Jurnal Farmasi Klinik Indonesia

Volume 1, Nomor 1, Maret 2012

Identifikasi Pola Penggunaan Antibiotik Sebagai Upaya Pengendalian Resistensi Antibiotik Ivan S. Pradipta1, Ellin Febrina1, Muhammad H. Ridwan1, Rani Ratnawati 2
1

Clinical Pharmacy Research Group (CPRG), Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Bandung 2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit Al-Islam, Bandung Abstrak Tingginya konsumsi antibiotik dapat meningkatkan terjadinya insiden resistensi antibiotik. Program perputaran penggunaan antibiotik dapat digunkan untuk menekan kejadian resistensi antibiotik. Studi penggunaan antibiotik diperlukan untuk mendukung program perputaran antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan jumlah dan pola penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Bandung, yang dapat memberikan manfaat dalam pengendalian resistensi antibiotik dan pengadaan antibiotik. Data pengguaan antibiotik didapatkan dari instalasi farmasi pada bulan februari hingga september 2011. Data diolah dengan menggunakan metode ATC/DDD dan DU90%. Terdapat 390,98 DDD/100 hari rawat dan 381,34 DDD/100 hari rawat pada total penggunaan antibiotik tahun 2009 dan 2010. Tiga puluh sembilan jenis antibiotik dikonsumsi pada tahun 2009 dengan terdapat 11 jenis antibiotik yang masuk kedalam segmen 90% penggunaan (seftriakson, amoksisilin, sefotaksim, siprofloksasin, levofloksasin, metronidazol, sefiksim, doksisiklin, tiamfenikol, sefodoksim, sefaleksin), sedangkan pada tahun 2010 terdapat 44 jenis antibiotik yang dikonsumsi dengan terdapat 18 jenis antibiotik yang masuk kedalam segmen 90% penggunaan
Penulis korespondensi : Ivan S. Pradipta, MSc, Apt. Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia. Email : ivanpradipta@unpad.ac.id

(seftriakson, siprofloksasin, amoksisilin, sefiksim, levofloksasin, sefadroksil, sefotaksim, metronidazol, tiamfenikol, doksisiklin, klindamisin, kloramfenikol, amikasin, sulbaktam, gentamisin, streptomisin, sefoperazon, kanamisin). Terdapat penurunan penggunaan antibiotik yang diikuti penurunan jumlah hari rawat pada tahun 2009-2010, tetapi jenis dan jumlah antibiotik yang masuk ke dalam segmen penggunaan 90% penggunaan meningkat. Diperlukan monitoring penggunaan antibiotik, termasuk sensitifitas, reaksi obat yang tidak dikehendaki dan rasinonalitas penggunaan antibiotik, khususnya untuk antibiotik yang masuk kedalam segmen 90% penggunaan untuk meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik dan mencegah kejadian resistensi antibiotik. Kata kunci: penggunaan antibiotik, ATC/DDD, DU90%, resistensi antibiotik Identification of antibiotic use pattern as an effort to control antibiotic resistance Abstract High number of antibiotic consumption can lead to resistance antibiotic incident. Cycling antibiotic programme can be use to combat resistance antibiotic. Study of antibiotic utilization is needed to support cycling antibiotic programme. The objective of this study is to determine quantity and pattern of antibiotic use in hospitalized patients at one of Bandung’s private hospital that can give benefit in control of antibiotic resistance and procurement planning of antibiotic. Data 12

amoxicillin. chloramphenicol. Hasil evaluasi penggunaan obat dapat dengan mudah dibandingkan dengan menggunakan metode ATC/DDD. metronidazole. Nomor 1. clindamycin. Keywords: Antibiotic utilization. Resistensi antibiotik telah menjadi perhatian masyarakat di seluruh belahan dunia. Perbandingan penggunaan obat di tempat yang berbeda sangat bermanfaat untuk mendeteksi adanya perbedaan substansial yang menuntun dilakukannya evaluasi. cefoperazone. thiamphenicol. but in both antibiotic kind and quantity of DU90% antibiotic group were increased. levofloxacin. cefadroxil. There were decline of antibiotic use that followed decline number of bed days/year in 2009-2010. adverse drug reaction and rationally of use is required. thiamphenicol. Penilaian terhadap obat yang masuk kedalam segmen 90% diperlukan untuk menekankan segmen obat tersebut dalam hal evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kuantitas dan pola konsumsi antibiotik pada pasien rawat inap salah satu rumah sakit swasta di Bandung. DU90%. Sistem ATC/DDD ( ATC = Anatomical Therapeutic Chemical. yang sering digunakan bersamaan dengan metode ATC/DDD. canamycin). ciprofloxacin. streptomycin. dengan menggunakan metode 13 .7].98 DDD/100 bed days and 381. pengendalian penggunaannya dan perencanaan pengadaan obat [8]. Maret 2012 of antibiotic consumption were obtained from hospital pharmacy department on February until September 2011. Data were processed using the ATC/DDD and DU90% method. amikacin. sekaligus menetapkan WHO Collaborating Centre for Drug Statistic Methodology untuk memelihara dan mengembangkan sistem ATC/DDD [5]. DDD = Defined Daily Dose ) merupakan sistem klasifikasi dan pengukuran penggunaan obat yang saat ini telah menjadi salah satu pusat perhatian dalam pengembangan penelitian penggunaan obat [4]. cefodoxime. cefixime. especially antibiotic in DU90% segment to increase rationality of antibiotic use and prevent of resistance antibiotic incident. There were 390.34 DDD/100 bed days total of antbiotic use in 2009 and 2010. Informasi mengenai pola penggunaan antibiotik dapat digunakan sebagai alat deteksi dini adanya ketidakrasionalan dan sebagai sumber informasi dalam pengendalian resistensi antibiotik (2). doxycycline. Hal tersebut meningkatkan peluang terjadinya insiden penggunaan antibiotik yang tidak rasional yang dapat menyebabkan kejadian resistensi antibiotik. cefalexin) and 44 antibiotic were consumed in 2010 within 18 kind of antibiotics in DU90% segment (ceftriaxone. Thirty nine antibiotic were consumed in 2009 within 11 kind of antibiotics in DU90% segment (ceftriaxone. levofloxacin. gentamycin. doxycycline. Tingginya angka kejadian infeksi menyebabkan tidak terhindarkannya penggunaan antibiotik sebagai salah satu obat anti infeksi. cefixime. Antibiotic resistance Pendahuluan Penyakit infeksi merupakan penyakit yang menempati urutan penyakit papan atas di Indonesia [1]. cefotaxime. Monitoring of antibiotics use which include antibiotic sensitivity. yang pada akhirnya akan mengarahkan pada identifikasi masalah dan perbaikan sistem penggunaan obat [6.3]. ciprofloxacin.Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 1. Pada tahun 1996 WHO menyatakan sistem ATC/DDD sebagai standar pengukuran internasional untuk studi penggunaan obat. cefotaxime. hal tersbut memerlukan kesadaran bersama akan adanya hubungan antara tingkat resistensi antibiotik dengan pola penggunaan antibiotik [2. ATC/DD. Metode DU90% (Drug Utilization 90%) merupakan metode yang menunjukkan pengelompokan obat yang masuk kedalam segmen 90% penggunaan. sulbactam. amoxicillin. metronidazole.

98 DDD/100 hari rawat. sefalosporin. dikelompokkan berdasarkan pengelompokkan ATC dengan kode J01 yang menunjukkan kode anti infeksi untuk penggunaan sistemik. aminoglikosida dan kelompok golongan antibiotik lain-lain. penisilin. penisilin. polimiksin.no/atc_ddd_index/. teikoplanin. tigasilin. sefalosporin.Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 1. fosfomisin.whocc. makrolida. Data agregat penggunaan antibiotik pasien rawat inap pada tahun 2009-2010 diperoleh dari instalasi farmasi sebuah rumah sakit swasta di Bandung dengan tidak mengikutsertakan data penggunaan obat anti TBC. Data masing-masing jenis antibiotik yang diperoleh. tetrasiklin. Hasil Terdapat sebanyak 8 golongan antibiotik yang digunakan selama tahun 2009. Berdasarkan formularium rumah sakit setempat yang termasuk ke dalam kelompok antibiotik lain-lain yaitu klindamisin. kloramfenikol. tetrasiklin. kloramfenikol. Kode ATC dan DDD masing-masing antibiotik yang digunakan pada periode penelitian dapat diakses melalui http://www. dengan cara mengurutkan persentase penggunaan pada periode penelitian dari yang terbesar hingga yang terkecil yang kemudian diambil segmen 90% penggunaan terbanyak. sedangkan profil penggunaan jenis antibiotik dapat dilihat pada gambar 1. Pola Konsumsi Antibiotik pada periode penelitian dapat di lihat pada Tabel 1. linezolid. Segmen penggunaan antibiotik terbanyak ditetapkan berdasarkan metode DU90%. linkomisin. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode ATC/DDD dengan unit pengukuran DDD/100 hari rawat/tahun. vankomisin. Data tersebut kemudian dihitung penggunaannya selama tahun 2009-2010 dengan menggunakan satuan DDD/100 hari rawat. Pola Konsumsi Antibiotik Pasien Rawat Inap Sebuah Rumah Sakit Swasta di Bandung Berdasarkan Golongan Antibiotik Periode Tahun 2009-2010 14 . Total hari rawat inap di peroleh dari jumlah akumulasi hari rawat inap seluruh pasien pada periode penelitian. Tabel 1. yaitu kuinolon. metronidazol. Nomor 1. Pada tahun 2010 penggunaan antibiotik sebanyak 381. yaitu kuinolon. Metode Penelitian berlangsung pada bulan Februari-September 2011. dengan jumlah golongan antibiotik sebanyak 8 golongan. yang diperoleh dengan cara membagi total penggunaan obat pada periode penelitian (dalam satuan DDD) dengan total hari rawat per 100. makrolida. aminoglikosida dan kelompok golongan antibiotik lainlain. Total penggunaan antibiotik pada tahun 2009 sebanyak 390. Maret 2012 terstandar internasional yang dapat bermanfaat dalam upaya pengendalian resistensi antibiotik dan dalam hal perencanaan pengadaan antibiotik di rumah sakit.34 DDD/100 hari rawat.

makrolida.9 DDD antibiotik yang digunakan pada pasien rawat inap. dengan jumlah golongan antibiotik sebanyak 8 golongan.299 hari. mengigngat sefaosporin merupakan golongan antibiotik yang berspektrum luas yang dapat digunakan sebagai terapi empiris. maka dapat diketahui golongan antibiotik yang masuk kedalam segmen 90% penggunaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2009 dalam 1 hari rawat inap terdapat 3. pola konsumsi golongan penisilin mengalami tren penurunan. Golongan sefalosporin selama tahun 20092010 menjadi antibiotik yang paling banyak digunakan. adverse drug reaction. Pada tahun 2009 jumlah hari rawat mencapai 20. Maret 2012 Gambar 1. Berdasarkan pola konsumsi golongan antibiotik yang ditampilkan pada tabel 1.206 hari. Berdasarkan tabel 1. kuinolon. penisilin. Penggunaan golongan antibiotik yang masuk ke dalam segmen penggunaan 90% pada tahun 2009-2010 menunjukkan tidak ada perubahan tren penggunaan. khususnya antibiotik penisilin yang umum digunakan di setting rumah sakit maupun komunitas.98 DDD/100 hari rawat. berbagai jenis infeksi. Hal tersebut menunjukkan tren penurunan penggunaan antibiotik yang sejalan dengan penurunan hari rawat. Golongan sefalosporin juga dapat 15 . yaitu kuinolon. Total penggunaan antibiotik pada tahun 2009 sebanyak 390. penisilin dan golongan antibiotik lain-lain. sefalosporin atau golongan lainnya. Pola konsumsi antibiotik yang masuk kedalam segmen DU90% pada pasien rawat inap sebuah rumah sakit swasta di Bandung pada tahun 2009-2010 Diskusi Terjadi penurunan yang tidak signifikan. tetrasiklin. Hal tersebut dimungkinkan telah terjadi pergeseran tren penggunaan antibiotik penisilin yang umumnya digunakan sebagai terapi infeksi saluran pernafasan yang mungkin beralih ke golongan lain. sefalosporin. total hari rawat dari tahun 2009-2010. kloramfenikol. aminoglikosida dan kelompok golongan antibiotik lainlain.34 DDD/100 hari rawat. sedangkan golongan kuinolon meunjukkan tren kenaikan. Nomor 1. Pada tahun 2010 penggunaan antibiotik sebanyak 381. Golongan antibiotik yang masuk segmen DU90% dari yang terbesar ke yang terkecil berturut-turut yaitu sefalosporin. seperti kuinolon. Segmen DU90% penggunaan dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 1. Tingginya kejadian infeksi saluran pernafasan di rumah sakit tempat penelitian berlangsung. dan peningkatan beban biaya obat pasien. membutuhkan evaluasi penggunaan antibiotik-antibiotik infeksi saluran pernafasan. sedangkan pada tahun 2010 menurun menjadi 20. Evaluasi penggunaan tersebut bermanfaat untuk meminimalisir efek buruk penggunaan antibiotik meliputi resistensi antibiotik.

Dengan adanya pembatasan antibiotik. Segmen DU90% golongan antibiotik yang di konsumsi oleh pasien rawat inap sebuah rumah sakit swasta di Bandung. streptomisin. Peningkatan penggunaan golongan tersebut perlu diikuti dengan adanya evaluasi terkait sensitivitas dan ketepatan penggunaannya. Salah satu kebijakan dalam menekan angka kejadian resistensi antibiotik adalah memberlakukan pembatasan penggunaan antibiotik. kloramfenikol. selain golongan penisilin dan kuinolon. klindamisin. namun masuk kedalam segmen DU90% pada tahun 2010. Hal yang sebaliknya ditunjukkan pada tren penggunaan 9 jenis antibiotik. Gambar 1. Segmen DU90% golongan antibiotik yang di konsumsi oleh pasien rawat inap sebuah rumah sakit swasta di Bandung. maka dapat dimungkinakan di lakukan suatu penggantian tren penggunaan antibiotik pada suatu periode tertentu. sefoperazon. Sosialisasi dan ketaatan akan penggunaan petunjuk penatalaksanaan rumah sakit menjadi hal yang penting dalam mensukseskan kebijakan pembatasan penggunaan antibiotik. 50 DU90% 40 30 20 10 0 Sefalosporin Penisilin Tetrasiklin Aminoglikosida Kuinolon AB lain-lain Kloramfenikol Makrolida Gambar 2. gentamisin. namun tidak masuk kedalam segmen DU90% pada tahun 2010. sulbaktam. amikasin. sedangkan pada tahun 2010 terdapat 44 jenis antibiotik yang digunakan dengan 18 jenis antibiotik yang masuk kedalam segmen 90% penggunaan terbanyak. yaitu sefadroksil. Peningkatan penggunaan yang signifikan terjadi pada penggunaan antibiotik jenis siprofloksasin dan sefiksim. 16 . Banyaknya variasi jenis antibiotik yang digunakan menyebabkan rentannya insiden resistensi antibiotik dan meningkatkan peluang munculnya resistensi terhadap antibiotik yang digunakan. Pola konsumsi jenis antibiotik pada tahun 2009 dan 2010 dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. kanamisin. tahun 2009.Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 1. sedangkan penurunan penggunaan yang signifikan terlihat pada jenis antibiotik amoksisilin. dimana sefpodoksim dan sefaleksim merupakan antibiotik yang masuk kedalam segmen DU90% pada tahun 2009. tahun 2010. dengan 11 jenis antibiotik masuk kedalam segmen 90% penggunaan terbanyak. Maret 2012 digunakan sebagai alternatif terapi infeksi saluran pernafasan. dimana antibiotik tersebut pada tahun 2009 tidak masuk kedalam segmen DU90%. Terdapat perubahan tren penggunaan antibiotik kelompok DU90%. 50 40 30 20 10 0 Sefalosporin AB lain-lain Makrolida Kuinolon Kloramfenikol Tetrasiklin Penisilin Aminoglikosida DU90% Terdapat 39 jenis antiiotik yang di konsumsi pada tahun 2009. Nomor 1. Kebijakan pembatasan penggunaan dapat dilakukan melalui penyusunan petunjuk penatalaksanaan terapi yang dibuat oleh pihak rumah sakit yang didasarkan pada Evidence Based Medicine (EBM) dan pola resistensi antibiotik rumah sakit setempat.

Maret 2012 Tabel 2.Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 1. Nomor 1. tahun 2010 17 . tahun 2009 Tabel. Pola konsumsi jenis antibiotik pasien rawat inap sebuah rumah sakit swasta di Bandung.3 Pola konsumsi jenis antibiotik pasien rawat inap sebuah rumah sakit swasta di Bandung.

Hekster YA. de Jong R. Use of antibiotics at hospitals in Stockholm: a benchmarking project using internet. Alwi I. [7]. Drug Utilization and Their Applications. 2003. 9:61. VlahovićPalcevski V. Comeau DG. Heerdink ER. Bergman U. namun terdapat peningkatan jenis penggunaan antibiotik. dengan 11 jenis antibiotik masuk segmen DU90% dan 44 jenis antibiotik pada tahun 2008. Namun analisis pengadaan berdasarkan pola konsumsi tersebut akan lebih baik jika di analisis polanya dalam kurun waktu 3-5 tahun untuk menguatkan analisis fluktuasi tren penggunaan obat. Ross JL. Mittermayer H. Edisi IV. begitupun sebaliknya. WHO Drug Information. yaitu 39 jenis antibiotik pada tahun 2009. Herings RM. European Journal of Clinical Microbiology and Infectious Diseases. 2004. Kesimpulan Telah terjadi penurunan konsumsi antibiotik pada tahun 2009-2010 yang diikuti oleh penurunan total hari rawat. Blackburn JL. 18 . 2002. The Journal of Antimicrobial Chemotherapy. Kelompok antibiotik yang mengalami tren peningkatan penggunaan hendaknya direncanakan penyediaan obat tersebut untuk ditingkatkan. Adanya suatu perubahan tren penggunaan jenis antibiotik tersebut dapat bermanfaat sebagi informasi dalam hal pengadaan obat untuk tahun berikutnya. Metz-Gercek S. World Health Organization. Nelwan RHH. van der Meer JW. [3]. Setiyohadi B. Maieron A. 2000. Wieninger P. Ed: Sudoyo AW. Strauss R. [2]. 2009. Nomor 1. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III. The use of the world health organisation anatomical therapeutic chemical/defined daily dose methodology in Canada. Risinggård H. Sketris IS. Introduction to Drug Utilization Research. World Health Organization: Oslo. 2007. Gould IM. Ericsson O. 13(7): 465-471. 1998. Setiati S. Maret 2012 sefotaksim dan metronidazol. Antibiotic use in Dutch hospitals 1991-1996. Oude Lashof A. khususnya antibiotik yang masuk kedalam segmen DU90% sebagai upaya pengendalian resistensi antibiotik. Natsch S. 2002. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI: Jakarta. 38(1): 1527. Janknegt R. MacCara ME. mengenai kerasionalan penggunaan antibiotik. van der Meer JW. [5]. Application of the ATC/DD methodology to monitor antibiotic drug use. Metge CJ. Simadibrata K. Pharmacoepidemiology and Drug Safety. 3: 238-239 [6]. dengan 18 jenis antibiotik yang masuk kedalam segmen DU90%. Daftar Pustaka [1]. 45(2): 251-256. [4]. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terimakasih kepada Universitas Padjadjaran. Drug Information Journal. Perlu dilakukan studi kualitatif. BMC Infectious Diseases. Ten years of antibiotic consumption in ambulatory care: trends in prescribing practice and antibiotic resistance in Austria. Pola konsumsi antibiotik pada tahun 2009-2010 dapat dilihat pada Gambar 1. Birkett DJ The future of ATC/DDD and drug utilization research.Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 1. Pemakaian antimikroba secara rasional di klinik. Apfalter P. [8]. Kephart GC. 17(1): 20-24. Bandung atas bantuan dana penelitian melalui skema DIPA BLU UNPAD tahun 2011.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful