P. 1
Tafsir Ayat Tentang Jilbab

Tafsir Ayat Tentang Jilbab

|Views: 266|Likes:
Published by Bruce Kai Meiwa
Tafsir Ayat Tentang Jilbab
Tafsir Ayat Tentang Jilbab

More info:

Published by: Bruce Kai Meiwa on May 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2015

pdf

text

original

Tafsir Ayat Tentang Jilbab

JILBAB; Antara Syari’at dan budaya (Telaah Kritis Surat Al-Ahzab:59)
BAB I PENDAHULUAN Al-Qur‟an adalah sumber dari segala sumber hukum Islam. Sebagai pusat sumber, alQur‟an dituntut untuk mampu menjawab setiap persoalan yang muncul di tengah dinamika zaman. Ia harus senantiasa relevan di setiap bentuk kondisi maupun tempat agar Jargon alQur‟an “Shalihun likulli zaman wa makan” tidak menjadi jargon dusta tanpa bukti. Al-Qur‟an adalah kalam Tuhan yang telah mengalami tekstualisasi atau dalam bahasa lain telah terjadi strukturalisasi kalam Tuhan. Sebuah teks sakral yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Maka tak heran, jika kemudian Nashr Hamid abu Zayd, seorang pemikir Islam kontemporer menyebut peradaban Islam adalah peradaban teks (Hadlarah an-Nash). Dalam sejarahnya, al-Qur‟an senantiasa berdialektika dengan kondisi sosial budaya pada masanya. Ayat-ayat hukum kerap kali turun sebagai bentuk respon atas sebuah peristiwa yang terjadi saat itu. Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana menyikapi ayat yang turun sebagai respon khusus atas suatu peristiwa. Memperlakukan ayat tersebut secara umum tanpa memepertimbangkan historisitasnya atau mengambil signifikansi yang terkandung dalam ayat tersebut? Ayat yang berbicara mengenai jilbab dalam surat al-Ahzab ayat 59, setidaknya dapat mewakili satu di antara sekian banyak ayat yang memunculkan masalah di atas. Beragam jenis tafsir pun banyak bermunculan sebagai bentuk penyikapan. Di era kontemporer saat ini, jilbab tidak hanya dijadikan sebagai sebuah penutup aurat belaka. Ia telah menjadi sebuah budaya , bahkan lebih ekstrim, ia telah berubah menjadi sebuah mode dan aksesoris penambah kecantikan. Oleh karenanya, dalam makalah singkat ini, kami akan mengeksplor tafsir ayat 59 dari surat al-Ahzab.

BAB II PEMBAHASAN JILBAB: ANTARA SYARI’AT DAN BUDAYA A. Ayat Hukum (Al-Ahzab:59)

y7Å_ºurø— @è% •ÓÉ<¨Z9$# $pkš‰r'¯»tƒ `ÏB £`ÍköŢn=tã šúüÏRô‰ãƒ Ïä!$|¡ÎSurtûüÏZÏB÷sßJø9$# y7Ï?$uZt/ur X{

sebab dalam lafadz tersebut mengandung makna asSadl(menguraikan/membiarkan turun). Makna Global Sebagai seorang utusan Allah. Pendapat ini didasarkan pada riwayat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas‟ud.[1] ‫يدنين‬: Dari akar kata ‫ دنا‬yang bermakna dekat atau turun. ada pula sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa jilbab sama dengan Qina’ (cadar/ tutup kepala wanita) Maksudnya adalah pakaian yang menutupi seluruh anggota tubuh.[2] Lafadz ‫ يدنين‬muta‟addi dengan bantuan huruf jerr berupa ‫[ على‬3] . B. yakni istri-istri Rasul. Nabi Muhammad mempunyai kewajiban untuk mengarahkan dan membimbing umatnya agar senantiasa beretika secara islami. Hai Nabi.[11] Selain itu Allah mensyariatkan hijab juga bertujuan agar para wanita terbebas dari gangguan maupun godaan orang-orang fasiq. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. ‫جالبيبهن‬: Bentuk jamak dari lafadz ‫جلباب‬. Sebab saat itu.3 tûøïsŒ÷sムŸxsù z`øùt•÷èムbr& y7Ï9ºsŒ#‟oT÷Šr& 4 £`ÎgÎ6•Î6»n=y_ ÇÎÒÈ #Y„qàÿxî$VJŠÏm§„ ª!$# šc%x. anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".[5]. Syari‟at hijab yang termaktub dalam surat al-Ahzab 59 adalah salah satu bentuk titah Allah yang sangat erat kaitannya dengan etika tersebut. karena itu mereka tidak di ganggu. dalam al-Qur‟an tidak pernah ditemukan penggunaan lafadz tersebut dengan tambahan ta‟ ta‟nits.[13] . Namun. dari segi fisik belum ada pembeda antara wanita budak dan merdeka. yakni sejenis pakaian yang lebih lebar dari pada khimar (penutup/tudung kepala wanita).[6] Dari beberapa pendapat ulama tentang definisi jilbab di atas. Secara etimologis. Sebab. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa jilbab sama dengan rida’ (sejenis selendang/penutup kepala). lafadz ‫ زوج‬diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan. As-Shabuni mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah setiap pakaian yang menutupi seluruh anggota badan perempuan yang menyerupai mala’ah(semacam baju kurung wanita).[4] Maksud ‫ يدنين‬dari ayat tersebut adalah menutup wajah dan tubuh mereka supaya terbedakan antara wanita-wanita yang merdeka dan budak. dengan menggunakan ta‟ ta‟nits dianggap benar. Syari‟at hijab yang diwajibkan pada wanita muslimah bertujuan untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka. Katakanlah kepada isteri-isterimu. Sementara pengucapan Lafadz ‫ زوجة‬. namun kurang fasih.[7] ‫أدنى‬: Isim tafdhil[8] bermakna lebih dekat. Analisis Semantik ‫أزواج‬: Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ummahat al-Mu’minin. seorang wanita akan dapat lebih mudah dikenali. ‫غفىرا‬: Shighat Mubalaghah[9] bermakna Dzat yang maha pengampun.[10] C.ur 59.[12] Dengan pemakaian jilbab.

[14] E.[16] Konsep inilah yang dipegangi oleh mereka yang mewajibkan pemakaian jilbab bagi seorang wanita. Maka. Said al-Asymawi dan M. Interpretasi Surat Al-Ahzab:59 Seluruh ulama. telah dengan sangat jelas memberikan indikasi bahwa pemakaian jilbab bagi wanita adalah sesuatu yang wajib. At-Thobary. dll. seperti M. masih terdapat perbedaan mengenai tata cara pemakaiannya akibat perbedaan batas aurat wanita. Al-Qur‟an senantiasa berdialektika dengan zaman. sepakat atas kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita muslimah. mereka menjawab. Jumlah šúüÏRô‰ãƒ termasuk kalam khabari bukan insya‟iy[15] . Ayat 59 dari surat al-Ahzab ini sangat berkaitan erat dengan surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan tentang wajibnya menutup aurat. Dengan demikian maka fokus kajian hukum yang terkandung dalam ayat tersebut adalah mengenai hukum mengenakan jilbab bagi wanita muslimah. Permasalahan yang kemudian muncul adalah tentang tata cara pemakaian jilbab. gaya bahasa dari ayat di atas memberikan faidah perintah secara tersirat. Kemudian turunlah surat al-Ahzab:59 sebagai respon atas kejadian itu. Mengenai aspek historis (Asbabun Nuzul) dari ayat di atas. Zhahir dari surat al-Ahzab:59. berpendapat bahwa seorang wanita selain diharuskan menutup rambut dan kepalanya. ayat tersebut tetap memberikan implikasi hukum wajib. Mayoritas jumhur ulama klasik seperti Al-Qurtubi. ia juga harus menutup wajahnya dan hanya boleh . Peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat di atas bermula dari kebiasaan orang-orang fasiq penduduk madinah yang selalu keluar (begadang) di kegelapan malam. Ibnu Jarir at-Thabari. Salah satu dari bentuk kalam insya‟ adalah kalam tersebut harus terdapat shighat fi‟il amar. secara umum ulama sepakat dalam satu peristiwa meskipun dari segi redaksi matan terdapat perbedaan. ayat tersebut terbebas dari shighat fi‟il amar (kata perintah). Quraish Shihab. Al-Qur‟an tidak pernah mengabaikan kondisi sosial masyarakat pada waktu itu. dalam penafsirannya pun para ulama selalu menghubungkan kedua ayat tersebut. Mereka selalu menggoda perempuan-perempuan Madinah yang sedang keluar malam untuk memenuhi hajatnya. Demikian juga pada ayat 59 dari surat al-Ahzab. Sementara sebagian ulama kontemporer mengatakan tidak ada kewajiban bagi seorang muslimah untuk mengenakan jilbab. Meskipun ayat tersebut tidak menggunakan shighat fi‟il amar.D. Az-Zamakhsyary. Sosio-historis Ayat Untuk meperlengkap dan mempertajam sebuah penafsiran terhadap ayat hukum. Dari segi semantik. Surat al-Ahzab 59 merupakan pelengkap syari‟at dari surat an-Nur ayat 31. “kami kira mereka itu wanita budak”. Syahrur. Ketika mereka ditanya mengapa mengganggu wanita-wanita tersebut. baik klasik maupun kontemporer sepakat bahwa ayat di atas membicarakan tentang jilbab. ayat ini mempunyai sejarah. Pendapat ini dipegangi oleh pemikir-pemikir yang muncul pada sekitar abad 19-20 an. Sementara asal dari perintah adalah wajib. sebagaimana dikutip as-Shabuni.maka aspek historis dari ayat tersebut menjadi sesuatu yang harus diketahui. Sebab. Sejarah penting bagi seorang penafsir dalam melakukan interpretasi terhadap ayat tertentu. Meskipun dalam hal ini.

Ali ash-Shabuni pun senada dengan ulama yang menyatakan bahwa kewajiban wanita tidak hanya sekedar menutup rambut dan kepala saja.[23]Hal ini didasarkan pada konsep Sadd adz-Dzari’ah. Maka Rasul pun mengalihkan pandangan Fadhil.[24] Meski di antara para ulama tersebut terjadi perbedaan pandangan tentang wajib dan tidaknya menutup wajah. Saat itu antara fadhil dan wanita tersebut saling pandang memandang. Kemudian datanglah seorang wanita dari suku Khats‟am yang meminta fatwa kepada Rasul. menyatakan bahwa aurat perempuan adalah seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Andaikan keduanya termasuk aurat maka seharusnya dalam ibadah shalat perempuan pun diharuskan menutup keduanya. seorang perempuan diharuskan untuk menampakkan wajah dan kedua telapaknya. ia juga menambahkan keterangan bahwa jika seseorang memandang wajah perempuan disertai dengan syahwat maka hukumnya haram. Wanita boleh menampakkan kedua matanya.[18] Setelah menampilkan beberapa pandangan ulama. maka Rasul pun menjawab “Palingkanlah pandanganmu!” dan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas. Spesifikasi kejadian pada saat turunnya Al-Ahzab:59. Namun. bahwa seorang wanita harus mengulurkan jilbabnya sampai di atas dahi kemudian mengaitkannya ke hidung. Sebab. Sebab hukum menutup aurat dalam shalat adalah wajib. beliau memberi isyarat pada wajah dan kedua telapak tangannya. Ia mengenakan baju tipis. maka menutupinya adalah sebuah keharusan. Mereka menyandarkan pendapatnya pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah A‟isyah bahwa suatu hari Asma‟ binti Abu Bakar menemui Rasulullah SAW. Jilbab tidak hanya sekedar budaya orang Arab. seperti halnya sholat maupun ihram. Syari‟at jilbab berlaku umum bagi seluruh wanita muslimah di dunia.menampakkan mata sebelah kiri saja.[20] Sementara itu.[19] Di antara hadits yang dijadikan dasar oleh mereka yang mewajibkan menutup wajah adalah sebuah riwayat dari Jarir bin Abdullah yang ketika itu menanyakan tentang hukum memandang seorang wanita. tidak menghalangi dilalahnya yang berlaku secara menyeluruh.[21] Al-Qurthubi dalam al-Jami‟ li Ahkam al-Qur‟an menambahkan argumentasi logis bahwa pengecualian wajah dan telapak tangan dalam hal ini adalah pendapat yang layak untuk dipegangi. Fadhil adalah seorang yang memiliki wajah dan rambut yang indah. namun wajah pun harus juga ditutup. mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah menyatakan bahwa pemakaian jilbab tidak harus menutupi wajah. Sedangkan asal dari segala bentuk perhiasan adalah wajah. . namun harus menutupi dada dan sebagian besar wajahnya. Wahbah Zuhaili dalam karya monumentalnya“Fiqh Islam waAdillatuhu”. maka Rasul pun memalingkan pandangannya dan berkata “Hai Asma’! Seorang wanita yang telah baligh tidak boleh menampakkan seluruh tubuhnya kecuali ini dan ini”. bahwa suatu hari Fadhil bin Abbas mengikuti Rasulullah di belakang.[17] Sedangkan Abu Hayyan meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Qatadah. namun mereka masih sepakat bahwa kewajiban berjilbab bagi wanita muslimah adalah syari‟at dari Syari‟ yang harus dita‟ati.[22] Senada dengan Al-Qurthubiy. Ia mendasarkan pendapatnya pada surat an-Nur:31 yang mengharuskan seorang wanita untuk tidak menampakkan perhiasannya. dalam ibadah. Hal ini sesuai dengan kaidah ushuliyah “Al-Ibrah bi Umumil Lafdzi La bi Khushus as-Sabab”.

Dalam Tafsir AlMishbahnya. Kewajiban seorang muslimah hanyalah menutup aurat. menurutnya jilbab bukanlah merupakan sebuah syariat wajib yang harus diikuti. kemaluan dan dua pantat. Dengan teori andalannya. ia mengambil kesimpulan bahwa batas minimal aurat perempuan adalah sebagaimana termaktub dalam surat an-Nur:31 yang berbunyi: ô`ÏB z`ôÒàÒøótƒ ÏM»uZÏB÷sßJù=Ïj9 @è% £`ßgtFt^ƒÎ— šúïωö7ムŸwur £`ßgy_rã•èù £`ÏdÌ•»|Áö/r&z`ôàxÿøts†ur £`ÏdÌ•ßJ胿2 tûøóÎŢôØu‹ø9ur ( $yg÷YÏB t•ygsß $tB ţwÎ) ( 4‟n?tã£`ÍkÍ5qãŠã_ Dalam pandangan Syahrur. Walhasil. batas minimal aurat wanita muslimah adalah “Juyuub”. termasuk ayat risalah. Sedangkan mulut. Menurutnya. melainkan ayat yang mengandung anjuran yang bersifat informatif (nubuwwah). mata dan telinga termasuk “Juyuub Zhahirah” yang biasa terlihat karena terletak di bagian wajah yang merupakan identitas seseorang. bukan satu lapisan. seorang pemikir islam kontemporer M.Terkait dengan masalah ini. yakni kewajiban dari Allah untuk para hambanya yang menyangkut persoalan halal dan haram. yakni antara dua payudara. selama mereka tidak telanjang bulat dan menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. di bawah dua ketiak. Sedangkan Surat an-Nur: 31. Syahrur menolak berbagai macam pendapat di atas.[28] Hampir senada dengan pandangan Syahrur. di bawah dua payudara. dalam akhir pembahasannya tentang pakaian wanita ini. karena agaknya saat itu sebagian wanita muslimah telah memakainya. di bawah dua ketiak. Dengan demikian perempuan muslimah hanya diwajibkan menutup daerah antara dua payudara. Inilah yang kemudian oleh Syahrur disebut sebagai batas minimal aurat perempuan. Manusia boleh mengikuti dan boleh juga tidak mengikuti sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungannya.[26] Selanjutnya. atau dua lapisan beserta lubangnya. ia menjelaskan bahwa surat al-Ahzab:59 tidak memerintahkan wanita muslimah untuk memakai jilbab. hidung. Syahrur menemukan konklusi bahwa pakaian mayoritas wanita di bumi masih belum melanggar hudud Allah (batas maksimal dan minimal). “Al-Juyuub” pada wanita memiliki dua lapisan. Quraish Shihab pun membantah jika mengenakan jilbab bagi seorang wanita muslimah adalah sebuah keharusan. di bawah dua payudara. daerah kemaluan dan dua pantatnya.[27] Dalam Masalah aurat perempuan ini. yakni teori limit[25]. Menurutnya jilbab bukanlah kewajiban seorang muslimah. Syahrur memandang bahwa surat al-Ahzab: 59 bukanlah ayat yang mengandung hudud. Maka. cara pemakaiannya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat . pada ayat: £`ßgtFt^ƒÎ— šúïωö7ムŸwur 4‟n?tã £`ÏdÌ•ßJ胿2 (tûøóÎŢôØu‹ø9ur $yg÷YÏB t•ygsß $tB ţwÎ) ( £`ÍkÍ5qãŠã_ Berdasar ayat ini. Hanya saja. perempuan muslimah hanya wajib menutup “Juyuub alMakhfiyah”yakni perhiasan tersembunyi saja bukan “Juyuub Zhahirah”. kalimat “Khumur” adalah tutup. Syahrur berkesimpulan bahwa Allah memperbolehkan menampakkan “juyuub” yang biasa terlihat. Menurutnya. yakni lubang atau celah dari badan seseorang yang tersembunyi yang memiliki dua lapisan.

Di sisi lain. Pada dasarnya jilbab adalah budaya wanita Arab. Kebebasan wanita menjadi sangat terbatasi. kelompok pemikir muslim seperti M. Kilas Analisis Pendapat Ulama Sebagaimana pemaparan di atas. seorang pemikir liberal asal mesir. F. masing-masing daerah mempunyai budaya yang berbeda dan memaksakan budaya lain pada sebuah daerah tertentu tidaklah tepat. Syahrur dan Said al-Asymawi menyatakan bahwa sebenarnya pemakaian jilbab bukanlah sebuah syari‟at wajib yang harus dilaksanakan. Kelompok ulama. Ibnu Jarir at-Thobari. Bahkan. Quraish Shihab menampilkan pandangan Sa‟id Al-Asymawi. budaya dan kondisi tertentu. setiap muslimah juga diwajibkan untuk menutup wajah dan kedua telapak tangannya. Pendapat ini terkesan ekstrim. Wanita menjadi sangat susah untuk berinteraksi secara sosial.[29]Untuk memperkuat pandangannya ini. bahwa dalam masalah jilbab ini masih terjadi perselisihan di antara para ulama. karena masa kini tidak ada lagi hamba-hamba sahaya. Dalam konteks kekinian. bahwa Dalam QS. Di samping itu ketidakjelasan nash al-Qur‟an dalam menentukan batasan aurat juga menjadi salah satu pemicu polemik ulama. „illathukum pada ayat ini. dan dengan demikian tidak ada lagi keharusan membedakan antara yang merdeka dengan yang berstatus hamba sahaya. ia diturunkan dalam rangka menciptakan maslahah secara umum. Syari‟at Islam diturunkan tidak untuk menciptakan Masyaqqat maupun mafsadah.tersebut. lebih ekstrim lagi. Nah. maka yang terjadi adalah masyaqqoh sosial. Tidak hanya itu. akibat dari ketiadaan „illat hukum itu. Identitas wanita menjadi kabur. Muara awal munculnya perbedaan pemahaman ini disebabkan adanya perbedaan metode pendekatan penafsiran. Sementara. Akan tetapi „illathukum itu kini telah tiada. wanita tersebut belum melanggar hudud Allah. Al-Ahzab [33]: 59. maka ketetapan hukum dimaksud menjadi batal dan tidak wajib diterapkan berdasarkan syariat agama. Di samping itu. maka sebenarnya dalam hal pakaian wanita yang terpenting adalah bagaimana seorang wanita mampu berpakaian secara terhormat sesuai adat. sehingga wanita-wanita merdeka tidak mengalami gangguan dan dengan demikian terpangkas segala kehendak buruk terhadap mereka. bisa dibayangkan jika kemudian seorang muslimah wajib menutup wajah dan telapak tangannya. al-Utsaimin dan Ali ashShabuni menyatakan bahwa hukum memakai jilbab adalah wajib bagi setiap muslimah. agar tidak terjadi kerancuan menyangkut mereka dan agar masing-masing dikenal. atau tujuan dari penguluran jilbab adalah agar wanita-wanita merdeka dapat dikenal dan dibedakan dengan wanita-wanita yang berstatus hamba sahaya dan wanita-wanita yang tidak terhormat. Dengan demikian standar pakaian wanita didasarkan pada ukuran kehormatan dan kesopanan di daerah tertentu.[30] Berdasar alur logika yang digunakan Quraish Shihab dalam menyikapi ayat tentang jilbab. Ayat tentang jilbab hanya berbicara tentang budaya lokal arab. Pendapat ini pun . tetapi justru sebaliknya. Syahrur mengeluarkan statement bahwa selama wanita tidak telanjang bulat. seperti Abu Hayyan. wanita-wanita mukminah tidak lagi keluar ke tempat terbuka untuk buang air dan tidak juga mereka diganggu oleh lelaki usil.

. Padahal Ayat-ayat al-Qur‟an senantiasa berdialektika dengan kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Dengan metode tersebut Syahrur terjebak dalam “dogmatisme ilmu kealaman”. Walhasil. wanita muslimah tidak wajib berjilbab. Islam mewajibkan seseorang untuk menutup aurat.terkesan terlalu bebas dan kelewat batas. Ia menganggap ilmu kealaman adalah juru tafsir satu-satunya yang paling tepat atas realitas. Sikap fanatisme ekstrim terhadap satu aliran atau pemikiran tertentu sebaiknya ditanggalkan. Teori limit yang ia gunakan adalah teori matematika yang bersifat paten. Maka. B. hendaklah kita bisa bersikap arif dan bijaksana.historis ayat kurang diperhatikan. Aspek sosio. perempuan muslimah tidak lantas kemudian bebas mengumbar aurat. Inilah yang kemudian menjadi kelemahan teori Syahrur. Maka dari itu. Untuk itu. tetapi yang wajib adalah menutup aurat. dalam menyikapi perbedaan. Kita harus mampu membedakan mana khilafiyah yang terkait dengan masalah ushul dan mana yang furu‟. Sementara batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ada yang menganggap bahwa memakai jilbab adalah kewajibab bagi setiap muslimah dan ada pula yang menganggap bahwa pemakaian jilbab bukanlah sebuah keharusan. Perbedaan ini muncul karena paradigma yang digunakan dari masing-masing ulama berbeda. bagaimana mungkin teori ilmu kealaman yang bersifat pasti digunakan untuk membedah permasalahan yang bersifat sosial budaya. Jilbab pada dasarnya memang tradisi lokal arab. BAB III PENUTUP A. Berdasar teorinya. Yang terpenting adalah pakaian tersebut mampu untuk menutupi aurat. Kesimpulan Berpijak pada pemaparan di atas. Saran-saran Syariat jilbab adalah syari‟at yang masih diperdebatkan. Saling menvonis kafir antar kelompok adalah sikap yang semakin menunjukkan ketidakdewasaan dalam beragama. Meski demikian. dapat di ambil konklusi bahwa dalam masalah jilbab ini masih terjadi perselisihan di kalangan ulama. Islam memberikan kebebasan untuk memakai jenis model pakaian. jadikanlah perbedaan sebagai rahmat bukan sebagai laknat. akan sangat lucu jika seorang wanita diperkenankan berjalan-jalan dan melakukan aktifitas sosial dengan hanya berbikini saja. Pisau analisis yang dipakai Syahrur dalam menafsirkan batas-batas aurat tidaklah tepat. Poin penting yang bisa diambil dalam polemik jilbab ini adalah bahwa sebenarnya jilbab bukanlah sebuah keharusan.

Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. hlm. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. hlm. [10] AW. namun yang lebih utama adalah dengat menyebut isim tafdhil. [6] Abu abdullah Abu Bakar al-Qurthuby. (Beirut: Dar al-Fikr. Lihat Dahlan Alfiyah. hlm. [7] Ali as-Shabuni. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia. 1011. Munawwir. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. 304. 2000)II. (Beirut: ArRisalah. hlm. hlm 62.426. fiil lazim adalah setiap fiil yang tidak mempunyai maf‟ul . 230. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia. 2000)II. Juz 3. 74. 2000)II. [8] Sebagian ulama nahwu ada yang menyebutnya dengan fiil/af‟al at-Tafdhil.303. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. Lawan dari fiil tersebut adalah fiil muta‟addi. Hlm. [3] Pada dasarnya. (Beirut: Dar al-Fikr. (Beirut: Dar al-Fikr. (Surabaya: Pustaka Progresif). Salah satu bentuk wazannya adalah Fa‟uulun. 2000)II. Fiil lazim bisa berubah menjadi fiil muta‟addi dengan bantuan huruf jerr. Bab fi‟il Muta‟addi dan lazim hlm. 303.303.Ali as-Shabuni. 2006)XVII. (Surabaya: Pustaka Progresif). hlm. Lihat Dahlan Syarah Alfiyah Ibnu Malik. hlm. Munawwir. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. hlm. Sebab hakikat dari lafadz tersebut adalah isim dan supaya dapat mencakup bentuk isim tafdhil lain yang tidak mengikuti shighataf’ala seperti lafadz Khairun dan Syarrun. [4] Ali as-Shabuni. [5] Ibid. 108. hlm. Lihat Hasyiyah Shobban ala syarhi alAsymuni ala Alfiyah Ibni Malik. [9] Shighat Mubalaghah adalah shighat yang dibentuk untuk menunjukkan makna sangat atau banyak. (Beirut: Dar al-Fikr. yakni setiap fiil yang membutuhkan maf‟ul. Karya Ahmad Zaini Dahlan. [2] AW. [11] Ali as-Shabuni. 305 [1] .

Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam. hlm. hlm. [12] . hlm. Al-Bahr al-Muhith. sementara insya‟i adalah kalam yang tidak mengandung unsur benar dan dusta. [26] Muhammad Syahrur. hlm. Maktabah Aulad as-Syeikh. Karya Wahbah azZuhaili. [25] Teori limit adalah salah satu teori dalam ilmu matematika yang kemudian oleh Syahrur dijadikan sebagai metode interpretasi ayat-ayat al-Qur‟an. [16] Mengenai bentuk-bentuk kalimat yang berakibat pada hukum wajib.19. [23] Wahbah az-Zuhaili. hlm. hlm. Tafsir Qur’an al-Adzim.. 321. karya Ahmad al-Hasyimi. [21] Ahmad bin abi Bakar al-Qurtubi. (Beirut: Mua‟ssasah Risalah. Quraish Shihab. Selengkapnya. bisa dilihat dalam al-Muhadzzab fi ilmi Ushul al-Fiqh al-Muqaran. 37.1993)VII. 305. (Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah. hlm. 2000)II.Musthafa Al-Maraghi. [18] Abu Hayyan al-Andalusi. 1946)XXIII. 613-615. [13] Opcit. (Jakarta: Lentera Hati. hlm 213.2006) XI. hlm. hlm. hlm. 2006). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. (Beirut: Dar al-Fikr. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.1985) VII. (Beirut: Dar al-Fikr. t. Al-Kitab wal Qur’an. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. [24] Sadd adz-Dzari‟ah adalah salah satu metode istinbath hukum Islam yang berorientasi pada pencegahan untuk melakukan sesuatu yang asalnya diperbolehkan karena berakibat pada terjadinya sesuatu yang dilarang. 125. [22] Ibid. 156.t). hlm. Lihat Ushul Fiqh Islami. 310. [17] Ali as-Shabuni.. 606-607. Tafsir Al-Mishbah. [27] Ibid.t) XI. (ttp. t. 309. Lihat juga Ali as-Shobuni dalam Rawa’i al-Bayan juz II. [14] Ismail Ibnu Katsir. Abdul Karim bin Ali. (Beirut: Dar al-Fikr. [19] Ali as-Shabuni. hlm. hlm. juz II. 158. (Jakarta: Lentera Hati. (ttp. hlm. karya Dr. [15] Kalam khobari adalah kalam yang masih mengandung kebenaran dan dusta.. 243. hlm. hlm 607..53. Tafsir al-Maraghi. [28] Ibid.. [20] Ibid. Maktabah Musthafa Halabi.Quraish Shihab. [30] M. juz I hlm.. 2000)II.873. ( Damaskus: Al-Ahaliy.213. 240. hlm. 2006)XV. lihat Jawahir al-Balaghah. [29] M. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam. 305.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->