P. 1
Dasar Teori Distribusi

Dasar Teori Distribusi

|Views: 125|Likes:
Published by lulallulul

More info:

Published by: lulallulul on May 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2013

pdf

text

original

Menurut hukum distribusi Nerst, bila ke dalam kedua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang

dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Dalam praktek solutakan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah di kocok dan dibiarkan terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi. Koefisien distribusi dinyatakan dengan berbagai rumus sebagai berikut(Soebagio. 2002): KD = C2/C1 atau KD = Co/Ca Jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tak dapat saling bercampur ditambahkan zat ketiga yang dapat melarut pada keduanya maka zat ketiga akan terdistribusi diantara ke dua fasa tadi dalam jumlah tertentu. Bila larutan jenuh I2 dalam CHCl3 dikocok dalam air yang tidak larut dalam CHCl3, maka I2 akan terbagi dalam air dan dalam CHCl3. Setelah tercapai kesetimbangan perbandingan konsentrasi I2 dalam air dan CHCl3pada temperatur tetap juga tetap, kenyataan ini merupakan akibat langsung hukum termodinamika pada kesetimbangan(Basset,dkk,1994 ). Jika tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau polimerisasi pada fase-fase tersebut dan keadaan yang kita punya adalah ideal, maka harga KD sama dengan D. untuk tujuan praktis sebagai ganti harga KD atau D, lebih sering digunakan istilah persen ekstraksi (E). ini berhubungan dengan perbandingan distribusi dalam persamaan sebagai berikut(Khopkar,2008): D = (Vw/Vo E)/(100-E) , dimana Vw = volume fase air, Vo = volume fase organik Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut antaradua pelarut yang tidak saling campur, maka pada suatu temperatur yang konstanuntuk setiap spesi molekul terdapat angka banding distribusi ini tidak tergantunngpada spesi molekul yang lain. Harga angka banding berubah dengan sifat dasarpelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur (Svehla,1990)

Dalam kesetimbangan kimia, jika tekanan diperbesar sama volume diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser kearah jumlah koefisien-koefisien yang lebih kecil, dan jika tekanan diperkecil sama volume diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser kearah jumlah koefisien-koefisien gas yang lebih besar

ekstraksi pelarut Adalah teknik pemisahan dimana larutan konstituen dalam air. dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. 1990). Secara umum ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut.Apabila kedua pelarut yang berbeda kepolaran dalam kelarutan dicampurkan maka mereka tidak akan bisa bercampur. Kimia Fisik. Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa tidak tercampurk an a dan b. Pelarut umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti CHCl3. Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik). ekstraksi Sederhana Dilakukan dengan merendam bahan dalam pelarut dimana zat yang diinginkan dapat melarutkan kemudian setelah beberapa waktu larutan dipisahkan dari ampasnya. Dalam hal ini zat antara merupakan suatu zat yang dapat bercampur dalam keadaan polar apabila dilarutkan dalam suatu pelarut polar dan juga dapat bercampur apabila dilarutkan dalam pelarut nonpolar (Svehla. Ekstraksi meliputi distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang tidak dapat campur. ada dua macam ekstraksi. Berdasarkan perlakuan terhadap pelarut yang digunakan. 1989. 2. Ekstraksi Ekstraksi adalah distiribusi solut antara dua solven yang tidak bercampur. di biarkan berhubungan dengan pelarut lain (pelarut organik) dengan syarat bahwa pelarut kedua ini tidak bercampur dengan pelarut pertama( Soekardjo. hukum distribusi (atau partisi) Nernst menyatakan bahwa asal keadaan molekulnya sama dalam kedua cairan dan temperatur adalah konstan(Basset. asam-asam dan bas a-basa yang dapat larut dalam air bisa dipisahkan . Garam anorganik. 1994). Suatu dasar agar solute dapat terekstrak dari fasa air ke fasa organic adalah suatu solute tersebut harus menjadi tidak bermuatan (Soebagio. Jakarta: PT Rineka Cipta. Diperlukannya suatu zat perantara untuk dapat membuat pelarut berbeda kepolaran tersebut bercampur. yaitu : 1. 41). 2002 . yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang pertama.dkk. eter atau pentana.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2013. G.Fmipa uns .surakarta. 1997. Jakarta. 2. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Petunjuk praktikum kimia fisika i. N. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro . 2001). Jakarta: PT Rineka Cipta. Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Arsyad. Konsep Dasar Kimia Analitik. 2008.PT. 1989. 1990. Arsyad. Jakarta. Kimia Fisik. Kalman Media Pustaka. 3. . dkk. J. 2002. Malang : Universitas Negeri Malang.Gramedia. 7. 5. Basset. M. 6. 1994. Soebagio. Soekardjo.dengan baik melalui ekstraksi ke dalam air dari pelarut yang kurang polar. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. M. Jakarta. Tim kimia fisika i. Jakarta : UI Press 4. Khopkar. Svehla. Kimia Analitik II (JICA). Jakarta. 1. 1990. S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->