P. 1
Analisis Simbolik Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia

Analisis Simbolik Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia

|Views: 1,821|Likes:
Published by Bayu Al-Ghazali
ANALISIS SIMBOLIK SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA KARYA WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA (W.S RENDRA)

Disusun oleh: A. M. Bayu Al-Ghazali. S. M F211 04 059

SASTRA INGGRIS FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2007

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA * W.S. RENDRA
Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja Bankai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan Amarah merajalela tanpa alamat Kelakuan muncul dari sampah kehidupan O, zaman edan! O, malam kelam pikiran insan! Koyak m
ANALISIS SIMBOLIK SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA KARYA WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA (W.S RENDRA)

Disusun oleh: A. M. Bayu Al-Ghazali. S. M F211 04 059

SASTRA INGGRIS FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2007

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA * W.S. RENDRA
Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja Bankai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan Amarah merajalela tanpa alamat Kelakuan muncul dari sampah kehidupan O, zaman edan! O, malam kelam pikiran insan! Koyak m

More info:

Published by: Bayu Al-Ghazali on Apr 10, 2009
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2012

pdf

text

original

ANALISIS SIMBOLIK SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA KARYA WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA (W.

S RENDRA)

Disusun oleh: A. M. Bayu Al-Ghazali. S. M F211 04 059

SASTRA INGGRIS FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2007

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA * W.S. RENDRA
Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja Bankai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan Amarah merajalela tanpa alamat Kelakuan muncul dari sampah kehidupan O, zaman edan! O, malam kelam pikiran insan! Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan Kitab undang-undang tergeletak di selokan Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan O, tatawarna fatamorgana kekuasaan! O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja! Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa Allah selalu mengingatkan bahwa hukum harus lebih tinggi dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan! O, rasa putus asa yang terbentur sangkur! Berhentilah mencari Ratu Adil Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya! Apa yang harus kita tegakkan bersama adalah Hukum Adil Hukum Adil adalah bintang pedoman dalam prahara Bau anyir darah yang kini memenuhi udara menjadi saksi yang akan berkata: Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya Wahai, penguasa dunia yang fana! Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta! Apakah masih buta dan tuli di dalam hati? Apakah masih akan menipu diri sendiri? Apabila saran akal sehat kamu remehkan berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap yang akan muncul dari sudut-sudut gelap telah kamu bukakan! Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi Airmata mengalir dari sajakku ini.

*

Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di depan gedung MPR/DPR pada tanggal 18 Mei 1998

ANALISIS SIMBOLIK SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA KARYA WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA (W.S RENDRA)

Hampir sepuluh tahun silam, kala itu bulan Mei 1998 dipenuhi tangis dan darah. Amarah meledak di hampir seluruh pojok Jakarta, juga di beberapa kota lain di Indonesia. Entah berapa persisnya orang yang meregang nyawa di pertokoan dan gedung perkantoran yang sengaja dibakar, entah oleh siapa. Tak pernah ada proses yang terang benderang untuk mengusut kekejian di hari- hari gelap yang disusul kejatuhan penguasa orde baru, Soeharto. Peristiwa ini diawali dengan terjadinya krisis moneter di pertengahan tahun 1997. Harga- harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Gedung wakil rakyat, yaitu Gedung DPR/MPR dan gedung-gedung DPRD di daerah, menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Seluruh elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan untuk menurunkan Soeharto. Organ mahasiswa yang mencuat pada saat itu antara lain adalah FKSMJ dan Forum Kota karena mempelopori pendudukan gedung DPR/MPR. Perjuangan mahasiswa menuntut lengsernya sang Presiden tercapai pada tanggal 21 Mei 1998, tapi perjuangan ini harus melalui tragedi Trisakti dan tragedi semanggi dengan gugurnya beberapa mahasiswa akibat bentrokan dengan aparat militer bersenjata. W.S Rendra melalui sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia ingin mengemukakan tentang jatuhnya sebuah rezim kekuasaan dikarenakan kepercayaan telah dilanggar, ketika hukum tak lagi berarti, hingga rakyat menjadi korban.

Masa kejatuhan seorang penguasa dan kekuasaannya dikiaskan dengan “bulan gelap raja-raja”. Pada bulan gelap raja-raja inilah terjadi pergolakan di masayarakat, dimana korban-korban berjatuhan dan rasa amarah telah mendominasi

hati dan pikiran manusia. Dengan demikian, inilah sisi buram kehidupan sebuah ketragisan hidup dan nasib manusia.

Dalam sajak di atas ada hubungan atau pertautan yang erat antara unsurunsurnya, satuan-satuan kebermaknaannya. Ada kesatuan imaji. Imaji suram, suasana kelam: bulan gelap, bangkai-bangkai, sampah kehidupan, malam kelam, kebingungan, kabut ketakutan, putus asa, bau anyir darah, dan sudut-sudut gelap. Sesuai dengan itu latarnya: aspal jalan, selokan, dan comberan. Tiap bait pun dengan baik menggambarkan suasana duka, murung, suram, dan sedih, maknanya diperkuat oleh bunyi vokal a dan u yang dominan (sesuai untuk mengungkapkan kesedihan), lebih- lebih dalam kata-kata: bulan gelap, bangkai-bangkai, malam kelam,

kebingungan, kabut ketakutan, terbentur sangkur, tipu daya, prahara, bau anyir darah, fana, pikiran-pikiran kalap, dan sudut-sudut gelap. Jadi, antara bunyi, pemilihan kata, kalimat ada persamaan, semuanya memperbesar jaringan efek puisinya. Kegelisahan akan ketidakadilan hukum, serta ketamakan para penguasa, semua ini dipaparkan dalam bait kedua, ketiga, dan keempat. Penggambaran tersebut diperkuat dengan bunyi o pada dua baris pertama dari bait-bait tersebut. Dengan demikian, kegelisahan Rendra kian tergambarkan yang mengklimaks pada bait kelima yang merupakan sebuah kontemplasi.

Begitu juga, hubungan antara bait yang satu dengan yang lainnya sangat kompak menjalin struktur yang bermakna. Bait pertama memberi gambaran bahwa disaat kejatuhan sang penguasa, dalam hal ini Presiden Soeharto, terjadi pergolakan di jalan-jalan di Indonesia, yang akhirnya menelan korban jiwa, dikiaskan dengan “bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan”. Bait kedua menggambarkan suatu keadaan dimana hukum tidak lagi berarti, sehingga kepercayaan antara rakyat dan penguasa tak lagi ada: “koyak moyak suda keteduhan tenda kepercayaan”, “kitab undang-undang tergeletak di selokan”. Pada bait ketiga, dikemukakan, bahwa untuk mengembalikan kepercayaan yang telah hilang, maka hukum haruslah tidak berpihak: “bahwa hukum harus lebih tinggi dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara”. Kata mahkota sendiri menjadi simbol kekuasaan dan kata raja sebagai orang yang memegang kekuasaan. Ini diperkuat lagi dengan bait keempat yang menggambarkan bahwa untuk menegakkan keadilan, keadilan Tuhanlah yang pentas ditegakkan, keadilan yang tak pernah berpihak pada manusia manapun. Terlepas dari

Tuhan yang Maha Adil, kata Ratu Adil pada bait ini merupakan sebuah simbol keadilan yang juga tidak memihak. Dalam berbagai kebudayaan, Ratu Adil sering digambarkan sebagai seorang perempuan yang tangan kanannya memegang sebuah timbangan dan tangan kirinya memegang sebilah pedang, serta matanya tertutup oleh kain. Bait kelima merupakan klimaks dari sajak di atas yang menggambarkan bahwa kondisi buram masyarakat suatu Negara diakibatkan oleh penguasa yang semenamena. Bait keenam adalah teguran Rendra untuk para penguasa yang tak lagi memimpin dengan hati dan kebijaksanaan, mereka telah larut terbuai dalam kekuasaan dan kedudukan. Sedangkan pada bait terakhir, kembali Rendra menegaskan keprihatinannya atas petaka yang menimpa negeri ini.

Elemen semiotik/simbolik yang juga terdapat dari sajak di atas: “pikiran kusut membentur Simpul-simpul Sejarah” makna dari ungkapan ini adalah rentetan kejadian dalam suatu bangsa yang diwarnai dengan pertumpahan darah, yang lahir dari akumulasi pikiran-pikiran yang terkekang oleh kekuasaan otoriter sang penguasa. “zaman Edan” gambaran mengenai betapa buruknya keadaan

bangsa kita ketika itu. Dimana hati tak lagi didengarkan. “tatawarna fatamorgana kekuasaan”, seperti candu, kekuasaan telah banyak menjerumuskan orang demi mendapatkannya, terlena oleh nikmatnya yang sementara. “rasa putus asa yang te rbentur sangkur” adalah ungkapan yang mengggambarkan kondisi putus asa masyarakat dalam

memperjuangkan keadilan yang merata. Dalam perjuangannya, masyarakat mendapatkan tindak kekerasan dari perilaku represif aparatur negara, yang seharusnya menjadi pelindung rakyat sebagai elemen penting berdirinya suatu negara.

Dengan keeratan hubungan antara bait-baitnya itu, keprihatinan Rendra pada kondisi negeri ini pada waktu itu dengan jelas ia gambarkan dalam sajak ini. Tiaptiap bait hanya bermakna dalam hubungannya dengan yang lain dan keseluruhannya. Tidak ada satu pun bait yang dapat dihilangkan atau dibalikkan. Semua ini menyatakan bahwa sajak dalam tiap bait tersebut hubungannya sangat erat.

Dari struktur estetik, banyak menggunakan bahasa kiasan dan simbolik yang memiliki ambiguitas sehingga menimbulkan multi tafsir bagi para pembaca. Ekstra estetik banyak dipengaruhi ekspresi kehidupan batin manusia lewat peneropongan batin sendiri, sajak-sajaknya menuntut hak asasi manusia: kebebasan bicara, hidup merdeka, bebas dari penindasan, dan menuntut kehidupan yang layak. Selain itu, ekstra estetiknya juga mengemukakan kritik sosial atas kesewenangan terhadap kaum lemah, dan kritik atas penyelewengan-penyelewengan. Dari segi tema, sajak tersebut di atas mengemukakan masalah kemanusiaan umum dengan jalas seperti tentang kesengsaraan hidup, perebutan kekuasaan, kekerasan, dan kematian.

Pesan moral yang dapat saya tangkap adalah bahwa sebagai makhluk ciptaanNya, Tuhan telah memberikan hak kepada manusia untuk mengembangkan pikirannya, bahkan diberikan kekuasaan yang seluas- luasnya untuk memanfaatkan seluruh alam semesta, tetapi secara kodrati manusia harus mempertimbangkan keberadaannya di samping orang lain, sebagai bagian orang lain, lingkungan yang berada di sekitarnya, dan melaksanakan kekuasannya dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan. Pada gilirannya, setiap individu menerima eksistensinya melalui orang lain. Tentang kematian, bagaimana sajak ini menjadi sebuah dokumentasi akan sejarah kelam berbagai peristiwa kejam kejahatan manusia atas manusia lain yang berujung pada hilangnya nyawa orang lain. Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan tema ini. Kematian dan kekerasan menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita. Kekejaman hidup seperti itu bisa saja hadir dalam kekejaman atas individu yang dilakukan, baik secara personal maupun secara institusional. Ia menjadi sesuatu yang lumrah. Banyak med ia massa dan karya sastra yang mengabarkan kematian kepada kita. Entah dengan cara bagaimana dan sebab apa, nyatanya kematian menjadi sebuah kabar yang tak lagi membuat kita berduka atau berkabung. Sedangkan kekuatan spiritual yang terkandung, bagaimana seharusnya hubungan- hubungan kemanusiaan, yang secara keseluruhan dievokasi melalui hasrat manusia untuk melaksanakan kehendak Sang Pencipta sebagaimana mestinya, sebagai bentuk kontemplasi akan kekuasaan Tuhan. Kembali lagi Rendra dalam sajaknya ini berhasil menjadikannya sebagai jalan lain menuju kebenaran disamping agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->