P. 1
3. Buku Workshop 1 Bab II

3. Buku Workshop 1 Bab II

|Views: 4|Likes:
Published by Ney Elfati

More info:

Published by: Ney Elfati on May 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2014

pdf

text

original

5

MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A. Kompetensi dan Indikator Kompetensi 1. 2. Memahami hubungan media dan proses belajar mengajar Memahami pengertian media pembelajaran Indikator 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Memahami hubungan media pembelajaran dan proses pembelajaran Makna media dalam pembelajaran dan dalam pembelajaran matematika Memahami mengenai kesalahan komunikasi Memahami perlunya komunikasi dalam pembelajaran Memahami klasifikasi media pembelajaran Memberikan contoh konkrit hasil penelitian tentang media Memahami manfaat media dalam pembelajaran

B. Materi Pokok 1. Pendahuluan

atematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas. Objek matematika merupakan benda pikiran yang sifatnya abstrak dan tidak dapat diamati dengan pancaindra. Objek matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, konsisten dan logis. Sudjadi (1999) menyatakan bahwa keabstrakan matematika karena objek dasarnya yang berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip tersebut bersifat abstrak. Ciri keabstrakan dan ciri lainnya yang tidak sederhana , menyebabkan matematika tidak mudah untuk dipelajari, sehingga banyak peserta didik yang merasa kesulitan belajar matematika. Oleh karena itu perlu ada “jembatan” yang bisa menghubungkan antara keilmuan matematika dan pembelajaran matematika. Salah satu cara untuk menjembatani agar matematika yang bersifat abstrak tersebut mudah dipamahi oleh perserta didik dengan memanfaatkan media dalam pembelajaran matematika. Menurut Dienes (dalam Hudoyo, 1998), bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna apabila pertama-tama disajikan kepada peserta didik dalam bentuk-bentuk kongkret. Oleh karena itu betapa pentingnya pemanfaatan benda-benda konkret/alat peraga baik yang

6

dirancang secara khusus atupun benda-benda yang ada dilingkungan sekitar kita sebagai media dalam pembelajaran matematika. Menurut Muhsetyo, 2007, peserta didik baik secara individual mupun secara kelompok dapat membangun sendiri pengetahuan mereka dengan berbagai sumber belajar (aliran ini dikenal sebagai aliran kontruktivisme). Guru lebih berperan sebagai fasilitator, dan salah satu tugas guru adalah menyediakan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hal ini sesuai dengan Teori Bruner (dalam Hawa, 2007), bahwa dalam proses pembelajaran matematika sebaiknya peserta didik diberi kesempatan memanipulasi benda-benda konkret atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak-atik oleh peserta didik dalam memahami suatu konsep/prinsip matematika. Selain itu Bruner (dalam Hawa, 2007) menegaskan bahwa proses internalisasi dalam belajar matematika akan terjadi dengan sungguh-sungguh (artinya proses belajar terjadi secara optimal), apabila pengetahuan yang sedang dipelajari oleh peserta didik tersebut difasilitasi melalui 3 (tiga ) tahap yaitu Enaktif, Ikonik dan Simbolik (EIS). Tahap enaktif yaitu tahap belajar dengan memanipulasi benda atau obyek konkret, tahap ekonik yaitu tahap belajar dengan menggunakan gambar, dan tahap simbolik yaitu tahap belajar matematika melalui manipulasi lambang atau simbol. Muhsetyo, 2007, menyatakan bahwa untuk mendukung pembelajaran matematika yang mampu menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam membangun pengetahuan sendiri diperlukan guru yang memiliki kompetensi tidak saja dalam mengembangkan dan mengimplementasikan materi pelajaran (bahan ajar), tetapi juga dalam penguasaan teori pembelajaran, media pembalajaran, evaluasi pembelajaran serta memahami pula bagaimana peserta didik belajar. Guru perlu terus meningkatkan kompetensi dalam mengembangkan perangkat pembelajaran dan mengimplementasinya dalam pembelajaran sehingga pempelajaran menjadi lebih berkualitas. Hal ini sesuai dengan pesan yang diamanahkan oleh Depdiknas (2006), NCTM (1989, 1991, 1995, 2000) bahwa pembelajaran yang berkualitas merupakan jantung dari perubahan . Peningkatan kemampuan guru tersebut merupakan pondasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dan pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Agar kita tidak ketinggalan dalam pembelajaran matematika, kita perlu mengikuti kecenderungan baru yang telah dilakukan di negara-negara maju. Banyak kecenderungan baru yang tumbuh dan berkembang di banyak negara sebagai inovasi dan reformasi dalam pembelajaran matematika. Inovasi dalam pembelajaran matematika yang telah ditumbuh dan kembangkan di beberapa negara maju antara lain: 1) contextual learning , 2) coperative learning, 3) Realistic Mathematics Education (RME), 4) problem solving, 5) mathematical investigation, 6) guaded discovery, 7) open eded (multiple solutions, multiple method of solution), 8) manipulative material, 9) concept map, 10) quantum teaching/learning, dan 11) writing in mathematics. 2. Hubungan Media Pembelajaran dan Proses Pembelajaran Pada hakikatnya proses pembelajaran itu merupakan proses komunikasi antara guru dan peserta didik. Sebagai komunikan adalah peserta didik,

7

sedangkan sebagai komunikator adalah guru dan peserta didik sendiri. Proses komunikasi yang mungkin terjadi selama proses belajar mengajar adalah : komunikasi searah, komunikasi dua arah, atau komunikasi multiarah. Seorang guru perlu menyadari bahwa proses komunikasi tidak selalu dapat berjalan lancar, artinya pesan yang disampaikan oleh guru dapat diterima secara utuh oleh peserta didik. Kenyataan menunjukkan bahwa kadang-kadang komunikasi dapat menimbulkan kebingungan, salah pengertian dan mungkin menimbulkan kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi) bagi peserta didik. Hal ini merupakan indikator adanya hambatan dalam proses pembelajaran. Kesalahan komunikasi dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain : 1) Adanya perbedaan daya tangkap para peserta didik sebagai komunikan 2) Jumlah peserta didik sebagai komunikan sangat besar, sehingga sukar dijangkau oleh guru sebagai komunikator 3) Guru sebagai komunikator kurang mampu dalam menyampaikan pesan Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan komunikasi dalam pembelajaran , maka harus digunakan sarana yang dapat membantu proses komunikasi. Sarana tersebut diantaranya adalah media pembelajaran. 3. Makna Media dalam Pembelajaran dan dalam Pembelajaran Matematika

Kata media berasal dari bahasa lain dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Jadi media adala perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Banyak batasan yang diberikan orang tentang media, antara lain : 1) Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan (Association of Education and Communi-cation Technology /AECT) di Amirika membatasi media sebagai segala bentukdan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. 2) Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa dan dapat merangsangnya untuk belajar 3) Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Briggs dalam Sugiarto-Hidayah (2005) menyatakan bahwa Media/ alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran matematika untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Lebih khusus alat peraga adalah benda-benda konkret yang merupakan model dari ide-ide matematika dan benda konkret untuk penerapan matematika. 4) Asosiasi Pendidikan Nasional (Nasional Education Assiciation / NEA) memberikan pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercatat maupun audiovisual serta perantaranya. Media dirancang untuk dapat dimanipulasi, dilihat, didengar dan dibaca. 5) Tim Instruktur PKG, (1988). Media/ alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran matematika untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Lebih khusus alat peraga adalah benda-benda konkret yang merupakan model dari ide-ide matematika dan benda konkret untuk penerapan matematika

8

6) Darhim dalam Waluyo (2008) mengatakan bahwa alat peraga penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi tertuang dalam GBPP bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Media/alat pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru dalam pembelajaran untuk membantu memperjelas materi pelajaran dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pembelajaran yang menggunakan banyak verbalisme akan membosankan siswa. 7) Anderson dalam Sugiarto, Hiadayah (2007) berpendapat bahwa alat peraga sebagai media atau pelengkap yang digunakan untuk membantu guru mengajar, sementara Media/ alat peraga dalam pembelajaran matematika sebagai alat bantu pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Lebih khusus alat peraga adalah benda-benda konkret yang merupakan model dari ide-ide matematika dan benda konkret untuk penerapan matematika. 8) Usman (2002) menyetakan bahwa pembelajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti apa yang dipelajarinya (Usman, 2002:31). Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan,perhatian, dan kemauan peserta didik untuk belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar serta menjadikan tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan mudah. Menurut Waluyo (2008) menyatakan bahwa agar lebih jelas lagi perlu juga dikemukakan konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran yaitu; sumber belajar. Konsep sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas yaitu semua sumber (berupa data, orang, benda) yang dapat digunakan untuk memberikan fasilitas belajar bagi peserta didik. Sumber belajar tersebut meliputi POBATeL. P : pesan (ide,fakta, data, ajaran, informasi, dll.) O : orang ( guru, dosen, instruktur, fasilitator, widyaiswara, dll.) B : bahan ( buku teks, modul, handout, transparansi, kaset program audio, CD pembelajaran, LKS, dll.) A : alat ( OHP, computer, taperecorder, LCD, laptop, CD player, dll.) T : teknik ( praktikum, demonstrasi, diskusi, tutorial, pembelajaran mandiri, dll.) L : lingkungan ( gedung sekolah, taman, pasar, kebun, dll.). Klasifikasi Media Pembelajaran Menurut Ruseffendi (1989) secara garis besar media pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Media objek fisik ( model, alat peraga ) 2) Media grafis / visual ( poster, chart, kartu, dll.) 3) Media proyeksi 4) Media audio 5) Media audiovisual 4.

9

5.

Hasil-hasil Penelitian Pembelajaran

tentang

Pemanfaatan

Media

dalam

Telah banyak penelitian tentang pemanfaatan media dalam pembelajaran terutama pembelajaran matematika, di antaranya adalah : 1) Prabowo (2004), pengaruh Video Compact Disk (VCD) terhadap hasil belajar matematika pada kelas IV di sekolah dasar, 2) Yustinus (2006) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan media animasi grafis,lembar kerja siswa, dan pembelajaran dengan pendekatan ekspositori. 3) Rahayu BV (1990) Ada perbedaan perbedaan signifikan yang menunjukkan prestasi belajar siswa yang dikenai pendekatan laboratorium lebih baik daripada siswa yang tidak dikenai pendekatan laboratorium dalam pembelajaran pokok bahasan geometri. 4) Sugiarto (1990) menyatakan ada pengaruh positif penggunaan alat peraga terhadap hasil belajar siswa kelas 2 SD Ngaliyan, Tugu, Kodya Semarang pada pokok bahasan bilangan pecah . 5) Azis (1994) menyatakan bahwa kartu pecahan cukup efektif untuk dipergunakan dalam pengajaran bidang studi matematika untuk sub pokok bahasan pecahan guna meningkatkan prestasi belajar siswa 6) Wibowo (1997) menyatakan bahwa ada perbedaan signifikan, bahwa kemampuan siswa SD pada pembelajaran berhituung dengan kartu hitung bergambar lebih baik dibandingkan dengan model konvensional. 7) Hidayah, dkk (2004) menyatakan bahwa pendayagunaan media (alat bantu ajar) dalam pembelajaran matematika berbasis masalah di SD, SLTP, dan SMU dapat dilakukan dalam selang waktu selama pembelajaran, (alat bantu ajar) untuk SD lebih bervariasi disbanding jenjang di atasnya (SLTP dan SMU), dan pembelajaran matematika dengan memanfaatkan media (alat bantu ajar) menyenangkan siswa. 8) Hidayah dan Sugiman (1998) menyatakan kemampuan/penguasaan guru dalam memahami materi yang mencakup seluruh kegiatan mata pelajaran matematika kurikulum 1994 dan penguasaan terhadap metode pembelajaran matematika di kabupaten Semarang masih di bawah kriteria ketuntasan belajar perorangan;sedangkan ketersediaan alat peraga matematika dari 69 jenis alat peraga berada dalam interval 29,28% 36,80% 9) Hidayah (2000) menunjukkan bahwa pendayagunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, siswa aktif, dan memungkinkan siswa “menemukan” konsep/prinsip. Masih banyak lagi hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan media pembelajaran matematika yang belum ditulis pada Bab ini Tujuan pemanfaatan media adalah untuk menciptakan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik. Prinsip pemanfaatan media adalah “ theright aid at the right time in the right place in the right manner” (Waluyo, 2008) merupakan kunci pemanfaatan media yang dapat meningkatakan kualitas komunikasi antara guru dan peserta didik yang akhirnya meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sebaliknya pemanfaatan yang kurang tepat seringkali mengganggu komunikasi dan mengurangi efektivitas pembelajaran. Pemanfaatan media pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan mutu

10

komunikasi antara guru dan peserta didik, sehingga pembelajaran lebih efektif. Semakin banyak indera yang digunakan peserta didik dalam belajar semakin baik retensi / daya ingat peserta didik sebagaimana yang digambarkan dalam kerucut pengalaman belajar (Fajar, 2002). Seperti yang digambarkan pada Kerucut Pengalaman Belajar berikut ini.

6. Kajian Teori tentang Manfaat Alat Peraga/Media Menurut Waluya (2006), ditinjau dari fungsinya, media/alat peraga dapat : (a) memberikan motivasi belajar, (b) memberikan variasi dalam pembelajaran, (c) mempengaruhi daya abstraksi, (d) memperkenalkan, memperbaiki, dan meningkatkan pemahaman konsep dan prinsip. Pemanfaatan media/alat peraga yang dilakukan secara secara benar akan memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk membangun sendiri pengetahaun yang sedang dipelajarinya. Apabila peserta dapat memahami secara tuntas materi pokok tertentu, maka kemampuan tersebut merupakan modal dasar untuk mempelajai materi pokok lain yang berhubungan dengan materi pokok tersebut. Hal ini akan memberikan semangat baru, motivasi baru dan rasa senang bagi peserta didik mempelajari matematika. Oleh karena semangat dan motovasi yang tumbuh dari diri peserta didik sendiri diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Menurut Brunner dalam Dahar (1988) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran matematika sebaiknya peserta didik diberi kesempatan memanipulasi benda-benda konkret atau alat peraga yang dirancang secara

11

khusus dan dapat diotak-atik oleh peserta didik dalam memahami suatu konsep matematika. Arti bahwa alat peraga yang dirancang secara khusus pada tulisan ini adalah bahwa setiap objek geometri memiliki satu atau beberapa atribut. Setiap atribut yang dimiliki oleh objek geometri tersebut harus dihadirkan pada alat peraga sebagai model objek geometri tersebut. Apabila alat peraga yang disediakan guru belum memuat atribut yang sama dengan atribut yang dimiliki oleh objek geometri, maka alat peraga tersebut belum efektif bahkan masih bisa menimbulkan miskonsepsi. Ini berarti bahwa mengembangan media / alat peraga harus dilakukan secara cermat. Hasil pengembangan alat media/alat peraga oleh seseorang yang tidak memiliki pemahaman konsep/prinsip pada materi pokok tertentu akan diragukan keefektivannya. Selain itu Brunner dalam Hawa (2008) menegaskan bahwa proses internalisasi dalam belajar akan terjadi dengan sungguh-sungguh (artinya proses belajar terjadi secara optimal), apabila pengatahuan yang sedang dipelajari oleh peserta didik tersebut dipelajari melalui 3(tiga ) tahap yaitu Enaktif, Ikonik dan Symbolik (EIS) Menurut Gagnon dan Collay, dalam Tasfirani (2008), menyatakan bahwa Question merupakan bagian pokok dalam pembelajaran kontruktivis (PK) . Dalam PK pertanyaan haruslah yang mampu mempengaruhi, mengilhami, atau menyatupadukan pemikiran peserta didik selama proses pembelajaran. Pertanyaan dapat ditempatkan pada semua elemen dari PK. Pertanyaan dapat digunakan untuk memperkenalkan situasi, menyusun, pengelompokan, menset, mendukung pembelajaran aktif, menunjukkan/ memperagakan dengan cepat dan tepat, dan mendorong refleksi.

7. Tugas Terstruktur
1. Buatlah makalah dengan tema “keefektivan media pembelajaran matematika dalam pembelajaran matematika di SD atau SMP atau SMA” ( Petuntuk: 1) Cari sumber di internet, 2) nama media?, bentuk media?, dan cara penggunaan media ? untuk meteri pokok ?, dan di satuan pendididikan?, kelas berapa? 3) tingkat keefektifan media tersebut, 2. Buatlah makalah mengembengan ide yang berkaitan dengan : Penerapan media pembelajaran matematika ........ untuk menumbuhkan kemamapuan ...... bagi peserta didik ...................... (Petunjuk : 1) Nama media, bentuk media dan spesifikasinya? 2) untuk menumbuhkan kemampuan matematika ? bagi peserta didik pada satuan pendidikan ?)

12

8. Evaluasi
1) Jelaskan hubungan antara media pembelajaran dan proses pembelajaran? 2) Jelaskan pengertian media pembelajaran? Apa hubungan media pembelajaran dan sumber belajar? 3) Jelaskan klasifikasi media pembelajaran ? 4) Mengapa dalam pembelajaran matematika diperlukan media pembelajaran (alat peraga)? Jelaskanlah ?

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->