P. 1
Makala

Makala

|Views: 21|Likes:
Published by Tari Apriani

More info:

Published by: Tari Apriani on May 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2013

pdf

text

original

Pengangguran Terdidik dan Solusinya

Oleh : Hendrizal SIP Jumlah pengangguran berdasarkan jenjang perguruan tinggi di Indonesia masih sangat mengkhawatirkan. Untuk jenjang S1 yang pada 2005 jumlahnya mencapai 385.538 orang, pada 2006 jumlahnya sedikit berkurang menjadi 375.601 orang. Sayang, penurunan tersebut tak terjadi lagi pada tahun berikutnya. Pada 2007 jumlah pengangguran jenjang S1 naik menjadi 409.890 orang, kata anggota Tim Pengem-bangan Program Mahasiswa Wirausaha Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA dalam seminar Penggunaan Teknologi dalam Pengembangan Wirausaha di kampus Udinus Semarang, baru-baru ini. Orang yang tak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tak pernah selesai. Tapi lebih ironis bila pengangguran itu banyak dari kalangan sarjana. Ini menarik didiskusikan. Apalagi mengingat bahwa dalam laporannya, UNDP (badan dunia untuk program pembangunan) melihat pola pengangguran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai fenomena unik. Sebab, ternyata tingkat pengangguran lebih banyak ditemukan di kalangan mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Fenomena ini menjadi tanda tanya besar bagi kita. Ada 3 hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tak bekerja, yaitu hambatan kultural, mutu dan relevansi kurikulum pendidikan, dan pasar kerja. Hambatan kultural menyangkut budaya dan etos kerja. Sementara masalah kurikulum pendidikan adalah belum adanya mutu dan relevansi kurikulum pengajaran di lembaga pendidikan tinggi yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian sumber daya manusia (SDM) yang sesuai kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan rendahnya kualitas SDM untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Namun fakta cenderung menunjukkan, sistem pendidikan Indonesia (perguruan tinggi/PT) jauh lebih produktif dalam mencetak lulusan ketimbang lapangan kerja yang tersedia. Contoh, banyak perguruan tinggi negeri (PTN) dengan arogan membuka jalur ekstensi dan D3, meski kenyataannya kampus tersebut tak memiliki sarana pendidikan dan dosen yang sebanding dengan jumlah mahasiswanya. Sedangkan perguruan tinggi swasta (PTS) harus menghemat pengeluaran untuk dana pendidikan karena takut mahasiswa terbebani uang kuliah terlalu tinggi. Tindakan ini mengakibatkan PT sekadar mesin penghasil ijazah ketimbang manusia yang memiliki kematangan ilmu dan kemandirian. Beberapa rekan yang telah menamatkan kuliah dapat memperkuat preseden ini. Mereka berkomentar, untuk memperoleh satu pekerjaan membutuhkan minimal satu tahun. Itupun kalau mereka beruntung, karena banyak di antara mereka yang harus menunggu bertahun-tahun. Bahkan mereka berujar, gaji yang diperoleh tak sebanding dengan investasi pendidikan yang dikeluarkan, dan pekerjaan yang diperoleh tak sesuai bidang keilmuan yang mereka miliki.Jenjang pendidikan tinggi sebagai jaminan memperoleh pekerjaan yang baik ternyata menjadi doktrin bagi kebanyakan masyarakat kita. Pandangan ini dalam banyak hal turut memperparah banyaknya lulusan PT yang jobless. Kita menyaksikan bagaimana para sarjana masih terus disibukkan persoalan mencari kerja, sementara ketersediaan lapangan kerja makin sempit. Sumber : http://www.pelita.or.id/baca.php?id=86618

PPJ juga sudah dipungut. sehingga secara tidak langsung menghambat pertumbuhan investasi yang masuk kategori potensial.Peraturan Daerah dan Hambatan Investasi Oleh H. pengenaan PPJ ini dihitung berdasarkan kapasitas terpasang dari genset itu sendiri. pada prinsipnya para pengusaha daerah tidak mengeluhkan besarnya jumlah yang harus dibayar. EDDY JUSUF Tudingan itu diperkuat lagi dengan bermunculannya peraturan daerah (perda) yang tidak rasional dan jelas-jelas bertentangan dengan prinsip daya saing perekonomian. preman. Namun. Sebenarnya bukan kemauan pengusaha untuk menggunakan genset. Sebelum otda. Pengadaan genset lebih disebabkan ketidakmampuan PLN memenuhi kebutuhan listrik industri. Dengan munculnya jenis pungutan baru. sejak otda. baik itu yang dilakukan oleh aparat pemerintah. Yang lebih parah. PPJ itu sendiri sebenarnya bukan objek pajak yang baru saja ada. pajak ekspor (retribusi terhadap hasil bumi daerah yang dijual ke luar daerah). Bedanya. Hasil survei KPPOD terhadap persepsi pelaku usaha sektor industri manufaktur di 20 kabupaten/kota pada 2002 menunjukkan sektor industri juga menghadapi masalah serius berkaitan dengan pungutan liar. terutama adalah menyangkut pajak penerangan jalan (PPJ). Per Agustus 2003 saja. perda-perda tersebut telah memberikan penafsiran yang salah terhadap UU tersebut. aparat keamanan. seperti sumbangan wajib. ada 73 perda untuk kategori abuabu sebagaimana di tercatat oleh Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (www://kppod. bukannya berdasarkan penggunaan riil tenaga listrik oleh perusahaan. serta retribusi tenaga kerja (pungutan terhadap perusahaan yang memakai tenaga kerja bukan lokal dan dapat mengganggu pergerakan orang antardaerah). Tampaknya perda-perda tersebut dibuat untuk menciptakan pajak atau retribusi baru yang sebenarnya tidak ada dalam UU yang berlaku.. Perda-perda ini ternyata jumlahnya lebih banyak. Bisa dimaklumi bahwa perda itu merupakan pelaksanaan dari undang-undang mengenai pajak dan retribusi daerah. Akan tetapi. Keberadaan perda-perda itulah menjadi justifikasi bahwa desentralisasi seakan-akan tidak bermanfaat atau bahkan mengganggu upaya pemulihan perekonomian nasional yang memang tidak mudah dilakukan. Misalnya paket kebijakan investasi yang diluncurkan pemerintah tidak bisa menjawab kendala investasi. . lembaga swadaya masyarakat. objek pajak untuk PPJ melebar sampai ke tenaga listrik yang dihasilkan oleh genset.com). khususnya soal waktu perizinan. Akan tetapi. pajak komoditas (pajak yang dikenakan terhadap komoditas daerah tertentu dan bertentangan dengan UU pajak nasional). maupun lainnya. Wajar apabila para pengusaha daerah dan investor potensial mengeluhkan keberadaan adanya perda-perda tersebut. sehingga memicu konflik publik bahwa otonomi daerah dan desentralisasi hanya menciptakan imperium baru yang sibuk memungut pajak dari perusahaan yang berlokasi di daerahnya. lebih kepada ketidakpastian mengenai besarnya jumlah yang harus dibayar dan kerumitan administrasi yang ditimbulkan karena begitu banyak jenis pungutan dan pajak yang tidak lagi disebut rasional. Perda itu sendiri hanya salah satu dari faktor yang sering menjadi disinsentif bagi kegiatan ekonomi dan investasi di daerah. Keluhan terbesar para pelaku industri soal perda.

34/2000. menyatakan bahwa pemerintah provinsi mempunyai empat jenis pajak daerah. desentralisasi di Indonesia memang tidak dirancang sebagai desentralisasi di sisi penerimaan. 32/2004 dan UU No. 22/1999 dan UU No. tetapi juga upaya memulihkan iklim investasi nasional. Pembiayaan untuk pelayanan itu diberikan pemerintah pusat melalui dana perimbangan yang sebagian besar dialokasikan dari penerimaan pajak pemerintah pusat. Ini jelas bertentangan dengan UU No. sehingga mereka akan berusaha membungkus wajib pajak itu dengan pendekatan kolusi atas dasar kepentingan sepihak. Dari total penerimaan pajak tersebut menyumbang kurang dari 10 persen dari total penerimaan APBD. mencari sumber baru penerimaan pajak melalui berbagai inovasi dalam PAD yang tanpa berupaya melakukan efisiensi. Dengan demikian. harapan yang muncul yakni setiap pemda di daerah masingmasing di seluruh Indonesia berinisiatif untuk mendorong masuknya investasi. di mana pemerintah pusat harus memberikan besaran alokasi dana tambahan terhadap APBD sebagai dana perimbangan. Dengan demikian. Hal ini tentunya akan sangat merugi bila potensi daerahnya dari sektor pajak lambat laun akan hilang menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan dominasi dana perimbangan (dana alokasi umum. Pada akhirnya akan merugikan negara dari sektor pendapat pajak secara komulatif. di saat kondisi keuangan negara yang masih berat. Melihat pengalaman empat tahun pertama desentralisasi. desentralisasi di Indonesia adalah desentralisasi di sisi pengeluaran. kunci pemulihan iklim investasi nasional sebenarnya terletak pada setiap pemda di Indonesia. bagi hasil. Jika ini terjadi. Dengan kata lain. Dari keinginan pemerintah pusat tersebut. paling tidak sampai saat ini. 25/1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. ditambah lagi dengan muncul permasalahan baru dalam APBD. keberadaan perda-perda tersebut tanpa mereka sadari telah menurunkan daya saing perekonomian lokal.Dari sisi pemda. dana alokasi khusus) dalam APBD.mimbar-opini. tidak sesuai dengan pagu pengajuan akibat keterbatasan dana perimbangan. namun rakyat secara menyeluruh akan menanggung bebannya. sehingga bukan tidak mungkin upaya pemulihan iklim investasi akan bersifat bottom-up dan tidak top-down seperti biasanya. Bila hal itu. kondisi itu akhirnya akan memaksa banyak daerah. Pada sisi lain. Salah satu contoh apa yang dilakukan pemerintah Kabupaten Tangerang yang mengeluarkan perda perizinan investasi yang komprehensif sebagai langkah dalam memperbaiki iklim investasi lokal. UU No. Bila melihat pemahaman UU No. 34/2000. sedangkan pemerintah kabupaten/kota tujuh pajak. Sumber : http://www. pemerintah pusat sebenarnya sudah melakukan antisipasi dengan memasukkan beberapa poin yang berkaitan langsung dengan perekonomian daerah dan iklim investasi daerah yang sudah diatur dalam UU No 32/2004. tiada lain untuk lebih memberdayakan pemda dalam proses perizinan investasi. karena adanya rasa tidak sehat dan lunturnya kesadaran wajib pajak. di mana sebagian besar kewenangan pelayanan publik diberikan kepada pemda.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=1438 .com/mod. terlihat kebanyakan daerah di Indonesia menggantungkan nasibnya terhadap besarnya alokasi dana perimbangan yang akan diberikan pemerintah pusat kepada pemda tersebut. 33/2004. yang jadi korban tidak hanya di sektor usaha.

alih-alih mengembangkan kreativitas dan menumbuhkan daya cipta. Kedua.”Kita hidup dalam sebuah ekonomi pengetahuan (knowledge economy) dan sebuah masyarakat berpengetahuan (knowledge society). sekadar untuk mencukupi biaya operasional. dan hanya mengajar siswa agar dapat lolos UN. sekadar mengikuti SKL dan SI yang sifatnya sentralistis. sebagaimana perilaku di balik logika kapitalis.Mengangkat kembali wacana kewirausahaan dan menggemakan lagi wacana link and match hanya akan merupakan kebijakan tambal sulam jika pemerintah tidak segera menyadari bahwa kebijakan pendidikan di tingkat dasar dan menengah.com/artikel-opini/1864pengangguran-intelektual. sekolah harus mampu menumbuhkan solidaritas dan empati pada komunitas yang mampu meredam perilaku tamak kapitalisme. Sumber : http://www. tetapi serentak gelojoh dalam memburu keuntungan dan kepentingan pribadi. kalau tidak. sebagai lembaga publik. Sayang.Pengangguran Intelektual Oleh : Andy Hargreaves Pengangguran intelektual akan tetap menjadi keniscayaan jika kebijakan politik pendidikan tuli terhadap kritikan dan buta terhadap realitas kehidupan.html . Juga tidak lahir motivasi internal mengajar dan belajar yang dibutuhkan bagi berkembangnya kreativitas dan inovasi. kebijakan pendidikan kita memosisikan guru dan siswa sekadar terampil menjawab soal pilihan ganda. ekonomi pengetahuan memelihara daya kreatif yang merusak.” (Andy Hargreaves. yang seharusnya membuka ruang dan kebebasan bagi terciptanya kreativitas. Sekolah dalam masyarakat berpengetahuan harus menciptakan kualitas ini. Pertama. Ia merangsang pertumbuhan dan kemakmuran. Sekolah semestinya mempersiapkan anak didik untuk keduanya. Alihalih mengembangkan misi solidaritas dan empati terhadap komunitas. Hampir tidak ada ruang bagi kebebasan dan pertumbuhan. diisi guru bergaji rendah. Usaha meraih mutu tinggi bagi pendidikan berubah menjadi obsesi kompulsif akan standardisasi. menumbuhkan kemampuan memecahkan persoalan dan menanggapi masalah baru secara cerdas. masyarakat berpengetahuan mengarahkan dirinya demi kebaikan umum. Situasi ini diperparah banyaknya sekolah publik yang masih megapmegap. serta menghancurkan keteraturan sosial. lebih banyak mematikan kreativitas dan memandulkan daya cipta guru maupun siswa. Maka. masyarakat dan bangsa akan ditinggalkan.simpuldemokrasi. ekonomi pengetahuan pertama-tama melayani kebaikan individu. Namun. 2003) dua hal yang sering dilupakan dalam pembaruan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). sistem pendidikan kita tanpa disadari lebih suka memaksakan kurikulum manajemen mikro secara seragam. Ekonomi pengetahuan bertumbuh karena adanya kreativitas dan kemampuan mencipta yang memungkinkan pemecahan masalah secara cerdas (ingenuity). yang menjadi fondasi kualitas pendidikan tinggi. tetap terpasung dalam rubrik Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) yang sifatnya sentralistis.

Juga di televisi. minum champagne. yang akan merangsang tingkat konsumerisme orang miskin di desa-desa. pakar Ekonomi Pertanian dari UGM yang selama ini getol ngomong soal kemiskinan. semua itu bisnis. pendapat. Misalnya soal SDSB. di hotel berbintang yang prestisius. maka sampai tulisan ini saya buat sudah ada sekitar 250 berita. Ini sebuah fakta. Jadi jalan-jalan tol yang sudah ada dan yang baru rencana tidak takut sepi. Orang Indonesia pakai air. Kalau dulu mata lebih diarahkan ke lembaga dana luar negeri. Deregulasi otomotif juga sangat atraktif. Bukan masalah benar. dan seminar dengan tema kemiskinan di kota Jakata. tajuk dan artikel tentang kemiskinan. artikel. Sumber : http://baltyra. Semua diberi honor. Urusan satu ini jelas lebih meyusahkan orang miskin daripada mengentaskannya. Beberapa oportunis langsung mendirikan yayasan penanggulangan kemiskinan dengan ketua para ibu atau mantan pejabat. Ketika Ethiopia dan Somalia yang miskin itu kelaparan. Semua itu dimuat media pers di Indonesia. direkrut masuk Bapenas dengan tugas mengentaskan orang miskin. dan honor itu untuk yang nulis. sarasehan. orang bisa bermacam sikap. Ada yang menganggapnya biasa-biasa saja. Sekarang orang boleh membeli sedan mewah built up. Orang Kubu dan Lembah Baliem sama juga tidak perlu koran. Misalnya menghadapi laporan UNDP barusan. Apakah tingkat penggunaan kertas itu relevan untuk mengukur kesejahteraan orang Indonesia? Mereka cebok pakai tisu. Rahardi Sunday Sejak pemerintah melansir sebuah istilah “Pengentasan Kemiskinan”. Sejak Presiden Soeharto dalam pidatonya menyebut masih ada 27 juta orang miskin dan itu perlu dientaskan.com/2011/06/05/bisnis-kemiskinan-yang-tidakfair/ . Beberapa kebijakan pemerintah selama ini saya nilai justru agak kontradiktif dengan program pengentasan kemiskinan. Beberapa tokoh LSM seperti terjaga dari tidur siangnya. Tempatnya tak tanggung-tanggung. Kemudian iklan di tv. tidur di hotel. Mereka naik pesawat. Saya sendiri juga tidak pernah punya masalah tinggal di rumah yang tidak ada teleponnya. Dan bea masuknya juga sudah digetok tinggi 200 dan 300 persen. Semua itu bisnis agar penonton tv di dunia bisa menikmati kemiskinan sambil ngemil kacang goreng. buku. polemik. makan steak. diskusi. kini mulai dilirik potensi dana dari negeri sendiri. Kemudian Prof Mubyato.Tapi di lain pihak ada yang justru memandang kemiskinan sebagai obyek bisnis seminar. Namun apakah pajak tinggi ini otomatis akan dinikmati orang miskin? Misalnya dalam bentuk peningkatan jumlah dan variasi angkutan massal? Menghadapi kemiskinan di Indonesia. sarasehan.Bisnis Kemiskinan Yang Tidak Fair Oleh : F. CNN mengirim wartawan dan kameramennya yang tangguh. sudah ada hampir sepuluh kali diskusi. Calon konsumen yang suka menggelinding di sana sudah dirancang. Bukan untuk yang ditulis.

Kegiatan eksplorasi sumber-sumber minyak dan gas membutuhkan teknologi tinggi dan investasi yang cukup besar. berdasarkan potensi-potensi yang dimilikinya. baik sumber daya alam. Membangun kemandirian ekonomi lokal dapat ditempuh melalui pembangunan lokal (local development) yang bertumpu pada pemberdayaan penduduk setempat berbasis komunitas. Paradigma seperti di atas terbukti tidak sepenuhnya benar. Sehingga tidak heran bila seringkali kegiatan untuk menarik investor menjadi fokus utama suatu daerah. kelembagaan. Bagi pemerintah. kewiraswastaan pendidikan tinggi. dimana titik sentralnya adalah mengorganisasi serta mentransformasi potensi-potensi ini menjadi penggerak bagi pembangunan lokal . dimana penduduk sekitar sedikit sekali bisa menikmati keuntungan dari kegiatan investasi dari luar yang beroperasi di lingkungannya. Sementara revitalisasi industri perikanan di Teluk Tomini kabarnya diarahkan untuk membuka peluang bagi investor luar untuk menanamkan modal dan peralatan canggihnya. dan tidak sebanding dengan kerugian yang mereka peroleh akibat hancurnya ekosistem lingkungan tempat tinggalnya. Investasi modal pun tidak selamanya berkorelasi positif dengan kesejahteraan rakyat di wilayah bersangkutan. asosiasi profesi maupun lainnya Hal ini harus dilakukan pada skala yang kecil (skala komunitas). Namun pemerintah daerah harus lebih peka terhadap kemungkinan munculnya ekses-ekses negatif dari sebuah investasi dari luar. Pemerintah daerah perlu menyadari bahwa masyarakat sekarang sudah lebih berani dan kritis dalam menyuarakan kepentingan dan hak-haknya. karena bagaimanapun tetap diperlukan sebagai salah satu faktor yang menjadi elemen penggerak perekonomian wilayah. Bahkan investasi yang tidak memiliki keterkaitan kuat dengan perekonomian penduduk setempat terbukti sangat rentan terhadap krisis dan hal ini sangat riskan bagi suatu daerah. Investasi dari luar wilayah bukan merupakan satu-satunya kunci berjalannya roda ekonomi suatu wilayah. geografis. Bahkan banyak rencana pengembangan kota dan wilayah yang harus dikorbankan demi kepentingan investor. Namun dengan segala kekurangannya. Pembangunan Lokal (Local Development).Investasi dan Kemandirian Ekonomi Lokal Oleh : Henry A Baso Pengembangan industri minyak dan gas (migas) serta perikanan seperti yang dipaparkan diatas sedikit banyak akan berkaitan dengan kegiatan investasi dengan skala cukup besar. diartikan sebagai penumbuhan suatu lokalitas secara sosial-ekonomi dengan lebih mandiri.Pemerintah dan para pengkritisinya memang seringkali memiliki pandangan yang berbeda mengenai investasi dari luar. Bahkan pemahaman ini pun masih menjadi pandangan umum bagi sebagian pengambil keputusan di negara kita sampai saat ini. terutama selama pemerintahan orde lama yang sangat sentralistik. sehingga potensi konflik akan semakin besar jika investasi yang masuk berdampak buruk bagi penduduk sekitarnya atau jika menuai ketimpangan sosial ekonomi antara aktifitas investasi dengan penduduk di sekitarnya. investasi dari luar suatu wilayah dipahami sebagai penggerak utama perekonomian suatu daerah. Beberapa contoh di daerah lain seperti di lokasi pertambangan di Irian Jaya. tidak berarti investasi dari luar kita tolak.

Tuntutan partisipasi dan keadilan dari masyarakat menjadi issue besar dan penting yang saat ini menjadi perhatian sekaligus pekerjaan rumah bagi pemerintah baik pusat maupun daerah. dll yang biasanya lebih mengenal karakteristik masyarakat setempat dan tentunya telah mendapat kepercayaan dari masyarakat.or. pengembangan keahlian dan pengetahuan bisini maupun memberikan kesempatan bagi penduduk sekitar untuk terlibat langsung dalam aktifitas mereka. Dukungan penuh dari pemerintah terutama dalam bentuk regulasi serta keuangan menjadi salah satu kunci penting keberhasilan program kemandirian lokal ini. Karena itu untuk mensupport tugas pemerintah tadi. diperlukan dukungan pendampingan dan supervisi dari pihak ketiga seperti lembaga swadaya masyarakat. Namun perlu disadari bahwa pemerintah juga memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan juga kebijakan-kebijakan pemerintah seringkali bersifat general dan lebih ditujukan sebagai guidelines.Secara formal adalah kewajiban pemerintah untuk mendukung dan meniscayakan kekuatan-kekuatan tersebut.pdf . Selain dukungan pemerintah dan LSM. dimana pihak investor harus menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu kesejahteraan penduduk sekitar. investor seharusnya juga memiliki kesadaran bahwa investasi sosial juga penting untuk melanggengkan hubungan mereka dengan masyarakat sekitar yang pada akhirnya juga akan menjamin kelangsungan usahanya. Peran dan goodwill dari pemerintah sebagai regulator dan decision maker untuk tetap berpihak kepada peningkatkan kesejahteraan penduduk akan sangat dibutuhkan. Terlepas dari beban kewajiban itu. Bentuknya bisa berupa bantuan keuangan. Padahal untuk mendukung kemandirian komunitas-komuintas yang ada di masyarakat yang majemuk. filosofi dari pembangunan lokal sangat cocok dengan iklim sosial politik yang sedang berkembang di masyarakat. Dalam ilmu analisa dampak pembangunan hal ini dikenal dengan social impact analysis. Di negara kita yang sedang dalam transisi demokrasi dan otonomi. Dengan begitu diharapkan investasi dari luar yang masuk untuk mengeksplorasi kekayaan alam di sulawesi tengah dapat betul-betul dinikmati oleh masyarakatnya sendiri. diperlukan policy dan program yang lebih detail dan spesifik. Sumber : http://ypeduli.id/pdf/Opini-Desa/investasi-dan-kemandirianekonomi-lokal. pihak investor sendiri seharusnya memiliki kewajiban untuk membantu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya sebagai kompensasi dari keuntungan yang mereka peroleh dari kegiatan usaha mereka di lokasi tersebut.

jalan raya dan pembangkit listrik.co. Elmus Wicker. Ironisnya. kebanyakan analisis masih lebih terfokus pada ketidakdisiplinan fiscal dan mengabaikan terhadap pentingnya sistem pembayaran.Demi Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Oleh: Mirza Adityaswara Evaluasi perekonomian dunia akhir 2010 menyimpulkan. alokasi. dan jaring pengaman.investor. tapi dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi. termasuk sistem pembayaran yang sudah dianggap sebagai “milik publik”. dan menurut Milton Fredman. Faktanya semua sistem pembayaran sebetulnya merupakan kuasi barang publik. Jadi. Sumber : http://www. Hal ini penting dipahami karena keuangan publik memiliki fungsi yang sangat luas. penerimaan negara (baik pusat dan atau daerah). Makanya. Dalam konteks ini. investasi sistem pembayaran boleh saja dilakukan oleh bank sentral yang independen sekalipun tidak melalui anggaran pemerintah sifatnya tetap sebagai barang publik. upaya mengatasi depresi ekonomi sangatlah tidak cukup dengan efektifitas kebijakan moneter. kebijakan fiskal jauh lebih efektif dalam mengatasi depresi ekonomi daripada kebijakan moneter. distribusi. Selama ini kebanyakan analisis hanya berkutat dengan masalah ketidakdisiplinan fiskal sebagai penyebab kegagalan keuangan public dalam menopang pembangunan. distribusi. Investasi diarahkan kepada pelabuhan. Peran Sistem Pembayaran Pengucuran keuangan keuangan publik dalam berbagai kegiatan pembangunan tentu saja akan mempengaruhi permintaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi. hal itu sangat tergantung pada kebijakan keuangan publik dan system pembayaran. Masalahnya. dalam rangka akumulasi. meliputi pengeluaran atau belanja Negara (baik pusat maupun daerah). mirip jalan tol yang dikenakan tarif. Kelebihan Tiongkok adalah pada pembangunan barang publik. Begitu pula keuangan publik bergulir bersamaan jalannya aktivitas pemerintah dalam melaksanakan pelayanan publik dan menyejahterakan masyarakat publik. dalam Journal of Political Economy (1965) bahkan meyakini.serta dampak pengeluaran atau belanja negara dan penerimaan Negara terhadap kehidupan masyarakat. Ini tidak berlaku bagi India yang lebih mementingkan investasi sektor infrastruktur publik dan sistem pembayaran. tapi tidak melihat keterkaitan antara stabilitas ekonomi dan sistem pembayaran. investasi bagi sistem pembayaran tampaknya berada di luar skenario tersebut. termasuk stabilitas kesempatan kerja yang tinggi dan pengendalian terhadap inflasi. Tiongkok sudah lebih maju dari negaranegara lain di dunia. kegagalan pengelolaan keuangan publik dalam menopang pembangunan berkelanjutan masih menjadi kisah klasik. dan stabilisasi dari keuangan publik dapat dipenuhi secara serentak? Berdasarkan pandangan ini berarti semua orang berhak menikmati manfaat dari sistem pembayaran tersebut. Makanya tak heran bila keuangan publik menjadi instrumen penting dalam mempertahankan stabilitas ekonomi. bagaimana melaksanakan kebijakan fiskal sehingga fungsi alokasi. Dengan demikian ruang lingkup keuangan publik pun sangat luas. Ini terjadi karena kebijakan moneter selalu terkendala regulasi perbankan. Namun.id/opini/stabilitas-ekonomi-dan-perankeuangan-publik/2561 . stabilisasi. bank sentral umumnya bermain dalam lahan ini.Jadi.

7 ribu kl per hari menjadi 31. Aburizal mengatakan.mimbar-opini.9 ribu kl per hari pada periode bulan. sedangkan minyak tanah dikendalikan dari 31. Penjualan BBM pada tahun 2005 menunjukkan kecenderungan peningkatan signifikan hingga 15 persen.Pemerintah Jamin Kenaikan Inflasi Oleh : Aburizal Pemerintah akan menggunakan semua kebijakan untuk dapat menahan dampak terhadap kenaikan harga makanan pokok akibat kenaikan harga BBM. Kenaikan penjualan BBM Pertamina yang diungkapkan juru bicara Pertamina. M Harun menunjukkan secara nasional untuk semua jenis BBM meningkat dari 165. Mengenai proses konsultasi dengan DPR. Sumber : http://www. Peningkatan tertinggi terjadi pada bahan bakar jenis Solar dari 65.com/mod.6 ribu kl per hari menjadi 18. Dengan demikian. Minyak bakar juga meningkatan dari 17. Jenis Premium meningkat dari 40. Pemerintah akan menggunakan semua kebijakan yang dapat menahan dampak terhadap kenaikan harga makanan pokok.8 ribu kl per hari menjadi 81. inflasi tahunannya telah disepakati hanya akan mencapai tujuh persen.1 kl per hari.8 kl per hari. Menteri kenaikan Koordinator inflasi yang Perekonomian Bakrie menjamin diakibatkan kenaikan harga BBM hanya akan berkisar 1-1. salah satunya dengan Aburizal operasi pasar.5 persen. Pemerintah telah melakukan sopan santun politik dengan membicarakan terlebih dahulu masalah kenaikan BBM dengan DPR RI.1 ribu kilo liter (kl) per hari pada Februari 2004 menjadi 189. salah satunya dengan operasi pasar.1 kl per hari menjadi 45. itu merupakan bagian dari demokrasi.7 kl per hari pada Februari 2005.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=253 .4 ribu kl per hari pada Februari 2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->