DISTRIBUSI ZAT TERLARUT ANTARA DUA PELARUT YANG TAK SALING CAMPUR

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I DISTRIBUSI ZAT TERLARUT ANTARA DUA PELARUT YANG TAK SALING CAMPUR Disusun oleh: Nama NIM Kelompok Tgl Praktikum Dosen : Yovita Novi : H23111004 : 1 (SATU) : 14 Desember 2012

: Berlian Sitorus,S.Si.,M.Si / Intan Syahbanu M.si Asisten Prodi Anggota kelompok : Dian : Kimia : 1. Yovita Novi

2. Irma Ramadhani F 3. Safitri Ulfah Ramadhani

PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012

bergantung apakah satu ke dalam yang lain hampir tak dapat larut atau setengah larut. dan d eter = 0.BAB I PENDAHULUAN 1. Yang terakhir yaitu dengan hukum fase. eter dan air. reaksi berlangsung antara dua fase atau lebih. bila cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air. dimana menurut hukum distribusi Nerst. dan hasil pisahan berupa lapisan airnya dititrasi dengan NaOH standar dengan bantuan indikator PP. iod akan dijumpai terbagi dalam kedua pelarut. Oleh karena hukum distribusi ini banyak digunakan dalam penentuan tetapan kesetimbangan. untuk kesetimbangan suatu zat dalam 2 pelarut. Jadi iod jauh lebih dapat larut dalam karbon disulfida. cara ini digunakan utntuk kesetimbangan kimia yang berisi gas.untuk kesetimbangan yang umum.1 Latar Belakang Cukup diketahui berbagai zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang lain. Suatu keadaan kesetimbangan terjadi antara larutan iod dalam karbon disulfida dan larutan iod dalam air (Vogel. dikocok bersama-sama dalam satu bejana dan campuran kemudian dibiarkan. Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi. Cairan-cairan seperti itu dikatakan sebagai tak-dapat-campur (karbon disulfida dan air) atau setengah-campur (eter dan air). atau antara padatan dan cairan.1986). 1. Antara lain fase kesetimbangan fisika dan kesetimbangan kimia. jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur dimasukkan solute yang tak dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. atau karbon tetraklorida. sehingga zat terdistribusi antara lapisan air dan petroleum eter. dilakukan pemisahan. maka dari itu dilakukanlah percobaan distribusi solute(zat terlarut) antara dua pelarut yang tak saling campur ini.7134 g/cm3. jadi pada sistem heterogen dapat dijumpai reaksi antara padat dan gas. menghasilkan dua lapisan berupa lapisan air dibawah dan lapisan eter diatas berdasarkan densitas yang dimiliki oleh kedua cairan. Jika iod dikocok bersama suatu campuran karbon disulfida dan air kemudian didiamkan. Yang kedua dengan hukum distribusi Nernest. Cara yang paling mudah untuk menyelesaikan persoalan pada sistem heterogen adalah menganggap komponen-komponen dalam reaksi bereaksi pada fase yang sama. d air = 0.0998 g/cm3. kloroform. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan . Kesetimbangan heterogen dapat dipelajari dengan 3 cara yaitu dengan mempelajari tetapan kesetimbangannya. analisis dan penentuan tetapan kesetimbangan. Pada sistem heterogen.2 Prinsip Percobaan Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat terlarut ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur yaitu ait dan dietil eter. Kesetimbangan heterogen ditandai dengan adanya beberapa fase. Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukanaktivitas zat terlarut dalam suatu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain yang diketahui. yang akan menunjukkan titik akhir titrasi. karena perbedaan kepolaran antara air(polar) dan dietil eter(non polar). Lagi pula. Ada penambahan zat ketiga berupa asam asetat dan asam oksalat. asalkan kedua pelarut tidak bercampur sempurna satu sama lain. agar dapat menentukankonstanta kesetimbangan suatu pelarut yang tidak bercampur. maka kedua cairan akan memisah menjadi dua lapisan.

Setelah tercapai kesetimbangan perbandingan konsentrasi I2 dalam air dan CHCl3 pada temperatur tetap juga tetap. Pada keadaan setimbang. Pernyataan ini dikenal dengan “hukum distribusi”. Jika tidak terjadi asosiasi. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Hukum distribusi atau partisi. perbandingan fraksi mol dari zat terlarut dalam kedua pelarut berharga tetap pada temperatur tetap. Hukum ini hanya berlaku bila larutannya encer dan zat terlarut mempunyai struktur molekul yang sama dalam dua pelarut(Sukardjo.3 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini yaitu memperlajari kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur dan menentukan harga konstanta distribusinya. Suatu zat yang dapat larut dalam dua zat pelarut yang tidak saling campur dan ketiga-tiganya ada bersama. Koefisien distribusi dinyatakan dengan berbagai rumus sebagai berikut(Soebagio. dimana Vw = volume fase air. bila ke dalam kedua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan.2008): D = (Vw/Vo E)/(100-E) .dkk. lebih sering digunakan istilah persen ekstraksi (E). untuk tujuan praktis sebagai ganti harga KD atau D. Menurut hukum distribusi Nerst. 1.merupakan suatu ketetapan pada suhu tetap. maka zat tersebut akan terbagi kedalam dua pelaruttersebut. disosiasi atau polimerisasi pada fase-fase tersebut dan keadaan yang kita punya adalah ideal. Penentuan KD bisa dengan rumus berikut: K=C1/C2. maka I2 akan terbagi dalam air dan dalam CHCl3. Tetapan tersebut adalah tetapan distribusi atau koefisien distribusi (KD). Dalam praktek solutakan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah di kocok dan dibiarkan terpisah.1994 ). Bila larutan jenuh I2 dalam CHCl3 dikocok dalam air yang tidak larut dalam CHCl3. 2002): KD = C2/C1 atau KD = Co/Ca Jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tak dapat saling bercampur ditambahkan zat ketiga yang dapat melarut pada keduanya maka zat ketiga akan terdistribusi diantara ke dua fasa tadi dalam jumlah tertentu. ini berhubungan dengan perbandingan distribusi dalam persamaan sebagai berikut(Khopkar. kenyataan ini merupakan akibat langsung hukum termodinamika pada kesetimbangan(Basset. Vo = volume fase organik . Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap.1996). Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi. maka harga KD sama dengan D.

asam-asam dan bas a-basa yang dapat larut dalam air bisa dipisahkan dengan baik melalui ekstraksi ke dalam air dari pelarut yang kurang polar. . larutan asam asetat(CH3COOH). dibuat larutan asam asetat. corong kaca. dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. Pelarut umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti CHCl3. hukum distribusi (atau partisi) Nernst menyatakan bahwa asal keadaan molekulnya sama dalam kedua cairan dan temperatur adalah konstan(Basset. cawan petri. 1994). batang pengaduk. Bahan-bahan yang digunakan dalam percbaaan ini yaitu akuades (H2O). sifat dasar zat terlarut. Dibuat larutan oksalat dalam 50ml untuk 3 gram sampel.25M. pipet volume 10ml 2 buah. Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa tidak tercampurkan a dan b. erlenmeyer 250ml 8 buah. labu ukur. Harga angka banding berubah dengan sifat dasarpelarut. statif kayi dan besi lengkap. gelas kimia 2 buah. larutan asam oksalat(H2C2O4). 3. yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang pertama.1 Alat dan Bahan Adapun alat-alat yang digunakan dala percobaan ini yaitu corong pisah 250ml 3 buah. 0. dan asam oksalat.0625M. Garam anorganik. demikian pula untuk NaOH ditimbang 2 gram dan ditepatkan hingga 500ml akuades. 2001). Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Arsyad. selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat untuk memperoleh asam asetat dengan variasi konsentrasi 0. BAB III METODOLOGI 3.5M dalam 50ml akuades. maka pada suatu temperatur yang konstanuntuk setiap spesi molekul terdapat angka banding distribusi ini tidak tergantunngpada spesi molekul yang lain. NaOH. bulb 2 buah. larutan natrium hidroksida (NaOH) standar dan pelarut organik(dietil eter).dkk. spatula.125M. dan temperatur (Svehla. botol semprot.Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut antaradua pelarut yang tidak saling campur.1990) Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik). Dalam membuat larutan asam asetat dibuat dengan konsentrasi 0.2 Prosedur Kerja Pertama-tama. dan 0. Ekstraksi meliputi distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang tidak dapat campur. buret 50ml 2 buah. dan lain-lain. eter atau pentana. indikator fhenolfthalein(PP).

Selanjutnya.3 Rangkaian Alat Gb.1 Tabel Pengamatan 4. Setelah itu dikocok sampai terjadi kesetimbangan selama 15 menit dan larutan terdistribusi dengan baik.2. dan dicatat volume NaOH yang dipakai.1ml Merah muda . terlebih dahulu menitrasi asam oksalat dengan 2ml asam oksalat dan ditambahkan indikator PP. Larutan standarNo 1 2 2ml 2ml 20. (b). 3.25 M 5ml Kosentrasi asam asetat Volume asam asetat Volume NaoH 4. Proses distribusi dengan mengocok larutan dalam corong pisah.1. Kemudian didiamkan sehingga terjadi pemisahan antara pelarut air dan pelarut organik.5 M 5ml 0. Titrasi asam asetatNo Perubahan Warna 1 2 0.1.1 Rangkaian alat titrasi(dipakai untuk titrasi lapisan air dengan NaOH standar). kedua larutan tersebut dimasukkan kedalam corong pisah. (a). diambil 5ml hasil pemisahan tersebut yang berupa lapisan air.1. dimana akan terbentuk dua lapiran antar kedua larutan yang bersangkutan (yaaiut antara air dan dietil eter) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. ditambahkan indikator PP dan dititrasi dengan larutan standar NaOH. Proses pemisahan dua larutan yang tak saling campur. Dicatat perubahan yang terjadi.Kemudian mengambil 20 ml asam asetat salah satu kosentrasi dan ditambahkan eter 20 ml.5ml Merah muda 11.4 ml 20 ml Volume asam oksalat Volume NaOH 4. Sebelum dilakukan titrasi hasil pemisahan lapisan air. Setelah dipisahkan kedua lapisan dengan cara mengambil lapisan paling bawah sampai garis batas lapisan. Gb.2.

Pelarut organik yang digunakan dalam percobaan ini adalah dietil eter. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap.2 Pembahasan Berdasarkan hukum Nernst. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi yang dinyatakan sebagai perbandingan antara fasa organik dan fasa air. bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Prinsip pada praktikum kali ini yaitu berdasarkan pada distribusi Nernst. Alat pemisah yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong pemisah. maka zat A akan terdistribusi baik ke dalam lapisan air (fasa air) dan lapisan organik (fasa organik). Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Jumlah pelarut yang digunakan untuk tiap kali mengekstraksi juga sedikit. kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. karbon sulfida. Ekstraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar.yaitu terlarut dengan perbandingan tertentu antara 2 pelarut yang tidak salingmelarut atau bercampur seperti eter. Setelah terbentuk dua lapisan. yaitu cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula.3 4 0. Dimana pada saat kesetimbangan terjadi. Caranya sangat mudah. perbandingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua fasa itu dinyatakan sebagai nilai Kd atau koefisien distribusi (partisi) dengan perbadingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua fasa organik-air tersebut adalah pada temperatur tetap.0625 M 5ml 5ml 4. Prinsip pada titrasi netralisasi yaitu titrasi asam .6ml Merah muda 6. campuran dipisahkan untuk dianalisis kandungan konsentrasi zat terlarut tersebut. dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. murah dan sering digunakan untuk pemisahan analitik. Kesempurnaan ekstraksi bergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Senyawa-senyawa organik. jika suatu larutan (dalam air) mengandung zat organik A dibiarkan bersentuhan dengan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air. sehingga senyawasenyawa organik mudah dipisahkan dari campurannya yang mengandung air atau larutannya. Menurut hukum distribusi Nernst. Hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang relatif besar dengan jumlah pelarut yang kecil. Ekstraksi-cair-cair tak kontinyu atau dapat disebut juga ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana. sehingga ketika ditotal jumlah pelarut untuk ekstraksi tersebut tidak terlalu besar agar dicapai kesempurnaan ekstraksi. Semakin sering kita melakuka ekstraksi. kloroform. misalnya dalam percobaan ini digunakan asam asetat umumnya relatif lebih suka larut ke dalam pelarut-pelarut organik daripada ke dalam air. maka semakin banyak zat terlarut terdistribusi pada salah satu pelarut dan semakin sempurna proses pemisahannya. Metode penentuan koefisien distribusi asam asetat dilakukan dengan penentuan konsentrasi asam asetat baik yang ada dalam fasa air maupun fasa organik.125 M 0.7ml Merah muda 4.

Dalam percobaan ini digunakan 4 larutan asam asetat dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 0.5 M. Indikator ini merupakan asam diprotik dan tidak berwarna.5ml. Jika gas tidak dikeluarkan. fasa atasdan fasa bawah. Dalam prosedur percobaan seharusnya dilakukan pengocokan dilakukan selama 30 menit dengan menggunakan pengocok magnetik sehingga kecepatan pengocokan konstan namun prosedur tersebut tidak dapat dilakukan dengan baik karena pengocokan dilakukan secara manual sehingga kecepatan pengocokan tidak dapat berjalan dengan konstan dan hanya dilakukan selama 15 menit. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Dari proses titrasi diperoleh volume larutan NaOH 0. dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini menjadi ion terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda. dimana kadar lalrutan basa dapat ditentukan dengan menggunakanlarutan asam. Fungsi pengocokan disini untuk membesar luas permukaan untuk membantu proses distribusi asam asetat pada kedua fasa.125M. 0. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. dan dilakukan pengocokan secara manual selama kurang lebih 15 menit.0625M.7ml. sedangkan larutan asam asetat yang larut dalam pelarut petroleum eter berada di lapisan bawah. Setelah pencampuran asam asetat dengan dietil eter dalam corong pemisah.66 sedangkan massa jenis air sebesar 0. Hal ini terjadi karena perbedaan berat jenis pelarut organik dengan berat jenis air (massa jenis air lebihbesar di banding masa jenis petroleum eter dimana massa jenis petroleum eter sebesar 0. Pada pelarut eter. larutan sering menghasilkan gas dimana gas yang terbentuk itu berasal dari larutan dietil eter yang bersifat mudah menguap. dan 0. Saat direkasikan.99)Setelah proses pemisahan lapisan larutan berjalan dengan sempurna. campuran kemudian didiamkan dan terbentuk dua lapisan. Oleh sebab itu ketika pengocokan dilakukan. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa antara konsentrasia sam asetat dengan volume NaOH yang diperlukan dalam titrasi memiliki hubunganyang sebanding.1ml.5 M adalah 4. dimana untuk tiap konsentrasi asam asetat dilakukan pengulangan. Sebanyak 20 mL asam asetat dicampur dengan 20 mL dietil eter. pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda. sesekali gas harus dikeluarkan melalui kran. Adapun volume NaOH yangdiperlukan untuk konsentrasi asam asetat 0.125 adalah 4. 0. Penggunaan indikator berguna untuk mendeteksi titik akhir titrasi. Setelah tercapai kesetimbangan pada corong pisah. Dari kedua fsa tersebut yang diambil adalah fasa bawah karena pada fasa tersebut dicurigai terdapat asam asetat.125M dan 0.0625M.basa yang melibatkan asammaupun basa sebagai titer ataupun titran. Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator fenolftalein (pp). asam asetat yang larut dalam air akan berada di lapisan bawah.25 adalah 11. larutan menjadi berasa dingin (terjadinya penurunan temperatur larutan) dan saat pengocokan dilakukan.5 M yang diperlukan untuk menetralkan asam dalam larutan yaitu asam asetat. Dilakukan pula untuk konsentrasi 0. fenolftalein terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan kemudian. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.Pengeluaran gas dilakukan saat gas memberikan tekanan yang kuat pada tutup corong pemisah.6ml dan dan yaang 0. Walaupun ada volume yang sangat . maka lapisan air yang mengandung asam asetat dikeluarkan dan selanjutnya sebanyak 5mL larutan tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 0.0625 adalah 6.25M. yang o. dapat menyebabkan terjadinya ledakan pada corong pemisah.5 M Titrasi ini merupakan jenis titrasi asam basa dimana asamnya yaitu asam asetat (CH3COOH) bertindak sebagai titrat sedangkan basa yaitu NaOH bertindak sebagai titran. yang 0. 0. dimana akan terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.25M.

Penyebab dari ketidaksesuaian ini adalah kecepatan dari pengocokan yang tidak sama antara kedua larutan sehingga tidak terjadi pemisahan secara sempurna. Dari volume NaOH yang diperoleh dapat dilakukan perhitungan untuk mencari nilai koefisien distribusi dari percobaan yang dilakukanNilai KD untuk larutan asam asetat pada konsentrasi tiapkonsentrasi secara berurutan sebesar 0. Sedangkan sifat kimianyaa dalah melarut dengan mudah dalam air. asam asetat merupakan asam lemah dan monobasik. dan merupakan indikator dalam analisis kimia.227. Fungsi petroleum eter adalah sebagai pelarut organik yang digunakan untuk melarutkan asam asetat. Dari perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai Kddengan perbandingan hampir sama.05 gr/mol. itu dikarenakan. cairan.6 K)(244. Pada dasarnya. Natrium hidroksida (NaOH) berfungsi sebagai larutan standar untuk menitrasi asam cuka(titran). massamolar 60. Dan fungsi untuk batang pengaduk adalah alat untuk mengaduk dua zat yang dicampur agar terbentuk larutan yang homogen. larut dalam 95 % etil alkohol. 0. maka volume larutan NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam asetat tersebut juga akan semakin banyak. Hal ini hampir sesuai dengan literatur dimana semakin tinggi konsentrasi asam asetat maka nilai KD yang diperoleh juga semakin tinggi. Erlenmeyer sendiri berfungsi sebagai wadah zat yang akan dititrasi.10C (391. Statif dan klem berfungsi sebagai penyanggah berdirinya buret. Sedangkan untuk sifat kimianya yaitu mudah menyerap gas CO2. sangat korosif terhadap jaringan tubuh dan tidak berbau. kemudian ada zat yang tumpah/keluar saat pengocokan.50F). Penampilan cairan higroskopis tak berwarna.2 ± 0. kurangnya distribusi saat pengocokan. Beaker glass berfungsi sebagai wadah campuran yang diaduk. penampilan berupa padatan Kristal tak berwarna. karena ekstraksi harus dilakukan pada tempertur konstan. termasuk asam lemah dan larut dalam air.60F). Sifat fisika untuk NaOH adalah memiliki densitas dan fase 2. sehingga berpengaruh pada saat proses titrasi yaitu pada volumenya.50C (289. titik lebur sebesar 118. memiliki massa jenis 1. merupakan asam dwiprotik. tidak dapat bereaksi dengan larutan yang direaksikan. Indikator Phenolphtalein (pp) berfungsi sebagai indikator yang menunjukkan titik akhir titrasi dan untuk akuades berfungsi sebagai pelarut.108 M. 0. cairan.sedikit dan ada agat naik drastis. penampilan yaitu cairan higroskopis tak berwarna. memiliki titik lebur dan titik didih sebesar 3180C dan 13900C. Sifat fisika dari asam asetat adalah memiliki rumus molekul CH3COOH. Corong pisah disini berfungsi untuk memasukkan larutan standar ke dalam buret. berbentuk larutan.266 g/cm3.Untuk fungsi alatnya yaitu : pipet tetes berfungsi untuk mengambil indikator dan memasukkannya ke dalam Erlenmeyer. Sedangkan untuk sifat kimianya adalah trayek pH berkisar pada 8. Adapun fungsi bahan dan alat sebagai berikut : asam cuka (CH3COOH) berfungsi sebagai zat yang akan diidentifikasi kadar asam asetatnya. densitas dan fase 1. padatan.107 M. Selain itu. Maupun ke dalam Erlenmeyer. senyawa ini sangat mudah larut dalam air.100 g/cm3. Secara teknik. dan 0. temperatur juga mempengaruhi proses ekstraksi.049 g/cm3. faktor pengocokan sangat penting dan mempengaruhi proses distribusi suatu larutan organik pada pelarut organik dan air yang tidak saling campur. Asam asetat dapat merubah kertas lakmus biru menjadi merah.2-10. tidak berwarna saat asam dan saat kondisi .6 ± 0. hanya sebagai indikator. Fungsi buret itu sendiri adalah sebagai wadah untuk titrannya(NaOH). merupakan larutan basa kuat. Semakin besar konsentrasi asam asetat yang digunakan. 1.107 M.107 M. bersifat higroskopis dan korosif. Sifat fisika untuk indikator pp yaitu memiliki rumus molekul C20H14O4. Asam asetat membebaskan CO2 dari karbonat dan asam asetat menyerang logam yang melibatkan hidrogen. Titik lebur 16.5 K) (61.

Khopkar. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. M.basa akan berwarna merah lembayung. M. Jakarta. dkk. Jakarta. dengan titik didih 35 °C dan konstanta dielektriknya sebesar 4.1 Simpulan Diketahui kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur (yaitu air yang tidak bercampur dengan petroleum eter). S. 1997. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta. Adapun faktor kesalahan dalam percobaan kali ini yaitu : −Kesalahan pada saat pengocokan. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Basset. bisa digunakan pelarut non polar lain seperti kloroform. sehingga didapat hasil yang bervariasi.713 g/ml. etil asetat. penyebabkan cairan ada yang keluar dan distribusi terhambat. serta memiliki massa jenis sebesar 0. Adapun sifat fisik dan kimia dari dietil eter yaitu memiliki rumus molekul CH3CH2-O-CH2-CH3. Atau mungkin juga bisa menggunakan pelarut non polarnya selain air.1 Saran Adapun saran saya untuk percobaan kedepannya. benzene ataupun toluena. Gramedia. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press. Jakarta : UI Press .1073M 5. -mungkin kesalahan pada mentitrasi juga. serta telah didapat harga konstanta distribusinya yaitu sebesar 0. . N. sehingga berpengaruh pada jumlah volume NaOH yang bereaksi −Kesalahan pada saat pengenceran asam asetat. misalnya diginakan etanol atau metanol. kemungkinan larutan tidak tepat pada batas tepat. BAB V PENUTUP 5.3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. J. 1990. 1994.

Kalman Media Pustaka.Svehla. 1985. 1986. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka. PT. Malang : Universitas Negeri Malang. 2000. G. Soebagio. Buku Teks Analisis Secara Kualitatif Makro dan Semimikro. . Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro. Jakarta. Kimia Analitik II (JICA). Vogel.