Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan

Kategori: Perencanaan Pendidikan Diposting oleh nurbaitiekasari pada Minggu, 29 Mei 2011 [3661 Dibaca] [1 Komentar]

I. a.

PENDAHULUAN Latar Belakang Mutu adalah agenda dalam meningkatkan kualiatas dan merupakan tugas yang paling penting. Menemukan sumber mutu adalah sebuah petualangan yang penting. Pelaku-pelaku dunia pendidikan menyadari keharusan mereka untuk meraih mutu tersebut dan menyampaikanya pada pesrta didik. Mutu sama dengan kepuasan pelanggan dan hal ini masih sulit untuk dilakukan. Meraih mutu melibatkan keharusan melakukan segala hal dengan baik, dan sebuah institusi harus memmposisikan pelanggan secara tepat dan proporsional agar mutu tersebut dapat dicapai. Oleh karena itu, institusi-institusi pendidikan perlu mengembangkan system mutunya agar dapat membuktikan kepada publik bahwa mereka dapt membrikan layanan bermutu. Perlu dipertanyakan mutu, jaminan mutu, mutu terpadu, dan TQM adalah sekedar sebuah inisiatif, sebuah model baru yang di desain untuk menambah berat beban para guru dan institusi yang kekurangan dana ? Mutu, khususnya dalam kontesk TQM adalah hal yang berbeda begitu pula dengan MMT dengan implemantasinya dalam pendidikan. b. Permasalahan Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Apa yang dimaksud dengan Total Quality Management (TQM), tokoh-tokoh TQM dan penerapannya? 2. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) dan penerapannya dalam bidang Pendidikan? 3. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan penerapannya? 4. Apa yang dimaksud dengan Sekolah Efektif dan penerapannya? Tujuan Pembahasan dalam makalah ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui Total Quality Management (TQM), tokoh-tokoh TQM dan penerapannya. 2. Mengetahui Manajemen Mutu Terpadu (MMT) dan penerapannya dalam bidang Pendidikan 3. Mengetahui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan penerapannya 4. Mengetahui Sekolah Efektif dan penerapannya

c.

II. PEMBAHASAN 2.1. Mutu 2.1.1. Pandangan terhadap mutu Apakah yang disebut mutu? Jawaban yang diberikan atas pertanyaan ini bisa berbeda-beda, tidak ada dua orang secara tepat dapat mendefinisikan mutu secara tepat. John Stewart,

konsultan di McKinsey mengatakan, “Tidak ada definisi tunggal mengenai mutu. Berikut ini dituliskan beberapa kutipan tentang mutu. Mutu adalah perasaan menghargai bahwa sesuatu lebih baik daripada yang lain. Perasaan itu berubah sepanjang waktu dan berubah dari generasi ke generasi, serta bervariasi dengan aspek aktivitas manusia.” Definisi lain, “mutu” seperti yang biasa digunakan dalam manajemen berarti lebih dari rata-rata dengan harga yang wajar. Mutu juga berarti memfokuskan pada kemampuan menghasilkan produk dan jasa yang semakin baik dengan harga yang semakin bersaing. Mutu juga berarti melakukan hal-hal yang tepat dalam organisasi pada langkah pertama, bukannya membuat dan memperbaiki kesalahan. Dengan memfokuskan hal-hal yang tepat pada kesempatan pertama, organisasi menghindari biaya tinggi yang berkaitan dengan pengerjaan ulang. 2.1.2. SEJARAH TENTANG MUTU Pada mulanya mutu produk ditentukan oleh produsen. Pada perkembangan selanjutnya, mutu produk ditentukan oleh pembeli, dan produsen mengetahuinya bahwa produk itu bermutu bagus yang memang dapat dijual, karena produk tersebut dibutuhkan oleh pembeli dan bukan menjual produk yang dapat diproduksi. Perkembangan mutu terpadu pada mulanya sebagai suatu system, perkembangan di Amerika Serikat. Buah pikiran mereka pada mulanya kurang diperhatikan oleh masyarakat, khususnya masyarakat bisnis. Namun beberapa dari mereka merupakan pemegang kunci dalam pengenalan dan pengembangan konsep mutu. Sejak 1980 keterlibatan mereka dalam manajemen terpadu telah dihargai di seluruh dunia. Adapun konsep-konsep mereka tentang mutu terpadu secara garis besar dapat dikemukakan berikut ini. 1. F.W. Taylor (1856-1915) Seorang insiyur mengembangkan satu seri konsep yang merupakan dasar dari pembagian kerja (devision of work). Analisis dengan pendekatan gerak dan waktu (time and motion study) untuk pekerjaan manual, memperoleh gelar “Bapak Manajemen Ilmiah” (The Farther of Scientific Management). Dalam bukunya tersebut Taylor menjelaskan beberapa elemen tentang teori manajemen, yaitu :  Setiap orang harus mempunyai tugas yang jelas dan harus diselesaikan dalam satu hari.  Pekerjaan harus memiliki peralatan yang standar untuk menyelesaikan tugas yang menjadi bagiannya.  Bonus dan intensif wajar diberikan kepada yang berprestasi maksimal.  Penalti yang merupakan kerugian bagi pekerjaan yang tidak mencapai sasaran yang telah ditentukan (personal loss). Taylor memisahkan perencanaan dari perbaikan kerja dan dengan demikian memisahkan pekerjaan dari tanggung jawab untuk memperbaiki kerja. 2. Shewhart (1891-1967) Adalah seorang ahli statistik yang bekerja pada “Bell Labs” selama periode 1920-1930. Dalam bukunya “The Economic Control of Quality Manufactured Products”, merupakan suatu kontribusi yang menonjol dalam usaha untuk memperbaiki mutu barang hasil pengolahan. Dia mengatakan bahwa variasi terjadi pada setiap segi pengolahan dan variasi dapat dimengerti melalui penggunaan alat statistik yang sederhana. Sampling dan probabilitas digunakan untuk membuat control chart untuk memudahkan para pemeriksa mutu, untuk memilih produk mana yang memenuhi mutu dan tidak. Penemuan Shewhart

sangat menarik bagi Deming dan Juran, dimana kedua sarjana ini ahli dalam bidang statistik. 3. Edward Deming Lahir tahun 1900 dan mendapat Ph. D pada 1972 sangat menyadari bahwa ia telah memberikan pelajaran tentang pengendalian mutu secara statistik kepada para insinyur bukan kepada para manajer yang mempunyai wewenang untuk memutuskan. Katanya : “Quality is not determined on the shop floor but in the executive suite”. Pada 1950, beliau diundang oleh, “The Union to Japanese Scientists and Engineers (JUSE)” untuk memberikan ceramah tentang mutu. Pendekatan Deming dapat disimpulkan sebagai berikut :  Quality is primarily the result of senior management actions and not the results of actions taken by workers.  The system of work that determines how work is performed and only managers can create system.  Only manager can allocate resources, provide training to workers, select the equipment and tools that worekers use, and provide the plant and environment necessary to achieve quality.  Only senior managers determine the market in which the firm will participate and what product or service will be solved. Hal ini berarti bahwa tanpa keterlibatan pimpinan secara aktif tidak mungkin tercapai manajemen mutu terpadu. 4. Prof Juran Mengunjungi Jepang pada tahun 1945. Di Jepang Juran membantu pimpinan Jepang di dalam menstrukturisasi industri sehingga mampu mengekspor produk ke pasar dunia. Ia membantu Jepang untuk mempraktekkan konsep mutu dan alat-alat yang dirancang untuk pabrik ke dalam suatu seri konsep yang menjadi dasar bagi suatu “management process” yang terpadu. Juran mendemonstrasikan tiga proses manajerial untuk mengelola keuangan suatu organisasi yang dikenal dengan trilogy Juran yaitu, Finance Planning, Financial control, financial improvement. Adapun rincian trilogy itu sebagai berikut :  Quality planning, suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan.  Quality control, suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki.  Quality improvement, suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan orang-orang untuk menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat dalam proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur permanen untuk mengejar mutu dan mempertahankan apa yang telah dicapai sebelumnya. Uraian tokoh-tokoh mutu di atas sekedar menggambarkan secara singkat saja. Masih banyak para sarjana di bidang mutu yang tidak sempat ditulis pada kesempatan ini. Yang jelas para sarjana tersebut sependapat bahwa konsep : “pentingnya perbaikan mutu secara terus menerus bagi setiap produk walaupun tehnik yang diajarkan berbeda-beda”. Kini sampailah pada pengertian mutu yang diambil dari America Society for Quality Control

Definisi Total Quality Management Pengertian mutu atau kualitas akan berlainan bagi setiap orang dan tergantung pada konteksnya. Keberhasil-an yang cukup pesat perusahaan Jepang di bidang kualitas menjadi perhatian perusahaan-perusahaan di negara maju lainnya. Seorang membeli barang jadi dengan harapan barang-barang cacat bawaan dari pabrik sehingga tidak rugi mengeluarkan uang untuk membeli barang tersebut. manusia. saat ini dianggap kualitas hari yang akan datang kemungkinan dianggap tidak kualitas. Seberapa besar kepuasan yang diperoleh pelanggan tergantung dari tingkat kecocokan penggunaan masmg-masing pelanggan. jasa. 1.yang mengatakan : Quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisty stated of implied needs (Kotler : 1994). TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota or-ganisasi.1. teamwork. Sejarah Total Quality Management (TQM) Kekalahan Jepang pada perang dunia II. Kualitas rancangan merupakan fungsi spesifikasi produk.2. 2. 2. produktivitas dan pengertian serta kepuasan pelanggan inilah yang dinamakan Total Quality Management (TQM). proses. Seorang pengusaha membeli produk yang digunakan sebagai bahan baku akan mengatakan barang tersebut mempunyai kualitas baik jika barang tersebut dirasa co-cok penggunaannya dan mempunyai kemampuan memproses aku menjadi barang jadi dengan biaya rendah dan sisa yang minimal. Pengertian TQM lain menyebutkan bahwa TQM me-rupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang men-coba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui per-baikan terus menerus atas produk. pengertian kualitas mencakup kegiatan yang berkaitan dengan tercapainya kepuasan pemakai barang tersebut. Hasil studi perusahaanperusahaan industri kelas dunia ini menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan Jepang ini salah satunya menerapkan apa yang dikenal dengan Total Quality Management (TQM).2. Dengan demikian. 2.2. Definisi di atas berkonotasi kepada pelanggan. Sejarah Perkembangan Total Quality Management .2. Total Quality Manajemen (TQM) 2.3. Kualitas meliputi produk. 2. Konsep kualitas itu sendiri sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain atau rancangan dan kualitas kesesuaian atau kecocokan. Perusahaan kelas dunia kemudian mempelajari apa yang pemah diraih oleh perusahaan Jepang dalam mengembangkan konsep kualitas. Edward Deming di Jepang pada tahun 1950 membuat para ilmuwan dan insinyur Jepang lebih bersemangat dalam membangun dan memperbaiki sistem kualitas. membangkitkan budaya Jepang dalam membangun sistem kualitas modern. 3. proses dan lingkungannya. sedang-kan kualitas kecocokan adalah seberapa baik produk itu sesuai dengan spesifikasi dan kelonggaran yang disyaratkan oleh rancangan itu. Kualitas yang selalu berubah kondisinya (kondisi dinamis). Mutu atau kualitas suatu barang pada umumnya diukur dengan tingkat kepuasan kon-suinen atau pelanggan. jasa. Hadir-nya pakar kualitas W. Perpaduan semua fungsi dari perusahaan yang dibangun berdasarkan konsep kualitas. dan lingkungan. Dari pengertian kualitas di atas sebenamya terdapat be-berapa elemen sebagai berikut.2. Kualitas adalah usaha untuk memberi kepuasan bagi pelanggan. Produk bermutu kalau dapat memuaskan para pelanggan yang mengkonsumsi produk tersebut.

Juran. 1. otomotif. Beliau meng-ajarkan teknik-teknik pengendalian kualitas di U. E. . insinyur dan para eksekutif perusahaan Jepang. Sebenamya gerakan total quality dimulai pada masa studi gerak dan waktu yang diperkenalkan oleh F. Berawal dari situlah orang Jepang dalam memproduksi barang sangat memperhatikan pelanggan. Produk barang/jasa yang dihasilkan sesuai dengan ke-ingman pelanggan sama persis seperti yang dilaporkan penjual. Dr. barang-barang manufaktur Jepang. Tahun 1951 . War Department. Kemudian pada tahun 1931 Walter A. mereka berharap sesuatunya sem-puma. serta mengajarkan mata kuliah mengenai kualitas kepada ilmuan. W. Sebagai contoh. dan Upaya perbaikan dilakukan dengan mengirimkan tim ke luar untuk mempelajari pendekatanpendekatan dilakukan perusahaan asing dan mengundang dosen-dosen datang ke Jepang untuk memberikan kursus pelatihan kepada para manajer. S. M. dan eksekutif perusahaan Jepang. Berawal dari sinilah TQM berkembang pesat di negara Sakura ini. Pelanggan suka sekali memilih dan mengeluh terhadap hal-hal yang sepele. 2. Pada tahun 1946 . yaitu aspek manusia. Begitu pula dalam beberapa industri kunci. seorang pelanggan membeli kendaraan bermotor. dan hal tersebut tidak periu diributkan. yaitu pada bulan Juli 1950. Ber-dilakukan antara lain dengan menciptakan infra-kualitas. Sekarang telah menjadi kenyataan. Pemsahaanperusahaan Jepang menyadari bahwa pada masa mendatang adalah kualitas. mengingat konsep TQM banyak dipengaruhi perkembangan-per-kembangan di Jepang. bahwa produk dari Jepang yang dulunya dikenal sebagai produk rongsokan dan imi-tasi murahan dari produk Barat.1950 adalah periode perintisan atau periode penelitian dan penelaahan (Research and Study). Pada periode ini. Aspek perhatian atau penekanan Amerika sejak Perang Dunia II.1954 adalah periode pengendalian mutu statistik (Statistical Quality Control). Kelompok belajar pengendalian mutu (Quality Control Study Group) memperkenalkan pengendalian mutu menyeluruh dalam perusahaan (Company Wide Quality Control atau CWQC). Pada awalnya orang Jepang memperhatikan tentang peri-laku pelanggan. kini justru sebaliknya menjadi produk-produk yang berkualitas tinggi dan berkembang pesat di dimia. Deming menyampaikan seminar delapan hari mengenai kualitas pada para ilmu-wan. baja. Shewhart dari Bell Laboratories memperkenalkan metode statistik yang dikenal dengan Statistical Quality Control. 3. Tahun 1955 -1960 adalah periode pengendalian mutu secara sistematik. Pada bulan Juli 1954 diadakan seminar tentang manajemen pengendalian mutu (Quality Control Mangement Seminar) dengan pembicara Dr. Sejak pertengahan tahun 70-an. Kebetulan asesori kendaraan motor kurang tepat pe-masanganhya yang sebenamya ia dapat memasangnya sendiri. industri Barat mulai tergeser. dan mereka akan senang jika ke-jadian semacam itu dapat dicegah. Sejarah pengembangan dari konsep di atas dan tokoh-tokoh TQM dapat disebutkan di bawah ini. Hanya sayangnya mereka tidak terbiasa dengan hal itu. Hasil dari semua upaya tadi adalah banyak ditemukannya strategi-strategi baru untuk menciptakan revolusi. J. proses. Tailor sekitar tahun 1920.Banyak yang beranggapan bahwa TQM berasal dari Jepang. Tokoh yang dikenal luas dalam TQM adalah Edward Deming. yakni pada aspek kuantitas dan kurang memperhatikan kualitas menjadi penyebab kegagalan bersaing dengan perusahaan Jepang. seperti mobil dan produk-produk elektronika mulai mendominasi perdagangan dunia karena kualitas yang dihasilkan sudah melampaui kualitas yang dihasilkan pesaingnya dari Amerika dan Eropa. misal mesin industri. insinyur.

Kaoru Ishikawa memperkenalkan Gugus Kendali Mutu (Quality Control Circle). TQM memperhatikan dimensi sistem organisasi secara eksplisit. 2. Kelompok-kelompok kerja dimaksudkan untuk mengembangkan teknik pemecahan persoalan. industri jasa. Model yang dikembangkan per-tama kali adalah manajemen manufaktur. yaitu keyakinan dan nilai-nilai (values) . Pengembangan Organisasi (Organization Development). TQM menempatkan program pelatihan pada prioritas utama di tiap tingkat organisasi. Achievement Motivation (Motivasi Berprestasi). potensi.2. 1. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana peran manajemen untuk merealisasikan karakteristik tersebut. Pelibatan karyawan. TQM memberi peluang kepada para kar-yawan untuk ikut terlibat dalam proses pemecahan masalah. 4. Landasan dari Total Quality Management adalah statistical process control yang diperkenalkan oleh Edwards Deming dan Joseph Juran untuk membantu memulihkan industri Jepang yang hancur akibat Perang Dunia II. 2. Budaya Perusahaan. Adalah pola nilai-nilai. Karakteristik manusia adalah selalu mempunyai motivasi. Kontribusi bidang tersebut merupakan satu di-mensi tersendiri yang dapat disebut akar TQM. Organisasi akan lebih efektif belajar dari peng-alaman dan melakukan perubahan apabila anggotanya dilibat-kan dalam proses pengumpulan data dan proses pengambilan keputusan. organisasi mengambil sumber daya dari lingkungannya. 3. 2. TQM mengembangkan konsep tersebut di mana budaya perusahaan terdiri dari dua komponen dasar. dan juga bidang pendidikan. Perkembangan TQM juga tidak terlepas dari kontri-busi bidang manajemen dan efektivitas organisasi dalam mem-bangun TQM. Hal ini merupakan turunan dari group dynamics yang bertujuan melatih seluruh organisasi (tidak hanya satu kelompok) agar lebih produktif. kesehatan. Akar TQM antara lain sebagai berikut. Manajemen U-miah digunakan untuk mencari cara terbaik untuk melakukan pekerjaan melalui time and motion study dan proses produksi secara ban berjalan. Group Dynamics. dan ka-pasitas untuk bertanggung jawab terhadap organisasi. 6. Scientific Management (Manajemen Ilmiah). Landasan dan Akar TQM a. Pelatihan.4. TQM memperluas konsep ke dalam lingkup seluruh sistem. mendelegasikan wewenang. Prof. 4. yaitu titik berat pada kualitas dan menuntut hasil yang dapat diukur. Bawahan harus belajar memecahkan persoalan yang timbul dalam pekerjaannya. DR. TQM menambahkan dua unsur. TQM memusatkan perhatian pada interface antara unsur-unsur yang saling mempengaruhi 5. keyakinan dan harapan yang tertanam dan berkembang pada diri anggota organisasi mengenai pekerjaannya. Organisasi di-pandang sebagai sistem yang terbuka. Dalam TQM manajer harus percaya pada bawahannya guna melakukan pekerjaan menuju kualitas. Pimpinan puncak belajar merumuskan visi.Tahun 1961 sampai sekarang dikatakan sebagai periode pe-mantapan dan pengembangan (New Quality Creation). Pada tahun 1962. mengolahnya dan menyam-paikan hasilnya kepada lingkungannya. dan melatih bawahan. yang selanjutnya meng-alami evolusi dan mengalami diversifikasi untuk aplikasi di bidang manufaktur. Sociotechnical Systems (Sistem Sosioteknikal).

Manfaat TQM Salah satu cara terbaik dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan suatu produk barang/jasa dengan kualitas terbaik.2. Teori Kepemimpinan Baru. Menurut Bounds seperti yang dikutip oleh Mulyadi bahwa Manajemen Mutu Terpadu adalah suatu sistem manajemen yang berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkelanjutan kepuasan customer pada biaya sesungguhnya yang secara berkelanjutan terus menerus. 2. Hal ini akan memberikan peng-hasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yang diperoleh semakin meningkat. mengarahkan serta mengendalikan para anggota secara sistematis agar tujuan organisasi tercapai. Kualitas terbaik akan diperoleh dengan melakukan upaya perbaikan secara terus-menerus terhadap kemampuan manusia. Dengan perbaikan kualitas berkesinambungan. MMT merupakan pendekatan sistem secara menyeluruh dan bagian terpadu strategi tingkat tinggi. Konsep MMT dalam Pendidikan MMT sangat populer di instansi profit khususnya di badan usaha dan industry yang telah membuktikan keberhasilannya dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensinya masing-masing dalam kondisi yang kompetitif. proses. lingkungan. Kondisi inilah yang mendorong instansi nonprofit untuk mempraktikkannya termasuk di bidang pendidikan. pemimpin dituntut untuk memetakan pandangannya ke depan (vision). Penerapan TQM adalah hal yang sangat tepat agar dapat memperbaiki kemampuan unsurunsur tersebut secara berkesinambungan. TQM mendasarkan pada teori kepemimpinan tersebut di mana pimpinan harus mempunyai strategic vision yang baik. Menurut Hadari Nawawi. 8. Perencanaan Strategis. TQM ber-pendapat bahwa data yang penting untuk perencanaan harus berasal dari yang dekat dengan konsumen dan data ini sebagai pertimbangan perencanaan yang berorientasi pada pelanggan. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar. Upaya perbaikan kualitas akan menghasilkan peningkatan ke-luaran (out put) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat.1. Perencanaan strategis adalah suatu proses di mana pimpinan puncak organisasi menggambarkan masa depan organisasi tersebut dan mengembangkan prosedur yang diperlukan beserta pengoperasiannya. Dengan posisi yang lebih baik akan meningkatkan pangsa pasar dan men-jamin harga yang lebih tinggi.3. manajer dituntut untuk merealisasikan visi tersebut. Sistem ini bekerja secara horisontal menembus fungsi dan departemen. Melakukan manajemen berarti menata.5. sebagai berikut. Memim-pin berarti menciptakan dinamika organisasi yang kondusif agar para anggota mau dan komitmen terhadap tujuan organisasi. Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan 2. melibatkan karyawan dari atas sampai bawah. dan mencakup mata rantai pemasok dan customer. Menurut teori baru. meluas. 2. MMT adalah manajemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus difokuskan kepada peningkatan kualitas agar produknya sesuai standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam .7. perusahaan akan dapat memperbaiki posisi persaingan. Penerapan TQM dapat memberikan beberapa manfaat utama.3.

2. terutama pada saat masyarakat Indonesia sedang mempertanyakan mengapa mutu pendidikan di Indonesia cenderung menurun? 2. Oleh karena itu. 2. proses dan lingkungannya. Berdasarkan pengertian di atas. Ciptakan Tujuan yang Mantap Demi Perbaikan Produk dan Jasa Sekolah memerlukan adanya tujuan akhir yang mampu mengarahkan siswamenghadapi masa depan secara mantap. Pengertian lain dikemukakan oleh Santoso sebagaimana dikutip olen Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana bahwa “TQM merupakan system manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan denagn melibatkan seluruh anggota organisasi.3. 3. jasa. Padahal peran kepemimpinan sangat menentukan maju mundurnya suatu organisasi dalam mencapai manajemen kualitas. kepala sekolah sebagai pemimpin ternyata belum mampu memahami dan apalagi mentransfer konsep Manajemen Berbasis Sekolah kepada guru-guru dan karyawan lainnya. Hadari Nawawi mengemukakan tentang karakteristik TQM sebagai berikut: Fokus pada pelanggan Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan Memiliki komitmen jangka panjang Empat belas butir pemikiran tentang peningkatan mutu suatu organisasi yang diusulkan Deming diharapkan dapat diterapkan dalam upaya peningkatan mutu manajemen pendidikan di Indonesia. Deming mengusulkan empat belas butir pemikiran yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan mutu dan produktivitas suatu organisasi juga dalam bidang pendidikan. Implemetasi Konsep Peningkatan Mutu Cara Deming dalam Pendidikan di Indonesia. Adopsi Filosofi Baru . 2. unsur kepemimpinan merupakan unsur utama. Namun setelah ditelusuri. Keempat belas butir pemikiran tersebut adalah: 1.1. 4. Dalam bidang pendidikan kehadiran Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) telah memberikan angin segar yang menjanjikan. namun masih memiliki greget untuk didiskusikan. sehingga pelaksanaan dan pengembangan program terasa tergesa-gesa dan berimplikasi pada kesenjangan pemahaman tentang manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah antara lembaga sekolah dan policy department (inovator). pelaksanaan tugas pelayanan umum dan pembangunan masyarakat. Jangan membuat siswa sekedar memiliki nilai bagus tetapi juga harus mampu membuat siswa memiliki kemauan belajar seumur hidup. Deming (1986) menyatakan bahwa implementasi konsep mutu dalam sebuahorganisasi memerlukan perubahan dalam filosofi yang ada di sekitar manajemen. ternyata sekolah belum mampu menempatkan diri sebagai organisasi sosial modern yang berorientasi peningkatan mutu. melalui tulisan ini disajikan beberapa pokok pikiran tentang peningkatan mutu pendidikan cara Deming. MBS memberikan kewenangan kepada sekolah untuk melahirkan berbagai kebijakan dan keputusan perbaikan menyangkut kepentingan kemajuan sekolah itu sendiri. Konsep Deming ini memang bukan barang baru. karena pada tataran teoritis. Dari keempat belas butir pemikiran Deming tersebut. Pemahaman dan pelaksanaannya hanya dilakukan sebatas program yang diajukan dalam proposal.” Selain itu mereka juga menyatakan pendapat bahwa TQM merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atau produk. manusia. Sebagai contoh.

evaluasi yang dilakukan jangan hanya pada saat ulangan umum ataupun ujian akhir. 6. Kepemimpinanadalah kemampuan untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok dengan maksud . teror atau ancaman. tetapi mutu yang dihasilkan tidak terjamin dan bukan tidak mungkin terjadi peningkatan biaya di bagian lain pada system tersebut. profesionalisme. Guru jangan hanya berpikir bagaimana siswa mendapatkan nilai yang baik. (b) Menjawab pertanyaan lisan dan tertulis yang telah didesain sedemikian rupa. (c) Keharusan mengumumkan harta kekayaan dari para calon Kepala Sekolahsebelum yang bersangkutan menduduki jabatan yang dipercayakan kepadanya. Apabila calon-calon tersebut tidak dapat memberikan jawaban secara memuaskan.Masalah anak bagaimana. Adapun pertanyaan yang diajukan dapat menyangkut integritas.mereka tidak lagi sebagai siswa yang pasif dan rela diperlakukan seburuk apapun tanpa dapat berkomentar. Lembagakan Metode Pelatihan yang Modern di Tempat Kerja Hal ini perlu dilakukan agar terdapat kesamaan dasar pengetahuan bagi semuaanggota staf dalam suatu lembaga pendidikan. peningkatan kualitas hasil dan kinerja. Termasuk dalam rekruitment karyawan. seperti teori sifat. 4. Hentikan Ketergantungan pada Inspeksi Masal Dalam bidang pendidikan. Kebohongan atas kekayaan ini dapat mengakibatkan pemecatan (impeachmant). tentu saja yang bersangkutan tidak dapat terpilih sebagai pimpinan. (d) Harus memahami sistem manajemen yang efektif dan efisien terhadap lembaga yang akan dipimpinnya. Selain itu. masalah rekrutmen dalam menentukan pimpinan kependidikan. dalam menetapkan standar uji. (e) Mengemukakan masalah pribadi. Lembagakan Kepemimpinan Kepemimpinan (leadership) berbeda dengan pemimpin (leader). keahlian. beberapa prosedur “Fit and proper test” bisa dilakukan dalam pengambilan keputusan: (a) Melakukan “hearing” didepan tim. Perbaiki Sistem Produksi dan Jasa Secara Konstan dan Terus MenerusDalam bidang pendidikan seorang guru harus berpikir secara strategic agar siswa dapat menjalani proses belajar mengajar secara baik. teori lingkungan. intimidasi. tetapi dilakukan setiap saat selama proses belajar mengajar berlangsung. kesejahteraan. teori humanistik. 5. 3.Siswa berhak mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. seperti apakah calon itu pernah bercerai. (f) Tim seleksi melakukan investigasi dan melacak semua kebenaran informasi yang disampaikan lisan maupun tertulis. teori perilaku. Akhiri Kebiasaan Melakukan Hubungan Bisnis Hanya Berdasarkan Biaya Dalam bidang pendidikan pernyataan di atas terutama dikaitkan dengan biaya pendidikan yang ada hubungannya dengan perbandingan junlah guru dan murid pada satu ruangan/kelas. Sejalan dengan masalah evaluasi. sehingga memperoleh nilai yang baik pula. moralitas. 7. maka perlu diperhatikan teoriteori kepemimpinan yang berkembang dalam Total Quality Management dan lainnya. visi dan misi apabila terpilih menjadi pimpinan nantinya. Dengan kata lain. yaitu menyampaikan program. Setelah itu barulah guru danadministrator mengembangkan keahlian sesuai yang diperlukan bagi peningkatan profesionalitas. Kelas besar memang akan membuat sekolah tersebut melakukan penghematan biaya. dan teori kontigensi. intelektualitas. Mengapa sampai terjadi perceraian. atau setelah melakukan investigasi ternyata terdapat kebohongan-kebohongan. Kemudianmenyangkut masalah kebebasan dari tekanan.

bekerja dengan semangat dan antusias untuk mewujudkan hal-hal yang telah ditetapkan. dan situasi. komandan. Dikatakan bahwa. kepemimpinan itu seyogianya melekat pada diri pemimpin dalam wujud kepribadian (personality). (6) Kecukupan sumber daya (kuantitas). yaitu: (a) Menetapkan suatu dewan kualitas. atau menyatakan ide padahal itu semua perlu dilakukan untuk menghasilkan kinerja yang maksimum. (d) Memberikan dan menyiapkan sumber-sumber daya. (4) Memiliki organisasi kerja. Dalam konsep TQM. pemimpin yang efektif menurut konsep TQM adalah pemimpin yang sensitif atau peka terhadap adanya perubahan dan pemimpin yang melakukan pekerjaannya secara terfokus. (h) Memberikan pengakuan dan penghargaan atas prestasi dalam perbaikan kualitas terus-menerus (Vincent Gaspersz. Kegiatan memimpin termasuk kegiatan menciptakan budaya atau kultur positif dan iklim yang harmonis dalam lingkungan lembaga atau organisasi. ditujukan untuk mencapai variabel hasil akhir yaitu : (1) Kepuasan pelanggan. pada dasarnya terdapat delapan kunci tugas pimpinan untuk melaksanakan komitmen perbaikan kualitas terus menerus. Hilangkan Rasa Takut Perlu disadari bahwa rasa takut menghambat karyawan untuk mampu mengajukan pertanyaan. yaitu seperangkat keadaan atau kondisi yang harus dikelola dan diciptakan secara kondusif. Secara umum. karyawan dan lainlain. (4) struktur organisasi. (3) Profitabilitas. bagi kalangan follower/pengikut/bawahan seperti guru. Dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan itu adalah suatu proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan bersama. memimpin berarti menentukan hal-hal yang tepat untuk dikerjakan. (2) Loyalitas pelanggan. (f) Menetapkan tim perbaikan kualitas yang bertanggungjawab pada manajemen puncak untuk menyelesaikan masalah-masalah kualitas kronis. (6) ketergantungan eksternal. wewenang dan kemampuan pemimpin dengan derajat atau tingkat pemberdayaan karyawan dalam suatu lembaga. melaporkan masalah. (3) tugas dan kemampuan menggunakan teknologi. Dengan demikian. (5) keadaan lingkungan lembaga (fisik dan non-fisik). maka kepala sekolah perlu memperhatikan dan mengontrol Variabel situasi. Oleh karena itu para pelaku pendidikan . guna mewujudkan kepemimpinan bermutu atau Total Quality Management (TQM). (2) Memiliki kebutuhan berprestasi. (2) keadaan bawahan. terdapat hubungan positif antara tanggungjawab. perlu memperhatikan ketentuan berikut : (1) Mendukung program-program pimpinan yang baik dan benar.mencapai suatu tujuan yang dinginkan bersama. untuk melaksanakan tugas dan fungsi kepemimpinan. 8. (7) kekuatan sosial politik. Artinya terjadi proses interaksi antara pemimpin. wewenang dan peran. yang dipimpin. (e) Memberikan dan menyiapkan pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pemecahan masalah kualitas. (3) Klarifikasi kemampuan. ketua dan sebagainya. Ditambahkan bahwa. (8) rasa aman dan demokratis. (5) Kemampuan bekerja sama. menciptakan dinamika organisasi yang dikehendaki agar semua orang memberikan komitmen. (b) Menetapkan kebijaksanaan kualitas. (7) Memiliki koordinasi eksternal. kemampuan (ability). Keseluruhan proses interaksi kepemimpinan antara pemimpin. serta menciptakan tanggung-jawab dan pemberian wewenang dalam pencapaian tujuan bersama. Sedangkan pemimpin adalah seseorang atau sekelompok orang seperti kepala. yang dipimpin dan situasi. (c) Menetapkan dan menyebarluaskan sasaran kualitas. 1997: 203-204). Memimpin berarti juga dapat mengkomunikasikan visi dan prinsip organisasi kepada bawahan. dan kesanggupan (capability). Dan (4) kepuasan seluruh personil lembaga dan stakeholders. (g) Merangsang perbaikan kualitas terus menerus. Sementara itu. Situasi ini antara lain : (1) kekuatan posisi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa.

Sekolahadalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) atau suatu lembaga pendidikan dimana disana terjadi proses belajar mengajar serta tempat menerima dan memberikan pembelajaran. Hambatan ini dapat diatasi dengan mengembangkan kerjasama kelompok. Lakukan Tindakan Nyata/Contoh Nyata Manajer harus menjadi ”lead manager” bukan “boss manager”. input manajemen terdiri dari tugas. pekerja menyadari cara untuk melakukan pekerjaan yang berkualitas. Catatan: sumber daya terbagi menjadi sumber daya manusia dan sumber daya selebihnya (peralatan. siswa. tokoh masyarakat. tenaga administratif. bahan/material. Hilangkan Hambatan Terhadap Kebanggaan Diri atas Keberhasilan Kerja Kebanggaan diri atas hasil kerja yang dicapai perlu dimiliki oleh guru dan siswa. program. 13. Adanya kebanggaan dalam diri membuat guru dan siswa bertanggungjawab atas tugas dan kewajiban yang disandangnya sehingga mereka dapat menjaga mutu. Pecahkan Hambatan di antara Area Staf Hambatan antardepartemen fungsional berakibat menurunkan produktivitas. Manajemen adalah pengkoordinasian dalam penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. konselor. 11. 14. Hal ini berlaku bagi para pelaku pendidikan karena memiliki dampak langsung terhadap kualitas belajar siswa. Hilangkan Slogan. guru. Manajemen Berbasis Sekolah 2. orangtua siswa. 12. . dan sekolah. wakil pemerintahan.1. Dari definisi di atas maka menurut Dermawan (2006) Manajemen Berbasis Sekolah adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara otonomis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional. yaitu manajemen. para profesional.4. Tidak jarang patokan terget akan lebih terfokus pada guru dan siswa daripada sistem secara keseluruhan. 9. perlengkapan. 2. dan uang).4. berbasis. Terlalu banyak menggunakan slogan dan terlalu berpatokan pada target dapat menimbulkan salah arah untuk pengembangan sistem yang baik. dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif)". Nasihat.hendaknya jangan menerapkan system imbalan dan hukuman kepada siswa karena akan menghambat berkembangnya motivasi internal dari siswa masing-masing. Catatan: kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah meliputi: kepala sekolah dan wakil-wakilnya. rencana. Lembagakan Program Pendidikan dan Pelatihan yang Kokoh. Berbasis berarti "berdasarkan pada" atau "berfokuskan pada". Seorang “lead manager” akan berusaha mengkomunikasikan pandangannya selalu berusaha mengembangkan kerjasama. meluangkan waktu dan tenaga untuk system sehingga dengan adanya contoh nyata. Oleh karena itu para anggota staf harus bekerjasama dan memprioritaskan diri pada peningkatan kualitas. 10. Hilangkan Kuota Numerik Kuota cenderung mendorong orang untuk memfokuskan pada jumlah sering kali dengan mengorbankan mutu. dan Target untuk Tenaga Kerja Perbaikan secara berkesinambungan sebagai sasaran umum harus menggantikan simbolsimbol kerja. Konsep MBS Secara bahasa Istilah manajemen berbasis sekolah (MBS) berasal dari tiga kata.

Nurkholis (2006) mendefinisikan Manajemen berbasis sekolah adalah penggunaan sumber daya yang berasaskan kepada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran. 2. pengembangan sekolah sering difokuskan pada input saja (guru.). misalnya di pedalaman dan di perbatasan. kurikulum. dan outcome. partisipan lokal adalah kepala sekolah. Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain (1) penerapan pendekatan sistem secara parsial. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Wohlstetter dan Wohrman dalam Nurkholis (2006) mendefinisikan makna yang lebih luas tentang MBS yang diartikan suatu pendekatan politis untuk mnedesain ulang oganisasi sekolah dengan memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada partisipan sekolah pada tingkat local guna memajukan sekolahnya. siswa. Dari asal usul peristilahan. input. penerapan pendekatan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sering dilaksanakan secara parsial.wakil organisasi pendidikan. alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD. Dari beberapa definisi tentang MBS. Secara lebih sempit MBS hanya mengarah kepada perubahan tanggung jawab pada bidang tertentu. orang tua siswa. Latar Belakang Adanya Manajamen Berbasis Sekolah di Indonesia Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan dari sebagian sekolah khususnya sekolah dasar dan menengah di pedesaan. secara umum. dsb. penerapan ujian nasional. guru. peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan. yang diartikan sebagai model manajemen yang member otonomi lebih besar pada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. guru. dan siswa. Sekolah sebagai sistem terdiri dari konteks.4. Namun demikian. sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya. seperti dikemukan oleh Kubik dalam Nurkholis (2006) bahwa MBS meletakkan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dari pemerintah daerah kepada sekolah yang menyangkut bidang anggaran. personil. Jadi. dimana terjadi pergeseran tanggung jawab pada tingkat sekolah dengan manajemen mandiri. misalnya pengembangan delapan (8) standar nasional pendidikan. pengembang kurikulum. Kementrian Pendidikan Nasional Repubrik Indonesia menyebut MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). terutama di kota-kota. dana. karena itu MBS memberikan control proses pendidikan kepada kepala sekolah. dengan demikian penulis dapat menyimpulkan MBS adalah suatu model pengelolaan sekolah dengan memberikan wewenang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sekolahnya masing-masing secara langsung dengan penuh tanggung jawab untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. penilaian hasil . proses saja (proses belajar mengajar. dan kurikulum. dan sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sarana dan prasarana. Faktor pertama. Istilah ini mula-mula muncul di Amerika pada tahun 1970-an sebagai alternative untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah. kesenjangan mutu pendidikan nasional masih cukup lebar. mutu pendidikan nasional belum merata di seluruh tanah air. menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan. Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah terjemahan langsung dari School Based Manajement (SBM). sebaliknya sebagian lainnya khususnya di pedesaan. Sebagian sekolah.2. output. dan (3) rendahnya partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah. konselor. masyarakat sekita. proses. Dalam kenyataannya. (2) belum maksimalnya penerapan MBS. administrator. masih memprihatinkan. dan orang tua.

Ayat (1). Dengan otonomi dan desentralisasi. Landasan Yuridis Dalam Penyelenggaraan MBS di Indonesia Penerapan MBS dilandasi oleh peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku di Indonesia. penyelenggaraan sekolah sebagai sistem harus dilakukan secara utuh. dan lincah. Dalam bidang Pendidikan muara tujuan dari otonomi ini adalah peningkatan mutu / kualitas pendidikan di Indonesia Salah satu pendekatan yang dipilih di era desentralisasi sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan persekolahan adalah pemberian otonomi yang luas di tingkat sekolah serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Pasal 3). Faktor ketiga. dan rendah keberanian moralnya untuk melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk memajukan sekolahnya. c. diharapkan masing-masing daerah termasuk masyarakatnya akan lebih terpacu untuk mengembangkan daerah masing-masing agar dapat bersaing.). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV. rendah keluwesannya. dengan adanya MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang dicanangkan oleh pemerintah dapat memberikan otoritas kepada sekolah dan pihak terkait sebagai stake holder (semua yang terlibat dalam pengelolaan sekolah) untuk mengembangkan. Partisipasi maksimal akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolah dan rasa kepemilikan akan meningkatkan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. b. cerdas. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah. pengembangan sekolah secara sistem harus mencakup seluruh komponen sekolah secara utuh mulai dari konteks. moral. Dengan diberlakukannya otonomi daerah sebagai perwujudan Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab VIII. terpasung kreatifitasnya/inisiatifnya. padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Maka dari itu. mengontrol. Karena sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi di atasnya.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. rendah motivasinya. dsb. dinamis. Pendekatan tersebut dikenal dengan model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based Management. sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran. maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. 2. tidak parsial. peranserta warga sekolah khususnya guru. perlombaan karya ilmiah. Faktor kedua. kepemimpinan sekolah. Artinya. harmonis. atau output saja (nilai ujian nasional. kesuksesan sekolah sangat memerlukan teamwork yang kompak. Padahal. dsb.).belajar. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan. maka sebagian besar kewenangan pemerintahan Pusat dilimpahkan ke Pemerintahan Daerah. Pasal 51.4. output. proses. Pasal 49. Ayat (1). penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik telah menempatkan sekolah sebagai subordinasi yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi diatasnya yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang diberlakukan kurang sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Hal ini hanya akan terjadi apabila pertisipasi warga sekolah dan masyarakat maksimal. hingga sampai outcome. input. maka mereka kehilangan kemandiriannya. dan material belum optimal. karyawan dan siswa serta peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan sekolah selama ini belum optimal. . Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana. Padahal. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II. pisik.3. mengelola. yaitu: a. memutuskan kebijakan demi kemajuan sekolah dengan sinergi team work dalam pelaksanaan MBS.

dan inovasi pendidikan. dan output.5. maka sejumlah karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. dan output. . kualitas kehidupan kerjanya. Dengan kata lain. dan f. efisiensi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Jika MBS merupakan wadah/kerangkanya. Dalam bentuk persamaan. efisiensinya.4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. a. transparansi. Efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran (kuantitas. e. transparansi. Karakteristik MBS Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. yang dikategorikan menjadi input. produktivitas. produktivitasnya. akuntabilitas.4. kualitas. kualitasnya.4. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi. Dalam menguraikan karakteristik MBS. dan moral kerjanya. uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS. maka sekolah efektif merupakan isinya. Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitasnya. dan akuntabilitas. 2. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas. Berbicara karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. dan sebagainya) 2. mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi. inovasinya. Kinerja sekolah adalah pencapaian/prestasi yang dihasilkan oleh proses/perilaku sekolah. Oleh karena itu. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. efektivitas. proses. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. Tujuan MBS MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi. Selanjutnya. proses. karakteristik MBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. pendekatan sistem yaitu input-proses-output digunakan untuk memandunya. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan.d. waktu) telah dicapai. Dengan MBS. Output yang Diharapkan Output sekolah diukur dengan kinerja sekolah.

yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. kawan/kolega kerjanya. modal. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut "input". . motivasi kerjanya. dan energi. Produktivitas adalah hasil perbandingan antara output dibagi input. kemanfaatannya. dan non-ekonomik) yang didapat setelah pada kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Analisis biaya-manfaat merupakan alat utama untuk mengukur efisiensi eksternal. tidak pernah merasa puas dan terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya. Kualitas kehidupan kerja adalah kinerja sekolah yang ditunjukkan oleh ukuran tentang bagaimana warga sekolah merasakan hal-hal seperti: pekerjaannya. Proses Proses merupakan berubahnya "sesuatu" menjadi "sesuatu yang lain". tanggungjawabnya. Setiap penilaian biayaefektivitas selalu memerlukan dua hal. tergantung pada jenis pekerjaan. angka putus sekolah). Inovasi selalu memberikan nilai tambah terhadap input. ekonomik. Kuantitas output dapat berupa jumlah barang atau jasa. dan imbal jasanya. peluang untuk maju. pengembangan. Baik output maupun input adalah dalam bentuk kuantitas. tidak suka mencari kambing hitam. lama belajar. kerajinannya. Kuantitas input berupa tenaga kerja. memiliki sikap berani mengambil resiko. Efisiensi internal biasanya diukur dengan biaya-efektivitas. yaitu penilaian ekonomik untuk mengukur biaya masukan (input) dan penilaian hasil pembelajaran (prestasi belajar. proses. hubungan kerjanya. Inovasi adalah proses yang kreatif dalam mengubah input. dan output agar dapat sukses dalam menanggapi dan mengantisipasi perubahan-perubahan internal dan eksternal sekolah. selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumberdaya. Mutu barang atau jasa dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan seperti disain. daya adaptasi dan antisipasinya. kesan dari atasan ke bawahan dan sebaliknya. bahan. kejujurannya. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. komitmennya. kepastian. kedisiplinannya. keselamatan dan keamanan. dan jiwa kewirausahaannya (bersikap dan berpikir mandiri. Moral kerja adalah tingkat baik buruknya warga sekolah terhadap pekerjaannya yang ditunjukkan oleh etika kerjanya.Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa. maupun output yang ada. kondisi kerjanya. operasi produk atau jasa dan pemeliharaannya. Sedang efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual. sosial. selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik. proses. Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output pendidikan (pencapaian belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memroses/menghasilkan output pendidikan. terbuka terhadap umpan balik. dan memiliki tanggungjawab moral yang baik) b.

guru. apakah cocok dan produktif jika pengambilan keputusan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan?. orangtua siswa. ada batas-batas yurisdiksi yang memang tidak semua kelompok kepentingan harus terlibat dalam pengambilan keputusan. kelompok kepentingan yang akan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. maka hal ini harus dipikirkan secara mendalam dan terkontrol pelaksanaannya. adalah tingkat relevansinya. harus memiliki sesuatu untuk dikontribusikan. Karena itu. Sekolah didirikan untuk menjalankan fungsinya melalui struktur-herarkis. harus dikelola secara profesional agar menjadi "sekolah belajar" (learning school) yang mampu menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. Pelibatan kelompok kepentingan dalam proses pengambilan keputusan harus mempertimbangkan keahlian. kompetensi. dalam setiap kasus. sebagai lembaga pendidikan.sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Apabila kompatibilitas tujuan dari semua kelompok kepentingan diinginkan. dan pemerintah/yayasan). Sekiranya keputusan yang akan diambil relevan dengan kebutuhan kelompok kepentingan tertentu (kelompok yang bakal terkena dampak keputusan). Ketiga. maka pelibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan sangat diperlukan. dan (d) proses belajar mengajar. maka sekolah harus: . Ada empat petunjuk untuk mengidentifikasi pengambilan keputusan yang harus melibatkan para kelompok kepentingan. Mereka harus memiliki kompetensi untuk ikut serta dalam memecahkan persoalanpersoalan yang terkait dengan kepentingannya. jika proses pengambilan keputusan perlu melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. Kalaupun pimpinan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. paling tidak ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh kepala sekolah sewaktu akan menerapkan pengambilan keputusan partisipatif: (1) bagaimana cara menentukan. yaitu relevansi. Wilayah kesamaan inilah yang menjadi modal dasar untuk menumbuhkan "rasa memiliki" bagi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah dan ini dapat dilakukan secara efektif melalui pelibatan semua kelompok kepentingan dalam proses pengambilan keputusan. dan kompatibilitas tujuan. Pelibatan yang tidak proporsional secara yurisdiksi akan cenderung membuat frustasi dan kemarahan yang tidak berdasar. Ada wilayah-wilayah yang memang merupakan hak prerogatif pimpinan untuk diputuskan secara sendirian dan bawahan harus menerimanya tanpa syarat. yurisdiksi. Kedua. pertanyaan kedua adalah: bagian yang mana dari proses pengambilan keputusan yang perlu melibatkan kelompok-kelompok kepentingan?. Proses Pengambilan Keputusan Proses pengambilan keputusan partisipatif merupakan salah satu "inti" MBS. adalah uji keahlian. yurisdiksi. maka pengambilan keputusan sebaiknya melibatkan kelompok kepentingan tersebut. Dalam pendidikan bersekala mikro (sekolah). Artinya. dan relevansinya dengan tujuan pengambilan keputusan. 2. (3) pertanyaan ketiga adalah cara yang mana (apa) yang paling efektif untuk melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan? Tentunya tidak semua wilayah (zona) pengambilan keputusan harus melibatkan semua kelompok kepentingan. 1. uji yurisdiksi. siswa. Keempat. Pertama. Untuk menjadi sekolah belajar. Proses Pengelolaan Kelembagaan Sekolah. Esensi proses pengambilan keputusan partisipatif adalah untuk mencari "wilayah kesamaan" antara kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakehorder) yaitu kepala sekolah. Menurut Cangemi (1985). proses yang dimaksud adalah: (a) proses pengambilan keputusan. uji kompatibilitas tujuan. (2) kemudian. (c) proses pengelolaan program. (b) proses pengelolaan kelembagaan.

(e) pelayanan siswa. dan (i) pembinaan hubungan antara sekolah dan masyarakat. proses belajar mengajar yang lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh pengajar adalah kurang efektif. mengajak warganya untuk nikmat/siap berhadap perubahan. 7). pengembangan. 3. (f) pengelolaan fasilitas. mendorong warganya untuk berfikir sistem. memberdayakan sumber daya manusianya seoptimal mungkin. Proses Pengelolaan Program Pengelolaan program merupakan pengkoordinasian dan penyerasian program sekolah. mendorong setiap warganya untuk "mempertanggungugatkan" (accountability) terhadap hasil kerjanya. Karena proses belajar mengajar merupakan pemberdayaan pelajar. 8). Karena itu. 6). mengajak warganya untuk komitmen terhadap "keunggulan kualitas". maupun cara menganalisis sekolahnya. dan sebagainya. Selain itu. proses belajar mengajar semestinya lebih mementingkan proses pencarian jawaban dari pada memiliki jawaban. (g) pengelolaan keuangan. 2). 4). dan evaluasi program sekolah. maka penekanannya bukan sekadar penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). mendorong adanya teamwork yang kompak dan cerdas danshared value bagi setiap warganya. merespon dengan cepat terhadap pasar (pelanggan). . memberikan tanggungjawab kepada warganya. mendorong kemandirian (otonomi) setiap warganya. Proses Belajar Mengajar Sedang proses belajar mengajar merupakan pemberdayaan pelajar yang dilakukan melalui interaksi perilaku pengajar dan perilaku pelajar. 4.1). (b) pengembangan kurikulum.). baik di ruang maupun di luar kelas. 13). cara mengelola. baik dalam cara berfikir. 11). (c) pengembangan proses belajar mengajar. mengajak warganya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. 12). 3). 5). tetapi merupakan internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekkan oleh pelajar (etos). yang meliputi: (1) perencanaan. (d) pengelolaan sumberdaya manusia (guru. dan melibatkan warganya secara total dalam penyelenggaraan sekolah. (h) perbaikan program. karyawan. memfasilitasi warga sekolahnya untuk belajar terus dan belajar kembali. 10). 9). mengajak warganya untuk menjadikan sekolahnya customer focused. konselor.

dari pengambilan keputusan tunggal menjadi pengambilan keputusan partisiptatif. 5. Tugas 3. Karena visi harus mengakomodasi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. Tujuan merupakan "apa" yang akan dicapai/dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan dan "kapan" tujuan akan dicapai. visi adalah pandangan jauh kedepan kemana sekolah akan dibawa atau gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah. serta peran dari kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. memberikan keterbukaan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. c. Input Manajemen Kepala sekolah mengatur dan mengurus sekolahnya melalui sejumlah input manajemen. tetapi juga dapat berupa perangkat dan harapanharapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. sudah tentu perubahan ini berdampak pada struktur organisasi yang telah ada. dan digunakan untuk memandu perumusan misi sekolah. dari subordinasi menjadi otonomi. Dengan kata lain. Input Pendidikan Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sasaran Sasaran adalah penjabaran tujuan. Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah. maka sasaran harus dibuat spesifik. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membatu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan baik. harus mempertimbangkan tugas pokok sekolah dan kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. yaitu sesuatu yang akan dihasilkan/dicapai oleh sekolah dalam jangka waktu satu tahun. 1. Tujuan Tujuan merupakan penjabaran misi. dan memberikan toleransi pada kekeliruan-kekeliruan akibat kreativitas berfikir. Berikut disampaikan sejumlah input dengan uraian seperlunya. Dalam merumuskan misi. 2. Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif. Visi Setiap sekolah yang akan menerapkan manajemen berbasis sekolah harus memiliki visi. rasa keingintahuan. terukur. 6. satu catur wulan. dan eksperimentasi-eksperimentasi untuk menemukan kemungkinankemungkinan baru (meskipun hasilnya keliru).Proses belajar mengajar yang efektif semestinya menumbuhkan daya kreasi. 4. Misi Misi adalah tindakan untuk merealisasikan visi. maka misi dapat juga diartikan sebagai tindakan untuk memenuhi masing-masing dari semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. atau satu bulan. dengan keterangan seperlunya: 1). agar sekolah yang bersangkutan dapat dijamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. . dan disertai indikator-indikator yang rinci. Struktur Organisasi Mengingat fungsi dasar sekolah berubah. Berikut adalah sejumlah input manajemen. daya nalar. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. Tujuan dirumuskan untuk jangka waktu 1-3 tahuan. jelas kriterianya. menumbuhkan demokrasi.

agar sekolah dapat berjalan secara efektif dan efisien. diperlukan kesiapan sumberdaya manusia. Sumber daya dapat dikelompokkan menjadi dua. Tanpa sumberdaya. Input manajemen yang berupa limitasi ini pada dasarnya merupakan aturan main atau rule of the gameyang perlu diikuti oleh semua warga sekolah agar pengembangan sekolah berjalan lancar untuk mencapai tujuannya. Karena itu. yaitu yang muncul dalam wujud Tindakan Turun Tangan (T3). 6). guru. siswa. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. Pengendalian/Tindakan Turun Tangan Input manajemen yang menyangkut pengendalian/pengawasan. 2). seperti yang menyangkut kualifikasi. b) Sumber Daya Selebihnya .Kepala sekolah harus jelas memberikan tugas-tugas kepada bawahannya. kewajiban dan hak. sebagai salah satu konsekwensi dari koordinasi. spesifikasi dan metoda ataupun prosedur.) merupakan jiwa sekolah dan merupakan satu-satunya sumberdaya aktif. dan sumberdaya selebihnya merupakan sumberdaya pasif. yang dilengkapi ketentuan-ketentuan mengenai fungsi. cukup lengkap untuk berlangsung. Dalam pendidikan. a. dengan penegasan bahwa sumber daya selebihnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. 3). rencana yang dimaksud adalah rencana pengembangan sekolah. Pada dasarnya. Program Program adalah alokasi sumberdaya kedalam kegiatan-kegiatan. proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung. dalam arti. spesifikasi untuk sumberdaya selain sumber daya manusia). Sumberdaya Sumberdaya merupakan jenis input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. wewenang. dll. Rencana juga mengandung isi diskripsi kegiatan untuk keperluan penyelenggaraan. dan peraturan-perundangan. yaitu yang muncul dalam berbagai bentuk ketentuan. menurut jadwal-waktu dan menunjukkan tatalaksana yang sinkron. yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya. Limitasi/Ketentuan-Ketentuan Input manajemen yang menyangkut limitasi. Rencana Rencana/rancang-bangun adalah diskripsi produk untuk keperluan pembuatan/pembangunan (diskripsi disebut kualifikasi untuk sumberdaya manusia. untuk meyakinkan bahwa tujuan/sasaran sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. 5). tanggungjawab. Dengan kata lain program adalah bentuk dokumen untuk menggambarkan langkah-langkah untuk mewujudkan sinkronisasi dalam ketatalaksanaan. manual. Sumber Daya Manusia Sumberdaya manusia merupakan hasil ciptaan-Nya yang paling sempurna dan karenanya harus didudukkan pada posisi tertinggi dalam setiap kehidupan organisasi termasuk organisasi yang disebut sekolah. sumberdaya manusia (kepala sekolah. 4). Kesiapan kemampuan menyangkut persyaratan kualifikasi dan kesiapan kesanggupan menyangkut pemenuhan kepentingan sumberdaya manusia.

Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugas-tugasnya. perlengkapan. perbekalan. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. prinsip desentralisasi. Prinsip sistem pengelolaan mandiri. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. uang. Prinsip inisiatif sumber daya manusia. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah 2. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. 2. dan perangkat-perangkat lainnya. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. pengetahuan dan ketrampilan. dan pinsip inisiatif sumber daya manusia Prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Desentralisasi dalam kekuasaan. prinsip sistem pengeloaan mandiri. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. informasi dan penghargaan. pengetahuan dan ketrampilan. bahan/material/sumber daya alam. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. staf. kepala sekolah dan orang tua siswa. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut.4.8 Strategi Implementasi MBS Menurut Nurkholis (2006) Pada dasarnya.Sumber daya selebihnya dapat dikelompokkan menjadi: peralatan.4. Oleh karena itu. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda.6 Prinsip-Prinsip MBS Teori digunakan MBS dalam mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip yaitu prinsip ekuifinalitas. .

identifikasi peran masing-masing. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal.1. fasilitator dan liaison. 9. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. 5. Oleh karena itu. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. 8. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. implementasi pada proses pembelajaran. 7. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. . proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. 6. motivator. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. 2. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. 4. 3. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan.

2. Menurut Slamet P. 6. 8. Sementara itu. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.H. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. 7.4. forum ilmiah dan media massa.Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin dalam nurkholis (2006) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa.9 Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. 9. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. diskusi. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. 5. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. membuat rencana jangka pendek. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. 3. Namun. 2. 4. diantaranya .

budaya. Keempat. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Ketiga. Kedua. . Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. pelayanan kepada masyarakat. Namun. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. dan (d) penyandang cacat. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). Karena itu. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. ekonomi dan politik.mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. sosial dan budaya. (c) wanita.

2. Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai.5 Sekolah efektif 2. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan.5.wordpress. sekolah dituntut menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu. siswa. Sebagai institusi pendidikan formal. dan staf administrasi yang masing-masing mempunyai tugas tertentu dalam melancarkan program dan tujuan pendidikan. sikap dan mental. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. sekolah disebut efektif jika sekolah tersebut dapat mencapai apa yang telah direncanakan . Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. sebaliknya sekolah dikatakan tidak efektif bila hubungan tersebut rendah (http://ridwan202.Kelima. Ketujuh. kemudian dikenal sekolah efektif dan efisien yang mengacu pada sejauh mana sekolah dapat mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang telah ditetapkan. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Kesembilan. Dengan kata lain. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah.com/2008 /10/16/sekolah-efektif/). apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. . baik fungsi ekonomis. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Kedelapan. Konsep Sekolah efektif Sekolah merupakan suatu institusi yang didalamnya terdapat komponen guru. serta kepribadian lainnya sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan keterampilannya. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Sekolah efektif yakni sekolah efektif menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam menjalankan fungsinya secara maksimal.1. keterampilan. Dengan demikian. Sehingga suatu sekolah akan disebut efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah. fungsi sosial-kemanusiaan. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Keberhasilan sekolah merupakan ukuran bersifat mikro yang didasarkan pada tujuan dan sasaran pendidikan pada tingkat sekolah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional serta sejauh mana tujuan itu dapat dicapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya pendidikan yang berlangsung di sekolah. Berdasarkan sudut pandang keberhasilan sekolah. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Keenam.

Sekolah Efektif Dalam Perspektif Mutu Pendidikan Penyelenggaraan layanan belajar bagi peserta didik biasanya dikaji dalam konteks mutu pendidikan yang erat hubungannya dengan kajian kualitas manajemen dan sekolah efektif. mutu pendidikan di sekolah secara sederhana dilihat dan perolehan nilai atau angka yang dicapai seperti ditunjukkan dalam hasil-hasil ulangan dan ujian. Adanya evaluasi aspek akademis dan administratif 4. manjemen ketatausahaan / persuratan 7. Dari beberapa definisi tentang sekolah efektif diatas.5.blogspot. maka sekolah yang dikatakan efektif jika memenuhi berbagai prasyarat untuk mewujudkan sekolah efektif antara lain : 1. manjemen hubungan sekolah dengan? masayarakat.html) 1. Perspektif sekolah efektif Berikut terdapat berbagai perspektif dalam memandang sebuah sekolah efektif. Ruang lingkup manajemen sekolah akan bergerak di bidang : 1. maka dapat disimpulkan bahwa sekolah dikatakan efektif jika sebuah sekolah dapat menjalankan fungsinya sebagai sekolah dalam mewujudkan tujuan dan sasaran pendidikan yang telah direncanakan sehingga mendapatkan sebuah hasil yang yang maksimal. sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki sebuah keseimbangan antara produk kerja inovasi manajemen pendidikan dan aplikasinya di sekolah. Di lingkungan sistem persekolahan. Menurut persepsi kebanyakan orang (orang tua dan masyarakat pada umumnya).com/2009/04/mpmbs-dan-sekolahefektif-dengan. Memiliki visi dan target mutu 2. Memiliki kepemimpinan yang kuat 3. Adanya komunikasi dan dukungan intensif orang tua 8.blogspot.html) (http://asmoni- Menurut Danim (2008 : 61). Pola Dasar Manajemen Sekolah Efektif Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur atau mengelola proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber sumber lainnnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.3. manjemen ketenagakerjaan/ kepegawaian 4. . diantarnya sebagai berikut : (http://asmoni-best. Adanya pengembangan staff secara terus menerus sesuai tuntutan IPTEK 6.fungsi politis.com/2009/04/mpmbs-dan-sekolah-efektif-dengan. 2.5. fungsi budaya maupun fungsi pendidikan best. manjemenperlengkapan / sarana prasarana 6. konsep mutu pendidikan dipersepsi berbedabeda oleh berbagai pihak. Adanya pemanfaatan hasil evaluasi 7. Adanya harapan berprestasi yang tinggi dari personil sekolah 5. Lingkungan yang aman dan tertib 2. manjemen kurikulum 2. Dengan melihat manajemen sebuah sekolah. manjemen peserta didik 3. manjemen asrama 9.2. manjemen perpustakaan dan laboratorium 8. manjemen keuangan 5.

maka untuk memperoleh mutu pendidikan sekolah yang baik. gaya/seni dan prosedur mengajar. seperti tampak dalam kepercayaan diri. kemandirian. yaitu: a) Interaksi kolegialitas di antara guru-guru b) Pemahaman proses-proses kognitif dalam penyelenggaraan pengajaran c) Penguasaan struktur pengetahuan mata pelajaran d) Pemilikan pemahaman dan penghayatan terhadap nilai.Sekolah dianggap bermutu apabila para siswanya. tanggung jawab sosial dan kebangsaan. kerja keras dan ulet. Pada tingkat sekolah. Kemampuan profesional guru direfleksikan pada mutu pengalaman pembelajaran siswa yang berinteraksi dalam kondisi proses belajar mengajar. juga ditunjukkan oleh seberapa baik kepemilikan kualitas pribadi para siswanya. disiplin. berbudi-pekerti. sebagian besar atau seluruhnya. pendekatan. upaya tersebut ditunjukkan dalam kegiatan-kegiatan berikut. sehingga berpeluang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. di samping ditunjukkan oleh indikator seberapa banyak siswa yang berprestasi sebagaimana dilihat dalam perolehan angka/nilai yang tinggi. Kemampuan umum yang dimiliki seorang anak biasanya dipergunakan sebagai prediktor untuk menjelaskan tingkat kemampuan menyelesaikan program belajar. dan lain sebagainya. para siswa yang dilayaninya harus memiliki potensi yang memadai untuk menyelesaikan program-program belajar yang dituntut oleh kurikulum sekolah. beriman dan bertaqwa. hasil pendidikan yang bermutu memiliki nuansa kuantitatif dan kualitatif. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh: a) Tingkat penguasaan guru terhadap bahan pelajaran dan penguasaan struktur konsepkonsep keilmuannya b) Metode. akting dan sejenisnya. Dengan demikian. apresiasi. keyakinan. Atas dasar pemahaman ini. memperoleh nilai/angka yang tinggi. Seorang siswa yang memiliki potensi akademik yang tinggi diduga memiliki kemampuan yang tinggi pula untuk menyelesaikan program-program belajar atau tugas-tugas belajar pada umumnya di sekolah. Sementara itu. dan karenanya diperhitungkan akan memperoleh prestasi yang diharapkan. Atas dasar analisis tersebut. Artinya. Analisis di atas memberikan pemahaman yang jelas bahwa konsep sekolah efektif berkaitan langsung dengan mutu kinerja sekolah. terampil. sehingga kemampuan ini sering disebut sebagai scholastic aptitude atau potensi akademik. maka upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah harus disertai dengan upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan profesional dan memperbaiki kualitas kepribadian gurunya. yang dapat dipercaya menggambarkan derajat perubahan tingkah laku atau penguasaan kemampuan yang menyangkut aspek kognitif. afektif dan psikomotorik. kemampuan khusus atau bakat dijadikan prediktor untuk berprestasi dengan baik dalam bidang kajian khusus seperti dalam bidang karya seni. musik. dan standar e) Keterampilan mengajar f) Pengetahuan bagaimana siswa belajar. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai atau angka tersebut diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar. . pemanfaatan fasilitas belajar secara efektif dan efisien c) Pemahaman guru terhadap karateristik kelompok dan perorangan siswa d) Kemampuan guru menciptakan dialog kreatif dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan e) Kepribadian guru.

implementasi kebijakan sekolah. kebiasaan dan perilaku. Tindakan-tindakan manajemen tidak berlangsung dalam satu isolasi. Layanan Belajar bagi Siswa b. Aspek penting yang turut membentuk budaya sekolah adalah kepemimpinan sekolah. 2. penataan keindahan. emosional dan intelektual) yang diserap oleh mereka selama berada dalam lingkungan sekolah. Sarana dan Prasarana Sekolah d. Respon psikologis keseharian siswa terhadap hal-hal seperti cara-cara guru dan personil sekolah lainnya bersikap dan berperilaku (layanan wali kelas dan tenaga administratif misalnya). melainkan terjadi dalam satu keutuhan kompleksitas sistem. kebersihan dan kenyamanan kampus. Pengelolaan dan Layanan Siswa c. Memiliki kemampuan menciptakan budaya sekolah yang kondusif sebagai refleksi dari kinerja kepemimpinan profesional kepala sekolah. memiliki semangat untuk maju. maka dimensi sekolah efektif meliputi : a. Tindakan-tindakan manajemen tersebut bersumber pada kebijakan dan peraturan-peraturan yang disepakati bersama yang diwujudkan dalam bentuk sikap. pengorganisasian. Budaya sekolah adalah seluruh pengalaman psikologis para siswa (sosial. Program dan Pembiayaan e. yang pada gilirannya membentuk pola nilai. Apabila dilihat dalam perspektif ini. Sekolah Efektif Dalam Perspektif Manajemen Manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik (mencakup perencanaan. dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. semuanya membentuk budaya sekolah. Memiliki fasilitas sekolah yang menunjang efektivitas dan efesiensi kegiatan belajar mengajar c. dan perilaku dari seluruh orang yang terlibat di dalamnya. Budaya Sekolah . dan kondisi fisik lainnya yang secara langsung mempengaruhi kenyamanan belajar. kondisi dan layanan warung sekolah. kepala sekolah hendaklah seseorang yang memiliki visi dan misi kelembagaan. komputer. Fasilitas belajar yang sangat penting adalah perpustakaan.Fasilitas belajar menyangkut ketersediaan hal-hal yang dapat memberikan kemudahan bagi perolehan pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Kepemimpinan sekolah yang efektif merupakan sumber nilai dan semangat. memiliki kemampuan konseptual. serta memiliki semangat mengabdi dan karakter yang diterima oleh lingkungannya. Dari tema analisis sekolah efektif dalam perspektif mutu pendidikan dapat dikatakan bahwa sekolah yang efektif adalah sekolah yang: a. menguasai aspek-aspek teknis dan substantif pekerjaannya. memiliki keterampilan dan seni dalam hubungan antarmanusia. sikap. Budaya sekolah merembes pada penghayatan psikologis warga sekolah termasuk siswa. sumber tatanan dan perilaku kelembagaan yang berorientasi ke arah dan sejalan dengan pencapaian visi dan misi sekolah. Memiliki masukan siswa dengan potensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dapat menyediakan layanan pembelajaran yang bermutu b. Oleh karena itu. pengerahan tindakan. Partisipasi Masyarakat f. nilai.

4. dunia ini bukan benda mati.5. Berikut ini terdapat beberapa ciri atau kriteria sekolah efektif. Kondisi ini berlaku untuk sekolah.wordpress. (11) Bekerja sama atau berpartner dengan masyarakat dan pihak-pihak lain untuk mendukung siswa dan keluarganya. Sekolah efektif menurut David A. 2. kesetaraan gender dan mengembangkan secara tepat pembelajaran menurut standar potensi yang dimiliki oleh para pelajar. Dalam perspektif ini. maka bentuk kehidupan apa pun hanya akan mampu bertahan apabila organisme itu mampu memberikan respon yang tepat untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. jika ditunjang dengan manajemen pendidikan yang memadai. et. yaitu : (1) Apakah yang menjadi hakikat keberadaan sekolah? (2) Apakah yang menjadi tujuan utamanya? Kebutuhan dan harapan masyarakat (community needs and wants) akan mutu pendidikan yang baik menjadi faktor pemicu utama inovasi manajemen pendidikan.com/2008/10/16/sekolah-efektif/ mempunyai ciri-ciri : . menentukan umpan balik yang bermakna untuk siswa. Ciri-Ciri Sekolah Efektif Untuk mengetahui sebuah sekolah disebut sebagai sekolah yang efektif . keluarga. (10) Secara aktif melibatkan keluarga di dalam membantu siswa untuk mencapai sukses. (1983) dalamhttp://ridwan202. pemahaman multibudaya. maka perlu diketahui ciriciri tentang sekolah efektif. 2. 1. Sekolah efektif menurut Danim (2008: 61) mempunyai ciri-ciri : (1) Mempunyai standar kerja yang tinggi dan jelas mengenai untuk apa setiap siswa harus mengetahui dan dapat mengerjakan sesuatu. Menurut teori organisme. sifat saling menghargai dan mengakomodasikan lingkungan secara efektif. (3) Mengharapkan para siswa untuk mengambil peran tanggung jawab dalam belajar dan perilaku dirinya.al. (4) Mempunyai instrument evaluasi dan penilaian prestasi belajar siswa yang terkait dengan standar pelajar .3. Keputusan kepala sekolah dan staf untuk meningkatkan mutu pelayanan internal ( di dalam lembaga sekolah) dan eksternal (hubungan sekolah dengan masyarakat) akan sangat mempengaruhi proses pembuatan keputusan inovatif dalam bidang manajemen pendidikan. (9) Mempunyai harapan yang tinggi kepada semua staf untuk menumbuhkan kemampuan professional dan meningkatkan keterampilan praktisnya. Sekolah Efektif dalam Perspektif Teori Organisme Sekolah efektif mampu mewujudkan apa yang disebut sebagai “self -renewing schools” atau “adaptive schools”. staf dan lingkungan tentang pembelajaran siswa (5) Menggunakan metode pembelajaran yang berakar pada penelitian pendidikan dan suara praktik professional (6) Mengorganisasikan sekolah dan kelas untuk mengkreasikan lingkungan yang bersifat member dukungan bagi kegiatan pembelajaran (7) Pembuatan keputusan secara demokratis dan akuntabilitas untuk kesuksesan siswa dan kepuasan pengguna (8) Menciptakan rasa aman. sekolah sebagai organisasi harus secara terus-menerus mempertanyakan dua hal yang sangat esensial. Kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah akan berjalan dengan baik. melainkan merupakan suatu energi yang memiliki kapasitas berubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. atau disebut juga sebagai “learning organization” yaitu suatu kondisi di mana kelembagaan sekolah sebagai satu entitas mampu menangani permasalahan yang dihadapinya sementara menunjukkan kapabilitasnya dalam berinovasi. (2) Mendorong aktivitas. Squires. Untuk bisa adaptif.

5. siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik. com/2008/10/16/sekolahefektif/ mempunyai ciri-ciri : (1) mampu mendemontrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria (2) menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya (3) adanya kepemimpinan yang kuat (4) adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan orangtua siswa (5) pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar 5. mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi.com/ 2008/10/16/sekolahefektif/ memiliki ciri-ciri : (1) kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran (2) pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran (3) iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran (4) harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu (5) penilaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa. Sekolah efektif menurut Jaap Scheerens dalamhttp://ridwan202. siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan. dan karyawan di sekolah.wordpress.com/2008/10/16/sekolah-efektif/ mempunyai ciri-ciri : (1) dukungan orangtua siswa dan lingkungan (2) dukungan yang efektif dari sistem pendidikan (3) dukungan materi yang cukup (4) kepemimpinan yang efektif (5) pengajaran yang baik (6) fleksibilitas dan otonomi (7) waktu yang cukup di sekolah (8) harapan yang tinggi dari siswa (9) sikap yang positif dari para guru (10) peraturan dan disiplin (11) kurikulum yang terorganisir (12) adanya penghargaan dan insentif (13) waktu pembelajaran yang cukup (14) variasi strategi pengajaran (15) frekuensi pekerjaan rumah (16) adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin (1992) . adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi.wordpress.wordpress. supervisi.com/2008/10/16/sekolah-efektif/ memiliki ciri-ciri : (1) kepemimpinan yang kuat (2) penekanan pada pencapaian kemampuan dasar. (4) harapan yang tinggi pada prestasi siswa. 1994) dalam http://ridwan202. 3. siswa. Sekolah efektif menurut Edward Heneveld dalamhttp://ridwan202. (9) kepala sekolah mempunyai program inservice. siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan dalam meraih prestasi. memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas.wordpress. guru. (5) penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa. pengawasan. (1992) 4. (8) para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum.(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah. serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya. Sekolah efektif menurut Edmons (1979) dalam http://ridwan202. (3) adanya lingkungan yang nyaman. Sekolah efektif menurut (Townsend.

dan harapan yang tinggi untuk berprestasi secara optimal. 4. pengalaman mengajar. prestasi sekolah. dan gaji guru (3) karakteristik siswa meliputi jumlah jam belajar siswa di rumah. dan pengalaman yang dirasakan oleh guru berkenaan dengan situasi kerjanya yang meliputi lima aspek meliputi kondisi fisik dan fasilitas sekolah. output maupun outcome serta tatanan yang ada dalam sekolah tersebut. tertib. pendidikan orangtua siswa.4. luas perpustakaan. pendapat. (9) partisipasi dalam pengembangan sarana dan prasarana sekolah.com/2009/04/mpmbsdan-sekolah-efektif-dengan. Sekolah efektif menurut Asmoni dalam http://asmoni-best. dan menyenangkan bagi warga sekolah. harapan pada prestasi sekolah. cara kerja dan gaya kepemimpinan kepala sekolah. (6) pertemuan BP3.html mempunyai ciri-ciri (1) Visi dan misi yang jelas dan target mutu yang harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan secara lokal (2) Sekolah memiliki output yang selalu meningkat setiap tahun. Partisipasi orang tua Partisipasi orangtua siswa terdiri dari 9 indikator yaitu partisipasi dalam : (1) ikut menentukan kebijakan dan program sekolah. (3) pertemuan rutin di sekolah. misi dan tujuan. (4) Seluruh personil sekolah memiliki visi. ketertiban/ disiplin sekolah.blogspot. misi. Dimana berbagai aspek yang ada dapat memberikan dukungan satu sama lain untuk mencapai visi. banyaknya siswa. (7) membiayai pendidikan. (2) karakteristik guru meliputi umur. (5) mengawasi mutu sekolah. proses belajar mengajar. Berdasarkan dari berbagai teori tersebut.5. (2) ikut mengawasi pelaksanaan kebijakan dan program sekolah.wordpress. 2. maka terdapat beberapa aspek kajian sekolah efektif (http://ridwan202. 2. dan besarnya penghasilan orangtua siswa. Iklim sekolah adalah keseluruhan harapan. Kepuasan kerja guru Kepuasan kerja guru adalah keseluruhan perasaan guru berkenaan dengan berbagai aspek pekerjaannya yang meliputi lima aspek meliputi sumber daya pendidikan.6. jumlah jam les mata pelajaran. (3) Lingkungan sekolah aman. penghasilan dan penghargaan. dan banyaknya dana yang dialokasikan di sekolah. banyaknya ruang kelas. hubungan kerja. (8) mengembangkan iklim sekolah. dari sekolah yang dikelola secara efektif dan efisien. proses. (4) kegiatan ekstrakurikuler. luas laboratorium. . terungkap bahwa sekolah yang efektif memandang sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup banyak aspek baik input.com/2008/10/16/sekolah-efektif/ )antara lain : 1. pendidikan. dan kebebasan melakukan aktifitas. (5) Sekolah memiliki sistem evaluasi yang kontinyu dan komprehensif terhadap berbagai aspek akademik dan non akademik. Input sekolah Input sekolah adalah keseluruhan sumber daya sekolah yang mencakup tiga aspek yaitu : (1) karakteristik sekolah meliputi luas gedung. Prestasi belajar dan konsep diri siswa 3. Aspek Kajian Sekolah Efektif Dari ciri-ciri yang terkandung pada sekolah efektif. 5.

html . perilaku diri. kualitas kehidupan kerjanya. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah k. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif e. Sekolah memiliki akuntabilitas 3. Produktivitas adalah hasil perbandingan antara output dibagi input. Input a. Input manajemen 2. etika moral diri. Sekolah memiliki budaya mutu 88 f. dan moral kerjanya (lihat Gambar 3). Dalam bentuk persamaan. Memiliki kebijakan. dan sosial diri. Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitasnya. yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. personal diri. Sekolah memiliki kewenangan/kemandirian h. cerdas dan dinamis g. Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa. dengan keterangan seperlunya seperti berikut. Mutu barang atau jasa dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan seperti disain.Hasil belajar siswa merupakan pengetahuan yang dicapai siswa pada sejumlah mata pelajaran di sekolah. dan . produktivitasnya. Proses a. Memiliki harapan prestasi yang tinggi e. Kuantitas input berupa tenaga kerja. Efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauhmana sasaran (kuantitas. dan penilaian diri. Efektifitas Proses Belajar Mengajar b. tujuan. Komunikasi yang baik n. Sedangkan menurut Asmoni dalam http://asmonibest. efisiensinya. Baik output maupun input adalah dalam bentuk kuantitas. Sedangkan konsep diri siswa adalah pandangan dan penilaian siswa mengenai keseluruhan dirinya yang meliputi dua aspek yaitu : aspek internal diri yang terdiri dari identitas diri. efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan. Kepemimpinan sekolah yang kuat c.com/2009/04/mpmbs-dan-sekolah-efektif-dengan. kualitasnya. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib d. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan m. waktu) telah dicapai. Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi d. dan sasaran mutu yang jelas b. bahan. operasi produk atau jasa dan pemeliharaannya. aspek kajian sekolah efektif dilihat dalam tiga hal yaitu: 1. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen j. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat i. kualitas. inovasinya. famili diri. Kinerja sekolah adalah pencapaian/prestasi yang dihasilkan oleh proses/perilaku sekolah. Sumberdaya tersedia dan siap c. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan l. dan aspek eksternal diri yang terdiri dari fisik diri. Sekolah memiliki teamwork yang kompak. modal.blogspot. Fokus pada pelanggan f. Output Output sekolah diukur dengan kinerja sekolah.

3.com/2010/01/implementasi-mbs-dalammeningkatkan. Ditjen Mandikdasmen. Manajemen Berbasis Sekolah Dalam meningkatkan Mutu Pendidikan Kajian Faktor Pendukung Implementasi dan Mutu Pendidikan. 5. 4. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). baik untuk kalangan lembaga pendidikan maupun publik.energi. Tuntutan akan mutu dalam bidang pendidikan adalah suatu keniscayaan yang tak bisa dihindari. ganjaran dan pengakuan. tergantung pada jenis pekerjaan 3. http://gurutrenggalek. Diakses 20 Maret 2011. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas. pendidikan dan pelatihan. 2010. 2. Depdiknas. Melalui penerapan MBS akan mewujudkan suatu sekolah yang efektif sehingga dapat meningkatkan kualitas mutu pendidikan 6. seperti budaya. 2007. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. KDi Indonesia menerapkan Manajemen Mutu Terpadu akan berhasil kalau secara konsekuen pula mengikuti prinsip-prinsip dasar mutu terpadu. Sistem manajemen apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.blogspot. Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Materi Penguatan KepalaSekolah. M. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan: 1. 2010. serta dilengkapi dengan karakteristik bumi Indonesia. Untuk implementasinya diperlukan kebijakan umum/strategis di tingkat nasional dan kebijakan manajerial .html. dan pilihan itu adalah manajemen mutu terpadu ( MMT ) atau dikenal dengan Total Quality Management ( TQM) dalam bidang pendidikan. komunikasi. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Untuk mencapai mutu diperlukan metodologi yang tepat untuk implementasinya. Kuantitas output dapat berupa jumlah barang atau jasa. Jakarta: Direktorat Jenderal PMPTK Kementerian Pendidikan Nasional. Implementasi manajemen mutu terpadu melalui MBS dapat mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. yang kemudian bisa ditindak lanjuti dengan pedoman sektoral bidang pendidikan ( sebagai kebijakan teknis) tentang MMT tersebut. adat-istiadat dan lain sebagainya. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. Untuk keberhasilan pengembangan mutu diperlukan juga elemen pendukung seperti : kepemimpinan. struktur pendukung. Hal ini juga merupakan tuntutan akan perlunya praktek good governancedalam bidang pendidikan. serta pengukuran. Anonim. Asrori. .

Umaedi. Universitas Terbuka.co. Manajemen Berbasis Sekolah. dan Aplikasi.padepokan-ilmu. Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan.. Jakarta. Sallis. Grasindo. http://www.http://okidermawan. O. Manajemen Berbasis Sekolah dan Implementasi Dalam Pendidikan. Yogyakarta. 2006. Jakarta. Model.multiply. 2009. Undang-Undang Repubrik Indonesia No. Siswantari. Diakses 20 Maret 2011.cc/2010/01/manajemen-berbasis-sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah Teori. 2010. 20 tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional .Hadiyanto. IRCiSoD.com/journal/item/3. Nurkholis.. E. Diakses 11 Februari 2011.html.Dermawan.