P. 1
Distribusi Zat Terlarut Antara Dua Pelarut Yang Tak Saling Campur

Distribusi Zat Terlarut Antara Dua Pelarut Yang Tak Saling Campur

|Views: 1,398|Likes:
Published by Ani Devi Ariyanti

More info:

Published by: Ani Devi Ariyanti on May 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2015

pdf

text

original

DISTRIBUSI ZAT TERLARUT ANTARA DUA PELARUT YANG TAK SALING CAMPUR

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I DISTRIBUSI ZAT TERLARUT ANTARA DUA PELARUT YANG TAK SALING CAMPUR Disusun oleh: Nama NIM Kelompok Tgl Praktikum Dosen : Yovita Novi : H23111004 : 1 (SATU) : 14 Desember 2012

: Berlian Sitorus,S.Si.,M.Si / Intan Syahbanu M.si Asisten Prodi Anggota kelompok : Dian : Kimia : 1. Yovita Novi

2. Irma Ramadhani F 3. Safitri Ulfah Ramadhani

PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012

Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukanaktivitas zat terlarut dalam suatu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain yang diketahui. yang akan menunjukkan titik akhir titrasi. dan d eter = 0. Kesetimbangan heterogen ditandai dengan adanya beberapa fase. asalkan kedua pelarut tidak bercampur sempurna satu sama lain. jadi pada sistem heterogen dapat dijumpai reaksi antara padat dan gas.untuk kesetimbangan yang umum. eter dan air. maka kedua cairan akan memisah menjadi dua lapisan. sehingga zat terdistribusi antara lapisan air dan petroleum eter. Cairan-cairan seperti itu dikatakan sebagai tak-dapat-campur (karbon disulfida dan air) atau setengah-campur (eter dan air). dimana menurut hukum distribusi Nerst. atau antara padatan dan cairan. atau karbon tetraklorida. Ada penambahan zat ketiga berupa asam asetat dan asam oksalat. Cara yang paling mudah untuk menyelesaikan persoalan pada sistem heterogen adalah menganggap komponen-komponen dalam reaksi bereaksi pada fase yang sama. Antara lain fase kesetimbangan fisika dan kesetimbangan kimia. 1. bila cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air. reaksi berlangsung antara dua fase atau lebih. Yang terakhir yaitu dengan hukum fase. bergantung apakah satu ke dalam yang lain hampir tak dapat larut atau setengah larut. dikocok bersama-sama dalam satu bejana dan campuran kemudian dibiarkan.1986).1 Latar Belakang Cukup diketahui berbagai zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang lain. Pada sistem heterogen. dilakukan pemisahan.BAB I PENDAHULUAN 1. kloroform. Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi. karena perbedaan kepolaran antara air(polar) dan dietil eter(non polar).7134 g/cm3. analisis dan penentuan tetapan kesetimbangan. menghasilkan dua lapisan berupa lapisan air dibawah dan lapisan eter diatas berdasarkan densitas yang dimiliki oleh kedua cairan. Kesetimbangan heterogen dapat dipelajari dengan 3 cara yaitu dengan mempelajari tetapan kesetimbangannya. Jadi iod jauh lebih dapat larut dalam karbon disulfida. Oleh karena hukum distribusi ini banyak digunakan dalam penentuan tetapan kesetimbangan. untuk kesetimbangan suatu zat dalam 2 pelarut. jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur dimasukkan solute yang tak dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan.0998 g/cm3. Lagi pula. dan hasil pisahan berupa lapisan airnya dititrasi dengan NaOH standar dengan bantuan indikator PP. maka dari itu dilakukanlah percobaan distribusi solute(zat terlarut) antara dua pelarut yang tak saling campur ini.2 Prinsip Percobaan Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat terlarut ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur yaitu ait dan dietil eter. iod akan dijumpai terbagi dalam kedua pelarut. agar dapat menentukankonstanta kesetimbangan suatu pelarut yang tidak bercampur. Jika iod dikocok bersama suatu campuran karbon disulfida dan air kemudian didiamkan. Yang kedua dengan hukum distribusi Nernest. cara ini digunakan utntuk kesetimbangan kimia yang berisi gas. Suatu keadaan kesetimbangan terjadi antara larutan iod dalam karbon disulfida dan larutan iod dalam air (Vogel. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan . d air = 0.

maka zat tersebut akan terbagi kedalam dua pelaruttersebut. Suatu zat yang dapat larut dalam dua zat pelarut yang tidak saling campur dan ketiga-tiganya ada bersama. dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Hukum ini hanya berlaku bila larutannya encer dan zat terlarut mempunyai struktur molekul yang sama dalam dua pelarut(Sukardjo.1996). Penentuan KD bisa dengan rumus berikut: K=C1/C2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Hukum distribusi atau partisi. ini berhubungan dengan perbandingan distribusi dalam persamaan sebagai berikut(Khopkar. 2002): KD = C2/C1 atau KD = Co/Ca Jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tak dapat saling bercampur ditambahkan zat ketiga yang dapat melarut pada keduanya maka zat ketiga akan terdistribusi diantara ke dua fasa tadi dalam jumlah tertentu. maka harga KD sama dengan D. Pernyataan ini dikenal dengan “hukum distribusi”. Dalam praktek solutakan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah di kocok dan dibiarkan terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap. 1. dimana Vw = volume fase air. Setelah tercapai kesetimbangan perbandingan konsentrasi I2 dalam air dan CHCl3 pada temperatur tetap juga tetap. Jika tidak terjadi asosiasi. perbandingan fraksi mol dari zat terlarut dalam kedua pelarut berharga tetap pada temperatur tetap. Pada keadaan setimbang. Tetapan tersebut adalah tetapan distribusi atau koefisien distribusi (KD). Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. maka I2 akan terbagi dalam air dan dalam CHCl3.merupakan suatu ketetapan pada suhu tetap. Bila larutan jenuh I2 dalam CHCl3 dikocok dalam air yang tidak larut dalam CHCl3. untuk tujuan praktis sebagai ganti harga KD atau D.1994 ). Menurut hukum distribusi Nerst. Koefisien distribusi dinyatakan dengan berbagai rumus sebagai berikut(Soebagio.3 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini yaitu memperlajari kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur dan menentukan harga konstanta distribusinya. lebih sering digunakan istilah persen ekstraksi (E). disosiasi atau polimerisasi pada fase-fase tersebut dan keadaan yang kita punya adalah ideal.dkk.2008): D = (Vw/Vo E)/(100-E) . kenyataan ini merupakan akibat langsung hukum termodinamika pada kesetimbangan(Basset. bila ke dalam kedua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Vo = volume fase organik .

sifat dasar zat terlarut. larutan natrium hidroksida (NaOH) standar dan pelarut organik(dietil eter). 0. 1994). gelas kimia 2 buah.125M. Ekstraksi meliputi distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang tidak dapat campur. statif kayi dan besi lengkap. Dalam membuat larutan asam asetat dibuat dengan konsentrasi 0. eter atau pentana. dan asam oksalat. Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa tidak tercampurkan a dan b. dan lain-lain. indikator fhenolfthalein(PP).2 Prosedur Kerja Pertama-tama. pipet volume 10ml 2 buah. Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Arsyad. maka pada suatu temperatur yang konstanuntuk setiap spesi molekul terdapat angka banding distribusi ini tidak tergantunngpada spesi molekul yang lain. cawan petri.dkk. NaOH. BAB III METODOLOGI 3. batang pengaduk. Dibuat larutan oksalat dalam 50ml untuk 3 gram sampel. dan 0. yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang pertama. labu ukur. Pelarut umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti CHCl3. 3. dibuat larutan asam asetat. dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. larutan asam asetat(CH3COOH).1990) Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik). Garam anorganik. selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat untuk memperoleh asam asetat dengan variasi konsentrasi 0. corong kaca. botol semprot.25M. erlenmeyer 250ml 8 buah. demikian pula untuk NaOH ditimbang 2 gram dan ditepatkan hingga 500ml akuades. Harga angka banding berubah dengan sifat dasarpelarut. buret 50ml 2 buah. larutan asam oksalat(H2C2O4).5M dalam 50ml akuades.Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut antaradua pelarut yang tidak saling campur. hukum distribusi (atau partisi) Nernst menyatakan bahwa asal keadaan molekulnya sama dalam kedua cairan dan temperatur adalah konstan(Basset. asam-asam dan bas a-basa yang dapat larut dalam air bisa dipisahkan dengan baik melalui ekstraksi ke dalam air dari pelarut yang kurang polar. Bahan-bahan yang digunakan dalam percbaaan ini yaitu akuades (H2O).1 Alat dan Bahan Adapun alat-alat yang digunakan dala percobaan ini yaitu corong pisah 250ml 3 buah. 2001).0625M. spatula. bulb 2 buah. . dan temperatur (Svehla.

4 ml 20 ml Volume asam oksalat Volume NaOH 4. Selanjutnya. kedua larutan tersebut dimasukkan kedalam corong pisah. diambil 5ml hasil pemisahan tersebut yang berupa lapisan air. Setelah itu dikocok sampai terjadi kesetimbangan selama 15 menit dan larutan terdistribusi dengan baik. Larutan standarNo 1 2 2ml 2ml 20.Kemudian mengambil 20 ml asam asetat salah satu kosentrasi dan ditambahkan eter 20 ml. dimana akan terbentuk dua lapiran antar kedua larutan yang bersangkutan (yaaiut antara air dan dietil eter) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tabel Pengamatan 4. terlebih dahulu menitrasi asam oksalat dengan 2ml asam oksalat dan ditambahkan indikator PP. dan dicatat volume NaOH yang dipakai.1. ditambahkan indikator PP dan dititrasi dengan larutan standar NaOH. Sebelum dilakukan titrasi hasil pemisahan lapisan air. Proses pemisahan dua larutan yang tak saling campur. (b).1.25 M 5ml Kosentrasi asam asetat Volume asam asetat Volume NaoH 4. Gb.5ml Merah muda 11.5 M 5ml 0. Dicatat perubahan yang terjadi. 3. Titrasi asam asetatNo Perubahan Warna 1 2 0.2. (a).1 Rangkaian alat titrasi(dipakai untuk titrasi lapisan air dengan NaOH standar). Setelah dipisahkan kedua lapisan dengan cara mengambil lapisan paling bawah sampai garis batas lapisan.3 Rangkaian Alat Gb. Kemudian didiamkan sehingga terjadi pemisahan antara pelarut air dan pelarut organik.1ml Merah muda . Proses distribusi dengan mengocok larutan dalam corong pisah.2.1.

Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi yang dinyatakan sebagai perbandingan antara fasa organik dan fasa air. misalnya dalam percobaan ini digunakan asam asetat umumnya relatif lebih suka larut ke dalam pelarut-pelarut organik daripada ke dalam air. Kesempurnaan ekstraksi bergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan.2 Pembahasan Berdasarkan hukum Nernst. Hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang relatif besar dengan jumlah pelarut yang kecil. Ekstraksi-cair-cair tak kontinyu atau dapat disebut juga ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana.yaitu terlarut dengan perbandingan tertentu antara 2 pelarut yang tidak salingmelarut atau bercampur seperti eter. Ekstraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar. Alat pemisah yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong pemisah. Setelah terbentuk dua lapisan. Caranya sangat mudah. campuran dipisahkan untuk dianalisis kandungan konsentrasi zat terlarut tersebut. kloroform. Semakin sering kita melakuka ekstraksi. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap. dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Dimana pada saat kesetimbangan terjadi. murah dan sering digunakan untuk pemisahan analitik. Prinsip pada praktikum kali ini yaitu berdasarkan pada distribusi Nernst. Senyawa-senyawa organik. sehingga ketika ditotal jumlah pelarut untuk ekstraksi tersebut tidak terlalu besar agar dicapai kesempurnaan ekstraksi. sehingga senyawasenyawa organik mudah dipisahkan dari campurannya yang mengandung air atau larutannya.0625 M 5ml 5ml 4.125 M 0. kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. Prinsip pada titrasi netralisasi yaitu titrasi asam . maka semakin banyak zat terlarut terdistribusi pada salah satu pelarut dan semakin sempurna proses pemisahannya. bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan.6ml Merah muda 6. Pelarut organik yang digunakan dalam percobaan ini adalah dietil eter. karbon sulfida. jika suatu larutan (dalam air) mengandung zat organik A dibiarkan bersentuhan dengan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air. maka zat A akan terdistribusi baik ke dalam lapisan air (fasa air) dan lapisan organik (fasa organik). perbandingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua fasa itu dinyatakan sebagai nilai Kd atau koefisien distribusi (partisi) dengan perbadingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua fasa organik-air tersebut adalah pada temperatur tetap.3 4 0. yaitu cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air.7ml Merah muda 4. Metode penentuan koefisien distribusi asam asetat dilakukan dengan penentuan konsentrasi asam asetat baik yang ada dalam fasa air maupun fasa organik. Menurut hukum distribusi Nernst. Jumlah pelarut yang digunakan untuk tiap kali mengekstraksi juga sedikit.

Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator fenolftalein (pp). Setelah pencampuran asam asetat dengan dietil eter dalam corong pemisah. yang 0. 0.6ml dan dan yaang 0. yang o.5 M Titrasi ini merupakan jenis titrasi asam basa dimana asamnya yaitu asam asetat (CH3COOH) bertindak sebagai titrat sedangkan basa yaitu NaOH bertindak sebagai titran. Sebanyak 20 mL asam asetat dicampur dengan 20 mL dietil eter. sedangkan larutan asam asetat yang larut dalam pelarut petroleum eter berada di lapisan bawah.Dalam percobaan ini digunakan 4 larutan asam asetat dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 0. Penggunaan indikator berguna untuk mendeteksi titik akhir titrasi. 0. Dari kedua fsa tersebut yang diambil adalah fasa bawah karena pada fasa tersebut dicurigai terdapat asam asetat. Jika gas tidak dikeluarkan. Dilakukan pula untuk konsentrasi 0. Dalam prosedur percobaan seharusnya dilakukan pengocokan dilakukan selama 30 menit dengan menggunakan pengocok magnetik sehingga kecepatan pengocokan konstan namun prosedur tersebut tidak dapat dilakukan dengan baik karena pengocokan dilakukan secara manual sehingga kecepatan pengocokan tidak dapat berjalan dengan konstan dan hanya dilakukan selama 15 menit.5 M. fenolftalein terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan kemudian. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa antara konsentrasia sam asetat dengan volume NaOH yang diperlukan dalam titrasi memiliki hubunganyang sebanding. sesekali gas harus dikeluarkan melalui kran. Saat direkasikan.0625M. Pada pelarut eter. Adapun volume NaOH yangdiperlukan untuk konsentrasi asam asetat 0.0625 adalah 6. dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini menjadi ion terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda.25 adalah 11. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Dari proses titrasi diperoleh volume larutan NaOH 0.99)Setelah proses pemisahan lapisan larutan berjalan dengan sempurna. pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda. dan dilakukan pengocokan secara manual selama kurang lebih 15 menit. Walaupun ada volume yang sangat .5 M adalah 4. Indikator ini merupakan asam diprotik dan tidak berwarna. dapat menyebabkan terjadinya ledakan pada corong pemisah.basa yang melibatkan asammaupun basa sebagai titer ataupun titran. dimana untuk tiap konsentrasi asam asetat dilakukan pengulangan. asam asetat yang larut dalam air akan berada di lapisan bawah.5ml. dimana kadar lalrutan basa dapat ditentukan dengan menggunakanlarutan asam.Pengeluaran gas dilakukan saat gas memberikan tekanan yang kuat pada tutup corong pemisah. larutan menjadi berasa dingin (terjadinya penurunan temperatur larutan) dan saat pengocokan dilakukan. 0. maka lapisan air yang mengandung asam asetat dikeluarkan dan selanjutnya sebanyak 5mL larutan tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 0. dan 0.25M. campuran kemudian didiamkan dan terbentuk dua lapisan. larutan sering menghasilkan gas dimana gas yang terbentuk itu berasal dari larutan dietil eter yang bersifat mudah menguap.25M.0625M. fasa atasdan fasa bawah. dimana akan terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Fungsi pengocokan disini untuk membesar luas permukaan untuk membantu proses distribusi asam asetat pada kedua fasa.125 adalah 4.66 sedangkan massa jenis air sebesar 0.125M.7ml.5 M yang diperlukan untuk menetralkan asam dalam larutan yaitu asam asetat. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Oleh sebab itu ketika pengocokan dilakukan.125M dan 0. Setelah tercapai kesetimbangan pada corong pisah.1ml. Hal ini terjadi karena perbedaan berat jenis pelarut organik dengan berat jenis air (massa jenis air lebihbesar di banding masa jenis petroleum eter dimana massa jenis petroleum eter sebesar 0. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.

maka volume larutan NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam asetat tersebut juga akan semakin banyak. kurangnya distribusi saat pengocokan. Corong pisah disini berfungsi untuk memasukkan larutan standar ke dalam buret. larut dalam 95 % etil alkohol. Erlenmeyer sendiri berfungsi sebagai wadah zat yang akan dititrasi. Beaker glass berfungsi sebagai wadah campuran yang diaduk. 1. merupakan asam dwiprotik. Dari volume NaOH yang diperoleh dapat dilakukan perhitungan untuk mencari nilai koefisien distribusi dari percobaan yang dilakukanNilai KD untuk larutan asam asetat pada konsentrasi tiapkonsentrasi secara berurutan sebesar 0. Titik lebur 16. penampilan yaitu cairan higroskopis tak berwarna.Untuk fungsi alatnya yaitu : pipet tetes berfungsi untuk mengambil indikator dan memasukkannya ke dalam Erlenmeyer.107 M. titik lebur sebesar 118.6 K)(244. Dan fungsi untuk batang pengaduk adalah alat untuk mengaduk dua zat yang dicampur agar terbentuk larutan yang homogen. dan 0.108 M. Sifat fisika dari asam asetat adalah memiliki rumus molekul CH3COOH. bersifat higroskopis dan korosif. Selain itu. temperatur juga mempengaruhi proses ekstraksi.049 g/cm3. merupakan larutan basa kuat.2 ± 0. Asam asetat membebaskan CO2 dari karbonat dan asam asetat menyerang logam yang melibatkan hidrogen. senyawa ini sangat mudah larut dalam air. asam asetat merupakan asam lemah dan monobasik. 0. Sedangkan untuk sifat kimianya yaitu mudah menyerap gas CO2. faktor pengocokan sangat penting dan mempengaruhi proses distribusi suatu larutan organik pada pelarut organik dan air yang tidak saling campur.sedikit dan ada agat naik drastis. Pada dasarnya. Hal ini hampir sesuai dengan literatur dimana semakin tinggi konsentrasi asam asetat maka nilai KD yang diperoleh juga semakin tinggi. Dari perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai Kddengan perbandingan hampir sama. sehingga berpengaruh pada saat proses titrasi yaitu pada volumenya. Sifat fisika untuk indikator pp yaitu memiliki rumus molekul C20H14O4. densitas dan fase 1. termasuk asam lemah dan larut dalam air. berbentuk larutan. hanya sebagai indikator. massamolar 60. Fungsi petroleum eter adalah sebagai pelarut organik yang digunakan untuk melarutkan asam asetat.5 K) (61. Natrium hidroksida (NaOH) berfungsi sebagai larutan standar untuk menitrasi asam cuka(titran).107 M. cairan. Indikator Phenolphtalein (pp) berfungsi sebagai indikator yang menunjukkan titik akhir titrasi dan untuk akuades berfungsi sebagai pelarut. memiliki massa jenis 1.266 g/cm3. Semakin besar konsentrasi asam asetat yang digunakan. Maupun ke dalam Erlenmeyer.2-10. Sedangkan untuk sifat kimianya adalah trayek pH berkisar pada 8.100 g/cm3. 0. cairan. Secara teknik. Penampilan cairan higroskopis tak berwarna. Asam asetat dapat merubah kertas lakmus biru menjadi merah. Fungsi buret itu sendiri adalah sebagai wadah untuk titrannya(NaOH). Penyebab dari ketidaksesuaian ini adalah kecepatan dari pengocokan yang tidak sama antara kedua larutan sehingga tidak terjadi pemisahan secara sempurna. sangat korosif terhadap jaringan tubuh dan tidak berbau. penampilan berupa padatan Kristal tak berwarna. tidak berwarna saat asam dan saat kondisi . dan merupakan indikator dalam analisis kimia. memiliki titik lebur dan titik didih sebesar 3180C dan 13900C.50C (289.50F).107 M.10C (391.6 ± 0.227. kemudian ada zat yang tumpah/keluar saat pengocokan. Sedangkan sifat kimianyaa dalah melarut dengan mudah dalam air. karena ekstraksi harus dilakukan pada tempertur konstan. tidak dapat bereaksi dengan larutan yang direaksikan. Sifat fisika untuk NaOH adalah memiliki densitas dan fase 2. Adapun fungsi bahan dan alat sebagai berikut : asam cuka (CH3COOH) berfungsi sebagai zat yang akan diidentifikasi kadar asam asetatnya. itu dikarenakan. padatan. Statif dan klem berfungsi sebagai penyanggah berdirinya buret.05 gr/mol.60F).

Basset. Konsep Dasar Kimia Analitik. etil asetat. 2008. serta memiliki massa jenis sebesar 0. penyebabkan cairan ada yang keluar dan distribusi terhambat.1 Saran Adapun saran saya untuk percobaan kedepannya. kemungkinan larutan tidak tepat pada batas tepat. sehingga didapat hasil yang bervariasi. bisa digunakan pelarut non polar lain seperti kloroform.713 g/ml. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta. benzene ataupun toluena. misalnya diginakan etanol atau metanol. M. 1994. Jakarta : UI Press .1073M 5. Gramedia. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. .basa akan berwarna merah lembayung. sehingga berpengaruh pada jumlah volume NaOH yang bereaksi −Kesalahan pada saat pengenceran asam asetat. S. J. Universitas Indonesia Press. Adapun faktor kesalahan dalam percobaan kali ini yaitu : −Kesalahan pada saat pengocokan. Atau mungkin juga bisa menggunakan pelarut non polarnya selain air.3. dkk. -mungkin kesalahan pada mentitrasi juga.1 Simpulan Diketahui kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur (yaitu air yang tidak bercampur dengan petroleum eter). 1997. serta telah didapat harga konstanta distribusinya yaitu sebesar 0. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. N. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. M. Khopkar. BAB V PENUTUP 5. 1990. dengan titik didih 35 °C dan konstanta dielektriknya sebesar 4. Konsep Dasar Kimia Analitik. Adapun sifat fisik dan kimia dari dietil eter yaitu memiliki rumus molekul CH3CH2-O-CH2-CH3. Jakarta.

Buku Teks Analisis Secara Kualitatif Makro dan Semimikro. 1986. 2000.Svehla. Soebagio. PT. Vogel. Kalman Media Pustaka. Kalman Media Pustaka. G. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro. Kimia Analitik II (JICA). Malang : Universitas Negeri Malang. Jakarta : PT. 1985. Jakarta. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->