P. 1
Garis Besar Teori HAM

Garis Besar Teori HAM

|Views: 29|Likes:
garis besar perkembangan teori HAM di dunia. Termasuk merambah ke perkembangan HAM di Indonesia
garis besar perkembangan teori HAM di dunia. Termasuk merambah ke perkembangan HAM di Indonesia

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Edith Novanantha Bastian on May 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2013

pdf

text

original

Fahim Nurul Haqqi 4825090158 Sosiologi Pembangunan Reguler 2009

Garis Besar Teori Hak Asasi Manusia

Pemikiran akan Hak Asasi Manusia yang berkembang pada tradisi barat menimbulkan polemic tersendiri. Konsepsi tentang HAM cenderung untuk menyamakan kondisi global tanpa memandang kondisi dan konteks sosial masing-masing wilayah atau dengan kata lain konsepsi tentang HAM memiliki kelemahan dari segi universalisme yang diusung oleh konsep tersebut. Justru penegakan HAM itu sendiri seharusnya memperhatikan aspek sosial khas dari wilayah yang dicoba untuk melaksanakan penerapan HAM. Maka, oleh karena itu Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat menilai bahwa konsepsi HAM dengan pandangan yang skeptis. Pertama, harus dipahami bahwa konsep HAM sejatinya merupakan dialektika dari kontestasi politik di masyarakat. Kontestasi perpolitikan yang semula berasaskan pada corak “natural” seperti ide yang pernah dikemukakan oleh Thomas Hobbes mengenai “State of Nature” dimana akan memiliki konsekuensi menghasilkan “state of war” tipikal perpolitikan seperti ini lumrah terjadi pada masa-masa sejarah. Kemudian politik natural ini berkembang menuju politik dengan budaya “man”. Budaya “man” dalam politik cukup memberikan andil kepada bentuk-bentuk totaliterianisme dengan tindakan pengkultusan pada pemimpin secara kuat terlebih pada diri pemimpin atau raja. Hingga kemudian kritik pada sistem perpolitikaan yang tidak Humanis ini memunculkan suatu corak poltik baru yang disebut corak politik “Human”. Perubahan-perubahan inilah yang kemudian telah mengalami internalisasi kedalam berbagai nilai-nilai sehingga keadaan yang kini terjadi dalam masyarakat tentu saja berbeda tergantung pada sosialisasi nilai yang berkembang. Maka, untuk mengkaji heterogenitas nilai akibat perubahan-perubahan corak politik yang berdampak pada konsepsi HAM itulah analisa mengenai HAM harus dikaji mulai dari aspek historis hingga sosiologis. Dalam sosiologi penekanan pada pembahasan bagaimana nilai-nilai HAM haruslah disesuaikan dengan konteks wilayah maupun sosial masing-masing. Oleh karena itu, Aspek positivism dari hukum semestinya berimbang dengan aspek hukum yang berbentuk nilai dan norma. Untuk itulah perlu adanya pemaknaan dalam memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai HAM. Sosiologi memiliki peran penting dalam mengkaji bagaimana pentingnya institusi sosial serta berbagai teori dalam sosiologi seperti persepktif dari, Weberian, dan Marxian dalam memahami HAM yang cendrung skeptic. Perlu diketahui bahwa Marx mengkritik tentang HAM yang berkembang pada masa itu. Kritik tersebut ditulis dalam sebuah esai yang berjudul On the Jewish Question yang terbit di tahun 1844. Ia menolak dengan membuat pernyataan; “Bahwa apa yang disebut dengan HAM … itu tidak apa-apanya. Kecuali hak asasi manusia yang egois, yaitu manusia yang terpisah dari manusia lainnya atau dari komunitasnya.” Disini

Dengan kondisi global yang telah sedemikian berperan dalam gejolak masyarakat. Lalu kemudian dengan situasi terkini terdapat analisa yang muncul mengenai masyarakat dalam kisaran golbalisasi. Sedangkan Weber menilai bahwa otoritas harus tetap ada sehingga penegakan HAM dikhawatirkan akan mereduksi power dari negara untuk menegakkan hukum. Di samping itu. Apakah kemudian masyarakat tetap pada dua pandangan diatas atau ternyata globalisasi telah membuka batas-batas masyarakat hingga kemudian masyarakat dibangun dan berkontribusi bukan hanya dari negara atau dari bawah namun juga oleh situasi global.Marx menilai bahwa konsepsi tentang HAM sangat erat kaitannya dengan liberalism yang sangat ditentang oleh Marx. Selain itu. Dan. HAM turut pula dikritik pada aspek penerapan dan perencanaan dari konsep HAM itu sendiri . bagaimana kemudian HAM memandang akan Hak-hak organisme lain yang hidup berdampingan dengan manusia bahkan turut berperan dalam kehidupan manusia seperti hewan? Lalu bagaimana HAM memandang akan kaum-kaum yang lemah secara fisik seperti orang sakit. bahwa masyarakat timbul dari bawah dan memiliki inisiatif sendiri. dan orang tua? Lalu tentu dari kalangan feminis akan menuntut penjelasan bagaimana HAM melindungi perempuan dari opresi gender yang dilakukan oleh struktur patriarki. . Justru oleh Marx. Hal-hal ini menunjukkan bahwa konsep mengenai HAM sendiri tidak bisa lepas dari teori-teori lain mengenai masyarakat. kecurigaan bahwa HAM adalah kepanjangan tangan dari politik barat hingga dikhawatirkan akan merusak nilai-nilai kelokalan pada individu. maka konsepsi HAM kemudian dianggap memiliki korelasi yang kuat untuk menjawab kondisi masyarakat tersebut sebab antara HAM dengan pembangunan yang terjadi secara global cukup berkaitan erat. Maka. Dalam perkembangannya. impilkasi dari hal ini ialah kemungkinan birokrasi yang berjalan sedangkan otoritas adalah penting bagi individu itu sendiri. Sisi validitas universal dari HAM yang memandang bahwa HAM berlaku sama pada semua negara dan semua orang cukup banyak mendapat serangan. Pandangan weber ini dinilai sejalan dengan aliran postivistik dalam hukum dan juga dinilai memiliki rasa demokrasi yang rendah atau dengan kata lain weber memandang skeptic terhadap konsepsi HAM. weber menilai bahwa sejatinya urusan HAM dipegang oleh otoritas yang berwenang untuk melakukannya. Bahkan weber menilai legitimasi dari pelaksana hukum tidaklah lahir dari sistem seperti pemilu yang seharusnya dinilai mengakomodasi kehendak public. Dalam teori masyarakat terdapat dua pandangan tentang bagaimana masyarakat itu dibangun dan memiliki kontribusi. konsep akan HAM mendapat banyak kritik dari berbagai perspektif dan ideology lain. Hak yang seharusnya ditegakkan adalah hak kaum proletar yang mengalami alienasi sehingga tidak bisa menikmati diri mereka sendiri sebagai manusia. anak-anak. pandangan yang menyatakan bahwa masyarakat dibangun dari atas dalam arti merupakan partisipan dari negara. Bagi Marx sendiri kebebasan individu tidak akan berarti tanpa adanya tanggung jawab sosial. Pertama. Kedua. Hingga kemudian terjadi analisa lain mengenai peluang HAM dalam membentuk masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->