P. 1
Analisa Statik Dan Dinamik Sistem Perpipaan

Analisa Statik Dan Dinamik Sistem Perpipaan

|Views: 351|Likes:

More info:

Published by: Ragerishcire Kanaalaq on May 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/19/2014

pdf

text

original

Sections

BAB I Pendahuluan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang banyak

memerlukan pembangunan demi kemajuannya. Tak bisa dipungkiri bahwa

dalam pembangunan, biasanya diikuti dengan berkembangnya sektor-sektor

lain, salah satunya ialah sektor industri.

Perkembangan perindustrian di Indonesia itu sendiri dimulai pada zaman

penjajahan oleh kolonial belanda (VOC) disekitar tahun 1870-an lewat industri

pengeboran minyak, dan terus berkembang sehingga mengakibatkan

banyaknya dibangun pabrik-pabrik. Suatu pabrik biasanya terdiri dari

peralatan-peralatan yang dihubungkan sehingga membentuk suatu sistem yang

berfungsi untuk memproduksi suatu produk. Salah satu peralatan yang

mendukung kegiatan produksi tersebut ialah pipa. Dimana pipa digunakan

sebagai sarana transportasi fluida. Suatu perindustrian dan perpipaan biasanya

satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Sebuah sistem perpipaan merupakan suatu interkoneksi dari pipa-pipa,

termasuk di dalamnya komponen-komponen dan peralatan-peralatan instalasi.

Sistem perpipaan merupakan sarana yang sangat penting dan paling sering

digunakan dalam setiap kasus pemindahan fluida, hal ini dikarenakan bila

terjadi kesalahan dalam rancangan sistem perpipaan dan tidak sesuai dengan

kode standard yang ditetapkan dan gangguan-gangguan dari luar pipa, dapat

I-1

I-2

BAB I Pendahuluan

membahayakan jiwa manusia. Kenyataannya banyak kecelakaan fatal sering

terjadi, baik itu ledakan, kebakaran dan lebih jauh dari itu, dapat menimbulkan

kerugian bagi perusahaan atas investasi instalasi perpipaan tersebut.

Dari beberapa uraian di atas, penulis tertarik untuk memilih jenis skripsi

dibidang perpipaan dengan judul Analisa Statik dan Dinamik Sistem

Perpipaan Unit Penyulingan Minyak Mentah Dari Cooler 4-1 Ke Pompa 33
Dengan Menggunakan Program Caesar II Versi 5.10
.

B. Batasan Masalah

Keamanan dan kelancaran suatu sistem perpipaan merupakan salah satu

kunci keberhasilan suatu industri atau pabrik dalam melaksanakan fungsinya.

Dimana perpipaan merupakan sarana atau alat transportasi fluida pada suatu

industri, seperti industri perminyakan, industri pembangkit tenaga, sistem

pendingin, sistem pengairan, dan sistem-sistem lainnya.

PT.Pertamina RU III merupakan salah satu unit proses operasi produksi

yaitu pengolahan yang terdapat di Sumatera Selatan. Kilang Pertamina RU III

meliputi (Kilang BBM dan Non BBM atau Petrokimia di Plaju) dan (Kilang

BBM di Sungai Gerong).

Pada penulisan tugas akhir ini, penulis melakukan analisa statik dan

dinamik sistem perpipaan yang ada pada Crude Distillation Unit (CDU) V

yang terdapat pada kilang Pertamina RU III Plaju yaitu sistem perpipaan dari

cooler 4-1 ke suction pompa 33, dengan kerosin atau minyak tanah sebagai

fluida yang dialirkan dan telah diatur pada kode standard ASME/ANSI B31.3.

Untuk itu, pembatasan masalah yang dilakukan hanya sebatas analisa

I-3

BAB I Pendahuluan

statik dan dinamik sistem perpipaan. Analisa tersebut dilakukan dengan

menggunakan perangkat lunak Caesar II versi 5.10.

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan skripsi tentang analisa statik dan dinamik pada

sistem perpipaan ini adalah sebagai berikut :

1. Menentukan parameter-parameter fisik yang dapat digunakan untuk

menganalisa perilaku suatu sistem perpipaan seperti : gaya dan momen,

perpindahan, reaksi tumpuan, tegangan dan regangan, getaran, dan lain-lain,

agar tetap masuk dalam nilai batas yang diizinkan berdasarkan kode

standard desain pipa yang dipakai.

2. Menggunakan Program Caesar II versi 5.10 dalam menganalisa perilaku

statik dan dinamik suatu sistem perpipaan.

D. Metodologi Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini terdiri

dari tiga tahap, yaitu :

1. Studi Literatur

Yaitu mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai buku teks,

makalah-makalah teknik, dan sumber bacaan lainnya yang berhubungan

dengan judul tugas akhir yang ditulis, yang berguna sebagai referensi dan

dapat menambah pengetahuan.

2. Studi Lapangan

Yaitu dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan

dan melihat langsung kondisi suatu sistem perpipaan di lapangan.

I-4

BAB I Pendahuluan

3. Metode Diskusi

Penulis melakukan diskusi terutama dengan dosen pembimbing

skripsi dan juga teman-teman sesama mahasiswa, untuk bertukar pikiran

dan menemukan jalan keluar dari masalah yang penulis temukan saat

mengerjakan skripsi ini.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan, maka perlu dibuat sistematika penulisan.

Sistematika ini juga dapat digunakan sebagai acuan dalam penulisan dan untuk

mempersingkat waktu pembacaan, karena berisi penjelasan dari setiap bab

secara garis besarnya.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan penulisan,

batasan masalah, metodologi penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisi tentang teori dasar yang berhubungan dengan

analisis sistem perpipaan secara umum.

BAB III ANALISA PERHITUNGAN FLEKSIBILITAS

Bab ini berisi tentang perhitungan konstruksi sistem pipa yang

dilakukan pada sistem perpipaan dari cooler 4-1 ke suction pompa

33 di Crude Distillation Unit (CDU) V Pertamina RU III Plaju,

dengan menggunakan Program Caesar II versi 5.10.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang pembahasan hasil analisis konstruksi sistem

I-5

BAB I Pendahuluan

pipa yang terjadi dengan menggunakan Program Caesar II versi

5.10.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan dari pembahasan dan saran-saran

mengenai penyelesaian permasalahan yang ada.

BAB II Landasan Teori

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengenalan Pipa

Pipa merupakan suatu peralatan berbentuk silinder yang digunakan

untuk menghantar fluida atau meneruskan tekanan fluida baik berupa gas,

cairan, endapan dan partikel halus lainnya. Pipa dapat terbuat dari bahan-bahan

seperti logam, plastik, beton, fiberglass dan bahan lainnya.

II-1

Gambar 1. Sepotong Pipa Sederhana. (Grinnell, 1981)

Semakin kompleks suatu pabrik berdampak pada semakin rumitnya

sistem perpipaan yang ada, sehingga untuk merancang suatu sistem perpipaan

perlu diperhitungkan dengan matang berdasarkan klasifikasi, spesifikasi dan

standarisasi yang terdaftar dalam bentuk kode dan simbol yang telah umum

dipakai secara internasional, sehingga fluida dapat mengalir tanpa masalah di

sepanjang jalur pipa yang ada.

Untuk melayani jenis-jenis penggunaan dari pipa, maka pipa-pipa telah

dibedakan menjadi beberapa jenis. Berikut hanya beberapa klasifikasi dari

keseluruhan klasifikasi pipa, antara lain :

II-2

BAB II Landasan Teori

1. Berdasarkan jenis fluida yang dialirkan.

• Pipa air

• Pipa minyak

• Pipa gas

• Pipa uap

• Pipa udara

• Pipa lumpur

• Pipa drainage

• dan sebagainya

2. Berdasarkan bahan pembuatnya.

• Pipa logam

• Pipa non logam

3. Berdasarkan jenis instalasinya.

• Pipa proses

• Pipa service

• Pipa utilitas

• Pipa kelautan (marine piping)

• Pipa transportasi

• Pipa sipil

• Plumbing

Setiap jenis pipa hendaknya dipergunakan juga sesuai dengan

spesifikasinya. Demikian pula setiap kondisi kebutuhan pengaliran fluida

tertentu hendaknya dipilih spesifikasi pipa dan peralatan instalasinya yang

tepat karena keberhasilan instalasi banyak ditentukan oleh kesempurnaan

spesifikasi ini. Berikut spesifikasi pipa menurut diameter dan tebal pipa :

1. Diameter pipa ditunjukkan dalam ukuran nominalnya (Nominal Pipe Size,

NPS). NPS tidak mencerminkan diameter luar maupun diameter dalam

suatu pipa. Khusus untuk pipa 14 NPS dan lebih besar, diameter luar sama

dengan diameter nominalnya.

2. Ketebalan pipa dinyatakan dengan Schedule Number. Pipa dengan berbagai

ukuran dibuat berdasarkan ketebalan dindingnya untuk tiap ukuran. Untuk

itu, beberapa sumber ketentuan dapat kita ikuti. Di Amerika, ada tiga

II-3

BAB II Landasan Teori

sumber ukuran yang berbeda dapat kita jumpai, yaitu :

American National Standard Institute, dengan ukuran berdasarkan

schedule”. Seperti : schedule 5, schedule 10, schedule 20, dan lain-lain.

American Society of Mechanical Engineers (ASME) dan American Society

for Testing Materials (ASTM), dengan ukuran : Standard (STD), extra

strong (XS) dan double extra strong (XXS).

American Petrolium Institute (API), dengan ukuran standard 5L dan 5 LX.

Ukuran-ukuran ini tidak mempunyai acuan untuk ukuran-ukuran individu

dan ketebalan dinding.

Pada suatu proyek perancangan sebuah pabrik, sistem perpipaan

mengambil bagian pekerjaan hingga 40% dari total keseluruhan bidang proyek

perancangan. Dimana analisa tegangan atau analisa fleksibilitas merupakan

bagian yang paling bertanggung jawab atas desain dan pelaksanaan sistem

perpipaan.

Dalam pemecahan masalah sistem perpipaan dalam industri dan praktisi

telah dikenal beberapa metode pemecahan yang diyakini dapat dijadikan dasar

dalam pemecahan masalah sistem perpipaan. Berikut beberapa metode yang

sering digunakan dalam pemecahan masalah tersebut :

a. ITT Grinell

b. M.W kellog

c. Digital computer solution seperti Caesar II, SAP 2000 dan lain-lain.

Metode yang digunakan diatas pada dasarnya ialah untuk mencari

tegangan yang terjadi pada pipa, dan membandingkan dengan nilai tegangan

II-4

BAB II Landasan Teori

izin dari suatu bahan. Sehingga pipa dapat dikategorikan aman jika tegangan

tersebut lebih kecil dari pada tegangan izin bahannya.

B. Tegangan-tegangan Yang Terjadi Pada Pipa

Suatu gaya yang dikenakan pada suatu sistem perpipaan dapat

mengakibatkan terjadinya beberapa tegangan pada suatu sistem perpipaan.

Dimana tegangan didefinisikan sebagai suatu gaya yang dikenakan pada suatu

luas permukaan. Tegangan juga digunakan sebagai suatu besaran mekanik

yang menyatakan suatu tahanan terhadap gaya-gaya luar pada suatu material.

Tegangan-tegangan yang terjadi pada pipa dibagi menjadi beberapa jenis

berdasarkan arahnya yang sesuai dengan arah sistem koordinat yang ada.

Tegangan akan bernilai positif jika yang bekerja ialah tegangan tarik dan

bernilai negatif jika yang bekerja ialah tegangan tekan.

Berikut gambar sebuah pipa dan suatu elemen tiga dimensi yang diambil

dari pipa yang digunakan untuk memudahkan kita menentukan jenis tegangan

yang terjadi.

Gambar 2. Sebuah Pipa dan Elemen Tiga Dimensinya (Haldi Bina, 2009)

Dimana :

SL : Tegangan longitudinal

SC : Tegangan circumferensial atau tegangan keliling

II-5

BAB II Landasan Teori

SR : Tegangan radial

ST : Tegangan torsi atau geser

Di : Diameter dalam pipa

Do : Diameter luar pipa

Tegangan pada pipa dapat diuraikan berdasarkan arahnya yang sesuai

dengan arah sistem koordinat yang ada adalah sebagai berikut :

B.1. Tegangan Longitudinal (SL)

Tegangan longitudinal merupakan tegangan yang terjadi di

sepanjang sumbu longitudinal atau aksial sebuah pipa. Berdasarkan gaya

penyebabnya, tegangan longitudinal dibagi menjadi tiga, yaitu :

a. Tegangan Aksial, yang terjadi akibat gaya dalam aksial.

Gambar 3. Tegangan Aksial (Literatur 1)

Sax = ………………………..……………...……… (Lit. 1, hal 1-8)

Dimana :

Sax : Tegangan akibat gaya dalam aksial (Psi)
Fax : Gaya dalam aksial (lb)
Am : Luas penampang material pipa = π(do2

di2

)/4 = πdmt (in2

)

dm : diameter rata-rata pipa =

(in)

do : diameter luar pipa (in)

di : diameter dalam pipa (in)

II-6

BAB II Landasan Teori

b. Tegangan longitudinal yang terjadi karena tekanan dalam.

Sp = P ……………………….…………...……….. (Lit. 1, hal 1-9)

Dimana :

S

egangan akibat tekanan dalam pipa (Psi)

p : T

P : Tekanan dalam pipa (pressure gauge), (Psi)

(in2

)

: Luas penampang dalam pipa =

Am : Luas penampang material pipa =

(in2

)

t : Tebal pipa (in)

Jadi, tegangan longitudinal karena tekanan dalam pipa adalah

Sp =

Untuk sederhananya, rumus dapat ditulis :

Sp =

Gambar 4. Tegangan Akibat Tekanan Dalam Pipa (Haldi Bina, 2009)

c. Tegangan lentur yang terjadi akibat ekspansi thermal.

Sb = …………………………….…………...……. (Lit. 1, hal 1-10)

Dimana :

Mb : Momen lentur (lb-in)

c : Jarak dari sumbu netral ke titik yang diperhatikan (in)

I : Momen inersia pipa

II-7

BAB II Landasan Teori

=

(in4

)

Tegangan lentur bernilai nol pada sumbu netral pipa dan memiliki

harga maksimum di luar penampang pipa, maka tegangan lentur

maksimum, nilai c = ro :

tegangan tekan maksimum
tegangan tekan maksimum
nol tegangan lentur
tegangan tarik maksimum
tegangan tarik maksimum

Gambar 5. Distribusi Momen Lentur (Literatur 1)

Untuk pipa lurus :

Sb =

= ………………...…..……………….... (Lit. 1, hal 1-10)

Untuk pipa lengkung :

Sb = . …………..……...…………………. (Lit. 2, hal 1-10)

Dimana :

Sb : Tegangan lentur (Psi)

Ro : Radius luar pipa (in)

: Faktor intensitas tegangan

Z : Modulus penampang pipa = (in3

)

Mb : Momen lentur (lb-in)

Maka tegangan longitudinal secara keseluruhan adalah :

SL = + + ……………….…….………. (Lit. 1, hal 1-10)

B.2. Tegangan Sirkumferensial (SH) atau Tegangan Keliling

II-8

BAB II Landasan Teori

Tegangan ini disebabkan oleh tekanan dalam pipa, dan bernilai

positif jika tegangan cenderung membelah pipa menjadi dua. Besar

tegangan ini menurut persamaan Lame adalah :

SH =

…………………..……...………..….. (Lit. 1, hal 1-10)

Dimana :

: Radius luar pipa (in)

:

r : jarak radius ke titik yang sedang diperhatikan (in)

Radius dalam pipa (in)

Untuk pipa yang tipis dapat dilakukan penyederhanaan rumus

tegangan keliling dengan mengasumsikan gaya akibat tekanan dalam yang

bekerja sepanjang pipa, yaitu : F =

, ditahan oleh dinding pipa seluas

Am = , sehingga rumus untuk tegangan keliling dapat ditulis sebagai

berikut :

SH = = atau SH = …………….…...…….... (Lit. 1, hal 1-11)

Tegangan circumferensial dapat dilihat pada ( Gambar 6 ) :

Gambar 6. Tegangan Circumferensial (Literatur 1)

B.3. Tegangan Radial (SR)

II-9

BAB II Landasan Teori

Tegangan radial ini berupa tegangan yang searah jari-jari, menuju ke

pusat jari-jari atau keluar pusat jari-jari, tegangan yang dihasilkan adalah :

SR =

……………..………………...…..…… (Lit. 1, hal 1-11)

Karena jika r = ro maka SR = 0 dan jika r = ri maka SR = -P yang

artinya tegangan ini nol pada titik dimana tegangan lendutan maksimum,

biasanya tegangan ini diabaikan.

B.4. Tegangan geser (τ)

Tegangan geser adalah tegangan yang arahnya paralel dengan

penampang permukaan pipa, terjadi jika dua atau lebih tegangan normal

yang diuraikan di atas bekerja pada satu titik. Tegangan geser pada sistem

pipa antara lain akibat gaya dari tumpuan pipa (pipe support)

dikombinasikan dengan gaya lentur. Berdasarkan gaya yang terjadi,

tegangan geser dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Tegangan geser yang terjadi karena adanya gaya geser langsung.

τmax = …………………………...………….…… (Lit. 1, hal 1-12)

Dimana :

τmax : Tegangan geser maksimum (Psi)

V : Gaya geser (lb)

Q : Faktor bentuk tegangan geser : 1,33 untuk silinder solid

Tegangan ini maksimum di sumbu netral (di sumbu simetri pipa)

dan nol pada titik dimana tegangan lentur maksimum (pada permukaan

luar dinding pipa). Besarnya tegangan ini biasanya sangat kecil, maka

II-10

BAB II Landasan Teori

tegangan ini diabaikan. Tegangan akibat gaya geser dapat dilihat pada

gambar berikut :

Gambar 7. Tegangan Akibat Gaya Geser (Haldi Bina, 2009)

b. Tegangan geser yang terjadi akibat ekspansi termal

Tegangan ini hanya terjadi pada sistem konstruksi pipa bidang

jamak (multi-plane pipe construction system), yang besarnya :

……………..………………….....…….. (Lit. 1, hal 1-13)

Dimana :

MT : Momen torsi (lb-in)

c : Jarak dari pusat torsional (in)

R : Resistansi torsional (in4

) = 2 I

Gambar 8. Tegangan Akibat Momen Puntir (Haldi Bina, 2009)

Tegangan torsi maksimum terjadi pada jari-jari luar pipa, maka :

…………………………….…. (Lit. 1, hal 1-13)

Dima :
an

ro : Jari-jari terluar pipa (in)

MT : Momen torsi (lb-in)

II-11

BAB II Landasan Teori

Z : Modulus penampang pipa (in3

)

C. Kode Standard Untuk Sistem Perpipaan

Kode standard untuk sistem perpipaan yang pada saat ini sering dipakai

dari komite B31 adalah :

▪ ASME / ANSI B31.1 – 1992, untuk sistem perpipaan di industri

pembangkit listrik.

▪ ASME / ANSI B31.2 – 1968, untuk sistem perpipaan minyak dan gas.

▪ ASME / ANSI B31.3 – 1993, untuk sistem perpipaan di industri perpipaan

dan pengolahan minyak.

▪ ASME / ANSI B31.4 – 1992, untuk pipa transport minyak dan zat cair

lainnya.

▪ ASME / ANSI B31.5 – 1992, untuk sistem perpipaan dingin.

▪ ASME / ANSI B31.8, untuk sistem perpipaan transport gas.

▪ ASME / ANSI B31.9 – 1988, untuk sistem perpipaan biasa.

Selain ASME Code B31 ada beberapa kode standard pipa yang lain baik

dari Amerika maupun dari Negara lain seperti :

▪ ASME Boiler and Pressure Vessel, Section III, subsection NB, NC, ND,

untuk sistem perpipaan di industri pembangkit listrik tenaga nuklir.

▪ API kode seri untuk industri dibidang migas.

▪ Stoomwezen dari Belanda.

▪ SNCT kode Perancis untuk petrokimia.

▪ Canadian Z662 dari Kanada.

▪ BS7159 dari Inggris.

II-12

BAB II Landasan Teori

▪ Norwegian dan DNV dari Norwegia.

Pada industri perminyakan kode standard yang sering dipakai adalah

ASME B31.3. Dasar penggunaan kode standard ini adalah karena ASME

B31.3 memuat persyaratan untuk material, perancangan, fabrikasi, perakitan,

pembangunan, pemeriksaan, inspeksi dan pengujian sistem perpipaan. Kode ini

berlaku untuk semua fluida, antara lain :

▪ Bahan kimia yang dapat berupa bahan baku, bahan setengah jadi maupun

bahan jadi.

▪ Produk-produk perminyakan.

▪ Gas, uap air, udara dan air.

▪ zat padat yang dijadikan cair (Fluidezed solids).

▪ Fluida dingin (Refrigerant).

D. Beban-beban Pada Sistem Perpipaan

Suatu sistem perpipaan akan mengalami beberapa kondisi pembebanan,

hingga menghasilkan suatu tegangan pada setiap kondisi pembebanan tersebut.

Kode ASME/ANSI B31.3 membagi tegangan berdasarkan beban yang terjadi

menjadi tiga macam, yaitu :

1. Tegangan karena beban tetap (Sustained load)

Tegangan longitudinal pipa disebabkan oleh bobot berat dan tekanan.

Sl =

…..…… (Lit. 1, hal 1-47)

Dimana :

Sl : Tegangan longitudinal karena beban tetap (Psi)

Fax : Gaya aksial karena beban tetap (lb)

II-13

BAB II Landasan Teori

Mi : Momen lentur sebidang (in-plane) karena beban tetap (in-lb)

Mo : Momen lentur tidak sebidang (out-plane)

arena beban tetap (in-lb)

k

: Besar kenaikan tegangan (SIF) in-plane dan out-plane,

dari Appendix D dari ASME/ANSI B31.3 lihat (Lampiran E)

Sh : Tegangan dasar yang diizinkan oleh material menurut

Appendix A dari ASME/ANSI B31.3 lihat (Lampiran E)

2. Tegangan karena beban ekspansi (Expansion load)

Tegangan kombinasi pipa disebabkan oleh perbedaan temperatur

(beban ekspansi termal).

SE =

…………………..… (Lit. 1, hal 1-48)

………………………………...……… (Lit. 1, hal 1-48)

Dimana :

SE : Tegangan karena beban ekspansi (Psi)

Mi : Perbedaan momen lentur sebidang (in-plane) karena beban

ekspansi (in-lb)

Mo : Perbedaan momen lentur tidak sebidang (out-plane) karena beban

ekspansi (in-lb)

MT : Perbedaan momen puntir karena beban ekspansi (in-lb)

Sc : Tegangan dasar yang diizinkan oleh material menurut Appendix

A dari ASME/ANSI B31.3, pada temperatur terendah (dingin),

II-14

BAB II Landasan Teori

lihat pada (Lampiran E)

Sh : Tegangan dasar yang diizinkan oleh material menurut Appendix

A dari ASME/ANSI B31.3, pada temperatur tertinggi (panas),

lihat pada (Lampiran E)

: Faktor reduksi dengan mempertimbang

kan kelelahan

material (beban dinamis yang berulang)
SA : Tegangan yang diizinkan material (Psi)

Untuk nilai dapat dilihat pada ( Tabel 1) di bawah ini :

Tabel 1. Faktor Pengurangan Tegangan

JUMLAH SIKLUS TEMPERATUR
Kurang dari 7000

1,0

7000 - 14000

0,9

14000 - 22000

0,8

22000 - 45000

0,7

45000 - 100000

0,6

100000 atau lebih

0,5

Sumber : Literatur 1

3. Tegangan karena beban tidak terduga (Occasional Load)

Tegangan kombinasi pipa ini disebabkan karena beban perpindahan

tumpuan dan anchor, misalnya akibat pengaruh pengaturan tekanan pada

katup dan water hammer, beban angin, beban gempa, dan beban tidak

terduga lainnya.

E. Analisa Tegangan Pipa Dengan Program Komputer

II-15

BAB II Landasan Teori

Berkembangnya teknologi komputer turut membantu para engineer

dalam pemecahan permasalahan analisa tegangan pada semua jenis elemen.

Dimana banyak dikembangkan program analisa tegangan yang menggunakan

pripsip Metode Elemen Hingga, salah satunya ialah program Caesar II versi

5.10.

Dalam hal sistem perpipaan, beberapa asumsi yang umum digunakan

oleh program Metode Elemen Hingga untuk analisa tegangan pipa adalah

sebagai berikut :

a. Stabilitas struktur (local buckling) diabaikan pada seluruh elemen pipa.

b. Bidang penampang pipa tetap sebelum dan sesudah deformasi.

c. Hukum Hooke berlaku diseluruh penampang pipa.

d. Gaya dan momen diasumsikan bekerja pada sumbu netral pipa.

e. Deformasi rotasi diasumsikan sangat kecil.

Salah satu bagian yang sangat penting dalam menggunakan program

Metode Elemen Hingga adalah permodelan kondisi batas, dalam hal analisa

tegangan pipa adalah tumpuan pipa (piping restraint). Sangat penting dalam

tipe tumpuan pipa adalah parameter yang berkaitan dengan derajat kebebasan

yang ditahan, kekakuan, efek tak-linear, koefisien friksi, dan lainnya.

Pemodelan tumpuan pipa harus dapat menggambarkan sebaik mungkin

keadaan fisik tumpuan yang sebenarnya. Berbagai tipe tumpuan pipa serta

pemodelan pada program Caesar II dan arah derajat kebebasan yang harus

ditahan adalah sebagai berikut, dengan sumbu vertikal pipa adalah sejajar

dengan sumbu global Y :

II-16

BAB II Landasan Teori

1. Anchor

Yaitu tumpuan dimana seluruh derajat kebebasan (X,Y,Z,RX,RY,RZ)

sepenuhnya ditahan. Anchor dapat ditemukan pada tumpuan sebagai

berikut :

a. Anchor yang sengaja dibuat, biasanya pipa dilas ke struktur atau

menggunakan kombinasi Clamp dengan baut yang dihubungkan kaku ke

struktur.

b. Anchor yang terjadi pada penetrasi ke dinding atau lantai beton.

c. Anchor yang diciptakan karena sambungan pipa ke peralatan seperti :

vessel dan pompa.

2. Restraint

Yaitu tumpuan yang kaku atau rigid dan ditahan pada satu atau lebih

derajat kebebasan dimana minimal satu derajat kebebasan tetap bebas.

Restraint dapat dibedakan sesuai dengan arah penahanannya yaitu :

a. Axial restraint

Ditahan pada arah aksial atau longitudinal pipa. Tipe restraint pada

Caesar II adalah X atau Y untuk aksial pipa, dikombinasikan dengan Z

atau X untuk arah tegak lurus mendatar pipa, dan Y dengan Gap jika

diperlukan, jenis axial restraint dapat dilihat pada gambar :

II-17

BAB II Landasan Teori

Gambar 9. Axial Restraint (Literatur 1)

b. Rod hanger

Menahan gerakan kebawah dari bobot mati pipa dimana titik

diamnya (pivot) berada diatas pipa dengan menggunakan pin, jenis Rod

Hanger dapat dilihat pada gambar :

Gambar 10. Rod Hanger (Literatur 1)

c. Sway strut

Kombinasi dua pin membebaskan tiga arah rotasi dan translasi

lateral dan aksial, Sway Strut dapat dilihat pada gambar :

Gambar 11. Sway Strut (Literatur 1)

d. Structural steel restraint

Terbuat dari struktur baja yang menahan pipa dengan rigid. Arah

penahan tergantung pada konfigurasi struktur baja, jenis Structural steel

restraint dapat dilihat pada gambar :

II-18

BAB II Landasan Teori

Gambar 12. Structural Steel Restraint (Literatur 1)

e. Penetrasi di dinding/ lantai

Dengan lugs sebagai penyangga, dua arah lateral translasi dan dua

arah rotasi ditahan, jenis penetrasi di dinding/ lantai dapat dilihat pada

gambar :

Gambar 13. Penetrasi di Dinding/ Lantai (Literatur 1)

f. Guide

Fungsinya menahan arah translasi lateral (tegak lurus dengan pipa)

dibandingkan mendatar atau di dua arah lateral, jika pipa dipasang

vertikal.

g. Slide support

Menahan arah vertikal dari bawah dimana ada friksi antar pipa atau

plat slide dengan tumpuan, Slide support dapat dilihat pada gambar :

II-19

BAB II Landasan Teori

Gambar 14. Slide Support (Literatur 1)

3. Variabel Spring Hanger Support

Yaitu tumpuan yang menahan pipa dari gerakan ke bawah dengan

kekakuan tertentu (spring) sedemikian hingga cukup untuk menahan bobot

mati dari pipa, sementara pergerakan tetap dimungkinkan untuk ekspansi

pipa panas, jenis Variabel Spring Hanger Support dapat dilihat pada

gambar :

Gambar 15. Variabel Spring Hanger Support (Literatur 1)

4. Constant Spring Hanger

Yaitu tumpuan yang menahan pipa dari gerakan ke bawah dengan

besar gaya yang tetap, sehingga cukup untuk menahan bobot mati dari pipa

sementara pergerakan tetap dimungkinkan untuk ekspansi pipa panas, lihat

pada gambar :

II-20

BAB II Landasan Teori

Gambar 16. Constant Spring Hanger (Literatur 1)

5. Snubber

Yaitu tumpuan yang dibuat khusus untuk menahan gerakan yang cepat

dan tidak punya tahanan sama sekali, untuk beban statis yang bekerja sangat

lambat, seperti : berat mati dan ekspansi termal. Snubber dapat dilihat pada

gambar :

Gambar 17. Snubber (Literatur 1)

6. Sway brace

Yaitu tumpuan dengan kekakuan tertentu, yang dihubungkan dengan

strut, bisanya digunakan untuk merubah karakteristik dinamis dari sistem

pipa untuk menghindari masalah resonansi. Untuk lebih jelas lihat gambar :

BAB II Landasan Teori

II-21

Gambar 18. Sway Brace (Literatur 1)

F. Penggunaan Metode Elemen Hingga Pada Program Caesar II Versi 5.10

Program komputer untuk menganalisa tegangan pipa bekerja dengan

prinsip Metode Elemen Hingga yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Metode fleksibilitas (Flexibility method) dimana besaran yang dicari adalah

gaya dan momen.

2. Metode kekakuan (Stiffness method) dimana besaran yang dicari adalah

translasi dan rotasi, gaya dan momen dihitung kemudian dengan

menggunakan persamaan kekakuan setelah translasi dan rotasi yang sudah

diketahui.

Program komputer untuk analisa tegangan pipa yang tersedia sekarang

umumnya menggunakan metode kekakuan, demikian juga halnya dengan

Caesar II. Metode Elemen Hingga secara umum memakai beberapa asumsi.

Asumsi dasar yang dipakai oleh program elemen hingga untuk analisa

tegangan pipa adalah pipa dimodelkan sebagai elemen garis (Elemen 1-D)

yang bertepatan dengan sumbu simetri pipa. Elemen garis dihubungkan dengan

dua titik nodal (satu pada ujung “ from ” dan yang lainnya pada ujung “ end “).

Setiap titik nodal memiliki koordinat ruang dengan enam derajat kebebasan (3

II-22

BAB II Landasan Teori

translasi dan 3 rotasi). Pada elemen garis ini didefinisikan parameter kekakuan

yaitu sifat material dan geometri penampang pipa, yang diasumsikan konstan

sepanjang elemen.

Secara umum langkah-langkah yang dilakukan dalam menggunakan Metode

Elemen Hingga dirumuskan sebagai berikut :

Langkah 1. Pemilihan tipe elemen dan diskritisasi.

Amatilah benda atau struktur yangakan dianalisa, apakah satu dimensi

(contoh batang panjang), dua dimensi (plate datar) atau tiga dimensi (seperti

balok).

a. Elemen garis (1-Dimensi)

Gambar 19. Elemen garis (Juliyanto, 2010)

b. Elemen 2-Dimensi

Gambar 20. Elemen 2 dimensi (Juliyanto, 2010)

c. Elemen 3-Dimensi

Gambar 21. Elemen 3 dimensi (Juliyanto, 2010)

BAB II Landasan Teori

II-23

d. Elemen axismetri

Gambar 22. Elemen Axismetri, a. Quadritarial, b. Triangular Ring
(Juliyanto, 2010)

Bagilah/potong benda dalam bagian-bagian kecil (disebut elemen). Langkah ini

disebut sebagai langkah diskritisasi. Banyaknya potongan yang dibentuk

bergantung pada geometri dari benda yang akan dianalisa, sedangkan bentuk

elemen yang diambil bergantung pada dimensinya.

.

Gambar 23. Contoh Diskritisasi Pada Elemen Silinder (Juliyanto, 2010)

Langkah 2. Pemilihan fungsi pemindah/fungsi interpolasi.

Jenis-jenis fungsi yang sering digunakan adalah fungsi linear, fungsi

kuadratik, kubik atau polinomial derajat tinggi.

Langkah 3. Mencari hubungan strain/displacement dan stress/strain.

Sebagai contoh, hubungan ini untuk kasus satu dimensi berlaku :

∊x = du/dx dan x = E ∊x

Dimana :

∊x = Strain

II-24

BAB II Landasan Teori

x = Stress

E = Modulus elastisitas

u = Displacement

Langkah 4. Dapatkan matrik kekakuan dari elemen yang dibuat.

Untuk benda yang terdiri dari beberapa buah elemen, lakukan

penggabungan (assemblage) dari matrik kekakuan elemen menjadi matrik

kekakuan global yang berlaku untuk semua benda atau struktur.

a. Matrik Kekauan Lokal

Matrik kekauan local adalah matrik yang memenuhi hubungan antara

gaya yang diberikan ( F ) dengan perpindahan/ displacement yang

dihasilkan ( d ) melalui persamaan :

F = k d

Gambar 24. Elemen Batang Ekuivalen Dengan Sebuah Pegas Linear
(Juliyanto, 2010)

Sebuah batang dengan dimensi panjang lebih besar dari diameternya dapat

di umpamakan menjadi elemen garis. Pemberian nomor mempunyai metode

khusus, yakni :

k Æ Menandakan elemen

Angka Æ Menandakan titik nodal

Persamaan kesetimbangan gaya yang bekerja :

II-25

BAB II Landasan Teori

f1x = k ( d1x – d2x )

f2x = k ( d2x – d1x )

Dalam bentuk matrik persamaan diatas ditulis sebagai :

Matrik kekakuan local

b. Matrik Kekakuan Global

Matrik kekakuan global terbentuk jika jumlah element lebih dari satu

sehingga mempunyai minimal 2 matrik local. Dapat di contohkan dalam

kasus dibawah ini .

Gambar 25. Dua Elemen Dengan 3 Node (Juliyanto, 2010)

Matrik kekakuan lokal

Untuk elemen 1 :

untuk elemen 2 :

3

1

k1

Matrik kekakuan lokal elemen 1

2

3

k2

k

k2

f2

1

3

1

II-26

BAB II Landasan Teori

Matrik kekakuan lokal elemen 2

Matrik kekakuan global

Untuk menentukan matrik kekakuan global , dapat ditempuh dua

macam cara sebagai berikut :

• Assembly menggambungkan matrik- matrik elemen yang ada.

Dengan menuliskan matrik

dalam urutan dari atas kebawah

dengan nomor yang membesar. Persamaan ( a ) telah memenuhi,

sedangkan persamaan ( b ) diubah menjadi :

Kemudian lakukan penggabungan ( assemblage ) dari kedua

matrik, sehingga di peroleh :

Matrik kekakuan global untuk seluruh sistem

• Persamaan kesetimbangan gaya global

Gambar 26. Kesteimbangan Gaya Global (Juliyanto, 2010)

f2

3

2

II-27

BAB II Landasan Teori

f1x

= k1 ( d1x – d3x ) = k1 d1x + 0 d2x - k1 d3x

f2x

= k2 ( d2x – d2x ) = 0 d1x + k2 d2x - k2 d3x

f1x

= k1 ( d3x – d1x ) + k2 ( d3x - d2x )

= -k1 d1x – k2 d2x + ( k1 - d2x )

Dari ketiga persamaan terakhir ini ditulis menjadi :

Matrik kekakuan global untuk seluruh sistem

Langkah 5. Gunakan persamaan kesetimbangan { F } = [ k ] { d }

Dengan persamaan ini masukan syarat batas yang diketahui dalam soal.

Langkah 6. Selesaikan persamaan pada langkah 5, dengan menghitung harga

yang belum diketahui.

Jika perhitungan melibatkan matrik dengan ukuran yang kecil, biasanya

ditempuh cara partitioning matrik (diterangkan pada bagian selanjutnya), tetapi

jika perhitungan melibatkan matrik dengan ukuran yang besar, komputer

adalah jalan terbaik dalam mendapatkan solusinya.

Langkah 7. Hitung strain dan stress dari tiap elemen.

Langkah 8. Interpresentasikan kembali hasil-hasil perhitungan yang diperoleh.

BAB III Metodologi Penelitian

III-1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->