BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR MASALAH KESEHATAN 2.1.1 Pengertian Menurut Wahyu Widagdo, Toto Suharyanto & Ratna Aryani (2008) menyatakan bahwa Stroke atau cerebral vascular accident (CVA) adalah gangguan dalam sirkulasi interserebral yang berkaitan vascular insufficiency, thrombosis, emboli, atau perdarahan. Menurut Batticaca, Fransisca B (2008) menyatakan bahwa stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena gangguan peredaran darah di otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga menyebabkan seseorang mengalami kelumpuhan atau kematian. Menurut Muttaqin, Arif (2008) stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja.

2.1.2 Etiologi Menurut buku Muttaqin, Arif (2008) penyebab dari stroke adalah : a. Trombosis Serebral Trombisis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang menyebabkan iskemi serebral. Tanda gejala kronis sering kali memburuk pada 48 jam setelah

trombosis. Yang menyebabkan trombosis otak diantaranya ateroskleloris, hiperkoagulasi pada polisitemia, arteritis dan emboli.

b. Hemoragi Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang subaraknoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. c. Hipoksia umum Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah hipertensi yang parah, henti jantung-paru, curah jantung turun akibat aritmia. d. Hipoksia setempat Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah spasme arteri serebral yang disertai perdarahan subaraknoid, vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migran.

2.1.3 Patofisiologi 2.1.3.1 Proses Penyakit Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi darah pada otak akan menyebabkan keadaan hipoksia. Hipoksia yang berlangsung lama dapat menybabkan iskemik otak. Iskemik yang terjadi dalam waktu yang singkat kurang dari 10-15 menit dapat menybabkan defisit sementara dan bukan defisit permanen. Sedangkan iskemik yang terjadi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan sel mati permanen dan mengakibatkan infark pada otak. Infark serebral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh darah tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lambat atau cepat) pada gangguan lokal (thrombus, emboli, perdarahan dan spasme vaskular) atau karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan jantung). Aterisklerosis sering sebagai faktor

peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum. Jika sirkulasi serebral terhambat. Perdarahan intraserebral yang sangat luas akan lebih sering menyebabkan kematian dibandingkan keseluruhan penyakit serebrovaskular. disafasia/afasia/ berbicara defektif/kehilangan bicara). Perubahan yang disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversible untuk waktu 4-6 menit. karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak. akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibaatkan peningkatan tekanan intracranial dan penurunan tekanan perfusi otak serta gangguan drainase otak.penyebab infark pada otak. Gangguan komunikasi (disatria atau kesulitan berbicara. tempat aliran darah mengalami pelambatan atau terjadi turbulensi. Perubahan ireversibel jika anoksia lebih dari 10 menit. hemiplegia atau paralisis pada salah satu sisi tubuh) b. seperti: a.2 Manisfestasi Klinis Gejala klinis yang timbul dari stroke. Gangguan motorik (perubahan tonus otot. thalamus.1. Anoksia serebral dapat terjadi oleh gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nucleus kaudatus. dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak. hemisfer otak.3. Perdarahan pada otak disebabkan oleh rupture arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar dan kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi. 2. menyebabkan saraf di area yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi. Selain kerusakan parenkim otak. dan pons. dapat berkembang anoksia serebral. . Trombus dapat berasal dari plak aterosklerotik. atau darah dapat beku pada area yang stenosis.

Calcium channel blocker (nimodipine) dapat diberikan untuk mengatasi vasospasme pembuluh darah. Epsilon-aminocaproic acid (Amicar) dapat digunakan untuk stabilkan bekuan diatas anurisma yang rupture.c. Kerusakan fungsi kognitif (daya ingat berkurang) e. Hipoksia serebral c.3. Gangguan persepsi (gangguan penglihatan. Enteris-coated. misalnya aspirin dapat digunakan untuk lebih dulu menghancurkan trombotik dan embolik. Kontraindikasi pemberian terapi antikoagulan pada klien dengan riwayat ulkus.1. mual/muntah. Sodium heparin diberikan secara subkutan atau melalui IV drip. tidak ada nafsu makan. uremia dan kegagalann hepar. mudah lelah. Embolisme serebral d. e. Dekubitus (akibat tirah baring yang lama) e. . 2.1. Terapi antikoagulan.1 Terapi a. Kematian 2. Penurunan aliran darah otak Bergantung pada tekanan darah. Disfungsi kandung kemih (inkontinensia urinarius) f.4 Penatalaksanaan 2.1. misalnya kesemutan) d. b. Phenytonin (Dilantin) dapat digunakan untuk mencegah kejang. c. d. b. Pusing.4. gangguan sensori kulit. curah jantung dan intergritas pembuluh darah serebral.3 Komplikasi Komplikasi pada stroke yang terjadi adalah : a.

nadi. tidak dapat berkomunikasi. sosial budaya.2. tanggal dan jam masuk rumah sakit. Kontrol adanya edema yang dapat menyebabkan kematian jaringan otak. saturasi O2. Pengumpulan data Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fiisik. bicara pelo. muntah.2. atur suhu ruangan menjadi 18-20°C. kognitif. kemampuan fungsi dan gaya hidup klien b. nomor register. diagnosa medis c. agama. Pengaturan suhu. tingkat perkembangan. disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain . Penguruhan suhu tubuh tiap dua jam. umur (kebanyakan terjadi pada usia tua). pada saat klien sedang melakukan aktifitas. suku bangsa. pendidikan. psikologis. b. PCO2). PO2.2 Tindakan Medis yang Bertujuan untuk Pengobatan a.1 Pengkajian Keperawatan a.2 KONSEP DASAR PROSES KEPERAWATAN 2.1. Biasanya terjadi nyeri kepala. mual. 2. status ekonomi. d. spiritual. d. Keluhan utama Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan.4. alamat. bahkan kejang sampai tidak sadar. c. e. Identitas klien Meliputi nama. Pengawasan tekanan darah dan konsentrasinya. Pemantauan (monitoring) keadaan umum klien (EKG. Riwayat penyakit sekarang Serangan stroke seringkali berlangsung sangat mendadak. jenis kelamin. dan mengalami penurunan kesadaran. pekerjaan.

mudah lelah 5. diabetes mellitus. sensori atau paralise/hemiplegik. kontrasepsi oral yang lama. Pola eliminasi Biasanya terjadi inkontinensia urin dan pada defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus 4. nafsu makan menurun. Pola tidur dan istirahat Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang/nyeri otot . Biaya untuk pemeriksaan. Riwayat penyakit keluarga Biasanya ada keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes mellitus g. pengguna obat. kehilangan. anemia. penggunaan obat-obat anti koagulan. mual muntah pada fase akut 3. aspirin. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Biasanya ada riwayat perokok. pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga h. kagemukan f. Riwayat psikososial Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. pengguna alkohol. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat hipertensi. Pola aktifitas dan latihan Adanya kesukaran untuk beraktifitas karena kelemahan. vasodilator. obat-obat adiktif. riwayat trauma kepala. 2. penyakit jantung. Pola-pola fungsi kesehatan 1. Pola nutrisi dan metabolisme Adanya keluhan kesulitan menelan.e.

Pola reproduksi seksual Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke. perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir. Keadaan umum a) Kesadaran: Umumnya mengalami penurunan kesadaran b) Suara bicara: Kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti. Pola tata nilai dan kepercayaan Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil. Pemeriksaan fisik 1. Pola hubungan dan peran Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara 7. seperti obat anti kejang. Pola persepsi dan konsep diri Klien merasa tidak berdaya. tidak kooperatif 8. tidak ada harapan.6. denyut nadi . Pola penanggulangan stress Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan pola kognitif dan gangguan berkomunikasi 11. mudah marah. histamin 10. antagonis. kadang tidak bisa bicara c) Tanda-tanda vital: Tekanan darah meningkat. kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh i. Pola sensori dan kongnitif Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan. anti hipertensi. 9.

5. Pemeriksaan kekuatan otot/ektremitas Sering didapat kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh 8. Pemeriksaan neurologi . genetalia. anus Kadang terdapat inkontinensia atau retensi urine 7. Pemeriksaan abdomen Didapat penurunan peristaltic usus akibat bed rest yang lama. Pemeriksaan inguinal. Pemeriksaan leher dan kepala a) Kepala: Bentuk normacephalik b) Muka: Umumnya tidak simetris yaitu mencong kesalah satu sisi c) Leher: Kaku kuduk jarang terjadi 4. Disamping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA bleeding harus bed rest 2-3 minggu b) Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger. Pemeriksaan dada Pada pernafasan kadang didapat suara nafas terdengar ronkhi. wheezing. sianosis c) Rambut: Tidak ada kelainan 3. dan kadang terdapat kembung 6. Pemeriksaan integument a) Kulit: jika klien kekurangan oksigen kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek. ataupun pernafasan tidak teratur akibat penurunan reflex batuk dan menelan.bervariasi 2.

adanya titik oklusi ruptur 2. seperti peredarahan atau obstruksi arteri. Angiografi serebral: Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik.a) Pemeriksaan nervus kranialis Umumnya terdapat gangguan nervus kranialis VII dan XII central b) Pemeriksaan motorik Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh c) Pemeriksaan sensorik Dapat terjadi hemi hipertensi d) Pemeriksaan reflex Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya hemoragik subarachnoid atau perdarahan intrakranial 4. . CT-Scan (Computerized Tomography): Memperlihatkan adanya edema. iskemia dan adanya infark 3. 6. Setelah beberapa hari reflex fisiologis akan muncul kembali didahului dengan reflex patologis j. Ultrasonografi Doppler: Mengidentifikasi penyakit anteriovena EEG (Elektro Encephalo Graphy): Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. Pemeriksaan Diagnostik 1. Sinar X tengkorak: Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang meluas. Fungsi lumbal: Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis emboli serebral dan TIA. hematom. 5.

. b. 2. AGD dalam batas normal (pH : 7. g. Klien mengatakan sesak berkurang dan dapat membandingkan dengan keadaan sesak pada saat serangan pada waktu yang berbeda. CO2 : 26-28mEq. Resiko cidera berhubungan dengan paralisis. Kurangnya pengetahuan tentang perawatan stroke berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai pencegahan. Ketidakefektipan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. Rasional : Oksigen sangat penting untuk reaksi memelihara suplai ATP. Pertahankan oksigenasi NRM 8-10x/menit. d. Kriteria Hasil : Klien merasa nyaman. f. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dan perubahan membrane alveolar-kapiler. 2. PO2 : 80-110mmHg. Nadi dalam batas normal (60-100x/menit). Rasional : Posisi semifowler membantu dalam ekspansi otot-otot pernapasan dengan pengaruh gravitasi.2 Diagnosa Keperawatan a. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi serebral. SaO2 : 95-97%).35-7. pencegahan dan perawatan stroke di rumah. hemiparesis.45. Intervensi : 1.2.2. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan gangguan pertukaran gas dapat teratasi.3 Perencanaan Keperawatan a. quadriplegia. PCO2 : 3545mmHg.2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dan perubahan membrane alveolar-kapiler. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neurovaskular. Istirahatkan klien dalam posisi semifowler. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan paralisis. e. tekanan darah dalam batas normal (120-130/8090mmhg).

Kekurangan oksigen pada jaringan akan menyebabkan lintasan metabolism yang normal dengan terbentuknya asam laktat ini akan bersama dengan asdosis respiratorik akan menghentikan metabolism. Rasional : Bedrest dapat mengurangi beban kerja jantung. M:6). Kolaborasi pemeriksaan AGD. b. tidak terjadi cedera. Tinggikan kepala klien. 5. dan penentuan tindakan yang akan diambil. Rasional : Cahaya merupakan salah satu rangsangan yang beresiko terhadap peningkatan TIK. Kurangi cahaya ruangan. 4. GCS dalam batas normal (E:4. Observasi TTV tiap jam. 4. Atur posisi bedrest. TIK. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan klien tidak menunjukan peningkatan TIK Kriteria hasil : Klien mengatakan tidak sakit kepala dan merasa nyaman. 3. Rasional : Variable untuk menilai faktor-faktor yang berpengaruh. 2. Intervensi : 1. Ubah posisi klien secara bertahap. Jaga suasana tenang. Rasional : Sesak napas pada penyakit paru dan jantung mengkhawatirkan karena dapat timbul hipoksia. Rasional : Perubahan posisi tiap 2 jam dapat melindungi respon klien dan mencegah terjadinya dekubitus. Rasional : Membantu drainase vena untuk mengurangi kongesti . 3. Rasional : Suasana tenang akan memberikan rasa nyaman pada klien dan mencegah ketegangan. Regenerasi ATP akan berhenti sehingga tidak ada lagi sumber energy yang terisi dan terjadi kematian. Ketidakefektipan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial. V:5. pupil isokor.

9. 10. 8. Rasional : Mencegah resiko cedera jatuh dari tempat tidur akibat tidak sadar. Tidak ada respons menunjukkan kerusakan mesenfalon. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neurovaskular. Rasional : Meminimalkan peningkatan TIK. Kaji respon pupil. Rasional : Perubahan pupil menunjukkan tekanan pada saraf okumotorius atau optikus. Rasional : Tindakan yang kasar beresiko terhadap penigkatan TIK. Rasional : Fungsi kortikal dapat dikaji dengan mengevaluasi pembukaan mata respons motorik.serebrovaskular. 6. Angkat kepala klien dengan hati-hati. Kaji kemampuan fungsional sesuai kelemahan yang terjadi. Awasi kecepatan tetesan infuse. menyediakan informasi yang sesuai. Kriteria hasil : Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena atau kompensasi. Tengkurapkan klien 1-2 kali sehari jika klien toleran . Pasang pagar tempat tidur. mempertahankan integritas kulit. 7. Rasional : Mencegah resiko ketidakseimbangan cairan. menentukan pilihan intervensi. Rasional : Mengidentifikasi kemampuan atau kekurangan. mendemonstrasikan tehnik atau perilaku yang memungkinkan melakukan aktifitas. 3. 2. Tujuan : Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam mobilisasi klien meningkat secara bertahap. Ubah posisi minimal tiap 2 jam Rasional : Mengurangi resiko iskemia jaringan/ kerusakan. Kaji tingkat kesadaran klien. Hindari prosedur non-esensial yang berulang. c. 11. Intervensi : 1.

Rasional : Mencegah atrofi otot. Rasional : Mencegah adukasi pundak dan fleksi siku. Taruh benda bulat keras dalam genggaman. Rasional : Diperlukan untuk menghilangkan spastisitas pada bagian yang lemah. Kolaborasi konsul Fisioterapi.Rasional : Mempertahankan ekstensi panggul. Rasional : Benda keras menurunkan stimulasi fleksi jari dan tetap dalam posisi fungsionsal. 11. Evaluasi kebutuhan posisi pada paralisis spastik. Rasional : Mencegah rotasi panggul keluar (eksternal). 4. 13. 8. tapi dapat meningkatkan kecemasan karena sulit bernafas. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi serebral. Rasional : Meningkatkan aliran balik dan mencegah edema. Rasional : Menentukan program individual. Observasi bagian yang lemah : warna edema. Naikkan lengan dan tangan. 6. Letakkan lutut dan panggul pada posisi ekstensi. d. 5. Rasional : Kontraktur fleksi terjadi karena otot fleksor lebih kuat dari pada ekstensor mencegah aduksi pundak dan fleksi. meningkatkan sirkulasi. Kolaborasi berikan relaxant spasmodic. 12. . Mulai aktif pasif ROM segera setelah pasien masuk RS. Rasional : Mempertahankan posisi yang fungsional. 7. Pertahankan tungkai pada posisi. Taruh bantal di ketiak. dan mencegah kontraktur (jangan berlebihan karena bisa perdarahan). Rasional : Jaringan edema lebih mudah cedera dan proses penyembuhannya lebih lama. atau tanda lain gangguan sirkulasi. 10. 9.

Berikan metode komunikasi. napas tidak berbau. Kolaborasi dengan fisioterapi untuk latihan bicara. Rasional : Memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan kemampuan klien. Antisipasi setiap kebutuhan klien saat berkomunikasi. Tujuan : Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi secara bertahap. quadriplegia. menggunakan sumber-sumber dengan tepat. missal dengan bahasa isyarat. Intervensi : 1. 6. Kriteria hasil : Klien tampak bersih dan rapi.Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam komunikasi klien meningkat secara bertahap. 4. Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun isyarat. terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat dipenuhi. Rasional : Melatih klien belajar bicara secara mandiri dengan baik dan benar. Defisit perawatan diri berhubungan dengan paralisis. Rasional : Mengurangi kecemasan dan kebingungan pada saat komunikasi. Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi. 2. Bicara kepada klien secara pelan dan gunakan pertanyaan yang jawabnya “ya atau tidak”. 5. Anjurkan kepada keluarga untuk tetap berkomunikasi kepada klien. Rasional : Mengurangi isolasi sosial dan meningkatkan komunikasi yang efektif. kebutuhan . 3. hemiparesis. Rasional : Memberi semangat pada klien agar lebih sering melakukan komunikasi. e. Rasional : Mencegah rasa putus asa dan ketergantungan pada orang lain. Kriteria hasil : Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi.

Ganti pengalas tempat tidur klien. Observasi klien saat melakukan sesuatu yang dapat klien lakukan sendiri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan. krusta. 7. Kolaborasi dengan bagian fisioterapi/okupasi. 3. gusi berdarah. 5. pencegahan dan perawatan . Rasional : Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus. 4. adlah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri sendiri untuk mempertahankan harga diridan meningkatkan pemulihan. f. Rasional : Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi. Bantu klien mandi. 6. Rasional : Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terusmenerus. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien. Rasional : Mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Motivasi klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sungguh. bau aseton sebagai cirri khas penderita DM. Kurang pengetahuan tentang perawatan stroke berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai pencegahan.terpenuhi. perawat dapat menemukan kelainan seperti adanya gigi palsu. Lakukan oral hygiene Rasional : Membersihkan mulut dan gigi klien. Rasional : Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien berusaha secara kontinyu. karies gigi. 2. Intervensi : 1. Rasional : Pengalas tempat tidur yang kotor merupakan tempat berkembang biaknya kuman.

Intervensi : 1. Rasional : Pemberian informasi yang berkreasi dapat membuat klien tidak bosan. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga. Anjurkan pereiode istirahat saat berjalan. klien tidak luka atau lecet. mengungkapkan pemahaman tentang kondisi/pronogsis dan aturan terapeutik. Anjurkan klien berjalan perlahan Rasional : Menghindari agar klien tidak terjatuh. Kriteria hasil : Klien tidak jatuh. . Pasang pagar tempat tidur. memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan.stroke di rumah. Intervensi : 1. Rasional : Nilai keluarga yang berbeda terhadap tenaga kesehatan dapat menghambat pemberian informasi. Rasional : Sikap keluarga terhadap penyakit klien merupakan respon pertama yang dilakukan sebelum klien dibawa ke Rumah Sakit. Resiko terjadinya cidera berhubungan dengan paralisis Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien tidak mengalami cidera. 4. 2. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam proses belajar. Rasional : Pagar tempat tidur dapat melindungi agar klien tidak terjatuh. Waspada terhadap adanya penghindaran atau perilaku ekstrim. g. 2. Kaji ulang respon dan pemahaman klien/keluarga terhadap penyakit yang diderita. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pengetahuan klien mengenai kondisi dan pengobatan pada klien makin bertambah. Berikan informasi dalam bentuk belajar yang berkreasi. 3. Rasional : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan keluarga tentang stroke. 3.

6. Mempersiapkan lingkungan yang kondusif sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan keberhasilan sesuai tindakan keperawatan sangat ditentukan oleh perasaan klien yang nyaman dan aman. kode etik keperawatan dan hukum keperawatan. Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul prosedur tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan oleh karena itu dilakukan pencegahan dan mengurangi resiko yang timbul. 4. 5.2 Persiapan Tahap awal tindakan keperawatan menuntut perawat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam tindakan persiapan meliputi : 1. Review tindakan keperawatan yang diidentifikasi. 2. .2.Rasional : Klien dengan paralisis mudah lelah saat berjalan. Mengidentifikasi aspek hukum dan etik terhadap resiko pelaksanaan tindakan keperawatan harus memperhatikan unsur-unsur seperti hak dan kewajiban klien.4. hak dan kewajiban perawat atau dokter.2. 4.4 Pelaksanaan Keperawatan 2. Rasional : Tirah baring yang lama dapat menyebabkan dekubitus. Menganalisa pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang diperlukan perawat harus mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan tipe yang diperlukan untuk tindakan keperawatan . tenaga dan alat. Kaji adanya trauma pada kulit. 2. 2.4. Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan dalam mempersiapkan tindakan keperawatan yang berhubungan dengan tujuan harus dipertimbangkan meliputi waktu.2.1 Definisi Tahap dari proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan. 3.

tindakan keperawatan yang dilakukan respon subjektif dan respon objektif serta paraf dan nama jelas dari perawat tersebut. 3. 1.5 Evaluasi Keperawatan 2. Tujuan tercapai sebagian Tujuan ini dikatakan tercapai sebagai apabila tujuan tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai masalah adalah penyebabnya. Tujuan tercapai Tujuan ini dikatakan tercapai apabila klien telah menunjukkan perubahan dan kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. waktu.5.2.5. adalah menilai dari respon klien. .2. nomor diagnosa.2 Klasifikasi a.4. b.2.2. Tujuan tidak tercapai Dikatakan tidak tercapai apabila menunujukkan tidak adanya perubahan ke arah kemajuan kriteria yang diharapkan.2. 2.3 Dokumentasi Implementasi Merupakan pencatatan yang dibuat dalam bentuk tabel dimana berisi tanggal. Evaluasi Proses Kegiatan yang dilakukan dengan mengevaluasi selama proses keperawatan berlangsung. 2.1 Definisi Langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Evaluasi Hasil Kegiatan melakukan evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan. 2.

2.3 Dokumentasi Evaluasi Merupakan pencatatan terakhir dari proses keperawatan setelah implementasi adalah tindakan keperawatan disini dapat diketahui apakah tujuan dari keperawatan sudah tercapai atau tidak. O : Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan berdasarkan pengamatan/observasi klien A : Merupakan hasil analisa ulang dari DS dan DO dimana masih/tetap muncul masalah baru P : Merupakan planning/perencanaan atau tindakan berdasarkan hasil analisa.5. .2. catat evaluasi dalam bentuk SOAP dimana : S : Merupakan respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan berupa kalimat pernyataan klien dan keluarga.

(2009). Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik Dengan Implikasi Keperawatan. Jakarta : EGC. (2008). Jakarta : Salemba Medika. Fransisca B. Kee. C. Batticaca. Edisi 3. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC. Buku Saku Patofisiologi. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Marilynn E. dkk. Jakarta : Kelompok Keilmuan Keperawatan Dasar STIKES PHI. (2008). Edisi 3. Joyce L. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika. Widagdo. (2009). Jakarta : Salemba Medika. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. (1999). Wahyu. Jakarta : EGC. Robby. Konsep Dasar Keperawatan. Corwin. Rancana Asuhan Keperawatan. Tarwoto dan Wartonah. Edisi 3. Doenges. Arif. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. F. Elizabeth J. Jakarta : TIM. . Edisi 2. (2008). (1999). Muttaqin. (2008). Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Asmadi. (2006).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful