P. 1
teori

teori

|Views: 51|Likes:
Published by zkonyol

More info:

Published by: zkonyol on May 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2013

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kritisisme.

Adanya kekeliruan dan pertentangan–pertentangan mengenai bermacam-macam ajaran, memaksa kita untuk mempertanggung jawabkan pengetahuan kita. System yang mencoba untu memepertanggung jawabkan pengetahuan kita itu dinamakan dengan kritika atau kritisisme. Kritisisme berasal dari kata kritika yang merupakan kata kerja dari krinein yang atinya memeriksa dengan teliti, menguji, membeda-mbedakan. Adapun pengetian yang lebih lengkap adalah penetahuan yang memeriksa dengan teliti , apakah pengetahuan kita itu sesuai dengan realita dan bagaimanakah kesesuainya dengan kehidupan kita.[1] Selain itu kritisime juga diartikan sebagai pembelajaran yang menyelidiki batasan-batsan kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. keseluruhan pengertian tersebut adalah hasil dari buah pemikiran seorang filsuft terkenal yang bernama Immanuel kant (1724-1804). Gagasan ini muncul dari benak Immanuel kant karena adanya pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada pikiran Immanuel kant, pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Apa yang dapat saya ketahui? Apa yang harus saya lakukan? Apa yang boleh saya harapkan? Dari pengertian-pengertian diatas oleh karena itu, corak kritisisme sangatsangat berbeda dengan corak filsafat modern sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.[2]

  

B. Cirri-Ciri Kritisisme & Riwayat Hidup Immanuel Kant.
Setiap pemikiran atau gerakan pasti mempunyai ciri-ciri yang mendasar yang melekat pada sebuah pemikiran, begitu juga kritisisme yang mempunyai cirri-ciri yang dapat disimpulkan kedalam tiga hal :  Menganggap bahwa obyek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.  Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; karena rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.  Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas semua sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur anaximenes priori yang berasal dari rasio serta berupa Ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalamn yang berupa materi.[3] Sebelum kita memasuki pemikiran Emmanuel kant lebih mendalam akan lebih baik jika kita mengenalnya terlebih dahulu.  Riwayat hidup Emmanuel kant. Emmanuel kant lahir di konigsreg, perusia timur, jerman. Pada tahun 1724 Masehi. Kant adalah orang yang hidupnya teratur, ia hidup dengan displin dan tenag, pada tahun 1740 ia belajar di universitas konigsbreg. Antara tahun 1755 hingga tahun 1770 ia memeberikan kuliah sebagai dosen prive (tamu0, sebagai dosen tamu kuliahnya menarik karena ia mengajak mahasiswa untuk berpikir sendiri, dan sejak tahun 1770 ia menjabat sebagai guru besar di universitas konigsbreg. Dalam kehidupanya kant mengalami tiga periode yaitu :

1. Periode rasionalist, dimana ia melaksanakan ilmu alam dan filsafat alam menurut gaya newton dan wolf, periode ini berakhir pada tahun 1755. 2. Periode dimana ia banyak dipengaruhi oleh hume, setelah karya hume di terjemahkan ke dalam bahsa jerman, pada masa ini ia berorientasi skeptic tentang pengetahuan filosofis. 3. Periode kritis dimana ia mendapat penerangan besar tentang nilai-nilai hokum ilmiah, dengan konsekuensinya. Dan periode ini menjadi periode yang besar dalam hidupnya karena ia banyak menerbitkan buku- buku karyanya.Diantaranya : kritik der reinen vernunft. Dan periode ini dimulai pada tahun 1770.[4]

C. Metode – Metode Emmanuel Kant.
Pada periode kritis, kant menerima sebagai titik tolak bahwa ada pengertian tertentu yang obyektif. Metodenya merupakan analisa kriteriologis mengenai titik pangkal itu. Analisa itu dibedakan kedalam beberapa macam yaitu :  Analisa psikologis : yaitu penelitian proses atau jalan yang factual. Yang didapat dari dayadaya dan potensi-potensi yang main peranan.dengan memperhatikan peningkatan taraf kegiatan, inferensi, asosiasi, proses belajar dan sebagainya.  Analisa logis : dengan cara meneliti hubungan antara unsur-unsur isi pengertiansatu sama lain.  Analisa ontologis : yaitu analisa yang meneliti realitas subyek dan realitas objek menurut adanya dan hubungan keduanya yang riil (kausalitas).  Analisa kriteriologis : yaitu analisa yang hanya menyelidiki relasi formal antara kegiatan subjek sejauh ia mengartikan dan menilai hal tertentu, dan objek sejauh itu merupakan fenomin yang ditanggapi. Jadi obyek dan kegiatan subyek hanya diambil dalam kebersamaan dan relasinya. Kemudian dicari syarat-syarat manakah yang minimal harus dipenuhi pada pihak subyek. Titik pangkal metodis Emmanuel kant. a. Keragu-raguan. Kant memulai dengan meragu-ragukan kemungkinan dan kompetensi metafisik. Sebab menurut dia metafisik tidak pernah menemukan metode ilmiah yang pasti, untuk memecahkan problemnya. b. Macam pengertian. Filsuf-filsuf sebelum kant, menempatkan ke-tidak-benaran dalam konsep yang tunggal. Akan tetapi kant meletakkanya dalam pernyataan atau keputusan lengkap. Ia membedakan dua pengertian yaitu : 1. Pengertian analitis. Pengertian yang selau apriori, yang di tuangkan dalam ilmu pasti. Sifat apariori :  Predikat sudah termuat dalam konsep subyek.  Tidak dengan sendirinya mengenai kenyataan.  Tidak memberikan pengertian baru. 2. Pengertian sintetis. Sifat sintetis :  Relasi subyek dan predikat tidak bedasarkan obyek riil.  Memberikan pengertian baru.  Sintetis terbagi dalam dua macam yaitu :  Aposteriori. Missal : saya merasakan panas.

Sifatnya :  Bukan universal melainkan singular.  Dasar kebenaran ialah pengalaman subyektif.  Apriori. Missal : hokum umum seperti air mendidih pada suhu 100oC. bumi berputa pada porosnya. Sifatnya :  Pengertian umum-universal.  Selalu pasti. c. Pertanyaan metodis. Kant menerima nilai obyektif dari ilmu-ilmu positif, sebab mereka menghasilkan kemajuan hidup sehari-hariselain itu ia juga menerima nilai obyektif dari agama dan moral,sebab mereka memberikan kemajuan dan kebahagiaan. Pengertian itu semua sintetis apriori. Maka timbulah petanyaan : dasar obyektifitas pengertian semacam itu apa? Sudah jelas bahwa dasarnya ukan empiris itulah yang akan diteliti oleh Emmanuel kant.[5]

D. Tujuan Filsafat Emmanuel Kant.
Setiap pemikiran yang dicetuskan oleh seseorang pasti mempunyai tujuan, tidak beda dengan Emmanuel kant, yang dari filsafatnya ia bermaksud memugar sifat objektifitas dunia ilmu pengetahuan. Agar maksud itu terlaksana maka, orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak dengan rasionalis dan sifat sepihak dengan empirisme. Rasionlais mengiratelah mengira bahwa telah menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subyeknya, lepas atau tanpa pengalaman (empirisme). Sementara empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja, dan tanpa akal (rasio).ternyata bahwa empirisme, sekalipun juga dimulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetapi melalui idelaisme subyektif bermuara pada suatu skeptisme yang radikal. Nah, melalui pemikiranya kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni. Menurut Hume, ada jurang lebar antara kebenaran-kebenaran rasio murni dengan realitas dalam dirinya sendiri. Akan tetapi menurut kant, syarat dasar ilmu pengetahuan adalah ; a. Bersifat umum dan mutlak b. Member pengetahuan yang baru.[6] Selain itu melalui filsafatnya kant juga ingin mengakhiri peperangan pendapat antara kaum rasionalisme dengan kaum empirisme, dan memimpikan tentang perdamaian yang abadi.[7]

E. Kritik-Kritik Emmanuel Kant.
Kritik-kritik Emmanuel kant diantaranya adalah:

1. Kritik atas rasio murni. Kritisisme dapat dianggap sebagai suatu usaha raksasa untuk mendamaikan dua kubu yang saling berseteru yakni kubu rasionalisme dan kubu empirisme. Kubu rasionalisme yang mementingkan insur a priori dalam pengenalan, atau unsure-unsur yang terlepas dari pengalaman (empirisme). Sedangkan kubu empirisme yang menekankan unsure-unsur aposteriori, atau yang berarti unsure yang berasal dari pengalaman. Menurut kant, baik rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah, maka dari itu kant berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesa unsure-unsur apriori dengan unsure-unsur apesteriori. Walaupun kant sangat mengagumi

empirisme hume, akan tetapi ia menolak skeptisme yang dianut hume, dengan begitu dapat ditarik kesimulan ilmu pengetahuan tidak dapat mencapai suatu kepastian.[8] Dalam kritik ini kant menunjukan tiga bidang sebagai tahapan yang harus dilalui : a. Tahap bidang indrawi. Dalam tahap ini peranan subjek lebih menonjol dari pada obyek, namun harus ada dua bentuk murni yaitu : “ruang dan waktu” yang dapat diterapkan dalam pengalaman. Hasil penerpan indrawi yang dikaitkan dalam bentuk “ruang dan waktu” merupakan fenomena konkrit. Namun pengetahuan yang diperoleh dalam bidang indrawi ini selalu berubahubah tergantung pada subyek yang mengalami. b. Tahap bidang akal. Dalam tahap yang ini apa yang diperoleh melalui bidang indrawi tersebut digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat obyektif-universal. Dan haruslah dituangkan kedalam bidang akal. Di sini terkandung empat bentuk kategori dan masing-masing kategori terdiri atas tiga jenis yaitu :

 Kategori kuantitas. Kategori yang terdiri atas : singular (kesatuan), partikulir ( sebagian), dan universal (umum).  Kategori kualitas. Kategori kualitas adlah kategori yang terdiri atas : realita (kenyataan), negasi (pengingkaran), dan limitasi (batas-batas).  Kategori relasi. Kategori yang terdiri atas : categories (tidak bersyarat), hypotetis (sebab dan akibat), dan dis junctif (saling meniadakan).  Kategori modalias. Kategori yang terdiri dari : mungkin/tidak, ada/tiada, dan keperluan/kebetulan. c. Tahap bidang rasio. Dalam tahap ini pengetahuan yang diperoleh dalam bidang akal (rasio) itu baru dapat dikatakan putusan sintetik apriori, setelah dikaitkan dalam tiga macam ide yaitu :  Allah (ide theologis0  Jiwa (ide psikologis0  Dunia (ide kosmologis) Namun ketiga macam ide tersebut tidak mungkin dicapai oleh akal fikir manusia, karena ketiga ide ini hanya merupakan petunjuk untuk menciptakan kesatuan pengetahuan.[9] 2. Kritik atas rasio praktis. Rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan, sehingga rasio disebut dengan rasio teoritis (rasio murni). Akan tetapi disamping rasio murni terdapat rasio yang lain yang disebut dengan rasio praktis, yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan, atau dengan kata lain, rasio yang member perintah pada kehendak kita. Kant menyebutkan bahwa rasio praktis dapat memberikan perintah yang mutlak yang disebut dengan imperative kategori. Misalnya : kita meminjam barang, maka kita harus mengembalikan..

selain itu rasio praktis juga dapat berupa pernyataan negative berupa larangan, seperti jangan mencuri. Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus disadari bahwa sebaik-baiknya bahwa ketiga hal itu dibuktikan, hanya dituntut. Itulah sebabnya kant menyebutkan ketiga postulat dari rasio praktis. Ketiga postulat yang dimaksud adalah : Kebebasan kehendak. Immoralitas jiwa. Adanya allah (tuhan). Jadi apa yang tidak dapat ditemui pada rasio teoritis harus diandaikan atas rsio praktis. Tetapi tentang kebebasan kehendak, immoralitas jiwa, dan adanya allah kita semua tidak mempunyai pengetahuan teoritis. Karena menerima ketiga postulat tersebut oleh kant dinamakan kepercayaan (glaube). 3. Kritik atas daya pertimbangan. Sebagai konsekuensi dari adanya “kritik atas rasio murni dan kritik atas rasio praktis” adalah munculnya dua lapangan tersendiri, yaitu :lapangan keperluan mutlak dibidang alam dan lapangan kebebasan didalam tingkah laku manusia. Maksud dari kritik atas daya pertimbangan adalah mengerti kedua persesuaian kedua lapangan ini. Hal ini terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas berarti subjektif dan objektif, apabila finalitas bersifat subjektif maka, manusia mengarahkan obyek pada diri manusia itu sendiri, inilah yang terjadi dalam pengenalan estetis (seni). Apabila finalitas bersifat obyektif maka dimaksudkan supaya keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.[10]

BAB III KESIMPULAN.
Kritisisme berasal dari kata kritika yang merupakan kata kerja dari krinein yang atinya memeriksa dengan teliti, menguji, membeda-mbedakan. Selain itu kritisime juga diartikan sebagai pembelajaran yang menyelidiki batasan-batsan kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. keseluruhan pengertian tersebut adalah hasil dari buah pemikiran seorang filsuft terkenal yang bernama Immanuel kant (1724-1804). CIRI-CIRI KRITISISME.  Menganggap bahwa obyek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.  Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; karena rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.  Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas semua sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur anaximenes priori yang berasal dari rasio serta berupa Ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalamn yang berupa materi. METODE-METODE KANT. Metodenya merupakan analisa kriteriologis mengenai titik pangkal itu. Analisa itu dibedakan kedalam beberapa macam yaitu :  Analisa psikologis  Analisa logis  Analisa kriteriologis  Analisa ontologis

TITIK PANGKAL METODIS KANT. a. Keragu-raguan. Kant memulai dengan meragu-ragukan kemungkinan dan kompetensi metafisik b. Macam pengertian. Ia membedakan dua pengertian yaitu 1. Pengertian analitis 2. Pengertian sintetis. Sintetis terbagi dalam dua macam yaitu Aposteriori.  Apriori. c. Pertanyaan metodis. Kant menerima nilai obyektif dari ilmu-ilmu positif, sebab mereka menghasilkan kemajuan hidup sehari-hari TUJUAN FILSAFAT KANT. Emmanuel kant melalui filsafatnya ia bermaksud memugar sifat objektifitas dunia ilmu pengetahuan. Agar maksud itu terlaksana maka, orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak dengan rasionalis dan sifat sepihak dengan empirisme. Selain itu melalui filsafatnya kant juga ingin mengakhiri peperangan pendapat antara kaum rasionalisme dengan kaum empirisme, dan memimpikan tentang perdamaian yang abadi. KRITIK-KRITIK KANT. Kritik atas rasio murni. Kritisisme dapat dianggap sebagai suatu usaha raksasa untuk mendamaikan dua kubu yang saling berseteru yakni kubu rasionalisme dan kubu empirisme Kritik atas rasio praktis. rasio praktis, yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan, atau dengan kata lain, rasio yang member perintah pada kehendak kita. Kritik atas daya pertimbangan. kritik atas daya pertimbangan adalah mengerti kedua persesuaian kedua lapangan ini. Hal ini terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan).

1.

2.

3.

[1] Soedomo hadi. Logika filsafat berpikir. Sebelas maret university press. Halaman : 103 [2] Prof.dr.juhaya s. praja. Aliran-aliran filsafat dan etika. Prenada media. Halaman :114 [3] Prof.dr.juhaya s. praja. Aliran-aliran filsafat dan etika. Prenada media halaman : 114 [4] Dr. anton bakker. Metode-metode filsafat, ghalia Indonesia halaman : 87 [5] Dr. anton bakker. Metode-metode filsafat, ghalia Indonesia halaman : 88-90 [6] Prof.dr.juhaya s. praja. Aliran-aliran filsafat dan etika. Prenada media halaman : 116 [7] Van der weij. Filsuf-filsuf besar tentang manusia. gramedia pustaka utama, halaman :89. [8] Prof.dr.juhaya s. praja. Aliran-aliran filsafat dan etika. Prenada media halaman : 116-117 [9] Drs. Rizal Mustansyir, filsafat analitik, rajawali press. Halaman : 29-30 [10] Prof.dr.juhaya s. praja. Aliran-aliran filsafat dan etika. Prenada media halaman : 121123

http://loe-kita.blogspot.com/2012/11/kritisisme-immanuel-kant_30.html

Metode Kritik Transendental Immanuel Kant (1724-1804)
METODE KRITIK TRANSENDENTAL IMMANUEL KANT (1724-1804) Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

Munculnya rasionalisme dan empirisme menjadi indikator lahirnya periode modern dalam alam pikiran Barat. Masing-masing ingin menang sendiri, rasionalisme meragukan semua pandangan empirisme. Demikian juga sebaliknya, empirisme memandang rasionalisme penuh dengan Download Dalam keadaan tersebut, muncul salah seorang filosof yang hendak mendamaikan keduanya, yaitu Immanuel Kant. Secara umum, Kant sejajar dengan Socrates dan Descartes. Socrates berhasil menghentikan pemikiran kaum sopisme dan menundukkan rasio dan iman pada posisinya. Descartes berhasil menghentikan dominasi iman (Kristen) dan menghargai kembali rasio. Sementara Immanuel Kant berhasil menghentikan sopisme modern untuk mendudukkan kembali rasio dan iman pada posisi masing-masing, yang melahirkan paradigma Rasionalisme Kritis.[1] A. Latar Belakang Historis: Refleksi Filsafat di Abad Pencerahan Setelah sempat menghilang pada abad pertengahan, –dimana otoritas kebenaran, pada umumnya, ada pada gereja,– rasionalitas menemukan momentumnya pada masa Renaisance di abad ke-15, yang kemudian mencapai puncaknya pada masa pencerahan di abad ke-18. Pada masa itu lahir berbagai temuan dan paradigma baru di bidang ilmu, dan terutama paradigma ilmu „fisika‟ alam. Heliosentris temuan Nicolaus Copernicus (1473-1543) di bidang astronomi yang meruntuhkan paradigma geosentris, mengharuskan manusia mereinterpretasi pandangan dunianya, tidak hanya pandangan dunia ilmu tetapi juga keagamaan.[2]Kemudian disusul Galileo Galilie (1564-1642) yang menemukan hukum gerak dan kecepatan, bahkan Newton (1642-1727) dengan kegigihannya mendapatkan temuan-temuan baru di bidang fisika. Dan inilah ciri pertama zaman Pencerahan.[3]Di tangan mereka inilah, ilmu fisika alam untuk pertama kalinya memisahkan diri dari induknya, yaitu filsafat alam (metafisika). Ilmu ini sudah tidak lagi membicarakan hakikat alam sebagaimana metafisika, tetapi dengan kekuatan metodologinya, lebih mengarahkan penyelidikan pada hukum-hukum yang berlaku pada alam.[4] subyektivitas dan sangat personalistik.

Ciri kedua adalah apa yang dikenal dengan deisme, yaitu suatu paham yang kemudian melahirkan Natural Religion (agama alam) atau agama akal. Deisme adalah suatu ajaran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab Dia telah memasukkan hukumhukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Tuhan dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya. Maksud paham ini adalah menaklukkan wahyu ilahi beserta dengan kesaksian-kesaksiannya, yaitu buku Alkitab, mukjizat, dan lainnya kepada kritik akal serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari segala ajaran gereja.[5] Suasana zaman renaisance dan pencerahan di atas memberi pengaruh pada Kant dalam membangun epistemologinya, terutama pengaruh dari G.W. Leibniz dan David Hume. Filsafat Kant dirumuskan dalam perdebatan dua pandangan besar pada waktu itu, yakni rasionalisme dan empirisme, khususnya rasionalisme Leibniz (1646-1716), dan empirisme Hume (1711-1776).[6] Kant dipengaruhi oleh mereka, tetapi mengkritik kedua pemikiran filsuf ini untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan mereka, serta kemudian merumuskan pandangannya sendiri sebagai sintesis kritis dari keduanya, yakni filsafat transendental (transcendental philosophy). Dalam arti yang lebih luas, ia ingin „melampaui‟ posisi epistemologis dua paradigma yang saling beroposisi tersebut. Ini adalah intensi utama dari filsafat Kant, yakni sebuah tanggapan terhadap problem epistemologis yang terkait dengan proyek pencerahan yang mendominasi panggung filsafat abad ke delapan belas.[7] Perkembangan pemikiran Kant mengalami empat periode. Periode pertamaialah ketika ia masih dipengaruhi oleh Leibniz-Wolff, yaitu sampai tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik. Periode kedua berlangsung antara tahun 1760-1770, yang ditandai dengan semangat skeptisme. Periode ini disebut periode empiristik. Pada periode ini pengaruh Hume sangat dominan. Periode ketiga dimulai tahun 1770-1790 yang dikenal sebagai “tahap kritik”. Periode keempat berlangsung antara tahun 1790-1804. Pada periode ini Kant mengalihkan perhatiannya pada masalah religi dan problem-problem sosial.[8] Jadi jelaslah bahwa pemikiran Kant pada umumnya telah dipengaruhi oleh pertentangan dua aliran epistemologi pada masa itu, yaitu Leibniz dengan rasionalismenya yang a priori dan Hume dengan empirismenya yang a posteriori. B. Menuju Epistemologi Kritisisme Secara khusus dalam bidang refleksi epistemologi, Kant hendak merumuskan sebuah jembatan raksasa untuk membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme

menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio saja. Pengalaman empiris hanya menegaskan apa yang telah sebelumnya telah diketahui oleh rasio. Rasio sendiri tidak memerlukan pengalaman. Rasio dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri, yakni bersifat deduktif.[9] Empirisme persis berpendapat sebaliknya: hanya segala sesuatu yang merupakan pengalaman inderawi sajalah yang bisa dijadikan sebagai dasar pengetahuan manusia. Rasio bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman menjadi pengetahuan. Jadi metodenya induktif.[10] David Hume berdasarkan pandangan ini berpendapat bahwa semua hal yang tidak dapat diketahui secara inderawi manusia adalah suatu bentuk kepercayaan saja, dan tidak bisa dijadikan pengetahuan yang sahih. Prinsip kausalitas misalnya bukanlah merupakan suatu kepastian, tetapi kemungkinan, yang didapatkan dari kebiasaan manusia saja. David Hume mempertanyakan seluruh kepercayaan-kepercayaan akal sehat kita tentang sumber pengetahuan manusia. Ia berpendapat bahwa kita tidak dapat mengandaikan adanya justifikasi a priori ataupun a posteriori tentang beberapa kepercayaan fundamental akal sehat kita, seperti prinsip kausalitas yang menyatakan bahwa semua kejadian pasti memiliki sebab. Dengan tesis Hume tersebut, maka semakin jelaslah bahwa empirisme tidak dapat memberikan kita justifikasi epistemologis (epistemological justification) untuk semua klaim kausalitas yang selama ini dianggap tepat. [11] Menurut Kant, epistemologi kebenaran bukan berasal dari obyek pengetahuan, tetapi dimulai dari struktur-struktur subyek yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai obyek. Sebelum beranjak pada putusan, Kant mengklasifikasi dulu unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat pada akal.[12] Upaya Kant inilah yang dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Salah satu tujuan utama filsafat Kant ini –dengan metodenya yang disebut transendental– adalah memberikan sebuah alternatif pembenaran filosofis terhadap hasil kerja empirisme.[13] C. Metode Kritis Transendental Secara harafiah kata kritik berarti “pemisahan”. Filsafat Kant bermaksud membedabedakan antara pengenalan yang murni dan yang tidak murni, yang tiada kepastiannya. Ia

ingin membersihkan pengenalan dari keterikatannya kepada segala penampakan yang bersifat sementara. Jadi filsafatnya dimaksud sebagai penyadaran atas kemampuan-kemampuan rasio secara objektif dan menentukan batas-batas kemempuannya untuk memberi tempat kepada keyakinan.[14] Immanuel Kant melihat teori kritis dari pengambilan suatu ilmu pengetahuan secara subyektif sehingga akan membentuk paradigma segala sesuatu secara subyektif pula. Kant menumpukkan analisisnya pada aras epistemologis. Untuk menemukan kebenaran, Kant mempertanyakan “condition of possibility” bagi pengetahuan. Bisa juga disederhanakan bahwa kitik Kant terhadap epistemologi tentang “kapasitas

rasio

dalam

persoalan

pengetahuam” bahwa rasio dapat menjadi kritis terhadap kemampuannya sendiri dan dapat
menjadi „pengadilan tinggi‟. Kritik ini bersifat transendental. Kritik dalam pengertian pemikiran Kantian adalah kritik sebagai kegiatan menguji kesahihan klaim pengetahuan tanpa prasangka.[15] Selanjutnya filsafat Kant ini disebut juga sebagai filsafat transendental (transcendental

philosophy). Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui
objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dan sebagainya, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dan sebagainya. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum a priori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (a posteriori). [16] Untuk menjalankan usahanya ini, Kant memulai dari kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan kemudian kritik atas daya pertimbangan. 1. Kritik atas Rasio Murni Dalam kritik ini, Kant antara lain menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak, dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dahulu membedakan adanya tiga macam putusan.

Pertama, putusan analitis a priori; dimana predikat tidak menambah sesuatu kepada
subyek, karena sudah termuat di dalamnya. Misalnya, “setiap benda menempati ruang”. Kedua, putusan sintesis a posteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus”, disini predikat dihubungkan dengan subyek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah mempunyai

pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Ketiga, putusan sintesis a priori; di sini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintesis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintesis dan a posteriori. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) terpenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru.[17] Pada proses sintesis antara unsur a priori dan a posteriori, menurut Kant, terjadi pada tiga tingkatan manusia, yaitu tingkat pencerapan indrawi, lalu tingkat akal budi, dan tingkat tertinggi adalah intelek/rasio.[18] a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung) Pada taraf ini, sintesis antara unsur-unsur a priori dan a posteriorisudah terjadi. unsur a

priori dalam taraf ini disebut dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu dalam pengertian Kant
tidak seperti pada pengertian Newton, yakni ruang dan waktu yang bersifat transenden pada manusia, tetapi lebih kepada pengertian ruang dan waktu yang bersifat imanen. b. Tingkat Akal Budi (Verstand) Bersamaan dengan pencerapan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan daya fantasinya. Pengetahuan akal budi baru diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman indrawi tadi dengan bentukbentuk a priori yang dinamai Kant dengan “kategori” (kategorie), yakni ide-ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologi dalam diri manusia. c. Tingkat Intelek/Rasio (Versnunft) Menurut Kant, yang dimaksud dengan intelek/rasio adalah kemampuan asasi yang menciptakan pengertian-pengertian murni dan mutlak, karena rasio memasukkan pengetahuan khusus ke dalam pengetahuan yang bersifat umum. Dalam tahap ini, manusia mampu sampai kepada sesuatu yang mutlak, yakni idea transendental. Idea ini sifatnya semacam indikasiindikasi kabur atau petunjuk-petunjuk buat pemikiran, seperti kata “barat” atau “timur” yang sejatinya tidak dapat diamati. Terdapat tiga idea dalam idea transendental: idea psikis, idea kosmologis, dan idea teologis. Idea psikis (jiwa) merupakan gagasan mutlak yang mendasari segala gejala batiniah.

Sementara idea kosmologis (dunia) menyangkut segala gejala lahiriah. Sedangkan idea teologis merupakan perpaduan antara gejala lahiriah dan batiniah yang terdapat dalam pribadi mutlak, yakni Tuhan. Meski Kant menerima ketiga idea tersebut, tetapi menurutnya, hal itu tidak dapat diketahui lewat pengalaman. Sebab pengalaman terjadi di dunia fenomena (nyata), sedangkan ketiga idea tersebut berada di dunia nomena (neumenon = “yang dipikirkan, “yang tidak tampak”). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologi yang berada di luar jangkauan pembuktian teoritis-empiris. 2. Kritik atas Rasio Praktis Apabila kritik rasio murni memberikan penjelasan tentang syarat-syarat umum dan mutlak bagi pengetahuan manusia, maka dalam kritik atas rasio praktis yang dipersoalkan adalah syarat-syarat umum dan mutlak bagi perbuatan susila. Kant mencoba memperlihatkan bahwa syarat-syarat umum yang berupa bentuk (form) perbuatan dalam kesadaran itu tampil dalam perintah (imperatif). Kesadaran demikian ini disebut dengan otonomi “otonomi rasio praktis”. Perintah tersebut dapat tampil dalam kesadaran dengan dua cara: subyektif dan obyektif. Aturan pokok (maxime) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorang (individu), sedangkan imperatif merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan. Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat (hepotetik) atau dapat juga tanpa syarat (kategorik).[19] Menurut Kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang bersumber pada kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat. Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia. Kesadaran susila mengandung adanya pra-anggapan dasar. Pra-anggapan dasar ini oleh Kant disebut ”postulat rasio praktis”, yaitu kebebasan kehendak, immortalitas jiwa, dan adanya Tuhan. Hukum susila merupakan tatanan kebebasan, karena hanya dengan mengikuti hukum susila orang menghormati otonomi kepribadian manusia. Kebakaan (immortality) jiwa merupakan pahala yang niscaya diperoleh bagi perbuatan susila, karena dengan keabadian jiwa, bertemulah ‟kewajiban‟ dengan kebahagiaan, yang dalam kehidupan di dunia ini saling bertentangan. Pada gilirannya, keabadian jiwa dapat memperoleh jaminan hanya dengan adanya satu pribadi, yaitu Tuhan.[20]

Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya ”argumen moral” tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan rasio murni, dengan Tuhan, rasio praktis ‟bekerja‟ melahirkan perbuatan susila. 3. Kritik atas Daya Pertimbangan Konsekuensi dari “kritik atas rasio murni” dan “kritik atas rasio praktis” menimbulkan adanya dua kawasan tersendiri, yaitu kawasan keperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Adanya dua kawasan ini tidak berarti bertentangan atau berada dalam tingkat “kritik atas daya pertimbangan”. Yang dimaksud Kant adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Caranya dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subyektif dan obyektif. Finalitas subyektif mengarahkan manusia pada obyek diri sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Sedangkan dengan finalitas obyektif dimaksudkan adanya keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.[21] D. Kritik atas Kritisisme Kant Dalam teori kritis yang dikembangkan oleh Madzhab Frankurt,[22] ditemukan beberapa kelemahan kritisisme Kant. Pertama, Madzhab Frankfurt menghargai Immanuel Kant, karena Kant telah memberikan prioritas otonomi subjek dalam membentuk pengetahuannya. Dengan demikian, pengertian kritis dapat dikatakan sebagai pengembalian peran subjek dalam menentukan pengetahuan. Pengetahuan tidak ditentukan oleh objek tapi subjek yang menghasilkan pengetahuan tersebut. Manusia tidak perlu lagi memahami alam sebagai sematamata alamiah, tapi alam dilihat sebagai kebudayaan, yaitu alam yang sudah dirasionalisasikan manusia. Tapi masalahnya, Teori Kritis melihat bahwa Kant melupakan pengetahuan manusia yang bersifat historis. Pengetahuan harus terikat pada ruang dan waktu tertentu. Jika pengetahuan bebas dari seluruh kontekstualitas kesejarahannya maka pengetahuan akan bersifat abstrak dan kosong. Faktor ekstra rasio manusia tidak diperhitungkan oleh Kant, karena ketika faktor itu diperhatikan pada saat itu pula filsafat Kant menjadi inkonsisten. Rasionalitas Kant sangat bersifat formal. Formalitas pengetahuan Kant hanya sekadar menyentuh pada soal syarat kebenaran tapi meleset jauh dari soal isi kebenaran objektif. Hal inilah yang menyebabkan bahwa filsafat Kant tidak lagi mencukupi pemikiran teori kritis yang mau lebih mengeksplorasi aktivitas pengetahuan subjektif manusiawi. Itulah sebabnya juga, Teori Kritis

mulai menengok pada pemikiran Idealisme Hegel sebagai suplemen teoritis yang dipakai sebagai cara menutupi kelemahan epistemologi kritisisme Kant. Kedua, kelemahan Kant yang dilihat oleh Teori Kritis adalah realisasi otonomi rasio manusia. Teori otonomi rasio manusia mengalami kemandegan. Konsistensi epistemologi Kant justru menempatkan rasio tetap subjektif tapi tidak serta merta objektif. Seharusnya, rasio harus semakin meneguhkan atau mengafirmasikan diri dalam bentuk Roh yang Sempurna. Teori Kritis lebih melihat dialektika Hegel sebagai usaha dimensi rasionalitas manusia yang menyejarah. Setidaknya ada empat unsur pemikiran dialektika yang diambil oleh Teori Kritis sebagai dasar pemikirannya. Keempat unsur itu adalah proses dialektika sebagai sebuah totalitas, realitas dilihat sebagai prinsip working reality, pikiran dialektis sebagai pikiran yang berperspektif empiris-historis, dan pikiran dialektis dalam kerangka berpikir praksis dan teoritis.[23] E. Penutup Immanuel Kant mensyaratkan bahwa dasar bagi suatu pengetahuan adalah bersifat umum dan mutlak namun sekaligus memberi pengetahuan yang baru. Empirisme memberikan putusan-putusan yang sintetis, jadi tidak mungkin empirisme memberikan suatu yang bersifat umum dan mutlak. Sebaliknya rasionalisme memberikan putusan-putusan yang analitis, jadi tidak memberikan suatu pengetahuan yang baru. Demikianlah, ternyata baik empirisisme maupun rasionalisme tidak memenuhi syaratsyarat yang dituntut oleh ilmu pengetahuan. Maka dari itu, perlu diselidiki bagaimana membuatu suatu putusan-putusan yang sintetis a priori, yaitu suatu putusan yang mampu memberikan sesuatu yang baru, namun tidak perlu tergantung dari pengalaman. Demikianlah bahwa filsafat Kant juga bersifat transendental, yang berusaha meneliti bagaimana cara seseorang untuk mengenal segala sesuatu. Immanuel Kant menyimpulkan dan mengatasi aliran rasionalisme dan empirisme. Dari satu pihak ia mempertahankan objektifitas, universalitas dan keniscayaan pengertian. Di pihak lain, ia menerima bahwa pengertian bertolak dari fenomin-fenomin, dan tidak dapat melebihi batas-batasnya. Sampai pada waktu itu pendapat umumnya ialah bahwa pengertian manusia menyesuaikan diri dengan objek-objek, tetapi mungkin lebih berguna kalau diandaikan bahwa objek-objek menyesuaikan diri dengan pengertian manusia. Meski demikian, metode kritik transendental yang dikembangkan oleh Kant tidak serta merta tanpa kritik. Madzhab Frankurt dengan teori kritisnya melihat dua kelemahan filsafat

Kant: 1) Kant melupakan pengetahuan manusia yang bersifat historis; 2) Konsistensi epistemologi Kant justru menempatkan rasio tetap subyektif dan tidak lagi obyektif.

Bibliografi : Anonim, “Paradigma Kritis Transformatif”, pada http://muchashar.blogdetik.com/ 2010/02/10/paradigma-kritis-transformatif/, diakses pada tanggal 26 Maret 2010.

Anshari, Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet. IX, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1991. Baskara, Benny, “Interpretasi Kritisisme Immanuel Kant dalam Budaya Jawa Modern”, dalam Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3 (dalam bentuk e-book pdf). e-book mazhab-frankurt_studi-hukum-kritis1.pdf. Muslih, Mohammad, Filsafat Ilmu: Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Cet. III, Yogyakarta: Belukar, 2006. ______, Pengantar Ilmu Filsafat, Ponorogo: Darussalam University Press, 2008. Prabancono, Haryo, “Pemikiran Immanuel Kant”, pada http://macheda.blog.uns. ac.id/2009/11/14/pemikiran-immanuel-kant/, diakses pada tanggal 26 Maret 2010. Ravertz, Jerome R., Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan, Cet. III, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007. Saebani, Beni Ahmad, Filsafat Ilmu: Kontemplasi Filosofis tentang Seluk Beluk, Sumber, dan Tujuan Ilmu Pengetahuan, Bandung: Pustaka Setia, 2009. Wattimena, Reza A.A., “Filsafat Kritis Kant”, pada http://rezaantonius.multiply.com/ journal/ item/235, diakses pada tanggal 26 Maret 2010. http://abiquinsa.blogspot.com/2010/10/metode-kritik-transendental-immanuel.html

METODE KRITIS
SOKRATES Titik tolak dan rencana a. Pengetahuan semu Setiap orang mempunyai pemdapat tegas tentang hal-hal azasi, seperti apakah kebahagiaan, bagaimanakah pemerintahan yang paling baik. Sokrates sudah sadar bahwa, ia kurang mengetahui soal hal-hal asasi itu. Ia sendiri masih

terjerat pada pengetahuaan semu.selalu diakuinya kekurangan pengetahuan( mis, di apologia). Tetapi banyak orang lain belum sampai pada kesadaran itu. b. Sasaran 1. Ia mau mencari ―yang umum‖, yang batiniah di dalam benda-benda,terutama dengan manusia itu sendiri 2. ―yang umum‖ itu mau di carinya pada bidang etis, yaitu sejauh menyangkut tingkah laku manusia. c. Ilmu kebidanan Setiap orang mempunyai ilham atau roh yang mengatur segalanyasebaik-baiknya. Sebenarnya ia tau intisari benda-benda, namun karena tertimbun pengetahuan semu, pemahaman itu harus di buka lagi, seakan-akan harus dilahirkan d. Mempersoalkan kewibawaan Dalam hal sasarannya tersebut ia tidak menerima begitu saja pengandaian-pengandaian yang telah di percaya umum. Ia mempersoalkan garis-garis dan isi pendidikan yang telah tradisional dan tetap. Jalan maju ―dialektika‖ a. Dialog Ia mulai mengajak orang berbicara, setiap kali ada kesempatan baik. Kerangka metodenya ialah dialektike tekhne (seni berbicara) b. Rumusan sebagai titik tolak Sokrates mengakui kekurangan pengetahuannya, dan meminta orang lain memberikan salah satu rumusan mengenai hal mau di teliti. c. Pembantahan (elenkhos) Sokrates mengajukan pertanyaan lain, berhubungan dengan yang di katakannya, dan jawaban itu pun di susul lagi dengan pertanyaan. d. Induksi Jikalau salah satu contoh kongkrit di terima, ia memberi kasus lain yang serupa (analogi), sehingga akhirnya tersedia sesuatu deretan hal-hal yang kongkrit. e. Definisi Sokrates selalu berusaha membuat suatu generalisasi, dan merumuskan pengertian yang umum: suatu definisi atau rumusan. PLATO Plato hanya memperluaskan metode sokrates , mulai dari dalam dialog-dialog (phaidom, politeia) Titik tolak Ada perbedaan besar antara plato dan sokrates yaitu plato sendiri tidak lagi mengakui diri kurang mengetahui. Plato sudah tahu;ai mulai memberikan pemecahan soal dan pengetahuan definisi. Dialektika a. Dialog Perkembangan pemikirannya sendiri juga terjadi dalam dialog; jadi bentuk dialog seperti dipakainya bukan saja bentuk penyajian saja, melainkan memeng metode pemikirannya sendiri. Oleh karena itu filsafatnya kurang sistematis. b. Hipotesa Pada dialog-dialog yang disebut ‗tengah‘, plato mempergunakan metode hipotesa, terutama untuk sampai pada ajarannya tentang ide-ide. c. Definisi Pengertian definitif itu perlu dituangka pada definisi. • Penghimpunan

Berhubungan dengan hakekat hal yang mau dirumuskan, diadakan dulu proses penghimpunan, sintesa.yaitu istilah-istilah dan ide-ide yang kiranya serupa atau berhubungan dengan hal yang mau dirumuskan itu digolong-golongkan dan dibandingkan, untuk menentukan kelompok luas atau ‗kelas‘ termasuk hal itu. • Pembagian Kemudian diadakan pembagian tepat (diaresis);yaitu kelompok umum yang telah ditentukan (dapat disebut dengan genus)dibagikan sedapat-dapatnya menjadi dua ‗kelas‘ lebih sempit yang terbedakan kerena salah satu sifat khas,- sebab dimiliki kelompok yang satu dan bukan oleh yang lain. METODE INTUITIF : PLOTINOS DAN HENRI BERGSON PLOTINOS Filsafatnya Merupakan suatu kulminasi dan sintesa definitif dari aneka unsur filsafat yunani.ia sendiri mengaku bahwa mengikuti ajaran plato, ia menjelaskan apa yang sudah ditemukan secara implisit.namun ia juga mengintegrasikan sebagian besar filsafat aristoteles, stoa, neopyitagoreanisme, dan platonisme ―tengah‖ Metodenya Intuitif atau mistik.pemakaian mistik itu berhubungan dengan perkembangan baru di zaman itu . di mesir didirikan kelompok-kelompok teolog-teolog kontemplatif, yang berbeda. Enneades Kenaikan pikiran yang dicapainya melalui jalan penyucian dan askese, sekarang di ungkapkan dan dijelaskannya. Jalan maju: dialektika a. Bahan sebagai titik pangkal pertama-tama plotinos mencari informasi dainspirasi pada pengarang-pengarang filsafat sebelumnya. b. Prinsip metodis; harmoni Pegangannya yang utama ialah , bahwa ia ‗melihat‘ apa yang baik dan benar dalam ajaran ajaran dan pendapat-pendapat itu, dan apa yang saling melengkapi. c. Pembuktian Plotinos pada umumnya tidak mengandung pembuktian-pembuktian menurut arti kata aristoteles. Ia tidak begitu membuktikan ucapannya, melainkan lebih membiasakan pendengarnya dengan kebenarannya. d. Simbolisme Seluruh dunia indrawi diresapi oleh kenyataan-kenyataan misterius, dipengaruhinya, dan diberikannya realitaslain sekali. Mak kenyataan inderawi menjadi jalan untuk menerobos sampai pada kenyataan transenden itu. Ia menolak imajinasi yang membeku, ia banyak menggunakan banyak ungkapan inderawi. e. Meyakinkan Dalam hal ini plotinos cukup jauh, sebab ia mencari penguatan terhadap agama.sebagai sunber yang di luar filsafat. Hasil metode Jalan pemikiran metodis tersebut membawa orang ke kontemplasi. Kontemplasi itu merangkum seluruh jawa, ia melewati dan mengatasi setiap objek tertentu dan terbatas (sebab itu hanya penghalang). Ia melepaskan diri dari pencerapan kemudian dari penalaran diskursif. HENRI BERGSON Filsafatnya

Menurut bergson semuanya berakar pada dorongan hidup, dan muncul dari dorongan itu.filsafatnya sering disamakan dengan suatu vitalisme biologis. Filsafatnya bersifat spiritualistis.ia berprotes tehadap mana ‗mistisme‘. Jikalau itu menunjukan pemisahan antara metafik dan ilmu, seperti berasal dari kant. Metodenya Metodenya bersifat intuitif. Bergson berfikir dalam bentuk riak gelombang, dari pada dalam konsep-konsep. Ia bukan menjabarkan gagasan dan konsep dengan sistematis; sistemnya bukan rapat secara logis. Ia bukan memberikan konstruksi-konstuksi logis, melainkan sekelumit hidup. Gambaran menyeluruh Bagi bergson paling menentukan intuisinya mengenai seluruh kenyataankosmis sebagai la duree(berlangsungnya). Intuisi hidup Dinamika kosmik hanya dapat dipahami, kalau manusia menyelam dan membiarkan diri tenggelam dalam arus kesadaran yang tak terputus-putus.ia langsung mengambil bagian padanya. Pengalaman batinlah yang menghasilkan pengertian mutlak. Analisa membeku Dari pihak intuisi itu bukan saja suatu flash of insight yang mustahil siekpresikan; melainkan suatu act; merupakan suatu usaha mental, dan konsentrasi pikiran. Pengalaman batiniah itu harus di uraikan oleh akal budi seakan-akan mengerti dari ‗luar‘; bersifat relatif, dan tergantung dari sudut pandangan yang dipakai. Dialektika kedua pengertian Selalu ada bahaya, bahwa pengertian konseptual itu menyingkirkan pengalaman otentik, dan menggantikannya. Bergson menganalisa secara mendetail. Tetapi konsep-konsepnya tidak mempunyai ketetapan logis seperti diinginkan oleh akal budi. Ia bertitik tolak dari konsep-konsep sehari-hari; tetapi itu seakan-akan dibelah dan disiasati. Simbolisme Untuk mencairkan konsep-konsep, dan untuk mengarahkan ‗visi‘ dan ‗intuisi‘ bergson memakai banyak simbol. Simbol-simbol itu tidak mematikan gerak. Pelukisan-pelukisan simbol tidak menghabiskan kekayaan realitas; membuat orang menduga. Bergson mencurigai imajinasi yang membeku, Simbol tiada yang salah. Kesimpulan Metode bergson ini bukan bersifat anti-intelektual, melainkan supra-intelektual. Metode ini menuntut dan mengerjakan suatu ‗tobat‘ mengenai kebiasaan. Manusia harus mengambil distansi, berjauh dari logika. Dan menyerahkan diri pada kemurnian kenyataan, yaitu gerakan. Bergson berbeda dari plotinos, sebab ia bukan menuju kontemplasi tenang, tetapi ke dinamika yang bergelombang tetapi toh ada keserupaan; kenaikan dari yang materiildan terbeku, ke yang spiritual dan bebas. METODE SKOLASTIK: THOMAS AQUINAS Filsafatnya a. Filsafat da teologi Filsafat skolastik terutama di kembangkan dalam sekolah-sekolah biara dan keuskupan. Filsuf-filsup pertama ialah biarawan-biarawan. Mereka tidak memisahkan filsafat dengan teologi kristiani: filsafat menjadi bagian integral dalam teologinya.thomas menampakan penghargaan tinggi mengenai filsafat, sebagai puncak kemampuan akal-budi manusia.dalam filsafatnya ia mengatakan bahwa argumen yang paling rendah ialah argumen kewibawaan. b. Gaya filsafatnya

Thomas menggunakan banyak sumber fikiran; tetapi sistemnya sendiri menemukan keseimbangan bagus antara eksterm-eksterm.awalnya ia melangsungkan arus intuitifplatinos, tetapi sejak sekitar th 1150 mulai dikenalkan kembali tehadap karya-karya aristoteles. Ia mendasarkan filsafatnya atas perinsip-perinsip aristotelisme itu, terutama perbedaan ‗potensi‘ dan ‗akt‘. Metodenya Metode skolastik kerap disebut metode sintesis-deduktif.bertitik-tolak dari perinsip-perinsip sederhana yang sangat umum diturunkan hubungan-hubungan yang lebih komplek dan khusus. Seluruh metode filosofisnya berinspirasi aristoteles. Suasana pengajaran Metode mengajar itu sudah mendapat bentuknya yang matang, dan thomas sendiri menggunakan dengan penuh. Metode ini mengandung dua bagian pokok yaitu lectio dan disputatio. Jalan pikiran Titik tolak tradisi a. Umum Untuk menemukan kebenaran dalam suatu soal, perlu memahami dulu denga baik-baik apa yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar lainnya.ia memahami perkembangan historis yang esensial bagi ilmu. b. Dua macam tradisi Pertama-tama ia berusaha mengolah filsafat aristoteles , hampir semua karya filosofis merupakan komentar atas karangan-karangan aristoteles. c. Otonomi berfikir Diajukan tuduhan tehadap skolastik, bahwa kewibawaan itu menjadi kriterium utama, dan bahwa filsafat hanya memberikan rasionalisasi kepada kesimpulan-kesimpulanyang telah ditentukan sebelumnya oleh macam—macam tokoh dan instansi. Analisa Ia tidak melalaikan segi induktif didalam filsafatnya. Menurut epistemologinya semua pengertian manusia akhirnya berdasarkan pencerapan. Semua pernyataan harus kembali pada pancaindera. METODE GEOMETRIS: RENE DESCARTES Filsafatnya Bagi descartes ilmu alam tidak dapat dibangun tanpamenusun suatu metafisik dulu, yang akan memberikan suatu dasar prinsipil.metafisik itu terutama mengenai subjek yang berilmu. Berdasarka pemahaman itu, maka metafisik dan ilmu alam menjadi suatu pengertian utuh. Tetapi dalam seluruh pikirannya toh filsafat alam dunialah yang berkedudukan dominan. Metodenya a. Konsep pertama Jaman Descartes sudah menjadi metode ilmiah tepat. Descartes sebagai murid di college sudah berminat banyak akan aparat metodis-dedaktis. Dia terpesona oleh sifat pasti yang berlaku bagi ilmu-ilmu baru dan ia menganggap metode baik sebagai kunci kemajuan ilmu. b. Uraian metode Metode dibagi dalam tiga tahap : 1. Tahun 1619-1620 pikirannya dirumuskan agak sederhana dalam naskah stadium bonaementis 2. Sesudah berstudy dan berefleksi selama 9 tahun ia menulis : regulae ad directionem ingenii. 3. Pada tahun 1637 ia mengarang Discours de la metode

c. Inti metode Metodenya adalah metode analitis. Menurutnya ada keterssunan natural dan dalam kenyataan yang berhubungan dengan pengertian manusia,selain itu Ia menggunakan metode empirisme raionil. Itu metode yang mengintegrasikan segala keuntungan dari logika, analisa geometrid an aljabar. d. Kedudukan metode Metodenya dimaksudkan bukan saja sebagai metode penelitian lmiah, ataupun penelitian filsafat, melaikan sebaga metode penelitian mana saja ; sebab akal budi manusia selalu sama. Titik tolak : keraguaraguan universal 1. Negative Penolakan metode logika klasikdan pencarian metode baru. a. Diskusi Ia menolak metode kerjasama dan diskusi. b. Tradisi Ia menolak tradisi. Orang harus menemukan kebenaran sendiri ; harus mencari pemahaman dan keyakinan pribadi. c. Sistematik Ia menolak sistematis yang diikuti disekolah. Sistematik itu membawa-serta metode deduktif. 2. Positif :keragu-raguan metodes. Penolakan itu semua menunjuk kearah keragu-raguan prinsipil. Ia mau menyaksikan segala-galanya sedapat mungkin. Ia bersikap sebagai skeptikus, namun ia bukan skeptikus. Keragu-raguan ini bersifat metodis dan dipakai melulu sebagai alat. Intuisi dan evidensi Akhirnya bagi Descartes akhirnya tinggal satu kepastian yang tahan dan tidak dapat disangsikan : Cogito ergo sum, (saya berfikir maka saya ada. Evidensi yang menjadi kriteriumterakhir itu hanya ditemukan dalam kegiatan akal yang langsung, sebab itu penuh dengan kontradiksi. Induksi a. Aturan keempat Dlam setiap soal melaksanakan penyebutan sedimikian lengkap dan peninjauan sedemikian universal. b. Induksi nyata Ia tidak meremehkan observasi, hipotesa dan eksperimen. c. Kesulitan dari pengalaman Pengalaman memperlihatkan kesatuan besar antara jiwa dan badan. Hubungan itu bukan sebagai nahkoda dan kapalnya. Jiwa menggerakkan badan secara langsung, dan jiwa meerasa sakit dan merasa marah didalam badan. METODE EKSPERIMENTIL: DAVID HUME Filsafatnya Hume merupakan puncak aliran empirisme. Dan filsafatnya benar-benar antitesa terhadap raionalisme. Menurut Ia semua ilmu berhubungan dengan hakekat manusia. Filsafatnya terutama bersifat pfikologi mengenai pengertian; namun ia juga memberikan uraian mengenai struktur amnesia, mengenai etik, dan segi metafisik lain. Metodenya Ia memakai metode eksperimental. Metode itu bersukses dalam ilmu alam. Semua

pengertian dan kepastian berasal dari observasi tingkah laku dan introspeksi tentang proses-proses psikologis. Hume tidak memberikan uraian tentang metode, melainkan langsung melaksanakannya (treatise dimaksudkan sebagai latihan metodes. Titik pangkal metodis Skeptisisme Ia berpendapat bahwa skeptisisme Descartes terlalu radikal. Tetapi skap objektif, tanpa prasangka merupakan syarat mutlak bagi sikap ilmiah yang benar. Naturalisme Akhirnya skeptisisme tidak berdaya terhadap rasa dan keyakkinan natural yang memimpin hidup baiasa. Sikap Hume Sebagai sintesa sikap skeptic dan sikap naturalistic Hume mencapai suatu kedudukan tengah-tengah. a. Alat ―Garpu‖ Ia hanya menerima dua macam penalaran nyata. • Pemikiran abstrak tentang kuantitas dan angka • Pemikiran tentang eksperimental mengenai fakta dan kristensi b. Filsafat Satu-satunya sumber bagi segala pengertian filosofis adalah pengalamn indrawi berarti dalam hal ini matematis tidak dipertimbangkan menjadi suatu hal yang utama. Pembangunan Geometris Aspek progresif dalam metode Hume bergerak dari yang sederhana ke yang komplek (sintesa). Pencerapan Langkah awal ialah observasi mengenai tingkah laku manusai, atau instrospeksi mengenai emosi dan nafsu. Pencerapan itu menghsilkan suatu impresi yang kuat dan berhidup. Ide Dari impresif itu dibentuk ide yang sederhana. Ide-ide itu bertempat dalam imajinasi yang dirumuskan dalam definisi dan tidak jelas ditarik dalam kesimpulan observasi. Kesimpulan Denagn metode tersebut hanya dapat disusun suatu filsafat (ilmiah) yang sangat terbatas. Banyak hal lain yang dengan spontan menjadi keyakinan manusia tidak dapat dipertanggung jawabkan. Hanya dapat disebut ― kepercayaan-kepercayaan‖. METODE KRITIS-TRANSENDENTAL: IMMANUEL KANT, NEO-SKOLASTIC Filsafatnya Ia menyimpulkan dan mengatasi aliran rasionalisme dan empirisme. Dari satu pihak Ia mempertahankan objektifitas , universalitas dan keniscayaan pengertian dipihak lain. Ia menerima bahwa pengertian bertolak dari fenomin-fenomin, dan tidak dapat melebihi batasbatasnya. Sampaipada waktu itu pendapat umumnya ialah bahwa penertian manusia menyesuaikan diri dengan objek-objek, tetapi mungkin lebih berguna kalau diandaikan bahwa objek-objek menyesuaikan diri dengan pengertian manusia. Metodenya Adanya pengertia tertentu yang objektif. Metodenya merupakan analisa kriteriologis, selain itu ada analisa psikologis, analisa logis, dan analisa antologis. Titik pangkal metodis a. Keragu-raguan Kant mulai dengan meragu-ragukan kemungkinan dan kompetensi metafisik. Perlu diselidiki dulu kemampuan dan batas-batas akal budi.

b. Macam pengertian Ia membedakan tiga macam pengertian 1. Penertian Analitis, selalu apriori. Sifatnya : • Predikat sudah termuat dalam konsep subjek • Tidak dengan sendirinya mengenai kenyataan • Tidak memberikan pengertian baru 2. Penertian sintesis Sifatnya • Relasi subjek dan predikat berdasarkan objek riil: terjadilah kesatuan dari hal-hal yang berbeda. • Memberikan pengertian baru. c. Pertanyaan metodis Kant meneriam nilai objektif dari ilmu-ilmu positif, sebab mereka menghasilkan kemajuanhidup sehari-hari. Analisa transendental Kant menganalisa manakah syarat-syarat paling minimal yang dengan mutlak harus dipenuhi dalam subjek, supaya memungkinkan objetifitas itu. Analisa ini disebut juga dengan deduksi metafisis. Secara metodis : 1. Kant harus membedakan dalam fenomin; apakah yang berdasarkan dari pengalaman dan apakah yang berasal dari subjek. 2. Ia mau membatasi pada syarat-syarat yang minimal, sebab hanya itulah yang harus dierima dengan mutlak. Deduksi Transcendental Atau Kritis Hukum-hukum dan syarat itu semua bukan hanya berlaku defacto melainkan juga de jure. Mereka berlaku bagi pengertian dan penilaian mana saja; mereka mendahului pengertian dan penilaian selalu dan dimana-mana lalu ditentukan hakekat objektifitas kategori-kategori dan postulat-postulat apriori dan batas-batasnya. Dialektik transcendental a. Negative Akhirnya Kant meneliti kemungkinan metafisik, berdasarkan syarat-syarat dan hokumhukum yang telah ditemukan. b. Positif Segala pengertian dan pengertian mempunyai dorongan kodrati untuk mencari syaratsyarat lebih tinggi, yang tidak disyaratkan lagi. Metode dialektis: George Wilhelm Friedrich Hegel Filsafatnya Filsafatnya sendiri merupakan idealisme, jadi meletakkan segala tekanan pada objektifitas. Seluruh kenyataan adalah penampakan diri yang dilakukan oleh akal yang tak terbatas. Tidak akan ada pikiran yang benar-benar baru, seperti juga tidak aka nada fakta yang benar-benar baru lagi. Metodenya Bagi Hegel jalan untuk memahami kenyataan adalah mengikuti gerakan pikiran atau konsep. Struktur didalam pikiran adalah sama dengan proses genetis dalam kenyataan. Maka metode dan teori atau system tidak dapat dipisahkan. Metodenya disebut ― Dialektis‖. Langkah pertama: pengiyaan Oleh Hegel, konsep atau pengertian itu dirumuskan dengan jelas sehingga identik dengan dirinya sendiri dan menyangkal segala hal atau pengertian lain.

Langkah kedua: pengingkaran Pada Hegel terdapat suatu deretan berlawan yang semua berhubungan satu sama lainnya. Dalam dialektik pikiran tidak perduli mulai dari ujung mana ; selalu muncullah kawannya. Langkah ketiga: pemahaman baru Pengingkaran terhadap pengingkaran. Dinamika dalam langkah kedua tidak membawa pikiran kembali ke eksterm pertama. Langkah pertama telah memuat langkah kedua secara implisif. Langkah kedua sudah memuat langkah pertama, sebab merupakan negasinya: jadi yangpertama telah sedang dipikirkan. Kesatuan kontradiksi Menurut Hegel kontradiksi merupakan motor dialektik. Kontradiksi sama sekali bukan saja penyakit pemahaman, melainkan menjadi jalan atau thap mutlak yang harus dialami dulu untuk mencapai kebenaran. Deduksi dan induksi System Hegel bersifat duduktif yaitu oleh logika intrinsic yang niscaya ada dalam konsep, pikiran dibawa ke konsep lain. Data-data yang dipergunakan berfungsi lebih eksemplaris; tetapi menurut Hegel semua data dan fakta dapat disusun dalam garis pikiran itu. Berarti system Hegel merupakan juga suatu induksi prinsipil. Namun bukan merupakan adalah suatu induksi yang membawa kepengertian yang mau berjauhan dari kenyataan, atau yang makin umum abstrak. METODE FENOMENOLOGIS: HUSSERL, EKSISTENSIALISME Filsafatnya Bertitikpangkal dari soal-soal pasti, Ia melangsungkan refleksinya sampai menghadapi dasaar-dasar filosofis. Mula-mula Ia berekasi terhadap empirisme dan psikologisme, dalam aliran itu Ia menolak sikap scientism, yang menghadapi pernyataan dan pengetian dengan metode dan sikap ilmu eksakta. Menurut Husserl difilsafat sendiri tidak ada persetujuan, sebab kurang disadari titik tolak metode filsafat. Ia tidak menyusun suatu system tetapi hanya menghasilkan working papers. Metodenya Metodenya disebut dengan metode fenomenologis. Hasserl mau menentukan metode filosofis ilmiah, yang lepas dari segala prasangka metafisis. Metode ffenomenologis dikembangkannya sambil melangsungkan penelitian filosofis. Ia meneliti pula syarat-syarat yang termuat dalam setiap pikiran dan kegiatan. Titik tolak metodis dalam objek dan subjek Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya, harus diadakan suatu pembersihan. a. Umum : otonomi Harus disisihkan segala unsure tradisi, yaitu segala sesuatu yang diajarkan oleh orang lain mengenai objek yang bersangkutan. b. Dalam objek: fenomin Objek penyelidikan ialah fenomin. Fenomin itu hanya data yang sederhana, tanpa ditambah hal lain. Penentuan negative a. Bukan dimaksudkan fenomin alamiah. Fenomin alam itu fakta atau relasi yang dapat diterapkan dalam obserfasi empiris. b. Bukan pula fenomin seperti misalnya dalam fenomenologi agama. c. Bukan diartkan hanya ― semu‖ yang justru bukan kenyataan. d. Bukan dimaksudkan sebagai ―penampakan‖ yang berlawanana atau dibedakan dengan

hal-dalam –dirinya sendiri. Penentuan positif Mula-mula terutama pengertian ilmiah sendiri menjadi bahan refleksi. Tetapi lama kelamaan disadari bahwa objek fenomenologi itu sama. Reduksi pokok yang pertama.fenomenologis Disaring dan disisihkan segala keputusan tentang realitas atau idealitaas objek dan subjek . EKSISTENSIALISME Tokoh-tokoh 1. Heidegger 2. Sartre 3. Jaspers 4. Marcel 5. Merleau Ponty Filsafatnya Pada umumnya mereka tidak senang dengan tekanan Husserl pada sikap objektif. Terutama mereka tidak setuju dengan reduksi pokok yang menyisihkan eksistensi. Bagiereka eksistensi mereka yang pertama-tama dianalisa. Beberapa sifat eksistensiil ialah : 1. Subjektifitas individual yang unik; bukan objek dan bukan umum. 2. Keterbukaan bagi manusia lain dan bagi dunia; intensionalitas dan praksis buakn teori saja. 3. Pengalaman afektif dalam dunia bukan observasi. 4. Kesejarahan dan kebebasan bukan esensi yang tetap. 5. Segi tragis dan kegagalan Metodenya Dalam analisa eksistensi itu, de pacto mereka memakai metode fenomenologi yang otentik dengan observasi dan analisa teliti. Maksud metode Pengalaman asli itu bersifat utuh dan kaya. Ungkapan terbatas hanya menampakkannya secara terbatas dan bercacar. Titik tolak a. Dalam objek: fenomin Pada umumnya para analis berttik pangkal dari fenomin seperti telah ditentukan Husserl. Mereka juga menekankan segi iitensionil. b. Dalam subjek: intuisi Para eksistensialis mempertahankan aspek non diskursif dalam intuisi subjek. Namun mereka tidak mengikuti tekanan Husserl pada sikap objektif dan kontemplatif. Analisa terperinci Fenomin dianalisa menurut semua unsure Husserl lainnya. Harus dibersihkan dari segala penyempitan dan interpretasi berat sebelah. Dalam analisaini ditemukan sifat-sifat pokok yang beralaku bagi eksisitensi manusia yang sekaligus unik. Dan berlaku bagi setiap manusia. METODE ANALITIKA BAHASA: LAUDWIGWITTGENSTEIN Filsafatnya Bahasa filosofis memperlihatkan kekacauan bahasa yang begitu besar; dan bahasa itu begitu jauh dari bahasa sehari-hari maka sebelum bertanya mengenai benar salahnya, pemakaian bahasa sendiri harus dicurigai.

a. Periode reduktif Dunia terdiri dari fakta-fakta sederhana yang serba lepas satu sama lainnya, tetapi yang dapat dihubungkan pula. Pada dasarnya bahasa terdiri dari kalimat-kalimat atom atau atom-atom logis, yaitu ungkapan-ungkapan yang paling sederhana dan tidak dapat direduksikan lagi. Tugas filsafat ialah menjelaskan dan menepatkan bahasa, sebab dengan jalan demikian juga dunia sendiri menjadi jelas. b. Periode ―language games‖ Pikiran dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Pikiran bukanlah suatu proses dibalik bahasa: melinkan terjadi dalam dan terjadi dari linguistic behaviour. Dalam bahasa sendiri Ia menolak segala reduksi. Bahas buhan hanya memberikan informasi tetapi mempunyai fungsi dan makna bermacam-macam. c. Wittgeinstein dan ―Logical Positivism‖ Mereka berdua mencapai kesimpulan yang sangat serupa. Tetapi alas an metodis untuk mencapai kesimpulan itu bagi kedua filsafat agak berbeda. Maka wiitgeinstein itu bukan sebagai seorang neo positivis. Ia menolak prinsip verifikasi, dan hubungan antara dunia dan bahasa tidak merupakan bagian intrinsic dalam filsafatnya. Metodenya Metodenya yaitu critique of language analisa bahasa ini merupakan metode netral; tidak mengandaikan salah satu epistemology, filsafat atau metafisika. Maksud metode Ia itu berbagi dua, yaitu: a. Positif Menjelaskan bahasa sendiri. Memperlihatkan apakah yang memang dapat dikatakan dan bagaimanakah dapat dikatakan. b. Negative Justru dengan jalan positif itu meode mempunyai efek therapeutic (penyembuhan) tehadap kekeliruan dan kekacauan (logis). Pembatasan metodis Pada periode pertama Ia meneerima parallel tepat antara dunia riil dan bahasa. Bahasa mencerminkan dunia.dan pemakaian menurut struktur yang tepat dapat memberikan pemahaman tentang struktur dunia. Norma metodis Pada periode reduktif wittgeinstein lebih mengikuti Russell. Dan mau mencari norma-norma mutlak yang berlaku dalam bahasa sehari-hari. Pada periode kedua ia kembali ke pemakaman Moore, bahwa bahasa natural memuat seluruh kebijaksanaan dan common sense dari suatu bangsa. Teknik-teknik positif Jenis-jenis kata Wittgeinstein mengikuti Russel dengan membedakan dalam unit-nit paling dalam daasariah: susunan tata bahasa dan susunan logis. Ungkapan yang mempunyai struktur tata bahasa sama, mungkin berbeda menurut struktur logis. Bahasa ideal Bahasa itu bersifat tepat dan logis, bertitik tolak dari atom-atom logis yang paling sederhana. Wittgeinstein memakai beberapa teknik logis yang khas. Ia menyusun suatu jenjang kemungkinan-kemungkinan benar salahnya. Matinya analisa Banyak orang berkata bahwa, periode kedua sebenarnya sudah bukan anallisa lagi, melainkan selalu deskripsi. Teknik therapeutic

Pada periode reduktif Wittgeinsten berprinsip, bahwa batas-batas bahasa juga merupakan batas-batas dunia. Orang tidak dapat keluar dari bahasa dan iIa tidak dapat keluar dari dunia. Filsafat menghapuskan dirinya sendiri Wittgeinstein juga sadar akan paradox dalam karyanya. Pada periode pertama Ia sendiri bicara mengenai batas-batas bahasa dan dunia. Ia bicara mengenai masalah metafisik, Ia bicara mengennai bahasa. Padahal topic-topik itu semua tidak dapat dibicarakan bahasa. Hanya dapat ditampakkan , dan hanya dapat diperlihatkan bahwa ucapan-ucapan tentang hal-hal itu tidak bermakna, dengan menjelaskan apa yang terjadi dalam bahasa.maka analitika bahasa mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan.

KRITISISME IMMANUEL KANT

A. Pendahuluan Immanuel Kant, seorang filosof dari Jerman yang sangat popular dengan filsafatnya yang ia sebut sebagai Filsafat Kritisisme. Disebut kritisisme karena didalamnya, terdapat upaya kritik atas filsafat rasionalisme dan empirisme. Seorang pengkritik tidak mungkin dapat mengkritik dengan baik dan mendalam, jika tanpa ada pengetahuan yang mendalam mengenai apa yang dikritiknya. Demikian pula Immanuel Kant, dalam proses penemuan terhadap filsafat kritisisme ini, Kant telah melalui tahapantahapan pemahaman, bahkan sampai pada meyakini kebenaran dari filsafat rasionalisme maupun empirisme. Dalam pembahasan berikutnya akan dijabarkan tahapan-tahapan filsafat Immanuel Kant. Sampai akhirnya secara radikal, Kant menyampaikan filsafat kritisisme ini. Setelah

mendeskripsikan data terkait, selanjutnya penulis akan menghubungkan dan mendialogkannya dengan gagasan yang lain dan akhirnya membuat interpretasi sebagai refleksi penulis sendiri. Untuk membatasi masalah, berikut adalah rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini: 1. Biografi Immanuel Kant; 2. Tahap-tahap Perkembangan Pemikiran Immanuel Kant; 3. Pembahasaan Filsafat Kritisisme;

B. Biografi Immanuel Kant Immanuel Kant lahir pada tanggal 22 April 1724 di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman. Berasal dari keluarga kekurangan. Orang tua Kant adalah penganut setia gerakan Peitisme. Pada tahun 1755, Kant memperoleh gelar Doktor dengan Disertasi berjudul: ―Penggambaran Singkat dari Sejumlah Pemikiran Mengenai Api,‖sebuah karya di bidang ilmu alam. Orang-orang menyukai Kant karena dia menjunjung tinggi Moral, sangat santun, sering kali akrab berdialog dengan orang-orang pada saat jalan-jalan sore di Koninsberg. Faktanya, Kant tidak terlalu menonjolkan keilmuannya atau dengan kata lain Kant itu orang yang Rendah diri.

C. Tahap-tahap Perkembangan Pemikiran Immanuel Kant Perkembangan pemikiran Kant mengalami empat tahap. Tahap pertama ialah ketika Kant masih dipengaruhi oleh Leibniz-Wolff, yaitu sampai tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik. Tahap kedua berlangsung antara tahun 1760-1770. Periode ini disebut periode empiristik, karena pada periode ini Kant sangat dipengaruhi oleh David Hume. Tahap ketiga, mulai tahun 1770, dikenal sebagai ―tahap kritis.‖ Tahap keempat berlangsung antara tahun 1790-1804. Pada periodesasi ini Kant mengalihkan perhatiannya pada masalah religi dan problem-problem sosial. Dari keempat tahap perkembangan pemikiran Kant diatas, dapat diketahui bahwa sebelum Kant melakukan kritik atas rasionalisme dan empirisme, ternyata Kant sendiri pernah berada dalam tahap dipengaruhi rasionalisme dan juga empirisme. Namun kelihatannya, kegiatan berpikir secara radikal dan menyeluruh sudah menjadi bagian dari kehidupan Kant. Pemikiran Kant senantiasa hidup untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang diyakininya. Saat Kant berada dalam pengaruh Leibniz-Wolff di tahap pertama, Kant tidak lantas fanatik buta dan tidak mau menerima pembaruan dan perubahan dari luar. Begitu pula pada tahap selanjutnya, selama 10 tahun Kant berada dalam pengaruh Hume mengenai filsafat empirisme, namun Kant masih terus melanjutkan pemikirannya sampai pada tahap yang diyakininya. Kant mengatakan: ―Akal tidak boleh bertindak seperti seorang mahasiswa yang hanya puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennya, tapi

hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya.‖ Selain menurut Muslih diatas, terdapat pendapat lain dari Juhaya S. Praja yang menyatakan bahwa perkembangan pemikiran Kant mengalami dua tahap, yaitu tahap prakritis dan tahap kritis. Meski berbeda jumlah tahapan perkembangan pemikiran Kant, namun antara Muslih dan Juhaya tidak terdapat pertentangan secara substantif, bahkan keduanya saling menjelaskan.

D. Pembahasan Filsafat Kritisisme Amin Abdullah menyatakan bahwa filsafat kritis Immanuel Kant adalah karya monumental yang berusaha memadukan pandangan terbaik dari pihak rasional dan empiris, meskipun Kant sendiri tidak menyetujui dua-duanya secara total. Sebelum membahas filsafat kritisisme ini lebih jauh, sebaiknya terlebih dahulu digambarkan perbedaan mendasar antara rasionalisme dan empirisme, yaitu sebagai berikut:

Kritisisme Kant dapat dianggap sebagai upaya raksasa dalam mendamaikan rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur a priori dalam menemukan pengetahuan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari pengalaman (ide bawaan ala Deskrates). Sedangkan empirisme menekankan unsur aposteriori, berarti unsur yang berasal dari pengalaman (as a white paper). Menurut Kant, baik rasionalisasi maupun empirisme adalah berat sebelah. Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia. Banyak dari idea yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain. Pada suatu saat dalam sejarah, idea bahwa bumi adalah pusat dari sistem matahari hampir diterima secara umum sebagai suatu pernyataan yang pasti.

Sedangkan teori empiris yang sangat menitikberatkan pada persepsi pancaindera kiranya melupakan kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna. Pancaindera sering menyesatkan, dimana hal ini disadari oleh kaum empiris itu sendiri. Dari kritik atas kedua teori diatas, kemudian Kant bermaksud untuk mengkombinasi antara rasionalis dan empiris dalam proses pengenalan pengetahuan. Menurut Kant, pengetahuan itu harus bersifat mutlak, yakni umum dan niscaya, pasti, sehingga mempunyai nilai ilmiah. Ia dapat diverifikasi atau difalsifikasi lepas dari pengalaman aktual. Oleh karena itu, Kant menerima adanya keputusan sintesis a priori, yang didalamnya terdapat pengalaman, moralitas, ilmu, dan metafisika, sebagai prinsip-prinsipnya. Berikut adalah skema proses terjadinya pengetahuan menurut Immanuel Kant:

Langkah Kant dimulai dengan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir kritik atas daya pertimbangan.

a. Kritik der Reinen Vernunft Reason, Critique of Pure Reason (Kritik atas Rasio Murni). Pada taraf indra, ia berpendapat bahwa dalam pengetahuan indrawi selalu ada dua bentuk a priori yaitu ruang dan waktu. Pada taraf akal budi, Kant membedakan akal budi dengan rasio. Tugas akal budi ialah memikirkan suatu hal atau data-data yang ditangkap oleh indrawi. Pengenalan akal budi juga merupakan sintesis antara bentuk dengan materi. Materi adalah data-data indrawi dan bentuk adalah a priori, bentuk a priori ini dinamakan Kant sebagai kategori. Pada taraf rasio, kant menyatakan bahwa tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari keputusan-keputusan. Dengan kata lain, rasio mengadakan argumentasi-argumentasi. Kant memperlihatkan bahwa rasio membentuk argumentasi itu dengan dipimpin oleh tiga ide, yaitu Allah, jiwa dan dunia. Apa yang dimaksud ide menurut Kant ialah suatu cita-cita yang menjamin kesatuan terakhir dalam gejala psikis (jiwa), gejala jasmani (dunia) dan gejala yang ada (Allah). Akal murni adalah akal yang bekerja secara logis. Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak benarnya memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indra. Menurut Kant, jiwa kita merupakan organ yang aktif, dimaksudkan sebagai jiwa yang inheren, secara aktif mengkoordinasi sensasi-sensasi yang masuk dengan idea-idea kita. Karena koordinasi itulah maka pengalaman yang masuk, yang tadinya kacau, menjadi tersusun teratur. Sensasi ialah pengindraan, sensasi itu hanyalah suatu keadaan jiwa menanggapi rangsangan (stimulus). Sensasi itu masuk melalui alat indra, melalui indra itu lalu masuk ke

otak, lalu objek itu diperhatikan, kemudian disadari. Sensasi-sensasi itu masuk ke otak melalui saluran-saluran tertentu, saluran itu adalah hukum-hukum. Karena hukum-hukum itulah maka tidak semua stimulus yang menerpa alat indra dapat masuk ke otak. Penangkapan itu diatur oleh persepsi sesuai dengan tujuan. Contohnya, Jam berdetak, Anda tidak mendengarnya, akan tetapi, detak yang sama bahkan lebih rendah, akan didengar bila kita bertujuan ingin mendengarkannya. Kemudian Jiwa (mind) yang memberi arti terhadap stimulus itu mengadakan seleksi dengan menggunakan dua cara yang amat sederhana, Menurut Kant, Pesan-pesan (dari stimulus) disusun sesuai dengan ruang (tempat) datangnya sensasi, dan waktu terjadinya itu. Mind itulah yang mengerjakan sesuatu itu, yang menempatkan sensasi dalam ruang dan waktu, mensifatinya dengan ini atau itu. Ruang dan waktu bukanlah sesuatu yang dipahami, ruang dan waktu itu adalah alat persepsi. Oleh karena itu ruang dan waktu itu a priori. Kant kemudian memberikan penjelasan lagi, Dunia mempunyai susunan seperti yang kita pahami bukanlah oleh dirinya sendiri, melainkan oleh pikiran kita. Mula-mula berupa klasifikasi sensasi, selanjutnya klasifikasi sains, seterusnya klasifikasi filsafat. Hukumhukum itulah yang mengerjakan klasifikasi itu. Selanjutnya Kant membatasi sains, kepastian dan keabsolutan dasar sains tetap terbatas, Objek yang tampak merupakan fenomenon (penampakan). Keutuhan objek yang kita tangkap dengan daya struktur mental yang inheren, melalui sensasi, terus ke persepsi lalu ke konsep idea, Contoh, Kita tidak tahu pasti dengan bulan, yang kita tahu hanya idea tentang bulan. Sains tidak mengetahui noumenon (tidak tampaknya suatu) ia hanya tahu fenomenon saja. Dari sini jelas bahwa Kant mampu memisahkan fenomenon dengan noumenon . Dalam bukunya ini ia ―membatasi pengetahuan manusia‖. Atau dengan kata lain ―apa yang bisa diketahui manusia.‖ Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan: 1) Apakah yang bisa kuketahui? 2) Apakah yang harus kulakukan? 3) Apakah yang bisa kuharapkan? Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut: 1) Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indra. Lain daripada itu merupakan ―ilusi‖(noumenon) saja. 2) Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah ―imperatif kategoris‖. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.

3) Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya.

b. The Critique of Practical Reason (Pembahasan tentang Akal Praktis) Kehidupan memerlukan kebenaran, kebenaran tidak dapat seluruhnya diperoleh dengan indra dan akal, indra dan akal itu terbatas kemampuannya. Menurut Kant, dasar a priori itu ada pada sains, akan tetapi, indra (sains) itu terbatas, disinilah Critique of The Practical Reason berbicara, Kant bertanya: Bila akal dan indra tidak dapat diandalkan dalam mempelajari agama, apa selanjutnya? Jawabannya adalah akal atau indra dapat terus berkembang dan dikembangkan, namun setelah semua itu, moral merupakan ukuran kebenaran. Moral adalah suara hati, perasaan, menentukan sesuatu itu benar atau salah. Moral itu Imperatif Kategori, perintah tanpa syarat yang ada dalam kesadaran kita. Kata hati itu memerintah, perintah itu ialah perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan tetapi dalam batas kewajaran. Hukum kewajaran bersifat universal. Ia merincikan moral sebagai berikut; Menurut Kant, apa yang dianggap sebagai sikap moral sering kali merupakan sikap yang secara moral justru harus dinilai negatif. Heteronomi moral adalah sikap dimana orang memenuhi kewajibannya bukan karena ia insaf bahwa kewajiban itu pantas dipenuhi, melainkan karena tertekan, takut berdosa, dan sebagainya. Dalam tuntutan agama, moralitas heteronom berarti bahwa orang menaati peraturan tetapi tanpa melihat nilai dan maknanya. Heteronomi moral ini merendahkan pandangan terhadap seseorang, dan merupakan penyimpangan dari sikap moral yang sebenar-benarnya. Sikap moral yang sebenarnya adalah sikap otonomi moral, otonomi moral berarti bahwa manusia menaati kewajibannya karena ia sadar diri, bukan karena terbebani, terkekang, tuntutan, dsb. Otonomi juga menuntut kerendahan hati untuk menerima bahwa kita menjadi bagian dari masyarakat dan bersedia untuk hidup sesuai dengan aturan-aturan masyarakat yang berdasarkan hukum. Hukum adalah tatanan normatif lahiriah masyarakat.

c. Critique of Judgement (kritik atas daya pertimbangan) Kritik atas daya pertimbangan dimaksudkan oleh Kant untuk mengerti persesuaian antara kritik atas rasio murni dan kritik atas rasio praktis. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estesis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan adanya keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam. Sampai disini penulis ingin mengemukakan bahwa dalam filsafat kritisisme Kant ini tidak bermaksud mencari mana yang lebih benar dari yang lainnya. Rasionalisme lebih benar

dari empirisme kah, ataukah sebaliknya, empirisme lebih benar dari rasionalisme. Pemikiran monumental Kant ini hendak memadukan kedua pendapat yang awalnya bertolak belakang, menjadi sebuah paduan yang saling melengkapi. Pengetahuan adalah hasil dari perpaduan rasio yang hidup dengan dihadapkan kepada materi empirik. Atau dengan kata lain, kritisisme Kant sekaligus mengakhiri pendapat sebelumnya yang menganggap akal pikiran hanyalah berfungsi sebagai ―container‖ (alat tempat menyimpan sesuatu dan bersifat pasif). Dalam kritisisme, pengetahuan adalah terkait dengan terjalinnya hubungan yang kokoh antara ide-ide (sebagai isi pokok daripada akal pikiran), dan dunia luar pada umumnya. Adalah akal pikiran yang dikatakan mempunyai ide-ide tertentu dalam dirinya sendiri yang dapat memaksa kita untuk menyatukan sifat-sifat dari dunia luar dalam satu kerangka keilmuan tertentu

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006. Honer, Stanley M. dan Hunt, Thomas C.. ―Metode dalam Mencari Pengetahuan: Rasionalisme, Empirisme, dan Metode Keilmuan‖ dalam Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, Jujun S. Suriasumantri. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006. http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/13/peta-pemikiran-immanuel-kant/ diakses tanggal 26 November 2011. Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar, 2006. Poespoprodjo, W. Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Bandung: Pustaka Grafika, 1999. Praja, Juhaya S. Aliran-aliran Filsafat & Etika. Jakarta: Kencana, 2005.
http://ahsinelroland.blogspot.com/2012/05/kritisisme-immanuel-kant.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->