Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan bangunan gedung dan teknis pelaksanaan bangunan gedung serta peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Selain itu dalam bab ini menjelaskan tentang pendekatan dan metodologi dalam pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung di Kota Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada, Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan

(screening),

pelingkupan

(scoping),

pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan. Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum menginjak ke pelaksanaan di lapangan.

4.1.

DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan

4-1

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Dasar hukum yang digunakan adalah: 1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis

Bangunan Gedung 2. 3. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat
1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran
1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan 3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan 2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung 3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung

Laporan Pendahuluan

4-2

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung

4.2.

KERANGKA PIKIR
Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai

pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum
Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan. Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006. Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung.

4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:

Laporan Pendahuluan

4-3

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010
TAHAP PERSIAPAN TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK

PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & TEKNIK PENGUMPULAN DATA MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN

KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT

REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN ALAT KERJA

PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN SURVEY SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK PENYEMPURNAAN REKOMENDASI

PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN PEMERIKSAAN

INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN

DRAFT LAPORAN ANTARA PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan

4-4

yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan b. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung yang akan disurvei. maka yang perlu dilakukan adalah: a. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di lapangan Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 4-5 . seperti: Gambar Perencanaan Teknis. Gambar IMB. untuk membantu dalam proses perolehan data.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. c. 29/PRT/M/2006. d. dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. akan diakukan persiapan halhal berikut: a. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang koordinator sesuai kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian gedung yang akan diperiksa keandalannya. Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a. Tahap Persiapan Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan. Gambar As Built Drawings. Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung. Setiap tenaga ahli akan dibantu oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan kebutuhannya. b. Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.

Luas/jumlah lantai v. pasangan bata.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. shear wall. rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran) Bahan Struktur (kayu. kaca. ii. rangka kombinasi. Pengawas vi. Lokasi/alamat iii. mencakup: i. dan mebel terpasang. pasangan batu. lantai. plafon. beton bertulang. Tahun Pembangunan ii. Data Umum i. Data Arsitektur Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang berada pada bagian dalam bangunan gedung. Eksterior. dan fungsi bangunan gedung iii. Interior. prestressed. komposit. d. dinding. antara lain: finishing dinding. Data Struktur Pemeriksaan dilakukan terhadap sistem struktur (bearing wall. Perencana iv. maupun yang berada pada bagian luar bangunan gedung. Pemilik b. kerusakan. Kontraktor v. antara lain: finishing lantai/selubung bangunan.pintu. dll) Keselamatan Struktur Laporan Pendahuluan 4-6 . Sejarah kepemilikan. Data Penunjang i. beton precast. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan. Gambar Bangunan vii. rigid frames. Fungsi iv. baja. pagar. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan) c. iii. jendela. Nama Bangunan ii. dan lingkungan penduduk.

akibat bencana) e. TPS. Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator. Sistem instalasi komunikasi (telepon. sumber daya genset). mesin penggerak). bak sampah setempat. PABX. Sistem pembuangan sampah. longsor) Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran. Laporan Pendahuluan 4-7 . penampungan dan distribusi air bersih. Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral. dan drainase ke lingkungan). instalasi tata suara). Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih. atau kesalahan pelaksanaan terkena beban sementara yang melampaui kapasitas struktur) o o o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas Kegagalan akibat bencana alam ( gempa. air kotor dan limbah. Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN. panel inspeksi. container sampah). motor penggerak). AC non sentral). air hujan. panel operator. angin . ledakkan) Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh: o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan perencanaan. Sistem Building Automation System (BAS). Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal dan internal). Data Utilitas Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift. panel kelistrikan. (shaft sampah.

dll). koridor. hydrant. jalur pemandu. toilet. pengendalian asap. persyaratan bangunan). pompa. Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan komponen struktur bangunan). pintu kebakaran. material insulator kebakaran. area parkir. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. sesuai dengan yang tertera pada Bab I. wastafel. g. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini dikelompokkan dalam: Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan. lift kebakaran. 2. ramp. lift. komunikasi darurat. penangkal petir). Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api). Aksesibilitas penyandang cacat Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang terdapat pada obyek bangunan gedung. sesuai dengan ketentuan pada Permen PU No. pancuran/ shower. rambu. Antara lain: Ukuran dasar ruang. sprinkler. perabot. penunjuk arah keluar.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. Upaya penyelamatan (tangga kebakaran. marka. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang terdapat pada obyek bangunan gedung. termasuk pemeriksaan terhadap peralatan pemadam kebakaran. klasifikasi bangunan. escalator. perlengkapan dan peralatan control. Jalur pedestrian. Laporan Pendahuluan 4-8 . Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. Utilitas (alarm kebakaran. sumber daya listrik darurat. tangga. pintu. telepon. lingkup wilayah kegiatan.

d. b. untuk temuan baik mengidentifikasi permasalahan bangunan didapatkan permasalahan dari aspek arsitektural. struktural. struktur. dibuktikan visual Apabila dan di diuji lapangan kembali. Tahap Penyusunan Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam beberapa tahap. pengujian dan pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut. b. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung c. kebakaran. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masingmasing komponen hasil pemeriksaan. termasuk dokumentasi. mekanikal elektrikal maupun aksesibilitas. dengan mengacu angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal atau tidaknya bangunan tersebut. 4. dan aksesibiltas. maka akan dilakukan pengecekan. utilitas. pengukuran. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan dari segi arsitektur. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan. Misal: struktur Laporan Pendahuluan 4-9 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. 5. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait. kondisi yang kiranya serta perlu observasi gedung. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. meliputi: a. Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan pemilik atau pengguna bangunan.

Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja Bangunan Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya.2.3. wujud arsitektur sebuah bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara nasional maupun internasional.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bangunan gedung. dll yang tidak andal. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.3. Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006. penelitian kinerja bangunan Laporan Pendahuluan 4-10 . air hujan. c. Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang unik dan spesifik dalam aspek fungsi. Struktur. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA BANGUNAN 4. Piranti lunak berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur. sistem plumbing. 4. elektrikal.3. Utilitas clan proteksi kebakaran. Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach). tata ruang. penampilan dan kinerjanya. 4.1. Alur Studi dan Format Penelitian Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL). aksesibilitas dan tata bangunan serta lingkungan.

− Suhu radiant. − Fasilitas kemudahan (amenities). sampling bangunan diperiksa dua komponennya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap : − − − − − Kebutuhan jenis ruang Sifat dan hubungan kelompok ruang Standar besaran ruang Jenis dan besaran ruang Penyusunan ruang Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung. 4. penandaan − Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi. tempat duduk. keamanan. alat-alat listrik. pencapaian. sirkulasi/transportasi. Laporan Pendahuluan 4-11 . − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. − Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang. − Faktor-faktor pemakaian dan control. − Kecepatan udara. − Kelembaban udara. 2) Termal (thermal performance) − Suhu udara. orientasi.3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung. telekomunikasi. sirkulasi. Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan adalah tata ruang bangunan. macam perabot. Komponen Ruang Dalam Pammeter kinerja ruang dalam (interior): 1) Spacial / Keruangan (spatial performance) − Layout ruang individu: ukuran. Kinerja yang balk dari sebuah bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing. Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak.2. faktor ergonomic.

Pelapis dinding .15 mg/m3 Peraturan / Standar Akustik Visual Kualitas udara Sound pressure level (SPQ Tingkat pencahayaan Tingkat karbondioksida (CO2) Debu Kep Menkes RI No.Pintu / jendela . Penerima suara (sound receiver).0.Pelapis muka langit-langit Laporan Pendahuluan 4-12 . 1405/Menkes/SK/XI/2002 Komponen bangunan yang diamati: .Plesteran lantai . − Energy pollutant. 4) Visual (visual performance) − Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan. 5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) − Suplai udara segar (fresh air).25 m/det <85 dB (A) >100 lux 1000 ppm 0. − Contrast dan brightness. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. .15 .28 oC 40-60% 0.Material pollutant.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3) Akustik (acoustic performance) − − − Sumber bising (noise source). Jalur rambat suara (sound path). − Pergerakan dan distribusi udara segar.Pelapis muka dinding . − Warna − Informasi-informasi visual dan pemandangan − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. Tabel 4-1 Batas-batas penerimaan (limit of acceptability) Parameter Spasial Termal Sub parameter Was ruang Suhu Kelembaban Pergerakan udara rata-rata Persyaratan Sesuai luas aktivitas dasar 18 .

Kondisi ini telah sesuai dan sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung. getaran. radiasi lingkungan. visible light spectrum Penanggulangan bahaya api Penutup atap Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar Pelapis lantai luar Pelapis muka langit-langit luar Komponen bangunan yang diamati Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya. bahan dekoratif ruangan dan sebagainya. sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti. terutama yang berkaitan dengan psikis pemakai bangunan. perbedaan tekanan udara Radiasi dan cahaya: radiasi matahari. Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan seperti bahan penutup dinding. kebocoran atau pengembunan Suhu: perbedaan panas. perbedaan pemuaian dan penyusutan akibat panas. Penyelesaian warna pada masing-masing banguna. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisik ruang adalah: 1. furniture. beban mati.3. bangunan olah raga maka pemilihan warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan suasana ruang. baik untuk eksterior ataupun interior menggunakan warna-warna cerah. Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat.3. bangunan perkantoran. Komponen ruang luar Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan (enclosure): − − − − − − − − − − − − Ketahanan bangunan (building integrity) Antisipasi beban: beban hidup. Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Warna Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan rumah sakit. Laporan Pendahuluan 4-13 . isolasi panas.

3. Sebagai konsekuensinya biaya operation maintenance perlu ditambahkan. atap. Penghawaan Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22 – 25° C dengan kelembaban 40 % .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil.25° C dan nilai kelembaban 40 % . Penerangan Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan sistem penerangan yang tepat. kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan.Penyimpangan dari standard tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang. kegerahan. Pemilihan sistem tergantung pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang.50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang.60 %. penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan. dsb. Penggunaan sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman. oleh sinar matahari Panas karena suhu badan manusia Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan. adalah : − mengurangi pengaruh langsung sinar matahari. Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu sekitar 22 . Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh : − − − Radiasi dinding. Oleh sebab itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi nyaman. 2. − − Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas. yaitu dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split. balk dengan ventilasi alam maupun buatan (AC). Sistem penerangan ini dibedakan menjadi Laporan Pendahuluan 4-14 . Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di dalamnya. Mengkondisikan udara.70 % dan kebutuhan udara bersih 20 .

tahun 1985). Penerangan buatan pada siang hari diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan. c) Penerangan campuran (alam dan buatan ) Pemanfaatan penerangan alami clan buatan. dimana terdapat suatu aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut. umumnya sebagai penerangan umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan yang terdapat pada bangunan eksisting. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang diterima oleh ruangan. Penerangan alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan. penerangan khusus untuk ruang-ruang yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi. Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut : − Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi sebesar 300 lux. koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5 daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan buatan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2 yang disesuaikan dengan kebutuhan. Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah memenuhi persyaratan. yaitu : Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata ke seluruh ruangan. pengadaan penerangan buatan disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang. Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan Laporan Pendahuluan 4-15 . Dirjen Cipta Karya. yaitu : a) Penerangan alami Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. selain itu juga untuk menciptakan suasana yang diinginkan. penerangan. b) Penerangan buatan Sebagai bangunan perkantoran. sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk direncanakan secara seksama. − Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk diskusi.

Digunakan untuk memastikan catatan manajemen penggunaan apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna dan aktivitasnya. masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan background musik lembut. rekaman jejak fisik. seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu lintas dari jalan sekitar bangunan. 1 Tingkatan data pengukuran yang dipilih Analisis arsip perencanaan Data yang diperlukan • Gambar-2 denah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 slide. wawancara dan kuisoner Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia Intrumen yang dibutuhkan tersedia Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara cepat. sehingga untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal. pemisahan suara dengan memisahkan sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan. instrument tersedia Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar 2 3 Analisis hunian dan penggunaan Penyusunan instrumen sederhana • • • • 4 Evaluasi • • Guidelines Laporan Pendahuluan 4-16 . dsb. film. Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. Untuk mengatasi menjalarnya bunyi. maka perlu diketahui adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi : − Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya. 4. pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada sumber bunyi. Suara / Akustik Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruangruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu. rencana anggaran biaya. Secara umum penyelesaian akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan. salah satu yang dapat dilakukan − adalah dengan memberhentikan suara. Sumber bunyi dari luar bangunan. Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. Tabel 4-2 Indikator pengumpulan data No. Observasi perilaku. Beberapa indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. • Syarat: dokumen tersedia. spesifikasi.

DISTO untuk mengukur jarak. maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. kandungan kadar karbondioksida. Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement) 1) Pemahaman tujuan inspeksi Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan pemilik/pengelola bangunan gedung Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan dan ketidaksepahaman yang tidak perlu Identifikasi kondisi fisik Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal atau khusus Testing dengan peralatan tertentu Batasan (limitation) 2) 3) 4) 5) Laporan Pendahuluan 4-17 . a. Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi ini. Alat Ukur Komponen Ruang Dalam Keterangan: • Testo 435-2 untuk mengukur suhu. kelembaban suatu ruang. karbondioksida • Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan • Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk mengukur laju kecepatan udara. lugs dan volume ruang Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan faktual.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat mendeteksi beberapa parameter suhu. • Distance meter . gambar 4-3. kelembaban . • Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan.

berupa identifikasi beberapa area atau item yang tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Alamat bangunan gedung yang diperiksa Deskripsi dan identifikasi bangunan. lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Observasi dari hasil pemeriksaan. Identifikasi semua pihak yang terlibat − − − 6) 7) 8) c. 2) Detail properti − − 3) Detail pemeriksaan − − − Tanggal pemeriksaan Detail tentang tujuan. Pemeriksaan (Inspection) 1) 2) 3) 4) 5) Nama pemilik/pengelola bangunan Alamat lokasi bangunan yang diamati Tanggal dan waktu pemeriksaan Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai relevan dengan tujuan penyelidikan Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu. Observasi Item-item penting Kesimpulan 5) 6) 7) Laporan Pendahuluan 4-18 . 4) Batasan-batasan. bagian dari bangunan atau struktur lainnya. Pelaporan (inspection records) 1) Nama dan alamat lembaga pemeriksa Identitas personil yang melakukan pemeriksaan Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung.

dapat berupa: − − defleksi yang berlebihan pada kondisi layan lebar retak yang berlebih Laporan Pendahuluan 4-19 . c. Metoda Kekuatan Ultimit Dengan metoda ini.4. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar Ekonomis Kuat dalam menahan beban yang direncanakan Memenuhi persyaratan kemampuan layanan Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi) Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu: a. Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi struktur. d.Hilangnya keseimbangan lokal atau global . Metoda Tegangan Kerja Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya − Pembentukan sendi plastis − Ketidakstabilan struktur − Fatigue b. yaitu: 2. yaitu: a. e.Rupture.3. b. unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan ultimit yang diinginkan. Kondisi Batas Struktur Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat dijadikan pedoman. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu: . Pendekatan Struktur 1. Konsep Perencanaan Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a. dimana: b.

Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat memikul beban berlebih dengan besar tertentu. sehingga: Undercapacity dapat terjadi akibat: Resistance ≥ Penqaruh Beban Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan) elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan faktor reduksi kekuatan. kekuatan (resistance) elemen struktur harus lebih besar Dada pengaruh beban. dapat berupa: − − − keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim kebakaran. 3. yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal. diluar beban yang diharapkan terjadi dalam kondisi normal. sehingga: Laporan Pendahuluan 4-20 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − c. dan or beban yang nilainya > 1. kemungkinan faktor-faktor “overload" Overload dapat terjadi akibat: − − − − − − Perubahan fungsi struktur Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan Urutan dan metoda konstruksi Variasi kekuatan material Workmanship Tingkat pengawasan Berdasarkan prosedur desain yang baku. Kapasitas adanya cadangan tersebut diperlukan dan untuk faktor mengantisipasi “undercapacity". ledakan atau tabrakan kendaraan korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002). yang nilainya <1. vibrasi yang mengganggu Kondisi batas khusus.

05 ( D + LR ± E ) atau U = 0. torsi atau − dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit. Beban Terfaktor dan Kuat Perlu SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban. yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini. Butir 2 diatas mengharuskan adanya pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah didesain. Kuat perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan simbol- Laporan Pendahuluan 4-21 .2 D + 1.. Kondisi batas serviceabilitas (kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh. kuat rencana adalah identik dengan a1S1 + a2S2 + . Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-2002 yang bunyinya adalah: a. b.2 D + 1.3 W Jika pengaruh gempa harus diperhitungkan: U= 1. yaitu Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup balk pada tingkat beban kerja.6 L Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan: U = 0.9 ( D ± E ) Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen. ORn. Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah: − Kombinasi beban coati dan beban hidup: U = 1. geser.. Prosedur desain ini pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian utama ditekankan pada kondisi batas ultimit.75 (1. Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat perlu. Dalam butir a diatas. sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor.6 L + 1.9 D + 1.6 W) U = 0..

Dengan pengujian-pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi. breaking out dan test sondir. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula. diameter dan jumlah tulangan terpasang. Penyelidikan yang akan dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. Disamping itu. spesifikasi teknis dan BOQ. perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam mengenai kondisi aktual struktur. T dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U. ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-merusak seperti core drill. Laporan Pendahuluan 4-22 . T. Untuk tujuan ini akan dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter. dan u. Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar rencana. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M. Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-Retak Dan Penurunan Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan Bangunan dan segi kekuatan strukturnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting. pulse echolgeoraclar. Analisis struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur eksisting.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 simbol M. 4. Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka struktur perlu diperkuat. penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan. Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor keamanan struktur. kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi. termasuk pengukuran geometri struktur dan karakteristik material bangunan eksisting. V. V.

Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan c. Pemeriksaan visual dan pengambilan dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur: a. Pengamatan geometri struktur b. Daya dukung tanah f.langkah selanjutnya yang dianggap perlu. Kondisi kerusakan e. Perkiraan sistem pondasi a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan) Tahapan Pekerjaan Studi Awal Tujuan Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan agar studi yang akan dilakukan nantinya dapat berjalan dengan efisien dengan memanfaatkan seoptimal mungkin data yang tersedia tersebut. Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau perkuatan struktur bilaniana diperlukan b.data material c. Gambar rencana perbaikanlperkuatan c. Kapasitas cadangan struktur d. Kondisi eksisting struktur b. Sarang tawon (honey comb) e. Metodologi. Kerja. Pengukuran geometri elernen-elemen struktur Pemeriksaan Detail Untuk mendapatkan karakteristik material eksisting. dan Pendekatan Teknis 1. Tebal selimut beton d. a. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur a. Ultrasonic 2. Penyebab kerusakan a. Analisis daya dukung pondasi dan settlement a. Deformasi berlebth d. Data desain terdahulu kriteria desain gambar dan perhitungan spesifikasi b. Dokumentasi Keluaran Laporan a. BOQ Laporan Pendahuluan 4-23 . Faktor keamanan struktur c. Kondisi geometri aktual struktun C. Covermeter test/Rebar detection c. Data pelaksanaan . Kajian faktor keamanan struktur c. spesifikasi teknis d. Breaking out d. Pengukuran pondasi dengan menggunakan georadan/pulse echo 3. Core test b. Peta kerusakan b. Analisis struktur b. pengambilan foto a. Data kajian terdahulu survai/Pemerik sawn Global Untul memahami kondisi eksisting struktur Untuk menentukan teknik dan metoda pengujian yang optimal 1. Pengukuran daya dukung tanah (Tes Sondir) Analisis Kondisi eksisting Struktur Kesimpulan dan Saran Untuk menentukan tingkat keamanan struktur eksisting terhadap kondisi pembebanan rencana dan mencari penyebab kerusakan pada struktur Untuk menentukan langkah. Analisis struktur Eksisting b.catatan perubahan dan desain awal dan Spesifikasi . Pengamatan kerusakan/retak path komponen struktur/nonstruktural c. Analisis pondasi a Geometni aktual elemen-elemen struktur a Properties aktual material b.as built drawing . kondisi penulangan dan kondisi kerusakan Untuk mendapatkan kedalaman pondasi clan perkiraan daya dukung 1. Pengumpulan data sekunder: a. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec struktur dan material Tabel 4-3 2.

Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang menimbulkan konsekuensi pada perubahan : − Perubahan fungsi/penggunaan strukur − Penambahan tingkat (pengembangan struktur) 4).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. − Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponenkomponen struktur. Pendahuluan Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti: 1). Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur. Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan oleh pengaruh internal-eksternal seperti: − Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua. − Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran. 2). Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak (seperti jenis-jenis senyawa asam). Kesalahan perencanaan/pelaksanaan Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari: − Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur. 3). banjir atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi dalam perencanaan. yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam renang). − Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur. Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Laporan Pendahuluan 4-24 . Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting a.

(5) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan peraturan/code yang berlaku (6) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur Selain itu. penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur. (4) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau melayani fungsi yang lain. Secara umum. ada enam tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4. (2) Jika kemampuannya sudah berkurang.4) Laporan Pendahuluan 4-25 . kemampuan layanan dan durabilitas. Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan. Halhal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur. (3) Sisa umur layananya. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. maka perlu ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur saat ini. tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah satu di bawah ini: (1) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan berdasarkan desain awal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Pada umumnya. b.

diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak Laporan Pendahuluan 4-26 . data material. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan Mendiagnosa penyebabnya Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal tersebut. defleksi. treatment untuk pencegahan. laporan perhitungan/clesain. Pemeriksaan visual Pengambilan clokumen video Pengukuran geometry. tahapan survey/pemeriksaan global clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-4 Prosedur Penilaian Struktur Eksisting Tahapan Studi awal Tujuan Untuk mengkonfirmasi kualitas material yang digunakan atau data-data penting lainnya yang berkaitan dengan struktur yang sedang dikaji Untuk memahami karakteristik struktur. Site observations. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Pemeriksaan informasi adalah: − − − pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang struktur biasanya mengenal bertujuan kondisi untuk mendapatkan dalam yang mendalam rnaterial/struktur bangunan. c. Bagian selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai eksisting. konstruksi dll. dan kerusakan lainnya Pengujian NDT terbatas Pengambilan Sampel Uji beban Pengujian NDT yang efektif p engujian fisik kimiawi Plot Analisis stasistik Analisis struktur Analisis kerusakan pengalaman sebelumnya Data Survei Pemeriksaan Global retak Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup clan terpercaya sehingga pemeriksaan struktur dapat dilakukan dengan tingkat keyakinan yang tinggi Untuk mempermudah penilaian Untuk menilai kinerja struktur eksisting saat ini clan yang akan dating dan membandingkannya dengan persyaratan yang ada Untuk menentukan aksi selanjutnya yang diperlukan seperti perbaikan/perkuatan. memilih area yang akan diperiksa secara detail dan menentukan teknik pengujian yang cocok/optimal Aktivitas Mengumpulkan/mereveiw data skunder seperti as built drawing. demolisi atau survey lanjut yang lebih komprehensif Presentasi Hasil Interpretasi Hasil dengan bantuan Rekomendasi Dari keenam tahapan tersebut.

baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan Laporan Pendahuluan 4-27 . Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Secara garis besar. yaitu: a. Penyelidikan Visual Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan. Informasi—informasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya demolisi/penghancuran) Seiain itu.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merusak seperti pengujian ultrasonik. Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentukbentuk pengujian lainnya. bentuk "load test" memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan. pemilihan metoda pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi. Tahapan Perencanaan Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah. berdasarkan intormasiinformasi tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan tersebut memang diperlukan. hammer dan lain-lain. Namun walaupun begitu. dan pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas tiga tahapan. 6. Hasil pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual) kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau komponen-komponen struktur. Tahapantahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan pada bagian berikut ini: 1). penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan. Berdasarkan pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti lendutan). Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan) yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponenkomponen bangunan yang diuji.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "

honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik pada
tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton). Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar 4.3). Untuk dapat membedakan jenis—jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak. Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Laporan Pendahuluan

4-28

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-5 Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton
Penyebab Retak Defisiensi struktur Korosi Tulangan Serangan Kimiawi Kebakaran Reaksi Internal Pengaruh Suhu Susut Rangkak x X X X X X x X Gejala Pengelupasan X X X X X x x X x x x X X x Pengikisan Jangka Waktu Pemunculan Segera X Lama X X x

Proses Pengeringan yang Abnormal Kerusakan Fisik

X x x x

x x x

Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or

Deterioration in Cocrete Structures"
2). Pemilihan Jenis Pengujian Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas: − − − − − − Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan Waktu pengerjaan Biaya yang tersedia Tingkat keandalan hasil pengujian Jenis permasalahan yang dihadapi Peralatan yang tersedia Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat tersebut akan menjadi rendah.

Laporan Pendahuluan

4-29

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada perlu disusun terlebih dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam pemilihan jenis pengujian. Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian ultrasonic atau

hammer.

Disini,

pengujian

core

dapat

dilakukan

untuk

mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang timbul pun dapat diminimumkan. 3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
− − − −

Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic) Biaya yang dibutuhkan Tingkat kerusakan yang ditimbulkan Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui nilai

kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang kan diuji.

Laporan Pendahuluan

4-30

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

b. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda. Kalibrasi Peninjauan variasi hasil pengukuran Analisis Perhitungan

Laporan Pendahuluan

4-31

Metoda tidak langsung Pada metoda ini. Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. Metoda Pengujian Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu: − Metoda langsung Sebagai contoh: pengamatan visual. dapat memberikan indikasi nilai kuat tekan beton benda uji. Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt Hammer) Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya tertentu. Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out. sehinggadapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi kekerasan dan juga. misalkan keberadaan partikal batu pada bagian- Laporan Pendahuluan 4-32 . pengujian Semi-Destructive. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. a. juga setelah kalibrasi. pengujian deangan menggunakan dilakukan dengan cepat. alat ini Karena dapat kesederhanaannya. Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji. yaitu pengujian Non-Destructive. Yang tergolong dalam jenis pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer. Jenis hammer yang umum dipakai untuk pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4. dan pengujian Destructive.5). dan kain-lain. perilaku elastik atau kondisi kerusakan bahan Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar tingkat − kerusakan yang ditimbulkan pads struktur. dilakukan pengukuran parameter-parameter yang dapat dikorelasikan dengan kekuatan. analisis dan pengujian bahan. ultrasonic.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 7. pengujian core. pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-komponen struktur. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton.

Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer 1). Kekuranqan : Laporan Pendahuluan 4-33 . Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer" Kelebihan − − − − − Murah Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat Praktis (mullah digunakan) Tidak merusak Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan. diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran. Oleh karena itu.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bagian tertentu dekat permukaan. British Standarts (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2 (jarak antara 2 lokasi pengukuran tidak boleh dari pada 20 mm). Secara umum alat yang digunakan untuk : − − − Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan beton Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. yang hasilnya kemudian dirata-ratakan. gambar 4-6. 4 atau ASTM C805-89.

ukuran dan umur beton. banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt Rebound Hammer". karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelembaban beton. drajad karbonasi. perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. 2). bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi test tertentu. Untuk mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur yang sedang ditinjau. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama. − − − Sulit mengkalibrasi hasil pengukuran Tingkat keandalan rendah Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan. Kalibrasi Seperti yang disebutkan sebelumnya. Jadi dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu untuk setiap jenis beton yang berbeda. Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan "rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton. Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. Tabel 4-6 Diagram Kalibrasi alat uji Hammer Angka Pantulan Rata—rata >40 30-40 20-30 <20 Kualitas Selimut Beton Baik. Sifat-sifat dan jenis agregat kasar. Lapisan keras Cukup Baik Kurang Baik Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan Laporan Pendahuluan 4-34 .

Dari ketiga gelombang tersebut. Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt. Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver) diketahui.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Prinsip Pengukuran Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan prinsip perambatan gelombang pada media padat. gelombang longitudinal merupakan gelombang yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak informasi mengenai sifatsifat fisik bahan padat yang dilaluinya. Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang. Metoda Pengujian Ultrasonik Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. Alat ini secara talk langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat dengan nilai kuat tekannya diketahui. Seperti diketahui ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat diberikan suatu impulse (getaran) yaitu. maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung. Dari teori fisika diketahui bahwa Laporan Pendahuluan 4-35 .5 atau ASTM C 597. Alat ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar 4. 1). gelombang transversal dan gelombang longitudinal. 3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz. gelombang permukaan. transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). Jika digunakan dengan balk dan benar. alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton.6).

pads cara yang tidak langsung. Laporan Pendahuluan 4-36 . Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil pengukuran. Penempatan Transduncer Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan penerima pads bends uji. maka harga modulus elastik dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan diatas. nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu sama lain. kecepatan gelombang akan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi permukaan solid.7 dan ketiga cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang terbaik. Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama perambatannya. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan dengan cara langsung. sehingga hasil yang didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4. gambar 4-7. karena pola penempatan transducernya. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang kurang balk. Alat Ultrasonic Pulse velocity 2).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat jenis bench padat yang dilaluinya diketahui. Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat diasumsikan tetap. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis batuan alam. Selain itu.

Kemiringan (slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan gelombang yang dicari. Hasil pencatatan waktu perambatan gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi jarak antara transducer. sedang posisi transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara transducer yang berubah-ubah). Dengan regresi linear bisa didapat persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut. sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak) maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang. Jika. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara memindahmindahkan posisi transducer p enerima. Namun.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. Konfigurasi Transducer Laporan Pendahuluan 4-37 . gambar 4-8. cara ini sangat bergantung pads kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer penerima.

8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan kecepatan rambat gelombang ultrasonic. sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik. Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton Seperti disebutkan sebelumnya. pengukuran dengan menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai modulus elastisitas beton. Oleh karena itu. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran dengan nilai kuat tekan beton. sama seperti halnya dengan pengukuran hammer. maka diperlukan suatu diagram kalibrasi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3). diperlukan diagram kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton. Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton dan Kecepatan Rambat Gelombang Untuk pengujian lapangan. Laporan Pendahuluan 4-38 . Gambar 4. kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji. Sebelum diuji tekan. Banyak variabel-variabel dalam campuran beton yang berpengaruh. Korelasi yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut. Sehingga ada kemungkinan bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata memiliki modulus elastisitas yang berbeda. gambar 4-9. Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat tekannya sangat sulit dimodelkan.

Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton Laporan Pendahuluan 4-39 . Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic sangat dipengaruhi oleh umur beton. Yaitu − suhu − kelembaban beton − posisi tulangan pada beton bertulang Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam menginterprestasikan hasilhasil pengujian.6 memberikan kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic. gambar 4-10. kondisi kandungan kadar air rasio agregat semen.7. Kondisi lain yang berpengaruh terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar 4. Tabel 4. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil Pengukuran Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik. jenis agregat dan lokasi tulangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4).

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5). − Memperkirakan nilai kuat beton − Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk dibawah permukaan pelat lantai. Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan transducer yang tidak langsung (gambar 9) − Mengukur ketebalan − Mengukur modulus elastis bahan − Memonitor proses pengerasan beton − Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok kolom Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk akibat serangan kimia kebakaran adalah nol. Sedangkan kecepatan rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang p ada bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik (tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia). Sebagai contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen struktur Laporan Pendahuluan 4-40 . adanya retak atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama.9). Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara. yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan. kedalaman retakannya ) (gambar F. Aplikasi Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik terutama diantarnya: − Memeriksa keseragaman kualitas bahan − Mendeteksi retak-retak dan honeycombing. Berdasarkan prinsip ini. retakretak atau rongga kosong pada beton atau benda padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya (misal.

Adalah : t = (TV — L) Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton yang kondisinya masih baik. Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton >4 3-4 <3 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tabel 4-7 Laporan Pendahuluan 4-41 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 yang lapuk/rusak. Cara ini sudah terbukti memberikan estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang akibat kebakaran.

Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan pengamatan. belum memuaskan pihak-pihak terkait. yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Uji pembebanan biasanya berikut ini: p erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi Laporan Pendahuluan 4-42 . Uji Pembebanan (load test) Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil pengujian material.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 gambar 4-11. Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada. Penentuan Kedalaman Retakan c. baik non-destructive maupun semi-destructive yang kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya.

Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui tingkat layanan struktur. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi dan kondisi. Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn saja direnivasi/diperkuat. Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada tujuan diadakannya lod test. maka pillhan pertama tentunya paling baik. akibat serangan zat kimia. Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. maka cara kedualah yang dipilih. ataupun karena adanya kerusakan fisik yang − dialami bagian-bagianstruktur. Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas bahan. yaitu − Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive − Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. akibat kebakaran.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − − Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur. − Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart. gempa. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan. (2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test) Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat Laporan Pendahuluan 4-43 . pembebanan yang berlebihan. sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan. Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur. dan lain-lain. sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur tersebut. (1) Jenis-Jenis Load Test Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat merusak. − − Perubahan fungsi struktur. yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama.

sebagai contoh "ceiling board". Hal ini kadangkala sulit dilaksanakan.kemudahan pelaksanaan Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat apakah kondisinya balk dan kuat. Beberapa hal yang patut men jadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini. terutama untuk pengujian struktur lantai. Elemen non struktural ini dapal berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan: . Hal mi dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji. Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji. maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya. Perilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi. untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak diingini. ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus Laporan Pendahuluan 4-44 . sebagai contoh. apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar. sehingga timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing effect').Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 agar keamanan masyarakat umum terjamin.permasalahan yang ada .tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji . a) Persiapan dan Tatacara Pengujian ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari. Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan.

besarnya total beban yang dibutuhkan. kantong semen/pasir. dan kemudahan pemindahannya. Dua puluh empat jam setelah itu. beban-beban bisa di lepaskan dari struktur.4D+1.85 ( 1. Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan. lebar retak dan renggangan. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan perahan-lahan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah: Beban total ? 0. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam. pemberat baja dan lainlain. bata/batako. (b) Teknik Pembebanan Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan distribusi pembebanan dapat dikontrol. Beban-beban yang bisa digunakan diantaranya air. setelah pembacaan. Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada struktur. Lebar retak yang terjadi biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda. (c) Pengukuran Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah lendutan. cara pengukuran adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat pencropongan dengan Laporan Pendahuluan 4-45 . pembacaan lendutan bisa dilakukan.L) Dimana D=beban mati L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya) Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test' dimulai. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan. pembacaan lendutan di lakukan kembali. ketersediaan.

Namun.bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek. Pengguna bangunan gedung ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung. walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung.5. Untuk itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang mendukung fungsi dari gedung tersebut. tetapi harus pula menikmatinya. Komponen-komponen utilitas bangunan Laporan Pendahuluan 4-46 . PENDEKATAN UTILITAS BANGUNAN Bangunan . pada akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya. Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen. 3) Uji Beban Merusak (Beban Batas) Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji. di mana setiap komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan orangorang yang menggunakan gedung tersebut. Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi dengan balk. ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni. akan memberikan jaminan keselamatan clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut. pola retakretak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garisgaris yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi). Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan menggunakan strain gage. Kelengkapan dan berfungsinya utilitas dari suatu gedung. terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 miikroskop. Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang besar. terutama untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. dengan lebar garis-garis berskala tersebut.3. 4.

Komponen Utilitas Bangunan Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan gedung. rantai penarik. anak tangga Laporan Pendahuluan 4-47 . motor penggerak pintu. Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurangkurangnya 12 mm. Eskalator : motor penggerak. hidran kotak.20 lantai 20 . alat-alat deteksi. catu daya.0 m/det 4.8 m/det m/det 2). alat kontrol.0 . kotak operasi manual. kabel dan panel listrik. Utilitas pencegahan kebakaran : 1).4.15 lantai 15 .6. Untuk keamanan. Gas pemadam api kumpulan tabung gas. alarm kebakaran. kepala sprinkler.0 m/det 6. titik panggil manual. Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi. pipa instalasi 3).5 .0 . sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya. kabin lift harus tahan api dan tertutup. tangki penekan. banyaknya kabel minimal 3 buah.5 m/det 1. alat penyeirnbang. pipa instalasi. dan plat lantai pemikul lift terbuat dari beton.1. rel'. yaitu : a. roda gigi penarik. sangkar & alat kontrol. tangki penampungan air 5).5 m/det Jenis gedung Rumah sakit Rumah tinggal Lift barang 2-3 lantai 4-5 lantai Kecepatan lift 2.5 m/det 3. kabel instalasi 2). kran uji.3 m/det 0. alarm kebakaran. stater otomatis. Utilitas transportasi vertikal : 1).0 . sistem instalasi penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi. hidran pilar.5 0.3. sistem transportai vertikal. kabel & panel listrik. Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel.0 . strik.2.0 .10 lantai 10 . Sprinkler otomatis pompa air. Hidran : pompa air. Tabel 4-8 Klasifikasi penggunaan lift Lift untuk manusia Lift khusus Tinggi gedung 4 . badan eskalator. selang b. panel kontrol kebakaran. 1. sistem instalasi listrik.5 m/det 3. sumber air. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat.7. catu daya panel kontrol. kran pillih otomatis 4).5 . Lift : motor penggerak. peredam. sistem plumbing.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran.3. nose) gas.50 lantai > 50 lantai Kecepatan lift 1. sistem tata udara.

lubang pengurasan. daily tank. kabel instalsi 2. Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir. PABX. saluran ke tangki septik. AMF. tangki septik. pompa instalasi. sistem pendinginan tidak langsung (media udara) 2 ) . trafo. Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih. elektroda pembumian g. speaker. saluran dari bak cuci ke saluran terbuka. Utilitas plumbing 1). alternator. Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows. Utilitas Instalasi komunikasi 1). Instalasi tata suara : mikropon. pipa air hujan d. kabel instalasi 2). radiator. Berdasarkan pengamatan visual ini akan diperoleh data-data mengenai kualitas. lampu. Utilitas instalasi penangkal petir 1). listrik untuk panel pompa. Sumber daya genset : motor penggerak. kabel instalasi 2). Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media air). Air bersih : sumber air. Utilitas instalasi tata udara 1 ) . Observasi ini diperlukan yang dan untuk untuk mendapatkan gambaran secara langsung objek mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas yang terdapat pada gedung tersebut. Pengumpulan Data a. alat pengisian aki. kran 2). kuantitas Berta kelengkapan dari komponen-komponen utilitas bangunan. kabel instalasi. Sumber daya PLN : panel tegangan menengah. Instalasi telepon : pesawat telepon. tangki penampungan atas. Air kotor : kloset. hantaran pembumian elektroda pembumian 2). Laporan Pendahuluan 4-48 . armatur. sistem AC split f. pompa distribusi. panel system tata suara. pengikat ekuipotensial hantaran pembumian. panel e. pompa penampungan & alat kontrol. bak cuci. panel distribusi. Observasi Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey lapangan pada objek yang diteliti. Utilitas instalasi listrik 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. kran air gelontor.

Pengukuran dan Pengujian Pengukuran dan pengujian dilakukan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari pengamatan visual.8 -1.5 Hz < 5% < 10% 0.240 V 49. Alat ukur mekanikal elektrikal Tabel 4-9 Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Tegangan Listrik Frekuensi Total Harmonic Distorsion Pf dan cos Φ Voltage unbalanced Current unbalanced Resistansi pentanahan Resistansi isolasi Nilai Yang Diinginkan 198 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b.5 -50.0 < 5% < 5% < ion ~ Keteransan max 5 % min 10 % Untuk saluran fasa Untuk saluran netral Sifat lagging Laporan Pendahuluan 4-49 . Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah : gambar 4-12. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi penangkal petir.

Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal (sumur gall. Dalam rangka melindungi. a. penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa parameter sebagai berikut Sarana air bersih Drainase gedung Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampan. industri.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis. 1. yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi mulai dari sumber air. b. untuk itu perlu dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan. Hal ini telah diamanatkan pada UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. memelihara clan mewujudkan lingkungan yang sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans epidemiologi. terminal air. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran. komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. c.3. Sarana air bersih Laporan Pendahuluan 4-50 . PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. selain itu harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan. sumur pompa tangan dangkal). Komponen Lingkungan Indikator a. Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih clan aman. sumur dalam (sumur artesis).6. d. selama proses pengolahan maupun selama pengaliran di dalam pipa distribusi. jiwa dan sosial. psikologis clan dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna. Untuk itu sarana dan bangunan umum tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. penghuni dan masyarakat sekitarnya.

Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. 5. Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara lain 1. 4. Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik. selain itu bangunan pengambilan harus dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 PDAM. Demikian pula dalam suatu bangunan. sumber/sarana air bersih dalam suatu bangunan perlu direncanakan. sehingga harus dilengkapi dengan pagar keliling. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. oleh karena itu. Misalnya jika menggunakan sarana air bersih dari sumur. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. pencemaran dalam sumber air bersihnya pun dapat terjadi. maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar. 3. kimia. sehingga tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia. kimia.907/Menkes/SK/VII/2002. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit. Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih. biologic dan radiologis. Tidak berasa dan tidak berbau.biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik. Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti terlihat pada tabel berikut Laporan Pendahuluan 4-51 . 2.

menyebabkan erosi atau genangan air. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan umum.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-10 Persyaratan Kualitas Air Minum b. Bila terdapat sistem plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Laporan Pendahuluan 4-52 . Drainase Gedung Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air. Air hujan yang dibawa dalam sistem plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari sistem tersebut.

Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran. industri. Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet. 2. Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara: 1. 4. Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13.86 m). Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah (underground drain). ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya. untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya. c. kemiringan atap dan bentuk gutter. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader).94 m2) luas atap dibutuhkan I inci luas leader. Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah : 1. Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22. Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. Laporan Pendahuluan 4-53 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota. Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai 2. basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota.tempat umum lainnya. maupun tempat . 3. Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local.

Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara: 1). seperti rumah tinggal. pasar dan fasilitas pelayanan umum. Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masingmasing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. industri kima. namun volumenya besar. 3). Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian. Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah.zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup Meskipun merupakan sisa air . 2). seperti pabrik tekstil. pertokoan. Pengelolaan Individual Laporan Pendahuluan 4-54 . karena lebih kurang 80 % dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari . Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-13. yang terdiri dari: 1). sekolah. Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). dll. hotel. Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat . Derkantoran.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil. Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri. Oleh sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi: − − − air buangan kamar mandi air buangan WC : air kotor/tinja air buangan dapur clan cucian pabrik pangan.hari dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar ).

rumah sakit. Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas 3). seperti hotel. yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman. Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam wilayah yang kecii. Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-14. industri. Apabila dibakar akan menimbulkan Laporan Pendahuluan 4-55 . Secara diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-15. bandara dan fasilitas umum. Sarana Pernbuangan Sampah Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia. perdagangan. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Pengelolaan Komunal d.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2). yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Recycle dan Replace ). badan air dan udara. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah. Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur. setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir. atau jalur lain. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Reuse.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 pengotoran udara. Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut: gambar 4-16. misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan. Laporan Pendahuluan 4-56 . misalnya timbulan wampah masuk ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce.

Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan. b. Untuk sarana air bersih. drainase dan air limbah. terutama dokumen yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari masing-masing pemilik bangunan. Pengumpulan Data Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder maupun data primer. Peralatan Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu i. saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan dari berbagai sumber yang representative dan mewakili. Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660. Laporan Pendahuluan 4-57 . Data primer dikumpulkan dari hasil observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan. c. Analisis aspek sanitasi mengacu pada KepMenkes No. pengangkutan. Peralatan dan Analisis Data a.1/26/1990 tentang Baku Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah. Formulir Pengamatan 1) Formulir pemeriksaan 2) Formulir Inspeksi Sanitasi ii. pengolahan dan pembuangan akhir. 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain 1) Pengukur kualitas air 2) Sanitarian Kit 3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada penyehatan sarana dan bangunan umum. Pengumpulan Data. sampel air diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2.

Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung (gambar IMB. Melakukan uji lab bila diperlukan. b. KEBUTUHAN. d. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada. c. PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA 4. Masing-masing akan dinilai dengan memberikan Laporan Pendahuluan 4-58 . Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan. gambar struktur.4. Jenis Perolehan Data Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan bangunan meliputi beberapa aspek. c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. d. Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara: 1. gambar arsitektur. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli. Tim ahli secara spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut. 4. serta gambar as built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait. Data Primer a. 2. b. Browsing data-data peraturan terkait melalui internet.4. dan gambar mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait. Data Sekunder a.2. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis.1. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai bangunan terkait.4.

terkelupas atau berjamur ). ambles. kusam. masih sesuai dengan fungsi. terbelah. retak. Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik. pecah/ rusak. Aspek Arsitektural a. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik. Data Umum Bangunan Gedung a. c. macet. atau dalam kondisi rusak. pudar/ busam. mengalami retak. e. pecah atau terkelupas). atau sudah kusam. mengapur. pecah atau terkelupas). berlumut. Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi baik. mengalami retak rambut. f.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. terkelupas atau pelapis lantai tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna). Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik. mengalami retak. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). atau sudah tidak sesuai). g. b. terbelah. Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik bisa difungsikan sesuai fungsinya. pecah. d. hilang dan tidak berfungsi) h. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri. lembab. Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. luntur. Data-data yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut: 1. Laporan Pendahuluan 4-59 . Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi baik. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik. mengalami retak. pecah. buram. Data utama : • Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) • • • • Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut) Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut) Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri atas berapa lantai) 2. terkelupas. berlubang atau rusak) i.

atau terjadi penurunan dan patah struktur) b. ikatan sambungan mur baut terlepas. hilang mur dan baut. kaku. miring) d. k. kepala pondasi. kaku.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 j. melengkung. Struktur rangka baja dan dinding pasangan c. terkelupas. lendut. kuat menopang beban di atasnya. atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja) c. melengkung. l. atau muncul retak. pudar/ busam. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi baik. ambles. retak. Struktur rangka beton dan dinding pasangan b. lapuk/ berkarat) f. Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku. atau terlepas. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat atau hilang. luntur. jika dari beton apakah terjadi patah. akan dilakukan klasifikasi form isian terlebih dahulu. terkelupas atau berjamur ). pecah. atau terjadi patahan. jika dari beton apakah terjadi patah. berlubang atau rusak) m. bocor pada basement) Laporan Pendahuluan 4-60 . bocor. pecah. mampu menopang/ menahan beban. jika dari besi apakah terjadi karat. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik. tanpa pengikat. Struktur rangka beton dan dinding geser d. berlubang. pecah pada beton. Struktur dinding pasangan dan rangka beton praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai berikut: a. buram. pecah/ rusak. mengalami retak. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat. rapuh) 3. Aspek Struktural Sebelum dilakukan survey ke lapangan. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku. Pondasi. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik. beton terkelupas. retak rambut) e. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). kuat menyalurkan beban. apakah bangunan menggunakan : a. ikatan sambungan mur baut terlepas. kusam. berlumut. jika dari besi apakah terjadi karat. balok pondasi : (apakah masih kuat. lembab. pecah.

hilang komponen pengikatnya. leufel. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. lendut. retak struktur. retak struktur. atau terjadi lengkung. apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik) k. berjamur) 4. beton mengelupas. kabel instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat. patah. lembab. Rangka atap. retak rambut) n. panel control kebakaran. atau hal-hal yang menghawatirkan jika terjadi keruntuhan) j. apakah terdapat beban benda yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup atap. beton mengelupas) h. komponen tidak lengkap. tidak berfungsi) Laporan Pendahuluan 4-61 . Utilitas dan Proteksi Kebakaran a. mampu menahan beban pengguna yang melaluinya. kuat dalam penataan siarnya. berkarat) o. hilang. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam kondisi baik. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik. titik panggil manual. terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya) l. patah. retak rambut. Balok anak. canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus atau patah. retak struktur. retak. tidak terawat. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik. rembes. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. lapuk. atau miring. lendut. atau rapuh. mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya. retak rambut. atau terjadi retak. alarm. retak rambut. kokoh. catu daya. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 g. retak rambut. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi. pecah. meliuk. atau terjadi pecah. apakah leufel & kanopi masih kuat. ikatannya menyatu dengan balok induk. berjamur) i. bocor. ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik mampu menahan beban penutup atap. mudah hancur. ataukah rusak. atau rusak. lembab. patah. tegak. kuat dalam campuran semen ikatannya) m. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik.

apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. Tabung pemadam api (tabung gas tersegel. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. tangki air. komponen tidak lengkap. badan escalator. tangki penekan atas/ alat kontrol. tidak berfungsi) d. kepala sprinkler. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. roda-roda gigi penarik. stater otomatis. tidak terawat. ataukah rusak. hilang. hilang. rel. pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. tidak terawat. kotak operasi manual. alat deteksi kebakaran. rusak salah satu komponen. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. anak tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak. tidak berfungsi) e. sangkar dan alat control. hilang segel. tidak berfungsi. Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api. catu daya. komponen tidak lengkap. selang) : : (apakah tersedia atau tidak. hilang. dan permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna escalator) Laporan Pendahuluan 4-62 . Nosel gas. alat penyeimbang sangkar. pipa instalasi. panel control. kran uji. tidak berfungsi) 5. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. alat control. rusak. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. sumber air. Escalator (meliputi motor penggerak. kabel dan panel listrik. atau terjadi permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift) b. atau macet. kabel dan panel listrik. komponen tidak lengkap. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air. ataukah sudah expired. tidak berfungsi) c. peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak. kran pemilih otomatis) : : (apakah tersedia atau tidak. tidak terawat. tidak terawat. Lift / elevator ( meliputi motor penggerak.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. alarm kebakaran. motor penggerak pintu. ataukah rusak. rantai penarik. Hydrant (meliputi pompa air. hydrant box/ pillar. tangki penampungan air) : : (apakah tersedia atau tidak. ataukah rusak. Utilitas Transportasi vertikal a.

pompa sirkulasi air pendingin kondensor. Daily tank. wastafel. terawat. tidak berfungsi) 8. atau rusak salah satu komponen. alat pengisi aki. Utilitas Plumbing a. cerobong udara. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. bidet.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 6. bersih. lubang saluran pengurasan lantai. Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air) (meliputi kompresor. pompa instalasi. kran air gelontor. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah. panel) : (apakah masih dalam kondisi baik. bersih. urinoir. bersih. Utilitas Instalasi listrik a. evaporator. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. atau rusak salah satu komponen. tidak Laporan Pendahuluan 4-63 . Sumber daya Genset (Motor penggerak. septictank. hilang) 7. kering. terawat. listrik untuk panel pompa. tidak berfungsi dengan baik. panel distributor. kondensor. AMF. tidak berfungsi dengan baik. radiator. kabel instalasi. pipa instalasi air pendingin kondensor. tangki penampungan air. hilang. Air Bersih (sumber air. Air kotor (Kloset. saluran dari wastafel ke saluran terbuka. tidak berfungsi) b. kering. Utilitas Instalasi tata udara a. tangki air atas. kran) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. atau rusak salah satu komponen. kabel instalasi) : (apakah masih dalam kondisi baik. kipas udara evaporator. panel distribusi. altermator. pipa air hujan) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. media pendingin. tidak terawat. tidak berfungsi dengan baik. kipas udara kondensator. lampu TL/pijar/halogen/SL. lampu amatur. pompa penampung air dan control. terawat. hilang) b. trafo. menara pendingin. diffuser grill. panel control) : : berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. hilang. alat control. tidak terawat. bak cuci. pompa distribusi dan tangki hidrofor. hilang. saluran ke septictank.

Utilitas instalasi komunikasi a. terawat. atau rusak salah satu komponen. unit pengelola udara. hilang. panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik. kondensor. Sistim AC split/ FCU (non sentral) (Kompresor. pipa instalasi air es. bersih. tidak berfungsi dengan baik. pipa instalasi air pendingin kondensor. atau rusak salah satu komponen. terawat. kipas udara kondensor. Sistim AC window (non sentral) (Kompresor. evaporator. tidak berfungsi) b. pipa instalasi. bersih. bersih. terawat. hilang. hilang. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. media pendingin air es. evaporator. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi dengan baik. hantaran pembumian. atau rusak salah satu komponen. terawat. hantaran pembumian. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir. Instalasi tata suara (meliputi mikropon. apakah masih dalam kondisi baik. bersih. apakah masih dalam kondisi baik. hilang. terawat. tidak berfungsi) c. pipa sirkulasi air es. terawat. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. diffuser grill. Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon. tidak berfungsi dengan baik. stri pengikat ekuipotensial. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. evaporator. hilang. kondensor) : : tidak berfungsi dengan baik. hilang. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara) (meliputi kompresor. Utilitas Penangkal petir a. media pendingin. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi dengan baik. speaker. terawat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. tidak berfungsi) 10. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi) d. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi) b. alat control cerobong udara. bersih. bersih. hilang. atau rusak salah satu komponen. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah. atau rusak salah satu komponen. PABX. tidak berfungsi) 9. Laporan Pendahuluan 4-64 . panel system tata suara. bersih. pipa sirkulasi pendingin kondensor.

atau tidak memenuhi persyaratan) g. apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 11. Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control. baik alarm. apakah dapat dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. dan data yang telah diperoleh dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan.4. apakah dalam kondisi baik atau rusak) c. atau tidak memenuhi persyaratan) e. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan. Penyajian data dituangkan dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan pembagian aspek masing-masing. Aspek Aksesibilitas a. atau tidak memenuhi persyaratan) f.3. atau tidak memenuhi persyaratan) i. atau tidak memenuhi persyaratan) h. Penyajian data Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan. atau tidak sesuai) b. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk pedestrian dan ramp. ataukah tidak mencukupi) d. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang. Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. saklar lampu dll. Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat dilihat pada table berikut: Laporan Pendahuluan 4-65 . Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran. atau tidak memenuhi persyaratan) 4. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.

Terkelupas  >=10% N.buram >=50% . tidak tampak . ter‐ kelupas <10% 100 terkelupas <10% 100 Masih berfungsi 100 terkelupas <10% .K.belah.K.K.5 100.00% 100 0 Plesteran lantai RUANG DALAM (80%) Plesteran dinding 10 100. bergelombang buram. (%) NILAI KEANDALAN TOTAL (%) (11) 15 100 masih sesuai dengan fungsi 100 retak rambut 100 retak rambut 10 - 10 10 80 10 15 - 10 80 10 1. pecah .00% Pelapis muka dinding 10 100.<95 (6) (7) (8) Tidak sesuai .100 (5) K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) N.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1.00% 100 0 baik - 3 20 Plesteran lantai luar 2.00% 100 0 100 0 100 0 Pintu/jendela 15 100.00% 100 SUB TOTAL 20 TOTAL 100 Kesimpulan : 1. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11) FORM .terkelupas  >=10% 2 2.retak.00% 100 0 Pelapis muka langit‐ langit SUB TOTAL 10 100.ARS NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai NILAI KOMPONEN SUB KOMPONEN MAKSIMUM KEANDALAN (%) (1) (2) Kesesuaian penggunaan fungsi Pelapis muka lantai 10 100. terkelupas berlubang <5% baik 100 terkelupas <10% . Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal : 1 2 3 4 5 Pemeriksa ANDAL Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan Laporan Pendahuluan 4-66 .00 100 0 baik 100 Tidak berlubang 100 buram <50% 100 aus.00% 100 0 3 100.00% 100 0 Berfungsi baik baik baik baik baik (3) 15 (4) Sesuai fungsi baik KONDISI ANDAL 95 . (%) TIDAK ANDAL <75 (9) (10) N. pecah terlepas .5 100.hilang.terbelah.hilang. pecah terlepas . tidak tampak .Tidak berfungsi .terbelah.berlubang. belah. (%) KURANG ANDAL 75 .5 2.  hancur baik . kasar baik 100 retak. pecah 100 buram.00% 100 0 (20%) Pelapis muka langit‐langit luar 2 100.00% 10 100.5 10 Penutup atap RUANG  LUAR Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar 2.

lapuk.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: 100. Kaku. retak rambur 20.K Kompone n Keandala n Andal (%) n kompone n (%) 95 . rata Kuat. kaku. kurang stabil Retak. pecah N. lendutan besar 30 100 100 30. padat.00 20 100 Kuat. pecah.5 100 100 4. stabil 100 Kuat. 2. fungsi baik Kuat. retak halus/bocor Kuat. ada retak Kuat. basah. 100 25 100 Struktur Pondasi. kaku. padat. 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. awet. kedap air. kaku. kaku. Stabil Balok Bawah Pondasi Sub Total Dinding Pasangan Bata/Bata ko Kolom. kurang kaku. kaku. Ikatan Angin.rusak tak berfungsi Kurang kuat/kaku. mulus Rangka dan tumpuan kuat.100 (1) (2) (3) (4) (5) Pondasi. tidak kuat. fungsi baik Rata. berfungsi baik Kuat.50 5 100 100 Kuat.00 Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL Saran agar struktur secara keseluruhan 1. amblas. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur a. kaku. kurang stabil Retak. kurang kaku. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-67 . bebas bocor.00 Lantai bawah Sub Total 4 100 100 4. kurang mulus.00 15. stabil Faktor Reduksi N. Stabil Tidak Andal < 85 (8) Tidak stabil.00 Kuat. Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12) Jumlah lantai Pemilik : : lantai Nilai Nilai Sub keandala Kondisi Maks Kompone N.00 Struktur Pelengka p Tangga 6 100 100 6. retak.00 60. retak diagonal/ melintang Kurang kuat/kaku. kuat Kuat. ada lendut Lendut. lapuk.<95 (6) (7) Kuat. tidak dapat dipakai Kurang kuat. bebas retak. Balok Praktis Slab Lantai Bahan/dimen si OK Bebas retak. kurang kaku. berfungsi baik Kuat.K Kurang Andal (%) 85 . Gording Sub Total Rangka Langitlangit Penutup langitlangit 0.50 Slab Atap Rangka Atap. Kepala Kuat. Kaku. Kaku. pecah. retak-retak Lendut.00 2 100 100 2. kurang kaku. retak. rata Bahan/dimen si OK.K (%) (9) Nilai Keandalan Total (%) (10) (11) 25 25. kropos/ karat 5. rata.5 100 100 0. rata. kurang rata Rata. kurang kaku. tidak rata 3. kedap air 100 Kuat. bocor. tidak rata Kusam dan retak.00 3 100 Kuat.00 4. lentur kecil Kurang kuat. Kurang Kaku.

dinding retak Kuat. retak. Stabil Kompone n (1) Struktur Bawah Sub Komponen (2) Pondasi.00 100 Retak. Kaku. menyatu Kuat. Stabil N. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako 20 13 2 5 5 100 100 100 100 100 100 20. tanpa retak 100 2.K Tidak Andal (%) < 85 (8) Tidak stabil. 3.00 1 100 Kuat. Kaku. tanpa retak 100 2. tidak kaku.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b.<95 (6) Kuat.00 2 100 Kuat. retak rambut Batang jangkar lemah. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13) Nilai Nilai keandala Kondisi Maks N. Daktail Kuat.Balok Faktor Reduksi N. lendut Kurang rata.00 15 100 Kuat. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak terlihat 15. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 2 100 Kuat. kaku. melendut 1. Ikatan Angin. Kaku. kaku. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-68 .100 (3) 25 100 (4) Kuat.00 Kolom Baja Balok Baja Struktur Atas Pengaku Silang Slab Lantai Rangka Atap.5 Kuat. Rata/Datar 100 Kuat. ada lendutan Tanpa jangkar dinding pasangan belah Tanpa jangkar dinding pasangan belah Retak lentur/geser Rusak. daktail 100 5.5 mm Lendut > L/300 Tidak kaku. tidak kuat. retak lentur Kuat.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: ##### Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan ANDAL 1.K n Keandala Andal (%) kompone n (%) 95 .00 15.00 5 100 Kuat. Leufel. pecah Nilai Keandalan Total (%) (10) 25 (5) 100 (7) (9) (11) 25. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . Daktail Kuat. Aman Rata dan baik 100 Kuat. retak lentur Kuat. lebar retak 0.00 100 Retak 1-3 mm 5. retak lentur Retak < 0. 2. Awet. Kepala Pondasi.K Kurang Andal (%) 85 . Daktail Kuat.00 Struktur Shotcrete Panel Pelengka Precast p Balok Anak. kaku 100 5. retak lentur Retak rambut. kuat. Kurang Kaku.00 5 100 Kuat.00 100 2. kurang rata Batang jangkar lemah. bocor 5.00 60. Kaku.1 0.00 100 13.

Aman 100 Kuat. belah Retak 1-3 mm Retak. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako Balok Anak. Kaku. kaku.00 15. kaku 100 Kuat. Kaku.<95 N. tetapi telah retak rambut Kuat.00 10.00 Struktur Atas Dinding Geser Slab Lantai Slab Atap Rangka Atap. pecah (9) (10) 25 (11) 25. 2.00 1 2 6 6 100 100 100 100 Kuat. Kaku. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 60. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak geser.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. Menyatu Kuat.100 (4) Kuat. Daktail Kuat.00 ANDAL : : : : Laporan Pendahuluan 4-69 . 3. Leufel. Kaku. ada lendutan Tanpa jangkar ikat dinding retak/belah Retak lentur/geser Rusak. Awet. kuat. retak. Awet.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan 1. Aman Kuat. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14) PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai Komponen Sub Komponen Nilai Nilai Maks keandalan Keandalan komponen (%) struktur (3) 25 100 Faktor Reduksi Kondisi Andal 95 . Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan 100. Ikatan Angin. Stabil N. retak lentur Retak rambut Retak rambut Lendut > L/300 Tidak kaku. retak lentur Retak rambut. Kaku. bocor Retak. lendut Kurang rata. tanpa retak Kuat. Daktail Kuat. tidak kuat.50 0. retak rambut Kuat. retak lentur Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . tidak kaku.K (%) Nilai Keandalan Total (%) (1) Struktur Bawah (2) Pondasi. Kurang Kaku. retak lentur Kuat. Daktail Kuat.K (%) Tidak Andal < 85 N.00 10 15 15 10 4. kurang rata Batang jangkar lemah.Balok Kolom Balok (5) 100 (6) Kuat.5 5 100 100 100 100 100 100 100 Kuat.5 0. Kaku. daktail Kuat.00 4.50 5.00 100 100 6. Kepala Pondasi. Rata/Datar Kuat.00 Struktur Pelengkap 100 2.K (%) Kurang Andal 85 . Aman Kuat. melendut 1.00 6. Stabil (7) (8) Tidak stabil. bocor 10.00 15.00 100 100 100 100 100 100 15.

Tidak Andal (%) Andal 99 -100 KA 95 . µku = 95 – 99 %. : ………………………. Util. : ……………………….00 100. Keandalan (%) (3) 20 15 15 20 15 5 10 Σ µ ku (%) Kondisi Andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Laporan Pendahuluan 4-70 .00 100.00 100. : ………………………. Tidak andal Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : ………………………. : ………………………. AC Instalasi Penangkal Petir Instalasi Komunikasi Jenis Komponen Utilitas Gedung Instalasi: Nilai Maks. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15) Form – A Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung No. Kurang Andal.00 (5) 100 100 100 100 100 100 100 Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas (µku.<99 (6) x x x x x x x Keandalan N ku TA <95 (7) x x x x x x x (8) (%) (4) 100. Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/ Kurang/Tidak Andal : µku = < 95 % ANDAL Kurang andal . i (1) 1 2 3 4 5 6 7 (2) Intalasi Pencegahan Kebakaran Transportasi Vertikal Plambing Instalasi Listrik Tata Udara.i) Keterangan : Andal : µku = 99 – 100 %. Komp.00 100.00 100.00 100.00 100.

Pompa Air 2. Alat-alat Deteksi kebakaran 8. Tabung Gas Tersegel 2.Selang NF = 15 3 2 2 100 2 2 2 2 100 NF = 15 8 7 100 100 100 100 x x x x 8 7 100 100 100 100 100 1D 1E Laporan Pendahuluan 4-71 .00 1A 4. kran Uji 4. Pipa Instalasi GAS PEMADAM API 1. Stater Otomatis 100 2 2 2 2 2 3 100 2 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 2 2 2 2 2 3 2 2 100. Alarm Kebakaran 6. Kabel Instalasi SPRINKLER OTOMATIS 1. Hidran Kotak 5. Pompa Air 2. Alarm Kebakaran 3.00 3 3 4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 3 4 3 3 4 100. Hidran Pilar 6. Titik Panggil manual 3.00 1C 4. Panel control Kebakaran (3) NF = 20 (4) (5) (6) (7) (8) (9) 100.00 3 2 2 2 2 2 2 100. Catu daya 5. Sumber Air 7.Kumpulan Tabung Gas Pemadam Api 2. Kotak Operasi Manual 7. Nosel Gas 9. Panel Kontrol 6.00 4 4 4 4 4 100. Tangki Penekan Atas/Alat Kontrol 4. Pipa Instalasi 3. Reduksi Ф (%) (1) (2) SISTEM DETEKSI ALARM KEBAKARAN 1. Alat-alat deteksi 2. Kran Pemilih Otomatis HIDRAN 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Tangki Air 5. Kepala Sprinkler 3 3 4 NF = 20 4 4 4 4 4 NF = 20 3 100 100 100 100 100 100 100 100 1B 3. Tangki Penampung Air TABUNG PEMADAM API RINGAN 1. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16) Form Utl-1 Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Pencegahan Kebakaran Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tidak Andal <95 % Tingkat keandalan F. Catu Daya 5.

Kabel dan Panel Listrik 4. Peredam Sangkar ESKALATOR 1. motor Penggerak 2. Bak cuci. Alat Penyeimbang Sangkar 7. tempat cuci tangan 6. Kloset/ bidet/ Urinoir 2. Listrik untuk Panel Pompa 8. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) AIR BERSIH (2) 1. Pipa Air Hujan *) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut.00 2A 8 7 7 7 7 7 7 100. M t Ai Penampung *) 3. Alat Kontrol 3.00 7 6 6 7 6 6 6 6 3B 4. Anak Tangga/lantai (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 2. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17) Form Utl-2 Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Transportasi Vertikal Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tingkat F. pompa air. Rantai Penarik 5. Badan Eskalator 7. Rel 6.Tangki Air (3) NF = 50 5 5 6 6 6 6 5 6 5 NF = 50 7 6 6 7 6 6 6 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) 5 5 6 6 6 6 5 6 5 (9) 100. Motor Penggerak 2. Kran AIR KOTOR 1. Sumber Air dari sumur dala. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 7. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan <95 % (1) LIF (LIFT) (2) 1. Roda-roda gigi Penarik 6. Lobang/ saluran pengurasan lantai 8. Tangki Air Atas : Menara 5. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6. saluran ke Tangki Septik 3. alat control. Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 7. Pompa Instalasi 9.00 3A 4.00 2B 8 7 7 7 7 7 7 c. Tangki Septik 5. Kran Air gelontor 100. Motor Penggerak Pintu 4. maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan Laporan Pendahuluan 4-72 . Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18) Form Utl-3 Nilai Keandalan Utilitas : Plambing Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Plumbing Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Sangkar dan alat Kontrol 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Kabel dan Panel Listrik 5.

l A d% l 100% 95 <95 (%) (1) (2) SUMBER DAYA PLN 1. Trafo (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF= 50 7 7 4 6 7 7 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 <100% (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) 8 7 7 7 7 7 7 (9) 100. AMF 7. Panel Tegangan Menengah 2. Panel Tegangan Tengah 4.00 7 7 4 6 7 7 6 4B 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 d. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19) Form Utl-4 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Listrik Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) TingkatF. Daily Tank Laporan Pendahuluan 4-73 . Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 6. Alat pengisi aki 100. Kabel Instalasi 6. Reduksi Termasuk Kategori keandal Tidak Kurang Andal Ф an A d. Altermator 3.00 4A 3. motor Penggerak 2. Kabel Instalasi SUMBER DAYA GENSET 1. Armatur 7. Panel Distribusi 5. Radiator/ pendingin 5.

00 5B 6. Kondensor 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 100. Pipa Instalasi Media Pendingin 9. Alat Kontrol 10. Cerobong Udara 12. Media Pendingin 8. Reduksi keandalan Ф (%) (1) 1. Evaporator 3. Difuser gril 11. Pompa sirkulasi air pend kondensor 15. Kompresor 2. Media Pendingin Air Es 9. pipa instalasi air pendingin Kondensor 13.00 5. Unit Pengolah Udara 10. Evaporator 3. Media Pendingin 8. Panel Distributor (2) SISTEM PENDINGIN LANGSUNG (3) NF=50 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 NF = 50 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Pipa Instalasi air pendingin kondensor 14. Panel Kontrol SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG 1. Menara Pendingin 13. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20) Form Utl-5a Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% Tidak A d% l <95 Tingkat F. Kompresor 2. Alat Kontrol Cerobong Udara 11.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 e. Difuser gril 12. Kipas Udara Evaporator 5A 6. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 14. Kipas Udara Kondensor 7. Kipas Udara Kondensator 7. Pipa Sirkulasi Air Es 5. Pipa Instalasi Air Es 4. Panel Kontrol 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 Laporan Pendahuluan 4-74 . Kondensor 4.

00 13 13 12 12 5B 2. Evaporator 3. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21) Form Utl-5b Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.00 7B 2. Elektroda Pem-bumi-an 13 12 12 13 Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang Laporan Pendahuluan 4-75 . Hantaran Pem-bumi-an 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. Evaporator 3. Pipa Instalasi 4. Hantaran Pem-bumi-an 4. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Konpresor 2. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22) Form Utl-6 Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Penangkal Petir Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Arester Tegangan Lebih (3) NF = 50 16 16 18 NF = 50 13 12 12 13 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) (9) 100. Kondensor Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang g. Elektroda Pem-bumi-an INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Kondensor SISTEM AC SPLIT /FCU 1. Stri Pengikat Ekuipotensial 3.00 5A 100. Kepala Penangkal Petir 2. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) SISTEM AC WINDOW 1.00 6A 16 16 18 100. Konpresor (3) NF = 50 18 16 16 NF = 50 13 13 12 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 18 16 16 (9) 100.

Kabel Instalasi 4. tombol & perlengkapan k t l laksesibilitas i b d d i i Rambu Perlengka ada tidak pan x peralatan Peringatan berbentuk suara Peringatan berbentuk visual Peringatan berbentuk getaran SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Speaker 4. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23) Form Utl-7 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Komunikasi Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Nilai F. µku = 75 – <95%.00 (1) (2) PERLENG ada tidak KAPAN & X PERALAT Stop Kontak.00 Kondisi Eksisting Elemen Aksesibilitas Baik Rusak Sedang (8) x Rusak Berat 75>Ka>0 (9) x (10) 50 Nilai Keandalan Parsial 12000 8 m2 lantai No. Reduksi Termasuk Kategori tingkat Kurang Andal Tidak Andal Ф keandalan d l 100% 95A -<100% <95 % (%) (1) (2) INSTALASI TELEPON 1.00 100. Tidak andal : µku = <75 % 100 KESIMPULAN : X ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL Rekomendasi 1 2 3 4 Laporan Pendahuluan 4-76 . Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24) PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS Kondisi Nilai Keandalan Eksisting Maksimum Elemen Terfaktor Keandalan Pedestrian (%) (%) (3) Ya x x Ya X x X Tidak Tidak 40 5 5 40 5 4 1 (5) 40 5 5 40 5 4 1 100.00 7A 100.00 x x 50 (6) 100.Kabel Instalasi INSTALASI TATA SUARA 1. Panel system tata suara 3. Mikropon (3) NF = 50 16 18 16 NF = 50 12 13 13 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 16 18 16 (9) 100. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol 100>Ka≥95 95>Ka≥75 (7) 100. Kurang andal .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 h.00 12 13 13 12 7B 2. PABX 3. Pesawat telepon 2.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Kurang andal . Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Parkir (1) (2) KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA Kesesuaian dengan dokumen rencana kota Kesesuaian KDB Kesesuaian KLB Kesesuaian GSB Ya x x x Tidak 5 2 2 1 5 2 2 1 100 SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Tidak andal : µku = <75 % 100 Laporan Pendahuluan 4-77 . µku = 75 – <95%. Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25) PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nama Bangunan : Alamat Pemilik : : Fungsi Bangunan : Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nilai Keandalan Nilai Maksimum Terfaktor Keandalan Keandalan (%) (3) (5) (10) No.

dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) b. struktur=NKS.00 Bangunan yang diperiksa masuk kategori Interpretasi : a.00 - <95% <75% <75% - 50 5 5 100 50.00 100. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah Laporan Pendahuluan 4-78 .00 5. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.00 100.00 30.00 3 4 5 100.00 75% <95% 85% <95% 95% <100% 75% <95% 75% <95% Kurang Andal NK (%) (4) 89.00 100. atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.92 <75% <85% Tidak Andal NK (%) (5) Bobot Penilaian (%) (6) 10 30 Nilai Keandalan Total (%) (7) 10.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26) Kategori Penilaian No Aspek Yang dinilai Andal NK (%) (1) 1 2 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Pasangan Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total ANDAL (2) (3) 95% 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 100% (3) 100.00 5. struktur=NKS.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 c. bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90% Tidak andal. % Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. (99%<=NKA<=100%) b. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah 1. Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. NKA. bila NKA tidak kurang dari 90% atau a. bila NKA bernilai dibawah 75 c. bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99% Tidak andal. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap Andal. bila NKA tidak kurang dari 99% atau a. Kurang andal. NKS. bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95% Tidak andal. (90%<=NKA<=100%) b. bila NKA tidak kurang dari 95% atau a. % 2. (95%<=NKA<=100%) b. bila NKA bernilai dibawah 95 c. Tingkat Keandalan Utilitas dianggap Andal. Kurang andal. Kurang andal. struktur=NKS. Tingkat Keandalan Struktur dianggap : Andal. bila NKA bernilai dibawah 85 c. % 3. dan NKU tidak boleh kurang dari 95 % Laporan Pendahuluan 4-79 . d.

struktur. Andal. struktur. • Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan ( arsitektur.5. Data 4. utilitas. Tindak Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Andal. bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95% 3. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal • Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. struktur. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. utilitas. Interpretasi • Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan (komponen arsitektur.5. utilitas. struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Struktur dianggap: 1. Kurang Andal. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan 2.5. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori Andal.1. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa 3. utilitas.2. bila bobot nilai diantara < 85% Laporan Pendahuluan 4-80 .100% 2. Kurang Andal. Kompilasi Data Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan data lapangan. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel tersebut akan digunakan untuk: 1. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA 4. Tindak Andal. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal Tingkat keandalan Arsitektur dianggap: 1.100% 2. Setelah dikelompokkan akan di tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung. Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik dari bangunan yang telah diperiksa di atas.

khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Kurang Andal. bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99% 3. Analisa Analisa dilakukan dalam beberapa tahap. Andal. Tahap penilaian keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai. nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. Kurang Andal. Andal. Nilai keandalan masing-masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing komponen Laporan Pendahuluan 4-81 . Tabel 4-27 Penentuan nilai Keandalan Bangunan ASPEK KEANDALAN ARSITEKTUR STRUKTUR UTILITAS AKSESIBILITAS NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL >95%-100% >75% .100% 2. bila bobot nilai diantara < 75% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan.5.100% 2.95% < 75% CATATAN 4. tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan). tidak boleh kurang dari 99%. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Tindak Andal. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Tata Bangunan dan Lingkungan: 1.95% < 75% >95%-100% >85% .95% < 85% >99%-100% >95% . Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% . Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Andal. yaitu tahap pembobotan masing-masing komponen dan sub komponen.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tingkat keandalan Utilitas dianggap: 1. Tindak Andal.99% < 95% >95%-100% >75% . nilai keandalan Arsitektural. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3.3.100% 2. Namun untuk nilai keandalan utilitas. bila bobot nilai diantara < 95% Tingkat keandalan Aksesibilitas dianggap: 1. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. Tindak Andal. Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). Kurang Andal.

Laporan Pendahuluan 4-82 . tahap berikutnya adalah melakukan penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan.100% 95% .00 100.92 - <75% <85% <95% <75% <75% - 10 30 50 5 5 100 10.00 30. yaitu Andal.<95% 89.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tabel 4-28 Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan volume Lantai (i) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 volume elemen yg rusak Faktor reduksi rusak Faktor Nilai Nilai reduksi KeandalanKeandalan posisi Tingkat Awal Kategori Nilai Keandalan A KA TA (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini.<95% 85% .100% 95% . Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini.<95% 75% .00 50.00 100.100% NK (%) (3) Kurang Anda NK (%) (4) Tidak Andal NK (%) (5) Bobot ilai Keandala Penilaian Total (%) (%) (6) (7) 1 2 3 4 5 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total 100.00 5.00 75% . Tabel 4-29 Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan Kategori Penilaian No (1) Aspek Yang dinilai (2) Andal (3) 95% . Dari hasil akhir penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal. Kurang ndal dan Tidak andal.<100% 75% .00 5.<95% 95% .00 100. kurang andal atau tidak andal.00 Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%.100% 100% 95% . sedangkan nilai masing-masing komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya. Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen.00 100.

Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan Bangunan Gedung. elektrikal. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan umum pada kab/kota. Foto-foto sebagian/seluruh tindakan yang bangunan diperlukan gedung untuk yang terindikasi aspek memerlukan memenuhi keandalan. 2. Hasil dari rekomendasi tersebut dapat diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. dan instansi terkait. 1.6. air hujan. 2. c. KELUARAN/OUPUT Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini: 1. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis.7. b. akademisi. sistem plumbing. 3. Rekomendasi Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan gedung yang telah oleh instansi teknis diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan pembina penyelenggara bangunan gedung di keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan disetujui Kabupaten/Kota. pakar. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. Laporan Pendahuluan 4-83 . meliputi: a. Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. dll yang tidak andal. 4. termasuk dokumentasi. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. Misal: struktur bangunan gedung. serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh masukan penyempurnaan rekomendasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful