Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan bangunan gedung dan teknis pelaksanaan bangunan gedung serta peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Selain itu dalam bab ini menjelaskan tentang pendekatan dan metodologi dalam pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung di Kota Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada, Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan

(screening),

pelingkupan

(scoping),

pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan. Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum menginjak ke pelaksanaan di lapangan.

4.1.

DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan

4-1

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Dasar hukum yang digunakan adalah: 1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis

Bangunan Gedung 2. 3. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat
1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran
1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan 3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung 5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan 2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung 3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung

Laporan Pendahuluan

4-2

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung

4.2.

KERANGKA PIKIR
Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai

pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum
Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan. Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006. Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung.

4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:

Laporan Pendahuluan

4-3

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010
TAHAP PERSIAPAN TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK

PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & TEKNIK PENGUMPULAN DATA MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN

KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT

REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN ALAT KERJA

PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN SURVEY SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK PENYEMPURNAAN REKOMENDASI

PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN PEMERIKSAAN

INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE KEANDALAN BANGUNAN PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN

DRAFT LAPORAN ANTARA PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN ANTARA

LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan

4-4

c. untuk membantu dalam proses perolehan data. yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan b. Setiap tenaga ahli akan dibantu oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan kebutuhannya. Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di lapangan Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 4-5 . d. 29/PRT/M/2006. dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a. Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung yang akan disurvei. maka yang perlu dilakukan adalah: a. Gambar IMB. Tahap Persiapan Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1. Gambar As Built Drawings. b. akan diakukan persiapan halhal berikut: a. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang koordinator sesuai kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian gedung yang akan diperiksa keandalannya. seperti: Gambar Perencanaan Teknis.

Perencana iv. antara lain: finishing dinding. dll) Keselamatan Struktur Laporan Pendahuluan 4-6 . kaca. rigid frames. Data Penunjang i. komposit. Data Arsitektur Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang berada pada bagian dalam bangunan gedung. Nama Bangunan ii. pagar. jendela. dinding. Sejarah kepemilikan. prestressed. plafon. Data Umum i. dan lingkungan penduduk.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Gambar Bangunan vii. mencakup: i.pintu. d. baja. beton bertulang. dan fungsi bangunan gedung iii. dan mebel terpasang. rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran) Bahan Struktur (kayu. rangka kombinasi. antara lain: finishing lantai/selubung bangunan. shear wall. Tahun Pembangunan ii. ii. Luas/jumlah lantai v. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan) c. Pengawas vi. pasangan batu. Kontraktor v. Pemilik b. lantai. Interior. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan. maupun yang berada pada bagian luar bangunan gedung. Fungsi iv. Eksterior. pasangan bata. Data Struktur Pemeriksaan dilakukan terhadap sistem struktur (bearing wall. Lokasi/alamat iii. beton precast. kerusakan. iii.

AC non sentral). dan drainase ke lingkungan). air hujan. Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih. PABX. Sistem Building Automation System (BAS). Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN. Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal dan internal). atau kesalahan pelaksanaan terkena beban sementara yang melampaui kapasitas struktur) o o o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas Kegagalan akibat bencana alam ( gempa. Data Utilitas Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift. Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral. panel operator. mesin penggerak). akibat bencana) e. instalasi tata suara). motor penggerak).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh: o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan perencanaan. longsor) Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran. bak sampah setempat. Sistem pembuangan sampah. ledakkan) Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan. panel inspeksi. angin . panel kelistrikan. (shaft sampah. container sampah). Laporan Pendahuluan 4-7 . air kotor dan limbah. Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator. Sistem instalasi komunikasi (telepon. sumber daya genset). TPS. penampungan dan distribusi air bersih.

lift. rambu. Antara lain: Ukuran dasar ruang. g. persyaratan bangunan). hydrant. termasuk pemeriksaan terhadap peralatan pemadam kebakaran. wastafel. pintu kebakaran. Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api). Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini dikelompokkan dalam: Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan. pengendalian asap. penangkal petir). Laporan Pendahuluan 4-8 . ramp. pompa. Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. Aksesibilitas penyandang cacat Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang terdapat pada obyek bangunan gedung. material insulator kebakaran. pancuran/ shower. toilet. Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan komponen struktur bangunan). penunjuk arah keluar. tangga. sprinkler. perabot. koridor. lift kebakaran. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. klasifikasi bangunan. jalur pemandu. escalator. Upaya penyelamatan (tangga kebakaran. sesuai dengan yang tertera pada Bab I.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. Utilitas (alarm kebakaran. perlengkapan dan peralatan control. lingkup wilayah kegiatan. komunikasi darurat. pintu. telepon. marka. 2. Jalur pedestrian. sesuai dengan ketentuan pada Permen PU No. sumber daya listrik darurat. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang terdapat pada obyek bangunan gedung. dll). area parkir.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3. maka akan dilakukan pengecekan. kebakaran. meliputi: a. d. dengan mengacu angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal atau tidaknya bangunan tersebut. struktural. b. utilitas. b. pengukuran. mekanikal elektrikal maupun aksesibilitas. 5. Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan pemilik atau pengguna bangunan. dibuktikan visual Apabila dan di diuji lapangan kembali. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masingmasing komponen hasil pemeriksaan. struktur. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung c. 4. kondisi yang kiranya serta perlu observasi gedung. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. untuk temuan baik mengidentifikasi permasalahan bangunan didapatkan permasalahan dari aspek arsitektural. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan. pengujian dan pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan dari segi arsitektur. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam beberapa tahap. dan aksesibiltas. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. termasuk dokumentasi. Misal: struktur Laporan Pendahuluan 4-9 . Tahap Penyusunan Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bangunan gedung. tata ruang.2.1.3. elektrikal. 4. wujud arsitektur sebuah bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara nasional maupun internasional. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA BANGUNAN 4. penelitian kinerja bangunan Laporan Pendahuluan 4-10 . Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang unik dan spesifik dalam aspek fungsi. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach).3. Utilitas clan proteksi kebakaran. Alur Studi dan Format Penelitian Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL). Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja Bangunan Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya. 4. c. aksesibilitas dan tata bangunan serta lingkungan. air hujan. sistem plumbing. Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006. penampilan dan kinerjanya. Struktur. dll yang tidak andal. Piranti lunak berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur.3.

telekomunikasi. alat-alat listrik. − Kelembaban udara. tempat duduk. − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol. keamanan. Laporan Pendahuluan 4-11 . sirkulasi. − Fasilitas kemudahan (amenities). faktor ergonomic. − Faktor-faktor pemakaian dan control. macam perabot. pencapaian. − Suhu radiant. penandaan − Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi. 2) Termal (thermal performance) − Suhu udara. 4. Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan adalah tata ruang bangunan. sampling bangunan diperiksa dua komponennya.3. − Kecepatan udara. − Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap : − − − − − Kebutuhan jenis ruang Sifat dan hubungan kelompok ruang Standar besaran ruang Jenis dan besaran ruang Penyusunan ruang Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung. Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak. sirkulasi/transportasi. Komponen Ruang Dalam Pammeter kinerja ruang dalam (interior): 1) Spacial / Keruangan (spatial performance) − Layout ruang individu: ukuran. Kinerja yang balk dari sebuah bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing. orientasi.2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung.

− Pergerakan dan distribusi udara segar. − Warna − Informasi-informasi visual dan pemandangan − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.28 oC 40-60% 0. 1405/Menkes/SK/XI/2002 Komponen bangunan yang diamati: . − Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.Plesteran lantai . Jalur rambat suara (sound path). Penerima suara (sound receiver). 5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) − Suplai udara segar (fresh air).Pelapis muka langit-langit Laporan Pendahuluan 4-12 . Tabel 4-1 Batas-batas penerimaan (limit of acceptability) Parameter Spasial Termal Sub parameter Was ruang Suhu Kelembaban Pergerakan udara rata-rata Persyaratan Sesuai luas aktivitas dasar 18 .15 mg/m3 Peraturan / Standar Akustik Visual Kualitas udara Sound pressure level (SPQ Tingkat pencahayaan Tingkat karbondioksida (CO2) Debu Kep Menkes RI No. 4) Visual (visual performance) − Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan.Pelapis muka dinding .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3) Akustik (acoustic performance) − − − Sumber bising (noise source).15 .25 m/det <85 dB (A) >100 lux 1000 ppm 0.Pintu / jendela . .0. − Contrast dan brightness.Material pollutant.Pelapis dinding . − Energy pollutant.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Kondisi ini telah sesuai dan sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung. beban mati. sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti. terutama yang berkaitan dengan psikis pemakai bangunan.3. Komponen ruang luar Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan (enclosure): − − − − − − − − − − − − Ketahanan bangunan (building integrity) Antisipasi beban: beban hidup. visible light spectrum Penanggulangan bahaya api Penutup atap Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar Pelapis lantai luar Pelapis muka langit-langit luar Komponen bangunan yang diamati Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya. bangunan perkantoran. getaran. bahan dekoratif ruangan dan sebagainya. baik untuk eksterior ataupun interior menggunakan warna-warna cerah. Faktor-faktor yang mempengaruhi fisik ruang adalah: 1. kebocoran atau pengembunan Suhu: perbedaan panas.3. bangunan olah raga maka pemilihan warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan suasana ruang. perbedaan tekanan udara Radiasi dan cahaya: radiasi matahari. perbedaan pemuaian dan penyusutan akibat panas. Penyelesaian warna pada masing-masing banguna. Warna Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan rumah sakit. Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat. furniture. isolasi panas. Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi. Laporan Pendahuluan 4-13 . Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan seperti bahan penutup dinding. radiasi lingkungan.

Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh : − − − Radiasi dinding. balk dengan ventilasi alam maupun buatan (AC). Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di dalamnya. kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan. 3. yaitu dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil.Penyimpangan dari standard tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang. dsb.50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang. Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu sekitar 22 . Oleh sebab itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi nyaman. Penggunaan sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman. Sistem penerangan ini dibedakan menjadi Laporan Pendahuluan 4-14 .70 % dan kebutuhan udara bersih 20 . Sebagai konsekuensinya biaya operation maintenance perlu ditambahkan. Mengkondisikan udara. Pemilihan sistem tergantung pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang. penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan. kegerahan.60 %. oleh sinar matahari Panas karena suhu badan manusia Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan. − − Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas.25° C dan nilai kelembaban 40 % . adalah : − mengurangi pengaruh langsung sinar matahari. Penghawaan Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22 – 25° C dengan kelembaban 40 % . Penerangan Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan sistem penerangan yang tepat. 2. atap.

yaitu : a) Penerangan alami Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang diterima oleh ruangan. selain itu juga untuk menciptakan suasana yang diinginkan. umumnya sebagai penerangan umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang. Penerangan buatan pada siang hari diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan. koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5 daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan buatan. dimana terdapat suatu aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut. Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah memenuhi persyaratan. Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut : − Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi sebesar 300 lux. Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan Laporan Pendahuluan 4-15 . sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk direncanakan secara seksama. penerangan khusus untuk ruang-ruang yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi. b) Penerangan buatan Sebagai bangunan perkantoran. penerangan. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan yang terdapat pada bangunan eksisting. − Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk diskusi. Dirjen Cipta Karya. tahun 1985). c) Penerangan campuran (alam dan buatan ) Pemanfaatan penerangan alami clan buatan. yaitu : Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata ke seluruh ruangan. Penerangan alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan. pengadaan penerangan buatan disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2 yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Tabel 4-2 Indikator pengumpulan data No. Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. wawancara dan kuisoner Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia Intrumen yang dibutuhkan tersedia Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara cepat. rekaman jejak fisik. 1 Tingkatan data pengukuran yang dipilih Analisis arsip perencanaan Data yang diperlukan • Gambar-2 denah. rencana anggaran biaya. dsb. Beberapa indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. Suara / Akustik Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruangruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu. Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. maka perlu diketahui adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi : − Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya. 4. pemisahan suara dengan memisahkan sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan. Sumber bunyi dari luar bangunan. Digunakan untuk memastikan catatan manajemen penggunaan apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna dan aktivitasnya. sehingga untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal. Secara umum penyelesaian akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan. instrument tersedia Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar 2 3 Analisis hunian dan penggunaan Penyusunan instrumen sederhana • • • • 4 Evaluasi • • Guidelines Laporan Pendahuluan 4-16 . spesifikasi. masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan background musik lembut. pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada sumber bunyi. seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu lintas dari jalan sekitar bangunan. Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. salah satu yang dapat dilakukan − adalah dengan memberhentikan suara. Observasi perilaku. • Syarat: dokumen tersedia. film.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 slide. Untuk mengatasi menjalarnya bunyi.

lugs dan volume ruang Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan faktual. Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement) 1) Pemahaman tujuan inspeksi Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan pemilik/pengelola bangunan gedung Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan dan ketidaksepahaman yang tidak perlu Identifikasi kondisi fisik Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal atau khusus Testing dengan peralatan tertentu Batasan (limitation) 2) 3) 4) 5) Laporan Pendahuluan 4-17 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat mendeteksi beberapa parameter suhu. Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi ini. Alat Ukur Komponen Ruang Dalam Keterangan: • Testo 435-2 untuk mengukur suhu. a. kelembaban suatu ruang.DISTO untuk mengukur jarak. • Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan. kandungan kadar karbondioksida. kelembaban . gambar 4-3. maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. • Distance meter . karbondioksida • Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan • Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk mengukur laju kecepatan udara.

berupa identifikasi beberapa area atau item yang tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan (Inspection) 1) 2) 3) 4) 5) Nama pemilik/pengelola bangunan Alamat lokasi bangunan yang diamati Tanggal dan waktu pemeriksaan Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai relevan dengan tujuan penyelidikan Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu. Identifikasi semua pihak yang terlibat − − − 6) 7) 8) c. 2) Detail properti − − 3) Detail pemeriksaan − − − Tanggal pemeriksaan Detail tentang tujuan. lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan. bagian dari bangunan atau struktur lainnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. 4) Batasan-batasan. Alamat bangunan gedung yang diperiksa Deskripsi dan identifikasi bangunan. Pelaporan (inspection records) 1) Nama dan alamat lembaga pemeriksa Identitas personil yang melakukan pemeriksaan Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung. Observasi Item-item penting Kesimpulan 5) 6) 7) Laporan Pendahuluan 4-18 . Observasi dari hasil pemeriksaan.

dimana: b. e. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu: . yaitu: a. unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan ultimit yang diinginkan.Rupture.Hilangnya keseimbangan lokal atau global . Pendekatan Struktur 1. yaitu: 2. Kondisi Batas Struktur Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat dijadikan pedoman. yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya − Pembentukan sendi plastis − Ketidakstabilan struktur − Fatigue b.3.4. Metoda Tegangan Kerja Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan. dapat berupa: − − defleksi yang berlebihan pada kondisi layan lebar retak yang berlebih Laporan Pendahuluan 4-19 . Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi struktur. Konsep Perencanaan Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. b. d. c. Metoda Kekuatan Ultimit Dengan metoda ini. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar Ekonomis Kuat dalam menahan beban yang direncanakan Memenuhi persyaratan kemampuan layanan Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi) Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu: a.

3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − c. yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal. dapat berupa: − − − keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim kebakaran. Kapasitas adanya cadangan tersebut diperlukan dan untuk faktor mengantisipasi “undercapacity". sehingga: Laporan Pendahuluan 4-20 . sehingga: Undercapacity dapat terjadi akibat: Resistance ≥ Penqaruh Beban Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan) elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan faktor reduksi kekuatan. diluar beban yang diharapkan terjadi dalam kondisi normal. Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat memikul beban berlebih dengan besar tertentu. vibrasi yang mengganggu Kondisi batas khusus. dan or beban yang nilainya > 1. ledakan atau tabrakan kendaraan korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002). yang nilainya <1. kekuatan (resistance) elemen struktur harus lebih besar Dada pengaruh beban. kemungkinan faktor-faktor “overload" Overload dapat terjadi akibat: − − − − − − Perubahan fungsi struktur Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan Urutan dan metoda konstruksi Variasi kekuatan material Workmanship Tingkat pengawasan Berdasarkan prosedur desain yang baku.

9 D + 1. yaitu Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup balk pada tingkat beban kerja. Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah: − Kombinasi beban coati dan beban hidup: U = 1.6 W) U = 0. kuat rencana adalah identik dengan a1S1 + a2S2 + .6 L Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan: U = 0.6 L + 1.05 ( D + LR ± E ) atau U = 0.3 W Jika pengaruh gempa harus diperhitungkan: U= 1. torsi atau − dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas. ORn. Butir 2 diatas mengharuskan adanya pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah didesain. Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-2002 yang bunyinya adalah: a. Dalam butir a diatas. sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor. Beban Terfaktor dan Kuat Perlu SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban. Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat perlu. geser..75 (1. Kuat perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan simbol- Laporan Pendahuluan 4-21 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit.9 ( D ± E ) Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen. yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini. Kondisi batas serviceabilitas (kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh.2 D + 1.2 D + 1. b... Prosedur desain ini pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian utama ditekankan pada kondisi batas ultimit.

Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-Retak Dan Penurunan Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan Bangunan dan segi kekuatan strukturnya. pulse echolgeoraclar. Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor keamanan struktur. perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam mengenai kondisi aktual struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 simbol M. spesifikasi teknis dan BOQ. 4. Dengan pengujian-pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi. Disamping itu. Penyelidikan yang akan dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. Laporan Pendahuluan 4-22 . Hal ini dilakukan untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting. V. dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M. ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-merusak seperti core drill. Analisis struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur eksisting. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh. kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi. T dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U. T. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian dituangkan dalam gambar rencana. breaking out dan test sondir. penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan. termasuk pengukuran geometri struktur dan karakteristik material bangunan eksisting. diameter dan jumlah tulangan terpasang. Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka struktur perlu diperkuat. V. dan u. Untuk tujuan ini akan dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter.

Kajian faktor keamanan struktur c. Pengukuran geometri elernen-elemen struktur Pemeriksaan Detail Untuk mendapatkan karakteristik material eksisting. Kondisi geometri aktual struktun C. Dokumentasi Keluaran Laporan a. Covermeter test/Rebar detection c.catatan perubahan dan desain awal dan Spesifikasi .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan) Tahapan Pekerjaan Studi Awal Tujuan Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan agar studi yang akan dilakukan nantinya dapat berjalan dengan efisien dengan memanfaatkan seoptimal mungkin data yang tersedia tersebut. Core test b. Pengukuran daya dukung tanah (Tes Sondir) Analisis Kondisi eksisting Struktur Kesimpulan dan Saran Untuk menentukan tingkat keamanan struktur eksisting terhadap kondisi pembebanan rencana dan mencari penyebab kerusakan pada struktur Untuk menentukan langkah. Faktor keamanan struktur c. Kerja. Pengumpulan data sekunder: a. a. Pengamatan geometri struktur b. Gambar rencana perbaikanlperkuatan c. Penyebab kerusakan a. Analisis struktur b. Pemeriksaan visual dan pengambilan dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur: a. Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan c. Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau perkuatan struktur bilaniana diperlukan b. Data kajian terdahulu survai/Pemerik sawn Global Untul memahami kondisi eksisting struktur Untuk menentukan teknik dan metoda pengujian yang optimal 1. Data desain terdahulu kriteria desain gambar dan perhitungan spesifikasi b. Tebal selimut beton d. Ultrasonic 2. Peta kerusakan b. BOQ Laporan Pendahuluan 4-23 . Kondisi kerusakan e. Analisis daya dukung pondasi dan settlement a. Pengamatan kerusakan/retak path komponen struktur/nonstruktural c. pengambilan foto a. Metodologi. Analisis struktur Eksisting b. Perkiraan sistem pondasi a. Kapasitas cadangan struktur d. Data pelaksanaan . Deformasi berlebth d. dan Pendekatan Teknis 1. kondisi penulangan dan kondisi kerusakan Untuk mendapatkan kedalaman pondasi clan perkiraan daya dukung 1. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec struktur dan material Tabel 4-3 2. Analisis pondasi a Geometni aktual elemen-elemen struktur a Properties aktual material b.langkah selanjutnya yang dianggap perlu.as built drawing . Kondisi eksisting struktur b. Sarang tawon (honey comb) e. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur a. Breaking out d. Pengukuran pondasi dengan menggunakan georadan/pulse echo 3. spesifikasi teknis d. Daya dukung tanah f.data material c.

Laporan Pendahuluan 4-24 . 2). Pendahuluan Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti: 1). Kesalahan perencanaan/pelaksanaan Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari: − Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur. 3). Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang menimbulkan konsekuensi pada perubahan : − Perubahan fungsi/penggunaan strukur − Penambahan tingkat (pengembangan struktur) 4). Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur. Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak (seperti jenis-jenis senyawa asam). banjir atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi dalam perencanaan. − Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran. − Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponenkomponen struktur. Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan. yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam renang). Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan oleh pengaruh internal-eksternal seperti: − Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua. − Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting a.

(4) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau melayani fungsi yang lain.4) Laporan Pendahuluan 4-25 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Pada umumnya. kemampuan layanan dan durabilitas. ada enam tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4. (3) Sisa umur layananya. Secara umum. maka perlu ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur saat ini. tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah satu di bawah ini: (1) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan berdasarkan desain awal. Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan. b. (5) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan peraturan/code yang berlaku (6) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur Selain itu. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur. (2) Jika kemampuannya sudah berkurang. Halhal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-4 Prosedur Penilaian Struktur Eksisting Tahapan Studi awal Tujuan Untuk mengkonfirmasi kualitas material yang digunakan atau data-data penting lainnya yang berkaitan dengan struktur yang sedang dikaji Untuk memahami karakteristik struktur. Bagian selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai eksisting. Pemeriksaan visual Pengambilan clokumen video Pengukuran geometry. diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak Laporan Pendahuluan 4-26 . konstruksi dll. memilih area yang akan diperiksa secara detail dan menentukan teknik pengujian yang cocok/optimal Aktivitas Mengumpulkan/mereveiw data skunder seperti as built drawing. tahapan survey/pemeriksaan global clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan Mendiagnosa penyebabnya Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal tersebut. treatment untuk pencegahan. data material. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Pemeriksaan informasi adalah: − − − pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang struktur biasanya mengenal bertujuan kondisi untuk mendapatkan dalam yang mendalam rnaterial/struktur bangunan. demolisi atau survey lanjut yang lebih komprehensif Presentasi Hasil Interpretasi Hasil dengan bantuan Rekomendasi Dari keenam tahapan tersebut. laporan perhitungan/clesain. defleksi. c. dan kerusakan lainnya Pengujian NDT terbatas Pengambilan Sampel Uji beban Pengujian NDT yang efektif p engujian fisik kimiawi Plot Analisis stasistik Analisis struktur Analisis kerusakan pengalaman sebelumnya Data Survei Pemeriksaan Global retak Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup clan terpercaya sehingga pemeriksaan struktur dapat dilakukan dengan tingkat keyakinan yang tinggi Untuk mempermudah penilaian Untuk menilai kinerja struktur eksisting saat ini clan yang akan dating dan membandingkannya dengan persyaratan yang ada Untuk menentukan aksi selanjutnya yang diperlukan seperti perbaikan/perkuatan. Site observations.

Berdasarkan pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti lendutan). pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas tiga tahapan. baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan Laporan Pendahuluan 4-27 . Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting Secara garis besar. pemilihan metoda pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 merusak seperti pengujian ultrasonik. penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan. Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan) yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponenkomponen bangunan yang diuji. Hasil pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual) kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau komponen-komponen struktur. bentuk "load test" memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan. Tahapantahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan pada bagian berikut ini: 1). Penyelidikan Visual Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan. Informasi—informasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya demolisi/penghancuran) Seiain itu. hammer dan lain-lain. dan pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. yaitu: a. 6. Namun walaupun begitu. Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentukbentuk pengujian lainnya. Tahapan Perencanaan Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah. berdasarkan intormasiinformasi tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan tersebut memang diperlukan.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "

honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik pada
tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton). Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar 4.3). Untuk dapat membedakan jenis—jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak. Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Laporan Pendahuluan

4-28

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-5 Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton
Penyebab Retak Defisiensi struktur Korosi Tulangan Serangan Kimiawi Kebakaran Reaksi Internal Pengaruh Suhu Susut Rangkak x X X X X X x X Gejala Pengelupasan X X X X X x x X x x x X X x Pengikisan Jangka Waktu Pemunculan Segera X Lama X X x

Proses Pengeringan yang Abnormal Kerusakan Fisik

X x x x

x x x

Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or

Deterioration in Cocrete Structures"
2). Pemilihan Jenis Pengujian Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas: − − − − − − Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan Waktu pengerjaan Biaya yang tersedia Tingkat keandalan hasil pengujian Jenis permasalahan yang dihadapi Peralatan yang tersedia Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat tersebut akan menjadi rendah.

Laporan Pendahuluan

4-29

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada perlu disusun terlebih dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam pemilihan jenis pengujian. Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian ultrasonic atau

hammer.

Disini,

pengujian

core

dapat

dilakukan

untuk

mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang timbul pun dapat diminimumkan. 3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
− − − −

Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic) Biaya yang dibutuhkan Tingkat kerusakan yang ditimbulkan Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui nilai

kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang kan diuji.

Laporan Pendahuluan

4-30

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

b. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda. Kalibrasi Peninjauan variasi hasil pengukuran Analisis Perhitungan

Laporan Pendahuluan

4-31

pengujian deangan menggunakan dilakukan dengan cepat. Metoda tidak langsung Pada metoda ini. Yang tergolong dalam jenis pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer. pengujian core. sehinggadapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. dapat memberikan indikasi nilai kuat tekan beton benda uji. analisis dan pengujian bahan. perilaku elastik atau kondisi kerusakan bahan Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar tingkat − kerusakan yang ditimbulkan pads struktur. misalkan keberadaan partikal batu pada bagian- Laporan Pendahuluan 4-32 . Metoda Pengujian Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu: − Metoda langsung Sebagai contoh: pengamatan visual. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. pengujian Semi-Destructive. Jenis hammer yang umum dipakai untuk pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4. dan kain-lain. Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji. juga setelah kalibrasi. Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt Hammer) Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya tertentu. dilakukan pengukuran parameter-parameter yang dapat dikorelasikan dengan kekuatan. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton. ultrasonic. a. Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out.5). alat ini Karena dapat kesederhanaannya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 7. dan pengujian Destructive. yaitu pengujian Non-Destructive. pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-komponen struktur. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi kekerasan dan juga.

Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer" Kelebihan − − − − − Murah Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat Praktis (mullah digunakan) Tidak merusak Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan. Oleh karena itu. Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer 1).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 bagian tertentu dekat permukaan. yang hasilnya kemudian dirata-ratakan. Secara umum alat yang digunakan untuk : − − − Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan beton Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. British Standarts (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2 (jarak antara 2 lokasi pengukuran tidak boleh dari pada 20 mm). diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran. 4 atau ASTM C805-89. Kekuranqan : Laporan Pendahuluan 4-33 . gambar 4-6.

drajad karbonasi. Kalibrasi Seperti yang disebutkan sebelumnya. karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu. Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan "rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama. Jadi dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang berbeda. ukuran dan umur beton. Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. Lapisan keras Cukup Baik Kurang Baik Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan Laporan Pendahuluan 4-34 . Oleh karena itu untuk setiap jenis beton yang berbeda. bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi test tertentu. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut. Tabel 4-6 Diagram Kalibrasi alat uji Hammer Angka Pantulan Rata—rata >40 30-40 20-30 <20 Kualitas Selimut Beton Baik. − − − Sulit mengkalibrasi hasil pengukuran Tingkat keandalan rendah Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelembaban beton. banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt Rebound Hammer". Sifat-sifat dan jenis agregat kasar. Untuk mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur yang sedang ditinjau. 2).

6). alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Alat ini secara talk langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat dengan nilai kuat tekannya diketahui. gelombang permukaan.5 atau ASTM C 597. 3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz. Jika digunakan dengan balk dan benar. Prinsip Pengukuran Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan prinsip perambatan gelombang pada media padat. Dari teori fisika diketahui bahwa Laporan Pendahuluan 4-35 . transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). gelombang longitudinal merupakan gelombang yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak informasi mengenai sifatsifat fisik bahan padat yang dilaluinya. Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver) diketahui. Dari ketiga gelombang tersebut. Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang. Metoda Pengujian Ultrasonik Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. gelombang transversal dan gelombang longitudinal. maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung. Alat ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar 4. Seperti diketahui ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat diberikan suatu impulse (getaran) yaitu. 1). Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt.

7 dan ketiga cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang terbaik.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat jenis bench padat yang dilaluinya diketahui. Selain itu. Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil pengukuran. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis batuan alam. Alat Ultrasonic Pulse velocity 2). sehingga hasil yang didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya. karena pola penempatan transducernya. gambar 4-7. Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat diasumsikan tetap. nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu sama lain. pads cara yang tidak langsung. Penempatan Transduncer Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan penerima pads bends uji. Laporan Pendahuluan 4-36 . maka harga modulus elastik dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan diatas. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan dengan cara langsung. Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama perambatannya. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang kurang balk. kecepatan gelombang akan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi permukaan solid. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4.

Hasil pencatatan waktu perambatan gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi jarak antara transducer. cara ini sangat bergantung pads kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer penerima. sedang posisi transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara transducer yang berubah-ubah).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. Kemiringan (slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan gelombang yang dicari. sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak) maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara memindahmindahkan posisi transducer p enerima. gambar 4-8. Konfigurasi Transducer Laporan Pendahuluan 4-37 . Namun. Jika. Dengan regresi linear bisa didapat persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut.

Gambar 4. pengukuran dengan menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai modulus elastisitas beton. Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton dan Kecepatan Rambat Gelombang Untuk pengujian lapangan. kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji. Sehingga ada kemungkinan bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata memiliki modulus elastisitas yang berbeda. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran dengan nilai kuat tekan beton. Korelasi yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut. Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton Seperti disebutkan sebelumnya. sama seperti halnya dengan pengukuran hammer.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3). Sebelum diuji tekan. Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat tekannya sangat sulit dimodelkan. diperlukan diagram kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton. maka diperlukan suatu diagram kalibrasi. Laporan Pendahuluan 4-38 .8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan kecepatan rambat gelombang ultrasonic. Oleh karena itu. Banyak variabel-variabel dalam campuran beton yang berpengaruh. sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik. gambar 4-9.

gambar 4-10. Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic sangat dipengaruhi oleh umur beton. Kondisi lain yang berpengaruh terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar 4.6 memberikan kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic. jenis agregat dan lokasi tulangan. Yaitu − suhu − kelembaban beton − posisi tulangan pada beton bertulang Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam menginterprestasikan hasilhasil pengujian. kondisi kandungan kadar air rasio agregat semen. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil Pengukuran Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4). Tabel 4.7. Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton Laporan Pendahuluan 4-39 .

9). − Memperkirakan nilai kuat beton − Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk dibawah permukaan pelat lantai. Berdasarkan prinsip ini. yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5). Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara. Aplikasi Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik terutama diantarnya: − Memeriksa keseragaman kualitas bahan − Mendeteksi retak-retak dan honeycombing. Sebagai contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen struktur Laporan Pendahuluan 4-40 . Sedangkan kecepatan rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang p ada bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik (tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia). adanya retak atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama. kedalaman retakannya ) (gambar F. retakretak atau rongga kosong pada beton atau benda padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya (misal. Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan transducer yang tidak langsung (gambar 9) − Mengukur ketebalan − Mengukur modulus elastis bahan − Memonitor proses pengerasan beton − Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok kolom Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk akibat serangan kimia kebakaran adalah nol.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 yang lapuk/rusak. Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton >4 3-4 <3 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tabel 4-7 Laporan Pendahuluan 4-41 . Adalah : t = (TV — L) Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton yang kondisinya masih baik. Cara ini sudah terbukti memberikan estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang akibat kebakaran.

belum memuaskan pihak-pihak terkait. yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan pengamatan. Uji pembebanan biasanya berikut ini: p erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi Laporan Pendahuluan 4-42 . Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada. Uji Pembebanan (load test) Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil pengujian material. baik non-destructive maupun semi-destructive yang kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 gambar 4-11. Penentuan Kedalaman Retakan c.

ataupun karena adanya kerusakan fisik yang − dialami bagian-bagianstruktur. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi dan kondisi. (2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test) Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat Laporan Pendahuluan 4-43 . akibat kebakaran. Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 − − Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan. Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada tujuan diadakannya lod test. yaitu − Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive − Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan. sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur tersebut. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat merusak. yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama. maka pillhan pertama tentunya paling baik. Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. akibat serangan zat kimia. dan lain-lain. − Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart. gempa. maka cara kedualah yang dipilih. (1) Jenis-Jenis Load Test Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok. Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn saja direnivasi/diperkuat. Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas bahan. pembebanan yang berlebihan. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui tingkat layanan struktur. − − Perubahan fungsi struktur.

Beberapa hal yang patut men jadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini. Hal ini kadangkala sulit dilaksanakan. Hal mi dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji. Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan.permasalahan yang ada . a) Persiapan dan Tatacara Pengujian ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari. Selain itu penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 agar keamanan masyarakat umum terjamin. sebagai contoh. maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya. sehingga timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing effect'). apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar.kemudahan pelaksanaan Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat apakah kondisinya balk dan kuat. untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak diingini. terutama untuk pengujian struktur lantai. Elemen non struktural ini dapal berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan: . Perilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus Laporan Pendahuluan 4-44 .tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji . sebagai contoh "ceiling board". Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji.

ketersediaan. bata/batako. (c) Pengukuran Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah lendutan. Lebar retak yang terjadi biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda. Dua puluh empat jam setelah itu. (b) Teknik Pembebanan Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan distribusi pembebanan dapat dikontrol.4D+1. besarnya total beban yang dibutuhkan. Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada struktur. pembacaan lendutan di lakukan kembali. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan perahan-lahan. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam. Beban-beban yang bisa digunakan diantaranya air. pembacaan lendutan bisa dilakukan.85 ( 1. lebar retak dan renggangan. dan kemudahan pemindahannya. Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan. beban-beban bisa di lepaskan dari struktur. kantong semen/pasir. setelah pembacaan.L) Dimana D=beban mati L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya) Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test' dimulai. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah: Beban total ? 0. pemberat baja dan lainlain. cara pengukuran adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat pencropongan dengan Laporan Pendahuluan 4-45 .

Pengguna bangunan gedung ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung. terutama untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. pola retakretak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garisgaris yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi). Namun.5. 4. akan memberikan jaminan keselamatan clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut. tetapi harus pula menikmatinya. pada akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya. Komponen-komponen utilitas bangunan Laporan Pendahuluan 4-46 . terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium. Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan menggunakan strain gage. Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung. Kelengkapan dan berfungsinya utilitas dari suatu gedung. dengan lebar garis-garis berskala tersebut.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 miikroskop. Untuk itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang mendukung fungsi dari gedung tersebut. Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang besar. walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni.3. PENDEKATAN UTILITAS BANGUNAN Bangunan . di mana setiap komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan orangorang yang menggunakan gedung tersebut.bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek. Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi dengan balk. 3) Uji Beban Merusak (Beban Batas) Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji. Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen.

Tabel 4-8 Klasifikasi penggunaan lift Lift untuk manusia Lift khusus Tinggi gedung 4 .15 lantai 15 . Sprinkler otomatis pompa air.50 lantai > 50 lantai Kecepatan lift 1. hidran pilar. kran pillih otomatis 4).5 m/det Jenis gedung Rumah sakit Rumah tinggal Lift barang 2-3 lantai 4-5 lantai Kecepatan lift 2. stater otomatis. sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya.7. kabel instalasi 2). motor penggerak pintu. dan plat lantai pemikul lift terbuat dari beton. Hidran : pompa air.4. catu daya panel kontrol.2.1. alat kontrol. sangkar & alat kontrol. anak tangga Laporan Pendahuluan 4-47 . Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurangkurangnya 12 mm. badan eskalator.3.5 0. kabel dan panel listrik. strik. catu daya. Lift : motor penggerak.0 . rantai penarik.0 .0 . kran uji. kabel & panel listrik. rel'. titik panggil manual. alat penyeirnbang.8 m/det m/det 2). Untuk keamanan. panel kontrol kebakaran. banyaknya kabel minimal 3 buah. pipa instalasi 3). sistem tata udara. kepala sprinkler. Komponen Utilitas Bangunan Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan gedung. Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi. tangki penekan. alarm kebakaran.5 .0 m/det 4.3. Eskalator : motor penggerak.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran. alarm kebakaran. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat. sumber air. hidran kotak. Utilitas transportasi vertikal : 1). nose) gas. peredam. alat-alat deteksi. kabin lift harus tahan api dan tertutup. sistem plumbing.10 lantai 10 .6. selang b.3 m/det 0. sistem transportai vertikal. sistem instalasi listrik.0 m/det 6.5 m/det 3. kotak operasi manual.20 lantai 20 . Utilitas pencegahan kebakaran : 1). roda gigi penarik.5 m/det 3. 1. yaitu : a.0 . Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel. pipa instalasi. sistem instalasi penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi.0 .5 m/det 1. Gas pemadam api kumpulan tabung gas. tangki penampungan air 5).5 .

alternator. Observasi Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey lapangan pada objek yang diteliti. tangki penampungan atas. Air kotor : kloset. pipa air hujan d. kabel instalasi 2). Utilitas instalasi penangkal petir 1). Laporan Pendahuluan 4-48 . radiator. elektroda pembumian g. kran air gelontor. kabel instalasi 2). Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows. panel distribusi. bak cuci. speaker. lubang pengurasan. trafo. listrik untuk panel pompa. daily tank. kuantitas Berta kelengkapan dari komponen-komponen utilitas bangunan. Berdasarkan pengamatan visual ini akan diperoleh data-data mengenai kualitas.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. kabel instalsi 2. Instalasi tata suara : mikropon. Utilitas plumbing 1). panel system tata suara. Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir. Utilitas instalasi listrik 1). armatur. Observasi ini diperlukan yang dan untuk untuk mendapatkan gambaran secara langsung objek mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas yang terdapat pada gedung tersebut. alat pengisian aki. sistem AC split f. kran 2). Instalasi telepon : pesawat telepon. pompa instalasi. PABX. Air bersih : sumber air. pompa penampungan & alat kontrol. kabel instalasi. Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih. AMF. sistem pendinginan tidak langsung (media udara) 2 ) . saluran dari bak cuci ke saluran terbuka. hantaran pembumian elektroda pembumian 2). tangki septik. Sumber daya PLN : panel tegangan menengah. pompa distribusi. lampu. Utilitas Instalasi komunikasi 1). saluran ke tangki septik. panel e. Utilitas instalasi tata udara 1 ) . Pengumpulan Data a. pengikat ekuipotensial hantaran pembumian. Sumber daya genset : motor penggerak. Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media air).

5 -50.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah : gambar 4-12. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi penangkal petir.8 -1.5 Hz < 5% < 10% 0. Alat ukur mekanikal elektrikal Tabel 4-9 Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Tegangan Listrik Frekuensi Total Harmonic Distorsion Pf dan cos Φ Voltage unbalanced Current unbalanced Resistansi pentanahan Resistansi isolasi Nilai Yang Diinginkan 198 .0 < 5% < 5% < ion ~ Keteransan max 5 % min 10 % Untuk saluran fasa Untuk saluran netral Sifat lagging Laporan Pendahuluan 4-49 .240 V 49. Pengukuran dan Pengujian Pengukuran dan pengujian dilakukan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari pengamatan visual.

PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. selama proses pengolahan maupun selama pengaliran di dalam pipa distribusi. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis. terminal air. sumur pompa tangan dangkal). industri. karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi mulai dari sumber air. memelihara clan mewujudkan lingkungan yang sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans epidemiologi. Dalam rangka melindungi. sumur dalam (sumur artesis). yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. b. psikologis clan dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna. d. jiwa dan sosial.3. selain itu harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan. Komponen Lingkungan Indikator a. penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa parameter sebagai berikut Sarana air bersih Drainase gedung Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampan. untuk itu perlu dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan. Untuk itu sarana dan bangunan umum tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. 1. Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih clan aman.6. Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal (sumur gall. c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. Hal ini telah diamanatkan pada UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. a. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum. penghuni dan masyarakat sekitarnya. Sarana air bersih Laporan Pendahuluan 4-50 . Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran.

Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit.907/Menkes/SK/VII/2002. maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar. Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti terlihat pada tabel berikut Laporan Pendahuluan 4-51 . sumber/sarana air bersih dalam suatu bangunan perlu direncanakan. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. selain itu bangunan pengambilan harus dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian. Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih. oleh karena itu. 3. biologic dan radiologis. Demikian pula dalam suatu bangunan. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. Misalnya jika menggunakan sarana air bersih dari sumur. 4. sehingga harus dilengkapi dengan pagar keliling. 5. sehingga tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia. 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 PDAM. pencemaran dalam sumber air bersihnya pun dapat terjadi.biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik. kimia. Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara lain 1. Tidak berasa dan tidak berbau. kimia.

Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari sistem tersebut.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Tabel 4-10 Persyaratan Kualitas Air Minum b. Drainase Gedung Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air. Laporan Pendahuluan 4-52 . Bila terdapat sistem plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Air hujan yang dibawa dalam sistem plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan umum. menyebabkan erosi atau genangan air.

Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota. 2. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya. Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local. basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota. Laporan Pendahuluan 4-53 . Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran. c. Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga.86 m). 3.94 m2) luas atap dibutuhkan I inci luas leader. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai 2. Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13. kemiringan atap dan bentuk gutter. maupun tempat . Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah : 1. umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah (underground drain). Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22.tempat umum lainnya. untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader). Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara: 1. industri. ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet. 4.

pertokoan. Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian. Oleh sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. namun volumenya besar. Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi: − − − air buangan kamar mandi air buangan WC : air kotor/tinja air buangan dapur clan cucian pabrik pangan. Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara: 1). Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masingmasing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat . pasar dan fasilitas pelayanan umum. Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali.hari dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar ).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil. hotel. 2). karena lebih kurang 80 % dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari . Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah.zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup Meskipun merupakan sisa air . industri kima. seperti pabrik tekstil. Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri. Pengelolaan Individual Laporan Pendahuluan 4-54 . Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). yang terdiri dari: 1). Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-13. sekolah. dll. 3). seperti rumah tinggal. Derkantoran.

Apabila dibakar akan menimbulkan Laporan Pendahuluan 4-55 . rumah sakit. yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2). yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Sarana Pernbuangan Sampah Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Secara diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-15. Pengelolaan Komunal d. seperti hotel. Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman. Secara diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas ditunjukkan dalam gambar berikut: gambar 4-14. perdagangan. industri. Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam wilayah yang kecii. bandara dan fasilitas umum. Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas 3).

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 pengotoran udara. setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir. Reuse. Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur. misalnya timbulan wampah masuk ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah. atau jalur lain. Recycle dan Replace ). badan air dan udara. Laporan Pendahuluan 4-56 . Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut: gambar 4-16. misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan.

Peralatan dan Analisis Data a. Peralatan Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu i. 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. Untuk sarana air bersih. pengangkutan. sampel air diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air. c. drainase dan air limbah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain 1) Pengukur kualitas air 2) Sanitarian Kit 3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada penyehatan sarana dan bangunan umum. Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan dari berbagai sumber yang representative dan mewakili.1/26/1990 tentang Baku Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah. Pengumpulan Data. Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660. terutama dokumen yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari masing-masing pemilik bangunan. Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan. Formulir Pengamatan 1) Formulir pemeriksaan 2) Formulir Inspeksi Sanitasi ii. Analisis aspek sanitasi mengacu pada KepMenkes No. Data primer dikumpulkan dari hasil observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan. Pengumpulan Data Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder maupun data primer. saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). pengolahan dan pembuangan akhir. Laporan Pendahuluan 4-57 . b.

Melakukan uji lab bila diperlukan. c. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli. gambar arsitektur. Jenis Perolehan Data Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan bangunan meliputi beberapa aspek.4. PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA 4. Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara: 1. KEBUTUHAN. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait. d. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai bangunan terkait.4. Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung (gambar IMB. serta gambar as built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada. d.1. Tim ahli secara spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut. b.4.2. 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 4. 4. dan gambar mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait. Data Primer a. c. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis. gambar struktur. Data Sekunder a. Masing-masing akan dinilai dengan memberikan Laporan Pendahuluan 4-58 . b. Browsing data-data peraturan terkait melalui internet. Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan.

Aspek Arsitektural a. Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik. Data Umum Bangunan Gedung a. terbelah.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. pecah. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik. Laporan Pendahuluan 4-59 . b. Data-data yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut: 1. terkelupas. retak. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). pecah atau terkelupas). mengalami retak. mengapur. atau sudah kusam. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik. Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi baik. ambles. pudar/ busam. atau sudah tidak sesuai). Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. g. luntur. kusam. mengalami retak. f. berlumut. d. Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik. hilang dan tidak berfungsi) h. terkelupas atau berjamur ). macet. buram. lembab. masih sesuai dengan fungsi. Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi baik. Data utama : • Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) • • • • Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan pemeriksaan) Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut) Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut) Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri atas berapa lantai) 2. pecah/ rusak. mengalami retak. terbelah. c. Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik bisa difungsikan sesuai fungsinya. mengalami retak rambut. berlubang atau rusak) i. atau dalam kondisi rusak. terkelupas atau pelapis lantai tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna). pecah atau terkelupas). pecah. e. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri.

pecah pada beton. mampu menopang/ menahan beban. jika dari besi apakah terjadi karat. kaku. buram. atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja) c. lendut. terkelupas atau berjamur ). pecah. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat. Struktur rangka beton dan dinding pasangan b. Aspek Struktural Sebelum dilakukan survey ke lapangan.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 j. atau muncul retak. Struktur rangka baja dan dinding pasangan c. atau terjadi patahan. tanpa pengikat. Struktur rangka beton dan dinding geser d. melengkung. jika dari beton apakah terjadi patah. ikatan sambungan mur baut terlepas. retak. hilang mur dan baut. terkelupas. luntur. Struktur dinding pasangan dan rangka beton praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai berikut: a. pudar/ busam. atau terjadi penurunan dan patah struktur) b. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik. kaku. berlubang. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik. ikatan sambungan mur baut terlepas. pecah. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku. balok pondasi : (apakah masih kuat. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat atau hilang. beton terkelupas. berlumut. atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna). jika dari besi apakah terjadi karat. Pondasi. kusam. berlubang atau rusak) m. lembab. akan dilakukan klasifikasi form isian terlebih dahulu. retak rambut) e. kuat menyalurkan beban. miring) d. kuat menopang beban di atasnya. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi baik. mengalami retak. apakah bangunan menggunakan : a. jika dari beton apakah terjadi patah. melengkung. l. bocor. lapuk/ berkarat) f. rapuh) 3. bocor pada basement) Laporan Pendahuluan 4-60 . Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku. pecah. k. pecah/ rusak. kepala pondasi. atau terlepas. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik. ambles.

kuat dalam penataan siarnya. kabel instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. komponen tidak lengkap. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat. rembes. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik. retak rambut. titik panggil manual. retak struktur. kokoh. mudah hancur. Rangka atap. alarm. lembab. atau terjadi retak. leufel. Utilitas dan Proteksi Kebakaran a. canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus atau patah. hilang komponen pengikatnya. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik. retak rambut. terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya) l. atau rusak. hilang. mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya. tegak. berjamur) 4. tidak terawat. retak rambut. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi. apakah leufel & kanopi masih kuat. berjamur) i. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. atau terjadi lengkung. lendut. retak struktur. apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik) k. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik. bocor. beton mengelupas. apakah terdapat beban benda yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup atap. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. atau rapuh. retak struktur. panel control kebakaran. patah. retak rambut. atau terjadi pecah. ikatannya menyatu dengan balok induk. retak rambut) n. beton mengelupas) h. kuat dalam campuran semen ikatannya) m. atau hal-hal yang menghawatirkan jika terjadi keruntuhan) j. tidak berfungsi) Laporan Pendahuluan 4-61 . mampu menahan beban pengguna yang melaluinya. lembab. lendut. retak. ataukah rusak. ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik mampu menahan beban penutup atap. meliuk. patah. atau miring. pecah. berkarat) o.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 g. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan. lapuk. Balok anak. catu daya. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam kondisi baik. patah.

sangkar dan alat control. rantai penarik. hilang. kabel dan panel listrik. Nosel gas. atau terjadi permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift) b. ataukah rusak. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. selang) : : (apakah tersedia atau tidak. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak berfungsi) c. dan permasalahan yang kiranya membahayakan bagi pengguna escalator) Laporan Pendahuluan 4-62 . ataukah rusak. tidak terawat. anak tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak. ataukah rusak. hilang. tangki penekan atas/ alat kontrol. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak terawat. Tabung pemadam api (tabung gas tersegel. peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak. tidak berfungsi) e. tangki air. kran pemilih otomatis) : : (apakah tersedia atau tidak. tidak berfungsi. tidak terawat. Lift / elevator ( meliputi motor penggerak. kotak operasi manual. Escalator (meliputi motor penggerak. badan escalator. sumber air.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. rusak. motor penggerak pintu. stater otomatis. hilang. hilang segel. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak berfungsi) d. Utilitas Transportasi vertikal a. pipa instalasi. komponen tidak lengkap. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air. apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya. tidak terawat. rel. alat control. ataukah sudah expired. rusak salah satu komponen. kran uji. roda-roda gigi penarik. Hydrant (meliputi pompa air. catu daya. alat deteksi kebakaran. alat penyeimbang sangkar. tangki penampungan air) : : (apakah tersedia atau tidak. kepala sprinkler. tidak berfungsi) 5. komponen tidak lengkap. atau macet. panel control. apakah masih dalam kondisi berfungsi dengan baik. komponen tidak lengkap. alarm kebakaran. pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak. hydrant box/ pillar. kabel dan panel listrik. Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api.

panel) : (apakah masih dalam kondisi baik. cerobong udara. terawat. tidak berfungsi dengan baik. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. kabel instalasi) : (apakah masih dalam kondisi baik. panel distributor. media pendingin. hilang. bak cuci. apakah semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak. atau rusak salah satu komponen. septictank. lampu TL/pijar/halogen/SL. panel control) : : berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. bersih. kabel instalasi. alat pengisi aki. alat control. trafo. pompa sirkulasi air pendingin kondensor. panel distribusi. pipa instalasi air pendingin kondensor. tidak berfungsi) 8. wastafel. saluran dari wastafel ke saluran terbuka. pompa penampung air dan control. kipas udara kondensator. kran) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. tidak berfungsi dengan baik. bidet. kering. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah. Utilitas Instalasi tata udara a. AMF. altermator. bersih. hilang) 7. terawat. tidak Laporan Pendahuluan 4-63 . Air Bersih (sumber air. Daily tank. kran air gelontor. Air kotor (Kloset. hilang.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 6. saluran ke septictank. atau rusak salah satu komponen. terawat. bersih. listrik untuk panel pompa. pompa instalasi. tidak terawat. menara pendingin. tidak berfungsi dengan baik. kondensor. tangki air atas. evaporator. lubang saluran pengurasan lantai. urinoir. Utilitas Plumbing a. tidak berfungsi) b. tangki penampungan air. pipa air hujan) : (apakah terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa. hilang. radiator. Sumber daya Genset (Motor penggerak. Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air) (meliputi kompresor. kipas udara evaporator. atau rusak salah satu komponen. hilang) b. tidak terawat. diffuser grill. pompa distribusi dan tangki hidrofor. lampu amatur. Utilitas Instalasi listrik a. kering.

hilang. evaporator. tidak berfungsi) d. tidak berfungsi dengan baik. kondensor. apakah masih dalam kondisi baik. Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir. pipa sirkulasi pendingin kondensor. hilang. atau rusak salah satu komponen. atau rusak salah satu komponen. terawat. tidak berfungsi) b. pipa instalasi air pendingin kondensor. hilang. hilang. apakah masih dalam kondisi baik. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara) (meliputi kompresor. tidak berfungsi dengan baik. terawat. bersih. tidak berfungsi) b. bersih. bersih. Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon. atau rusak salah satu komponen. unit pengelola udara. Utilitas instalasi komunikasi a. atau rusak salah satu komponen. panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik. terawat. hilang. kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi baik.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Instalasi tata suara (meliputi mikropon. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. bersih. Sistim AC window (non sentral) (Kompresor. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. panel system tata suara. media pendingin air es. atau rusak salah satu komponen. kondensor) : : tidak berfungsi dengan baik. Laporan Pendahuluan 4-64 . evaporator. tidak berfungsi) 9. stri pengikat ekuipotensial. terawat. hantaran pembumian. tidak berfungsi dengan baik. speaker. terawat. alat control cerobong udara. hilang. hantaran pembumian. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi) (apakah masih dalam kondisi baik. media pendingin. bersih. diffuser grill. atau rusak salah satu komponen. tidak berfungsi) 10. terawat. elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam kondisi baik. Utilitas Penangkal petir a. pipa instalasi air es. kipas udara kondensor. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah. atau rusak salah satu komponen. PABX. tidak berfungsi dengan baik. tidak berfungsi dengan baik. kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut atau tidak. bersih. terawat. tidak berfungsi) c. bersih. pipa instalasi. hilang. pipa sirkulasi air es. evaporator. Sistim AC split/ FCU (non sentral) (Kompresor.

Penyajian data Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan. atau tidak memenuhi persyaratan) i. Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control. atau tidak sesuai) b. apakah dalam kondisi baik atau rusak) c. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk pedestrian dan ramp.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 11. atau tidak memenuhi persyaratan) g. atau tidak memenuhi persyaratan) 4. Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat dilihat pada table berikut: Laporan Pendahuluan 4-65 . Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan. Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran. apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. dan data yang telah diperoleh dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan. atau tidak memenuhi persyaratan) e. apakah dapat dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. atau tidak memenuhi persyaratan) f. saklar lampu dll. ataukah tidak mencukupi) d. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang. atau tidak memenuhi persyaratan) h.4. Aspek Aksesibilitas a. Penyajian data dituangkan dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan pembagian aspek masing-masing. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.3. baik alarm. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat.

 belah. tidak tampak .00% 100 0 3 100.ARS NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai NILAI KOMPONEN SUB KOMPONEN MAKSIMUM KEANDALAN (%) (1) (2) Kesesuaian penggunaan fungsi Pelapis muka lantai 10 100.terbelah.5 10 Penutup atap RUANG  LUAR Pelapis muka dinding luar Pelapis muka lantai luar 2.Terkelupas  >=10% N.terbelah. pecah terlepas . terkelupas berlubang <5% baik 100 terkelupas <10% .buram >=50% .5 100. Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal : 1 2 3 4 5 Pemeriksa ANDAL Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan Laporan Pendahuluan 4-66 .5 100.Tidak berfungsi .00% 100 0 Plesteran lantai RUANG DALAM (80%) Plesteran dinding 10 100. kasar baik 100 retak.5 2.terkelupas  >=10% 2 2.belah.hilang.00% 10 100. pecah terlepas .00% 100 0 Pelapis muka langit‐ langit SUB TOTAL 10 100.00% 100 SUB TOTAL 20 TOTAL 100 Kesimpulan : 1.retak. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11) FORM .K. pecah 100 buram. ter‐ kelupas <10% 100 terkelupas <10% 100 Masih berfungsi 100 terkelupas <10% .<95 (6) (7) (8) Tidak sesuai .00% 100 0 100 0 100 0 Pintu/jendela 15 100.hilang.100 (5) K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) N. (%) TIDAK ANDAL <75 (9) (10) N. bergelombang buram.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 1.00% 100 0 baik - 3 20 Plesteran lantai luar 2. (%) NILAI KEANDALAN TOTAL (%) (11) 15 100 masih sesuai dengan fungsi 100 retak rambut 100 retak rambut 10 - 10 10 80 10 15 - 10 80 10 1. pecah .  hancur baik . tidak tampak .00% 100 0 Berfungsi baik baik baik baik baik (3) 15 (4) Sesuai fungsi baik KONDISI ANDAL 95 . (%) KURANG ANDAL 75 .00% 100 0 (20%) Pelapis muka langit‐langit luar 2 100.K.00% Pelapis muka dinding 10 100.berlubang.K.00 100 0 baik 100 Tidak berlubang 100 buram <50% 100 aus.

Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-67 . stabil 100 Kuat. fungsi baik Rata. kurang mulus. kaku.100 (1) (2) (3) (4) (5) Pondasi. ada lendut Lendut. kurang kaku. Kepala Kuat. kurang stabil Retak. kurang kaku.50 5 100 100 Kuat.00 Struktur Pelengka p Tangga 6 100 100 6.00 20 100 Kuat. rata. pecah.5 100 100 4. tidak rata Kusam dan retak. kaku. kurang kaku. Stabil Balok Bawah Pondasi Sub Total Dinding Pasangan Bata/Bata ko Kolom.00 Lantai bawah Sub Total 4 100 100 4.5 100 100 0. retak halus/bocor Kuat. Gording Sub Total Rangka Langitlangit Penutup langitlangit 0. tidak kuat. padat. 2.50 Slab Atap Rangka Atap.00 Kuat. padat. rata Kuat. Balok Praktis Slab Lantai Bahan/dimen si OK Bebas retak.00 4. berfungsi baik Kuat. kurang rata Rata. Stabil Tidak Andal < 85 (8) Tidak stabil. pecah N. ada retak Kuat. kropos/ karat 5. kuat Kuat. basah. tidak rata 3. Kaku.K Kompone n Keandala n Andal (%) n kompone n (%) 95 .00 3 100 Kuat. retak diagonal/ melintang Kurang kuat/kaku. amblas. lentur kecil Kurang kuat.rusak tak berfungsi Kurang kuat/kaku. Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12) Jumlah lantai Pemilik : : lantai Nilai Nilai Sub keandala Kondisi Maks Kompone N. retak rambur 20. kurang stabil Retak. kaku. pecah.00 15.00 60. Ikatan Angin.K (%) (9) Nilai Keandalan Total (%) (10) (11) 25 25. lapuk. bebas retak. kedap air 100 Kuat. retak. bebas bocor. bocor.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: 100. kaku. kedap air. awet. Kaku. rata. tidak dapat dipakai Kurang kuat. 100 25 100 Struktur Pondasi.K Kurang Andal (%) 85 . berfungsi baik Kuat. lendutan besar 30 100 100 30. Kaku. kaku.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 2. kurang kaku. fungsi baik Kuat. mulus Rangka dan tumpuan kuat. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur a. retak-retak Lendut. retak. kurang kaku.00 2 100 100 2.<95 (6) (7) Kuat.00 Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL Saran agar struktur secara keseluruhan 1. stabil Faktor Reduksi N. kaku. Kurang Kaku. 3. rata Bahan/dimen si OK. lapuk.

Kaku.5 Kuat. Kaku.00 15. Daktail Kuat. kurang rata Batang jangkar lemah.00 100 Retak.00 5 100 Kuat.00 2 100 Kuat. tidak kuat. lebar retak 0. kaku.<95 (6) Kuat. Kurang Kaku. Ikatan Angin. bocor 5.00 15 100 Kuat. tanpa retak 100 2. ada lendutan Tanpa jangkar dinding pasangan belah Tanpa jangkar dinding pasangan belah Retak lentur/geser Rusak.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: ##### Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan ANDAL 1. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : : : : Laporan Pendahuluan 4-68 . Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 2 100 Kuat. retak lentur Retak < 0. menyatu Kuat.00 1 100 Kuat. Daktail Kuat.00 60. lendut Kurang rata. 3. Awet. Kepala Pondasi.K Tidak Andal (%) < 85 (8) Tidak stabil.00 Struktur Shotcrete Panel Pelengka Precast p Balok Anak. tanpa retak 100 2.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. daktail 100 5.K n Keandala Andal (%) kompone n (%) 95 . melendut 1. retak.00 100 13. Leufel. Daktail Kuat.100 (3) 25 100 (4) Kuat. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13) Nilai Nilai keandala Kondisi Maks N. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak terlihat 15. Aman Rata dan baik 100 Kuat. retak lentur Kuat. kaku 100 5.00 100 Retak 1-3 mm 5.00 Kolom Baja Balok Baja Struktur Atas Pengaku Silang Slab Lantai Rangka Atap.1 0. pecah Nilai Keandalan Total (%) (10) 25 (5) 100 (7) (9) (11) 25. Stabil N.00 100 2. retak lentur Retak rambut. tidak kaku. retak rambut Batang jangkar lemah. Rata/Datar 100 Kuat.00 5 100 Kuat. Stabil Kompone n (1) Struktur Bawah Sub Komponen (2) Pondasi. Kaku.K Kurang Andal (%) 85 . Kaku. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako 20 13 2 5 5 100 100 100 100 100 100 20. kuat. retak lentur Kuat. dinding retak Kuat. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom .Balok Faktor Reduksi N.5 mm Lendut > L/300 Tidak kaku. 2. kaku.

00 4. retak. tanpa retak Kuat. retak lentur Kuat. 2. Kaku.00 100 100 6. Ikatan Angin.<95 N. Kepala Pondasi. Aman Kuat.K (%) Tidak Andal < 85 N. Kaku. Menyatu Kuat. Daktail Kuat.K (%) Kurang Andal 85 . Awet. lendut Kurang rata.00 TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN Kesimpulan: Struktur gedung secara keseluruhan adalah Saran agar struktur secara keseluruhan 1. Kurang Kaku. tidak kaku.50 5.100 (4) Kuat. ada lendutan Tanpa jangkar ikat dinding retak/belah Retak lentur/geser Rusak. retak sudah tampak Retak lentur/geser Retak lentur/geser Retak geser.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 c. Aman 100 Kuat.00 10 15 15 10 4. retak rambut Kuat.00 1 2 6 6 100 100 100 100 Kuat. Kaku. kuat. kaku.00 ANDAL : : : : Laporan Pendahuluan 4-69 .00 10.K (%) Nilai Keandalan Total (%) (1) Struktur Bawah (2) Pondasi.00 Struktur Pelengkap 100 2.00 6. tetapi telah retak rambut Kuat.00 Struktur Atas Dinding Geser Slab Lantai Slab Atap Rangka Atap. kurang rata Batang jangkar lemah.00 15.00 15.5 0. Leufel. Daktail Kuat. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14) PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik 12000 8 m2 lantai Komponen Sub Komponen Nilai Nilai Maks keandalan Keandalan komponen (%) struktur (3) 25 100 Faktor Reduksi Kondisi Andal 95 . bocor 10.50 0. Stabil (7) (8) Tidak stabil. 3. melendut 1. Gording Sub Total Penggantung Langitlangit Dinding Pasangan Bata/Batako Balok Anak. Canopy Tangga beton/baja/kayu Sub Total 60. Aman Kuat. daktail Kuat. Kaku. Balok Pondasi Sub Total Join Kolom . Rata/Datar Kuat.5 5 100 100 100 100 100 100 100 Kuat. Kaku. Kaku. belah Retak 1-3 mm Retak. kaku 100 Kuat. Stabil N. bocor Retak. Daktail Kuat. retak lentur Retak rambut Retak rambut Lendut > L/300 Tidak kaku. pecah (9) (10) 25 (11) 25.Balok Kolom Balok (5) 100 (6) Kuat.00 100 100 100 100 100 100 15. retak lentur Kuat. tidak kuat. Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan 100. retak lentur Retak rambut. Awet.

: ………………………. Tidak Andal (%) Andal 99 -100 KA 95 . Tidak andal Pemeriksa Nama NIP Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan : ……………………….00 100.<99 (6) x x x x x x x Keandalan N ku TA <95 (7) x x x x x x x (8) (%) (4) 100. i (1) 1 2 3 4 5 6 7 (2) Intalasi Pencegahan Kebakaran Transportasi Vertikal Plambing Instalasi Listrik Tata Udara.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 3.00 100.00 (5) 100 100 100 100 100 100 100 Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas (µku.i) Keterangan : Andal : µku = 99 – 100 %. Komp.00 100. Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/ Kurang/Tidak Andal : µku = < 95 % ANDAL Kurang andal . Keandalan (%) (3) 20 15 15 20 15 5 10 Σ µ ku (%) Kondisi Andal.00 100. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15) Form – A Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung No. µku = 95 – 99 %.00 100. Util. Laporan Pendahuluan 4-70 . AC Instalasi Penangkal Petir Instalasi Komunikasi Jenis Komponen Utilitas Gedung Instalasi: Nilai Maks. Kurang Andal. : ……………………….00 100. : ……………………….00 100. : ……………………….

Titik Panggil manual 3. Kepala Sprinkler 3 3 4 NF = 20 4 4 4 4 4 NF = 20 3 100 100 100 100 100 100 100 100 1B 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 a. Tangki Penekan Atas/Alat Kontrol 4. Kabel Instalasi SPRINKLER OTOMATIS 1. Alat-alat deteksi 2.Selang NF = 15 3 2 2 100 2 2 2 2 100 NF = 15 8 7 100 100 100 100 x x x x 8 7 100 100 100 100 100 1D 1E Laporan Pendahuluan 4-71 . Panel Kontrol 6. Pipa Instalasi GAS PEMADAM API 1. Sumber Air 7. Pompa Air 2. Nosel Gas 9. Stater Otomatis 100 2 2 2 2 2 3 100 2 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 2 2 2 2 2 3 2 2 100. Tabung Gas Tersegel 2. Kotak Operasi Manual 7.00 1A 4. Pompa Air 2. Hidran Kotak 5. Tangki Air 5.00 4 4 4 4 4 100. kran Uji 4. Pipa Instalasi 3.00 3 3 4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 3 3 4 3 3 4 100. Catu Daya 5. Alarm Kebakaran 3. Alat-alat Deteksi kebakaran 8. Catu daya 5. Tangki Penampung Air TABUNG PEMADAM API RINGAN 1. Hidran Pilar 6. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16) Form Utl-1 Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Pencegahan Kebakaran Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tidak Andal <95 % Tingkat keandalan F.00 3 2 2 2 2 2 2 100. Panel control Kebakaran (3) NF = 20 (4) (5) (6) (7) (8) (9) 100. Alarm Kebakaran 6.00 1C 4. Reduksi Ф (%) (1) (2) SISTEM DETEKSI ALARM KEBAKARAN 1. Kran Pemilih Otomatis HIDRAN 1.Kumpulan Tabung Gas Pemadam Api 2.

Tangki Air (3) NF = 50 5 5 6 6 6 6 5 6 5 NF = 50 7 6 6 7 6 6 6 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) 5 5 6 6 6 6 5 6 5 (9) 100. Tangki Air Atas : Menara 5. Tangki Septik 5. tempat cuci tangan 6. Kran Air gelontor 100. Kabel dan Panel Listrik 5.00 2A 8 7 7 7 7 7 7 100. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 7. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6. Alat Penyeimbang Sangkar 7. Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18) Form Utl-3 Nilai Keandalan Utilitas : Plambing Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Plumbing Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 2. Sumber Air dari sumur dala. Rel 6. Kabel dan Panel Listrik 4. Lobang/ saluran pengurasan lantai 8. alat control.00 7 6 6 7 6 6 6 6 3B 4. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) AIR BERSIH (2) 1. Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 7. motor Penggerak 2. Roda-roda gigi Penarik 6. Sangkar dan alat Kontrol 3. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan <95 % (1) LIF (LIFT) (2) 1.00 3A 4. Alat Kontrol 3.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 b. Kloset/ bidet/ Urinoir 2. Badan Eskalator 7. Motor Penggerak 2. Pompa Instalasi 9. Peredam Sangkar ESKALATOR 1. Kran AIR KOTOR 1. pompa air. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17) Form Utl-2 Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Transportasi Vertikal Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang Andal 95 -<100% Tingkat F. Listrik untuk Panel Pompa 8. Anak Tangga/lantai (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Rantai Penarik 5. Pipa Air Hujan *) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut. M t Ai Penampung *) 3. Bak cuci. Motor Penggerak Pintu 4. maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan Laporan Pendahuluan 4-72 . saluran ke Tangki Septik 3.00 2B 8 7 7 7 7 7 7 c.

00 4A 3. Daily Tank Laporan Pendahuluan 4-73 . Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 6. Altermator 3. Radiator/ pendingin 5. Kabel Instalasi 6.00 7 7 4 6 7 7 6 4B 4.l A d% l 100% 95 <95 (%) (1) (2) SUMBER DAYA PLN 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 d. AMF 7. Armatur 7. Panel Distribusi 5. Trafo (3) NF = 50 8 7 7 7 7 7 7 NF= 50 7 7 4 6 7 7 6 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 <100% (6) x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x (8) 8 7 7 7 7 7 7 (9) 100. Reduksi Termasuk Kategori keandal Tidak Kurang Andal Ф an A d. motor Penggerak 2. Panel Tegangan Menengah 2. Kabel Instalasi SUMBER DAYA GENSET 1. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19) Form Utl-4 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Listrik Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) TingkatF. Alat pengisi aki 100. Panel Tegangan Tengah 4.

Evaporator 3. Kompresor 2. Menara Pendingin 13. Difuser gril 11. Alat Kontrol Cerobong Udara 11. Kipas Udara Kondensator 7. Evaporator 3. Kipas Udara Kondensor 7. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20) Form Utl-5a Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% Tidak A d% l <95 Tingkat F. Pipa Sirkulasi Air Es 5. Unit Pengolah Udara 10.00 5B 6. Pompa sirkulasi air pend kondensor 15. Media Pendingin 8. Pipa Instalasi Media Pendingin 9. Kondensor 4. Cerobong Udara 12. Reduksi keandalan Ф (%) (1) 1. Kondensor 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 100. Difuser gril 12. Panel Kontrol SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG 1. Pipa Instalasi Air Es 4. Kompresor 2. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 14. Media Pendingin Air Es 9. pipa instalasi air pendingin Kondensor 13. Panel Distributor (2) SISTEM PENDINGIN LANGSUNG (3) NF=50 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 NF = 50 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (7) x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x (8) (9) 100. Media Pendingin 8.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 e. Alat Kontrol 10.00 5. Panel Kontrol 4 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 Laporan Pendahuluan 4-74 . Pipa Instalasi air pendingin kondensor 14. Kipas Udara Evaporator 5A 6.

Evaporator 3. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22) Form Utl-6 Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Penangkal Petir Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.00 5A 100. Hantaran Pem-bumi-an 4.00 7B 2. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) SISTEM AC WINDOW 1. Elektroda Pem-bumi-an INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Kondensor SISTEM AC SPLIT /FCU 1.00 6A 16 16 18 100. Konpresor (3) NF = 50 18 16 16 NF = 50 13 13 12 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 18 16 16 (9) 100.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 f. Pipa Instalasi 4. Kondensor Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang g. Evaporator 3.00 13 13 12 12 5B 2. Elektroda Pem-bumi-an 13 12 12 13 Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang Laporan Pendahuluan 4-75 . Stri Pengikat Ekuipotensial 3. Arester Tegangan Lebih (3) NF = 50 16 16 18 NF = 50 13 12 12 13 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) (9) 100. Konpresor 2. Reduksi Ф (%) Tidak Andal keandalan (1) (2) INSTALASI PROTEKSI PETIR 1. Kepala Penangkal Petir 2. Hantaran Pem-bumi-an 3. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21) Form Utl-5b Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Tata Udara (Non Sentral) Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Tingkat keandalan (%) Fungsi (100%) Termasuk Kategori Andal 100% Kurang d l 95A -<100% <95 % Tingkat F.

Tidak andal : µku = <75 % 100 KESIMPULAN : X ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL Rekomendasi 1 2 3 4 Laporan Pendahuluan 4-76 . Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol 100>Ka≥95 95>Ka≥75 (7) 100. Mikropon (3) NF = 50 16 18 16 NF = 50 12 13 13 12 (4) 100 100 100 100 100 100 100 (5) 100 100 100 100 100 100 100 (6) x x x x x x x (7) x x x x x x x (8) 16 18 16 (9) 100. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23) Form Utl-7 Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi Nomor Kelompok Utilitas Komponen Utilitas Instalasi Komunikasi Bobot Fungsi (100%) Tingkat keandalan (%) Nilai Tingkat Keandalan NKU (µ) Nilai F.00 Kondisi Eksisting Elemen Aksesibilitas Baik Rusak Sedang (8) x Rusak Berat 75>Ka>0 (9) x (10) 50 Nilai Keandalan Parsial 12000 8 m2 lantai No. Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24) PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA Nama Bangunan Lokasi/Alamat Fungsi Luas Jumlah lantai Pemilik Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS Kondisi Nilai Keandalan Eksisting Maksimum Elemen Terfaktor Keandalan Pedestrian (%) (%) (3) Ya x x Ya X x X Tidak Tidak 40 5 5 40 5 4 1 (5) 40 5 5 40 5 4 1 100. Kabel Instalasi 4.00 x x 50 (6) 100.Kabel Instalasi INSTALASI TATA SUARA 1. tombol & perlengkapan k t l laksesibilitas i b d d i i Rambu Perlengka ada tidak pan x peralatan Peringatan berbentuk suara Peringatan berbentuk visual Peringatan berbentuk getaran SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. µku = 75 – <95%. PABX 3. Kurang andal . Reduksi Termasuk Kategori tingkat Kurang Andal Tidak Andal Ф keandalan d l 100% 95A -<100% <95 % (%) (1) (2) INSTALASI TELEPON 1.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 h. Panel system tata suara 3.00 12 13 13 12 7B 2.00 100.00 (1) (2) PERLENG ada tidak KAPAN & X PERALAT Stop Kontak. Speaker 4.00 7A 100. Pesawat telepon 2.

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010 5. Kurang andal . Kode Komponen Kondisi Kefungsian Komponen Parkir (1) (2) KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA Kesesuaian dengan dokumen rencana kota Kesesuaian KDB Kesesuaian KLB Kesesuaian GSB Ya x x x Tidak 5 2 2 1 5 2 2 1 100 SUB TOTAL Keterangan : Andal : µku = 95 – <100%. Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25) PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nama Bangunan : Alamat Pemilik : : Fungsi Bangunan : Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Nilai Keandalan Nilai Maksimum Terfaktor Keandalan Keandalan (%) (3) (5) (10) No. µku = 75 – <95%. Tidak andal : µku = <75 % 100 Laporan Pendahuluan 4-77 .

dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) b. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah Laporan Pendahuluan 4-78 .00 100.00 75% <95% 85% <95% 95% <100% 75% <95% 75% <95% Kurang Andal NK (%) (4) 89.00 5.00 100.00 30.00 Bangunan yang diperiksa masuk kategori Interpretasi : a.00 3 4 5 100. atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. struktur=NKS.00 - <95% <75% <75% - 50 5 5 100 50.92 <75% <85% Tidak Andal NK (%) (5) Bobot Penilaian (%) (6) 10 30 Nilai Keandalan Total (%) (7) 10. struktur=NKS.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26) Kategori Penilaian No Aspek Yang dinilai Andal NK (%) (1) 1 2 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Pasangan Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total ANDAL (2) (3) 95% 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 100% (3) 100.00 100. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA.00 5.

NKS. bila NKA tidak kurang dari 95% atau a. % 2. bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95% Tidak andal. Kurang andal. bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99% Tidak andal. % Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. (95%<=NKA<=100%) b. bila NKA bernilai dibawah 75 c. bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90% Tidak andal. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap Andal. NKA. struktur=NKS. Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA. Kurang andal. (90%<=NKA<=100%) b. bila NKA tidak kurang dari 99% atau a. % 3. bila NKA tidak kurang dari 90% atau a. Tingkat Keandalan Struktur dianggap : Andal. (99%<=NKA<=100%) b. dan utilitas=NKU) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah 1. bila NKA bernilai dibawah 95 c. d. dan NKU tidak boleh kurang dari 95 % Laporan Pendahuluan 4-79 . Tingkat Keandalan Utilitas dianggap Andal. Kurang andal. bila NKA bernilai dibawah 85 c.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 c.

struktur. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . struktur. Andal. Interpretasi • Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan (komponen arsitektur.5. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA 4. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal • Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur. utilitas. bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95% 3. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa 3.5. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Struktur dianggap: 1. Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik dari bangunan yang telah diperiksa di atas. Kompilasi Data Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan data lapangan.2. Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan 2.1. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal Tingkat keandalan Arsitektur dianggap: 1. Setelah dikelompokkan akan di tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. bila bobot nilai diantara < 85% Laporan Pendahuluan 4-80 . struktur. Data 4. Kurang Andal. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel tersebut akan digunakan untuk: 1. Kurang Andal. utilitas. struktur.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. Andal. Tindak Andal. Tindak Andal.100% 2. utilitas. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% .5. aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang dari nilai batas terendah kategori Andal.100% 2. utilitas. • Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi dalam bangunan ( arsitektur.

95% < 75% CATATAN 4. bila bobot nilai diantara < 95% Tingkat keandalan Aksesibilitas dianggap: 1. nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. Kurang Andal. Kurang Andal. Tindak Andal. Tindak Andal. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95% 3. Namun untuk nilai keandalan utilitas. Andal. tidak boleh kurang dari 99%.3. bila bobot nilai diantara < 75% Tingkat keandalan Tata Bangunan dan Lingkungan: 1. nilai keandalan Arsitektural. bila bobot nilai diantara < 75% Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan. tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan).100% 2.100% 2.95% < 85% >99%-100% >95% .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tingkat keandalan Utilitas dianggap: 1. Andal. Tabel 4-27 Penentuan nilai Keandalan Bangunan ASPEK KEANDALAN ARSITEKTUR STRUKTUR UTILITAS AKSESIBILITAS NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL >95%-100% >75% .100% 2. Andal. khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran. bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99% 3. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% . yaitu tahap pembobotan masing-masing komponen dan sub komponen.95% < 75% >95%-100% >85% . Nilai keandalan masing-masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing komponen Laporan Pendahuluan 4-81 . Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% . Tindak Andal.5.99% < 95% >95%-100% >75% . Analisa Analisa dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap penilaian keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai. Kurang Andal.

Kurang ndal dan Tidak andal. sedangkan nilai masing-masing komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya. Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen.00 5. kurang andal atau tidak andal. Laporan Pendahuluan 4-82 .Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 Tabel 4-28 Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan volume Lantai (i) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 volume elemen yg rusak Faktor reduksi rusak Faktor Nilai Nilai reduksi KeandalanKeandalan posisi Tingkat Awal Kategori Nilai Keandalan A KA TA (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini.00 100.92 - <75% <85% <95% <75% <75% - 10 30 50 5 5 100 10.100% 95% .00 Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%. Dari hasil akhir penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal.00 100.<100% 75% .100% NK (%) (3) Kurang Anda NK (%) (4) Tidak Andal NK (%) (5) Bobot ilai Keandala Penilaian Total (%) (%) (6) (7) 1 2 3 4 5 Arsitektur Struktur Rangka Beton dan Dinding Utilitas & Proteksi Kebakaran Aksesibilitas Tata Bangunan & Lingkungan Jumlah Total 100.00 100. yaitu Andal.00 100. Tabel 4-29 Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan Kategori Penilaian No (1) Aspek Yang dinilai (2) Andal (3) 95% .<95% 75% .<95% 95% .00 75% .00 30. Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini.100% 95% .<95% 85% .00 5.00 50. tahap berikutnya adalah melakukan penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan.<95% 89.100% 100% 95% .

1. elektrikal. meliputi: a. akademisi.7. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan umum pada kab/kota. Laporan Pendahuluan 4-83 . dll yang tidak andal. 2. KELUARAN/OUPUT Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini: 1. 4. Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan Bangunan Gedung. dan instansi terkait.6.Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung Di Kota Sematang Tahun 2010 4. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan. Laporan Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung. sistem plumbing. pakar. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan. Foto-foto sebagian/seluruh tindakan yang bangunan diperlukan gedung untuk yang terindikasi aspek memerlukan memenuhi keandalan. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. termasuk dokumentasi. serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh masukan penyempurnaan rekomendasi. Rekomendasi Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan gedung yang telah oleh instansi teknis diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan pembina penyelenggara bangunan gedung di keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan disetujui Kabupaten/Kota. Misal: struktur bangunan gedung. air hujan. Hasil dari rekomendasi tersebut dapat diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal. 2. b. c. 3. Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.