Tafsir Ayat Tentang Jilbab

JILBAB; Antara Syari’at dan budaya (Telaah Kritis Surat Al-Ahzab:59)
BAB I PENDAHULUAN Al-Qur‟an adalah sumber dari segala sumber hukum Islam. Sebagai pusat sumber, alQur‟an dituntut untuk mampu menjawab setiap persoalan yang muncul di tengah dinamika zaman. Ia harus senantiasa relevan di setiap bentuk kondisi maupun tempat agar Jargon alQur‟an “Shalihun likulli zaman wa makan” tidak menjadi jargon dusta tanpa bukti. Al-Qur‟an adalah kalam Tuhan yang telah mengalami tekstualisasi atau dalam bahasa lain telah terjadi strukturalisasi kalam Tuhan. Sebuah teks sakral yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Maka tak heran, jika kemudian Nashr Hamid abu Zayd, seorang pemikir Islam kontemporer menyebut peradaban Islam adalah peradaban teks (Hadlarah an-Nash). Dalam sejarahnya, al-Qur‟an senantiasa berdialektika dengan kondisi sosial budaya pada masanya. Ayat-ayat hukum kerap kali turun sebagai bentuk respon atas sebuah peristiwa yang terjadi saat itu. Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana menyikapi ayat yang turun sebagai respon khusus atas suatu peristiwa. Memperlakukan ayat tersebut secara umum tanpa memepertimbangkan historisitasnya atau mengambil signifikansi yang terkandung dalam ayat tersebut? Ayat yang berbicara mengenai jilbab dalam surat al-Ahzab ayat 59, setidaknya dapat mewakili satu di antara sekian banyak ayat yang memunculkan masalah di atas. Beragam jenis tafsir pun banyak bermunculan sebagai bentuk penyikapan. Di era kontemporer saat ini, jilbab tidak hanya dijadikan sebagai sebuah penutup aurat belaka. Ia telah menjadi sebuah budaya , bahkan lebih ekstrim, ia telah berubah menjadi sebuah mode dan aksesoris penambah kecantikan. Oleh karenanya, dalam makalah singkat ini, kami akan mengeksplor tafsir ayat 59 dari surat al-Ahzab.

BAB II PEMBAHASAN JILBAB: ANTARA SYARI’AT DAN BUDAYA A. Ayat Hukum (Al-Ahzab:59)

y7Å_ºurø— @è% •ÓÉ<¨Z9$# $pkš‰r'¯»tƒ `ÏB £`ÍköŢn=tã šúüÏRô‰ãƒ Ïä!$|¡ÎSurtûüÏZÏB÷sßJø9$# y7Ï?$uZt/ur X{

namun kurang fasih. B. dalam al-Qur‟an tidak pernah ditemukan penggunaan lafadz tersebut dengan tambahan ta‟ ta‟nits. ada pula sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa jilbab sama dengan Qina’ (cadar/ tutup kepala wanita) Maksudnya adalah pakaian yang menutupi seluruh anggota tubuh. anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".[11] Selain itu Allah mensyariatkan hijab juga bertujuan agar para wanita terbebas dari gangguan maupun godaan orang-orang fasiq. yakni sejenis pakaian yang lebih lebar dari pada khimar (penutup/tudung kepala wanita). Syari‟at hijab yang diwajibkan pada wanita muslimah bertujuan untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka. dengan menggunakan ta‟ ta‟nits dianggap benar.[12] Dengan pemakaian jilbab. ‫جالبيبهن‬: Bentuk jamak dari lafadz ‫جلباب‬. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Namun. Hai Nabi. Syari‟at hijab yang termaktub dalam surat al-Ahzab 59 adalah salah satu bentuk titah Allah yang sangat erat kaitannya dengan etika tersebut. Pendapat ini didasarkan pada riwayat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas‟ud.[10] C. As-Shabuni mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah setiap pakaian yang menutupi seluruh anggota badan perempuan yang menyerupai mala’ah(semacam baju kurung wanita). ‫غفىرا‬: Shighat Mubalaghah[9] bermakna Dzat yang maha pengampun. Nabi Muhammad mempunyai kewajiban untuk mengarahkan dan membimbing umatnya agar senantiasa beretika secara islami. dari segi fisik belum ada pembeda antara wanita budak dan merdeka.[6] Dari beberapa pendapat ulama tentang definisi jilbab di atas.3 tûøïsŒ÷sムŸxsù z`øùt•÷èムbr& y7Ï9ºsŒ#‟oT÷Šr& 4 £`ÎgÎ6•Î6»n=y_ ÇÎÒÈ #Y„qàÿxî$VJŠÏm§„ ª!$# šc%x. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa jilbab sama dengan rida’ (sejenis selendang/penutup kepala).[2] Lafadz ‫ يدنين‬muta‟addi dengan bantuan huruf jerr berupa ‫[ على‬3] .[5]. seorang wanita akan dapat lebih mudah dikenali. Sebab. yakni istri-istri Rasul.ur 59.[7] ‫أدنى‬: Isim tafdhil[8] bermakna lebih dekat. Sementara pengucapan Lafadz ‫ زوجة‬.[13] . lafadz ‫ زوج‬diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan.[1] ‫يدنين‬: Dari akar kata ‫ دنا‬yang bermakna dekat atau turun. Analisis Semantik ‫أزواج‬: Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ummahat al-Mu’minin. Makna Global Sebagai seorang utusan Allah. Secara etimologis. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[4] Maksud ‫ يدنين‬dari ayat tersebut adalah menutup wajah dan tubuh mereka supaya terbedakan antara wanita-wanita yang merdeka dan budak. karena itu mereka tidak di ganggu. Sebab saat itu. Katakanlah kepada isteri-isterimu. sebab dalam lafadz tersebut mengandung makna asSadl(menguraikan/membiarkan turun).

mereka menjawab. Demikian juga pada ayat 59 dari surat al-Ahzab. Meskipun dalam hal ini. berpendapat bahwa seorang wanita selain diharuskan menutup rambut dan kepalanya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah tentang tata cara pemakaian jilbab. Al-Qur‟an senantiasa berdialektika dengan zaman. ia juga harus menutup wajahnya dan hanya boleh . Mayoritas jumhur ulama klasik seperti Al-Qurtubi. Peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat di atas bermula dari kebiasaan orang-orang fasiq penduduk madinah yang selalu keluar (begadang) di kegelapan malam. dll.D. dalam penafsirannya pun para ulama selalu menghubungkan kedua ayat tersebut.[16] Konsep inilah yang dipegangi oleh mereka yang mewajibkan pemakaian jilbab bagi seorang wanita. Ibnu Jarir at-Thabari. “kami kira mereka itu wanita budak”. Sejarah penting bagi seorang penafsir dalam melakukan interpretasi terhadap ayat tertentu.maka aspek historis dari ayat tersebut menjadi sesuatu yang harus diketahui. Dari segi semantik. Jumlah šúüÏRô‰ãƒ termasuk kalam khabari bukan insya‟iy[15] . baik klasik maupun kontemporer sepakat bahwa ayat di atas membicarakan tentang jilbab. telah dengan sangat jelas memberikan indikasi bahwa pemakaian jilbab bagi wanita adalah sesuatu yang wajib. Maka. Syahrur. Meskipun ayat tersebut tidak menggunakan shighat fi‟il amar. sepakat atas kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita muslimah. Zhahir dari surat al-Ahzab:59. Mengenai aspek historis (Asbabun Nuzul) dari ayat di atas. Mereka selalu menggoda perempuan-perempuan Madinah yang sedang keluar malam untuk memenuhi hajatnya. gaya bahasa dari ayat di atas memberikan faidah perintah secara tersirat. Sementara asal dari perintah adalah wajib. sebagaimana dikutip as-Shabuni. Al-Qur‟an tidak pernah mengabaikan kondisi sosial masyarakat pada waktu itu. ayat tersebut terbebas dari shighat fi‟il amar (kata perintah). Salah satu dari bentuk kalam insya‟ adalah kalam tersebut harus terdapat shighat fi‟il amar. Kemudian turunlah surat al-Ahzab:59 sebagai respon atas kejadian itu. secara umum ulama sepakat dalam satu peristiwa meskipun dari segi redaksi matan terdapat perbedaan. Quraish Shihab. Pendapat ini dipegangi oleh pemikir-pemikir yang muncul pada sekitar abad 19-20 an. Interpretasi Surat Al-Ahzab:59 Seluruh ulama. masih terdapat perbedaan mengenai tata cara pemakaiannya akibat perbedaan batas aurat wanita. Sementara sebagian ulama kontemporer mengatakan tidak ada kewajiban bagi seorang muslimah untuk mengenakan jilbab. Dengan demikian maka fokus kajian hukum yang terkandung dalam ayat tersebut adalah mengenai hukum mengenakan jilbab bagi wanita muslimah. Surat al-Ahzab 59 merupakan pelengkap syari‟at dari surat an-Nur ayat 31. Said al-Asymawi dan M. Ketika mereka ditanya mengapa mengganggu wanita-wanita tersebut. At-Thobary. seperti M. Sosio-historis Ayat Untuk meperlengkap dan mempertajam sebuah penafsiran terhadap ayat hukum. ayat tersebut tetap memberikan implikasi hukum wajib. ayat ini mempunyai sejarah. Sebab. Az-Zamakhsyary.[14] E. Ayat 59 dari surat al-Ahzab ini sangat berkaitan erat dengan surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan tentang wajibnya menutup aurat.

[20] Sementara itu. Sebab. namun wajah pun harus juga ditutup. Ia mendasarkan pendapatnya pada surat an-Nur:31 yang mengharuskan seorang wanita untuk tidak menampakkan perhiasannya. seorang perempuan diharuskan untuk menampakkan wajah dan kedua telapaknya. Mereka menyandarkan pendapatnya pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah A‟isyah bahwa suatu hari Asma‟ binti Abu Bakar menemui Rasulullah SAW. maka Rasul pun menjawab “Palingkanlah pandanganmu!” dan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas.menampakkan mata sebelah kiri saja. tidak menghalangi dilalahnya yang berlaku secara menyeluruh. Wahbah Zuhaili dalam karya monumentalnya“Fiqh Islam waAdillatuhu”.[22] Senada dengan Al-Qurthubiy. beliau memberi isyarat pada wajah dan kedua telapak tangannya. Sedangkan asal dari segala bentuk perhiasan adalah wajah. ia juga menambahkan keterangan bahwa jika seseorang memandang wajah perempuan disertai dengan syahwat maka hukumnya haram. Fadhil adalah seorang yang memiliki wajah dan rambut yang indah. Spesifikasi kejadian pada saat turunnya Al-Ahzab:59. Wanita boleh menampakkan kedua matanya.[21] Al-Qurthubi dalam al-Jami‟ li Ahkam al-Qur‟an menambahkan argumentasi logis bahwa pengecualian wajah dan telapak tangan dalam hal ini adalah pendapat yang layak untuk dipegangi. seperti halnya sholat maupun ihram. bahwa suatu hari Fadhil bin Abbas mengikuti Rasulullah di belakang. Kemudian datanglah seorang wanita dari suku Khats‟am yang meminta fatwa kepada Rasul. mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah menyatakan bahwa pemakaian jilbab tidak harus menutupi wajah. menyatakan bahwa aurat perempuan adalah seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.[18] Setelah menampilkan beberapa pandangan ulama. namun mereka masih sepakat bahwa kewajiban berjilbab bagi wanita muslimah adalah syari‟at dari Syari‟ yang harus dita‟ati. maka Rasul pun memalingkan pandangannya dan berkata “Hai Asma’! Seorang wanita yang telah baligh tidak boleh menampakkan seluruh tubuhnya kecuali ini dan ini”. bahwa seorang wanita harus mengulurkan jilbabnya sampai di atas dahi kemudian mengaitkannya ke hidung. Saat itu antara fadhil dan wanita tersebut saling pandang memandang. Sebab hukum menutup aurat dalam shalat adalah wajib. Syari‟at jilbab berlaku umum bagi seluruh wanita muslimah di dunia. Maka Rasul pun mengalihkan pandangan Fadhil.[24] Meski di antara para ulama tersebut terjadi perbedaan pandangan tentang wajib dan tidaknya menutup wajah. Namun.[23]Hal ini didasarkan pada konsep Sadd adz-Dzari’ah. Hal ini sesuai dengan kaidah ushuliyah “Al-Ibrah bi Umumil Lafdzi La bi Khushus as-Sabab”. namun harus menutupi dada dan sebagian besar wajahnya. maka menutupinya adalah sebuah keharusan. Ia mengenakan baju tipis.[17] Sedangkan Abu Hayyan meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Qatadah. Andaikan keduanya termasuk aurat maka seharusnya dalam ibadah shalat perempuan pun diharuskan menutup keduanya. Ali ash-Shabuni pun senada dengan ulama yang menyatakan bahwa kewajiban wanita tidak hanya sekedar menutup rambut dan kepala saja.[19] Di antara hadits yang dijadikan dasar oleh mereka yang mewajibkan menutup wajah adalah sebuah riwayat dari Jarir bin Abdullah yang ketika itu menanyakan tentang hukum memandang seorang wanita. Jilbab tidak hanya sekedar budaya orang Arab. dalam ibadah. .

di bawah dua ketiak. pada ayat: £`ßgtFt^ƒÎ— šúïωö7ムŸwur 4‟n?tã £`ÏdÌ•ßJ胿2 (tûøóÎŢôØu‹ø9ur $yg÷YÏB t•ygsß $tB ţwÎ) ( £`ÍkÍ5qãŠã_ Berdasar ayat ini. Hanya saja. yakni lubang atau celah dari badan seseorang yang tersembunyi yang memiliki dua lapisan. Quraish Shihab pun membantah jika mengenakan jilbab bagi seorang wanita muslimah adalah sebuah keharusan. kalimat “Khumur” adalah tutup. bukan satu lapisan. atau dua lapisan beserta lubangnya. ia menjelaskan bahwa surat al-Ahzab:59 tidak memerintahkan wanita muslimah untuk memakai jilbab. perempuan muslimah hanya wajib menutup “Juyuub alMakhfiyah”yakni perhiasan tersembunyi saja bukan “Juyuub Zhahirah”. seorang pemikir islam kontemporer M. melainkan ayat yang mengandung anjuran yang bersifat informatif (nubuwwah). ia mengambil kesimpulan bahwa batas minimal aurat perempuan adalah sebagaimana termaktub dalam surat an-Nur:31 yang berbunyi: ô`ÏB z`ôÒàÒøótƒ ÏM»uZÏB÷sßJù=Ïj9 @è% £`ßgtFt^ƒÎ— šúïωö7ムŸwur £`ßgy_rã•èù £`ÏdÌ•»|Áö/r&z`ôàxÿøts†ur £`ÏdÌ•ßJ胿2 tûøóÎŢôØu‹ø9ur ( $yg÷YÏB t•ygsß $tB ţwÎ) ( 4‟n?tã£`ÍkÍ5qãŠã_ Dalam pandangan Syahrur. Syahrur menolak berbagai macam pendapat di atas. Manusia boleh mengikuti dan boleh juga tidak mengikuti sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungannya.[28] Hampir senada dengan pandangan Syahrur. “Al-Juyuub” pada wanita memiliki dua lapisan. di bawah dua ketiak. Inilah yang kemudian oleh Syahrur disebut sebagai batas minimal aurat perempuan. Menurutnya.Terkait dengan masalah ini. Syahrur memandang bahwa surat al-Ahzab: 59 bukanlah ayat yang mengandung hudud. Dengan teori andalannya. Kewajiban seorang muslimah hanyalah menutup aurat. Dalam Tafsir AlMishbahnya. daerah kemaluan dan dua pantatnya. menurutnya jilbab bukanlah merupakan sebuah syariat wajib yang harus diikuti. karena agaknya saat itu sebagian wanita muslimah telah memakainya. di bawah dua payudara. Syahrur berkesimpulan bahwa Allah memperbolehkan menampakkan “juyuub” yang biasa terlihat. Walhasil. Sedangkan Surat an-Nur: 31.[27] Dalam Masalah aurat perempuan ini. yakni antara dua payudara. yakni kewajiban dari Allah untuk para hambanya yang menyangkut persoalan halal dan haram. cara pemakaiannya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat . dalam akhir pembahasannya tentang pakaian wanita ini. termasuk ayat risalah. Dengan demikian perempuan muslimah hanya diwajibkan menutup daerah antara dua payudara. yakni teori limit[25]. kemaluan dan dua pantat. mata dan telinga termasuk “Juyuub Zhahirah” yang biasa terlihat karena terletak di bagian wajah yang merupakan identitas seseorang. Syahrur menemukan konklusi bahwa pakaian mayoritas wanita di bumi masih belum melanggar hudud Allah (batas maksimal dan minimal). Sedangkan mulut. hidung. selama mereka tidak telanjang bulat dan menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. Menurutnya jilbab bukanlah kewajiban seorang muslimah. batas minimal aurat wanita muslimah adalah “Juyuub”. Maka. di bawah dua payudara. Menurutnya.[26] Selanjutnya.

Ayat tentang jilbab hanya berbicara tentang budaya lokal arab. Di samping itu. seorang pemikir liberal asal mesir. Bahkan. Tidak hanya itu. karena masa kini tidak ada lagi hamba-hamba sahaya. Dengan demikian standar pakaian wanita didasarkan pada ukuran kehormatan dan kesopanan di daerah tertentu. F. kelompok pemikir muslim seperti M. wanita-wanita mukminah tidak lagi keluar ke tempat terbuka untuk buang air dan tidak juga mereka diganggu oleh lelaki usil. bahwa Dalam QS. masing-masing daerah mempunyai budaya yang berbeda dan memaksakan budaya lain pada sebuah daerah tertentu tidaklah tepat. bisa dibayangkan jika kemudian seorang muslimah wajib menutup wajah dan telapak tangannya. tetapi justru sebaliknya. seperti Abu Hayyan. lebih ekstrim lagi. akibat dari ketiadaan „illat hukum itu. ia diturunkan dalam rangka menciptakan maslahah secara umum. Dalam konteks kekinian. setiap muslimah juga diwajibkan untuk menutup wajah dan kedua telapak tangannya. Nah. budaya dan kondisi tertentu. sehingga wanita-wanita merdeka tidak mengalami gangguan dan dengan demikian terpangkas segala kehendak buruk terhadap mereka. al-Utsaimin dan Ali ashShabuni menyatakan bahwa hukum memakai jilbab adalah wajib bagi setiap muslimah. Pada dasarnya jilbab adalah budaya wanita Arab. Pendapat ini pun .tersebut. Al-Ahzab [33]: 59. Ibnu Jarir at-Thobari. Syari‟at Islam diturunkan tidak untuk menciptakan Masyaqqat maupun mafsadah. dan dengan demikian tidak ada lagi keharusan membedakan antara yang merdeka dengan yang berstatus hamba sahaya. atau tujuan dari penguluran jilbab adalah agar wanita-wanita merdeka dapat dikenal dan dibedakan dengan wanita-wanita yang berstatus hamba sahaya dan wanita-wanita yang tidak terhormat. Di samping itu ketidakjelasan nash al-Qur‟an dalam menentukan batasan aurat juga menjadi salah satu pemicu polemik ulama.[30] Berdasar alur logika yang digunakan Quraish Shihab dalam menyikapi ayat tentang jilbab. Akan tetapi „illathukum itu kini telah tiada. Syahrur mengeluarkan statement bahwa selama wanita tidak telanjang bulat. Syahrur dan Said al-Asymawi menyatakan bahwa sebenarnya pemakaian jilbab bukanlah sebuah syari‟at wajib yang harus dilaksanakan. Wanita menjadi sangat susah untuk berinteraksi secara sosial. bahwa dalam masalah jilbab ini masih terjadi perselisihan di antara para ulama. Identitas wanita menjadi kabur. Kelompok ulama. wanita tersebut belum melanggar hudud Allah. maka yang terjadi adalah masyaqqoh sosial. Kebebasan wanita menjadi sangat terbatasi. Quraish Shihab menampilkan pandangan Sa‟id Al-Asymawi.[29]Untuk memperkuat pandangannya ini. Muara awal munculnya perbedaan pemahaman ini disebabkan adanya perbedaan metode pendekatan penafsiran. Pendapat ini terkesan ekstrim. agar tidak terjadi kerancuan menyangkut mereka dan agar masing-masing dikenal. Sementara. maka ketetapan hukum dimaksud menjadi batal dan tidak wajib diterapkan berdasarkan syariat agama. Kilas Analisis Pendapat Ulama Sebagaimana pemaparan di atas. „illathukum pada ayat ini. maka sebenarnya dalam hal pakaian wanita yang terpenting adalah bagaimana seorang wanita mampu berpakaian secara terhormat sesuai adat. Di sisi lain.

Maka dari itu. Untuk itu. tetapi yang wajib adalah menutup aurat. BAB III PENUTUP A. Saran-saran Syariat jilbab adalah syari‟at yang masih diperdebatkan. dapat di ambil konklusi bahwa dalam masalah jilbab ini masih terjadi perselisihan di kalangan ulama. Teori limit yang ia gunakan adalah teori matematika yang bersifat paten. bagaimana mungkin teori ilmu kealaman yang bersifat pasti digunakan untuk membedah permasalahan yang bersifat sosial budaya. Jilbab pada dasarnya memang tradisi lokal arab. Yang terpenting adalah pakaian tersebut mampu untuk menutupi aurat. B. Maka. Ia menganggap ilmu kealaman adalah juru tafsir satu-satunya yang paling tepat atas realitas. akan sangat lucu jika seorang wanita diperkenankan berjalan-jalan dan melakukan aktifitas sosial dengan hanya berbikini saja. Meski demikian.terkesan terlalu bebas dan kelewat batas. perempuan muslimah tidak lantas kemudian bebas mengumbar aurat. Kesimpulan Berpijak pada pemaparan di atas. Pisau analisis yang dipakai Syahrur dalam menafsirkan batas-batas aurat tidaklah tepat. hendaklah kita bisa bersikap arif dan bijaksana. jadikanlah perbedaan sebagai rahmat bukan sebagai laknat. Walhasil. Ada yang menganggap bahwa memakai jilbab adalah kewajibab bagi setiap muslimah dan ada pula yang menganggap bahwa pemakaian jilbab bukanlah sebuah keharusan. dalam menyikapi perbedaan. Berdasar teorinya. Aspek sosio. Dengan metode tersebut Syahrur terjebak dalam “dogmatisme ilmu kealaman”. Poin penting yang bisa diambil dalam polemik jilbab ini adalah bahwa sebenarnya jilbab bukanlah sebuah keharusan. Sementara batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.historis ayat kurang diperhatikan. wanita muslimah tidak wajib berjilbab. Kita harus mampu membedakan mana khilafiyah yang terkait dengan masalah ushul dan mana yang furu‟. Sikap fanatisme ekstrim terhadap satu aliran atau pemikiran tertentu sebaiknya ditanggalkan. Inilah yang kemudian menjadi kelemahan teori Syahrur. . Perbedaan ini muncul karena paradigma yang digunakan dari masing-masing ulama berbeda. Padahal Ayat-ayat al-Qur‟an senantiasa berdialektika dengan kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Islam mewajibkan seseorang untuk menutup aurat. Saling menvonis kafir antar kelompok adalah sikap yang semakin menunjukkan ketidakdewasaan dalam beragama. Islam memberikan kebebasan untuk memakai jenis model pakaian.

303. Lihat Dahlan Alfiyah. [10] AW. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. fiil lazim adalah setiap fiil yang tidak mempunyai maf‟ul .426. hlm. (Surabaya: Pustaka Progresif). Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia. hlm. Lihat Dahlan Syarah Alfiyah Ibnu Malik. [3] Pada dasarnya. (Beirut: Dar al-Fikr. hlm. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia.Ali as-Shabuni. 2000)II. 1011. 303. hlm. hlm 62. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. [5] Ibid. Lawan dari fiil tersebut adalah fiil muta‟addi. Munawwir. [6] Abu abdullah Abu Bakar al-Qurthuby. hlm. [8] Sebagian ulama nahwu ada yang menyebutnya dengan fiil/af‟al at-Tafdhil. Juz 3. [7] Ali as-Shabuni. 2000)II. 74. (Surabaya: Pustaka Progresif). 305 [1] . Fiil lazim bisa berubah menjadi fiil muta‟addi dengan bantuan huruf jerr. yakni setiap fiil yang membutuhkan maf‟ul. Karya Ahmad Zaini Dahlan. (Beirut: ArRisalah.303. Hlm. 2006)XVII. [2] AW. 2000)II. Sebab hakikat dari lafadz tersebut adalah isim dan supaya dapat mencakup bentuk isim tafdhil lain yang tidak mengikuti shighataf’ala seperti lafadz Khairun dan Syarrun. 304. [9] Shighat Mubalaghah adalah shighat yang dibentuk untuk menunjukkan makna sangat atau banyak. Munawwir. hlm. namun yang lebih utama adalah dengat menyebut isim tafdhil. [4] Ali as-Shabuni. 2000)II. 108. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. 230. Lihat Hasyiyah Shobban ala syarhi alAsymuni ala Alfiyah Ibni Malik. Salah satu bentuk wazannya adalah Fa‟uulun. (Beirut: Dar al-Fikr. [11] Ali as-Shabuni. (Beirut: Dar al-Fikr. Bab fi‟il Muta‟addi dan lazim hlm. hlm. (Beirut: Dar al-Fikr. hlm. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam.

Maktabah Musthafa Halabi. [24] Sadd adz-Dzari‟ah adalah salah satu metode istinbath hukum Islam yang berorientasi pada pencegahan untuk melakukan sesuatu yang asalnya diperbolehkan karena berakibat pada terjadinya sesuatu yang dilarang... Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. 2006)XV. [16] Mengenai bentuk-bentuk kalimat yang berakibat pada hukum wajib. hlm..t) XI.873. [19] Ali as-Shabuni. hlm. Al-Bahr al-Muhith. [12] . hlm. hlm. [27] Ibid.19. hlm. hlm. 1946)XXIII. Karya Wahbah azZuhaili. hlm. [29] M. Maktabah Aulad as-Syeikh. t. karya Dr. (Beirut: Dar al-Fikr. 2006). [30] M. (Beirut: Mua‟ssasah Risalah.1985) VII. 606-607. lihat Jawahir al-Balaghah. 321.. [25] Teori limit adalah salah satu teori dalam ilmu matematika yang kemudian oleh Syahrur dijadikan sebagai metode interpretasi ayat-ayat al-Qur‟an. 305. [22] Ibid.53. hlm. karya Ahmad al-Hasyimi. [15] Kalam khobari adalah kalam yang masih mengandung kebenaran dan dusta. 2000)II. bisa dilihat dalam al-Muhadzzab fi ilmi Ushul al-Fiqh al-Muqaran. hlm 607. 2000)II. 310.213. juz II. [21] Ahmad bin abi Bakar al-Qurtubi.1993)VII. hlm.2006) XI. Tafsir al-Maraghi. [26] Muhammad Syahrur. ( Damaskus: Al-Ahaliy. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. t. (Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah. [20] Ibid. hlm. 125. sementara insya‟i adalah kalam yang tidak mengandung unsur benar dan dusta.Quraish Shihab. Tafsir Qur’an al-Adzim. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam. 240. (ttp. (Beirut: Dar al-Fikr. Al-Kitab wal Qur’an. Lihat juga Ali as-Shobuni dalam Rawa’i al-Bayan juz II. [18] Abu Hayyan al-Andalusi. Tafsir Al-Mishbah. 37.. [17] Ali as-Shabuni. (Jakarta: Lentera Hati. hlm. hlm.Musthafa Al-Maraghi. 156. (ttp. Lihat Ushul Fiqh Islami. [14] Ismail Ibnu Katsir. 158. Quraish Shihab. 309. Selengkapnya. 243. hlm. 305. [28] Ibid. Abdul Karim bin Ali. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.t). juz I hlm. 613-615. hlm.. hlm. Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. [23] Wahbah az-Zuhaili. [13] Opcit. (Jakarta: Lentera Hati. hlm 213. (Beirut: Dar al-Fikr. hlm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful