BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan (Effendy, 1995). Pengkajian yang sistematis dalam keperawatan dibagi dalam empat tahap kegiatan, yang meliputi ; pengumpulan data, analisis data, sistematika data dan penentuan masalah. Adapula yang menambahkannya dengan kegiatan dokumentasi data (meskipun setiap langkah dari proses keperawatan harus selalu didokumentasikan juga). Pengumpulan dan pengorganisasian data harus menggambarkan dua hal, yaitu : status kesehatan klien dan kekuatan – masalah kesehatan yang dialami oleh klien. Pengkajian keperawatan data dasar yang komprehensif adalah kumpulan data yang berisikan status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan keperawatannya terhadap dirinya sendiri dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya. Data fokus keperawatan adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya, serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan kepada klien. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan suatu permasalahan, yaitu : 1. Bagaimana klasifikaasi keseluruhan tentang sistem endokrin ? 2. Bagaimana klasifikasi pengkajian pada klien diabetes mellitus ? 3. Bagaimana klasifikasi pengkajian dengan penyakit hiperglikemia/hipoglekimia?
1

4. Bagaimana klasifikasi pengkajian dengan penyakit ketoasidosis ? 5. Bagaimana klasifikasi pengkajian dengan penyakit hipertiroid dan hipotiroid ? 6. Bagaimana klasifikasi pengkajian dengan penyakit tumor tiroid dan tumor hipofise ? C. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan paper ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengkajian dengan penyakit sistem endokrin seperti diabtes mellitus, hiperglikemia, ketoasidosis, hipertiroid, hipotiroid, tumor tiroid dan tumor hipofise. D. Metode Penulisan Dalam penulisan paper ini ditempuh metode-metode tertentu untuk mengumpulkan beberapa data dan mengolah data tersebut. Untuk pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi yaitu mengumpulkan berbagai sumber yang memuat materi yang terkait pengkajian sistem endokrin. Sumber tersebut melalui beberapa buku keperawatan dan juga melalui internet. Data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode dengan jalan menyusun data atau fakta-fakta yang telah diperoleh secra sistematis dan menuangkannya dalam suatu simpulan yang disusun atas kalimat-kalimat.

2

BAB II PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR SISTEM ENDOKRIN Fungsi kelenjar endokrin dapat diketahui melalui pengkajian kesehatan dengan wawancara untuk mengumpulkan data subyektif dan pengkajian fisik untuk mengumpulkan data obyektif. Beberapa hormon mempengaruhi seluruh jaringan tubuh dan organ-organ dan manifestasi dari disfungsi nonspesifik, membuat pengkajian fungsi endokrin lebih rumit dibandingkan dengan sistem lainnya. 1. Pengkajian Umum Sistem Endokrin 1) Data Demografi Usia dan jenis kelamin merupakan data dasar yang penting. Beberapa gangguan endokrin baru jelas dirasakan pada usia tertentu merupakan proses patologis sudah berlangsung sejak lama. Kelainan-kelainan somatik harus selalu dibandingkan dengan usia dan gender , misalnya berat badan dan tinggi badan. Tenpat tinggal juga merupakan data yang perlu di kaji, khususnya tempat tinggal pada masa bayi dan kanak-kanak dan juga tempat tinggal klien sekarang. 2) Riwayat Kesehatan Keluarga Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti yang di alami klien atau gangguan tertentu yang berhubungan secara langsumg dengan gangguan hormonal seperti: 1 2 3 4 Obesitas Gangguan pertumbuhan dan perkembangan Kelainan pada kelenjar tiroid Diabetes mellitus
3

5 6

Infertilitas Dalam mengidentivikasi informasi ini tentunya perawat harus dapat

menerjemahkan informasi yang ingin diketahui dengan bahasa yang sederhana dan di mengerti oleh klien atau keluarga. 3) Riwayat Kesehatan dan Keperawatan Klien Perawat mengkaji kondisi yan pernah dialami oleh klien di luar gangguan yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah berlangsung lama bila di hubungkan dengan usia dan kemungkinan penyebabnya namun karena tidak mengganggu aktivitas klien, kondisi ini tidak di keluhkan. Tanda-tanda seks sekunder yang tidak berkembang, misalnya amenore, bulu rambut tidak tumbuh, buah dada tidak berkembang dan lain-lain. Berat badan yang tidak sesuai dengan usia, misalnya selalu kurus meskipun banyak makan dan lain-lain. Gangguan psikologia seperti mudah marah, sensiif, sulit bergaul dan tidak mampu berkonsentrasi, dan lain-lain. Hospitalisasi, perlu dikaji alasan hospitalisasi dan kapan kejadiannya. Bila klien dirawat beberapa kali, urutkan sesuai dengan waktu kejadiannya. Juga perlu memperoleh informasi tentang penggunaan obat-obatan di saat sekarang dan masa lalu. Penggunaan obat-obatan ini mencakup obat yang di peroleh dari dokter atau petugas kesehatan maupun obat-obatan yang di peroleh secara bebas.jenis obat-obatan yang mengandung hormon atau yang dapat merangsang aktivitas hormonal seperti hidrokortison;levothyroxine; kontrasepsi oral; dan obat-obatan anti hipertensif. 4) Riwayat Diit Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat saja mencerminkan gangguan endokrin tertentu atau pola dan kebiasaan makan yang salah dapat menjadi faktor penyebab, pleh karena itu kondisi berikut ini perlu di kaji: • Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen
4

• Penurunan atau penambahan berat badan yang drastic • Selera makan yang menurun atau bahkan berlebihan • Pola makan dan minum sehari-hari • Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi endokrin, seperti makanan yang bersifat goitrogenik terhadap kelenjar tiroid 5) Status Sosial Ekonomi Karena status sosial ekonomi nerupakan aspek yang sangat peka bagi banyak orang maka hendaknya dalam mengidentifikasi kondisi ini perawat melakukannya bersama-sama dengan klien. Menghindarkan pertanyaan yang mengarah pada jumlah atau nilai pendapatan melainkan lebih di fokuskan pada kualitas pengelolaan suatu nilai tertentu. Mendiskusikan bersama-sama bagaiman klien dan keluarganya memperoleh makanan yang sehat dan bergizi, upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan keluarganya sakit dan upaya mempertahankan kesehatan klien dan keluarga tetap optimal dapat mengungkapkan keadaan sosial ekonomi klien dan menyimpulkan bersama-sama merupakan upaya untuk mengurangi kesalahan penafsiran 6) Masalah Kesehatan Sekarang Atau disebut juga keluhan utama. Perawat memfokuskan pertanyaan pada hal-hal yang menyebabkan klien meminta bantuan pelayanan seperti : • • Apa yang di rasakan klien? Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba atau poerlahan dan sejak kapan dirasakan? • • • Bagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari? Bagaimana pola eliminasi baik fekal maupun urine? Bagaimana fungsi seksual dan reproduksi?
5

Tanyakan seberapa besar volume cairan yang dikonsumsi setiap hari.perawat mengakaji bagaimana kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Secara langsung oleh ADH. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat 6 . apakah dapat di lakukan sendiri tanpa bantuan. kaj apakah klien mengalami gejala kurang cairan dan bagaimana klien mengatasinya.• Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sanat menggangu klien? Hal-hal yang berhubungan dengan fungsi hormonal secara umum : 1) Tingkat energi Perubahan kekuatan fisik di hubungkan dengan sejumlah gangguan hormonal khususnya disfungsi kelenjar tiroid dan adrenal. pertanyaan kita di arahkan lebih jauh ke kemungkinan klien kekurangan cairan. 2) Pola eliminasi dan keseimbangan cairan Pola eliminasi khususnya urine dipengaruhi oleh fungsi endokri. Dan apakah klien sering terbangun malam hari untuk berkemih. Kaji juga bagaimana asupan makanan klien apkah berlebih atau kurang. Bila dari hasil anamnesa ada hal yang mengindikasikan voume urine berlebih. Nyatakan volume urine dalam gelas untuk memudahkan persepsi klien.Aldosteron. Eliminasi urine tentu sangat berhubungan erat dengan keseimbangan air dan elektrolit tubuh. Kaji pola sebelum sakit untuk membandingkan pola sebelum sakit untuk membandingan pola yang ada sekarang.perawat menanyakan tentang pola berkemih dan jumlah volume urine. 3) Pertumbuhan dan perkembangan Secara langsung pertumbuhan dan perkembangan ada di bawah pengaruh GH. dengan bantuan atau sama sekali klien tidak berdaya melakukannya atau bahkan klien tidur sepanjang hari merupakan informasi yang sangat penting. kelenjar tiroid dan kelenjar gonad. dan kortisol.

Pada klien wanita. kemampuan berkomunikasi. kaji pula pada umur berapa klien pertama kali menstruasi. kaji apakah klien mampu ereksi dan orgasme dan bagaimana perasaan klien setelah melakukannya. inisiatif dan rasa tanggung jawab. Perawat perlu mawas diri dengan perasaannya.saja terjadi semenjak di dalam kandungan bila hormon yang mempengaruhi tumbang fetus kurang seperti hipotiroid pada ibu. Pada klien pria. Mengkajisecara lengkap pertambahan ukuran tubuh dan fungsinya misalnya bagaimaa tingkat intelegensia. frekuensi dan perubahan fisik termasuk sensasi nyeri atau kramp abdomen sebelum selama dan sesudah haid. dan melahirkan. 4) Seks dan Reproduksi Fungsi seksual dan reproduksi sama penting untuk di kaji baik klien wanita maupun pria. Kondisi ini dapat pula terjadi setelah bayi lahir artinya selama proses tumbang terjadi disfungsi GH atau mungkin Gonad dan kelenjar tiroid. kaji siklus menstruasinya mencakup lama. atau terjadi selama proses pertumbuhsn dan bahkan tidak dapat di identifikasi jelas kapan mulai tampak gejala tersebut. Jika perbincagan tentang seks ii di lakukan dalam konteks therapi maka tidak perlu malu. abortus. Tanyakan pula adakah perubahan bentuk dan ukuran alat genitalnya. dan berwibawa sehingga perasaan segan dan malu dapat diminimalkan bahkan dihilangkan. Perlu mengkaji gangguan ini apakah terjadi semenjak bayi di lahirkan dengan tubuh yang kerdil. Untuk volume gunakan satuan jumlah pembalut yang di gunakan. Bila klien bersuami. volume. Kaji pula apakah perubahan fisik tersebut mempengaruhi kejiwaan klien. Jumlah anak yang pernah di lahirkan dan apakah klien menggunakan cara tertentuuntuk membatasi kelahiran atau cara untuk mendapatkan keturunan. kaji apakah pernah hamil. 5) Pemeriksaan fisik Melalui pemeriksaan fisik ad dua aspek utama yang dapat di gambarkan yaitu: • Kondisi kelenjar endokrin 7 . bersikap dewasa. adakah perasaan puas dan menyenangkan. Mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan seks masih seringkali menjadi hal yang tabu untuk di perbincangkan padahal seharusnya itu tidak perlu terjadi.

kesembangan cairan dan elektrolit . Amati warna kulit(hiperpigmentasi atau hipopigmentasi) pada lehe.tekhenik pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam memperoleh berbagai penyimpangan fungsi adalah : a) Inspeksi Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Amati lidah klien terhadap kelainan bebtuk dan penebalan. penembuhan luka yang lama. apakah leher tampak membesar. kedua-duanya dapat digunakan Pertama-tama.Secara umum. Didaerah leher.pada mata amati adannya edema periorbita dan exopthalmus serta apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. rahang dan bibir.Distensi atau bendungan pada vena jugularis dapat mengidemtifikasikan kelebihan cairan atau kegagalan jantung.• Kondisi jaringan atau organ sebagai dampak dari kondisi endokrin Pemeriksaan fisik terhadap kondisi kelenjar hanya dapat dilakukan terhadap kelenjar tiroid dan kelenjar gomad pria (testes). Pada pemeriksaan wajah. bersisik dan petechiae lebih sering dijumpai pada 8 . Infeksi jamur.Berbagai pperubahan fisik dapat berhubungan dengan satu atau lebih gangguan endokri. apakah merata dan cacat lokasinya dengan jelas. Kondisi ini biasanya terjadi pada gangguan tiroid. bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi. metabolisme dan energi. ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Pembesaran leher dapat disebabkan pembesaran kelenjar tiroid dan untuk meyakinkannya perlu dilakukan palpasi. sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan proporsi tubuh. seks dan reproduksi. lanjutkan dengan memeriksa lokasi yang lain di tubuh selakigus. amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat. Bila dijumpai kelainan kulit leher. simetris atau tidak. Jadi menggunakan pendekatan head-to-toe saja atau menggabungkannya dengan pendekatan sistem. oleh karena itu dalam melakukan pemeriksaan fisik. fokuskan pada abnormalitas struktur. perawat tetap berpedoman pada pengkajian yang komprehensif dengan penekanan pada gangguan hormonal tertentu dan dampaknya terhadap jaringan sasaran dan tubuh secara keseluruhan.

terjadi pada klien hiperfungsi adrenokortikal. pigmentasi dan adanya pengeluaran cairan. dalam melakukan palpasi pemeriksa berada dibelakang klien dengan posisi kedua ibu jari perawat dibagian belakang leher dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar tiroid.Untuk hasil yang lebih baik.Pada pemeriksaan genetalia. Hipopigmentasi biasa terjadi di wajah. dan ekstremitas. amati kondisi skrotum dan penis juga klitoris dan labia terhadap kelainan bentuk. Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran. Pada buah dada amati bentuk dan ukuran. Ketidakseimbangan hormonal khususnya hormon seks akan menyebabkan perubahan tanda seks sekunder. kelenjar tiroid tidak teraba namun isthmus dapat diraba dengan menengadahkan kepala klien. Penumpukan masa otot yang berlebihan pada leher bagian belakang yang biasa disebut Bufflow neck atau leher/punuk kerbau dan terus sampai daerah clavikula sehingga klien tampak seperti bungkuk. Hiperpigmentasi pada jari. Amati bentuk dan ukuran dada. leher. Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada dada dan wajah wanita disebut hirsutisme. dua kelenjar yang dapat diperiksa melalui rabaan. siku dan lutut dijumpai pada klien hipofungsi kelenjar adrenal. Pada saat melakukan pemeriksaan. klien duduk atau berdiri sama saja namun untuk menghindari kelelahan klien sebaiknya posisi duduk. simetris tidaknya. nodul tinggal atau multipel. pergerakan dan simetris tidaknya. Striae pada buah dada atau abdomen sering dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal. apakah ada rasa nyeri pada saat di palpasi. Pada kondisi normal. Perawat memegang lembut began ibu jari dan dua jari 9 . Palpasi testes di lakukan dengan posisi tidur dan tangan perawat harus dalam keadaan hangat.klien dengan hiperfungsi adrenokortikal. b) Palpasi Kelenjar tiroid dan testes.Vitiligo atau hipopigmentasi pada kulit tampak pada hipofungsi kelenjar adrenal sebagai akibat destruksi melanosit dikulit oleh proses autoimun. oleh sebab itu amati keadaan rambut axila dan dada.Bentuk abdomen cembung akibat penumpukan lemak centripetal dijumopai pada hiperfungsi adrenokortikal.

c) Auskultasi Mendengarkan bunyi tertentu dengan bantuan stetoskop dapat menggambarkan berbagai perubahan dalam tubuh. Dalam keadaan normal. Kemampuan klien dan keluarga dalam memberi perawatan di rumah termasuk penggunaan obat-obatan yang biasanya dapat berlangsung lama perlu dikaji. Normalnya testes teraba lembut. bunyi ini tidak terdengar. 6) Pengkajian Psikososial Perawat mengkaji keterampilan koping. Sejaumlah ganguan endokrin yang serius mempengaruhi persepsi klien terhadap dirinya sendiri oleh karena perubahanperubahan yang dialami menyangkut perubahan fisik. teman . dan handai taulan serta bagaimana keyakinan klien tentang sehat sakit. Pengkajian Diagnostik Sistem Endokrin A.Auskultasi pada daerah leher. ritme dan rate jantung yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea.lain. fungsi seksual dan reproduksi dan lainlain yang akan mempengaruhi konsep dirinya. bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran/besarnya. perangsangan katekolamin dan perubahan metabilisme tubuh. simetris tidaknya nodul. diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi“ bruit“. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Hipofise • Foto Tengkorak (kranium) 10 . Auskultasi dapat pula dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah. Dapat diidentifikasi bila terjadi peningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak peningkatan aktivitas kelenjar tiroid. 2. dukungan keluarga. peka terhadap sinaar dan sinyal seperti karret.

Spesimen adalah darah venalebih kurang 5 cc. 3. Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai ukuran maupun panjangnya. Persiapan khusus secara fisik tidak ada. Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Tidak dibutuhkan persiapan fisik secara khusus. Pemeriksaan darah dan urin • KADAR GROWTH HORMON Nilai normal 10µg/ml pada anak dan orang dewasa. Dilakukan untuk menentukan apakah gangguan tiroid bersifat primer atau sekunder. 11 . pendidikan kesehatan diperlukan. namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah penting. Pada akromegali akan dijumpai tulangtulang perifer yang bertambah ukurannnya ke samping. Dibutuhkan darah lebih kurang 5 cc. Tanpa persiapan secara khusus. Tidak ada persiapan fisik secara khusus. Pada bayi di bulanbulan pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Dapat terjadi tumor atau juga atropi. namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam bergerak selama prosedur. • KADAR TIROID STIMULATING HORMON (TSH) Nilai normal 6-10 µg/ml. • Foto tulang (osteo) Dilakukan untuk melihat kondisi tulang.Dilakukan untuk melihat sella tursika. • CT scan Otak Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atu hipotalamus melalui komputerisasi.

• • ACTH menurun kadarnya dalam darah. Persiapan • Tidak ada pembatasan makan dan minum • Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol dan antagonisnya. Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama dengan 3 mg/dl dan ekskresi OHCS dalam urin 24 jam kurang dari 2. dihentikan lbih dahulu 24 jam sebelumnya.5 mg. Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametason 1 mg per oral tengah malam .• KADAR ADENOKARTIKO TROPIK (ACTH) Pengukuran dilakukan dnegan test supresi deksametason.5 ml/hari selama-lamanya dua hari Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc Urine ditampung selama 24 jam Kirim spesimen ( darah dan urin ) ke laboratorium Hasil. 12 . Spesimen dikirim ke laboratorium. Normal bila . baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urin ditampung selama 5 jam.5 mg. Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan urin 24 jam. lamirkan jenis obat dan dosisnya pada lembar pengiriman specimen • Cegah stress fisik dan psikologis Pelaksanaan • • • • Klien diberi deksametason 4 × 0. • Bila obat-obatan harus diberikan. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl 17-Hydroxi-Cortico-Steroid (17-OHCS ) dalam urin 24 jam kurang dari 2.

Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Tiroid • Up take Radioaktif ( RAI ) Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap iodida.B. − Lebih dari : 35 % disebut meninggi. • Juga dapat diukur clearence I131 melalui ginjal dengan mengumpulkan urin selama 24 jam dan diukur kadar radioaktif jodiumnya. dapat terjadi pada tirotoxikosis atau pada defisiensi jodium yang sudah lama dan pada pengobatan lama hipertiroidisme. dapat terjadi pada hipotiroidisme. Banyaknya I131 yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam persentase sebagai berikut: − Normal : 10-35% − Kurang dari : 10% disebut menurun . Persiapan • • Klien puasa 6-8 jam Jelaskan tujuan dan prosedur Pelaksanaan • Klien diberi Radioaktif Jodium (I131) per oral sebanyak 50 microcuri. • T3 dan T4 Serum 13 . Dengan alat pengukur yang ditaruh di atas kelenjar tiroid diukur radioaktif yang tertahan.

Nilai normal 4-8 mg% dalam 100 ml darah. Nilai normal pada : • • • Dewasa : 25-35 % uptake oleh resin Anak : pada umumya tidak ada Protein Bound Iodine (PBI) Bertujuan mengukur jodium yang terikat dengan protein plasma. Klien puasa selama 6-8 jam. Bila TBG naik berarti hormon tiroid bebas meningkat.Persiapan fisik secara khusu tidak ada. • Nilai normal pada orang dewasa: − Jodium bebas : 0. Peningkatan TBG terjadi pada hipertiroidisme. Spesimen yang dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc.3 mg/dl − T4 : 6-12 mg/dl • Nilai normal pada bayi/anak: − T3 : 180-240 mg/dl • Up take T3 Resin Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon tiroid ( T3 ) atau tiroid binding globulin (TBG) tak jenuh.6 mg/dl − T3 : 0. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuaskan sebelum pemeriksaan sebelum pemeriksaan 6-8 jam. • Laju Metabolisme Basal (BMR) 14 . Dibutuhkan spesimen darah vena sebanyak 5 cc.1-0.2-0.

Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Paratiroid • Percobaan Sulkowitch 15 . C. Nodul panas menyebabkan hipersekresi jarang bersifat ganas. Digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin ( berfungsi atau tidak berfungsi ).74 × Tek Nadi ) -72 -nilai normal BMR : -10 s/d 15 % • Scanning Tyroid Dapat digunakan dengan beberapa tehnik antara lain : • Radio Iodine Scanning. dilakukan pengukuran tekanan darah dan nadi -dihitung dengan rumus BMR (0. Nilai normal 10 s/d 30 % dalam 24 jam. Digunakan untuk menentukan pengambilan jodium dari plasma. • Up take Iodine. Pelaksanaan : • segera setelah bangun.Bertujuan untuk mengukur secara tidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan Persiapan: • • • • • • klien puasa sekitar 12 jam hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress klien harus tidur paling tidak 8 jam tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedative jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan dan prosedurnya tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan dilakukan tubuh di bawah kondisi basal selama beberapa waktu.75 × pulse ) + ( 0.

ke dalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml. sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. tabung kedua hanya sebagai kontrol. Pelaksanaan : • • masukkan urin 3 ml ke dalam 2 tabung. Pembacaan hasil secara kuantitatif : • • • • • • Negatif (-) : tidak terjadi kekeruhan Positif (+) : terjadi kekeruhan yang halus Positif (++) : kekeruhan sedang Positif (+++) : kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik Positif (++++) : kekeruhan hebat. Cara pemeriksaan: klien disuntik dengan parathormon melalui intravena kemudian urin ditampung dan diukur kadar pospornya.pada 16 . kadar kalsium tinggi. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut. Persiapan : • • urine 24 jam ditampung ditampung. Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. terjadi seketika Percobaan Ellwort – Howard Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhi oleh parathormon. Endapan sedikit (fine white cloud) Menunjukkan kadar kalsiun darah normal (6 ml/dl).Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine. Bila endapan banyak.

Pada hipoparatiroid. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi tulang. 17 . • Pemeriksaan radiologi Persiapan khusus tidak ada. Pada hipotiroid. terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang. Pada hiperparatiroid. diuresis pospornya tidak banyak berubah. • Pemeriksaan Elektrokardiogran ( EKG ) Persiapan khusus tidak ada. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. penipisan dan osteoporosis. tulang menipis. akan dijumpai gelombang Q – T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q – T mungkin normal • Pemeriksaan Elektromiogram ( EMG ) Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Pada hipertiroid. Persiapan khusus tidak ada. pospor serum hampir tidak mengalami perubahan tetapi pospor diuresis meningkat. dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak. pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah. • Percobaan Kalsium Intravena Percobaan ini berdasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan menekan pembentukkan parathormon. Pada hiperparatiroid. Pada hiper paratiroid.hipoparatiroid. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan gambaran ekg akibat perubahan kadar kalsium serum terhadap otot jantung. diuresis pospor bisa mencapai 5-6 kali nilai normal. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis berkurang.

• Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP (post prandial). Nilai normal : • • • Dewasa : 70-110 md/dl¬ Bayi : 50-80 mg/d¬ Anak-anak :60-100 mg/dl¬ Persiapan • • Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan Pelaksanaan • • Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10cc.kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Gunakan anti koagulasi bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera. • Setelah pengambilan darah. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 8-10 jam. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan darah puasa. • Bila klien mendapatkan pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan.D. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Pankreas Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. 18 . Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung paad kondisi klien. klien diberi makan dan minum serta obat-obatan sesuai program. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan.

Cl ). K.• Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu di ingat waktu yang tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.0 meq/liter ) Chlorida : 350-375 mg% (100-106 meq /liter) Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi. Tidak diperlukan persiapan fisik secara khusus. Bagi klien yang mendapat obat-obatan senentara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan. Bubuhi antikoagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Adrenal • Pemeriksaan Hemokonsentrasi darah Nilai normal pada : • • • • Dewasa wanita :37-47 % Pria : 45-54% Anak-anak :30-40% Neonatal :44-62% Tidak ada persiapan secara khusus. E. dengan nilai normal : • • • Natrium : 310 – 335 mg ( 13.6 – 14 meq / liter ) Kalium : 14 -20 mg% ( 3. • Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA) 19 . • Pemeriksaan Elektrolit Serum ( Na.5 – 5. dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremia dan hiperkalemia. Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena.

Retinopati 4. Dapat dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian ACTH. Dibutuhkan urine 24 jam. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Menurut Supartondo. Infeksi jamur di kulit 20 . rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Nilai normal 1-5 mg. polidipsia. Tidak ada persiapan khusus. Gatal seluruh badan 5. Pruritus Vulvae 6. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak. gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. B. PENGKAJIAN DENGAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS 1) Pengertian Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. 2) Tanda dan Gejala Keluhan umum pasien DM seperti poliuria. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium. sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Katarak 2. (Brunner dan Suddarth.Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Infeksi bakteri kulit 7. polifagia pada DM umumnya tidak ada. 2002). • Stimulasi test Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan mendeteksi hipofungsi adrenal. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua. Glaukoma 3.

Penyakit ginjal 14. Neuropati viseral 11. Dermatopati 9.8. Penyakit pembuluh darah otak 17. Hipertensi 21 . Ulkus Neurotropik 13. Amiotropi 12. Neuropati perifer 10. Penyakit koroner 16. Penyakit pembuluh darah perifer 15.

Kadar glukosa darah puasa 3. Pemantauan 4.3) Pemeriksaan Penunjang 1. Diet 2. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. sulit bergerak/berjalan. . Pendidikan 5) Dasar Data Pengkajian Data tergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolic dan pengaruk pada fungsi organ : a. Latihan 3.8 mmol/L) 3.1 mmol/L) 2. Kram otot. Tes toleransi glukosa Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan : 1. tonus otot 22 menurun. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl 4) Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Gangguan tidur/istirahat. Terapi (jika diperlukan) 5. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. letih. Glukosa darah sewaktu 2. Aktivitas/ istirahat • Gejala : lemah.

DVJ (GJK). Integritas Ego • Gejala : Stres. Kulit panas. Bising usus lemah dan menurun : hiperaktif (diare). 23 . penurunan kekuatan otot. adanya asites. Sirkulasi • Gejala : adanya riwayat hipertensi. hipertensi. koma. • Tanda : urine encer. Letargi/disorientasi. Nyeri tekan pada abdomen. Urine berkabut. tergantung pada orang lain. Klaudikasi. penyembuhan yang lama. Masalah financial yang berhubungan dengan kondisi. kebas. pucat. perubahan tekanan darah postural. IM akut. Diare. Disritmia. dan kemerahan: bola mata cekung.• Tanda : takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas. Nadi yang menurun/tidak ada. nokturia. dan kesemutan pada ekstremitas. d. Eliminasi • Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria). • Tanda : Takikardia. Abdomen keras. b. Rasa nyeri/terbakar. Ulkus pada kaki. c. kuning : poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria/anuria jika terjadi hipovolemia berat). • Tanda : ansietas. Krekels. kesulitan berkemih (infeksi). ISK baru/berulang. kering. peka rangsang. bau busuk (infeksi).

Nyeri/Kenyaman • • Gejala Tanda hati. kesemutan. • Gejala . Haus. Neurosensori • Gejala : pusing/pening. g. 24 . f. Aktivitas kejang (tahap lanjut dari DKA). Penggunaan diuretic (tiazid). Gangguan penglihatan • Tanda : disorientasi: mengantuk. Makanan/Cairan • Gejala : hilang nafsu makan. parestesia. mual/muntah. lalu). muntah. kebas kelemahan pada otot. Pernapasan • Gejala : merasa kekurangan oksigen. Gangguan memori (baru. turgor jelek. Penurunan berat badan lebih dari periode bebrapa hari/minggu. kulit kuring/berbisik. Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah). kacau mental. tidak mengikuti diet : peningkatan masukan glukosa/ karbohidrat.e. bau buah (nafas aseton). Bau halitosis/manis. Letargi. Refleks tendon dalam (RTD) menurun (koma). Kekakuan/distensi abdomen. massa. batuk dengan/tanpa sputum : abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat) : wajah meringis dengan palpitasi: tampak sangat berhati- purulen (tergantung adanya infeksi/tidak). h. sakit kepala. stupor/koma (tahap lanjut).

lesi/ulserasi. Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet. diaphoresis. pengobatan. penyakit jantung. perawatan diri. Penggunaan obat seperti steroid. i. Batuk. • Pertimbangan Rencana Pemulangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 5. : demam. Penyuluhan/Pembelajaran • Gejala : faktor resiko keluarga:DM. Seksualitas • Gejala : rabas vagina (cenderung infeksi). Keamanan • • Gejala Tanda : kulit kering. dengan/tanpa sputum purulen (infeksi). Kulit rusak. kesulitan orgasme pada wanita k. ulkus kulit. hipertensi. j. Frekuensi pernapasan. 25 . pemantauan terhadap glukosa darah. Masalah impoten pada pria. Parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam). gatal.9 hari. stroke.• Tanda : lapar udara. Penyembuhan yang lambat. diuretic (tiazid): Dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah) mungkin atau tidak memerlukan obat diabetic sesuai pesanan. Menurunnya kekuatan umum/rentang gerak.

26 .

Gambar luka diabetes melittus tipe 1 : Gambar luka diabetes mellitus tipe 2 : 27 .

Gejala-Gejala Akibat Diabetes Mellitus pada lanjut usia : 1. Glukoma 28 . Katarak 2.

Diabetes melitus Parenteral nutrition Sepsis Enteral feeding Corticosteroid therapi Bayi dengan ibu dengan diabetik Bayi dengan kecil masa kehamilan Bayi dengan ibu yang ketergantungan narkotika Luka bakar Kanker pankreas Penyakit Addison’s Hiperfungsi kelenjar adrenal Penyakit hati Fokus Pengkajian 29 .C. Populasi yang memiliki resiko tinggi mengalami hipoglikemi adalah: 2. PENGKAJIAN DENGAN PENYAKIT HIPOGLEKIMIA/HIPERGLEKIMIA 1) Pengertian Hipoglikemi adalah suatu keadaan. dimana kadar gula darah plasma puasa kurang dari 50 mg/%.

kejang. bingung. 2. nafas cepat irreguler.Perinatal . gelisah.Post natal . dan lebih sering hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia. apnea. tremor. cyanosis. sepsis.Imunisasi .Sepsis . Data fokus Data Subyektif: Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin Rasa lapar (bayi sering nangis) Nyeri kepala Sering menguap Irritabel Data obyektif: Parestisia pada bibir dan jari. keringat dingin.Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika .Data dasar yang perlu dikaji adalah : 1.Pemakaian Corticosteroid therapy . gugup.ANC . apatis. mata berputar-putar. lemas. Riwayat : . kaku.Kanker 3.Pemakaian parenteral nutrition . Keluhan utama : sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis. kejang. Hight—pitched cry. menolak makan dan koma Plasma glukosa < 50 gr/% 30 .Enteral feeding .Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga .

Penyebab / factor predisposisi a. Efek patologis ( autoimun ) d. dispnea Kardiovaskuler : bradikardia. • Metabolic : penurunan metabolism basal. Definisi Hipotiroidisme adalah tingkat pengurangan hormon tiroid (tiroksin). pleural efusi. Kurangnya asupan iodium 3. kuku menebal. rambut kering. kasar. toleransi terhadap aktivitas menurun. kering. bersisik dan menebal. PENGKAJIAN DENGAN PENYAKIT HIPOTIROID 1. kontraksi dan relaksasi otot yang melambat 31 . rambut rontok dan pertumbuhannya buruk. Gejala klinis • Integumen : kulit dingin. Kongenital ( kecacatan perkembangan ) c. pembesaran jantung. intoleransi terhadap dingin • Muskuloskletal : nyeri otot.D. hipotensi. pucat. penurunan suhu tubuh. disritmia. Penyakit system kekebalan tubuh ( tiroiditis ) b. Hal ini dapat menyebabkan fungsi metabolisme tubuh bekerja sangat lambat. Yaitu suatu keadaan di mana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan sedikit tiroksin. 2. pertumbuhan kuku buruk. • • Pulmonary : hipoventilasi.

• Neurologi : fungsi intelektual yang lambat. distensi abdomen. perilaku mania. Kulit kasar. • Manifestasi klinis lain berupa edema periorbita. anemi. parastesia. tebal dan bersisik. agitasi. pembesaran leher. mudah berdarah. gangguan memori. b. hilang pendengaran. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun 32 . berbicara lambat dan terbata-bata. lemah. letargi atau somnolen. infertilitas. Lidah tampak menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. perhatian kurang. haluaran urine menurun. • • Gastrointestinal : anoreksia. Penampilan secara umum: amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar mata. Pada pria : penurunan libido dan impoten. paranoid. Postur tubuh kecil dan pendek. wajah kasar. suara serak.obstipasi. penurunan refleks tendon. anovulasi dan penurunan libido. menarik diri. • Psikosis / emosi : apatis. sensitifitas terhadap opioid dan transkuilizer meningkat. wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. lidah tebal. wajah seperti bulan (moon face). ekspresi wajah kosong. Reproduksi : Pada wanita : perubahan menstruasi seperti amenore atau masa menstruasi yang memanjang. peningkatan BB. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik mencakup: a. dingin dan pucat. 4. bingung. depresi.

karena dosis terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum Pemeriksaan TSH ( pada klien hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan TSH serum. Dosisnya diturunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Pembesaran jantung d. Disritmia dan hipotensi e.c. Yang paling banyak disukai adalah hormone tiroid buatan T4. Parastesia dan reflek tendon menurun 5. Pemeriksaan diagnostik / penunjang a. 6. Bentuk yang lain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kalenjar tiroid hewan). Kadar tetap aktivitas hormone tiroid dalam tubuh dapat terus dipertahankan dengan mudah yaitu dengan pemberian satu tablet atau lebih yang mengandung tiroksin setiap hari. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang hidup penderita. 33 . Pengobatan pada penderita lanjut usia dimulai dengan hormone tiroid dosis rendah. sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal). Therapy / tindakan penanganan Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormone tiroid yaitu dengan memberikan sediaan per oral ( lewat mulut).

pembengkakan seluruh tubuh Integritas ego DS : adanya riwayat factor stress yang baru dialami. ketidakmampuan mengatasi stress. malas. distensi abdomen Makanan / cairan DS : BB meningkat. 7. DO : depresi. termasuk sakit fisik. Pengkajian Aktivitas / istirahat DS : keletihan / kelelahan DO : bradikardia. kelemahan otot. Eliminasi DS : konstipasi DO :konsistensi feses padat. Sirkulasi DS : nyeri badan DO : pengurangan volume darah.Selanjutnya berhasilnya pengobatan pernderita hipotiroid dapat dilihat dari hilangnya seluruh miksedema. nafsu makan menurun 34 .

edema nonpitting Neurosensori DS : sulit fokus DO : suara parau. kelambanan mental. tubuh kasar Pernafasan DS : nafasnya terganggu DO : RR : 22x/mnt Seksualitas DS : siklus menstruasi tidak teratur DO :berkurangnya pertumbuhan rambut dan kulit bersisik Gambar dengan gangguan hipotiroid : 35 . kulit tebal dan kering. Nyeri / kenyamanan DS : nyeri badan DO : distensi abdomen. ingatan terganggu.DO : pembengkakan pada bagian depan leher ( goiter).

E. PENGKAJIAN PADA GANGGUAN KANKER TIROID 36 .

Belum diketahui suatu karsinoma yang berperan untuk kanker anaplastik dan meduler. 2) Etiologi Kanker Tiroid Etiologi dari penyakit ini belum pasti. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada yang khusus. tetapi rata-rata 9-10 tahun. lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun. Diperkirakan kanker jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker tiroid berdiferensia baik (papiler dan folikuler). Kanker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar. dan untuk jenis meduler adalah factor genetic. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. folikuler. yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum.1) Definisi Kanker Tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe yaitu: papiler. dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali lebih besar. yang berperan khususnya untuk terjadi well differentiated (papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis. Biasanya efek radiasi timbul setelah 5-25 tahun. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat 37 . Banyak kasus kanker pada anak-anak sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. kecuali kanker meduler. Radiasi merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan. tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme. Kanker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid. anaplastik dan meduler. 4) Pemeriksaan Penunjang Kanker a. Stimulasi TSH yang lama juga merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid.

Computerized Tomografi CT-Scan dipergunakan untuk melihat prluasan tumor. maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya infiltrasi tumor pada esophagus.dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi baik. sedangkan pada karsinoma meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor. Radiologis 1. 38 . Foto X-Ray Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Pemeriksaan XRay juga dipergunnakan untuk survey metastasis pada pary dan tulang. Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid. Ultrasound Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. 3. b. Kadang-kadang kalsifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar getah bening. Cara ini aman dan tepat. 2. Kadar kalsitonin dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler. namun peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Pada karsinoma papiler dengan badan-badan psamoma dapat terlihat kalsifikasi halus yang disertai stippledcalcification. namun cara ini cenderung terdesak oleh adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu tehnik yang lebih sederhna dan murah. Apabila ada keluhan disfagia. namun tidak dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor tiroid.

Pola makan 2. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama. Keluhan utama klien.4. mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh. karsinoma anaplastik dan karsinoma meduler. Scintisgrafi Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule. Daerah cold nodule dicurigai tumor ganas. Teknik dan peralatan sangat sederhana . Kebiasaan hidup sehari-hari seperti 1.22 – 23 serta alat pemegang. 5) Pengkajian Dasar Pada Kanker Riwayat kesehatan klien dan keluarga. karsinoma folikuler. 3. Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi karsinoma papiler. sediaan aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan sitologi. 2. c. Dengan mempergunakan jarum tabung 10 ml. 39 . Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita 3. Teknik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi biopsy aspirasi untuk memperoleh specimen yang adekuat. dan jarum no. 1. Biopsi Aspirasi Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Pola aktivitas. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur). biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi.

Perbesaran jantung. Sistem muskuloskeletal 5. Metabolik 4. disritmia dan hipotensi. kelemahan fisik 3. Pengkajian yang lain menyangkut terjadinya Hipotiroidime atau Hipertiroidisme Gambar kanker Tirod : 40 . mengurung diri/bahkan mania. amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar leher. adanya nodule yang membesar disekitar leher 2. Penampilan secara umum. Sistem reproduksi 7. nadi turun.1. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis 6. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri 7. Suara parau dan kadang sampai tak dapat mengeluarkan suara 5. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan lingkungannya. Sistem pulmonari 2. Sistem pencernaan 3. dan ingin tidur sepanjang hari. Bila nodule besar dapat menyebabkan sesak nafas 6. Sistem kardiovaskuler 4. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas. Pemeriksaan fisik mencakup 1. Parastesia dan reflek tendon menurun 4.

Pengertian Hipopituitarisme adalah suatu gambaran penyakit akibat insufisiensi kelenjar hipofisis. Gangguan ini menyebabkan munculnya masalah dan manifestasi klinis yang berkaitan dengandefisiensi hormon-hormon yang dihasilkannya. Manisfestasi Klinis  Sakit kepala dan gangguan penglihatan atau adanya tanda-tanda tekanan intara kranial yang meningkat. 2. 41 .F. terutama bagian anterior. Mungkin merupakan gambaran penyakit bila tumor menyita ruangan yang cukup besar. PENGKAJIAN PADA GANGGUAN HIPOPITUITARISME 1.

3. tidak mampu memekatkan urin. gambaran laboratorium dari penurunan fungsi adrenal. anoreksia. rasa lelah yang nyata. impotensi pada pria. diabetesmilitus.  Defisiensi Gonadotropin : impotensi. pucat. polidipsia. pertumbuhan rambut axila dan pubis pada klien pria amati pula pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan kumis) 42 .  Defisiensi Kortikotropin : malaise. kulit kering gambaran laboratorium dari hipertiroidism. striae. libido menurun.  Sindrom Chusing : obesitas sentral. amenore pada wanita.dehidrasi.  Defisiensi Vasopresin : poliuria. Pemeriksaan Fisik a. rambut tubuh rontok pada pria. amati bentuk dan ukuran buah dada. infertilitas pada wanita.  Hiperprolaktinemia : amenore atau oligomenore galaktore (30%). gejala – gejala yang sangat hebat selama menderita penyakit sistemik ringan biasa. hipertensi dan artralgia (nyeri sendi). osteoporosis. hirsutisme. konstipasi. ukur BB dan TB.  Defisiensi hormon pertumbuhan : (Growt Hormon = GH) gangguan pertumbuhan pada anak-anak. berkeringat banyak.  Defisiensi TSH : rasa lelah. Inspeksi :Amati bentuk dan ukuran tubuh. hipertensi. Gambaran dari produksi hormon pertumbuhan yang berlebih termasuk akromegali (tangan dan kaki besar demikian pula lidah dan rahang).

Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti: a. 43 . alsdosteron. test stimulasi yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing hormon.Tergantung pada penyebab hipopituitarisme. Pengkajian dasar pada hipopituitarisme Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan ini antara lain mencakup:  Riwayat penyakit masa lalu Adakah penyakit atau trauma pada kepala yang pernah diderita klien. perlu juga dikaji data lain sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi serebrum dan fungsi nervus kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala. androgen. 4.b. prolaktin. Pemeriksaan serum darah : LH dan FSH GH. serta riwayat radiasi pada kepala. testosteron.  Apakah keluhan terjadi sejak lahir. Palpasi: Palpasi kulit.Tubuh kecil dan kerdil sejak lahir terdapat pada klien kretinisme. pada wanitabiasanya menjadi kering dan kasar.  Kaji TTV dasar untukperbandingan dengan hasil pemeriksaan yang akan datang. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.  Sejak kapan keluhan diarasakan Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada masa praremaja. b. Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika. kartisol.

payudara tidak tumbuh. Amati bentuk dan ukuran tubuh. amati bentuk dan ukuran buah dada. − Libido menurun. ukur BB dan TB.  Keluhan utama klien: − Pertumbuhan lambat − Ukuran otot dan tulang kecil. − Nyeri senggama pada wanita. Palpasi kulit. b. − Tanda – tanda seks sekunder tidak berkembang.  Pemeriksaan fisik a. dan lain – lain. Tergantung pada penyebab hipopituitary. 44 . tidak ada rambut pubis dan rambut axila. Berat dan tinggi badan saat lahir atau kaji pertumbuhan fisik klien. − Impotensi. Bandingkan perumbuhan anak dengan standar. pertumbuhan rambut axila dan pubis pada klien pria amati pula pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan kumis).perlu juga dikaji data lain sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi serebrum danfungsi nervus kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala. − Interfilitas.  Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemapuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar. tidak mendapat haid. penis tidak tumbuh.

kartisol. test stimulating yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing hormone. koriokarsinoma dan mola hidatidosa. PENGKAJIAN DENGAN GANGGUAN HIPERTIROID 1. Tidak biasa hipertiroidisme neonatal. Penyebab hipertiroidisme Biasa Nodul tiroid toksik : multinodular dan mononodular toksik. androgen. Penyebab / faktor predisposisi Lebih dari 90 % hipertiroidisme adalah akibat penyakit graves dan nodul tiroid toksik. Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika. hipertiroidisme faktisius. Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti : a. Pemeriksaan serta serum darah : LH dan FSH GH. G. nontumor (syndrome resistensi hormone tiroid). yodium eksogen Jarang metastasis kanker tiroid. struma ovarii. Definisi • Hipertiroidisme adalah digambarkan sebagai suatu kondisi dimana terjadi kelebihan sekresi hormon tiroid. testosteron. prolaktin. sekresi TSH yang tidak tepat oleh hipofisis. karsinoma testicular embrional 45 . tumor. b. ( Askep Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin. aldosteron. Hotma R) 2. Tiroiditis.

infertilitas pruritus. sinus takikardi. sedang pada Goiter multinodular toksik berhubungan dengan autonomi tiroid itu sendiri. steatore. miksedemia pretibial. Gastrointestinal Reproduksi Kulit Struma Mata BB turun. iritabilitas. angina. ulserasi 46 . miopati proksimal. paralisis periodik. tremor. sesak nafas. fibrilasi atrium.3. palpitasi dan pembesaran tiroid. nodosa periorbital puffiness. Neuromuskuler gugup. Perjalanan penyakit hipertiroidisme biasanya perlahan. tidak tahan panas. kelemahan otot. tidak tahan panas. muntah oligomenore. tremor. libido meningkat. gagal jantung. lakrimasi meningkat dan grittiness of eyes. keletihan. korea atetosis. Gambaran klinis hipertroidisme Umum BB turun. kemosis ( odema konjungtiva). amenore. proptosis. diare. Kardiovaskuler palpitasi. eritema Palmaris. berkeringat. gugup. miastenia gravis. apatis. berkeringat banyak. nafsu makan meningkat.lahan dalam beberapa bulan sampai beberapa tahun. disritmia. perilaku mania dan perhatian menyempit. gugup. agitasi. Gejala Klinis Hipertiroidisme pada penyakit Graves adalah akibat antibody reseptor thyroid stimulating hormone (TSH ) yang merangsang aktivitas tiroid. nadi kolaps. psikosis. rambut tipis difus dengan atau tanpa bising. Manifestasi klinis yang paling sering adalah penurunan berat badan. kelelahan. emosi labil. Emosi : gelisah.

47 . edema papil. Tanda Mobieve : sukar mengadakan atau menahan konvergensi Tanda Joffroy : tadak dapat mengerutkan dahi jika melihat keatas Tanda Rosenbagh : tremor palpebra jika mata menutup • Edema palpebra dikarenakan akumulasi cairan diperiorbita dan penumpukan lemak diretro orbita • Juga akan dijumpai penurunan visus akibat penekanan syaraf optikus dan adanya tanda – tanda radang atau infeksi pada konjungtiva dan atau kornea • Fotofobia dan pengeluaran air mata yang berlebihan merupakan tanda yang lazim. diplopia.kornea. Amati penampilan umum klien. 4. Pemeriksaan Fisik a. penglihatan kabur. Amati manifestasi klinis hipertiroidisme pada berbagai system tubuh seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. b. oftalmoplegia. amati wajah klien khususnya kelainan pada mata seperti : • Oftalmopati yang ditandai : Eksoftalmus : bulbus okuli menonjol keluar Tanda stellwag’s : mata jarang berkedip Tanda Von Graefes : jika klien melihat kebawah maka palpebra superior sukar atau sama sekali tidak dapat mengikuti bola mata.

Pemeriksaan fungsi hepar : abnormal 48 . bagaimana konsistensinya. apakah dapat digerakkan serta apakah nodul soliter atau multiple. Kortisol plasma : turun (menurunnya pengeluaran oleh adrenal).c. Auskultasi adanya “bruit” 5. kaji adanya pembesaran. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium • • • • • • Tes ambilan RAI : meningkat T4 dan T3 serum : meningkat T4 dan T3 bebas serum : meningkat TSH : tertekan dan tidak berespon pada TRH (tiroid releasing hormon) Tiroglobulin : meningkat Stimulasi TRH : dikatakan hipertiroid jika TRH dari tidak ada sampai meningkat setelah pemberian TRH • • • • • • Ambilan tiroid131: meningkat Ikatan proein iodium : meningkat Gula darah : meningkat (sehubungan dengan kerusakan pada adrenal). d. Fosfat alkali dan kalsium serum : meningkat. Palpasi kalenjar tiroid.

waktu sistolik memendek. Pada tipe tirotoksikosis yang biasa. kecepatan metabolism basal biasanya meningkat sampai + 30 hingga + 60 pada hipertiroidisme berat. 49 . Konsentrasi TSI diukur dengan radioimunologik. 3. • • Katekolamin serum : menurun. TSI normalnya tinggi pada tipe Tirotoksikosis yang biasa tetapi rendah pada adenoma tiroid. 2. kardiomegali. Lain.lain Pemeriksaan elektrokardiografi ( EKG) : fibrilasi atrium. sekresi TSH oleh hifofisis anterior sangat ditekan secara menyeluruh oleh sejumlah besar tiroksin dan triiodotironin yang sedang bersirkulasi sehingga hampir tidak ditemukan TSH dalam plasma. Kreatinin urine : meningkat b. Radiologi Skanning tyroid USG thyroid c. hipokalsemia terjadi dengan sendirinya pada kehilangan melalui gastrointestinal dan diuresis. Uji lain yang sering digunakan adalah sebagai berikut: 1. Konsentrasi TSH didalam plasma diukur dengan radioimunologik.• Elektrolit : hiponatremi mungkin sebagai akibat dari respon adrenal atau efek dilusi dalam terapi cairan pengganti.

Persiapan tiroidektomi d. pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang atau tirotoksikosis. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap. b. Tabel obat antitiroid yang sering digunakan : Obat Dosis awal ( mg/ hari) Pemeliharaan (mg /hari) 50 . e. c. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan atau sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium radioaktif. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia. tiroidektomi sub total) 1. Therapy / Tindakan Penanganan Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormone tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi ( obat antitiroid ) atau merusak jaringan tiroid ( yodium radioaktif.6. Obat antitiroid Digunakan dengan indikasi : a. Pasien dengan krisis tiroid Obat diberikan dalam dosis besar pada permulaan sampai eutiroidisme lalu diberikan dosis rendah untuk mempertahankan eutiroidisme.

secara klinis dan laboratorium. Dosis yang dipakai 100-150 mg tiap 8 jam. Obat. Pengobatan dengan yodium radioaktif Indikasi pengobatan dengan yodium radioaktif diberikan pada: a. Pada masa laktasi juga diberikan propiltiourasil karena hanya sedikit sekali yang keluar dari air susu ibu. Pasien umur 35 tahun atau lebih 51 .200 Ketiga obat ini mempunyai kerja imunosupresif dan dapat menurunkan konsentrasi thyroid stimulating antibody ( TSAb) yang bekerja pada sel tiroid. Hipertiroidisme kerap kali sembuh spontan pada kehamilan tua sehingga propiltiourasil dihentikan. Setelah pasien eutiroid. tetapi bila timbul agranulositosis maka obat dihentikan. Pemakaian obat.obat ini dapat menimbulkan efek samping berupa hipersensitifitas dan agranulositosis.20 50. Obatobat tambahan sebaiknya tidak diberikan karena T4 yang dapat melewati plasenta hanya sedikit sekali dan tidak dapat mencegah hipertiroidisme pada bayi yang baru lahir. propiltiourasil dinaikkan sampai 300 mg/hari. Pada pasien hamil biasanya diberikan propiltiourasil dengan dosis serendah mungkin yaitu 200 mg/ hari atau lebih lagi.24 bulan. Apabila tirotoksikosis timbul lagi. Apabila timbul hipersensitivitas maka obat diganti.Karbimazol Metimazol Propiltiourasil 30-60 30-60 300-600 5-20 5. dosis diturunkan dan dipertahankan menjadi 2 x 50 mg/hari. biasanya pascapersalinan. Kadar T4 dipertahankan pada batas atas normal dengan dosis propiltiourasil < 100 mg/hari.obat ini umumnya diberikan sekitar 18. 2.

Dosis ini dapat mengendalikan tirodotoksikosis dalam 3 bulan. Efek samping pengobatan dengan yodium radioaktif adalah hipotiroidisme. Hipertiroidisme yang kambuh sesudah dioperasi c. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik e. goiter multinodular toksik Digunakan Y131 dengan dosis 5-12 mCi peroral. Pada wanita hamil ( trimester kedua ) yang memerlukan obat anti tiroid dosis besar c. Alergi terhadap obat antitiroid. biasanya pasien diberi obat antitiroid sampai eutiroid kemudian diberi cairan kalium yodida 100-200 mg/hari atau cairan lugol 10- 52 .b. pasien tidak dapat menerima yidium radioaktif d. eksaserbasi hipotiroidisme dan tiroiditis. Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu lebih nodul Sebelum operasi. Tidak mampu atau tidak mau pengobatan dengan obat antitiroid e. namun ⅓ pasien menjadi hipotiroid pada tahun pertama. Operasi Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid d. 3. Adenoma toksik. Indikasi operasi adalah : a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid b.

Litium dapat digunakan pada pasien dengan krisis tiroid yang alergi terhadap yodium. Dosis diberikan 40-200 mg/hari yang dibagi atas 4 dosis. Pada orang lanjut usia diberi 10 mg/6jam. Sekat β adregenik Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala dan tanda hipertiroidisme. Litium Litium mempunyai daya kerja seperti yodium. namun tidak jelas keuntungannya dibandingkan dengan yodium. d. c. sesudah pengobatan dengan yodium radioaktif dan pada krisis tiroid. b. Yodium Yodium terutama digunakan dosis 100-300 mg/hari. Kerja ipodat adalah menurunkan konversi T4 diperifer. Pengkajian Dasar dengan Gangguan Hipertiroid 53 . Ipodat Ipodat kerjanya lebih cepat dibanding propiltiourasil dan sangat baik digunakan pada keadaan akut seperti krisis tiroid. Biasanya diberikan dalam 7. Pengobatan tambahan a. untuk persiapan operasi. mengurangi sintesis hormone tiroid serta mengurangi pengeluaran hormone dari tiroid.15 tetes/hari selama 10 hari sebelum dioperasi untuk mengurangi vaskularisasi pada kalenjar tiroid. 4.

nadi perifer melemah. takikardia. berkeringat. sianosis dan pucat. disritmia (fibrilasi atrium). termasuk sakit fisik / pembedahan. Eliminasi DS : perubahan dalam feces : diare DO : konsistensi feses cair. BB menurun. pembesaran tiroid. Neurosensori 54 . emosi labil ( euphoria sedang sampai delirium). kehausan DO : muntah. Aktivitas / istirahat DS : keletihan / kelelahan DO : takikardia b. makan banyak. pucat. Integritas ego DS : adanya riwayat factor stress yang baru dialami. edema nonpitting terutama daerah pretibial f. palpitasi.a. ketidakmampuan mengatasi stress. mual. d. goiter. e. Makanan / cairan DS : anoreksia. nafsu makan meningkat. suara gemetar. depresi. ekstrimitas dingin. c. Sirkulasi DS : nyeri dada ( angina) DO :hipotensi. DO : tanda ansietas misalnya gelisah. tremor / gemetar.

hilangnya tanda – tanda seks sekunder misalnya : berkurangnya rambut – rambut pada tubuh terutama pada wanita Hipomenore. dispnea i. gelisah. peka rangsang. Seksualitas DS : nafsu seks menurun DO : penurunan libido. disorientasi. Nyeri / kenyamanan DS : nyeri orbital. Keamanan DS : tidak toleransi terhadap panas.amenore dan impoten 55 . keringat yang berlebihan DO : suhu meningkat diatas 37. Pernafasan DS : mengeluh nafas terasa sesak DO : frekuensi pernafasan meningkat. Tremor halus pada tangan g.5 º C Eksoftalmus j.DS : tidak tahan panas DO : bicara cepat dan parau Gangguan status mental dan prilaku seperti: bingung. takipnea. Koma. psikosis. stupor. fotofobia DO : kelopak mata sulit menutup h. delirium.

yang meliputi . pengumpulan data.BAB III PENUTUP A. sistematika data dan penentuan masalah. Kesimpulan Pengkajian yang sistematis dalam keperawatan dibagi dalam empat tahap kegiatan. Adapula yang menambahkannya dengan kegiatan dokumentasi data (meskipun setiap langkah dari proses keperawatan harus selalu didokumentasikan juga). analisis data. 56 .

Mansjoer. A. Jakarta : Media Aesculapius. DAFTAR PUSTAKA Bruner and Suddarth. Beberapa hormon mempengaruhi seluruh jaringan tubuh dan organ-organ dan manifestasi dari disfungsi nonspesifik. Jakarta : EGC. membuat pengkajian fungsi endokrin lebih rumit dibandingkan dengan sistem lainnya. ME and Moorhouse. Edisi 3. FA Davis. Jilid 1. (2002) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. edisi 3. MF : Nurse’s Pocket Guide : Nursing Diagnoses with Interventions. Arthur C (2007) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Guyton. Edisi 11. Edisi 8. (2001) Kapita Selekta Kedokteran. Alih bahasa : Irawati. Volume 2 Jakarta :EGC. 1991. Philadelphia. Doenges.Fungsi kelenjar endokrin dapat diketahui melalui pengkajian kesehatan dengan wawancara untuk mengumpulkan data subyektif dan pengkajian fisik untuk mengumpulkan data obyektif. 57 .

58 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful