ANALISIS SAJAK SENJA DI PELABUHAN KECIL KARYA CHAIRIL ANWAR (a) Diksi Pilihan kata dalam puisi ini terlihat

biasa dan terkesan kata-kata yang digunakan dalam kesehariaannya. Tetapi arti katanya bukan arti yang sebenarnya. Walaupun dengan katakata yang biasa tapi Chairil memberikannya sebaagai kata-kata yang mengandung makna konotasi. Seperti kata gudang, rumah tua pada cerita, tiang serta temali, mempercaya mau berpaut kata-kata ini bermakna sebuah kedukaan. Bagi penyair gudang dan rumah tua dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna seperti dirinya yang dianggap tiada berguna lagi. Kata ”mempercaya mau berpaut” itu sebenarnya juga berarti harapan Chairil akan kekasihnya. Pilihan kata seperti kelam dan muram juga memberi kesan pada makna kesedihan yang dirasakan. Kata menemu bujuk pangkal akanan juaga merupakan harapan penyair. Sedangkan kata tanah dan air yang tidur juga menyatakan suatu kebekuan. Chairil mampu mengolah pilihan katanya sebaik mungkin walaupun dengan bahasa percakapan tapi mampu menghadirkan makna yang dalam. Hanya ada satu kata yang tidak biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu akanan. (b) Efoni dan Irama Chairil bukanlah penyair yang selalu terikat pada peratturan sehingga kadang-kadang dia tak pernah memperhatikan bunyi yang ada dalam puisinya. Baginya menulis puisi itu adalah suatu kebebasan. Meskipun demikian dalam puisi ini Chairil tetap memperhatikan bunyi walau tidak terlihat secara mencolok. Dalam puisi ini memang banyak efek kakafoninya sehingga tidak bisa dikatakan puisi merdu. Banyak bunyi yang mengandung k,p,t,s seperti kali, cinta, di antara, tua, cerita, tiang serta temali, kapal, perahu, mempercaya, berpaut, mempercepat, kelam, kelepak, pangkal, akanan, kini, tanah, tidur, tiada, aku sendiri, semenanjung, pengap, masih, sekali, tiba,sekalian, selamat, pantai, keempat, penghabisan, terdekap, dan bisa. Kata-kata itu menimbulkan efek kakafoni, meskipun terdapat rima, aliterasi dan asonansi. Seperti rima aabbccddefef , aliterasi tidak-bergerak, pengap-harap serta asonansi ini-kal dan, pada-cerita. Gabungan beberapa unsur bunyi yang terpola tersebut menimbulkan irama yang panjang, lembut dan rendah. Karena irama tersebut menggambarkan kasedihan yang ada pada puisi terbut. Karena irama sajak juga merupakan gambaran akan suasana puisi tersebut. (c) Bahasa Kiasan meskipun bahasa dalam puisi ini adalah bahasa percakapan sehari-hari tetapi semuanya adalah bahasa kias. Dalam puisi ini banyak berbagai bahasa kias yang dipakai penyair untuk memperdalam makna yang ada dalam puisinya. ....................................................

perahu tidak berlaut Kalimat tersebut mengajak pembaca mendalami kesunyian yang ada dalam pelabuhan itu dengan melihat keadaan pelabuhan.. Sinekdok terlihat pada kata tiang yang sebenarnya adalah rumah....Ada juga kelepak elang .... (e) Pemikiran dalam Sajak .. ada juga kelepak elang menyinggung muram...... Kapal.... kata kapal dan perahu yang berarti pelabuhan... Dari kata-kata itu penyair menghidupkan rumah tua yang seakan mampu becerita... (d) Citraan citran yang ada dalam puisi adalah penglihatan ’imagery.. Yang mengisyaratkan bahwa pelabuhan kecil itu merupakan tempat perpisahanya.. rumah tua pada cerita tiang serta temali. Serta kebekuan hati bagai air dan tanah yang tidur dan tidak bergerak. Semuanya ini menyebabkan hanya sendu yang bisa ia peluk bukan orangnya...... ..............di antara gudang.. Dengan khayalan yang sudah tergambar Chairil mencoba lagi membawa pembaca lewat puisinya ke dunianya tersebut agar bisa merasahan kesedihan yang dia rasakan.... Seolah-olah puisi ini membawa pembaca dengan inderanya untuk melihat suasana pelabuhan yang kecil dan seakan-akan mati. tiang... dsan temali yang tiada berguna...... Harapannya kandas bagai kapal dan perahu yang tidak melaut karena mennghempaskan diri di pantai saja... citraan penglihatan tersebut terlihat dari diantara gudang......... dan kini tanah dan air tidur hilang ombak dan sedu penghabisan bisa terdekap....... Kapal... Dan hal itu sesungguhnya gambaran dari kesunyian sang penyair juga......... rumah tua pada cerita tiang serta temali. dan kini tanah dan air tidur hilang ombak Dari kata-kata itu terlihat adanya metafora yang memperdalam rasa duka yang dirasakan.. Hari pun dikatakan penyair seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik waktu itu..... dan menghidupkan juga kelepak elang yang mampu menyinggung perasaan orang yang sedang muram...... Ketidak berdayaan itu dibandingkan Chairil sebagai sebuah gudang............... Selain itu juga terdapat personifikasi pada rumah tua pada cerita. Dia juga berusaha menidurkan tanar dan air sehingga merasa dalamlah kebekuan hati seseorang yang digambarkan. desir hari lari berenang. Bahasa kiasan tersebut sebenarnya hanya ingin mengungkapkan makna yang lebih mendalam pada pembaca.. Kalimat dan kini tanah dan air tidur hilang ombak juga merupakan ungkapan yang hiperbola karena melebih-lebihkan kedekuan hati sang gadis itu. perahu tidak berlaut .... rumah tua..

Sehingga keseluruhan cerita ini merupakan luapan kesedihan penyair. Hal ini merupakan pukulan bagi Chairil karena kekasih yang sangat disayanginya harus menikah dengan orang lain. Sehingga puisi ini seakan-akan menjadi melankolis karena sajaknya berisi tentang ratapan dan kesedihan Chairil dalam memikirkan nasib yang benar-benar sudah tak bisa lagi dirubah. . Kesediahan ini mungkin dirasakan Chairil terlalu mendalam sehingga semua yang ada disekitarnya dirasakan sunyi . Karena harapan untuk menjalin cinta dengan Sri Ayati itu akhirnya kandas juga.sajak ini merupakan luapan hati penyair yang sedih setelah ditinggal kekasihnya Sri Ayati menikah dengan seorang perwira. Tetapi emosi Chairil yang menguasai puisi ini menyebabkan sajaknya tidak terlalu terlihat sedih. Sehingga seakan-akan semua harapan dan keinginan itu hanya malah membuatnya sakit. Chairil biasanya orang yang tegar dan selalu optimis dalam segala hal tetapi dalam puisi ini dia merasa pesimis karena cintanya sudah kandas. Sehingga kedukaan karena cinta tersebut dibuat penyair dengan sangat plastis. kareena larut dalam kesunyian hatinya.

Kelepak burung elang terdengar jauh. sedu penghabisan bisa terdekap Dalam puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” diatas. . tanpa cinta. kesedihan yang diungkapkan tidak memberikan kesan cengeng atau sentimental. Demikian pula pada puisinya diatas. Hari menjelang malam disertai gerimis. Berjalan menyisir semenanjung. Tetapi seperti pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain. penyair ini tetap tegar. Aku sendiri. masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat. Di dalamnya tak satu pun kata ”sedih” diucapkannya. Tidak bergerak dan kini tanah dan air hilang ombak Tiada lagi.SENJA DI PELABUHAN KECIL Buat Sri Ajati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang. Pembaca dibawanya untuk turut erta melihat tepi laut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang telah tua. Kapal. pada cerita tiang serta temali. Dalam kesedihan yang amat dalam. rumah tua. Kapal dan perahu yang tertambat disana. tetapi ia mampu berucap tentang kesedihan yang dirasakannya. desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Gambaran tentang pantai ini sudah bercerita tentang suatu yang muram. terasa bahwa penyair sedang dicengkeram perasaan sedih yang teramat dalam. berjalan menyusur semenanjung. perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis memepercepat kelam. di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan. Ada juga kelepak elang menyinggung muram.

sehingga memancarakan rasa haru yang dalam. diucapkan dengan kata-kata penuh daya: desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.) . (tulisan diatas disadur dari buku PENUNTUN PELAJARAN BAHASA & SASTRA INDONESIA. Bandung. 2 minggu yang lalu. dan membangkitkan kesan yang berbeda-beda bagi penikmatnya. yang dapat kita rasakan pada bunyi-bunyi akhir yang ada pada tiap larik. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam.Satu ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar adalah kekuatan yang ada pada pilihan katakatanya. Buku tersebut dipakai waktu aku kelas 3 SMAN 1 Purworejo tahun 1987. untuk SMA Kelas III semester 5 (Program Inti). yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Inilah kehebatan Chairil Anwar. disajikan dengan kata-kata yang sarat akan makna. yang aku peroleh waktu bongkar2 buku di bipet/lemari buku waktu pulang kampung ke Purworejo. penulis Dra. Untuk mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu dan berganti dengan maas mendatang. tenaga. berdasarkan kurikulum 1984. Seperti juga pada puisi diatas. disertai ritme yang aps dan permainan bunyi yang semakin menunjang keindahan puisi ini. Suparni. ini disebabkan bahasa yang dipakainya mengandung suatu kekuatan. karena terasa lebih indah dan dalam daripada kata gelap walaupun sama artinya. tahun 1986. Judul puisi tersebut. terbitan GANECA EXACT. yakni: dan kini tanah dan air hilang ombak. Puisi Chairil Anwar ini hebat dalam pilihan kata. Pada bagian lain. dengan gambaran yang hidup. dengan kata-kata yang biasa mampu menghidupkan imajinasi kita. Pada puisi diatas sang penyair berhasil menghidupkan suasana. tanpa hiruk pikuk orang bekerja. Setelah kalimat itu ditulisnya. telah membawa kita pada suatu situasi yang khusus. ada juga kelepak elang menyinggung muram. setiap kata mampu menimbulkan imajinasi yang kuat. gerimis mempercepat kelam. kata kelam sengaja dipilihnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful