Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan bangunan gedung dan teknis pelaksanaan bangunan gedung serta peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Selain itu dalam bab ini menjelaskan tentang pendekatan dan metodologi dalam pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung di Kota Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada, Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan

(screening),

pelingkupan

(scoping),

pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan. Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum menginjak ke pelaksanaan di lapangan.

4.1.

DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan

4-1

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Dasar hukum yang digunakan adalah: 1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis

Bangunan Gedung 2. 3. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat
1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran
1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan 3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan 2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung 3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung

Laporan Pendahuluan

4-2

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung

4.2.

KERANGKA PIKIR
Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai

pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum
Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan. Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006. Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung.

4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:

Laporan Pendahuluan

4-3

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010
TAHAP PERSIAPAN TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK

PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & TEKNIK PENGUMPULAN DATA MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN

KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT

REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN ALAT KERJA

PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN SURVEY SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK PENYEMPURNAAN REKOMENDASI

PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN PEMERIKSAAN

INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN

DRAFT LAPORAN ANTARA PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan

4-4

c. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Setiap tenaga ahli akan dibantu oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan kebutuhannya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. Tahap Persiapan Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan. maka yang perlu dilakukan adalah: a. b. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung. Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian. seperti: Gambar Perencanaan Teknis. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung yang akan disurvei. Gambar As Built Drawings. dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di lapangan Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 4-5 . Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a. 29/PRT/M/2006. untuk membantu dalam proses perolehan data. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang koordinator sesuai kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian gedung yang akan diperiksa keandalannya. Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Gambar IMB. yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan b. akan diakukan persiapan halhal berikut: a. d.

rigid frames. antara lain: finishing dinding. beton bertulang.pintu. antara lain: finishing lantai/selubung bangunan. maupun yang berada pada bagian luar bangunan gedung. Perencana iv. pasangan bata. dinding. Pemilik b. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan) c. Data Arsitektur Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang berada pada bagian dalam bangunan gedung. ii. komposit. Eksterior. pasangan batu. Fungsi iv. Sejarah kepemilikan. prestressed. d. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan. dan lingkungan penduduk. Data Umum i. dan fungsi bangunan gedung iii. beton precast. rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran) Bahan Struktur (kayu. kaca. Data Penunjang i. Gambar Bangunan vii. pagar. iii. dll) Keselamatan Struktur Laporan Pendahuluan 4-6 . Lokasi/alamat iii. lantai. rangka kombinasi. dan mebel terpasang. shear wall. Tahun Pembangunan ii. plafon. mencakup: i. kerusakan. Interior.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Pengawas vi. jendela. Nama Bangunan ii. Luas/jumlah lantai v. Kontraktor v. Data Struktur Pemeriksaan dilakukan terhadap sistem struktur (bearing wall. baja.

Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal dan internal). longsor) Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran. sumber daya genset). Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih. Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN. Sistem Building Automation System (BAS). Sistem pembuangan sampah. air hujan. air kotor dan limbah. panel inspeksi. dan drainase ke lingkungan). bak sampah setempat. container sampah). AC non sentral). panel operator. motor penggerak). angin . instalasi tata suara). Data Utilitas Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift. mesin penggerak). TPS. Laporan Pendahuluan 4-7 . (shaft sampah. akibat bencana) e. ledakkan) Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan. atau kesalahan pelaksanaan terkena beban sementara yang melampaui kapasitas struktur) o o o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas Kegagalan akibat bencana alam ( gempa. penampungan dan distribusi air bersih. Sistem instalasi komunikasi (telepon.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh: o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan perencanaan. Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator. panel kelistrikan. Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral. PABX.

wastafel. Upaya penyelamatan (tangga kebakaran. komunikasi darurat. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang terdapat pada obyek bangunan gedung. jalur pemandu. penangkal petir). Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan komponen struktur bangunan). 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api). Jalur pedestrian. Utilitas (alarm kebakaran. escalator. rambu. sesuai dengan yang tertera pada Bab I. pintu. perlengkapan dan peralatan control. g. material insulator kebakaran. ramp. dll). Antara lain: Ukuran dasar ruang. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini dikelompokkan dalam: Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan. penunjuk arah keluar. Aksesibilitas penyandang cacat Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang terdapat pada obyek bangunan gedung. marka. lift kebakaran. telepon. toilet. klasifikasi bangunan. 2. pancuran/ shower. Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. termasuk pemeriksaan terhadap peralatan pemadam kebakaran. pengendalian asap. pompa. pintu kebakaran. koridor. area parkir. lingkup wilayah kegiatan. hydrant. lift. persyaratan bangunan). perabot. Laporan Pendahuluan 4-8 . sprinkler.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. sumber daya listrik darurat. tangga. sesuai dengan ketentuan pada Permen PU No.

Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan pemilik atau pengguna bangunan. struktur. kebakaran. dan aksesibiltas. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. d. maka akan dilakukan pengecekan. pengukuran. struktural. dengan mengacu angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal atau tidaknya bangunan tersebut. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan. b. Misal: struktur Laporan Pendahuluan 4-9 . termasuk dokumentasi. utilitas. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait. Tahap Penyusunan Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan dari segi arsitektur. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masingmasing komponen hasil pemeriksaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam beberapa tahap. dibuktikan visual Apabila dan di diuji lapangan kembali. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. mekanikal elektrikal maupun aksesibilitas. meliputi: a. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. kondisi yang kiranya serta perlu observasi gedung. b. 5. 4. pengujian dan pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut. untuk temuan baik mengidentifikasi permasalahan bangunan didapatkan permasalahan dari aspek arsitektural. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung c.

dll yang tidak andal. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA BANGUNAN 4. Alur Studi dan Format Penelitian Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL).3. Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja Bangunan Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya. wujud arsitektur sebuah bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara nasional maupun internasional. Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006. 4. Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach). aksesibilitas dan tata bangunan serta lingkungan. Piranti lunak berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur. air hujan.3.1. 4. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bangunan gedung. sistem plumbing. elektrikal. c. Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang unik dan spesifik dalam aspek fungsi. penampilan dan kinerjanya. Struktur. penelitian kinerja bangunan Laporan Pendahuluan 4-10 .3. tata ruang.2. Utilitas clan proteksi kebakaran.

macam perabot. − Faktor-faktor pemakaian dan control. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap : − − − − − Kebutuhan jenis ruang Sifat dan hubungan kelompok ruang Standar besaran ruang Jenis dan besaran ruang Penyusunan ruang Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung. telekomunikasi. − Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang. − Fasilitas kemudahan (amenities). pencapaian.3. Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak. sampling bangunan diperiksa dua komponennya. orientasi. Komponen Ruang Dalam Pammeter kinerja ruang dalam (interior): 1) Spacial / Keruangan (spatial performance) − Layout ruang individu: ukuran. Laporan Pendahuluan 4-11 . 4. sirkulasi. tempat duduk. faktor ergonomic.2. − Suhu radiant. sirkulasi/transportasi. 2) Termal (thermal performance) − Suhu udara. penandaan − Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi. alat-alat listrik. − Kelembaban udara. Kinerja yang balk dari sebuah bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung. keamanan. − Kecepatan udara. Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan adalah tata ruang bangunan.

− Pergerakan dan distribusi udara segar.Material pollutant.Plesteran lantai .Pelapis muka langit-langit Laporan Pendahuluan 4-12 . Penerima suara (sound receiver). − Energy pollutant.15 . Tabel 4-1 Batas-batas penerimaan (limit of acceptability) Parameter Spasial Termal Sub parameter Was ruang Suhu Kelembaban Pergerakan udara rata-rata Persyaratan Sesuai luas aktivitas dasar 18 .25 m/det <85 dB (A) >100 lux 1000 ppm 0.Pelapis dinding .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3) Akustik (acoustic performance) − − − Sumber bising (noise source).15 mg/m3 Peraturan / Standar Akustik Visual Kualitas udara Sound pressure level (SPQ Tingkat pencahayaan Tingkat karbondioksida (CO2) Debu Kep Menkes RI No.0. . − Contrast dan brightness.Pintu / jendela .28 oC 40-60% 0. 1405/Menkes/SK/XI/2002 Komponen bangunan yang diamati: .Pelapis muka dinding . Jalur rambat suara (sound path). 5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) − Suplai udara segar (fresh air). − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. 4) Visual (visual performance) − Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan. − Warna − Informasi-informasi visual dan pemandangan − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.

perbedaan tekanan udara Radiasi dan cahaya: radiasi matahari. bangunan olah raga maka pemilihan warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan suasana ruang. Penyelesaian warna pada masing-masing banguna. getaran. Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan seperti bahan penutup dinding.3. furniture. baik untuk eksterior ataupun interior menggunakan warna-warna cerah. perbedaan pemuaian dan penyusutan akibat panas. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisik ruang adalah: 1. visible light spectrum Penanggulangan bahaya api Penutup atap Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar Pelapis lantai luar Pelapis muka langit-langit luar Komponen bangunan yang diamati Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya. Komponen ruang luar Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan (enclosure): − − − − − − − − − − − − Ketahanan bangunan (building integrity) Antisipasi beban: beban hidup. bahan dekoratif ruangan dan sebagainya. Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat.3. sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti. Warna Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan rumah sakit.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. terutama yang berkaitan dengan psikis pemakai bangunan. kebocoran atau pengembunan Suhu: perbedaan panas. beban mati. isolasi panas. Kondisi ini telah sesuai dan sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung. bangunan perkantoran. Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi. Laporan Pendahuluan 4-13 . radiasi lingkungan.

balk dengan ventilasi alam maupun buatan (AC). Penghawaan Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22 – 25° C dengan kelembaban 40 % . dsb.60 %.50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang. − − Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas.Penyimpangan dari standard tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang. Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu sekitar 22 . yaitu dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split. 3. oleh sinar matahari Panas karena suhu badan manusia Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan. kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan. 2. Oleh sebab itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi nyaman. penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil. atap.70 % dan kebutuhan udara bersih 20 . Mengkondisikan udara. Sistem penerangan ini dibedakan menjadi Laporan Pendahuluan 4-14 . kegerahan. adalah : − mengurangi pengaruh langsung sinar matahari. Pemilihan sistem tergantung pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang. Penerangan Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan sistem penerangan yang tepat. Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di dalamnya. Penggunaan sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman.25° C dan nilai kelembaban 40 % . Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh : − − − Radiasi dinding. Sebagai konsekuensinya biaya operation maintenance perlu ditambahkan.

dimana terdapat suatu aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut. penerangan khusus untuk ruang-ruang yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi. b) Penerangan buatan Sebagai bangunan perkantoran. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan yang terdapat pada bangunan eksisting. Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah memenuhi persyaratan. Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut : − Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi sebesar 300 lux. yaitu : a) Penerangan alami Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. umumnya sebagai penerangan umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang. Penerangan buatan pada siang hari diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan. − Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk diskusi. penerangan. tahun 1985). pengadaan penerangan buatan disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang. Penerangan alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan. yaitu : Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata ke seluruh ruangan. c) Penerangan campuran (alam dan buatan ) Pemanfaatan penerangan alami clan buatan. koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5 daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan buatan. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang diterima oleh ruangan. Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan Laporan Pendahuluan 4-15 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2 yang disesuaikan dengan kebutuhan. sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk direncanakan secara seksama. Dirjen Cipta Karya. selain itu juga untuk menciptakan suasana yang diinginkan.

Tabel 4-2 Indikator pengumpulan data No. seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu lintas dari jalan sekitar bangunan. pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada sumber bunyi. rekaman jejak fisik.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 slide. Beberapa indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. • Syarat: dokumen tersedia. spesifikasi. maka perlu diketahui adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi : − Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya. Suara / Akustik Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruangruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu. Secara umum penyelesaian akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan. Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. 1 Tingkatan data pengukuran yang dipilih Analisis arsip perencanaan Data yang diperlukan • Gambar-2 denah. salah satu yang dapat dilakukan − adalah dengan memberhentikan suara. masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan background musik lembut. Digunakan untuk memastikan catatan manajemen penggunaan apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna dan aktivitasnya. sehingga untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal. pemisahan suara dengan memisahkan sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan. Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. 4. instrument tersedia Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar 2 3 Analisis hunian dan penggunaan Penyusunan instrumen sederhana • • • • 4 Evaluasi • • Guidelines Laporan Pendahuluan 4-16 . dsb. Observasi perilaku. wawancara dan kuisoner Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia Intrumen yang dibutuhkan tersedia Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara cepat. film. rencana anggaran biaya. Untuk mengatasi menjalarnya bunyi. Sumber bunyi dari luar bangunan.

lugs dan volume ruang Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan faktual. a. kandungan kadar karbondioksida.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat mendeteksi beberapa parameter suhu. kelembaban suatu ruang.DISTO untuk mengukur jarak. Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi ini. maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. kelembaban . Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement) 1) Pemahaman tujuan inspeksi Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan pemilik/pengelola bangunan gedung Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan dan ketidaksepahaman yang tidak perlu Identifikasi kondisi fisik Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal atau khusus Testing dengan peralatan tertentu Batasan (limitation) 2) 3) 4) 5) Laporan Pendahuluan 4-17 . gambar 4-3. • Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan. karbondioksida • Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan • Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk mengukur laju kecepatan udara. Alat Ukur Komponen Ruang Dalam Keterangan: • Testo 435-2 untuk mengukur suhu. • Distance meter .

Pelaporan (inspection records) 1) Nama dan alamat lembaga pemeriksa Identitas personil yang melakukan pemeriksaan Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung. 4) Batasan-batasan. Identifikasi semua pihak yang terlibat − − − 6) 7) 8) c. bagian dari bangunan atau struktur lainnya. Observasi dari hasil pemeriksaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Observasi Item-item penting Kesimpulan 5) 6) 7) Laporan Pendahuluan 4-18 . lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan. berupa identifikasi beberapa area atau item yang tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 2) Detail properti − − 3) Detail pemeriksaan − − − Tanggal pemeriksaan Detail tentang tujuan. Alamat bangunan gedung yang diperiksa Deskripsi dan identifikasi bangunan. Pemeriksaan (Inspection) 1) 2) 3) 4) 5) Nama pemilik/pengelola bangunan Alamat lokasi bangunan yang diamati Tanggal dan waktu pemeriksaan Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai relevan dengan tujuan penyelidikan Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu.

Konsep Perencanaan Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a. Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi struktur.Rupture. yaitu: a. b. e.4. dapat berupa: − − defleksi yang berlebihan pada kondisi layan lebar retak yang berlebih Laporan Pendahuluan 4-19 .3. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu: . c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Metoda Tegangan Kerja Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar Ekonomis Kuat dalam menahan beban yang direncanakan Memenuhi persyaratan kemampuan layanan Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi) Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu: a. Kondisi Batas Struktur Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat dijadikan pedoman. unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan ultimit yang diinginkan.Hilangnya keseimbangan lokal atau global . yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya − Pembentukan sendi plastis − Ketidakstabilan struktur − Fatigue b. Pendekatan Struktur 1. d. Metoda Kekuatan Ultimit Dengan metoda ini. dimana: b. yaitu: 2.

3. Kapasitas adanya cadangan tersebut diperlukan dan untuk faktor mengantisipasi “undercapacity". vibrasi yang mengganggu Kondisi batas khusus. yang nilainya <1. Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat memikul beban berlebih dengan besar tertentu. sehingga: Undercapacity dapat terjadi akibat: Resistance ≥ Penqaruh Beban Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan) elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan faktor reduksi kekuatan. ledakan atau tabrakan kendaraan korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002). dapat berupa: − − − keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim kebakaran.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − c. dan or beban yang nilainya > 1. kemungkinan faktor-faktor “overload" Overload dapat terjadi akibat: − − − − − − Perubahan fungsi struktur Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan Urutan dan metoda konstruksi Variasi kekuatan material Workmanship Tingkat pengawasan Berdasarkan prosedur desain yang baku. kekuatan (resistance) elemen struktur harus lebih besar Dada pengaruh beban. yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal. sehingga: Laporan Pendahuluan 4-20 . diluar beban yang diharapkan terjadi dalam kondisi normal.

3 W Jika pengaruh gempa harus diperhitungkan: U= 1. torsi atau − dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas.. b.6 L + 1. ORn. Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-2002 yang bunyinya adalah: a. sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor.. yaitu Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup balk pada tingkat beban kerja.9 D + 1.9 ( D ± E ) Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen.2 D + 1. geser.75 (1. yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini.6 W) U = 0. Prosedur desain ini pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian utama ditekankan pada kondisi batas ultimit. Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah: − Kombinasi beban coati dan beban hidup: U = 1.6 L Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan: U = 0.05 ( D + LR ± E ) atau U = 0. Butir 2 diatas mengharuskan adanya pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah didesain.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit..2 D + 1. Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat perlu. Beban Terfaktor dan Kuat Perlu SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban. Kondisi batas serviceabilitas (kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh. kuat rencana adalah identik dengan a1S1 + a2S2 + . Dalam butir a diatas. Kuat perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan simbol- Laporan Pendahuluan 4-21 .

Penyelidikan yang akan dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 simbol M. Dengan pengujian-pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi. perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam mengenai kondisi aktual struktur. Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar rencana. T. Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor keamanan struktur. dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M. Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-Retak Dan Penurunan Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan Bangunan dan segi kekuatan strukturnya. 4. Analisis struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur eksisting. pulse echolgeoraclar. kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi. T dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. V. Laporan Pendahuluan 4-22 . Untuk tujuan ini akan dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter. spesifikasi teknis dan BOQ. Disamping itu. dan u. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula. V. Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka struktur perlu diperkuat. termasuk pengukuran geometri struktur dan karakteristik material bangunan eksisting. penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan. diameter dan jumlah tulangan terpasang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting. breaking out dan test sondir. ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-merusak seperti core drill.

pengambilan foto a. Faktor keamanan struktur c. Analisis struktur Eksisting b. Kajian faktor keamanan struktur c. Deformasi berlebth d. Kondisi kerusakan e. Ultrasonic 2. Dokumentasi Keluaran Laporan a. Core test b.catatan perubahan dan desain awal dan Spesifikasi . Analisis daya dukung pondasi dan settlement a. Peta kerusakan b.langkah selanjutnya yang dianggap perlu. Metodologi. Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan c. Kerja. Kondisi geometri aktual struktun C. Kondisi eksisting struktur b. dan Pendekatan Teknis 1. Pengamatan geometri struktur b. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec struktur dan material Tabel 4-3 2. Penyebab kerusakan a. Daya dukung tanah f. BOQ Laporan Pendahuluan 4-23 . Pengukuran pondasi dengan menggunakan georadan/pulse echo 3. Analisis pondasi a Geometni aktual elemen-elemen struktur a Properties aktual material b.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan) Tahapan Pekerjaan Studi Awal Tujuan Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan agar studi yang akan dilakukan nantinya dapat berjalan dengan efisien dengan memanfaatkan seoptimal mungkin data yang tersedia tersebut. Data kajian terdahulu survai/Pemerik sawn Global Untul memahami kondisi eksisting struktur Untuk menentukan teknik dan metoda pengujian yang optimal 1. Pengamatan kerusakan/retak path komponen struktur/nonstruktural c. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur a. Sarang tawon (honey comb) e. Breaking out d. Pengumpulan data sekunder: a. Perkiraan sistem pondasi a. Data desain terdahulu kriteria desain gambar dan perhitungan spesifikasi b. spesifikasi teknis d. kondisi penulangan dan kondisi kerusakan Untuk mendapatkan kedalaman pondasi clan perkiraan daya dukung 1. Covermeter test/Rebar detection c.as built drawing . a. Kapasitas cadangan struktur d. Gambar rencana perbaikanlperkuatan c. Pengukuran geometri elernen-elemen struktur Pemeriksaan Detail Untuk mendapatkan karakteristik material eksisting. Pemeriksaan visual dan pengambilan dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur: a. Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau perkuatan struktur bilaniana diperlukan b. Analisis struktur b. Tebal selimut beton d.data material c. Data pelaksanaan . Pengukuran daya dukung tanah (Tes Sondir) Analisis Kondisi eksisting Struktur Kesimpulan dan Saran Untuk menentukan tingkat keamanan struktur eksisting terhadap kondisi pembebanan rencana dan mencari penyebab kerusakan pada struktur Untuk menentukan langkah.

2). − Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponenkomponen struktur. Laporan Pendahuluan 4-24 . Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang menimbulkan konsekuensi pada perubahan : − Perubahan fungsi/penggunaan strukur − Penambahan tingkat (pengembangan struktur) 4). Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak (seperti jenis-jenis senyawa asam). Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur. Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting a. − Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur. Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Pendahuluan Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti: 1). banjir atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi dalam perencanaan. 3).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. − Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran. yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam renang). Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan oleh pengaruh internal-eksternal seperti: − Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua. Kesalahan perencanaan/pelaksanaan Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari: − Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur.

4) Laporan Pendahuluan 4-25 . Halhal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. (2) Jika kemampuannya sudah berkurang. Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan. (4) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau melayani fungsi yang lain. ada enam tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4. tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah satu di bawah ini: (1) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan berdasarkan desain awal. (5) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan peraturan/code yang berlaku (6) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur Selain itu. maka perlu ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur saat ini. b. (3) Sisa umur layananya. penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Pada umumnya. kemampuan layanan dan durabilitas. Secara umum.

memilih area yang akan diperiksa secara detail dan menentukan teknik pengujian yang cocok/optimal Aktivitas Mengumpulkan/mereveiw data skunder seperti as built drawing. Site observations. Bagian selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai eksisting. data material.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-4 Prosedur Penilaian Struktur Eksisting Tahapan Studi awal Tujuan Untuk mengkonfirmasi kualitas material yang digunakan atau data-data penting lainnya yang berkaitan dengan struktur yang sedang dikaji Untuk memahami karakteristik struktur. Pemeriksaan visual Pengambilan clokumen video Pengukuran geometry. laporan perhitungan/clesain. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Pemeriksaan informasi adalah: − − − pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang struktur biasanya mengenal bertujuan kondisi untuk mendapatkan dalam yang mendalam rnaterial/struktur bangunan. dan kerusakan lainnya Pengujian NDT terbatas Pengambilan Sampel Uji beban Pengujian NDT yang efektif p engujian fisik kimiawi Plot Analisis stasistik Analisis struktur Analisis kerusakan pengalaman sebelumnya Data Survei Pemeriksaan Global retak Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup clan terpercaya sehingga pemeriksaan struktur dapat dilakukan dengan tingkat keyakinan yang tinggi Untuk mempermudah penilaian Untuk menilai kinerja struktur eksisting saat ini clan yang akan dating dan membandingkannya dengan persyaratan yang ada Untuk menentukan aksi selanjutnya yang diperlukan seperti perbaikan/perkuatan. diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak Laporan Pendahuluan 4-26 . tahapan survey/pemeriksaan global clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting. defleksi. c. treatment untuk pencegahan. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan Mendiagnosa penyebabnya Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal tersebut. demolisi atau survey lanjut yang lebih komprehensif Presentasi Hasil Interpretasi Hasil dengan bantuan Rekomendasi Dari keenam tahapan tersebut. konstruksi dll.

6. pemilihan metoda pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi. Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan) yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponenkomponen bangunan yang diuji. baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan Laporan Pendahuluan 4-27 . dan pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. Hasil pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual) kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau komponen-komponen struktur. Tahapan Perencanaan Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah. Informasi—informasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya demolisi/penghancuran) Seiain itu. Tahapantahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan pada bagian berikut ini: 1). Berdasarkan pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti lendutan). bentuk "load test" memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan. yaitu: a. penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan. berdasarkan intormasiinformasi tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan tersebut memang diperlukan. Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentukbentuk pengujian lainnya. Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Secara garis besar. Penyelidikan Visual Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan. pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas tiga tahapan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merusak seperti pengujian ultrasonik. hammer dan lain-lain. Namun walaupun begitu.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "

honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik pada
tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton). Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar 4.3). Untuk dapat membedakan jenis—jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak. Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Laporan Pendahuluan

4-28

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-5 Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton
Penyebab Retak Defisiensi struktur Korosi Tulangan Serangan Kimiawi Kebakaran Reaksi Internal Pengaruh Suhu Susut Rangkak x X X X X X x X Gejala Pengelupasan X X X X X x x X x x x X X x Pengikisan Jangka Waktu Pemunculan Segera X Lama X X x

Proses Pengeringan yang Abnormal Kerusakan Fisik

X x x x

x x x

Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or

Deterioration in Cocrete Structures"
2). Pemilihan Jenis Pengujian Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas: − − − − − − Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan Waktu pengerjaan Biaya yang tersedia Tingkat keandalan hasil pengujian Jenis permasalahan yang dihadapi Peralatan yang tersedia Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat tersebut akan menjadi rendah.

Laporan Pendahuluan

4-29

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada perlu disusun terlebih dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam pemilihan jenis pengujian. Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian ultrasonic atau

hammer.

Disini,

pengujian

core

dapat

dilakukan

untuk

mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang timbul pun dapat diminimumkan. 3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
− − − −

Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic) Biaya yang dibutuhkan Tingkat kerusakan yang ditimbulkan Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui nilai

kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang kan diuji.

Laporan Pendahuluan

4-30

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

b. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda. Kalibrasi Peninjauan variasi hasil pengukuran Analisis Perhitungan

Laporan Pendahuluan

4-31

5). juga setelah kalibrasi. Yang tergolong dalam jenis pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer. yaitu pengujian Non-Destructive. a. alat ini Karena dapat kesederhanaannya. dilakukan pengukuran parameter-parameter yang dapat dikorelasikan dengan kekuatan. dan kain-lain. perilaku elastik atau kondisi kerusakan bahan Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar tingkat − kerusakan yang ditimbulkan pads struktur. analisis dan pengujian bahan. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton. ultrasonic. Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt Hammer) Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya tertentu. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out. sehinggadapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. Jenis hammer yang umum dipakai untuk pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4. dan pengujian Destructive. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi kekerasan dan juga. Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. pengujian Semi-Destructive.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 7. Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji. pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-komponen struktur. pengujian deangan menggunakan dilakukan dengan cepat. Metoda Pengujian Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu: − Metoda langsung Sebagai contoh: pengamatan visual. pengujian core. dapat memberikan indikasi nilai kuat tekan beton benda uji. Metoda tidak langsung Pada metoda ini. misalkan keberadaan partikal batu pada bagian- Laporan Pendahuluan 4-32 .

Kekuranqan : Laporan Pendahuluan 4-33 . Secara umum alat yang digunakan untuk : − − − Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan beton Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bagian tertentu dekat permukaan. Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer" Kelebihan − − − − − Murah Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat Praktis (mullah digunakan) Tidak merusak Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan. Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer 1). 4 atau ASTM C805-89. diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran. gambar 4-6. Oleh karena itu. British Standarts (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2 (jarak antara 2 lokasi pengukuran tidak boleh dari pada 20 mm). yang hasilnya kemudian dirata-ratakan.

Jadi dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang berbeda. Kalibrasi Seperti yang disebutkan sebelumnya. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut. − − − Sulit mengkalibrasi hasil pengukuran Tingkat keandalan rendah Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan. Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan "rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton. Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. Sifat-sifat dan jenis agregat kasar. Untuk mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur yang sedang ditinjau. ukuran dan umur beton. Lapisan keras Cukup Baik Kurang Baik Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan Laporan Pendahuluan 4-34 . perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi test tertentu. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama. banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt Rebound Hammer". karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelembaban beton. Tabel 4-6 Diagram Kalibrasi alat uji Hammer Angka Pantulan Rata—rata >40 30-40 20-30 <20 Kualitas Selimut Beton Baik. Oleh karena itu untuk setiap jenis beton yang berbeda. 2). drajad karbonasi.

alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton. transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang.5 atau ASTM C 597. Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver) diketahui. gelombang longitudinal merupakan gelombang yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak informasi mengenai sifatsifat fisik bahan padat yang dilaluinya. Seperti diketahui ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat diberikan suatu impulse (getaran) yaitu. 1). gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Metoda Pengujian Ultrasonik Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. Dari ketiga gelombang tersebut. Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt. Prinsip Pengukuran Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan prinsip perambatan gelombang pada media padat. Jika digunakan dengan balk dan benar. 3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Dari teori fisika diketahui bahwa Laporan Pendahuluan 4-35 . gelombang permukaan. Alat ini secara talk langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat dengan nilai kuat tekannya diketahui. maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung.6). Alat ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar 4.

7 dan ketiga cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang terbaik. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan dengan cara langsung. Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil pengukuran. pads cara yang tidak langsung. karena pola penempatan transducernya. Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat diasumsikan tetap. kecepatan gelombang akan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi permukaan solid.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat jenis bench padat yang dilaluinya diketahui. Selain itu. Penempatan Transduncer Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan penerima pads bends uji. sehingga hasil yang didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis batuan alam. gambar 4-7. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang kurang balk. nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu sama lain. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4. maka harga modulus elastik dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan diatas. Alat Ultrasonic Pulse velocity 2). Laporan Pendahuluan 4-36 . Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama perambatannya.

Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara memindahmindahkan posisi transducer p enerima.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. Jika. gambar 4-8. Hasil pencatatan waktu perambatan gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi jarak antara transducer. Namun. Konfigurasi Transducer Laporan Pendahuluan 4-37 . sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak) maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang. cara ini sangat bergantung pads kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer penerima. Dengan regresi linear bisa didapat persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut. Kemiringan (slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan gelombang yang dicari. sedang posisi transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara transducer yang berubah-ubah).

Gambar 4.8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan kecepatan rambat gelombang ultrasonic. kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji. gambar 4-9. Sebelum diuji tekan. sama seperti halnya dengan pengukuran hammer. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran dengan nilai kuat tekan beton. pengukuran dengan menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai modulus elastisitas beton. Oleh karena itu. Laporan Pendahuluan 4-38 . Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton Seperti disebutkan sebelumnya. Korelasi yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut. Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat tekannya sangat sulit dimodelkan. maka diperlukan suatu diagram kalibrasi. sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik. Sehingga ada kemungkinan bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata memiliki modulus elastisitas yang berbeda. Banyak variabel-variabel dalam campuran beton yang berpengaruh. Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton dan Kecepatan Rambat Gelombang Untuk pengujian lapangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3). diperlukan diagram kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton.

gambar 4-10. Tabel 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4). Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic sangat dipengaruhi oleh umur beton. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil Pengukuran Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik. kondisi kandungan kadar air rasio agregat semen. jenis agregat dan lokasi tulangan. Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton Laporan Pendahuluan 4-39 .7.6 memberikan kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic. Kondisi lain yang berpengaruh terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar 4. Yaitu − suhu − kelembaban beton − posisi tulangan pada beton bertulang Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam menginterprestasikan hasilhasil pengujian.

Sebagai contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen struktur Laporan Pendahuluan 4-40 . Berdasarkan prinsip ini. Sedangkan kecepatan rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang p ada bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik (tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5). retakretak atau rongga kosong pada beton atau benda padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya (misal. Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan transducer yang tidak langsung (gambar 9) − Mengukur ketebalan − Mengukur modulus elastis bahan − Memonitor proses pengerasan beton − Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok kolom Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk akibat serangan kimia kebakaran adalah nol. Aplikasi Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik terutama diantarnya: − Memeriksa keseragaman kualitas bahan − Mendeteksi retak-retak dan honeycombing. adanya retak atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama. − Memperkirakan nilai kuat beton − Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk dibawah permukaan pelat lantai.9). Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara. kedalaman retakannya ) (gambar F. yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan.

Adalah : t = (TV — L) Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton yang kondisinya masih baik. Cara ini sudah terbukti memberikan estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang akibat kebakaran. Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton >4 3-4 <3 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tabel 4-7 Laporan Pendahuluan 4-41 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 yang lapuk/rusak.

Uji pembebanan biasanya berikut ini: p erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi Laporan Pendahuluan 4-42 . Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan pengamatan. yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Uji Pembebanan (load test) Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil pengujian material. baik non-destructive maupun semi-destructive yang kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 gambar 4-11. Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada. Penentuan Kedalaman Retakan c. belum memuaskan pihak-pihak terkait.

sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan. Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur. Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada tujuan diadakannya lod test. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat merusak. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi dan kondisi. Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn saja direnivasi/diperkuat. pembebanan yang berlebihan. maka pillhan pertama tentunya paling baik. sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur tersebut. dan lain-lain.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − − Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur. (2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test) Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat Laporan Pendahuluan 4-43 . ataupun karena adanya kerusakan fisik yang − dialami bagian-bagianstruktur. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan. Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. yaitu − Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive − Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. − − Perubahan fungsi struktur. Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas bahan. akibat serangan zat kimia. − Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart. akibat kebakaran. (1) Jenis-Jenis Load Test Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui tingkat layanan struktur. gempa. yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama. maka cara kedualah yang dipilih.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 agar keamanan masyarakat umum terjamin. Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji. Elemen non struktural ini dapal berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan.kemudahan pelaksanaan Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat apakah kondisinya balk dan kuat. apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan: . a) Persiapan dan Tatacara Pengujian ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari. sehingga timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing effect'). ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus Laporan Pendahuluan 4-44 .permasalahan yang ada . untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak diingini. Hal ini kadangkala sulit dilaksanakan. sebagai contoh "ceiling board". terutama untuk pengujian struktur lantai. Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan. maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya.tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji . sebagai contoh. Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji. Perilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi. Beberapa hal yang patut men jadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini. Hal mi dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya.

besarnya total beban yang dibutuhkan. Beban-beban yang bisa digunakan diantaranya air. setelah pembacaan. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan.L) Dimana D=beban mati L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya) Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test' dimulai. pembacaan lendutan di lakukan kembali. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan perahan-lahan. Dua puluh empat jam setelah itu. bata/batako. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam. kantong semen/pasir. Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan. Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada struktur. (c) Pengukuran Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah lendutan. beban-beban bisa di lepaskan dari struktur. ketersediaan. lebar retak dan renggangan. (b) Teknik Pembebanan Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan distribusi pembebanan dapat dikontrol.4D+1. dan kemudahan pemindahannya. pemberat baja dan lainlain. cara pengukuran adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat pencropongan dengan Laporan Pendahuluan 4-45 .85 ( 1. Lebar retak yang terjadi biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah: Beban total ? 0. pembacaan lendutan bisa dilakukan.

PENDEKATAN UTILITAS BANGUNAN Bangunan . terutama untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. 3) Uji Beban Merusak (Beban Batas) Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji. di mana setiap komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan orangorang yang menggunakan gedung tersebut. Untuk itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang mendukung fungsi dari gedung tersebut. Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen. Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang besar. walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif.5. tetapi harus pula menikmatinya.3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 miikroskop. Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung. terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium. Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi dengan balk. 4. dengan lebar garis-garis berskala tersebut. Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan menggunakan strain gage. pola retakretak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garisgaris yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi). Pengguna bangunan gedung ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung. ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni. pada akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya.bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek. Kelengkapan dan berfungsinya utilitas dari suatu gedung. Komponen-komponen utilitas bangunan Laporan Pendahuluan 4-46 . akan memberikan jaminan keselamatan clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut. Namun.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran.5 m/det 3.5 m/det 3. alarm kebakaran. sistem transportai vertikal. Lift : motor penggerak.6. strik. kotak operasi manual. sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya. motor penggerak pintu. kran uji.0 . kabin lift harus tahan api dan tertutup. stater otomatis. alat penyeirnbang. titik panggil manual. Eskalator : motor penggerak. pipa instalasi 3). Gas pemadam api kumpulan tabung gas.2.7.1.5 .0 .3.0 . anak tangga Laporan Pendahuluan 4-47 . roda gigi penarik. sumber air.8 m/det m/det 2).0 m/det 6. Komponen Utilitas Bangunan Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan gedung. Untuk keamanan. pipa instalasi. Hidran : pompa air.5 m/det 1.20 lantai 20 . Sprinkler otomatis pompa air. sistem plumbing. selang b. yaitu : a. catu daya panel kontrol.5 m/det Jenis gedung Rumah sakit Rumah tinggal Lift barang 2-3 lantai 4-5 lantai Kecepatan lift 2. panel kontrol kebakaran.4. sistem tata udara. sistem instalasi listrik. banyaknya kabel minimal 3 buah. alat-alat deteksi. Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi. rel'. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat. tangki penekan.10 lantai 10 .0 m/det 4.0 . alat kontrol.5 . sistem instalasi penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi. hidran pilar. kabel dan panel listrik. catu daya.5 0.3 m/det 0. Tabel 4-8 Klasifikasi penggunaan lift Lift untuk manusia Lift khusus Tinggi gedung 4 . tangki penampungan air 5). kabel instalasi 2). 1. hidran kotak. kepala sprinkler. badan eskalator. Utilitas transportasi vertikal : 1). kran pillih otomatis 4).50 lantai > 50 lantai Kecepatan lift 1. kabel & panel listrik.3. Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurangkurangnya 12 mm. peredam.15 lantai 15 . nose) gas. dan plat lantai pemikul lift terbuat dari beton. alarm kebakaran.0 . Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel. Utilitas pencegahan kebakaran : 1). sangkar & alat kontrol. rantai penarik.

panel distribusi. pipa air hujan d. Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows. trafo. kabel instalsi 2. lubang pengurasan. sistem pendinginan tidak langsung (media udara) 2 ) . radiator. kabel instalasi. Laporan Pendahuluan 4-48 . Utilitas instalasi listrik 1). armatur. Utilitas instalasi penangkal petir 1). pompa penampungan & alat kontrol. lampu. Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir. PABX. kabel instalasi 2). Sumber daya PLN : panel tegangan menengah. elektroda pembumian g. pompa distribusi. panel e. panel system tata suara. Utilitas Instalasi komunikasi 1). kran air gelontor. Sumber daya genset : motor penggerak. speaker. Pengumpulan Data a. tangki penampungan atas. Observasi ini diperlukan yang dan untuk untuk mendapatkan gambaran secara langsung objek mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas yang terdapat pada gedung tersebut. Air bersih : sumber air. pengikat ekuipotensial hantaran pembumian. AMF. bak cuci. Berdasarkan pengamatan visual ini akan diperoleh data-data mengenai kualitas. listrik untuk panel pompa. Instalasi telepon : pesawat telepon. Observasi Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey lapangan pada objek yang diteliti. Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih. alat pengisian aki. hantaran pembumian elektroda pembumian 2). Utilitas plumbing 1). tangki septik. Utilitas instalasi tata udara 1 ) . sistem AC split f.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. saluran dari bak cuci ke saluran terbuka. Air kotor : kloset. pompa instalasi. kran 2). alternator. kuantitas Berta kelengkapan dari komponen-komponen utilitas bangunan. Instalasi tata suara : mikropon. saluran ke tangki septik. daily tank. Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media air). kabel instalasi 2).

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b.8 -1. Pengukuran dan Pengujian Pengukuran dan pengujian dilakukan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari pengamatan visual.240 V 49. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi penangkal petir.0 < 5% < 5% < ion ~ Keteransan max 5 % min 10 % Untuk saluran fasa Untuk saluran netral Sifat lagging Laporan Pendahuluan 4-49 . Alat ukur mekanikal elektrikal Tabel 4-9 Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Tegangan Listrik Frekuensi Total Harmonic Distorsion Pf dan cos Φ Voltage unbalanced Current unbalanced Resistansi pentanahan Resistansi isolasi Nilai Yang Diinginkan 198 . Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah : gambar 4-12.5 Hz < 5% < 10% 0.5 -50.

sumur dalam (sumur artesis). Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih clan aman. c. Sarana air bersih Laporan Pendahuluan 4-50 . d. b. komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. sumur pompa tangan dangkal).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. memelihara clan mewujudkan lingkungan yang sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans epidemiologi. terminal air. karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi mulai dari sumber air. yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. untuk itu perlu dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan. penghuni dan masyarakat sekitarnya. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis.6. 1. jiwa dan sosial. penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa parameter sebagai berikut Sarana air bersih Drainase gedung Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampan. psikologis clan dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna. Komponen Lingkungan Indikator a. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum. a. Hal ini telah diamanatkan pada UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. selain itu harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran. industri. Dalam rangka melindungi. Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal (sumur gall. Untuk itu sarana dan bangunan umum tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. selama proses pengolahan maupun selama pengaliran di dalam pipa distribusi.3.

Misalnya jika menggunakan sarana air bersih dari sumur. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI.907/Menkes/SK/VII/2002. kimia. maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar. pencemaran dalam sumber air bersihnya pun dapat terjadi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 PDAM.biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. sehingga harus dilengkapi dengan pagar keliling. Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik. 3. 2. Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara lain 1. Demikian pula dalam suatu bangunan. biologic dan radiologis. sumber/sarana air bersih dalam suatu bangunan perlu direncanakan. sehingga tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia. Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih. oleh karena itu. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik. Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti terlihat pada tabel berikut Laporan Pendahuluan 4-51 . 5. kimia. 4. Tidak berasa dan tidak berbau. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. selain itu bangunan pengambilan harus dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-10 Persyaratan Kualitas Air Minum b. Laporan Pendahuluan 4-52 . Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari sistem tersebut. menyebabkan erosi atau genangan air. Bila terdapat sistem plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan umum. Air hujan yang dibawa dalam sistem plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Drainase Gedung Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air.

Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya.86 m). Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13. basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota. Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22. 2. maupun tempat . kemiringan atap dan bentuk gutter.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota. ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya. Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah : 1.94 m2) luas atap dibutuhkan I inci luas leader. Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara: 1. 4. umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah (underground drain). Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya. Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran. 3. industri.tempat umum lainnya. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai 2. Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local. Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. c. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader). Laporan Pendahuluan 4-53 .

hotel. industri kima.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil. dll. pasar dan fasilitas pelayanan umum. 3).zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup Meskipun merupakan sisa air . Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masingmasing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. Derkantoran. sekolah. Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri. Oleh sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. seperti rumah tinggal. 2). Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). yang terdiri dari: 1). Pengelolaan Individual Laporan Pendahuluan 4-54 . Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi: − − − air buangan kamar mandi air buangan WC : air kotor/tinja air buangan dapur clan cucian pabrik pangan. pertokoan. karena lebih kurang 80 % dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari . seperti pabrik tekstil. Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian.hari dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar ). Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat . Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara: 1). namun volumenya besar. Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah. Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-13.

Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam wilayah yang kecii. Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-14. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Secara diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-15. perdagangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2). Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman. industri. bandara dan fasilitas umum. Sarana Pernbuangan Sampah Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia. seperti hotel. rumah sakit. Pengelolaan Komunal d. Apabila dibakar akan menimbulkan Laporan Pendahuluan 4-55 . Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas 3).

Recycle dan Replace ). Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce. misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah. Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut: gambar 4-16. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 pengotoran udara. Reuse. Laporan Pendahuluan 4-56 . atau jalur lain. misalnya timbulan wampah masuk ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur. setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir. badan air dan udara.

288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. Analisis aspek sanitasi mengacu pada KepMenkes No. sampel air diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air. Peralatan Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu i. Pengumpulan Data. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain 1) Pengukur kualitas air 2) Sanitarian Kit 3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada penyehatan sarana dan bangunan umum.1/26/1990 tentang Baku Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah. terutama dokumen yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari masing-masing pemilik bangunan. b. pengangkutan. drainase dan air limbah. Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660. saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan dari berbagai sumber yang representative dan mewakili. Pengumpulan Data Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder maupun data primer. Formulir Pengamatan 1) Formulir pemeriksaan 2) Formulir Inspeksi Sanitasi ii. pengolahan dan pembuangan akhir. Laporan Pendahuluan 4-57 . Peralatan dan Analisis Data a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. Data primer dikumpulkan dari hasil observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan. Untuk sarana air bersih. c. Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan.

Browsing data-data peraturan terkait melalui internet. b. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli. KEBUTUHAN. Masing-masing akan dinilai dengan memberikan Laporan Pendahuluan 4-58 . Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung (gambar IMB. 2. b. gambar struktur. Jenis Perolehan Data Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan bangunan meliputi beberapa aspek.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. 4.4. serta gambar as built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai bangunan terkait. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada. gambar arsitektur.1.2. Data Primer a. Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara: 1. Data Sekunder a. c.4. d. dan gambar mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait. d. Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan. PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA 4. c. Melakukan uji lab bila diperlukan. Tim ahli secara spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait.4.

pecah. mengalami retak. Aspek Arsitektural a. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri. f. Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi baik. Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi baik. macet. mengalami retak. e. atau dalam kondisi rusak. hilang dan tidak berfungsi) h. Laporan Pendahuluan 4-59 . b. berlumut. masih sesuai dengan fungsi. atau sudah kusam. mengapur. pecah atau terkelupas). terbelah. retak. terbelah. pudar/ busam. g. berlubang atau rusak) i. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik. d. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik. ambles. pecah atau terkelupas). Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik bisa difungsikan sesuai fungsinya. terkelupas atau berjamur ). atau sudah tidak sesuai). Data Umum Bangunan Gedung a. kusam. Data-data yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut: 1. terkelupas atau pelapis lantai tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. lembab. Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. mengalami retak. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik. luntur. pecah/ rusak. Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik. Data utama : • Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) • • • • Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut) Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut) Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri atas berapa lantai) 2. c. terkelupas. buram. pecah. mengalami retak rambut.

ambles. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat. terkelupas atau berjamur ). pecah/ rusak. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). balok pondasi : (apakah masih kuat. akan dilakukan klasifikasi form isian terlebih dahulu. jika dari beton apakah terjadi patah. jika dari besi apakah terjadi karat. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik. atau muncul retak. kepala pondasi. atau terjadi penurunan dan patah struktur) b. mampu menopang/ menahan beban. pecah. berlumut. kuat menopang beban di atasnya. melengkung. rapuh) 3. pudar/ busam. Struktur dinding pasangan dan rangka beton praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai berikut: a. pecah. ikatan sambungan mur baut terlepas. Pondasi. bocor. retak. berlubang. Struktur rangka baja dan dinding pasangan c. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi baik. l. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat atau hilang. apakah bangunan menggunakan : a. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku. pecah pada beton. Struktur rangka beton dan dinding pasangan b. buram. jika dari beton apakah terjadi patah. ikatan sambungan mur baut terlepas. Struktur rangka beton dan dinding geser d. lendut. k. atau terjadi patahan. atau terlepas. beton terkelupas. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. Aspek Struktural Sebelum dilakukan survey ke lapangan. pecah. kuat menyalurkan beban. retak rambut) e. luntur. jika dari besi apakah terjadi karat. tanpa pengikat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 j. kusam. hilang mur dan baut. atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja) c. mengalami retak. lembab. kaku. Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku. berlubang atau rusak) m. melengkung. terkelupas. kaku. bocor pada basement) Laporan Pendahuluan 4-60 . miring) d. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik. lapuk/ berkarat) f.

bocor. retak rambut) n. ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik mampu menahan beban penutup atap. catu daya. ataukah rusak. leufel. lendut. hilang. atau miring. kuat dalam campuran semen ikatannya) m. alarm. retak rambut. patah. retak struktur. retak rambut. Rangka atap. canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus atau patah. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik. kabel instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. atau hal-hal yang menghawatirkan jika terjadi keruntuhan) j. panel control kebakaran. mudah hancur. mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 g. Balok anak. beton mengelupas. pecah. retak rambut. titik panggil manual. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. patah. lapuk. lembab. tidak berfungsi) Laporan Pendahuluan 4-61 . berkarat) o. komponen tidak lengkap. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. lendut. terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya) l. apakah terdapat beban benda yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup atap. apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik) k. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik. ikatannya menyatu dengan balok induk. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat. berjamur) i. atau rapuh. atau terjadi lengkung. tegak. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik. kuat dalam penataan siarnya. apakah leufel & kanopi masih kuat. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam kondisi baik. kokoh. Utilitas dan Proteksi Kebakaran a. beton mengelupas) h. retak. hilang komponen pengikatnya. atau terjadi pecah. mampu menahan beban pengguna yang melaluinya. retak struktur. retak rambut. berjamur) 4. rembes. meliuk. patah. retak struktur. lembab. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. atau terjadi retak. tidak terawat. atau rusak.

Tabung pemadam api (tabung gas tersegel. komponen tidak lengkap. roda-roda gigi penarik. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. hydrant box/ pillar. sumber air. motor penggerak pintu. hilang. badan escalator. tidak terawat. tidak berfungsi) d. ataukah rusak. komponen tidak lengkap. kran pemilih otomatis) : : (apakah tersedia atau tidak. alat control. panel control. peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak. tangki air. komponen tidak lengkap. alarm kebakaran. Lift / elevator ( meliputi motor penggerak. tidak berfungsi) 5. tidak terawat. rusak. dan permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna escalator) Laporan Pendahuluan 4-62 . Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air. rusak salah satu komponen. sangkar dan alat control. selang) : : (apakah tersedia atau tidak. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak berfungsi. Nosel gas. tangki penampungan air) : : (apakah tersedia atau tidak. stater otomatis. kotak operasi manual. catu daya. kran uji. tangki penekan atas/ alat kontrol. alat penyeimbang sangkar. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. Utilitas Transportasi vertikal a. hilang. pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. atau terjadi permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift) b. ataukah rusak. tidak berfungsi) e. tidak berfungsi) c. rel. kabel dan panel listrik. alat deteksi kebakaran. tidak terawat. ataukah rusak. tidak terawat. hilang. pipa instalasi. hilang segel. kabel dan panel listrik. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. anak tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. kepala sprinkler.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. rantai penarik. Hydrant (meliputi pompa air. atau macet. Escalator (meliputi motor penggerak. ataukah sudah expired.

pompa distribusi dan tangki hidrofor. kabel instalasi. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi) 8. tidak berfungsi) b. trafo. radiator. tidak berfungsi dengan baik. tangki air atas. pompa penampung air dan control. urinoir. lampu amatur. terawat. lubang saluran pengurasan lantai. listrik untuk panel pompa. kipas udara evaporator. tidak berfungsi dengan baik. altermator. bersih. tidak terawat. atau rusak salah satu komponen. pompa instalasi. kering. saluran ke septictank. Utilitas Instalasi listrik a. septictank. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. hilang. Air Bersih (sumber air. kipas udara kondensator. evaporator. panel) : (apakah masih dalam kondisi baik. lampu TL/pijar/halogen/SL. kran) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. alat pengisi aki. bersih. cerobong udara. Sumber daya Genset (Motor penggerak. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah. Air kotor (Kloset. hilang) 7. kondensor. media pendingin. alat control. diffuser grill. hilang. atau rusak salah satu komponen. AMF. bak cuci. kabel instalasi) : (apakah masih dalam kondisi baik. hilang) b. panel distributor. terawat. wastafel. tangki penampungan air. Daily tank. hilang. panel control) : : berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. bersih. menara pendingin. pipa instalasi air pendingin kondensor. Utilitas Instalasi tata udara a. Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air) (meliputi kompresor. saluran dari wastafel ke saluran terbuka. tidak terawat. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. pompa sirkulasi air pendingin kondensor.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 6. pipa air hujan) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. kering. tidak Laporan Pendahuluan 4-63 . terawat. kran air gelontor. Utilitas Plumbing a. bidet. tidak berfungsi dengan baik. panel distribusi.

PABX. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. bersih. tidak berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. hantaran pembumian. Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi) b. tidak berfungsi) b. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. hilang. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. Utilitas Penangkal petir a. media pendingin. bersih. terawat. evaporator. pipa instalasi air pendingin kondensor. bersih. tidak berfungsi dengan baik. diffuser grill. terawat. hantaran pembumian. unit pengelola udara. pipa sirkulasi air es. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. tidak berfungsi) 10. bersih. Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon. atau rusak salah satu komponen. Laporan Pendahuluan 4-64 . terawat. kondensor. Instalasi tata suara (meliputi mikropon. hilang. tidak berfungsi dengan baik. atau rusak salah satu komponen. kondensor) : : tidak berfungsi dengan baik. hilang. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. Utilitas instalasi komunikasi a. alat control cerobong udara. hilang. panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi dengan baik. apakah masih dalam kondisi baik. hilang. pipa sirkulasi pendingin kondensor. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara) (meliputi kompresor. media pendingin air es. atau rusak salah satu komponen. terawat. evaporator. hilang. hilang. tidak berfungsi) c. tidak berfungsi) 9. panel system tata suara. atau rusak salah satu komponen. speaker. terawat. evaporator. bersih. apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi) d. bersih. kipas udara kondensor. kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi baik. atau rusak salah satu komponen. terawat. Sistim AC split/ FCU (non sentral) (Kompresor. terawat. bersih. pipa instalasi air es. tidak berfungsi dengan baik. Sistim AC window (non sentral) (Kompresor. tidak berfungsi dengan baik. stri pengikat ekuipotensial. pipa instalasi. atau rusak salah satu komponen.

4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 11. apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. dan data yang telah diperoleh dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan. atau tidak memenuhi persyaratan) i. atau tidak memenuhi persyaratan) g. saklar lampu dll. atau tidak sesuai) b. apakah dalam kondisi baik atau rusak) c. Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak memenuhi persyaratan) f. Aspek Aksesibilitas a. atau tidak memenuhi persyaratan) e. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang. atau tidak memenuhi persyaratan) 4. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Penyajian data dituangkan dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan pembagian aspek masing-masing. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.3. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk pedestrian dan ramp. atau tidak memenuhi persyaratan) h. Penyajian data Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan. Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat dilihat pada table berikut: Laporan Pendahuluan 4-65 . baik alarm. Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran. ataukah tidak mencukupi) d. apakah dapat dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.

Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11) FORM .5 2.K.00% 100 0 (20%) Pelapis muka langit‐langit luar 2 100.<95 (6) (7) (8) Tidak sesuai .5 100. (%) NILAI KEANDALAN TOTAL (%) (11) 15 100 masih sesuai dengan fungsi 100 retak rambut 100 retak rambut 10 - 10 10 80 10 15 - 10 80 10 1.5 10 Penutup atap RUANG  LUAR Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar 2.00% 100 0 Berfungsi baik baik baik baik baik (3) 15 (4) Sesuai fungsi baik KONDISI ANDAL 95 . bergelombang buram.00% 100 0 Pelapis muka langit‐ langit SUB TOTAL 10 100.terbelah.belah.hilang. pecah 100 buram. (%) KURANG ANDAL 75 .terkelupas  >=10% 2 2.00% 100 0 baik - 3 20 Plesteran lantai luar 2.00% 100 0 100 0 100 0 Pintu/jendela 15 100.buram >=50% .00% 100 0 3 100.terbelah.00% 100 SUB TOTAL 20 TOTAL 100 Kesimpulan : 1.Tidak berfungsi . pecah .00% 100 0 Plesteran lantai RUANG DALAM (80%) Plesteran dinding 10 100. tidak tampak .retak. (%) TIDAK ANDAL <75 (9) (10) N.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. pecah terlepas . pecah terlepas .00 100 0 baik 100 Tidak berlubang 100 buram <50% 100 aus. tidak tampak . Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal : 1 2 3 4 5 Pemeriksa ANDAL Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan Laporan Pendahuluan 4-66 .00% Pelapis muka dinding 10 100.K.ARS NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai NILAI KOMPONEN SUB KOMPONEN MAKSIMUM KEANDALAN (%) (1) (2) Kesesuaian penggunaan fungsi Pelapis muka lantai 10 100.00% 10 100. ter‐ kelupas <10% 100 terkelupas <10% 100 Masih berfungsi 100 terkelupas <10% .hilang.Terkelupas  >=10% N. terkelupas berlubang <5% baik 100 terkelupas <10% .5 100. belah.100 (5) K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) N.  hancur baik .berlubang.K. kasar baik 100 retak.

kurang rata Rata. Ikatan Angin. fungsi baik Rata. berfungsi baik Kuat. Kaku. Balok Praktis Slab Lantai Bahan/dimen si OK Bebas retak. padat. pecah N. kurang stabil Retak. stabil Faktor Reduksi N. stabil 100 Kuat. retak. 100 25 100 Struktur Pondasi.00 60. tidak rata 3. bebas retak.<95 (6) (7) Kuat. 2. retak diagonal/ melintang Kurang kuat/kaku.00 20 100 Kuat. rata.5 100 100 0. ada lendut Lendut. retak. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-67 . Kurang Kaku. fungsi baik Kuat. basah. kedap air. lapuk. Stabil Tidak Andal < 85 (8) Tidak stabil. Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12) Jumlah lantai Pemilik : : lantai Nilai Nilai Sub keandala Kondisi Maks Kompone N.5 100 100 4. kurang kaku.K Kurang Andal (%) 85 . Kepala Kuat. kropos/ karat 5. lendutan besar 30 100 100 30. rata. ada retak Kuat. Kaku. bebas bocor. kaku. Kaku.50 5 100 100 Kuat. kurang kaku.100 (1) (2) (3) (4) (5) Pondasi. rata Bahan/dimen si OK. rata Kuat. kaku. retak rambur 20. pecah.00 Lantai bawah Sub Total 4 100 100 4.00 15. Stabil Balok Bawah Pondasi Sub Total Dinding Pasangan Bata/Bata ko Kolom. kurang mulus. lentur kecil Kurang kuat.K Kompone n Keandala n Andal (%) n kompone n (%) 95 .00 3 100 Kuat. retak halus/bocor Kuat. pecah. kurang kaku. retak-retak Lendut.00 2 100 100 2. kedap air 100 Kuat.00 Struktur Pelengka p Tangga 6 100 100 6. kaku. mulus Rangka dan tumpuan kuat. padat. kurang kaku. kuat Kuat. bocor. 3.00 Kuat. kaku. lapuk.50 Slab Atap Rangka Atap. amblas.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: 100. berfungsi baik Kuat. tidak dapat dipakai Kurang kuat.00 4. kurang kaku.rusak tak berfungsi Kurang kuat/kaku. kurang stabil Retak.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. tidak kuat. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur a. Gording Sub Total Rangka Langitlangit Penutup langitlangit 0.00 Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL Saran agar struktur secara keseluruhan 1. kaku. tidak rata Kusam dan retak. kaku.K (%) (9) Nilai Keandalan Total (%) (10) (11) 25 25. awet.

kuat. tidak kuat. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13) Nilai Nilai keandala Kondisi Maks N. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak terlihat 15. ada lendutan Tanpa jangkar dinding pasangan belah Tanpa jangkar dinding pasangan belah Retak lentur/geser Rusak. kaku.00 100 Retak 1-3 mm 5. dinding retak Kuat. Kaku. lebar retak 0.00 15. kaku 100 5. Stabil N.1 0. retak lentur Kuat.00 5 100 Kuat. Kurang Kaku. tanpa retak 100 2. melendut 1.00 Kolom Baja Balok Baja Struktur Atas Pengaku Silang Slab Lantai Rangka Atap. kurang rata Batang jangkar lemah. Daktail Kuat.00 100 2. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 2 100 Kuat. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-68 . Ikatan Angin. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako 20 13 2 5 5 100 100 100 100 100 100 20.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b.00 Struktur Shotcrete Panel Pelengka Precast p Balok Anak. Stabil Kompone n (1) Struktur Bawah Sub Komponen (2) Pondasi.K n Keandala Andal (%) kompone n (%) 95 . daktail 100 5.5 mm Lendut > L/300 Tidak kaku.00 15 100 Kuat.00 1 100 Kuat.100 (3) 25 100 (4) Kuat. Leufel.<95 (6) Kuat.Balok Faktor Reduksi N. Daktail Kuat.00 100 13.K Kurang Andal (%) 85 . Aman Rata dan baik 100 Kuat. retak lentur Kuat.00 2 100 Kuat.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: ##### Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan ANDAL 1. Kaku. Awet.00 100 Retak. retak lentur Retak rambut. bocor 5. kaku. menyatu Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . 2. Daktail Kuat. Kaku. Kaku.00 5 100 Kuat.K Tidak Andal (%) < 85 (8) Tidak stabil. lendut Kurang rata. tanpa retak 100 2. pecah Nilai Keandalan Total (%) (10) 25 (5) 100 (7) (9) (11) 25. 3. Kepala Pondasi.5 Kuat. tidak kaku. retak.00 60. Rata/Datar 100 Kuat. retak lentur Retak < 0. retak rambut Batang jangkar lemah.

Awet. Aman 100 Kuat. melendut 1. Awet.K (%) Kurang Andal 85 . ada lendutan Tanpa jangkar ikat dinding retak/belah Retak lentur/geser Rusak. tidak kaku. retak lentur Retak rambut Retak rambut Lendut > L/300 Tidak kaku.00 15. Kaku. kaku 100 Kuat. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14) PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai Komponen Sub Komponen Nilai Nilai Maks keandalan Keandalan komponen (%) struktur (3) 25 100 Faktor Reduksi Kondisi Andal 95 .00 4. Aman Kuat. tidak kuat. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako Balok Anak. Daktail Kuat. Kepala Pondasi. Kaku. Stabil N. Ikatan Angin. bocor Retak.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. kurang rata Batang jangkar lemah.50 5. retak.00 1 2 6 6 100 100 100 100 Kuat. kuat.50 0.5 5 100 100 100 100 100 100 100 Kuat. Aman Kuat. kaku. Stabil (7) (8) Tidak stabil. retak lentur Kuat. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 60.5 0.K (%) Tidak Andal < 85 N. Leufel. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak geser. Kaku. lendut Kurang rata. 3. Daktail Kuat. tanpa retak Kuat.Balok Kolom Balok (5) 100 (6) Kuat. Kaku. Daktail Kuat. retak lentur Kuat. daktail Kuat. pecah (9) (10) 25 (11) 25. Kaku.100 (4) Kuat.<95 N.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan 1. retak rambut Kuat. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan 100. tetapi telah retak rambut Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . Kurang Kaku. bocor 10.00 100 100 6.00 15.00 6. 2. Kaku.00 10 15 15 10 4. Menyatu Kuat. belah Retak 1-3 mm Retak.00 Struktur Pelengkap 100 2.00 ANDAL : : : : Laporan Pendahuluan 4-69 .00 10. retak lentur Retak rambut.00 100 100 100 100 100 100 15.K (%) Nilai Keandalan Total (%) (1) Struktur Bawah (2) Pondasi.00 Struktur Atas Dinding Geser Slab Lantai Slab Atap Rangka Atap. Rata/Datar Kuat.

00 100. Keandalan (%) (3) 20 15 15 20 15 5 10 Σ µ ku (%) Kondisi Andal. i (1) 1 2 3 4 5 6 7 (2) Intalasi Pencegahan Kebakaran Transportasi Vertikal Plambing Instalasi Listrik Tata Udara.00 100.00 100. Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/ Kurang/Tidak Andal : µku = < 95 % ANDAL Kurang andal . Komp. : ………………………. Tidak andal Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : ………………………. Tidak Andal (%) Andal 99 -100 KA 95 . Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15) Form – A Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung No.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. : ………………………. AC Instalasi Penangkal Petir Instalasi Komunikasi Jenis Komponen Utilitas Gedung Instalasi: Nilai Maks.00 100.00 100. Kurang Andal. µku = 95 – 99 %. : ………………………. Laporan Pendahuluan 4-70 . Util.00 100.<99 (6) x x x x x x x Keandalan N ku TA <95 (7) x x x x x x x (8) (%) (4) 100. : ……………………….00 (5) 100 100 100 100 100 100 100 Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas (µku.i) Keterangan : Andal : µku = 99 – 100 %.00 100.

Tangki Penampung Air TABUNG PEMADAM API RINGAN 1. Pompa Air 2.00 4 4 4 4 4 100.Selang NF = 15 3 2 2 100 2 2 2 2 100 NF = 15 8 7 100 100 100 100 x x x x 8 7 100 100 100 100 100 1D 1E Laporan Pendahuluan 4-71 . Pipa Instalasi GAS PEMADAM API 1.00 1C 4. Hidran Pilar 6. Panel control Kebakaran (3) NF = 20 (4) (5) (6) (7) (8) (9) 100.00 1A 4. Reduksi Ф (%) (1) (2) SISTEM DETEKSI ALARM KEBAKARAN 1. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16) Form Utl-1 Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Pencegahan Kebakaran Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tidak Andal <95 % Tingkat keandalan F. Catu daya 5. Nosel Gas 9.00 3 2 2 2 2 2 2 100. Kran Pemilih Otomatis HIDRAN 1. Alarm Kebakaran 3. Hidran Kotak 5. Kotak Operasi Manual 7. Alat-alat deteksi 2. Tangki Air 5.Kumpulan Tabung Gas Pemadam Api 2. Tangki Penekan Atas/Alat Kontrol 4. Pompa Air 2. Pipa Instalasi 3. kran Uji 4. Alat-alat Deteksi kebakaran 8. Titik Panggil manual 3. Kepala Sprinkler 3 3 4 NF = 20 4 4 4 4 4 NF = 20 3 100 100 100 100 100 100 100 100 1B 3. Catu Daya 5. Tabung Gas Tersegel 2. Alarm Kebakaran 6. Stater Otomatis 100 2 2 2 2 2 3 100 2 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 2 2 2 2 2 3 2 2 100. Sumber Air 7. Kabel Instalasi SPRINKLER OTOMATIS 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Panel Kontrol 6.00 3 3 4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 3 4 3 3 4 100.

Lobang/ saluran pengurasan lantai 8. Sumber Air dari sumur dala. saluran ke Tangki Septik 3. Listrik untuk Panel Pompa 8. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) AIR BERSIH (2) 1. Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18) Form Utl-3 Nilai Keandalan Utilitas : Plambing Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Plumbing Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.00 3A 4. tempat cuci tangan 6. Kabel dan Panel Listrik 4. Rel 6.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. pompa air. Tangki Air Atas : Menara 5. Rantai Penarik 5. Bak cuci.00 7 6 6 7 6 6 6 6 3B 4. Kabel dan Panel Listrik 5. maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan Laporan Pendahuluan 4-72 . Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 7.Tangki Air (3) NF = 50 5 5 6 6 6 6 5 6 5 NF = 50 7 6 6 7 6 6 6 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) 5 5 6 6 6 6 5 6 5 (9) 100. Peredam Sangkar ESKALATOR 1. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6. Motor Penggerak 2. Pompa Instalasi 9. Pipa Air Hujan *) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 7. motor Penggerak 2. Sangkar dan alat Kontrol 3. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan <95 % (1) LIF (LIFT) (2) 1. M t Ai Penampung *) 3. Badan Eskalator 7. Kran AIR KOTOR 1. Motor Penggerak Pintu 4.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 2.00 2A 8 7 7 7 7 7 7 100. Kloset/ bidet/ Urinoir 2. alat control.00 2B 8 7 7 7 7 7 7 c. Alat Penyeimbang Sangkar 7. Alat Kontrol 3. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17) Form Utl-2 Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Transportasi Vertikal Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tingkat F. Kran Air gelontor 100. Tangki Septik 5. Roda-roda gigi Penarik 6. Anak Tangga/lantai (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100.

l A d% l 100% 95 <95 (%) (1) (2) SUMBER DAYA PLN 1. Panel Tegangan Tengah 4. Alat pengisi aki 100. Radiator/ pendingin 5. Altermator 3. Trafo (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF= 50 7 7 4 6 7 7 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 <100% (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) 8 7 7 7 7 7 7 (9) 100. Kabel Instalasi 6. Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 6.00 4A 3. Reduksi Termasuk Kategori keandal Tidak Kurang Andal Ф an A d. AMF 7. motor Penggerak 2.00 7 7 4 6 7 7 6 4B 4. Panel Distribusi 5.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 d. Armatur 7. Kabel Instalasi SUMBER DAYA GENSET 1. Daily Tank Laporan Pendahuluan 4-73 . Panel Tegangan Menengah 2. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19) Form Utl-4 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Listrik Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) TingkatF.

Panel Distributor (2) SISTEM PENDINGIN LANGSUNG (3) NF=50 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 NF = 50 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Menara Pendingin 13.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 e. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20) Form Utl-5a Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% Tidak A d% l <95 Tingkat F. Pipa Instalasi Media Pendingin 9.00 5. Pipa Instalasi Air Es 4. Difuser gril 12. Kondensor 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 100. Media Pendingin 8. Media Pendingin Air Es 9. Difuser gril 11. Kompresor 2. Cerobong Udara 12. Pompa sirkulasi air pend kondensor 15. Reduksi keandalan Ф (%) (1) 1. Alat Kontrol 10. Panel Kontrol SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG 1. Kompresor 2. Panel Kontrol 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 Laporan Pendahuluan 4-74 . Pipa Instalasi air pendingin kondensor 14. Pipa Sirkulasi Air Es 5. Evaporator 3. Kipas Udara Kondensator 7. Unit Pengolah Udara 10.00 5B 6. Kondensor 4. pipa instalasi air pendingin Kondensor 13. Kipas Udara Kondensor 7. Evaporator 3. Alat Kontrol Cerobong Udara 11. Media Pendingin 8. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 14. Kipas Udara Evaporator 5A 6.

Evaporator 3. Konpresor (3) NF = 50 18 16 16 NF = 50 13 13 12 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 18 16 16 (9) 100. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21) Form Utl-5b Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Evaporator 3. Hantaran Pem-bumi-an 3. Elektroda Pem-bumi-an 13 12 12 13 Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang Laporan Pendahuluan 4-75 . Kondensor Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang g. Pipa Instalasi 4. Hantaran Pem-bumi-an 4. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Arester Tegangan Lebih (3) NF = 50 16 16 18 NF = 50 13 12 12 13 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) (9) 100.00 5A 100. Kepala Penangkal Petir 2. Kondensor SISTEM AC SPLIT /FCU 1.00 7B 2.00 13 13 12 12 5B 2. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) SISTEM AC WINDOW 1. Konpresor 2. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22) Form Utl-6 Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Penangkal Petir Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f.00 6A 16 16 18 100. Stri Pengikat Ekuipotensial 3. Elektroda Pem-bumi-an INSTALASI PROTEKSI PETIR 1.

Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol 100>Ka≥95 95>Ka≥75 (7) 100.00 (1) (2) PERLENG ada tidak KAPAN & X PERALAT Stop Kontak.00 12 13 13 12 7B 2. PABX 3. tombol & perlengkapan k t l laksesibilitas i b d d i i Rambu Perlengka ada tidak pan x peralatan Peringatan berbentuk suara Peringatan berbentuk visual Peringatan berbentuk getaran SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24) PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS Kondisi Nilai Keandalan Eksisting Maksimum Elemen Terfaktor Keandalan Pedestrian (%) (%) (3) Ya x x Ya X x X Tidak Tidak 40 5 5 40 5 4 1 (5) 40 5 5 40 5 4 1 100.Kabel Instalasi INSTALASI TATA SUARA 1. Panel system tata suara 3.00 100.00 7A 100. Speaker 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 h. Kabel Instalasi 4. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23) Form Utl-7 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Komunikasi Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Nilai F. Mikropon (3) NF = 50 16 18 16 NF = 50 12 13 13 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 16 18 16 (9) 100. Pesawat telepon 2. Tidak andal : µku = <75 % 100 KESIMPULAN : X ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL Rekomendasi 1 2 3 4 Laporan Pendahuluan 4-76 . µku = 75 – <95%.00 x x 50 (6) 100.00 Kondisi Eksisting Elemen Aksesibilitas Baik Rusak Sedang (8) x Rusak Berat 75>Ka>0 (9) x (10) 50 Nilai Keandalan Parsial 12000 8 m2 lantai No. Kurang andal . Reduksi Termasuk Kategori tingkat Kurang Andal Tidak Andal Ф keandalan d l 100% 95A -<100% <95 % (%) (1) (2) INSTALASI TELEPON 1.

Tidak andal : µku = <75 % 100 Laporan Pendahuluan 4-77 . Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Parkir (1) (2) KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA Kesesuaian dengan dokumen rencana kota Kesesuaian KDB Kesesuaian KLB Kesesuaian GSB Ya x x x Tidak 5 2 2 1 5 2 2 1 100 SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25) PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nama Bangunan : Alamat Pemilik : : Fungsi Bangunan : Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nilai Keandalan Nilai Maksimum Terfaktor Keandalan Keandalan (%) (3) (5) (10) No.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. µku = 75 – <95%. Kurang andal .

struktur=NKS.00 3 4 5 100. struktur=NKS.00 5.00 100.00 5. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah Laporan Pendahuluan 4-78 .00 Bangunan yang diperiksa masuk kategori Interpretasi : a. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.00 75% <95% 85% <95% 95% <100% 75% <95% 75% <95% Kurang Andal NK (%) (4) 89.00 100. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) b.92 <75% <85% Tidak Andal NK (%) (5) Bobot Penilaian (%) (6) 10 30 Nilai Keandalan Total (%) (7) 10.00 30. atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26) Kategori Penilaian No Aspek Yang dinilai Andal NK (%) (1) 1 2 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Pasangan Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total ANDAL (2) (3) 95% 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 100% (3) 100.00 100.00 - <95% <75% <75% - 50 5 5 100 50.

% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. bila NKA bernilai dibawah 85 c. bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99% Tidak andal. (95%<=NKA<=100%) b. dan NKU tidak boleh kurang dari 95 % Laporan Pendahuluan 4-79 . % 3. bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95% Tidak andal. (99%<=NKA<=100%) b. d. Tingkat Keandalan Utilitas dianggap Andal. % 2. Kurang andal. bila NKA bernilai dibawah 75 c. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah 1. bila NKA bernilai dibawah 95 c. (90%<=NKA<=100%) b. Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. Tingkat Keandalan Struktur dianggap : Andal. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap Andal. Kurang andal. NKS. bila NKA tidak kurang dari 95% atau a. Kurang andal. bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90% Tidak andal. bila NKA tidak kurang dari 90% atau a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 c. NKA. struktur=NKS. bila NKA tidak kurang dari 99% atau a.

Kurang Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .5. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Struktur dianggap: 1. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal • Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. struktur. struktur. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel tersebut akan digunakan untuk: 1. Kurang Andal.100% 2.2. struktur. Andal. Data 4. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa 3. Setelah dikelompokkan akan di tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung. Tindak Andal. Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan 2. utilitas.100% 2. Tindak Andal. utilitas. Interpretasi • Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan (komponen arsitektur. bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95% 3. utilitas.5.5. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal Tingkat keandalan Arsitektur dianggap: 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. bila bobot nilai diantara < 85% Laporan Pendahuluan 4-80 . struktur. Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik dari bangunan yang telah diperiksa di atas. utilitas. • Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan ( arsitektur. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA 4.1. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. Kompilasi Data Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan data lapangan. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori Andal. Andal.

Andal. nilai keandalan Arsitektural. tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan). bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Tata Bangunan dan Lingkungan: 1. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .3.5.95% < 85% >99%-100% >95% . nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. Kurang Andal.100% 2. yaitu tahap pembobotan masing-masing komponen dan sub komponen.100% 2. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. Kurang Andal. Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). Namun untuk nilai keandalan utilitas. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. Tindak Andal. Andal. tidak boleh kurang dari 99%. bila bobot nilai diantara < 75% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. Tindak Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% . Nilai keandalan masing-masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing komponen Laporan Pendahuluan 4-81 . Tahap penilaian keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai.100% 2.99% < 95% >95%-100% >75% . Kurang Andal.95% < 75% CATATAN 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tingkat keandalan Utilitas dianggap: 1. Tabel 4-27 Penentuan nilai Keandalan Bangunan ASPEK KEANDALAN ARSITEKTUR STRUKTUR UTILITAS AKSESIBILITAS NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL >95%-100% >75% . Analisa Analisa dilakukan dalam beberapa tahap. Andal.95% < 75% >95%-100% >85% . Tindak Andal. bila bobot nilai diantara < 95% Tingkat keandalan Aksesibilitas dianggap: 1. khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran. bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99% 3.

<95% 75% . Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini.00 30.00 100.00 5.92 - <75% <85% <95% <75% <75% - 10 30 50 5 5 100 10.00 75% . Tabel 4-29 Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan Kategori Penilaian No (1) Aspek Yang dinilai (2) Andal (3) 95% .100% NK (%) (3) Kurang Anda NK (%) (4) Tidak Andal NK (%) (5) Bobot ilai Keandala Penilaian Total (%) (%) (6) (7) 1 2 3 4 5 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total 100. sedangkan nilai masing-masing komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya.100% 95% .<100% 75% . yaitu Andal.00 5.00 Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%.100% 100% 95% . Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen.00 100.00 50.100% 95% . kurang andal atau tidak andal.<95% 89.00 100.00 100. Kurang ndal dan Tidak andal.<95% 85% .<95% 95% . tahap berikutnya adalah melakukan penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan. Laporan Pendahuluan 4-82 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tabel 4-28 Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan volume Lantai (i) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 volume elemen yg rusak Faktor reduksi rusak Faktor Nilai Nilai reduksi KeandalanKeandalan posisi Tingkat Awal Kategori Nilai Keandalan A KA TA (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini. Dari hasil akhir penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal.

pakar. Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis. Misal: struktur bangunan gedung. Rekomendasi Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan gedung yang telah oleh instansi teknis diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan pembina penyelenggara bangunan gedung di keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan disetujui Kabupaten/Kota. air hujan.6.7. KELUARAN/OUPUT Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini: 1. Hasil dari rekomendasi tersebut dapat diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan umum pada kab/kota. sistem plumbing. akademisi. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. dll yang tidak andal. Laporan Pendahuluan 4-83 . Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. elektrikal. dan instansi terkait. 2. 3. meliputi: a. Foto-foto sebagian/seluruh tindakan yang bangunan diperlukan gedung untuk yang terindikasi aspek memerlukan memenuhi keandalan. c. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. 1. b. 4. Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan Bangunan Gedung.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. 2. serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh masukan penyempurnaan rekomendasi. termasuk dokumentasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful