P. 1
Perancangan Dan Pembuatan

Perancangan Dan Pembuatan

|Views: 81|Likes:
Published by Agus Zaenudin
perancangan jig n saw
perancangan jig n saw

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Agus Zaenudin on May 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MEKANISME PENGGERAK NOSEL PADA MESIN LAYER MANUFACTURING

Diajukan sebagai salah satu prasyarat untuk mendapatkan gelar sarjana

Disusun oleh : Nama NIM : Fahd Riyal Pris : 04 525 031

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2009

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MEKANISME PENGGERAK NOSEL PADA MESIN LAYER MANUFACTURING

TUGAS AKHIR

Disusun oleh : Nama NIM : Fahd Riyal Pris : 04 525 031

Dinyatakan telah diperiksa dan disahkan : Yogyakarta, Desember 2009

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Muhammad Ridlwan, ST., MT.

ii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MEKANISME PENGGERAK NOSEL PADA MESIN LAYER MANUFACTURING

TUGAS AKHIR Oleh : Nama No. Mahasiswa : Fahd Riyal Pris : 04 525 031

Telah Dipertahankan di Depan Sidang Penguji sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Desember 2009

Tim Penguji

Muhammad Ridlwan, ST., MT. Ketua

Agung Nugroho Adi, ST., MT. Anggota I

Yustiasih Purwaningrum, ST., MT. Anggota II Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Islam Indonesia Muhammad Ridlwan, ST., MT.

iii

Amien ya rabbal ‘aalamien.. pengorbanan.. Ibu serta kedua Adikku tercinta. kasih saying. Terimakasih atas segala doa.Halaman persembahan KUPERSEMBAHAN TUGAS AKHIR INI Saya persembahkan Laporan Tugas Akhir ini kepada Ayah... ketulusan dan kesabaran serta dukungan yang diberikan selama ini sehingga Riyal dapat menyelesaikan studi ini dengan baik. iv .

.Barang siapa bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa) niscaya akan diberi jalan keluar bagi setiap urusannya.. surat Al Insyiraah : 6-8) v . dan akan diberi rizqi dari tempat yang tak pernah disangka-sangka.MOTTO “... maka kerjakanlah (urusan) yang lain dengan sungguh-sungguh. (Al Qur’an surat Ath Thalaq : 3) “Maka sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan. dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan). (QS. “. dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap”..

Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Teknologi Industri yang telah membantu baik dalam kegiatan akademis.. Bapak. Msc.. Universitas Islam Indonesia. MT. Dengan segenap ketulusan hati. do’a dan dukungan kepada penulis. 3. Bayu. Ibu & Adikku tercinta yang selalu memberikan perhatian. Bapak Fathul Wahid. terima kasih atas dukungannya selama ini dan anak-anak kost pink (Wahyu. dan sebagai dosen pembimbing tugas akhir yang telah meluangkan waktu dan memberikan petunjuk dan pengarahan. selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 2. Sholawat serta salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pembawa rahmat di muka bumi. 6. Deny. 5. ST. Semua sahabat dan teman-temanku di Jurusan Teknik Mesin. Bapak Muhammad Ridlwan. Wb. maupun administratif. ST. Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala taufik dan hidayahnya-Nya sehingga penulisan Tugas Akhir ini dapat terselesaikan. Kepada Tria Magdalena. 4. Tugas Akhir dengan judul “Perancangan dan Pembuatan Mekanisme Penggerak Nosel Pada Mesin Layer Manufacturing” ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana (S1) di Jurusan Teknik Mesin. Agus dan lain-lainnya).KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. banyak khususnya jurusan Teknik Mesin atas segala dedikasinya dalam memberikan ilmu kepada penulis serta memberikan bantuan dalam segala hal. ST. Ranggi. Iqbal. Handiq. Fakultas Teknologi Industri. vi . pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Yogyakarta. Akhir kata penulis berharap kiranya Laporan Tugas Akhir ini akan memberikan manfaat bagi pembaca.7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu. Desember 2009 Penulis vii .

sehingga produk yang dihasilkan baik karena memiliki nilai toleransi < 0.1 mm . Mekanisme penggerak nosel dua axis ini didukung dengan komponen yang memiliki tingkat ketelitian yang baik. uji geometri viii . Kata kunci : Mekanisme penggerak nosel. Mekanisme ini digerakkan maju-mundur pada sumbu X dan sumbu Y oleh poros berulir (ballscrew) yang diputar. Mekanisme ini menggunakan komponen yang standar untuk mesin perkakas. Laporan ini menjelaskan mengenai perancangan dan pembuatan mekanisme penggerak nosel dua axis sebagai alat bantu untuk membuat produk pada proses layer manufacturing. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kelurusan dari alat yang dibuat. dua sumbu gerak. Berbagai metode yang digunakan dalam pembuatan produk dengan proses layer manufacturing salah satunya dengan pembuatan pola yang berupa tanggul sesuai dengan bentuk produk yang akan dibuat.ABSTRAKSI Layer Manufacturing merupakan suatu proses pembuatan obyek 3D berdasarkan lapis demi lapis material.

...... 10 Kesejajaran ......4 1...... ii Lembar Pengesahan Dosen Penguji ............................................2 Penelitian Terdahulu atau Penelitian Sebelumnya Telah Dibuat................................................................................................ 4 Metrologi dan Kontrol Kualitas Geometrik ................................................................. xii Daftar Gambar ...................................... 9 Kelurusan ... 6 2...............3 Tes Ketelitian Geometrik .......................................................................... 9 Kerataan .....................................1 2........................................................3............................................... iv Halaman Motto ..........................1 1......................... i Lembar Pengesahan Dosen Pembimbing ...............4 ......................................2 2.................................. 1 Rumusan Masalah .............2..........................6 Latar Belakang ..............................2 1............ 3 Manfaat Penelitian .....................................................................3 2........3.............................................3...DAFTAR ISI Halaman Judul ......................................................................................... xiii Bab 1 PENDAHULUAN 1....................................... 4 Layer Manufacturing ................................ 2 Batasan Masalah ........................2....................3 1..................................................................... 10 Ketegaklurusan .............. 3 Sistematika Penulisan ......................................................3.................................. ix Daftar Tabel ................................................................ iii Halaman persembahan.............................. 2 Tujuan Penelitian ....................................................................................................................1 2.......................................... 5 Alat Ukur yang Digunakan ................................................................ 3 Bab 2 DASAR TEORI 2. v Kata Pengantar..........................................................................1 2...............................5 1............. vi Abstraksi ........................................ viii Daftar Isi ...........................................................................................................................2 2............................................................................................... 11 ix 2...................................................................................................................................................................................................

....................8...................6 Kriteria Perancangan.............................................. 24 3....................7............................................................ 12 2.............. 42 x .......................................................6 3................................. 34 3.5 Autodesk Inventor.............................................. 29 Penyangga linear .......1 3.......7....8.........................................................................1 Pendahuluan ...................... 18 3.....................4 3...............................2 3..................... 16 Alat dan Bahan Perancangan ......................................... 28 Tiang Penyangga .......2 3.......................... 17 Bagian Utama Mesin Layer ..................................... 40 3.........4 Bab 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4...................8....................6...........3 3...5 3....3 Diagram Alir Proses Perancangan ...................................................3 3...............1 3................................................ 38 Pengujian Ketegaklurusan ....................2 3......... 36 Pengujian kerataan...............................................7 3............2...................................................7................................................................ 21 Tahapan Perancangan .....5 2.........................................7 Proses Pembuatan Mekanisme Penggerak Nosel Dua Axis ..... 31 Konektor .................... 26 Siku Penyangga ........................................................... 18 Ballscrew .............1 2............................................................ 14 Bab 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.......................................8.........4 Rotasi ........... 23 Simulasi ..............8 Metode Pengujian Mekanisme Penggerak Dua Axis ...........4....... 11 Teori Pengukuran Geometri........................ 27 Dudukan Ballscrew ....................... 22 Desain Perakitan .......................................3...................................................4 3.......................................................................................2 3..7...............7.1 3.....................................................7..1 3................................................................................... 25 Landasan Bagian Bawah .....................................................5 3........ 12 Kesalahan atau Penyimpangan Dalam Proses Pengukuran .............. 35 Pengujian Kelurusan ...........1 3...7................................. 33 Dudukan Nosel ..................... 20 Desain gambar menggunakan CAD (Computer Aided design) ...3..........6........... 37 Pengujian kesejajaran ......................

.....2 Kesimpulan ..... 44 4....................2 Data Hasil Pengukuran ............ 43 Hasil Pengujian Ketegaklurusan Sumbu X.........................2........... 58 Saran ........... 43 Hasil Pengujian Kesejajaran Sumbu X Pertama dan X Kedua ............................................................ 45 Bab 5 PENUTUP 5.......................................3 4..................................................................................3 4..........2......1 5......2.1 4. 45 Keunggulan Dibandingkan Alat Yang Sudah Ada Sebelumnya ...................... 42 Hasil Pengujian Kelurusan Sumbu X dan Sumbu Y ............2 4....4 Pembahasan Kesalahan Alat ............................ 58 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xi ...........................4........... Y....................

...................................... Y ...................................................................................................................... 49 Tabel 4-6 Data hasil pengujian kelurusan gerak Y.... 53 Tabel 4-8 Data hasil pengujian ketegaklurusan X..... Y per 5 mm ................................................................................................................... Z per 5 mm pada sumbu Y ............ 17 Tabel 3-2 Tabel alat .... 20 Tabel 4-1 Nilai kelurusan sumbu X dan kelurusan sumbu y....................................... 18 Tabel 3-3 Data ballscrew...... 19 Tabel 3-4 Data linear guideway ..................................................................... Z per 5 mm pada sumbu X pertama ............... X dan Y................... 44 Tabel 4-4 Data hasil pengujian kelurusan gerak X................... 43 Tabel 4-2 Nilai kesejajaran sumbu X pertama dan sumbu X kedua .................................................. Z per 5 mm pada sumbu X kedua .....................................DAFTAR TABEL Tabel 3-1 Tabel bahan ............ Y dan X...................................... 44 Tabel 4-3 Nilai ketegaklurusan sumbu X.................................................................... 47 Tabel 4-5 Data hasil pengujian kelurusan gerak X........... Y dan X................... 51 Tabel 4-7 Data hasil pengujian kesejajaran x pertama dan X kedua per 5 mm ................................ 55 xii .....................

.................................................................................................................................................................................................................................................................................................. 24 Gambar 3-9 Landasan bagian bawah................................................................................................................................................................... 27 Gambar 3-11 Bentuk siku penyangga ......................................... 39 xiii ........... 8 Gambar 2-5 Mikrometer ... 18 Gambar 3-3 Linear Guideway ..................... 9 Gambar 3-1 Diagram alir proses perancangan ................ 32 Gambar 3-16 Penyangga linear ................. 34 Gambar 3-20 Dudukan nosel ....................... 35 Gambar 3-21 Arah sumbu X dan sumbu Y pada mekanisme penggerak nosel ...........................................................................................DAFTAR GAMBAR Gambar 2-1 Waterpass ......... 37 Gambar 3-23 Pengujian kerataan pada penyangga linear ................................................................................................................................................................... 6 Gambar 2-2 Penyiku ......................................................................................................... 22 Gambar 3-6 Layar sketch untuk membuat gambar 2 dimensi ........................ 34 Gambar 3-19 Letak pemasangan dudukan nosel ............................ 28 Gambar 3-12 Letak dudukan ballscrew................................................................................................... 7 Gambar 2-4 Jangka Sorong ....................................................... 27 Gambar 3-10 Letak siku penyangga ......... 23 Gambar 3-7 Toolbar pada layar assembly ................................................................................... 21 Gambar 3-5 Layar menu start up . 28 Gambar 3-13 Dudukan ballscrew ..... 7 Gambar 2-3 Dial Indicator ......................... 32 Gambar 3-17 Konektor ............................. 36 Gambar 3-22 Pengujian kelurusan pada linear arah sumbu X dan Y .................................................................................................. 24 Gambar 3-8 Toolbar pada layar presentation................................................................... 38 Gambar 3-24 Pengujian kesejajaran dan ketinggian terhadap meja rata ......................... 33 Gambar 3-18 Hasil pemasangan konektor.......... 29 Gambar 3-14 Tiang penyangga ....... 20 Gambar 3-4 Konstruksi desain menggunakan CAD ................................................................................ 16 Gambar 3-2 Ballscrew ........................................................................ 31 Gambar 3-15 Letak penyangga linear ......................................................................................................................................................................

................................... 49 Gambar 4-9 Grafik hasil data pada sumbu X kedua.................................................................................................................................... 46 Gambar 4-5 Hasil alat sebelumnya...................................... Y .......................................................... 53 Gambar 4-13 Grafik hasil data kesejajaran .. 41 Gambar 4-1 Hasil perakitan mekanisme dua axis ........... 40 Gambar 3-27 Pengujian ketegaklurusan LM block terhadap meja rata ................................................................................... 46 Gambar 4-4 Hasil alat baru.............................................................................. 50 Gambar 4-10 Pengambilan data pada sumbu Y ....................................................................... Y........................................................ 55 Gambar 4-15 Grafik hasil data ketegaklurusan X........................ 56 Gambar 4-16 Daerah toleransi pada sumbu X............................. 51 Gambar 4-11 Grafik hasil data pada sumbu Y ................................................... 46 Gambar 4-6 Pengambilan data pada sumbu X pertama ........................... 42 Gambar 4-2 Alat baru ................. 48 Gambar 4-8 Pengambilan data pada sumbu X kedua .......................... 52 Gambar 4-12 Pengambilan data kesejajaran X pertama dan X kedua .................. 57 xiv ...... 54 Gambar 4-14 Pengambilan data ketegaklurusan X........ 46 Gambar 4-3 Alat yang sudah ada sebelumnya .......................................................................................................... 39 Gambar 3-26 Pengujian ketegaklurusan saat melakukan perakitan ...........Gambar 3-25 Pengujian kesejajaran dan ketinggian terhadap meja rata pada sumbu Y .. Y .................................. 47 Gambar 4-7 Grafik hasil data pada sumbu X pertama ..................................

Perancangan dan pembuatan alat sebelumnya masih banyak kekurangan diantaranya mekanisme kerja pada pengendali meja masih manual dan hasil produk yang dihasilkan masih kurang baik.1 Latar Belakang Layer manufacturing adalah berupa struktur data dari suatu prototipe 3 dimensi berdasarkan lapis demi lapis material. dan keselamatan. Karakteristik fungsional mesin tidak hanya ditentukan oleh karkteristik geometrik saja. mesin frais dirancang dengan kemampuan untuk mengerjakan suatu benda kerja dengan mempergunakan pisau frais (cutter) sebagai pahat penyayat yang berotasi (berputar pada sumbu mesin) dan benda kerja bergerak lurus. Selain karakteristik fungsional. Suatu mesin umumnya direncanakan untuk suatu krakteristik fungsional yang tertentu. beberapa hal yang juga berpengaruh antara lain: kekerasan. Dalam persyaratan daya guna dari mesin perkakas. Dalam perakitan mesin perkakas untuk metode layer manufacturing diperlukan pemahaman tentang mesin perkakas dan peralatan yang dibuat berdasarkan konsep ketelitian geometris dari komponen-komponen yang membentuknya. karakteristik geometrik ditentukan oleh si perancang yang kemudian dicantumkan dalam gambar teknik. 1 . Tetapi kali ini dikhususkan pada proses permesinan dengan mekanisme yang menyerupai mesin CNC (Computerize Numerical Control). Misalnya. bentuk. Dalam proses pembuatannya dapat menggunakan proses permesinan otomatis atau manual. Persyaratan yang penting untuk struktur mesin perkakas termasuk persyaratan fungsional dan kekakuan. Teknologi ini mampu mempersingkat waktu yang diperlukan untuk perancangan produk dan pengembangannya. Karakteristik geometrik komponen-komponen mesin mempunyai pengaruh yang besar atas fungsi mesin.Bab 1 PENDAHULUAN 1. diperlukan kekakuan statis dan dinamis untuk ketepatan dan ketelitian.

3. 3. Batasan tersebut meliputi : 1. Bagaimana cara menggabungkan atau merakit bagian-bagian dari mesin yang mempunyai fungsi yang berbeda menjadi satu kesatuan dengan memperhitungkan segi ketelitian dalam tiap pemasangan komponen mesin tersebut. Bagaimana merancang atau mendesain mesin layer manufacturing dengan menggunakan software autodesk inventor. 1. . Karena mesin terdiri atas bagian-bagian yang dirakit maka metode perakitan pun juga berpengaruh pada fungsi mesin. kekakuan dan sebagainya yang berhubungan dengan karakteristik material. 2. 1. Mengingat pentingnya tata cara perakitan mesin perkakas khususnya untuk metode layer manufacturing agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam proses produksi nantinya dan pentingnya faktor ketelitian maka untuk itu penulis mengambil judul “ Perancangan dan Pembuatan Mekanisme Penggerak Nosel Pada Mesin Layer Manufacturing “. 2. Software yang digunakan adalah autodesk inventor.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. Demikian pula halnya dengan pemakainya.3 Batasan Masalah Dari permasalahan diatas perlu adanya batasan-batasan masalah agar dalam pembahasan tidak menyimpang dari tema pokok masalah yang sedang dibahas. Mesin hanya bisa berfungsi dengan baik jika digunakan dengan baik dan benar.1 mm. maka dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut : 1.2 kekuatan. Pengujian ketelitian kelurusan sumbu X dan sumbu Y < 0. Perancangan dan pembuatan mekanisme penggerak nosel dua axis. Bagaimana membuat mesin layer manufacturing sesuai ketentuan.

Bab II dasar teori bab ini meliputi teori yang mendukung pelaksanaan tugas akhir ini. Bab IV hasil dan pembahasan bab ini berisikan tentang lanjutan bab berikutnya dimana hasil perancangan akan dibahas dan dianalisis.3 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai adalah membuat suatu mekanisme penggerak nosel sebagai alat bantu untuk membuat produk dengan metode layer manufacturing gerak sumbu x dan y dengan tingkat ketelitian dan kelurusan yang baik.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan yang disajikan dalam laporan Tugas Akhir ini yaitu. tujuan perancangan.5 Manfaat Penelitian Dengan adanya alat bantu mekanisme penggerak dua axis ini diharap dapat membantu dalam pembuatan pola yang berupa lembaran-lembaran yang dibuat secara kontinyu dengan tingkat ketelitian yang baik dan sesuai dengan bentuk produk yang akan dibuat sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Bab I pendahuluan bab ini meliputi latar belakang. . manfaat penelitian dan sistematika penulisan. rumusan masalah. 1. 1. Bab III metodologi penelitian bab ini berisikan tentang diagram alir proses perancangan. Bab V penutup merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan penelitian dan saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya. alat dan bahan perancangan dan metode-metode pengujian yang dilakukan. batasan masalah.

Semua orang seakan-akan berlomba untuk menciptakan sesuatu yang baru. 2. Metode manual ini diperuntukkan bagi industri kecil yang belum memiliki peralatan yang lengkap. Dengan menggunakan metode layer 4 .2 Layer Manufacturing Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin pesat. Salah satu teknologi itu diantaranya adalah layer manufacturing. sehingga hasil dari pembuatan yang dilakukan dapat lebih sempurna dan baik. Salah satu teknologi yang saat ini berkembang pesat adalah teknologi permesinan atau manufaktur. kepresisian dan ketelitian alat. Perancangan dan pembuatan alat masih banyak kekurangan diantaranya mekanisme kerja. Tuntutan untuk menciptakan sesuatu yang baru adalah bagaimana cara menciptakan dengan metode yang sangat efektif dan dalam waktu yang singkat pula.1 Penelitian Terdahulu atau Penelitian Sebelumnya Telah Dibuat Pada tugas akhir Hariadi (2003) mekanisme penggerak nosel dua axis sebagai alat bantu untuk membuat produk pada proses layer manufacturing. Konsep dasar teknologi ini adalah penambahan material produk dari kecil menjadi besar sehingga menjadi sebuah produk atau dapat diartikan layer manufacturing yaitu suatu proses pembuatan obyek 3D berdasarkan lapis demi lapis material.Bab 2 DASAR TEORI 2. karena dalam proses pembuatannya kurang memperhatikan ketelitian geometri alat. Dalam hal ini lebih mengedepankan geometri pada tingkat ketegaklurusan dan kelurusan dari meja. Layer manufacturing merupakan salah satu dari metode layer pembuatan pola dapat dilakukan secara manual ataupun dapat dikerjakan menggunakan mesin CNC milling. sehingga hasil produk yang dihasilkan masih kurang baik. terlihat ketidakrataan pada permukaan layer yang dikarenakan karena ketidakdataran salah satu bagian.

2. Layer manufacturing adalah suatu proses pembuatan obyek 3D berdasarkan lapis demi lapis material (Tontowi. Karena jumlah lembaran yang diperlukan biasanya sangat banyak.2006). yang kemudian dikenal dengan nama rapid prototyping.5 manufacturing. produk dibuat perkomponen sehingga menjadi satu kesatuan produk.1 Metrologi dan Kontrol Kualitas Geometrik Metrologi adalah ilmu tentang ukur mengukur dan memegang peran yang penting dalam produksi. maka teknologi ini digunakan juga untuk pembuatan prototype. lembaran (sheet) yang berupa cairan ditempatkan di atas permukaan yang datar dan halus kemudian lembaran tersebut dibuat layer per layer secara kontinyu dengan ketebalan perlembarnya sesuai yang diinginkan. maka dibutuhkan suatu mesin atau meja otomatis yang mampu bergerak seperti mesin CNC yang mempunyai arah sumbu X dan Y. Kontrol mesin dan penanganan mesin untuk sebagian tergantung pada pengukuran. Dalam proses pembuatan. Maka dari itu dalam sebuah perancangan ini yang perlu diperhatikan adalah: 2. Teknologi ini mampu mempersingkat waktu yang diperlukan untuk perancangan produk dan pengembangannya. Karena cepatnya proses. Berdasarkan hal tersebut diatas mendapatkan sebuah pemikiran untuk merancang suatu mesin yang presisi yang dapat digunakan untuk membuat sebuah lembaran-lembaran secara otomatis. . Alat bantu meja mesin pembuat layer untuk ukuran skala sedang ini dirancang bertujuan untuk mendapatkan hasil analisa produk yang lebih teliti dari metode-metode yang sudah diteliti dan dikembangkan. Dengan demikian metode ini mampu mempersingkat waktu yang diperlukan untuk perancangan produk dan pengembangannya.

pembacaan kerataan dapat dilihat pada bagian atas waterpass yaitu berupa gelembung air yang bergerak diantara dua garis sejajar. Sebagai contoh.2. . Gambar 2-1 Waterpass Penyiku Penyiku merupakan alat yang biasa digunakan untuk menentukan ketegaklurusan bagian sudut dari sebuah benda. Ketegaklurusan ini amat penting dalam proses pengukuran maupun dalam proses pembuatan komponen mesin. atau dikenal dengan sudut siku. Apabila gelembung air tersebut berada tepat diantara dua garis sejajar.6 2. Suatu harga sudut yang mungkin lebih penting dari harga sudut yang lain adalah sudut 90°.2 Alat Ukur yang Digunakan Waterpass Waterpass merupakan alat ukur kerataan suatu permukaan. Cara kerja alat ini adalah dengan menempatkannya pada bidang permukaan yang akan diketahui kerataannya. Dua buah garis atau bidang yang berpotongan sehingga membentuk sudut 90° disebut saling tegak lurus. apabila proses mikrometer atau sensor jam ukur tidak tegak lurus dengan benda ukur maka akan terjadi kesalahan ukur. maka bisa dikatakan permukaan tersebut sejajar. Demikian pula halnya apabila poros ukur mikrometer kedalaman tidak tegak lurus dengan permukaan ukur dari badan mikrometer.

atau alat ini dengan langsung dapat menunjukkan variasi toleransi terhadap ukuran sebenarnya. yang membesarkan setiap pergerakan spindel. spindel.7 Gambar 2-2 Penyiku Dial Indicator Dial indicator terdiri dari piringan berskala. Umumnya jangkau gerak spindel sama dengan 2 ½ kali putaran penunjuk. dan deviasi permukaan yang seharusnya pararel. penunjuk atau jarum dan pemegang. Dial indicator dapat mengukur ketidaktelitian dalam penyebarisan. Gambar 2-3 Dial Indicator . Antara ujung spindel dan petunjuk terdapat mekanisme perkalian yang teliliti.

Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan bacaan digital. Gambar 2-4 Jangka Sorong (Belly. untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara "menancapkan/menusukkan" bagian pengukur. Terdiri dari dua bagian. 2. Diameter dalam maupun luar ke dalaman slot. 2009) Mikrometer Mikrometer merupakan alat ukur yang umum digunakan untuk mengukur suatu benda dengan ketelitian seperseribu millimeter (10-3). Pada versi analog. untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa.05mm untuk jangka sorang dibawah 30cm dan 0. Mikrometer banyak digunakan dalam studi pengukuran.02 untuk yang diatas 30cm. untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit. 3. maupun lainnya) dengan cara diulur.8 Jangka Sorong Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. umumnya tingkat ketelitian adalah 0. yaitu: . bagian diam dan bagian bergerak. Kegunaan jangka sorong adalah: 1. Mikrometer dikelompokkan 4 jenis umum berdasarkan kegunaannya. Mikrometer digunakan secara luas dalam bidang mekanik untuk mengukur ketebalan secara tepat dari blok-blok bagian luar. mengingat bahwa micrometer itu sendiri mudah dalam penggunaanya dan ketelitiannya mencapai (10-3) mm sehingga keakuratan hasil pengukuranyang diperoleh tidak diragukan lagi.

Mikrometer Kedalaman (Depth Micrometer) digunakan untuk mengukur kedalaman suatu slot.S. 5. Bambang P.. 2009) 2. 4.3. 2. 3. 3. 2. Gambar 2-5 Mikrometer (Ir.1 Kelurusan Secara umum pegertian kelurusan mencakup : 1. Mikrometer Dalam (Inside Micrometer) digunakan untuk mengukur diameter lubang. Kelurusan suatu garis dalam dua bidang .3 Tes Ketelitian Geometrik Garis ataupun bidang permukaan yang terdapat pada suatu mesin perkakas bila ditinjau dari bentuk. lapisan-lapisan. Kelurusan (straighness) Kerataan (flatness) Kesejajaran (parallelism) Ketegaklurusan (squareness) Rotasi (rotation) 2. Mikrometer Gabungan (Bore Micrometer) digunakan untuk mengukur secara akurat diameter paling dalam pada suatu lubang (gabungan dari ketiga micrometer diatas). posisi atau gerak pindahnya terlihat memiliki suatu ciri tertentu yang bisa diungkapkan dalam bentuk : 1. Mikrometer Luar (Outside Micrometer) digunakan untuk mengukur kawat. 4.9 1.blok-blok dan batang-batang.

Permukaan meja rata (surface plate) Bidang referensi yang berasal dari sekumpulan garis-garis lurus yang dibentuk oleh batang sisi lurus. Dalam pengujian ketelitian geometrik mesin perkakas maka bidang geometrik yang dimaksud di atas adalah merupakan bidang refrensi.2 Kerataan Suatu bidang permukaan dinyatakan rata bila perubahan jarak tegak lurus dari titik-titik pada permukaan itu terhadap bidang geometrik yang sejajar dengan permukaan yang diuji adalah lebih kecil dari suatu harga batas yang tertentu. 3. 2.10 2. lebih kecil dari suatu harga batas yang tertentu untuk masing-masing bidang tersebut.3 Kesejajaran Dalam mesin perkakas terdapat bidang. relatif terhadap suatu garis referensi yang searah dengan arah gerakan komponen itu. 2.3. Sedangkan kelurusan suatu gerakan lurus didefinisikan sebagai kesejajaran lintasan suatu titik pada komponen yang bergerak lurus.3. 2. . Dalam pengujian ketelitian geometrik mesin perkakas pada umumnya melibatkan pengertian kelurusan komponen dan kelurusan suatu gerakan lurus misalnya kelurusan lintasan luncur (slide ways) dan kelurusan gerakan lurus ‘carriage’. Dalam praktek biasanya permukaan yang dijadikan bidang refrensi adalah : 1. garis ataupun gerakan komponen yang dalam interaksinnya harus sejajar satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga ketelitian bentuk maupun geometrik benda kerja yang dihasilkannya masih berada dalam batas toleransi yang direncanakan. bagian permukaan. Kelurusan komponen Kelurusan suatu gerak lurus Pada pengertian (1) dan (2) yang dimaksud dengan kelurusan adalah bila jarak antara setiap titik pada garis tersebut terhadap dua bidang saling tegak lurus dan paralel terhadap garis itu.

mesin gurdi. Simpang putar (run out) Slip aksial periodik (periodical axial slip) Keming (camming) Dalam pengujian komponen rotasi. Dalam kasus ini sumbu spindel adalah garis semu sehingga untuk memungkinkan pengujian ketegaklurusan tersebut dipergunakan alat bantu batang sisi lurus atau blok paralel (parallel block). mesin freis.3.11 2. 2. Dalam kasus ini pada spindel mesin gurdi tersebut dipasang alat bantu untuk penempatan jam ukur dan sekalian untuk mewakili sumbu spindel tersebut.4 Ketegaklurusan Ketegaklurusan pada mesin perkakas umumnya menyangkut : 1. Kesalahan gerak komponen rotasi mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. terdapat komponen-komponen rotasi yakni poros spindel dan poros ulir (lead screw). sumbu maupun bidang Ketegaklurusan gerak komponen Beberapa contoh ketegaklurusan pada mesin perkakas misalnya. . Ujung stilus jam ukur disentuhkan pada permukaan batang sisi lurus yang diletakkan di atas meja kerja untuk mewakili bidang rata meja kerja tersebut. mesin gerinda. ketegaklurusan gerak komponen yang dalam hal ini adalah gerak dudukan pahat dalam arah melintang relatif terhadap sumbu spindel pada suatu mesin bubut. misalnya pada mesin bubut. Ketelitian komponen rotasi tersebut tergantung dari besar kesalahan geraknya.5 Rotasi Pada umumnya dalam mesin perkakas. Sumbu spindel pada mesin gurdi radial yang tegaklurus terhadap meja kerjanya. Hal ini dimaksud untuk menghindari masalah kerataan meja kerja itu sendiri. kesalahan gerak yang terjadi bisa mencakup hanya simpang putar atau hanya slip aksial periodik saja atau bisa pula kombinasi dari keduanya. 3.3. 2. 2. Garis.

4. Macam-macam masalah pengukuran dapat dipecahkan dengan menggunakan pengukuran linier. 7. yaitu merupakan perbedaan antara hasil pengukuran dengan harga yang dianggap benar. ketiga dan seterusnya untuk n kali pengukuran yang identik (sama) maka hasil dari setiap pengukuran . Linier Sudut atau kemiringan Kedataran Profil Ulir Roda gigi Penyetelan posisi Kekasaran permukaan Dari bermacam-macam jenis pengukuran tersebut diatas hanya pengukuran linier yang paling banyak dipakai. 8. 2. Kesalahan akan selalu ada. tergantung dari kondisi alat ukur. Apabila suatu pengukuran dilakukan untuk kedua. benda ukur.4. Hasil pengukuran yang paling baik dapat dicapai dengan memilih alat ukur dan cara ukur yang tepat tergantung dari kondisi benda ukur dan ketentuan hasil yang diinginkan. alat ukur dan orang. bentuk dan kekasaran permukaan. 3. metode pengukuran dan kecakapan si pengukur. 5. 1982).1 Kesalahan atau Penyimpangan Dalam Proses Pengukuran Pengukuran adalah merupakan proses yang mencangkup tiga bagian yaitu benda ukur. 2. Lebih terperinci lagi maka jenis pengukuran dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Setiap pengukuran mempunyai ketidaktelitian (kesalahan) yang berbeda-beda. karena ketidaksempurnaan dari masing-masing bagian ini maka bisa dikatakan bahwa tidak ada satupun pengukuran yang memberikan ketelitian yang absolute (Rochim dan Wirjomartono. misalnya pengukuran dimensi dengan toleransinya juga penentuan kesalahan bentuk.4 Teori Pengukuran Geometri Pengukuran geometris mencakup tiga aspek dari geometri yaitu ukuran.12 2. 6.

repeatability) Ketepatan adalah kemampuan proses pengukuran untuk menunjukkan hasil yang sama dari pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dan identik. 3. Semakin dekat harga–harga tersebut dengan harga rata-ratanya. Faktor-faktor yang membuat suatu proses pengukuran menjadi tidak teliti dan tidak tepat dapat berasal dari berbagi sumber diantaranya (www.13 tersebut tidak selalu tepat sama. maka proses pengukuran mempunyai ketepatan yang tinggi.4. 5. Hasil pengukuran selalu akan terpencar disekitar harga rata-ratanya. maka dapat kita definisikan dua istilah yang terpenting dalam pengukuran. 2. 2. mereka kurang lebih akan terpencar disekitar harga rata-ratanya. maka proses pengukuran dikatakan teliti. Semakin kecil kesalahannya. Dari pembicaran singkat diatas.1. 2.org©2006): 1. Alat ukur Benda ukur Posisi pengukuran Lingkungan dan Orang (si pengukur) .1 Ketelitian (accuracy) Ketelitian adalah persesuaian antara hasil pengukuran dengan harga sebenarnya (dimensi obyek ukur). yaitu ketelitian dan ketepatan.1. Harga sebenarnya tidak pernah diketahui. Ukuran yang dipakai sebagai pegangan untuk menyatakan ketepatan adalah besarnya kesalahan rambang (random eror).lspitb. yang dapat ditentukan hanyalah harga pendekatan atau yang disebut dengan harga yang dianggap benar.4.2 Ketepatan (precision. 4. Perbedaan antara harga yang diukur dengan harga yang dianggap benar adalah disebut dengan kesalahan sistematis (systematic error).

2. 6. autodesk inventor bisa digunakan untuk membuat suatu perancangan 2D dan kemudian baru menambahkan dimensi 3D.14 2. Fungsi dan keistimewaan software inventor antara lain yaitu: 1. 4. Dengan cepat dapat membuat desain yang rumit dari sketsa yang ada menggunakan tools desain inventor. Sama halnya dengan cara lain. Ciri-ciri yang dimiliki autodesk inventor antara lain yaitu : 1. perancangan dengan autodesk inventor mempunyai tujuan untuk membuat atau merancang suatu produk sesuai dengan yang kita inginkan. 2. Sketsa atau foto tersebut bisa dirubah atau digambar kembali secara keseluruhan dalam software autodesk inventor. Tahapan merancang suatu desain adalah membuat model benda kerja.5 Autodesk Inventor Pada umumnya perancangan dimulai dari sketsa konsep asli atau dari sebuah foto. . autodesk inventor merupakan program software khusus yang memberikan kemudahan bagi pemakainya untuk merancang suatu produk 3D dengan kualitas tinggi. menggabungkan (merakit) benda kerja dengan batasan-batasan tertentu. Dengan mudah dapat membuat gambar suatu produk. 5. Perancangan 2D Pemodelan 3D Perakitan Part Presentasi atau penyajian Pengujian Sheet metal Autodesk inventor mempunyai kelebihan yaitu pada perakitan dan simulasi. 3. 3. dan dapat merubah dimensi gambar yang diinginkan karena dengan menggunakan software ini tidak perlu menggambar ulang jika terjadi kesalahan dimensi yang diberikan kita cukup mengedit pada dimensi yang kita inginkan. serta dilengkapi dengan Drawings untuk memperjelas tentang dimensi-dimensi benda kerja. simulasi. Dapat mensimulasikan mekanisme produk yang dirancang. sehingga kita dapat mengetahui cara kerja dari produk yang dirancang dengan mudah.

15 4. . Langsung dapat melakukan rendering dengan mudah pada saat bagian (part) yang telah selesai dibuat. 5. Dapat mengetahui kekakuan. dan kelenturan dari bahan yang telah ditentukan pada saat melakukan perakitan.

1 mm Tidak Ya Selesai Gambar 3-1 Diagram alir proses perancangan 16 .1 Diagram Alir Proses Perancangan Mulai Identifikasi Masalah dan Tujuan Penelitian Studi Pustaka Perumusan Masalah Perencanaan Desain Part Pembuatan Part Mesin Perakitan Mesin Pengukuran Perakitan 1. Ketegaklurusan Lakukan Perbaikan Toleransi kelurusan. Kerataan 3. ketegaklurusan. kesejajaran. Arah Sumbu X dan Y < 0. Kelurusan 2. Kesejajaran 4.Bab 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.

Bentuk dari rancangan dalam bentuk tiga dimensi dan berupa gambar teknik. alat-alat dan mesin yang digunakan. Tebal 6 mm Diameter dalam 10mm 2 3 Baut L Bearing 6900Z 4 5 6 7 Besi profil poros Linear guideway Rolled ballscrew Pin Diameter 25 Dimensi 15 x 12. tetapi memerlukan pengetahuan dasar tentang jenis-jenis mesin produksi yang ada dan klasifikasi proses-proses permesinan yang dapat dilakukan pada mesin perkakas tersebut. panjang 330mm Diameter 22mm. Pada pembuatan komponen-komponen mesin layer ini. panjang 45mm Diameter M3 dan M4 Diameter luar 22mm. Pada pembuatan alat ini material bahan baku yang digunakan untuk komponen-komponen pada mesin sudah ditentukan pada proses perancangan model tersebut.2. seperti pada tabel 3. 3. perlu dilakukan proses perancangan terlebih dahulu.2 Alat dan Bahan Perancangan Dalam suatu proses pembuatan mesin atau alat perlu ditinjau segi material bahan baku yang akan digunakan dan proses-proses apa saja yang diperlukan atau dipersiapkan.17 Pada proses pembuatan suatu produk atau alat.1. sehingga dalam proses pembuatan mekanisme ini hanya mengumpulkan bahan-bahan baku yang diperlukan seperti pada tabel 3. Tebal 1mm Pemilihan jenis mesin dan proses permesinan yang akan digunakan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.5mm.1 diagram alir atau flowchart di atas. Seperti yang dapat dilihat pada gambar 3. Tabel 3-1 Tabel bahan No 1 Nama Aluminium plat Aluminium balok Keterangan Tebal 10mm dan Tebal 8mm Dimensi 25x25mm. . panjang 300mm Diamter 16mm. Pembuatan mekanisme penggerak nosel dua axis ini tidak terlepas dari proses perancangan tersebut.

3 Bagian Utama Mesin Layer 3.1 Ballscrew Ballscrew terdiri dari poros dan nut yang berputar mengikuti alur ulir pada poros sehingga nut dapat bergerak maju mundur searah sumbu poros.18 Tabel 3-2 Tabel alat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Amplas Bevel Protactor (Busur bilah) Dial Indicator EDM (Electric Discharge Machine) Gergaji Tangan High Master Jangka Sorong Jig Kunci L No 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Mesin bubut Mesin cut off Mesin drill Mesin Milling Mistar Penggaris siku Tap tangan Waterpass 3. Gambar 3-2 Ballscrew .2 dan data tabel 3. Ulir tidak memenuhi sepanjang poros karena ujung poros bertumpu pada linear bearing dan berhubungan langsung dengan motor penggerak. seperti diperlihatkan oleh tanda panah pada gambar 3.3.3 .

3 dan data tabel 3.2 Linear Guideway Setiap linear guideway mempunyai satu atau dua buah linear motion block (LM Block) yang gunanya sebagai tempat dudukan. seperti pada gambar 3. setiap LM block mempunyai empat buah lubang untuk tempat baut yang digunakan sebagai pengikat antara LM block dengan bagian atas ataupun antara LM block dengan ballscrew pada mekanisme penggerak nosel dua axis ini.19 Ballscrew merupakan bagian mesin yang paling presisi karena mempunyai beberapa kelebihan antara lain: 1.3. 4. Kecepatan putar yang baik Keakuratan yang tinggi Akselerasi lebih baik Getaran yang kecil sehingga tidak menimbulkan suara berisik Tabel 3-3 Data ballscrew 3. 3. 2. Pada setiap rel linear guideway terdapat beberapa buah lubang untuk tempat baut .4.

20 pengikat antara konektor dengan bagian atas ataupun antara konektor dengan ballscrew. high master. bevel protactor. mistar. LM block mempunyai arah pergerakan sepanjang rel linear guideway.4 Kriteria Perancangan Perencanaan desain mesin perkakas ini dengan merancang model gambar 3D mesin layer. Perancangan menggunakan software inventor yang mempunyai kelebihan yaitu . yang menggunakan linear guideway dan rolled ballscrew yang terdiri dari beberapa bagian dan peralatan untuk pengukuran seperti penyiku. waterpass dan dial indicator. jangka sorong. Gambar 3-3 Linear Guideway Tabel 3-4 Data linear guideway 3.

pembuatan desain berfungsi untuk mempermudah dalam pembuatan suatu alat karena desain merupakan gambaran dalam pembuatan alat. Gambar 3-4 Konstruksi desain menggunakan CAD .5 Desain gambar menggunakan CAD (Computer Aided design) Dalam pembuatan alat terlebih dahulu dibuat desain. Pendesainan di gambar untuk masing-masing komponen dan kemudian keseluruhan komponen disatukan menjadi satu bagian sehingga membentuk gambar dari keseluruhan produk yang akan dibuat. Menentukan letak linear guideway Sistem putaran rolled ballscrew yang baik Keakuratan dan presisi Ketelitian dalam pengukuran 3. 4. 3. seperti pada gambar 3. Kriteria desain yang menjadi pertimbangan dalam melakukan perancangan adalah: 1. Bagian-bagian mesin layer yang didesain diupayakan mempunyai bentuk yang proporsional.4.21 dapat digunakan untuk mensimulasikan gerakan dari gambar benda yang telah dibuat. 2.

5. Dilanjutkan dengan pembuatan desain mesin menggunakan software autodesk inventor. selanjutnya mencari literatur studi mengenai pokok bahasan sehingga didapat perumusan masalah. merakit dan mensimulasikan mesin layer jenis linear guideway dengan memperhatikan segi keakuratan.ipt untuk membuat gambar bagian-bagian mesin yang nantinya akan dirakit seperti terlihat pada gambar 3. Pembuatan desain mesin ini dimulai dengan membuka software autodesk inventor. ketelitian dan ketepatan dalam perakitannya. bentuk dan ukuran menggunakan contoh sketsa gambar pada foto agar didapatkan hasil desain yang proporsional. lalu pilih menu standart.6 Tahapan Perancangan Tahap awal dari penulisan tugas akhir ini adalah mengidentifikasi masalah dan menentukan tujuan penelitian. Gambar 3-5 Layar menu start up .22 3. yaitu Bagaimana mendesain. peralatan yang mendukung dalam proses perakitan seperti alat ukur dan alat pembantu pengukuran. Setelah itu dilakukan penelitian melalui sketsa foto untuk mempelajari tentang bentuk bagian-bagian mesin serta cara kerjanya.

23

Setelah masuk ke dalam menu standart.ipt maka akan muncul layar sketch yang gunanya untuk membuat gambar dua dimensi seperti yang ditunjukkan oleh gambar 3.6, kemudian pilih perintah return pada toolbar untuk mengolah gambar dua dimensi menjadi gambar tiga dimensi. Gambar tiga dimensi dapat di-edit ukuran dan bentuknya melalui toolbar yang berada di pojok kiri bawah layar dengan cara klik kanan sesuai dengan nama perintah yang telah dilakukan (contoh perintah : Revolve 1), kemudian pilih edit sketch untuk memperbaiki gambar dua dimensi atau edit feature untuk memperbaiki luasan perintah tiga dimensinya.

Gambar 3-6 Layar sketch untuk membuat gambar 2 dimensi

3.6.1 Desain Perakitan Setelah semua bagian-bagian mesin dan komponen-komponen pendukung didesain, maka tahap selanjutnya adalah merakit semua bagian-bagian mesin dan komponen-komponen pendukung tersebut, seperti pada gambar 3.7. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka file baru pada program autodesk inventor lalu pilih standart.iam pada layar menu start up, maka akan muncul layar assembly yang gunanya untuk menggabungkan bagian-bagian dari mesin.

24

Gambar 3-7 Toolbar pada layar assembly

Pilih perintah place component menggunakan mouse atau ketik P pada keyboard untuk menempatkan komponen mesin yang telah dibuat di atas ke layar assembly. Selanjutnya untuk mengatur posisi penempatan dari komponen digunakan perintah constraint.

3.6.2 Simulasi Penempatan komponen mesin yang telah diatur pada layar assembly kemudian dilanjutkan dengan simulasi perakitan. Pilih menu standard.ipn maka akan muncul layar presentation. Setelah layar presentation terbuka lalu pilih perintah create view untuk memasukkan komponen yang sudah dirakit di layar assembly.

Gambar 3-8 Toolbar pada layar presentation

25

Pengaturan gerakan simulasi menggunakan perintah tweak components, sedangkan untuk melihat hasil simulasi menggunakan perintah animate. Simulasi yang telah dibuat dapat direkam ke dalam bentuk file. avi atau film dengan cara memilih icon berwarna merah yang ditunjukkan oleh panah cursor, seperti pada gambar 3.8. Perancangan dan pembuatan mekanisme penggerak nosel dua axis ini diharapkan dapat membantu dalam pembuatan pola yang berupa tanggul, sesuai dengan bentuk produk yang akan dibuat dengan tingkat ketelitian yang baik. Tata kerja dalam penelitian yang dilakukan meliputi perancangan, perakitan dan pengujian. Tiap komponen material, perakitan dan animasi digambarkan dalam bentuk 3D-nya (3 dimensinya) dengan menggunakan Software Autodesk Inventor Professional 2008. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pembuatan mekanisme.

3.7

Proses Pembuatan Mekanisme Penggerak Nosel Dua Axis Pada proses pembuatan mekanisme, langkah-langkah yang harus

dilakukan yaitu: 1. Menentukan material dan jumlah dari tiap komponen bahan yang akan digunakan. Seperti yang tercantum pada tabel bahan baku (tabel 3-1). 2. Menentukan alat-alat yang akan digunakan. Untuk lebih jelasnya lihat pada tabel peralatan (tabel 3-2). Pembuatan mekanisme dibagi menjadi beberapa bagian yaitu, pembuatan landasan bagian bawah mekanisme, pembuatan penyangga linear guideway, pembuatan dudukan ballscrew, pembuatan tiang bagian bawah untuk sumbu X dan tiang bagian atas untuk sumbu Y, pembuatan konektor antara tiang pada bagian atas, LM block, dan ballscrew, pembuatan siku penyangga untuk tiang bagian bawah dan siku untuk landasan bagian dalam, pembuatan dudukan nosel. Hasil perakitan mekanisme penggerak dua axis yang telah dirakit tersebut seperti pada gambar 4.1.

Material pada landasan bagian bawah mekanisme ini menggunakan aluminium plat dengan ketebalan 8 mm.26 3. material ini dipotong dan dibentuk sesuai ukuran yang telah direncanakan.9. setelah dipotong dan dibentuk sesuai ukurannya kemudian pada bagian sisi-sisi plat yang telah dipotong diratakan dengan proses milling sesuai dengan desain yang telah dirancang sebelumnya. siku landasan ini mempunyai dimensi 25 mmx 25 mm dengan tebal 8 mm. berfungsi sebagai landasan tempat dimana bagian lainnya bertumpu. proses cut off untuk pemotongan bahan. pada bagian ini pun terdapat beberapa proses yaitu. agar baut dapat mengikat maka dilakukan proses hand taps (pembuatan ulir dalam) secara manual.1 Landasan Bagian Bawah Landasan merupakan bagian dari mesin yang paling utama. selain itu pada beberapa bagian lubang tersebut juga dilakukan counter bore sehingga kepala baut L yang terpasang bisa masuk ke dalam agar rapi sehingga bisa rata dengan bidang landasan. selain proses milling pada pembuatan landasan bagian bawah mekanisme ini juga melibatkan proses pembuatan lubang dengan proses drill. Landasan sendiri menumpu empat buah tiang penyangga yang digunakan untuk menopang ballscrew dan linear guideway maupun digunakan untuk menahan beban yang ada diatasnya. Fungsi dari landasan bagian bawah mekanisme ini adalah untuk menempatkan semua komponen mekanisme yang berada diatasnya. Landasan yang lain bisa menyatu karena dibuatkan siku untuk landasan bagian bawah mekanisme yang ditempatkan pada bagian dalam sudut. setelah itu bagian sisi – sisinya dirapikan dan dibentuk dengan menggunakan proses milling sesuai dengan rancangan yang telah disiapkan. kemudian dilakukan proses drill dan counter bore seperti pada gambar 3. .7.

. Tiang penyangga bagian bawah Siku penyangga Landasan Gambar 3-10 Letak siku penyangga Material pada siku penyangga ini menggunakan aluminium profil balok dengan dimensi 25 mm x 25 mm dengan panjang 45 mm. siku penyangga ini berfungsi untuk tempat menempelnya tiang penyangga agar bisa berdiri tegak. sebelum pembentukan dilakukan pemotongan bahan yang diperlukan dengan proses cut off.10. pembuatan bentuk yang sesuai dengan rancangan yang telah dibuat ini dilakukan dengan proses milling.11.2 Siku Penyangga Siku penyangga adalah bagian yang langsung menempel pada bagian landasan. kemudian lubang ini berfungsi sebagai tempat mengikat baut yang telah diproses dengan hand taps seperti pada gambar 3.27 Gambar 3-9 Landasan bagian bawah 3.7. Pada pembuatan siku penyangga ini melibatkan beberapa proses. pembuatan lubang menggunakan proses drill. seperti yang terlihat pada gambar 3.

maka diperlukan dudukan ini yang pembuatannya dapat disesuaikan dengan bearing yang banyak dijual.3 Dudukan Ballscrew Pada bagian utama yaitu ballscrew yang berperan penting sebagai penggerak mekanisme dua axis ini.7.28 Gambar 3-11 Bentuk siku penyangga 3. Dudukan ballscrew Bearing Ballscrew Gambar 3-12 Letak dudukan ballscrew . diperlukan tambahan alat agar dapat difungsikan dengan baik pada saat bertumpu pada tiang penyangga yang berupa dudukan ballscrew. seperti pada gambar 3. sehingga memudahkan dalam penggantian apabila terjadi kerusakan.12. Tujuan dari alat ini adalah agar tidak merusak ballscrew itu sendiri karena proses pembubutan untuk memperkecil diameter pada bagian ujungnya.

penempatan antara linear guideway dan ballscrew yang berbeda.4 Tiang Penyangga Bagian tiang penyangga ini berperan penting dalam menyangga linear guideway dan ballscrew sebagai mekanisme penggerak pada sumbu X dan juga pada sumbu Y.13 menggunakan besi profil silinder atau poros. pada tiang penyangga bagian bawah letak ballscrew berada dibawah linear guideway. agar dudukan tidak cepat berkarat karena terbuat dari besi maka dilakukan proses pemanasan dengan suhu yang tinggi kemudian dicelupkan ke dalam oli sehingga warnanya menjadi berubah. Gambar 3-13 Dudukan ballscrew 3. letak yang berbeda tersebut telah sesuai dengan rancangan sebelumnya. Pada tiang bagian bawah terdapat alur pin sebagai pengunci bearing.29 Material pada dudukan ballscrew ini seperti pada gambar 3.7. sebaliknya pada tiang bagian atas linear guideway berada dibawah ballscrew. pembuatan dan pembentukan dudukan yang telah dirancang dilakukan dengan proses pembubutan secara bertingkat. dengan proses cut off dipotong menjadi beberapa bagian sesuai dengan keperluan untuk dudukan ballscrew pada mekanisme ini. untuk mencekam ballscrew pada dudukan ini dibuat lubang – lubang tempat baut L counter dengan proses drill yang setelah itu dibuatkan ulir dalam dengan proses hand taps. tiang penyangga bagian bawah serta bagian atas ini terdapat beberapa bagian. untuk tiang .

pada tiang penyangga atas melibatkan pembuatan ulir dengan proses hand taps. Pembuatan lubang untuk baut dan counter bore dengan menggunakan proses drill. setiap tiang bagian sisi . Pada tiang penyangga bagian bawah maupun bagian atas terdapat alur untuk tempat penyangga linear selain itu pada alur ini lubang baut dibuat agak memanjang karena sangat berfungsi untuk penyettingan naik dan turun penyangga linear. sehingga dengan proses drill sudah cukup untuk pembuatan dudukan bearing.14. . pembuatan alur ini melibatkan proses milling dengan menyesuaikan tebal dari penyangga linear itu sendiri. Pembuatan dudukan bearing dan alur pin yaitu dengan proses bubut dalam pada tiang penyangga bagian bawah ini. alur ini berfungsi dimana penyangga linear ditempatkan. Pada proses pembuatan tiang penyangga ini lembaran aluminium plat tersebut dilakukan proses cut off sesuai dengan keperluan yang akan digunakan. tetapi proses ini berbeda dengan tiang penyangga bagian atas.30 bagian atas tidak ada alur pin dikarenakan tebal plat aluminium yang berbeda antara tiang penyangga bagian bawah dan bagian atas. pada tiang penyangga bagian atas dudukan bearing tidak menggunakan proses bubut dikarenakan tidak ada pembuatan alur pin.sisinya diratakan sesuai rancangan dengan menggunakan proses milling. setelah proses milling pembuatan alur tersebut pada bagian sudut ternyata hasilnya membentuk radius. Material pada tiang penyangga menggunakan lembaran aluminium plat dengan ketebalan 10 mm dan 8 mm pada tiang penyangga atas. sedangkan pada bagian bawah tidak menggunakan proses pembuatan ulir. untuk membuat bagian sudut menjadi siku maka perlu dilakukan juga proses EDM (electric discharge machine) seperti pada gambar 3.

di bagian bawah terdapat dua penyangga sedangkan untuk bagian atas hanya memerlukan satu penyangga. .5 Penyangga linear Pada bagian penyangga linear ini berfungsi sebagai tempat dudukan atau penyangga linear guideway. di linear itu sendiri terdapat lubang-lubang yang khusus disediakan untuk tempat baut pengikat terhadap penyangganya. Material yang digunakan untuk penyangga linear ini adalah lembaran aluminium plat dengan ketebalan 8 mm.7. Diperlukan tiga penyangga pada mekanisme penggerak dua axis ini.31 Tiang bawah Alur Tempat bearing Tiang atas Sesudah di EDM Sebelum di EDM Gambar 3-14 Tiang penyangga 3.

lubang – lubang yang telah dibuat dilakukan pembuatan ulir dalam dengan menggunakan proses hand taps yang disesuaikan dengan ukuran baut yang diinginkan. kemudian dilakukan pembuatan lubang menggunakan proses drill. Gambar 3-16 Penyangga linear . proses cut off atau pemotongan lembaran aluminium. maka dilakukan proses milling untuk merapikan. setelah pemotongan menjadi beberapa bagian. meratakan dan pembentukan model penyangga linear ini sesuai dengan ukuran pada saat dirancang. Pembuatan lubang untuk tempat pengikat baut pada penyangga ini mengikuti ukuran dari linear itu sendiri. seperti pada gambar 3.32 Linear penyangga Gambar 3-15 Letak penyangga linear Proses pembuatan penyangga linear ini memerlukan beberapa tahapan proses yaitu.16.

sesuai dengan ukuran dan rancangan yang telah didesain. Konektor pada bagian atas hanya menghubungkan antara ballscrew dengan LM block. Konektor antara ballscrew dengan LM block pada bagian bawah dan bagian atas ini dimulai dengan proses cut off yaitu pemotongan aluminium sesuai dengan kebutuhan dari mekanisme dua axis tersebut.7.6 Konektor Bagian konektor ini sangat berperan penting dalam penggerak mekanisme dua axis. tetapi yang membedakan adalah ukuran dimensi dari konektor. pada konektor bagian bawah aluminium memiliki ketebalan 10 mm sedangkan untuk konektor pada bagian atas ketebalan aluminium 8 mm. seperti yang terlihat pada gambar 3. dan antara LM block dengan tiang bagian atas. Tahapan pembuatan antara ballscrew dengan LM block bagian bawah dan bagian atas ini bentuknya yang sama. dan ada bagian lubang yang harus dibuat ulir dalam dengan menggunakan proses hand . Pembuatan konektor ini dibutuhkan beberapa proses untuk membuatnya. pada bagian bawah terdapat dua buah model konektor karena berfungsi sebagai penghubung antara ballscrew dengan LM block. tetapi ada sedikit perbedaaan proses pembuatan konektor antara ballscrew dengan LM block. Konektor ballscrew dengan LM block Konektor LM block dengan tiang atas Gambar 3-17 Konektor Konektor dibuat dengan memanfaatkan material yang berupa lembaran aluminium plat.33 3.17. dan antara LM block dengan tiang bagian atas. sesuai dengan desain yang telah dirancang maka untuk pembentukan konektor dilakukan proses milling. pada bagian lubang untuk baut dan counter bore dengan menggunakan proses drill.

bagian bawah bagian atas Gambar 3-18 Hasil pemasangan konektor 3. pembuatan lubang untuk tempat baut dan counter bore dengan menggunakan proses drill. dudukan nosel ini langsung menempel pada LM block.7 Dudukan Nosel Dudukan nosel adalah salah satu bagian pendukung dari mekanisme penggerak nosel dua axis ini yang letaknya berada pada bagian atas. Pada awalnya aluminium ini berbentuk .7.34 taps. Konektor antara antara LM block dengan tiang bagian atas ini hanya melibatkan proses milling untuk pembentukan yang sesuai dengan rancangan. dimana fungsi dari dudukan nosel ini adalah sebagai penyangga nosel.19 Dudukan nosel LM block Gambar 3-19 Letak pemasangan dudukan nosel Material aluminium dipilih karena permukaannya halus dan mudah untuk dibentuk dalam proses permesinan. seperti pada gambar 3.

baik bagian mekanik maupun tentang kecermatan pada saat pengukuran. karena bentuknya kecil bisa dipotong dengan menggunakan gergaji tangan. ada beberapa lubang juga ditambahkan ulir dalam dengan proses hand taps. linear guideway ini harus sejajar dan rata.35 aluminium plat dengan ketebalan 8 mm. Pengujian dilakukan secara bertahap. Pengujian kelurusan yang dilakukan yaitu pengujian pengukuran pada arah gerak sumbu X dengan sumbu Y. Pada saat melakukan . Pembuatan bentuk yang dibuat sesuai dengan rancangan yaitu menggunakan proses milling. Pengujian dimaksudkan untuk mengetahui baik atau tidaknya bagian-bagian yang telah dirakit. apabila perlu penambahan bagian lain atau peralatan lain yang memungkinkan mekanisme ini mendapatakan hasil baik. terlebih dahulu merakit setiap komponen-komponen dari mekanisme dimulai dari perakitan komponen pada sumbu X dengan mengatur posisi ballscrew yang berfungsi sebagai penggerak linear guideway. Sebelum melakukan pengujian ketegaklurusan sumbu X dengan sumbu Y dan pengujian kelurusan sumbu X dan Y.8 Metode Pengujian Mekanisme Penggerak Dua Axis Pengujian harus dilakukan pada setiap mekanisme atau alat yang dibuat karena pengujian pada mekanisme merupakan suatu cara untuk mengetahuai alat dapat bekerja dengan baik atau tidak.21. seperti pada gambar 3. Gambar 3-20 Dudukan nosel 3. sehingga dapat dintentukan layak dipakai atau tidak. kemudian untuk melubangi dan membuat counter bore bagian tempat baut dengan menggunakan proses drill.

2. tidak ada cacat dan harus baik sehingga pada saat LM block digeser tidak macet. seperti pada gambar 3. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nilai maksimum pergeseran dari linear guideway. mekanisme ini harus diletakkan di atas meja rata yang sudah disetting kerataannya. Apabila nilai pergeseran yang didapat sangat kecil maka hasil produk yang dibuat akan lebih baik.36 pengaturan kesejajaran dan kerataan. Langkah-langkah pengujian yang dilakukan : 1. .8.22. linear guideway sebelum dirakit atau dipasang perlu dilihat terlebih dahulu untuk memastikan siap dipakai. Y X Gambar 3-21 Arah sumbu X dan sumbu Y pada mekanisme penggerak nosel 3.1 Pengujian Kelurusan Dalam pengujian ini dilakukan pengamatan cara kerja mekanik dari komponen linear guideway yang akan dipasang pada sumbu X dan Y karena apabila terjadi banyak penyimpangan maka hasilnya tidak akan baik. Pengujian kelurusan dilakukan diantaranya mengukur gerakan geser Linear guideway pada sumbu X dan Y dengan menggunakan alat ukur dial indicator. Linear guideway yang dipakai dipastikan tidak rusak.

37 Gambar 3-22 Pengujian kelurusan pada linear arah sumbu X dan Y 3. hal yang paling mendasar adalah apabila saat pengukuran penyangga linear tidak rata air.33. maka dapat dipastikan bahwa hasil pengukuran komponen yang lain pun akan berpengaruh terhadap hasil perakitan. seperti pada gambar 3. terdapat 2 penyangga linear pada sumbu X.8.2 Pengujian kerataan Penyangga linear guideway merupakan bagian yang digunakan sebagai landasan atau penopang untuk semua komponen yang berada diatasnya. hal yang harus dilakukan adalah menaikkan atau menurunkan penyangga linear sampai ditemukan posisi yang rata air. Pengukuran kerataan ini menggunakan waterpass yang ditempatkan secara horizontal diatas penyangga linear. sedangkan pada sumbu Y terdapat 1 penyangga linear. . Apabila terjadi perubahan ukuran yang ditunjukkan oleh waterpass maka kemungkinan penyangga linear tidak rata air.

.3 Pengujian kesejajaran Linear guideway ditempatkan pada panyangga linear dan dikunci dengan menggunakan baut L.34. seperti pada gambar 3. sebagai pengunci pada bagian tengah linear guideway yang telah disediakan 6 buah lubang baut. Jangka sorong ditempatkan diatas kedua masing-masing LM block pada sumbu X lalu digerakkan sepanjang jalur rel linear guideway.8.38 Gambar 3-23 Pengujian kerataan pada penyangga linear 3. cara ini untuk mengukur kesejajaran ketinggian antara linear guideway satu dengan yang lain.

Gambar 3-25 Pengujian kesejajaran dan ketinggian terhadap meja rata pada sumbu Y . linear guideway harus sejajar pada permukaan bidang meja rata. High master ditempatkan diatas meja rata kemudian sensornya diletakkan pada LM block. pada sumbu Y pengukuran kesejajaran juga perlu dilakukan.39 Gambar 3-24 Pengujian kesejajaran dan ketinggian terhadap meja rata pada sumbu X Mengukur kesejajaran antara linear guideway pada sumbu X juga dengan menggunakan high master di titik yang berbeda pada setiap ujung rel linear. seperti pada gambar 3.35. apabila ada perubahan ukuran yang ditunjukkan oleh high master lakukan penyetingan hingga dapat posisi yang sejajar pada sumbu X.

seperti pada gambar 3. Gambar 3-26 Pengujian ketegaklurusan saat melakukan perakitan .36. pada saat melakukan perakitan apabila antara komponen yang satu dengan yang lain tidak siku maka akan terjadi penyimpangan sudut atau kemiringan. apakah sudah sesuai sudut 90° atau belum karena apabila tidak tegak lurus maka hasil yang diperoleh sudut akan menyimpang dari yang diharapkan.4 Pengujian Ketegaklurusan Pengujian ketegakluruan komponen yang membentuk siku terhadap komponen yang lain.8.40 3.

41 Sumbu X dengan sumbu Y pada mekanisme ini harus membentuk sudut 90 0 karena itulah pengujian ketegaklurusan dilakukan pada mekanisme ini terhadap bidang permukaan meja rata. seperti pada gambar 3. komponen bawah sebagai sumbu X dengan LM block terhadap bidang permukaan meja rata.37. Pengujian ketegaklurusan sumbu X dengan sumbu Y ini dilakukan pada LM block. Gambar 3-27 Pengujian ketegaklurusan LM block terhadap meja rata pada sumbu X dan Y . bagian atas sebagai sumbu Y terhadap bidang permukaan meja rata dengan menggunakan alat ukur busur bilah (bevel protractor) yang digunakan sebagai alat bantu dalam pengujian ketegaklurusan.

sudah sesuai dengan perancangan dan nilai toleransi kelurusan.2. gambar 4. Gambar 4-1 Hasil perakitan mekanisme dua axis 4.6.2 Data Hasil Pengukuran Dari beberapa tahapan pengujian yang telah dilakukan.1 mm seperti pada gambar 4.Bab 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.10). pada mekanisme penggerak nosel dua axis ini maka diperoleh data-data hasil pengukuran yang dapat diketahui dari tabel-tabel dibawah. kelurusan sumbu X.12. kesejajaran antara X 42 . gambar 4.Y.1.8 dan gambar 4.1 Pendahuluan Tujuan dari pengujian adalah untuk mengetahui unjuk kerja dari mekanisme penggerak nosel dua axis yang telah dibuat seperti pada gambar 4. ada pun jenis pengukuran yang dilakukan yaitu.4. gambar 4. sehingga dilakukan suatu pembahasan lebih lanjut data-data yang diperoleh dari masing masing pengujian. seperti pada gambar (gambar 4. kesejajaran dan ketegaklurusan yang diijinkan < 0.

Y bisa diketahui dengan melakukan pengukuran kelurusan terhadap sumbu tersebut yang menghasilkan data (tabel 4.11). Pada data hasil pengukuran kelurusan gerak per 5 mm pada sumbu X (L = 0-200 mm). ketegaklurusan sumbu X.1 Hasil Pengujian Kelurusan Sumbu X dan Sumbu Y Kelurusan sumbu X dan sumbu Y bisa ditentukan dari nilai pergeseran maksimum pengukuran dikurangi dengan nilai pergeseran minimum pengukuran.1 mm.7. 4. setelah dilakukan pengujian didapat bahwa nilai pergeseran maksimum sebesar 10 mikron dan pergeseran minimum sebesar -10 mikron untuk lebih jelasnya lihat tabel 4.2.4 dan tabel 4.2 Hasil Pengujian Kesejajaran Sumbu X Pertama dan X Kedua Kesejajaran sumbu X pertama dan sumbu X kedua bisa ditentukan dari nilai pergeseran maksimum pengukuran dikurangi dengan nilai pergeseran . Tabel 4-1 Nilai kelurusan sumbu X dan kelurusan sumbu y Sumbu X pertama X kedua Y Pergeseran maksimum (mikron) 10 10 10 Pergeseran minimum (mikron) -10 -10 -10 Kelurusan (mikron) 20 20 20 Dari tabel di atas dapat dilihat nilai kelurusan sumbu X dan sumbu Y tidak melebihi 0. Pada data hasil pengukuran kelurusan per 5 mm pada sumbu Y (L = 0-200 mm). tabel 4. tabel 4.9 dan gambar 4.2.3.5. tabel 4.4.43 pertama dan X kedua. gambar 4. setelah dilakukan pengujian didapat bahwa nilai pergeseran maksimum sebesar 10 mikron dan pergeseran minimum sebesar -10 mikron pada sumbu X pertama seperti pada gambar 4.2. pergeseran maksimum sebesar 10 mikron dan pergeseran -10 mikron pada sumbu X kedua seperti pada gambar 4. gambar 4.1 mm yang berarti ketidaklurusan < 0.2.1. seperti pada gambar (gambar 4.5) yang digunakan untuk membuat grafik. 4.3. gambar 4.1.

1 mm.3. Tabel 4-2 Nilai kesejajaran sumbu X pertama dan sumbu X kedua Sumbu X pertama & X kedua Pergeseran maksimum (mikron) 15 Pergeseran minimum (mikron) -15 Kesejajaran (mikron) 30 Dari tabel di atas dapat dilihat nilai kesejajaran sumbu X pertama dan sumbu X kedua tidak melebihi 0. setelah dilakukan pengujian didapat bahwa nilai pergeseran maksimum sebesar 15 mikron dan pergeseran minimum sebesar -15 mikron untuk lebih jelasnya lihat tabel 4. .10.1 mm.44 minimum pengukuran.8. Y pertama tidak melebihi 0. Y Sumbu X. Pada data hasil pengukuran kelurusan gerak per 5 mm pada sumbu X (L = 0-200 mm) setelah dilakukan pengujian didapat bahwa nilai pergeseran maksimum sebesar 15 mikron dan pergeseran minimum sebesar -15 mikron untuk lebih jelasnya lihat tabel 4. Sumbu X pertama sebagai sumbu referensi seperti pada gambar 4. Y bisa ditentukan dari nilai pergeseran maksimum pengukuran dikurangi dengan nilai pergeseran minimum pengukuran.3 Hasil Pengujian Ketegaklurusan Sumbu X.2. Y Pergeseran maksimum (mikron) 15 Pergeseran minimum (mikron) -15 Ketegaklurusan (mikron) 30 Dari tabel di atas dapat dilihat nilai ketegaklurusan sumbu X. Tabel 4-3 Nilai ketegaklurusan sumbu X. 4. Y Ketegaklurusan sumbu X.1 mm yang berarti kesejajaran < 0.2.1 mm yang berarti ketegaklurusan < 0. Pada data hasil pengukuran ketegaklurusan gerak per 5 mm (L = 0-200 mm) sumbu X pertama sebagai bidang referensi seperti pada gambar 4.

dan orang (si pengukur). ketiga dan seterusnya untuk beberapa kali pengukuran yang identik (sama) maka hasil dari setiap pengukuran tersebut tidak selalu sama. Karena ketidaksempurnaan masing-masing bagian ini maka bisa dikatakan bahwa tidak ada satu pun pengukuran yang memberikan ketelitian absolute.3 Pembahasan Kesalahan Alat Untuk mendefinisikan penyimpangan diperlukan toleransi kesalahan yaitu besar kecilnya penyimpangan yang masih diperbolehkan sesuai dengan spesifikasi yang dinyatakan dalam standar pengkalibrasian. alat ukur. 4. yaitu merupakan perbedaan antara hasil pengukuran dengan harga yang dianggap benar. metode pengukuran dan keahlian pengukur. hal ini disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut. Pengukuran adalah merupakan proses yang mencakup tiga bagian yaitu benda ukur. benda ukur. sehingga sensor pada dial indicator ini bergerak mengikuti gelombang-gelombang pada permukaan square level. Pada bagian square level sebagai bidang referensi ternyata banyak bagianbagian permukaannya yang bergelombang. Adapun kesalahan yang terjadi pada saat melakukan pengujian mekanisme penggerak nosel dua axis yang diteliti diantaranya pada alat ukur dial indicator dan alat bantu yang berupa square level yaitu kesalahan yang menyebabkan pergerakan jarum dial indicator berubah-ubah setiap pergerakan.4 Keunggulan Dibandingkan Alat Yang Sudah Ada Sebelumnya Desain konstruksi mekanisme penggerak nosel ini memiliki beberapa hal yang merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh alat yang telah ada . Kesalahan selalu ada. Dial indicator yang berfungsi sebagai alat ukur yang digunakan belum pernah dilakukan pengkalibrasian. maka kurang lebih akan tercantum disekitar harga rata-ratanya. Apabila suatu alat pengukuran dilakukan untuk kedua. Setiap pengukuran mempunyai ketidaktelitian yang berbeda-beda. 2.45 4. 1. tergantung dari kondisi alat ukur.

Diantaranya yaitu pembuatan mekanisme ini dengan kepresisian dan menggunakan linear guideway dan ballscrew. Dengan desain yang dirancang sederhana akan tetapi mempunyai dimensi dan ketelitian alat yang cukup baik sesuai dengan mesin perkakas. Gambar 4-3 Alat yang sudah ada sebelumnya Gambar 4-2 Alat baru Perbandingan hasil penelitian yang sekarang dibandingkan terhadap penelitian sebelumnya yang berjudul perancangan dan pembuatan mekanisme penggerak nozzel dua axis sebagai alat bantu untuk membuat produk pada proses layer manufacturing (Hariadi. seperti pada gambar 4. 2009). Gambar 4-5 Hasil alat sebelumnya Gambar 4-4 Hasil alat baru .3. Perbedaan pada gambar dibawah ini terlihat pada bagian salah satu sumbu yang bergerak tidak sempurna pada alat sebelumnya sehingga hasil yang didapat terdapat garis yang tidak membentuk garis lurus.5.2 dan Gambar 4. Gambar perbandingan kedua penelitian ditampilkan pada gambar 4.46 sebelumnya.4 Dan 4.

Y X. Y X.47 X terhadap Y X terhadap Z Gambar 4-6 Pengambilan data pada sumbu X pertama Tabel 4-4 Data hasil pengujian kelurusan gerak X. Z yang diukur yang diukur (mikron) (mikron) (mikron) (mikron) (L = 0–200) (L = 0–200) 0 0 0 105 10 -10 5 0 0 110 0 0 10 0 -10 115 10 0 15 5 -10 120 0 -5 20 0 0 125 0 -5 25 5 0 130 10 -5 30 10 0 135 0 0 35 0 0 140 0 0 40 0 -10 145 10 0 45 -10 0 150 10 0 50 -10 0 155 0 10 55 0 -10 160 0 10 60 -10 -10 165 0 5 65 0 0 170 -5 5 70 0 0 175 0 0 75 -5 0 180 0 0 80 0 0 185 0 0 85 0 0 190 0 0 90 -5 0 195 0 0 95 -10 0 200 0 0 100 0 -10 . Y dan X. Z per 5 mm pada sumbu X pertama Panjang Panjang Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran sumbu X sumbu X X. Z X.

48 Gambar 4-7 Grafik hasil data pada sumbu X pertama .

Z per 5 mm pada sumbu X kedua Panjang Panjang Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran sumbu X sumbu X X.49 X terhadap Y X terhadap Z Gambar 4-8 Pengambilan data pada sumbu X kedua Tabel 4-5 Data hasil pengujian kelurusan gerak X. Z yang diukur yang diukur (mikron) (mikron) (mikron) (mikron) (L= 0–200) (L= 0–200) 0 0 0 105 -10 0 5 -10 0 110 0 0 10 -10 10 115 -10 10 15 0 0 120 -5 10 20 0 10 125 -5 10 25 -10 0 130 0 10 30 0 5 135 -10 10 35 0 0 140 0 0 40 0 0 145 0 0 45 0 10 150 0 -5 50 0 10 155 5 -5 55 0 0 160 0 -5 60 0 0 165 0 -5 65 0 5 170 10 0 70 10 5 175 0 0 75 0 5 180 10 -5 80 0 0 185 10 -5 85 0 -10 190 10 -5 90 0 0 195 0 -5 95 10 0 200 0 0 100 0 0 . Y dan X. Y X. Y X. Z X.

50 Gambar 4-9 Grafik hasil data pada sumbu X kedua .

X dan Y. Z (mikron) 0 0 10 10 0 0 5 5 5 0 0 -10 -10 0 0 -10 0 0 0 0 0 Panjang sumbu X yang diukur (L= 0–200) 105 110 115 120 125 130 135 140 145 150 155 160 165 170 175 180 185 190 195 200 Pengukuran Y. Z per 5 mm pada sumbu Y Panjang sumbu Y yang diukur (L= 0–200) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 Pengukuran Y. X (mikron) 0 0 10 0 10 0 5 5 0 0 10 0 10 10 10 0 0 0 -5 -5 -5 Pengukuran Y.51 Y terhadap X Y terhadap Z Gambar 4-10 Pengambilan data pada sumbu Y Tabel 4-6 Data hasil pengujian kelurusan gerak Y. X (mikron) -5 0 0 10 0 0 0 0 10 0 -10 0 -10 -5 -5 0 -10 0 0 0 Pengukuran Y. Z (mikron) 0 0 -10 0 0 0 0 0 10 10 10 10 10 0 0 -5 -5 -5 -5 0 .

52 Gambar 4-11 Grafik hasil data pada sumbu Y .

53 Sumbu X Sumbu X kedua pertama Gambar 4-12 Pengambilan data kesejajaran X pertama dan X kedua Tabel 4-7 Data hasil pengujian kesejajaran x pertama dan X kedua per 5 mm Panjang sumbu X yang diukur (L = 0 – 200) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 Hasil kesejajaran (mikron) 0 10 15 5 0 5 5 10 5 5 5 5 0 10 0 10 0 10 0 5 15 Panjang sumbu X yang diukur (L = 0 – 200) 105 110 115 120 125 130 135 140 145 150 155 160 165 170 175 180 185 190 195 200 Hasil kesejajaran (mikron) 5 0 -10 -5 -10 0 0 0 -10 -5 -10 -10 0 -10 -15 0 -10 -5 -5 -5 .

54 Gambar 4-13 Grafik hasil data kesejajaran .

Y per 5 mm Panjang sumbu yang diukur (L = 0 – 200) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 Hasil Ketegaklurusan (mikron) 0 5 15 0 0 -10 -15 0 0 -5 -5 -5 0 0 0 10 0 10 0 -10 -5 Panjang sumbu X yang diukur (L = 0 – 200) 105 110 115 120 125 130 135 140 145 150 155 160 165 170 175 180 185 190 195 200 Hasil Ketegaklurusan (mikron) -5 0 -10 0 0 0 5 0 0 5 10 0 0 -10 -15 0 -10 -5 -5 -5 .55 Gambar 4-14 Pengambilan data ketegaklurusan X. Y Tabel 4-8 Data hasil pengujian ketegaklurusan X.

Y .56 Gambar 4-15 Grafik hasil data ketegaklurusan X.

Y Sumbu X .57 Sumbu Y Gambar 4-16 Daerah toleransi pada sumbu X.

kesejajaran dan ketegaklurusan yaitu pada proses perakitan dan komponen-komponen yang digunakan pada mekanisme. maka dapat disimpulkan bahwa : 1. diantaranya yaitu penggunaan ballscrew dan linear guideways. Hal-hal yang mempengaruhi ketelitian dalam gerak kelurusan. Merancang desain tambahan penempatan motor penggerak ballscrew untuk menggerakan mekanisme ini. Berikut merupakan saran dan perbaikan yang perlu dilakukan : 1. 2. Desain konstruksi mekanisme ini memiliki beberapa hal yang merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh alat yang telah ada sebelumnya. sehingga pola yang dihasilkan lebih presisi dari pada pembuatan pola tanpa alat bantu. 5. nilai toleransi kelurusan. Berdasarkan data pengukuran dari pengujian. karena nilai toleransi yang diijinkan sebesar Ø 0. 58 .Bab 5 PENUTUP 5. yang berfungsi sebagai penggerak nosel untuk pembuatan pola pada proses layer deposition manufacturing. saran dan perbaikan pada penelitian berikutnya perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. kesejajaran dan ketegaklurusan pada mekanisme penggerak nosel dua axis ini memenuhi batas toleransi yang diijinkan. Berdasarkan hasil perancangan mekanisme penggerak nosel dua axis yang dibuat. Pembuatan sistem kontrol mekanisme penggerak nosel ini sehingga dapat digunakan untuk proses pembuatan pola secara otomatis dengan mikrokontroler.2 Saran Dengan berbagai macam pertimbangan. 3.1/200 .1 Kesimpulan Dari penelitian ini dihasilkan sebuah alat bantu. 2.

. Departemen Teknik Industri FTI-ITB.ugm. Pradnya Paramita.uk Sularso.org©2006 Rochim T..H.. 1987. Layer Manufacture : A New Form of 3-D Visualization for Artists. Jakarta. Lab. Perancangan dan Pembuatan Mekanisme Penggerak Nozzel Dua Axis Sebagai Alat Bantu Untuk Membuat Produk Pada Proses Layer Manufacturing. Association for International Technical Promotion. www. 1999.smith@uclan. Suga K. 1985.ac. Jakarta. Tugas Akhir Teknik Mesin-UII. Teknik Industri JTM FT UGM.lspitb. University of Central Lanchashire. Pengetahuan Bahan Teknik.. Bandung. Layer Manufacturing : Pembuatan benda 3D..2006 http://alva.. Metrologi Industri Jurusan Mesin FTI-ITB. 2009.id . Tontowi A E. Spesifikasi Geometris Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas. Laboratorium Sistem Produksi. Saito S.DAFTAR PUSTAKA Hariadi A. Surdia T.h. Wirjomartono S.. Dasar Perancangan Teknik Industri : Pengukuran dan Alat Ukur. Smith T. Yogyakarta. Bandung. e.staff. Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin.ac.

LAMPIRAN .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->