PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: 14 TAHUN 2009

TENTANG JABATAN FUNGSIONAL WIDYAISWARA DAN ANGKA KREDITNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA,

Menimbang

: a.

bahwa Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/66/M.PAN/6/2005 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/22/M.PAN/4/2006 tidak sesuai lagi dengan perkembangan profesi dan tuntutan kompetensi; bahwa sehubungan dengan hal tersebut, dipandang perlu mengatur kembali Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya; Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokokpokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

b.

Mengingat

: 1.

1

2.

Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966 tentang Pemberhentian/Pemberhentian Sementara Pegawai Negeri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2797); Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3093); Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3176); Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547); Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4015), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4332); Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4016), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4192);

3.

4.

5.

6.

7.

2

8.

Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 196, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4017), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4193); Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 198, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4019);

9.

10. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4263); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 12. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil; 13. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, sebagaimana telah enam kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2005; 14. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah empat kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2008;

3

4. tanggung jawab. yang diduduki oleh PNS dengan hak dan kewajiban yang diberikan secara penuh oleh pejabat yang berwenang. dan wewenang untuk mendidik. dan wewenang mendidik. Kesekretariatan Lembaga Negara. dan Perangkat Daerah yang bertugas melakukan pengelolaan Diklat dan pengembangan SDM. Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup. . Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang selanjutnya disebut Diklat PNS adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan PNS. 4 2.Memperhatikan: 1. mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah. Lembaga Diklat Pemerintah adalah satuan unit organisasi pada Kementerian. mengajar dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Lembaga Diklat Pemerintah.134-1/93 tanggal 22 Juli 2009. Non Kementerian. Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan adalah Diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural.26-30/V. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. tugas. 5. Usul Kepala Lembaga Administrasi Negara dengan surat Nomor 18/Kep/III/2009 tanggal 23 Maret 2009. tanggung jawab. Pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara dengan surat Nomor K. Menetapkan: PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA TENTANG JABATAN FUNGSIONAL WIDYAISWARA DAN ANGKA KREDITNYA. 3. Jabatan Fungsional Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup. tugas. MEMUTUSKAN: 2.

9. yang terdiri atas kompetensi pengelolaan pembelajaran. 8.6. 11. dan kompetensi jabatan fungsional jenjang utama. Eselon II. dan kompetensi jabatan fungsional jenjang muda atau yang setara. Pendidikan dan Pelatihan tingkat menengah adalah Diklat bagi PNS untuk mencapai persyaratan kompetensi jabatan struktural Eselon III. mengajar. dan kompetensi jabatan fungsional jenjang madya. kompetensi kepribadian. Pendidikan dan Pelatihan tingkat tinggi adalah Diklat bagi PNS untuk mencapai persyaratan kompetensi jabatan struktural Eselon I. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional adalah Diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi jabatan fungsional yang sesuai dengan jenis dan jenjang jabatan masing-masing. 12. Spesialisasi Widyaiswara adalah keahlian yang dimiliki oleh Widyaiswara yang didasarkan pada rumpun keilmuan tertentu sesuai latar belakang pendidikan dan/atau pengalaman kerjanya. Diklat Fungsional jenjang Tingkat Utama. 10. Diklat Fungsional jenjang Tingkat Muda. Standar kompetensi Widyaiswara adalah kemampuan minimal yang secara umum dimiliki oleh Widyaiswara dalam melaksanakan tugas. tanggung jawab dan wewenangnya untuk mendidik. dan Diklat Teknis lainnya yang setara. Diklat Fungsional jenjang Tingkat Madya. dan Diklat Teknis lainnya yang setara. 7. yang terdiri dari Diklat Kepemimpinan Tingkat I dan Tingkat II. yang terdiri dari Diklat Kepemimpinan Tingkat III. dan kompetensi substantif. Pendidikan dan Pelatihan Teknis adalah Diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas PNS. 5 . dan Diklat Teknis lainnya yang setara. Pendidikan dan Pelatihan tingkat lanjutan adalah Diklat bagi PNS untuk mencapai persyaratan kompetensi jabatan struktural Eselon IV. yang terdiri dari Diklat Kepemimpinan Tingkat IV. kompetensi sosial. dan/atau melatih PNS.

14. dan Diklat bagi PNS untuk mencapai persyaratan kompetensi jabatan fungsional yang terdiri dari Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional dan Diklat Teknis lainnya yang setara. Widyaiswara dalam melaksanakan tugasnya. 6 (2) (3) (1) (2) . DAN TUGAS POKOK Pasal 2 Jabatan Fungsional Widyaiswara termasuk dalam rumpun pendidikan lainnya. 15. Widyaiswara harus mendapatkan penugasan secara tertulis dari Pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah yang bersangkutan. Pasal 4 Tugas pokok Widyaiswara adalah mendidik. dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah masing-masing.13. merupakan jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh PNS. mengajar. Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan bertugas menilai prestasi kerja Widyaiswara. Tim penilai angka kredit adalah tim penilai yang dibentuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. BAB II RUMPUN JABATAN. (1) Pasal 3 Widyaiswara berkedudukan sebagai pejabat fungsional di bidang kediklatan pada Lembaga Diklat Pemerintah. KEDUDUKAN. bertanggung jawab kepada Pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah yang bersangkutan. Pendidikan dan Pelatihan tingkat dasar adalah Diklat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk mencapai persyaratan kompetensi PNS yaitu Diklat Prajabatan. Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh Widyaiswara dalam rangka pembinaan karier jabatan dan kepangkatannya.

melakukan evaluasi dan penempatan Jabatan dan memfasilitasi Diklat Fungsional Widyaiswara dan Diklat Teknis bagi Fungsional Widyaiswara. c. f. 7 . menyusun kurikulum Diklat Jabatan Fungsional Widyaiswara. d. e. menetapkan pedoman sertifikasi Jabatan Fungsional Widyaiswara. BAB III INSTANSI PEMBINA DAN TUGAS INSTANSI PEMBINA Pasal 5 (1) Instansi Pembina Jabatan Fungsional Widyaiswara adalah Lembaga Administrasi Negara (LAN). h. b. menetapkan pedoman formasi Jabatan Fungsional Widyaiswara.(3) Widyaiswara yang melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada Lembaga Diklat Pemerintah di luar instansinya. (2) Lembaga Administrasi Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melakukan tugas pembinaan antara lain meliputi: a. menetapkan standar kompetensi Jabatan Fungsional Widyaiswara. harus mendapat surat penugasan dari Pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah masing-masing. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Widyaiswara. menyelenggarakan Widyaiswara. g. menyelenggarakan dan memfasilitasi seleksi dan pengembangan Jabatan Fungsional Widyaiswara.

pemeriksaan ujian Diklat sesuai spesialisasinya. terdiri dari: 1. Pendidikan. Pengembangan dan Pelaksanaan Diklat. pelaksanaan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya. 7. penyusunan bahan Diklat sesuai spesialisasinya. pembimbingan peserta Diklat pada Diklat Struktural sesuai spesialisasinya. Diklat dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP)/sertifikat. pengevaluasian program Diklat. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik Widyaiswara. BAB IV UNSUR DAN SUB UNSUR KEGIATAN Pasal 6 (1) Unsur dan sub unsur kegiatan Widyaiswara yang dinilai angka kreditnya. dan 2. penganalisisan kebutuhan Diklat. mengembangkan sistem informasi Jabatan Fungsional Widyaiswara. 8 . 5. mensosialisasikan Jabatan Fungsional Widyaiswara serta petunjuk pelaksanaannya. 4. pengelolaan program Diklat di instansinya. Pendidikan sekolah yang terakreditasi memperoleh ijazah/gelar kesarjanaan. j. k. 2. terdiri atas: a. penyusunan kurikulum Diklat. dan 3. dan l. dan 8. dan memperoleh b.i. 6. terdiri dari: 1. Diklat Prajabatan STTPP/sertifikat. 3. menyelenggarakan dan memfasilitasi proses sertifikasi Jabatan Fungsional Widyaiswara.

perolehan piagam kehormatan/tanda jasa. meliputi: 1. 9 yang . Penilai Jabatan 4. keanggotaan dalam Tim Fungsional Widyaiswara. c. peran serta dalam seminar/lokakarya dalam rangka pengembangan wawasan/kompetensi Widyaiswara. b. Widyaiswara Madya. pembuatan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang terkait lingkup kediklatan dan/atau pengembangan spesialisasinya. 6. pembuatan peraturan/panduan kediklatan. (2) Unsur dan sub unsur kegiatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rincian angka kreditnya adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. keanggotaan dalam organisasi profesi. d.c. 2. 5. 3. perolehan gelar kesarjanaan yang tidak sesuai spesialisasinya. d. penerjemahan/penyaduran buku dan bahan ilmiah lainnya selain buku yang terkait lingkup kediklatan dan/atau pengembangan spesialisasinya. terdiri dari: 1. Penunjang. BAB V JENJANG JABATAN DAN PANGKAT Pasal 7 (1) Jenjang Jabatan Fungsional Widyaiswara dari terendah sampai dengan yang tertinggi. pelaksanaan orasi ilmiah sesuai spesialisasinya. yaitu: a. pembimbingan kepada Widyaiswara jenjang di bawahnya. Pengembangan Profesi. Widyaiswara Utama. Widyaiswara Muda. dan dalam lingkup 4. Widyaiswara Pertama. 2. 3.

golongan ruang IV/d. Widyaiswara Pertama: 1. golongan ruang IV/e. Widyaiswara Madya: 1. sesuai dengan jenjang jabatannya. Penata Muda. 2. Penetapan jenjang jabatan Widyaiswara untuk pengangkatan dalam jabatan ditetapkan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki setelah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit. Widyaiswara Muda: 1. Penata Tingkat I. 2. b. 2. golongan ruang III/b. Pembina Tingkat I. (4) 10 . Penata Muda Tingkat I. yaitu: a. golongan ruang III/c. c. golongan ruang III/a. Penata. golongan ruang IV/c. Pembina Utama. Pembina Utama Madya. Widyaiswara Utama: 1. 3. 2. sehingga dimungkinkan jabatan dan pangkat tidak sesuai dengan jabatan dan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pembina Utama Muda. (3) Jenjang pangkat untuk masing-masing jabatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah jenjang pangkat dan jabatan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki masing-masing jenjang jabatan sebagaimana tersebut dalam Lampiran II. d.(2) Jenjang pangkat Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). golongan ruang IV/b. Pembina. golongan ruang IV/a. golongan ruang III/d.

6. menyusun kurikulum Diklatpim Tingkat IV. menyusun kurikulum Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. Widyaiswara Pertama. adalah sebagai berikut: a. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. menyusun kurikulum Diklatpim Tingkat III. 14. 9. menyusun kurikulum Diklat Teknis. 5. 12. menyusun kurikulum Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. 10. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis.BAB VI RINCIAN KEGIATAN DAN UNSUR YANG DINILAI Pasal 8 (1) Rincian kegiatan Widyaiswara sesuai jenjang jabatan. 2. 7. 8. 13. menyusun kurikulum Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Menengah. 3. 11. yaitu: 1. menyusun Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/ Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP) sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 11 . menyusun kurikulum Diklat Prajabatan Golongan III. 4. menyusun kurikulum Diklat Prajabatan Golongan I dan II. menyusun kurikulum Diklat Fungsional PenjenjanganTingkat Lanjutan. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan golongan I dan II. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan golongan III.

menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. menyusun Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/ Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP) sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. 18. 23. 25. 26. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan III. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 17. menyusun Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/ Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP) sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan III. 24. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/ Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP) sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 16. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II.15. 12 . 21. 19. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. 20. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 22. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan III.

melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 31. 41. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Prajabatan Golongan III. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. 35. 13 sesuai . 30. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Teknis. 34. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan III. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis.27. 28. 33. 29. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan III. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 32. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 38. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Prajabatan Golongan III. 36. 42. 39. 37. 40. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklat Teknis. mengelola program Diklat di instansinya.

menyusun kurikulum Diklat pada Pembentukan Jabatan Fungsional. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Menengah. 14 . menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Teknis. yaitu: 1. 4. Widyaiswara Muda. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Prajabatan Golongan I dan II. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. menyusun Tingkat IV. menyusun Tingkat II. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. menyusun Tingkat III. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Dasar. 3. 18. 16. 5. melaksanakan analisis kebutuhan Diklat. 10. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Dikat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. 15.b. 2. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Dikat Teknis. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. 9. kurikulum kurikulum kurikulum Diklat Diklat Diklat pada pada pada Diklatpim Diklatpim Diklatpim Diklat 7. 14. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Prajabatan Golongan III. 13. 11. 6. 8. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. 12. 17.

menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. 15 . 21. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 20. 33. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. 28. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. 24. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. 25.19. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. 27. 30. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 29. 22. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. 26. 32. 31. 34. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. 23.

45. membimbing peserta Diklat dalam penulisan Kertas Kerja (KK) pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat IV. melaksanakan evaluasi Diklatpim Tingkat IV. sesuai 41. program Diklat pada 46. menjadi moderator/narasumber seminar/lokakarya/diskusi dalam kelas Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. membimbing peserta Diklat dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL)/Observasi Lapangan (OL) pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklat Teknis. 39. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. sesuai 38. pada pada 44.35. 40. 43. 37. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. mengelola program Diklat di instansinya sebagai anggota. 36. 47. 48. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Teknis. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. 16 . 42.

10. menyusun kurikulum Diklat Penjenjangan Tingkat Tinggi. 17. menyusun kurikulum Diklat Penjenjangan Tingkat Lanjutan. 3. 13. menyusun kurikulum Diklatpim Tingkat II. 17 . Widyaiswara Madya. 4. 6.c. menyusun kurikulum Diklatpim Tingkat IV. 7. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun kurikulum Diklatpim Tingkat I. 20. 19. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. 18. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. Fungsional Fungsional Fungsional Fungsional 14. menyusun kurikulum Diklat Prajabatan Golongan I dan II. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun kurikulum Diklatpim Tingkat III. melaksanakan analisis kebutuhan Diklat. menyusun kurikulum Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional. 11. menyusun kurikulum Diklat Prajabatan Golongan III. menyusun kurikulum Diklat Penjenjangan Tingkat Dasar. 5. menyusun kurikulum Diklat Teknis. 16. 2. menyusun kurikulum Diklat Penjenjangan Tingkat menengah. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. 8. yaitu: 1. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. 15. 12. 9.

membimbing peserta Diklat dalam penulisan KK pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. 36. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. 25. 23. membimbing peserta Diklat dalam PKL/OL pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. 34. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. 28. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 18 . 29. sesuai 33. 22. 32. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. 30. 31. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. 26.21. 27. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. 37. membimbing peserta Diklat dalam penulisan KK pada Diklatpim Tingkat III sesuai spesialisasinya. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat III. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklat Teknis. 24. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Tingkat Menengah. sesuai 35.

menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. menyusun Tingkat III. melaksanakan evaluasi program Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Menengah. 39. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. 7. 8.38. 2. Widyaiswara Utama. 19 . mengelola program Diklat di instansinya sebagai penanggung jawab. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Lanjutan. 3. kurikulum kurikulum kurikulum Diklat Diklat Diklat pada pada pada Diklatpim Diklatpim Diklatpim 5. 40. melaksanakan evaluasi program Diklat Teknis. 4. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Menengah. menyusun Tingkat II. menjadi moderator/narasumber pada seminar/ lokakarya/diskusi dalam kelas pada Diklatpim Tingkat III sesuai spesialisasinya. evaluasi program Diklatpim 43. melaksanakan analisis kebutuhan Diklat. 6. yaitu: 1. menyusun Tingkat I. 9. menyusun kurikulum Diklat pada Diklat Teknis. 44. menjadi moderator/narasumber pada seminar/ lokakarya/diskusi dalam kelas pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. d. 10. melaksanakan Tingkat III. membimbing peserta Diklat dalam PKL/OL pada Diklatpim Tingkat III sesuai spesialisasinya. 41. 42.

menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. 13. 20 . 18. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. 23. 16. 15. 22. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. 21. 19. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. 12. 14. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. menyusun bahan tayang sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. menyusun GBPP/RBPMD dan SAP/RP sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. 25. 17. menyusun bahan ajar sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi.11. menyusun modul Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. 24. 20.

menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 27. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Teknis. 38. 34. 21 . sesuai sesuai 35. 29. sesuai 37. memeriksa jawaban ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. membimbing peserta Diklat dalam PKL/OL pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. membimbing peserta Diklat dalam penulisan KK pada Diklatpim Tingkat II sesuai spesialisasinya. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. 36. 30. 32. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. 40. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat I. melaksanakan tatap muka di depan kelas Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklatpim Tingkat II. membimbing peserta Diklat dalam penulisan KK pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. 31. 41. 39.26. membimbing peserta Diklat dalam penulisan KK pada Diklatpim Tingkat I sesuai spesialisasinya. memeriksa jawaban ujian Diklat spesialisasinya pada Diklat Teknis. membimbing peserta Diklat dalam penulisan KK pada Diklatpim Tingkat III sesuai spesialisasinya. 28. 33. menyusun soal ujian Diklat sesuai spesialisasinya pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi.

46. 44. 49. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklatpim Tingkat I. 22 . 51. membimbing peserta Diklat dalam PKL/OL pada Diklatpim Tingkat I sesuai spesialisasinya. menjadi moderator/narasumber pada seminar/ lokakarya/diskusi dalam kelas pada Diklatpim Tingkat III sesuai spesialisasinya. menjadi moderator/narasumber pada seminar/ lokakarya/diskusi dalam kelas pada Diklatpim Tingkat IV sesuai spesialisasinya. 52. menjadi moderator/narasumber dalam kelas pada pada seminar/lokakarya/diskusi Diklatpim Tingkat II sesuai spesialisasinya. 48. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklatpim Tingkat II. 53. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Fungsional Penjenjangan Tingkat Tinggi. 50. membimbing peserta Diklat dalam PKL/OL pada Diklatpim Tingkat II sesuai spesialisasinya. (2) Widyaiswara Utama yang Pertama sampai dengan kegiatan kredit Widyaiswara sub unsur melaksanakan diberikan angka pengembangan profesi dan unsur penunjang tugas Widyaiswara sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. membimbing peserta Diklat dalam PKL/OL pada Diklatpim Tingkat III sesuai spesialisasinya. 45.42. 43. 47. mengelola program Diklat di instansinya sebagai penanggung jawab. melaksanakan evaluasi program Diklat pada Diklat Teknis. menjadi moderator/narasumber pada seminar/ lokakarya/diskusi dalam kelas pada Diklatpim Tingkat I sesuai spesialisasinya.

Widyaiswara yang melaksanakan kegiatan satu tingkat di bawah jenjang jabatannya. mengajar dan/atau melatih non PNS diberikan angka kredit sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. 23 (2) b. sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. angka kredit yang diperoleh ditetapkan sebesar 100% (seratus persen) dari angka kredit setiap butir kegiatan. . Widyaiswara harus mendapatkan penugasan secara tertulis dari pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah yang bersangkutan. d. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka angka kredit kegiatannya akan diperhitungkan sama dengan angka kredit pada kegiatan Diklat Teknis jenjang Tingkat Dasar sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. angka kredit yang diperoleh ditetapkan sebesar 80% (delapan puluh persen) dari angka kredit setiap butir kegiatan sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. Widyaiswara yang melaksanakan kegiatan satu tingkat di atas jenjang jabatannya. ditetapkan sebagai berikut: a. c. Angka kredit pada kegiatan Diklat Teknis yang dijenjangkan oleh Instansi Pembina Teknis diperhitungkan sama dengan angka kredit pada kegiatan Diklat Fungsional sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. Pasal 10 Penilaian angka kredit pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). GBPP/SAP. dan bahan tayang pada suatu Lembaga Diklat Pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi mendidik. menyusun bahan ajar diklat.Pasal 9 (1) Widyaiswara yang melaksanakan butir kegiatan tatap muka. Apabila pada suatu lembaga Diklat terdapat pelaksanaan kegiatan Diklat Teknis dan Diklat Fungsional yang belum ada penetapan jenjang Diklatnya oleh Instansi Pembina Teknis dan Instansi Pembina Jabatan Fungsional.

Pasal 12 Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh Widyaiswara untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran II. (2) Widyaiswara dapat melaksanakan kegiatan pada beberapa jenjang diklat sepanjang telah memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan bidang dan tingkatnya. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang sertifikasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut oleh instansi pembina. paling tinggi 20% (dua puluh persen) angka kredit berasal dari unsur penunjang. dari angka kredit kumulatif yang disyaratkan paling rendah 8 (delapan) angka kredit harus berasal dari sub unsur pengembangan profesi. termasuk didalamnya paling rendah 30 % (tiga puluh persen) harus berasal dari sub unsur pengembangan dan pelaksanaan Diklat. (2) . dengan ketentuan: a.Pasal 11 (1) Widyaiswara yang melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) pada suatu Lembaga Diklat diutamakan Widyaiswara yang sesuai dengan jenjang jabatannya. paling rendah 80% (delapan puluh persen) angka kredit berasal dari unsur utama. dari angka kredit kumulatif yang disyaratkan paling rendah 4 (empat) angka kredit harus berasal dari sub unsur pengembangan profesi. 24 b. Widyaiswara Muda yang akan naik pangkat menjadi Penata Tingkat I golongan ruang III/d sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina golongan ruang IV/a. Pasal 13 (1) Widyaiswara Pertama yang akan naik pangkat menjadi Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b sampai dengan Widyaiswara Muda pangkat Penata golongan ruang III/c.

Pasal 14 (1) Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d sampai dengan Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e setiap tahun sejak diangkat dalam jabatan/pangkatnya diwajibkan mengumpulkan paling rendah 25 (dua puluh lima) angka kredit dari sub unsur pengembangan dan pelaksanaan Diklat dan sub unsur pengembangan profesi. dari angka kredit kumulatif yang disyaratkan paling rendah 16 (enam belas) angka kredit harus berasal dari sub unsur pengembangan profesi. dari angka kredit kumulatif yang disyaratkan paling rendah 12 (dua belas) angka kredit harus berasal dari sub unsur pengembangan profesi. 25 . Pasal 15 Widyaiswara yang telah memiliki angka kredit melebihi angka kredit yang telah ditentukan untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi. kelebihan angka kredit tersebut dapat diperhitungkan untuk kenaikan jabatan/pangkat berikutnya. (4) Widyaiswara Madya yang akan naik pangkat menjadi Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d sampai dengan Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e.(3) Widyaiswara Madya yang akan naik pangkat menjadi Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c. (2) Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d untuk naik pangkat setingkat lebih tinggi selain memenuhi angka kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi angka kredit kumulatif yang disyaratkan sebagaimana tersebut dalam Lampiran II.

Sekretaris Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota untuk Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b di lingkungan instansi masing-masing. c. Sekretaris Jenderal Lembaga Negara. Sekretaris Utama Lembaga Pemerintah Non Kementerian. Penilaian dan penetapan angka kredit Widyaiswara dilakukan paling sedikit 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. Dari hasil catatan dan inventarisasi seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 (1) Pejabat yang berwenang menetapkan Widyaiswara adalah sebagai berikut: angka kredit (2) (3) a. Kepala LAN untuk Widyaiswara Utama di lingkungan Instansi Pembina dan instansi lainnya. Pejabat Eselon I yang membidangi Pembinaan Widyaiswara untuk Widyaiswara Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c di lingkungan Instansi Pembina dan instansi lainnya. Sekretaris Utama LAN untuk Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b di lingkungan Instansi Pembina. atau Pejabat Eselon I yang setingkat dengan itu untuk Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b di lingkungan instansi masingmasing. Widyaiswara diwajibkan mencatat dan menginventarisasi seluruh kegiatan yang dilakukan. e. b. 26 . secara hierarki Widyaiswara wajib mengajukan usul penetapan angka kredit ke Tim Penilai paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. d. yaitu 3 (tiga) bulan sebelum periode kenaikan pangkat PNS.BAB VII PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT Pasal 16 (1) Untuk kelancaran penilaian dan penetapan angka kredit. Sekretaris Jenderal atau Kepala Badan Diklat Kementerian.

dan c. b. selanjutnya disebut Tim Penilai Pusat (TPP). selanjutnya disebut Tim Penilai Daerah (TPD). memiliki keahlian dan kemampuan untuk menilai prestasi kerja Widyaiswara. unsur kepegawaian. bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. (4) Persyaratan untuk menjadi anggota Tim Penilai adalah: a. (3) Anggota Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan pejabat Widyaiswara. bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b. 27 . bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d selanjutnya disebut Tim Penilai Instansi (TPI).(2) Dalam menjalankan kewenangannya. Susunan keanggotaan Tim Widyaiswara. Seorang wakil ketua merangkap anggota. Pasal 18 (1) Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara terdiri dari unsur teknis yang membidangi kediklatan. menduduki jabatan/pangkat paling rendah sama dengan jabatan/pangkat Widyaiswara yang dinilai. pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh: a. b. Seorang ketua merangkap anggota. c. b. dapat aktif melakukan penilaian. Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara daerah. c. dan d. paling kurang 2 (dua) orang berasal dari pejabat fungsional Widyaiswara. Seorang sekretaris merangkap anggota. sebagai berikut: Penilai Angka Kredit (2) a. Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara instansi. Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara pusat. Paling kurang 4 (empat) orang anggota.

maka Ketua Tim Penilai mengangkat Anggota Tim Penilai Pengganti. Kepala LAN untuk TPP. Dalam hal terdapat Anggota Tim Penilai yang ikut dinilai. Pasal 20 Masa jabatan anggota Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk masa jabatan berikutnya. atau Pejabat Eselon I atau yang setingkat dengan itu untuk TPI. c. d. Pegawai Negeri Sipil yang telah menjadi anggota Tim Penilai dalam 2 (dua) masa jabatan berturut-turut. (1) Pasal 19 Apabila TPI belum dapat dibentuk karena belum memenuhi syarat keanggotaan Tim Penilai yang ditentukan. Sekretaris Jenderal atau Kepala Badan Diklat Kementerian. Apabila TPD Provinsi/Kabupaten/Kota belum dapat dibentuk karena belum memenuhi syarat keanggotaan Tim Penilai yang ditentukan. maka penilaian prestasi kerja dilakukan oleh TPP.(5) Pembentukan dan susunan keanggotaan Tim Penilai ditetapkan oleh: a. maka penilaian prestasi kerja dilakukan oleh TPD Provinsi/Kabupaten/Kota lain yang terdekat secara geografis atau TPP. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. 28 (2) (3) (1) (2) (3) . Sekretaris Utama Lembaga Pemerintah Non Kementerian. Kabupaten/Kota untuk TPD (6) Pembentukan dan keanggotaan TPI dan TPD Provinsi/ Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus mendapat rekomendasi dari Kepala LAN selaku Pimpinan Instansi Pembina. dapat diangkat kembali setelah melampaui masa tenggang waktu 1 (satu) masa jabatan. Penetapan angka kredit hasil penilaian Tim Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) pada instansi Tim Penilai. Sekretaris Jenderal Lembaga Negara. b. Sekretaris Daerah Provinsi untuk TPD Provinsi.

Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah serendah-rendahnya setingkat Eselon II kepada Sekretaris Jenderal atau Kepala Badan Diklat Kementerian. atau Pejabat setingkat Eselon I lainnya untuk Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan instansi masing-masing. . d. 29 b. Sekretaris Jenderal atau Kepala Badan Diklat Kementerian.Pasal 21 Tata Kerja Tim Penilai Angka Kredit Widyaiswara dan Tata Cara Penilaian Angka Kredit Widyaiswara ditetapkan oleh Kepala LAN selaku Pimpinan Instansi Pembina. Sekretaris Utama Lembaga Pemerintah Non Kementerian. c. Sekretaris Jenderal Lembaga Negara. Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat di bidang kediklatan serendah-rendahnya setingkat Eselon II kepada Sekretaris Utama LAN untuk angka kredit Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan Instansi Pembina. Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah atau pejabat di bidang kediklatan serendah-rendahnya setingkat Eselon II kepada Deputi Bidang Pembinaan Diklat Aparatur LAN atau Pejabat Eselon I yang membawahi unit Pembinaan Widyaiswara untuk angka kredit Widyaiswara Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b dan Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c di lingkungan Instansi Pembina dan instansi lainnya. Sekretaris Utama Lembaga Pemerintah Non Kementerian. atau Pejabat setingkat Eselon I lainnya serta Sekretaris Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota kepada Kepala LAN untuk angka kredit Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d dan Pembina Utama golongan ruang IV/e. Sekretaris Jenderal Lembaga Negara. Pasal 22 Usul penetapan angka kredit Widyaiswara diajukan oleh: a.

30 . Keputusan pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit tidak dapat diajukan keberatan oleh Widyaiswara yang bersangkutan. b. BAB VIII PENGANGKATAN DALAM JABATAN FUNGSIONAL WIDYAISWARA Pasal 24 Pejabat yang berwenang mengangkat dalam jabatan Widyaiswara adalah Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.e. (1) Pasal 25 Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan Widyaiswara harus memenuhi syarat: a. digunakan untuk mempertimbangkan Widyaiswara (2) sesuai jabatan/pangkat ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. berijazah paling rendah sarjana (S-1)/Diploma IV sesuai kualifikasi yang ditentukan. pangkat paling rendah Penata Muda golongan ruang III/a. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) rata-rata harus bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir. c. Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pimpinan Lembaga Diklat Pemerintah serendah-rendahnya setingkat Eselon II kepada Sekretaris Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota untuk Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Widyaiswara Madya pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan instansi masing-masing. Pasal 23 (1) Angka kredit yang ditetapkan kenaikan dengan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.

31 . pada saat pengangkatan sebagai Widyaiswara usia paling tinggi 50 (lima puluh) tahun. pangkat paling rendah Penata Muda golongan ruang III/a. berijazah paling rendah sarjana (S-1)/Diploma IV sesuai kualifikasi yang ditentukan. telah mendapat rekomendasi pengangkatan dalam jabatan Widyaiswara dan rekomendasi Penetapan Angka Kredit awal yang ditetapkan oleh Kepala LAN selaku Pimpinan Instansi Pembina. paling lama 3 (tiga) tahun setelah diangkat sebagai Widyaiswara harus mengikuti dan lulus Diklat Fungsional Kewidyaiswaraan yang ditentukan oleh Instansi Pembina. b. ditentukan oleh e. Pasal 26 (1) Pengangkatan PNS dari jabatan lain ke dalam jabatan Widyaiswara harus memenuhi syarat: a.(2) Kualifikasi pendidikan untuk jabatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan oleh instansi Pembina (3) Pengangkatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengangkatan yang dilakukan untuk mengisi lowongan formasi Widyaiswara dari CPNS. yang tidak lulus Diklat Fungsional Kewidyaiswaraan diberhentikan dari jabatan Widyaiswara. (4) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. telah mengikuti dan yang lulus Diklat Fungsional Instansi Kewidyaiswaraan Pembina. d. (5) Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (4).

(2) Pangkat yang ditetapkan bagi PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sama dengan pangkat yang dimilikinya. (5) Pengalaman dalam menduduki jabatan struktural dan/atau jabatan fungsional lainnya yang dapat diberikan nilai angka kredit adalah jabatan struktural dan/atau jabatan fungsional lainnya yang terkait dengan bidang tugas pengajaran yang akan dilaksanakan. (6) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan ayat (3) adalah bagi PNS yang menduduki Jabatan Struktural Eselon II dan Eselon I. Badan Kepegawaian Negara dan Instansi Pengusul/ Pengguna. (4) Jumlah angka kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dari unsur utama dan unsur penunjang. dan g. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan dalam DP-3 rata-rata harus bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir. (7) Pelaksanaan Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilakukan oleh instansi terkait yaitu Lembaga Administrasi Negara. sehat jasmani dan rokhani serta lulus uji kompetensi untuk Tingkat I. (3) Jenjang jabatan Widyaiswara ditetapkan sesuai dengan jumlah angka kredit yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit setelah mendapatkan rekomendasi dari Instansi Pembina. Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.f. memenuhi formasi Widyaiswara yang melaksanakan tugas pokok pada Diklatpim Tingkat II dan 32 . sehat jasmani dan rohani dan dibuktikan dengan surat keterangan sehat (general check-up/medical record) yang dikeluarkan oleh rumah sakit yang ditunjuk oleh pemerintah.

(2) Formasi Jabatan Fungsional Widyaiswara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. Pegawai Negeri Sipil daerah dilaksanakan sesuai dengan formasi jabatan Widyaiswara yang ditetapkan oleh pejabat pembina kepegawaian masing-masing setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan berdasarkan pertimbangan teknis Kepala BKN. (3) 33 . untuk seorang Widyaiswara jumlah jam pelajaran minimal pertahun dari kegiatan tatap muka yaitu 500 Jam Pelajaran (JP). (9) Pedoman pengangkatan dan penetapan angka kredit untuk penetapan jenjang jabatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan oleh Instansi Pembina. Tiga bulan setelah diajukan oleh pejabat pembina kepegawaian. Instansi pemerintah pusat dan daerah yang tidak memiliki Lembaga Diklat tidak dapat mengangkat Widyaiswara. dengan ketentuan sebagai berikut : a. paling lambat 3 (tiga) bulan rekomendasi dapat atau tidaknya Pegawai Negeri Sipil diangkat sebagai Widyaiswara dari Lembaga Administrasi Negara.(8) Pengajuan pengangkatan pejabat Struktural Eselon I dan Eselon II sebagaimana dimaksud pada ayat (6) selambatlambatnya 9 (sembilan) bulan sebelum yang bersangkutan mencapai batas usia pensiun dari jabatan strukturalnya. Setelah mendapat rekomendasi paling lambat 3(tiga) bulan harus telah diajukan kepada Pejabat yang berwenang mengangkat. b. Pasal 27 (1) Pengangkatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26 dilaksanakan sesuai dengan formasi jabatan Widyaiswara. Pegawai Negeri Sipil pusat dilaksanakan sesuai dengan formasi jabatan Widyaiswara yang ditetapkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara setelah mendapat pertimbangan teknis Kepala BKN. sebagai berikut: a.

penetapan angka kreditnya hanya akan digunakan untuk pemeliharaan dalam jabatan Widyaiswara Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c. harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.BAB IX KENAIKAN JABATAN/PANGKAT WIDYAISWARA UTAMA Pasal 28 Untuk diangkat dalam jabatan Widyaiswara Utama di samping memenuhi angka kredit kumulatif yang disyaratkan. Widyaiswara Madya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan mengumpulkan angka kredit setiap tahun paling rendah 20 (dua puluh) dari sub unsur pengembangan dan pelaksanaan Diklat serta sub unsur pengembangan profesi. melakukan orasi ilmiah. BAB X DIKLAT KEWIDYAISWARAAN Pasal 30 (1) Widyaiswara yang diangkat pertama kali dalam jabatan Widyaiswara wajib mengikuti dan lulus Diklat Kewidyaiswaraan yang ditetapkan oleh Instansi Pembina. b. dimungkinkan untuk naik jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi apabila telah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. Widyaiswara Madya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tersedianya formasi jabatan Widyaiswara Utama. (2) (3) 34 . Pasal 29 (1) Widyaiswara Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c yang telah memenuhi jumlah angka kredit kumulatif minimal untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi namun tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28.

(2) Widyaiswara Utama. b. 35 . menjalani cuti di luar tanggungan negara. dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak menduduki jabatan/pangkat terakhir dalam jabatan Widyaiswaranya tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. kecuali untuk persalinan ke empat dan seterusnya. sampai dengan Widyaiswara Utama pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d. tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan. DAN PEMBERHENTIAN JABATAN Pasal 31 (1) Widyaiswara Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a. Widyaiswara dibebaskan sementara dari jabatannya apabila: a. diberhentikan sementara sebagai PNS. d. PENGANGKATAN KEMBALI.(2) Widyaiswara yang akan diangkat dalam jabatan setingkat lebih tinggi. ditugaskan secara penuh di luar jabatan Widyaiswara. c. dibebaskan sementara dari jabatannya apabila setiap 1 (satu) tahun sejak menduduki jabatan/pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (1). dan ayat (2). BAB XI PEMBEBASAN SEMENTARA. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau tingkat berat berupa penurunan pangkat. atau e. (3) Di samping pembebasan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selain memenuhi angka kredit kumulatif yang telah ditetapkan wajib mengikuti Diklat Kewidyaiswaraan yang pedomannya ditetapkan oleh instansi Pembina.

dan e. dan huruf e dapat diangkat kembali dalam jabatan Widyaiswara. Pengangkatan kembali dalam jabatan Widyaiswara yang dibebaskan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.Pasal 32 (1) Widyaiswara yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1). ayat (2). 36 (2) (3) (4) (5) (6) . apabila: a. Pengangkatan kembali dalam jabatan Widyaiswara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (3) menggunakan angka kredit terakhir yang dimiliki sebelum dibebaskan sementara dari jabatannya. Pasal 33 Widyaiswara diberhentikan dari jabatannya. Widyaiswara yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) huruf a. tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. huruf c. huruf d. dapat mengajukan usul penetapan angka kredit Widyaiswara dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama dibebaskan sementara dari jabatan Widyaiswara. dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1). d. c. Widyaiswara yang diangkat kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) butir a. Widyaiswara yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) huruf b dapat diangkat kembali dalam jabatan Widyaiswara apabila berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dinyatakan tidak bersalah. dan ayat (2) dapat diangkat kembali dalam jabatan Widyaiswara. dapat dilaksanakan apabila berusia paling tinggi 2 (dua) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun sesuai jabatan terakhir yang didudukinya.

sehingga ketentuan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ini dianggap tidak sesuai lagi. atau dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. kecuali hukuman disiplin berat berupa penurunan pangkat. Pasal 34 c. ditetapkan oleh pejabat pembina kepegawaian pada instansi yang bersangkutan atau pejabat lain yang ditunjuk sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 37 . dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang disyaratkan. Pembebasan sementara. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/66/M.b. BAB XII PENUTUP Pasal 35 Ketentuan pelaksanaan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ini diatur lebih lanjut oleh Kepala LAN dan Kepala BKN.PAN/4/2006 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. pengangkatan kembali. dan pemberhentian dari jabatan Fungsional Widyaiswara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.PAN/6/2005 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/22/M. Pasal 36 Pada saat Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ini ditetapkan. dan Pasal 33. Pasal 37 Apabila ada perubahan mendasar. maka Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ini dapat ditinjau kembali. Pasal 32.

Ditetapkan : di Jakarta pada tanggal: 25 September 2009 38 .Pasal 38 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful