P. 1
Sistem Penilaian Hasil Belajar Seni Rupa Siswa Sekolah Menengah Pertama

Sistem Penilaian Hasil Belajar Seni Rupa Siswa Sekolah Menengah Pertama

|Views: 111|Likes:
Published by Linda Hardiani

More info:

Published by: Linda Hardiani on May 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.Evaluasi dalam Pendidikan
  • 2. Tes Prestasi hasil Belajar
  • 3.Sistem Evaluasi dalam Penyelenggaraan Pendidikan Dasar dan Menengah
  • 4. Tindak Lanjut Hasil Evaluasi
  • 5. Asesmen Sebagai Salah Satu Model Evaluasi
  • 6. Realita Penyelenggaraan Evaluasi di Lapangan
  • 7. Ebtanas Sebagai Salah Satu Model Sistem Evaluasi
  • 8. Pertanyaan Penelitian

1

SISTEM PENILAIAN HASIL BELAJAR SENI RUPA
SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Oleh: Tri Hartiti Retnowati M.Pd

Makalah disampaikan pada Sosialisasi dan Pelatihan
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Bagi Guru Kesenian SMP Se-Kabupaten Sleman Yogyakarta
dalam rangka Pengabdian Masyarakat

JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2005

2

SISTEM PENILAIAN HASIL BELAJAR SENI RUPA
(Berdasar Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk SMP)

A.Penilaian Hasil Belajar

Penilaian merupakan komponen yang penting dalam suatu sistem pendidikan.
Penilaian hasil belajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan
pembelajaran, bahkan merupakan hal yang vital dalam sistem pendidikan dan
pengajaran di lembaga pendidikan formal. Dengan adanya hasil penilaian akan dapat
diketahui kemajuan dan perkembangan pendidikan dari waktu ke waktu. Dengan
demikian, melalui penilaian yang dilakukan oleh guru, guru akan mengetahui tingkat
keberhasilan dari program pembelajaran yang direncanakannya dan mengetahui pula
tingkat efisiensi dari pelaksanaan programnya Dalam hal ini efisiensi yang dimaksud
akan dikaitkan dengan ketepatan dalam memilih pendekatan, strategi, metode, dan
media yang pakai. (Depdikbud, 1997).
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis,
dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna
dalam pengambilan keputusan (KTSP, 2007). Sedangkan menurut Madaus penilaian
adalah kegiatan yang dirancang untuk menunjukkan apa yang diketahui dan yang
dapat dilakukan seseorang (Madaus & Kellaghan, 1998). Fokus penilaian adalah
pencapaian standar kompetensi tiap individu atau peserta didik, sedangkan fokus
evaluasi adalah program, kelompok atau kelas. Hasil penilaian dan evaluasi dapat
digunakan untuk memperbaiki atau menyempurnakan strategi pembelajaran. Dalam
standar Standar Penilaian Pendidikan (BSNP, 12), penilaian hasil belajar oleh
pendidik dilakukan secara berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan
kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan
pembelajaran. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:
1.menginformaskan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat
rancangan dan kriteria penialain pada awal semester.
2.mengembangkan indicator pencapaian KD dan memilih teknik penilaian
yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran.

3

3.mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk
dan teknik penilaian yang dipilih.
4.melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, dan/ atau bentuk lain yang
diperlukan.
5.mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan
kesulitan belajar peserta didik
6.megembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai
balikan/komentar yang mendidik
7.memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.
8.melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada
pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta
didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi utuh.
Untuk memperoleh informasi yang digunakan menilai hasil belajar
dilakukan pengukuran. Dilihat dari jenisnya pengukuran ada yang melalui tes dan
ada pula yang melalui nontes. Pengukuran melalui tes dibedakan menjadi tes verbal,
termasuk di dalamnya adalah tes lesan dan tes tertulis, dan tes nonverbal atau tes
perbuatan. Tes verbal dipakai untuk mengukur aspek kognitif dan aspek afektif
dalam pengertian sikap.

Untuk tes tertulis dikenal ada 3 jenis, yaitu (a) obyektif sederhana berupa
jawaban singkat, benar-salah, dan menjodohkan, (b) obyektif pilihan ganda dengan
alternatif lebih dari 2 pilihan jawaban, dan (c) essai atau uraian (Gronlund, 1977;
Gronlund, 1981). Untuk mengukur sikap dikenal ada berbagai bentuk alat pengukur
skala sikap seperti skala Likert, skala Thurstone, dan skala perbedaan semantik
(Masri. Singarimbun dan Sofian Effendi, 1982; Eiss dan harbeck, 1969). Untuk
mengukur kemampuan psikomotor melalui tes perbuatan dilakukan dengan (a)
paper-and-pencil test, (b) uji identifikasi (identification test), (c) simulasi, dan (d)
contoh kerja (work sample) (Lunneta dkk, 1981).

B. Performance assessment

Selanjutnya dalam kurikulum KTSP dikenal dengan teknik/cara penilaian
sebagai berikut: unjuk kerja (performance), penugasan (proyek/project), hasil kerja
(produk/product), tertulis (paper & pen), portofolio, sikap, penilaian diri (self

4

Assesment). Dengan demikian penilaian hasil belajar seni rupa yang tepat adalah
dengan performance assessment. Prestasi yang dicapai adalah prestasi yang
diwujudkan dalam bentuk penanmpilan kinerja atau hasil karya, dan hanya akan
tepat jika dinilai melalui asesmen dalam bentuk performance assessment.
Performance assessment
merupakan penilaian yang dilakukan melalui
penyajian atau penampilan oleh peserta didik dalam bentuk pengerjaan tugas-tugas
atau berbagai aktivitas tertentu, yang secara langsung mempunyai makna
pendidikan. Performance assessment bertujuan untuk mengetahui seberapa baik
subyek belajar telah mampu mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya
sesuai dengan sasaran pembelajaran yang telah ditentukan dan berfokus pada
penilaian secara langsung yakni dalam arti langsung dari kinerja atau apa yang
ditampilkan oleh peserta didik, berlangsung kontinyu, dengan mengkaitkannya
dengan berbagai permasalahan nyata yang dihadapi peserta didik.
Menurut Griffin dan Nix (1991), tugas/kegiatan yang sesuai dengan
asesmen adalah tugas/kegiatan yang hendaknya
1.menuntut peserta didik menggunakan pengetahuannya untuk mengerjakan
tugas/kegiatan tersebut menjadi tugas yang benar-benar bermakna;
2.merupakan gabungan antara aspek pengetahuan, keterampilan, dan
kemampuan, dan menuntut para peserta didik untuk mengkobinasikan
aspek-aspek tersebut dalam menyelesaikannya;
3.menuntut respons, tampilan atau produk yang akurat, cermat dan lengkap;
4. mempunyai standar dan kriteria yang spesifik dan jelas/tegas untuk
memberikan penilaian atas berbagai jawaban, tampilan, atau produk yang
dihasilkan;
5.menjadi contoh bagi peserta didik untuk menemukan cara
mengkombinasikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuannya dalam
dunia nyata;
6.mampu menunjukkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam kehidupan

nyata.

Menurut Marsh (1996) jenis tugas/kegiatan yang sesuai dengan asesmen
diantaranya yaitu portofolio, menulis jurnal/paper, simulasi, desain dan presentasi,

5

observasi kritis, proyek individu dan kelompok, studi lapangan, pemecahan masalah,
membuat peta konsep dan sebagainya.
Menurut Marzano dkk (1993) performance assssment atau authentic
assessment
mengandung tiga unsur inovasi dalam bidang penilaian. Pertama, tidak
mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang tradisional, tetapi lebih
menekankan pada kemampuan nyata subyek belajar. Kedua, bersifat menyeluruh,
mengembangkan seluruh kemampuan subyek belajar melalui kegiatan pembelajaran
menurut paham konstruktivisme. Ketiga, tidak menggunakan sistem tes tradisional
tetapi menggunakan berbagai cara. Sistem tes tradisional cenderung hanya mengukur
ingatan, dan menurut Gronlund (1998) antara 80 % sampai 90% guru melakukan
hal tersebut.

Gronlund (1998) menambahkan perihal kelebihan performance assessment.
Melalui performance assessment yang diperluas (extended performance assessment)
guru dapat mengetahui berbagai kemampuan yang lebih kompleks yang dicapai
siswa yang tidak dapat diukur dengan menggunakan tes tertulis dalam bentuk uraian
saja.

Dengan demikian performance assessment adalah suatu cara yang tepat
untuk melihat proses kemajuan peserta didik dari waktu ke waktu, dan memberikan
masukan kepada orang tua murid, serta membantu dalam proses manajemen kelas.
Dalam pemilihan metode pengukuran Assesment dapat dikelompokkan
menjadi dua kategori, yaitu kategori yang sudah terstandarisasi, dan dapat digunakan
untuk membandingkan anak dengan perkembangan normal dengan anak lain.
Sedangkan untuk kategori yang kedua adalah kategori yang berisi metode yang
informal, salah satunya adalah observasi. Untuk metode ini, tidak ada standar atau
norma yang baku. Sehingga untuk melakukannya harus orang yang memiliki
keahlian, serta sudah terlatih untuk ini. Hal yang sama berlaku pula untuk kategori
yang pertama. Akan tetapi ada kekurangan untuk kategori yang pertama, yaitu
adanya culture bias dimana untuk tes yang sifatnya adaptasi, ada beberapa norma
yang belum tentu cocok diterapkan dalam budaya lain.

6

C. Penerapan Performance assessment dalam Penilaian Seni Rupa

Pada dasarnya pendidikan seni disekolah diarahkan untuk menumbuhkan
kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis, apresiasif dan
kreatif pada diri peserta didik secara menyeluruh. Sikap ini akan tumbuh, apabila
dilakukan serangkaian proses kegiatan pada peserta didik yang meliputi kegiatan
pengamatan, penilaian, dan pertumbuhan rasa memiliki melalui keterlibatan peserta
didik dalam segala aktivitas seni di dalam kelas dan atau di luar kelas. Dengan
demikian pendidikan seni melibatkan semua bentuk kegiatan berupa aktivitas fisik
dan cita rasa keindahan yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi,
berapresiasi dan berkreasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran (seni
rupa,musik, tari, dan teater). Masing-masing mencakup materi sesuai dengan bidang
seni dan aktivitas dalam gagasan-gagasan seni, keterampilan berkarya seni serta
berapresiasi dengan memperhatikan konteks sosial budaya masyarakat.(Diknas,
2004:3).

Sedangkan fungsi dan tujuan pendidikan seni adalah menumbuhkan sikap
toleransi, demokrasi, dan beradab, serta mampu hidup rukun dalam masyarakat
majemuk, mengembangkan kemampuan imajinatif intelektual, ekspresi melalui seni,
mengembangkan kepekaan rasa, ketrampilan, serta mampu menerapkan teknologi
dalam berkreasi dan dalam memamerkan dan mempergelarkan karya seni.
Sedangkan pada pengorganisasian materi pendidikan seni menggunakan pendekatan
terpadu, yang penyusunan kompetensi dasarnya dirancang secara sistemik
berdasarkan keseimbangan antara kognitif, afektif, dan psikomotorik yang
terjabarkan dalam aspek apresiasi, dan produksi.
Dalam PP 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat
(5) tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik sebagai berikut: Penilaian hasil
belajar kelompok mata pelajaran estetika (seni rupa termasuk di dalamnya)
dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai
perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik. Selanjutnya pada Bab
IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut:
(1)Penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(3) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai
teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

7

(2)Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa tes
tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau
kelompok.
(3)Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan
dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, teknik
penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan
satu kali dalam satu semester.
Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah, yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun
2007:
a.

Sahih, berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang
mencerminkan kemampuan yang diukur.

b.

Objektif, berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur
dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.

c.

Adil, berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau
merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan
latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi,
dan gender.

d.

Terpadu, berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa
merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan
pembelajaran.

e.

Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar
pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan,
antara lain peserta didik.

f.

Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh
pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan
berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan
kemampuan peserta didik.

g.

Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan
bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.

h.

Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran
pencapain kompetensi yang ditetapkan.

8

i.

Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik
dari teknik, prosedur, maupun hasil.
Penilaian karya seni rupa peserta didik tentunya tidak tepat kalau hanya
dilihat dari hasil karya saja, tetapi akan lebih lengkap dan baik bila dilengkapi
dengan penilaian proses peserta didik pada waktu membuat karya tersebut. Hal ini
sesuai dengan yang dikatakan Zainul (2005: 4), yang menyatakan bahwa asesmen
kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan,
penerapan, pengetahuan dan ketrampilan, melalui proses pembelajaran yang
menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk.
Dengan demikian sistem penilaian seni rupa di sekolah meliputi aspek
apresiasi dan kreasi. Untuk aspek apresiasi menitik beratkan pada kognitif dan aspek
kreasi penitik beratkan pada psikomotor. Namun demikian kedua aspek tersebut
secara seimbang menjabarkan pada ketiga domain kemampuan yaitu, kognitif afektif
dan psikomotor.

D. Penutup

Karya seni rupa tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes saja yang hanya
mengukur aspek kognitif, sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif
dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. Tingkah laku peserta didik di
luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam
mengaplikasikan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang banyak
diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan
seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber- self expression secara
kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. Dengan demikian untuk menilai
karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga
proses pembuatan karya tersebut.

PUSTAKA
Asmawi, Zainul. (2005). Alternative Assesment . Jakarta: Universitas Terbuka.

Assessment Performance (1983) APU: “ Aesthetic Development”, Crown.

BSNP. (2006). Standar Nasional Pendidikan. (Jakarta): BSNP.

9

Gronlund, N. E. (1998). Measurement and evaluation in teaching. New York:
Macmillan Publishing Company.

Dibawah ini tdk ada hubungannya dengan yang diatas

CONTOH PEMETAAN
STANDAR KOMPETENSI, KOMPETENSI DASAR, INDIKATOR, DAN ASPEK
PENILAIAN

Mata Pelajara : Seni Budaya (Seni Rupa)
Kelas : VII
Semester : 1 (Satu)

Standar
Kompetensi Kompetensi
Dasar

Indikator

Aspek

Teknik Penilaian

Kreas
i

Apresia
si

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1. Mengapresisi
Karya Seni Rupa

1.1Mengidentifikasi
jenis karya seni
rupa terapan
daerah setempat

1.2Menampilakan
sikap apresiatip
terhadap
keunikan
gagasan, teknik
karya seni rupa
terapan daerah
setempat

•Mengidentifikasi
karya seni rupa
terapan daerah
setempat

•Mendiskripsikan
jenis, bentuk,
teknik
pembuatan,
fungsi dan
makna karya
seni rupa terapan

•Mendiskripsikan
beragam fungsi,
bentuk dan
makna pada
keunikan karya
seni rupa terapan
daerah setempat

•Membuat
tanggapan
tertulis tentang
keunikan karya
seni rupa daerah
setempat

10

2.Mengekspresi
kan diri
melalui karya
seni rupa

2.1 Menggambar
bentuk dengan
obyek karya seni
rupa terapan tiga
dimensi dari
daerah setempat

2.2 Merancang karya
seni kriya dengan
memanfataakan
teknik dan corak
daerah setempat

2.3 Membuat karya
seni kriya dengan
memanfaatkan
teknik dan corak
daerah setempat

•Membuat sketsa
gambar benda
silindris dan
kubistis

•Membuat
gambar kubistis
dan silindris dari
karya seni rupa
terapan daerah
setempat sesuai
kaidah gambar
bentuk

•Membuat disain
benda pakai
dengan teknik
dan corak daerah
setempat

•Membuat disain
benda hias
dengan teknik
dan corak daerah
setempat

•Membuat benda
pakai dengan
memanfaatkan
teknik dan corak
seni rupa daerah
setempat

•Membuat benda

hias dengan
memanfaatkan
teknik dan corak
seni rupa daerah
setempat

KETERANGAN :
1. TES TULIS
2. PROSES
3. PRODAK
4. TUGAS INDIVIDU/ KELOMPOK
5. TES LISAN
6. KLIPING
7. JURNAL
8. PENILAIAN DIRI

11

9.PENILAIAN ANTAR TEMAN

12

Merupakan salah satu tugas tersulit pendidik seni rupa adalah penilaian
produk seni rupa. Seorang pendidik seni rupa sebelum melakukan penilaian produk
seni, tentunya harus menentukan terlebih dahulu atas dasar apa hal tersebut dapat
dilakukan. Karena sebagian besar definisi seni yang telah ada mencakup seni sebagai
tujuan di dalam dirinya sendiri, maka seni pada akhirnya menjadi bernilai atau
memiliki nilai intrinsik. Bila aktivitas seni dikendalikan dan menghasilkan produk
yang memiliki suatu kegunaan spesifik, maka ia menjadi bernilai secara
instrumental
atau memiliki nilai ekstrinsik. Hal ini mungkin dapat lebih
disederhanakan dengan mengatakan bahwa hal-hal yang bernilai secara instrinsik
dinilai demi dirinya sendiri dan hal-hal yang bernilai ekstrinsik diapresiasi dan dinilai
karena kebermanfaatannya. Akan menarik dan menguntungkan bila menguji
penerapan nilai-nilai ini atas seni dengan lebih dekat, yang dicontohkan dengan
analogi-analogi dari kehidupan sehari-hari. Disini akan ditemukan bahwa hal-hal
keseharian tersebut memiliki kedua nilai, salah satu nilai, atau tidak memiliki nilai
sama sekali.

B.Penilaian Hasil Belajar

Dibawah ini diolah lagi di atas (pendahuluan sdh siiip)

a.Bab IV: Standart Proses
Pasal 22

13

a.

Penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (3) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi
dasar yang harus dikuasai.

b.

Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan
perseorangan atau kelompok.

c.

Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah, teknik penilaian observasi secara individual sekurang-
kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester.

Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005
Tentang Standar Nasional Pendidikan
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Jakarta, 2005, hal 24.

Dibawah ini cuplikan dari ceramah ttg pend seni mau dmn????

Pada dasarnya pendidikan seni disekolah diarahkan untuk menumbuhkan
kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis, apresiasif dan
kreatif pada diri siswa secara menyeluruh. Sikap ini akan tumbuh, apabila
dilakukan serangkaian proses kegiatan pada siswa yang meliputi kegiatan
pengamatan, penilaian, dan pertumbuhan rasa memiliki melalui keterlibatan
siswa dalam segala aktivitas seni di dalam kelas dan atau di luar kelas. Dengan
demikian pendidikan seni melibatkan semua bentuk kegiatan berupa aktivitas
fisik dan cita rasa keindahan yang tertuang dalam kegiatan berekspresi,
bereksplorasi, berapresiasi dan berkreasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan
peran (seni rupa,musik, tari, dan teater). Masing-masing mencakup materi sesuai
dengan bidang seni dan aktivitas dalam gagasan-gagasan seni, keterampilan
berkarya seni serta berapresiasi dengan memperhatikan konteks sosial budaya
masyarakat.(Diknas, 2004:3).
Sedangkan fungsi dan tujuan pendidikan seni adalah menumbuhkan sikap
toleransi, demokrasi, dan beradab, serta mampu hidup rukun dalam masyarakat
majemuk, mengembangkan kemampuan imajinatif intelektual, ekspresi melalui
seni, mengembangkan kepekaan rasa, ketrampilan, serta mampu menerapkan

14

teknologi dalam berkreasi dan dalam memamerkan dan mempergelarkan karya
seni. Sedangkan pada pengorganisasian materi pendidikan seni menggunakan
pendekatan terpadu, yang penyusunan kompetensi dasarnya dirancang secara
sistemik berdasarkan keseimbangan antara kognitif, afektif, dan psikomotorik
yang terjabarkan dalam aspek-aspek konsepsi, apresiasi, dan produksi yang
meliputi:

Assesing Young Children : What’s Old, What’s New, and Where Are we
Headed?

Mengapa Asesment?

Assesment adalah suatu cara yang bagus untuk melihat proses kemajuan murid dari
waktu ke waktu, memberikan masukan kepada orang tua murid, serta memebantu
dalam proses manajemen kelas. Yang sering terjadi adalah asessment digunakan
untuk melihat kelakuan yang baik, tetapi diwujudkan dengan cara yang salah. Selain
itu, alasan lainnya adalah untuk melihat kesiapan murid pra sekolah dan TK,
pengembangan kurikulum, serta melihat keefektifitasan suatu program.

Pemilihan Metode

Pengukuran Assesment dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu kategori
yang sudah terstandarisasi, serta dapat digunakan untuk membandingkan anak
dengan perkembangan normal dengan anak lain. Sedangkan untuk kategori yang
kedua adalah kategori yang berisi metode yang informal, salah satunya adalah
observasi. Untuk metode ini, tidak ada standar atau norma yang baku. Sehingga
untuk melakukannya harus orang yang memiliki keahlian, serta sudah teraltih untuk
ini. Hal yang sama berlaku pula untuk kategori yang pertama. Akan tetapi ada
kekurangan untuk kategori yang pertama, yaitu adanya culture bias dimana untuk tes
yang sifatnya adaptasi, ada beberapa norma yang belum tentu cocok diterapkan
dalam budaya lain.

Judul : Evaluation of the Art Product
( EVALUASI PRODUK SENI)

Penulis : Edward C. Waterman
Sumber : Edward C. Waterman.(1979). Art Education. April. P. 379-383

Ringkasan:

Berbicara dalam pengertian estetika, salah satu tugas tersulit pendidik seni
adalah evaluasi produk seni. Sebelum produk seni dapat dikritik atau dievaluasi,
harus menentukan terlebih dahulu atas dasar apa hal tersebut dapat dilakukan.

15

Karena sebagian besar definisi seni yang telah ada mencakup seni sebagai tujuan di
dalam dirinya sendiri, maka seni pada akhirnya menjadi bernilai atau memiliki nilai
intrinsik. Bila aktivitas seni dikendalikan dan menghasilkan produk yang memiliki
suatu kegunaan spesifik, maka ia menjadi bernilai secara instrumental atau memiliki
nilai ekstrinsik. Hal ini mungkin dapat lebih disederhanakan dengan mengatakan
bahwa hal-hal yang bernilai secara instrinsik dinilai demi dirinya sendiri dan hal-hal
yang bernilai ekstrinsik diapresiasi dan dinilai karena kebermanfaatannya. Akan
menarik dan menguntungkan bila menguji penerapan nilai-nilai ini atas seni dengan
lebih dekat, yang dicontohkan dengan analogi-analogi dari kehidupan sehari-hari.
Disini akan ditemukan bahwa hal-hal keseharian tersebut memiliki kedua nilai, salah
satu nilai, atau tidak memiliki nilai sama sekali.

INI sambungannya atau alinea lain

Ketika seseorang memeriksa suatu karya seni, ia sedang menilai dan
bukannya sedang mengukur. Pengukuran melibatkan standar komparatif, sementara
penilaian tidak. Ini merupakan perberdaan mendasar antara hal-hal yang kuantitatif
dan kualitatif. Nilai ekstrinsik suatu objek bisa dinilai (judged) dengan pengukuran-
pengukuran kuantitatif dengan standar yang eksplisit di dalam pikiran. Nilai intrinsik
suatu objek bisa dinilai (judged) dengan kritik kualitatif atas kualitas objek
sebagaimana dihubungkan dengan pengalaman yang terkendali. Dalam pengertian
ini, standar-standar untuk mengukur dan menilai sering bercampur-baur. Dalam
pengertian pengukuran kualitatif, tidak ada standar untuk kritik atau penilaian.
Tetapi, untuk mencegah kita agar tidak terjerumus ke jurang kritik teoretis
impresionistik, ada sejumlah kriteria untuk penilaian, yang dapat diterapkan pada
seni, yang secara implisit maupun eksplisit terlihat di dalam kritik analitis dan dapat
dirumuskan. Kriteria-kriteria adalah eksplorasi total atas media, penggunaan media
yang unik (ketika kita membaca sebuah soneta kita tidak ingin menjadi berpikir
seberapa baik hal yang sama bila diterapkan pada cat minyak), subordinasi
ornamentasi di bawah bentuk, hubungan bentuk dengan bahan, dan sebagainya.
Namun, kriteria ini tidak “memastikan semua” atau “mengobati semua” penciptaan

16

produk seni yang sempurna. Kriteria tersebut dapat membantu kita untuk memahami
seni sebagai perwujudan pengalaman, yang juga sama pentingnya. Dalam melakukan
hal ini, kita menjadi lebih sadar tentang apa yang kita alami. Dan produk seni sebagai
sebuah pengalaman memberikan pengalaman khusus dari dunia seni spesifik yang
relevan dengan poduk seni ketika dialami.
Di luar inteligensia, pengalaman adalah suatu kekacauan semichaotik;
gerakan tanpa arah, isi tanpa bentuk, bunyi-bunyi yang tak terkendali, warna tanpa
pikiran, dan sebagainya. Namun, seniman dan penonton, dalam berurusan dengan
fragmen-fragmen pengalaman, mengintensifkan, mengklasifikasikan, dan
menafsirkan pengalaman tersebut. Seni menyarankan tujuan ultimate semua
pengalaman yang ditata, yang merupakan konsep manusia yang hidup dalam sebuah
masyarakat yang tertib dan kreatif.
Kriteria untuk pengalaman yang lebih tertata di dalam seni secara alamiah
mendahului penilaian disipliner. Kriteria tidak mengakhiri proses kreatif karena
kriteria bukanlah batasan-batasan; mereka lebih cenderung membuka lorong-lorong
baru kepada pemahaman, imajinasi, dan pengalaman. Masalahnya bukan apa yang
tidak bisa kita lakukan, melainkan, lewat pemahaman, apa yang bisa kita lakukan

Dibawah ini dari makalah papa

17

. Pendahuluan

Kualitas hasil penelitian ditentukan oleh kualitas data yang dioleh menjadi
informasi baik dengan statistik maupun secara kualitatif. Analisis data dengan
statistik digunakan pada metode penelitian kuantitatif. Kualitas data dipengaruhi
oleh kualitas instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas
suatu instrumen dapat dilihat dari kesahihan, keandalan, praktis dan ekonomis.
Sahih berarti alat ukur mengukur seperti yang direncanakan, sedang instrumen
yang andal berarti mengandung kesalahan pengukuran yang kecil. Praktis dan
ekonomis berarti alat ukur mudah digunakan dan beaya untuk membuat dan
menggunakan alat ukur tersebut murah
Instrumen yang digunakan harus memiliki bukti kesahihan (validity) dan
keandalan (reliability). Bukti kesahihan meliputi kesahihan konstruk, kesahihan
isi, dan kesahihan terkait kriteria. Bukti keandalan instrumen dilihat dari
besarnya indeks keandakan instrumen. Oleh karena itu instrumen yang digunakan
harus sahih, andal, praktis, dan ekonomis..

B. Pengukuran

Ada empat istilah utama yang terkait dengan pengukuran, yaitu tes, .
pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Pertama, tes adalah bagian yang paling
sempit pengertiannya, yaitu suatu pertanyaan yang memiliki jawaban yang benar
dan salah. Kedua, Pengukuran menurut Guilford (1954) adalah penetapan angka
terhadap suatu objek menurut aturan tertentu. Pengukuran juga didefinisikan
sebagai suatu kegiatan yang sistematis untuk memperoleh informasi dalam
bentuk kuantitatif, yaitu berupa angka. Ketiga, penilaian adalah kegiatan
menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran, atau kegiatan untuk
menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta. Keempat, evaluasi adalah
judgment terhadap hasil penilaian atau implikasi hasil penilaian. Perbedaan
penilaian dan evaluasi terletak pada fokusnya. Fokus penilaian adalah peserta
didik atau individu, sedang fokus evaluasi adalah kelompok.
Tes merupakan alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran, yaitu
mengumpulkan informasi mengenai suatu objek. Objek ini bisa berupa pendidik
atau siswa, misalnya kemampuan siswa, ketrampilan siswa, dan sebagainya.

18

Iventory adalah suatu alat ukur untuk mengumpulkan informasi tentang sikap,
minat, motivasi belajar, dan sebagainya. Oleh karena itu alat ukur yang
digunakan untuk menjaring informasi bisa berupa tes dan nontes.
Untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat perlu diketahui sumber
kesalahan pengukuran. Sumber tersebut terletak pada alat ukur, cara mengukur,
orang yang mengukur, orang yang diukur, dan lingkungan saat pengukuran.
Kesalahan pengukuran dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu yang bersifat acak
dan yang bersifat sistematik. Kesalahan yang bersifat acak disebabkan pemilihan
materi pengukuran yang acak, kondisi yang diukur dan yang mengukur juga
bersifat acak, misalnya kondisi fisik dan mental, serta emosi seseorang yang
berubah secra acak. Kesalahan sistimatik disebabkan materi pengukuran terlalu
mudah atau terlalu sulit, atau bisa disebabkan oleh sifat pendidik dalam memberi
nilai, ada yang murah dan ada yang hemat.
Pada makalah akan dibahas secara singkat dan praktis tentang
pengembangan instrumen untuk penelitian. Instrumen yang digunakan untuk
penelitian bisa berupa tes atau nontes. Oleh karena itu berikut ini akan dibahas
pengembangan instrumen baik tes maupun notes.

19

Selanjutnya ditulis karakter seni rupa dengan pengertian
evaluasi, pengukuran dan penilaian

C.KAJIAN PUSTAKA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->