P. 1
CAPD GINJAL

CAPD GINJAL

|Views: 813|Likes:
Published by Anna Suryani

More info:

Published by: Anna Suryani on May 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/22/2014

pdf

text

original

Sections

  • Gagal Cinta Pertama tak Separah Gagal Ginjal
  • Gelarku
  • Awal Perkenalan Saya dengan Gagal Ginjal Kronik
  • Tak Ada yang Lebih Pintar dari dr. Jhon Manurung
  • Perkenalan dengan Evi Arpan
  • Kesempatan Hidup Kedua
  • Mimpi
  • Perhiasan Terindah
  • Uang Bukan Segalanya
  • Uji Keimanan
  • Obat Alternatif
  • Pengenalan CAPD
  • Kateter Penyambung Hidup
  • Bapak Jadi Robot
  • Kemerdekaan
  • Wisata Rohani
  • Hidup Bersama CAPD makin PD

•Home
•Berita
•Forum
•Ketenagakerjaan
•Infotainment
•Humor
•Musik asik
•Hong Kong
•Korea
•Malaysia
•Contact

Home » Gagal Ginjal Sama Dengan Menguras Banyak Biaya

Gagal Ginjal Sama Dengan Menguras
Banyak Biaya

Ginjal merupakan organ yang penting
dalam sistem metabolik tubuh manusia karena memiliki fungsi utama sebagai
penyaring racun dan zat sisa dalam darah.

Bila ginjal rusak dan sudah mengalami gagal ginjal, maka biaya yang dibutuhkan
tidaklah sedikit.

Ginjal merupakan filter yang sangat baik, fungsi utamanya adalah untuk
membersihkan racun dan mengeluarkan limbah dari darah. Ginjal juga berfungsi
untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh, serta untuk
mengeluarkan hormon yang membantu produksi sel darah merah. Oleh karena itu,
ginjal memainkan peran utama dalam mengatur tekanan darah dan menyeimbangkan
elektrolit penting yang menjaga ritme jantung.

Selain berfungsi untuk menyaring dan membuang zat-zat yang tidak diperlukan dan
mempertahankan kandungan nutrisi dan mineral yang diperlukan tubuh, ginjal juga
berperan dalam keseimbangan sirkulasi darah dalam tubuh, yakni dengan mengatur
tekanan darah, memproduksi sel darah merah.

1

Setiap hari, ginjal memfilter 180 liter darah. Ginjal menerima 100-120 mL darah per
menit, di mana jumlah ini sangat besar dibandingkan dengan ukurannya yang kecil.
Hal tersebut berarti setiap harinya ginjal memfilter darah sebanyak 50 kali dalam
sehari.

“Kerusakan ginjal ringan terjadi bila fungsinya sudah kurang dari 90 persen. Dan bila
kurang dari 15 persen, maka artinya pasien sudah mengalami gagal ginjal yang
obatnya harus hemodialisis (cuci darah) atau transplantasi (cangkok),” jelas dr
Dharmeizar, SpPD-KGH, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), dalam
acara Konferensi Pers ‘Hari Ginjal Sedunia: Sayangi Ginjal Anda, Minumlah Air
Putih yang Cukup!’ di Hotel Akmani, Jakarta, Selasa (6/3/2012).

Menurut dr Dharmeizar, bila sudah mengalami gagal ginjal, diperlukan terapi
pengganti ginjal yang biayanya tidak sedikit.

Berikut biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani terapi pengganti ginjal:

Hemodialisis (cuci darah)

1. Dilakukan seminggu 2 kali
2. 5 jam per sesi
3. Biaya per tahun Rp 50-80 juta

CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau cuci darah lewat perut)

1. Pemasangan kateter Rp 10 juta
2. Biaya CAPD per tahun Rp 50-75 juta

Transplantasi ginjal

1. Pretransplantasi dan prosedur Rp 200 juta
2. Biaya per tahun Rp 75-150 juta

Gagal ginjal biasanya berawal dari penyakit ginjal kronik, yaitu menurunkan fungsi
ginjal. Pada kondisi ini orang biasanya tidak merasakan gejala yang terlalu berarti
sampai akhirnya didiagnosis dengan gagal ginjal, yang artinya fungsi ginjalnya
kurang dari 15 persen.

Gagal ginjal terjadi karena organ ginjal mengalami penurunan hingga menyebabkan
tidak mampu bekerja dalam menyaring elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan
dan zat kimia tubuh (sodium dan kalium) dalam darah atau produksi urine.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang mengalami kerusakan atau gagal
ginjal:
1.Diabetes melitus
2.Hipertensi
3.Kelainan ginjal (penyakit ginjal polikistik)
4.Penyakit autoimun
5.Penyumbatan saluran kemih
6.Kanker
7.Rusaknya sel penyaring pada ginjal.

2

“Pengidap penyakit ini ditandai dengan lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual,
muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, pucat atau anemia,” tutup dr
Dharmeizar.

Popularity: 1% [?]

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Kemajuan teknologi kedokteran yang berkembang pesat saat ini memungkinkan para
penderita gagal ginjal menjalani rutinitas cuci darah (dialisa) sambil bekerja, cuci
mata di mall, bahkan sambil bercinta dengan pasangan! Padahal di masa lalu, kegiatan
dialisa harus dilakukan di rumah sakit sambil terbaring lemah selama 5 jam, sebanyak
tiga kali seminggu. Belum lagi perasaan gatal di sekujur tubuh sebagai dampak dari
terapi cuci darah tersebut.
Terapi cuci darah yang begitu praktis itu bernama Continuous Ambulatory Peritoneal
Dyalisis/CAPD atau dialisis tanpa mesin dan dapat dilakukan secara mandiri oleh
penderita gagal ginjal. Metode ini merupakan metode alternatif dengan menggunakan
membran semipermiabel yang berfungsi sebagai ginjal buatan, sehingga mampu
menyerap cairan pembersih ke dalam rongga ginjal. Dalam waktu 4 sampai 6 jam
dengan frekuensi 4 kali sehari, terjadi proses difusi serta ultrafiltrasi dalam ginjal,
sehingga zat racun yang ada di dalamnya terserap ke luar dan diganti cairan baru.
Karena masih tergolong teknologi baru, biaya CAPD masih tergolong mahal.
Umumnya, biaya yang dikeluarkan peserta terapi CAPD saat ini masih sebesar Rp
4,2-Rp 5 juta setiap bulannya. Namun, biaya sebesar itu menjadi tak berarti, jika
melihat kondisi tubuh penderita yang bugar dan tetap produktif seperti sebelum
terkena gagal ginjal.
“Karena pasien tetap bisa bekerja dan melakukan segala aktivitas seperti biasa,
layaknya orang sehat. Bedanya, peserta CAPD punya kantong kecil di perutnya untuk
pergantian cairan dialisat itu,” kata Direktur Medik RS PGI Cikini, Tunggul
Situmorang dalam acara peluncuran website sahabat ginjal.com yang disponsori PT
Kalbe Farma, di Jakarta, belum lama ini.
Pengalaman Karyono (45), karyawan swasta yang telah menjalani terapi CAPD
selama tiga tahun ini agaknya bisa jadi pelajaran. Karyono mengaku, kualitas
hidupnya makin membaik setelah ikut terapi CAPD. Selain itu, ia bisa kembali
bekerja dan sama produktifnya seperti sebelum sakit.
“Awalnya saya ragu, karena banyak informasi negatif yang saya dengar soal CAPD.
Tetapi karena atasan terus mendesak, akhirnya saya beranikan untuk menjadi peserta
CAPD. Bahkan, saudara-saudara saya heran karena raut muka dan badan saya yang
terlihat lebih segar. Dan yang terpenting saya sudah bisa tidur enak, sebelumnya saya
selalu merasa lemas, letih, gelisah,” katanya mengungkapkan.
Belum Memasyarakat
Dr Tunggul menjelaskan, terapi dengan menggunakan pergantian cairan dialisat ini
sebenarnya telah masuk ke Indonesia sejak 2004 lalu, namun tidak banyak diketahui
masyarakat. Melihat manfaat CAPD yang begitu besar, pihaknya tergugah untuk terus
mensosialisasikan CAPD kepada masyarakat luas di Indonesia sebagai salah satu
alternatif penanganan bagi penderita gagal ginjal.
Selama ini dikenal dua metode dalam penanganan gagal ginjal. Pertama, transplantasi
ginjal dan kedua, dialisis atau cuci darah. Sebenarnya metode pertama memiliki lebih
banyak keunggulan karena dapat menggantikan fungsi ginjal yang rusak. “Hanya saja
masalahnya, masih sedikit donor yang mau memberikan organ tubuhnya. Selain itu

3

jarang sekali ditemukan donor yang cocok dengan penderita gagal ginjal, sehingga
tingkat keberhasilannya sangat kecil. Selain itu, biayanya sangat besar,” katanya.
Karena itu, penderita gagal ginjal lebih banyak melakukan terapi dialisa atau cuci
darah. Metode dialisis pada intinya adalah melakukan fungsi utama ginjal, yakni
membersihkan darah dari zat-zat yang tidak berguna pada tubuh dan menjaga
kestabilan kandungan darah di dalam tubuh.
Pembersihan ini dilakukan dengan dua cara, haemodialisis (HD) dan peritonialdialisis
(PD). Pada HD, darah yang akan dibersihkan dikeluarkan dari tubuh dan dimasukkan
ke ginjal buatan (dializer). Darah dibersihkan dengan menggunakan cairan pembersih
(dialisat) dalam serat-serat dializer itu. Setelah bersih, darah baru dimasukkan kembali
ke dalam tubuh.
Sedangkan pada metode PD, darah tidak dikeluarkan dari dalam tubuh. Proses
pembersihan dilakukan di dalam rongga perut (peritoneum), dengan memasukkan
cairan dialisat ke dalam rongga itu. Cairan ini dibiarkan selama empat hingga enam
jam hingga akhirnya dikeluarkan kembali.
Saat ini sudah berkembang metoda PD dengan berbagai cara seperti CAPD atau APD.
Keunggulan utama CAPD adalah kemudahannya, sehingga terapi dengan metode itu
pun lebih alami. Proses yang berlangsung terus-menerus selama 24 jam setiap harinya
itu, menjadikan hampir sama dengan proses yang berlangsung di dalam ginjal.
Sementara itu, jika melakukan cuci darah biasa secara HD, keseluruhan proses
dilakukan selama lima jam, yang berarti cairan tubuh dipaksa diperas untuk dicuci
mesin. “Akibatnya beban jantung menjadi bertambah dan menyebabkan gangguan
tekanan darah,” kata Situmorang.
Alamiah
CAPD belum banyak digunakan, padahal terapi itu memiliki kelebihan, yakni tidak
mengganggu jantung, kontaminasi dengan hepatitis lebih kecil. Fungsi ginjal yang
tersisa masih dapat dipertahankan, dan proses dialisis pun bekerja selama 24 jam
sesuai dengan kerja ginjal secara alamiah.
“Pasien juga tidak perlu datang ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah, tetapi
melakukan cuci darah secara mandiri dengan jadwal yang dapat ia buat sendiri,”
katanya.
Keuntungan CAPD adalah lebih memudahkan pengendalian kimia darah dan tekanan
darah. Cairan dialisat dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi dan bagi penderita
diabetes dapat diberikan insulin secara intraperitorial. Sedangkan, kekurangan CAPD
adalah sering kali menimbulkan infeksi pada rongga perut. Selain itu juga
meningkatkan kadar lemak dan mengakibatkan kegemukan (obesitas), serta dapat
menimbulkan hernia, serta sakit pinggang. “Kunci utama dari terapi CAPD adalah
menjaga kebersihan lubang yang menghubungkan ginjal dalam perut dengan dunia
luar, yaitu kantong cairan dialisat. Bila terjadi infeksi di lubang tersebut, maka
biayanya sangat mahal. Karena itu, saya selalu mengingatkan pada pasien untuk
menjaga kebersihan. Bahkan, kami memberi pelatihan selama tiga hari khusus untuk
menjaga agar lubang tetap bersih,” katanya.
Tentang jumlah pasien CAPD di seluruh Indonesia , dr Tunggul mengaku tidak tahu
pasti. Namun, pasien CAPD di RS PGI Cikini sudah ratusan orang. Sementara di
dunia, ada diperkirakan 120.000 penderita gagal ginjal menggunakan terapi CAPD.
Ditanya faktor penyebab utama terjadinya gagal ginjal, dr Tunggul mengatakan,
penyebab utama adalah hipertensi (darah tinggi) dan diabetes atau kencing manis.
Gangguan fungsi ginjal bisa terjadi perlahan-lahan atau mendadak, bahkan tidak
disadari oleh penderita karena tubuh tidak menunjukkan gejala seperti orang sakit.
Namun, tiba-tiba dokter mendiagnosa Anda terkena gagal ginjal.

4

Jika seseorang memperhatikan gejala yang umum menyertai penderita gagal ginjal,
kata dr Tunggul, penyakit tersebut bisa diminimalisir sedini mungkin. Adapun
beberapa tanda fisik yang harus diwaspadai seperti tubuh bengkak yang diawali dari
kedua kaki, kulit terlihat kasar. Penderitanya mengalami gangguan pengecapan, mual,
muntah, tidak nafsu makan, lesu, gangguan tidur dan juga sering gatal. Tanda lainnya,
sering kram, vena di leher melebar dan ada cairan di selaput jantung dan paru.
“Bila mendapati satu saja dari gejala itu, sudah waktunya untuk waspada. Untuk itu,
segera ke rumah sakit untuk chek-up untuk membuktikan kebenarannya. Kalau kita
lihat hasil laboratorium, penderita gagal ginjal ini punya peningkatan asam urat,
kalsium, fosfor dan kalium. Hati-hati kalau kaliumnya meningkat, karena
memperbesar risiko penyakit jantung,” kata dr Tunggul menandaskan.
atau
Kurang minum air putih ternyata dapat mengganggu fungsi ginjal. Gangguan ginjal
dalam tahap ringan masih dapat diatasi dengan minum banyak air putih. Namun,
kalau sudah gagal ginjal, hanya bisa diatasi dengan cuci darah atau cangkok ginjal
yang biayanya sangat mahal.
Meskipun ukurannya kecil, organ ginjal bersifat sangat vital. Ginjal berfungsi untuk
menjaga keseimbangan serta mengatur konsentrasi dan komposisi cairan di dalam
tubuh. Ginjal juga berfungsi untuk membersihkan darah dan berbagai zat hasil
metabolisme serta racun di dalam tubuh. Sampah dari dalam tubuh tersebut akan
diubah menjadi air seni (urin). Air seni diproduksi terus menerus di ginjal, lalu
dialirkan melalui saluran kemih ke kandung kemih. Bila cukup banyak urin di dalam
kandung kemih, maka akan timbul rangsangan untuk buang air kecil. Jumlah urin
yang dikeluarkan setiap hari sekitar 1-2 liter. Selain itu, ginjal juga berperan untuk
mempertahankan volume dan tekanan darah, mengatur kalsium pada tulang, mengatur
produksi sel darah merah, dan menghasilkan hormon seperti erythropoetin, renin, dan
vitamin D.
Kelainan ginjal dapat terjadi akibat adanya kelainan pada ginjal (penyakit ginjal
primer) atau komplikasi penyakit sistematik (penyakit ginjal sekunder), seperti
kencing manis (diabetes). Kelainan ringan pada ginjal dapat sembuh sempurna bila
penyebabnya sudah diatasi. Kadang cukup dengan pengobatan dan pengaturan diet.
Namun, bila keadaannya memburuk, kelainan itu bisa menjadi gagal ginjal yang akut.
Perlu diketahui, kasus gagal ginjal di dunia meningkat lebih dari 50%. Di Indonesia
sendiri sudah mencapai sekitar 20%. Di Amerika Serikat saja, negara yang sangat
maju dan tingkat gizinya tinggi, setiap tahunnya ada sekitar 20 juta orang dewasa
menderita penyakit kronik ginjal.
Gagal ginjal adalah keadaan dimana kedua ginjal tidak mampu menjalankan
fungsinya. Penderita biasanya baru merasakan kelainan pada dirinya jika fungsi ginjal
menurun sekitar 25%. Bahkan, untuk penderita yang masih muda bisa di bawah 10%.
Tidak heran bila umumnya pasien baru ke dokter bila sudah berada dalam tahap
terminal.
Sekitar 40% gangguan diabetes menjadi penyebab gagal ginjal. Namun, orang yang
diyakini mempunyai gejala sakit

AAAAAAAAAAAAAAAA

Kalbe.co.id - Sampai saat ini, pasien gagal ginjal dapat diatasi dengan tindakan
hemodialisa, CAPD, ataupun cangkok ginjal. Diantara 3 tindakan tersebut, CAPD
(Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis) saat ini menjadi bahan perbincangan para

5

nefrolog Asia termasuk di Indonesia. Hal ini dikatakan Dr. Ginova Nainggolan, SpPD
KGH dalam acara pre-congress Nephrology, Kamis 24 November 2005 di Bali.

Dalam acara workshop ini, dibahas mengenai CAPD. Hadir sebagai pembicara Prof.
DR.Dr. Moch. Sja'bani, SppD KGH MSc, Dr. Tunggul D Situmorang SppD KGH dan
Prof. DR.Dr. Endang Susalit, SpPD KGH, Dr. Tommy Halauet, SpB.

Dr. Tunggul mengatakan, CAPD sangat membantu bagi pasien gagal ginjal yang
harus menjalankan tindakan cuci darah. Keuntungan dari CAPD menurut beliau
adalah pasien tidak perlu menggunakan mesin saat melakukan dialisis, dapat
digunakan sendiri di rumah, kondisi fisik lebih baik, dapat melakukan olahraga seperti
biasa dan pembatasan makanan yang tidak seketat pada tindakan hemodialisa.

CAPD mulai digunakan di Indonesia sejak 1984, dan menurut Prof. Sja'bani saat ini
penderita gagal ginjal di Indonesia sudah cukup banyak dan terbanyak dialami oleh
pasien-pasien kelas III. Untuk mengatasi biaya yang harus ditanggung oleh pasien
yang tidak mampu, tindakan CAPD ini dapat ditanggung biayanya oleh pemerintah
melalui PT ASKES, khususnya bagi GAKIN.

Di depan sekitar 150 peserta, Dr. Ita Wijayanti dari Kalbe Farma sebagai pembicara
menjelaskan tentang penggunaan dan fungsi dari alat yang dipakai dalam tindakan
CAPD. Tak ketinggalan pula dibahas keunggulan dari alat yang digunakan untuk
CAPD yang diproduksi oleh Baxter - Kalbe, antara lain dapat memperkecil terjadinya
sepsis atau peritonitis.

Kabar Gembira

Ada kabar gembira bagi pengguna maupun calon pengguna CAPD Baxter - Kalbe
Farma, khususnya peserta ASKES:

1.Paket awalnya free (yang ini, memang sejak dahulu juga free)
2.Free untuk Paket Rutin 90 (kalau dulu, peserta harus menombok Rp. 600.000)
3.Tambahan hanya Rp. 1.033.000 untuk Paket Rutin 120 (terjadi penurunan dari
Rp. 1.600.000)

Ketentuan di atas mulai berlaku pada Oktober 2005.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

T : Selain Kacamata, Alat kesehatan apalagi yang ditanggung oleh Askes?

J : Alat kesehatan yang diberikan kepada Peserta antara lain:

•Gigi Tiruan (1 kali/2tahun)
•Alat bantu dengar (1 kali/2tahun)
•Kaki/tangan tiruan

6

•IOL (Lensa tanam di mata)
•Pen & Screw (Alat Penyambung Tulang), 1kali/5 tahun
•Mesh (Alat yang dipasang setelah operasi Hernia
•Alat bantu hidrosephalus/VP Shunt
•Protesa Mandibula
•Vitrektomi set
•Penyangga leher/Collar Neck
•Jakat penyangga patah tulang belakang/corset
•Anus buatan/colostomi/Pesarium/DJ Stent
•Double Lumen Kateter untuk CAPD
•Triple Lumen Kateter untuk CAPD
•Vaskuler Graf
•Tulang/Sendi tiruan
•Colon set

T : Mengapa saya harus ke Puskemas dulu sebelum ke Rumah Sakit?

J : PT Askes (Persero) merupakan asuransi kesehatan yang bersifat sosial. Dalam
mengelola jaminan kesehatan, Askes menggunakan beberapa prinsip managed care
(kendali mutu, kendali biaya) yang salah satunya adalah sistem pelayanan berjenjang.
Sistem pelayanan berjenjang ini bertujuan untuk mengontrol biaya pelayanan
kesehatan dan mengoptimalkan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada Peserta.

Peserta berobat ke pelayanan tingkat pertama (Puskesmas atau Dokter Keluarga)
untuk kasus-kasus penyakit sederhana. Kasus penyakit ini bisa ditangani oleh Dokter
Umum. Penanganan penyakit seperti ini di Dokter Spesialis sangat tidak efisien.
Apabila Dokter Umum tidak bisa mengobati maka Pasien akan dirujuk ke Rumah
Sakit untuk mendapat pelayanan kesehatan lanjutan. Untuk kasus gawat darurat tentu
saja Peserta dapat langsung datang ke Rumah Sakit.

Apabila semua Peserta langsung berobat ke Rumah Sakit tentunya biayanya sangat
besar, biaya kesehatan yang besar ini tentunya tidak mampu ditanggung oleh PT
Askes (Persero) sehingga jaminan kesehatan Askes tidak mampu bertahan lama.
Disisi lain penumpukan pasien di Rumah Sakit untuk kasus-kasus yang bisa ditangani
oleh Dokter umum akan mengakibatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit tidak
optimal.

T : Berapa biaya pelayanan kesehatan yang ditanggung oleh Askes?

J : Biaya pelayanan kesehatan yang ditanggung oleh PT Askes (Persero) adalah sesuai
dengan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) tentang Tarif Askes. Tarif
Permenkes ini dibuat oleh Kementerian Kesehatan atas usulan Rumah Sakit,

7

Perkumpulan Profesi Kedokteran dan PT Askes (Persero). Besaran Tarif Askes adalah
sama untuk semua Rumah Sakit yang bekerjasama dengan Askes, pembedaan hanya
pada tipe Rumah Sakit. Dalam pelaksanaannya PT Askes (Persero) akan melakukan
negosiasi dengan masing-masing Rumah Sakit mengenai besaran urun biaya yang
menjadi beban Peserta. Besaran urun biaya tidak sama antara satu Rumah Sakit
dengan Rumah Sakit lainnya karena tergantung dari hasil negosiasi. Untuk tahun 2011
urun biaya yang menjadi beban Peserta pada Rumah Sakit Pemerintah sangat minimal
atau tidak ada. Sedangkan untuk Rumah sakit swasta masih ada urun biaya yang
menjadi beban Peserta. Besarannya sangat bervariasi. Untuk memperoleh informasi
iur biaya Peserta dapat menghubungi Askes Center di Rumah Sakit tempat
Peserta dilayani.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Terapi CAPD: Alternatif Bagi Gagal Ginjal

author : Olivia Lewi Pramesti
Tuesday, 15 March 2011 - 07:12 pm

Anda divonis gagal ginjal?Tak mau repot dengan urusan cuci darah di rumah
sakit? Kalau begitu Anda perlu mencoba terapi pengganti ginjal CAPD atau
Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (Dialisis Peritoneal/cuci darah lewat
perut).

8

Terapi ini memang tidak populer di Indonesia, tenggelam oleh terapi hemodialisis
(cuci darah di rumah sakit) dan transplantasi. Padahal di Thailand,CAPD justru
dianjurkan untuk pasien gagal ginjal.

Direktur RS PGI Cikini, dr.Tunggul D. Situmorang,Sp.P.D,.KGH, di Jakarta (10/3),
menyatakan bahwa ada banyak keuntungan yang diperoleh dari terapi ini. Antara lain,
zat racun aktif dikeluarkan tubuh karena dilakukan 24 jam penuh, kadar hemoglobin
lebih tinggi sehingga meningkatkan kualitas hidup, resiko terkena penyakit hepatitis
kecil, dapat dilakukan sendiri oleh pasien, dan pasien pun dapat mengerjakan
aktivitasnya tanpa terganggu.

CAPD dilakukan mandiri oleh pasien sebanyak 3 - 4 kali per hari dengan cara
memasang sebuah kateter di perut. Kateter tersebut berfungsi untuk mengeluarkan
cairan dan racun dari dalam tubuh. Tiap kali CAPD diperlukan waktu 30 menit.

Dr. Tunggul melanjutkan, karena dilakukan sendiri oleh pasien, maka diperlukan
kedisplinan dari pasien. Kedisiplinan ini seperti cuci tangan sebelum memasang
sistem CAPD, menggunakan masker untuk menutup mulut, serta menjaga kebersihan
lingkungan ruangan.

"CAPD ini cenderung sedikit kontradiksinya.Infeksi bisa timbul jika pasien tidak
mematuhi aturan kebersihan pemasangan. Jangan khawatir tentang terapi ini, karena
sebelumnya pasien akan dilatih hingga benar-benar bisa," kata Tunggul.

Terapi CAPD bisa dilakukan pada semua penderita gagal ginjal dengan tingkat kronis
yang berbeda-beda. Hanya saja, bagi pasien yang usai menjalani pembedahan di
daerah perut dan yang mengalami gangguan di bagian kulit perut tidak dianjurkan
menggunakan terapi ini karena bisa infeksi.

Dibandingkan dengan terapi lain, CAPD relatif lebih murah. Apalagi kalau pasien
tidak memiliki Askes. Untuk non-Askes, biaya awal Rp 2,3 juta dan per bulannya Rp
5 - 6 juta. Akan tetapi kalau memegang kartu Askes, biaya awal gratis sedangkan per
bulannya Rp 1 juta. Bandingkan dengan transplantasi yang memerlukan biaya awal
Rp 200 juta - Rp 500 juta, sedangkan per bulannya harus keluar Rp 6 juta - Rp 7 juta.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAA

CAPD

This entry was posted on 31 May 2012, in Bebas. Bookmark the permalink. 2
Comments

Sekedar sharing pengalaman. Kebetulan ibu kami, usianya sekitar 60an tahun divonis
oleh dokter terkena penyakit gagal ginjal. Karena penyakit tersebut ibu harus
menjalani cuci darah 2x seminggu. Cuci darah tersebut harus dilakukan di Rumah
Sakit yang jaraknya lumayan jauh dari rumah (1,5 Jam Perjalanan, maklum rumah
kami di desa) sehingga seringkali setelah menjalani cuci darah di RS ibu justru
tambah down, karena terlalu capek di jalan.

9

Beberapa minggu menjalaninya, seorang dokter menawarkan untuk menggunakan
alternatif cuci darah mandiri yang dinamakan CAPD (Continuous Ambulatory
Peritoneal Dialysis). Dengan teknologi ini, seorang pasien dapat melakukan cuci
darah, dimanapun dan kapanpun. Tanpa harus bergantung pada mesin hemodialisis.
Selain itu terapi CAPD juga tergolong lebih alamiah. Jika dibandingkan dengan
hemodialisis, dari segi medik, terapi ini lebih bisa mempertahankan fungsi ginjal yang
masih ada.

Untuk bisa menjalani terapi CAPD, awalnya pasien harus menjalani operasi untuk
memasang selang permanen ke dalam perutnya. Selang inilah yang akan menjadi
sarana keluar masuknya cairan pembersih dalam tubuh. Setelah selang terpasang,
barulah pasien bisa menjalani proses treatmen CAPD yang dilakukan sebanyak 4 kali
dalam sehari. Proses treatment CAPD diawali dengan mengeluarkan cairan kotor yang
berasal dari racun-racun dalam darah. Setelah seluruh cairan kotor dikeluarkan, lalu
cairan pembersih yang baru dimasukkan ke dalam tubuh. Cairan pembersih ini
berfungsi untuk menyedot racun yang ada dalam darah.

Dari segi biaya, uang yang harus dikeluarkan untuk proses CAPD tak jauh berbeda
dengan hemodialisis yang menggunakan mesin pencuci darah, yaitu berkisar antara
Rp7 juta – Rp8 juta per-bulan. Bahkan ibu kami karena menggunakan ASKES semua
biaya digratiskan. Alhamdulillah sudah 2 tahun ini ibu sehat dan bisa beraktifitas.
Makan lebih enak dengan sedikit sekali pantangan. Jika ada saudara atau kerabat anda
terkena penyakit serupa maka metode CAPD ini bisa dicoba. Sekian, Semoga
Bermanfaat.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

10

Ceria Bersama Klub Sayang Ginjal

author : Olivia Lewi Pramesti
Friday, 11 March 2011 - 05:14 pm

"Rasanya sudah mau kiamat saja ketika saya divonis gagal ginjal.Namun sejak saya
ikut IKCC,saya malah lebih semangat menjalani hidup ini," kata I Ketut Nesa
Sumarbwa (45), seorang pasien gagal ginjal.

IKCC (Indonesian Kidney Care Club) atau Klub Sayang Ginjal inilah salah satu
komunitas tempat I Ketut saat ini berbagi keluh kesahnya tentang penyakit gagal
ginjal yang sudah dialami selama 15 tahun. Dirinya mengaku, tiga tahun terakhir ini
hidupnya lebih tenang dan pasrah dengan keadaan. Awalnya hanyalah ketakutan yang
melanda dan berefek emosinya yang terus meningkat. Kata istrinya pula, Ni Luh,
suaminya sempat berubah sifat menjadi kasar dan main tangan.

Organisasi yang berdiri pada tanggal 5 Mei 2004 ini memang khusus mewadahi
masyarakat Indonesia yang peduli kesehatan ginjal. Hingga saat ini anggotanya sudah
mencapai 300 orang. Humas IKCC, Dian Ekawati mengatakan, "Organisasi ini
memberikan informasi dan edukasi mengenai ginjal serta menciptakan kondisi
psikologis yang nyaman bagi sesama penderita."

Misi klub ini adalah ingin meningkatkan kualitas hidup penderita ginjal. IKCC akan
membantu melakukan ekplorasi informasi obat baru untuk penderita.

Bentuk kegiatan yang dilakukan IKCC diantaranya menyelenggarakan seminar yang
berhubungan dengan ginjal (gaya hidup, pengembangan motivasi, tips dan pola
makan, dll.), memberi fasilitas obat-obatan yang berhubungan dengan penyakit ginjal,
memberikan arahan bagi penderita,serta memberikan konsultasi yang berhubungan
dengan ginjal.

11

Tak hanya itu saja, anggotanya pun diajak aktif untuk mengembangkan kreativitas
mereka seperti lomba memasak, menyusun menu ramah ginjal, lomba menulis, dan
lainnya. Kegiatan yang dilakukan pun turut melibatkan keluarga pasien. Jangan
khawatir bila Anda ingin bergabung dalam klub ini. IKCC terbuka untuk umum dan
lembaga ini nirlaba. "Terlebih lagi, klub ini sangat melindungi kepentingan penderita
gagal ginjal," kata Dian Ekawati di Jakarta (10/3).

Spesialis Penyakit Dalam RSU Cikini, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.P.D.-KGH
menambahkan bahwa penyakit ginjal perlu dicegah sedini mungkin dengan edukasi
kepada masyarakat. Proses edukasi ini dapat dilakukan lewat komunitas. "Di negara
berkembang, pemahaman masyarakat tentang penyakit ginjal masih minim.Banyak
yang tidak mengetahui bahwa penyakit ini bisa disebabkan oleh diabetes (35%) dan
hipertensi (25%). Akibatnya kualitas hidup pasien ginjal tidak bertahan lama,"
ungkapnya.

Untuk pencegahan penyakit ginjal, seseorang mesti rutin memeriksakan urinenya.
Bila urine mengandung protein, maka perlu diwaspadai penyakit ginjal segera
datang.Tak hanya itu, gaya hidup sehat seperti olahraga teratur dan tidak merokok
menjadi cara mencegah penyakit ini.

Bila tertarik mengikuti klub ini, Anda bisa membuka website mereka di
www.ikcc.or.id atau facebook IKCC.

Indonesian Kidney Care Club

Sekretariat: Gedung Ziebart Lt.2 Jl. Let. Jend. Suprapto Kav. 5 Cempaka Putih,
Jakarta-10510
Tlp. 021-4214758
Fax. 021-4269734

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
http://bangqory.blogspot.com/

SINOPSIS

Gagal Cinta Pertama tak Separah Gagal Ginjal

Di tengah perjalanan hidupnya sebagai seorang guru di sebuah SMP di
Banyuresmi, kabupaten Garut, penulis yang dikenal rajin, penuh dedikasi, periang,
sangat mencintai keluarga dan kuat mempertahankan aqidahnya, tiba-tiba penyakit
yang dikenal dengan nama Gagal Ginjal Terminal atau Gagal Ginjal Kronik. Penyakit
ini sangat ditakuti, karena belum ada obatnya. untuk mempertahankan hidup
penderitanya harus dilakukan terapi ginjal pengganti berupa cuci darah(hemodialisis)
atau cangkok ginjal.

Kisah ini, benar-benar menceritakan autobiografi penulis dengan gamlang, sesuai
dengan kejadian yang dialami penulis saat divonis mengalami gagal ginjal kronik,
tentang penderitaannya, pencarian obat alternatif, pahit-getirnya menjalani cuci darah,
keikhlasannya menerima cobaan, kecintaannya pada keluarga, semangatnya untuk
terus bisa bertahan hidup, sampai Alloh memberikan jalan keluar,"Ginjal Cadangan"
berupa CAPD.

12

CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) atau Peritoneal Dialisis
Mandiri Berkesinambungan adalah pergantian cairan yang dimasukkan ke dalam
perut seberat 2 kg, dilakukan secara rutin dan kontinu sebanyak 3-4 kali setiap hari,
sebagai pengganti ginjal yang sudah rusak dan tidak berfrungsi.
Karena keyakinannya atas cinta, kasih sayang dan pertolongan Alloh Swt semata,
yang pada akhirnya menyelamatkan penulis untuk terus hidup dan semangat
mempertahankan aqidah dari kemusyrikan dan mencari kesembuhan sampai
menemukan sahabat setianya berupa CAPD. Penulis yakin dengan haqqul yakin,
bahwa Allohlah sebagai penolong jiwanya dan hidupnya bertujuan hanya untuk
mencari ridho Alloh Swt semata. Amiiiin!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->