BAB I KONSEP DASAR

A. Definisi Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Mansjoer Arif, 1999, hal : 492) Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster (Sujono Hadi, 1999, hal : 181). Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan berkembang dipenuhi bakteri (Charlene. J, 2001, hal : 138). Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu : 1. Gastritis akut Salah satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis akut erosif. Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa muskularis. 2. Gastritis kronis Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun (Soeparman, 1999, hal : 101). Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri helicobacter pylori (Brunner dan

1

2

Suddart, 2000, hal : 188). Dari ketiga definisi, penulis dapat menyimpulkan gastritis adalah inflamasi atau peradangan pada dinding lambung terutama pada mukosa lambung dapat bersifat akut dan kronik.

B. Etiologi Penyebab gastritis adalah obat analgetik anti inflamasi terutama aspirin; bahan kimia, misalnya lisol; merokok; alkohol; stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat; refluk usus lambung (Inayah, 2004, hal : 58). Gastritis juga dapat disebabkan oleh obat-obatan terutama aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (AINS), juga dapat disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung seperti trauma, luka bakar dan sepsis (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 492).

C. Gambaran Klinis Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung dan muntah merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan juga perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan anamnesa lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu. Pasien dengan gastritis juga disertai dengan pusing, kelemahan dan rasa tidak

3

nyaman pada abdomen (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 492-493).

D. Patofisiologi 1. Gastritis Akut Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia. Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat. Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu timbulnya

4

perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah perdarahan.

2. Gastritis Kronis Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu : destruksi kelenjar dan metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan. (Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine, 1999 : 162) (www.google, penyakit gastritis.com)

5

5

E. Pathway 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000050000000c02bf07f60b040000002e011800 1c000000fb021000070000000000bc02000000000102022253797374656d0007f60b00002e950000ac5d110004ee8339f0b3a7040c020 000040000002d01000004000000020101001c000000fb02c4ff0000000000009001000000000440001254696d6573204e657720526f6 d616e0000000000000000000000000000000000040000002d010100050000000902000000020d000000320a36004900010004004900 00003d0cbc0720af2a00040000002d010000030000000000 (Price, Sylvia dan Wilson, Lorrane, 1999 : 162)

6

F. Penatalaksanaan Pengobatan gastritis meliputi : 1. Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi. 2. Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai. 3. Pemberian obat-obat antasid atau obat-obat ulkus lambung yang lain. (Soeparman, 1999, hal : 96) Pada gastritis, penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan : a. Gastritis akut Instruksikan pasien untuk menghindari alkohol. Bila pasien mampu makan melalui mulut diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila perdarahan terjadi, lakukan penatalaksanaan untuk hemoragi saluran gastromfestinal Untuk menetralisir asam gunakan antasida umum. Untuk menetralisir alkali gunakan jus lemon encer atau cuka encer. Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau perforasi. Reaksi lambung diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilorus.

7

b. Gastritis kronis Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan lunak diberikan sedikit tapi lebih sering. Mengurangi stress H. Pylori diatasi dengan antiobiotik (seperti tetraciklin ¼, amoxillin) dan gram bismuth (pepto-bismol). (www.google : penanganan penyakit gastritis.com)

G. Komplikasi 1. Perdarahan saluran cerna bagian atas. 2. Ulkus peptikum, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi vitamin. (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 493)

H. Pemeriksaan Diagnostik 1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan / derajat ulkus jaringan / cedera. 2. Minum barium dengan foto rontgen = dilakukan untuk

membedakan diganosa penyebab / sisi lesi. 3. Analisa gaster = dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah, mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus

8

duodenal. Penurunan atau jumlah normal diduga ulkus gaster, dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom ZollingerEllison. 4. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi perdarahan. 5. Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis. (Doengoes, 1999, hal : 456) I. Fokus Pengkajian 1. Aktivitas / Istirahat Gejala Tanda : kelemahan, kelelahan : takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons terhadap aktivitas)

2. Sirkulasi Gejala : - hipotensi (termasuk postural) - takikardia, disritmia (hipovolemia / hipoksemia) - kelemahan / nadi perifer lemah - pengisian kapiler lambar / perlahan (vasokonstriksi) - warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah) - kelemahan kulit / membran mukosa = berkeringat

(menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik) 3. Integritas ego

9

Gejala

: faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja), perasaan tak berdaya.

Tanda

: tanda ansietas, misal : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.

10

4. Eliminasi Gejala : riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastro interitis (GI) atau masalah yang

berhubungan dengan GI, misal : luka peptik / gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi / karakteristik feses. Tanda : nyeri tekan abdomen, distensi Bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif setelah perdarahan. Karakteristik feses : diare, darah warna gelap, kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorea). Konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida). Haluaran urine : menurun, pekat 5. Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal). Masalah menelan : cegukan Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual / muntah Tanda : muntah : warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah. Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).

11

6. Neurosensi Gejala : rasa berdenyut, pusing / sakit kepala karena sinar, kelemahan. Status mental : tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi) 7. Nyeri / Kenyamanan Gejala : nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). Nyeri epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulus gaster). Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal). Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis). Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol, penggunaan obatobatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen), stresor psikologis. Tanda : wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.

12

8. Keamanan Gejala Tanda : alergi terhadap obat / sensitif misal : ASA : peningkatan suhu Spider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis / hipertensi portal) 9. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : adanya penggunaan obat resep / dijual bebas yang mengandung ASA, alkohol, steroid. NSAID menyebabkan perdarahan GI. Keluhan saat ini dapat diterima karena (misal : anemia) atau diagnosa yang tak berhubungan (misal : trauma kepala), flu usus, atau episode muntah berat. Masalah kesehatan yang lama misal : sirosis, alkoholisme, hepatitis, gangguan makan. (Doengoes, 1999, hal : 455)

J. Fokus Intervensi Menurut Doengoes (1999 : 458-466) pada pasien gastritis ditemukan diagnosa keperawatan : 1. Kekurangan volume cairan (kehilangan aktif) berhubungan dengan perdarahan, mual, muntah dan anoreksia. Intervensi : a. Catat karakteristik muntah dan / atau drainase Rasional : membantu dalam membedakan penyebab distres gaster.

13

Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pilorus terbuka. Kandungan fekal menunjukkan obstruksi usus. Darah merah cerah menandakan adanya atau perdarahan arterial akut. b. Awasi tanda vital Rasional : perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan perkiraan kasar kehilangan darah (misal : TD < 90 mmHg, dan nadi > 110 diduga 25% penurunan volume atau kurang lebih 1000 ml). c. Awasi masukan dan haluaran dihubungkan dengan perubahan berat badan. Ukur kehilangan darah / cairan melalui muntah, penghisapan gaster / lavase, dan defekasi. Rasional : memberikan pedoman untuk penggantian cairan. d. Pertahankan tirah baring, mencegah muntah dan tegangan pada saat defekasi. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirahat tanpa gangguan. Rasional : aktivitas / muntah meningkatkan tekanan intra-abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut. e. Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida Rasional : mencegah refleks gaster pada aspirasi antasida dimana

dapat menyebabkan komplikasi paru serius.

14

f. Kolaborasi 1) Berikan cairan / darah sesuai indikasi Rasional : penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya perdarahan (akut atau kronis) 2) Berikan obat sesuai indikasi Ranitidin (zantac), nizatidin (acid). Rasional : penghambat histamin H2 menurunkan produksi asam gaster. Antasida (misal : Amphojel, Maalox, Mylanta, Riopan) Rasional : dapat dighunakan untuk mempertahankan pH gaster pada tingkat 4,5 atau lebih tinggi untuk menurunkan risiko perdarahan ulang. Antiemetik (misal : metoklopramid / reglan, proklorperazine / campazine) Rasional : menghilangkan mual dan mencegah muntah. 2. Risiko tinggi kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia Intervensi : a. Selidiki perubahan tingkat kesadaran, keluhan pusing / sakit kepala Rasional : perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arteria. b. Selidiki keluhan nyeri dada

15

Rasional : dapat menunjukkan iskemia jantung sehubungan dengan penurunan perfusi. c. Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat, pengisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah. Rasional : vasokonstriksi adalah respons simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan / atau dapat terjadi sebagai efek samping pemberian vasopresin. d. Catat haluaran dan berat jenis urine Rasional : penurunan perfusi sistemik dapat menyebabkan iskemia / gagal ginjal dimanifestasikan dengan penurunan keluaran urine. e. Catat laporan nyeri abdomen, khususnya tiba-tiba, nyeri hebat atau nyeri menyebar ke bahu Rasional : nyeri disebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karena efek bufer darah. Nyeri berat berlanjut atau tiba-tiba dapat menunjukkan iskemia

sehubungan dengan terapi vasokinstriksi. f. Observasi kulit untuk pucat, kemerahan, pijat dengan minyak. Ubah posisi dengan sering Rasional : gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan risiko kerusakan kulit. g. Kolaborasi 1) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi

16

Rasional : mengobati hipoksemia dan asidosis laktat selama perdarahan akut. 2) Berikan cairan IV sesuai indikasi Rasional : mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi

3. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, nyeri. Intervensi : a. Awasi respons fisiologi misal : takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi kesemutan. Rasional : dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik / status syok. b. Dorong pernyataan takut dan ansietas, berikan umpan balik. Rasional : membuat hubungan terapeutik. c. Berikan informasi akurat Rasional : melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan. d. Berikan lingkungan tenang untuk istirahat Rasional : memindahkan pasien dari stresor luar meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan ketrampilan koping. e. Dorong orang terekat tinggal dengan pasien

17

Rasional : membantu

menurunkan

takut

melalui

pengalaman

menakutkan menjadi seorang diri.

18

f. Tunjukkan teknik relaksasi Rasional : belajar cara untuk rileks dapat membantu menurunkan takut dan ansietas. 4. Nyeri (akut / kronis) berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa gaster, rongga oral, iritasi lambung. Intervensi : Respons fisik misalnya : refleks spasme otot pada dinding perut. Intervensi : a. Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10) Rasional : nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya, dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi. b. Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri Rasional : membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi. c. Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien Rasional : makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga

menghancurkan kandungan gaster. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin. d. Bantu latihan rentang gerak aktif /

19

pasif Rasional : menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan nyeri / ketidaknyamanan. e. Berikan perawatan oral sering dan tindakan kenyamanan, misal : pijatan punggung, perubahan posisi Rasional : nafas bau karena tertahannya sekret mulut menimbulkan tak nafsu makan dan dapat meningkatkan mual. f. Kolaborasi 1) Berikan obat sesuai indikasi, misal : Antasida Rasional : menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir kimia. Antikolinergik (misal : belladonna, atropin) Rasional : diberikan pada waktu tidur untuk menurunkan motilitas gaster, menekan produksi asam, memperlambat

pengosongan gaster, dan menghilangkan nyeri nokturnal sehubungan Menurut Carpenito (1999 : 204, 259) pada pasien gastritis ditemukan diagnosa keperawatan : 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dengan

berhubungan

20

mual,

muntah

dan

anoreksia sekunder akibat peningkatan produksi HCl (asam lambung). Intervensi : a. Timbang berat badan indikasi Rasional : mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah sesuai

pemberian nutrisi. b. Aukultasi bising usus Rasional : membantu dalam menentukan respon untuk makan atau berkembangnya komplikasi. c. Berikan makanan dalam kecil dalam yang jumlah dan waktu sering

dan teratur Rasional : meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan

21

kerjasama pasien saat makan. d. Tentukan makanan yang tidak membentuk gas Rasional : dapat mempengaruhi nafsu makan / pencernaan dan membatasi masukan nutrisi.

2. Resti infeksi berhubungan dengan daya tahan

penjamu sekunder akibat anemia. Intervensi : a. Pantau tubuh teratur Rasional : mengidentifikasi perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi / tindakan segera. b. Observasi daerah kulit Rasional : deteksi dini perkembangan infeksi. c. Berikan suhu secara

22

perawatan aseptik antiseptik, pertahankan teknik tangan Rasional : menghindari infeksi nosokomial d. Batasi pengunjung yang dapat cuci dan

menularkan infeksi Rasional : menurunkan pemejanan terhadap pembawa kuman

penyebab infeksi. e. Beri antibiotik sesuai indikasi Rasional : mencegah infeksi luka dengan ulkus gaster.

BAB II RESUME KEPERAWATAN

A. Pengkajian Pengkajian dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 9 Januari 2008 jam 09.00 di Ruang Ar-Rizal RSI Sultan Agung Semarang. Dengan identitas klien nama Tn. S, umur 35 tahun, pendidikan tamat SMA, agama Islam, alamat : Genuksari Semarang, pekerjaan sebagai karyawan, suku bangsa Indonesia, tanggal masuk 07 Januari 2008, No. RM : 101.8680 dengan Dx medis Gastritis. Penanggung jawab Jamsostek, alamat Kaligawe. 1. Riwayat Keperawatan Meliputi keluhan utama dengan data subjektif klien mengeluh pusing dan perut (ulu hati) terasa perih dan panas. P : klien terlihat meringis saat epigastrium ditekan, Q : nyeri seperti diremas-remas, R : di ulu hati / epigastrium, S : skala 7 (skala nyeri 0 – 10), T : nyeri hilang timbul saat epigastrium ditekan. Status kesehatan saat ini : pada tanggal 7 Januari 2008 klien dibawa ke IGD RSI Sultan Agung Semarang dengan keluhan I minggu yang lalu perutnya terasa perih, panas dan muntah, TD : 110/80 mmHg, N : 120 x/menit, S : 36oC, RR : 22 x/menit, dengan kesadaran composmentis. Klien mendapat pertolongan pertama dengan infus RL 20 tpm kemudian klien mendapat perawatan di ruang Ar-Rizal. Riwayat kesehatan lalu : klien mengatakan bahwa pernah dirawat di RSI Sultan Agung Semarang dengan penyakit yang sama (gastritis),

24

klien tidak mempunyai penyakit keturunan (DM, Hipertensi), maupun penyakit menular. Riwayat kesehatan keluarga : klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit seperti yang diderita klien dan tidak ada yang mempunyai penyakit menular atau keturunan (DM, Hipertensi).

2. Data Pola Kebutuhan Biologis Kebutuhan nutrisi : sebelum sakit : klien mengatakan makan 3X sehari dengan komposisi nasi, lauk dan sayur. Makan selalu habis dalam 1 porsi. Klien mengatakan tidak mempunyai pantangan terhadap makanan, klien minum 6-7 gelas jenis air putih setiap hari. Selama sakit : klien mengatakan pagi ini klien makan bubur habis 1 porsi (makanan dari rumah sakit : nasi tim, sayur dan lauk pauk tidak dimakan). Klien minum air putih habis 5-6 gelas / hari. Kebutuhan eliminasi : sebelum sakit : klien mengatakan BAB 1 X sehari pada waktu pagi dengan konsistensi lembek, warna kuning, bau khas dan tidak ada keluhan dalam BAB. Klien BAK ± 2-6 X sehari dengan warna kuning, bau khas, dan klien tidak ada kesulitan dalam BAK. Selama sakit : klien mengatakan selama dirawat di rumah sakit klien BAB dengan frekuensi 1 X sehari, konsistensi keras (berbentuk bulat-bulat kecil), warna hitam, bau khas dan klien mengeluh sulit untuk BAB. Untuk eliminasi BAK nya, klien mengatakan BAK dengan frekuensi 5-6 X sehari warna kekuningan, bau khas dan tidak ada keluhan dalam BAK. Kebutuhan istirahat dan tidur : sebelum sakit : klien mengatakan

tidur malam mulai pukul 22.00 dan bangun pukul 05.00 WIB. Klien jarang tidur siang. Selama sakit : klien mengatakan tidur malam mulai pukul 21.00, kalau malam sering terbangun karena suasana yang panas, klien bangun pukul 06.00 WIB. Kebutuhan aktivitas dan latihan : sebelum sakit : klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain maupun alat bantu. Selama sakit : klien mengatakan bisa melakukan aktivitas seharihari sesuai kemampuan, klien ke kamar mandi dibantu oleh keluarga, klien tidak mengalami kesulitan dalam melakukan personal hygiene, klien mengatakan lebih banyak berbaring di tempat tidur karena perut terasa sakit saat bergerak. Persepsi klien terhadap penyakitnya, hal yang dipikirkan klien terhadap penyakitnya adalah penyakit jantung karena di ulu hati terasa perih, panas dan kemeng-kemeng, klien terlihat bingung terhadap penyakit yang dideritanya sekarang. Dan yang dipikirkan klien saat ini adalah kesembuhan klien. 3. Pengkajian Fisik dan Pola Fungsi KU : lemah, kesadaran composmentis. Kepala : bentuk mesocepal, bersih tidak ada lesi. Mata : simetris, konjungtiva tidak anemis, fungsi penglihatan baik. Hidung : bentuk simetris tidak ada polip, tidak ada keluhan dan kelainan pada hidung. Telinga : bentuk simetris, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Leher : tidak terdapat pembesaran tiroid. Mulut : bibir tampak kering dengan gigi bersih, tidak ada perdarahan dan pembengkakan gusi. Abdomen : 1 : simetris, datar, Au

26

: peristaltik ± 4 x/mnt, Pa : adanya nyeri tekan pada abdomen (ulu hati), Pe : tympani. Paru : 1 : simetris Pa : teraba gerakan takstil premitus sama, Pe : sonor, Au : vesikuler. Jantung : 1 : ictus cordis tidak tampak, Pa : ictus cordis teraba, ICS 5 Pe : pekak, Au : terdengar suara murni 1, 2. Muskuloskeletal : ekstremitas atas, klien terpasang infus RL 20 tpm pada tangan kiri, tidak terdapat oedem, ekstremitas bawah : tidak terdapat oedem. 4. Data Penunjang Data laboratorium tanggal 10 Januari 2008, WBC : 9,51 . 103 µ/l (4,00 – 10,00), RBC : 5,39 . 106 µ/l (3,50 – 5,50), HGB : 14,3 g/dl (11,0 – 16,0), HCT : 42,8% (37,0 – 50,0), MCV : 79,4 fl (80,0 – 50,0), MCH : 26,5 pg (27,0 – 100,0), MCHC : 33,0 g/dm (32,0 – 31,0), RDW : 12,9% (1,5 – 36,0), PLT : 207 . 103µ/l (150 – 450), MPV : 7,0 fl (7,0 – 11,0), PDW : 16,1 (15,0 – 17,0). Therapy yang diberikan tanggal 13 Januari 2008, infus RL 20 tpm, injeksi cefo 1 gr, obat oral : Ranitidine 2 x 1 mg, antasid 3 x 500 mg.

B. Analisa Data Pada pengkajian analisa data yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2008 jam 09.00 wib pada Tn. S umur 35 tahun di ruang Ar-Rizal dengan No. RM : 101 8680 ditemukan data-data fokus sebagai berikut : untuk data yang pertama adalah data subjektif : klien mengatakan pusing (nggliyeng) dan perut terasa perih dan panas. Klien mengatakan perut terasa sakit saat bergerak, dan

untuk data objektif : Ku : lemah, kesadaran composmentis, TD : 110/80 mmHg, N : 120 x/menit, S : 36oC, RR : 22 x/mnt. Klien terlihat meringis saat epigastrium ditekan, P : klien terlihat meringis saat epigastrium ditekan, Q : nyeri seperti diremas-remas, R : di ulu hati / epigastrium, S : skala nyeri 7 (skala nyeri 0 – 10), T : nyeri hilang timbul dan saat ditekan pada epigastrium, problem : nyeri, etiologi : inflamasi sekunder akibat adanya luka bakar kimia pada mukosa gaster. Data yang kedua data subjektif : klien mengatakan selama dirawat di rumah sakit BAB dengan frekuensi 1 X sehari, konsistensi keras, klien mengatakan lebih banyak berbaring di tempat tidur karena perut terasa sakit saat bergerak, untuk data objektif : pemeriksaan abdomen 1 : simetris Pa : teraba keras di perut sebelah kiri bawah, Pe : tympani, Au : peristaltik ± 4 x/mnt, problem : konstipasi , Etiologi : kurangnya aktivitas. Data yang ketiga data subjektif : klien mengatakan ia sakit jantung karena di ulu hati terasa perih, panas dan kemeng-kemeng dan untuk data objektif klien terlihat bingung terhadap penyakit yang dideritanya sekarang, problem : kurang pengetahuan, etiologi : kurang informasi.

C. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul : Diagnosa yang pertama : nyeri b.d inflamasi sekunder adanya luka bakar kimia pada mukosa gaster, diagnosa yang kedua : konstipasi b.d kurangnya aktivitas, diagnosa yang ketiga : kurang pengetahuan b.d kurang informasi.

28

D. Intervensi Keperawatan Pada rencana keperawatan yang dilakukan tanggal 10 Januari 2008 jam 09.00 wib pada Tn. S umur 35 tahun di ruang Ar-Rizal No. RM : 101 8680, untuk diagnosa yang pertama dengan tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien mengatakan nyeri berkurang dengan kriteria hasil : skala nyeri dari 7 menjadi 5, klien tidak mengeluh nyeri atau mengatakan nyeri berkurang. Untuk intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan adalah : kaji skala nyeri, ukur TTV, ajarkan teknik relaksasi dengan nafas dalam, ajarkan teknik distraksi dengan mengajak berbincang-bincang, kolaborasi dalam pemberian obat (ulsikur). Untuk diagnosa yang kedua dengan tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien mengatakan tidak konstipasi dengan kriteria hasil : melaporkan eliminasi yang membaik dengan konsistensi lunak, klien tidak mengeluh sulit BAB, untuk intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan adalah : ajarkan alih baring setiap 2 jam sekali, anjurkan pada klien untuk minum banyak (10-12 gelas), menganjurkan pada klien untuk makan tinggi serat (pepaya), kolaborasi pemberian obat laksatif. Untuk diagnosa yang ketiga dengan tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien mengatakan tahu tentang penyakitnya dengan kriteria hasil klien tahu tentang penyakitnya, untuk intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan adalah : kaji tingkat pengetahuan tentang penyakitnya. Berikan pendidikan kesehatan

tentang penyakitnya, motivasi klien untuk melakukan anjuran dalam pendidikan kesehatan, beri kesempatan untuk klien bertanya tentang penyakitnya.

E. Implementasi Pada implementasi dilakukan pada tanggal 10 Januari 2008 jam 09.00 wib pada Tn. S umur 35 tahun di ruang Ar-Rizal dengan No. RM : 101 8680, implementasi yang dilakukan sebagai berikut : untuk diagnosa yang pertama mengkaji skala nyeri dengan respon klien meliputi : subjektif : klien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri 3 (skala nyeri 0-10). Objektif : klien terlihat rileks. Mengukur TTV dengan respon klien meliputi : subjektif : tidak ada. Respon objektif : terukur TD : 120/90 /90 mmHg, N : 88 x/mnt, S : 36oC, RR : 22x/mnt, mengajarkan teknik relaksasi dengan nafas dalam dengan respon klien meliputi : subjektif : klien mengatakan mau diajari teknik relaksasi. Objektif : klien terlihat mendemonstrasikan teknik yang diajarkan. Pada diagnosa kedua mengajarkan alih baring (untuk dilakukan klien setiap 2 jam sekali) dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau untuk melakukan alih baring, objektif : terlihat klien mendemonstrasikan yang telah diajarkan, menganjurkan klien untuk minum yang banyak (10-12 gelas / hari) dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau untuk memperbanyak minum, obyektif : klien terlihat minum air putih, menganjurkan pada klien untuk makan tinggi serat (pepaya) dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau makan makanan berserat, objektif : klien terlihat makan buah (pepaya), kolaborasi pemberian obat

30

(laksatif) dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau dimasukkan obat lewat anus, objektif : terlihat obat laksatif dimasukkan. Pada diagnosa ketiga mengkaji tingkat pengetahuan tentang penyakit yang diderita klien dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan penyakit yang dideritanya adalah penyakit jantung, objektif : klien terlihat bingung / tidak tahu. Pada tanggal 11 Januari 2008 jam 10.30 wib untuk diagnosa pertama memonitor TTV dengan respon klien meliputi subjektif : tidak ada respon dari klien, objektif : terukur TD : 110/80 mmHg, N : 80 x/mnt, S : 36,5oC, RR : 20 x /mnt. Ajarkan teknik distraksi dengan berbincang-bincang dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau melakukan teknik yang telah diajarkan. Objektif : klien terlihat mendemonstrasikan teknik yang telah diajarkan. Kolaborasi dalam pemberian obat (ulsifur) dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau disuntik di bokong, objektif : terlihat obat ulsifur masuk melalui suntik IM. Pada diagnosa kedua dilakukan pada tanggal 10 Januari 2008. Pada diagnosa ketiga memeberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit gastritis dengan respon klien meliputi subjektif : klien mengatakan mau diberi pendidikan kesehatan tentang penyakit gastritis, objektif : klien mendengarkan dan memperhatikan pendidikan kesehatan, memberikan kesempatan kepada klien untuk bertanya dengan respon klien meliputi : subjektif : klien bertanya tentang penatalaksanaan gastritis, objektif : terlihat ekspesi ingin tahu. Memotivasi klien untuk melakukan anjuran dalam pendidikan kesehatan dengan respon klien meliputi : subjektif : klien

mengatakan mau melakukan anjuran yang telah diberikan dalam pendidikan kesehatan.

F. Evaluasi Pada evaluasi asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 10 Januari 2008 jam 12.00 wib pada Tn. S umur : 35 tahun di ruang Ar-Rizal dengan No.RM 101 8680 ditemukan data sebagai berikut : dengan diagnosa yang pertama dengan catatan perkembangan klien meliputi : subjektif : klien mengatakan nyeri pada ulu hati berkurang setelah diberikan obat ulsifur melalui IM, objektif : klien terlihat lemah. Analisa data : masalah teratasi sebagian, planning : lanjutkan intervensi (mengkaji skala nyeri). Evaluasi jam 16.30 wib meliputi data subjektif : klien mengatakan nyeri pada ulu hati masih terasa, objektif : klien terlihat lemah. Analisa data : masalah teratasi sebagian, planning : lanjutkan intervensi (mengkaji skala nyeri). Pada diagnosa yang kedua meliputi subjektif : klien mengatakan mau melakukan anjuran yang diberikan agar dapat BAB dengan normal, objektif : klien terlihat mendemonstrasikan yang telah diajarkan. Analisa data : masalah belum teratasi, planning : ulangi intervensi (menganjurkan pada klien untuk makan tinggi serat). Pada diagnosa yang ketiga meliputi subjektif : klien mengatakan belum tahu penyakit yang diderita sekarang, objektif : klien terlihat bingung / cemas. Analisa data : masalah belum teratasi. Planning : lanjutkan intervensi (berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit gastritis, berikan kesempatan klien untuk bertanya, motivasi klien untuk bertanya).

32

Pada evaluasi asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 11 Januari 2008 jam 09.00 pada diagnosa pertama meliputi subjektif : klien mengatakan nyeri berkurang dari skala 7 menjadi 3 (skala nyeri 0-10), objektif : klien terlihat rileks dan segar. Analisa data : masalah teratasi planning : pertahankan intervensi. Pada diagnosa yang kedua meliputi : subjektif : klien mengatakan pagi ini belum BAB, objektif : teraba keras pada perut sebelah kiri bagian bawah. Analisa data : masalah belum teratasi, planning : ulangi intervensi (menganjurkan pada klien untuk makan tingi serat). Untuk evaluasi jam 13.00 wib, meliputi subjektif : klien mengatakan sudah bisa BAB dengan konsistensi lunak, tapi jumlahnya masih sedikit dan klien mengeluh perut terasa penuh, objektif : klien terlihat rileks. Analisa data : masalah teratasi, planning : pertahankan intervensi. Pada diagnosa yang ketiga meliputi : subjektif : klien mengatakan memahami pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien. Objektif : klien terlihat tenang. Analisa data : masalah teratasi. Planning : pertahankan intervensi.

BAB III PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas tentang asuhan keperawatan klien dengan gastritis pada Tn. S di ruang Ar-Rizal Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, selama tiga hari. Dalam melakukan asuhan keperawatan ini, penulis sangat memperhatikan tahapan proses keperawatan, yang meliputi : pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi. Selama memberikan asuhan keperawatan tersebut masalah yang timbul adalah :

1. Nyeri Berhubungan dengan Adanya Luka Bakar pada Mukosa Gaster Nyeri akut adalah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang. Dengan batasan karakteristik mayor : komunikasi (verbal atau penggunaan kode) tentang nyeri yang dideskripsikan dan minornya adalah mengatupkan rahang atau pergelangan tangan, perubahan kemampuan untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya, agitasi, ansietas, peka terhadap rangsang, menggosok bagian yang nyeri, mengorok, postur tidak biasanya (lutut ke abdomen), ketidakaktifan atau imobilitas, masalah dengan konsentrasi, perubahan pada pola tidur, rasa takut mengalami cedera ulang, menarik bila disentuh, mata terbuka lebar atau sangat tajam, gambaran kurus, mual dan muntah. (Carpenito, L.J., 2000, hal : 45)

34

Pada Tn. S telah ditemukan data-data yaitu Tn.S mengatakan nyeri pada ulu hati (epigastrium), nyeri seperti diremas-remas, dengan skala nyeri 7 (skala nyeri 0 – 10), nyeri hilang timbul dan saat ditekan pada epigastrium, data tersebut adalah sebagai batasan karakteristik subjektif serta ditemukan data klien terlihat meringis saat epigastrium ditekan, tekanan darah : 110/80 mmHg, nadi : 120 x/menit, suhu : 36oC, pernafasan : 22 x /menit. Penulis menegakkan diagnosa keperawatan nyeri berhubungan dengan inflamasi sekunder akibat adanya luka bakar kimia pada mukosa gaster, penulis rasa kurang tepat karena berdasarkan Carpenito diagnosa yang tepat adalah nyeri berhubungan dengan mual, muntah akibat peningkatan produksi HCl. Etiologi dari problem pada Tn. S dengan gastritis, nyeri berhubungan dengan mual, muntah akibat peningkatan produksi HCl dimana nyeri pada Tn. S disebabkan adanya tanda-tanda inflamasi pada mukosa gaster seperti : pusing, nyeri epigastrium, rasa tidak nyaman pada abdomen (perut terasa perih, panas dan muntah-muntah). Menurut Mansjoer Arief (1999), tanda dan gejala gastritis adalah nyeri epigastrium, mual, muntah, kembung, pusing, kelemahan, jadi etiologi di atas penulis angkat karena mengarah pada teori tersebut. Penulis memprioritaskan diagnosa nyeri berhubungan dengan mual, muntah akibat peningkatan produksi HCl sebagai prioritas utama karena menurut triage konsep nyeri merupakan ancaman dan pada hiererki Maslow nyeri adalah kebutuhan fisiologi yang harus dipenuhi.

Untuk mengatasi nyeri berhubungan dengan mual, muntah akibat peningkatan produksi HCl, penulis menyusun rencana asuhan keperawatan yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri sehingga klien bisa mengatasi nyerinya sendiri, yaitu : kaji skala nyeri, dengan mengkaji skala nyeri penulis dapat mengetahui klien berada dalam rentang respon yang mana dan dapat menentukan kualitas dari nyeri, baik nyeri ringan, sedang dan tidak tertahankan. Sehingga penulis mempunyai pedoman dalam

melaksanakan tindakan menangani nyeri klien. Apabila skala nyeri tidak dilakukan maka penulis tidak akan mengetahui kualitas nyerinya. Pengukuran skala nyeri (0-10) yaitu dengan batasan 0 : tidak nyeri, 1 – 2 : agak nyeri, 3 – 4 : nyeri ringan, 5 – 6 : nyeri sedang, 7 – 9 : nyeri, 10 : nyeri tidak dapat ditahan. Ukur atau monitor tanda-tanda vital, dengan mengukur atau memonitor tandatanda vital diharapkan untuk mengetahui kondisi atau keadaan umum klien, untuk mendapatkan data yang valid dan pada keadaan nyeri biasanya didapatkan tanda-tanda vital yang meningkat. Ajarkan teknik relaksasi dengan nafas dalam. Dengan pengambilan nafas dalam akan terjadi peregangan otot pernafasan yang memperlancar sirkulasi darah dan oksigen ke seluruh tubuh serta menekan pusat nyeri di hipotalamus. Ajarkan teknik relaksasi dengan mengajak berbincang-bincang atau mengobrol dengan pasien lain dalam satu kamar, dengan mengobrol dapat mengalihkan perhatian terhadap nyeri

kepada aktivitas lain yang sedang dilakukan. Kolaborasi pemberian obat anti nyeri atau analgetik, obat-obatan analgetik dapat membantu menekan atau mengurangi nyeri di pusat hipotalamus dan perlu dilakukan kolaborasi karena

36

yang berhak memberikan resp obat adalah dokter. (Doengeoes, 1999) Penulis dapat melakukan semua rencana yang telah disusun karena adanya kerjasama antara penulis dan klien. Dalam pelaksanaan rencana asuhan keperawatan penulis tidak mengalami hambatan karena klien yang kooperatif dan perawat ruangan yang mau bekerja sama. Setelah dilakukannya beberapa rencana asuhan keperawatan dapat dievaluasi diagnosa nyeri berhubungan dengan inflamamsi sekunder akibat adanya luka bakar kimia pada mukosa gaster telah teratasi dengan alasan bahwa klien mengatakan nyerinya berkurang dari skala nyeri 7 menjadi 3, klien terlihat lebih segar dan rileks.

2. Konstipasi Berhubungan dengan Kurangnya Aktivitas Konstipasi adalah keadaan dimana individu mengalami statis usus besar yang mengakibatkan eliminasi jarang dan / atau keras, feses kering. Batasan karakteristik mayornya yaitu feses keras dan berbentuk, efekasi kurang dari tiga kali dalam seminggu. Sedangkan batasan karakteristik minor : penurunan bising usus, mengeluh perasaan rektal tekanan pada rektum, mengejan dan nyeri ada saat defekasi. (Carpenito, L.J., 2001, hal : 72). Setelah dilakukan pengkajian pada Tn. S ditemukan data-data klien mengeluh sulit BAB, 1 X sehari dengan konsistensi keras (berbentuk bulatbulat) dan klien mengatakan lebih banyak berbaring di tempat tidur karena perut terasa sakit saat bergerak, data tersebut merupakan data subjektif dan

data objektifnya adalah saat dilakukan pemeriksaan abdomen dengan palpasi teraba keras di perut sebelah kiri bagian bawah dan terlihat klien berbaring di tempat tidur. Serta penulis menemukan data peristaltik klien 4 x/menit. Dalam pembahasan masalah konstipasi berhubungan dengan

kurangnya aktivitas, ditemukan data dalam pengkajian yang belum penulis dokumentasikan dalam analisa data yaitu data objektif : penampilan umum klien lemah. Diagnosa konstipasi berhubungan dengan kurangnya aktivitas, penulis rasa kurang tepat, karena berdasarkan carpenito, rumusan diagnosa yang tepat yaitu konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik sekunder akibat kurang latihan. Etiologi masalah keperawatan konstipasi adalah penurunan peristaltik akibat dari kurangnya latihan. Etiologi ini penulis ambil karena adanya data penampilan umum klien lemah, klien lebih banyak berbaring di tempat tidur, dan perut terasa sakit saat bergerak. Penulis memprioritaskan diagnosa konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik sekunder akibat kurangnya latihan sebagai prioritas kedua, karena masalah konstipasi dapat mengakibatkan klien merasa tidak nyaman jika tidak segera diatasi. Jadi masalah konstipasi merupakan prioritas kedua setelah masalah nyeri. Karena setelah masalah nyeri teratasi pada Tn. S, Tn.S tidak merasa sakit pada perut saat bergerak dan dengan sendirinya aktivitas klien akan meningkat serta peristaltik klien juga meningkat. Untuk mengatasi konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik

38

sekunder akibat kurang latihan, penulis menyusun rencana asuhan keperawatan yang bertujuan agar BAB klien normal yaitu : ajarkan alih baring setiap 2 jam sekali, untuk meningkatkan aktivitas klien diharapkan dalam 2 jam klien merasa cukup untuk istirahat. Anjurkan pada klien untuk minum yang banyak (10-12 gelas), karena cairan dapat bertindak sebagai stimulus usus dan sebanyak 10-12 gelas dengan ukuran gelas belimbing, sedangkan untuk kesehatan sebaiknya orang minum 2000 – 2500 ml / hari. Kolaborasi pemberian obat laksatif, laksatif digunakan sebagai pembersih makanan atau kalori tubuh oleh klien. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada diagnosa konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik sekunder akibat kurang latihan, penulis mengalami hambatan karena dari tiga intervensi, dua intervensi yang penulis lakukan. Intervensi kolaborasi pemberian obat laksatif dari dokter dan dari rasional penggunaan laksatif adalah sebagai pembersih makanan atau kalori tubuh oleh klien. Penggunaan laksatif penulis hindari karena penggunaannya akan berakibat buruk, pada klien gastritis terjadi peradangan atau pengikisan mukosa gaster dan gangguan pada kebutuhan nutrisi. Sedangkan obat laksatif akan bekerja sebagai pembersih makanan / kalori tubuh oleh klien sehingga akan memperberat keadaan mukosa lambung (gaster). Evaluasi dari rencana keperawatan yang telah penulis lakukan untuk mengatasi diagnosa konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik sekunder akibat kurang latihan telah diatasi sebagian karena klien terlihat

sedikit mengeluh perut terasa penuh. Untuk masalah konstipasi ini penulis telah mendelegasikan intervensi yang telah disusun kepada perawat ruangan.

3. Kurang Pengetahuan tentang Gastritis Berhubungan dengan Kurangnya Informasi Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang indivisu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilanketrampilan psikomotorik berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan, dengan batasan karakteristik mayor : mengungkapkan kurang pengetahuan atau ketrampilan-ketrampilan permintaan informasi, mengekspresikan suatu ketidakakuratan persepsi status kesehatan, melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan. Sedangkan batasan karakteristik minornya yaitu kurang integrasi tentang rencana pengobatan ke dalam aktivitas sehari-hari, memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologis (misal : ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi (Carpenito, L.J., 2001). Pada Tn. S ditemukan data-data : klien mengatakan belum tahu tentang penyakit gastritis dan ditemukan juga data objektif : klien terlihat bingung terhadap penyakit yang dideritanya sekarang. Didapatkan juga data dari pengkajian yaitu diagnosa medis gastritis. Diagnosis kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, penulis rasa kurang tepat, karena melihat teori yang ada di Carpenito yaitu kurang pengetahuan tidak menunjukkan respons, perubahan

40

atau disfungsi manusia tetapi lebuh sebagai etiologi atau faktor penunjang. Yang tepat adalah resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan (carpenito, 2000). Etiologi masalah keperawatan resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah adalah kurangnya pengetahuan. Etiologi ini penulis ambil karena adanya data klien mengatakan klien sedang sakit jantung karena di ulu hati (epigastrium) terasa perih, panas dan kemengkemeng serta klien terlihat bingung sedangkan penulis mendapatkan data dari CM klien, tertulis diagnosa medis gastritis. Penulis memprioritaskan diagnosa resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan resiko, tetapi apabila masalah resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah tidak segera ditangani akan menjadi masalah yang aktual. Untuk mengatasi resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan penulis tentang penyakitnya yaitu kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya, dengan mengkaji tingkat pengetahuan klien dapat diketahui sejauhmana klien mengenal masalah penyakitnya. Pendidikan kesehatan tentang penyakitnya, untuk menambah dan memperjelas informasi yang sudah klien dapatkan. Motivasi klien untuk melakukan anjuran dalam penkes, dengan mematuhi anjuran dalam penkes akan mempercepat kesembuhan klien. Beri kesempatan

kepada klien untuk bertanya tentang penyakitnya, dengan memberi kesempatan bertanya dapat memberi pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan informasi atau keputusan tentang masa depan dan kontrol masalah kesehatan. Dalam melaksanakan rencana yang telah penulis susun, penulis tidak menemui adanya hambatan yang mempersulit. Semua intervensi dapat penulis laksanakan karena klien dan keluarga yang kooperatif dan bisa bekerjasama. Setelah dilakukannya beberapa rencana asuhan keperawatan dapat dievaluasi diagnosa resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan klien mengatakan memahami pendidikan kesehatan yang telah diberikan dan klien sudah tenang karena sudah tahu tentang penyakit yang dideritanya.

42

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jilid I, FKUI, Jakarta. Hadi, Soejono, 1999, Gastroenterologi, penerbit Alumni, Bandung. Reevest, Charlene. J., 2001, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 1, Salemba Medika, Jakarta. Soeparman, 1999, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, FKUI, Jakarta. Brunner dan Suddart, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta. Inayah, Iin, 2004, Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan, edisi I, Salemba Medika, Jakarta. www. Google.Penanganan Penyakit gastritis.com Doengoes, Marylin E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta. Carpenito, Lynda Juall., 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 8, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful