Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan bangunan gedung dan teknis pelaksanaan bangunan gedung serta peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Selain itu dalam bab ini menjelaskan tentang pendekatan dan metodologi dalam pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung di Kota Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada, Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan

(screening),

pelingkupan

(scoping),

pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan. Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum menginjak ke pelaksanaan di lapangan.

4.1.

DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan

4-1

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Dasar hukum yang digunakan adalah: 1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis

Bangunan Gedung 2. 3. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat
1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran
1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan 3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan 2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung 3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung

Laporan Pendahuluan

4-2

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung

4.2.

KERANGKA PIKIR
Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai

pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum
Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan. Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006. Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung.

4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:

Laporan Pendahuluan

4-3

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010
TAHAP PERSIAPAN TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK

PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & TEKNIK PENGUMPULAN DATA MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN

KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT

REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN ALAT KERJA

PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN SURVEY SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK PENYEMPURNAAN REKOMENDASI

PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN PEMERIKSAAN

INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN

DRAFT LAPORAN ANTARA PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan

4-4

untuk membantu dalam proses perolehan data.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung. Tahap Persiapan Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan. Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian. Gambar IMB. Gambar As Built Drawings. 29/PRT/M/2006. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang koordinator sesuai kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian gedung yang akan diperiksa keandalannya. b. seperti: Gambar Perencanaan Teknis. maka yang perlu dilakukan adalah: a. akan diakukan persiapan halhal berikut: a. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di lapangan Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 4-5 . Setiap tenaga ahli akan dibantu oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan kebutuhannya. dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. c. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. d. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung yang akan disurvei. yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan b. Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a.

dan fungsi bangunan gedung iii. rangka kombinasi. Data Umum i. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan) c. jendela. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan. Data Arsitektur Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang berada pada bagian dalam bangunan gedung. plafon. shear wall. Luas/jumlah lantai v. lantai. pagar. ii. Kontraktor v. Lokasi/alamat iii.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Data Struktur Pemeriksaan dilakukan terhadap sistem struktur (bearing wall. dll) Keselamatan Struktur Laporan Pendahuluan 4-6 .pintu. Sejarah kepemilikan. d. Pengawas vi. mencakup: i. antara lain: finishing dinding. Pemilik b. rigid frames. beton precast. kaca. dan lingkungan penduduk. pasangan bata. dinding. pasangan batu. beton bertulang. Eksterior. Perencana iv. maupun yang berada pada bagian luar bangunan gedung. baja. Tahun Pembangunan ii. Fungsi iv. Nama Bangunan ii. kerusakan. Interior. antara lain: finishing lantai/selubung bangunan. rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran) Bahan Struktur (kayu. dan mebel terpasang. komposit. prestressed. iii. Data Penunjang i. Gambar Bangunan vii.

AC non sentral). longsor) Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran. air kotor dan limbah. angin .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh: o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan perencanaan. ledakkan) Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan. (shaft sampah. sumber daya genset). akibat bencana) e. penampungan dan distribusi air bersih. container sampah). atau kesalahan pelaksanaan terkena beban sementara yang melampaui kapasitas struktur) o o o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas Kegagalan akibat bencana alam ( gempa. mesin penggerak). Sistem Building Automation System (BAS). PABX. motor penggerak). panel operator. Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator. Sistem pembuangan sampah. Data Utilitas Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift. instalasi tata suara). panel kelistrikan. Sistem instalasi komunikasi (telepon. Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN. Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal dan internal). air hujan. Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral. TPS. bak sampah setempat. dan drainase ke lingkungan). Laporan Pendahuluan 4-7 . panel inspeksi. Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih.

lift kebakaran. toilet. lingkup wilayah kegiatan. pintu kebakaran. Upaya penyelamatan (tangga kebakaran. penunjuk arah keluar. telepon. klasifikasi bangunan. sesuai dengan ketentuan pada Permen PU No. komunikasi darurat. perabot. pompa. ramp. sumber daya listrik darurat. wastafel. Utilitas (alarm kebakaran. dll). rambu. escalator. perlengkapan dan peralatan control. marka. jalur pemandu. Aksesibilitas penyandang cacat Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang terdapat pada obyek bangunan gedung. Antara lain: Ukuran dasar ruang. Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api). tangga. pintu. pancuran/ shower. Jalur pedestrian. sesuai dengan yang tertera pada Bab I. termasuk pemeriksaan terhadap peralatan pemadam kebakaran. material insulator kebakaran. sprinkler. hydrant.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. pengendalian asap. area parkir. Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. lift. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang terdapat pada obyek bangunan gedung. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini dikelompokkan dalam: Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan. Laporan Pendahuluan 4-8 . persyaratan bangunan). g. Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan komponen struktur bangunan). koridor. penangkal petir). 2. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

d. kondisi yang kiranya serta perlu observasi gedung. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan dari segi arsitektur. untuk temuan baik mengidentifikasi permasalahan bangunan didapatkan permasalahan dari aspek arsitektural. dibuktikan visual Apabila dan di diuji lapangan kembali. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. mekanikal elektrikal maupun aksesibilitas. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masingmasing komponen hasil pemeriksaan. termasuk dokumentasi. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. dengan mengacu angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal atau tidaknya bangunan tersebut. pengukuran. pengujian dan pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. struktural. b. meliputi: a. b. kebakaran. dan aksesibiltas. Tahap Penyusunan Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait. utilitas. Misal: struktur Laporan Pendahuluan 4-9 . struktur. maka akan dilakukan pengecekan. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung c. Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan pemilik atau pengguna bangunan. 5. 4. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam beberapa tahap.

elektrikal. 4. sistem plumbing.2. Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006. wujud arsitektur sebuah bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara nasional maupun internasional. Piranti lunak berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur. air hujan. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bangunan gedung. Struktur. penelitian kinerja bangunan Laporan Pendahuluan 4-10 . penampilan dan kinerjanya. Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang unik dan spesifik dalam aspek fungsi.1. c. Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach).3. dll yang tidak andal. Alur Studi dan Format Penelitian Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL). 4. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA BANGUNAN 4. tata ruang. Utilitas clan proteksi kebakaran.3.3. Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja Bangunan Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya. aksesibilitas dan tata bangunan serta lingkungan.

alat-alat listrik. keamanan.2. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. − Kecepatan udara. − Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang. sirkulasi. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap : − − − − − Kebutuhan jenis ruang Sifat dan hubungan kelompok ruang Standar besaran ruang Jenis dan besaran ruang Penyusunan ruang Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung. sirkulasi/transportasi. telekomunikasi. penandaan − Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi. − Suhu radiant. Kinerja yang balk dari sebuah bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing. − Kelembaban udara. Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan adalah tata ruang bangunan. − Faktor-faktor pemakaian dan control. Komponen Ruang Dalam Pammeter kinerja ruang dalam (interior): 1) Spacial / Keruangan (spatial performance) − Layout ruang individu: ukuran. sampling bangunan diperiksa dua komponennya. pencapaian. 4. Laporan Pendahuluan 4-11 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung. macam perabot. 2) Termal (thermal performance) − Suhu udara. faktor ergonomic.3. orientasi. Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak. tempat duduk. − Fasilitas kemudahan (amenities).

15 mg/m3 Peraturan / Standar Akustik Visual Kualitas udara Sound pressure level (SPQ Tingkat pencahayaan Tingkat karbondioksida (CO2) Debu Kep Menkes RI No.28 oC 40-60% 0.25 m/det <85 dB (A) >100 lux 1000 ppm 0. − Pergerakan dan distribusi udara segar. 1405/Menkes/SK/XI/2002 Komponen bangunan yang diamati: .Plesteran lantai . − Warna − Informasi-informasi visual dan pemandangan − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. Tabel 4-1 Batas-batas penerimaan (limit of acceptability) Parameter Spasial Termal Sub parameter Was ruang Suhu Kelembaban Pergerakan udara rata-rata Persyaratan Sesuai luas aktivitas dasar 18 . . − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3) Akustik (acoustic performance) − − − Sumber bising (noise source). 4) Visual (visual performance) − Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan.Pintu / jendela . − Energy pollutant.0. Penerima suara (sound receiver).Material pollutant. Jalur rambat suara (sound path).Pelapis muka dinding .Pelapis muka langit-langit Laporan Pendahuluan 4-12 . 5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) − Suplai udara segar (fresh air).Pelapis dinding .15 . − Contrast dan brightness.

baik untuk eksterior ataupun interior menggunakan warna-warna cerah. Warna Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan rumah sakit. perbedaan pemuaian dan penyusutan akibat panas. furniture. kebocoran atau pengembunan Suhu: perbedaan panas. Penyelesaian warna pada masing-masing banguna. beban mati. bangunan perkantoran. Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat. sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti. bangunan olah raga maka pemilihan warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan suasana ruang. Laporan Pendahuluan 4-13 . terutama yang berkaitan dengan psikis pemakai bangunan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4.3. bahan dekoratif ruangan dan sebagainya. getaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisik ruang adalah: 1. perbedaan tekanan udara Radiasi dan cahaya: radiasi matahari. visible light spectrum Penanggulangan bahaya api Penutup atap Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar Pelapis lantai luar Pelapis muka langit-langit luar Komponen bangunan yang diamati Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya. Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi. Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan seperti bahan penutup dinding. Komponen ruang luar Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan (enclosure): − − − − − − − − − − − − Ketahanan bangunan (building integrity) Antisipasi beban: beban hidup.3. Kondisi ini telah sesuai dan sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung. radiasi lingkungan. isolasi panas.

Penggunaan sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman. Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di dalamnya. atap. Pemilihan sistem tergantung pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang. 2. kegerahan. Mengkondisikan udara. Sistem penerangan ini dibedakan menjadi Laporan Pendahuluan 4-14 . penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan.70 % dan kebutuhan udara bersih 20 . Oleh sebab itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi nyaman. Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh : − − − Radiasi dinding. adalah : − mengurangi pengaruh langsung sinar matahari. − − Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas. Penghawaan Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22 – 25° C dengan kelembaban 40 % .50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang.25° C dan nilai kelembaban 40 % .Penyimpangan dari standard tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang. kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan. yaitu dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split. dsb. balk dengan ventilasi alam maupun buatan (AC). 3. Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu sekitar 22 .60 %. Sebagai konsekuensinya biaya operation maintenance perlu ditambahkan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil. oleh sinar matahari Panas karena suhu badan manusia Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan. Penerangan Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan sistem penerangan yang tepat.

selain itu juga untuk menciptakan suasana yang diinginkan. b) Penerangan buatan Sebagai bangunan perkantoran. Penerangan buatan pada siang hari diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan. umumnya sebagai penerangan umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang. yaitu : Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata ke seluruh ruangan. Penerangan alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan. tahun 1985). c) Penerangan campuran (alam dan buatan ) Pemanfaatan penerangan alami clan buatan. Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah memenuhi persyaratan. dimana terdapat suatu aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut. sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk direncanakan secara seksama.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2 yang disesuaikan dengan kebutuhan. Dirjen Cipta Karya. Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut : − Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi sebesar 300 lux. koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5 daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan buatan. yaitu : a) Penerangan alami Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. penerangan. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan yang terdapat pada bangunan eksisting. penerangan khusus untuk ruang-ruang yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang diterima oleh ruangan. − Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk diskusi. Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan Laporan Pendahuluan 4-15 . pengadaan penerangan buatan disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang.

dsb. Beberapa indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. wawancara dan kuisoner Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia Intrumen yang dibutuhkan tersedia Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara cepat. Suara / Akustik Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruangruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu. pemisahan suara dengan memisahkan sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan. rekaman jejak fisik. rencana anggaran biaya. masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan background musik lembut. sehingga untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal. Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. 1 Tingkatan data pengukuran yang dipilih Analisis arsip perencanaan Data yang diperlukan • Gambar-2 denah. Secara umum penyelesaian akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan. Tabel 4-2 Indikator pengumpulan data No. seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu lintas dari jalan sekitar bangunan. pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada sumber bunyi. • Syarat: dokumen tersedia. Digunakan untuk memastikan catatan manajemen penggunaan apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna dan aktivitasnya. spesifikasi. maka perlu diketahui adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi : − Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 slide. Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. Untuk mengatasi menjalarnya bunyi. instrument tersedia Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar 2 3 Analisis hunian dan penggunaan Penyusunan instrumen sederhana • • • • 4 Evaluasi • • Guidelines Laporan Pendahuluan 4-16 . salah satu yang dapat dilakukan − adalah dengan memberhentikan suara. Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. 4. Observasi perilaku. Sumber bunyi dari luar bangunan. film.

• Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan. kelembaban . karbondioksida • Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan • Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk mengukur laju kecepatan udara. lugs dan volume ruang Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan faktual. Alat Ukur Komponen Ruang Dalam Keterangan: • Testo 435-2 untuk mengukur suhu. kandungan kadar karbondioksida. • Distance meter . kelembaban suatu ruang.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat mendeteksi beberapa parameter suhu. maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement) 1) Pemahaman tujuan inspeksi Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan pemilik/pengelola bangunan gedung Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan dan ketidaksepahaman yang tidak perlu Identifikasi kondisi fisik Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal atau khusus Testing dengan peralatan tertentu Batasan (limitation) 2) 3) 4) 5) Laporan Pendahuluan 4-17 . gambar 4-3.DISTO untuk mengukur jarak. Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi ini. a.

4) Batasan-batasan. Pemeriksaan (Inspection) 1) 2) 3) 4) 5) Nama pemilik/pengelola bangunan Alamat lokasi bangunan yang diamati Tanggal dan waktu pemeriksaan Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai relevan dengan tujuan penyelidikan Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu. Identifikasi semua pihak yang terlibat − − − 6) 7) 8) c. Observasi dari hasil pemeriksaan. Alamat bangunan gedung yang diperiksa Deskripsi dan identifikasi bangunan. Pelaporan (inspection records) 1) Nama dan alamat lembaga pemeriksa Identitas personil yang melakukan pemeriksaan Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung. Observasi Item-item penting Kesimpulan 5) 6) 7) Laporan Pendahuluan 4-18 . 2) Detail properti − − 3) Detail pemeriksaan − − − Tanggal pemeriksaan Detail tentang tujuan. berupa identifikasi beberapa area atau item yang tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. bagian dari bangunan atau struktur lainnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan.

3. dimana: b. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar Ekonomis Kuat dalam menahan beban yang direncanakan Memenuhi persyaratan kemampuan layanan Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi) Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu: a. c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. e. unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan ultimit yang diinginkan. Pendekatan Struktur 1. b. Kondisi Batas Struktur Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat dijadikan pedoman. Metoda Kekuatan Ultimit Dengan metoda ini. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu: . Konsep Perencanaan Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a.Hilangnya keseimbangan lokal atau global .Rupture. dapat berupa: − − defleksi yang berlebihan pada kondisi layan lebar retak yang berlebih Laporan Pendahuluan 4-19 .4. yaitu: 2. Metoda Tegangan Kerja Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan. d. yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya − Pembentukan sendi plastis − Ketidakstabilan struktur − Fatigue b. yaitu: a. Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi struktur.

sehingga: Undercapacity dapat terjadi akibat: Resistance ≥ Penqaruh Beban Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan) elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan faktor reduksi kekuatan. kemungkinan faktor-faktor “overload" Overload dapat terjadi akibat: − − − − − − Perubahan fungsi struktur Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan Urutan dan metoda konstruksi Variasi kekuatan material Workmanship Tingkat pengawasan Berdasarkan prosedur desain yang baku. diluar beban yang diharapkan terjadi dalam kondisi normal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − c. dapat berupa: − − − keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim kebakaran. 3. ledakan atau tabrakan kendaraan korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002). Kapasitas adanya cadangan tersebut diperlukan dan untuk faktor mengantisipasi “undercapacity". sehingga: Laporan Pendahuluan 4-20 . Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat memikul beban berlebih dengan besar tertentu. dan or beban yang nilainya > 1. kekuatan (resistance) elemen struktur harus lebih besar Dada pengaruh beban. yang nilainya <1. yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal. vibrasi yang mengganggu Kondisi batas khusus.

9 ( D ± E ) Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen. yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini.6 L + 1.. Kuat perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan simbol- Laporan Pendahuluan 4-21 ..3 W Jika pengaruh gempa harus diperhitungkan: U= 1.6 W) U = 0. geser. Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-2002 yang bunyinya adalah: a.2 D + 1. Beban Terfaktor dan Kuat Perlu SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban.75 (1.. ORn. sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor. torsi atau − dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas. b. Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah: − Kombinasi beban coati dan beban hidup: U = 1. Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat perlu.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit.2 D + 1. kuat rencana adalah identik dengan a1S1 + a2S2 + . Butir 2 diatas mengharuskan adanya pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah didesain. Kondisi batas serviceabilitas (kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh.9 D + 1.6 L Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan: U = 0. Dalam butir a diatas.05 ( D + LR ± E ) atau U = 0. yaitu Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup balk pada tingkat beban kerja. Prosedur desain ini pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian utama ditekankan pada kondisi batas ultimit.

Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka struktur perlu diperkuat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 simbol M. diameter dan jumlah tulangan terpasang. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. T. breaking out dan test sondir. termasuk pengukuran geometri struktur dan karakteristik material bangunan eksisting. Laporan Pendahuluan 4-22 . pulse echolgeoraclar. V. ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-merusak seperti core drill. spesifikasi teknis dan BOQ. dan u. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula. Untuk tujuan ini akan dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter. Penyelidikan yang akan dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. Hal ini dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting. Analisis struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur eksisting. penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh. Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar rencana. T dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U. Dengan pengujian-pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi. kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi. Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor keamanan struktur. perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam mengenai kondisi aktual struktur. 4. Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-Retak Dan Penurunan Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan Bangunan dan segi kekuatan strukturnya. Disamping itu. V. dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M.

BOQ Laporan Pendahuluan 4-23 . Kerja. a. Sarang tawon (honey comb) e. dan Pendekatan Teknis 1. Dokumentasi Keluaran Laporan a. Pengukuran daya dukung tanah (Tes Sondir) Analisis Kondisi eksisting Struktur Kesimpulan dan Saran Untuk menentukan tingkat keamanan struktur eksisting terhadap kondisi pembebanan rencana dan mencari penyebab kerusakan pada struktur Untuk menentukan langkah. Data desain terdahulu kriteria desain gambar dan perhitungan spesifikasi b.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan) Tahapan Pekerjaan Studi Awal Tujuan Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan agar studi yang akan dilakukan nantinya dapat berjalan dengan efisien dengan memanfaatkan seoptimal mungkin data yang tersedia tersebut. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec struktur dan material Tabel 4-3 2. Pengumpulan data sekunder: a. Metodologi. Peta kerusakan b. Perkiraan sistem pondasi a. Pengukuran pondasi dengan menggunakan georadan/pulse echo 3. Deformasi berlebth d. Pengukuran geometri elernen-elemen struktur Pemeriksaan Detail Untuk mendapatkan karakteristik material eksisting.langkah selanjutnya yang dianggap perlu. Kondisi geometri aktual struktun C. Faktor keamanan struktur c.data material c. Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau perkuatan struktur bilaniana diperlukan b. Breaking out d. Data kajian terdahulu survai/Pemerik sawn Global Untul memahami kondisi eksisting struktur Untuk menentukan teknik dan metoda pengujian yang optimal 1. Kajian faktor keamanan struktur c.as built drawing . Daya dukung tanah f. pengambilan foto a. Pengamatan kerusakan/retak path komponen struktur/nonstruktural c. Analisis pondasi a Geometni aktual elemen-elemen struktur a Properties aktual material b. Kondisi kerusakan e. Analisis struktur Eksisting b.catatan perubahan dan desain awal dan Spesifikasi . Penyebab kerusakan a. Data pelaksanaan . Kondisi eksisting struktur b. Pemeriksaan visual dan pengambilan dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur: a. Analisis struktur b. Kapasitas cadangan struktur d. Pengamatan geometri struktur b. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur a. spesifikasi teknis d. Covermeter test/Rebar detection c. Analisis daya dukung pondasi dan settlement a. kondisi penulangan dan kondisi kerusakan Untuk mendapatkan kedalaman pondasi clan perkiraan daya dukung 1. Ultrasonic 2. Core test b. Gambar rencana perbaikanlperkuatan c. Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan c. Tebal selimut beton d.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Pendahuluan Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti: 1). Kesalahan perencanaan/pelaksanaan Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari: − Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur. Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting a. 2). Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur. Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak (seperti jenis-jenis senyawa asam). Laporan Pendahuluan 4-24 . banjir atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi dalam perencanaan. yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam renang). − Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur. Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan. − Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponenkomponen struktur. − Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran. Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang menimbulkan konsekuensi pada perubahan : − Perubahan fungsi/penggunaan strukur − Penambahan tingkat (pengembangan struktur) 4). Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan oleh pengaruh internal-eksternal seperti: − Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua. 3).

(2) Jika kemampuannya sudah berkurang. Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan. b. (4) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau melayani fungsi yang lain. ada enam tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Pada umumnya. tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah satu di bawah ini: (1) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan berdasarkan desain awal. kemampuan layanan dan durabilitas. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. Halhal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur. maka perlu ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur saat ini. (5) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan peraturan/code yang berlaku (6) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur Selain itu.4) Laporan Pendahuluan 4-25 . penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur. Secara umum. (3) Sisa umur layananya.

dan kerusakan lainnya Pengujian NDT terbatas Pengambilan Sampel Uji beban Pengujian NDT yang efektif p engujian fisik kimiawi Plot Analisis stasistik Analisis struktur Analisis kerusakan pengalaman sebelumnya Data Survei Pemeriksaan Global retak Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup clan terpercaya sehingga pemeriksaan struktur dapat dilakukan dengan tingkat keyakinan yang tinggi Untuk mempermudah penilaian Untuk menilai kinerja struktur eksisting saat ini clan yang akan dating dan membandingkannya dengan persyaratan yang ada Untuk menentukan aksi selanjutnya yang diperlukan seperti perbaikan/perkuatan. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan Mendiagnosa penyebabnya Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal tersebut. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Pemeriksaan informasi adalah: − − − pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang struktur biasanya mengenal bertujuan kondisi untuk mendapatkan dalam yang mendalam rnaterial/struktur bangunan. treatment untuk pencegahan. Site observations. konstruksi dll. laporan perhitungan/clesain. Pemeriksaan visual Pengambilan clokumen video Pengukuran geometry. c. tahapan survey/pemeriksaan global clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting. Bagian selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai eksisting. defleksi. memilih area yang akan diperiksa secara detail dan menentukan teknik pengujian yang cocok/optimal Aktivitas Mengumpulkan/mereveiw data skunder seperti as built drawing. diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak Laporan Pendahuluan 4-26 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-4 Prosedur Penilaian Struktur Eksisting Tahapan Studi awal Tujuan Untuk mengkonfirmasi kualitas material yang digunakan atau data-data penting lainnya yang berkaitan dengan struktur yang sedang dikaji Untuk memahami karakteristik struktur. data material. demolisi atau survey lanjut yang lebih komprehensif Presentasi Hasil Interpretasi Hasil dengan bantuan Rekomendasi Dari keenam tahapan tersebut.

6. Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Secara garis besar. berdasarkan intormasiinformasi tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan tersebut memang diperlukan. penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan. Penyelidikan Visual Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan. hammer dan lain-lain. Hasil pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual) kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau komponen-komponen struktur. Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan) yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponenkomponen bangunan yang diuji. dan pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas tiga tahapan. Namun walaupun begitu. Berdasarkan pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti lendutan). Informasi—informasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya demolisi/penghancuran) Seiain itu. Tahapan Perencanaan Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah. Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentukbentuk pengujian lainnya. yaitu: a. baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan Laporan Pendahuluan 4-27 . bentuk "load test" memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan. Tahapantahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan pada bagian berikut ini: 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merusak seperti pengujian ultrasonik. pemilihan metoda pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "

honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik pada
tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton). Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar 4.3). Untuk dapat membedakan jenis—jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak. Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Laporan Pendahuluan

4-28

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-5 Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton
Penyebab Retak Defisiensi struktur Korosi Tulangan Serangan Kimiawi Kebakaran Reaksi Internal Pengaruh Suhu Susut Rangkak x X X X X X x X Gejala Pengelupasan X X X X X x x X x x x X X x Pengikisan Jangka Waktu Pemunculan Segera X Lama X X x

Proses Pengeringan yang Abnormal Kerusakan Fisik

X x x x

x x x

Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or

Deterioration in Cocrete Structures"
2). Pemilihan Jenis Pengujian Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas: − − − − − − Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan Waktu pengerjaan Biaya yang tersedia Tingkat keandalan hasil pengujian Jenis permasalahan yang dihadapi Peralatan yang tersedia Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat tersebut akan menjadi rendah.

Laporan Pendahuluan

4-29

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada perlu disusun terlebih dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam pemilihan jenis pengujian. Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian ultrasonic atau

hammer.

Disini,

pengujian

core

dapat

dilakukan

untuk

mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang timbul pun dapat diminimumkan. 3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
− − − −

Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic) Biaya yang dibutuhkan Tingkat kerusakan yang ditimbulkan Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui nilai

kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang kan diuji.

Laporan Pendahuluan

4-30

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

b. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda. Kalibrasi Peninjauan variasi hasil pengukuran Analisis Perhitungan

Laporan Pendahuluan

4-31

alat ini Karena dapat kesederhanaannya. pengujian core. Jenis hammer yang umum dipakai untuk pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4. Yang tergolong dalam jenis pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. ultrasonic. perilaku elastik atau kondisi kerusakan bahan Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar tingkat − kerusakan yang ditimbulkan pads struktur. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton. pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-komponen struktur. pengujian deangan menggunakan dilakukan dengan cepat. Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji. yaitu pengujian Non-Destructive. dilakukan pengukuran parameter-parameter yang dapat dikorelasikan dengan kekuatan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 7. dan pengujian Destructive. misalkan keberadaan partikal batu pada bagian- Laporan Pendahuluan 4-32 . Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi kekerasan dan juga. analisis dan pengujian bahan. Metoda tidak langsung Pada metoda ini.5). Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt Hammer) Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya tertentu. pengujian Semi-Destructive. sehinggadapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. dan kain-lain. Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. dapat memberikan indikasi nilai kuat tekan beton benda uji. Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out. a. juga setelah kalibrasi. Metoda Pengujian Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu: − Metoda langsung Sebagai contoh: pengamatan visual.

Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer 1). gambar 4-6. diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran. Kekuranqan : Laporan Pendahuluan 4-33 . Oleh karena itu. 4 atau ASTM C805-89.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bagian tertentu dekat permukaan. yang hasilnya kemudian dirata-ratakan. British Standarts (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2 (jarak antara 2 lokasi pengukuran tidak boleh dari pada 20 mm). Secara umum alat yang digunakan untuk : − − − Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan beton Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer" Kelebihan − − − − − Murah Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat Praktis (mullah digunakan) Tidak merusak Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan.

Untuk mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur yang sedang ditinjau. Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. ukuran dan umur beton. drajad karbonasi. Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan "rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton. Tabel 4-6 Diagram Kalibrasi alat uji Hammer Angka Pantulan Rata—rata >40 30-40 20-30 <20 Kualitas Selimut Beton Baik. karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut. Lapisan keras Cukup Baik Kurang Baik Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan Laporan Pendahuluan 4-34 . Sifat-sifat dan jenis agregat kasar. Jadi dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama. 2). Kalibrasi Seperti yang disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu untuk setiap jenis beton yang berbeda. perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi test tertentu. − − − Sulit mengkalibrasi hasil pengukuran Tingkat keandalan rendah Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelembaban beton. banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt Rebound Hammer".

gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Prinsip Pengukuran Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan prinsip perambatan gelombang pada media padat. Dari teori fisika diketahui bahwa Laporan Pendahuluan 4-35 . Metoda Pengujian Ultrasonik Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt. Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver) diketahui. 1). Dari ketiga gelombang tersebut. Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang.6). gelombang permukaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b.5 atau ASTM C 597. Jika digunakan dengan balk dan benar. Alat ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar 4. maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung. transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). gelombang longitudinal merupakan gelombang yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak informasi mengenai sifatsifat fisik bahan padat yang dilaluinya. 3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz. Seperti diketahui ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat diberikan suatu impulse (getaran) yaitu. alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton. Alat ini secara talk langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat dengan nilai kuat tekannya diketahui.

maka harga modulus elastik dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan diatas. Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat diasumsikan tetap. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan dengan cara langsung. Alat Ultrasonic Pulse velocity 2). karena pola penempatan transducernya. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang kurang balk. Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil pengukuran. kecepatan gelombang akan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi permukaan solid. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4. sehingga hasil yang didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya. Selain itu. gambar 4-7. Laporan Pendahuluan 4-36 . nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu sama lain.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat jenis bench padat yang dilaluinya diketahui. pads cara yang tidak langsung. Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama perambatannya. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis batuan alam. Penempatan Transduncer Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan penerima pads bends uji.7 dan ketiga cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang terbaik.

Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara memindahmindahkan posisi transducer p enerima. cara ini sangat bergantung pads kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer penerima. Konfigurasi Transducer Laporan Pendahuluan 4-37 . sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak) maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. sedang posisi transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara transducer yang berubah-ubah). Jika. Kemiringan (slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan gelombang yang dicari. Hasil pencatatan waktu perambatan gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi jarak antara transducer. Dengan regresi linear bisa didapat persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut. gambar 4-8. Namun.

Oleh karena itu. sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik. Sehingga ada kemungkinan bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata memiliki modulus elastisitas yang berbeda. Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton Seperti disebutkan sebelumnya. Gambar 4. Laporan Pendahuluan 4-38 . diperlukan diagram kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran dengan nilai kuat tekan beton. sama seperti halnya dengan pengukuran hammer. Banyak variabel-variabel dalam campuran beton yang berpengaruh.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3). Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton dan Kecepatan Rambat Gelombang Untuk pengujian lapangan. pengukuran dengan menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai modulus elastisitas beton. kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji. maka diperlukan suatu diagram kalibrasi. Korelasi yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut.8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan kecepatan rambat gelombang ultrasonic. Sebelum diuji tekan. Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat tekannya sangat sulit dimodelkan. gambar 4-9.

6 memberikan kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic. Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic sangat dipengaruhi oleh umur beton. Kondisi lain yang berpengaruh terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar 4. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil Pengukuran Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik. Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton Laporan Pendahuluan 4-39 .7. jenis agregat dan lokasi tulangan. Yaitu − suhu − kelembaban beton − posisi tulangan pada beton bertulang Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam menginterprestasikan hasilhasil pengujian. kondisi kandungan kadar air rasio agregat semen. gambar 4-10. Tabel 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4).

9). adanya retak atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama. − Memperkirakan nilai kuat beton − Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk dibawah permukaan pelat lantai. Sedangkan kecepatan rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang p ada bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik (tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia). retakretak atau rongga kosong pada beton atau benda padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya (misal. Berdasarkan prinsip ini. Sebagai contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen struktur Laporan Pendahuluan 4-40 . kedalaman retakannya ) (gambar F.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5). yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan. Aplikasi Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik terutama diantarnya: − Memeriksa keseragaman kualitas bahan − Mendeteksi retak-retak dan honeycombing. Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan transducer yang tidak langsung (gambar 9) − Mengukur ketebalan − Mengukur modulus elastis bahan − Memonitor proses pengerasan beton − Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok kolom Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk akibat serangan kimia kebakaran adalah nol. Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 yang lapuk/rusak. Adalah : t = (TV — L) Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton yang kondisinya masih baik. Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton >4 3-4 <3 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tabel 4-7 Laporan Pendahuluan 4-41 . Cara ini sudah terbukti memberikan estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang akibat kebakaran.

Penentuan Kedalaman Retakan c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 gambar 4-11. Uji Pembebanan (load test) Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil pengujian material. baik non-destructive maupun semi-destructive yang kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya. Uji pembebanan biasanya berikut ini: p erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi Laporan Pendahuluan 4-42 . belum memuaskan pihak-pihak terkait. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan pengamatan. yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada.

yaitu − Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive − Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. maka cara kedualah yang dipilih. akibat kebakaran. sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur tersebut. − Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart. sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan. Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn saja direnivasi/diperkuat. Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat merusak. dan lain-lain. Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada tujuan diadakannya lod test. (2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test) Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat Laporan Pendahuluan 4-43 . (1) Jenis-Jenis Load Test Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok. ataupun karena adanya kerusakan fisik yang − dialami bagian-bagianstruktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − − Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur. maka pillhan pertama tentunya paling baik. gempa. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui tingkat layanan struktur. pembebanan yang berlebihan. yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan. − − Perubahan fungsi struktur. Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas bahan. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi dan kondisi. akibat serangan zat kimia. Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur.

Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji. untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak diingini.kemudahan pelaksanaan Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat apakah kondisinya balk dan kuat. sebagai contoh. a) Persiapan dan Tatacara Pengujian ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari.permasalahan yang ada . terutama untuk pengujian struktur lantai. sebagai contoh "ceiling board". Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji. apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar. ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus Laporan Pendahuluan 4-44 . Hal mi dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan. maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya. sehingga timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing effect'). Elemen non struktural ini dapal berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan. Hal ini kadangkala sulit dilaksanakan.tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji . Beberapa hal yang patut men jadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini. Perilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan: . Selain itu penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 agar keamanan masyarakat umum terjamin.

ketersediaan. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan. pemberat baja dan lainlain. setelah pembacaan. lebar retak dan renggangan.85 ( 1. pembacaan lendutan bisa dilakukan. (b) Teknik Pembebanan Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan distribusi pembebanan dapat dikontrol. Lebar retak yang terjadi biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda. (c) Pengukuran Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah lendutan. kantong semen/pasir. Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada struktur. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan perahan-lahan. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam. bata/batako. pembacaan lendutan di lakukan kembali. Beban-beban yang bisa digunakan diantaranya air. Dua puluh empat jam setelah itu.L) Dimana D=beban mati L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya) Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test' dimulai. dan kemudahan pemindahannya. besarnya total beban yang dibutuhkan. Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan. beban-beban bisa di lepaskan dari struktur. cara pengukuran adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat pencropongan dengan Laporan Pendahuluan 4-45 .4D+1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah: Beban total ? 0.

akan memberikan jaminan keselamatan clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut. 4. Pengguna bangunan gedung ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung. di mana setiap komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan orangorang yang menggunakan gedung tersebut. Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung.5. walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang besar.3. Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen. 3) Uji Beban Merusak (Beban Batas) Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji. Untuk itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang mendukung fungsi dari gedung tersebut. Namun. pada akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya. terutama untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. Komponen-komponen utilitas bangunan Laporan Pendahuluan 4-46 . ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni. pola retakretak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garisgaris yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 miikroskop.bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek. dengan lebar garis-garis berskala tersebut. terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium. Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan menggunakan strain gage. tetapi harus pula menikmatinya. PENDEKATAN UTILITAS BANGUNAN Bangunan . Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi dengan balk. Kelengkapan dan berfungsinya utilitas dari suatu gedung.

2.0 . kabel & panel listrik.4. catu daya. sistem transportai vertikal. peredam. pipa instalasi.0 m/det 4. hidran kotak.20 lantai 20 .7. panel kontrol kebakaran. sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya. alarm kebakaran.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran. pipa instalasi 3). sangkar & alat kontrol. sumber air. kabel instalasi 2). Eskalator : motor penggerak.3 m/det 0.5 0.3. selang b. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat.1. kabel dan panel listrik. rantai penarik.10 lantai 10 . Utilitas pencegahan kebakaran : 1). kran uji.5 m/det Jenis gedung Rumah sakit Rumah tinggal Lift barang 2-3 lantai 4-5 lantai Kecepatan lift 2.0 . alarm kebakaran. stater otomatis. Untuk keamanan. 1.5 m/det 1.0 m/det 6. yaitu : a.5 m/det 3. kotak operasi manual.0 . badan eskalator. roda gigi penarik. Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi. sistem tata udara.50 lantai > 50 lantai Kecepatan lift 1. Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel. Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurangkurangnya 12 mm. hidran pilar.5 m/det 3. Hidran : pompa air. Gas pemadam api kumpulan tabung gas. kran pillih otomatis 4).8 m/det m/det 2).5 . Utilitas transportasi vertikal : 1).0 . Tabel 4-8 Klasifikasi penggunaan lift Lift untuk manusia Lift khusus Tinggi gedung 4 .15 lantai 15 . tangki penekan. sistem instalasi listrik. motor penggerak pintu. sistem plumbing. rel'. Lift : motor penggerak. Komponen Utilitas Bangunan Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan gedung. anak tangga Laporan Pendahuluan 4-47 . titik panggil manual. alat-alat deteksi. alat kontrol. Sprinkler otomatis pompa air. dan plat lantai pemikul lift terbuat dari beton. banyaknya kabel minimal 3 buah. strik.3. kabin lift harus tahan api dan tertutup.6. sistem instalasi penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi. tangki penampungan air 5). catu daya panel kontrol. nose) gas. kepala sprinkler. alat penyeirnbang.5 .0 .

kuantitas Berta kelengkapan dari komponen-komponen utilitas bangunan. elektroda pembumian g. pipa air hujan d. lampu. kabel instalasi. Berdasarkan pengamatan visual ini akan diperoleh data-data mengenai kualitas. sistem pendinginan tidak langsung (media udara) 2 ) . PABX. tangki penampungan atas. panel distribusi. kabel instalasi 2). Sumber daya genset : motor penggerak. Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih. bak cuci. alternator. trafo. alat pengisian aki. sistem AC split f. saluran dari bak cuci ke saluran terbuka. radiator. Utilitas instalasi tata udara 1 ) . pompa penampungan & alat kontrol. Instalasi tata suara : mikropon. saluran ke tangki septik. Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media air). kran air gelontor. Instalasi telepon : pesawat telepon. Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows. kabel instalasi 2). listrik untuk panel pompa. daily tank. Pengumpulan Data a. Sumber daya PLN : panel tegangan menengah. tangki septik. Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir. Utilitas Instalasi komunikasi 1). lubang pengurasan. Air bersih : sumber air. speaker. Observasi Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey lapangan pada objek yang diteliti. pengikat ekuipotensial hantaran pembumian. panel e. kran 2). AMF. armatur. Air kotor : kloset. pompa distribusi. Utilitas instalasi listrik 1). Utilitas plumbing 1). hantaran pembumian elektroda pembumian 2). Observasi ini diperlukan yang dan untuk untuk mendapatkan gambaran secara langsung objek mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas yang terdapat pada gedung tersebut. panel system tata suara. Utilitas instalasi penangkal petir 1). kabel instalsi 2. Laporan Pendahuluan 4-48 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. pompa instalasi.

5 Hz < 5% < 10% 0. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi penangkal petir. Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah : gambar 4-12.0 < 5% < 5% < ion ~ Keteransan max 5 % min 10 % Untuk saluran fasa Untuk saluran netral Sifat lagging Laporan Pendahuluan 4-49 .8 -1.240 V 49. Alat ukur mekanikal elektrikal Tabel 4-9 Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Tegangan Listrik Frekuensi Total Harmonic Distorsion Pf dan cos Φ Voltage unbalanced Current unbalanced Resistansi pentanahan Resistansi isolasi Nilai Yang Diinginkan 198 . Pengukuran dan Pengujian Pengukuran dan pengujian dilakukan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari pengamatan visual.5 -50.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b.

d. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran. selama proses pengolahan maupun selama pengaliran di dalam pipa distribusi.6. penghuni dan masyarakat sekitarnya. memelihara clan mewujudkan lingkungan yang sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans epidemiologi. Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal (sumur gall. untuk itu perlu dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan. jiwa dan sosial. Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih clan aman. Untuk itu sarana dan bangunan umum tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. c. Sarana air bersih Laporan Pendahuluan 4-50 . Komponen Lingkungan Indikator a. yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. industri. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis. karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi mulai dari sumber air. komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. b. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum. terminal air. Hal ini telah diamanatkan pada UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. psikologis clan dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna. Dalam rangka melindungi. 1. penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa parameter sebagai berikut Sarana air bersih Drainase gedung Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampan. PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. sumur dalam (sumur artesis).3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. sumur pompa tangan dangkal). selain itu harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan. a.

selain itu bangunan pengambilan harus dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian. 4. sehingga tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia. Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara lain 1. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar. 2. Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik. kimia. biologic dan radiologis. Demikian pula dalam suatu bangunan.biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. pencemaran dalam sumber air bersihnya pun dapat terjadi. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. sumber/sarana air bersih dalam suatu bangunan perlu direncanakan. 3. Misalnya jika menggunakan sarana air bersih dari sumur. sehingga harus dilengkapi dengan pagar keliling.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 PDAM. 5. Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih. Tidak berasa dan tidak berbau. kimia. Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti terlihat pada tabel berikut Laporan Pendahuluan 4-51 . Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit.907/Menkes/SK/VII/2002. oleh karena itu.

Laporan Pendahuluan 4-52 . Drainase Gedung Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-10 Persyaratan Kualitas Air Minum b. Air hujan yang dibawa dalam sistem plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Bila terdapat sistem plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan umum. Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari sistem tersebut. menyebabkan erosi atau genangan air.

Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader). 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota. Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet. maupun tempat . Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local. untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya. Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara: 1. Laporan Pendahuluan 4-53 .tempat umum lainnya. industri.94 m2) luas atap dibutuhkan I inci luas leader. 2. Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya. 4. Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai 2. Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran. umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah (underground drain). Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13. basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota. Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22. c. Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah : 1. kemiringan atap dan bentuk gutter.86 m).

Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masingmasing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. sekolah. yang terdiri dari: 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil. seperti rumah tinggal. 3). hotel. industri kima. Derkantoran. karena lebih kurang 80 % dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari . Oleh sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian. 2). namun volumenya besar. Pengelolaan Individual Laporan Pendahuluan 4-54 . Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-13.hari dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar ).zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup Meskipun merupakan sisa air . Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri. Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat . pasar dan fasilitas pelayanan umum. pertokoan. Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah. dll. Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara: 1). Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. seperti pabrik tekstil. Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi: − − − air buangan kamar mandi air buangan WC : air kotor/tinja air buangan dapur clan cucian pabrik pangan.

Secara diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-15. seperti hotel. Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas 3). Pengelolaan Komunal d. Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam wilayah yang kecii. yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. perdagangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2). Apabila dibakar akan menimbulkan Laporan Pendahuluan 4-55 . bandara dan fasilitas umum. industri. rumah sakit. yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Sarana Pernbuangan Sampah Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia. Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman. Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-14. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah. Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce. badan air dan udara. misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan. Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur. misalnya timbulan wampah masuk ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Reuse.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 pengotoran udara. Laporan Pendahuluan 4-56 . Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut: gambar 4-16. atau jalur lain. Recycle dan Replace ). Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir.

Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan. sampel air diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain 1) Pengukur kualitas air 2) Sanitarian Kit 3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada penyehatan sarana dan bangunan umum. drainase dan air limbah. saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengumpulan Data Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder maupun data primer. c. Data primer dikumpulkan dari hasil observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan. Analisis aspek sanitasi mengacu pada KepMenkes No. Formulir Pengamatan 1) Formulir pemeriksaan 2) Formulir Inspeksi Sanitasi ii.1/26/1990 tentang Baku Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. pengangkutan. terutama dokumen yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari masing-masing pemilik bangunan. Peralatan dan Analisis Data a. 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. pengolahan dan pembuangan akhir. Untuk sarana air bersih. b. Laporan Pendahuluan 4-57 . Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660. Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan dari berbagai sumber yang representative dan mewakili. Pengumpulan Data. Peralatan Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu i.

4. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli. Melakukan uji lab bila diperlukan.4.4. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada.2. d. Masing-masing akan dinilai dengan memberikan Laporan Pendahuluan 4-58 . serta gambar as built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan. KEBUTUHAN. Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung (gambar IMB. Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait.1. dan gambar mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait. Jenis Perolehan Data Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan bangunan meliputi beberapa aspek. 4. Data Primer a. Browsing data-data peraturan terkait melalui internet. b. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai bangunan terkait. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis. 2. gambar arsitektur. b. gambar struktur. c. Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara: 1. c. d. PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Data Sekunder a. Tim ahli secara spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut.

Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi baik. mengalami retak. pecah atau terkelupas). atau sudah tidak sesuai). pecah atau terkelupas). b. Data utama : • Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) • • • • Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut) Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut) Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri atas berapa lantai) 2. f. berlubang atau rusak) i. mengapur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. terkelupas atau pelapis lantai tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna). mengalami retak rambut. pecah/ rusak. d. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik. terkelupas. retak. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri. luntur. pudar/ busam. terbelah. mengalami retak. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). atau dalam kondisi rusak. g. buram. masih sesuai dengan fungsi. Data Umum Bangunan Gedung a. atau sudah kusam. Laporan Pendahuluan 4-59 . c. macet. e. berlumut. Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik bisa difungsikan sesuai fungsinya. terbelah. hilang dan tidak berfungsi) h. Data-data yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut: 1. Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik. pecah. kusam. ambles. mengalami retak. Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi baik. Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. terkelupas atau berjamur ). pecah. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik. Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik. lembab. Aspek Arsitektural a.

hilang mur dan baut. luntur. miring) d. bocor pada basement) Laporan Pendahuluan 4-60 . pecah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 j. lembab. berlumut. kusam. kepala pondasi. lapuk/ berkarat) f. berlubang. ikatan sambungan mur baut terlepas. beton terkelupas. berlubang atau rusak) m. mampu menopang/ menahan beban. apakah bangunan menggunakan : a. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat. atau terlepas. atau terjadi patahan. pecah pada beton. Struktur dinding pasangan dan rangka beton praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai berikut: a. jika dari besi apakah terjadi karat. k. pecah. pudar/ busam. pecah/ rusak. jika dari besi apakah terjadi karat. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi baik. jika dari beton apakah terjadi patah. melengkung. terkelupas. Pondasi. atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja) c. akan dilakukan klasifikasi form isian terlebih dahulu. lendut. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat atau hilang. Struktur rangka beton dan dinding geser d. balok pondasi : (apakah masih kuat. jika dari beton apakah terjadi patah. retak. ikatan sambungan mur baut terlepas. l. Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik. atau terjadi penurunan dan patah struktur) b. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). buram. bocor. Aspek Struktural Sebelum dilakukan survey ke lapangan. retak rambut) e. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku. melengkung. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. kaku. Struktur rangka baja dan dinding pasangan c. terkelupas atau berjamur ). Struktur rangka beton dan dinding pasangan b. pecah. kuat menyalurkan beban. rapuh) 3. ambles. atau muncul retak. kaku. mengalami retak. tanpa pengikat. kuat menopang beban di atasnya. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik.

terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya) l. atau rapuh. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. meliuk. tegak. retak rambut. patah. retak rambut. kabel instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi. berjamur) 4. patah. apakah leufel & kanopi masih kuat. Balok anak. leufel. lendut. lembab. retak rambut) n. ataukah rusak. lapuk.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 g. Rangka atap. kokoh. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam kondisi baik. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. retak struktur. hilang. apakah terdapat beban benda yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup atap. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik. tidak terawat. mampu menahan beban pengguna yang melaluinya. ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik mampu menahan beban penutup atap. atau terjadi pecah. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat. catu daya. Utilitas dan Proteksi Kebakaran a. retak struktur. panel control kebakaran. apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik) k. kuat dalam penataan siarnya. retak struktur. lembab. patah. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. atau rusak. ikatannya menyatu dengan balok induk. tidak berfungsi) Laporan Pendahuluan 4-61 . retak rambut. berkarat) o. atau terjadi retak. komponen tidak lengkap. retak. bocor. kuat dalam campuran semen ikatannya) m. mudah hancur. beton mengelupas) h. atau miring. titik panggil manual. pecah. rembes. alarm. atau terjadi lengkung. beton mengelupas. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik. canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus atau patah. lendut. berjamur) i. mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya. atau hal-hal yang menghawatirkan jika terjadi keruntuhan) j. retak rambut. hilang komponen pengikatnya.

tidak berfungsi) c. hilang. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. roda-roda gigi penarik. tidak berfungsi. rel. Nosel gas. Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api. kabel dan panel listrik. kotak operasi manual. kran pemilih otomatis) : : (apakah tersedia atau tidak. ataukah sudah expired. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. selang) : : (apakah tersedia atau tidak. tidak berfungsi) d. alat deteksi kebakaran. Escalator (meliputi motor penggerak.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. kabel dan panel listrik. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. komponen tidak lengkap. anak tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. stater otomatis. Utilitas Transportasi vertikal a. kran uji. rantai penarik. sangkar dan alat control. ataukah rusak. atau macet. motor penggerak pintu. panel control. tidak terawat. Tabung pemadam api (tabung gas tersegel. badan escalator. Lift / elevator ( meliputi motor penggerak. tangki penampungan air) : : (apakah tersedia atau tidak. alarm kebakaran. dan permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna escalator) Laporan Pendahuluan 4-62 . hilang. hilang segel. catu daya. ataukah rusak. sumber air. tidak terawat. kepala sprinkler. ataukah rusak. alat penyeimbang sangkar. rusak. hilang. tidak terawat. tidak berfungsi) 5. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. atau terjadi permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift) b. alat control. Hydrant (meliputi pompa air. pipa instalasi. peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak. tangki penekan atas/ alat kontrol. komponen tidak lengkap. komponen tidak lengkap. tangki air. hydrant box/ pillar. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air. tidak berfungsi) e. pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. rusak salah satu komponen. tidak terawat.

saluran ke septictank. pipa air hujan) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. atau rusak salah satu komponen. pompa instalasi. AMF. kran) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. terawat. tidak berfungsi dengan baik. bersih. tidak berfungsi) 8. kipas udara evaporator. Utilitas Plumbing a. panel) : (apakah masih dalam kondisi baik. atau rusak salah satu komponen. hilang. tangki penampungan air. alat pengisi aki. wastafel. pompa penampung air dan control. terawat. terawat. diffuser grill. Utilitas Instalasi tata udara a. evaporator. Air kotor (Kloset. hilang) 7. kran air gelontor. hilang) b. tidak terawat. media pendingin. urinoir. bersih. tidak berfungsi) b. kering.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 6. lubang saluran pengurasan lantai. panel control) : : berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. alat control. septictank. tidak berfungsi dengan baik. Utilitas Instalasi listrik a. pompa distribusi dan tangki hidrofor. atau rusak salah satu komponen. saluran dari wastafel ke saluran terbuka. panel distributor. bak cuci. lampu TL/pijar/halogen/SL. hilang. cerobong udara. trafo. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. kabel instalasi) : (apakah masih dalam kondisi baik. kabel instalasi. bersih. altermator. Daily tank. hilang. pipa instalasi air pendingin kondensor. panel distribusi. tidak terawat. tidak berfungsi dengan baik. kering. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah. tangki air atas. pompa sirkulasi air pendingin kondensor. kondensor. bidet. radiator. Sumber daya Genset (Motor penggerak. lampu amatur. Air Bersih (sumber air. Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air) (meliputi kompresor. listrik untuk panel pompa. tidak Laporan Pendahuluan 4-63 . kipas udara kondensator. menara pendingin.

Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon. kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi baik. panel system tata suara. diffuser grill. hilang. hilang. Utilitas Penangkal petir a. alat control cerobong udara. kondensor. hilang. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara) (meliputi kompresor. evaporator. tidak berfungsi) 10. terawat. terawat. bersih. hilang. atau rusak salah satu komponen. bersih. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. bersih. bersih. unit pengelola udara. tidak berfungsi dengan baik. apakah masih dalam kondisi baik. PABX. tidak berfungsi) b. pipa sirkulasi air es. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi dengan baik. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi dengan baik. Sistim AC window (non sentral) (Kompresor. atau rusak salah satu komponen. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah. pipa instalasi. bersih. media pendingin air es. Sistim AC split/ FCU (non sentral) (Kompresor. apakah masih dalam kondisi baik. hantaran pembumian. Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir. hilang. hilang. media pendingin. kipas udara kondensor. terawat. hantaran pembumian. speaker. terawat. kondensor) : : tidak berfungsi dengan baik. hilang. bersih. pipa instalasi air es. pipa instalasi air pendingin kondensor. evaporator. tidak berfungsi) c. tidak berfungsi) 9.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik. evaporator. atau rusak salah satu komponen. stri pengikat ekuipotensial. pipa sirkulasi pendingin kondensor. tidak berfungsi dengan baik. Utilitas instalasi komunikasi a. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi dengan baik. terawat. tidak berfungsi) d. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. atau rusak salah satu komponen. Instalasi tata suara (meliputi mikropon. terawat. Laporan Pendahuluan 4-64 . bersih. terawat. tidak berfungsi) b. atau rusak salah satu komponen.

Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat dilihat pada table berikut: Laporan Pendahuluan 4-65 . atau tidak sesuai) b. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk pedestrian dan ramp. Aspek Aksesibilitas a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 11. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Penyajian data Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan. apakah dalam kondisi baik atau rusak) c. dan data yang telah diperoleh dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan.3. atau tidak memenuhi persyaratan) f. ataukah tidak mencukupi) d. atau tidak memenuhi persyaratan) g. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. apakah dapat dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak memenuhi persyaratan) i. Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control. Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. baik alarm. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang.4. Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran. atau tidak memenuhi persyaratan) 4. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak memenuhi persyaratan) e. atau tidak memenuhi persyaratan) h. Penyajian data dituangkan dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan pembagian aspek masing-masing. apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. saklar lampu dll. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan.

hilang.00% 100 0 baik - 3 20 Plesteran lantai luar 2.5 100.K.00% 100 0 3 100.berlubang. terkelupas berlubang <5% baik 100 terkelupas <10% .5 10 Penutup atap RUANG  LUAR Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar 2.00% 100 0 Pelapis muka langit‐ langit SUB TOTAL 10 100.5 2.ARS NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai NILAI KOMPONEN SUB KOMPONEN MAKSIMUM KEANDALAN (%) (1) (2) Kesesuaian penggunaan fungsi Pelapis muka lantai 10 100.terkelupas  >=10% 2 2.  hancur baik .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. kasar baik 100 retak. tidak tampak .buram >=50% . pecah .00% 100 SUB TOTAL 20 TOTAL 100 Kesimpulan : 1.00% 10 100.retak.00% 100 0 Berfungsi baik baik baik baik baik (3) 15 (4) Sesuai fungsi baik KONDISI ANDAL 95 . pecah terlepas .00% 100 0 (20%) Pelapis muka langit‐langit luar 2 100. pecah terlepas .terbelah.00% Pelapis muka dinding 10 100. pecah 100 buram.100 (5) K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) N. (%) NILAI KEANDALAN TOTAL (%) (11) 15 100 masih sesuai dengan fungsi 100 retak rambut 100 retak rambut 10 - 10 10 80 10 15 - 10 80 10 1.K. tidak tampak . (%) KURANG ANDAL 75 .00% 100 0 100 0 100 0 Pintu/jendela 15 100. belah.5 100. ter‐ kelupas <10% 100 terkelupas <10% 100 Masih berfungsi 100 terkelupas <10% .hilang. (%) TIDAK ANDAL <75 (9) (10) N. bergelombang buram.Tidak berfungsi .Terkelupas  >=10% N.<95 (6) (7) (8) Tidak sesuai .00 100 0 baik 100 Tidak berlubang 100 buram <50% 100 aus.K.00% 100 0 Plesteran lantai RUANG DALAM (80%) Plesteran dinding 10 100. Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal : 1 2 3 4 5 Pemeriksa ANDAL Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan Laporan Pendahuluan 4-66 . Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11) FORM .belah.terbelah.

kaku. kedap air. retak diagonal/ melintang Kurang kuat/kaku.00 Struktur Pelengka p Tangga 6 100 100 6. padat. kurang mulus. kaku. rata. retak-retak Lendut. lentur kecil Kurang kuat. 2. kurang stabil Retak.K Kompone n Keandala n Andal (%) n kompone n (%) 95 . lapuk. rata Bahan/dimen si OK. kurang kaku.<95 (6) (7) Kuat. Kepala Kuat. tidak dapat dipakai Kurang kuat. stabil Faktor Reduksi N.00 2 100 100 2. retak. Stabil Balok Bawah Pondasi Sub Total Dinding Pasangan Bata/Bata ko Kolom. Gording Sub Total Rangka Langitlangit Penutup langitlangit 0.00 Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL Saran agar struktur secara keseluruhan 1. mulus Rangka dan tumpuan kuat. kurang rata Rata. Kaku. kaku. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur a. awet. fungsi baik Rata. Kaku. Stabil Tidak Andal < 85 (8) Tidak stabil. amblas. ada lendut Lendut. Balok Praktis Slab Lantai Bahan/dimen si OK Bebas retak.00 Kuat. berfungsi baik Kuat. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-67 .K (%) (9) Nilai Keandalan Total (%) (10) (11) 25 25.50 Slab Atap Rangka Atap. 3. pecah. retak halus/bocor Kuat. bocor. retak.00 Lantai bawah Sub Total 4 100 100 4. bebas bocor. fungsi baik Kuat. kurang kaku. kaku. kedap air 100 Kuat.00 60. Kurang Kaku.00 15.rusak tak berfungsi Kurang kuat/kaku.5 100 100 4. lapuk. kurang kaku.00 4. basah. kurang stabil Retak. pecah N. kuat Kuat. Ikatan Angin. kaku.00 3 100 Kuat. bebas retak.5 100 100 0.K Kurang Andal (%) 85 . rata Kuat.00 20 100 Kuat.100 (1) (2) (3) (4) (5) Pondasi.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: 100. tidak rata 3. ada retak Kuat. kropos/ karat 5. Kaku. Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12) Jumlah lantai Pemilik : : lantai Nilai Nilai Sub keandala Kondisi Maks Kompone N. kurang kaku. rata. 100 25 100 Struktur Pondasi. kaku. padat. tidak rata Kusam dan retak. retak rambur 20. lendutan besar 30 100 100 30. stabil 100 Kuat. tidak kuat. pecah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. berfungsi baik Kuat.50 5 100 100 Kuat. kurang kaku.

00 100 Retak.00 5 100 Kuat. retak. Kaku. 3. melendut 1.00 100 2. Daktail Kuat. ada lendutan Tanpa jangkar dinding pasangan belah Tanpa jangkar dinding pasangan belah Retak lentur/geser Rusak. kaku. retak lentur Kuat. pecah Nilai Keandalan Total (%) (10) 25 (5) 100 (7) (9) (11) 25. retak lentur Retak < 0. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom .00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: ##### Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan ANDAL 1.5 mm Lendut > L/300 Tidak kaku. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak terlihat 15. kurang rata Batang jangkar lemah.K Tidak Andal (%) < 85 (8) Tidak stabil.00 2 100 Kuat. Rata/Datar 100 Kuat.<95 (6) Kuat.K Kurang Andal (%) 85 . Kurang Kaku. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako 20 13 2 5 5 100 100 100 100 100 100 20.00 100 13. tanpa retak 100 2. Stabil Kompone n (1) Struktur Bawah Sub Komponen (2) Pondasi. Ikatan Angin.1 0. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-68 .K n Keandala Andal (%) kompone n (%) 95 .00 15 100 Kuat. Daktail Kuat. tidak kaku.00 Struktur Shotcrete Panel Pelengka Precast p Balok Anak. tanpa retak 100 2. Kaku. menyatu Kuat.5 Kuat. 2. Kaku. daktail 100 5.00 60. Kaku. bocor 5. dinding retak Kuat.00 5 100 Kuat. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13) Nilai Nilai keandala Kondisi Maks N. Awet.00 100 Retak 1-3 mm 5. lebar retak 0.00 15. kaku. retak lentur Kuat.00 1 100 Kuat. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 2 100 Kuat.Balok Faktor Reduksi N. Stabil N. Kepala Pondasi. kaku 100 5. kuat.00 Kolom Baja Balok Baja Struktur Atas Pengaku Silang Slab Lantai Rangka Atap. retak lentur Retak rambut. tidak kuat.100 (3) 25 100 (4) Kuat. Leufel. lendut Kurang rata. Daktail Kuat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Aman Rata dan baik 100 Kuat. retak rambut Batang jangkar lemah.

00 1 2 6 6 100 100 100 100 Kuat.00 Struktur Atas Dinding Geser Slab Lantai Slab Atap Rangka Atap. retak rambut Kuat. melendut 1.00 10 15 15 10 4. belah Retak 1-3 mm Retak. retak lentur Retak rambut.50 0. Awet. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan 100. tidak kaku. tidak kuat.Balok Kolom Balok (5) 100 (6) Kuat. Kaku. kuat.00 4. retak lentur Kuat.00 ANDAL : : : : Laporan Pendahuluan 4-69 . Awet. 2.00 15.K (%) Kurang Andal 85 . Kepala Pondasi.K (%) Tidak Andal < 85 N. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak geser. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 60.00 6. Rata/Datar Kuat. tetapi telah retak rambut Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . tanpa retak Kuat. pecah (9) (10) 25 (11) 25. bocor 10. Kaku. Stabil N. Aman Kuat. 3. lendut Kurang rata. Kaku. bocor Retak. retak lentur Retak rambut Retak rambut Lendut > L/300 Tidak kaku. Kurang Kaku. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako Balok Anak. Ikatan Angin.00 10. kaku. Daktail Kuat. Aman Kuat.00 15.00 Struktur Pelengkap 100 2.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan 1. Stabil (7) (8) Tidak stabil. Daktail Kuat. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14) PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai Komponen Sub Komponen Nilai Nilai Maks keandalan Keandalan komponen (%) struktur (3) 25 100 Faktor Reduksi Kondisi Andal 95 . retak.<95 N.00 100 100 100 100 100 100 15. Menyatu Kuat. Leufel.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. ada lendutan Tanpa jangkar ikat dinding retak/belah Retak lentur/geser Rusak. Daktail Kuat. Kaku.5 0. Kaku.K (%) Nilai Keandalan Total (%) (1) Struktur Bawah (2) Pondasi. kaku 100 Kuat. retak lentur Kuat. daktail Kuat.50 5.5 5 100 100 100 100 100 100 100 Kuat. Kaku. Aman 100 Kuat.00 100 100 6.100 (4) Kuat. kurang rata Batang jangkar lemah.

00 100.i) Keterangan : Andal : µku = 99 – 100 %. Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/ Kurang/Tidak Andal : µku = < 95 % ANDAL Kurang andal .00 100. µku = 95 – 99 %. Keandalan (%) (3) 20 15 15 20 15 5 10 Σ µ ku (%) Kondisi Andal. Util. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15) Form – A Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung No. : ………………………. Laporan Pendahuluan 4-70 .00 100. Kurang Andal. : ………………………. Komp.<99 (6) x x x x x x x Keandalan N ku TA <95 (7) x x x x x x x (8) (%) (4) 100. Tidak andal Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : ……………………….Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Tidak Andal (%) Andal 99 -100 KA 95 . : ……………………….00 100.00 100.00 (5) 100 100 100 100 100 100 100 Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas (µku. : ……………………….00 100. AC Instalasi Penangkal Petir Instalasi Komunikasi Jenis Komponen Utilitas Gedung Instalasi: Nilai Maks.00 100. i (1) 1 2 3 4 5 6 7 (2) Intalasi Pencegahan Kebakaran Transportasi Vertikal Plambing Instalasi Listrik Tata Udara.

Nosel Gas 9. Pompa Air 2.00 4 4 4 4 4 100.00 3 2 2 2 2 2 2 100. Alat-alat deteksi 2. Tabung Gas Tersegel 2. Titik Panggil manual 3.00 1A 4. Panel control Kebakaran (3) NF = 20 (4) (5) (6) (7) (8) (9) 100. Pipa Instalasi 3. Kran Pemilih Otomatis HIDRAN 1. Pipa Instalasi GAS PEMADAM API 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Pompa Air 2. Panel Kontrol 6. Catu daya 5.Selang NF = 15 3 2 2 100 2 2 2 2 100 NF = 15 8 7 100 100 100 100 x x x x 8 7 100 100 100 100 100 1D 1E Laporan Pendahuluan 4-71 . Tangki Penampung Air TABUNG PEMADAM API RINGAN 1. Tangki Air 5. Reduksi Ф (%) (1) (2) SISTEM DETEKSI ALARM KEBAKARAN 1. kran Uji 4. Alat-alat Deteksi kebakaran 8. Hidran Kotak 5. Catu Daya 5. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16) Form Utl-1 Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Pencegahan Kebakaran Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tidak Andal <95 % Tingkat keandalan F. Hidran Pilar 6. Sumber Air 7. Tangki Penekan Atas/Alat Kontrol 4.Kumpulan Tabung Gas Pemadam Api 2. Kepala Sprinkler 3 3 4 NF = 20 4 4 4 4 4 NF = 20 3 100 100 100 100 100 100 100 100 1B 3. Stater Otomatis 100 2 2 2 2 2 3 100 2 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 2 2 2 2 2 3 2 2 100. Alarm Kebakaran 6. Kabel Instalasi SPRINKLER OTOMATIS 1. Alarm Kebakaran 3.00 1C 4.00 3 3 4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 3 4 3 3 4 100. Kotak Operasi Manual 7.

Pompa Instalasi 9.00 2A 8 7 7 7 7 7 7 100.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 2. maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan Laporan Pendahuluan 4-72 . Kloset/ bidet/ Urinoir 2. Tangki Septik 5.00 2B 8 7 7 7 7 7 7 c. motor Penggerak 2. Alat Penyeimbang Sangkar 7. saluran ke Tangki Septik 3. Motor Penggerak Pintu 4. Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18) Form Utl-3 Nilai Keandalan Utilitas : Plambing Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Plumbing Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Kran Air gelontor 100. Listrik untuk Panel Pompa 8.00 7 6 6 7 6 6 6 6 3B 4. Peredam Sangkar ESKALATOR 1. Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 7. alat control. pompa air. Kabel dan Panel Listrik 4. Sangkar dan alat Kontrol 3.Tangki Air (3) NF = 50 5 5 6 6 6 6 5 6 5 NF = 50 7 6 6 7 6 6 6 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) 5 5 6 6 6 6 5 6 5 (9) 100. Sumber Air dari sumur dala. Tangki Air Atas : Menara 5. M t Ai Penampung *) 3. Rel 6. tempat cuci tangan 6.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Kran AIR KOTOR 1. Anak Tangga/lantai (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Roda-roda gigi Penarik 6. Badan Eskalator 7. Pipa Air Hujan *) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut. Motor Penggerak 2. Kabel dan Panel Listrik 5. Lobang/ saluran pengurasan lantai 8. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17) Form Utl-2 Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Transportasi Vertikal Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tingkat F. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 7. Rantai Penarik 5.00 3A 4. Alat Kontrol 3. Bak cuci. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan <95 % (1) LIF (LIFT) (2) 1. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) AIR BERSIH (2) 1.

Armatur 7. Panel Distribusi 5. motor Penggerak 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 d. Altermator 3.00 7 7 4 6 7 7 6 4B 4. Radiator/ pendingin 5. Panel Tegangan Menengah 2.00 4A 3. Alat pengisi aki 100.l A d% l 100% 95 <95 (%) (1) (2) SUMBER DAYA PLN 1. Kabel Instalasi SUMBER DAYA GENSET 1. Daily Tank Laporan Pendahuluan 4-73 . Kabel Instalasi 6. AMF 7. Panel Tegangan Tengah 4. Reduksi Termasuk Kategori keandal Tidak Kurang Andal Ф an A d. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19) Form Utl-4 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Listrik Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) TingkatF. Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 6. Trafo (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF= 50 7 7 4 6 7 7 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 <100% (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) 8 7 7 7 7 7 7 (9) 100.

Kipas Udara Kondensator 7.00 5. Difuser gril 11. Alat Kontrol 10. Evaporator 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 e. Difuser gril 12. Kompresor 2. Cerobong Udara 12. Panel Kontrol 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 Laporan Pendahuluan 4-74 . Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20) Form Utl-5a Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% Tidak A d% l <95 Tingkat F. Pipa Instalasi Air Es 4. Reduksi keandalan Ф (%) (1) 1. Alat Kontrol Cerobong Udara 11. Pipa Instalasi air pendingin kondensor 14. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 14. Pipa Instalasi Media Pendingin 9. Media Pendingin 8. Media Pendingin 8. Unit Pengolah Udara 10. pipa instalasi air pendingin Kondensor 13. Kompresor 2. Kondensor 4.00 5B 6. Kipas Udara Kondensor 7. Panel Distributor (2) SISTEM PENDINGIN LANGSUNG (3) NF=50 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 NF = 50 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Menara Pendingin 13. Panel Kontrol SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG 1. Pipa Sirkulasi Air Es 5. Kondensor 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 100. Media Pendingin Air Es 9. Pompa sirkulasi air pend kondensor 15. Evaporator 3. Kipas Udara Evaporator 5A 6.

Kondensor SISTEM AC SPLIT /FCU 1.00 13 13 12 12 5B 2.00 7B 2. Konpresor (3) NF = 50 18 16 16 NF = 50 13 13 12 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 18 16 16 (9) 100.00 5A 100. Konpresor 2. Pipa Instalasi 4. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) SISTEM AC WINDOW 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. Hantaran Pem-bumi-an 4. Elektroda Pem-bumi-an INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22) Form Utl-6 Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Penangkal Petir Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Elektroda Pem-bumi-an 13 12 12 13 Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang Laporan Pendahuluan 4-75 . Stri Pengikat Ekuipotensial 3. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Kepala Penangkal Petir 2. Arester Tegangan Lebih (3) NF = 50 16 16 18 NF = 50 13 12 12 13 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) (9) 100. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21) Form Utl-5b Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Evaporator 3. Kondensor Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang g. Evaporator 3. Hantaran Pem-bumi-an 3.00 6A 16 16 18 100.

00 (1) (2) PERLENG ada tidak KAPAN & X PERALAT Stop Kontak. Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24) PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS Kondisi Nilai Keandalan Eksisting Maksimum Elemen Terfaktor Keandalan Pedestrian (%) (%) (3) Ya x x Ya X x X Tidak Tidak 40 5 5 40 5 4 1 (5) 40 5 5 40 5 4 1 100. Pesawat telepon 2.00 7A 100.00 Kondisi Eksisting Elemen Aksesibilitas Baik Rusak Sedang (8) x Rusak Berat 75>Ka>0 (9) x (10) 50 Nilai Keandalan Parsial 12000 8 m2 lantai No.00 x x 50 (6) 100.00 100. Speaker 4. PABX 3. Panel system tata suara 3. Tidak andal : µku = <75 % 100 KESIMPULAN : X ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL Rekomendasi 1 2 3 4 Laporan Pendahuluan 4-76 .Kabel Instalasi INSTALASI TATA SUARA 1. Reduksi Termasuk Kategori tingkat Kurang Andal Tidak Andal Ф keandalan d l 100% 95A -<100% <95 % (%) (1) (2) INSTALASI TELEPON 1. Mikropon (3) NF = 50 16 18 16 NF = 50 12 13 13 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 16 18 16 (9) 100. tombol & perlengkapan k t l laksesibilitas i b d d i i Rambu Perlengka ada tidak pan x peralatan Peringatan berbentuk suara Peringatan berbentuk visual Peringatan berbentuk getaran SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol 100>Ka≥95 95>Ka≥75 (7) 100. Kurang andal .00 12 13 13 12 7B 2. µku = 75 – <95%. Kabel Instalasi 4. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23) Form Utl-7 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Komunikasi Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Nilai F.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 h.

Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Parkir (1) (2) KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA Kesesuaian dengan dokumen rencana kota Kesesuaian KDB Kesesuaian KLB Kesesuaian GSB Ya x x x Tidak 5 2 2 1 5 2 2 1 100 SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Kurang andal . µku = 75 – <95%.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Tidak andal : µku = <75 % 100 Laporan Pendahuluan 4-77 . Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25) PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nama Bangunan : Alamat Pemilik : : Fungsi Bangunan : Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nilai Keandalan Nilai Maksimum Terfaktor Keandalan Keandalan (%) (3) (5) (10) No.

00 5.00 30. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah Laporan Pendahuluan 4-78 . atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.00 - <95% <75% <75% - 50 5 5 100 50. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.00 100.00 Bangunan yang diperiksa masuk kategori Interpretasi : a.00 5.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26) Kategori Penilaian No Aspek Yang dinilai Andal NK (%) (1) 1 2 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Pasangan Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total ANDAL (2) (3) 95% 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 100% (3) 100.92 <75% <85% Tidak Andal NK (%) (5) Bobot Penilaian (%) (6) 10 30 Nilai Keandalan Total (%) (7) 10.00 75% <95% 85% <95% 95% <100% 75% <95% 75% <95% Kurang Andal NK (%) (4) 89.00 3 4 5 100. struktur=NKS. struktur=NKS. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) b.00 100.00 100.

bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95% Tidak andal. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap Andal. struktur=NKS. NKA. Kurang andal. Tingkat Keandalan Utilitas dianggap Andal. bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99% Tidak andal. (99%<=NKA<=100%) b. Kurang andal. (90%<=NKA<=100%) b. bila NKA tidak kurang dari 99% atau a. bila NKA tidak kurang dari 90% atau a. bila NKA tidak kurang dari 95% atau a. % 3. NKS. % 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 c. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah 1. bila NKA bernilai dibawah 95 c. bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90% Tidak andal. Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. Tingkat Keandalan Struktur dianggap : Andal. Kurang andal. dan NKU tidak boleh kurang dari 95 % Laporan Pendahuluan 4-79 . d. % Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. bila NKA bernilai dibawah 75 c. (95%<=NKA<=100%) b. bila NKA bernilai dibawah 85 c.

Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik dari bangunan yang telah diperiksa di atas. Interpretasi • Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan (komponen arsitektur. • Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan ( arsitektur.100% 2. Andal.5. Kompilasi Data Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan data lapangan. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan 2.5. struktur. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal Tingkat keandalan Arsitektur dianggap: 1. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA 4.5. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. struktur. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Struktur dianggap: 1. Kurang Andal. Andal. Tindak Andal. Data 4.1. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4.2. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal • Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. utilitas. Setelah dikelompokkan akan di tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel tersebut akan digunakan untuk: 1. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa 3. utilitas. bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95% 3. Tindak Andal. struktur. utilitas. Kurang Andal. utilitas. bila bobot nilai diantara < 85% Laporan Pendahuluan 4-80 .100% 2. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori Andal. struktur.

Kurang Andal. nilai keandalan Arsitektural.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tingkat keandalan Utilitas dianggap: 1. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .95% < 75% >95%-100% >85% . nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Tata Bangunan dan Lingkungan: 1. Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan). Tabel 4-27 Penentuan nilai Keandalan Bangunan ASPEK KEANDALAN ARSITEKTUR STRUKTUR UTILITAS AKSESIBILITAS NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL >95%-100% >75% .100% 2.95% < 75% CATATAN 4. bila bobot nilai diantara < 95% Tingkat keandalan Aksesibilitas dianggap: 1. Andal. bila bobot nilai diantara < 75% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran.99% < 95% >95%-100% >75% . Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% . Andal. Andal. tidak boleh kurang dari 99%. Namun untuk nilai keandalan utilitas. Tindak Andal.95% < 85% >99%-100% >95% . bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. yaitu tahap pembobotan masing-masing komponen dan sub komponen. bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99% 3. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3.100% 2. Kurang Andal.5. Kurang Andal. Analisa Analisa dilakukan dalam beberapa tahap. Tindak Andal.3. Tahap penilaian keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai. Nilai keandalan masing-masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing komponen Laporan Pendahuluan 4-81 .100% 2. Tindak Andal.

<95% 85% . Laporan Pendahuluan 4-82 .00 Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%. Dari hasil akhir penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal. kurang andal atau tidak andal. Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini.00 100.00 100.100% 95% .<95% 75% .00 75% .<100% 75% . sedangkan nilai masing-masing komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya. Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen.00 30.92 - <75% <85% <95% <75% <75% - 10 30 50 5 5 100 10. tahap berikutnya adalah melakukan penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan.<95% 89.00 5.00 100. Tabel 4-29 Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan Kategori Penilaian No (1) Aspek Yang dinilai (2) Andal (3) 95% .<95% 95% .00 100.100% NK (%) (3) Kurang Anda NK (%) (4) Tidak Andal NK (%) (5) Bobot ilai Keandala Penilaian Total (%) (%) (6) (7) 1 2 3 4 5 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total 100. Kurang ndal dan Tidak andal.100% 95% . yaitu Andal.00 5.00 50.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tabel 4-28 Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan volume Lantai (i) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 volume elemen yg rusak Faktor reduksi rusak Faktor Nilai Nilai reduksi KeandalanKeandalan posisi Tingkat Awal Kategori Nilai Keandalan A KA TA (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini.100% 100% 95% .

Hasil dari rekomendasi tersebut dapat diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal. Laporan Pendahuluan 4-83 . c. Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan umum pada kab/kota. Misal: struktur bangunan gedung. KELUARAN/OUPUT Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini: 1. meliputi: a. 4. b. dll yang tidak andal. 3. elektrikal. Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan Bangunan Gedung. serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh masukan penyempurnaan rekomendasi. 2. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. sistem plumbing. Rekomendasi Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan gedung yang telah oleh instansi teknis diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan pembina penyelenggara bangunan gedung di keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan disetujui Kabupaten/Kota. akademisi. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. Foto-foto sebagian/seluruh tindakan yang bangunan diperlukan gedung untuk yang terindikasi aspek memerlukan memenuhi keandalan. dan instansi terkait.6. 1.7. pakar. 2. air hujan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. termasuk dokumentasi. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful