P. 1
TIPIKOR

TIPIKOR

|Views: 187|Likes:
Published by Rendy Ruwe

More info:

Published by: Rendy Ruwe on May 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2015

pdf

text

original

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tindak pidana Pencucian Uang tidak hanyamengancam stabilitas perekonomian dan integritassistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakansendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, danbernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-

UndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa pencegahan dan pemberantasan tindak pidanaPencucian Uang memerlukan landasan hukum yangkuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitaspenegakan hukum, serta penelusuran danpengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana; c. bahwa Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentangTindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telahdiubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003perlu disesuaikan dengan perkembangan kebutuhanpenegakan hukum, praktik, dan standar internasionalsehingga perlu diganti dengan undang-undang baru; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanadimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlumembentuk Undang-Undang tentang Pencegahan danPemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang; Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG. BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pencucian Uang adalah segala perbuatan yangmemenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai denganketentuan dalam Undang-Undang ini.

2. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yangselanjutnya disingkat PPATK adalah lembagaindependen yang dibentuk dalam rangka mencegah danmemberantas tindak pidana Pencucian Uang. 3. Transaksi adalah seluruh kegiatan yang menimbulkanhak dan/atau kewajiban atau menyebabkan timbulnyahubungan hukum antara dua pihak atau lebih. 4. Transaksi Keuangan adalah Transaksi untuk melakukanatau menerima penempatan, penyetoran, penarikan,pemindahbukuan, pentransferan, pembayaran, hibah,sumbangan, penitipan, dan/atau penukaran atassejumlah uang atau tindakan dan/atau kegiatan lainyang berhubungan dengan uang. 5. Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah: a. Transaksi Keuangan yang menyimpang dari profil,karakteristik, atau kebiasaan pola Transaksi dariPengguna Jasa yang bersangkutan; b. Transaksi Keuangan oleh Pengguna Jasa yang patutdiduga dilakukan dengan tujuan untukmenghindari pelaporan Transaksi yangbersangkutan yang wajib dilakukan oleh PihakPelapor sesuai dengan ketentuan Undang-Undangini; c. Transaksi Keuangan yang dilakukan atau bataldilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaanyang diduga berasal dari hasil tindak pidana; atau d. Transaksi Keuangan yang diminta oleh PPATKuntuk dilaporkan oleh Pihak Pelapor karenamelibatkan Harta Kekayaan yang diduga berasaldari hasil tindak pidana. 6. Transaksi Keuangan Tunai adalah Transaksi Keuanganyang dilakukan dengan menggunakan uang kertasdan/atau uang logam. 7. Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah,analisis, dan evaluasi Transaksi KeuanganMencurigakan yang dilakukan secara independen,objektif, dan profesional untuk menilai dugaan adanyatindak pidana. 8. Hasil Pemeriksaan adalah penilaian akhir dari seluruhproses identifikasi masalah, analisis dan evaluasiTransaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukansecara independen, objektif, dan profesional yangdisampaikan kepada penyidik. 9. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau Korporasi. 10. Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaanyang terorganisasi, baik merupakan badan hukummaupun bukan badan hukum. 11. Pihak Pelapor adalah Setiap Orang yang menurutUndang-Undang ini wajib menyampaikan laporankepada PPATK. 12. Pengguna Jasa adalah pihak yang menggunakan jasaPihak Pelapor. 13. Harta Kekayaan adalah semua benda bergerak ataubenda tidak bergerak, baik yang berwujud maupun yangtidak berwujud, yang diperoleh baik secara langsungmaupun tidak langsung.

14. Personil Pengendali Korporasi adalah setiap orang yangmemiliki kekuasaan atau wewenang sebagai penentukebijakan Korporasi atau memiliki kewenangan

untukmelakukan kebijakan Korporasi tersebut tanpa harusmendapat otorisasi dari atasannya. 15. Permufakatan Jahat adalah perbuatan dua orang ataulebih yang bersepakat untuk melakukan tindak pidanaPencucian Uang. 16. Dokumen adalah data, rekaman, atau informasi yangdapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapatdikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana,baik yang tertuang di atas kertas atau benda fisik apapun selain kertas maupun yang terekam secaraelektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. tulisan, suara, atau gambar; b. peta, rancangan, foto, atau sejenisnya; c. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yangmemiliki makna atau dapat dipahami oleh orangyang mampu membaca atau memahaminya. 17. Lembaga Pengawas dan Pengatur adalah lembaga yangmemiliki kewenangan pengawasan, pengaturan,dan/atau pengenaan sanksi terhadap Pihak Pelapor. 18. Pengawasan Kepatuhan adalah serangkaian kegiatanLembaga Pengawas dan Pengatur serta PPATK untukmemastikan kepatuhan Pihak Pelapor atas kewajibanpelaporan menurut Undang-Undang ini denganmengeluarkan ketentuan atau pedoman

pelaporan,melakukan audit kepatuhan, memantau kewajibanpelaporan, dan mengenakan sanksi. Penjelasan : Cukup jelas

Pasal 2 (1) Hasil tindak pidana adalah Harta Kekayaan yangdiperoleh dari tindak pidana: a. korupsi;(UU 31/2009, UU 20/2001)/pasal 2,3,5,6,7,8,9,10,11,12, 12B,13, b. penyuapan;KUHP/gratifikasi c. narkotika;(uu 35/2009) d. psikotropika;(uu 5/1997) e. penyelundupan tenaga kerja; f. penyelundupan migran;(uu 6/2011) g. di bidang perbankan;(UU 10/2008) h. di bidang pasar modal; i. di bidang perasuransian; j. kepabeanan; k. cukai;(uu 39/2007) l. perdagangan orang;(uu 21/2007)

m. perdagangan senjata gelap;(UU No. 12/Drt/1951, LN. 1951-78) n. terorisme; o. penculikan;KUHP p. pencurian;KUHP q. penggelapan;KUHP r. penipuan;KUHP s. pemalsuan uang;KUHP t. perjudian;303 KUHP u. prostitusi; v. di bidang perpajakan; w. di bidang kehutanan;(uu 41/1999) x. di bidang lingkungan hidup;(uu 32/2009) y. di bidang kelautan dan perikanan;(uu 31/2004/uu 45 /2009; atau z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidanapenjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan RepublikIndonesia atau di luar wilayah Negara KesatuanRepublik Indonesia dan tindak pidana tersebut jugamerupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. (2) Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akandigunakan dan/atau digunakan secara langsung atautidak langsung untuk kegiatan terorisme, organisasiteroris, atau teroris perseorangan disamakan sebagaihasil tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf n. Penjelasan : Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan “penyuapan” adalah penyuapan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai tindak pidana suap. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf e Yang dimaksud dengan “penyelundupan tenaga kerja” adalah penyelundupan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Huruf f Yang dimaksud penyelundupan dengan “penyelundupan migran” adalah penyelundupan migran sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai keimigrasian. Huruf l Yang dimaksud dengan “perdagangan orang” adalah perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan undang-undang mengenai pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Huruf m Yang dimaksud dengan “perdagangan senjata gelap” adalah perdagangan senjata gelap sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang mengubah "Ordonnantietijdelijke Bijzondere Strafbepalingen" (Staatsblad 1948: 17) dan Undang-Undang Republik Indonesia Dahulu Nomor 8 Tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian Idzin Pemakaian Senjata Api.

Huruf u Yang dimaksud dengan “prostitusi” adalah prostitusi sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan undang-undang mengenai pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.000.000.000.000.00 (sepuluh miliarrupiah). (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidakberlaku bagi Pihak Pelapor yang melaksanakankewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. ataukepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yangdiketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindakpidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang denganpidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dendapaling banyak Rp5. hibah. pengalihan hak-hak. menitipkan. mengalihkan. Undang-Undang ini menganut asas kriminalitas ganda (double criminality). Penjelasan : Ayat (1) Yang dimaksud dengan “patut diduganya” adalah suatu kondisi yang memenuhi setidak-tidaknya pengetahuan.Huruf o Yang dimaksud dengan “penculikan” adalah penculikan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.000.membawa ke luar negeri. menukarkandengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lainatas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patutdiduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuanmenyembunyikan atau menyamarkan asal usul HartaKekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uangdengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dandenda paling banyak Rp10.000. sumber. mengubah bentuk. penukaran. membayarkan. Pasal 5 (pasif) (1) Setiap Orang yang menerima atau menguasaipenempatan. peruntukan. menghibahkan.000.sumbangan.membelanjakan. maka dalam menentukan hasil tindak pidana. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 4 Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asalusul. Berdasarkan ketentuan ini. mentransfer.000. pembayaran.00 (satu miliar rupiah). lokasi. penitipan. atau tujuan pada . BAB II Tindak Pidana Pencucian Uang Pasal 3 Setiap Orang yang menempatkan.000.00 (lima miliar rupiah). atau menggunakanHarta Kekayaan yang diketahuinya atau patutdiduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana denganpidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dendapaling banyak Rp1. keinginan. pentransferan.

dan Pasal 5. (2) Pidana dijatuhkan terhadap Korporasi apabila tindakpidana Pencucian Uang: a.saat terjadinya Transaksi yang diketahuinya yang mengisyaratkan adanya pelanggaran hukum. b. (2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat(1). pencabutan izin usaha. dilakukan atau diperintahkan oleh PersonilPengendali Korporasi. e.00 (seratus miliar rupiah). yang eksistensinya untuk waktu tertentu. Pasal 4.000. perampasan aset Korporasi untuk negara. dilakukan dengan maksud memberikan manfaatbagi Korporasi. dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelakuatau pemberi perintah. dan/atau f. dan Pasal 5 dilakukanoleh Korporasi. pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usahaKorporasi. b. dan bertindak dengan tujuan melakukan satu atau lebih tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang ini dengan tujuan memperoleh keuntungan finansial atau non-finansial baik secara langsung maupun tidak langsung. Pasal 4. Pasal 9 (1) Dalam hal Korporasi tidak mampu membayar pidanadenda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1). pidana denda tersebut diganti dengan pidanakurungan paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan.000. pembubaran dan/atau pelarangan Korporasi. dilakukan dalam rangka pemenuhan maksud dantujuan Korporasi. dan d. c.000. terhadap Korporasi juga dapat dijatuhkan pidanatambahan berupa: a. pengumuman putusan hakim. d. pengambilalihan Korporasi oleh negara. c. Pasal 7 (1) Pidana pokok yang dijatuhkan terhadap Korporasiadalah pidana denda paling banyakRp100. Pasal 8 Dalam hal harta terpidana tidak cukup untuk membayarpidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. pidana dijatuhkan terhadap Korporasidan/atau Personil Pengendali Korporasi. Pasal 6 (1) Dalam hal tindak pidana Pencucian Uang sebagaimanadimaksud dalam Pasal 3. Penjelasan : Ayat (1) Korporasi mencakup juga kelompok yang terorganisasi yaitu kelompok terstruktur yang terdiri dari 3 (tiga) orang atau lebih.pidana denda tersebut diganti dengan perampasan HartaKekayaan milik .

penuntut umum. baik secara langsung maupun tidaklangsung. (3) Pejabat atau pegawai PPATK atau Lembaga Pengawasdan Pengatur dilarang memberitahukan laporanTransaksi Keuangan Mencurigakan yang akan atau . kecuali untukmemenuhi kewajiban menurut Undang-Undang ini. Pasal 12 (1) Direksi. penyidik. (2) Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksudpada ayat (1) tidak berlaku untuk pemberian informasikepada Lembaga Pengawas dan Pengatur. Pasal 4. Penjelasan : Ayat (1) Ketentuan ini termasuk sebagai ketentuan mengenai rahasia jabatan. pembantuan. pidana kurungan pengganti dendadijatuhkan terhadap Personil Pengendali Korporasidengan memperhitungkan denda yang telah dibayar. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidakberlaku bagi pejabat atau pegawai PPATK. BAB III Tindak Pidana Lain Yang Berkaitan Dengan Tindak Pidana Pencucian Uang Pasal 11 (1) Pejabat atau pegawai PPATK.Korporasi atau Personil PengendaliKorporasi yang nilainya sama dengan putusan pidanadenda yang dijatuhkan. atau PermufakatanJahat untuk melakukan tindak pidana Pencucian Uangdipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksuddalam Pasal 3. (2) Dalam hal penjualan Harta Kekayaan milik Korporasiyang dirampas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)tidak mencukupi. pengurus atau pegawai Pihak Pelapordilarang memberitahukan kepada Pengguna Jasa ataupihak lain. penyidik. dengan cara apa pun mengenai laporanTransaksi Keuangan Mencurigakan yang sedang disusunatau telah disampaikan kepada PPATK. dan Setiap Orang yang memperoleh Dokumenatau keterangan dalam rangka pelaksanaan tugasnyamenurut Undang-Undang ini wajib merahasiakanDokumen atau keterangan tersebut. dan hakim jika dilakukan dalamrangka memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan. dan Pasal 5.penuntut umum. (2) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjarapaling lama 4 (empat) tahun. komisaris. Pasal 10 Setiap Orang yang berada di dalam atau di luar wilayahNegara Kesatuan Republik Indonesia yang turut sertamelakukan percobaan.hakim.

(5) Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dan ayat (3) dipidana dengan pidanapenjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana dendapaling banyak Rp1. (4) Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksudpada ayat (3) tidak berlaku dalam rangka pemenuhankewajiban menurut Undang-Undang ini.000. Pasal 13 Dalam hal terpidana tidak mampu membayar pidana dendasebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (5).000. . Penjelasan : Ayat (1) Ketentuan ini dikenal sebagai “anti-tipping off”. Pasal 15 Pejabat atau pegawai PPATK yang melanggar kewajibansebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4) dipidanadengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan dendapaling banyak Rp500.00 (lima ratus juta rupiah). penuntutumum. melanggar ketentuansebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1) dan/atauPasal 85 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama10 (sepuluh) tahun.00 (lima ratus juta rupiah).000. Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan agar Pengguna Jasa tidak memindahkan Harta Kekayaannya sehingga mempersulit penegak hukum untuk melakukan pelacakan terhadap Pengguna jasa dan Harta Kekayaan yang bersangkutan. yang menangani perkara tindak pidanaPencucian Uang yang sedang diperiksa. Pasal 14 Setiap Orang yang melakukan campur tangan terhadappelaksanaan tugas dan kewenangan PPATK sebagaimanadimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) dipidana dengan pidanapenjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyakRp500. pidanadenda tersebut diganti dengan pidana kurungan paling lama1 (satu) tahun 4 (empat) bulan.00 (satu miliar rupiah).000.telahdilaporkan kepada PPATK secara langsung atau tidaklangsung dengan cara apa pun kepada Pengguna Jasaatau pihak lain.000. penyidik. Pasal 16 Dalam hal pejabat atau pegawai PPATK. atau hakim. Ayat (3) Ketentuan ”anti-tipping off” berlaku pula bagi pejabat atau pegawai PPATK serta pejabat atau pegawai Lembaga Pengawas dan Pengatur untuk mencegah Pengguna Jasa yang diduga sebagai pelaku kejahatan melarikan diri dan Harta Kekayaan yang bersangkutan dialihkan sehingga mempersulit proses penyidikan tindak pidana.000.000.

perusahaan efek. bank. perusahaan asuransi dan perusahaan pialangasuransi. penyelenggara alat pembayaran menggunakankartu. perusahaan properti/agen properti. 11. 8. balai lelang. penyelenggara e-money dan/atau e-wallet. perusahaan yang bergerak di bidangperdagangan berjangka komoditi. atau 5. penyedia barang dan/atau jasa lain: 1. 14. pedagang valuta asing. (2) Ketentuan mengenai Pihak Pelapor selain sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diatur dengan PeraturanPemerintah. pedagang kendaraan bermotor. 2. Penyedia Jasa Keuangan: 1. penyelenggara kegiatan usaha pengirimanuang. 5. 7. dana pensiun lembaga keuangan. 3. 3. wali amanat. pegadaian. koperasi yang melakukan kegiatan simpanpinjam. atau 16. kustodian. pedagang barang seni dan antik. b. 9. 13.BAB IV Pelaporan Dan Pengawasan Kepatuhan Bagian Kesatu Pihak Pelapor Pasal 17 (1) Pihak Pelapor meliputi: a. Huruf b Yang dimaksud dengan “penyedia barang dan/atau jasa lain” meliputi baik berizin maupun tidak berizin. 2. Penjelasan : Ayat (1) Huruf a Termasuk dalam pengertian “penyedia jasa keuangan” adalah Setiap Orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan baik secara formal maupun nonformal. . 10. perusahaan pembiayaan. perposan sebagai penyedia jasa giro. manajer investasi. 4. 6. 4. 15. 12. pedagang permata dan perhiasan/logam mulia.

Pasal 19 (1) Setiap Orang yang melakukan Transaksi dengan PihakPelapor wajib memberikan identitas dan informasi yangbenar yang dibutuhkan oleh Pihak Pelapor dansekurangkurangnya memuat identitas diri. (5) Prinsip mengenali Pengguna Jasa sekurang-kurangnyamemuat: a. pemantauan Transaksi Pengguna Jasa.000. . (2) Pihak Pelapor wajib menerapkan prinsip mengenaliPengguna Jasa yang ditetapkan oleh setiap LembagaPengawas dan Pengatur sebagaimana dimaksud padaayat (1). verifikasi Pengguna Jasa. (3) Kewajiban menerapkan prinsip mengenali PenggunaJasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukanpada saat: a. identifikasi Pengguna Jasa. Ayat (5) Huruf a Yang dimaksud dengan “identifikasi Pengguna Jasa” termasuk pemutakhiran data Pengguna Jasa. (6) Dalam hal belum terdapat Lembaga Pengawas danPengatur. c. terdapat Transaksi Keuangan Mencurigakan yangterkait tindak pidana Pencucian Uang dan tindakpidana pendanaan terorisme. dan c.Bagian kedua Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Pasal 18 (1) Lembaga Pengawas dan Pengatur menetapkanketentuan prinsip mengenali Pengguna Jasa. Penjelasan : Ayat (2) Yang dimaksud dengan “menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa” adalah Customer Due Dilligence (CDD) dan Enhanced Due Dilligence (EDD) sebagaimana dimaksud dalam Rekomendasi 5 Financial Action Task Force (FATF) on Money Laundering.00 (seratus juta rupiah). atau d.000. Pihak Pelapor meragukan kebenaran informasiyang dilaporkan Pengguna Jasa. sumberdana. b. melakukan hubungan usaha dengan PenggunaJasa. ketentuan mengenai prinsip mengenaliPengguna Jasa dan pengawasannya diatur denganPeraturan Kepala PPATK. b. (4) Lembaga Pengawas dan Pengatur wajib melaksanakanpengawasan atas kepatuhan Pihak Pelapor dalammenerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa. terdapat Transaksi Keuangan dengan mata uangrupiah dan/atau mata uang asing yang nilainyapaling sedikit atau setara denganRp100. dan tujuan Transaksi dengan mengisi formuliryang disediakan oleh Pihak Pelapor dan melampirkanDokumen pendukungnya.

dan tujuan Transaksi pihak laintersebut. (2) Pihak Pelapor wajib menyimpan catatan dan Dokumenmengenai identitas pelaku Transaksi paling singkat 5(lima) tahun sejak berakhirnya hubungan usaha denganPengguna Jasa tersebut. Pihak Pelapor wajib menolak Transaksidengan orang tersebut.Pihak Pelapor wajib meminta informasi mengenaiidentitas dan Dokumen pendukung dari Pengguna Jasadan orang lain tersebut. Penjelasan : Ayat (3) Yang dimaksud dengan “ketentuan peraturan perundang-undangan” antara lain peraturan yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur seperti Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Setiap Orang sebagaimana dimaksud padaayat (1) wajib memberikan informasi mengenai identitasdiri. Pasal 21 (1) Identitas dan Dokumen pendukung yang diminta olehPihak Pelapor harus sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan yang ditetapkan oleh setiapLembaga Pengawas dan Pengatur. (3) Pihak Pelapor yang tidak melakukan kewajibansebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksisesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud padaayat (1) wajib melaporkannya kepada PPATK mengenaitindakan pemutusan hubungan usaha tersebut sebagaiTransaksi Keuangan Mencurigakan. . atau b. sumber dana. Pengguna Jasa menolak untuk mematuhi prinsipmengenali Pengguna Jasa. penyedia jasa keuangan meragukan kebenaraninformasi yang disampaikan oleh Pengguna Jasa. Pasal 22 (1) Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalamPasal 17 ayat (1) huruf a wajib memutuskan hubunganusaha dengan Pengguna Jasa jika: a.(2) Dalam hal Transaksi dilakukan untuk kepentinganpihak lain. (3) Dalam hal identitas dan/atau Dokumen pendukungyang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)tidak lengkap. (2) Dalam hal Transaksi dengan Pihak Pelapor dilakukanuntuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain. Pasal 20 (1) Pihak Pelapor wajib mengetahui bahwa Pengguna Jasayang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelaporbertindak untuk diri sendiri atau untuk dan atas namaorang lain.

2) menggunakan uang tunai dalam jumlah yang relative besar dan/atau dilakukan secara berulang-ulang di luar kewajaran. Transaksi Keuangan transfer dana dari dan ke luarnegeri.000.Penjelasan : Ayat (1) Yang dimaksud dengan “hubungan usaha” termasuk hubungan rekening koran. Transaksi lain yang ditetapkan oleh Kepala PPATKatau atas permintaan penyedia jasa keuangan yangdisetujui oleh PPATK. Transaksi untuk pembayaran gaji atau pensiun. atau 3) aktivitas Transaki nasabah di luar kebiasaan dan kewajaran.00 (lima ratus juta rupiah)atau dengan mata uang asing yang nilainya setara. . Transaksi Keuangan Mencurigakan. Transaksi Keuangan Mencurigakan diawali dari Transaksi antara lain: 1) tidak memiliki tujuan ekonomis dan bisnis yang jelas. Transaksi yang dilakukan oleh penyedia jasakeuangan dengan pemerintah dan bank sentral. b. b. Penjelasan : Ayat (1) Huruf a Pada dasarnya. (2) Perubahan besarnya jumlah Transaksi Keuangan Tunaisebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkandengan Keputusan Kepala PPATK. (5) Kewajiban pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) huruf b tidak berlaku untuk Transaksi yangdikecualikan. (4) Kewajiban pelaporan atas Transaksi Keuangan Tunaisebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf bdikecualikan terhadap: a. (3) Besarnya jumlah Transaksi Keuangan transfer dana daridan ke luar negeri yang wajib dilaporkan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) huruf c diatur dengan PeraturanKepala PPATK. Transaksi Keuangan Tunai dalam jumlah palingsedikit Rp500. Bagian Ketiga Pelaporan Paragraf 1 Penyedia Jasa Keuangan Pasal 23 (1) Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalamPasal 17 ayat (1) huruf a wajib menyampaikan laporankepada PPATK yang meliputi: a.dan c. dan/atau c.000.yang dilakukan baik dalam satu kali Transaksimaupun beberapa kali Transaksi dalam 1 (satu) harikerja.

dan dilakukan untuk dan atas nama pemerintah yaitu pemerintah pusat. Daftar dapat dibuat dalam bentuk elektronik sepanjang dapat dijamin bahwa data atau informasi tersebut tidak mudah hilang atau rusak. yang tidak memiliki alasan ekonomis yang jelas dan tidak ada tujuan yang sah. namun tidak termasuk badan usaha milik negara/daerah. sejauh mungkin diperiksa. penyedia jasa keuangan diminta memberikan perhatian khusus atas semua Transaksi yang kompleks. dan tersedia untuk membantu pihak berwenang dan auditor. Selain berdasarkan jenis transaksi. Kepala PPATK dapat menetapkan transaksi lain yang dikecualikan berdasarkan besarnya jumlah transaksi. kementerian. lembaga pemerintah non-kementerian atau badan-badan pemerintah lainnya. Latar belakang dan tujuan Transaksi tersebut harus. bentuk atau wilayah kerja Pihak Pelapor tertentu. Pasal 24 (1) Penyedia jasa keuangan wajib membuat dan menyimpandaftar Transaksi yang dikecualikan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 23 ayat (4). Transaksi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan yang wajib dilaporkan. temuan-temuan yang didapat dibuat tertulis. pemerintah daerah. . Rincian daftar Transaksi yang wajib dibuat dan disimpan pada dasarnya sama dengan Transaksi tunai yang seharusnya dilaporkan kepada PPATK. Huruf c Yang dimaksud dengan “Transaksi lain” adalah TransaksiTransaksi yang dikecualikan sesuai dengan karakteristiknya selalu dilakukan dalam bentuk tunai dan dalam jumlah yang besar. Ayat (4) Huruf a Yang dimaksud dengan Transaksi dengan pemerintah adalah Transaksi yang menggunakan rekening pemerintah. tidak biasa dalam jumlah besar. (2) Penyedia jasa keuangan yang tidak membuat danmenyimpan daftar Transaksi yang dikecualikansebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksiadministratif. Penjelasan : Ayat (1) Ketentuan ini dimaksudkan agar data atau informasi mengenai Transaksi yang dikecualikan tersebut dapat diteliti atau diperiksa oleh PPATK untuk keperluan analisis. Sedangkan terhadap Transaksi atau aktivitas di luar kebiasaan dan kewajaran sebagaimana tersebut di atas.Apabila Transaksi-Transaksi yang tidak lazim tersebut memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5. Pemberlakukan pengecualian tersebut dapat dilakukan baik untuk waktu yang tidak terbatas (permanen) maupun untuk waktu tertentu. dan semua pola Transaksi tidak biasa. Pasal 25 (1) Penyampaian laporan Transaksi KeuanganMencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23ayat (1) huruf a dilakukan sesegera mungkin paling lama3 (tiga) hari kerja setelah penyedia jasa keuanganmengetahui adanya unsur Transaksi KeuanganMencurigakan. misalnya setoran rutin oleh pengelola jalan tol atau pengelola supermarket.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk. ayat (2). (3) Pelaksanaan penundaan Transaksi sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dicatat dalam berita acarapenundaan Transaksi. b. Unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5 huruf a. Pasal 26 (1) Penyedia jasa keuangan dapat melakukan penundaanTransaksi paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejakpenundaan Transaksi dilakukan. (2) Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dilakukan dalam hal Pengguna Jasa: a. dan ayat (3) diatur dengan PeraturanKepala PPATK.(2) Penyampaian laporan Transaksi Keuangan Tunaisebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf bdilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerjaterhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan. (3) Penyampaian laporan Transaksi Keuangan transfer danadari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalamPasal 23 ayat (1) huruf c dilakukan paling lama 14(empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggalTransaksi dilakukan. (4) Penyedia jasa keuangan yang tidak menyampaikanlaporan kepada PPATK sebagaimana dimaksud padaayat (1). ayat (2). diketahui dan/atau patut diduga menggunakanDokumen palsu. (4) Penyedia jasa keuangan memberikan salinan beritaacara penundaan Transaksi kepada Pengguna Jasa. atau c. melakukan Transaksi yang patut didugamenggunakan Harta Kekayaan yang berasal darihasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalamPasal 2 ayat (1). Penjelasan : Ayat (1) Ketentuan ini dimaksudkan agar penyedia jasa keuangan dapat sesegera mungkin melaporkan Transaksi Keuangan Mencurigakan agar Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana dan pelaku Pencucian Uang dapat segera dilacak. dikenai sanksiadministratif. . dan huruf d. memiliki rekening untuk menampung HartaKekayaan yang berasal dari hasil tindak pidanasebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (5) Penyedia jasa keuangan wajib melaporkan penundaanTransaksi kepada PPATK dengan melampirkan beritaacara penundaan Transaksi dalam waktu paling lama 24(dua puluh empat) jam terhitung sejak waktupenundaan Transaksi dilakukan. dan ayat (3). dan tatacara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud padaayat (1). jenis. huruf c. huruf b.

Paragraf 3 Pelaksanaan Kewajiban Pelaporan Pasal 28 Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh Pihak Pelapordikecualikan dari ketentuan kerahasiaan yang berlaku bagiPihak Pelapor yang bersangkutan. Pasal 29 Kecuali terdapat unsur penyalahgunaan wewenang. atas pelaksanaan kewajibanpelaporan menurut Undang-Undang ini. dan pegawainya tidak dapat dituntut. Paragraf 2 Penyedia Barang dan/atau Jasa Lain Pasal 27 (1) Penyedia barang dan/atau jasa lain sebagaimanadimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b wajibmenyampaikan laporan Transaksi yang dilakukan olehPengguna Jasa dengan mata uang rupiah dan/ataumata uang asing yang nilainya paling sedikit atau setaradengan Rp500.000.00 (lima ratus juta rupiah)kepada PPATK. pejabat. (2) Laporan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)disampaikan paling lama 14 (empat belas) hari kerjaterhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan. PihakPelapor. baiksecara perdata maupun pidana. (3) Penyedia barang dan/atau jasa lain yang tidakmenyampaikan laporan kepada PPATK sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksiadministratif. . penyedia jasa keuangan harusmemutuskan akan melaksanakan Transaksi ataumenolak Transaksi tersebut. Yang dimaksud dengan “dituntut secara pidana” antara lain tuntutan pencemaran nama baik. (7) Dalam hal penundaan Transaksi telah dilakukan sampaidengan hari kerja kelima. Penjelasan : Yang dimaksud dengan “dituntut secara perdata” antara lain adalah tuntutan ganti rugi. penyedia jasa keuangan harus memutuskan akan melaksanakan Transaksi atau menolak Transaksi tersebut. Penjelasan : Ayat (7) Hal ini berarti paling lama pada hari kerja kelima penundaan transaksi dilakukan.(6) Setelah menerima laporan penundaan Transaksisebagaimana dimaksud pada ayat (5) PPATK wajibmemastikan pelaksanaan penundaan Transaksidilakukan sesuai dengan Undang-Undang ini.000.

denda administratif. (3) Sanksi administratif yang dikenakan oleh PPATKsebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. dan/atau d. (2) Dalam hal Lembaga Pengawas dan Pengatursebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. (4) Penerimaan hasil denda administratif sebagaimanadimaksud pada ayat (3) huruf d dinyatakan sebagaiPenerimaan Negara Bukan Pajak sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberiansanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat(3) diatur dengan Peraturan Kepala PPATK. yaitu oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK. Bagian Keempat Pengawasan Kepatuhan Pasal 31 (1) Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan bagiPihak Pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17ayat (1) dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengaturdan/atau PPATK. pengumuman kepada publik mengenai tindakanatau sanksi. Pengawasan Kepatuhan atas kewajibanpelaporan dilakukan oleh PPATK. Penjelasan : Ayat (1) Dengan demikian. c. (2) Dalam hal Pengawasan Kepatuhan atas kewajibanpelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidakdilakukan atau belum terdapat Lembaga Pengawas danPengatur.pengenaan sanksi administratif terhadap Pihak Pelapordilakukan oleh PPATK. (3) Hasil pelaksanaan Pengawasan Kepatuhan yangdilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatursebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikankepada PPATK.Pasal 30 (1) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksuddalam Pasal 25 ayat (4) dan Pasal 27 ayat (3) dilakukanoleh Lembaga Pengawas dan Pengatur sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan. peringatan. . teguran tertulis. (4) Tata cara pelaksanaan Pengawasan Kepatuhansebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diaturoleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATKsesuai dengan kewenangannya. b. terhadap Pihak Pelapor yang telah memiliki Lembaga Pengawas dan Pengatur ada 2 (dua) pintu Pengawasan Kepatuhan.

Pasal 32 Dalam hal Lembaga Pengawas dan Pengatur menemukanTransaksi Keuangan Mencurigakan yang tidak dilaporkanoleh Pihak Pelapor kepada PPATK. dan Pasal 5. cek perjalanan (travellers cheque). dan/atauinstrumen pembayaran lain dalam bentuk cek. cekperjalanan. surat sanggup bayar.00 (tiga ratus juta rupiah). Pasal 4.000. atau bilyet giro yang dikenal sebagai Bearer Negotiable Instruments. Pasal 33 Lembaga Pengawas dan Pengatur wajib memberitahukankepada PPATK setiap kegiatan atau Transaksi Pihak Pelaporyang diketahuinya atau patut diduganya dilakukan baiklangsung maupun tidak langsung dengan tujuan melakukantindak pidana Pencucian Uang sebagaimana dimaksud dalamPasal 3. (3) PPATK dapat meminta informasi tambahan dariDirektorat Jenderal Bea dan Cukai mengenaipembawaan uang tunai dan/atau instrument pembayaran lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). surat sanggup bayar.000. (2) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib membuatlaporan mengenai pembawaan uang tunai dan/atauinstrumen pembayaran lain sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dan menyampaikannya kepada PPATKpaling lama 5 (lima) hari kerja sejak diterimanyapemberitahuan.00 (seratus juta rupiah) atauyang nilainya setara dengan itu ke dalam atau ke luardaerah pabean Indonesia wajib memberitahukannyakepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Penjelasan : Ayat (1) Cek. BAB V Pembawaan Uang Tunai Dan Instrumen Pembayaran Lain Ke Dalam Atau Ke Luar Daerah Pabean Indonesia Pasal 34 (1) Setiap orang yang membawa uang tunai dalam matauang rupiah dan/atau mata uang asing. Lembaga Pengawas danPengatur segera menyampaikan temuan tersebut kepadaPPATK. .000. atau bilyet giro palingsedikit Rp100.000. Pasal 35 (1) Setiap orang yang tidak memberitahukan pembawaanuang tunai dan/atau instrumen pembayaran lainsebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dikenaisanksi administratif berupa denda sebesar 10% (sepuluhperseratus) dari seluruh jumlah uang tunai dan/atauinstrumen pembayaran lain yang dibawa dengan jumlahpaling banyak Rp300.

(2) Setiap orang yang telah memberitahukan pembawaanuang tunai dan/atau instrumen pembayaran lainsebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). dan penyetoran ke kasnegara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35diatur dengan Peraturan Pemerintah. pengenaan sanksi administratif.000. Pasal 36 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberitahuanpembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaranlain. (2) Dalam hal diperlukan. (2) PPATK bertanggung jawab kepada Presiden. (4) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus membuatlaporan mengenai pengenaan sanksi administrative sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) danmenyampaikannya kepada PPATK paling lama 5 (lima)hari kerja sejak sanksi administratif ditetapkan.00 (tigaratus juta rupiah). (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dan ayat (2) yang berkaitan dengan pembawaan uangtunai diambil langsung dari uang tunai yang dibawa dandisetorkan ke kas negara oleh Direktorat Jenderal Beadan Cukai. Penjelasan : Ayat (3) Yang dimaksud dengan “melakukan segala bentuk campur tangan” adalah perbuatan atau tindakan dari pihak mana pun yang mengakibatkan berkurangnya kebebasan PPATK untuk dapat melaksanakan tugas. perwakilan PPATK dapat dibukadi daerah. Pasal 38 (1) PPATK berkedudukan di Ibukota Negara KesatuanRepublik Indonesia. fungsi. (4) PPATK wajib menolak dan/atau mengabaikan segalabentuk campur tangan dari pihak mana pun dalamrangka pelaksanaan tugas dan kewenangannya. BAB VI Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan Bagian Kesatu Kedudukan Pasal 37 (1) PPATK dalam melaksanakan tugas dan kewenangannyabersifat independen dan bebas dari campur tangan danpengaruh kekuasaan mana pun. dan wewenangnya. . (3) Setiap Orang dilarang melakukan segala bentuk campurtangan terhadap pelaksanaan tugas dan kewenanganPPATK.000. tetapijumlah uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lainyang dibawa lebih besar dari jumlah yang diberitahukandikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 10%(sepuluh perseratus) dari kelebihan jumlah uang tunaidan/atau instrumen pembayaran lain yang dibawadengan jumlah paling banyak Rp300.

pencegahan dan pemberantasan tindak pidanaPencucian Uang. dan Wewenang Pasal 39 PPATK mempunyai tugas mencegah dan memberantas tindakpidana Pencucian Uang. menyelenggarakan program pendidikan danpelatihan antipencucian uang. sosialisasi pencegahan danpemberantasan tindak pidana . mewakili pemerintah Republik Indonesia dalamorganisasi dan forum internasional yang berkaitandengan pencegahan dan pemberantasan tindakpidana Pencucian Uang. menetapkan pedoman identifikasi TransaksiKeuangan Mencurigakan. e.Bagian Kedua Tugas.termasuk dari instansi pemerintah dan/ataulembaga swasta yang menerima laporan dari profesitertentu. dan g. PPATK mempunyai fungsi sebagai berikut: a. pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK. f. Penjelasan : Pengawasan kepatuhan dilakukan oleh PPATK terhadap Pihak Pelapor yang belum memiliki Lembaga Pengawas dan Pengatur. analisis atau pemeriksaan laporan dan informasiTransaksi Keuangan yang berindikasi tindak pidanaPencucian Uang dan/atau tindak pidana lainsebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). b. d. memberikan rekomendasi kepada pemerintahmengenai upaya pencegahan tindak pidanaPencucian Uang. dan d. pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor. mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidanaPencucian Uang dengan instansi terkait. Fungsi. meminta dan mendapatkan data dan informasi dariinstansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yangmemiliki kewenangan mengelola data dan informasi. Pasal 41 (1) Dalam melaksanakan fungsi pencegahan danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uangsebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf a. Pasal 40 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalamPasal 39. PPATKberwenang: a. menyelenggarakan Pencucian Uang. atau terhadap Pihak Pelapor yang pengawasannya telah diserahkan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur kepada PPATK. c. c. b.

e. Badan Pertanahan Nasional (BPN). c. membangun. dan g. mengembangkan. menyampaikan informasi dari hasil audit kepadalembaga yang berwenang melakukan pengawasanterhadap Pihak Pelapor. f. Yang dimaksud dengan “lembaga swasta” antara lain asosiasi advokat. mengevaluasi data dan informasi yang diterima oleh PPATK secara manual dan elektronik. Pasal 43 Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan terhadapkepatuhan Pihak Pelapor sebagaimana dimaksud dalamPasal 40 huruf c. PPATK berwenang: a. melakukan audit kepatuhan atau audit khusus. notaris. dan memelihara sistem aplikasi. memfasilitasi pertukaran informasi dengan instansi terkait baik dalam negeri maupun luar negeri. e. menyimpan. b. Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. mengembangkan. mengumpulkan. menetapkan kategori Pengguna Jasa yang berpotensimelakukan tindak pidana Pencucian Uang. Ayat (2) Penyampaian data dan informasi oleh instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta tidak memerlukan izin siapa pun.(2) Penyampaian data dan informasi oleh instansipemerintah dan/atau lembaga swasta kepada PPATKsebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf adikecualikan dari ketentuan kerahasiaan. c. Pasal 42 Dalam melaksanakan fungsi pengelolaan data dan informasisebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b. konsultan bidang keuangan. Penjelasan : Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “instansi pemerintah” antara lain Direktorat Jenderal Pajak dan Pusat Pembina Akuntan dan Jasa Penilai Kementerian Keuangan. memberikan peringatan kepada Pihak Pelapor yangmelanggar kewajiban pelaporan. PPATKberwenang menyelenggarakan sistem informasi. Penjelasan : Yang dimaksud dengan “menyelenggarakan sistem informasi” antara lain: a. dan memelihara infrastruktur jaringan komputer dan basis data. asosiasi notaris. membangun. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaiandata dan informasi oleh instansi pemerintah dan/ataulembaga swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf a diatur dengan Peraturan Pemerintah. menyajikan informasi untuk kebutuhan analisis. . b. pejabat pembuat akta tanah. d. memelihara data dan informasi ke dalam basis data. melakukan sosialisasi penggunaan sistem aplikasi kepada Pihak Pelapor. dan akuntan independen. dan asosiasi akuntan. Yang dimaksud “profesi tertentu” antara lain advokat. d. menetapkan ketentuan dan pedoman tata carapelaporan bagi Pihak Pelapor.

menetapkan ketentuan pelaksanaan prinsip mengenaliPengguna Jasa bagi Pihak Pelapor yang tidak memilikiLembaga Pengawas dan Pengatur. meneruskan informasi dan/atau hasil analisiskepada instansi peminta. c. k. merekomendasikan kepada instansi penegakhukum mengenai pentingnya melakukan intersepsiatau penyadapan atas informasi elektronikdan/atau dokumen elektronik sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan.f. meminta penyedia jasa keuangan untukmenghentikan sementara seluruh atau sebagianTransaksi yang diketahui atau dicurigai merupakanhasil tindak pidana. meminta informasi kepada Pihak Pelaporberdasarkan pengembangan hasil analisis PPATK. meminta informasi perkembangan penyelidikan danpenyidikan yang dilakukan oleh penyidik tindakpidana asal dan tindak pidana Pencucian Uang. meminta informasi kepada Pihak Pelaporberdasarkan permintaan dari instansi penegakhukum atau mitra kerja di luar negeri. meminta dan menerima laporan dan informasi dariPihak Pelapor. menerima laporan dan/atau informasi darimasyarakat mengenai adanya dugaan tindak pidanaPencucian Uang. 2. d. meminta keterangan kepada Pihak Pelapor danpihak lain yang terkait dengan dugaan tindakpidana Pencucian Uang. b.penyedia jasa keuangan yang pengawasan kepatuhan atas kewajiban pelaporan bagi penyedia jasa keuangan tersebut dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK. penyedia jasa keuangan berdasarkan permintaan lembaga atau instansi yang berwenang meminta informasi kepada PPATK sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. h. j. meneruskan hasil analisis atau pemeriksaankepada penyidik. baik di dalam maupun diluar negeri. merekomendasikan kepada lembaga yang berwenangmencabut izin usaha Pihak Pelapor. Penjelasan : Huruf c Audit khusus dapat dilakukan terhadap: 1 . PPATK dapat: a. e. Pasal 44 (1) Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis ataupemeriksaan laporan dan informasi sebagaimanadimaksud dalam Pasal 40 huruf d. i. . dan l. f. dan g. (2) Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud padaayat (1) huruf i harus segera menindaklanjuti setelahmenerima permintaan dari PPATK. g. meminta informasi kepada instansi atau pihakterkait. mengadakan kegiatan administratif lain dalamlingkup tugas dan tanggung jawab sesuai denganketentuan Undang-Undang ini.

wakil kepala. Huruf i Permintaan PPATK kepada penyedia jasa keuangan untuk menghentikan sementara seluruh atau sebagian Transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana. dilakukan untuk pemeriksaan. Huruf g Meminta keterangan kepada Pihak Pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan tindak pidana Pencucian Uang. Bagian Keempat Susunan Organisasi Pasal 48 Susunan organisasi PPATK terdiri atas: a. kepala. b. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)disampaikan kepada Presiden dan Dewan PerwakilanRakyat. . dan wewenangnya secaraberkala setiap 6 (enam) bulan. Pasal 45 Dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang ini. terhadap PPATK tidakberlaku ketentuan peraturan perundang-undangan dan kode etik yang mengatur kerahasiaan. Bagian Ketiga Akuntabilitas Pasal 47 (1) PPATK membuat dan menyampaikan laporanpelaksanaan tugas. Penjelasan : Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan. rahasia nonbank.Penjelasan : Huruf d Permintaan informasi dari instansi penegak hukum atau mitra kerja di luar negeri dalam ketentuan ini dilakukan sepanjang tidak mengganggu kepentingan nasional dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang hubungan luar negeri dan perjanjian internasional. dapat berupa melakukan audit khusus baik yang dilakukan sendiri oleh PPATK maupun dilakukan bersama-sama dengan Lembaga Pengawas dan Pengatur. Pasal 46 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaankewenangan PPATK diatur dengan Peraturan Presiden. DPR RI sewaktu-waktu berhak meminta laporan PPATK. dan sebagainya. Penjelasan : Yang dimaksud dengan “kerahasiaan” antara lain rahasia bank. fungsi.

fungsi. e. g. seorang calon harus memenuhi syarat sebagaiberikut: a. (3) Dalam hal Kepala PPATK berhalangan. b. tidak pernah dijatuhi pidana penjara. seorang atau beberapa orang pegawaiPPATK. keuangan. h. jabatan fungsional. Wakil KepalaPPATK bertanggung jawab memimpin danmengendalikan pelaksanaan tugas.c. c. Penjelasan : Huruf h Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “pekerjaan lain”adalah pekerjaan yang berpotensi mempengaruhi pelaksanaan tugas dan menimbulkan konflik kepentingan. dan d. sehat jasmani dan rohani.akuntansi. adil. atau hukum dan pengalamankerja di bidang tersebut paling singkat 10 (sepuluh)tahun. (2) Kepala PPATK dapat menyerahkan kewenangan mewakilisebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada WakilKepala PPATK. memiliki salah satu keahlian di bidang ekonomi. jujur. dan wewenang PPATK. tidak merangkap jabatan atau pekerjaan lain. dan i. f. danwewenang PPATK. Pasal 49 (1) Kepala PPATK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48huruf a mewakili PPATK di dalam dan di luarpengadilan. berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun danpaling tinggi 60 (enam puluh) tahun pada saatpengangkatan. takwa. dan memiliki integritas pribadi yangbaik. fungsi. d. bersedia memberikan informasi mengenai daftar HartaKekayaan. (2) Wakil Kepala PPATK dalam melaksanakan tugassebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawabkepada Kepala PPATK. bukan pemimpin partai politik. Pasal 51 Untuk dapat diangkat sebagai Kepala atau Wakil KepalaPPATK. Pasal 52 (1) Wakil Kepala PPATK bertugas membantu Kepala PPATK. . warga negara Indonesia. dan/atau pihak lain yang khusus ditunjukuntuk itu. Pasal 50 Kepala PPATK adalah penanggung jawab yang memimpin danmengendalikan pelaksanaan tugas. jabatan struktural lain.

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akanmelaksanakan tugas dan kewenangan selakuKepala/Wakil Kepala PPATK dengan sebaik-baiknya dandengan penuh rasa tanggung jawab". Pasal 57 (1) Pemberhentian Kepala atau Wakil Kepala PPATKsebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf ddilakukan karena: a. Pasal 56 Jabatan Kepala atau Wakil Kepala PPATK berhenti karena: a. Pasal 55 Kepala dan Wakil Kepala PPATK memegang jabatan selama 5(lima) tahun dan dapat diangkat kembali hanya untuk 1(satu) kali masa jabatan berikutnya. b. mengundurkan diri. dan peraturan perundangundanganyang berlaku". atau d. Pasal 54 (1) Kepala dan Wakil Kepala PPATK sebelum memangkujabatannya wajib mengucapkan sumpah atau janjimenurut agama dan kepercayaannya di hadapanPresiden. .Pasal 53 Kepala dan Wakil Kepala PPATK sebagaimana dimaksuddalam Pasal 48 huruf a dan huruf b diangkat dandiberhentikan oleh Presiden. "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya dalammelakukan atau tidak melakukan sesuatu dalamjabatan ini tidak akan menerima langsung atau tidaklangsung dari siapa pun juga sesuatu janji ataupemberian dalam bentuk apa pun". (2) Sumpah atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1)berbunyi sebagai berikut: "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya untuk menjadiKepala/Wakil Kepala PPATK langsung atau tidaklangsung dengan nama dan dalih apa pun tidakmemberikan atau menjanjikan untuk memberikansesuatu kepada siapa pun". "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setiaterhadap negara. konstitusi. bertempat tinggal di luar wilayah Negara KesatuanRepublik Indonesia. diberhentikan. c. b. meninggal dunia. kehilangan kewarganegaraannya sebagai warganegara Indonesia. berakhir masa jabatannya. "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akanmerahasiakan kepada siapa pun hal-hal yang menurutperaturan perundang-undangan wajib dirahasiakan".

danpemberian remunerasi. merangkap jabatan. d. Pasal 58 (1) Kepala dan Wakil Kepala PPATK berhak memperolehpenghasilan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penghasilan. e. penghargaan. (3) Dalam hal tuntutan terhadap Kepala dan/atau WakilKepala PPATK menjadi terdakwa dinyatakan tidakterbukti berdasarkan putusan pengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukum tetap. atau g. dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusanpengadilan yang telah memperoleh kekuatanhukum tetap.pemindahan. penghargaan. dan fasilitas. Pasal 60 Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi dantata kerja PPATK diatur dengan Peraturan Presiden. menderita sakit terus-menerus yangpenyembuhannya memerlukan waktu lebih dari 3(tiga) bulan yang tidak memungkinkanmelaksanakan tugasnya. Bagian Kelima Manajemen Sumber Daya Manusia Pasal 61 Kepala PPATK adalah pejabat pembina kepegawaian dilingkungan PPATK. (2) Dalam hal Kepala dan/atau Wakil Kepala PPATKmenjadi terdakwa tindak pidana yang berkaitan denganpenyalahgunaan jabatannya. Kepala dan/atau WakilKepala PPATK diberhentikan sementara dari jabatannya. Pasal 62 (1) Kepala PPATK selaku pejabat pembina kepegawaianmenyelenggarakan manajemen sumber daya manusiaPPATK yang meliputi perencanaan.c. pengangkatan. hak-haklain. hak-hak lain. dan fasilitas bagi Kepala dan WakilKepala PPATK diatur dengan Peraturan Pemerintah. f. pemberhentian. melanggar sumpah atau janji jabatan. jabatan yangbersangkutan dipulihkan kembali. Pasal 59 Kepala PPATK dapat mengangkat tenaga ahli paling banyak5 (lima) orang untuk memberikan pertimbangan mengenaimasalah tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. . pengembangan. dinyatakan pailit oleh pengadilan. (4) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dan ayat (2) ditetapkan oleh Presiden.

Bagian Keenam Pembiayaan Pasal 63 Biaya untuk pelaksanaan tugas PPATK dibebankan kepadaAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara.pelaksanaan penghentian sementara dicatat dalamberita acara penghentian sementara Transaksi. Penjelasan : Ayat (2) Laporan Hasil Pemeriksaan PPATK diserahkan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan Republik Indonesia dan tembusannya disampaikan kepada penyidik lain sesuai kewenangannya berdasarkan Undang-Undang ini. BAB VII Pemeriksaan Dan Penghentian Sementara Transaksi Pasal 64 (1) PPATK melakukan pemeriksaan terhadap TransaksiKeuangan Mencurigakan terkait dengan adanya indikasitindak pidana Pencucian Uang atau tindak pidana lain. Ayat (3) Dalam ketentuan ini koordinasi juga dilakukan diantara penyidik tindak pidana asal yang memperoleh Hasil Pemeriksaan PPATK. (2) Dalam hal ditemukan adanya indikasi tindak pidanaPencucian Uang atau tindak pidana lain. Pasal 65 (1) PPATK dapat meminta penyedia jasa keuangan untukmenghentikan sementara seluruh atau sebagianTransaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat(1) huruf i. penyidik melakukan koordinasidengan PPATK. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai manajemen sumberdaya manusia PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat(2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. penyidik untukdilakukan . PPATKmenyerahkan Hasil Pemeriksaan kepada penyidikan. (3) Dalam melaksanakan penyidikan sebagaimanadimaksud pada ayat (2). (2) Dalam hal penyedia jasa keuangan memenuhipermintaan PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penjelasan : Ayat (1) Yang dimaksud dengan ”menghentikan sementara seluruh atau sebagian Transaksi” adalah tidak melaksanakan Transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana.(2) Penyelenggaraan manajemen sumber daya manusiaPPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusundan dilaksanakan berdasarkan prinsip meritokrasi.

kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini. (2) Dalam hal yang diduga sebagai pelaku tindak pidanatidak ditemukan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. BAB VIII Penyidikan. danpemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidanaPencucian Uang tidak wajib dibuktikan terlebih dahulutindak pidana asalnya.penyidik dapat mengajukan permohonan kepadapengadilan negeri untuk memutuskan Harta Kekayaantersebut sebagai aset negara atau dikembalikan kepadayang berhak.Pasal 66 (1) Penghentian sementara Transaksi sebagaimanadimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) dilaksanakan dalamwaktu paling lama 5 (lima) hari kerja setelah menerimaberita acara penghentian sementara Transaksi. (2) PPATK dapat memperpanjang penghentian sementaraTransaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalamwaktu paling lama 15 (lima belas) hari kerja untukmelengkapi hasil analisis atau pemeriksaan yang akandisampaikan kepada penyidik. penuntutan. dan pemeriksaan di sidangpengadilan serta pelaksanaan putusan yang telahmemperoleh kekuatan hukum tetap terhadap tindak pidanasebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini dilakukansesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 67 (1) Dalam hal tidak ada orang dan/atau pihak ketiga yangmengajukan keberatan dalam waktu 20 (dua puluh) harisejak tanggal penghentian sementara Transaksi. . penuntutan. Penuntutan. Pasal 69 Untuk dapat dilakukan penyidikan. (3) Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harusmemutus dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari. PPATKmenyerahkan penanganan Harta Kekayaan yangdiketahui atau patut diduga merupakan hasil tindakpidana tersebut kepada penyidik untuk dilakukanpenyidikan. Dan Pemeriksaan Di Sidang Pengadilan Bagian Kesatu Umum Pasal 68 Penyidikan.

d. (3) Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. Pasal 71 (1) Penyidik. atauhakim. tempat Harta Kekayaan berada. nama dan jabatan penyidik. b.Pasal 70 (1) Penyidik. b. atau hakimsebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukansecara tertulis dengan menyebutkan secara jelasmengenai: a. b. atauhakim. atau hakim berwenangmemerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukanpemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patutdiduga merupakan hasil tindak pidana dari: a. (2) Perintah penyidik.penuntut umum. (2) Perintah penyidik. nama dan jabatan yang meminta penundaanTransaksi. atau c. tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan. penuntut umum. atau terdakwa. penuntut umum. atau hakimsebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukansecara tertulis dengan menyebutkan secara jelasmengenai: a. identitas Setiap Orang yang telah dilaporkan olehPPATK kepada penyidik . Setiap Orang yang telah dilaporkan oleh PPATKkepada penyidik.dan e. (3) Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. tersangka. . tersangka. c. atau hakim yang meminta penundaanTransaksi paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggalpelaksanaan penundaan Transaksi. tempat Harta Kekayaan berada. identitas Setiap Orang yang Transaksinya akandilakukan penundaan. penuntut umum. dan d. terdakwa. atau hakim berwenangmemerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukanpenundaan Transaksi terhadap Harta Kekayaan yangdiketahui atau patut diduga merupakan hasil tindakpidana. penuntut umum. (4) Pihak Pelapor wajib melaksanakan penundaan Transaksisesaat setelah surat perintah/permintaan penundaanTransaksi diterima dari penyidik. (5) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acarapelaksanaan penundaan Transaksi kepada penyidik. c. penuntut umum. penuntut umum. alasan pemblokiran. alasan penundaan Transaksi.

atau c. pada tahap penuntutan kewenangan pada penuntut umum. atauhakim berwenang meminta Pihak Pelapor untukmemberikan keterangan secara tertulis mengenai HartaKekayaan dari: a. b. nama dan jabatan penyidik. atau c. atauhakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundangundanganyang mengatur rahasia bank dan kerahasiaanTransaksi Keuangan lain. tersangka. atau terdakwa. hakim ketua majelis untuk tingkat pemeriksaan pengadilan. (4) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harusdisertai dengan: a. penuntut umum. (2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksudpada ayat (1). koordinator penyidik/ketua tim penyidik untuk tingkat penyidikan. dan kewenangan hakim pada tahap pemeriksaan di sidang pengadilan. penyidik. atau hakim. tempat Harta Kekayaan berada. b. (3) Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud padaayat (1) harus diajukan dengan menyebutkan secarajelas mengenai: a. kepala kejaksaan negeri untuk tingkat penuntutan. penuntut umum. penuntut umum. bagi penyidik. c. (6) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acarapelaksanaan pemblokiran kepada penyidik. surat penunjukan sebagai penuntut umum. penuntutumum.(4) Dalam hal jangka waktu pemblokiran sebagaimanadimaksud pada ayat (3) berakhir. (7) Harta Kekayaan yang diblokir harus tetap berada padaPihak Pelapor yang bersangkutan. c. laporan polisi dan surat perintah penyidikan. atau hakim yang memerintahkan pemblokiranpaling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaanpemblokiran. (5) Pihak Pelapor wajib melaksanakan pemblokiran sesaatsetelah surat perintah pemblokiran diterima daripenyidik. identitas orang yang terindikasi dari hasil analisisatau pemeriksaan PPATK. atau hakim sesuai dengan tahap pemeriksaan. tersangka. uraian singkat tindak pidana yang disangkakanatau didakwakan. atauhakim. penuntut umum. b. yakni pada tahap penyidikan kewenangan pada penyidik. surat penetapan majelis hakim. Ayat (2) Surat permintaan pemblokiran yang dikirimkan kepada penyedia jasa keuangan tersebut harus ditandatangani oleh: a. b. penuntut umum. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepadapenyidik. Penjelasan : Ayat (1) Perintah penyidik. dan d. Pihak Pelapor wajibmengakhiri pemblokiran demi hukum. terdakwa. . Pasal 72 (1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindakpidana Pencucian Uang.

Ayat (5) Dalam hal Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah. atau pimpinan instansi atau lembaga atau komisi.(5) Surat permintaan untuk memperoleh keterangansebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) harusditandatangani oleh: a.kecuali ditentukan lain menurut Undang-Undang ini. dan/atau b. Kejaksaan. (6) Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5)ditembuskan kepada PPATK. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum AcaraPidana. Bagian Kedua Penyidikan Pasal 74 Penyidikan tindak pidana Pencucian Uang dilakukan olehpenyidik tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukumacara dan ketentuan peraturan perundang-undangan.dikirimkan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penjelasan : Ayat (2) Yang dimaksud dengan “ketentuan peraturan perundang-undangan” juga termasuk ketentuan mengenai kerahasiaan yang berlaku bagi Pihak Pelapor. penandatanganan dapat dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk. yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia. diterima. atau Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi berhalangan. hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yangbersangkutan. b. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam halpermintaan diajukan oleh jaksa penyidik dan/ataupenuntut umum. Penjelasan : Pasal 74 Yang dimaksud dengan “penyidik tindak pidana asal” adalah pejabat dari instansi yang oleh undang-undang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan. Badan Narkotika Nasional (BNN). alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan. atau disimpan secara elektronikdengan alat optik atau alat yang serupa optik danDokumen. Penyidik tindak pidana asal dapat melakukan penyidikan tindak pidana Pencucian . serta Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalamhal permintaan diajukan oleh penyidik selainpenyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. c. Pasal 73 (alat bukti) Alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidanaPencucian Uang ialah: a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ataukepala kepolisian daerah dalam hal permintaandiajukan oleh penyidik dari Kepolisian NegaraRepublik Indonesia. atau d.

. (2) Terdakwa membuktikan bahwa Harta Kekayaan yangterkait dengan perkara bukan berasal atau terkaitdengan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalamPasal 2 ayat (1) dengan cara mengajukan alat bukti yangcukup.Uang apabila menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana Pencucian Uang saat melakukan penyidikan tindak pidana asal sesuai kewenangannya.terdakwa wajib membuktikan bahwa Harta Kekayaannyabukan merupakan hasil tindak pidana. Pasal 78 (1) Dalam pemeriksaan di sidang pengadilan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 77. ketua pengadilan negeri wajibmembentuk majelis hakim perkara tersebut paling lama3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya berkas perkaratersebut. hakim memerintahkanterdakwa agar membuktikan bahwa Harta Kekayaanyang terkait dengan perkara bukan berasal atau terkaitdengan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalamPasal 2 ayat (1). (2) Dalam hal penuntut umum telah menyerahkan berkasperkara kepada pengadilan negeri sebagaimanadimaksud pada ayat (1). penyidik menggabungkan penyidikan tindakpidana asal dengan penyidikan tindak pidana PencucianUang dan memberitahukannya kepada PPATK. Bagian Ketiga Penuntutan Pasal 76 (1) Penuntut umum wajib menyerahkan berkas perkaratindak pidana Pencucian Uang kepada pengadilan negeripaling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejaktanggal diterimanya berkas perkara yang telahdinyatakan lengkap. Pasal 75 Dalam hal penyidik menemukan bukti permulaan yangcukup terjadinya tindak pidana Pencucian Uang dan tindakpidana asal. Bagian Keempat Pemeriksaan di Sidang Pengadilan Pasal 77 (pembuktian terbalik) Untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan.

Disamping itu sebagai usaha untuk mengembalikan kekayaan negara dalam hal tindak pidana tersebut telah merugikan keuangan Negara. Penjelasan : Ayat (2) Yang dimaksud dengan “harus dilakukan langsung oleh terdakwa” adalah terdakwa harus hadir dan menandatangani sendiri akta pernyataan banding di pengadilan negeri yang memutus perkara tersebut.perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa hadirnyaterdakwa. (2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnyasebelum putusan dijatuhkan. (5) Penetapan perampasan sebagaimana dimaksud padaayat (4) tidak dapat dimohonkan upaya hukum. (4) Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusandijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwayang bersangkutan telah melakukan tindak pidanaPencucian Uang. (2) Pengajuan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1)harus dilakukan langsung oleh terdakwa paling lama 7(tujuh) hari setelah putusan diucapkan.atau diberitahukan kepada kuasanya. Penjelasan : Ayat (1) Ketentuan ini dimaksudkan agar upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang dalam pelaksanaan peradilannya dapat berjalan dengan lancar. hakim atas tuntutan penuntut umummemutuskan perampasan Harta Kekayaan yang telahdisita. . terdakwa wajib diperiksadan segala keterangan saksi dan surat yang dibacakandalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkandalam sidang yang sekarang. perkara tersebut tetap diperiksa tanpa kehadiran terdakwa.Pasal 79 (in absentia) (1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah dan patuttidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah. kantor pemerintah daerah. Ayat (4) Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah agar ahli waris dari terdakwa menguasai atau memiliki Harta Kekayaan yang berasal dari tindak pidana. (3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwadiumumkan oleh penuntut umum pada papanpengumuman pengadilan. Pasal 80 (1) Dalam hal hakim memutus sebagaimana dimaksuddalam Pasal 79 ayat (3). (6) Setiap Orang yang berkepentingan dapat mengajukankeberatan kepada pengadilan yang telah menjatuhkanpenetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dalamwaktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pengumumansebagaimana dimaksud pada ayat (3). terdakwa dapat mengajukanbanding. maka jika terdakwa telah dipanggil secara sah dan patut tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah.

(2) Ketentuan mengenai tata cara pemberian pelindungankhusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaturdalam peraturan perundang-undangan. (2) Dalam setiap persidangan sebelum sidang pemeriksaandimulai. dan orang lain yang terkait dengan pemeriksaanperkara tersebut mengenai larangan sebagaimanadimaksud pada ayat (1). penuntut umum. . panggilandisampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurusatau di tempat pengurus berkantor. penuntut umum. jiwa. hakim wajib mengingatkan saksi. hakim.atau hakim wajib merahasiakan Pihak Pelapor danpelapor. dan/atau hartanya.dan orang lain yang terkait dengan tindak pidanaPencucian Uang yang sedang dalam pemeriksaandilarang menyebutkan nama atau alamat pelapor atauhal lain yang memungkinkan dapat terungkapnyaidentitas pelapor. Pasal 85 (1) Di sidang pengadilan.Pasal 81 Dalam hal diperoleh bukti yang cukup bahwa masih adaHarta Kekayaan yang belum disita. BAB IX Pelindungan Bagi Pelapor Dan Saksi Pasal 83 (1) Pejabat dan pegawai PPATK. hakim memerintahkanjaksa penuntut umum untuk melakukan penyitaan HartaKekayaan tersebut. saksi. Pasal 82 (Panggilan terhadap korporasi) Dalam hal tindak pidana dilakukan oleh Korporasi. Pasal 84 (1) Setiap Orang yang melaporkan terjadinya dugaan tindakpidana Pencucian Uang wajib diberi pelindungan khususoleh negara dari kemungkinan ancaman yangmembahayakan diri. penyidik. Penjelasan : Ayat (1) Yang dimaksud dengan “pelapor” adalah setiap orang yang beritikad baik dan secara sukarela menyampaikan laporan terjadinya dugaan tindak pidana Pencucian Uang. penuntutumum. termasukkeluarganya. (2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudpada ayat (1) memberikan hak kepada pelapor atau ahliarisnya untuk menuntut ganti kerugian melaluipengadilan.

atas laporan dan/ataukesaksian yang diberikan oleh yang bersangkutan. (2) Saksi yang memberikan keterangan palsu di atassumpah dipidana sesuai dengan ketentuan dalam KitabUndang-Undang Hukum Pidana. BAB X Kerja Sama Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Pasal 88 (1) Kerja sama nasional yang dilakukan PPATK denganpihak yang terkait dituangkan dengan atau tanpabentuk kerja sama formal. termasuk keluarganya. (2) Pihak yang terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1)adalah pihak yang mempunyai keterkaitan langsungatau tidak langsung dengan pencegahan danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uang diIndonesia. Penjelasan : Ayat (1) Yang dimaksud dengan “kerja sama formal” antara lain nota kesepahaman atau memorandum of understanding. PPATK dapat melakukankerja sama pertukaran informasi berupa permintaan. baik secaraperdata maupun pidana. dan/atauhartanya. Pasal 87 (1) Pelapor dan/atau saksi tidak dapat dituntut. jiwa.Pasal 86 (1) Setiap Orang yang memberikan kesaksian dalampemeriksaan tindak pidana Pencucian Uang wajib diberipelindungan khusus oleh negara dari kemungkinanancaman yang membahayakan diri. Pasal 90 (1) Dalam melakukan pencegahan dan pemberantasantindak pidana Pencucian Uang.pemberian. dan . (2) Ketentuan mengenai tata cara pemberian pelindungankhusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaturdalam peraturan perundang-undangan. Pasal 89 (1) Kerja sama internasional dilakukan oleh PPATK denganlembaga sejenis yang ada di negara lain dan lembagainternasional yang terkait dengan pencegahan danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uang. (2) Kerja sama internasional yang dilakukan PPATK dapatdilaksanakan dalam bentuk kerja sama formal atauberdasarkan bantuan timbal balik atau prinsipresiprositas.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ataukepala kepolisian daerah.baik dalam lingkup nasional maupun internasional. pimpinan lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. g. (2) Kerja sama bantuan timbal balik sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dapat dilaksanakan jika negara dimaksudtelah mengadakan perjanjian kerja sama bantuan timbalbalik dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia atauberdasarkan prinsip resiprositas. pimpinan dari lembaga lain yang terkait denganpencegahan dan pemberantasan tindak pidanaPencucian Uang atau tindak pidana lain terkaitdengan tindak pidana Pencucian Uang. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalamhal permintaan diajukan oleh penyidik. . financial intelligence unit negara lain. c. instansi penegak hukum. pimpinan financial intelligence unit negara lain. pemberian. d.penerimaan informasi dengan pihak. f. (3) Permintaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat(1) kepada PPATK diajukan secara tertulis danditandatangani oleh: a. Pasal 91 (1) Dalam rangka mencegah dan memberantas tindakpidana Pencucian Uang. atau h. b. lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dantanggung jawab keuangan negara. dan penerimaan informasidalam pertukaran informasi sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dapat dilakukan atas inisiatif sendiri atauatas permintaan pihak yang dapat meminta informasikepada PPATK. dan e. d. (2) Permintaan.yang meliputi: a. lembaga yang berwenang melakukan pengawasanterhadap penyedia jasa keuangan. hakim ketua majelis. lembaga lain yang terkait dengan pencegahan danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uang atautindak pidana lain terkait dengan tindak pidanaPencucian Uang. dapat dilakukan kerja samabantuan timbal balik dalam masalah pidana dengannegara lain melalui forum bilateral atau multilateralsesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. direktur atau pejabat yang setingkat. c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi. pemimpin. e.atau pemimpin satuan kerja atau kantor di lembagayang berwenang melakukan pengawasan terhadappenyedia jasa keuangan. b. selainpenyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

ditetapkan sebagai PPATK berdasarkanUndang-Undang ini. b.Penjelasan : Ayat (1) Yang dimaksud dengan “peraturan perundang-undangan” adalah undang-undang yang mengatur mengenai bantuan timbal balik dalam masalah pidana dan undang-undang yang mengatur mengenai perjanjian internasional. terkaitdalam dibentuk pencegahan dan pemberantasan pidanaPencucian Komite Koordinasi NasionalPencegahan dan Pemberantasan Tindak PidanaPencucian Uang. BAB XII Ketentuan Peralihan Pasal 94 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: a. (2) Pembentukan Komite Koordinasi Nasional Pencegahandan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uangdiatur dengan Peraturan Presiden. antara lain mengeluarkan ketentuan atau pedoman mengenai penerapan program antipencucian uang bagi penyedia jasa keuangan. PPATK yang dibentuk berdasarkan Undang-UndangNomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana PencucianUang sebagaimana telah diubah dengan Undang-UndangNomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang . PPATK dan instansi terkait dapatmelaksanakan ketentuan tersebut sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan. BAB XI Ketentuan Lain-Lain Pasal 93 Dalam hal ada perkembangan konvensi internasional ataurekomendasi internasional di bidang pencegahan danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uang danpendanaan terorisme. PPATK yang dibentuk berdasarkan Undang-UndangNomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana PencucianUang sebagaimana telah diubah dengan Undang-UndangNomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak PidanaPencucian Uang. Penjelasan : Ketentuan ini dimaksudkan agar PPATK dan instansi terkait dapat menetapkan ketentuan sesuai dengan perkembangan konvensi internasional atau rekomendasi internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang. Pasal 92 (1) Untuk meningkatkan tindak koordinasi antarlembaga Uang.

. e. Susunan organisasi PPATK yang dibentuk berdasarkanUndang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang TindakPidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubahdengan UndangUndang Nomor 25 Tahun 2003 tentangPerubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002tentang Tindak Pidana Pencucian Uang tetap berlakusampai terbentuknya susunan organisasi PPATK yangbaru berdasarkan Undang-Undang ini. fungsi. fungsi. diperiksa dan diputusdengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentangTindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubahdengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentangPerubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. dan wewenangnyasampai dengan diangkatnya Kepala dan Wakil KepalaPPATK yang baru paling lambat 1 (satu) tahun sejakberlakunya Undang-Undang ini. c. danwewenangnya berdasarkan Undang-Undang ini. Kepala dan Wakil Kepala PPATK yang diangkatberdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimanatelah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uangtetap menjalankan tugas. Pasal 97 Pelaksanaan kewajiban pelaporan Transaksi Keuangantransfer dana dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksuddalam Pasal 23 ayat (1) huruf c dilaksanakan paling lambat 5(lima) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan. d. danwewenangnya sampai dibentuk Komite KoordinasiNasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak PidanaPencucian Uang berdasarkan Undang-Undang ini. Pasal 95 Tindak Pidana Pencucian Uang yang dilakukan sebelumberlakunya Undang-Undang ini. BAB XIII Ketentuan Penutup Pasal 96 Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh penyedia barangdan/atau jasa lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27ayat (1) dilaksanakan paling lambat 2 (dua) tahun setelahUndangUndang ini diundangkan. Komite Koordinasi Nasional Pencegahan danPemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yangdibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1Tahun 2004 tetap menjalankan tugas.Tindak PidanaPencucian Uang tetap menjalankan tugas. fungsi.

dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan ataubelum diganti berdasarkan Undang-Undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Oktober 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Oktober 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 99 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak PidanaPencucian Uang (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2002 Nomor 30.Pasal 98 Semua peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uangsebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 100 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggaldiundangkan. ttd PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 122 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan Bidang Perekonomian dan Industri. memerintahkanpengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannyadalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Setio Sapto Nugroho . TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4324) dicabutdan dinyatakan tidak berlaku. ttd DR. H. Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 4191) sebagaimana telah diubahdengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentangPerubahan atas UndangUndang Nomor 15 Tahun 2002tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 2003 Nomor 108.

Lembaga keuangan tidak hanya berperan dalam membantu penegakanhukum. memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan. dan reputasi karenatidak lagi digunakan sebagai sarana dan sasaran oleh pelaku tindak pidanauntuk mencuci uang hasil tindak pidana. Untuk itu upaya pencegahan danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uang memerlukan landasanhukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum. hukum. lembaga keuangan akan mampu melaksanakan fungsinya secaraoptimal sehingga pada gilirannya sistem keuangan menjadi lebih stabil danterpercaya. terkonsentrasinya Transaksi. dengan sendirinya dapatmenurunkan tingkat kriminalitas. yaitu risikooperasional. tetapi juga menjaga dirinya dari berbagai risiko. Penelusuran Harta Kekayaan hasil tindak pidana pada umumnya dilakukanoleh lembaga keuangan melalui mekanisme yang diatur dalam peraturanperundang-undangan. dan menggunakan modus yangsemakin variatif. UMUM Pada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan ataumenyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindakpidana dengan berbagai cara agar Harta Kekayaan hasil tindak pidananyasusah ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasamemanfaatkan Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sahmaupun tidak sah.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG I. tindak pidana Pencucian Uang semakinkompleks. Karena itu. dan bernegara berdasarkan Pancasila danUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam perkembangannya. pelaku dan hasil tindak pidana dapatdiketahui melalui penelusuran untuk selanjutnya hasil tindak pidanatersebut dirampas untuk negara atau dikembalikan kepada yang berhak. berbangsa. tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupanbermasyarakat. Dalam konsep antipencucian uang. Lembaga keuangan memiliki peranan pentingkhususnya dalam menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa danmelaporkan Transaksi tertentu kepada otoritas (financial intelligence unit)sebagai bahan analisis dan untuk selanjutnya disampaikan kepadapenyidik. Dengan pengelolaan risiko yangbaik. melintasi batasbatas yurisdiksi. Apabila Harta Kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasai oleh pelaku atauorganisasi kejahatan dapat disita atau dirampas. efektivitas penegakanhukum serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindakpidana. tindak pidana Pencucian Uang tidak hanyamengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian dan system keuangan. bahkantelah merambah ke berbagai sektor. Untuk mengantisipasi hal .

keterbatasan akses informasi. Upaya yang dilakukan tersebut dirasakan belum optimal. Untuk memenuhi kepentingan nasional dan menyesuaikan standarinternasional. dan penegakhukum dalam menindaklanjuti hasil analisis hingga penjatuhan sanksipidana dan/atau sanksi administratif. Dalam mencegah dan memberantas tindak pidana Pencucian Uang perludilakukan kerja sama regional dan internasional melalui forum bilateralatau multilateral agar intensitas tindak pidana yang menghasilkan ataumelibatkan Harta Kekayaan yang jumlahnya besar dapat diminimalisasi. 3. redefinisi pengertian hal yang terkait dengan tindak pidana PencucianUang. antara lain mengenaiperluasan Pihak Pelapor (reporting parties) yang mencakup pedagangpermata dan perhiasan/logam mulia dan pedagang kendaraan bermotor. sempitnyacakupan pelapor dan jenis laporannya.itu. adanya celahhukum. antara lain: 1. seperti penyediajasa keuangan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan. serta kurang jelasnya tugas dankewenangan dari para pelaksana Undang-Undang ini. 2. beban kurang tepatnya pemberian sanksi. antara lainkarena peraturan perundang-undangan yang ada ternyata masihmemberikan ruang timbulnya penafsiran yang berbeda-beda. belum dimanfaatkannyapergeseran pembuktian. Pusat Pelaporan danAnalisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam kegiatan analisis. Penanganan tindak pidana Pencucian Uang di Indonesia yang dimulai sejakdisahkannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak PidanaPencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 15 Tahun2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. telah menunjukkan arahyang positif. LembagaPengawas dan Pengatur dalam pembuatan peraturan. 4. . Hal itu. Materi muatan yang terdapat dalamUndang-Undang ini. pengaturan mengenai penjatuhan sanksi pidana dan sanksiadministratif. perlu disusun Undang-Undang tentang Pencegahan danPemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uangsebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentangTindak Pidana Pencucian Uang. tercermin dari meningkatnya kesadaran dari pelaksanaUndangUndang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. penyempurnaan kriminalisasi tindak pidana Pencucian Uang. FinancialAction Task Force (FATF) on Money Laundering telah mengeluarkan standarinternasional yang menjadi ukuran bagi setiap negara dalam pencegahandan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang dan tindak pidanapendanaan terorisme yang dikenal dengan Revised 40 Recommendationsdan 9 Special Recommendations (Revised 40+9) FATF. pengukuhan penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa.

penataan kembali kelembagaan PPATK. 10. PASAL DEMI PASAL TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5164 .5. 13. penataan kembali hukum acara pemeriksaan tindak pidana PencucianUang. 9. termasuk kewenangan untukmenghentikan sementara Transaksi. pengaturan mengenai penyitaan Harta Kekayaan yang berasal daritindak pidana. pemberian kewenangan kepada Pihak Pelapor untuk menundaTransaksi. 7. 6. perluasan kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadappembawaan uang tunai dan instrumen pembayaran lain ke dalam atauke luar daerah pabean. penataan mengenai Pengawasan Kepatuhan. 12. perluasan instansi yang berhak menerima hasil analisis ataupemeriksaan PPATK. penambahan kewenangan PPATK. perluasan Pihak Pelapor. 8. dan 15. 11. pemberian kewenangan kepada penyidik tindak pidana asal untukmenyidik dugaan tindak pidana Pencucian Uang. II. penetapan mengenai jenis pelaporan oleh penyedia barang dan/ataujasa lainnya. 14.

surat. Dan dalam Pasal 37A Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 menyatakan terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami. ditambah denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan. menambahkan bahwa alat bukti bisa berupa informasi yang diucapkan.9 miliar ditambah 681. anak. Dengan kata lain. Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan perihal kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya. Satu instruksi itu ialah penggunaan metode pembuktian terbalik. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. Ketentuan perundang-undangan mengenai pembuktian terbalik sudah ada. Begitu memprihatinkannya penanganan kasus Gayus. Tapi mengapa selama ini ada kesan kuat para penegak hukum kita tidak mau menerapkan asas pembuktian terbalik? Hal ini secara kasat mata terlihat dari penanganan kasus Gayus. Akhirnya. Sebenarnya asas pembuktian terbalik bukan hal baru dalam peraturan perundang-undangan yang kita miliki. majelis hakim tidak mengakui seluruh bukti tersebut karena tidak sah menurut hukum. Di Pengadilan. PPATK mencurigai adanya transaksi keuangan yang mencurigakan direkening istri dan dua putri Bahasyim sejak tahun 2004 hingga 2010 yang mencapai Rp 932 miliar. Selebihnya. membuat Wakil Presiden Boediono memerintahkan agar penegak hukum menerapkan pembuktian terbalik dalam mengungkap kasus korupsi pajak Gayus HP Tambunan senilai Rp 28 miliar dan Rp 74 miliar. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menerapkan asas pembuktian terbalik kepada bekas pejabat kantor pajak dan Bappenas. Keengganan para penegak hukum untuk melaksanakan instruksi tersebut dapat ditafsirkan sebagai pembangkangan karena hanya menjadikan instruksi sebagai macan kertas. Sedangkan dalam Pasal 26A Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bahasyim memang menunjukkan berbagai dokumen yang ia katakan sebagai hasil dari usahanya. Bahasyim diminta membuktikan keabsahan hartanya yang dia sebut hasil berbagai usaha. Namun. 2011 | Artikel Oleh: Sonny Wibisono Terobosan hukum dalam kasus tindak pidana korupsi memulai babak baru. Penyidik kemudian meminta Bahasyaim menjelaskan asal-usul hartanya. dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan.147 dollar AS dirampas untuk negara karena terbukti hasil tindak pidana korupsi. diterima. senilai Rp 60. keterangan terdakwa digunakan untuk memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. Pembuktian terbalik pertama kali diterapkan dalam kasus Bahasyim. penyidik hanya menjerat dengan pasal pencucian uang. Bahasyim divonis hukuman penjara selama 10 tahun. Suatu angka yang sangat fantastis untuk ukuran seorang pejabat kantor pajak sekelas Bahasyim.Menjerat Koruptor dengan Asas Pembuktian Terbalik Posted by Admin on March 2. Kasus Gayus telah mencoreng wajah Pemerintah. Bahasyim Assifie. dikirim. Gayus harus dapat membuktikan asal usul harta kekayaannya. Penyidik hanya dapat membuktikan korupsi senilai Rp 1 miliar. Total saldo di seluruh rekening saat diblokir sekitar Rp 65 miliar. Namun. Bahasyim tidak dapat menjelaskan. Metode . Awalnya. yang berasal dari pengacara kondang Kartini Mulyadi. Hartanya pun. Hal itu tercantun dalam Pasal 188 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang menyebutkan alat bukti itu hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi. Bahkan SBY sampai mengeluarkan Inpres. dan keterangan terdakwa.

pembuktian terbalik efektif dapat mengungkapkan kasus mafia pajak. juga setidaknya memberi efek jera bagi para koruptor untuk berpikir berulang kali bila ingin melakukan korupsi. Hal ini dijelaskan Wapres dalam jumpa pers di Jakarta pada Kamis. Tapi nyatanya. 2011 | Artikel Oleh: Ahmad Fawaiq Suwanan * Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menarik kembali Draft RUU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) setelah mendapat kritik dari berbagai pihak. Mengapa dalam kasus Bahasyim dapat dilakukan. Padahal sebelumnya Draft RUU inisiatif pemerintah ini bahkan sudah sampai di meja Presiden SBY dan hampir melangkah mulus di DPR. Bahkan pasal-pasal yang ada dalam Draft RUU Tipikor yang ada merupakan terjemahan langsung dari Bab III UNCAC pada bagian Criminalization and Law Enforcement. „RUU siluman‟ ini selanjutnya akan dimatangkan lagi di Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan dalam kasus Bahasyim. Memberi kesan kuat bahwa pihak kepolisian menyiasati undang-undang hanya untuk melindungi anggota mereka yang kemungkinan terlibat. tetapi dalam kasus Gayus demikian sulitnya? Dapat dipahami bahwa kasus Gayus tidak berdiri sendiri. Hal ini selain menguntungkan bagi negara. Label „RUU siluman‟ pantas dialamatkan pada draf RUU ini. . Apabila terdakwa atau tersangka tidak dapat membuktikan uang yang dimilikinya bukan hasil korupsi. ia melibatkan banyak orang dan kelompok. mengingat UU Tipikor merupakan urat nadi pemberantasan korupsi. belum ada peraturan perundang-undangan yang memberi hak kepada penyidik untuk menggunakan metode pembuktian terbalik. Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR. ia hanya melakukan korupsi untuk dirinya sendiri. karena proses penyusunan yang tertutup tanpa disertai keberadaan naskah akademik yang menjadi persyaratan mutlak sebuah undang-undang. Kekhawatiran publik tersebut sangat beralasan. RUU Tipikor Dikorupsi? Posted by Admin on April 11. 24 Februari 2011. Dengan penarikan draf tersebut. Apa yang salah? Jika dicermati lebih jeli. Dengan adanya pembuktian terbalik justeru mempermudah penegak hukum untuk mengusut kasus-kasus korupsi. Semoga saja terobosan hukum yang dilakukan PN Jakarta Selatan tidak berhenti sampai disini saja dan dapat diikuti oleh lainnya. dapat diduga. RUU versi pemerintah ini terlihat mencoba mengakomodir ketentuan-ketentuan dalam United Nation Convention Against Corruption (UNCAC). Padahal UNCAC pada dasarnya merupakan ketentuan yang hanya mengatur prinsip-prinsip yang harus disesuaikan dengan ciri khas hukum masing-masing negera. Menurut Kapolri. Kapolri Jenderal Timur Pradopo angkat tangan. maka negara akan menyita harta kekayaan terdakwa tersebut. Sehingga sekecil apapun perubahan UU Tipikor akan sangat berpengaruh pada masa depan agenda pemberantasan korupsi di Indonesia. Apa yang salah dari keberadaan RUU ini? Benarkah ada upaya pelemahan sistemik pada agenda pemberantasan korupsi dengan cara merubah (baca:mengkorupsi) pasal-pasal yang justru akan menguntungkan koruptor? Itulah pertanyaan sekaligus kekhawatiran terbesar yang menggelayut di benak publik saat ini. Kapolri mengakui belum dapat menerapkan pembuktian terbalik dalam penyidikan kasus kepemilikan harta Gayus.

Pasal ini kemudian menjadi yang tertinggi kedua setelah pasal-pasal suap yang menjerat lebih dari 190 tersangka. Tindak pidana yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan Indonesia hanyalah Trading in Influence (Pasal 18 UNCAC) dan Illicit Enrichment (Pasal 20 UNCAC). Kedua. Sehingga kelahiran RUU ini diperkirakan merupakan salah satu babak baru pelemahan KPK. evaluasi draf RUU menjadi sebuah keniscayaan. Dengan berbagai kelemahan tersebut. UU Tipikor. Pelemahan wewenang KPK terlihat pada hilangnya beberapa poin seperti penghapusan kewenangan penuntutan oleh KPK dalam draf RUU Tipikor. dalam pantauan MTI. UU Tindak Pidana Pencucian Uang serta UU Tindak Pidana Suap. penghapusan masa ijin pemeriksaan terhadap pejabat. pencucian uang (Pasal Pasal 16). Menghalang-halangi penyidikan (Pasal 19). pada tahun 2010 saja Komisi Pemberantasan Korupsi menjerat lebih dari 42 tersangka korupsi dengan delik ”kerugian keuangan negara” ini.”katanya di Gedung Mahkamah Konstitusi kemarin Menurut Akil.Padahal sebagian besar delik yang diatur dalam UNCAC telah diatur juga sebagai tindak pidana dalam hukum positif di Indonesia. penyalahgunaan wewenang (Pasal 10). Melihat fenomena tersebut. Pertama. RUU ini lahir bersamaan dengan berbagai pelemahan KPK. perubahan ada justru semakin meringankan pelaku korupsi. ”Ada kesan revisi UU Tipikor itu memang kecenderungannya mereduksi kewenangan KPK yang sudah ada. terdapat beberapa perubahan yang sangat signifikan dibandingkan UU Tipikor yang masih berlaku. RUU ini memang masih mempertahankan sebagian besar UU Tipikor yang berlaku saat ini dan sedikit menambah beberapa ketentuan baru. kasus suap sektor swasta (Pasal 13 (1) a dan b). Pengaduan palsu (Pasal 18) serta Pelaporan LHKPN secara palsu (Pasal 21 (1) dan (2)). Setidaknya ada tiga indikasi cacat bawaan lahirnya RUU ini. terburu-buru dan terkesan dipaksakan.Undang (RUU) Pemberantasan Korupsi telah mereduksi (mengurangi) kewenangan yang dimiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketiga. draf RUU versi pemerintah ini terkesan menjiplak ketentuan UNCAC. Kedua. *Peneliti Masyarakat Transparansi Indonesia Kewenangan KPK Dikurangi Posted by Admin on March 29. Keempat. perpanjangan masa penangkapan. RUU ini lahir secara prematur. Dari sisi hukum acara. Mengingat lahirnya RUU ini tanpa disertai penyusunan naskah akademik yang menjadi syarat mutlak sebuah RUU. sulit disangkal hal ini merupakan bagian dari skenario sistemik untuk membonsai agenda pemberantasan korupsi. hilangnya ancaman pidana seumur hidup kecuali untuk penggelapan yang dilakukan oleh pejabat diatas lima miliar rupiah. Pertama. khususnya dalam KUHP. Menurut pantauan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) setidaknya empat perubahan radikal pada ancaman hukuman yang cenderung mengabaikan efek jera bagi koruptor. jika kita telisik lebih jauh. Satu perubahan kontroversial adalah penghentian penuntutan untuk korupsi dibawah 25 juta. Beberapa ancaman hukuman yang „dikorupsi‟ dengan tidak memberikan ancaman minimum tersebut antara lain. Alih-alih berubah menjadi lebih baik. harusnya beberapa poin yang dihapus dalam UU Korupsi yang telah ada tersebut dibahas lebih rinci terlebih dahulu sehingga tidak ada penghapusan kewenangan KPK dalam penuntutan. draf RUU ini menghilangkan pasal-pasal yang berkaitan dengan gratifikasi. Hilangnya Pasal 2 UU Tipikor yang selama ini menjadi senjata ampuh bagi aparat penegak hukum untuk menjerat koruptor. Dalam draf yang baru pasal ini dilebur. Dari aspek kuantitas hukuman. 2011 | Berita JAKARTA– Draf Rancangan Undang. seperti kadalwarsa masa penuntutan dan. dan ketentuan mengenai whistleblower. konflik kepentingan (Pasal 11). berkurangnya ancaman pidana minimum untuk beberapa tindak pidana suap. Ketiga. . Hakim Konstitusi Akil Mochtar menyesalkan hal tersebut. Padahal.

“RUU Tipikor ini juga harus memasukkan pasal pembuktian terbalik dan pengusutan kasus korupsi di swasta.Tapi. Dia menurutkan.” ungkapnya. orang akan berpikir ulang untuk melakukan korupsi.Salah satunya RUU Tipikor tidak secara jelas menyebut kewenangan KPK dalam bidang penuntutan kasus korupsi. Busyro mengaku heran dengan penghapusan salah satu pasal krusial yang meniadakan ancaman hukuman mati bagi koruptor. kami kecewa dengan kerja pemerintah yang akan merevisi UU Tipikor.” katanya.” ujarnya. Karena saya tidak melihat pasal ini ada di draf RUU Tipikor ini. Busyro menilai pasal hukuman mati bagi koruptor dalam UU Tipikor harusnya masih ada karena masih tetap diperlukan untuk memberi efek jera terhadap pelaku korupsi.Akibat korupsi ini bisa membunuh nasib banyak orang.“Terus terang saja. Draf RUU Tipikor yang kabarnya kini di meja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu melenceng jauh dari semangat reformasi. cara itu juga bisa diterapkan di Indonesia. Menanggapi kritikan berbagai elemen terkait draf RUU Tipikor. jika pasal seperti itu dimasukkan. Draf RUU Tipikor dinilai mengkhawatirkan sebab ada sembilan poin yang dinilai memperlemah pemberantasan korupsi. “Korupsi itu kejahatan luar biasa. “Saya tidak paham logika seperti apa yang dipakai penyusun draf RUU Tipikor ini. Jika memang pemerintah mempunyai komitmen memberantas korupsi. Ini domain pemerintah. Cara memberantasnya pun harus dengan cara luar biasa. draf RUU Tipikor yang saat ini sudah berada di tangan Presiden SBY bertolak belakang dengan semangat pemerintah memberantas korupsi. draf RUU Tipikor ini seharusnya memasukkan pasal-pasal yang memperkuat hukuman bagi koruptor. Anggota Komisi III DPR Bahrudin Nashory berjanji akan bersikap kritis terhadap RUU Tipikor yang sedang disiapkan pemerintah untuk dibahas di komisinya. Ringannya hukuman melalui vonis dan denda yang rendah menjadikan para koruptor tidak takut lagi dengan UU Tipikor.”kata Busyro seusai acara Karya Latihan Bantuan Hukum di LBH Jakarta kemarin. ”Buktinya tidak ada (terdakwa korupsi) yang lolos ketika dituntut KPK. Pelemahan tersebut bahkan bukan saja menimpa KPK. tapi juga semangat pemberantasan korupsi secara umum.mungkin itu kebijakan politik di Parlemen. Dia bahkan mencontohkan hukuman yang pantas diberikan kepada koruptor bisa dengan cara menyuruh mereka memakai kaos bertuliskan “saya pelaku korupsi” dan mereka diminta untuk membersihkan tempat-tempat umum setiap Sabtu– Minggu.”katanya. draf RUU Tipikor yang disusun pemerintah berpotensi melemahkan peran lembaga antikorupsi yang dipimpinnya. Jika mengacu pada pengalaman di China yang berhasil menghukum mati bagi 100 koruptor. Padahal selama ini KPK secara jelas berwenang untuk menyidik kasus korupsi di samping kepolisian dan kejaksaan. Pada kesempatan tersebut Busyro berharap RUU Tipikor nanti bisa memberikan semangat baru dalam upaya pemberantasan korupsi. Ini membuktikan bahwa semangat memberantas korupsi sudah mulai menurun. pemerintah .melainkan juga melemahkan komitmen pemerintah dalam memberantas praktik korupsi di Indonesia. Saya yakin. ”Semangatnya itu luntur.” kata Jamil. Meskipun draf RUU Tipikor ini belum final karena sedang digodok di Sekretariat Negara. Yang jelas saya menilainya draf ini bukan saja melemahkan KPK. pasal-pasal dalam draf RUU Tipikor ini berpotensi dipermainkan oleh para mafia hukum untuk kepentingan mereka. silakan tanya sendiri ke mereka.Apalagi dia menilai kinerja KPK dalam penuntutan perkara korupsi patut diacungi jempol. Peneliti Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) Jamil Mubarok menilai. Ketua KPK Busyro Muqoddas juga mengatakan.Karena itu. tetap saja hasil awalnya sudah mengecewakan publik. hukuman yang diberikan terhadap pelaku korupsi harus benar-benar memiliki efek jera dan sanksi sosial.

Sebab. Hal ini penting guna membangun sisten hukun nasional yang lebih utuh. pembalikan beban pembuktian sangat dibutuhkan sebab perkara ini tergolong rumit. 29 Maret 2011 Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembalikan Beban Pembuktian dalam Tindak Pidana Pencucian Uang Secara konseptual. cukup terdakwa sendiri yang harus membuktikannya.tapi kita eliminir.Selain itu. . Saat ini Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) masih menggodok RUU itu. boleh jadi hakim dapat dengan leluasa menghukum terdakwa bersalah karena persoalan tidak dapat membuktikan asal usul harta kekayaannya.“Korupsi mustahil bisa dihilangkan. yang bersumber dari kejahatan asal yang disebut predicate offense atau core crime. apabila terdakwa tidak dapat membuktikan asal usul uang yang disangka akan dicuci. Sehingga proses pembuktiannya pun tergolong rumit. Penggunaan metode pembalikan beban pembuktian juga menguntungkan bagi jaksa dalam hal mengembalikan uang negara apabila uang yang dicuci terdakwa dari hasil korupsi. Termasuk berubahan paradikma bagi para penegak hukum kita yang cenderung berfikir normative-dogmatik dalam menerapkan kaidah-kaidah hukum. maka uang/harta terdakwa dapat disita untuk diserahkan kepada negara. Apalagi bentuknya sebagai kejahatan berlanjut follow up crime.”ujar Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar seusai rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR Jakarta kemarin. Khusus perkara pencucian uang. penggunaan metode pembuktian terbalik dalam persidangan dipengadilan memberikan sedikit kemudahan kepada jaksa penuntut umum dalam hal pembuktian. Terutama dalam perkara tindak pidana pencucian uang dimana untuk membuktikan unsur asal usul kekeyaan terdakwa. Kelemahan: Pertama: bahwa dalam metode pembalikan beban pembuktian dalam perkara tindak pidana pencucian uang tidak selamanya menjamin bahwa seorang terdakwa yang didakwa telah melakukan upaya pencucian uang dapat membuktikan bahwa uangnya bukan berasal dari hasil kejahatan. Bila ini yang terjadi.menegaskan apa yang dilakukannya justru mempersempit celah perbuatan korupsi melalui RUU Nomor 20/2001 tentang Tipikor. efektif dan efesien dalam mewujudkan tujuan hukum. mengurangi atau mempersempit ruang untuk korupsi. dalam pembuktian. kholil/nurul huda/ adam prawira Sumber: Harian Seputar Indonesia – Selasa. penggunaan metode pembalikan beban pembuktian atau pembuktian terbalik (omkering van de bewijslast) dengan baik dapat membawa perubahan dalam sistem hukun nasional.

saya sudah pernah membahas di tulisan saya sebelumnya yang berjudul: “KPK: Lembaga Superbody / Superbodong?” Baca: http://hukum. hal ini mungkin dinilai tepat. Hal ini tentunya menyulitkan aparat penegak hukum (polisi. Saya mendukung langkah ini karena dengan demikian kita akan segera tahu siapa-siapa saja yang terlibat dalam perkara ini. para penyidik juga akan dapat “follow the suspects” yang pastinya akan membuka seluruh mata rantai dan misteri dalam kasus ini. . Ketiga: dalam praktek sehari-hari.Kedua: bahwa penggunaan metode pembalikan beban pembuktian dalam penanganan perkara tindak pidana pencucian uang jika tidak dilakukan dengan tepat dapat berakibat terhadap kurangnya implementasi hukum dalam menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Apalagi belum banyak perkara yang diputus di pengadilan yang menggunakan metode pembuktian terbalik terutama perkara-perkara pencucian uang. Untuk masalah ini. jaksa penuntut umun dan hakim) dalam mengimplementasikan aturan mengenai penggunaan pembalikan beban pembuktian terutama untuk perkara tindak pidana pencucian uang. penggunaan metode pembalikan beban pembutian memberi kemudahan kepada jaksa penuntut umum dalam menuduh seseorang meskipun belum tentu orang tersebut melakukan hal apa yang dituduhkan kepadanya. pelanggaran terhadap KPK Vs. Kelima: secara teoritis. Angelina Sondakh mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sebab. Secara awam. Keempat: belum adanya ketentua hukum terutama hukum acara yang mengatur secara khusus tentang penggunaan pembalikan beban pembuktian yang dapat dijadikan acuan para penegak hukum sehingga metode ini sukar untuk di implementasikan. metode pembalikan beban pembuktian diIndonesia masih tergolong baru. Namun. rupanya KPK akan membuat terobosan baru dalam Kasus ini yaitu dengan memasukkan Pasal Pencucian Uang dalam 1 pemberkasan yang sama guna “membongkar” siapa-siapa saja yang terlibat dalam perkara ini. pembalikan beban pembuktian bisa saja mengabaikan hak-hak dasar terdakwa. Dengan menggunakan Rezim “Follow the money”. Sehingga. sangat mungkin terjadi kesalahan dalam menuduh seseorang. Nama Mantan Putri Indonesia ini pun semakin santer terdengar sejak Penetapan status Tersangka pada dirinya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). termasuk hak untuk dilindungi nama baiknya.kompasiana. Banyak spekulasi dan Pro Kontra yang muncul seputar penetapan status Tersangka Angelina Sondakh hingga rencana akan dilakukannya Justice Collaborator oleh KPK. Pencucian Uang dan Pelanggaran Undang-undang Oleh: Tulus H Pardosi Kasus Korupsi dan Suap Wisma Atlet yang melibatkan nama Mantan Anggota Badan Anggaran dari Fraksi Partai Demokrat. Yenti Ganarsih. Hal ini pun didukung oleh Indonesian Corruption Watch (ICW) dan juga Pakar Pencucian Uang.com/2012/05/06/kpk-lembaga-superbodysuperbodong/ Belum lepas dari Kontroversi ini. Dalam hal ini.

dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Poin (C).  Pasal 38 ayat (1) dan (2) UU No. Tindak Pidana Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 30 Tahun 2002: Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. 30 Tahun 2002 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan : (1). penyidikan.apakah langkah ini sudah menggunakan landasan yuridis formal yang tepat dan tidak menyalahi Tata aturan perundang-undangan? Apakah memang tidak ada penyelundupan hukum dalam penerapan langkah ini? Mari kita coba bahas satu per satu. 30 Tahun 2002: Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas: (c).”  Pasal 1 ayat (1) UU No. mari kita melihat kita melihat Penjabaran di bawah ini:  Dasar pertimbangan pembentukan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. perlu dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang independen dengan tugas dan wewenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. DASAR BEKERJANYA KPK Sebelumnya. 30 Tahun 2002: .  Pasal 4 UU No.  Pasal 6 poin C UU No. melakukan penyelidikan.

) Segala kewenangan yang berkaitan dengan penyelidikan. 30 Tahun 2002 (1. Penyidikan. dan penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana tidak berlaku bagi penyidik tindak pidana korupsi sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini. penyidikan. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999. dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001. kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini. penyidikan. dan penuntutan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana berlaku juga bagi penyelidik. -undang Nomor 30 Tahun 2002 dikatakan KPK dibentuk untuk menangani Tindak Pidana Korupsi mulai dari Penyelidikan. UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG Bagi sebagian besar pihak. Berdasarkan hal-hal di atas. Dan TIDAK ADA penyebutan mengenai kewenangan KPK dalam menangani Tindak Pidana Pencucian Uang. maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002. dan penuntutan tindak pidana korupsi dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. kesimpulan di atas MUNGKIN dapat terbantahkan dengan hadirnya Pasal 74 dan Pasal 75 di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 sebagai berikut: Pasal 74 UU No. 8 Tahun 2010 . penyidik. maupun Penuntutan.(1.) Penyelidikan.  Pasal 39 ayat (1) UU No.

Penyidikan tindak pidana Pencucian Uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan ketentuan peraturan perundangundangan, kecuali ditentukan lain menurut Undang-Undang ini. Pasal 75 UU No. 8 Tahun 2010 Dalam hal penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana Pencucian Uang dan tindak pidana asal, penyidik menggabungkan penyidikan tindak pidana asal dengan penyidikan tindak pidana Pencucian Uang dan memberitahukannya kepada PPATK. Berdasarkan Pasal 74 dan Pasal 75 di atas, maka KPK sebagai Penyidik Tindak Pidana Asal (dalam hal ini Korupsi), dapat menggabungkan berkas perkara penyidikan bersama dengan Tindak Pidana Lanjutan yaitu Tindak Pidana Pencucian Uang. TAPI, jangan dulu kita menyimpulkan. Sebelumnya, mari lihat dasar pertimbangan dari pembentukan dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Poin (C) : Menimbang: (c). bahwa Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 perlu disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan penegakan hukum, praktik, dan standar internasional sehingga perlu diganti dengan undang-undang baru; Dalam pertimbangan di atas, tidak ada 1 pun Undang-undang mengenai Korupsi maupun Tindak Pidana asal lainnya yang disebut sebagai dasar pertimbangan pembentukan Undangundang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Selain itu, di dalam dasar pertimbangan pembentukan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tidak ditemukan ketentuan Undang-undang mengenai Korupsi maupun Tindak Pidana Asal lainnya dalam pembentukan Undang-undang tersebut. Yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 HANYALAH Pencucian Uang, tidak ada yang lain. Di situ juga tidak dikatakan mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang yang Tindak Pidana Asalnya adalah Tindak Pidana Korupsi. JIKA di dalam dasar pertimbangan pembentukan suatu Undang-undang, tidak disinggung mengenai hal yang akan diatur, lalu tiba-tiba hal itu diatur dalam Pasal, Bukankah itu dinamakan Pasal Siluman? Lalu, bagaimana Pasal 74 dan Pasal 75 bisa muncul di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010, sementara tidak menjadi dasar hukum pembentukan Undang-undang tersebut?

UNDANG-UNDANG NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI. Sebagaimana namanya, Undang-undang ini pastilah Undang-undang yang mengatur mengenai Tindak Pidana Korupsi, mulai dari pembentukannya, Hakim yang mengadili, hingga hukum acaranya. Dan nampaknya, Undang-undang ini bisa menjadi Angin segar bagi pihak-pihak yang tetap menginginkan KPK menggunakan Pasal Pencucian Uang dalam penyidikannya, yang walaupun sudah terbentur penjabaran-penjabaran di atas. Mari kita lihat ketentuan berikut: Pasal 5 UU No. 46 Tahun 2009: Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi. Pasal 6 UU No. 46 Tahun 2009: Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara: a. Tindak Pidana Korupsi; b. tindak pidana pencucian uangyang tindak pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi; dan/atau c. tindak pidana yang secara tegas dalam undang-undang lain ditentukan sebagai tindak pidana korupsi. Pasal 6 poin (b) di atas MUNGKIN merupakan Angin segar bagi KPK dalam merangkai Pencucian Uang ke dalam 1 berkas Korupsi. Namun, jika kita melihat pada Pasal 5, terjadi KEANEHAN. Pada Pasal 5 Dikatakan Bahwa“Pengadilan TIPIKOR adalah satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi.”TIDAK DISEBUTKAN bahwa “Pengadilan TIPIKOR adalah satu-satunya Pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi.”

Hal di atas bukankah menunjukkan telah terjadi penyelundupan hukum di dalam Undang-undang Nomor 46 Tahun 2009? Kemudian, melihat nama dari Undang-undang Nomor 46 Tahun 2009 adalah Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsidan BUKANTentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang yang Tindak Pidana Asalnya adalah Tindak Pidana Korupsi. Bukan bermaksud kaku, tapi hal ini sebagai ciri dari bahasa perundang-undangan, dengan ciri utama: (1) Bebas dari emosi. (2) Tanpa perasaan dan (3) Datar seperti rumusan matematik. Jadi, diharapkan suatu undang-undang tidak akan multi tafsir. Selain itu, Tindak Pidana Pencucian Uang maupun Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang TIDAK masuk menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pembentukan Undang-undang Nomor 46 Tahun 2009 ini. KESIMPULAN Berdasar uraian-uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

penuntutan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang PADAHAL Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi TIDAK mengakomodir itu? -undang Nomor 8 Tahun 2010 dapat tetap menjadi dasar KPK (dalam hal ini penyidik Tindak pidana asal: Korupsi) dalam melakukan pemeriksaan dan penggabungan perkara terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang? Dalam hal ini, Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 BUKANLAHLex Specialis dari Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 maupun Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001. Selain itu, Tindak Pidana Korupsi tidak mempunyai hubungan Umum => Khusus dengan Tindak Pidana Pencucian Uang, sebagaimana dimaksud Asas Lex

Specialis Derogat Lex Generallis (cth: UU Tipikor merupakan Lex Specialis dari Korupsi dalam KUHP). -undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, dapat mengakomodir Tindak Pidana Pencucian Uang, walaupun Tindak Pidana asalnya adalah Tindak Korupsi? Dalam hal ini, Undang-undang Pengadilan TIPIKOR jelas-jelas merujuk kepada Undang-undang TIPIKOR dan TIDAK ADA Ketentuan yang merujuk pada UU No. 15 Tahun 2002 / UU No. 25 Tahun 2003 (karena UU Pengadilan TIPIKOR dibuat pada Tahun 2009, sehingga Tidak mungkin dicontohkan dengan UU No. 8 Tahun 2010) . -pasal dan huruf-huruf “Siluman” dapat muncul di dalam Pasal 74 & 75 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 dan Pasal 6 huruf (b) Undang-undang Nomo 46 Tahun 2009? Hal ini jelas telah melanggar Asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik ini dirumuskan dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagai berikut: 1. Kejelasan tujuan; 2. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; 3. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; 4. Dapat dilaksanakan; 5. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; 6. Kejelasan rumusan; dan 7. Keterbukaan. Ada 3 hal yang akan saya bahas. Pertama, Asas Kejelasan Tujuan. Yang dimaksud dengan “kejelasan tujuan” adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.

dan memutus perkara tindak pidana korupsi. Asas kejelasan rumusan.Bagaimana suatu Undang-undang dapat mempunyai kejelasan tujuan jika terdapat Pasal-pasal “Siluman” di dalamnya? Kedua. SOLUSI Jika memang KPK masih ingin melakukan penjeratan terhadap para tersangka pelaku Korupsi dengan ikut menggunakan ketentuan mengenai Pencucian Uang. Ketiga. maka jangan mencampuradukkan dengan ketentuan pelanggaran lain. mengadili. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Melalui asas ini saya ingin mengatakan bahwa apabila jenis Undang-undangnya adalah Undang-undang Korupsi. Tindak Pidana Pencucian Uang yang Tindak Pidana Asalnya adalah Tindak Pidana Korupsi” . Asas Kesesuaian antara jenis dan materi muatan. mungkin sudah dapat langsung dimengerti oleh para pembaca sekalian. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. maka ada beberapa Solusi yang dapat dilakukan: -undang Nomor 30 Tahun 2002. DAN merevisi Pasal 5 menjadi: “Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa. Hal ini. maupun penuntutan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang yang Tindak Pidana Asalnya adalah Tindak Pidana Korupsi. penyidikan. Yang dimaksud dengan asas “kesesuaian antara jenis dan materi muatan” adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan Perundang-undangannya. -undang Nomor 46 Tahun 2009 dengan Menambah ketentuan dasar pertimbangan pembentukan Undang-undang tersebut.Yang dimaksud dengan asas “kejelasan rumusan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan sistematika dan pilihan kata atau terminologi. agar memasukkan Tugas dan wewenang untuk melakukan penyelidikan. LALU mengganti judul Undang-undang tersebut menjadi “Undang-undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang yang Tindak Pidana Asalnya adalah Tindak Pidana Korupsi”.

dan LPSK? Selain itu. Dalam hal ini. 2. tidak masalah apabila dalam 1 Tersangka. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. 3. PPATK. 5. hanya POLRI yang memiliki kewenangan luas dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan baik di dalam KUHAP maupun Undang-undang yang bersifat khusus. Undang-undang Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korups . KPK melakukan Pemeriksaan TIPIKOR-nya dan POLRI beserta KEJAGUNG melakukan pemeriksaan TPPUnya. 4. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 6. KEJAKSAAN AGUNG. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. POLRI.ATAU Solusi yang termudah adalah BEKERJA SAMA dengan POLRI dan KEJAKSAAN AGUNG dalam melakukan penyelidikan. BAHAN-BAHAN: 1. Hal ini dapat membentuk sinergi yang bagus dalam penyelesaian Tindak Pidana Korupsi maupun TPPU di Indonesia dan TENTUNYA dengan cara yang TIDAK melanggar Konstitusi. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Bukankah ada Perjanjian kerja sama 5 (lima) instansi antara KPK. penyidikan. maupun penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. 7. Lalu semuanya melaporkan dan kembali mendapat informasi dari PPATK.

Rochmat Soemitro S. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public savingyang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment. Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang. Menurut Prof. Namun bila terlalu rendah. Bila terlalu tinggi. Tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada masyarakat. Adanya kekuatan hukum mengikat dalam bentuk undang-undang menjadikan . Kondisi ini membuat diperlukannya ketegasan terhadap wajib pajak dalam pemungutan pajak dengan menerapkan ketentuan hukum (law enforcement) sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku. khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai berbagai pengeluaran negara termasuk pengeluaran pembangunan. Wajib pajak sering berupaya untuk menghindari pajak yang dikenakan kepadanya.. pajak juga bermanfaat sebagai alat pemerataan pendapatan dan pendorong investasi. Namun masih rendahnya pemahaman masyarakat akan pajak menyebabkan pajak masih dianggap sebagai suatu beban. maka pembangunan tidak akan berjalan karena dana yang kurang. Dr. 4 June 2010 Viewed 8032 times.H. M. sehingga seringkali ditemukan wajib pajak yang tidak melunasi pajak yang menjadi kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. SH Pajak mempunyai peranan yang sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan negara terbesar. SH. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang diberlakukan oleh hampir seluruh Negara di dunia.Hum dan Amelia Tobing. pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. H. 4 times today | 27 Comments | Jun Cai. masyarakat akan enggan membayar pajak. Selain sebagai salah satu sumber penerimaan Negara. hal ini tentunya merugikan Negara karena Negara akan kehilangan potensi pemasukan dari sektor pajak. dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 1 angka 1 UU Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas UU Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan).Tindak Pidana Perpajakan Oleh Wajib Pajak Friday.

dan pemeriksaan kantor terhadap suatu jenis pajak tertentu baik tahun berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak. mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sanksi administrasi dijatuhkan untuk pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya ringan. Laporan terhutang hasil pemeriksaan disusun dalam suatu laporan pemeriksaan pajak oleh pemeriksa pajak secara ringkas. Ruang lingkup pemeriksaan meliputi pemeriksaan lapangan terhadap suatu jenis pajak atau seluruh jenis pajak. dikenakan sanksi pidana. Dan untuk mengetahui telah terjadinya suatu tindak pidana di bidang perpajakan maka perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari. dan jelas serta sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan. sedangkan yang menyangkut tindak pidana di bidang perpajakan. Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak sepanjang menyangkut tindakan administrasi perpajakan dikenakan sanksi administrasi. Tujuan pemeriksaan yaitu untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka memberikan kepastian hukum. Khusus untuk pemeriksa pajak adalah PNS di lingkungan DJP atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak yang diberi tugas wewenang.pajak memiliki sifat dasar dipaksakan yang berarti apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban pembayaran pajak. maka dapat dikenai sanksi terhadapnya. tetapi yang isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan keterangan yang tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada negara dan kejahatan lain yang diatur dalam undang-undang yang mengatur perpajakan. untuk tahun berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya lain yang dilakukan di tempat wajib pajak. mengumpulkan. Hukum pidana merupakan ancaman bagi wajib pajak yang bertindak tidak jujur. disamping sanksi administratif terdapat juga sanksi pidana. Berikut kutipan lengkapnya: Yang dimaksud dengan “tindak pidana perpajakan” adalah informasi yang tidak benar mengenai laporan yang terkait dengan pemungutan pajak dengan menyampaikan surat pemberitahuan. 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas UU Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Tujuan lainnya adalah dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dan pembinaan kepada wajib pajak. Dalam hukum pajak. Pemeriksaan Tindak Pidana Perpajakan Definisi tindak pidana perpajakan secara jelas dapat dilihat pada penjelasan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang No. . dan tanggungjawab untuk melaksanakan pemeriksaan di bidang perpajakan. keadilan. Adanya tindak pidana perpajakan ini dapat dilihat dalam ketentuan UU No.

03/2007 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan mendefenisikan Bukti Permulaan sebagai keadaan. perbuatan.1. pembuatan laporan sumir apabila tidak ditemukan adanya indikasi tindak pidana di bidang perpajakan. polisi dapat mendampingi atau membantu penyidik pajak. diputuskan diterima. Pemeriksaan Bukti Permulaan Dalam pemeriksaan tindak pidana di bidang perpajakan terdapat pemeriksaan bukti permulaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. Penyidikan tindak pidana perpajakan dilaksanakan berdasarkan surat perintah penyidikan yang ditandatangani oleh Dirjen Pajak atau Kepala kantor Wilayah DJP. atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. pengaduan. Penyidik pajak tidak sebebas-bebasnya melakukan tugasnya. informasi. maka secara otomatis kasus tersebut akan ditutup. atau pengembangan penyidikan. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. Setelah itu. membuat berkas kasus pidana merupakan pekerjaan sehari-hari. Terutama masalah pemberkasan. “Bahan baku” Pemeriksaan Bukti Permulaan sebenarnya berasal dari usulan Kantor Pelayanan Pajak dan pengaduan masyarakat. yang dapat dilaksanakan baik untuk seluruh jenis pajak maupun satu jenis pajak. Tetapi tidak semua usulan dari Kantor Pelayanan Pajak diterima dan langsung diperiksa oleh Kanwil DJP. Penyidikan Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. laporan kegiatan intelijen. Setidaknya inilah praktek yang terjadi saat ini. Pemeriksaan bukti permulaan dilakukan oleh Kantor Wilayah atau Direktorat Intelijen dan Penyidikan. pengembangan pemeriksaan bukti permulaan. Ada juga yang ditolak karena dianggap tidak layak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan. setiap pengusul harus melakukan pemaparan dihadapan tim pemeriksa Kanwil. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 202/PMK. 1. Kalau di Bandung dan beberapa Kanwil. laporan. tetapi ia harus memberitahukan kepada jaksa penuntut umum bila memulai penyidikan dan wajib pula menyampaikan hasil/laporan penyidikannya kepada jaksa penuntut umum. atau tindakan lain berupa: penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKP). penyidik pajak kurang pengalaman karena sedikitnya kasus-kasus pidana pajak yang diajukan ke pengadilan negeri. atau ditunda dulu atau ditolak. Tindak lanjut dari pemeriksaan bukti permulaan adalah yaitu diusulkan dilakukannya penyidikan. Pemeriksaan bukti permulaan dapat dilaksanakan berdasarkan hasil analisis data. . 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan bukti permulaan dapat diketahui tindak lanjut yang harus dilakukan. Apabila dari bukti permulaan tidak menunjukkan adanya tindak pidana yang dilakukan wajib pajak. dan/atau bukti berupa keterangan. pembuatan laporan sumir apabila wajib pajak mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya. Tetapi jika diperlukan. 1. Sedangkan bagi polisi. pembuatan laporan tindak pidana selain tindak pidana di bidang perpajakan yang akan diteruskan kepada pihak yang berwenang. tulisan. Selanjutnya jaksa penuntut umum yang akan menentukan apakah masalahnya sudah matang untuk diajukan ke pengadilan.

hasil penyidikan tidak diproses di pengadilan/dihentikan. Read more: http://baltyra.Proses penyidikan mengandung dua klausul yakni: Penyidikan yang berakhir dengan diserahkannya hasil penyidikan ke pengadilan atau untuk kepentingan penerimaan negara atas permintaan Menteri Keuangan. dengan catatan wajib pajak yang disidik telah melunasi utang pajaknya dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak.com/2010/06/04/tindak-pidana-perpajakan-oleh-wajibpajak/#ixzz1vVCHP7t4                Home Direktori Referensi Berita Event Forum Download Careers ISSN : 1978-5844 :: 22 Mei 2012 Peraturan Tax Treaty Kurs K M K Kurs Bank Indonesia Panduan Artikel Username : Password : » Lupa Password ?? » klik disini !! .

2012 Sumber dari 546/KM.2012 .ORTax.org Kurs Minggu Ini : Mata Uang EUR USD GBP AUD SGD Masa Berlaku : 21.51 Polling : Pelatihan Pajak ORTax .17 Maret 2011 Training apa yang Anda inginkan untuk 3 (tiga) bulan kedepan ? .05.3 9230 14828.77 9225.27.64 7351.Web www.05.1/2012 Nilai (Rp.) 11884.

. bahwa dalam rangka untuk lebih memberikan keadilan dan meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dan untuk lebih memberikan kepastian hukum serta mengantisipasi perkembangan di bidang teknologi informasi dan perkembangan yang terjadi dalam ketentuan-ketentuan material di bidang perpajakan perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000.28 TAHUN 2007 Telah beberapa kali mengalami perubahan atau penyempurnaan. Pasal 20. Mengingat : 1. Untuk melihat peraturan-peraturan yang merubah atau menyempurnakan. Klik disini !! UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 5 ayat (1). bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. dan Pasal 23A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.28 TAHUN 2007.PPh Pasal 21 & PPh Potput Akuntansi Pajak e-SPT Faktur Pajak & Permasalahnnya Tax Planning & Pemeriksaan Peraturan Perpajakan Undang-Undang . 17 Juli 2007 | Peraturan Terkait | Status | Historis | Undang-Undang . perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Menimbang : a. b.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3566). . dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. kongsi. b. diubah sebagai berikut: 1. perseroan komanditer. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-Undang: a. perkumpulan. organisasi massa. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN. dana pensiun. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. pemotong pajak. Nomor 9 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 59. koperasi. Ketentuan Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. meliputi pembayar pajak. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49. yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun. 3. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang. organisasi sosial politik. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984). Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan. atau organisasi lainnya. dan pemungut pajak. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas.2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49. yayasan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984). perseroan lainnya. firma. persekutuan.

Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. 16. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. 11. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. 7. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. melakukan usaha perdagangan. dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung. 20. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak. jumlah kredit pajak. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang . Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. mengekspor barang. 15. dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dalam Masa Pajak. Surat Ketetapan Pajak Nihil. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. 12. 13. objek pajak dan/atau bukan objek pajak. besarnya sanksi administrasi. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. dalam Tahun Pajak. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. mengimpor barang. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. 21. 6. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat. 19. 22. 8. menyetor. 9. dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 10. 5. 14. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak. atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. 17. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean.4. melakukan usaha jasa. 18.

Surat Keputusan Keberatan. Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. yang dikurangkan dari pajak yang terutang. kewajiban. yang dikurangkan dari pajak yang terutang. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data. atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. 26. Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. Surat Tagihan Pajak. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta. 25. perbuatan. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut. 31.dibayar. 33. termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. 29. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak. keterangan. serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. 34. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak. Bukti Permulaan adalah keadaan. 30. atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. 23. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan. tulisan. dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. 32. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak . 28. kesalahan hitung. 27. dan/atau bukti berupa keterangan. penghasilan dan biaya. 24. yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca. ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis. dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. modal. Surat Keputusan Pembetulan.

dan/atau b. tanggal faksimili. 40. 41. keputusan. keputusan. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak. (4) Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan apabila Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ayat (2). bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman. Putusan Gugatan adalah putusan badan peradilan pajak atas gugatan terhadap hal-hal yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat diajukan gugatan. Ketentuan Pasal 2 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 2 (1) Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak. 35. 36. Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pos pengiriman. tempat pendaftaran pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan. (2) Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan UndangUndang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. ayat (3). (5) Jangka waktu pendaftaran dan pelaporan serta tata cara pendaftaran dan pengukuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). paling lama 5 (lima) tahun sebelum diterbitkannya Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkannya sebagai Pengusaha Kena Pajak.ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak. atau dalam hal disampaikan secara langsung adalah tanggal pada saat surat. dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. atau putusan disampaikan secara langsung. 37. tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha selain yang ditetapkan pada ayat (1) dan ayat (2). 38. ayat (2). 39. wajib melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha. (4a) Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dimulai sejak saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. Putusan Peninjauan Kembali adalah putusan Mahkamah Agung atas permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak terhadap Putusan Banding atau Putusan Gugatan dari badan peradilan pajak. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga adalah surat keputusan yang menentukan jumlah imbalan bunga yang diberikan kepada Wajib Pajak. (3) Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan: a. atau dalam hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat. 2. atau putusan diterima secara langsung. dan ayat (4) . tanggal faksimili.

(1a) Wajib Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah. diajukan permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak oleh Wajib Pajak dan/atau ahli warisnya apabila Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. . (7) Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dalam jangka waktu 6 (enam) bulan untuk Wajib Pajak orang pribadi atau 12 (dua belas) bulan untuk Wajib Pajak badan. Ketentuan Pasal 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 3 (1) Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar. (6) Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak apabila: c. dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin. dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. yakni Pasal 2A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 2A Masa Pajak sama dengan 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan paling lama 3 (tiga) bulan kalender. satuan mata uang Rupiah. (9) Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas permohonan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. lengkap. sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. d. yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Wajib Pajak badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha. e. wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah yang diizinkan.termasuk penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan Nomor Pokok Wajib Pajak dari Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. angka Arab. atau f. dan jelas. Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 1 (satu) pasal. (8) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat melakukan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Wajib Pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia.

bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak. untuk Surat Pemberitahuan Masa. (2) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (1a) mengambil sendiri Surat Pemberitahuan di tempat yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau mengambil dengan cara lain yang tata cara pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dan cara yang digunakan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (3a) Wajib Pajak dengan kriteria tertentu dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam 1 (satu) Surat Pemberitahuan Masa. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan. (3) Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah: .(1b) Penandatanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara biasa. Surat Pemberitahuan disampaikan setelah Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan atau menerbitkan surat ketetapan pajak. (4) Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk paling lama 2 (dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain kepada Direktur Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (6) Bentuk dan isi Surat Pemberitahuan serta keterangan dan/atau dokumen yang harus dilampirkan. paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak. (5a) Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan sesuai batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). e. (3c) Batas waktu dan tata cara pelaporan atas pemotongan dan pemungutan pajak yang dilakukan oleh bendahara pemerintah dan badan tertentu diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dengan tanda tangan stempel. paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak. dan Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis. Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar disampaikan setelah 3 (tiga) tahun sesudah berakhirnya Masa Pajak. Direktur Jenderal Pajak wajib memberitahukan kepada . paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak. (3b) Wajib Pajak dengan kriteria tertentu dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3a) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi. (5) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus disertai dengan penghitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang. d. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (7a) Apabila Surat Pemberitahuan dianggap tidak disampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7). atau f. Surat Pemberitahuan tidak sepenuhnya dilampiri keterangan dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (6). yang semuanya mempunyai kekuatan hukum yang sama. dapat diterbitkan Surat Teguran. yang tata cara pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Surat Pemberitahuan tidak ditandatangani sebagaimana dimaksud pada ayat (1). a. (7) Surat Pemberitahuan dianggap tidak disampaikan apabila: c. atau b. atau tanda tangan elektronik atau digital.

Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 6 (1) Surat Pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh Wajib Pajak ke kantor Direktorat Jenderal Pajak harus diberi tanggal penerimaan oleh pejabat yang ditunjuk dan kepada Wajib Pajak diberikan bukti penerimaan. (3) Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat untuk penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan sepanjang Surat Pemberitahuan tersebut telah lengkap. Surat Pemberitahuan dianggap tidak lengkap dan tidak jelas.000. (4) Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan harus dilampiri dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak. (4b) Dalam hal laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4a) diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak dilampirkan pada Surat Pemberitahuan. jelas. (2) Penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan tanda bukti pengiriman surat atau dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp500. (5) Tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dan menandatanganinya. Ketentuan Pasal 7 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 7 (1) Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4). (3) Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi dan menandatangani Surat Pemberitahuan. Ketentuan Pasal 4 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar. (8) Dikecualikan dari kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Wajib Pajak Pajak Penghasilan tertentu yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.00 (lima ratus . lengkap. (4a) Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah laporan keuangan dari masing-masing Wajib Pajak. (2) Surat Pemberitahuan Wajib Pajak badan harus ditandatangani oleh pengurus atau direksi.Wajib Pajak. sehingga Surat Pemberitahuan dianggap tidak disampaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (7) huruf b. surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan.

(1a) Dalam hal pembetulan Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan rugi atau lebih bayar. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia.000. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak tinggal lagi di Indonesia. Wajib Pajak lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Wajib Pajak yang terkena bencana.00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya. b.ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan. d. dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak. kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. Wajib Pajak . Rp100. (2) Pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan terhadap: . Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. (4) Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan.000.00 (satu juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan serta sebesar Rp100. c. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi. dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran. Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia. Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar.000.000. tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. (2a) Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Masa yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar. atau g. f. e. a. pembetulan Surat Pemberitahuan harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan. kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 8 (1) Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis. dan sebesar Rp1. (3) Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. (2) Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar.00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.

serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Putusan Banding. dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran. Putusan Banding. b.dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Ketentuan Pasal 9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 9 (1) Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak. pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan yang akan dibetulkan tersebut. (2b) Atas pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan. harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan. (5) Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar. (6) Wajib Pajak dapat membetulkan Surat Pemberitahuan Tahunan yang telah disampaikan. jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil dan proses pemeriksaan tetap dilanjutkan. Surat Keputusan Pembetulan. jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil. dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima surat ketetapan pajak. paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran. atau Putusan Peninjauan Kembali. Surat Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan Pembetulan. dalam hal Wajib Pajak menerima surat ketetapan pajak. Surat Keputusan Keberatan. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar. yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. a. (2) Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan. harus dilunasi . (2a) Pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Surat Tagihan Pajak. yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak. atau c. atau Putusan Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa Tahun Pajak sebelumnya. Putusan Banding. yang dapat mengakibatkan: . dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. serta Putusan Peninjauan Kembali. Surat Keputusan Keberatan. dan Surat Keputusan Keberatan.

(2) Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (1a) dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak diterima sehubungan dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1). atau sejak diterbitkannya Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C atau Pasal 17D. Ketentuan Pasal 10 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 10 (1) Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. (1a) Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi. Surat Keputusan Pembetulan. (3a) Bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu. kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak.dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. dan Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dan pelaporannya serta tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak tersebut. (2) Tata cara pembayaran. atau Pasal 17D dikembalikan. penyetoran pajak. Pasal 17C. Ketentuan Pasal 11 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 11 (1) Atas permohonan Wajib Pajak. langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak tersebut. Surat Keputusan Pembetulan. (1a) Kelebihan pembayaran pajak sebagai akibat adanya Surat Keputusan Keberatan. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (4) Direktur Jenderal Pajak atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 12 (dua belas) bulan. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. Pasal 17B. serta Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga dikembalikan kepada Wajib Pajak dengan ketentuan jika ternyata Wajib Pajak mempunyai utang pajak. atau sejak diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan. jangka waktu pelunasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diperpanjang paling lama menjadi 2 (dua) bulan yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Pemberian . atau sejak diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) dan Pasal 17B. dengan ketentuan bahwa apabila ternyata Wajib Pajak mempunyai utang pajak.

apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e ditambah dengan . atau sejak diterimanya Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali. Direktur Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang. dan ditambah 1 (satu) ayat. (4) Tata cara penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak. yakni ayat (6) sehingga Pasal 13 berbunyi sebagai berikut: Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. apabila kepada Wajib Pajak diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4a). apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau Pasal 29 tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang. (2) Jumlah Pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan yang disampaikan oleh Wajib Pajak adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (3) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah jangka waktu 1 (satu) bulan.Imbalan Bunga. Ketentuan Pasal 12 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 12 (1) Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. atau Tahun Pajak. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenai tarif 0% (nol persen). Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dalam hal-hal sebagai berikut: . dihitung sejak batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berakhir sampai dengan saat dilakukan pengembalian kelebihan. bagian Tahun Pajak. a. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Ketentuan Pasal 13 diubah. atau d. b. Pemerintah memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas keterlambatan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. c. dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak. (3) Apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar.

atau g. dan huruf d ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar: e. f. 100% (seratus persen) dari Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang tidak atau kurang dibayar. dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. (3) Jumlah pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. apabila Wajib Pajak setelah jangka waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. tidak atau kurang dipungut. (4) Besarnya pajak yang terutang yang diberitahukan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuan menjadi pasti sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Walaupun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat. bagian Tahun Pajak. Ketentuan Pasal 14 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 14 (1) Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak apabila: . tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. 50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak. (6) Tata cara penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. yakni Pasal 13A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 13A Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan. Di antara Pasal 13 dan Pasal 14 disisipkan 1 (satu) pasal. 100% (seratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dipotong. dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetor. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar. tidak atau kurang disetor.sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. bagian Tahun Pajak. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. tidak dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tersebut pertama kali dilakukan oleh Wajib Pajak dan Wajib Pajak tersebut wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. huruf c. atau Tahun Pajak tidak diterbitkan surat ketetapan pajak.

selain: 1. identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. bagian Tahun Pajak. tetapi tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak. a. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. selain wajib menyetor pajak yang terutang.. atau huruf f masing-masing. (2) Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak. (6) Tata cara penerbitan Surat Tagihan Pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. c. (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. dihitung dari tanggal penerbitan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai dengan tanggal penerbitan Surat Tagihan Pajak. e. Pengusaha Kena Pajak yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (6a) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. atau f. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. b. (4) Terhadap pengusaha atau Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. tetapi tidak tepat waktu. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga. identitas pembeli serta nama dan tandatangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b dan huruf g UndangUndang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. bagian Tahun Pajak. (5) Terhadap Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang ditagih kembali. atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Tagihan Pajak. Pengusaha Kena Pajak melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur pajak. dalam hal penyerahan dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak pedagang eceran. dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. d. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. dari hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. Ketentuan Pasal 15 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 15 (1) Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. huruf e. atau 2. atau Tahun Pajak apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat .

(4) Apabila diminta oleh Wajib Pajak. Direktur Jenderal Pajak dapat membetulkan surat ketetapan pajak. Ketentuan Pasal 16 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 16 (1) Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya. setelah meneliti . harus memberi keputusan atas permohonan pembetulan yang diajukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah lewat. Surat Keputusan Pembetulan. (3) Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dikenakan apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan itu diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. (2) Berdasarkan permohonan Wajib Pajak. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. Surat Tagihan Pajak. (5) Tata cara penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Surat Keputusan Keberatan. yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis. dalam hal Wajib Pajak setelah jangka waktu 5 (lima) tahun tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. (2) Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permohonan pembetulan diterima. kesalahan hitung. setelah melakukan pemeriksaan. tetapi Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. Direktur Jenderal Pajak. (4) Apabila jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat. menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak.Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar. Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis mengenai hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. permohonan pembetulan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. Ketentuan Pasal 17 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 17 (1) Direktur Jenderal Pajak.

permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar harus diterbitkan paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. (1a) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap Wajib Pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan. menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Nihil apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang. Ketentuan Pasal 17B diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 17B (1) Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. dilanjutkan dengan penyidikan. selain permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C dan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D. harus menerbitkan surat ketetapan pajak paling lama 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap. (4) Apabila pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) tidak dilanjutkan dengan penyidikan. tetapi tidak dilanjutkan dengan penuntutan tindak pidana di bidang perpajakan. kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak. (2) Tata cara penerbitan Surat Ketetapan Pajak Nihil diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (3) Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar masih dapat diterbitkan lagi apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau data baru ternyata pajak yang lebih dibayar jumlahnya lebih besar daripada kelebihan pembayaran pajak yang telah ditetapkan.kebenaran pembayaran pajak. Ketentuan Pasal 17A diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 17A (1) Direktur Jenderal Pajak. (3) Apabila Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar terlambat diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tetapi diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. (2) Apabila setelah melampaui jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. atau dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan tindak pidana di bidang perpajakan. dan dalam hal kepada Wajib Pajak diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. setelah melakukan pemeriksaan. menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila terdapat pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan saat diterbitkan Surat .

(4) Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. f. tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan. (6) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak apabila: d. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. (5) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). atau g.Ketetapan Pajak Lebih Bayar. yakni Pasal 17D dan Pasal 17E yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 17D . jumlah kekurangan pajak ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pembayaran pajak. terhadap Wajib Pajak tersebut dilakukan tindakan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak. tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. (7) Tata cara penetapan Wajib Pajak dengan kriteria tertentu diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut. terlambat menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa untuk suatu jenis pajak tertentu 3 (tiga) Masa Pajak dalam 1 (satu) tahun kalender. Di antara Pasal 17C dan Pasal 18 disisipkan 2 (dua) pasal. menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Penghasilan. a. setelah melakukan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. dan menerbitkan surat ketetapan pajak. b. terlambat menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan. dan c. Ketentuan Pasal 17C diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 17C (1) Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari Wajib Pajak dengan kriteria tertentu. (2) Kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: . (3) Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. terlambat menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa untuk suatu jenis pajak tertentu 2 (dua) Masa Pajak berturut-turut. dan paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Pertambahan Nilai.

Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. jumlah pajak yang kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen). b. Pasal 17E Orang pribadi yang bukan subjek pajak dalam negeri yang melakukan pembelian Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean yang tidak dikonsumsi di daerah pabean dapat diberikan pengembalian Pajak Pertambahan Nilai yang telah dibayar. Wajib Pajak badan dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu. (5) Jika berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. Surat Keputusan Keberatan. a. jumlah penyerahan. (2) Dihapus. atau c. (4) Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menerbitkan surat ketetapan pajak setelah melakukan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. Ketentuan Pasal 18 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) Surat Tagihan Pajak. Ketentuan Pasal 19 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 19 (1) Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Surat Keputusan . Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. dan jumlah lebih bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dan Surat Keputusan Pembetulan. merupakan dasar penagihan pajak. yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah. menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Penghasilan. (2) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak adalah: . dan paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Pertambahan Nilai. serta Surat Keputusan Pembetulan. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Putusan Banding. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu. serta Putusan Peninjauan Kembali. (3) Batasan jumlah peredaran usaha. serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dengan jumlah penyerahan dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu.(1) Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu.

terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selamalamanya atau berniat untuk itu. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia. pada saat jatuh tempo pelunasan tidak atau kurang dibayar. Ketentuan Pasal 20 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 20 (1) Atas jumlah pajak yang masih harus dibayar. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usaha atau menggabungkan atau memekarkan usaha. (2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). a. (3) Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan menunda penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan dan ternyata penghitungan sementara pajak yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) kurang dari jumlah pajak yang sebenarnya terutang atas kekurangan pembayaran pajak tersebut. atau d. (2) Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang masih harus dibayar dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah. serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. serta Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah. penagihan seketika dan sekaligus dilakukan apabila: . Putusan Banding. atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau yang dikuasainya. badan usaha akan dibubarkan oleh negara. yang berdasarkan Surat Tagihan Pajak. yang tidak dibayar oleh Penanggung Pajak sesuai dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) atau ayat (3a) dilaksanakan penagihan pajak dengan Surat Paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk seluruh masa. yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal pelunasan atau tanggal diterbitkannya Surat Tagihan Pajak. dan Surat Keputusan Pembetulan. Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali. atau melakukan perubahan bentuk lainnya.Keberatan. Surat Keputusan Keberatan. b. dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari saat berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b dan huruf c sampai dengan tanggal dibayarnya kekurangan pembayaran tersebut dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. c. Ketentuan Pasal 21 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: . (3) Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

dalam hal Surat Paksa untuk membayar diberitahukan secara resmi maka jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dihitung sejak pemberitahuan Surat Paksa. bubar. dan biaya penagihan pajak. (4) Hak mendahulu hilang setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal diterbitkan Surat Tagihan Pajak. ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak langsung. serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. denda. (2) Daluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila: . atau dilikuidasi maka kurator.Pasal 21 (1) Negara mempunyai hak mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak. Ketentuan Pasal 22 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 22 (1) Hak untuk melakukan penagihan pajak. (2) Ketentuan tentang hak mendahulu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pokok pajak. (3a) Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit. pembubaran atau likuidasi kepada pemegang saham atau kreditur lainnya sebelum menggunakan harta tersebut untuk membayar utang pajak Wajib Pajak tersebut. Surat Keputusan Pembetulan. yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu warisan. atau . Surat Keputusan Keberatan. biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud. (3) Hak mendahulu untuk utang pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya. atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4). atau d. daluwarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penerbitan Surat Tagihan Pajak. (5) Perhitungan jangka waktu hak mendahulu ditetapkan sebagai berikut: c. dan biaya penagihan pajak. sanksi administrasi berupa bunga. serta Putusan Peninjauan Kembali. dan Surat Keputusan Pembetulan. dan/atau b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. kecuali terhadap: . dalam hal diberikan penundaan pembayaran atau persetujuan angsuran pembayaran maka jangka waktu 5 (lima) tahun tersebut dihitung sejak batas akhir penundaan diberikan. denda. atau Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5). Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. a. kenaikan. biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak. termasuk bunga. diterbitkan Surat Paksa. likuidator. Surat Keputusan Keberatan. kenaikan. Putusan Banding. Putusan Banding. atau orang atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan dilarang membagikan harta Wajib Pajak dalam pailit. biaya perkara. b. a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan.

atau Pengumuman Lelang. c. b. (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak yang terutang. dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.c. . b. Surat Ketetapan Pajak Nihil. Ketentuan Pasal 25 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 25 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu: . atau jumlah rugi menurut penghitungan Wajib Pajak dengan disertai alasan yang menjadi dasar penghitungan. Ketentuan Pasal 24 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 24 Tata cara penghapusan piutang pajak dan penetapan besarnya penghapusan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. a. selain yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26. (3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. Ketentuan Pasal 23 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 23 (1) Dihapus. pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. pelaksanaan Surat Paksa. a. atau c. penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan hanya dapat diajukan kepada badan peradilan pajak. atau d. (3) Dihapus. jumlah pajak yang dipotong atau dipungut. (2) Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap: . keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan. keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.

(4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b dan huruf d. jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) atau ayat (3a) atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. Di antara Pasal 26 dan Pasal 27 disisipkan 1 (satu) pasal. tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan. Wajib Pajak wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. (9) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. (4) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penghitungan rugi. Ketentuan Pasal 26 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 26 (1) Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. atau melalui cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan menjadi tanda bukti penerimaan surat keberatan. menolak atau menambah besarnya jumlah pajak yang masih harus dibayar. keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. (5) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan. (6) Apabila diminta oleh Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan keberatan. (2) Sebelum surat keputusan diterbitkan. (5) Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang ditunjuk untuk menerima surat keberatan atau tanda pengiriman surat keberatan melalui pos dengan bukti pengiriman surat. sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (9) tidak dikenakan.(3a) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak. Wajib Pajak yang bersangkutan harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak tersebut. (8) Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) tidak termasuk sebagai utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dan ayat (1a). atau ayat (3a) bukan merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak. ayat (3). (7) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. sebelum surat keberatan disampaikan. ayat (2). yakni Pasal 26A yang berbunyi sebagai berikut: . Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis. (10) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding. (3) Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau sebagian. atau pemotongan atau pemungutan pajak.

(2) Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan pengadilan khusus di lingkungan peradilan tata usaha negara. ayat (3a). (5) Dihapus. (3) Apabila Wajib Pajak tidak menggunakan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5a) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan banding. (6) Badan peradilan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan dalam Pasal 23 ayat (2) diatur dengan undang-undang. (5d) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. data.Pasal 26A (1) Tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. informasi. mengatur tentang pemberian hak kepada Wajib Pajak untuk hadir memberikan keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas paling lama 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan Keberatan diterima dan dilampiri dengan salinan Surat Keputusan Keberatan tersebut. proses keberatan tetap dapat diselesaikan. informasi. atau keterangan lain dimaksud tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatannya. (4a) Apabila diminta oleh Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan permohonan banding. catatan. atau keterangan lain dalam proses keberatan yang tidak diberikan pada saat pemeriksaan. (4) Wajib Pajak yang mengungkapkan pembukuan. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. . Ketentuan Pasal 27 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 27 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan peradilan pajak atas Surat Keputusan Keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1). catatan. selain data dan informasi yang pada saat pemeriksaan belum diperoleh Wajib Pajak dari pihak ketiga. data. (2) Tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Dihapus. atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. (5c) Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan permohonan banding belum merupakan pajak yang terutang sampai dengan Putusan Banding diterbitkan. atau Pasal 25 ayat (7). jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). pembukuan. antara lain. (5b) Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5a) tidak termasuk sebagai utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dan ayat (1a). Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar Surat Keputusan Keberatan yang diterbitkan.

kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dengan ketentuan sebagai berikut: . untuk Surat Tagihan Pajak dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pembetulan. atau a. atau Putusan Peninjauan Kembali. permohonan banding. atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak yang dikabulkan sebagian atau seluruhnya menyebabkan kelebihan pembayaran pajak dengan ketentuan sebagai berikut: b. untuk Surat Ketetapan Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pembetulan. untuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Putusan Banding. untuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pembetulan. c. atau Putusan Peninjauan Kembali yang mengabulkan sebagian atau seluruh permohonan Wajib Pajak. atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. (2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga diberikan atas pembayaran lebih sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) dan/atau bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) berdasarkan Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkan Surat Keputusan Keberatan.Ketentuan Pasal 27A diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 27A (1) Apabila pengajuan keberatan. atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. . untuk Surat Ketetapan Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan. atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak. Putusan Banding. Putusan Banding. selama pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. Surat Ketetapan Pajak Nihil. atau d. atau permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. atau Putusan Peninjauan Kembali. (1a) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga diberikan atas Surat Keputusan Pembetulan.

(6) Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. atau di tempat kedudukan Wajib Pajak badan. penghasilan dan biaya. dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia.(3) Tata cara penghitungan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dan pemberian imbalan bunga diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final. (8) Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan. Ketentuan Pasal 28 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 28 (1) Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. (12) Bentuk dan tata cara pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. modal. Ketentuan Pasal 29 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 29 . (11) Buku. kewajiban. dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang pribadi. (3) Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya. serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. (10) Dihapus. (7) Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta. (2) Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas. adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. angka Arab. (4) Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin. (9) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang. catatan. tetapi wajib melakukan pencatatan. satuan mata uang Rupiah.

terpilih untuk diperiksa berdasarkan analisis risiko dapat dilakukan pemeriksaan melalui Pemeriksaan Kantor. (3b) Dalam hal Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sehingga tidak dapat dihitung besarnya penghasilan kena pajak. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. dan/atau b. (3) Wajib Pajak yang diperiksa wajib: . yakni Pasal 29A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 29A Terhadap Wajib Pajak badan yang pernyataan pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan efektif oleh badan pengawas pasar modal dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan dilampiri Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian yang: . (4) Apabila dalam mengungkapkan pembukuan. penghasilan kena pajak tersebut dapat dihitung secara jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. pekerjaan bebas Wajib Pajak. dan keterangan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipenuhi oleh Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan sejak permintaan disampaikan. Di antara Pasal 29 dan Pasal 30 disisipkan 1 (satu) pasal. (2) Untuk keperluan pemeriksaan. (3a) Buku. pencatatan. atau objek yang terutang pajak. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan. petugas pemeriksa harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan serta memperlihatkannya kepada Wajib Pajak yang diperiksa. kegiatan usaha. dan dokumen. Surat Pemberitahuan Tahunan Wajib Pajak menyatakan lebih bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B. atau dokumen serta keterangan yang diminta. catatan. dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh. memberikan keterangan lain yang diperlukan. serta data. atau a.(1) Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakannya. Ketentuan Pasal 30 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 30 . a. informasi. maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dokumen yang menjadi dasarnya.

(3) Apabila dalam pelaksanaan pemeriksaan Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) sehingga penghitungan penghasilan kena pajak dilakukan secara jabatan. pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta peninggalannya. (3) Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. badan yang dinyatakan pailit oleh kurator. badan dalam likuidasi oleh likuidator. (2) Tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di antaranya mengatur tentang pemeriksaan ulang. dan hak Wajib Pajak untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan. anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan oleh wali atau pengampunya. (2) Wakil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggungjawab secara pribadi dan/atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang. badan oleh pengurus. badan dalam pembubaran oleh orang atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan. (3a) Persyaratan serta pelaksanaan hak dan kewajiban kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (4) Termasuk dalam pengertian pengurus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan. suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya. d. Wajib Pajak diwakili dalam hal: .(1) Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan penyegelan tempat atau ruangan tertentu serta barang bergerak dan/atau tidak bergerak apabila Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) huruf b. a. kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada Wajib Pajak. atau e. b. . jangka waktu pemeriksaan. Direktur Jenderal Pajak wajib menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada Wajib Pajak dan memberikan hak kepada Wajib Pajak untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan. c. Ketentuan Pasal 31 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 31 (1) Tata cara pemeriksaan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (2) Tata cara penyegelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Direktur Jenderal Pajak bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang tersebut. Ketentuan Pasal 32 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 32 (1) Dalam menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

pejabat dan/atau tenaga ahli yang ditetapkan Menteri Keuangan untuk memberikan keterangan kepada pejabat lembaga negara atau instansi Pemerintah yang berwenang melakukan pemeriksaan dalam bidang keuangan negara. (2a) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah: . atas permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak. Ketentuan Pasal 34 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 34 (1) Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. atas permintaan Hakim sesuai dengan Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata. akuntan publik. dan/atau pihak ketiga lainnya. Ketentuan Pasal 35 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 35 (1) Apabila dalam menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperlukan keterangan atau bukti dari bank. dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara pidana atau perdata. serta kaitan antara perkara pidana atau perdata yang bersangkutan dengan keterangan yang diminta. notaris. keterangan yang diminta.Ketentuan Pasal 33 dihapus. atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. pihak-pihak tersebut wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta. yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak. . atau a. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga terhadap tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. kantor administrasi. Menteri Keuangan berwenang memberi izin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2) supaya memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak kepada pihak yang ditunjuk. pejabat dan tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau saksi ahli dalam sidang pengadilan. penagihan pajak. (5) Permintaan hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus menyebutkan nama tersangka atau nama tergugat. (3) Untuk kepentingan negara. Menteri Keuangan dapat memberi izin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 33 Dihapus. untuk memberikan dan memperlihatkan bukti tertulis dan keterangan Wajib Pajak yang ada padanya. konsultan pajak.

permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap dikabulkan. Direktur Jenderal Pajak berwenang menghimpun data dan informasi untuk kepentingan penerimaan negara yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2). dan pihak lain. kewajiban merahasiakan tersebut ditiadakan. atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan. mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak yang tidak benar. dan kenaikan yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya. atau c. (1a) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2). harus memberi keputusan atas permohonan yang diajukan. . (1d) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1c) telah lewat tetapi Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan. (1c) Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima. mengurangkan atau membatalkan Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 yang tidak benar. kewajiban merahasiakan ditiadakan atas permintaan tertulis dari Menteri Keuangan. membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa: 1. penagihan pajak. kecuali untuk bank. lembaga. (1b) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d hanya dapat diajukan oleh Wajib Pajak 1 (satu) kali. Di antara Pasal 35 dan Pasal 36 disisipkan 1 (satu) pasal. yakni Pasal 35A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 35A (1) Setiap instansi pemerintah. pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak. dan huruf c hanya dapat diajukan oleh Wajib Pajak paling banyak 2 (dua) kali. denda. Ketentuan Pasal 36 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 36 (1) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat: . mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga. (3) Tata cara permintaan keterangan atau bukti dari pihak-pihak yang terikat oleh kewajiban merahasiakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. a. asosiasi. b. untuk keperluan pemeriksaan. (2) Dalam hal data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mencukupi.(2) Dalam hal pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terikat oleh kewajiban merahasiakan. huruf b. atau 2.

ayat (1c). untuk membayar atau menerima pembayaran. (2) Pegawai pajak yang dalam melakukan tugasnya dengan sengaja bertindak di luar kewenangannya yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (2) Ketentuan pelaksanaan ayat (1). dan Pasal 36D yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 36B (1) Menteri Keuangan berkewajiban untuk membuat kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak. baik secara perdata maupun pidana. apabila dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dan ayat (1e) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. diancam dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan perubahannya.(1e) Apabila diminta oleh Wajib Pajak. Ketentuan Pasal 36A diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 36A (1) Pegawai pajak yang karena kelalaiannya atau dengan sengaja menghitung atau menetapkan pajak tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 36D . (2) Pegawai Direktorat Jenderal Pajak wajib mematuhi kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak. (4) Pegawai pajak yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu. Di antara Pasal 36A dan Pasal 37 disisipkan 3 (tiga) pasal. Pasal 36C. yakni Pasal 36B. ayat (1d). (5) Pegawai pajak tidak dapat dituntut. Pasal 36C Menteri Keuangan membentuk komite pengawas perpajakan. (3) Pegawai pajak yang dalam melakukan tugasnya terbukti melakukan pemerasan dan pengancaman kepada Wajib Pajak untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum diancam dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 368 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. ayat (1b). Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1c). atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. (3) Pengawasan pelaksanaan dan penampungan pengaduan pelanggaran kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak dilaksanakan oleh Komite Kode Etik yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. ayat (1a). dapat diadukan ke unit internal Departemen Keuangan yang berwenang melakukan pemeriksaan dan investigasi dan apabila terbukti melakukannya dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. . Di antara Pasal 37 dan Pasal 38 disisipkan 1 (satu) pasal. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap.(1) Direktorat Jenderal Pajak dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. atau a. menyampaikan Surat Pemberitahuan. yakni Pasal 37A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 37A (1) Wajib Pajak yang menyampaikan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebelum Tahun Pajak 2007. (3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. kecuali terdapat data atau keterangan yang menyatakan bahwa Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak tidak benar atau menyatakan lebih bayar. atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar dan dilakukan paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah berlakunya Undang-Undang ini. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan. (2) Wajib Pajak orang pribadi yang secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak paling lama 1 (satu) tahun setelah berlakunya Undang-Undang ini diberikan penghapusan sanksi administrasi atas pajak yang tidak atau kurang dibayar untuk Tahun Pajak sebelum diperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan tidak dilakukan pemeriksaan pajak. (2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ketentuan Pasal 38 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 38 Setiap orang yang karena kealpaannya: . Ketentuan Pasal 39 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 39 (1) Setiap orang yang dengan sengaja: . dapat diberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A. didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut. catatan. yakni Pasal 39A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 39A Setiap orang yang dengan sengaja: . dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya. atau h. tidak menyimpan buku. g. catatan.a. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak. atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar. pencatatan. tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia. atau a. dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak. atau dokumen lain. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap. menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak . tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan. sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan. atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (11). bukti pemotongan pajak. Di antara Pasal 39 dan Pasal 40 disisipkan 1 (satu) pasal. f. bukti pemungutan pajak. terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. c. memperlihatkan pembukuan. menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29. tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku. (2) Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun. (3) Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. b. d.

000. bukti pemungutan pajak. dan/atau bukti setoran pajak.000.00 (delapan ratus juta rupiah).000. yakni Pasal 41C yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 41C (1) Setiap orang yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp1.00 (dua puluh lima juta rupiah). Ketentuan Pasal 41A diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 41A Setiap orang yang wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 tetapi dengan sengaja tidak memberi keterangan atau bukti.000.000.000.00 (dua puluh lima juta rupiah). Ketentuan Pasal 41B diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 41B Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp75. bukti pemotongan pajak.000.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat dan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp800. bukti pemotongan pajak.000. (3) Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar. Di antara Pasal 41B dan Pasal 42 disisipkan 1 (satu) pasal.00 (tujuh puluh lima juta rupiah). (3) Setiap orang yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi yang diminta oleh Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A . dan/atau bukti setoran pajak dan paling banyak 6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak. (2) Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp50.00 (satu miliar rupiah). atau memberi keterangan atau bukti yang tidak benar dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp25. bukti pemungutan pajak. Ketentuan Pasal 41 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 41 (1) Pejabat yang karena kealpaanya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp25.000.000.00 (lima puluh juta rupiah).000.dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak.000.

ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (4) Setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan data dan informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian kepada negara dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Ketentuan Pasal 43 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 43 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan Pasal 39A, berlaku juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari Wajib Pajak, atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41A dan Pasal 41B berlaku juga bagi yang menyuruh melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

Sebelum Pasal 44 dalam BAB IX disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 43A yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 43A (1) Direktur Jenderal Pajak berdasarkan informasi, data, laporan, dan pengaduan berwenang melakukan pemeriksaan bukti permulaan sebelum dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. (2) Dalam hal terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan yang menyangkut petugas Direktorat Jenderal Pajak, Menteri Keuangan dapat menugasi unit pemeriksa internal di lingkungan Departemen Keuangan untuk melakukan pemeriksaan bukti permulaan. (3) Apabila dari bukti permulaan ditemukan unsur tindak pidana korupsi, pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang tersangkut wajib diproses menurut ketentuan hukum Tindak Pidana Korupsi. (4) Tata cara pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Ketentuan Pasal 44 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 44 (1) Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: . menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas; a. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan

dengan tindak pidana di bidang perpajakan; b. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; c. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; d. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut; e. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan; f. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa; g. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; h. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; i. menghentikan penyidikan; dan/atau j. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. (4) Dalam rangka pelaksanaan kewenangan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyidik dapat meminta bantuan aparat penegak hukum lain.

Ketentuan Pasal 44B diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 44B (1) Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri Keuangan, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan paling lama dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permintaan. (2) Penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan setelah Wajib Pajak melunasi utang pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau yang tidak seharusnya dikembalikan. Pasal II 1. Terhadap semua hak dan kewajiban perpajakan Tahun Pajak 2001 sampai dengan Tahun Pajak 2007 yang belum diselesaikan, diberlakukan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000. 2. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, daluwarsa penetapan untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya, selain penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau Pasal 15 ayat (4), berakhir paling lama pada akhir Tahun Pajak 2013. 3. Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2008.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 85

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

I. UMUM 1. Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dilandasi falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang di dalamnya tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan. Undang-Undang ini memuat ketentuan umum dan tata cara perpajakan yang pada prinsipnya diberlakukan bagi undangundang pajak material, kecuali dalam undang-undang pajak yang bersangkutan telah mengatur sendiri mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakannya. 2. Sejalan dengan perkembangan ekonomi, teknologi informasi, sosial, dan politik, disadari bahwa perlu dilakukan perubahan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Perubahan tersebut bertujuan untuk lebih memberikan keadilan, meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, meningkatkan kepastian dan penegakan hukum, serta mengantisipasi kemajuan di bidang teknologi informasi dan perubahan ketentuan material di bidang perpajakan. Selain itu, perubahan tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur perpajakan, meningkatkan keterbukaan administrasi perpajakan, dan meningkatkan kepatuhan

sukarela Wajib Pajak. 3. Sistem, mekanisme, dan tata cara pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan yang sederhana menjadi ciri dan corak dalam perubahan Undang-Undang ini dengan tetap menganut sistem self assessment. Perubahan tersebut khususnya berkaitan dengan peningkatan keseimbangan hak dan kewajiban bagi masyarakat Wajib Pajak sehingga masyarakat Wajib Pajak dapat melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya dengan lebih baik. 4. Dengan berpegang teguh pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhanaan, arah dan tujuan perubahan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ini mengacu pada kebijakan pokok sebagai berikut: a. meningkatkan efisiensi pemungutan pajak dalam rangka mendukung penerimaan negara; b. meningkatkan pelayanan, kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat guna meningkatkan daya saing dalam bidang penanaman modal, dengan tetap mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah; c. menyesuaikan tuntutan perkembangan sosial ekonomi masyarakat serta perkembangan di bidang teknologi informasi; d. meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban; e. menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan; f. meningkatkan penerapan prinsip self assessment secara akuntabel dan konsisten;dan g. mendukung iklim usaha ke arah yang lebih kondusif dan kompetitif. Dengan dilaksanakannya kebijakan pokok tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara dalam jangka menengah dan panjang seiring dengan meningkatnya kepatuhan sukarela dan membaiknya iklim usaha. II. PASAL DEMI PASAL

Pasal Angka Pasal Cukup Angka Pasal Ayat

I 1 1 jelas. 2 2 (1)

Semua Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan sistem self assessment, wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak. Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya. Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/pemungutan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya. Kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak

Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut merupakan suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. Terhadap Pengusaha yang telah memenuhi syarat sebagai Pengusaha Kena Pajak. Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajaka Ayat (2) Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Fungsi pengukuhan Pengusaha Kena Pajak selain dipergunakan untuk mengetahui identitas Pengusaha Kena Pajak yang sebenarnya juga berguna untuk melaksanakan hak dan kewajiban di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serta untuk pengawasan administrasi perpajakan. Selain itu. Wajib Pajak diwajibkan mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimilikinya. sedangkan bagi Pengusaha badan berkewajiban melaporkan usahanya tersebut pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan. Nomor Pokok Wajib Pajak juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. kepada setiap Wajib Pajak hanya diberikan satu Nomor Pokok Wajib Pajak. tetapi tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan. Pengusaha orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat kegiatan usaha di wilayah beberapa kantor Direktorat Jenderal Pajak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak baik di kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha maupun di kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan. Ayat (3) Terhadap Wajib Pajak maupun Pengusaha Kena Pajak tertentu. Dengan demikian. Pengusaha orang pribadi berkewajiban melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan. Oleh karena itu. Wanita kawin selain tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya. Direktur Jenderal Pajak dapat .

Pengaturan tentang jangka waktu pendaftaran dan pelaporan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak maupun Pemerintah berkaitan dengan kewajiban Wajib Pajak untuk mendaftarkan diri dan hak untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Selanjutnya terhadap Wajib Pajak tersebut tidak dikecualikan dari pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. kewajiban perpajakannya timbul terhitung sejak tahun 2005. Ayat (5) Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan kewajiban melaporkan usaha untuk memperoleh pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dibatasi jangka waktunya karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan pajak terutang. Hal ini dapat dilakukan apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiiiki oleh Direktorat Jenderal Pajak ternyata orang pribadi atau badan atau Pengusaha tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. (7) . misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan. Seiain itu. yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat.menentukan kantor Direktorat Jenderal Pajak selain yang ditentukan pada ayat (1) dan ayat sebagai tempat pendaftaran untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu. misalnya terhadap Wajib Pajak diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan pada tahun 2008 dan ternyata Wajib Pajak telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan terhitung sejak tahun 2005. juga diwajibkan mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha Wajib Pajak dilakukan. Ayat (4a) Ayat ini mengatur bahwa dalam penerbitan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan harus memperhatikan saat terpenuhinya persyaratan subjektif dan objektif dari Wajib Pajak yang bersangkutan. di samping wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak. Ayat (4) Terhadap Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak yang tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan diri dan/atau melaporkan usahanya dapat diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan. tata cara pemberian dan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak serta pengukuhan dan pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Ayat Cukup Ayat (6) jelas.

(9) Jelas. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang: a. lengkap. 3 2A jelas 4 3 (1) Fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Pajak Penghasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang: a. yang dimaksud dengan benar. dan jelas sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dalam bentuk kertas dan/atau dalam bentuk elektronik. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran. Bagi Pengusaha Kena Pajak. Bagi pemotong atau pemungut pajak.Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Cukup Angka Pasal Ayat jelas. penghasiian yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak. c. Sementara itu. lengkap. dan jelas dalam mengisi Surat Pemberitahuan adalah: . pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dan/atau d. dan b. (8) jelas. fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya. Yang dimaksud dengan mengisi Surat Pemberitahuan adalah mengisi formulir Surat Pemberitahuan. harta dan kewajiban. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak. dengan benar. b.

Namun. b. (1b) Ayat (2) Dalam rangka memberikan pelayanan dan kemudahan kepada Wajib Pajak. termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. lengkap. dapat: a. Ayat (3) Ayat ini mengatur tentang batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan yang dianggap cukup memadai bagi Wajib Pajak untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembayaran pajak dan penyelesaian pembukuannya. dan jelas tersebut wajib disampaikan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Surat Pemberitahuan yang telah diisi dengan benar. antara lain Wajib Pajak usaha kecil. Ayat Cukup Ayat Cukup jelas. menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa selain yang disebut pada huruf a untuk beberapa Masa Pajak sekaligus dengan syarat pembayaran untuk masing-masing (3a) . Kewajiban penyampaian Surat Pemberitahuan oleh pemotong atau pemungut pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak. dan c. dan/atau b. Direktur Jenderal Pajak dapat mengirimkan Surat Pemberitahuan kepada Wajib Pajak.a. formulir Surat Pemberitahuan disediakan pada kantor-kantor Direktorat Jenderal Pajak dan tempat-tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak yang diperkirakan mudah terjangkau oleh Wajib Pajak. dalam penulisan. untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Di samping itu. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan. menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk beberapa Masa Pajak sekaligus dengan syarat pembayaran seluruh pajak yang wajib dilunasi menurut Surat Pemberitahuan Masa tersebut dilakukan sekaligus paling lama dalam Masa Pajak yang terakhir. dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ayat Wajib Pajak dengan kriteria tertentu. benar adalah benar dalam perhitungan. (1a) jelas. misalnya dengan mengakses situs Direktorat Jenderal Pajak untuk memperoleh formulir Surat Pemberitahuan tersebut. Wajib Pajak juga dapat mengambil Surat Pemberitahuan dengan cara lain.

bentuk dan isi Surat Pemberitahuan. Wajib Pajak dapat memperpanjang penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain misalnya dengan Pemberitahuan secara elektronik kepada Direktur Jenderal PaJak. terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan dapat diberikan Surat Teguran.Masa Pajak dilakukan sesuai batas waktu untuk Masa Pajak yang bersangkutan. dalam rangka keseragaman dan mempermudah pengisian serta pengadministrasiannya. Ayat (5a) Dalam rangka pembinaan terhadap Wajib Pajak yang sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan ternyata tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan. Persyaratan tersebut berupa keharusan menyampaikan pemberitahuan sementara denganmenyebutkan besarnya pajak yang harus dibayar berdasarkan penghitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan. perlu ditetapkan persyaratan yang berakibat pengenaan sanksi administrasi berupa bunga bagi Wajib Pajak yang ingin memperpanjang waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Ayat (6) Mengingat fungsi Surat Pemberitahuan merupakan sarana Wajib Pajak. antara lain untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak dan pembayarannya. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sekurang-kurangnya memuat jumlah . Ayat (5) Untuk mencegah usaha penghindaran dan/atau perpanjangan waktu pembayaran pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak yang harus dibayar sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan. keterangan dokumen yang harus dilampirkan dan cara yang digunakan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. atau sebab lainnya sehingga sulit untuk memenuhi batas waktu penyelesaian dan memerlukan kelonggaran dari batas waktu yang telah ditentukan. (3c) jelas. sebagai lampiran pemberitahuan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. atau huruf c karena luasnya kegiatan usaha dan masalah-masalah teknis penyusunan laporan keuangan. (4) Apabila Wajib Pajak baik orang pribadi maupun badan ternyata tidak dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan pada ayat (3) huruf b. Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (3b) Jelas.

misalnya Wajib Pajak orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak. bagian Tahun Pajak. Dalam hal demikian. Ayat Cukup Ayat (7a) jelas. (4) . Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat 5 4 (1) jelas. dan jumlah kekurangan atau kelebihan pajak. jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai sekurang-kurangnya memuat jumlah Dasar Pengenaan Pajak. Surat Pemberitahuan tersebut dianggap sebagai data perpajakan. jumlah pajak yang terutang. jumlah Penghasilan Kena Pajak. Ayat (7) Surat Pemberitahuan yang ditandatangani beserta lampirannya adalah satu kesatuan yang merupakan unsur keabsahan Surat Pemberitahuan. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan harus dilengkapi dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak. (2) jelas. atau Tahun Pajak dan Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis.peredaran. tetapi karena kepentingan tertentu diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Dengan pertimbangan efisiensi atau pertimbangan lainnya. Surat Pemberitahuan dari Wajib Pajak yang disampaikan. Demikian juga apabila penyampaian Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebin bayar telah melewati 3 (tiga) tahun sesudah berakhirnya Masa Pajak. (3) jelas. Jumlah penghasilan. Menteri Keuangan dapat menetapkan Wajib Pajak Pajak Penghasilan yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan. Oleh karena itu. (8) Pada prinsipnya setiap Wajib Pajak Pajak Penghasilan diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan. Surat Pemberitahuan tersebut dianggap sebagai data perpajakan. jumlah kekurangan atau kelebihan pajak. jumlah kredit pajak. tetapi tidak dilengkapi dengan lampiran yang dipersyaratkan. atau apabila Surat Pemberitahuan disampaikan setelah Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan atau menerbitkan surat ketetapan pajak. tidak dianggap sebagai Surat Pemberitahuan dalam administrasi Direktorat Jenderal Pajak. jumlah Pajak Keluaran. serta harta dan kewajiban di luar kegiatan usaha atau pekerjaan bebas bagi Wajib Pajak orang pribadi.

Cukup Ayat

jelas. (4a)

Yang dimaksud dengan Laporan Keuangan masing-masing Wajib Pajak adalah laporan keuangan hasil kegiatan usaha masing-masing Wajib Pajak. Contoh: PT A memiliki saham pada PT B dan PT C. Dalam contoh tersebut, PT A mempunyai kewajiban melampirkan laporan keuangan konsolidasi PT A dan anak perusahaan, juga melampirkan laporan keuangan atas usaha PT A (sebelum dikonsolidasi), sedangkan PT B dan PT C wajib melampirkan laporan keuangan masing-masing, bukan laporan keuangan konsolidasi. Ayat Cukup Ayat (4b) Jelas. (5)

Tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan memuat hal-hal mengenai, antara lain, penelitian kelengkapan, pemberian tanda terima, pengelompokan Surat Pemberitahuan Lebih Bayar, Kurang Bayar, dan Nihil, prosedur perekaman dan tindak lanjut pengelolaannya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Angka Pasal Ayat Cukup Ayat 6 6 (1) jelas. (2)

Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada Wajib Pajak dan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, perlu cara lain bagi Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuannya, misalnya disampaikan secara elektronik. Ayat (3)

Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat untuk penyampaian Surat Pemberitahuan melalui pos atau dengan cara lain merupakan bukti penerimaan, apabila Surat Pemberitahuan dimaksud telah lengkap, yaitu memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (1a), dan ayat (6). Angka Pasal Ayat 7 7 (1)

Maksud pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur pada ayat ini adalah

untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan dan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan. Ayat (2)

Bencana adalah bencana nasional atau bencana yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Angka Pasal Ayat 8 8 (1)

Terhadap kekeliruan dalam pengisian Surat Pemberitahuan yang dibuat oleh Wajib Pajak, Wajib Pajak masih berhak untuk melakukan pembetulan atas kemauan sendiri, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan. Yang dimaksud dengan "mulai melakukan tindakan pemeriksaan" adalah pada saat Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak disampaikan kepada Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak. Ayat (1a)

Yang dimaksud dengan daluwarsa penetapan adalah Jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat(1). Ayat (2)

Dengan adanya pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan atas kemauan sendiri membawa akibat penghitungan jumlah pajak yang terutang dan jumlah penghitungan pembayaran pajak menjadi berubah dari jumlah semula. Atas kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat pembetulan tersebut dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan. Bunga yang terutang atas kekurangan pembayaran pajak tersebut, dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Yang dimaksud dengan "1 (satu) bulan" adalah Jumlah hari dalam bulan kalender yang bersangkutan, misalnya mulai dari tanggal 22 Juni sampai dengan 21 Juli, sedangkan yang dimaksud dengan "bagian dari bulan" adalah jumlah hari yang tidak mencapai 1 (satu) bulan penuh, misalnya 22 Juni sampai dengan 5 Juli. Ayat Cukup Ayat (2a) jelas. (3)

Wajib Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 selama belum dilakukan penyidikan, sekalipun telah dilakukan pemeriksaan dan Wajib Pajak telah

mengungkapkan kesalahannya dan sekaligus melunasi jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar, terhadapnya tidak akan dilakukan penyidikan. Namun, apabila telah dilakukan tindakan penyidikan dan mulainya penyidikan tersebut diberitahukan kepada Penuntut Umum, kesempatan untuk mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya sudah tertutup bagi Wajib Pajak yang bersangkutan.

Ayat

(4)

Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan tetapi belum menerbitkan surat ketetapan pajak, kepada Wajib Pajak baik yang telah maupun yang belum membetulkan Surat Pemberitahuan masih diberikan kesempatan untuk mengungkapkan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan, yang dapat berupa Surat Pemberitahuan Tahunan atau Surat Pemberitahuan Masa untuk tahun atau masa yang diperiksa. Pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan tersebut dilakukan dalam laporan tersendiri dan harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya sehingga dapat diketahui jumlah pajak yang sesungguhnya terutang. Namun, untuk membuktikan kebenaran laporan Wajib Pajak tersebut, proses pemeriksaan tetap dilanjutkan sampai selesai. Ayat (5)

Atas kekurangan pajak sebagai akibat adanya pengungkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar, dan harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan pengungkapan tersendiri disampaikan. Namun, pemeriksaan tetap dilanjutkan. Apabila dari hasil pemeriksaan terbukti bahwa laporan pengungkapan ternyata tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, atas ketidakbenaran pengungkapan tersebut dapat diterbitkan surat ketetapan pajak. Ayat (6)

Sehubungan dengan diterbitkannya surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas suatu Tahun Pajak yang mengakibatkan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan tahun berikutnya atau tahun-tahun berikutnya, akan dilakukan penyesuaian rugi fiskal sesuai dengan surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali dalam penghitungan Pajak Penghasilan tahun-tahun berikutnya, pembatasan jangka waktu 3 (tiga) bulan tersebut dimaksudkan untuk tertib administrasi tanpa menghilangkan hak Wajib Pajak atas kompensasi kerugian. Dalam hal Wajib Pajak membetulkan Surat Pemberitahuan lewat Jangka waktu 3 (tiga) bulan atau Wajib Pajak tidak mengajukan pembetulan sebagai akibat adanya surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa Tahun Pajak sebelumnya, yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam

Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, Direktur Jenderal Pajak akan memperhitungkannya dalam menetapkan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Untuk Jeiasnya diberikan contoh sebagai berikut: Contoh PT A Penghasilan menyampaikan tahun Surat Pemberitahuan 2008 yang 1: Tahunan Pajak menyatakan:

Penghasilan Neto sebesar

Rp 200.000.000,00

Kompensasi kerugian berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2007 sebesar Rp 150.000.000,00 (-)

Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 50.000.000,00

Terhadap Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2007 dilakukan pemeriksaan, dan pada tanggal 6 Januari 2010 diterbitkan surat ketetapan pajak yang menyatakan rugi fiskal sebesar Rp 70.000.000,00 Berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut Direktur Jenderal Pajak akan mengubah perhitungan Penghasilan Kena PaJak tahun 2008 menjadi sebagai berikut: Penghasilan Neto Rp 200.000.000,00

Rugi menurut ketetapan pajak tahun 2007 Rp 70.000.000.00 (-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 130.000.000,00

Dengan demikian penghasilan kena pajak dari Surat Pemberitahuan yang semula Rp50.000.000,00 (Rp200.000.000,00 - Rp150.000.000,00) setelah pembetulan menjadi Rp130.000.000,00 (Rp200.000.000,00 Rp70.000.000,00) Contoh 2:

PT B menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2008 yang menyatakan: Penghasilan Neto sebesar Rp 300.000.000,00

Kompensasi kerugian berdasarkan Surat Pemberitahuan TahunanRp 200.000.000.00 (-) Pajak

00 Dengan demikian penghasilan kena pajak dari Surat Pemberitahuan yang semula Rp 100.000.00 per bulan. (2a) Ayat ini mengatur pengenaan bunga atas keterlambatan pembayaran atau penyetoran pajak.000.00).000.000.000.000. Untuk jelasnya cara penghitungan bunga tersebut diberikan contoh sebagai berikut: Angsuran masa Pajak Penghasilan Pasal 25 PT A tahun 2008 sejumlah Rp10.00 (Rp 300. Angsuran masa Mei tahun 2008 dibayar tanggal 18 Juni 2008 dan dilaporkan tanggai 19 Juni 2008.000.000.000.000.00 Terhadap Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2007 dilakukan pemeriksaan dan pada tanggal 6 Januari 2010 diterbitkan surat ketetapan pajak yang menyatakan rugi fiskal sebesar Rp 250.000.000.000.000.00) setelah pembetulan menjadi Rp 50. Berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut Direktur Jenderal Pajak akan mengubah perhitungan Penghasilan Kena Pajak tahun 2008 menjadi sebagai berikut: Penghasilan Neto Rp 300.00 .000.00 (-) Penghasilan Kena Pajak Rp 50.000.00 . Apabiia pada tanggal 15 Juli 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak.000.000. Ayat Cukup Ayat (2) jelas.Penghasilan sebesar Tahun 2007 Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 100.000.000. sanksi bunga dalam Surat Tagihan Pajak dihitung 1 (satu) bulan sebagai berikut: .000. Angka Pasal Ayat 9 9 (1) Batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan batas waktu tidak melampaui 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak.Rp 200.000.00 Rugi menurut ketetapan pajak tahun 2007 Rp 250.00 (Rp 300.000.00.Rp 250. Keterlambatan dalam pembayaran dan penyetoran tersebut berakibat dikenai sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.000.

Angka Pasal Ayat 11 11 (1) Jika setelah diadakan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dengan jumlah kredit pajak menunjukkan jumlah selisih lebih (jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang) atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.00 = Rp 200. Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat 10 10 (1) jelas. (2) Adanya tata cara pembayaran pajak. dengan catatan Wajib Pajak tersebut tidak mempunyai utang pajak. Direktur Jenderal Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak yang terutang termasuk kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar dalam Surat PemberitahuanTahunan Pajak Penghasilan meskipun tanggal Jatuh tempo pembayaran telah ditentukan. dan pelaporannya. (4) Atas permohonan Wajib Pajak. (2b) jelas.00. Wajib Pajak berhak untuk meminta kembali kelebihan pembayaran pajak. Kelonggaran tersebut diberikan dengan hati-hati untuk paling lama 12 (dua belas) bulan dan terbatas kepada Wajib Pajak yang benar-benar sedang mengalami kesulitan likuiditas. (3) jelas.000. . serta tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan diharapkan dapat mempermudah pelaksanaan pembayaran pajak dan administrasinya.000. (3a) jelas. (1a) jelas. penyetoran pajak.1 Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat x2% x Rp 10.000.

c. dihitung sejak tanggal penerbitan. kelebihan pembayaran tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan utang pajak tersebut dan jika masih terdapat sisa lebih. dikembalikan kepada Wajib Pajak. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. batas waktu pengembalian kelebihan pembayaran pajak ditetapkan paling lama 1 (satu) bulan: a. Ayat (3) Untuk menciptakan keseimbangan hak dan kewajiban bagi Wajib Pajak melalui pelayanan yang lebih baik. dihitung sejak tanggal diterimanya permohonan tertulis tentang pengembalian kelebihan pembayaran pajak. dihitung sejak tanggal penerbitan. Ayat Cukup Ayat (1a) jelas (2) Untuk menjamin kepastian hukum bagi Wajib Pajak dan ketertiban administrasi. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. d. untuk Putusan Banding dihitung sejak diterimanya Putusan Banding oleh Kantor Direktorat Jenderai Pajak yang berwenang melaksanakan putusan pengadilan. Surat Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. untuk Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasai 17 ayat (1). . Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (4) jelas 12 12 (1) Pajak pada prinsipnya terutang pada saat timbulnya objek pajak yang dapat dikenai pajak. untuk Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) dan Pasal 17B. dihitung sejak tanggal penerbitan.Dalam hal Wajib PaJak masih mempunyai utang pajak yang meliputi semua jenis pajak baik di pusat maupun cabang-cabangnya. untuk Surat Keputusan Keberatan. untuk Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C dan Pasal 17D. atau f. diatur bahwa setiap keterlambatan dalam pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. untuk Putusan Peninjauan Kembali dihitung sejak diterimanya Putusan Peninjauan Kembali oleh Kantor Direktorat Jenderai Pajak yang berwenang melaksanakan putusan pengadilan sampai dengan saat diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. kepada Wajib Pajak yang bersangkutan diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 1 (satu) bulan sampai dengan saat diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak. atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. b.

untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pemberi kerja. tidak perlu diberikan surat ketetapan pajak atau pun Surat Tagihan Pajak. Keterangan lain tersebut adalah data konkret yang diperoieh atau dimiliki oleh Direktur Jenderal Pajak.tetapi untuk kepentingan administrasi perpajakan saat terutangnya pajak tersebut adalah: a. untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak ketiga. atau c. pada akhir masa. antara lain berupa hasil konfirmasi faktur pajak dan bukti pemotongan Pajak Penghasilan. atau oleh Pengusaha Kena Pajak atas pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Ayat (2) Ketentuan ini mengatur bahwa kepada Wajib Pajak yang telah menghitung dan membayar besarnya pajak yang terutang secara benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. atau pun yang harus dibayar oleh Wajib Pajak setelah tiba saat atau masa pelunasan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 10 ayat (2). Ayat (3) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain. pada suatu saat. misalnya pembebanan biaya ternyata melebihi yang sebenarnya. Dengan demikian. yang pada hakikatnya hanya terhadap kasus-kasus tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat ini. b. Jumlah pajak yang terutang yang telah dipotong. Direktur Jenderal Pajak menetapkan besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. atau yang dipungut oleh pihak lain atas kegiatan usaha. pada akhir Tahun Pajak. dipungut. pajak yang dihitung dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan yang bersangkutan tidak benar. untuk Pajak Penghasilan. serta melaporkan dalam Surat Pemberitahuan. Wewenang yang diberikan oleh . oleh Wajib Pajak harus disetorkan ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1). Penerbitan suatu surat ketetapan pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak. Berdasarkan Undang-Undang ini Direktorat Jenderal Pajak tidak berkewajiban untuk menerbitkan surat ketetapan pajak atas semua Surat Pembehtahuan yang disampaikan Wajib Pajak. Angka Pasal Ayat 13 13 (1) Ketentuan ayat ini memberi wewenang kepada Direktur Jenderal Pajak untuk dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. hanya terhadap Wajib Pajak yang berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain tidak memenuhi kewajiban formal dan/atau kewajiban material.

Untuk memastikan kebenaran data itu. Sebagai contoh: 1. dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada Wajib Pajak yang beritikad baik untuk menyampaikan alasan atau sebab-sebab tidak dapat disampaikannya Surat Pemberitahuan karena sesuatu hal di luar kemampuannya (force majeur). Menurut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Pemeriksaan dapat dilakukan di tempat tinggal. pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak lengkap sehingga penghitungan laba rugi atau peredaran tidak jelas. Bagi Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban perpajakan di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. dokumen-dokumen pembukuan tidak lengkap sehingga angka-angka dalam . antara lain. dari data tersebut dapat dipastikan bahwa Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban pajak sebagaimana mestinya. Bagi Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau pada saat diperiksa tidak memenuhi permintaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 sehingga Direktur Jenderal Pajak tidak dapat menghitung jumlah pajak yang seharusnya terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d.ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk melakukan koreksi fiskal tersebut dibatasi sampai dengan kurun waktu 5 (lima) tahun. yang mengakibatkan pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. dikenai sanksi administrasi dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ditambah dengan kenaikan sebesar 100% (seratus person). dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak. Teguran. yaitu penghitungan pajak didasarkan pada data yang tidak hanya diperoleh dari Wajib Pajak saja. Diketahuinya Wajib Pajak tidak atau kurang membayar pajak karena dilakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan dan dari hasil pemeriksaan itu diketahui bahwa Wajib Pajak tidak atau kurang membayar dari jumlah pajak yang seharusnya terutang. Terhadap ketetapan seperti ini dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tempat kedudukan. Surat Pemberitahuan yang tidak disampaikan pada waktunya walaupun telah ditegur secara tertulis dan tidak juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b membawa akibat Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar secara Jabatan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar baru diterbitkan jika Wajib Pajak tidak membayar pajak sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Direktur Jenderal Pajak berwenang menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan secara jabatan. 2. terhadap Wajib Pajak dapat dilakukan pemeriksaan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dapat juga diterbitkan dalam hal Direktur Jenderal Pajak memiliki data lain di luar data yang disampaikan oleh Wajib Pajak sendiri. Pembuktian atas uraian penghitungan yang dijadikan dasar penghitungan secara jabatan oleh Direktur Jenderal Pajak dibebankan kepada Wajib Pajak.

00 (+) 29. Bunga 24 bulan (24 x 2% x Rp 20.00) Rp 6.000. dihitung dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan.00 Dalam hal pengusaha tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.000.000.pembukuan tidak dapat diuji.000.000. Ayat (2) Ayat ini mengatur sanksi administrasi perpajakan yang dikenakan kepada Wajib Pajak karena melanggar kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e.000. Sanksi administrasi berupa bunga. atau 3.000.000. Contoh: Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan.000.000. Walaupun Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut diterbitkan lebih dari 2 (dua) tahun sejak berakhirnya Tahun Pajak. Sanksi administrasi perpajakan tersebut berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dicantumkan dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.000. Jumlah pajak yang masih harus dibayar Rp 9. Kredit pajak Rp 100.000.00 (-) 4.600.000.00) 3.00 5. selain harus menyetor pajak yang terutang.000.000. Pajak yang kurang dibayar Rp 20. Pajak yang terutang (30% x Rp100. Beban pembuktian tersebut berlaku juga bagi ketetapan yang diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Pada bulan April 2009 berdasarkan hasil pemeriksaan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar maka sanksi bunga dihitung sebagai berikut: 1.000.00 Rp 30. pengusaha tersebut juga .600. Wajib Pajak PT A mempunyai penghasilan kena pajak selama Tahun Pajak 2006 sebesar Rp100. bunga dikenakan atas kekurangan tersebut hanya untuk masa 2 (dua) tahun.00 dan menyampaikan Surat Pemberitahuan tepat waktu. Penghasilan Kena Pajak 2. dari rangkaian pemeriksaan dan/atau fakta-fakta yang diketahui besar dugaan disembunyikannya dokumen atau data pendukung lain di suatu tempat tertentu sehingga dari sikap demikian jelas Wajib Pajak telah tidak menunjukkan iktikad baiknya untuk membantu kelancaran jalannya pemeriksaan.00 Rp 10.

tetapi oleh penuntut umum tidak dituntut berdasarkan sanksi pidana perpajakan. berakhirnya Masa Pajak. atau berakhirnya Tahun Pajak. bagian Tahun Pajak. Besarnya sanksi administrasi berupa kenaikan berbeda-beda menurut jenis pajaknya. atas jumlah pajak yang terutang belum dikeluarkan surat ketetapan pajak. huruf c. dalam rangka memperoleh kembali pajak yang terutang tersebut. dalam hal Wajib Pajak dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan Pengadiian yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Kemungkinan dapat terjadi bahwa Wajib Pajak yang disidik oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil. untuk menentukan kerugian pada pendapatan negara.dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari pajak yang kurang dibayar yang dihitung sejak berakhirnya Masa Pajak untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Ayat (5) Apabila terhadap Wajib Pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. jumlah pembayaran pajak yang diberitahukan dalam Surat Pemberitahuan Masa atau Surat Pemberitahuan Tahunan pada hakikatnya telah menjadi tetap dengan sendirinya atau telah menjadi pasti karena hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Ayat (4) Untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak berkenaan dengan pelaksanaan pemungutan pajak dengan sistem self assessment. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar masih dibenarkan untuk diterbitkan. Oleh karena itu. apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sejak saat terutangnya pajak. harus dibuktikan melalui proses pengadilan yang dapat membutuhkan waktu lebih dari 5 (lima) tahun. misalnya Wajib Pajak yang dijatuhi pidana oleh pengadilan karena melakukan penyelundupan yang dalam putusan pengadiian tersebut menunjukkan adanya suatu jumlah objek pajak yang belum dikenai pajak. untuk jenis Pajak Penghasilan yang dipotong oleh orang atau badan lain sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen). Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan surat ketetapan pajak. Sanksi administrasi berupa kenaikan merupakan suatu jumlah proporsional yang harus ditambahkan pada pokok pajak yang kurang dibayar. ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang . yaitu untuk jenis Pajak Penghasilan yang dibayar oleh Wajib Pajak sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen). Ayat (3) Ayat ini mengatur sanksi administrasi dari suatu ketetapan pajak karena melanggar kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Untuk mengetahui bahwa Wajib Pajak memang benar-benar melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. dan huruf d. sedangkan untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen).

atau b.dibayar meskipun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui.000. Angka Pasal Ayat Cukup Ayat 15 14 (1) jelas. Namun. Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara tidak dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tersebut pertama kali dilakukan Wajib Pajak. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap.000. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. penelitian Surat Pemberitahuan yang menghasilkan pajak kurang dibayar karena terdapat salah tulis dan/atau salah hitung.00 jatuh tempo misalnya tiap tanggal 15 Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan Juni 2008 dibayar tepat waktu sebesar Rp 40. (2) Surat Tagihan Pajak menurut ayat ini disamakan kekuatan hukumnyadengan surat ketetapan pajak sehingga dalam hal penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa. Dalam hal ini. Untuk jelasnya diberikan contoh cara penghitungan sebagai berikut: 1. bagi Wajib Pajak yang melanggar pertama kali ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 tidak dikenai sanksi pidana. Ayat (3) Ayat ini mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga atas Surat Tagihan Pajak yang diterbitkan karena: a. Wajib Pajak tersebut wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar.00. Oleh karena itu. tetapi dikenai sanksi administrasi.000. Ayat Cukup Angka Pasal (6) jelas.000. Atas kekurangan Pajak Penghasilan Pasal 25 tersebut diterbitkan Surat Tagihan Pajak pada . 14 13A Pengenaan sanksi pidana merupakan upaya terakhir untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Pajak Penghasilan Pasal 25 tahun 2008 setiap bulan sebesar Rp 100.

00 (+) .00.00 Ayat (4) Pengusaha Kena Pajak yang tidak membuat faktur pajak maupun Pengusaha Kena Pajak yang membuat faktur pajak.000.Bunga = 3 x 2% x Rp 60.000.000. Demikian pula bagi Pengusaha Kena Pajak yang membuat faktur pajak.000. 16 . Atas kekurangan Pajak Penghasilan tersebut diterbitkan Surat Tagihan Pajak pada tanggal 12 Juni 2009 dengan penghitungan sebagai berikut: .000.00 Penghasilan Pasal 25 bulan Juni 2008 (Rp100. sedangkan pajak yang terutang ditagih dengan surat ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.000.000.00-Rp 40.000.Kekurangan bayar Pajak = Rp 60.600. tetapi tidak tepat waktu atau tidak selengkapnya mengisi faktur pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak.060.Kekurangan bayar Pajak Penghasilan .00 .tanggal 18 September 2008 dengan penghitungan sebagai berikut : . Hasil penelitian Surat Pemberitahuan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2008 yang disampaikan pada tanggal 31 Maret 2009 setelah dilakukan penelitian ternyata terdapat salah hitung yang menyebabkan Pajak Penghasilan kurang bayar sebesar Rp1.000. tetapi melaporkannya tidak tepat waktu. (6) jelas.600.000.000.000.Bunga = 3 x 2%x Rp1.00 (+) = Rp 63.00 = Rp1.000. dikenai sanksi yang sama.Jumlah yang harus dibayar = Rp 3.00 2.00 = Rp 60.Jumlah yang harus dibayar = Rp 1.000.000.00) .000. Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak ditagih dengan Surat Tagihan Pajak. Ayat Cukup Ayat Cukup Angka (5) jelas.000.000.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tidak akan mungkin diterbitkan sebelum didahului dengan penerbitan surat ketetapan pajak. Pada prinsipnya untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan perlu dilakukan pemeriksaan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan diterbitkan hanya dalam hal ditemukan data baru termasuk data yang semula belum terungkap. lengkap. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan juga harus diterbitkan berdasarkan pemeriksaan. dan/atau b. Jika surat ketetapan pajak sebelumnya diterbitkan berdasarkan pemeriksaan. baik dalam Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya maupun dalam pembukuan perusahaan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan. yang termasuk dalam data baru adalah data yang semula belum terungkap. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan merupakan koreksi atas surat ketetapan pajak sebelumnya. yaitu data yang: a. Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak. Dalam hal surat ketetapan pajak sebelumnya diterbitkan berdasarkan keterangan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a. perlu dilakukan pemeriksaan ulang sebelum menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Sejalan dengan itu. pada waktu pemeriksaan untuk penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan data dan/atau memberikan keterangan lain secara benar. dan terinci sehingga tidak memungkinkan fiskus dapat menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan . tetapi bukan pemeriksaan ulang. Yang dimaksud dengan "data baru" adalah data atau keterangan mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang yang oleh Wajib Pajak belum diberitahukan pada waktu penetapan semula. setelah Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan sebagai akibat telah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B. Dengan demikian. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan baru diterbitkan apabila sudah pernah diterbitkan surat ketetapan pajak. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan masih dapat diterbitkan lagi. Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam Jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. tidak diungkapkan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuan beserta lampirannya (termasuk laporan keuangan).Pasal Ayat 15 (1) Untuk menampung kemungkinan terjadinya suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar yang ternyata telah ditetapkan lebih rendah atau pajak yang terutang dalam suatu Surat Ketetapan Pajak Nihil ditetapkan lebih rendah atau telah dilakukan pengembalian pajak yang tidak seharusnya sebagaimana telah ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. Dalam hal masih ditemukan lagi data baru termasuk data yang semula belum terungkap pada saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Selain itu. Penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dilakukan dengan syarat adanya data baru termasuk data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak sebelumnya. dan/atau data baru termasuk data yang semula belum terungkap yang diketahui kemudian oleh Direktur Jenderal Pajak.

000. data atau keterangan tersebut merupakan data yang semula belum terungkap.000. 2. misalnya harta yang seharusnya termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan kelompok 3. Pengusaha Kena Pajak melakukan pembelian sejumlah barang dari Pengusaha Kena Pajak lain dan atas pembelian tersebut oleh Pengusaha Kena Pajak penjual diterbitkan faktur pajak. tetapi apabila memberitahukannya atau mengungkapkannya dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat fiskus tidak mungkin menghitung besarnya Jumlah pajak yang terutang secara benar sehingga jumlah pajak yang terutang ditetapkan kurang dari yang seharusnya.000. sedangkan sesungguhnya biaya tersebut terdiri atas Rp5. Apabila pada saat penetapan semula Pengusaha Kena Pajak tidak mengungkapkan rincian penggunaan barang tersebut dengan benar sehingga tidak dilakukan koreksi atas pengkreditan Pajak Masukan tersebut oleh fiskus. hal tersebut termasuk dalam pengertian data yang semula belum terungkap.00 biaya iklan di media massa dan Rp5. distribusi. Apabila setelah itu diketahui adanya data atau keterangan tentang kesalahanmengkreditkan Pajak Masukan yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha dimaksud. pemasaran. Ayat (2) Dalam hal setelah diterbitkan surat ketetapan pajak ternyata masih ditemukan data baru termasuk data yang belum terungkap yang belum diperhitungkan sebagai dasar penetapan . atas kesalahan pengelompokan harta tersebut tidak dilakukan koreksi. Dalam Surat Pemberitahuan dan/atau laporan keuangan tertulis adanya biaya ikian Rp 10. sebagai akibatnya Pajak Pertambahan Nilai yang terutang tidak dapat dihitung secara benar.00. Apabila pada saat penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan perincian tersebut sehingga fiskus tidak melakukan koreksi atas pengeluaran berupa sumbangan atau hadiah sehingga pajak yang terutang tidak dapat dihitung secara benar.perpajakan dengan benar dalam menghitung jumlah pajak yang terutang. 3. Apabila setelah itu diketahui adanya data yang menyatakan bahwa pengelompokan harta tersebut tidak benar. tetapi dikelompokkan ke dalam kelompok 2. dan manajemen.00 sisanya adalah sumbangan atau hadiah yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya.000. seperti pengeluaran untuk kegiatan produksi. Walaupun Wajib Pajak telah memberitahukan data dalam Surat Pemberitahuan atau mengungkapkannya pada waktu pemeriksaan. Akibatnya. maka data tersebut termasuk data yang semula belum terungkap. Dalam Surat Pemberitahuan dan/atau laporan keuangan disebutkan pengelompokan harta tetap yang disusutkan tanpa disertai dengan perincian harta pada setiap kelompok yang dimaksud.000. Barang-barang tersebut sebagian digunakan untuk kegiatan yang mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usahanya. sehingga pajak yang terutang tidak dapat dihitung secara benar. data mengenai pengeluaran berupa sumbangan atau hadiah tersebut tergolong data yang semula belum terungkap. Contoh: 1.000. Seluruh faktur pajak tersebut dikreditkan sebagai Pajak Masukan oleh Pengusaha Kena Pajak pembeli. dan sebagian lainnya tidak mempunyai hubungan langsung. demikian pula pada saat pemeriksaan untuk penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan perincian tersebut sehingga fiskus tidak dapat meneliti kebenaran pengelompokan dimaksud.

yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. Sifat kesalahan atau kekeliruan tersebut tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan WajibPajak. antara lain kesalahan yang dapat berupa nama. kesalahan tulis. f. ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari Jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar meskipun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. kesalahan atau kekeliruan tersebut harus dibetulkan. Surat Ketetapan Pajak Nihil. dan tanggal jatuh tempo. 17 16 (1) Pembetulan menurut ayat ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan tugas pemerintahan yang baik sehingga apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi perlu dibetulkan sebagaimana mestinya. alamat. Masa Pajak atau Tahun Pajak. Ayat Cukup Ayat (3) jelas. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. d. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. surat ketetapan pajak. i. jenis pajak. Surat Tagihan Pajak. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan baik oleh fiskus maupun berdasarkan permohonan Wajib Pajak. g. . h. Surat Keputusan Pembetulan. Yang dapat dibetulkan karena kesalahan atau kekeliruan adalah sebagai berikut: a. Ruang Lingkup pembetulan yang diatur pada ayat ini terbatas pada kesalahan atau kekeliruan sebagai akibat dari: a. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. atau j. e. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. Surat Keputusan Keberatan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (5) jelas. dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tetap dapat diterbitkan. (4) Dalam hal Wajib Pajak dipidana karena melakukan tindak pidana yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berupa pajak berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. atas pajak yang kurang dibayar ditagih dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari pajak yang kurang dibayar. nomor surat ketetapan pajak. c. b. Nomor Pokok Wajib Pajak.tersebut.

Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. kekeliruan penerapan sanksi administrasi. Wajib Pajak dapat mengajukan lagi permohonan pembetulan kepada Direktur Jenderal Pajak. Ayat (2) Untuk memberikan kepastian hukum. kesalahan hitung. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. 18 17 (1) . atau menghapuskan. Ayat (3) Dalam hal batas waktu 6 (enam) bulan terlampaui. atau c. Jika terdapat pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Pembetulan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak.b. atau Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pembetulan lagi karena jabatan. b. Jika masih terdapat kesalahan tulis. antara lain kesalahan yang berasal dari penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkalian dan/atau pembagian suatu bilangan. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah apabila jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. tergantung pada sifat kesalahan dan kekeliruannya. permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib Pajak harus diputuskan dalam batas waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak permohonan diterima. tetapi Direktur Jenderal Pajak belum memberikan keputusan. kekeliruan penerapan persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Dengan dianggap dikabulkannya permohonan Wajib Pajak. mengurangkan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Menurut ketentuan ayat ini Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan untuk: a. Pengertian "membetulkan" pada ayat ini. atau c. kekeliruan penghitungan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan. permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan. menambahkan. kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. antara lain. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar tersebut diterbitkan setelah dilakukan pemeriksaan atas (4) jelas. kesalahan hitung. yaitu kekeliruan dalam penerapan tarif. dan kekeliruan dalam pengkreditan pajak. jumlah pajak yang terutang dihitung dengan cara jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut. kekeliruan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak yang menyatakan kurang bayar. Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Menurut ketentuan ayat ini. Surat ketetapan pajak yang diterbitkan berdasarkan hasil pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat berupa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Nihil atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. 20 17B (1) Yang dimaksud dengan "surat permohonan telah diterima secara lengkap" adalah Surat Pemberitahuan yang telah diisi lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. jumlah pajak yang terutang dihitung dengan cara jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut. (2) jelas. atau lebih bayar yang tidak disertai dengan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. 19 17A (1) Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (2) jelas. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah kredit pajak sama dengan jumlah paJak yang terutang. (3) jelas. atau c. Jika terdapat pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai. wajib mengajukan permohonan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). Ayat (1a) Yang dimaksud dengan "sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan" adalah dimulai . Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. b. Surat Ketetapan Pajak Nihil diterbitkan untuk: a. Apabila Wajib Pajak setelah menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dan menghendaki pengembalian kelebihan pembayaran pajak. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah apabila jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak. nihil.

dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan. dan c. 1 (satu) bulan untuk Pajak Pertambahan Nilai sejak permohonan di terima secara lengkap. dalam Tahun Pajak terakhir. Pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak dapat diberikan setelah Direktur Jenderal Pajak mefakukan konfirmasi kebenaran kredit pajak. Ayat (2) Batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum terhadap permohonan Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak sehingga bila batas waktu tersebut dilampaui dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan.sejak surat pemberitahuan pemeriksaan bukti permulaan disampaikan kepada Wajib Pajak. batas waktu tersebut dimaksudkan pula untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan. tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan dalam 3 (tiga) tahun terakhir. wakil. dalam arti bahwa Surat Pemberitahuan telah diisi lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). Permohonan dapat disampaikan dengan cara mengisi kolom dalam Surat Pemberitahuan atau dengan surat tersendiri. Ayat (3) Jika Direktur Jenderal Pajak terlambat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. Selain itu. dan ayat (6). penyampaian Surat Pemberitahuan Masa untuk Masa Pajak Januari sampai dengan November yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga) Masa Pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut. Surat Pemberitahuan Masa yang terlambat sebagaimana dimaksud dalam huruf b telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Masa Pajak berikutnya. kuasa. 21 17C (1) Terhadap permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak untuk Wajib Pajak dengan kriteria tertentu setelah dilakukan penelitian harus diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama: a. kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (4) jelas. atau anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak. . pegawai. permohonan tersebut dianggap dikabulkan. ayat (1a). Ayat (2) Termasuk dalam pengertian kepatuhan penyampaian Surat Pemberitahuan adalah: a. 3 (tiga) bulan untuk Pajak Penghasilan b. b. dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan.

00 23 .Dari pemeriksaan diperoleh hasil sebagai berikut: a. maka apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pembayaran pajak.000. Pajak Penghasilan yang terutang sebesar b. yaitu: .Wajib Pajak telah memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak sebesar Rp 80. Ayat Cukup Ayat (3) jelas. Kredit pajak.000. .000. Utang pajak yang belum melewati batas akhir pelunasan tidak termasuk dalam pengertian tunggakan pajak.Pajak Penghasilan Pasal Rp90.000.000. Untuk jelasnya cara penghitungan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan pengenaan sanksi administrasi berupa kenaikan tersebut diberikan contoh sebagai berikut: 1) Pajak Penghasilan .000.000.Bahwa Wajib Pajak tidak mempunyai tunggakan pajak adalah keadaan pada tanggal 31 Desember.00 Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan sebagai berikut: . atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.000.Pajak Penghasilan Pasal Rp20.000. Surat ketetapan pajak tersebut dapat berupa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.00 . Ayat (5) Untuk mendorong Wajib Pajak dalam melaporkan jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.00 22 Rp40.000. (4) Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang telah memperoleh pengembalian pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau Surat Ketetapan Pajak Nihil.00.Pajak Penghasilan Pasal 25 Rp100.

00 Rp 60.000.00 .00 (-) Rp 70.Pengusaha Kena Pajak telah memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak sebesar Rp 60..00 .000.000.000.000.Jumlah Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Rp 150.000.Jumlah Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak Jumlah pajak yang dapat dikreditkan Rp 80.000. yaitu Pajak Rp 150.000.000.00.00 .00 (+) Rp 100.00 b.000.000.000.00 2) Pajak Pertambahan Nilai .Pajak Masukan . .000.Pajak yang tidak/kurang dibayar Sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% Jumlah yang masih harus dibayar Rp 30.00 . Pajak Keluaran Rp 100.000.000.000.Dari pemeriksaan diperoleh hasil sebagai berikut: a.Kredit Pajak: Rp 100.000.000.000.000. Kredit pajak.000.000.Pajak Keluaran .00 .000.000.00 (+) Rp 150.000.00 (-) Rp 30.00 Masukan Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan sebagai berikut: .000.Kredit Pajak: .Pajak Penghasilan Pasal 23 Rp 40.Pajak Penghasilan Pasal 22 Rp 20.000.Pajak Penghasilan yang terutang sebesar .000.000.000.00 .000.000.Pajak Penghasilan Pasal 25 Rp 90.00 (+) Rp 60.

(4) Untuk mengurangi penyalahgunaan pemberian kemudahan percepatan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.000. Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan setelah memberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) jelas. Pasal Cukup 17E jelas. (7) jelas 22 17D (1) jelas. apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.000.Pajak yang kurang dibayar Rp 90.00 (+) Jumlah yang masih harus dibayar Rp 20.000. (2) jelas. Ayat (5) Untuk memotivasi Wajib Pajak agar melaporkan jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.Jumlah pajak yang dapat dikreditkan . jumlah pajak yang kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pembayaran pajak.000.000.00 (-) Rp 10.00 .000.Pajak .000.000. .Sanksi administrasi kenaikan 100% Rp 10.00 Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (6) jelas.

000. Pada tanggal 1 Desember 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak dengan perhitungan sebagai berikut: Pajak yang masih harus dibayar = Rp 10.000.00 Dibayar sampai dengan jatuh = Rp 6.000.00 pada tanggal 3 Desember 2008 dan pada tanggal 5 Desember 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak.00 Bunga 1 (satu) bulan (1 x 2% x Rp4.00 b. Jumlah pajak yang masih harus dibayar berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebesar Rp 10.00 yang diterbitkan tanggal 7 Oktober 2008.00 .000.Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Dihapus.000. Dalam hal terhadap Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana tersebut pada huruf a. Angka Pasal Ayat 23 18 (1) Jelas. dengan batas akhir pelunasan tanggal 6 November 2008.000.00) = Rp 80.000.000. Wajib Pajak membayar Rp10.000.00 Dibayar setelah jatuh tempo = Rp pelunasan Kurang dibayar = Rp 10.000.000. Contoh: a.000.00 (-) tempo pelunasan Kurang dibayar = Rp 4. Jumlah pembayaran sampai dengan tanggal 6 November 2008 Rp 6.000.000. (2) 24 19 (1) Ayat ini mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga berdasarkan jumlah pajak yang masih harus dibayar yang tidak atau kurang dibayar pada saatjatuh tempo pelunasan atau terlambat dibayar.000.00 0.000.000.00.000.000. sanksi administrasi berupa bunga dihitung sebagai berikut: Pajak yang masih harus dibayar = Rp 10.

000. atau Wajib Pajak tidak memenuhi angsuran pembayaran pajak.00.Bunga 1 (satu) bulan (1 x 2% x Rp10.00. Wajib Pajak tersebut diperbolehkan untuk mengangsur pembayaran pajak dalam jangka waktu 5 (lima) bulan dengan jumlah yang tetap sebesar Rp 224.00 = Rp 22. penagihannya dilaksanakan dengan Surat Paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.120. : = Rp 17.000.00.960.00. Sanksi administrasi berupa bunga untuk setiap angsuran dihitung sebagai berikut: angsuran ke-1 angsuran ke-2 angsuran ke-3 angsuran ke-4 angsuran ke-5 : 2% x Rp1.00= Rp112.Sanksi administrasi berupa bunga atas penundaan pembayaran Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut sebesar 5 x 2% x Rp1. Wajib Pajak menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebesar Rp 1. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (3) jelas.00.440.00 yang diterbitkan pada tanggal 2 Januari 2009 dengan batas akhir pelunasan tanggal 1 Februari 2009.480.120. : = Rp 8. Penagihan pajak .00.920.000.000.000.000. b. : = Rp 4.00 2% x Rp 448.00.00 2% x Rp 224.00) = Rp 200.000.120. Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam huruf a diperbolehkan untuk menunda pembayaran pajak sampai dengan tanggal 30 Juni 2009. 25 20 (1) Apabila jumlah utang pajak tidak atau kurang dibayar sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran atau sampai dengan tanggal jatuh tempo penundaan pembayaran. : = Rp 13.00 2% x Rp 672.00 Ayat (2) Ayat ini mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak. Contoh: a.000.000.400.00 2% x Rp 896.000.000.000.

Putusan Banding.dengan Ayat Surat Paksa tersebut dilaksanakan terhadap Penanggung Pajak. daluwarsa penagihan pajak 5 (lima) tahun dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Pembetulan. atau Putusan Peninjauan Kembali. Masa Pajak. 27 22 (1) Saat daluwarsa penagihan pajak ini perlu ditetapkan untuk memberi kepastian hukum kapan utang pajak tersebut tidak dapat ditagih lagi. dan Tahun Pajak. keberatan. 26 21 (1) Ayat ini menetapkan kedudukan negara sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan dilelang di muka umum. banding atau Peninjauan Kembali. Surat Keputusan Keberatan. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pembetulan. . (5) jelas. Daluwarsa penagihan pajak 5 (lima) tahun dihitung sejak Surat Tagihan Pajak dan surat ketetapan pajak diterbitkan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (3) jelas. (2) Yang dimaksud dengan "penagihan seketika dan sekaligus" adalah tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak. (3a) jelas. Pembayaran kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang pajak dilunasi. (3) jelas. Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (2) jelas. (4) jeias.

antara lain karena Wajib Pajak telah meninggal dunia dan tidak mempunyai harta warisan atau kekayaan. daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak tersebut. Wajib Pajak badan yang telah selesai proses pailitnya. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan dan memberitahukan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak yang tidak melakukan pembayaran hutang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu. daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa tersebut. daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Perintah Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak diterima oleh Direktur Jenderal Pajak. Wajib Pajak menyatakan pengakuan utang pajak dengan cara mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran. Angka Pasal 28 23 (1) (2) jelas. Angka Pasal 30 25 . Angka Pasal Ayat Dihapus. c. Dalam hal seperti itu. Ayat Cukup Ayat Dihapus. (3) 29 24 Menteri Keuangan mengatur tata cara penghapusan dan menentukan besarnya jumlah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi. erhadap Wajib Pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. Terdapat Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang diterbitkan terhadap Wajib Pajak karena Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan tindak pidana lain yang dapat merugikan pendapatan Negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. b.Ayat (2) Daluwarsa penagihan pajak dapat melampaui 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila: a. Melalui cara ini dapat diperkirakan secara efektif besarnya saldo piutang pajak yang akan dapat ditagih atau dicairkan. d. Dalam hal seperti itu. atau Wajib Pajak yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai subjek pajak dan hak untuk melakukan penagihan pajak telah daluwarsa.

atau pemotongan atau pemungutan pajak. sehingga tidak dapat dipertimbangkan dan tidak diterbitkan Surat Keputusan Keberatan. tenggang waktu selama 3 (tiga) bulan tersebut masih dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh Direktur Jenderal Pajak. dan pemotongan atau pemungutan pajak tidak sebagaimana mestinya. Pelunasan tersebut harus dilakukan sebelum Wajib Pajak mengajukan keberatan. Apabila ternyata bahwa batas waktu 3 (tiga) bulan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak karena keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur). Ayat (4) Permohonan keberatan yang tidak memenuhi salah satu syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal ini bukan merupakan surat keberatan. jumlah pajak. yaitu jumlah rugi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.Ayat (1) Apabila Wajib Pajak berpendapat bahwa jumlah rugi. Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak. Keberatan yang diajukan adalah mengenai materi atau isi dari ketetapan pajak. Ayat (3) Batas waktu pengajuan surat keberatan ditentukan dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan maksud agar Wajib Pajak mempunyai waktu yang cukup memadai untuk mempersiapkan surat keberatan beserta alasannya. Ayat (3a) Ketentuan ini mengatur bahwa persyaratan pengajuan keberatan bagi Wajib Pajak adalah harus melunasi terlebih dahulu sejumlah kewajiban perpajakannya yang telah disetujui Wajib Pajak pada saat pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Untuk 2 (dua) Tahun Pajak tersebut harus diajukan 2 (dua) buah surat keberatan. bukti pemungutan. jumlah besarnya pajak. Yang dimaksud dengan "suatu" pada ayat ini adalah 1 (satu) keberatan harus diajukan terhadap 1 (satu) jenis pajak dan 1 (satu) Masa Pajak atau Tahun Pajak. Contoh: Keberatan atas ketetapan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2008 dan Tahun Pajak 2009 harus diajukan masing-masing dalam 1 (satu) surat keberatan tersendiri. Ayat (5) . Ayat (2) Yang dimaksud dengan "alasan-alasan yang menjadi dasar penghitungan" adalah alasanalasan yang jelas dan dilampiri dengan fotokopi surat ketetapan pajak. atau bukti pemotongan.

yaitu sebesar 50% x (Rp750. Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Wajib Pajak tidak dikenai sanksi administrasi sebagaimana diatur dalam Pasal 19.00.00.00 diterbitkan terhadap PT A. (9) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian dan Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan banding.000. Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. Ayat Cukup Ayat (8) jelas. Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp200. . tetapi dikenai sanksi sesuai dengan ayat ini. Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 200.00Rp200.000.000. Dalam hal ini. dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut.penghitungan pemungutan pajak yang telah ditetapkan.000.00) = Rp275.000. Wajib Pajak diberi rugi. batas waktu penyelesaian keberatan dihitung sejak tanggal penerimaan surat dimaksud.00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya.000.000.Tanda penerimaan surat yang telah diberikan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak atau oleh pos berfungsi sebagai tanda terima surat keberatan apabila surat tersebut memenuhi syarat sebagai surat keberatan.000.000.000. Direktur Jenderal Pajak permintaan tersebut. Oleh karena berkewajiban untuk memenuhi Ayat (6) yang kuat. Di samping itu.000. batas waktu penyelesaian keberatan dihitung sejak diterima surat berikutnya yang memenuhi syarat sebagai surat keberatan.000. Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp750. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000. Apabila surat Wajib Pajak tidak memenuhi syarat sebagai surat keberatan dan Wajib Pajak memperbaikinya dalam batas waktu penyampaian surat keberatan. (7) Ayat ini mengatur bahwa Jatuh tempo pembayaran yang tertera dalam surat ketetapan pajak tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan.000.00. atau pemotongan atau itu. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen). Contoh: Untuk tahun pajak 2008. Dengan demikian. jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan.000. Ayat Agar Wajib Pajak dapat menyusun keberatan dengan alasan hak untuk meminta dasar pengenaan pajak.

32 26A (1) jelas. dalam rangka pemeriksaan guna menetapkan besarnya jumlah pajak yang terutang. berarti akan diperoleh suatu kepastian hukum bagi Wajib Pajak selain terlaksananya administrasi perpajakan. 31 26 (1) Terhadap surat keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak. Surat ketetapan pajak secara jabatan tersebut diterbitkan karena Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan meskipun telah ditegur secara tertulis. dalam tata cara sebagaimana dimaksud pada ayat . (4) Ayat ini mengharuskan Wajib Pajak membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan terhadap pajak-pajak yang ditetapkan secara jabatan. Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (2) jelas. (3) jelas. Dengan ditentukannya batas waktu penyelesaian keputusan atas keberatan tersebut. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Cukup Ayat (5) jelas. atau menolak untuk memberikan kesempatan kepada pemeriksa memasuki tempat-tempat tertentu yang dipandang perlu.Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (10) jelas. (2) Agar dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada Wajib Pajak untuk memperoleh keadilan dalam penyelesaian keberatannya. Apabila Wajib Pajak tidak dapat membuktikan ketidakbenaran surat ketetapan pajak secara jabatan. tidak memenuhi kewajiban menyelenggarakan pembukuan. kewenangan penyelesaian dalam tingkat pertama diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan ketentuan batasan waktu penyelesaian keputusan atas keberatan Wajib Pajak ditetapkan paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima. pengajuan keberatannya ditolak.

(4) (4a) jelas. Wajib Pajak dapat hadir untuk memberikan keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya. (4) jelas. (5d) Dalam hal permohonan banding Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. Ayat Cukup Ayat Dihapus. (3) jelas. (5c) jelas.ini diatur. Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Dihapus. Ayat (3) Jelas. jangka waktu pelunasan pajak yang diajukan banding tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum . antara lain. (5) (5a) Ayat ini mengatur bahwa bagi Wajib Pajak yang mengajukan banding. (2) jelas. Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (5b) jelas. 33 27 (1) jelas. Penangguhan Jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan.

34 27A (1) Imbalan bunga diberikan berkenaan dengan Surat Keputusan Keberatan. selama jumlah pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak.000.000.00 diterbitkan terhadap PT A. Ayat (2) Imbalan bunga juga diberikan terhadap pembayaran lebih Surat Tagihan Pajak yang telah .00. Ayat (1a) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pembetulan. Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp750. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) sebagaimana dimaksud pada ayat ini.00)=Rp250.000.00 Rp200. atau pembatalan atas surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak yang keputusannya mengabulkan sebagian atau seluruhnya.mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. yaitu sebesar 100% x (Rp450. Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp200.00. Namun.000.000. Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 200. Dalam hal ini baik sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 maupun sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (9) tidak dikenakan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (6) jelas.000. pengurangan. Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan.000.000.000.00.000.000. kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.000. Surat Ketetapan Pajak Nihil atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak.000. atau Putusan Peninjauan Kembali dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.000.00. Di samping itu.000. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan.000. Putusan Banding. Contoh: Untuk tahun pajak 2008. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya.000. dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai dengan ayat ini. Selanjutnya Wajib Pajak mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan besarnya pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp450.

tahun buku. (5) Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan dengan tahun-tahun sebelumnya untuk mencegah penggeseran laba atau rugi. yang mengabulkan sebagian atau seluruh permohonan Wajib Pajak. (2) Jelas. Stelsel kas adalah suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas penghasilan yang . Termasuk dalam pengertian stetsel akrual adalah pengakuan penghasilan berdasarkan metode persentase tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai daiam bidang konstruksi dan metode lain yang dipakai dalam bidang usaha tertentu seperti build operate and transfer (BOT) dan real estat. Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang. tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar secara tunai. c. Putusan Banding. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (3) jelas.diterbitkan berdasarkan Pasal 14 ayat (4) dan Pasal 19 ayat (1) sehubungan dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. (4) jetas. metode penilaian persediaan. atau metode penyusutan dan amortisasi. (3) Jelas. Jadi. b. Prinsip taat asas dalam metode pembukuan misalnya dalam penerapan: a. yang memperoleh pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa denda atau bunga. stelsel pengakuan penghasilan. atau Putusan Peninjauan Kembali atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tersebut. d. 35 28 (1) jelas. Pengurangan atau penghapusan yang dimaksud merupakan akibat dari adanya Surat Keputusan Keberatan.

metode penyusutan aktiva tetap. 2) Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak. Dengan demikian penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga dinamakan stelsel campuran. dan biaya operasi lain dibayar. Contoh: . Perubahan metode pembukuan akan mengakibatkan perubahan dalam prinsip taat asas yang dapat meliputi perubahan metode dari kas ke akrual atau sebaliknya atau perubahan penggunaan metode pengakuan penghasilan atau pengakuan biaya itu sendiri. jasa. Ayat (6) Pada dasarnya metode pembukuan yang dianut harus taat asas. perubahan metode pembukuan masih dimungkinkan dengan syarat telah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. 3) Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten).hak yang dapat diamortisasi. yaitu harus sama dengan tahun-tahun sebelumnya. yaitu besarnya penghasilan dari tahun ke tahun dapat disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Namun. baik yang tunai maupun yang bukan. dan metode penilaian persediaan. penghasilan dari penyerahan barang atau jasa ditetapkan pada saat pembayaran dari pelanggan diterima dan biaya-biaya ditetapkan pada saat barang. Oleh karena itu. Dalam menghitung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluruh pembeiian dan persediaan. Dalam stetsel kas murni. Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa. Menurut stelsei kas. misalnya dalam metode pengakuan biaya yang berkenaan dengan penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode penyusutan tertentu. pemakaian stelsel kas dapat mengakibatkan penghitungan yang mengaburkan terhadap penghasilan. dan restoran yang tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung lama. biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi. hiburan. misalnya transportasi. misalnya dalam hal penggunaan metode pengakuan penghasilan dan biaya (metode kas atau akrual). Dengan cara ini.diterima dan biaya yang dibayar secara tunai. untuk penghitungan Pajak Penghasilan dalam memakai stelsel kas harus memperhatikan hal-hal antara lain sebagai berikut: 1) Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan. penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan apabila benar-benar telah diterima secara tunai dalam suatu periode tertentu serta biaya baru dianggap sebagai biaya apabila benar-benar telah dibayar secara tunai dalam suatu periode tertentu. Perubahan metode pembukuan harus diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak sebelum dimuiainya tahun buku yang bersangkutan dengan menyampaikan alasan yang logis dan dapat diterima serta akibat yang mungkin timbul dari perubahan tersebut.

misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan. Tahun Pajak adalah sama dengan tahun kalender kecuali Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan. Dengan demikian. Tahun buku 1 Juli 2008 sampai dengan 30 Juni 2009 adalah Tahun Pajak 2008. Di samping itu. Ayat Cukup Ayat (8) jeias. perubahan periode tahun buku Juga berakibat berubahnya jumlah penghasilan atau kerugian Wajib Pajak. Pengaturan dalam ayat ini dimaksudkan agar berdasarkan pembukuan tersebut dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. penyebutan Tahun Pajak yang bersangkutan menggunakan tahun yang di dalamnya termasuk 6 (enam) bulan pertama atau lebih. Jika da!am tahun 2009 Wajib Pajak bermaksud mengubah metode penyusutan aktiva dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun atau declining balance method. Contoh: a. Apabila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. kecuali peraturan perundang-undang perpajakan menentukan lain. pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia. Selain itu. perubahan tersebut juga harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak. b. sedangkan bagi mereka yang semata-mata menerima penghasilan dari luar usaha dan pekerjaan bebas. Ayat (7) Pengertian pembukuan teiah diatur dalam Pasai 1 angka 29. Wajib Pajak harus minta persetujuan terlebih dahulu kepada Direktur jenderai Pajak yang diajukan sebelum dimulainya tahun buku 2009 dengan menyebutkan alasan dilakukannya perubahan metode penyusutan dan akibat dari perubahan tersebut.Wajib Pajak da!am tahun 2008 menggunakan metode penyusutan "garis lurus atau straight line method. (9) Pencatatan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatanusaha dan pekerjaan bebas meliputi peredaran atau penerimaan bruto dan penerimaan penghasilan lainnya. Tahun buku 1 Oktober 2008 sampai dengan 30 September 2009 adalah Tahun Pajak 2009. pengurang. Oleh karena itu. pembukuan harus mencatat juga jumlah harga perolehan atau nilai impor. Agar Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dapat dihitung dengan benar. jumlah harga jual atau nilai ekspor. pajak lainnya juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut. jumlah harga jual dari barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. pencatatannya hanya mengenai penghasitan bruto. jumlah pembayaran atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. dan penghasilan neto yang merupakan objek Pajak Penghasilan. pencatatan meliputi pula penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat . Selain dapat dihitung besarnya Pajak Penghasilan.

Kurun waktu 10 (sepuluh) tahun penyimpanan buku. pembukuan atau pencatatan. Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dilakukan dengan menelusuri kebenaran Surat Pemberitahuan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (12) jelas. pemeriksaan dapat juga dilakukan untuk tujuan lain. dan pemenuhan kewajiban perpajakan lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya dari Wajib Pajak. dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan adalah sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai batas daluwarsa penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. catatan.final. di antaranya: . bahan pembukuan atau pencatatan yang diperlukan masih tetap ada dan dapat segera disediakan. tujuan lain dalam rangka mslaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. kelayakan. dan dokumen termasuk yang diselenggarakan secara program aplikasi on-line dan hasil pengolahan data elektronik yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan harus disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia. dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk yang diselenggarakan secara program aplikasi on-line harus dilakukan dengan memperhatikan faktor keamanan. atau seluruh jenis pajak. Ayat (10) (11) Buku. catatan. Catatan. beberapa jenis pajak. menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. baik untuk tahun-tahun yang lalu maupun untuk tahun berjalan. dan kewajaran penyimpanan. Ayat Dihapus. Penyimpanan buku. 36 29 (1) Direktur Jenderal Pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan berwenang melakukan pemeriksaan untuk: a. termasuk terhadap instansi pemerintah dan badan lain sebagai pemungut pajak atau pemotong pajak. dan/atau b. Pemeriksaan dapat dilakukan torhadap Wajib Pajak. Hal itu diimaksudkan agar apabila Direktur Jenderal Pajak akan mengeluarkan surat ketetapan pajak. Selain itu. Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor (Pemeriksaan Kantor) atau di tempat Wajib Pajak (Pemeriksaan Lapangan) yang ruang lingkup pemeriksaannya dapat meliputi satu jenis pajak.

Oleh karena itu. Wajib Pajak harus memberikan akses kepada petugas pemeriksa untuk mengakses dan/atau mengunduh data dari catatan. c. petugas pemeriksa harus bekerja dengan jujur. d. pencocokan data dan/atau alat keterangan. penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan. Petugas pemeriksa harus melakukan pembinaan kepada Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. uang. f. pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Apabila Wajib Pajak menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan dengan menggunakan proses pengolahan data secara elektronik electronic data processing/EDP). Wajib Pajak mengajukan keberatan. h. atau objek yang terutang pajak. dan/atau pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda. dan/atau barang yang dapat memberi petunjuk tentang . baik yang diselenggarakan sendiri maupun yang diselenggarakan melalui pihak lain. j.a. (2) Ayat Pemeriksaan dilaksanakan oleh petugas pemeriksa yang jelas identitasnya. Dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan ayat ini Wajib Pajak yang diperiksa juga memiliki kewajiban memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruangan yang merupakan tempat penyimpanan dokumen. serta memperlihatkannya kepada Wajib Pajak yang diperiksa. pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak. k. petugas pemeriksa harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan. b. dan objektif serta wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela. penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai. bertanggung jawab. e. penuh pengertian. dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh. Petugas pemeriksa harus telah mendapat pendidikan teknis yang cukup dan memiliki keterampilan sebagai pemeriksa pajak. dokumen. Ayat (3) Kewajiban yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak yang diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan tujuan dilakukannya pemeriksaan baik dalam rangka menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan maupun untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil. pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan. Petugas pemeriksa harus menjelaskan tujuan dilakukannya pemeriksaan kepada Wajib Pajak. i. penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak. Pendapat dan simpulan petugas pemeriksa harus didasarkan pada bukti yang kuat dan berkaitan serta berlandaskan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. sopan. pekerjaan bebas Wajib Pajak. kegiatan usaha. g.

Keterangan tertulis misalnya: a. dan dokumen lain. b. keterangan bahwa fotokopi dokumen yang dipinjamkan sesuai dengan aslinya. surat pernyataan tentang kepemilikan harta. Pasal Ayat 30 (1) . Keterangan lisan misalnya: a. Dalam hal petugas pemeriksa membutuhkan keterangan lain selain buku. atau surat pernyataan tentang perkiraan biaya hidup. Angka Pasal 37 29A Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan fasilitas kepada Wajib Pajak yang mendaftarkan sahamnya di bursa efek. Mengingat pemeriksaan dapat dilakukan melalui Pemeriksaan Kantor dan jangka waktu pemeriksaannya cukup singkat. (4) Untuk mencegah adanya dalih bahwa Wajib Pajak yang sedang diperiksa terikat pada kerahasiaan sehingga pembukuan. catatan. yaitu dalam hal Wajib Pajak dilakukan pemeriksaan. Direktur Jenderal Pajak melalui Wajib Pajak dapat meminta kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh Akuntan Publik. Dengan Pemeriksaan Kantor. d. wawancara tentang proses pembukuan Wajib Pajak. atau c. proses pemeriksaan menjadi lebih sederhana dan cepat penyelesaiannya sehingga Wajib Pajak semakin cepat mendapatkan kepastian hukum. catatan. pemeriksaannya dapat melalui Pemeriksaan Kantor. c. Wajib Pajak harus memberikan keterangan lain yang dapat berupa keterangan tertulis dan/atau keterangan lisan.keadaan usaha Wajib Pajak dan melakukan peminjaman dan/atau pemeriksaan di tempattempat tersebut. wawancara tentang proses produksi Wajib Pajak. wawancara dengan manajemen tentang transaksi-transaksi yang bersifat khusus. dokumen serta keterangan-keterangan iain yang diperlukan tidak dapat diberikan oleh Wajib Pajak maka ayat ini menegaskan bahwa kewajiban merahasiakan itu ditiadakan. dibandingkan melalui Pemeriksaan Lapangan. b. Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (3a) jelas. (3b) jelas. surat pernyataan tidak diaudit oleh Kantor Akuntan Publik.

yakni tidak memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam batas waktu yang ditentukan. dan barang bergerak dan/atau tidak bergerak. (2) Untuk lebih memberikan keseimbangan hak kepada Wajib Pajak dalam menanggapi temuan hasil pemeriksaan. Penyegelan data elektronik dilakukan sepanjang tidak menghentikan kelancaran kegiatan operasional perusahaan. Dalam hal demikian. catatan. serta mengakses data yang dikelola secara elektronik atau tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan dianggap menghalangi pelaksanaan pemeriksaan. misalnya. dalam tata cara pemeriksaan tersebut. 39 31 (1) jelas. Wajib Pajak tidak berada di tempat atau sengaja tidak memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. ditukar. hasil pemeriksaan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. ruang. antara lain. catatan. dan barang bergerak dan/atau tidak bergerak. ruang. dan benda-benda iain yang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak yang diperiksa agar tidak dipindahkan. Penyegelan merupakan upaya terakhir pemeriksa untuk mernperoleh atau mengamankan buku. dokumen termasuk data yang dikelola secara elektronik dan benda-benda lain yang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak yang diperiksa dipandang perlu memberi kewenangan kepada Direktur Jenderal Pajak yang dilaksanakan oleh pemeriksa untuk melakukan penyegelan terhadap tempat. untuk mernperoleh buku. Wajib Pajak yang pada saat dilakukan pemeriksaan tidak memberi kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat. mengatur kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada Wajib Pajak dan memberikan hak Wajib Pajak untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil Pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan. Ayat Cukup (3) jelas. dimusnahkan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Cukup Ayat (2) jelas. . dirusak. dihilangkan. diubah. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal. atau dipalsukan. khususnya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. dokumen termasuk data yang dikelola secara elektronik.Dalam pemeriksaan dapat ditemukan adanya Wajib Pajak yang tidak memenuhi ketentuan yang diatur dalam Pasal 29 ayat (3) huruf b.

warisan yang belum dibagi. Ayat (3) Ayat ini memberikan kelonggaran dan kesempatan bagi Wajib Pajak untuk meminta bantuan pihak lain yang memahami masalah perpajakan sebagai kuasanya. badan dalam pembubaran. dan sebagainya walaupun orang tersebut tidak tercantum namanya dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte pendirian maupun akte perubahan. menandatangani cek.Angka Pasal Ayat 40 32 (1) Dalam Undang-Undang ini ditentukan siapa yang menjadi wakil untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak terhadap badan. Ayat Cukup Ayat (3a) jelas. untuk dan atas namanya. misalnya berwenang menandatangani kontrak dengan pihak ketiga. membantu melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Bagi Wajib Pajak tersebut perlu ditentukan siapa yang menjadi wakil atau kuasanya karena mereka tidak dapat atau tidak mungkin melakukan sendiri tindakan hukum tersebut. Yang dimaksud dengan "kuasa" adalah orang yang menerima kuasa khusus dari Wajib Pajak untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan tertentu dari Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. 41 33 . dan anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan. badan dalam likuidasi. Ayat (2) Ayat ini menegaskan bahwa wakil Wajib Pajak yang diatur dalam Undang-Undang ini bertanggung jawab secara pribadi atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang. Pengecualian dapat dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak apabila wakil Wajib Pajak dapat membuktikan dan meyakinkan bahwa dalam kedudukannya. termasuk dalam pengertian pengurus. Ketentuan dalam ayat ini berlaku pula bagi kornisaris dan pernegang saham mayoritas atau pengendali. (4) Orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang dalam menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan perusahaan. Bantuan tersebut meliputi pelaksanaan kewajiban formal dan material serta pemenuhan hak Wajib Pajak yang ditentukan daiam peraturan perundang-undangan perpajakan. Angka Pasal Dihapus. tidak mungkin dimintai pertanggungjawaban. menurut kewajaran dan kepatutan. badan yang dinyatakan pailit.

baik petugas pajak maupun mereka yang melakukan tugas di bidang perpajakan dilarang mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak yang menyangkut masalah perpajakan. dan/atau kegiatan usaha Wajib Pajak. tunggakan pajak secara nasional. dokumen dan/atau data yang diperoleh dari pihak ketiga yang bersifat rahasia. f. register permohonan Wajib Pajak. merek usaha. Ayat (2a) Keterangan yang dapat diberitahukan adalah identitas Wajib Pajak dan informasi yang bersifat umum tentang perpajakan identiias Wajib Pajak meiiputi: 1. tunggakan pajak per Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan/atau per Kantor Pelayanan Pajak. laporan keuangan. 3. dan pengacara yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu pelaksanaan undang-undang perpajakan adalah sama dengan petugas pajak yang dilarang pula untuk mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ayat (3) . 4. penerimaan pajak perjenis pajak. data yang diperoleh dalam rangka petaksanaan pemeriksaan. g. penerimaan pajak per klasifikasi lapangan usaha. Informasi yang bersifat umum tentang perpajakan meiiputi: a. b. antara lain: a. d. d. c. akuntan. nama Wajib Pajak. penerimaan pajak per Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan/atau per Kantor Pelayanan Pajak. Surat Pemberitahuan. alamat kegiatan usaha. Ayat (2) Para ahli. dan lain-lain yang dilaporkan oleh Wajib Pajak. penerimaan pajak secara nasional. seperti ahli bahasa. Nomor Pokok Wajib Pajak. b. e. jumlah Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak terdaftar.Angka Pasal Ayat 42 34 (1) Setiap pejabat. 5. 2. dokumen dan/atau rahasia Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berkenaan. alamat Wajib Pajak. c. 6. dan/atau h.

Ayat (2) Untuk kepentingan perpajakan. misalnya dalam rangka penyidikan. kantor administrasi. akuntan publik. Dalam surat izin yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan harus dicantumkan nama Wajib Pajak. atau tenaga ahli yang diizinkan untuk memberikan keterangan atau memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak. pimpinan Bank Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak. notaris. dan pihak ketiga lainnya yang mempunyai hubungan dengan kegiatan usaha Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak atau penagihan pajak atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan harus memberikan keterangan atau buktibukti yang diminta. Yang dimaksud dengan "konsultan pajak" adalah setiap orang yang dalam lingkungan pekerjaannya secara bebas memberikan jasa konsultasi kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. keterangan atau bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak dapat diberikan atau diperlihatkan kepada pihak tertentu yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.Untuk kepentingan negara. atas permintaan tertulis Direktur Jenderal Pajak. nama pihak yang ditunjuk. Ayat (5) Ayat ini merupakan pembatasan dan penegasan bahwa keterangan perpajakan yang diminta hanya mengenai perkara pidana atau perdata tentang perbuatan atau peristiwa yang menyangkut bidang perpajakan dan hanya terbatas pada tersangka yang bersangkutan. pihak ketiga yaitu bank. penuntutan. Pemberian izin tersebut dilakukan secara terbatas dalam hal-hal yang dipandang perlu oleh Menteri Keuangan. dan nama pejabat. atau dalam rangka mengadakan kerja sama dengan instansi pemerintah lain. Menteri Keuangan memberikan izin pembebasan atas kewajiban kerahasiaan kepada pejabat pajak dan para ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) atas permintaan tertulis hakim ketua sidang. Angka Pasal Ayat 43 35 (1) Untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. ahli. Ayat (4) Untuk melaksanakan pemeriksaan pada sidang pengadilan dalam perkara pidana atau perdata yang berhubungan dengan masalah perpajakan. demi kepentingan peradilan. . konsultan pajak.

misalnya Wajib Pajak yang ditolak pengajuan keberatannya karena tidak memenuhi persyaratan formal (memasukkan surat keberatan tidak pada waktunya) meskipun persyaratan material terpenuhi. Selain itu. jenis. Angka Pasal Ayat 45 36 (1) Dalam praktik dapat ditemukan sanksi administrasi yang dikenakan kepada Wajib Pajak tidak tepat karena ketidaktelitian petugas pajak yang dapat membebani Wajib Pajak yang tiidak bersalah atau tidak memahami peraturan perpajakan. sanksi administrasi berupa bunga. dan pihak lain sangat diperlukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Demikian juga. sumber. Dalam hal demikian. 44 35A (1) Dalam rangka pengawasan kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment. Dalam rangka pelaksanaan ketentuan ini. Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya atau atas permohonan Wajib Pajak dan berlandaskan unsur keadilan dapat mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak yang tidak benar. peredaran usaha. Data dan informasi dimaksud adalah data dan informasi orang pribadi atau badan yang dapat menggambarkan kegiatan atau usaha. asosiasi. termasuk informasi mengenai nasabah debitur. serta laporan keuangan dan/atau laporan kegiatan usaha yang disampaikan kepada instansi lain di luar Direktorat Jenderal Pajak. lembaga. atas Surat Tagihain Pajak yang tidak benar dapat dilakukan pengurangan atau pembatalan oleh Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya atau atas permohonan Wajib . penghasilan dan/atau kekayaan yang bersangkutan. dan pihak lain belum mencukupi. Direktur Jenderal Pajak dapat menghimpun data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan sehubungan dengan terjadinya suatu peristiwa yang diperkirakan berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dengan memperhatikan ketentuan tentang kerahasiaan atas data dan informasi dimaksud. lembaga. dan kenaikan yang telah ditetapkan dapat dihapuskan atau dikurangkan oleh Direktur Jenderal Pajak. dan tata cara penyampaian data dan informasi kepada Direktorat Jenderal Pajak diatur dengan Peraturan Pemerintah. denda. kartu kredit. Ayat (2) Apabila data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang diberikan oleh instansi pemerintah.Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (3) jelas. untuk kepentingan penerimaan negara. data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang bersumber dari instansi pemerintah. asosiasi. data transaksi keuangan dan lalu lintas devisa.

Direktur Jenderal Pajak atas kewenangannya atau atas permohonan Wajib Pajak dapat mernbatalkan hasil pemeriksaan pajak yang dilaksanakan tanpa penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan atau tanpa dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak. Dalam rangka memberikan keadilan dan melindungi hak Wajib Pajak.Pajak. terhadap pegawai pajak yang dengan sengaja menghitung atau menetapkan pajak yang tidak sesuai dengan undangundang sehingga mengakibatkan kerugian pada pendapatan Negara dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ayat (2) Ayat ini mengatur pelanggaran yang dilakukan pegawai pajak. misalnya apabila pegawai pajak melakukan pelanggaran di bidang kepegawaian. Namun. . pegawai pajak dapat diadukan karena telah melanggar peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian. Dalam keadaan demikian. Apabila pegawai pajak dianggap melakukan tindak pidana. Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (1a) jelas. (1b) jelas. Wajib Pajak dapat mengadukan pelanggaran yang dilakukan pegawai pajak tersebut kepada unit internal Departemen Keuangan. pegawai pajak dapat diadukan karena telah melakukan tindak pidana. 46 36A (1) Dalam rangka mengamankan penerimaan negara dan meningkatkan profesionalisme pegawai pajak dalam melaksanakan ketentuan undang-undang perpajakan. pegawai pajak dapat diadukan karena melakukan tindak pidana korupsi. (1e) jelas. permohonan Wajib Pajak tidak dapat dipertimbangkan. apabila pegawai pajak melakukan tindak pidana korupsi. dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. Demikian juga. (1c) jelas. (1d) jelas. (2) Jelas.

(2) jelas. (2) . keluarga. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat Cukup Ayat (3) jelas. (3) jelas. dan/atau tindakan lain yang berindikasi korupsi. dan/atau nepotisme. (2) 47 36B (1) jelas. kolusi. Pemberian besarnya insentif dilakukan melalui pembahasan yang dilakukan oleh Pemerintah dengan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi masalah keuangan. kelompok. Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Pasal Cukup Pasal Ayat Cukup Ayat 36D (1) jelas. 48 37A (1) Jelas. 36C jelas. (4) jelas.Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat (3) jetas. (5) Pegawai pajak dalam melaksanakan tugasnya dianggap berdasarkan iktikad baik apabila pegawai pajak tersebut dalam melaksanakan tugasnya tidak untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri.

atau kurang mengindahkan kewajibannya sehingga perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. lalai. sedangkan yang menyangkut tindak pidana di bidang perpajakan dikenai sanksi pidana. Oleh karena itu. atau penyampaian Surat Pemberitahuan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam rangka mengajukan permohonan restitusi pajak dan/atau kompensasi pajak atau pengkreditan pajak yang tidak benar sangat merugikan negara. tidak hati-hati. Dalam perbuatan atau tindakan ini termasuk pula setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri. Perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini bukan merupakan pelanggaran administrasi melainkan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak. dikenai sanksi administrasi dengan menerbitkan surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak. dikenai sanksi pidana lebih berat. Kealpaan yang dimaksud dalam pasal ini berarti tidak sengaja. atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Dengan adanya sanksi pidana tersebut. diharapkan tumbuhnya kesadaran Wajib Pajak untuk mematuhi kewajiban perpajakan seperti yang ditentukan dalam peraturan perundangundangan perpajakan. yaitu ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana yang diatur pada ayat (1). Angka Pasal Ayat 50 39 (1) Perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat ini yang dilakukan dengan sengaja dikenai sanksi yang berat mengingat pentingnya peranan penerimaan pajak dalam penerimaan negara. 49 38 Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak. bagi mereka yang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun sejak selesainya menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan.Cukup Angka Pasal jelas. Ayat (2) Untuk mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana di bidang perpajakan. . percobaan melakukan tindak pidana tersebut merupakan delik tersendiri. sepanjang menyangkut tindakan administrasi perpajakan. Ayat (3) Penyalahgunaan atau penggunaan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

Oeh karena itu. . atau kurang mengindahkan sehingga kewajiban untuk merahasiakan keterangan atau bukti-bukti yang ada pada Wajib Pajak yang dilindungi oleh Undang-undang Perpajakan dilanggar. tidak hati-hati. bukti pemotongan pajak. Ayat (2) Perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat ini yang dilakukan dengan sengaja dikenai sanksi yang lebih berat dibandingkan dengan perbuatan atau tindakan yang dilakukan karena kealpaan agar pejabat yang bersangkutan lebih berhati-hati untuk tidak meiakukan perbuatan membocorkan rahasia Wajib Pajak. dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Perpajakan. bukti pemungutan pajak. Ayat (3) Tuntutan pidana terhadap pelanggaran kerahasiaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai dengan sifatnya adalah menyangkut kepentingan pribadi seseorang atau badan selaku Wajib Pajak. Angka Pasal Ayat 52 41 (1) Untuk menjamin bahwa kerahasiaan mengenai perpajakan tidak akan diberitahukan kepada pihak lain dan supaya Wajib Pajak dalam memberikan data dan keterangan tidak ragu-ragu. dan/atau bukti setoran pajak dapat mengakibatkan dampak negatif dalam keberhasilan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan. bukti pemotongan pajak. Angka Pasal 53 41A Agar pihak ketiga memenuhi permintaan Direktur Jenderal Pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 35 maka perlu adanya sanksi bagi pihak ketiga yang melakukan perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini. penyalahgunaan tersebut berupa penerbitan dan/atau penggunaan faktur pajak. Atas kealpaan tersebut. pelaku dihukum dengan hukuman yang setimpa). dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya dikenai sanksi pidana. Pengungkapan kerahasiaan sebagaimana dimaksud pada ayat ini dilakukan karena kealpaan dalam arti lalai.Angka Pasal 51 39A Faktur pajak sebagai bukti pungutan pajak merupakan sarana administrasi yang sangat penting dalam pelaksanaan ketentuan Pajak Pertambahan Nilai. perlu adanya sanksi pidana bagi pejabat yang bersangkutan yang menyebabkan terjadinya pengungkapan kerahasiaan tersebut. bukti pemungutan pajak. Demikian juga bukti pemotongan pajak dan bukti pemungutan pajak merupakan sarana untuk pengkreditan atau pengurangan pajak terutang sehingga setiap penyalahgunaan faktur pajak.

pegawai Wajib Pajak. atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. laporan. Akuntan Publik. 56 43 (1) Yang dipidana karena mefakukan perbuatan tindak pidana di bidang perpajakan tidak terbatas pada Wajib Pajak. (4) Jelas. Angka Pasal Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat 55 41C (1) Jeias. data. (3) jetas. atau tidak ditindaklanjuti. dan pengaduan yang diterima oleh Direktorat Jenderal Pajak akan dikembangkan dan dianalisis melalui kegiatan intelijen atau pengamatan yang hasilnya dapat ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan. kuasa Wajib Pajak. Pemeriksaan Bukti Permulaan. (2) jelas. yang menganjurkan. wakil Wajib Pajak. yang turut serta melakukan. 57 A (1) 43 Informasi. atau pihak lain.Angka Pasal 54 41B Seseorang yang meiakukan perbuatan menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (2) jelas. Ayat (2) . misalnya menghalangi penyidik melakukan penggeledahan dan/atau menyembunyikan bahan bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini dikenai sanksi pidana. tetapi juga terhadap mereka yang menyuruh melakukan. Konsultan Pajak.

baik terhadap barang bergerak maupun tidak bergerak. Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana perpajakan sepanjang perkara pidana tersebut belum dilimpahkan ke pengadilan. (4) jelas. dan/atau pihak lain yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Penyitaan tersebut dapat dilakukan. termasuk melakukan penyitaan. 59 44B (1) Untuk kepentingan penerimaan negara. (4) jelas. (2) Pasal II Cukup jelas. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dilaksanakan menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat (3) jelas. . Ayat Cukup jelas. atas permintaan Menteri Keuangan. Penanggung Pajak. dan surat berharga milik Wajib Pajak. termasuk rekening bank.Cukup Ayat Cukup Ayat Cukup Angka Pasal Ayat 58 jelas. (3) jelas. piutang. 44 (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diangkat sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan oleh pejabat yang berwenang adalah penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. Ayat (2) Pada ayat ini diatur wewenang Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan.

ortax.9 TAHUN 1994 Tanggal 9 Nopember 1994 Undang-Undang .16 TAHUN 2000 Tanggal 2 Agustus 2000 Undang-Undang . Tanggal 31 Desember 1983 Status Perpu .TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4740 Dokumen ini dibuat secara spesifik untuk www.6 TAHUN 1983 Tanggal 31 Desember 1983 Home | Site Map | About Us | Testimonial | Disclaimer | Info Iklan Daftar Alamat KPP | Kantor Akuntan Publik | Kantor Konsultan Pajak | Buku Pajak | Software Pajak | Sekolah / Brevet Pajak | Careers Arsip Berita | Announcement | Info Lainnya | Polling | Event | Forum | Peraturan (Official Under Preparation) | Kontribusi Member | Aplikasi | Formulir Peraturan | Tax Treaty | Kurs Menteri Keuangan | Kurs Bank Indonesia | Panduan | Artikel .5 TAHUN 2008 Tanggal 31 Desember 2008 Historis Undang-Undang .9 TAHUN 1994. Tanggal 9 Nopember 1994 Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Undang-Undang .org Peraturan Terkait Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Undang-Undang .6 TAHUN 1983.16 TAHUN 2000. Tanggal 2 Agustus 2000 Perubahan Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Undang-Undang .

2. This site is best viewed with a resolution of 1024x768 (or higher) and supports Microsoft Internet Explorer 6. Tindak pidana perbankan mengandung pengertian tindak pidana itu semata-mata dilakukan oleh bank atau orang bank. sedangkan tindak pidana di bidang perbankan tampaknya lebih netral dan lebih luas karena dapat mencakup tindak pidana yang dilakukan oleh orang di luar dan di dalam bank . 3. Tindak Pidana yang berkaitan dengan rahasia bank. adalah “Tindak Pidana Perbankan” dan kedua. 4. Tindak pidana yang berkaitan dengan usaha bank diatur dalam pasal 49 ayat (1) huruf a. 1. Pertama. diatur dalam Pasal 46. All Rights Reserved. Tindak pidana yang berkaitan dengan perizinan.0. Pasal 50 dan Pasal 50A 1. FireFox 1.[1] Istilah “tindak pidana di bidang perbankan” dimaksudkan untuk menampung segala jenis perbuatan melanggar hukum yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan dalam menjalankan usaha bank. bahwa barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk . Integral Data Prima ©2007. Ada yang mendefinisikan secara popular.b dan c.Organized by: Tax Centre FISIP Universitas Indonesia & PT. Pasal 46 ayat (1) menyebutkan. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (selanjutnya disebut UU Perbankan) terdapat tiga belas macam tindak pidana yang diatur mulai dari pasal 46 sampai dengan Pasal 50A.a) pengertian dan istilah tindak pidana perbankan Terdapat dua istilah yang seringkali dipakai secara bergantian walaupun maksud dan ruang lingkupnya bisa berbeda. Ketiga belas tindak pidana itu dapat digolongkan ke dalam empat macam: 1. Tidak ada pengertian formal dari tindak pidana di bidang perbankan. BAB II PEMBAHASAN 1.0++.01++. Tindak pidana perbankan 1. Tindak pidana yang berkaitan dengan pengawasan dan pembinaan bank diatur dalam pasal 48 ayat (1) dan ayat (2).a) Tindak Pidana Yang Berkaitan Dengan Perizinan Tindak pidana ini disebut juga dengan tindak pidana bank gelap.b. diatur dalam Pasal 47 ayat (1) ayat (2) dan Pasal 47 A. ayat (2) huruf a dan b. bahwa tindak pidana perbankan adalah tindak pidana yang menjadikan bank sebagai sarana (crimes through the bank) dan sasaran tindak pidana itu (crimes against the bank).4++ and Netscape 7.b) jenis-jenis tindak pidana di bidang perbankan Dalam Undang-Undang No. “Tindak Pidana di Bidang Perbankan”. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.

1.00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak 200. bahwa dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas. UU Perbankan menyebutkan bahwa Anggota Dewan Komisaris.000. Pasal ini satu-satunya pasal dalam UU Perbankan yang mengenakan ancaman hukuman terhadap korporasi dengan menuntut mereka yang memberi perintah atau pimpinannya. yayasan atau koperasi.000.b. Pasal 47A. 8. atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42A dan Pasal 44A.b) Tindak Pidana Yang Berkaitan Dengan Rahasia Bank Pasal 47 ayat (1) UU Perbankan menyebutkan bahwa barang siapa tanpa membawa perintah tertulis atau izin dari pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41. 10.000.00 (seratus miliar rupiah).000.c) Tindak Pidana Yang Berkaitan Dengan Pengawasan Dan Pembinaan Bank Pasal 48 ayat (1) UU Perbankan menyebutkan bahwa Anggota Dewan Komisaris. Direksi.000.simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Ketentuan ayat (2) menyebutkan. 4.000. diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya 10.15.000. atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2). diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.000.b. diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.000.00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. Ayat (2) Anggota Dewan Komisaris. perserikatan.00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp. Direksi.000.00 (dua ratus miliar rupiah). . 200.000. 5. pegawai bank atau Pihak Terafiliasi lainnya yang dengan sengaja memberikan keterangan yang wajib dirahasiakan menurut Pasal 40.000.000.000.00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. maka penuntutan terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan itu atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (lima belas miliar rupiah).000. dengan sengaja memaksa bank atau Pihak Terafiliasi untuk memberikan keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40. 1. Pasal 41A.000. dan Pasal 42.000. 100.000.000. Direksi.000.000. 4.000.00 (dua ratus miliar rupiah). diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun serta denda sekurangkurangnya Rp.000.000.000.000.00 (delapan miliar rupiah).000. diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.

00 (dua miliar rupiah). laporan transaksi atau rekening suatu bank.000.00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. b) menghilangkan atau tidak memasukkan atau menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan. mengaburkan. maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha. 1.000. Direksi. 100. maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha.000. menghilangkan. Hal ini berkaitan dengan tugas penyidikan terhadap tindak pidana ini. Anggota Dewan Komisaris. maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha.000. diancam dengan pidana kurungan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda sekurang-kurangnya Rp. diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.000.000. 1. mengaburkan.d) Tindak Pidana Yang Berkaitan Dengan Usaha Bank Pasal 49 ayat (1) UU Perbankan menyebutkan bahwa. ancaman hukum berat dan kumulatif dengan minimum hukuman dan . Pihak Terafiliasi yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini dan peraturan perundangundangan lainnya yang berlaku bagi bank.00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp.00 (seratus miliar rupiah).000.000. atau dengan sengaja mengubah.b. Anggota Dewan Komisaris. bahwa pihak Kepolisian menganggapnya sebagai tindak pidana umum.000. Suatu pertanyaan yang sering timbul adalah apakah tindak pidana yang diatur dalam UU Perbankan merupakan tindak pidana umum atau khusus. menyembunyikan.00 (seratus miliar rupiah).000. Ada pihak lain yang menyebut sebagai tindak pidana khusus.000.Ayat (2) UU Perbankan menyebutkan bahwa. Terdapat kesan. menghapus. menyembunyikan atau merusak catatan pembukuan tersebut. Selanjutnya Pasal 50 UU Perbankan menyebutkan bahwa.000. karena walaupun tindak pidana ini diatur di luar KUHP.000. \5. laporan transaksi atau rekening suatu bank. c) mengubah.000. atau pegawai bank yang dengan sengaja : a) membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam laporan. Direksi. atau pegawai bank yang lalai memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2).000. 2. atau menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan.000. laporan transaksi atau rekening suatu bank. karena diatur di luar KUHP. diancam dengan pidana penjara sekurangkurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.000. 100. 5. tetapi UU Perbankan tidak mengatur Hukum Acara khusus mengenai tindak pidana perbankan.00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp.000.

perdagangan narkotik dan tindak pidana lainnya dengan tujuan menyembunyikan atau mengaburkan asal-usul uang yang berasal dari hasil tindak pidana tersebut sehingga dapat digunakan seolah-olah sebagai uang yang sah tanpa terdeteksi bahwa uang tersebut berasal dari kegiatan illegal. UU No. Pengajuan permohonan kredit dengan jaminan uang yang disimpan pada bank yang bersangkutan. Ketentuan KUHP yang biasa dipakai misalnya Pasal 263 (pemalsuan) Pasal 372 (penggelapan). 362 (pencurian).ada sedikit hukum acara seperti yang diatur dalam Pasal 42 yang berkaitan dengan permintaan keterangan yag bersifat rahasia bank dalam proses peradilan perkara pidana. mengenakan hukuman yang berat dan memperoleh uang pengganti atas kerugian negara.03 Tahun 1982 tanggal 4 Februari 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana tindak pidana perbankan termasuk dalam tindak pidana khusus (sebagai penjelasan dari Pasal 284 KUHAP) Dalam kaitannya dengan tindak pidana di bidang perbankan ini kejahatan yang dilakukan oleh orang dalam perlu mendapat perhatian khusus. 3) UU Perbankan. Menurut Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Direksi. 2.[2] Keterlibatan perbankan dalam kegiatan pencucian uang dapat berupa: a) b) c) d) Penyimpanan uang hasil kejahatan dengan nama palsu atau dalam safe deposit box. e) f) Penggunaan fasilitas transfer atau EFT. UU No. 31/99 jo UU no.PW. Ketentuan UU Korupsi biasanya diterapkan terhadap kasus yang menimpa bank pemerintah UU ini dipergunakan untuk memudahkan menjerat pelaku. Ketentuan dalam undang-undang ini biasanya diterapkan apabila Komisasris. Penukaran pecahan uang hasil perbuatan illegal. Penyimpanan uang dalam bentuk deposito/tabungan/ giro. Pegawai dan pihak terafiliasi dengan bank (“orang dalam”) atau orang yang mengaku menjalankan usaha bank sendiri sebagai pelakunya. : M01. Pemalsuan dokumen-dokumen L/C yang bekerjasama dengan oknum pejabat bank terkait. 374 (penggelapan dalam jabatan). Tindak Pidana Pencucian Uang Tindak Pidana Pencucian Uang ( money laundering) secara populer dapat dijelaskan sebagai aktivitas memindahkan. Dalam hal terjadi suatu tindak pidana di bidang perbankan yang dilakukan oleh orang dalam terdapat beberapa undangundang yang dapat dan biasanya diterapkan yaitu : 1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Tahun 2002. dan . menggunakan atau melakukan perbuatan lainnya atas hasil dari tindak pidana yang kerap dilakukan oleh organized crime maupun individu yang melakukan tindakan korupsi. 2) Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 378 (penipuan). dll. 3/1971.07.

25 Tahun 2003 ) antara lain: a. Mengumpulkan. (pembukaan sebanyak mungkin rekening-rekening perusahaan-perusahaan fiktif) 3) Integration. Memberikan pengecualian kewajiban pelaporan mengenai transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b.g) pendirian/pemanfaatan bank gelap. Meminta dan menerima laporan dari Penyedia Jasa Keuangan (PJK).1) pengawasan internal :pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris 3. 15 Tahun 2002).a.a. f. d. Secara sederhana terdapat tiga tahap dalam proses pencucian yaitu[3] : 1) Placement (penempatan) ini dideteksi juga dengan adanya kewajiban orang yang membawa uang tunai ke dalam atau ke luar wilayah negara Republik Indonesia sejumlah seratus juta ruliah atau lebih untuk melaporkan kepada Direktorat Jenderal Bea Cukai. c. 3. . Pencegahan Tindak Pidana Perbankan dan Tindak Pidana Pencucian Uang 3.b. Kemudian Direktorat Jenderal Bea Cukai melaporkannya kepada PPATK (Pasal 16 UU No. Melakukan audit terhadap PJK mengenai kewajiban sesuai dengan ketentuan dalam UUTPPU dan terhadap pedoman pelaporan mengenai transaksi keuangan. e.a) peranan PPATK(pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan) PPATK memiliki tugas dan wewenang sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 26 dan 27 UU-TPPU (undang-undang tindak pidana pencucian uang No. menyimpan. Memberikan nasihat dan bantuan kepada instansi yang berwenang. b. PPATK bersifat independen sebagaimana yang dimuat dalam UU-TPPU yaitu : a) Bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Melaporkan hasil anilisis transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang kepada Kepolisian dan Kejaksaan. menganalisis. mengevaluasi informasi yang diperoleh. diartikan sebagai memindah-mindahkan hasil kejahatan dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan maksud agar sumber dan pemiliknya dapat dikaburkan.2)pengawasan eksternal : pemerintah maupun pihak BI melakukan audit kepada bank yang bersangkutan 3.b) Tindak Pidana Pencucian Uang : 3. yaitu suatu proses dimana uang hasil kejahatan yang telah dicuci di investasikan kembali pada suatu bisnis yang legal sehingga tampak tidak berhubungan sama sekali dengan aktifitas kejahatan sebelumnya yang menjadi sumber dari uang yang dilaundry. Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya tersebut.a) Tindak Pidana Perbankan pencegahan dengan : 3. 2) Layering.

prosedur identifikasi nasabah. memantau dan menyediakan laporan secara efektif mengenai karakteristik transaksi yang dilakukan oleh nasabah bank sudah harus siap selambat-lambatnya tanggal 13 Juni 2002. Dalam hal penerapan PBI KYC mengakibatkan pelanggaran ketentuan negara setempat. memantau kegiatan transaksi nasabah termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan. 3. e) Bank wajib melaksanakan program pelatihan kepada karyawan bank mengenai prinsip KYC selambat-lambatnya tanggal 13 Februari 2002. f) Penerapan sistem informasi yang dapat mengidentifikasi. d) Bank wajib menerapkan prinsip KYC dan melakukan pengkinian data base nasabah yang telah ada (existing customer) selambat-lambatnya tanggal 13 Juni 2002. sepanjang standar KYCnya sama atau lebih ketat dari yang diatur dalam PBI. menganalisa. c) Diwajibkannya kepala dan wakil kepala PPATK untuk menolak setiap campur tangan dari pihak manapun dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. wajib dilaporkan kepada kantor pusatnya dan BI. c. b) Melaporkan transaksi yang mencurigakan (suspicious transaction) kepada BI selambatlambatnya 7 hari kerja setelah diyakini oleh bank.b)Penerapan Principle/KYC) Menurut Peraturan Bank Indonesia. dan prosedur pemantauan terhadap rekening dan transaksi nasabah. Sedangkan sanksi apabila bank tidak melaksanakan kewajiban lainnya adalah dengan pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf b.10 tahun 1998 yaitu berupa : . Dalam menerapkan Prinsip KYC dimaksud bank diwajibkan : Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer a) Menetapkan kebijakan mengenai penerimaan nasabah. Adapun sanksi apabila apabila bank tidak melaporkan perubahan Pedoman Pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah selambat-lambatnya 7 hari kerja sejak ditetapkannya perubahan tersebut serta tidak melaporkan kepada BI transaksi yang mencurigakan yang terjadi di bank yang bersangkutan selambat-lambatnya 7 hari kerja sejak transaksi tersebut diketahui oleh bank.30 juta.7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. serta prosedur manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan KYC.b) Tidak diperkenankannya setiap pihak untuk melakukan segala bentuk campur tangan terhadap pelaksanaan tugas dan kewenangan PPATK. dikenakan sanksi berupa kewajiban membayar sebesar Rp. c) Menerapkan prinsip KYC yang berlaku di suatu negara bagi kantor cabang bank yang berada di luar negeri. dan jika ketentuan setempat lebih longgar wajib diterapkan PBI KYC. e. f atau g Undang-undang No.1 juta per hari kelambatan dan setinggi-tingginya Rp. yang dimaksud dengan Prinsip KYC adalah prinsip yang diterapkan bank untuk mengetahui identitas nasabah.b.

dan Pasal 40 – Pasal 42 UU-TPPU namun bank masih meragukan pelaksanaannya khususnya terhadap aparat penegak hukum. pelatihan bagi karyawan. yang untuk itu dibutuhkan waktu yang panjang. nama ibu kandung.000 dengan 800 kantor cabang dan 8 juta nasabah di seluruh Indonesia) cenderung lebih sulit menerapkan prinsip KYC sepenuhnya.a) b) c) teguran tertulis. pinjaman dari bank lain) dan tidak nyaman. tidak merasa memperoleh manfaat dari pengisian KYC dan menganggap bank terlalu ingin tahu masalah internal nasabah. Kondisi ini memberikan peluang bagi nasabah untuk menolak memberikan informasi dan memindahkan dananya ke bank yang belum menerapkan prinsip KYC. Kendala yang dihadapi bank dalam melaksanakan prinsip KYC berupa: a) Takut kehilangan nasabah Bank merasa khawatir kehilangan nasabah apabila menerapkan sepenuhnya prinsip KYC baik terhadap nasabah lama (existing customer) maupun terhadap nasabah baru (new customer). Hal tersebut karena: a) pengisian formulir KYC menyusahkan nasabah dan dirasa terlalu berlebihan (misal pengisian jabatan. seperti pendataan profil nasabah. Disamping itu kurangnya perhatian masyarakat terhadap ketentuan KYC merupakan kendala utama yang dihadapi oleh seluruh bank dalam menerapkan prinsip KYC. e) pencantuman anggota pengurus. hobi. Selain itu. dampak yang dihadapi bank pada saat menerapkan prinsip KYC antara lain : . c) Ketidakpercayaan perbankan terhadap penegakan hukum Walaupun UU-TPPU telah memberikan kepastian akan jaminan keamanan bagi bank dalam pelaksanaan penyampaian laporan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 15. b) c) takut rahasia keuangannya diketahui oleh pihak lain misalnya perpajakan. biaya yang besar dan keahlian yang memadai. penurunan tingkat kesehatan bank. pegawai bank. b) Skala usaha bank Bagi bank yang tergolong dalam skala besar (sebagai contoh memiliki karyawan lebih dari 21. atau. Hal tersebut karena tidak serentaknya bank-bank dalam menerapkan prinsip KYC pada nasabah. d) pemberhentian pengurus bank dan selanjutnya menunjuk dan mengangkat pengganti sementara sampai Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota Koperasi mengangkat pengganti yang tetap dengan persetujuan BI. dan pengadaan sistem informasi. pemegang saham dalam daftar orang tercela di bidang Perbankan. pembekuan kegiatan usaha tertentu. baik untuk kantor cabang tertentu maupun untuk bank secara keseluruhan.

Batasan waktu penyampaian laporan transaksi tunai. Dalam Pasal 13 ayat (3). dikhawatirkan yang bersangkutan dapat menghambat jalannya penyidikan. atau bahkan menarik simpanannya. b) c) nasabah cenderung tidak jujur dalam mengisi data penghasilan dan sulit ditemui.a) nasabah menolak mengisi formulir KYC yang sudah dikirimkan dan akan menarik dananya apabila tetap diharuskan mengisi. Larangan ini sangat penting karena apabila pemilik rekening tersebut mengetahui bahwa dirinya dilaporkan. Pengertian transaksi keuangan yang mencurigakan perlu diperluas dengan menambahkan unsur “transaksi yang berkaitan dengan hasil tindak pidana.25 Tahun 2003 memiliki kekurangan antara lain : Adanya batasan “hasil tindak pidana” (proceed of crime) minimal Rp 500 juta. nasabah penyimpan dana berkeberatan memberikan slip gaji karena beranggapan bukan sebagai peminjam dana. diusulkan batasan waktu penyampaian dapat dipersingkat. penyampaian laporan transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf b dilakukan paling lambat 14 hari kerja setelah transaksi dilakukan. selain ia tidak lazim juga terdapat celah yang dapat dimanfaatkan bagi para pencuci uang untuk memecah-mecah hasil kejahatannya dalam jumlah yang lebih kecil. Tidak dimasukkannya klausul “anti tipping off” yaitu larangan bagi Penyedia Jasa Keuangan untuk memberitahukan kepada nasabahnya berkaitan dengan laporan Transaksi Keuangan Mencurikagakan yang terkait dengan nasabah tersebut. a) b) c) d) . Adanya batasan ini.Batasan waktu ini dinilai terlalu lama. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uaraian yang telah di jelaskan diatas maka penulis menyimpulkan bahwa UU No.

26. 74 [2] Yunus Husein. (Volume 22 No. 2003). 3/1971. Money Laundering : A New International Law Enforcement Model.25 Tahum 2003 Undang-undang No. SH dan Prof Mardjono Reksodiputro. HAK Moch Anwar.9     Skip to content Skip to main navigation Skip to 1st column Skip to 2nd column Pusat Pelatihan Pendidikan Fakultas Hukum UII  Beranda . UU No. SH. Tindak Pidana Korupsi Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.10 tahun 1998 PERBANKAN UU No. hal. HAK Moch Anwar. hal. Tindak Pidana di Bidang Perbankan.PW. Lihat juga Marjono Reksodiputro. 1986). First Published 2000. (Bandung: Alumni.03 Tahun 1982 tanggal 4 Februari 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Yunus Husein. hal. Kumpulan Karangan Buku Kesatu. Guy Stessens. Jurnal Hukum Bisnis. “PPATK: Tugas. (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum.3.9 [1] Istilah “Tindak Pidana Di Bidang Perbankan dipergunakan oleh Brigjen Pol Drs. 2003). “PPATK: Tugas. : M01. Cambridge University Press. (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum. 1994). Tindak Pidana di Bidang Perbankan.DAFTAR PUSTAKA Istilah “Tindak Pidana Di Bidang Perbankan dipergunakan oleh Brigjen Pol Drs. (Bandung: Alumni. hal. 1986). Tahun 2002.15 Tahun 2002 PENCUCIAN UANG di ubah menjadi UU NO. (Volume 22 No. Kumpulan Karangan Buku Kesatu. HAK Moch Anwar.07. Cambridge University Press. SH dan Prof Mardjono Reksodiputro. Lihat. HAK Moch Anwar. Lihat. dan Peranannya Dalam Memberantas Tindak Pidana Pencucuian Uang”. Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan. 1994).3. Wewenang. hal. hal.26. Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan. 31/99 jo UU no. Jurnal Hukum Bisnis. MA. 74 UU No. First Published 2000. Money Laundering : A New International Law Enforcement Model. Lihat juga Marjono Reksodiputro. SH. dan Peranannya Dalam Memberantas Tindak Pidana Pencucuian Uang”. [3] Guy Stessens. Wewenang. MA.

korupsi masih dianggap sebagai extra ordinary crime yang harus diprioritaskan penanggulangan dan pemberantasannya. Kini. Sidang perkara korupsi dana pembangunan PLTU 2x7 Mega Watt (MW) Sampit.. Selain itu. yang Kamis (27/8) lalu dibacakan penasehat hukumnya Farida Sulstyani di hadapan majelis hakim yang diketuai Ida Bagus Dwiyantara. Tentang Kami o o          Berita Galeri Foto Komentar Hubungi Kami Username Password Remember me Lost Password? No account yet? Register search. giliran penuntut umum mengajukan tanggapannya atas nota keberatan kedua terdakwa. Kalimantan Tengah masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. karena melihat modus operandi dan kepemilikan saham di Bank Mandiri. You are here:Beranda Berita Tindak Pidana Perbankan Dapat Didakwa dengan UU Korupsi    Tindak Pidana Perbankan Dapat Didakwa dengan UU Korupsi Written by Lucky Omega Hasan Tuesday. Atas dugaan penyalahgunaan fasilitas kredit Bank Mandiri ini. penuntut umum mengenakan . 01 September 2009 Penuntut umum mengenakan UU Korupsi..

seharusnya penuntut umum menggunakan asas lex specialis derogat legi generali atau dengan kata lain mengenakan kedua terdakwa dengan UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. majelis kasasi memutus ECW Neloe (Dirut Bank Mandiri). penuntut umum berpendapat UU Korupsi tetap dapat dikenakan terhadap tindak pidana dalam lingkup kegiatan perbankan. Padahal.575. permohonan kredit yang diajukan kedua terdakwa melalui dua pengurus KPP itu disetujui Mandiri. I Wayan Pugeg (Direktur Risk Management Bank Mandiri). ada beberapa yurisprudensi. perbuatan kedua terdakwa yang diuraikan penuntut umum dalam dakwaan berada dalam lingkup kegiatan perbankan. kemudian Rp4.62 dan terakhir Rp3. yaitu putusan Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung (MA) yang membenarkan pengenaan UU Korupsi pada tindak pidana di lingkup perbankan. sesuai dengan ketentuan Pasal 63 ayat (2) KUHAP.Pasal 2 ayat (1) 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Korupsi) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.1144 K/Pid/2006 tanggal 13 September 2007 tentang perkara kredit macet di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sehingga. seolah-olah dokumen itu ditandatangani oleh Mirza Zulkarnai Mursalin (Dirut PT Kahanza). Salah satunya. permohonan kredit KPP dikabulkan. penuntut umum Lucia Martha menyatakan bahwa pengenaan UU Korupsi pada tindak pidana yang dilakukan kedua terdakwa tidak sembarangan.POR/2003 tanggal 19 Desember 2003. Dimana. M Sholeh Tasripan (EVP Coordinator Corporate and Government Bank Mandiri) bersama-sama Edyson (Dirut PT Cipta Graha Nusantara) telah melanggar ketentuan dalam Pasal 2 ayat (2) UU Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Dimana. Nyatanya. dalam putusan tersebut. dan Pasal 3 jo Pasal 18 UU Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP kepada kedua terdakwa.158. dalam dakwaannya. dan (dilakukan) pada bank dengan kepemilikan modal/saham oleh negara atau swasta. Dian Siswanto (Relationship Manager) dan Rudy Wibisono (Commercial Banking Center Manager) dianggap tidak melakukan verifikasi sesuai buku pedoman Pelaksanaan Kredit PT Bank Mandiri Tbk Tahun 1999 dan Surat Edaran PT Bank Mandiri Tbk Tahun No 024/KRD/RMN. disetujui sebanyak Rp35. Pertama. Pasalnya. Pengenaan pasal dalam UU Korupsi ini sempat diprotes Farida. Memang.718. Namun. Mirza mengaku sama sekali tidak pernah menandatangani perjanjian itu. dan penyalahgunaan fasilitas kredit oleh PT Karya Putra Powerin (KPP).925. penuntut umum menguraikan ada kesalahan prosedur. Salah satunya. Dokumen ini dibuat agar mengesankan KPP memiliki kontrak kerja dengan PT Kahanza.228. karena permohonan pencairan kredit itu merupakan kewenangan dan berada di bawah pengawasan Mandiri. ketidaklengkapan syarat.” paparnya. seperti yang dilakukan kedua terdakwa. Brahmantyo Irawan Kuhandoko (Presiden Direktur PT Mosesa International) dan Achmad Fachrie (Direktur PT Mosesa International). dokumen perjanjian No 02/CW/KPP-KPN/VI/04 tanggal 1 Juni 2004 antara KPP dengan PT Kahanza Prima Nusa. “Tentunya hal tersebut harus dilihat dari modus operandi kejahatan yang dilakukan. setelah ditelusuri.433. Sehingga. Yakni.793. Namun.432. Ditambah lagi. Dengan demikian.002. Namun. Selain itu. putusan Kasasi MA No. Dan ini berlanjut pada pencairan dana kredit yang oleh Mandiri dilakukan dalam tiga tahapan. maka Farida tetap berpandangan bahwa yang terjadi dalam . penuntut umum menganggap korupsi merupakan extra ordinary crime yang penanggulangan dan pemberantaannya masih harus diprioritaskan. karena data-data dan dokumen-dokumen tersebut tidak diverifikasi oleh pihak Mandiri. bukti-bukti dokumen yang diberikan KPP ternyata fiktif.22.

Masuk pokok perkara Kemudian. karena penuntut umum tidak menguraikan secara jelas apakah permohonan itu diajukan berdasarkan perintah atau permintaan kedua terdakwa. Nah. ini kan otomatis perbankan. Karena sebagian besar materi eksepsi telah memasuki pokok perkara. Farida menambahkan. itu sudah jelas melanggar pasal dari pada KPBM. Dan ini seharusnya dipatuhi. maka UU Korupsi itu jadi bersifat umum. (Nov) Sumber : http://www. “Kalau kita mau strict ke hukum. ada aturan Pasal 63 KUHAP. putusan Pengadilan Negeri dan MA yang dikemukakan penuntut umum untuk memperkuat dalilnya. Farida mengatakan uraian dakwaan penuntut umum mengait-ngaitkan pelanggaran sejumlah pasal dalam Ketentuan Perkreditan Bank Mandiri (KPBM) yang sifatnya rahasia dan internal. Lebih lanjut. Di situ sudah jelas apabila terdapat peraturan yang sendiri. Ketentuan Perkreditan Bank Mandiri. Lucia mengatakan eksepsi kedua terdakwa tidak perlu ditanggapi karena nanti akan dibuktikan di pokok perkara. Agus Wijayanto Legowo (Direktur Utama KPP) dan Hesti Andi Tjahyanto alias Ica Sulaiman (Komisaris Utama KPP). itu mengatur kehati-hatian.hukumonline. Lagipula. Pernyataan tersebut dianggap Farida sebagai asumsi belaka.” ujarnya. Tapi. “Kalau kita baca di dakwaan. “Itu hanya putusan. perbankan.”dalihnya lagi. dua pengurus KPP yang menandatangani surat permohonan fasilitas kredit adalah orang yang berada di bawah pengampuan atau tidak dapat bertindak sendiri. untuk keberatan Farida yang lain.com/detail. pajak. Farida menilai dakwan penuntut umum kabur (obscuur libel). bukanlah yurisprudensi. karena jelas Pasal 46 sampai pasal 53 UU Perbankan. tidak begitu dengan penuntut umum. Belum menjadi yurisprudensi. penuntut umum tidak mau menanggapi lebih jauh. kayak kepabeanan. sehingga apabila ditarik pada ketentuan umum yang dipergunakan mestinya adalah UU Perbankan.perkara ini lebih kepada kesalahan atau pelanggaran pejabat Mandiri dalam memproses persetujuan dan pengajuan pencairan kredit yang diajukan KPP. Salah satunya mengenai pernyataan penuntut umum mengenai kedua terdakwa yang telah mengajukan permohonan fasilitas kredit Mandiri melalui dua pengurus KPP. sehingga patut dibatalkan demi hukum. Terlebih lagi.asp?id=23011&cl=Berita KATALOG BUKU KOMPUTER Bidang Pusdiklat .” cetusnya. Oleh sebab itu.

Sub Bidang Pendidikan Sub Bidang Pelatihan Pelatihan Pusdiklat Pengembangan Kurikulum-MKKH-FH-UII Bidang Pendidikan Bidang Pelatihan .

Kurikulum Diskusi & Kajian Dokumentasi Pelatihan Pengembangan Perpustakaan Mini Diskusi & Seminar Kumpulan Peraturan Download Center Bidang Pendidikan Bidang Pelatihan .

Kurikulum Diskusi & Kajian Dokumentasi Pelatihan Pengembangan HAKI Contract Drafting Kontrak Bisnis Legal Opinion Pertanahan Lain-lain Legal Drafting .

Anak Dituntut Tujuh Bulan Jaksa Sistoyo Dituntut 6. Jaksa Agung Pasrah  Copyright © 2005 .Arsip Berita      Terdakwa Bom Bali I Umar Patek Dituntut Hukuman Seumur Hidup Mencuri Uang Ayah. perpustakaan bebas Langsung ke: navigasi.com Pembaruan Kebijakan Pemakaian akan mulai berlaku secara efektif tanggal 25 Mei 2012. Baca lebih lanjut. Pengacara: Ini Kriminalisasi! MK Putuskan tak Ada Banding di Praperadilan. Designed by JoomlArt. Informasi tentang edisi ini .5 Tahun Penjara Ambil 1 Pohon Jati Terancam 10 Tahun Bui. cari Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 003/PUU-IV/2006 (2006) portal terkait: Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.2012 Pusat Pelatihan Pendidikan Fakultas Hukum UII. Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 003/PUU-IV/2006 Dari Wikisource bahasa Indonesia.

memberi kuasa kepada Abdul Razak Djaelani. DAWUD DJATMIKO.Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena merupakan dokumen pemerintahan. Kabupaten Bogor.260. (Pasal 13 UU No. telah menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Pengujian Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU PTPK) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945) yang diajukan oleh : Ir.H. Tempat tanggal lahir. 8413630 ext. Agama Islam. peraturan perundang-undangan. mengadili dan memutus perkara konstitusi dalam tingkat pertama dan terakhir. dkk. Pekerjaan Karyawan PT. Alamat Perumahan Bumi Mutiara Blok JC-7/2 Desa Bojong Kulur. Untuk selanjutnya disebut sebagai -------------------------------------------------. pidato kenegaraan atau pidato pejabat pemerintah. Kewarganegaraan Indonesia. Surabaya..Pemohon. . Tidak ada hak cipta atas karya ini. Kecamatan Gunung Putri. Telah mendengar keterangan Pemohon. Jakarta Selatan. yang memilih domisili hukum di Kantor Advokat �JAMS & REKAN� beralamat di Jalan Cibulan Nomor 13-A Kebayoran Baru. Telah membaca permohonan Pemohon. termasuk di antaranya hasil rapat terbuka lembaga negara. 19 Tahun 2002) PUTUSAN Nomor 003/PUU-IV/2006 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa. dan keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya. Jasa Marga (Persero). Telp. putusan pengadilan atau penetapan hakim. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 2 Maret 2006. 06 September 1951. S.

dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum�. memutus pembubaran partai politik. DUDUK PERKARA Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan dengan surat permohonannya bertanggal 9 Maret 2006 yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah).Telah mendengar keterangan Pemerintah. Telah membaca keterangan tertulis para Pihak Terkait Jaksa Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Jaksa Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Telah mendengar keterangan para Ahli. DASAR PERMOHONAN A. Telah membaca keterangan tertulis Pemerintah. Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK) menyatakan bahwa �Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk: menguji Undang-undang terhadap UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Telah memeriksa bukti-bukti. Jaksa Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Jaksa Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Telah membaca keterangan tertulis Dewan Perwakilam Rakyat Republik Indonesia. 4. Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa �Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap undangundang dasar. Pasal 29 ayat (1) UU MK menyatakan bahwa : . 2. Pasal 1 angka 3 huruf a UU MK menyatakan bahwa: �Permohonan adalah permintaan yang diajukan secara tertulis kepada Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian undangundang terhadap UUD 1945�. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI 1. Telah mendengar keterangan para Pihak Terkait. menguraikan sebagai berikut : I. pada hari Senin tanggal 13 Maret 2006 dan diregister dengan Nomor 003/PUU-IV/2006. Telah mendengar keterangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. dan telah diperbaiki dengan perbaikan permohonan bertanggal 17 Maret 2006 yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada hari Senin tanggal 20 Maret 2006.� 3. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar.

mulai tanggal 28 Juni 2005 sampai dengan tanggal 25 Oktober 2005 di Rumah Tahanan Negara pada Rutan Salemba Jakarta Pusat Cabang Kejaksaan Agung RI untuk kepentingan penyidikan. maka Mahkamah Konstitusi berwenang untuk melakukan pengujian materiil terhadap Pasal 2 ayat (1). Pasal 3. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON 1. tanggal 06 Januari 2006. khususnya Pasal 2. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. Subsidair: �sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 jo. sebagaimana disebutkan dalam Surat Pelimpahan Perkara Acara Pemeriksaan Biasa Nomor: B. �Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang. lembaga negara. yaitu: a. bahwa perkara Pemohon dilimpahkan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Timur kepada Pengadilan Negeri Jakarta Timur. dan/atau Pasal 3 UU PTPK. 2. c. b UU PTPK jo.028/01. bahwa Pemohon telah ditahan oleh Kejaksaan Agung RI selaku Penuntut Umum mulai tanggal 25 Oktober 2005 sampai dengan tanggal 14 Nopember 2005 di Rumah Tahanan Negara pada Rutan Salemba Jakarta Pusat Cabang Kejaksaan Agung RI dan tanggal 14 Nopember 2005 sampai dengan tanggal 12 Januari 2006 di Rutan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.�Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh pemohon atau kuasanya kepada Mahkamah Konstitusi. perorangan warga negara Indonesia.1/01/2006. Bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum tersebut. Bahwa Pemohon adalah perorangan warga negara Indonesia yang menganggap hak konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU PTPK. Seksi E-1. ayat (1) dan Pasal 3 . yang diduga melanggar Pasal 2 ayat (1). Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo.13/Ft. b UU PTPK jo. Bahwa menurut Pasal 51 ayat (1) UU MK. bahwa Pemohon telah ditahan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia selaku penyidik. f. b. Pasal 18 ayat (1) huruf a. badan hukum publik atau privat. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana�. bahwa Pemohon telah menjalani proses penyidikan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia sehubungan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam proses pengadaan tanah untuk proyek pembangunan jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) Ruas Taman Mini Indonesia Indah-Cikunir. hal ini dapat dilihat dengan adanya peristiwa hukum di bawah ini: a.� 5. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana�. bahwa Pemohon telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum di persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Timur tanggal 17 Januari 2006 dengan dakwaan: Primair: �sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) jo. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Pasal 18 ayat (1) huruf a. Berdasarkan uraian pada hal-hal tersebut di atas. b. B. c. Penjelasan Pasal 3. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK terhadap Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. e. d. atau d.

maka Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi agar memberikan putusan provisi berupa penghentian sementara pemeriksaan atas diri Pemohon sebagai Terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam perkara tindak pidana korupsi sebagaimana dalam registrasi perkara Nomor 36/Pid/B/2006/ PN. Bahwa berdasarkan peristiwa hukum di atas. Pemohon berpandangan bahwa Mahkamah Konstitusi merupakan pengawal dari Konstitusi. maka Pemohon berpendirian bahwa adalah selayaknya jika proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur untuk sementara waktu dihentikan untuk menunggu putusan Mahkamah Konstitusi atas permohonan ini. sementara permohonan ini diproses maka akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Terakhir adalah tidak pada tempatnya jika suatu undang-undang yang eksistensinya diragukan tetap diterapkan dan adalah sangat baik jika penerapan undangundang yang diragukan dihentikan sampai hilangnya keraguan atas undang-undang yang bersangkutan. Jika sekiranya pemeriksaan terhadap permohonan ini berjalan bersamaan dan ternyata kemudian Pengadilan Negeri Jakarta Timur memutuskan perkara terlebih dahulu. Konstitusi berisi norma-norma yang berisi perlindungan terhadap hak asasi manusia. bahwa berdasarkan adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang dianggap telah dirugikan tersebut. bahwa UU MK mengandung kelemahan fundamental. yaitu mengingat bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi mengikat ke depan (prospektif). dalam hal ini Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Apalagi jika sekiranya Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan Pemohon dan menyatakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK yang dipersoalkan bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. maka Putusan Mahkamah Konstitusi tidak akan mengikat terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur. 3. Pemohon melihat bahwa adalah cukup alas hak Mahkamah Konstitusi untuk mengisi kekosongan yang terdapat dalam UU MK. apalagi terhadap Pemohon telah dilakukan penahanan sejak tanggal 28 Juni 2005 hingga sekarang. Hal ini merupakan suatu kekosongan hukum yang perlu diisi dalam pemeriksaan terhadap permohonan ini dan sifatnya hanya berlaku untuk permohonan ini saja (ad hoc).UU PTPK tersebut. maka dasar dari Jaksa Penuntut Umum dan Majelis Hakim untuk menuntut dan mengadili Terdakwa di pengadilan akan menjadi hilang. bahwa berhubung adanya permohonan ini. maka akan sangat merugikan Pemohon. C. PERMOHONAN PROVISI 1. menurut hemat Pemohon sangat bertentangan dengan atau melanggar Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.JKT. bahwa sekalipun tidak ada ketentuan dalam UU MK yang mengatur proses ini. Jika sekiranya ternyata Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan ini. maka . karena tidak menyediakan suatu sarana dalam hal permohonan untuk menguji undang-undang dilakukan bersamaan dengan adanya kasus konkrit yang sedang diproses di pengadilan lain. jelas kiranya bahwa Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya telah dirugikan dengan didakwanya Pemohon berdasarkan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK. 2. sampai adanya putusan Mahkamah Konstitusi atas permohonan ini. Pemohon khawatir bahwa jika sekiranya proses peradilan tetap berlanjut. yang bukan berupa pertentangan dengan UUD 1945. Diturunkan dari norma itu. 4.TIM.

dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK secara nyata telah bertentangan terhadap Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. sehubungan dengan halhal tersebut di atas. perlindungan.Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa suatu pengujian atas undang-undang harus menjaga agar hak asasi manusia jangan sampai dilanggar atau diabaikan. yang diikuti dengan penangguhan penahanan atas diri Pemohon. Penjelasan Pasal 3. apa yang menjadi alasan permohonan ini sudah sangat jelas dan kuat serta sulit dibantah bahwa Pasal 2 ayat (1). menyatakan putusan provisi ini agar dilaksanakan secara serta merta dalam jangka waktu selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan provisi dimaksud. merekomendasikan kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk memerintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melalui Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Penjelasan Pasal 2 ayat (1).� Adapun alasan-alasan permohonan ini adalah sebagai berikut : 1. dinyatakan bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. karena menurut hemat Pemohon. a. yang bukan merupakan pertentangan dengan UUD 1945. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.JKT. Dawud Datmiko. bahwa Pasal 2 ayat (1) UU PTPK menyebutkan sebagai berikut : �Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua . menyatakan bahwa UU MK mengandung kelemahan fundamental. yang menyebutkan �Setiap orang berhak atas pengakuan. untuk menangguhkan sementara proses persidangan perkara pidana No. Pemohon tidak menyampaikan dalil-dalil hukum yang rumit atau teori-teori ilmu hukum yang canggih. d. menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi dalam permohonan pengujian material ini mempunyai kewenangan untuk mengisi kekosongan hukum tersebut dan membuat rekomendasi yang diperlukan yang sifatnya mengikat kepada lembaga negara lain yang terkait. 36/Pid/B/2006/PN. maka Pemohon mengajukan permohonan agar Mahkamah Konstitusi berkenan memutuskan sebagai berikut: a. ALASAN-ALASAN PERMOHONAN Dalam pengajuan permohonan ini. menyatakan bahwa ketiadaan aturan tersebut sebagai keadaan kekosongan hukum.TIM atas nama Terdakwa Ir. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK. D. 5. karena tidak mengatur tentang pengajuan permohonan pengujian atas undang. Pasal 3. Penjelasan Pasal 3. c.undang yang dilakukan berkenaan dengan perkara yang sedang diproses di pengadilan. e. sampai dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Pasal 2 ayat (1). b. Pasal 3. Kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mempunyai pengertian ganda. jaminan. Penjelasan Pasal 2 ayat (1).

dengan adanya kata �dapat� pada kedua pasal tersebut. baik pada Pasal 2 ayat (1) maupun Pasal 3 UU PTPK. yaitu: a. kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.� Penjelasan Pasal 3 UU PTPK menyebutkan sebagai berikut : �Kata �dapat� dalam ketentuan tersebut diartikan sama dalam dengan Penjelasan Pasal 2� Dengan demikian.(lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.� b.00 (satu milyar rupiah). menyalahgunakan kewenangan. . namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela. yaitu: a. kata "dapat" sebelum frasa "merugikan keuangan atau perekonomian negara" menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil. Suatu tindak pidana korupsi yang telah merugikan negara (kerugian negara sudah terjadi secara riil dan nyata).000. yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang dirumuskan.(satu milyar rupiah).00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. Dalam ketentuan ini.000. Keadaan dimana keuangan negara atau perekonomian negara sudah dirugikan atau dengan perkataan lain �keuangan negara sudah berkurang jumlahnya� akibat tindak pidana korupsi tersebut.000. dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh tahun) dan atau denda paling sedikit Rp.puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. mengakibatkan adanya 2 (dua) jenis tindak pidana korupsi yang terdapat di masing-masing pasal.000.000.50.. Pasal 3 UU PTPK menyebutkan sebagai berikut : �Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.000.1. Kedua tindak pidana korupsi tersebut menimbulkan akibat yang sangat berbeda dan bahkan sangat bertolak belakang. b.200. karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat.000. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. maka perbuatan tersebut dapat dipidana. bukan dengan timbulnya akibat..1. Suatu tindak pidana korupsi yang tidak merugikan negara (kerugian negara tidak terjadi).000.� Penjelasan Pasal 2 ayat (1) menyebutkan sebagai berikut: �Yang dimaksud dengan "secara melawan hukum" dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil.000.000.

yaitu : 1) Tindak Pidana Korupsi yang telah merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK: Terhadap tindak pidana korupsi yang telah nyata-nyata merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. yaitu adalah sebagai berikut: �Dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. adalah sama. yaitu sebagai berikut : a.00 (satu milyar rupiah). 2.1.000. yaitu sebagai berikut: .000. maupun yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. 2) Tindak Pidana Korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. c. Seharusnya kedua tindak pidana tersebut TIDAK BOLEH digabung dalam satu pasal.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. Ancaman hukuman yang ditentukan terhadap tindak pidana yang telah merugikan negara maupun yang tidak merugikan negara.200. Dalam Pasal 3 UU PTPK: Terhadap tindak pidana korupsi yang telah nyata-nyata merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. maupun yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. dengan perumusan (redaksi) sesuai pasal yang dimaksud. Keadaan dimana keuangan negara atau perekonomian negara tidak dirugikan atau dengan perkataan lain �keuangan negara atau perekonomian negara masih tetap utuh seperti sedia kala tidak berkurang akibat tindak pidana korupsi tersebut.b.� b. Suatu Tindak Pidana Yang Mempunyai 2 Macam Akibat Yang Sangat Berbeda Diancam Dengan Hukuman Yang Sama. dengan perumusan (redaksi) sesuai pasal yang dimaksud. ancaman pidananya sama.000.000. melainkan dibuat dalam pasal yang terpisah dan berdiri sendiri-sendiri.000. ancaman pidananya sama.

000. Pasal 15 UU PTPK menyebutkan. 3. Demikian pula sebaliknya. Pasal 3. Prinsip tersebut sangatlah adil. beratnya ancaman hukuman dari suatu tindak pidana berhubungan erat dan saling mempengaruhi dengan akibat yang ditimbulkan oleh tindak pidana tersebut. Dalam kaitannya dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK. 50. Artinya.000. Pasal 3. Pasal 2 ayat (1). pembantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi. Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK Mengesampingkan Prinsip-Prinsip Yang Universal Tentang Ancaman Hukuman. Dengan demikian sangat jelas dan tegas bahwa Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK. apalagi akibatnya belum ada sama sekali. manusiawi. maka untuk percobaan tindak pidana korupsi dalam kedua pasal tersebut disamakan ancaman hukumannya. ancaman hukumannya lebih berat dibandingkan dengan tindak pidana korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.000. secara jelas telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan bagi siapa saja yang dikenakan dengan ancaman hukuman yang demikian. Seharusnya besarnya ancaman hukuman terhadap tindak pidana korupsi tersebut harus dibedakan antara satu dengan yang lain.00 (satu milyar rupiah).1. 4. makin ringan atau makin kecil kerusakan. .� Kedua pasal tersebut menyamakan ancaman pidana bagi terdakwa yang telah merugikan negara dan terdakwa yang tidak merugikan negara. Ketentuan yang menyamakan ancaman hukuman tersebut. perbuatannya sendiri belumlah selesai. karena percobaan tindak pidana korupsi dapat dihukum berat dan dimungkinkan dijatuhi pidana penjara lebih berat dari tindak pidana (pokok) korupsi itu sendiri.000. maka makin berat ancaman hukumannya. �Setiap orang yang melakukan percobaan.�Dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.nyata merugikan negara maupun kepada tindak pidana korupsi yang tidak merugikan negara. baik kepada tindak pidana korupsi yang telah nyata. Pasal 5 sampai dengan Pasal 14�. Dalam ketentuan hukum pidana dimanapun di dunia. Ancaman Pidana Untuk Percobaan Tindak Pidana Disamakan Dengan Tindak Pidana Pokoknya.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. bertentangan atau melanggar Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 khususnya anak kalimat �kepastian hukum yang adil�.000. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2. terhadap tindak pidana korupsi yang telah merugikan negara. dan rasional. Penjelasan Pasal 3. Padahal dalam percobaan tindak tindak pidana korupsi. Artinya makin berat atau makin besar kerusakan yang ditimbulkan. maka makin ringan ancaman hukumannya.

berat ataupun ringan akibatnya. Pasal 347: Ayat (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. KUHP juga membedakan ancaman hukuman antara kejahatan dengan pelanggaran. Pasal 2 ayat (1). maka makin berat ancaman hukumannya. diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 351 KUHP : Ayat (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Penjelasan Pasal 3. KUHP membedakan ancaman hukuman antara tindak pidana pokok dan percobaan tindak pidana. Ayat (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. tidak manusiawi. Sebagai contoh konkrit. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Bahwa KUHP sudah terbukti dapat dijadikan sebagai undang-undang yang eksistensinya bermanfaat bagi kepentingan negara dan masyarakat. Ayat (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. Pemohon mengambil ketentuan dalam Pasal 351 KUHP tentang �Penganiayaan� dan Pasal 347 tentang �Pengguguran Kandungan�. demikian juga sebaliknya. maka menurut prinsip hukum yang baik tersebut menjadi �ancaman pidana untuk penganiayaan yang menyebabkan luka ringan disamakan dengan ancaman pidana yang menyebabkan kematian�. Ayat (3) Jika mengakibatkan mati. Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK menimbulkan berbagai penafsiran . ancaman hukumannya sama�. Prinsip yang dipakai oleh KUHP adalah makin berat akibat yang ditimbulkan oleh suatu tindak pidana. 5. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Ayat (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. Ayat (20 Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Pasal 3. karena sangat memperhatikan akibat hukum yang ditimbulkan oleh suatu tindak pidana dalam menentukan berat ringan ancaman hukumannya. dan cenderung irrasional apabila prinsip tersebut disamaratakan menjadi �apapun akibat yang ditimbulkannya. Sebagai contoh Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.Tentu sangatlah tidak adil.

.Direksi dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). sehingga seolah-olah semua perbuatan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. sehingga menimbulkan kontroversi yang justru berpotensi menghambat upaya pemberantasan tindak pidana korupsi itu sendiri. akan sangat banyak perbuatan yang termasuk dalam kategori tindak pidana korupsi.Pegawai Negeri Sipil pada umumnya.Perusahaan-perusahaan swasta yang mempunyai kaitan bisnis dengan atau mendapat pekerjaan dari pemerintah. menyalahgunakan kewenangan.dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Perusahaan BUMN takut mengembangkan .dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. . .secara melawan hukum.setiap orang.(multi tafsir).Direksi dan karyawan bank pemerintah. Akibat keraguan dan ketakutan tersebut dapat menyebabkan bank-bank pemerintah takut mengucurkan kredit atau mengadakan ekspansi. .pasal tindak pidana korupsi tersebut dapat menimbulkan salah penafsiran karena terkesan tidak jelas batasannya. serba salah dan dapat menimbukan �ketakutan�. maka pasal-pasal tersebut di atas menimbulkan berbagai penafsiran yang berbeda antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. . terutama bagi mereka yang berhubungan erat dengan keuangan negara atau perekonomian negara seperti: . Unsur-unsur dalam Pasal 3 UU PTPK : Unsur-unsur dimaksud adalah sebagai berikut: . .setiap orang. Dari apa yang telah disampaikan di atas memang ternyata bahwa pasal. . Unsur-unsur dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK : Unsur-unsur dimaksud adalah sebagai berikut: . namun sulit untuk membantah bahwa suatu perbuatan telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana korupsi. atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan.dan lain-lain. b.memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. . kesempatan. Karena sangat �luwes�. a. terutama bagi mereka yang tidak memahami masalah-masalah hukum. yang pada akhirnya menimbulkan keadaan yang serba ragu. Melihat unsur-unsur yang terdapat pada pasal tersebut di atas. Walaupun menjadi agak aneh dan kurang tepat apabila dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. Kondisi di atas tentu secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kinerja dan produktifitas kerja masyarakat.menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. .

ancaman pidana harus rasional dan proporsional. tidak berkurang. Pada percobaan tindak pidana korupsi. Hal itu dibuktikan dengan adanya ancaman hukuman yang sama. Dengan penjelasan di atas. diancam hukuman pidana penjara seumur hidup atau minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun. sebenarnya pemohon hanya ingin menyampaikan bahwa untuk dapat memberantas korupsi secara berhasil. Sedangkan pada tindak pidana korupsi yang tidak merugikan negara. Pasal 3. Antara percobaan tindak pidana korupsi dan tindak pidana korupsi (yang telah selesai) juga berbeda.proyek baru.mempunyai redaksional yang jelas dan terukur dan gampang dimengerti oleh siapapun.manager takut mengambil keputusan. maka dapat disimpulkan bahwa ke-3 (tiga) variasi tindak pidana korupsi tersebut. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). . manager. . Pasal 15 (sepanjang kata �percobaan�) UU PTPK adalah tidak adil dan cenderung irrasional. perbuatan pidananya telah selesai dan akibatnya pun sudah terjadi yaitu kerugian keuangan negara atau perekonomian negara telah terjadi secara nyata. dianggap sama nilainya oleh Pasal 2 ayat (1) dan Penjelasan Pasal 2 ayat (1). perbuatan pidananya belum selesai. Memaksakan bahwa ketiganya sama. Tidak dapat dipungkiri bahwa tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Sedangkan pada tindak pidana korupsi (yang telah selesai). Pasal 2 ayat (1). karena kalau dianggap berbeda tentu ancaman hukumannya seharusnya berbeda pula. perlu adanya ketentuan perundangan yang minimal memenuhi syarat sebagai berikut: . Penjelasan Pasal 3. 6. pejabat pemerintah takut menetapkan kebijakan yang pada akhirnya justru �dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�. Perbedaannya adalah bahwa pada tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. artinya masih pada tahap percobaan atau akibatnya belum terjadi.dan tidak bertentangan dengan UUD 1945. Menyamakan atau menganggap sama ke-3 (tiga) variasi akibat tindak pidana korupsi tersebut adalah tidak masuk akal atau irrasional. BERBEDA dengan tindak pidana korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. artinya ancaman pidananya harus disesuaikan dengan akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan pidana itu sendiri. Dari uraian di atas. kerugian negara tidak ada atau keuangan negara masih tetap seperti sedia kala. Pasal 3. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) �Undang-undang Tindak Pidana Korupsi�. Ketiga macam atau variasi akibat tindak pidana korupsi tersebut berdasarkan Pasal 2 ayat (1). karena siapapun yang kita tanya pasti menjawab bahwa ke-3 (tiga) tindak pidana korupsi tersebut berbeda atau tidak sama. maka hal itu tidak ada bedanya dengan menyatakan bahwa 5 (lima) ditambah 5 (lima) sama dengan sebelas (11). kerugian negara secara nyata telah terjadi atau keuangan negara sudah berkurang. .

terjadinya pelanggaran terhadap UUD 1945. yang kesalahannya ringan dihukum ringan dan yang tidak bersalah jangan dihukum. karena keduanya memang berbeda dan tentu dapat dibayangkan akibatnya kalau ancaman keduanya disamakan. adanya kesamaan perlakuan dihadapan hukum. tentunya juga harus logis atau rasional. Ancaman hukuman bagi terdakwa yang tidak merugikan negara. Pengertian anak kalimat �Kepastian Hukum Yang Adil� dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Apabila Pasal 28D ayat (1) UUD1945 dikaitkan dengan Pasal 2 ayat (1). 7. Penjelasan Pasal 2 ayat (1).Sebagai perbandingan. dan sebaliknya yang menyebabkan kematian dihukum 2 tahun. Pasal 3. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). keduanya diancam hukuman antara minimal 2 tahun dan maksimal 7 tahun. Ketentuan dalam �Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi� memberikan peluang. antara penganiayaan yang menyebabkan luka ringan (ancaman hukumannya maksimal 2 tahun 8 bulan) dibedakan dengan yang menyebabkan kematian (ancaman hukumannya maksimal 7 tahun). Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa ketentuan Pasal 2 ayat (1). dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU a quo adalah bertentangan dengan Pasal 28 huruf D ayat (1) �UUD 1945�. Pasal 3. pasti akan bertentangan dengan azas �kepastian hukum yang adil�. Pasal tersebut masuk akal atau rasional. disamping harus adil. atau yang melakukan percobaan tindak pidana korupsi. bila: a. dalam tindak pidana penganiayaan (Pasal 351 KUHP. Suatu ketentuan pidana. karena dianggap keduanya berbeda atau tidak sama. Penjelasan Pasal 3. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU a quo dalam tindak pidana korupsi yang �dapat� merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Penjelasan Pasal 3. atau sama dengan ancaman hukuman bagi terdakwa yang telah merugikan negara. lebih berat. Seharusnya �Undang-undang Tindak Pidana Korupsi� dapat mencegah terjadinya . Hal ini memungkinkan penganiayaan yang menyebabkan luka ringan dihukum 7 tahun. juga mempunyai arti bahwa orang yang kesalahannya berat dihukum berat. sebagaimana yang telah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Asas �kepastian hukum yang adil� berarti bahwa terhadap tindakan pidana korupsi yang telah mengakibatkan kerugian negara diancam hukuman berat dan terhadap tindak pidana korupsi yang tidak mengakibatkan kerugian negara diancam hukuman ringan. Azas �kepastian hukum yang adil�. Misal. b.

pelanggaran terhadap �UUD 1945�. yang diikuti dengan penangguhan penahanan atas diri Pemohon. Bila setuju pada pendapat �tindak pidana yang tidak sama atau berbeda akibat yang ditimbulkannya.TIM dengan Terdakwa Ir. JADI BUKAN APA YANG AKAN TERJADI NANTINYA DALAM PRAKTEK OPERASIONALNYA� II. DAWUD DATMIKO di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. ancaman hukumannya minimal 2 tahun pidana penjara atau maksimal 4 tahun pidana penjara. sehingga tidak ada yang salah dengan Pasal-pasal UU PTPK tersebut�. tidak perlu membedakan ancaman hukuman bagi seluruh pasal-pasal pidana yang terdapat dalam KUHP tersebut. yang bertentangan terhadap Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 tersebut.pasal� tersebut. maka Pemohon mengajukan permohonan agar Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berkenan memberikan putusan provisi sebagai berikut: 1. Untuk percobaan tindak pidana korupsi. dapat diancam dengan ancaman hukuman yang sama�. Memang ada orang berdalih dengan menyatakan: �Walaupun ancaman hukumannya sama.JKT. 36/Pid/B/2006/ PN. dengan tindak pidana korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan percobaan tindak pidana korupsi. Misalnya: dihukum pidana penjara minimal 4 tahun atau maksimal seumur hidup. Majelis Hakim yang memeriksa perkaralah yang berwenang untuk menentukan berat ringannya hukuman bagi terdakwa. b. maka Kitab Undang-undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP). ancaman hukumannya minimal 4 tahun pidana penjara dan maksimal 20 tahun pidana penjara atau seumur hidup. Merekomendasikan kepada Mahkamah Agung agar Mahkamah Agung memerintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melalui Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. untuk menangguhkan sementara proses persidangan dalam perkara pidana dengan register perkara No. Argumentasi demikian hanyalah suatu jawaban yang kurang fair karena menghindari pokok permasalahan yang menjadi tujuan permohonan pengujian materil ini. bukan mengenai penerapan hukumnya. c. dengan membuat ketentuan yang dengan tegas membedakan ancaman hukumannya antara tindak pidana korupsi yang telah nyata merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Untuk tindak pidana korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. bagi seluruh jenis tindak pidana yang ada dalam KUHP tersebut. Untuk tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. cukup dengan satu ancaman hukuman saja. Dalam Provisi Sebelum Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi memberikan putusan dalam pokok permohonan. Misalnya: a. . HAL-HAL YANG DIMOHONKAN A. yaitu tentang adanya pasal-pasal dalam UU PTPK yang bertentangan dengan azas �kepastian hukum yang adil�. Jadi yang menjadi pokok permasalahannya adalah mengenai �isi pasal. ancaman hukumannya minimal 1 tahun pidana penjara atau maksimal 4 tahun pidana penjara.

Perkara Nomor: Perkara Ods-01/KOR/ JKTTM/01/2006. Pasal 3. Penjelasan Pasal 3. bertentangan terhadap Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. 3. 2. Menimbang bahwa untuk menguatkan dalil-dalil permohonannya. 3. Bukti P-1 : Kartu Tanda Penduduk atas nama IR. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Menyatakan putusan provisi ini agar dilaksanakan secara serta merta dalam jangka waktu selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan provisi dimaksud. Dalam Pokok Permohonan Berdasarkan dasar. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. atas nama Ir. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Menyatakan bahwa materi muatan dalam Pasal 2 ayat (1). B. Pemohon telah mengajukan bukti-bukti sebagai berikut : 1. DAWUD DJATMIKO. bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Bukti P-3 : Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 3. Perkara Tindak Pidana Korupsi. Menyatakan materi muatan dalam Pasal 2 ayat (1). Pasal 3. Penjelasan Pasal 3. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya. fakta-fakta. 2. Pemohon memohon agar Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi memutuskan sebagai berikut: 1. 2. Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon. DAWUD DJATMIKO. .sampai dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Pasal 2 ayat (1). Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Bukti P-2 : Surat dakwaaan Reg. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. alasan-alasan dan pendapat sebagaimana diuraikan di atas. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Penjelasan Pasal 3.

ancaman pidana pada Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang.TIM. di samping merupakan "core crime" yang berkaitan dengan tindak pidana-tindak pidana lain. Bukti P-6 : Surat Nomor: B-280/F/F.2. Bukti P-13 : Foto Copy Harian Seputar Indonesia pada hari Senin tanggal 20 Maret 2006 dengan rubrik Opini halaman 9 (sembilan) kolom 1 (satu) yang berjudul �Kurikulum Antikorupsi. Bukti P-7 : Penetapan Nomor: 388/Pen. 5. Perlukah�. Bukti P-4 : Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. DAWUD DJATMIKO. 14. Bukti P-14 : Foto Copy harian Seputar Indonesia pada hari Senin tanggal 20 Maret 2006 dengan rubrik Opini halaman 8 (delapan) kolom 2 (dua) yang berjudul �Hukum Kekuasaan. UMUM Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil.undang Nomor 31 Tahun 1999. 13. 8. tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam implementasinya akan tidak adil dan bertentangan dengan Pasal 28 huruf D Undang-Undang Dasar Tahun 1945.Pid/2005/PN. DAWUD DJATMIKO.4.Pid/2005/PN. DAWUD DJATMIKO. 10. Menimbang bahwa pada persidangan tanggal 18 April 2006 Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Hukum dan HAM Dr. 11. DAWUD DJATMIKO. Bukti P-8 : Penetapan Nomor: 422/Pen. tertanggal 11 Mei 2004 atas nama Ir.JKT. tertanggal 09 November 2005. 7. Di tingkat transnasional korupsi diidentifikasikan dapat meningkatkan berkembangnya: . Pada saat ini korupsi tidak hanya dianggap masalah suatu negara.TIM. Bukti P-11 : Perhitungan secara manual mengenai kemungkinan (probabilita). Bukti P-10 : Foto copy Kartu Tanda Penduduk atas nama H.JKT. 9. Bukti P-5 : Surat Panggilan Tersangka Nomor: SPT-206/F/F. HAMID DJIMAN. 12. atas nama Ir. Bukti P-12 : Foto Copy Harian Seputar Indonesia pada hari Senin tanggal 20 Maret 2006 dengan rubrik Tajuk halaman 8 (delapan) kolom 1 (satu) yang berjudul �Menjadikan Hukum �Panglima�. perihal Perpanjangan Penahanan atas nama Ir.2. 6. HAMID AWALUDIN telah memberikan keterangan secara lisan di persidangan dan telah pula menyerahkan keterangan tertulis yang menguraikan sebagai berikut: I. dan Korupsi�.1/05/2004. makmur.1/05/2004. tetapi sudah merupakan masalah transnasional. perihal Bantuan Pemanggilan Tersangka. dan sejahtera perlu secara terus menerus ditingkatkan usaha pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pada umumnya serta tindak pidana korupsi pada khususnya. tertanggal 12 Desember 2005 atas nama Ir. DAWUD DJATMIKO. tertanggal 11 Mei 2004. Bukti P-9 : Berita Acara Pelaksanaan Penetapan Hakim tertanggal 03 Februari 2005 atas nama Ir.

the world's people need officials of their governments to serve them with unquestioned integrity.. . balk di tingkat pusat maupun di daerah. . termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban timbul karena : .memperlambat pertumbuhan. Seiring dengan perkembangan internasional tentang bahayanya tindak pidana korupsi tersebut. Dalam rangka melaksanakan kehendak rakyat sebagaimana dirumuskan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Karena Undang-undang tersebut tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat. biologis. Untuk itu. . pengurusan. As never before. Kolusi."capital flight". Corruption common long coexist with democracy and the Rule of Law". Diidentifikasikan pula bahwa korupsi yang paling berbahaya adalah "corruption among justice and security officials". telah diundangkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi agar pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi Iebih efektif. dan Nepotisme dan Undang.destabilisasi pemerintahan. . Yang dimaksud dengan keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun. Salah satu kesimpulan Forum Global Konferensi Internasional untuk memerangi korupsi yang dilaksanakan di Washington (2426 Pebruari 1999) ditegaskan bahwa: "We are on the eve of a new millenium.ekonomi biaya tinggi. . Tekad pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk memberantas korupsi sesugguhnya telah dimulai sejak tahun 1971 dengan diundangkannya Undangundang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan pertanggungjawaban pejabat lembaga negara. aspirasi masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan Iainnya makin meningkat karena perbuatan korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar. dan .defisit keuangan negara. .merusak demokrasi yang dilandasi "trust" dan korupsi merusak kepercayaan.krisis ekonomi.krisis kepercayaan.disparitas pendapatan.undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. . upaya pencegahan dan pemberantasannya perlu semakin ditingkatkan dan diintensifkan dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat.berada dalam penguasaan. . kimia. . maka di tengah upaya pembangunan nasional di berbagai bidang. . sehingga pemberantasan tindak pidana korupsi harus dilakukan secara Iuar biasa. yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan.berada dalam penguasaan.perusakan lingkungan hidup. dan Nepotisme. pengurusan.menggangu anggaran nasional. Kolusi. . . . tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara Iuas. . maka diganti dengan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang.penyelundupan bahan-bahan senjata nuklir.tindak pidana obat bius.menurunkan investasi. .penyimpangan pajak. Tindak pidana korupsi selama ini terjadi secara sistematik dan meluas tidak hanya merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

pidana denda yang lebih tinggi. yaitu : a. perorangan warga negara Indonesia. Kemudian dalam penjelasannya dinyatakan. sedangkan proses penyidikan dan penuntutan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. bahwa Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang. Perkembangan baru yang diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah dalam hal terjadi tindak pidana korupsi yang sulit pembuktiannya. dirumuskan secara tegas hal yang sangat penting untuk pembuktian yaitu dikategorikannya tindak pidana korupsi sebagai delik formil. Hal ini dimaksudkan dalam rangka meningkatkan efisiensi waktu penanganan tindak pidana korupsi dan sekaligus perlindungan hak asasi manusia bagi tersangka atau terdakwa. yayasan. bahwa yang dimaksud dengan "hak . badan hukum. meskipun hasil korupsi telah dikembalikan kepada negara. c. Dengan rumusan delik formil. pelaku tindak pidana korupsi tetap diproses secara hukum dan bagi pelaku tetap dipidana. dan perusahaan yang menyertakan modal negara. dan terhadap anggota masyarakat yang berperan serta tersebut diberikan perlindungan hukum dan penghargaan. badan hukum publik atau privat. kemakmuran. atau d. dan ancaman pidana mati yang merupakan pemberatan pidana. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON Sesuai dengan ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan Negara. maka dibentuk tim gabungan yang dikoordinasikan oleh Jaksa Agung.pertanggungjawaban Badan Usaha Milk Negara/Badan Usaha Milik Daerah. dan kesejahteraan kepada seluruh kehidupan rakyat. Undang-undang ini juga memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat berperan serta untuk membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Upaya lain dalam rangka mencapai tujuan yang lebih efektif untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang. lembaga negara. II. Sedangkan yang dimaksud dengan Perekonomian Negara adalah kehidupan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan ataupun usaha masyarakat secara mandiri di daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bertujuan memberikan manfaat. b. Undangundang ini memuat ketentuan pidana yang berbeda dengan Undang-undang sebelumnya yaitu menentukan ancaman pidana minimum khusus.

Pasal 18 ayat (1) huruf a. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu undang-undang yang diuji.13/ Ft. hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.1/01/2006 tanggal 06 Januari 2006. harus memenuhi 5 (lima) syarat yaitu : a. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana". bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. 4. Bahwa perkara Pemohon dilimpahkan Kejaksaan Negeri Jakarta Timur kepada Pengadilan Jakarta Timur. dan Pasal 1 sepanjang mengenai kata "percobaan" Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. c.028/01. Bahwa Pemohon telah menjalani proses penyidikan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia sehubungan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam proses pengadaan tanah untuk proyek pembangunan jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) ruas Taman Mini Indonesia Indah Cikunir. Bahwa Pemohon telah ditahan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia selaku Penuntut Umum mulai tanggal 25 Oktober 2005 sampai dengan 14 Nopember 2005 di Rumah Tahanan Negara Salemba Jakarta Pusat Cabang Kejaksaan Agung RI dan 14 Nopember 2005 sampai dengan 12 Januari 2006 di Rutan LP Cipinang. Bahwa Pemohon telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum di persidangar Pengadilan Negeri Jakarta Timur tanggal 17 Januari 2006 dengan dakwaan: Primair : "sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) jo.konstitusional" adalah hak-hak yang diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. e. Penjelasan Pasal 3. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). menurut Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pemohon dalam permohonannya menganggap hak konstitusionalnya dirugikan dengan adanya peristiwa hukum sebagai berikut: 1. 3. 2. . Menurut Pemohon dalam permohonannya bahwa dengan berlakunya Pasal ayat (1). b Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya undangundang yang dimohonkan untuk diuji. d. 5. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Bahwa Pemohon telah ditahan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia selaku Penyidik mulai tanggal 28 Juni 2005 sampai dengan 25 Oktober 2005 di Rumah Tahanan Negara Salemba Jakarta Pusat Cabang Kejaksaan Agung RI untuk kepentingan penyidikan. Lebih lanjut berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Konstitusi RI. Undang-undang Nomor 20 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. pengertian dan batasan tentang kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu undang-undang. Pasal 3. b. Seksi E-1 yang diduga melanggar Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal Undang-undang Tindak Pidana Korupsi. sebagaimana disebutkan dalam Surat Pelimpahan Perkara Acara Pemeriksaan Biasa Nomor B.

Pemohon dalam menjalani proses penyidikan. Pemerintah berpendapat bahwa Pemohon menjalani proses penyidikan. Bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum tersebut.undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bahwa berdasarkan peristiwa hukum tersebut. dan apakah ada hubungan sebab akibat (causaal verband) antara kerugian dan berlakunya Undang-undang yang dimohonkan untuk diuji. penuntutan. tidak hanya terhadap Pemohon. Kemudian jika Pemohon merasa hak-hak konstitusionalnya dirugikan dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang. Pemohon tidak secara jelas menyebutkan hak dan/atau kewenangan konstitusional dan kerugian konstitusional yang bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana".undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. maka terhadap Pemohon tetap dianggap tidak bersalah sesuai asas presumption of innocence (asas praduga tak bersalah). khususnya Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi menurut Pemohon sangat bertentangan dengan atau melanggar Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Undang-undang Nomor 20 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. penuntutan. dapat dijelaskan bahwa selama proses peradilan sedang berlangsung. Peristiwa hukum yang dialami Pemohon tidak ada hubungannya dengan konstitusionalitas suatu norma. Sehubungan dengan dalil Pemohon tersebut. maka hal ini perlu dipertanyakan hak konstitusional Pemohon mana yang dirugikan? Menurut Pemohon yang bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah dakwaan jaksa yang terkait dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Asas praduga tidak bersalah tersebut berlaku untuk setiap orang yang disangka/didakwa melakukan tindak pidana. Pemohon menganggap sebagai pihak yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya telah dirugikan dengan didakwanya Pemohon berdasarkan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Terhadap dalil Pemohon tersebut dapat dijelaskan bahwa dakwaan penuntut umum adalah operasionalisasi suatu norma yang apabila Pemohon keberatan dapat menyampaikan upaya hukum sesuai dengan hukum acara pidana yang berlaku. Apabila Pemohon mengaitkan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perlu diuji adakah hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dirugikan dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang. dan . b Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. apalagi terhadap Pemohon telah dilakukan penahanan sejak tanggal 28 Juni 2005 hingga sekarang. dan proses pemeriksaan di sidang pengadilan yang disertai penahanan adalah dalam rangka proses peradilan pidana sebagai bagian dari integrated criminal justice system.Subsidair : ""sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 jo Pasii 18 ayat (1) huruf a. 6.

B. jaminan. dan tidak ada kaitan dengan hak konstitusional Pemohon. pengisian kekosongan hukum. Namun demikian apabila Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain. dan penangguhan penahanan yang tidak ada relevansi dengan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Atas dasar pertimbangan tersebut. berikut ini disampaikan argumentasi Pemerintah tentang materi pengujian Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. PENJELASAN PEMERINTAH ATAS PERMOHONAN PENGUJIAN UNDANGUNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI A. Oleh sebab itu kedudukan hukum (legal standing) Pemohon dalam permohonan pengujian ini tidak memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) Undang. perlindungan.nyata tidak terdapat hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang dirugikan atas keberlakuan Undangundang aquo. Pemerintah berpendapat bahwa tidak terdapat dan/atau telah timbul kerugian terhadap hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon atas keberlakuan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Berdasarkan penjelasan tersebut maka permohonan provisi Pemohon harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard) karena tidak termasuk kompetensi Mahkamah Konstitusi. karena pada kenyataannya peristiwa hukum yang dialami oleh Pemohon justru dalam rangka memberikan pengakuan. Berdasarkan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar.undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. dan kepastian hukum yang adil serta pengakuan yang sama dihadapan hukum sebagaimana Pasal 28D ayat (1) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Karena itu Pemerintah memohon kepada Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi agar memerintahkan Pemohon untuk membuktikan secara sah terlebih dahulu apakah benar Pemohon sebagai pihak yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan. III. Pemerintah berpendapat bahwa nyata. Berdasarkan uraian tersebut. rekomendasi penangguhan sementara proses persidangan pidana. Bahwa permohonan provisi yang disampaikan Pemohon kepada Mahkamah Konstitusi berhubungan dengan kelemahan undang-undang.pemeriksaan di sidang pengadilan dan menjalani penahanan adalah dalam rangka proses pembuktian terjadinya tindak pidana. Sehubungan dengan pendapat Pemohon dalam permohonannya yang menyatakan bahwa: 1. Terhadap permohonan provisi. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pemerintah memohon agar Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi secara bijaksana menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). kekosongan hukum. yang menyatakan: "Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan .

bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit 200. jaminan. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidaksesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat. kata "dapat" sebelum frasa "merugikan keuangan atau perekonomian negara" menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil.Tindak pidana korupsi yang telah merugikan negara secara nyata. perlindungan. dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit 50. . kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.000. Sehubungan dengan dalil Pemohon tersebut. Penjelasan : Kata "dapat" dalam ketentuan ini diartikan sama dengan Penjelasan Pasal 2. yang menyatakan: "Setiap orang berhak atas pengakuan. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan.000.000.Tindak pidana yang tidak merugikan negara (kerugian negara tidak terjadi).00 (satu milyar rupiah)". 2. Pemerintah dapat menyampaikan penjelasan sebagai berikut : 1. yang menyatakan : "Setiap orang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. maka perbuatan tersebut dapat dipidana.000. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Dalam ketentuan ini. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum".000. yang dimaksud dengan "secara melawan hukum" dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 15 sepanjang mengenai kata "percobaan".000.000.000. yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat. Pemohon menyatakan bahwa kata "dapat" dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 mempunyai pengertian ganda yaitu : . 3. menyalahgunakan kewenangan.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak 1. .000.00 (satu milyar rupiah)".000.perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak 1.

Untuk itu. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) dan Penjelasan Pasal 3 secara tersurat menjelaskan bahwa kata "dapat" sebelum frasa "merugikan keuangan atau perekonomian negara" menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil. Tindak pidana yang ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 tersebut merupakan tindak pidana yang telah selesai. apabila pelaku mengembalikan hasil korupsi yang dilakukan. Di samping itu. Dengan perumusan tersebut pengertian tindak pidana korupsi mencakup pula perbuatan-perbuatan tercela yang menurut perasaan keadilan masyarakat harus dituntut dan dipidana. tidak terkandung ketentuan tindak pidana percobaan.Terhadap dalil Pemohon tersebut dapat dijelaskan bahwa Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang a quo merupakan delik formil. maka unsur kerugian negara dianggap sudah tidak ada lagi. berbangsa dan bernegara. dengan perumusan "secara melawan hukum" yang mengandung perumusan delik formil dimaksudkan pula agar lebih mudah memperoleh pembuktian tentang perbuatan yang dapat dipidana. Kedua adanya keinginan yang kuat untuk dapat menjangkau pemberantasan terhadap berbagai modus operandi penyimpangan keuangan atau perekonomian negara yang semakin canggih dan rumit. Pembuat undang-undang secara cermat dan visioner mengantisipasi kemungkinan terjadinya penafsiran yang berbeda terhadap kata "dapat" dengan memberikan penjelasan dalam penjelasan pasal demi pasal. Dengan demikian. yaitu perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia perlu ditingkatkan dan di intensifkan dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia demi kepentingan kehidupan bermasyarakat. seperti perbuatan kolusi dan nepotisme. sehingga pelaku tindak pidana . Dalam Keterangan Pemerintah tersebut dijelaskan: Pertama dari berbagai pemberitaan baik melalui media cetak dan elektronik dapat diketahui bahwa aspirasi masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya semakin meningkat. Hal ini sangat penting karena rumusan tindak pidana korupsi yang diatur dalam Undangundang Nomor 3 Tahun 1971 dalam praktek sering diartikan sebagai delik materiil. Untuk itu norma-norma mengenai tindak pidana yang diatur dalam Rancangan Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dirumuskan sedemikian rupa sehingga mencakup perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi "secara melawan hukum" dalam pengertian delik formil. Hal tersebut terlihat sangat jelas dalam Keterangan Pemerintah di hadapan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mengenai Rancangan Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disampaikan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia tanggal 1 April 1999 sebagai pengantar sebelum Rancangan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia bersama-sama dengan Pemerintah. Hal ini karena dalam kenyataan kasus korupsi telah menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap keuangan negara dan perkonomian negara yang pada akhirnya menimbulkan dampak krisis di berbagai bidang yang menjurus menyengsarakan masyarakat. yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat. yakni delik yang selesai jika telah timbul akibat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana korupsi. atau hakim sesuai dengan tingkat penanganan perkara dapat langsung meminta keterangan tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa kepada bank melalui Gubernur Bank Indonesia. Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga memberikan kesempatan pada masyarakat untuk ikut berperan serta dalam membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. meskipun hasil korupsi telah dikembalikan kepada negara. b. Di samping itu. Meskipun demikian jaksa juga harus dapat membuktikan tindak pidana korupsi (sistem pembuktian terbalik berimbang). jaksa. d. Untuk memperlancar proses penyidikan. menentukan ancaman pidana minimum khusus dan memuat rincian ancaman pidana terhadap pasalpasal yang diangkat dari Kitab Undang. Dari keterangan pemerintah tersebut sangat jelas bahwa Pemerintah mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi. diatur pula pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi yang bersifat transnasional atau lintas batas teritorial sehingga segala bentuk transfer keuangan/kekayaan hasil tindak pidana korupsi antar negara dapat dicegah secara optimal dan efektif. Ketiga perkembangan baru yang diatur dalam Undang-undang ini adalah: a. penuntutan. pelaku tindak pidana korupsi tetap diajukan ke pengadilan dan dapat dipidana.undang Hukum Acara Pidana yaitu adanya penerapan pembuktian terbalik yang bersifat terbatas terhadap perbuatan tertentu dan juga dalam hal perampasan hasil korupsi. Dalam Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga terdapat pengembangan ketentuan Kitab Undang. Sedangkan pengembalian hasil korupsi tersebut dapat menjadi unsur yang meringankan dalam penjatuhan pidana. c.korupsi tidak diajukan ke pengadilan atau dipidana. mengingat tindak pidana korupsi tersebut sungguh merupakan suatu kejahatan yang mengancam keuangan negara dan perekonomian negara yang pada gilirannya dapat merusak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.undang Hukum Pidana. Menurut Pemohon suatu tindak pidana yang mempunyai 2 macam akibat yang sangat . polisi. 4. yaitu menentukan ancaman lebih tinggi. Sebaliknya. dengan delik formil yang dianut Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999. berbangsa dan bernegara. Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memuat ketentuan pidana yang berbeda dengan undang-undang sebelumnya.

Mengenai masalah dalil Pemohon yang menyatakan bahwa rumusan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyamaratakan ancaman hukuman bagi pelaku tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dengan pelaku tindak pidana korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara adalah tidak benar. Menurut Pemohon ancaman pidana untuk percobaan tindak pidana disamakan dengan tindak pidana pokoknya. maka ancaman hukuman terhadap tindak pidana korupsi yang tidak merugikan keuangan negara atau perekonomian negara sama dengan ancaman hukuman terhadap tindak pidana korupsi yang sungguh-sungguh telah merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Oleh karena itu tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai . mengingat bahaya dan akibat yang ditimbulkan oleh kejahatan tindak pidana korupsi sangat Iuar biasa. menimbulkan ketidakpastian dan ketidakadilan. Terhadap dalil Pemohon tersebut. dapat dijelaskan bahwa tindak pidana korupsi selama ini terjadi secara sistematik dan meluas.undang a quo yang menyamakan ancaman hukuman dengan tindak pidana dalarn Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 undang-undang a quo. dan memutus perkara di sidang pengadilan.berbeda diancam dengan hukuman yang sama. Dalam rumusan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 undang-undang a quo dimaksudkan untuk memberikan kebebasan pada hakim untuk memutus hukuman sesuai dengan rasa keadilan dalam masyarakat. melainkan bisa saja hanya ancaman pidana minimum yang dijatuhkan. yakni jika terdakwa dalam melakukan tindak pidana korupsi tidak menimbulkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. tidak hanya merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. maka pidana yang dijatuhkan tidak harus sesuai dengan ancaman pidana maksimum. Berdasarkan pertimbangan tersebut. Hukuman pidana (vonis hakim) sangat tergantung pada pembuktian dan keyakinan hakim yang memeriksa. tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas. Hakim dapat menjatuhkan antara batas minimum pidana (sekurang-kurangnya 4 tahun) sampai dengan batas maksimum (paling lama hukuman penjara 20 tahun atau seumur hidup atau hukuman mati). diharapkan setiap orang akan menghindarkan diri untuk melakukan hal-hal yang mengarah pada tindak pidana korupsi sehingga fungsi preventif . dapat dijelaskan bahwa tindak pidana korupsi merupakan kejahatan yang bersifat extraordinary crime dan selama ini telah terjadi di Indonesia secara sistematik dan meluas serta merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas.undang a qua menyamakan ancaman pidana bagi terdakwa yang telah merugikan negara dan terdakwa yang tidak merugikan negara. ancaman hukuman yang tercantum dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (3) Undang-undang aquo merupakan ancaman pidana minimum dan ancaman maksimum yang dapat dijatuhkan oleh hakim. Terhadap dalil Pemohon tersebut. Di samping itu. 5. Dengan ancaman hukuman yang demikian tinggi. Dengan demikian. Hal ini merupakan operasionalisasi undang-undang. sehingga pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa. tidak terkait dengan konstitusionalitas suatu norma undang-undang. Pemohon berpendapat bahwa Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang. pembuat undang-undang berkehendak membangun sistem yang kuat dalam rangka mencegah dan memberantas korupsi. Pemohon berpendapat bahwa ancaman hukuman percobaan berdasarkan Pasal 15 Undang.Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi lebih efektif.

Untuk itu. Menerima Keterangan Pemerintah secara keseluruhan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah dilakukannya tindak pidana korupsi. 4. Penjelasan Pasal 3. Perumusan yang sedemikian itu juga dianut oleh beberapa undang-undang yang mengatur tentang tindak pidana yang digolongkan sebagai kejahatan yang Iuar biasa (extraordinary crime). Pasal 3. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan dan argumentasi tersebut diatas. ancaman pidana terhadap orang yang melakukan percobaan tindak pidana korupsi disamakan dengan ancaman pidana terhadap orang yang telah melakukan tindak pidana pokoknya.tidaknya menyatakan permohonan pengujian Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). . Dengan penjelasan tersebut. misalnya Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang mengancam percobaan terhadap tindak pidana terorisme sama dengan ancaman pidana bagi tindak pidana pokoknya (tindak pidana terorisme). Menolak permohonan pengujian Pemohon (void) seluruhnya atau setidak. Penjelasan Pasal 3. dan Pasal 15 sepanjang mengenai kata "percobaan" Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945. Pasal 3. Pemerintah berpendapat bahwa Pasal 2 ayat (1). Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Pemerintah memohon kepada yang terhormat Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa dan memutus permohonan pengujian Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terhadap UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. 2. Menyatakan Pasal 2 ayat (1). dapat memberikan putusan sebagai berikut : 1. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). dan Pasal 15 sepanjang mengenai kata "percobaan" Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak bertentangan dengan Pasal 28B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara Iuar biasa. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing).

dan Pasal 15 (sepanjang kata �percobaan�) bertentangan dengan Undang. Sesuai dengan ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.. MENGENAI POKOK MATERI PERMOHONAN Di dalam permohonannya. yang berbunyi sebagai berikut: �Setiap orang berhak atas pengakuan. II. perorangan warga Negara Indonesia. Menyatakan Pasal 2 ayat (1). yaitu: a. menyatakan bahwa Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang. Ketentuan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yakni Pasal 2 ayat (1). SH. Pasal 3. Namun demikian apabila Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berpendapat lain. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Tentang Kedudukan Hukum (legal standing ) Pemohon. Penjelasan Pasal 3. perlindungan. jaminan.5. c. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum�. Menimbang bahwa DPR yang diwakili oleh NURSYAHBANI KATJASUNGKANA. b.Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 khususnya Pasal 28D ayat (1) . mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono). Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Pemohon menyatakan: a. telah memberikan keterangan secara lisan di persidangan dan telah pula menyerahkan keterangan tertulis yang menguraikan sebagai berikut : I. Penjelasan Pasal 3. Pasal 3. b. Dengan berlakunya ketentuan beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bertentangan dengan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa Terhadap permohonan tersebut kami sampaikan keterangan sebagai berikut: I. dan Pasal 15 sepanjang mengenai kata "percobaan" Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tetap mempunyai kekuatan hukum dan tetap berlaku diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik . Dampak dari diterapkannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Patas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berakibat tidak adanya jaminan kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia dalam pemberantasan korupsi.

Masalah penangguhan penahanan termasuk dalam kopetensi peradilan umum bukan Makamah Konstitusi. amar putusan menyatakan permohonan ditolak�. �Dalam hal undang-undang dimaksud tidak bertentangan dengan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh Karena itu ketentuan tentang tindak pidana korupsi berlaku sebelum undang-undang tersebut dinyatakan tidak berlaku menurut Makamah Konstitusi. baik mengenai pembentukan maupun materinya sebagian atau keseluruhan. badan hukum publik atau privat. bahwa yang dimaksud dengan �hak konstitusional� adalah hak-hak yang diatur dalam Undang. Menurut Pemohon. lembaga negara.Indonesia yang diatur dalam undang-undang. karena apa yang dimohonkan mengenai penangguhan penahanan tidak termasuk dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasna Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. c. Ketentuan di atas dipertegas dalam penjelasannya. Keterangan Dewan Perwakilan Rakyat Atas Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang . Berdasarkan uraian di atas maka dalam putusannya menyatakan permohonan Pemohon ditolak berdasarkan Pasal 56 ayat (5) Undang-undang Makamah Konstitusi yang menyatakan. Dalam hak uji Undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar tidak mencakup kewenangan untuk penangguhan penahanan selain itu sesuai dengan Pasal 58 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 yang berbunyi �Undang-undang yang diuji oleh Makamah Konstitusi tetap berlaku sebelum ada putusan yang menyatakan bahwa undang-undang tersebut bertentangan dengan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia. Bahwa DPR beranggapan tidak terdapat dan atau telah timbul kerugian terhadap hak dan atau kewenangan konstitusional Pemohon atas keberlakuan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dengan demikian kedudukan hukum Pemohon dalam permohonan pengujian ini tidak memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. karena materi penangguhan penahanan diatur dalam KUHAP. atau d. Pemohon mempunyai hak sebagai warga negara untuk memohon kepada Makamah Konstitusi yang (berpotensi) melanggar hak-hak konstitusional masyarakat atau sekelompok masyarakat. II.Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Maka Perlu dibuktikan terlebih dahulu apakah benar Pemohon sebagai pihak yang hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan dengan berlakunya Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan yang dimaksud dengan �perorangan� termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama.

Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Amanat tersebut kemudian dituangkan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999. Dalam ketentuan Pasal 2. Penjelasan Pasal 3 (adanya kata �dapat�). Dari rumusan delik materiil formil pada Pasal 2 tersebut. maka sanksi sudah dapat dijatuhkan jika unsur melawan hukumnya telah dipenuhi. Kolusi dan Nepotisme dan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi yang kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi. Kolusi dan Nepotisme. 5. 2. Terhadap permohonan Pemohon dapat disampaikan keterangan sebagai berikut: Pasal 2 ayat (1). 4. Rumusan formil materiil dengan mencantumkan kata �dapat� ini. pejabat dan seluruh anggota masyarakat lainnya untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi. 3. Atas dasar perintah Tap MPR tersebut kemudian telah diundangkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. terdapat 3 unsur yaitu �setiap orang�. Bahwa kata �dapat� sengaja dirumuskan sebagai unsur tindak pidana korupsi untuk menunjukkan bahwa ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 merupakan tindak pidana formil materiil dalam arti bahwa tindak pidana telah terjadi jika unsur. Hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera (deterrence effect) terhadap seluruh warga masyarakat baik itu pengusaha. penekanannya sebenarnya pada aspek pencegahan (deterrence) dan upaya shock therapy bagi masyarakat luas. �secara melawan hukum� kemudian �melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi� yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.unsur tindak pidananya telah terpenuhi dan bukan akibatnya. Kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3. selain . dilatarbelakangi oleh kehendak dan aspirasi masyarakat yang sangat kuat pada waktu itu sebagai salah satu amanat reformasi. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Maka dalam penanganannya. Bahwa unsur-unsur dari Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang tersebut dengan sengaja dimaksudkan untuk menjangkau seluruh bentuk tindak pidana korupsi baik perbuatan yang merugikan keuangan negara maupun yang tidak merugikan keuangan negara. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 4 UU tersebut yang menyatakan bahwa pengembalian kerugian keuangan Negara tidak menghapuskan unsur pidananya. 1. Pasal 3. pada tahap penyelidikannya maupun penyidikan harus dilakukan secara luar biasa pula. Hal ini bersesuaian dengan anggapan yang telah diakui oleh masyarakat internasional bahwa tndak pidana korupsi merupakan tindak kejahatan luar biasa (extraordinary crimes).

Tindak pidana korupsi merupakan kejahatan yang bersifat extraordinary crime yang selama ini telah terjadi di Indonesia secara sistematik dan meluas serta merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Kata �dapat� dalam rumusan Pasal 2 ayat (1) merupakan kata yang tidak berdiri sendiri tapi merupakan satu kesatuan dengan frase selanjutnya yaitu merugikan keuangan negara oleh karena itu harus dibaca dalam satu kesatuan arti. Pemahaman kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) sedikit berbeda dengan Pasal 3. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah secara dini dilakukannya tindak pidana korupsi.Jadi yang dianggap sebagai perbuatan yang sangat tercela adalah bahwa para anggota DPRD itu dianggap telah memutuskan anggaran yang berdampak pada keadaan memperkaya dirinya sendiri padahal pendapatan yang diterima telah sesuai dengan ketentuan yang ada. Pengertian menguntungkan tidak identik dengan penambahan harta kekayaan tetapi dapat berupa memperoleh kenikmatan atau keuntungan yang bersifat materil atau imateril berupa fasilitas dan kemudahan untuk melakukan sesuatu tindakan. Unsur memperkaya diri sendiri itu mengandung pengertian bahwa penggunaan keuangan Negara tidak diperuntukan untuk kepentingan penyelenggaraan Negara tetapi untuk kepentingan diri pelaku tindak pidana korupsi. 7. 6. Dalam kasuskasus yang menyangkut anggota DPRD. 8. Suatu perbuatan yang tidak diatur atau tidak melanggar peraturan perundang-undangan tapi karena perbuatan itu tercela maka kata �dapat� disini merupakan penjelasan dari pembentuk undang-undang kepada para pelaksana undang-undang dalam hal ini polisi dan jaksa. didasarkan pada adanya keinginan kuat untuk memberantas tindak pidana korupsi dan memberikan peringatan kepada semua orang untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi serta untuk meminimalisir baik secara kualitatif atau kwantitatif atau mencegah adanya potensial lost. Kebijakan untuk menyamakan ancaman pidana bagi �percobaan� sama dengan tindak pidana selesai dilakukan dalam pasal tersebut juga dianut oleh bebarapa undang-undang .dimaksudkan untuk merumuskan delik secara formil. Jadi dengan demikian titik berat yang dipidana dalam Pasal 3 ini adalah penyalahgunaan wewenang melakukan perbuatan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri dengan menggunakan kekayaan negara. Pasal 15 (sepanjang kata �percobaan�) 1. Hal ini yang dimaksud oleh penjelasan pembuat undang-undang untuk memberikan pandangan yang lebih luas dari apa yang ditulis pada Pasal 2 mengenai apa yang dimaksud dengan melawan hukum tapi juga bagi penegak hukum untuk memperluas arti penafsiran melawan hukum yang tidak hanya terbatas pada melanggar hukum tertulis tapi juga melanggar rasa keadilan masyarakat. 9. Kata dapat pada Pasal 3 lebih menunjukkan pada menyalahgunakan wewenang (abuse of Power). Oleh karena itulah maka ancaman pidana terhadap orang yang melakukan �percobaan� tindak pidana korupsi disamakan dengan ancaman pidana terhadap orang yang telah melakukan tindak pidana tersebut. Dalam praktek sering kali unsur-unsur melawan hukum dari cara-cara perbuatan korupsi yang sangat tercela dimasukkan kedalam unsur melawan hukum. unsur perbuatan melawan hukum ini diperluas pengertiannya menjadi perbuatan yang tidak etis atau tercela dengan membandingkan upaya peningkatan kekayaan atau pendapatan para anggota DPRD dan atau pejabat eksekutif lainnya dengan kemiskinan rakyat yang diwakilinya atau yang dipimpinnya. Selain itu penggunaan kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3.

2003. Sudarto yang menyatakan bahwa: perbuatan percobaan dipandang sebagai Tatbestandusdehnungsgrund yakni suatu tindak pidana yang merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. 5. 2. Pasal 15 merupakan aturan khusus hal ini dapat dilihat pada penjelasannya yang menyatakan �Ketentuan ini merupakan aturan khusus karena ancaman pidana pada percobaan dan pembantuan tindak pidana pada umumnya dikurangi 1/3 (satu per tiga) dari ancaman pidananya�. yakni dianggap merupakan delik yang selesai. Menyamakan perbuatan percobaan dengan perbuatan pidana yang selesai bukanlah sesuatu yang asing dalam sistim hukum pidana kita sebagaimana dapat kita lihat pada beberapa contoh delik �percobaan� dalam KUHP adalah delik makar (aanslagdelicten) dalam Pasal 104. 6. Dengan kata lain bahwa rumusan Pasal 15 diperlukan untuk membentuk sebuah budaya anti korupsi pada semua kalangan dan lapisan masyarakat dan bertujuan pula untuk membentuk suatu kepribadian bahwa seseorang haruslah jujur sejak dalam pikirannya. percobaan apapun untuk melakukan suatu pelanggaran yang dilakukan sesuai dengan konvensi ini�. Delik �percobaan� sebagaimana diatur dalam Pasal 15 dikategorikan sebagai end casuality of delict. 106. dan 107. Tindak pidana korupsi terjadi tidak hanya di pusat tetapi diseluruh jajaran pemerintahan sampai di daerah. DPR sebagai pembuat undang-undang berpendapat bahwa perubahan dan penggantian Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 sangat diperlukan karena kondisi korupsi sudah merajalela yang sangat merugikan keuangan negara. Selain itu pada Pasal 15 dan penjelasanya justru memberi kepastian bahwa perbuatan percobaan disamakan dengan perbuatan selesai. berbunyi . misalnya Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. tetapi merupakan delik yang sempurna atau delik tersendiri (delictum sui generis) hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa. �masing-masing negara pihak dapat mengambil tindakan-tindakan legislative dan lainnya sedemikian sebagaimana dianggap perlu untuk menetapkan sebagai pelanggaran pidana sesuai dengan hukum internalnya. 4. oleh karena itu pemberantasan tindak pidana korupsi dilakukan secara sunguh-sungguh dan karenanya pardigma baru harus digunakan dalam UU yang baru ini antara lain dengan memberi penegasan bahwa percobaan melakukan tindak pidana korupsi disamakan dengan tindak pidana korupsi itu sendiri. 7.yang mengatur tindak pidana yang digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime). 2003. Pasal 27 ayat (2) UN Conventions against Corruption. Oleh karena itu persoalanya tidak terlihat pada asas kepastian hukum yang adil tapi terlihat pada asas dan rasa keadilan yang merupakan ranah pelaksanaan hukum dalam arti setelah mempertimbangkan bukti-bukti yang cukup dan adanya keyakinan hakim. Menimbang bahwa pada persidangan tanggal 11 Mei 2006 telah didengar keterangan Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (untuk selanjutnya disebut Jaksa KPK) dan Jaksa dari . yang telah diratifikasi menjadi Undang-undang Nomor 7 Tahun 2006. 3. bahwa meskipun Pasal 2 dan 3 UU ini telah dirumuskan secara formil namun UU ini hendak menjerat semua orang yang tidak saja melakukan korupsi tapi juga yang berniat atau mencoba melakukannya. Selain itu kriminalisasi pelaku percobaan tindak pidana korupsi pada Pasal 15 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sejalan dengan Pasal 27 ayat (2) UN Conventions against Corruption. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. Hal ini sesuai dengan pendapat Prof.

namun tidak berarti ada dua jenis/kualitas tindak pidana yang berbeda. Pemohon telah keliru menafsirkan arti kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo. Apabila dalam proses penegakan hukum terdapat tindakan yang merugikan hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon. Berdasarkan UUMK dan Peraturan Mahkamah Konstitusi No. Mengingat dari kedua penjelasan pasal tersebut secara tegas dinyatakan sebagai delik formil. Maka dengan adanya Pasal 58 tersebut.06/PMK/2005 tentang Pedoman Beracara dalam Pengujian Undang-undang. Mahkamah mempunyai kewenangan untuk menguji ketentuan Pasal 2 ayat (1) Penjelasan Pasal 2 ayat (1).Kejaksaan Agung dalam hal ini Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Jaksa TIMTASTIPIKOR) selaku Pihak Terkait. Sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) huruf a UUMK. 3. Diberlakukannya Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo terhadap Pemohon yang diduga melakukan perbuatan tindak pidana korupsi sama sekali tidak menimbulkan kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon. Dilihat dari segi pembuatan undang-undang (legal drafting). dengan pengertian termasuk kerugian keuangan yang belum terjadi namun berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara. justru untuk menghindari adanya kekosongan hukum akibat adanya pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. Penjelasan Pasal 3. sehingga tidak perlu ditafsirkan lagi. Berdasarkan penjelasan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo. rumusan delik tersebut hanya tercantum dalam 1 (satu) kalimat dalam 1 (satu) pasal (untuk Pasal 3) sehingga tidak dapat diartikan ada pengertian ganda atau 2 (dua) delik dalam masing-masing rumusan pasal tersebut. 4. Pengertian kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo secara otentik tercantum dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1). yaitu tindak pidana yang telah merugikan keuangan negara dan tindak pidana yang tidak merugikan keuangan negara. sehingga oleh Karena itu Mahkamah berwenang untuk memeriksa.Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka atas kerugian tersebut Pemohon seharusnya tidak mengajukan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 kepada Mahkamah untuk memeriksa. sebelum ada putusun yang menyatakan bahwa undang-undang tersebut bertentangan dengan Undang. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU a quo terhadap UUD 1945. yang pada pokoknya sebagai berikut : Jaksa KPK 1. melainkan pengertian hanya merupakan 1 (satu) tindak pidana. Pasal 3. jenis/kualitas dari perbuatan tindak pidana adalah satu walaupun akibat yang ditimbulkan kemungkinannya ada dua. 6. yang mana secara tegas dinyatakan undangundang yang sedang diuji tetap masih berlaku. 7. yang mana walaupun secara nyata kerugian keuangan negara itu belum . Sesuai dengan Pasal 58 UUMK menyatakan bahwa undang-undang yang diuji oleh Mahkamah Konstitusi tetap berlaku. mengadili dan memutusnya. Dari masing-masing rumusan kedua pasal tersebut. 8. mengadli dan memutus permohonan a quo oleh Pemohon. permohonan provisi tidak dikenal sehingga tidak dapat dimintakan dalam permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. yaitu perbuatan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. karena kerugian yang timbul tersebut adalah masalah penerapan hukum acara pidana yang merupakan kompetensi Peradilan Umum. 2. 5. maka kata �dapat� bukanlah mengakibatkan adanya 2 (dua) pengertian tindak pidana sebagaimana disampaikan oleh Pemohon. yaitu mempunyai pengertian ganda.

Berdasarkan histories (sejarah perundang-undangan) dan teleologis (tujuan pembentukan undang-undang). Penyamaan ancaman pidana antara percobaan dan delik selesai yang dibuat oleh pembentuk undang-undang telah memberikan kepastian hukum yaitu siapapun yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU a quo. 16. 13. sangat merugikan. karena rumusan tersebut tidak mengandung dua jenis/kwalitas perbuatan melainkan hanya satu jenis/kualitas tindak pidana. melainkan sudah cukup kalau perbuatan tersebut nyata telah dapat (berpotensi) terjadinya kerugian keuangan negara. akan diancam dengan pidana yang sama. hal ini sangat penting untuk pembuktian. tindak pidana korupsi menjadi sulit pembuktiannya. yaitu Pasal 1 ayat (1) huruf b. 14. Dalam kaitannya dengan tindak pidana korupsi. Pencantuman ancaman pidana oleh pembuat undang-undang dalam pasal tersebut adalah sudah tepat. yang mana tidak perlu perbuatan tersebut telah nyata-nyata berakibat terjadinya kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. maka pemidanaannya (berat ringannya pidana) diserahkan kepada hakim yang memutus perkara itu sesuai dengan hukum pembuktian yang berlaku. ancaman pidana yang sama antara perbuatan percobaan dan perbuatan selesai pada kejahatan tindak pidana . sehingga pemidanaan yang dipermasalahkan oleh Pemohon tersebut merupakan ruang lingkup dari implementasi/penerapan suatu undang-undang. 10. 18. Dengan demikian dalam suatu kasus/perkara korupsi baik yang telah terjadi kerugian keuangan negara atau perekonomian negara maupun yang berpotensi terjadinya kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. Pengertian kata �dapat� semata-mata untuk menyatakan bahwa tindak pidana/delik tersebut adalah tindak pidana formil. tidak saja merugikan keuangan negara tetapi juga telah merugikan hak-hak ekonomi dan sosial masyarakat. Tidak ada yang keliru atau salah dalam pencantuman ancaman pidana pada Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 oleh pembuat undangundang. tidak berarti ada tindak pidana korupsi yang telah terjadi kerugian keuangan negara atau perekonomian negara dan ada yang tidak terjadi kerugian keuangan negara atau perekonoian negara. 15. Pemohon yang telah keliru menafsirkan bahwa dari masing-masing pasal tersebut mempunyai dua pengertian (pengertian ganda). karena terdapat rumusan Pasal 1 ayat (1) huruf a UU a quo sebagai delik materiil. mengakibatkan para pelaku tindak pidana korupsi sering lolos dari jeratan hukum. maka terjadi perubahan fundamental dari rumusan undang-undang tindak pidana korupsi yang lama (Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971) yang membedakan adanya tindak pidana korupsi sebagai delik materiil. Rumusan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo tidaklah diartikan adanya 2 (dua) jenis tindak pidana pada setiap pasal. Tujuan pemidanaan dalam suatu tindak pidana adalah dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera terhadap pelaku dan melindungi kepentingan umum. melainkan setiap pasal hanya ada 1 (satu) jenis/kualitas tindak pidana. Ketentuan dalam penjelasan tersebut dapat dipahami karena pembentuk undang-undang menyadari bahwa dalam praktek peradilan sebelumnya berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 1971. 12. Pengertian kata �dapat� dalam rumsuan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3. yaitu Pasal 1 ayat (1) huruf a dan tindak pidana korupsi sebagai delik formil.terjadi. 17. 11. maka perbuatan itu telah memenuhi rumusan tindak pidana dimaksud. sehingga tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sebagai a tool of social engineering (alat perekayasa masyarakat) maka pembuat undang-undang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat dan semangat untuk melakukan pemberantasan korupsi dapat dan dibenarkan untuk membentuk ketentuan yang khusus termasuk memberikan sanksi. yang mana kerugian negara atau perekonomian negara yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut harus sudah nyata-nyata terjadi. perlindungan hukum terhadap kepentingan umum (masyarakat) karena akibat dari kejahatan korupsi sebagaimana telah diuraikan Jaksa. namun dari perbuatan tersebut apabila telah dapat dibuktikan adanya potensi terjadinya kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam Penjelasan Umum UU a quo menyebutkan bahwa tindak pidana korupsi dirumuskan secara tegas sebagai tindak pidana formil. 9.

bukan secara sempit sebagaimana diuraikan oleh Pemohon. Untuk membuktikan adanya unsur kesalahan (schuld) tersebut maka harus dilihat mens rea dari diri si pelaku yaitu apakah perbuatan yang dilakukan dan . melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. bahkan telah dimulai dengan perbuatan permulaan pelaksanaannya dan hal ini sama bahayanya dan sama akibat yang akan timbul dari pelaku yang sudah selesai melakukan tindak pidana korupsi tersebut. 26. 23. niat (kehendak) jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi sudah ada pada diri pelaku. 20. 25. Dalam rumusan tersebut. 24. Dalam doktrin hukum pidana perbuatan percobaan diartikan bahwa tidak selesainya perbuatan tersebut dilakukan bukanlah kehendak dari pelaku itu sendiri melainkan di luar kehendaknya. namun walaupun bagian inti (bestand delen) telah terpenuhi. adalah masalah penerapan/penegakan hukum (law enforcement). Pemohon hanya menafsirkan bahaya dan akibat yang ditimbulkan dan tidak melihat bahaya atau akibat dari niat jahat pelaku tindak pidana korupsi yang dapat bertumbuh secara sistematik sehingga membahayakan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. 29.korupsi. tidak berlaku. b. Dalam tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 15 UU a quo ancaman pidana terhadap percobaan melakukan tindak pidana korupsi diancam dengan hukuman yang sama dengan tindak pidana yang telah selesai. Dalam kaitannya dengan Pasal 2 ayat (1). Tidak selesainya perbuatan yang dilakukan dalam stelsel pemidanaan. tidak dapat dikatakan lebih kecil dari perbuatan yang sudah selesai. Sesuai dengan asas-asas hukum pidana. 19. yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara 28. unsur kesalahan (schuld) yang melekat pada diri pelaku harus dibuktikan walaupun tidak secara tegas dicantumkan dalam rumusan delik. namun unsur tersebut haruslah dibuktikan agar pelaku dapat dipidana sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) UU a quo. Dalam hal pelaku percobaan tindak pidana korupsi dapat dijatuhi pidana lebih berat daripada pelaku pidana (pokok) korupsi itu sendiri. Pembentuk undang-undang yang menyamakan ancaman pidana terhadap percobaan tindak pidana korupsi dengan tindak pidana korupsi yang sudah selesai sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 15 UU a quo adalah sudah tepat dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum dan telah sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. bukan masalah yang berhubungan dengan pembuatan undang-undang atau pencantuman ketentuan ancaman hukuman dalam Pasal 15 UU a quo itu sendiri. Pada umumnya rumusan suatu delik berisi bagian inti (bestand delen) artinya bagian-bagian inti tersebut harus sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. c. karena niat jahat pelaku percobaan adalah sama dengan niat jahat untuk delik selesai. tidak tercantum unsur (element) tentang kesalahan (schuld). Sehingga dalam hal ini ketentuan Pasal 53 ayat (2) KUHP yang menyatakan maksimum pidana pokok dalam kejahatan dalam hal percobaan dikurangi sepertiga. 22. Dengan demikian dalam perbuatan percobaan. 27. bagian inti (bestand delen) yang harus dipenuhi dan dibuktikan adalah : a. 21. Akibat yang ditimbulkan dari perbuatan percobaan maupun perbuatan yang telah selesai dilakukan dalam tindak pidana korupsi harus diartikan secara luas. d. Pada hakekatnya bahaya atau akibat yang akan ditimbulkan dalam perbuatan percobaan. setiap orang. baik yang termuat dalam KUHAP maupun dalam doktrin hukum pidana. Dalam hukum pidana dikenal asas �Geen straaf zonder schuld� tiada pidana tanpa kesalahan. secara melawan hukum. pencantuman ketentuan ancaman pidana secara khusus adalah dibenarkan sesuai asas lex specialis derogate legi generali.

Pengertian tersebut berbeda jika diubah menjadi kerugian negara yang berarti negara mengalami kerugian yang cakupannya sangat luas.akibat yang ditimbulkan dikehendaki dan diketahui oleh si pelaku (willens en weten). Penjelasan Pasal 3 dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU a quo sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) huruf a UU MK. udara) atau harta benda yang terkandung di dalamnya. Permohonan provisi yang diajukan Pemohon adalah tidak berdasar dan sewajarnya tidak perlu dipertimbangkan dan harus diabaikan oleh Mahkamah. 30. Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing) sebagai Pemohon. berada dalam penguasaan. sebagaimana kesimpulan dalam butir 2 di atas. pengurusan dan pertanggungjawaban pejabat lembaga negara baik di tingkat pusat maupun daerah. yang pada pokoknya sebagai berikut : . sehingga permohonan tersebut harus dinyatakan ditolak. laut. Apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain. 3. Pasal 3. sewajarnya permohonan Pemohon tidak dapat diterima (Niet Onvantkelijk verklaard). pengurusan dan pertanggungjawaban Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pemohon tidak konsisten dan mencampuradukkan istilah hukum kerugian keuangan negara dengan kerugian negara. Jaksa KPK dalam keterangannya menyimpulkan sebagai berikut : 1. penjelasan Pasal 3 dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU a quo tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. 2. yayasan. 3. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). meliputi rakyat atau wilayahnya (darat. Pasal 3. Menimbang bahwa dalam persidangan pada tanggal 11 Mei 2006 telah di dengar keterangan di bawah sumpah Ahli dari Pemohon bernama Soejatna Soenoesoebrata. mengadili. untuk mengajukan pengujian undangundang terhadap UUD 1945 dalam perkara a quo. maka keseluruhan alasan permohonan yang diajukan oleh Pemohon adalah keliru dan tidak berdasar. Jaksa TIMTASTIPIKOR 1. penjelasan Pasal 2 ayat (1). b. Bahwa ketentuan Pasal 2 ayat (1). dan memutus permohonan Pemohon untuk melakukan pengujian ketentuan Pasal 2 ayat (1). 4. Mahkamah Konstitusi berwenang untuk memeriksa. 5. 4. sebagaimana dalam penjelasan pasal dimaksud bahwa keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun yang dipisahkan atau tidak dipisahkan termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena : a. 2. Kerugian keuangan negara adalah istilah yang sesuai dengan perumusan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo. Pasal 2 ayat (1). berada dalam penguasaan. Pasal 3 dan Pasal 15 UU a quo berikut penjelasannya secara sah mempunyai kekuatan hukum dan tetap berlaku serta tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. badan hukum dan perusahaan yang menyertakan modal negara atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara. sehingga berdasarkan Pasal 56 ayat (1) UUMK. Badan Usaha Milik Daerah.

3. mengelola keuangan negara yang dikelola oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 5. Pasal 7. Untuk membuktikan tindak pidana. karena rumusan perbuatannya di dalam pasal tersebut sangat tidak jelas. Sistem pencatatan/pelaporan yang mengabadikan (memotret) semua langkah/perbuatan setiap pejabat dan hasil-hasilnya. Akuntan dapat dituntut balik oleh para terdakwa. Kebijakan merupakan pernyataan niat dari manajemen baik manajemen tinggi maupun . Pasal 11 dan Pasal 12 UU a quo. PTUN ataupun usaha itu bisnis terdiri atas beberapa subsistem. perbuatan manajemen yang terkait dengan suatu permasalahan yang perlu dijelaskan untuk kepentingan pihak-pihak terkait atau stakeholder. tindakan melawan hukum yang pasal-pasalnya memerlukan penafsiran khusus karena menyangkut penyalahgunaan wewenang. prosedur audit wajib yang merupakan bagian standar audit yang ditetapkan oleh lembaga profesi akuntan sudah diabaikan. sub sistem yang langsung terkait dengan pengoperasian kegiatan lembaga adalah kebijakan. Pasal 6. Sistem kelengkapan kerja suatu lembaga baik lembaga pemerintah. Apabila hal ini terjadi. Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang pernah berlaku pada dasarnya mengandung dua golongan tindakan melawan hukum yaitu golongan I. mengenai golongan ini rumusan pasal. 8.uang anggaran pendapatan negara. 4. 3. Kebijakan yang merupakan pernyataan niat dari setiap kegiatan yang dilakukan (arah dan tujuannya). 6. 7.pasalnya sudah sangat jelas sehingga tidak perlu penafsiran lagi. Dalam proses audit investigasi yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.unsur kendali manajemen yang dimiliki lembaga tersebut sebagai acuan (referensi) kerjanya. Walaupun rumusan Pasal 2 UU a quo sudah jelas. Tindakan melawan hukum yang dirumuskan dalam kedua pasal tersebut merupakan penyimpangan terhadap penggunaan wewenang di dalam pelaksanaan sistim kerja kelembagaan yaitu birokrasi termasuk di dalamnya penyimpangan atas peraturan ketentuan baik yang merupakan kelengkapan yang dibuat lembaga itu sendiri yaitu peraturan intern lembaga maupun yang dibuat oleh lembaga di atasnya yang terkait dengan kegiatan lembaga tersebut. tindak pidana melawan hukum yang pasal-pasalnya diadopsi dari Undang-undang Hukum Pidana. berbeda dengan bunyi rumusan yang ada dalam Pasal 5. Dari kesimpulan itu dapat dimengerti mengapa akuntan diikutsertakan membantu Kejaksaan Agung di dalam upaya mengungkapkan tindak pidana korupsi. di dalam sistim kerja kelembagaan yang karakteristik kegiatan lembaga sangat bervariasi. Tetapi ada juga kekayaan negara yang dipisahkan. Struktur organisasi yang dilengkapi dengan uraian tugas yang menggambarkan wewenang yang dimiliki setiap pejabat dan prosedur kerja yang terkait dengan cara penggunaan wewenang tersebut. 2. antara lain : 1. Golongan II.1. 9. Untuk dapat mengungkap penyimpangan yang mencakup jenis penyimpangannya maupun siapa yang membuat penyimpangan harus memahami lebih dahulu seluruh sistim kendali manajemen dan karakteristik kegiatan lembaga. Karena Akuntan merupakan �jabatan profesi kepercayaan masyarakat�. 2. Bahwa tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana yang berkaitan dengan �penggunaan wewenang� di dalam suatu sistem lembaga (birokrasi). dalam penjelasan pasal demi pasal tidak serta merta para ahli hukum khususnya para jaksa penyidik segera dapat menangkap artinya. penyidik harus meneliti jejak-jejak perbuatan para pejabat yang di dalam melaksanakan tugasnya harus memperhatikan unsur. Peraturan-peraturan keuangan yang konkret itu adalah untuk mengelola uang. 8 dan Pasal 10. Maka akibat kelalaiannya menerbitkan laporan yang cacat. laporan akuntan menjadi cacat. karena tugas itu memang sangat terkait dengan tugas akuntan sehari-hari khususnya dengan tugas pemeriksaan investigasi atas jejak langkah.

" yang lebih dimaknai sebagai "sengaja" atau "kelalaian". Perubahan signifikan terjadi pada perumusan tindak pidana korupsi termasuk unsur-unsur subjektif dan unsur objektif dan ancaman pidana terhadap tindak pidana korupsi. Prof. LL. ERMAN RAJAGUKGUK. maka bagian inti delik telah terpenuhi.H.H.1999. Dr. Bahwa dengan demikian ada perubahan perumusan dari "delik materiil" pada Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 1971 kepada "delik formil" pada Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999. Bahwa ketentuan dalam UUD 1945 tersebut lebih dititikberatkan kepada operasionalisasi atau penerapan ketentuan suatu undang-undang. bukan kepada rumusan atau makna dari . dihapus sehingga kerugian negara harus dilakukan dengan sengaja. Kalimat lain yang dihapus adalah : "atau diketahui atau patut disangka olehnya. Perubahan signifikan pada perumusan tindak pidana korupsi adalah pencabutan kalimat "langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara atau perekonomian negara� dan diganti dengan kalimat. Bahwa perubahan perumusan delik yang sangat signifikan tersebut di atas dapat dipahami mengingat situasi perekonomian dan keuangan negara yang ketika UU a quo dikeluarkan dalam keadaan krisis yang sangat membahayakan kesejahteraan rakyat Indonesia. "dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara�. Bahwa dengan penambahan kalimat.. yang menitikberatkan kepada "perlindungan atas kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum". "dapat" di muka kalimat. atas langkah-langkah yang diambil untuk mengerti mengapa suatu langkah diambil harus terlebih dahulu diketahui kebijakan apa yang mendasarinya. Dr.S.M. "merugikan keuangan negara atau perekonomian negara ". Jika dihubungkan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. dan terakhir tahun 2001).M Bahwa Undang-undang Pemberantasan Korupsi di Indonesia telah mengalami perubahan sebanyak 4 (empat) kali (tahun 1960. S.1971. Andi Hamzah.S. Romli Atmasasmita. Romli Atmasasmita.S. maka tidak perlu terjadi benar.M. Namun demikian jika diteliti makna lebih jauh mengenai kalimat.. tampak seolah-olah ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU a quo tersebut bertentangan dengan bunyi Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.LL.benar kerugian keuangan negara. dan Prof.H. pada pokoknya sebagai berikut : 1. Dr. dan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum". Menimbang bahwa pada persidangan tanggal tanggal 26 Juni 2006 telah didengar keterangan Ahli yang dipanggil oleh Mahkamah..menengah. di mana Indonesia terkena dampak krisis yang sangat parah dibandingkan dengan negara lain. Dr. Bahwa perubahan dimaksud adalah untuk "mempermudah pembuktian" tidak dapat dianggap serta merta melanggar ketentuan hukum acara pembuktian sebagaimana diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 1981 dan asas legalitas sebagaimana dianut dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. melainkan dengan "kemungkinan menimbulkan kerugian negara atau perekonomian negara" saja. "pengakuan.LL. Ahli Prof. jaminan. bernama Prof.. yang telah memberikan keterangan di bawah sumpah baik lisan dan tertulis..H.

Bahwa dilihat dari sisi penafsiran gramatikal dan sistematis maka perumusan Pasal 2 ayat (1) UU a quo dapat dikatakan bahwa. dan situasi politik bangsa dan negara yang bersangkutan. dan Singapura. Bahwa merujuk kepada penempatan Indonesia sebagai negara terkorup sedunia sampai saat ini. Bahwa seberapa jauh bunyi rumusan kalimat di dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU a quo relevan dan sesuai dengan perasaan keadilan sangat tergantung dari seberapa penting dan bahaya yang ditimbulkan oleh suatu tindak pidana korupsi di Indonesia. Bahwa dibandingkan dengan di negara lain. yang tidak dianut di negara lain. bunyi kalimat "dapat" harus ditafsirkan secara holistik yaitu terkait dengan bunyi awal kalimat dalam pasal tersenut. tetap dapat dipidana. Bahwa analisis hukum terhadap bunyi Pasal 3 UU a quo yang berdasarkan penjelasannya merupakan delik formil bukan delik materiil. dan perilaku lembaga dan aparatur penegak hukum dan pejabat birokrasi yang masih rentan terhadap suap jelas bahwa. Perbedaan pemahaman dan 3 pengakuan suatu perbuatan merupakan perbuatan tercela dan merupakan suatu tindak pidana serta dapat dipidana apakah dengan pidana ringan atau berat sangat tergantung dari faktor sosiologis.ketentuan suatu undang-undang khusus terkait kepada bunyi Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 dan Pasal 15 sepanjang mengenai percobaan dalam UU a quo. bunyi rumusan kalimat dalam Pasal 2 ayat (1) UU a quo telah memenuhi asas lex scripta (ketentuan itu harus tertulis). Bahwa dari sisi ini maka penafsiran atas tidak dipenuhinya ketentuan dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 jelas tergantung dari fakta empiris mengenai penerapan pasal-pasal tersebut yang menjadi wewenang pihak penyidik. kultur. adalah dipenuhinya aspek dapat diperkirakan (akibatnya) dari suatu perbuatan (requirement of forseeability) dan dipenuhinya aspek dapat diketahui langsung dan mudah dipahaminya suatu ketentuan undang-undang (requirement of accessibility). dan pengadilan sebagai sebagai lembaga pemutus. tidak terpisah dan parsial. yaitu : "Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara" harus dibaca dalam satu nafas. lex certa (ketentuan itu harus jelas) dan lex stricta (ketentuan itu tidak ditafsirkan secara analogi atau harus ditafsirkan secara sempit). Hal ini terbukti dengan agenda pemerintah yang menempatkan pemberantasan korupsi sebagai salah satu misi Kabinet Indonesia. Bahwa begitu pentingnya masalah korupsi dan pemberantasannya di Indonesia sehingga perbuatan memberikan sesuatu dan menerima sesuatu sekalipun dalam rangka terima kasih kepada seseorang pejabat. . Malaysia. kecuali Indonesia. yaitu dengan dicantumkannya "gratifikasi" sebagai delik baru dan termasuk tindak pidana korupsi. Bahwa dengan demikian. Bahwa dua aspek penting dalam ketentuan suatu undang-undang. korupsi merupakan bahaya nomor satu di Indonesia.

a. Mengacu kepada bunyi bagian menimbang tersebut maka perubahan signifikan atas rumusan sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 ayat (1).undang. Ahli Prof. LL. Masih relevan juga terhadap situasi sekarang dimana pemerintah. Jadi suatu tindak pidana korupsi itu tidak perlu harus ada unsur kerugian pada negara. bukan pada masalah keberadaan rumusan di dalam pasal-pasal satu undang-undang. sehingga tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa". S. Pertama strategi preventif. halhal apa yang diberikan kepada mereka berdasarkan undang. it shall not be necessary. memiliki tiga strategi. Jadi bukan mutlakharus diterima. Bahwa bahwa damage to the state is shall not necessary di dalam suatu tindak pidana korupsi. ketelitian. dan konsistensi. Bahwa dalam Konvensi Internasional Anti Korupsi.Bahwa pemahaman terhadap ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 serta Pasal 15 UU a quo sepanjang mengenai kata percobaan haruslah dilihat dalam konteks perkembangan korupsi di Indonesia sejak tahun 1960-an sampai kepada saat ini. Bahwa dalam konteks itulah maka perumusan-perumusan yang dimuat dalam Pasal 2. Konvensi disusun oleh pakar-pakar Common Law System. Civil Law System. Bahwa masalah-masalah yang menyangkut perlindungan atas kepastian hukum yang adil perlakuan yang sama di hadapan hukum Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. beberapa pejabat aparatur daerah masih memperlihatkan resistensi yang tinggi terhadap pemberantasan korupsi. terlebih lagi bagian menimbang dalam UU a quo. Sebagai bagian dari kewajiban itu. b. undangundang tidak dapat diprediksi. maupun Islamic Law System. implementasinya menurut konvensi tergantung dari according to principle of domestic law in its country.M. tapi disesuaikan dengan perkembangan sistem hukum suatu negara yang bersangkutan. Oleh karena itu bukan sesuatu kemutlakan harus ditolak. kedua represif dan yang ketiga asset recovery strategy. dan perilaku apa yang mereka harapkan dari pejabat. Prinsip negara hukum menuntut agar sebanyak mungkin orang mengetahui tentang apa yang diperintahkan kepada mereka berdasarkan undang-undang. semangat dan jiwa dari perubahan UU Nomor 3 Tahun 1971 kepada UU Nomor 31 Tahun 1999. ERMAN RAJAGUKGUK. mereka harus memastikan agar kerangka rancangan mereka ada kejelasan. yang secara tegas menyatakan sebagai berikut : "bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas. Bukan refuse. Asset recovery strategy adalah strategi yang ketiga dan merupakan terobosan hukum yang besar dari konvensi. 2.H. Pasal 3 dan Pasal 15 UU a quo harus juga dipertimbangkan dari latar belakang. untuk menggunakan hukum yang mengubah perilaku-perilaku bermasalah dan dalam pengambilan . Ahli berpendapat bahwa hal tersebut Iebih kepada operasional penerapan dari satu undang-undang. Tanpa kejelasan dan ketelitian. Kewajiban penyusun RUU yang jelas dan teliti berasal juga dari tuntutantuntutan pemerintahan demokrasi yang berupaya mengadakan reformasi. tidak hanya merugikan keuangan negara. Dr. tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas. Para penyusun Rancangan Undang-Undang atau perancang undangundang memiliki kewajiban mematuhi prinsip rule of law.. Adanya kejelasan dan ketelitian dalam RUU itu sendiri menempatkan tugas penyusun RUU sebagai dasar dari pemerintahan yang bersih dan pembangunan. Pasal 3 Pasal 15 UU a quo Ahli berpendapat masih relevan dengan perkembangan situasi Negara Republik Indonesia saat ini.

maka para penyusun RUU harus mampu menghasilkan undang-undang yang terperinci.". Sebagai syarat pertama dari kemudahan untuk memperoleh akses. Tanpa itu demokrasi berada dalam posisi yang sangat lemah. perlindungan. yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara . d. c. "Kerugian negara yang nyata dan pasti jumlahnya. sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 : "Negara Indonesia adalah negara hukum". atau kata "dapat" dihilangkan sehingga..".. kerangka undang. memberi kepastian hukum. jelas dan dapat diakses. baik perilaku peran utama maupun dari para pejabat dalam lembaga. Pada prinsipnya. Demokrasi menuntut kejelasan dan ketelitian dari para perancang undang. yang dapat ditafsirkan menurut kehendak siapa saja yang membacanya tidak mendatangkan kepastian hukum kepada pencari keadilan dan Penegak Hukum. yaitu pemerintahan harus berdasarkan hukum. Kedua hal tersebut menuntut agar menggunakan hukum dalam mendorong perilaku-perilaku yang menjadi sasaran dari peraturan perundang-undangan baik warga masyarakat maupun para pejabat. Untuk memastikan bahwa prediksi dapat dibuat.. Untuk memastikan bahwa prediksi dapat dibuat. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai" (garis bawah dari Ahli). Rakyat menentukan perilaku penguasa. dan untuk melindungi pengendalian demokratis terhadap pemerintah. Kata-kata ". melalui peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh badan pembuat undangundang yang dipilih secara demokratis.perilaku.1. dan barang. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tersebut agar diputuskan untuk tidak berlaku oleh Mahkamah Konstitusi karena bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Telah ada definisi "kerugian negara" yang menciptakan kepastian hukum.. surat berharga. dan memastikan bahwa khususnya para pejabat pemerintah mematuhi ketentuan-ketentuan dalam undang-undang.keputusan secara tidak sepihak. guna mendorong adanya perilaku yang sesuai dengan pemerintahan yang bersih. serta kejelasan.lembaga pelaksanaan (penegak hukum). c.undang. karena perbuatan atau peristiwa tersebut belum nyata atau belum tentu terjadi dan belum pasti jumlahnya. Prinsip negara hukum akan runtuh apabila para pejabat yang menjadi sasarannya para hakim dan penegak hukum lainnya tidak mematuhi hukum. ketelitian dan konsistensi kalimat-kalimat dalam undangundang sehingga memberikan kepastian bagi para pihak yang dituju tentang kewajibankewajiban mereka menurut hukum. yaitu sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Para perancang undang-undang wajib memastikan agar RUU mereka mendorong perilaku-perilaku pejabat yang diinginkan. Dalam pembangunan tugas utama hukum yaitu mengatur perilaku. dan memastikan agar undang-undang sesungguhnya mendorong perilaku-perilaku yang diinginkan baik untuk mencapai pembangunan maupun pengambilan keputusan tidak secara sepihak. �Setiap orang berhak atas pengakuan. teliti. b.undang pengungkapan dari strukturnya secara keseluruhan. Pasal 1 ayat (22): "Kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum" berdasarkan alasan-alasan berikut : a. berbunyi. "Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan .. serta para pihak yang dituju undang-undang memiliki akses yang mudah terhadap isi dari undang-undang yang bersangkutan.. jaminan. perincian tentang siapa melakukan apa. Kesimpulan Ahli dari sudut hirarki peraturan perundang-undangan : c. e. karena sesuai dengan prinsip Negara Hukum (Rule of f'Law).

sesuai pula dengan azas Hukum Pidana sebagaimana tersebut dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP "Jika undang-undang diubah. tidak memberikan kepastian di dalam usaha negara mendorong perekonomian.kata "dapat merugikan keuangan negara" tidak memberikan kepastian. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.2. Tiap-tiap perubahan. baik dalam perasaan hukum dari pembuat undang-undang. Bahwa dalam penyusunan suatu rencana undang-undang harus dihindari penggunaan katakata yang samar-samar. setelah perbuatan itu dilakukan. Peranan hukum dalam pembangunan ekonomi bahwa hukum itu harus menciptakan tiga kualitas. Ketiga. untuk kepentingan umum" . Pertama. Bahwa Kata "dapat" baru asumsi. Terjadinya suatu perubahan undang-undang ditandai dengan perubahan perasaan (keyakinan) hukum pada pembuat undang-undang. yang dimaksud kerugian negara adalah. Keputusan tersebut di atas tidak akan menimbulkan kekosongan hukum. Kata. Bahwa dari sudut peranan hukum dalam pembangunan ekonomi. daripada memperinci secara jelas keterampilannya merupakan persyaratan bagi seorang ahli listrik yang kompeten untuk memperoleh izin ahli kelistrikan. Bahwa kalau Undang-undang Perbendaharaan Negara Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara keluarnya pada tahun 2004. Bahwa dalam teknik perundang-undangan perbuatan-perbuatan yang dianggap melanggar tindak pidana tidak bisa didasarkan kepada asumsi. Predictability adalah kepastian. c. maupun dalam keadaan karena waktu. Sering kali kata-kata tersebut merupakan alat penolong bagi penyusun rencana undang-undang yang malas. Perbuatan yang bisa dihukum adalah perbuatan pasti sudah terjadi. dengan adanya pengertian yang mendatangkan kepastian hukum. cukup. Alasan tidak berlakunya Pasal 2 ayat (1) UU a quo. .3. fairness.. "dapat merugikan keuangan negara". c. maka kepada tersangka dikenakan ketentuan yang menguntungkan baginya". walaupun perubahan tersebut tidak disebutkan dalam redaksi Pasal 2 ayat (1) UU a quo.". stability. contoh yang lain kata-kata yang samar-samar itu: "wajar...perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang merugikan keuangan negara. tetapi kepada yang pasti terjadi. d. maka definisi kerugian negara itu adalah definisi yang ditetapkan di dalam Undangundang Nomor 1 Tahun 2004. "Dapat merugikan keuangan negara". Bahwa pada praktiknya kata-kata ini dapat berarti apa saja sesuai dengan pilihan pembacanya. boleh diterima sebagai perubahan undang-undang dalam arti kata Pasal 1 ayat (2) KUHP. sebagaimana tercantum dalam pengertian kerugian sebagaimana disebut dalam Pasal 1 ayat (22) Undang-undang No. setelah perbaikan Undang-undang Anti Korupsi. "kerugian negara atau daerah adalah kekurangan uang surat berharga dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan yang melawan hukum baik sengaja maupun lalai". Kedua.. pasal ini juga dapat merugikan keuangan negara. Bahwa Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. belum tentu terjadi. predictability. bahwa satu undang-undang harus memberikan kepastian.

Bahwa sistem hukum Indonesia adalah satu kesatuan. Tentang apa yang di sebut kerugian Negara telah keluar dari Undang-undang Perbendaharaan Negara. analogi hukum. Gezetsus analogie. 2. direktur-direkturnya di hukum pidana. 3. Asas legalitas artinya tiga: 1. ada analogi hukum. artinya tidak ada di dalam KUHP. Pasal-pasal undangundang organik jelas sekali dan di Indonesia. Dilarang analogi. baik analogi undang-undang maupun analogi hukum. sudah disebutkan tadi lex scripta. ada analogi undang-undang. Efek jera tidak selalu terbukti yang menjadi tujuan Undang-undang Anti Korupsi. tetapi ada faktor-faktor lain. tetapi tidak berdasarkan pasal-pasal yang tidak jelas. Tiap undang-undang harus kait-mengkait satu sama lain dan tidak bertentangan satu sama lain. adalah merupakan penyimpangan dengan asas legalitas. Ahli Prof. 3. Dr. bukan Undang-undang Anti Korupsi. ada domain badan usaha milik negara.undang Perbendaharaan Negara. terbukti tidak mampu menghabisi kejahatan dan premanisme. tidak bisa dipisah-pisah ada domain anti korupsi. misalnya Undang-undang Pasar Modal mempunyai aspek pidana. maka dipakailah pasal yang paling mirip di dalam . sebagaimana sudah dibuktikan bahwa Petrus (penembakan misterius). Andi Hamzah. Bahwa dalam pasal-pasal UU a quo bertentangan dengan Undang. Undang-undang Perbankan mempunyai aspek pidana. Dari sudut hukum ekonomi adalah.Bahwa pasal-pasal dalam a quo tidak mendorong pembangunan ekonomi. tidak.H. Bahwa banyak orang Indonesia sebenarnya ahli pidana tapi belum tahu bahwa analogi itu ada dua artinya. berlakunya metode di dalam menghukum seseorang tidak selalu berhasil sudah dibuktikan penyakit korupsi masyarakat bukan karena yang bersangkutan tidak tahu perbuatan itu dilarang. Ada recht analogie. Hukum yang tidak memberikan kepastian telah mengganggu perekonomian. Bukan berarti tiap direksi dari BUMN umpamanya lepas dari pidana. mana yang lebih penting menghukum seseorang atau mengembalikan kerugian negara? Berbagai putusan pengadilan di Amerika Serikat. Bahwa melawan hukum yang dalam penjelasan pasal-pasal UU a quo bukan saja bertentangan dengan perundang-undangan tetapi juga bertentangan dengan norma-norma lain yang hidup di dalam masyarakat. maka kerugian negara itulah adalah definisi dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004. tetapi masyarakat memandang perlu dipidana. Bahwa dalam perkembangan perekonomian suatu negara. S. Asas legalitas mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat dipidana selain berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang ada sebelumnya . Undang-undang Anti Monopoli mempunyai aspek pidana. bisa dilakukan dengan undang-undang organik yang lain. Undang-undang tidak boleh berlaku surut. di mana perusahaan-perusahaan. ada gezetsus analogie. Undang-undang peraturan itu harus tertulis. ada domain perbendaharaan negara.

Karena tidak dapat hanya dengan mengatakan "potensial dapat merugikan negara". harus konkret. itu dianut oleh RRC. maka dipidana. Kata melawan hukum dan memperkaya tidak lepas satu sama lain. artinya suatu perbuatan tidak ada di dalam undang-undang tetapi bertentangan dengan kepatutan. Dalam Konvensi Internasional tidak terdapat rumusan �merugikan keuangan Negara�. maka diterapkan Pasal 286 yaitu. Bahwa Ahli tidak mempermasalahkan kata "dapat". atau negara dalam keadaan perang� menjadi Pasal 7 UU PTPK. Bahwa Ahli dapat menerima. Bahwa Pasal 2 UU a quo adalah recht analogie. itupun dilarang dalam asas legalitas. Hongkong. Bahwa dalam Konvensi Internasional yang dimaksud delik formil adalah Pertama melawan hukum. tetapi masyarakat perlu dipidana. Thailand. tidak ada Pasal 2 dan Pasal 3. yang dapat mendatangkan bahaya bagi keselamatan orang. Singapura. sebab di negara-negara tersebut menganggap yang disebut korupsi adalah "suap". Itu namanya gezetsus analogie. kelaziman. kata "dapat" dengan penafsiran harus menggunakan ahli. bukan di atasnya. padahal dia tidak pingsan. Tidak ada negara menganut recht analogie. bukan �barangsiapa�. namun melawan hukum dilakukan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. apabila Hakim masih ragu-ragu atas keterangan akuntan yang diajukan oleh masing-masing pihak. Kata "dapat" harus berada di bawah memperkaya.KUHP. oleh karena di Negara Malaysia. dan memperkaya dimaksud dilakukan dengan melawan hukum. pingsan". hanya bertentangan. Bahwa melawan hukum berkaitan dengan frase di bawahnya yaitu melawan hukum memperkaya diri sendiri. kepatutan di dalam masyarakat itu namanya recht analogie. Bahwa Ahli dapat menerima kata dapat asalkan dalam proses pembuktian masing-masing pihak dapat mengajukan akuntan. Bahwa di dalam KUHP juga ada kata "dapat" di dalam KUHP Pasal 387 "pemborong melakukan perbuatan curang. Jadi jaksa masih menyebut di dalam surat dakwaannya pasal yang dilanggar. bukan memperkaya orang lain. Ketiga. tidak ada tertulis. yang mirip. . Itu namanya gezetsus analogic. Kata "dapat" sama sekali tidak ada. Bahwa recht analogi sama sekali tidak ada di dalam undang-undang. Kedua. Bahwa mengenai "dapat merugikan keuangan negara". tetapi pelakunya harus pejabat. Karena suap adalah induk korupsi. tetapi tidak ada di dalam KUHP. Gezetsus analogie misalnya dukun cabul. matanya terbuka. "menyetubuhi perempuan yang tidak berdaya. masyarakat meminta supaya dihukum. adalah bahwa Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang Korupsi dan hanya satu-satunya di dunia. Negara yang menganut recht analogie adalah Jerman (Nazi). norma-norma yang hidup dalam masyarakat. merugikan keuangan negara. zaman Hitler dengan KUHP-nya tahun 1936. atau benda. mirip. maka hakim harus memutus bebas (in dubio proreo). memperkaya diri sendiri. tetapi Ahli berpendapat menjadi mubazir karena memperkaya diri sendiri harus dibuktikan.

ada hubungan kausal (causal verband) antara kerugian hak konstitusional pemohon dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian. adalah (a) perorangan warga negara Indonesia. dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan putusan ini. menurut Pasal 51 ayat (1) UUMK. Menimbang bahwa pihak yang dapat diterima memiliki kedudukan hukum (legal standing) sebagai Pemohon dalam pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. segala sesuatu yang terjadi di persidangan ditunjuk dalam Berita Acara Persidangan. Mahkamah berwenang memeriksa. PERTIMBANGAN HUKUM Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan a quo adalah sebagaimana diuraikan tersebut di atas. e. harus ada hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945. Mahkamah berpendapat bahwa untuk dapat dikatakan ada kerugian hak atau kewenangan konstitusional harus dipenuhi syarat-syarat: a. c. Apakah Pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan pengujian undang-undang a quo. sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 hingga saat ini. Menimbang pula. kerugian hak konstitusional tersebut bersifat spesifik dan aktual atau setidak. 2. apabila . d. b. mengadili dan memutus permohonan Pemohon. (c) badan hukum publik atau privat. Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok perkara. Terhadap kedua hal tersebut Mahkamah berpendapat sebagai berikut: KEWENANGAN MAHKAMAH DAN KEDUDUKAN HUKUM PEMOHON Menimbang bahwa permohonan yang diajukan oleh Pemohon adalah dalam rangka pengujian beberapa bahwa Pasal beserta penjelasannya dari UU PTPK terhadap UUD 1945. (b) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang.tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. Apakah Mahkamah berwenang memeriksa. pemohon mengganggap hak konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian. Maka berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) UU MK. Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1. atau (d) lembaga negara.Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian putusan ini. mengadili dan memutus permohonan yang diajukan oleh Pemohon.

Mahkamah dapat menghentikan sementara pemeriksaan permohonan atau menunda putusan. dengan mengacu kepada Pasal 58 UUMK. Pemohon telah mengajukan permohonan putusan provisi agar Mahkamah menjatuhkan putusan �merekomendasikan kepada Mahkamah Agung (MA) agar MA memerintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melalui Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.TIM. Mahkamah dapat menyatakan menunda pemeriksaan dan memberitahukan kepada pejabat yang berwenang untuk menindaklanjuti adanya persangkaan tindak pidana yang diajukan oleh Pemohon. suatu proses hukum yang sedang berlangsung di pengadilan dalam suatu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Ketentuan demikian diatur dalam Pasal 16 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang-undang. �Undangundang yang diuji oleh Mahkamah Konstitusi tetap berlaku. P-8. Menimbang bahwa berdasarkan bukti-bukti yang diajukan Pemohon (Bukti P. Namun. (2) Dalam hal dalil mengenai dugaan perbuatan pidana yang dimaksud pada butir (1) disertai dengan bukti-bukti. Mahkamah berpendapat permohonan tersebut tidak cukup berdasar sebagaimana telah dijelaskan dalam sidang terbuka untuk umum tanggal 8 April 2006. yaitu berupa tindakan penghentian sementara pemeriksaan permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 atau penundaan putusan atas permohonan tersebut apabila permohonan dimaksud menyangkut pembentukan undang-undang yang diduga berkait dengan suatu tindak pidana. Pasal 58 UU MK berbunyi. P6. dan P-9) dan telah diperiksa dalam persidangan.1.permohonan tersebut dikabulkan diperkirakan kerugian hak konstitusional tersebut tidak akan atau tidak lagi terjadi. Sehingga. P-7. untuk menangguhkan sementara proses persidangan dalam perkara pidana Nomor 36/Pid/B/2006/PN. yang berbunyi sebagai berikut: (1) Dalam hal Pemohon mendalilkan adanya dugaan perbuatan pidana dalam pembentukan undang-undang yang dimohonkan pengujiannnya. P-5. TENTANG PUTUSAN PROVISI (SELA) Menimbang bahwa selain mengajukan permohonan sebagaimana dalam pokok perkara. dalam permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 Mahkamah dapat mengatur pelaksanaan kewenangannya. . Terhadap permohonan tersebut. sampai adanya putusan Mahkamah Konstitusi� terhadap permohonan a quo. Mahkamah tidak berwenang untuk memerintahkan penghentian.JKT. sebelum ada putusan yang menyatakan bahwa undang-undang tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945�. meskipun bersifat sementara. P-2. Mahkamah berpendapat telah cukup alasan dan bukti untuk menerima kedudukan hukum (legal standing) Pemohon dalam permohonan a quo.

apabila Pemohon menganggap perlu adanya putusan provisi untuk menghentikan sementara proses hukum yang sedang berjalan. pejabat. maka permohonan demikian seharusnya diajukan kepada pengadilan yang memeriksa perkara yang bersangkutan sesuai dengan tingkat pengadilannya dalam suatu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Penjelasan Pasal 3 (sepanjang menyangkut kata �dapat�). untuk kepentingan pemeriksaan dan pengambilan keputusan. Menimbang. Pasal 3. � Kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3. (4) Penghentian proses pemeriksaan permohonan atau penundaan putusan sebagaimana dimaksud butir (1) ditetapkan dengan Ketetapan Mahkamah yang diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. pada tahap penyelidikan maupun penyidikan harus dilakukan secara luar biasa pula (extraordinary measures). Hal ini bersesuaian dengan anggapan yang telah diakui oleh masyarakat internasional bahwa tindak pidana korupsi merupakan tindak �kejahatan luar biasa�. dengan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana diuraikan di atas. POKOK PERMOHONAN Menimbang bahwa masalah pokok yang harus dipertimbangkan oleh Mahkamah dalam permohonan a quo adalah apakah Pasal 2 ayat (1). dan seluruh anggota masyarakat lainnya untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi. Hal demikian dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera (deterrent effect) terhadap seluruh warga masyarakat baik pengusaha. Dengan demikian. dan Pasal 15 (sepanjang mengenai kata �percobaan�) UU PTPK bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Permohonan demikian dapat diajukan mengingat berdasarkan ketentuan Pasal 53 UU MK Mahkamah selalu memberitahukan kepada Mahkamah Agung tentang adanya permohonan pengujian undang-undang dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi. bukan kewenangan Mahkamah. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Undang-undang a quo penekanannya . Mahkamah harus menyatakan menolak permohonan putusan provisi yang diajukan Pemohon dalam permohonan a quo. Di samping itu Mahkamah juga mendengar keterangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Timtastipikor Kejaksaan Agung selaku pihak terkait di persidangan yang kemudian menambahkan keterangan tertulis. Maka dalam penanganannya. Kewenangan untuk mengabulkan atau menolak permohon putusan provisi demikian sepenuhnya merupakan kewenangan pengadilan yang bersangkutan. Mahkamah dapat meminta keterangan kepada pihak-pihak berwenang yang melakukan penyidikan dan/atau penuntutan. dari mana telah tampak hal-hal sebagai berikut: � Unsur-unsur dari Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang a quo dengan sengaja dimaksudkan untuk menjangkau seluruh bentuk tindak pidana korupsi baik perbuatan yang merugikan keuangan negara maupun yang tidak merugikan keuangan negara.(3) Dalam hal dugaan perbuatan pidana sebagaimana dimaksud butir (1) telah diproses secara hukum oleh pejabat yang berwenang. Menimbang bahwa guna memeriksa permohonan a quo Mahkamah telah mendengar keterangan Pemerintah dan DPR.

pencantuman ketentuan ancaman pidana secara khusus adalah dibenarkan sesuai dengan asas �lex specialis derogat legi generali� (vide Pasal 103 KUHP). � Menyamakan perbuatan percobaan dengan perbuatan pidana yang selesai bukanlah sesuatu yang asing dalam sistem hukum pidana Indonesia sebagaimana dapat dilihat pada beberapa contoh delik �percobaan� dalam KUHP adalah delik makar (aanslag delicten) dalam Pasal 104. �perbuatan percobaan dipandang sebagai suatu tindak pidana yang merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. Percobaan bukanlah delik yang tidak sempurna. Ak. selain dimaksudkan untuk merumuskan delik formil. dan 107. diancam dengan pidana yang sama. Menimbang bahwa Mahkamah telah mendengar keterangan Ahli (Akuntan Publik) dari Pemohon Drs. tetapi merupakan delik yang sempurna atau delik tersendiri (delictum sui generis) hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa�. � Kriminalisasi pelaku percobaan tindak pidana korupsi pada Pasal 15 undang. yang telah diratifikasi dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006. Sesuai dengan asas-asas hukum pidana baik yang termuat dalam KUHP maupun dalam doktrin hukum pidana. Sedangkan kata �dapat� pada Pasal 3 Undang-undang a quo lebih menunjuk pada penyalahgunaan wewenang (abuse of power). yang diajukan oleh Pemohon. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 4 undang-undang tersebut yang menyatakan bahwa pengembalian kerugian keuangan negara tidak menghapus unsur pidananya. Penyamaan ancaman pidana antara percobaan dan delik selesai yang dibuat oleh pembentuk undang-undang telah memberikan kepastian hukum yaitu siapapun yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 undang-undang a quo. didasarkan pada adanya keinginan kuat untuk memberantas tindak pidana korupsi dan memberikan peringatan kepada semua orang untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi serta untuk meminimalisasi secara kualitatif dan kuantitatif atau mencegah adanya potential loss. � Kata �dapat� dalam rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang a quo juga merupakan kata yang tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu kesatuan dengan frasa selanjutnya yaitu merugikan keuangan negara. yang pada pokoknya telah menberangkan hal-hal sebagai berikut: � Rumusan perbuatan pidana dalam pasal-pasal undang-undang a quo sangat . Sudarto yang menyatakan. Soejatna Soenoesoebrata. � Dengan rumusan delik materiil formil pada Pasal 2 tersebut . Oleh karena itu harus dibaca dalam satu kesatuan arti. sanksi sudah dapat dijatuhkan jika unsur melawan hukumnya telah dipenuhi. Unsur memperkaya diri sendiri mengandung pengertian bahwa penggunaan keuangan negara tidak diperuntukkan bagi kepentingan penyelenggaraan negara tetapi untuk kepentingan diri pelaku tindak pidana korupsi. 2003. 106. Selain itu penggunaan kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 undang-undang a quo.sebenarnya pada aspek pencegahan (deterrence) dan upaya shock therapy bagi masyarakat luas. Hal ini sesuai dengan pendapat Prof.undang a quo sejalan dengan Pasal 27 ayat (2) United Nations Convention Against Corruption.. Pengertian �menguntungkan� dalam Pasal 3 UU PTPK tidak selalu identik dengan penambahan harta kekayaan tetapi dapat memperoleh kenikmatan atau keuntungan yang bersifat materiil dan/atau immateriil berupa fasilitas dan kemudahan untuk melakukan sesuatu tindakan. Delik �percobaan� sebagaimana diatur dalam Pasal 15 undang-undang a quo dikategorikan sebagai delik yang sudah selesai.

Romli Atmasasmita.D.H..M. Erman Rajagukguk. Penjelasan Pasal 2 ayat (1).. � Kerugian negara harus secara benar dan tepat karena berbagai jenis perusahaan mempunyai sistem akuntansi yang berbeda-beda di dalam penghitungan kerugian. perlindungan.H. Menimbang bahwa Mahkamah telah pula memanggil Ahli Prof. Di dalam penetapan �melawan hukum� jaksa biasanya tidak mampu memerinci modus operandi pelanggarannya. Jika setelah dihadirkan Akuntan atau Ahli ketiga pun hakim tetap ragu. Tetapi di dalam penghitungan kerugian.H. Dr.. kata-kata "dapat merugikan keuangan negara". Akuntan tidak dapat melakukan konfirmasi atas data yang masih diragukan kebenarannya kepada pejabat yang terkait. Ph. . Apabila hakim masih ragu atas keterangan Akuntan atau Ahli yang diajukan oleh masing-masing pihak. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum tetapi juga bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. S. Andi Hamzah. Perumusan melawan hukum sepenuhnya ditetapkan sendiri oleh jaksa penyidik. o Pasal 2 ayat (1). � Sebagai persyaratan agar kasusnya dapat diajukan ke pengadilan.H. Dr. maka atas pertimbangan sendiri hakim dapat memerintahkan dihadirkannya Akuntan atau Ahli ketiga. S.H. Prof. bertentangan tidak saja dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 tentang hak atas pengakuan.. Pasal 3. Erman Rajagukguk. o Ahli dapat menerima kata �dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara� dalam rumusan pasal-pasal undang-undang a quo asalkan dalam proses pembuktian masing-masing pihak dapat mengajukan Akuntan atau Ahli. yang pada pokoknya sebagai berikut: Prof. karena asas legalitas mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat dipidana selain berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang ada sebelumnya. penyidik. hasil perhitungan Akuntan hanya bersifat perhitungan pro forma sekadar untuk melengkapi tuntutan jaksa di pengadilan. sehingga hasil jumlah perhitungan kerugian yang dibuat Akuntan akan sama dengan yang dikehendaki jaksa penyidik.. Dr.M. LL. yang menyampaikan keterangan secara lisan dan tertulis yang selengkapnya tercantum dalam uraian tentang Duduk Perkara.. � Penyidik tidak pernah menggunakan laporan hasil pemeriksaan investigasi akuntan sebagai dasar merumuskan �unsur melawan hukum� maupun menetapkan terdakwanya. o Kata �melawan hukum� yang dalam penjelasan pasal-pasal undang-undang a quo menyebutkan �bukan saja bertentangan dengan perundang-undangan tetapi juga bertentangan dengan norma-norma lain yang hidup di dalam masyarakat� merupakan penyimpangan asas legalitas. Dengan perkataan lain. Prof. atau kah Ahli yang terkait�. dan Penjelasan Pasal 3 undang-undang a quo. LL.. S. S. LL. Prof. Ph.D. maka hakim harus memutus bebas (in dubio proreo). S.M. jaminan. Jaksa penyidik meminta bantuan Akuntan BPKP untuk menghitung �kerugian keuangan negara� yang bahanbahannya disediakan oleh jaksa penyidik.tidak jelas karena dari kata �dapat� timbul pertanyaan �siapa yang boleh menafsirkan kata �dapat?� Apakah semua orang. Andi Hamzah.

masing berbunyi sebagai berikut: Pasal 2 ayat (1): �Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Ketentuan-ketentuan dimaksud masing.000. Dalam ketentuan ini. adalah sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. dan barang. o Menyangkut hak atas pengakuan. surat berharga. 200. S. jaminan.H. di mana beberapa pejabat pemerintahan memperlihatkan resistensi yang tinggi terhadap pemberantasan korupsi. belum tentu terjadi. dan Pasal 15 undang-undang a quo sepanjang mengenai kata �percobaan�.. Dr. Romli Atmasasmita. serta perlakuan yang sama di hadapan hukum [Pasal 28D ayat (1) UUD 1945]."Negara Indonesia adalah negara hukum". o Definisi "kerugian negara" yang menciptakan kepastian hukum. Perbuatan yang bisa dihukum adalah perbuatan yang pasti sudah terjadi. menurut Ahli. perlindungan dan kepastian hukum yang adil.000. yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat� Pasal 3: . dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai�. "Kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang. Penjelasan Pasal 2 ayat (1). Pasal 1 ayat (22). Pasal 3. kata �dapat� sebelum frasa �merugikan keuangan atau perekonomian negara� menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil. Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK beserta penjelasannya masing-masing bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. o Kata "dapat" baru asumsi.00 (satu milyar rupiah)� Penjelasan Pasal 2 ayat (1): �Yang dimaksud dengan �secara melawan hukum� dalam pasal ini mencakup perbuatanperbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang. 1. masih relevan dengan perkembangan situasi Negara Republik Indonesia saat ini.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.M.pasal undang-undang.000. "dapat merugikan keuangan negara". o Pasal 2 ayat (1). Penjelasan Pasal 3. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan sosial dalam masyarakat. maka perbuatan tersebut dapat dipidana.000. bukan pada masalah keberadaan rumusan itu di dalam pasal. Ahli berpendapat bahwa itu Iebih kepada operasional penerapan undangundang.000.undangan. LL. Prof.

50. bukan saja karena perbuatan tersebut �merugikan keuangan negara atau perekonomian negara secara nyata�. menunjukkan bahwa tindak pidana tersebut .000. Menimbang bahwa kedua pertanyaan tersebut akan dijawab dengan pemahaman bahwa kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK menyebabkan perbuatan yang akan dituntut di depan pengadilan. dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.000. Apakah pengertian kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK yang pengertiannya dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) bahwa dengan penambahan kata �dapat� tersebut menjadikan tindak pidana korupsi dalam Pasal 2 ayat (1) a quo menjadi rumusan delik formil. 2. akan tetapi hanya �dapat� menimbulkan kerugian saja pun sebagai kemungkinan atau potential loss. Menimbang bahwa dengan memperhatikan seluruh argumen yang disampaikan oleh semua pihak sebagaimana tersebut di atas dikaitkan dengan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK. Penjelasan Pasal 3: �Kata �dapat� dalam ketentuan ini diartikan sama dengan Pasal 2� Terhadap dalil-dalil Pemohon tersebut. Apakah dengan pengertian sebagaimana dijelaskan pada butir 1 tersebut di atas.�Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. maka persoalan pokok yang harus dijawab adalah: 1. (b) unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.1. jika unsur perbuatan tindak pidana korupsi dipenuhi. Mahkamah berpendapat: Tentang Kata �dapat� Menimbang bahwa Pasal 2 ayat (1) UU PTPK mengandung unsur-unsur sebagai berikut: (a) unsur perbuatan melawan hukum. menyalahgunakan kewenangan.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. merupakan unsur yang tidak perlu dibuktikan atau harus dibuktikan.000.000. sudah dapat diajukan ke depan pengadilan. kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. yang menyatakan bahwa kata �dapat� tersebut sebelum frasa �merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�. frasa �dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�.00 (satu milyar rupiah)�. yang diartikan baik kerugian yang nyata (actual loss) maupun hanya yang bersifat potensial atau berupa kemungkinan kerugian (potential loss). (c) unsur dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.000. Kata �dapat� tersebut harus dinilai pengertiannya menurut Penjelasan Pasal 2 ayat (1) tersebut di atas.

dan bukan sebagai delik materil. sepanjang unsur dakwaan lain berupa unsur memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum (wederrechtelijk) telah terbukti. Karena itu Mahkamah dapat menerima penjelasan Pasal 2 ayat (1) sepanjang menyangkut kata �dapat� sebelum frasa �merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�. hubungan kata �dapat� dengan �merugikan keuangan negara� tergambarkan dalam dua hubungan yang ekstrim: (1) nyata-nyata merugikan negara atau (2) kemungkinan dapat menimbulkan kerugian. sebagaimana termuat dalam Pasal 387 KUHP. Hal yang terakhir ini lebih dekat dengan maksud mengkualifikasikan delik korupsi menjadi delik formil. Dengan demikian. Di antara dua hubungan tersebut . yang mensyaratkan akibat perbuatan berupa kerugian yang timbul tersebut harus telah terjadi.merupakan delik formil. cukup dengan dipenuhinya unsur perbuatan yang dirumuskan. yaitu adanya tindak pidana korupsi. Menimbang bahwa dengan asas kepastian hukum (rechtszekerheid) dalam melindungi hak seseorang. Hal demikian telah mendorong antisipasi atas akurasi kesempurnaan pembuktian. tindak pidana korupsi digolongkan oleh undang-undang a quo sebagai delik formil. telah dipandang cukup untuk menuntut dan memidana pelaku. Delik demikian dipandang terbukti. tidak perlu harus telah nyata terjadi. dapat dilihat dalam arti yang sama dengan kata �dapat� yang mendahului frasa �membahayakan keamanan orang atau barang. sehingga menyebabkan dianggap perlu mempermudah beban pembuktian tersebut. Ketepatan yang dituntut sedemikian rupa. kerugian yang terjadi dalam tindak pidana korupsi. akan menimbulkan keraguan. apakah jika satu angka jumlah kerugian diajukan dan tidak selalu dapat dibuktikan secara akurat. sangatlah sulit untuk dibuktikan secara tepat dan akurat. Karena. Menimbang bahwa Mahkamah berpendapat. Karena. kalau unsur perbuatan pidana tersebut telah terpenuhi. Menimbang bahwa menurut Mahkamah hal demikian tidaklah menimbulkan ketidakpastian hukum (onrechtszekerheid) yang bertentangan dengan konstitusi sebagaimana yang didalilkan Pemohon. dan akibat yang dapat terjadi dari perbuatan yang dilarang dan diancam pidana tersebut. Kata �dapat� sebelum frasa �merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�. terutama yang berskala besar. keberadaan kata �dapat� sama sekali tidak menentukan faktor ada atau tidaknya ketidakpastian hukum yang menyebabkan seseorang tidak bersalah dijatuhi pidana korupsi atau sebaliknya orang yang melakukan tindak pidana korupsi tidak dapat dijatuhi pidana. di mana unsur-unsur perbuatan harus telah dipenuhi. bukan dengan timbulnya akibat. atau keselamatan negara dalam keadaan perang�. akan berakibat pada terbukti tidaknya perbuatan yang didakwakan. Dalam hal tidak dapat diajukan bukti akurat atas jumlah kerugian nyata atau perbuatan yang dilakukan adalah sedemikian rupa bahwa kerugian negara dapat terjadi. namun kerugian telah terjadi. kategori tindak pidana korupsi digolongkan sebagai delik formil.

tidak dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Menimbang bahwa oleh karena kata �dapat� sebagaimana uraian pertimbangan yang dikemukakan di atas. Faktor kerugian. Menimbang dengan demikian Mahkamah berpendapat bahwa frasa �dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�. tetapi dengan mempertimbangkan keadaan khusus dan kongkret di sekitar peristiwa yang terjadi. sebaiknya segera menyesuaikan dengan cara melakukan perubahan atas UU PTPK yang didasarkan atas kajian konseptual dan komprehensif dalam satu kesatuan sistem hukum berdasarkan UUD 1945. Menimbang bahwa dengan adanya penjelasan yang menyatakan bahwa kata �dapat� sebelum frasa �merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�. lebih merupakan persoalan pelaksanaan dalam praktik oleh aparat penegak hukum. maka permohonan Pemohon tentang hal itu tidak beralasan dan tidak dapat dikabulkan. dilihat sebagai hal yang memberatkan atau meringankan dalam penjatuhan pidana. Kesimpulan demikian harus ditentukan oleh seorang ahli di bidangnya. sebagai negara pihak. maka Mahkamah berpendapat unsur �barang siapa� dalam Pasal 2 ayat (1) tersebut harus juga ditafsirkan dalam kaitan dengan perbuatan public official. baik secara nyata atau berupa kemungkinan.sebenarnya masih ada hubungan yang �belum nyata terjadi�. Untuk mempertimbangkan keadaan khusus dan kongkret sekitar peristiwa yang terjadi. Indonesia. sehingga adanya kerugian negara atau perekonomian negara tidak merupakan akibat yang harus nyata terjadi. tidaklah bertentangan dengan hak atas kepastian hukum yang adil sebagaimana dimaksudkan oleh Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. haruslah dilakukan oleh ahli dalam keuangan negara. sepanjang ditafsirkan sesuai dengan tafsiran Mahkamah di atas (conditionally constitutional). dalam konvensi mana kerugian negara tidak mutlak merupakan unsur tindak pidana korupsi (it shall not be necessary). Menimbang pula bahwa dengan disahkan atau diratifikasinya UN Convention Against Corruption dengan UU Nomor 7 Tahun 2006. sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Pasal 4. dan bukan menyangkut konstitusionalitas norma. meskipun sebagai perkiraan atau meskipun belum terjadi. Tentang Unsur Melawan Hukum (wederrechtelijkheid) Menimbang bahwa selanjutnya yang perlu mendapat perhatian dan dipertimbangkan secara mendalam adalah kalimat pertama . yang secara logis dapat disimpulkan kerugian negara terjadi atau tidak terjadi. Mahkamah berpendapat bahwa hal demikian ditafsirkan bahwa unsur kerugian negara harus dibuktikan dan harus dapat dihitung. bahwa pengembalian kerugian negara hanya dapat dipandang sebagai faktor yang meringankan. perekonomian negara. serta ahli dalam analisis hubungan perbuatan seseorang dengan kerugian. dan justru diperlukan dalam rangka penanggulangan tindak pidana korupsi. kemudian mengkualifikasikannya sebagai delik formil. secara logis dapat disimpulkan bahwa suatu akibat yaitu kerugian negara akan terjadi. Oleh karenanya persoalan kata �dapat� dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK. tetapi harus melibatkan public official.

maka meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan secara formil. yang juga dimohonkan pengujian oleh Pemohon sebagaimana tertulis dalam petitum permohonannya meskipun Pemohon tidak memfokuskan argumentasinya secara khusus terhadap bagian tersebut. Mahkamah dalam Putusan Nomor 005/PUU-III/2005 telah pula menguraikan bahwa sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam praktik pembentukan perundang-undangan yang baik. maka perbuatan tersebut dapat dipidana�. yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain. di mana perbuatan tersebut dipandang telah melanggar kepatutan. kehati-hatian dan keharusan yang dianut dalam hubungan orang-perorang dalam masyarakat maka dipandang bahwa perbuatan tersebut telah memenuhi unsur melawan hukum (wederrechtelijk). apa yang patut dan yang memenuhi syarat moralitas dan rasa keadilan yang diakui dalam masyarakat.Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK. dan norma-norma moral yang berlaku di masyarakat telah cukup untuk menjadi kriteria satu perbuatan tersebut merupakan tindakan yang melawan hukum. di daerah lain boleh jadi bukan merupakan perbuatan yang melawan hukum. Oleh karena itu. tidak lagi hanya sebagai formele wederrechtelijkheid melainkan juga dalam arti materiele wederrechtelijkheid. yang memuat digunakannya ukuran-ukuran yang tidak tertulis dalam undang-undang secara formal untuk menentukan perbuatan yang dapat dipidana. meskipun hanya dilihat secara materiil. Penjelasan yang demikian telah menyebabkan kriteria perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) yang dikenal dalam hukum perdata yang dikembangkan sebagai jurisprudensi mengenai perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad). Ukuran yang dipergunakan dalam hal ini adalah hukum atau peraturan tidak tertulis. Menimbang bahwa dengan bunyi penjelasan yang demikian. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang. �Yang dimaksud dengan secara melawan hukum� dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. Menimbang bahwa berkaitan dengan pertimbangan di atas. yaitu norma-norma sosial yang memandang satu perbuatan sebagai perbuatan tercela menurut norma sosial tersebut. Kebiasaan ini ternyata telah pula dikuatkan dalam Butir E Lampiran yang tak terpisahkan dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan antara lain menentukan: . Penjelasan Pasal 2 ayat (1) kalimat bagian pertama tersebut berbunyi. melainkan telah melahirkan norma baru. apalagi memuat substansi yang sama sekali bertentangan dengan norma yang dijelaskan. seolah-olah telah diterima menjadi satu ukuran melawan hukum dalam hukum pidana (wederrechtelijkheid). yang juga diakui mengikat secara hukum. penjelasan berfungsi untuk menjelaskan substansi norma yang terdapat dalam pasal dan tidak menambahkan norma baru. Rasa keadilan (rechtsgevoel). dalam hukum pidana. namun apabila menurut ukuran yang dianut dalam masyarakat. norma kesusilaan atau etik. yaitu dalam pengertian yang bersifat onwetmatig. Pasal 2 ayat (1) tersebut memperluas kategori unsur �melawan hukum�.undangan. Penjelasan dari pembuat undang-undang ini sesungguhnya bukan hanya menjelaskan Pasal 2 ayat (1) tentang unsur melawan hukum. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat. akan mengakibatkan bahwa apa yang di satu daerah merupakan perbuatan yang melawan hukum.

Dengan demikian. menurut ukuran yang dikenal dalam kehidupan masyarakat setempat.a. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk peraturan perundang. Menimbang bahwa berdasarkan uraian di atas. Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan perundang-undangan yang bersangkutan. 3. Andi Hamzah. bahwa asas tersebut merupakan satu tuntutan akan kepastian hukum di mana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu peraturan perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih dahulu ada. Dengan demikian penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma batang tubuh. sehingga apa yang melawan hukum di satu tempat mungkin di tempat lain diterima dan diakui sebagai sesuatu yang sah dan tidak melawan hukum. 2003:358) merupakan syarat untuk menjamin kepastian hukum (lex certa) atau yang dikenal juga dengan istilah Bestimmheitsgebot. dan berbeda-beda dari satu lingkungan masyarakat tertentu ke lingkungan masyarakat lainnya. S. Hukum Pidana. b. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut. konsep melawan hukum materiil (materiele wederrechtelijk). Dr. Oleh karena itu penjelasan hanya memuat uraian atau jabaran lebih lanjut norma yang diatur dalam batang tubuh. 2. sesuai dengan prinsip nullum crimen sine lege stricta. Menimbang bahwa oleh karenanya Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK kalimat pertama tersebut. Konsep melawan hukum yang secara formil tertulis (formele wederrechtelijk). tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan norma yang dijelaskan. Hal demikian menuntut bahwa suatu tindak pidana memiliki unsur melawan hukum. adalah merupakan ukuran yang tidak pasti. yang harus secara tertulis lebih dahulu telah berlaku. yang merumuskan perbuatan apa atau akibat apa dari perbuatan manusia secara jelas dan ketat yang dilarang sehingga karenanya dapat dituntut dan dipidana. yang merujuk pada hukum tidak tertulis dalam ukuran kepatutan.undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sepanjang mengenai frasa �Yang dimaksud dengan �secara melawan hukum� dalam pasal ini mencakup perbuatan-perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. merupakan hal yang tidak sesuai dengan perlindungan dan jaminan kepastian hukum yang adil yang dimuat dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. dengan mana dalam bidang hukum pidana diterjemahkan sebagai asas legalitas yang dimuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Menimbang bahwa dengan demikian Mahkamah menilai memang terdapat persoalan konstitusionalitas dalam kalimat pertama Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sehingga Mahkamah perlu mempertimbangkan lebih lanjut hal-hal sebagai berikut: 1. kehati-hatian dan kecermatan yang hidup dalam masyarakat. Pasal 28D ayat (1) mengakui dan melindungi hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan dan perlindungan hukum yang pasti. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur . c. sebagai satu norma keadilan.H. sebagaimana yang disampaikan Ahli Prof. yang mewajibkan pembuat undang-undang untuk merumuskan secermat dan serinci mungkin (vide Jan Remmelink. dalam persidangan.

(3). � Menyatakan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun . sehingga dibutuhkan cara-cara yang luar biasa (extraordinary measures) guna menanggulanginya. sebagaimana diuraikan di atas. Menimbang bahwa mengkualifikasikan percobaan sebagai delik yang sudah selesai (voltoid delict) merupakan pengecualian yang dibenarkan menurut Pasal 103 KUHP sehingga ketentuan Pasal 15 UU PTPK tersebut tidak dapat dianggap bertentangan dengan asas kepastian hukum yang adil. MENGADILI � Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian. �Setiap orang yang melakukan percobaan. Pasal 3.ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VIII buku ini juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundangundangan yang lain diancam dengan pidana. perbantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi.undang. Ketentuan tersebut oleh Pemohon didalilkan bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 karena sebagai akibat rumusan yang demikian percobaan untuk melakukan perbuatan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK ancaman pidananya disamakan dengan delik yang telah selesai (voltoid delict). karena hal ini merupakan suatu pengecualian atau penyimpangan yang dibenarkan oleh sistem hukum pidana Indonesia. dipidana dengan pidana yang sama. Rumusan Pasal 15 UU PTPK. �Ketentuan. harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. maka perbuatan tersebut dapat dipidana�. Pasal 5 sampai dengan Pasal 14�. dapat dikabulkan. sebagaimana diatur dalam Pasal 103 KUHP yang berbunyi. serta Pasal 57 ayat (1) dan (3) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkmah Konstitusi. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat. mengingat praktik tindak pidana korupsi di Indonesia telah berlangsung secara meluas dan sistematis. sedangkan permohonan selebihnya harus dinyatakan ditolak. Menimbang bahwa hal tersebut menurut Mahkamah tidak bertentangan dengan prinsip kepastian hukum dan keadilan. Mengingat Pasal 56 ayat (2). kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain�. Menimbang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas Mahkamah sampai pada kesimpulan bahwa sepanjang menyangkut permohonan atas Penjelasan Pasal 2 ayat (1) yang berkaitan dengan kalimat pertama.dalam peraturan perundang-undangan. dapat dibenarkan. yang merupakan pencerminan legal policy pembentuk undang. Tentang Percobaan Menimbang bahwa Pasal 15 UU PTPK yang juga dimohon untuk diuji berbunyi. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2. dan (5). sebagaimana dimaksudkan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

CL. Natabaya.S.H.. M. oleh 9 (sembilan) Hakim Konstitusi.. maka perbuatan tersebut dapat dipidana� tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.S. M.. Putusan tersebut diucapkan dalam sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari ini.. Demikian diputuskan dalam rapat permusyawaratan 9 (sembilan) Hakim Konstitusi pada hari Senin.. Jimly Asshiddiqie. Dr.H. Harjono. S. dan didampingi oleh Prof. 24 Juli 2006. I Dewa Gede Palguna. masingmasing sebagai Anggota. S.2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134. selaku Ketua merangkap Anggota. � Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. Dr.S. LL. �Yang dimaksud dengan �secara melawan hukum� dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. 25 Juli 2006. Maruarar Siahaan. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. dan Pihak Terkait Langsung maupun Tidak Langsung..H.A.H. H. H.H. Pemerintah.Mukhtie Fadjar. S. S. S.H.M.H. H. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan..H.S.H. dibantu oleh Makhfud.H. Selasa. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat.A. KETUA .. sebagai Panitera Pengganti dan dihadiri oleh Kuasa Pemohon.S.. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan sosial dalam masyarakat. M. S. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Achmad Roestandi. maka perbuatan tersebut dapat dipidana� bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Soedarsono. Prof. H. Dr. Prof. dengan seorang Hakim Konstitusi mempunyai pendapat berbeda (dissenting opinion). S. �Yang dimaksud dengan �secara melawan hukum� dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. Laica Marzuki.H. � Menyatakan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134.. � Menolak permohonan Pemohon selebihnya. M.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150) sepanjang frasa yang berbunyi.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150) sepanjang frasa yang berbunyi. yaitu Prof.

I Dewa Gede Palguna. Jimly Asshiddiqie. S. Dr. S.H. Laica Marzuki. Pengujian kata �dapat� yang dimohonkan oleh Pemohon pada frasa �yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara� vide Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.S.H.. Soedarsono.S. Harjono. pada hakikatnya memohonkan pengujian kata �dapat� dari kedua pasal UU PTPK tersebut. Natabaya.H. TTD. H.H..S. M.S. TTD.S. Dr.M. Laica Marzuki. TTD.S.. TTD.H. TTD.H. ANGGOTA-ANGGOTA Prof.Achmad Roestandi. yang dipandang bertentangan dengan Pasal 28D UUD 1945. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. S.H.H. yang berpaut dengan bagian pasal-pasal (batang tubuh) beserta penjelasan daripadanya. Dr.TTD. H. Prof. H.S.. Mukhtie Fadjar.M. Prof. LLM.Dr. Prof.H.H. Maruarar Siahaan. S. A.H. M.S. TTD. A. PENDAPAT BERBEDA (Dissenting Opinion) Hakim Konstitusi Prof. H. Kata �dapat� yang . MCL. H.

dipersoalkan Pemohon termaktub baik pada bagian pasal-pasal (batang tubuh) maupun penjelasan-penjelasannya. Menurut Butir E dari Lampiran Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, berjudul Penjelasan, dikemukakan bahwasanya Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk peraturan perundangundangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. Oleh karena itu penjelasan hanya memuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. Dengan demikian, penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan (butir 165). Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut. Oleh karena itu, hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan (butir 166). Dalam Rapport Wetgevingstechniek (1948) di Belanda dikemukakan, apabila bagian penjelasan bertentangan dengan teks pasal (batang tubuh) maka teks pasal (batang tubuh) yang mengikat. Rakyat banyak (burgers) dipandang wajib mengetahui bunyi pasal-pasal (batang tubuh) yang ditempatkan dalam Lembaran Negara (Staatsblad) sedangkan rumusan �agar setiap orang mengetahuinya� menurut asas ieder word verondersteld de wet te kennen tidak dimaktub dalam Tambahan Lembaran Negara (TLN) yang memuat penjelasan pasal-pasal. Bahwa oleh karena itu, pengujian teks pasal (batang tubuh) harus dilakukan secara bersamaan (samengaan) dengan penjelasan agar dapat diketahui hubungan wetmatigheid di antara keduanya. Kata �dapat� dalam frasa �yang dapat merugikan keuangan negara dan perekonomian negara�, di dalam bagian penjelasan dikemukakan, �kata dapat sebelum frasa merugikan keuangan atau perekonomian negara menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat�. Delik Formil (formeel delict) terjadi dengan terpenuhinya unsur-unsur perbuatan (gedraging elementen) menurut rumusan delik, tidak mensyaratkan unsur

akibat (gevolg element) seperti halnya dengan delik materil (materiel delict). D. Hazewinkel Suringa (1973:49), berkata, �Met formele (delicten) worden die strafbare feiten bedoeld, waarbij de wet volstaat met het aangegeven van de verboden gedraging; met materiele (delicten) die, welke het veroorzaken van een bepaald gevolg omvatten etc�etc�. Namun demikian, penyisipan kata "dapat� tidak ternyata pula merupakan bestaandeel delict dari delik formil. Pasal-pasal delik formil, seperti halnya dengan Pasal 156 KUHPidana (menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat di muka umum), Pasal 160 KUHPidana (menghasut di muka umum), Pasal 161 KUHPidana (opruien, menghasut dengan cara menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan di muka umum), Pasal 163 KUHPidana (menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan di muka umum yang berisi penawaran untuk memberi keterangan, kesempatan, atau sarana guna melakukan perbuatan pidana), Pasal 209

dan 210 KUHPidana (penyuapan), Pasal 242 ayat (1) KUHPidana (meineed, sumpah palsu), Pasal 263 KUHPidana (pemalsuan surat), Pasal 362 KUHPidana (pencurian) tidak mencantumkan kata �dapat� selaku bestaan voorwaarde dari delik formil. Dalam pada itu, pencantuman kata �dapat� pada frasa �yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara� dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK mengandung cakupan makna (begrippen) yang kurang jelas serta agak luas, tidak memenuhi rumusan kalimat yang in casu disyaratkan bagi asas legalitas suatu ketentuan pidana, yaitu lex certa, artinya ketentuan tersebut harus jelas dan tidak membingungkan (memuat kepastian) serta lex stricta, artinya ketentuan itu harus ditafsirkan secara sempit, tidak boleh dilakukan analogi, sesuai keterangan Ahli Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LL.M. di depan sidang. Kata �dapat� mengoyak-ngoyak tirai asas Nullum Delictum Nulla Poena Sine Praevia Lege Poenali (Pasal 1 ayat 1 KUHPidana) yang merangkumi semua ketentuan hukum pidana, in casu ketentuan pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal dimaksud mengakibatkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dijamin konstitusi, dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Article 11 (2) Universal Declaration of Human Right (1948) juga menegaskan, bahwasanya �No one shall be held guilty of any penal offence on account of any act

or omission which did not constitute a penal offence, under national or international law, at the time when it was committed�. Cakupan makna kata �dapat� pada frasa �yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara� pada Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK yang kurang memberikan kepastian, beserta rumusan yang agak luas dimaksud, dapat menjaring banyak orang dalam penanganan perkara-perkara tindak pidana korupsi, bak alat penangkap ikan yang menggunakan kain belacu sehingga mampu menjaring kuman-kuman terkecil sekalipun, sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. (Jur.) Andi Hamzah, SH. Namun, pada bagian ujung yang paling ekstrem dari kata �dapat� itu, petugas-petugas penyidik dan penuntut umum dapat pula menyampingkan beberapa perkara tindak pidana korupsi tertentu secara tebang pilih, dengan alasan �tidak dapat�, �tidak terbukti�, dan sebagainya. Dengan telah berlakunya pula Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, rumusan �kerugian negara/daerah� mengalami pergeseran makna (het begrip), dibandingkan rumusan �yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara� menurut Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK. Pasal 1 angka 22 UU Nomor 1 Tahun 2004 merumuskan, �Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat melawan hukum, baik sengaja maupun lalai�. Rumusan dimaksud menciptakan kepastian hukum dan kejelasan, serta memungkinkan diteliti dan dihitung kasus per kasus, kata Ahli Prof. Erman Rajagukguk, S.H., LL.M., Ph.D. di depan sidang.

Oleh karena terdapat dua undang-undang yang merumuskan hal kerugian negara, maka undang-undang yang lebih kemudian (een latere wet) yang bakal berlaku mengikat. De nieuwste wet moet dus worden toegepast. Deze regel vloeit louter uit logisch redeneren voort, kata I. C. van der Vlies (1987:163). Mencabut kata �dapat� pada Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK, beserta penjelasanpenjelasannya justru meniadakan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid), sementara penegakan hukum dalam hal pemberantasan tindak pidana korupsi tetap berjalan (gaat door) serta legitim. Walaupun kata melawan hukum dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK tidak menjadi fokus argumentasi dalam permohonan Pemohon namun karena hal melawan hukum (wederrechtelijk) merupakan bestaan deel delict bersama-sama

dengan unsur delik �dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara� maka hal pengujian terhadap kata melawan hukum merupakan keniscayaan hukum. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK menyatakan, �Yang dimaksud dengan �secara melawan hukum� dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang- undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan social dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana�. Memberlakukan suatu ketentuan hukum pidana tanpa dirumuskan lebih dahulu secara tertulis (secara legitim) pada hakikatnya melanggar asas legalitas, termasuk memberlakukan suatu ketentuan hukum pidana, seperti halnya Pasal 2 ayat (1) UU PTPK menurut asas melawan hukum dalam arti materil (materieele wederrechtelijkheid). Hal dimaksud melanggar Pasal 1 ayat 1 KUHPidana. Adalah beralasan, manakala asas melawan hukum dalam arti materil ditiadakan dalam Penjelasan Pasal 1 ayat (1) UU PTPK, karena menimbulkan ketidakpastian hukum, sebagaimana dijamin dalam konstitusi, Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Dalam pada itu, tidak beralasan kiranya permohonan Pemohon agar Pasal 15 (sepanjang kata �percobaan�) UU PTPK dinyatakan tidak mengikat secara hukum, karena menentukan ancaman hukuman yang sama terhadap suatu perbuatan pidana dengan percobaan daripadanya. Selain hal dimaksud masih dalam batas kewenangan pembentuk undangundang (wetgever) guna menentukan ancaman pidana yang sama, namun secara khusus dalam hal tindak pidana penyuapan (bribery), pembuat (dader) tetap dihukum walaupun public official yang bakal disuap menolak menerima uang penyuapan. Sesungguhnya tidak ada percobaan dalam penyuapan (Het is eigenlijk geen poging tot omkopen). Pemerintah Republik Indonesia meratifikasi United Nations Convention Against Corruption, 2003, dengan UU Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003. Berdasarkan hal dimaksud, seyogianya permohonan Pemohon dikabulkan untuk sebagian. Menyatakan kata �dapat� dalam frasa �yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara�, pada Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang- undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan Undang-

undang Nomor 20 Tahun 2001, beserta penjelasan-penjelasannya dan kalimat, �... maupun dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana� dinyatakan tidak mengikat secara hukum karena bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menolak permohonan Pemohon selebihnya. PANITERA PENGGANTI TTD. Makhfud,S.H. Kategori:
        

Karya 2006 Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tahun 2006 DP-DokumenPemerintahanIndonesia Masuk log / buat akun Halaman Pembicaraan Baca Sunting Versi terdahulu

      

Halaman Utama Perubahan terbaru Halaman baru Halaman sembarang Bantuan Menyumbang Warung kopi

Cetak/ekspor
  

Buat buku Unduh versi PDF Versi cetak

Peralatan
 

Halaman ini terakhir diubah pada 06.16, 16 April 2012. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. Kebijakan privasi

   Tentang Wikisource Penyangkalan Tampilan seluler   .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->