P. 1
05 Bab 4 Pendekatan Dan Metodologi Fix

05 Bab 4 Pendekatan Dan Metodologi Fix

|Views: 92|Likes:
Published by Yan Hizrian

More info:

Published by: Yan Hizrian on May 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2016

pdf

text

original

Sections

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan bangunan gedung dan teknis pelaksanaan bangunan gedung serta peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Selain itu dalam bab ini menjelaskan tentang pendekatan dan metodologi dalam pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung di Kota Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada, Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan

(screening),

pelingkupan

(scoping),

pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan. Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum menginjak ke pelaksanaan di lapangan.

4.1.

DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan

4-1

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Dasar hukum yang digunakan adalah: 1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis

Bangunan Gedung 2. 3. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat
1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran
1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan 3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan 2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung 3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung

Laporan Pendahuluan

4-2

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung

4.2.

KERANGKA PIKIR
Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai

pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum
Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan. Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006. Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung.

4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:

Laporan Pendahuluan

4-3

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010
TAHAP PERSIAPAN TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK

PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & TEKNIK PENGUMPULAN DATA MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN

KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT

REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN ALAT KERJA

PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN SURVEY SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK PENYEMPURNAAN REKOMENDASI

PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN PEMERIKSAAN

INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN

DRAFT LAPORAN ANTARA PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan

4-4

dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. b. Setiap tenaga ahli akan dibantu oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan kebutuhannya. 29/PRT/M/2006. Gambar As Built Drawings. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung. Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. maka yang perlu dilakukan adalah: a. Tahap Persiapan Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan. akan diakukan persiapan halhal berikut: a. Gambar IMB. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. untuk membantu dalam proses perolehan data. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung yang akan disurvei. c. Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a. d.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. seperti: Gambar Perencanaan Teknis. yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan b. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di lapangan Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 4-5 . Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang koordinator sesuai kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian gedung yang akan diperiksa keandalannya.

rigid frames. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan. Data Penunjang i. Lokasi/alamat iii. antara lain: finishing dinding. dan lingkungan penduduk. dan fungsi bangunan gedung iii. prestressed. Pengawas vi. Nama Bangunan ii. d. iii. beton bertulang. Data Arsitektur Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang berada pada bagian dalam bangunan gedung. pasangan bata.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran) Bahan Struktur (kayu. shear wall. dan mebel terpasang. maupun yang berada pada bagian luar bangunan gedung. Interior. antara lain: finishing lantai/selubung bangunan. dll) Keselamatan Struktur Laporan Pendahuluan 4-6 . lantai. mencakup: i. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan) c. dinding. Luas/jumlah lantai v.pintu. kaca. Data Umum i. rangka kombinasi. Pemilik b. Eksterior. Fungsi iv. Gambar Bangunan vii. beton precast. Kontraktor v. Tahun Pembangunan ii. plafon. jendela. pagar. Perencana iv. Sejarah kepemilikan. Data Struktur Pemeriksaan dilakukan terhadap sistem struktur (bearing wall. pasangan batu. ii. baja. kerusakan. komposit.

mesin penggerak). Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih. air kotor dan limbah. air hujan. angin . instalasi tata suara). Sistem Building Automation System (BAS). panel kelistrikan. Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal dan internal). Sistem instalasi komunikasi (telepon. TPS. Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator. dan drainase ke lingkungan). penampungan dan distribusi air bersih. container sampah). atau kesalahan pelaksanaan terkena beban sementara yang melampaui kapasitas struktur) o o o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas Kegagalan akibat bencana alam ( gempa. akibat bencana) e. panel operator. ledakkan) Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan. AC non sentral). motor penggerak). bak sampah setempat. (shaft sampah. longsor) Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran. PABX. panel inspeksi. Laporan Pendahuluan 4-7 . Data Utilitas Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh: o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan perencanaan. Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral. sumber daya genset). Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN. Sistem pembuangan sampah.

Laporan Pendahuluan 4-8 . telepon. pancuran/ shower. perlengkapan dan peralatan control. penangkal petir). Utilitas (alarm kebakaran. area parkir. pompa. Antara lain: Ukuran dasar ruang. hydrant. sesuai dengan ketentuan pada Permen PU No. jalur pemandu. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Aksesibilitas penyandang cacat Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang terdapat pada obyek bangunan gedung. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini dikelompokkan dalam: Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan. g. material insulator kebakaran. komunikasi darurat. penunjuk arah keluar. ramp. Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api). koridor.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. pengendalian asap. pintu kebakaran. 2. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang terdapat pada obyek bangunan gedung. persyaratan bangunan). Upaya penyelamatan (tangga kebakaran. escalator. wastafel. sesuai dengan yang tertera pada Bab I. toilet. perabot. sprinkler. termasuk pemeriksaan terhadap peralatan pemadam kebakaran. lift. lift kebakaran. Jalur pedestrian. sumber daya listrik darurat. Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. dll). marka. Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan komponen struktur bangunan). klasifikasi bangunan. pintu. tangga. lingkup wilayah kegiatan. rambu.

dibuktikan visual Apabila dan di diuji lapangan kembali. pengujian dan pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut. b. b. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masingmasing komponen hasil pemeriksaan. meliputi: a. Tahap Penyusunan Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam beberapa tahap. Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan pemilik atau pengguna bangunan. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan dari segi arsitektur. struktur. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait. struktural. maka akan dilakukan pengecekan. kondisi yang kiranya serta perlu observasi gedung. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. utilitas. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. dengan mengacu angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal atau tidaknya bangunan tersebut. untuk temuan baik mengidentifikasi permasalahan bangunan didapatkan permasalahan dari aspek arsitektural. kebakaran. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan. Misal: struktur Laporan Pendahuluan 4-9 . pengukuran. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. d. 5. dan aksesibiltas. mekanikal elektrikal maupun aksesibilitas. termasuk dokumentasi. 4. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung c.

4. wujud arsitektur sebuah bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara nasional maupun internasional. penampilan dan kinerjanya. air hujan. sistem plumbing. Struktur. c. Piranti lunak berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur. Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006. penelitian kinerja bangunan Laporan Pendahuluan 4-10 . dll yang tidak andal. aksesibilitas dan tata bangunan serta lingkungan.3. Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach). tata ruang.1. elektrikal. Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang unik dan spesifik dalam aspek fungsi. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bangunan gedung. 4.2. Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja Bangunan Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Utilitas clan proteksi kebakaran.3.3. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA BANGUNAN 4. Alur Studi dan Format Penelitian Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap : − − − − − Kebutuhan jenis ruang Sifat dan hubungan kelompok ruang Standar besaran ruang Jenis dan besaran ruang Penyusunan ruang Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung. − Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang. sirkulasi. pencapaian. 4. − Faktor-faktor pemakaian dan control. Kinerja yang balk dari sebuah bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing. 2) Termal (thermal performance) − Suhu udara.3. Laporan Pendahuluan 4-11 . − Kecepatan udara. Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan adalah tata ruang bangunan. orientasi. keamanan. macam perabot. alat-alat listrik. sampling bangunan diperiksa dua komponennya. − Fasilitas kemudahan (amenities). − Suhu radiant. tempat duduk. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. faktor ergonomic. Komponen Ruang Dalam Pammeter kinerja ruang dalam (interior): 1) Spacial / Keruangan (spatial performance) − Layout ruang individu: ukuran. telekomunikasi. sirkulasi/transportasi. − Kelembaban udara.2. Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung. penandaan − Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi.

Plesteran lantai .28 oC 40-60% 0.Pelapis muka langit-langit Laporan Pendahuluan 4-12 . Penerima suara (sound receiver).15 mg/m3 Peraturan / Standar Akustik Visual Kualitas udara Sound pressure level (SPQ Tingkat pencahayaan Tingkat karbondioksida (CO2) Debu Kep Menkes RI No. − Pergerakan dan distribusi udara segar. Tabel 4-1 Batas-batas penerimaan (limit of acceptability) Parameter Spasial Termal Sub parameter Was ruang Suhu Kelembaban Pergerakan udara rata-rata Persyaratan Sesuai luas aktivitas dasar 18 .25 m/det <85 dB (A) >100 lux 1000 ppm 0.15 .Pelapis muka dinding . − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.Pintu / jendela .0. − Contrast dan brightness.Pelapis dinding . 4) Visual (visual performance) − Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan. − Warna − Informasi-informasi visual dan pemandangan − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. . 5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) − Suplai udara segar (fresh air). 1405/Menkes/SK/XI/2002 Komponen bangunan yang diamati: .Material pollutant. − Energy pollutant. Jalur rambat suara (sound path).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3) Akustik (acoustic performance) − − − Sumber bising (noise source).

Warna Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan rumah sakit. perbedaan pemuaian dan penyusutan akibat panas. furniture.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisik ruang adalah: 1. bangunan olah raga maka pemilihan warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan suasana ruang. sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti. isolasi panas. radiasi lingkungan. kebocoran atau pengembunan Suhu: perbedaan panas. visible light spectrum Penanggulangan bahaya api Penutup atap Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar Pelapis lantai luar Pelapis muka langit-langit luar Komponen bangunan yang diamati Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. terutama yang berkaitan dengan psikis pemakai bangunan. Laporan Pendahuluan 4-13 . Kondisi ini telah sesuai dan sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung. Komponen ruang luar Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan (enclosure): − − − − − − − − − − − − Ketahanan bangunan (building integrity) Antisipasi beban: beban hidup. getaran. perbedaan tekanan udara Radiasi dan cahaya: radiasi matahari. Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan seperti bahan penutup dinding. bahan dekoratif ruangan dan sebagainya. bangunan perkantoran. beban mati. baik untuk eksterior ataupun interior menggunakan warna-warna cerah. Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi. Penyelesaian warna pada masing-masing banguna.3. Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat.

Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh : − − − Radiasi dinding. 3. adalah : − mengurangi pengaruh langsung sinar matahari. dsb. penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan. Penghawaan Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22 – 25° C dengan kelembaban 40 % . Sebagai konsekuensinya biaya operation maintenance perlu ditambahkan.Penyimpangan dari standard tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang.50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang. − − Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas. Penerangan Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan sistem penerangan yang tepat. Sistem penerangan ini dibedakan menjadi Laporan Pendahuluan 4-14 . kegerahan. Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu sekitar 22 . atap. yaitu dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split. Pemilihan sistem tergantung pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang. Penggunaan sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman. Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di dalamnya. oleh sinar matahari Panas karena suhu badan manusia Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan.25° C dan nilai kelembaban 40 % . Oleh sebab itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi nyaman.60 %. Mengkondisikan udara. balk dengan ventilasi alam maupun buatan (AC). 2.70 % dan kebutuhan udara bersih 20 . kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil.

koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5 daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan buatan. Penerangan alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan. sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk direncanakan secara seksama. Dirjen Cipta Karya. tahun 1985). Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah memenuhi persyaratan. dimana terdapat suatu aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut. c) Penerangan campuran (alam dan buatan ) Pemanfaatan penerangan alami clan buatan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2 yang disesuaikan dengan kebutuhan. yaitu : Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata ke seluruh ruangan. umumnya sebagai penerangan umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang. − Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk diskusi. selain itu juga untuk menciptakan suasana yang diinginkan. penerangan khusus untuk ruang-ruang yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi. pengadaan penerangan buatan disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang. yaitu : a) Penerangan alami Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan yang terdapat pada bangunan eksisting. Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut : − Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi sebesar 300 lux. penerangan. Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan Laporan Pendahuluan 4-15 . b) Penerangan buatan Sebagai bangunan perkantoran. Penerangan buatan pada siang hari diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang diterima oleh ruangan.

Secara umum penyelesaian akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan. Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. 4. masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan background musik lembut. seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu lintas dari jalan sekitar bangunan. Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. Observasi perilaku. sehingga untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal. Beberapa indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada sumber bunyi. rencana anggaran biaya. Untuk mengatasi menjalarnya bunyi. Tabel 4-2 Indikator pengumpulan data No. spesifikasi. rekaman jejak fisik. film. wawancara dan kuisoner Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia Intrumen yang dibutuhkan tersedia Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara cepat. Suara / Akustik Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruangruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu. dsb. salah satu yang dapat dilakukan − adalah dengan memberhentikan suara.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 slide. Digunakan untuk memastikan catatan manajemen penggunaan apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna dan aktivitasnya. pemisahan suara dengan memisahkan sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan. Sumber bunyi dari luar bangunan. maka perlu diketahui adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi : − Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya. Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. 1 Tingkatan data pengukuran yang dipilih Analisis arsip perencanaan Data yang diperlukan • Gambar-2 denah. instrument tersedia Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar 2 3 Analisis hunian dan penggunaan Penyusunan instrumen sederhana • • • • 4 Evaluasi • • Guidelines Laporan Pendahuluan 4-16 . • Syarat: dokumen tersedia.

Alat Ukur Komponen Ruang Dalam Keterangan: • Testo 435-2 untuk mengukur suhu. kelembaban .DISTO untuk mengukur jarak. Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi ini. Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement) 1) Pemahaman tujuan inspeksi Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan pemilik/pengelola bangunan gedung Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan dan ketidaksepahaman yang tidak perlu Identifikasi kondisi fisik Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal atau khusus Testing dengan peralatan tertentu Batasan (limitation) 2) 3) 4) 5) Laporan Pendahuluan 4-17 . • Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan. a. • Distance meter . maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. kelembaban suatu ruang. karbondioksida • Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan • Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk mengukur laju kecepatan udara.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat mendeteksi beberapa parameter suhu. kandungan kadar karbondioksida. lugs dan volume ruang Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan faktual. gambar 4-3.

Pemeriksaan (Inspection) 1) 2) 3) 4) 5) Nama pemilik/pengelola bangunan Alamat lokasi bangunan yang diamati Tanggal dan waktu pemeriksaan Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai relevan dengan tujuan penyelidikan Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu. bagian dari bangunan atau struktur lainnya. berupa identifikasi beberapa area atau item yang tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 4) Batasan-batasan. Observasi dari hasil pemeriksaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Pelaporan (inspection records) 1) Nama dan alamat lembaga pemeriksa Identitas personil yang melakukan pemeriksaan Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung. 2) Detail properti − − 3) Detail pemeriksaan − − − Tanggal pemeriksaan Detail tentang tujuan. Identifikasi semua pihak yang terlibat − − − 6) 7) 8) c. Alamat bangunan gedung yang diperiksa Deskripsi dan identifikasi bangunan. Observasi Item-item penting Kesimpulan 5) 6) 7) Laporan Pendahuluan 4-18 . lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan.

d. c. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu: . Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi struktur.4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan ultimit yang diinginkan. e. Pendekatan Struktur 1. yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya − Pembentukan sendi plastis − Ketidakstabilan struktur − Fatigue b. dapat berupa: − − defleksi yang berlebihan pada kondisi layan lebar retak yang berlebih Laporan Pendahuluan 4-19 . b. Kondisi Batas Struktur Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat dijadikan pedoman.Hilangnya keseimbangan lokal atau global .3. Konsep Perencanaan Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar Ekonomis Kuat dalam menahan beban yang direncanakan Memenuhi persyaratan kemampuan layanan Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi) Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu: a. yaitu: a.Rupture. Metoda Tegangan Kerja Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan. dimana: b. yaitu: 2. Metoda Kekuatan Ultimit Dengan metoda ini.

Kapasitas adanya cadangan tersebut diperlukan dan untuk faktor mengantisipasi “undercapacity". 3. dapat berupa: − − − keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim kebakaran. sehingga: Laporan Pendahuluan 4-20 . yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal. kemungkinan faktor-faktor “overload" Overload dapat terjadi akibat: − − − − − − Perubahan fungsi struktur Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan Urutan dan metoda konstruksi Variasi kekuatan material Workmanship Tingkat pengawasan Berdasarkan prosedur desain yang baku. diluar beban yang diharapkan terjadi dalam kondisi normal. Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat memikul beban berlebih dengan besar tertentu. sehingga: Undercapacity dapat terjadi akibat: Resistance ≥ Penqaruh Beban Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan) elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan faktor reduksi kekuatan. kekuatan (resistance) elemen struktur harus lebih besar Dada pengaruh beban. vibrasi yang mengganggu Kondisi batas khusus. dan or beban yang nilainya > 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − c. ledakan atau tabrakan kendaraan korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002). yang nilainya <1.

. Beban Terfaktor dan Kuat Perlu SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban. yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini.2 D + 1..2 D + 1.75 (1. Butir 2 diatas mengharuskan adanya pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah didesain. Prosedur desain ini pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian utama ditekankan pada kondisi batas ultimit. Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-2002 yang bunyinya adalah: a. b. yaitu Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup balk pada tingkat beban kerja. Kondisi batas serviceabilitas (kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh.. ORn.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit.3 W Jika pengaruh gempa harus diperhitungkan: U= 1. Dalam butir a diatas. geser. torsi atau − dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas.6 W) U = 0.9 ( D ± E ) Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen.9 D + 1. Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat perlu. Kuat perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan simbol- Laporan Pendahuluan 4-21 . Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah: − Kombinasi beban coati dan beban hidup: U = 1.6 L + 1.05 ( D + LR ± E ) atau U = 0. kuat rencana adalah identik dengan a1S1 + a2S2 + . sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor.6 L Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan: U = 0.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting. Dengan pengujian-pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi. V. V. Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar rencana. dan u. termasuk pengukuran geometri struktur dan karakteristik material bangunan eksisting. penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan. 4. T dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U. Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka struktur perlu diperkuat. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula. spesifikasi teknis dan BOQ. Laporan Pendahuluan 4-22 . Penyelidikan yang akan dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M. Analisis struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur eksisting. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh. breaking out dan test sondir. Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor keamanan struktur. ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-merusak seperti core drill. diameter dan jumlah tulangan terpasang. kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. Untuk tujuan ini akan dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter. Disamping itu. T. perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam mengenai kondisi aktual struktur. pulse echolgeoraclar.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 simbol M. Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-Retak Dan Penurunan Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan Bangunan dan segi kekuatan strukturnya.

Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan c. Penyebab kerusakan a. Analisis daya dukung pondasi dan settlement a. Pengukuran pondasi dengan menggunakan georadan/pulse echo 3. Pengamatan geometri struktur b. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur a. Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau perkuatan struktur bilaniana diperlukan b.as built drawing . Pengukuran geometri elernen-elemen struktur Pemeriksaan Detail Untuk mendapatkan karakteristik material eksisting. Pemeriksaan visual dan pengambilan dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur: a. Pengamatan kerusakan/retak path komponen struktur/nonstruktural c. a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan) Tahapan Pekerjaan Studi Awal Tujuan Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan agar studi yang akan dilakukan nantinya dapat berjalan dengan efisien dengan memanfaatkan seoptimal mungkin data yang tersedia tersebut. Analisis struktur b. dan Pendekatan Teknis 1. Gambar rencana perbaikanlperkuatan c. Faktor keamanan struktur c. Metodologi. Kondisi geometri aktual struktun C. Sarang tawon (honey comb) e. Core test b. Data pelaksanaan . Breaking out d.data material c. Data kajian terdahulu survai/Pemerik sawn Global Untul memahami kondisi eksisting struktur Untuk menentukan teknik dan metoda pengujian yang optimal 1. Covermeter test/Rebar detection c. Kondisi eksisting struktur b. Analisis pondasi a Geometni aktual elemen-elemen struktur a Properties aktual material b.catatan perubahan dan desain awal dan Spesifikasi .langkah selanjutnya yang dianggap perlu. BOQ Laporan Pendahuluan 4-23 . Kondisi kerusakan e. Pengukuran daya dukung tanah (Tes Sondir) Analisis Kondisi eksisting Struktur Kesimpulan dan Saran Untuk menentukan tingkat keamanan struktur eksisting terhadap kondisi pembebanan rencana dan mencari penyebab kerusakan pada struktur Untuk menentukan langkah. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec struktur dan material Tabel 4-3 2. Dokumentasi Keluaran Laporan a. Ultrasonic 2. Data desain terdahulu kriteria desain gambar dan perhitungan spesifikasi b. kondisi penulangan dan kondisi kerusakan Untuk mendapatkan kedalaman pondasi clan perkiraan daya dukung 1. Deformasi berlebth d. Tebal selimut beton d. Peta kerusakan b. Analisis struktur Eksisting b. pengambilan foto a. Kerja. Daya dukung tanah f. Pengumpulan data sekunder: a. Kapasitas cadangan struktur d. Kajian faktor keamanan struktur c. Perkiraan sistem pondasi a. spesifikasi teknis d.

Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting a. Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur. 3). 2). − Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponenkomponen struktur. banjir atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi dalam perencanaan. Laporan Pendahuluan 4-24 . Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang menimbulkan konsekuensi pada perubahan : − Perubahan fungsi/penggunaan strukur − Penambahan tingkat (pengembangan struktur) 4). Kesalahan perencanaan/pelaksanaan Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari: − Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam renang). Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak (seperti jenis-jenis senyawa asam). Pendahuluan Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti: 1). Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan oleh pengaruh internal-eksternal seperti: − Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua. − Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran. − Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur.

Secara umum. (2) Jika kemampuannya sudah berkurang. maka perlu ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur saat ini. penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur. Halhal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur. b.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Pada umumnya. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. (3) Sisa umur layananya. (4) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau melayani fungsi yang lain. tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah satu di bawah ini: (1) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan berdasarkan desain awal. kemampuan layanan dan durabilitas. Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan.4) Laporan Pendahuluan 4-25 . (5) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan peraturan/code yang berlaku (6) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur Selain itu. ada enam tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4.

demolisi atau survey lanjut yang lebih komprehensif Presentasi Hasil Interpretasi Hasil dengan bantuan Rekomendasi Dari keenam tahapan tersebut. dan kerusakan lainnya Pengujian NDT terbatas Pengambilan Sampel Uji beban Pengujian NDT yang efektif p engujian fisik kimiawi Plot Analisis stasistik Analisis struktur Analisis kerusakan pengalaman sebelumnya Data Survei Pemeriksaan Global retak Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup clan terpercaya sehingga pemeriksaan struktur dapat dilakukan dengan tingkat keyakinan yang tinggi Untuk mempermudah penilaian Untuk menilai kinerja struktur eksisting saat ini clan yang akan dating dan membandingkannya dengan persyaratan yang ada Untuk menentukan aksi selanjutnya yang diperlukan seperti perbaikan/perkuatan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-4 Prosedur Penilaian Struktur Eksisting Tahapan Studi awal Tujuan Untuk mengkonfirmasi kualitas material yang digunakan atau data-data penting lainnya yang berkaitan dengan struktur yang sedang dikaji Untuk memahami karakteristik struktur. konstruksi dll. Bagian selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai eksisting. diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak Laporan Pendahuluan 4-26 . Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan Mendiagnosa penyebabnya Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal tersebut. Site observations. defleksi. data material. tahapan survey/pemeriksaan global clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting. laporan perhitungan/clesain. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Pemeriksaan informasi adalah: − − − pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang struktur biasanya mengenal bertujuan kondisi untuk mendapatkan dalam yang mendalam rnaterial/struktur bangunan. memilih area yang akan diperiksa secara detail dan menentukan teknik pengujian yang cocok/optimal Aktivitas Mengumpulkan/mereveiw data skunder seperti as built drawing. c. treatment untuk pencegahan. Pemeriksaan visual Pengambilan clokumen video Pengukuran geometry.

Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentukbentuk pengujian lainnya. hammer dan lain-lain. berdasarkan intormasiinformasi tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan tersebut memang diperlukan. baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan Laporan Pendahuluan 4-27 . Tahapan Perencanaan Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah. Namun walaupun begitu. Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Secara garis besar. Tahapantahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan pada bagian berikut ini: 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merusak seperti pengujian ultrasonik. Informasi—informasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya demolisi/penghancuran) Seiain itu. Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan) yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponenkomponen bangunan yang diuji. yaitu: a. dan pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. 6. pemilihan metoda pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi. bentuk "load test" memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan. pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas tiga tahapan. penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan. Berdasarkan pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti lendutan). Hasil pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual) kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau komponen-komponen struktur. Penyelidikan Visual Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "

honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik pada
tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton). Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar 4.3). Untuk dapat membedakan jenis—jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak. Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Laporan Pendahuluan

4-28

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-5 Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton
Penyebab Retak Defisiensi struktur Korosi Tulangan Serangan Kimiawi Kebakaran Reaksi Internal Pengaruh Suhu Susut Rangkak x X X X X X x X Gejala Pengelupasan X X X X X x x X x x x X X x Pengikisan Jangka Waktu Pemunculan Segera X Lama X X x

Proses Pengeringan yang Abnormal Kerusakan Fisik

X x x x

x x x

Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or

Deterioration in Cocrete Structures"
2). Pemilihan Jenis Pengujian Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas: − − − − − − Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan Waktu pengerjaan Biaya yang tersedia Tingkat keandalan hasil pengujian Jenis permasalahan yang dihadapi Peralatan yang tersedia Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat tersebut akan menjadi rendah.

Laporan Pendahuluan

4-29

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada perlu disusun terlebih dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam pemilihan jenis pengujian. Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian ultrasonic atau

hammer.

Disini,

pengujian

core

dapat

dilakukan

untuk

mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang timbul pun dapat diminimumkan. 3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
− − − −

Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic) Biaya yang dibutuhkan Tingkat kerusakan yang ditimbulkan Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui nilai

kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang kan diuji.

Laporan Pendahuluan

4-30

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

b. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda. Kalibrasi Peninjauan variasi hasil pengukuran Analisis Perhitungan

Laporan Pendahuluan

4-31

Yang tergolong dalam jenis pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer.5). perilaku elastik atau kondisi kerusakan bahan Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar tingkat − kerusakan yang ditimbulkan pads struktur. Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out. Jenis hammer yang umum dipakai untuk pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4. misalkan keberadaan partikal batu pada bagian- Laporan Pendahuluan 4-32 . pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-komponen struktur. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi kekerasan dan juga. Metoda tidak langsung Pada metoda ini. a. dilakukan pengukuran parameter-parameter yang dapat dikorelasikan dengan kekuatan. dan pengujian Destructive.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 7. pengujian core. ultrasonic. Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji. juga setelah kalibrasi. yaitu pengujian Non-Destructive. analisis dan pengujian bahan. Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. dapat memberikan indikasi nilai kuat tekan beton benda uji. sehinggadapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. alat ini Karena dapat kesederhanaannya. pengujian Semi-Destructive. Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt Hammer) Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya tertentu. Metoda Pengujian Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu: − Metoda langsung Sebagai contoh: pengamatan visual. dan kain-lain. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton. pengujian deangan menggunakan dilakukan dengan cepat.

gambar 4-6. yang hasilnya kemudian dirata-ratakan. Oleh karena itu. British Standarts (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2 (jarak antara 2 lokasi pengukuran tidak boleh dari pada 20 mm).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bagian tertentu dekat permukaan. diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran. Secara umum alat yang digunakan untuk : − − − Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan beton Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer 1). Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer" Kelebihan − − − − − Murah Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat Praktis (mullah digunakan) Tidak merusak Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan. 4 atau ASTM C805-89. Kekuranqan : Laporan Pendahuluan 4-33 .

karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu. Oleh karena itu untuk setiap jenis beton yang berbeda. drajad karbonasi. perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi test tertentu. Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan "rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelembaban beton. − − − Sulit mengkalibrasi hasil pengukuran Tingkat keandalan rendah Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan. Tabel 4-6 Diagram Kalibrasi alat uji Hammer Angka Pantulan Rata—rata >40 30-40 20-30 <20 Kualitas Selimut Beton Baik. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut. Kalibrasi Seperti yang disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama. Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. Sifat-sifat dan jenis agregat kasar. Lapisan keras Cukup Baik Kurang Baik Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan Laporan Pendahuluan 4-34 . 2). Jadi dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang berbeda. banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt Rebound Hammer". Untuk mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur yang sedang ditinjau. ukuran dan umur beton.

5 atau ASTM C 597. Alat ini secara talk langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat dengan nilai kuat tekannya diketahui. Metoda Pengujian Ultrasonik Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). gelombang transversal dan gelombang longitudinal.6). 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang. Dari teori fisika diketahui bahwa Laporan Pendahuluan 4-35 . Jika digunakan dengan balk dan benar. Alat ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar 4. alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton. Dari ketiga gelombang tersebut. maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung. 3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz. gelombang longitudinal merupakan gelombang yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak informasi mengenai sifatsifat fisik bahan padat yang dilaluinya. Prinsip Pengukuran Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan prinsip perambatan gelombang pada media padat. Seperti diketahui ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat diberikan suatu impulse (getaran) yaitu. Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt. gelombang permukaan. Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver) diketahui.

maka harga modulus elastik dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan diatas. Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil pengukuran. pads cara yang tidak langsung. Selain itu. Alat Ultrasonic Pulse velocity 2). karena pola penempatan transducernya. gambar 4-7.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat jenis bench padat yang dilaluinya diketahui. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4. sehingga hasil yang didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya.7 dan ketiga cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang terbaik. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis batuan alam. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan dengan cara langsung. nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu sama lain. kecepatan gelombang akan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi permukaan solid. Penempatan Transduncer Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan penerima pads bends uji. Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama perambatannya. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang kurang balk. Laporan Pendahuluan 4-36 . Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat diasumsikan tetap.

Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara memindahmindahkan posisi transducer p enerima. Dengan regresi linear bisa didapat persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut. gambar 4-8.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. Namun. sedang posisi transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara transducer yang berubah-ubah). Jika. Konfigurasi Transducer Laporan Pendahuluan 4-37 . cara ini sangat bergantung pads kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer penerima. Kemiringan (slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan gelombang yang dicari. Hasil pencatatan waktu perambatan gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi jarak antara transducer. sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak) maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang.

gambar 4-9. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran dengan nilai kuat tekan beton.8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan kecepatan rambat gelombang ultrasonic. sama seperti halnya dengan pengukuran hammer. Sebelum diuji tekan. Sehingga ada kemungkinan bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata memiliki modulus elastisitas yang berbeda. maka diperlukan suatu diagram kalibrasi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3). Korelasi yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut. Gambar 4. pengukuran dengan menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai modulus elastisitas beton. Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat tekannya sangat sulit dimodelkan. Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton Seperti disebutkan sebelumnya. diperlukan diagram kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton. Laporan Pendahuluan 4-38 . sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik. kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji. Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton dan Kecepatan Rambat Gelombang Untuk pengujian lapangan. Banyak variabel-variabel dalam campuran beton yang berpengaruh. Oleh karena itu.

jenis agregat dan lokasi tulangan. Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic sangat dipengaruhi oleh umur beton.6 memberikan kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic. Kondisi lain yang berpengaruh terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar 4. Tabel 4. kondisi kandungan kadar air rasio agregat semen.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4). Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton Laporan Pendahuluan 4-39 . Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil Pengukuran Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik.7. Yaitu − suhu − kelembaban beton − posisi tulangan pada beton bertulang Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam menginterprestasikan hasilhasil pengujian. gambar 4-10.

Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan transducer yang tidak langsung (gambar 9) − Mengukur ketebalan − Mengukur modulus elastis bahan − Memonitor proses pengerasan beton − Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok kolom Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk akibat serangan kimia kebakaran adalah nol. retakretak atau rongga kosong pada beton atau benda padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya (misal. adanya retak atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama. kedalaman retakannya ) (gambar F. − Memperkirakan nilai kuat beton − Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk dibawah permukaan pelat lantai. yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan. Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5). Sedangkan kecepatan rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang p ada bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik (tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia). Berdasarkan prinsip ini.9). Sebagai contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen struktur Laporan Pendahuluan 4-40 . Aplikasi Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik terutama diantarnya: − Memeriksa keseragaman kualitas bahan − Mendeteksi retak-retak dan honeycombing.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 yang lapuk/rusak. Cara ini sudah terbukti memberikan estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang akibat kebakaran. Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton >4 3-4 <3 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tabel 4-7 Laporan Pendahuluan 4-41 . Adalah : t = (TV — L) Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton yang kondisinya masih baik.

Penentuan Kedalaman Retakan c. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan pengamatan. Uji Pembebanan (load test) Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil pengujian material. Uji pembebanan biasanya berikut ini: p erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi Laporan Pendahuluan 4-42 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 gambar 4-11. belum memuaskan pihak-pihak terkait. baik non-destructive maupun semi-destructive yang kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya. yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada.

(2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test) Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat Laporan Pendahuluan 4-43 . akibat serangan zat kimia. − − Perubahan fungsi struktur. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan. gempa. maka pillhan pertama tentunya paling baik. (1) Jenis-Jenis Load Test Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok. dan lain-lain. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi dan kondisi. yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama. Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. akibat kebakaran. − Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart. sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan. yaitu − Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive − Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur. Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas bahan. ataupun karena adanya kerusakan fisik yang − dialami bagian-bagianstruktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − − Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur. pembebanan yang berlebihan. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat merusak. Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada tujuan diadakannya lod test. Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn saja direnivasi/diperkuat. sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur tersebut. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui tingkat layanan struktur. maka cara kedualah yang dipilih.

Perilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. sebagai contoh. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan: .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 agar keamanan masyarakat umum terjamin. sehingga timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing effect'). apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar.tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji . a) Persiapan dan Tatacara Pengujian ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari. Beberapa hal yang patut men jadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini. sebagai contoh "ceiling board". Hal ini kadangkala sulit dilaksanakan. Selain itu penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi. Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan. terutama untuk pengujian struktur lantai.kemudahan pelaksanaan Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat apakah kondisinya balk dan kuat.permasalahan yang ada . Elemen non struktural ini dapal berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan. Hal mi dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus Laporan Pendahuluan 4-44 . Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji. Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji. untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak diingini. maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya.

pembacaan lendutan bisa dilakukan. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam. Dua puluh empat jam setelah itu.L) Dimana D=beban mati L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya) Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test' dimulai. Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan. Beban-beban yang bisa digunakan diantaranya air.4D+1. (b) Teknik Pembebanan Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan distribusi pembebanan dapat dikontrol. dan kemudahan pemindahannya. pemberat baja dan lainlain. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan. lebar retak dan renggangan. (c) Pengukuran Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah lendutan. Lebar retak yang terjadi biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda. besarnya total beban yang dibutuhkan. pembacaan lendutan di lakukan kembali.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah: Beban total ? 0. beban-beban bisa di lepaskan dari struktur. cara pengukuran adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat pencropongan dengan Laporan Pendahuluan 4-45 . Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada struktur. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan perahan-lahan. setelah pembacaan. bata/batako. kantong semen/pasir. ketersediaan.85 ( 1.

PENDEKATAN UTILITAS BANGUNAN Bangunan . 4. 3) Uji Beban Merusak (Beban Batas) Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji. terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium.5. Namun. Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan menggunakan strain gage. ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni. pola retakretak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garisgaris yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 miikroskop. Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen. terutama untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. akan memberikan jaminan keselamatan clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut. di mana setiap komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan orangorang yang menggunakan gedung tersebut. Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi dengan balk. pada akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya. tetapi harus pula menikmatinya. walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. Pengguna bangunan gedung ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung. Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung. Kelengkapan dan berfungsinya utilitas dari suatu gedung.bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek. dengan lebar garis-garis berskala tersebut. Untuk itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang mendukung fungsi dari gedung tersebut. Komponen-komponen utilitas bangunan Laporan Pendahuluan 4-46 . Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang besar.3.

roda gigi penarik. alarm kebakaran.5 .3 m/det 0. rel'. tangki penampungan air 5).4. dan plat lantai pemikul lift terbuat dari beton. peredam.8 m/det m/det 2). Untuk keamanan. Utilitas pencegahan kebakaran : 1). sistem tata udara.20 lantai 20 . motor penggerak pintu.5 .0 .2. selang b. 1.0 .5 m/det Jenis gedung Rumah sakit Rumah tinggal Lift barang 2-3 lantai 4-5 lantai Kecepatan lift 2. badan eskalator.5 m/det 3. catu daya. Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi. Tabel 4-8 Klasifikasi penggunaan lift Lift untuk manusia Lift khusus Tinggi gedung 4 . catu daya panel kontrol. sumber air. sistem transportai vertikal. kepala sprinkler. pipa instalasi. anak tangga Laporan Pendahuluan 4-47 .3.1. kabel instalasi 2). yaitu : a. panel kontrol kebakaran.5 m/det 1. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat. alat kontrol. tangki penekan. Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurangkurangnya 12 mm. pipa instalasi 3). Komponen Utilitas Bangunan Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan gedung. alat penyeirnbang.0 .15 lantai 15 . kran pillih otomatis 4). alarm kebakaran. sistem instalasi penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi. kabin lift harus tahan api dan tertutup. Gas pemadam api kumpulan tabung gas. kabel dan panel listrik. sistem plumbing. stater otomatis.50 lantai > 50 lantai Kecepatan lift 1.6. hidran kotak.7. hidran pilar.5 m/det 3. nose) gas. rantai penarik. alat-alat deteksi. titik panggil manual. strik. banyaknya kabel minimal 3 buah.0 . Sprinkler otomatis pompa air. sistem instalasi listrik. sangkar & alat kontrol.0 m/det 6. kran uji. sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya. Eskalator : motor penggerak.3.0 . Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel.0 m/det 4.5 0. Utilitas transportasi vertikal : 1).10 lantai 10 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran. Lift : motor penggerak. kabel & panel listrik. Hidran : pompa air. kotak operasi manual.

PABX. Instalasi telepon : pesawat telepon. kabel instalsi 2. kuantitas Berta kelengkapan dari komponen-komponen utilitas bangunan. Observasi ini diperlukan yang dan untuk untuk mendapatkan gambaran secara langsung objek mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas yang terdapat pada gedung tersebut. tangki septik. sistem pendinginan tidak langsung (media udara) 2 ) . Air bersih : sumber air. Utilitas instalasi listrik 1). AMF. kran 2). Berdasarkan pengamatan visual ini akan diperoleh data-data mengenai kualitas. Air kotor : kloset. pengikat ekuipotensial hantaran pembumian. Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir. elektroda pembumian g. daily tank. Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media air). listrik untuk panel pompa. Observasi Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey lapangan pada objek yang diteliti. Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih. panel distribusi. Utilitas plumbing 1). Sumber daya PLN : panel tegangan menengah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. Utilitas instalasi penangkal petir 1). saluran dari bak cuci ke saluran terbuka. armatur. panel e. saluran ke tangki septik. hantaran pembumian elektroda pembumian 2). alternator. pompa instalasi. kran air gelontor. kabel instalasi 2). Pengumpulan Data a. bak cuci. lubang pengurasan. Laporan Pendahuluan 4-48 . Sumber daya genset : motor penggerak. kabel instalasi 2). speaker. Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows. Instalasi tata suara : mikropon. tangki penampungan atas. sistem AC split f. radiator. trafo. panel system tata suara. kabel instalasi. Utilitas instalasi tata udara 1 ) . pompa penampungan & alat kontrol. pompa distribusi. alat pengisian aki. lampu. Utilitas Instalasi komunikasi 1). pipa air hujan d.

8 -1.0 < 5% < 5% < ion ~ Keteransan max 5 % min 10 % Untuk saluran fasa Untuk saluran netral Sifat lagging Laporan Pendahuluan 4-49 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Pengukuran dan Pengujian Pengukuran dan pengujian dilakukan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari pengamatan visual.5 -50. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi penangkal petir. Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah : gambar 4-12. Alat ukur mekanikal elektrikal Tabel 4-9 Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Tegangan Listrik Frekuensi Total Harmonic Distorsion Pf dan cos Φ Voltage unbalanced Current unbalanced Resistansi pentanahan Resistansi isolasi Nilai Yang Diinginkan 198 .5 Hz < 5% < 10% 0.240 V 49.

sumur pompa tangan dangkal). jiwa dan sosial. PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. d. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum. Untuk itu sarana dan bangunan umum tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. psikologis clan dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. industri. yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. Komponen Lingkungan Indikator a. karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi mulai dari sumber air. selain itu harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan. b. untuk itu perlu dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan. sumur dalam (sumur artesis). penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa parameter sebagai berikut Sarana air bersih Drainase gedung Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampan. 1. c. Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal (sumur gall. a. selama proses pengolahan maupun selama pengaliran di dalam pipa distribusi. Sarana air bersih Laporan Pendahuluan 4-50 . Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis. Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih clan aman. Dalam rangka melindungi. terminal air. memelihara clan mewujudkan lingkungan yang sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans epidemiologi. penghuni dan masyarakat sekitarnya.6. komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran. Hal ini telah diamanatkan pada UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.3.

Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti terlihat pada tabel berikut Laporan Pendahuluan 4-51 . Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. selain itu bangunan pengambilan harus dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian. Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih. sehingga tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia. kimia. biologic dan radiologis. sehingga harus dilengkapi dengan pagar keliling. Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara lain 1. 5. maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar. 4.biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. oleh karena itu. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. Tidak berasa dan tidak berbau. 3. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit. Demikian pula dalam suatu bangunan. 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 PDAM.907/Menkes/SK/VII/2002. Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik. sumber/sarana air bersih dalam suatu bangunan perlu direncanakan. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik. kimia. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. Misalnya jika menggunakan sarana air bersih dari sumur. pencemaran dalam sumber air bersihnya pun dapat terjadi.

menyebabkan erosi atau genangan air. Air hujan yang dibawa dalam sistem plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan umum. Laporan Pendahuluan 4-52 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-10 Persyaratan Kualitas Air Minum b. Bila terdapat sistem plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Drainase Gedung Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air. Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari sistem tersebut.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota. Laporan Pendahuluan 4-53 . Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet. Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara: 1. Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya. basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota. 3.tempat umum lainnya. maupun tempat . 2.94 m2) luas atap dibutuhkan I inci luas leader. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran. kemiringan atap dan bentuk gutter. Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22. c. industri. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader). Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah (underground drain).86 m). Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local. untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya. Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai 2. Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. 4. Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah : 1. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya.

seperti rumah tinggal. Pengelolaan Individual Laporan Pendahuluan 4-54 . Derkantoran. 3).zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup Meskipun merupakan sisa air . Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil. pertokoan. Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi: − − − air buangan kamar mandi air buangan WC : air kotor/tinja air buangan dapur clan cucian pabrik pangan. karena lebih kurang 80 % dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari . Oleh sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. industri kima. seperti pabrik tekstil. 2). Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-13. hotel.hari dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar ). Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian. namun volumenya besar. Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masingmasing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah. Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara: 1). pasar dan fasilitas pelayanan umum. Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri. sekolah. yang terdiri dari: 1). dll.

Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2). yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. seperti hotel. yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). perdagangan. industri. Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman. rumah sakit. Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam wilayah yang kecii. Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas 3). Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-14. Secara diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-15. bandara dan fasilitas umum. Sarana Pernbuangan Sampah Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia. Pengelolaan Komunal d. Apabila dibakar akan menimbulkan Laporan Pendahuluan 4-55 .

misalnya timbulan wampah masuk ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan. Laporan Pendahuluan 4-56 . Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce. Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah. atau jalur lain. Recycle dan Replace ). Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut: gambar 4-16. badan air dan udara. Reuse. setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir.

pengangkutan. Laporan Pendahuluan 4-57 .1/26/1990 tentang Baku Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah. Pengumpulan Data. saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Peralatan Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu i. b. Untuk sarana air bersih. Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain 1) Pengukur kualitas air 2) Sanitarian Kit 3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada penyehatan sarana dan bangunan umum.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan dari berbagai sumber yang representative dan mewakili. Pengumpulan Data Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder maupun data primer. Data primer dikumpulkan dari hasil observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan. Peralatan dan Analisis Data a. sampel air diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air. c. Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan. pengolahan dan pembuangan akhir. Formulir Pengamatan 1) Formulir pemeriksaan 2) Formulir Inspeksi Sanitasi ii. drainase dan air limbah. terutama dokumen yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari masing-masing pemilik bangunan. Analisis aspek sanitasi mengacu pada KepMenkes No.

Data Primer a.1. 2. Masing-masing akan dinilai dengan memberikan Laporan Pendahuluan 4-58 . d. c. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli. c. Jenis Perolehan Data Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan bangunan meliputi beberapa aspek. Tim ahli secara spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. b. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai bangunan terkait. gambar arsitektur. PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA 4.4. gambar struktur. Melakukan uji lab bila diperlukan. 4. Data Sekunder a. Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung (gambar IMB. Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara: 1. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis. Browsing data-data peraturan terkait melalui internet. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait.4.2. KEBUTUHAN. Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan. d. serta gambar as built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan.4. dan gambar mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait. b. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada.

terkelupas. macet. pecah atau terkelupas). Data-data yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut: 1. pecah atau terkelupas). Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik. mengalami retak. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri. Data utama : • Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) • • • • Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut) Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut) Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri atas berapa lantai) 2. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik. atau dalam kondisi rusak. hilang dan tidak berfungsi) h. Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. buram. pecah/ rusak. terkelupas atau berjamur ). terkelupas atau pelapis lantai tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna). d. b. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik. kusam.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. masih sesuai dengan fungsi. Laporan Pendahuluan 4-59 . g. mengalami retak. Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik. pecah. pecah. atau sudah kusam. Aspek Arsitektural a. mengalami retak. mengapur. terbelah. berlumut. e. mengalami retak rambut. Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik bisa difungsikan sesuai fungsinya. pudar/ busam. ambles. lembab. luntur. atau sudah tidak sesuai). c. berlubang atau rusak) i. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). retak. Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi baik. Data Umum Bangunan Gedung a. terbelah. Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi baik. f.

lapuk/ berkarat) f. lendut. balok pondasi : (apakah masih kuat. rapuh) 3. Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat atau hilang. berlumut. pecah. ikatan sambungan mur baut terlepas. akan dilakukan klasifikasi form isian terlebih dahulu. mengalami retak. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat. pecah. kaku. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku. atau muncul retak. k. berlubang. l. bocor pada basement) Laporan Pendahuluan 4-60 . atau terjadi penurunan dan patah struktur) b. hilang mur dan baut. pudar/ busam. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik. jika dari besi apakah terjadi karat. atau terjadi patahan. jika dari besi apakah terjadi karat. kaku. retak rambut) e. retak. jika dari beton apakah terjadi patah. apakah bangunan menggunakan : a. Struktur rangka baja dan dinding pasangan c. bocor. pecah pada beton. buram. miring) d. pecah/ rusak. Struktur rangka beton dan dinding geser d. Struktur dinding pasangan dan rangka beton praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai berikut: a. tanpa pengikat. kuat menopang beban di atasnya. lembab. melengkung.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 j. terkelupas atau berjamur ). atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). kepala pondasi. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. luntur. atau terlepas. kuat menyalurkan beban. ambles. ikatan sambungan mur baut terlepas. pecah. Struktur rangka beton dan dinding pasangan b. Pondasi. beton terkelupas. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi baik. terkelupas. kusam. Aspek Struktural Sebelum dilakukan survey ke lapangan. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik. jika dari beton apakah terjadi patah. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik. melengkung. mampu menopang/ menahan beban. atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja) c. berlubang atau rusak) m.

retak rambut) n. retak struktur. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. atau rapuh. kabel instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi. ataukah rusak. hilang komponen pengikatnya. kokoh. komponen tidak lengkap. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik. atau terjadi retak. Utilitas dan Proteksi Kebakaran a. atau rusak. retak rambut. kuat dalam penataan siarnya. kuat dalam campuran semen ikatannya) m. ikatannya menyatu dengan balok induk. lendut. berjamur) i. terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya) l. leufel. patah. titik panggil manual. apakah terdapat beban benda yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup atap. alarm. apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik) k. retak. beton mengelupas. canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus atau patah. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya. lapuk. tidak berfungsi) Laporan Pendahuluan 4-61 . lembab. Rangka atap. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik. retak rambut. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. retak struktur. beton mengelupas) h. apakah leufel & kanopi masih kuat. patah. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat. meliuk. pecah. atau hal-hal yang menghawatirkan jika terjadi keruntuhan) j. mampu menahan beban pengguna yang melaluinya. catu daya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 g. hilang. atau terjadi pecah. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik. tegak. berkarat) o. ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik mampu menahan beban penutup atap. bocor. panel control kebakaran. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam kondisi baik. Balok anak. rembes. retak rambut. mudah hancur. patah. lendut. atau terjadi lengkung. lembab. tidak terawat. retak rambut. berjamur) 4. retak struktur. atau miring.

tidak terawat. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. alat deteksi kebakaran. pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. Escalator (meliputi motor penggerak. hydrant box/ pillar. komponen tidak lengkap. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air. stater otomatis. alat penyeimbang sangkar. catu daya. tangki penampungan air) : : (apakah tersedia atau tidak. kepala sprinkler. tidak berfungsi. Utilitas Transportasi vertikal a. hilang. kabel dan panel listrik. panel control. kran uji. alat control. alarm kebakaran. tidak terawat. tangki penekan atas/ alat kontrol. atau macet. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. atau terjadi permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift) b. tidak berfungsi) 5. motor penggerak pintu. tidak berfungsi) e. ataukah rusak. rantai penarik. ataukah rusak. Lift / elevator ( meliputi motor penggerak. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. sumber air. ataukah rusak. kotak operasi manual. dan permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna escalator) Laporan Pendahuluan 4-62 . tidak berfungsi) c. komponen tidak lengkap. roda-roda gigi penarik. tidak terawat. sangkar dan alat control. hilang. tidak berfungsi) d.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Tabung pemadam api (tabung gas tersegel. hilang segel. Nosel gas. tangki air. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. kabel dan panel listrik. tidak terawat. pipa instalasi. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. selang) : : (apakah tersedia atau tidak. rusak. hilang. badan escalator. rusak salah satu komponen. anak tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak. ataukah sudah expired. Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api. Hydrant (meliputi pompa air. peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak. komponen tidak lengkap. rel. kran pemilih otomatis) : : (apakah tersedia atau tidak.

Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air) (meliputi kompresor. Utilitas Plumbing a. lubang saluran pengurasan lantai. hilang) 7. septictank. pompa distribusi dan tangki hidrofor.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 6. tidak berfungsi dengan baik. Air kotor (Kloset. saluran ke septictank. pompa penampung air dan control. kering. altermator. Utilitas Instalasi tata udara a. panel) : (apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi dengan baik. terawat. kondensor. atau rusak salah satu komponen. pompa sirkulasi air pendingin kondensor. lampu amatur. tidak berfungsi dengan baik. hilang. tidak berfungsi) b. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. diffuser grill. terawat. panel control) : : berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. bersih. bersih. atau rusak salah satu komponen. tidak Laporan Pendahuluan 4-63 . kipas udara evaporator. hilang) b. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. Daily tank. hilang. menara pendingin. kabel instalasi. pipa instalasi air pendingin kondensor. Air Bersih (sumber air. trafo. hilang. kipas udara kondensator. saluran dari wastafel ke saluran terbuka. tangki penampungan air. lampu TL/pijar/halogen/SL. kran) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. alat control. bersih. kering. panel distributor. pompa instalasi. media pendingin. panel distribusi. kran air gelontor. AMF. kabel instalasi) : (apakah masih dalam kondisi baik. bak cuci. wastafel. pipa air hujan) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. Utilitas Instalasi listrik a. cerobong udara. evaporator. alat pengisi aki. Sumber daya Genset (Motor penggerak. urinoir. tidak terawat. tangki air atas. tidak berfungsi) 8. atau rusak salah satu komponen. radiator. tidak terawat. listrik untuk panel pompa. terawat. bidet. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah.

kondensor. Utilitas instalasi komunikasi a. hilang. Sistim AC split/ FCU (non sentral) (Kompresor. pipa sirkulasi air es. tidak berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi dengan baik. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. hilang. panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik. panel system tata suara. tidak berfungsi) 9. media pendingin. bersih. tidak berfungsi dengan baik. Utilitas Penangkal petir a. kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi) 10. terawat. stri pengikat ekuipotensial. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi dengan baik. kipas udara kondensor. atau rusak salah satu komponen. bersih. bersih. tidak berfungsi dengan baik. evaporator. atau rusak salah satu komponen. hilang. terawat. PABX. tidak berfungsi) b. atau rusak salah satu komponen. evaporator. unit pengelola udara. Instalasi tata suara (meliputi mikropon. alat control cerobong udara. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon. terawat. hilang. bersih. bersih. hantaran pembumian. tidak berfungsi) c. Laporan Pendahuluan 4-64 . Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir. kondensor) : : tidak berfungsi dengan baik. terawat. hilang. evaporator. pipa instalasi air pendingin kondensor. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah. speaker. bersih. atau rusak salah satu komponen. atau rusak salah satu komponen. apakah masih dalam kondisi baik. pipa sirkulasi pendingin kondensor. pipa instalasi. media pendingin air es. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara) (meliputi kompresor. atau rusak salah satu komponen. terawat. diffuser grill. terawat. pipa instalasi air es. apakah masih dalam kondisi baik. tidak berfungsi) d. tidak berfungsi dengan baik. bersih. tidak berfungsi) b. Sistim AC window (non sentral) (Kompresor. tidak berfungsi dengan baik. hantaran pembumian. hilang. terawat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. hilang.

atau tidak memenuhi persyaratan) f. atau tidak memenuhi persyaratan) g. Aspek Aksesibilitas a. apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. ataukah tidak mencukupi) d. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk pedestrian dan ramp. Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran. atau tidak memenuhi persyaratan) i. Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat dilihat pada table berikut: Laporan Pendahuluan 4-65 .4. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan. apakah dapat dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. saklar lampu dll. atau tidak memenuhi persyaratan) e. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Penyajian data dituangkan dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan pembagian aspek masing-masing. apakah dalam kondisi baik atau rusak) c. baik alarm. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang. Penyajian data Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan. Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control.3. atau tidak sesuai) b. atau tidak memenuhi persyaratan) h. Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 11. atau tidak memenuhi persyaratan) 4. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. dan data yang telah diperoleh dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan.

  hancur baik .terkelupas  >=10% 2 2.terbelah. pecah .ARS NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai NILAI KOMPONEN SUB KOMPONEN MAKSIMUM KEANDALAN (%) (1) (2) Kesesuaian penggunaan fungsi Pelapis muka lantai 10 100.Tidak berfungsi .hilang. terkelupas berlubang <5% baik 100 terkelupas <10% .terbelah.00% 100 0 3 100. (%) TIDAK ANDAL <75 (9) (10) N.buram >=50% .00% 100 0 (20%) Pelapis muka langit‐langit luar 2 100. pecah 100 buram.hilang. tidak tampak .00 100 0 baik 100 Tidak berlubang 100 buram <50% 100 aus.5 100. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11) FORM .100 (5) K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) N. tidak tampak .5 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1.00% 100 0 Plesteran lantai RUANG DALAM (80%) Plesteran dinding 10 100.00% 100 0 100 0 100 0 Pintu/jendela 15 100. pecah terlepas .K.5 100.<95 (6) (7) (8) Tidak sesuai .berlubang.00% 100 0 baik - 3 20 Plesteran lantai luar 2.5 10 Penutup atap RUANG  LUAR Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar 2.00% Pelapis muka dinding 10 100. Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal : 1 2 3 4 5 Pemeriksa ANDAL Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan Laporan Pendahuluan 4-66 .00% 100 SUB TOTAL 20 TOTAL 100 Kesimpulan : 1.K. (%) KURANG ANDAL 75 . belah.00% 100 0 Pelapis muka langit‐ langit SUB TOTAL 10 100.00% 100 0 Berfungsi baik baik baik baik baik (3) 15 (4) Sesuai fungsi baik KONDISI ANDAL 95 .K.belah. (%) NILAI KEANDALAN TOTAL (%) (11) 15 100 masih sesuai dengan fungsi 100 retak rambut 100 retak rambut 10 - 10 10 80 10 15 - 10 80 10 1. ter‐ kelupas <10% 100 terkelupas <10% 100 Masih berfungsi 100 terkelupas <10% .Terkelupas  >=10% N. kasar baik 100 retak. bergelombang buram.00% 10 100.retak. pecah terlepas .

retak halus/bocor Kuat. Stabil Tidak Andal < 85 (8) Tidak stabil. kaku. kaku. bebas retak. kuat Kuat. berfungsi baik Kuat. retak rambur 20. lapuk. Gording Sub Total Rangka Langitlangit Penutup langitlangit 0.00 2 100 100 2.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: 100. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-67 .00 4. kaku. Kaku. bebas bocor.00 3 100 Kuat.00 Lantai bawah Sub Total 4 100 100 4. kurang kaku.rusak tak berfungsi Kurang kuat/kaku. fungsi baik Kuat. berfungsi baik Kuat. Kaku. 2. Kepala Kuat.100 (1) (2) (3) (4) (5) Pondasi. Balok Praktis Slab Lantai Bahan/dimen si OK Bebas retak. lentur kecil Kurang kuat.5 100 100 4. kaku. kurang kaku.00 Kuat.00 20 100 Kuat.<95 (6) (7) Kuat. mulus Rangka dan tumpuan kuat. pecah. rata.K Kompone n Keandala n Andal (%) n kompone n (%) 95 . Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12) Jumlah lantai Pemilik : : lantai Nilai Nilai Sub keandala Kondisi Maks Kompone N. padat. pecah.00 Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL Saran agar struktur secara keseluruhan 1. kaku. tidak rata Kusam dan retak. retak. retak-retak Lendut. fungsi baik Rata.K Kurang Andal (%) 85 . rata Kuat. ada retak Kuat. lendutan besar 30 100 100 30. stabil 100 Kuat. tidak kuat. pecah N. awet. Kurang Kaku. retak diagonal/ melintang Kurang kuat/kaku.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. 3. kurang kaku. kurang rata Rata. kurang stabil Retak. Ikatan Angin. bocor.50 Slab Atap Rangka Atap. retak. kaku.00 15. kurang kaku. 100 25 100 Struktur Pondasi. lapuk.00 Struktur Pelengka p Tangga 6 100 100 6. kropos/ karat 5. ada lendut Lendut. rata Bahan/dimen si OK.50 5 100 100 Kuat. Kaku. amblas. kedap air 100 Kuat. Stabil Balok Bawah Pondasi Sub Total Dinding Pasangan Bata/Bata ko Kolom. stabil Faktor Reduksi N. tidak dapat dipakai Kurang kuat. basah.00 60. kurang stabil Retak. tidak rata 3.K (%) (9) Nilai Keandalan Total (%) (10) (11) 25 25. rata. kurang mulus. kurang kaku. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur a. padat.5 100 100 0. kedap air.

00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: ##### Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan ANDAL 1. lebar retak 0.00 15 100 Kuat. Kaku.00 15. retak lentur Retak rambut. tidak kaku.Balok Faktor Reduksi N.1 0. Aman Rata dan baik 100 Kuat. melendut 1. retak rambut Batang jangkar lemah.00 100 13. kuat.K n Keandala Andal (%) kompone n (%) 95 . 3. retak. 2.00 100 Retak 1-3 mm 5.5 mm Lendut > L/300 Tidak kaku.<95 (6) Kuat.00 5 100 Kuat. kaku.K Tidak Andal (%) < 85 (8) Tidak stabil. dinding retak Kuat. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako 20 13 2 5 5 100 100 100 100 100 100 20. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13) Nilai Nilai keandala Kondisi Maks N.00 1 100 Kuat. lendut Kurang rata. tanpa retak 100 2. menyatu Kuat. Kaku.00 Kolom Baja Balok Baja Struktur Atas Pengaku Silang Slab Lantai Rangka Atap. retak lentur Kuat. Kurang Kaku.K Kurang Andal (%) 85 . Daktail Kuat. retak lentur Kuat. pecah Nilai Keandalan Total (%) (10) 25 (5) 100 (7) (9) (11) 25. tidak kuat. Kaku. kaku 100 5.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. kurang rata Batang jangkar lemah.00 5 100 Kuat. Stabil Kompone n (1) Struktur Bawah Sub Komponen (2) Pondasi. daktail 100 5. Ikatan Angin. Kepala Pondasi. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 2 100 Kuat.00 Struktur Shotcrete Panel Pelengka Precast p Balok Anak. Kaku. Stabil N. Daktail Kuat.00 2 100 Kuat. kaku. Leufel.5 Kuat.100 (3) 25 100 (4) Kuat. tanpa retak 100 2. Awet. Rata/Datar 100 Kuat.00 100 Retak. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-68 . ada lendutan Tanpa jangkar dinding pasangan belah Tanpa jangkar dinding pasangan belah Retak lentur/geser Rusak. retak lentur Retak < 0. bocor 5. Daktail Kuat. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak terlihat 15.00 100 2.00 60.

bocor 10.00 10. lendut Kurang rata.00 6. Kaku.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan 1. Stabil (7) (8) Tidak stabil. Ikatan Angin.00 10 15 15 10 4. bocor Retak. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 60. tetapi telah retak rambut Kuat.00 100 100 6.50 0. Kaku. Kaku.5 0.K (%) Kurang Andal 85 .00 4.00 Struktur Atas Dinding Geser Slab Lantai Slab Atap Rangka Atap. pecah (9) (10) 25 (11) 25. Awet. retak lentur Retak rambut. melendut 1.Balok Kolom Balok (5) 100 (6) Kuat. tidak kuat. retak. retak rambut Kuat. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14) PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai Komponen Sub Komponen Nilai Nilai Maks keandalan Keandalan komponen (%) struktur (3) 25 100 Faktor Reduksi Kondisi Andal 95 . tidak kaku. Rata/Datar Kuat. daktail Kuat.00 ANDAL : : : : Laporan Pendahuluan 4-69 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. Kepala Pondasi.00 Struktur Pelengkap 100 2.00 15. Aman 100 Kuat. 2. ada lendutan Tanpa jangkar ikat dinding retak/belah Retak lentur/geser Rusak.00 15. Awet. Stabil N.K (%) Nilai Keandalan Total (%) (1) Struktur Bawah (2) Pondasi. Daktail Kuat. Aman Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . kuat.K (%) Tidak Andal < 85 N. tanpa retak Kuat. kurang rata Batang jangkar lemah. 3. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak geser. Daktail Kuat. retak lentur Kuat. Menyatu Kuat.00 100 100 100 100 100 100 15. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako Balok Anak.100 (4) Kuat.<95 N.50 5. retak lentur Kuat. belah Retak 1-3 mm Retak. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan 100. Kurang Kaku. retak lentur Retak rambut Retak rambut Lendut > L/300 Tidak kaku. kaku. Kaku.5 5 100 100 100 100 100 100 100 Kuat. Leufel. Daktail Kuat. Kaku. Aman Kuat. Kaku.00 1 2 6 6 100 100 100 100 Kuat. kaku 100 Kuat.

00 100. : ……………………….i) Keterangan : Andal : µku = 99 – 100 %.00 100. Util.00 100.00 100. Tidak andal Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : ……………………….Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. Keandalan (%) (3) 20 15 15 20 15 5 10 Σ µ ku (%) Kondisi Andal. Kurang Andal.00 100. : ………………………. µku = 95 – 99 %.00 (5) 100 100 100 100 100 100 100 Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas (µku. AC Instalasi Penangkal Petir Instalasi Komunikasi Jenis Komponen Utilitas Gedung Instalasi: Nilai Maks. Komp.00 100. : ……………………….<99 (6) x x x x x x x Keandalan N ku TA <95 (7) x x x x x x x (8) (%) (4) 100. Tidak Andal (%) Andal 99 -100 KA 95 . i (1) 1 2 3 4 5 6 7 (2) Intalasi Pencegahan Kebakaran Transportasi Vertikal Plambing Instalasi Listrik Tata Udara.00 100. Laporan Pendahuluan 4-70 . : ………………………. Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/ Kurang/Tidak Andal : µku = < 95 % ANDAL Kurang andal . Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15) Form – A Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung No.

Catu daya 5.00 1C 4. Pipa Instalasi GAS PEMADAM API 1.00 1A 4.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Kran Pemilih Otomatis HIDRAN 1. Alarm Kebakaran 6. Nosel Gas 9. Tangki Air 5. Pipa Instalasi 3.00 3 2 2 2 2 2 2 100.Selang NF = 15 3 2 2 100 2 2 2 2 100 NF = 15 8 7 100 100 100 100 x x x x 8 7 100 100 100 100 100 1D 1E Laporan Pendahuluan 4-71 . Panel Kontrol 6.00 3 3 4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 3 4 3 3 4 100. Hidran Kotak 5. Pompa Air 2. Panel control Kebakaran (3) NF = 20 (4) (5) (6) (7) (8) (9) 100. Kepala Sprinkler 3 3 4 NF = 20 4 4 4 4 4 NF = 20 3 100 100 100 100 100 100 100 100 1B 3. Alarm Kebakaran 3. Kotak Operasi Manual 7. Alat-alat deteksi 2.Kumpulan Tabung Gas Pemadam Api 2. Pompa Air 2. Tangki Penampung Air TABUNG PEMADAM API RINGAN 1. Stater Otomatis 100 2 2 2 2 2 3 100 2 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 2 2 2 2 2 3 2 2 100. Catu Daya 5. Hidran Pilar 6. kran Uji 4. Sumber Air 7. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16) Form Utl-1 Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Pencegahan Kebakaran Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tidak Andal <95 % Tingkat keandalan F. Reduksi Ф (%) (1) (2) SISTEM DETEKSI ALARM KEBAKARAN 1. Tabung Gas Tersegel 2. Titik Panggil manual 3. Alat-alat Deteksi kebakaran 8. Kabel Instalasi SPRINKLER OTOMATIS 1.00 4 4 4 4 4 100. Tangki Penekan Atas/Alat Kontrol 4.

00 2A 8 7 7 7 7 7 7 100.Tangki Air (3) NF = 50 5 5 6 6 6 6 5 6 5 NF = 50 7 6 6 7 6 6 6 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) 5 5 6 6 6 6 5 6 5 (9) 100. pompa air. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan <95 % (1) LIF (LIFT) (2) 1. Rel 6. Listrik untuk Panel Pompa 8. tempat cuci tangan 6. Rantai Penarik 5.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. motor Penggerak 2. Sangkar dan alat Kontrol 3.00 7 6 6 7 6 6 6 6 3B 4. Peredam Sangkar ESKALATOR 1. Motor Penggerak 2.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 2. M t Ai Penampung *) 3. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6. Roda-roda gigi Penarik 6. Kabel dan Panel Listrik 4. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 7. Pipa Air Hujan *) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut. Tangki Septik 5. Kran AIR KOTOR 1. Kran Air gelontor 100. Kloset/ bidet/ Urinoir 2. Pompa Instalasi 9. Sumber Air dari sumur dala.00 2B 8 7 7 7 7 7 7 c.00 3A 4. Badan Eskalator 7. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17) Form Utl-2 Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Transportasi Vertikal Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tingkat F. Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18) Form Utl-3 Nilai Keandalan Utilitas : Plambing Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Plumbing Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Alat Penyeimbang Sangkar 7. saluran ke Tangki Septik 3. Anak Tangga/lantai (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Bak cuci. maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan Laporan Pendahuluan 4-72 . Motor Penggerak Pintu 4. Alat Kontrol 3. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) AIR BERSIH (2) 1. Lobang/ saluran pengurasan lantai 8. alat control. Kabel dan Panel Listrik 5. Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 7. Tangki Air Atas : Menara 5.

l A d% l 100% 95 <95 (%) (1) (2) SUMBER DAYA PLN 1.00 7 7 4 6 7 7 6 4B 4. Trafo (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF= 50 7 7 4 6 7 7 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 <100% (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) 8 7 7 7 7 7 7 (9) 100. Panel Tegangan Menengah 2. Daily Tank Laporan Pendahuluan 4-73 . Panel Tegangan Tengah 4. Kabel Instalasi 6. motor Penggerak 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 d. Armatur 7. AMF 7.00 4A 3. Kabel Instalasi SUMBER DAYA GENSET 1. Reduksi Termasuk Kategori keandal Tidak Kurang Andal Ф an A d. Panel Distribusi 5. Altermator 3. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19) Form Utl-4 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Listrik Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) TingkatF. Radiator/ pendingin 5. Alat pengisi aki 100. Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 6.

Panel Kontrol 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 Laporan Pendahuluan 4-74 .00 5B 6. Pompa sirkulasi air pend kondensor 15. Kipas Udara Evaporator 5A 6. Alat Kontrol 10. Unit Pengolah Udara 10. Panel Kontrol SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG 1. Cerobong Udara 12. Kondensor 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 100. Difuser gril 12. Pipa Instalasi air pendingin kondensor 14. Reduksi keandalan Ф (%) (1) 1. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20) Form Utl-5a Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% Tidak A d% l <95 Tingkat F. Media Pendingin Air Es 9. Media Pendingin 8. Pipa Instalasi Air Es 4. Evaporator 3. Kondensor 4. Panel Distributor (2) SISTEM PENDINGIN LANGSUNG (3) NF=50 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 NF = 50 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Kipas Udara Kondensor 7. Evaporator 3. Kompresor 2. Pipa Instalasi Media Pendingin 9. Alat Kontrol Cerobong Udara 11.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 e. Media Pendingin 8. pipa instalasi air pendingin Kondensor 13. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 14. Difuser gril 11. Pipa Sirkulasi Air Es 5. Menara Pendingin 13. Kompresor 2. Kipas Udara Kondensator 7.00 5.

Konpresor (3) NF = 50 18 16 16 NF = 50 13 13 12 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 18 16 16 (9) 100. Arester Tegangan Lebih (3) NF = 50 16 16 18 NF = 50 13 12 12 13 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) (9) 100. Hantaran Pem-bumi-an 4.00 13 13 12 12 5B 2. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22) Form Utl-6 Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Penangkal Petir Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Pipa Instalasi 4. Elektroda Pem-bumi-an INSTALASI PROTEKSI PETIR 1.00 6A 16 16 18 100. Elektroda Pem-bumi-an 13 12 12 13 Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang Laporan Pendahuluan 4-75 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f.00 7B 2. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) SISTEM AC WINDOW 1. Kondensor SISTEM AC SPLIT /FCU 1.00 5A 100. Stri Pengikat Ekuipotensial 3. Hantaran Pem-bumi-an 3. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21) Form Utl-5b Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F. Evaporator 3. Evaporator 3. Konpresor 2. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Kondensor Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang g. Kepala Penangkal Petir 2.

Kabel Instalasi 4. Pesawat telepon 2. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol 100>Ka≥95 95>Ka≥75 (7) 100. Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24) PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS Kondisi Nilai Keandalan Eksisting Maksimum Elemen Terfaktor Keandalan Pedestrian (%) (%) (3) Ya x x Ya X x X Tidak Tidak 40 5 5 40 5 4 1 (5) 40 5 5 40 5 4 1 100. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23) Form Utl-7 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Komunikasi Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Nilai F. Reduksi Termasuk Kategori tingkat Kurang Andal Tidak Andal Ф keandalan d l 100% 95A -<100% <95 % (%) (1) (2) INSTALASI TELEPON 1.00 100.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 h. Panel system tata suara 3.00 (1) (2) PERLENG ada tidak KAPAN & X PERALAT Stop Kontak.00 x x 50 (6) 100. tombol & perlengkapan k t l laksesibilitas i b d d i i Rambu Perlengka ada tidak pan x peralatan Peringatan berbentuk suara Peringatan berbentuk visual Peringatan berbentuk getaran SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%.Kabel Instalasi INSTALASI TATA SUARA 1. Speaker 4. PABX 3. Mikropon (3) NF = 50 16 18 16 NF = 50 12 13 13 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 16 18 16 (9) 100. µku = 75 – <95%. Tidak andal : µku = <75 % 100 KESIMPULAN : X ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL Rekomendasi 1 2 3 4 Laporan Pendahuluan 4-76 . Kurang andal .00 7A 100.00 Kondisi Eksisting Elemen Aksesibilitas Baik Rusak Sedang (8) x Rusak Berat 75>Ka>0 (9) x (10) 50 Nilai Keandalan Parsial 12000 8 m2 lantai No.00 12 13 13 12 7B 2.

Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Parkir (1) (2) KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA Kesesuaian dengan dokumen rencana kota Kesesuaian KDB Kesesuaian KLB Kesesuaian GSB Ya x x x Tidak 5 2 2 1 5 2 2 1 100 SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Kurang andal . µku = 75 – <95%. Tidak andal : µku = <75 % 100 Laporan Pendahuluan 4-77 . Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25) PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nama Bangunan : Alamat Pemilik : : Fungsi Bangunan : Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nilai Keandalan Nilai Maksimum Terfaktor Keandalan Keandalan (%) (3) (5) (10) No.

dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah Laporan Pendahuluan 4-78 .00 Bangunan yang diperiksa masuk kategori Interpretasi : a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26) Kategori Penilaian No Aspek Yang dinilai Andal NK (%) (1) 1 2 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Pasangan Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total ANDAL (2) (3) 95% 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 100% (3) 100.00 5.00 100.00 100. struktur=NKS.00 5.00 - <95% <75% <75% - 50 5 5 100 50. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.00 30.00 3 4 5 100.00 100. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) b.92 <75% <85% Tidak Andal NK (%) (5) Bobot Penilaian (%) (6) 10 30 Nilai Keandalan Total (%) (7) 10.00 75% <95% 85% <95% 95% <100% 75% <95% 75% <95% Kurang Andal NK (%) (4) 89. struktur=NKS.

Tingkat Keandalan Utilitas dianggap Andal. % Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. d. Kurang andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 c. Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap Andal. Tingkat Keandalan Struktur dianggap : Andal. % 2. % 3. bila NKA bernilai dibawah 75 c. bila NKA tidak kurang dari 99% atau a. Kurang andal. (99%<=NKA<=100%) b. bila NKA tidak kurang dari 95% atau a. (95%<=NKA<=100%) b. bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90% Tidak andal. NKA. (90%<=NKA<=100%) b. bila NKA bernilai dibawah 95 c. bila NKA tidak kurang dari 90% atau a. Kurang andal. bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99% Tidak andal. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah 1. bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95% Tidak andal. dan NKU tidak boleh kurang dari 95 % Laporan Pendahuluan 4-79 . bila NKA bernilai dibawah 85 c. NKS. struktur=NKS.

Andal.100% 2.5. struktur. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. struktur.5. utilitas. Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik dari bangunan yang telah diperiksa di atas. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel tersebut akan digunakan untuk: 1.2. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Struktur dianggap: 1. Andal. Interpretasi • Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan (komponen arsitektur. Setelah dikelompokkan akan di tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung. utilitas.100% 2. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA 4. Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan 2. • Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan ( arsitektur. struktur. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. Tindak Andal. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori Andal. Kompilasi Data Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan data lapangan. bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95% 3.1. struktur. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. Data 4. Tindak Andal. Kurang Andal. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal Tingkat keandalan Arsitektur dianggap: 1. utilitas. bila bobot nilai diantara < 85% Laporan Pendahuluan 4-80 . aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal • Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. utilitas. Kurang Andal.5.

Nilai keandalan masing-masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing komponen Laporan Pendahuluan 4-81 . yaitu tahap pembobotan masing-masing komponen dan sub komponen. tidak boleh kurang dari 99%. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Analisa Analisa dilakukan dalam beberapa tahap.100% 2. Tindak Andal.95% < 85% >99%-100% >95% . khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran. tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan). Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. Tindak Andal. Tindak Andal. Kurang Andal.99% < 95% >95%-100% >75% . Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% . bila bobot nilai diantara < 75% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. nilai keandalan Arsitektural.95% < 75% >95%-100% >85% . Andal. Namun untuk nilai keandalan utilitas. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Tata Bangunan dan Lingkungan: 1. Kurang Andal. Tahap penilaian keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3.5. Andal. bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99% 3.100% 2. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .3.100% 2. bila bobot nilai diantara < 95% Tingkat keandalan Aksesibilitas dianggap: 1. Andal. Kurang Andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tingkat keandalan Utilitas dianggap: 1.95% < 75% CATATAN 4. Tabel 4-27 Penentuan nilai Keandalan Bangunan ASPEK KEANDALAN ARSITEKTUR STRUKTUR UTILITAS AKSESIBILITAS NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL >95%-100% >75% .

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tabel 4-28 Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan volume Lantai (i) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 volume elemen yg rusak Faktor reduksi rusak Faktor Nilai Nilai reduksi KeandalanKeandalan posisi Tingkat Awal Kategori Nilai Keandalan A KA TA (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini.100% 95% .<95% 95% . Dari hasil akhir penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal.00 5. Laporan Pendahuluan 4-82 .100% 95% .00 100.92 - <75% <85% <95% <75% <75% - 10 30 50 5 5 100 10.00 100. Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini. Tabel 4-29 Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan Kategori Penilaian No (1) Aspek Yang dinilai (2) Andal (3) 95% .<100% 75% . Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen.100% 100% 95% . yaitu Andal.00 100.100% NK (%) (3) Kurang Anda NK (%) (4) Tidak Andal NK (%) (5) Bobot ilai Keandala Penilaian Total (%) (%) (6) (7) 1 2 3 4 5 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total 100. kurang andal atau tidak andal. tahap berikutnya adalah melakukan penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan.00 50.00 100.00 Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%.<95% 89.<95% 75% .00 75% .<95% 85% . sedangkan nilai masing-masing komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya. Kurang ndal dan Tidak andal.00 30.00 5.

2. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. Hasil dari rekomendasi tersebut dapat diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal. Laporan Pendahuluan 4-83 . meliputi: a.6. Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis. elektrikal. Rekomendasi Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan gedung yang telah oleh instansi teknis diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan pembina penyelenggara bangunan gedung di keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan disetujui Kabupaten/Kota. Misal: struktur bangunan gedung. sistem plumbing. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan umum pada kab/kota. 3. air hujan.7. Foto-foto sebagian/seluruh tindakan yang bangunan diperlukan gedung untuk yang terindikasi aspek memerlukan memenuhi keandalan. 2. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan Bangunan Gedung. 4. dll yang tidak andal.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. KELUARAN/OUPUT Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini: 1. termasuk dokumentasi. 1. akademisi. serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh masukan penyempurnaan rekomendasi. Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. dan instansi terkait. b. pakar. c.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->