BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Glomerulonefritis akut pasca infeksi streptokokus merupakan contoh klasik dari

sindroma nefritis yang ditandai dengan hematuri, oedema, hipertensi dan insufisiensi renal. 1 Penyakit ini erat kaitannya dengan mekanisme imunologis yang mencetuskan inflamasi dan proliferasi pada jaringan glomerulus.2 Di Amerika Serikat penyakit ini merupakan penyakit nonsupuratif pada ginjal yang paling sering ditemui.3 Sedangkan di Medan menempati peringkat ketiga dari kasus rujukan sub divisi nefrologi anak RSU Pirngadi pada tahun 1979-1981.4 Penyakit ini timbul 2-3 minggu setelah infeksi Streptokokus Beta Hemolitikus pada saluran nafas, ataupun kulit. Tingginya angka infeksi di Indonesia menimbulkan kemungkinan yang cukup besar tingginya angka insiden penyakit ini, sehingga akan sangat mudah untuk ditemukan dalam praktik medis sehari-hari.

B. TUJUAN Makalah ini bertujuan untuk melaporkan kasus glomerulonefritis akut pasca infeksi streptokokus.

1

2 Umumnya glomerulonefritis akut terjadi paska infeksi streptokokus di saluran nafas ataupun kulit. hipertensi. patogenesis. melaporkan adanya 170 pasien yang dirawat di rumah sakit pendidikan dalam 12 bulan. proteinuria.5 B. pneumokokus.7 Hasil penelitian multisenter di Indonesia pada tahun 1988.6. dan red cell casts. EPIDEMIOLOGI Glomerulonefritis sering ditemukan pada anak berumur antara 3-7 tahun dan lebih sering mengenai anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. 5 Infeksi lainnya seperti mycoplasma. 3.BAB II PEMBAHASAN A. perjalanan penyakit dan prognosis. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1 dan jarang menyerang anak dibawah usia 3 tahun. Glomerulonefritis akut paska Glomerulonefritis akut dideskripsikan sebagai sindroma klinis dengan manifestasi hematuria. fungsi ginjal.1.2 Gambaran klinis seringkali disertai dengan oedema.5 Sedangkan istilah akut (glomerulonefritis akut) mencerminkan adanya korelasi klinik selain menunjukkan adanya gambaran etiologi. 5 Terdapat strain streptokokus grup A yang nefritogenik yang dapat menyebabkan nefritis akut. stafilokokus. dan infeksi virus (parvovirus). Pasien terbanyak dirawat di 2 . juga dapat menyebabkan glomerulonefritis akut. DEFENISI Glomerulonefritis merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menjelaskan berbagai ragam penyakit ginjal yang mengalami proliferasi dan inflamasi glomerulus yang disebabkan oleh suatu mekanisme imunologis.2. dan terganggunyainfeksi streptokokus merupakan glomerulonefritis yang umumnya terjadi pada anak.

Timbulnya Glomerulonefritis akut setelah infeksi skarlatina 2. dan 49. trombosis vena renalis. dimana hampir 95% anak mengalami kesembuhan dan pemulihan total. purpura anafilaktoid. 3 Prognosis tergantung dari keparahan penyakit. tipe 12.4 Di Amerika Serikat data yang jelas tentang insidensi glomerulonefritis akut.Surabaya (26. kemudian disusul berturut-turut di Jakarta (24.6%).7 D. sebab banyak dalam bentuk ringan ataupun asimtomatis. Meningkatnya titer anti-streptolisin pada serum penderita. penyakit amiloid.2%). Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang melekat pada membrane basalis glomerulus dan kemudian merusaknya.3 C. PATOFISIOLOGI 7 Dari hasil penyelidikan klinis imunologis dan percobaan pada binatang menunjukkan adanya kemungkinan proses imunologis sebagai penyebab glomerulonefritis akut. Dari tipe tersebut di atas tipe 12 dan 25 lebih bersifat nefritogen daripada yang lain. 2.6%).6 Sedangkan hasil penelitian di medan pada tahun 1979-1981 dilaporkan 11% dari seluruh pasien subdivisi nefrologi di RSUP Pirngadi menderita glomerulonefritis akut. 3 . terutama di traktus respiratorius bagian atas dan kulit oleh kuman streprokokus beta hemolitikus golongan A. Glomerulonefritis akut dapat juga disebabkan oleh sifilis. keracunan timah hitam. 4. 16. Proses auto imun kuman streptococcus yang nefritogen dalam tubuh menimbulkan badan auto-imun yang merusak glomerulus. Diisolasinya kuman streptokokus beta hemolitikus golongan A 3. dan Palembang (8. dan lupus eritemtosus. Bandung (17. ETIOLOGI Glomerulonefritis akut pasca infeksi streptokokus didahului oleh infeksi ekstrarenal. Pasien laki-laki dan perempuan berbanding 2 : 1 dan terbanyak pada anak usia antara 6-8 tahun (40.5%). Antara infeksi bakteri dan timbulnya glomerulonefritis akut terdapat masa laten selama lebih kurang 10 hari. 25.7%).7 Hubungan antara glomerulonefritis akut dan infeksi streptokokus ini dikemukakan pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alasan bahwa: 1. sulit untuk dilaporkan. Beberapa ahli mengajukan hipotesis sebagai berikut: 1.

Ini diakibatkan oleh karena Selama fase akut terdapat vasokontriksi arteriola glomelurus yang mengakibatkan tekanan filtrasi menjadi berkurang dan menyebabkan kecepatan filtrasi glomelurus pun menjadi berkurang.5. intake cairan. 7. tetapi dapat tinggi sekali pada hari pertama. Gejala gastrointestinal seperti muntah. Dengan gejala dispnoe. Streptococcus nefritogen dengan membrane basalis glomerulus mempunyai komponen antigen yang sama sehingga dibentuk zat anti yang langsung merusak membrane basalis ginjal. Derajat edema tergantung dari beberapa faktor. dan merupakan faktor kebanyakan anak pergi kerumah sakit. Tekanan darah tetap tinggi selama beberapa minggu dan menjadi permanen bila keadaan penyakitnya menjadi kronis. 1 Pasien umumnya jatuh dalam sindroma nefritis akut 1-2 minggu setelah faringitis streptokokus atau 3-6 minggu setelah pioderma streptokokus.3. Patogenesa terjadinya hipertensi belum diketahui dengan pasti diduga oleh karena timbulnya vasopasme atau iskemia ginjal dan berhubungan dengan gejala serebrum dan kelainan jantung. batuk. dan zatzat lain berkurang. Suhu tubuh tidak terlalu tinggi. Edema diseluruh tubuh.3. Kadang-kadang demam tetap ada walaupun tanpa disertai infeksi lain. dan sebagai akibatnya kadar ureum dan kreatinin dalam darah meningkat. 1 Tingkat keterlibatan ginjal bervariasi mulai dari hematuria mikroskopik yang asimtomatik dengan fungsi ginjal yang normal sampai gagal ginjal akut. E. Filtrasi air. Demam. ataupun hematuri mikroskopis. ureum. Edema biasanya dimulai dari pre orbital.5 Adapun manifestasi klinis yang dapat ditemukan adalah: 1. ortopnoe. Hipertensi ensefalopati dilaporkan terjadi pada 5 % anak yang dirawat di rumah sakit. 4. Gangguan sirkulasi terjadi pada sebagian kasus. Meningkatnya kadar ureum dan kreatinin dalam darah..7 1. dimana tekanan sistole >200mgHg. Hematuria (kencing seperti warna cucian daging). garam. nafsu makan menurun. 3. 4 . dan jarang sekali ditemui pada umur di bawah 3 tahun. 5.1. Peningkatan tekanan darah bervariasi. dan deajat hipoalbuminemia. 2. Hipertensi terdapat pada 60-70% anak pada hari pertama. 6. konstipasi dan diare tidak jarang menyertai glorulonephritis akut. GEJALA KLINIS Glomerulonefritis akut paska infeksi streptokokus seringkali ditemukan pada anak dengan rentang umur 5-12 tahun. yaitu derajat keparahan glomerular. dan diastole >120 mmHg. Ini merupakan komplikasi awal yang serius dari penyakit ini.3.

7 • • Volume urine output berkurang. silinder leukosit. KOMPLEMEN HEMOLITIK 3 • Total hemolitik komplemen menurun selama glomerulonefritis akut paska infeksi streptokokus. urin lebih pekat dan asam. sedangkan titer antibodi streptokokus sangat meningkat (>200). Ditemukan pula albumin (+). • • • • INFEKSI STREPTOKOKUS: 3. eritrosit (++). Gagal ginjal.5. Hematuria yang makroskopis ditemukan pada 50% penderita.7 • • Kultur hapusan tenggorokan ataupun kulit mungkin positif (walaupun jarang). hiperfosfatemia.8. Anti-Dnase B) atau kombinasi dari antigen (Streptozyme test). proteinuria lebih sering terjadi dimana 2-5 % anak dengan post streptokokkus glomeluronefritis akut dapat terjadi masif proteinuria dengan gambaran seperti sindrom nefrotik. Red blood cells (RBC) ditemukan 60-80% pada anak dengan glomeluronefrirtis akut pasca infeksi streptokokus yang dirawat dirumah sakit. ini sulit dideteksi oleh karena urine yang diperiksa tidak segar Polimorponuklear leukositosis dan sel epitel ginjal sering ditemukan pada pasien pada fase awal dari penyakitnya. Glukosuria jarang terjadi. LABORATORIUM URINE : 1. AH. Ini disebabkan oleh karena ureum diresorpsi kembali dari biasanya. sehingga dapat mengakibatkan timbulnya uremia. Tes laboratorium dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi dari variasi antigen streptokokus (ASO.3. Dengan karakteristik lesi di glomerulus. serta berat jenis yang meninggi. leukosit (+). eritrosit dan hialin. F. dan asidosis metabolik. Oliguria (<400 mg/24 jam) dan anuria. Ini disebabkan oleh fungsi tubulus yang relatif terganggu. 5 . Ion natrium dan air diresorpsi kembali sehingga diuresis berkurang 9.

Foto thoraks memperlihatkan corakan kongesti vena di hilus yang sebanding dengan peningkatan cairan ekstraseluler. RENAL 3 • • Tingkat gangguan fungsi ginjal berkorelasi langsung dengan tingkat kerusakan glomerulus. Kadar komplemen biasanya kembali normal dalam 6-8 minggu sakit. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS 3 • Tidak ada pemeriksaan radiologis yang spesifik untuk membantu menegakkan diagnosis glomeluronefritis akut. tetapi pada sebagian kasus dapat saja terjadi leukositosis dan trombositopenia ringan.• • • • Konsentrasi C3 menurun pada 90% pasien pada 2 minggu pertama sakit. Gambaran nefrotik ditemukan pada ± 5% pasien rawat inap. 6  . terutama pada individu dengan kasus berat. sebagian pasien mungkin memiliki gambaran jantung yang sedikit membesar.  Pemeriksaan USG ginjal dapat memberikan gambaran normal sampai pembesaran kedua ginjal dengan kesan hiperekoik. Peningkatan konsentrasi kreatinin serum dan blood urea nitrogen (BUN) biasanya minimal. hiperkalemia dan asidosis metabolik terjadi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang cukup signifikan. Eritropoesis dapat menurun pada stadium lanjut. Hipoproteinemia dan hiperlipidemia. Leukosit dan trombosit biasanya normal. derajatnya tergantung dari volume ekspansi cairan ekstraseluler. • DARAH 3 • • • • Anemia ringan (normositer normokrom) terjadi pada fase awal dari penyakit. Konsentrasi C4 sering ditemukan normal. C5 dan properdin menurun. Hal yang sama juga berlaku pada hiperfosfatemia. namun dapat saja terjadi azotemia berat pada pasien selama sakit Elektrolit biasanya normal.

4. pucat dan terdapat titik perdarahan pada korteks. terdapatnya ronki basah. Tampak proliferasi sel endothel glomerulus yang keras sehingga mengakibatkan lumen kapiler dan kapsula bowman menutup. Pada gambaran mikroskopis bila tampak hampir seluruh glomelurus terkena. Hal ini disebabkan oleh karena terjadi spasme pembuluh darah lokal dengan anoksia dan edema otak. Jantung membesar dan terjadi gagal jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainia di miokardium. Maka sudah terlambat untuk memulai tatalaksana terhadap penyebab dari nefritis. Disamping itu terdapat pula infiltrasi sel epitel kapsul.PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI 7 • • Pada makroskopis ginjal tampak agak membesar. Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan. hiperkalemia. dan hidremia. KOMPLIKASI 1.7 1. walaupun biasanya bersifat suportif dan ditujukan kepada kemungkinan komplikasi. infiltrasi sel polimornukleus dan monosit. muntah dan kejang Ensefalopati hipertensi yang merupakan gejala serebrum karena hipertensi. PENATALAKSANAAN Tidak ada pengobatan khusus yang mempengaruhi penyembuhan kelainan di glomerulus. pusing. komplemen dan antigen streptokokus. namun bila hal ini terjadi maka dialisis peritoneum diperlukan.3 Adapun tatalaksana tersebut adalah: 7 .7 Saat anak dengan glomerulonefristis paska infeksi streptokokus menunjukkan gejala. ortopnoe. hiprfosfatemia. Terjadi akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Ensefalopati hipertensi yang merupakan gejala serebrum karena hipertensi. G. dan meningginya tekanan darah yang bukan saja disebabkan oleh karena spasme pembuluh darah. H. Gangguan sirkulasi berupa dispnea. Gambaran seperti insufisiensi ginjal akut dengan uremia. 3. kerusakan glomerular telah terjadi. melainkan juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma. Anemia yang timbul oleh karena hipervolumia disamping sintesis eritropoetik yang menurun. pembesaran jantung. dan proses penyembuhan sedang berlangsung. Pada pemeriksaan mikroskopis elektron akan tampak membrana basalis menebal tidak teratur. Oliguria sampai anuria dapat berlangsung 2-3 hari. disebut glomerulonefritis diffusa. 2. Sebaliknya morbiditas dan mortalitas dini sangat dipengaruhi oleh tatalaksana medis yang sesuai. Walaupun oliguria sampai anuria jarang pada anak. Terdapat gumpalan di subepitelium yang mungkin dibentuk oleh globulin gama.

5-2 mcg/kg/menit IV). Pemberian penisilin ini dianjurkan hanya untuk 10 hari. penggunaanya dapat dikombinasikan dengan furosemid (2mg/kgBB IV). Tatalaksana umum dimulai dari memutuskan apakah anak akan dirawat inap atau rawat jalan dengan penjajakan rutin. Untuk anak jarang sekali dibutuhkan 2-3 kali pengulangan dosis. tetapi kemungkinan ini sangat kecil sekali. maka diberikan IVFD dengan larutan glukosa 10%. edema. sedangkan pemberian profilaksis yang lama sesudah nefritisnya sembuh terhadap kuman penyebab tidak dianjurkan karena terdapat imunitas yang menetap. 3  Masih diperdebatkan manakah agen yang paling efektif untuk pasien dengan hipertensi berat. atau yang disertai dengan gejala disfungsi serebral. 3  Hipertensi berat tanpa gejala ensefalopati dapat ditangani seperti di atas ataupun dapat dengan vasodilator seperti hidralazine atau nifedipin. Diagoxide. antara lain: Labetalol (0. dan peningkatan kreatinin atau kalium serum. memerlukan penanganan segera. maka jumlah cairan yang diberikan harus dibatasi.5-2mg/kgBB/jam IV).7 Kemudian penatalaksanaan berikutnya didasarkan pada: • Hipertensi Berat (severe hipertension). dan Nitroprusside (0.3 Rawat inap berarti istirahat mutlak 3-4 minggu.1. 3 • Hipertensi ringan sampai sedang tidak memerlukan penanganan darurat (emergency). Makanan lunak diberikan pada penderita dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu telah normal kembali. 7 3. maupun injeksi. sedangkan bila ada komplikasi seperti gagal jantung. hipertensi dan oliguria. dan penggunaan frekuensi dosis yang lebih sedikit dari obat-obat berikut: 3 8 .7 2. Secara teoritis seorang anak dapat terinfeksi lagi dengan kuman nefritogen lainnya. Makanan. dimana tatalaksana yang lebih efektif dengan tirah baring.5. Langkah awal yang harus dilakukan adalah restriksi cairan (400ml/m2/hari + urine output) dan garam. atau sublingual. Bila ada anuria atau muntah. Indikasi rawat inap jika anak menderita hipertensi yang signifikan atau kombinasi oliguria. Pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1g/kgBB/hari) dan rendah garam (1g/hari). edema di seluruh tubuh. Pengobatan terhadap hipertensi. Penggunaanya dapat secara oral. dan dapat diulangi setiap 10-20 menit sampai memberikan respon yang memuaskan. sebab penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa mobiliasi penderita sesudah 3-4 minggu dari timbulnya penyakit tidak berakibat buruk terhadap perjalanan penyakitnya. melainkan mengurangi menyebarnya infeksi streptokokus yang mungkin masih ada. Pemberian antibiotika ini tidak mempengaruhi beratnya glomerulonefritis. Pada penderita tanpa komplikasi pemberian cairan disesuaikan dengan kebutuhan. 7 4. Pemberian penisilin pada fase akut. restriksi cairan. Diketahui ada 3 agen yang memiliki rasio benefit-to-risk yang tertinggi.

sedangkan hipertensi yang persisten dapat kembali normal setelah 6 minggu.3 Proteinuria menghilang dalam 2-3 bulan. 3 5. Anuria ataupun oliguria yang berat dan persisten yang terjadi pada 3-6% anak biasanya bersifat transien. Loop diuretik seperti furosemid (1-3mg/kg/hari PO. kemudian penggunaan diuretik jika edema tidak berkurang atau semakin memburuk. 3 6. 3  Pada pasien yang resisten. Konsentrasi C3 akan kembali normal setelah 8-10 minggu pada lebih dari 95% pasien. 3 7. Hematuria biasanya menghilang dalam 1-3 minggu. dapat mempercepat berkurangnya hipertensi. atau menurun perlahan-lahan dalam 6 bulan. dan tekanan darah kembali normal dalam 2-3 minggu.1 Edema biasanya membaik dalam 5-10 hari. Steroid digunakan pada anak glomerulonefritis yang progresif. Mortalitas pada fase akut dapat dihindarkan dengan penanganan yang tepat terhadap gagal ginjal akut. dibagi 1-2 kali sehari). dan hipertensi. Kemungkinan terjadinya gagal ginjal kronik harus dipertimbangkan jika ditemukan hematuri dan proteinuri secara bersamaan yang menetap dalam 12 bulan. gagal jantung. Edema. Tindakan bedah dapat dilakukan pada waktu mana saja dalam perjalanan penyakit. namun dapat menimbulkan hiperkalemi dan umumnya tidak digunakan sebagai lini pertama terapi glomerulonefritis akut. diindikasikan penggunaan hidralazine atau nifedipin.3 9 . sedangkan diuretik osmotik seperti manitol dikontraindikasikan karena dapat meningkatkan volume vaskular.3 I. 3  Penggunaan ACE inhibitor cukup efektif. Dapat ditangani dengan restriksi cairan. Penggunaan furosemid yang berlebihan memiliki resiko ototoksik pada anak. 3 dengan glomerulonefritis cresentik atau 8. PROGNOSIS Pemulihan total dialami 95% Anak dengan glomerulonefritis akut paska infeksi streptokokus. sedangkan biopsi renal dilakukan oleh nefrolog secara perkutaneus. namun aktivitas fisik dapat menimbulkan eksaserbasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful