DETEKSI DINI DAN PENATALAKSANAAN KERACUNAN PESTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT PADA TENAGA KERJA HALINDA SARI LUBIS Fakultas

Kesehatan Masyarakat Program Studi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Sebagai suatu bagian vital dalam tubuh , susunan saraf dilindungi dari toksikan dalam darah oleh suatu mekanisme protektif yang unik, yaitu sawar darah otak dan sawar darah saraf. Meskipun demikian, susunan saraf rentan terhadap berbagai jenis toksikan. Lebih rentannya sebagian dapat dikaitkan dengan fakta bahwa neuron mempunyai suatu laju metabolisme yang tinggi, dengan sedikit kapasitas untuk metabolisme anaerobik. Selain itu, karena dapat dirangsang oleh listrik, neuron cenderung lebih mudah kehilangan integritas membran sel. Panjangnya akson merupakan alasan lain mengapa susunan saraf terutama rentan terhadap efek toksik, karena badan sel harus memasok aksonnya secara struktural maupun secara metabolisme. Susunan saraf terdiri atas dua bagian utama yaitu susunan saraf pusat (SSP) dan susunan saraf perifer (PNS). SSP terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang, dan PNS mencakup saraf tengkorak dan saraf spinal, yang berupa saraf motorik atau sensorik. Neuron saraf spinal sensorik terletak pada ganglia dalam radiks dorsal. Selain itu, PNS juga mencakup susunan saraf simpatis, yang muncul dari neuron sumsum tulang belakang di daerah toraks dan lumbar, dan susunan parasimpatis, yang berasal dari serat saraf yang meninggalkan SSP lewat saraf tengkorak dan radiks spinal sakral. Sel utama dalam susunan saraf adalah neuron serta aksonnya. Struktur sel ini bertanggung jawab terhadap penghantaran impuls saraf. Struktur penyangganya terutama terdiri atas berbagai jenis sel glia. Terlepas dari tiadanya daya hantar, sel glia berbeda dari neuron dalam hal bahwa sel glia, seperti halnya jenis sel lain, dapat bereproduksi sedangkan neuron tidak. Lewat aksonnya, neuron dihubungkan dengan neuron lain pada dendritnya atau dengan reseptor dalam kelenjar atau otot. Bila perangsangan oleh potensial aksi, pada ujung saraf akan dilepaskan neurotransmiter kimia. Neurotransmiter yang paling lazim adalah asetilkolin dan norepinefrin.(8) Pestisida Organofosfat Pestisida digunakan untuk membasmi bermacam-macam hama (tumbuhan maupun binatang) yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Pestisida digunakan di negaranegara dunia ini untuk melindungi tanaman dari kerusakan.(1) Walaupun dalam jumlah dan ukuran kecil tetapi pestisida jelas menimbulkan keracunan pada manusia. Data kematian akibat pajanan dengan pestisida tersebut jarang dijumpai, diduga setiap kematian yang terjadi tidak lebih akibat dari 100 kasus keracunan yang tidak fatal. Survei statistik mengenai morbiditas dan mortalitas menunjukkan penurunan jumlah kematian karena kecelakaan dalam

2002 digitized by USU digital library

1

kayu dan produksi kayu.(2. menghancurkan atau pengawasan setiap hama termasuk vektor terhadap manusia atau penyakit pada binatang.4) Sintesa awal meliputi persenyawaan seperti Tetraetilfirofosfat (TEPP). tetapi juga secara perlahan toksik pada mamalia.penggunaan pestisida. dan tertelan dengan jalan utama pajanan pekerjaan adalah melalui kulit. tetapi jumlah sebenarnya yang digunakan untuk tujuan sekarang ini mungkin tidak lebih dari tiga lusin. atau yang dapat dilakukan pada binatang sebagai kontrol terhadap serangga. Mereka menggunakannya sebagai gas saraf dalam perang kimia seperti tabun. atau bahan makanan binatang. Insektisida paling banyak digunakan pada negara yang berkembang.000 persenyawaan organofosfat telah disintesa dan diuji aktivitasnya sebagai insektisida. penyimpanan atau pemasaran makanan. yang merupakan hasil bentuk aroma dari bentuk –thion 2002 digitized by USU digital library 2 .(1) Di antara pestisida. sedangkan herbisida lebih banyak digunakan pada negara yang maju. dan penggunaan pada rumah dan taman. Tertelan sedikit saja seperti 2 mg pada anak-anak dapat menimbulkan kematian. Sebagian besar sulfur dilepaskan ke dalam bentuk mercaptan. dalam –okson lebih toksik dari bentuk –thion. Insektisida organofosfat adalah diantara pestisida yang paling toksik pada manusia dan paling banyak frekuensinya ditemukan keracunan insektisida. komiditi pertanian. dan soman.6) Kurang lebih 90 % dari seluruh pestisida yang dihasilkan digunakan untuk tujuan komersil. sarin. arachnoid. pajanan pekerjaan terhadap pestisida terutama timbul selama mencampur persenyawaan tersebut dengan air dan penyemprotan campuran tersebut.(6) Organofosfat paling banyak digunakan dalam pertanian dan kemungkinan paling banyak frekuensinya sebagai agen penyebab penyakit saraf di antara pekerja pertanian terutama pada negara yang berkembang. perkebunan. parathion dan skradan yang nyata efektif sebagai insektisida. golongan organofosfat yang paling umum ditemukan. dan sisanya pada pengawasan hama.(1. Dijumpai lebih dari 50. kontak kulit. Semua insektisida organofosfat berkemungkinan besar menjadi toksik. Pada perkebunan. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO 1986) mendefinisikan adalah setiap zat atau campuran yang diharapkan sebagai pencegahan. atau hama lain di dalam atau pada tubuh binatang tersebut.(4) Pada umumnya organofosfat yang diperdagangkan dalam bentuk –thion (mengandung sulfur) atau yang telah mengalami konversi menjadi -okson (mengandung oksigen). dan tanaman yang tidak disukai atau binatang yang menyebabkan keruskan selama atau dalam proses pencampuran dengan produksi.(1) Farmakokonetik dan Mekanisme Kerja Organofosfat diabsorbsi dengan baik melalui inhalasi. Penelitian dilakukan sebagai perkembangan dengan munculnya malathion yang merupakan insektisida poten dengan sedikit risiko pada manusia. Hal ini dimungkinkan adanya peningkatan pengetahuan toksisitas pestisida melalui program pencegahan keracunan. Konversi terjadi pada lingkungan sehingga hasil tanaman pekrja dijumpai pajanan residu yang dapat lebih toksik dari pestisida yang digunakan.(1) Penemuan Persenyawaan Organofosfat Persenyawaan organofosfat pada mulanya ditemukan di Jerman selama Perang Dunia II.

3.(1.organofosfat. saraf dan neuromuscular junction.6. sinaps preganglion simpatik dan parasimpatik 2.2. muntah yang selalu keliru sebagai akibat keracunan akut organofosfat. kerjanya menginaktifkan enzim kolinesterase yang berfugnsi menghidrolisa neurotransmiter asetilkolin (ACh) menjadi kolin yang tidak aktif.3. Efek asetilkolin diakhiri melalui hidrolisis dengan munculnya enzim asetilkolinesterase (AChE). peranannya melepaskan neurotransmiter untuk memperbanyak konduksi saraf perifer dan saraf pusat atau memulai kontraksi otot. plasma dan hati.5. mual.(1. Organofosfat menimbulkan efek pada serangga.4.(4) Konversi dari –thion menjadi -okson juga dijumpai secara invivo pada metabolisme mikrosom hati sehingga –okson menjadi pestisida bentuk aktif pada hama binatang dan manusia. Ketika asetilkolin dilepaskan. Pada dosis lebih besar juga mempengaruhi reseptor nikotinik dan reseptor sentral muskarinik. Ada dua bentuk AChE yaitu true cholinesterase atau asetilkolinesterase yang berada pada eritrosit. Pengetahuan mekanisme toksisitas memerlukan pengetahuan lebih dulu aksi kolinergik neurotransmiter yaitu asetilkolin (ACh) .2. neuromuscular junction pada otot rangka.4) Insektisida organofosfat menghambat AChE melalui proses fosforilasi bagian ester anion. Pseudocholinesterase atau serum cholisterase berada terutama pada serum. Aktivitas ini kemudian akan menurun. Mercaptan memiliki aroma yang rendah.6. reseptor asetilkolin umumnya lebih penting toksisitas insektisitada organofosfat pada medulla sistem pernafasan dan pusat vasomotor. Pada sistem saraf pusat. Aktivitas AChE tetap dihambat sampai enzim baru terbentuk atau suatu reaktivator kolinesterase diberikan. Reseptor muskarinik dan nikotinik-asetilkolin dijumpai pada sistem saraf pusat dan perifer. sinaps postgamglion parasimpatik 3. menghasilkan alkil fosfat dan fenol yang memiliki aktifitas toksikologi lebih kecil dan cepat diekskresi. Ikatan fosfor ini sangat kuat sekali yang irreversibel. dan reaksi-reaksi bahayanya meliputi sakit kepala.7) Pajanan pada dosis rendah. Akibatnya terjadi penumpukan ACh pada sinapssinaps kolinergik. Dengan berfungsi sebagai antikolinesterase.(1) 2002 digitized by USU digital library 3 .(1. tanda dan gejala umumnya dihubungkan dengan stimulasi reseptor perifer muskarinik.7) Fungsi normal asetilkolin esterase adalah hidrolisa dan dengan cara demikian tidak mengaktifkan asetilkolin. dan inilah yang menimbulkan gejala-gejala keracunan organofosfat. Hepatik esterase dengan cepat menghidrolisa organofosfat ester.(1) Pada sistem saraf perifer. dalam dua atau empat minggu pada pseudocholinesterase plasma dan empat minggu sampai beberapa bulan untuk eritrosit.4. asetilkolin dilepaskan di ganglion otonomik : 1. mamalia dan manusia melalui inhibisi asetilkolinesterase pada saraf.

Pajanan pada mata dapat menimbulkan hanya berupa miosis atau pandangan kabur saja. melalui inhalasi gejala timbul dalam beberapa menit. tetapi pengobatan tidak harus menunggu hasil laboratotium. dan salivasi (MUDDLES). Laboratorium Nilai laboratorium tidak spesifik . sukar bicara.(1) Pemeriksaan aktivitas kolinesterase darah dapat dilakukan dengan cara acholest atau tinktometer.2. Ingesti atau pajanan subkutan umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menimbulkan tanda dan gejala. proteinuria. Absorbsi perkutan dapat menimbulkan keringat yang berlebihan dan kedutan (kejang) otot pada daerah yang terpajan saja. kemudian berkembang kelemahan pada jari dan kaki berupa foot drop.ini bukan keracunan organofosfat karena hal tersebut jarang terjadi.6.(4) Kematian keracunan akut organofosfat umumnya berupa kegagalan pernafasan.(1.(1) Dosis menengah sampai tinggi terutama terjadi stimulasi nikotinik pusat daripada efek muskarinik (ataksia. Enzim kolinesterase dalam darah yang tidak diinaktifkan oleh organofosfat akan menghidrolisa asetilkolin ( yang ditambahkan sebagai substrat) menjadi kolin dan asam asetat.Manifestasi Klinik Keracunan A. Inhalasi dalam konsentrasi kecil dapat hanya menimbulkan sesak nafas dan batuk.3. diantaranya lekositosis.(4) Insektisida organofosfat diabsorbsi melalui cara pajanan yang bervariasi. Kehilangan sensori sedikit terjadi. defekasi.(4) Pada konfirmasi diagnosa. Walaupun demikian. menunjukkan 2002 digitized by USU digital library 4 .(1) Sindrom ini berkembang dalam 8 – 35 hari sesudah pajanan terhadap organofosfat.2. tetapi bila pajanan berlebihan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit. Komplikasi keracunan selalu dihubungkan dengan neurotoksisitas lama dan organophosphorus-induced delayed neuropathy(OPIDN).4) Aritmia jantung seperti hearth block dan henti jantung lebih sedikit sebagai penyebab kematian. bingung. pengukuran aktifitas inhibisi kolinesterase dapat digunakan. perubahan aktifitas kolinesterase sesuai dengan tanda dan gejala merupakan informasi untuk diagnosa dan penanganan sebagian besar kasus. Oedem paru. Tanda dan gejala dihubungkan dengan hiperstimulasi asetilkolin yang persisten. pernafasan Cheyne Stokes dan coma.(1.7) Pada umumnya gejala timbul dengan cepat dalam waktu 6 – 8 jam. Pajanan yang terbatas dapat menyebabkan akibat terlokalisir.(1. Bila gejala muncul setelah lebih dari 6 jam.5.(7) B.. glikosuria dan hemokonsentrasi. kejang disusul paralisis. diare. eksitasi. hilangnya refleks. bronkokonstriksi dan kelumpuhan otot-otot pernafasan yang kesemuanya akan meningkatkan kegagalan pernafasan.4. Jumlah asam asetat yang terbentuk. yang dapat ditemukan bersifat individual pada keracunan akut. Tanda dan Gejala Keracunan organofosfat dapat menimbulkan variasi reaksi keracunan. Demikian juga refleks tendon dihambat .4.(1) Tanda dan gejala awal keracunan adalah stimulasi berlebihan kolinergik pada otot polos dan reseptor eksokrin muskarinik yang meliputi miosis. Kelemahan progresif dimulai dari tungkai bawah bagian distal.7) Efek yang terutama pada sistem respirasi yaitu bronkokonstriksi dengan sesak nafas dan peningkatan sekresi bronkus. gangguan perkemihan.

Kemudian atropin dapat diberikan oral 1 – 2 mg selang beberapa jam. 2. tidak boleh dimuntahkan karena bahaya aspirasi. segera muntahkan penderita dengan mengorek dinding belakang tenggorok dengan jari atau alat lain. Kewmudian atropinisasi ringan ini harus dipertahankan selama 24 – 48 jam. Bila organofosfat tertelan.aktivitas kolinesterase darah. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan : 1. Pada hari pertama mungkin dibutuhkan sampai 50 mg atropin. karena gejala-gejala keracunan organofosfat biasanya muncul kembali. dan /atau memberikan larutan garam dapur satu sendok makan penuh dalam segelas air hangat. Pralidoksim Diberikan segera setelah pasien diberi atropin yang merupakan reaktivator enzim kolinesterase. Manifestasi klinik keracunan akut umumnya timbul jika lebih dari 50 % kolinesterase dihambat. kulit dan mulut kering.(1) Beberapa puluh kali dosis letal mungkin dapat diatasi dengan pengobatan cepat. jangan lakukan pernafasan dari mulut ke mulut. Bila mata terkena organofosfat. Bila penderita tidak sadar. menghambat sekresi bronkus dan melawan depresi pernafasan di otak. Bila kulit terkena organofosfat. Pengobatan umumnya dilanjutkan 2002 digitized by USU digital library 5 . tetapi atropin tidak dapat melawan gejala kolinergik pada otot rangka yang berupa kelumpuhan otot-otot rangka. segeralah dimulai pernafasan buatan. 3.(1) Dosis normal yaitu 1 gram pada orang dewasa. keefektifannya dipertanyakan. segera cuci dengan banyak air selama 15 menit.4. Segera diberikan antidotum Sulfas atropin 2 mg IV atau IM. tergantung kebutuhan.6. 4. Keragu-raguan dalam beberapa menit mengikuti pajanan berat akan meningkatkan timbulnya korban akibat dosis letal. lendir atau makanan yang menyumbat jalan nafas. Pada pekerja yang menggunakan organofosfat perlu diketahui aktivitas normal kolinesterasenya untuk dipakai sebagai pedoman bila kemudian timbul keracunan. dapat diukur dengan cara mengukur keasamannya dengan indikator. Bila organofosfat tertelan dan penderita sadar. Atropin akan menghialngkan gejala –gejala muskarinik perifer (pada otot polos dan kelenjar eksokrin) maupun sentral. midriasis dan takikardi. berat ringannya tanda dan gejala sesuai dengan tingkat hambatan. termasuk kelumpuhan otot-otot pernafasan. 2. Dosis besar ini tidak berbahaya pada keracunan organofosfat dan harus dulang setiap 10 – 15 menit sampai terlihat gejala-gejala keracunan atropin yang ringan berupa wajah merah. segera lepaskan pakaian yang terkena dan kulit dicuci dengan air sabun. Jika kelemahan otot tidak ada perbaikan.2. Pengobatan 1. Terlebih dahulu bersihkan mulut dari air liur. Bila penderita berhenti bernafas. dosis dapat diulangi dalam 1 – 2 jam. Pernafasan diperbaiki karena atropin melawan brokokonstriksi. Penatalaksanaan (1.7) Penanganan keracunan insektsida organofosfat harus secepat mungkin dilakukan. Jika pengobatan terlambat lebih dari 24 jam setelah keracunan.

Pakaian pelindung harus dibuka dan kulit dicuci sempurna sebelum makan. Selalu menyemprot ke arah yang tidak memungkinkan angin membawa bahan. sangat besar bahayanya. Di bawah ini dikutip pedoman dan petunjuk-petunjuk pemakaian pestisida yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja. 2. Pada lebih b. Pakailah masker dan adakanlah ventilasi keluar setempat selama melakukan pencampuran kering bahan-bahan beracun. b. Campuran yang rasanya manis biasanya paling berbahaya. kacamata. dan kehutanan sebagai berikut : a. sebaiknya tertutup dan dalam lemari terkunci. Pada waktu memindahkan pestisida dari wadah yang besar kepada wadah yang kecil untuk diangkat dari gudang ke tempat bekerja. atau aerosol. baju pelindung. tetapi bahayanya dapat diperkecil bila diketahui cara-cara bekerja dengan aman dan tidak mengganggu kesehatan. Penyimpanan di wadah-wadah untuk makanan atau minuman seperti di botolbotol. Pemakaian alat-alat pelindung : 1. kabut. Hindarkan waktu kerja lebih dari 8 jam sehari bekerja di tempat tertutup dengan penguap termis. Penyimpanan pestisida : 1. 3. Transmigrasi dan Koperasi : 1. 3.tidak lebih dari 24 jam kecuali pada kasus pajanan dengan kelarutan tinggi dalam lemak atau pajanan kronis. Bahaya pestisida terhadap pekerja lapangan ialah : a. juga alat demikian tidak boleh digunakan di tempat kediaman penduduk atau di tempat pengolahan bahan makanan. waktu mempersiapkannya sesuai dengan konsentrasi yang dibutuhkan. jika kulit atau paru-paru mungkin kontak dengan bahan tersebut. waktu dan selama menyemprot. Pakaialah respirator. Pakailah pakaian pelindung. 2. 2. Semua pestisida adalah racun. 2. perkebunan. Cara-cara pencegahan lainnya : 1. dan sarung tangan terbuat dari neopren. jika pekerjaan dimaksudkan untuk mencampur bahan tersebut dengan minyak atau pelarut-pelarut organis. 3. Pencegahan Cara-cara pencegahan keracunan pestisida yang mungkin terjadi pada pekerjapekerja pertanian. (1) Pralidoksim dapat mengaktifkan kembali enzim kolinesterase pada sinaps-sinaps termasuk sinaps dengan otot rangka sehingga dapat mengatasi kelumpuhan otot rangka. dan sarung tangan selama menyiapkan dan menggunakan semprotan. Campuran pestisida dengan tepung atau makanan tidak boleh disimpan dekat makanan. Janganlah disemprot tempat-tempat yang sebagian tubuh manusia akan bersentuhan dengannya. 4. 2002 digitized by USU digital library 6 . c. Tandatanda harus jelas juga untuk mereka yang buta huruf. Pada c. Tempat-tempat bekas menyimpan yang telah tidak dipakai lagi harus dibakar agar sisa pestisida musnah sama sekali. Pestisida harus disimpan dalam wadah wadah yang diberi tanda. kacamata. sehingga terhirup atau mengenai kulit tenaga kerja yang bersangkutan.

karenanya perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan di bawah ini : a. serta alat pengaduk yang cukup panjangnya untuk mencegah percikan. Mandi setelah menyemprot adalah merupakan keharusan yang perlu mendapat pengawasan. karena keadaan ini akan mempermudah masuknya pestisida ke dalam tubuh.d. sehingga bahaya percikan dapat ditiadakan atau sekecil mungkin. Harus tersedia fasilitas untuk PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) mengingat efek keracunan pestisida yang dapat berbahaya pada pekerja. 4. c. maka perlu mendapat perhatian intensif : a. minum atau makan sebelum mencuci tangan dengan bersih memakai sabun dan air. Harus ada pengawasan teknis dan medis yang cukup. pekerja tidak boleh merokok. Untuk ini perlu adanya seorang pengawas yang terlatih. bongkar muat. dalam hal ini ia tidak diperkenankan bekerja dengan pestisida. Fasilitas (termasuk sabun) untuk mencuci kulit (mandi) dan mencuci pakaian harus tersedia cukup. Disamping memperhatikan keadaan-keadaan lainnya. baik dalam bentuk tablet maupun suntikan. 9. pakaian kerja ini harus diganti dan dicuci setiap hari. Bahaya terbesar terdapat pada waktu bekerja dengan konsentrat. penyimpanan. Demikian pula untuk mencairkan pasta yang padat. haruslah dipakai bak pencampur yang dalam. d. serta dicuci dengan baik secara berkala. Pekerja tidak boleh bekerja dengan pestisida lebih dari 4 sampai 5 jam dalam satu hari kerja. Dalam mempersiapkan konsentrat dari bubuk dispersi dalam air. pengaduk. 10. untuk pestisida golongan organofosfat perlu dicuci dengan sabun. e. yang dapat terjadi pada setiap tingkat pekerjaan tersebut di atas (waktu memindah-mindahkan. Harus dipakai pakaian kerja yang khusus dan tersendiri. tidak mudah rusak pada waktu pengangkutan dan ditutup rapat. Kontaminasi karena kecelakaan. 6. Konsentrat cair harus ditempatkan dalam wadah yang cukup kuat. 8. Mereka yang bekerja dengan pestisida harus diberitahu bahaya yang akan dihadapinya atau mungkin terjadi dan menerima serta memperhatikan pedoman dan petunjuk-petunjuk tentang cara-cara bekerja yang aman dan tidak mengganggu kesehatan. Pekerja yang mendapat cedera atau iritasi kulit pada tempat-tempat yang mungkin terkena pestisida. b. Mengisi bak pencampur harus demikian. Pekerja disini selain memakai alat pelindung seperti pada penyemprot. Bila dipakai pestisida golongan organofosfat harus tersedia atropin. dan dapat bekerja sambil berdiri. Penyemprot diharuskan memakai tutup kepala atau masker yang tak dapat tembus. 2002 digitized by USU digital library 7 . peredearan dan transportasi. b. Mengingat hal-hal tersebut di atas. c. bila aplikasi dari pestisida oleh pekerja yang sama berlangsung dari hari ke hari (kontinu dan berulang kali) dan untuk waktu yang sama. harus pula memakai skor dan sarung tangan yang tidak dapat tembus. menyemprot atau pemakaian lainnya). 7. 3. 5. Memindahkan konsentrat dari satu tempat atau wadah ke tempat yang lain harus memakai alat yang cukup panjang.

12. 14. Sedapat mungkin diusahakan supaya tenaga kerja pertanian yang bersangkutan dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala.11. Alat-alat penyemprot harus memenuhi ketentuan-ketentuan keselamatan kerja. yaitu : a. Harus dipenuhi ketentuan-ketentuan tentang wadah pestisida yang telah kosong atau hampir kosong. Wadah ini harus dikembalikan ke gudang selanjutnya dibakar atau dirusak dan kemudian dikubur. Wadah dapat pula didekontaminasikan dengan memenuhi persyaratan tertentu. terhadap yang menggunakan pestisida organofosfat dilakukan setiap bulan sekali pemeriksaan kesehatan berkala yang berpedoman kepada standard kolinesterase dalam darah. mudah dibaca dan dimengerti baik oleh pekerja maupun pengawas. b. 13. Semua wadah pestisida harus mempunyai etiket yang memenuhi syarat. 2002 digitized by USU digital library 8 .

USA. J. Jeyaratnam. 1995 : 530 – 531. Gill.S.S. T.Third Ed. Pocket Consultant Occupational Health.M. Gossel dkk. 2002 digitized by USU digital library 9 . Gunung Agung. Press. B. Blackwell Science. Occupational Medicine. Principle of Clinical Toxicology. 1990 : 133 –139. 4. Prentice-Hall International Inc. Joseph La Dou. 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Carl Zenz dkk. 1995 : 266 – 268.I. Raven Press. D. 6. Wegman. Suma’mur P. 1994 : 150 – 151. Singapore. 176 – 168. Toksikologi Dasar. Harrington. Edisi kedua. Second Ed. Third Ed. J. USA. 8. Occupational Medicine. 7. U. Levy. Jakarta. 3. 1994 : 625 –629. Frank C. New York. Lu. 1986 : 251 – 255. USA. Third Ed.K. Occupational Health Recognizing and Preventing WorkRelated Disease. F. David Koh. Mosby.H. 1990 : 408 – 417. A. Higine Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta. 5. 1996 : 163. Textbook of Occupational Medicine Practice World Scientific.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful