. Di detik-detik akhir kehidupannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam tetapi ia tetap enggan dan meninggal dengan pernyataannya bahwa ia berada di atas agamanya Abdul Muthalib. “Artinya : Dan mengapa mereka berkata : “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah danThaif) ini?’ [Az-Zukhruf : 31] Wal hasil. “Artinya : Ini adalah Suhail bin Amr. Berkata seorang penyair. “Artinya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” [Al-Lahab : 1] Ini merupakan bantahan terhadap Abu Lahab. “Artinya : … Dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian” [Al-Mu’min : 37] Yaitu kerugian. yang dibaca di dalam shalat wajib dan sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

namun dikatakan tidak bermanfaat jika tidak dapat menyelamatkan pemiliknya dari naar. Setiap usaha yang dilakukan untuk menambah kemualian dan kehormatan. harta itu bermanfaat. maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik”[Al-Ahqaaf : 35] Sesaat yang ada di siang hari tentunya waktu yang sangat singkat. Page 3 of 4 . Ia katakan : “Jika engkau membebaskanku maka aku akan memberimu uang sekian-sekian”. tidak bermanfaat baginya harta dan anaknya.Allah berfirman. “Artinya : Tidaklah berpelajaran kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” [AlLahab : 2] -Ma. Ayat di atas mencakup anak. “Artinya : Sebaik-baik hasil yang kamu makan adalah hasil dari jerih payahmu. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman.berkemungkinan mempunyai makna istifham (pertanyaan) yang berarti : Manfaat apa yang ia dapatkan dari hartanya dan apa yang ia usahakan? Jawabnya : Tidak ada sama sekali. bahwa harta dan apa yang ia usahakan tidak bermanfaat sedikitpun untuknya ? Padahal menurut kebiasaan. Karena kemewahan dunia. Jika seseorang. dan bagaimanapun lamanya tinggal di dunia. dan anakanakmu tersebut termasuk dari hasil jerih payahmu” Pendapat yang benar adalah ayat tersebut lebih umum dari yang demikian. FirmanNya “Wamaa kasab” dikatakan maknanya adalah anaknya. sakit atau lapar dapat memanfaatkan hartanya. Kedua makna tersebut saling berkaitan. juga mencakup apa yang ia usahakan untuk meraih kemuliaan dan kehormatan. Allah Ta’ala mengancamnya dalam waktu dekat dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dengan meminta harta sedikit atau banyak. musuhnya akan membebaskannya. “Artinya : Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” [Al-Lahab : 3] Huruf –sin. Harta sangatlah bermanfaat. Sehingga manusia yang ada di alam barzakh merasa sebentar walaupun tahun demi tahun yang panjang telah berlalu. Oleh karena itu. Yakni. tidak bermanfaat untuknya sedikitpun “ Maa agnaa anhu maaluhu wamaa kasab” = Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” Firman Allah. Harta dapat dijadikan alat penebus jika seseorang ditawan musuh. Allah Ta’ala berfirman “ Maa agnaa anhu maaluhu” yakni hartanya tidak dapat menyelamatkannya dari siksaan Allah Ta’ala. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. tetap saja dikatakan akhirat itu dekat. Dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka…” [AlMa’aarij : 21] Maka mereka artikan “wamaa kasab” ialah anak. yaitu .pada “sayashla” untuk ‘at-tanfis’ yang menunjukkan ‘al-haqiqah’ (hakiki) dan alqurb (waktu dekat). berarti maknanya : Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Pendapat ini juga didukung dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga mencakup harta yang sedang ia usahakan untuk ia dapatkan. Atau bermakna naïf (penolakan). Yakni. Sebagaimana yang dikatakan Nabi Nuh ‘Alaihis salam “Artinya : …. “Artinya : … mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.

Adapun jika dibaca nasab. Yaitu. Aku mencela si pembawa kayu bakar. Firman Allah : “Hammaa latal hathab” = pembawa kayu bakar. namun kehormatan tersebut tidak bermanfaat untuknya karena ikut membantu suaminya dalam permusuhan dan dosa serta tetap di dalam kekafiran. Atau manshub dengan arti celaan. Dia adalah wanita terhormat di kalangan suku Quraisy. Adapun jika dibaca rafa’ menunjukan sifat si wanita tersebut. ia pergi ke gurun dengan membawa tali untuk mengikat kayukayu berduri yang akan ia letakkan di jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya. artinya banyak membawa. penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari. na’udzubillah min dzalik. Karena na’at yang terputus boleh dinashabkan dengan maksud pencelaan. “Artinya : Yang di lehernya ada tali dari sabut” [Al-Lahab : 5] Nas alullah al’afiyah. pembawa kayu bakar” [Al-Lahab : 4] Yaitu wanita (istri) yang yang ada bersamanya. Yakni. Hal ini mengisyaratkan rendahnya cara berfikir. penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. [Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma. keadaan istrinya membawa kayu bakar. untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. -Hammaalah. Tetapi demi untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia rela melakukannya. maka menunjukkan keadaan istrinya.Firman Allah “Artinya : Dan (begitu pula) isterinya. edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma.bentuk mubalaghah. Firman Allah. Disebutkan bahwa ia membawa kayu yang berduri kemudian ia letakkan di jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. penerbit At-Tibyan – Solo] Al-jid ialah al-‘unuq artinya leher. karena ia menghinakan dirinya sendiri. Seorang wanita dari kabilah yang terkemuka dari kalangan suku Quraisy pergi ke gurun dengan melilitkan tali sabut di lehernya. al-masad : sabut. Habl ialah tali. Page 4 of 4 . dibaca nashab (fathah) atau rafa (dhamah). Sampai di sini selesailah penjelasan surat ini dengan kemudahan dari Allah Azza wa jalla.