VISI (2009) 17 (3) 331 - 343 ANALISA YURIDIS HUBUNGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT (DPR) DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH

(DPD) DALAM FUNGSI LEGISLASI Janpatar Simamora ABSTRACT
One of important aspect in transition process of Indonesia to achieve the true cemocracy is the constitution change of UUD 1945 Acts. The most important of this change is found the DPD. Since the constitution change, the parliament system in Indonesia has been changed from unicameral to bicameral. However, this system does not show the balance of responsibility and authority between DPD and DPR. This paper will discuss all of circumtances and implications of legislation functions related to consititution change. ------------Keywords: parliament, bicameral systeml, legislation.

I.

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Sebuah aspek penting dalam proses transisi Indonesia menuju demokrasi adalah reformasi di bidang ketatanegaraan yang dijalankan melalui perubahan konstitusi Indonesia, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Salah satu perubahan penting adalah dibentuknya sebuah lembaga negara baru yang bernama Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sejak perubahan itu, maka system perwakilan dan parlemen di Indonesia berubah dari sistem unikameral ke sitem bikameral. Lahirnya DPD yang merupakan salah satu hasil amandemen ketiga UUD 1945 awalnya diharapkan akan dapat menciptakan prinsip check and balances di parlemen. Oleh sebab itu, maka DPD pun dilengkapi dengan sejumlah kewenangan. Dalam bidang legislasi, DPD memiliki kewenangan mengajukan rancangan undang-undang (RUU) yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Sumber hukum lain yang mengatur DPD adalah UU No 22/2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU Susduk). UU ini hanya menyebutkan dua fungsi DPD, yaitu 1) pengajuan usul, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu, 2) pengawasan atas pelaksanaan undang- undang tertentu. DPR merupakan lembaga perwakilan berdasarkan aspirasi dan paham politik rakyat sebagai pemegang kedaulatan rakyat, sedangkan DPD merupakan penyalur keanekaragaman aspirasi daerah/wilayah. Sistem perwakilan yang dianut 75

_____________
ISSN 0853 - 0203

serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Setelah DPR dituding tidak pernah melibatkan DPD dalam penyusunan Program Legislasi Nasiona (Prolegnas). Dalam pemahaman ini DPD memiliki posisi kelembagaan yang seimbang dengan DPR. tampak bahwa DPD hanya menjadi "subordinat" dari DPR. Kelemahan wewenang ini juga akan membuat kekuatan legitimasi para anggota DPD yang lebih kuat bila dibandingkan anggota DPR tidak akan mendorong terjadinya keseimbangan dalam lembaga perwakilan Indonesia. hubungan pusat dan daerah. DPD juga diberi sedikit peranan dalam pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan. dan dalam perubahan Undang-undang No. tugas. Lemahnya fungsi. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU No. tetap saja fungsi. tugas. Perasaan dilemahkan tersebut sesungguhnya muncul dari kesadaran bahwa sesungguhnya DPR dan DPD adalah dua lembaga negara yang sejajar. seperti terungkap pada UUD 1945 Pasal 22D. Di situ diatur bahwa DPD "dapat mengajukan" kepada DPR dan "ikut membahas" RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah. Dengan legitimasi yang lebih kuat karena dipilih langsung oleh rakyat. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. karena fungsinya hanya memberi pertimbangan kepada DPR. Setelah perubahan UUD 1945 itu sebetulnya kritik dari berbagai kalangan segera mengalir deras terhadap kerdilnya fungsi. pendeknya. Namun. dan kewenangan DPD membawa akibat pada hubungan DPR dan DPD yang semakin lama terlihat semakin tidak harmonis. kepentingan. Dari sisi fungsi. bahwa dalam hubungan antara DPR dan DPD. kenyataan bahwa DPD hanya diberikan wewenang yang terbatas mengakibatkan muncul reaksireaksi seperti saat ini.343 Indonesia tersebut merupakan sistem khas Indonesia karena dibentuk sebagai perwujudan kebutuhan. DPD kembali merasa dilemahkan dengan posisinya yang disejajarkan dengan fraksi. Kehadiran DPD membuat sistem politik Indonesia menjadi lengkap. kedudukan DPD sangat lemah. Keterwakilan rakyat melalui partai politik (parpol) yang menjelma menjadi DPR dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). UUD 1945 dan UU Susduk justru memberikan kewenangan minimal kepada DPD. 12 Tahun 2008. dan kewenangan DPD itu. Kewenangan DPD yang cukup lemah bila dibandingkan DPR akan menimbulkan kesulitan sendiri bagi DPD untuk menjalankan fungsinya dalam menjaga hubungan pusat dan daerah yang produktif. dan kewenangan DPD lebih rendah dari DPR. tugas. Selain itu.VISI (2009) 17 (3) 331 . komisi. dan kewenangan. dan tantangan bangsa dan negara Indonesia. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. Dalam sistem politik di Indonesia ada dua macam bentuk keterwakilan. dan alat kelengkapan DPR dalam penyusunan Prolegnas. Jadi. pengangkatan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). tugas. peranannya hanya memberi pertimbangan kepada DPR. 76 _____________ ISSN 0853 . ada juga keterwakilan geopolitik atau teritorial yang mewujud dalam DPD.0203 . Seperti yang dikemukakan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH. Akan tetapi.

3.VISI (2009) 17 (3) 331 . namun tidak bagi DPD (lihat UU No.343 Sebenarnya dalam parlemen sistem dua kamar murni ( strong bicameralism) kedua kamar diberi tugas dan wewenang menetapkan undang-undang. Hal ini semakin memperlihatkan betapa peran DPD dalam bidang legislasi kurang diperhitungkan. dapat dikatakan UUD 1945 menganut sistem bikameralisme yang sederhana atau lemah (soft bicameralism). Rumusan Masalah Dengan berpijak pada latar belakang tersebut di atas. Artinya setiap rancangan undang-undang yang telah disetujui oleh DPR (sebagai Majelis Rendah) harus dibahas lebih lanjut dalam kamar kedua (sebagai Majelis Tinggi). maka dalam penulisan ini beberapa permasalahan yang dijadikan acuan dan sekaligus pokok bahasan penulisan adalah sebagai berikut : a. Yamin dalam sidang BPUPKI 29 Mei 1945. Dengan demikian. Majelis Tinggi tidak mempunyai hak amandemen. Dalam masa pendirian republik ini pun. Piliang dalam sebuah buku yang diterbitkan DPD. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bisa dikatakan ibarat “bayi” yang baru lahir dan masih harus mendapat perhatian yang lebih khusus. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan). Padahal. Tinjauan Pustaka Sejarah Singkat lahirnya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bila dibandingkan dengan DPR yang lahir sejak 1918 (dulu bernama Volksraad). Dikatakannya: Kekuasaan yang dipegang oleh permusyawaratan oleh seluruh 77 _____________ ISSN 0853 . DPD tidak diikutsertakan dalam pembahasannya. menerima seluruhnya atau menolak seluruhnya RUU yang telah disetujui oleh DPR. untuk Prolegnas tahun 2004-2009. adanya perwakilan daerah juga dibahas. Dicatat oleh Indra J. Hal ini bisa dilihat dari diperbolehkannya DPR dan Pemerintah mengajukan RUU di luar Prolegnas. 2. bahwa pemikiran ini lahir pertama kali dalam konferensi GAPI pada 31 Januari 1941. Bagaimana Peranan DPD dalam menjalankan fungsi legislasi ? I. Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH berpendapat DPD bukanlah lembaga legislatif yang bersifat tersendiri. Bagaimana hubungan DPR dan DPD sebagai lembaga legislative dalam merancang Undang-Undang di Indonesia ? b. Salah satu pandangan yang penting untuk dicatat dalam rapat perumusan UUD 1945 oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah pandangan Moh. Karena fungsinya yang jauh lebih lemah itulah maka sejauh mengenai wacana bikameralisme. Majelis tinggi ini kemudian memutuskan. Sementara itu. 1. Dalam kaitannya dengan Prolegnas. kalau Majelis Rendah mempunyai hak amandemen. sesungguhnya pengerdilan DPD juga sudah terasa. bukan bikameralisme yang kuat (strong bicameralism) Masalah lain dalam bidang legislasi adalah terkait dengan Prolegnas.0203 . Namun gagasan mengenai pentingnya suatu dewan yang mewakili daerah di parlemen nasional sesungguhnya dapat dilacak sejak sebelum kemerdekaan.

untuk melengkapi data guna menjawab dan pada gilirannya untuk menggambarkan secara utuh tentang hubungan DPD dan DPR dalam menjalankan fungsi legislasinya. Jadi ada dua syaratnya. maka data dimaksud dihimpun melalui studi kepustakaan (library resarch) yaitu data dikumpulkan dari bukubuku. “utusan daerah” kembali hadir. Masa transisi ini ada karena UUDS 1950. Penelitian merupakan langkah penting bagi setiap penulisan laporan ilmiah seperti 78 _____________ ISSN 0853 . terdapat Senat Republik Indonesia Serikat yang mewakili negara bagian dan bekerja bersisian dengan DPR-RIS. dalam UUD Republik Indonesia Serikat (RIS). dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU Susduk). adanya Senat dalam UUDS 1950 hanya diberlakukan selagi Pemilu yang direncanakan belum terlaksana (terlaksana pada 1955). II. Kepada Majelis Presiden bertanggung jawab. surat kabar. yang bersanding dengan “utusan golongan” dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). selama masa transisi berlangsung. 7 Tahun 1950) tetap mengakomodasi Senat yang sudah ada itu. Namun banyak persoalan mengemuka dalam konsep ini. Dewan Perwakilan Daerah. dianalisis dan diolah secara kualitatif. Perkembangan pemikiran yang signifikan kemudian muncul pada pembahasan amandemen UUD 1945 pada 1999-2002. Setelah data dikumpulkan kemudian dilakukan klasifikasi sesuai dengan pokok permasalahan yang ada. UUD Sementara (UUDS) 1950 (Undang-Undang No. majalah-majalah. Majelis Permusyawaratan juga meliputi segala anggota Dewan Perwakilan Rakyat. sewaktu amandemen ketiga UUD ditetapkan. di dalam UUD 1945 pentingnya keberadaan perwakilan daerah di parlemen diakomodasi dalam konsep “utusan daerah” di dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam periode konstitusi berikutnya. Selanjutnya. yang dipilih dengan bebas dan merdeka oleh rakyat dengan suara terbanyak. yang dibuat untuk menghentikan federalisme ini. Sejak UUD 1945 diberlakukan kembali melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dalam sistem perwakilan UUDS itu sendiri. METODE PENELITIAN Dalam penulisan karya ilmiah ini. Maka. penting untuk dicatat.343 rakyat Indonesia diduduki. Sehingga DPD yang ada sekarang lahir secara legal formal pada 2001. Senat ditiadakan karena bentuk negara tidak lagi federal. dan disampaikan secara sistematis dalam bentuk tulisan yang mudah dimengerti.VISI (2009) 17 (3) 331 . tetapi semata-mata pula oleh wakil golongan atau rakyat Indonesia seluruhnya. Selanjutnya konsep ini diturunkan dalam UU No. hasil penelitian dan peraturan perundangundangan yang berlaku dalam kaitannya dengan kewenangan dan hubungan DPD dan DPR serta dokumen-dokumen lain yang relevan dalam penulisan ini. secara khusus mengamanatkan adanya pemilihan umum (Pemilu) dan pemilihan anggota Konstituante untuk membuat UUD yang definitif yang akan menjadi landasan bentuk dan pola baru pemerintahan Indonesia.0203 . yaitu wakil daerah dan wakil golongan langsung daripada rakyat Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat. Karena itulah. tidak saja oleh wakil daerah-daerah Indonesia. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Badan-badan ini adalah Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi (PPPDI) yang bertugas melakukan penelitian atas substansi RUU dan tim perancang sekretariat DPR yang menuangkan hasil penelitian tersebut menjadi sebuah rancangan undang-undang. Di samping itu ada beberapa badan lain yang secara fungsional memiliki kewenangan untuk mempersiapkan sebuah RUU yang akan menjadi usul inisiatif DPR. III. pengundangan dan penyebarluasan. Pada dasarnya proses pembuatan UU setelah berlakunya UU tersebut terbagi menjadi beberapa tahapan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 3. Pada tahun 2000. Bagaimanakah prosedur rincinya? Pertama adalah perencanaan. Undang-Undang ini disahkan oleh Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 24 Mei 2004. juga bekerjasama dengan berbagai universitas di beberapa daerah di Indonesia. hanya saja belum diatur lebih lanjut akan dituangkan dalam bentuk apa.343 halnya dalam bentuk tulisan ilmiah ini. Sebagai ilustrasi. Dalam UU PPP. Dengan dukungan data penelitian hasilnya akan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan kebenarannyapun dapat pula dipertanggung jawabkan. Prolegnas merupakan bagian dari Program Pembangunan Nasional (Propenas) yang dituangkan dalam bentuk UU. Proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Sejak bulan November 2004. RUU Komisi Anti Korupsi dipersiapkan oleh Fraksi PPP. karena akan didukung dengan data yang akurat serta faktual. perumusan. Dalam menjalankan fungsi sebagai penggodok RUU. teknik penyusunan.1. akan tetapi baru berlaku efektif pada November 2004.VISI (2009) 17 (3) 331 .0203 . di samping melakukan sendiri penelitian atas beberapa rancangan undang-undang. perencanaan juga diwadahi dalam Prolegnas. yaitu UU No. baik Baleg maupun tim ahli dari fraksi memiliki mekanisme sendiri-sendiri. pengesahan. ada beberapa badan yang biasanya melakukan proses penyiapan suatu RUU. Baleg misalnya. proses pembuatan undang-undang yang selama ini dinaungi oleh beberapa peraturan kini mengacu pada satu undangundang (UU) yaitu Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. pembahasan. Untuk satu RUU biasanya Baleg akan meminta tiga universitas untuk melakukan 79 _____________ ISSN 0853 . sedangkan pada RUU Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (TCP3) dipersiapkan oleh tim asistensi Baleg (Badan Legislasi). 20 Tahun 2000. Proses ini diwadahi oleh suatu program yang bernama Program Legislasi Nasional (Prolegnas). yaitu perencanaan. Sedangkan ketentuan tentang tata cara penyusunan dan pengelolaan Prolegnas diatur dengan Peraturan Presiden (Perpres). persiapan. Perencanaan merupakan proses dimana DPR dan Pemerintah menyusun rencana dan skala prioritas UU yang akan dibuat oleh DPR dalam suatu periode tertentu. RUU dari DPR Sebelum sampai pada usul inisiatif DPR.

Hanya saja saringannya ada pada. Selanjutnya pimpinan PPU akan menyampaikan Usul RUU atau Usul Pembentukan RUU kepada pimpinan DPD. Untuk merancang sebuah RUU mereka menyerahkan kepada individu atau panitia yang akan mengusulkannya. Di awal masa jabatan ini. Usul RUU atau Usul Pembentukan RUU yang telah disetujui menjadi usul DPD selanjutnya di ajukan kepada pimpinan DPR.0203 . Mekanisme Kerja DPR dan DPD dalam Bidang Legislasi Dilihat dari pelaksanaan wewenang DPD dalam bidang legislasi yaitu berupa pengajuan usul. 3. Keputusan untuk menerima atau menolak harus terlebih dahulu memberi kesempatan kepada pengusul untuk memberi penjelasan. Sedangkan Usul Pembentukan RUU dapat diajukan oleh sekurang-kurangnya ¼ jumlah anggota DPD. Usul pembentukan RUU harus dilengkapi dengan latar belakang. RUU tentang Kewarganegaraan dari GANDI (Gerakan Anti Diskriminasi) dan RUU Ketenagakerjaan dari Kopbumi. Pada tingkat fraksi penyusunan sebuah RUU dimulai dari adanya amanat muktamar partai. DPD sedang dalam masa untuk membangun sistem perancangan dan pembahasan RUU yang baik dan efektif. DPD menugaskan PPU untuk membahas dan menyempurnakan Usul RUU atau Usul Pembentukan RUU tersebut. misalnya RUU tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dari ICEL (Indonesian Center for Enviromental Law).2. Rapat Paripurna DPD yang akan mengesahkan apakah sebuah RUU bisa atau tidak diajukan menjadi usul DPD kepada DPR. Apabila Usul RUU atau Usul Pembentukan RUU diterima dengan perbaikan maka. karena terkesan tidak terafiliasi dengan partai apapun. Baik Usul RUU maupun Usul Pembentukan RUU disampaikan kepada PPU. ditolak atau diterima dengan perubahan. nama provinsi dan tanda tangan pengusul. DPD banyak mengadopsi sistem yang dipakai oleh DPR.VISI (2009) 17 (3) 331 . Pada sidang paripurna DPD berikutnya pimpinan sidang harus memberitahukan kepada anggota tentang masuknya Usul RUU atau Usul Pembentukan RUU. pintu masuk suatu usulan mungkin lebih terlihat "netral" bila melalui Baleg ketimbang melalui fraksi. Bagi masyarakat sipil. tujuan dan pokok-pokok pikiran serta daftar nama. Kemudian fraksi tersebut membentuk tim pakar yang merancang RUU tersebut berdasarkan masukan masyarakat melalui DPP maupun DPD partai. RUU dari DPD Sebagai lembaga legislatif baru. ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan. Sidang Paripurna memutuskan apakah Usul RUU atau Usul Pembentukan RUU tersebut diterima. dilakukan melalui: 80 _____________ ISSN 0853 . yang selanjutnya harus dibagikan kepada seluruh anggota. Baleg juga banyak mendapatkan draft RUU dari masyarakat sipil.343 penelitian dan sosialisasi atas hasil penelitian tersebut. Usul RUU boleh diusulkan oleh Panitia Perancang Undang-undang (PPU) atau Panitia Ad Hoc. anggota juga diberi kesempatan untuk memberikan pendapat.

dari segi batasan jumlah orang yang dapat hadir. dimana DPD menyampaikan pandangan dan pendapat (bersama dengan Fraksi-fraksi di DPR). Selanjutnya. Ketentuan tersebut adalah: Pasal 124 ayat (2). terhadap RUU tersebut Pimpinan DPR menyampaikannya kepada Pimpinan DPD. Jika ketentuan ini dimaksudkan demikian. Kedua. pertimbangan diberikan sebelum memasuki tahapan pembahasan antara DPR dan Pemerintah. Menurut mantan Ketua Badan Legislasi pada waktu itu (Zain Badjeber). Selanjutnya Pimpinan DPR menyampaikan surat pemberitahuan kepada Pimpinan DPD mengenai tanggal pengumuman. Selanjutnya hasil pembahasan dilaporan dalam Rapat Paripurna. Pertama. Terhadap ketentuan ini DPR sangat membatasi peran DPD. 3. Selanjutnya dilakukan ketentuan menurut Pasal 135 ayat (1) huruf a butir 1).343 1. Dalam kegiatan pengajuan usul. Jika RUU yang masuk ke DPR berasal dari DPR sendiri. Jika begitu. namun berkaitan dengan RUU yang menjadi wewenang DPD. 2. sebab dari tanggal inilah diketahui apakah DPR melanggar ketentuan dalam UU No. terhadap RUU tersebut Pimpinan DPR menyampaikannya dalam Rapat Paripurna dan mengumumkannya kepada Anggota DPR. Pembicaraan Tingkat I ini dilakukan bersama antara DPR. Sesungguhnya alasan teknis seperti ini tidak boleh menjadi kendala dalam pelaksanaan tugas konstitusional. pembahasan RUU ini dilakukan sebelum DPR membahas RUU dengan Pemerintah. Namun. Pasal 132. alat kelengkapan yang ditunjuk untuk membahas RUU tersebut mengundang alat kelengkapan DPD sebanyak-banyaknya 1/3 dari jumlah anggota alat kelengkapan DPR untuk membahas RUU tersebut. di sisi lain. dan pemerintah dalam hal penyampaian pandangan dan pendapat DPD atas RUU. Selanjutnya dilakukan ketentuan menurut Pasal 135 ayat (1) huruf a butir 2). DPD. dimana DPD menyampaikan pandangan dan pendapat (beserta dengan Presiden). Seandainya DPD tidak hadir. dibatasi hanya 1/3 dari jumlah anggota alat kelengkapan (sekitar 20 orang). terasa sekali bahwa peran DPD memang tidak strategis. Pada kegiatan ikut dalam pembahasan dilakukan pada awal Pembicaraan Tingkat I sesuai Peraturan Tatib DPR. batasan ini seharusnya ditiadakan. Oleh karena itu. DPR 81 _____________ ISSN 0853 . namun berkaitan dengan RUU yang menjadi wewenang DPD. alasannya adalah karena tempat (ruang rapat DPR) yang tidak memadai.VISI (2009) 17 (3) 331 . apakah berarti DPR dapat tetap melakukan pembahasan RUU. mengenai kewajiban hadir bagi DPD. Jika RUU yang masuk ke DPR berasal dari Presiden. Dalam Peraturan Tata Tertib DPR Tahun 2004 telah diatur mekanisme kerja DPR dan DPD dalam bidang legislasi. Pasal 128 ayat (9).0203 . Dalam waktu 30 (tiga puluh ) hari kerja sejak alat kelengkapan DPR yang ditugaskan untuk membahas RUU itu mengundang alat kelengkapan DPD wajib hadir. maka bisa saja terjadi kondisi dimana DPD tidak dapat hadir sehingga pembahasan tetap dilakukan. Dalam pemberian pertimbangan. Jika RUU yang masuk ke DPR berasal dari DPD (RUU yang disampaikan tentu saja merupakan wewenang DPD). terhadap RUU tersebut Pimpinan DPR menyampaikannya kepada Pimpinan DPD. 10 Tahun 2004.

dari ketentuan ini dapat dilihat betapa kecilnya peran sebuah DPD dalam bidang legislasi. Padahal bisa saja DPR mengadakan rapat dalam forum yang lebih besar dengan DPD. Ketentuan ini juga mengatur bahwa paling lambat 30 hari kerja DPD harus sudah memberikan pertimbangannya. Ini artinya DPD tidak diikutsertakan dalam persetujuan atau penolakan terhadap sebuah RUU. Pimpinan DPR harus menyampaikannya juga kepada Pimpinan DPD. Istilah ini muncul karena DPD mempunyai wewenang yang sangat terbatas dan hanya terkait dengan soal-soal kedaerahan. kegiatan pembahasan RUU antara DPR dengan Pemerintah masuk dalam Pembicaraan Tingkat I. Demikian pula jika RUU berasal dari DPR. Jika RUU berasal dari Presiden. 3.VISI (2009) 17 (3) 331 . Oleh karena itu. pendidikan. DPR menerima dan menindaklanjuti pertimbangan tertulis yang disampaikan oleh DPD. rapat Panitia Anggaran. Sekali lagi.343 juga telah mengantisipasi keinginan DPD untuk "meloloskan" RUU yang berasal dari DPD. “ikut membahas” RUU dan “dapat” melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang. Itupun harus dimulai dengan konsep yang jelas. Ketentuan yang diatur di dalam Tatib memang tidak bisa terlepas dari ketentuan yang ada di atasnya. DPD Sebagai Perwujudan Sistem Bikameral di Indonesia. atau rapat panitia khusus. sehingga tidak perlu diambil suatu keputusan yang dapat menjadi ajang penolakan bagi RUU yang berasal dari DPD. Selama ini. rapat Badan Legislasi. Pembicaraan Tingkat I itu adalah pembahasan RUU di rapat komisi. setidaknya Tatib DPR tidak semakin melemahkan peran DPD seperti membatasi jumlah peserta rapat. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan DPD belum juga memberikan pertimbangannya. yang muncul adalah keputusan-keputusan yang berorientasi jangka pendek. pembahasan terhadap RUU tersebut tetap dapat dilaksanakan. Pimpinan DPR menyampaikan surat kepada Pimpinan DPD untuk memberikan pertimbangannya. memberikan batasan waktu dimana pelanggaran terhadap ketentuan tersebut mengakibatkan kehilangan fungsi DPD itu sendiri.0203 . sebelum memasuki tahap pembahasan antara DPR dengan Presiden. Dalam konstitusi ditentukan bahwa DPD hanya “dapat” mengajukan RUU. Kritik yang sering ditujukan kepada perubahan ketiga UUD adalah lemahnya wewenang DPD. Hal ini terlihat dari ketentuan yang menyatakan bahwa hasil pembahasan bersama-sama dengan alat kelengkapan DPR hanya dilaporkan saja dalam Rapat Paripurna. dengan catatan bahwa kewenangan tersebut 82 _____________ ISSN 0853 . dan agama. Namun. pajak. Karena itu pula konsep bikameral tersebut sering dibahasakan sebagai “weak bicameral” atau “soft bicameral”. Tanpa konsep yang jelas. Lemahnya fungsi DPD sudah terlihat dalam UUD dan UU Susduk bahkan tercermin juga dalam Peraturan Tatib DPR. Terhadap RUU yang berkaitan dengan APBN. Pasal 137.3. Pembicaraan tingkat II adalah persetujuan di rapat paripurna DPR. upaya pemberdayaan terhadap DPD harus dimulai dari UUD 45. bersama-sama dengan pemerintah. bahkan melemahkan sebuah lembaga DPD menjadi sebuah alat kelengkapan. yang sebentar akan pudar.

pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara. pembentukan dan pemekaran. pendidikan. Lijphart menyimpulkan adanya dua karakter untuk melihat keberadaan sistem bikameral yang diterapkan kuat ( strong bicameralism) atau lemah (weak bicameralism) (Lijphart. yang diajukan oleh pemerintah atau hak inisiatif DPR (Pasal 43). pertanyaannya adalah: betulkah Indonesia saat ini menerapkan bikameral lemah atau ‘ weak bicameralism’ atau ‘soft bicameralism’? Yang terlupakan dalam argumen ini adalah bahwa konsep bikameral sendiri sebenarnya tidak diterapkan. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan Pusat dan Daerah. DPD ikut membahas bersama DPR atas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. pengelolaan sumber daya alam. keputusan mengenai undang-undang sepenuhnya ada di tangan DPR dan pemerintah. DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara.343 hanya terbatas pada undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah (Pasal 22D UUD). 83 _____________ ISSN 0853 . pengelolaan sumber daya alam.0203 . DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. hubungan pusat dan daerah. dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. Dan memang. Namun kesemua wewenang tersebut dilakukan sebelum pembahasan oleh DPR. pembentukan dan pemekaran. pemekaran dan penggabungan daerah. Artinya. Dengan begitu. Wewenang ini kemudian dirinci dalam UU Susduk sebagai berikut: DPD dapat mengajukan kepada DPR rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. Dengan begitu. serta yang berkaitan perimbangan keuangan pusat dan daerah (Pasal 42). pajak. pendidikan. biasanya wewenangnya dibuat sedemikian rupa sehingga ada kelebihan dan kekurangan yang didisain berbeda di antara keduanya. dapat terjadi proses yang membatasi kewenangan yang berlebihan dari suatu lembaga politik. Kata kunci dalam konteks parlemen bikameral (dan dalam politik secara umum) adalah ‘kompetisi’. dan agama (Pasal 44). dan penggabungan daerah. Pernyataan yang terdengar melawan arus ini didasarkan pada premis bahwa konsep bikameral lahir justru untuk mendorong adanya checks and balances di dalam lembaga perwakilan. dan sumber daya ekonomi lainnya. pembentukan. DPD memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (Pasal 45). kebutuhan akan adanya dua dewan dalam satu lembaga perwakilan adalah untuk mewakili konstituensi yang berbeda sehingga terjadi proses deliberasi yang lebih baik. dan sumber daya ekonomi lainnya. penelitian yang dilakukan oleh Arend Lijphart terhadap 36 negara yang menganut bikameral dapat dijadikan referensi. Untuk memberikan gambaran mengenai “kompetisi politik” antara dua kamar ini. serta yang berkaitan perimbangan keuangan pusat dan daerah. dan agama (Pasal 46). Perlu ada ‘kompetisi’ antara dewan tinggi dan dewan rendah untuk memunculkan kondisi saling mengontrol yang menimbulkan keseimbangan politik (checks and balances) di dalam parlemen itu sendiri. Karena itu pula. 1999: 203-205). hubungan Pusat dan Daerah. dan penggabungan daerah.VISI (2009) 17 (3) 331 .

Demikian pula dalam hal mengusulkan rancangan undang-undang. dan setiap rancangan undang-undang dibahas oleh DPR dan presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. Lijphart kemudian mengklasifikasi parlemen bikameral menjadi dua kelompok. Hal ini perlu ditegaskan karena dalam 84 _____________ ISSN 0853 . termasuk dalam proses legislasi. tanpa memiliki suara untuk menentukan kebijakan.343 Pertama. Bundestag di Jerman. atau DPD di Indonesia) biasanya mempunyai kewenangan yang lebih kecil daripada kamar pertama ( House of Representatives di Amerika Serikat. Kedua. Bikameral dikatakan simetris bila kekuatan di antara kamar pertama dan kedua relatif setara dan disebut asimetris bila kekuatan di antara keduanya sangat tidak berimbang. Kecenderungannya. melainkan juga dari cara pemilihan anggotanya. ada tendensi kamar kedua. tetapi komisi terkait di DPR dan Badan Legislatif DPR bisa menolak rancangan tersebut dan tidak diwajibkan untuk menerimanya. DPD bahkan tidak mempunyai ‘kekuatan konstitusional’ untuk berkompetisi. Terlihat jelas bahwa DPD seakan hanya menjadi penasehat DPR dalam soal-soal yang berkaitan dengan daerah. kekuatannya pun tidak mutlak karena Pasal 20 ayat (1) dan (2) UUD sudah jelas menyatakan bahwa kekuasaan legislasi ada pada DPR. Terlihat jelas. DPD dapat ikut membahas. Dari kedua karakter ini. signifikansi politik kamar kedua tergantung tidak hanya dari kekuatan formal mereka. Seluruh ‘wewenang’ DPD hanya sampai pada tingkat memberikan pertimbangan. dan anggaran dianggap bukan dalam prosedur kelembagaan melainkan berupa masukan yang bersifat fakultatif sebelum pembahasan. Karena DPD sesungguhnya tidak mempunyai wewenang sampai pada tingkat pengambil keputusan. yang anggotanya punya legitimasi kuat karena dipilih secara langsung. yaitu simetris dan asimetris.VISI (2009) 17 (3) 331 . pengambilan keputusan mengenai legislasi hanya dilakukan oleh DPR dan presiden. pengawasan. tetapi tidak untuk mengambil keputusan.0203 . karena ’politicking’ DPR harus dilihat sebagai tantangan bagi DPD RI. Bundesrat di Jerman. Kegagalan DPD dalam mengusulkan Amandemen UUD 1945 terkait dengan penguatan peran Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam sistem parlemen dua kamar (Bikameral) beberapa waktu lalu. diberikan wewenang yang lebih kecil daripada kamar pertama. Kedua karakter ini saling berkaitan. Oleh sebab itu. Soalnya. kewenangan konstitusional yang dimiliki oleh kedua kamar. Kamar kedua yang anggotanya tidak dipilih secara langsung mempunyai legitimasi yang minimal dan karenanya biasanya mempunyai peran politik yang kurang penting. Interaksi antara DPD dan DPR dalam prosedur legislasi. yang selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh DPR melalui tiga hak kelembagaan DPR. DPD hanya memberikan pertimbangan. angket. Di sinilah letak kelemahan konsep “bikameral” yang diperkenalkan dalam UUD dan UU Susduk. atau DPR di Indonesia). Begitu pula dalam konteks fungsi pengawasan. Kalaupun ia dapat mengajukan rancangan undang-undang. yaitu hak interpelasi. dan menyatakan pendapat (Pasal 27 UU 22/2003). kamar kedua (Senate di Amerika Serikat. Tata Tertib DPR kemudian memang mengatur adanya pembahasan terhadap rancangan undang-undang usulan DPD.

Sebagaimana diketahui bersama. jika keberadaan DPD tidak berdaya dalam lingkup ketatanegaraan. Keengganan DPR untuk memuluskan jalan bagi Amandemen UUD 1945 bagi penguatan wewenang DPD menjadi satu pelajaran bagi DPD. 85 _____________ ISSN 0853 . di antara fraksi-fraksi dari partai politik dan golongan. DPD harus semakin mempertegas posisinya sebagai ’penyambung lidah rakyat’ di daerah. dibutuhkan semacam insentif politik agar DPR memberikan sebagian wewenanganya dengan terlebih dahulu melakukan Amandemen UUD 1945. dengan adanya check and balances. Harus digarisbawahi bahwa DPD sebagai perwakilan wilayah menjadi penting untuk ditegaskan bahwa keberadaan DPD tidak hanya sekedar membagi tugas antara dalam ataupun luar negeri. serta mengacu kepada sistem ketatanegaraan kita maka peran yang ideal dari DPD setidaknya ada empat peran. maka dibutuhkan lembaga mitra untuk membahas setiap RUU ataupun permasalahan yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab dari parlemen. posisi DPR yang terlalu kuat dan dominan membangun hubungan antara DPR dan eksekutif . dan pada akhirnya usulan untuk kembali memberlakukan sistem parlemen satu kamar plusplus akan benar-benar terjadi. maka keberadaan DPD cepat atau lambat tidak lagi dilihat penting oleh masyarakat. melainkan juga memperjuangkan aspirasi daerah. Pelajaran dari kegagalan usulan Amandemen UUD 1945 yang pertama bagi DPD. Dengan berbagai produk yang harus dihasilkan. Di mana wakil daerah hanya duduk sebagai salah satu fraksi. Apalagi sebagian besar anggota DPD adalah ’orang baru’ dalam percaturan politik nasional.0203 . DPD berperan sebagai lembaga penyeimbang dari DPR. Ketiga. Sebab. Bila mengacu kepada esensi bikameral kuat dan efektif. agar fungsi check and balances di parlemen dapat berjalan. kemudian satu persatu menarik dukungannya. itupun tidak berdaya oleh langkah-langkah partai politik yang mengendalikan anggotanya di DPR. hampir mustahil DPR memberikan sebagian wewenangnya kepada DPD/Senat secara Cuma-Cuma. dibutuhkan berbagai langkah yang mampu memberikan ruang dan peluang bagi DPD agar tetap berada di koridor ketatanegaraan bangsa ini.VISI (2009) 17 (3) 331 . banyaknya RUU yang masih belum selesai sesuai target adalah indikator bahwa upaya untuk mendimanisir kinerja parlemen dapat dilakukan. sebagaimana yang dipraktikkan pada masa Orde Baru. produk yang dihasilkan parlemen akan lebih komprehensif. Kedua. yakni: Pertama. peran DPD untuk membantu meringankan beban dan tugas yang diemban oleh DPR. Sebagaimana diuraiakan di atas. sebagaimana praktik parlemen di Amerika Serikat. khususnya yang terkait dengan kepentingan daerah di tingkat nasional. Di samping itu.343 pengalaman penguatan sistem bikameral di banyak negara. hanya sedikit saja yang memang relatif berpengalaman dalam menghadapi ’politicking’ DPR di parlemen. khususnya pada pasal-pasal terkait dengan penguatan kewenangan DPD dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. bahwa politik di parlemen tidak mudah diprediksi. Dan itu terbukti ketika sebagian anggota DPR yang awalnya mendukung usulan Amandemen UUD 1945.

2. Untuk meningkatkan peran DPD dalam menjalankan fungsi legislasinya. 2 No. 2005 Bukan Sekadar Lembaga Pemberi Pertimbangan: Peran DPD dalam Proses Legislasi. Agar hubungan DPR dan DPD dapat berjalan baik. 4. Hal ini harus melekat pada institusi DPD. DPD harus mengambil inisiatif dalam berbagai hal terkait dengan masalah kebangsaan. Asshiddiqie Jimly.343 Keempat. Jakarta: Institute for Local Development. Peran ini menjadi bagian dari pembuktian bahwa DPD adalah salah satu kamar yang berperan aktif dalam perpolitikan nasional. Kesimpulan 1. Vol.0203 .1. namun dalam rangka memutuskan. sehingga prinsip checks and balances khususnya dalam perancangan UU di parlemen belum bisa berjalan secara optimal karena DPD hanya ikut membahas. DAFTAR BACAAN Susanti Bivitri. 2. Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-Undangan Departemen Hukum dan HAM RI. 3 – September 2005: 46-66. 86 _____________ ISSN 0853 . Saran 1. Peran DPD dalam menjalankan fungsi legislasi belum mampu mengawal RUU sampai ketingkat persetujuan. baik dalam mengusulkan maupun mengesahkan Rancangan Undang-Undang. 22 Tahun 2003 Tentang Susduk sehingga DPD seakan hanya sebatas formalitas ketatanegaraan belaka. sehingga konsep bikameral parlemen di Indonesia benar-benar terwujud demi menjalankan prinsip checks and balances di parlemen. maka kekuasaan DPD dan DPR harus dibuat seimbang. Martosoewignjo Soemantri Sri. Mengenal DPD-RI: Sebuah Gambaran Umum. 2005. yang ada hanya sebatas mengajukan dan turut serta membahas RUU yang relevan dengan urusan daerah dan dapat melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan UU yang terkait dengan daerah sesuai dengan yang diatur dalam UU No. sebagaimana juga melekat di DPR. Jurnal Legislasi Indonesia. DPD tidak lagi dilibatkan. Hubungan antara DPR dan DPD dalam menjalankan fungsi legislasinya belum berjalan secara baik. 2. KESIMPULAN DAN SARAN 4. 2003 Dewan Perwakilan Daerah dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia (Setjen MPR dan UNDP). Jakarta: Penerbit Buana Ilmu Populer. maka perlu dilakukan amandemen terhadap UUD 1945 dengan agenda utama memberi kewenangan yang sama antara DPR dan DPD. baik yang bersifat lokal maupun nasional. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Jaweng Endi Robert dkk. IV.VISI (2009) 17 (3) 331 . 2007.

1992.VISI (2009) 17 (3) 331 . Jakarta. dan Lembaga Kepresidenan di Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. PSHK. ______. 2006. Edisi 20. Supremasi DPR dan Sempitnya Ruang Demokrasi Perwakilan: Isi dan Implikasi UU Susduk dan Cermin Carut Marutnya Konstitusi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 Tentang Susunan dan Kedudukan MPR. DPR. 2005. ______. DPR RI. Piliang J Indra dan Susanti Bivitri. Depok. Kelompok DPD di MPR RI.N. 2000. Artikel/Opini Simamora Janpatar. Semua Harus Terwakili: Studi Mengenai Reposisi MPR. Untuk Apa DPD RI. 2007. Jurnal Ilmu Pemerintahan. Lembaga Perwakilan Rakyat Trikameral.343 Marbun B. Jakarta: PT. Harian Analisa Medan. Pertumbuhan dan Cara Kerjanya.0203 . Menyempurnakan Sistem Ketatanegaraan Indonesia Melalaui Amandemen UUD 1945. Jakarta. 87 _____________ ISSN 0853 . Mewakili Daerah-kah Dewan Perwakilan Daerah? Pengantar Diskusi “Eksistensi Dewan Perwakilan Daerah Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia”. DPD RI dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2003. Senin 5 Maret 2007. Undang-Undang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

0203 .343 Riwayat Hidup Penulis Janpatar Simamora. 88 _____________ ISSN 0853 . 14 Januari 1981. Sarjana Hukum dengan Konsentrasi Hukum Tata Negara dari Universitas HKBP Nommensen tahun 2005. Mulai tahun 2006 sampai sekarang. aktif sebagai Kolumnis/ Penulis di berbagai Media Cetak terbitan Sumatera.VISI (2009) 17 (3) 331 . lahir di Sidikalang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful