P. 1
askep ATELEKTASIS

askep ATELEKTASIS

|Views: 187|Likes:
Published by Lee Chaa Moueiiy
123
123

More info:

Published by: Lee Chaa Moueiiy on May 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2015

pdf

text

original

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Atelektasis berkenaan dengan kolaps dari bagian paru. Kolaps ini dapat meliputi subsegmen paru atau seluruh paru. Atelektasis dapat terjadi pada wanita atau pria dan dapat terjadi pada semua ras. Atelektasis lebih sering terjadi pada anak yang lebih muda daripada anak yang lebih tua dan remaja. Stenosis dengan penyumbatan efektif dari suatu bronkus lobar mengakibatkan atelektasis (atau kolaps) dari suatu lobus, dan radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. Secara patologik, hampir selalu ada pula kelainan-kelainan lain di samping tidak adanya udara daripada lobus dan posisi yang disebabkannya daripada dindingdinding alveolar dan bronkhiolar. Menurut penelitian pada tahun 1994, secara keseluruhan terdapat 74,4 juta penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis. Di Inggris sekitar 2,1 juta penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis yang perlu pengobatan dan pengawasan secara komprehensif. Di Amerika serikat diperkirakan 5,5 juta penduduk menderita penyakit paru yang mengalami atelektasis. Di Jerman 6 juta penduduk. Ini merupakan angka yang cukup besar yang perlu mendapat perhatian dari perawat di dalam merawat klien dengan penyakit paru yang mengalami atelektasis secara komprehensif bio psiko sosial dan spiritual. Penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis pertama kali di Indonesia ditemukan pada tahun 1971. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah. Di Indonesia insiden terbesar terjadi pada 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003). B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi atelektasis? 2. Bagaimana anatomi fisiologi saluran nafas? 3. Apa saja macam-macam atelektasis? 4. Bagaimana etiologi atelektasis? 5. Bagaiamana patofisiologi atelektasis? 6. Bagaimana gejala atelektasis? 7. Bagaimana gambaran radiologis atelektasis?

8. Bagaimana cara pencegahan dan pengobatan atelektasis? 9. Bagaiamana konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan atelektasis? C. Tujuan

1. Mengetahui definisi atelektasis. 2. Mengetahui anatomi fisiologi saluran nafas. 3. Mengetahui macam-macam atelektasis. 4. Mengetahui etiologi atelektasis. 5. Mengetahui patofisiologi atelektasis. 6. Mengetahui gejala atelektasis. 7. Mengetahui gambaran radiologis atelektasis. 8. Mengetahui cara pencegahan dan pengobatan atelektasis. 9. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan atelektasis.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Definisi Atelektasis Atelektasis adalah penyakit restriktif akut yang umum terjadi, mencakup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru. Atelektasis merupakan masalah umum klien pascaoperasi. Ateletaksis adalah ekspansi yang tidak sempurna paru saat lahir (ateletaksis neokatorum) atau kolaps sebelum alveoli berkembang sempurna, yang biasanya terdapat pada dewasa yaitu ateletaksis didapat (acovired aeletacsis). Atelektasis (Atelectasis)adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. Atelektasis adalah suatu keadaan paru atau sebagian paru yang mengalami hambatan berkembang secara sempurna sehingga aerasi paru berkembang atau sama sekali tidak terisi udara.

Sebagai dasar gambaran radiologis pada atelektasis adalah pengurangan volume bagian paru baik lobaris, segmental atau seluruh paru, dengan akibat kurangnya aerasi sehingga memberi bayangan lebih suram (densitas tinggi) dengan penarikan mediastinum kearah atelektasis, sedangkan diafragma tertarik ke atas dan sela iga menyempit. Dengan adanya atelektasis, maka bagian paru sekitarnya mengalami suatu enfisema kompensasi yang kadang-kadang begitu hebatnya sehingga terjadi herniasi hemithorak yang sehat kearah hemethorak yang atelektasis. B. Anatomi Fisiologi Saluran Nafas

Saluran pernapasan udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkhiolus. Saluran dari bronkus sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara, laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita suara. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Struktur trakea dan bronkus dianalogkan sebagai suatu pohon dan oleh karena itu dinamakan pohon trakeobronkial. Bronkus terdiri dari bronkus kiri dan kanan yang tidak simetris, bronkus kanan lebih pendek dan lebar dan merupakan kelanjutan dari trakea, cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis, percabangan ini berjalan menuju terus menjadi bronkus yang ukurannya sangat kecil sampai akhirnya menjadi bronkus terminalis yaitu saluran udara yang mengandung alveoli, setelah bronkus terminalis terdapat asinus yaitu tempat pertukaran gas. Paru-paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut, yang terletak dalam rongga dada atau thorak. Kedua paru-paru saling berpisah oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap paru-paru mempunyai apek dan basis. Pembuluh darah paru-paru dan bronchial, saraf dan pembuluh darah limfe memasuki tiap paru-paru pada bagian hilus dan membentuk akar paru-paru. Paru-paru kanan lebih besar daripada paru-paru kiri. Paruparu kanan dibagi tiga lobus oleh fisura interlobaris, paru-paru kiri dibagi dua lobus. Lobuslobus tersebut dibagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya. Suatu lapisan yang kontinu mengandung kolagen dan jaringan elastis dikenal sebagai pleura yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi setiap paru-paru (pleura vesiralis). Peredaran darah paru-paru berasal dari arteri bronkilais dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronchial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. Arteri bronchial berasal dari aortatorakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus. Vena bronkialis yang besarmengalirkan darahnya ke dalam sistem azigos, yang kemudian bermuara pada vena cava superior dan mengembalikan darah ke atrium kanan. Vena bronkialis yang lebih kecil akan mengalirkan darah vena pulmonalis. Karena sirkulasi bronchial tidak berperan pada pertukaran gas, darah yang tidak teroksigenasi mengalami pirau sekitar 2 sampai 3% curah jantung. Arteri pulmonalis yang berasal dari ventrikel kanan mengalirkan darah vena campuaran keparu-paru di mana darah tersebut mengambil bagian dalam pertukaran gas. Jalinan kapiler paru-paru yang halus mengitari dan menutupi alveolus, merupakan kontak erat yang diperlukan untuk proses pertukaran gas antara alveolus dan darah. Darah yang teroksigenasi kemudian dikembalikan melalui vena

Penyebab tersering dari kolaps absorbsi adalah abstruksi bronchus oleh suatu sumbatan mucus.pulmonaliske ventrikel kiri. Atelektasis Acquired atau Didapat Atelektasis pada dewasa. dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis. berwarna merah kebiruan. dilapisi dindingin septa yang tebal yang tampak kisut. Yang khas paru ini tidak mampu mengembang di dalam air. seluruh paru. 2. terutama karsinoma bronkogenik dengan . Secara histologis. Hal ini sering terjadi pasca operasi. non crepitant. atau bercak segmen dapat terlibat. terutama pada anak atau selama operasi rongga mulut atau anestesi. termasuk gangguan intratoraks yang menyebabkan kolaps dari ruang udara. alveoli mempunyai paru bayi. gawat napas. Faktor pencetus termasuk komplikasi persalinan yang menyebabkan hipoksia intrauter. Jadi terbagi atas atelektasis absorpsi. Asma bronchial. C. dengan ruang alveoli kecil yang seragam. lembek dan alastis. Dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis. merupakan lobus yang lengkap. bronkiektasis dan bronchitis akut serta kronis. Kadang-kadang obstruksi disebabkan oleh aspirasi benda asing atau bekuan darah. Saluran udara dapat juga ter sumbat oleh tumor. yang sebelumnya telah berkembang. di mana pusat pernapasan dalam otak tidak matur dan gerakan pernapasan masih terbatas. dapat pula menyebabkan obstruksi karena sumbatan bahan mukopurulen. telah di bahas disebelumnya. kompresi.  Ø Altelektasis absorpsi terjadi jika saluran pernapasan sama sekali tersumbat sehingga udara tidak dapat memasuki bagian distal parenkim. Udara yang telah tersedia secara lambat laun memasuki aliran darah. Atelektasi neonatorum pada sistem. Pada autopsy. Epitel kubis yang prominem melaposi rongga alveoli dan sering terdapat edapan protein granular bercampur dengan debris amnion dan rongga udara. Tergantung dari tingkat obstruksi saluran udara. kontraksi dan bercak. Istilah ini banya menyangkut mechanisme dasar yang menyebabkan paru kolaps atau pada distribusi dari perubahan tersebut. paru tampak kolaps. Macam-macam Atelektasis Berdasarkan Faktor yang Menimbulkan 1. disertai dengan kolapsnya alveoli. Atelektasis Neonatorum Banyak terjadi pada bayi prematur. yang selanjutnya membagikan kepada sel-sel melalui sirkulasi sistemik.

Atelektasis didapat (acquired) dapat akut atau kronis. Yang penting adalah atelektasis dapat didiagnosis dini dan terjadi reekspensi yang tepat dari paru yang terkena.pembesaran kelenjar getah bening (seperti pada tuberculosis. Berdasarkan luasnya atelektasis 1. sepeti terjadi pada obstruksi bronkioli yang multiple karena sekresi atau eksudat pada kedua sindrom gawat napas orang dewasa dan bayi.  Ø Atelektasis kompresi paling sering dihubungkan dengan penimbunan cairan darah atau udara dalam kavum pleura. Ini adalah kejadian yang sering pada efusi pleura dari penyebab apa pun. hampir selalu didiagnosis sebagai atelektasis. Massive atelectase. yang menjadi manifest karena mendadak timbul sesak napas.  Ø Atelektasis kontraksi terjadi bila perubahan fibrosis pada paru dan pleura yang menghambat ekspensi dan meningkatkan daya pegas pada ekspirasi. Atelektasis persisten segmen paru mungkin merupakan bagian penting untuk terjadinya karsinoma bronkogenik yang diam-diam. contohnya) dan oleh aneurisma pembuluh darah. mengenai satu paru . Memang peristiwa sesak napas akut dalam 48 jam setelah satu prosedur pembedahan. atelektasis terjadi karena patogenesis tertentu yang menyertai jelas pada dinding dada. Biasanya timbul karena sumbatan mucus yang relatif akut. namun mungkin yang paling sering dihubungkan dengan hidrotoraks pada payah jantung kongesti. yang secara mekanis menyebabkan kolaps paru di sebelahnya. Pneumotoraks dapat juga menyebabkan atelektasis kompresi pada penderita dengan tirah baring dan penderita denan asites. karena perenkim yang kolaps amit peka terhadap infeksi yang menunggagi. atelaktasis basal menyebabkan posisi diafragma yang lebih tinggi. Pada sebagian kecil kasus.  Ø Atelektasis bercak bearti adanya daeah kecil-kecil dari kolaps paru.

Atelektasis pada lobus atas paru kanan. Atelektasis lobaris tengah kanan (right middle lobe). 4. miring (obligue). Sering disebabkan peradangan atau penekanan bronkus oleh kelenjar getah bening yang membesar. maka akan terjadi bayangan horizontal tipis. Platelike atelectase. Satu lobus. Kolaps pada bagian ini meliputi bagian anterior. 1. 6. percabangan main bronchus Gambaran khas yaitu inverted S sign → tumor ganas bronkus dengan atelectase lobus superior paru. yang memperlihatkan bagian uang terselubung dengan penarikan fissure interlobularis. Atelektasis lobaris atas (upper lobe): memberikan bayangan densitas tinggi dengan tanda penarikan fissure interlobaris ke atas dan trakea ke arah atelektasis. Karena hanya sebagian kecil paru terkena. Bila penyumbatan terjadi pada bronkus kecil untuk sebagian segmen paru. superior dan medial. Pada foto thorak PA tergambarkan dengan fisura minor bagian superior . berbentuk garis Misal : Fleischner line → oleh tumor paru Bisa juga terjadi pada basal paru → post operatif Berdasarkan lokasi atelektasis 1. 5. Atelektasis lobaris bawah: bila terjadi dilobaris bawah paru kiri. 3. maka akan tersembunyi dibelakang bayangan jantung dan pada foto thorak PA hamya memperlihatkan diafragma letak tinggi. maka biasanya tidak ada keluhan. Atelektasis lobularis (plate like/atelektasis local). maka perlu pemotretan dengan posisi lain seperti lateral.2. biasanya dilapangan paru bawah yang sering sulit dibedakan dengan proses fibrosis. Atelektasis segmental: kadang-kadang sulit dikenal pada foto thoraj PA. Satu segmen → segmental atelectase 2. 2.

benda asing. î Etiologi intrinsik atelektasis adalah sebagai berikut :  Bronkus yang tersumbat.dan mendial yang mengalami pergeseran. sedangkan fisura minor dapat juga mengalamai pergeseran ke arah superior. herniasi alat perut ke dalam rongga thorak. Dan penyumbatan bronkus akibat panekanan dari luar bronkus seperti tumor sekitar bronkus. kelenjar yang membesar. biasanya diakibatkan oleh pneumothorah. peninggian diafragma. fisura mayor bergerak ke depan. akan menyebabkan perkembangan paru yang tidak sempurna.  Hambatan gerak pernapasan oleh kelainan pleura atau trauma thorak yang menahan rasa sakit. EtiologiEtiologi terbanyak dari atelektasis adalah terbagi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Gerak napas yang terganggu akan mempengaruhi lelancaran pengeluaran sekret bronkus dan ini akan menyebabkan penyumbatan bronkus yang berakhir dengan memperberat keadaan atelektasis. Tekanan ekstra pulmonary. Pembiusan (anestesia)/pembedahan Tirah baring jangka panjang tanpa perubahan posisi . cairan pleura. cairan sekresi yang massif. penyumbatan bias berasal di dalam bronkus seperti tumor bronkus. tumor thorak seperti tumor mediastinum. D. keadaan ini juga akan menghambat pengeluaran sekret bronkus yang dapat memperberat terjadinya atelektasis î Etiologi ekstrinsik atelektasis:      Pneumothoraks Tumor Pembesaran kelenjar getah bening.   Peradangan intraluminar airway menyebabkan penumpukan sekret yang berupa mukus. Pada foto lateral.  Paralisis atau paresis gerakan pernapasan. misalkan pada kasus poliomyelitis dan kelainan neurologis lainnya.

neoplasma. Dalam tingkat awal. î Gejalanya bisa berupa:    gangguan pernafasan nyeri dada batuk Jika disertai infeksi. dan pain-lain jarang menimbulkan gejala klinis yang jelas. Pada umumnya atelektasis yang terjadi pada penyakit tuberculosis. Gejala klinis sangat bervariasi. limfoma. asma dan penyakit yang disebabkan infeksi misalnya bronchitis. Kiranya aliran darah pada daerah yang mengalami atelektasis berkurang. kecuali jika ada obstruksi pada bronkus utama. kadang-kadang sampai terjadi syok (tekanan darah sangat rendah). Bagaimanapun juga pada kasus kolaps yang luas diafragma mengalami paninggian. dimana paruparu kekurangan oksigen tidak terpenuhi dan penambahan kerja pernapasan. Daerah sekitar paru-paru yang mengalami udem kompensata sebagian akan kehilangan volume. dinding dada nyeri dan hal ini akan mempengaruhi perubahan letak hati dan mediastinum. Manifestasi Klinis Atelektasis dapat terjadi secara perlahan dan hanya menyebabkan sesak nafas yang ringan. bronkopmeumonia. Penderita sindroma lobus medialis mungkin tidak mengalami gejala sama sekali. bisa terjadi demam dan peningkatan denyut jantung. Stimulus berasal dari kemoreseptor di mana terdapat daerah atelektasis yang luas yang menyebabkan tekanan O2 kurang atau berasal dari paru-paru dan otot pernapasan. Jika kapiler dan jaringan hipoksia mengakibatkan timbulnya transudat berupa gas dan cairan serta udem paru. hal ini tanpa desebabkan adanya infeksi. PatofisiologiSetelah penyumbatan bronchial yang terjadi secara mendadak sirkulasi darah perifer akan diserap oleh udara dari alveoli. Pathway (terlampir) F. Sesak yang disebabkan merupakan variasi perubahan stimulus pusat respirasi dan kortek serebral. yang akan menyebabkan terjadinya kegagalan pernapasan dan penarikan kembali paru-paru dalam beberapa menit.  Pernafasan dangkal Penyakit paru-paru E. walaupun banyak yang menderita batuk-batuk pendek. Jika daerah atelektsis itu luas dan terjadi sangat cepat akan terjadi dipsneu dengan pola pernapasan yang cepat dan . perfusi darah paru-paru akan kekurangan udara yang menyebabkan hipoksemi arterial. Tekanan CO2 biasanya normal atau seharusnya turun sedikit dari sisa hiperventilasi parenkim paru-paru yang normal. Paru-paru akan menyusut secara komplek. Pengeluaran transudat dari alveoli dan sel merupakan pencegahan komplit kolaps dari atelektasis paru. tergantung pada sebab dan luasnya atelektasis.

atau mungkin dipisahkan oleh suatu daerah yang translusen yang disebabkan oleh paru-paru kanan yang menyelip diantaranya dan sternum di sebelah posterior bayangan itu mempunyai batas yang tegas dengan batas konkaf yang disebabkan oleh fisura besar yang terdesak ke depan. ini mungkin sampai kepada sternum. temperatur yang tinggi. Gejala-gejala yang karakteristik lainnya adalah konsekuensi daripada bayangan-bayangan vaskuler menjadi kabur di dalam opasitas umum daripada lobus yang tidak mengandung udara. dengan jantung dan trakhea beranjak ke jurusan itu dan diafragma terangkat. Suatu lobus tengah akan menyebabkan suatu bayangan yang sangat tidak tegas pada proyeksi anterior. Pada perkusi mungkin batas jantung dan mediastinum akan bergeser. Oleh karena ia biasanya terletak di belakang bayangan jantung. daerah vertebrae bawah di belakang bayangan jantung akan kurang hitam daripada daerah translusen di belakang sternum. Kelainan pertama adalah suatu bayangan yang homogen daripada lobus yang kempis itu sendiri. Gambaran Radiologis Paru dapat dikatakan mengalami atelektasis bilamana seluruh/ sebagian paru-paru mengempis. mungkin kelihatan dua kelainan yang karakteristik. pada proyeksi lateral ia akan kelihatan sebagai suatu bayangan berbentuk pita yang membujur dari hilus ke angulus sterno-diafragmatikus. dan bayangan yang diakibatkannya adalah lebih tidak tegas tanpa batas bawah yang tegas. Suatu lobus kanan atas yang kempis akan kelihatan sebagai suatu daerah yang opak pada puncak.dangkal. G. dengan batas lateral yang tegas yang membujur ke bawah dan keluar dari daerah hilus ke diafragma. takikardi dan sering sianosis. Pada atelektasis yang luas. Batas atasnya yang tegas dibentuk oleh fisura horizontalis yang terdekat. Lobus bawah yang kempis menyebabkan suatu bayangan berbentuk segitiga. ia hanya dapat dilihat bilamana radiograf adalah baik. Pada proyeksi lateral bayangan mungkin kabur sekali. Pada perkusi redup dan mungkin pula normal bila terjadi emfisema kompensasi. bagian posterior daripada bayangan diafragma kiri akan tidak dapat dilihat. atelektasis yang melibatkan lebih dari satu lobus. Akan tetapi pada proyeksi lateral akan kelihatan suatu bayangan berbentuk lidah dengan puncaknya dekat diafragma. yang akan menempati ruangan yang lebih kecil daripada bilamana ia berkembang sama sekali. Lobus kiri atas bilamana kempis biasanya mencakup lingula. dan akhirnya. dengan batas tegas yang bersifat konkaf di bawahnya di dekat klavikula yaitu yang diakibatkan oleh fisura horizontalis yang terangkat. akan tetapi biasanya kehadirannya memberikan tiga gambar. letak diafragma mungkin meninggi. akan ada suatu bayangan homogen pada belah itu. akan tetapi mungkin mengaburkan batas daripada jantung kanan. vertebrae torakalis di sebelah bawah akan kelihatan lebih berwarna abu-abu daripada hitam daripada vertebrae di sebelah tengah. di sebelah anterior. dan jika berlanjut akan menyebabkan penurunan kesadaran atau syok. gerak sela iga dan diafragma. Bilamana hanya satu lobus yang atelaktasis disebabkan oleh penyumbatan bronkhial. sedangkan bayangan pembuluh-pembuluh darah di dalam lobus yang lain adalah lebih memencar . sedangkan batas belakangnya yang konkaf oleh fisura mayor yang terdesak ke depan. biasanya didapatkan adanya perbedaan gerak dinding thorak. bising nafas akan melemah atau sama sekali tidak terdengar.

penderita harus didorong untuk bernafas dalam. 1995). batuk efektif. Gambar hasil Rontgen (terlampir) H. î Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya atelektasis: 1. mungkin akan lebih baik bila menggunakan alat bantu mekanis untuk membantu pernafasannya. atau yang lebih sering sama sekali tidak pada kolaps daripada lobus atas. dan fisioterapi dada akan sangat membantu. Meskipun perokok memiliki resiko lebih besar. dan aktifitas fisik lainnya sesuai dengan toleransi klien. Pembuluh-pembuluh darah hilus pada sebelah yang terkena penyakit akan menunjukkan suatu konveksitas lateral dan bukan suatu konkafitas seperti dalam keadaan normal pada tempat dimana grup daripada lobus atas bertemu dengan arteria basalis di samping itu. Mesin ini akan menghasilkan tekanan terus menerus ke . hilus akan menjadi lebih kecil daripada di sebelah yang lain. Napas dalam dengan teratur penting karena pada klien ini umunya terjadi penurunan kesadaran akibat pengaruh anestesi.oleh karena ia mengisi suatu volume yang lebih besar. ventilasi yang adekuat dapat ditingkatkan denan perubahan posisi. Tanggung jawab keperawatan dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya teknik pernapasan termasuk latihan napas dalam dan teknik batuk efektif. Bronchodilator dan mukolitik. Hanya akan ada sedikit atau sama sekali tidak ada translusensi yang relatif. Seseorang dengan kelainan dada atau keadaan neurologis yang menyebabkan pernafasan dangkal dalam jangka lama. penurunan mobilitas. Namun demikian pencegahan adalah faktor terpenting. dan nyeri (Hanneman. napas dalam. sedangkan pembuluh-pembuluh darah paru-paru akan lebih memencar sehingga per unit daerah akan kelihatan lebih sedikit daripada di sebelah yang lain (normal). atau spirometri insentif. Kerangka kerja terapi yang mendasar adalah mobilisasi dini dan perubahan posisi sering pada klien tirah baring atau klien pascaoprasi. 3. jika diindikasikan. oleh karena aliran kapiler bertambah besar. Tindakan ini terutama penting untuk klien pascaoperatif dan tirah baring. tetapi resiko ini bisa diturunkan dengan berhenti merokok dalam 6-8 minggu sebelum pembedahan. Setelah menjalani pembedahan. Pencegahan dan Pengobatan î î Pencegahan Pengobatan atelektasis didasarkan pada etiologi penyakit. sedangkan pendesakan trakhea atau peninggian diafragma biasanya sedikit dan jantung beralih hanya sedikit ke jurusan lobus yang kempis yaitu pada kolaps daripada lobus bawah. batuk teratur dan kembali melakukan aktivitas secepat mungkin. 2.

6. Dorong aktivitas atau ambulasi dini. 7. 11. Tingkatkan ekspensi dada yang repat selama bernapas untuk penyebaran udara dalam paruparu secara menyeluruh. Ubah posisiklien dengan sering dan teratur. 10. Ajarkan teknik sporometri insensif yang tepat. untuk meningkatkan ventilasi dan mencegak akumulasi sekresi.paru-paru sehingga meskipun pada akhir dari suatu pernafasan. î Tindakan yang biasa dilakukan:  Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali bisa mengembang       Menghilangkan penyumbatan. 9. baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya Latihan menarik nafas dalam (spirometri insentif) Perkusi (menepuk-nepuk) dada untuk mengencerkan dahak Postural drainase Antibiotik diberikan untuk semua infeksi Pengobatan tumor atau keadaan lainnya. Berikan medikasi atau sedatif secara biajaksana untuk mencegah depresi pernapasan. terutama dari posisi telentang ke posisi tegak. Dorong klien untuk napas dalam dan bentuk efektif untuk mencegah penumpulan sekresi dan untuk mengeluarkan eksidat. î Pengobatan Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan dahak dari paru-paru dan kembali mengembangkan jaringan paru yang terkena. . Lakukan pengisapan untuk mengeluarkan sekresi trakheobron khiolar. Lakukan drainase postural dan perkusi dada. saluran pernafasan tidak dapat menciut 4. 5. 8.

bronkodilator. cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. jika infeksinya bersifat menetap atau berulang. Nyeri dada ( pleuritik ). Sakit kepala daerah frontal ( influenza ) 3. Konsep Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. meningkat oleh batuk 4. Pernafasan dangkal 5. antibiotik dan kortikosteroid. Pada kasus tertentu. 2. Riwayat Masuk : Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas. Terapi yang diberikan biasanya simtomatis seperti anti sesak. î Pada infeksi yang kronis biasanya dilakukan pemeriksaan bakteriologis yang lebih teliti dan lobektomi sebaiknya tidak dilakukan kecuali jika nfeksi kronis dan melibatkan bagian paru yang sehat atau sudah terjadi bronliektasis pada daerah yang cukup luas 1. I. apabila atelektasis terjadi karena penyumbatan benda asing. î Pemeriksaan bronkoskopi harus segera dilakukan. mual/muntah 2. 3. dengan atau tanpa pembentukan jaringan parut ataupun kerusakan lainnya. Kehilangan nafsu makan. Fisioterafi sangan berguna seperti perubahan posisi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure). Identitas : 2. I. Keluhan utama : 1. Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar 4. maka biasanya bagian paru-paru yang terkena mungkin perlu diangkat Setelah penyumbatan dihilangkan. Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar. latihan pernapasan sangat membantu dalam pengembangan kembali paru yang kempis. Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa. . secara bertahap biasanya paru-paru yang mengempis akan kembali mengembang. masase. Pemberian oksigenasi harus diberikan pada penderita sesak dan sianosis. menyulitkan atau menyebabkan perdarahan.

6.Sistem Pulmonal 1. cengeng 2. turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder). cyanosis. ronchii pada lapang paru. jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita 7. sputum banyak. terdengar stridor. Pemeriksaan fisik : 1. Subyektif : 2. dada tertekan. batuk (produktif/nonproduktif). letargi : Denyut nadi meningkat. Obyektif : Pernafasan cuping hidung. penurunan kesadaran. banyak keringat . kualitas darah . kemerahan ii. 3. Subyektif : Sesak nafas. kejang 2. Subyektif : Sakit kepala 2. Laju pernafasan meningkat. influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. hiperventilasi. Penyakit paru. Sistem Neurosensori 1. Sistem Cardiovaskuler 1. Subyektif : Gelisah. pembuluh darah vasokontriksi. Subyektif : Lemah. suhu kulit meningkat. cepat lelah : GCS menurun.Sistem Musculoskeletal 1. Obyektif v. refleks menurun/normal. Obyektif : Kulit pucat. penggunaan otot bantu pernafasan. Riwayat Penyakit Dahulu : Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA. Sistem Integumen 1. pernafasan diafragma dan perut meningkat. Obyektif menurun 3.

Pola napas tidak efektif berhubungan dengan produk mucus berlebihan dan kental. masukan cairan kurang karena dispnea 5. Hb : Menurun/normal : Acidosis respiratorik. Analisa Gas Darah oksigen darah. Obyektif : Tonus otot menurun. kadang muntah 2. Studi Laboratorik : 1. 2. Intolernsi aktifitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah (kelelahan) sekunder terhadap peningkatan pernapasan 4. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 1. kadar karbon darah meningkat/normal 3. Subyektif : 2. batuk tidak efektif. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan 3. Sistem digestif 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi paru 6. Gangguan pertukaran Gas berhubungan dengan penurunan volume paru 3. II. penurunan kadar 2. 3. Obyektif : Produksi urine menurun/normal.2. Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal 4. Obyektif : Konsistensi feses normal/diare 3. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam kehilangan cairan . nyeri otot/normal. Sistem genitourinaria 1. Cemas / takut berhubungan dengan hospitalisasi (ICU) upaya . Subyektif : Mual.

G. SARAN Dengan dibuatnya makalah Atelektasis ini. Lynda Juall. diharapkan nantinya akan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan terutama pada pasien yang mengalami gangguan atelektasis. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit. 1981 : 275 . Jakarta: EGC Simon. DAFTAR PUSTAKA Carpenito.7. 2007. Secara radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. Namun penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. B. Diagnostik Rontgen untuk Mahasiswa Klinik dan Dokter Umum. KESIMPULAN Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. Perencanaan (terlampir)Download Intervensi BAB III PENUTUP A. oleh karena itu saran maupun kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini. III. Sedangkan penyebab non-obstruktif bisa disebabkan oleh adanya kompresi jaringan paru atau pengembangan alveoli yang tidak sempurna dan akhirnya mengalami kolaps. Diagnosis Keperawatan. prosedur perawatan di rumah sakit. Penyebab dari atelektasis bisa bersifat obstruktif maupun non-obstruktif. dengan demikian penulisan makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis atau pihak lain yang membutuhkannya. Diagnosa atelektasis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisis. Penyebab obstruktif bisa berasal dari dalam saluran pernafasan maupun dari luar saluran pernafasan. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.

sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia.1 juta penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis yang perlu pengobatan dan pengawasan secara komprehensif. Sejak pertama kali ditemukan. jumlah kasus menunjukkan . Stenosis dengan penyumbatan efektif dari suatu bronkus lobar mengakibatkan atelektasis (atau kolaps) dari suatu lobus. Di Amerika serikat diperkirakan 5. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.S.4 juta penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis. Menurut penelitian pada tahun 1994. Atelektasis dapat terjadi pada wanita atau pria dan dapat terjadi pada semua ras. Kolaps ini dapat meliputi subsegmen paru atau seluruh paru. Penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis pertama kali di Indonesia ditemukan pada tahun 1971. Di Inggris sekitar 2.com/2011/05/15/asuhan-keperawatan-atelektasis/ Posted in Catatan Keperawatan | No Comments » BAB I PENDAHULUAN A. Petunjuk Membaca Foto Untuk Doker Umum.wordpress.Harrison. 1995 : 45-50 Sumber : http://manafners.E. secara keseluruhan terdapat 74. P. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. 1995 : 1287 Palmer. hampir selalu ada pula kelainan-kelainan lain di samping tidak adanya udara daripada lobus dan posisi yang disebabkannya daripada dindingdinding alveolar dan bronkhiolar. Di Jerman 6 juta penduduk. dan radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. Secara patologik. Volume3. Ini merupakan angka yang cukup besar yang perlu mendapat perhatian dari perawat di dalam merawat klien dengan penyakit paru yang mengalami atelektasis secara komprehensif bio psiko sosial dan spiritual.5 juta penduduk menderita penyakit paru yang mengalami atelektasis. Atelektasis lebih sering terjadi pada anak yang lebih muda daripada anak yang lebih tua dan remaja. Yogyakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Latar Belakang Atelektasis berkenaan dengan kolaps dari bagian paru.

Rumusan Masalah 1.19 per 100. namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15. dan 23. Bagaimana gambaran radiologis atelektasis? 8. 9. Bagaiamana konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan atelektasis? C. Mengetahui gambaran radiologis atelektasis. 8. 7. Mengetahui patofisiologi atelektasis. 4.99 (tahun 2000).66 (tahun 2001). Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan atelektasis. Mengetahui etiologi atelektasis. 3. 6. . 2. Di Indonesia insiden terbesar terjadi pada 1998. Apa definisi atelektasis? 2. 19. Mengetahui cara pencegahan dan pengobatan atelektasis. Apa saja macam-macam atelektasis? 4.87 (tahun 2003). Mengetahui gejala atelektasis. Bagaimana anatomi fisiologi saluran nafas? 3. Bagaimana cara pencegahan dan pengobatan atelektasis? 9. B.kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah. Mengetahui macam-macam atelektasis. Bagaiamana patofisiologi atelektasis? 6. Mengetahui anatomi fisiologi saluran nafas. Bagaimana gejala atelektasis? 7. 21. Bagaimana etiologi atelektasis? 5. 5. Mengetahui definisi atelektasis. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. Tujuan 1.24 (tahun 2002).000 penduduk dan CFR = 2%. dengan Incidence Rate (IR) = 35.17%.

Atelektasis merupakan masalah umum klien pascaoperasi. dengan akibat kurangnya aerasi sehingga memberi bayangan lebih suram (densitas tinggi) dengan penarikan mediastinum kearah atelektasis. trakea. Atelektasis (Atelectasis)adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. laring. sedangkan diafragma tertarik ke atas dan sela iga menyempit. Definisi Atelektasis Atelektasis adalah penyakit restriktif akut yang umum terjadi. B. Dengan adanya atelektasis. Saluran dari bronkus sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. bronkus. Atelektasis adalah suatu keadaan paru atau sebagian paru yang mengalami hambatan berkembang secara sempurna sehingga aerasi paru berkembang atau sama sekali tidak terisi udara. yang biasanya terdapat pada dewasa yaitu ateletaksis didapat (acovired aeletacsis). maka bagian paru sekitarnya mengalami suatu enfisema kompensasi yang kadang-kadang begitu hebatnya sehingga terjadi herniasi hemithorak yang sehat kearah hemethorak yang atelektasis. Anatomi Fisiologi Saluran Nafas Saluran pernapasan udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. faring.BAB II TINJAUAN TEORI A. dan bronkhiolus. mencakup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru. Sebagai dasar gambaran radiologis pada atelektasis adalah pengurangan volume bagian paru baik lobaris. Ateletaksis adalah ekspansi yang tidak sempurna paru saat lahir (ateletaksis neokatorum) atau kolaps sebelum alveoli berkembang sempurna. segmental atau seluruh paru. laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita . Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara.

setelah bronkus terminalis terdapat asinus yaitu tempat pertukaran gas. Suatu lapisan yang kontinu mengandung kolagen dan jaringan elastis dikenal sebagai pleura yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi setiap paru-paru (pleura vesiralis). saraf dan pembuluh darah limfe memasuki tiap paru-paru pada bagian hilus dan membentuk akar paru-paru. Arteri pulmonalis yang berasal dari ventrikel kanan mengalirkan darah vena campuaran keparu-paru di mana darah tersebut mengambil bagian dalam pertukaran gas. Kedua paru-paru saling berpisah oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Arteri bronchial berasal dari aortatorakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus. darah yang tidak teroksigenasi mengalami pirau sekitar 2 sampai 3% curah jantung. yang selanjutnya membagikan kepada sel-sel melalui sirkulasi sistemik. Bronkus terdiri dari bronkus kiri dan kanan yang tidak simetris. Jalinan kapiler paru-paru yang halus mengitari dan menutupi alveolus. Peredaran darah paru-paru berasal dari arteri bronkilais dan arteri pulmonalis. yang terletak dalam rongga dada atau thorak. Vena bronkialis yang besarmengalirkan darahnya ke dalam sistem azigos. Pembuluh darah paru-paru dan bronchial. merupakan kontak erat yang diperlukan untuk proses pertukaran gas antara alveolus dan darah. paru-paru kiri dibagi dua lobus. Darah yang teroksigenasi kemudian dikembalikan melalui vena pulmonaliske ventrikel kiri. Karena sirkulasi bronchial tidak berperan pada pertukaran gas. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Paru-paru kanan lebih besar daripada paru-paru kiri. Paru-paru merupakan organ yang elastis. Macam-macam Atelektasis Berdasarkan Faktor yang Menimbulkan 1. C. yang kemudian bermuara pada vena cava superior dan mengembalikan darah ke atrium kanan. percabangan ini berjalan menuju terus menjadi bronkus yang ukurannya sangat kecil sampai akhirnya menjadi bronkus terminalis yaitu saluran udara yang mengandung alveoli. Sirkulasi bronchial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. bronkus kanan lebih pendek dan lebar dan merupakan kelanjutan dari trakea. Vena bronkialis yang lebih kecil akan mengalirkan darah vena pulmonalis. Atelektasis Neonatorum . cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis. Struktur trakea dan bronkus dianalogkan sebagai suatu pohon dan oleh karena itu dinamakan pohon trakeobronkial. berbentuk kerucut. Paruparu kanan dibagi tiga lobus oleh fisura interlobaris. Setiap paru-paru mempunyai apek dan basis. Lobuslobus tersebut dibagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya.suara.

alveoli mempunyai paru bayi. gawat napas. terutama karsinoma bronkogenik dengan pembesaran kelenjar getah bening (seperti pada tuberculosis. Secara histologis. Faktor pencetus termasuk komplikasi persalinan yang menyebabkan hipoksia intrauter. Atelektasi neonatorum pada sistem. Hal ini sering terjadi pasca operasi. paru tampak kolaps. di mana pusat pernapasan dalam otak tidak matur dan gerakan pernapasan masih terbatas. Pada autopsy. Epitel kubis yang prominem melaposi rongga alveoli dan sering terdapat edapan protein granular bercampur dengan debris amnion dan rongga udara.Banyak terjadi pada bayi prematur. dengan ruang alveoli kecil yang seragam. non crepitant. kompresi. Dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis. telah di bahas disebelumnya. Saluran udara dapat juga ter sumbat oleh tumor. disertai dengan kolapsnya alveoli. seluruh paru. Ø Atelektasis kompresi paling sering dihubungkan dengan penimbunan cairan darah atau udara dalam kavum pleura. kontraksi dan bercak. yang sebelumnya telah berkembang. contohnya) dan oleh aneurisma pembuluh darah. namun mungkin yang paling sering dihubungkan dengan hidrotoraks pada payah jantung kongesti. dilapisi dindingin septa yang tebal yang tampak kisut. Udara yang telah tersedia secara lambat laun memasuki aliran darah. bronkiektasis dan bronchitis akut serta kronis. Istilah ini banya menyangkut mechanisme dasar yang menyebabkan paru kolaps atau pada distribusi dari perubahan tersebut. Penyebab tersering dari kolaps absorbsi adalah abstruksi bronchus oleh suatu sumbatan mucus.  Ø Altelektasis absorpsi terjadi jika saluran pernapasan sama sekali tersumbat sehingga udara tidak dapat memasuki bagian distal parenkim. merupakan lobus yang lengkap. Ini adalah kejadian yang sering pada efusi pleura dari penyebab apa pun. lembek dan alastis. berwarna merah kebiruan. dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis. Atelektasis Acquired atau Didapat Atelektasis pada dewasa. atelaktasis basal menyebabkan posisi diafragma yang lebih tinggi. Tergantung dari tingkat obstruksi saluran udara. Jadi terbagi atas atelektasis absorpsi. atau bercak segmen dapat terlibat.  . dapat pula menyebabkan obstruksi karena sumbatan bahan mukopurulen. termasuk gangguan intratoraks yang menyebabkan kolaps dari ruang udara. terutama pada anak atau selama operasi rongga mulut atau anestesi. yang secara mekanis menyebabkan kolaps paru di sebelahnya. 2. Pneumotoraks dapat juga menyebabkan atelektasis kompresi pada penderita dengan tirah baring dan penderita denan asites. Kadang-kadang obstruksi disebabkan oleh aspirasi benda asing atau bekuan darah. Yang khas paru ini tidak mampu mengembang di dalam air. Asma bronchial.

Atelektasis persisten segmen paru mungkin merupakan bagian penting untuk terjadinya karsinoma bronkogenik yang diam-diam. karena perenkim yang kolaps amit peka terhadap infeksi yang menunggagi. Atelektasis lobaris atas (upper lobe): memberikan bayangan densitas tinggi dengan tanda penarikan fissure interlobaris ke atas dan trakea ke arah atelektasis. Yang penting adalah atelektasis dapat didiagnosis dini dan terjadi reekspensi yang tepat dari paru yang terkena. Ø Atelektasis kontraksi terjadi bila perubahan fibrosis pada paru dan pleura yang menghambat ekspensi dan meningkatkan daya pegas pada ekspirasi. hampir selalu didiagnosis sebagai atelektasis. Satu segmen → segmental atelectase 2. Atelektasis lobaris bawah: bila terjadi dilobaris bawah paru kiri. yang menjadi manifest karena mendadak timbul sesak napas. sepeti terjadi pada obstruksi bronkioli yang multiple karena sekresi atau eksudat pada kedua sindrom gawat napas orang dewasa dan bayi. Berdasarkan luasnya atelektasis 1. mengenai satu paru 2. maka akan tersembunyi dibelakang bayangan jantung dan pada foto thorak PA hamya memperlihatkan diafragma letak tinggi. 2.  Ø Atelektasis bercak bearti adanya daeah kecil-kecil dari kolaps paru. Atelektasis lobaris tengah kanan (right middle lobe). . percabangan main bronchus Gambaran khas yaitu inverted S sign → tumor ganas bronkus dengan atelectase lobus superior paru. Biasanya timbul karena sumbatan mucus yang relatif akut. Atelektasis didapat (acquired) dapat akut atau kronis. atelektasis terjadi karena patogenesis tertentu yang menyertai jelas pada dinding dada. Platelike atelectase. 3. 1. Memang peristiwa sesak napas akut dalam 48 jam setelah satu prosedur pembedahan. Satu lobus. Massive atelectase. Sering disebabkan peradangan atau penekanan bronkus oleh kelenjar getah bening yang membesar. berbentuk garis Misal : Fleischner line → oleh tumor paru Bisa juga terjadi pada basal paru → post operatif Berdasarkan lokasi atelektasis 1. Pada sebagian kecil kasus.

penyumbatan bias berasal di dalam bronkus seperti tumor bronkus. biasanya diakibatkan oleh pneumothorah. Bila penyumbatan terjadi pada bronkus kecil untuk sebagian segmen paru. Dan penyumbatan bronkus akibat panekanan dari luar bronkus seperti tumor sekitar bronkus. D. Pada foto lateral. Hambatan gerak pernapasan oleh kelainan pleura atau trauma thorak yang menahan rasa sakit. Tekanan ekstra pulmonary. herniasi alat perut ke dalam rongga thorak. fisura mayor bergerak ke depan. EtiologiEtiologi terbanyak dari atelektasis adalah terbagi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik. yang memperlihatkan bagian uang terselubung dengan penarikan fissure interlobularis. Paralisis atau paresis gerakan pernapasan. maka biasanya tidak ada keluhan. peninggian diafragma. miring (obligue). tumor thorak seperti tumor mediastinum. Atelektasis segmental: kadang-kadang sulit dikenal pada foto thoraj PA. Pada foto thorak PA tergambarkan dengan fisura minor bagian superior dan mendial yang mengalami pergeseran. Atelektasis pada lobus atas paru kanan. keadaan ini juga akan menghambat pengeluaran sekret bronkus yang dapat memperberat terjadinya atelektasis î Etiologi ekstrinsik atelektasis:          Pneumothoraks Tumor Pembesaran kelenjar getah bening. kelenjar yang membesar. 5. maka perlu pemotretan dengan posisi lain seperti lateral. Gerak napas yang terganggu akan mempengaruhi lelancaran pengeluaran sekret bronkus dan ini akan menyebabkan penyumbatan bronkus yang berakhir dengan memperberat keadaan atelektasis. misalkan pada kasus poliomyelitis dan kelainan neurologis lainnya. maka akan terjadi bayangan horizontal tipis. 6. benda asing. Karena hanya sebagian kecil paru terkena. Peradangan intraluminar airway menyebabkan penumpukan sekret yang berupa mukus.4. Pembiusan (anestesia)/pembedahan Tirah baring jangka panjang tanpa perubahan posisi . superior dan medial. cairan sekresi yang massif. cairan pleura. Atelektasis lobularis (plate like/atelektasis local). sedangkan fisura minor dapat juga mengalamai pergeseran ke arah superior. î Etiologi intrinsik atelektasis adalah sebagai berikut :  Bronkus yang tersumbat. akan menyebabkan perkembangan paru yang tidak sempurna. biasanya dilapangan paru bawah yang sering sulit dibedakan dengan proses fibrosis. Kolaps pada bagian ini meliputi bagian anterior.

kadang-kadang sampai terjadi syok (tekanan darah sangat rendah). bisa terjadi demam dan peningkatan denyut jantung. Jika kapiler dan jaringan hipoksia mengakibatkan timbulnya transudat berupa gas dan cairan serta udem paru. Penderita sindroma lobus medialis mungkin tidak mengalami gejala sama sekali. walaupun banyak yang menderita batuk-batuk pendek. Pathway (terlampir) F. hal ini tanpa desebabkan adanya infeksi. Stimulus berasal dari kemoreseptor di mana terdapat daerah atelektasis yang luas yang menyebabkan tekanan O2 kurang atau berasal dari paru-paru dan otot pernapasan. . Bagaimanapun juga pada kasus kolaps yang luas diafragma mengalami paninggian. î Gejalanya bisa berupa:    gangguan pernafasan nyeri dada batuk Jika disertai infeksi. yang akan menyebabkan terjadinya kegagalan pernapasan dan penarikan kembali paru-paru dalam beberapa menit. Manifestasi Klinis Atelektasis dapat terjadi secara perlahan dan hanya menyebabkan sesak nafas yang ringan. Tekanan CO2 biasanya normal atau seharusnya turun sedikit dari sisa hiperventilasi parenkim paru-paru yang normal. Dalam tingkat awal. Paru-paru akan menyusut secara komplek. Sesak yang disebabkan merupakan variasi perubahan stimulus pusat respirasi dan kortek serebral. Kiranya aliran darah pada daerah yang mengalami atelektasis berkurang. PatofisiologiSetelah penyumbatan bronchial yang terjadi secara mendadak sirkulasi darah perifer akan diserap oleh udara dari alveoli. Pengeluaran transudat dari alveoli dan sel merupakan pencegahan komplit kolaps dari atelektasis paru. dinding dada nyeri dan hal ini akan mempengaruhi perubahan letak hati dan mediastinum. perfusi darah paru-paru akan kekurangan udara yang menyebabkan hipoksemi arterial.  Pernafasan dangkal Penyakit paru-paru E. Daerah sekitar paru-paru yang mengalami udem kompensata sebagian akan kehilangan volume. dimana paruparu kekurangan oksigen tidak terpenuhi dan penambahan kerja pernapasan.

akan ada suatu bayangan homogen pada belah itu. atau mungkin dipisahkan oleh suatu daerah yang translusen yang disebabkan oleh paru-paru kanan yang menyelip diantaranya dan sternum di sebelah posterior bayangan itu mempunyai batas yang tegas dengan batas konkaf yang disebabkan oleh fisura besar yang terdesak ke depan. dengan jantung dan trakhea beranjak ke jurusan itu dan diafragma terangkat. Pada perkusi redup dan mungkin pula normal bila terjadi emfisema kompensasi. atelektasis yang melibatkan lebih dari satu lobus. Pada umumnya atelektasis yang terjadi pada penyakit tuberculosis. pada proyeksi lateral ia akan kelihatan sebagai suatu bayangan berbentuk pita yang membujur dari hilus ke angulus sterno-diafragmatikus. kecuali jika ada obstruksi pada bronkus utama. di sebelah anterior. . asma dan penyakit yang disebabkan infeksi misalnya bronchitis. akan tetapi mungkin mengaburkan batas daripada jantung kanan. Bilamana hanya satu lobus yang atelaktasis disebabkan oleh penyumbatan bronkhial. biasanya didapatkan adanya perbedaan gerak dinding thorak. dan bayangan yang diakibatkannya adalah lebih tidak tegas tanpa batas bawah yang tegas. dan pain-lain jarang menimbulkan gejala klinis yang jelas. sedangkan batas belakangnya yang konkaf oleh fisura mayor yang terdesak ke depan. mungkin kelihatan dua kelainan yang karakteristik. dan jika berlanjut akan menyebabkan penurunan kesadaran atau syok. letak diafragma mungkin meninggi. Jika daerah atelektsis itu luas dan terjadi sangat cepat akan terjadi dipsneu dengan pola pernapasan yang cepat dan dangkal. tergantung pada sebab dan luasnya atelektasis. bising nafas akan melemah atau sama sekali tidak terdengar. Batas atasnya yang tegas dibentuk oleh fisura horizontalis yang terdekat. G. Suatu lobus kanan atas yang kempis akan kelihatan sebagai suatu daerah yang opak pada puncak. Kelainan pertama adalah suatu bayangan yang homogen daripada lobus yang kempis itu sendiri. gerak sela iga dan diafragma. Lobus kiri atas bilamana kempis biasanya mencakup lingula. bronkopmeumonia. Gambaran Radiologis Paru dapat dikatakan mengalami atelektasis bilamana seluruh/ sebagian paru-paru mengempis.Gejala klinis sangat bervariasi. neoplasma. yang akan menempati ruangan yang lebih kecil daripada bilamana ia berkembang sama sekali. Pada perkusi mungkin batas jantung dan mediastinum akan bergeser. Suatu lobus tengah akan menyebabkan suatu bayangan yang sangat tidak tegas pada proyeksi anterior. limfoma. dengan batas tegas yang bersifat konkaf di bawahnya di dekat klavikula yaitu yang diakibatkan oleh fisura horizontalis yang terangkat. temperatur yang tinggi. takikardi dan sering sianosis. Akan tetapi pada proyeksi lateral akan kelihatan suatu bayangan berbentuk lidah dengan puncaknya dekat diafragma. ini mungkin sampai kepada sternum. Pada atelektasis yang luas.

Gambar hasil Rontgen (terlampir) H. dan nyeri (Hanneman. . sedangkan pendesakan trakhea atau peninggian diafragma biasanya sedikit dan jantung beralih hanya sedikit ke jurusan lobus yang kempis yaitu pada kolaps daripada lobus bawah. ia hanya dapat dilihat bilamana radiograf adalah baik. napas dalam. ventilasi yang adekuat dapat ditingkatkan denan perubahan posisi. dengan batas lateral yang tegas yang membujur ke bawah dan keluar dari daerah hilus ke diafragma. jika diindikasikan. oleh karena aliran kapiler bertambah besar. Pembuluh-pembuluh darah hilus pada sebelah yang terkena penyakit akan menunjukkan suatu konveksitas lateral dan bukan suatu konkafitas seperti dalam keadaan normal pada tempat dimana grup daripada lobus atas bertemu dengan arteria basalis di samping itu. dan akhirnya.Lobus bawah yang kempis menyebabkan suatu bayangan berbentuk segitiga. sedangkan bayangan pembuluh-pembuluh darah di dalam lobus yang lain adalah lebih memencar oleh karena ia mengisi suatu volume yang lebih besar. akan tetapi biasanya kehadirannya memberikan tiga gambar. batuk efektif. Pada proyeksi lateral bayangan mungkin kabur sekali. Napas dalam dengan teratur penting karena pada klien ini umunya terjadi penurunan kesadaran akibat pengaruh anestesi. hilus akan menjadi lebih kecil daripada di sebelah yang lain. Pencegahan dan Pengobatan î î Pencegahan Pengobatan atelektasis didasarkan pada etiologi penyakit. Bronchodilator dan mukolitik. Gejala-gejala yang karakteristik lainnya adalah konsekuensi daripada bayangan-bayangan vaskuler menjadi kabur di dalam opasitas umum daripada lobus yang tidak mengandung udara. atau yang lebih sering sama sekali tidak pada kolaps daripada lobus atas. sedangkan pembuluh-pembuluh darah paru-paru akan lebih memencar sehingga per unit daerah akan kelihatan lebih sedikit daripada di sebelah yang lain (normal). Oleh karena ia biasanya terletak di belakang bayangan jantung. dan fisioterapi dada akan sangat membantu. daerah vertebrae bawah di belakang bayangan jantung akan kurang hitam daripada daerah translusen di belakang sternum. vertebrae torakalis di sebelah bawah akan kelihatan lebih berwarna abu-abu daripada hitam daripada vertebrae di sebelah tengah. penurunan mobilitas. bagian posterior daripada bayangan diafragma kiri akan tidak dapat dilihat. 1995). atau spirometri insentif. Hanya akan ada sedikit atau sama sekali tidak ada translusensi yang relatif. Kerangka kerja terapi yang mendasar adalah mobilisasi dini dan perubahan posisi sering pada klien tirah baring atau klien pascaoprasi. Namun demikian pencegahan adalah faktor terpenting.

saluran pernafasan tidak dapat menciut 4. terutama dari posisi telentang ke posisi tegak. mungkin akan lebih baik bila menggunakan alat bantu mekanis untuk membantu pernafasannya. Mesin ini akan menghasilkan tekanan terus menerus ke paruparu sehingga meskipun pada akhir dari suatu pernafasan. Tingkatkan ekspensi dada yang repat selama bernapas untuk penyebaran udara dalam paru-paru secara menyeluruh. 3. Setelah menjalani pembedahan. Meskipun perokok memiliki resiko lebih besar. Lakukan drainase postural dan perkusi dada. Tindakan ini terutama penting untuk klien pascaoperatif dan tirah baring. î Pengobatan Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan dahak dari paru-paru dan kembali mengembangkan jaringan paru yang terkena. Berikan medikasi atau sedatif secara biajaksana untuk mencegah depresi pernapasan. penderita harus didorong untuk bernafas dalam.Tanggung jawab keperawatan dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya teknik pernapasan termasuk latihan napas dalam dan teknik batuk efektif. 5. 8. 6. Seseorang dengan kelainan dada atau keadaan neurologis yang menyebabkan pernafasan dangkal dalam jangka lama. 9. Ubah posisiklien dengan sering dan teratur. î Tindakan yang biasa dilakukan: . 2. Lakukan pengisapan untuk mengeluarkan sekresi trakheobron khiolar. untuk meningkatkan ventilasi dan mencegak akumulasi sekresi. tetapi resiko ini bisa diturunkan dengan berhenti merokok dalam 6-8 minggu sebelum pembedahan. 7. î Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya atelektasis: 1. batuk teratur dan kembali melakukan aktivitas secepat mungkin. Dorong aktivitas atau ambulasi dini. Ajarkan teknik sporometri insensif yang tepat. 11. Dorong klien untuk napas dalam dan bentuk efektif untuk mencegah penumpulan sekresi dan untuk mengeluarkan eksidat. dan aktifitas fisik lainnya sesuai dengan toleransi klien. 10.

3. I. Konsep Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya Latihan menarik nafas dalam (spirometri insentif) Perkusi (menepuk-nepuk) dada untuk mengencerkan dahak Postural drainase Antibiotik diberikan untuk semua infeksi Pengobatan tumor atau keadaan lainnya. bronkodilator. Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa. secara bertahap biasanya paru-paru yang mengempis akan kembali mengembang. Kehilangan nafsu makan. I. Identitas : 2. 2. mual/muntah 2. î Pada infeksi yang kronis biasanya dilakukan pemeriksaan bakteriologis yang lebih teliti dan lobektomi sebaiknya tidak dilakukan kecuali jika nfeksi kronis dan melibatkan bagian paru yang sehat atau sudah terjadi bronliektasis pada daerah yang cukup luas        1. Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar. Fisioterafi sangan berguna seperti perubahan posisi. î Pemeriksaan bronkoskopi harus segera dilakukan. Sakit kepala daerah frontal ( influenza ) . maka biasanya bagian paru-paru yang terkena mungkin perlu diangkat Setelah penyumbatan dihilangkan. antibiotik dan kortikosteroid. Keluhan utama : 1. Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali bisa mengembang Menghilangkan penyumbatan. Pemberian oksigenasi harus diberikan pada penderita sesak dan sianosis. apabila atelektasis terjadi karena penyumbatan benda asing. jika infeksinya bersifat menetap atau berulang. dengan atau tanpa pembentukan jaringan parut ataupun kerusakan lainnya. menyulitkan atau menyebabkan perdarahan. Pada kasus tertentu. latihan pernapasan sangat membantu dalam pengembangan kembali paru yang kempis. Terapi yang diberikan biasanya simtomatis seperti anti sesak. masase. Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar 4.

kejang 2. Sistem Integumen 1. Pernafasan dangkal 5. cengeng 2.3. nyeri otot/normal. cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. penurunan kesadaran. ronchii pada lapang paru. cyanosis. Subyektif : Sakit kepala 2. kemerahan ii. Obyektif : Tonus otot menurun. sputum banyak. Subyektif : 2. Obyektif : Kulit pucat. meningkat oleh batuk 4. 6. dada tertekan. penggunaan otot bantu pernafasan. terdengar stridor. pernafasan diafragma dan perut meningkat. Laju pernafasan meningkat. jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita 7. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan 3. pembuluh darah vasokontriksi. influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. Riwayat Penyakit Dahulu : Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA. cepat lelah 2. Obyektif : Pernafasan cuping hidung. Obyektif : GCS menurun. Sistem Cardiovaskuler 1. Subyektif : - . refleks menurun/normal.Sistem Musculoskeletal 1. hiperventilasi. Nyeri dada ( pleuritik ). Sistem Neurosensori 1. Subyektif : Gelisah. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure). kualitas darah menurun 3. banyak keringat . Sistem genitourinaria 1. Subyektif : Sesak nafas. Pemeriksaan fisik : 1. turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder). batuk (produktif/nonproduktif). suhu kulit meningkat.Sistem Pulmonal 1. letargi v. 3. Subyektif : Lemah. Riwayat Masuk : Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas. Penyakit paru. Obyektif : Denyut nadi meningkat.

Subyektif : Mual. Penyebab dari atelektasis bisa bersifat obstruktif maupun non-obstruktif. Intolernsi aktifitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah (kelelahan) sekunder terhadap peningkatan upaya pernapasan 4. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan produk mucus berlebihan dan kental. Perencanaan (terlampir)Download Intervensi BAB III PENUTUP A. kadar karbon darah meningkat/normal 3. II. prosedur perawatan di rumah sakit. Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal 4. Obyektif : Produksi urine menurun/normal. Obyektif : Konsistensi feses normal/diare 3. Studi Laboratorik : 1. Cemas / takut berhubungan dengan hospitalisasi (ICU) 7. 3. 2. Sistem digestif 1. Penyebab obstruktif bisa berasal dari dalam saluran pernafasan maupun dari luar saluran pernafasan.2. kadang muntah 2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit. batuk tidak efektif. Sedangkan . masukan cairan kurang karena dispnea 5. Gangguan pertukaran Gas berhubungan dengan penurunan volume paru 3. penurunan kadar oksigen darah. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam kehilangan cairan . Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 1. KESIMPULAN Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. III. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi paru 6. Hb : Menurun/normal 2. Analisa Gas Darah : Acidosis respiratorik.

Secara radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Petunjuk Membaca Foto Untuk Doker Umum. Jakarta: Penerbit Erlangga. diharapkan nantinya akan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan terutama pada pasien yang mengalami gangguan atelektasis. Diagnosa atelektasis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisis. Namun penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam.penyebab non-obstruktif bisa disebabkan oleh adanya kompresi jaringan paru atau pengembangan alveoli yang tidak sempurna dan akhirnya mengalami kolaps. 1995 : 1287 Palmer. G. oleh karena itu saran maupun kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini.E. Diagnosis Keperawatan. Yogyakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. P. Lynda Juall. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995 : 45-50 . dengan demikian penulisan makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis atau pihak lain yang membutuhkannya.S. B. 2007. Jakarta: EGC Simon. Edisi kedua. Diagnostik Rontgen untuk Mahasiswa Klinik dan Dokter Umum. SARAN Dengan dibuatnya makalah Atelektasis ini. Volume3. 1981 : 275 Harrison.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->