Berdasarkan lama paparan dan dosis, diketahui ada 3 tingkatan uji ketoksikan yaitu akut, sub kronik, dan

kronik. Toksisitas Akut digunakan untuk menilai ketoksikan suatu bahan dengan pemberian suatu bahan sampel dosis tungal dalam waktu akut (singkat), biasanya 24 jam. Toksisitas sub kronik dilakukan dengan pemberian suatu bahan sampel dengan dosis berulang selama jangka waktu kurang dari 3 bulan. Toksisitas kronik dilakukan seperti sub kronik tetapi selama lebih dari 3 bulan. Uji Toksisitas subkronik atau kronik dianjurkan tetap perlu dilakukan meskipun senyawa tersebut diketahui mempunyai toksisitas rendah. Ini ditujukan untuk melakukan antisipasi kemungkinan adanya efek toksik terhadap organ tubuh dari senyawa tersebut jika digunakan dalam jangka waktu lama. Tujuan Uji Toksisitas dan Farmakologi adalah :
 

Menilai keamanan obat, obat tradisional bahan kimia sebagai makanan atau suplemen Menilai potensi suatu obat, obat tradisional untuk efektifitas farmakologi tertentu.

TOKSIKOLOGI SUBKRONIS DEFINISI Uji toksisitas subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari tiga bulan. Uji ini ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik senyawa uji serta untuk memperlihatkan apakah spectrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis (Donatus, 2001) Pengamatan dan pemerikasaan yang dilakukan dari uji ketoksikan subkronis meliputi : 1. Perubahan berat badan yang diperiksa paling tidak tujuh hari sekali. 2. Masukan makanan untuk masing-masing hewan atau kelompok hewan yang diukur paling tidak tujuh hari sekali. 3. Gejala kronis umum yang diamati setiap hari. 4. Pemeriksaan hematologi paling tidak diperiksa dua kali pada awal dan akhir uji coba. 5. Pemeriksaan kimia darah paling tidak dua kali pada awal dan akhir uji coba. 6. Analisis urin paling tidak sekali. 7. Pemeriksaan histopatologi organ pada akhir uji coba. (Loomis, 1978) Hasil uji ketoksikan subkronis akan memberikan informasi yang bermanfaat tentang efek utama senyawa uji dan organ sasaran yang dipengaruhinya. Selain itu juga dapat diperoleh info tentang perkembangan efek toksik yang lambat berkaitan dengan takaran yang tidak teramati pada uji ketoksikan akut. Kekerabatan antar kadar senyawa pada darah dan jaringan terhadap perkembangan luka toksik dan keterbalikan efek toksik. (Donatus, 2001) Tujuan utama dari uji ini adalah untuk mengungkapkan dosis tertinggi yang diberikan tanpa memberikan efek merugikan serta untuk mengetahui pengaruh senyawa kimia terhadap badan dalam pemberian berulang (Eatau dan Klaassen, 2001) Pengamatan gejala toksis : 1. Pengamatan fisik, perilaku, saluran cerna, kulit dan bulu. 2. Berat badan hewan uji. 3. Asupan makan atau minuman untuk masing-masing hewan uji atau kelompok hewan uji.

4. semua jenis perubahan harus diamati. Sedangkan dosis terendah yang digunakan setingkat dengan ED50-nya. Pengelompokan. Tikus dikandangkan secara individual dalam kandang stainless steel tertutup dan diberi makan serta minum secukupnya. sebaiknya dipilih hewan uji yang peka dan memiliki pola metabolisme terhadap senyawa uji yang semirip mungkin dengan manusia. minimal ada empat kelompok uji yaitu 3 kelompok dosis dan 1 kelompok kontrol negatif. berupa wujud efek toksik atau spektrumnya. 0.5 . protein total. 70 atau 115 µg/kg per minggu secara berturutturut. Disarankan paling tidak satu jenis hewan uji dewasa. dapat digunakan roden (tikus) dan nirroden (anjing). bergerak dari dosis yang sama sekali tida menimbulkan efek toksis sampai dengan dosis yang betul-betul menimbulkan efek toksik yang nyata. Sedangkan tikus yang lainnya dikorbankan pada minggu ke-16. Tata cara pelaksanaannya adalah: 1. Berat badan diukur setiap minggu dan jumlah kematian dicatat. wujud efek toksik (kekacauan biokimia. 3. Takaran dosis. 6 kelompok untuk variasi dosis). Satu setengah bagian dari tikus pada tiap kelompok dikorbankan pada minggu ke-10 (satu minggu setelah pemberian dosis terkahir).  METODE Tikus jantan galur Sprague-Dawley (berat 200-225 g) dibagi menjadi 7 kelompok ( 1 kelompok untuk kontrol. 2.3. Setelah waktu adaptasi satu minggu. 11. Liver kemudian dipindahkan dan disimpan dalam suhu -80()C untuk . asupan makanan dan minuman serta gejala-gelajala klinis digunakan untuk mengevaluasi status kesehatan dan perkembangan patologi hewan uji akibat sediaan uji hematologi darah dan urin digunakan untuk mengevaluasi perubahan fungsional sistem organ sebagai perwujudan efek toksik…  KASUS Efek subkronik 2. semua hewan uji diberi dosis oral sekali setiap satu minggu selama 10 minggu dengan dosis TCDD atau hanya diberi pelarut saja.7. 2. Pengamatan gejala klinis diperiksa melalui pengamatan fisik dalam jangka waktu setelah pemejanan tiap hari selama 30 hari. 35 . Setiap dosis diberi perlakuan dengan diinkubasi pada 0 .1. volume urin. Jumlah yang digunakan paling tidak 10 ekor untuk masing-masing jenis kelamin dalam setiap kelompok takaran dosis yang diberikan. glukosa. TCDD dilarutkan dalam minyak jagung : aseton (95:5) dan dipejankan sebanyak 4 ml/kg. sehat. baik jantan maupun betina.8. Suhu ruang yang dipakai 25 0C dan kelembaban yang tidak dikontrol. gejalagejala toksik. Pengamatan. 2. Sasaran uji ini adalah hispatologi organ (organ-organ yang terkena efek toksik).tetrachlorodibenzo-p-dioxin dan reversibilitas pada tikus jantan galur Sprague-Dawley. Pemeriksaan fungsi organ secara biokimia melalui analisis urin (bobot jenis. bilirubin) dilakukan pada awal dan akhir uji. Analisis dan evaluasi hasil: data berat badan . fungsional.3 . Hal ini disebabkan karena untuk regresi minimal digunakan 3 data sehingga dapat dianalisis hubungan dosis dengan efek. Pemilihan hewan uji. Minimal digunakan 3 peringkat dosis degan syarat dosis yang tetinggi sebisa mungkin tidak mematikan hewan uji tetapi memberi wujud efek toksik yang jelas (nyata). dan struktural) serta sifat efek toksik. Selain itu juga batas keamanan toksikologi terutama KETT.2 .

Supernatant sebanyak 50 µL aliquot digunakan untuk menentukan kandungan protein.5 mM triptofan dan 1. Sampel hati yang telah dibekukan dihomogenasi dalam 10 volume buffer Kalium fosfat icecold (20 mM. Aktivitas EROD Aktivitas EROD di liver dideterminasi secara fluorometri berdasarkan Dutton dan Parkinson (Dutton and Parkinson. Triptofan Serum triptofan dideterminasi dengan menggunakan HPLC. Semua hewan dipuasakan selama 24 jam sebelum dikorbankan. (Metzler et al. Protein di sitosol diukur dengan menggunakan metode Bradford menggunakan bovine serum albumin standar. Pengukuran secara Spektrofotometri dengan menggunakan Shimadzu UV16OU.01 M buffer asetat pH 4. Darah kemudian dikumpulkan dan serumnya disimpan dengan dibekukan untuk determinasi triptofan dan TT4.15 mM dan diujikan parallel selama 80 menit.3. sedangkan pellet yang disuspensikan kembali digunakan untuk determinasi dari aktivitas EROD.01 M pH 4. Reaksi akan berlangsung selama 5 menit pada 230C. Aktivitas PEPCK Aktivitas liver PEPCK dideterminasi dengan menggunakan deoxyguanosine 5’-diphosphate sebagai substrat nukleotida. Setelah pengenceran dengan 0.000 putaran (L5-65 ultracentrifuge). Reaksi diakhiri dengan penambahan aseton icecold. Aktivitas TdO Aktivitas TdO diukur berdasarkan Metzler et al. 20 µL dari larutan ini diinjeksikan kedalam kolom fase terbalik Zorbax C8 dari Shimadzu SCL 6-A HPLC yang dilengkapi dengan a RF-535 fluorometrik detector. Semua campuran disentrifugasi selama 30 menit sebanyak 10. Reaksi dilangsungkan pada suhu 370C selama 40 dan 80 menit dan diakhiri dengan penambahan asam perklorat/etanol/air (1: 1: 1). blanko dipreparasi dengan penambahan aseton pada sistem regenerasi NADPH. Aktivitas enzim dikalkulasi berdasarkan absorbansi antara dua jangka waktu.0) Frozen liver yang berisi 2. lipid diekstraksi dengan menggunakan kloroform dan supernatant diencerkan 140x dengan menggunakan fase gerak buffer asetat 0. Sampel standar diinkubasi tanpa penambahan ethoxyresorutin yang dipreparasi dengan penambahan 5 dan 20 µL secara berturut-turut dari larutan resorufin 500 PM dalam etilen glikol. pH 7. Pembentukan derivate dye-azo diukur pada 560 nm. fluoresensi supernatan diukur pada panjang gelombang 535 nm (eksitasi) dan 585 nm (emisi) dengan florometer Shimadxu RF-594. Pellet dibuang dan supernatannya disentrifugasi selama 1 jam pada 100. Konsentrasi protein dalam homogenate dideterminasikan menggunakan metode biuret setelah disolubilisasi dengan 5. Blanko tidak berisi baik bikarbonat maupun karbon dioksida. Perubahan pada absorbansi diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 340 nm. Serum disiapkan dari vial berisi darah dan diproteinasi dengan penambahan 5% asam trikloroasetat. larutan triptofan sebanyak 50 ml digunakan sebagai standar. Reaksi dimulai dengan penambahan 50 µL system NADPH regenerasi dan diinkubasi pada 37°C selama 1 jam. Konsentrasi protein mikrosom diukur 700 µL.0) dalam suhu 0-4 ()C. Kecepatan aliran sebesar 1.36 mg methemoglobin per 10 ml. Hasil dari supernatan dianggapa sebagia fraksi sitosol dan diukur aktivitas PEPCK-nya. pH 7..analisis biokimia selanjutnya. Sampel standar berisi 200µL Lkynurenine 0. 1989). 3 % asam kholat dan ultrasonikasi selama 10 menit. Setelah itu disentrifugasi selama 2500 rpm selama 5 menit. TT4 Serum TT4 diukur dengan menggunakan radioimmunoassay. Ethoxyresorufin ditambahkan pada sampel sebagai substrat.25 M atau dalam 10 volume buffer potassium phosphate (20 mM. .Elvehjem homogenizer dalam tiga volume sukrosa 0.2 ml/mm at 30°C. Oksaloasetat yang terbentuk selama reaksi enzimatik dideterminasi dengan reaksi reduksi malat dehidrogenase dengan adanya NADH.3 dengan 30% methanol.000 putaran. 1982). Fraksinasi Subselular Liver yang dibekukan lalu dihomogenkan dengan Teflon-pestled Potter.

Demikian pula. Dinyatakan secara berbeda. c. 1992). dosisrespons untuk efek ini harus dianggap antara 0. tapi slope dan ED yang ditunjukkan pada dosis respon berbeda dengan kedua induksi dari aktivitas EROD dan toksisitas subkronik berkaitan dengan efek biokimianya.05. baik PPECK dan aktivitas TdO sama dengan level serum triptofan kembali pada nilai kontrol meskipun demikian aktivitas EROD dan setum TT4 ditunjukkan dengan induksi dosis tergantung dan pengurangan secara berturutturut meskipun keduanya di geser ke kanan sesuai dengan toksikokinetik. kekurangan dari reversibilitas efek total setelah 6 minggu pemulihan (Gambar 6) menunjukkan bahwa EDso untuk dosis-respons ini lebih dekat dengan dosis kumulatif 1 µg/Kg. Terjadi penghambatan peningkatan berat badan yang tergantung pada empat kelompok dosis tertinggi namun tidak berefek pada 2 kelompok dosis terendah. Hal ini sesuai dengan pertimbangan pharmacokinetic yang mengasumsikan bahwa konstanta waktu paruh.. dalam hal ini efek dari TCDD tidak ideal. 1991a. Respon dosis untuk aktivitas TdO dan level serum triptofan berbanding terbalik. minus dosis kumulatif dari bagian dosis sudah dihilangkan (= dosis yang tersisa harus disingkirkan = beban tubuh) sehingga menentukan toksisitas (Tabel 1). Faktanya. Sebagai contoh. Aktivitas PEPCK hepatic yang tergantung dosis juga berkurang.Analisis statistic Data kelompok control dibandingkan dengan kelompok perlakuan TCDD dengan two-tailed Student’s t-test dengan signifikasi P < 0. Setelah recovery period selama 6 minggu .  Discussion Studi toksisitas subkronik ini memberikan tambahan dukungan pada hipotesis bahwa toksisitas subkronik (multiple dose) TCDD dalam berbagai cara. 1992a. walaupun reversibilitas total tidak terjadi pada dosis kumulatif tertinggi yaitu sebesar 115 µg/kg TCDD. Analisis data PemejananTCDD dosis tinggi pada tikus selama 10 minggu menghasilkan gejala dan kematian yang diharapkan. dalam mengurangi aktivitas PEPCK (Gambar 3) dan TdO (Gambar 2) sama seperti dalam meningkatkan kadar serum triptofan menjadi nyata pada dosis yang hampir identik (Weber et al. untuk pengobatan/cara penyembuhan ini .. dimana pada dosis tunggal TCDD menyebabkan efek berat badan yang signifikan (Seefeld et al. 1988) atau mendekati dosis total sekitar 5-10 µg/kg TCDD setelah 10 minggu (Gambar 4). b. Rozman et al. Setelah masa pemulihan 6 minggu (t ½=20 hari ). Kadar serum IT4 berkurang secara keseluruhan kecuali pada dosis TCDD yang terendah (Gambar 5). Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa tiga dosis tertinggi menyebabkan penurunan secara maksimal tingkat serum IT4. Induksi aktivitas EROD didasarkan pada percobaan dosis tunggal (Roth et al. identik dengan toksisitas akut (dosis tunggal) ketika dosis dikoreksi untuk farmakokinetik. di mana 75% TCDD di dalam tubuh setelah 10 minggu TCDD telah tereliminasi. Aktivitas TdO di hepar menurun pada 2 kelompok dosis tertinggi dengan peningkatan jumlah serum triptofan. Aktivitas PEPCK and TdO cenderung menunjukkan ke arah reversibilitas setelah pemulihan 6 minggu.. Stahl et al. dan terkait biokimia efek TCDD seperti yang disarankan oleh Rozman et al. Induksi aktivitas EROD bersifat reversible parsial yang dinyatakan dengan pergeseran kurva dosisrespons ke kanan (Gambar 4)..1 dan 10 µg / kg dari total dosis TCDD. (1993). dimana efek ini sedikit reversible daripada induksi aktivitas EROD activity. Aktivitas EROD diinduksi bahkan pada dosis terendah TCDD dan induksi mencapai maksimum sebelum adanya tanda toksisitas subkronik terjadi. Lebih lanjut penurunan respon dosis TdO dan aktivitas PEPCK dan peningkatan konsentrasi serum triptofan sangat mirip dengan dosis-respon dari penghambatan subkronik terhadap peningkatan berat badan. 1984. 1991). Dosis yang dipilih untuk menimbulkan sebuah respon dosis. Serum TT4 juga terjadi pengurangan dosis tergantung.. Oleh karena itu. penghambatan kenaikan berat badan tidak terjadi sampai total dosis sekitar 5-10 µg/kg tercapai (Gambar l).

dimetabolismekan dengan bantuan enzim sitokrom P450.. 1924) and Druckrey’s (Druckrey and Kiipfmiiller.A.D. Toksikologi Dasar. Hanya sedikit jumlah parasetamol yang bertanggung jawab terhadap efek toksik (racun) yang diakibatkan oleh metabolit NAPQI (N-asetil-p.  KESIMPULAN Percobaan ini mendukung pernyataan dari Rozman et al.. 1978.A. 199la. Sedangkan sebagian kecil. Yogyakarta Loomis.Casarett and Doull’s Toxicology : The Basic Science of Poison. and Klaassen. Fakultas Farmasi.. Sesuai dengan reversibilitas dari penurunan aktivitas TDO setelah pemberian dosis TCDD yang subkronik. In Klaassen C. 1948) untuk kasus khusus dalam toksikologi ketika dosis x waktu = konstanta toksisitas yang mendukung pertimbangan farmakokinetik yang tepat dalam perhitungan. didetoksifikasi oleh glutation membentuk asam merkapturi yang bersifat non toksik dan diekskresikan melalui urin.b. kadar serum tryptophan kembali mendekati nilai normal ketika akhir masa pemulihan 6 minggu. Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi. Graw Hill. Bila pasien mengkonsumsi parasetamol pada .. sehingga metabolit tersebut bereaksi dengan sel-sel hepar dan timbulah nekrosis sentro-lobuler. DAFTAR PUSTAKA Donatus. New Yorks Parasetamol Pada dosis terapi.. IKIP Semarang Press.b). UGM. Metabolisme utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal. D. Principle of Toxicology.benzo-kuinon imina). 2001. Toksikologi Dasar. (1993) bahwa toksisitas subchronik dari TCDD mengikuti aturan Haber’s (Haber. Mc. Parasetamol berikatan dengan sulfat dan glukuronida terjadi di hati. (Ed).c. Oleh karena itu pada penanggulangan keracunan Parasetamol terapi ditujukan untuk menstimulasi sintesa glutation. I. tetapi pada dosis berlebih produksi metabolit hepatotoksik meningkat melebihi kemampuan glutation untuk mendetoksifikasi. diterjemahkan oleh Imono Argo Donatos.sesuai pada dosis tunggal 12 µg/kg dari TCDD. Edisi III. 6th Ed. salah satu metabolit Parasetamol bersifat hepatotoksik..L. C. Semarang Eatau. Dengan proses yang sama Parasetamol juga bersifat nefrotoksik. 2001. 1992a.D. T. dimana pada dosis terendah pada kurva dosis-respon dapat menghambat aktivitas enzim (Weber et al.

Perlu diketahui bahwa sebagian kecil dimetabolisme cytochrome P450 (CYP) atau N-acetyl-p-benzo-quinone-imine (NAPQI) bereaksi dengan sulfidril. metabolit toksik NAPQI ini segera didetoksifikasi menjadi konjugat yang tidak toksik dan segera dikeluarkan melalui ginjal.dosis normal. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful