Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan bangunan gedung dan teknis pelaksanaan bangunan gedung serta peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Selain itu dalam bab ini menjelaskan tentang pendekatan dan metodologi dalam pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung di Kota Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada, Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan

(screening),

pelingkupan

(scoping),

pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan. Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum menginjak ke pelaksanaan di lapangan.

4.1.

DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan

4-1

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Dasar hukum yang digunakan adalah: 1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis

Bangunan Gedung 2. 3. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat
1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran
1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan 3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan 2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung 3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung

Laporan Pendahuluan

4-2

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung

4.2.

KERANGKA PIKIR
Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai

pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum
Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan. Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006. Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung.

4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:

Laporan Pendahuluan

4-3

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010
TAHAP PERSIAPAN TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK

PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & TEKNIK PENGUMPULAN DATA MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN

KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT

REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN ALAT KERJA

PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN SURVEY SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK PENYEMPURNAAN REKOMENDASI

PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN PEMERIKSAAN

INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN

DRAFT LAPORAN ANTARA PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan

4-4

Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. 29/PRT/M/2006. Gambar IMB. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung. Gambar As Built Drawings. Tahap Persiapan Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung yang akan disurvei. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang koordinator sesuai kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian gedung yang akan diperiksa keandalannya. maka yang perlu dilakukan adalah: a. dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. akan diakukan persiapan halhal berikut: a. c. yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan b. untuk membantu dalam proses perolehan data. seperti: Gambar Perencanaan Teknis. d. Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a. b. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di lapangan Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 4-5 . Setiap tenaga ahli akan dibantu oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan kebutuhannya.

dinding. rigid frames. plafon. pasangan batu. beton bertulang. mencakup: i. kerusakan. antara lain: finishing dinding. rangka kombinasi. dan fungsi bangunan gedung iii. Data Struktur Pemeriksaan dilakukan terhadap sistem struktur (bearing wall. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan. rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran) Bahan Struktur (kayu. Tahun Pembangunan ii. antara lain: finishing lantai/selubung bangunan. Pengawas vi. maupun yang berada pada bagian luar bangunan gedung. Kontraktor v. dan lingkungan penduduk. dll) Keselamatan Struktur Laporan Pendahuluan 4-6 . Gambar Bangunan vii. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan) c. Perencana iv. Nama Bangunan ii. Data Arsitektur Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang berada pada bagian dalam bangunan gedung. kaca. shear wall. prestressed. lantai. komposit. dan mebel terpasang. beton precast. Sejarah kepemilikan.pintu. Data Penunjang i. Fungsi iv. ii. Data Umum i.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. pasangan bata. Interior. iii. jendela. pagar. Lokasi/alamat iii. Pemilik b. baja. Luas/jumlah lantai v. Eksterior. d.

sumber daya genset). air kotor dan limbah. Sistem Building Automation System (BAS). panel kelistrikan. air hujan. atau kesalahan pelaksanaan terkena beban sementara yang melampaui kapasitas struktur) o o o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas Kegagalan akibat bencana alam ( gempa. PABX. instalasi tata suara). mesin penggerak). AC non sentral). TPS. motor penggerak). Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral. Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih. longsor) Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran. Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN. angin . Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal dan internal). akibat bencana) e. Sistem pembuangan sampah. Laporan Pendahuluan 4-7 . bak sampah setempat. Data Utilitas Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift. Sistem instalasi komunikasi (telepon. Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator. dan drainase ke lingkungan). panel operator. panel inspeksi. (shaft sampah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh: o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan perencanaan. penampungan dan distribusi air bersih. ledakkan) Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan. container sampah).

pengendalian asap. pintu kebakaran. persyaratan bangunan). sesuai dengan ketentuan pada Permen PU No. komunikasi darurat. lingkup wilayah kegiatan. Upaya penyelamatan (tangga kebakaran. sprinkler. rambu. hydrant. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang terdapat pada obyek bangunan gedung. dll). Utilitas (alarm kebakaran. tangga. area parkir. klasifikasi bangunan. koridor. lift. ramp. Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api). lift kebakaran. wastafel. 2. Jalur pedestrian. Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan komponen struktur bangunan). Laporan Pendahuluan 4-8 . escalator. jalur pemandu. perlengkapan dan peralatan control. pintu.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. sumber daya listrik darurat. penunjuk arah keluar. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. pancuran/ shower. termasuk pemeriksaan terhadap peralatan pemadam kebakaran. Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. marka. toilet. sesuai dengan yang tertera pada Bab I. perabot. Antara lain: Ukuran dasar ruang. pompa. Aksesibilitas penyandang cacat Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang terdapat pada obyek bangunan gedung. telepon. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini dikelompokkan dalam: Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan. material insulator kebakaran. penangkal petir). g.

meliputi: a. termasuk dokumentasi. d. b. dibuktikan visual Apabila dan di diuji lapangan kembali. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam beberapa tahap. dan aksesibiltas. mekanikal elektrikal maupun aksesibilitas. untuk temuan baik mengidentifikasi permasalahan bangunan didapatkan permasalahan dari aspek arsitektural. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung c. 5. dengan mengacu angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal atau tidaknya bangunan tersebut. Tahap Penyusunan Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan pemilik atau pengguna bangunan. maka akan dilakukan pengecekan. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masingmasing komponen hasil pemeriksaan. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. struktur. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait. kondisi yang kiranya serta perlu observasi gedung. Misal: struktur Laporan Pendahuluan 4-9 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. b. kebakaran. pengukuran. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan dari segi arsitektur. pengujian dan pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut. 4. struktural. utilitas.

penampilan dan kinerjanya. dll yang tidak andal. tata ruang. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA BANGUNAN 4. Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang unik dan spesifik dalam aspek fungsi. wujud arsitektur sebuah bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara nasional maupun internasional.3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bangunan gedung. penelitian kinerja bangunan Laporan Pendahuluan 4-10 .1. aksesibilitas dan tata bangunan serta lingkungan. Utilitas clan proteksi kebakaran.3.2.3. elektrikal. Alur Studi dan Format Penelitian Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL). Piranti lunak berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur. 4. Struktur. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. air hujan. 4. Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja Bangunan Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006. sistem plumbing. Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach). c.

− Kecepatan udara. Laporan Pendahuluan 4-11 . − Suhu radiant. − Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang. faktor ergonomic. − Fasilitas kemudahan (amenities). Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak. sirkulasi/transportasi. tempat duduk. 4. orientasi. keamanan. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap : − − − − − Kebutuhan jenis ruang Sifat dan hubungan kelompok ruang Standar besaran ruang Jenis dan besaran ruang Penyusunan ruang Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung. 2) Termal (thermal performance) − Suhu udara. sirkulasi. telekomunikasi.2. penandaan − Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi. alat-alat listrik. − Kelembaban udara. Kinerja yang balk dari sebuah bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing. sampling bangunan diperiksa dua komponennya. Komponen Ruang Dalam Pammeter kinerja ruang dalam (interior): 1) Spacial / Keruangan (spatial performance) − Layout ruang individu: ukuran. macam perabot. pencapaian.3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung. Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan adalah tata ruang bangunan. − Faktor-faktor pemakaian dan control.

1405/Menkes/SK/XI/2002 Komponen bangunan yang diamati: .Pelapis dinding .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3) Akustik (acoustic performance) − − − Sumber bising (noise source). Tabel 4-1 Batas-batas penerimaan (limit of acceptability) Parameter Spasial Termal Sub parameter Was ruang Suhu Kelembaban Pergerakan udara rata-rata Persyaratan Sesuai luas aktivitas dasar 18 .15 .Pintu / jendela . 4) Visual (visual performance) − Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan. − Contrast dan brightness. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.Pelapis muka dinding . Penerima suara (sound receiver). − Warna − Informasi-informasi visual dan pemandangan − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.28 oC 40-60% 0.Plesteran lantai . Jalur rambat suara (sound path). − Pergerakan dan distribusi udara segar. .Material pollutant. − Energy pollutant. 5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) − Suplai udara segar (fresh air).0.25 m/det <85 dB (A) >100 lux 1000 ppm 0.15 mg/m3 Peraturan / Standar Akustik Visual Kualitas udara Sound pressure level (SPQ Tingkat pencahayaan Tingkat karbondioksida (CO2) Debu Kep Menkes RI No.Pelapis muka langit-langit Laporan Pendahuluan 4-12 .

kebocoran atau pengembunan Suhu: perbedaan panas.3. getaran. baik untuk eksterior ataupun interior menggunakan warna-warna cerah.3. Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi. bangunan olah raga maka pemilihan warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan suasana ruang. perbedaan pemuaian dan penyusutan akibat panas. bahan dekoratif ruangan dan sebagainya. Penyelesaian warna pada masing-masing banguna. furniture. beban mati. Laporan Pendahuluan 4-13 . sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti. perbedaan tekanan udara Radiasi dan cahaya: radiasi matahari. Warna Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan rumah sakit. Komponen ruang luar Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan (enclosure): − − − − − − − − − − − − Ketahanan bangunan (building integrity) Antisipasi beban: beban hidup. radiasi lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisik ruang adalah: 1. Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat. Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan seperti bahan penutup dinding. visible light spectrum Penanggulangan bahaya api Penutup atap Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar Pelapis lantai luar Pelapis muka langit-langit luar Komponen bangunan yang diamati Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya. bangunan perkantoran. Kondisi ini telah sesuai dan sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung. terutama yang berkaitan dengan psikis pemakai bangunan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. isolasi panas.

Sistem penerangan ini dibedakan menjadi Laporan Pendahuluan 4-14 . Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di dalamnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil. atap. Penerangan Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan sistem penerangan yang tepat. yaitu dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split.60 %.Penyimpangan dari standard tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang. Pemilihan sistem tergantung pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang. Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu sekitar 22 . oleh sinar matahari Panas karena suhu badan manusia Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan. balk dengan ventilasi alam maupun buatan (AC). − − Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas. kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan.25° C dan nilai kelembaban 40 % . Sebagai konsekuensinya biaya operation maintenance perlu ditambahkan. dsb.70 % dan kebutuhan udara bersih 20 . Mengkondisikan udara. Oleh sebab itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi nyaman. Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh : − − − Radiasi dinding. Penghawaan Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22 – 25° C dengan kelembaban 40 % . Penggunaan sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman. penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan. 2. 3. kegerahan.50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang. adalah : − mengurangi pengaruh langsung sinar matahari.

Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut : − Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi sebesar 300 lux. penerangan. Penerangan buatan pada siang hari diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan. selain itu juga untuk menciptakan suasana yang diinginkan. yaitu : Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata ke seluruh ruangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2 yang disesuaikan dengan kebutuhan. b) Penerangan buatan Sebagai bangunan perkantoran. tahun 1985). penerangan khusus untuk ruang-ruang yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi. yaitu : a) Penerangan alami Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. − Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk diskusi. Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah memenuhi persyaratan. pengadaan penerangan buatan disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang. sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk direncanakan secara seksama. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan yang terdapat pada bangunan eksisting. umumnya sebagai penerangan umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang. c) Penerangan campuran (alam dan buatan ) Pemanfaatan penerangan alami clan buatan. Penerangan alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan. Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan Laporan Pendahuluan 4-15 . dimana terdapat suatu aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut. Dirjen Cipta Karya. koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5 daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan buatan. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang diterima oleh ruangan.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 slide. maka perlu diketahui adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi : − Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya. • Syarat: dokumen tersedia. seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu lintas dari jalan sekitar bangunan. Digunakan untuk memastikan catatan manajemen penggunaan apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna dan aktivitasnya. rekaman jejak fisik. Suara / Akustik Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruangruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu. Untuk mengatasi menjalarnya bunyi. wawancara dan kuisoner Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia Intrumen yang dibutuhkan tersedia Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara cepat. sehingga untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal. 1 Tingkatan data pengukuran yang dipilih Analisis arsip perencanaan Data yang diperlukan • Gambar-2 denah. masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan background musik lembut. pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada sumber bunyi. Secara umum penyelesaian akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan. pemisahan suara dengan memisahkan sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan. Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. instrument tersedia Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar 2 3 Analisis hunian dan penggunaan Penyusunan instrumen sederhana • • • • 4 Evaluasi • • Guidelines Laporan Pendahuluan 4-16 . Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. film. 4. Observasi perilaku. spesifikasi. Beberapa indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4-2 Indikator pengumpulan data No. rencana anggaran biaya. salah satu yang dapat dilakukan − adalah dengan memberhentikan suara. dsb. Sumber bunyi dari luar bangunan.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat mendeteksi beberapa parameter suhu.DISTO untuk mengukur jarak. Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi ini. gambar 4-3. • Distance meter . kelembaban . Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement) 1) Pemahaman tujuan inspeksi Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan pemilik/pengelola bangunan gedung Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan dan ketidaksepahaman yang tidak perlu Identifikasi kondisi fisik Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal atau khusus Testing dengan peralatan tertentu Batasan (limitation) 2) 3) 4) 5) Laporan Pendahuluan 4-17 . kelembaban suatu ruang. Alat Ukur Komponen Ruang Dalam Keterangan: • Testo 435-2 untuk mengukur suhu. a. kandungan kadar karbondioksida. • Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan. karbondioksida • Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan • Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk mengukur laju kecepatan udara. maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. lugs dan volume ruang Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan faktual.

Observasi dari hasil pemeriksaan. lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan. berupa identifikasi beberapa area atau item yang tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 4) Batasan-batasan. Pemeriksaan (Inspection) 1) 2) 3) 4) 5) Nama pemilik/pengelola bangunan Alamat lokasi bangunan yang diamati Tanggal dan waktu pemeriksaan Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai relevan dengan tujuan penyelidikan Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Pelaporan (inspection records) 1) Nama dan alamat lembaga pemeriksa Identitas personil yang melakukan pemeriksaan Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung. Alamat bangunan gedung yang diperiksa Deskripsi dan identifikasi bangunan. bagian dari bangunan atau struktur lainnya. 2) Detail properti − − 3) Detail pemeriksaan − − − Tanggal pemeriksaan Detail tentang tujuan. Observasi Item-item penting Kesimpulan 5) 6) 7) Laporan Pendahuluan 4-18 . Identifikasi semua pihak yang terlibat − − − 6) 7) 8) c.

Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi struktur.Rupture. Konsep Perencanaan Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a.4. Pendekatan Struktur 1. yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya − Pembentukan sendi plastis − Ketidakstabilan struktur − Fatigue b. d. Metoda Tegangan Kerja Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan. Metoda Kekuatan Ultimit Dengan metoda ini. Kondisi Batas Struktur Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat dijadikan pedoman. yaitu: 2. b. e. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu: . c. dapat berupa: − − defleksi yang berlebihan pada kondisi layan lebar retak yang berlebih Laporan Pendahuluan 4-19 .3. unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan ultimit yang diinginkan. dimana: b. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar Ekonomis Kuat dalam menahan beban yang direncanakan Memenuhi persyaratan kemampuan layanan Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi) Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu: a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. yaitu: a.Hilangnya keseimbangan lokal atau global .

sehingga: Laporan Pendahuluan 4-20 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − c. Kapasitas adanya cadangan tersebut diperlukan dan untuk faktor mengantisipasi “undercapacity". 3. dapat berupa: − − − keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim kebakaran. diluar beban yang diharapkan terjadi dalam kondisi normal. vibrasi yang mengganggu Kondisi batas khusus. ledakan atau tabrakan kendaraan korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002). sehingga: Undercapacity dapat terjadi akibat: Resistance ≥ Penqaruh Beban Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan) elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan faktor reduksi kekuatan. Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat memikul beban berlebih dengan besar tertentu. dan or beban yang nilainya > 1. kemungkinan faktor-faktor “overload" Overload dapat terjadi akibat: − − − − − − Perubahan fungsi struktur Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan Urutan dan metoda konstruksi Variasi kekuatan material Workmanship Tingkat pengawasan Berdasarkan prosedur desain yang baku. kekuatan (resistance) elemen struktur harus lebih besar Dada pengaruh beban. yang nilainya <1. yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal.

6 L Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan: U = 0. Beban Terfaktor dan Kuat Perlu SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban. Butir 2 diatas mengharuskan adanya pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah didesain.2 D + 1. yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini.9 D + 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit. ORn. Dalam butir a diatas. Prosedur desain ini pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian utama ditekankan pada kondisi batas ultimit. Kuat perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan simbol- Laporan Pendahuluan 4-21 . Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat perlu.2 D + 1.05 ( D + LR ± E ) atau U = 0..6 L + 1.. b. geser. yaitu Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup balk pada tingkat beban kerja. Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-2002 yang bunyinya adalah: a. torsi atau − dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas. sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor.3 W Jika pengaruh gempa harus diperhitungkan: U= 1. Kondisi batas serviceabilitas (kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh..9 ( D ± E ) Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen.75 (1.6 W) U = 0. kuat rencana adalah identik dengan a1S1 + a2S2 + . Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah: − Kombinasi beban coati dan beban hidup: U = 1.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting. Untuk tujuan ini akan dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 simbol M. kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi. diameter dan jumlah tulangan terpasang. Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor keamanan struktur. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula. Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-Retak Dan Penurunan Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan Bangunan dan segi kekuatan strukturnya. V. Analisis struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur eksisting. penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh. perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam mengenai kondisi aktual struktur. ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-merusak seperti core drill. termasuk pengukuran geometri struktur dan karakteristik material bangunan eksisting. dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M. spesifikasi teknis dan BOQ. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka struktur perlu diperkuat. breaking out dan test sondir. pulse echolgeoraclar. T. Disamping itu. Laporan Pendahuluan 4-22 . dan u. Dengan pengujian-pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi. Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar rencana. T dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U. Penyelidikan yang akan dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. V. 4.

Sarang tawon (honey comb) e.as built drawing . Penyebab kerusakan a. Pemeriksaan visual dan pengambilan dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur: a. Kondisi eksisting struktur b. Pengukuran daya dukung tanah (Tes Sondir) Analisis Kondisi eksisting Struktur Kesimpulan dan Saran Untuk menentukan tingkat keamanan struktur eksisting terhadap kondisi pembebanan rencana dan mencari penyebab kerusakan pada struktur Untuk menentukan langkah. Tebal selimut beton d. Pengumpulan data sekunder: a. Core test b. Breaking out d.catatan perubahan dan desain awal dan Spesifikasi . Analisis struktur Eksisting b. Covermeter test/Rebar detection c. Deformasi berlebth d. Pengukuran pondasi dengan menggunakan georadan/pulse echo 3. Faktor keamanan struktur c. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur a. Kerja. Daya dukung tanah f. Pengamatan geometri struktur b. Data desain terdahulu kriteria desain gambar dan perhitungan spesifikasi b. Kapasitas cadangan struktur d. Peta kerusakan b. Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau perkuatan struktur bilaniana diperlukan b. dan Pendekatan Teknis 1. Analisis daya dukung pondasi dan settlement a. Data pelaksanaan . spesifikasi teknis d. Dokumentasi Keluaran Laporan a.data material c. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec struktur dan material Tabel 4-3 2. Gambar rencana perbaikanlperkuatan c. BOQ Laporan Pendahuluan 4-23 . pengambilan foto a. Perkiraan sistem pondasi a. a. Data kajian terdahulu survai/Pemerik sawn Global Untul memahami kondisi eksisting struktur Untuk menentukan teknik dan metoda pengujian yang optimal 1.langkah selanjutnya yang dianggap perlu. Analisis struktur b. Analisis pondasi a Geometni aktual elemen-elemen struktur a Properties aktual material b. Kondisi geometri aktual struktun C. Ultrasonic 2. Pengamatan kerusakan/retak path komponen struktur/nonstruktural c. Kajian faktor keamanan struktur c. kondisi penulangan dan kondisi kerusakan Untuk mendapatkan kedalaman pondasi clan perkiraan daya dukung 1. Kondisi kerusakan e.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan) Tahapan Pekerjaan Studi Awal Tujuan Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan agar studi yang akan dilakukan nantinya dapat berjalan dengan efisien dengan memanfaatkan seoptimal mungkin data yang tersedia tersebut. Pengukuran geometri elernen-elemen struktur Pemeriksaan Detail Untuk mendapatkan karakteristik material eksisting. Metodologi. Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan c.

Pendahuluan Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti: 1). 3). − Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur. Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang menimbulkan konsekuensi pada perubahan : − Perubahan fungsi/penggunaan strukur − Penambahan tingkat (pengembangan struktur) 4). Laporan Pendahuluan 4-24 . yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam renang). − Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran. − Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponenkomponen struktur. Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan oleh pengaruh internal-eksternal seperti: − Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua. Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur. banjir atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi dalam perencanaan. Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak (seperti jenis-jenis senyawa asam).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Kesalahan perencanaan/pelaksanaan Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari: − Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur. Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting a. 2).

penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur. kemampuan layanan dan durabilitas. Halhal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur. tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah satu di bawah ini: (1) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan berdasarkan desain awal. b. ada enam tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4. Secara umum. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. (2) Jika kemampuannya sudah berkurang. maka perlu ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur saat ini. (5) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan peraturan/code yang berlaku (6) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur Selain itu.4) Laporan Pendahuluan 4-25 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Pada umumnya. Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan. (3) Sisa umur layananya. (4) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau melayani fungsi yang lain.

Pemeriksaan visual Pengambilan clokumen video Pengukuran geometry. tahapan survey/pemeriksaan global clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting. c. memilih area yang akan diperiksa secara detail dan menentukan teknik pengujian yang cocok/optimal Aktivitas Mengumpulkan/mereveiw data skunder seperti as built drawing. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan Mendiagnosa penyebabnya Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal tersebut. data material. demolisi atau survey lanjut yang lebih komprehensif Presentasi Hasil Interpretasi Hasil dengan bantuan Rekomendasi Dari keenam tahapan tersebut. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Pemeriksaan informasi adalah: − − − pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang struktur biasanya mengenal bertujuan kondisi untuk mendapatkan dalam yang mendalam rnaterial/struktur bangunan. konstruksi dll. Site observations. defleksi. laporan perhitungan/clesain. dan kerusakan lainnya Pengujian NDT terbatas Pengambilan Sampel Uji beban Pengujian NDT yang efektif p engujian fisik kimiawi Plot Analisis stasistik Analisis struktur Analisis kerusakan pengalaman sebelumnya Data Survei Pemeriksaan Global retak Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup clan terpercaya sehingga pemeriksaan struktur dapat dilakukan dengan tingkat keyakinan yang tinggi Untuk mempermudah penilaian Untuk menilai kinerja struktur eksisting saat ini clan yang akan dating dan membandingkannya dengan persyaratan yang ada Untuk menentukan aksi selanjutnya yang diperlukan seperti perbaikan/perkuatan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-4 Prosedur Penilaian Struktur Eksisting Tahapan Studi awal Tujuan Untuk mengkonfirmasi kualitas material yang digunakan atau data-data penting lainnya yang berkaitan dengan struktur yang sedang dikaji Untuk memahami karakteristik struktur. diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak Laporan Pendahuluan 4-26 . Bagian selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai eksisting. treatment untuk pencegahan.

pemilihan metoda pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi. pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas tiga tahapan. Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Secara garis besar. Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentukbentuk pengujian lainnya. berdasarkan intormasiinformasi tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan tersebut memang diperlukan. hammer dan lain-lain. baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan Laporan Pendahuluan 4-27 . yaitu: a. bentuk "load test" memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan. Namun walaupun begitu. Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan) yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponenkomponen bangunan yang diuji. dan pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. Tahapan Perencanaan Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah. Berdasarkan pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti lendutan). Informasi—informasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya demolisi/penghancuran) Seiain itu. penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan. Hasil pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual) kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau komponen-komponen struktur. Penyelidikan Visual Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merusak seperti pengujian ultrasonik. Tahapantahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan pada bagian berikut ini: 1). 6.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "

honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik pada
tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton). Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar 4.3). Untuk dapat membedakan jenis—jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak. Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Laporan Pendahuluan

4-28

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-5 Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton
Penyebab Retak Defisiensi struktur Korosi Tulangan Serangan Kimiawi Kebakaran Reaksi Internal Pengaruh Suhu Susut Rangkak x X X X X X x X Gejala Pengelupasan X X X X X x x X x x x X X x Pengikisan Jangka Waktu Pemunculan Segera X Lama X X x

Proses Pengeringan yang Abnormal Kerusakan Fisik

X x x x

x x x

Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or

Deterioration in Cocrete Structures"
2). Pemilihan Jenis Pengujian Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas: − − − − − − Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan Waktu pengerjaan Biaya yang tersedia Tingkat keandalan hasil pengujian Jenis permasalahan yang dihadapi Peralatan yang tersedia Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat tersebut akan menjadi rendah.

Laporan Pendahuluan

4-29

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada perlu disusun terlebih dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam pemilihan jenis pengujian. Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian ultrasonic atau

hammer.

Disini,

pengujian

core

dapat

dilakukan

untuk

mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang timbul pun dapat diminimumkan. 3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
− − − −

Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic) Biaya yang dibutuhkan Tingkat kerusakan yang ditimbulkan Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui nilai

kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang kan diuji.

Laporan Pendahuluan

4-30

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

b. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda. Kalibrasi Peninjauan variasi hasil pengukuran Analisis Perhitungan

Laporan Pendahuluan

4-31

dan kain-lain. Metoda Pengujian Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu: − Metoda langsung Sebagai contoh: pengamatan visual. analisis dan pengujian bahan. Jenis hammer yang umum dipakai untuk pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4. yaitu pengujian Non-Destructive. a. dan pengujian Destructive. alat ini Karena dapat kesederhanaannya. misalkan keberadaan partikal batu pada bagian- Laporan Pendahuluan 4-32 . Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-komponen struktur.5). Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji. Yang tergolong dalam jenis pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer. Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out. Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. juga setelah kalibrasi. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi kekerasan dan juga. pengujian core. Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt Hammer) Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya tertentu. pengujian Semi-Destructive.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 7. Metoda tidak langsung Pada metoda ini. perilaku elastik atau kondisi kerusakan bahan Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar tingkat − kerusakan yang ditimbulkan pads struktur. sehinggadapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. pengujian deangan menggunakan dilakukan dengan cepat. dilakukan pengukuran parameter-parameter yang dapat dikorelasikan dengan kekuatan. ultrasonic. dapat memberikan indikasi nilai kuat tekan beton benda uji.

Secara umum alat yang digunakan untuk : − − − Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan beton Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. Kekuranqan : Laporan Pendahuluan 4-33 . gambar 4-6.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bagian tertentu dekat permukaan. British Standarts (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2 (jarak antara 2 lokasi pengukuran tidak boleh dari pada 20 mm). Oleh karena itu. Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer" Kelebihan − − − − − Murah Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat Praktis (mullah digunakan) Tidak merusak Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan. diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran. 4 atau ASTM C805-89. yang hasilnya kemudian dirata-ratakan. Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer 1).

Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelembaban beton. bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi test tertentu. Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. Oleh karena itu untuk setiap jenis beton yang berbeda. 2). Lapisan keras Cukup Baik Kurang Baik Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan Laporan Pendahuluan 4-34 . Tabel 4-6 Diagram Kalibrasi alat uji Hammer Angka Pantulan Rata—rata >40 30-40 20-30 <20 Kualitas Selimut Beton Baik. Kalibrasi Seperti yang disebutkan sebelumnya. Sifat-sifat dan jenis agregat kasar. drajad karbonasi. Untuk mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur yang sedang ditinjau. ukuran dan umur beton. Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan "rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton. − − − Sulit mengkalibrasi hasil pengukuran Tingkat keandalan rendah Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut. Jadi dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang berbeda. banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt Rebound Hammer". karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu.

alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton. Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver) diketahui. gelombang longitudinal merupakan gelombang yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak informasi mengenai sifatsifat fisik bahan padat yang dilaluinya. Jika digunakan dengan balk dan benar. transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). Seperti diketahui ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat diberikan suatu impulse (getaran) yaitu. Metoda Pengujian Ultrasonik Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. 3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz. Alat ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar 4. 1). Dari teori fisika diketahui bahwa Laporan Pendahuluan 4-35 . Prinsip Pengukuran Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan prinsip perambatan gelombang pada media padat. gelombang transversal dan gelombang longitudinal. gelombang permukaan.5 atau ASTM C 597. Dari ketiga gelombang tersebut. Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt.6).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Alat ini secara talk langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat dengan nilai kuat tekannya diketahui. Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang. maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung.

nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu sama lain. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4. Penempatan Transduncer Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan penerima pads bends uji. Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama perambatannya.7 dan ketiga cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang terbaik. karena pola penempatan transducernya. Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat diasumsikan tetap.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat jenis bench padat yang dilaluinya diketahui. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang kurang balk. maka harga modulus elastik dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan diatas. Selain itu. Alat Ultrasonic Pulse velocity 2). gambar 4-7. pads cara yang tidak langsung. sehingga hasil yang didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan dengan cara langsung. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis batuan alam. Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil pengukuran. Laporan Pendahuluan 4-36 . kecepatan gelombang akan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi permukaan solid.

Dengan regresi linear bisa didapat persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak) maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara memindahmindahkan posisi transducer p enerima. gambar 4-8. cara ini sangat bergantung pads kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer penerima. Hasil pencatatan waktu perambatan gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi jarak antara transducer. Konfigurasi Transducer Laporan Pendahuluan 4-37 . Jika. sedang posisi transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara transducer yang berubah-ubah). Kemiringan (slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan gelombang yang dicari. Namun.

pengukuran dengan menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai modulus elastisitas beton. Gambar 4.8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan kecepatan rambat gelombang ultrasonic. Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton Seperti disebutkan sebelumnya. diperlukan diagram kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton. sama seperti halnya dengan pengukuran hammer. maka diperlukan suatu diagram kalibrasi. Oleh karena itu. Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton dan Kecepatan Rambat Gelombang Untuk pengujian lapangan. Sehingga ada kemungkinan bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata memiliki modulus elastisitas yang berbeda. gambar 4-9. Sebelum diuji tekan. kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran dengan nilai kuat tekan beton. Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat tekannya sangat sulit dimodelkan. Korelasi yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut. Banyak variabel-variabel dalam campuran beton yang berpengaruh.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3). Laporan Pendahuluan 4-38 . sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4). Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton Laporan Pendahuluan 4-39 . gambar 4-10. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil Pengukuran Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik. kondisi kandungan kadar air rasio agregat semen. Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic sangat dipengaruhi oleh umur beton.7.6 memberikan kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic. Kondisi lain yang berpengaruh terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar 4. jenis agregat dan lokasi tulangan. Tabel 4. Yaitu − suhu − kelembaban beton − posisi tulangan pada beton bertulang Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam menginterprestasikan hasilhasil pengujian.

yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan. Sebagai contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen struktur Laporan Pendahuluan 4-40 . Berdasarkan prinsip ini.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5). Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan transducer yang tidak langsung (gambar 9) − Mengukur ketebalan − Mengukur modulus elastis bahan − Memonitor proses pengerasan beton − Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok kolom Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk akibat serangan kimia kebakaran adalah nol. adanya retak atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama. Sedangkan kecepatan rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang p ada bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik (tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia).9). Aplikasi Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik terutama diantarnya: − Memeriksa keseragaman kualitas bahan − Mendeteksi retak-retak dan honeycombing. kedalaman retakannya ) (gambar F. − Memperkirakan nilai kuat beton − Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk dibawah permukaan pelat lantai. Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara. retakretak atau rongga kosong pada beton atau benda padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya (misal.

Cara ini sudah terbukti memberikan estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang akibat kebakaran.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 yang lapuk/rusak. Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton >4 3-4 <3 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tabel 4-7 Laporan Pendahuluan 4-41 . Adalah : t = (TV — L) Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton yang kondisinya masih baik.

belum memuaskan pihak-pihak terkait. Uji Pembebanan (load test) Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil pengujian material. Penentuan Kedalaman Retakan c. baik non-destructive maupun semi-destructive yang kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan pengamatan. Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada. yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Uji pembebanan biasanya berikut ini: p erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi Laporan Pendahuluan 4-42 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 gambar 4-11.

ataupun karena adanya kerusakan fisik yang − dialami bagian-bagianstruktur. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui tingkat layanan struktur. yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama. sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan. dan lain-lain. akibat serangan zat kimia. Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas bahan. akibat kebakaran. yaitu − Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive − Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. (2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test) Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat Laporan Pendahuluan 4-43 . Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn saja direnivasi/diperkuat. Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada tujuan diadakannya lod test. − Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart. gempa. maka pillhan pertama tentunya paling baik. maka cara kedualah yang dipilih. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi dan kondisi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − − Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur. (1) Jenis-Jenis Load Test Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok. sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur tersebut. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat merusak. − − Perubahan fungsi struktur. Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan. pembebanan yang berlebihan.

Selain itu penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi. a) Persiapan dan Tatacara Pengujian ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari.permasalahan yang ada .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 agar keamanan masyarakat umum terjamin.tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji . untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak diingini. sebagai contoh. Beberapa hal yang patut men jadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini. Elemen non struktural ini dapal berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan.kemudahan pelaksanaan Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat apakah kondisinya balk dan kuat. terutama untuk pengujian struktur lantai. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan: . sebagai contoh "ceiling board". Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji. maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya. sehingga timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing effect'). Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji. Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan. ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus Laporan Pendahuluan 4-44 . Perilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. Hal mi dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar. Hal ini kadangkala sulit dilaksanakan.

pembacaan lendutan bisa dilakukan. cara pengukuran adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat pencropongan dengan Laporan Pendahuluan 4-45 . lebar retak dan renggangan. kantong semen/pasir. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam. dan kemudahan pemindahannya. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan. Dua puluh empat jam setelah itu. Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada struktur. bata/batako.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah: Beban total ? 0. ketersediaan. (c) Pengukuran Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah lendutan. besarnya total beban yang dibutuhkan.L) Dimana D=beban mati L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya) Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test' dimulai. Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan. Beban-beban yang bisa digunakan diantaranya air.4D+1. pembacaan lendutan di lakukan kembali.85 ( 1. pemberat baja dan lainlain. Lebar retak yang terjadi biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda. setelah pembacaan. beban-beban bisa di lepaskan dari struktur. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan perahan-lahan. (b) Teknik Pembebanan Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan distribusi pembebanan dapat dikontrol.

dengan lebar garis-garis berskala tersebut. Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung. Pengguna bangunan gedung ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung. Kelengkapan dan berfungsinya utilitas dari suatu gedung. Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi dengan balk. 3) Uji Beban Merusak (Beban Batas) Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji. Untuk itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang mendukung fungsi dari gedung tersebut. pada akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya.3.bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 miikroskop. pola retakretak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garisgaris yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi). tetapi harus pula menikmatinya. di mana setiap komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan orangorang yang menggunakan gedung tersebut. terutama untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni. Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan menggunakan strain gage. 4. Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang besar. PENDEKATAN UTILITAS BANGUNAN Bangunan . Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen. Namun. Komponen-komponen utilitas bangunan Laporan Pendahuluan 4-46 . walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. akan memberikan jaminan keselamatan clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut. terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium.5.

kran pillih otomatis 4).1.20 lantai 20 . tangki penampungan air 5). banyaknya kabel minimal 3 buah. sistem transportai vertikal. hidran pilar.6. Utilitas pencegahan kebakaran : 1). sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya. dan plat lantai pemikul lift terbuat dari beton.5 . Tabel 4-8 Klasifikasi penggunaan lift Lift untuk manusia Lift khusus Tinggi gedung 4 .0 . stater otomatis.0 m/det 6. badan eskalator. alat kontrol. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat. hidran kotak. tangki penekan.7. Untuk keamanan. sumber air. pipa instalasi.5 0. roda gigi penarik. panel kontrol kebakaran. sistem plumbing.50 lantai > 50 lantai Kecepatan lift 1.15 lantai 15 . sangkar & alat kontrol. Sprinkler otomatis pompa air. Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurangkurangnya 12 mm. rel'. kabel dan panel listrik. Hidran : pompa air.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran.5 m/det 1. strik. Gas pemadam api kumpulan tabung gas. selang b. Komponen Utilitas Bangunan Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan gedung. kepala sprinkler. Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel.0 . sistem instalasi penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi. Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi. pipa instalasi 3).4. catu daya panel kontrol. kabel & panel listrik. nose) gas. alat penyeirnbang.5 m/det Jenis gedung Rumah sakit Rumah tinggal Lift barang 2-3 lantai 4-5 lantai Kecepatan lift 2.10 lantai 10 . Lift : motor penggerak.0 .8 m/det m/det 2).5 m/det 3. alarm kebakaran. catu daya.3.0 m/det 4.0 .2.5 . titik panggil manual. alat-alat deteksi.0 .3. kabel instalasi 2). anak tangga Laporan Pendahuluan 4-47 .3 m/det 0. peredam. kabin lift harus tahan api dan tertutup. yaitu : a. sistem instalasi listrik. 1.5 m/det 3. Utilitas transportasi vertikal : 1). rantai penarik. kotak operasi manual. Eskalator : motor penggerak. alarm kebakaran. motor penggerak pintu. kran uji. sistem tata udara.

Utilitas instalasi tata udara 1 ) . pompa distribusi. Air kotor : kloset. tangki penampungan atas. hantaran pembumian elektroda pembumian 2). Instalasi tata suara : mikropon. sistem AC split f. alternator. bak cuci. panel system tata suara. pompa instalasi. Laporan Pendahuluan 4-48 . daily tank. listrik untuk panel pompa. Sumber daya PLN : panel tegangan menengah. Air bersih : sumber air. tangki septik. Utilitas plumbing 1). radiator. kabel instalasi 2). alat pengisian aki. Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir. kran air gelontor. speaker. panel e. AMF. pipa air hujan d. pompa penampungan & alat kontrol. Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih. Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media air). kabel instalsi 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. Pengumpulan Data a. lubang pengurasan. Observasi ini diperlukan yang dan untuk untuk mendapatkan gambaran secara langsung objek mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas yang terdapat pada gedung tersebut. kabel instalasi 2). Observasi Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey lapangan pada objek yang diteliti. Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows. PABX. armatur. Sumber daya genset : motor penggerak. elektroda pembumian g. sistem pendinginan tidak langsung (media udara) 2 ) . Utilitas instalasi listrik 1). Utilitas Instalasi komunikasi 1). pengikat ekuipotensial hantaran pembumian. Utilitas instalasi penangkal petir 1). Instalasi telepon : pesawat telepon. panel distribusi. saluran dari bak cuci ke saluran terbuka. trafo. lampu. kran 2). saluran ke tangki septik. Berdasarkan pengamatan visual ini akan diperoleh data-data mengenai kualitas. kabel instalasi. kuantitas Berta kelengkapan dari komponen-komponen utilitas bangunan.

Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah : gambar 4-12.5 Hz < 5% < 10% 0.240 V 49.8 -1. Pengukuran dan Pengujian Pengukuran dan pengujian dilakukan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari pengamatan visual.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi penangkal petir. Alat ukur mekanikal elektrikal Tabel 4-9 Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Tegangan Listrik Frekuensi Total Harmonic Distorsion Pf dan cos Φ Voltage unbalanced Current unbalanced Resistansi pentanahan Resistansi isolasi Nilai Yang Diinginkan 198 .0 < 5% < 5% < ion ~ Keteransan max 5 % min 10 % Untuk saluran fasa Untuk saluran netral Sifat lagging Laporan Pendahuluan 4-49 .5 -50.

PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. industri. d. karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi mulai dari sumber air. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran. selain itu harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. b. penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa parameter sebagai berikut Sarana air bersih Drainase gedung Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampan. Hal ini telah diamanatkan pada UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam rangka melindungi. 1. Komponen Lingkungan Indikator a. Untuk itu sarana dan bangunan umum tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan.6. yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. c. a. untuk itu perlu dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan. Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih clan aman. jiwa dan sosial. penghuni dan masyarakat sekitarnya. psikologis clan dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna. memelihara clan mewujudkan lingkungan yang sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans epidemiologi. selama proses pengolahan maupun selama pengaliran di dalam pipa distribusi. komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum. sumur pompa tangan dangkal). Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis.3. sumur dalam (sumur artesis). terminal air. Sarana air bersih Laporan Pendahuluan 4-50 . Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal (sumur gall.

oleh karena itu. Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti terlihat pada tabel berikut Laporan Pendahuluan 4-51 .907/Menkes/SK/VII/2002. biologic dan radiologis. maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar. pencemaran dalam sumber air bersihnya pun dapat terjadi. 3.biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Misalnya jika menggunakan sarana air bersih dari sumur. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. sehingga tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia. Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik. 5. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. sumber/sarana air bersih dalam suatu bangunan perlu direncanakan. selain itu bangunan pengambilan harus dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian. 2. Demikian pula dalam suatu bangunan. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. sehingga harus dilengkapi dengan pagar keliling.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 PDAM. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit. Tidak berasa dan tidak berbau. kimia. Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara lain 1. Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih. kimia. 4.

Drainase Gedung Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air. Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari sistem tersebut. Laporan Pendahuluan 4-52 . Bila terdapat sistem plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. menyebabkan erosi atau genangan air. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan umum.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-10 Persyaratan Kualitas Air Minum b. Air hujan yang dibawa dalam sistem plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan.

maupun tempat . untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya. Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader). Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet. c. umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah (underground drain).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota. Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah : 1. ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. 3. Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter.94 m2) luas atap dibutuhkan I inci luas leader. 2. kemiringan atap dan bentuk gutter. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya. Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. Laporan Pendahuluan 4-53 . Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22. Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya. Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local. Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran. 4. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai 2. Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara: 1.86 m). basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota. industri.tempat umum lainnya.

Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara: 1). Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat .zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup Meskipun merupakan sisa air . dll. Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian. Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. Derkantoran. Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masingmasing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. pertokoan.hari dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar ). sekolah. Pengelolaan Individual Laporan Pendahuluan 4-54 . industri kima. namun volumenya besar. Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-13. Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi: − − − air buangan kamar mandi air buangan WC : air kotor/tinja air buangan dapur clan cucian pabrik pangan. Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri. pasar dan fasilitas pelayanan umum. karena lebih kurang 80 % dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari . seperti rumah tinggal. Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah. Oleh sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. hotel. 3). yang terdiri dari: 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil. seperti pabrik tekstil. 2).

Apabila dibakar akan menimbulkan Laporan Pendahuluan 4-55 . Sarana Pernbuangan Sampah Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2). Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-14. Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman. rumah sakit. Secara diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-15. industri. bandara dan fasilitas umum. perdagangan. Pengelolaan Komunal d. seperti hotel. yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam wilayah yang kecii. Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas 3).

atau jalur lain. setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir. misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan. badan air dan udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. misalnya timbulan wampah masuk ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Reuse.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 pengotoran udara. Recycle dan Replace ). Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah. Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut: gambar 4-16. Laporan Pendahuluan 4-56 . Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur.

Pengumpulan Data. Data primer dikumpulkan dari hasil observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan. Pengumpulan Data Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder maupun data primer. drainase dan air limbah. terutama dokumen yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari masing-masing pemilik bangunan. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain 1) Pengukur kualitas air 2) Sanitarian Kit 3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada penyehatan sarana dan bangunan umum. saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). c. Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan. Peralatan dan Analisis Data a. sampel air diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air. Laporan Pendahuluan 4-57 . Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. Formulir Pengamatan 1) Formulir pemeriksaan 2) Formulir Inspeksi Sanitasi ii.1/26/1990 tentang Baku Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah. Peralatan Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu i. Untuk sarana air bersih. pengangkutan. Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan dari berbagai sumber yang representative dan mewakili. Analisis aspek sanitasi mengacu pada KepMenkes No. 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. b. pengolahan dan pembuangan akhir.

Browsing data-data peraturan terkait melalui internet. c. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait. d.4. PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA 4. Tim ahli secara spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut. Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung (gambar IMB. c. dan gambar mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait. Data Primer a.4. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai bangunan terkait. Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara: 1.4. d. Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan. 4. Masing-masing akan dinilai dengan memberikan Laporan Pendahuluan 4-58 . serta gambar as built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli.1. gambar arsitektur.2. b. gambar struktur. Jenis Perolehan Data Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan bangunan meliputi beberapa aspek. Melakukan uji lab bila diperlukan. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada. b. 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Data Sekunder a. KEBUTUHAN.

Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi baik. g.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik. atau sudah tidak sesuai). Data-data yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut: 1. e. retak. pecah. Laporan Pendahuluan 4-59 . mengalami retak. terkelupas atau berjamur ). berlubang atau rusak) i. Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik. f. Data Umum Bangunan Gedung a. buram. pudar/ busam. ambles. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). luntur. mengalami retak. pecah atau terkelupas). mengalami retak rambut. b. terkelupas. mengapur. pecah atau terkelupas). atau sudah kusam. terkelupas atau pelapis lantai tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna). berlumut. pecah. Data utama : • Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) • • • • Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut) Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut) Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri atas berapa lantai) 2. mengalami retak. c. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri. macet. Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik bisa difungsikan sesuai fungsinya. d. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik. Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik. lembab. terbelah. Aspek Arsitektural a. Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi baik. terbelah. masih sesuai dengan fungsi. atau dalam kondisi rusak. hilang dan tidak berfungsi) h. kusam. pecah/ rusak.

Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku. terkelupas atau berjamur ). ambles.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 j. pecah. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). ikatan sambungan mur baut terlepas. terkelupas. jika dari beton apakah terjadi patah. kepala pondasi. retak. lapuk/ berkarat) f. luntur. mampu menopang/ menahan beban. atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja) c. rapuh) 3. kaku. atau terlepas. Struktur rangka baja dan dinding pasangan c. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat. l. lembab. kaku. kuat menopang beban di atasnya. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. Aspek Struktural Sebelum dilakukan survey ke lapangan. balok pondasi : (apakah masih kuat. berlubang. miring) d. jika dari besi apakah terjadi karat. mengalami retak. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku. melengkung. Struktur rangka beton dan dinding geser d. Struktur dinding pasangan dan rangka beton praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai berikut: a. berlubang atau rusak) m. atau terjadi patahan. melengkung. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi baik. beton terkelupas. atau muncul retak. pudar/ busam. berlumut. apakah bangunan menggunakan : a. jika dari besi apakah terjadi karat. Pondasi. pecah. buram. akan dilakukan klasifikasi form isian terlebih dahulu. pecah. retak rambut) e. pecah/ rusak. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik. pecah pada beton. lendut. atau terjadi penurunan dan patah struktur) b. bocor pada basement) Laporan Pendahuluan 4-60 . kuat menyalurkan beban. k. kusam. ikatan sambungan mur baut terlepas. jika dari beton apakah terjadi patah. Struktur rangka beton dan dinding pasangan b. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik. tanpa pengikat. hilang mur dan baut. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat atau hilang. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik. bocor.

Utilitas dan Proteksi Kebakaran a. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi. atau miring. meliuk. atau terjadi retak. beton mengelupas. berjamur) i. hilang. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. retak rambut) n. kabel instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. retak rambut. atau terjadi pecah. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat. kuat dalam campuran semen ikatannya) m. terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya) l. catu daya. ikatannya menyatu dengan balok induk. apakah terdapat beban benda yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup atap. Balok anak. lembab. patah. titik panggil manual. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik. apakah leufel & kanopi masih kuat. lendut. apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik) k. berjamur) 4. canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus atau patah. alarm. rembes. tidak terawat. retak rambut. retak struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 g. mampu menahan beban pengguna yang melaluinya. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. bocor. lendut. patah. retak rambut. kuat dalam penataan siarnya. ataukah rusak. panel control kebakaran. berkarat) o. mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. beton mengelupas) h. pecah. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik. mudah hancur. tidak berfungsi) Laporan Pendahuluan 4-61 . tegak. atau hal-hal yang menghawatirkan jika terjadi keruntuhan) j. ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik mampu menahan beban penutup atap. Rangka atap. atau rusak. retak struktur. leufel. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam kondisi baik. lembab. komponen tidak lengkap. kokoh. retak struktur. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik. lapuk. retak rambut. atau terjadi lengkung. retak. hilang komponen pengikatnya. atau rapuh. patah.

Lift / elevator ( meliputi motor penggerak. motor penggerak pintu. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. roda-roda gigi penarik. pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. sumber air. tangki penampungan air) : : (apakah tersedia atau tidak. peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. sangkar dan alat control. kran uji. rel. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. anak tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak. komponen tidak lengkap. hilang. atau terjadi permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift) b. tidak terawat. stater otomatis. kabel dan panel listrik. alat penyeimbang sangkar. tidak berfungsi) d. tidak berfungsi) 5. catu daya. selang) : : (apakah tersedia atau tidak. rantai penarik. tidak terawat. hilang. badan escalator. kran pemilih otomatis) : : (apakah tersedia atau tidak. kepala sprinkler. hilang. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. ataukah sudah expired. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak terawat. Utilitas Transportasi vertikal a. panel control. Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api. pipa instalasi. komponen tidak lengkap. rusak. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air. tangki air.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. kotak operasi manual. ataukah rusak. rusak salah satu komponen. komponen tidak lengkap. tangki penekan atas/ alat kontrol. Nosel gas. alat control. alarm kebakaran. tidak berfungsi) c. hilang segel. Tabung pemadam api (tabung gas tersegel. atau macet. ataukah rusak. Hydrant (meliputi pompa air. tidak terawat. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak berfungsi) e. hydrant box/ pillar. Escalator (meliputi motor penggerak. ataukah rusak. dan permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna escalator) Laporan Pendahuluan 4-62 . kabel dan panel listrik. alat deteksi kebakaran. tidak berfungsi.

tidak terawat. atau rusak salah satu komponen. tidak terawat. pompa sirkulasi air pendingin kondensor. saluran dari wastafel ke saluran terbuka. trafo. bersih. tangki air atas. bersih. terawat. pipa air hujan) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. kipas udara evaporator. menara pendingin. atau rusak salah satu komponen. panel distributor. tidak berfungsi dengan baik. hilang. kering. wastafel. kran) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. Air Bersih (sumber air. kran air gelontor. diffuser grill. atau rusak salah satu komponen. kipas udara kondensator. Utilitas Instalasi listrik a. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. alat control. tangki penampungan air. bak cuci. lampu amatur. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah. kabel instalasi. tidak Laporan Pendahuluan 4-63 . hilang. urinoir. kering. bidet. cerobong udara. Utilitas Plumbing a. pompa instalasi. evaporator. Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air) (meliputi kompresor. hilang) b. lubang saluran pengurasan lantai. kabel instalasi) : (apakah masih dalam kondisi baik. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. tidak berfungsi) b. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi dengan baik. listrik untuk panel pompa. altermator. pompa distribusi dan tangki hidrofor. hilang) 7. panel control) : : berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. radiator. terawat. panel distribusi. panel) : (apakah masih dalam kondisi baik. pipa instalasi air pendingin kondensor. septictank. saluran ke septictank. kondensor. AMF. bersih. Air kotor (Kloset. Sumber daya Genset (Motor penggerak. terawat. media pendingin. tidak berfungsi) 8. Utilitas Instalasi tata udara a. alat pengisi aki. Daily tank. hilang.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 6. pompa penampung air dan control. lampu TL/pijar/halogen/SL.

bersih. pipa sirkulasi air es. tidak berfungsi dengan baik. stri pengikat ekuipotensial. evaporator. Laporan Pendahuluan 4-64 . kondensor) : : tidak berfungsi dengan baik. hantaran pembumian. atau rusak salah satu komponen. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. tidak berfungsi) 10. pipa instalasi. apakah masih dalam kondisi baik. terawat. tidak berfungsi) c. hilang. Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir. hilang. Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon. atau rusak salah satu komponen. kipas udara kondensor. kondensor. tidak berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. terawat. PABX. atau rusak salah satu komponen. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi dengan baik. evaporator. bersih. terawat. bersih. evaporator. speaker.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. pipa instalasi air pendingin kondensor. tidak berfungsi dengan baik. alat control cerobong udara. hilang. terawat. unit pengelola udara. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi) b. Sistim AC window (non sentral) (Kompresor. bersih. Utilitas instalasi komunikasi a. pipa instalasi air es. pipa sirkulasi pendingin kondensor. hantaran pembumian. atau rusak salah satu komponen. bersih. hilang. Sistim AC split/ FCU (non sentral) (Kompresor. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara) (meliputi kompresor. terawat. kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi baik. terawat. hilang. hilang. hilang. media pendingin. apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi) b. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi) 9. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. Instalasi tata suara (meliputi mikropon. atau rusak salah satu komponen. panel system tata suara. tidak berfungsi dengan baik. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah. tidak berfungsi dengan baik. Utilitas Penangkal petir a. atau rusak salah satu komponen. bersih. terawat. bersih. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik. diffuser grill. tidak berfungsi) d. media pendingin air es.

Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control. ataukah tidak mencukupi) d.4. apakah dalam kondisi baik atau rusak) c. apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak memenuhi persyaratan) g. dan data yang telah diperoleh dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 11. apakah dapat dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. saklar lampu dll. Aspek Aksesibilitas a. atau tidak memenuhi persyaratan) h. atau tidak memenuhi persyaratan) f. Penyajian data Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk pedestrian dan ramp. Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak sesuai) b.3. atau tidak memenuhi persyaratan) 4. Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat dilihat pada table berikut: Laporan Pendahuluan 4-65 . Penyajian data dituangkan dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan pembagian aspek masing-masing. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak memenuhi persyaratan) e. baik alarm. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang. atau tidak memenuhi persyaratan) i.

(%) NILAI KEANDALAN TOTAL (%) (11) 15 100 masih sesuai dengan fungsi 100 retak rambut 100 retak rambut 10 - 10 10 80 10 15 - 10 80 10 1. terkelupas berlubang <5% baik 100 terkelupas <10% .00% 100 0 Plesteran lantai RUANG DALAM (80%) Plesteran dinding 10 100.hilang.00% 100 0 baik - 3 20 Plesteran lantai luar 2.00 100 0 baik 100 Tidak berlubang 100 buram <50% 100 aus.00% Pelapis muka dinding 10 100. (%) TIDAK ANDAL <75 (9) (10) N.Terkelupas  >=10% N. belah.terbelah.00% 10 100.K.00% 100 SUB TOTAL 20 TOTAL 100 Kesimpulan : 1.00% 100 0 Berfungsi baik baik baik baik baik (3) 15 (4) Sesuai fungsi baik KONDISI ANDAL 95 . Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal : 1 2 3 4 5 Pemeriksa ANDAL Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan Laporan Pendahuluan 4-66 .<95 (6) (7) (8) Tidak sesuai .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1.retak. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11) FORM . (%) KURANG ANDAL 75 .terbelah.Tidak berfungsi .hilang.K. tidak tampak . pecah 100 buram.00% 100 0 3 100.5 10 Penutup atap RUANG  LUAR Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar 2. tidak tampak .belah. kasar baik 100 retak. pecah terlepas .100 (5) K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) N. ter‐ kelupas <10% 100 terkelupas <10% 100 Masih berfungsi 100 terkelupas <10% . pecah terlepas .ARS NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai NILAI KOMPONEN SUB KOMPONEN MAKSIMUM KEANDALAN (%) (1) (2) Kesesuaian penggunaan fungsi Pelapis muka lantai 10 100. bergelombang buram. pecah .00% 100 0 100 0 100 0 Pintu/jendela 15 100.terkelupas  >=10% 2 2.berlubang.buram >=50% .00% 100 0 (20%) Pelapis muka langit‐langit luar 2 100.00% 100 0 Pelapis muka langit‐ langit SUB TOTAL 10 100.K.5 100.  hancur baik .5 2.5 100.

berfungsi baik Kuat. retak halus/bocor Kuat. pecah N. tidak rata Kusam dan retak. kuat Kuat. retak diagonal/ melintang Kurang kuat/kaku. Ikatan Angin. retak. kaku.rusak tak berfungsi Kurang kuat/kaku. bebas bocor. tidak dapat dipakai Kurang kuat. retak rambur 20. stabil 100 Kuat. padat. kropos/ karat 5. Stabil Balok Bawah Pondasi Sub Total Dinding Pasangan Bata/Bata ko Kolom. stabil Faktor Reduksi N.00 3 100 Kuat.00 4.50 Slab Atap Rangka Atap.00 20 100 Kuat. padat. lendutan besar 30 100 100 30.00 Struktur Pelengka p Tangga 6 100 100 6. 3.00 Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL Saran agar struktur secara keseluruhan 1. awet. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-67 . kaku.K (%) (9) Nilai Keandalan Total (%) (10) (11) 25 25. kurang kaku. bocor. lentur kecil Kurang kuat.00 Kuat. berfungsi baik Kuat. kaku. Kaku. retak. rata Bahan/dimen si OK. 2. lapuk.00 15. Gording Sub Total Rangka Langitlangit Penutup langitlangit 0.K Kompone n Keandala n Andal (%) n kompone n (%) 95 . kurang kaku. Kepala Kuat. kurang stabil Retak.5 100 100 4.00 Lantai bawah Sub Total 4 100 100 4. retak-retak Lendut. fungsi baik Kuat. kurang stabil Retak. kedap air. kurang kaku.<95 (6) (7) Kuat.K Kurang Andal (%) 85 . 100 25 100 Struktur Pondasi.00 60. rata. amblas. basah. mulus Rangka dan tumpuan kuat. Kaku. ada lendut Lendut.00 2 100 100 2. kurang kaku. ada retak Kuat. fungsi baik Rata. rata Kuat. Stabil Tidak Andal < 85 (8) Tidak stabil. rata. Balok Praktis Slab Lantai Bahan/dimen si OK Bebas retak. kaku. kurang rata Rata.100 (1) (2) (3) (4) (5) Pondasi. Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12) Jumlah lantai Pemilik : : lantai Nilai Nilai Sub keandala Kondisi Maks Kompone N. kurang mulus. Kaku. kurang kaku. tidak kuat.5 100 100 0. pecah. kaku. kedap air 100 Kuat. tidak rata 3. bebas retak. pecah. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2.50 5 100 100 Kuat. kaku.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: 100. lapuk. Kurang Kaku.

bocor 5. 3. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak terlihat 15.00 100 13. tanpa retak 100 2.00 100 Retak. retak. Kaku. ada lendutan Tanpa jangkar dinding pasangan belah Tanpa jangkar dinding pasangan belah Retak lentur/geser Rusak.Balok Faktor Reduksi N. Rata/Datar 100 Kuat. retak rambut Batang jangkar lemah. Leufel. Stabil N.00 1 100 Kuat. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-68 . 2.K Tidak Andal (%) < 85 (8) Tidak stabil. lendut Kurang rata.00 2 100 Kuat.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: ##### Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan ANDAL 1. tanpa retak 100 2.00 100 2. menyatu Kuat. Kaku. tidak kaku. Kaku.00 15 100 Kuat. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 2 100 Kuat. Awet.100 (3) 25 100 (4) Kuat.5 mm Lendut > L/300 Tidak kaku. pecah Nilai Keandalan Total (%) (10) 25 (5) 100 (7) (9) (11) 25. Kurang Kaku. tidak kuat.K Kurang Andal (%) 85 . retak lentur Kuat. Stabil Kompone n (1) Struktur Bawah Sub Komponen (2) Pondasi. Kaku.00 Kolom Baja Balok Baja Struktur Atas Pengaku Silang Slab Lantai Rangka Atap. Daktail Kuat. Ikatan Angin.00 5 100 Kuat.00 5 100 Kuat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. retak lentur Kuat. retak lentur Retak < 0.00 Struktur Shotcrete Panel Pelengka Precast p Balok Anak. kuat. kurang rata Batang jangkar lemah.00 60.00 100 Retak 1-3 mm 5. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . dinding retak Kuat. Daktail Kuat. melendut 1. kaku. Aman Rata dan baik 100 Kuat.00 15. Kepala Pondasi. Daktail Kuat.<95 (6) Kuat. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13) Nilai Nilai keandala Kondisi Maks N. retak lentur Retak rambut. lebar retak 0. daktail 100 5. kaku.5 Kuat.K n Keandala Andal (%) kompone n (%) 95 . kaku 100 5.1 0. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako 20 13 2 5 5 100 100 100 100 100 100 20.

retak lentur Kuat. Stabil N. tidak kuat. kaku 100 Kuat. Kurang Kaku. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako Balok Anak. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan 100. Daktail Kuat. Stabil (7) (8) Tidak stabil.100 (4) Kuat. bocor 10. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 60.00 ANDAL : : : : Laporan Pendahuluan 4-69 . retak lentur Retak rambut.5 0. Menyatu Kuat.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan 1. Kaku. Kaku.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. Awet. daktail Kuat. Kaku. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14) PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai Komponen Sub Komponen Nilai Nilai Maks keandalan Keandalan komponen (%) struktur (3) 25 100 Faktor Reduksi Kondisi Andal 95 .00 6. Aman Kuat.00 100 100 100 100 100 100 15. Rata/Datar Kuat. Kaku. melendut 1. Daktail Kuat.00 4. kurang rata Batang jangkar lemah. 2. retak rambut Kuat. Aman 100 Kuat. kaku. ada lendutan Tanpa jangkar ikat dinding retak/belah Retak lentur/geser Rusak.50 0. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak geser. Kaku. Awet.00 100 100 6.00 Struktur Pelengkap 100 2.00 10 15 15 10 4. tetapi telah retak rambut Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom .00 10. 3.<95 N. Kepala Pondasi.00 Struktur Atas Dinding Geser Slab Lantai Slab Atap Rangka Atap. Daktail Kuat. bocor Retak. Ikatan Angin. retak lentur Kuat. lendut Kurang rata. tidak kaku.50 5. retak. retak lentur Retak rambut Retak rambut Lendut > L/300 Tidak kaku.K (%) Tidak Andal < 85 N.K (%) Kurang Andal 85 . pecah (9) (10) 25 (11) 25.00 15.00 15. Kaku. tanpa retak Kuat. kuat.Balok Kolom Balok (5) 100 (6) Kuat. Aman Kuat. Leufel. belah Retak 1-3 mm Retak.5 5 100 100 100 100 100 100 100 Kuat.00 1 2 6 6 100 100 100 100 Kuat.K (%) Nilai Keandalan Total (%) (1) Struktur Bawah (2) Pondasi.

<99 (6) x x x x x x x Keandalan N ku TA <95 (7) x x x x x x x (8) (%) (4) 100. µku = 95 – 99 %. Tidak Andal (%) Andal 99 -100 KA 95 .00 100. : ……………………….00 100. Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/ Kurang/Tidak Andal : µku = < 95 % ANDAL Kurang andal . Laporan Pendahuluan 4-70 . Tidak andal Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : ……………………….Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Komp.i) Keterangan : Andal : µku = 99 – 100 %. : ……………………….00 100. Kurang Andal. Util. : ………………………. AC Instalasi Penangkal Petir Instalasi Komunikasi Jenis Komponen Utilitas Gedung Instalasi: Nilai Maks.00 100.00 100.00 100.00 100. : ………………………. i (1) 1 2 3 4 5 6 7 (2) Intalasi Pencegahan Kebakaran Transportasi Vertikal Plambing Instalasi Listrik Tata Udara. Keandalan (%) (3) 20 15 15 20 15 5 10 Σ µ ku (%) Kondisi Andal.00 (5) 100 100 100 100 100 100 100 Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas (µku. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15) Form – A Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung No.

Pompa Air 2. Panel Kontrol 6. Catu Daya 5. Sumber Air 7. Kotak Operasi Manual 7. Tangki Penampung Air TABUNG PEMADAM API RINGAN 1. Pompa Air 2.00 1A 4. kran Uji 4. Reduksi Ф (%) (1) (2) SISTEM DETEKSI ALARM KEBAKARAN 1.Selang NF = 15 3 2 2 100 2 2 2 2 100 NF = 15 8 7 100 100 100 100 x x x x 8 7 100 100 100 100 100 1D 1E Laporan Pendahuluan 4-71 .00 1C 4. Pipa Instalasi 3. Alarm Kebakaran 3. Tangki Penekan Atas/Alat Kontrol 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Hidran Kotak 5. Nosel Gas 9. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16) Form Utl-1 Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Pencegahan Kebakaran Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tidak Andal <95 % Tingkat keandalan F. Pipa Instalasi GAS PEMADAM API 1. Alarm Kebakaran 6.Kumpulan Tabung Gas Pemadam Api 2. Tangki Air 5.00 4 4 4 4 4 100. Kepala Sprinkler 3 3 4 NF = 20 4 4 4 4 4 NF = 20 3 100 100 100 100 100 100 100 100 1B 3. Stater Otomatis 100 2 2 2 2 2 3 100 2 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 2 2 2 2 2 3 2 2 100. Kabel Instalasi SPRINKLER OTOMATIS 1. Kran Pemilih Otomatis HIDRAN 1. Alat-alat deteksi 2. Hidran Pilar 6. Alat-alat Deteksi kebakaran 8. Tabung Gas Tersegel 2. Titik Panggil manual 3.00 3 3 4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 3 4 3 3 4 100. Panel control Kebakaran (3) NF = 20 (4) (5) (6) (7) (8) (9) 100.00 3 2 2 2 2 2 2 100. Catu daya 5.

00 2B 8 7 7 7 7 7 7 c.00 3A 4. Kran Air gelontor 100. Anak Tangga/lantai (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Kloset/ bidet/ Urinoir 2. Motor Penggerak Pintu 4. Peredam Sangkar ESKALATOR 1. Sumber Air dari sumur dala. Kabel dan Panel Listrik 4. M t Ai Penampung *) 3. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan <95 % (1) LIF (LIFT) (2) 1. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) AIR BERSIH (2) 1.00 7 6 6 7 6 6 6 6 3B 4. Pompa Instalasi 9. saluran ke Tangki Septik 3. Roda-roda gigi Penarik 6. maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan Laporan Pendahuluan 4-72 . Motor Penggerak 2. Badan Eskalator 7. motor Penggerak 2. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17) Form Utl-2 Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Transportasi Vertikal Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tingkat F. Rantai Penarik 5. Listrik untuk Panel Pompa 8. Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 7. Alat Kontrol 3. Alat Penyeimbang Sangkar 7. Pipa Air Hujan *) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 2. Tangki Air Atas : Menara 5. Tangki Septik 5. Lobang/ saluran pengurasan lantai 8. Sangkar dan alat Kontrol 3. Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18) Form Utl-3 Nilai Keandalan Utilitas : Plambing Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Plumbing Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. alat control. Kran AIR KOTOR 1. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6.00 2A 8 7 7 7 7 7 7 100. Bak cuci. Rel 6.Tangki Air (3) NF = 50 5 5 6 6 6 6 5 6 5 NF = 50 7 6 6 7 6 6 6 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) 5 5 6 6 6 6 5 6 5 (9) 100. tempat cuci tangan 6. Kabel dan Panel Listrik 5. pompa air. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 7.

Panel Tegangan Menengah 2. AMF 7. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19) Form Utl-4 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Listrik Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) TingkatF. Kabel Instalasi SUMBER DAYA GENSET 1.00 7 7 4 6 7 7 6 4B 4. Radiator/ pendingin 5. Altermator 3. Daily Tank Laporan Pendahuluan 4-73 .00 4A 3.l A d% l 100% 95 <95 (%) (1) (2) SUMBER DAYA PLN 1. Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 6. Armatur 7. Panel Tegangan Tengah 4. Panel Distribusi 5. Reduksi Termasuk Kategori keandal Tidak Kurang Andal Ф an A d. Alat pengisi aki 100. Kabel Instalasi 6. motor Penggerak 2. Trafo (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF= 50 7 7 4 6 7 7 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 <100% (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) 8 7 7 7 7 7 7 (9) 100.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 d.

Evaporator 3. Media Pendingin Air Es 9. Pipa Instalasi air pendingin kondensor 14. Difuser gril 11. Media Pendingin 8.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 e. Pipa Instalasi Media Pendingin 9. Reduksi keandalan Ф (%) (1) 1. Panel Distributor (2) SISTEM PENDINGIN LANGSUNG (3) NF=50 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 NF = 50 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Pipa Sirkulasi Air Es 5. Kipas Udara Evaporator 5A 6.00 5. Alat Kontrol Cerobong Udara 11. Kompresor 2. pipa instalasi air pendingin Kondensor 13. Panel Kontrol SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG 1. Panel Kontrol 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 Laporan Pendahuluan 4-74 . Difuser gril 12. Pompa sirkulasi air pend kondensor 15. Cerobong Udara 12. Menara Pendingin 13. Kondensor 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 100. Alat Kontrol 10.00 5B 6. Kipas Udara Kondensator 7. Unit Pengolah Udara 10. Media Pendingin 8. Kondensor 4. Pipa Instalasi Air Es 4. Evaporator 3. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20) Form Utl-5a Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% Tidak A d% l <95 Tingkat F. Kompresor 2. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 14. Kipas Udara Kondensor 7.

Arester Tegangan Lebih (3) NF = 50 16 16 18 NF = 50 13 12 12 13 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) (9) 100.00 13 13 12 12 5B 2. Elektroda Pem-bumi-an INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Pipa Instalasi 4. Hantaran Pem-bumi-an 4.00 5A 100. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) SISTEM AC WINDOW 1. Konpresor 2. Konpresor (3) NF = 50 18 16 16 NF = 50 13 13 12 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 18 16 16 (9) 100. Kondensor Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang g.00 6A 16 16 18 100. Kepala Penangkal Petir 2. Evaporator 3. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Kondensor SISTEM AC SPLIT /FCU 1. Stri Pengikat Ekuipotensial 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f.00 7B 2. Evaporator 3. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21) Form Utl-5b Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22) Form Utl-6 Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Penangkal Petir Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Elektroda Pem-bumi-an 13 12 12 13 Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang Laporan Pendahuluan 4-75 . Hantaran Pem-bumi-an 3.

Kurang andal . Tidak andal : µku = <75 % 100 KESIMPULAN : X ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL Rekomendasi 1 2 3 4 Laporan Pendahuluan 4-76 . Pesawat telepon 2.00 12 13 13 12 7B 2.00 100.00 x x 50 (6) 100. tombol & perlengkapan k t l laksesibilitas i b d d i i Rambu Perlengka ada tidak pan x peralatan Peringatan berbentuk suara Peringatan berbentuk visual Peringatan berbentuk getaran SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 h. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23) Form Utl-7 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Komunikasi Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Nilai F.00 (1) (2) PERLENG ada tidak KAPAN & X PERALAT Stop Kontak. Mikropon (3) NF = 50 16 18 16 NF = 50 12 13 13 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 16 18 16 (9) 100. µku = 75 – <95%. Speaker 4. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol 100>Ka≥95 95>Ka≥75 (7) 100. PABX 3. Kabel Instalasi 4.Kabel Instalasi INSTALASI TATA SUARA 1. Reduksi Termasuk Kategori tingkat Kurang Andal Tidak Andal Ф keandalan d l 100% 95A -<100% <95 % (%) (1) (2) INSTALASI TELEPON 1.00 Kondisi Eksisting Elemen Aksesibilitas Baik Rusak Sedang (8) x Rusak Berat 75>Ka>0 (9) x (10) 50 Nilai Keandalan Parsial 12000 8 m2 lantai No. Panel system tata suara 3. Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24) PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS Kondisi Nilai Keandalan Eksisting Maksimum Elemen Terfaktor Keandalan Pedestrian (%) (%) (3) Ya x x Ya X x X Tidak Tidak 40 5 5 40 5 4 1 (5) 40 5 5 40 5 4 1 100.00 7A 100.

µku = 75 – <95%. Tidak andal : µku = <75 % 100 Laporan Pendahuluan 4-77 . Kurang andal .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Parkir (1) (2) KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA Kesesuaian dengan dokumen rencana kota Kesesuaian KDB Kesesuaian KLB Kesesuaian GSB Ya x x x Tidak 5 2 2 1 5 2 2 1 100 SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25) PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nama Bangunan : Alamat Pemilik : : Fungsi Bangunan : Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nilai Keandalan Nilai Maksimum Terfaktor Keandalan Keandalan (%) (3) (5) (10) No.

00 Bangunan yang diperiksa masuk kategori Interpretasi : a.00 5.00 30. struktur=NKS.00 3 4 5 100.00 5. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. struktur=NKS.92 <75% <85% Tidak Andal NK (%) (5) Bobot Penilaian (%) (6) 10 30 Nilai Keandalan Total (%) (7) 10.00 - <95% <75% <75% - 50 5 5 100 50.00 75% <95% 85% <95% 95% <100% 75% <95% 75% <95% Kurang Andal NK (%) (4) 89.00 100. atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah Laporan Pendahuluan 4-78 . dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) b.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26) Kategori Penilaian No Aspek Yang dinilai Andal NK (%) (1) 1 2 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Pasangan Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total ANDAL (2) (3) 95% 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 100% (3) 100.00 100.00 100.

NKS. bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90% Tidak andal. Kurang andal. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap Andal. Kurang andal. bila NKA bernilai dibawah 75 c. Tingkat Keandalan Utilitas dianggap Andal. struktur=NKS. Kurang andal. % Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. Tingkat Keandalan Struktur dianggap : Andal. (90%<=NKA<=100%) b. bila NKA tidak kurang dari 95% atau a. (95%<=NKA<=100%) b. bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95% Tidak andal. d. % 3. bila NKA tidak kurang dari 90% atau a. bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99% Tidak andal. NKA. bila NKA bernilai dibawah 95 c. % 2. Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. bila NKA tidak kurang dari 99% atau a. (99%<=NKA<=100%) b. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah 1. dan NKU tidak boleh kurang dari 95 % Laporan Pendahuluan 4-79 . bila NKA bernilai dibawah 85 c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 c.

bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Struktur dianggap: 1. struktur. utilitas. utilitas. struktur. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal • Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. bila bobot nilai diantara < 85% Laporan Pendahuluan 4-80 . Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik dari bangunan yang telah diperiksa di atas. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3.5. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa 3. Kurang Andal. Interpretasi • Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan (komponen arsitektur. Kompilasi Data Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan data lapangan. utilitas. bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95% 3. Andal.100% 2. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA 4. Tindak Andal. Data 4. Setelah dikelompokkan akan di tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung. utilitas. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel tersebut akan digunakan untuk: 1. Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan 2. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Tindak Andal.5. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal Tingkat keandalan Arsitektur dianggap: 1. Kurang Andal. • Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan ( arsitektur.1. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. struktur.100% 2. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori Andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4.2. struktur. Andal.5.

100% 2. bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99% 3. Andal. Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . nilai keandalan Arsitektural. Tabel 4-27 Penentuan nilai Keandalan Bangunan ASPEK KEANDALAN ARSITEKTUR STRUKTUR UTILITAS AKSESIBILITAS NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL >95%-100% >75% .95% < 75% >95%-100% >85% . nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .3. Namun untuk nilai keandalan utilitas. tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan). Tindak Andal. tidak boleh kurang dari 99%. Analisa Analisa dilakukan dalam beberapa tahap.5. Andal. yaitu tahap pembobotan masing-masing komponen dan sub komponen. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tingkat keandalan Utilitas dianggap: 1. Kurang Andal. Tindak Andal. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Tata Bangunan dan Lingkungan: 1.100% 2. bila bobot nilai diantara < 75% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. Tindak Andal.95% < 85% >99%-100% >95% . khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). Tahap penilaian keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. Kurang Andal.100% 2. bila bobot nilai diantara < 95% Tingkat keandalan Aksesibilitas dianggap: 1. Kurang Andal.99% < 95% >95%-100% >75% .95% < 75% CATATAN 4. Nilai keandalan masing-masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing komponen Laporan Pendahuluan 4-81 . bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3.

00 5.<100% 75% .<95% 95% .00 100.00 100.100% 95% .<95% 75% .100% 95% .<95% 85% . Kurang ndal dan Tidak andal.00 100.00 50. sedangkan nilai masing-masing komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya.00 100.00 5. yaitu Andal.00 Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%.<95% 89.100% 100% 95% .92 - <75% <85% <95% <75% <75% - 10 30 50 5 5 100 10.100% NK (%) (3) Kurang Anda NK (%) (4) Tidak Andal NK (%) (5) Bobot ilai Keandala Penilaian Total (%) (%) (6) (7) 1 2 3 4 5 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total 100. Dari hasil akhir penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal. kurang andal atau tidak andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tabel 4-28 Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan volume Lantai (i) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 volume elemen yg rusak Faktor reduksi rusak Faktor Nilai Nilai reduksi KeandalanKeandalan posisi Tingkat Awal Kategori Nilai Keandalan A KA TA (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini.00 30.00 75% . Laporan Pendahuluan 4-82 . Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini. Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen. Tabel 4-29 Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan Kategori Penilaian No (1) Aspek Yang dinilai (2) Andal (3) 95% . tahap berikutnya adalah melakukan penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan.

akademisi. Rekomendasi Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan gedung yang telah oleh instansi teknis diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan pembina penyelenggara bangunan gedung di keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan disetujui Kabupaten/Kota. 3. b. Hasil dari rekomendasi tersebut dapat diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal. dan instansi terkait. c. pakar. elektrikal. 1. sistem plumbing.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh masukan penyempurnaan rekomendasi.6. 2. termasuk dokumentasi. Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan Bangunan Gedung. KELUARAN/OUPUT Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini: 1. 4. air hujan. 2. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan umum pada kab/kota. Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung.7. meliputi: a. Misal: struktur bangunan gedung. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. Laporan Pendahuluan 4-83 . Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis. dll yang tidak andal. Foto-foto sebagian/seluruh tindakan yang bangunan diperlukan gedung untuk yang terindikasi aspek memerlukan memenuhi keandalan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful