DETEKSI DINI DAN PENATALAKSANAAN KERACUNAN PESTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT PADA TENAGA KERJA HALINDA SARI LUBIS Fakultas

Kesehatan Masyarakat Program Studi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Sebagai suatu bagian vital dalam tubuh , susunan saraf dilindungi dari toksikan dalam darah oleh suatu mekanisme protektif yang unik, yaitu sawar darah otak dan sawar darah saraf. Meskipun demikian, susunan saraf rentan terhadap berbagai jenis toksikan. Lebih rentannya sebagian dapat dikaitkan dengan fakta bahwa neuron mempunyai suatu laju metabolisme yang tinggi, dengan sedikit kapasitas untuk metabolisme anaerobik. Selain itu, karena dapat dirangsang oleh listrik, neuron cenderung lebih mudah kehilangan integritas membran sel. Panjangnya akson merupakan alasan lain mengapa susunan saraf terutama rentan terhadap efek toksik, karena badan sel harus memasok aksonnya secara struktural maupun secara metabolisme. Susunan saraf terdiri atas dua bagian utama yaitu susunan saraf pusat (SSP) dan susunan saraf perifer (PNS). SSP terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang, dan PNS mencakup saraf tengkorak dan saraf spinal, yang berupa saraf motorik atau sensorik. Neuron saraf spinal sensorik terletak pada ganglia dalam radiks dorsal. Selain itu, PNS juga mencakup susunan saraf simpatis, yang muncul dari neuron sumsum tulang belakang di daerah toraks dan lumbar, dan susunan parasimpatis, yang berasal dari serat saraf yang meninggalkan SSP lewat saraf tengkorak dan radiks spinal sakral. Sel utama dalam susunan saraf adalah neuron serta aksonnya. Struktur sel ini bertanggung jawab terhadap penghantaran impuls saraf. Struktur penyangganya terutama terdiri atas berbagai jenis sel glia. Terlepas dari tiadanya daya hantar, sel glia berbeda dari neuron dalam hal bahwa sel glia, seperti halnya jenis sel lain, dapat bereproduksi sedangkan neuron tidak. Lewat aksonnya, neuron dihubungkan dengan neuron lain pada dendritnya atau dengan reseptor dalam kelenjar atau otot. Bila perangsangan oleh potensial aksi, pada ujung saraf akan dilepaskan neurotransmiter kimia. Neurotransmiter yang paling lazim adalah asetilkolin dan norepinefrin.(8) Pestisida Organofosfat Pestisida digunakan untuk membasmi bermacam-macam hama (tumbuhan maupun binatang) yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Pestisida digunakan di negaranegara dunia ini untuk melindungi tanaman dari kerusakan.(1) Walaupun dalam jumlah dan ukuran kecil tetapi pestisida jelas menimbulkan keracunan pada manusia. Data kematian akibat pajanan dengan pestisida tersebut jarang dijumpai, diduga setiap kematian yang terjadi tidak lebih akibat dari 100 kasus keracunan yang tidak fatal. Survei statistik mengenai morbiditas dan mortalitas menunjukkan penurunan jumlah kematian karena kecelakaan dalam

2002 digitized by USU digital library

1

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO 1986) mendefinisikan adalah setiap zat atau campuran yang diharapkan sebagai pencegahan. Sebagian besar sulfur dilepaskan ke dalam bentuk mercaptan.6) Kurang lebih 90 % dari seluruh pestisida yang dihasilkan digunakan untuk tujuan komersil.penggunaan pestisida.(6) Organofosfat paling banyak digunakan dalam pertanian dan kemungkinan paling banyak frekuensinya sebagai agen penyebab penyakit saraf di antara pekerja pertanian terutama pada negara yang berkembang. tetapi juga secara perlahan toksik pada mamalia. atau bahan makanan binatang. dan soman.000 persenyawaan organofosfat telah disintesa dan diuji aktivitasnya sebagai insektisida. penyimpanan atau pemasaran makanan. tetapi jumlah sebenarnya yang digunakan untuk tujuan sekarang ini mungkin tidak lebih dari tiga lusin.(2. atau yang dapat dilakukan pada binatang sebagai kontrol terhadap serangga. Dijumpai lebih dari 50. sedangkan herbisida lebih banyak digunakan pada negara yang maju. dan sisanya pada pengawasan hama.(1) Farmakokonetik dan Mekanisme Kerja Organofosfat diabsorbsi dengan baik melalui inhalasi. dan tanaman yang tidak disukai atau binatang yang menyebabkan keruskan selama atau dalam proses pencampuran dengan produksi. pajanan pekerjaan terhadap pestisida terutama timbul selama mencampur persenyawaan tersebut dengan air dan penyemprotan campuran tersebut. kontak kulit. Semua insektisida organofosfat berkemungkinan besar menjadi toksik.(1) Di antara pestisida.(1.4) Sintesa awal meliputi persenyawaan seperti Tetraetilfirofosfat (TEPP). dan tertelan dengan jalan utama pajanan pekerjaan adalah melalui kulit. dan penggunaan pada rumah dan taman. Insektisida organofosfat adalah diantara pestisida yang paling toksik pada manusia dan paling banyak frekuensinya ditemukan keracunan insektisida. yang merupakan hasil bentuk aroma dari bentuk –thion 2002 digitized by USU digital library 2 . Tertelan sedikit saja seperti 2 mg pada anak-anak dapat menimbulkan kematian. Konversi terjadi pada lingkungan sehingga hasil tanaman pekrja dijumpai pajanan residu yang dapat lebih toksik dari pestisida yang digunakan. golongan organofosfat yang paling umum ditemukan. Penelitian dilakukan sebagai perkembangan dengan munculnya malathion yang merupakan insektisida poten dengan sedikit risiko pada manusia. Insektisida paling banyak digunakan pada negara yang berkembang. sarin. Hal ini dimungkinkan adanya peningkatan pengetahuan toksisitas pestisida melalui program pencegahan keracunan. Mereka menggunakannya sebagai gas saraf dalam perang kimia seperti tabun.(4) Pada umumnya organofosfat yang diperdagangkan dalam bentuk –thion (mengandung sulfur) atau yang telah mengalami konversi menjadi -okson (mengandung oksigen). perkebunan. atau hama lain di dalam atau pada tubuh binatang tersebut. dalam –okson lebih toksik dari bentuk –thion. parathion dan skradan yang nyata efektif sebagai insektisida. kayu dan produksi kayu. Pada perkebunan. arachnoid.(1) Penemuan Persenyawaan Organofosfat Persenyawaan organofosfat pada mulanya ditemukan di Jerman selama Perang Dunia II. komiditi pertanian. menghancurkan atau pengawasan setiap hama termasuk vektor terhadap manusia atau penyakit pada binatang.

(1. Akibatnya terjadi penumpukan ACh pada sinapssinaps kolinergik. Pengetahuan mekanisme toksisitas memerlukan pengetahuan lebih dulu aksi kolinergik neurotransmiter yaitu asetilkolin (ACh) . Aktivitas AChE tetap dihambat sampai enzim baru terbentuk atau suatu reaktivator kolinesterase diberikan.(4) Konversi dari –thion menjadi -okson juga dijumpai secara invivo pada metabolisme mikrosom hati sehingga –okson menjadi pestisida bentuk aktif pada hama binatang dan manusia. dan inilah yang menimbulkan gejala-gejala keracunan organofosfat.(1) 2002 digitized by USU digital library 3 . tanda dan gejala umumnya dihubungkan dengan stimulasi reseptor perifer muskarinik.(1) Pada sistem saraf perifer. Dengan berfungsi sebagai antikolinesterase. dalam dua atau empat minggu pada pseudocholinesterase plasma dan empat minggu sampai beberapa bulan untuk eritrosit. mamalia dan manusia melalui inhibisi asetilkolinesterase pada saraf. Aktivitas ini kemudian akan menurun.2. dan reaksi-reaksi bahayanya meliputi sakit kepala.3.4) Insektisida organofosfat menghambat AChE melalui proses fosforilasi bagian ester anion. Reseptor muskarinik dan nikotinik-asetilkolin dijumpai pada sistem saraf pusat dan perifer.(1. Ketika asetilkolin dilepaskan.5.4.6. asetilkolin dilepaskan di ganglion otonomik : 1.2.4. neuromuscular junction pada otot rangka. Mercaptan memiliki aroma yang rendah. peranannya melepaskan neurotransmiter untuk memperbanyak konduksi saraf perifer dan saraf pusat atau memulai kontraksi otot. mual. reseptor asetilkolin umumnya lebih penting toksisitas insektisitada organofosfat pada medulla sistem pernafasan dan pusat vasomotor. sinaps postgamglion parasimpatik 3. Hepatik esterase dengan cepat menghidrolisa organofosfat ester.7) Fungsi normal asetilkolin esterase adalah hidrolisa dan dengan cara demikian tidak mengaktifkan asetilkolin. Pada dosis lebih besar juga mempengaruhi reseptor nikotinik dan reseptor sentral muskarinik. sinaps preganglion simpatik dan parasimpatik 2. saraf dan neuromuscular junction.organofosfat.7) Pajanan pada dosis rendah. Ikatan fosfor ini sangat kuat sekali yang irreversibel. kerjanya menginaktifkan enzim kolinesterase yang berfugnsi menghidrolisa neurotransmiter asetilkolin (ACh) menjadi kolin yang tidak aktif.3. Pseudocholinesterase atau serum cholisterase berada terutama pada serum. plasma dan hati.(1. muntah yang selalu keliru sebagai akibat keracunan akut organofosfat. Pada sistem saraf pusat. Organofosfat menimbulkan efek pada serangga. Ada dua bentuk AChE yaitu true cholinesterase atau asetilkolinesterase yang berada pada eritrosit. menghasilkan alkil fosfat dan fenol yang memiliki aktifitas toksikologi lebih kecil dan cepat diekskresi.6. Efek asetilkolin diakhiri melalui hidrolisis dengan munculnya enzim asetilkolinesterase (AChE).

(4) Kematian keracunan akut organofosfat umumnya berupa kegagalan pernafasan.(1. menunjukkan 2002 digitized by USU digital library 4 . diantaranya lekositosis. kemudian berkembang kelemahan pada jari dan kaki berupa foot drop. dan salivasi (MUDDLES).ini bukan keracunan organofosfat karena hal tersebut jarang terjadi. Kehilangan sensori sedikit terjadi. melalui inhalasi gejala timbul dalam beberapa menit. Bila gejala muncul setelah lebih dari 6 jam. Tanda dan Gejala Keracunan organofosfat dapat menimbulkan variasi reaksi keracunan. perubahan aktifitas kolinesterase sesuai dengan tanda dan gejala merupakan informasi untuk diagnosa dan penanganan sebagian besar kasus. Ingesti atau pajanan subkutan umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menimbulkan tanda dan gejala.(1. tetapi pengobatan tidak harus menunggu hasil laboratotium.(1) Tanda dan gejala awal keracunan adalah stimulasi berlebihan kolinergik pada otot polos dan reseptor eksokrin muskarinik yang meliputi miosis. Walaupun demikian..(7) B.5. pernafasan Cheyne Stokes dan coma.7) Pada umumnya gejala timbul dengan cepat dalam waktu 6 – 8 jam.(1) Dosis menengah sampai tinggi terutama terjadi stimulasi nikotinik pusat daripada efek muskarinik (ataksia.(1. yang dapat ditemukan bersifat individual pada keracunan akut.(4) Insektisida organofosfat diabsorbsi melalui cara pajanan yang bervariasi.6. Absorbsi perkutan dapat menimbulkan keringat yang berlebihan dan kedutan (kejang) otot pada daerah yang terpajan saja. gangguan perkemihan. bronkokonstriksi dan kelumpuhan otot-otot pernafasan yang kesemuanya akan meningkatkan kegagalan pernafasan. diare. Oedem paru. proteinuria. Tanda dan gejala dihubungkan dengan hiperstimulasi asetilkolin yang persisten. Inhalasi dalam konsentrasi kecil dapat hanya menimbulkan sesak nafas dan batuk.(1) Pemeriksaan aktivitas kolinesterase darah dapat dilakukan dengan cara acholest atau tinktometer.4) Aritmia jantung seperti hearth block dan henti jantung lebih sedikit sebagai penyebab kematian. Demikian juga refleks tendon dihambat . Pajanan yang terbatas dapat menyebabkan akibat terlokalisir.4.7) Efek yang terutama pada sistem respirasi yaitu bronkokonstriksi dengan sesak nafas dan peningkatan sekresi bronkus.2.4. defekasi.(1) Sindrom ini berkembang dalam 8 – 35 hari sesudah pajanan terhadap organofosfat. Laboratorium Nilai laboratorium tidak spesifik .3. kejang disusul paralisis.2. Pajanan pada mata dapat menimbulkan hanya berupa miosis atau pandangan kabur saja. Jumlah asam asetat yang terbentuk. hilangnya refleks. pengukuran aktifitas inhibisi kolinesterase dapat digunakan. sukar bicara. Komplikasi keracunan selalu dihubungkan dengan neurotoksisitas lama dan organophosphorus-induced delayed neuropathy(OPIDN). eksitasi. Kelemahan progresif dimulai dari tungkai bawah bagian distal.Manifestasi Klinik Keracunan A.(4) Pada konfirmasi diagnosa. Enzim kolinesterase dalam darah yang tidak diinaktifkan oleh organofosfat akan menghidrolisa asetilkolin ( yang ditambahkan sebagai substrat) menjadi kolin dan asam asetat. bingung. glikosuria dan hemokonsentrasi. tetapi bila pajanan berlebihan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit.

Atropin akan menghialngkan gejala –gejala muskarinik perifer (pada otot polos dan kelenjar eksokrin) maupun sentral. Pada pekerja yang menggunakan organofosfat perlu diketahui aktivitas normal kolinesterasenya untuk dipakai sebagai pedoman bila kemudian timbul keracunan. Penatalaksanaan (1. Bila kulit terkena organofosfat. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan : 1. Segera diberikan antidotum Sulfas atropin 2 mg IV atau IM. segera cuci dengan banyak air selama 15 menit.(1) Dosis normal yaitu 1 gram pada orang dewasa. 3. menghambat sekresi bronkus dan melawan depresi pernafasan di otak. Bila penderita berhenti bernafas. Bila mata terkena organofosfat. termasuk kelumpuhan otot-otot pernafasan. Bila organofosfat tertelan. karena gejala-gejala keracunan organofosfat biasanya muncul kembali. berat ringannya tanda dan gejala sesuai dengan tingkat hambatan. Pralidoksim Diberikan segera setelah pasien diberi atropin yang merupakan reaktivator enzim kolinesterase.aktivitas kolinesterase darah. jangan lakukan pernafasan dari mulut ke mulut. Bila organofosfat tertelan dan penderita sadar.4. Pernafasan diperbaiki karena atropin melawan brokokonstriksi. dosis dapat diulangi dalam 1 – 2 jam. Kewmudian atropinisasi ringan ini harus dipertahankan selama 24 – 48 jam.7) Penanganan keracunan insektsida organofosfat harus secepat mungkin dilakukan. dapat diukur dengan cara mengukur keasamannya dengan indikator.6. keefektifannya dipertanyakan. Keragu-raguan dalam beberapa menit mengikuti pajanan berat akan meningkatkan timbulnya korban akibat dosis letal. Terlebih dahulu bersihkan mulut dari air liur. 2. 2. segera lepaskan pakaian yang terkena dan kulit dicuci dengan air sabun. Jika kelemahan otot tidak ada perbaikan. kulit dan mulut kering. segera muntahkan penderita dengan mengorek dinding belakang tenggorok dengan jari atau alat lain. tetapi atropin tidak dapat melawan gejala kolinergik pada otot rangka yang berupa kelumpuhan otot-otot rangka. Dosis besar ini tidak berbahaya pada keracunan organofosfat dan harus dulang setiap 10 – 15 menit sampai terlihat gejala-gejala keracunan atropin yang ringan berupa wajah merah. Pada hari pertama mungkin dibutuhkan sampai 50 mg atropin. Manifestasi klinik keracunan akut umumnya timbul jika lebih dari 50 % kolinesterase dihambat. tidak boleh dimuntahkan karena bahaya aspirasi.(1) Beberapa puluh kali dosis letal mungkin dapat diatasi dengan pengobatan cepat. tergantung kebutuhan. Pengobatan umumnya dilanjutkan 2002 digitized by USU digital library 5 . lendir atau makanan yang menyumbat jalan nafas. Pengobatan 1. Kemudian atropin dapat diberikan oral 1 – 2 mg selang beberapa jam.2. 4. segeralah dimulai pernafasan buatan. dan /atau memberikan larutan garam dapur satu sendok makan penuh dalam segelas air hangat. Jika pengobatan terlambat lebih dari 24 jam setelah keracunan. Bila penderita tidak sadar. midriasis dan takikardi.

dan kehutanan sebagai berikut : a. Transmigrasi dan Koperasi : 1. Cara-cara pencegahan lainnya : 1. Bahaya pestisida terhadap pekerja lapangan ialah : a. Pada c. Campuran pestisida dengan tepung atau makanan tidak boleh disimpan dekat makanan. Tandatanda harus jelas juga untuk mereka yang buta huruf. Di bawah ini dikutip pedoman dan petunjuk-petunjuk pemakaian pestisida yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja. sangat besar bahayanya. 3. Pestisida harus disimpan dalam wadah wadah yang diberi tanda. Penyimpanan di wadah-wadah untuk makanan atau minuman seperti di botolbotol. perkebunan. tetapi bahayanya dapat diperkecil bila diketahui cara-cara bekerja dengan aman dan tidak mengganggu kesehatan. jika pekerjaan dimaksudkan untuk mencampur bahan tersebut dengan minyak atau pelarut-pelarut organis. 2. 2. atau aerosol. 3. Selalu menyemprot ke arah yang tidak memungkinkan angin membawa bahan. Hindarkan waktu kerja lebih dari 8 jam sehari bekerja di tempat tertutup dengan penguap termis. jika kulit atau paru-paru mungkin kontak dengan bahan tersebut. b. 3. Pemakaian alat-alat pelindung : 1. dan sarung tangan selama menyiapkan dan menggunakan semprotan. Pakailah pakaian pelindung. sehingga terhirup atau mengenai kulit tenaga kerja yang bersangkutan. sebaiknya tertutup dan dalam lemari terkunci. 4. Tempat-tempat bekas menyimpan yang telah tidak dipakai lagi harus dibakar agar sisa pestisida musnah sama sekali. Semua pestisida adalah racun. Pada lebih b. c. Pakaian pelindung harus dibuka dan kulit dicuci sempurna sebelum makan. waktu dan selama menyemprot. kabut. dan sarung tangan terbuat dari neopren. kacamata. Pada waktu memindahkan pestisida dari wadah yang besar kepada wadah yang kecil untuk diangkat dari gudang ke tempat bekerja.tidak lebih dari 24 jam kecuali pada kasus pajanan dengan kelarutan tinggi dalam lemak atau pajanan kronis. (1) Pralidoksim dapat mengaktifkan kembali enzim kolinesterase pada sinaps-sinaps termasuk sinaps dengan otot rangka sehingga dapat mengatasi kelumpuhan otot rangka. Janganlah disemprot tempat-tempat yang sebagian tubuh manusia akan bersentuhan dengannya. juga alat demikian tidak boleh digunakan di tempat kediaman penduduk atau di tempat pengolahan bahan makanan. 2. waktu mempersiapkannya sesuai dengan konsentrasi yang dibutuhkan. Pencegahan Cara-cara pencegahan keracunan pestisida yang mungkin terjadi pada pekerjapekerja pertanian. kacamata. Campuran yang rasanya manis biasanya paling berbahaya. baju pelindung. Pakaialah respirator. Penyimpanan pestisida : 1. Pakailah masker dan adakanlah ventilasi keluar setempat selama melakukan pencampuran kering bahan-bahan beracun. 2002 digitized by USU digital library 6 . 2.

5. bila aplikasi dari pestisida oleh pekerja yang sama berlangsung dari hari ke hari (kontinu dan berulang kali) dan untuk waktu yang sama. 4. 10. harus pula memakai skor dan sarung tangan yang tidak dapat tembus. Pekerja disini selain memakai alat pelindung seperti pada penyemprot. Pekerja tidak boleh bekerja dengan pestisida lebih dari 4 sampai 5 jam dalam satu hari kerja. Demikian pula untuk mencairkan pasta yang padat. Mereka yang bekerja dengan pestisida harus diberitahu bahaya yang akan dihadapinya atau mungkin terjadi dan menerima serta memperhatikan pedoman dan petunjuk-petunjuk tentang cara-cara bekerja yang aman dan tidak mengganggu kesehatan. peredearan dan transportasi. Fasilitas (termasuk sabun) untuk mencuci kulit (mandi) dan mencuci pakaian harus tersedia cukup. pakaian kerja ini harus diganti dan dicuci setiap hari. dan dapat bekerja sambil berdiri. 6. maka perlu mendapat perhatian intensif : a. c. minum atau makan sebelum mencuci tangan dengan bersih memakai sabun dan air. Dalam mempersiapkan konsentrat dari bubuk dispersi dalam air. Harus dipakai pakaian kerja yang khusus dan tersendiri. menyemprot atau pemakaian lainnya). Mengingat hal-hal tersebut di atas. Disamping memperhatikan keadaan-keadaan lainnya. 3. pengaduk. untuk pestisida golongan organofosfat perlu dicuci dengan sabun. d. e. Memindahkan konsentrat dari satu tempat atau wadah ke tempat yang lain harus memakai alat yang cukup panjang. 8. penyimpanan. c. Mengisi bak pencampur harus demikian. tidak mudah rusak pada waktu pengangkutan dan ditutup rapat. Kontaminasi karena kecelakaan. karena keadaan ini akan mempermudah masuknya pestisida ke dalam tubuh. b. Konsentrat cair harus ditempatkan dalam wadah yang cukup kuat. yang dapat terjadi pada setiap tingkat pekerjaan tersebut di atas (waktu memindah-mindahkan. haruslah dipakai bak pencampur yang dalam. pekerja tidak boleh merokok. b. sehingga bahaya percikan dapat ditiadakan atau sekecil mungkin. Penyemprot diharuskan memakai tutup kepala atau masker yang tak dapat tembus.d. 9. dalam hal ini ia tidak diperkenankan bekerja dengan pestisida. Untuk ini perlu adanya seorang pengawas yang terlatih. Harus ada pengawasan teknis dan medis yang cukup. serta dicuci dengan baik secara berkala. 2002 digitized by USU digital library 7 . Bila dipakai pestisida golongan organofosfat harus tersedia atropin. serta alat pengaduk yang cukup panjangnya untuk mencegah percikan. bongkar muat. Pekerja yang mendapat cedera atau iritasi kulit pada tempat-tempat yang mungkin terkena pestisida. Bahaya terbesar terdapat pada waktu bekerja dengan konsentrat. baik dalam bentuk tablet maupun suntikan. karenanya perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan di bawah ini : a. Harus tersedia fasilitas untuk PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) mengingat efek keracunan pestisida yang dapat berbahaya pada pekerja. 7. Mandi setelah menyemprot adalah merupakan keharusan yang perlu mendapat pengawasan.

Sedapat mungkin diusahakan supaya tenaga kerja pertanian yang bersangkutan dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Wadah dapat pula didekontaminasikan dengan memenuhi persyaratan tertentu. Wadah ini harus dikembalikan ke gudang selanjutnya dibakar atau dirusak dan kemudian dikubur. b. 13. 14. mudah dibaca dan dimengerti baik oleh pekerja maupun pengawas. terhadap yang menggunakan pestisida organofosfat dilakukan setiap bulan sekali pemeriksaan kesehatan berkala yang berpedoman kepada standard kolinesterase dalam darah. Harus dipenuhi ketentuan-ketentuan tentang wadah pestisida yang telah kosong atau hampir kosong. Semua wadah pestisida harus mempunyai etiket yang memenuhi syarat. 2002 digitized by USU digital library 8 . 12. yaitu : a. Alat-alat penyemprot harus memenuhi ketentuan-ketentuan keselamatan kerja.11.

1995 : 530 – 531. Raven Press. 1990 : 133 –139. A.S. 176 – 168. 6. 4. Occupational Medicine.M. J. Joseph La Dou. U. Harrington. USA. Jeyaratnam. David Koh. 1990 : 408 – 417. Suma’mur P. New York. Third Ed. 5. Singapore.I. 2002 digitized by USU digital library 9 . Third Ed. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. Press. Gossel dkk. Toksikologi Dasar. T.S. 1995 : 266 – 268. 1986 : 251 – 255. 3. 1994 : 150 – 151. Levy. 8. 1996 : 163. Blackwell Science. Gunung Agung. Gill. J. Higine Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Prentice-Hall International Inc. Edisi kedua.H. F. B. 1994 : 625 –629. Principle of Clinical Toxicology. 2. Occupational Medicine. Textbook of Occupational Medicine Practice World Scientific. D. Occupational Health Recognizing and Preventing WorkRelated Disease. Jakarta. Lu. Mosby. Wegman.K. Pocket Consultant Occupational Health. USA. Frank C.Third Ed. Second Ed. 7. USA. Carl Zenz dkk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful